Nikah Siri

Nikah Siri Dari Dua Sudut Pandang Berbeda

Taufik Hidayat, SH.
Keabadian ikatan pernikahan merupakan tujuan dasar aqad nikah dalam Islam. Janji yang diikrarkan setelah aqad berlaku untuk selamanya, sepanjang hayat manusia. Supaya suami dan isteri secara bersama-sama dapat mewujudkan sebuah mahligai rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Namun disisilain, Islam tidak melarang dan malah memberikan hak agar seseorang memiliki isteri lebih dari satu (poligami) asal sesuai dengan hokum dan hal itu dilakukan bukan hanya menuruti hawa nafsu. Namun di Indonesia tidak serta merta hak itu dapat diwujudkan karena harus ada persetujuan dari isteri yang ada sebelum dapat izin dari pengadilan (UU No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan). Namun, hal itu tidak menghilangkan ketentuan syariat Islam bahwa poligami tanpa persetujuan isteri yang ada dan tanpa izin pengadilan adalah tetap sah apabila pernikahan tersebut memenuhi rukun nikah sebagaimana yang ditentukan oleh syariat Islam (disebut nikah siri) dengan catatan bahwa isteri yang telah ada itu tidak lebih dari 4 (empat) orang. Aktifitas nikah siri atau nikah diluar Kantor Urusan Agama (KUA), hingga kini masih sering terjadi. Dalam Islam, Nikah siri sah secara syariat sepanjang syarat-syarat dan ketentuannya dipenuhi. Namun, dalam terminology fiqih nikah siri tidak ada. Apa yang dikenal masyarakat adalah kawin siri, dikenal sebagai pernikahan yang tidak tercatat dan sembunyi-sembunyi. Padahal, sebenarnya tidak demikian. Pemaknaan nikah siri di Indonesia adalah nikah siri tidak tercatat (secara hukum) tapi tetap diketahui oleh kedua keluarga, ada saksinya dan ada penghulunya. Jadi, bukan kawin diam-diam, kalau pun disalahkan, pelakunya yang salah karena kegiatan tersebut bisa merugikan pihak lain. Misalnya, ketika mengurus pension janda, maka isteri yang tidak tercatat (syarat administratif) tidak bisa mendapatkan pension janda itu, demikian pula bagi seorang anak dari pernikahan siri (begitu juga ibunya selaku isteri sah menurut hukum Islam) yang ingin menjadi ahli waris, maka ia tidak akan dapat menjadi ahli waris tanpa terlebih dulu mengajukan itsbat nikah ke Pengadilan Agama (Mahkamah Syar’iyah kalau di Aceh). Pengertian nikah siri yang dipahami oleh masyarakat ada dua macam, yaitu (1) Pernikahan yang dilakukan tanpa wali yang sah ataupun saksi. (2) Pernikahan yang dilakukan dengan adanya wali dan terpenuh isyarat-syarat lainnya tetapi tidak tercatat di KUA setempat. Pernikahan yang dilakukan secara siri tanpa diketahui oleh pihak wali perempuan, maka pernikahan seperti ini batil dan tidak sah. Hal ini berdasarkan hadist yang diriwayatkan Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan lain-lain dari Aisyah ra, beliau berkata: Rasulullah SAW bersabda “perempuan manasaja yang dinikahi tanpa izin walinya, maka nikahnya bathil-

beliau mengatakannya tiga kali.”
Hal lain yang wajib diperhatikan oleh orang yang hendak menjalankan nikah siri hendaklah ia berlaku adil terhadap para isterinya dalam menggilir jatah menginap dan memiliki kemampuan dalam memberikan nafkah. Jangan sampai melakukan nikah siri karena mengikuti dorongan nafsu syahwat saja. Selanjutnya, pernikahan yang hanya memenuhi prosedur keagamaan, ada rukun dan lengkap syaratnya, tapi dirahasiakan, dengan tidak melaporkannya ke KUA. Biasanya nikah siri dilaksanakan karena kedua belah pihak belum siap meresmikannya, namun dipihak lain untuk menjaga agar tidak terjadi kecelakaan atau terjerumus kepada hal-hal yang dilarang agama. Sah tidaknya nikah siri secara agama, tergantung kepada sejauh manasyarat-syarat nikah terpenuhi yaitu adanya wali, minimal dua saksi, adanya mahar dan ijab qabul. Secara hokum positif, nikah siri tidak legal karena tidak tercatat dalam catatan resmi pemerintah. Hal ini dikarenakan, siapapun warga Negara Indonesia yang menikah harus mendaftarkan pernikahan itu ke KUA atau Kantor Catatan Sipil, untuk mendapatkan Surat atau Akta Nikah. Jika terjadi persoalan-persoalan yang menyangkut hokum sipil, pelaku nikah siri tidak berhak mendapatkan/menyelesaikan masalahnya melalui lembaga-lembaga hukum yang ada, karena pernikahannya tidak terdaftar.

Bagaimana sebenarnya pandangan Islam tentang Nikah Siri ? Siri secara etimologi berarti sesuatu yang tersembunyi, rahasia, pelan-pelan. (Ibnu al Mandhur, Lisan al Arab : 4/ 356). Kadang Siri juga diartikan zina atau melakukan hubungan seksual, sebagaimana dalam firman Allah swt :

“Tetapi janganlah kamu membuat perjanjian untuk berzina (atau melakukan hubungan seksual) dengan mereka. “ (QS Al Baqarah : 235 ) Sirran pada ayat di atas menurut pendapat sebagian ulama berarti : berzina atau melakukan hubungan seksual. Pendapat ini dipilih Jabir bin Zaid, Hasan Bashri, Qatadah, AnNakh’i, Ad Dhohak, Imam Syafi’i dan Imam Thobari. (Tafsir al Qurtubi : 3/126). Pendapat ini dikuatkan dengan salah satu syi’ir yang disebutkan oleh Imru al Qais : ‫با ة ز مت أ‬ ‫ب ت أن ني ي م ب‬ ‫أح‬ ‫أم ثا ى‬ “Basbasah hari ini mengklaim bahwa aku sudah tua dan orang sepertiku ini tidak bisa lagi melakukan hubungan seksual dengan baik.“ Saat ini, nikah Siri dalam pandangan masyarakat mempunyai tiga pengertian : Pengertian Pertama : Nikah Siri adalah pernikahan yang dilakukan secara sembunyi–sembunyi tanpa wali dan saksi. Inilah pengertian yang pernah diungkap oleh Imam Syafi’i di dalam kitab Al Umm 5/ 23, ‫ما أخ ب ن ا‬ ‫م بن ا م أ ى ق ال زبي أب ي‬ ‫ل يه ي‬ ‫ل‬ ‫ن ا ذ ف قال م أ‬ ‫أ يز‬ ‫مت ف يه ق مت نت‬ “Dari Malik dari Abi Zubair berkata bahwa suatu hari Umar dilapori tentang pernikahan yang tidak disaksikan, kecuali seorang laki-laki dan seorang perempuan, maka beliau berkata : “Ini adalah nikah sirri, dan saya tidak membolehkannya, kalau saya mengetahuinya, niscaya akan saya rajam (pelakunya). “

" ( HR Tirmidzi. Syekh al Utsaimin. Faktor biaya. Faktor sosial. Pengertian Kedua : Nikah Siri adalah pernikahan yang dihadiri oleh wali dan dua orang saksi. tetapi saksi-saksi tersebut tidak boleh mengumumkannya kepada khayalak ramai. maka nikah siri semacam ini dikenakan sanksi hukum. Pendapat Kedua : menyatakan bahwa nikah seperti ini hukumnya tidak sah. al Mughni. Pertanyaannya adalah kenapa negara memberikan sanksi kepada para pelaku nikah siri dalam katagori ketiga ini? Apakah syarat sah pernikahan harus dicatatkan Bagaimana status lembaga kepada pencatatan pernikahan lembaga dalam kaca mata pencatatan? syari’at? . Urwah. Imam Abu Hanifah. adapun rawi-raiwi lainnya semuanya tsiqat (terpecaya) (Ibnu Haitami. cet : pertama : 4/ 401) Mereka berdalil dengan apa yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Hatib al Jumahi. b. di antaranya adalah : a. atau membatalkan pernikahan tersebut. Beirut. karena syarat-syarat dan rukun pernikahan sudah terpenuhi. Ad Dzakhirah. yaitu masyarakat sudah terlanjur memberikan stigma negatif kepada setiap yang menikah lebih dari satu. kecuali dengan wali dan dua saksi yang adil“ (HR Daruqutni dan al Baihaqi). maka untuk menghindari stigma negatif tersebut. Sya’bi. Imam Ahmad (Ibnu Qudamah. Muhammad al Hajji. tanpa perlu lagi diumumkan kepada khayalak ramai. Ibnu Majah ) Imam Tirmidzi berkata : Ini merupakan hadits gharib hasan pada bab ini. asy-Syarh al-Mumti’ ’ala Zaad al Mustamti’. Pengertian Ketiga : Nikah Siri adalah pernikahan yang dilakukan dengan adanya wali dan dua orang saksi yang adil serta adanya ijab qabul. dan pukullah rebana untuk mengumumkannya. di antaranya adalah Umar bin Khattab. Bagaimana hukum nikah siri dalam bentuk ketiga ini? Pertama : Menurut kaca mata syariat. kenapa sebagian masyarakat melakukan pernikahan dalam bentuk ini? Apa yang mendorong mereka untuk tidak mencatatkan pernikahan mereka ke lembaga pencatatan resmi? Ada beberapa alasan yang bisa diungkap di sini. Dar al Gharb al Islami. Pertanyaannya. Pertama : 12/ 95). Nafi’. “ ( HR at Tabrani di dalam al Ausath dari Muhammad bin Abdus Shomad bin Abu al Jirah yang belum pernah disinggung oleh para ulama. Faktor-faktor lain yang memaksa seseorang untuk tidak mencatatkan pernikahannya. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum nikah seperti ini : Pendapat pertama : menyatakan bahwa nikah seperti ini hukumnya sah tapi makruh. bahwa Rasulullah saw bersabda : ‫ب ي نا‬ ‫ل ا‬ “Tidak sah suatu pernikahan. c. bahkan mereka menyatakan wajib ditegakkan had kepada kedua mempelai jika mereka terbukti sudah melakukan hubungan seksual. sehingga tidak mungkin dimasukkan dalam syarat-syarat pernikahan. Adapun perintah untuk mengumumkan yang terdapat di dalam beberapa hadist menunjukkan anjuran dan bukan suatu kewajiban. bahwasanya Rasulullah saw bersabda : ‫ن ا ،أ لن‬ ‫عل‬ ‫م ا ،ف ي‬ ‫ب‬ ‫ل يه‬ ‫با‬ “ Umumkanlah nikah. Beirut. Begitu juga kedua saksi wajib diberikan sangsi jika memang sengaja untuk merahasiakan pernikahan kedua mempelai tersebut. Majma’ az-Zawaid wal Manbau al Fawaid (4/62) hadist 8057) Pernikahan Siri dalam bentuk yang pertama ini hukumnya tidak sah. menurut kaca mata hukum positif di Indonesia dengan merujuk pada RUU Pernikahan di atas. dalam hal ini adalah KUA. sebagaimana akad jual beli. adakanlah di masjid. Hadits di atas menunjukkan bahwa suatu pernikahan jika telah dihadiri wali dan dua orang saksi dianggap sah. hanya saja pernikahan ini tidak dicatatkan dalam lembaga pencatatan Negara. Daar al Kitab al Arabi. Bahkan ulama Malikiyah mengharuskan suaminya untuk segera menceraikan istrinya. al Mughni : 7/ 435. d. Kedua : namun. seseorang tidak mencatatkan pernikahannya kepada lembaga resmi. Selain itu. 1994. Begitu juga pengumuman pernikahan yang disertai dengan tabuhan rebana biasanya dilakukan setelah selesai akad. 1428. Dalilnya adalah hadist Aisyah ra. Imam Syafi’I. Faktor tempat kerja atau sekolah. Ini pendapat mayoritas ulama. maka tidak ada syarat untuk diumumkan. “ (HR an Nasai dan al Hakim dan beliau mensahihkannya serta dihasankan yang lain). bahwasanya Rasulullah saw bersabda: ‫ح م ح ل بي فصل‬ ‫ص ت‬ “Pembeda antara yang halal (pernikahan) dan yang haram (perzinaan) adalah gendang rebana dan suara. Diriwayatkan dari Aisyah ra.Atsar di atas dikuatkan dengan hadist Abu Hurairah ra : ‫لم ل يه هللا ص لى ن بي أ‬ ‫ن ى‬ ‫ن ا‬ “Bahwa nabi Muhammad saw melarang nikah siri. : 7/ 434-435). yaitu aturan tempat kerjanya atau kantornya atau sekolahnya tidak membolehkan menikah selama dia bekerja atau menikah lebih dari satu istri. Hadits ini disahihkan oleh Ibnu Hazm di dalam (alMuhalla : 9/465). yaitu sebagian masyarakat khususnya yang ekonomi mereka menengah ke bawah merasa tidak mampu membayar administrasi pencatatan yang kadang membengkak dua kali lipat dari biaya resmi. nikah siri dalam katagori ini. tahqiq : DR. cet. Dar Ibnu al Jauzi . Pendapat ini dipegang oleh Malikiyah dan sebagian dari ulama madzhab Hanabilah (Ibnu Qudamah. hukumnya sah dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. mereka juga mengatakan bahwa pernikahan adalah sebuah akad mu’awadhah (akad timbal balik yang saling menguntungkan). (Al Qarrafi.

Dar al Kutub al Ilmiyah. . Cet. 1993. maka diperlukan penertiban-penertiban terhadap hubungan antarindividu di dalam masyarakat. Hukum Pernikahan Tanpa Wali Adapun mengenai fakta pertama. pada dasarnya negara berhak untuk membuat peraturan agar setiap orang yang menikah. al Asybah wa An-Nadhair. sesungguhnya Islam telah melarang seorang wanita menikah tanpa wali. selama mereka bertanggung jawab terhadap anak dan istri mereka. bukan malah meminta bayaran lebih. padahal dia mampu dan sanggup berbuat adil. maka mestinya negara tidak mempersulit proses pencatatan pernikahan tersebut. hlm : 121) Maka. di antaranya adalah mengambil langkah-langkah sebagai berikut : a. karena dianggap belum diperlukan. Wallahu A’lam. ‫ال نكاح إال بىلي‬ “Tidak sah suatu pernikahan tanpa seorang wali. Tidak mempersulit orang-orang yang hendak menikah lebih dari satu. b. jika keadaannya demikian. maka tentunya peraturan tersebut harus diwaspadai. maka rancangan undang-undang tersebut telah merambah kepada hal-hal yang bukan wewenangnya.“ (As Suyuti. c. lihat. Imam Asy Syaukani. secara umum negara berhak membuat aturan-aturan yang mengarah kepada maslahat umum. dalam ini. sehingga diharapkan bisa meminimalisir adanya kejahatan.” [HR yang lima kecuali Imam An Nasaaiy. yang biasanya wanita dan anak-anak menjadi korban utamanya. dengan dalih bekerja di luar jam kantor. Bierut. penipuan atau kekerasan di dalam rumah tangga. beriring dengan perkembangan zaman dan permasalahan masyarakat semakin kompleks. Ketentuan semacam ini didasarkan pada sebuah hadits yang dituturkan dari sahabat Abu Musa ra. khususnya jika terdapat indikasiindikasi yang mengarah kepada pelarangan orang yang ingin menikah lebih dari satu. Memberikan keringanan biaya bagi masyarakat yang tidak mampu. Maka. Oleh karenanya.Kalau kita menengok sejarah Islam pada masa lalu. Nailul Authar VI: 230 hadits ke 2648]. Pertama. segera melaporkan kepada lembaga pencatatan pernikahan. Tetapi jika ada tujuan-tujuan lain yang tersembunyi dan tidak diungkap. jika memang tujuan pencatatan pernikahan adalah untuk melindungi hak-hak kaum wanita dan anak-anak serta untuk kemaslahatan kaum muslimin secara umum. dan melarang sesuatu yang halal. dan secara tidak langsung memberikan jalan bagi perzinahan dan prostitusi yang semakin hari semakin marak di -negeri Indonesia ini. Membuka pelayanan pada hari-hari di mana banyak diselenggarakan acara pernikahan. mungkin saja belum ada lembaga pemerintahan yang secara khusus menangani pencatatan masalah pernikahan. Hal itu. Namun. yakni pernikahan tanpa wali. serta telah mengumumkan perang terhadap ajaran Islam. Hal itu dimaksudkan agar setiap pernikahan yang dilangsungkan antara kedua mempelai mempunyai kekuatan hukum. serta merupakan sunah Rasulullah saw. ternyata tidak ditemukan riwayat bahwa pemerintahan Islam memberikan sangsi kepada orang yang menikah dan belum melaporkan kepada negara. bahwasanya Rasulullah saw bersabda. Hal itu sesuai dengan kaidah fiqhiyah yang berbunyi : “Kebijaksanaan pemimpin harus mengarah kepada maslahat masyarakat. Dan memang pernikahan bukanlah urusan negara tetapi merupakan hak setiap individu. dan negara berhak memberikan sangsi kepada orang-orang yang melanggarnya.

orang-orang berbeda dalam kapasitas ilmiah untuk memahami dan menyimpulkan penetapan dari syariah. Sehubungan dengan din atau "agama" kita. syariat belum menetapkan bentuk dan kadar sanksi bagi orang-orang yang terlibat dalam pernikahan tanpa wali. Oleh karena itu. dalam ketaatan kepada . yang mengoperasionalkan Alquran dan sunah dalam putusan syariah khusus dalam kehidupan kita yang secara kolektif dikenal sebagai fiqh atau "yurisprudensi". bahwasanya Rasulullah saw pernah bersabda: ‫أيما امرأة نكحت بغير إذن وليها فنكاحها باطل. MAZHAB TANPA MAZHAB Kata Mazhab berasal dari makna kata Arab "pergi" atau "mengambil sebagai cara". yang membentuk dan yang paling penting dari bagian terbesar agamanya. pernikahannya batil”. Syafi'i. dan keputusan mengenai bentuk dan kadar sanksinya diserahkan sepenuhnya kepada seorang qadliy (hakim). Sebab. Nailul Authar VI: 230 hadits ke 2649]. karena alamnya dan banyaknya teks Al-Qur'an dan hadits yang terlibat. pengasingan. Abu Hurayrah ra juga meriwayatkan sebuah hadits. Untuk pengetahuan agama. yaitu prinsip-prinsip umum etika Islam untuk berbuat baik. dan sebagainya. Para imam mujtahid dengan demikian berperan sebagai penjelas. Seorang wanita juga tidak berhak menikahkan dirinya sendiri. seperti Abu Hanifah. dan seterusnya. seperti juga halnya dengan jenis pengetahuan kedua. yang menguji bukti-bukti mereka dan menyempurnakan dan meningkatkan pekerjaan mereka. Malik. Seorang hakim boleh menetapkan sanksi penjara. bahwasanya Rasulullah saw bersabda: ‫ال تزوج المرأة المرأة ال تزوج نفسها فإن الزانية هي التي تزوج نفسها‬ ”Seorang wanita tidak boleh menikahkan wanita lainnya. menjauhi maksiat. sesungguhnya wanita pezina itu adalah (seorang wanita) yang menikahkan dirinya sendiri”. Jenis ketiga dari pengetahuan agama adalah tentang pemahaman spesifik mengenai perintah dan larangan ilahi tertentu yang membentuk syariah. bekerjasama dengan orang lain dalam pekerjaan baik. Imam Asy Syaukaniy. pernikahannya batil. Setiap muslim dapat mengambil prinsip-prinsip umum. Makna semacam ini dipertegas dan diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah ra. atau Ahmad . fiqh ini hanya merupakan bagian dari agama. Semua dari kita mungkin mendapatkan pengetahuan ini langsung dari Alquran dan hadis. فنكاحها باطل‬ “Wanita mana pun yang menikah tanpa mendapat izin walinya. masing-masing dari kita memiliki tiga jenis pengetahuan. Nailul Authar VI: 231 hadits ke 2649) Berdasarkan hadits-hadits di atas dapatlah disimpulkan bahwa pernikahan tanpa wali adalah pernikahan batil. kasus pernikahan tanpa wali dimasukkan ke dalam bab ta’zir. kata ”laa” pada hadits menunjukkan pengertian ‘tidak sah’. فنكاحها باطل . [HR yang lima kecuali Imam An Nasaaiy. bukan sekedar ’tidak sempurna’ sebagaimana pendapat sebagian ahli fikih. dan lain sebagainya kepada pelaku pernikahan tanpa wali.Berdasarkan dalalah al-iqtidla’. Lihat. (HR Ibn Majah dan Ad Daruquthniy. Hanya saja. mazhab mewakili seluruh pemikiran ulama dari Imam mujtahid tertentu. malaikat-Nya. Tetapi semua dari kita telah diperintahkan untuk menghidupkan syariah dalam kehidupan kita. nabi. kenabian Muhammad SAW. dari Alquran dan hadis. Imam Asy Syaukaniy. kitab. Dalam arti yang lebih luas. dan berhak mendapatkan sanksi di dunia.bersama-sama dengan banyak ulama generasi pertama yang datang setelah mereka. Di sini. Lihat. maka pernikahannya batil. Jenis pertama adalah pengetahuan umum ajaran keimanan Islam dalam kesatuan Allah. Pelakunya telah melakukan maksiyat kepada Allah swt. dan mengacu pada pemilihan mujtahid dalam kaitannya dengan sejumlah kemungkinan penafsiran dalam menurunkan hukum Allah dari teks utama Qur'an dan hadis pada pertanyaan tertentu.

Intinya adalah bahwa Nabi Saw tidak lagi hidup untuk mengajar kita secara pribadi.bersama dengan para ulama tradisional setelah mereka. Retorika mengikuti 'syariah tanpa mengikuti mazhab tertentu' adalah seperti seseorang datang ke dealer mobil untuk membeli mobil. Demikian juga dengan syariah. tetapi bersikeras tidak memakai merek yang telah dikenal luas . Ayat-ayat ini dan dan hadis-hadis lainnya mewajibkan orang beriman yang tidak berada pada level istinbat atau menurunkan langsung aturan yang berasal dari Alquran dan hadis untuk bertanya dan mengikuti seseorang dalam beberapa ketentuan hukum tersebut kepada mereka yang berada di level ini. jawaban berbasis pengetahuan untuk pertanyaan Muslim tentang bagaimana menaati Allah. dan segala sesuatu yang kita miliki dari dia. karena jika kita masing-masing secara pribadi bertanggung jawab untuk mengevaluasi semua teks utama yang berkaitan dengan setiap pertanyaan. Salesman mungkin bisa maklum dan sedikit terrsenyum. bahkan ada yang sampai anti mazhab. masa lalu. Alasan mengapa mahzab ada. seumur hidup belajar tidak akan cukup untuk itu. yang lebih kompleks daripada mobil karena berhubungan dengan alam tindakan manusia dan berbagai macam interpretasi teks-teks suci. yaitu mereka adalah imam mujtahid. syariah Islam. adalah bahwa mereka melayani ribuan suara.telah memenuhi uji penyelidikan ilmiah dan telah memenangkan kepercayaan diri dari pemikiran dan praktek Muslim pada semua abad kebesaran Islam. Penggambaran yang absurd tentang mazhab ini terjadi karena keawaman dan kekurangan informasi yang benar tentang hakikat mahzab fiqih. Kalau ada seorang bernama MasPaijo. Sebaliknya. adalah seperti mengganti dari sesuatu yang telah diuji dan terbukti kepada sesuatu yang tentatif (belum diuji dan terbukti). Slogan-slogan yang kita dengar saat ini tentang "mengikuti Alquran dan sunah bukannya mengikuti mahzab" telah beredar luas. ahli hadis. Muslim telah menyadari bahwa mengikuti mazhab adalah sarana untuk mengikuti ulama super yang tidak hanya memiliki pengetahuan yang komprehensif dari teks Al-Qur'an dan hadits yang berkaitan dengan setiap masalah di mana dia memberi penilaian. dan untuk hal ini Muslim terdiri dari dua jenis. Untuk meninggalkan buah dari penelitian ini. "Bila mereka merujuknya kepada Nabi dan orang-orang yang memiliki kapasitas di antara mereka lalu orang yang tugasnya menemukan akan tahu permasalahannya"(Qur'an 4:83). Mazhab-mazhab fiqih itu bukan representasi dari perpecahan atau pereseteruan. Kenyataannya sebenarnya tidak demikian. Pentingnya Bermazhab Banyak orang salah sangka bahwa adanya mazhab fiqih itu berarti sama dengan perpecahan. 16:43). mengungkapkan kata-kata" alladhina yastanbitunahu minhum". mas Paimin. apalagi peperangan di dalam tubuh umat Islam. sesuai dengan firman Allah di Surat al-Nahl. dan master lain dari ilmu hukum Islam. dan merakit banyak bagian dari produk akhir. panggilan untuk meninggalkan usaha cendekiawan Islam selama berabad-abad dalam menemukan dan mengejawantahkan perintah Al-Qur'an dan sunnah kasus per-kasus secara rinci. Jadi pertanyaannya bukanlah apakah harus atau tidak untuk kita mengambil din dari ulama. sebagaimana berpecah umat lain dalam sekte-sekte. Inilah sebabnya mengapa membuang ulama monumental dari mahzab dalam mengoperasionalkan Qur'an dan sunnah untuk mengadopsi pemahaman seorang syekh kontemporer bukan hanya pendapat yang salah. sekarang. dalam lima puluh tahun. yaitu mereka yang dapat melakukan ini sendiri. yang mengikuti di setiap sekolah mereka dan mengevaluasi dan meningkatkan pekerjaan mereka . ". manfaat dari mereka. yang disebut istinbat dalam bahasa Arab.tetapi hanya "mobil. mufasir Al Qur'an. dan akan meninggalkan mencari nafkah atau meninggalkan satu kebaikan dalam din.Allah. yang sisanya dapat memperoleh pengetahuan agama dan menegur orang-orang mereka ketika mereka kembali. jika Anda tidak tahu" (QS. melainkan. telah disampaikan kepada kita melalui ulama Islam. pengumpul literatur. Dari setiap bagian dari mereka. Tidak sulit untuk melihat mengapa Allah mengharuskan kita untuk mengikuti para ahli. Sementara panggilan untuk kembali ke Qur'an dan sunnah adalah slogan yang menarik. tapi mereka juga hidup di zaman milenium yang lebih dekat kepada Nabi SAW dan para sahabat. bahwa mungkin mereka dapat mengambil peringatan" (Qur'an 9:122). Orang seperti itu tidak benar-benar tahu apa yang dia inginkan. bagi para pengikut syekh kontemporer yang tidak berada pada level pendahulu mereka (tidak seperti yang mereka klaim). memproduksi.maka tanyakanlah kepada orang-orang yang diberi pengetahuan. mobil-mobil di stand dealer tidak ada yang seperti itu. bahkan jika diberi mesin peleburan logam dan alatalat produksi. atau bahkan seribu tahun.. dan hanya bisa menunjukkan bahwa produk canggih berasal dari sistem produksi yang canggih. Ini sama saja dengan merongsokkan Mercedes untuk dijadikan go-kart. mengapa tidak sebagian saja pergi. sebuah upaya interdisipliner yang sangat canggih oleh mujtahid. dan dalam Surat An-Nisa. Sehingga ada dari sebagian umat Islam yang menjauhkan diri dari bermazhab. tetapi tersedia berdasarkan merk. dari ulama yang mana? Dan ini adalah alasan kita telah bermahzab dalam Islam: karena keunggulan dan superioritas keulamaan imam mujtahid . di mana ungkapan orang dari mereka yang bertugas itu adalah untuk menemukannya. merujuk kepada mereka yang memiliki kapasitas untuk menarik kesimpulan langsung dari bukti-bukti. itulah sebabnya Allah berfirman dalam surat al-Taubah. dari pabrik-pabrik dengan pembagian kerja antara mereka yang menguji. dalam konteks jihad: "Tidak semua orang beriman harus pergi untuk berperang. yaitu dengan mengikuti Imam mujtahid. murni dan sederhana". Ini adalah kewajaran dari upaya-upaya kolektif manusia untuk menghasilkan sesuatu yang jauh lebih baik daripada kita sendiri bisa menghasilkan dari awal. dan masa depan. apakah hadis atau Al Qur'an. dan mereka yang harus melakukannya dengan cara lain.bukanlah Volkswagen atau Rolls-Royce atau Chevrolet . adanya mazhab itu memang merupakan kebutuhan asasi untuk bisa kembali kepada Al-Quan dan As-Sunnah. Semua orang setuju bahwa kita harus mengikuti Qur'an dan sunnah Nabi SAW. pada kenyataannya ini merupakan suatu kemunduran besar. mas Tugirin dan mas Wakijan bersikap yang anti . ketika taqwa atau "takut pada Allah" adalah norma-baik yang kondisinya sangat jauh berbeda dengan ulama yang ada saat ini.

mazhab dan mengatakan hanya akan menggunakan Al-Quran dan AsSunnah saja. baik Windows.Sebab di belakang masing-masing sistem operasi itu pasti berkumpul para maniak dan geek yang bekerja 24 jam untuk kesempurnaan sistem operasinya. di mana setiap orang pastimemerlukan sistem operasi (OS). Linux. tidak ada di dunia ini orang yang tidak bermazhab. yaitu mazhab Al-Paijoiyah. Adanya beragam sistem operasi di dunia komputer menjadi hal yang mutlak bagi setiap user. Setiap orang yang berupaya untuk memahami kedua sumber ajaran Islam itu. Buat apa merepotkan diri bikin sistem operasi. Bahkan seorang programer level advance sekalipun belum tentu mau bersusah payah melakukannya. maka minimal dia mengacu kepada mazhab dirinya sendiri. Kalau kita buat sedikit perumpamaan dengan dunia komputer. Sebab yang namanya mazhab itu adalah sebuah sikap dan cara seseorang dalam memahami teks Al-Quran dan As-Sunnah. . Mac OS atau yang lainnya. sebenarnya mereka masing-masing sudah menciptakan sebuah mazhab baru.Apalagi buat orang-orang kebanyakan. maka adanya mazhab-mazhab itu ibarat seseorang dalam berkomputer. Tapi yang jelas. pada hakikatnya sedang bermazhab. Semua orang bermazhab. Al-Paiminiyah. Bolehkah Mendirikan Mazhab Sendiri? Jawabnya tentu saja boleh. Namun dia tentu perlu membuat sendiri sistem operasi itu. lalu apa salahnya sistem operasi yang sudah tersedia di pasaran. Tidak mungkin seseorang menggunakan komputer tanpa sistem operasi. Walhasil. akan menjadi sangat lebih praktis kalau kita memanfaaatkan yang sudah ada saja. Kalau ada orang yang agak eksentrik dan bertekad tidak mau pakai Windows. Mac Os atau sistem operasi lain yang telah tersedia. sebab tanpa sistem operasi. manusia hanya bicara dengan mesin. yang tentunya tidak terlalu praktis. asalkan dia mampu meng-istimbath (menyimpulkan) sendiri setiap detail ayat Al-Quran dan As-sunnah. Linux. Kalau tidak mengacu kepada mazhab orang lain yang sudah ada. baik dia sadari atau tanpa disadarinya. rasanya terlalu mengada-ada kalau harus membuat dulu sistem operasi sendiri. tentu saja dia berhak sepenuhnya untuk bersikap demikian. AtTugiriniyah dan Al-Wakijaniyah. Tentu masing-masingnya punya kelebihan dan kekurangan.

Demikian juga dengan ke-4 mazhab yang ada. yang hasilnya belum tentu lebih baik. Beliau tetap bermazhab meski sudah pandai mengistimbath hukum sendiri.com . Akan tetapi boleh saja kalau ada dari putera puteri Islam yang secara khusus belajar syariah hingga ke level yang jauh lebih dalam lagi. www. Namun seorang yang tingkat keilmuwannya sudah mendalam semacam AlImam al-Ghazali rahimahullah sekalipun tetap mengacu kepada salah satu mazhab yang ada. Al-`Izz bin Abdissalam dan lainnya. Meninggalkan mazhab-mazhab itu sama saja bikin kerjaan baru. An-Nawawi. mereka bekerja siang malam untuk menghasilakn sistem fiqih Islami yang siap pakai serta user friendly.kampussyariah. lalu suatu saat merumuskan mazhab baru dalam fiqih Islami. yaitu mazhab As-Syafi`iyah. Di dalamnya telah berkumpul ratusan bahwa ribuan ulama ahli level tertinggi yang pernah dimiliki umat Islam. Demikian juga dengan beragam ulama besar lainnya sepertiAl-Mawardi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful