Nikah Siri Dari Dua Sudut Pandang Berbeda

Taufik Hidayat, SH.
Keabadian ikatan pernikahan merupakan tujuan dasar aqad nikah dalam Islam. Janji yang diikrarkan setelah aqad berlaku untuk selamanya, sepanjang hayat manusia. Supaya suami dan isteri secara bersama-sama dapat mewujudkan sebuah mahligai rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Namun disisilain, Islam tidak melarang dan malah memberikan hak agar seseorang memiliki isteri lebih dari satu (poligami) asal sesuai dengan hokum dan hal itu dilakukan bukan hanya menuruti hawa nafsu. Namun di Indonesia tidak serta merta hak itu dapat diwujudkan karena harus ada persetujuan dari isteri yang ada sebelum dapat izin dari pengadilan (UU No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan). Namun, hal itu tidak menghilangkan ketentuan syariat Islam bahwa poligami tanpa persetujuan isteri yang ada dan tanpa izin pengadilan adalah tetap sah apabila pernikahan tersebut memenuhi rukun nikah sebagaimana yang ditentukan oleh syariat Islam (disebut nikah siri) dengan catatan bahwa isteri yang telah ada itu tidak lebih dari 4 (empat) orang. Aktifitas nikah siri atau nikah diluar Kantor Urusan Agama (KUA), hingga kini masih sering terjadi. Dalam Islam, Nikah siri sah secara syariat sepanjang syarat-syarat dan ketentuannya dipenuhi. Namun, dalam terminology fiqih nikah siri tidak ada. Apa yang dikenal masyarakat adalah kawin siri, dikenal sebagai pernikahan yang tidak tercatat dan sembunyi-sembunyi. Padahal, sebenarnya tidak demikian. Pemaknaan nikah siri di Indonesia adalah nikah siri tidak tercatat (secara hukum) tapi tetap diketahui oleh kedua keluarga, ada saksinya dan ada penghulunya. Jadi, bukan kawin diam-diam, kalau pun disalahkan, pelakunya yang salah karena kegiatan tersebut bisa merugikan pihak lain. Misalnya, ketika mengurus pension janda, maka isteri yang tidak tercatat (syarat administratif) tidak bisa mendapatkan pension janda itu, demikian pula bagi seorang anak dari pernikahan siri (begitu juga ibunya selaku isteri sah menurut hukum Islam) yang ingin menjadi ahli waris, maka ia tidak akan dapat menjadi ahli waris tanpa terlebih dulu mengajukan itsbat nikah ke Pengadilan Agama (Mahkamah Syar’iyah kalau di Aceh). Pengertian nikah siri yang dipahami oleh masyarakat ada dua macam, yaitu (1) Pernikahan yang dilakukan tanpa wali yang sah ataupun saksi. (2) Pernikahan yang dilakukan dengan adanya wali dan terpenuh isyarat-syarat lainnya tetapi tidak tercatat di KUA setempat. Pernikahan yang dilakukan secara siri tanpa diketahui oleh pihak wali perempuan, maka pernikahan seperti ini batil dan tidak sah. Hal ini berdasarkan hadist yang diriwayatkan Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan lain-lain dari Aisyah ra, beliau berkata: Rasulullah SAW bersabda “perempuan manasaja yang dinikahi tanpa izin walinya, maka nikahnya bathil-

beliau mengatakannya tiga kali.”
Hal lain yang wajib diperhatikan oleh orang yang hendak menjalankan nikah siri hendaklah ia berlaku adil terhadap para isterinya dalam menggilir jatah menginap dan memiliki kemampuan dalam memberikan nafkah. Jangan sampai melakukan nikah siri karena mengikuti dorongan nafsu syahwat saja. Selanjutnya, pernikahan yang hanya memenuhi prosedur keagamaan, ada rukun dan lengkap syaratnya, tapi dirahasiakan, dengan tidak melaporkannya ke KUA. Biasanya nikah siri dilaksanakan karena kedua belah pihak belum siap meresmikannya, namun dipihak lain untuk menjaga agar tidak terjadi kecelakaan atau terjerumus kepada hal-hal yang dilarang agama. Sah tidaknya nikah siri secara agama, tergantung kepada sejauh manasyarat-syarat nikah terpenuhi yaitu adanya wali, minimal dua saksi, adanya mahar dan ijab qabul. Secara hokum positif, nikah siri tidak legal karena tidak tercatat dalam catatan resmi pemerintah. Hal ini dikarenakan, siapapun warga Negara Indonesia yang menikah harus mendaftarkan pernikahan itu ke KUA atau Kantor Catatan Sipil, untuk mendapatkan Surat atau Akta Nikah. Jika terjadi persoalan-persoalan yang menyangkut hokum sipil, pelaku nikah siri tidak berhak mendapatkan/menyelesaikan masalahnya melalui lembaga-lembaga hukum yang ada, karena pernikahannya tidak terdaftar.

Bagaimana sebenarnya pandangan Islam tentang Nikah Siri ? Siri secara etimologi berarti sesuatu yang tersembunyi, rahasia, pelan-pelan. (Ibnu al Mandhur, Lisan al Arab : 4/ 356). Kadang Siri juga diartikan zina atau melakukan hubungan seksual, sebagaimana dalam firman Allah swt :

“Tetapi janganlah kamu membuat perjanjian untuk berzina (atau melakukan hubungan seksual) dengan mereka. “ (QS Al Baqarah : 235 ) Sirran pada ayat di atas menurut pendapat sebagian ulama berarti : berzina atau melakukan hubungan seksual. Pendapat ini dipilih Jabir bin Zaid, Hasan Bashri, Qatadah, AnNakh’i, Ad Dhohak, Imam Syafi’i dan Imam Thobari. (Tafsir al Qurtubi : 3/126). Pendapat ini dikuatkan dengan salah satu syi’ir yang disebutkan oleh Imru al Qais : ‫با ة ز مت أ‬ ‫ب ت أن ني ي م ب‬ ‫أح‬ ‫أم ثا ى‬ “Basbasah hari ini mengklaim bahwa aku sudah tua dan orang sepertiku ini tidak bisa lagi melakukan hubungan seksual dengan baik.“ Saat ini, nikah Siri dalam pandangan masyarakat mempunyai tiga pengertian : Pengertian Pertama : Nikah Siri adalah pernikahan yang dilakukan secara sembunyi–sembunyi tanpa wali dan saksi. Inilah pengertian yang pernah diungkap oleh Imam Syafi’i di dalam kitab Al Umm 5/ 23, ‫ما أخ ب ن ا‬ ‫م بن ا م أ ى ق ال زبي أب ي‬ ‫ل يه ي‬ ‫ل‬ ‫ن ا ذ ف قال م أ‬ ‫أ يز‬ ‫مت ف يه ق مت نت‬ “Dari Malik dari Abi Zubair berkata bahwa suatu hari Umar dilapori tentang pernikahan yang tidak disaksikan, kecuali seorang laki-laki dan seorang perempuan, maka beliau berkata : “Ini adalah nikah sirri, dan saya tidak membolehkannya, kalau saya mengetahuinya, niscaya akan saya rajam (pelakunya). “

tetapi saksi-saksi tersebut tidak boleh mengumumkannya kepada khayalak ramai. (Al Qarrafi. tanpa perlu lagi diumumkan kepada khayalak ramai. dan pukullah rebana untuk mengumumkannya. Faktor tempat kerja atau sekolah. adapun rawi-raiwi lainnya semuanya tsiqat (terpecaya) (Ibnu Haitami. Begitu juga pengumuman pernikahan yang disertai dengan tabuhan rebana biasanya dilakukan setelah selesai akad. Urwah. bahwa Rasulullah saw bersabda : ‫ب ي نا‬ ‫ل ا‬ “Tidak sah suatu pernikahan. hukumnya sah dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Dar Ibnu al Jauzi . kenapa sebagian masyarakat melakukan pernikahan dalam bentuk ini? Apa yang mendorong mereka untuk tidak mencatatkan pernikahan mereka ke lembaga pencatatan resmi? Ada beberapa alasan yang bisa diungkap di sini. Diriwayatkan dari Aisyah ra. bahwasanya Rasulullah saw bersabda: ‫ح م ح ل بي فصل‬ ‫ص ت‬ “Pembeda antara yang halal (pernikahan) dan yang haram (perzinaan) adalah gendang rebana dan suara. Ini pendapat mayoritas ulama. Daar al Kitab al Arabi. : 7/ 434-435). Pendapat ini dipegang oleh Malikiyah dan sebagian dari ulama madzhab Hanabilah (Ibnu Qudamah. Kedua : namun. sehingga tidak mungkin dimasukkan dalam syarat-syarat pernikahan. Pertama : 12/ 95). asy-Syarh al-Mumti’ ’ala Zaad al Mustamti’. cet. Beirut. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum nikah seperti ini : Pendapat pertama : menyatakan bahwa nikah seperti ini hukumnya sah tapi makruh. tahqiq : DR. Muhammad al Hajji. bahkan mereka menyatakan wajib ditegakkan had kepada kedua mempelai jika mereka terbukti sudah melakukan hubungan seksual. Nafi’. Begitu juga kedua saksi wajib diberikan sangsi jika memang sengaja untuk merahasiakan pernikahan kedua mempelai tersebut. atau membatalkan pernikahan tersebut. Dar al Gharb al Islami. maka untuk menghindari stigma negatif tersebut. Pengertian Kedua : Nikah Siri adalah pernikahan yang dihadiri oleh wali dan dua orang saksi. bahwasanya Rasulullah saw bersabda : ‫ن ا ،أ لن‬ ‫عل‬ ‫م ا ،ف ي‬ ‫ب‬ ‫ل يه‬ ‫با‬ “ Umumkanlah nikah. Ibnu Majah ) Imam Tirmidzi berkata : Ini merupakan hadits gharib hasan pada bab ini. Faktor sosial. nikah siri dalam katagori ini. Faktor-faktor lain yang memaksa seseorang untuk tidak mencatatkan pernikahannya. Imam Abu Hanifah. Majma’ az-Zawaid wal Manbau al Fawaid (4/62) hadist 8057) Pernikahan Siri dalam bentuk yang pertama ini hukumnya tidak sah. Hadits ini disahihkan oleh Ibnu Hazm di dalam (alMuhalla : 9/465). maka tidak ada syarat untuk diumumkan. dalam hal ini adalah KUA. Ad Dzakhirah. menurut kaca mata hukum positif di Indonesia dengan merujuk pada RUU Pernikahan di atas. Bahkan ulama Malikiyah mengharuskan suaminya untuk segera menceraikan istrinya. 1994. karena syarat-syarat dan rukun pernikahan sudah terpenuhi. Beirut. Imam Ahmad (Ibnu Qudamah. d. Pendapat Kedua : menyatakan bahwa nikah seperti ini hukumnya tidak sah. al Mughni : 7/ 435. Faktor biaya. seseorang tidak mencatatkan pernikahannya kepada lembaga resmi. di antaranya adalah Umar bin Khattab. yaitu sebagian masyarakat khususnya yang ekonomi mereka menengah ke bawah merasa tidak mampu membayar administrasi pencatatan yang kadang membengkak dua kali lipat dari biaya resmi. Sya’bi. yaitu aturan tempat kerjanya atau kantornya atau sekolahnya tidak membolehkan menikah selama dia bekerja atau menikah lebih dari satu istri. yaitu masyarakat sudah terlanjur memberikan stigma negatif kepada setiap yang menikah lebih dari satu. di antaranya adalah : a. al Mughni. Selain itu. adakanlah di masjid. b. Hadits di atas menunjukkan bahwa suatu pernikahan jika telah dihadiri wali dan dua orang saksi dianggap sah. Adapun perintah untuk mengumumkan yang terdapat di dalam beberapa hadist menunjukkan anjuran dan bukan suatu kewajiban. “ (HR an Nasai dan al Hakim dan beliau mensahihkannya serta dihasankan yang lain). cet : pertama : 4/ 401) Mereka berdalil dengan apa yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Hatib al Jumahi. Syekh al Utsaimin. Pertanyaannya adalah kenapa negara memberikan sanksi kepada para pelaku nikah siri dalam katagori ketiga ini? Apakah syarat sah pernikahan harus dicatatkan Bagaimana status lembaga kepada pencatatan pernikahan lembaga dalam kaca mata pencatatan? syari’at? . Bagaimana hukum nikah siri dalam bentuk ketiga ini? Pertama : Menurut kaca mata syariat. sebagaimana akad jual beli. kecuali dengan wali dan dua saksi yang adil“ (HR Daruqutni dan al Baihaqi).Atsar di atas dikuatkan dengan hadist Abu Hurairah ra : ‫لم ل يه هللا ص لى ن بي أ‬ ‫ن ى‬ ‫ن ا‬ “Bahwa nabi Muhammad saw melarang nikah siri. maka nikah siri semacam ini dikenakan sanksi hukum. hanya saja pernikahan ini tidak dicatatkan dalam lembaga pencatatan Negara. Imam Syafi’I. “ ( HR at Tabrani di dalam al Ausath dari Muhammad bin Abdus Shomad bin Abu al Jirah yang belum pernah disinggung oleh para ulama. c. Pengertian Ketiga : Nikah Siri adalah pernikahan yang dilakukan dengan adanya wali dan dua orang saksi yang adil serta adanya ijab qabul. Pertanyaannya. Dalilnya adalah hadist Aisyah ra. 1428. mereka juga mengatakan bahwa pernikahan adalah sebuah akad mu’awadhah (akad timbal balik yang saling menguntungkan)." ( HR Tirmidzi.

Namun. bahwasanya Rasulullah saw bersabda. c. bukan malah meminta bayaran lebih. segera melaporkan kepada lembaga pencatatan pernikahan. Hal itu sesuai dengan kaidah fiqhiyah yang berbunyi : “Kebijaksanaan pemimpin harus mengarah kepada maslahat masyarakat. dan negara berhak memberikan sangsi kepada orang-orang yang melanggarnya. ‫ال نكاح إال بىلي‬ “Tidak sah suatu pernikahan tanpa seorang wali. maka tentunya peraturan tersebut harus diwaspadai. dengan dalih bekerja di luar jam kantor. Membuka pelayanan pada hari-hari di mana banyak diselenggarakan acara pernikahan. al Asybah wa An-Nadhair. pada dasarnya negara berhak untuk membuat peraturan agar setiap orang yang menikah. Hal itu. serta merupakan sunah Rasulullah saw. dan melarang sesuatu yang halal.“ (As Suyuti. serta telah mengumumkan perang terhadap ajaran Islam. Memberikan keringanan biaya bagi masyarakat yang tidak mampu. Tidak mempersulit orang-orang yang hendak menikah lebih dari satu. Ketentuan semacam ini didasarkan pada sebuah hadits yang dituturkan dari sahabat Abu Musa ra. jika keadaannya demikian. 1993. maka diperlukan penertiban-penertiban terhadap hubungan antarindividu di dalam masyarakat. sehingga diharapkan bisa meminimalisir adanya kejahatan. secara umum negara berhak membuat aturan-aturan yang mengarah kepada maslahat umum. b. maka mestinya negara tidak mempersulit proses pencatatan pernikahan tersebut. Tetapi jika ada tujuan-tujuan lain yang tersembunyi dan tidak diungkap. jika memang tujuan pencatatan pernikahan adalah untuk melindungi hak-hak kaum wanita dan anak-anak serta untuk kemaslahatan kaum muslimin secara umum.” [HR yang lima kecuali Imam An Nasaaiy. Hal itu dimaksudkan agar setiap pernikahan yang dilangsungkan antara kedua mempelai mempunyai kekuatan hukum. Pertama.Kalau kita menengok sejarah Islam pada masa lalu. beriring dengan perkembangan zaman dan permasalahan masyarakat semakin kompleks. Imam Asy Syaukani. Nailul Authar VI: 230 hadits ke 2648]. maka rancangan undang-undang tersebut telah merambah kepada hal-hal yang bukan wewenangnya. dalam ini. dan secara tidak langsung memberikan jalan bagi perzinahan dan prostitusi yang semakin hari semakin marak di -negeri Indonesia ini. khususnya jika terdapat indikasiindikasi yang mengarah kepada pelarangan orang yang ingin menikah lebih dari satu. Bierut. lihat. hlm : 121) Maka. karena dianggap belum diperlukan. di antaranya adalah mengambil langkah-langkah sebagai berikut : a. padahal dia mampu dan sanggup berbuat adil. yakni pernikahan tanpa wali. selama mereka bertanggung jawab terhadap anak dan istri mereka. sesungguhnya Islam telah melarang seorang wanita menikah tanpa wali. . mungkin saja belum ada lembaga pemerintahan yang secara khusus menangani pencatatan masalah pernikahan. ternyata tidak ditemukan riwayat bahwa pemerintahan Islam memberikan sangsi kepada orang yang menikah dan belum melaporkan kepada negara. yang biasanya wanita dan anak-anak menjadi korban utamanya. Dan memang pernikahan bukanlah urusan negara tetapi merupakan hak setiap individu. Maka. Cet. penipuan atau kekerasan di dalam rumah tangga. Hukum Pernikahan Tanpa Wali Adapun mengenai fakta pertama. Dar al Kutub al Ilmiyah. Wallahu A’lam. Oleh karenanya.

bekerjasama dengan orang lain dalam pekerjaan baik. dan seterusnya. syariat belum menetapkan bentuk dan kadar sanksi bagi orang-orang yang terlibat dalam pernikahan tanpa wali. Dalam arti yang lebih luas. (HR Ibn Majah dan Ad Daruquthniy. malaikat-Nya. yaitu prinsip-prinsip umum etika Islam untuk berbuat baik. Imam Asy Syaukaniy. Para imam mujtahid dengan demikian berperan sebagai penjelas. Pelakunya telah melakukan maksiyat kepada Allah swt. فنكاحها باطل . Nailul Authar VI: 231 hadits ke 2649) Berdasarkan hadits-hadits di atas dapatlah disimpulkan bahwa pernikahan tanpa wali adalah pernikahan batil. maka pernikahannya batil. yang mengoperasionalkan Alquran dan sunah dalam putusan syariah khusus dalam kehidupan kita yang secara kolektif dikenal sebagai fiqh atau "yurisprudensi". yang menguji bukti-bukti mereka dan menyempurnakan dan meningkatkan pekerjaan mereka. mazhab mewakili seluruh pemikiran ulama dari Imam mujtahid tertentu. nabi. yang membentuk dan yang paling penting dari bagian terbesar agamanya. Sehubungan dengan din atau "agama" kita. bukan sekedar ’tidak sempurna’ sebagaimana pendapat sebagian ahli fikih. Sebab. seperti juga halnya dengan jenis pengetahuan kedua. kenabian Muhammad SAW. Untuk pengetahuan agama. pernikahannya batil”. Di sini. Imam Asy Syaukaniy. dan keputusan mengenai bentuk dan kadar sanksinya diserahkan sepenuhnya kepada seorang qadliy (hakim). fiqh ini hanya merupakan bagian dari agama. dalam ketaatan kepada . Jenis ketiga dari pengetahuan agama adalah tentang pemahaman spesifik mengenai perintah dan larangan ilahi tertentu yang membentuk syariah. [HR yang lima kecuali Imam An Nasaaiy. dan sebagainya. Lihat. Oleh karena itu. dan berhak mendapatkan sanksi di dunia.Berdasarkan dalalah al-iqtidla’. Makna semacam ini dipertegas dan diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah ra. karena alamnya dan banyaknya teks Al-Qur'an dan hadits yang terlibat. seperti Abu Hanifah. Tetapi semua dari kita telah diperintahkan untuk menghidupkan syariah dalam kehidupan kita. dari Alquran dan hadis. atau Ahmad . bahwasanya Rasulullah saw pernah bersabda: ‫أيما امرأة نكحت بغير إذن وليها فنكاحها باطل. pengasingan. bahwasanya Rasulullah saw bersabda: ‫ال تزوج المرأة المرأة ال تزوج نفسها فإن الزانية هي التي تزوج نفسها‬ ”Seorang wanita tidak boleh menikahkan wanita lainnya.bersama-sama dengan banyak ulama generasi pertama yang datang setelah mereka. pernikahannya batil. MAZHAB TANPA MAZHAB Kata Mazhab berasal dari makna kata Arab "pergi" atau "mengambil sebagai cara". masing-masing dari kita memiliki tiga jenis pengetahuan. menjauhi maksiat. kata ”laa” pada hadits menunjukkan pengertian ‘tidak sah’. Jenis pertama adalah pengetahuan umum ajaran keimanan Islam dalam kesatuan Allah. Lihat. Malik. Seorang hakim boleh menetapkan sanksi penjara. kasus pernikahan tanpa wali dimasukkan ke dalam bab ta’zir. Syafi'i. Seorang wanita juga tidak berhak menikahkan dirinya sendiri. dan lain sebagainya kepada pelaku pernikahan tanpa wali. Setiap muslim dapat mengambil prinsip-prinsip umum. dan mengacu pada pemilihan mujtahid dalam kaitannya dengan sejumlah kemungkinan penafsiran dalam menurunkan hukum Allah dari teks utama Qur'an dan hadis pada pertanyaan tertentu. orang-orang berbeda dalam kapasitas ilmiah untuk memahami dan menyimpulkan penetapan dari syariah. kitab. Hanya saja. فنكاحها باطل‬ “Wanita mana pun yang menikah tanpa mendapat izin walinya. Semua dari kita mungkin mendapatkan pengetahuan ini langsung dari Alquran dan hadis. sesungguhnya wanita pezina itu adalah (seorang wanita) yang menikahkan dirinya sendiri”. Nailul Authar VI: 230 hadits ke 2649]. Abu Hurayrah ra juga meriwayatkan sebuah hadits.

jika Anda tidak tahu" (QS. Ini sama saja dengan merongsokkan Mercedes untuk dijadikan go-kart. manfaat dari mereka. Jadi pertanyaannya bukanlah apakah harus atau tidak untuk kita mengambil din dari ulama. yang mengikuti di setiap sekolah mereka dan mengevaluasi dan meningkatkan pekerjaan mereka . Ayat-ayat ini dan dan hadis-hadis lainnya mewajibkan orang beriman yang tidak berada pada level istinbat atau menurunkan langsung aturan yang berasal dari Alquran dan hadis untuk bertanya dan mengikuti seseorang dalam beberapa ketentuan hukum tersebut kepada mereka yang berada di level ini. yang lebih kompleks daripada mobil karena berhubungan dengan alam tindakan manusia dan berbagai macam interpretasi teks-teks suci. Mazhab-mazhab fiqih itu bukan representasi dari perpecahan atau pereseteruan. dalam konteks jihad: "Tidak semua orang beriman harus pergi untuk berperang. dan untuk hal ini Muslim terdiri dari dua jenis.. dalam lima puluh tahun. dan akan meninggalkan mencari nafkah atau meninggalkan satu kebaikan dalam din. tetapi tersedia berdasarkan merk. Slogan-slogan yang kita dengar saat ini tentang "mengikuti Alquran dan sunah bukannya mengikuti mahzab" telah beredar luas. Ini adalah kewajaran dari upaya-upaya kolektif manusia untuk menghasilkan sesuatu yang jauh lebih baik daripada kita sendiri bisa menghasilkan dari awal. atau bahkan seribu tahun. tapi mereka juga hidup di zaman milenium yang lebih dekat kepada Nabi SAW dan para sahabat. Inilah sebabnya mengapa membuang ulama monumental dari mahzab dalam mengoperasionalkan Qur'an dan sunnah untuk mengadopsi pemahaman seorang syekh kontemporer bukan hanya pendapat yang salah. mengungkapkan kata-kata" alladhina yastanbitunahu minhum". Demikian juga dengan syariah. Pentingnya Bermazhab Banyak orang salah sangka bahwa adanya mazhab fiqih itu berarti sama dengan perpecahan. karena jika kita masing-masing secara pribadi bertanggung jawab untuk mengevaluasi semua teks utama yang berkaitan dengan setiap pertanyaan. apakah hadis atau Al Qur'an. dan mereka yang harus melakukannya dengan cara lain. Alasan mengapa mahzab ada. Kalau ada seorang bernama MasPaijo. mas Paimin. jawaban berbasis pengetahuan untuk pertanyaan Muslim tentang bagaimana menaati Allah. Tidak sulit untuk melihat mengapa Allah mengharuskan kita untuk mengikuti para ahli.bukanlah Volkswagen atau Rolls-Royce atau Chevrolet . Dari setiap bagian dari mereka. dan hanya bisa menunjukkan bahwa produk canggih berasal dari sistem produksi yang canggih. Sementara panggilan untuk kembali ke Qur'an dan sunnah adalah slogan yang menarik. dan segala sesuatu yang kita miliki dari dia. Semua orang setuju bahwa kita harus mengikuti Qur'an dan sunnah Nabi SAW. memproduksi. murni dan sederhana". mas Tugirin dan mas Wakijan bersikap yang anti . "Bila mereka merujuknya kepada Nabi dan orang-orang yang memiliki kapasitas di antara mereka lalu orang yang tugasnya menemukan akan tahu permasalahannya"(Qur'an 4:83). Kenyataannya sebenarnya tidak demikian. ahli hadis. ketika taqwa atau "takut pada Allah" adalah norma-baik yang kondisinya sangat jauh berbeda dengan ulama yang ada saat ini. dan dalam Surat An-Nisa. merujuk kepada mereka yang memiliki kapasitas untuk menarik kesimpulan langsung dari bukti-bukti. yang sisanya dapat memperoleh pengetahuan agama dan menegur orang-orang mereka ketika mereka kembali. dari ulama yang mana? Dan ini adalah alasan kita telah bermahzab dalam Islam: karena keunggulan dan superioritas keulamaan imam mujtahid . mobil-mobil di stand dealer tidak ada yang seperti itu. bahkan ada yang sampai anti mazhab. bahkan jika diberi mesin peleburan logam dan alatalat produksi. Untuk meninggalkan buah dari penelitian ini. Sebaliknya. bagi para pengikut syekh kontemporer yang tidak berada pada level pendahulu mereka (tidak seperti yang mereka klaim). Salesman mungkin bisa maklum dan sedikit terrsenyum. masa lalu. Sehingga ada dari sebagian umat Islam yang menjauhkan diri dari bermazhab. adalah seperti mengganti dari sesuatu yang telah diuji dan terbukti kepada sesuatu yang tentatif (belum diuji dan terbukti).bersama dengan para ulama tradisional setelah mereka. bahwa mungkin mereka dapat mengambil peringatan" (Qur'an 9:122). dan merakit banyak bagian dari produk akhir. yaitu mereka yang dapat melakukan ini sendiri. panggilan untuk meninggalkan usaha cendekiawan Islam selama berabad-abad dalam menemukan dan mengejawantahkan perintah Al-Qur'an dan sunnah kasus per-kasus secara rinci. dari pabrik-pabrik dengan pembagian kerja antara mereka yang menguji. dan master lain dari ilmu hukum Islam. melainkan. Intinya adalah bahwa Nabi Saw tidak lagi hidup untuk mengajar kita secara pribadi. adanya mazhab itu memang merupakan kebutuhan asasi untuk bisa kembali kepada Al-Quan dan As-Sunnah. tetapi bersikeras tidak memakai merek yang telah dikenal luas . sebuah upaya interdisipliner yang sangat canggih oleh mujtahid. apalagi peperangan di dalam tubuh umat Islam. 16:43). Penggambaran yang absurd tentang mazhab ini terjadi karena keawaman dan kekurangan informasi yang benar tentang hakikat mahzab fiqih. yaitu dengan mengikuti Imam mujtahid. pengumpul literatur. sesuai dengan firman Allah di Surat al-Nahl. mufasir Al Qur'an. yang disebut istinbat dalam bahasa Arab. syariah Islam. adalah bahwa mereka melayani ribuan suara. Muslim telah menyadari bahwa mengikuti mazhab adalah sarana untuk mengikuti ulama super yang tidak hanya memiliki pengetahuan yang komprehensif dari teks Al-Qur'an dan hadits yang berkaitan dengan setiap masalah di mana dia memberi penilaian. di mana ungkapan orang dari mereka yang bertugas itu adalah untuk menemukannya. itulah sebabnya Allah berfirman dalam surat al-Taubah.Allah.tetapi hanya "mobil.telah memenuhi uji penyelidikan ilmiah dan telah memenangkan kepercayaan diri dari pemikiran dan praktek Muslim pada semua abad kebesaran Islam. seumur hidup belajar tidak akan cukup untuk itu. telah disampaikan kepada kita melalui ulama Islam. sekarang. yaitu mereka adalah imam mujtahid.maka tanyakanlah kepada orang-orang yang diberi pengetahuan. sebagaimana berpecah umat lain dalam sekte-sekte. dan masa depan. pada kenyataannya ini merupakan suatu kemunduran besar. Retorika mengikuti 'syariah tanpa mengikuti mazhab tertentu' adalah seperti seseorang datang ke dealer mobil untuk membeli mobil. Orang seperti itu tidak benar-benar tahu apa yang dia inginkan. ". mengapa tidak sebagian saja pergi.

Sebab di belakang masing-masing sistem operasi itu pasti berkumpul para maniak dan geek yang bekerja 24 jam untuk kesempurnaan sistem operasinya. asalkan dia mampu meng-istimbath (menyimpulkan) sendiri setiap detail ayat Al-Quran dan As-sunnah. pada hakikatnya sedang bermazhab. Namun dia tentu perlu membuat sendiri sistem operasi itu. Al-Paiminiyah. yang tentunya tidak terlalu praktis. tidak ada di dunia ini orang yang tidak bermazhab. lalu apa salahnya sistem operasi yang sudah tersedia di pasaran. Kalau kita buat sedikit perumpamaan dengan dunia komputer. Adanya beragam sistem operasi di dunia komputer menjadi hal yang mutlak bagi setiap user. akan menjadi sangat lebih praktis kalau kita memanfaaatkan yang sudah ada saja. yaitu mazhab Al-Paijoiyah. Kalau ada orang yang agak eksentrik dan bertekad tidak mau pakai Windows. Mac OS atau yang lainnya. Linux. sebenarnya mereka masing-masing sudah menciptakan sebuah mazhab baru. Bahkan seorang programer level advance sekalipun belum tentu mau bersusah payah melakukannya. baik dia sadari atau tanpa disadarinya. Mac Os atau sistem operasi lain yang telah tersedia. AtTugiriniyah dan Al-Wakijaniyah. Linux. Buat apa merepotkan diri bikin sistem operasi. Tapi yang jelas. Semua orang bermazhab.Apalagi buat orang-orang kebanyakan. Walhasil. tentu saja dia berhak sepenuhnya untuk bersikap demikian. Kalau tidak mengacu kepada mazhab orang lain yang sudah ada. . maka adanya mazhab-mazhab itu ibarat seseorang dalam berkomputer. Tidak mungkin seseorang menggunakan komputer tanpa sistem operasi. baik Windows. maka minimal dia mengacu kepada mazhab dirinya sendiri. manusia hanya bicara dengan mesin. sebab tanpa sistem operasi. di mana setiap orang pastimemerlukan sistem operasi (OS). Bolehkah Mendirikan Mazhab Sendiri? Jawabnya tentu saja boleh. Tentu masing-masingnya punya kelebihan dan kekurangan. Sebab yang namanya mazhab itu adalah sebuah sikap dan cara seseorang dalam memahami teks Al-Quran dan As-Sunnah. Setiap orang yang berupaya untuk memahami kedua sumber ajaran Islam itu.mazhab dan mengatakan hanya akan menggunakan Al-Quran dan AsSunnah saja. rasanya terlalu mengada-ada kalau harus membuat dulu sistem operasi sendiri.

mereka bekerja siang malam untuk menghasilakn sistem fiqih Islami yang siap pakai serta user friendly.Demikian juga dengan ke-4 mazhab yang ada. yaitu mazhab As-Syafi`iyah. www.com . Al-`Izz bin Abdissalam dan lainnya. Namun seorang yang tingkat keilmuwannya sudah mendalam semacam AlImam al-Ghazali rahimahullah sekalipun tetap mengacu kepada salah satu mazhab yang ada. Akan tetapi boleh saja kalau ada dari putera puteri Islam yang secara khusus belajar syariah hingga ke level yang jauh lebih dalam lagi. Meninggalkan mazhab-mazhab itu sama saja bikin kerjaan baru. lalu suatu saat merumuskan mazhab baru dalam fiqih Islami.kampussyariah. yang hasilnya belum tentu lebih baik. Demikian juga dengan beragam ulama besar lainnya sepertiAl-Mawardi. Beliau tetap bermazhab meski sudah pandai mengistimbath hukum sendiri. An-Nawawi. Di dalamnya telah berkumpul ratusan bahwa ribuan ulama ahli level tertinggi yang pernah dimiliki umat Islam.