Nikah Siri Dari Dua Sudut Pandang Berbeda

Taufik Hidayat, SH.
Keabadian ikatan pernikahan merupakan tujuan dasar aqad nikah dalam Islam. Janji yang diikrarkan setelah aqad berlaku untuk selamanya, sepanjang hayat manusia. Supaya suami dan isteri secara bersama-sama dapat mewujudkan sebuah mahligai rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Namun disisilain, Islam tidak melarang dan malah memberikan hak agar seseorang memiliki isteri lebih dari satu (poligami) asal sesuai dengan hokum dan hal itu dilakukan bukan hanya menuruti hawa nafsu. Namun di Indonesia tidak serta merta hak itu dapat diwujudkan karena harus ada persetujuan dari isteri yang ada sebelum dapat izin dari pengadilan (UU No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan). Namun, hal itu tidak menghilangkan ketentuan syariat Islam bahwa poligami tanpa persetujuan isteri yang ada dan tanpa izin pengadilan adalah tetap sah apabila pernikahan tersebut memenuhi rukun nikah sebagaimana yang ditentukan oleh syariat Islam (disebut nikah siri) dengan catatan bahwa isteri yang telah ada itu tidak lebih dari 4 (empat) orang. Aktifitas nikah siri atau nikah diluar Kantor Urusan Agama (KUA), hingga kini masih sering terjadi. Dalam Islam, Nikah siri sah secara syariat sepanjang syarat-syarat dan ketentuannya dipenuhi. Namun, dalam terminology fiqih nikah siri tidak ada. Apa yang dikenal masyarakat adalah kawin siri, dikenal sebagai pernikahan yang tidak tercatat dan sembunyi-sembunyi. Padahal, sebenarnya tidak demikian. Pemaknaan nikah siri di Indonesia adalah nikah siri tidak tercatat (secara hukum) tapi tetap diketahui oleh kedua keluarga, ada saksinya dan ada penghulunya. Jadi, bukan kawin diam-diam, kalau pun disalahkan, pelakunya yang salah karena kegiatan tersebut bisa merugikan pihak lain. Misalnya, ketika mengurus pension janda, maka isteri yang tidak tercatat (syarat administratif) tidak bisa mendapatkan pension janda itu, demikian pula bagi seorang anak dari pernikahan siri (begitu juga ibunya selaku isteri sah menurut hukum Islam) yang ingin menjadi ahli waris, maka ia tidak akan dapat menjadi ahli waris tanpa terlebih dulu mengajukan itsbat nikah ke Pengadilan Agama (Mahkamah Syar’iyah kalau di Aceh). Pengertian nikah siri yang dipahami oleh masyarakat ada dua macam, yaitu (1) Pernikahan yang dilakukan tanpa wali yang sah ataupun saksi. (2) Pernikahan yang dilakukan dengan adanya wali dan terpenuh isyarat-syarat lainnya tetapi tidak tercatat di KUA setempat. Pernikahan yang dilakukan secara siri tanpa diketahui oleh pihak wali perempuan, maka pernikahan seperti ini batil dan tidak sah. Hal ini berdasarkan hadist yang diriwayatkan Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan lain-lain dari Aisyah ra, beliau berkata: Rasulullah SAW bersabda “perempuan manasaja yang dinikahi tanpa izin walinya, maka nikahnya bathil-

beliau mengatakannya tiga kali.”
Hal lain yang wajib diperhatikan oleh orang yang hendak menjalankan nikah siri hendaklah ia berlaku adil terhadap para isterinya dalam menggilir jatah menginap dan memiliki kemampuan dalam memberikan nafkah. Jangan sampai melakukan nikah siri karena mengikuti dorongan nafsu syahwat saja. Selanjutnya, pernikahan yang hanya memenuhi prosedur keagamaan, ada rukun dan lengkap syaratnya, tapi dirahasiakan, dengan tidak melaporkannya ke KUA. Biasanya nikah siri dilaksanakan karena kedua belah pihak belum siap meresmikannya, namun dipihak lain untuk menjaga agar tidak terjadi kecelakaan atau terjerumus kepada hal-hal yang dilarang agama. Sah tidaknya nikah siri secara agama, tergantung kepada sejauh manasyarat-syarat nikah terpenuhi yaitu adanya wali, minimal dua saksi, adanya mahar dan ijab qabul. Secara hokum positif, nikah siri tidak legal karena tidak tercatat dalam catatan resmi pemerintah. Hal ini dikarenakan, siapapun warga Negara Indonesia yang menikah harus mendaftarkan pernikahan itu ke KUA atau Kantor Catatan Sipil, untuk mendapatkan Surat atau Akta Nikah. Jika terjadi persoalan-persoalan yang menyangkut hokum sipil, pelaku nikah siri tidak berhak mendapatkan/menyelesaikan masalahnya melalui lembaga-lembaga hukum yang ada, karena pernikahannya tidak terdaftar.

Bagaimana sebenarnya pandangan Islam tentang Nikah Siri ? Siri secara etimologi berarti sesuatu yang tersembunyi, rahasia, pelan-pelan. (Ibnu al Mandhur, Lisan al Arab : 4/ 356). Kadang Siri juga diartikan zina atau melakukan hubungan seksual, sebagaimana dalam firman Allah swt :

“Tetapi janganlah kamu membuat perjanjian untuk berzina (atau melakukan hubungan seksual) dengan mereka. “ (QS Al Baqarah : 235 ) Sirran pada ayat di atas menurut pendapat sebagian ulama berarti : berzina atau melakukan hubungan seksual. Pendapat ini dipilih Jabir bin Zaid, Hasan Bashri, Qatadah, AnNakh’i, Ad Dhohak, Imam Syafi’i dan Imam Thobari. (Tafsir al Qurtubi : 3/126). Pendapat ini dikuatkan dengan salah satu syi’ir yang disebutkan oleh Imru al Qais : ‫با ة ز مت أ‬ ‫ب ت أن ني ي م ب‬ ‫أح‬ ‫أم ثا ى‬ “Basbasah hari ini mengklaim bahwa aku sudah tua dan orang sepertiku ini tidak bisa lagi melakukan hubungan seksual dengan baik.“ Saat ini, nikah Siri dalam pandangan masyarakat mempunyai tiga pengertian : Pengertian Pertama : Nikah Siri adalah pernikahan yang dilakukan secara sembunyi–sembunyi tanpa wali dan saksi. Inilah pengertian yang pernah diungkap oleh Imam Syafi’i di dalam kitab Al Umm 5/ 23, ‫ما أخ ب ن ا‬ ‫م بن ا م أ ى ق ال زبي أب ي‬ ‫ل يه ي‬ ‫ل‬ ‫ن ا ذ ف قال م أ‬ ‫أ يز‬ ‫مت ف يه ق مت نت‬ “Dari Malik dari Abi Zubair berkata bahwa suatu hari Umar dilapori tentang pernikahan yang tidak disaksikan, kecuali seorang laki-laki dan seorang perempuan, maka beliau berkata : “Ini adalah nikah sirri, dan saya tidak membolehkannya, kalau saya mengetahuinya, niscaya akan saya rajam (pelakunya). “

Pengertian Kedua : Nikah Siri adalah pernikahan yang dihadiri oleh wali dan dua orang saksi. cet. Imam Ahmad (Ibnu Qudamah. Daar al Kitab al Arabi. Kedua : namun. bahwasanya Rasulullah saw bersabda : ‫ن ا ،أ لن‬ ‫عل‬ ‫م ا ،ف ي‬ ‫ب‬ ‫ل يه‬ ‫با‬ “ Umumkanlah nikah. Hadits di atas menunjukkan bahwa suatu pernikahan jika telah dihadiri wali dan dua orang saksi dianggap sah. “ ( HR at Tabrani di dalam al Ausath dari Muhammad bin Abdus Shomad bin Abu al Jirah yang belum pernah disinggung oleh para ulama. sehingga tidak mungkin dimasukkan dalam syarat-syarat pernikahan. di antaranya adalah : a. hukumnya sah dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. bahkan mereka menyatakan wajib ditegakkan had kepada kedua mempelai jika mereka terbukti sudah melakukan hubungan seksual. Nafi’. Pendapat ini dipegang oleh Malikiyah dan sebagian dari ulama madzhab Hanabilah (Ibnu Qudamah. dalam hal ini adalah KUA. yaitu sebagian masyarakat khususnya yang ekonomi mereka menengah ke bawah merasa tidak mampu membayar administrasi pencatatan yang kadang membengkak dua kali lipat dari biaya resmi." ( HR Tirmidzi. Adapun perintah untuk mengumumkan yang terdapat di dalam beberapa hadist menunjukkan anjuran dan bukan suatu kewajiban. Pertanyaannya adalah kenapa negara memberikan sanksi kepada para pelaku nikah siri dalam katagori ketiga ini? Apakah syarat sah pernikahan harus dicatatkan Bagaimana status lembaga kepada pencatatan pernikahan lembaga dalam kaca mata pencatatan? syari’at? . cet : pertama : 4/ 401) Mereka berdalil dengan apa yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Hatib al Jumahi. Beirut. bahwasanya Rasulullah saw bersabda: ‫ح م ح ل بي فصل‬ ‫ص ت‬ “Pembeda antara yang halal (pernikahan) dan yang haram (perzinaan) adalah gendang rebana dan suara. tanpa perlu lagi diumumkan kepada khayalak ramai. maka untuk menghindari stigma negatif tersebut. Urwah. kenapa sebagian masyarakat melakukan pernikahan dalam bentuk ini? Apa yang mendorong mereka untuk tidak mencatatkan pernikahan mereka ke lembaga pencatatan resmi? Ada beberapa alasan yang bisa diungkap di sini. di antaranya adalah Umar bin Khattab. Sya’bi. 1428. Faktor tempat kerja atau sekolah. c. Hadits ini disahihkan oleh Ibnu Hazm di dalam (alMuhalla : 9/465). Pertama : 12/ 95). Majma’ az-Zawaid wal Manbau al Fawaid (4/62) hadist 8057) Pernikahan Siri dalam bentuk yang pertama ini hukumnya tidak sah. Beirut. bahwa Rasulullah saw bersabda : ‫ب ي نا‬ ‫ل ا‬ “Tidak sah suatu pernikahan. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum nikah seperti ini : Pendapat pertama : menyatakan bahwa nikah seperti ini hukumnya sah tapi makruh. “ (HR an Nasai dan al Hakim dan beliau mensahihkannya serta dihasankan yang lain). maka nikah siri semacam ini dikenakan sanksi hukum. tetapi saksi-saksi tersebut tidak boleh mengumumkannya kepada khayalak ramai. al Mughni : 7/ 435. Dar al Gharb al Islami. nikah siri dalam katagori ini. atau membatalkan pernikahan tersebut. Faktor sosial. asy-Syarh al-Mumti’ ’ala Zaad al Mustamti’. Ad Dzakhirah. Muhammad al Hajji. Diriwayatkan dari Aisyah ra. b. Ini pendapat mayoritas ulama. Syekh al Utsaimin. Faktor-faktor lain yang memaksa seseorang untuk tidak mencatatkan pernikahannya. Imam Abu Hanifah. Pertanyaannya. sebagaimana akad jual beli. Faktor biaya. (Al Qarrafi. Dalilnya adalah hadist Aisyah ra. Bagaimana hukum nikah siri dalam bentuk ketiga ini? Pertama : Menurut kaca mata syariat.Atsar di atas dikuatkan dengan hadist Abu Hurairah ra : ‫لم ل يه هللا ص لى ن بي أ‬ ‫ن ى‬ ‫ن ا‬ “Bahwa nabi Muhammad saw melarang nikah siri. Imam Syafi’I. adapun rawi-raiwi lainnya semuanya tsiqat (terpecaya) (Ibnu Haitami. tahqiq : DR. Ibnu Majah ) Imam Tirmidzi berkata : Ini merupakan hadits gharib hasan pada bab ini. Begitu juga pengumuman pernikahan yang disertai dengan tabuhan rebana biasanya dilakukan setelah selesai akad. menurut kaca mata hukum positif di Indonesia dengan merujuk pada RUU Pernikahan di atas. Selain itu. Pengertian Ketiga : Nikah Siri adalah pernikahan yang dilakukan dengan adanya wali dan dua orang saksi yang adil serta adanya ijab qabul. al Mughni. seseorang tidak mencatatkan pernikahannya kepada lembaga resmi. yaitu masyarakat sudah terlanjur memberikan stigma negatif kepada setiap yang menikah lebih dari satu. yaitu aturan tempat kerjanya atau kantornya atau sekolahnya tidak membolehkan menikah selama dia bekerja atau menikah lebih dari satu istri. hanya saja pernikahan ini tidak dicatatkan dalam lembaga pencatatan Negara. d. Begitu juga kedua saksi wajib diberikan sangsi jika memang sengaja untuk merahasiakan pernikahan kedua mempelai tersebut. Dar Ibnu al Jauzi . Pendapat Kedua : menyatakan bahwa nikah seperti ini hukumnya tidak sah. 1994. Bahkan ulama Malikiyah mengharuskan suaminya untuk segera menceraikan istrinya. dan pukullah rebana untuk mengumumkannya. maka tidak ada syarat untuk diumumkan. kecuali dengan wali dan dua saksi yang adil“ (HR Daruqutni dan al Baihaqi). adakanlah di masjid. karena syarat-syarat dan rukun pernikahan sudah terpenuhi. mereka juga mengatakan bahwa pernikahan adalah sebuah akad mu’awadhah (akad timbal balik yang saling menguntungkan). : 7/ 434-435).

segera melaporkan kepada lembaga pencatatan pernikahan. sesungguhnya Islam telah melarang seorang wanita menikah tanpa wali. selama mereka bertanggung jawab terhadap anak dan istri mereka. Tidak mempersulit orang-orang yang hendak menikah lebih dari satu. ternyata tidak ditemukan riwayat bahwa pemerintahan Islam memberikan sangsi kepada orang yang menikah dan belum melaporkan kepada negara.“ (As Suyuti. Maka. beriring dengan perkembangan zaman dan permasalahan masyarakat semakin kompleks. serta merupakan sunah Rasulullah saw. Hal itu. Hukum Pernikahan Tanpa Wali Adapun mengenai fakta pertama. c. hlm : 121) Maka. Ketentuan semacam ini didasarkan pada sebuah hadits yang dituturkan dari sahabat Abu Musa ra. karena dianggap belum diperlukan. Namun. pada dasarnya negara berhak untuk membuat peraturan agar setiap orang yang menikah. yang biasanya wanita dan anak-anak menjadi korban utamanya. maka rancangan undang-undang tersebut telah merambah kepada hal-hal yang bukan wewenangnya. Imam Asy Syaukani. lihat. Bierut. al Asybah wa An-Nadhair. . Cet. maka mestinya negara tidak mempersulit proses pencatatan pernikahan tersebut. sehingga diharapkan bisa meminimalisir adanya kejahatan. bahwasanya Rasulullah saw bersabda. khususnya jika terdapat indikasiindikasi yang mengarah kepada pelarangan orang yang ingin menikah lebih dari satu. 1993. jika memang tujuan pencatatan pernikahan adalah untuk melindungi hak-hak kaum wanita dan anak-anak serta untuk kemaslahatan kaum muslimin secara umum. Hal itu dimaksudkan agar setiap pernikahan yang dilangsungkan antara kedua mempelai mempunyai kekuatan hukum. Memberikan keringanan biaya bagi masyarakat yang tidak mampu. Membuka pelayanan pada hari-hari di mana banyak diselenggarakan acara pernikahan. ‫ال نكاح إال بىلي‬ “Tidak sah suatu pernikahan tanpa seorang wali.” [HR yang lima kecuali Imam An Nasaaiy. dan negara berhak memberikan sangsi kepada orang-orang yang melanggarnya. jika keadaannya demikian. b. padahal dia mampu dan sanggup berbuat adil. Hal itu sesuai dengan kaidah fiqhiyah yang berbunyi : “Kebijaksanaan pemimpin harus mengarah kepada maslahat masyarakat. Oleh karenanya.Kalau kita menengok sejarah Islam pada masa lalu. Wallahu A’lam. maka diperlukan penertiban-penertiban terhadap hubungan antarindividu di dalam masyarakat. dan melarang sesuatu yang halal. yakni pernikahan tanpa wali. dan secara tidak langsung memberikan jalan bagi perzinahan dan prostitusi yang semakin hari semakin marak di -negeri Indonesia ini. Dan memang pernikahan bukanlah urusan negara tetapi merupakan hak setiap individu. bukan malah meminta bayaran lebih. dalam ini. di antaranya adalah mengambil langkah-langkah sebagai berikut : a. secara umum negara berhak membuat aturan-aturan yang mengarah kepada maslahat umum. Nailul Authar VI: 230 hadits ke 2648]. penipuan atau kekerasan di dalam rumah tangga. maka tentunya peraturan tersebut harus diwaspadai. Pertama. Tetapi jika ada tujuan-tujuan lain yang tersembunyi dan tidak diungkap. serta telah mengumumkan perang terhadap ajaran Islam. Dar al Kutub al Ilmiyah. dengan dalih bekerja di luar jam kantor. mungkin saja belum ada lembaga pemerintahan yang secara khusus menangani pencatatan masalah pernikahan.

kasus pernikahan tanpa wali dimasukkan ke dalam bab ta’zir. Para imam mujtahid dengan demikian berperan sebagai penjelas. Dalam arti yang lebih luas. MAZHAB TANPA MAZHAB Kata Mazhab berasal dari makna kata Arab "pergi" atau "mengambil sebagai cara". pernikahannya batil”. فنكاحها باطل‬ “Wanita mana pun yang menikah tanpa mendapat izin walinya. Setiap muslim dapat mengambil prinsip-prinsip umum. Makna semacam ini dipertegas dan diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah ra. Hanya saja. nabi. dan keputusan mengenai bentuk dan kadar sanksinya diserahkan sepenuhnya kepada seorang qadliy (hakim). Tetapi semua dari kita telah diperintahkan untuk menghidupkan syariah dalam kehidupan kita. Di sini. [HR yang lima kecuali Imam An Nasaaiy. orang-orang berbeda dalam kapasitas ilmiah untuk memahami dan menyimpulkan penetapan dari syariah. bukan sekedar ’tidak sempurna’ sebagaimana pendapat sebagian ahli fikih. Imam Asy Syaukaniy. kata ”laa” pada hadits menunjukkan pengertian ‘tidak sah’. dan berhak mendapatkan sanksi di dunia. bahwasanya Rasulullah saw pernah bersabda: ‫أيما امرأة نكحت بغير إذن وليها فنكاحها باطل. yang mengoperasionalkan Alquran dan sunah dalam putusan syariah khusus dalam kehidupan kita yang secara kolektif dikenal sebagai fiqh atau "yurisprudensi". bekerjasama dengan orang lain dalam pekerjaan baik. syariat belum menetapkan bentuk dan kadar sanksi bagi orang-orang yang terlibat dalam pernikahan tanpa wali. Oleh karena itu. pengasingan. seperti Abu Hanifah. yang membentuk dan yang paling penting dari bagian terbesar agamanya. Semua dari kita mungkin mendapatkan pengetahuan ini langsung dari Alquran dan hadis. sesungguhnya wanita pezina itu adalah (seorang wanita) yang menikahkan dirinya sendiri”. dalam ketaatan kepada . malaikat-Nya. Lihat. Seorang hakim boleh menetapkan sanksi penjara.bersama-sama dengan banyak ulama generasi pertama yang datang setelah mereka. dan lain sebagainya kepada pelaku pernikahan tanpa wali. Malik. Abu Hurayrah ra juga meriwayatkan sebuah hadits. (HR Ibn Majah dan Ad Daruquthniy. dan mengacu pada pemilihan mujtahid dalam kaitannya dengan sejumlah kemungkinan penafsiran dalam menurunkan hukum Allah dari teks utama Qur'an dan hadis pada pertanyaan tertentu. Nailul Authar VI: 231 hadits ke 2649) Berdasarkan hadits-hadits di atas dapatlah disimpulkan bahwa pernikahan tanpa wali adalah pernikahan batil. Sehubungan dengan din atau "agama" kita. Sebab.Berdasarkan dalalah al-iqtidla’. bahwasanya Rasulullah saw bersabda: ‫ال تزوج المرأة المرأة ال تزوج نفسها فإن الزانية هي التي تزوج نفسها‬ ”Seorang wanita tidak boleh menikahkan wanita lainnya. pernikahannya batil. kenabian Muhammad SAW. dan sebagainya. karena alamnya dan banyaknya teks Al-Qur'an dan hadits yang terlibat. Pelakunya telah melakukan maksiyat kepada Allah swt. yaitu prinsip-prinsip umum etika Islam untuk berbuat baik. maka pernikahannya batil. mazhab mewakili seluruh pemikiran ulama dari Imam mujtahid tertentu. yang menguji bukti-bukti mereka dan menyempurnakan dan meningkatkan pekerjaan mereka. seperti juga halnya dengan jenis pengetahuan kedua. فنكاحها باطل . menjauhi maksiat. Imam Asy Syaukaniy. dan seterusnya. Nailul Authar VI: 230 hadits ke 2649]. Jenis ketiga dari pengetahuan agama adalah tentang pemahaman spesifik mengenai perintah dan larangan ilahi tertentu yang membentuk syariah. Syafi'i. dari Alquran dan hadis. fiqh ini hanya merupakan bagian dari agama. Seorang wanita juga tidak berhak menikahkan dirinya sendiri. Jenis pertama adalah pengetahuan umum ajaran keimanan Islam dalam kesatuan Allah. Untuk pengetahuan agama. masing-masing dari kita memiliki tiga jenis pengetahuan. kitab. atau Ahmad . Lihat.

Sebaliknya. Jadi pertanyaannya bukanlah apakah harus atau tidak untuk kita mengambil din dari ulama. masa lalu. Muslim telah menyadari bahwa mengikuti mazhab adalah sarana untuk mengikuti ulama super yang tidak hanya memiliki pengetahuan yang komprehensif dari teks Al-Qur'an dan hadits yang berkaitan dengan setiap masalah di mana dia memberi penilaian. sesuai dengan firman Allah di Surat al-Nahl. dan mereka yang harus melakukannya dengan cara lain. Dari setiap bagian dari mereka. Alasan mengapa mahzab ada. Inilah sebabnya mengapa membuang ulama monumental dari mahzab dalam mengoperasionalkan Qur'an dan sunnah untuk mengadopsi pemahaman seorang syekh kontemporer bukan hanya pendapat yang salah. Ini sama saja dengan merongsokkan Mercedes untuk dijadikan go-kart. yaitu mereka adalah imam mujtahid. yaitu dengan mengikuti Imam mujtahid. seumur hidup belajar tidak akan cukup untuk itu. di mana ungkapan orang dari mereka yang bertugas itu adalah untuk menemukannya. bahkan jika diberi mesin peleburan logam dan alatalat produksi. Ini adalah kewajaran dari upaya-upaya kolektif manusia untuk menghasilkan sesuatu yang jauh lebih baik daripada kita sendiri bisa menghasilkan dari awal. Salesman mungkin bisa maklum dan sedikit terrsenyum. Pentingnya Bermazhab Banyak orang salah sangka bahwa adanya mazhab fiqih itu berarti sama dengan perpecahan. "Bila mereka merujuknya kepada Nabi dan orang-orang yang memiliki kapasitas di antara mereka lalu orang yang tugasnya menemukan akan tahu permasalahannya"(Qur'an 4:83). apakah hadis atau Al Qur'an. sebagaimana berpecah umat lain dalam sekte-sekte. atau bahkan seribu tahun. mas Tugirin dan mas Wakijan bersikap yang anti .Allah. bagi para pengikut syekh kontemporer yang tidak berada pada level pendahulu mereka (tidak seperti yang mereka klaim).. sekarang. mengapa tidak sebagian saja pergi.telah memenuhi uji penyelidikan ilmiah dan telah memenangkan kepercayaan diri dari pemikiran dan praktek Muslim pada semua abad kebesaran Islam. syariah Islam.bukanlah Volkswagen atau Rolls-Royce atau Chevrolet . Intinya adalah bahwa Nabi Saw tidak lagi hidup untuk mengajar kita secara pribadi. sebuah upaya interdisipliner yang sangat canggih oleh mujtahid. mobil-mobil di stand dealer tidak ada yang seperti itu. yang lebih kompleks daripada mobil karena berhubungan dengan alam tindakan manusia dan berbagai macam interpretasi teks-teks suci. dalam lima puluh tahun. yang sisanya dapat memperoleh pengetahuan agama dan menegur orang-orang mereka ketika mereka kembali. dan dalam Surat An-Nisa. dan untuk hal ini Muslim terdiri dari dua jenis. dari ulama yang mana? Dan ini adalah alasan kita telah bermahzab dalam Islam: karena keunggulan dan superioritas keulamaan imam mujtahid . Ayat-ayat ini dan dan hadis-hadis lainnya mewajibkan orang beriman yang tidak berada pada level istinbat atau menurunkan langsung aturan yang berasal dari Alquran dan hadis untuk bertanya dan mengikuti seseorang dalam beberapa ketentuan hukum tersebut kepada mereka yang berada di level ini. dari pabrik-pabrik dengan pembagian kerja antara mereka yang menguji. Retorika mengikuti 'syariah tanpa mengikuti mazhab tertentu' adalah seperti seseorang datang ke dealer mobil untuk membeli mobil. panggilan untuk meninggalkan usaha cendekiawan Islam selama berabad-abad dalam menemukan dan mengejawantahkan perintah Al-Qur'an dan sunnah kasus per-kasus secara rinci. pengumpul literatur. tetapi bersikeras tidak memakai merek yang telah dikenal luas . adalah seperti mengganti dari sesuatu yang telah diuji dan terbukti kepada sesuatu yang tentatif (belum diuji dan terbukti). jawaban berbasis pengetahuan untuk pertanyaan Muslim tentang bagaimana menaati Allah. Kenyataannya sebenarnya tidak demikian.bersama dengan para ulama tradisional setelah mereka. Kalau ada seorang bernama MasPaijo. tapi mereka juga hidup di zaman milenium yang lebih dekat kepada Nabi SAW dan para sahabat. merujuk kepada mereka yang memiliki kapasitas untuk menarik kesimpulan langsung dari bukti-bukti. ahli hadis. telah disampaikan kepada kita melalui ulama Islam. yaitu mereka yang dapat melakukan ini sendiri. tetapi tersedia berdasarkan merk. bahwa mungkin mereka dapat mengambil peringatan" (Qur'an 9:122). dan masa depan. mufasir Al Qur'an. Penggambaran yang absurd tentang mazhab ini terjadi karena keawaman dan kekurangan informasi yang benar tentang hakikat mahzab fiqih. dan hanya bisa menunjukkan bahwa produk canggih berasal dari sistem produksi yang canggih. itulah sebabnya Allah berfirman dalam surat al-Taubah. yang disebut istinbat dalam bahasa Arab. ketika taqwa atau "takut pada Allah" adalah norma-baik yang kondisinya sangat jauh berbeda dengan ulama yang ada saat ini. bahkan ada yang sampai anti mazhab. karena jika kita masing-masing secara pribadi bertanggung jawab untuk mengevaluasi semua teks utama yang berkaitan dengan setiap pertanyaan. Sehingga ada dari sebagian umat Islam yang menjauhkan diri dari bermazhab. dalam konteks jihad: "Tidak semua orang beriman harus pergi untuk berperang. mas Paimin. pada kenyataannya ini merupakan suatu kemunduran besar. Slogan-slogan yang kita dengar saat ini tentang "mengikuti Alquran dan sunah bukannya mengikuti mahzab" telah beredar luas. Sementara panggilan untuk kembali ke Qur'an dan sunnah adalah slogan yang menarik. Demikian juga dengan syariah. dan merakit banyak bagian dari produk akhir. dan master lain dari ilmu hukum Islam. Orang seperti itu tidak benar-benar tahu apa yang dia inginkan. Tidak sulit untuk melihat mengapa Allah mengharuskan kita untuk mengikuti para ahli. manfaat dari mereka. apalagi peperangan di dalam tubuh umat Islam. melainkan. yang mengikuti di setiap sekolah mereka dan mengevaluasi dan meningkatkan pekerjaan mereka . ". Mazhab-mazhab fiqih itu bukan representasi dari perpecahan atau pereseteruan.maka tanyakanlah kepada orang-orang yang diberi pengetahuan.tetapi hanya "mobil. Untuk meninggalkan buah dari penelitian ini. 16:43). mengungkapkan kata-kata" alladhina yastanbitunahu minhum". adanya mazhab itu memang merupakan kebutuhan asasi untuk bisa kembali kepada Al-Quan dan As-Sunnah. jika Anda tidak tahu" (QS. dan segala sesuatu yang kita miliki dari dia. adalah bahwa mereka melayani ribuan suara. murni dan sederhana". dan akan meninggalkan mencari nafkah atau meninggalkan satu kebaikan dalam din. memproduksi. Semua orang setuju bahwa kita harus mengikuti Qur'an dan sunnah Nabi SAW.

maka adanya mazhab-mazhab itu ibarat seseorang dalam berkomputer. asalkan dia mampu meng-istimbath (menyimpulkan) sendiri setiap detail ayat Al-Quran dan As-sunnah. Kalau kita buat sedikit perumpamaan dengan dunia komputer. yaitu mazhab Al-Paijoiyah. akan menjadi sangat lebih praktis kalau kita memanfaaatkan yang sudah ada saja. Linux. tidak ada di dunia ini orang yang tidak bermazhab. AtTugiriniyah dan Al-Wakijaniyah. pada hakikatnya sedang bermazhab. Buat apa merepotkan diri bikin sistem operasi. Tentu masing-masingnya punya kelebihan dan kekurangan. Mac OS atau yang lainnya. baik dia sadari atau tanpa disadarinya. Kalau tidak mengacu kepada mazhab orang lain yang sudah ada. di mana setiap orang pastimemerlukan sistem operasi (OS). Tidak mungkin seseorang menggunakan komputer tanpa sistem operasi. Namun dia tentu perlu membuat sendiri sistem operasi itu. . tentu saja dia berhak sepenuhnya untuk bersikap demikian. lalu apa salahnya sistem operasi yang sudah tersedia di pasaran. Adanya beragam sistem operasi di dunia komputer menjadi hal yang mutlak bagi setiap user.Apalagi buat orang-orang kebanyakan. Bahkan seorang programer level advance sekalipun belum tentu mau bersusah payah melakukannya. Tapi yang jelas.mazhab dan mengatakan hanya akan menggunakan Al-Quran dan AsSunnah saja. Mac Os atau sistem operasi lain yang telah tersedia. Kalau ada orang yang agak eksentrik dan bertekad tidak mau pakai Windows. rasanya terlalu mengada-ada kalau harus membuat dulu sistem operasi sendiri. sebenarnya mereka masing-masing sudah menciptakan sebuah mazhab baru. sebab tanpa sistem operasi. Bolehkah Mendirikan Mazhab Sendiri? Jawabnya tentu saja boleh. manusia hanya bicara dengan mesin. yang tentunya tidak terlalu praktis. Setiap orang yang berupaya untuk memahami kedua sumber ajaran Islam itu. Semua orang bermazhab. Sebab yang namanya mazhab itu adalah sebuah sikap dan cara seseorang dalam memahami teks Al-Quran dan As-Sunnah. baik Windows. maka minimal dia mengacu kepada mazhab dirinya sendiri. Walhasil.Sebab di belakang masing-masing sistem operasi itu pasti berkumpul para maniak dan geek yang bekerja 24 jam untuk kesempurnaan sistem operasinya. Al-Paiminiyah. Linux.

An-Nawawi.Demikian juga dengan ke-4 mazhab yang ada.kampussyariah. lalu suatu saat merumuskan mazhab baru dalam fiqih Islami. Akan tetapi boleh saja kalau ada dari putera puteri Islam yang secara khusus belajar syariah hingga ke level yang jauh lebih dalam lagi. Meninggalkan mazhab-mazhab itu sama saja bikin kerjaan baru. mereka bekerja siang malam untuk menghasilakn sistem fiqih Islami yang siap pakai serta user friendly. Beliau tetap bermazhab meski sudah pandai mengistimbath hukum sendiri. yaitu mazhab As-Syafi`iyah.com . Di dalamnya telah berkumpul ratusan bahwa ribuan ulama ahli level tertinggi yang pernah dimiliki umat Islam. Demikian juga dengan beragam ulama besar lainnya sepertiAl-Mawardi. www. yang hasilnya belum tentu lebih baik. Al-`Izz bin Abdissalam dan lainnya. Namun seorang yang tingkat keilmuwannya sudah mendalam semacam AlImam al-Ghazali rahimahullah sekalipun tetap mengacu kepada salah satu mazhab yang ada.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful