Dasar-dasar Teater (1/6): Definisi & Sejarah Teater 1.

1 Definisi Teater Teater berasal dari kata Yunani, “theatereatron” (bahasa Inggris, Seeing Place) yang artinya tempat atau gedung pertunjukan. Dalam perkembangannya, dalam pengertian lebih luas kata teater diartikan sebagai segala hal yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Dengan demikian, dalam rumusan sederhana teater adalah pertunjukan, misalnya ketoprak, ludruk, wayang, wayang wong, sintren, janger, mamanda, dagelan, sulap, akrobat, dan lain sebagainya. Teater dapat dikatakan sebagai manifestasi dari aktivitas naluriah, seperti misalnya, anak-anak bermain sebagai ayah dan ibu, bermain tokohg-tokohgan, dan lain sebagainya. Selain itu, teater merupakan manifestasi pembentukan strata sosial kemanusiaan yang berhubungan dengan masalah ritual. Misalnya, upacara adat maupun upacara kenegaraan, keduanya memiliki unsur-unsur teatrikal dan bermakna filosofis. Berdasarkan paparan di atas, kemungkinan perluasan definisi teater itu bisa terjadi. Tetapi batasan tentang teater dapat dilihat dari sudut pandang sebagai berikut: “tidak ada teater tanpa aktor, baik berwujud riil manusia maupun boneka, terungkap di layar maupun pertunjukan langsung yang dihadiri penonton, serta laku di dalamnya merupakan realitas fiktif”, (Harymawan, 1993). Kata “drama” juga dianggap telah ada sejak era Mesir Kuno (4000-1580 SM), sebelum era Yunani Kuno (800277 SM). Hubungan kata “teater” dan “drama” bersandingan sedemikian erat seiring dengan perlakuan terhadap teater yang mempergunakan drama lebih identik sebagai teks atau naskah atau lakon atau karya sastra (Bakdi Soemanto, 2001). Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa istilah “teater” berkaitan langsung dengan pertunjukan, sedangkan “drama” berkaitan dengan lakon atau naskah cerita yang akan dipentaskan. Jadi, teater adalah visualisasi dari drama atau drama yang dipentaskan di atas panggung dan disaksikan oleh penonton. Jika “drama” adalah lakon dan “teater” adalah pertunjukan maka “drama” merupakan bagian atau salah satu unsur dari “teater”. Dengan kata lain, secara khusus teater mengacu kepada aktivitas melakukan kegiatan dalam seni pertunjukan (to act) sehingga tindaktanduk pemain di atas pentas disebut acting. Istilah acting diambil dari kata Yunani “dran” yang berarti, berbuat, berlaku, atau beraksi. Karena aktivitas beraksi ini maka para pemain pria dalam teater disebut actor dan pemain wanita disebut actress (Harymawan, 1993). Meskipun istilah teater sekarang lebih umum digunakan tetapi sebelum itu istilah drama lebih populer sehingga pertunjukan teater di atas panggung disebut sebagai pentas drama. Hal ini menandakan digunakannya naskah lakon yang biasa disebut sebagai karya sastra drama dalam pertujukan teater. Di Indonesia, pada tahun 1920-an, belum muncul istilah teater. Yang ada adalah sandiwara atau tonil (dari bahasa Belanda: Het Toneel). Istilah Sandiwara konon dikemukakan oleh Sri Paduka Mangkunegoro VII dari Surakarta. Kata sandiwara berasal dari bahasa Jawa “sandi” berarti “rahasia”, dan “wara” atau “warah” yang berarti, “pengajaran”. Menurut Ki Hajar Dewantara “sandiwara” berarti “pengajaran yang dilakukan dengan perlambang” (Harymawan, 1993). Rombongan teater pada masa itu menggunakan nama Sandiwara, sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama. Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan, istilah sandiwara masih sangat populer. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan (Kasim Achmad, 2006). Keterikatan antara teater dan drama sangat kuat. Teater tidak mungkin dipentaskan tanpa lakon (drama). Oleh karena itu pula dramaturgi menjadi bagian penting dari seni teater. Dramaturgi berasal dari bahasa Inggris dramaturgy yang berarti seni atau tekhnik penulisan drama dan penyajiannya dalam bentuk teater. Berdasar pengertian ini, maka dramaturgi membahas proses penciptaan teater mulai dari penulisan naskah hingga pementasannya. Harymawan (1993) menyebutkan tahapan dasar untuk mempelajari dramaturgi yang disebut dengan formula dramaturgi. Formula ini disebut dengan fromula 4 M yang terdiri dari, menghayalkan, menuliskan, memainkan, dan menyaksikan. M1 atau menghayal, dapat dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang karena menemukan sesuatu gagasan yang merangsang daya cipta. Gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan pada suatu persitiwa baik

yang disaksikan, didengar maupun dibaca dari literatur tertentu. Bisa juga gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan pada kehidupan seseorang. Gagasan atau daya cipta tersebut kemudian diwujudkan ke dalam besaran cerita yang pada akhirnya berkembang menjadi sebuah lakon untuk dipentaskan. M2 atau menulis, adalah proses seleksi atau pemilihan situasi yang harus dihidupkan begi keseluruhan lakon oleh pengarang. Dalam sebuah lakon, situasi merupakan kunci aksi. Setelah menemukan kunci aksi ini, pengarang mulai mengatur dan menyusun kembali situasi dan peristiwa menjadi pola lakon tertentu. Di sini seorang pengarang memiliki kisah untuk diceritakan, kesan untuk digambarkan, suasana hati para tokoh untuk diciptakan, dan semua unsur pembentuk lakon untuk dikomunikasikan. M3 atau memainkan, merupakan proses para aktor memainkan kisah lakon di atas pentas. Tugas aktor dalam hal ini adalah mengkomunikasikan ide serta gagasan pengarang secara hidup kepada penonton. Proses ini melibatkan banyak orang yaitu, sutradara sebagai penafsir pertama ide dan gagasan pengarang, aktor sebagai komunitakor, penata artsitik sebagai orang yang mewujudkan ide dan gagasan secara visual serta penonton sebagai komunikan. M4 atau menyaksikan, merupakan proses penerimaan dan penyerapan informasi atau pesan yang disajikan oleh para pemain di atas pentas oleh para penonton. Pementasan teater dapat dikatakan berhasil jika pesan yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penonton. Penonton pergi menyaksikan pertunjukan dengan maksud pertama untuk memperoleh kepuasan atas kebutuhan dan keinginannya terhadap tontonan tersebut. Formula dramaturgi seperti disebutkan di atas merupakan tahap mendasar yang harus dipahami dan dilakukan oleh para pelaku teater. Jika salah satu tahap dan unsur yang ada dalam setiap tahapan diabaikan, maka pertunjukan yang digelar bisa dipastikan kurang sempurna. Oleh karena itu, pemahaman dasar formula dramaturgi dapat dijadikan acuan proses penciptaan karya seni teater.

1.2 Sejarah Singkat Teater 1.2.1 Teater Barat 1.2.1.1 Asal Mula Teater Waktu dan tempat pertunjukan teater yang pertama kali dimulai tidak diketahui. Adapun yang dapat diketahui hanyalah teori tentang asal mulanya. Di antaranya teori tentang asal mula teater adalah sebagai berikut. * Berasal dari upacara agama primitif. Unsur cerita ditambahkan pada upacara semacam itu yang akhirnya berkembang menjadi pertunjukan teater. Meskipun upacara agama telah lama ditinggalkan, tapi teater ini hidup terus hingga sekarang. * Berasal dari nyanyian untuk menghormati seorang pahlawan di kuburannya. Dalam acara ini seseorang mengisahkan riwayat hidup sang pahlawan yang lama kelamaan diperagakan dalam bentuk teater. * Berasal dari kegemaran manusia mendengarkan cerita. Cerita itu kemudian juga dibuat dalam bentuk teater (kisah perburuan, kepahlawanan, tokohg, dan lain sebagainya). * Rendra dalam Seni Drama Untuk Remaja (1993), menyebutkan bahwa naskah teater tertua di dunia yang pernah ditemukan ditulis seorang pendeta Mesir, I Kher-nefert, di zaman peradaban Mesir Kuno kira-kira 2000 tahun sebelum tarikh Masehi. Pada zaman itu peradaban Mesir Kuno sudah maju. Mereka sudah bisa membuat piramida, sudah mengerti irigasi, sudah bisa membuat kalender, sudah mengenal ilmu bedah, dan juga sudah mengenal tulis menulis.

1.2.1.2 Teater Yunani Klasik Tempat pertunjukan teater Yunani pertama yang permanen dibangun sekitar 2300 tahun yang lalu. Teater ini dibangun tanpa atap dalam bentuk setengah lingkaran dengan tempat duduk penonton melengkung dan berundak-undak yang disebut amphitheater (Jakob Soemardjo, 1984). Ribuan orang mengunjungi

amphitheater untuk menonton teater-teater, dan hadiah diberikan bagi teater terbaik. Naskah lakon teater Yunani merupakan naskah lakon teater pertama yang menciptakan dialog diantara para karakternya. Ciri-ciri khusus pertunjukan teater pada masa Yunani Kuno adalah: * Pertunjukan dilakukan di amphitheater. * Sudah menggunakan naskah lakon. * Seluruh pemainnya pria bahkan tokoh wanitanya dimainkan pria dan memakai topeng karena setiap pemain memerankan lebih dari satu tokoh. * Cerita yang dimainkan adalah tragedi yang membuat penonton tegang, takut, dan kasihan serta cerita komedi yang lucu, kasar dan sering mengeritik tokoh terkenal pada waktu itu. * Selain pemeran utama juga ada pemain khusus untuk kelompok koor (penyanyi), penari, dan narator (pemain yang menceritakan jalannya pertunjukan).

1.2.1.3 Teater Romawi Klasik Setelah tahun 200 Sebelum Masehi kegiatan kesenian beralih dari Yunani ke Roma, begitu juga Teater. Namun mutu teater Romawi tak lebih baik daripada teater Yunani. Teater Romawi menjadi penting karena pengaruhnya kelak pada Zaman Renaissance. Teater pertama kali dipertunjukkan di kota Roma pada tahun 240 SM (Brockett, 1964). Pertunjukan ini dikenalkan oleh Livius Andronicus, seniman Yunani. Teater Romawi merupakan hasil adaptasi bentuk teater Yunani. Hampir di setiap unsur panggungnya terdapat unsur pemanggungan teater Yunani. Namun demikian teater Romawi pun memiliki kebaruan-kebaruan dalam penggarapan dan penikmatan yang asli dimiliki oleh masyarakat Romawi dengan ciri-ciri sebagi berikut. * Koor tidak lagi berfungsi mengisi setiap adegan. * Musik menjadi pelengkap seluruh adegan. Tidak hanya menjadi tema cerita tetapi juga menjadi ilustrasi cerita. * Tema berkisar pada masalah hidup kesenjangan golongan menengah. * Karakteristik tokoh tergantung kelas yaitu orang tua yang bermasalah dengan anak-anaknya atau kekayaan, anak muda yang melawan kekuasaan orang tua dan lain sebagainya.

1.2.1.4 Teater Abad Pertengahan Dalam tahun 1400-an dan 1500-an, banyak kota di Eropa mementaskan drama untuk merayakan hari-hari besar umat Kristen. Drama-drama dibuat berdasarkan cerita-cerita Alkitab dan dipertunjukkan di atas kereta, yang disebut pageant, dan ditarik keliling kota. Bahkan kini pertunjukan jalan dan prosesi penuh warna diselenggarakan di seluruh dunia untuk merayakan berbagai hari besar keagamaan. Para pemain drama pageant menggunakan tempat di bawah kereta untuk menyembunyikan peralatan. Peralatan ini digunakan untuk efek tipuan, seperti menurunkan seorang aktor dari atas ke panggung. Para pemain pegeant memainkan satu adegan dari kisah dalam Alkitab, lalu berjalan lagi. Pageant lain dari aktor-aktor lain untuk adegan berikutnya, menggantikannya. Aktor-aktor pageant seringkali adalah para perajin setempat yang memainkan adegan yag menunjukan keahlian mereka. Orang berkerumun untuk menyaksikan drama pageant religius di Eropa. drama ini populer karena pemainnya berbicara dalam bahasa sehari-hari, bukan bahasa Latin yang merupakan bahasa resmi gereja-gereja Kristen (Wisnuwardhono, 2002). Ciri-ciri teater abad Pertengahan adalah sebagai berikut: * Drama dimainkan oleh aktor-aktor yang belajar di universitas sehingga dikaitkan dengan masalah filsafat dan agama.

* Aktor bermain di panggung di atas kereta yang bisa dibawa berkeliling menyusuri jalanan. * Drama banyak disisipi cerita kepahlawanan yang dibumbui cerita percintaan. * Drama dimainkan di tempat umum dengan memungut bayaran. * Drama tidak memiliki nama pengarang.

1.2.1.5 Renaissance Abad 17 memberi sumbangan yang sangat berarti bagi kebudayaan Barat. Sejarah abad 15 dan 16 ditentukan oleh penemuanpenemuan penting yaitu mesin, kompas, dan mesin cetak. Semangat baru muncul untuk menyelidiki kebudayaan Yunani dan Romawi klasik. Semangat ini disebut semangat Renaissance yang berasal dari kata “renaitre” yang berarti kelahiran kembali manusia untuk mendapatkan semangat hidup baru. Gerakan yang menyelidiki semangat ini disebut gerakan humanisme. Pusat-pusat aktivitas teater di Italia adalah istana-istana dan akademi. Di gedung-gedung teater milik para bangsawan inilah dipentaskan naskah-naskah yang meniru drama-drama klasik. Para aktor kebanyakan pegawai-pegawai istana dan pertunjukan diselenggarakan dalam pesta-pesta istana. Ada tiga jenis drama yang dikembangkan, yaitu tragedi, komedi, dan pastoral atau drama yang membawakan kisah-kisah percintaan antara dewa-dewa dengan para gembala di daerah pedesaan. Namun nilai seni ketiganya masih rendah. Drama dilangsungkan dengan mengikuti struktur yang ada. Meskipun demikian gerakan mereka memiliki arti penting karena Eropa menjadi mengenal drama yang jelas struktur dan bentuknya. Ciri-ciri teater Zaman Renaissance yakni sebagai berikut. * Naskah lakon yang dipertunjukkan meniru teater Zaman Yunani klasik. * Cerita bertema mitologi atau kehidupan sehari-hari. * Tata busana dan seting yang dipergunakan sangat inovatif. * Pelaksanaan bentuk teater diatur oleh kerajaan maupun universitas. * Menggunakan panggung proscenium yaitu bentuk panggung yang memisahkan area panggung dengan penonton. * Pada zaman ini juga melahirkan satu bentuk teater yang disebut commedia dell’arte. Merupakan bentuk teater rakyat Italia yang berkembang di luar lingkungan istana dan akademisi. Pada tahun 1575 bentuk ini sudah populer di Italia. Kemudian menyebar luas di Eropa dan mempengaruhi semua bentuk komedi yang diciptakan pada tahun 1600.

Ciri khas commedia dell'arte adalah: * Para pemain dibebaskan berimprovisasi mengikuti jalannya cerita dan dituntut memiliki pengetahuan luas yang dapat mendukung permainan improvisasinya. * Menggunakan naskah lakon yang berisi garis besar cerita. * Cerita yang dimainkan bersumber pada cerita yang diceritakan secara turun menurun. * Cerita terdiri dari tiga babak didahului prolog panjang. Plot cerita berlangsung dalam suasana adegan lucu. * Peristiwa cerita berlangsung dan berpindah secara cepat . * Terdapat tiga tokoh yang selalu muncul, yaitu tokoh penguasa, tokoh penggoda, dan tokoh pembantu. * Tempat pertunjukannya di lapangan kota dan panggungpanggung sederhana. * Setting panggung sederhana, yaitu rumah, jalan, dan lapangan.

1.2.1.6 Teater Zaman Elizabeth

mulai dari pembunuhan dan tokohg sampai cinta dan kecemburuan. dan efek elektronik. gedung teater besar dari kayu dibangun di London Inggris. dan mempelajari hal-hal baru. Hal ini mendorong para pemikir teater untuk menemukan satu bentuk ekspresi baru yang lepas dari konvensi yang sudah ada.1 Teater Tradisional Kasim Achmad dalam bukunya Mengenal Teater Tradisional di Indonesia (2006) mengatakan. Banyak gaya baru yang lahir baik dari sudut pandang pengarang. Beberapa ceritanya berisi monolog panjang. kualitas pertunjukan realis oleh beberapa seniman dianggap semakin menurun dan membosankan. epik. usaha pencarian kaidah artistik yang dilakukan oleh seniman teater modern patut diacungi jempol karena usaha-usaha tersebut mengantarkan pada keberagaman bentuk ekspresi dan makna keindahan. dan absurd. Salah satunya yang disebut Globe. Tidak jarang usaha mereka berhasil dan mampu memberikan pengaruh seperti gaya simbolisme.2 Teater Indonesia 1.000 penonton.2. Teater di Tengah-Tengah Gedung. * Menggunakan naskah lakon. Penonton yang mampu membeli tiket duduk di sisi-sisi panggung. Lepas dari hal itu. Gedung ini dibangun seperti lingkaran sehingga penonton bisa duduk dihampir seluruh sisi panggung. Ia biasanya menulis dalam bentuk puisi atau sajak.2.2. 1. Dewasa ini. * Tempat adegan ditandai dengan ucapan dengan disampaikan dalam dialog para tokoh. * Tokoh wanita dimainkan oleh pemain anak-anak laki-laki. Tidak pemain wanita. sutradara.7 Teater Abad 20 Teater telah berubah selama berabad-abad.1. Tetapi tidak jarang pula usaha mereka berhenti pada produksi pertama. Seiring dengan perkembangan waktu. sejarah teater tradisional di Indonesia dimulai sejak sebelum Zaman Hindu. Rancangan-rancangan panggung termasuk pengaturan panggung arena. Gaya-gaya pertunjukan realistis dan eksperimental ditemukan dalam teater Amerika saat ini. Gedung-gedung pertunjukan modern memiliki efek-efek khusus dan teknologi baru. pendidikan. 1. selama pemerintahan Ratu Elizabeth I. Pada zaman itu. surealisme. Dengan semangat melawan pesona realisme. hiburan. selain penulis drama. ada tanda-tanda bahwa unsurunsur teater tradisional banyak digunakan untuk mendukung upacara ritual. Ia adalah seorang aktor dan penyair. * Corak pertunjukannya merupakan perpaduan antara teater keliling dengan teater sekolah dan akademi yang keklasik-klasikan. Teater tradisional merupakan . Wilayah jelajah artistik dibuka selebar-lebarnya untuk kemungkinan perkembangan bentuk pementasan seni teater. tata cahaya. beberapa cara untuk mengekspresikan karakter-karakter berbeda dalam pertunjukanpertunjukan (di samping nada suara) dapat melalui musik. Ia menulis 37 (tiga puluh tujuh) drama dengan berbagai tema. yang disebut solilokui.Pada tahun 1576. para seniman mencari bentuk pertunjukannya sendiri. Orang datang ke gedung pertunjukan tidak hanya untuk menyaksikan teater melainkan juga untuk menikmati musik. gedung teater ini bisa menampung 3. Gedung teater ini sangat sukses sehingga banyak gedung sejenis dibangun di sekitarnya. penulis drama terkenal dari Inggris yang hidup dari tahun 1564 sampai tahun 1616. Globe mementaskan drama-drama karya William Shakespeare. dan menceritakan gagasan-gagasan mereka kepada penonton. dekorasi. aktor ataupun penata artistik. atau yang disebut saat ini. Mereka yang tidak mampu membeli tiket berdiri di sekitar panggung. * Penontonnya berbagai lapisan masyarakat dan diramaikan oleh penjual makanan dan minuman.2. Ciri-ciri teater Zaman Elizabeth adalah: * Pertunjukan dilaksanakan siang hari dan tidak mengenal waktu istirahat. Pada awal abad 20 inilah istilah teater eksperimental berkembang.

2. lenong. Pada periode transisi inilah teater tradisional berkenalan dengan teater non-tradisi. Perkenalan masyarakat Indonesia pada teater non-tradisi dimulai sejak Agust Mahieu mendirikan Komedie Stamboel di Surabaya pada tahun 1891. sumber dan tata-cara di mana teater tradisional lahir. Kelompok teater yang masih tergolong kelompok teater tradisional dengan model garapan memasukkan unsur-unsur teknik teater Barat. Pada masa teater transisi belum muncul istilah teater. arja. wayang wong. Naskah-naskah drama tersebut belum mencapai bentuk sebagai drama karena masih menekankan unsur sastra dan sulit untuk dipentaskan. dan belum merupakan suatu bentuk kesatuan teater yang utuh. tergantung kondisi dan sikap budaya masyarakat. seperti Opera Stambul. Sandiwara Orion. sebenarnya baru merupakan unsur-unsur teater. meskipun masih dalam wujud cerita ringkas atau outline story (garis besar cerita per adegan). Selain pengaruh dari teater bangsawan. Drama-drama Pujangga Baru ditulis sebagai ungkapan ketertekanan kaum intelektual dimasa itu karena penindasan pemerintahan Belanda yang amat keras terhadap kaum pergerakan sekitar tahun 1930-an. Kemudian lahirlah kelompok sandiwara lain. ubrug.2 Teater Indonesia tahun 1920-an Teater pada masa kesusasteraaan angkatan Pujangga Baru kurang berarti jika dilihat dari konteks sejarah teater modern Indonesia tetapi cukup penting dilihat dari sudut kesusastraan. drama gong. Indra Bangsawan. Setelah melepaskan diri dari kaitan upacara. ludruk . istilah sandiwara masih sangat populer.2. Komidi Bangsawan. dinamakan teater bangsawan. Setelah Komedie Stamboel didirikan muncul kelompok sandiwara seperti Sandiwara Dardanella (The Malay Opera Dardanella) yang didirikan Willy Klimanoff alias A. 1. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan. yang pada saat itu masih belum menggunakan naskah drama/lakon. unsur-unsur teater tersebut membentuk suatu seni pertunjukan yang lahir dari spontanitas rakyat dalam masyarakat lingkungannya. yang disebut “teater”. Opera Abdoel Moeloek. yang pementasannya secara teknik telah banyak mengikuti budaya dan teater Barat (Eropa). teater tradisional berkenalan juga dengan teater Barat yang dipentaskan oleh orang-orang Belanda di Indonesia sekitar tahun 1805 yang kemudian berkembang hingga di Betawi (Batavia) dan mengawali berdirinya gedung Schouwburg pada tahun 1821 (Sekarang Gedung Kesenian Jakarta). Kemudian disusul oleh Lauw Giok Lan lewat Karina Adinda. mulai mengenal sastra lakon dengan diperkenalkannya lakon yang pertama yang ditulis oleh orang Belanda F.bagian dari suatu upacara keagamaan ataupun upacara adat-istiadat dalam tata cara kehidupan masyarakat kita. Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan. Sandiwara Tjahaja Timoer. sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama. Karenanya rombongan teater pada masa itu menggunakan nama sandiwara. Cara penyajian cerita dengan menggunakan panggung dan dekorasi.2. Bentuk sastra drama yang pertamakali menggunakan bahasa Indonesia dan disusun dengan model dialog antar tokoh .2. Mulai memperhitungkan teknik yang mendukung pertunjukan.2. dan sebagainya. Pedro pada tanggal 21 Juni 1926.2 Teater Modern 1. Hal ini disebabkan oleh unsur-unsur pembentuk teater tradisional itu berbedabeda. randai. Macammacam teater tradisional Indonesia adalah :wayang kulit.Wiggers yang berjudul Lelakon Raden Beij Soerio Retno. Yang ada adalah sandiwara. dan lain-lainnya. Lelakon Komedia Hindia Timoer (1913). yang menggunakan bahasa Melayu Rendah. Dilihat dari segi sastra. Perubahan tersebut terletak pada cerita yang sudah mulai ditulis. Pada saat itu. dan lain sebagainya. 1. ketoprak.2.2. Proses terjadinya atau munculnya teater tradisional di Indonesia sangat bervariasi dari satu daerah dengan daerah lainnya.1 Teater Transisi Teater transisi adalah penamaan atas kelompok teater pada periode saat teater tradisional mulai mengalami perubahan karena pengaruh budaya lain.2. pada tahun 1901.

Rombongan sandiwara Dewi Mada lebih mengutamakan tari-tarian dalam pementasan teater mereka karena Dewi Mada adalah penari terkenal .2. Segala daya kreasi seni secara sistematis di arahkan untuk menyukseskan pemerintahan totaliter Jepang. Jawa. Lakon Bebasari merupakan sastra drama yang menjadi pelopor semangat kebangsaan. Mr. Kris Bali. seperti misalnya Bintang Surabaya. yang sekaligus sebagai pemimpinnya. Dahlia. Singgih menulis drama berjudul Hantu. Sumanang (Sekretaris). dan Kama Jaya.A Murdiati. dan sebagainya. dengan judul Si Bachil. Rainbow. antara lain Astaman. yaitu Sendenbu yang membentuk badan perfilman dengan nama Djawa Eiga Kosy’. di antaranya dengan jalan memperbaiki dan menyesuaikan kesenian daerah menuju kesenian Indonesia baru. Mis Tjitjih. Penulis lakon lainnya. Ali Yugo. yaitu Dewi Mada dengan suaminya Ferry Kok. Setan. Fifi Young.2. Intensitas kerja Djawa Eiga Kosya yang ingin menghambat langkah Badan Pusat Kesenian Indonesia nampak ketika mereka membuka sekolah tonil dan drama Putra Asia. Imam Supardi menulis drama dengan judul Keris Mpu Gandring. yaitu Anjar Asmara dan Kamajaya masih sempat berpikir bahwa perlu didirikan Pusat Kesenian Indonesia yang bertujuan menciptakan pembaharuan kesenian yang selaras dengan perkembangan zaman sebagai upaya untuk melahirkan kreasi – kreasi baru dalam wujud kesenian nasional Indonesia. Pendekar Asia. Namun demikian. Penulis-penulis ini adalah cendekiawan Indonesia. R. Secara istimewa selingannya kemudian ditambah dengan mode show. Dalam masa pendudukan Jepang kelompok rombongan sandiwara yang mula-mula berkembang adalah rombongan sandiwara profesional. dan sebagai anggota antara lain.3 Teater Indonesia tahun 1940-an Semua unsur kesenian dan kebudayaan pada kurun waktu penjajahan Jepang dikonsentrasikan untuk mendukung pemerintahan totaliter Jepang. nyanyian. Mis Ribut. yang dipimpin oleh orang Jepang S. Warna Sari. Nur Sutan Iskandar menyadur karangan Molliere. yaitu di antara satu dan lain babak diselingi oleh tarian-tarian. 1. Pancawarna. Armiijn Pane mengolah roman Swasta Setahun di Bedahulu karangan I Gusti Nyoman Panji Tisna menjadi naskah drama. Rombongan Sandiwara Bintang Surabaya menyuguhkan pementasan-pementasan dramanya dengan cara lama seperti pada masa Dardanella. Beberapa lakon yang ditulisnya antara lain. yang membebaskan puteri Bebasari dari niat jahat Rahwana. Ir Soekarno. Sanusi Pane (Ketua). Menyusul kemudian muncul rombongan sandiwara Dewi Mada. yang kesemuanya merupakan corong propaganda Jepang. dua orang tokoh. Ratu Asia. dan harapan serta misi mewujudkan Indonesia sebagai negara merdeka. dalam situasi yang sulit dan gawat serupa itu. Bengawan Solo. Oya. Mr. Sutan Takdir Alisjabana. Pengarang Nyoo Cheong Seng. dan lawak. Air Mata Ibu (sudah difilmkan). Tjahaya Asia. Dewi Mada. Bahkan Presiden pertama Indonesia.dan berbentuk sajak adalah Bebasari (artinya kebebasan yang sesungguhnya atau inti kebebasan) karya Rustam Efendi (1926). Badan Pusat Kesenian Indonesia bermaksud menciptakan kesenian Indonesia baru. Tan Ceng Bok (Si Item). Lakon ini menceritakan perjuangan tokoh utama Bujangga. Rombongan sandiwara Bintang Surabaya tampil dengan aktor dan aktris kenamaan. maupun Sunda. dan Dr. Sija. yaitu Sanusi Pane menulis Kertajaya (1932) dan Sandyakalaning Majapahit (1933) Muhammad Yamin menulis Ken Arok dan Ken Dedes (1934). dan Bolero. Dalam kurun waktu ini semua bentuk seni hiburan yang berbau Belanda lenyap karena pemerintah penjajahan Jepang anti budaya Barat. dan Merah Delima. ternyata mengalami hambatan yang datangnya dari barisan propaganda Jepang. Langkah-langkah yang telah diambil oleh Badan Pusat Kesenian Indonesia untuk mewujudkan cita-cita kemajuan kesenian Indonesia. Rombongan sandiwara keliling komersial. menulis dengan menggunakan bahasa Indonesia dan berjuang untuk kemerdekaan Indonesia.2. Dr. Satiman Wirjosandjojo menulis drama berjudul Nyai Blorong. Krukut Bikutbi. Armijn Pane. dengan bintang-bintang eks Bolero. Lakon-lakon ini ditulis berdasarkan tema kebangsaan. persoalan. Mata Hari. yang dikenal dengan nama samarannya Mon Siour D’amour ini dalam rombongan sandiwara Bintang Surabaya menulis lakon antara lain. pada tahun 1927 menulis dan menyutradarai teater di Bengkulu (saat di pengasingan). Maka pada tanggal 6 oktober 1942. di rumah Bung Karno dibentuklah Badan Pusat Kesenian Indonesia dengan pengurus sebagai berikut. dan lain-lain kembali berkembang dengan mementaskan cerita dalam bahasa Indonesia. dengan peragawati gadis-gadis Indo Belanda yang cantik-cantik . Komedi Bangsawan.

kepahlawanan dan tindakan pengecut. Pertumbuhan sandiwara profesional tidak luput dari perhatian Sendenbu.sejak masa rombongan sandiwara Bolero. Penggemar Maya menjadi pemicu berdirinya Akademi Teater Nasional Indonesia di Jakarta.2. Kotot Sukardi menulis lakon. dan D. juga sebaliknya. rombongan sandiwara ini terpaksa berlindung di bawah barisan propaganda Jepang dan berganti nama menjadi rombongan sandiwara Tjahaya Asia yang mementaskan ceritacerita baru untuk kepentingan propaganda Jepang. Sensor Sendenbu malah menjadi titik awal dikenalkannya naskah dalam setiap pementasan sandiwara. Sang Pek Engtay. Cerita yang dipentaskan antara lain. keberanian dan nilai kemanusiaan. Para pemain tidak boleh menambah atau melebih-lebihkan dari apa yang sudah ditulis dalam naskah. Solo di Waktu Malam dan Nusa Penida. Kelak. Kusumahadi. mereka merenungkan peristiwa tokohg kemerdekaan. Dalam perjalanannya. kemunafikan. yaitu Penggemar Maya (1944) pimpinan Usmar Ismail. apoteker. Kupu-kupu. Solo di Waktu Malam. Ia menabuh drum-drum tersebut sambil meloncat ke kanan – ke kiri sehingga menarik minat penonton.4 Teater Indonesia Tahun 1950-an Setelah tokohg kemerdekaan. dan Kama Jaya pada tanggal 6 April 1943. Dewi Rani. humanisme dan agama. lakon Nora karya Henrik Ibsen diterjemahkan dan judulnya diganti dengan Jinakjinak Merpati oleh Armijn Pane. yang terkenal sebagi Raja Drum. Si Bongkok. Amat Heiho. kekecewaan. Pecah Sebagai Ratna. Sendenbu menyiapkan naskah lakon yang harus dimainkan oleh setiap rombongan sandiwara karangan penulis lakon Indonesia dan Jepang. Anjar Asmara. Hanya kalangan terpelajar yang menyukai pertunjukan Matahari yang menampilakan hiburan berupa tari-tarian pada awal pertunjukan baru kemudian dihidangkan lakon sandiwara dari awal hingga akhir. Oleh karena ada sensor Sendenbu maka lakon harus ditulis lengkap berikut dialognya. dan lain-lain). yaitu rombongan sandiwara yang digemari rakyat jelata. Jepang menugaskan Dr. ceritacerita yang dipentaskan antara lain. pengkhianatan. Garsia menempatkan deretan drumnya yang berbagai ukuran itu memenuhi lebih dari separuh panggung. Panggilan Tanah Air. Dari semua lakon tersebut ada yang sudah di filmkan yaitu. Musim Bunga di Slabintana. keiklasan sendiri dan pengorbanan.2. Teater tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga untuk ekspresi kebudayaan berdasarkan kesadaran nasional dengan cita-cita menuju humanisme dan religiositas dan memandang teater sebagai seni serius dan ilmu pengetahuan. Ratna Asmara. ahli seni drama atas nama Sendenbu memprakarsai berdirinya POSD (Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa) yang beranggotakan semua rombongan sandiwara profesional. Keistimewaan rombongan sandiwara Warna Sari adalah penampilan musiknya yang mewah yang dipimpin oleh Garsia. Potong Padi. Menjelang akhir pendudukan Jepang muncul rombongan sandiwara yang melahirkan karya ssatra yang berarti. seorang keturunan Filipina. Nusa Penida. Rombongan sandiwara terkenal lainnya adalah rombongan sandiwara Sunda Mis Tjitjih. dan Abu Hanifah dengan para anggota cendekiawan muda. Ni Parini. penderitaan. Lakon Ibu Prajurit ditulis oleh Natsusaki Tani. Djajakusuma dengan dukungan Suryo Sumanto. Benteng Ngawi. Kembang Kaca. Bende Mataram. Bahwa teori teater perlu dipelajari secara serius. Kelompok ini berprinsip menegakkan nasionalisme. dan Jauh di Mata. dan lain-lain. 1. dan Rencong Aceh. Guna-guna. Rosihan Anwar. Kama Jaya menulis lakon antara lain. Baru kemudian Muchsin sebagai pengusaha besar tertarik dan membiayai rombongan sandiwara Warna Sari. peluang terbuka bagi seniman untuk merenungkan perjuangan dalam tokohg kemerdekaan. Huyung (Hei Natsu Eitaroo). Lakon-lakon yang ditulis Anjar Asmara antara lain. Bulan Punama. Hingga tahun 1943 rombongan sandiwara hanya dikelola pengusaha Cina atau dibiayai Sendenbu karena bisnis pertunjukan itu masih asing bagi para pengusaha Indonesia. mendirikan rombongan sandiwara angkatan muda Matahari. Peristiwa tokohg secara khas dilukiskan dalam .2. dan lain sebagainya. Pancaroba. nasionalis dan para profesional (dokter. Hei Natsu Eitaroo menulis Hantu. Bentuk penyajian semacam ini di anggap kaku oleh penonton umum yang lebih suka unsur hiburan disajikan sebagai selingan babak satu dengan babak lain sehingga akhirnya dengan terpaksa rombongan sandiwara tersebut mengikuti selera penonton. Pada saat inilah pengembangan ke arah pencapaian teater nasional dilakukan. Ida Ayu.

Akan tetapi. Ujung Pandang. Pertunjukannya misalnya. pertunjukan bermula dari improvisasi dan eksplorasi bahasa tubuh dan bebunyian mulut tertentu atas suatu tema yang diistilahkan dengan teater mini kata (menggunakan kata seminimal mungkin). oportunisme politis. 1. Kapten Syaf (Aoh Kartahadimaja.. Realisme konvensional dan naturalisme tampaknya menjadi pilihan generasi yang terbiasa dengan teater barat dan dipengaruhi oleh idiom Hendrik Ibsen dan Anton Chekhov. menjadi pemicu meningkatnya aktivitas. Peristiwa penting dalam usaha membebaskan teater dari batasan realisme konvensional terjadi pada tahun 1967. 1959). melalaikan penderitaan korban tokohg. dan Kasim Achmad. Sayang Ada Orang Lain (1953) karya Utuy Tatang Sontani. dan kreativitas berteater tidak hanya di Jakarta. erosi ideologi. Tahun 1962 Jim Lim menggabungkan unsur wayang kulit dan musik dalam karya penyutradaraannya yang berjudul Pangeran Geusan Ulun (Saini KM. Wahyu Sihombing. dan Biduanita Botak (Ionesco. 1954). Sedangkan metode pementasan dan pemeranan yang dikembangkan oleh ATNI adalah Stanislavskian. dan lain-lain. Pakaian dan Kepalsuan oleh Akhdiat Kartamiharja (1956) berdasarkan The Man In Grey Suit karya Averchenko dan Hanya Satu Kali (1956). longser. bahkan lakon adaptasi. 1960). Galib Husein. seperti korupsi. Jim Lim menyutradari Bung Besar.2. 1950).2. 1962). berdasarkan Justice karya John Galsworthy.1968). tari topeng Cirebon. Badak-badak (Ionesco. tetapi juga di kota besar seperti Bandung.2. Padang. Di Yogyakarta tahun 1955 Harymawan dan Sri Murtono mendirikan Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI). 1951). Gogol. Karya penyutradaraanya. 1956) Sekelumit Nyanyian Sunda (Nasyah Jamin. Surabaya. salah satu aktor dan juga teman Jim Lim. kemiskinan. Mengadaptasi lakon Hamlet dan diubah judulnya menjadi Jaka Tumbal (1963/1964). 1961). Tema itu terungkap dalam lakon-lakon seperti Awal dan Mira (1952). Pada akhir 1950-an JIm Lim mulai dikenal oleh para aktor terbaik dan para sutradara realisme konvensional. teater rakyat Sunda. Bermain dengan akting realistis dalam lakon The Glass Menagerie (Tennesse William. 1945). Tatiek Malyati. Himpunan Seni Budaya Surakarta (HBS) didirikan di Surakarta. Rendra mendirikan Bengkel Teater Yogya yang kemudian menciptakan pertunjukan pendek improvisatoris yang tidak berdasarkan naskah jadi (wellmade play) seperti dalam drama-drama realisme. Pada tahun 1967 Jim Lim belajar teater dan menetap di Paris. Pertahanan Akhir (Sitor Situmorang.lakon Fajar Sidik (Emil Sanossa. Utuy Tatang Sontani dipandang sebagai tonggak penting menandai awal dari maraknya drama realis di Indonesia dengan lakon-lakonnya yang sering menyiratkan dengan kuat alienasi sebagai ciri kehidupan moderen. Bib Bop dan Rambate Rate Rata (1967. ATNI inilah akademi teater modern yang pertama di Asia Tenggara. yaitu Awal dan Mira (Utuy T. 1955). Pramana Padmadarmaya. Kedua seniman teater Barat dengan idiom realisme konvensional ini menjadi tonggak didirikannya Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) pada tahun 1955 oleh Usmar Ismail dan Asrul Sani. Titik-titik Hitam (Nasyah Jamin. gubernur DKI jakarta tahun1970. Medan. Menyutradarai dengan gaya realistis tetapi isinya absurditas pada lakon Caligula (Albert Camus. dan Chekov. menyelenggarakan festival pertunjukan secara teratur. The Bespoke Overcoat (Wolf mankowitz ). Sementara ada lakon yang bercerita tentang kekecewaan paska tokohg. Ketika Rendra kembali ke Indonesia. dan dagelan dengan teater Barat.5 Teater Indonesia Tahun 1970-an Jim Adi Limas mendirikan Studiklub Teater Bandung dan mulai mengadakan eksperimen dengan menggabungkan unsur-unsur teater etnis seperti gamelan. dan lain-lain. melainkan sampai ke Malaysia. Suyatna Anirun. Alumni Akademi Teater Nasional yang menjadi aktor dan sutradara antara lain. Sontani) dan Paman Vanya (Anton Chekhov). juga lokakarya dan diskusi teater secara . Pada tahun 1960. (Misbach Yusa Biran) dengan gaya longser. Menurut Brandon (1997). Yogyakarta. ATNI menggalakkan dan memapankan realisme dengan mementaskan lakon-lakon terjemahan dari Barat. seperti karyakarya Moliere. Didirikannya pusat kesenian Taman Ismail Marzuki oleh Ali Sadikin. Lakon Awal dan Mira (1952) tidak hanya terkenal di Indonesia. Teguh Karya. melanjutkan apa yang sudah dilakukan Jim Lim yaitu mencampurkan unsur-unsur teater Barat dengan teater etnis. Palembang. Taman Ismail Marzuki menerbitkan 67 (enam puluh tujuh) judul lakon yang ditulis oleh 17 (tujuh belas) pengarang sandiwara. Islam dan Komunisme.

tata cahaya. Dari Festival Teater Jakarta muncul kelompok teater seperti. Wahyu Sihombing. Teater Api. D. Ikranegara (Teater Saja). Riantiarno (Teater Koma) dengan ciri pertunjukan yang mengutamakan tata artistik glamor. Teater Tobong. Upeti.6 Teater Indonesia Tahun 1980 – 1990-an Tahun 1980-1990-an situasi politik Indonesia kian seragam melalui pembentukan lembaga-lembaga tunggal di tingkat nasional. Mohammad Diponegoro dan Syubah Asa mendirikan Teater Muslim. Kontrangkantring. Pasar Seret. Sinden. dan Teater Kami yang lahir di luar produk festival (Afrizal Malna. Pramana Padmodarmaya (Teater Lembaga). dan Teater Gandrik. Teater Lektur. Teater Ragil. di Solo ada juga Teater Gidag-gidig. Aktivitas teater kampus mampu menghidupkan dan membuka kemungkinan baru gagasan-gagasan artistik. ISI menjadi satu-satunya perguruan tinggi seni yang memiliki program Strata 1 untuk bidang seni teater pada saat itu. Di Yogyakarta muncul Teater Dynasti.1999). Menampilkan manusia sebagai gerombolan dan aksi. Dhemit. Djajakusuma. Arifin C. Ditiadakannya kehidupan politik kampus sebagai akibat peristiwa Malari 1974. Jurusan teater dibuka di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada tahun 1985. Di Bandung muncul Teater Bel. . vokal. Beberapa jenis festival di Yogyakarta. Di Surabaya ada Festival Drama Lima Kota yang digagas oleh Luthfi Rahman. Teater Tetas selain teater Studio Oncor. Di Medan muncul Teater Que dan di Palembang muncul Teater Potlot. Teater Tikar. Kholiq Dimyati dan Mukid F. Di Semarang muncul Teater Lingkar. Salah satu lakonnya berjudul Tuk. Teater Gandrik menonjol dengan warna teater yang mengacu kepada roh teater tradisional kerakyatan dan menyusun berita-berita yang aktual di masyarakat menjadi bangunan cerita. Teater Rajawali. dan Orde Tabung. Di Solo (Surakarta) muncul Teater Gapit yang menggunakan bahasa Jawa dan latar cerita yang meniru lingkungan kehidupan rakyat pinggiran. Di samping Gapit. Teater Kubur. Teater Republik. 1. Noor (Teater Kecil) dengan gaya pementasan yang kaya irama dari blocking. Rahman Arge dan Aspar Patturusi mendirikan Teater Makasar. Lalu Teater Nasional Medan didirikan oleh Djohan A Nasution dan Burhan Piliang. Teater Nol. Luthfi Rahman. kostum dan verbalisme naskah. Teater Kanvas. Teater Sae yang berbeda sikap dalam menghadapi naskah yaitu posisinya sejajar dengan cara-cara pencapaian idiom akting melalui eksplorasi latihan. Dewan-dewan Mahasiswa ditiadakan. Teater Bandar Jakarta. Tokoh-tokoh teater yang muncul tahun 1970-an lainnya adalah. Di Makasar. Di Jakarta dikenal dengan Festival Teater Jakarta (sebelumnya disebut Festival Teater Remaja). Dalam latar situasi seperti itu lahir beberapa kelompok teater yang sebagian merupakan produk festival teater. Fokus tidak terletak pada aktor tetapi gerombolan yang menciptakan situasi dan aksi sehingga lebih dikenal sebagai teater teror. Adi Kurdi (Teater Hitam Putih). Teater Shima. Ada pula Teater Luka. Lakon yang dipentaskan antra lain. Teater Melarat Malang). Teater Institut. Di Tegal lahir teater RSPD. Teguh Karya (Teater Populer).2. Di Padang ada Wisran Hadi dengan teater Padang. Meh. N. Di Surabaya muncul bentuk pertunjukan teater yang mengacu teater epik (Brecht) dengan idiom teater rakyat (kentrung dan ludruk) melalui Basuki Rahmat. Pada saat itu lahirlah kelompok-kelompok teater baru di berbagai kota di Indonesia.umum atau khusus.2. Sanggar Suroboyo. Teater Jeprik. Danarto (Teater Tanpa Penonton). dan Teater Payung Hitam. Akhudiat. Hasyim Amir (Bengkel Muda Surabaya. Salah satu teater kampus yang menonjol adalah teater Gadjah Mada dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Artaud dan Grotowsky juga diperbincangkan. Di Yogyakarta Azwar AN mendirikan teater Alam. Tidak hanya Stanislavsky tetapi nama-nama seperti Brecht. Aktivitas teater terjadi juga di kampus-kampus perguruan tinggi. Putu Wijaya (teater Mandiri) dengan ciri penampilan menggunakan kostum yang meriah dan vokal keras.2. musik. di antaranya Festival Seni Pertunjukan Rakyat yang diselenggarakan Departemen Penerangan Republik Indonesia (1983). Festival Drama Lima Kota Surabaya memunculkan Teater Pavita.

wilayah jelajah ekspresi menjadi semakin luas dan kemungkinan bentuk garap semakin banyak . kemungkinan ekspresi artistik dikembangkan dengan gaya khas masing-masing seniman.2.2. Sejak munculnya eksponen 70 dalam seni teater.an sampai saat ini. Semangat kolaboratif yang terkandung dalam seni teater dimanfaatkan secara optimal dengan menggandeng beragam unsur pertunjukan yang lain.2. Dengan demikian. Meksipun seni teater konvensional tidak pernah mati tetapi teater eksperimental terus juga tumbuh. Gerakan ini terus berkembang sejak tahun 80.7 Teater Kontemporer Indonesia Teater Kontemporer Indonesia mengalami perkembangan yang sangat membanggakan.1. Konsep dan gaya baru saling bermunculan.

Tidaklah menarik sebuah cerita disajikan di atas panggung tanpa adanya konflik. karena tema merupakan sasaran yang hendak dicapai oleh seorang penulis lakon. Konflik dalam lakon bisa rumit bisa juga sederhana. pemain adalah orang yang membawakan lakon tersebut. 2. aim. tokoh atau tokoh yang terlibat dalam kejadiankejadian dalam lakon. Kedua. Penting sekali bahwa dalam menyusun kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa seorang penulis haruslah bersabar untuk melangkah dari satu kejadian ke kejadian lain dalam suatu perkembangan yang logis. Kedua. konflik. dan apa yang dibaca atau diceritakan kepadanya oleh orang lain. Keunggulan dari seorang pengarang ialah. Keempat. Ketika tema tidak terumuskan dengan jelas maka lakon tersebut akan kabur dan tidak jelas apa yang hendak disampaikan. ini mungkin bisa diuraikan sebagai keseluruhan pernyataan dalam sebuah permainan: topik. mungkin juga sebuah keadaan (Robert Cohen. penonton adalah sekelompok orang yang menyerahkan sebagian dari kemerdekaannya untuk menjadi bagian dari tokoh yang tampil dalam suatu lakon dan menikmatinya. Dalam lakon akan dijumpai dua hal yang sangat penting. skenario tak tertulis (dalam teater kerakyatan). dan bercabang-cabang jika tidak disajikan secara baik justru akan membosankan dan membuat laku lakon menjadi lamban. driving force dan sebagainya. Seorang penulis terkadang mengemukakan tema dengan jelas tetapi ada juga yang secara tersirat. Sementara. tema harus dirumuskan dengan jelas. ide utama atau pesan. 1989). Peristiwa atau kejadian dibuat oleh penulis naskah sebagai kerangka besar yang mendasari terjadinya suatu lakon. berliku. karena peristiwa yang mengarahkan cerita kepada konflik membutuhkan tokoh sebagai pelaku. Tema bisa juga disebut muatan intelektual dalam sebuah permainan. thought. yaitu konflik dan tokoh yang terlibat dalam kejadian. tetapi semakin lama semakin gawat sehingga akhirnya ia sampai ke puncak yang disebut klimaks. Akan tetapi. Konflik dalam lakon merupakan inti cerita. yaitu pertama. Jadi dalam lakon ada dua hal penting yang diciptakan oleh seorang penulis lakon. yaitu pertama. dia mempunyai kepekaan terhadap lingkungan sekelilingnya. Jadi. sehingga pada puncaknya masuk ke dalam penyelesaian cerita.1 Tema Tema ada yang menyebutnya sebagai premis. Penulis kemudian menyusun rangkaian kejadian. tetapi juga menyampaikan suatu pesan tentang persoalan kehidupan manusia. Terkadang konflik yang kecil dan sederhana jika diselesaikan secara cerdas akan membuat penonton takjub. Pengarang adalah seorang warga masyarakat yang tentunya mempunyai pendapat tentang masalah-masalah politik dan sosial yang penting serta mengikuti isu-isu zamannya (Rene Wellek dan Austin Warren. 1983). Tidak ada acuan yang pasti terhadap konflik dalam lakon yang dapat membuat cerita menjadi menarik. Ide-ide.Dasar-dasar Teater (2/6): Seni Sastra dalam Teater Teater memiliki sekurang-kurangnya empat unsur penting dalam setiap pementasan. Adhy Asmara (1983) menyebut tema sebagai premis yaitu rumusan intisari cerita sebagai landasan ideal dalam menentukan arah tujuan cerita. konflik yang berat. kalau ada anggapan bahwa semakin rumit konflik lakon semakin menarik adalah anggapan yang salah. Pengarang atau penulis lakon menciptakan sebuah lakon bukan hanya sekedar mencipta. bisa berwujud sebuah naskah atau skenario tertulis. root idea. central idea. Gagasan utama atau pesan lakon termaktub dalam konflik yang merupakan pertentangan antara satu pihak terhadap pihak lain mengenai sesuatu hal. Tokoh adalah orang yang menghidupkan kejadian atau peristiwa yang dibuat oleh penulis naskah. Lakon ditulis oleh seorang penulis naskah lakon berdasarkan apa yang dilihat. Ketiga. lakon atau cerita yang ditampilkan. sutradara sebagai penata pertunjukan di panggung. semakin lama semakin rumit. goal. Pesan itu bisa mengenai kehidupan lahiriah maupun batiniah. apa yang dialami. Jalinan cerita menuju konflik dan cara penyelesainnya inilah yang menjadikan lakon menarik. 1994). Tema adalah suatu amanat utama yang disampaikan oleh pengarang atau penulis melalui karangannya (Gorys Keraf. dan dari lingkungan tersebut dia menyerap segala persoalan yang menjadi ide-ide dalam penulisan lakonnya. Peristiwa lakon tersebut menuntun seseorang untuk mengikuti laku kejadian mulai dari pemaparan. konlfik hingga penyelesaian. Dengan demikian bisa ditarik kesimpulan . pesan atau pandangan terhadap persoalan yang ada dijadikan ide sentral atau tema dalam menulis naskah lakonnya.

.. LEAR : ………………... dalam kalimat dialog Raja Lear dapat ditarik satu simpulan bahwa meskipun sebagai raja ia disegani oleh anak-anaknya.. gagasan atau pesan yang ada dalam naskah lakon dan ini menentukan arah jalannya cerita. supaya hama jahat berupah. dan harus dipuji. KENT : Silakan. tiap pertalian keluarga dan darah. Melalui laku atau aksi tokoh dalam lakon yang biasanya diterangkan (dituliskan) dalam arahan lakon gambaran tema semakin jelas. Dialog yang disampaikan tokoh dapat dijadikan acuan untuk menganalisis tema lakon. di malam begitu takkan kuusir untuk dari tempat berdiang………………. tercinta meski dihina. LEAR : …………. Dalam lakon Raja Lear. berjaga dengan topi tipis ini? Anjing musuhku pun. nanti kuhambat untungmu…. Dari kutipan dialog dan laku serta perbuatan tokoh dalam lakon Raja Lear di atas bisa ditarik sebuah kejelasan bahwa Raja Lear adalah orang yang gila hormat.. Ah wajah benginikah dipaksa menempuh pergolakan badai? Dan melawan guntur bercakra garang. tetapi karena sikapnya yang keras maka ia juga dibenci. * Raja Lear murka pada Cordelia karena tidak memujinya. laku tokoh dapat memberikan penjelasan sebagai berikut.. Bunuhlah tabib tuan. * Raja Lear membagi kerajaan pada ketiga anaknya sesuai dengan pujian yang disampaikan anaknya.2 Plot . meski dibuang. rangkung saya berteriak meyerukan tuanlah lalim……… RAJA TOKOHCIS : Cordelia jelita. Sekarang kulempar tiap kewajiban orang tua. Tema dalam naskah lakon ada yang secara jelas dikemukakan dan ada yang samar-samar atau tersirat. Kadangkadang. * Raja Lear marah-marah ketika tidak dilayani hidupnya pada anak yang semula disayangi. Jika hanya membaca cerita secara keseluruhan tanpa meninjau kalimat dialog dengan teliti maka hasil akhir dari analisis yang dilakukan belum tentu benar. Semua analisis lakon dikerjakan dengan mencermati kalimat dialog tersebut serta hubungan antara kalimat satu dengan yang lain. Misalnya. Batalkan anugerah tuan. * Raja Lear marah-marah dan mengusir bawahannya ketika ada yang menentang. Perhatikan kutipan dialog di bawah ini. kendalikan lidahmu sedikit.. kalau tidak. Dengan berpedoman dua hal tersebut analisis tema lakon dapat dikerjakan. Tema dapat diketahui dengan dua cara : * Apa yang diucapkan tokoh-tokohnya melalui dialog-dialog yang disampaikan... 2. lalim..bahwa tema adalah ide dasar. yaitu kehancuran diri dan keluarganya. Detil tema selalu dapat ditemukan dari baris-baris kalimat dialog tokoh cerita.. petir dahsyat yang pesat. Masing-masing tokoh mengucapkan kalimat dialognya. Tema sebuah lakon bisa tunggal dan bisa juga lebih dari satu. walau menggigit aku. * Apa yang dilakukan tokoh-tokohnya. terpillih meski. lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo. tidak bijaksana. Dari dialog tersebut dapat diketahui perihal atau soalan yang dibahas. Dengan merangkai setiap persoalan melalui dialog para tokohnya maka gambaran tema akan didapatkan. Atas sikapnya itu Raja Lear menuai hasil. Misalnya. dialog kecil memiliki arti yang luas dan sanggup mempengaruhi tema cerita... namun uban ini sudah menuntut belas-kasih.. CORDELIA : Andaikan bukan seorang ayah. * Anak-anak Raja Lear yang disayangi berubah memusuhi orang tuanya sehingga Raja Lear sakit. ternyata paling kaya meski miskin.. Laku aksi memberikan penegasan kalimat dialog. cepat menyambar-nyabar? Bagai prajurit yang terbuang.. mulai kini sampai selamanya kaulah asing bagiku dan bagi hatiku………………….

waktu kejadiannya. bagian awal. lihat. Cuddon dalam Dictionary of Literaray Terms (1977). Heffner.1 Jenis Plot Ketika menonton atau melihat atau membaca sebuah lakon fiksi maka emosi kita akan terpengaruh dengan apa yang kita tonton.2. Pada bagian tengah biasanya berisi tentang kejadian-kejadian yang bersangkut paut dengan masalah pokok yang telah disodorkan kepada penonton dan membutuhkan jawaban. puisi atau prosa dan selanjutnya bentuk peristiwa dan perwatakan itu menyebabkan pembaca atau penonton tegang dan ingin tahu. * Aksi Pendorong adalah saat memperkenalkan sumber konflik di antara karakter-karakter atau di dalam diri seorang karakter. atau argumentative atau kejenakaan atau melalui cara-cara lain. Jalinan peristiwa dan jalannya cerita inilah yang dimaksud dengan plot. ialah seluruh persiapan dalam permainan. dan merupakan dasar struktur irama keseluruhan permainan. musik. Menurut J. dan bagaimana peristiwa itu terjadi. Secara sederhana plot dapat dibagi menjadi dua yaitu simple plot (plot yang sederhana) dan multi plot (plot yang lebih dari satu) . Plot merupakan jalannya peristiwa dalam lakon yang terus bergulir hinga lakon tersebut selesai. yaitu karakter. Sellman dalam Modern Theatre Practice (1963). Pembagian plot dalam lakon klasik atau konvensional biasanya sudah jelas yaitu. misalnya tempat lakon tersebut terjadi. tema. pengawas utama dimana seorang penulis naskah dapat menentukan bagaimana cara mengatur lima bagian yang lain. diksi. Hal ini berhubungan dengan pola pengadeganan dalam permainan teater. * Krisis adalah penjelasan yang terperinci dari perjuangan karakter-karakter atau satu karakter untuk mengatasi konflik. Plot dapat dibagi berdasarkan babak dan adegan atau berlangsung terus tanpa pembagian. * Eksposisi adalah saat memperkenalkan dan membeberkan materi-materi yang relevan atau memberi informasi pada penonton tentang masalah yang dialami atau konflik yang terjadi dalam diri karakter-karakter yang ada di lakon. * Klimaks adalah proses identifikasi atau proses pengusiran dari rasa tertekan melalui perbuatan yang mungkin saja sifatnya jahat. plot atau alur adalah kontruksi atau bagan atau skema atau pola dari peristiwa-peristiwa dalam lakon. atau baca tersebut. Jadi plot berfungsi sebagi pengatur seluruh bagian permainan. 2. Plot lakon banyak sekali ragamnya tergantung dari penulis lakon mempermainkan emosi kita. Jadi plot merupakan susunan peristiwa lakon yang terjadi di atas panggung. Pautannya dapat diwujudkan oleh hubungan temporal (waktu) dan oleh hubungan kausal (sebab-akibat). dan bagian akhir. Samuel Selden dan Hunton D. Plot menurut Panuti Sudjiman dalam bukunya Kamus Istilah Sastra (1984) memberi batasan adalah jalinan peristiwa di dalam karya sastra (termasuk naskah drama atau lakon) untuk mencapai efek-efek tertentu. bagian tengah. pelaku-pelakunya. yang menggerakkan jalan cerita melalui perumitan (penggawatan atau komplikasi) ke arah klimaks penyelesaian. Plot juga berfungsi sebagai bagian dasar yang membangun dalam sebuah teater dan keseluruhan perintah dari seluruh laku maupun semua bagian dari kenyataan teater serta bagian paling penting dan bagian yang utama dalam drama atau teater. Secara umum pembagian plot terkadang menggunakan tipe sebab akibat yang dibagi dalam lima pembagian sebagai berikut.A. Plot atau alur menurut Hubert C. Bagian ini merupakan kejadian akhir dari lakon dan terkadang memberikan jawaban atas segala persoalan dan konflik-konflik yang terjadi. * Resolusi adalah proses penempatan kembali kepada suasana baru. Bagian akhir berisi tentang satu persatu pertanyaan penonton terjawab atau sebuah lakon telah mencapai klimaks besar. dan spektakel. Emosi ini timbul karena terpengaruh oleh jalinan peristiwaperistiwa dan jalannya cerita yang ditulis oleh penulis. Seorang penulis seringkali meletakkan berbagai informasi penting pada bagian awal lakon. Plot atau alur adalah rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama.Plot (ada yang menyebutnya sebagai alur) dalam pertunjukan teater mempunyai kedudukan yang sangat penting.

Alur lurus atau straight plot hampir sama dengan alur maju. Alur menurun atau falling plot adalah alur dengan emosi lakon mulai dari tingkat emosi yang paling tinggi menuju tingkat emosi lakon yang paling rendah.2 Multi Plot Multi plot adalah lakon yang memiliki satu alur utama dengan beberapa sub plot yang saling bersambungan. Alur episode atau episodic plot adalah plot cerita yang terdiri dari bagian perbagian secara mandiri.S. Alur mundur atau regresive plot adalah alur cerita yang dimulai dari inti cerita kemudian dipaparkan bagaimana sampai terjadi peristiwa tersebut. alur maju atau progressive plot. Alur ini adalah alur cerita paling umum pada alur lakon. terdiri dari alur menanjak atau rising plot.2. pembayangan ke depan yang terjadi ketika tokoh meramalkan atau membayangkan keadaan yang akan datang. dan alur melingkar atau circular plot. plot atau alur cerita merupakan rangkaian peristiwa yang satu dengan yang lain dihubungkan dengan hukum sebab akibat. Alur maju atau progresive plot adalah alur cerita yang dimulai dari pemaparan peristiwa lakon sampai menuju inti peristiwa lakon. . Plot linear adalah alur cerita mulai dari awal sampai akhir cerita bergerak lurus sedangkan linear-circular adalah alur cerita mulai dari awal sampai akhir bergerak lurus secara melingkar sehingga awal dan akhir cerita akan bertemu dalam satu titik. alur menurun atau falling plot. dimana pada akhir cerita semua tokoh yang terlibat dalam cerita yang terpisah tadi akhirnya menyatu guna menyelesaikan cerita. Jalinan jalan cerita dalam lakon bergerak mulai dari awal sampai akhir tanpa ada kilas balik.1. Plotplot yang ada dalam cerita tersebut memiliki permasalah yang harus diselesaikan.2. Simple plot ini terdiri dari plot linear dan linear-circular. 2. Raja Lear karya William Shakespeare dan lain-lain. Plot disusun oleh pengarang dengan tujuan untuk mengungkapkan buah pikirannya yang secara khas. * Dramatic Irony. Concentric plot adalah cerita lakon yang memiliki beberapa plot yang berdiri sendiri. Tetapi pada akhir cerita alur cerita yang terdiri dari episodeepisode ini akan bertemu. 2. tema. dan tanpa disadari akan menimpa dirinya sendiri. Dengan demikian plot memiliki anatomi atau bagian-bagian yang menyusun plot tersebut yang disebut dengan anatomi plot sebagai berikut. bagian 5 menit pertama yang sengaja dibuat menarik untuk memikat penikmat * Fore Shadowing.2. Dalam lakon banyak dijumpai tokoh-tokoh ini. tokoh. Alur linear ini masih bisa dibagi-bagi lagi sesuai dengan sifat emosi yang terkandung dari plot linear ini. Setiap episode dalam lakon tersebut sebenarnya tidak ada hubungan sebab akibat dalam rangkaian cerita. Alur ini merupakan kebalikan dari alur menanjak atau rising plot.1. Rendra. Alur ini merupakan kebalikan dari progressive plot. Contoh lakon dengan alur mundur adalah Opera Primadona karya Nano Riantiarno yang dimainkan oleh Teater Koma. Pengungkapan ini lewat jalinan peristiwa yang baik sehingga menciptakan dan mampu menggerakkan alur cerita itu sendiri.2. * Gimmick. alur lurus atau straight plot. Contoh lakon dengan alur episode atau episodic plot adalah lakon Panembahan Reso karya W. Alur menanjak atau rising plot adalah alur dengan emosi lakon mulai dari tingkat emosi yang paling rendah menuju tingkat emosi lakon yang paling tinggi. aksi seorang tokoh yang berkata atau bertindak sesuatu. Multi plot ini terdiri dari dua tipe yaitu alur episode atau episodic plot dan alur terpusat atau concentric plot. di mana setiap episode memiliki alur cerita sendiri.2 Anatomi Plot Menurut Rikrik El Saptaria (2006). alur mundur atau regressive plot. dan biasanya tidak disadari oleh tokoh tersebut.1 Simple Plot Simple plot atau plot lakon yang sederhana adalah lakon yang memiliki satu alur cerita dan satu konflik yang bergerak dari awal sampai akhir.

Suspen akan menumbuhkan dan memelihara keingintahuan penonton dari awal sampai akhir cerita. atau sore hari? Jika terjadi dalam ruang lalu di mana letak ruang itu. karena memang bukan persoalan scenery yang hendak dibahas. * Suspen. atau sudah lain hari? Pertanyaan-pertanyaan seputar waktu dan tempat kejadian ini akan memberikan gambaran peristiwa lakon yang komplit (David Groote. Dalam sebuah lakon terkadang dijumpai aksi-aksi yang seperti ini dan akan menimbulkan suatu rasa simpati penonton kepada korbannya.* Flashback.1 Latar Tempat Latar tempat adalah tempat yang menjadi latar peristiwa lakon itu terjadi. 1997). tetapi kilas balik pada film biasanya berupa nukilannukilan gambar. Sedangkan sebagai bahan dasar pertunjukan. Sebagai bahan bacaan sastra. pada akhirnya mengarah ke sesuatu yang tidak disangka-sangka sebelumnya. suatu peristiwa yang terjadi diluar dugaan penonton sebelumnya dan memancing perasaan dan pikiran penonton agar menimbulkan dugaan-dugaan yang tidak pasti. Pertanyaan tidak serta merta dijawab secara global tetapi harus lebih mendetil untuk mengetahui secara pasti waktu dan tempat kejadiannya. 2. aksi atau ucapan tokoh utama yang beritikad tentang sesuatu persoalan yang menimbulkan pertentangan atau konflik antartokoh. Kalau cerita itu bisa ditebak oleh penonton maka perhatian penonton akan berkurang dan menganggap pertunjukan tersebut tidak menyuguhkan sesuatu untuk dipikirkan. Analisis ini juga sangat penting dilakukan karena berhubungan dengan tata teknik pentas. Analisis setting lakon ini merupakan suatu usaha untuk menjawab sebuah pertanyaan apakah peristiwa terjadi di luar ruang atau di dalam ruang? Apakah terjadi pada waktu malam. Suspen ini biasanya diciptakan dan dijaga oleh penulis lakon dari awal sampai akhir cerita. Kalau pemeran atau sutradara tidak cermat dalam menganalisisnya maka kemungkinan suspen terlewati dan tidak tergarap dengan baik. dan tahun berapa? Apakah waktu kejadiannya berkaitan dengan waktu kejadian peristiwa di adegan lain. Gambaran tempat peristiwa dalam lakon kadang sudah diberikan oleh penulis lakon. Peristiwa dalam lakon adalah peristiwa fiktif yang menjadi hasil rekaan penulis lakon. tempat peristiwa ini harus dikomunikasikan atau diceritakan oleh para pemeran sebagai komunikator kepada penonton. tetapi kadang tidak diberikan oleh penulis . karena semuanya sudah bisa ditebak oleh penonton. di dalam gedung atau di dalam rumah? Jam berapa kira-kira terjadi? Tanggal. Kilas balik ini berfungsi untuk mengingatkan kembali ingatan penonton pada peristiwa yang telah lampau tetapi masih dalam satu rangkaian peristiwa lakon. supaya penonton bertanya-tanya apa akibat yang ditimbulkan dari peristiwa sebelumnya ke peristiwa selanjutnya. bulan. Hal ini akan menyebabkan kualitas pertunjukan dinilai tidak terlalu bagus. pagi hari. 2.3 Setting Membicarakan tentang setting dalam mengkaji lakon tidak ada kaitan langsung dengan tata teknik pentas. * Gestus. Menurut Aristoteles peristiwa dalam lakon adalah mimesis atau tiruan dari kehidupan manusia keseharian. Namun peristiwa yang diharapkan tersebut.2. Analisis ini perlu dilakukan guna memberi suatu gambaran pada penonton tentang tempat peristiwa itu terjadi. kilas balik peristiwa lampau yang dikisahkan kembali pada saat ini. Pertanyaan untuk setting atau latar cerita adalah kapan dan dimana persitiwa terjadi.2. tetapi bisa sebagai bahan dasar dari pertunjukan. Suspen ini biasanya dibangun melalui dialog-dialog serta laku para tokoh yang ada dalam naskah lakon.3. Kilas balik biasanya diceritakan melalui dialog tokoh. * Surprise. Seperti diketahui bahwa sifat dari naskah lakon bisa berdiri sendiri sebagai bahan bacaan sastra. interpretasi tempat kejadian peristiwa ini terletak pada keterangan yang diberikan oleh penulis naskah lakon dan dalam imajinasi pembaca. berisi dugaan dan prasangka yang dibangun dari rangkaian ketegangan yang mengundang pertanyaan dan keingintahuan penonton. Dengan menimbulkan pertanyaanpertanyaan ini penonton akan betah mengikuti cerita sampai selesai.

2. konflik yang akhirnya melahirkan cerita (A. Analisis latar waktu perlu dilakukan baik oleh seorang sutradara maupun oleh pemeran. sore). Lakon pada waktu itu mengambil latar peristiwa pada Zaman Tokohg Revolusi di Indonesia. pagi. musim kemarau.2. Analisis latar waktu bisa dilakukan dengan mencermati dialog-dialog yang disampaikan oleh tokoh dalam adegan atau babak yang sedang berlangsung. Latar peristiwa yang nyata digunakan oleh penulis lakon untuk menggambar peristiwa yang terjadi secara nyata pada waktu itu sebagai dasar dari lakonnya. babak atau dalam keseluruhan lakon tersebut. Latar waktu terkadang sudah diberikan`atau sudah diberi rambu-rambu oleh penulis lakon. 1985). tetapi banyak latar`waktu ini tidak diberikan oleh penulis lakon. atau yang mengakibatkan adegan atau lakon itu terjadi. malam. berbarti kita telah mengadopsi pikiran-pikiran dan perasaan tokoh tersebut menjadi perasaan dan pikiran kita. Analisis latar waktu yang dilakukan oleh sutradara biasanya berhubungan dengan tata teknik pentas. tabrakan kepentingan.2. Perbedaan-perbedaan tokoh ini diharapkan akan diidentifikasi oleh penonton. dan waktu yang menunjukkan suatu zaman atau abad (Zaman Klasik. dan babak itu terjadi.3. musim dingin dan lain-lain). Jika proses identifikasi ini berhasil.3. zaman tokohg dan lain-lain). Latar waktu dalam naskah lakon bisa menunjukkan waktu dalam arti yang sebenarnya (siang.4. maka perasaan penonton akan merasa terwakili oleh perasaan tokoh yang diidentifikasi tersebut. Zaman Romantik. Bahkan Lajos Egri berpendapat bahwa berperwatakanlah yang paling utama dalam lakon. Latar peristiwa pada adegan atau lakon adalah peristiwa yang mendahului adegan atau lakon tersebut. Analisis latar tempat dapat dilakukan dengan mencermati dialog-dialog tokoh yang sedang berlangsung dalam satu adegan.4 Karakterisasi Karakterisasi merupakan usaha untuk membedakan tokoh satu dengan tokoh yang lain.2.3 Latar Peristiwa Latar peristiwa adalah peristiwa yang melatari adegan itu terjadi dan bisa juga yang melatari lakon itu terjadi. lakon Raja Lear. 2. waktu yang menunjukkan sebuah musim (musim hujan. Tugas seorang sutradara dan`pemeran ketika menghadapi sebuah naskah lakon adalah menginterprestasi latar waktu dalam lakon tersebut. penata artistik akan menata perabot dan mendekorasi pementasan sesuai dengan latar waktu.2 Latar Waktu Latar waktu adalah waktu yang menjadi latar belakang peristiwa. Padahal ketidaksamaan watak akan melahirkan pergeseran. Latar peristiwa ini bisa sebagai realita bisa juga fiktif yang menjadi imajinasi penulis lakon.`adegan. yaitu seolah-olah terjadi kiamat karena lakon ini dialegorikan sebagai kiamat kecil. Misalnya. Lakon-lakon dengan latar peristiwa yang riil juga terjadi pada lakonlakon di Indonesia pada tahun 1950 sampai tahun 1970.2. 2. adegan awal pada lakon.1 Jenis-jenis Tokoh . Suatu misal kita mengidentifisasi satu tokoh. Tanpa perwatakan tidak akan ada cerita. tanpa perwatakan tidak bakal ada plot. Misalnya. Dengan menggetahui latar waktu yang terjadi pada maka semua pihak akan bisa mengerjakan lakon tersebut. 2. Misalnya. Karakterisasi atau perwatakan dalam sebuah lakon memegang tokohan yang sangat penting. Adjib Hamzah.lakon. mungkin saja William Shakespeare terinspirasi oleh bencana yang melanda Inggris pada waktu itu. sedangkan yang dilakukan oleh pemeran biasanya berhubungan dengan akting dan bisnis akting.

Dia adalah pengawal dari Cordelia. * Foil Foil adalah tokoh yang tidak secara langsung terlibat dalam konflik yang terjadi tetapi ia diperlukan guna menyelesaikan cerita. keinginan. * Antagonis Antagonis adalah tokoh lawan.2. yaitu flat character. Oswald. yang merupakan akumulasi dari pengalaman-pengalaman dan interaksi-interaksi yang dilakukannya dan terus .Tokoh merupakan sarana utama dalam sebuah lakon. Contoh:tokoh Badut dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. sebab dengan adanya tokoh maka timbul konflik. * Deutragonis Deutragonis adalah tokoh lain yang berada di pihak tokoh protagonis. Keberadaan tokoh adalah untuk mengatasi persoalan-persoalan yang muncul ketika mencapai suatu citacita. * Utility Utility adalah tokoh pembantu atau sebagai tokoh pelengkap untuk mendukung rangkaian cerita dan kesinambungan dramatik. dan pertikaian itu harus berkembang mencapai klimaks. Tokoh protagonis dan antagonis harus memungkinkan menjalin pertikaian. * Tritagonis Tritagonis adalah tokoh penengah yang bertugas menjadi pendamai atau pengantara protagonis dan antagonis. Contoh tokoh protagonis pada lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo adalah tokoh Raja Lear itu sendiri. * Flat Character (perwatakan dasar) Flat character atau karakter datar adalah karakter tokoh yang ditulis oleh penulis lakon secara datar dan biasanya bersifat hitam putih. Cordelia dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. Contoh. Tokoh antagonis harus memiliki watak yang kuat dan kontradiktif terhadap tokoh protagonis. * Protagonis Protagonis adalah tokoh utama yang merupakan pusat atau sentral dari cerita. tokoh Perwira. round charakter. Contoh. Biasanya dia berpihak pada tokoh antagonis. Tokoh ini juga menentukan jalannya cerita. Edgar. Penokohan ini biasanya didahului dengan menganalisis tokoh tersebut sehingga bisa dimainkan. tokoh Tumenggung Kent. Biasanya tokoh ini mewakili jiwa penulis. Menurut Rikrik El Saptaria (2006). sedangkan penokohan adalah proses kerja untuk memainkan tokoh yang ada dalam naskah lakon. dan cita-cita Raja Lear. dan ketika sudah dewasa maka pribadinya berkembang melalui hubungan dengan lingkungan sosial. teatrikal. Contoh tokoh antagonis pada lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo adalah tokoh Gonerill dan tokoh Regan. Tokoh-tokoh tersebut adalah sebagai berikut. dan karikatural. Contoh. Persoalan ini bisa dari tokoh lain. jenis karakter dalam teater ada empat macam. Curan dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. bisa juga karena kekurangan dirinya sendiri. Motivasi-motivasi tokoh inilah yang dapat melahirkan suatu perbuatan tokoh. Dalam teater. Tokoh ini ikut mendukung menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh tokoh protaganis. karena dia seringkali menjadi musuh yang menyebabkan konflik itu terjadi.2 Jenis Karakter Karakter adalah jenis tokoh yang akan dimainkan. Kedua tokoh inilah yang menentang perkembangan. tokoh dapat dibagi-bagi sesuai dengan motivasi-motivasi yang diberikan oleh penulis lakon. Karakter tokoh dalam lakon mengacu pada pribadi manusia yang berkembang sesuai dengan perkembangan lingkungan. 2. bisa dari alam. Jadi perkembangan karakter seharusnya mengacu pada pribadi manusia. tokoh Bangsawan pada lakon Raja Lear karya Willliam Sahkespeare. Konflik dapat dikembangkan oleh penulis lakon melalui ucapan dan tingkah laku tokoh. Ketika masih kecil dia bereksplorasi dengan dirinya sendiri untuk mengetahui perkembangan dirinya.4.

Perkembangan inilah yang menjadikan karakter ini menarik dan mampu untuk mengerakkan jalan cerita. D. satiris. Flat character ini ditulis dengan tidak mengalami perkembangan emosi maupun derajat status sosial dalam sebuah lakon. unik. keadaan jaman dan lain-lain yang tidak bersifat manusiawi tetapi dilakukan oleh manusia. antara ketegangan dengan keriangan suasana. Perkembangan dan perubahan ini mengacu pada perkembangan pribadi orang dalam kehidupan sehari-hari. tetapi diperlukan dalam sebuah lakon. Penulis lakon adalah orang yang memiliki dunia sendiri yaitu dunia fiktif. Pemimpin (lakon LOS) dan lain-lain. . tetapi sangat banyak dijumpai pada lakon-lakon klasik dan non realis.berkembang. Karakter ini segaja diciptakan oleh penulis lakon sebagai penyeimbang antara kesedihan dan kelucuan. suasana. * Round Character (perwatakan bulat) Karakter tokoh yang ditulis oleh penulis secara sempurna. Si Gembrot. Sifat karikatural ini bisa berupa dialog-dialog yang diucapkan oleh karakter tokoh. Kawan. dan cenderung menyindir.. Round karakter adalah karakter tokoh dalam lakon yang mengalami perubahan dan perkembangan baik secara kepribadian maupun status sosialnya. sehingga ketika mencipta sebuah karakter dia bebas menentukan suatu perkembangan karakter. Karakter-karakter teatrikal jarang dijumpai pada lakon-lakon realis. seperti tokoh A. dan lebih bersifat simbolis. bisa juga dengan tingkah laku. Misalnya karakter yang diciptakan oleh Putu Wijaya pada lakon-lakonnya yang bergaya post-realistic. karakteristiknya kaya dengan pesan-pesan dramatik. C. Si Tua. Karakter ini biasanya terdapat karakter tokoh utama baik tokoh protagonis maupun tokoh antagonis. * Karikatural Karikatural adalah karakter tokoh yang tidak wajar. * Teatrikal Teatrikal adalah karakter tokoh yang tidak wajar. Flat character biasanya ada pada karakter tokoh yang tidak terlalu penting atau karakter tokoh pembantu. bahkan perpaduan antara ucapan dengan tingkah laku. Karakter ini hanya simbol dari psikologi masyarakat.

maka seorang sutradara harus mengerti dengan baik hal-hal yang berhubungan dengan pementasan.1. Waluyo. Max Reinhart mengembangkan penyutradaraan dengan mengorganisasi proses latihan para aktor dalam waktu yang panjang. Model penyutradaraan seperti yang dilakukan oleh George II diteruskan pada masa lahir dan berkembangnya gaya realisme. memahami dan mengatur blocking serta melakukan serangkaian latihan dengan para pemain dan seluruh pekerja artistik hingga karya teater benar-benar siap untuk dipentaskan. Meskipun demikian. Nskah tersebut harus memenuhi kreteria yang diinginkan serta sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan. Kemudian mereka berlatih dan memainkkannya di hadapan penonton. maka para aktor memerlukan peremajaan pemain. Sutradara bisa memilih lakon yang sudah tersedia (naskah jadi) karya orang lain atau membuat naskah lakon sendiri. Pementasan teater muncul dari sekumpulan pemain yang memiliki gagasan untuk mementaskan sebuah cerita.Dasar-dasar Teater (3/6): Dasar Seni Penyutradaraan dalam Teater Pada mulanya pementasan teater tidak mengenal sutradara. 3. Dalam terminologi Yunani sutradara (director) disebut didaskalos yang berarti guru dan pada abad pertengahan di seluruh Eropa istilah yang digunakan untuk seorang sutradara dapat diartikan sebagai master. 2001). 3. Para aktor yang telah memiliki banyak pengalaman mengajarkan pengetahuannya kepada aktor muda. Dengan banyaknya jumlah pentas yang harus dilakukan. kerja sutradara dimulai sejak merencanakan sebuah pementasan. Istilah sutradara seperti yang dipahami dewasa ini baru muncul pada jaman Geroge II. Setelah itu tugas berikutnya adalah menganalisis lakon.1 Naskah Jadi Mementaskan teater dengan naskah yang sudah tersedia memiliki kerumitan tersendiri terutama pada saat hendak memilih naskah yang akan dipentaskan. 1994). Proses mengajar dijadikan tonggak awal lahirnya “sutradara”. menentukan bentuk dan gaya pementasan. . Dengan demikian sutradara menjadi salah satu elemen pokok dalam teater modern. seperti tertulis di bawah ini. Ada beberapa pertimbangan yang dapat dilakukan oleh sutradara dalam memilih naskah. yaitu menentukan lakon. Oleh karena itu. Sejalan dengan kebutuhan akan pementasan teater yang semakin meningkat. Gordon Craig merupakan seorang sutradara yang menanamkan gagasannya untuk para aktor sehingga ia menjadikan sutradara sebagai pemegang kendali penuh sebuah pertunjukan teater (Herman J. menentukan pemain. maka kehadiran seorang sutradara yang mampu mengatur dan mengharmonisasikan keseluruhan unsur artistik pementasan dibutuhkan. Andre Antoine di Tokohcis dengan Teater Libre serta Stansilavsky di Rusia adalah dua sutradara berbakat yang mulai menekankan idealisme dalam setiap produksinya. Seorang bangsawan (duke) dari Saxe-Meiningen yang memimpin sebuah grup teater dan menyelenggarakan pementasan keliling Eropa pada akhir tahun 1870-1880. Oleh karena kedudukannya yang tinggi. produksi pementasan teater Saxe-Meiningen masih mengutamakan kerja bersama antarpemain yang dengan giat berlatih untuk meningkatkan kemampuan berakting mereka (Robert Cohen.1 Pemilihan Naskah Proses atau tahap pertama yang harus dilakukan oleh sutradara adalah menentukan lakon yang akan dimainkan. Berhasil tidaknya sebuah pertunjukan teater mencapai takaran artistik yang diinginkan sangat tergantung kepiawaian sutradara.

Untuk itu. Tema. maka dalam cerita hal tersebut harus dimunculkan melalui aksi tokoh-tokohnya sehingga penonton dapat menangkap maksud dari cerita bahwa sehebat apapun kejahatan pasti akan dikalahkan oleh kebaikan. Oleh karena itu. akan menuntun laku cerita dari awal sampai akhir. tetapi juga dengan unsur pendukung yang lain. . William Froug (1993) misalnya. Misalnya dengan tema “kebaikan akan mengalahkan kejahatan”. * Menentukan kerangka cerita. sutradara harus mampu mengukur kualitas sumber daya pemain yang dimiliki dalam menentukan naskah yang akan dipentaskan. * Sutradara wajib mempertimbangkan sisi pendanaan secara khusus. * Menentukan tema. Kerangka cerita akan membingkai jalannya cerita dari awal sampai akhir. Tidak ada cerita teater tanpa konflik. yaitu pembukaan. pemilihan pemain yang asal-asalan. klimaks sampai penyelesaian. sutradara harus mampu membuat naskah yang sesuai dengan kualitas sumber daya yang ada.Tidak ada gunanya berlatih naskah lakon tertentu dalam waktu lama jika di tengah proses tiba-tiba hal itu terhenti karena alasan tertentu. * Sutradara mampu tetap mementaskan naskah yang dipilih. konflik. * Sutradara merasa mampu mementaskan naskah yang telah dipilih. membuat naskah sendiri dapat menjadi pilihan yang tepat. maka naskah tersebut bisa dipilih. Jika sutradara merasa mampu mengusahakan pendanaan secara optimal untuk mewujudkan tuntutan artistik lakon. * Sutradara mampu menemukan pemain yang tepat. * Membuat sinopsis (ringkasan cerita). Naskah yang tidak dikehendaki akan membawa pengaruh dan masalah tersendiri bagi sutradara dalam mengerjakannya. * Menentukan persoalan. Hal ini membawa dampak tersendiri dalam bidang pendanaan. penata artsitik. Persoalan ini kemudian diikembangkan dalam cerita yang hendak dituliskan. Dengan membuat kerangka cerita maka penulis akan memiliki batasan yang jelas sehingga cerita tidak berteletele. sutradara harus mampu melakukan adaptasi sehingga pendanaan bisa dikurangi tanpa mengurangi nilai artistik lakon. Misalnya. Naskah semacam ini bersifat situasional. tetapi semua orang yang terlibat menjadi senang karena dapat mengerjakannya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Dengan adanya sinopsis maka penulisan lakon menjadi terarah dan tidak mengada-ada. pangkal persoalan yang dibicarakan adalah sikap licik seseorang yang selalu memfitnah orang lain demi kepentingannya sendiri.1.* Sutradara menyukai naskah yang dipilih. Tema adalah gagasan dasar cerita atau pesan yang akan disampaikan oleh pengarang kepada penonton. Sinopsis digunakan pemandu proses penulisan naskah sehingga alur dan persoalan tidak melebar. Semua sumber daya dimiliki seperti pemain. Sutradara dengan segenap kemampuannya harus mampu meyakinkan pemain dan mengusahakan pertunjukan agar tetap digelar sehingga proses yang telah dilakukan tidak menjadi sia-sia.2 Membuat Naskah Sendiri Membuat naskah lakon sendiri tidak menguntungkan karena akan memperpanjang proses pengerjaan. Beberapa naskah yang baik terkadang memiliki konsekuensi logis dengan pendanaan. naskah yang dipilih memoiliki latar cerita di rumah mewah dengan segala perabot yang indah. Persoalan atau konflik adalah inti daricerita teater. Misalnya tema yang dipilih adalah “kebaikan akan mengalahkan kejahatan”. Kerangka ini membagi jalannya cerita mulai dari pemaparan. Gambaran cerita secara global dari awal sampai akhir hendaknya dituliskan. Beberapa langkah di bawah ini dapat dijadikan acuan untuk menulis naskah lakon. Jika sutradara memilih naskah yang akan ditampilkan dalam keadaan terpaksa maka bisa dipastikan hasil pementasan menjadi kurang baik. Oleh karena itupangkal persoalan atau titik awal konflik perlu dibuat dan disesuaikan dengan tema yang dikehendaki. seperti analisis yang kurang detil. membuat kerangka cerita (skenario) dengan empat bagian. keseluruhan kerja menjadi tidak optimal. dan pendanaan menjadi pertimbangan dalam memilih naskah yang akan dipentaskan. Mampu mementaskan sebuah naskah tentunya tidak hanya berkaitan dengan kecakapan sutradara. Jika tidak. Naskah lakon yang baik tidak ada gunanya jika dimainkan oleh aktor yang kurang baik. 3. Akan tetapi berkenaan dengan sumber daya yang dimiliki.

Bagian tengah adalah konflik yang meruncing hingga sampai klimaks. Dengan analisis yang baik. Oleh karena itu. Pada bagian akhir.bagian awal. Romeo and Juliet karya Shakespeare mengandung pesan bahwa seseorang yang telah menemukan cinta sejati tidak takut terhadap risiko apapun termasuk mati. Merupakan bahan komunikasi utama yang hendak disampaikan kepada penonton. Jika tokoh protagonis dan antagonis sudah ditemukan.2. * Menentukan protagonis. Penting mengetahui dasar persoalan (konflik) dalam sebuah lakon karena hal tersebut akan membawa laku aksi para tokohnya. sutradara wajib menemukan pesan utama dari lakon yang telah ditentukan. serta jujur. menentukan kerangka lakon dalam tiga bagian. Lakon yang telah ditentukan harus segera dipelajari sehingga gambaran 100% lengkap cerita didapatkan. Oleh karena itu tentukan akhir cerita dengan baik. Di bagian mana konflik itu muncul dan bagaimana aksi dan reaksi para tokohnya. Dengan menulis lawan dari sifat protagonis maka karakter antagonis dengan sendirinya terbentuk. dermawan. Dengan menentukan tokoh protagonis secara mendetil. isi yang berisi pemaparan. Riantiarno (2003). titik balik cerita dimulai dan konflik diselesaikan. Apa yang hendak disampaikan oleh pengarang melalui naskah lakon disebut pesan. dan penutup yang merupakan simpulan cerita atau akibat. bahkan ada yang bingung mengakhirinya. pada bagian mana konflik itu memuncak. logis. Berhasil atau tidaknya sebuah pertunjukan teater diukur dari sampai tidaknya pesan lakon kepada penonton. Semakin detil sifat atau karakter protagonis. dalam tahap ini sutradara hanya membaca kehendak pengarang melalui lakonnya. 3. Mengakhiri sebuah persoalan yang dimunculkan tidaklah mudah. Oleh karena itu.2 Analisis Lakon Menganalisis lakon adalah salah satu tugas utama sutradara. maka tokoh protagonis dapat diwujudkan sebagi orang yang rajin. Tokoh protagonis adalah tokoh yang membawa laku keseluruhan cerita. Dalam beberapa lakon ada cerita yang diakhiri dengan baik tetapi ada yang diakhiri secara tergesa-gesa. sutradara akan lebih mudah menerjemahkan kehendak pengarang dalam pertunjukan. maka tokoh lainnya mudah ditemukan. * Konflik dan Penyelesaian. berkecukupan. Dinamika percintaan Romeo dan Juliet yang berakhir dengan kematian inilah yang harus ditekankan oleh sutradara kepada penonton. tetapi lebih tidak mudah lagi memindahkan gagasan dalam bentuk tulisan. dalam persoalan tentang kelicikan. Unsur-unsur pokok yang harus dianalisis oleh sutradara adalah senagai berikut. sutradara sekaligus penulis naskah Teater Koma. Setelah semua hal disiapkan maka proses berikutnya adalah menulis. * Menulis. * Pesan Lakon. Pesan ini ingin disampaikan oleh pengarang dengan akhir yang tragis dimana tokoh Romeo dan Juliet akhirnya mati bersama. gunakan dan manfaatkan waktu sebaik mungkin. konflik hingga klimaks. tengah. * Menentukan cara penyelesaian. Pada bagian pembukaan memaparkan sketsa singkat tokoh-tokoh cerita. Dalam proses analisis ini. maka semakin jelas pula karakter tokoh antagonis. Misalnya. Mencari dan mengembangkan gagasan memang tidak mudah. dan akhir. sutradara memepelajari seluruh isi lakon dan menangkap gambaran lengkap lakon seperti apa yang tertulis. semangat dalam bekerja. 3. yaitu pembuka yang berisi pengantar cerita atau sebab awal. maka tokoh lain baik yang berada di pihak protagonis atau antagonis akan mudah diciptakan.1 Analisis Dasar Analisis dasar adalah telaah unsur-unsur pokok yang membentuk lakon. senang membantu orang lain. Akhir cerita yang mengesankan selalu akan dinanti oleh penonton. dan tidak tergesa-gesa. Bagian awal adalah bagian pengenalan secara lebih rinci masing-masing tokoh dan titik konflik awal muncul. dan pada akhirnya bagaimana konflik itu . Jadi.

tetapi karena ketersediaan sumber daya yang kurang memadahi maka bentuk penampilan apartemen mewah disesuaikan. Semua informasi dikumpulkan dan diseleksi untuk kemudian diwujudkan dalam pementasan. 3. peristiwa. sutradara dapat menafsirkan tempat kejadian secara simbolis. Cara menyampaikan pesan ini menjadi titik tafsir lakon yang penting karena pesan inilah inti dari keseluruhan lakon. Secara artistik. dalam lakon mengehendaki tempat kejadian di sebuah apartemen yang mewah. Misalnya. Cara menyampaikan pesan antara sutradara satu dengan yang lain bisa berbeda meskipun lakon yang dipentaskan sama. misalnya warna-warna yang digunakan di atas panggung. atau gedung pertunjukan.2 Interpretasi Setelah menganalisis lakon dan mendapatkan informasi lengkap mengenai lakon. * Pesan. maka sutradara harus menggalinya melalui kalimat-kalimat dialog. Seorang sutradara sebetulnya boleh tidak melakukan interpretasi terhadap lakon. Karena tidak banyak arahan dan keterangan yang dituliskan mengenai karakter tokoh dalam sebuah lakon. atau ciri khas daerah tertentu. pesan. * Karakter Tokoh. gaya spanyol. Arsitektur gedung itu apakah menggunakan arsitektur kolonial. Ada juga sutradara yang menonjolkan .diselesaikan. Oleh karena itu analisis karakter ini harus dilakukan dengan teliti dan hati-hati sehingga setiap perubahan karakter yang dialami oleh tokoh tidak lepas dari pengamatan sutradara. Adaptasi terhadap tempat kejadian peristiwa sering dilakukan oleh sutradara. dan memahami konflik lakon. Proses ini bisa disebut sebagai proses asimilasi (perpaduan) antara gagasan sutradara dan pengarang. Proses interpretasi biasanya menyangkut unsur latar. Antigone. * Latar Cerita. Perjalanan sebuah karakter terkadang tidak mengalami perubahan yang berarti tetapi beberapa tokoh dalam lakon (biasanya protagonis dan antagonis) bisa saja mengalami perubahan. dan waktu kejadian harus diungkapkan dengan jelas karena hal ini berkaitan dengan tata artistik. dapur umum. Untuk mewujudkan keadaan peristiwa seperti dikehendaki lakon di atas panggung maka informasi yang jelas mengenai latar cerita harus didapatkan. Analisis karakter tokoh sangat penting dan harus dilakukan secara mendetil agar sutradara mendapatkan gambaran watak sejelas-jelasnya. menilai. Romeo and Juliet masih aktual dipentaskan sekarang ini. sutradara memberi sentuhan dan atau penyesuaian artistik terhadap lakon yang akan dipentaskan. Di gedung tersebut cerita terjadi di ruang aula. Penyesuaian inipun berkaitan langsung dengan latar waktu dan peristiwa. museum. Misalnya. Gambaran tempat kejadian. Misalnya. Hal yang paling menarik mengenai penyampaian pesan kepada penonton adalah caranya. ia hanya sekedar melakukan apa yang dikehendaki oleh lakon apa adanya sesuai dengan hasil analisis. Apakah gedung tersebut merupakan gedung pertemuan. artinya. gambaran tempat kejadian persitiwa adalah di sebuah gedung maka harus dijelaskan apakah terjadi di sebuah gedung megah. teras gedung. Ketika adaptasi ini dilakukan maka unsur-unsur lain pun seperti tata rias dan busana akan ikut terkait dan mengalami penyesuaian. Akan tetapi sangat mungkin seorang sutradara memiliki gagasan astistik tertentu yang akan ditampilkandalam pementasan setelah menganalisa sebuah lakon. Hal ini berlaku juga untuk latar peristiwa dan waktu. dewan kota. Secara teknis hal ini berkaitan dengan sumber daya yang dimiliki.Berdasarkan hasil analisis. Intinya informasi sekecil apapun harus didapatkan. apartemen mewah disimbolkan sebagai pusat kekuasaan maka tata panggungnya disesuaikan dengan simbolisasi tersebut. Untuk menekankan pesan yang dimaksud ada sutradara yang memberi penonjolan pada tata artistik. Dengan demikian penonton akan mendapatkan gambaran yang jelas latar cerita yang dimainkan.2. sederhana atau mewah. atau di salah satu ruang khusus. Oleh karena itulah pentas teater dengan lakonlakon yang sudah berusia lama seperti Oedipus. maka sutradara perlu melakukan tafsir atau interpretasi. dan karakterisasi. Jika apartemen disimbolkan sebagai pusat kekuasaan maka peristiwa yang terjadi di dalamnya juga harus mengikuti simbolisasi ini sedangkan latar waktunya bisa ditarik ke masa lalu atau masa kini seperti yang dikehendaki oleh sutradara. Selain itu sudut pandang pengarang dalam menyelesaikan konflik dapat menegaskan pesan yang hendak disampaikan. Semua ini akan memberi sudut pandang bagi sutradara dalam melihat. * Latar.

Meski tidak secara mendetil. 3. Oleh karena itu. gaya berjalan. Banyak hal yang harus dilakukan selain mengganti nama dan penampilan fisik. Aktor boleh berbicara secara langsung kepada penonton. * Pendekatan gaya pementasan. Jika sutradara mampu.3 Konsep Pementasan Hasil akhir dari analisis naskah adalah konsep pementasan. Sutradara harus membuat metode tertentu dalam sesi latihan pemeranan untuk mencapai apa yang dinginkan. Hal ini mempengaruhi hasil pemikiran dan cara mengungkapkan hasil pikiran tersebut. misalnya. karena menggunakan pendekatan gaya presentasional. Hal ini sangat berguna bagi aktor. Dengan demikian sutradara harus benar-benar memikirkan cara menyampaikan pesan lakon dengan mempertimbangkan unsur-unsur lakon dan sumber daya yang dimiliki. Hal ini biasanya berkaitan dengan isu atau topik yang sedang hangat terjadi di masyarakat. Masing-masing cara penonjolan pesan ini mempengaruhi unsur-unsur lain dalam pementasan. dan keseluruhan watak tokoh. emosi. Seniman teater dunia telah banyak berusaha melahirkan gaya pementasan.laku aksi aktor di atas pentas sehingga adegan dibuat dan dikerjakan secara detil. hal yang paling bisa adalah mendekatkan gaya pementasan dengan gaya tertentu yang sudah ada. penggunaan bahasa puitis dengan sendirinya membuat aktor harus mau memahami dan melakukan latihan teknik-teknik membaca puisi agar dalam pengucapan dialog tidak seperti percakapan sehari-hari.. Secara umum. takaran emosi dan cara berpikir. Setiap kelahiran gaya baru memiliki keterkaitan atau perlawanan terhadap gaya tertentu (baca bagian sejarah teater). Tafsir ulang terhadap tokoh lakon paling sering dilakukan. tetapi gambaran tata artisitk berguna bagi para desainer untuk mewujudkannya dalam desain. yaitu cara berbicara. Gerak laku aktor distilisasi atau diperindah. maka metode pemeranan yang dilakukan perlu dituliskan. Istilah pendekatan di sini digunakan dalam arti sutradara tidak hanya sekedar melaksanakan sebuah gaya secara wantah (utuh) tetapi ada pengembangan atau penyesuaian di dalamnya. Semuanya memliki keterkaitan. Jika tidak. tetapi juga mental. * Pendekatan pemeranan.4 Memilih Pemain . Misalnya. Konvensi atau aturan main sebuah pertunjukan diungkapkan dalam poin ini. pranata sosial) di luar hal utama yang dipikirkan. sebuah lakon yang tokohtokohnya memiliki latar belakang budaya Eropa hendak diadaptasi ke dalam budaya Indonesia. tata krama. Setelah menetapkan pendekatan gaya. Dengan demikian pendekatan yang dilakukan tidak salah sasaran. Untuk itu. sutradara harus memahami gaya-gaya pementasan. maka ia cukup menuliskannya. Misalnya. Dewasa ini hampir tidak bisa ditemukan gaya pementasan murni yang dihasilkan seorang sutradara atau pemikir teater. sutradara harus menuliskan gambaran (pandangan) tata artistiknya.Dalam konsep ini sutradara menjelaskan secara lengkap mengenai cara menyampaikan pesan yang berkaitan dengan pendekatan gaya pementasan dan pendekatan pemeranan serta memberikan gambaran global tata artistik. * Gambaran tata artistik. Metode akting berkaitan dengan pencapaian aktor (standar) sesuai dengan pendekatan gaya pementasannya. Misalnya. Hal ini mempengaruhi bentuk dan gaya penampilan aktor dalam beraksi.Dengan demikian cara pandang sutradara terhadap keseluruhan lakon pun harus diubah atau mengalami penyesuaian. pandangan hidup. * Karakterisasi. maka ia bisa memberikan gambaran tata artistik melalui sketsa. dalam budaya Eropa orang bepikir secara bebas sementara orang Indonesia cenderung mempertimbangkan hal-hali lain (tata krama. 3. maka bahasa dialog antaraktor menggunakan bahasa yang puitis. Tafsir ulang tokoh tidak hanya sekedar mengubah nama dan menyesuaikan bentuk penampilan fisik.

Untuk menilai kesiapan tubuh pemain.Menentukan pemain yang tepat tidaklah mudah. Akan tetapi. Grup teater tradisional biasanya memilih pemain sesuai dengan penampilan fisik dengan ciri fisik tokoh lakon. Ciri fisik dapat pula dijadikan acuan untuk menentukan pemain. Misalnya. Hal ini dianggap dapat mampu melahirkan ekspresi wajah yang natural. * Tinggi Tubuh. Menghayati sebuah tokoh berarti mampu menerjemahkan laku aksi karakter tokoh dalam bahasa verbal dan ekspresi tubuh secara bersamaan. Hal ini juga sama dengan ukuran tubuh. dalam lakon yang gambaran tokohnya sudah melekat di masyarakat. dalam cerita Kabayan. * Ukuran Tubuh. tokoh Bagong memiliki ukuran tubuh tambun (gemuk). intonasi. dalam teater modern. Calon aktor. dalam wayang wong. Penilaian yang dapat dilakukan adalah penguasan. sutradara dapat menilai kecakapan pemain melalui portofolio tetapi proses audisi tetap penting untuk menilai kecakapan aktor secara langsung. Oleh karena itu pemain harus memiliki kemampuan wicara yang baik. Tidak masuk akal jika Bagong tampil dengan tubuh kurus. seorang yang tinggi tapi bungkuk dianggap tepat memainkan tokoh pendeta.4. Kesiapan tubuh seorang pemain merupakan faktor utama. Akan tetapi. ukuran tubuh merupakan harga mati bagi sebuah tokoh. memilih pemain biasanya berdasar kecapakan pemain tersebut. sutradara dapat memberikan penggalan adegan atau dialog karakter untuk diujikan. Biasanya. Sutradara akan diprotes oleh penonton jika menampilkan Bima bertubuh kurus dan pendek. dan brewok tebal cocok diberi tokoh sebagai warok atau jagoan. dalam sebuah grup teater sekolah yang pemainnya selalu berganti atau kelompok teater kecil yang membutuhkan banyak pemain lain sutradara harus jeli memilih sesuai kualifikasi yang dinginkan. 3. Seorang yang memiliki kumis. maka pemain harus memiliki ciri wajah yang tampak tolol. maka latihan katahanan tubuh dapat diujikan. misalnya tokoh-tokoh dalam lakon pewayangan. harus mampu menyajikannya dengan . * Penghayatan. Misalnya. * Wicara. * Ciri Tertentu. maka pemain yang dipilih pun harus memiliki tubuh gemuk. tetapi ciri wajah pemain harus diusahakan semirip mungkin dengan ciri wajah tokoh dalam lakon. Untuk menilai hal ini. Dalam kasus tertentu. misalnya dalam wayang orang atau ketoprak. * Tubuh.4. penentuan pemain berdasar ciri fisik ini menjadi acuan utama. sutradara sudah mengetahui karakter pemainpemainnya (anggota). karena tidak sesuai dengan karakter dan akan menyalahi laku lakon secara keseluruhan. diksi. 3.1 Fisik Penampilan fisik seorang pemain dapat dijadikan dasar menentukan tokoh. Kemampuan dasar wicara merupakan syarat utama yang lain. Meskipun dalam khasanah teater modern. * Ciri Wajah. dan pelafalan yang baik. dalam ketoprak. Dalam sebuah grup atau sanggar.2 Kecakapan Menentukan pemain berdasar kecapakan biasanya dilakukan melalui audisi. Tokoh Werkudara (Bima) harus ditokohkan oleh orang yang bertubuh tinggi besar. Dalam sebuah produksi yang membutuhkan latihan rutin dan intens dalam kurun waktu yang lama ketahanan tubuh yang lemah sangatlah tidak menguntungkan. Dengan memberikan teks bacaan tertentu. calon aktor dapat dinilai kemampuan dasar wicaranya. Misalnya. janggut. Meskipun kekurangan wajah bisa ditutupi dengan tata rias. Dalam teater yang menggunakan ekspresi bahasa verbal kejelasan ucapan adalah kunci ketersampaian pesan dialog. Berkaitan langsung dengan penampilan mimik aktor. Tidak ada gunanya seorang aktor bermain dengan baik jika fisiknya lemah.

Bentuk dan gaya yang dipilih secara serampangan akan mempengaruhi kualitas penampilan. Hal ini memiliki kelebihan tersendiri.5. 3. Kehatihatian dalam memilih bentuk dan gaya bukan saja karena tingkat kesulitan tertentu. Dari serangkaian latihan yang dikerjakan secara rutin dan kontinyu ditambah dengan unsur artistik dan teknis maka lamanya pertunjukan teater berdasar naskah dapat ditetapkan. Tugas aktor adalah menghapalkan dialog tersebut dan mengucapkannya dalam pementasan. Di bawah ini akan dibahas bentuk dan gaya pementasan menurut penuturan cerita. lamanya adegan. * Kecakapan lain. 3.5. Catatan prestasi dan kemampuan yang dimiliki hendaknya ditulis dalam portofolio sehingga bisa menjadi pertimbangan sutradara. Untuk itu. portofolio sangat penting bagi seorang aktor profesional. perpindahan antaradegan. Mungkin dalam sebuah produksi ia tidak memenuhi kriteria sebagai pemain utama. menyanyi atau bermain musik memiliki nilai lebih.1 Berdasar Naskah Lakon Mementaskan teater berdasarkan naskah lakon menjadi ciri umum teater modern. dan tanda keluar-masuk ilustrasi musik atau pencahayaan ditentukan waktunya sehingga setiap detik sangat berharga dan menentukan berhasil tidaknya pertunjukan tersebut. Karena dialog tokoh sudah ditentukan dan tidak boleh ditambah atau dikurangi maka durasi pementasan dapat ditentukan. Untuk menguji lebih mendalam sutrdara juga dapat memberikan penggalan dialog karakter lain dengan muatan emosi yang berbeda.1. Penting bagi sutradara untuk menentukan dengan tepat bentuk dan gaya pementasan. seorang calon aktor yang memiliki kemampuan menari. dan gaya penyajian. Meskipun beberapa kelompok teater modern tertentu memperbolehkan improvisasi (biasanya lakon komedi situasi) tetapi sumber utama dialognya diambil dari naskah lakon.1 Menurut Penuturan Cerita Ada dua jenis pertunjukan teater menurut penuturan ceritanya. * Durasi waktu dapat ditentukan dengan pasti.penuh penghayatan. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan serta membutuhkan kecakapan sutradara dalam bidang tertentu untuk melaksanakannya. * Arahan dialog sudah ada. di antaranya adalah sebagai berikut. Sebaliknya. Teater tradisional biasanya memilih imporivisasi karena semua pemain telah memahami dengan baik cerita yang akan dilakonkan dan karakter tokoh yang akan ditokohkan. Sutradara tidak perlu menambah atau mengurangi dialog yang sudah tertulis dalam lakon kecuali punya keinginan mengadaptasinya. . teater modern menggunakan naskah lakon sebagai sumber penuturan. tetapi bisa dipilih sebagai seorang penari latar dalam adegan tertentu. 3.5 Menentukan Bentuk dan Gaya Pementasan Bentuk dan gaya pementasan membingkai keseluruhan penampilan pementasan. Bahkan dalam produksi teater profesional yang semuanya dirancang dengan baik. yaitu berdasar naskah lakon dan improvisasi. tetapi latar belakang pengetahuan dan kemampuan sutradara sangat menentukan. Kemampuan lain selain bermain tokoh terkadang dibutuhkan. Misalnya. bentuk penyajian. Dalam lakon terkadang arahan emosi berkaitan dengan dialog juga dituliskan sehingga sutrdara lebih mudah dalam memantau emosi tokoh yang ditokohkan aktor.

maka kerja sutradara akan semakin keras. Setelah konflik ini diselesaikan dengan cara yang khas dan lucu maka cerita kembali ke konflik semula. dalam pertunjukan ketoprak sebuah adegan dilakukan mengikuti kaidah gaya presentasional (adegan . Jika sutradara hendak mengembangkan cerita. Jika naskah lakon tersebut telah dipublikasikan dalam bentuk buku dan memiliki hak cipta maka sutradara bisa dituntut di muka hukum. sutradara telah mendapatkan gambarannya. maka sutradara memerlukan waktu ekstra untuk membimbing para aktornya. 3. Jika sumber daya manusia (aktor) yang kurang. * Arahan laku terbuka.Dengan mempelajari naskah.* Arahan laku permainan dapat ditemukan dalam naskah. konflik dan mengubah cara penyelesaian. Dalam teater tradisional. Kalaupun hendak melakukan adaptasi atau penyesuaian. Meskipun secara artistik tidak masalah. * Tidak memungkinkan pengembangan cerita. Jika sumber dana yang kurang maka tim poruduksi harus berusaha keras untuk memenuhi tuntutan tersebut. Dengan ditentukannya arah laku maka kreativitas aktor di atas panggung menjadi terbatas. Sutradara menjadi mudah menentukan penekanan permasalahan lakon. Jika memaksakan kehendak harus sesuai dengan gagasan lakon.1. pementasan teater berdasar naskah lakon juga memiliki kekurangan dan problem tersendiri.2 Improvisasi Mementaskan teater secara improvisasi memiliki keunikan tersendiri. arahan laku permainan dari awal sampai akhir dapat ditemukan. tetapi karya teater menjadi karya sutradara. Dalam proses latihan terkadang sutradara mendapat inspirasi dari laku aksi pemain demikian pula sebaliknya. Sutradara hanya menyediakan gambaran cerita selanjutnya aktor yang mengembangkannya dalam permainan. * Gambaran bentuk latar kejadian dapat ditemukan dalam naskah.5. sutradara mudah dalam membuat perencanaan blocking. Aktor tidak memiliki kebebasan penuh selain menerjemahkan konsep artistik sutradara. Tergantung dari kekurangan sumber daya yang dimiliki. maka sutradara telah melanggar kode etik dan hak karya artistik. Jika ia tetap melakukannya. Terkadang untuk menyampaikan pesan titipan tersebut konflik minor baru dimunculkan. maka konflik dan penyelesaian lakon pasti. Pengembangan yang dilakukan hanyalah persoalan sudut pandang. Karena tidak ada impovisasi. Gambaran ini sangat penting bagi sutradara untuk mewujudkannya di atas pentas. Misalnya. Setuju atau tidak setuju terhadap cerita. * Kreativitas aktor terbatas. * Fokus permasalahan telah ditentukan. Lakon telah menyediakan gambaran lengkap laku perisitiwa melalui dialog tokoh-tokohnya. Dalam teater improvisasi gaya pementasan juga terbuka. sutradara harus mengikutinya. * Konflik dan penyelesaian tidak bekembang. Cerita yang telah dituliskan oleh pengarang harus ditaati. Pesan ini dengan luwes dapat diselipkan dalam lakon. Dengan berkembangnya cerita maka aktor mendapatkan arahan laku lain yang bisa dicobakan. maka adaptasi lakon harus dilakukan. mereka biasanya menerima pesan tertentu dari penyelenggara. Dengan demikian. maka aktor dapat mengembangkannya. Terkadang hal ini dapat menimbulkan efek artistik yang alami dan menarik. Jika hendak menyesuaikan dengan ketersediaan sumber daya. Sifat teater improvisasi yang terbuka memungkinkan pengembangan konflik dan penyelesaian. Sutradara perlu meluangkan waktu untuk melakukannya. ia harus mendapatkan ijin dari penulis naskah lakon. * Memungkinkan percampuran bentuk gaya. * Jika sumber daya yang dimiliki tidak sesuai dengan kehendak lakon harus dilakukan adaptasi. * Konflik dan sudut pandang penyelesaian bisa dikembangkan. Hal ini perlu dilakukan. dan penyelesaian konflik. konflik. Sutradara dapat mengembangkan cerita dengan bebas dan aktor dapat mengembangkan kemungkinan gayapermainan dengan bebas pula. Di samping kelebihan tersebut di atas. Oleh karena tidak ada petunjuk arah laku yang jelas. Beberapa kelebihan pentas teater improvisasi adalah: * Kreativitas sutradara dan aktor dapat dikembangkan seoptimal mungkin.

* Cerita bisa disesuaikan dengan sumber daya yang dimiliki. Aktor mengambil tokoh penuh.5. * Durasi waktu tidak tertentu. Jika dalam teater berbasis naskah. 3. kesalahan ucap atau penyampaian informasi tertentu bisa saja salah karena memang tidak dicatat dan hanya diingat garis besarnya saja. Bagi aktor yang memiliki kemampuan sastra memadai tidak jadi masalah. Jika pementasan sudah berjalan. * Kemungkinan aktor melakukan kesalahan lebih besar. Jika hal ini terjadi cukup lama. Akibatnya. maka durasi pementasan bisa berubahubah. Salah satu kelebihan utama teater improvisasi adalah cerita dan pemeran dapat dibuat berdasarkan sumber daya yang dimiliki. tetapi di adegan lain menggunakan gaya realis (adegan dagelan). Jika banyak pemain yang bisa melucu maka cerita komedi akan efektif. Oleh karena setiap bentuk penyajian memiliki kekhasan dan membutuhkan prasyarat tertentu yang harus dipenuhi. Oleh karena cerita bisa dikembangkan. sutradara akan kerepotan sendiri. Oleh karena itu. latihan adegan tetap harus sering dilakukan. dalam adegan tersebut aktor yang satu terlalu aktif dan yang lain pasif. kemampuan setiap aktor pasti tidak sama. teater improvisasi juga memiliki kekurangan yang patut diperhatikan oleh sutradara. Untuk itu. maka sutradara wajib mempelajari dan memahami langkah-langkah dalam melaksanakannya. Sifat akting adalah aksi dan reaksi. bisa jadi ia memasangkan aktor yang memilliki kemampuan tak berimbang dalam improvisasi. maka kualitas dialog tidak bisa distandarkan. maka akan membosankan. aktor bisa mengembangkan cerita dan gaya permainan di atas pentas dan sutradara tidak bisa lagi mengarahkan secara langung. maka panggung sepenuhnya adalah milik aktor. * Kualitas dialog tidak dapat distandarkan. Di balik semua kelebihan di atas. 3.Semua tergantung dari improvisasi aktor di atas pentas. maka cerita penuh aksi dapat dijadikan pilihan. Sutradara tidak bisa lagi mengendalikan jalannya pertunjukan. Sutradara bisa memotong sebuah adegan yang berjalan cukup lama dengan membunyikan tanda agar musik dimainkan dan adegan segera diselesaikan. Dalam sebuah grup teater. jika sutradara tidak jeli memahami hal ini. * Sutradara tidak bisa sepenuhnya mengendalikan jalannya pementasan.2 Menurut Bentuk Penyajian Banyaknya pilihan bentuk penyajian pementasan teater membuat sutradara harus jeli dalam menentukannya.Istana). Kemampuan sumber daya ini bisa dijadikan strategi untuk membuat pertunjukan menarik dan memiliki ciri khas tertentu. Karena arahan laku yang terbuka maka reaksi ucapan sering dilakukan spontan dan belum tentu benar. Pencampuran gaya ini dimaksudkan untuk memenuhi selera penonton.1 Teater Gerak . lakon sebagai pengendali cerita maka dalam teater imrpovisasi aktor harus mampu mengendalikan jalannya cerita. meskipun improvisasi. Karena tidak ada arahan dialog yang baku. Kekurangan dari pemotongan adegan ini adalah jika inti dialog (persoalan) belum sempat terucapkan maka inti dialog harus diucapkan pada adegan berikutnya. * Improvisasi dialog tidak berimbang.5. Karena sifatnya yang serba terbuka. maka aktor lawan mainnya harus bereaksi. tetapi bagi aktor yang kualitas sastranya pas-pasan hal ini menjadi masalah besar. Di samping itu.2. tetapi jika jumlah pemain yang memiliki kemampuan laga banyak. Jika seorang aktor beraksi. Jika tidak.

Oleh karena itu. * Memahami komposisi dan koreografi. Di bawah ini beberapa langkah yang bisa diambil oleh sutradara dalam menggarap teater gerak * Sutradara mampu mengeksplorasi dan menciptakan gerak.2 Teater Boneka Teater boneka memiliki karakter yang khas tergantung jenis boneka yang dimainkan. Simbol dan makna yang disampaikan melalui gerak harus dikerjakan dengan teliti. Ekspresi selalu menyangkut penghayatan dan konsentrasi. Banyak jenis boneka dan masing-masing membutuhkan teknik khusus dalam memperagakannya.5. tetapi juga mengatur permainan boneka. maka pengaturan blocking harus lebih teliti. Jika tidak pintar mengelola. * Jika pemain dalam jumlah banyak. Karakter suara harus bisa tampil secara konsisten dari awal hingga akhir pertunjukan. maka teori komposisi dan koreografi dasar wajib dimiliki oleh sutradara. Jika tidak. harus mempertimbangkan makna pesan. maka banyaknya jumlah pemain justru akan memenuhi panggung dan membuat suasana menjadi sesak. Apalagi jika sudah menyangkut makna. Penataan gerak tidak bisa dikerjakan dengan serampangan. Boneka dua dimensi seperti wayang kulit memiliki teknik memainkan berbeda dengan boneka tiga dimensi seperti wayang golek. * Mampu menghidupkan ekspresi boneka yang dimainkan. Pesan yang tidak disampaikan secara verbal membutuhkan keahlian tersendiri untuk mengelolanya. maka karakter boneka harus benarbenar melekat sehingga pengendali . Menempatkan pemain dalam posisi dan gerak yang tepat akan membuat pertunjukan semakin menarik. kapan musik hadir sebagai latar suasana. Jumlah pemain bisa disiasati dengan menambah perbendaharaan gerak. Karena bekerja dengan gerak. Oleh karena keterbatasan bahasa verbal dalam pertunjukan teater gerak. Jika jumlah pemain banyak dan harus bergerak secara serempak. * Mampu mengisi suara sesuai dengan karakter boneka.2. Di bawah ini beberapa langkah yang bisa dikerjakan oleh sutradara yang hendak mementaskan teater boneka. sutradara teater gerak harus mengerti kaidah musik ilustrasi. Sutrdara harus mampu mengeksplorasi dan menciptakan gerak sesuai dengan makna pesan yang hendak disampaikan. dan perbedaannya harus dimengerti oleh sutradara. terutama menyangkut komposisi. * Mewujudkan ekspresi melalui mimik para aktor. tetapi memberikan ekspresi hidup adalah hal yang lain. maka ekspresi mimik menjadi sangat penting. Ekspresi emosi atau karakter tokoh harus bisa diwujudkan melalui mimik para aktor. Kewajiban sutradara tidak hanya mengatur pemain manusia. maka maknanya akan kabur. sutradara harus bisa mewujudkan bahasa verbal dalam simbol gerak.Teater gerak lebih banyak membutuhkan ekspresi gerak tubuh dan mimik muka daripada wicara. dan terutama musik ilustrasinya. Karena tokoh diperagakan oleh boneka. 3. * Mengerti musik ilustrasi. Motif gerak yang kaya akan membuat tampilan menjadi variatif dan menyegarkan. Kapan musik mengikuti gerak pemain. tetapi jika komposisi (tata letak) pemainnya tidak berubah akan melahirkan kejenuhan. * Mewujudkan bahasa dalam simbol gerak. Mengubah bahasa dalam simbol gerak tidaklah mudah. Jika gerak terlalu sulit. Boneka wayang golek memiliki teknik permainan yang berbeda dengan boneka marionette yang dimainkan dengan tali. pengaturan pemain perlu dilakukan. Sutradara harus bisa memainkan boneka tersebut. Meskipun tidak bisa memainkan musik. Jumlah pemain yang banyak menimbulkan persoalan tersendiri. Mengisi suara sesuai karakter boneka menjadi prasyarat utama. suasana. Meskipun rangkaian gerak yang dihasilkan sangat indah. Biasanya seorang pemain boneka bisa membuat beberapa karakter suara yang berbeda. Memainkan boneka bisa saja dipelajari. Untuk mendukung rangkaian gerak yang telah diciptakan. * Mampu memainkan boneka dengan baik. kapan pemain harus menyesuaikan dengan alunan musik. * Jika pemain sedikit maka motif gerak harus lebih variatif. maka irama rampak gerak yang diharapkan bisa kacau. maka dianjurkan untuk mengkreasi gerak sederhana yang mudah dilakukan.

* Memahami tensi dramatik (dinamika lakon). Boneka yang dimainkan dengan hidup akan menarik dan tampak nyata. Intinya. semua harus tampak natural. pengaturan adegan boneka disesuaikan dengan kemampuan pengendali. Jika demikian. seorang pengendali biasanya hanya bisa mengendalikan maksimal dua boneka. Oleh karena itu. . sutradara harus dapat menentukan metode yang tepat agar para aktornya dapat memahami. maka efek dramatik yang diharapkan dari aksi aktor menjadi gagal. Beberapa langkah yang dapat dikerjakan oleh sutradara dalam menggarap teater dramatik adalah sebagai berikut. * Jika pemain sedikit harus memiliki kemampuan mengisi suara dengan karakter yang berbeda. Tempat pertunjukan teater boneka yang terbatas harus disesuaikan dengan jumlah boneka yang tampil. Laku lakon dari awal sampai akhir mengalami dinamika atau ketegangan yang turun naik. Hasil akhirnya adalah anti klimaks di mana pada adegan yang seharusnya memiliki tensi tinggi justru melemah karena energi para aktornya telah habis. Selain itu. Hal yang paling sulit dilakukan oleh sutradara adalah membongkar kejiwaan karakter tokoh dan mewujudkannya dalam laku aktor di ataspentas. Oleh karena tuntutan pertunjukan teater dramatik yang mensyaratkan laku aksi seperti kisah nyata. 3. Sisi kejiwaan yang menyangkut perasaan karakter tokoh harus dapat ditampilkan senatural mungkin sehingga penonton menganggap hal itu benar-benar nyata terjadi. Dalam teater boneka kerjasama antarpemain tidak hanya menyangkut emosi. Jika sutradara tidak memahami kejiwaan * karakter tokoh dengan baik maka penilaiannya terhadap kualitas penghayatan aktor pun kurang baik. maka sutradara harus menetapkan tegangan optimal dan minimal. menghayati dan memerankan karakter dengan baik. maka penampilan boneka yang terlalu banyak juga akan merepotkan para pengendalinya.boneka seolah-olah bisa memberikan nafas hidup di dalamnya.2. bijaksanalah dalam menentukan tegangan dramatik adegan dan buatlah klimaks yang mengesankan dan penyelesaian yang dramatis. maka sutradara harus benar-benar jeli dalam menilai setiap aksi para aktor. * Mampu membangun kerjasama antarpemain boneka. Demikian juga dengan suasana kejadian. Di sinilah letak kesulitannya. Jumlah pengendali boneka yang sedikit tidak masalah asal setiap orang mampu menciptakan beberapa karakter suara. Jika dianalogikan dengan nilai 1 sampai dengan 10. maka aktor akan kesulitan meninggikan tegangan pada saat klimaks. maka pengaturan adegan harus dikerjakan dengan teliti. tetapi juga menyangkut hal-hal teknis. aktor diharuskan berakting tetapi seolah-olah ia tidak berakting melainkan melakukan kenyataan hidup. Angka tertinggi dari deret tegangan yang harus dicapai oleh aktor adalah 8 atau 9. Jika tidak ada kerjasama yang baik antarpemain (pengendali boneka). Banyak sutradara yang mengadakan semacam pemusatan latihan dalam kurun waktu yang cukup lama dengan tujuan agar para aktornya berada dalam suasana lakon yang akan dipentaskan. tidak dibuat-buat. Untuk menghindari hal tersebut sutradara harus benar-benar teliti dalam mengukur tegangan dramatik adegan per adegan dalam lakon. maka pergantian adegan bisa semrawut sehingga para pemain kewalahan. Jika lakon yang dimainkan membutuhkan banyak tokoh. Sutradara harus memahami bobot tegangan (tensi) dramatik dalam setiap adegan yang ada pada lakon. Yang terpenting dan perlu dicatat adalah setiap boneka mempunyai karakter suaranya sendiri. Berkaitan dengan karakter tokoh.5. Jika pada bagian awal konflik tegangan terlalu tinggi. * Memahami sisi kejiwaan karakter tokoh.3 Teater Dramatik Mementaskan teater dramatik membutuhkan kerja keras sutradara terutama terkait dengan akting pemeran. * Jika pemain boneka banyak maka harus mampu mengatur adegan agar pergerakan boneka tidak saling mengganggu. Keluar masuknya boneka di atas pentas berkaitan langsung dengan pengendali bonekanya. * Mampu meningkatkan kualitas pemeranan aktor untuk menghayati tokoh secara optimal. sehingga ketika dalam adegan tertentu membutuhkan tegangan yang lebih aktor masih bisa mengejarnya.

Pada adegan dimana musik bercerita secara mandiri maka sutradara harus mampu memvisualisasikan cerita tersebut di atas pentas. hindarilah kesalahan atau hal yang tidak lumrah dan berada di luar jangkauan nalar penonton. * Mengerti karya musik dramatik. Sutradara harus mampu memecahkan masalah dasar tersebut. komposisi. maka sutradara harus mampu menciptkan koreografinya. maka penonton harus dibawa dalam suasana yang suka-ria. jika melakonkan cerita yang sedih ukuran keberhasilannya adalah membuat penonton ikut terhanyut sedih. Kejanggalan-kejanggalan kecil yang dirasa kurang masuk akal oleh penonton akan mengurangi kualitas dramatika lakon yang dihadirkan. tetapi makna dan atau simbolisasi cerita harus benar-benar bisa diwujudkan dalam gerak tarian yang dilakukan.* Mampu menghadirkan laku cerita seperti sebuah kenyataan hidup. demikian pula sebaliknya. musik itu sendiri sudah bercerita sehingga pemain atau penari yang berada di atas panggung hanyalah pelengkap gambaran peristiwa. Memilih pelaku yang tepat dan membuat komposisi atau koreografi berdasar karya musik yang ada. Sutradara tidak harus bisa memainkan musik. Tokohan musik sangat doniman dalam drama musikal bahkan musik bisa hadir secara mandiri untuk menceritakan sesuatu. dan ilustrasi suasana kejadian.5. * Mengerti lagu dan nyanyian. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sutradara dalam drama musikal adalah sebagai berikut. Kepiawaian sutradara dalam menentukan kegunaan karya musik yang satu dengan yang lain benarbenar dibutuhkan. Pada adegan lain. Tokohan dialog verbal yang digubah dalam bentuk lagu dan diucapkan melalui nyanyian adalah satu hal yang membutuhkan perhatian tersendiri. * Mampu membuat gerak dan ekspresi berdasar karya musik. Demikian pula dengan cerita suka-ria. Teater dramatik adalah teater yang mencoba meniru peristiwa kehidupan secara total dan sempurna.2.6 Blocking . 3. maka sutradara harus benar-benar piawai dalam mengolah visualisasinya di atas pentas. dan koreografi. Ekspresi cerita melalui nadanada musik harus benar-benar bisa divisualisasikan dengan tepat. Dalam teater dramatik. Untuk mencapai hasil maksimal maka kejelian sutradara dalam mengamati dan menangani keseluruhan unsur pertunjukan sangat dibutuhkan. Dalam satu adegan saat cerita diungkapkan melalui gerak. Koreografer bisa saja mencipta gerak. Makna cerita sepenuhnya dituangkan dalam wujud gerak. Lagu dan nyanyian harus bisa ditampilkan secara baik dan harmonis. Dituntut kepiawaian sutradara dalam memilih dan merangkai motif gerak. * Membuat penonton terkesima dengan pertunjukan tidaklah mudah. lagu. Artinya. Dalam hal ini musik bertindak sebagai pengiring. Langkah pamungkas yang dapat dijadikan patokan adalah menghadirkan pentas seperti sebuah kenyataan hidup. Bahasa ungkap yang beragam antara bahasa verbal. pengiring gerak. tetapi memahami karya musik merupakan keharusan dalam drama musikal. gerak. Jadi. tokoh musik bisa menjadi pengiring lagu yang bercerita. dan musikal harus dirangkai secara harmonis untuk mencapai hasil maksimal. tetapi pada akhirnya sutradara yang memutuskan.4 Drama Musikal Kemampuan multi harus dimiliki oleh seorang sutradara jika hendak mementaskan drama musikal. Ketepatan nada dalam nyanyian serta ekspresi wajah ketika menyanyi juga tidak boleh luput dari pengamatan. Banyak penyanyi yang memiliki suara baik tetapi ekspresinya datar. 3. * Mampu membuat gerak. Jika karya drama musikal tersebut berawal dari karya musik murni (musik yang bercerita) seperti The Cats karya Andrew Lloyd Webber. Meskipun sutradara bekerja dengan seorang koreografer.

bawah tengah. Jika blocking dikerjakan dengan baik. RC = Tengah Kanan. maka perlu diperhatikan agar blocking yang dibuat tidak terlalu rumit. Blocking dapat diartikan sebagai aturan berpindah tempat dari titik (area) satu ke titik (area) yang lainnya bagi aktor di atas panggung. Dengan blocking yang tepat. 3. * Menerjemahkan naskah lakon ke dalam sikap tubuh aktor sehingga penonton dapat melihat dan mengerti.Sutradara diwajibkan memahami cara mengatur pemain di atas pentas. sehingga lalulintas aktor di atas panggung berjalan dengan lancar. bawah kiri tengah. DC = Bawah Tengah. UC = Atas Tengah. maka perpindahan dari satu aksi menuju aksi yang lain menjadi kabur. kalimat yang diucapkan oleh aktor menjadi lebih mudah dipahami oleh penonton. maka karakter tokoh yang dimainkan oleh para aktor akan tampak lebih hidup. * Memberikan pondasi yang praktis bagi aktor untuk membangun karakter dalam pertunjukan. Bukan hanya akting tetapi juga blocking. bawah kanan. perlu diketahui terlebih dahulu pembagian area panggung. Di samping itu. Untuk mendapatkan hasil yang baik. yaitu tengah. tengah kanan.6. bawah . C = Tengah. UL = Atas Kiri. Jika blocking dibuat terlalu rumit. DR = Bawah Kanan. * Menciptakan lukisan panggung yang baik. Secara mendasar blocking adalah gerakan fisik atau proses penataan (pembentukan) sikap tubuh seluruh aktor di atas panggung. LC = Tengah Kiri. kanan.1 Pembagian Area Panggung Gambar Pembagian sembilan area panggung UL UC UR CL L CR DL DC DR UR = Atas Kanan. Fungsi blocking secara mendasar adalah sebagai berikut. bawah kanan tengah. Yang terpenting dalam hal ini adalah fokus atau penekanan bagian yang akan ditampilkan. kiri. DL = Bawah Kiri Untuk membuat atau merencanakan blocking bagi para pemain. tengah kiri. Panggung pertunjukan secara kompleks dibagi dalam lima belas area. blocking dapat mempertegas isi kalimat tersebut.

Sedangkan komposisi. Ada dua ragam komposisi pemain. 3. bawah tengah.1 Simetris Komposisi simetris adalah komposisi yang membagi pemain dalam dua bagian dan menempatkan bagianbagian tersebut dalam posisi yang benar-benar sama dan seimbang. yaitu komposisi simetris dan komposisi asimetris yang ditata dengan mempertimbangkan keseimbangan. atas kanan. lebih mengatur posisi. maka hal ini akan menimbulkan pemandangan yang kurang menarik dan jika hal ini berlangsung lama. Keseimbangan adalah pengaturan atau pengelompokan aktor di atas pentas yang ditata sedemikian rupa sehingga tidak menghasilkan ketimpangan. Hal ini diperlukan untuk memenuhi ruang dan menghindari komposisi aktor yang berat sebelah.2. tengah kiri. 3. Letak kanan dan kiri atau atas dan bawah ditentukan berdasar pada arah hadap aktor ke penonton. maka penonton akan menjadi jenuh. tengah kanan.2. Atas adalah jarak terjauh dari penonton. Jika digambarkan komposisi ini mirip cermin. atas kiri tengah. Kanan adalah kanan pemain dan bukan kanan penonton dan kiri adalah kiri pemain. blocking memiliki arti yang lebih luas karena setiap gerak. pose. Pengaturan posisi pemain seperti ini dilakukan agar semua pemain di atas pentas dapat dilihat dengan jelas oleh penonton.6. yaitu tengah. Secara sederhana dan umum panggung dibagi sembilan area. dan atas kiri.6. bawah kiri.2 Asimetris Komposisi asimetris tidak membagi pemain dalam dua bagian yang sama persis. Jika salah satu ruang dibiarkan kosong sementara ruang yang lain terisi penuh. arah laku.3 Keseimbangan Dalam menata komposisi pemain di atas pentas hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah keseimbangan. Bedanya.6. 3. dan atas kiri. tetapi membagi pemain dalam dua bagian atau lebih dengan tujuan memberi penonjolan (penekanan) bagian tertentu.6. Sekilas komposisi mirip dengan blocking. Bagian yang satu merupakan cerminan bagian yang lain. sedangkan bawah adalah jarak terdekat dengan penonton. atas tengah. 3. atas kanan tengah. atas tengah. Di bawah ini adalah contoh komposisi simetris. sedangkan kanan adalah posisi kanan arah hadap aktor atau sisi kiri penonton.kiri. bawah kanan. Pembagian sembilan area juga memudahkan sutradara dalam memberikan arah gerak kepada para aktornya. perpindahan pemain serta perubahan posisi pemain dapat disebut blocking.2. Pembagian panggung dalam lima belas area ini biasanya digunakan untuk panggung yang berukuran besar. dan tinggirendah pemain dalam keadaan diam (statis).2 Komposisi Komposisi dapat diartikan sebagai pengaturan atau penyusunan pemain di atas pentas. maka luas masing-masing area akan terlalu sempit sehingga tidak memungkinkan sebuah pergerakan yang leluasa baik untuk pemain maupun perabot. atas kanan. . Panggung yang tidak terlalu luas jika dibagi menjadi lima belas area.

3. maka awali dan akhiri langkah tersebut dengan kaki panggung atas (yang jauh dari mata penonton). Jika tangan yang digunakan adalah tangan yang tidak menganggu pandangan penonton. Hal ini mempertegas laku aksi yang sedang dikerjakan. pengaturan blocking harus mempertimbangkan pusat perhatian (fokus) penonton. maka kaki yang jauh akan tertutup dan wajah pemain secara otomatis akan menjauh dari mata penonton. prinsip-prinsip dasar di bawah ini dapat digunakan sebagai petunjuk dalam menempatkan posisi dan mengatur pose pemain. Membagi arah pandangan ini sangat penting untuk menegaskan dan memberi kejelasan ekspresi karakter kepada penonton. Dengan menghadap secara diagonal. karakter. Hal ini menjadikan gerak pemain kurang terlihat dengan jelas. * Gunakan lengan atau tangan panggung atas (yang jauh dari mata penonton) untuk menunjuk ke arah panggung atas dan gunakan lengan atau tangan panggung bawah (yang dekat dengan mata penonton) untuk menunjuk ke panggung bawah. usahakan untuk berbicara kepada penonton atau kepada aktor lain yang berada di atas panggung.1 Prinsip Dasar Pada dasarnya fokus adalah membuat pemain menjadi terlihat jelas oleh mata penonton. 3. karena hal ini akan menutupi suara dan pandangan penonton. . Usahakan pemain menghadap diagonal (kurang lebih 45 derajat) ke arah penonton.6. perubahan ekspresi dan aksi di atas pentas harus dapat ditangkap mata penonton dengan jelas. Selebihnya. Jika yang dilakukan sebaliknya.3 Fokus Dalam mengatur blocking. sedangkan menyamping penuh akan menyembunyikan bagian tubuh yang lain. * Kurangilah menempatkan pemain dalam posisi menghadap lurus ke arah penonton atau menyamping penuh. Hal ini dapat dikerjakan dengan menempatkan pemain dalam posisi dan situasi tertentu sehingga ia lebih menonjol atau lebih kuat dari yang lainnya. Oleh karena itu.3. hal yang paling utama untuk diperhatikan sutradara adalah perhatian penonton. maka gerakan lengan dan tangan akan menutupi bagian tubuh lain. Oleh karena itu. * Jika pemain hendak melangkah. * Jangan pernah memegang benda atau piranti tangan di depan wajah ketika sedang berbicara. * Usahakan agar para aktor saling menatap (berkontak mata) pada saat mengawali dan mengakhiri dialog (percakapan). maka dimensi dan keutuhan tubuh pemain akan dilihat dengan jelas oleh mata penonton. maka gerak laku aktor dalam menggunakan telepon akan kelihatan. Menghadap lurus ke arah penonton akan memberikan efek datar dan kurang memberikan dimensi kepada pemain. Setiap aktivitas. Jika melangkah dengan kaki panggung bawah (yang dekat dari mata penonton).6.

Latihanlatihan olah tubuh dapat dilakukan dengan tahap-tahap sebagai berikut.1 Latihan Olah Tubuh Latihan olah tubuh melatih kesadaran tubuh dan cara mendayagunakan tubuh. yaitu hasil getaran udara yang datang dan menyentuh selaput gendang telinga. Karena itu dia harus mempersiapkan dirinya secara utuh penuh baik fisik maupun psikis. yaitu latihan pemanasan. Suara adalah lambang komunikasi yang dijadikan media untuk mengungkapkan rasa dan buah pikiran. Penghitungan dilakukan selama enam detik dan hasilnya dikalikan sepuluh. Dalam kegiatan teater. Cara penghitungan denyut nada yang ada di pergelangan tangan. Akan tetapi. Untuk itu seorang pemeran harus menjaga kelenturan peralatan tubuhnya. sedangkan bunyi merupakan produk benda-benda. yaitu serial latihan gerakan tubuh untuk meningkatkan sirkulasi dan meregangkan otot dengan cara bertahap. tinggi rendahnya. Kegiatan mengucapkan dialog ini menjadi sifat teater yang khas. dalam konvensi dunia teater kedua istilah tersebut dibedakan. yaitu dengan meletakkan jari tengah di atas pergelangan tangan dalam segaris dengan ibu jari atau jari jempol. Dalam kenyataannya. karena digunakan sebagai bahan komunikasi yang berwujud dialog. dan cepat lambatnya sesuai . Pemilihan kata-kata memiliki tokohan dalam aturan yang dikenal dengan istilah diksi. atau penghitungan dilakukan selama sepuluh detik dan hasilnya dikalikan enam. suara dijadikan kata dan kata-kata disusun menjadi frasa serta kalimat yang semuanya dimanfaatkan dengan aturan tertentu yang disebut gramatika atau paramasastra. latihan inti. Mengetahui denyut nadi sebelum latihan fisik dianjurkan karena berhubungan dengan kerja jantung. yaitu dengan menghitung denyut nadi yang ada di leher atau denyut nadi yang ada di pergelangan tangan dalam. Selanjutnya. Latihan pendinginan atau peredaan (warm-down). Prosesnya. Unsur dasar bahasa lisan adalah suara. Selama menghitung denyut nadi mata selalu melihat jam (jam tangan maupun jam dinding yang ada di dalam ruangan). yaitu serial pendek gerakan tubuh untuk mengembalikan kesegaran tubuh setelah menjalani latihan inti. dan latihan pendinginan. * Pemanasan * Latihan ketahanan * Latihan Kelenturan * Latihan ketangkasan * Latihan pendinginan * Latihan relaksasi 4. suara dan bunyi itu sama. Latihan inti. 4.1. Cara untuk menghitung denyut nadi. Dialog merupakan salah satu daya tarik dalam membina konflik-konflik dramatik. Latihan pemanasan (warm-up). 4. Olah tubuh dilakukan dalam tiga tahap.2 OLAH SUARA Suara adalah unsur penting dalam kegiatan seni teater yang menyangkut segi auditif atau sesuatu yang berhubungan dengan pendengaran. Suara merupakan produk manusia untuk membentuk katakata. Suara dihasilkan oleh proses mengencang dan mengendornya pita suara sehingga udara yang lewat berubah menjadi bunyi. suara mempunyai tokohan penting. yaitu serial pokok dari inti gerakan yang akan dilatihkan. Penghitungan denyut nadi yang ada dipergelangan tangan lebih dianjurkan untuk menghasilkan perhitungan yang tepat.Dasar-dasar Teater (4/6): Seni Berperan dalam Teater Aktor merupakan manusia yang mengorbankan dirinya untuk menjadi orang lain.1 Persiapan Sebelum melakukan latihan harus memperhatikan denyut nadi. suara tidak hanya dilontarkan begitu saja tetapi dilihat dari keras lembutnya.

Latihan-latihan untuk melenturkan peralatan suara dapat dilakukan menggunakan tahap-tahap sebagai berikut. kegembiraan. Maksud tersembunyi seperti itu disebut subtext. Maka. yaitu sebagai berikut. maka nilai yang terkandung tidak dapat dikomunikasikan kepada penonton. Hal ini merupakan kesalahan fatal bagi seorang pemeran. kekuatan. Kata-kata yang membawa informasi yang bermakna. kedudukan sosial. dalam situasi tertentu tidak mampu mengungkapkan maksud yang sebenarnya. Proses pengucapan dialog mempengaruhi ketersampaian pesan yang hendak dikomunikasikan kepada penonton. Banyak lagi contoh yang menunjukkan tentang makna suara. Bahasa tubuh bisa berdiri sendiri. Misalnya.. * Mengendalikan perasaan penonton seperti yang dilakukan oleh musik. menunjukkan maksud memuji atau sebenarnya ingin mengatakan. Ketika pemeran mengucapkan dialog harus mempertimbangkan pikiran-pikiran penulis. yaitu bahasa tubuh dan bahasa verbal yang berupa dialog. ”. dalam arti tidak dibarengi dengan bahasa verbal. putus asa. Suara merupakan unsur yang harus diperhatikan oleh seseorang yang akan mempelajari teater. sehingga secara tidak sadar mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya tidak dikehendaki.. “Yah. Makna katakata dipengaruhi oleh nada. maka dia mencabut makna yang ada dalam kata-kata. marah. Itulah yang disebut intonasi. Ekspresi yang disampaikan melalui nada suara membentuk satu pemaknaan berkaitan dengan kalimat dialog. * Melengkapi variasi.dengan situasi dan kondisi emosi. Misalnya. bisa juga bahasa tubuh sebagai penguat bahasa verbal. dan sebagainya. * Persiapan * Pemanasan * Senam Wajah * Senam Lidah * Senam Rahang Bawah * Latihan Tenggorokan * Berbisik * Bergumam * Bersenandung * Latihan Pernafasan * Latihan Kejelasa Diksi * Intonasi * Jeda * Tempo * Nada * Wicara * Ditutup dengan relaksasi . Jika lontaran dialog tidak sesuai sebagaimana mestinya.. Jika pemeran melontarkan dialognya hanya sekedar hasil hafalan saja. Hal ini disebabkan karena dalam dialog banyak terdapat nilai-nilai yang bermakna. misalnya: umur. * Memberi arti khusus pada kata-kata tertentu melalui modulasi suara. kalimat. kamu sekarang sudah hebat. memang. Seorang pemeran dalam pementasan teater menggunakan dua bahasa. Dialog yang diucapkan oleh seorang pemeran mempunyai tokohan yang sangat penting dalam pementasan naskah drama atau teks lakon. nada suara yang terlontarkan. * Memuat informasi tentang sifat dan perasaan tokoh. Akan tetapi. Ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh seorang pemeran tentang fungsi ucapan. “kamu belum bisa apa-apa”. * Ucapan yang dilontarkan oleh pemeran bertujuan untuk menyalurkan kata dari teks lakon kepada penonton..

latihan olah rasa tidak hanya berfungsi untuk meningkatkan kepekaan rasa dalam diri sendiri. Dunia ini harus diwujudkan menjadi sesuatu yang seolah-olah nyata dan dapat dinikmati serta menyakinkan penonton. tetapi juga harus memberikan respon terhadap ekspresi tokoh lain. yaitu tokoh yang dimainkan. Tujuan dari konsentrasi ini adalah untuk mencapai kondisi kontrol mental maupun fisik di atas panggung. Dunia teater adalah dunia imajiner atau dunia rekaan. Latihan gesture dapat digunakan untuk mempelajari dan melahirkan bahasa tubuh. Dunia tidak nyata yang diciptakan seorang penulis lakon dan diwujudkan oleh pekerja teater. latihan-latihan yang mendukung kepekaan rasa perlu dilakukan. Padahal akting adalah kerja aksi dan reaksi.2 Gesture Gesture adalah sikap atau pose tubuh pemeran yang mengandung makna. Maka. Misalnya seorang pemeran melihat sesuatu yang menjijikan (meskipun sesuatu itu tidak ada di atas pentas) maka ia harus menyakinkan kepada penonton bahwa sesuatu yang dilihat benar-benar menjijikkan. tetapi juga perasaan terhadap karakter lawan main. Kalau pemeran dengan tingkat konsentrasi yang rendah maka dia tidak akan dapat menyakinkan penonton. 4. Dengan konsentrasi pemeran akan dapat mengubah dirinya menjadi orang lain. Latihan olah rasa dimulai dari konsentrasi.3. Langkah awal yang perlu diperhatikan adalah mengasah kesadaran dan mampu menggunakan tubuhnya dengan efisien. Dengan demikian. Dalam menghayatai karakter tokoh. gesture tidak dapat . Makin menarik pusat perhatian. Segala sesuatu yang mengalihkan perhatian seorang pemeran. 4. Tugas yang lain adalah memberikan reaksi.1 Konsentrasi Pengertian konsentrasi secara harfiah adalah pemusatan pikiran atau perhatian.3 OLAH RASA Pemeran teater membutuhkan kepekaan rasa. sedangkan kalau selaras dengan bahasa verbal akan menguatkan proses komunikasi. Kekuatan pemeran untuk mewujudkan dunia rekaan ini hanya bias dilakukan dengan kekuatan daya konsentrasi. semua emosi tokoh yang ditokohkan harus mampu diwujudkan. Bahasa ini mendukung dan berpengaruh dalam proses komunikasi. Ada juga yang mengatakan bahwa gesture adalah bentuk komunikasi non verbal yang diciptakan oleh bagian-bagian tubuh yang dapat dikombinasikan dengan bahasa verbal. Terlebih dalam konteks aksi dan reaksi. Akan tetapi. mempelajari gesture. dan imajinasi. Ada korelasi yang sangat dekat antara pikiran dan tubuh. Seorang pemeran harus memahami bahasa tubuh. Oleh karena itu. konsentrasi menjadi sesuatu hal yang penting untuk pemeran. Pusat perhatian seorang pemeran adalah sukma atau jiwa tokoh atau karakter yang akan dimainkan. Bahasa tubuh dilakukan oleh seseorang terkadang tanpa disadari dan keluar mendahului bahasa verbal. makin tinggi kesanggupan memusatkan perhatian.3. Seorang pemeran yang hanya melakukan aksi berarti baru mengerjakan separuh dari tugasnya. Seorang pemeran harus dapat mengontrol tubuhnya setiap saat.4. cenderung dapat merusak proses pemeranan. Seorang pemeran tidak hanya memikirkan ekspresi karakter tokoh yang ditokohkan saja. Jika berlawanan dengan bahasa verbal akan mengurangi kekuatan komunikasi. baik bahasa tubuh budaya sendiri maupun bahasa tubuh budaya lainnya. Banyak pemeran yang hanya mementingkan ekspresi yang ditokohkan sehingga dalam benaknya hanya melakukan aksi. Pemakaian gesture ini mengajak seseorang untuk menampilkan variasi bahasa atau bermacam-macam cara mengungkapkan perasaan dan pemikiran.

Bahasa tubuh semacam respon atau impuls dalam batin seseorang yang keluar tanpa disadari. Untuk membangkitkan imajinasi tokoh gunakan pertanyaan. dan gesture dengan kaki. dimana gambaran tersebut tidak pernah dialami sebelumnya. tetapi harus dengan pikiran yang aktif. Tangan mengacung dengan jari telunjuk dan jempol membentuk lingkaran. * Imajinasi tidak bisa dipaksa. * Imajinasi tidak akan muncul dengan pikiran yang pasif. Misalnya. Belajar imajinasi harus menggunakan plot yang logis. tetapi harus dibujuk untuk bisa digunakan. “siapakah Hamlet itu?”. gesture harus disadari dan diciptakan sebagai penguat komunikasi dengan bahasa verbal. maka akan memunculkan gambaran pengandaiannya. Bahasa tubuh atau gesture dengan tangan adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi maupun gerak kedua tangan. seorang pemeran juga harus berimajinasi tentang pengalaman hidup tokoh yang akan dimainkan. gesture dengan kepala dan wajah. sedangkan fantasi membuat hal-hal yang tidak ada. * Pikiran bisa disuruh untuk mempertanyakan segala sesuatu. mengangguk tandanya tidak setuju sedangkan mengeleng artinya setuju. dengan mempelajari bahasa tubuh. Dengan stimulus pertanyaan-pertanyaan atau menggunakan stimulus ”seandainya”. tetapi bagi orang Amerika artinya bagus. Sedang beberapa orang menggunakan gesture sebagai tambahan dalam kata-kata ketika melakukan proses komunikasi. Hal ini berlawanan dengan bangsa-bangsa lain.3 Imajinasi Imajinasi adalah proses pembentukan gambaran-gambaran baru dalam pikiran. gesture dengan badan. Sebagai seorang pemeran. Sifat bahasa tubuh adalah tidak universal. bagi orang Yunani berarti penghinaan. tidak pernah ada. * Imajinasi menciptakan hal-hal yang mungkin ada atau mungkin terjadi. dimana. Bahasa tubuh dengan kepala dan wajah adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi kepala maupun ekspresi wajah. Macam-macam gesture yang dapat dipahami orang lain adalah gesture dengan tangan. Latihan imajinasi bagi pemeran berfungsi mengidentifikasi tokoh yang akan dimainkan. bagi orangtokohcis artinya nol. Selain itu. Usaha menjawab pertanyaan itu akan membawa pikiran untuk mengimajinasikan sosok Hamlet. Jadi bahasa tubuh harus dipahami oleh pemeran sebagai pendukung bahasa verbal. Objek berfungsi untuk menstimulasi atau merangsang pikiran. Bahasa tubuh dengan tubuh adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh pose atau sikap tubuh seseorang. dan apa. orang India. Bahasa tubuh yang tercipta oleh kedua tangan merupakan bahasa tubuh yang paling banyak jenisnya. Melatih imajinasi sama dengan memperkerjakan pikiran-pikiran untuk terus berpikir. . dan jangan menggambarkan suatu objek yang tidak pasti (perkiraan). Selain itu. 4. Imajinasi tidak akan muncul jika direnungkan tanpa suatu objek yang menarik. Misalnya.menggantikan bahasa verbal sepenuhnya. Dengan berpikir. maka pikiran dipaksa untuk menjawab pertanyaan tersebut. Hal-hal yang perlu diketahui ketika berlatih imajinasi. Baik hal yang logis maupun yang tidak logis. maka akan terjadi proses imajinasi. siapa. Belajar imajinasi dapat menggunakan fungsi ”jika” atau dalam istilah metode pemeranan Stanislavski disebut magic-if. dan tidak akan pernah ada. Manfaat mempelajari dan melatih gesture adalah mengerti apa yang tidak terkatakan dan yang ada dalam pikiran lawan bicara. Sedangkan bahasa tubuh dengan kaki adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi dan bagaimana meletakkan kaki.3. akan diketahui tanda kebohongan atau tanda-tanda kebosanan pada proses komunikasi yang sedang berlangsung.

Inti dari pangung arena baik terbuka atau tertutup adalah mendekatkan penonton dengan pemain. Hal ini mempengaruhi nilai artistik pementasan. Gambaran tempat kejadian lakon diwujudkan oleh tata panggung dalam pementasan. Karena bentuknya yang dikelilingi oleh penonton.1. . detil perabot yang diletakkan di atas panggung harus benar-benar sempurna sebab jika tidak maka cacat sedikit saja akan nampak. Untuk menyampaikan maksud tersebut pekerja teater mengolah dan menata panggung sedemikian rupa untuk mencapai maksud yang dinginkan. Penonton sangat dekat sekali dengan pemain. dalam panggung yang penontonnya melingkar.1 Mempelajari Panggung Dalam sejarah perkembangannya. Tidak hanya sekedar dekorasi (hiasan) semata. Dengan memahami bentuk dari masingmasing panggung inilah.Dasar-dasar Teater (5/6): Seni Rupa dalam Teater 5. sebelum melaksanakan penataan panggung seorang penata panggung perlu mempelajari panggung pertunjukan.1 TATA PANGGUNG Tata panggung disebut juga dengan istilah scenery (tata dekorasi). Untuk memperoleh hasil terbaik. penata panggung diharuskan memahami karakter jenis panggung yang akan digunakan serta bagian-bagian panggung tersebut. 5. 5. tetapi segala tata letak perabot atau piranti yang akan digunakan oleh aktor disediakan oleh penata panggung. ukuran.berbeda satu dengan yang lain . Panggung arena biasanya dibuat secara terbuka (tanpa atap) dan tertutup. Ketiganya adalah panggung proscenium. sutradara. Agar semua pemain dapat terlihat dari setiap sisi maka penggunaan set dekor berupa bangunan tertutup vertikal tidak diperbolehkan karena dapat menghalangi pandangan penonton.2 Jenis-jenis Panggung Panggung adalah tempat berlangsungnya sebuah pertunjukan dimana interaksi antara kerja penulis lakon. seni teater memiliki berbagai macam jenis panggung yang dijadikan tempat pementasan.1.maka penonton akan dengan mudah melihatnya. Misalnya. Di atas panggung inilah semua laku lakon disajikan dengan maksud agar penonton menangkap maksud cerita yang ditampilkan.1. dan panggung arena. 5. Karena jaraknya yang dekat. dan panggung tempat pementasan dilaksanakan. panggung thrust. dan aktor ditampilkan di hadapan penonton.2. penata panggung dapat merancangkan karyanya berdasar lakon yang akan disajikan dengan baik.1 Arena Panggung arena adalah panggung yang penontonnya melingkar atau duduk mengelilingi panggung. Semua ditata agar enak dipandang dari berbagai sisi. di atas panggung diletakkan kursi dan meja berukir. Penataan panggung disesuaikan dengan tuntutan cerita. kehendak artistik sutradara. Perbedaan jenis panggung ini dipengaruhi oleh tempat dan zaman dimana teater itu berada serta gaya pementasan yang dilakukan. Kedekatan jarak ini membawa konsekuensi artistik tersendiri baik bagi pemain dan (terutama) tata panggung. Bentuk panggung yang berbeda memiliki prinsip artistik yang berbeda. maka penata panggung dituntut kreativitasnya untuk mewujudkan set dekor. Oleh karena itu. Jika bentuk ukiran yang ditampilkan tidak nampak sempurna . membutuhkan tata letak perabot yang dapat enak dilihat dari setiap sisi. Segala perabot yang digunakan dalam panggung arena harus benar-benar dipertimbangkan dan dicermati secara hati-hati baik bentuk. Berbeda dengan panggung yang penontonnya hanya satu arah dari depan. Seperti telah disebutkan di atas bahwa banyak sekali jenis panggung tetapi dewasa ini hanya tiga jenis panggung yang sering digunakan. Misalnya. dan penempatannya.

Tata cahaya yang memproduksi sinar dapat dihadirkan dengan tanpa terlihat oleh penonton dimana posisi lampu berada. Aktor dapat bermain dengan leluasa seolah-olah tidak ada penonton yang hadir melihatnya. Intinya semua yang di atas panggung dapat diciptakan untuk mengelabui pandangan penonton dan mengarahkan mereka pada pemikiran bahwa apa yang terjadi di atas pentas adalah kenyataan. Selain merencanakan gambar dekor. Perspektif dapat ditampilkan dengan memanfaatkan kedalaman panggung (luas panggung ke belakang). Pembelajaran tata panggung untuk menciptakan ilusi (tipuan) imajinatif sangat dimungkinkan dalam panggung proscenium.1. Hampir semua sekolah teater memiliki jenis panggung proscenium. Jarak yang sengaja diciptakan untuk memisahkan pemain dan penonton ini dapat digunakan untuk menyajikan cerita seperti apa adanya. Pesona inilah yang membuat penggunaan panggung proscenium bertahan sampai sekarang. Penonton disuguhi gambaran melalui bingkai tersebut.2 Proscenium Panggung proscenium bisa juga disebut sebagai panggung bingkai karena penonton menyaksikan aksi aktor dalam lakon melalui sebuah bingkai atau lengkung proscenium (proscenium arch).1. Kesan inilah yang diolah penata panggung untuk mewujudkan kreasinya di atas panggung proscenium.Lepas dari kesulitan yang dihadapi. 5. Seperti sebuah lukisan. Bentangan jarak dapat menciptakan bayangan arstisitk tersendiri yang mampu menghadirkan kesan. Perabot dan piranti sangat penting dalam mencipta lukisan panggung. Tata perabot kemudian menjadi unsur pokok pada tata panggung arena.2. Jarak antara penonton dan panggung adalah jarak yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan gambaran kreatif pemangungan. Tata panggung pun sangat diuntungkan dengan adanya jarak dan pandangan satu arah dari penonton. Beberapa pengembangan desain dari teater arena melingkar dilakukan sehingga bentuk teater arena menjadi bermacammacam. Kedekatan jarak antara pemain dan penonton dimanfaatkan untuk melakukan komunikasi langsung di tengahtengah pementasan yang menjadi ciri khas teater tersebut. Unsur-unsur ini ditata sedemikian rupa sehingga bisa . panggun arena sering menjadi pilihan utama bagi teater tradisional. Sebelum menjelaskan semua itu.3 Fungsi Tata Panggung Dalam perancangan tata panggung selain mempertimbangkan jenis panggung yang akan digunakan ada beberapa elemen komposisi yang perlu diperhatikan. Gambar dekorasi dan perabot tidak begitu menuntut kejelasan detil sampai hal-hal terkecil. penata panggung juga bertanggungjawab terhadap segala perabot yang digunakan. salah satunya adalah penggunaan panggung arena. Aspek kedekatan inilah yang dieksplorasi untuk menimbulkan daya tarik penonton. Dengan pemisahan ini maka pergantian tata panggung dapat dilakukan tanpa sepengetahuan penonton. Banyak usaha yang dilakukan untuk mendekatkan pertunjukan dengan penonton. Karena keseluruhan objek yang ada di atas panggung dan digunakan oleh aktor membentuk satu lukisan secara menyeluruh. Panggung proscenium sudah lama digunakan dalam dunia teater. Bingkai yang dipasangi layar atau gorden inilah yang memisahkan wilayah akting pemain dengan penonton yang menyaksikan pertunjukan dari satu arah. terutama pada panggung arena dimana lukisan dekor atau bentuk bangunan vertikal tertutup seperti dinding atau kamar (karena akan menghalangi pandangan sebagian penonton) tidak memungkinkan diletakkan di atas panggung. fungsi tata panggung perlu dibahas terlebih dahulu. Pemisahan ini dapat membantu efek artistik yang dinginkan terutama dalam gaya realisme yang menghendaki lakon seolah-olah benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata. Kemungkinan berkomunikasi secara langsung atau bahkan bermain di tengah-tengah penonton ini menjadi tantangan kreatif bagi teater modern. 5. Semua yang ada di atas panggung dapat disajikan secara sempurna seolah-olah gambar nyata. bingkai proscenium menjadi batas tepinya.

yaitu penerangan. Dalam teater. Jika semua objek diterangi dengan intensitas yang sama maka gambar yang akan tertangkap oleh mata penonton menjadi datar. dan atmosfir (Mark Carpenter. Pemikiran lain di luar desain akan menghambat imajinasi dan akhrinya memberikan batasan. Penyuntingan atau pengolahan bisa dilakukan setelah gagasan tertuang.1. Lampu memberi penerangan pada pemain dan setiap objek yang ada di atas panggung. Semua objek yang disinari memberikan gambaran yang jelas kepada penonton tentang segala sesuatu yang akan dikomunikasikan. menata.2. Tanpa adanya cahaya maka penonton tidak akan dapat menyaksikan apa-apa.memberikan gambaran lengkap yang berfungsi untuk menjelaskan suasana dan semangat lakon. Dengan tata cahaya kedalaman sebuah objek dapat dicitrakan. Seorang penata cahaya perlu mempelajari pengetahuan dasar dan penguasaan peralatan tata cahaya. 5. 1988). dan penonton untuk saling melihat dan berkomunikasi. Dalam pertunjukan era primitif manusia hanya menggunakan cahaya matahari.1 Fungsi Tata Cahaya Tata cahaya yang hadir di atas panggung dan menyinari semua objek sesungguhnya menghadirkan kemungkinan bagi sutradara.2 TATA CAHAYA Cahaya adalah unsur tata artistik yang paling penting dalam pertunjukan teater. sutradara dapat menghadirkan ilusi imajinatif. Tidak semua area di atas panggung memiliki tingkat terang yang sama tetapi diatur dengan tujuan dan maksud tertentu sehingga menegaskan pesan yang hendak disampaikan melalui laku aktor di atas pentas. * Pemilihan. periode sejarah lakon. Dengan pengaturan tingkat intensitas serta pemilahan sisi gelap dan terang maka dimensi objek akan muncul. bulan atau api untuk menerangi. 5. dan musim dalam tahun dimana lakon dilangsungkan. status karakter peran. Sejak ditemukannya lampu penerangan manusia menciptakan modifikasi dan menemukan hal-hal baru yang dapat digunakan untuk menerangi panggung pementasan. lokasi kejadian. Dimensi dapat diciptakan dengan membagi sisi gelap dan terang atas objek yang disinari sehingga membantu perspektif tata panggung. Inilah fungsi paling mendasar dari tata cahaya. Tata cahaya dapat dimanfaatkan untuk menentukan objek dan area yang hendak disinari. Jika dalam film dan televisi sutradara dapat memilih adegan menggunakan kamera maka sutradara panggung melakukannya dengan cahaya. Artinya. untuk memberikan fokus perhatian pada area atau aksi tertentu sutradara memanfaatkan cahaya. Dengan cahaya. Pengetahuan dasar ini selanjutnya dapat diterapkan dan dikembangkan dalam penataan cahaya untuk kepentingan artistik pemanggungan. dimensi. . Istilah penerangan dalam tata cahaya panggung bukan hanya sekedar memberi efek terang sehingga bisa dilihat tetapi memberi penerangan bagian tertentu dengan intensitas tertentu. penonton secara normal dapat melihat seluruh area panggung. * Penerangan.4 Elemen Komposisi Desain tata panggung sebaiknya dibuat dengan mudah dan bebas. imajinasi dapat dituangkan sepenuhnya ke dalam gambar desain tanpa lebih dulu berpikir tentang kemungkinan visualisasinya. Pemilihan ini tidak hanya berpengaruh bagi perhatian penonton tetapi juga bagi para aktor di atas pentas serta keindahan tata panggung yang dihadirkan. 5. pemilihan. * Dimensi. Dalam pembuatan desain gambar tata panggung yang terpenting adalah cara mengatur. Banyak hal yang bisa dikerjakan bekaitan dengan peran tata cahaya tetapi fungsi dasar tata cahaya ada empat. dan memanipulasi elemen komposisi yang menjadi dasar dari seluruh kerja desain. aktor.

dan emosi peristiwa. warna cahaya matahari pagi berbeda dengan siang hari. seperti tanah. Inilah gambaran suasana dan emosi yang dapat dimunculkan oleh tata cahaya. Fungsi penerangan dilakukan dengan memilih area tertentu untuk memberikan gambaran dimensional objek. tata cahaya memiliki fungsi pendukung yang dikembangkan secara berlainan oleh masing-masing ahli tata cahaya. Tata cahaya mampu menghadirkan suasana yang dikehendaki oleh lakon. Dalam gaya Surealis tata cahaya diproyeksikan untuk menyajikan imajinasi atau fantasi di luar kenyataan seharihari. Yang paling menarik dari fungsi tata cahaya adalah kemampuannya menghadirkan suasana yang mempengaruhi emosi penonton. masing-masing fungsi memiliki interaksi (saling mempengaruhi). Beberapa teater primitif menggunakan bedak tebal yang biasa dibuat dari bahan-bahan alam. suasana. . Kata “atmosfir” digunakan untuk menjelaskan suasana serta emosi yang terkandung dalam peristiwa lakon. bulan atau lampu meja. Cahaya berfungsi untuk memberi tanda selama pertunjukan berlangsung. yaitu seni mengubah wajah untuk menggambarkan karakter tokoh. fade out untuk mengakhiri sebuah adegan. * Gerak. * Komposisi. black out biasanya digunakan sebagai tanda ganti adegan diiringi dengan pergantian set. Gaya realis atau naturalis yang mensyaratkan detil kenyataan mengharuskan tata cahaya mengikuti cahaya alami seperti matahari. Tata cahaya tidaklah statis. tumbuhan. dan lemak binatang. Contohnya. Sepanjang pementasan. * Gaya. efek lampu dapat diciptakan untuk menirukan cahaya bulan dan matahari pada waktu-waktu tertentu. Penggunaan warna serta intensitas dapat menarik perhatian penonton sehingga membantu pesan yang hendak disampaikan. cahaya selalu bergerak dan berpindah dari area satu ke area lain. * Penekanan. Dalam pementasan komedi atau dagelan tata cahaya membutuhkan tingkat penerangan yang tinggi sehingga setiap gerak lucu yang dilakukan oleh aktor dapat tertangkap jelas oleh penonton. 5. Tata Rias dalam teater bermula dari pemakaian kedok atau topeng untuk menggambarkan karakter tokoh. Cahaya dapat menunjukkan gaya pementasan yang sedang dilakonkan. penonton dapat melihatnya dengan jelas. Misalnya. * Pemberian tanda. Dalam pementasan teater tradisional. Sebuah bagian bangunan yang tinggi yang senantiasa disinari cahaya sepanjang pertunjukan akan menarik perhatian penonton dan menimbulkan pertanyaan sehingga membuat penonton menyelidiki maksud dari hal tersebut.3 TATA RIAS Tata rias secara umum dapat diartikan sebagai seni mengubah penampilan wajah menjadi lebih sempurna.* Atmosfir. Jika perpindahan cahaya bergerak dari aktor satu ke aktor lain dalam area yang berbeda. Selain keempat fungsi pokok di atas. Pemakaian tata rias akhirnya menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari peristiwa teater. Gerak perpindahan cahaya ini mengalir sehingga kadang-kadang perubahannya disadari oleh penonton dan kadang tidak. Keempat fungsi pokok tata cahaya di atas tidak berdiri sendiri. Tetapi pergantian cahaya dalam satu area ketika adegan tengah berlangsung terkadang tidak secara langsung disadari. Cahaya dapat dimanfaatkan untuk menciptakan lukisan panggung melalui tatanan warna yang dihasilkannya. teater Yunani yang memakai topeng lebih besar dari wajah pemain dengan garis tegas agar ekspresinya dapat dilihat oleh penonton.tulang. Misalnya. Tata rias dalam teater mempunyai arti lebih spesifik. Sinar mentari pagi membawa kehangatan sedangkan sinar mentari siang hari terasa panas. Tata cahaya dapat memberikan penekanan tertentu pada adegan atau objek yang dinginkan. Beberapa fungsi pendukung yang dapat ditemukan dalam tata cahaya adalah sebagai berikut. Tanpa sadar penonton dibawa ke dalam suasana yang berbeda melalui perubahan cahaya. dari objek satu ke objek lain. Sejak ditemukannya teknologi pencahayaan panggung. Artinya. fade in untuk memulai adegan dan black out sebagai akhir dari cerita.

Karakter wajah merupakan cermin psikologis dan latar sosial tokoh yang hadir secara nyata. * Menyempurnakan penampilan wajah * Menggambarkan karakter tokoh * Memberi efek gerak pada ekspresi pemain * Menegaskan dan menghasilkan garis-garis wajah sesuai dengan tokoh * Menambah aspek dramatik. Tata rias merupakan salah satu cara menampilkan karakter tokoh yang berbeda-beda tersebut. 5. Fungsi garis tidak sekedar menegaskan. tampak datar ketika tertimpa cahaya lampu. bibir yang kurang tegas. tetapi juga menambahkan sehingga terbentuk tampilan yang berbeda dengan wajah asli pemain. Misalnya. 5. Misalnya. mata menjadi lebih ekspresif. seorang remaja yang memerankan seorang yang telah berumur 50 tahun. 5. Misalnya.1 Menyempurnakan Penampilan Wajah Wajah seorang pemain memiliki kekurangan yang bisa disempurnakan dengan mengaplikasikan tata rias. Seorang pemain. tokoh yang pesimistis cenderung memiliki karakter garis mata yang menurun. Wajah perlu ditambahkan garis-garis kerutan sesuai wajah seorang yang berusia 50 tahun. Penampilan tokoh yang berbeda-beda membutuhkan penampilan yang berbeda sesuai karakternya.3 Memberi Efek Gerak Pada Ekspresi Pemain Wajah seorang pemain di atas pentas. ras.2 Menggambarkan Karakter Tokoh Karakter berarti watak. 5.1. Tata rias memiliki kemampuan dalam mengubah sekaligus menampilkan karakter yang berbeda dari seorang pemeran.5.1.3. bentuk wajah dan tubuh. Seorang yang berperan . Tata rias tidak perlu mengubah usia. Tata rias berfungsi menegaskan garis-garis wajah karakter. memiliki hidung yang kurang mancung. tetapi cukup menyempurnakan dengan mengoreksi kekurangan yang ada untuk disempurnakan. tidak memiliki dimensi. Seorang penata rias harus mencermati gerak ekspresi wajah untuk menentukan garis yang akan dibuat. Tata rias berfungsi melukiskan watak tokoh dengan mengubah wajah pemeran menyangkut aspek umur. wajahnya akan tampak datar. misalnya. sehingga saat berekspresi muncul efek gerak yang tegas dan dapat ditangkap oleh penonton.1. seorang remaja memerankan siswa sekolah. Oleh karena itu dibutuhkan tata rias untuk menampilkan dimensi wajah pemain. Pemain yang tidak menggunakan rias. Sebaliknya. Penyempurnaan wajah dilakukan pada pemain yang secara fisik telah sesuai dengan tokoh yang dimainkan.1 Fungsi Tata Rias Tokoh dalam teater memiliki karakter berbeda-beda.3. mata yang tidak ekspresif. dan sebagainya.4 Menghadirkan Garis Wajah Sesuai Dengan Tokoh Menampilkan wajah sesuai dengan tokoh membutuhkan garis baru yang membentuk wajah baru.1.3. Tata rias dalam teater memiliki fungsi sebagai berikut.3. seorang yang optimis digambarkan dengan tarikan sudut mata cenderung ke atas.3. Tata rias bisa menyempurnakan kekurangan tersebut sehingga muncul kesan hidung tampak mancung. dan bibir bergaris tegas.

1 Tata Rias Korektif Tata rias korektif (corective make-up) merupakan suatu bentuk tata rias yang bersifat menyempurnakan (koreksi). Misalnya. watak.menjadi tokoh binatang. Tata rias fantasi menggambarkan tokohtokoh yang tidak riil keberadaannya dan lahir berdasarkan daya khayal semata. dan perubahan bentuk wajah. kulit binatang. misalnya dahi terlalu lebar. tetapi mengubah tampilan wajah. seorang tokoh tertusuk belati. maka perlu membuat garis-garis baru sesuai dengan karakter wajah binatang yang diperankan.3.2 Tata Rias Fantasi Tata rias fantasi dikenal juga dengan istilah tata rias karakter khusus. Pada era teater primitif. dan ciri-ciri khusus yang melekat pada tokoh. misalnya memanjangkan telinga. Tokoh-tokoh mengalami berbagai peristiwa sehingga terjadi perubahan dan penambahan tata rias.1. Tata rias ini menyembunyikan kekurangan-kekurangan yang ada pada wajah dan menonjolkan hal-hal yang menarik dari wajah.5 Menambah Aspek Dramatik Peristiwa teater selalu tumbuh dan berkembang. gelang . hidung kurang mancung dan sebagainya. Wajah pemain cukup disempurnakan dengan menyamarkan.2. Setiap wajah memiliki kekuarangan dan kelebihan. 5.2. maka dibutuhkan tata rias yang memberikan efek sesuai dengan kebutuhan. 5.2 Jenis Tata Rias 5. syal. karena menampilkan wujud rekaan dengan mengubah wajah tidak realistik.dapat disempurnakan dengan make up korektif. dan batu- .3. mengubah umur pemeran dari muda menjadi lebih tua . dan menonjolkan bagian-bagian wajah sesuai dengan tokoh yang dimainkan. Tata busana dalam teater memiliki peranan penting untuk menggambarkan tokoh. seperti tumbuhan. Seorang pemain membutuhkan tata rias korektif ketika tampilannya tidak membutuhkan perubahan usia. Tata busana termasuk segala asesoris seperti topi.2. menegaskan. 5. sifat. Tata rias karakter dibutuhkan ketika karakter wajah pemeran tidak sesuai dengan karakter tokoh. 5. ras. Disebut tata rias karakter khusus. Seseorang yang memiliki bentuk wajah kurang sempurna. tersayat wajahnya. Biasanya pemeran memiliki kesesuaian dengan tokoh yang diperankan.3. kalung. dan segala unsur yang melekat pada pakaian. Tata rias bisa memberikan efek dramatik dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan menciptakan efek tertentu sesuai dengan kebutuhan. Contohnya.3. busana yang dipakai berasal dari bahan-bahan alami.3. Tata rias karakter tidak sekedar menyempurnakan. sepatu. 5.4 TATA BUSANA Tata busana adalah seni pakaian dan segala perlengkapan yang menyertai untuk menggambarkan tokoh. Mengubah anatomi wajah pemain untuk memenuhi tuntutan tokoh dapat juga digolongkan sebagai tata rias karakter. tertembak. Tokoh tersebut memiliki latar Suku Dayak Kalimantan yang memiliki tradisi memanjangkan telinga.3 Tata Rias karakter Tata rias karaker adalah tata rias yang mengubah penampilan wajah seseorang dalam hal umur. bangsa.

hasrat untuk tampil berbeda dan lebih indah dari tampilan sehari-hari telah muncul. Busana pun mengikuti konsep tersebut.1. yaitu. karena semua tergantung latar cerita yang ditampilkan. Elizabethan. Tata busana dengan demikian sudah tidak lagi terpaku pada jaman. Teater di Inggris pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth (1580 – 1640). Periode busana teater dengan demikian mengikuti periode teater tersebut. tetapi lebih pada konsep yang melatarbelakangi penciptaan teater. Penampilan busana yang berbeda akan menunjukkan ciri khusus seorang tokoh. Artinya. Tata busana dalam teater berfungsi sebagai bentuk ekspresi untuk tampil lebih indah dari penampilan seharihari. Tidak ada periode tata busana secara khusus di teater. Masing-masing memiliki kospenya tersendiri dan lakon tidak harus berlatar jaman dimana lakon itu dibuat. memakai busana sehari-hari yang dibuat lebih indah dengan mengaplikasikan perhiasan dan penambahan bahanbahan yang mahal dan mewah. Semua terserah pada gagasan seniman. Dalam masa ini. Penonton membutuhkan suatu penampilan yang berbeda-beda antara satu tokoh dengan tokoh yang lain. 5. dalam teater Romawi Kuno maka lakon yang ditampilkan berlatar jaman tersebut sehingga busananya pun seperti busana keseharian penduduk jaman Romawi Kuno. Restorasi. * Mencitrakan keindahan penampilan * Membedakan satu pemain dengan pemain yang lain * Menggambarkan karakter tokoh * Memberikan efek gerak pemain * Memberikan efek dramatik 5.2 Membedakan Satu Pemain Dengan Pemain Yang Lain Pementasan teater menampilkan tokoh yang bermacam-macam karakter dan latar belakang sosialnya.1. Abad Pertengahan. 5. Fungsi busana dalam kehidupan seharihari untuk melindungi tubuh.4.1 Fungsi Tata Busana Busana yang dipakai manusia beraneka ragam bentuk dan fungsinya. Pada era teater primitif. Masingmasing memiliki ciri khasnya. Tata busana dapat dibuat berdasar budaya atau jaman tertentu. Untuk membuat tata busana sesuai dengan adat dan kebudayaan daerah tertentu maka diperlukan referensi khusus berkaitan dengan adat dan kebudayaan tersebut. Busana pementesan teater dibuat secara khusus dan dilengkapi dengan asesoris sesuai kebutuhan pemensan. dan memenuhi hasrat manusia akan keindahan. Pementasan teater adalah suatu tontonan yang mengandung aspek keindahan. sehingga penonton mampu mengidentifikasikan tokoh dengan mudah . Busana menjadi salah satu tanda penting untuk membedakan satu tokoh dengan tokoh yang lain. Renaissance.4. Ketika manusia menemukan tekstil dengan teknologi pengolahan yang tinggi. Busana teater mengalami perkembangan pesat seiring lahirnya teater modern pada akhir abad 19. Busana dalam teater memiliki fungsi yang lebih kompleks. Misalnya. mencitrakan kesopanan. Sementara itu tata busana menurut jamannya bisa digeneralisasi. beragam aliran teater bermunculan. maka busana berkembang menjadi lebih baik. Jenis busana ini tidak bisa disamakan antara daerah satu dengan daerah lain. busana pada jaman atau dekade tertentu memiliki ciri yang sama. Demikian juga dengan teater pada jaman Yunani.4. dan Abad 18.batuan untuk asesoris.1 Mencitrakan Keindahan Penampilan Manusia memiliki hasrat untuk mengungkapkan rasa keindahan dalam berbagai aspek kehidupan.

penonton terbantu dalam menangkap karakter yang berbeda dari setiap tokoh. sederhana. busananya dilengkapi asesoris dan cara pemakaiannya seenaknya tidak sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan sekolah. bentuk. Melalui busana. warna. brutal. tokoh seorang pelajar yang pendiam. tokoh seorang pelajar yang bandel. Contohnya. Sebaliknya. dan garis yang diciptakan. dan tanpa asesoris yang berlebihan. dan alim.3 Menggambarkan Karakter Tokoh Fungsi penting busana dalam teater adalah untuk menggambarkan karakter tokoh. .1.4. motif.5. Perbedaan karakter dalam busana dapat ditampilkan melalui model. dan sering membuat onar. busananya cenderung rapi. rajin.

Sebuah langkah yang besar selalu dimulai dari langkah kecil. Memecahkan persoalan bersama dan menentukan satu keputusan yang secara artistik adil bagi semua pihak. tata panggung dan cahaya. Kualitas karya yang dihasilkan menggambarkan semangat dan keadaan jiwa pembuatnya. Ia akan bermain dalam area yang diciptakan oleh penata panggung. Kualitas ketersampaian pesan yang diramu oleh para pekerja teater (pengarang. Berbicara teater tidak hanya berbicara naskah atau sutradara yang merajut proses atau aktor terkenal yang ikut terlibat di dalamnya. Jika satu saja elemen berada di luar garis ini maka kesatuan makna menjadi kabur. Apalagi ketika proses tersebut dinilai dan memiliki konsekuensi langsung bagi pelakunya. Memiliki tujuan yang sama.Dasar-dasar Teater (6/6): Penutup Sebuah karya teater lahir dari satu proses pembelajaran yang padu. Saling mendukung demi tercapaiya tujuan tersebut. Secara mendalam. Jadi. bahkan penonton yang hadir di dalamnya. Karena sifatnya yang kolaboratif maka seni teater akan kehilangan spiritnya jika masing-masing bidang berusaha untuk menonjol dan mengalahkan bidang lain. mempelajari teater tidak hanya mempelajari satu bidang dan mengabaikan bidang lain. Memang perlu belajar satu bidang secara khusus tetapi pemahaman atas bidang lain tidak bisa diabaikan. Dalam teater hal itu tidak berlaku. Dalam satu proses pembelajaran hal semacam itu sering tejadi. penata artistik) akan diketahui langsung oleh para penonton dalam sebuah pertunjukan. Karya seni yang lahir dari kreativitas dapat dialirkan kepada generasi berikutnya melalui catatancatatan. Sebuah karya teater yang besar merupakan penyatuan kerja elemen-elemen yang kecil. Berdiskusi. konsep. Membaca referensi atau buku teater tidaklah hanya untuk menambah wawasan. Seorang aktor yang baik harus mengerti fungsi tata panggung karena ia akan bermain di antara objek yang ditata di atas pentas. Berbicara teater adalah berbicara tentang semua hal yang ada di dalamnya. Satu proses kerja bidang tertentu bahkan dinilai lebih tinggi dari bidang lain. pengetahuan. Satu gagasan atau perwujudan karya menjadi indah dan menarik serta memiliki kesatuan makna jika semua elemennya memiliki tujuan artistik yang sama. sutradara. Karena prinsip teater adalah kerjasama maka belajar teater tidaklah hanya mempelajari elemen-elem yang ada di dalamnya tetapi juga mempelajari kerja pengabungan di antaranya. Begitu pentingnya pesan yang hendak disampaikan sehingga semua elemen pendukung pementasan bekerja keras mewujudkannya. Jika kualitas kerja salah satu bidang tidak baik maka keseluruhan pertunjukan menjadi terpengaruh. Demikian pula penata panggung harus mau memahami pola laku dan gerak para aktor di atas pentas sehingga ruang yang diciptakan tidak mengganggu bagi pergerakan aktor ketika bemain. Semua elemen harus besatu. Satu bidang harus mampu dan mau menghargai bidang lain. kerja sekecil apapun dalam teater sangatlah penting. ketersampaian cerita. Dengan demikin dalam satu karya teater. Semua elemen harus memahami hal ini. aktor. Respon atau tanggapan yang diberikan penonton terhadap pertunjukan yang dilangsungkan merupakan tanda bagi keberhasilan atau kegagalan pertunjukan tesebut dalam menyampaikan pesan. semua saling belajar. Akhirnya menjadi maklumlah kita ketika seseorang berbicara tentang teater maka ia akan membicarakan semua elemen yang ada di dalamnya. Oleh karena itulah. Pemaknaan ini akan membawa satu sikap penghargaan profesi baik bagi diri sendiri atau bagi orang yang bekerja pada bidang lain. Hal itu akan menyangkut soal cerita. pelajarilah semuanya sesuai dengan tahapan yang benar. Dalam sebuah lakon yang menceritakan tentang kesedihan. Untuk kepentingan inilah buku ini disusun. semua saling membantu. tidak hanya tergambar keindahan karya seni tetapi juga prinsip kebersamaan. Oleh karena itu. Karena itu pulalah penonton merupkan kunci keberhasilan sebuah pertunjukan. seni memang tidak hanya menghasilkan sesuatu yang tampak (produk) tetapi juga mental atau jiwa para pelakunya. dan peningkatan kompetensi tetapi juga untuk mengungkap makna kerja yang ada di sebalik ilmu. Saling berbicara. maka semua komponen bekerja untuk memenuhi atmosfir kesedihan yang diharapkan. Satu bidang kecil memiliki makna yang sama dengan bidang lain. tata rias dan busana. Dramaturgi atau pengetahuan teater dasar merupakan pokok pemahaman yang harus diperhatikan. semua saling mendukung. .

Disitulah sebetulnya letak fungsi hakiki dari sebuah pengetahuan. Oleh sebab itu. Masing-masing bidang dalam teater dapat dikerjakan oleh orang-orang tertentu yang tertarik di bidang-bidang tersebut. Dengan berdasar pengetahuan dan keingintahuan dari membaca catatan tersebut. membaca untuk menginspirasi sehingga seni baru senantiasa lahir. dan berkarya. maka cerita yang satu kalimat itu pun dapat dikembangkan.Dramaturgi adalah catatan-catatan proses penciptaan seni drama hingga sampai pementasannya. Semua itu tidak berada dalam bingkai saling meniru akan tetapi bingkai kreativitas yang terus berkembang dan berkembang. dengan memahami dasardasar penciptaan lakon yang mengedepankan pentingnya arti konflik dalam teater. Karya seni yang lebih mementingkan proses. sebuah gagasan dapat diwujudkan. dan belajar. membaca untuk menilhami. Gagasan hanya akan menjadi gagasan jika tidak diwujudkan. Ketika sebuah gagasan muncul. teater adalah kerjasama. Dalam teater. Semua bisa dipelajari secara mandiri. Tidak peduli berapa panjang cerita tersebut. berkarya. Jika semuanya berbuat dalam semangat kerjasama maka pergelaran karaya teater menjadi karya bersama yang memiliki satu makna. Hanya dengan cerita yang sangat sederhana semacam ini. Masing-masing bidang yang dibahas dalam buku ini memberikan gambaran harmonisasi tersebut. Tidak perlu seorang diri mengerjakan semuanya. Satu karya mempengaruhi atau terpengaruh oleh karya lain. akan tetapi lebih berarti jika semua bidang bersinergi. Ilmu yang didapatkan sekarang tidak akan pernah cukup. Semangat belajar dalam teater tidak akan pernah bisa berhenti karena teater senantiasa hidup dan berkembang. wujud awal dari sebuah gagasan harus mengalami proses pembentukan. dan proses adalah belajar. Karya baru yang dihasilkan oleh seniman itupun pada nantinya juga akan menginspirasi karya yang lain. apapun kualitasnya gagasan tersebut harus menjadi sesuatu. Teater adalah kolketif. Sesuatu yang sangat berarti bagi si penggagas. Membaca catatan karya orang lain bukan dipahami sebagai bentuk plagiarisme tetapi membaca untuk mempelajari. Berkarya. dan tata artistik dapat diaplikasikan untuk mendukung karya yang akan ditampilkan. semua bermula dari sebuah cerita. konflik. lebih menghargai pengalaman dari pada hasil akhir. Catatan inti akan terus berkembang seiring dengan perkembangan teater itu sendiri. Oleh karena itu maka tidak ada kata lain selain belajar. Banyak seniman yang lahir karena membaca atau mempelajari karya (catatan) seniman yang lainnya. pemeranan. Demikian berjalan secara berkesambungan. Pengetahuan tentang dasar-dasar penyutradaraan. Catatan kecil yang kami sampaikan ini semoga dapat menjadi pemicu semangat untuk terus belajar dan berkarya. Akan tetapi. maka ia perlu dinyatakan. Bahkan mungkin cerita itu hanya merupakan satu rangkaian kalimat. Semua secara harmonis bekerja bersama mendukung makna yang satu. sebuah karya teater dapat dilahirkan. Dengan semangat dan ketekunan berlatih. Apapun bentuknya. Sebuah pertunjukan dapat digelar. Semua berjalan dalam satu proses. . Minimal menjadi tiga kalimat yang masing-masing mewakili pemaparan. belajar. Kerjasama sebagai semangat seni teater dapat dijadikan acuan proses penciptaan. dan penyelesaian. cerita yang sudah berhasil dicipta dapat diwujudkan ke dalam sebuah pementasan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful