Dasar-dasar Teater (1/6): Definisi & Sejarah Teater 1.

1 Definisi Teater Teater berasal dari kata Yunani, “theatereatron” (bahasa Inggris, Seeing Place) yang artinya tempat atau gedung pertunjukan. Dalam perkembangannya, dalam pengertian lebih luas kata teater diartikan sebagai segala hal yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Dengan demikian, dalam rumusan sederhana teater adalah pertunjukan, misalnya ketoprak, ludruk, wayang, wayang wong, sintren, janger, mamanda, dagelan, sulap, akrobat, dan lain sebagainya. Teater dapat dikatakan sebagai manifestasi dari aktivitas naluriah, seperti misalnya, anak-anak bermain sebagai ayah dan ibu, bermain tokohg-tokohgan, dan lain sebagainya. Selain itu, teater merupakan manifestasi pembentukan strata sosial kemanusiaan yang berhubungan dengan masalah ritual. Misalnya, upacara adat maupun upacara kenegaraan, keduanya memiliki unsur-unsur teatrikal dan bermakna filosofis. Berdasarkan paparan di atas, kemungkinan perluasan definisi teater itu bisa terjadi. Tetapi batasan tentang teater dapat dilihat dari sudut pandang sebagai berikut: “tidak ada teater tanpa aktor, baik berwujud riil manusia maupun boneka, terungkap di layar maupun pertunjukan langsung yang dihadiri penonton, serta laku di dalamnya merupakan realitas fiktif”, (Harymawan, 1993). Kata “drama” juga dianggap telah ada sejak era Mesir Kuno (4000-1580 SM), sebelum era Yunani Kuno (800277 SM). Hubungan kata “teater” dan “drama” bersandingan sedemikian erat seiring dengan perlakuan terhadap teater yang mempergunakan drama lebih identik sebagai teks atau naskah atau lakon atau karya sastra (Bakdi Soemanto, 2001). Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa istilah “teater” berkaitan langsung dengan pertunjukan, sedangkan “drama” berkaitan dengan lakon atau naskah cerita yang akan dipentaskan. Jadi, teater adalah visualisasi dari drama atau drama yang dipentaskan di atas panggung dan disaksikan oleh penonton. Jika “drama” adalah lakon dan “teater” adalah pertunjukan maka “drama” merupakan bagian atau salah satu unsur dari “teater”. Dengan kata lain, secara khusus teater mengacu kepada aktivitas melakukan kegiatan dalam seni pertunjukan (to act) sehingga tindaktanduk pemain di atas pentas disebut acting. Istilah acting diambil dari kata Yunani “dran” yang berarti, berbuat, berlaku, atau beraksi. Karena aktivitas beraksi ini maka para pemain pria dalam teater disebut actor dan pemain wanita disebut actress (Harymawan, 1993). Meskipun istilah teater sekarang lebih umum digunakan tetapi sebelum itu istilah drama lebih populer sehingga pertunjukan teater di atas panggung disebut sebagai pentas drama. Hal ini menandakan digunakannya naskah lakon yang biasa disebut sebagai karya sastra drama dalam pertujukan teater. Di Indonesia, pada tahun 1920-an, belum muncul istilah teater. Yang ada adalah sandiwara atau tonil (dari bahasa Belanda: Het Toneel). Istilah Sandiwara konon dikemukakan oleh Sri Paduka Mangkunegoro VII dari Surakarta. Kata sandiwara berasal dari bahasa Jawa “sandi” berarti “rahasia”, dan “wara” atau “warah” yang berarti, “pengajaran”. Menurut Ki Hajar Dewantara “sandiwara” berarti “pengajaran yang dilakukan dengan perlambang” (Harymawan, 1993). Rombongan teater pada masa itu menggunakan nama Sandiwara, sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama. Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan, istilah sandiwara masih sangat populer. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan (Kasim Achmad, 2006). Keterikatan antara teater dan drama sangat kuat. Teater tidak mungkin dipentaskan tanpa lakon (drama). Oleh karena itu pula dramaturgi menjadi bagian penting dari seni teater. Dramaturgi berasal dari bahasa Inggris dramaturgy yang berarti seni atau tekhnik penulisan drama dan penyajiannya dalam bentuk teater. Berdasar pengertian ini, maka dramaturgi membahas proses penciptaan teater mulai dari penulisan naskah hingga pementasannya. Harymawan (1993) menyebutkan tahapan dasar untuk mempelajari dramaturgi yang disebut dengan formula dramaturgi. Formula ini disebut dengan fromula 4 M yang terdiri dari, menghayalkan, menuliskan, memainkan, dan menyaksikan. M1 atau menghayal, dapat dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang karena menemukan sesuatu gagasan yang merangsang daya cipta. Gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan pada suatu persitiwa baik

yang disaksikan, didengar maupun dibaca dari literatur tertentu. Bisa juga gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan pada kehidupan seseorang. Gagasan atau daya cipta tersebut kemudian diwujudkan ke dalam besaran cerita yang pada akhirnya berkembang menjadi sebuah lakon untuk dipentaskan. M2 atau menulis, adalah proses seleksi atau pemilihan situasi yang harus dihidupkan begi keseluruhan lakon oleh pengarang. Dalam sebuah lakon, situasi merupakan kunci aksi. Setelah menemukan kunci aksi ini, pengarang mulai mengatur dan menyusun kembali situasi dan peristiwa menjadi pola lakon tertentu. Di sini seorang pengarang memiliki kisah untuk diceritakan, kesan untuk digambarkan, suasana hati para tokoh untuk diciptakan, dan semua unsur pembentuk lakon untuk dikomunikasikan. M3 atau memainkan, merupakan proses para aktor memainkan kisah lakon di atas pentas. Tugas aktor dalam hal ini adalah mengkomunikasikan ide serta gagasan pengarang secara hidup kepada penonton. Proses ini melibatkan banyak orang yaitu, sutradara sebagai penafsir pertama ide dan gagasan pengarang, aktor sebagai komunitakor, penata artsitik sebagai orang yang mewujudkan ide dan gagasan secara visual serta penonton sebagai komunikan. M4 atau menyaksikan, merupakan proses penerimaan dan penyerapan informasi atau pesan yang disajikan oleh para pemain di atas pentas oleh para penonton. Pementasan teater dapat dikatakan berhasil jika pesan yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penonton. Penonton pergi menyaksikan pertunjukan dengan maksud pertama untuk memperoleh kepuasan atas kebutuhan dan keinginannya terhadap tontonan tersebut. Formula dramaturgi seperti disebutkan di atas merupakan tahap mendasar yang harus dipahami dan dilakukan oleh para pelaku teater. Jika salah satu tahap dan unsur yang ada dalam setiap tahapan diabaikan, maka pertunjukan yang digelar bisa dipastikan kurang sempurna. Oleh karena itu, pemahaman dasar formula dramaturgi dapat dijadikan acuan proses penciptaan karya seni teater.

1.2 Sejarah Singkat Teater 1.2.1 Teater Barat 1.2.1.1 Asal Mula Teater Waktu dan tempat pertunjukan teater yang pertama kali dimulai tidak diketahui. Adapun yang dapat diketahui hanyalah teori tentang asal mulanya. Di antaranya teori tentang asal mula teater adalah sebagai berikut. * Berasal dari upacara agama primitif. Unsur cerita ditambahkan pada upacara semacam itu yang akhirnya berkembang menjadi pertunjukan teater. Meskipun upacara agama telah lama ditinggalkan, tapi teater ini hidup terus hingga sekarang. * Berasal dari nyanyian untuk menghormati seorang pahlawan di kuburannya. Dalam acara ini seseorang mengisahkan riwayat hidup sang pahlawan yang lama kelamaan diperagakan dalam bentuk teater. * Berasal dari kegemaran manusia mendengarkan cerita. Cerita itu kemudian juga dibuat dalam bentuk teater (kisah perburuan, kepahlawanan, tokohg, dan lain sebagainya). * Rendra dalam Seni Drama Untuk Remaja (1993), menyebutkan bahwa naskah teater tertua di dunia yang pernah ditemukan ditulis seorang pendeta Mesir, I Kher-nefert, di zaman peradaban Mesir Kuno kira-kira 2000 tahun sebelum tarikh Masehi. Pada zaman itu peradaban Mesir Kuno sudah maju. Mereka sudah bisa membuat piramida, sudah mengerti irigasi, sudah bisa membuat kalender, sudah mengenal ilmu bedah, dan juga sudah mengenal tulis menulis.

1.2.1.2 Teater Yunani Klasik Tempat pertunjukan teater Yunani pertama yang permanen dibangun sekitar 2300 tahun yang lalu. Teater ini dibangun tanpa atap dalam bentuk setengah lingkaran dengan tempat duduk penonton melengkung dan berundak-undak yang disebut amphitheater (Jakob Soemardjo, 1984). Ribuan orang mengunjungi

amphitheater untuk menonton teater-teater, dan hadiah diberikan bagi teater terbaik. Naskah lakon teater Yunani merupakan naskah lakon teater pertama yang menciptakan dialog diantara para karakternya. Ciri-ciri khusus pertunjukan teater pada masa Yunani Kuno adalah: * Pertunjukan dilakukan di amphitheater. * Sudah menggunakan naskah lakon. * Seluruh pemainnya pria bahkan tokoh wanitanya dimainkan pria dan memakai topeng karena setiap pemain memerankan lebih dari satu tokoh. * Cerita yang dimainkan adalah tragedi yang membuat penonton tegang, takut, dan kasihan serta cerita komedi yang lucu, kasar dan sering mengeritik tokoh terkenal pada waktu itu. * Selain pemeran utama juga ada pemain khusus untuk kelompok koor (penyanyi), penari, dan narator (pemain yang menceritakan jalannya pertunjukan).

1.2.1.3 Teater Romawi Klasik Setelah tahun 200 Sebelum Masehi kegiatan kesenian beralih dari Yunani ke Roma, begitu juga Teater. Namun mutu teater Romawi tak lebih baik daripada teater Yunani. Teater Romawi menjadi penting karena pengaruhnya kelak pada Zaman Renaissance. Teater pertama kali dipertunjukkan di kota Roma pada tahun 240 SM (Brockett, 1964). Pertunjukan ini dikenalkan oleh Livius Andronicus, seniman Yunani. Teater Romawi merupakan hasil adaptasi bentuk teater Yunani. Hampir di setiap unsur panggungnya terdapat unsur pemanggungan teater Yunani. Namun demikian teater Romawi pun memiliki kebaruan-kebaruan dalam penggarapan dan penikmatan yang asli dimiliki oleh masyarakat Romawi dengan ciri-ciri sebagi berikut. * Koor tidak lagi berfungsi mengisi setiap adegan. * Musik menjadi pelengkap seluruh adegan. Tidak hanya menjadi tema cerita tetapi juga menjadi ilustrasi cerita. * Tema berkisar pada masalah hidup kesenjangan golongan menengah. * Karakteristik tokoh tergantung kelas yaitu orang tua yang bermasalah dengan anak-anaknya atau kekayaan, anak muda yang melawan kekuasaan orang tua dan lain sebagainya.

1.2.1.4 Teater Abad Pertengahan Dalam tahun 1400-an dan 1500-an, banyak kota di Eropa mementaskan drama untuk merayakan hari-hari besar umat Kristen. Drama-drama dibuat berdasarkan cerita-cerita Alkitab dan dipertunjukkan di atas kereta, yang disebut pageant, dan ditarik keliling kota. Bahkan kini pertunjukan jalan dan prosesi penuh warna diselenggarakan di seluruh dunia untuk merayakan berbagai hari besar keagamaan. Para pemain drama pageant menggunakan tempat di bawah kereta untuk menyembunyikan peralatan. Peralatan ini digunakan untuk efek tipuan, seperti menurunkan seorang aktor dari atas ke panggung. Para pemain pegeant memainkan satu adegan dari kisah dalam Alkitab, lalu berjalan lagi. Pageant lain dari aktor-aktor lain untuk adegan berikutnya, menggantikannya. Aktor-aktor pageant seringkali adalah para perajin setempat yang memainkan adegan yag menunjukan keahlian mereka. Orang berkerumun untuk menyaksikan drama pageant religius di Eropa. drama ini populer karena pemainnya berbicara dalam bahasa sehari-hari, bukan bahasa Latin yang merupakan bahasa resmi gereja-gereja Kristen (Wisnuwardhono, 2002). Ciri-ciri teater abad Pertengahan adalah sebagai berikut: * Drama dimainkan oleh aktor-aktor yang belajar di universitas sehingga dikaitkan dengan masalah filsafat dan agama.

* Aktor bermain di panggung di atas kereta yang bisa dibawa berkeliling menyusuri jalanan. * Drama banyak disisipi cerita kepahlawanan yang dibumbui cerita percintaan. * Drama dimainkan di tempat umum dengan memungut bayaran. * Drama tidak memiliki nama pengarang.

1.2.1.5 Renaissance Abad 17 memberi sumbangan yang sangat berarti bagi kebudayaan Barat. Sejarah abad 15 dan 16 ditentukan oleh penemuanpenemuan penting yaitu mesin, kompas, dan mesin cetak. Semangat baru muncul untuk menyelidiki kebudayaan Yunani dan Romawi klasik. Semangat ini disebut semangat Renaissance yang berasal dari kata “renaitre” yang berarti kelahiran kembali manusia untuk mendapatkan semangat hidup baru. Gerakan yang menyelidiki semangat ini disebut gerakan humanisme. Pusat-pusat aktivitas teater di Italia adalah istana-istana dan akademi. Di gedung-gedung teater milik para bangsawan inilah dipentaskan naskah-naskah yang meniru drama-drama klasik. Para aktor kebanyakan pegawai-pegawai istana dan pertunjukan diselenggarakan dalam pesta-pesta istana. Ada tiga jenis drama yang dikembangkan, yaitu tragedi, komedi, dan pastoral atau drama yang membawakan kisah-kisah percintaan antara dewa-dewa dengan para gembala di daerah pedesaan. Namun nilai seni ketiganya masih rendah. Drama dilangsungkan dengan mengikuti struktur yang ada. Meskipun demikian gerakan mereka memiliki arti penting karena Eropa menjadi mengenal drama yang jelas struktur dan bentuknya. Ciri-ciri teater Zaman Renaissance yakni sebagai berikut. * Naskah lakon yang dipertunjukkan meniru teater Zaman Yunani klasik. * Cerita bertema mitologi atau kehidupan sehari-hari. * Tata busana dan seting yang dipergunakan sangat inovatif. * Pelaksanaan bentuk teater diatur oleh kerajaan maupun universitas. * Menggunakan panggung proscenium yaitu bentuk panggung yang memisahkan area panggung dengan penonton. * Pada zaman ini juga melahirkan satu bentuk teater yang disebut commedia dell’arte. Merupakan bentuk teater rakyat Italia yang berkembang di luar lingkungan istana dan akademisi. Pada tahun 1575 bentuk ini sudah populer di Italia. Kemudian menyebar luas di Eropa dan mempengaruhi semua bentuk komedi yang diciptakan pada tahun 1600.

Ciri khas commedia dell'arte adalah: * Para pemain dibebaskan berimprovisasi mengikuti jalannya cerita dan dituntut memiliki pengetahuan luas yang dapat mendukung permainan improvisasinya. * Menggunakan naskah lakon yang berisi garis besar cerita. * Cerita yang dimainkan bersumber pada cerita yang diceritakan secara turun menurun. * Cerita terdiri dari tiga babak didahului prolog panjang. Plot cerita berlangsung dalam suasana adegan lucu. * Peristiwa cerita berlangsung dan berpindah secara cepat . * Terdapat tiga tokoh yang selalu muncul, yaitu tokoh penguasa, tokoh penggoda, dan tokoh pembantu. * Tempat pertunjukannya di lapangan kota dan panggungpanggung sederhana. * Setting panggung sederhana, yaitu rumah, jalan, dan lapangan.

1.2.1.6 Teater Zaman Elizabeth

Gedung-gedung pertunjukan modern memiliki efek-efek khusus dan teknologi baru. 1. * Tokoh wanita dimainkan oleh pemain anak-anak laki-laki. dan efek elektronik. dan absurd. hiburan. Globe mementaskan drama-drama karya William Shakespeare. mulai dari pembunuhan dan tokohg sampai cinta dan kecemburuan. surealisme. Ciri-ciri teater Zaman Elizabeth adalah: * Pertunjukan dilaksanakan siang hari dan tidak mengenal waktu istirahat. Tidak jarang usaha mereka berhasil dan mampu memberikan pengaruh seperti gaya simbolisme. dan mempelajari hal-hal baru. Teater di Tengah-Tengah Gedung. Rancangan-rancangan panggung termasuk pengaturan panggung arena. Hal ini mendorong para pemikir teater untuk menemukan satu bentuk ekspresi baru yang lepas dari konvensi yang sudah ada. Ia biasanya menulis dalam bentuk puisi atau sajak.000 penonton. penulis drama terkenal dari Inggris yang hidup dari tahun 1564 sampai tahun 1616. sutradara.2. Orang datang ke gedung pertunjukan tidak hanya untuk menyaksikan teater melainkan juga untuk menikmati musik. Mereka yang tidak mampu membeli tiket berdiri di sekitar panggung. Wilayah jelajah artistik dibuka selebar-lebarnya untuk kemungkinan perkembangan bentuk pementasan seni teater. Gedung teater ini sangat sukses sehingga banyak gedung sejenis dibangun di sekitarnya. ada tanda-tanda bahwa unsurunsur teater tradisional banyak digunakan untuk mendukung upacara ritual. dekorasi. Pada zaman itu. Tetapi tidak jarang pula usaha mereka berhenti pada produksi pertama. Dengan semangat melawan pesona realisme. * Penontonnya berbagai lapisan masyarakat dan diramaikan oleh penjual makanan dan minuman. beberapa cara untuk mengekspresikan karakter-karakter berbeda dalam pertunjukanpertunjukan (di samping nada suara) dapat melalui musik. tata cahaya. pendidikan.2.2 Teater Indonesia 1. * Tempat adegan ditandai dengan ucapan dengan disampaikan dalam dialog para tokoh. aktor ataupun penata artistik. Gedung ini dibangun seperti lingkaran sehingga penonton bisa duduk dihampir seluruh sisi panggung. Beberapa ceritanya berisi monolog panjang. epik. gedung teater besar dari kayu dibangun di London Inggris. Ia menulis 37 (tiga puluh tujuh) drama dengan berbagai tema.2. Salah satunya yang disebut Globe. * Corak pertunjukannya merupakan perpaduan antara teater keliling dengan teater sekolah dan akademi yang keklasik-klasikan.1. Pada awal abad 20 inilah istilah teater eksperimental berkembang. Seiring dengan perkembangan waktu. kualitas pertunjukan realis oleh beberapa seniman dianggap semakin menurun dan membosankan. Lepas dari hal itu. selama pemerintahan Ratu Elizabeth I. Ia adalah seorang aktor dan penyair. yang disebut solilokui. selain penulis drama. 1.7 Teater Abad 20 Teater telah berubah selama berabad-abad. gedung teater ini bisa menampung 3. Teater tradisional merupakan . para seniman mencari bentuk pertunjukannya sendiri. Banyak gaya baru yang lahir baik dari sudut pandang pengarang. Tidak pemain wanita. atau yang disebut saat ini.1 Teater Tradisional Kasim Achmad dalam bukunya Mengenal Teater Tradisional di Indonesia (2006) mengatakan.Pada tahun 1576.2. Gaya-gaya pertunjukan realistis dan eksperimental ditemukan dalam teater Amerika saat ini. Penonton yang mampu membeli tiket duduk di sisi-sisi panggung. dan menceritakan gagasan-gagasan mereka kepada penonton. Dewasa ini. sejarah teater tradisional di Indonesia dimulai sejak sebelum Zaman Hindu. * Menggunakan naskah lakon. usaha pencarian kaidah artistik yang dilakukan oleh seniman teater modern patut diacungi jempol karena usaha-usaha tersebut mengantarkan pada keberagaman bentuk ekspresi dan makna keindahan.

dinamakan teater bangsawan. Pada periode transisi inilah teater tradisional berkenalan dengan teater non-tradisi. yang disebut “teater”. Komidi Bangsawan. wayang wong. 1. Pedro pada tanggal 21 Juni 1926.2 Teater Indonesia tahun 1920-an Teater pada masa kesusasteraaan angkatan Pujangga Baru kurang berarti jika dilihat dari konteks sejarah teater modern Indonesia tetapi cukup penting dilihat dari sudut kesusastraan. pada tahun 1901. Karenanya rombongan teater pada masa itu menggunakan nama sandiwara.2. Opera Abdoel Moeloek. Perubahan tersebut terletak pada cerita yang sudah mulai ditulis. randai.2.2. dan belum merupakan suatu bentuk kesatuan teater yang utuh. mulai mengenal sastra lakon dengan diperkenalkannya lakon yang pertama yang ditulis oleh orang Belanda F.bagian dari suatu upacara keagamaan ataupun upacara adat-istiadat dalam tata cara kehidupan masyarakat kita. Drama-drama Pujangga Baru ditulis sebagai ungkapan ketertekanan kaum intelektual dimasa itu karena penindasan pemerintahan Belanda yang amat keras terhadap kaum pergerakan sekitar tahun 1930-an.Wiggers yang berjudul Lelakon Raden Beij Soerio Retno. sumber dan tata-cara di mana teater tradisional lahir. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan.2. istilah sandiwara masih sangat populer. sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama. lenong. Macammacam teater tradisional Indonesia adalah :wayang kulit.2. Setelah Komedie Stamboel didirikan muncul kelompok sandiwara seperti Sandiwara Dardanella (The Malay Opera Dardanella) yang didirikan Willy Klimanoff alias A. Pada masa teater transisi belum muncul istilah teater. teater tradisional berkenalan juga dengan teater Barat yang dipentaskan oleh orang-orang Belanda di Indonesia sekitar tahun 1805 yang kemudian berkembang hingga di Betawi (Batavia) dan mengawali berdirinya gedung Schouwburg pada tahun 1821 (Sekarang Gedung Kesenian Jakarta).2. seperti Opera Stambul. Lelakon Komedia Hindia Timoer (1913). ludruk . Cara penyajian cerita dengan menggunakan panggung dan dekorasi. Setelah melepaskan diri dari kaitan upacara. Sandiwara Tjahaja Timoer.2. dan sebagainya. 1. arja. Naskah-naskah drama tersebut belum mencapai bentuk sebagai drama karena masih menekankan unsur sastra dan sulit untuk dipentaskan. Indra Bangsawan.2 Teater Modern 1. Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan. Kemudian lahirlah kelompok sandiwara lain. Dilihat dari segi sastra. Perkenalan masyarakat Indonesia pada teater non-tradisi dimulai sejak Agust Mahieu mendirikan Komedie Stamboel di Surabaya pada tahun 1891. Selain pengaruh dari teater bangsawan. Sandiwara Orion. drama gong. ketoprak. yang menggunakan bahasa Melayu Rendah. Hal ini disebabkan oleh unsur-unsur pembentuk teater tradisional itu berbedabeda. Pada saat itu. Kemudian disusul oleh Lauw Giok Lan lewat Karina Adinda.1 Teater Transisi Teater transisi adalah penamaan atas kelompok teater pada periode saat teater tradisional mulai mengalami perubahan karena pengaruh budaya lain. yang pementasannya secara teknik telah banyak mengikuti budaya dan teater Barat (Eropa). dan lain-lainnya. Proses terjadinya atau munculnya teater tradisional di Indonesia sangat bervariasi dari satu daerah dengan daerah lainnya. dan lain sebagainya. tergantung kondisi dan sikap budaya masyarakat. unsur-unsur teater tersebut membentuk suatu seni pertunjukan yang lahir dari spontanitas rakyat dalam masyarakat lingkungannya. Bentuk sastra drama yang pertamakali menggunakan bahasa Indonesia dan disusun dengan model dialog antar tokoh . Kelompok teater yang masih tergolong kelompok teater tradisional dengan model garapan memasukkan unsur-unsur teknik teater Barat. meskipun masih dalam wujud cerita ringkas atau outline story (garis besar cerita per adegan). ubrug. Mulai memperhitungkan teknik yang mendukung pertunjukan. Yang ada adalah sandiwara. sebenarnya baru merupakan unsur-unsur teater.2. yang pada saat itu masih belum menggunakan naskah drama/lakon.

Dahlia. Bengawan Solo. dua orang tokoh. seperti misalnya Bintang Surabaya. Menyusul kemudian muncul rombongan sandiwara Dewi Mada. Rainbow. R. Intensitas kerja Djawa Eiga Kosya yang ingin menghambat langkah Badan Pusat Kesenian Indonesia nampak ketika mereka membuka sekolah tonil dan drama Putra Asia. Dalam kurun waktu ini semua bentuk seni hiburan yang berbau Belanda lenyap karena pemerintah penjajahan Jepang anti budaya Barat. Komedi Bangsawan.2. Mata Hari. Dalam masa pendudukan Jepang kelompok rombongan sandiwara yang mula-mula berkembang adalah rombongan sandiwara profesional.dan berbentuk sajak adalah Bebasari (artinya kebebasan yang sesungguhnya atau inti kebebasan) karya Rustam Efendi (1926). nyanyian.2. yang dikenal dengan nama samarannya Mon Siour D’amour ini dalam rombongan sandiwara Bintang Surabaya menulis lakon antara lain. Mr. Nur Sutan Iskandar menyadur karangan Molliere. Armiijn Pane mengolah roman Swasta Setahun di Bedahulu karangan I Gusti Nyoman Panji Tisna menjadi naskah drama. dan sebagai anggota antara lain. dan Bolero. Rombongan sandiwara keliling komersial. Pancawarna. Sumanang (Sekretaris). 1. menulis dengan menggunakan bahasa Indonesia dan berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. dan lawak. Tjahaya Asia. Sutan Takdir Alisjabana. Pengarang Nyoo Cheong Seng. Langkah-langkah yang telah diambil oleh Badan Pusat Kesenian Indonesia untuk mewujudkan cita-cita kemajuan kesenian Indonesia. ternyata mengalami hambatan yang datangnya dari barisan propaganda Jepang. dan lain-lain kembali berkembang dengan mementaskan cerita dalam bahasa Indonesia. persoalan. Oya. Jawa. Setan. yaitu Anjar Asmara dan Kamajaya masih sempat berpikir bahwa perlu didirikan Pusat Kesenian Indonesia yang bertujuan menciptakan pembaharuan kesenian yang selaras dengan perkembangan zaman sebagai upaya untuk melahirkan kreasi – kreasi baru dalam wujud kesenian nasional Indonesia. Satiman Wirjosandjojo menulis drama berjudul Nyai Blorong. Sija. Sanusi Pane (Ketua). yang dipimpin oleh orang Jepang S. Ir Soekarno. yaitu Sanusi Pane menulis Kertajaya (1932) dan Sandyakalaning Majapahit (1933) Muhammad Yamin menulis Ken Arok dan Ken Dedes (1934). dan harapan serta misi mewujudkan Indonesia sebagai negara merdeka. dengan judul Si Bachil. Rombongan Sandiwara Bintang Surabaya menyuguhkan pementasan-pementasan dramanya dengan cara lama seperti pada masa Dardanella. dan Merah Delima. dan Dr. Tan Ceng Bok (Si Item). di rumah Bung Karno dibentuklah Badan Pusat Kesenian Indonesia dengan pengurus sebagai berikut. Fifi Young. yang sekaligus sebagai pemimpinnya. Badan Pusat Kesenian Indonesia bermaksud menciptakan kesenian Indonesia baru. Beberapa lakon yang ditulisnya antara lain.A Murdiati. Secara istimewa selingannya kemudian ditambah dengan mode show. Mr. yaitu Dewi Mada dengan suaminya Ferry Kok. Singgih menulis drama berjudul Hantu. Rombongan sandiwara Bintang Surabaya tampil dengan aktor dan aktris kenamaan. Krukut Bikutbi. yaitu di antara satu dan lain babak diselingi oleh tarian-tarian. pada tahun 1927 menulis dan menyutradarai teater di Bengkulu (saat di pengasingan). yang membebaskan puteri Bebasari dari niat jahat Rahwana. Segala daya kreasi seni secara sistematis di arahkan untuk menyukseskan pemerintahan totaliter Jepang. Dewi Mada.3 Teater Indonesia tahun 1940-an Semua unsur kesenian dan kebudayaan pada kurun waktu penjajahan Jepang dikonsentrasikan untuk mendukung pemerintahan totaliter Jepang. antara lain Astaman. Lakon-lakon ini ditulis berdasarkan tema kebangsaan. Pendekar Asia. Rombongan sandiwara Dewi Mada lebih mengutamakan tari-tarian dalam pementasan teater mereka karena Dewi Mada adalah penari terkenal . Dr.2. Air Mata Ibu (sudah difilmkan). Lakon ini menceritakan perjuangan tokoh utama Bujangga. Kris Bali. dengan peragawati gadis-gadis Indo Belanda yang cantik-cantik . Mis Ribut. Ratu Asia. Imam Supardi menulis drama dengan judul Keris Mpu Gandring. Maka pada tanggal 6 oktober 1942. Lakon Bebasari merupakan sastra drama yang menjadi pelopor semangat kebangsaan. yaitu Sendenbu yang membentuk badan perfilman dengan nama Djawa Eiga Kosy’. dengan bintang-bintang eks Bolero. Warna Sari. maupun Sunda. Penulis-penulis ini adalah cendekiawan Indonesia. di antaranya dengan jalan memperbaiki dan menyesuaikan kesenian daerah menuju kesenian Indonesia baru. Penulis lakon lainnya. Mis Tjitjih. Armijn Pane. Namun demikian. yang kesemuanya merupakan corong propaganda Jepang. dan Kama Jaya. Ali Yugo. dan sebagainya. dalam situasi yang sulit dan gawat serupa itu. Bahkan Presiden pertama Indonesia.

Garsia menempatkan deretan drumnya yang berbagai ukuran itu memenuhi lebih dari separuh panggung. Musim Bunga di Slabintana. Kama Jaya menulis lakon antara lain.2. Bentuk penyajian semacam ini di anggap kaku oleh penonton umum yang lebih suka unsur hiburan disajikan sebagai selingan babak satu dengan babak lain sehingga akhirnya dengan terpaksa rombongan sandiwara tersebut mengikuti selera penonton. dan Kama Jaya pada tanggal 6 April 1943. pengkhianatan. Amat Heiho. Solo di Waktu Malam dan Nusa Penida. Panggilan Tanah Air.sejak masa rombongan sandiwara Bolero. yaitu Penggemar Maya (1944) pimpinan Usmar Ismail. Cerita yang dipentaskan antara lain. Lakon Ibu Prajurit ditulis oleh Natsusaki Tani. Sendenbu menyiapkan naskah lakon yang harus dimainkan oleh setiap rombongan sandiwara karangan penulis lakon Indonesia dan Jepang. Pertumbuhan sandiwara profesional tidak luput dari perhatian Sendenbu. Hanya kalangan terpelajar yang menyukai pertunjukan Matahari yang menampilakan hiburan berupa tari-tarian pada awal pertunjukan baru kemudian dihidangkan lakon sandiwara dari awal hingga akhir. Nusa Penida. dan lain-lain.4 Teater Indonesia Tahun 1950-an Setelah tokohg kemerdekaan. Teater tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga untuk ekspresi kebudayaan berdasarkan kesadaran nasional dengan cita-cita menuju humanisme dan religiositas dan memandang teater sebagai seni serius dan ilmu pengetahuan. yaitu rombongan sandiwara yang digemari rakyat jelata. mereka merenungkan peristiwa tokohg kemerdekaan. kemunafikan. Bulan Punama. Rombongan sandiwara terkenal lainnya adalah rombongan sandiwara Sunda Mis Tjitjih. yang terkenal sebagi Raja Drum. dan D. lakon Nora karya Henrik Ibsen diterjemahkan dan judulnya diganti dengan Jinakjinak Merpati oleh Armijn Pane. penderitaan. Rosihan Anwar. ceritacerita yang dipentaskan antara lain. Si Bongkok. Ida Ayu. Para pemain tidak boleh menambah atau melebih-lebihkan dari apa yang sudah ditulis dalam naskah. Dalam perjalanannya. humanisme dan agama. Kelak. Huyung (Hei Natsu Eitaroo). keiklasan sendiri dan pengorbanan. Kotot Sukardi menulis lakon. dan lain-lain). juga sebaliknya. Kembang Kaca. Ni Parini. Jepang menugaskan Dr. ahli seni drama atas nama Sendenbu memprakarsai berdirinya POSD (Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa) yang beranggotakan semua rombongan sandiwara profesional. Sensor Sendenbu malah menjadi titik awal dikenalkannya naskah dalam setiap pementasan sandiwara. Pada saat inilah pengembangan ke arah pencapaian teater nasional dilakukan. apoteker. rombongan sandiwara ini terpaksa berlindung di bawah barisan propaganda Jepang dan berganti nama menjadi rombongan sandiwara Tjahaya Asia yang mementaskan ceritacerita baru untuk kepentingan propaganda Jepang. 1. Pecah Sebagai Ratna. keberanian dan nilai kemanusiaan. kepahlawanan dan tindakan pengecut. seorang keturunan Filipina. dan lain sebagainya. Lakon-lakon yang ditulis Anjar Asmara antara lain. Baru kemudian Muchsin sebagai pengusaha besar tertarik dan membiayai rombongan sandiwara Warna Sari. Benteng Ngawi. Djajakusuma dengan dukungan Suryo Sumanto. Oleh karena ada sensor Sendenbu maka lakon harus ditulis lengkap berikut dialognya. nasionalis dan para profesional (dokter. Penggemar Maya menjadi pemicu berdirinya Akademi Teater Nasional Indonesia di Jakarta. Kupu-kupu. Ia menabuh drum-drum tersebut sambil meloncat ke kanan – ke kiri sehingga menarik minat penonton. mendirikan rombongan sandiwara angkatan muda Matahari. Bahwa teori teater perlu dipelajari secara serius. Guna-guna. Solo di Waktu Malam. kekecewaan. Menjelang akhir pendudukan Jepang muncul rombongan sandiwara yang melahirkan karya ssatra yang berarti. Ratna Asmara. Kusumahadi. Dari semua lakon tersebut ada yang sudah di filmkan yaitu. Hei Natsu Eitaroo menulis Hantu. Keistimewaan rombongan sandiwara Warna Sari adalah penampilan musiknya yang mewah yang dipimpin oleh Garsia.2. Potong Padi. Peristiwa tokohg secara khas dilukiskan dalam . Pancaroba. Dewi Rani. peluang terbuka bagi seniman untuk merenungkan perjuangan dalam tokohg kemerdekaan. Bende Mataram. dan Jauh di Mata. dan Abu Hanifah dengan para anggota cendekiawan muda. Anjar Asmara. Kelompok ini berprinsip menegakkan nasionalisme. Sang Pek Engtay. dan Rencong Aceh. Hingga tahun 1943 rombongan sandiwara hanya dikelola pengusaha Cina atau dibiayai Sendenbu karena bisnis pertunjukan itu masih asing bagi para pengusaha Indonesia.2.

Sementara ada lakon yang bercerita tentang kekecewaan paska tokohg. Peristiwa penting dalam usaha membebaskan teater dari batasan realisme konvensional terjadi pada tahun 1967. melanjutkan apa yang sudah dilakukan Jim Lim yaitu mencampurkan unsur-unsur teater Barat dengan teater etnis. Wahyu Sihombing. Bib Bop dan Rambate Rate Rata (1967. Pada tahun 1960. tetapi juga di kota besar seperti Bandung. Pramana Padmadarmaya. Taman Ismail Marzuki menerbitkan 67 (enam puluh tujuh) judul lakon yang ditulis oleh 17 (tujuh belas) pengarang sandiwara. Ketika Rendra kembali ke Indonesia. 1960). 1956) Sekelumit Nyanyian Sunda (Nasyah Jamin. Himpunan Seni Budaya Surakarta (HBS) didirikan di Surakarta. Realisme konvensional dan naturalisme tampaknya menjadi pilihan generasi yang terbiasa dengan teater barat dan dipengaruhi oleh idiom Hendrik Ibsen dan Anton Chekhov. Pada tahun 1967 Jim Lim belajar teater dan menetap di Paris. Sedangkan metode pementasan dan pemeranan yang dikembangkan oleh ATNI adalah Stanislavskian. dan Chekov. Surabaya. Menyutradarai dengan gaya realistis tetapi isinya absurditas pada lakon Caligula (Albert Camus. Lakon Awal dan Mira (1952) tidak hanya terkenal di Indonesia. Sontani) dan Paman Vanya (Anton Chekhov). menjadi pemicu meningkatnya aktivitas.5 Teater Indonesia Tahun 1970-an Jim Adi Limas mendirikan Studiklub Teater Bandung dan mulai mengadakan eksperimen dengan menggabungkan unsur-unsur teater etnis seperti gamelan. 1955). menyelenggarakan festival pertunjukan secara teratur.2. Utuy Tatang Sontani dipandang sebagai tonggak penting menandai awal dari maraknya drama realis di Indonesia dengan lakon-lakonnya yang sering menyiratkan dengan kuat alienasi sebagai ciri kehidupan moderen. Yogyakarta. pertunjukan bermula dari improvisasi dan eksplorasi bahasa tubuh dan bebunyian mulut tertentu atas suatu tema yang diistilahkan dengan teater mini kata (menggunakan kata seminimal mungkin). dan kreativitas berteater tidak hanya di Jakarta. bahkan lakon adaptasi. Titik-titik Hitam (Nasyah Jamin. Gogol. salah satu aktor dan juga teman Jim Lim. Tahun 1962 Jim Lim menggabungkan unsur wayang kulit dan musik dalam karya penyutradaraannya yang berjudul Pangeran Geusan Ulun (Saini KM. melalaikan penderitaan korban tokohg. 1951). erosi ideologi.1968). tari topeng Cirebon. berdasarkan Justice karya John Galsworthy. Medan. dan lain-lain. Ujung Pandang. juga lokakarya dan diskusi teater secara . kemiskinan. 1945). longser. dan lain-lain. dan dagelan dengan teater Barat. oportunisme politis. Mengadaptasi lakon Hamlet dan diubah judulnya menjadi Jaka Tumbal (1963/1964). yaitu Awal dan Mira (Utuy T. Teguh Karya. Suyatna Anirun. Sayang Ada Orang Lain (1953) karya Utuy Tatang Sontani. Tatiek Malyati. (Misbach Yusa Biran) dengan gaya longser. Di Yogyakarta tahun 1955 Harymawan dan Sri Murtono mendirikan Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI). Islam dan Komunisme. Galib Husein. melainkan sampai ke Malaysia. ATNI menggalakkan dan memapankan realisme dengan mementaskan lakon-lakon terjemahan dari Barat. dan Biduanita Botak (Ionesco.2. ATNI inilah akademi teater modern yang pertama di Asia Tenggara. Padang. 1959). The Bespoke Overcoat (Wolf mankowitz ). Tema itu terungkap dalam lakon-lakon seperti Awal dan Mira (1952). 1962). teater rakyat Sunda. 1. Bermain dengan akting realistis dalam lakon The Glass Menagerie (Tennesse William.2. Karya penyutradaraanya. 1950). Badak-badak (Ionesco. seperti karyakarya Moliere. Jim Lim menyutradari Bung Besar. 1961).. Akan tetapi. Pakaian dan Kepalsuan oleh Akhdiat Kartamiharja (1956) berdasarkan The Man In Grey Suit karya Averchenko dan Hanya Satu Kali (1956). 1954). Menurut Brandon (1997). Alumni Akademi Teater Nasional yang menjadi aktor dan sutradara antara lain. gubernur DKI jakarta tahun1970. seperti korupsi. Kapten Syaf (Aoh Kartahadimaja. Kedua seniman teater Barat dengan idiom realisme konvensional ini menjadi tonggak didirikannya Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) pada tahun 1955 oleh Usmar Ismail dan Asrul Sani. Rendra mendirikan Bengkel Teater Yogya yang kemudian menciptakan pertunjukan pendek improvisatoris yang tidak berdasarkan naskah jadi (wellmade play) seperti dalam drama-drama realisme. Didirikannya pusat kesenian Taman Ismail Marzuki oleh Ali Sadikin.lakon Fajar Sidik (Emil Sanossa. Pertahanan Akhir (Sitor Situmorang. Palembang. dan Kasim Achmad. Pertunjukannya misalnya. Pada akhir 1950-an JIm Lim mulai dikenal oleh para aktor terbaik dan para sutradara realisme konvensional.

2. kostum dan verbalisme naskah. Teater Melarat Malang). Di Makasar. Wahyu Sihombing. Teater Sae yang berbeda sikap dalam menghadapi naskah yaitu posisinya sejajar dengan cara-cara pencapaian idiom akting melalui eksplorasi latihan. Sanggar Suroboyo. dan Orde Tabung. ISI menjadi satu-satunya perguruan tinggi seni yang memiliki program Strata 1 untuk bidang seni teater pada saat itu. Di Medan muncul Teater Que dan di Palembang muncul Teater Potlot. D. Di Surabaya ada Festival Drama Lima Kota yang digagas oleh Luthfi Rahman. Ada pula Teater Luka. Beberapa jenis festival di Yogyakarta. Meh. Menampilkan manusia sebagai gerombolan dan aksi. Pramana Padmodarmaya (Teater Lembaga). Di Jakarta dikenal dengan Festival Teater Jakarta (sebelumnya disebut Festival Teater Remaja). Di Tegal lahir teater RSPD. Noor (Teater Kecil) dengan gaya pementasan yang kaya irama dari blocking. Adi Kurdi (Teater Hitam Putih). Di Yogyakarta Azwar AN mendirikan teater Alam. Teguh Karya (Teater Populer). Pasar Seret. 1. Teater Api. Teater Ragil.6 Teater Indonesia Tahun 1980 – 1990-an Tahun 1980-1990-an situasi politik Indonesia kian seragam melalui pembentukan lembaga-lembaga tunggal di tingkat nasional. Di Surabaya muncul bentuk pertunjukan teater yang mengacu teater epik (Brecht) dengan idiom teater rakyat (kentrung dan ludruk) melalui Basuki Rahmat. Teater Kubur. Sinden. Lalu Teater Nasional Medan didirikan oleh Djohan A Nasution dan Burhan Piliang. Luthfi Rahman. Aktivitas teater kampus mampu menghidupkan dan membuka kemungkinan baru gagasan-gagasan artistik. Hasyim Amir (Bengkel Muda Surabaya. Teater Tobong. Fokus tidak terletak pada aktor tetapi gerombolan yang menciptakan situasi dan aksi sehingga lebih dikenal sebagai teater teror. Akhudiat. Teater Gandrik menonjol dengan warna teater yang mengacu kepada roh teater tradisional kerakyatan dan menyusun berita-berita yang aktual di masyarakat menjadi bangunan cerita. Dari Festival Teater Jakarta muncul kelompok teater seperti. vokal. Teater Bandar Jakarta. Putu Wijaya (teater Mandiri) dengan ciri penampilan menggunakan kostum yang meriah dan vokal keras. dan Teater Kami yang lahir di luar produk festival (Afrizal Malna. di antaranya Festival Seni Pertunjukan Rakyat yang diselenggarakan Departemen Penerangan Republik Indonesia (1983). Ikranegara (Teater Saja). Djajakusuma. dan Teater Payung Hitam. Kholiq Dimyati dan Mukid F. Teater Lektur. Di Semarang muncul Teater Lingkar. Kontrangkantring. di Solo ada juga Teater Gidag-gidig.2. Di Padang ada Wisran Hadi dengan teater Padang. Pada saat itu lahirlah kelompok-kelompok teater baru di berbagai kota di Indonesia.umum atau khusus. Tokoh-tokoh teater yang muncul tahun 1970-an lainnya adalah. tata cahaya. Salah satu teater kampus yang menonjol adalah teater Gadjah Mada dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.2. Teater Jeprik. Di Bandung muncul Teater Bel. Rahman Arge dan Aspar Patturusi mendirikan Teater Makasar. Festival Drama Lima Kota Surabaya memunculkan Teater Pavita. Upeti. Di samping Gapit. Tidak hanya Stanislavsky tetapi nama-nama seperti Brecht. Mohammad Diponegoro dan Syubah Asa mendirikan Teater Muslim. Salah satu lakonnya berjudul Tuk. Arifin C. Teater Kanvas. N. dan Teater Gandrik. . Teater Institut. Dhemit. Teater Tetas selain teater Studio Oncor.1999). Teater Nol. Jurusan teater dibuka di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada tahun 1985. Riantiarno (Teater Koma) dengan ciri pertunjukan yang mengutamakan tata artistik glamor. Danarto (Teater Tanpa Penonton). musik. Teater Tikar. Lakon yang dipentaskan antra lain. Artaud dan Grotowsky juga diperbincangkan. Di Yogyakarta muncul Teater Dynasti. Teater Rajawali. Aktivitas teater terjadi juga di kampus-kampus perguruan tinggi. Ditiadakannya kehidupan politik kampus sebagai akibat peristiwa Malari 1974. Di Solo (Surakarta) muncul Teater Gapit yang menggunakan bahasa Jawa dan latar cerita yang meniru lingkungan kehidupan rakyat pinggiran. Dalam latar situasi seperti itu lahir beberapa kelompok teater yang sebagian merupakan produk festival teater. Dewan-dewan Mahasiswa ditiadakan. Teater Republik. Teater Shima.

Dengan demikian. kemungkinan ekspresi artistik dikembangkan dengan gaya khas masing-masing seniman.2. Gerakan ini terus berkembang sejak tahun 80.1. wilayah jelajah ekspresi menjadi semakin luas dan kemungkinan bentuk garap semakin banyak . Semangat kolaboratif yang terkandung dalam seni teater dimanfaatkan secara optimal dengan menggandeng beragam unsur pertunjukan yang lain.7 Teater Kontemporer Indonesia Teater Kontemporer Indonesia mengalami perkembangan yang sangat membanggakan. Sejak munculnya eksponen 70 dalam seni teater.an sampai saat ini. Meksipun seni teater konvensional tidak pernah mati tetapi teater eksperimental terus juga tumbuh. Konsep dan gaya baru saling bermunculan.2.2.

Kedua.Dasar-dasar Teater (2/6): Seni Sastra dalam Teater Teater memiliki sekurang-kurangnya empat unsur penting dalam setiap pementasan. tetapi semakin lama semakin gawat sehingga akhirnya ia sampai ke puncak yang disebut klimaks. pemain adalah orang yang membawakan lakon tersebut. bisa berwujud sebuah naskah atau skenario tertulis. apa yang dialami. central idea. Adhy Asmara (1983) menyebut tema sebagai premis yaitu rumusan intisari cerita sebagai landasan ideal dalam menentukan arah tujuan cerita. konlfik hingga penyelesaian. Pengarang adalah seorang warga masyarakat yang tentunya mempunyai pendapat tentang masalah-masalah politik dan sosial yang penting serta mengikuti isu-isu zamannya (Rene Wellek dan Austin Warren. yaitu pertama. Sementara. tetapi juga menyampaikan suatu pesan tentang persoalan kehidupan manusia. berliku. driving force dan sebagainya. konflik. sutradara sebagai penata pertunjukan di panggung. Pesan itu bisa mengenai kehidupan lahiriah maupun batiniah. tokoh atau tokoh yang terlibat dalam kejadiankejadian dalam lakon. Jadi. konflik yang berat. mungkin juga sebuah keadaan (Robert Cohen. dia mempunyai kepekaan terhadap lingkungan sekelilingnya. Lakon ditulis oleh seorang penulis naskah lakon berdasarkan apa yang dilihat. sehingga pada puncaknya masuk ke dalam penyelesaian cerita. Tema bisa juga disebut muatan intelektual dalam sebuah permainan. kalau ada anggapan bahwa semakin rumit konflik lakon semakin menarik adalah anggapan yang salah. pesan atau pandangan terhadap persoalan yang ada dijadikan ide sentral atau tema dalam menulis naskah lakonnya. Tidak ada acuan yang pasti terhadap konflik dalam lakon yang dapat membuat cerita menjadi menarik. Ketika tema tidak terumuskan dengan jelas maka lakon tersebut akan kabur dan tidak jelas apa yang hendak disampaikan. 1989). ide utama atau pesan. thought. Konflik dalam lakon merupakan inti cerita. Tokoh adalah orang yang menghidupkan kejadian atau peristiwa yang dibuat oleh penulis naskah. Jalinan cerita menuju konflik dan cara penyelesainnya inilah yang menjadikan lakon menarik. Ketiga. Penting sekali bahwa dalam menyusun kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa seorang penulis haruslah bersabar untuk melangkah dari satu kejadian ke kejadian lain dalam suatu perkembangan yang logis. Tidaklah menarik sebuah cerita disajikan di atas panggung tanpa adanya konflik. Dalam lakon akan dijumpai dua hal yang sangat penting. penonton adalah sekelompok orang yang menyerahkan sebagian dari kemerdekaannya untuk menjadi bagian dari tokoh yang tampil dalam suatu lakon dan menikmatinya. Gagasan utama atau pesan lakon termaktub dalam konflik yang merupakan pertentangan antara satu pihak terhadap pihak lain mengenai sesuatu hal. Akan tetapi.1 Tema Tema ada yang menyebutnya sebagai premis. 1983). karena tema merupakan sasaran yang hendak dicapai oleh seorang penulis lakon. yaitu konflik dan tokoh yang terlibat dalam kejadian. Peristiwa lakon tersebut menuntun seseorang untuk mengikuti laku kejadian mulai dari pemaparan. Ide-ide. goal. Peristiwa atau kejadian dibuat oleh penulis naskah sebagai kerangka besar yang mendasari terjadinya suatu lakon. Keunggulan dari seorang pengarang ialah. 2. yaitu pertama. karena peristiwa yang mengarahkan cerita kepada konflik membutuhkan tokoh sebagai pelaku. Penulis kemudian menyusun rangkaian kejadian. ini mungkin bisa diuraikan sebagai keseluruhan pernyataan dalam sebuah permainan: topik. dan dari lingkungan tersebut dia menyerap segala persoalan yang menjadi ide-ide dalam penulisan lakonnya. aim. semakin lama semakin rumit. Pengarang atau penulis lakon menciptakan sebuah lakon bukan hanya sekedar mencipta. Jadi dalam lakon ada dua hal penting yang diciptakan oleh seorang penulis lakon. root idea. Seorang penulis terkadang mengemukakan tema dengan jelas tetapi ada juga yang secara tersirat. 1994). dan apa yang dibaca atau diceritakan kepadanya oleh orang lain. Keempat. skenario tak tertulis (dalam teater kerakyatan). tema harus dirumuskan dengan jelas. Tema adalah suatu amanat utama yang disampaikan oleh pengarang atau penulis melalui karangannya (Gorys Keraf. Dengan demikian bisa ditarik kesimpulan . Kedua. Konflik dalam lakon bisa rumit bisa juga sederhana. dan bercabang-cabang jika tidak disajikan secara baik justru akan membosankan dan membuat laku lakon menjadi lamban. lakon atau cerita yang ditampilkan. Terkadang konflik yang kecil dan sederhana jika diselesaikan secara cerdas akan membuat penonton takjub.

lalim.. kendalikan lidahmu sedikit. dan harus dipuji. Tema dalam naskah lakon ada yang secara jelas dikemukakan dan ada yang samar-samar atau tersirat. dialog kecil memiliki arti yang luas dan sanggup mempengaruhi tema cerita. gagasan atau pesan yang ada dalam naskah lakon dan ini menentukan arah jalannya cerita. Kadangkadang. Misalnya... Tema sebuah lakon bisa tunggal dan bisa juga lebih dari satu. KENT : Silakan.. Atas sikapnya itu Raja Lear menuai hasil. nanti kuhambat untungmu…. kalau tidak. Masing-masing tokoh mengucapkan kalimat dialognya. tetapi karena sikapnya yang keras maka ia juga dibenci.. meski dibuang. * Raja Lear marah-marah dan mengusir bawahannya ketika ada yang menentang. Misalnya. petir dahsyat yang pesat. Dialog yang disampaikan tokoh dapat dijadikan acuan untuk menganalisis tema lakon. * Raja Lear marah-marah ketika tidak dilayani hidupnya pada anak yang semula disayangi. Semua analisis lakon dikerjakan dengan mencermati kalimat dialog tersebut serta hubungan antara kalimat satu dengan yang lain. cepat menyambar-nyabar? Bagai prajurit yang terbuang.2 Plot .. Bunuhlah tabib tuan. Sekarang kulempar tiap kewajiban orang tua. mulai kini sampai selamanya kaulah asing bagiku dan bagi hatiku…………………. ternyata paling kaya meski miskin. Perhatikan kutipan dialog di bawah ini. Melalui laku atau aksi tokoh dalam lakon yang biasanya diterangkan (dituliskan) dalam arahan lakon gambaran tema semakin jelas. Ah wajah benginikah dipaksa menempuh pergolakan badai? Dan melawan guntur bercakra garang. Dengan merangkai setiap persoalan melalui dialog para tokohnya maka gambaran tema akan didapatkan.. Dalam lakon Raja Lear.. berjaga dengan topi tipis ini? Anjing musuhku pun... CORDELIA : Andaikan bukan seorang ayah. Tema dapat diketahui dengan dua cara : * Apa yang diucapkan tokoh-tokohnya melalui dialog-dialog yang disampaikan. LEAR : …………. walau menggigit aku. yaitu kehancuran diri dan keluarganya. LEAR : ………………. Batalkan anugerah tuan. Dari kutipan dialog dan laku serta perbuatan tokoh dalam lakon Raja Lear di atas bisa ditarik sebuah kejelasan bahwa Raja Lear adalah orang yang gila hormat.bahwa tema adalah ide dasar. tercinta meski dihina. rangkung saya berteriak meyerukan tuanlah lalim……… RAJA TOKOHCIS : Cordelia jelita. supaya hama jahat berupah. * Anak-anak Raja Lear yang disayangi berubah memusuhi orang tuanya sehingga Raja Lear sakit... dalam kalimat dialog Raja Lear dapat ditarik satu simpulan bahwa meskipun sebagai raja ia disegani oleh anak-anaknya. tidak bijaksana. * Apa yang dilakukan tokoh-tokohnya. 2. laku tokoh dapat memberikan penjelasan sebagai berikut. lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo. * Raja Lear murka pada Cordelia karena tidak memujinya.. Dari dialog tersebut dapat diketahui perihal atau soalan yang dibahas. Dengan berpedoman dua hal tersebut analisis tema lakon dapat dikerjakan.. terpillih meski. Laku aksi memberikan penegasan kalimat dialog.. namun uban ini sudah menuntut belas-kasih. Jika hanya membaca cerita secara keseluruhan tanpa meninjau kalimat dialog dengan teliti maka hasil akhir dari analisis yang dilakukan belum tentu benar. * Raja Lear membagi kerajaan pada ketiga anaknya sesuai dengan pujian yang disampaikan anaknya. di malam begitu takkan kuusir untuk dari tempat berdiang……………….. tiap pertalian keluarga dan darah.. Detil tema selalu dapat ditemukan dari baris-baris kalimat dialog tokoh cerita.

Plot lakon banyak sekali ragamnya tergantung dari penulis lakon mempermainkan emosi kita. Secara umum pembagian plot terkadang menggunakan tipe sebab akibat yang dibagi dalam lima pembagian sebagai berikut. Hal ini berhubungan dengan pola pengadeganan dalam permainan teater. Seorang penulis seringkali meletakkan berbagai informasi penting pada bagian awal lakon. Plot atau alur menurut Hubert C.1 Jenis Plot Ketika menonton atau melihat atau membaca sebuah lakon fiksi maka emosi kita akan terpengaruh dengan apa yang kita tonton. bagian tengah. Cuddon dalam Dictionary of Literaray Terms (1977). Emosi ini timbul karena terpengaruh oleh jalinan peristiwaperistiwa dan jalannya cerita yang ditulis oleh penulis. dan bagaimana peristiwa itu terjadi. misalnya tempat lakon tersebut terjadi. Bagian ini merupakan kejadian akhir dari lakon dan terkadang memberikan jawaban atas segala persoalan dan konflik-konflik yang terjadi.Plot (ada yang menyebutnya sebagai alur) dalam pertunjukan teater mempunyai kedudukan yang sangat penting. pengawas utama dimana seorang penulis naskah dapat menentukan bagaimana cara mengatur lima bagian yang lain. plot atau alur adalah kontruksi atau bagan atau skema atau pola dari peristiwa-peristiwa dalam lakon. Plot menurut Panuti Sudjiman dalam bukunya Kamus Istilah Sastra (1984) memberi batasan adalah jalinan peristiwa di dalam karya sastra (termasuk naskah drama atau lakon) untuk mencapai efek-efek tertentu. Sellman dalam Modern Theatre Practice (1963).A. atau baca tersebut. yang menggerakkan jalan cerita melalui perumitan (penggawatan atau komplikasi) ke arah klimaks penyelesaian. pelaku-pelakunya. * Resolusi adalah proses penempatan kembali kepada suasana baru. Jadi plot berfungsi sebagi pengatur seluruh bagian permainan. Heffner. Plot atau alur adalah rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama. * Krisis adalah penjelasan yang terperinci dari perjuangan karakter-karakter atau satu karakter untuk mengatasi konflik. Menurut J. Pada bagian tengah biasanya berisi tentang kejadian-kejadian yang bersangkut paut dengan masalah pokok yang telah disodorkan kepada penonton dan membutuhkan jawaban. tema. Pautannya dapat diwujudkan oleh hubungan temporal (waktu) dan oleh hubungan kausal (sebab-akibat). * Klimaks adalah proses identifikasi atau proses pengusiran dari rasa tertekan melalui perbuatan yang mungkin saja sifatnya jahat. Jadi plot merupakan susunan peristiwa lakon yang terjadi di atas panggung. Samuel Selden dan Hunton D. 2. lihat. yaitu karakter.2. Plot merupakan jalannya peristiwa dalam lakon yang terus bergulir hinga lakon tersebut selesai. dan merupakan dasar struktur irama keseluruhan permainan. dan spektakel. dan bagian akhir. Plot dapat dibagi berdasarkan babak dan adegan atau berlangsung terus tanpa pembagian. * Eksposisi adalah saat memperkenalkan dan membeberkan materi-materi yang relevan atau memberi informasi pada penonton tentang masalah yang dialami atau konflik yang terjadi dalam diri karakter-karakter yang ada di lakon. bagian awal. waktu kejadiannya. Pembagian plot dalam lakon klasik atau konvensional biasanya sudah jelas yaitu. Jalinan peristiwa dan jalannya cerita inilah yang dimaksud dengan plot. musik. * Aksi Pendorong adalah saat memperkenalkan sumber konflik di antara karakter-karakter atau di dalam diri seorang karakter. Secara sederhana plot dapat dibagi menjadi dua yaitu simple plot (plot yang sederhana) dan multi plot (plot yang lebih dari satu) . Bagian akhir berisi tentang satu persatu pertanyaan penonton terjawab atau sebuah lakon telah mencapai klimaks besar. diksi. atau argumentative atau kejenakaan atau melalui cara-cara lain. Plot juga berfungsi sebagai bagian dasar yang membangun dalam sebuah teater dan keseluruhan perintah dari seluruh laku maupun semua bagian dari kenyataan teater serta bagian paling penting dan bagian yang utama dalam drama atau teater. ialah seluruh persiapan dalam permainan. puisi atau prosa dan selanjutnya bentuk peristiwa dan perwatakan itu menyebabkan pembaca atau penonton tegang dan ingin tahu.

Jalinan jalan cerita dalam lakon bergerak mulai dari awal sampai akhir tanpa ada kilas balik. Contoh lakon dengan alur mundur adalah Opera Primadona karya Nano Riantiarno yang dimainkan oleh Teater Koma. Alur lurus atau straight plot hampir sama dengan alur maju.2 Anatomi Plot Menurut Rikrik El Saptaria (2006). Alur ini merupakan kebalikan dari progressive plot.2.2. Plot linear adalah alur cerita mulai dari awal sampai akhir cerita bergerak lurus sedangkan linear-circular adalah alur cerita mulai dari awal sampai akhir bergerak lurus secara melingkar sehingga awal dan akhir cerita akan bertemu dalam satu titik. Multi plot ini terdiri dari dua tipe yaitu alur episode atau episodic plot dan alur terpusat atau concentric plot. plot atau alur cerita merupakan rangkaian peristiwa yang satu dengan yang lain dihubungkan dengan hukum sebab akibat. Alur menanjak atau rising plot adalah alur dengan emosi lakon mulai dari tingkat emosi yang paling rendah menuju tingkat emosi lakon yang paling tinggi. di mana setiap episode memiliki alur cerita sendiri.1. alur maju atau progressive plot. tema. dan alur melingkar atau circular plot. Simple plot ini terdiri dari plot linear dan linear-circular. bagian 5 menit pertama yang sengaja dibuat menarik untuk memikat penikmat * Fore Shadowing. Alur episode atau episodic plot adalah plot cerita yang terdiri dari bagian perbagian secara mandiri. tokoh. Contoh lakon dengan alur episode atau episodic plot adalah lakon Panembahan Reso karya W. Alur mundur atau regresive plot adalah alur cerita yang dimulai dari inti cerita kemudian dipaparkan bagaimana sampai terjadi peristiwa tersebut. Alur ini adalah alur cerita paling umum pada alur lakon. alur mundur atau regressive plot. Plotplot yang ada dalam cerita tersebut memiliki permasalah yang harus diselesaikan. Alur menurun atau falling plot adalah alur dengan emosi lakon mulai dari tingkat emosi yang paling tinggi menuju tingkat emosi lakon yang paling rendah. Dengan demikian plot memiliki anatomi atau bagian-bagian yang menyusun plot tersebut yang disebut dengan anatomi plot sebagai berikut. Setiap episode dalam lakon tersebut sebenarnya tidak ada hubungan sebab akibat dalam rangkaian cerita.2 Multi Plot Multi plot adalah lakon yang memiliki satu alur utama dengan beberapa sub plot yang saling bersambungan. . Alur maju atau progresive plot adalah alur cerita yang dimulai dari pemaparan peristiwa lakon sampai menuju inti peristiwa lakon.2.S. Rendra. terdiri dari alur menanjak atau rising plot. Pengungkapan ini lewat jalinan peristiwa yang baik sehingga menciptakan dan mampu menggerakkan alur cerita itu sendiri. dan biasanya tidak disadari oleh tokoh tersebut. dimana pada akhir cerita semua tokoh yang terlibat dalam cerita yang terpisah tadi akhirnya menyatu guna menyelesaikan cerita. Tetapi pada akhir cerita alur cerita yang terdiri dari episodeepisode ini akan bertemu. 2. Plot disusun oleh pengarang dengan tujuan untuk mengungkapkan buah pikirannya yang secara khas.1. Concentric plot adalah cerita lakon yang memiliki beberapa plot yang berdiri sendiri. Alur linear ini masih bisa dibagi-bagi lagi sesuai dengan sifat emosi yang terkandung dari plot linear ini. alur menurun atau falling plot. Alur ini merupakan kebalikan dari alur menanjak atau rising plot. dan tanpa disadari akan menimpa dirinya sendiri. alur lurus atau straight plot. Raja Lear karya William Shakespeare dan lain-lain. * Gimmick.2. Dalam lakon banyak dijumpai tokoh-tokoh ini. * Dramatic Irony. 2. aksi seorang tokoh yang berkata atau bertindak sesuatu. pembayangan ke depan yang terjadi ketika tokoh meramalkan atau membayangkan keadaan yang akan datang.1 Simple Plot Simple plot atau plot lakon yang sederhana adalah lakon yang memiliki satu alur cerita dan satu konflik yang bergerak dari awal sampai akhir.

1997). aksi atau ucapan tokoh utama yang beritikad tentang sesuatu persoalan yang menimbulkan pertentangan atau konflik antartokoh. karena memang bukan persoalan scenery yang hendak dibahas. tetapi kilas balik pada film biasanya berupa nukilannukilan gambar. tetapi kadang tidak diberikan oleh penulis . Kilas balik biasanya diceritakan melalui dialog tokoh. bulan. Pertanyaan untuk setting atau latar cerita adalah kapan dan dimana persitiwa terjadi. tetapi bisa sebagai bahan dasar dari pertunjukan. Kilas balik ini berfungsi untuk mengingatkan kembali ingatan penonton pada peristiwa yang telah lampau tetapi masih dalam satu rangkaian peristiwa lakon. Suspen ini biasanya diciptakan dan dijaga oleh penulis lakon dari awal sampai akhir cerita. Seperti diketahui bahwa sifat dari naskah lakon bisa berdiri sendiri sebagai bahan bacaan sastra. Kalau cerita itu bisa ditebak oleh penonton maka perhatian penonton akan berkurang dan menganggap pertunjukan tersebut tidak menyuguhkan sesuatu untuk dipikirkan.3. 2. Namun peristiwa yang diharapkan tersebut. atau sore hari? Jika terjadi dalam ruang lalu di mana letak ruang itu. berisi dugaan dan prasangka yang dibangun dari rangkaian ketegangan yang mengundang pertanyaan dan keingintahuan penonton. Dalam sebuah lakon terkadang dijumpai aksi-aksi yang seperti ini dan akan menimbulkan suatu rasa simpati penonton kepada korbannya. Analisis ini perlu dilakukan guna memberi suatu gambaran pada penonton tentang tempat peristiwa itu terjadi. Sebagai bahan bacaan sastra. pada akhirnya mengarah ke sesuatu yang tidak disangka-sangka sebelumnya.2.* Flashback. Hal ini akan menyebabkan kualitas pertunjukan dinilai tidak terlalu bagus.3 Setting Membicarakan tentang setting dalam mengkaji lakon tidak ada kaitan langsung dengan tata teknik pentas. * Gestus. Peristiwa dalam lakon adalah peristiwa fiktif yang menjadi hasil rekaan penulis lakon. di dalam gedung atau di dalam rumah? Jam berapa kira-kira terjadi? Tanggal. Dengan menimbulkan pertanyaanpertanyaan ini penonton akan betah mengikuti cerita sampai selesai. suatu peristiwa yang terjadi diluar dugaan penonton sebelumnya dan memancing perasaan dan pikiran penonton agar menimbulkan dugaan-dugaan yang tidak pasti.2. interpretasi tempat kejadian peristiwa ini terletak pada keterangan yang diberikan oleh penulis naskah lakon dan dalam imajinasi pembaca. * Suspen. Menurut Aristoteles peristiwa dalam lakon adalah mimesis atau tiruan dari kehidupan manusia keseharian. Pertanyaan tidak serta merta dijawab secara global tetapi harus lebih mendetil untuk mengetahui secara pasti waktu dan tempat kejadiannya. Kalau pemeran atau sutradara tidak cermat dalam menganalisisnya maka kemungkinan suspen terlewati dan tidak tergarap dengan baik. dan tahun berapa? Apakah waktu kejadiannya berkaitan dengan waktu kejadian peristiwa di adegan lain. kilas balik peristiwa lampau yang dikisahkan kembali pada saat ini. Analisis setting lakon ini merupakan suatu usaha untuk menjawab sebuah pertanyaan apakah peristiwa terjadi di luar ruang atau di dalam ruang? Apakah terjadi pada waktu malam. * Surprise. Suspen akan menumbuhkan dan memelihara keingintahuan penonton dari awal sampai akhir cerita. Suspen ini biasanya dibangun melalui dialog-dialog serta laku para tokoh yang ada dalam naskah lakon. Sedangkan sebagai bahan dasar pertunjukan.1 Latar Tempat Latar tempat adalah tempat yang menjadi latar peristiwa lakon itu terjadi. 2. karena semuanya sudah bisa ditebak oleh penonton. pagi hari. Gambaran tempat peristiwa dalam lakon kadang sudah diberikan oleh penulis lakon. supaya penonton bertanya-tanya apa akibat yang ditimbulkan dari peristiwa sebelumnya ke peristiwa selanjutnya. Analisis ini juga sangat penting dilakukan karena berhubungan dengan tata teknik pentas. tempat peristiwa ini harus dikomunikasikan atau diceritakan oleh para pemeran sebagai komunikator kepada penonton. atau sudah lain hari? Pertanyaan-pertanyaan seputar waktu dan tempat kejadian ini akan memberikan gambaran peristiwa lakon yang komplit (David Groote.

Lakon pada waktu itu mengambil latar peristiwa pada Zaman Tokohg Revolusi di Indonesia. Karakterisasi atau perwatakan dalam sebuah lakon memegang tokohan yang sangat penting. Tanpa perwatakan tidak akan ada cerita.3 Latar Peristiwa Latar peristiwa adalah peristiwa yang melatari adegan itu terjadi dan bisa juga yang melatari lakon itu terjadi.lakon. Analisis latar waktu yang dilakukan oleh sutradara biasanya berhubungan dengan tata teknik pentas. Padahal ketidaksamaan watak akan melahirkan pergeseran. Tugas seorang sutradara dan`pemeran ketika menghadapi sebuah naskah lakon adalah menginterprestasi latar waktu dalam lakon tersebut. Latar peristiwa pada adegan atau lakon adalah peristiwa yang mendahului adegan atau lakon tersebut. atau yang mengakibatkan adegan atau lakon itu terjadi. Zaman Romantik. Adjib Hamzah. 2. musim dingin dan lain-lain). 2.2 Latar Waktu Latar waktu adalah waktu yang menjadi latar belakang peristiwa. Latar peristiwa yang nyata digunakan oleh penulis lakon untuk menggambar peristiwa yang terjadi secara nyata pada waktu itu sebagai dasar dari lakonnya. musim kemarau. Jika proses identifikasi ini berhasil.3. Analisis latar tempat dapat dilakukan dengan mencermati dialog-dialog tokoh yang sedang berlangsung dalam satu adegan. pagi. Bahkan Lajos Egri berpendapat bahwa berperwatakanlah yang paling utama dalam lakon. penata artistik akan menata perabot dan mendekorasi pementasan sesuai dengan latar waktu. Suatu misal kita mengidentifisasi satu tokoh. 2. adegan awal pada lakon. sore). Perbedaan-perbedaan tokoh ini diharapkan akan diidentifikasi oleh penonton. Misalnya. maka perasaan penonton akan merasa terwakili oleh perasaan tokoh yang diidentifikasi tersebut.4 Karakterisasi Karakterisasi merupakan usaha untuk membedakan tokoh satu dengan tokoh yang lain.`adegan.2. lakon Raja Lear. tetapi banyak latar`waktu ini tidak diberikan oleh penulis lakon. dan waktu yang menunjukkan suatu zaman atau abad (Zaman Klasik. babak atau dalam keseluruhan lakon tersebut. Lakon-lakon dengan latar peristiwa yang riil juga terjadi pada lakonlakon di Indonesia pada tahun 1950 sampai tahun 1970. Analisis latar waktu bisa dilakukan dengan mencermati dialog-dialog yang disampaikan oleh tokoh dalam adegan atau babak yang sedang berlangsung.1 Jenis-jenis Tokoh . zaman tokohg dan lain-lain). sedangkan yang dilakukan oleh pemeran biasanya berhubungan dengan akting dan bisnis akting. Misalnya.4. Latar waktu terkadang sudah diberikan`atau sudah diberi rambu-rambu oleh penulis lakon. 1985). dan babak itu terjadi. berbarti kita telah mengadopsi pikiran-pikiran dan perasaan tokoh tersebut menjadi perasaan dan pikiran kita. yaitu seolah-olah terjadi kiamat karena lakon ini dialegorikan sebagai kiamat kecil.2. Misalnya. malam.3. Latar peristiwa ini bisa sebagai realita bisa juga fiktif yang menjadi imajinasi penulis lakon. 2.2. mungkin saja William Shakespeare terinspirasi oleh bencana yang melanda Inggris pada waktu itu. Analisis latar waktu perlu dilakukan baik oleh seorang sutradara maupun oleh pemeran. tabrakan kepentingan. waktu yang menunjukkan sebuah musim (musim hujan. tanpa perwatakan tidak bakal ada plot. Latar waktu dalam naskah lakon bisa menunjukkan waktu dalam arti yang sebenarnya (siang.2. konflik yang akhirnya melahirkan cerita (A. Dengan menggetahui latar waktu yang terjadi pada maka semua pihak akan bisa mengerjakan lakon tersebut.

Tokoh protagonis dan antagonis harus memungkinkan menjalin pertikaian. teatrikal. Ketika masih kecil dia bereksplorasi dengan dirinya sendiri untuk mengetahui perkembangan dirinya. Keberadaan tokoh adalah untuk mengatasi persoalan-persoalan yang muncul ketika mencapai suatu citacita. Kedua tokoh inilah yang menentang perkembangan. tokoh Perwira. Penokohan ini biasanya didahului dengan menganalisis tokoh tersebut sehingga bisa dimainkan. round charakter. tokoh Tumenggung Kent. Contoh. Contoh tokoh protagonis pada lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo adalah tokoh Raja Lear itu sendiri. dan pertikaian itu harus berkembang mencapai klimaks. yaitu flat character. Tokoh-tokoh tersebut adalah sebagai berikut. Tokoh antagonis harus memiliki watak yang kuat dan kontradiktif terhadap tokoh protagonis. bisa juga karena kekurangan dirinya sendiri.2. Contoh. 2. Contoh tokoh antagonis pada lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo adalah tokoh Gonerill dan tokoh Regan. Menurut Rikrik El Saptaria (2006). bisa dari alam. Persoalan ini bisa dari tokoh lain. * Deutragonis Deutragonis adalah tokoh lain yang berada di pihak tokoh protagonis. Contoh. * Tritagonis Tritagonis adalah tokoh penengah yang bertugas menjadi pendamai atau pengantara protagonis dan antagonis. Biasanya tokoh ini mewakili jiwa penulis. Konflik dapat dikembangkan oleh penulis lakon melalui ucapan dan tingkah laku tokoh. * Foil Foil adalah tokoh yang tidak secara langsung terlibat dalam konflik yang terjadi tetapi ia diperlukan guna menyelesaikan cerita. tokoh dapat dibagi-bagi sesuai dengan motivasi-motivasi yang diberikan oleh penulis lakon. sedangkan penokohan adalah proses kerja untuk memainkan tokoh yang ada dalam naskah lakon. keinginan. Biasanya dia berpihak pada tokoh antagonis. jenis karakter dalam teater ada empat macam. dan ketika sudah dewasa maka pribadinya berkembang melalui hubungan dengan lingkungan sosial. Jadi perkembangan karakter seharusnya mengacu pada pribadi manusia. * Protagonis Protagonis adalah tokoh utama yang merupakan pusat atau sentral dari cerita. Karakter tokoh dalam lakon mengacu pada pribadi manusia yang berkembang sesuai dengan perkembangan lingkungan. karena dia seringkali menjadi musuh yang menyebabkan konflik itu terjadi. Tokoh ini ikut mendukung menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh tokoh protaganis. Curan dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. Dia adalah pengawal dari Cordelia.2 Jenis Karakter Karakter adalah jenis tokoh yang akan dimainkan. Edgar. yang merupakan akumulasi dari pengalaman-pengalaman dan interaksi-interaksi yang dilakukannya dan terus . Dalam teater. Contoh:tokoh Badut dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. dan karikatural.4. * Utility Utility adalah tokoh pembantu atau sebagai tokoh pelengkap untuk mendukung rangkaian cerita dan kesinambungan dramatik.Tokoh merupakan sarana utama dalam sebuah lakon. * Antagonis Antagonis adalah tokoh lawan. dan cita-cita Raja Lear. * Flat Character (perwatakan dasar) Flat character atau karakter datar adalah karakter tokoh yang ditulis oleh penulis lakon secara datar dan biasanya bersifat hitam putih. Tokoh ini juga menentukan jalannya cerita. sebab dengan adanya tokoh maka timbul konflik. Cordelia dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. Motivasi-motivasi tokoh inilah yang dapat melahirkan suatu perbuatan tokoh. tokoh Bangsawan pada lakon Raja Lear karya Willliam Sahkespeare. Oswald.

tetapi sangat banyak dijumpai pada lakon-lakon klasik dan non realis. Pemimpin (lakon LOS) dan lain-lain. sehingga ketika mencipta sebuah karakter dia bebas menentukan suatu perkembangan karakter. Kawan. Misalnya karakter yang diciptakan oleh Putu Wijaya pada lakon-lakonnya yang bergaya post-realistic. * Karikatural Karikatural adalah karakter tokoh yang tidak wajar. . Karakter ini segaja diciptakan oleh penulis lakon sebagai penyeimbang antara kesedihan dan kelucuan. D. keadaan jaman dan lain-lain yang tidak bersifat manusiawi tetapi dilakukan oleh manusia. tetapi diperlukan dalam sebuah lakon. * Round Character (perwatakan bulat) Karakter tokoh yang ditulis oleh penulis secara sempurna. Penulis lakon adalah orang yang memiliki dunia sendiri yaitu dunia fiktif. Perkembangan dan perubahan ini mengacu pada perkembangan pribadi orang dalam kehidupan sehari-hari. Sifat karikatural ini bisa berupa dialog-dialog yang diucapkan oleh karakter tokoh.berkembang. Karakter ini hanya simbol dari psikologi masyarakat.. Round karakter adalah karakter tokoh dalam lakon yang mengalami perubahan dan perkembangan baik secara kepribadian maupun status sosialnya. antara ketegangan dengan keriangan suasana. C. Si Gembrot. Si Tua. dan cenderung menyindir. bisa juga dengan tingkah laku. dan lebih bersifat simbolis. Flat character ini ditulis dengan tidak mengalami perkembangan emosi maupun derajat status sosial dalam sebuah lakon. bahkan perpaduan antara ucapan dengan tingkah laku. * Teatrikal Teatrikal adalah karakter tokoh yang tidak wajar. suasana. Perkembangan inilah yang menjadikan karakter ini menarik dan mampu untuk mengerakkan jalan cerita. seperti tokoh A. Karakter ini biasanya terdapat karakter tokoh utama baik tokoh protagonis maupun tokoh antagonis. Karakter-karakter teatrikal jarang dijumpai pada lakon-lakon realis. karakteristiknya kaya dengan pesan-pesan dramatik. satiris. unik. Flat character biasanya ada pada karakter tokoh yang tidak terlalu penting atau karakter tokoh pembantu.

1. memahami dan mengatur blocking serta melakukan serangkaian latihan dengan para pemain dan seluruh pekerja artistik hingga karya teater benar-benar siap untuk dipentaskan. Seorang bangsawan (duke) dari Saxe-Meiningen yang memimpin sebuah grup teater dan menyelenggarakan pementasan keliling Eropa pada akhir tahun 1870-1880.1 Naskah Jadi Mementaskan teater dengan naskah yang sudah tersedia memiliki kerumitan tersendiri terutama pada saat hendak memilih naskah yang akan dipentaskan. Proses mengajar dijadikan tonggak awal lahirnya “sutradara”. Kemudian mereka berlatih dan memainkkannya di hadapan penonton. Berhasil tidaknya sebuah pertunjukan teater mencapai takaran artistik yang diinginkan sangat tergantung kepiawaian sutradara. 2001). menentukan bentuk dan gaya pementasan.Dasar-dasar Teater (3/6): Dasar Seni Penyutradaraan dalam Teater Pada mulanya pementasan teater tidak mengenal sutradara. Waluyo. Istilah sutradara seperti yang dipahami dewasa ini baru muncul pada jaman Geroge II. produksi pementasan teater Saxe-Meiningen masih mengutamakan kerja bersama antarpemain yang dengan giat berlatih untuk meningkatkan kemampuan berakting mereka (Robert Cohen. 3. Model penyutradaraan seperti yang dilakukan oleh George II diteruskan pada masa lahir dan berkembangnya gaya realisme. Pementasan teater muncul dari sekumpulan pemain yang memiliki gagasan untuk mementaskan sebuah cerita. . kerja sutradara dimulai sejak merencanakan sebuah pementasan. Dalam terminologi Yunani sutradara (director) disebut didaskalos yang berarti guru dan pada abad pertengahan di seluruh Eropa istilah yang digunakan untuk seorang sutradara dapat diartikan sebagai master. Nskah tersebut harus memenuhi kreteria yang diinginkan serta sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan. Andre Antoine di Tokohcis dengan Teater Libre serta Stansilavsky di Rusia adalah dua sutradara berbakat yang mulai menekankan idealisme dalam setiap produksinya. menentukan pemain. Meskipun demikian. Sejalan dengan kebutuhan akan pementasan teater yang semakin meningkat. Dengan banyaknya jumlah pentas yang harus dilakukan.1 Pemilihan Naskah Proses atau tahap pertama yang harus dilakukan oleh sutradara adalah menentukan lakon yang akan dimainkan. seperti tertulis di bawah ini. Oleh karena itu. Max Reinhart mengembangkan penyutradaraan dengan mengorganisasi proses latihan para aktor dalam waktu yang panjang. Setelah itu tugas berikutnya adalah menganalisis lakon. 1994). maka kehadiran seorang sutradara yang mampu mengatur dan mengharmonisasikan keseluruhan unsur artistik pementasan dibutuhkan. Oleh karena kedudukannya yang tinggi. yaitu menentukan lakon. 3. maka seorang sutradara harus mengerti dengan baik hal-hal yang berhubungan dengan pementasan. Dengan demikian sutradara menjadi salah satu elemen pokok dalam teater modern. maka para aktor memerlukan peremajaan pemain. Ada beberapa pertimbangan yang dapat dilakukan oleh sutradara dalam memilih naskah. Para aktor yang telah memiliki banyak pengalaman mengajarkan pengetahuannya kepada aktor muda. Gordon Craig merupakan seorang sutradara yang menanamkan gagasannya untuk para aktor sehingga ia menjadikan sutradara sebagai pemegang kendali penuh sebuah pertunjukan teater (Herman J. Sutradara bisa memilih lakon yang sudah tersedia (naskah jadi) karya orang lain atau membuat naskah lakon sendiri.

membuat naskah sendiri dapat menjadi pilihan yang tepat. Jika sutradara merasa mampu mengusahakan pendanaan secara optimal untuk mewujudkan tuntutan artistik lakon. Mampu mementaskan sebuah naskah tentunya tidak hanya berkaitan dengan kecakapan sutradara. Oleh karena itupangkal persoalan atau titik awal konflik perlu dibuat dan disesuaikan dengan tema yang dikehendaki. sutradara harus mampu melakukan adaptasi sehingga pendanaan bisa dikurangi tanpa mengurangi nilai artistik lakon. Persoalan ini kemudian diikembangkan dalam cerita yang hendak dituliskan. Oleh karena itu. Tidak ada cerita teater tanpa konflik. Kerangka cerita akan membingkai jalannya cerita dari awal sampai akhir. * Menentukan tema. Beberapa langkah di bawah ini dapat dijadikan acuan untuk menulis naskah lakon. * Membuat sinopsis (ringkasan cerita). William Froug (1993) misalnya. * Sutradara mampu tetap mementaskan naskah yang dipilih. Untuk itu. yaitu pembukaan. Akan tetapi berkenaan dengan sumber daya yang dimiliki. Naskah lakon yang baik tidak ada gunanya jika dimainkan oleh aktor yang kurang baik. Misalnya. Naskah yang tidak dikehendaki akan membawa pengaruh dan masalah tersendiri bagi sutradara dalam mengerjakannya. . naskah yang dipilih memoiliki latar cerita di rumah mewah dengan segala perabot yang indah. Naskah semacam ini bersifat situasional. konflik.1. Gambaran cerita secara global dari awal sampai akhir hendaknya dituliskan.2 Membuat Naskah Sendiri Membuat naskah lakon sendiri tidak menguntungkan karena akan memperpanjang proses pengerjaan. Misalnya tema yang dipilih adalah “kebaikan akan mengalahkan kejahatan”. maka naskah tersebut bisa dipilih. Sinopsis digunakan pemandu proses penulisan naskah sehingga alur dan persoalan tidak melebar. akan menuntun laku cerita dari awal sampai akhir. * Menentukan persoalan. Semua sumber daya dimiliki seperti pemain. Tema adalah gagasan dasar cerita atau pesan yang akan disampaikan oleh pengarang kepada penonton. sutradara harus mampu mengukur kualitas sumber daya pemain yang dimiliki dalam menentukan naskah yang akan dipentaskan. Beberapa naskah yang baik terkadang memiliki konsekuensi logis dengan pendanaan. * Sutradara wajib mempertimbangkan sisi pendanaan secara khusus. Persoalan atau konflik adalah inti daricerita teater. Misalnya dengan tema “kebaikan akan mengalahkan kejahatan”. Sutradara dengan segenap kemampuannya harus mampu meyakinkan pemain dan mengusahakan pertunjukan agar tetap digelar sehingga proses yang telah dilakukan tidak menjadi sia-sia. * Menentukan kerangka cerita. klimaks sampai penyelesaian. * Sutradara mampu menemukan pemain yang tepat. penata artsitik. Hal ini membawa dampak tersendiri dalam bidang pendanaan. Jika sutradara memilih naskah yang akan ditampilkan dalam keadaan terpaksa maka bisa dipastikan hasil pementasan menjadi kurang baik. tetapi semua orang yang terlibat menjadi senang karena dapat mengerjakannya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Tema. Jika tidak. Dengan adanya sinopsis maka penulisan lakon menjadi terarah dan tidak mengada-ada. tetapi juga dengan unsur pendukung yang lain. sutradara harus mampu membuat naskah yang sesuai dengan kualitas sumber daya yang ada. pemilihan pemain yang asal-asalan. * Sutradara merasa mampu mementaskan naskah yang telah dipilih. 3.* Sutradara menyukai naskah yang dipilih. Dengan membuat kerangka cerita maka penulis akan memiliki batasan yang jelas sehingga cerita tidak berteletele.Tidak ada gunanya berlatih naskah lakon tertentu dalam waktu lama jika di tengah proses tiba-tiba hal itu terhenti karena alasan tertentu. keseluruhan kerja menjadi tidak optimal. dan pendanaan menjadi pertimbangan dalam memilih naskah yang akan dipentaskan. Kerangka ini membagi jalannya cerita mulai dari pemaparan. maka dalam cerita hal tersebut harus dimunculkan melalui aksi tokoh-tokohnya sehingga penonton dapat menangkap maksud dari cerita bahwa sehebat apapun kejahatan pasti akan dikalahkan oleh kebaikan. pangkal persoalan yang dibicarakan adalah sikap licik seseorang yang selalu memfitnah orang lain demi kepentingannya sendiri. seperti analisis yang kurang detil. membuat kerangka cerita (skenario) dengan empat bagian.

sutradara memepelajari seluruh isi lakon dan menangkap gambaran lengkap lakon seperti apa yang tertulis. Pada bagian akhir. Pesan ini ingin disampaikan oleh pengarang dengan akhir yang tragis dimana tokoh Romeo dan Juliet akhirnya mati bersama. * Konflik dan Penyelesaian. * Pesan Lakon. sutradara wajib menemukan pesan utama dari lakon yang telah ditentukan. 3. isi yang berisi pemaparan. * Menentukan protagonis. dan akhir. Bagian awal adalah bagian pengenalan secara lebih rinci masing-masing tokoh dan titik konflik awal muncul. yaitu pembuka yang berisi pengantar cerita atau sebab awal. logis. Riantiarno (2003). Dengan menulis lawan dari sifat protagonis maka karakter antagonis dengan sendirinya terbentuk. Tokoh protagonis adalah tokoh yang membawa laku keseluruhan cerita. maka tokoh protagonis dapat diwujudkan sebagi orang yang rajin. * Menulis. Jadi. Berhasil atau tidaknya sebuah pertunjukan teater diukur dari sampai tidaknya pesan lakon kepada penonton.2. titik balik cerita dimulai dan konflik diselesaikan. berkecukupan. sutradara akan lebih mudah menerjemahkan kehendak pengarang dalam pertunjukan. * Menentukan cara penyelesaian. serta jujur. sutradara sekaligus penulis naskah Teater Koma. tengah. Dinamika percintaan Romeo dan Juliet yang berakhir dengan kematian inilah yang harus ditekankan oleh sutradara kepada penonton. Oleh karena itu tentukan akhir cerita dengan baik. Bagian tengah adalah konflik yang meruncing hingga sampai klimaks. tetapi lebih tidak mudah lagi memindahkan gagasan dalam bentuk tulisan. menentukan kerangka lakon dalam tiga bagian.1 Analisis Dasar Analisis dasar adalah telaah unsur-unsur pokok yang membentuk lakon. pada bagian mana konflik itu memuncak. dalam tahap ini sutradara hanya membaca kehendak pengarang melalui lakonnya. Semakin detil sifat atau karakter protagonis. Setelah semua hal disiapkan maka proses berikutnya adalah menulis. bahkan ada yang bingung mengakhirinya. Oleh karena itu. senang membantu orang lain. dan penutup yang merupakan simpulan cerita atau akibat. Pada bagian pembukaan memaparkan sketsa singkat tokoh-tokoh cerita. 3. semangat dalam bekerja. Mengakhiri sebuah persoalan yang dimunculkan tidaklah mudah. Apa yang hendak disampaikan oleh pengarang melalui naskah lakon disebut pesan. Dengan menentukan tokoh protagonis secara mendetil. gunakan dan manfaatkan waktu sebaik mungkin. Oleh karena itu. Jika tokoh protagonis dan antagonis sudah ditemukan. maka tokoh lain baik yang berada di pihak protagonis atau antagonis akan mudah diciptakan. dan pada akhirnya bagaimana konflik itu .2 Analisis Lakon Menganalisis lakon adalah salah satu tugas utama sutradara. Unsur-unsur pokok yang harus dianalisis oleh sutradara adalah senagai berikut. dalam persoalan tentang kelicikan. Di bagian mana konflik itu muncul dan bagaimana aksi dan reaksi para tokohnya. maka semakin jelas pula karakter tokoh antagonis. Romeo and Juliet karya Shakespeare mengandung pesan bahwa seseorang yang telah menemukan cinta sejati tidak takut terhadap risiko apapun termasuk mati. dermawan. Merupakan bahan komunikasi utama yang hendak disampaikan kepada penonton. Penting mengetahui dasar persoalan (konflik) dalam sebuah lakon karena hal tersebut akan membawa laku aksi para tokohnya. Dengan analisis yang baik. konflik hingga klimaks. Lakon yang telah ditentukan harus segera dipelajari sehingga gambaran 100% lengkap cerita didapatkan. Mencari dan mengembangkan gagasan memang tidak mudah. Dalam beberapa lakon ada cerita yang diakhiri dengan baik tetapi ada yang diakhiri secara tergesa-gesa. Misalnya. maka tokoh lainnya mudah ditemukan.bagian awal. Akhir cerita yang mengesankan selalu akan dinanti oleh penonton. Dalam proses analisis ini. dan tidak tergesa-gesa.

2 Interpretasi Setelah menganalisis lakon dan mendapatkan informasi lengkap mengenai lakon. peristiwa. Ada juga sutradara yang menonjolkan . Oleh karena itulah pentas teater dengan lakonlakon yang sudah berusia lama seperti Oedipus. sutradara dapat menafsirkan tempat kejadian secara simbolis. Oleh karena itu analisis karakter ini harus dilakukan dengan teliti dan hati-hati sehingga setiap perubahan karakter yang dialami oleh tokoh tidak lepas dari pengamatan sutradara. Di gedung tersebut cerita terjadi di ruang aula. Akan tetapi sangat mungkin seorang sutradara memiliki gagasan astistik tertentu yang akan ditampilkandalam pementasan setelah menganalisa sebuah lakon. ia hanya sekedar melakukan apa yang dikehendaki oleh lakon apa adanya sesuai dengan hasil analisis.Berdasarkan hasil analisis. Intinya informasi sekecil apapun harus didapatkan. atau di salah satu ruang khusus. Arsitektur gedung itu apakah menggunakan arsitektur kolonial. Karena tidak banyak arahan dan keterangan yang dituliskan mengenai karakter tokoh dalam sebuah lakon. Untuk mewujudkan keadaan peristiwa seperti dikehendaki lakon di atas panggung maka informasi yang jelas mengenai latar cerita harus didapatkan. Hal ini berlaku juga untuk latar peristiwa dan waktu. Apakah gedung tersebut merupakan gedung pertemuan. dan karakterisasi. Cara menyampaikan pesan antara sutradara satu dengan yang lain bisa berbeda meskipun lakon yang dipentaskan sama. * Pesan. * Latar Cerita. Semua informasi dikumpulkan dan diseleksi untuk kemudian diwujudkan dalam pementasan. * Karakter Tokoh. Perjalanan sebuah karakter terkadang tidak mengalami perubahan yang berarti tetapi beberapa tokoh dalam lakon (biasanya protagonis dan antagonis) bisa saja mengalami perubahan. Secara artistik. gaya spanyol. tetapi karena ketersediaan sumber daya yang kurang memadahi maka bentuk penampilan apartemen mewah disesuaikan. Hal yang paling menarik mengenai penyampaian pesan kepada penonton adalah caranya. dan waktu kejadian harus diungkapkan dengan jelas karena hal ini berkaitan dengan tata artistik. Romeo and Juliet masih aktual dipentaskan sekarang ini. pesan. Misalnya. Cara menyampaikan pesan ini menjadi titik tafsir lakon yang penting karena pesan inilah inti dari keseluruhan lakon. artinya. teras gedung. dalam lakon mengehendaki tempat kejadian di sebuah apartemen yang mewah. Selain itu sudut pandang pengarang dalam menyelesaikan konflik dapat menegaskan pesan yang hendak disampaikan. Proses interpretasi biasanya menyangkut unsur latar. sutradara memberi sentuhan dan atau penyesuaian artistik terhadap lakon yang akan dipentaskan. Analisis karakter tokoh sangat penting dan harus dilakukan secara mendetil agar sutradara mendapatkan gambaran watak sejelas-jelasnya.diselesaikan. Antigone. Gambaran tempat kejadian. atau gedung pertunjukan. menilai. 3. Misalnya. maka sutradara harus menggalinya melalui kalimat-kalimat dialog. dan memahami konflik lakon. Secara teknis hal ini berkaitan dengan sumber daya yang dimiliki. dewan kota. museum. apartemen mewah disimbolkan sebagai pusat kekuasaan maka tata panggungnya disesuaikan dengan simbolisasi tersebut. Ketika adaptasi ini dilakukan maka unsur-unsur lain pun seperti tata rias dan busana akan ikut terkait dan mengalami penyesuaian. Semua ini akan memberi sudut pandang bagi sutradara dalam melihat. misalnya warna-warna yang digunakan di atas panggung.2. gambaran tempat kejadian persitiwa adalah di sebuah gedung maka harus dijelaskan apakah terjadi di sebuah gedung megah. Penyesuaian inipun berkaitan langsung dengan latar waktu dan peristiwa. Adaptasi terhadap tempat kejadian peristiwa sering dilakukan oleh sutradara. Misalnya. sederhana atau mewah. dapur umum. atau ciri khas daerah tertentu. * Latar. Seorang sutradara sebetulnya boleh tidak melakukan interpretasi terhadap lakon. maka sutradara perlu melakukan tafsir atau interpretasi. Jika apartemen disimbolkan sebagai pusat kekuasaan maka peristiwa yang terjadi di dalamnya juga harus mengikuti simbolisasi ini sedangkan latar waktunya bisa ditarik ke masa lalu atau masa kini seperti yang dikehendaki oleh sutradara. Untuk menekankan pesan yang dimaksud ada sutradara yang memberi penonjolan pada tata artistik. Dengan demikian penonton akan mendapatkan gambaran yang jelas latar cerita yang dimainkan. Proses ini bisa disebut sebagai proses asimilasi (perpaduan) antara gagasan sutradara dan pengarang.

Misalnya. hal yang paling bisa adalah mendekatkan gaya pementasan dengan gaya tertentu yang sudah ada. takaran emosi dan cara berpikir. Dengan demikian sutradara harus benar-benar memikirkan cara menyampaikan pesan lakon dengan mempertimbangkan unsur-unsur lakon dan sumber daya yang dimiliki. tetapi juga mental. sebuah lakon yang tokohtokohnya memiliki latar belakang budaya Eropa hendak diadaptasi ke dalam budaya Indonesia. Dengan demikian pendekatan yang dilakukan tidak salah sasaran. Aktor boleh berbicara secara langsung kepada penonton. Banyak hal yang harus dilakukan selain mengganti nama dan penampilan fisik. * Pendekatan gaya pementasan. Misalnya. Jika tidak. penggunaan bahasa puitis dengan sendirinya membuat aktor harus mau memahami dan melakukan latihan teknik-teknik membaca puisi agar dalam pengucapan dialog tidak seperti percakapan sehari-hari. Secara umum. Untuk itu. tetapi gambaran tata artisitk berguna bagi para desainer untuk mewujudkannya dalam desain. * Gambaran tata artistik.. sutradara harus memahami gaya-gaya pementasan. Dewasa ini hampir tidak bisa ditemukan gaya pementasan murni yang dihasilkan seorang sutradara atau pemikir teater.4 Memilih Pemain . Misalnya.3 Konsep Pementasan Hasil akhir dari analisis naskah adalah konsep pementasan. Tafsir ulang terhadap tokoh lakon paling sering dilakukan. tata krama. Hal ini mempengaruhi bentuk dan gaya penampilan aktor dalam beraksi. pandangan hidup. * Pendekatan pemeranan. Seniman teater dunia telah banyak berusaha melahirkan gaya pementasan. misalnya. gaya berjalan. * Karakterisasi. maka metode pemeranan yang dilakukan perlu dituliskan. maka bahasa dialog antaraktor menggunakan bahasa yang puitis. Istilah pendekatan di sini digunakan dalam arti sutradara tidak hanya sekedar melaksanakan sebuah gaya secara wantah (utuh) tetapi ada pengembangan atau penyesuaian di dalamnya. 3. Jika sutradara mampu. Hal ini mempengaruhi hasil pemikiran dan cara mengungkapkan hasil pikiran tersebut.Dalam konsep ini sutradara menjelaskan secara lengkap mengenai cara menyampaikan pesan yang berkaitan dengan pendekatan gaya pementasan dan pendekatan pemeranan serta memberikan gambaran global tata artistik. Tafsir ulang tokoh tidak hanya sekedar mengubah nama dan menyesuaikan bentuk penampilan fisik. dan keseluruhan watak tokoh. Metode akting berkaitan dengan pencapaian aktor (standar) sesuai dengan pendekatan gaya pementasannya. Hal ini sangat berguna bagi aktor. maka ia bisa memberikan gambaran tata artistik melalui sketsa. dalam budaya Eropa orang bepikir secara bebas sementara orang Indonesia cenderung mempertimbangkan hal-hali lain (tata krama. Hal ini biasanya berkaitan dengan isu atau topik yang sedang hangat terjadi di masyarakat.Dengan demikian cara pandang sutradara terhadap keseluruhan lakon pun harus diubah atau mengalami penyesuaian. pranata sosial) di luar hal utama yang dipikirkan. sutradara harus menuliskan gambaran (pandangan) tata artistiknya. Gerak laku aktor distilisasi atau diperindah.laku aksi aktor di atas pentas sehingga adegan dibuat dan dikerjakan secara detil. Setelah menetapkan pendekatan gaya. karena menggunakan pendekatan gaya presentasional. Konvensi atau aturan main sebuah pertunjukan diungkapkan dalam poin ini. Masing-masing cara penonjolan pesan ini mempengaruhi unsur-unsur lain dalam pementasan. Oleh karena itu. emosi. Sutradara harus membuat metode tertentu dalam sesi latihan pemeranan untuk mencapai apa yang dinginkan. Setiap kelahiran gaya baru memiliki keterkaitan atau perlawanan terhadap gaya tertentu (baca bagian sejarah teater). Meski tidak secara mendetil. 3. maka ia cukup menuliskannya. Semuanya memliki keterkaitan. yaitu cara berbicara.

Untuk menilai kesiapan tubuh pemain.4. harus mampu menyajikannya dengan . Dalam sebuah grup atau sanggar.Menentukan pemain yang tepat tidaklah mudah. Calon aktor.1 Fisik Penampilan fisik seorang pemain dapat dijadikan dasar menentukan tokoh. Akan tetapi. maka pemain harus memiliki ciri wajah yang tampak tolol. tetapi ciri wajah pemain harus diusahakan semirip mungkin dengan ciri wajah tokoh dalam lakon.4. Ciri fisik dapat pula dijadikan acuan untuk menentukan pemain. dalam teater modern. * Wicara. Dalam kasus tertentu. Meskipun kekurangan wajah bisa ditutupi dengan tata rias. * Tubuh. Menghayati sebuah tokoh berarti mampu menerjemahkan laku aksi karakter tokoh dalam bahasa verbal dan ekspresi tubuh secara bersamaan.2 Kecakapan Menentukan pemain berdasar kecapakan biasanya dilakukan melalui audisi. Penilaian yang dapat dilakukan adalah penguasan. * Penghayatan. dalam sebuah grup teater sekolah yang pemainnya selalu berganti atau kelompok teater kecil yang membutuhkan banyak pemain lain sutradara harus jeli memilih sesuai kualifikasi yang dinginkan. Meskipun dalam khasanah teater modern. ukuran tubuh merupakan harga mati bagi sebuah tokoh. Hal ini dianggap dapat mampu melahirkan ekspresi wajah yang natural. dalam lakon yang gambaran tokohnya sudah melekat di masyarakat. sutradara dapat memberikan penggalan adegan atau dialog karakter untuk diujikan. * Ciri Wajah. maka pemain yang dipilih pun harus memiliki tubuh gemuk. Misalnya. dan pelafalan yang baik. Akan tetapi. Kesiapan tubuh seorang pemain merupakan faktor utama. seorang yang tinggi tapi bungkuk dianggap tepat memainkan tokoh pendeta. tokoh Bagong memiliki ukuran tubuh tambun (gemuk). Oleh karena itu pemain harus memiliki kemampuan wicara yang baik. penentuan pemain berdasar ciri fisik ini menjadi acuan utama. Dalam sebuah produksi yang membutuhkan latihan rutin dan intens dalam kurun waktu yang lama ketahanan tubuh yang lemah sangatlah tidak menguntungkan. misalnya dalam wayang orang atau ketoprak. karena tidak sesuai dengan karakter dan akan menyalahi laku lakon secara keseluruhan. * Ukuran Tubuh. Untuk menilai hal ini. sutradara dapat menilai kecakapan pemain melalui portofolio tetapi proses audisi tetap penting untuk menilai kecakapan aktor secara langsung. Kemampuan dasar wicara merupakan syarat utama yang lain. Dalam teater yang menggunakan ekspresi bahasa verbal kejelasan ucapan adalah kunci ketersampaian pesan dialog. janggut. dan brewok tebal cocok diberi tokoh sebagai warok atau jagoan. Tidak ada gunanya seorang aktor bermain dengan baik jika fisiknya lemah. Biasanya. Seorang yang memiliki kumis. Sutradara akan diprotes oleh penonton jika menampilkan Bima bertubuh kurus dan pendek. 3. intonasi. * Tinggi Tubuh. 3. maka latihan katahanan tubuh dapat diujikan. dalam cerita Kabayan. diksi. Grup teater tradisional biasanya memilih pemain sesuai dengan penampilan fisik dengan ciri fisik tokoh lakon. calon aktor dapat dinilai kemampuan dasar wicaranya. * Ciri Tertentu. misalnya tokoh-tokoh dalam lakon pewayangan. dalam ketoprak. Misalnya. Misalnya. sutradara sudah mengetahui karakter pemainpemainnya (anggota). Tidak masuk akal jika Bagong tampil dengan tubuh kurus. dalam wayang wong. memilih pemain biasanya berdasar kecapakan pemain tersebut. Berkaitan langsung dengan penampilan mimik aktor. Hal ini juga sama dengan ukuran tubuh. Dengan memberikan teks bacaan tertentu. Tokoh Werkudara (Bima) harus ditokohkan oleh orang yang bertubuh tinggi besar.

* Durasi waktu dapat ditentukan dengan pasti. .1 Berdasar Naskah Lakon Mementaskan teater berdasarkan naskah lakon menjadi ciri umum teater modern. 3. Untuk menguji lebih mendalam sutrdara juga dapat memberikan penggalan dialog karakter lain dengan muatan emosi yang berbeda. Hal ini memiliki kelebihan tersendiri. tetapi bisa dipilih sebagai seorang penari latar dalam adegan tertentu. 3. di antaranya adalah sebagai berikut. Catatan prestasi dan kemampuan yang dimiliki hendaknya ditulis dalam portofolio sehingga bisa menjadi pertimbangan sutradara. Di bawah ini akan dibahas bentuk dan gaya pementasan menurut penuturan cerita. 3. portofolio sangat penting bagi seorang aktor profesional. Misalnya. Untuk itu. Penting bagi sutradara untuk menentukan dengan tepat bentuk dan gaya pementasan. Sebaliknya. menyanyi atau bermain musik memiliki nilai lebih.5. Dari serangkaian latihan yang dikerjakan secara rutin dan kontinyu ditambah dengan unsur artistik dan teknis maka lamanya pertunjukan teater berdasar naskah dapat ditetapkan. Teater tradisional biasanya memilih imporivisasi karena semua pemain telah memahami dengan baik cerita yang akan dilakonkan dan karakter tokoh yang akan ditokohkan. seorang calon aktor yang memiliki kemampuan menari. Meskipun beberapa kelompok teater modern tertentu memperbolehkan improvisasi (biasanya lakon komedi situasi) tetapi sumber utama dialognya diambil dari naskah lakon. * Arahan dialog sudah ada. yaitu berdasar naskah lakon dan improvisasi. Dalam lakon terkadang arahan emosi berkaitan dengan dialog juga dituliskan sehingga sutrdara lebih mudah dalam memantau emosi tokoh yang ditokohkan aktor. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan serta membutuhkan kecakapan sutradara dalam bidang tertentu untuk melaksanakannya. perpindahan antaradegan. * Kecakapan lain. Kemampuan lain selain bermain tokoh terkadang dibutuhkan. Kehatihatian dalam memilih bentuk dan gaya bukan saja karena tingkat kesulitan tertentu.penuh penghayatan. Bentuk dan gaya yang dipilih secara serampangan akan mempengaruhi kualitas penampilan. lamanya adegan.5 Menentukan Bentuk dan Gaya Pementasan Bentuk dan gaya pementasan membingkai keseluruhan penampilan pementasan. teater modern menggunakan naskah lakon sebagai sumber penuturan. bentuk penyajian. Tugas aktor adalah menghapalkan dialog tersebut dan mengucapkannya dalam pementasan. Mungkin dalam sebuah produksi ia tidak memenuhi kriteria sebagai pemain utama. Sutradara tidak perlu menambah atau mengurangi dialog yang sudah tertulis dalam lakon kecuali punya keinginan mengadaptasinya. dan tanda keluar-masuk ilustrasi musik atau pencahayaan ditentukan waktunya sehingga setiap detik sangat berharga dan menentukan berhasil tidaknya pertunjukan tersebut. Bahkan dalam produksi teater profesional yang semuanya dirancang dengan baik.1 Menurut Penuturan Cerita Ada dua jenis pertunjukan teater menurut penuturan ceritanya. tetapi latar belakang pengetahuan dan kemampuan sutradara sangat menentukan. dan gaya penyajian.5. Karena dialog tokoh sudah ditentukan dan tidak boleh ditambah atau dikurangi maka durasi pementasan dapat ditentukan.1.

maka sutradara memerlukan waktu ekstra untuk membimbing para aktornya. maka adaptasi lakon harus dilakukan. Beberapa kelebihan pentas teater improvisasi adalah: * Kreativitas sutradara dan aktor dapat dikembangkan seoptimal mungkin. Sutradara hanya menyediakan gambaran cerita selanjutnya aktor yang mengembangkannya dalam permainan.5. Dengan demikian. Jika memaksakan kehendak harus sesuai dengan gagasan lakon. pementasan teater berdasar naskah lakon juga memiliki kekurangan dan problem tersendiri. Dalam teater improvisasi gaya pementasan juga terbuka. * Kreativitas aktor terbatas. Karena tidak ada impovisasi. konflik dan mengubah cara penyelesaian. Oleh karena tidak ada petunjuk arah laku yang jelas. * Gambaran bentuk latar kejadian dapat ditemukan dalam naskah. * Jika sumber daya yang dimiliki tidak sesuai dengan kehendak lakon harus dilakukan adaptasi. Jika sutradara hendak mengembangkan cerita. Jika ia tetap melakukannya.* Arahan laku permainan dapat ditemukan dalam naskah.1. maka konflik dan penyelesaian lakon pasti. Dalam proses latihan terkadang sutradara mendapat inspirasi dari laku aksi pemain demikian pula sebaliknya. * Tidak memungkinkan pengembangan cerita. * Konflik dan penyelesaian tidak bekembang. Sutradara menjadi mudah menentukan penekanan permasalahan lakon. Di samping kelebihan tersebut di atas. * Fokus permasalahan telah ditentukan. Jika sumber daya manusia (aktor) yang kurang. ia harus mendapatkan ijin dari penulis naskah lakon. Pesan ini dengan luwes dapat diselipkan dalam lakon. Lakon telah menyediakan gambaran lengkap laku perisitiwa melalui dialog tokoh-tokohnya. Cerita yang telah dituliskan oleh pengarang harus ditaati. tetapi karya teater menjadi karya sutradara.Dengan mempelajari naskah. Sifat teater improvisasi yang terbuka memungkinkan pengembangan konflik dan penyelesaian. Dalam teater tradisional. Sutradara perlu meluangkan waktu untuk melakukannya. * Memungkinkan percampuran bentuk gaya. sutradara mudah dalam membuat perencanaan blocking. 3. konflik. Terkadang untuk menyampaikan pesan titipan tersebut konflik minor baru dimunculkan. Misalnya. maka kerja sutradara akan semakin keras. dan penyelesaian konflik. Hal ini perlu dilakukan. Aktor tidak memiliki kebebasan penuh selain menerjemahkan konsep artistik sutradara. * Konflik dan sudut pandang penyelesaian bisa dikembangkan. Meskipun secara artistik tidak masalah. Gambaran ini sangat penting bagi sutradara untuk mewujudkannya di atas pentas. * Arahan laku terbuka. Jika hendak menyesuaikan dengan ketersediaan sumber daya. arahan laku permainan dari awal sampai akhir dapat ditemukan. Tergantung dari kekurangan sumber daya yang dimiliki.2 Improvisasi Mementaskan teater secara improvisasi memiliki keunikan tersendiri. mereka biasanya menerima pesan tertentu dari penyelenggara. sutradara telah mendapatkan gambarannya. Setelah konflik ini diselesaikan dengan cara yang khas dan lucu maka cerita kembali ke konflik semula. Terkadang hal ini dapat menimbulkan efek artistik yang alami dan menarik. Dengan berkembangnya cerita maka aktor mendapatkan arahan laku lain yang bisa dicobakan. Sutradara dapat mengembangkan cerita dengan bebas dan aktor dapat mengembangkan kemungkinan gayapermainan dengan bebas pula. sutradara harus mengikutinya. Jika sumber dana yang kurang maka tim poruduksi harus berusaha keras untuk memenuhi tuntutan tersebut. Pengembangan yang dilakukan hanyalah persoalan sudut pandang. Setuju atau tidak setuju terhadap cerita. maka sutradara telah melanggar kode etik dan hak karya artistik. Dengan ditentukannya arah laku maka kreativitas aktor di atas panggung menjadi terbatas. maka aktor dapat mengembangkannya. Jika naskah lakon tersebut telah dipublikasikan dalam bentuk buku dan memiliki hak cipta maka sutradara bisa dituntut di muka hukum. Kalaupun hendak melakukan adaptasi atau penyesuaian. dalam pertunjukan ketoprak sebuah adegan dilakukan mengikuti kaidah gaya presentasional (adegan .

Kekurangan dari pemotongan adegan ini adalah jika inti dialog (persoalan) belum sempat terucapkan maka inti dialog harus diucapkan pada adegan berikutnya. Jika pementasan sudah berjalan. Di balik semua kelebihan di atas. tetapi bagi aktor yang kualitas sastranya pas-pasan hal ini menjadi masalah besar. tetapi jika jumlah pemain yang memiliki kemampuan laga banyak. Jika seorang aktor beraksi. tetapi di adegan lain menggunakan gaya realis (adegan dagelan). 3. maka kualitas dialog tidak bisa distandarkan. Sutradara bisa memotong sebuah adegan yang berjalan cukup lama dengan membunyikan tanda agar musik dimainkan dan adegan segera diselesaikan. Oleh karena itu. * Kualitas dialog tidak dapat distandarkan. Karena arahan laku yang terbuka maka reaksi ucapan sering dilakukan spontan dan belum tentu benar. maka panggung sepenuhnya adalah milik aktor. 3. Untuk itu. * Improvisasi dialog tidak berimbang. Kemampuan sumber daya ini bisa dijadikan strategi untuk membuat pertunjukan menarik dan memiliki ciri khas tertentu.1 Teater Gerak . Karena tidak ada arahan dialog yang baku. maka cerita penuh aksi dapat dijadikan pilihan. maka sutradara wajib mempelajari dan memahami langkah-langkah dalam melaksanakannya. Jika banyak pemain yang bisa melucu maka cerita komedi akan efektif. Salah satu kelebihan utama teater improvisasi adalah cerita dan pemeran dapat dibuat berdasarkan sumber daya yang dimiliki. maka aktor lawan mainnya harus bereaksi. maka durasi pementasan bisa berubahubah. Oleh karena setiap bentuk penyajian memiliki kekhasan dan membutuhkan prasyarat tertentu yang harus dipenuhi. meskipun improvisasi. Pencampuran gaya ini dimaksudkan untuk memenuhi selera penonton. Bagi aktor yang memiliki kemampuan sastra memadai tidak jadi masalah. * Durasi waktu tidak tertentu. lakon sebagai pengendali cerita maka dalam teater imrpovisasi aktor harus mampu mengendalikan jalannya cerita.5. bisa jadi ia memasangkan aktor yang memilliki kemampuan tak berimbang dalam improvisasi. Sutradara tidak bisa lagi mengendalikan jalannya pertunjukan. Sifat akting adalah aksi dan reaksi. sutradara akan kerepotan sendiri. kemampuan setiap aktor pasti tidak sama. * Cerita bisa disesuaikan dengan sumber daya yang dimiliki. Jika tidak. Jika dalam teater berbasis naskah.2 Menurut Bentuk Penyajian Banyaknya pilihan bentuk penyajian pementasan teater membuat sutradara harus jeli dalam menentukannya. Akibatnya.Istana). aktor bisa mengembangkan cerita dan gaya permainan di atas pentas dan sutradara tidak bisa lagi mengarahkan secara langung. * Sutradara tidak bisa sepenuhnya mengendalikan jalannya pementasan. teater improvisasi juga memiliki kekurangan yang patut diperhatikan oleh sutradara. * Kemungkinan aktor melakukan kesalahan lebih besar. kesalahan ucap atau penyampaian informasi tertentu bisa saja salah karena memang tidak dicatat dan hanya diingat garis besarnya saja. Karena sifatnya yang serba terbuka. latihan adegan tetap harus sering dilakukan. jika sutradara tidak jeli memahami hal ini. Aktor mengambil tokoh penuh. Jika hal ini terjadi cukup lama. dalam adegan tersebut aktor yang satu terlalu aktif dan yang lain pasif. Di samping itu.5.Semua tergantung dari improvisasi aktor di atas pentas. Oleh karena cerita bisa dikembangkan. maka akan membosankan. Dalam sebuah grup teater.2.

sutradara harus bisa mewujudkan bahasa verbal dalam simbol gerak. Jika gerak terlalu sulit. maka ekspresi mimik menjadi sangat penting. terutama menyangkut komposisi. * Mampu menghidupkan ekspresi boneka yang dimainkan. Mengubah bahasa dalam simbol gerak tidaklah mudah. Oleh karena itu. * Mewujudkan bahasa dalam simbol gerak. Apalagi jika sudah menyangkut makna. maka dianjurkan untuk mengkreasi gerak sederhana yang mudah dilakukan.5. Jika tidak. * Mampu memainkan boneka dengan baik. Simbol dan makna yang disampaikan melalui gerak harus dikerjakan dengan teliti. Ekspresi emosi atau karakter tokoh harus bisa diwujudkan melalui mimik para aktor. Kewajiban sutradara tidak hanya mengatur pemain manusia. suasana.2. Boneka wayang golek memiliki teknik permainan yang berbeda dengan boneka marionette yang dimainkan dengan tali. maka irama rampak gerak yang diharapkan bisa kacau. pengaturan pemain perlu dilakukan. Mengisi suara sesuai karakter boneka menjadi prasyarat utama. Meskipun rangkaian gerak yang dihasilkan sangat indah. Jumlah pemain yang banyak menimbulkan persoalan tersendiri. Sutradara harus bisa memainkan boneka tersebut. * Mampu mengisi suara sesuai dengan karakter boneka. Banyak jenis boneka dan masing-masing membutuhkan teknik khusus dalam memperagakannya. Motif gerak yang kaya akan membuat tampilan menjadi variatif dan menyegarkan. kapan musik hadir sebagai latar suasana. sutradara teater gerak harus mengerti kaidah musik ilustrasi. Kapan musik mengikuti gerak pemain. Untuk mendukung rangkaian gerak yang telah diciptakan. kapan pemain harus menyesuaikan dengan alunan musik. * Mengerti musik ilustrasi. Menempatkan pemain dalam posisi dan gerak yang tepat akan membuat pertunjukan semakin menarik.Teater gerak lebih banyak membutuhkan ekspresi gerak tubuh dan mimik muka daripada wicara. Oleh karena keterbatasan bahasa verbal dalam pertunjukan teater gerak. Pesan yang tidak disampaikan secara verbal membutuhkan keahlian tersendiri untuk mengelolanya. Jika jumlah pemain banyak dan harus bergerak secara serempak. Meskipun tidak bisa memainkan musik. harus mempertimbangkan makna pesan. tetapi memberikan ekspresi hidup adalah hal yang lain. tetapi jika komposisi (tata letak) pemainnya tidak berubah akan melahirkan kejenuhan. Penataan gerak tidak bisa dikerjakan dengan serampangan. maka karakter boneka harus benarbenar melekat sehingga pengendali . Di bawah ini beberapa langkah yang bisa dikerjakan oleh sutradara yang hendak mementaskan teater boneka. Sutrdara harus mampu mengeksplorasi dan menciptakan gerak sesuai dengan makna pesan yang hendak disampaikan. maka teori komposisi dan koreografi dasar wajib dimiliki oleh sutradara. Karena bekerja dengan gerak.2 Teater Boneka Teater boneka memiliki karakter yang khas tergantung jenis boneka yang dimainkan. * Mewujudkan ekspresi melalui mimik para aktor. dan terutama musik ilustrasinya. Jika tidak pintar mengelola. maka pengaturan blocking harus lebih teliti. maka maknanya akan kabur. maka banyaknya jumlah pemain justru akan memenuhi panggung dan membuat suasana menjadi sesak. Di bawah ini beberapa langkah yang bisa diambil oleh sutradara dalam menggarap teater gerak * Sutradara mampu mengeksplorasi dan menciptakan gerak. * Jika pemain dalam jumlah banyak. Jumlah pemain bisa disiasati dengan menambah perbendaharaan gerak. Karakter suara harus bisa tampil secara konsisten dari awal hingga akhir pertunjukan. 3. Biasanya seorang pemain boneka bisa membuat beberapa karakter suara yang berbeda. Ekspresi selalu menyangkut penghayatan dan konsentrasi. tetapi juga mengatur permainan boneka. Karena tokoh diperagakan oleh boneka. dan perbedaannya harus dimengerti oleh sutradara. Boneka dua dimensi seperti wayang kulit memiliki teknik memainkan berbeda dengan boneka tiga dimensi seperti wayang golek. Memainkan boneka bisa saja dipelajari. * Memahami komposisi dan koreografi. * Jika pemain sedikit maka motif gerak harus lebih variatif.

. Oleh karena tuntutan pertunjukan teater dramatik yang mensyaratkan laku aksi seperti kisah nyata. maka aktor akan kesulitan meninggikan tegangan pada saat klimaks. maka pengaturan adegan harus dikerjakan dengan teliti. Tempat pertunjukan teater boneka yang terbatas harus disesuaikan dengan jumlah boneka yang tampil.3 Teater Dramatik Mementaskan teater dramatik membutuhkan kerja keras sutradara terutama terkait dengan akting pemeran. Sutradara harus memahami bobot tegangan (tensi) dramatik dalam setiap adegan yang ada pada lakon. aktor diharuskan berakting tetapi seolah-olah ia tidak berakting melainkan melakukan kenyataan hidup. Yang terpenting dan perlu dicatat adalah setiap boneka mempunyai karakter suaranya sendiri. maka pergantian adegan bisa semrawut sehingga para pemain kewalahan. Dalam teater boneka kerjasama antarpemain tidak hanya menyangkut emosi. semua harus tampak natural. 3.boneka seolah-olah bisa memberikan nafas hidup di dalamnya. Laku lakon dari awal sampai akhir mengalami dinamika atau ketegangan yang turun naik. * Mampu membangun kerjasama antarpemain boneka. maka sutradara harus benar-benar jeli dalam menilai setiap aksi para aktor. * Jika pemain boneka banyak maka harus mampu mengatur adegan agar pergerakan boneka tidak saling mengganggu. Selain itu. Hasil akhirnya adalah anti klimaks di mana pada adegan yang seharusnya memiliki tensi tinggi justru melemah karena energi para aktornya telah habis. Sisi kejiwaan yang menyangkut perasaan karakter tokoh harus dapat ditampilkan senatural mungkin sehingga penonton menganggap hal itu benar-benar nyata terjadi. Boneka yang dimainkan dengan hidup akan menarik dan tampak nyata. * Jika pemain sedikit harus memiliki kemampuan mengisi suara dengan karakter yang berbeda. * Mampu meningkatkan kualitas pemeranan aktor untuk menghayati tokoh secara optimal. Jika sutradara tidak memahami kejiwaan * karakter tokoh dengan baik maka penilaiannya terhadap kualitas penghayatan aktor pun kurang baik. sutradara harus dapat menentukan metode yang tepat agar para aktornya dapat memahami.5. Di sinilah letak kesulitannya. Jumlah pengendali boneka yang sedikit tidak masalah asal setiap orang mampu menciptakan beberapa karakter suara. Intinya. * Memahami sisi kejiwaan karakter tokoh. maka sutradara harus menetapkan tegangan optimal dan minimal. Keluar masuknya boneka di atas pentas berkaitan langsung dengan pengendali bonekanya. Untuk menghindari hal tersebut sutradara harus benar-benar teliti dalam mengukur tegangan dramatik adegan per adegan dalam lakon. sehingga ketika dalam adegan tertentu membutuhkan tegangan yang lebih aktor masih bisa mengejarnya. Jika tidak ada kerjasama yang baik antarpemain (pengendali boneka). Jika demikian. tetapi juga menyangkut hal-hal teknis. Berkaitan dengan karakter tokoh. tidak dibuat-buat. Hal yang paling sulit dilakukan oleh sutradara adalah membongkar kejiwaan karakter tokoh dan mewujudkannya dalam laku aktor di ataspentas.2. Jika dianalogikan dengan nilai 1 sampai dengan 10. maka penampilan boneka yang terlalu banyak juga akan merepotkan para pengendalinya. Demikian juga dengan suasana kejadian. bijaksanalah dalam menentukan tegangan dramatik adegan dan buatlah klimaks yang mengesankan dan penyelesaian yang dramatis. Jika pada bagian awal konflik tegangan terlalu tinggi. Beberapa langkah yang dapat dikerjakan oleh sutradara dalam menggarap teater dramatik adalah sebagai berikut. seorang pengendali biasanya hanya bisa mengendalikan maksimal dua boneka. Jika lakon yang dimainkan membutuhkan banyak tokoh. Oleh karena itu. Banyak sutradara yang mengadakan semacam pemusatan latihan dalam kurun waktu yang cukup lama dengan tujuan agar para aktornya berada dalam suasana lakon yang akan dipentaskan. * Memahami tensi dramatik (dinamika lakon). maka efek dramatik yang diharapkan dari aksi aktor menjadi gagal. menghayati dan memerankan karakter dengan baik. pengaturan adegan boneka disesuaikan dengan kemampuan pengendali. Angka tertinggi dari deret tegangan yang harus dicapai oleh aktor adalah 8 atau 9.

Bahasa ungkap yang beragam antara bahasa verbal.5. tetapi memahami karya musik merupakan keharusan dalam drama musikal. maka sutradara harus benar-benar piawai dalam mengolah visualisasinya di atas pentas. Memilih pelaku yang tepat dan membuat komposisi atau koreografi berdasar karya musik yang ada. Dalam teater dramatik. lagu. Pada adegan dimana musik bercerita secara mandiri maka sutradara harus mampu memvisualisasikan cerita tersebut di atas pentas.4 Drama Musikal Kemampuan multi harus dimiliki oleh seorang sutradara jika hendak mementaskan drama musikal. * Membuat penonton terkesima dengan pertunjukan tidaklah mudah. Koreografer bisa saja mencipta gerak. * Mampu membuat gerak dan ekspresi berdasar karya musik. pengiring gerak. Untuk mencapai hasil maksimal maka kejelian sutradara dalam mengamati dan menangani keseluruhan unsur pertunjukan sangat dibutuhkan. tetapi makna dan atau simbolisasi cerita harus benar-benar bisa diwujudkan dalam gerak tarian yang dilakukan. hindarilah kesalahan atau hal yang tidak lumrah dan berada di luar jangkauan nalar penonton. maka sutradara harus mampu menciptkan koreografinya. tokoh musik bisa menjadi pengiring lagu yang bercerita. Sutradara tidak harus bisa memainkan musik. maka penonton harus dibawa dalam suasana yang suka-ria. musik itu sendiri sudah bercerita sehingga pemain atau penari yang berada di atas panggung hanyalah pelengkap gambaran peristiwa. dan ilustrasi suasana kejadian. Kejanggalan-kejanggalan kecil yang dirasa kurang masuk akal oleh penonton akan mengurangi kualitas dramatika lakon yang dihadirkan. Kepiawaian sutradara dalam menentukan kegunaan karya musik yang satu dengan yang lain benarbenar dibutuhkan.2. Ketepatan nada dalam nyanyian serta ekspresi wajah ketika menyanyi juga tidak boleh luput dari pengamatan. Makna cerita sepenuhnya dituangkan dalam wujud gerak. * Mampu membuat gerak. dan musikal harus dirangkai secara harmonis untuk mencapai hasil maksimal. Pada adegan lain. jika melakonkan cerita yang sedih ukuran keberhasilannya adalah membuat penonton ikut terhanyut sedih. Langkah pamungkas yang dapat dijadikan patokan adalah menghadirkan pentas seperti sebuah kenyataan hidup. komposisi. Jika karya drama musikal tersebut berawal dari karya musik murni (musik yang bercerita) seperti The Cats karya Andrew Lloyd Webber. Tokohan dialog verbal yang digubah dalam bentuk lagu dan diucapkan melalui nyanyian adalah satu hal yang membutuhkan perhatian tersendiri. Sutradara harus mampu memecahkan masalah dasar tersebut. Ekspresi cerita melalui nadanada musik harus benar-benar bisa divisualisasikan dengan tepat. 3. tetapi pada akhirnya sutradara yang memutuskan. * Mengerti lagu dan nyanyian. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sutradara dalam drama musikal adalah sebagai berikut. Lagu dan nyanyian harus bisa ditampilkan secara baik dan harmonis.6 Blocking . Dalam satu adegan saat cerita diungkapkan melalui gerak. Artinya. demikian pula sebaliknya. dan koreografi. Meskipun sutradara bekerja dengan seorang koreografer. Banyak penyanyi yang memiliki suara baik tetapi ekspresinya datar. Dalam hal ini musik bertindak sebagai pengiring. Tokohan musik sangat doniman dalam drama musikal bahkan musik bisa hadir secara mandiri untuk menceritakan sesuatu. Dituntut kepiawaian sutradara dalam memilih dan merangkai motif gerak. Teater dramatik adalah teater yang mencoba meniru peristiwa kehidupan secara total dan sempurna. 3. gerak.* Mampu menghadirkan laku cerita seperti sebuah kenyataan hidup. Demikian pula dengan cerita suka-ria. * Mengerti karya musik dramatik. Jadi.

yaitu tengah. Panggung pertunjukan secara kompleks dibagi dalam lima belas area. kiri. perlu diketahui terlebih dahulu pembagian area panggung. kanan. UC = Atas Tengah. Jika blocking dikerjakan dengan baik. * Memberikan pondasi yang praktis bagi aktor untuk membangun karakter dalam pertunjukan. bawah .1 Pembagian Area Panggung Gambar Pembagian sembilan area panggung UL UC UR CL L CR DL DC DR UR = Atas Kanan. C = Tengah. tengah kanan.Sutradara diwajibkan memahami cara mengatur pemain di atas pentas. kalimat yang diucapkan oleh aktor menjadi lebih mudah dipahami oleh penonton. sehingga lalulintas aktor di atas panggung berjalan dengan lancar. bawah kanan tengah. maka perlu diperhatikan agar blocking yang dibuat tidak terlalu rumit. Fungsi blocking secara mendasar adalah sebagai berikut. Di samping itu. tengah kiri. maka karakter tokoh yang dimainkan oleh para aktor akan tampak lebih hidup. Jika blocking dibuat terlalu rumit. DR = Bawah Kanan. blocking dapat mempertegas isi kalimat tersebut. DL = Bawah Kiri Untuk membuat atau merencanakan blocking bagi para pemain. * Menciptakan lukisan panggung yang baik. * Menerjemahkan naskah lakon ke dalam sikap tubuh aktor sehingga penonton dapat melihat dan mengerti. bawah kiri tengah. Yang terpenting dalam hal ini adalah fokus atau penekanan bagian yang akan ditampilkan. bawah tengah. bawah kanan. UL = Atas Kiri. maka perpindahan dari satu aksi menuju aksi yang lain menjadi kabur. 3. Untuk mendapatkan hasil yang baik. DC = Bawah Tengah. LC = Tengah Kiri. RC = Tengah Kanan.6. Dengan blocking yang tepat. Secara mendasar blocking adalah gerakan fisik atau proses penataan (pembentukan) sikap tubuh seluruh aktor di atas panggung. Bukan hanya akting tetapi juga blocking. Blocking dapat diartikan sebagai aturan berpindah tempat dari titik (area) satu ke titik (area) yang lainnya bagi aktor di atas panggung.

Bagian yang satu merupakan cerminan bagian yang lain. atas tengah. Bedanya. 3. dan tinggirendah pemain dalam keadaan diam (statis). atas kanan tengah. blocking memiliki arti yang lebih luas karena setiap gerak. Pembagian sembilan area juga memudahkan sutradara dalam memberikan arah gerak kepada para aktornya.2. dan atas kiri.6.2. maka hal ini akan menimbulkan pemandangan yang kurang menarik dan jika hal ini berlangsung lama. bawah kiri. Hal ini diperlukan untuk memenuhi ruang dan menghindari komposisi aktor yang berat sebelah. Jika salah satu ruang dibiarkan kosong sementara ruang yang lain terisi penuh. Secara sederhana dan umum panggung dibagi sembilan area. maka luas masing-masing area akan terlalu sempit sehingga tidak memungkinkan sebuah pergerakan yang leluasa baik untuk pemain maupun perabot. Sekilas komposisi mirip dengan blocking.2 Komposisi Komposisi dapat diartikan sebagai pengaturan atau penyusunan pemain di atas pentas.6. atas kiri tengah.6.6. tetapi membagi pemain dalam dua bagian atau lebih dengan tujuan memberi penonjolan (penekanan) bagian tertentu.2. yaitu tengah. Ada dua ragam komposisi pemain. Keseimbangan adalah pengaturan atau pengelompokan aktor di atas pentas yang ditata sedemikian rupa sehingga tidak menghasilkan ketimpangan. Kanan adalah kanan pemain dan bukan kanan penonton dan kiri adalah kiri pemain. Sedangkan komposisi. tengah kanan.kiri. atas kanan. sedangkan bawah adalah jarak terdekat dengan penonton. tengah kiri. . Jika digambarkan komposisi ini mirip cermin. bawah kanan. dan atas kiri. perpindahan pemain serta perubahan posisi pemain dapat disebut blocking. Letak kanan dan kiri atau atas dan bawah ditentukan berdasar pada arah hadap aktor ke penonton. atas kanan. Pembagian panggung dalam lima belas area ini biasanya digunakan untuk panggung yang berukuran besar. 3. 3. Pengaturan posisi pemain seperti ini dilakukan agar semua pemain di atas pentas dapat dilihat dengan jelas oleh penonton. Di bawah ini adalah contoh komposisi simetris. 3. atas tengah.3 Keseimbangan Dalam menata komposisi pemain di atas pentas hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah keseimbangan.2 Asimetris Komposisi asimetris tidak membagi pemain dalam dua bagian yang sama persis. Panggung yang tidak terlalu luas jika dibagi menjadi lima belas area. bawah tengah. lebih mengatur posisi. Atas adalah jarak terjauh dari penonton. yaitu komposisi simetris dan komposisi asimetris yang ditata dengan mempertimbangkan keseimbangan. arah laku. pose.1 Simetris Komposisi simetris adalah komposisi yang membagi pemain dalam dua bagian dan menempatkan bagianbagian tersebut dalam posisi yang benar-benar sama dan seimbang. maka penonton akan menjadi jenuh. sedangkan kanan adalah posisi kanan arah hadap aktor atau sisi kiri penonton.

6. maka kaki yang jauh akan tertutup dan wajah pemain secara otomatis akan menjauh dari mata penonton. 3. * Jangan pernah memegang benda atau piranti tangan di depan wajah ketika sedang berbicara. Jika yang dilakukan sebaliknya.3. Hal ini menjadikan gerak pemain kurang terlihat dengan jelas. karena hal ini akan menutupi suara dan pandangan penonton.3. Oleh karena itu. Membagi arah pandangan ini sangat penting untuk menegaskan dan memberi kejelasan ekspresi karakter kepada penonton. maka gerak laku aktor dalam menggunakan telepon akan kelihatan.6. maka gerakan lengan dan tangan akan menutupi bagian tubuh lain. Setiap aktivitas. Usahakan pemain menghadap diagonal (kurang lebih 45 derajat) ke arah penonton. Hal ini mempertegas laku aksi yang sedang dikerjakan. Hal ini dapat dikerjakan dengan menempatkan pemain dalam posisi dan situasi tertentu sehingga ia lebih menonjol atau lebih kuat dari yang lainnya. usahakan untuk berbicara kepada penonton atau kepada aktor lain yang berada di atas panggung. * Jika pemain hendak melangkah.3 Fokus Dalam mengatur blocking.1 Prinsip Dasar Pada dasarnya fokus adalah membuat pemain menjadi terlihat jelas oleh mata penonton. * Kurangilah menempatkan pemain dalam posisi menghadap lurus ke arah penonton atau menyamping penuh. prinsip-prinsip dasar di bawah ini dapat digunakan sebagai petunjuk dalam menempatkan posisi dan mengatur pose pemain. maka awali dan akhiri langkah tersebut dengan kaki panggung atas (yang jauh dari mata penonton). Jika melangkah dengan kaki panggung bawah (yang dekat dari mata penonton). maka dimensi dan keutuhan tubuh pemain akan dilihat dengan jelas oleh mata penonton. Oleh karena itu. hal yang paling utama untuk diperhatikan sutradara adalah perhatian penonton. * Usahakan agar para aktor saling menatap (berkontak mata) pada saat mengawali dan mengakhiri dialog (percakapan). karakter. perubahan ekspresi dan aksi di atas pentas harus dapat ditangkap mata penonton dengan jelas. Jika tangan yang digunakan adalah tangan yang tidak menganggu pandangan penonton. . Dengan menghadap secara diagonal. Menghadap lurus ke arah penonton akan memberikan efek datar dan kurang memberikan dimensi kepada pemain. pengaturan blocking harus mempertimbangkan pusat perhatian (fokus) penonton. Selebihnya. sedangkan menyamping penuh akan menyembunyikan bagian tubuh yang lain. * Gunakan lengan atau tangan panggung atas (yang jauh dari mata penonton) untuk menunjuk ke arah panggung atas dan gunakan lengan atau tangan panggung bawah (yang dekat dengan mata penonton) untuk menunjuk ke panggung bawah.

1 Latihan Olah Tubuh Latihan olah tubuh melatih kesadaran tubuh dan cara mendayagunakan tubuh. Suara dihasilkan oleh proses mengencang dan mengendornya pita suara sehingga udara yang lewat berubah menjadi bunyi. yaitu dengan menghitung denyut nadi yang ada di leher atau denyut nadi yang ada di pergelangan tangan dalam.2 OLAH SUARA Suara adalah unsur penting dalam kegiatan seni teater yang menyangkut segi auditif atau sesuatu yang berhubungan dengan pendengaran. 4. Mengetahui denyut nadi sebelum latihan fisik dianjurkan karena berhubungan dengan kerja jantung. Dalam kenyataannya. Penghitungan dilakukan selama enam detik dan hasilnya dikalikan sepuluh.Dasar-dasar Teater (4/6): Seni Berperan dalam Teater Aktor merupakan manusia yang mengorbankan dirinya untuk menjadi orang lain. dalam konvensi dunia teater kedua istilah tersebut dibedakan. sedangkan bunyi merupakan produk benda-benda. yaitu serial pokok dari inti gerakan yang akan dilatihkan. Kegiatan mengucapkan dialog ini menjadi sifat teater yang khas. tinggi rendahnya. Olah tubuh dilakukan dalam tiga tahap. Karena itu dia harus mempersiapkan dirinya secara utuh penuh baik fisik maupun psikis. latihan inti. Latihan inti. dan latihan pendinginan. Penghitungan denyut nadi yang ada dipergelangan tangan lebih dianjurkan untuk menghasilkan perhitungan yang tepat. Latihanlatihan olah tubuh dapat dilakukan dengan tahap-tahap sebagai berikut. Dalam kegiatan teater. * Pemanasan * Latihan ketahanan * Latihan Kelenturan * Latihan ketangkasan * Latihan pendinginan * Latihan relaksasi 4. Selanjutnya. Pemilihan kata-kata memiliki tokohan dalam aturan yang dikenal dengan istilah diksi. Suara merupakan produk manusia untuk membentuk katakata. Latihan pendinginan atau peredaan (warm-down). yaitu serial pendek gerakan tubuh untuk mengembalikan kesegaran tubuh setelah menjalani latihan inti.1 Persiapan Sebelum melakukan latihan harus memperhatikan denyut nadi. dan cepat lambatnya sesuai . Cara untuk menghitung denyut nadi. yaitu dengan meletakkan jari tengah di atas pergelangan tangan dalam segaris dengan ibu jari atau jari jempol. karena digunakan sebagai bahan komunikasi yang berwujud dialog. Prosesnya. suara dan bunyi itu sama. suara tidak hanya dilontarkan begitu saja tetapi dilihat dari keras lembutnya. yaitu hasil getaran udara yang datang dan menyentuh selaput gendang telinga. suara mempunyai tokohan penting. yaitu latihan pemanasan. Suara adalah lambang komunikasi yang dijadikan media untuk mengungkapkan rasa dan buah pikiran. 4. Unsur dasar bahasa lisan adalah suara.1. atau penghitungan dilakukan selama sepuluh detik dan hasilnya dikalikan enam. yaitu serial latihan gerakan tubuh untuk meningkatkan sirkulasi dan meregangkan otot dengan cara bertahap. Selama menghitung denyut nadi mata selalu melihat jam (jam tangan maupun jam dinding yang ada di dalam ruangan). suara dijadikan kata dan kata-kata disusun menjadi frasa serta kalimat yang semuanya dimanfaatkan dengan aturan tertentu yang disebut gramatika atau paramasastra. Cara penghitungan denyut nada yang ada di pergelangan tangan. Dialog merupakan salah satu daya tarik dalam membina konflik-konflik dramatik. Latihan pemanasan (warm-up). Akan tetapi. Untuk itu seorang pemeran harus menjaga kelenturan peralatan tubuhnya.

kedudukan sosial. maka dia mencabut makna yang ada dalam kata-kata. Maksud tersembunyi seperti itu disebut subtext. maka nilai yang terkandung tidak dapat dikomunikasikan kepada penonton. Kata-kata yang membawa informasi yang bermakna. Latihan-latihan untuk melenturkan peralatan suara dapat dilakukan menggunakan tahap-tahap sebagai berikut. * Memuat informasi tentang sifat dan perasaan tokoh. Proses pengucapan dialog mempengaruhi ketersampaian pesan yang hendak dikomunikasikan kepada penonton. Jika lontaran dialog tidak sesuai sebagaimana mestinya. memang. kalimat.. ”. Hal ini disebabkan karena dalam dialog banyak terdapat nilai-nilai yang bermakna. Jika pemeran melontarkan dialognya hanya sekedar hasil hafalan saja. Misalnya. dalam arti tidak dibarengi dengan bahasa verbal. dan sebagainya. Misalnya. yaitu sebagai berikut. Ekspresi yang disampaikan melalui nada suara membentuk satu pemaknaan berkaitan dengan kalimat dialog. * Persiapan * Pemanasan * Senam Wajah * Senam Lidah * Senam Rahang Bawah * Latihan Tenggorokan * Berbisik * Bergumam * Bersenandung * Latihan Pernafasan * Latihan Kejelasa Diksi * Intonasi * Jeda * Tempo * Nada * Wicara * Ditutup dengan relaksasi . bisa juga bahasa tubuh sebagai penguat bahasa verbal..dengan situasi dan kondisi emosi. Seorang pemeran dalam pementasan teater menggunakan dua bahasa.. Hal ini merupakan kesalahan fatal bagi seorang pemeran. * Mengendalikan perasaan penonton seperti yang dilakukan oleh musik. kegembiraan. marah. kamu sekarang sudah hebat. yaitu bahasa tubuh dan bahasa verbal yang berupa dialog. kekuatan. Ketika pemeran mengucapkan dialog harus mempertimbangkan pikiran-pikiran penulis. menunjukkan maksud memuji atau sebenarnya ingin mengatakan. nada suara yang terlontarkan. Makna katakata dipengaruhi oleh nada. sehingga secara tidak sadar mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya tidak dikehendaki. Ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh seorang pemeran tentang fungsi ucapan. misalnya: umur. “kamu belum bisa apa-apa”. Bahasa tubuh bisa berdiri sendiri.. * Melengkapi variasi. Banyak lagi contoh yang menunjukkan tentang makna suara. Dialog yang diucapkan oleh seorang pemeran mempunyai tokohan yang sangat penting dalam pementasan naskah drama atau teks lakon. Itulah yang disebut intonasi. Maka. * Memberi arti khusus pada kata-kata tertentu melalui modulasi suara. Suara merupakan unsur yang harus diperhatikan oleh seseorang yang akan mempelajari teater. Akan tetapi. putus asa. dalam situasi tertentu tidak mampu mengungkapkan maksud yang sebenarnya. “Yah. * Ucapan yang dilontarkan oleh pemeran bertujuan untuk menyalurkan kata dari teks lakon kepada penonton.

Dunia tidak nyata yang diciptakan seorang penulis lakon dan diwujudkan oleh pekerja teater. cenderung dapat merusak proses pemeranan. Jika berlawanan dengan bahasa verbal akan mengurangi kekuatan komunikasi. 4. mempelajari gesture. Bahasa ini mendukung dan berpengaruh dalam proses komunikasi. sedangkan kalau selaras dengan bahasa verbal akan menguatkan proses komunikasi. Pemakaian gesture ini mengajak seseorang untuk menampilkan variasi bahasa atau bermacam-macam cara mengungkapkan perasaan dan pemikiran. Kekuatan pemeran untuk mewujudkan dunia rekaan ini hanya bias dilakukan dengan kekuatan daya konsentrasi. semua emosi tokoh yang ditokohkan harus mampu diwujudkan. Seorang pemeran yang hanya melakukan aksi berarti baru mengerjakan separuh dari tugasnya. Ada korelasi yang sangat dekat antara pikiran dan tubuh. tetapi juga harus memberikan respon terhadap ekspresi tokoh lain. tetapi juga perasaan terhadap karakter lawan main. latihan olah rasa tidak hanya berfungsi untuk meningkatkan kepekaan rasa dalam diri sendiri. Pusat perhatian seorang pemeran adalah sukma atau jiwa tokoh atau karakter yang akan dimainkan. konsentrasi menjadi sesuatu hal yang penting untuk pemeran. Seorang pemeran tidak hanya memikirkan ekspresi karakter tokoh yang ditokohkan saja. Misalnya seorang pemeran melihat sesuatu yang menjijikan (meskipun sesuatu itu tidak ada di atas pentas) maka ia harus menyakinkan kepada penonton bahwa sesuatu yang dilihat benar-benar menjijikkan. gesture tidak dapat . Tugas yang lain adalah memberikan reaksi.3. yaitu tokoh yang dimainkan. Ada juga yang mengatakan bahwa gesture adalah bentuk komunikasi non verbal yang diciptakan oleh bagian-bagian tubuh yang dapat dikombinasikan dengan bahasa verbal.3.2 Gesture Gesture adalah sikap atau pose tubuh pemeran yang mengandung makna. Dunia ini harus diwujudkan menjadi sesuatu yang seolah-olah nyata dan dapat dinikmati serta menyakinkan penonton.3 OLAH RASA Pemeran teater membutuhkan kepekaan rasa. latihan-latihan yang mendukung kepekaan rasa perlu dilakukan.1 Konsentrasi Pengertian konsentrasi secara harfiah adalah pemusatan pikiran atau perhatian. Padahal akting adalah kerja aksi dan reaksi. Dengan demikian. Bahasa tubuh dilakukan oleh seseorang terkadang tanpa disadari dan keluar mendahului bahasa verbal. Maka. Oleh karena itu. Terlebih dalam konteks aksi dan reaksi. Seorang pemeran harus memahami bahasa tubuh. makin tinggi kesanggupan memusatkan perhatian. 4. Langkah awal yang perlu diperhatikan adalah mengasah kesadaran dan mampu menggunakan tubuhnya dengan efisien. Kalau pemeran dengan tingkat konsentrasi yang rendah maka dia tidak akan dapat menyakinkan penonton. Akan tetapi. Dalam menghayatai karakter tokoh. Segala sesuatu yang mengalihkan perhatian seorang pemeran. Banyak pemeran yang hanya mementingkan ekspresi yang ditokohkan sehingga dalam benaknya hanya melakukan aksi. Tujuan dari konsentrasi ini adalah untuk mencapai kondisi kontrol mental maupun fisik di atas panggung. Latihan gesture dapat digunakan untuk mempelajari dan melahirkan bahasa tubuh. baik bahasa tubuh budaya sendiri maupun bahasa tubuh budaya lainnya. Dengan konsentrasi pemeran akan dapat mengubah dirinya menjadi orang lain. Dunia teater adalah dunia imajiner atau dunia rekaan. dan imajinasi.4. Makin menarik pusat perhatian. Latihan olah rasa dimulai dari konsentrasi. Seorang pemeran harus dapat mengontrol tubuhnya setiap saat.

Misalnya. gesture dengan badan. Belajar imajinasi dapat menggunakan fungsi ”jika” atau dalam istilah metode pemeranan Stanislavski disebut magic-if. Bahasa tubuh atau gesture dengan tangan adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi maupun gerak kedua tangan. dan jangan menggambarkan suatu objek yang tidak pasti (perkiraan). Jadi bahasa tubuh harus dipahami oleh pemeran sebagai pendukung bahasa verbal. Hal ini berlawanan dengan bangsa-bangsa lain. Selain itu.3 Imajinasi Imajinasi adalah proses pembentukan gambaran-gambaran baru dalam pikiran. Imajinasi tidak akan muncul jika direnungkan tanpa suatu objek yang menarik. Latihan imajinasi bagi pemeran berfungsi mengidentifikasi tokoh yang akan dimainkan. Untuk membangkitkan imajinasi tokoh gunakan pertanyaan. mengangguk tandanya tidak setuju sedangkan mengeleng artinya setuju. Baik hal yang logis maupun yang tidak logis. Bahasa tubuh semacam respon atau impuls dalam batin seseorang yang keluar tanpa disadari. Misalnya. dan apa. maka akan terjadi proses imajinasi. Hal-hal yang perlu diketahui ketika berlatih imajinasi. Bahasa tubuh yang tercipta oleh kedua tangan merupakan bahasa tubuh yang paling banyak jenisnya. maka pikiran dipaksa untuk menjawab pertanyaan tersebut. akan diketahui tanda kebohongan atau tanda-tanda kebosanan pada proses komunikasi yang sedang berlangsung. bagi orang Yunani berarti penghinaan.menggantikan bahasa verbal sepenuhnya. seorang pemeran juga harus berimajinasi tentang pengalaman hidup tokoh yang akan dimainkan. Melatih imajinasi sama dengan memperkerjakan pikiran-pikiran untuk terus berpikir. Bahasa tubuh dengan tubuh adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh pose atau sikap tubuh seseorang. tetapi bagi orang Amerika artinya bagus. sedangkan fantasi membuat hal-hal yang tidak ada. Dengan berpikir. Belajar imajinasi harus menggunakan plot yang logis. dengan mempelajari bahasa tubuh. tidak pernah ada. dimana gambaran tersebut tidak pernah dialami sebelumnya. gesture dengan kepala dan wajah. maka akan memunculkan gambaran pengandaiannya. Bahasa tubuh dengan kepala dan wajah adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi kepala maupun ekspresi wajah. siapa. dan tidak akan pernah ada. * Pikiran bisa disuruh untuk mempertanyakan segala sesuatu. Dengan stimulus pertanyaan-pertanyaan atau menggunakan stimulus ”seandainya”. Selain itu. 4. orang India. gesture harus disadari dan diciptakan sebagai penguat komunikasi dengan bahasa verbal. tetapi harus dengan pikiran yang aktif. Sifat bahasa tubuh adalah tidak universal.3. Tangan mengacung dengan jari telunjuk dan jempol membentuk lingkaran. bagi orangtokohcis artinya nol. Sedang beberapa orang menggunakan gesture sebagai tambahan dalam kata-kata ketika melakukan proses komunikasi. . * Imajinasi tidak akan muncul dengan pikiran yang pasif. tetapi harus dibujuk untuk bisa digunakan. “siapakah Hamlet itu?”. Manfaat mempelajari dan melatih gesture adalah mengerti apa yang tidak terkatakan dan yang ada dalam pikiran lawan bicara. dimana. Usaha menjawab pertanyaan itu akan membawa pikiran untuk mengimajinasikan sosok Hamlet. dan gesture dengan kaki. Objek berfungsi untuk menstimulasi atau merangsang pikiran. * Imajinasi tidak bisa dipaksa. Sebagai seorang pemeran. Macam-macam gesture yang dapat dipahami orang lain adalah gesture dengan tangan. Sedangkan bahasa tubuh dengan kaki adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi dan bagaimana meletakkan kaki. * Imajinasi menciptakan hal-hal yang mungkin ada atau mungkin terjadi.

dan panggung arena. penata panggung diharuskan memahami karakter jenis panggung yang akan digunakan serta bagian-bagian panggung tersebut. Bentuk panggung yang berbeda memiliki prinsip artistik yang berbeda.2. 5.berbeda satu dengan yang lain . tetapi segala tata letak perabot atau piranti yang akan digunakan oleh aktor disediakan oleh penata panggung. sutradara. Penataan panggung disesuaikan dengan tuntutan cerita. Penonton sangat dekat sekali dengan pemain.1 Mempelajari Panggung Dalam sejarah perkembangannya.2 Jenis-jenis Panggung Panggung adalah tempat berlangsungnya sebuah pertunjukan dimana interaksi antara kerja penulis lakon. Misalnya. di atas panggung diletakkan kursi dan meja berukir. Dengan memahami bentuk dari masingmasing panggung inilah. dalam panggung yang penontonnya melingkar. seni teater memiliki berbagai macam jenis panggung yang dijadikan tempat pementasan. Karena bentuknya yang dikelilingi oleh penonton. panggung thrust. Kedekatan jarak ini membawa konsekuensi artistik tersendiri baik bagi pemain dan (terutama) tata panggung. 5. Semua ditata agar enak dipandang dari berbagai sisi.maka penonton akan dengan mudah melihatnya. ukuran. Oleh karena itu. Untuk menyampaikan maksud tersebut pekerja teater mengolah dan menata panggung sedemikian rupa untuk mencapai maksud yang dinginkan. kehendak artistik sutradara.1. Inti dari pangung arena baik terbuka atau tertutup adalah mendekatkan penonton dengan pemain.1 TATA PANGGUNG Tata panggung disebut juga dengan istilah scenery (tata dekorasi). Segala perabot yang digunakan dalam panggung arena harus benar-benar dipertimbangkan dan dicermati secara hati-hati baik bentuk. Perbedaan jenis panggung ini dipengaruhi oleh tempat dan zaman dimana teater itu berada serta gaya pementasan yang dilakukan. Gambaran tempat kejadian lakon diwujudkan oleh tata panggung dalam pementasan. Karena jaraknya yang dekat. Jika bentuk ukiran yang ditampilkan tidak nampak sempurna . maka penata panggung dituntut kreativitasnya untuk mewujudkan set dekor. Ketiganya adalah panggung proscenium. Untuk memperoleh hasil terbaik. Tidak hanya sekedar dekorasi (hiasan) semata. Berbeda dengan panggung yang penontonnya hanya satu arah dari depan.1. detil perabot yang diletakkan di atas panggung harus benar-benar sempurna sebab jika tidak maka cacat sedikit saja akan nampak. . Di atas panggung inilah semua laku lakon disajikan dengan maksud agar penonton menangkap maksud cerita yang ditampilkan. membutuhkan tata letak perabot yang dapat enak dilihat dari setiap sisi. dan panggung tempat pementasan dilaksanakan. dan penempatannya. 5. Seperti telah disebutkan di atas bahwa banyak sekali jenis panggung tetapi dewasa ini hanya tiga jenis panggung yang sering digunakan.Dasar-dasar Teater (5/6): Seni Rupa dalam Teater 5.1. Misalnya. Panggung arena biasanya dibuat secara terbuka (tanpa atap) dan tertutup. Agar semua pemain dapat terlihat dari setiap sisi maka penggunaan set dekor berupa bangunan tertutup vertikal tidak diperbolehkan karena dapat menghalangi pandangan penonton. dan aktor ditampilkan di hadapan penonton. sebelum melaksanakan penataan panggung seorang penata panggung perlu mempelajari panggung pertunjukan. penata panggung dapat merancangkan karyanya berdasar lakon yang akan disajikan dengan baik.1 Arena Panggung arena adalah panggung yang penontonnya melingkar atau duduk mengelilingi panggung. Hal ini mempengaruhi nilai artistik pementasan.

bingkai proscenium menjadi batas tepinya. Jarak yang sengaja diciptakan untuk memisahkan pemain dan penonton ini dapat digunakan untuk menyajikan cerita seperti apa adanya. Tata perabot kemudian menjadi unsur pokok pada tata panggung arena. panggun arena sering menjadi pilihan utama bagi teater tradisional.1. Bentangan jarak dapat menciptakan bayangan arstisitk tersendiri yang mampu menghadirkan kesan. Jarak antara penonton dan panggung adalah jarak yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan gambaran kreatif pemangungan. Aspek kedekatan inilah yang dieksplorasi untuk menimbulkan daya tarik penonton.1. Hampir semua sekolah teater memiliki jenis panggung proscenium. Unsur-unsur ini ditata sedemikian rupa sehingga bisa . Bingkai yang dipasangi layar atau gorden inilah yang memisahkan wilayah akting pemain dengan penonton yang menyaksikan pertunjukan dari satu arah. Semua yang ada di atas panggung dapat disajikan secara sempurna seolah-olah gambar nyata. Banyak usaha yang dilakukan untuk mendekatkan pertunjukan dengan penonton. Gambar dekorasi dan perabot tidak begitu menuntut kejelasan detil sampai hal-hal terkecil.Lepas dari kesulitan yang dihadapi. terutama pada panggung arena dimana lukisan dekor atau bentuk bangunan vertikal tertutup seperti dinding atau kamar (karena akan menghalangi pandangan sebagian penonton) tidak memungkinkan diletakkan di atas panggung.3 Fungsi Tata Panggung Dalam perancangan tata panggung selain mempertimbangkan jenis panggung yang akan digunakan ada beberapa elemen komposisi yang perlu diperhatikan. Aktor dapat bermain dengan leluasa seolah-olah tidak ada penonton yang hadir melihatnya. Selain merencanakan gambar dekor. Beberapa pengembangan desain dari teater arena melingkar dilakukan sehingga bentuk teater arena menjadi bermacammacam. Kesan inilah yang diolah penata panggung untuk mewujudkan kreasinya di atas panggung proscenium. Intinya semua yang di atas panggung dapat diciptakan untuk mengelabui pandangan penonton dan mengarahkan mereka pada pemikiran bahwa apa yang terjadi di atas pentas adalah kenyataan. Kemungkinan berkomunikasi secara langsung atau bahkan bermain di tengah-tengah penonton ini menjadi tantangan kreatif bagi teater modern. Dengan pemisahan ini maka pergantian tata panggung dapat dilakukan tanpa sepengetahuan penonton.2 Proscenium Panggung proscenium bisa juga disebut sebagai panggung bingkai karena penonton menyaksikan aksi aktor dalam lakon melalui sebuah bingkai atau lengkung proscenium (proscenium arch). Perspektif dapat ditampilkan dengan memanfaatkan kedalaman panggung (luas panggung ke belakang). Penonton disuguhi gambaran melalui bingkai tersebut. salah satunya adalah penggunaan panggung arena. fungsi tata panggung perlu dibahas terlebih dahulu. Pemisahan ini dapat membantu efek artistik yang dinginkan terutama dalam gaya realisme yang menghendaki lakon seolah-olah benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata. Kedekatan jarak antara pemain dan penonton dimanfaatkan untuk melakukan komunikasi langsung di tengahtengah pementasan yang menjadi ciri khas teater tersebut. 5. Sebelum menjelaskan semua itu. Pesona inilah yang membuat penggunaan panggung proscenium bertahan sampai sekarang. Karena keseluruhan objek yang ada di atas panggung dan digunakan oleh aktor membentuk satu lukisan secara menyeluruh. 5. Perabot dan piranti sangat penting dalam mencipta lukisan panggung. Tata panggung pun sangat diuntungkan dengan adanya jarak dan pandangan satu arah dari penonton. Pembelajaran tata panggung untuk menciptakan ilusi (tipuan) imajinatif sangat dimungkinkan dalam panggung proscenium. penata panggung juga bertanggungjawab terhadap segala perabot yang digunakan. Seperti sebuah lukisan. Panggung proscenium sudah lama digunakan dalam dunia teater. Tata cahaya yang memproduksi sinar dapat dihadirkan dengan tanpa terlihat oleh penonton dimana posisi lampu berada.2.

Sejak ditemukannya lampu penerangan manusia menciptakan modifikasi dan menemukan hal-hal baru yang dapat digunakan untuk menerangi panggung pementasan. Inilah fungsi paling mendasar dari tata cahaya. 1988). Dalam teater. dan penonton untuk saling melihat dan berkomunikasi. untuk memberikan fokus perhatian pada area atau aksi tertentu sutradara memanfaatkan cahaya. Dalam pertunjukan era primitif manusia hanya menggunakan cahaya matahari. 5. yaitu penerangan. status karakter peran. Semua objek yang disinari memberikan gambaran yang jelas kepada penonton tentang segala sesuatu yang akan dikomunikasikan. dimensi. * Pemilihan. periode sejarah lakon. . Dengan tata cahaya kedalaman sebuah objek dapat dicitrakan. menata. Artinya. Tanpa adanya cahaya maka penonton tidak akan dapat menyaksikan apa-apa.1 Fungsi Tata Cahaya Tata cahaya yang hadir di atas panggung dan menyinari semua objek sesungguhnya menghadirkan kemungkinan bagi sutradara. Istilah penerangan dalam tata cahaya panggung bukan hanya sekedar memberi efek terang sehingga bisa dilihat tetapi memberi penerangan bagian tertentu dengan intensitas tertentu. * Dimensi. Dengan cahaya. lokasi kejadian. Pemikiran lain di luar desain akan menghambat imajinasi dan akhrinya memberikan batasan. Lampu memberi penerangan pada pemain dan setiap objek yang ada di atas panggung. Jika dalam film dan televisi sutradara dapat memilih adegan menggunakan kamera maka sutradara panggung melakukannya dengan cahaya. dan memanipulasi elemen komposisi yang menjadi dasar dari seluruh kerja desain. penonton secara normal dapat melihat seluruh area panggung.4 Elemen Komposisi Desain tata panggung sebaiknya dibuat dengan mudah dan bebas. imajinasi dapat dituangkan sepenuhnya ke dalam gambar desain tanpa lebih dulu berpikir tentang kemungkinan visualisasinya. Tata cahaya dapat dimanfaatkan untuk menentukan objek dan area yang hendak disinari. Jika semua objek diterangi dengan intensitas yang sama maka gambar yang akan tertangkap oleh mata penonton menjadi datar.1. aktor. Dengan pengaturan tingkat intensitas serta pemilahan sisi gelap dan terang maka dimensi objek akan muncul. dan musim dalam tahun dimana lakon dilangsungkan. Dimensi dapat diciptakan dengan membagi sisi gelap dan terang atas objek yang disinari sehingga membantu perspektif tata panggung. Pengetahuan dasar ini selanjutnya dapat diterapkan dan dikembangkan dalam penataan cahaya untuk kepentingan artistik pemanggungan.2 TATA CAHAYA Cahaya adalah unsur tata artistik yang paling penting dalam pertunjukan teater. Dalam pembuatan desain gambar tata panggung yang terpenting adalah cara mengatur. Pemilihan ini tidak hanya berpengaruh bagi perhatian penonton tetapi juga bagi para aktor di atas pentas serta keindahan tata panggung yang dihadirkan. 5. sutradara dapat menghadirkan ilusi imajinatif.2.memberikan gambaran lengkap yang berfungsi untuk menjelaskan suasana dan semangat lakon. Penyuntingan atau pengolahan bisa dilakukan setelah gagasan tertuang. Tidak semua area di atas panggung memiliki tingkat terang yang sama tetapi diatur dengan tujuan dan maksud tertentu sehingga menegaskan pesan yang hendak disampaikan melalui laku aktor di atas pentas. pemilihan. 5. dan atmosfir (Mark Carpenter. Banyak hal yang bisa dikerjakan bekaitan dengan peran tata cahaya tetapi fungsi dasar tata cahaya ada empat. Seorang penata cahaya perlu mempelajari pengetahuan dasar dan penguasaan peralatan tata cahaya. bulan atau api untuk menerangi. * Penerangan.

Gerak perpindahan cahaya ini mengalir sehingga kadang-kadang perubahannya disadari oleh penonton dan kadang tidak. * Penekanan. Dalam pementasan teater tradisional. Keempat fungsi pokok tata cahaya di atas tidak berdiri sendiri. Dalam pementasan komedi atau dagelan tata cahaya membutuhkan tingkat penerangan yang tinggi sehingga setiap gerak lucu yang dilakukan oleh aktor dapat tertangkap jelas oleh penonton. Sepanjang pementasan. Tanpa sadar penonton dibawa ke dalam suasana yang berbeda melalui perubahan cahaya. black out biasanya digunakan sebagai tanda ganti adegan diiringi dengan pergantian set. Cahaya dapat dimanfaatkan untuk menciptakan lukisan panggung melalui tatanan warna yang dihasilkannya. Misalnya. Inilah gambaran suasana dan emosi yang dapat dimunculkan oleh tata cahaya. Tata cahaya dapat memberikan penekanan tertentu pada adegan atau objek yang dinginkan. tata cahaya memiliki fungsi pendukung yang dikembangkan secara berlainan oleh masing-masing ahli tata cahaya. masing-masing fungsi memiliki interaksi (saling mempengaruhi). suasana. Beberapa fungsi pendukung yang dapat ditemukan dalam tata cahaya adalah sebagai berikut. Tata rias dalam teater mempunyai arti lebih spesifik. Fungsi penerangan dilakukan dengan memilih area tertentu untuk memberikan gambaran dimensional objek. * Pemberian tanda. dari objek satu ke objek lain. Gaya realis atau naturalis yang mensyaratkan detil kenyataan mengharuskan tata cahaya mengikuti cahaya alami seperti matahari. yaitu seni mengubah wajah untuk menggambarkan karakter tokoh. Pemakaian tata rias akhirnya menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari peristiwa teater. fade out untuk mengakhiri sebuah adegan. fade in untuk memulai adegan dan black out sebagai akhir dari cerita. Cahaya dapat menunjukkan gaya pementasan yang sedang dilakonkan. tumbuhan.3 TATA RIAS Tata rias secara umum dapat diartikan sebagai seni mengubah penampilan wajah menjadi lebih sempurna. seperti tanah. Yang paling menarik dari fungsi tata cahaya adalah kemampuannya menghadirkan suasana yang mempengaruhi emosi penonton. Sebuah bagian bangunan yang tinggi yang senantiasa disinari cahaya sepanjang pertunjukan akan menarik perhatian penonton dan menimbulkan pertanyaan sehingga membuat penonton menyelidiki maksud dari hal tersebut. Tetapi pergantian cahaya dalam satu area ketika adegan tengah berlangsung terkadang tidak secara langsung disadari. * Gaya. Misalnya. Cahaya berfungsi untuk memberi tanda selama pertunjukan berlangsung. Kata “atmosfir” digunakan untuk menjelaskan suasana serta emosi yang terkandung dalam peristiwa lakon. Tata cahaya tidaklah statis. Sejak ditemukannya teknologi pencahayaan panggung. * Komposisi. dan lemak binatang. 5.* Atmosfir. Sinar mentari pagi membawa kehangatan sedangkan sinar mentari siang hari terasa panas. bulan atau lampu meja. * Gerak. efek lampu dapat diciptakan untuk menirukan cahaya bulan dan matahari pada waktu-waktu tertentu. penonton dapat melihatnya dengan jelas. warna cahaya matahari pagi berbeda dengan siang hari. dan emosi peristiwa. Jika perpindahan cahaya bergerak dari aktor satu ke aktor lain dalam area yang berbeda. . Penggunaan warna serta intensitas dapat menarik perhatian penonton sehingga membantu pesan yang hendak disampaikan. Dalam gaya Surealis tata cahaya diproyeksikan untuk menyajikan imajinasi atau fantasi di luar kenyataan seharihari. Tata cahaya mampu menghadirkan suasana yang dikehendaki oleh lakon. Contohnya. Selain keempat fungsi pokok di atas. Beberapa teater primitif menggunakan bedak tebal yang biasa dibuat dari bahan-bahan alam. cahaya selalu bergerak dan berpindah dari area satu ke area lain.tulang. Artinya. Tata Rias dalam teater bermula dari pemakaian kedok atau topeng untuk menggambarkan karakter tokoh. teater Yunani yang memakai topeng lebih besar dari wajah pemain dengan garis tegas agar ekspresinya dapat dilihat oleh penonton.

* Menyempurnakan penampilan wajah * Menggambarkan karakter tokoh * Memberi efek gerak pada ekspresi pemain * Menegaskan dan menghasilkan garis-garis wajah sesuai dengan tokoh * Menambah aspek dramatik. bentuk wajah dan tubuh. dan bibir bergaris tegas. bibir yang kurang tegas. seorang remaja memerankan siswa sekolah.4 Menghadirkan Garis Wajah Sesuai Dengan Tokoh Menampilkan wajah sesuai dengan tokoh membutuhkan garis baru yang membentuk wajah baru. seorang yang optimis digambarkan dengan tarikan sudut mata cenderung ke atas. memiliki hidung yang kurang mancung. Oleh karena itu dibutuhkan tata rias untuk menampilkan dimensi wajah pemain.1 Menyempurnakan Penampilan Wajah Wajah seorang pemain memiliki kekurangan yang bisa disempurnakan dengan mengaplikasikan tata rias. Tata rias tidak perlu mengubah usia.3. 5.1 Fungsi Tata Rias Tokoh dalam teater memiliki karakter berbeda-beda. Tata rias merupakan salah satu cara menampilkan karakter tokoh yang berbeda-beda tersebut. Seorang penata rias harus mencermati gerak ekspresi wajah untuk menentukan garis yang akan dibuat. tetapi cukup menyempurnakan dengan mengoreksi kekurangan yang ada untuk disempurnakan.3.1. ras. Seorang yang berperan . 5. Tata rias dalam teater memiliki fungsi sebagai berikut. tetapi juga menambahkan sehingga terbentuk tampilan yang berbeda dengan wajah asli pemain.5. wajahnya akan tampak datar. Misalnya.2 Menggambarkan Karakter Tokoh Karakter berarti watak. Tata rias berfungsi menegaskan garis-garis wajah karakter. dan sebagainya. 5.3. Misalnya. Karakter wajah merupakan cermin psikologis dan latar sosial tokoh yang hadir secara nyata. Penyempurnaan wajah dilakukan pada pemain yang secara fisik telah sesuai dengan tokoh yang dimainkan. tidak memiliki dimensi.1. mata yang tidak ekspresif. sehingga saat berekspresi muncul efek gerak yang tegas dan dapat ditangkap oleh penonton. seorang remaja yang memerankan seorang yang telah berumur 50 tahun.3. Tata rias bisa menyempurnakan kekurangan tersebut sehingga muncul kesan hidung tampak mancung.3 Memberi Efek Gerak Pada Ekspresi Pemain Wajah seorang pemain di atas pentas. tokoh yang pesimistis cenderung memiliki karakter garis mata yang menurun. tampak datar ketika tertimpa cahaya lampu. Tata rias memiliki kemampuan dalam mengubah sekaligus menampilkan karakter yang berbeda dari seorang pemeran. mata menjadi lebih ekspresif. misalnya. 5. Seorang pemain. Misalnya. Pemain yang tidak menggunakan rias. Tata rias berfungsi melukiskan watak tokoh dengan mengubah wajah pemeran menyangkut aspek umur.3. Fungsi garis tidak sekedar menegaskan.1. Wajah perlu ditambahkan garis-garis kerutan sesuai wajah seorang yang berusia 50 tahun. Penampilan tokoh yang berbeda-beda membutuhkan penampilan yang berbeda sesuai karakternya. Sebaliknya.1.

1 Tata Rias Korektif Tata rias korektif (corective make-up) merupakan suatu bentuk tata rias yang bersifat menyempurnakan (koreksi). bangsa. ras. Misalnya.2.3 Tata Rias karakter Tata rias karaker adalah tata rias yang mengubah penampilan wajah seseorang dalam hal umur. 5. 5. gelang . kalung. Biasanya pemeran memiliki kesesuaian dengan tokoh yang diperankan. maka perlu membuat garis-garis baru sesuai dengan karakter wajah binatang yang diperankan.3. Seorang pemain membutuhkan tata rias korektif ketika tampilannya tidak membutuhkan perubahan usia.4 TATA BUSANA Tata busana adalah seni pakaian dan segala perlengkapan yang menyertai untuk menggambarkan tokoh.menjadi tokoh binatang.2 Tata Rias Fantasi Tata rias fantasi dikenal juga dengan istilah tata rias karakter khusus.2. busana yang dipakai berasal dari bahan-bahan alami. 5. Tata busana dalam teater memiliki peranan penting untuk menggambarkan tokoh. hidung kurang mancung dan sebagainya. Seseorang yang memiliki bentuk wajah kurang sempurna. tetapi mengubah tampilan wajah.3. menegaskan. Tokoh-tokoh mengalami berbagai peristiwa sehingga terjadi perubahan dan penambahan tata rias. Tata busana termasuk segala asesoris seperti topi. Disebut tata rias karakter khusus.2 Jenis Tata Rias 5. Setiap wajah memiliki kekuarangan dan kelebihan. sifat. tersayat wajahnya. syal. tertembak. 5. dan ciri-ciri khusus yang melekat pada tokoh. misalnya memanjangkan telinga.2. dan segala unsur yang melekat pada pakaian.dapat disempurnakan dengan make up korektif. Tata rias karakter dibutuhkan ketika karakter wajah pemeran tidak sesuai dengan karakter tokoh. mengubah umur pemeran dari muda menjadi lebih tua . Pada era teater primitif. Tata rias ini menyembunyikan kekurangan-kekurangan yang ada pada wajah dan menonjolkan hal-hal yang menarik dari wajah. seperti tumbuhan. Wajah pemain cukup disempurnakan dengan menyamarkan. 5.5 Menambah Aspek Dramatik Peristiwa teater selalu tumbuh dan berkembang. Tokoh tersebut memiliki latar Suku Dayak Kalimantan yang memiliki tradisi memanjangkan telinga. Tata rias karakter tidak sekedar menyempurnakan. Tata rias fantasi menggambarkan tokohtokoh yang tidak riil keberadaannya dan lahir berdasarkan daya khayal semata. Mengubah anatomi wajah pemain untuk memenuhi tuntutan tokoh dapat juga digolongkan sebagai tata rias karakter. Contohnya. misalnya dahi terlalu lebar. dan perubahan bentuk wajah. dan batu- . Tata rias bisa memberikan efek dramatik dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan menciptakan efek tertentu sesuai dengan kebutuhan. watak. sepatu.1. dan menonjolkan bagian-bagian wajah sesuai dengan tokoh yang dimainkan.3. karena menampilkan wujud rekaan dengan mengubah wajah tidak realistik.3. maka dibutuhkan tata rias yang memberikan efek sesuai dengan kebutuhan.3. kulit binatang. seorang tokoh tertusuk belati.

2 Membedakan Satu Pemain Dengan Pemain Yang Lain Pementasan teater menampilkan tokoh yang bermacam-macam karakter dan latar belakang sosialnya. beragam aliran teater bermunculan.4.1. Teater di Inggris pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth (1580 – 1640). Busana dalam teater memiliki fungsi yang lebih kompleks. Penampilan busana yang berbeda akan menunjukkan ciri khusus seorang tokoh. sehingga penonton mampu mengidentifikasikan tokoh dengan mudah . Penonton membutuhkan suatu penampilan yang berbeda-beda antara satu tokoh dengan tokoh yang lain. Ketika manusia menemukan tekstil dengan teknologi pengolahan yang tinggi. Semua terserah pada gagasan seniman. * Mencitrakan keindahan penampilan * Membedakan satu pemain dengan pemain yang lain * Menggambarkan karakter tokoh * Memberikan efek gerak pemain * Memberikan efek dramatik 5. mencitrakan kesopanan. Renaissance. dalam teater Romawi Kuno maka lakon yang ditampilkan berlatar jaman tersebut sehingga busananya pun seperti busana keseharian penduduk jaman Romawi Kuno.1 Fungsi Tata Busana Busana yang dipakai manusia beraneka ragam bentuk dan fungsinya.4. Tata busana dalam teater berfungsi sebagai bentuk ekspresi untuk tampil lebih indah dari penampilan seharihari. Masingmasing memiliki ciri khasnya. Artinya. Fungsi busana dalam kehidupan seharihari untuk melindungi tubuh. Masing-masing memiliki kospenya tersendiri dan lakon tidak harus berlatar jaman dimana lakon itu dibuat. Busana menjadi salah satu tanda penting untuk membedakan satu tokoh dengan tokoh yang lain. karena semua tergantung latar cerita yang ditampilkan. Misalnya. tetapi lebih pada konsep yang melatarbelakangi penciptaan teater. Tata busana dapat dibuat berdasar budaya atau jaman tertentu.4. dan Abad 18. Dalam masa ini. Jenis busana ini tidak bisa disamakan antara daerah satu dengan daerah lain. Busana pun mengikuti konsep tersebut.1 Mencitrakan Keindahan Penampilan Manusia memiliki hasrat untuk mengungkapkan rasa keindahan dalam berbagai aspek kehidupan. Restorasi. Tidak ada periode tata busana secara khusus di teater. busana pada jaman atau dekade tertentu memiliki ciri yang sama.batuan untuk asesoris. maka busana berkembang menjadi lebih baik. yaitu. Demikian juga dengan teater pada jaman Yunani. Pada era teater primitif. Pementasan teater adalah suatu tontonan yang mengandung aspek keindahan. Untuk membuat tata busana sesuai dengan adat dan kebudayaan daerah tertentu maka diperlukan referensi khusus berkaitan dengan adat dan kebudayaan tersebut. Busana pementesan teater dibuat secara khusus dan dilengkapi dengan asesoris sesuai kebutuhan pemensan.1. Tata busana dengan demikian sudah tidak lagi terpaku pada jaman. memakai busana sehari-hari yang dibuat lebih indah dengan mengaplikasikan perhiasan dan penambahan bahanbahan yang mahal dan mewah. Elizabethan. Abad Pertengahan. hasrat untuk tampil berbeda dan lebih indah dari tampilan sehari-hari telah muncul. Busana teater mengalami perkembangan pesat seiring lahirnya teater modern pada akhir abad 19. Sementara itu tata busana menurut jamannya bisa digeneralisasi. 5. Periode busana teater dengan demikian mengikuti periode teater tersebut. dan memenuhi hasrat manusia akan keindahan. 5.

Perbedaan karakter dalam busana dapat ditampilkan melalui model. motif. tokoh seorang pelajar yang pendiam. brutal. dan sering membuat onar. Sebaliknya.5. rajin.4. busananya dilengkapi asesoris dan cara pemakaiannya seenaknya tidak sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan sekolah. dan alim. Melalui busana.3 Menggambarkan Karakter Tokoh Fungsi penting busana dalam teater adalah untuk menggambarkan karakter tokoh. bentuk. Contohnya. tokoh seorang pelajar yang bandel. penonton terbantu dalam menangkap karakter yang berbeda dari setiap tokoh. warna. sederhana. busananya cenderung rapi. . dan garis yang diciptakan. dan tanpa asesoris yang berlebihan.1.

Kualitas karya yang dihasilkan menggambarkan semangat dan keadaan jiwa pembuatnya. semua saling membantu. Satu bidang harus mampu dan mau menghargai bidang lain. tata rias dan busana. Saling mendukung demi tercapaiya tujuan tersebut. Jika satu saja elemen berada di luar garis ini maka kesatuan makna menjadi kabur. Karena itu pulalah penonton merupkan kunci keberhasilan sebuah pertunjukan. Jika kualitas kerja salah satu bidang tidak baik maka keseluruhan pertunjukan menjadi terpengaruh. Akhirnya menjadi maklumlah kita ketika seseorang berbicara tentang teater maka ia akan membicarakan semua elemen yang ada di dalamnya. seni memang tidak hanya menghasilkan sesuatu yang tampak (produk) tetapi juga mental atau jiwa para pelakunya. Respon atau tanggapan yang diberikan penonton terhadap pertunjukan yang dilangsungkan merupakan tanda bagi keberhasilan atau kegagalan pertunjukan tesebut dalam menyampaikan pesan. aktor. Berbicara teater tidak hanya berbicara naskah atau sutradara yang merajut proses atau aktor terkenal yang ikut terlibat di dalamnya. Karena sifatnya yang kolaboratif maka seni teater akan kehilangan spiritnya jika masing-masing bidang berusaha untuk menonjol dan mengalahkan bidang lain. Kualitas ketersampaian pesan yang diramu oleh para pekerja teater (pengarang. pengetahuan. dan peningkatan kompetensi tetapi juga untuk mengungkap makna kerja yang ada di sebalik ilmu. Jadi.Dasar-dasar Teater (6/6): Penutup Sebuah karya teater lahir dari satu proses pembelajaran yang padu. Sebuah langkah yang besar selalu dimulai dari langkah kecil. sutradara. Pemaknaan ini akan membawa satu sikap penghargaan profesi baik bagi diri sendiri atau bagi orang yang bekerja pada bidang lain. Dengan demikin dalam satu karya teater. Berbicara teater adalah berbicara tentang semua hal yang ada di dalamnya. maka semua komponen bekerja untuk memenuhi atmosfir kesedihan yang diharapkan. Satu bidang kecil memiliki makna yang sama dengan bidang lain. konsep. Semua elemen harus besatu. Untuk kepentingan inilah buku ini disusun. tata panggung dan cahaya. Ia akan bermain dalam area yang diciptakan oleh penata panggung. Oleh karena itulah. tidak hanya tergambar keindahan karya seni tetapi juga prinsip kebersamaan. Apalagi ketika proses tersebut dinilai dan memiliki konsekuensi langsung bagi pelakunya. . Dramaturgi atau pengetahuan teater dasar merupakan pokok pemahaman yang harus diperhatikan. Satu gagasan atau perwujudan karya menjadi indah dan menarik serta memiliki kesatuan makna jika semua elemennya memiliki tujuan artistik yang sama. Karena prinsip teater adalah kerjasama maka belajar teater tidaklah hanya mempelajari elemen-elem yang ada di dalamnya tetapi juga mempelajari kerja pengabungan di antaranya. Memiliki tujuan yang sama. Satu proses kerja bidang tertentu bahkan dinilai lebih tinggi dari bidang lain. penata artistik) akan diketahui langsung oleh para penonton dalam sebuah pertunjukan. Oleh karena itu. Secara mendalam. Seorang aktor yang baik harus mengerti fungsi tata panggung karena ia akan bermain di antara objek yang ditata di atas pentas. Karya seni yang lahir dari kreativitas dapat dialirkan kepada generasi berikutnya melalui catatancatatan. Dalam teater hal itu tidak berlaku. Demikian pula penata panggung harus mau memahami pola laku dan gerak para aktor di atas pentas sehingga ruang yang diciptakan tidak mengganggu bagi pergerakan aktor ketika bemain. Memecahkan persoalan bersama dan menentukan satu keputusan yang secara artistik adil bagi semua pihak. semua saling belajar. Dalam sebuah lakon yang menceritakan tentang kesedihan. Membaca referensi atau buku teater tidaklah hanya untuk menambah wawasan. pelajarilah semuanya sesuai dengan tahapan yang benar. Begitu pentingnya pesan yang hendak disampaikan sehingga semua elemen pendukung pementasan bekerja keras mewujudkannya. Saling berbicara. bahkan penonton yang hadir di dalamnya. Sebuah karya teater yang besar merupakan penyatuan kerja elemen-elemen yang kecil. Berdiskusi. semua saling mendukung. ketersampaian cerita. Dalam satu proses pembelajaran hal semacam itu sering tejadi. Semua elemen harus memahami hal ini. mempelajari teater tidak hanya mempelajari satu bidang dan mengabaikan bidang lain. Memang perlu belajar satu bidang secara khusus tetapi pemahaman atas bidang lain tidak bisa diabaikan. kerja sekecil apapun dalam teater sangatlah penting. Hal itu akan menyangkut soal cerita.

Jika semuanya berbuat dalam semangat kerjasama maka pergelaran karaya teater menjadi karya bersama yang memiliki satu makna. Tidak peduli berapa panjang cerita tersebut. dan berkarya. wujud awal dari sebuah gagasan harus mengalami proses pembentukan. maka cerita yang satu kalimat itu pun dapat dikembangkan. sebuah gagasan dapat diwujudkan. konflik. Banyak seniman yang lahir karena membaca atau mempelajari karya (catatan) seniman yang lainnya. Teater adalah kolketif. pemeranan. dan proses adalah belajar. Masing-masing bidang dalam teater dapat dikerjakan oleh orang-orang tertentu yang tertarik di bidang-bidang tersebut. Semua itu tidak berada dalam bingkai saling meniru akan tetapi bingkai kreativitas yang terus berkembang dan berkembang. dan penyelesaian. akan tetapi lebih berarti jika semua bidang bersinergi. Gagasan hanya akan menjadi gagasan jika tidak diwujudkan. Catatan kecil yang kami sampaikan ini semoga dapat menjadi pemicu semangat untuk terus belajar dan berkarya. membaca untuk menginspirasi sehingga seni baru senantiasa lahir. Ilmu yang didapatkan sekarang tidak akan pernah cukup. Berkarya. Sebuah pertunjukan dapat digelar. cerita yang sudah berhasil dicipta dapat diwujudkan ke dalam sebuah pementasan. lebih menghargai pengalaman dari pada hasil akhir. Bahkan mungkin cerita itu hanya merupakan satu rangkaian kalimat. Oleh karena itu maka tidak ada kata lain selain belajar. teater adalah kerjasama. Semua berjalan dalam satu proses. Karya seni yang lebih mementingkan proses. Disitulah sebetulnya letak fungsi hakiki dari sebuah pengetahuan. Sesuatu yang sangat berarti bagi si penggagas. dan tata artistik dapat diaplikasikan untuk mendukung karya yang akan ditampilkan. semua bermula dari sebuah cerita. Membaca catatan karya orang lain bukan dipahami sebagai bentuk plagiarisme tetapi membaca untuk mempelajari. Tidak perlu seorang diri mengerjakan semuanya. Satu karya mempengaruhi atau terpengaruh oleh karya lain. Dengan semangat dan ketekunan berlatih.Dramaturgi adalah catatan-catatan proses penciptaan seni drama hingga sampai pementasannya. Semangat belajar dalam teater tidak akan pernah bisa berhenti karena teater senantiasa hidup dan berkembang. Minimal menjadi tiga kalimat yang masing-masing mewakili pemaparan. sebuah karya teater dapat dilahirkan. Pengetahuan tentang dasar-dasar penyutradaraan. Kerjasama sebagai semangat seni teater dapat dijadikan acuan proses penciptaan. maka ia perlu dinyatakan. Ketika sebuah gagasan muncul. berkarya. . dan belajar. Dengan berdasar pengetahuan dan keingintahuan dari membaca catatan tersebut. Karya baru yang dihasilkan oleh seniman itupun pada nantinya juga akan menginspirasi karya yang lain. Apapun bentuknya. Catatan inti akan terus berkembang seiring dengan perkembangan teater itu sendiri. dengan memahami dasardasar penciptaan lakon yang mengedepankan pentingnya arti konflik dalam teater. Semua secara harmonis bekerja bersama mendukung makna yang satu. apapun kualitasnya gagasan tersebut harus menjadi sesuatu. belajar. Demikian berjalan secara berkesambungan. Akan tetapi. Masing-masing bidang yang dibahas dalam buku ini memberikan gambaran harmonisasi tersebut. Semua bisa dipelajari secara mandiri. Oleh sebab itu. Hanya dengan cerita yang sangat sederhana semacam ini. membaca untuk menilhami. Dalam teater.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful