P. 1
Dasar

Dasar

|Views: 24|Likes:
Published by Muhammad Bayhaqi

More info:

Published by: Muhammad Bayhaqi on Jul 14, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/22/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.2.1.2 Teater Yunani Klasik
  • 1.2.1.3 Teater Romawi Klasik
  • 1.2.1.4 Teater Abad Pertengahan
  • 1.2.1.5 Renaissance
  • 1.2.1.7 Teater Abad 20
  • 1.2.2.2.2 Teater Indonesia tahun 1920-an
  • 1.2.2.2.3 Teater Indonesia tahun 1940-an
  • 1.2.2.2.4 Teater Indonesia Tahun 1950-an
  • 1.2.2.2.5 Teater Indonesia Tahun 1970-an
  • 1.2.2.2.6 Teater Indonesia Tahun 1980 – 1990-an
  • 1.2.2.2.7 Teater Kontemporer Indonesia
  • 2.1 Tema
  • 2.2.1.1 Simple Plot
  • 2.2.1.2 Multi Plot
  • 2.2.2 Anatomi Plot
  • 2.2.3.1 Latar Tempat
  • 2.2.3.2 Latar Waktu
  • 2.2.3.3 Latar Peristiwa
  • 2.2.4.2 Jenis Karakter
  • 3.1.1 Naskah Jadi
  • 3.1.2 Membuat Naskah Sendiri
  • 3.2.1 Analisis Dasar
  • 3.2.2 Interpretasi
  • 3.3 Konsep Pementasan
  • 3.4.1 Fisik
  • 3.4.2 Kecakapan
  • 3.5.1.1 Berdasar Naskah Lakon
  • 3.5.1.2 Improvisasi
  • 3.5.2.2 Teater Boneka
  • 3.5.2.3 Teater Dramatik
  • 3.5.2.4 Drama Musikal
  • 3.6.1 Pembagian Area Panggung
  • 3.6.2.1 Simetris
  • 3.6.2.2 Asimetris
  • 3.6.2.3 Keseimbangan
  • 3.6.3.1 Prinsip Dasar
  • 4.1 Latihan Olah Tubuh
  • 4.2 OLAH SUARA
  • 4.3.1 Konsentrasi
  • 4.3.2 Gesture
  • 4.3.3 Imajinasi
  • 5.1.1 Mempelajari Panggung
  • 5.1.2.1 Arena
  • 5.1.2.2 Proscenium
  • 5.1.3 Fungsi Tata Panggung
  • 5.1.4 Elemen Komposisi
  • 5.2 TATA CAHAYA
  • 5.3.1.1 Menyempurnakan Penampilan Wajah
  • 5.3.1.2 Menggambarkan Karakter Tokoh
  • 5.3.1.3 Memberi Efek Gerak Pada Ekspresi Pemain
  • 5.3.1.4 Menghadirkan Garis Wajah Sesuai Dengan Tokoh
  • 5.3.1.5 Menambah Aspek Dramatik
  • 5.3.2.2 Tata Rias Fantasi
  • 5.3.2.3 Tata Rias karakter
  • 5.4.1.1 Mencitrakan Keindahan Penampilan
  • 5.4.1.2 Membedakan Satu Pemain Dengan Pemain Yang Lain
  • 5.4.1.3 Menggambarkan Karakter Tokoh

Dasar-dasar Teater (1/6): Definisi & Sejarah Teater 1.

1 Definisi Teater Teater berasal dari kata Yunani, “theatereatron” (bahasa Inggris, Seeing Place) yang artinya tempat atau gedung pertunjukan. Dalam perkembangannya, dalam pengertian lebih luas kata teater diartikan sebagai segala hal yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Dengan demikian, dalam rumusan sederhana teater adalah pertunjukan, misalnya ketoprak, ludruk, wayang, wayang wong, sintren, janger, mamanda, dagelan, sulap, akrobat, dan lain sebagainya. Teater dapat dikatakan sebagai manifestasi dari aktivitas naluriah, seperti misalnya, anak-anak bermain sebagai ayah dan ibu, bermain tokohg-tokohgan, dan lain sebagainya. Selain itu, teater merupakan manifestasi pembentukan strata sosial kemanusiaan yang berhubungan dengan masalah ritual. Misalnya, upacara adat maupun upacara kenegaraan, keduanya memiliki unsur-unsur teatrikal dan bermakna filosofis. Berdasarkan paparan di atas, kemungkinan perluasan definisi teater itu bisa terjadi. Tetapi batasan tentang teater dapat dilihat dari sudut pandang sebagai berikut: “tidak ada teater tanpa aktor, baik berwujud riil manusia maupun boneka, terungkap di layar maupun pertunjukan langsung yang dihadiri penonton, serta laku di dalamnya merupakan realitas fiktif”, (Harymawan, 1993). Kata “drama” juga dianggap telah ada sejak era Mesir Kuno (4000-1580 SM), sebelum era Yunani Kuno (800277 SM). Hubungan kata “teater” dan “drama” bersandingan sedemikian erat seiring dengan perlakuan terhadap teater yang mempergunakan drama lebih identik sebagai teks atau naskah atau lakon atau karya sastra (Bakdi Soemanto, 2001). Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa istilah “teater” berkaitan langsung dengan pertunjukan, sedangkan “drama” berkaitan dengan lakon atau naskah cerita yang akan dipentaskan. Jadi, teater adalah visualisasi dari drama atau drama yang dipentaskan di atas panggung dan disaksikan oleh penonton. Jika “drama” adalah lakon dan “teater” adalah pertunjukan maka “drama” merupakan bagian atau salah satu unsur dari “teater”. Dengan kata lain, secara khusus teater mengacu kepada aktivitas melakukan kegiatan dalam seni pertunjukan (to act) sehingga tindaktanduk pemain di atas pentas disebut acting. Istilah acting diambil dari kata Yunani “dran” yang berarti, berbuat, berlaku, atau beraksi. Karena aktivitas beraksi ini maka para pemain pria dalam teater disebut actor dan pemain wanita disebut actress (Harymawan, 1993). Meskipun istilah teater sekarang lebih umum digunakan tetapi sebelum itu istilah drama lebih populer sehingga pertunjukan teater di atas panggung disebut sebagai pentas drama. Hal ini menandakan digunakannya naskah lakon yang biasa disebut sebagai karya sastra drama dalam pertujukan teater. Di Indonesia, pada tahun 1920-an, belum muncul istilah teater. Yang ada adalah sandiwara atau tonil (dari bahasa Belanda: Het Toneel). Istilah Sandiwara konon dikemukakan oleh Sri Paduka Mangkunegoro VII dari Surakarta. Kata sandiwara berasal dari bahasa Jawa “sandi” berarti “rahasia”, dan “wara” atau “warah” yang berarti, “pengajaran”. Menurut Ki Hajar Dewantara “sandiwara” berarti “pengajaran yang dilakukan dengan perlambang” (Harymawan, 1993). Rombongan teater pada masa itu menggunakan nama Sandiwara, sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama. Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan, istilah sandiwara masih sangat populer. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan (Kasim Achmad, 2006). Keterikatan antara teater dan drama sangat kuat. Teater tidak mungkin dipentaskan tanpa lakon (drama). Oleh karena itu pula dramaturgi menjadi bagian penting dari seni teater. Dramaturgi berasal dari bahasa Inggris dramaturgy yang berarti seni atau tekhnik penulisan drama dan penyajiannya dalam bentuk teater. Berdasar pengertian ini, maka dramaturgi membahas proses penciptaan teater mulai dari penulisan naskah hingga pementasannya. Harymawan (1993) menyebutkan tahapan dasar untuk mempelajari dramaturgi yang disebut dengan formula dramaturgi. Formula ini disebut dengan fromula 4 M yang terdiri dari, menghayalkan, menuliskan, memainkan, dan menyaksikan. M1 atau menghayal, dapat dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang karena menemukan sesuatu gagasan yang merangsang daya cipta. Gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan pada suatu persitiwa baik

yang disaksikan, didengar maupun dibaca dari literatur tertentu. Bisa juga gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan pada kehidupan seseorang. Gagasan atau daya cipta tersebut kemudian diwujudkan ke dalam besaran cerita yang pada akhirnya berkembang menjadi sebuah lakon untuk dipentaskan. M2 atau menulis, adalah proses seleksi atau pemilihan situasi yang harus dihidupkan begi keseluruhan lakon oleh pengarang. Dalam sebuah lakon, situasi merupakan kunci aksi. Setelah menemukan kunci aksi ini, pengarang mulai mengatur dan menyusun kembali situasi dan peristiwa menjadi pola lakon tertentu. Di sini seorang pengarang memiliki kisah untuk diceritakan, kesan untuk digambarkan, suasana hati para tokoh untuk diciptakan, dan semua unsur pembentuk lakon untuk dikomunikasikan. M3 atau memainkan, merupakan proses para aktor memainkan kisah lakon di atas pentas. Tugas aktor dalam hal ini adalah mengkomunikasikan ide serta gagasan pengarang secara hidup kepada penonton. Proses ini melibatkan banyak orang yaitu, sutradara sebagai penafsir pertama ide dan gagasan pengarang, aktor sebagai komunitakor, penata artsitik sebagai orang yang mewujudkan ide dan gagasan secara visual serta penonton sebagai komunikan. M4 atau menyaksikan, merupakan proses penerimaan dan penyerapan informasi atau pesan yang disajikan oleh para pemain di atas pentas oleh para penonton. Pementasan teater dapat dikatakan berhasil jika pesan yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penonton. Penonton pergi menyaksikan pertunjukan dengan maksud pertama untuk memperoleh kepuasan atas kebutuhan dan keinginannya terhadap tontonan tersebut. Formula dramaturgi seperti disebutkan di atas merupakan tahap mendasar yang harus dipahami dan dilakukan oleh para pelaku teater. Jika salah satu tahap dan unsur yang ada dalam setiap tahapan diabaikan, maka pertunjukan yang digelar bisa dipastikan kurang sempurna. Oleh karena itu, pemahaman dasar formula dramaturgi dapat dijadikan acuan proses penciptaan karya seni teater.

1.2 Sejarah Singkat Teater 1.2.1 Teater Barat 1.2.1.1 Asal Mula Teater Waktu dan tempat pertunjukan teater yang pertama kali dimulai tidak diketahui. Adapun yang dapat diketahui hanyalah teori tentang asal mulanya. Di antaranya teori tentang asal mula teater adalah sebagai berikut. * Berasal dari upacara agama primitif. Unsur cerita ditambahkan pada upacara semacam itu yang akhirnya berkembang menjadi pertunjukan teater. Meskipun upacara agama telah lama ditinggalkan, tapi teater ini hidup terus hingga sekarang. * Berasal dari nyanyian untuk menghormati seorang pahlawan di kuburannya. Dalam acara ini seseorang mengisahkan riwayat hidup sang pahlawan yang lama kelamaan diperagakan dalam bentuk teater. * Berasal dari kegemaran manusia mendengarkan cerita. Cerita itu kemudian juga dibuat dalam bentuk teater (kisah perburuan, kepahlawanan, tokohg, dan lain sebagainya). * Rendra dalam Seni Drama Untuk Remaja (1993), menyebutkan bahwa naskah teater tertua di dunia yang pernah ditemukan ditulis seorang pendeta Mesir, I Kher-nefert, di zaman peradaban Mesir Kuno kira-kira 2000 tahun sebelum tarikh Masehi. Pada zaman itu peradaban Mesir Kuno sudah maju. Mereka sudah bisa membuat piramida, sudah mengerti irigasi, sudah bisa membuat kalender, sudah mengenal ilmu bedah, dan juga sudah mengenal tulis menulis.

1.2.1.2 Teater Yunani Klasik Tempat pertunjukan teater Yunani pertama yang permanen dibangun sekitar 2300 tahun yang lalu. Teater ini dibangun tanpa atap dalam bentuk setengah lingkaran dengan tempat duduk penonton melengkung dan berundak-undak yang disebut amphitheater (Jakob Soemardjo, 1984). Ribuan orang mengunjungi

amphitheater untuk menonton teater-teater, dan hadiah diberikan bagi teater terbaik. Naskah lakon teater Yunani merupakan naskah lakon teater pertama yang menciptakan dialog diantara para karakternya. Ciri-ciri khusus pertunjukan teater pada masa Yunani Kuno adalah: * Pertunjukan dilakukan di amphitheater. * Sudah menggunakan naskah lakon. * Seluruh pemainnya pria bahkan tokoh wanitanya dimainkan pria dan memakai topeng karena setiap pemain memerankan lebih dari satu tokoh. * Cerita yang dimainkan adalah tragedi yang membuat penonton tegang, takut, dan kasihan serta cerita komedi yang lucu, kasar dan sering mengeritik tokoh terkenal pada waktu itu. * Selain pemeran utama juga ada pemain khusus untuk kelompok koor (penyanyi), penari, dan narator (pemain yang menceritakan jalannya pertunjukan).

1.2.1.3 Teater Romawi Klasik Setelah tahun 200 Sebelum Masehi kegiatan kesenian beralih dari Yunani ke Roma, begitu juga Teater. Namun mutu teater Romawi tak lebih baik daripada teater Yunani. Teater Romawi menjadi penting karena pengaruhnya kelak pada Zaman Renaissance. Teater pertama kali dipertunjukkan di kota Roma pada tahun 240 SM (Brockett, 1964). Pertunjukan ini dikenalkan oleh Livius Andronicus, seniman Yunani. Teater Romawi merupakan hasil adaptasi bentuk teater Yunani. Hampir di setiap unsur panggungnya terdapat unsur pemanggungan teater Yunani. Namun demikian teater Romawi pun memiliki kebaruan-kebaruan dalam penggarapan dan penikmatan yang asli dimiliki oleh masyarakat Romawi dengan ciri-ciri sebagi berikut. * Koor tidak lagi berfungsi mengisi setiap adegan. * Musik menjadi pelengkap seluruh adegan. Tidak hanya menjadi tema cerita tetapi juga menjadi ilustrasi cerita. * Tema berkisar pada masalah hidup kesenjangan golongan menengah. * Karakteristik tokoh tergantung kelas yaitu orang tua yang bermasalah dengan anak-anaknya atau kekayaan, anak muda yang melawan kekuasaan orang tua dan lain sebagainya.

1.2.1.4 Teater Abad Pertengahan Dalam tahun 1400-an dan 1500-an, banyak kota di Eropa mementaskan drama untuk merayakan hari-hari besar umat Kristen. Drama-drama dibuat berdasarkan cerita-cerita Alkitab dan dipertunjukkan di atas kereta, yang disebut pageant, dan ditarik keliling kota. Bahkan kini pertunjukan jalan dan prosesi penuh warna diselenggarakan di seluruh dunia untuk merayakan berbagai hari besar keagamaan. Para pemain drama pageant menggunakan tempat di bawah kereta untuk menyembunyikan peralatan. Peralatan ini digunakan untuk efek tipuan, seperti menurunkan seorang aktor dari atas ke panggung. Para pemain pegeant memainkan satu adegan dari kisah dalam Alkitab, lalu berjalan lagi. Pageant lain dari aktor-aktor lain untuk adegan berikutnya, menggantikannya. Aktor-aktor pageant seringkali adalah para perajin setempat yang memainkan adegan yag menunjukan keahlian mereka. Orang berkerumun untuk menyaksikan drama pageant religius di Eropa. drama ini populer karena pemainnya berbicara dalam bahasa sehari-hari, bukan bahasa Latin yang merupakan bahasa resmi gereja-gereja Kristen (Wisnuwardhono, 2002). Ciri-ciri teater abad Pertengahan adalah sebagai berikut: * Drama dimainkan oleh aktor-aktor yang belajar di universitas sehingga dikaitkan dengan masalah filsafat dan agama.

* Aktor bermain di panggung di atas kereta yang bisa dibawa berkeliling menyusuri jalanan. * Drama banyak disisipi cerita kepahlawanan yang dibumbui cerita percintaan. * Drama dimainkan di tempat umum dengan memungut bayaran. * Drama tidak memiliki nama pengarang.

1.2.1.5 Renaissance Abad 17 memberi sumbangan yang sangat berarti bagi kebudayaan Barat. Sejarah abad 15 dan 16 ditentukan oleh penemuanpenemuan penting yaitu mesin, kompas, dan mesin cetak. Semangat baru muncul untuk menyelidiki kebudayaan Yunani dan Romawi klasik. Semangat ini disebut semangat Renaissance yang berasal dari kata “renaitre” yang berarti kelahiran kembali manusia untuk mendapatkan semangat hidup baru. Gerakan yang menyelidiki semangat ini disebut gerakan humanisme. Pusat-pusat aktivitas teater di Italia adalah istana-istana dan akademi. Di gedung-gedung teater milik para bangsawan inilah dipentaskan naskah-naskah yang meniru drama-drama klasik. Para aktor kebanyakan pegawai-pegawai istana dan pertunjukan diselenggarakan dalam pesta-pesta istana. Ada tiga jenis drama yang dikembangkan, yaitu tragedi, komedi, dan pastoral atau drama yang membawakan kisah-kisah percintaan antara dewa-dewa dengan para gembala di daerah pedesaan. Namun nilai seni ketiganya masih rendah. Drama dilangsungkan dengan mengikuti struktur yang ada. Meskipun demikian gerakan mereka memiliki arti penting karena Eropa menjadi mengenal drama yang jelas struktur dan bentuknya. Ciri-ciri teater Zaman Renaissance yakni sebagai berikut. * Naskah lakon yang dipertunjukkan meniru teater Zaman Yunani klasik. * Cerita bertema mitologi atau kehidupan sehari-hari. * Tata busana dan seting yang dipergunakan sangat inovatif. * Pelaksanaan bentuk teater diatur oleh kerajaan maupun universitas. * Menggunakan panggung proscenium yaitu bentuk panggung yang memisahkan area panggung dengan penonton. * Pada zaman ini juga melahirkan satu bentuk teater yang disebut commedia dell’arte. Merupakan bentuk teater rakyat Italia yang berkembang di luar lingkungan istana dan akademisi. Pada tahun 1575 bentuk ini sudah populer di Italia. Kemudian menyebar luas di Eropa dan mempengaruhi semua bentuk komedi yang diciptakan pada tahun 1600.

Ciri khas commedia dell'arte adalah: * Para pemain dibebaskan berimprovisasi mengikuti jalannya cerita dan dituntut memiliki pengetahuan luas yang dapat mendukung permainan improvisasinya. * Menggunakan naskah lakon yang berisi garis besar cerita. * Cerita yang dimainkan bersumber pada cerita yang diceritakan secara turun menurun. * Cerita terdiri dari tiga babak didahului prolog panjang. Plot cerita berlangsung dalam suasana adegan lucu. * Peristiwa cerita berlangsung dan berpindah secara cepat . * Terdapat tiga tokoh yang selalu muncul, yaitu tokoh penguasa, tokoh penggoda, dan tokoh pembantu. * Tempat pertunjukannya di lapangan kota dan panggungpanggung sederhana. * Setting panggung sederhana, yaitu rumah, jalan, dan lapangan.

1.2.1.6 Teater Zaman Elizabeth

1.7 Teater Abad 20 Teater telah berubah selama berabad-abad. Penonton yang mampu membeli tiket duduk di sisi-sisi panggung. dan menceritakan gagasan-gagasan mereka kepada penonton. Salah satunya yang disebut Globe. dan efek elektronik. dan absurd. pendidikan. yang disebut solilokui. * Menggunakan naskah lakon. para seniman mencari bentuk pertunjukannya sendiri. gedung teater besar dari kayu dibangun di London Inggris. * Tokoh wanita dimainkan oleh pemain anak-anak laki-laki. * Penontonnya berbagai lapisan masyarakat dan diramaikan oleh penjual makanan dan minuman. tata cahaya. Tidak jarang usaha mereka berhasil dan mampu memberikan pengaruh seperti gaya simbolisme. Hal ini mendorong para pemikir teater untuk menemukan satu bentuk ekspresi baru yang lepas dari konvensi yang sudah ada. Banyak gaya baru yang lahir baik dari sudut pandang pengarang. selama pemerintahan Ratu Elizabeth I. Gedung-gedung pertunjukan modern memiliki efek-efek khusus dan teknologi baru. Gedung ini dibangun seperti lingkaran sehingga penonton bisa duduk dihampir seluruh sisi panggung. 1. Globe mementaskan drama-drama karya William Shakespeare.1 Teater Tradisional Kasim Achmad dalam bukunya Mengenal Teater Tradisional di Indonesia (2006) mengatakan. dekorasi. Rancangan-rancangan panggung termasuk pengaturan panggung arena. Beberapa ceritanya berisi monolog panjang. Pada zaman itu. Lepas dari hal itu. sejarah teater tradisional di Indonesia dimulai sejak sebelum Zaman Hindu. selain penulis drama. dan mempelajari hal-hal baru.Pada tahun 1576.000 penonton. Wilayah jelajah artistik dibuka selebar-lebarnya untuk kemungkinan perkembangan bentuk pementasan seni teater. surealisme. Teater tradisional merupakan .2 Teater Indonesia 1.2. * Corak pertunjukannya merupakan perpaduan antara teater keliling dengan teater sekolah dan akademi yang keklasik-klasikan. * Tempat adegan ditandai dengan ucapan dengan disampaikan dalam dialog para tokoh. Ciri-ciri teater Zaman Elizabeth adalah: * Pertunjukan dilaksanakan siang hari dan tidak mengenal waktu istirahat. atau yang disebut saat ini. aktor ataupun penata artistik.2.1. Tidak pemain wanita. gedung teater ini bisa menampung 3. hiburan. penulis drama terkenal dari Inggris yang hidup dari tahun 1564 sampai tahun 1616. Ia adalah seorang aktor dan penyair. epik. Orang datang ke gedung pertunjukan tidak hanya untuk menyaksikan teater melainkan juga untuk menikmati musik. Gedung teater ini sangat sukses sehingga banyak gedung sejenis dibangun di sekitarnya. mulai dari pembunuhan dan tokohg sampai cinta dan kecemburuan. Pada awal abad 20 inilah istilah teater eksperimental berkembang.2. sutradara. beberapa cara untuk mengekspresikan karakter-karakter berbeda dalam pertunjukanpertunjukan (di samping nada suara) dapat melalui musik. Seiring dengan perkembangan waktu. Dewasa ini. Dengan semangat melawan pesona realisme. Ia biasanya menulis dalam bentuk puisi atau sajak. Teater di Tengah-Tengah Gedung.2. usaha pencarian kaidah artistik yang dilakukan oleh seniman teater modern patut diacungi jempol karena usaha-usaha tersebut mengantarkan pada keberagaman bentuk ekspresi dan makna keindahan. Tetapi tidak jarang pula usaha mereka berhenti pada produksi pertama. kualitas pertunjukan realis oleh beberapa seniman dianggap semakin menurun dan membosankan. Mereka yang tidak mampu membeli tiket berdiri di sekitar panggung. Ia menulis 37 (tiga puluh tujuh) drama dengan berbagai tema. Gaya-gaya pertunjukan realistis dan eksperimental ditemukan dalam teater Amerika saat ini. ada tanda-tanda bahwa unsurunsur teater tradisional banyak digunakan untuk mendukung upacara ritual.

ketoprak. Cara penyajian cerita dengan menggunakan panggung dan dekorasi. Naskah-naskah drama tersebut belum mencapai bentuk sebagai drama karena masih menekankan unsur sastra dan sulit untuk dipentaskan. Hal ini disebabkan oleh unsur-unsur pembentuk teater tradisional itu berbedabeda.Wiggers yang berjudul Lelakon Raden Beij Soerio Retno. Mulai memperhitungkan teknik yang mendukung pertunjukan. lenong. Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan. meskipun masih dalam wujud cerita ringkas atau outline story (garis besar cerita per adegan). yang disebut “teater”. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan.2. wayang wong. Sandiwara Tjahaja Timoer. istilah sandiwara masih sangat populer. Pedro pada tanggal 21 Juni 1926. Macammacam teater tradisional Indonesia adalah :wayang kulit. dan belum merupakan suatu bentuk kesatuan teater yang utuh. Lelakon Komedia Hindia Timoer (1913). dinamakan teater bangsawan.2 Teater Indonesia tahun 1920-an Teater pada masa kesusasteraaan angkatan Pujangga Baru kurang berarti jika dilihat dari konteks sejarah teater modern Indonesia tetapi cukup penting dilihat dari sudut kesusastraan. dan lain sebagainya. arja.2.2. Kelompok teater yang masih tergolong kelompok teater tradisional dengan model garapan memasukkan unsur-unsur teknik teater Barat. 1.2. drama gong. ludruk . Opera Abdoel Moeloek. dan sebagainya. Indra Bangsawan. Setelah Komedie Stamboel didirikan muncul kelompok sandiwara seperti Sandiwara Dardanella (The Malay Opera Dardanella) yang didirikan Willy Klimanoff alias A. yang pementasannya secara teknik telah banyak mengikuti budaya dan teater Barat (Eropa).2 Teater Modern 1. Perkenalan masyarakat Indonesia pada teater non-tradisi dimulai sejak Agust Mahieu mendirikan Komedie Stamboel di Surabaya pada tahun 1891. sebenarnya baru merupakan unsur-unsur teater. yang pada saat itu masih belum menggunakan naskah drama/lakon. ubrug. unsur-unsur teater tersebut membentuk suatu seni pertunjukan yang lahir dari spontanitas rakyat dalam masyarakat lingkungannya. yang menggunakan bahasa Melayu Rendah. sumber dan tata-cara di mana teater tradisional lahir. 1. Komidi Bangsawan. Yang ada adalah sandiwara.2. Proses terjadinya atau munculnya teater tradisional di Indonesia sangat bervariasi dari satu daerah dengan daerah lainnya. Perubahan tersebut terletak pada cerita yang sudah mulai ditulis. pada tahun 1901. Dilihat dari segi sastra.1 Teater Transisi Teater transisi adalah penamaan atas kelompok teater pada periode saat teater tradisional mulai mengalami perubahan karena pengaruh budaya lain. randai. Selain pengaruh dari teater bangsawan.2. Drama-drama Pujangga Baru ditulis sebagai ungkapan ketertekanan kaum intelektual dimasa itu karena penindasan pemerintahan Belanda yang amat keras terhadap kaum pergerakan sekitar tahun 1930-an. Kemudian lahirlah kelompok sandiwara lain. Bentuk sastra drama yang pertamakali menggunakan bahasa Indonesia dan disusun dengan model dialog antar tokoh . teater tradisional berkenalan juga dengan teater Barat yang dipentaskan oleh orang-orang Belanda di Indonesia sekitar tahun 1805 yang kemudian berkembang hingga di Betawi (Batavia) dan mengawali berdirinya gedung Schouwburg pada tahun 1821 (Sekarang Gedung Kesenian Jakarta). sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama.2. Sandiwara Orion. Pada saat itu. dan lain-lainnya. Setelah melepaskan diri dari kaitan upacara.2. Pada periode transisi inilah teater tradisional berkenalan dengan teater non-tradisi. tergantung kondisi dan sikap budaya masyarakat. Karenanya rombongan teater pada masa itu menggunakan nama sandiwara. seperti Opera Stambul. Kemudian disusul oleh Lauw Giok Lan lewat Karina Adinda. mulai mengenal sastra lakon dengan diperkenalkannya lakon yang pertama yang ditulis oleh orang Belanda F.bagian dari suatu upacara keagamaan ataupun upacara adat-istiadat dalam tata cara kehidupan masyarakat kita. Pada masa teater transisi belum muncul istilah teater.

Rombongan sandiwara keliling komersial. Lakon ini menceritakan perjuangan tokoh utama Bujangga. dan lawak. dan sebagainya. Dahlia. dan harapan serta misi mewujudkan Indonesia sebagai negara merdeka. Secara istimewa selingannya kemudian ditambah dengan mode show. Kris Bali. dan Bolero. Armijn Pane. Mr. di antaranya dengan jalan memperbaiki dan menyesuaikan kesenian daerah menuju kesenian Indonesia baru.A Murdiati. Sutan Takdir Alisjabana. Bengawan Solo. dengan judul Si Bachil. ternyata mengalami hambatan yang datangnya dari barisan propaganda Jepang. yaitu Anjar Asmara dan Kamajaya masih sempat berpikir bahwa perlu didirikan Pusat Kesenian Indonesia yang bertujuan menciptakan pembaharuan kesenian yang selaras dengan perkembangan zaman sebagai upaya untuk melahirkan kreasi – kreasi baru dalam wujud kesenian nasional Indonesia. Rainbow. Ratu Asia. Lakon-lakon ini ditulis berdasarkan tema kebangsaan. Pendekar Asia. Fifi Young. 1. yang dikenal dengan nama samarannya Mon Siour D’amour ini dalam rombongan sandiwara Bintang Surabaya menulis lakon antara lain. R. Rombongan sandiwara Dewi Mada lebih mengutamakan tari-tarian dalam pementasan teater mereka karena Dewi Mada adalah penari terkenal . yang sekaligus sebagai pemimpinnya. di rumah Bung Karno dibentuklah Badan Pusat Kesenian Indonesia dengan pengurus sebagai berikut. Tjahaya Asia. Mata Hari. yaitu Sanusi Pane menulis Kertajaya (1932) dan Sandyakalaning Majapahit (1933) Muhammad Yamin menulis Ken Arok dan Ken Dedes (1934).2. Badan Pusat Kesenian Indonesia bermaksud menciptakan kesenian Indonesia baru. Rombongan Sandiwara Bintang Surabaya menyuguhkan pementasan-pementasan dramanya dengan cara lama seperti pada masa Dardanella. yaitu Dewi Mada dengan suaminya Ferry Kok. Penulis-penulis ini adalah cendekiawan Indonesia. yang membebaskan puteri Bebasari dari niat jahat Rahwana. dan Kama Jaya. dan Merah Delima. yang kesemuanya merupakan corong propaganda Jepang. dua orang tokoh. Armiijn Pane mengolah roman Swasta Setahun di Bedahulu karangan I Gusti Nyoman Panji Tisna menjadi naskah drama. Ali Yugo. nyanyian. pada tahun 1927 menulis dan menyutradarai teater di Bengkulu (saat di pengasingan). yaitu Sendenbu yang membentuk badan perfilman dengan nama Djawa Eiga Kosy’. seperti misalnya Bintang Surabaya. Ir Soekarno. Namun demikian. Sanusi Pane (Ketua). Sija. Warna Sari. yang dipimpin oleh orang Jepang S.2. Tan Ceng Bok (Si Item). Setan. Dalam masa pendudukan Jepang kelompok rombongan sandiwara yang mula-mula berkembang adalah rombongan sandiwara profesional. Intensitas kerja Djawa Eiga Kosya yang ingin menghambat langkah Badan Pusat Kesenian Indonesia nampak ketika mereka membuka sekolah tonil dan drama Putra Asia. Bahkan Presiden pertama Indonesia. menulis dengan menggunakan bahasa Indonesia dan berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Oya. Dalam kurun waktu ini semua bentuk seni hiburan yang berbau Belanda lenyap karena pemerintah penjajahan Jepang anti budaya Barat. Imam Supardi menulis drama dengan judul Keris Mpu Gandring. dalam situasi yang sulit dan gawat serupa itu. Lakon Bebasari merupakan sastra drama yang menjadi pelopor semangat kebangsaan. Beberapa lakon yang ditulisnya antara lain. Satiman Wirjosandjojo menulis drama berjudul Nyai Blorong. Menyusul kemudian muncul rombongan sandiwara Dewi Mada. Penulis lakon lainnya. Maka pada tanggal 6 oktober 1942. maupun Sunda. antara lain Astaman.3 Teater Indonesia tahun 1940-an Semua unsur kesenian dan kebudayaan pada kurun waktu penjajahan Jepang dikonsentrasikan untuk mendukung pemerintahan totaliter Jepang. Dr. Langkah-langkah yang telah diambil oleh Badan Pusat Kesenian Indonesia untuk mewujudkan cita-cita kemajuan kesenian Indonesia. dengan bintang-bintang eks Bolero. Rombongan sandiwara Bintang Surabaya tampil dengan aktor dan aktris kenamaan. Dewi Mada. yaitu di antara satu dan lain babak diselingi oleh tarian-tarian. Jawa. Segala daya kreasi seni secara sistematis di arahkan untuk menyukseskan pemerintahan totaliter Jepang. dengan peragawati gadis-gadis Indo Belanda yang cantik-cantik . Singgih menulis drama berjudul Hantu.2. dan Dr. Pancawarna. Air Mata Ibu (sudah difilmkan). Mis Tjitjih.dan berbentuk sajak adalah Bebasari (artinya kebebasan yang sesungguhnya atau inti kebebasan) karya Rustam Efendi (1926). Pengarang Nyoo Cheong Seng. dan sebagai anggota antara lain. Nur Sutan Iskandar menyadur karangan Molliere. Krukut Bikutbi. persoalan. Sumanang (Sekretaris). Mis Ribut. dan lain-lain kembali berkembang dengan mementaskan cerita dalam bahasa Indonesia. Mr. Komedi Bangsawan.

2. pengkhianatan. Hei Natsu Eitaroo menulis Hantu. Anjar Asmara. Panggilan Tanah Air. Baru kemudian Muchsin sebagai pengusaha besar tertarik dan membiayai rombongan sandiwara Warna Sari. Hingga tahun 1943 rombongan sandiwara hanya dikelola pengusaha Cina atau dibiayai Sendenbu karena bisnis pertunjukan itu masih asing bagi para pengusaha Indonesia.2. Pada saat inilah pengembangan ke arah pencapaian teater nasional dilakukan. Djajakusuma dengan dukungan Suryo Sumanto. Nusa Penida. Oleh karena ada sensor Sendenbu maka lakon harus ditulis lengkap berikut dialognya. Musim Bunga di Slabintana. dan lain sebagainya. yaitu Penggemar Maya (1944) pimpinan Usmar Ismail. Rombongan sandiwara terkenal lainnya adalah rombongan sandiwara Sunda Mis Tjitjih. Kembang Kaca. keiklasan sendiri dan pengorbanan.sejak masa rombongan sandiwara Bolero. Sensor Sendenbu malah menjadi titik awal dikenalkannya naskah dalam setiap pementasan sandiwara. Benteng Ngawi. Peristiwa tokohg secara khas dilukiskan dalam . yaitu rombongan sandiwara yang digemari rakyat jelata. kekecewaan. ceritacerita yang dipentaskan antara lain. dan Kama Jaya pada tanggal 6 April 1943. apoteker. Kelak. juga sebaliknya. Dalam perjalanannya. Jepang menugaskan Dr. rombongan sandiwara ini terpaksa berlindung di bawah barisan propaganda Jepang dan berganti nama menjadi rombongan sandiwara Tjahaya Asia yang mementaskan ceritacerita baru untuk kepentingan propaganda Jepang. Lakon-lakon yang ditulis Anjar Asmara antara lain. Garsia menempatkan deretan drumnya yang berbagai ukuran itu memenuhi lebih dari separuh panggung. Penggemar Maya menjadi pemicu berdirinya Akademi Teater Nasional Indonesia di Jakarta. dan Jauh di Mata. Lakon Ibu Prajurit ditulis oleh Natsusaki Tani. Solo di Waktu Malam. Amat Heiho. seorang keturunan Filipina. Pancaroba. Huyung (Hei Natsu Eitaroo). nasionalis dan para profesional (dokter. dan Rencong Aceh. Si Bongkok. Bulan Punama. Kotot Sukardi menulis lakon. yang terkenal sebagi Raja Drum. Para pemain tidak boleh menambah atau melebih-lebihkan dari apa yang sudah ditulis dalam naskah. Kama Jaya menulis lakon antara lain. Pecah Sebagai Ratna. kepahlawanan dan tindakan pengecut. Ida Ayu. humanisme dan agama. Sang Pek Engtay. Cerita yang dipentaskan antara lain. dan lain-lain). ahli seni drama atas nama Sendenbu memprakarsai berdirinya POSD (Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa) yang beranggotakan semua rombongan sandiwara profesional. Keistimewaan rombongan sandiwara Warna Sari adalah penampilan musiknya yang mewah yang dipimpin oleh Garsia. Sendenbu menyiapkan naskah lakon yang harus dimainkan oleh setiap rombongan sandiwara karangan penulis lakon Indonesia dan Jepang. penderitaan.4 Teater Indonesia Tahun 1950-an Setelah tokohg kemerdekaan. Kelompok ini berprinsip menegakkan nasionalisme. Ratna Asmara. Pertumbuhan sandiwara profesional tidak luput dari perhatian Sendenbu. Guna-guna. Bende Mataram. kemunafikan. dan D. lakon Nora karya Henrik Ibsen diterjemahkan dan judulnya diganti dengan Jinakjinak Merpati oleh Armijn Pane. Solo di Waktu Malam dan Nusa Penida. Menjelang akhir pendudukan Jepang muncul rombongan sandiwara yang melahirkan karya ssatra yang berarti.2. 1. Dewi Rani. Kupu-kupu. Bahwa teori teater perlu dipelajari secara serius. keberanian dan nilai kemanusiaan. dan lain-lain. peluang terbuka bagi seniman untuk merenungkan perjuangan dalam tokohg kemerdekaan. Dari semua lakon tersebut ada yang sudah di filmkan yaitu. Bentuk penyajian semacam ini di anggap kaku oleh penonton umum yang lebih suka unsur hiburan disajikan sebagai selingan babak satu dengan babak lain sehingga akhirnya dengan terpaksa rombongan sandiwara tersebut mengikuti selera penonton. Teater tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga untuk ekspresi kebudayaan berdasarkan kesadaran nasional dengan cita-cita menuju humanisme dan religiositas dan memandang teater sebagai seni serius dan ilmu pengetahuan. Hanya kalangan terpelajar yang menyukai pertunjukan Matahari yang menampilakan hiburan berupa tari-tarian pada awal pertunjukan baru kemudian dihidangkan lakon sandiwara dari awal hingga akhir. Kusumahadi. mendirikan rombongan sandiwara angkatan muda Matahari. Potong Padi. Ni Parini. Ia menabuh drum-drum tersebut sambil meloncat ke kanan – ke kiri sehingga menarik minat penonton. mereka merenungkan peristiwa tokohg kemerdekaan. dan Abu Hanifah dengan para anggota cendekiawan muda. Rosihan Anwar.

dan lain-lain. Surabaya. tari topeng Cirebon. 1950). bahkan lakon adaptasi.5 Teater Indonesia Tahun 1970-an Jim Adi Limas mendirikan Studiklub Teater Bandung dan mulai mengadakan eksperimen dengan menggabungkan unsur-unsur teater etnis seperti gamelan. dan Chekov. Pramana Padmadarmaya. Di Yogyakarta tahun 1955 Harymawan dan Sri Murtono mendirikan Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI). dan Biduanita Botak (Ionesco. seperti karyakarya Moliere. Alumni Akademi Teater Nasional yang menjadi aktor dan sutradara antara lain. Menyutradarai dengan gaya realistis tetapi isinya absurditas pada lakon Caligula (Albert Camus. Medan. Mengadaptasi lakon Hamlet dan diubah judulnya menjadi Jaka Tumbal (1963/1964). 1951). Kapten Syaf (Aoh Kartahadimaja. juga lokakarya dan diskusi teater secara . dan kreativitas berteater tidak hanya di Jakarta. 1956) Sekelumit Nyanyian Sunda (Nasyah Jamin. Tema itu terungkap dalam lakon-lakon seperti Awal dan Mira (1952).2. dan lain-lain. Wahyu Sihombing. tetapi juga di kota besar seperti Bandung. Ketika Rendra kembali ke Indonesia. dan Kasim Achmad. Pada tahun 1960. Menurut Brandon (1997). Palembang. Pada akhir 1950-an JIm Lim mulai dikenal oleh para aktor terbaik dan para sutradara realisme konvensional.2. melalaikan penderitaan korban tokohg. yaitu Awal dan Mira (Utuy T. Ujung Pandang. Sedangkan metode pementasan dan pemeranan yang dikembangkan oleh ATNI adalah Stanislavskian. Pertahanan Akhir (Sitor Situmorang. kemiskinan. Padang. teater rakyat Sunda. 1955). Pada tahun 1967 Jim Lim belajar teater dan menetap di Paris. berdasarkan Justice karya John Galsworthy. Karya penyutradaraanya. menyelenggarakan festival pertunjukan secara teratur. menjadi pemicu meningkatnya aktivitas. Bermain dengan akting realistis dalam lakon The Glass Menagerie (Tennesse William. 1. Jim Lim menyutradari Bung Besar. Tahun 1962 Jim Lim menggabungkan unsur wayang kulit dan musik dalam karya penyutradaraannya yang berjudul Pangeran Geusan Ulun (Saini KM. Sontani) dan Paman Vanya (Anton Chekhov). Teguh Karya. 1959). Suyatna Anirun. 1960). pertunjukan bermula dari improvisasi dan eksplorasi bahasa tubuh dan bebunyian mulut tertentu atas suatu tema yang diistilahkan dengan teater mini kata (menggunakan kata seminimal mungkin).2. 1961). Akan tetapi. Gogol. Lakon Awal dan Mira (1952) tidak hanya terkenal di Indonesia. Utuy Tatang Sontani dipandang sebagai tonggak penting menandai awal dari maraknya drama realis di Indonesia dengan lakon-lakonnya yang sering menyiratkan dengan kuat alienasi sebagai ciri kehidupan moderen.. Kedua seniman teater Barat dengan idiom realisme konvensional ini menjadi tonggak didirikannya Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) pada tahun 1955 oleh Usmar Ismail dan Asrul Sani. Yogyakarta. melanjutkan apa yang sudah dilakukan Jim Lim yaitu mencampurkan unsur-unsur teater Barat dengan teater etnis. Himpunan Seni Budaya Surakarta (HBS) didirikan di Surakarta. Titik-titik Hitam (Nasyah Jamin. salah satu aktor dan juga teman Jim Lim. Rendra mendirikan Bengkel Teater Yogya yang kemudian menciptakan pertunjukan pendek improvisatoris yang tidak berdasarkan naskah jadi (wellmade play) seperti dalam drama-drama realisme. 1962). longser. Sementara ada lakon yang bercerita tentang kekecewaan paska tokohg. (Misbach Yusa Biran) dengan gaya longser. Didirikannya pusat kesenian Taman Ismail Marzuki oleh Ali Sadikin. Pertunjukannya misalnya. Peristiwa penting dalam usaha membebaskan teater dari batasan realisme konvensional terjadi pada tahun 1967. melainkan sampai ke Malaysia. gubernur DKI jakarta tahun1970. erosi ideologi. Badak-badak (Ionesco. The Bespoke Overcoat (Wolf mankowitz ). seperti korupsi. Galib Husein. oportunisme politis. ATNI inilah akademi teater modern yang pertama di Asia Tenggara. Bib Bop dan Rambate Rate Rata (1967. ATNI menggalakkan dan memapankan realisme dengan mementaskan lakon-lakon terjemahan dari Barat. 1954). Pakaian dan Kepalsuan oleh Akhdiat Kartamiharja (1956) berdasarkan The Man In Grey Suit karya Averchenko dan Hanya Satu Kali (1956). Taman Ismail Marzuki menerbitkan 67 (enam puluh tujuh) judul lakon yang ditulis oleh 17 (tujuh belas) pengarang sandiwara.1968). Tatiek Malyati. 1945).lakon Fajar Sidik (Emil Sanossa. dan dagelan dengan teater Barat. Realisme konvensional dan naturalisme tampaknya menjadi pilihan generasi yang terbiasa dengan teater barat dan dipengaruhi oleh idiom Hendrik Ibsen dan Anton Chekhov. Sayang Ada Orang Lain (1953) karya Utuy Tatang Sontani. Islam dan Komunisme.

Riantiarno (Teater Koma) dengan ciri pertunjukan yang mengutamakan tata artistik glamor. Dhemit. Festival Drama Lima Kota Surabaya memunculkan Teater Pavita. Danarto (Teater Tanpa Penonton). dan Teater Kami yang lahir di luar produk festival (Afrizal Malna.1999). di antaranya Festival Seni Pertunjukan Rakyat yang diselenggarakan Departemen Penerangan Republik Indonesia (1983). Di Medan muncul Teater Que dan di Palembang muncul Teater Potlot.2. Di Solo (Surakarta) muncul Teater Gapit yang menggunakan bahasa Jawa dan latar cerita yang meniru lingkungan kehidupan rakyat pinggiran. Di Semarang muncul Teater Lingkar. Lakon yang dipentaskan antra lain. Hasyim Amir (Bengkel Muda Surabaya.6 Teater Indonesia Tahun 1980 – 1990-an Tahun 1980-1990-an situasi politik Indonesia kian seragam melalui pembentukan lembaga-lembaga tunggal di tingkat nasional. Di Yogyakarta muncul Teater Dynasti. Teater Institut. Ditiadakannya kehidupan politik kampus sebagai akibat peristiwa Malari 1974. Ada pula Teater Luka. tata cahaya. Mohammad Diponegoro dan Syubah Asa mendirikan Teater Muslim. Djajakusuma. 1. Teater Tobong. Jurusan teater dibuka di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada tahun 1985. Teater Gandrik menonjol dengan warna teater yang mengacu kepada roh teater tradisional kerakyatan dan menyusun berita-berita yang aktual di masyarakat menjadi bangunan cerita. Dari Festival Teater Jakarta muncul kelompok teater seperti. Rahman Arge dan Aspar Patturusi mendirikan Teater Makasar. kostum dan verbalisme naskah. Teater Shima. Di Bandung muncul Teater Bel. di Solo ada juga Teater Gidag-gidig. Pramana Padmodarmaya (Teater Lembaga). Teater Ragil. Wahyu Sihombing. Tidak hanya Stanislavsky tetapi nama-nama seperti Brecht. Kholiq Dimyati dan Mukid F. Pasar Seret. Aktivitas teater kampus mampu menghidupkan dan membuka kemungkinan baru gagasan-gagasan artistik. Teater Kubur. dan Teater Gandrik. Arifin C. Teater Bandar Jakarta. Noor (Teater Kecil) dengan gaya pementasan yang kaya irama dari blocking. Teater Jeprik. Teater Rajawali. Di Surabaya ada Festival Drama Lima Kota yang digagas oleh Luthfi Rahman. D. Di Padang ada Wisran Hadi dengan teater Padang. Teater Republik. Menampilkan manusia sebagai gerombolan dan aksi. N. Pada saat itu lahirlah kelompok-kelompok teater baru di berbagai kota di Indonesia. Upeti. Dewan-dewan Mahasiswa ditiadakan. Sinden. Teater Melarat Malang). Salah satu teater kampus yang menonjol adalah teater Gadjah Mada dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Di samping Gapit.2. Teater Api. Teater Tetas selain teater Studio Oncor. dan Orde Tabung. Di Surabaya muncul bentuk pertunjukan teater yang mengacu teater epik (Brecht) dengan idiom teater rakyat (kentrung dan ludruk) melalui Basuki Rahmat. Di Jakarta dikenal dengan Festival Teater Jakarta (sebelumnya disebut Festival Teater Remaja). Fokus tidak terletak pada aktor tetapi gerombolan yang menciptakan situasi dan aksi sehingga lebih dikenal sebagai teater teror. Lalu Teater Nasional Medan didirikan oleh Djohan A Nasution dan Burhan Piliang. Teater Nol. Salah satu lakonnya berjudul Tuk. dan Teater Payung Hitam. Di Yogyakarta Azwar AN mendirikan teater Alam. vokal. Adi Kurdi (Teater Hitam Putih).umum atau khusus. Luthfi Rahman.2. musik. . Teater Sae yang berbeda sikap dalam menghadapi naskah yaitu posisinya sejajar dengan cara-cara pencapaian idiom akting melalui eksplorasi latihan. Ikranegara (Teater Saja). Putu Wijaya (teater Mandiri) dengan ciri penampilan menggunakan kostum yang meriah dan vokal keras. Sanggar Suroboyo. ISI menjadi satu-satunya perguruan tinggi seni yang memiliki program Strata 1 untuk bidang seni teater pada saat itu. Aktivitas teater terjadi juga di kampus-kampus perguruan tinggi. Kontrangkantring. Tokoh-tokoh teater yang muncul tahun 1970-an lainnya adalah. Teater Lektur. Dalam latar situasi seperti itu lahir beberapa kelompok teater yang sebagian merupakan produk festival teater. Akhudiat. Teater Kanvas. Di Tegal lahir teater RSPD. Beberapa jenis festival di Yogyakarta. Artaud dan Grotowsky juga diperbincangkan. Meh. Teater Tikar. Teguh Karya (Teater Populer). Di Makasar.

an sampai saat ini. Meksipun seni teater konvensional tidak pernah mati tetapi teater eksperimental terus juga tumbuh. wilayah jelajah ekspresi menjadi semakin luas dan kemungkinan bentuk garap semakin banyak .2. Sejak munculnya eksponen 70 dalam seni teater.2. kemungkinan ekspresi artistik dikembangkan dengan gaya khas masing-masing seniman.2. Gerakan ini terus berkembang sejak tahun 80. Konsep dan gaya baru saling bermunculan.7 Teater Kontemporer Indonesia Teater Kontemporer Indonesia mengalami perkembangan yang sangat membanggakan.1. Semangat kolaboratif yang terkandung dalam seni teater dimanfaatkan secara optimal dengan menggandeng beragam unsur pertunjukan yang lain. Dengan demikian.

Kedua. karena peristiwa yang mengarahkan cerita kepada konflik membutuhkan tokoh sebagai pelaku. Tema bisa juga disebut muatan intelektual dalam sebuah permainan. Kedua. Jadi dalam lakon ada dua hal penting yang diciptakan oleh seorang penulis lakon. goal. Keempat. yaitu pertama.Dasar-dasar Teater (2/6): Seni Sastra dalam Teater Teater memiliki sekurang-kurangnya empat unsur penting dalam setiap pementasan. dan dari lingkungan tersebut dia menyerap segala persoalan yang menjadi ide-ide dalam penulisan lakonnya. apa yang dialami. Keunggulan dari seorang pengarang ialah. dan apa yang dibaca atau diceritakan kepadanya oleh orang lain. Lakon ditulis oleh seorang penulis naskah lakon berdasarkan apa yang dilihat. mungkin juga sebuah keadaan (Robert Cohen. sehingga pada puncaknya masuk ke dalam penyelesaian cerita. Jalinan cerita menuju konflik dan cara penyelesainnya inilah yang menjadikan lakon menarik. lakon atau cerita yang ditampilkan. dia mempunyai kepekaan terhadap lingkungan sekelilingnya. Sementara. central idea. 2. Ketika tema tidak terumuskan dengan jelas maka lakon tersebut akan kabur dan tidak jelas apa yang hendak disampaikan. tema harus dirumuskan dengan jelas. konflik. 1994). Penulis kemudian menyusun rangkaian kejadian. pesan atau pandangan terhadap persoalan yang ada dijadikan ide sentral atau tema dalam menulis naskah lakonnya. driving force dan sebagainya. yaitu pertama. root idea. 1989). Konflik dalam lakon bisa rumit bisa juga sederhana. tokoh atau tokoh yang terlibat dalam kejadiankejadian dalam lakon. Tidak ada acuan yang pasti terhadap konflik dalam lakon yang dapat membuat cerita menjadi menarik. konlfik hingga penyelesaian. ini mungkin bisa diuraikan sebagai keseluruhan pernyataan dalam sebuah permainan: topik. thought.1 Tema Tema ada yang menyebutnya sebagai premis. bisa berwujud sebuah naskah atau skenario tertulis. Adhy Asmara (1983) menyebut tema sebagai premis yaitu rumusan intisari cerita sebagai landasan ideal dalam menentukan arah tujuan cerita. 1983). Pengarang adalah seorang warga masyarakat yang tentunya mempunyai pendapat tentang masalah-masalah politik dan sosial yang penting serta mengikuti isu-isu zamannya (Rene Wellek dan Austin Warren. Ketiga. tetapi semakin lama semakin gawat sehingga akhirnya ia sampai ke puncak yang disebut klimaks. Konflik dalam lakon merupakan inti cerita. semakin lama semakin rumit. Gagasan utama atau pesan lakon termaktub dalam konflik yang merupakan pertentangan antara satu pihak terhadap pihak lain mengenai sesuatu hal. aim. Ide-ide. pemain adalah orang yang membawakan lakon tersebut. penonton adalah sekelompok orang yang menyerahkan sebagian dari kemerdekaannya untuk menjadi bagian dari tokoh yang tampil dalam suatu lakon dan menikmatinya. konflik yang berat. kalau ada anggapan bahwa semakin rumit konflik lakon semakin menarik adalah anggapan yang salah. Seorang penulis terkadang mengemukakan tema dengan jelas tetapi ada juga yang secara tersirat. skenario tak tertulis (dalam teater kerakyatan). Akan tetapi. sutradara sebagai penata pertunjukan di panggung. tetapi juga menyampaikan suatu pesan tentang persoalan kehidupan manusia. Dalam lakon akan dijumpai dua hal yang sangat penting. Terkadang konflik yang kecil dan sederhana jika diselesaikan secara cerdas akan membuat penonton takjub. Tokoh adalah orang yang menghidupkan kejadian atau peristiwa yang dibuat oleh penulis naskah. Tidaklah menarik sebuah cerita disajikan di atas panggung tanpa adanya konflik. Dengan demikian bisa ditarik kesimpulan . berliku. ide utama atau pesan. karena tema merupakan sasaran yang hendak dicapai oleh seorang penulis lakon. Pengarang atau penulis lakon menciptakan sebuah lakon bukan hanya sekedar mencipta. Penting sekali bahwa dalam menyusun kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa seorang penulis haruslah bersabar untuk melangkah dari satu kejadian ke kejadian lain dalam suatu perkembangan yang logis. Jadi. dan bercabang-cabang jika tidak disajikan secara baik justru akan membosankan dan membuat laku lakon menjadi lamban. Tema adalah suatu amanat utama yang disampaikan oleh pengarang atau penulis melalui karangannya (Gorys Keraf. Peristiwa atau kejadian dibuat oleh penulis naskah sebagai kerangka besar yang mendasari terjadinya suatu lakon. Pesan itu bisa mengenai kehidupan lahiriah maupun batiniah. Peristiwa lakon tersebut menuntun seseorang untuk mengikuti laku kejadian mulai dari pemaparan. yaitu konflik dan tokoh yang terlibat dalam kejadian.

Dari kutipan dialog dan laku serta perbuatan tokoh dalam lakon Raja Lear di atas bisa ditarik sebuah kejelasan bahwa Raja Lear adalah orang yang gila hormat..2 Plot .. LEAR : …………. Dari dialog tersebut dapat diketahui perihal atau soalan yang dibahas. cepat menyambar-nyabar? Bagai prajurit yang terbuang. tiap pertalian keluarga dan darah. Tema dapat diketahui dengan dua cara : * Apa yang diucapkan tokoh-tokohnya melalui dialog-dialog yang disampaikan. tidak bijaksana. tetapi karena sikapnya yang keras maka ia juga dibenci.. walau menggigit aku. Perhatikan kutipan dialog di bawah ini. gagasan atau pesan yang ada dalam naskah lakon dan ini menentukan arah jalannya cerita.. Misalnya. * Raja Lear murka pada Cordelia karena tidak memujinya. dalam kalimat dialog Raja Lear dapat ditarik satu simpulan bahwa meskipun sebagai raja ia disegani oleh anak-anaknya. Melalui laku atau aksi tokoh dalam lakon yang biasanya diterangkan (dituliskan) dalam arahan lakon gambaran tema semakin jelas.. lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo. Dengan berpedoman dua hal tersebut analisis tema lakon dapat dikerjakan. Kadangkadang... terpillih meski. Jika hanya membaca cerita secara keseluruhan tanpa meninjau kalimat dialog dengan teliti maka hasil akhir dari analisis yang dilakukan belum tentu benar. dan harus dipuji. Dalam lakon Raja Lear. meski dibuang. CORDELIA : Andaikan bukan seorang ayah. supaya hama jahat berupah. 2. Bunuhlah tabib tuan. rangkung saya berteriak meyerukan tuanlah lalim……… RAJA TOKOHCIS : Cordelia jelita. LEAR : ………………. * Raja Lear marah-marah dan mengusir bawahannya ketika ada yang menentang.. tercinta meski dihina.. Dialog yang disampaikan tokoh dapat dijadikan acuan untuk menganalisis tema lakon. laku tokoh dapat memberikan penjelasan sebagai berikut. KENT : Silakan. yaitu kehancuran diri dan keluarganya. Atas sikapnya itu Raja Lear menuai hasil.... Sekarang kulempar tiap kewajiban orang tua. lalim. Dengan merangkai setiap persoalan melalui dialog para tokohnya maka gambaran tema akan didapatkan. Masing-masing tokoh mengucapkan kalimat dialognya. Ah wajah benginikah dipaksa menempuh pergolakan badai? Dan melawan guntur bercakra garang. dialog kecil memiliki arti yang luas dan sanggup mempengaruhi tema cerita. mulai kini sampai selamanya kaulah asing bagiku dan bagi hatiku…………………. kalau tidak. * Raja Lear marah-marah ketika tidak dilayani hidupnya pada anak yang semula disayangi. Laku aksi memberikan penegasan kalimat dialog. Semua analisis lakon dikerjakan dengan mencermati kalimat dialog tersebut serta hubungan antara kalimat satu dengan yang lain.bahwa tema adalah ide dasar.... Batalkan anugerah tuan. di malam begitu takkan kuusir untuk dari tempat berdiang………………. Tema sebuah lakon bisa tunggal dan bisa juga lebih dari satu. ternyata paling kaya meski miskin. nanti kuhambat untungmu…. kendalikan lidahmu sedikit. namun uban ini sudah menuntut belas-kasih. petir dahsyat yang pesat. * Apa yang dilakukan tokoh-tokohnya. Misalnya. Detil tema selalu dapat ditemukan dari baris-baris kalimat dialog tokoh cerita.. berjaga dengan topi tipis ini? Anjing musuhku pun. Tema dalam naskah lakon ada yang secara jelas dikemukakan dan ada yang samar-samar atau tersirat. * Raja Lear membagi kerajaan pada ketiga anaknya sesuai dengan pujian yang disampaikan anaknya.. * Anak-anak Raja Lear yang disayangi berubah memusuhi orang tuanya sehingga Raja Lear sakit.

ialah seluruh persiapan dalam permainan. waktu kejadiannya. misalnya tempat lakon tersebut terjadi. yaitu karakter. dan spektakel. Pada bagian tengah biasanya berisi tentang kejadian-kejadian yang bersangkut paut dengan masalah pokok yang telah disodorkan kepada penonton dan membutuhkan jawaban. Bagian akhir berisi tentang satu persatu pertanyaan penonton terjawab atau sebuah lakon telah mencapai klimaks besar. Secara umum pembagian plot terkadang menggunakan tipe sebab akibat yang dibagi dalam lima pembagian sebagai berikut. Plot atau alur adalah rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama. dan bagian akhir. Hal ini berhubungan dengan pola pengadeganan dalam permainan teater. Plot merupakan jalannya peristiwa dalam lakon yang terus bergulir hinga lakon tersebut selesai. bagian awal. Sellman dalam Modern Theatre Practice (1963). diksi. Cuddon dalam Dictionary of Literaray Terms (1977). Pembagian plot dalam lakon klasik atau konvensional biasanya sudah jelas yaitu. * Eksposisi adalah saat memperkenalkan dan membeberkan materi-materi yang relevan atau memberi informasi pada penonton tentang masalah yang dialami atau konflik yang terjadi dalam diri karakter-karakter yang ada di lakon. Pautannya dapat diwujudkan oleh hubungan temporal (waktu) dan oleh hubungan kausal (sebab-akibat). Samuel Selden dan Hunton D. Heffner. Plot juga berfungsi sebagai bagian dasar yang membangun dalam sebuah teater dan keseluruhan perintah dari seluruh laku maupun semua bagian dari kenyataan teater serta bagian paling penting dan bagian yang utama dalam drama atau teater. * Resolusi adalah proses penempatan kembali kepada suasana baru. puisi atau prosa dan selanjutnya bentuk peristiwa dan perwatakan itu menyebabkan pembaca atau penonton tegang dan ingin tahu. Secara sederhana plot dapat dibagi menjadi dua yaitu simple plot (plot yang sederhana) dan multi plot (plot yang lebih dari satu) .2. dan merupakan dasar struktur irama keseluruhan permainan. * Aksi Pendorong adalah saat memperkenalkan sumber konflik di antara karakter-karakter atau di dalam diri seorang karakter. atau argumentative atau kejenakaan atau melalui cara-cara lain. Jadi plot berfungsi sebagi pengatur seluruh bagian permainan.1 Jenis Plot Ketika menonton atau melihat atau membaca sebuah lakon fiksi maka emosi kita akan terpengaruh dengan apa yang kita tonton. tema. bagian tengah. atau baca tersebut. yang menggerakkan jalan cerita melalui perumitan (penggawatan atau komplikasi) ke arah klimaks penyelesaian. 2. plot atau alur adalah kontruksi atau bagan atau skema atau pola dari peristiwa-peristiwa dalam lakon. Jalinan peristiwa dan jalannya cerita inilah yang dimaksud dengan plot.A. pelaku-pelakunya. pengawas utama dimana seorang penulis naskah dapat menentukan bagaimana cara mengatur lima bagian yang lain. dan bagaimana peristiwa itu terjadi.Plot (ada yang menyebutnya sebagai alur) dalam pertunjukan teater mempunyai kedudukan yang sangat penting. Plot menurut Panuti Sudjiman dalam bukunya Kamus Istilah Sastra (1984) memberi batasan adalah jalinan peristiwa di dalam karya sastra (termasuk naskah drama atau lakon) untuk mencapai efek-efek tertentu. * Krisis adalah penjelasan yang terperinci dari perjuangan karakter-karakter atau satu karakter untuk mengatasi konflik. Menurut J. Plot atau alur menurut Hubert C. lihat. Plot dapat dibagi berdasarkan babak dan adegan atau berlangsung terus tanpa pembagian. Seorang penulis seringkali meletakkan berbagai informasi penting pada bagian awal lakon. Bagian ini merupakan kejadian akhir dari lakon dan terkadang memberikan jawaban atas segala persoalan dan konflik-konflik yang terjadi. Plot lakon banyak sekali ragamnya tergantung dari penulis lakon mempermainkan emosi kita. * Klimaks adalah proses identifikasi atau proses pengusiran dari rasa tertekan melalui perbuatan yang mungkin saja sifatnya jahat. Jadi plot merupakan susunan peristiwa lakon yang terjadi di atas panggung. Emosi ini timbul karena terpengaruh oleh jalinan peristiwaperistiwa dan jalannya cerita yang ditulis oleh penulis. musik.

Tetapi pada akhir cerita alur cerita yang terdiri dari episodeepisode ini akan bertemu. dan tanpa disadari akan menimpa dirinya sendiri. alur lurus atau straight plot. * Gimmick. di mana setiap episode memiliki alur cerita sendiri. Plot linear adalah alur cerita mulai dari awal sampai akhir cerita bergerak lurus sedangkan linear-circular adalah alur cerita mulai dari awal sampai akhir bergerak lurus secara melingkar sehingga awal dan akhir cerita akan bertemu dalam satu titik.1. Plot disusun oleh pengarang dengan tujuan untuk mengungkapkan buah pikirannya yang secara khas. Simple plot ini terdiri dari plot linear dan linear-circular.2. alur maju atau progressive plot. Concentric plot adalah cerita lakon yang memiliki beberapa plot yang berdiri sendiri. Alur ini merupakan kebalikan dari progressive plot. Plotplot yang ada dalam cerita tersebut memiliki permasalah yang harus diselesaikan. pembayangan ke depan yang terjadi ketika tokoh meramalkan atau membayangkan keadaan yang akan datang. Contoh lakon dengan alur mundur adalah Opera Primadona karya Nano Riantiarno yang dimainkan oleh Teater Koma. Alur ini merupakan kebalikan dari alur menanjak atau rising plot. Alur menanjak atau rising plot adalah alur dengan emosi lakon mulai dari tingkat emosi yang paling rendah menuju tingkat emosi lakon yang paling tinggi. alur menurun atau falling plot. Alur menurun atau falling plot adalah alur dengan emosi lakon mulai dari tingkat emosi yang paling tinggi menuju tingkat emosi lakon yang paling rendah. Setiap episode dalam lakon tersebut sebenarnya tidak ada hubungan sebab akibat dalam rangkaian cerita. 2. * Dramatic Irony. 2. Dalam lakon banyak dijumpai tokoh-tokoh ini. Raja Lear karya William Shakespeare dan lain-lain. tema. Rendra. plot atau alur cerita merupakan rangkaian peristiwa yang satu dengan yang lain dihubungkan dengan hukum sebab akibat. Alur ini adalah alur cerita paling umum pada alur lakon.2 Multi Plot Multi plot adalah lakon yang memiliki satu alur utama dengan beberapa sub plot yang saling bersambungan. Alur episode atau episodic plot adalah plot cerita yang terdiri dari bagian perbagian secara mandiri. bagian 5 menit pertama yang sengaja dibuat menarik untuk memikat penikmat * Fore Shadowing. dan biasanya tidak disadari oleh tokoh tersebut. Dengan demikian plot memiliki anatomi atau bagian-bagian yang menyusun plot tersebut yang disebut dengan anatomi plot sebagai berikut. Multi plot ini terdiri dari dua tipe yaitu alur episode atau episodic plot dan alur terpusat atau concentric plot.S. dan alur melingkar atau circular plot. Pengungkapan ini lewat jalinan peristiwa yang baik sehingga menciptakan dan mampu menggerakkan alur cerita itu sendiri. Alur linear ini masih bisa dibagi-bagi lagi sesuai dengan sifat emosi yang terkandung dari plot linear ini.2. dimana pada akhir cerita semua tokoh yang terlibat dalam cerita yang terpisah tadi akhirnya menyatu guna menyelesaikan cerita.1 Simple Plot Simple plot atau plot lakon yang sederhana adalah lakon yang memiliki satu alur cerita dan satu konflik yang bergerak dari awal sampai akhir. aksi seorang tokoh yang berkata atau bertindak sesuatu. . Jalinan jalan cerita dalam lakon bergerak mulai dari awal sampai akhir tanpa ada kilas balik. Contoh lakon dengan alur episode atau episodic plot adalah lakon Panembahan Reso karya W.2 Anatomi Plot Menurut Rikrik El Saptaria (2006). alur mundur atau regressive plot.2. tokoh. terdiri dari alur menanjak atau rising plot. Alur mundur atau regresive plot adalah alur cerita yang dimulai dari inti cerita kemudian dipaparkan bagaimana sampai terjadi peristiwa tersebut. Alur lurus atau straight plot hampir sama dengan alur maju. Alur maju atau progresive plot adalah alur cerita yang dimulai dari pemaparan peristiwa lakon sampai menuju inti peristiwa lakon.2.1.

* Suspen. tetapi kilas balik pada film biasanya berupa nukilannukilan gambar. Analisis ini perlu dilakukan guna memberi suatu gambaran pada penonton tentang tempat peristiwa itu terjadi. atau sudah lain hari? Pertanyaan-pertanyaan seputar waktu dan tempat kejadian ini akan memberikan gambaran peristiwa lakon yang komplit (David Groote. 2. Sedangkan sebagai bahan dasar pertunjukan. tetapi bisa sebagai bahan dasar dari pertunjukan. di dalam gedung atau di dalam rumah? Jam berapa kira-kira terjadi? Tanggal. 2. Analisis setting lakon ini merupakan suatu usaha untuk menjawab sebuah pertanyaan apakah peristiwa terjadi di luar ruang atau di dalam ruang? Apakah terjadi pada waktu malam. Dalam sebuah lakon terkadang dijumpai aksi-aksi yang seperti ini dan akan menimbulkan suatu rasa simpati penonton kepada korbannya. Seperti diketahui bahwa sifat dari naskah lakon bisa berdiri sendiri sebagai bahan bacaan sastra.2.3. Gambaran tempat peristiwa dalam lakon kadang sudah diberikan oleh penulis lakon. Pertanyaan untuk setting atau latar cerita adalah kapan dan dimana persitiwa terjadi. kilas balik peristiwa lampau yang dikisahkan kembali pada saat ini. Pertanyaan tidak serta merta dijawab secara global tetapi harus lebih mendetil untuk mengetahui secara pasti waktu dan tempat kejadiannya. pagi hari. Suspen ini biasanya dibangun melalui dialog-dialog serta laku para tokoh yang ada dalam naskah lakon.* Flashback. interpretasi tempat kejadian peristiwa ini terletak pada keterangan yang diberikan oleh penulis naskah lakon dan dalam imajinasi pembaca. bulan.2. aksi atau ucapan tokoh utama yang beritikad tentang sesuatu persoalan yang menimbulkan pertentangan atau konflik antartokoh. karena semuanya sudah bisa ditebak oleh penonton. tetapi kadang tidak diberikan oleh penulis . Hal ini akan menyebabkan kualitas pertunjukan dinilai tidak terlalu bagus. * Surprise. Suspen ini biasanya diciptakan dan dijaga oleh penulis lakon dari awal sampai akhir cerita. berisi dugaan dan prasangka yang dibangun dari rangkaian ketegangan yang mengundang pertanyaan dan keingintahuan penonton. supaya penonton bertanya-tanya apa akibat yang ditimbulkan dari peristiwa sebelumnya ke peristiwa selanjutnya.1 Latar Tempat Latar tempat adalah tempat yang menjadi latar peristiwa lakon itu terjadi. Kalau pemeran atau sutradara tidak cermat dalam menganalisisnya maka kemungkinan suspen terlewati dan tidak tergarap dengan baik. suatu peristiwa yang terjadi diluar dugaan penonton sebelumnya dan memancing perasaan dan pikiran penonton agar menimbulkan dugaan-dugaan yang tidak pasti. 1997). Analisis ini juga sangat penting dilakukan karena berhubungan dengan tata teknik pentas. Kalau cerita itu bisa ditebak oleh penonton maka perhatian penonton akan berkurang dan menganggap pertunjukan tersebut tidak menyuguhkan sesuatu untuk dipikirkan. Kilas balik biasanya diceritakan melalui dialog tokoh. dan tahun berapa? Apakah waktu kejadiannya berkaitan dengan waktu kejadian peristiwa di adegan lain. Peristiwa dalam lakon adalah peristiwa fiktif yang menjadi hasil rekaan penulis lakon. Namun peristiwa yang diharapkan tersebut. tempat peristiwa ini harus dikomunikasikan atau diceritakan oleh para pemeran sebagai komunikator kepada penonton. pada akhirnya mengarah ke sesuatu yang tidak disangka-sangka sebelumnya. Sebagai bahan bacaan sastra. Dengan menimbulkan pertanyaanpertanyaan ini penonton akan betah mengikuti cerita sampai selesai. karena memang bukan persoalan scenery yang hendak dibahas. Menurut Aristoteles peristiwa dalam lakon adalah mimesis atau tiruan dari kehidupan manusia keseharian.3 Setting Membicarakan tentang setting dalam mengkaji lakon tidak ada kaitan langsung dengan tata teknik pentas. * Gestus. Suspen akan menumbuhkan dan memelihara keingintahuan penonton dari awal sampai akhir cerita. Kilas balik ini berfungsi untuk mengingatkan kembali ingatan penonton pada peristiwa yang telah lampau tetapi masih dalam satu rangkaian peristiwa lakon. atau sore hari? Jika terjadi dalam ruang lalu di mana letak ruang itu.

mungkin saja William Shakespeare terinspirasi oleh bencana yang melanda Inggris pada waktu itu.2. Misalnya. Zaman Romantik. atau yang mengakibatkan adegan atau lakon itu terjadi.2. Bahkan Lajos Egri berpendapat bahwa berperwatakanlah yang paling utama dalam lakon. pagi. yaitu seolah-olah terjadi kiamat karena lakon ini dialegorikan sebagai kiamat kecil.4 Karakterisasi Karakterisasi merupakan usaha untuk membedakan tokoh satu dengan tokoh yang lain. penata artistik akan menata perabot dan mendekorasi pementasan sesuai dengan latar waktu.3. sore).1 Jenis-jenis Tokoh . tanpa perwatakan tidak bakal ada plot. Jika proses identifikasi ini berhasil.`adegan.4. konflik yang akhirnya melahirkan cerita (A. Analisis latar waktu bisa dilakukan dengan mencermati dialog-dialog yang disampaikan oleh tokoh dalam adegan atau babak yang sedang berlangsung.2. 2. dan babak itu terjadi. adegan awal pada lakon. Latar peristiwa ini bisa sebagai realita bisa juga fiktif yang menjadi imajinasi penulis lakon. zaman tokohg dan lain-lain). lakon Raja Lear. 2. Lakon-lakon dengan latar peristiwa yang riil juga terjadi pada lakonlakon di Indonesia pada tahun 1950 sampai tahun 1970. Tanpa perwatakan tidak akan ada cerita. Dengan menggetahui latar waktu yang terjadi pada maka semua pihak akan bisa mengerjakan lakon tersebut. Padahal ketidaksamaan watak akan melahirkan pergeseran. malam. Perbedaan-perbedaan tokoh ini diharapkan akan diidentifikasi oleh penonton.2. maka perasaan penonton akan merasa terwakili oleh perasaan tokoh yang diidentifikasi tersebut.2 Latar Waktu Latar waktu adalah waktu yang menjadi latar belakang peristiwa. Analisis latar tempat dapat dilakukan dengan mencermati dialog-dialog tokoh yang sedang berlangsung dalam satu adegan. Latar peristiwa pada adegan atau lakon adalah peristiwa yang mendahului adegan atau lakon tersebut. 2. berbarti kita telah mengadopsi pikiran-pikiran dan perasaan tokoh tersebut menjadi perasaan dan pikiran kita. Analisis latar waktu yang dilakukan oleh sutradara biasanya berhubungan dengan tata teknik pentas. Karakterisasi atau perwatakan dalam sebuah lakon memegang tokohan yang sangat penting. Latar peristiwa yang nyata digunakan oleh penulis lakon untuk menggambar peristiwa yang terjadi secara nyata pada waktu itu sebagai dasar dari lakonnya. tabrakan kepentingan. Latar waktu dalam naskah lakon bisa menunjukkan waktu dalam arti yang sebenarnya (siang.lakon. Adjib Hamzah. Analisis latar waktu perlu dilakukan baik oleh seorang sutradara maupun oleh pemeran. tetapi banyak latar`waktu ini tidak diberikan oleh penulis lakon. Latar waktu terkadang sudah diberikan`atau sudah diberi rambu-rambu oleh penulis lakon. Misalnya. babak atau dalam keseluruhan lakon tersebut. dan waktu yang menunjukkan suatu zaman atau abad (Zaman Klasik. waktu yang menunjukkan sebuah musim (musim hujan.3 Latar Peristiwa Latar peristiwa adalah peristiwa yang melatari adegan itu terjadi dan bisa juga yang melatari lakon itu terjadi. Lakon pada waktu itu mengambil latar peristiwa pada Zaman Tokohg Revolusi di Indonesia. Suatu misal kita mengidentifisasi satu tokoh. 1985).3. sedangkan yang dilakukan oleh pemeran biasanya berhubungan dengan akting dan bisnis akting. 2. musim dingin dan lain-lain). Misalnya. musim kemarau. Tugas seorang sutradara dan`pemeran ketika menghadapi sebuah naskah lakon adalah menginterprestasi latar waktu dalam lakon tersebut.

Contoh:tokoh Badut dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. Konflik dapat dikembangkan oleh penulis lakon melalui ucapan dan tingkah laku tokoh.4. Contoh. dan ketika sudah dewasa maka pribadinya berkembang melalui hubungan dengan lingkungan sosial.Tokoh merupakan sarana utama dalam sebuah lakon. * Tritagonis Tritagonis adalah tokoh penengah yang bertugas menjadi pendamai atau pengantara protagonis dan antagonis. Dalam teater.2. sebab dengan adanya tokoh maka timbul konflik. Contoh tokoh antagonis pada lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo adalah tokoh Gonerill dan tokoh Regan.2 Jenis Karakter Karakter adalah jenis tokoh yang akan dimainkan. * Deutragonis Deutragonis adalah tokoh lain yang berada di pihak tokoh protagonis. * Antagonis Antagonis adalah tokoh lawan. Tokoh ini ikut mendukung menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh tokoh protaganis. tokoh Bangsawan pada lakon Raja Lear karya Willliam Sahkespeare. Jadi perkembangan karakter seharusnya mengacu pada pribadi manusia. Penokohan ini biasanya didahului dengan menganalisis tokoh tersebut sehingga bisa dimainkan. teatrikal. Tokoh protagonis dan antagonis harus memungkinkan menjalin pertikaian. Karakter tokoh dalam lakon mengacu pada pribadi manusia yang berkembang sesuai dengan perkembangan lingkungan. Ketika masih kecil dia bereksplorasi dengan dirinya sendiri untuk mengetahui perkembangan dirinya. Tokoh-tokoh tersebut adalah sebagai berikut. dan cita-cita Raja Lear. Tokoh antagonis harus memiliki watak yang kuat dan kontradiktif terhadap tokoh protagonis. Tokoh ini juga menentukan jalannya cerita. tokoh dapat dibagi-bagi sesuai dengan motivasi-motivasi yang diberikan oleh penulis lakon. 2. Edgar. Contoh tokoh protagonis pada lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo adalah tokoh Raja Lear itu sendiri. dan karikatural. Curan dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. tokoh Perwira. * Foil Foil adalah tokoh yang tidak secara langsung terlibat dalam konflik yang terjadi tetapi ia diperlukan guna menyelesaikan cerita. Oswald. bisa dari alam. Contoh. Keberadaan tokoh adalah untuk mengatasi persoalan-persoalan yang muncul ketika mencapai suatu citacita. Motivasi-motivasi tokoh inilah yang dapat melahirkan suatu perbuatan tokoh. tokoh Tumenggung Kent. sedangkan penokohan adalah proses kerja untuk memainkan tokoh yang ada dalam naskah lakon. dan pertikaian itu harus berkembang mencapai klimaks. Persoalan ini bisa dari tokoh lain. round charakter. karena dia seringkali menjadi musuh yang menyebabkan konflik itu terjadi. keinginan. Biasanya tokoh ini mewakili jiwa penulis. Kedua tokoh inilah yang menentang perkembangan. Biasanya dia berpihak pada tokoh antagonis. yaitu flat character. * Flat Character (perwatakan dasar) Flat character atau karakter datar adalah karakter tokoh yang ditulis oleh penulis lakon secara datar dan biasanya bersifat hitam putih. * Utility Utility adalah tokoh pembantu atau sebagai tokoh pelengkap untuk mendukung rangkaian cerita dan kesinambungan dramatik. Dia adalah pengawal dari Cordelia. jenis karakter dalam teater ada empat macam. Cordelia dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. Menurut Rikrik El Saptaria (2006). bisa juga karena kekurangan dirinya sendiri. yang merupakan akumulasi dari pengalaman-pengalaman dan interaksi-interaksi yang dilakukannya dan terus . Contoh. * Protagonis Protagonis adalah tokoh utama yang merupakan pusat atau sentral dari cerita.

keadaan jaman dan lain-lain yang tidak bersifat manusiawi tetapi dilakukan oleh manusia. Perkembangan dan perubahan ini mengacu pada perkembangan pribadi orang dalam kehidupan sehari-hari. Flat character ini ditulis dengan tidak mengalami perkembangan emosi maupun derajat status sosial dalam sebuah lakon. antara ketegangan dengan keriangan suasana. Penulis lakon adalah orang yang memiliki dunia sendiri yaitu dunia fiktif. Karakter ini biasanya terdapat karakter tokoh utama baik tokoh protagonis maupun tokoh antagonis. Kawan. D. dan lebih bersifat simbolis. Sifat karikatural ini bisa berupa dialog-dialog yang diucapkan oleh karakter tokoh. sehingga ketika mencipta sebuah karakter dia bebas menentukan suatu perkembangan karakter. unik. Karakter-karakter teatrikal jarang dijumpai pada lakon-lakon realis. tetapi diperlukan dalam sebuah lakon. Misalnya karakter yang diciptakan oleh Putu Wijaya pada lakon-lakonnya yang bergaya post-realistic.. . * Teatrikal Teatrikal adalah karakter tokoh yang tidak wajar. * Karikatural Karikatural adalah karakter tokoh yang tidak wajar. suasana. Pemimpin (lakon LOS) dan lain-lain. C. Karakter ini hanya simbol dari psikologi masyarakat. bisa juga dengan tingkah laku. * Round Character (perwatakan bulat) Karakter tokoh yang ditulis oleh penulis secara sempurna. dan cenderung menyindir. Si Tua. bahkan perpaduan antara ucapan dengan tingkah laku. tetapi sangat banyak dijumpai pada lakon-lakon klasik dan non realis. satiris. Flat character biasanya ada pada karakter tokoh yang tidak terlalu penting atau karakter tokoh pembantu. Perkembangan inilah yang menjadikan karakter ini menarik dan mampu untuk mengerakkan jalan cerita. Karakter ini segaja diciptakan oleh penulis lakon sebagai penyeimbang antara kesedihan dan kelucuan. seperti tokoh A.berkembang. karakteristiknya kaya dengan pesan-pesan dramatik. Si Gembrot. Round karakter adalah karakter tokoh dalam lakon yang mengalami perubahan dan perkembangan baik secara kepribadian maupun status sosialnya.

yaitu menentukan lakon. memahami dan mengatur blocking serta melakukan serangkaian latihan dengan para pemain dan seluruh pekerja artistik hingga karya teater benar-benar siap untuk dipentaskan. Waluyo. 2001). Dengan demikian sutradara menjadi salah satu elemen pokok dalam teater modern. Model penyutradaraan seperti yang dilakukan oleh George II diteruskan pada masa lahir dan berkembangnya gaya realisme. 3. Oleh karena itu. Oleh karena kedudukannya yang tinggi. Ada beberapa pertimbangan yang dapat dilakukan oleh sutradara dalam memilih naskah. 1994). Pementasan teater muncul dari sekumpulan pemain yang memiliki gagasan untuk mementaskan sebuah cerita.1 Pemilihan Naskah Proses atau tahap pertama yang harus dilakukan oleh sutradara adalah menentukan lakon yang akan dimainkan.1 Naskah Jadi Mementaskan teater dengan naskah yang sudah tersedia memiliki kerumitan tersendiri terutama pada saat hendak memilih naskah yang akan dipentaskan. Para aktor yang telah memiliki banyak pengalaman mengajarkan pengetahuannya kepada aktor muda. produksi pementasan teater Saxe-Meiningen masih mengutamakan kerja bersama antarpemain yang dengan giat berlatih untuk meningkatkan kemampuan berakting mereka (Robert Cohen. menentukan pemain. Meskipun demikian. Gordon Craig merupakan seorang sutradara yang menanamkan gagasannya untuk para aktor sehingga ia menjadikan sutradara sebagai pemegang kendali penuh sebuah pertunjukan teater (Herman J. Proses mengajar dijadikan tonggak awal lahirnya “sutradara”. Setelah itu tugas berikutnya adalah menganalisis lakon. maka seorang sutradara harus mengerti dengan baik hal-hal yang berhubungan dengan pementasan. seperti tertulis di bawah ini. . Kemudian mereka berlatih dan memainkkannya di hadapan penonton. maka kehadiran seorang sutradara yang mampu mengatur dan mengharmonisasikan keseluruhan unsur artistik pementasan dibutuhkan. Seorang bangsawan (duke) dari Saxe-Meiningen yang memimpin sebuah grup teater dan menyelenggarakan pementasan keliling Eropa pada akhir tahun 1870-1880. Max Reinhart mengembangkan penyutradaraan dengan mengorganisasi proses latihan para aktor dalam waktu yang panjang. Sutradara bisa memilih lakon yang sudah tersedia (naskah jadi) karya orang lain atau membuat naskah lakon sendiri. menentukan bentuk dan gaya pementasan. Sejalan dengan kebutuhan akan pementasan teater yang semakin meningkat. Berhasil tidaknya sebuah pertunjukan teater mencapai takaran artistik yang diinginkan sangat tergantung kepiawaian sutradara. maka para aktor memerlukan peremajaan pemain. 3.Dasar-dasar Teater (3/6): Dasar Seni Penyutradaraan dalam Teater Pada mulanya pementasan teater tidak mengenal sutradara. Istilah sutradara seperti yang dipahami dewasa ini baru muncul pada jaman Geroge II. Dengan banyaknya jumlah pentas yang harus dilakukan. Andre Antoine di Tokohcis dengan Teater Libre serta Stansilavsky di Rusia adalah dua sutradara berbakat yang mulai menekankan idealisme dalam setiap produksinya. Nskah tersebut harus memenuhi kreteria yang diinginkan serta sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan. Dalam terminologi Yunani sutradara (director) disebut didaskalos yang berarti guru dan pada abad pertengahan di seluruh Eropa istilah yang digunakan untuk seorang sutradara dapat diartikan sebagai master. kerja sutradara dimulai sejak merencanakan sebuah pementasan.1.

sutradara harus mampu melakukan adaptasi sehingga pendanaan bisa dikurangi tanpa mengurangi nilai artistik lakon. Tema adalah gagasan dasar cerita atau pesan yang akan disampaikan oleh pengarang kepada penonton. * Menentukan kerangka cerita. sutradara harus mampu mengukur kualitas sumber daya pemain yang dimiliki dalam menentukan naskah yang akan dipentaskan.* Sutradara menyukai naskah yang dipilih. Dengan membuat kerangka cerita maka penulis akan memiliki batasan yang jelas sehingga cerita tidak berteletele. Persoalan atau konflik adalah inti daricerita teater. * Sutradara merasa mampu mementaskan naskah yang telah dipilih. Kerangka cerita akan membingkai jalannya cerita dari awal sampai akhir. Jika tidak. pemilihan pemain yang asal-asalan. * Sutradara mampu tetap mementaskan naskah yang dipilih. Tema. Jika sutradara memilih naskah yang akan ditampilkan dalam keadaan terpaksa maka bisa dipastikan hasil pementasan menjadi kurang baik. * Membuat sinopsis (ringkasan cerita). keseluruhan kerja menjadi tidak optimal. Misalnya. Misalnya tema yang dipilih adalah “kebaikan akan mengalahkan kejahatan”. Dengan adanya sinopsis maka penulisan lakon menjadi terarah dan tidak mengada-ada. penata artsitik. tetapi juga dengan unsur pendukung yang lain. 3. Tidak ada cerita teater tanpa konflik. Naskah semacam ini bersifat situasional. Oleh karena itu. konflik. * Menentukan persoalan. Akan tetapi berkenaan dengan sumber daya yang dimiliki. * Sutradara wajib mempertimbangkan sisi pendanaan secara khusus. Sinopsis digunakan pemandu proses penulisan naskah sehingga alur dan persoalan tidak melebar. Sutradara dengan segenap kemampuannya harus mampu meyakinkan pemain dan mengusahakan pertunjukan agar tetap digelar sehingga proses yang telah dilakukan tidak menjadi sia-sia. Hal ini membawa dampak tersendiri dalam bidang pendanaan.2 Membuat Naskah Sendiri Membuat naskah lakon sendiri tidak menguntungkan karena akan memperpanjang proses pengerjaan. Jika sutradara merasa mampu mengusahakan pendanaan secara optimal untuk mewujudkan tuntutan artistik lakon. Misalnya dengan tema “kebaikan akan mengalahkan kejahatan”. Naskah lakon yang baik tidak ada gunanya jika dimainkan oleh aktor yang kurang baik. William Froug (1993) misalnya.Tidak ada gunanya berlatih naskah lakon tertentu dalam waktu lama jika di tengah proses tiba-tiba hal itu terhenti karena alasan tertentu. Kerangka ini membagi jalannya cerita mulai dari pemaparan. seperti analisis yang kurang detil. Oleh karena itupangkal persoalan atau titik awal konflik perlu dibuat dan disesuaikan dengan tema yang dikehendaki. Gambaran cerita secara global dari awal sampai akhir hendaknya dituliskan. klimaks sampai penyelesaian. yaitu pembukaan. maka dalam cerita hal tersebut harus dimunculkan melalui aksi tokoh-tokohnya sehingga penonton dapat menangkap maksud dari cerita bahwa sehebat apapun kejahatan pasti akan dikalahkan oleh kebaikan. sutradara harus mampu membuat naskah yang sesuai dengan kualitas sumber daya yang ada. Semua sumber daya dimiliki seperti pemain. Naskah yang tidak dikehendaki akan membawa pengaruh dan masalah tersendiri bagi sutradara dalam mengerjakannya. * Sutradara mampu menemukan pemain yang tepat. Mampu mementaskan sebuah naskah tentunya tidak hanya berkaitan dengan kecakapan sutradara. akan menuntun laku cerita dari awal sampai akhir. Untuk itu. maka naskah tersebut bisa dipilih. naskah yang dipilih memoiliki latar cerita di rumah mewah dengan segala perabot yang indah. * Menentukan tema. Beberapa langkah di bawah ini dapat dijadikan acuan untuk menulis naskah lakon. membuat naskah sendiri dapat menjadi pilihan yang tepat. membuat kerangka cerita (skenario) dengan empat bagian. Beberapa naskah yang baik terkadang memiliki konsekuensi logis dengan pendanaan. Persoalan ini kemudian diikembangkan dalam cerita yang hendak dituliskan. pangkal persoalan yang dibicarakan adalah sikap licik seseorang yang selalu memfitnah orang lain demi kepentingannya sendiri. dan pendanaan menjadi pertimbangan dalam memilih naskah yang akan dipentaskan.1. . tetapi semua orang yang terlibat menjadi senang karena dapat mengerjakannya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Pada bagian pembukaan memaparkan sketsa singkat tokoh-tokoh cerita. berkecukupan. Akhir cerita yang mengesankan selalu akan dinanti oleh penonton. isi yang berisi pemaparan. * Menentukan cara penyelesaian. senang membantu orang lain. Tokoh protagonis adalah tokoh yang membawa laku keseluruhan cerita. Misalnya. sutradara akan lebih mudah menerjemahkan kehendak pengarang dalam pertunjukan. menentukan kerangka lakon dalam tiga bagian. yaitu pembuka yang berisi pengantar cerita atau sebab awal. Dengan analisis yang baik. dalam persoalan tentang kelicikan. tetapi lebih tidak mudah lagi memindahkan gagasan dalam bentuk tulisan. sutradara sekaligus penulis naskah Teater Koma. maka tokoh protagonis dapat diwujudkan sebagi orang yang rajin. Apa yang hendak disampaikan oleh pengarang melalui naskah lakon disebut pesan. gunakan dan manfaatkan waktu sebaik mungkin. 3. Bagian tengah adalah konflik yang meruncing hingga sampai klimaks. Pada bagian akhir. Dalam beberapa lakon ada cerita yang diakhiri dengan baik tetapi ada yang diakhiri secara tergesa-gesa.1 Analisis Dasar Analisis dasar adalah telaah unsur-unsur pokok yang membentuk lakon.2 Analisis Lakon Menganalisis lakon adalah salah satu tugas utama sutradara. maka tokoh lain baik yang berada di pihak protagonis atau antagonis akan mudah diciptakan. Oleh karena itu. Berhasil atau tidaknya sebuah pertunjukan teater diukur dari sampai tidaknya pesan lakon kepada penonton. * Konflik dan Penyelesaian. serta jujur. * Pesan Lakon. dan tidak tergesa-gesa. konflik hingga klimaks. dan pada akhirnya bagaimana konflik itu . Romeo and Juliet karya Shakespeare mengandung pesan bahwa seseorang yang telah menemukan cinta sejati tidak takut terhadap risiko apapun termasuk mati.bagian awal. Merupakan bahan komunikasi utama yang hendak disampaikan kepada penonton. Jadi. dermawan. titik balik cerita dimulai dan konflik diselesaikan. dan akhir. dan penutup yang merupakan simpulan cerita atau akibat. Dalam proses analisis ini. maka semakin jelas pula karakter tokoh antagonis. Semakin detil sifat atau karakter protagonis. bahkan ada yang bingung mengakhirinya. tengah. Dengan menentukan tokoh protagonis secara mendetil. Oleh karena itu tentukan akhir cerita dengan baik. maka tokoh lainnya mudah ditemukan. sutradara memepelajari seluruh isi lakon dan menangkap gambaran lengkap lakon seperti apa yang tertulis. semangat dalam bekerja. Mencari dan mengembangkan gagasan memang tidak mudah.2. 3. Setelah semua hal disiapkan maka proses berikutnya adalah menulis. sutradara wajib menemukan pesan utama dari lakon yang telah ditentukan. Dinamika percintaan Romeo dan Juliet yang berakhir dengan kematian inilah yang harus ditekankan oleh sutradara kepada penonton. * Menulis. * Menentukan protagonis. Oleh karena itu. Unsur-unsur pokok yang harus dianalisis oleh sutradara adalah senagai berikut. Lakon yang telah ditentukan harus segera dipelajari sehingga gambaran 100% lengkap cerita didapatkan. Pesan ini ingin disampaikan oleh pengarang dengan akhir yang tragis dimana tokoh Romeo dan Juliet akhirnya mati bersama. logis. Dengan menulis lawan dari sifat protagonis maka karakter antagonis dengan sendirinya terbentuk. Jika tokoh protagonis dan antagonis sudah ditemukan. dalam tahap ini sutradara hanya membaca kehendak pengarang melalui lakonnya. pada bagian mana konflik itu memuncak. Di bagian mana konflik itu muncul dan bagaimana aksi dan reaksi para tokohnya. Penting mengetahui dasar persoalan (konflik) dalam sebuah lakon karena hal tersebut akan membawa laku aksi para tokohnya. Bagian awal adalah bagian pengenalan secara lebih rinci masing-masing tokoh dan titik konflik awal muncul. Riantiarno (2003). Mengakhiri sebuah persoalan yang dimunculkan tidaklah mudah.

Hal ini berlaku juga untuk latar peristiwa dan waktu. gaya spanyol. sutradara memberi sentuhan dan atau penyesuaian artistik terhadap lakon yang akan dipentaskan. atau di salah satu ruang khusus. ia hanya sekedar melakukan apa yang dikehendaki oleh lakon apa adanya sesuai dengan hasil analisis. apartemen mewah disimbolkan sebagai pusat kekuasaan maka tata panggungnya disesuaikan dengan simbolisasi tersebut. menilai. Arsitektur gedung itu apakah menggunakan arsitektur kolonial. Proses interpretasi biasanya menyangkut unsur latar. Penyesuaian inipun berkaitan langsung dengan latar waktu dan peristiwa. museum.diselesaikan. * Karakter Tokoh. Untuk mewujudkan keadaan peristiwa seperti dikehendaki lakon di atas panggung maka informasi yang jelas mengenai latar cerita harus didapatkan. sutradara dapat menafsirkan tempat kejadian secara simbolis.Berdasarkan hasil analisis. Akan tetapi sangat mungkin seorang sutradara memiliki gagasan astistik tertentu yang akan ditampilkandalam pementasan setelah menganalisa sebuah lakon. Romeo and Juliet masih aktual dipentaskan sekarang ini. pesan. Apakah gedung tersebut merupakan gedung pertemuan. maka sutradara harus menggalinya melalui kalimat-kalimat dialog. maka sutradara perlu melakukan tafsir atau interpretasi. Seorang sutradara sebetulnya boleh tidak melakukan interpretasi terhadap lakon. atau ciri khas daerah tertentu. atau gedung pertunjukan. Misalnya. sederhana atau mewah. 3. * Latar Cerita. misalnya warna-warna yang digunakan di atas panggung. Semua informasi dikumpulkan dan diseleksi untuk kemudian diwujudkan dalam pementasan. Hal yang paling menarik mengenai penyampaian pesan kepada penonton adalah caranya. dan karakterisasi. teras gedung. Untuk menekankan pesan yang dimaksud ada sutradara yang memberi penonjolan pada tata artistik. Cara menyampaikan pesan ini menjadi titik tafsir lakon yang penting karena pesan inilah inti dari keseluruhan lakon. artinya. Ketika adaptasi ini dilakukan maka unsur-unsur lain pun seperti tata rias dan busana akan ikut terkait dan mengalami penyesuaian. Di gedung tersebut cerita terjadi di ruang aula. Misalnya. Karena tidak banyak arahan dan keterangan yang dituliskan mengenai karakter tokoh dalam sebuah lakon. gambaran tempat kejadian persitiwa adalah di sebuah gedung maka harus dijelaskan apakah terjadi di sebuah gedung megah. Adaptasi terhadap tempat kejadian peristiwa sering dilakukan oleh sutradara. Gambaran tempat kejadian. Antigone. Selain itu sudut pandang pengarang dalam menyelesaikan konflik dapat menegaskan pesan yang hendak disampaikan.2. Oleh karena itu analisis karakter ini harus dilakukan dengan teliti dan hati-hati sehingga setiap perubahan karakter yang dialami oleh tokoh tidak lepas dari pengamatan sutradara. dalam lakon mengehendaki tempat kejadian di sebuah apartemen yang mewah. * Latar. dan waktu kejadian harus diungkapkan dengan jelas karena hal ini berkaitan dengan tata artistik. Cara menyampaikan pesan antara sutradara satu dengan yang lain bisa berbeda meskipun lakon yang dipentaskan sama. tetapi karena ketersediaan sumber daya yang kurang memadahi maka bentuk penampilan apartemen mewah disesuaikan. peristiwa. dapur umum. Analisis karakter tokoh sangat penting dan harus dilakukan secara mendetil agar sutradara mendapatkan gambaran watak sejelas-jelasnya. Perjalanan sebuah karakter terkadang tidak mengalami perubahan yang berarti tetapi beberapa tokoh dalam lakon (biasanya protagonis dan antagonis) bisa saja mengalami perubahan. dan memahami konflik lakon.2 Interpretasi Setelah menganalisis lakon dan mendapatkan informasi lengkap mengenai lakon. Jika apartemen disimbolkan sebagai pusat kekuasaan maka peristiwa yang terjadi di dalamnya juga harus mengikuti simbolisasi ini sedangkan latar waktunya bisa ditarik ke masa lalu atau masa kini seperti yang dikehendaki oleh sutradara. Semua ini akan memberi sudut pandang bagi sutradara dalam melihat. Ada juga sutradara yang menonjolkan . Secara teknis hal ini berkaitan dengan sumber daya yang dimiliki. dewan kota. Intinya informasi sekecil apapun harus didapatkan. Secara artistik. Dengan demikian penonton akan mendapatkan gambaran yang jelas latar cerita yang dimainkan. * Pesan. Oleh karena itulah pentas teater dengan lakonlakon yang sudah berusia lama seperti Oedipus. Proses ini bisa disebut sebagai proses asimilasi (perpaduan) antara gagasan sutradara dan pengarang. Misalnya.

Hal ini mempengaruhi hasil pemikiran dan cara mengungkapkan hasil pikiran tersebut.Dengan demikian cara pandang sutradara terhadap keseluruhan lakon pun harus diubah atau mengalami penyesuaian. penggunaan bahasa puitis dengan sendirinya membuat aktor harus mau memahami dan melakukan latihan teknik-teknik membaca puisi agar dalam pengucapan dialog tidak seperti percakapan sehari-hari. Hal ini biasanya berkaitan dengan isu atau topik yang sedang hangat terjadi di masyarakat. Aktor boleh berbicara secara langsung kepada penonton. Dengan demikian sutradara harus benar-benar memikirkan cara menyampaikan pesan lakon dengan mempertimbangkan unsur-unsur lakon dan sumber daya yang dimiliki. takaran emosi dan cara berpikir. Untuk itu. Setelah menetapkan pendekatan gaya. sebuah lakon yang tokohtokohnya memiliki latar belakang budaya Eropa hendak diadaptasi ke dalam budaya Indonesia. sutradara harus memahami gaya-gaya pementasan. Dengan demikian pendekatan yang dilakukan tidak salah sasaran. Secara umum. Konvensi atau aturan main sebuah pertunjukan diungkapkan dalam poin ini. dan keseluruhan watak tokoh. maka ia bisa memberikan gambaran tata artistik melalui sketsa. Sutradara harus membuat metode tertentu dalam sesi latihan pemeranan untuk mencapai apa yang dinginkan. emosi. karena menggunakan pendekatan gaya presentasional. Hal ini sangat berguna bagi aktor. gaya berjalan. Seniman teater dunia telah banyak berusaha melahirkan gaya pementasan. Metode akting berkaitan dengan pencapaian aktor (standar) sesuai dengan pendekatan gaya pementasannya. tetapi juga mental. Tafsir ulang terhadap tokoh lakon paling sering dilakukan. dalam budaya Eropa orang bepikir secara bebas sementara orang Indonesia cenderung mempertimbangkan hal-hali lain (tata krama. tetapi gambaran tata artisitk berguna bagi para desainer untuk mewujudkannya dalam desain. Dewasa ini hampir tidak bisa ditemukan gaya pementasan murni yang dihasilkan seorang sutradara atau pemikir teater. * Gambaran tata artistik. Setiap kelahiran gaya baru memiliki keterkaitan atau perlawanan terhadap gaya tertentu (baca bagian sejarah teater).4 Memilih Pemain . Jika sutradara mampu. Masing-masing cara penonjolan pesan ini mempengaruhi unsur-unsur lain dalam pementasan. Istilah pendekatan di sini digunakan dalam arti sutradara tidak hanya sekedar melaksanakan sebuah gaya secara wantah (utuh) tetapi ada pengembangan atau penyesuaian di dalamnya. Jika tidak. * Pendekatan gaya pementasan. yaitu cara berbicara. pranata sosial) di luar hal utama yang dipikirkan. pandangan hidup. Hal ini mempengaruhi bentuk dan gaya penampilan aktor dalam beraksi. tata krama. Misalnya. * Pendekatan pemeranan. Meski tidak secara mendetil. Tafsir ulang tokoh tidak hanya sekedar mengubah nama dan menyesuaikan bentuk penampilan fisik. * Karakterisasi. Oleh karena itu. maka bahasa dialog antaraktor menggunakan bahasa yang puitis. sutradara harus menuliskan gambaran (pandangan) tata artistiknya. Gerak laku aktor distilisasi atau diperindah. Semuanya memliki keterkaitan.3 Konsep Pementasan Hasil akhir dari analisis naskah adalah konsep pementasan. maka ia cukup menuliskannya.laku aksi aktor di atas pentas sehingga adegan dibuat dan dikerjakan secara detil.. maka metode pemeranan yang dilakukan perlu dituliskan. 3.Dalam konsep ini sutradara menjelaskan secara lengkap mengenai cara menyampaikan pesan yang berkaitan dengan pendekatan gaya pementasan dan pendekatan pemeranan serta memberikan gambaran global tata artistik. Banyak hal yang harus dilakukan selain mengganti nama dan penampilan fisik. 3. Misalnya. misalnya. Misalnya. hal yang paling bisa adalah mendekatkan gaya pementasan dengan gaya tertentu yang sudah ada.

Misalnya. * Wicara. Biasanya. Berkaitan langsung dengan penampilan mimik aktor.2 Kecakapan Menentukan pemain berdasar kecapakan biasanya dilakukan melalui audisi. dalam lakon yang gambaran tokohnya sudah melekat di masyarakat. Grup teater tradisional biasanya memilih pemain sesuai dengan penampilan fisik dengan ciri fisik tokoh lakon. Meskipun kekurangan wajah bisa ditutupi dengan tata rias. maka pemain harus memiliki ciri wajah yang tampak tolol. Dalam sebuah produksi yang membutuhkan latihan rutin dan intens dalam kurun waktu yang lama ketahanan tubuh yang lemah sangatlah tidak menguntungkan. misalnya tokoh-tokoh dalam lakon pewayangan. Misalnya. Menghayati sebuah tokoh berarti mampu menerjemahkan laku aksi karakter tokoh dalam bahasa verbal dan ekspresi tubuh secara bersamaan. Seorang yang memiliki kumis. tetapi ciri wajah pemain harus diusahakan semirip mungkin dengan ciri wajah tokoh dalam lakon. Penilaian yang dapat dilakukan adalah penguasan. Calon aktor.4. Hal ini juga sama dengan ukuran tubuh. maka pemain yang dipilih pun harus memiliki tubuh gemuk. Dalam sebuah grup atau sanggar. diksi. Ciri fisik dapat pula dijadikan acuan untuk menentukan pemain. Untuk menilai hal ini. dalam sebuah grup teater sekolah yang pemainnya selalu berganti atau kelompok teater kecil yang membutuhkan banyak pemain lain sutradara harus jeli memilih sesuai kualifikasi yang dinginkan. Tidak masuk akal jika Bagong tampil dengan tubuh kurus. sutradara dapat menilai kecakapan pemain melalui portofolio tetapi proses audisi tetap penting untuk menilai kecakapan aktor secara langsung. sutradara sudah mengetahui karakter pemainpemainnya (anggota). calon aktor dapat dinilai kemampuan dasar wicaranya. ukuran tubuh merupakan harga mati bagi sebuah tokoh. penentuan pemain berdasar ciri fisik ini menjadi acuan utama.Menentukan pemain yang tepat tidaklah mudah. seorang yang tinggi tapi bungkuk dianggap tepat memainkan tokoh pendeta. karena tidak sesuai dengan karakter dan akan menyalahi laku lakon secara keseluruhan. dan brewok tebal cocok diberi tokoh sebagai warok atau jagoan. dalam cerita Kabayan. * Ciri Wajah. dalam wayang wong. Tokoh Werkudara (Bima) harus ditokohkan oleh orang yang bertubuh tinggi besar. * Ukuran Tubuh. * Penghayatan. dalam ketoprak. 3. Dalam kasus tertentu. intonasi. janggut.4. memilih pemain biasanya berdasar kecapakan pemain tersebut. 3. Kesiapan tubuh seorang pemain merupakan faktor utama. tokoh Bagong memiliki ukuran tubuh tambun (gemuk). Misalnya.1 Fisik Penampilan fisik seorang pemain dapat dijadikan dasar menentukan tokoh. maka latihan katahanan tubuh dapat diujikan. Oleh karena itu pemain harus memiliki kemampuan wicara yang baik. * Tinggi Tubuh. Kemampuan dasar wicara merupakan syarat utama yang lain. harus mampu menyajikannya dengan . Tidak ada gunanya seorang aktor bermain dengan baik jika fisiknya lemah. * Tubuh. Hal ini dianggap dapat mampu melahirkan ekspresi wajah yang natural. * Ciri Tertentu. misalnya dalam wayang orang atau ketoprak. dan pelafalan yang baik. Akan tetapi. Akan tetapi. sutradara dapat memberikan penggalan adegan atau dialog karakter untuk diujikan. Meskipun dalam khasanah teater modern. Untuk menilai kesiapan tubuh pemain. Sutradara akan diprotes oleh penonton jika menampilkan Bima bertubuh kurus dan pendek. Dalam teater yang menggunakan ekspresi bahasa verbal kejelasan ucapan adalah kunci ketersampaian pesan dialog. dalam teater modern. Dengan memberikan teks bacaan tertentu.

1 Berdasar Naskah Lakon Mementaskan teater berdasarkan naskah lakon menjadi ciri umum teater modern. Sebaliknya. seorang calon aktor yang memiliki kemampuan menari. Penting bagi sutradara untuk menentukan dengan tepat bentuk dan gaya pementasan. . * Arahan dialog sudah ada. Untuk menguji lebih mendalam sutrdara juga dapat memberikan penggalan dialog karakter lain dengan muatan emosi yang berbeda.penuh penghayatan. Hal ini memiliki kelebihan tersendiri. 3. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan serta membutuhkan kecakapan sutradara dalam bidang tertentu untuk melaksanakannya. Mungkin dalam sebuah produksi ia tidak memenuhi kriteria sebagai pemain utama. Kemampuan lain selain bermain tokoh terkadang dibutuhkan. dan gaya penyajian. menyanyi atau bermain musik memiliki nilai lebih. Sutradara tidak perlu menambah atau mengurangi dialog yang sudah tertulis dalam lakon kecuali punya keinginan mengadaptasinya. Teater tradisional biasanya memilih imporivisasi karena semua pemain telah memahami dengan baik cerita yang akan dilakonkan dan karakter tokoh yang akan ditokohkan. * Kecakapan lain.5. Kehatihatian dalam memilih bentuk dan gaya bukan saja karena tingkat kesulitan tertentu. bentuk penyajian. lamanya adegan. tetapi bisa dipilih sebagai seorang penari latar dalam adegan tertentu. perpindahan antaradegan. Misalnya. 3.5.1.5 Menentukan Bentuk dan Gaya Pementasan Bentuk dan gaya pementasan membingkai keseluruhan penampilan pementasan. dan tanda keluar-masuk ilustrasi musik atau pencahayaan ditentukan waktunya sehingga setiap detik sangat berharga dan menentukan berhasil tidaknya pertunjukan tersebut. * Durasi waktu dapat ditentukan dengan pasti. di antaranya adalah sebagai berikut. 3. Bahkan dalam produksi teater profesional yang semuanya dirancang dengan baik. Dari serangkaian latihan yang dikerjakan secara rutin dan kontinyu ditambah dengan unsur artistik dan teknis maka lamanya pertunjukan teater berdasar naskah dapat ditetapkan. Karena dialog tokoh sudah ditentukan dan tidak boleh ditambah atau dikurangi maka durasi pementasan dapat ditentukan. Tugas aktor adalah menghapalkan dialog tersebut dan mengucapkannya dalam pementasan. Untuk itu. Meskipun beberapa kelompok teater modern tertentu memperbolehkan improvisasi (biasanya lakon komedi situasi) tetapi sumber utama dialognya diambil dari naskah lakon. Di bawah ini akan dibahas bentuk dan gaya pementasan menurut penuturan cerita. Bentuk dan gaya yang dipilih secara serampangan akan mempengaruhi kualitas penampilan. yaitu berdasar naskah lakon dan improvisasi.1 Menurut Penuturan Cerita Ada dua jenis pertunjukan teater menurut penuturan ceritanya. teater modern menggunakan naskah lakon sebagai sumber penuturan. tetapi latar belakang pengetahuan dan kemampuan sutradara sangat menentukan. Dalam lakon terkadang arahan emosi berkaitan dengan dialog juga dituliskan sehingga sutrdara lebih mudah dalam memantau emosi tokoh yang ditokohkan aktor. portofolio sangat penting bagi seorang aktor profesional. Catatan prestasi dan kemampuan yang dimiliki hendaknya ditulis dalam portofolio sehingga bisa menjadi pertimbangan sutradara.

Dengan ditentukannya arah laku maka kreativitas aktor di atas panggung menjadi terbatas. Sutradara menjadi mudah menentukan penekanan permasalahan lakon. Pesan ini dengan luwes dapat diselipkan dalam lakon. Dalam proses latihan terkadang sutradara mendapat inspirasi dari laku aksi pemain demikian pula sebaliknya. Jika ia tetap melakukannya. Sutradara dapat mengembangkan cerita dengan bebas dan aktor dapat mengembangkan kemungkinan gayapermainan dengan bebas pula. Jika sumber dana yang kurang maka tim poruduksi harus berusaha keras untuk memenuhi tuntutan tersebut. Sutradara hanya menyediakan gambaran cerita selanjutnya aktor yang mengembangkannya dalam permainan. 3. Gambaran ini sangat penting bagi sutradara untuk mewujudkannya di atas pentas. ia harus mendapatkan ijin dari penulis naskah lakon. maka adaptasi lakon harus dilakukan. Hal ini perlu dilakukan. Pengembangan yang dilakukan hanyalah persoalan sudut pandang. * Gambaran bentuk latar kejadian dapat ditemukan dalam naskah.2 Improvisasi Mementaskan teater secara improvisasi memiliki keunikan tersendiri. Oleh karena tidak ada petunjuk arah laku yang jelas. tetapi karya teater menjadi karya sutradara. * Memungkinkan percampuran bentuk gaya.* Arahan laku permainan dapat ditemukan dalam naskah. * Konflik dan penyelesaian tidak bekembang. konflik dan mengubah cara penyelesaian. maka sutradara memerlukan waktu ekstra untuk membimbing para aktornya. * Konflik dan sudut pandang penyelesaian bisa dikembangkan. sutradara telah mendapatkan gambarannya. Lakon telah menyediakan gambaran lengkap laku perisitiwa melalui dialog tokoh-tokohnya. pementasan teater berdasar naskah lakon juga memiliki kekurangan dan problem tersendiri. Setelah konflik ini diselesaikan dengan cara yang khas dan lucu maka cerita kembali ke konflik semula. Cerita yang telah dituliskan oleh pengarang harus ditaati. Setuju atau tidak setuju terhadap cerita. dalam pertunjukan ketoprak sebuah adegan dilakukan mengikuti kaidah gaya presentasional (adegan . Sifat teater improvisasi yang terbuka memungkinkan pengembangan konflik dan penyelesaian. sutradara harus mengikutinya. Tergantung dari kekurangan sumber daya yang dimiliki. maka aktor dapat mengembangkannya. sutradara mudah dalam membuat perencanaan blocking. Dalam teater improvisasi gaya pementasan juga terbuka. Beberapa kelebihan pentas teater improvisasi adalah: * Kreativitas sutradara dan aktor dapat dikembangkan seoptimal mungkin. maka konflik dan penyelesaian lakon pasti. Jika memaksakan kehendak harus sesuai dengan gagasan lakon. Terkadang hal ini dapat menimbulkan efek artistik yang alami dan menarik.Dengan mempelajari naskah. * Tidak memungkinkan pengembangan cerita. Jika sumber daya manusia (aktor) yang kurang. Dengan demikian. Meskipun secara artistik tidak masalah. konflik. Di samping kelebihan tersebut di atas. Dengan berkembangnya cerita maka aktor mendapatkan arahan laku lain yang bisa dicobakan. * Kreativitas aktor terbatas. * Fokus permasalahan telah ditentukan. Jika sutradara hendak mengembangkan cerita. Misalnya. Karena tidak ada impovisasi. Terkadang untuk menyampaikan pesan titipan tersebut konflik minor baru dimunculkan. mereka biasanya menerima pesan tertentu dari penyelenggara.5. * Arahan laku terbuka. Kalaupun hendak melakukan adaptasi atau penyesuaian. arahan laku permainan dari awal sampai akhir dapat ditemukan. dan penyelesaian konflik. * Jika sumber daya yang dimiliki tidak sesuai dengan kehendak lakon harus dilakukan adaptasi. Jika naskah lakon tersebut telah dipublikasikan dalam bentuk buku dan memiliki hak cipta maka sutradara bisa dituntut di muka hukum. Dalam teater tradisional. Aktor tidak memiliki kebebasan penuh selain menerjemahkan konsep artistik sutradara. maka sutradara telah melanggar kode etik dan hak karya artistik. Jika hendak menyesuaikan dengan ketersediaan sumber daya. Sutradara perlu meluangkan waktu untuk melakukannya.1. maka kerja sutradara akan semakin keras.

Kemampuan sumber daya ini bisa dijadikan strategi untuk membuat pertunjukan menarik dan memiliki ciri khas tertentu. * Sutradara tidak bisa sepenuhnya mengendalikan jalannya pementasan. dalam adegan tersebut aktor yang satu terlalu aktif dan yang lain pasif. 3. maka akan membosankan. * Improvisasi dialog tidak berimbang. Sutradara bisa memotong sebuah adegan yang berjalan cukup lama dengan membunyikan tanda agar musik dimainkan dan adegan segera diselesaikan. tetapi jika jumlah pemain yang memiliki kemampuan laga banyak. kemampuan setiap aktor pasti tidak sama. Oleh karena itu.5. Jika banyak pemain yang bisa melucu maka cerita komedi akan efektif. Oleh karena cerita bisa dikembangkan. maka kualitas dialog tidak bisa distandarkan. latihan adegan tetap harus sering dilakukan.Semua tergantung dari improvisasi aktor di atas pentas. Bagi aktor yang memiliki kemampuan sastra memadai tidak jadi masalah. jika sutradara tidak jeli memahami hal ini. Oleh karena setiap bentuk penyajian memiliki kekhasan dan membutuhkan prasyarat tertentu yang harus dipenuhi. * Cerita bisa disesuaikan dengan sumber daya yang dimiliki. tetapi di adegan lain menggunakan gaya realis (adegan dagelan). tetapi bagi aktor yang kualitas sastranya pas-pasan hal ini menjadi masalah besar. Karena tidak ada arahan dialog yang baku. Untuk itu. maka durasi pementasan bisa berubahubah.Istana). Jika hal ini terjadi cukup lama. Akibatnya.2 Menurut Bentuk Penyajian Banyaknya pilihan bentuk penyajian pementasan teater membuat sutradara harus jeli dalam menentukannya. * Durasi waktu tidak tertentu. Sutradara tidak bisa lagi mengendalikan jalannya pertunjukan. Kekurangan dari pemotongan adegan ini adalah jika inti dialog (persoalan) belum sempat terucapkan maka inti dialog harus diucapkan pada adegan berikutnya. maka panggung sepenuhnya adalah milik aktor. Karena arahan laku yang terbuka maka reaksi ucapan sering dilakukan spontan dan belum tentu benar. maka sutradara wajib mempelajari dan memahami langkah-langkah dalam melaksanakannya. Aktor mengambil tokoh penuh. Sifat akting adalah aksi dan reaksi. Pencampuran gaya ini dimaksudkan untuk memenuhi selera penonton. sutradara akan kerepotan sendiri. Jika tidak. kesalahan ucap atau penyampaian informasi tertentu bisa saja salah karena memang tidak dicatat dan hanya diingat garis besarnya saja. teater improvisasi juga memiliki kekurangan yang patut diperhatikan oleh sutradara. Dalam sebuah grup teater.5. aktor bisa mengembangkan cerita dan gaya permainan di atas pentas dan sutradara tidak bisa lagi mengarahkan secara langung.2. maka cerita penuh aksi dapat dijadikan pilihan. Jika seorang aktor beraksi. * Kemungkinan aktor melakukan kesalahan lebih besar. meskipun improvisasi. Jika dalam teater berbasis naskah. Di samping itu. lakon sebagai pengendali cerita maka dalam teater imrpovisasi aktor harus mampu mengendalikan jalannya cerita. maka aktor lawan mainnya harus bereaksi.1 Teater Gerak . * Kualitas dialog tidak dapat distandarkan. Jika pementasan sudah berjalan. Salah satu kelebihan utama teater improvisasi adalah cerita dan pemeran dapat dibuat berdasarkan sumber daya yang dimiliki. 3. Di balik semua kelebihan di atas. bisa jadi ia memasangkan aktor yang memilliki kemampuan tak berimbang dalam improvisasi. Karena sifatnya yang serba terbuka.

kapan musik hadir sebagai latar suasana. Jumlah pemain yang banyak menimbulkan persoalan tersendiri. Karena tokoh diperagakan oleh boneka. Di bawah ini beberapa langkah yang bisa dikerjakan oleh sutradara yang hendak mementaskan teater boneka. Karena bekerja dengan gerak. maka karakter boneka harus benarbenar melekat sehingga pengendali . Menempatkan pemain dalam posisi dan gerak yang tepat akan membuat pertunjukan semakin menarik. Sutrdara harus mampu mengeksplorasi dan menciptakan gerak sesuai dengan makna pesan yang hendak disampaikan. pengaturan pemain perlu dilakukan. dan terutama musik ilustrasinya. maka maknanya akan kabur. Memainkan boneka bisa saja dipelajari. maka irama rampak gerak yang diharapkan bisa kacau. * Memahami komposisi dan koreografi. Di bawah ini beberapa langkah yang bisa diambil oleh sutradara dalam menggarap teater gerak * Sutradara mampu mengeksplorasi dan menciptakan gerak. Boneka wayang golek memiliki teknik permainan yang berbeda dengan boneka marionette yang dimainkan dengan tali. Mengubah bahasa dalam simbol gerak tidaklah mudah. * Mampu memainkan boneka dengan baik. maka teori komposisi dan koreografi dasar wajib dimiliki oleh sutradara.2. Biasanya seorang pemain boneka bisa membuat beberapa karakter suara yang berbeda. * Jika pemain dalam jumlah banyak. Oleh karena keterbatasan bahasa verbal dalam pertunjukan teater gerak. tetapi memberikan ekspresi hidup adalah hal yang lain. Simbol dan makna yang disampaikan melalui gerak harus dikerjakan dengan teliti. maka banyaknya jumlah pemain justru akan memenuhi panggung dan membuat suasana menjadi sesak. Apalagi jika sudah menyangkut makna. sutradara harus bisa mewujudkan bahasa verbal dalam simbol gerak. Pesan yang tidak disampaikan secara verbal membutuhkan keahlian tersendiri untuk mengelolanya. Jika tidak pintar mengelola. Boneka dua dimensi seperti wayang kulit memiliki teknik memainkan berbeda dengan boneka tiga dimensi seperti wayang golek. Ekspresi emosi atau karakter tokoh harus bisa diwujudkan melalui mimik para aktor.2 Teater Boneka Teater boneka memiliki karakter yang khas tergantung jenis boneka yang dimainkan. maka dianjurkan untuk mengkreasi gerak sederhana yang mudah dilakukan. Oleh karena itu. suasana. Jika gerak terlalu sulit. Meskipun rangkaian gerak yang dihasilkan sangat indah. Sutradara harus bisa memainkan boneka tersebut. 3. * Mewujudkan bahasa dalam simbol gerak. kapan pemain harus menyesuaikan dengan alunan musik. * Jika pemain sedikit maka motif gerak harus lebih variatif.5.Teater gerak lebih banyak membutuhkan ekspresi gerak tubuh dan mimik muka daripada wicara. tetapi juga mengatur permainan boneka. Kapan musik mengikuti gerak pemain. * Mampu menghidupkan ekspresi boneka yang dimainkan. Kewajiban sutradara tidak hanya mengatur pemain manusia. Jika jumlah pemain banyak dan harus bergerak secara serempak. dan perbedaannya harus dimengerti oleh sutradara. * Mampu mengisi suara sesuai dengan karakter boneka. Untuk mendukung rangkaian gerak yang telah diciptakan. sutradara teater gerak harus mengerti kaidah musik ilustrasi. Penataan gerak tidak bisa dikerjakan dengan serampangan. maka pengaturan blocking harus lebih teliti. terutama menyangkut komposisi. harus mempertimbangkan makna pesan. Meskipun tidak bisa memainkan musik. Ekspresi selalu menyangkut penghayatan dan konsentrasi. maka ekspresi mimik menjadi sangat penting. Karakter suara harus bisa tampil secara konsisten dari awal hingga akhir pertunjukan. tetapi jika komposisi (tata letak) pemainnya tidak berubah akan melahirkan kejenuhan. Banyak jenis boneka dan masing-masing membutuhkan teknik khusus dalam memperagakannya. Jika tidak. Motif gerak yang kaya akan membuat tampilan menjadi variatif dan menyegarkan. Jumlah pemain bisa disiasati dengan menambah perbendaharaan gerak. Mengisi suara sesuai karakter boneka menjadi prasyarat utama. * Mewujudkan ekspresi melalui mimik para aktor. * Mengerti musik ilustrasi.

Hal yang paling sulit dilakukan oleh sutradara adalah membongkar kejiwaan karakter tokoh dan mewujudkannya dalam laku aktor di ataspentas. Di sinilah letak kesulitannya. Yang terpenting dan perlu dicatat adalah setiap boneka mempunyai karakter suaranya sendiri. maka aktor akan kesulitan meninggikan tegangan pada saat klimaks. Demikian juga dengan suasana kejadian.5.boneka seolah-olah bisa memberikan nafas hidup di dalamnya. Tempat pertunjukan teater boneka yang terbatas harus disesuaikan dengan jumlah boneka yang tampil. maka pengaturan adegan harus dikerjakan dengan teliti. * Mampu meningkatkan kualitas pemeranan aktor untuk menghayati tokoh secara optimal. * Mampu membangun kerjasama antarpemain boneka. tidak dibuat-buat. . Jika tidak ada kerjasama yang baik antarpemain (pengendali boneka). Jika pada bagian awal konflik tegangan terlalu tinggi. semua harus tampak natural. tetapi juga menyangkut hal-hal teknis. Dalam teater boneka kerjasama antarpemain tidak hanya menyangkut emosi. Jika sutradara tidak memahami kejiwaan * karakter tokoh dengan baik maka penilaiannya terhadap kualitas penghayatan aktor pun kurang baik. Hasil akhirnya adalah anti klimaks di mana pada adegan yang seharusnya memiliki tensi tinggi justru melemah karena energi para aktornya telah habis. maka efek dramatik yang diharapkan dari aksi aktor menjadi gagal. * Memahami sisi kejiwaan karakter tokoh. * Jika pemain boneka banyak maka harus mampu mengatur adegan agar pergerakan boneka tidak saling mengganggu. maka penampilan boneka yang terlalu banyak juga akan merepotkan para pengendalinya. Beberapa langkah yang dapat dikerjakan oleh sutradara dalam menggarap teater dramatik adalah sebagai berikut. Sisi kejiwaan yang menyangkut perasaan karakter tokoh harus dapat ditampilkan senatural mungkin sehingga penonton menganggap hal itu benar-benar nyata terjadi. Keluar masuknya boneka di atas pentas berkaitan langsung dengan pengendali bonekanya. Angka tertinggi dari deret tegangan yang harus dicapai oleh aktor adalah 8 atau 9. Banyak sutradara yang mengadakan semacam pemusatan latihan dalam kurun waktu yang cukup lama dengan tujuan agar para aktornya berada dalam suasana lakon yang akan dipentaskan. 3. Jika demikian. bijaksanalah dalam menentukan tegangan dramatik adegan dan buatlah klimaks yang mengesankan dan penyelesaian yang dramatis. * Memahami tensi dramatik (dinamika lakon). Oleh karena tuntutan pertunjukan teater dramatik yang mensyaratkan laku aksi seperti kisah nyata. aktor diharuskan berakting tetapi seolah-olah ia tidak berakting melainkan melakukan kenyataan hidup. maka sutradara harus menetapkan tegangan optimal dan minimal. Oleh karena itu. seorang pengendali biasanya hanya bisa mengendalikan maksimal dua boneka. Jika lakon yang dimainkan membutuhkan banyak tokoh. Sutradara harus memahami bobot tegangan (tensi) dramatik dalam setiap adegan yang ada pada lakon. Boneka yang dimainkan dengan hidup akan menarik dan tampak nyata. Intinya. * Jika pemain sedikit harus memiliki kemampuan mengisi suara dengan karakter yang berbeda.2. Jumlah pengendali boneka yang sedikit tidak masalah asal setiap orang mampu menciptakan beberapa karakter suara. Untuk menghindari hal tersebut sutradara harus benar-benar teliti dalam mengukur tegangan dramatik adegan per adegan dalam lakon. Laku lakon dari awal sampai akhir mengalami dinamika atau ketegangan yang turun naik. pengaturan adegan boneka disesuaikan dengan kemampuan pengendali. Berkaitan dengan karakter tokoh. Jika dianalogikan dengan nilai 1 sampai dengan 10. menghayati dan memerankan karakter dengan baik.3 Teater Dramatik Mementaskan teater dramatik membutuhkan kerja keras sutradara terutama terkait dengan akting pemeran. sutradara harus dapat menentukan metode yang tepat agar para aktornya dapat memahami. maka pergantian adegan bisa semrawut sehingga para pemain kewalahan. maka sutradara harus benar-benar jeli dalam menilai setiap aksi para aktor. Selain itu. sehingga ketika dalam adegan tertentu membutuhkan tegangan yang lebih aktor masih bisa mengejarnya.

Langkah pamungkas yang dapat dijadikan patokan adalah menghadirkan pentas seperti sebuah kenyataan hidup. Memilih pelaku yang tepat dan membuat komposisi atau koreografi berdasar karya musik yang ada. Teater dramatik adalah teater yang mencoba meniru peristiwa kehidupan secara total dan sempurna. Jika karya drama musikal tersebut berawal dari karya musik murni (musik yang bercerita) seperti The Cats karya Andrew Lloyd Webber. maka sutradara harus mampu menciptkan koreografinya. komposisi. * Mampu membuat gerak. dan musikal harus dirangkai secara harmonis untuk mencapai hasil maksimal. Demikian pula dengan cerita suka-ria. Ketepatan nada dalam nyanyian serta ekspresi wajah ketika menyanyi juga tidak boleh luput dari pengamatan. Pada adegan dimana musik bercerita secara mandiri maka sutradara harus mampu memvisualisasikan cerita tersebut di atas pentas.2. Jadi. Kepiawaian sutradara dalam menentukan kegunaan karya musik yang satu dengan yang lain benarbenar dibutuhkan. Untuk mencapai hasil maksimal maka kejelian sutradara dalam mengamati dan menangani keseluruhan unsur pertunjukan sangat dibutuhkan. 3. maka penonton harus dibawa dalam suasana yang suka-ria. maka sutradara harus benar-benar piawai dalam mengolah visualisasinya di atas pentas. * Mampu membuat gerak dan ekspresi berdasar karya musik. Dalam teater dramatik. jika melakonkan cerita yang sedih ukuran keberhasilannya adalah membuat penonton ikut terhanyut sedih. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sutradara dalam drama musikal adalah sebagai berikut. demikian pula sebaliknya. Kejanggalan-kejanggalan kecil yang dirasa kurang masuk akal oleh penonton akan mengurangi kualitas dramatika lakon yang dihadirkan. lagu. Dalam hal ini musik bertindak sebagai pengiring. Dalam satu adegan saat cerita diungkapkan melalui gerak. tetapi makna dan atau simbolisasi cerita harus benar-benar bisa diwujudkan dalam gerak tarian yang dilakukan. Koreografer bisa saja mencipta gerak. Tokohan musik sangat doniman dalam drama musikal bahkan musik bisa hadir secara mandiri untuk menceritakan sesuatu. Artinya. Makna cerita sepenuhnya dituangkan dalam wujud gerak. * Mengerti karya musik dramatik. gerak. Meskipun sutradara bekerja dengan seorang koreografer. dan ilustrasi suasana kejadian. pengiring gerak.5. musik itu sendiri sudah bercerita sehingga pemain atau penari yang berada di atas panggung hanyalah pelengkap gambaran peristiwa. Dituntut kepiawaian sutradara dalam memilih dan merangkai motif gerak. Pada adegan lain. Ekspresi cerita melalui nadanada musik harus benar-benar bisa divisualisasikan dengan tepat. hindarilah kesalahan atau hal yang tidak lumrah dan berada di luar jangkauan nalar penonton. Tokohan dialog verbal yang digubah dalam bentuk lagu dan diucapkan melalui nyanyian adalah satu hal yang membutuhkan perhatian tersendiri. tetapi pada akhirnya sutradara yang memutuskan. * Mengerti lagu dan nyanyian.* Mampu menghadirkan laku cerita seperti sebuah kenyataan hidup.4 Drama Musikal Kemampuan multi harus dimiliki oleh seorang sutradara jika hendak mementaskan drama musikal. Sutradara tidak harus bisa memainkan musik. dan koreografi. 3. Bahasa ungkap yang beragam antara bahasa verbal. tokoh musik bisa menjadi pengiring lagu yang bercerita.6 Blocking . Banyak penyanyi yang memiliki suara baik tetapi ekspresinya datar. Lagu dan nyanyian harus bisa ditampilkan secara baik dan harmonis. Sutradara harus mampu memecahkan masalah dasar tersebut. tetapi memahami karya musik merupakan keharusan dalam drama musikal. * Membuat penonton terkesima dengan pertunjukan tidaklah mudah.

tengah kanan. bawah kiri tengah. maka karakter tokoh yang dimainkan oleh para aktor akan tampak lebih hidup. kiri. bawah kanan tengah. Untuk mendapatkan hasil yang baik. LC = Tengah Kiri.1 Pembagian Area Panggung Gambar Pembagian sembilan area panggung UL UC UR CL L CR DL DC DR UR = Atas Kanan. blocking dapat mempertegas isi kalimat tersebut. DL = Bawah Kiri Untuk membuat atau merencanakan blocking bagi para pemain.Sutradara diwajibkan memahami cara mengatur pemain di atas pentas. Secara mendasar blocking adalah gerakan fisik atau proses penataan (pembentukan) sikap tubuh seluruh aktor di atas panggung. perlu diketahui terlebih dahulu pembagian area panggung. tengah kiri.6. kanan. DC = Bawah Tengah. RC = Tengah Kanan. maka perlu diperhatikan agar blocking yang dibuat tidak terlalu rumit. Jika blocking dibuat terlalu rumit. 3. Di samping itu. C = Tengah. kalimat yang diucapkan oleh aktor menjadi lebih mudah dipahami oleh penonton. Bukan hanya akting tetapi juga blocking. yaitu tengah. bawah . UC = Atas Tengah. Fungsi blocking secara mendasar adalah sebagai berikut. DR = Bawah Kanan. bawah kanan. maka perpindahan dari satu aksi menuju aksi yang lain menjadi kabur. * Menerjemahkan naskah lakon ke dalam sikap tubuh aktor sehingga penonton dapat melihat dan mengerti. Yang terpenting dalam hal ini adalah fokus atau penekanan bagian yang akan ditampilkan. sehingga lalulintas aktor di atas panggung berjalan dengan lancar. Blocking dapat diartikan sebagai aturan berpindah tempat dari titik (area) satu ke titik (area) yang lainnya bagi aktor di atas panggung. * Memberikan pondasi yang praktis bagi aktor untuk membangun karakter dalam pertunjukan. * Menciptakan lukisan panggung yang baik. UL = Atas Kiri. bawah tengah. Jika blocking dikerjakan dengan baik. Dengan blocking yang tepat. Panggung pertunjukan secara kompleks dibagi dalam lima belas area.

atas tengah. atas kanan tengah. tetapi membagi pemain dalam dua bagian atau lebih dengan tujuan memberi penonjolan (penekanan) bagian tertentu.2 Asimetris Komposisi asimetris tidak membagi pemain dalam dua bagian yang sama persis. yaitu komposisi simetris dan komposisi asimetris yang ditata dengan mempertimbangkan keseimbangan.2. maka penonton akan menjadi jenuh. Kanan adalah kanan pemain dan bukan kanan penonton dan kiri adalah kiri pemain. Secara sederhana dan umum panggung dibagi sembilan area. dan atas kiri. blocking memiliki arti yang lebih luas karena setiap gerak. Ada dua ragam komposisi pemain. pose. yaitu tengah. tengah kiri. arah laku. Bedanya. Panggung yang tidak terlalu luas jika dibagi menjadi lima belas area. Pembagian sembilan area juga memudahkan sutradara dalam memberikan arah gerak kepada para aktornya.kiri. Pengaturan posisi pemain seperti ini dilakukan agar semua pemain di atas pentas dapat dilihat dengan jelas oleh penonton. 3. atas kanan. Jika salah satu ruang dibiarkan kosong sementara ruang yang lain terisi penuh.6.2. Atas adalah jarak terjauh dari penonton. sedangkan kanan adalah posisi kanan arah hadap aktor atau sisi kiri penonton. lebih mengatur posisi. atas kiri tengah. atas kanan. Sekilas komposisi mirip dengan blocking. atas tengah. dan atas kiri.1 Simetris Komposisi simetris adalah komposisi yang membagi pemain dalam dua bagian dan menempatkan bagianbagian tersebut dalam posisi yang benar-benar sama dan seimbang. Keseimbangan adalah pengaturan atau pengelompokan aktor di atas pentas yang ditata sedemikian rupa sehingga tidak menghasilkan ketimpangan.2 Komposisi Komposisi dapat diartikan sebagai pengaturan atau penyusunan pemain di atas pentas. bawah tengah.6. Letak kanan dan kiri atau atas dan bawah ditentukan berdasar pada arah hadap aktor ke penonton. tengah kanan. 3. 3. maka hal ini akan menimbulkan pemandangan yang kurang menarik dan jika hal ini berlangsung lama. perpindahan pemain serta perubahan posisi pemain dapat disebut blocking. dan tinggirendah pemain dalam keadaan diam (statis).3 Keseimbangan Dalam menata komposisi pemain di atas pentas hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah keseimbangan. sedangkan bawah adalah jarak terdekat dengan penonton. .2. bawah kanan.6. 3. Bagian yang satu merupakan cerminan bagian yang lain. maka luas masing-masing area akan terlalu sempit sehingga tidak memungkinkan sebuah pergerakan yang leluasa baik untuk pemain maupun perabot. Jika digambarkan komposisi ini mirip cermin. Di bawah ini adalah contoh komposisi simetris. bawah kiri. Hal ini diperlukan untuk memenuhi ruang dan menghindari komposisi aktor yang berat sebelah. Sedangkan komposisi. Pembagian panggung dalam lima belas area ini biasanya digunakan untuk panggung yang berukuran besar.6.

Setiap aktivitas. Hal ini menjadikan gerak pemain kurang terlihat dengan jelas. pengaturan blocking harus mempertimbangkan pusat perhatian (fokus) penonton. . Dengan menghadap secara diagonal.1 Prinsip Dasar Pada dasarnya fokus adalah membuat pemain menjadi terlihat jelas oleh mata penonton. Jika yang dilakukan sebaliknya. maka kaki yang jauh akan tertutup dan wajah pemain secara otomatis akan menjauh dari mata penonton. Selebihnya. Jika melangkah dengan kaki panggung bawah (yang dekat dari mata penonton).3. karakter. usahakan untuk berbicara kepada penonton atau kepada aktor lain yang berada di atas panggung. maka gerak laku aktor dalam menggunakan telepon akan kelihatan. 3. Membagi arah pandangan ini sangat penting untuk menegaskan dan memberi kejelasan ekspresi karakter kepada penonton. prinsip-prinsip dasar di bawah ini dapat digunakan sebagai petunjuk dalam menempatkan posisi dan mengatur pose pemain. Hal ini dapat dikerjakan dengan menempatkan pemain dalam posisi dan situasi tertentu sehingga ia lebih menonjol atau lebih kuat dari yang lainnya.3 Fokus Dalam mengatur blocking. hal yang paling utama untuk diperhatikan sutradara adalah perhatian penonton. karena hal ini akan menutupi suara dan pandangan penonton.6. Hal ini mempertegas laku aksi yang sedang dikerjakan. maka dimensi dan keutuhan tubuh pemain akan dilihat dengan jelas oleh mata penonton. sedangkan menyamping penuh akan menyembunyikan bagian tubuh yang lain. Menghadap lurus ke arah penonton akan memberikan efek datar dan kurang memberikan dimensi kepada pemain. perubahan ekspresi dan aksi di atas pentas harus dapat ditangkap mata penonton dengan jelas. * Gunakan lengan atau tangan panggung atas (yang jauh dari mata penonton) untuk menunjuk ke arah panggung atas dan gunakan lengan atau tangan panggung bawah (yang dekat dengan mata penonton) untuk menunjuk ke panggung bawah. Oleh karena itu. maka gerakan lengan dan tangan akan menutupi bagian tubuh lain.6. * Jangan pernah memegang benda atau piranti tangan di depan wajah ketika sedang berbicara. Usahakan pemain menghadap diagonal (kurang lebih 45 derajat) ke arah penonton. maka awali dan akhiri langkah tersebut dengan kaki panggung atas (yang jauh dari mata penonton). * Usahakan agar para aktor saling menatap (berkontak mata) pada saat mengawali dan mengakhiri dialog (percakapan).3. Jika tangan yang digunakan adalah tangan yang tidak menganggu pandangan penonton. * Jika pemain hendak melangkah. * Kurangilah menempatkan pemain dalam posisi menghadap lurus ke arah penonton atau menyamping penuh. Oleh karena itu.

Latihan pendinginan atau peredaan (warm-down). suara mempunyai tokohan penting. Dalam kegiatan teater. Suara merupakan produk manusia untuk membentuk katakata. dan cepat lambatnya sesuai . Mengetahui denyut nadi sebelum latihan fisik dianjurkan karena berhubungan dengan kerja jantung. Dialog merupakan salah satu daya tarik dalam membina konflik-konflik dramatik. Karena itu dia harus mempersiapkan dirinya secara utuh penuh baik fisik maupun psikis.2 OLAH SUARA Suara adalah unsur penting dalam kegiatan seni teater yang menyangkut segi auditif atau sesuatu yang berhubungan dengan pendengaran. Penghitungan denyut nadi yang ada dipergelangan tangan lebih dianjurkan untuk menghasilkan perhitungan yang tepat. Cara untuk menghitung denyut nadi. * Pemanasan * Latihan ketahanan * Latihan Kelenturan * Latihan ketangkasan * Latihan pendinginan * Latihan relaksasi 4. yaitu dengan meletakkan jari tengah di atas pergelangan tangan dalam segaris dengan ibu jari atau jari jempol.Dasar-dasar Teater (4/6): Seni Berperan dalam Teater Aktor merupakan manusia yang mengorbankan dirinya untuk menjadi orang lain. atau penghitungan dilakukan selama sepuluh detik dan hasilnya dikalikan enam. yaitu serial pokok dari inti gerakan yang akan dilatihkan. yaitu dengan menghitung denyut nadi yang ada di leher atau denyut nadi yang ada di pergelangan tangan dalam.1. yaitu serial pendek gerakan tubuh untuk mengembalikan kesegaran tubuh setelah menjalani latihan inti.1 Persiapan Sebelum melakukan latihan harus memperhatikan denyut nadi. Kegiatan mengucapkan dialog ini menjadi sifat teater yang khas. Dalam kenyataannya. yaitu latihan pemanasan. Olah tubuh dilakukan dalam tiga tahap. Unsur dasar bahasa lisan adalah suara. Untuk itu seorang pemeran harus menjaga kelenturan peralatan tubuhnya. Latihan inti. yaitu hasil getaran udara yang datang dan menyentuh selaput gendang telinga. Selama menghitung denyut nadi mata selalu melihat jam (jam tangan maupun jam dinding yang ada di dalam ruangan). Latihanlatihan olah tubuh dapat dilakukan dengan tahap-tahap sebagai berikut. 4. yaitu serial latihan gerakan tubuh untuk meningkatkan sirkulasi dan meregangkan otot dengan cara bertahap. sedangkan bunyi merupakan produk benda-benda. 4. suara tidak hanya dilontarkan begitu saja tetapi dilihat dari keras lembutnya. Latihan pemanasan (warm-up). suara dijadikan kata dan kata-kata disusun menjadi frasa serta kalimat yang semuanya dimanfaatkan dengan aturan tertentu yang disebut gramatika atau paramasastra. Selanjutnya. latihan inti. Cara penghitungan denyut nada yang ada di pergelangan tangan. Prosesnya. suara dan bunyi itu sama. Suara adalah lambang komunikasi yang dijadikan media untuk mengungkapkan rasa dan buah pikiran. tinggi rendahnya. karena digunakan sebagai bahan komunikasi yang berwujud dialog. Suara dihasilkan oleh proses mengencang dan mengendornya pita suara sehingga udara yang lewat berubah menjadi bunyi.1 Latihan Olah Tubuh Latihan olah tubuh melatih kesadaran tubuh dan cara mendayagunakan tubuh. dan latihan pendinginan. Akan tetapi. Penghitungan dilakukan selama enam detik dan hasilnya dikalikan sepuluh. Pemilihan kata-kata memiliki tokohan dalam aturan yang dikenal dengan istilah diksi. dalam konvensi dunia teater kedua istilah tersebut dibedakan.

Ekspresi yang disampaikan melalui nada suara membentuk satu pemaknaan berkaitan dengan kalimat dialog. Hal ini disebabkan karena dalam dialog banyak terdapat nilai-nilai yang bermakna.. Proses pengucapan dialog mempengaruhi ketersampaian pesan yang hendak dikomunikasikan kepada penonton. Maksud tersembunyi seperti itu disebut subtext. Suara merupakan unsur yang harus diperhatikan oleh seseorang yang akan mempelajari teater. Seorang pemeran dalam pementasan teater menggunakan dua bahasa. marah. dan sebagainya. Banyak lagi contoh yang menunjukkan tentang makna suara. nada suara yang terlontarkan..dengan situasi dan kondisi emosi. bisa juga bahasa tubuh sebagai penguat bahasa verbal. menunjukkan maksud memuji atau sebenarnya ingin mengatakan. kegembiraan. dalam arti tidak dibarengi dengan bahasa verbal. yaitu bahasa tubuh dan bahasa verbal yang berupa dialog. Kata-kata yang membawa informasi yang bermakna. * Memuat informasi tentang sifat dan perasaan tokoh. * Melengkapi variasi. Itulah yang disebut intonasi. kekuatan. Misalnya. sehingga secara tidak sadar mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya tidak dikehendaki. kamu sekarang sudah hebat. Misalnya. putus asa. Ketika pemeran mengucapkan dialog harus mempertimbangkan pikiran-pikiran penulis. “kamu belum bisa apa-apa”. ”. * Persiapan * Pemanasan * Senam Wajah * Senam Lidah * Senam Rahang Bawah * Latihan Tenggorokan * Berbisik * Bergumam * Bersenandung * Latihan Pernafasan * Latihan Kejelasa Diksi * Intonasi * Jeda * Tempo * Nada * Wicara * Ditutup dengan relaksasi . Ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh seorang pemeran tentang fungsi ucapan. Hal ini merupakan kesalahan fatal bagi seorang pemeran. Bahasa tubuh bisa berdiri sendiri. memang. Latihan-latihan untuk melenturkan peralatan suara dapat dilakukan menggunakan tahap-tahap sebagai berikut.. maka nilai yang terkandung tidak dapat dikomunikasikan kepada penonton. yaitu sebagai berikut. Jika lontaran dialog tidak sesuai sebagaimana mestinya. Jika pemeran melontarkan dialognya hanya sekedar hasil hafalan saja. maka dia mencabut makna yang ada dalam kata-kata. kedudukan sosial. kalimat. * Ucapan yang dilontarkan oleh pemeran bertujuan untuk menyalurkan kata dari teks lakon kepada penonton.. misalnya: umur. Maka. Dialog yang diucapkan oleh seorang pemeran mempunyai tokohan yang sangat penting dalam pementasan naskah drama atau teks lakon. Makna katakata dipengaruhi oleh nada. “Yah. * Memberi arti khusus pada kata-kata tertentu melalui modulasi suara. Akan tetapi. dalam situasi tertentu tidak mampu mengungkapkan maksud yang sebenarnya. * Mengendalikan perasaan penonton seperti yang dilakukan oleh musik.

Ada juga yang mengatakan bahwa gesture adalah bentuk komunikasi non verbal yang diciptakan oleh bagian-bagian tubuh yang dapat dikombinasikan dengan bahasa verbal. Segala sesuatu yang mengalihkan perhatian seorang pemeran. Bahasa tubuh dilakukan oleh seseorang terkadang tanpa disadari dan keluar mendahului bahasa verbal.2 Gesture Gesture adalah sikap atau pose tubuh pemeran yang mengandung makna. latihan-latihan yang mendukung kepekaan rasa perlu dilakukan. baik bahasa tubuh budaya sendiri maupun bahasa tubuh budaya lainnya. Oleh karena itu. Maka. Pusat perhatian seorang pemeran adalah sukma atau jiwa tokoh atau karakter yang akan dimainkan. Dunia teater adalah dunia imajiner atau dunia rekaan. semua emosi tokoh yang ditokohkan harus mampu diwujudkan. Latihan olah rasa dimulai dari konsentrasi. gesture tidak dapat . konsentrasi menjadi sesuatu hal yang penting untuk pemeran. latihan olah rasa tidak hanya berfungsi untuk meningkatkan kepekaan rasa dalam diri sendiri.3. Dunia ini harus diwujudkan menjadi sesuatu yang seolah-olah nyata dan dapat dinikmati serta menyakinkan penonton. dan imajinasi. Kekuatan pemeran untuk mewujudkan dunia rekaan ini hanya bias dilakukan dengan kekuatan daya konsentrasi. tetapi juga harus memberikan respon terhadap ekspresi tokoh lain. Dalam menghayatai karakter tokoh.4. Dengan demikian. Latihan gesture dapat digunakan untuk mempelajari dan melahirkan bahasa tubuh. Dunia tidak nyata yang diciptakan seorang penulis lakon dan diwujudkan oleh pekerja teater. makin tinggi kesanggupan memusatkan perhatian. 4. Seorang pemeran tidak hanya memikirkan ekspresi karakter tokoh yang ditokohkan saja. yaitu tokoh yang dimainkan.1 Konsentrasi Pengertian konsentrasi secara harfiah adalah pemusatan pikiran atau perhatian. Jika berlawanan dengan bahasa verbal akan mengurangi kekuatan komunikasi. Padahal akting adalah kerja aksi dan reaksi. tetapi juga perasaan terhadap karakter lawan main.3. Seorang pemeran harus dapat mengontrol tubuhnya setiap saat. Kalau pemeran dengan tingkat konsentrasi yang rendah maka dia tidak akan dapat menyakinkan penonton. Seorang pemeran harus memahami bahasa tubuh. Bahasa ini mendukung dan berpengaruh dalam proses komunikasi. Pemakaian gesture ini mengajak seseorang untuk menampilkan variasi bahasa atau bermacam-macam cara mengungkapkan perasaan dan pemikiran. Akan tetapi. Banyak pemeran yang hanya mementingkan ekspresi yang ditokohkan sehingga dalam benaknya hanya melakukan aksi. Langkah awal yang perlu diperhatikan adalah mengasah kesadaran dan mampu menggunakan tubuhnya dengan efisien. Seorang pemeran yang hanya melakukan aksi berarti baru mengerjakan separuh dari tugasnya. Tugas yang lain adalah memberikan reaksi. sedangkan kalau selaras dengan bahasa verbal akan menguatkan proses komunikasi. Makin menarik pusat perhatian. Tujuan dari konsentrasi ini adalah untuk mencapai kondisi kontrol mental maupun fisik di atas panggung. Dengan konsentrasi pemeran akan dapat mengubah dirinya menjadi orang lain.3 OLAH RASA Pemeran teater membutuhkan kepekaan rasa. Ada korelasi yang sangat dekat antara pikiran dan tubuh. cenderung dapat merusak proses pemeranan. mempelajari gesture. Terlebih dalam konteks aksi dan reaksi. 4. Misalnya seorang pemeran melihat sesuatu yang menjijikan (meskipun sesuatu itu tidak ada di atas pentas) maka ia harus menyakinkan kepada penonton bahwa sesuatu yang dilihat benar-benar menjijikkan.

sedangkan fantasi membuat hal-hal yang tidak ada. 4. Untuk membangkitkan imajinasi tokoh gunakan pertanyaan. maka pikiran dipaksa untuk menjawab pertanyaan tersebut. Imajinasi tidak akan muncul jika direnungkan tanpa suatu objek yang menarik. bagi orangtokohcis artinya nol. tidak pernah ada. gesture dengan badan. Selain itu. Usaha menjawab pertanyaan itu akan membawa pikiran untuk mengimajinasikan sosok Hamlet. gesture dengan kepala dan wajah. * Imajinasi menciptakan hal-hal yang mungkin ada atau mungkin terjadi. tetapi bagi orang Amerika artinya bagus. Bahasa tubuh dengan tubuh adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh pose atau sikap tubuh seseorang. maka akan terjadi proses imajinasi. akan diketahui tanda kebohongan atau tanda-tanda kebosanan pada proses komunikasi yang sedang berlangsung. Dengan berpikir. dengan mempelajari bahasa tubuh. Bahasa tubuh dengan kepala dan wajah adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi kepala maupun ekspresi wajah. tetapi harus dibujuk untuk bisa digunakan. . tetapi harus dengan pikiran yang aktif. Melatih imajinasi sama dengan memperkerjakan pikiran-pikiran untuk terus berpikir. Sedangkan bahasa tubuh dengan kaki adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi dan bagaimana meletakkan kaki.menggantikan bahasa verbal sepenuhnya. maka akan memunculkan gambaran pengandaiannya. Latihan imajinasi bagi pemeran berfungsi mengidentifikasi tokoh yang akan dimainkan. Tangan mengacung dengan jari telunjuk dan jempol membentuk lingkaran. Hal ini berlawanan dengan bangsa-bangsa lain. Sebagai seorang pemeran. dan tidak akan pernah ada. Misalnya. Misalnya. Manfaat mempelajari dan melatih gesture adalah mengerti apa yang tidak terkatakan dan yang ada dalam pikiran lawan bicara. dimana. Dengan stimulus pertanyaan-pertanyaan atau menggunakan stimulus ”seandainya”. “siapakah Hamlet itu?”. orang India. dan jangan menggambarkan suatu objek yang tidak pasti (perkiraan). dimana gambaran tersebut tidak pernah dialami sebelumnya. Hal-hal yang perlu diketahui ketika berlatih imajinasi. Belajar imajinasi dapat menggunakan fungsi ”jika” atau dalam istilah metode pemeranan Stanislavski disebut magic-if. Selain itu. Sedang beberapa orang menggunakan gesture sebagai tambahan dalam kata-kata ketika melakukan proses komunikasi. Baik hal yang logis maupun yang tidak logis.3 Imajinasi Imajinasi adalah proses pembentukan gambaran-gambaran baru dalam pikiran. dan apa. mengangguk tandanya tidak setuju sedangkan mengeleng artinya setuju. Objek berfungsi untuk menstimulasi atau merangsang pikiran. Bahasa tubuh yang tercipta oleh kedua tangan merupakan bahasa tubuh yang paling banyak jenisnya. gesture harus disadari dan diciptakan sebagai penguat komunikasi dengan bahasa verbal. Sifat bahasa tubuh adalah tidak universal. seorang pemeran juga harus berimajinasi tentang pengalaman hidup tokoh yang akan dimainkan. Bahasa tubuh atau gesture dengan tangan adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi maupun gerak kedua tangan. * Pikiran bisa disuruh untuk mempertanyakan segala sesuatu. dan gesture dengan kaki. * Imajinasi tidak bisa dipaksa. Belajar imajinasi harus menggunakan plot yang logis. bagi orang Yunani berarti penghinaan. Macam-macam gesture yang dapat dipahami orang lain adalah gesture dengan tangan. Jadi bahasa tubuh harus dipahami oleh pemeran sebagai pendukung bahasa verbal. Bahasa tubuh semacam respon atau impuls dalam batin seseorang yang keluar tanpa disadari. siapa. * Imajinasi tidak akan muncul dengan pikiran yang pasif.3.

Ketiganya adalah panggung proscenium. dan panggung arena. panggung thrust. Semua ditata agar enak dipandang dari berbagai sisi. Di atas panggung inilah semua laku lakon disajikan dengan maksud agar penonton menangkap maksud cerita yang ditampilkan.1. seni teater memiliki berbagai macam jenis panggung yang dijadikan tempat pementasan. Perbedaan jenis panggung ini dipengaruhi oleh tempat dan zaman dimana teater itu berada serta gaya pementasan yang dilakukan. ukuran.1. Misalnya. Dengan memahami bentuk dari masingmasing panggung inilah. Misalnya. membutuhkan tata letak perabot yang dapat enak dilihat dari setiap sisi.berbeda satu dengan yang lain .2. kehendak artistik sutradara. Oleh karena itu. Karena bentuknya yang dikelilingi oleh penonton. Jika bentuk ukiran yang ditampilkan tidak nampak sempurna .2 Jenis-jenis Panggung Panggung adalah tempat berlangsungnya sebuah pertunjukan dimana interaksi antara kerja penulis lakon. Karena jaraknya yang dekat. 5. 5. detil perabot yang diletakkan di atas panggung harus benar-benar sempurna sebab jika tidak maka cacat sedikit saja akan nampak. penata panggung diharuskan memahami karakter jenis panggung yang akan digunakan serta bagian-bagian panggung tersebut. Berbeda dengan panggung yang penontonnya hanya satu arah dari depan.1.Dasar-dasar Teater (5/6): Seni Rupa dalam Teater 5.1 Mempelajari Panggung Dalam sejarah perkembangannya. Inti dari pangung arena baik terbuka atau tertutup adalah mendekatkan penonton dengan pemain. Agar semua pemain dapat terlihat dari setiap sisi maka penggunaan set dekor berupa bangunan tertutup vertikal tidak diperbolehkan karena dapat menghalangi pandangan penonton.1 TATA PANGGUNG Tata panggung disebut juga dengan istilah scenery (tata dekorasi). di atas panggung diletakkan kursi dan meja berukir. Tidak hanya sekedar dekorasi (hiasan) semata. Untuk memperoleh hasil terbaik. dan penempatannya. Untuk menyampaikan maksud tersebut pekerja teater mengolah dan menata panggung sedemikian rupa untuk mencapai maksud yang dinginkan. 5. dalam panggung yang penontonnya melingkar. Hal ini mempengaruhi nilai artistik pementasan.maka penonton akan dengan mudah melihatnya. Seperti telah disebutkan di atas bahwa banyak sekali jenis panggung tetapi dewasa ini hanya tiga jenis panggung yang sering digunakan. . dan aktor ditampilkan di hadapan penonton.1 Arena Panggung arena adalah panggung yang penontonnya melingkar atau duduk mengelilingi panggung. penata panggung dapat merancangkan karyanya berdasar lakon yang akan disajikan dengan baik. tetapi segala tata letak perabot atau piranti yang akan digunakan oleh aktor disediakan oleh penata panggung. dan panggung tempat pementasan dilaksanakan. Bentuk panggung yang berbeda memiliki prinsip artistik yang berbeda. Panggung arena biasanya dibuat secara terbuka (tanpa atap) dan tertutup. sebelum melaksanakan penataan panggung seorang penata panggung perlu mempelajari panggung pertunjukan. maka penata panggung dituntut kreativitasnya untuk mewujudkan set dekor. Kedekatan jarak ini membawa konsekuensi artistik tersendiri baik bagi pemain dan (terutama) tata panggung. sutradara. Gambaran tempat kejadian lakon diwujudkan oleh tata panggung dalam pementasan. Penonton sangat dekat sekali dengan pemain. Penataan panggung disesuaikan dengan tuntutan cerita. Segala perabot yang digunakan dalam panggung arena harus benar-benar dipertimbangkan dan dicermati secara hati-hati baik bentuk.

Kedekatan jarak antara pemain dan penonton dimanfaatkan untuk melakukan komunikasi langsung di tengahtengah pementasan yang menjadi ciri khas teater tersebut. salah satunya adalah penggunaan panggung arena. Perspektif dapat ditampilkan dengan memanfaatkan kedalaman panggung (luas panggung ke belakang). Dengan pemisahan ini maka pergantian tata panggung dapat dilakukan tanpa sepengetahuan penonton. Bentangan jarak dapat menciptakan bayangan arstisitk tersendiri yang mampu menghadirkan kesan.1.1.2 Proscenium Panggung proscenium bisa juga disebut sebagai panggung bingkai karena penonton menyaksikan aksi aktor dalam lakon melalui sebuah bingkai atau lengkung proscenium (proscenium arch). Penonton disuguhi gambaran melalui bingkai tersebut. 5. Karena keseluruhan objek yang ada di atas panggung dan digunakan oleh aktor membentuk satu lukisan secara menyeluruh. Pemisahan ini dapat membantu efek artistik yang dinginkan terutama dalam gaya realisme yang menghendaki lakon seolah-olah benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata. Intinya semua yang di atas panggung dapat diciptakan untuk mengelabui pandangan penonton dan mengarahkan mereka pada pemikiran bahwa apa yang terjadi di atas pentas adalah kenyataan. Beberapa pengembangan desain dari teater arena melingkar dilakukan sehingga bentuk teater arena menjadi bermacammacam. Banyak usaha yang dilakukan untuk mendekatkan pertunjukan dengan penonton. Panggung proscenium sudah lama digunakan dalam dunia teater. Aktor dapat bermain dengan leluasa seolah-olah tidak ada penonton yang hadir melihatnya. Jarak yang sengaja diciptakan untuk memisahkan pemain dan penonton ini dapat digunakan untuk menyajikan cerita seperti apa adanya. Seperti sebuah lukisan. Pesona inilah yang membuat penggunaan panggung proscenium bertahan sampai sekarang.2.Lepas dari kesulitan yang dihadapi. Tata cahaya yang memproduksi sinar dapat dihadirkan dengan tanpa terlihat oleh penonton dimana posisi lampu berada. 5. Kesan inilah yang diolah penata panggung untuk mewujudkan kreasinya di atas panggung proscenium. Sebelum menjelaskan semua itu. Jarak antara penonton dan panggung adalah jarak yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan gambaran kreatif pemangungan. panggun arena sering menjadi pilihan utama bagi teater tradisional. Bingkai yang dipasangi layar atau gorden inilah yang memisahkan wilayah akting pemain dengan penonton yang menyaksikan pertunjukan dari satu arah. penata panggung juga bertanggungjawab terhadap segala perabot yang digunakan. bingkai proscenium menjadi batas tepinya. Hampir semua sekolah teater memiliki jenis panggung proscenium. Tata panggung pun sangat diuntungkan dengan adanya jarak dan pandangan satu arah dari penonton. Selain merencanakan gambar dekor. terutama pada panggung arena dimana lukisan dekor atau bentuk bangunan vertikal tertutup seperti dinding atau kamar (karena akan menghalangi pandangan sebagian penonton) tidak memungkinkan diletakkan di atas panggung. Unsur-unsur ini ditata sedemikian rupa sehingga bisa . Perabot dan piranti sangat penting dalam mencipta lukisan panggung. fungsi tata panggung perlu dibahas terlebih dahulu. Aspek kedekatan inilah yang dieksplorasi untuk menimbulkan daya tarik penonton. Semua yang ada di atas panggung dapat disajikan secara sempurna seolah-olah gambar nyata.3 Fungsi Tata Panggung Dalam perancangan tata panggung selain mempertimbangkan jenis panggung yang akan digunakan ada beberapa elemen komposisi yang perlu diperhatikan. Pembelajaran tata panggung untuk menciptakan ilusi (tipuan) imajinatif sangat dimungkinkan dalam panggung proscenium. Gambar dekorasi dan perabot tidak begitu menuntut kejelasan detil sampai hal-hal terkecil. Kemungkinan berkomunikasi secara langsung atau bahkan bermain di tengah-tengah penonton ini menjadi tantangan kreatif bagi teater modern. Tata perabot kemudian menjadi unsur pokok pada tata panggung arena.

4 Elemen Komposisi Desain tata panggung sebaiknya dibuat dengan mudah dan bebas. Dimensi dapat diciptakan dengan membagi sisi gelap dan terang atas objek yang disinari sehingga membantu perspektif tata panggung. pemilihan. Penyuntingan atau pengolahan bisa dilakukan setelah gagasan tertuang. lokasi kejadian. dan penonton untuk saling melihat dan berkomunikasi. Inilah fungsi paling mendasar dari tata cahaya. * Pemilihan. Pemilihan ini tidak hanya berpengaruh bagi perhatian penonton tetapi juga bagi para aktor di atas pentas serta keindahan tata panggung yang dihadirkan. yaitu penerangan. Dengan cahaya. Dalam pembuatan desain gambar tata panggung yang terpenting adalah cara mengatur. menata. Seorang penata cahaya perlu mempelajari pengetahuan dasar dan penguasaan peralatan tata cahaya.1. Jika dalam film dan televisi sutradara dapat memilih adegan menggunakan kamera maka sutradara panggung melakukannya dengan cahaya.2.memberikan gambaran lengkap yang berfungsi untuk menjelaskan suasana dan semangat lakon. Tidak semua area di atas panggung memiliki tingkat terang yang sama tetapi diatur dengan tujuan dan maksud tertentu sehingga menegaskan pesan yang hendak disampaikan melalui laku aktor di atas pentas. Tanpa adanya cahaya maka penonton tidak akan dapat menyaksikan apa-apa. sutradara dapat menghadirkan ilusi imajinatif. dan memanipulasi elemen komposisi yang menjadi dasar dari seluruh kerja desain. Istilah penerangan dalam tata cahaya panggung bukan hanya sekedar memberi efek terang sehingga bisa dilihat tetapi memberi penerangan bagian tertentu dengan intensitas tertentu. dan musim dalam tahun dimana lakon dilangsungkan. status karakter peran. * Penerangan. periode sejarah lakon. dimensi. 1988). Tata cahaya dapat dimanfaatkan untuk menentukan objek dan area yang hendak disinari. dan atmosfir (Mark Carpenter. aktor. penonton secara normal dapat melihat seluruh area panggung. Dalam pertunjukan era primitif manusia hanya menggunakan cahaya matahari. 5. imajinasi dapat dituangkan sepenuhnya ke dalam gambar desain tanpa lebih dulu berpikir tentang kemungkinan visualisasinya. 5. Lampu memberi penerangan pada pemain dan setiap objek yang ada di atas panggung. Sejak ditemukannya lampu penerangan manusia menciptakan modifikasi dan menemukan hal-hal baru yang dapat digunakan untuk menerangi panggung pementasan. Dengan pengaturan tingkat intensitas serta pemilahan sisi gelap dan terang maka dimensi objek akan muncul. Artinya. bulan atau api untuk menerangi. Banyak hal yang bisa dikerjakan bekaitan dengan peran tata cahaya tetapi fungsi dasar tata cahaya ada empat. Jika semua objek diterangi dengan intensitas yang sama maka gambar yang akan tertangkap oleh mata penonton menjadi datar. Dengan tata cahaya kedalaman sebuah objek dapat dicitrakan. Semua objek yang disinari memberikan gambaran yang jelas kepada penonton tentang segala sesuatu yang akan dikomunikasikan. * Dimensi. Pengetahuan dasar ini selanjutnya dapat diterapkan dan dikembangkan dalam penataan cahaya untuk kepentingan artistik pemanggungan.1 Fungsi Tata Cahaya Tata cahaya yang hadir di atas panggung dan menyinari semua objek sesungguhnya menghadirkan kemungkinan bagi sutradara.2 TATA CAHAYA Cahaya adalah unsur tata artistik yang paling penting dalam pertunjukan teater. Pemikiran lain di luar desain akan menghambat imajinasi dan akhrinya memberikan batasan. Dalam teater. untuk memberikan fokus perhatian pada area atau aksi tertentu sutradara memanfaatkan cahaya. . 5.

Cahaya dapat dimanfaatkan untuk menciptakan lukisan panggung melalui tatanan warna yang dihasilkannya. Beberapa teater primitif menggunakan bedak tebal yang biasa dibuat dari bahan-bahan alam. masing-masing fungsi memiliki interaksi (saling mempengaruhi). Penggunaan warna serta intensitas dapat menarik perhatian penonton sehingga membantu pesan yang hendak disampaikan. Tata cahaya tidaklah statis. * Gaya. Tata rias dalam teater mempunyai arti lebih spesifik. * Komposisi. Dalam gaya Surealis tata cahaya diproyeksikan untuk menyajikan imajinasi atau fantasi di luar kenyataan seharihari. cahaya selalu bergerak dan berpindah dari area satu ke area lain. 5. Tata cahaya dapat memberikan penekanan tertentu pada adegan atau objek yang dinginkan. Gaya realis atau naturalis yang mensyaratkan detil kenyataan mengharuskan tata cahaya mengikuti cahaya alami seperti matahari. Misalnya. Dalam pementasan komedi atau dagelan tata cahaya membutuhkan tingkat penerangan yang tinggi sehingga setiap gerak lucu yang dilakukan oleh aktor dapat tertangkap jelas oleh penonton. Keempat fungsi pokok tata cahaya di atas tidak berdiri sendiri. seperti tanah. Selain keempat fungsi pokok di atas. efek lampu dapat diciptakan untuk menirukan cahaya bulan dan matahari pada waktu-waktu tertentu. . Tetapi pergantian cahaya dalam satu area ketika adegan tengah berlangsung terkadang tidak secara langsung disadari. Cahaya berfungsi untuk memberi tanda selama pertunjukan berlangsung. Dalam pementasan teater tradisional. fade in untuk memulai adegan dan black out sebagai akhir dari cerita.3 TATA RIAS Tata rias secara umum dapat diartikan sebagai seni mengubah penampilan wajah menjadi lebih sempurna. fade out untuk mengakhiri sebuah adegan. tata cahaya memiliki fungsi pendukung yang dikembangkan secara berlainan oleh masing-masing ahli tata cahaya. dan lemak binatang. suasana. yaitu seni mengubah wajah untuk menggambarkan karakter tokoh. Misalnya. Gerak perpindahan cahaya ini mengalir sehingga kadang-kadang perubahannya disadari oleh penonton dan kadang tidak. Beberapa fungsi pendukung yang dapat ditemukan dalam tata cahaya adalah sebagai berikut. Tanpa sadar penonton dibawa ke dalam suasana yang berbeda melalui perubahan cahaya. black out biasanya digunakan sebagai tanda ganti adegan diiringi dengan pergantian set. Jika perpindahan cahaya bergerak dari aktor satu ke aktor lain dalam area yang berbeda. Sinar mentari pagi membawa kehangatan sedangkan sinar mentari siang hari terasa panas. dan emosi peristiwa. Sejak ditemukannya teknologi pencahayaan panggung. * Pemberian tanda. Inilah gambaran suasana dan emosi yang dapat dimunculkan oleh tata cahaya. bulan atau lampu meja. Pemakaian tata rias akhirnya menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari peristiwa teater. Tata cahaya mampu menghadirkan suasana yang dikehendaki oleh lakon.* Atmosfir. teater Yunani yang memakai topeng lebih besar dari wajah pemain dengan garis tegas agar ekspresinya dapat dilihat oleh penonton. Kata “atmosfir” digunakan untuk menjelaskan suasana serta emosi yang terkandung dalam peristiwa lakon. Sepanjang pementasan. warna cahaya matahari pagi berbeda dengan siang hari. Artinya. tumbuhan. dari objek satu ke objek lain. Cahaya dapat menunjukkan gaya pementasan yang sedang dilakonkan. Fungsi penerangan dilakukan dengan memilih area tertentu untuk memberikan gambaran dimensional objek. * Penekanan.tulang. * Gerak. Sebuah bagian bangunan yang tinggi yang senantiasa disinari cahaya sepanjang pertunjukan akan menarik perhatian penonton dan menimbulkan pertanyaan sehingga membuat penonton menyelidiki maksud dari hal tersebut. Contohnya. Yang paling menarik dari fungsi tata cahaya adalah kemampuannya menghadirkan suasana yang mempengaruhi emosi penonton. Tata Rias dalam teater bermula dari pemakaian kedok atau topeng untuk menggambarkan karakter tokoh. penonton dapat melihatnya dengan jelas.

wajahnya akan tampak datar. memiliki hidung yang kurang mancung. Sebaliknya.3. Misalnya. Wajah perlu ditambahkan garis-garis kerutan sesuai wajah seorang yang berusia 50 tahun. Tata rias bisa menyempurnakan kekurangan tersebut sehingga muncul kesan hidung tampak mancung. Karakter wajah merupakan cermin psikologis dan latar sosial tokoh yang hadir secara nyata. 5. Misalnya. Tata rias berfungsi melukiskan watak tokoh dengan mengubah wajah pemeran menyangkut aspek umur. tetapi cukup menyempurnakan dengan mengoreksi kekurangan yang ada untuk disempurnakan. Penampilan tokoh yang berbeda-beda membutuhkan penampilan yang berbeda sesuai karakternya.4 Menghadirkan Garis Wajah Sesuai Dengan Tokoh Menampilkan wajah sesuai dengan tokoh membutuhkan garis baru yang membentuk wajah baru.5. dan sebagainya. Penyempurnaan wajah dilakukan pada pemain yang secara fisik telah sesuai dengan tokoh yang dimainkan.3. ras. Fungsi garis tidak sekedar menegaskan. 5.3. Seorang pemain. tetapi juga menambahkan sehingga terbentuk tampilan yang berbeda dengan wajah asli pemain. Tata rias memiliki kemampuan dalam mengubah sekaligus menampilkan karakter yang berbeda dari seorang pemeran. Pemain yang tidak menggunakan rias.1.1.3.3 Memberi Efek Gerak Pada Ekspresi Pemain Wajah seorang pemain di atas pentas. Seorang yang berperan .1 Fungsi Tata Rias Tokoh dalam teater memiliki karakter berbeda-beda. seorang yang optimis digambarkan dengan tarikan sudut mata cenderung ke atas. tampak datar ketika tertimpa cahaya lampu.2 Menggambarkan Karakter Tokoh Karakter berarti watak. seorang remaja memerankan siswa sekolah. Seorang penata rias harus mencermati gerak ekspresi wajah untuk menentukan garis yang akan dibuat. bentuk wajah dan tubuh. dan bibir bergaris tegas. tidak memiliki dimensi. mata yang tidak ekspresif. 5. bibir yang kurang tegas. Tata rias merupakan salah satu cara menampilkan karakter tokoh yang berbeda-beda tersebut. Tata rias tidak perlu mengubah usia. sehingga saat berekspresi muncul efek gerak yang tegas dan dapat ditangkap oleh penonton. Tata rias dalam teater memiliki fungsi sebagai berikut. tokoh yang pesimistis cenderung memiliki karakter garis mata yang menurun.1 Menyempurnakan Penampilan Wajah Wajah seorang pemain memiliki kekurangan yang bisa disempurnakan dengan mengaplikasikan tata rias. Tata rias berfungsi menegaskan garis-garis wajah karakter. misalnya.1. * Menyempurnakan penampilan wajah * Menggambarkan karakter tokoh * Memberi efek gerak pada ekspresi pemain * Menegaskan dan menghasilkan garis-garis wajah sesuai dengan tokoh * Menambah aspek dramatik. seorang remaja yang memerankan seorang yang telah berumur 50 tahun.3.1. 5. mata menjadi lebih ekspresif. Oleh karena itu dibutuhkan tata rias untuk menampilkan dimensi wajah pemain. Misalnya.

5. bangsa. Pada era teater primitif.1. Tata rias bisa memberikan efek dramatik dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan menciptakan efek tertentu sesuai dengan kebutuhan. 5. hidung kurang mancung dan sebagainya. sifat. dan menonjolkan bagian-bagian wajah sesuai dengan tokoh yang dimainkan.2 Tata Rias Fantasi Tata rias fantasi dikenal juga dengan istilah tata rias karakter khusus. dan segala unsur yang melekat pada pakaian. dan perubahan bentuk wajah. Mengubah anatomi wajah pemain untuk memenuhi tuntutan tokoh dapat juga digolongkan sebagai tata rias karakter.2.3. dan ciri-ciri khusus yang melekat pada tokoh. Tata rias ini menyembunyikan kekurangan-kekurangan yang ada pada wajah dan menonjolkan hal-hal yang menarik dari wajah.3. Tata rias karakter dibutuhkan ketika karakter wajah pemeran tidak sesuai dengan karakter tokoh. tertembak. kulit binatang. Seorang pemain membutuhkan tata rias korektif ketika tampilannya tidak membutuhkan perubahan usia. Tata busana dalam teater memiliki peranan penting untuk menggambarkan tokoh. syal. tetapi mengubah tampilan wajah. 5. seperti tumbuhan. gelang . Disebut tata rias karakter khusus.menjadi tokoh binatang. 5. Tata rias fantasi menggambarkan tokohtokoh yang tidak riil keberadaannya dan lahir berdasarkan daya khayal semata. menegaskan. Contohnya. Misalnya. Tokoh-tokoh mengalami berbagai peristiwa sehingga terjadi perubahan dan penambahan tata rias. seorang tokoh tertusuk belati.4 TATA BUSANA Tata busana adalah seni pakaian dan segala perlengkapan yang menyertai untuk menggambarkan tokoh. Tata rias karakter tidak sekedar menyempurnakan. misalnya memanjangkan telinga.3.2. Biasanya pemeran memiliki kesesuaian dengan tokoh yang diperankan.3.2 Jenis Tata Rias 5. watak.5 Menambah Aspek Dramatik Peristiwa teater selalu tumbuh dan berkembang. 5. tersayat wajahnya. kalung. Tata busana termasuk segala asesoris seperti topi. karena menampilkan wujud rekaan dengan mengubah wajah tidak realistik. ras. Setiap wajah memiliki kekuarangan dan kelebihan. Seseorang yang memiliki bentuk wajah kurang sempurna.1 Tata Rias Korektif Tata rias korektif (corective make-up) merupakan suatu bentuk tata rias yang bersifat menyempurnakan (koreksi). sepatu.3. maka dibutuhkan tata rias yang memberikan efek sesuai dengan kebutuhan. mengubah umur pemeran dari muda menjadi lebih tua . misalnya dahi terlalu lebar.3 Tata Rias karakter Tata rias karaker adalah tata rias yang mengubah penampilan wajah seseorang dalam hal umur. dan batu- . maka perlu membuat garis-garis baru sesuai dengan karakter wajah binatang yang diperankan.dapat disempurnakan dengan make up korektif. Wajah pemain cukup disempurnakan dengan menyamarkan.2. Tokoh tersebut memiliki latar Suku Dayak Kalimantan yang memiliki tradisi memanjangkan telinga. busana yang dipakai berasal dari bahan-bahan alami.

busana pada jaman atau dekade tertentu memiliki ciri yang sama.1 Mencitrakan Keindahan Penampilan Manusia memiliki hasrat untuk mengungkapkan rasa keindahan dalam berbagai aspek kehidupan. Untuk membuat tata busana sesuai dengan adat dan kebudayaan daerah tertentu maka diperlukan referensi khusus berkaitan dengan adat dan kebudayaan tersebut. Tidak ada periode tata busana secara khusus di teater. Busana menjadi salah satu tanda penting untuk membedakan satu tokoh dengan tokoh yang lain. * Mencitrakan keindahan penampilan * Membedakan satu pemain dengan pemain yang lain * Menggambarkan karakter tokoh * Memberikan efek gerak pemain * Memberikan efek dramatik 5. Periode busana teater dengan demikian mengikuti periode teater tersebut. tetapi lebih pada konsep yang melatarbelakangi penciptaan teater. Tata busana dapat dibuat berdasar budaya atau jaman tertentu. dan memenuhi hasrat manusia akan keindahan. Sementara itu tata busana menurut jamannya bisa digeneralisasi. sehingga penonton mampu mengidentifikasikan tokoh dengan mudah . Ketika manusia menemukan tekstil dengan teknologi pengolahan yang tinggi. Fungsi busana dalam kehidupan seharihari untuk melindungi tubuh. Busana pun mengikuti konsep tersebut. Abad Pertengahan. hasrat untuk tampil berbeda dan lebih indah dari tampilan sehari-hari telah muncul. Dalam masa ini. Busana dalam teater memiliki fungsi yang lebih kompleks.1. yaitu. Penampilan busana yang berbeda akan menunjukkan ciri khusus seorang tokoh.4. Masing-masing memiliki kospenya tersendiri dan lakon tidak harus berlatar jaman dimana lakon itu dibuat.4. Restorasi. Penonton membutuhkan suatu penampilan yang berbeda-beda antara satu tokoh dengan tokoh yang lain. Pada era teater primitif. Busana teater mengalami perkembangan pesat seiring lahirnya teater modern pada akhir abad 19. mencitrakan kesopanan. karena semua tergantung latar cerita yang ditampilkan. Jenis busana ini tidak bisa disamakan antara daerah satu dengan daerah lain. Misalnya.1 Fungsi Tata Busana Busana yang dipakai manusia beraneka ragam bentuk dan fungsinya. Tata busana dalam teater berfungsi sebagai bentuk ekspresi untuk tampil lebih indah dari penampilan seharihari. dan Abad 18. 5.2 Membedakan Satu Pemain Dengan Pemain Yang Lain Pementasan teater menampilkan tokoh yang bermacam-macam karakter dan latar belakang sosialnya. Elizabethan.1. memakai busana sehari-hari yang dibuat lebih indah dengan mengaplikasikan perhiasan dan penambahan bahanbahan yang mahal dan mewah. maka busana berkembang menjadi lebih baik.batuan untuk asesoris. 5. beragam aliran teater bermunculan. Renaissance. Tata busana dengan demikian sudah tidak lagi terpaku pada jaman. Busana pementesan teater dibuat secara khusus dan dilengkapi dengan asesoris sesuai kebutuhan pemensan. Masingmasing memiliki ciri khasnya.4. Artinya. Demikian juga dengan teater pada jaman Yunani. Pementasan teater adalah suatu tontonan yang mengandung aspek keindahan. Teater di Inggris pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth (1580 – 1640). Semua terserah pada gagasan seniman. dalam teater Romawi Kuno maka lakon yang ditampilkan berlatar jaman tersebut sehingga busananya pun seperti busana keseharian penduduk jaman Romawi Kuno.

Melalui busana.1. bentuk.3 Menggambarkan Karakter Tokoh Fungsi penting busana dalam teater adalah untuk menggambarkan karakter tokoh. busananya cenderung rapi. warna. dan garis yang diciptakan. tokoh seorang pelajar yang pendiam. penonton terbantu dalam menangkap karakter yang berbeda dari setiap tokoh. . dan tanpa asesoris yang berlebihan. Contohnya.5. Perbedaan karakter dalam busana dapat ditampilkan melalui model. dan sering membuat onar. dan alim. sederhana. brutal.4. rajin. Sebaliknya. motif. tokoh seorang pelajar yang bandel. busananya dilengkapi asesoris dan cara pemakaiannya seenaknya tidak sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan sekolah.

Sebuah karya teater yang besar merupakan penyatuan kerja elemen-elemen yang kecil. Satu bidang kecil memiliki makna yang sama dengan bidang lain. Secara mendalam. Memecahkan persoalan bersama dan menentukan satu keputusan yang secara artistik adil bagi semua pihak. Dalam sebuah lakon yang menceritakan tentang kesedihan. aktor. Saling mendukung demi tercapaiya tujuan tersebut. Karena itu pulalah penonton merupkan kunci keberhasilan sebuah pertunjukan. ketersampaian cerita. dan peningkatan kompetensi tetapi juga untuk mengungkap makna kerja yang ada di sebalik ilmu. Jika satu saja elemen berada di luar garis ini maka kesatuan makna menjadi kabur. Oleh karena itulah. semua saling mendukung. tata rias dan busana. Demikian pula penata panggung harus mau memahami pola laku dan gerak para aktor di atas pentas sehingga ruang yang diciptakan tidak mengganggu bagi pergerakan aktor ketika bemain. Seorang aktor yang baik harus mengerti fungsi tata panggung karena ia akan bermain di antara objek yang ditata di atas pentas.Dasar-dasar Teater (6/6): Penutup Sebuah karya teater lahir dari satu proses pembelajaran yang padu. Karena sifatnya yang kolaboratif maka seni teater akan kehilangan spiritnya jika masing-masing bidang berusaha untuk menonjol dan mengalahkan bidang lain. Satu gagasan atau perwujudan karya menjadi indah dan menarik serta memiliki kesatuan makna jika semua elemennya memiliki tujuan artistik yang sama. Karena prinsip teater adalah kerjasama maka belajar teater tidaklah hanya mempelajari elemen-elem yang ada di dalamnya tetapi juga mempelajari kerja pengabungan di antaranya. Dramaturgi atau pengetahuan teater dasar merupakan pokok pemahaman yang harus diperhatikan. bahkan penonton yang hadir di dalamnya. Berbicara teater adalah berbicara tentang semua hal yang ada di dalamnya. Berdiskusi. tidak hanya tergambar keindahan karya seni tetapi juga prinsip kebersamaan. Sebuah langkah yang besar selalu dimulai dari langkah kecil. Apalagi ketika proses tersebut dinilai dan memiliki konsekuensi langsung bagi pelakunya. penata artistik) akan diketahui langsung oleh para penonton dalam sebuah pertunjukan. maka semua komponen bekerja untuk memenuhi atmosfir kesedihan yang diharapkan. Jadi. Hal itu akan menyangkut soal cerita. kerja sekecil apapun dalam teater sangatlah penting. semua saling membantu. . Satu proses kerja bidang tertentu bahkan dinilai lebih tinggi dari bidang lain. Semua elemen harus besatu. semua saling belajar. Satu bidang harus mampu dan mau menghargai bidang lain. Oleh karena itu. seni memang tidak hanya menghasilkan sesuatu yang tampak (produk) tetapi juga mental atau jiwa para pelakunya. Respon atau tanggapan yang diberikan penonton terhadap pertunjukan yang dilangsungkan merupakan tanda bagi keberhasilan atau kegagalan pertunjukan tesebut dalam menyampaikan pesan. Akhirnya menjadi maklumlah kita ketika seseorang berbicara tentang teater maka ia akan membicarakan semua elemen yang ada di dalamnya. mempelajari teater tidak hanya mempelajari satu bidang dan mengabaikan bidang lain. Berbicara teater tidak hanya berbicara naskah atau sutradara yang merajut proses atau aktor terkenal yang ikut terlibat di dalamnya. Dengan demikin dalam satu karya teater. Jika kualitas kerja salah satu bidang tidak baik maka keseluruhan pertunjukan menjadi terpengaruh. Begitu pentingnya pesan yang hendak disampaikan sehingga semua elemen pendukung pementasan bekerja keras mewujudkannya. konsep. Memiliki tujuan yang sama. Memang perlu belajar satu bidang secara khusus tetapi pemahaman atas bidang lain tidak bisa diabaikan. Untuk kepentingan inilah buku ini disusun. Membaca referensi atau buku teater tidaklah hanya untuk menambah wawasan. Pemaknaan ini akan membawa satu sikap penghargaan profesi baik bagi diri sendiri atau bagi orang yang bekerja pada bidang lain. tata panggung dan cahaya. Saling berbicara. Semua elemen harus memahami hal ini. pelajarilah semuanya sesuai dengan tahapan yang benar. Dalam teater hal itu tidak berlaku. Kualitas ketersampaian pesan yang diramu oleh para pekerja teater (pengarang. Dalam satu proses pembelajaran hal semacam itu sering tejadi. pengetahuan. Kualitas karya yang dihasilkan menggambarkan semangat dan keadaan jiwa pembuatnya. Ia akan bermain dalam area yang diciptakan oleh penata panggung. sutradara. Karya seni yang lahir dari kreativitas dapat dialirkan kepada generasi berikutnya melalui catatancatatan.

Apapun bentuknya.Dramaturgi adalah catatan-catatan proses penciptaan seni drama hingga sampai pementasannya. Jika semuanya berbuat dalam semangat kerjasama maka pergelaran karaya teater menjadi karya bersama yang memiliki satu makna. cerita yang sudah berhasil dicipta dapat diwujudkan ke dalam sebuah pementasan. pemeranan. wujud awal dari sebuah gagasan harus mengalami proses pembentukan. konflik. membaca untuk menginspirasi sehingga seni baru senantiasa lahir. Dengan berdasar pengetahuan dan keingintahuan dari membaca catatan tersebut. belajar. Membaca catatan karya orang lain bukan dipahami sebagai bentuk plagiarisme tetapi membaca untuk mempelajari. Semua itu tidak berada dalam bingkai saling meniru akan tetapi bingkai kreativitas yang terus berkembang dan berkembang. Dalam teater. Bahkan mungkin cerita itu hanya merupakan satu rangkaian kalimat. Catatan inti akan terus berkembang seiring dengan perkembangan teater itu sendiri. semua bermula dari sebuah cerita. Hanya dengan cerita yang sangat sederhana semacam ini. akan tetapi lebih berarti jika semua bidang bersinergi. Semua secara harmonis bekerja bersama mendukung makna yang satu. sebuah karya teater dapat dilahirkan. Satu karya mempengaruhi atau terpengaruh oleh karya lain. dan penyelesaian. dengan memahami dasardasar penciptaan lakon yang mengedepankan pentingnya arti konflik dalam teater. maka cerita yang satu kalimat itu pun dapat dikembangkan. Masing-masing bidang dalam teater dapat dikerjakan oleh orang-orang tertentu yang tertarik di bidang-bidang tersebut. Karya seni yang lebih mementingkan proses. dan proses adalah belajar. Masing-masing bidang yang dibahas dalam buku ini memberikan gambaran harmonisasi tersebut. Karya baru yang dihasilkan oleh seniman itupun pada nantinya juga akan menginspirasi karya yang lain. Demikian berjalan secara berkesambungan. dan tata artistik dapat diaplikasikan untuk mendukung karya yang akan ditampilkan. lebih menghargai pengalaman dari pada hasil akhir. Ketika sebuah gagasan muncul. Pengetahuan tentang dasar-dasar penyutradaraan. dan belajar. Tidak perlu seorang diri mengerjakan semuanya. Banyak seniman yang lahir karena membaca atau mempelajari karya (catatan) seniman yang lainnya. Gagasan hanya akan menjadi gagasan jika tidak diwujudkan. Dengan semangat dan ketekunan berlatih. maka ia perlu dinyatakan. Semua berjalan dalam satu proses. Berkarya. Minimal menjadi tiga kalimat yang masing-masing mewakili pemaparan. Tidak peduli berapa panjang cerita tersebut. Teater adalah kolketif. sebuah gagasan dapat diwujudkan. Semangat belajar dalam teater tidak akan pernah bisa berhenti karena teater senantiasa hidup dan berkembang. . Sesuatu yang sangat berarti bagi si penggagas. Disitulah sebetulnya letak fungsi hakiki dari sebuah pengetahuan. berkarya. dan berkarya. Semua bisa dipelajari secara mandiri. Kerjasama sebagai semangat seni teater dapat dijadikan acuan proses penciptaan. membaca untuk menilhami. Oleh karena itu maka tidak ada kata lain selain belajar. Ilmu yang didapatkan sekarang tidak akan pernah cukup. teater adalah kerjasama. Sebuah pertunjukan dapat digelar. Oleh sebab itu. Catatan kecil yang kami sampaikan ini semoga dapat menjadi pemicu semangat untuk terus belajar dan berkarya. Akan tetapi. apapun kualitasnya gagasan tersebut harus menjadi sesuatu.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->