Dasar-dasar Teater (1/6): Definisi & Sejarah Teater 1.

1 Definisi Teater Teater berasal dari kata Yunani, “theatereatron” (bahasa Inggris, Seeing Place) yang artinya tempat atau gedung pertunjukan. Dalam perkembangannya, dalam pengertian lebih luas kata teater diartikan sebagai segala hal yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Dengan demikian, dalam rumusan sederhana teater adalah pertunjukan, misalnya ketoprak, ludruk, wayang, wayang wong, sintren, janger, mamanda, dagelan, sulap, akrobat, dan lain sebagainya. Teater dapat dikatakan sebagai manifestasi dari aktivitas naluriah, seperti misalnya, anak-anak bermain sebagai ayah dan ibu, bermain tokohg-tokohgan, dan lain sebagainya. Selain itu, teater merupakan manifestasi pembentukan strata sosial kemanusiaan yang berhubungan dengan masalah ritual. Misalnya, upacara adat maupun upacara kenegaraan, keduanya memiliki unsur-unsur teatrikal dan bermakna filosofis. Berdasarkan paparan di atas, kemungkinan perluasan definisi teater itu bisa terjadi. Tetapi batasan tentang teater dapat dilihat dari sudut pandang sebagai berikut: “tidak ada teater tanpa aktor, baik berwujud riil manusia maupun boneka, terungkap di layar maupun pertunjukan langsung yang dihadiri penonton, serta laku di dalamnya merupakan realitas fiktif”, (Harymawan, 1993). Kata “drama” juga dianggap telah ada sejak era Mesir Kuno (4000-1580 SM), sebelum era Yunani Kuno (800277 SM). Hubungan kata “teater” dan “drama” bersandingan sedemikian erat seiring dengan perlakuan terhadap teater yang mempergunakan drama lebih identik sebagai teks atau naskah atau lakon atau karya sastra (Bakdi Soemanto, 2001). Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa istilah “teater” berkaitan langsung dengan pertunjukan, sedangkan “drama” berkaitan dengan lakon atau naskah cerita yang akan dipentaskan. Jadi, teater adalah visualisasi dari drama atau drama yang dipentaskan di atas panggung dan disaksikan oleh penonton. Jika “drama” adalah lakon dan “teater” adalah pertunjukan maka “drama” merupakan bagian atau salah satu unsur dari “teater”. Dengan kata lain, secara khusus teater mengacu kepada aktivitas melakukan kegiatan dalam seni pertunjukan (to act) sehingga tindaktanduk pemain di atas pentas disebut acting. Istilah acting diambil dari kata Yunani “dran” yang berarti, berbuat, berlaku, atau beraksi. Karena aktivitas beraksi ini maka para pemain pria dalam teater disebut actor dan pemain wanita disebut actress (Harymawan, 1993). Meskipun istilah teater sekarang lebih umum digunakan tetapi sebelum itu istilah drama lebih populer sehingga pertunjukan teater di atas panggung disebut sebagai pentas drama. Hal ini menandakan digunakannya naskah lakon yang biasa disebut sebagai karya sastra drama dalam pertujukan teater. Di Indonesia, pada tahun 1920-an, belum muncul istilah teater. Yang ada adalah sandiwara atau tonil (dari bahasa Belanda: Het Toneel). Istilah Sandiwara konon dikemukakan oleh Sri Paduka Mangkunegoro VII dari Surakarta. Kata sandiwara berasal dari bahasa Jawa “sandi” berarti “rahasia”, dan “wara” atau “warah” yang berarti, “pengajaran”. Menurut Ki Hajar Dewantara “sandiwara” berarti “pengajaran yang dilakukan dengan perlambang” (Harymawan, 1993). Rombongan teater pada masa itu menggunakan nama Sandiwara, sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama. Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan, istilah sandiwara masih sangat populer. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan (Kasim Achmad, 2006). Keterikatan antara teater dan drama sangat kuat. Teater tidak mungkin dipentaskan tanpa lakon (drama). Oleh karena itu pula dramaturgi menjadi bagian penting dari seni teater. Dramaturgi berasal dari bahasa Inggris dramaturgy yang berarti seni atau tekhnik penulisan drama dan penyajiannya dalam bentuk teater. Berdasar pengertian ini, maka dramaturgi membahas proses penciptaan teater mulai dari penulisan naskah hingga pementasannya. Harymawan (1993) menyebutkan tahapan dasar untuk mempelajari dramaturgi yang disebut dengan formula dramaturgi. Formula ini disebut dengan fromula 4 M yang terdiri dari, menghayalkan, menuliskan, memainkan, dan menyaksikan. M1 atau menghayal, dapat dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang karena menemukan sesuatu gagasan yang merangsang daya cipta. Gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan pada suatu persitiwa baik

yang disaksikan, didengar maupun dibaca dari literatur tertentu. Bisa juga gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan pada kehidupan seseorang. Gagasan atau daya cipta tersebut kemudian diwujudkan ke dalam besaran cerita yang pada akhirnya berkembang menjadi sebuah lakon untuk dipentaskan. M2 atau menulis, adalah proses seleksi atau pemilihan situasi yang harus dihidupkan begi keseluruhan lakon oleh pengarang. Dalam sebuah lakon, situasi merupakan kunci aksi. Setelah menemukan kunci aksi ini, pengarang mulai mengatur dan menyusun kembali situasi dan peristiwa menjadi pola lakon tertentu. Di sini seorang pengarang memiliki kisah untuk diceritakan, kesan untuk digambarkan, suasana hati para tokoh untuk diciptakan, dan semua unsur pembentuk lakon untuk dikomunikasikan. M3 atau memainkan, merupakan proses para aktor memainkan kisah lakon di atas pentas. Tugas aktor dalam hal ini adalah mengkomunikasikan ide serta gagasan pengarang secara hidup kepada penonton. Proses ini melibatkan banyak orang yaitu, sutradara sebagai penafsir pertama ide dan gagasan pengarang, aktor sebagai komunitakor, penata artsitik sebagai orang yang mewujudkan ide dan gagasan secara visual serta penonton sebagai komunikan. M4 atau menyaksikan, merupakan proses penerimaan dan penyerapan informasi atau pesan yang disajikan oleh para pemain di atas pentas oleh para penonton. Pementasan teater dapat dikatakan berhasil jika pesan yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penonton. Penonton pergi menyaksikan pertunjukan dengan maksud pertama untuk memperoleh kepuasan atas kebutuhan dan keinginannya terhadap tontonan tersebut. Formula dramaturgi seperti disebutkan di atas merupakan tahap mendasar yang harus dipahami dan dilakukan oleh para pelaku teater. Jika salah satu tahap dan unsur yang ada dalam setiap tahapan diabaikan, maka pertunjukan yang digelar bisa dipastikan kurang sempurna. Oleh karena itu, pemahaman dasar formula dramaturgi dapat dijadikan acuan proses penciptaan karya seni teater.

1.2 Sejarah Singkat Teater 1.2.1 Teater Barat 1.2.1.1 Asal Mula Teater Waktu dan tempat pertunjukan teater yang pertama kali dimulai tidak diketahui. Adapun yang dapat diketahui hanyalah teori tentang asal mulanya. Di antaranya teori tentang asal mula teater adalah sebagai berikut. * Berasal dari upacara agama primitif. Unsur cerita ditambahkan pada upacara semacam itu yang akhirnya berkembang menjadi pertunjukan teater. Meskipun upacara agama telah lama ditinggalkan, tapi teater ini hidup terus hingga sekarang. * Berasal dari nyanyian untuk menghormati seorang pahlawan di kuburannya. Dalam acara ini seseorang mengisahkan riwayat hidup sang pahlawan yang lama kelamaan diperagakan dalam bentuk teater. * Berasal dari kegemaran manusia mendengarkan cerita. Cerita itu kemudian juga dibuat dalam bentuk teater (kisah perburuan, kepahlawanan, tokohg, dan lain sebagainya). * Rendra dalam Seni Drama Untuk Remaja (1993), menyebutkan bahwa naskah teater tertua di dunia yang pernah ditemukan ditulis seorang pendeta Mesir, I Kher-nefert, di zaman peradaban Mesir Kuno kira-kira 2000 tahun sebelum tarikh Masehi. Pada zaman itu peradaban Mesir Kuno sudah maju. Mereka sudah bisa membuat piramida, sudah mengerti irigasi, sudah bisa membuat kalender, sudah mengenal ilmu bedah, dan juga sudah mengenal tulis menulis.

1.2.1.2 Teater Yunani Klasik Tempat pertunjukan teater Yunani pertama yang permanen dibangun sekitar 2300 tahun yang lalu. Teater ini dibangun tanpa atap dalam bentuk setengah lingkaran dengan tempat duduk penonton melengkung dan berundak-undak yang disebut amphitheater (Jakob Soemardjo, 1984). Ribuan orang mengunjungi

amphitheater untuk menonton teater-teater, dan hadiah diberikan bagi teater terbaik. Naskah lakon teater Yunani merupakan naskah lakon teater pertama yang menciptakan dialog diantara para karakternya. Ciri-ciri khusus pertunjukan teater pada masa Yunani Kuno adalah: * Pertunjukan dilakukan di amphitheater. * Sudah menggunakan naskah lakon. * Seluruh pemainnya pria bahkan tokoh wanitanya dimainkan pria dan memakai topeng karena setiap pemain memerankan lebih dari satu tokoh. * Cerita yang dimainkan adalah tragedi yang membuat penonton tegang, takut, dan kasihan serta cerita komedi yang lucu, kasar dan sering mengeritik tokoh terkenal pada waktu itu. * Selain pemeran utama juga ada pemain khusus untuk kelompok koor (penyanyi), penari, dan narator (pemain yang menceritakan jalannya pertunjukan).

1.2.1.3 Teater Romawi Klasik Setelah tahun 200 Sebelum Masehi kegiatan kesenian beralih dari Yunani ke Roma, begitu juga Teater. Namun mutu teater Romawi tak lebih baik daripada teater Yunani. Teater Romawi menjadi penting karena pengaruhnya kelak pada Zaman Renaissance. Teater pertama kali dipertunjukkan di kota Roma pada tahun 240 SM (Brockett, 1964). Pertunjukan ini dikenalkan oleh Livius Andronicus, seniman Yunani. Teater Romawi merupakan hasil adaptasi bentuk teater Yunani. Hampir di setiap unsur panggungnya terdapat unsur pemanggungan teater Yunani. Namun demikian teater Romawi pun memiliki kebaruan-kebaruan dalam penggarapan dan penikmatan yang asli dimiliki oleh masyarakat Romawi dengan ciri-ciri sebagi berikut. * Koor tidak lagi berfungsi mengisi setiap adegan. * Musik menjadi pelengkap seluruh adegan. Tidak hanya menjadi tema cerita tetapi juga menjadi ilustrasi cerita. * Tema berkisar pada masalah hidup kesenjangan golongan menengah. * Karakteristik tokoh tergantung kelas yaitu orang tua yang bermasalah dengan anak-anaknya atau kekayaan, anak muda yang melawan kekuasaan orang tua dan lain sebagainya.

1.2.1.4 Teater Abad Pertengahan Dalam tahun 1400-an dan 1500-an, banyak kota di Eropa mementaskan drama untuk merayakan hari-hari besar umat Kristen. Drama-drama dibuat berdasarkan cerita-cerita Alkitab dan dipertunjukkan di atas kereta, yang disebut pageant, dan ditarik keliling kota. Bahkan kini pertunjukan jalan dan prosesi penuh warna diselenggarakan di seluruh dunia untuk merayakan berbagai hari besar keagamaan. Para pemain drama pageant menggunakan tempat di bawah kereta untuk menyembunyikan peralatan. Peralatan ini digunakan untuk efek tipuan, seperti menurunkan seorang aktor dari atas ke panggung. Para pemain pegeant memainkan satu adegan dari kisah dalam Alkitab, lalu berjalan lagi. Pageant lain dari aktor-aktor lain untuk adegan berikutnya, menggantikannya. Aktor-aktor pageant seringkali adalah para perajin setempat yang memainkan adegan yag menunjukan keahlian mereka. Orang berkerumun untuk menyaksikan drama pageant religius di Eropa. drama ini populer karena pemainnya berbicara dalam bahasa sehari-hari, bukan bahasa Latin yang merupakan bahasa resmi gereja-gereja Kristen (Wisnuwardhono, 2002). Ciri-ciri teater abad Pertengahan adalah sebagai berikut: * Drama dimainkan oleh aktor-aktor yang belajar di universitas sehingga dikaitkan dengan masalah filsafat dan agama.

* Aktor bermain di panggung di atas kereta yang bisa dibawa berkeliling menyusuri jalanan. * Drama banyak disisipi cerita kepahlawanan yang dibumbui cerita percintaan. * Drama dimainkan di tempat umum dengan memungut bayaran. * Drama tidak memiliki nama pengarang.

1.2.1.5 Renaissance Abad 17 memberi sumbangan yang sangat berarti bagi kebudayaan Barat. Sejarah abad 15 dan 16 ditentukan oleh penemuanpenemuan penting yaitu mesin, kompas, dan mesin cetak. Semangat baru muncul untuk menyelidiki kebudayaan Yunani dan Romawi klasik. Semangat ini disebut semangat Renaissance yang berasal dari kata “renaitre” yang berarti kelahiran kembali manusia untuk mendapatkan semangat hidup baru. Gerakan yang menyelidiki semangat ini disebut gerakan humanisme. Pusat-pusat aktivitas teater di Italia adalah istana-istana dan akademi. Di gedung-gedung teater milik para bangsawan inilah dipentaskan naskah-naskah yang meniru drama-drama klasik. Para aktor kebanyakan pegawai-pegawai istana dan pertunjukan diselenggarakan dalam pesta-pesta istana. Ada tiga jenis drama yang dikembangkan, yaitu tragedi, komedi, dan pastoral atau drama yang membawakan kisah-kisah percintaan antara dewa-dewa dengan para gembala di daerah pedesaan. Namun nilai seni ketiganya masih rendah. Drama dilangsungkan dengan mengikuti struktur yang ada. Meskipun demikian gerakan mereka memiliki arti penting karena Eropa menjadi mengenal drama yang jelas struktur dan bentuknya. Ciri-ciri teater Zaman Renaissance yakni sebagai berikut. * Naskah lakon yang dipertunjukkan meniru teater Zaman Yunani klasik. * Cerita bertema mitologi atau kehidupan sehari-hari. * Tata busana dan seting yang dipergunakan sangat inovatif. * Pelaksanaan bentuk teater diatur oleh kerajaan maupun universitas. * Menggunakan panggung proscenium yaitu bentuk panggung yang memisahkan area panggung dengan penonton. * Pada zaman ini juga melahirkan satu bentuk teater yang disebut commedia dell’arte. Merupakan bentuk teater rakyat Italia yang berkembang di luar lingkungan istana dan akademisi. Pada tahun 1575 bentuk ini sudah populer di Italia. Kemudian menyebar luas di Eropa dan mempengaruhi semua bentuk komedi yang diciptakan pada tahun 1600.

Ciri khas commedia dell'arte adalah: * Para pemain dibebaskan berimprovisasi mengikuti jalannya cerita dan dituntut memiliki pengetahuan luas yang dapat mendukung permainan improvisasinya. * Menggunakan naskah lakon yang berisi garis besar cerita. * Cerita yang dimainkan bersumber pada cerita yang diceritakan secara turun menurun. * Cerita terdiri dari tiga babak didahului prolog panjang. Plot cerita berlangsung dalam suasana adegan lucu. * Peristiwa cerita berlangsung dan berpindah secara cepat . * Terdapat tiga tokoh yang selalu muncul, yaitu tokoh penguasa, tokoh penggoda, dan tokoh pembantu. * Tempat pertunjukannya di lapangan kota dan panggungpanggung sederhana. * Setting panggung sederhana, yaitu rumah, jalan, dan lapangan.

1.2.1.6 Teater Zaman Elizabeth

Pada tahun 1576. selain penulis drama. Seiring dengan perkembangan waktu. ada tanda-tanda bahwa unsurunsur teater tradisional banyak digunakan untuk mendukung upacara ritual. dan menceritakan gagasan-gagasan mereka kepada penonton. sutradara. sejarah teater tradisional di Indonesia dimulai sejak sebelum Zaman Hindu. penulis drama terkenal dari Inggris yang hidup dari tahun 1564 sampai tahun 1616. atau yang disebut saat ini. * Corak pertunjukannya merupakan perpaduan antara teater keliling dengan teater sekolah dan akademi yang keklasik-klasikan.2. dekorasi. Banyak gaya baru yang lahir baik dari sudut pandang pengarang. Gedung ini dibangun seperti lingkaran sehingga penonton bisa duduk dihampir seluruh sisi panggung.7 Teater Abad 20 Teater telah berubah selama berabad-abad. dan efek elektronik. Lepas dari hal itu. * Menggunakan naskah lakon. Orang datang ke gedung pertunjukan tidak hanya untuk menyaksikan teater melainkan juga untuk menikmati musik. pendidikan. aktor ataupun penata artistik. Dewasa ini. mulai dari pembunuhan dan tokohg sampai cinta dan kecemburuan.1 Teater Tradisional Kasim Achmad dalam bukunya Mengenal Teater Tradisional di Indonesia (2006) mengatakan. Gedung teater ini sangat sukses sehingga banyak gedung sejenis dibangun di sekitarnya. beberapa cara untuk mengekspresikan karakter-karakter berbeda dalam pertunjukanpertunjukan (di samping nada suara) dapat melalui musik. Ia adalah seorang aktor dan penyair. Pada zaman itu. Gaya-gaya pertunjukan realistis dan eksperimental ditemukan dalam teater Amerika saat ini. Hal ini mendorong para pemikir teater untuk menemukan satu bentuk ekspresi baru yang lepas dari konvensi yang sudah ada. Penonton yang mampu membeli tiket duduk di sisi-sisi panggung. kualitas pertunjukan realis oleh beberapa seniman dianggap semakin menurun dan membosankan. Beberapa ceritanya berisi monolog panjang. * Tokoh wanita dimainkan oleh pemain anak-anak laki-laki. usaha pencarian kaidah artistik yang dilakukan oleh seniman teater modern patut diacungi jempol karena usaha-usaha tersebut mengantarkan pada keberagaman bentuk ekspresi dan makna keindahan. dan mempelajari hal-hal baru. dan absurd. epik. Dengan semangat melawan pesona realisme. Globe mementaskan drama-drama karya William Shakespeare. Pada awal abad 20 inilah istilah teater eksperimental berkembang. Tetapi tidak jarang pula usaha mereka berhenti pada produksi pertama. yang disebut solilokui. Tidak jarang usaha mereka berhasil dan mampu memberikan pengaruh seperti gaya simbolisme. Ia biasanya menulis dalam bentuk puisi atau sajak. tata cahaya. Tidak pemain wanita. Wilayah jelajah artistik dibuka selebar-lebarnya untuk kemungkinan perkembangan bentuk pementasan seni teater. gedung teater besar dari kayu dibangun di London Inggris. surealisme. Mereka yang tidak mampu membeli tiket berdiri di sekitar panggung. * Tempat adegan ditandai dengan ucapan dengan disampaikan dalam dialog para tokoh.1. 1. gedung teater ini bisa menampung 3. 1.2.2 Teater Indonesia 1. Rancangan-rancangan panggung termasuk pengaturan panggung arena. * Penontonnya berbagai lapisan masyarakat dan diramaikan oleh penjual makanan dan minuman. Teater di Tengah-Tengah Gedung.2. Teater tradisional merupakan . hiburan.2. Salah satunya yang disebut Globe.000 penonton. selama pemerintahan Ratu Elizabeth I. Gedung-gedung pertunjukan modern memiliki efek-efek khusus dan teknologi baru. Ciri-ciri teater Zaman Elizabeth adalah: * Pertunjukan dilaksanakan siang hari dan tidak mengenal waktu istirahat. Ia menulis 37 (tiga puluh tujuh) drama dengan berbagai tema. para seniman mencari bentuk pertunjukannya sendiri.

Indra Bangsawan. yang pada saat itu masih belum menggunakan naskah drama/lakon.2. Cara penyajian cerita dengan menggunakan panggung dan dekorasi. ketoprak. dinamakan teater bangsawan.2.1 Teater Transisi Teater transisi adalah penamaan atas kelompok teater pada periode saat teater tradisional mulai mengalami perubahan karena pengaruh budaya lain. Kemudian lahirlah kelompok sandiwara lain. Komidi Bangsawan. Karenanya rombongan teater pada masa itu menggunakan nama sandiwara.2. Mulai memperhitungkan teknik yang mendukung pertunjukan. Selain pengaruh dari teater bangsawan. Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan. Yang ada adalah sandiwara. Setelah melepaskan diri dari kaitan upacara. Naskah-naskah drama tersebut belum mencapai bentuk sebagai drama karena masih menekankan unsur sastra dan sulit untuk dipentaskan. Bentuk sastra drama yang pertamakali menggunakan bahasa Indonesia dan disusun dengan model dialog antar tokoh . teater tradisional berkenalan juga dengan teater Barat yang dipentaskan oleh orang-orang Belanda di Indonesia sekitar tahun 1805 yang kemudian berkembang hingga di Betawi (Batavia) dan mengawali berdirinya gedung Schouwburg pada tahun 1821 (Sekarang Gedung Kesenian Jakarta). 1.2 Teater Indonesia tahun 1920-an Teater pada masa kesusasteraaan angkatan Pujangga Baru kurang berarti jika dilihat dari konteks sejarah teater modern Indonesia tetapi cukup penting dilihat dari sudut kesusastraan. sebenarnya baru merupakan unsur-unsur teater. Proses terjadinya atau munculnya teater tradisional di Indonesia sangat bervariasi dari satu daerah dengan daerah lainnya. Setelah Komedie Stamboel didirikan muncul kelompok sandiwara seperti Sandiwara Dardanella (The Malay Opera Dardanella) yang didirikan Willy Klimanoff alias A. Pada masa teater transisi belum muncul istilah teater. Hal ini disebabkan oleh unsur-unsur pembentuk teater tradisional itu berbedabeda. dan belum merupakan suatu bentuk kesatuan teater yang utuh. ubrug. istilah sandiwara masih sangat populer. yang pementasannya secara teknik telah banyak mengikuti budaya dan teater Barat (Eropa). mulai mengenal sastra lakon dengan diperkenalkannya lakon yang pertama yang ditulis oleh orang Belanda F. drama gong. Macammacam teater tradisional Indonesia adalah :wayang kulit. Perkenalan masyarakat Indonesia pada teater non-tradisi dimulai sejak Agust Mahieu mendirikan Komedie Stamboel di Surabaya pada tahun 1891. sumber dan tata-cara di mana teater tradisional lahir. wayang wong. yang menggunakan bahasa Melayu Rendah. lenong. Kelompok teater yang masih tergolong kelompok teater tradisional dengan model garapan memasukkan unsur-unsur teknik teater Barat. ludruk . Kemudian disusul oleh Lauw Giok Lan lewat Karina Adinda. pada tahun 1901. Pada saat itu.2. Sandiwara Tjahaja Timoer.2. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan. Lelakon Komedia Hindia Timoer (1913). Drama-drama Pujangga Baru ditulis sebagai ungkapan ketertekanan kaum intelektual dimasa itu karena penindasan pemerintahan Belanda yang amat keras terhadap kaum pergerakan sekitar tahun 1930-an. Sandiwara Orion. sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama. Perubahan tersebut terletak pada cerita yang sudah mulai ditulis. unsur-unsur teater tersebut membentuk suatu seni pertunjukan yang lahir dari spontanitas rakyat dalam masyarakat lingkungannya. dan lain-lainnya. meskipun masih dalam wujud cerita ringkas atau outline story (garis besar cerita per adegan). randai. arja. tergantung kondisi dan sikap budaya masyarakat. Opera Abdoel Moeloek.2.2 Teater Modern 1.bagian dari suatu upacara keagamaan ataupun upacara adat-istiadat dalam tata cara kehidupan masyarakat kita. seperti Opera Stambul. yang disebut “teater”. dan sebagainya. Pada periode transisi inilah teater tradisional berkenalan dengan teater non-tradisi. Pedro pada tanggal 21 Juni 1926. Dilihat dari segi sastra.Wiggers yang berjudul Lelakon Raden Beij Soerio Retno. dan lain sebagainya. 1.2.2.

Pendekar Asia. Tan Ceng Bok (Si Item). Intensitas kerja Djawa Eiga Kosya yang ingin menghambat langkah Badan Pusat Kesenian Indonesia nampak ketika mereka membuka sekolah tonil dan drama Putra Asia.2. Armijn Pane. dan lawak. Secara istimewa selingannya kemudian ditambah dengan mode show. yaitu Sanusi Pane menulis Kertajaya (1932) dan Sandyakalaning Majapahit (1933) Muhammad Yamin menulis Ken Arok dan Ken Dedes (1934). Sija. Fifi Young. yang dipimpin oleh orang Jepang S. yaitu Sendenbu yang membentuk badan perfilman dengan nama Djawa Eiga Kosy’. dan Dr.2. persoalan. Pancawarna. Komedi Bangsawan. yaitu Anjar Asmara dan Kamajaya masih sempat berpikir bahwa perlu didirikan Pusat Kesenian Indonesia yang bertujuan menciptakan pembaharuan kesenian yang selaras dengan perkembangan zaman sebagai upaya untuk melahirkan kreasi – kreasi baru dalam wujud kesenian nasional Indonesia. yang dikenal dengan nama samarannya Mon Siour D’amour ini dalam rombongan sandiwara Bintang Surabaya menulis lakon antara lain. Bahkan Presiden pertama Indonesia. dengan bintang-bintang eks Bolero. Singgih menulis drama berjudul Hantu. Mr.dan berbentuk sajak adalah Bebasari (artinya kebebasan yang sesungguhnya atau inti kebebasan) karya Rustam Efendi (1926). Kris Bali. yang sekaligus sebagai pemimpinnya. Dalam kurun waktu ini semua bentuk seni hiburan yang berbau Belanda lenyap karena pemerintah penjajahan Jepang anti budaya Barat. Imam Supardi menulis drama dengan judul Keris Mpu Gandring. Beberapa lakon yang ditulisnya antara lain. menulis dengan menggunakan bahasa Indonesia dan berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Dalam masa pendudukan Jepang kelompok rombongan sandiwara yang mula-mula berkembang adalah rombongan sandiwara profesional. Rombongan sandiwara Bintang Surabaya tampil dengan aktor dan aktris kenamaan. dan Kama Jaya. nyanyian. Setan. yang kesemuanya merupakan corong propaganda Jepang. Mis Tjitjih. Dewi Mada. Rainbow. maupun Sunda. Maka pada tanggal 6 oktober 1942. dengan peragawati gadis-gadis Indo Belanda yang cantik-cantik . ternyata mengalami hambatan yang datangnya dari barisan propaganda Jepang. Bengawan Solo. Ratu Asia. Rombongan sandiwara keliling komersial. Armiijn Pane mengolah roman Swasta Setahun di Bedahulu karangan I Gusti Nyoman Panji Tisna menjadi naskah drama. dan harapan serta misi mewujudkan Indonesia sebagai negara merdeka. Oya. Sanusi Pane (Ketua). Penulis-penulis ini adalah cendekiawan Indonesia. Sumanang (Sekretaris). Jawa. Rombongan Sandiwara Bintang Surabaya menyuguhkan pementasan-pementasan dramanya dengan cara lama seperti pada masa Dardanella. R. antara lain Astaman. Rombongan sandiwara Dewi Mada lebih mengutamakan tari-tarian dalam pementasan teater mereka karena Dewi Mada adalah penari terkenal .2. Lakon-lakon ini ditulis berdasarkan tema kebangsaan. dalam situasi yang sulit dan gawat serupa itu. Warna Sari. Ali Yugo. Mata Hari. Mr. Mis Ribut. pada tahun 1927 menulis dan menyutradarai teater di Bengkulu (saat di pengasingan). yaitu di antara satu dan lain babak diselingi oleh tarian-tarian. dua orang tokoh. Lakon Bebasari merupakan sastra drama yang menjadi pelopor semangat kebangsaan. dan Bolero. 1. Dahlia. yaitu Dewi Mada dengan suaminya Ferry Kok. Dr. di rumah Bung Karno dibentuklah Badan Pusat Kesenian Indonesia dengan pengurus sebagai berikut. Menyusul kemudian muncul rombongan sandiwara Dewi Mada. seperti misalnya Bintang Surabaya. Nur Sutan Iskandar menyadur karangan Molliere. Air Mata Ibu (sudah difilmkan). dan lain-lain kembali berkembang dengan mementaskan cerita dalam bahasa Indonesia. dan sebagainya. Langkah-langkah yang telah diambil oleh Badan Pusat Kesenian Indonesia untuk mewujudkan cita-cita kemajuan kesenian Indonesia. Pengarang Nyoo Cheong Seng. Segala daya kreasi seni secara sistematis di arahkan untuk menyukseskan pemerintahan totaliter Jepang.A Murdiati. dan Merah Delima. Lakon ini menceritakan perjuangan tokoh utama Bujangga. Penulis lakon lainnya. dengan judul Si Bachil. dan sebagai anggota antara lain. Tjahaya Asia. Ir Soekarno. Badan Pusat Kesenian Indonesia bermaksud menciptakan kesenian Indonesia baru. yang membebaskan puteri Bebasari dari niat jahat Rahwana. Sutan Takdir Alisjabana.3 Teater Indonesia tahun 1940-an Semua unsur kesenian dan kebudayaan pada kurun waktu penjajahan Jepang dikonsentrasikan untuk mendukung pemerintahan totaliter Jepang. Satiman Wirjosandjojo menulis drama berjudul Nyai Blorong. Krukut Bikutbi. di antaranya dengan jalan memperbaiki dan menyesuaikan kesenian daerah menuju kesenian Indonesia baru. Namun demikian.

Rombongan sandiwara terkenal lainnya adalah rombongan sandiwara Sunda Mis Tjitjih. yaitu Penggemar Maya (1944) pimpinan Usmar Ismail.2.4 Teater Indonesia Tahun 1950-an Setelah tokohg kemerdekaan. Dewi Rani. Baru kemudian Muchsin sebagai pengusaha besar tertarik dan membiayai rombongan sandiwara Warna Sari. kekecewaan. Penggemar Maya menjadi pemicu berdirinya Akademi Teater Nasional Indonesia di Jakarta. nasionalis dan para profesional (dokter. Kelompok ini berprinsip menegakkan nasionalisme. Solo di Waktu Malam. Oleh karena ada sensor Sendenbu maka lakon harus ditulis lengkap berikut dialognya. dan D. Teater tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga untuk ekspresi kebudayaan berdasarkan kesadaran nasional dengan cita-cita menuju humanisme dan religiositas dan memandang teater sebagai seni serius dan ilmu pengetahuan. Ratna Asmara. dan Jauh di Mata. Dari semua lakon tersebut ada yang sudah di filmkan yaitu. Lakon Ibu Prajurit ditulis oleh Natsusaki Tani. Lakon-lakon yang ditulis Anjar Asmara antara lain. Hei Natsu Eitaroo menulis Hantu. Ida Ayu. kepahlawanan dan tindakan pengecut. dan lain sebagainya. yang terkenal sebagi Raja Drum. Kelak. rombongan sandiwara ini terpaksa berlindung di bawah barisan propaganda Jepang dan berganti nama menjadi rombongan sandiwara Tjahaya Asia yang mementaskan ceritacerita baru untuk kepentingan propaganda Jepang. juga sebaliknya. Bulan Punama. humanisme dan agama. Bahwa teori teater perlu dipelajari secara serius. ceritacerita yang dipentaskan antara lain. mendirikan rombongan sandiwara angkatan muda Matahari. Bende Mataram. dan lain-lain). Bentuk penyajian semacam ini di anggap kaku oleh penonton umum yang lebih suka unsur hiburan disajikan sebagai selingan babak satu dengan babak lain sehingga akhirnya dengan terpaksa rombongan sandiwara tersebut mengikuti selera penonton. Dalam perjalanannya. seorang keturunan Filipina. Para pemain tidak boleh menambah atau melebih-lebihkan dari apa yang sudah ditulis dalam naskah. 1. Pada saat inilah pengembangan ke arah pencapaian teater nasional dilakukan. lakon Nora karya Henrik Ibsen diterjemahkan dan judulnya diganti dengan Jinakjinak Merpati oleh Armijn Pane. Cerita yang dipentaskan antara lain. Potong Padi. yaitu rombongan sandiwara yang digemari rakyat jelata.sejak masa rombongan sandiwara Bolero. Amat Heiho. Keistimewaan rombongan sandiwara Warna Sari adalah penampilan musiknya yang mewah yang dipimpin oleh Garsia. Nusa Penida. Benteng Ngawi. apoteker. Kotot Sukardi menulis lakon. Si Bongkok. peluang terbuka bagi seniman untuk merenungkan perjuangan dalam tokohg kemerdekaan. Huyung (Hei Natsu Eitaroo). Panggilan Tanah Air. Guna-guna. Menjelang akhir pendudukan Jepang muncul rombongan sandiwara yang melahirkan karya ssatra yang berarti. kemunafikan. Musim Bunga di Slabintana. Kusumahadi. Solo di Waktu Malam dan Nusa Penida. Hingga tahun 1943 rombongan sandiwara hanya dikelola pengusaha Cina atau dibiayai Sendenbu karena bisnis pertunjukan itu masih asing bagi para pengusaha Indonesia. Sensor Sendenbu malah menjadi titik awal dikenalkannya naskah dalam setiap pementasan sandiwara. Ia menabuh drum-drum tersebut sambil meloncat ke kanan – ke kiri sehingga menarik minat penonton. dan Abu Hanifah dengan para anggota cendekiawan muda. Sang Pek Engtay. Pancaroba.2. dan lain-lain. Hanya kalangan terpelajar yang menyukai pertunjukan Matahari yang menampilakan hiburan berupa tari-tarian pada awal pertunjukan baru kemudian dihidangkan lakon sandiwara dari awal hingga akhir. pengkhianatan. Pecah Sebagai Ratna. mereka merenungkan peristiwa tokohg kemerdekaan. Jepang menugaskan Dr. keberanian dan nilai kemanusiaan. ahli seni drama atas nama Sendenbu memprakarsai berdirinya POSD (Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa) yang beranggotakan semua rombongan sandiwara profesional. Kembang Kaca. Rosihan Anwar. Ni Parini. Peristiwa tokohg secara khas dilukiskan dalam . Sendenbu menyiapkan naskah lakon yang harus dimainkan oleh setiap rombongan sandiwara karangan penulis lakon Indonesia dan Jepang. dan Rencong Aceh. Anjar Asmara. Pertumbuhan sandiwara profesional tidak luput dari perhatian Sendenbu. dan Kama Jaya pada tanggal 6 April 1943. keiklasan sendiri dan pengorbanan. Garsia menempatkan deretan drumnya yang berbagai ukuran itu memenuhi lebih dari separuh panggung. Kupu-kupu. Djajakusuma dengan dukungan Suryo Sumanto.2. penderitaan. Kama Jaya menulis lakon antara lain.

Tahun 1962 Jim Lim menggabungkan unsur wayang kulit dan musik dalam karya penyutradaraannya yang berjudul Pangeran Geusan Ulun (Saini KM. Sontani) dan Paman Vanya (Anton Chekhov). Titik-titik Hitam (Nasyah Jamin. Himpunan Seni Budaya Surakarta (HBS) didirikan di Surakarta. 1. bahkan lakon adaptasi. oportunisme politis. (Misbach Yusa Biran) dengan gaya longser. teater rakyat Sunda. ATNI menggalakkan dan memapankan realisme dengan mementaskan lakon-lakon terjemahan dari Barat. Sayang Ada Orang Lain (1953) karya Utuy Tatang Sontani. menyelenggarakan festival pertunjukan secara teratur. Utuy Tatang Sontani dipandang sebagai tonggak penting menandai awal dari maraknya drama realis di Indonesia dengan lakon-lakonnya yang sering menyiratkan dengan kuat alienasi sebagai ciri kehidupan moderen.2. juga lokakarya dan diskusi teater secara . Surabaya.5 Teater Indonesia Tahun 1970-an Jim Adi Limas mendirikan Studiklub Teater Bandung dan mulai mengadakan eksperimen dengan menggabungkan unsur-unsur teater etnis seperti gamelan. Akan tetapi. 1959). Pertunjukannya misalnya.lakon Fajar Sidik (Emil Sanossa. Galib Husein. Suyatna Anirun. Taman Ismail Marzuki menerbitkan 67 (enam puluh tujuh) judul lakon yang ditulis oleh 17 (tujuh belas) pengarang sandiwara. pertunjukan bermula dari improvisasi dan eksplorasi bahasa tubuh dan bebunyian mulut tertentu atas suatu tema yang diistilahkan dengan teater mini kata (menggunakan kata seminimal mungkin). Karya penyutradaraanya. Menyutradarai dengan gaya realistis tetapi isinya absurditas pada lakon Caligula (Albert Camus. 1955). Padang. Wahyu Sihombing. Palembang. longser. kemiskinan. Ujung Pandang. Sedangkan metode pementasan dan pemeranan yang dikembangkan oleh ATNI adalah Stanislavskian. Sementara ada lakon yang bercerita tentang kekecewaan paska tokohg. 1951). tetapi juga di kota besar seperti Bandung. tari topeng Cirebon. 1961). dan Chekov. Pakaian dan Kepalsuan oleh Akhdiat Kartamiharja (1956) berdasarkan The Man In Grey Suit karya Averchenko dan Hanya Satu Kali (1956). berdasarkan Justice karya John Galsworthy. gubernur DKI jakarta tahun1970. Yogyakarta. Didirikannya pusat kesenian Taman Ismail Marzuki oleh Ali Sadikin. seperti korupsi. melanjutkan apa yang sudah dilakukan Jim Lim yaitu mencampurkan unsur-unsur teater Barat dengan teater etnis. Menurut Brandon (1997). Kedua seniman teater Barat dengan idiom realisme konvensional ini menjadi tonggak didirikannya Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) pada tahun 1955 oleh Usmar Ismail dan Asrul Sani.2. 1960). Alumni Akademi Teater Nasional yang menjadi aktor dan sutradara antara lain. seperti karyakarya Moliere. Kapten Syaf (Aoh Kartahadimaja. dan lain-lain. erosi ideologi. 1954). dan Kasim Achmad. Realisme konvensional dan naturalisme tampaknya menjadi pilihan generasi yang terbiasa dengan teater barat dan dipengaruhi oleh idiom Hendrik Ibsen dan Anton Chekhov. Bermain dengan akting realistis dalam lakon The Glass Menagerie (Tennesse William. Pramana Padmadarmaya. Medan. yaitu Awal dan Mira (Utuy T. Tatiek Malyati. Pada akhir 1950-an JIm Lim mulai dikenal oleh para aktor terbaik dan para sutradara realisme konvensional. Islam dan Komunisme. Di Yogyakarta tahun 1955 Harymawan dan Sri Murtono mendirikan Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI). dan kreativitas berteater tidak hanya di Jakarta. salah satu aktor dan juga teman Jim Lim. Bib Bop dan Rambate Rate Rata (1967. ATNI inilah akademi teater modern yang pertama di Asia Tenggara. Pada tahun 1967 Jim Lim belajar teater dan menetap di Paris. melainkan sampai ke Malaysia. Mengadaptasi lakon Hamlet dan diubah judulnya menjadi Jaka Tumbal (1963/1964). Jim Lim menyutradari Bung Besar. Pada tahun 1960. melalaikan penderitaan korban tokohg. dan dagelan dengan teater Barat. Ketika Rendra kembali ke Indonesia. 1962). Teguh Karya.1968). dan lain-lain. Rendra mendirikan Bengkel Teater Yogya yang kemudian menciptakan pertunjukan pendek improvisatoris yang tidak berdasarkan naskah jadi (wellmade play) seperti dalam drama-drama realisme. Gogol. dan Biduanita Botak (Ionesco. Tema itu terungkap dalam lakon-lakon seperti Awal dan Mira (1952). The Bespoke Overcoat (Wolf mankowitz ).. 1956) Sekelumit Nyanyian Sunda (Nasyah Jamin. Peristiwa penting dalam usaha membebaskan teater dari batasan realisme konvensional terjadi pada tahun 1967. menjadi pemicu meningkatnya aktivitas.2. Lakon Awal dan Mira (1952) tidak hanya terkenal di Indonesia. 1950). Badak-badak (Ionesco. 1945). Pertahanan Akhir (Sitor Situmorang.

Upeti. Teater Kanvas. Akhudiat. Danarto (Teater Tanpa Penonton). Teater Nol. Menampilkan manusia sebagai gerombolan dan aksi. Teater Jeprik. Di Bandung muncul Teater Bel. Kontrangkantring. Teater Tetas selain teater Studio Oncor. kostum dan verbalisme naskah. Adi Kurdi (Teater Hitam Putih). di antaranya Festival Seni Pertunjukan Rakyat yang diselenggarakan Departemen Penerangan Republik Indonesia (1983). Arifin C. Aktivitas teater terjadi juga di kampus-kampus perguruan tinggi. Luthfi Rahman. Riantiarno (Teater Koma) dengan ciri pertunjukan yang mengutamakan tata artistik glamor. Festival Drama Lima Kota Surabaya memunculkan Teater Pavita. Teater Shima. Di Surabaya ada Festival Drama Lima Kota yang digagas oleh Luthfi Rahman. dan Teater Kami yang lahir di luar produk festival (Afrizal Malna. Wahyu Sihombing. di Solo ada juga Teater Gidag-gidig. Di Medan muncul Teater Que dan di Palembang muncul Teater Potlot. Teater Republik. Fokus tidak terletak pada aktor tetapi gerombolan yang menciptakan situasi dan aksi sehingga lebih dikenal sebagai teater teror. Dari Festival Teater Jakarta muncul kelompok teater seperti.umum atau khusus. Di Yogyakarta Azwar AN mendirikan teater Alam. 1. Di samping Gapit. Ikranegara (Teater Saja). Kholiq Dimyati dan Mukid F. Mohammad Diponegoro dan Syubah Asa mendirikan Teater Muslim. Dhemit. dan Orde Tabung. Di Semarang muncul Teater Lingkar.6 Teater Indonesia Tahun 1980 – 1990-an Tahun 1980-1990-an situasi politik Indonesia kian seragam melalui pembentukan lembaga-lembaga tunggal di tingkat nasional. N. Jurusan teater dibuka di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada tahun 1985. Teguh Karya (Teater Populer). Pada saat itu lahirlah kelompok-kelompok teater baru di berbagai kota di Indonesia. dan Teater Gandrik. dan Teater Payung Hitam. Teater Api. Noor (Teater Kecil) dengan gaya pementasan yang kaya irama dari blocking. Putu Wijaya (teater Mandiri) dengan ciri penampilan menggunakan kostum yang meriah dan vokal keras. D. Dewan-dewan Mahasiswa ditiadakan. Teater Institut. vokal. Salah satu teater kampus yang menonjol adalah teater Gadjah Mada dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Ditiadakannya kehidupan politik kampus sebagai akibat peristiwa Malari 1974. Teater Melarat Malang). Di Makasar. Dalam latar situasi seperti itu lahir beberapa kelompok teater yang sebagian merupakan produk festival teater. Meh.1999). Salah satu lakonnya berjudul Tuk. Sinden. Di Surabaya muncul bentuk pertunjukan teater yang mengacu teater epik (Brecht) dengan idiom teater rakyat (kentrung dan ludruk) melalui Basuki Rahmat. Teater Bandar Jakarta. Pasar Seret. Tidak hanya Stanislavsky tetapi nama-nama seperti Brecht. Di Tegal lahir teater RSPD. Artaud dan Grotowsky juga diperbincangkan. Sanggar Suroboyo. Teater Lektur. Hasyim Amir (Bengkel Muda Surabaya. Lalu Teater Nasional Medan didirikan oleh Djohan A Nasution dan Burhan Piliang. Teater Rajawali. Rahman Arge dan Aspar Patturusi mendirikan Teater Makasar. Djajakusuma. Teater Gandrik menonjol dengan warna teater yang mengacu kepada roh teater tradisional kerakyatan dan menyusun berita-berita yang aktual di masyarakat menjadi bangunan cerita. Teater Sae yang berbeda sikap dalam menghadapi naskah yaitu posisinya sejajar dengan cara-cara pencapaian idiom akting melalui eksplorasi latihan. Teater Tobong. Teater Kubur. Di Yogyakarta muncul Teater Dynasti. musik. . Di Jakarta dikenal dengan Festival Teater Jakarta (sebelumnya disebut Festival Teater Remaja). Di Solo (Surakarta) muncul Teater Gapit yang menggunakan bahasa Jawa dan latar cerita yang meniru lingkungan kehidupan rakyat pinggiran. Tokoh-tokoh teater yang muncul tahun 1970-an lainnya adalah.2. Ada pula Teater Luka. Lakon yang dipentaskan antra lain. Teater Ragil. Beberapa jenis festival di Yogyakarta.2. Teater Tikar. Aktivitas teater kampus mampu menghidupkan dan membuka kemungkinan baru gagasan-gagasan artistik. Di Padang ada Wisran Hadi dengan teater Padang. Pramana Padmodarmaya (Teater Lembaga). tata cahaya. ISI menjadi satu-satunya perguruan tinggi seni yang memiliki program Strata 1 untuk bidang seni teater pada saat itu.2.

Konsep dan gaya baru saling bermunculan. Dengan demikian.2.an sampai saat ini.1.2. wilayah jelajah ekspresi menjadi semakin luas dan kemungkinan bentuk garap semakin banyak . Meksipun seni teater konvensional tidak pernah mati tetapi teater eksperimental terus juga tumbuh. Semangat kolaboratif yang terkandung dalam seni teater dimanfaatkan secara optimal dengan menggandeng beragam unsur pertunjukan yang lain. Gerakan ini terus berkembang sejak tahun 80. Sejak munculnya eksponen 70 dalam seni teater. kemungkinan ekspresi artistik dikembangkan dengan gaya khas masing-masing seniman.7 Teater Kontemporer Indonesia Teater Kontemporer Indonesia mengalami perkembangan yang sangat membanggakan.2.

skenario tak tertulis (dalam teater kerakyatan). driving force dan sebagainya. Kedua. yaitu pertama. berliku. Kedua. Peristiwa atau kejadian dibuat oleh penulis naskah sebagai kerangka besar yang mendasari terjadinya suatu lakon. Konflik dalam lakon merupakan inti cerita. yaitu pertama. central idea. mungkin juga sebuah keadaan (Robert Cohen. sehingga pada puncaknya masuk ke dalam penyelesaian cerita.Dasar-dasar Teater (2/6): Seni Sastra dalam Teater Teater memiliki sekurang-kurangnya empat unsur penting dalam setiap pementasan. Keempat. root idea. Pengarang adalah seorang warga masyarakat yang tentunya mempunyai pendapat tentang masalah-masalah politik dan sosial yang penting serta mengikuti isu-isu zamannya (Rene Wellek dan Austin Warren. Konflik dalam lakon bisa rumit bisa juga sederhana. Pengarang atau penulis lakon menciptakan sebuah lakon bukan hanya sekedar mencipta. Tema adalah suatu amanat utama yang disampaikan oleh pengarang atau penulis melalui karangannya (Gorys Keraf. thought. karena peristiwa yang mengarahkan cerita kepada konflik membutuhkan tokoh sebagai pelaku. Tema bisa juga disebut muatan intelektual dalam sebuah permainan. semakin lama semakin rumit. dan dari lingkungan tersebut dia menyerap segala persoalan yang menjadi ide-ide dalam penulisan lakonnya. Tidak ada acuan yang pasti terhadap konflik dalam lakon yang dapat membuat cerita menjadi menarik. Akan tetapi. apa yang dialami. Gagasan utama atau pesan lakon termaktub dalam konflik yang merupakan pertentangan antara satu pihak terhadap pihak lain mengenai sesuatu hal. Adhy Asmara (1983) menyebut tema sebagai premis yaitu rumusan intisari cerita sebagai landasan ideal dalam menentukan arah tujuan cerita. pesan atau pandangan terhadap persoalan yang ada dijadikan ide sentral atau tema dalam menulis naskah lakonnya. yaitu konflik dan tokoh yang terlibat dalam kejadian. Ketiga. tema harus dirumuskan dengan jelas. Penting sekali bahwa dalam menyusun kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa seorang penulis haruslah bersabar untuk melangkah dari satu kejadian ke kejadian lain dalam suatu perkembangan yang logis. Jalinan cerita menuju konflik dan cara penyelesainnya inilah yang menjadikan lakon menarik. konflik yang berat. Ketika tema tidak terumuskan dengan jelas maka lakon tersebut akan kabur dan tidak jelas apa yang hendak disampaikan. sutradara sebagai penata pertunjukan di panggung. penonton adalah sekelompok orang yang menyerahkan sebagian dari kemerdekaannya untuk menjadi bagian dari tokoh yang tampil dalam suatu lakon dan menikmatinya. pemain adalah orang yang membawakan lakon tersebut. goal. Dengan demikian bisa ditarik kesimpulan . Terkadang konflik yang kecil dan sederhana jika diselesaikan secara cerdas akan membuat penonton takjub. karena tema merupakan sasaran yang hendak dicapai oleh seorang penulis lakon. ini mungkin bisa diuraikan sebagai keseluruhan pernyataan dalam sebuah permainan: topik. 1989). 1983). tetapi semakin lama semakin gawat sehingga akhirnya ia sampai ke puncak yang disebut klimaks. Sementara. Peristiwa lakon tersebut menuntun seseorang untuk mengikuti laku kejadian mulai dari pemaparan. dia mempunyai kepekaan terhadap lingkungan sekelilingnya. Tokoh adalah orang yang menghidupkan kejadian atau peristiwa yang dibuat oleh penulis naskah. aim. konlfik hingga penyelesaian. Jadi dalam lakon ada dua hal penting yang diciptakan oleh seorang penulis lakon. Dalam lakon akan dijumpai dua hal yang sangat penting. Jadi. dan bercabang-cabang jika tidak disajikan secara baik justru akan membosankan dan membuat laku lakon menjadi lamban. lakon atau cerita yang ditampilkan.1 Tema Tema ada yang menyebutnya sebagai premis. Tidaklah menarik sebuah cerita disajikan di atas panggung tanpa adanya konflik. tokoh atau tokoh yang terlibat dalam kejadiankejadian dalam lakon. Ide-ide. dan apa yang dibaca atau diceritakan kepadanya oleh orang lain. Lakon ditulis oleh seorang penulis naskah lakon berdasarkan apa yang dilihat. kalau ada anggapan bahwa semakin rumit konflik lakon semakin menarik adalah anggapan yang salah. Pesan itu bisa mengenai kehidupan lahiriah maupun batiniah. Keunggulan dari seorang pengarang ialah. 2. ide utama atau pesan. Seorang penulis terkadang mengemukakan tema dengan jelas tetapi ada juga yang secara tersirat. konflik. bisa berwujud sebuah naskah atau skenario tertulis. 1994). tetapi juga menyampaikan suatu pesan tentang persoalan kehidupan manusia. Penulis kemudian menyusun rangkaian kejadian.

gagasan atau pesan yang ada dalam naskah lakon dan ini menentukan arah jalannya cerita. dan harus dipuji.. Tema dapat diketahui dengan dua cara : * Apa yang diucapkan tokoh-tokohnya melalui dialog-dialog yang disampaikan. Dialog yang disampaikan tokoh dapat dijadikan acuan untuk menganalisis tema lakon. CORDELIA : Andaikan bukan seorang ayah. * Raja Lear membagi kerajaan pada ketiga anaknya sesuai dengan pujian yang disampaikan anaknya. Semua analisis lakon dikerjakan dengan mencermati kalimat dialog tersebut serta hubungan antara kalimat satu dengan yang lain. meski dibuang. ternyata paling kaya meski miskin... * Anak-anak Raja Lear yang disayangi berubah memusuhi orang tuanya sehingga Raja Lear sakit. LEAR : ………………. Dengan merangkai setiap persoalan melalui dialog para tokohnya maka gambaran tema akan didapatkan... cepat menyambar-nyabar? Bagai prajurit yang terbuang. dalam kalimat dialog Raja Lear dapat ditarik satu simpulan bahwa meskipun sebagai raja ia disegani oleh anak-anaknya.. Misalnya. kendalikan lidahmu sedikit. mulai kini sampai selamanya kaulah asing bagiku dan bagi hatiku…………………. Kadangkadang. tetapi karena sikapnya yang keras maka ia juga dibenci. * Raja Lear marah-marah dan mengusir bawahannya ketika ada yang menentang. Ah wajah benginikah dipaksa menempuh pergolakan badai? Dan melawan guntur bercakra garang..bahwa tema adalah ide dasar. 2. rangkung saya berteriak meyerukan tuanlah lalim……… RAJA TOKOHCIS : Cordelia jelita. Dari dialog tersebut dapat diketahui perihal atau soalan yang dibahas. yaitu kehancuran diri dan keluarganya. supaya hama jahat berupah. Dari kutipan dialog dan laku serta perbuatan tokoh dalam lakon Raja Lear di atas bisa ditarik sebuah kejelasan bahwa Raja Lear adalah orang yang gila hormat. KENT : Silakan. Sekarang kulempar tiap kewajiban orang tua. tiap pertalian keluarga dan darah.. * Raja Lear murka pada Cordelia karena tidak memujinya. petir dahsyat yang pesat. dialog kecil memiliki arti yang luas dan sanggup mempengaruhi tema cerita. berjaga dengan topi tipis ini? Anjing musuhku pun. * Apa yang dilakukan tokoh-tokohnya. kalau tidak.. Dalam lakon Raja Lear. Perhatikan kutipan dialog di bawah ini. lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo. Melalui laku atau aksi tokoh dalam lakon yang biasanya diterangkan (dituliskan) dalam arahan lakon gambaran tema semakin jelas... Jika hanya membaca cerita secara keseluruhan tanpa meninjau kalimat dialog dengan teliti maka hasil akhir dari analisis yang dilakukan belum tentu benar. walau menggigit aku. laku tokoh dapat memberikan penjelasan sebagai berikut. tercinta meski dihina. Batalkan anugerah tuan. nanti kuhambat untungmu…. Laku aksi memberikan penegasan kalimat dialog..2 Plot . Tema dalam naskah lakon ada yang secara jelas dikemukakan dan ada yang samar-samar atau tersirat. di malam begitu takkan kuusir untuk dari tempat berdiang……………….. Bunuhlah tabib tuan. Tema sebuah lakon bisa tunggal dan bisa juga lebih dari satu. Atas sikapnya itu Raja Lear menuai hasil.. Masing-masing tokoh mengucapkan kalimat dialognya... terpillih meski. * Raja Lear marah-marah ketika tidak dilayani hidupnya pada anak yang semula disayangi. tidak bijaksana. lalim. LEAR : …………. Misalnya.. Detil tema selalu dapat ditemukan dari baris-baris kalimat dialog tokoh cerita. namun uban ini sudah menuntut belas-kasih. Dengan berpedoman dua hal tersebut analisis tema lakon dapat dikerjakan.

dan spektakel. Jadi plot merupakan susunan peristiwa lakon yang terjadi di atas panggung. * Krisis adalah penjelasan yang terperinci dari perjuangan karakter-karakter atau satu karakter untuk mengatasi konflik. Pembagian plot dalam lakon klasik atau konvensional biasanya sudah jelas yaitu. Hal ini berhubungan dengan pola pengadeganan dalam permainan teater. atau baca tersebut. Jadi plot berfungsi sebagi pengatur seluruh bagian permainan. dan merupakan dasar struktur irama keseluruhan permainan. ialah seluruh persiapan dalam permainan. yang menggerakkan jalan cerita melalui perumitan (penggawatan atau komplikasi) ke arah klimaks penyelesaian. Emosi ini timbul karena terpengaruh oleh jalinan peristiwaperistiwa dan jalannya cerita yang ditulis oleh penulis. * Aksi Pendorong adalah saat memperkenalkan sumber konflik di antara karakter-karakter atau di dalam diri seorang karakter. Sellman dalam Modern Theatre Practice (1963). Heffner. Secara sederhana plot dapat dibagi menjadi dua yaitu simple plot (plot yang sederhana) dan multi plot (plot yang lebih dari satu) . Secara umum pembagian plot terkadang menggunakan tipe sebab akibat yang dibagi dalam lima pembagian sebagai berikut. Plot lakon banyak sekali ragamnya tergantung dari penulis lakon mempermainkan emosi kita. Jalinan peristiwa dan jalannya cerita inilah yang dimaksud dengan plot. Seorang penulis seringkali meletakkan berbagai informasi penting pada bagian awal lakon. Pautannya dapat diwujudkan oleh hubungan temporal (waktu) dan oleh hubungan kausal (sebab-akibat).A. misalnya tempat lakon tersebut terjadi. atau argumentative atau kejenakaan atau melalui cara-cara lain. Plot atau alur adalah rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama. dan bagian akhir. Cuddon dalam Dictionary of Literaray Terms (1977). 2. Pada bagian tengah biasanya berisi tentang kejadian-kejadian yang bersangkut paut dengan masalah pokok yang telah disodorkan kepada penonton dan membutuhkan jawaban. waktu kejadiannya.2. puisi atau prosa dan selanjutnya bentuk peristiwa dan perwatakan itu menyebabkan pembaca atau penonton tegang dan ingin tahu. lihat. bagian tengah. Bagian akhir berisi tentang satu persatu pertanyaan penonton terjawab atau sebuah lakon telah mencapai klimaks besar. tema.1 Jenis Plot Ketika menonton atau melihat atau membaca sebuah lakon fiksi maka emosi kita akan terpengaruh dengan apa yang kita tonton. Plot dapat dibagi berdasarkan babak dan adegan atau berlangsung terus tanpa pembagian. pelaku-pelakunya. Bagian ini merupakan kejadian akhir dari lakon dan terkadang memberikan jawaban atas segala persoalan dan konflik-konflik yang terjadi. * Resolusi adalah proses penempatan kembali kepada suasana baru. diksi. * Eksposisi adalah saat memperkenalkan dan membeberkan materi-materi yang relevan atau memberi informasi pada penonton tentang masalah yang dialami atau konflik yang terjadi dalam diri karakter-karakter yang ada di lakon. Plot merupakan jalannya peristiwa dalam lakon yang terus bergulir hinga lakon tersebut selesai. yaitu karakter. dan bagaimana peristiwa itu terjadi. Menurut J. Samuel Selden dan Hunton D. musik. pengawas utama dimana seorang penulis naskah dapat menentukan bagaimana cara mengatur lima bagian yang lain. Plot atau alur menurut Hubert C. Plot menurut Panuti Sudjiman dalam bukunya Kamus Istilah Sastra (1984) memberi batasan adalah jalinan peristiwa di dalam karya sastra (termasuk naskah drama atau lakon) untuk mencapai efek-efek tertentu. plot atau alur adalah kontruksi atau bagan atau skema atau pola dari peristiwa-peristiwa dalam lakon. Plot juga berfungsi sebagai bagian dasar yang membangun dalam sebuah teater dan keseluruhan perintah dari seluruh laku maupun semua bagian dari kenyataan teater serta bagian paling penting dan bagian yang utama dalam drama atau teater. * Klimaks adalah proses identifikasi atau proses pengusiran dari rasa tertekan melalui perbuatan yang mungkin saja sifatnya jahat.Plot (ada yang menyebutnya sebagai alur) dalam pertunjukan teater mempunyai kedudukan yang sangat penting. bagian awal.

2. alur menurun atau falling plot. Alur mundur atau regresive plot adalah alur cerita yang dimulai dari inti cerita kemudian dipaparkan bagaimana sampai terjadi peristiwa tersebut.2.2 Multi Plot Multi plot adalah lakon yang memiliki satu alur utama dengan beberapa sub plot yang saling bersambungan. alur maju atau progressive plot. alur lurus atau straight plot. Setiap episode dalam lakon tersebut sebenarnya tidak ada hubungan sebab akibat dalam rangkaian cerita. Alur menanjak atau rising plot adalah alur dengan emosi lakon mulai dari tingkat emosi yang paling rendah menuju tingkat emosi lakon yang paling tinggi. Multi plot ini terdiri dari dua tipe yaitu alur episode atau episodic plot dan alur terpusat atau concentric plot. Simple plot ini terdiri dari plot linear dan linear-circular. Contoh lakon dengan alur mundur adalah Opera Primadona karya Nano Riantiarno yang dimainkan oleh Teater Koma. dimana pada akhir cerita semua tokoh yang terlibat dalam cerita yang terpisah tadi akhirnya menyatu guna menyelesaikan cerita. Plot disusun oleh pengarang dengan tujuan untuk mengungkapkan buah pikirannya yang secara khas.1.1 Simple Plot Simple plot atau plot lakon yang sederhana adalah lakon yang memiliki satu alur cerita dan satu konflik yang bergerak dari awal sampai akhir. tema. Pengungkapan ini lewat jalinan peristiwa yang baik sehingga menciptakan dan mampu menggerakkan alur cerita itu sendiri. bagian 5 menit pertama yang sengaja dibuat menarik untuk memikat penikmat * Fore Shadowing. Jalinan jalan cerita dalam lakon bergerak mulai dari awal sampai akhir tanpa ada kilas balik. terdiri dari alur menanjak atau rising plot. Alur linear ini masih bisa dibagi-bagi lagi sesuai dengan sifat emosi yang terkandung dari plot linear ini. . Dengan demikian plot memiliki anatomi atau bagian-bagian yang menyusun plot tersebut yang disebut dengan anatomi plot sebagai berikut. Alur menurun atau falling plot adalah alur dengan emosi lakon mulai dari tingkat emosi yang paling tinggi menuju tingkat emosi lakon yang paling rendah. Alur maju atau progresive plot adalah alur cerita yang dimulai dari pemaparan peristiwa lakon sampai menuju inti peristiwa lakon. Raja Lear karya William Shakespeare dan lain-lain. Alur episode atau episodic plot adalah plot cerita yang terdiri dari bagian perbagian secara mandiri. Alur ini merupakan kebalikan dari alur menanjak atau rising plot. Alur ini adalah alur cerita paling umum pada alur lakon. plot atau alur cerita merupakan rangkaian peristiwa yang satu dengan yang lain dihubungkan dengan hukum sebab akibat. dan tanpa disadari akan menimpa dirinya sendiri. Alur lurus atau straight plot hampir sama dengan alur maju.2.2 Anatomi Plot Menurut Rikrik El Saptaria (2006). * Gimmick. Rendra. aksi seorang tokoh yang berkata atau bertindak sesuatu. alur mundur atau regressive plot. 2. di mana setiap episode memiliki alur cerita sendiri. dan alur melingkar atau circular plot. * Dramatic Irony. Dalam lakon banyak dijumpai tokoh-tokoh ini. Concentric plot adalah cerita lakon yang memiliki beberapa plot yang berdiri sendiri.1.2. Plot linear adalah alur cerita mulai dari awal sampai akhir cerita bergerak lurus sedangkan linear-circular adalah alur cerita mulai dari awal sampai akhir bergerak lurus secara melingkar sehingga awal dan akhir cerita akan bertemu dalam satu titik. 2. dan biasanya tidak disadari oleh tokoh tersebut. tokoh. Alur ini merupakan kebalikan dari progressive plot. pembayangan ke depan yang terjadi ketika tokoh meramalkan atau membayangkan keadaan yang akan datang. Contoh lakon dengan alur episode atau episodic plot adalah lakon Panembahan Reso karya W. Plotplot yang ada dalam cerita tersebut memiliki permasalah yang harus diselesaikan.S. Tetapi pada akhir cerita alur cerita yang terdiri dari episodeepisode ini akan bertemu.

Kilas balik ini berfungsi untuk mengingatkan kembali ingatan penonton pada peristiwa yang telah lampau tetapi masih dalam satu rangkaian peristiwa lakon.* Flashback. suatu peristiwa yang terjadi diluar dugaan penonton sebelumnya dan memancing perasaan dan pikiran penonton agar menimbulkan dugaan-dugaan yang tidak pasti. kilas balik peristiwa lampau yang dikisahkan kembali pada saat ini. pagi hari. Sebagai bahan bacaan sastra. Sedangkan sebagai bahan dasar pertunjukan. Kalau cerita itu bisa ditebak oleh penonton maka perhatian penonton akan berkurang dan menganggap pertunjukan tersebut tidak menyuguhkan sesuatu untuk dipikirkan.3. karena memang bukan persoalan scenery yang hendak dibahas. berisi dugaan dan prasangka yang dibangun dari rangkaian ketegangan yang mengundang pertanyaan dan keingintahuan penonton. 1997). Analisis ini perlu dilakukan guna memberi suatu gambaran pada penonton tentang tempat peristiwa itu terjadi. dan tahun berapa? Apakah waktu kejadiannya berkaitan dengan waktu kejadian peristiwa di adegan lain. Namun peristiwa yang diharapkan tersebut. atau sudah lain hari? Pertanyaan-pertanyaan seputar waktu dan tempat kejadian ini akan memberikan gambaran peristiwa lakon yang komplit (David Groote. Pertanyaan untuk setting atau latar cerita adalah kapan dan dimana persitiwa terjadi.2. supaya penonton bertanya-tanya apa akibat yang ditimbulkan dari peristiwa sebelumnya ke peristiwa selanjutnya. 2. di dalam gedung atau di dalam rumah? Jam berapa kira-kira terjadi? Tanggal. aksi atau ucapan tokoh utama yang beritikad tentang sesuatu persoalan yang menimbulkan pertentangan atau konflik antartokoh. Hal ini akan menyebabkan kualitas pertunjukan dinilai tidak terlalu bagus. Gambaran tempat peristiwa dalam lakon kadang sudah diberikan oleh penulis lakon. Suspen ini biasanya dibangun melalui dialog-dialog serta laku para tokoh yang ada dalam naskah lakon. interpretasi tempat kejadian peristiwa ini terletak pada keterangan yang diberikan oleh penulis naskah lakon dan dalam imajinasi pembaca. tetapi kilas balik pada film biasanya berupa nukilannukilan gambar. * Surprise. tetapi kadang tidak diberikan oleh penulis . pada akhirnya mengarah ke sesuatu yang tidak disangka-sangka sebelumnya. bulan. Suspen akan menumbuhkan dan memelihara keingintahuan penonton dari awal sampai akhir cerita. Dengan menimbulkan pertanyaanpertanyaan ini penonton akan betah mengikuti cerita sampai selesai. * Gestus. Pertanyaan tidak serta merta dijawab secara global tetapi harus lebih mendetil untuk mengetahui secara pasti waktu dan tempat kejadiannya. Suspen ini biasanya diciptakan dan dijaga oleh penulis lakon dari awal sampai akhir cerita. Kalau pemeran atau sutradara tidak cermat dalam menganalisisnya maka kemungkinan suspen terlewati dan tidak tergarap dengan baik. Analisis ini juga sangat penting dilakukan karena berhubungan dengan tata teknik pentas.3 Setting Membicarakan tentang setting dalam mengkaji lakon tidak ada kaitan langsung dengan tata teknik pentas. 2. * Suspen. Menurut Aristoteles peristiwa dalam lakon adalah mimesis atau tiruan dari kehidupan manusia keseharian. tempat peristiwa ini harus dikomunikasikan atau diceritakan oleh para pemeran sebagai komunikator kepada penonton. atau sore hari? Jika terjadi dalam ruang lalu di mana letak ruang itu. Dalam sebuah lakon terkadang dijumpai aksi-aksi yang seperti ini dan akan menimbulkan suatu rasa simpati penonton kepada korbannya. Peristiwa dalam lakon adalah peristiwa fiktif yang menjadi hasil rekaan penulis lakon. Seperti diketahui bahwa sifat dari naskah lakon bisa berdiri sendiri sebagai bahan bacaan sastra. karena semuanya sudah bisa ditebak oleh penonton.1 Latar Tempat Latar tempat adalah tempat yang menjadi latar peristiwa lakon itu terjadi. Analisis setting lakon ini merupakan suatu usaha untuk menjawab sebuah pertanyaan apakah peristiwa terjadi di luar ruang atau di dalam ruang? Apakah terjadi pada waktu malam. tetapi bisa sebagai bahan dasar dari pertunjukan.2. Kilas balik biasanya diceritakan melalui dialog tokoh.

sedangkan yang dilakukan oleh pemeran biasanya berhubungan dengan akting dan bisnis akting.2.2. Adjib Hamzah. Bahkan Lajos Egri berpendapat bahwa berperwatakanlah yang paling utama dalam lakon. Padahal ketidaksamaan watak akan melahirkan pergeseran. mungkin saja William Shakespeare terinspirasi oleh bencana yang melanda Inggris pada waktu itu. Lakon-lakon dengan latar peristiwa yang riil juga terjadi pada lakonlakon di Indonesia pada tahun 1950 sampai tahun 1970. dan waktu yang menunjukkan suatu zaman atau abad (Zaman Klasik. Analisis latar tempat dapat dilakukan dengan mencermati dialog-dialog tokoh yang sedang berlangsung dalam satu adegan. zaman tokohg dan lain-lain). tabrakan kepentingan. tanpa perwatakan tidak bakal ada plot. musim dingin dan lain-lain). konflik yang akhirnya melahirkan cerita (A. Misalnya. Tugas seorang sutradara dan`pemeran ketika menghadapi sebuah naskah lakon adalah menginterprestasi latar waktu dalam lakon tersebut.2.1 Jenis-jenis Tokoh . Latar peristiwa yang nyata digunakan oleh penulis lakon untuk menggambar peristiwa yang terjadi secara nyata pada waktu itu sebagai dasar dari lakonnya. 1985).3. waktu yang menunjukkan sebuah musim (musim hujan. lakon Raja Lear. malam. 2. Latar peristiwa pada adegan atau lakon adalah peristiwa yang mendahului adegan atau lakon tersebut. Analisis latar waktu yang dilakukan oleh sutradara biasanya berhubungan dengan tata teknik pentas.2 Latar Waktu Latar waktu adalah waktu yang menjadi latar belakang peristiwa. adegan awal pada lakon. Latar waktu dalam naskah lakon bisa menunjukkan waktu dalam arti yang sebenarnya (siang. Analisis latar waktu bisa dilakukan dengan mencermati dialog-dialog yang disampaikan oleh tokoh dalam adegan atau babak yang sedang berlangsung.3. Tanpa perwatakan tidak akan ada cerita. Latar waktu terkadang sudah diberikan`atau sudah diberi rambu-rambu oleh penulis lakon.`adegan. sore). pagi.3 Latar Peristiwa Latar peristiwa adalah peristiwa yang melatari adegan itu terjadi dan bisa juga yang melatari lakon itu terjadi. babak atau dalam keseluruhan lakon tersebut. penata artistik akan menata perabot dan mendekorasi pementasan sesuai dengan latar waktu. 2. maka perasaan penonton akan merasa terwakili oleh perasaan tokoh yang diidentifikasi tersebut. Misalnya. dan babak itu terjadi. Jika proses identifikasi ini berhasil. Analisis latar waktu perlu dilakukan baik oleh seorang sutradara maupun oleh pemeran. tetapi banyak latar`waktu ini tidak diberikan oleh penulis lakon. yaitu seolah-olah terjadi kiamat karena lakon ini dialegorikan sebagai kiamat kecil. 2. berbarti kita telah mengadopsi pikiran-pikiran dan perasaan tokoh tersebut menjadi perasaan dan pikiran kita. musim kemarau. Misalnya.2.lakon. Suatu misal kita mengidentifisasi satu tokoh. Zaman Romantik.4. Karakterisasi atau perwatakan dalam sebuah lakon memegang tokohan yang sangat penting. Latar peristiwa ini bisa sebagai realita bisa juga fiktif yang menjadi imajinasi penulis lakon. 2.4 Karakterisasi Karakterisasi merupakan usaha untuk membedakan tokoh satu dengan tokoh yang lain. Lakon pada waktu itu mengambil latar peristiwa pada Zaman Tokohg Revolusi di Indonesia. atau yang mengakibatkan adegan atau lakon itu terjadi. Perbedaan-perbedaan tokoh ini diharapkan akan diidentifikasi oleh penonton. Dengan menggetahui latar waktu yang terjadi pada maka semua pihak akan bisa mengerjakan lakon tersebut.

dan karikatural. 2. Biasanya tokoh ini mewakili jiwa penulis. Dia adalah pengawal dari Cordelia. Kedua tokoh inilah yang menentang perkembangan. Karakter tokoh dalam lakon mengacu pada pribadi manusia yang berkembang sesuai dengan perkembangan lingkungan. karena dia seringkali menjadi musuh yang menyebabkan konflik itu terjadi. teatrikal. Contoh. round charakter. Penokohan ini biasanya didahului dengan menganalisis tokoh tersebut sehingga bisa dimainkan. Edgar. Ketika masih kecil dia bereksplorasi dengan dirinya sendiri untuk mengetahui perkembangan dirinya. bisa juga karena kekurangan dirinya sendiri. Oswald. * Antagonis Antagonis adalah tokoh lawan. Motivasi-motivasi tokoh inilah yang dapat melahirkan suatu perbuatan tokoh. tokoh Perwira. Contoh tokoh protagonis pada lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo adalah tokoh Raja Lear itu sendiri. tokoh Bangsawan pada lakon Raja Lear karya Willliam Sahkespeare. tokoh Tumenggung Kent. dan pertikaian itu harus berkembang mencapai klimaks. dan cita-cita Raja Lear. bisa dari alam. Tokoh ini juga menentukan jalannya cerita. keinginan. * Protagonis Protagonis adalah tokoh utama yang merupakan pusat atau sentral dari cerita.2 Jenis Karakter Karakter adalah jenis tokoh yang akan dimainkan. Tokoh-tokoh tersebut adalah sebagai berikut. Dalam teater. Contoh tokoh antagonis pada lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo adalah tokoh Gonerill dan tokoh Regan. Cordelia dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. Tokoh antagonis harus memiliki watak yang kuat dan kontradiktif terhadap tokoh protagonis. Keberadaan tokoh adalah untuk mengatasi persoalan-persoalan yang muncul ketika mencapai suatu citacita. Biasanya dia berpihak pada tokoh antagonis. yaitu flat character. tokoh dapat dibagi-bagi sesuai dengan motivasi-motivasi yang diberikan oleh penulis lakon. Jadi perkembangan karakter seharusnya mengacu pada pribadi manusia. Curan dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. * Foil Foil adalah tokoh yang tidak secara langsung terlibat dalam konflik yang terjadi tetapi ia diperlukan guna menyelesaikan cerita.Tokoh merupakan sarana utama dalam sebuah lakon. Tokoh ini ikut mendukung menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh tokoh protaganis. * Utility Utility adalah tokoh pembantu atau sebagai tokoh pelengkap untuk mendukung rangkaian cerita dan kesinambungan dramatik. sedangkan penokohan adalah proses kerja untuk memainkan tokoh yang ada dalam naskah lakon. Tokoh protagonis dan antagonis harus memungkinkan menjalin pertikaian. sebab dengan adanya tokoh maka timbul konflik. dan ketika sudah dewasa maka pribadinya berkembang melalui hubungan dengan lingkungan sosial. Persoalan ini bisa dari tokoh lain. Contoh. jenis karakter dalam teater ada empat macam. * Tritagonis Tritagonis adalah tokoh penengah yang bertugas menjadi pendamai atau pengantara protagonis dan antagonis. Contoh:tokoh Badut dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. Menurut Rikrik El Saptaria (2006).2. * Flat Character (perwatakan dasar) Flat character atau karakter datar adalah karakter tokoh yang ditulis oleh penulis lakon secara datar dan biasanya bersifat hitam putih. yang merupakan akumulasi dari pengalaman-pengalaman dan interaksi-interaksi yang dilakukannya dan terus . * Deutragonis Deutragonis adalah tokoh lain yang berada di pihak tokoh protagonis.4. Konflik dapat dikembangkan oleh penulis lakon melalui ucapan dan tingkah laku tokoh. Contoh.

Sifat karikatural ini bisa berupa dialog-dialog yang diucapkan oleh karakter tokoh. antara ketegangan dengan keriangan suasana. D. * Teatrikal Teatrikal adalah karakter tokoh yang tidak wajar. . satiris. Karakter ini hanya simbol dari psikologi masyarakat. Flat character ini ditulis dengan tidak mengalami perkembangan emosi maupun derajat status sosial dalam sebuah lakon. Round karakter adalah karakter tokoh dalam lakon yang mengalami perubahan dan perkembangan baik secara kepribadian maupun status sosialnya. bisa juga dengan tingkah laku. dan lebih bersifat simbolis. Penulis lakon adalah orang yang memiliki dunia sendiri yaitu dunia fiktif.. karakteristiknya kaya dengan pesan-pesan dramatik. Perkembangan inilah yang menjadikan karakter ini menarik dan mampu untuk mengerakkan jalan cerita. suasana. Kawan. Karakter-karakter teatrikal jarang dijumpai pada lakon-lakon realis. C. Karakter ini segaja diciptakan oleh penulis lakon sebagai penyeimbang antara kesedihan dan kelucuan. tetapi diperlukan dalam sebuah lakon. dan cenderung menyindir. * Karikatural Karikatural adalah karakter tokoh yang tidak wajar. * Round Character (perwatakan bulat) Karakter tokoh yang ditulis oleh penulis secara sempurna.berkembang. Misalnya karakter yang diciptakan oleh Putu Wijaya pada lakon-lakonnya yang bergaya post-realistic. Pemimpin (lakon LOS) dan lain-lain. tetapi sangat banyak dijumpai pada lakon-lakon klasik dan non realis. Karakter ini biasanya terdapat karakter tokoh utama baik tokoh protagonis maupun tokoh antagonis. bahkan perpaduan antara ucapan dengan tingkah laku. Si Gembrot. Flat character biasanya ada pada karakter tokoh yang tidak terlalu penting atau karakter tokoh pembantu. unik. keadaan jaman dan lain-lain yang tidak bersifat manusiawi tetapi dilakukan oleh manusia. sehingga ketika mencipta sebuah karakter dia bebas menentukan suatu perkembangan karakter. Perkembangan dan perubahan ini mengacu pada perkembangan pribadi orang dalam kehidupan sehari-hari. seperti tokoh A. Si Tua.

Setelah itu tugas berikutnya adalah menganalisis lakon. Dengan demikian sutradara menjadi salah satu elemen pokok dalam teater modern.1 Pemilihan Naskah Proses atau tahap pertama yang harus dilakukan oleh sutradara adalah menentukan lakon yang akan dimainkan. menentukan bentuk dan gaya pementasan. maka kehadiran seorang sutradara yang mampu mengatur dan mengharmonisasikan keseluruhan unsur artistik pementasan dibutuhkan. 1994). 2001). Kemudian mereka berlatih dan memainkkannya di hadapan penonton. Waluyo. 3. Proses mengajar dijadikan tonggak awal lahirnya “sutradara”. Meskipun demikian. Sutradara bisa memilih lakon yang sudah tersedia (naskah jadi) karya orang lain atau membuat naskah lakon sendiri. maka seorang sutradara harus mengerti dengan baik hal-hal yang berhubungan dengan pementasan.1 Naskah Jadi Mementaskan teater dengan naskah yang sudah tersedia memiliki kerumitan tersendiri terutama pada saat hendak memilih naskah yang akan dipentaskan. Oleh karena kedudukannya yang tinggi. kerja sutradara dimulai sejak merencanakan sebuah pementasan. maka para aktor memerlukan peremajaan pemain. Dalam terminologi Yunani sutradara (director) disebut didaskalos yang berarti guru dan pada abad pertengahan di seluruh Eropa istilah yang digunakan untuk seorang sutradara dapat diartikan sebagai master. Gordon Craig merupakan seorang sutradara yang menanamkan gagasannya untuk para aktor sehingga ia menjadikan sutradara sebagai pemegang kendali penuh sebuah pertunjukan teater (Herman J. menentukan pemain.Dasar-dasar Teater (3/6): Dasar Seni Penyutradaraan dalam Teater Pada mulanya pementasan teater tidak mengenal sutradara. memahami dan mengatur blocking serta melakukan serangkaian latihan dengan para pemain dan seluruh pekerja artistik hingga karya teater benar-benar siap untuk dipentaskan. yaitu menentukan lakon. Para aktor yang telah memiliki banyak pengalaman mengajarkan pengetahuannya kepada aktor muda. Sejalan dengan kebutuhan akan pementasan teater yang semakin meningkat. Model penyutradaraan seperti yang dilakukan oleh George II diteruskan pada masa lahir dan berkembangnya gaya realisme. Dengan banyaknya jumlah pentas yang harus dilakukan. Oleh karena itu. Seorang bangsawan (duke) dari Saxe-Meiningen yang memimpin sebuah grup teater dan menyelenggarakan pementasan keliling Eropa pada akhir tahun 1870-1880. .1. Ada beberapa pertimbangan yang dapat dilakukan oleh sutradara dalam memilih naskah. 3. Andre Antoine di Tokohcis dengan Teater Libre serta Stansilavsky di Rusia adalah dua sutradara berbakat yang mulai menekankan idealisme dalam setiap produksinya. Nskah tersebut harus memenuhi kreteria yang diinginkan serta sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan. Berhasil tidaknya sebuah pertunjukan teater mencapai takaran artistik yang diinginkan sangat tergantung kepiawaian sutradara. Istilah sutradara seperti yang dipahami dewasa ini baru muncul pada jaman Geroge II. produksi pementasan teater Saxe-Meiningen masih mengutamakan kerja bersama antarpemain yang dengan giat berlatih untuk meningkatkan kemampuan berakting mereka (Robert Cohen. Max Reinhart mengembangkan penyutradaraan dengan mengorganisasi proses latihan para aktor dalam waktu yang panjang. seperti tertulis di bawah ini. Pementasan teater muncul dari sekumpulan pemain yang memiliki gagasan untuk mementaskan sebuah cerita.

* Sutradara wajib mempertimbangkan sisi pendanaan secara khusus. Semua sumber daya dimiliki seperti pemain. Oleh karena itupangkal persoalan atau titik awal konflik perlu dibuat dan disesuaikan dengan tema yang dikehendaki. 3. * Sutradara mampu menemukan pemain yang tepat. * Sutradara mampu tetap mementaskan naskah yang dipilih.2 Membuat Naskah Sendiri Membuat naskah lakon sendiri tidak menguntungkan karena akan memperpanjang proses pengerjaan. William Froug (1993) misalnya.Tidak ada gunanya berlatih naskah lakon tertentu dalam waktu lama jika di tengah proses tiba-tiba hal itu terhenti karena alasan tertentu. keseluruhan kerja menjadi tidak optimal. Persoalan ini kemudian diikembangkan dalam cerita yang hendak dituliskan. Oleh karena itu.* Sutradara menyukai naskah yang dipilih. sutradara harus mampu melakukan adaptasi sehingga pendanaan bisa dikurangi tanpa mengurangi nilai artistik lakon. pemilihan pemain yang asal-asalan. Misalnya tema yang dipilih adalah “kebaikan akan mengalahkan kejahatan”. penata artsitik. Kerangka cerita akan membingkai jalannya cerita dari awal sampai akhir. maka dalam cerita hal tersebut harus dimunculkan melalui aksi tokoh-tokohnya sehingga penonton dapat menangkap maksud dari cerita bahwa sehebat apapun kejahatan pasti akan dikalahkan oleh kebaikan. sutradara harus mampu membuat naskah yang sesuai dengan kualitas sumber daya yang ada. Akan tetapi berkenaan dengan sumber daya yang dimiliki. Misalnya. Jika sutradara merasa mampu mengusahakan pendanaan secara optimal untuk mewujudkan tuntutan artistik lakon. tetapi semua orang yang terlibat menjadi senang karena dapat mengerjakannya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Tidak ada cerita teater tanpa konflik. seperti analisis yang kurang detil. yaitu pembukaan. Dengan membuat kerangka cerita maka penulis akan memiliki batasan yang jelas sehingga cerita tidak berteletele. maka naskah tersebut bisa dipilih. * Menentukan kerangka cerita. Sutradara dengan segenap kemampuannya harus mampu meyakinkan pemain dan mengusahakan pertunjukan agar tetap digelar sehingga proses yang telah dilakukan tidak menjadi sia-sia. Sinopsis digunakan pemandu proses penulisan naskah sehingga alur dan persoalan tidak melebar. Hal ini membawa dampak tersendiri dalam bidang pendanaan. Tema adalah gagasan dasar cerita atau pesan yang akan disampaikan oleh pengarang kepada penonton. Tema. klimaks sampai penyelesaian. membuat naskah sendiri dapat menjadi pilihan yang tepat. naskah yang dipilih memoiliki latar cerita di rumah mewah dengan segala perabot yang indah. membuat kerangka cerita (skenario) dengan empat bagian. . Mampu mementaskan sebuah naskah tentunya tidak hanya berkaitan dengan kecakapan sutradara. Misalnya dengan tema “kebaikan akan mengalahkan kejahatan”. Persoalan atau konflik adalah inti daricerita teater. Untuk itu. dan pendanaan menjadi pertimbangan dalam memilih naskah yang akan dipentaskan. Dengan adanya sinopsis maka penulisan lakon menjadi terarah dan tidak mengada-ada. * Menentukan persoalan. konflik. * Sutradara merasa mampu mementaskan naskah yang telah dipilih. * Menentukan tema. Beberapa naskah yang baik terkadang memiliki konsekuensi logis dengan pendanaan. sutradara harus mampu mengukur kualitas sumber daya pemain yang dimiliki dalam menentukan naskah yang akan dipentaskan. Beberapa langkah di bawah ini dapat dijadikan acuan untuk menulis naskah lakon. Naskah lakon yang baik tidak ada gunanya jika dimainkan oleh aktor yang kurang baik. Jika tidak. tetapi juga dengan unsur pendukung yang lain. Gambaran cerita secara global dari awal sampai akhir hendaknya dituliskan. Naskah yang tidak dikehendaki akan membawa pengaruh dan masalah tersendiri bagi sutradara dalam mengerjakannya. Jika sutradara memilih naskah yang akan ditampilkan dalam keadaan terpaksa maka bisa dipastikan hasil pementasan menjadi kurang baik. Naskah semacam ini bersifat situasional. Kerangka ini membagi jalannya cerita mulai dari pemaparan. akan menuntun laku cerita dari awal sampai akhir.1. * Membuat sinopsis (ringkasan cerita). pangkal persoalan yang dibicarakan adalah sikap licik seseorang yang selalu memfitnah orang lain demi kepentingannya sendiri.

Unsur-unsur pokok yang harus dianalisis oleh sutradara adalah senagai berikut. Jadi. konflik hingga klimaks. isi yang berisi pemaparan. dan tidak tergesa-gesa. bahkan ada yang bingung mengakhirinya. menentukan kerangka lakon dalam tiga bagian. Tokoh protagonis adalah tokoh yang membawa laku keseluruhan cerita. Dengan analisis yang baik. maka tokoh protagonis dapat diwujudkan sebagi orang yang rajin. titik balik cerita dimulai dan konflik diselesaikan.1 Analisis Dasar Analisis dasar adalah telaah unsur-unsur pokok yang membentuk lakon. Dalam beberapa lakon ada cerita yang diakhiri dengan baik tetapi ada yang diakhiri secara tergesa-gesa. Bagian awal adalah bagian pengenalan secara lebih rinci masing-masing tokoh dan titik konflik awal muncul. Jika tokoh protagonis dan antagonis sudah ditemukan. semangat dalam bekerja. Misalnya. Akhir cerita yang mengesankan selalu akan dinanti oleh penonton. * Menentukan cara penyelesaian. Setelah semua hal disiapkan maka proses berikutnya adalah menulis. maka tokoh lainnya mudah ditemukan.bagian awal. maka tokoh lain baik yang berada di pihak protagonis atau antagonis akan mudah diciptakan. Dengan menulis lawan dari sifat protagonis maka karakter antagonis dengan sendirinya terbentuk. berkecukupan. Oleh karena itu. Mengakhiri sebuah persoalan yang dimunculkan tidaklah mudah. Dinamika percintaan Romeo dan Juliet yang berakhir dengan kematian inilah yang harus ditekankan oleh sutradara kepada penonton. Pada bagian pembukaan memaparkan sketsa singkat tokoh-tokoh cerita. dan pada akhirnya bagaimana konflik itu . Pesan ini ingin disampaikan oleh pengarang dengan akhir yang tragis dimana tokoh Romeo dan Juliet akhirnya mati bersama. dalam tahap ini sutradara hanya membaca kehendak pengarang melalui lakonnya. Pada bagian akhir. sutradara wajib menemukan pesan utama dari lakon yang telah ditentukan.2. Berhasil atau tidaknya sebuah pertunjukan teater diukur dari sampai tidaknya pesan lakon kepada penonton. dan akhir. Di bagian mana konflik itu muncul dan bagaimana aksi dan reaksi para tokohnya. * Pesan Lakon. dan penutup yang merupakan simpulan cerita atau akibat. dalam persoalan tentang kelicikan. Riantiarno (2003). pada bagian mana konflik itu memuncak. sutradara memepelajari seluruh isi lakon dan menangkap gambaran lengkap lakon seperti apa yang tertulis. Oleh karena itu. dermawan. yaitu pembuka yang berisi pengantar cerita atau sebab awal.2 Analisis Lakon Menganalisis lakon adalah salah satu tugas utama sutradara. serta jujur. Mencari dan mengembangkan gagasan memang tidak mudah. gunakan dan manfaatkan waktu sebaik mungkin. tetapi lebih tidak mudah lagi memindahkan gagasan dalam bentuk tulisan. sutradara sekaligus penulis naskah Teater Koma. Lakon yang telah ditentukan harus segera dipelajari sehingga gambaran 100% lengkap cerita didapatkan. senang membantu orang lain. Romeo and Juliet karya Shakespeare mengandung pesan bahwa seseorang yang telah menemukan cinta sejati tidak takut terhadap risiko apapun termasuk mati. logis. * Konflik dan Penyelesaian. tengah. Oleh karena itu tentukan akhir cerita dengan baik. Bagian tengah adalah konflik yang meruncing hingga sampai klimaks. Dengan menentukan tokoh protagonis secara mendetil. maka semakin jelas pula karakter tokoh antagonis. Dalam proses analisis ini. Apa yang hendak disampaikan oleh pengarang melalui naskah lakon disebut pesan. 3. sutradara akan lebih mudah menerjemahkan kehendak pengarang dalam pertunjukan. * Menentukan protagonis. Semakin detil sifat atau karakter protagonis. Penting mengetahui dasar persoalan (konflik) dalam sebuah lakon karena hal tersebut akan membawa laku aksi para tokohnya. 3. Merupakan bahan komunikasi utama yang hendak disampaikan kepada penonton. * Menulis.

dan waktu kejadian harus diungkapkan dengan jelas karena hal ini berkaitan dengan tata artistik. Untuk mewujudkan keadaan peristiwa seperti dikehendaki lakon di atas panggung maka informasi yang jelas mengenai latar cerita harus didapatkan. sutradara dapat menafsirkan tempat kejadian secara simbolis. Proses ini bisa disebut sebagai proses asimilasi (perpaduan) antara gagasan sutradara dan pengarang. artinya. menilai. atau di salah satu ruang khusus. maka sutradara perlu melakukan tafsir atau interpretasi. Hal yang paling menarik mengenai penyampaian pesan kepada penonton adalah caranya. teras gedung. Adaptasi terhadap tempat kejadian peristiwa sering dilakukan oleh sutradara. dan karakterisasi. 3. Semua ini akan memberi sudut pandang bagi sutradara dalam melihat.Berdasarkan hasil analisis. Cara menyampaikan pesan antara sutradara satu dengan yang lain bisa berbeda meskipun lakon yang dipentaskan sama.2 Interpretasi Setelah menganalisis lakon dan mendapatkan informasi lengkap mengenai lakon. Akan tetapi sangat mungkin seorang sutradara memiliki gagasan astistik tertentu yang akan ditampilkandalam pementasan setelah menganalisa sebuah lakon. dewan kota. Ketika adaptasi ini dilakukan maka unsur-unsur lain pun seperti tata rias dan busana akan ikut terkait dan mengalami penyesuaian. Arsitektur gedung itu apakah menggunakan arsitektur kolonial.2. Gambaran tempat kejadian. Apakah gedung tersebut merupakan gedung pertemuan. museum. gambaran tempat kejadian persitiwa adalah di sebuah gedung maka harus dijelaskan apakah terjadi di sebuah gedung megah. Analisis karakter tokoh sangat penting dan harus dilakukan secara mendetil agar sutradara mendapatkan gambaran watak sejelas-jelasnya. Dengan demikian penonton akan mendapatkan gambaran yang jelas latar cerita yang dimainkan. Antigone. Semua informasi dikumpulkan dan diseleksi untuk kemudian diwujudkan dalam pementasan. * Latar Cerita. Intinya informasi sekecil apapun harus didapatkan. sederhana atau mewah. Seorang sutradara sebetulnya boleh tidak melakukan interpretasi terhadap lakon. atau ciri khas daerah tertentu. Cara menyampaikan pesan ini menjadi titik tafsir lakon yang penting karena pesan inilah inti dari keseluruhan lakon. misalnya warna-warna yang digunakan di atas panggung. tetapi karena ketersediaan sumber daya yang kurang memadahi maka bentuk penampilan apartemen mewah disesuaikan. Secara teknis hal ini berkaitan dengan sumber daya yang dimiliki. Selain itu sudut pandang pengarang dalam menyelesaikan konflik dapat menegaskan pesan yang hendak disampaikan. gaya spanyol. Oleh karena itu analisis karakter ini harus dilakukan dengan teliti dan hati-hati sehingga setiap perubahan karakter yang dialami oleh tokoh tidak lepas dari pengamatan sutradara. maka sutradara harus menggalinya melalui kalimat-kalimat dialog. Romeo and Juliet masih aktual dipentaskan sekarang ini. Karena tidak banyak arahan dan keterangan yang dituliskan mengenai karakter tokoh dalam sebuah lakon. Secara artistik. dapur umum. Proses interpretasi biasanya menyangkut unsur latar. Hal ini berlaku juga untuk latar peristiwa dan waktu. Perjalanan sebuah karakter terkadang tidak mengalami perubahan yang berarti tetapi beberapa tokoh dalam lakon (biasanya protagonis dan antagonis) bisa saja mengalami perubahan. * Latar. apartemen mewah disimbolkan sebagai pusat kekuasaan maka tata panggungnya disesuaikan dengan simbolisasi tersebut. dan memahami konflik lakon. ia hanya sekedar melakukan apa yang dikehendaki oleh lakon apa adanya sesuai dengan hasil analisis. atau gedung pertunjukan. sutradara memberi sentuhan dan atau penyesuaian artistik terhadap lakon yang akan dipentaskan.diselesaikan. Untuk menekankan pesan yang dimaksud ada sutradara yang memberi penonjolan pada tata artistik. Penyesuaian inipun berkaitan langsung dengan latar waktu dan peristiwa. Ada juga sutradara yang menonjolkan . Oleh karena itulah pentas teater dengan lakonlakon yang sudah berusia lama seperti Oedipus. peristiwa. Jika apartemen disimbolkan sebagai pusat kekuasaan maka peristiwa yang terjadi di dalamnya juga harus mengikuti simbolisasi ini sedangkan latar waktunya bisa ditarik ke masa lalu atau masa kini seperti yang dikehendaki oleh sutradara. Misalnya. * Karakter Tokoh. Di gedung tersebut cerita terjadi di ruang aula. * Pesan. Misalnya. Misalnya. pesan. dalam lakon mengehendaki tempat kejadian di sebuah apartemen yang mewah.

Banyak hal yang harus dilakukan selain mengganti nama dan penampilan fisik.3 Konsep Pementasan Hasil akhir dari analisis naskah adalah konsep pementasan. * Pendekatan gaya pementasan. * Gambaran tata artistik. Hal ini biasanya berkaitan dengan isu atau topik yang sedang hangat terjadi di masyarakat. Semuanya memliki keterkaitan. tetapi gambaran tata artisitk berguna bagi para desainer untuk mewujudkannya dalam desain. Tafsir ulang terhadap tokoh lakon paling sering dilakukan. Secara umum. Misalnya. emosi. Hal ini sangat berguna bagi aktor. Misalnya. pranata sosial) di luar hal utama yang dipikirkan. Jika sutradara mampu. maka bahasa dialog antaraktor menggunakan bahasa yang puitis. sebuah lakon yang tokohtokohnya memiliki latar belakang budaya Eropa hendak diadaptasi ke dalam budaya Indonesia. Konvensi atau aturan main sebuah pertunjukan diungkapkan dalam poin ini. penggunaan bahasa puitis dengan sendirinya membuat aktor harus mau memahami dan melakukan latihan teknik-teknik membaca puisi agar dalam pengucapan dialog tidak seperti percakapan sehari-hari. Hal ini mempengaruhi hasil pemikiran dan cara mengungkapkan hasil pikiran tersebut. sutradara harus menuliskan gambaran (pandangan) tata artistiknya. Masing-masing cara penonjolan pesan ini mempengaruhi unsur-unsur lain dalam pementasan. 3. Dengan demikian pendekatan yang dilakukan tidak salah sasaran. dan keseluruhan watak tokoh. maka ia cukup menuliskannya. hal yang paling bisa adalah mendekatkan gaya pementasan dengan gaya tertentu yang sudah ada. Gerak laku aktor distilisasi atau diperindah. Setiap kelahiran gaya baru memiliki keterkaitan atau perlawanan terhadap gaya tertentu (baca bagian sejarah teater).. Metode akting berkaitan dengan pencapaian aktor (standar) sesuai dengan pendekatan gaya pementasannya. misalnya. dalam budaya Eropa orang bepikir secara bebas sementara orang Indonesia cenderung mempertimbangkan hal-hali lain (tata krama.laku aksi aktor di atas pentas sehingga adegan dibuat dan dikerjakan secara detil. Jika tidak. takaran emosi dan cara berpikir. Dewasa ini hampir tidak bisa ditemukan gaya pementasan murni yang dihasilkan seorang sutradara atau pemikir teater. tetapi juga mental. Aktor boleh berbicara secara langsung kepada penonton. Untuk itu. Hal ini mempengaruhi bentuk dan gaya penampilan aktor dalam beraksi. Oleh karena itu. 3.4 Memilih Pemain . pandangan hidup. maka ia bisa memberikan gambaran tata artistik melalui sketsa.Dalam konsep ini sutradara menjelaskan secara lengkap mengenai cara menyampaikan pesan yang berkaitan dengan pendekatan gaya pementasan dan pendekatan pemeranan serta memberikan gambaran global tata artistik. Sutradara harus membuat metode tertentu dalam sesi latihan pemeranan untuk mencapai apa yang dinginkan. Misalnya. sutradara harus memahami gaya-gaya pementasan. karena menggunakan pendekatan gaya presentasional. tata krama. yaitu cara berbicara. * Pendekatan pemeranan. Tafsir ulang tokoh tidak hanya sekedar mengubah nama dan menyesuaikan bentuk penampilan fisik. Setelah menetapkan pendekatan gaya. Meski tidak secara mendetil.Dengan demikian cara pandang sutradara terhadap keseluruhan lakon pun harus diubah atau mengalami penyesuaian. Seniman teater dunia telah banyak berusaha melahirkan gaya pementasan. * Karakterisasi. Dengan demikian sutradara harus benar-benar memikirkan cara menyampaikan pesan lakon dengan mempertimbangkan unsur-unsur lakon dan sumber daya yang dimiliki. Istilah pendekatan di sini digunakan dalam arti sutradara tidak hanya sekedar melaksanakan sebuah gaya secara wantah (utuh) tetapi ada pengembangan atau penyesuaian di dalamnya. gaya berjalan. maka metode pemeranan yang dilakukan perlu dituliskan.

dan pelafalan yang baik. sutradara dapat menilai kecakapan pemain melalui portofolio tetapi proses audisi tetap penting untuk menilai kecakapan aktor secara langsung. maka pemain yang dipilih pun harus memiliki tubuh gemuk. dalam ketoprak. penentuan pemain berdasar ciri fisik ini menjadi acuan utama. misalnya dalam wayang orang atau ketoprak. * Ukuran Tubuh. Meskipun dalam khasanah teater modern. Hal ini juga sama dengan ukuran tubuh. Menghayati sebuah tokoh berarti mampu menerjemahkan laku aksi karakter tokoh dalam bahasa verbal dan ekspresi tubuh secara bersamaan. harus mampu menyajikannya dengan . karena tidak sesuai dengan karakter dan akan menyalahi laku lakon secara keseluruhan. Misalnya. 3. Tidak ada gunanya seorang aktor bermain dengan baik jika fisiknya lemah. Akan tetapi. Calon aktor. * Tinggi Tubuh. dalam lakon yang gambaran tokohnya sudah melekat di masyarakat. dalam cerita Kabayan. maka pemain harus memiliki ciri wajah yang tampak tolol. Untuk menilai hal ini. ukuran tubuh merupakan harga mati bagi sebuah tokoh. Penilaian yang dapat dilakukan adalah penguasan. Untuk menilai kesiapan tubuh pemain. Misalnya. Seorang yang memiliki kumis. Oleh karena itu pemain harus memiliki kemampuan wicara yang baik. misalnya tokoh-tokoh dalam lakon pewayangan. dalam wayang wong. tokoh Bagong memiliki ukuran tubuh tambun (gemuk). dalam teater modern.1 Fisik Penampilan fisik seorang pemain dapat dijadikan dasar menentukan tokoh. * Ciri Wajah. Sutradara akan diprotes oleh penonton jika menampilkan Bima bertubuh kurus dan pendek. Hal ini dianggap dapat mampu melahirkan ekspresi wajah yang natural. seorang yang tinggi tapi bungkuk dianggap tepat memainkan tokoh pendeta. sutradara dapat memberikan penggalan adegan atau dialog karakter untuk diujikan. Dengan memberikan teks bacaan tertentu. intonasi. Berkaitan langsung dengan penampilan mimik aktor. Kemampuan dasar wicara merupakan syarat utama yang lain. * Tubuh. diksi. Kesiapan tubuh seorang pemain merupakan faktor utama. Misalnya. Dalam sebuah produksi yang membutuhkan latihan rutin dan intens dalam kurun waktu yang lama ketahanan tubuh yang lemah sangatlah tidak menguntungkan. calon aktor dapat dinilai kemampuan dasar wicaranya.4. * Penghayatan. sutradara sudah mengetahui karakter pemainpemainnya (anggota). Grup teater tradisional biasanya memilih pemain sesuai dengan penampilan fisik dengan ciri fisik tokoh lakon. * Ciri Tertentu. * Wicara.4. Akan tetapi.Menentukan pemain yang tepat tidaklah mudah. memilih pemain biasanya berdasar kecapakan pemain tersebut. dan brewok tebal cocok diberi tokoh sebagai warok atau jagoan. Dalam kasus tertentu. Meskipun kekurangan wajah bisa ditutupi dengan tata rias. janggut. Dalam sebuah grup atau sanggar.2 Kecakapan Menentukan pemain berdasar kecapakan biasanya dilakukan melalui audisi. tetapi ciri wajah pemain harus diusahakan semirip mungkin dengan ciri wajah tokoh dalam lakon. Tidak masuk akal jika Bagong tampil dengan tubuh kurus. Ciri fisik dapat pula dijadikan acuan untuk menentukan pemain. Tokoh Werkudara (Bima) harus ditokohkan oleh orang yang bertubuh tinggi besar. dalam sebuah grup teater sekolah yang pemainnya selalu berganti atau kelompok teater kecil yang membutuhkan banyak pemain lain sutradara harus jeli memilih sesuai kualifikasi yang dinginkan. maka latihan katahanan tubuh dapat diujikan. 3. Dalam teater yang menggunakan ekspresi bahasa verbal kejelasan ucapan adalah kunci ketersampaian pesan dialog. Biasanya.

lamanya adegan. 3. 3. . Sebaliknya. Hal ini memiliki kelebihan tersendiri. Bahkan dalam produksi teater profesional yang semuanya dirancang dengan baik. Catatan prestasi dan kemampuan yang dimiliki hendaknya ditulis dalam portofolio sehingga bisa menjadi pertimbangan sutradara.1.5. Untuk menguji lebih mendalam sutrdara juga dapat memberikan penggalan dialog karakter lain dengan muatan emosi yang berbeda. Misalnya. bentuk penyajian. Di bawah ini akan dibahas bentuk dan gaya pementasan menurut penuturan cerita.5 Menentukan Bentuk dan Gaya Pementasan Bentuk dan gaya pementasan membingkai keseluruhan penampilan pementasan. seorang calon aktor yang memiliki kemampuan menari. yaitu berdasar naskah lakon dan improvisasi. teater modern menggunakan naskah lakon sebagai sumber penuturan.1 Menurut Penuturan Cerita Ada dua jenis pertunjukan teater menurut penuturan ceritanya. perpindahan antaradegan. * Kecakapan lain. 3. dan tanda keluar-masuk ilustrasi musik atau pencahayaan ditentukan waktunya sehingga setiap detik sangat berharga dan menentukan berhasil tidaknya pertunjukan tersebut.1 Berdasar Naskah Lakon Mementaskan teater berdasarkan naskah lakon menjadi ciri umum teater modern. Kehatihatian dalam memilih bentuk dan gaya bukan saja karena tingkat kesulitan tertentu. tetapi latar belakang pengetahuan dan kemampuan sutradara sangat menentukan.penuh penghayatan. tetapi bisa dipilih sebagai seorang penari latar dalam adegan tertentu. portofolio sangat penting bagi seorang aktor profesional. Mungkin dalam sebuah produksi ia tidak memenuhi kriteria sebagai pemain utama. Karena dialog tokoh sudah ditentukan dan tidak boleh ditambah atau dikurangi maka durasi pementasan dapat ditentukan. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan serta membutuhkan kecakapan sutradara dalam bidang tertentu untuk melaksanakannya. dan gaya penyajian. Tugas aktor adalah menghapalkan dialog tersebut dan mengucapkannya dalam pementasan. Bentuk dan gaya yang dipilih secara serampangan akan mempengaruhi kualitas penampilan. * Arahan dialog sudah ada. Kemampuan lain selain bermain tokoh terkadang dibutuhkan. Dari serangkaian latihan yang dikerjakan secara rutin dan kontinyu ditambah dengan unsur artistik dan teknis maka lamanya pertunjukan teater berdasar naskah dapat ditetapkan. Dalam lakon terkadang arahan emosi berkaitan dengan dialog juga dituliskan sehingga sutrdara lebih mudah dalam memantau emosi tokoh yang ditokohkan aktor. * Durasi waktu dapat ditentukan dengan pasti. Penting bagi sutradara untuk menentukan dengan tepat bentuk dan gaya pementasan. di antaranya adalah sebagai berikut. Sutradara tidak perlu menambah atau mengurangi dialog yang sudah tertulis dalam lakon kecuali punya keinginan mengadaptasinya.5. Untuk itu. menyanyi atau bermain musik memiliki nilai lebih. Teater tradisional biasanya memilih imporivisasi karena semua pemain telah memahami dengan baik cerita yang akan dilakonkan dan karakter tokoh yang akan ditokohkan. Meskipun beberapa kelompok teater modern tertentu memperbolehkan improvisasi (biasanya lakon komedi situasi) tetapi sumber utama dialognya diambil dari naskah lakon.

Terkadang hal ini dapat menimbulkan efek artistik yang alami dan menarik. * Fokus permasalahan telah ditentukan. Sifat teater improvisasi yang terbuka memungkinkan pengembangan konflik dan penyelesaian.2 Improvisasi Mementaskan teater secara improvisasi memiliki keunikan tersendiri. Setelah konflik ini diselesaikan dengan cara yang khas dan lucu maka cerita kembali ke konflik semula. mereka biasanya menerima pesan tertentu dari penyelenggara. * Gambaran bentuk latar kejadian dapat ditemukan dalam naskah. * Memungkinkan percampuran bentuk gaya. Dengan berkembangnya cerita maka aktor mendapatkan arahan laku lain yang bisa dicobakan. sutradara harus mengikutinya. sutradara telah mendapatkan gambarannya. 3. konflik. Pesan ini dengan luwes dapat diselipkan dalam lakon. Jika naskah lakon tersebut telah dipublikasikan dalam bentuk buku dan memiliki hak cipta maka sutradara bisa dituntut di muka hukum. arahan laku permainan dari awal sampai akhir dapat ditemukan. Sutradara menjadi mudah menentukan penekanan permasalahan lakon. Jika hendak menyesuaikan dengan ketersediaan sumber daya.1. maka sutradara memerlukan waktu ekstra untuk membimbing para aktornya. Karena tidak ada impovisasi. * Arahan laku terbuka. dalam pertunjukan ketoprak sebuah adegan dilakukan mengikuti kaidah gaya presentasional (adegan . Tergantung dari kekurangan sumber daya yang dimiliki. Kalaupun hendak melakukan adaptasi atau penyesuaian. tetapi karya teater menjadi karya sutradara. Jika sutradara hendak mengembangkan cerita.5. Gambaran ini sangat penting bagi sutradara untuk mewujudkannya di atas pentas. Dengan demikian. konflik dan mengubah cara penyelesaian. pementasan teater berdasar naskah lakon juga memiliki kekurangan dan problem tersendiri.Dengan mempelajari naskah. * Kreativitas aktor terbatas. maka konflik dan penyelesaian lakon pasti. Sutradara hanya menyediakan gambaran cerita selanjutnya aktor yang mengembangkannya dalam permainan. dan penyelesaian konflik. maka aktor dapat mengembangkannya. Jika ia tetap melakukannya. Jika memaksakan kehendak harus sesuai dengan gagasan lakon. maka adaptasi lakon harus dilakukan. * Konflik dan sudut pandang penyelesaian bisa dikembangkan. Hal ini perlu dilakukan. Dalam teater tradisional. Sutradara dapat mengembangkan cerita dengan bebas dan aktor dapat mengembangkan kemungkinan gayapermainan dengan bebas pula. Dalam teater improvisasi gaya pementasan juga terbuka. Meskipun secara artistik tidak masalah. Aktor tidak memiliki kebebasan penuh selain menerjemahkan konsep artistik sutradara. Setuju atau tidak setuju terhadap cerita. Jika sumber dana yang kurang maka tim poruduksi harus berusaha keras untuk memenuhi tuntutan tersebut. Dengan ditentukannya arah laku maka kreativitas aktor di atas panggung menjadi terbatas. Lakon telah menyediakan gambaran lengkap laku perisitiwa melalui dialog tokoh-tokohnya. * Konflik dan penyelesaian tidak bekembang. Beberapa kelebihan pentas teater improvisasi adalah: * Kreativitas sutradara dan aktor dapat dikembangkan seoptimal mungkin. Jika sumber daya manusia (aktor) yang kurang. Oleh karena tidak ada petunjuk arah laku yang jelas. Cerita yang telah dituliskan oleh pengarang harus ditaati.* Arahan laku permainan dapat ditemukan dalam naskah. ia harus mendapatkan ijin dari penulis naskah lakon. * Tidak memungkinkan pengembangan cerita. Dalam proses latihan terkadang sutradara mendapat inspirasi dari laku aksi pemain demikian pula sebaliknya. Misalnya. maka kerja sutradara akan semakin keras. Di samping kelebihan tersebut di atas. * Jika sumber daya yang dimiliki tidak sesuai dengan kehendak lakon harus dilakukan adaptasi. sutradara mudah dalam membuat perencanaan blocking. maka sutradara telah melanggar kode etik dan hak karya artistik. Pengembangan yang dilakukan hanyalah persoalan sudut pandang. Terkadang untuk menyampaikan pesan titipan tersebut konflik minor baru dimunculkan. Sutradara perlu meluangkan waktu untuk melakukannya.

Jika banyak pemain yang bisa melucu maka cerita komedi akan efektif. Salah satu kelebihan utama teater improvisasi adalah cerita dan pemeran dapat dibuat berdasarkan sumber daya yang dimiliki. maka cerita penuh aksi dapat dijadikan pilihan. Jika dalam teater berbasis naskah. Karena tidak ada arahan dialog yang baku. tetapi bagi aktor yang kualitas sastranya pas-pasan hal ini menjadi masalah besar. maka akan membosankan. Akibatnya. Di balik semua kelebihan di atas. Sutradara bisa memotong sebuah adegan yang berjalan cukup lama dengan membunyikan tanda agar musik dimainkan dan adegan segera diselesaikan. Di samping itu. Jika seorang aktor beraksi. teater improvisasi juga memiliki kekurangan yang patut diperhatikan oleh sutradara. dalam adegan tersebut aktor yang satu terlalu aktif dan yang lain pasif. Oleh karena itu. Pencampuran gaya ini dimaksudkan untuk memenuhi selera penonton. Kekurangan dari pemotongan adegan ini adalah jika inti dialog (persoalan) belum sempat terucapkan maka inti dialog harus diucapkan pada adegan berikutnya. * Cerita bisa disesuaikan dengan sumber daya yang dimiliki.1 Teater Gerak . aktor bisa mengembangkan cerita dan gaya permainan di atas pentas dan sutradara tidak bisa lagi mengarahkan secara langung. Jika hal ini terjadi cukup lama. tetapi di adegan lain menggunakan gaya realis (adegan dagelan).2. maka aktor lawan mainnya harus bereaksi.5. Jika tidak.Semua tergantung dari improvisasi aktor di atas pentas. Sifat akting adalah aksi dan reaksi. Oleh karena setiap bentuk penyajian memiliki kekhasan dan membutuhkan prasyarat tertentu yang harus dipenuhi. Bagi aktor yang memiliki kemampuan sastra memadai tidak jadi masalah. latihan adegan tetap harus sering dilakukan. * Kemungkinan aktor melakukan kesalahan lebih besar. * Kualitas dialog tidak dapat distandarkan. maka sutradara wajib mempelajari dan memahami langkah-langkah dalam melaksanakannya. Kemampuan sumber daya ini bisa dijadikan strategi untuk membuat pertunjukan menarik dan memiliki ciri khas tertentu. maka kualitas dialog tidak bisa distandarkan. lakon sebagai pengendali cerita maka dalam teater imrpovisasi aktor harus mampu mengendalikan jalannya cerita. Oleh karena cerita bisa dikembangkan. maka durasi pementasan bisa berubahubah. kemampuan setiap aktor pasti tidak sama. sutradara akan kerepotan sendiri.Istana). meskipun improvisasi. maka panggung sepenuhnya adalah milik aktor. 3. tetapi jika jumlah pemain yang memiliki kemampuan laga banyak. * Improvisasi dialog tidak berimbang. 3.5. bisa jadi ia memasangkan aktor yang memilliki kemampuan tak berimbang dalam improvisasi. Karena arahan laku yang terbuka maka reaksi ucapan sering dilakukan spontan dan belum tentu benar. Karena sifatnya yang serba terbuka. Untuk itu. jika sutradara tidak jeli memahami hal ini. Dalam sebuah grup teater. Aktor mengambil tokoh penuh. Sutradara tidak bisa lagi mengendalikan jalannya pertunjukan. kesalahan ucap atau penyampaian informasi tertentu bisa saja salah karena memang tidak dicatat dan hanya diingat garis besarnya saja. * Durasi waktu tidak tertentu. * Sutradara tidak bisa sepenuhnya mengendalikan jalannya pementasan.2 Menurut Bentuk Penyajian Banyaknya pilihan bentuk penyajian pementasan teater membuat sutradara harus jeli dalam menentukannya. Jika pementasan sudah berjalan.

sutradara harus bisa mewujudkan bahasa verbal dalam simbol gerak. suasana.2. maka pengaturan blocking harus lebih teliti. maka karakter boneka harus benarbenar melekat sehingga pengendali . kapan pemain harus menyesuaikan dengan alunan musik. Memainkan boneka bisa saja dipelajari. pengaturan pemain perlu dilakukan. Ekspresi selalu menyangkut penghayatan dan konsentrasi.2 Teater Boneka Teater boneka memiliki karakter yang khas tergantung jenis boneka yang dimainkan. * Memahami komposisi dan koreografi.5. Biasanya seorang pemain boneka bisa membuat beberapa karakter suara yang berbeda. * Mampu menghidupkan ekspresi boneka yang dimainkan. Oleh karena itu. maka ekspresi mimik menjadi sangat penting. tetapi jika komposisi (tata letak) pemainnya tidak berubah akan melahirkan kejenuhan. Jika tidak pintar mengelola. 3. Di bawah ini beberapa langkah yang bisa diambil oleh sutradara dalam menggarap teater gerak * Sutradara mampu mengeksplorasi dan menciptakan gerak. dan perbedaannya harus dimengerti oleh sutradara. Banyak jenis boneka dan masing-masing membutuhkan teknik khusus dalam memperagakannya. Sutrdara harus mampu mengeksplorasi dan menciptakan gerak sesuai dengan makna pesan yang hendak disampaikan. Penataan gerak tidak bisa dikerjakan dengan serampangan. Boneka wayang golek memiliki teknik permainan yang berbeda dengan boneka marionette yang dimainkan dengan tali. Jumlah pemain yang banyak menimbulkan persoalan tersendiri. Pesan yang tidak disampaikan secara verbal membutuhkan keahlian tersendiri untuk mengelolanya. Mengubah bahasa dalam simbol gerak tidaklah mudah. Meskipun rangkaian gerak yang dihasilkan sangat indah. kapan musik hadir sebagai latar suasana. * Mewujudkan bahasa dalam simbol gerak. dan terutama musik ilustrasinya. tetapi juga mengatur permainan boneka. * Mampu mengisi suara sesuai dengan karakter boneka. * Jika pemain dalam jumlah banyak. * Jika pemain sedikit maka motif gerak harus lebih variatif. Jumlah pemain bisa disiasati dengan menambah perbendaharaan gerak. maka teori komposisi dan koreografi dasar wajib dimiliki oleh sutradara. Oleh karena keterbatasan bahasa verbal dalam pertunjukan teater gerak. maka irama rampak gerak yang diharapkan bisa kacau. Di bawah ini beberapa langkah yang bisa dikerjakan oleh sutradara yang hendak mementaskan teater boneka. harus mempertimbangkan makna pesan. Kapan musik mengikuti gerak pemain. Untuk mendukung rangkaian gerak yang telah diciptakan. maka dianjurkan untuk mengkreasi gerak sederhana yang mudah dilakukan. Jika jumlah pemain banyak dan harus bergerak secara serempak. Jika tidak. Jika gerak terlalu sulit. * Mewujudkan ekspresi melalui mimik para aktor. maka maknanya akan kabur. Kewajiban sutradara tidak hanya mengatur pemain manusia. Motif gerak yang kaya akan membuat tampilan menjadi variatif dan menyegarkan. maka banyaknya jumlah pemain justru akan memenuhi panggung dan membuat suasana menjadi sesak. Simbol dan makna yang disampaikan melalui gerak harus dikerjakan dengan teliti. tetapi memberikan ekspresi hidup adalah hal yang lain.Teater gerak lebih banyak membutuhkan ekspresi gerak tubuh dan mimik muka daripada wicara. * Mengerti musik ilustrasi. Mengisi suara sesuai karakter boneka menjadi prasyarat utama. Boneka dua dimensi seperti wayang kulit memiliki teknik memainkan berbeda dengan boneka tiga dimensi seperti wayang golek. Karakter suara harus bisa tampil secara konsisten dari awal hingga akhir pertunjukan. Ekspresi emosi atau karakter tokoh harus bisa diwujudkan melalui mimik para aktor. Sutradara harus bisa memainkan boneka tersebut. Karena tokoh diperagakan oleh boneka. Menempatkan pemain dalam posisi dan gerak yang tepat akan membuat pertunjukan semakin menarik. * Mampu memainkan boneka dengan baik. sutradara teater gerak harus mengerti kaidah musik ilustrasi. Meskipun tidak bisa memainkan musik. terutama menyangkut komposisi. Apalagi jika sudah menyangkut makna. Karena bekerja dengan gerak.

Jika sutradara tidak memahami kejiwaan * karakter tokoh dengan baik maka penilaiannya terhadap kualitas penghayatan aktor pun kurang baik. maka sutradara harus benar-benar jeli dalam menilai setiap aksi para aktor. maka penampilan boneka yang terlalu banyak juga akan merepotkan para pengendalinya. bijaksanalah dalam menentukan tegangan dramatik adegan dan buatlah klimaks yang mengesankan dan penyelesaian yang dramatis. * Jika pemain sedikit harus memiliki kemampuan mengisi suara dengan karakter yang berbeda. maka sutradara harus menetapkan tegangan optimal dan minimal. Keluar masuknya boneka di atas pentas berkaitan langsung dengan pengendali bonekanya. Selain itu. Tempat pertunjukan teater boneka yang terbatas harus disesuaikan dengan jumlah boneka yang tampil. sutradara harus dapat menentukan metode yang tepat agar para aktornya dapat memahami. maka aktor akan kesulitan meninggikan tegangan pada saat klimaks. tetapi juga menyangkut hal-hal teknis. Sisi kejiwaan yang menyangkut perasaan karakter tokoh harus dapat ditampilkan senatural mungkin sehingga penonton menganggap hal itu benar-benar nyata terjadi. maka pengaturan adegan harus dikerjakan dengan teliti. Boneka yang dimainkan dengan hidup akan menarik dan tampak nyata. semua harus tampak natural. Jika tidak ada kerjasama yang baik antarpemain (pengendali boneka). * Memahami sisi kejiwaan karakter tokoh. sehingga ketika dalam adegan tertentu membutuhkan tegangan yang lebih aktor masih bisa mengejarnya.2. * Memahami tensi dramatik (dinamika lakon). pengaturan adegan boneka disesuaikan dengan kemampuan pengendali. Berkaitan dengan karakter tokoh. Jika dianalogikan dengan nilai 1 sampai dengan 10. Untuk menghindari hal tersebut sutradara harus benar-benar teliti dalam mengukur tegangan dramatik adegan per adegan dalam lakon. Dalam teater boneka kerjasama antarpemain tidak hanya menyangkut emosi. Angka tertinggi dari deret tegangan yang harus dicapai oleh aktor adalah 8 atau 9.boneka seolah-olah bisa memberikan nafas hidup di dalamnya. * Mampu meningkatkan kualitas pemeranan aktor untuk menghayati tokoh secara optimal. Hasil akhirnya adalah anti klimaks di mana pada adegan yang seharusnya memiliki tensi tinggi justru melemah karena energi para aktornya telah habis. maka efek dramatik yang diharapkan dari aksi aktor menjadi gagal. Hal yang paling sulit dilakukan oleh sutradara adalah membongkar kejiwaan karakter tokoh dan mewujudkannya dalam laku aktor di ataspentas. Di sinilah letak kesulitannya. aktor diharuskan berakting tetapi seolah-olah ia tidak berakting melainkan melakukan kenyataan hidup. Oleh karena tuntutan pertunjukan teater dramatik yang mensyaratkan laku aksi seperti kisah nyata. * Mampu membangun kerjasama antarpemain boneka. Sutradara harus memahami bobot tegangan (tensi) dramatik dalam setiap adegan yang ada pada lakon. Demikian juga dengan suasana kejadian. Beberapa langkah yang dapat dikerjakan oleh sutradara dalam menggarap teater dramatik adalah sebagai berikut. Jika lakon yang dimainkan membutuhkan banyak tokoh. . * Jika pemain boneka banyak maka harus mampu mengatur adegan agar pergerakan boneka tidak saling mengganggu.5. Oleh karena itu. Jika pada bagian awal konflik tegangan terlalu tinggi. Laku lakon dari awal sampai akhir mengalami dinamika atau ketegangan yang turun naik. Jumlah pengendali boneka yang sedikit tidak masalah asal setiap orang mampu menciptakan beberapa karakter suara. seorang pengendali biasanya hanya bisa mengendalikan maksimal dua boneka. Jika demikian. tidak dibuat-buat. Banyak sutradara yang mengadakan semacam pemusatan latihan dalam kurun waktu yang cukup lama dengan tujuan agar para aktornya berada dalam suasana lakon yang akan dipentaskan. menghayati dan memerankan karakter dengan baik. maka pergantian adegan bisa semrawut sehingga para pemain kewalahan. Yang terpenting dan perlu dicatat adalah setiap boneka mempunyai karakter suaranya sendiri.3 Teater Dramatik Mementaskan teater dramatik membutuhkan kerja keras sutradara terutama terkait dengan akting pemeran. 3. Intinya.

Teater dramatik adalah teater yang mencoba meniru peristiwa kehidupan secara total dan sempurna.* Mampu menghadirkan laku cerita seperti sebuah kenyataan hidup. * Mampu membuat gerak dan ekspresi berdasar karya musik. * Membuat penonton terkesima dengan pertunjukan tidaklah mudah. komposisi.6 Blocking . Sutradara tidak harus bisa memainkan musik. tokoh musik bisa menjadi pengiring lagu yang bercerita. Tokohan dialog verbal yang digubah dalam bentuk lagu dan diucapkan melalui nyanyian adalah satu hal yang membutuhkan perhatian tersendiri. * Mengerti karya musik dramatik. tetapi pada akhirnya sutradara yang memutuskan. Tokohan musik sangat doniman dalam drama musikal bahkan musik bisa hadir secara mandiri untuk menceritakan sesuatu. pengiring gerak. Makna cerita sepenuhnya dituangkan dalam wujud gerak. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sutradara dalam drama musikal adalah sebagai berikut. dan koreografi. tetapi makna dan atau simbolisasi cerita harus benar-benar bisa diwujudkan dalam gerak tarian yang dilakukan. Sutradara harus mampu memecahkan masalah dasar tersebut. Dituntut kepiawaian sutradara dalam memilih dan merangkai motif gerak.2. Pada adegan lain.4 Drama Musikal Kemampuan multi harus dimiliki oleh seorang sutradara jika hendak mementaskan drama musikal. Dalam hal ini musik bertindak sebagai pengiring. 3. Jika karya drama musikal tersebut berawal dari karya musik murni (musik yang bercerita) seperti The Cats karya Andrew Lloyd Webber. Ketepatan nada dalam nyanyian serta ekspresi wajah ketika menyanyi juga tidak boleh luput dari pengamatan. maka sutradara harus benar-benar piawai dalam mengolah visualisasinya di atas pentas. Kepiawaian sutradara dalam menentukan kegunaan karya musik yang satu dengan yang lain benarbenar dibutuhkan. lagu. maka sutradara harus mampu menciptkan koreografinya. Bahasa ungkap yang beragam antara bahasa verbal. dan musikal harus dirangkai secara harmonis untuk mencapai hasil maksimal. Langkah pamungkas yang dapat dijadikan patokan adalah menghadirkan pentas seperti sebuah kenyataan hidup.5. Demikian pula dengan cerita suka-ria. Pada adegan dimana musik bercerita secara mandiri maka sutradara harus mampu memvisualisasikan cerita tersebut di atas pentas. hindarilah kesalahan atau hal yang tidak lumrah dan berada di luar jangkauan nalar penonton. maka penonton harus dibawa dalam suasana yang suka-ria. * Mampu membuat gerak. Koreografer bisa saja mencipta gerak. Memilih pelaku yang tepat dan membuat komposisi atau koreografi berdasar karya musik yang ada. Dalam satu adegan saat cerita diungkapkan melalui gerak. gerak. demikian pula sebaliknya. Kejanggalan-kejanggalan kecil yang dirasa kurang masuk akal oleh penonton akan mengurangi kualitas dramatika lakon yang dihadirkan. 3. Lagu dan nyanyian harus bisa ditampilkan secara baik dan harmonis. dan ilustrasi suasana kejadian. tetapi memahami karya musik merupakan keharusan dalam drama musikal. musik itu sendiri sudah bercerita sehingga pemain atau penari yang berada di atas panggung hanyalah pelengkap gambaran peristiwa. jika melakonkan cerita yang sedih ukuran keberhasilannya adalah membuat penonton ikut terhanyut sedih. * Mengerti lagu dan nyanyian. Banyak penyanyi yang memiliki suara baik tetapi ekspresinya datar. Artinya. Dalam teater dramatik. Ekspresi cerita melalui nadanada musik harus benar-benar bisa divisualisasikan dengan tepat. Untuk mencapai hasil maksimal maka kejelian sutradara dalam mengamati dan menangani keseluruhan unsur pertunjukan sangat dibutuhkan. Jadi. Meskipun sutradara bekerja dengan seorang koreografer.

bawah kanan. * Memberikan pondasi yang praktis bagi aktor untuk membangun karakter dalam pertunjukan. Panggung pertunjukan secara kompleks dibagi dalam lima belas area. DC = Bawah Tengah. kiri. Fungsi blocking secara mendasar adalah sebagai berikut. Dengan blocking yang tepat. Di samping itu.1 Pembagian Area Panggung Gambar Pembagian sembilan area panggung UL UC UR CL L CR DL DC DR UR = Atas Kanan. blocking dapat mempertegas isi kalimat tersebut. yaitu tengah. Jika blocking dibuat terlalu rumit. bawah kanan tengah. bawah kiri tengah. Bukan hanya akting tetapi juga blocking. tengah kanan. C = Tengah. maka karakter tokoh yang dimainkan oleh para aktor akan tampak lebih hidup. 3. maka perlu diperhatikan agar blocking yang dibuat tidak terlalu rumit. bawah . Yang terpenting dalam hal ini adalah fokus atau penekanan bagian yang akan ditampilkan. DR = Bawah Kanan. Jika blocking dikerjakan dengan baik. Secara mendasar blocking adalah gerakan fisik atau proses penataan (pembentukan) sikap tubuh seluruh aktor di atas panggung. DL = Bawah Kiri Untuk membuat atau merencanakan blocking bagi para pemain. perlu diketahui terlebih dahulu pembagian area panggung. UL = Atas Kiri. * Menciptakan lukisan panggung yang baik. kalimat yang diucapkan oleh aktor menjadi lebih mudah dipahami oleh penonton.6. maka perpindahan dari satu aksi menuju aksi yang lain menjadi kabur. LC = Tengah Kiri. UC = Atas Tengah. RC = Tengah Kanan. Untuk mendapatkan hasil yang baik. * Menerjemahkan naskah lakon ke dalam sikap tubuh aktor sehingga penonton dapat melihat dan mengerti. sehingga lalulintas aktor di atas panggung berjalan dengan lancar. bawah tengah. kanan. Blocking dapat diartikan sebagai aturan berpindah tempat dari titik (area) satu ke titik (area) yang lainnya bagi aktor di atas panggung. tengah kiri.Sutradara diwajibkan memahami cara mengatur pemain di atas pentas.

sedangkan bawah adalah jarak terdekat dengan penonton. Letak kanan dan kiri atau atas dan bawah ditentukan berdasar pada arah hadap aktor ke penonton. maka luas masing-masing area akan terlalu sempit sehingga tidak memungkinkan sebuah pergerakan yang leluasa baik untuk pemain maupun perabot. yaitu tengah.2 Asimetris Komposisi asimetris tidak membagi pemain dalam dua bagian yang sama persis. Hal ini diperlukan untuk memenuhi ruang dan menghindari komposisi aktor yang berat sebelah. Keseimbangan adalah pengaturan atau pengelompokan aktor di atas pentas yang ditata sedemikian rupa sehingga tidak menghasilkan ketimpangan. dan atas kiri. 3. atas kanan. arah laku. maka penonton akan menjadi jenuh. Bagian yang satu merupakan cerminan bagian yang lain. maka hal ini akan menimbulkan pemandangan yang kurang menarik dan jika hal ini berlangsung lama. Sedangkan komposisi. 3.2. tengah kanan. sedangkan kanan adalah posisi kanan arah hadap aktor atau sisi kiri penonton. Pembagian panggung dalam lima belas area ini biasanya digunakan untuk panggung yang berukuran besar. Pengaturan posisi pemain seperti ini dilakukan agar semua pemain di atas pentas dapat dilihat dengan jelas oleh penonton. yaitu komposisi simetris dan komposisi asimetris yang ditata dengan mempertimbangkan keseimbangan. 3.2.3 Keseimbangan Dalam menata komposisi pemain di atas pentas hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah keseimbangan. . Secara sederhana dan umum panggung dibagi sembilan area. Kanan adalah kanan pemain dan bukan kanan penonton dan kiri adalah kiri pemain.1 Simetris Komposisi simetris adalah komposisi yang membagi pemain dalam dua bagian dan menempatkan bagianbagian tersebut dalam posisi yang benar-benar sama dan seimbang. atas kanan tengah. Bedanya. Pembagian sembilan area juga memudahkan sutradara dalam memberikan arah gerak kepada para aktornya. blocking memiliki arti yang lebih luas karena setiap gerak. bawah tengah. Panggung yang tidak terlalu luas jika dibagi menjadi lima belas area. pose. lebih mengatur posisi. Atas adalah jarak terjauh dari penonton. Jika salah satu ruang dibiarkan kosong sementara ruang yang lain terisi penuh.6. bawah kiri. tetapi membagi pemain dalam dua bagian atau lebih dengan tujuan memberi penonjolan (penekanan) bagian tertentu. bawah kanan. Di bawah ini adalah contoh komposisi simetris. perpindahan pemain serta perubahan posisi pemain dapat disebut blocking. dan tinggirendah pemain dalam keadaan diam (statis). Sekilas komposisi mirip dengan blocking.2 Komposisi Komposisi dapat diartikan sebagai pengaturan atau penyusunan pemain di atas pentas.6. atas kiri tengah. dan atas kiri. 3.6. atas tengah. tengah kiri. atas kanan. Ada dua ragam komposisi pemain. Jika digambarkan komposisi ini mirip cermin.6.2.kiri. atas tengah.

Oleh karena itu. perubahan ekspresi dan aksi di atas pentas harus dapat ditangkap mata penonton dengan jelas. * Usahakan agar para aktor saling menatap (berkontak mata) pada saat mengawali dan mengakhiri dialog (percakapan). karakter. Hal ini menjadikan gerak pemain kurang terlihat dengan jelas. * Jangan pernah memegang benda atau piranti tangan di depan wajah ketika sedang berbicara.3 Fokus Dalam mengatur blocking. maka dimensi dan keutuhan tubuh pemain akan dilihat dengan jelas oleh mata penonton. * Jika pemain hendak melangkah. Menghadap lurus ke arah penonton akan memberikan efek datar dan kurang memberikan dimensi kepada pemain. maka gerakan lengan dan tangan akan menutupi bagian tubuh lain. Jika yang dilakukan sebaliknya. usahakan untuk berbicara kepada penonton atau kepada aktor lain yang berada di atas panggung. Setiap aktivitas. Usahakan pemain menghadap diagonal (kurang lebih 45 derajat) ke arah penonton. Jika tangan yang digunakan adalah tangan yang tidak menganggu pandangan penonton. Membagi arah pandangan ini sangat penting untuk menegaskan dan memberi kejelasan ekspresi karakter kepada penonton. Dengan menghadap secara diagonal. pengaturan blocking harus mempertimbangkan pusat perhatian (fokus) penonton. Selebihnya. maka gerak laku aktor dalam menggunakan telepon akan kelihatan. sedangkan menyamping penuh akan menyembunyikan bagian tubuh yang lain. Hal ini dapat dikerjakan dengan menempatkan pemain dalam posisi dan situasi tertentu sehingga ia lebih menonjol atau lebih kuat dari yang lainnya. 3.3. maka kaki yang jauh akan tertutup dan wajah pemain secara otomatis akan menjauh dari mata penonton.3.6. prinsip-prinsip dasar di bawah ini dapat digunakan sebagai petunjuk dalam menempatkan posisi dan mengatur pose pemain. . * Gunakan lengan atau tangan panggung atas (yang jauh dari mata penonton) untuk menunjuk ke arah panggung atas dan gunakan lengan atau tangan panggung bawah (yang dekat dengan mata penonton) untuk menunjuk ke panggung bawah. * Kurangilah menempatkan pemain dalam posisi menghadap lurus ke arah penonton atau menyamping penuh. Hal ini mempertegas laku aksi yang sedang dikerjakan.1 Prinsip Dasar Pada dasarnya fokus adalah membuat pemain menjadi terlihat jelas oleh mata penonton. hal yang paling utama untuk diperhatikan sutradara adalah perhatian penonton. maka awali dan akhiri langkah tersebut dengan kaki panggung atas (yang jauh dari mata penonton). Jika melangkah dengan kaki panggung bawah (yang dekat dari mata penonton). karena hal ini akan menutupi suara dan pandangan penonton.6. Oleh karena itu.

Dasar-dasar Teater (4/6): Seni Berperan dalam Teater Aktor merupakan manusia yang mengorbankan dirinya untuk menjadi orang lain. Cara untuk menghitung denyut nadi.2 OLAH SUARA Suara adalah unsur penting dalam kegiatan seni teater yang menyangkut segi auditif atau sesuatu yang berhubungan dengan pendengaran. tinggi rendahnya. yaitu serial latihan gerakan tubuh untuk meningkatkan sirkulasi dan meregangkan otot dengan cara bertahap. suara tidak hanya dilontarkan begitu saja tetapi dilihat dari keras lembutnya. sedangkan bunyi merupakan produk benda-benda. Latihan pendinginan atau peredaan (warm-down). 4. yaitu latihan pemanasan. Unsur dasar bahasa lisan adalah suara. Akan tetapi. Selanjutnya. dan latihan pendinginan. latihan inti. Karena itu dia harus mempersiapkan dirinya secara utuh penuh baik fisik maupun psikis. Kegiatan mengucapkan dialog ini menjadi sifat teater yang khas. yaitu dengan menghitung denyut nadi yang ada di leher atau denyut nadi yang ada di pergelangan tangan dalam. Selama menghitung denyut nadi mata selalu melihat jam (jam tangan maupun jam dinding yang ada di dalam ruangan). Mengetahui denyut nadi sebelum latihan fisik dianjurkan karena berhubungan dengan kerja jantung. yaitu hasil getaran udara yang datang dan menyentuh selaput gendang telinga. Latihan inti. * Pemanasan * Latihan ketahanan * Latihan Kelenturan * Latihan ketangkasan * Latihan pendinginan * Latihan relaksasi 4. Latihan pemanasan (warm-up). yaitu dengan meletakkan jari tengah di atas pergelangan tangan dalam segaris dengan ibu jari atau jari jempol.1 Persiapan Sebelum melakukan latihan harus memperhatikan denyut nadi. karena digunakan sebagai bahan komunikasi yang berwujud dialog. Penghitungan dilakukan selama enam detik dan hasilnya dikalikan sepuluh. yaitu serial pokok dari inti gerakan yang akan dilatihkan. Suara merupakan produk manusia untuk membentuk katakata. 4. Prosesnya. suara dan bunyi itu sama.1. Latihanlatihan olah tubuh dapat dilakukan dengan tahap-tahap sebagai berikut. Cara penghitungan denyut nada yang ada di pergelangan tangan. Penghitungan denyut nadi yang ada dipergelangan tangan lebih dianjurkan untuk menghasilkan perhitungan yang tepat. suara dijadikan kata dan kata-kata disusun menjadi frasa serta kalimat yang semuanya dimanfaatkan dengan aturan tertentu yang disebut gramatika atau paramasastra. Suara dihasilkan oleh proses mengencang dan mengendornya pita suara sehingga udara yang lewat berubah menjadi bunyi. Olah tubuh dilakukan dalam tiga tahap. Dialog merupakan salah satu daya tarik dalam membina konflik-konflik dramatik. Pemilihan kata-kata memiliki tokohan dalam aturan yang dikenal dengan istilah diksi. Dalam kenyataannya. dan cepat lambatnya sesuai . yaitu serial pendek gerakan tubuh untuk mengembalikan kesegaran tubuh setelah menjalani latihan inti.1 Latihan Olah Tubuh Latihan olah tubuh melatih kesadaran tubuh dan cara mendayagunakan tubuh. Suara adalah lambang komunikasi yang dijadikan media untuk mengungkapkan rasa dan buah pikiran. dalam konvensi dunia teater kedua istilah tersebut dibedakan. Untuk itu seorang pemeran harus menjaga kelenturan peralatan tubuhnya. Dalam kegiatan teater. atau penghitungan dilakukan selama sepuluh detik dan hasilnya dikalikan enam. suara mempunyai tokohan penting.

. Akan tetapi. Hal ini disebabkan karena dalam dialog banyak terdapat nilai-nilai yang bermakna. kedudukan sosial. Jika lontaran dialog tidak sesuai sebagaimana mestinya. “Yah. dalam situasi tertentu tidak mampu mengungkapkan maksud yang sebenarnya. Misalnya. maka dia mencabut makna yang ada dalam kata-kata. marah. maka nilai yang terkandung tidak dapat dikomunikasikan kepada penonton. Hal ini merupakan kesalahan fatal bagi seorang pemeran.. * Memberi arti khusus pada kata-kata tertentu melalui modulasi suara. Misalnya. bisa juga bahasa tubuh sebagai penguat bahasa verbal. memang. Jika pemeran melontarkan dialognya hanya sekedar hasil hafalan saja. dalam arti tidak dibarengi dengan bahasa verbal. yaitu bahasa tubuh dan bahasa verbal yang berupa dialog. Ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh seorang pemeran tentang fungsi ucapan. Bahasa tubuh bisa berdiri sendiri. menunjukkan maksud memuji atau sebenarnya ingin mengatakan. Makna katakata dipengaruhi oleh nada. Maka. Proses pengucapan dialog mempengaruhi ketersampaian pesan yang hendak dikomunikasikan kepada penonton. Ketika pemeran mengucapkan dialog harus mempertimbangkan pikiran-pikiran penulis. Suara merupakan unsur yang harus diperhatikan oleh seseorang yang akan mempelajari teater. * Ucapan yang dilontarkan oleh pemeran bertujuan untuk menyalurkan kata dari teks lakon kepada penonton. Seorang pemeran dalam pementasan teater menggunakan dua bahasa. putus asa.dengan situasi dan kondisi emosi. Ekspresi yang disampaikan melalui nada suara membentuk satu pemaknaan berkaitan dengan kalimat dialog. * Memuat informasi tentang sifat dan perasaan tokoh. * Mengendalikan perasaan penonton seperti yang dilakukan oleh musik. Latihan-latihan untuk melenturkan peralatan suara dapat dilakukan menggunakan tahap-tahap sebagai berikut. Dialog yang diucapkan oleh seorang pemeran mempunyai tokohan yang sangat penting dalam pementasan naskah drama atau teks lakon. Maksud tersembunyi seperti itu disebut subtext. * Persiapan * Pemanasan * Senam Wajah * Senam Lidah * Senam Rahang Bawah * Latihan Tenggorokan * Berbisik * Bergumam * Bersenandung * Latihan Pernafasan * Latihan Kejelasa Diksi * Intonasi * Jeda * Tempo * Nada * Wicara * Ditutup dengan relaksasi . kamu sekarang sudah hebat. kekuatan. Banyak lagi contoh yang menunjukkan tentang makna suara. kalimat. misalnya: umur. Kata-kata yang membawa informasi yang bermakna. dan sebagainya.. ”. nada suara yang terlontarkan. Itulah yang disebut intonasi. yaitu sebagai berikut. sehingga secara tidak sadar mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya tidak dikehendaki. * Melengkapi variasi.. kegembiraan. “kamu belum bisa apa-apa”.

Bahasa tubuh dilakukan oleh seseorang terkadang tanpa disadari dan keluar mendahului bahasa verbal. Dunia teater adalah dunia imajiner atau dunia rekaan. Dengan demikian. Langkah awal yang perlu diperhatikan adalah mengasah kesadaran dan mampu menggunakan tubuhnya dengan efisien.1 Konsentrasi Pengertian konsentrasi secara harfiah adalah pemusatan pikiran atau perhatian. Seorang pemeran tidak hanya memikirkan ekspresi karakter tokoh yang ditokohkan saja. Ada korelasi yang sangat dekat antara pikiran dan tubuh. Tujuan dari konsentrasi ini adalah untuk mencapai kondisi kontrol mental maupun fisik di atas panggung. Oleh karena itu. Jika berlawanan dengan bahasa verbal akan mengurangi kekuatan komunikasi. Tugas yang lain adalah memberikan reaksi. Ada juga yang mengatakan bahwa gesture adalah bentuk komunikasi non verbal yang diciptakan oleh bagian-bagian tubuh yang dapat dikombinasikan dengan bahasa verbal. tetapi juga perasaan terhadap karakter lawan main. Seorang pemeran harus dapat mengontrol tubuhnya setiap saat.3 OLAH RASA Pemeran teater membutuhkan kepekaan rasa. Terlebih dalam konteks aksi dan reaksi. makin tinggi kesanggupan memusatkan perhatian. Dengan konsentrasi pemeran akan dapat mengubah dirinya menjadi orang lain. Latihan olah rasa dimulai dari konsentrasi. Segala sesuatu yang mengalihkan perhatian seorang pemeran. Makin menarik pusat perhatian. Akan tetapi. Pusat perhatian seorang pemeran adalah sukma atau jiwa tokoh atau karakter yang akan dimainkan. semua emosi tokoh yang ditokohkan harus mampu diwujudkan. Dunia ini harus diwujudkan menjadi sesuatu yang seolah-olah nyata dan dapat dinikmati serta menyakinkan penonton. Kalau pemeran dengan tingkat konsentrasi yang rendah maka dia tidak akan dapat menyakinkan penonton. gesture tidak dapat . Pemakaian gesture ini mengajak seseorang untuk menampilkan variasi bahasa atau bermacam-macam cara mengungkapkan perasaan dan pemikiran. dan imajinasi.4. tetapi juga harus memberikan respon terhadap ekspresi tokoh lain. Maka. yaitu tokoh yang dimainkan. Banyak pemeran yang hanya mementingkan ekspresi yang ditokohkan sehingga dalam benaknya hanya melakukan aksi. Padahal akting adalah kerja aksi dan reaksi.3. Dalam menghayatai karakter tokoh.3. Seorang pemeran harus memahami bahasa tubuh. latihan olah rasa tidak hanya berfungsi untuk meningkatkan kepekaan rasa dalam diri sendiri. Misalnya seorang pemeran melihat sesuatu yang menjijikan (meskipun sesuatu itu tidak ada di atas pentas) maka ia harus menyakinkan kepada penonton bahwa sesuatu yang dilihat benar-benar menjijikkan. cenderung dapat merusak proses pemeranan. 4. mempelajari gesture. konsentrasi menjadi sesuatu hal yang penting untuk pemeran. Latihan gesture dapat digunakan untuk mempelajari dan melahirkan bahasa tubuh. Kekuatan pemeran untuk mewujudkan dunia rekaan ini hanya bias dilakukan dengan kekuatan daya konsentrasi. latihan-latihan yang mendukung kepekaan rasa perlu dilakukan. Dunia tidak nyata yang diciptakan seorang penulis lakon dan diwujudkan oleh pekerja teater. Bahasa ini mendukung dan berpengaruh dalam proses komunikasi. baik bahasa tubuh budaya sendiri maupun bahasa tubuh budaya lainnya. sedangkan kalau selaras dengan bahasa verbal akan menguatkan proses komunikasi.2 Gesture Gesture adalah sikap atau pose tubuh pemeran yang mengandung makna. Seorang pemeran yang hanya melakukan aksi berarti baru mengerjakan separuh dari tugasnya. 4.

Misalnya. gesture harus disadari dan diciptakan sebagai penguat komunikasi dengan bahasa verbal. Melatih imajinasi sama dengan memperkerjakan pikiran-pikiran untuk terus berpikir. Selain itu. * Imajinasi tidak akan muncul dengan pikiran yang pasif. bagi orangtokohcis artinya nol. Sifat bahasa tubuh adalah tidak universal. bagi orang Yunani berarti penghinaan. siapa. dan tidak akan pernah ada. Belajar imajinasi harus menggunakan plot yang logis. 4. dengan mempelajari bahasa tubuh. * Pikiran bisa disuruh untuk mempertanyakan segala sesuatu. Bahasa tubuh atau gesture dengan tangan adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi maupun gerak kedua tangan. gesture dengan badan. Objek berfungsi untuk menstimulasi atau merangsang pikiran. Misalnya. akan diketahui tanda kebohongan atau tanda-tanda kebosanan pada proses komunikasi yang sedang berlangsung. “siapakah Hamlet itu?”. mengangguk tandanya tidak setuju sedangkan mengeleng artinya setuju. Macam-macam gesture yang dapat dipahami orang lain adalah gesture dengan tangan. Dengan berpikir. maka akan memunculkan gambaran pengandaiannya. dan jangan menggambarkan suatu objek yang tidak pasti (perkiraan).menggantikan bahasa verbal sepenuhnya. Hal ini berlawanan dengan bangsa-bangsa lain. dan gesture dengan kaki. Bahasa tubuh dengan kepala dan wajah adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi kepala maupun ekspresi wajah. Belajar imajinasi dapat menggunakan fungsi ”jika” atau dalam istilah metode pemeranan Stanislavski disebut magic-if. Baik hal yang logis maupun yang tidak logis. Jadi bahasa tubuh harus dipahami oleh pemeran sebagai pendukung bahasa verbal. Bahasa tubuh yang tercipta oleh kedua tangan merupakan bahasa tubuh yang paling banyak jenisnya. maka pikiran dipaksa untuk menjawab pertanyaan tersebut. Hal-hal yang perlu diketahui ketika berlatih imajinasi. Tangan mengacung dengan jari telunjuk dan jempol membentuk lingkaran. Dengan stimulus pertanyaan-pertanyaan atau menggunakan stimulus ”seandainya”. * Imajinasi tidak bisa dipaksa. dimana gambaran tersebut tidak pernah dialami sebelumnya. Sedang beberapa orang menggunakan gesture sebagai tambahan dalam kata-kata ketika melakukan proses komunikasi. maka akan terjadi proses imajinasi. Sebagai seorang pemeran. sedangkan fantasi membuat hal-hal yang tidak ada. Latihan imajinasi bagi pemeran berfungsi mengidentifikasi tokoh yang akan dimainkan. Bahasa tubuh semacam respon atau impuls dalam batin seseorang yang keluar tanpa disadari. Untuk membangkitkan imajinasi tokoh gunakan pertanyaan. Manfaat mempelajari dan melatih gesture adalah mengerti apa yang tidak terkatakan dan yang ada dalam pikiran lawan bicara. Sedangkan bahasa tubuh dengan kaki adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi dan bagaimana meletakkan kaki. tetapi bagi orang Amerika artinya bagus. tetapi harus dengan pikiran yang aktif.3 Imajinasi Imajinasi adalah proses pembentukan gambaran-gambaran baru dalam pikiran. seorang pemeran juga harus berimajinasi tentang pengalaman hidup tokoh yang akan dimainkan.3. gesture dengan kepala dan wajah. Usaha menjawab pertanyaan itu akan membawa pikiran untuk mengimajinasikan sosok Hamlet. tetapi harus dibujuk untuk bisa digunakan. dan apa. * Imajinasi menciptakan hal-hal yang mungkin ada atau mungkin terjadi. dimana. . Selain itu. orang India. Bahasa tubuh dengan tubuh adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh pose atau sikap tubuh seseorang. tidak pernah ada. Imajinasi tidak akan muncul jika direnungkan tanpa suatu objek yang menarik.

1 Arena Panggung arena adalah panggung yang penontonnya melingkar atau duduk mengelilingi panggung. 5. Semua ditata agar enak dipandang dari berbagai sisi. Penonton sangat dekat sekali dengan pemain. 5. penata panggung diharuskan memahami karakter jenis panggung yang akan digunakan serta bagian-bagian panggung tersebut. seni teater memiliki berbagai macam jenis panggung yang dijadikan tempat pementasan. Ketiganya adalah panggung proscenium. Karena bentuknya yang dikelilingi oleh penonton.berbeda satu dengan yang lain . Oleh karena itu.1.2. di atas panggung diletakkan kursi dan meja berukir.1 TATA PANGGUNG Tata panggung disebut juga dengan istilah scenery (tata dekorasi). Untuk menyampaikan maksud tersebut pekerja teater mengolah dan menata panggung sedemikian rupa untuk mencapai maksud yang dinginkan. Hal ini mempengaruhi nilai artistik pementasan. Panggung arena biasanya dibuat secara terbuka (tanpa atap) dan tertutup. Dengan memahami bentuk dari masingmasing panggung inilah. Inti dari pangung arena baik terbuka atau tertutup adalah mendekatkan penonton dengan pemain. tetapi segala tata letak perabot atau piranti yang akan digunakan oleh aktor disediakan oleh penata panggung. Karena jaraknya yang dekat. Jika bentuk ukiran yang ditampilkan tidak nampak sempurna . dan panggung tempat pementasan dilaksanakan. Misalnya. dan penempatannya. sebelum melaksanakan penataan panggung seorang penata panggung perlu mempelajari panggung pertunjukan. Penataan panggung disesuaikan dengan tuntutan cerita. Agar semua pemain dapat terlihat dari setiap sisi maka penggunaan set dekor berupa bangunan tertutup vertikal tidak diperbolehkan karena dapat menghalangi pandangan penonton. Gambaran tempat kejadian lakon diwujudkan oleh tata panggung dalam pementasan. kehendak artistik sutradara. Perbedaan jenis panggung ini dipengaruhi oleh tempat dan zaman dimana teater itu berada serta gaya pementasan yang dilakukan. dan panggung arena. Tidak hanya sekedar dekorasi (hiasan) semata.Dasar-dasar Teater (5/6): Seni Rupa dalam Teater 5. 5. Segala perabot yang digunakan dalam panggung arena harus benar-benar dipertimbangkan dan dicermati secara hati-hati baik bentuk. Misalnya. Bentuk panggung yang berbeda memiliki prinsip artistik yang berbeda. . panggung thrust. maka penata panggung dituntut kreativitasnya untuk mewujudkan set dekor. Untuk memperoleh hasil terbaik. dalam panggung yang penontonnya melingkar.1 Mempelajari Panggung Dalam sejarah perkembangannya. Berbeda dengan panggung yang penontonnya hanya satu arah dari depan. Di atas panggung inilah semua laku lakon disajikan dengan maksud agar penonton menangkap maksud cerita yang ditampilkan.2 Jenis-jenis Panggung Panggung adalah tempat berlangsungnya sebuah pertunjukan dimana interaksi antara kerja penulis lakon. ukuran.1. detil perabot yang diletakkan di atas panggung harus benar-benar sempurna sebab jika tidak maka cacat sedikit saja akan nampak. dan aktor ditampilkan di hadapan penonton. Seperti telah disebutkan di atas bahwa banyak sekali jenis panggung tetapi dewasa ini hanya tiga jenis panggung yang sering digunakan.1. membutuhkan tata letak perabot yang dapat enak dilihat dari setiap sisi. Kedekatan jarak ini membawa konsekuensi artistik tersendiri baik bagi pemain dan (terutama) tata panggung. penata panggung dapat merancangkan karyanya berdasar lakon yang akan disajikan dengan baik. sutradara.maka penonton akan dengan mudah melihatnya.

Banyak usaha yang dilakukan untuk mendekatkan pertunjukan dengan penonton. Pembelajaran tata panggung untuk menciptakan ilusi (tipuan) imajinatif sangat dimungkinkan dalam panggung proscenium. Bingkai yang dipasangi layar atau gorden inilah yang memisahkan wilayah akting pemain dengan penonton yang menyaksikan pertunjukan dari satu arah.3 Fungsi Tata Panggung Dalam perancangan tata panggung selain mempertimbangkan jenis panggung yang akan digunakan ada beberapa elemen komposisi yang perlu diperhatikan. Perabot dan piranti sangat penting dalam mencipta lukisan panggung. Seperti sebuah lukisan. Intinya semua yang di atas panggung dapat diciptakan untuk mengelabui pandangan penonton dan mengarahkan mereka pada pemikiran bahwa apa yang terjadi di atas pentas adalah kenyataan. bingkai proscenium menjadi batas tepinya. Jarak yang sengaja diciptakan untuk memisahkan pemain dan penonton ini dapat digunakan untuk menyajikan cerita seperti apa adanya. panggun arena sering menjadi pilihan utama bagi teater tradisional.1. Tata cahaya yang memproduksi sinar dapat dihadirkan dengan tanpa terlihat oleh penonton dimana posisi lampu berada. Aktor dapat bermain dengan leluasa seolah-olah tidak ada penonton yang hadir melihatnya. 5. Kedekatan jarak antara pemain dan penonton dimanfaatkan untuk melakukan komunikasi langsung di tengahtengah pementasan yang menjadi ciri khas teater tersebut. Aspek kedekatan inilah yang dieksplorasi untuk menimbulkan daya tarik penonton.1. Sebelum menjelaskan semua itu. Pesona inilah yang membuat penggunaan panggung proscenium bertahan sampai sekarang. terutama pada panggung arena dimana lukisan dekor atau bentuk bangunan vertikal tertutup seperti dinding atau kamar (karena akan menghalangi pandangan sebagian penonton) tidak memungkinkan diletakkan di atas panggung.Lepas dari kesulitan yang dihadapi. Kemungkinan berkomunikasi secara langsung atau bahkan bermain di tengah-tengah penonton ini menjadi tantangan kreatif bagi teater modern. Unsur-unsur ini ditata sedemikian rupa sehingga bisa . Jarak antara penonton dan panggung adalah jarak yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan gambaran kreatif pemangungan. Karena keseluruhan objek yang ada di atas panggung dan digunakan oleh aktor membentuk satu lukisan secara menyeluruh. Dengan pemisahan ini maka pergantian tata panggung dapat dilakukan tanpa sepengetahuan penonton. salah satunya adalah penggunaan panggung arena. fungsi tata panggung perlu dibahas terlebih dahulu. Tata panggung pun sangat diuntungkan dengan adanya jarak dan pandangan satu arah dari penonton. Penonton disuguhi gambaran melalui bingkai tersebut. 5. Kesan inilah yang diolah penata panggung untuk mewujudkan kreasinya di atas panggung proscenium. Semua yang ada di atas panggung dapat disajikan secara sempurna seolah-olah gambar nyata. Selain merencanakan gambar dekor.2 Proscenium Panggung proscenium bisa juga disebut sebagai panggung bingkai karena penonton menyaksikan aksi aktor dalam lakon melalui sebuah bingkai atau lengkung proscenium (proscenium arch). Perspektif dapat ditampilkan dengan memanfaatkan kedalaman panggung (luas panggung ke belakang). Panggung proscenium sudah lama digunakan dalam dunia teater.2. penata panggung juga bertanggungjawab terhadap segala perabot yang digunakan. Gambar dekorasi dan perabot tidak begitu menuntut kejelasan detil sampai hal-hal terkecil. Tata perabot kemudian menjadi unsur pokok pada tata panggung arena. Pemisahan ini dapat membantu efek artistik yang dinginkan terutama dalam gaya realisme yang menghendaki lakon seolah-olah benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata. Bentangan jarak dapat menciptakan bayangan arstisitk tersendiri yang mampu menghadirkan kesan. Hampir semua sekolah teater memiliki jenis panggung proscenium. Beberapa pengembangan desain dari teater arena melingkar dilakukan sehingga bentuk teater arena menjadi bermacammacam.

Jika semua objek diterangi dengan intensitas yang sama maka gambar yang akan tertangkap oleh mata penonton menjadi datar. * Pemilihan. bulan atau api untuk menerangi. Dengan pengaturan tingkat intensitas serta pemilahan sisi gelap dan terang maka dimensi objek akan muncul. dan atmosfir (Mark Carpenter. imajinasi dapat dituangkan sepenuhnya ke dalam gambar desain tanpa lebih dulu berpikir tentang kemungkinan visualisasinya. aktor. . pemilihan. 5. Pemilihan ini tidak hanya berpengaruh bagi perhatian penonton tetapi juga bagi para aktor di atas pentas serta keindahan tata panggung yang dihadirkan. Seorang penata cahaya perlu mempelajari pengetahuan dasar dan penguasaan peralatan tata cahaya. Tata cahaya dapat dimanfaatkan untuk menentukan objek dan area yang hendak disinari. untuk memberikan fokus perhatian pada area atau aksi tertentu sutradara memanfaatkan cahaya. * Penerangan.4 Elemen Komposisi Desain tata panggung sebaiknya dibuat dengan mudah dan bebas. Pemikiran lain di luar desain akan menghambat imajinasi dan akhrinya memberikan batasan. 5. Lampu memberi penerangan pada pemain dan setiap objek yang ada di atas panggung. Dalam teater. status karakter peran. penonton secara normal dapat melihat seluruh area panggung. Artinya.1. periode sejarah lakon. sutradara dapat menghadirkan ilusi imajinatif.2.1 Fungsi Tata Cahaya Tata cahaya yang hadir di atas panggung dan menyinari semua objek sesungguhnya menghadirkan kemungkinan bagi sutradara. Tanpa adanya cahaya maka penonton tidak akan dapat menyaksikan apa-apa. Tidak semua area di atas panggung memiliki tingkat terang yang sama tetapi diatur dengan tujuan dan maksud tertentu sehingga menegaskan pesan yang hendak disampaikan melalui laku aktor di atas pentas. Dimensi dapat diciptakan dengan membagi sisi gelap dan terang atas objek yang disinari sehingga membantu perspektif tata panggung.2 TATA CAHAYA Cahaya adalah unsur tata artistik yang paling penting dalam pertunjukan teater. Sejak ditemukannya lampu penerangan manusia menciptakan modifikasi dan menemukan hal-hal baru yang dapat digunakan untuk menerangi panggung pementasan. Penyuntingan atau pengolahan bisa dilakukan setelah gagasan tertuang. Dengan tata cahaya kedalaman sebuah objek dapat dicitrakan. Dengan cahaya. Dalam pembuatan desain gambar tata panggung yang terpenting adalah cara mengatur. Pengetahuan dasar ini selanjutnya dapat diterapkan dan dikembangkan dalam penataan cahaya untuk kepentingan artistik pemanggungan. dimensi. yaitu penerangan. Istilah penerangan dalam tata cahaya panggung bukan hanya sekedar memberi efek terang sehingga bisa dilihat tetapi memberi penerangan bagian tertentu dengan intensitas tertentu. 1988). 5. * Dimensi. Jika dalam film dan televisi sutradara dapat memilih adegan menggunakan kamera maka sutradara panggung melakukannya dengan cahaya. dan penonton untuk saling melihat dan berkomunikasi. dan memanipulasi elemen komposisi yang menjadi dasar dari seluruh kerja desain. Inilah fungsi paling mendasar dari tata cahaya. Dalam pertunjukan era primitif manusia hanya menggunakan cahaya matahari.memberikan gambaran lengkap yang berfungsi untuk menjelaskan suasana dan semangat lakon. lokasi kejadian. Banyak hal yang bisa dikerjakan bekaitan dengan peran tata cahaya tetapi fungsi dasar tata cahaya ada empat. dan musim dalam tahun dimana lakon dilangsungkan. Semua objek yang disinari memberikan gambaran yang jelas kepada penonton tentang segala sesuatu yang akan dikomunikasikan. menata.

Tata cahaya mampu menghadirkan suasana yang dikehendaki oleh lakon. tata cahaya memiliki fungsi pendukung yang dikembangkan secara berlainan oleh masing-masing ahli tata cahaya. Cahaya berfungsi untuk memberi tanda selama pertunjukan berlangsung. black out biasanya digunakan sebagai tanda ganti adegan diiringi dengan pergantian set. masing-masing fungsi memiliki interaksi (saling mempengaruhi). seperti tanah. teater Yunani yang memakai topeng lebih besar dari wajah pemain dengan garis tegas agar ekspresinya dapat dilihat oleh penonton. Tata Rias dalam teater bermula dari pemakaian kedok atau topeng untuk menggambarkan karakter tokoh. penonton dapat melihatnya dengan jelas. Gerak perpindahan cahaya ini mengalir sehingga kadang-kadang perubahannya disadari oleh penonton dan kadang tidak. tumbuhan. Dalam pementasan komedi atau dagelan tata cahaya membutuhkan tingkat penerangan yang tinggi sehingga setiap gerak lucu yang dilakukan oleh aktor dapat tertangkap jelas oleh penonton. Tata cahaya tidaklah statis. Beberapa teater primitif menggunakan bedak tebal yang biasa dibuat dari bahan-bahan alam. Misalnya. Sejak ditemukannya teknologi pencahayaan panggung.* Atmosfir. Kata “atmosfir” digunakan untuk menjelaskan suasana serta emosi yang terkandung dalam peristiwa lakon. Pemakaian tata rias akhirnya menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari peristiwa teater. Sebuah bagian bangunan yang tinggi yang senantiasa disinari cahaya sepanjang pertunjukan akan menarik perhatian penonton dan menimbulkan pertanyaan sehingga membuat penonton menyelidiki maksud dari hal tersebut. Tetapi pergantian cahaya dalam satu area ketika adegan tengah berlangsung terkadang tidak secara langsung disadari. yaitu seni mengubah wajah untuk menggambarkan karakter tokoh. Dalam gaya Surealis tata cahaya diproyeksikan untuk menyajikan imajinasi atau fantasi di luar kenyataan seharihari. cahaya selalu bergerak dan berpindah dari area satu ke area lain. dan lemak binatang. Keempat fungsi pokok tata cahaya di atas tidak berdiri sendiri. . * Gerak. Cahaya dapat dimanfaatkan untuk menciptakan lukisan panggung melalui tatanan warna yang dihasilkannya. Yang paling menarik dari fungsi tata cahaya adalah kemampuannya menghadirkan suasana yang mempengaruhi emosi penonton. * Gaya. Tata rias dalam teater mempunyai arti lebih spesifik. Sinar mentari pagi membawa kehangatan sedangkan sinar mentari siang hari terasa panas. fade out untuk mengakhiri sebuah adegan. * Komposisi. Cahaya dapat menunjukkan gaya pementasan yang sedang dilakonkan. Dalam pementasan teater tradisional. Gaya realis atau naturalis yang mensyaratkan detil kenyataan mengharuskan tata cahaya mengikuti cahaya alami seperti matahari. Inilah gambaran suasana dan emosi yang dapat dimunculkan oleh tata cahaya.3 TATA RIAS Tata rias secara umum dapat diartikan sebagai seni mengubah penampilan wajah menjadi lebih sempurna. Tanpa sadar penonton dibawa ke dalam suasana yang berbeda melalui perubahan cahaya. * Pemberian tanda. dari objek satu ke objek lain. Sepanjang pementasan. fade in untuk memulai adegan dan black out sebagai akhir dari cerita. Penggunaan warna serta intensitas dapat menarik perhatian penonton sehingga membantu pesan yang hendak disampaikan. Artinya. Selain keempat fungsi pokok di atas. warna cahaya matahari pagi berbeda dengan siang hari. Contohnya. Jika perpindahan cahaya bergerak dari aktor satu ke aktor lain dalam area yang berbeda. Beberapa fungsi pendukung yang dapat ditemukan dalam tata cahaya adalah sebagai berikut. efek lampu dapat diciptakan untuk menirukan cahaya bulan dan matahari pada waktu-waktu tertentu. Fungsi penerangan dilakukan dengan memilih area tertentu untuk memberikan gambaran dimensional objek.tulang. dan emosi peristiwa. bulan atau lampu meja. 5. Tata cahaya dapat memberikan penekanan tertentu pada adegan atau objek yang dinginkan. Misalnya. * Penekanan. suasana.

seorang remaja yang memerankan seorang yang telah berumur 50 tahun. seorang yang optimis digambarkan dengan tarikan sudut mata cenderung ke atas. tidak memiliki dimensi. mata menjadi lebih ekspresif. memiliki hidung yang kurang mancung. Pemain yang tidak menggunakan rias.4 Menghadirkan Garis Wajah Sesuai Dengan Tokoh Menampilkan wajah sesuai dengan tokoh membutuhkan garis baru yang membentuk wajah baru. Misalnya.3. bibir yang kurang tegas. Tata rias berfungsi menegaskan garis-garis wajah karakter. dan bibir bergaris tegas. Tata rias merupakan salah satu cara menampilkan karakter tokoh yang berbeda-beda tersebut.3. Seorang yang berperan .3 Memberi Efek Gerak Pada Ekspresi Pemain Wajah seorang pemain di atas pentas. dan sebagainya.3.1 Fungsi Tata Rias Tokoh dalam teater memiliki karakter berbeda-beda. misalnya.1 Menyempurnakan Penampilan Wajah Wajah seorang pemain memiliki kekurangan yang bisa disempurnakan dengan mengaplikasikan tata rias. Karakter wajah merupakan cermin psikologis dan latar sosial tokoh yang hadir secara nyata. Wajah perlu ditambahkan garis-garis kerutan sesuai wajah seorang yang berusia 50 tahun. tokoh yang pesimistis cenderung memiliki karakter garis mata yang menurun.2 Menggambarkan Karakter Tokoh Karakter berarti watak. tetapi juga menambahkan sehingga terbentuk tampilan yang berbeda dengan wajah asli pemain. Tata rias dalam teater memiliki fungsi sebagai berikut. Penyempurnaan wajah dilakukan pada pemain yang secara fisik telah sesuai dengan tokoh yang dimainkan.3. wajahnya akan tampak datar. Oleh karena itu dibutuhkan tata rias untuk menampilkan dimensi wajah pemain. mata yang tidak ekspresif.1. 5.5. ras. Tata rias berfungsi melukiskan watak tokoh dengan mengubah wajah pemeran menyangkut aspek umur. tampak datar ketika tertimpa cahaya lampu. Fungsi garis tidak sekedar menegaskan.1. 5. * Menyempurnakan penampilan wajah * Menggambarkan karakter tokoh * Memberi efek gerak pada ekspresi pemain * Menegaskan dan menghasilkan garis-garis wajah sesuai dengan tokoh * Menambah aspek dramatik. 5. 5. Tata rias memiliki kemampuan dalam mengubah sekaligus menampilkan karakter yang berbeda dari seorang pemeran. Tata rias tidak perlu mengubah usia.1. Tata rias bisa menyempurnakan kekurangan tersebut sehingga muncul kesan hidung tampak mancung. seorang remaja memerankan siswa sekolah.3. Seorang pemain. bentuk wajah dan tubuh. Seorang penata rias harus mencermati gerak ekspresi wajah untuk menentukan garis yang akan dibuat. Sebaliknya. sehingga saat berekspresi muncul efek gerak yang tegas dan dapat ditangkap oleh penonton.1. Misalnya. Penampilan tokoh yang berbeda-beda membutuhkan penampilan yang berbeda sesuai karakternya. Misalnya. tetapi cukup menyempurnakan dengan mengoreksi kekurangan yang ada untuk disempurnakan.

4 TATA BUSANA Tata busana adalah seni pakaian dan segala perlengkapan yang menyertai untuk menggambarkan tokoh. dan ciri-ciri khusus yang melekat pada tokoh.2 Jenis Tata Rias 5. kulit binatang.3. gelang .5 Menambah Aspek Dramatik Peristiwa teater selalu tumbuh dan berkembang.dapat disempurnakan dengan make up korektif. tetapi mengubah tampilan wajah. sifat. dan segala unsur yang melekat pada pakaian.2. 5. Tata rias karakter tidak sekedar menyempurnakan. seperti tumbuhan. Tata rias karakter dibutuhkan ketika karakter wajah pemeran tidak sesuai dengan karakter tokoh. 5. Tokoh-tokoh mengalami berbagai peristiwa sehingga terjadi perubahan dan penambahan tata rias. dan batu- . Disebut tata rias karakter khusus. syal. tersayat wajahnya. mengubah umur pemeran dari muda menjadi lebih tua .1 Tata Rias Korektif Tata rias korektif (corective make-up) merupakan suatu bentuk tata rias yang bersifat menyempurnakan (koreksi). dan menonjolkan bagian-bagian wajah sesuai dengan tokoh yang dimainkan.3. Tata rias fantasi menggambarkan tokohtokoh yang tidak riil keberadaannya dan lahir berdasarkan daya khayal semata. Seorang pemain membutuhkan tata rias korektif ketika tampilannya tidak membutuhkan perubahan usia. Tokoh tersebut memiliki latar Suku Dayak Kalimantan yang memiliki tradisi memanjangkan telinga. kalung. ras. busana yang dipakai berasal dari bahan-bahan alami. Wajah pemain cukup disempurnakan dengan menyamarkan. Tata rias ini menyembunyikan kekurangan-kekurangan yang ada pada wajah dan menonjolkan hal-hal yang menarik dari wajah.menjadi tokoh binatang. seorang tokoh tertusuk belati. menegaskan.3.3.3. Tata rias bisa memberikan efek dramatik dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan menciptakan efek tertentu sesuai dengan kebutuhan.2 Tata Rias Fantasi Tata rias fantasi dikenal juga dengan istilah tata rias karakter khusus. dan perubahan bentuk wajah. watak.2. Mengubah anatomi wajah pemain untuk memenuhi tuntutan tokoh dapat juga digolongkan sebagai tata rias karakter. Setiap wajah memiliki kekuarangan dan kelebihan. misalnya memanjangkan telinga. misalnya dahi terlalu lebar. Contohnya. maka perlu membuat garis-garis baru sesuai dengan karakter wajah binatang yang diperankan. Tata busana dalam teater memiliki peranan penting untuk menggambarkan tokoh.1. Misalnya. Pada era teater primitif. Tata busana termasuk segala asesoris seperti topi. 5. karena menampilkan wujud rekaan dengan mengubah wajah tidak realistik.3 Tata Rias karakter Tata rias karaker adalah tata rias yang mengubah penampilan wajah seseorang dalam hal umur. bangsa. Seseorang yang memiliki bentuk wajah kurang sempurna. 5.2. sepatu. Biasanya pemeran memiliki kesesuaian dengan tokoh yang diperankan. 5. tertembak. hidung kurang mancung dan sebagainya. maka dibutuhkan tata rias yang memberikan efek sesuai dengan kebutuhan.

Penampilan busana yang berbeda akan menunjukkan ciri khusus seorang tokoh.1. Tidak ada periode tata busana secara khusus di teater.2 Membedakan Satu Pemain Dengan Pemain Yang Lain Pementasan teater menampilkan tokoh yang bermacam-macam karakter dan latar belakang sosialnya. Tata busana dalam teater berfungsi sebagai bentuk ekspresi untuk tampil lebih indah dari penampilan seharihari. hasrat untuk tampil berbeda dan lebih indah dari tampilan sehari-hari telah muncul. sehingga penonton mampu mengidentifikasikan tokoh dengan mudah . Pementasan teater adalah suatu tontonan yang mengandung aspek keindahan. maka busana berkembang menjadi lebih baik. Tata busana dengan demikian sudah tidak lagi terpaku pada jaman. dalam teater Romawi Kuno maka lakon yang ditampilkan berlatar jaman tersebut sehingga busananya pun seperti busana keseharian penduduk jaman Romawi Kuno. karena semua tergantung latar cerita yang ditampilkan. Untuk membuat tata busana sesuai dengan adat dan kebudayaan daerah tertentu maka diperlukan referensi khusus berkaitan dengan adat dan kebudayaan tersebut. busana pada jaman atau dekade tertentu memiliki ciri yang sama. Demikian juga dengan teater pada jaman Yunani. 5. dan Abad 18. Busana pun mengikuti konsep tersebut.1 Fungsi Tata Busana Busana yang dipakai manusia beraneka ragam bentuk dan fungsinya. Dalam masa ini. Teater di Inggris pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth (1580 – 1640). Periode busana teater dengan demikian mengikuti periode teater tersebut. Busana teater mengalami perkembangan pesat seiring lahirnya teater modern pada akhir abad 19. Misalnya. 5. Masingmasing memiliki ciri khasnya. Semua terserah pada gagasan seniman. Abad Pertengahan.1 Mencitrakan Keindahan Penampilan Manusia memiliki hasrat untuk mengungkapkan rasa keindahan dalam berbagai aspek kehidupan. Pada era teater primitif. Busana menjadi salah satu tanda penting untuk membedakan satu tokoh dengan tokoh yang lain. Busana pementesan teater dibuat secara khusus dan dilengkapi dengan asesoris sesuai kebutuhan pemensan.4. beragam aliran teater bermunculan.4. memakai busana sehari-hari yang dibuat lebih indah dengan mengaplikasikan perhiasan dan penambahan bahanbahan yang mahal dan mewah. Artinya. yaitu. Penonton membutuhkan suatu penampilan yang berbeda-beda antara satu tokoh dengan tokoh yang lain. Elizabethan. mencitrakan kesopanan. Jenis busana ini tidak bisa disamakan antara daerah satu dengan daerah lain. Fungsi busana dalam kehidupan seharihari untuk melindungi tubuh. Ketika manusia menemukan tekstil dengan teknologi pengolahan yang tinggi. Renaissance.4.1. tetapi lebih pada konsep yang melatarbelakangi penciptaan teater. Sementara itu tata busana menurut jamannya bisa digeneralisasi. Masing-masing memiliki kospenya tersendiri dan lakon tidak harus berlatar jaman dimana lakon itu dibuat. dan memenuhi hasrat manusia akan keindahan.batuan untuk asesoris. Busana dalam teater memiliki fungsi yang lebih kompleks. * Mencitrakan keindahan penampilan * Membedakan satu pemain dengan pemain yang lain * Menggambarkan karakter tokoh * Memberikan efek gerak pemain * Memberikan efek dramatik 5. Restorasi. Tata busana dapat dibuat berdasar budaya atau jaman tertentu.

rajin. dan garis yang diciptakan. Melalui busana.5.3 Menggambarkan Karakter Tokoh Fungsi penting busana dalam teater adalah untuk menggambarkan karakter tokoh. penonton terbantu dalam menangkap karakter yang berbeda dari setiap tokoh. motif. dan sering membuat onar.1. busananya dilengkapi asesoris dan cara pemakaiannya seenaknya tidak sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan sekolah. bentuk. busananya cenderung rapi.4. Contohnya. Sebaliknya. tokoh seorang pelajar yang pendiam. dan tanpa asesoris yang berlebihan. dan alim. tokoh seorang pelajar yang bandel. sederhana. Perbedaan karakter dalam busana dapat ditampilkan melalui model. warna. brutal. .

Jadi. Dalam satu proses pembelajaran hal semacam itu sering tejadi. Berdiskusi.Dasar-dasar Teater (6/6): Penutup Sebuah karya teater lahir dari satu proses pembelajaran yang padu. Hal itu akan menyangkut soal cerita. Satu bidang harus mampu dan mau menghargai bidang lain. Secara mendalam. Untuk kepentingan inilah buku ini disusun. Oleh karena itu. ketersampaian cerita. konsep. Satu proses kerja bidang tertentu bahkan dinilai lebih tinggi dari bidang lain. mempelajari teater tidak hanya mempelajari satu bidang dan mengabaikan bidang lain. Karya seni yang lahir dari kreativitas dapat dialirkan kepada generasi berikutnya melalui catatancatatan. sutradara. maka semua komponen bekerja untuk memenuhi atmosfir kesedihan yang diharapkan. Karena sifatnya yang kolaboratif maka seni teater akan kehilangan spiritnya jika masing-masing bidang berusaha untuk menonjol dan mengalahkan bidang lain. Semua elemen harus besatu. Sebuah langkah yang besar selalu dimulai dari langkah kecil. Sebuah karya teater yang besar merupakan penyatuan kerja elemen-elemen yang kecil. penata artistik) akan diketahui langsung oleh para penonton dalam sebuah pertunjukan. Berbicara teater adalah berbicara tentang semua hal yang ada di dalamnya. Dramaturgi atau pengetahuan teater dasar merupakan pokok pemahaman yang harus diperhatikan. Karena prinsip teater adalah kerjasama maka belajar teater tidaklah hanya mempelajari elemen-elem yang ada di dalamnya tetapi juga mempelajari kerja pengabungan di antaranya. Dalam teater hal itu tidak berlaku. Membaca referensi atau buku teater tidaklah hanya untuk menambah wawasan. Seorang aktor yang baik harus mengerti fungsi tata panggung karena ia akan bermain di antara objek yang ditata di atas pentas. seni memang tidak hanya menghasilkan sesuatu yang tampak (produk) tetapi juga mental atau jiwa para pelakunya. bahkan penonton yang hadir di dalamnya. Berbicara teater tidak hanya berbicara naskah atau sutradara yang merajut proses atau aktor terkenal yang ikut terlibat di dalamnya. dan peningkatan kompetensi tetapi juga untuk mengungkap makna kerja yang ada di sebalik ilmu. aktor. Jika satu saja elemen berada di luar garis ini maka kesatuan makna menjadi kabur. Dengan demikin dalam satu karya teater. Ia akan bermain dalam area yang diciptakan oleh penata panggung. Oleh karena itulah. pelajarilah semuanya sesuai dengan tahapan yang benar. Pemaknaan ini akan membawa satu sikap penghargaan profesi baik bagi diri sendiri atau bagi orang yang bekerja pada bidang lain. Saling berbicara. Memiliki tujuan yang sama. Respon atau tanggapan yang diberikan penonton terhadap pertunjukan yang dilangsungkan merupakan tanda bagi keberhasilan atau kegagalan pertunjukan tesebut dalam menyampaikan pesan. tidak hanya tergambar keindahan karya seni tetapi juga prinsip kebersamaan. Demikian pula penata panggung harus mau memahami pola laku dan gerak para aktor di atas pentas sehingga ruang yang diciptakan tidak mengganggu bagi pergerakan aktor ketika bemain. Karena itu pulalah penonton merupkan kunci keberhasilan sebuah pertunjukan. Satu bidang kecil memiliki makna yang sama dengan bidang lain. semua saling belajar. semua saling mendukung. Apalagi ketika proses tersebut dinilai dan memiliki konsekuensi langsung bagi pelakunya. Begitu pentingnya pesan yang hendak disampaikan sehingga semua elemen pendukung pementasan bekerja keras mewujudkannya. Memecahkan persoalan bersama dan menentukan satu keputusan yang secara artistik adil bagi semua pihak. Semua elemen harus memahami hal ini. Memang perlu belajar satu bidang secara khusus tetapi pemahaman atas bidang lain tidak bisa diabaikan. tata rias dan busana. kerja sekecil apapun dalam teater sangatlah penting. Kualitas karya yang dihasilkan menggambarkan semangat dan keadaan jiwa pembuatnya. . Akhirnya menjadi maklumlah kita ketika seseorang berbicara tentang teater maka ia akan membicarakan semua elemen yang ada di dalamnya. semua saling membantu. Jika kualitas kerja salah satu bidang tidak baik maka keseluruhan pertunjukan menjadi terpengaruh. tata panggung dan cahaya. Satu gagasan atau perwujudan karya menjadi indah dan menarik serta memiliki kesatuan makna jika semua elemennya memiliki tujuan artistik yang sama. Kualitas ketersampaian pesan yang diramu oleh para pekerja teater (pengarang. pengetahuan. Saling mendukung demi tercapaiya tujuan tersebut. Dalam sebuah lakon yang menceritakan tentang kesedihan.

maka ia perlu dinyatakan. dan penyelesaian. Semua berjalan dalam satu proses. semua bermula dari sebuah cerita. sebuah gagasan dapat diwujudkan. Gagasan hanya akan menjadi gagasan jika tidak diwujudkan. Masing-masing bidang yang dibahas dalam buku ini memberikan gambaran harmonisasi tersebut. Tidak perlu seorang diri mengerjakan semuanya. Tidak peduli berapa panjang cerita tersebut. Masing-masing bidang dalam teater dapat dikerjakan oleh orang-orang tertentu yang tertarik di bidang-bidang tersebut. Disitulah sebetulnya letak fungsi hakiki dari sebuah pengetahuan. pemeranan. Semangat belajar dalam teater tidak akan pernah bisa berhenti karena teater senantiasa hidup dan berkembang. . Membaca catatan karya orang lain bukan dipahami sebagai bentuk plagiarisme tetapi membaca untuk mempelajari. teater adalah kerjasama. Hanya dengan cerita yang sangat sederhana semacam ini. berkarya. Minimal menjadi tiga kalimat yang masing-masing mewakili pemaparan. Teater adalah kolketif. apapun kualitasnya gagasan tersebut harus menjadi sesuatu. Catatan inti akan terus berkembang seiring dengan perkembangan teater itu sendiri. Ketika sebuah gagasan muncul. dan proses adalah belajar. Sesuatu yang sangat berarti bagi si penggagas.Dramaturgi adalah catatan-catatan proses penciptaan seni drama hingga sampai pementasannya. sebuah karya teater dapat dilahirkan. Karya baru yang dihasilkan oleh seniman itupun pada nantinya juga akan menginspirasi karya yang lain. Oleh sebab itu. dan belajar. Satu karya mempengaruhi atau terpengaruh oleh karya lain. Apapun bentuknya. belajar. Berkarya. Banyak seniman yang lahir karena membaca atau mempelajari karya (catatan) seniman yang lainnya. Semua bisa dipelajari secara mandiri. konflik. Jika semuanya berbuat dalam semangat kerjasama maka pergelaran karaya teater menjadi karya bersama yang memiliki satu makna. wujud awal dari sebuah gagasan harus mengalami proses pembentukan. cerita yang sudah berhasil dicipta dapat diwujudkan ke dalam sebuah pementasan. Ilmu yang didapatkan sekarang tidak akan pernah cukup. Bahkan mungkin cerita itu hanya merupakan satu rangkaian kalimat. Oleh karena itu maka tidak ada kata lain selain belajar. Catatan kecil yang kami sampaikan ini semoga dapat menjadi pemicu semangat untuk terus belajar dan berkarya. dan berkarya. Semua itu tidak berada dalam bingkai saling meniru akan tetapi bingkai kreativitas yang terus berkembang dan berkembang. Dengan berdasar pengetahuan dan keingintahuan dari membaca catatan tersebut. dan tata artistik dapat diaplikasikan untuk mendukung karya yang akan ditampilkan. Demikian berjalan secara berkesambungan. membaca untuk menilhami. Akan tetapi. Semua secara harmonis bekerja bersama mendukung makna yang satu. dengan memahami dasardasar penciptaan lakon yang mengedepankan pentingnya arti konflik dalam teater. membaca untuk menginspirasi sehingga seni baru senantiasa lahir. akan tetapi lebih berarti jika semua bidang bersinergi. Dalam teater. maka cerita yang satu kalimat itu pun dapat dikembangkan. Karya seni yang lebih mementingkan proses. Kerjasama sebagai semangat seni teater dapat dijadikan acuan proses penciptaan. Pengetahuan tentang dasar-dasar penyutradaraan. Sebuah pertunjukan dapat digelar. Dengan semangat dan ketekunan berlatih. lebih menghargai pengalaman dari pada hasil akhir.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful