Dasar-dasar Teater (1/6): Definisi & Sejarah Teater 1.

1 Definisi Teater Teater berasal dari kata Yunani, “theatereatron” (bahasa Inggris, Seeing Place) yang artinya tempat atau gedung pertunjukan. Dalam perkembangannya, dalam pengertian lebih luas kata teater diartikan sebagai segala hal yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Dengan demikian, dalam rumusan sederhana teater adalah pertunjukan, misalnya ketoprak, ludruk, wayang, wayang wong, sintren, janger, mamanda, dagelan, sulap, akrobat, dan lain sebagainya. Teater dapat dikatakan sebagai manifestasi dari aktivitas naluriah, seperti misalnya, anak-anak bermain sebagai ayah dan ibu, bermain tokohg-tokohgan, dan lain sebagainya. Selain itu, teater merupakan manifestasi pembentukan strata sosial kemanusiaan yang berhubungan dengan masalah ritual. Misalnya, upacara adat maupun upacara kenegaraan, keduanya memiliki unsur-unsur teatrikal dan bermakna filosofis. Berdasarkan paparan di atas, kemungkinan perluasan definisi teater itu bisa terjadi. Tetapi batasan tentang teater dapat dilihat dari sudut pandang sebagai berikut: “tidak ada teater tanpa aktor, baik berwujud riil manusia maupun boneka, terungkap di layar maupun pertunjukan langsung yang dihadiri penonton, serta laku di dalamnya merupakan realitas fiktif”, (Harymawan, 1993). Kata “drama” juga dianggap telah ada sejak era Mesir Kuno (4000-1580 SM), sebelum era Yunani Kuno (800277 SM). Hubungan kata “teater” dan “drama” bersandingan sedemikian erat seiring dengan perlakuan terhadap teater yang mempergunakan drama lebih identik sebagai teks atau naskah atau lakon atau karya sastra (Bakdi Soemanto, 2001). Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa istilah “teater” berkaitan langsung dengan pertunjukan, sedangkan “drama” berkaitan dengan lakon atau naskah cerita yang akan dipentaskan. Jadi, teater adalah visualisasi dari drama atau drama yang dipentaskan di atas panggung dan disaksikan oleh penonton. Jika “drama” adalah lakon dan “teater” adalah pertunjukan maka “drama” merupakan bagian atau salah satu unsur dari “teater”. Dengan kata lain, secara khusus teater mengacu kepada aktivitas melakukan kegiatan dalam seni pertunjukan (to act) sehingga tindaktanduk pemain di atas pentas disebut acting. Istilah acting diambil dari kata Yunani “dran” yang berarti, berbuat, berlaku, atau beraksi. Karena aktivitas beraksi ini maka para pemain pria dalam teater disebut actor dan pemain wanita disebut actress (Harymawan, 1993). Meskipun istilah teater sekarang lebih umum digunakan tetapi sebelum itu istilah drama lebih populer sehingga pertunjukan teater di atas panggung disebut sebagai pentas drama. Hal ini menandakan digunakannya naskah lakon yang biasa disebut sebagai karya sastra drama dalam pertujukan teater. Di Indonesia, pada tahun 1920-an, belum muncul istilah teater. Yang ada adalah sandiwara atau tonil (dari bahasa Belanda: Het Toneel). Istilah Sandiwara konon dikemukakan oleh Sri Paduka Mangkunegoro VII dari Surakarta. Kata sandiwara berasal dari bahasa Jawa “sandi” berarti “rahasia”, dan “wara” atau “warah” yang berarti, “pengajaran”. Menurut Ki Hajar Dewantara “sandiwara” berarti “pengajaran yang dilakukan dengan perlambang” (Harymawan, 1993). Rombongan teater pada masa itu menggunakan nama Sandiwara, sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama. Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan, istilah sandiwara masih sangat populer. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan (Kasim Achmad, 2006). Keterikatan antara teater dan drama sangat kuat. Teater tidak mungkin dipentaskan tanpa lakon (drama). Oleh karena itu pula dramaturgi menjadi bagian penting dari seni teater. Dramaturgi berasal dari bahasa Inggris dramaturgy yang berarti seni atau tekhnik penulisan drama dan penyajiannya dalam bentuk teater. Berdasar pengertian ini, maka dramaturgi membahas proses penciptaan teater mulai dari penulisan naskah hingga pementasannya. Harymawan (1993) menyebutkan tahapan dasar untuk mempelajari dramaturgi yang disebut dengan formula dramaturgi. Formula ini disebut dengan fromula 4 M yang terdiri dari, menghayalkan, menuliskan, memainkan, dan menyaksikan. M1 atau menghayal, dapat dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang karena menemukan sesuatu gagasan yang merangsang daya cipta. Gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan pada suatu persitiwa baik

yang disaksikan, didengar maupun dibaca dari literatur tertentu. Bisa juga gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan pada kehidupan seseorang. Gagasan atau daya cipta tersebut kemudian diwujudkan ke dalam besaran cerita yang pada akhirnya berkembang menjadi sebuah lakon untuk dipentaskan. M2 atau menulis, adalah proses seleksi atau pemilihan situasi yang harus dihidupkan begi keseluruhan lakon oleh pengarang. Dalam sebuah lakon, situasi merupakan kunci aksi. Setelah menemukan kunci aksi ini, pengarang mulai mengatur dan menyusun kembali situasi dan peristiwa menjadi pola lakon tertentu. Di sini seorang pengarang memiliki kisah untuk diceritakan, kesan untuk digambarkan, suasana hati para tokoh untuk diciptakan, dan semua unsur pembentuk lakon untuk dikomunikasikan. M3 atau memainkan, merupakan proses para aktor memainkan kisah lakon di atas pentas. Tugas aktor dalam hal ini adalah mengkomunikasikan ide serta gagasan pengarang secara hidup kepada penonton. Proses ini melibatkan banyak orang yaitu, sutradara sebagai penafsir pertama ide dan gagasan pengarang, aktor sebagai komunitakor, penata artsitik sebagai orang yang mewujudkan ide dan gagasan secara visual serta penonton sebagai komunikan. M4 atau menyaksikan, merupakan proses penerimaan dan penyerapan informasi atau pesan yang disajikan oleh para pemain di atas pentas oleh para penonton. Pementasan teater dapat dikatakan berhasil jika pesan yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penonton. Penonton pergi menyaksikan pertunjukan dengan maksud pertama untuk memperoleh kepuasan atas kebutuhan dan keinginannya terhadap tontonan tersebut. Formula dramaturgi seperti disebutkan di atas merupakan tahap mendasar yang harus dipahami dan dilakukan oleh para pelaku teater. Jika salah satu tahap dan unsur yang ada dalam setiap tahapan diabaikan, maka pertunjukan yang digelar bisa dipastikan kurang sempurna. Oleh karena itu, pemahaman dasar formula dramaturgi dapat dijadikan acuan proses penciptaan karya seni teater.

1.2 Sejarah Singkat Teater 1.2.1 Teater Barat 1.2.1.1 Asal Mula Teater Waktu dan tempat pertunjukan teater yang pertama kali dimulai tidak diketahui. Adapun yang dapat diketahui hanyalah teori tentang asal mulanya. Di antaranya teori tentang asal mula teater adalah sebagai berikut. * Berasal dari upacara agama primitif. Unsur cerita ditambahkan pada upacara semacam itu yang akhirnya berkembang menjadi pertunjukan teater. Meskipun upacara agama telah lama ditinggalkan, tapi teater ini hidup terus hingga sekarang. * Berasal dari nyanyian untuk menghormati seorang pahlawan di kuburannya. Dalam acara ini seseorang mengisahkan riwayat hidup sang pahlawan yang lama kelamaan diperagakan dalam bentuk teater. * Berasal dari kegemaran manusia mendengarkan cerita. Cerita itu kemudian juga dibuat dalam bentuk teater (kisah perburuan, kepahlawanan, tokohg, dan lain sebagainya). * Rendra dalam Seni Drama Untuk Remaja (1993), menyebutkan bahwa naskah teater tertua di dunia yang pernah ditemukan ditulis seorang pendeta Mesir, I Kher-nefert, di zaman peradaban Mesir Kuno kira-kira 2000 tahun sebelum tarikh Masehi. Pada zaman itu peradaban Mesir Kuno sudah maju. Mereka sudah bisa membuat piramida, sudah mengerti irigasi, sudah bisa membuat kalender, sudah mengenal ilmu bedah, dan juga sudah mengenal tulis menulis.

1.2.1.2 Teater Yunani Klasik Tempat pertunjukan teater Yunani pertama yang permanen dibangun sekitar 2300 tahun yang lalu. Teater ini dibangun tanpa atap dalam bentuk setengah lingkaran dengan tempat duduk penonton melengkung dan berundak-undak yang disebut amphitheater (Jakob Soemardjo, 1984). Ribuan orang mengunjungi

amphitheater untuk menonton teater-teater, dan hadiah diberikan bagi teater terbaik. Naskah lakon teater Yunani merupakan naskah lakon teater pertama yang menciptakan dialog diantara para karakternya. Ciri-ciri khusus pertunjukan teater pada masa Yunani Kuno adalah: * Pertunjukan dilakukan di amphitheater. * Sudah menggunakan naskah lakon. * Seluruh pemainnya pria bahkan tokoh wanitanya dimainkan pria dan memakai topeng karena setiap pemain memerankan lebih dari satu tokoh. * Cerita yang dimainkan adalah tragedi yang membuat penonton tegang, takut, dan kasihan serta cerita komedi yang lucu, kasar dan sering mengeritik tokoh terkenal pada waktu itu. * Selain pemeran utama juga ada pemain khusus untuk kelompok koor (penyanyi), penari, dan narator (pemain yang menceritakan jalannya pertunjukan).

1.2.1.3 Teater Romawi Klasik Setelah tahun 200 Sebelum Masehi kegiatan kesenian beralih dari Yunani ke Roma, begitu juga Teater. Namun mutu teater Romawi tak lebih baik daripada teater Yunani. Teater Romawi menjadi penting karena pengaruhnya kelak pada Zaman Renaissance. Teater pertama kali dipertunjukkan di kota Roma pada tahun 240 SM (Brockett, 1964). Pertunjukan ini dikenalkan oleh Livius Andronicus, seniman Yunani. Teater Romawi merupakan hasil adaptasi bentuk teater Yunani. Hampir di setiap unsur panggungnya terdapat unsur pemanggungan teater Yunani. Namun demikian teater Romawi pun memiliki kebaruan-kebaruan dalam penggarapan dan penikmatan yang asli dimiliki oleh masyarakat Romawi dengan ciri-ciri sebagi berikut. * Koor tidak lagi berfungsi mengisi setiap adegan. * Musik menjadi pelengkap seluruh adegan. Tidak hanya menjadi tema cerita tetapi juga menjadi ilustrasi cerita. * Tema berkisar pada masalah hidup kesenjangan golongan menengah. * Karakteristik tokoh tergantung kelas yaitu orang tua yang bermasalah dengan anak-anaknya atau kekayaan, anak muda yang melawan kekuasaan orang tua dan lain sebagainya.

1.2.1.4 Teater Abad Pertengahan Dalam tahun 1400-an dan 1500-an, banyak kota di Eropa mementaskan drama untuk merayakan hari-hari besar umat Kristen. Drama-drama dibuat berdasarkan cerita-cerita Alkitab dan dipertunjukkan di atas kereta, yang disebut pageant, dan ditarik keliling kota. Bahkan kini pertunjukan jalan dan prosesi penuh warna diselenggarakan di seluruh dunia untuk merayakan berbagai hari besar keagamaan. Para pemain drama pageant menggunakan tempat di bawah kereta untuk menyembunyikan peralatan. Peralatan ini digunakan untuk efek tipuan, seperti menurunkan seorang aktor dari atas ke panggung. Para pemain pegeant memainkan satu adegan dari kisah dalam Alkitab, lalu berjalan lagi. Pageant lain dari aktor-aktor lain untuk adegan berikutnya, menggantikannya. Aktor-aktor pageant seringkali adalah para perajin setempat yang memainkan adegan yag menunjukan keahlian mereka. Orang berkerumun untuk menyaksikan drama pageant religius di Eropa. drama ini populer karena pemainnya berbicara dalam bahasa sehari-hari, bukan bahasa Latin yang merupakan bahasa resmi gereja-gereja Kristen (Wisnuwardhono, 2002). Ciri-ciri teater abad Pertengahan adalah sebagai berikut: * Drama dimainkan oleh aktor-aktor yang belajar di universitas sehingga dikaitkan dengan masalah filsafat dan agama.

* Aktor bermain di panggung di atas kereta yang bisa dibawa berkeliling menyusuri jalanan. * Drama banyak disisipi cerita kepahlawanan yang dibumbui cerita percintaan. * Drama dimainkan di tempat umum dengan memungut bayaran. * Drama tidak memiliki nama pengarang.

1.2.1.5 Renaissance Abad 17 memberi sumbangan yang sangat berarti bagi kebudayaan Barat. Sejarah abad 15 dan 16 ditentukan oleh penemuanpenemuan penting yaitu mesin, kompas, dan mesin cetak. Semangat baru muncul untuk menyelidiki kebudayaan Yunani dan Romawi klasik. Semangat ini disebut semangat Renaissance yang berasal dari kata “renaitre” yang berarti kelahiran kembali manusia untuk mendapatkan semangat hidup baru. Gerakan yang menyelidiki semangat ini disebut gerakan humanisme. Pusat-pusat aktivitas teater di Italia adalah istana-istana dan akademi. Di gedung-gedung teater milik para bangsawan inilah dipentaskan naskah-naskah yang meniru drama-drama klasik. Para aktor kebanyakan pegawai-pegawai istana dan pertunjukan diselenggarakan dalam pesta-pesta istana. Ada tiga jenis drama yang dikembangkan, yaitu tragedi, komedi, dan pastoral atau drama yang membawakan kisah-kisah percintaan antara dewa-dewa dengan para gembala di daerah pedesaan. Namun nilai seni ketiganya masih rendah. Drama dilangsungkan dengan mengikuti struktur yang ada. Meskipun demikian gerakan mereka memiliki arti penting karena Eropa menjadi mengenal drama yang jelas struktur dan bentuknya. Ciri-ciri teater Zaman Renaissance yakni sebagai berikut. * Naskah lakon yang dipertunjukkan meniru teater Zaman Yunani klasik. * Cerita bertema mitologi atau kehidupan sehari-hari. * Tata busana dan seting yang dipergunakan sangat inovatif. * Pelaksanaan bentuk teater diatur oleh kerajaan maupun universitas. * Menggunakan panggung proscenium yaitu bentuk panggung yang memisahkan area panggung dengan penonton. * Pada zaman ini juga melahirkan satu bentuk teater yang disebut commedia dell’arte. Merupakan bentuk teater rakyat Italia yang berkembang di luar lingkungan istana dan akademisi. Pada tahun 1575 bentuk ini sudah populer di Italia. Kemudian menyebar luas di Eropa dan mempengaruhi semua bentuk komedi yang diciptakan pada tahun 1600.

Ciri khas commedia dell'arte adalah: * Para pemain dibebaskan berimprovisasi mengikuti jalannya cerita dan dituntut memiliki pengetahuan luas yang dapat mendukung permainan improvisasinya. * Menggunakan naskah lakon yang berisi garis besar cerita. * Cerita yang dimainkan bersumber pada cerita yang diceritakan secara turun menurun. * Cerita terdiri dari tiga babak didahului prolog panjang. Plot cerita berlangsung dalam suasana adegan lucu. * Peristiwa cerita berlangsung dan berpindah secara cepat . * Terdapat tiga tokoh yang selalu muncul, yaitu tokoh penguasa, tokoh penggoda, dan tokoh pembantu. * Tempat pertunjukannya di lapangan kota dan panggungpanggung sederhana. * Setting panggung sederhana, yaitu rumah, jalan, dan lapangan.

1.2.1.6 Teater Zaman Elizabeth

Pada tahun 1576. sejarah teater tradisional di Indonesia dimulai sejak sebelum Zaman Hindu. sutradara. Orang datang ke gedung pertunjukan tidak hanya untuk menyaksikan teater melainkan juga untuk menikmati musik.2. selain penulis drama. 1.2 Teater Indonesia 1.1. Ia menulis 37 (tiga puluh tujuh) drama dengan berbagai tema.2.2. Gedung teater ini sangat sukses sehingga banyak gedung sejenis dibangun di sekitarnya. surealisme. Seiring dengan perkembangan waktu. aktor ataupun penata artistik. dan absurd. Dewasa ini. tata cahaya. Ia biasanya menulis dalam bentuk puisi atau sajak. Dengan semangat melawan pesona realisme. Globe mementaskan drama-drama karya William Shakespeare. ada tanda-tanda bahwa unsurunsur teater tradisional banyak digunakan untuk mendukung upacara ritual. mulai dari pembunuhan dan tokohg sampai cinta dan kecemburuan. Pada zaman itu. Salah satunya yang disebut Globe. Tidak pemain wanita. dekorasi. beberapa cara untuk mengekspresikan karakter-karakter berbeda dalam pertunjukanpertunjukan (di samping nada suara) dapat melalui musik. Tidak jarang usaha mereka berhasil dan mampu memberikan pengaruh seperti gaya simbolisme. Mereka yang tidak mampu membeli tiket berdiri di sekitar panggung.7 Teater Abad 20 Teater telah berubah selama berabad-abad. Hal ini mendorong para pemikir teater untuk menemukan satu bentuk ekspresi baru yang lepas dari konvensi yang sudah ada. para seniman mencari bentuk pertunjukannya sendiri. Banyak gaya baru yang lahir baik dari sudut pandang pengarang. dan efek elektronik. penulis drama terkenal dari Inggris yang hidup dari tahun 1564 sampai tahun 1616. Gedung-gedung pertunjukan modern memiliki efek-efek khusus dan teknologi baru. dan menceritakan gagasan-gagasan mereka kepada penonton.000 penonton. Teater di Tengah-Tengah Gedung. * Corak pertunjukannya merupakan perpaduan antara teater keliling dengan teater sekolah dan akademi yang keklasik-klasikan. Penonton yang mampu membeli tiket duduk di sisi-sisi panggung.2. gedung teater ini bisa menampung 3. Ia adalah seorang aktor dan penyair. Beberapa ceritanya berisi monolog panjang. Lepas dari hal itu. yang disebut solilokui. gedung teater besar dari kayu dibangun di London Inggris. dan mempelajari hal-hal baru. Teater tradisional merupakan . * Menggunakan naskah lakon. Pada awal abad 20 inilah istilah teater eksperimental berkembang.1 Teater Tradisional Kasim Achmad dalam bukunya Mengenal Teater Tradisional di Indonesia (2006) mengatakan. * Tempat adegan ditandai dengan ucapan dengan disampaikan dalam dialog para tokoh. atau yang disebut saat ini. Rancangan-rancangan panggung termasuk pengaturan panggung arena. 1. hiburan. Tetapi tidak jarang pula usaha mereka berhenti pada produksi pertama. pendidikan. kualitas pertunjukan realis oleh beberapa seniman dianggap semakin menurun dan membosankan. Ciri-ciri teater Zaman Elizabeth adalah: * Pertunjukan dilaksanakan siang hari dan tidak mengenal waktu istirahat. Gaya-gaya pertunjukan realistis dan eksperimental ditemukan dalam teater Amerika saat ini. * Penontonnya berbagai lapisan masyarakat dan diramaikan oleh penjual makanan dan minuman. usaha pencarian kaidah artistik yang dilakukan oleh seniman teater modern patut diacungi jempol karena usaha-usaha tersebut mengantarkan pada keberagaman bentuk ekspresi dan makna keindahan. selama pemerintahan Ratu Elizabeth I. * Tokoh wanita dimainkan oleh pemain anak-anak laki-laki. Gedung ini dibangun seperti lingkaran sehingga penonton bisa duduk dihampir seluruh sisi panggung. epik. Wilayah jelajah artistik dibuka selebar-lebarnya untuk kemungkinan perkembangan bentuk pementasan seni teater.

Sandiwara Orion. arja. Cara penyajian cerita dengan menggunakan panggung dan dekorasi. Selain pengaruh dari teater bangsawan. 1. ubrug.2 Teater Indonesia tahun 1920-an Teater pada masa kesusasteraaan angkatan Pujangga Baru kurang berarti jika dilihat dari konteks sejarah teater modern Indonesia tetapi cukup penting dilihat dari sudut kesusastraan. Pada masa teater transisi belum muncul istilah teater.1 Teater Transisi Teater transisi adalah penamaan atas kelompok teater pada periode saat teater tradisional mulai mengalami perubahan karena pengaruh budaya lain. Lelakon Komedia Hindia Timoer (1913). yang pada saat itu masih belum menggunakan naskah drama/lakon. Drama-drama Pujangga Baru ditulis sebagai ungkapan ketertekanan kaum intelektual dimasa itu karena penindasan pemerintahan Belanda yang amat keras terhadap kaum pergerakan sekitar tahun 1930-an. sumber dan tata-cara di mana teater tradisional lahir. teater tradisional berkenalan juga dengan teater Barat yang dipentaskan oleh orang-orang Belanda di Indonesia sekitar tahun 1805 yang kemudian berkembang hingga di Betawi (Batavia) dan mengawali berdirinya gedung Schouwburg pada tahun 1821 (Sekarang Gedung Kesenian Jakarta).2. Kelompok teater yang masih tergolong kelompok teater tradisional dengan model garapan memasukkan unsur-unsur teknik teater Barat. drama gong. sebenarnya baru merupakan unsur-unsur teater.2. Pada saat itu. Perubahan tersebut terletak pada cerita yang sudah mulai ditulis. Bentuk sastra drama yang pertamakali menggunakan bahasa Indonesia dan disusun dengan model dialog antar tokoh . dan lain-lainnya. Sandiwara Tjahaja Timoer.2. 1. dinamakan teater bangsawan. meskipun masih dalam wujud cerita ringkas atau outline story (garis besar cerita per adegan). mulai mengenal sastra lakon dengan diperkenalkannya lakon yang pertama yang ditulis oleh orang Belanda F. Dilihat dari segi sastra. yang disebut “teater”. Proses terjadinya atau munculnya teater tradisional di Indonesia sangat bervariasi dari satu daerah dengan daerah lainnya. Komidi Bangsawan.2.Wiggers yang berjudul Lelakon Raden Beij Soerio Retno. yang menggunakan bahasa Melayu Rendah. Kemudian lahirlah kelompok sandiwara lain. wayang wong. Indra Bangsawan. Opera Abdoel Moeloek. seperti Opera Stambul. pada tahun 1901. sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama.2. dan lain sebagainya.2 Teater Modern 1.2. Mulai memperhitungkan teknik yang mendukung pertunjukan. Setelah Komedie Stamboel didirikan muncul kelompok sandiwara seperti Sandiwara Dardanella (The Malay Opera Dardanella) yang didirikan Willy Klimanoff alias A. Naskah-naskah drama tersebut belum mencapai bentuk sebagai drama karena masih menekankan unsur sastra dan sulit untuk dipentaskan. ludruk . Setelah melepaskan diri dari kaitan upacara. dan sebagainya. ketoprak.bagian dari suatu upacara keagamaan ataupun upacara adat-istiadat dalam tata cara kehidupan masyarakat kita. istilah sandiwara masih sangat populer.2. dan belum merupakan suatu bentuk kesatuan teater yang utuh. Macammacam teater tradisional Indonesia adalah :wayang kulit. Pada periode transisi inilah teater tradisional berkenalan dengan teater non-tradisi. unsur-unsur teater tersebut membentuk suatu seni pertunjukan yang lahir dari spontanitas rakyat dalam masyarakat lingkungannya. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan. Perkenalan masyarakat Indonesia pada teater non-tradisi dimulai sejak Agust Mahieu mendirikan Komedie Stamboel di Surabaya pada tahun 1891. Hal ini disebabkan oleh unsur-unsur pembentuk teater tradisional itu berbedabeda. Yang ada adalah sandiwara. Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan. lenong.2. randai. Pedro pada tanggal 21 Juni 1926. tergantung kondisi dan sikap budaya masyarakat. yang pementasannya secara teknik telah banyak mengikuti budaya dan teater Barat (Eropa). Kemudian disusul oleh Lauw Giok Lan lewat Karina Adinda. Karenanya rombongan teater pada masa itu menggunakan nama sandiwara.

Mata Hari. dua orang tokoh. Intensitas kerja Djawa Eiga Kosya yang ingin menghambat langkah Badan Pusat Kesenian Indonesia nampak ketika mereka membuka sekolah tonil dan drama Putra Asia. Ir Soekarno. dan lawak. Lakon Bebasari merupakan sastra drama yang menjadi pelopor semangat kebangsaan. dalam situasi yang sulit dan gawat serupa itu. maupun Sunda. Ali Yugo. yaitu Anjar Asmara dan Kamajaya masih sempat berpikir bahwa perlu didirikan Pusat Kesenian Indonesia yang bertujuan menciptakan pembaharuan kesenian yang selaras dengan perkembangan zaman sebagai upaya untuk melahirkan kreasi – kreasi baru dalam wujud kesenian nasional Indonesia. Sumanang (Sekretaris). dengan judul Si Bachil. Ratu Asia. Pendekar Asia. yaitu Sanusi Pane menulis Kertajaya (1932) dan Sandyakalaning Majapahit (1933) Muhammad Yamin menulis Ken Arok dan Ken Dedes (1934). Mr. Krukut Bikutbi. pada tahun 1927 menulis dan menyutradarai teater di Bengkulu (saat di pengasingan). ternyata mengalami hambatan yang datangnya dari barisan propaganda Jepang. Dewi Mada. Sutan Takdir Alisjabana. Sanusi Pane (Ketua). Imam Supardi menulis drama dengan judul Keris Mpu Gandring. Rainbow. Oya. yaitu Dewi Mada dengan suaminya Ferry Kok. Badan Pusat Kesenian Indonesia bermaksud menciptakan kesenian Indonesia baru. di rumah Bung Karno dibentuklah Badan Pusat Kesenian Indonesia dengan pengurus sebagai berikut. Nur Sutan Iskandar menyadur karangan Molliere. Maka pada tanggal 6 oktober 1942.A Murdiati. persoalan. Namun demikian. yang dipimpin oleh orang Jepang S. Warna Sari. Dr. dan harapan serta misi mewujudkan Indonesia sebagai negara merdeka. Mis Ribut. Beberapa lakon yang ditulisnya antara lain. dan sebagai anggota antara lain. yang kesemuanya merupakan corong propaganda Jepang. Satiman Wirjosandjojo menulis drama berjudul Nyai Blorong. Langkah-langkah yang telah diambil oleh Badan Pusat Kesenian Indonesia untuk mewujudkan cita-cita kemajuan kesenian Indonesia. yang dikenal dengan nama samarannya Mon Siour D’amour ini dalam rombongan sandiwara Bintang Surabaya menulis lakon antara lain. Armiijn Pane mengolah roman Swasta Setahun di Bedahulu karangan I Gusti Nyoman Panji Tisna menjadi naskah drama. dan Bolero. Tjahaya Asia. dan Merah Delima. Dalam masa pendudukan Jepang kelompok rombongan sandiwara yang mula-mula berkembang adalah rombongan sandiwara profesional. Bengawan Solo. Rombongan sandiwara Bintang Surabaya tampil dengan aktor dan aktris kenamaan. yang membebaskan puteri Bebasari dari niat jahat Rahwana. Menyusul kemudian muncul rombongan sandiwara Dewi Mada. nyanyian. yang sekaligus sebagai pemimpinnya. Air Mata Ibu (sudah difilmkan). dan Dr. Sija. Rombongan Sandiwara Bintang Surabaya menyuguhkan pementasan-pementasan dramanya dengan cara lama seperti pada masa Dardanella. Singgih menulis drama berjudul Hantu. Penulis-penulis ini adalah cendekiawan Indonesia. Mis Tjitjih. seperti misalnya Bintang Surabaya. dan lain-lain kembali berkembang dengan mementaskan cerita dalam bahasa Indonesia. R. Lakon ini menceritakan perjuangan tokoh utama Bujangga. Segala daya kreasi seni secara sistematis di arahkan untuk menyukseskan pemerintahan totaliter Jepang. Mr. Kris Bali.3 Teater Indonesia tahun 1940-an Semua unsur kesenian dan kebudayaan pada kurun waktu penjajahan Jepang dikonsentrasikan untuk mendukung pemerintahan totaliter Jepang.2. dan Kama Jaya. Dahlia. Bahkan Presiden pertama Indonesia. yaitu di antara satu dan lain babak diselingi oleh tarian-tarian. antara lain Astaman. Tan Ceng Bok (Si Item). yaitu Sendenbu yang membentuk badan perfilman dengan nama Djawa Eiga Kosy’. Setan. Fifi Young. Rombongan sandiwara Dewi Mada lebih mengutamakan tari-tarian dalam pementasan teater mereka karena Dewi Mada adalah penari terkenal . dan sebagainya. menulis dengan menggunakan bahasa Indonesia dan berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Pancawarna.2. Komedi Bangsawan. 1.dan berbentuk sajak adalah Bebasari (artinya kebebasan yang sesungguhnya atau inti kebebasan) karya Rustam Efendi (1926). Dalam kurun waktu ini semua bentuk seni hiburan yang berbau Belanda lenyap karena pemerintah penjajahan Jepang anti budaya Barat. dengan peragawati gadis-gadis Indo Belanda yang cantik-cantik . Penulis lakon lainnya. di antaranya dengan jalan memperbaiki dan menyesuaikan kesenian daerah menuju kesenian Indonesia baru. Pengarang Nyoo Cheong Seng. Lakon-lakon ini ditulis berdasarkan tema kebangsaan. Jawa. Rombongan sandiwara keliling komersial. Secara istimewa selingannya kemudian ditambah dengan mode show. dengan bintang-bintang eks Bolero.2. Armijn Pane.

Pertumbuhan sandiwara profesional tidak luput dari perhatian Sendenbu. Sensor Sendenbu malah menjadi titik awal dikenalkannya naskah dalam setiap pementasan sandiwara. nasionalis dan para profesional (dokter. Kama Jaya menulis lakon antara lain. Ratna Asmara. dan lain-lain). Bentuk penyajian semacam ini di anggap kaku oleh penonton umum yang lebih suka unsur hiburan disajikan sebagai selingan babak satu dengan babak lain sehingga akhirnya dengan terpaksa rombongan sandiwara tersebut mengikuti selera penonton. Si Bongkok. kekecewaan. Kotot Sukardi menulis lakon. Kusumahadi. Anjar Asmara. juga sebaliknya. Peristiwa tokohg secara khas dilukiskan dalam . Sang Pek Engtay. Guna-guna. Nusa Penida. Djajakusuma dengan dukungan Suryo Sumanto. ceritacerita yang dipentaskan antara lain. Huyung (Hei Natsu Eitaroo). kepahlawanan dan tindakan pengecut. Pancaroba. Lakon Ibu Prajurit ditulis oleh Natsusaki Tani. Menjelang akhir pendudukan Jepang muncul rombongan sandiwara yang melahirkan karya ssatra yang berarti. dan Abu Hanifah dengan para anggota cendekiawan muda. Kelompok ini berprinsip menegakkan nasionalisme. Baru kemudian Muchsin sebagai pengusaha besar tertarik dan membiayai rombongan sandiwara Warna Sari. mendirikan rombongan sandiwara angkatan muda Matahari. Rombongan sandiwara terkenal lainnya adalah rombongan sandiwara Sunda Mis Tjitjih. Hei Natsu Eitaroo menulis Hantu. humanisme dan agama. Kelak. Amat Heiho. pengkhianatan. Ia menabuh drum-drum tersebut sambil meloncat ke kanan – ke kiri sehingga menarik minat penonton. Pecah Sebagai Ratna. keberanian dan nilai kemanusiaan. Garsia menempatkan deretan drumnya yang berbagai ukuran itu memenuhi lebih dari separuh panggung. Solo di Waktu Malam dan Nusa Penida. yang terkenal sebagi Raja Drum. ahli seni drama atas nama Sendenbu memprakarsai berdirinya POSD (Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa) yang beranggotakan semua rombongan sandiwara profesional.sejak masa rombongan sandiwara Bolero. Cerita yang dipentaskan antara lain. peluang terbuka bagi seniman untuk merenungkan perjuangan dalam tokohg kemerdekaan. Dewi Rani. rombongan sandiwara ini terpaksa berlindung di bawah barisan propaganda Jepang dan berganti nama menjadi rombongan sandiwara Tjahaya Asia yang mementaskan ceritacerita baru untuk kepentingan propaganda Jepang.4 Teater Indonesia Tahun 1950-an Setelah tokohg kemerdekaan. yaitu rombongan sandiwara yang digemari rakyat jelata.2. Benteng Ngawi. Panggilan Tanah Air. Kembang Kaca. Sendenbu menyiapkan naskah lakon yang harus dimainkan oleh setiap rombongan sandiwara karangan penulis lakon Indonesia dan Jepang. 1.2. dan lain-lain. lakon Nora karya Henrik Ibsen diterjemahkan dan judulnya diganti dengan Jinakjinak Merpati oleh Armijn Pane. dan Jauh di Mata. dan Kama Jaya pada tanggal 6 April 1943. Dalam perjalanannya. Bahwa teori teater perlu dipelajari secara serius. Pada saat inilah pengembangan ke arah pencapaian teater nasional dilakukan. dan Rencong Aceh. Bende Mataram. Jepang menugaskan Dr. dan lain sebagainya.2. kemunafikan. apoteker. Hanya kalangan terpelajar yang menyukai pertunjukan Matahari yang menampilakan hiburan berupa tari-tarian pada awal pertunjukan baru kemudian dihidangkan lakon sandiwara dari awal hingga akhir. Lakon-lakon yang ditulis Anjar Asmara antara lain. Hingga tahun 1943 rombongan sandiwara hanya dikelola pengusaha Cina atau dibiayai Sendenbu karena bisnis pertunjukan itu masih asing bagi para pengusaha Indonesia. Ida Ayu. Keistimewaan rombongan sandiwara Warna Sari adalah penampilan musiknya yang mewah yang dipimpin oleh Garsia. Oleh karena ada sensor Sendenbu maka lakon harus ditulis lengkap berikut dialognya. Penggemar Maya menjadi pemicu berdirinya Akademi Teater Nasional Indonesia di Jakarta. Teater tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga untuk ekspresi kebudayaan berdasarkan kesadaran nasional dengan cita-cita menuju humanisme dan religiositas dan memandang teater sebagai seni serius dan ilmu pengetahuan. dan D. Rosihan Anwar. Dari semua lakon tersebut ada yang sudah di filmkan yaitu. Solo di Waktu Malam. Kupu-kupu. seorang keturunan Filipina. keiklasan sendiri dan pengorbanan. Ni Parini. Bulan Punama. Para pemain tidak boleh menambah atau melebih-lebihkan dari apa yang sudah ditulis dalam naskah. penderitaan. mereka merenungkan peristiwa tokohg kemerdekaan. Musim Bunga di Slabintana. yaitu Penggemar Maya (1944) pimpinan Usmar Ismail. Potong Padi.

gubernur DKI jakarta tahun1970. The Bespoke Overcoat (Wolf mankowitz ).2. seperti korupsi. 1945). Yogyakarta.2. pertunjukan bermula dari improvisasi dan eksplorasi bahasa tubuh dan bebunyian mulut tertentu atas suatu tema yang diistilahkan dengan teater mini kata (menggunakan kata seminimal mungkin). Lakon Awal dan Mira (1952) tidak hanya terkenal di Indonesia. salah satu aktor dan juga teman Jim Lim. erosi ideologi. 1950). Taman Ismail Marzuki menerbitkan 67 (enam puluh tujuh) judul lakon yang ditulis oleh 17 (tujuh belas) pengarang sandiwara. ATNI inilah akademi teater modern yang pertama di Asia Tenggara. ATNI menggalakkan dan memapankan realisme dengan mementaskan lakon-lakon terjemahan dari Barat. 1961). Pada tahun 1960. Gogol. Pada tahun 1967 Jim Lim belajar teater dan menetap di Paris. Galib Husein. Ujung Pandang. Bermain dengan akting realistis dalam lakon The Glass Menagerie (Tennesse William.2.1968). teater rakyat Sunda. Akan tetapi. Kapten Syaf (Aoh Kartahadimaja. Palembang. Jim Lim menyutradari Bung Besar. 1959). Wahyu Sihombing. Tema itu terungkap dalam lakon-lakon seperti Awal dan Mira (1952). Rendra mendirikan Bengkel Teater Yogya yang kemudian menciptakan pertunjukan pendek improvisatoris yang tidak berdasarkan naskah jadi (wellmade play) seperti dalam drama-drama realisme. Bib Bop dan Rambate Rate Rata (1967. Mengadaptasi lakon Hamlet dan diubah judulnya menjadi Jaka Tumbal (1963/1964). berdasarkan Justice karya John Galsworthy. dan kreativitas berteater tidak hanya di Jakarta. melanjutkan apa yang sudah dilakukan Jim Lim yaitu mencampurkan unsur-unsur teater Barat dengan teater etnis. menjadi pemicu meningkatnya aktivitas. Medan. Tahun 1962 Jim Lim menggabungkan unsur wayang kulit dan musik dalam karya penyutradaraannya yang berjudul Pangeran Geusan Ulun (Saini KM. Pada akhir 1950-an JIm Lim mulai dikenal oleh para aktor terbaik dan para sutradara realisme konvensional. tetapi juga di kota besar seperti Bandung. bahkan lakon adaptasi. Alumni Akademi Teater Nasional yang menjadi aktor dan sutradara antara lain. Utuy Tatang Sontani dipandang sebagai tonggak penting menandai awal dari maraknya drama realis di Indonesia dengan lakon-lakonnya yang sering menyiratkan dengan kuat alienasi sebagai ciri kehidupan moderen.. Teguh Karya. Menurut Brandon (1997). Karya penyutradaraanya. Sementara ada lakon yang bercerita tentang kekecewaan paska tokohg. melainkan sampai ke Malaysia. Badak-badak (Ionesco. menyelenggarakan festival pertunjukan secara teratur. tari topeng Cirebon. Pertunjukannya misalnya. Di Yogyakarta tahun 1955 Harymawan dan Sri Murtono mendirikan Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI). 1960).5 Teater Indonesia Tahun 1970-an Jim Adi Limas mendirikan Studiklub Teater Bandung dan mulai mengadakan eksperimen dengan menggabungkan unsur-unsur teater etnis seperti gamelan. Sayang Ada Orang Lain (1953) karya Utuy Tatang Sontani. Suyatna Anirun. 1954). dan Kasim Achmad.lakon Fajar Sidik (Emil Sanossa. Pakaian dan Kepalsuan oleh Akhdiat Kartamiharja (1956) berdasarkan The Man In Grey Suit karya Averchenko dan Hanya Satu Kali (1956). dan dagelan dengan teater Barat. Peristiwa penting dalam usaha membebaskan teater dari batasan realisme konvensional terjadi pada tahun 1967. juga lokakarya dan diskusi teater secara . yaitu Awal dan Mira (Utuy T. 1956) Sekelumit Nyanyian Sunda (Nasyah Jamin. dan lain-lain. Pramana Padmadarmaya. 1. oportunisme politis. Realisme konvensional dan naturalisme tampaknya menjadi pilihan generasi yang terbiasa dengan teater barat dan dipengaruhi oleh idiom Hendrik Ibsen dan Anton Chekhov. dan lain-lain. dan Biduanita Botak (Ionesco. (Misbach Yusa Biran) dengan gaya longser. kemiskinan. Pertahanan Akhir (Sitor Situmorang. Sedangkan metode pementasan dan pemeranan yang dikembangkan oleh ATNI adalah Stanislavskian. Titik-titik Hitam (Nasyah Jamin. Padang. Islam dan Komunisme. Kedua seniman teater Barat dengan idiom realisme konvensional ini menjadi tonggak didirikannya Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) pada tahun 1955 oleh Usmar Ismail dan Asrul Sani. Sontani) dan Paman Vanya (Anton Chekhov). Surabaya. melalaikan penderitaan korban tokohg. longser. Ketika Rendra kembali ke Indonesia. seperti karyakarya Moliere. Himpunan Seni Budaya Surakarta (HBS) didirikan di Surakarta. Menyutradarai dengan gaya realistis tetapi isinya absurditas pada lakon Caligula (Albert Camus. 1955). 1962). Tatiek Malyati. Didirikannya pusat kesenian Taman Ismail Marzuki oleh Ali Sadikin. 1951). dan Chekov.

Hasyim Amir (Bengkel Muda Surabaya. musik. Teguh Karya (Teater Populer). dan Teater Kami yang lahir di luar produk festival (Afrizal Malna. Teater Kanvas. Teater Lektur. Di Jakarta dikenal dengan Festival Teater Jakarta (sebelumnya disebut Festival Teater Remaja). Di Makasar.2. Teater Api. Ada pula Teater Luka. dan Teater Gandrik. Di Surabaya muncul bentuk pertunjukan teater yang mengacu teater epik (Brecht) dengan idiom teater rakyat (kentrung dan ludruk) melalui Basuki Rahmat. Teater Kubur. Teater Gandrik menonjol dengan warna teater yang mengacu kepada roh teater tradisional kerakyatan dan menyusun berita-berita yang aktual di masyarakat menjadi bangunan cerita. Sinden. Lakon yang dipentaskan antra lain. Salah satu lakonnya berjudul Tuk. Pasar Seret. Tokoh-tokoh teater yang muncul tahun 1970-an lainnya adalah. Salah satu teater kampus yang menonjol adalah teater Gadjah Mada dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.umum atau khusus. Kholiq Dimyati dan Mukid F. N. Lalu Teater Nasional Medan didirikan oleh Djohan A Nasution dan Burhan Piliang. Fokus tidak terletak pada aktor tetapi gerombolan yang menciptakan situasi dan aksi sehingga lebih dikenal sebagai teater teror. Teater Bandar Jakarta. Di Yogyakarta muncul Teater Dynasti. ISI menjadi satu-satunya perguruan tinggi seni yang memiliki program Strata 1 untuk bidang seni teater pada saat itu. Sanggar Suroboyo. Mohammad Diponegoro dan Syubah Asa mendirikan Teater Muslim. 1. Teater Shima. Teater Institut. Teater Jeprik. Jurusan teater dibuka di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada tahun 1985. dan Orde Tabung. Dewan-dewan Mahasiswa ditiadakan. . dan Teater Payung Hitam. Festival Drama Lima Kota Surabaya memunculkan Teater Pavita. Wahyu Sihombing. vokal. tata cahaya. Tidak hanya Stanislavsky tetapi nama-nama seperti Brecht. Luthfi Rahman. Noor (Teater Kecil) dengan gaya pementasan yang kaya irama dari blocking. Kontrangkantring. Riantiarno (Teater Koma) dengan ciri pertunjukan yang mengutamakan tata artistik glamor. Beberapa jenis festival di Yogyakarta. di antaranya Festival Seni Pertunjukan Rakyat yang diselenggarakan Departemen Penerangan Republik Indonesia (1983). Dhemit. Teater Nol. Ditiadakannya kehidupan politik kampus sebagai akibat peristiwa Malari 1974. Di samping Gapit. Teater Tobong. Di Bandung muncul Teater Bel. Adi Kurdi (Teater Hitam Putih). Dari Festival Teater Jakarta muncul kelompok teater seperti. D.1999). Teater Melarat Malang). Pramana Padmodarmaya (Teater Lembaga). Putu Wijaya (teater Mandiri) dengan ciri penampilan menggunakan kostum yang meriah dan vokal keras. Di Padang ada Wisran Hadi dengan teater Padang. Pada saat itu lahirlah kelompok-kelompok teater baru di berbagai kota di Indonesia. kostum dan verbalisme naskah. Di Surabaya ada Festival Drama Lima Kota yang digagas oleh Luthfi Rahman. Rahman Arge dan Aspar Patturusi mendirikan Teater Makasar. Di Semarang muncul Teater Lingkar. Teater Tetas selain teater Studio Oncor. Danarto (Teater Tanpa Penonton). Upeti. Ikranegara (Teater Saja). Aktivitas teater terjadi juga di kampus-kampus perguruan tinggi. Arifin C. Teater Rajawali. Teater Sae yang berbeda sikap dalam menghadapi naskah yaitu posisinya sejajar dengan cara-cara pencapaian idiom akting melalui eksplorasi latihan. di Solo ada juga Teater Gidag-gidig. Menampilkan manusia sebagai gerombolan dan aksi. Djajakusuma. Di Solo (Surakarta) muncul Teater Gapit yang menggunakan bahasa Jawa dan latar cerita yang meniru lingkungan kehidupan rakyat pinggiran. Di Yogyakarta Azwar AN mendirikan teater Alam.2. Di Tegal lahir teater RSPD. Teater Tikar. Aktivitas teater kampus mampu menghidupkan dan membuka kemungkinan baru gagasan-gagasan artistik.6 Teater Indonesia Tahun 1980 – 1990-an Tahun 1980-1990-an situasi politik Indonesia kian seragam melalui pembentukan lembaga-lembaga tunggal di tingkat nasional. Meh. Dalam latar situasi seperti itu lahir beberapa kelompok teater yang sebagian merupakan produk festival teater. Di Medan muncul Teater Que dan di Palembang muncul Teater Potlot. Akhudiat. Teater Ragil.2. Artaud dan Grotowsky juga diperbincangkan. Teater Republik.

an sampai saat ini. Sejak munculnya eksponen 70 dalam seni teater. Dengan demikian.2. wilayah jelajah ekspresi menjadi semakin luas dan kemungkinan bentuk garap semakin banyak . Gerakan ini terus berkembang sejak tahun 80. Semangat kolaboratif yang terkandung dalam seni teater dimanfaatkan secara optimal dengan menggandeng beragam unsur pertunjukan yang lain.1.7 Teater Kontemporer Indonesia Teater Kontemporer Indonesia mengalami perkembangan yang sangat membanggakan. Konsep dan gaya baru saling bermunculan. kemungkinan ekspresi artistik dikembangkan dengan gaya khas masing-masing seniman. Meksipun seni teater konvensional tidak pernah mati tetapi teater eksperimental terus juga tumbuh.2.2.

Akan tetapi. Dengan demikian bisa ditarik kesimpulan . karena tema merupakan sasaran yang hendak dicapai oleh seorang penulis lakon. ini mungkin bisa diuraikan sebagai keseluruhan pernyataan dalam sebuah permainan: topik. Pengarang atau penulis lakon menciptakan sebuah lakon bukan hanya sekedar mencipta. skenario tak tertulis (dalam teater kerakyatan). mungkin juga sebuah keadaan (Robert Cohen. sehingga pada puncaknya masuk ke dalam penyelesaian cerita. Tema bisa juga disebut muatan intelektual dalam sebuah permainan. dan bercabang-cabang jika tidak disajikan secara baik justru akan membosankan dan membuat laku lakon menjadi lamban. Adhy Asmara (1983) menyebut tema sebagai premis yaitu rumusan intisari cerita sebagai landasan ideal dalam menentukan arah tujuan cerita. dia mempunyai kepekaan terhadap lingkungan sekelilingnya. karena peristiwa yang mengarahkan cerita kepada konflik membutuhkan tokoh sebagai pelaku. dan apa yang dibaca atau diceritakan kepadanya oleh orang lain. aim. root idea. 2. thought. berliku. semakin lama semakin rumit.1 Tema Tema ada yang menyebutnya sebagai premis. Lakon ditulis oleh seorang penulis naskah lakon berdasarkan apa yang dilihat. tokoh atau tokoh yang terlibat dalam kejadiankejadian dalam lakon. Kedua. konflik. ide utama atau pesan. yaitu pertama. Kedua. driving force dan sebagainya. Jadi dalam lakon ada dua hal penting yang diciptakan oleh seorang penulis lakon. Seorang penulis terkadang mengemukakan tema dengan jelas tetapi ada juga yang secara tersirat.Dasar-dasar Teater (2/6): Seni Sastra dalam Teater Teater memiliki sekurang-kurangnya empat unsur penting dalam setiap pementasan. Gagasan utama atau pesan lakon termaktub dalam konflik yang merupakan pertentangan antara satu pihak terhadap pihak lain mengenai sesuatu hal. 1983). konlfik hingga penyelesaian. Pesan itu bisa mengenai kehidupan lahiriah maupun batiniah. tema harus dirumuskan dengan jelas. Peristiwa lakon tersebut menuntun seseorang untuk mengikuti laku kejadian mulai dari pemaparan. Penulis kemudian menyusun rangkaian kejadian. pesan atau pandangan terhadap persoalan yang ada dijadikan ide sentral atau tema dalam menulis naskah lakonnya. penonton adalah sekelompok orang yang menyerahkan sebagian dari kemerdekaannya untuk menjadi bagian dari tokoh yang tampil dalam suatu lakon dan menikmatinya. bisa berwujud sebuah naskah atau skenario tertulis. Dalam lakon akan dijumpai dua hal yang sangat penting. tetapi semakin lama semakin gawat sehingga akhirnya ia sampai ke puncak yang disebut klimaks. Peristiwa atau kejadian dibuat oleh penulis naskah sebagai kerangka besar yang mendasari terjadinya suatu lakon. 1989). Jalinan cerita menuju konflik dan cara penyelesainnya inilah yang menjadikan lakon menarik. Tidak ada acuan yang pasti terhadap konflik dalam lakon yang dapat membuat cerita menjadi menarik. tetapi juga menyampaikan suatu pesan tentang persoalan kehidupan manusia. Tokoh adalah orang yang menghidupkan kejadian atau peristiwa yang dibuat oleh penulis naskah. apa yang dialami. kalau ada anggapan bahwa semakin rumit konflik lakon semakin menarik adalah anggapan yang salah. Tidaklah menarik sebuah cerita disajikan di atas panggung tanpa adanya konflik. dan dari lingkungan tersebut dia menyerap segala persoalan yang menjadi ide-ide dalam penulisan lakonnya. central idea. Ide-ide. 1994). konflik yang berat. Pengarang adalah seorang warga masyarakat yang tentunya mempunyai pendapat tentang masalah-masalah politik dan sosial yang penting serta mengikuti isu-isu zamannya (Rene Wellek dan Austin Warren. Ketiga. Ketika tema tidak terumuskan dengan jelas maka lakon tersebut akan kabur dan tidak jelas apa yang hendak disampaikan. pemain adalah orang yang membawakan lakon tersebut. Keunggulan dari seorang pengarang ialah. Jadi. Konflik dalam lakon bisa rumit bisa juga sederhana. yaitu pertama. Keempat. yaitu konflik dan tokoh yang terlibat dalam kejadian. Konflik dalam lakon merupakan inti cerita. goal. lakon atau cerita yang ditampilkan. Penting sekali bahwa dalam menyusun kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa seorang penulis haruslah bersabar untuk melangkah dari satu kejadian ke kejadian lain dalam suatu perkembangan yang logis. Tema adalah suatu amanat utama yang disampaikan oleh pengarang atau penulis melalui karangannya (Gorys Keraf. Terkadang konflik yang kecil dan sederhana jika diselesaikan secara cerdas akan membuat penonton takjub. sutradara sebagai penata pertunjukan di panggung. Sementara.

lalim. Melalui laku atau aksi tokoh dalam lakon yang biasanya diterangkan (dituliskan) dalam arahan lakon gambaran tema semakin jelas.. Detil tema selalu dapat ditemukan dari baris-baris kalimat dialog tokoh cerita. Tema sebuah lakon bisa tunggal dan bisa juga lebih dari satu. Dari dialog tersebut dapat diketahui perihal atau soalan yang dibahas. rangkung saya berteriak meyerukan tuanlah lalim……… RAJA TOKOHCIS : Cordelia jelita.. Dengan merangkai setiap persoalan melalui dialog para tokohnya maka gambaran tema akan didapatkan. Sekarang kulempar tiap kewajiban orang tua. Kadangkadang. petir dahsyat yang pesat. berjaga dengan topi tipis ini? Anjing musuhku pun. Masing-masing tokoh mengucapkan kalimat dialognya. Dialog yang disampaikan tokoh dapat dijadikan acuan untuk menganalisis tema lakon. Bunuhlah tabib tuan.bahwa tema adalah ide dasar. tiap pertalian keluarga dan darah. cepat menyambar-nyabar? Bagai prajurit yang terbuang. * Raja Lear marah-marah ketika tidak dilayani hidupnya pada anak yang semula disayangi.. * Raja Lear membagi kerajaan pada ketiga anaknya sesuai dengan pujian yang disampaikan anaknya. Misalnya. nanti kuhambat untungmu…. gagasan atau pesan yang ada dalam naskah lakon dan ini menentukan arah jalannya cerita. LEAR : …………. CORDELIA : Andaikan bukan seorang ayah... supaya hama jahat berupah. mulai kini sampai selamanya kaulah asing bagiku dan bagi hatiku…………………. Perhatikan kutipan dialog di bawah ini. Tema dapat diketahui dengan dua cara : * Apa yang diucapkan tokoh-tokohnya melalui dialog-dialog yang disampaikan.. ternyata paling kaya meski miskin... tetapi karena sikapnya yang keras maka ia juga dibenci.. Ah wajah benginikah dipaksa menempuh pergolakan badai? Dan melawan guntur bercakra garang. meski dibuang.. dan harus dipuji. * Apa yang dilakukan tokoh-tokohnya.. namun uban ini sudah menuntut belas-kasih. Batalkan anugerah tuan. kendalikan lidahmu sedikit.. dalam kalimat dialog Raja Lear dapat ditarik satu simpulan bahwa meskipun sebagai raja ia disegani oleh anak-anaknya. yaitu kehancuran diri dan keluarganya. Dengan berpedoman dua hal tersebut analisis tema lakon dapat dikerjakan. Jika hanya membaca cerita secara keseluruhan tanpa meninjau kalimat dialog dengan teliti maka hasil akhir dari analisis yang dilakukan belum tentu benar. * Raja Lear marah-marah dan mengusir bawahannya ketika ada yang menentang.2 Plot .. LEAR : ………………. kalau tidak. KENT : Silakan. Dari kutipan dialog dan laku serta perbuatan tokoh dalam lakon Raja Lear di atas bisa ditarik sebuah kejelasan bahwa Raja Lear adalah orang yang gila hormat. laku tokoh dapat memberikan penjelasan sebagai berikut. terpillih meski.. Tema dalam naskah lakon ada yang secara jelas dikemukakan dan ada yang samar-samar atau tersirat.. di malam begitu takkan kuusir untuk dari tempat berdiang………………. Dalam lakon Raja Lear. 2. Semua analisis lakon dikerjakan dengan mencermati kalimat dialog tersebut serta hubungan antara kalimat satu dengan yang lain. lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo. walau menggigit aku. dialog kecil memiliki arti yang luas dan sanggup mempengaruhi tema cerita.. tidak bijaksana. * Raja Lear murka pada Cordelia karena tidak memujinya. Atas sikapnya itu Raja Lear menuai hasil. * Anak-anak Raja Lear yang disayangi berubah memusuhi orang tuanya sehingga Raja Lear sakit. Misalnya. tercinta meski dihina. Laku aksi memberikan penegasan kalimat dialog..

atau baca tersebut. lihat. Bagian akhir berisi tentang satu persatu pertanyaan penonton terjawab atau sebuah lakon telah mencapai klimaks besar. * Resolusi adalah proses penempatan kembali kepada suasana baru. Cuddon dalam Dictionary of Literaray Terms (1977). atau argumentative atau kejenakaan atau melalui cara-cara lain. Plot lakon banyak sekali ragamnya tergantung dari penulis lakon mempermainkan emosi kita. dan bagian akhir. Menurut J. Emosi ini timbul karena terpengaruh oleh jalinan peristiwaperistiwa dan jalannya cerita yang ditulis oleh penulis. dan spektakel. dan bagaimana peristiwa itu terjadi.Plot (ada yang menyebutnya sebagai alur) dalam pertunjukan teater mempunyai kedudukan yang sangat penting. Sellman dalam Modern Theatre Practice (1963). Jalinan peristiwa dan jalannya cerita inilah yang dimaksud dengan plot. Plot dapat dibagi berdasarkan babak dan adegan atau berlangsung terus tanpa pembagian. Hal ini berhubungan dengan pola pengadeganan dalam permainan teater. * Aksi Pendorong adalah saat memperkenalkan sumber konflik di antara karakter-karakter atau di dalam diri seorang karakter. 2. yaitu karakter. diksi. waktu kejadiannya. misalnya tempat lakon tersebut terjadi. puisi atau prosa dan selanjutnya bentuk peristiwa dan perwatakan itu menyebabkan pembaca atau penonton tegang dan ingin tahu. * Eksposisi adalah saat memperkenalkan dan membeberkan materi-materi yang relevan atau memberi informasi pada penonton tentang masalah yang dialami atau konflik yang terjadi dalam diri karakter-karakter yang ada di lakon. Samuel Selden dan Hunton D. Secara sederhana plot dapat dibagi menjadi dua yaitu simple plot (plot yang sederhana) dan multi plot (plot yang lebih dari satu) .A. Plot atau alur menurut Hubert C. Seorang penulis seringkali meletakkan berbagai informasi penting pada bagian awal lakon. ialah seluruh persiapan dalam permainan. Plot juga berfungsi sebagai bagian dasar yang membangun dalam sebuah teater dan keseluruhan perintah dari seluruh laku maupun semua bagian dari kenyataan teater serta bagian paling penting dan bagian yang utama dalam drama atau teater. Pautannya dapat diwujudkan oleh hubungan temporal (waktu) dan oleh hubungan kausal (sebab-akibat).1 Jenis Plot Ketika menonton atau melihat atau membaca sebuah lakon fiksi maka emosi kita akan terpengaruh dengan apa yang kita tonton. musik. yang menggerakkan jalan cerita melalui perumitan (penggawatan atau komplikasi) ke arah klimaks penyelesaian. Pembagian plot dalam lakon klasik atau konvensional biasanya sudah jelas yaitu. bagian tengah. pengawas utama dimana seorang penulis naskah dapat menentukan bagaimana cara mengatur lima bagian yang lain. plot atau alur adalah kontruksi atau bagan atau skema atau pola dari peristiwa-peristiwa dalam lakon. Plot merupakan jalannya peristiwa dalam lakon yang terus bergulir hinga lakon tersebut selesai. dan merupakan dasar struktur irama keseluruhan permainan. Secara umum pembagian plot terkadang menggunakan tipe sebab akibat yang dibagi dalam lima pembagian sebagai berikut. bagian awal.2. Pada bagian tengah biasanya berisi tentang kejadian-kejadian yang bersangkut paut dengan masalah pokok yang telah disodorkan kepada penonton dan membutuhkan jawaban. * Klimaks adalah proses identifikasi atau proses pengusiran dari rasa tertekan melalui perbuatan yang mungkin saja sifatnya jahat. Heffner. Bagian ini merupakan kejadian akhir dari lakon dan terkadang memberikan jawaban atas segala persoalan dan konflik-konflik yang terjadi. pelaku-pelakunya. Plot atau alur adalah rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama. Jadi plot berfungsi sebagi pengatur seluruh bagian permainan. tema. * Krisis adalah penjelasan yang terperinci dari perjuangan karakter-karakter atau satu karakter untuk mengatasi konflik. Plot menurut Panuti Sudjiman dalam bukunya Kamus Istilah Sastra (1984) memberi batasan adalah jalinan peristiwa di dalam karya sastra (termasuk naskah drama atau lakon) untuk mencapai efek-efek tertentu. Jadi plot merupakan susunan peristiwa lakon yang terjadi di atas panggung.

Contoh lakon dengan alur mundur adalah Opera Primadona karya Nano Riantiarno yang dimainkan oleh Teater Koma. Simple plot ini terdiri dari plot linear dan linear-circular. plot atau alur cerita merupakan rangkaian peristiwa yang satu dengan yang lain dihubungkan dengan hukum sebab akibat. alur lurus atau straight plot.1. dan tanpa disadari akan menimpa dirinya sendiri. Raja Lear karya William Shakespeare dan lain-lain. Plotplot yang ada dalam cerita tersebut memiliki permasalah yang harus diselesaikan. Dengan demikian plot memiliki anatomi atau bagian-bagian yang menyusun plot tersebut yang disebut dengan anatomi plot sebagai berikut. * Dramatic Irony. Dalam lakon banyak dijumpai tokoh-tokoh ini. Pengungkapan ini lewat jalinan peristiwa yang baik sehingga menciptakan dan mampu menggerakkan alur cerita itu sendiri. 2. Plot linear adalah alur cerita mulai dari awal sampai akhir cerita bergerak lurus sedangkan linear-circular adalah alur cerita mulai dari awal sampai akhir bergerak lurus secara melingkar sehingga awal dan akhir cerita akan bertemu dalam satu titik. Jalinan jalan cerita dalam lakon bergerak mulai dari awal sampai akhir tanpa ada kilas balik. Alur menanjak atau rising plot adalah alur dengan emosi lakon mulai dari tingkat emosi yang paling rendah menuju tingkat emosi lakon yang paling tinggi. Contoh lakon dengan alur episode atau episodic plot adalah lakon Panembahan Reso karya W.2 Anatomi Plot Menurut Rikrik El Saptaria (2006). pembayangan ke depan yang terjadi ketika tokoh meramalkan atau membayangkan keadaan yang akan datang. alur menurun atau falling plot. Setiap episode dalam lakon tersebut sebenarnya tidak ada hubungan sebab akibat dalam rangkaian cerita. Concentric plot adalah cerita lakon yang memiliki beberapa plot yang berdiri sendiri.S. alur mundur atau regressive plot. bagian 5 menit pertama yang sengaja dibuat menarik untuk memikat penikmat * Fore Shadowing. Alur menurun atau falling plot adalah alur dengan emosi lakon mulai dari tingkat emosi yang paling tinggi menuju tingkat emosi lakon yang paling rendah. dimana pada akhir cerita semua tokoh yang terlibat dalam cerita yang terpisah tadi akhirnya menyatu guna menyelesaikan cerita. Alur linear ini masih bisa dibagi-bagi lagi sesuai dengan sifat emosi yang terkandung dari plot linear ini. dan biasanya tidak disadari oleh tokoh tersebut. 2. Alur ini merupakan kebalikan dari progressive plot. * Gimmick. Alur mundur atau regresive plot adalah alur cerita yang dimulai dari inti cerita kemudian dipaparkan bagaimana sampai terjadi peristiwa tersebut.1 Simple Plot Simple plot atau plot lakon yang sederhana adalah lakon yang memiliki satu alur cerita dan satu konflik yang bergerak dari awal sampai akhir. Alur ini adalah alur cerita paling umum pada alur lakon. Multi plot ini terdiri dari dua tipe yaitu alur episode atau episodic plot dan alur terpusat atau concentric plot. Rendra.2. Alur lurus atau straight plot hampir sama dengan alur maju. Alur maju atau progresive plot adalah alur cerita yang dimulai dari pemaparan peristiwa lakon sampai menuju inti peristiwa lakon. terdiri dari alur menanjak atau rising plot. Tetapi pada akhir cerita alur cerita yang terdiri dari episodeepisode ini akan bertemu.2. di mana setiap episode memiliki alur cerita sendiri.2. aksi seorang tokoh yang berkata atau bertindak sesuatu.1. Alur episode atau episodic plot adalah plot cerita yang terdiri dari bagian perbagian secara mandiri. Alur ini merupakan kebalikan dari alur menanjak atau rising plot.2. tema. dan alur melingkar atau circular plot.2 Multi Plot Multi plot adalah lakon yang memiliki satu alur utama dengan beberapa sub plot yang saling bersambungan. tokoh. . alur maju atau progressive plot. Plot disusun oleh pengarang dengan tujuan untuk mengungkapkan buah pikirannya yang secara khas.

* Surprise. 2. * Gestus. atau sore hari? Jika terjadi dalam ruang lalu di mana letak ruang itu. atau sudah lain hari? Pertanyaan-pertanyaan seputar waktu dan tempat kejadian ini akan memberikan gambaran peristiwa lakon yang komplit (David Groote. suatu peristiwa yang terjadi diluar dugaan penonton sebelumnya dan memancing perasaan dan pikiran penonton agar menimbulkan dugaan-dugaan yang tidak pasti. Menurut Aristoteles peristiwa dalam lakon adalah mimesis atau tiruan dari kehidupan manusia keseharian. Pertanyaan tidak serta merta dijawab secara global tetapi harus lebih mendetil untuk mengetahui secara pasti waktu dan tempat kejadiannya. Suspen ini biasanya diciptakan dan dijaga oleh penulis lakon dari awal sampai akhir cerita. tempat peristiwa ini harus dikomunikasikan atau diceritakan oleh para pemeran sebagai komunikator kepada penonton. 2. Hal ini akan menyebabkan kualitas pertunjukan dinilai tidak terlalu bagus. Pertanyaan untuk setting atau latar cerita adalah kapan dan dimana persitiwa terjadi. Peristiwa dalam lakon adalah peristiwa fiktif yang menjadi hasil rekaan penulis lakon. Kilas balik ini berfungsi untuk mengingatkan kembali ingatan penonton pada peristiwa yang telah lampau tetapi masih dalam satu rangkaian peristiwa lakon. Namun peristiwa yang diharapkan tersebut.1 Latar Tempat Latar tempat adalah tempat yang menjadi latar peristiwa lakon itu terjadi. di dalam gedung atau di dalam rumah? Jam berapa kira-kira terjadi? Tanggal. Sedangkan sebagai bahan dasar pertunjukan. Analisis ini juga sangat penting dilakukan karena berhubungan dengan tata teknik pentas.2. Suspen akan menumbuhkan dan memelihara keingintahuan penonton dari awal sampai akhir cerita. Seperti diketahui bahwa sifat dari naskah lakon bisa berdiri sendiri sebagai bahan bacaan sastra. interpretasi tempat kejadian peristiwa ini terletak pada keterangan yang diberikan oleh penulis naskah lakon dan dalam imajinasi pembaca. Suspen ini biasanya dibangun melalui dialog-dialog serta laku para tokoh yang ada dalam naskah lakon. Analisis setting lakon ini merupakan suatu usaha untuk menjawab sebuah pertanyaan apakah peristiwa terjadi di luar ruang atau di dalam ruang? Apakah terjadi pada waktu malam. kilas balik peristiwa lampau yang dikisahkan kembali pada saat ini. Sebagai bahan bacaan sastra. pagi hari. Kalau pemeran atau sutradara tidak cermat dalam menganalisisnya maka kemungkinan suspen terlewati dan tidak tergarap dengan baik.3 Setting Membicarakan tentang setting dalam mengkaji lakon tidak ada kaitan langsung dengan tata teknik pentas. aksi atau ucapan tokoh utama yang beritikad tentang sesuatu persoalan yang menimbulkan pertentangan atau konflik antartokoh. * Suspen. 1997). Gambaran tempat peristiwa dalam lakon kadang sudah diberikan oleh penulis lakon. supaya penonton bertanya-tanya apa akibat yang ditimbulkan dari peristiwa sebelumnya ke peristiwa selanjutnya. tetapi kilas balik pada film biasanya berupa nukilannukilan gambar. pada akhirnya mengarah ke sesuatu yang tidak disangka-sangka sebelumnya. karena memang bukan persoalan scenery yang hendak dibahas. Kalau cerita itu bisa ditebak oleh penonton maka perhatian penonton akan berkurang dan menganggap pertunjukan tersebut tidak menyuguhkan sesuatu untuk dipikirkan. berisi dugaan dan prasangka yang dibangun dari rangkaian ketegangan yang mengundang pertanyaan dan keingintahuan penonton. Kilas balik biasanya diceritakan melalui dialog tokoh.2. bulan. tetapi kadang tidak diberikan oleh penulis .3. Analisis ini perlu dilakukan guna memberi suatu gambaran pada penonton tentang tempat peristiwa itu terjadi. dan tahun berapa? Apakah waktu kejadiannya berkaitan dengan waktu kejadian peristiwa di adegan lain. karena semuanya sudah bisa ditebak oleh penonton. Dalam sebuah lakon terkadang dijumpai aksi-aksi yang seperti ini dan akan menimbulkan suatu rasa simpati penonton kepada korbannya. Dengan menimbulkan pertanyaanpertanyaan ini penonton akan betah mengikuti cerita sampai selesai.* Flashback. tetapi bisa sebagai bahan dasar dari pertunjukan.

Analisis latar waktu bisa dilakukan dengan mencermati dialog-dialog yang disampaikan oleh tokoh dalam adegan atau babak yang sedang berlangsung.2. berbarti kita telah mengadopsi pikiran-pikiran dan perasaan tokoh tersebut menjadi perasaan dan pikiran kita. Misalnya. yaitu seolah-olah terjadi kiamat karena lakon ini dialegorikan sebagai kiamat kecil. Lakon-lakon dengan latar peristiwa yang riil juga terjadi pada lakonlakon di Indonesia pada tahun 1950 sampai tahun 1970. sedangkan yang dilakukan oleh pemeran biasanya berhubungan dengan akting dan bisnis akting. 2.4 Karakterisasi Karakterisasi merupakan usaha untuk membedakan tokoh satu dengan tokoh yang lain. atau yang mengakibatkan adegan atau lakon itu terjadi. Padahal ketidaksamaan watak akan melahirkan pergeseran. maka perasaan penonton akan merasa terwakili oleh perasaan tokoh yang diidentifikasi tersebut. tanpa perwatakan tidak bakal ada plot. tabrakan kepentingan. Dengan menggetahui latar waktu yang terjadi pada maka semua pihak akan bisa mengerjakan lakon tersebut. Misalnya. Analisis latar waktu yang dilakukan oleh sutradara biasanya berhubungan dengan tata teknik pentas. 2. penata artistik akan menata perabot dan mendekorasi pementasan sesuai dengan latar waktu.3. Misalnya.lakon. 2.2. Karakterisasi atau perwatakan dalam sebuah lakon memegang tokohan yang sangat penting. musim dingin dan lain-lain).3 Latar Peristiwa Latar peristiwa adalah peristiwa yang melatari adegan itu terjadi dan bisa juga yang melatari lakon itu terjadi.1 Jenis-jenis Tokoh . 2. lakon Raja Lear.2. 1985). Analisis latar tempat dapat dilakukan dengan mencermati dialog-dialog tokoh yang sedang berlangsung dalam satu adegan. dan babak itu terjadi. musim kemarau. adegan awal pada lakon. Adjib Hamzah.3.4.`adegan. Latar peristiwa pada adegan atau lakon adalah peristiwa yang mendahului adegan atau lakon tersebut. Suatu misal kita mengidentifisasi satu tokoh. Latar peristiwa ini bisa sebagai realita bisa juga fiktif yang menjadi imajinasi penulis lakon. Zaman Romantik. Latar waktu dalam naskah lakon bisa menunjukkan waktu dalam arti yang sebenarnya (siang. waktu yang menunjukkan sebuah musim (musim hujan. Perbedaan-perbedaan tokoh ini diharapkan akan diidentifikasi oleh penonton. pagi. Lakon pada waktu itu mengambil latar peristiwa pada Zaman Tokohg Revolusi di Indonesia. Tugas seorang sutradara dan`pemeran ketika menghadapi sebuah naskah lakon adalah menginterprestasi latar waktu dalam lakon tersebut. Bahkan Lajos Egri berpendapat bahwa berperwatakanlah yang paling utama dalam lakon. zaman tokohg dan lain-lain). Latar waktu terkadang sudah diberikan`atau sudah diberi rambu-rambu oleh penulis lakon. malam. konflik yang akhirnya melahirkan cerita (A. Tanpa perwatakan tidak akan ada cerita. mungkin saja William Shakespeare terinspirasi oleh bencana yang melanda Inggris pada waktu itu. tetapi banyak latar`waktu ini tidak diberikan oleh penulis lakon.2. babak atau dalam keseluruhan lakon tersebut. dan waktu yang menunjukkan suatu zaman atau abad (Zaman Klasik. Jika proses identifikasi ini berhasil.2 Latar Waktu Latar waktu adalah waktu yang menjadi latar belakang peristiwa. sore). Latar peristiwa yang nyata digunakan oleh penulis lakon untuk menggambar peristiwa yang terjadi secara nyata pada waktu itu sebagai dasar dari lakonnya. Analisis latar waktu perlu dilakukan baik oleh seorang sutradara maupun oleh pemeran.

Edgar. Dia adalah pengawal dari Cordelia. * Foil Foil adalah tokoh yang tidak secara langsung terlibat dalam konflik yang terjadi tetapi ia diperlukan guna menyelesaikan cerita. Tokoh-tokoh tersebut adalah sebagai berikut.2 Jenis Karakter Karakter adalah jenis tokoh yang akan dimainkan. keinginan. tokoh dapat dibagi-bagi sesuai dengan motivasi-motivasi yang diberikan oleh penulis lakon. Curan dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. Ketika masih kecil dia bereksplorasi dengan dirinya sendiri untuk mengetahui perkembangan dirinya. sebab dengan adanya tokoh maka timbul konflik. Motivasi-motivasi tokoh inilah yang dapat melahirkan suatu perbuatan tokoh. Oswald. dan ketika sudah dewasa maka pribadinya berkembang melalui hubungan dengan lingkungan sosial. Contoh:tokoh Badut dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. Cordelia dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare.4. * Deutragonis Deutragonis adalah tokoh lain yang berada di pihak tokoh protagonis. * Utility Utility adalah tokoh pembantu atau sebagai tokoh pelengkap untuk mendukung rangkaian cerita dan kesinambungan dramatik. Kedua tokoh inilah yang menentang perkembangan. 2. bisa juga karena kekurangan dirinya sendiri. Biasanya tokoh ini mewakili jiwa penulis. yang merupakan akumulasi dari pengalaman-pengalaman dan interaksi-interaksi yang dilakukannya dan terus . tokoh Perwira. * Tritagonis Tritagonis adalah tokoh penengah yang bertugas menjadi pendamai atau pengantara protagonis dan antagonis. teatrikal. Contoh. tokoh Tumenggung Kent. Contoh tokoh protagonis pada lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo adalah tokoh Raja Lear itu sendiri. Contoh. * Antagonis Antagonis adalah tokoh lawan. Dalam teater. dan karikatural. tokoh Bangsawan pada lakon Raja Lear karya Willliam Sahkespeare. sedangkan penokohan adalah proses kerja untuk memainkan tokoh yang ada dalam naskah lakon. Tokoh ini ikut mendukung menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh tokoh protaganis. Tokoh protagonis dan antagonis harus memungkinkan menjalin pertikaian. Contoh. karena dia seringkali menjadi musuh yang menyebabkan konflik itu terjadi. Karakter tokoh dalam lakon mengacu pada pribadi manusia yang berkembang sesuai dengan perkembangan lingkungan.Tokoh merupakan sarana utama dalam sebuah lakon. jenis karakter dalam teater ada empat macam. dan pertikaian itu harus berkembang mencapai klimaks. Biasanya dia berpihak pada tokoh antagonis. * Flat Character (perwatakan dasar) Flat character atau karakter datar adalah karakter tokoh yang ditulis oleh penulis lakon secara datar dan biasanya bersifat hitam putih. Jadi perkembangan karakter seharusnya mengacu pada pribadi manusia. Penokohan ini biasanya didahului dengan menganalisis tokoh tersebut sehingga bisa dimainkan. * Protagonis Protagonis adalah tokoh utama yang merupakan pusat atau sentral dari cerita. Konflik dapat dikembangkan oleh penulis lakon melalui ucapan dan tingkah laku tokoh. Contoh tokoh antagonis pada lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo adalah tokoh Gonerill dan tokoh Regan. Menurut Rikrik El Saptaria (2006). yaitu flat character. Tokoh ini juga menentukan jalannya cerita.2. Keberadaan tokoh adalah untuk mengatasi persoalan-persoalan yang muncul ketika mencapai suatu citacita. round charakter. dan cita-cita Raja Lear. Tokoh antagonis harus memiliki watak yang kuat dan kontradiktif terhadap tokoh protagonis. Persoalan ini bisa dari tokoh lain. bisa dari alam.

Misalnya karakter yang diciptakan oleh Putu Wijaya pada lakon-lakonnya yang bergaya post-realistic. tetapi sangat banyak dijumpai pada lakon-lakon klasik dan non realis. seperti tokoh A. Karakter-karakter teatrikal jarang dijumpai pada lakon-lakon realis. tetapi diperlukan dalam sebuah lakon. dan lebih bersifat simbolis. dan cenderung menyindir. .berkembang. * Round Character (perwatakan bulat) Karakter tokoh yang ditulis oleh penulis secara sempurna. Si Gembrot. Si Tua. karakteristiknya kaya dengan pesan-pesan dramatik. * Karikatural Karikatural adalah karakter tokoh yang tidak wajar. keadaan jaman dan lain-lain yang tidak bersifat manusiawi tetapi dilakukan oleh manusia. Perkembangan dan perubahan ini mengacu pada perkembangan pribadi orang dalam kehidupan sehari-hari. satiris. C. Perkembangan inilah yang menjadikan karakter ini menarik dan mampu untuk mengerakkan jalan cerita. antara ketegangan dengan keriangan suasana. bisa juga dengan tingkah laku. Karakter ini biasanya terdapat karakter tokoh utama baik tokoh protagonis maupun tokoh antagonis. Flat character ini ditulis dengan tidak mengalami perkembangan emosi maupun derajat status sosial dalam sebuah lakon. Round karakter adalah karakter tokoh dalam lakon yang mengalami perubahan dan perkembangan baik secara kepribadian maupun status sosialnya. Pemimpin (lakon LOS) dan lain-lain. unik. sehingga ketika mencipta sebuah karakter dia bebas menentukan suatu perkembangan karakter. * Teatrikal Teatrikal adalah karakter tokoh yang tidak wajar. Sifat karikatural ini bisa berupa dialog-dialog yang diucapkan oleh karakter tokoh. Flat character biasanya ada pada karakter tokoh yang tidak terlalu penting atau karakter tokoh pembantu.. Kawan. Karakter ini hanya simbol dari psikologi masyarakat. Karakter ini segaja diciptakan oleh penulis lakon sebagai penyeimbang antara kesedihan dan kelucuan. D. suasana. Penulis lakon adalah orang yang memiliki dunia sendiri yaitu dunia fiktif. bahkan perpaduan antara ucapan dengan tingkah laku.

Dengan banyaknya jumlah pentas yang harus dilakukan.Dasar-dasar Teater (3/6): Dasar Seni Penyutradaraan dalam Teater Pada mulanya pementasan teater tidak mengenal sutradara. Pementasan teater muncul dari sekumpulan pemain yang memiliki gagasan untuk mementaskan sebuah cerita. yaitu menentukan lakon. Dalam terminologi Yunani sutradara (director) disebut didaskalos yang berarti guru dan pada abad pertengahan di seluruh Eropa istilah yang digunakan untuk seorang sutradara dapat diartikan sebagai master. seperti tertulis di bawah ini. Oleh karena itu. Setelah itu tugas berikutnya adalah menganalisis lakon. 1994). Istilah sutradara seperti yang dipahami dewasa ini baru muncul pada jaman Geroge II. . Nskah tersebut harus memenuhi kreteria yang diinginkan serta sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan. memahami dan mengatur blocking serta melakukan serangkaian latihan dengan para pemain dan seluruh pekerja artistik hingga karya teater benar-benar siap untuk dipentaskan. Seorang bangsawan (duke) dari Saxe-Meiningen yang memimpin sebuah grup teater dan menyelenggarakan pementasan keliling Eropa pada akhir tahun 1870-1880. 2001). Andre Antoine di Tokohcis dengan Teater Libre serta Stansilavsky di Rusia adalah dua sutradara berbakat yang mulai menekankan idealisme dalam setiap produksinya. Meskipun demikian. kerja sutradara dimulai sejak merencanakan sebuah pementasan. 3. Proses mengajar dijadikan tonggak awal lahirnya “sutradara”. Max Reinhart mengembangkan penyutradaraan dengan mengorganisasi proses latihan para aktor dalam waktu yang panjang.1. Sejalan dengan kebutuhan akan pementasan teater yang semakin meningkat. Model penyutradaraan seperti yang dilakukan oleh George II diteruskan pada masa lahir dan berkembangnya gaya realisme. Para aktor yang telah memiliki banyak pengalaman mengajarkan pengetahuannya kepada aktor muda. maka para aktor memerlukan peremajaan pemain. maka seorang sutradara harus mengerti dengan baik hal-hal yang berhubungan dengan pementasan. Dengan demikian sutradara menjadi salah satu elemen pokok dalam teater modern. menentukan pemain. Oleh karena kedudukannya yang tinggi.1 Naskah Jadi Mementaskan teater dengan naskah yang sudah tersedia memiliki kerumitan tersendiri terutama pada saat hendak memilih naskah yang akan dipentaskan. Sutradara bisa memilih lakon yang sudah tersedia (naskah jadi) karya orang lain atau membuat naskah lakon sendiri. maka kehadiran seorang sutradara yang mampu mengatur dan mengharmonisasikan keseluruhan unsur artistik pementasan dibutuhkan. Kemudian mereka berlatih dan memainkkannya di hadapan penonton. 3. Ada beberapa pertimbangan yang dapat dilakukan oleh sutradara dalam memilih naskah. Gordon Craig merupakan seorang sutradara yang menanamkan gagasannya untuk para aktor sehingga ia menjadikan sutradara sebagai pemegang kendali penuh sebuah pertunjukan teater (Herman J. produksi pementasan teater Saxe-Meiningen masih mengutamakan kerja bersama antarpemain yang dengan giat berlatih untuk meningkatkan kemampuan berakting mereka (Robert Cohen.1 Pemilihan Naskah Proses atau tahap pertama yang harus dilakukan oleh sutradara adalah menentukan lakon yang akan dimainkan. menentukan bentuk dan gaya pementasan. Berhasil tidaknya sebuah pertunjukan teater mencapai takaran artistik yang diinginkan sangat tergantung kepiawaian sutradara. Waluyo.

* Sutradara merasa mampu mementaskan naskah yang telah dipilih. Persoalan atau konflik adalah inti daricerita teater. yaitu pembukaan. membuat kerangka cerita (skenario) dengan empat bagian. Dengan membuat kerangka cerita maka penulis akan memiliki batasan yang jelas sehingga cerita tidak berteletele. * Sutradara mampu tetap mementaskan naskah yang dipilih. sutradara harus mampu melakukan adaptasi sehingga pendanaan bisa dikurangi tanpa mengurangi nilai artistik lakon. pemilihan pemain yang asal-asalan. Tema. maka naskah tersebut bisa dipilih. pangkal persoalan yang dibicarakan adalah sikap licik seseorang yang selalu memfitnah orang lain demi kepentingannya sendiri. Semua sumber daya dimiliki seperti pemain. Naskah semacam ini bersifat situasional. sutradara harus mampu mengukur kualitas sumber daya pemain yang dimiliki dalam menentukan naskah yang akan dipentaskan. Beberapa naskah yang baik terkadang memiliki konsekuensi logis dengan pendanaan. Dengan adanya sinopsis maka penulisan lakon menjadi terarah dan tidak mengada-ada.1.2 Membuat Naskah Sendiri Membuat naskah lakon sendiri tidak menguntungkan karena akan memperpanjang proses pengerjaan. keseluruhan kerja menjadi tidak optimal. * Menentukan kerangka cerita.Tidak ada gunanya berlatih naskah lakon tertentu dalam waktu lama jika di tengah proses tiba-tiba hal itu terhenti karena alasan tertentu. Oleh karena itu. membuat naskah sendiri dapat menjadi pilihan yang tepat. Oleh karena itupangkal persoalan atau titik awal konflik perlu dibuat dan disesuaikan dengan tema yang dikehendaki. 3. Beberapa langkah di bawah ini dapat dijadikan acuan untuk menulis naskah lakon. Akan tetapi berkenaan dengan sumber daya yang dimiliki. * Membuat sinopsis (ringkasan cerita).* Sutradara menyukai naskah yang dipilih. Naskah yang tidak dikehendaki akan membawa pengaruh dan masalah tersendiri bagi sutradara dalam mengerjakannya. Jika tidak. Kerangka ini membagi jalannya cerita mulai dari pemaparan. Misalnya. William Froug (1993) misalnya. * Sutradara mampu menemukan pemain yang tepat. Jika sutradara memilih naskah yang akan ditampilkan dalam keadaan terpaksa maka bisa dipastikan hasil pementasan menjadi kurang baik. penata artsitik. Tema adalah gagasan dasar cerita atau pesan yang akan disampaikan oleh pengarang kepada penonton. * Menentukan persoalan. konflik. seperti analisis yang kurang detil. Sinopsis digunakan pemandu proses penulisan naskah sehingga alur dan persoalan tidak melebar. * Menentukan tema. . Gambaran cerita secara global dari awal sampai akhir hendaknya dituliskan. Mampu mementaskan sebuah naskah tentunya tidak hanya berkaitan dengan kecakapan sutradara. Persoalan ini kemudian diikembangkan dalam cerita yang hendak dituliskan. klimaks sampai penyelesaian. Naskah lakon yang baik tidak ada gunanya jika dimainkan oleh aktor yang kurang baik. Sutradara dengan segenap kemampuannya harus mampu meyakinkan pemain dan mengusahakan pertunjukan agar tetap digelar sehingga proses yang telah dilakukan tidak menjadi sia-sia. * Sutradara wajib mempertimbangkan sisi pendanaan secara khusus. Jika sutradara merasa mampu mengusahakan pendanaan secara optimal untuk mewujudkan tuntutan artistik lakon. Misalnya tema yang dipilih adalah “kebaikan akan mengalahkan kejahatan”. Untuk itu. Tidak ada cerita teater tanpa konflik. Hal ini membawa dampak tersendiri dalam bidang pendanaan. naskah yang dipilih memoiliki latar cerita di rumah mewah dengan segala perabot yang indah. tetapi juga dengan unsur pendukung yang lain. dan pendanaan menjadi pertimbangan dalam memilih naskah yang akan dipentaskan. Misalnya dengan tema “kebaikan akan mengalahkan kejahatan”. sutradara harus mampu membuat naskah yang sesuai dengan kualitas sumber daya yang ada. tetapi semua orang yang terlibat menjadi senang karena dapat mengerjakannya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Kerangka cerita akan membingkai jalannya cerita dari awal sampai akhir. maka dalam cerita hal tersebut harus dimunculkan melalui aksi tokoh-tokohnya sehingga penonton dapat menangkap maksud dari cerita bahwa sehebat apapun kejahatan pasti akan dikalahkan oleh kebaikan. akan menuntun laku cerita dari awal sampai akhir.

serta jujur. Penting mengetahui dasar persoalan (konflik) dalam sebuah lakon karena hal tersebut akan membawa laku aksi para tokohnya. semangat dalam bekerja. * Konflik dan Penyelesaian. maka tokoh protagonis dapat diwujudkan sebagi orang yang rajin. Romeo and Juliet karya Shakespeare mengandung pesan bahwa seseorang yang telah menemukan cinta sejati tidak takut terhadap risiko apapun termasuk mati. Setelah semua hal disiapkan maka proses berikutnya adalah menulis. Dengan menulis lawan dari sifat protagonis maka karakter antagonis dengan sendirinya terbentuk. dan pada akhirnya bagaimana konflik itu . Di bagian mana konflik itu muncul dan bagaimana aksi dan reaksi para tokohnya.bagian awal. berkecukupan. * Menentukan cara penyelesaian. logis. Misalnya. yaitu pembuka yang berisi pengantar cerita atau sebab awal. dan akhir. maka semakin jelas pula karakter tokoh antagonis. sutradara akan lebih mudah menerjemahkan kehendak pengarang dalam pertunjukan.2 Analisis Lakon Menganalisis lakon adalah salah satu tugas utama sutradara. Merupakan bahan komunikasi utama yang hendak disampaikan kepada penonton. maka tokoh lainnya mudah ditemukan. Bagian tengah adalah konflik yang meruncing hingga sampai klimaks. Lakon yang telah ditentukan harus segera dipelajari sehingga gambaran 100% lengkap cerita didapatkan. isi yang berisi pemaparan. Semakin detil sifat atau karakter protagonis. 3. Oleh karena itu. konflik hingga klimaks. Riantiarno (2003). Dalam proses analisis ini. sutradara wajib menemukan pesan utama dari lakon yang telah ditentukan. Oleh karena itu tentukan akhir cerita dengan baik. Dalam beberapa lakon ada cerita yang diakhiri dengan baik tetapi ada yang diakhiri secara tergesa-gesa. Jika tokoh protagonis dan antagonis sudah ditemukan. Dengan analisis yang baik. menentukan kerangka lakon dalam tiga bagian. Mengakhiri sebuah persoalan yang dimunculkan tidaklah mudah. * Pesan Lakon. tetapi lebih tidak mudah lagi memindahkan gagasan dalam bentuk tulisan. Oleh karena itu. dermawan. Apa yang hendak disampaikan oleh pengarang melalui naskah lakon disebut pesan. Tokoh protagonis adalah tokoh yang membawa laku keseluruhan cerita. dalam tahap ini sutradara hanya membaca kehendak pengarang melalui lakonnya. dan tidak tergesa-gesa. senang membantu orang lain.2.1 Analisis Dasar Analisis dasar adalah telaah unsur-unsur pokok yang membentuk lakon. 3. dalam persoalan tentang kelicikan. Unsur-unsur pokok yang harus dianalisis oleh sutradara adalah senagai berikut. Berhasil atau tidaknya sebuah pertunjukan teater diukur dari sampai tidaknya pesan lakon kepada penonton. sutradara memepelajari seluruh isi lakon dan menangkap gambaran lengkap lakon seperti apa yang tertulis. maka tokoh lain baik yang berada di pihak protagonis atau antagonis akan mudah diciptakan. bahkan ada yang bingung mengakhirinya. dan penutup yang merupakan simpulan cerita atau akibat. * Menulis. Dinamika percintaan Romeo dan Juliet yang berakhir dengan kematian inilah yang harus ditekankan oleh sutradara kepada penonton. titik balik cerita dimulai dan konflik diselesaikan. gunakan dan manfaatkan waktu sebaik mungkin. Akhir cerita yang mengesankan selalu akan dinanti oleh penonton. Bagian awal adalah bagian pengenalan secara lebih rinci masing-masing tokoh dan titik konflik awal muncul. Dengan menentukan tokoh protagonis secara mendetil. Pada bagian pembukaan memaparkan sketsa singkat tokoh-tokoh cerita. tengah. Pada bagian akhir. pada bagian mana konflik itu memuncak. * Menentukan protagonis. Pesan ini ingin disampaikan oleh pengarang dengan akhir yang tragis dimana tokoh Romeo dan Juliet akhirnya mati bersama. sutradara sekaligus penulis naskah Teater Koma. Mencari dan mengembangkan gagasan memang tidak mudah. Jadi.

sutradara dapat menafsirkan tempat kejadian secara simbolis. Misalnya. Perjalanan sebuah karakter terkadang tidak mengalami perubahan yang berarti tetapi beberapa tokoh dalam lakon (biasanya protagonis dan antagonis) bisa saja mengalami perubahan. apartemen mewah disimbolkan sebagai pusat kekuasaan maka tata panggungnya disesuaikan dengan simbolisasi tersebut. artinya. Arsitektur gedung itu apakah menggunakan arsitektur kolonial. Karena tidak banyak arahan dan keterangan yang dituliskan mengenai karakter tokoh dalam sebuah lakon. Seorang sutradara sebetulnya boleh tidak melakukan interpretasi terhadap lakon.2 Interpretasi Setelah menganalisis lakon dan mendapatkan informasi lengkap mengenai lakon. Proses interpretasi biasanya menyangkut unsur latar. atau ciri khas daerah tertentu. teras gedung. Untuk mewujudkan keadaan peristiwa seperti dikehendaki lakon di atas panggung maka informasi yang jelas mengenai latar cerita harus didapatkan. Misalnya. maka sutradara harus menggalinya melalui kalimat-kalimat dialog. misalnya warna-warna yang digunakan di atas panggung. Romeo and Juliet masih aktual dipentaskan sekarang ini. Gambaran tempat kejadian. Antigone. Oleh karena itu analisis karakter ini harus dilakukan dengan teliti dan hati-hati sehingga setiap perubahan karakter yang dialami oleh tokoh tidak lepas dari pengamatan sutradara. Semua ini akan memberi sudut pandang bagi sutradara dalam melihat. Proses ini bisa disebut sebagai proses asimilasi (perpaduan) antara gagasan sutradara dan pengarang. Apakah gedung tersebut merupakan gedung pertemuan. Secara teknis hal ini berkaitan dengan sumber daya yang dimiliki. Semua informasi dikumpulkan dan diseleksi untuk kemudian diwujudkan dalam pementasan. maka sutradara perlu melakukan tafsir atau interpretasi. Selain itu sudut pandang pengarang dalam menyelesaikan konflik dapat menegaskan pesan yang hendak disampaikan. Penyesuaian inipun berkaitan langsung dengan latar waktu dan peristiwa. ia hanya sekedar melakukan apa yang dikehendaki oleh lakon apa adanya sesuai dengan hasil analisis. Ada juga sutradara yang menonjolkan . atau di salah satu ruang khusus. Hal yang paling menarik mengenai penyampaian pesan kepada penonton adalah caranya. dalam lakon mengehendaki tempat kejadian di sebuah apartemen yang mewah. Intinya informasi sekecil apapun harus didapatkan. Jika apartemen disimbolkan sebagai pusat kekuasaan maka peristiwa yang terjadi di dalamnya juga harus mengikuti simbolisasi ini sedangkan latar waktunya bisa ditarik ke masa lalu atau masa kini seperti yang dikehendaki oleh sutradara. dapur umum.diselesaikan. Analisis karakter tokoh sangat penting dan harus dilakukan secara mendetil agar sutradara mendapatkan gambaran watak sejelas-jelasnya. dan karakterisasi. Adaptasi terhadap tempat kejadian peristiwa sering dilakukan oleh sutradara. sederhana atau mewah. * Latar Cerita. dan waktu kejadian harus diungkapkan dengan jelas karena hal ini berkaitan dengan tata artistik. atau gedung pertunjukan.Berdasarkan hasil analisis. tetapi karena ketersediaan sumber daya yang kurang memadahi maka bentuk penampilan apartemen mewah disesuaikan. Dengan demikian penonton akan mendapatkan gambaran yang jelas latar cerita yang dimainkan. menilai. Hal ini berlaku juga untuk latar peristiwa dan waktu. Ketika adaptasi ini dilakukan maka unsur-unsur lain pun seperti tata rias dan busana akan ikut terkait dan mengalami penyesuaian. Untuk menekankan pesan yang dimaksud ada sutradara yang memberi penonjolan pada tata artistik.2. Secara artistik. museum. 3. Oleh karena itulah pentas teater dengan lakonlakon yang sudah berusia lama seperti Oedipus. pesan. * Karakter Tokoh. Cara menyampaikan pesan ini menjadi titik tafsir lakon yang penting karena pesan inilah inti dari keseluruhan lakon. Di gedung tersebut cerita terjadi di ruang aula. Akan tetapi sangat mungkin seorang sutradara memiliki gagasan astistik tertentu yang akan ditampilkandalam pementasan setelah menganalisa sebuah lakon. sutradara memberi sentuhan dan atau penyesuaian artistik terhadap lakon yang akan dipentaskan. peristiwa. dewan kota. Cara menyampaikan pesan antara sutradara satu dengan yang lain bisa berbeda meskipun lakon yang dipentaskan sama. * Pesan. dan memahami konflik lakon. gaya spanyol. gambaran tempat kejadian persitiwa adalah di sebuah gedung maka harus dijelaskan apakah terjadi di sebuah gedung megah. Misalnya. * Latar.

4 Memilih Pemain . misalnya. Konvensi atau aturan main sebuah pertunjukan diungkapkan dalam poin ini. Metode akting berkaitan dengan pencapaian aktor (standar) sesuai dengan pendekatan gaya pementasannya.3 Konsep Pementasan Hasil akhir dari analisis naskah adalah konsep pementasan. Untuk itu.. karena menggunakan pendekatan gaya presentasional. maka ia bisa memberikan gambaran tata artistik melalui sketsa. Dengan demikian sutradara harus benar-benar memikirkan cara menyampaikan pesan lakon dengan mempertimbangkan unsur-unsur lakon dan sumber daya yang dimiliki. Masing-masing cara penonjolan pesan ini mempengaruhi unsur-unsur lain dalam pementasan. Misalnya. maka bahasa dialog antaraktor menggunakan bahasa yang puitis. yaitu cara berbicara. tata krama. Oleh karena itu. Hal ini sangat berguna bagi aktor. Jika tidak. Gerak laku aktor distilisasi atau diperindah. gaya berjalan. Banyak hal yang harus dilakukan selain mengganti nama dan penampilan fisik. * Gambaran tata artistik. Dengan demikian pendekatan yang dilakukan tidak salah sasaran. dalam budaya Eropa orang bepikir secara bebas sementara orang Indonesia cenderung mempertimbangkan hal-hali lain (tata krama. Tafsir ulang terhadap tokoh lakon paling sering dilakukan. Misalnya. dan keseluruhan watak tokoh. tetapi gambaran tata artisitk berguna bagi para desainer untuk mewujudkannya dalam desain. * Karakterisasi. Tafsir ulang tokoh tidak hanya sekedar mengubah nama dan menyesuaikan bentuk penampilan fisik. penggunaan bahasa puitis dengan sendirinya membuat aktor harus mau memahami dan melakukan latihan teknik-teknik membaca puisi agar dalam pengucapan dialog tidak seperti percakapan sehari-hari. Semuanya memliki keterkaitan. Dewasa ini hampir tidak bisa ditemukan gaya pementasan murni yang dihasilkan seorang sutradara atau pemikir teater. maka ia cukup menuliskannya. 3. Aktor boleh berbicara secara langsung kepada penonton. Hal ini biasanya berkaitan dengan isu atau topik yang sedang hangat terjadi di masyarakat. Secara umum. Misalnya. maka metode pemeranan yang dilakukan perlu dituliskan. emosi.laku aksi aktor di atas pentas sehingga adegan dibuat dan dikerjakan secara detil. tetapi juga mental. Sutradara harus membuat metode tertentu dalam sesi latihan pemeranan untuk mencapai apa yang dinginkan. hal yang paling bisa adalah mendekatkan gaya pementasan dengan gaya tertentu yang sudah ada. Setiap kelahiran gaya baru memiliki keterkaitan atau perlawanan terhadap gaya tertentu (baca bagian sejarah teater). pranata sosial) di luar hal utama yang dipikirkan. pandangan hidup. Seniman teater dunia telah banyak berusaha melahirkan gaya pementasan. Hal ini mempengaruhi hasil pemikiran dan cara mengungkapkan hasil pikiran tersebut. Setelah menetapkan pendekatan gaya. Meski tidak secara mendetil. sebuah lakon yang tokohtokohnya memiliki latar belakang budaya Eropa hendak diadaptasi ke dalam budaya Indonesia. * Pendekatan gaya pementasan. takaran emosi dan cara berpikir. Hal ini mempengaruhi bentuk dan gaya penampilan aktor dalam beraksi.Dengan demikian cara pandang sutradara terhadap keseluruhan lakon pun harus diubah atau mengalami penyesuaian. 3. sutradara harus memahami gaya-gaya pementasan.Dalam konsep ini sutradara menjelaskan secara lengkap mengenai cara menyampaikan pesan yang berkaitan dengan pendekatan gaya pementasan dan pendekatan pemeranan serta memberikan gambaran global tata artistik. Istilah pendekatan di sini digunakan dalam arti sutradara tidak hanya sekedar melaksanakan sebuah gaya secara wantah (utuh) tetapi ada pengembangan atau penyesuaian di dalamnya. sutradara harus menuliskan gambaran (pandangan) tata artistiknya. * Pendekatan pemeranan. Jika sutradara mampu.

Oleh karena itu pemain harus memiliki kemampuan wicara yang baik. dalam ketoprak. misalnya tokoh-tokoh dalam lakon pewayangan. tokoh Bagong memiliki ukuran tubuh tambun (gemuk). calon aktor dapat dinilai kemampuan dasar wicaranya. Kemampuan dasar wicara merupakan syarat utama yang lain. Calon aktor. Tidak ada gunanya seorang aktor bermain dengan baik jika fisiknya lemah. misalnya dalam wayang orang atau ketoprak. dalam sebuah grup teater sekolah yang pemainnya selalu berganti atau kelompok teater kecil yang membutuhkan banyak pemain lain sutradara harus jeli memilih sesuai kualifikasi yang dinginkan. Berkaitan langsung dengan penampilan mimik aktor. Meskipun kekurangan wajah bisa ditutupi dengan tata rias. * Ciri Tertentu. sutradara sudah mengetahui karakter pemainpemainnya (anggota). ukuran tubuh merupakan harga mati bagi sebuah tokoh. Grup teater tradisional biasanya memilih pemain sesuai dengan penampilan fisik dengan ciri fisik tokoh lakon. Untuk menilai hal ini. Misalnya. 3. Misalnya. Dalam teater yang menggunakan ekspresi bahasa verbal kejelasan ucapan adalah kunci ketersampaian pesan dialog. memilih pemain biasanya berdasar kecapakan pemain tersebut. 3. Seorang yang memiliki kumis. dalam lakon yang gambaran tokohnya sudah melekat di masyarakat. tetapi ciri wajah pemain harus diusahakan semirip mungkin dengan ciri wajah tokoh dalam lakon. intonasi. maka latihan katahanan tubuh dapat diujikan. Tidak masuk akal jika Bagong tampil dengan tubuh kurus. dalam cerita Kabayan. sutradara dapat menilai kecakapan pemain melalui portofolio tetapi proses audisi tetap penting untuk menilai kecakapan aktor secara langsung. karena tidak sesuai dengan karakter dan akan menyalahi laku lakon secara keseluruhan. Meskipun dalam khasanah teater modern. janggut. Untuk menilai kesiapan tubuh pemain. Akan tetapi. Misalnya. Hal ini juga sama dengan ukuran tubuh. Menghayati sebuah tokoh berarti mampu menerjemahkan laku aksi karakter tokoh dalam bahasa verbal dan ekspresi tubuh secara bersamaan. Dalam sebuah produksi yang membutuhkan latihan rutin dan intens dalam kurun waktu yang lama ketahanan tubuh yang lemah sangatlah tidak menguntungkan. harus mampu menyajikannya dengan . * Penghayatan.4. Ciri fisik dapat pula dijadikan acuan untuk menentukan pemain. Dengan memberikan teks bacaan tertentu. penentuan pemain berdasar ciri fisik ini menjadi acuan utama. Hal ini dianggap dapat mampu melahirkan ekspresi wajah yang natural. * Wicara. Dalam sebuah grup atau sanggar.1 Fisik Penampilan fisik seorang pemain dapat dijadikan dasar menentukan tokoh. seorang yang tinggi tapi bungkuk dianggap tepat memainkan tokoh pendeta. maka pemain yang dipilih pun harus memiliki tubuh gemuk. Penilaian yang dapat dilakukan adalah penguasan. sutradara dapat memberikan penggalan adegan atau dialog karakter untuk diujikan. Dalam kasus tertentu. * Ciri Wajah. diksi. maka pemain harus memiliki ciri wajah yang tampak tolol.4. * Ukuran Tubuh. Akan tetapi. Tokoh Werkudara (Bima) harus ditokohkan oleh orang yang bertubuh tinggi besar. dalam wayang wong. * Tinggi Tubuh. Kesiapan tubuh seorang pemain merupakan faktor utama. dan pelafalan yang baik.2 Kecakapan Menentukan pemain berdasar kecapakan biasanya dilakukan melalui audisi. Sutradara akan diprotes oleh penonton jika menampilkan Bima bertubuh kurus dan pendek. * Tubuh. dalam teater modern.Menentukan pemain yang tepat tidaklah mudah. dan brewok tebal cocok diberi tokoh sebagai warok atau jagoan. Biasanya.

1. teater modern menggunakan naskah lakon sebagai sumber penuturan. Untuk menguji lebih mendalam sutrdara juga dapat memberikan penggalan dialog karakter lain dengan muatan emosi yang berbeda. * Durasi waktu dapat ditentukan dengan pasti. Bahkan dalam produksi teater profesional yang semuanya dirancang dengan baik. Catatan prestasi dan kemampuan yang dimiliki hendaknya ditulis dalam portofolio sehingga bisa menjadi pertimbangan sutradara. dan gaya penyajian. Karena dialog tokoh sudah ditentukan dan tidak boleh ditambah atau dikurangi maka durasi pementasan dapat ditentukan. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan serta membutuhkan kecakapan sutradara dalam bidang tertentu untuk melaksanakannya. Mungkin dalam sebuah produksi ia tidak memenuhi kriteria sebagai pemain utama. menyanyi atau bermain musik memiliki nilai lebih.1 Menurut Penuturan Cerita Ada dua jenis pertunjukan teater menurut penuturan ceritanya.5.5. Teater tradisional biasanya memilih imporivisasi karena semua pemain telah memahami dengan baik cerita yang akan dilakonkan dan karakter tokoh yang akan ditokohkan. Dari serangkaian latihan yang dikerjakan secara rutin dan kontinyu ditambah dengan unsur artistik dan teknis maka lamanya pertunjukan teater berdasar naskah dapat ditetapkan. Bentuk dan gaya yang dipilih secara serampangan akan mempengaruhi kualitas penampilan. 3. seorang calon aktor yang memiliki kemampuan menari. perpindahan antaradegan. lamanya adegan. Meskipun beberapa kelompok teater modern tertentu memperbolehkan improvisasi (biasanya lakon komedi situasi) tetapi sumber utama dialognya diambil dari naskah lakon. Hal ini memiliki kelebihan tersendiri. Kemampuan lain selain bermain tokoh terkadang dibutuhkan. . Sebaliknya.1 Berdasar Naskah Lakon Mementaskan teater berdasarkan naskah lakon menjadi ciri umum teater modern. 3.5 Menentukan Bentuk dan Gaya Pementasan Bentuk dan gaya pementasan membingkai keseluruhan penampilan pementasan. * Kecakapan lain. Sutradara tidak perlu menambah atau mengurangi dialog yang sudah tertulis dalam lakon kecuali punya keinginan mengadaptasinya.penuh penghayatan. * Arahan dialog sudah ada. tetapi latar belakang pengetahuan dan kemampuan sutradara sangat menentukan. Penting bagi sutradara untuk menentukan dengan tepat bentuk dan gaya pementasan. Untuk itu. Dalam lakon terkadang arahan emosi berkaitan dengan dialog juga dituliskan sehingga sutrdara lebih mudah dalam memantau emosi tokoh yang ditokohkan aktor. Kehatihatian dalam memilih bentuk dan gaya bukan saja karena tingkat kesulitan tertentu. yaitu berdasar naskah lakon dan improvisasi. Tugas aktor adalah menghapalkan dialog tersebut dan mengucapkannya dalam pementasan. dan tanda keluar-masuk ilustrasi musik atau pencahayaan ditentukan waktunya sehingga setiap detik sangat berharga dan menentukan berhasil tidaknya pertunjukan tersebut. di antaranya adalah sebagai berikut. Di bawah ini akan dibahas bentuk dan gaya pementasan menurut penuturan cerita. 3. bentuk penyajian. Misalnya. tetapi bisa dipilih sebagai seorang penari latar dalam adegan tertentu. portofolio sangat penting bagi seorang aktor profesional.

pementasan teater berdasar naskah lakon juga memiliki kekurangan dan problem tersendiri. maka kerja sutradara akan semakin keras. * Memungkinkan percampuran bentuk gaya. Dalam proses latihan terkadang sutradara mendapat inspirasi dari laku aksi pemain demikian pula sebaliknya. ia harus mendapatkan ijin dari penulis naskah lakon. Jika ia tetap melakukannya. dan penyelesaian konflik. * Fokus permasalahan telah ditentukan. Terkadang hal ini dapat menimbulkan efek artistik yang alami dan menarik. * Tidak memungkinkan pengembangan cerita. * Gambaran bentuk latar kejadian dapat ditemukan dalam naskah. 3. Pesan ini dengan luwes dapat diselipkan dalam lakon. Setuju atau tidak setuju terhadap cerita. tetapi karya teater menjadi karya sutradara. Dengan ditentukannya arah laku maka kreativitas aktor di atas panggung menjadi terbatas. Jika hendak menyesuaikan dengan ketersediaan sumber daya.5. Aktor tidak memiliki kebebasan penuh selain menerjemahkan konsep artistik sutradara. maka konflik dan penyelesaian lakon pasti. dalam pertunjukan ketoprak sebuah adegan dilakukan mengikuti kaidah gaya presentasional (adegan . sutradara mudah dalam membuat perencanaan blocking. Dalam teater improvisasi gaya pementasan juga terbuka. * Konflik dan penyelesaian tidak bekembang. arahan laku permainan dari awal sampai akhir dapat ditemukan. Jika sutradara hendak mengembangkan cerita. konflik. Jika sumber daya manusia (aktor) yang kurang. maka aktor dapat mengembangkannya. Sutradara perlu meluangkan waktu untuk melakukannya. * Kreativitas aktor terbatas. sutradara harus mengikutinya. Hal ini perlu dilakukan. Lakon telah menyediakan gambaran lengkap laku perisitiwa melalui dialog tokoh-tokohnya. Tergantung dari kekurangan sumber daya yang dimiliki. Cerita yang telah dituliskan oleh pengarang harus ditaati. Di samping kelebihan tersebut di atas.2 Improvisasi Mementaskan teater secara improvisasi memiliki keunikan tersendiri. Sutradara hanya menyediakan gambaran cerita selanjutnya aktor yang mengembangkannya dalam permainan. konflik dan mengubah cara penyelesaian. Meskipun secara artistik tidak masalah. Misalnya.Dengan mempelajari naskah. maka sutradara memerlukan waktu ekstra untuk membimbing para aktornya. Gambaran ini sangat penting bagi sutradara untuk mewujudkannya di atas pentas. * Konflik dan sudut pandang penyelesaian bisa dikembangkan. Setelah konflik ini diselesaikan dengan cara yang khas dan lucu maka cerita kembali ke konflik semula. maka adaptasi lakon harus dilakukan. Beberapa kelebihan pentas teater improvisasi adalah: * Kreativitas sutradara dan aktor dapat dikembangkan seoptimal mungkin. Terkadang untuk menyampaikan pesan titipan tersebut konflik minor baru dimunculkan. Kalaupun hendak melakukan adaptasi atau penyesuaian. Jika memaksakan kehendak harus sesuai dengan gagasan lakon. Sutradara dapat mengembangkan cerita dengan bebas dan aktor dapat mengembangkan kemungkinan gayapermainan dengan bebas pula. * Jika sumber daya yang dimiliki tidak sesuai dengan kehendak lakon harus dilakukan adaptasi. Jika naskah lakon tersebut telah dipublikasikan dalam bentuk buku dan memiliki hak cipta maka sutradara bisa dituntut di muka hukum. maka sutradara telah melanggar kode etik dan hak karya artistik. Dalam teater tradisional. Dengan demikian. Dengan berkembangnya cerita maka aktor mendapatkan arahan laku lain yang bisa dicobakan.1. mereka biasanya menerima pesan tertentu dari penyelenggara. Karena tidak ada impovisasi. Oleh karena tidak ada petunjuk arah laku yang jelas. Pengembangan yang dilakukan hanyalah persoalan sudut pandang.* Arahan laku permainan dapat ditemukan dalam naskah. * Arahan laku terbuka. Jika sumber dana yang kurang maka tim poruduksi harus berusaha keras untuk memenuhi tuntutan tersebut. Sutradara menjadi mudah menentukan penekanan permasalahan lakon. sutradara telah mendapatkan gambarannya. Sifat teater improvisasi yang terbuka memungkinkan pengembangan konflik dan penyelesaian.

bisa jadi ia memasangkan aktor yang memilliki kemampuan tak berimbang dalam improvisasi. jika sutradara tidak jeli memahami hal ini. Di samping itu. Aktor mengambil tokoh penuh. meskipun improvisasi. Untuk itu. Jika pementasan sudah berjalan. 3. Bagi aktor yang memiliki kemampuan sastra memadai tidak jadi masalah.1 Teater Gerak . Akibatnya. maka sutradara wajib mempelajari dan memahami langkah-langkah dalam melaksanakannya. latihan adegan tetap harus sering dilakukan. Jika dalam teater berbasis naskah. Dalam sebuah grup teater. Pencampuran gaya ini dimaksudkan untuk memenuhi selera penonton.5. teater improvisasi juga memiliki kekurangan yang patut diperhatikan oleh sutradara. 3. kemampuan setiap aktor pasti tidak sama. * Cerita bisa disesuaikan dengan sumber daya yang dimiliki. lakon sebagai pengendali cerita maka dalam teater imrpovisasi aktor harus mampu mengendalikan jalannya cerita. Di balik semua kelebihan di atas.2 Menurut Bentuk Penyajian Banyaknya pilihan bentuk penyajian pementasan teater membuat sutradara harus jeli dalam menentukannya. maka panggung sepenuhnya adalah milik aktor. maka kualitas dialog tidak bisa distandarkan. Sutradara tidak bisa lagi mengendalikan jalannya pertunjukan. Oleh karena cerita bisa dikembangkan. aktor bisa mengembangkan cerita dan gaya permainan di atas pentas dan sutradara tidak bisa lagi mengarahkan secara langung.2. Jika tidak. * Durasi waktu tidak tertentu. maka akan membosankan. Karena arahan laku yang terbuka maka reaksi ucapan sering dilakukan spontan dan belum tentu benar. kesalahan ucap atau penyampaian informasi tertentu bisa saja salah karena memang tidak dicatat dan hanya diingat garis besarnya saja.Istana). * Kualitas dialog tidak dapat distandarkan. Kemampuan sumber daya ini bisa dijadikan strategi untuk membuat pertunjukan menarik dan memiliki ciri khas tertentu. Kekurangan dari pemotongan adegan ini adalah jika inti dialog (persoalan) belum sempat terucapkan maka inti dialog harus diucapkan pada adegan berikutnya. Jika seorang aktor beraksi. maka durasi pementasan bisa berubahubah. * Improvisasi dialog tidak berimbang. tetapi bagi aktor yang kualitas sastranya pas-pasan hal ini menjadi masalah besar. Jika hal ini terjadi cukup lama. Oleh karena setiap bentuk penyajian memiliki kekhasan dan membutuhkan prasyarat tertentu yang harus dipenuhi. dalam adegan tersebut aktor yang satu terlalu aktif dan yang lain pasif. Salah satu kelebihan utama teater improvisasi adalah cerita dan pemeran dapat dibuat berdasarkan sumber daya yang dimiliki. Sifat akting adalah aksi dan reaksi.Semua tergantung dari improvisasi aktor di atas pentas. tetapi jika jumlah pemain yang memiliki kemampuan laga banyak. Jika banyak pemain yang bisa melucu maka cerita komedi akan efektif. Karena tidak ada arahan dialog yang baku. Karena sifatnya yang serba terbuka. Sutradara bisa memotong sebuah adegan yang berjalan cukup lama dengan membunyikan tanda agar musik dimainkan dan adegan segera diselesaikan. Oleh karena itu. maka cerita penuh aksi dapat dijadikan pilihan.5. tetapi di adegan lain menggunakan gaya realis (adegan dagelan). * Kemungkinan aktor melakukan kesalahan lebih besar. * Sutradara tidak bisa sepenuhnya mengendalikan jalannya pementasan. sutradara akan kerepotan sendiri. maka aktor lawan mainnya harus bereaksi.

Jika tidak pintar mengelola. Karakter suara harus bisa tampil secara konsisten dari awal hingga akhir pertunjukan. Kewajiban sutradara tidak hanya mengatur pemain manusia. Pesan yang tidak disampaikan secara verbal membutuhkan keahlian tersendiri untuk mengelolanya. * Mengerti musik ilustrasi. Jika jumlah pemain banyak dan harus bergerak secara serempak. pengaturan pemain perlu dilakukan. Sutradara harus bisa memainkan boneka tersebut. kapan pemain harus menyesuaikan dengan alunan musik. Penataan gerak tidak bisa dikerjakan dengan serampangan. maka ekspresi mimik menjadi sangat penting. suasana. Jumlah pemain bisa disiasati dengan menambah perbendaharaan gerak. * Jika pemain sedikit maka motif gerak harus lebih variatif. Apalagi jika sudah menyangkut makna. harus mempertimbangkan makna pesan. maka banyaknya jumlah pemain justru akan memenuhi panggung dan membuat suasana menjadi sesak. * Memahami komposisi dan koreografi. maka irama rampak gerak yang diharapkan bisa kacau. * Mampu memainkan boneka dengan baik. Jika tidak. kapan musik hadir sebagai latar suasana. Mengisi suara sesuai karakter boneka menjadi prasyarat utama. tetapi memberikan ekspresi hidup adalah hal yang lain. dan perbedaannya harus dimengerti oleh sutradara. Biasanya seorang pemain boneka bisa membuat beberapa karakter suara yang berbeda. Di bawah ini beberapa langkah yang bisa dikerjakan oleh sutradara yang hendak mementaskan teater boneka. * Mampu mengisi suara sesuai dengan karakter boneka. * Mewujudkan ekspresi melalui mimik para aktor. Banyak jenis boneka dan masing-masing membutuhkan teknik khusus dalam memperagakannya. terutama menyangkut komposisi. Memainkan boneka bisa saja dipelajari. Karena tokoh diperagakan oleh boneka. tetapi jika komposisi (tata letak) pemainnya tidak berubah akan melahirkan kejenuhan. Ekspresi selalu menyangkut penghayatan dan konsentrasi. * Mampu menghidupkan ekspresi boneka yang dimainkan. Meskipun rangkaian gerak yang dihasilkan sangat indah.2. sutradara harus bisa mewujudkan bahasa verbal dalam simbol gerak. Jumlah pemain yang banyak menimbulkan persoalan tersendiri. tetapi juga mengatur permainan boneka. Mengubah bahasa dalam simbol gerak tidaklah mudah.Teater gerak lebih banyak membutuhkan ekspresi gerak tubuh dan mimik muka daripada wicara. maka dianjurkan untuk mengkreasi gerak sederhana yang mudah dilakukan. Meskipun tidak bisa memainkan musik.2 Teater Boneka Teater boneka memiliki karakter yang khas tergantung jenis boneka yang dimainkan. * Mewujudkan bahasa dalam simbol gerak. maka karakter boneka harus benarbenar melekat sehingga pengendali . Boneka wayang golek memiliki teknik permainan yang berbeda dengan boneka marionette yang dimainkan dengan tali. Sutrdara harus mampu mengeksplorasi dan menciptakan gerak sesuai dengan makna pesan yang hendak disampaikan. Jika gerak terlalu sulit. Menempatkan pemain dalam posisi dan gerak yang tepat akan membuat pertunjukan semakin menarik. Simbol dan makna yang disampaikan melalui gerak harus dikerjakan dengan teliti. Karena bekerja dengan gerak. maka maknanya akan kabur. Motif gerak yang kaya akan membuat tampilan menjadi variatif dan menyegarkan. Oleh karena keterbatasan bahasa verbal dalam pertunjukan teater gerak. 3. sutradara teater gerak harus mengerti kaidah musik ilustrasi. Untuk mendukung rangkaian gerak yang telah diciptakan. Di bawah ini beberapa langkah yang bisa diambil oleh sutradara dalam menggarap teater gerak * Sutradara mampu mengeksplorasi dan menciptakan gerak. maka teori komposisi dan koreografi dasar wajib dimiliki oleh sutradara. maka pengaturan blocking harus lebih teliti. Ekspresi emosi atau karakter tokoh harus bisa diwujudkan melalui mimik para aktor. * Jika pemain dalam jumlah banyak. Kapan musik mengikuti gerak pemain.5. dan terutama musik ilustrasinya. Boneka dua dimensi seperti wayang kulit memiliki teknik memainkan berbeda dengan boneka tiga dimensi seperti wayang golek. Oleh karena itu.

pengaturan adegan boneka disesuaikan dengan kemampuan pengendali. Sisi kejiwaan yang menyangkut perasaan karakter tokoh harus dapat ditampilkan senatural mungkin sehingga penonton menganggap hal itu benar-benar nyata terjadi. Intinya. Dalam teater boneka kerjasama antarpemain tidak hanya menyangkut emosi. Jika lakon yang dimainkan membutuhkan banyak tokoh. maka pengaturan adegan harus dikerjakan dengan teliti.5.3 Teater Dramatik Mementaskan teater dramatik membutuhkan kerja keras sutradara terutama terkait dengan akting pemeran. Boneka yang dimainkan dengan hidup akan menarik dan tampak nyata. bijaksanalah dalam menentukan tegangan dramatik adegan dan buatlah klimaks yang mengesankan dan penyelesaian yang dramatis. sehingga ketika dalam adegan tertentu membutuhkan tegangan yang lebih aktor masih bisa mengejarnya. Angka tertinggi dari deret tegangan yang harus dicapai oleh aktor adalah 8 atau 9. maka efek dramatik yang diharapkan dari aksi aktor menjadi gagal. seorang pengendali biasanya hanya bisa mengendalikan maksimal dua boneka. Jika dianalogikan dengan nilai 1 sampai dengan 10. menghayati dan memerankan karakter dengan baik. maka aktor akan kesulitan meninggikan tegangan pada saat klimaks. Banyak sutradara yang mengadakan semacam pemusatan latihan dalam kurun waktu yang cukup lama dengan tujuan agar para aktornya berada dalam suasana lakon yang akan dipentaskan. maka sutradara harus benar-benar jeli dalam menilai setiap aksi para aktor. Jika sutradara tidak memahami kejiwaan * karakter tokoh dengan baik maka penilaiannya terhadap kualitas penghayatan aktor pun kurang baik. maka sutradara harus menetapkan tegangan optimal dan minimal. Beberapa langkah yang dapat dikerjakan oleh sutradara dalam menggarap teater dramatik adalah sebagai berikut. tidak dibuat-buat. Hasil akhirnya adalah anti klimaks di mana pada adegan yang seharusnya memiliki tensi tinggi justru melemah karena energi para aktornya telah habis. aktor diharuskan berakting tetapi seolah-olah ia tidak berakting melainkan melakukan kenyataan hidup. * Jika pemain boneka banyak maka harus mampu mengatur adegan agar pergerakan boneka tidak saling mengganggu. Jumlah pengendali boneka yang sedikit tidak masalah asal setiap orang mampu menciptakan beberapa karakter suara. Keluar masuknya boneka di atas pentas berkaitan langsung dengan pengendali bonekanya. 3. Demikian juga dengan suasana kejadian. Jika pada bagian awal konflik tegangan terlalu tinggi. maka pergantian adegan bisa semrawut sehingga para pemain kewalahan. * Memahami sisi kejiwaan karakter tokoh. Jika tidak ada kerjasama yang baik antarpemain (pengendali boneka). Di sinilah letak kesulitannya. * Memahami tensi dramatik (dinamika lakon). tetapi juga menyangkut hal-hal teknis.2. Sutradara harus memahami bobot tegangan (tensi) dramatik dalam setiap adegan yang ada pada lakon. . Oleh karena itu. sutradara harus dapat menentukan metode yang tepat agar para aktornya dapat memahami. * Mampu meningkatkan kualitas pemeranan aktor untuk menghayati tokoh secara optimal. Untuk menghindari hal tersebut sutradara harus benar-benar teliti dalam mengukur tegangan dramatik adegan per adegan dalam lakon. Tempat pertunjukan teater boneka yang terbatas harus disesuaikan dengan jumlah boneka yang tampil. maka penampilan boneka yang terlalu banyak juga akan merepotkan para pengendalinya.boneka seolah-olah bisa memberikan nafas hidup di dalamnya. Oleh karena tuntutan pertunjukan teater dramatik yang mensyaratkan laku aksi seperti kisah nyata. * Jika pemain sedikit harus memiliki kemampuan mengisi suara dengan karakter yang berbeda. semua harus tampak natural. Laku lakon dari awal sampai akhir mengalami dinamika atau ketegangan yang turun naik. Berkaitan dengan karakter tokoh. Selain itu. Hal yang paling sulit dilakukan oleh sutradara adalah membongkar kejiwaan karakter tokoh dan mewujudkannya dalam laku aktor di ataspentas. Jika demikian. * Mampu membangun kerjasama antarpemain boneka. Yang terpenting dan perlu dicatat adalah setiap boneka mempunyai karakter suaranya sendiri.

Kepiawaian sutradara dalam menentukan kegunaan karya musik yang satu dengan yang lain benarbenar dibutuhkan. maka sutradara harus mampu menciptkan koreografinya. jika melakonkan cerita yang sedih ukuran keberhasilannya adalah membuat penonton ikut terhanyut sedih. gerak. Demikian pula dengan cerita suka-ria. tetapi makna dan atau simbolisasi cerita harus benar-benar bisa diwujudkan dalam gerak tarian yang dilakukan. hindarilah kesalahan atau hal yang tidak lumrah dan berada di luar jangkauan nalar penonton. Tokohan dialog verbal yang digubah dalam bentuk lagu dan diucapkan melalui nyanyian adalah satu hal yang membutuhkan perhatian tersendiri. Ketepatan nada dalam nyanyian serta ekspresi wajah ketika menyanyi juga tidak boleh luput dari pengamatan. pengiring gerak. Untuk mencapai hasil maksimal maka kejelian sutradara dalam mengamati dan menangani keseluruhan unsur pertunjukan sangat dibutuhkan. maka sutradara harus benar-benar piawai dalam mengolah visualisasinya di atas pentas. * Mampu membuat gerak dan ekspresi berdasar karya musik. Dalam teater dramatik. Koreografer bisa saja mencipta gerak. Dalam satu adegan saat cerita diungkapkan melalui gerak. Memilih pelaku yang tepat dan membuat komposisi atau koreografi berdasar karya musik yang ada. * Membuat penonton terkesima dengan pertunjukan tidaklah mudah. Pada adegan dimana musik bercerita secara mandiri maka sutradara harus mampu memvisualisasikan cerita tersebut di atas pentas. Dituntut kepiawaian sutradara dalam memilih dan merangkai motif gerak. dan koreografi. 3. Jika karya drama musikal tersebut berawal dari karya musik murni (musik yang bercerita) seperti The Cats karya Andrew Lloyd Webber. * Mampu membuat gerak.6 Blocking . Tokohan musik sangat doniman dalam drama musikal bahkan musik bisa hadir secara mandiri untuk menceritakan sesuatu. Banyak penyanyi yang memiliki suara baik tetapi ekspresinya datar.2.5. 3. Meskipun sutradara bekerja dengan seorang koreografer. Sutradara tidak harus bisa memainkan musik. Lagu dan nyanyian harus bisa ditampilkan secara baik dan harmonis. Teater dramatik adalah teater yang mencoba meniru peristiwa kehidupan secara total dan sempurna. dan musikal harus dirangkai secara harmonis untuk mencapai hasil maksimal. tetapi pada akhirnya sutradara yang memutuskan.* Mampu menghadirkan laku cerita seperti sebuah kenyataan hidup. Kejanggalan-kejanggalan kecil yang dirasa kurang masuk akal oleh penonton akan mengurangi kualitas dramatika lakon yang dihadirkan.4 Drama Musikal Kemampuan multi harus dimiliki oleh seorang sutradara jika hendak mementaskan drama musikal. maka penonton harus dibawa dalam suasana yang suka-ria. tetapi memahami karya musik merupakan keharusan dalam drama musikal. Artinya. lagu. Makna cerita sepenuhnya dituangkan dalam wujud gerak. Langkah pamungkas yang dapat dijadikan patokan adalah menghadirkan pentas seperti sebuah kenyataan hidup. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sutradara dalam drama musikal adalah sebagai berikut. demikian pula sebaliknya. * Mengerti karya musik dramatik. tokoh musik bisa menjadi pengiring lagu yang bercerita. Bahasa ungkap yang beragam antara bahasa verbal. musik itu sendiri sudah bercerita sehingga pemain atau penari yang berada di atas panggung hanyalah pelengkap gambaran peristiwa. komposisi. dan ilustrasi suasana kejadian. Sutradara harus mampu memecahkan masalah dasar tersebut. Dalam hal ini musik bertindak sebagai pengiring. * Mengerti lagu dan nyanyian. Jadi. Ekspresi cerita melalui nadanada musik harus benar-benar bisa divisualisasikan dengan tepat. Pada adegan lain.

* Menerjemahkan naskah lakon ke dalam sikap tubuh aktor sehingga penonton dapat melihat dan mengerti. Fungsi blocking secara mendasar adalah sebagai berikut.6. bawah . tengah kiri.Sutradara diwajibkan memahami cara mengatur pemain di atas pentas. 3. C = Tengah. yaitu tengah. Secara mendasar blocking adalah gerakan fisik atau proses penataan (pembentukan) sikap tubuh seluruh aktor di atas panggung. RC = Tengah Kanan. maka perlu diperhatikan agar blocking yang dibuat tidak terlalu rumit. UL = Atas Kiri. Jika blocking dibuat terlalu rumit. maka karakter tokoh yang dimainkan oleh para aktor akan tampak lebih hidup. tengah kanan. sehingga lalulintas aktor di atas panggung berjalan dengan lancar.1 Pembagian Area Panggung Gambar Pembagian sembilan area panggung UL UC UR CL L CR DL DC DR UR = Atas Kanan. Di samping itu. Blocking dapat diartikan sebagai aturan berpindah tempat dari titik (area) satu ke titik (area) yang lainnya bagi aktor di atas panggung. * Menciptakan lukisan panggung yang baik. Untuk mendapatkan hasil yang baik. DL = Bawah Kiri Untuk membuat atau merencanakan blocking bagi para pemain. bawah kiri tengah. DC = Bawah Tengah. DR = Bawah Kanan. bawah kanan. Panggung pertunjukan secara kompleks dibagi dalam lima belas area. * Memberikan pondasi yang praktis bagi aktor untuk membangun karakter dalam pertunjukan. perlu diketahui terlebih dahulu pembagian area panggung. kiri. bawah kanan tengah. Yang terpenting dalam hal ini adalah fokus atau penekanan bagian yang akan ditampilkan. LC = Tengah Kiri. Dengan blocking yang tepat. maka perpindahan dari satu aksi menuju aksi yang lain menjadi kabur. kalimat yang diucapkan oleh aktor menjadi lebih mudah dipahami oleh penonton. blocking dapat mempertegas isi kalimat tersebut. kanan. Jika blocking dikerjakan dengan baik. bawah tengah. UC = Atas Tengah. Bukan hanya akting tetapi juga blocking.

Bagian yang satu merupakan cerminan bagian yang lain. 3. Pembagian sembilan area juga memudahkan sutradara dalam memberikan arah gerak kepada para aktornya. blocking memiliki arti yang lebih luas karena setiap gerak. Ada dua ragam komposisi pemain.6. Letak kanan dan kiri atau atas dan bawah ditentukan berdasar pada arah hadap aktor ke penonton. dan atas kiri. Panggung yang tidak terlalu luas jika dibagi menjadi lima belas area. arah laku. Kanan adalah kanan pemain dan bukan kanan penonton dan kiri adalah kiri pemain. Hal ini diperlukan untuk memenuhi ruang dan menghindari komposisi aktor yang berat sebelah. dan atas kiri.2 Komposisi Komposisi dapat diartikan sebagai pengaturan atau penyusunan pemain di atas pentas. sedangkan kanan adalah posisi kanan arah hadap aktor atau sisi kiri penonton. Pembagian panggung dalam lima belas area ini biasanya digunakan untuk panggung yang berukuran besar. perpindahan pemain serta perubahan posisi pemain dapat disebut blocking. 3. maka penonton akan menjadi jenuh. 3. Jika digambarkan komposisi ini mirip cermin. . yaitu komposisi simetris dan komposisi asimetris yang ditata dengan mempertimbangkan keseimbangan.2. lebih mengatur posisi. Keseimbangan adalah pengaturan atau pengelompokan aktor di atas pentas yang ditata sedemikian rupa sehingga tidak menghasilkan ketimpangan. yaitu tengah. dan tinggirendah pemain dalam keadaan diam (statis). atas kiri tengah.kiri. Jika salah satu ruang dibiarkan kosong sementara ruang yang lain terisi penuh.6. tengah kanan. pose. tetapi membagi pemain dalam dua bagian atau lebih dengan tujuan memberi penonjolan (penekanan) bagian tertentu. bawah tengah. atas kanan tengah. atas tengah. Sekilas komposisi mirip dengan blocking. Di bawah ini adalah contoh komposisi simetris. atas kanan. Sedangkan komposisi.2. tengah kiri.2. maka luas masing-masing area akan terlalu sempit sehingga tidak memungkinkan sebuah pergerakan yang leluasa baik untuk pemain maupun perabot. atas kanan. Pengaturan posisi pemain seperti ini dilakukan agar semua pemain di atas pentas dapat dilihat dengan jelas oleh penonton.2 Asimetris Komposisi asimetris tidak membagi pemain dalam dua bagian yang sama persis. bawah kanan. bawah kiri. maka hal ini akan menimbulkan pemandangan yang kurang menarik dan jika hal ini berlangsung lama.6. Atas adalah jarak terjauh dari penonton. sedangkan bawah adalah jarak terdekat dengan penonton. Secara sederhana dan umum panggung dibagi sembilan area. 3.1 Simetris Komposisi simetris adalah komposisi yang membagi pemain dalam dua bagian dan menempatkan bagianbagian tersebut dalam posisi yang benar-benar sama dan seimbang.6. Bedanya.3 Keseimbangan Dalam menata komposisi pemain di atas pentas hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah keseimbangan. atas tengah.

prinsip-prinsip dasar di bawah ini dapat digunakan sebagai petunjuk dalam menempatkan posisi dan mengatur pose pemain.6.1 Prinsip Dasar Pada dasarnya fokus adalah membuat pemain menjadi terlihat jelas oleh mata penonton. hal yang paling utama untuk diperhatikan sutradara adalah perhatian penonton. * Usahakan agar para aktor saling menatap (berkontak mata) pada saat mengawali dan mengakhiri dialog (percakapan). maka gerak laku aktor dalam menggunakan telepon akan kelihatan. karena hal ini akan menutupi suara dan pandangan penonton.3. Oleh karena itu. maka kaki yang jauh akan tertutup dan wajah pemain secara otomatis akan menjauh dari mata penonton. pengaturan blocking harus mempertimbangkan pusat perhatian (fokus) penonton. Hal ini menjadikan gerak pemain kurang terlihat dengan jelas. Jika tangan yang digunakan adalah tangan yang tidak menganggu pandangan penonton. Membagi arah pandangan ini sangat penting untuk menegaskan dan memberi kejelasan ekspresi karakter kepada penonton. 3. perubahan ekspresi dan aksi di atas pentas harus dapat ditangkap mata penonton dengan jelas. Setiap aktivitas. sedangkan menyamping penuh akan menyembunyikan bagian tubuh yang lain. usahakan untuk berbicara kepada penonton atau kepada aktor lain yang berada di atas panggung. * Gunakan lengan atau tangan panggung atas (yang jauh dari mata penonton) untuk menunjuk ke arah panggung atas dan gunakan lengan atau tangan panggung bawah (yang dekat dengan mata penonton) untuk menunjuk ke panggung bawah. . Dengan menghadap secara diagonal.3 Fokus Dalam mengatur blocking. Oleh karena itu. maka gerakan lengan dan tangan akan menutupi bagian tubuh lain. Selebihnya.6. * Kurangilah menempatkan pemain dalam posisi menghadap lurus ke arah penonton atau menyamping penuh. Usahakan pemain menghadap diagonal (kurang lebih 45 derajat) ke arah penonton. * Jangan pernah memegang benda atau piranti tangan di depan wajah ketika sedang berbicara. Hal ini dapat dikerjakan dengan menempatkan pemain dalam posisi dan situasi tertentu sehingga ia lebih menonjol atau lebih kuat dari yang lainnya. Jika yang dilakukan sebaliknya. karakter. maka dimensi dan keutuhan tubuh pemain akan dilihat dengan jelas oleh mata penonton. maka awali dan akhiri langkah tersebut dengan kaki panggung atas (yang jauh dari mata penonton). Hal ini mempertegas laku aksi yang sedang dikerjakan. Jika melangkah dengan kaki panggung bawah (yang dekat dari mata penonton).3. * Jika pemain hendak melangkah. Menghadap lurus ke arah penonton akan memberikan efek datar dan kurang memberikan dimensi kepada pemain.

4. Prosesnya. suara mempunyai tokohan penting. Kegiatan mengucapkan dialog ini menjadi sifat teater yang khas. Pemilihan kata-kata memiliki tokohan dalam aturan yang dikenal dengan istilah diksi. Olah tubuh dilakukan dalam tiga tahap. Dalam kegiatan teater. latihan inti. yaitu latihan pemanasan. yaitu serial latihan gerakan tubuh untuk meningkatkan sirkulasi dan meregangkan otot dengan cara bertahap. Akan tetapi. suara dijadikan kata dan kata-kata disusun menjadi frasa serta kalimat yang semuanya dimanfaatkan dengan aturan tertentu yang disebut gramatika atau paramasastra. Untuk itu seorang pemeran harus menjaga kelenturan peralatan tubuhnya. Cara penghitungan denyut nada yang ada di pergelangan tangan.Dasar-dasar Teater (4/6): Seni Berperan dalam Teater Aktor merupakan manusia yang mengorbankan dirinya untuk menjadi orang lain. dalam konvensi dunia teater kedua istilah tersebut dibedakan.2 OLAH SUARA Suara adalah unsur penting dalam kegiatan seni teater yang menyangkut segi auditif atau sesuatu yang berhubungan dengan pendengaran. Suara dihasilkan oleh proses mengencang dan mengendornya pita suara sehingga udara yang lewat berubah menjadi bunyi.1. sedangkan bunyi merupakan produk benda-benda. atau penghitungan dilakukan selama sepuluh detik dan hasilnya dikalikan enam. dan latihan pendinginan. yaitu serial pendek gerakan tubuh untuk mengembalikan kesegaran tubuh setelah menjalani latihan inti. Unsur dasar bahasa lisan adalah suara. karena digunakan sebagai bahan komunikasi yang berwujud dialog. Mengetahui denyut nadi sebelum latihan fisik dianjurkan karena berhubungan dengan kerja jantung. Dialog merupakan salah satu daya tarik dalam membina konflik-konflik dramatik. Cara untuk menghitung denyut nadi. Latihanlatihan olah tubuh dapat dilakukan dengan tahap-tahap sebagai berikut. Karena itu dia harus mempersiapkan dirinya secara utuh penuh baik fisik maupun psikis. dan cepat lambatnya sesuai . Latihan pendinginan atau peredaan (warm-down). Penghitungan denyut nadi yang ada dipergelangan tangan lebih dianjurkan untuk menghasilkan perhitungan yang tepat. yaitu hasil getaran udara yang datang dan menyentuh selaput gendang telinga.1 Persiapan Sebelum melakukan latihan harus memperhatikan denyut nadi. Selanjutnya. suara tidak hanya dilontarkan begitu saja tetapi dilihat dari keras lembutnya. Penghitungan dilakukan selama enam detik dan hasilnya dikalikan sepuluh. Suara adalah lambang komunikasi yang dijadikan media untuk mengungkapkan rasa dan buah pikiran. yaitu serial pokok dari inti gerakan yang akan dilatihkan. Latihan pemanasan (warm-up).1 Latihan Olah Tubuh Latihan olah tubuh melatih kesadaran tubuh dan cara mendayagunakan tubuh. suara dan bunyi itu sama. Dalam kenyataannya. * Pemanasan * Latihan ketahanan * Latihan Kelenturan * Latihan ketangkasan * Latihan pendinginan * Latihan relaksasi 4. yaitu dengan meletakkan jari tengah di atas pergelangan tangan dalam segaris dengan ibu jari atau jari jempol. 4. tinggi rendahnya. yaitu dengan menghitung denyut nadi yang ada di leher atau denyut nadi yang ada di pergelangan tangan dalam. Selama menghitung denyut nadi mata selalu melihat jam (jam tangan maupun jam dinding yang ada di dalam ruangan). Latihan inti. Suara merupakan produk manusia untuk membentuk katakata.

nada suara yang terlontarkan. dalam situasi tertentu tidak mampu mengungkapkan maksud yang sebenarnya. “Yah. kamu sekarang sudah hebat. * Melengkapi variasi.. * Memuat informasi tentang sifat dan perasaan tokoh. sehingga secara tidak sadar mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya tidak dikehendaki. Jika lontaran dialog tidak sesuai sebagaimana mestinya. Maka. Itulah yang disebut intonasi. menunjukkan maksud memuji atau sebenarnya ingin mengatakan. Hal ini merupakan kesalahan fatal bagi seorang pemeran. Akan tetapi. kedudukan sosial. Kata-kata yang membawa informasi yang bermakna. Seorang pemeran dalam pementasan teater menggunakan dua bahasa. memang. Proses pengucapan dialog mempengaruhi ketersampaian pesan yang hendak dikomunikasikan kepada penonton. Suara merupakan unsur yang harus diperhatikan oleh seseorang yang akan mempelajari teater. maka dia mencabut makna yang ada dalam kata-kata. * Ucapan yang dilontarkan oleh pemeran bertujuan untuk menyalurkan kata dari teks lakon kepada penonton. kekuatan. * Mengendalikan perasaan penonton seperti yang dilakukan oleh musik. maka nilai yang terkandung tidak dapat dikomunikasikan kepada penonton. kegembiraan.. Dialog yang diucapkan oleh seorang pemeran mempunyai tokohan yang sangat penting dalam pementasan naskah drama atau teks lakon. kalimat. marah. * Memberi arti khusus pada kata-kata tertentu melalui modulasi suara. “kamu belum bisa apa-apa”. Banyak lagi contoh yang menunjukkan tentang makna suara. Ekspresi yang disampaikan melalui nada suara membentuk satu pemaknaan berkaitan dengan kalimat dialog. Jika pemeran melontarkan dialognya hanya sekedar hasil hafalan saja. Hal ini disebabkan karena dalam dialog banyak terdapat nilai-nilai yang bermakna. Misalnya. yaitu bahasa tubuh dan bahasa verbal yang berupa dialog. dalam arti tidak dibarengi dengan bahasa verbal. yaitu sebagai berikut. putus asa. Bahasa tubuh bisa berdiri sendiri. dan sebagainya. Maksud tersembunyi seperti itu disebut subtext. Ketika pemeran mengucapkan dialog harus mempertimbangkan pikiran-pikiran penulis. Misalnya. * Persiapan * Pemanasan * Senam Wajah * Senam Lidah * Senam Rahang Bawah * Latihan Tenggorokan * Berbisik * Bergumam * Bersenandung * Latihan Pernafasan * Latihan Kejelasa Diksi * Intonasi * Jeda * Tempo * Nada * Wicara * Ditutup dengan relaksasi . Makna katakata dipengaruhi oleh nada. Latihan-latihan untuk melenturkan peralatan suara dapat dilakukan menggunakan tahap-tahap sebagai berikut.dengan situasi dan kondisi emosi. Ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh seorang pemeran tentang fungsi ucapan. misalnya: umur. bisa juga bahasa tubuh sebagai penguat bahasa verbal.. ”..

Terlebih dalam konteks aksi dan reaksi. konsentrasi menjadi sesuatu hal yang penting untuk pemeran. 4. Latihan olah rasa dimulai dari konsentrasi.1 Konsentrasi Pengertian konsentrasi secara harfiah adalah pemusatan pikiran atau perhatian. Padahal akting adalah kerja aksi dan reaksi. Kekuatan pemeran untuk mewujudkan dunia rekaan ini hanya bias dilakukan dengan kekuatan daya konsentrasi. Ada juga yang mengatakan bahwa gesture adalah bentuk komunikasi non verbal yang diciptakan oleh bagian-bagian tubuh yang dapat dikombinasikan dengan bahasa verbal. Akan tetapi. Tugas yang lain adalah memberikan reaksi. tetapi juga perasaan terhadap karakter lawan main. makin tinggi kesanggupan memusatkan perhatian. semua emosi tokoh yang ditokohkan harus mampu diwujudkan. Banyak pemeran yang hanya mementingkan ekspresi yang ditokohkan sehingga dalam benaknya hanya melakukan aksi. Dengan demikian. dan imajinasi. yaitu tokoh yang dimainkan. Jika berlawanan dengan bahasa verbal akan mengurangi kekuatan komunikasi.3. tetapi juga harus memberikan respon terhadap ekspresi tokoh lain. Segala sesuatu yang mengalihkan perhatian seorang pemeran. Kalau pemeran dengan tingkat konsentrasi yang rendah maka dia tidak akan dapat menyakinkan penonton. Bahasa ini mendukung dan berpengaruh dalam proses komunikasi. baik bahasa tubuh budaya sendiri maupun bahasa tubuh budaya lainnya. 4. Bahasa tubuh dilakukan oleh seseorang terkadang tanpa disadari dan keluar mendahului bahasa verbal. Dalam menghayatai karakter tokoh. Dunia teater adalah dunia imajiner atau dunia rekaan. sedangkan kalau selaras dengan bahasa verbal akan menguatkan proses komunikasi. Pemakaian gesture ini mengajak seseorang untuk menampilkan variasi bahasa atau bermacam-macam cara mengungkapkan perasaan dan pemikiran. Tujuan dari konsentrasi ini adalah untuk mencapai kondisi kontrol mental maupun fisik di atas panggung. latihan olah rasa tidak hanya berfungsi untuk meningkatkan kepekaan rasa dalam diri sendiri. gesture tidak dapat . Maka. cenderung dapat merusak proses pemeranan. Seorang pemeran tidak hanya memikirkan ekspresi karakter tokoh yang ditokohkan saja.2 Gesture Gesture adalah sikap atau pose tubuh pemeran yang mengandung makna. Dengan konsentrasi pemeran akan dapat mengubah dirinya menjadi orang lain.3. Dunia ini harus diwujudkan menjadi sesuatu yang seolah-olah nyata dan dapat dinikmati serta menyakinkan penonton. latihan-latihan yang mendukung kepekaan rasa perlu dilakukan.4. Pusat perhatian seorang pemeran adalah sukma atau jiwa tokoh atau karakter yang akan dimainkan. Seorang pemeran harus dapat mengontrol tubuhnya setiap saat.3 OLAH RASA Pemeran teater membutuhkan kepekaan rasa. Dunia tidak nyata yang diciptakan seorang penulis lakon dan diwujudkan oleh pekerja teater. Seorang pemeran yang hanya melakukan aksi berarti baru mengerjakan separuh dari tugasnya. Seorang pemeran harus memahami bahasa tubuh. Makin menarik pusat perhatian. Oleh karena itu. Latihan gesture dapat digunakan untuk mempelajari dan melahirkan bahasa tubuh. Ada korelasi yang sangat dekat antara pikiran dan tubuh. mempelajari gesture. Langkah awal yang perlu diperhatikan adalah mengasah kesadaran dan mampu menggunakan tubuhnya dengan efisien. Misalnya seorang pemeran melihat sesuatu yang menjijikan (meskipun sesuatu itu tidak ada di atas pentas) maka ia harus menyakinkan kepada penonton bahwa sesuatu yang dilihat benar-benar menjijikkan.

Sedang beberapa orang menggunakan gesture sebagai tambahan dalam kata-kata ketika melakukan proses komunikasi. maka akan terjadi proses imajinasi. Latihan imajinasi bagi pemeran berfungsi mengidentifikasi tokoh yang akan dimainkan. * Pikiran bisa disuruh untuk mempertanyakan segala sesuatu. dan apa. Tangan mengacung dengan jari telunjuk dan jempol membentuk lingkaran. orang India. tetapi harus dibujuk untuk bisa digunakan. Hal-hal yang perlu diketahui ketika berlatih imajinasi. * Imajinasi tidak akan muncul dengan pikiran yang pasif. Misalnya. tidak pernah ada. seorang pemeran juga harus berimajinasi tentang pengalaman hidup tokoh yang akan dimainkan. Usaha menjawab pertanyaan itu akan membawa pikiran untuk mengimajinasikan sosok Hamlet. “siapakah Hamlet itu?”. Macam-macam gesture yang dapat dipahami orang lain adalah gesture dengan tangan. dengan mempelajari bahasa tubuh. Sebagai seorang pemeran. Belajar imajinasi harus menggunakan plot yang logis. maka pikiran dipaksa untuk menjawab pertanyaan tersebut. tetapi harus dengan pikiran yang aktif. Sifat bahasa tubuh adalah tidak universal. .3 Imajinasi Imajinasi adalah proses pembentukan gambaran-gambaran baru dalam pikiran. dan jangan menggambarkan suatu objek yang tidak pasti (perkiraan). Imajinasi tidak akan muncul jika direnungkan tanpa suatu objek yang menarik. * Imajinasi tidak bisa dipaksa. gesture dengan kepala dan wajah. akan diketahui tanda kebohongan atau tanda-tanda kebosanan pada proses komunikasi yang sedang berlangsung. gesture dengan badan. tetapi bagi orang Amerika artinya bagus. Objek berfungsi untuk menstimulasi atau merangsang pikiran. Selain itu. dimana. Dengan berpikir. gesture harus disadari dan diciptakan sebagai penguat komunikasi dengan bahasa verbal. siapa. bagi orangtokohcis artinya nol. Hal ini berlawanan dengan bangsa-bangsa lain. dimana gambaran tersebut tidak pernah dialami sebelumnya. Bahasa tubuh yang tercipta oleh kedua tangan merupakan bahasa tubuh yang paling banyak jenisnya. Bahasa tubuh dengan kepala dan wajah adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi kepala maupun ekspresi wajah. Manfaat mempelajari dan melatih gesture adalah mengerti apa yang tidak terkatakan dan yang ada dalam pikiran lawan bicara. 4. sedangkan fantasi membuat hal-hal yang tidak ada. Dengan stimulus pertanyaan-pertanyaan atau menggunakan stimulus ”seandainya”. * Imajinasi menciptakan hal-hal yang mungkin ada atau mungkin terjadi. maka akan memunculkan gambaran pengandaiannya. dan tidak akan pernah ada. Selain itu. Sedangkan bahasa tubuh dengan kaki adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi dan bagaimana meletakkan kaki. mengangguk tandanya tidak setuju sedangkan mengeleng artinya setuju. Belajar imajinasi dapat menggunakan fungsi ”jika” atau dalam istilah metode pemeranan Stanislavski disebut magic-if. Melatih imajinasi sama dengan memperkerjakan pikiran-pikiran untuk terus berpikir. Jadi bahasa tubuh harus dipahami oleh pemeran sebagai pendukung bahasa verbal. Misalnya. bagi orang Yunani berarti penghinaan. Bahasa tubuh atau gesture dengan tangan adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi maupun gerak kedua tangan.3. Untuk membangkitkan imajinasi tokoh gunakan pertanyaan. dan gesture dengan kaki. Baik hal yang logis maupun yang tidak logis.menggantikan bahasa verbal sepenuhnya. Bahasa tubuh semacam respon atau impuls dalam batin seseorang yang keluar tanpa disadari. Bahasa tubuh dengan tubuh adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh pose atau sikap tubuh seseorang.

2. Oleh karena itu.1. maka penata panggung dituntut kreativitasnya untuk mewujudkan set dekor.1 Mempelajari Panggung Dalam sejarah perkembangannya. penata panggung diharuskan memahami karakter jenis panggung yang akan digunakan serta bagian-bagian panggung tersebut. Gambaran tempat kejadian lakon diwujudkan oleh tata panggung dalam pementasan. Semua ditata agar enak dipandang dari berbagai sisi. membutuhkan tata letak perabot yang dapat enak dilihat dari setiap sisi.1. Ketiganya adalah panggung proscenium. Di atas panggung inilah semua laku lakon disajikan dengan maksud agar penonton menangkap maksud cerita yang ditampilkan. panggung thrust. Panggung arena biasanya dibuat secara terbuka (tanpa atap) dan tertutup. Untuk memperoleh hasil terbaik. Perbedaan jenis panggung ini dipengaruhi oleh tempat dan zaman dimana teater itu berada serta gaya pementasan yang dilakukan. Hal ini mempengaruhi nilai artistik pementasan. Bentuk panggung yang berbeda memiliki prinsip artistik yang berbeda. dan aktor ditampilkan di hadapan penonton. Untuk menyampaikan maksud tersebut pekerja teater mengolah dan menata panggung sedemikian rupa untuk mencapai maksud yang dinginkan. Tidak hanya sekedar dekorasi (hiasan) semata. sutradara. dan panggung arena. Kedekatan jarak ini membawa konsekuensi artistik tersendiri baik bagi pemain dan (terutama) tata panggung. sebelum melaksanakan penataan panggung seorang penata panggung perlu mempelajari panggung pertunjukan. 5.2 Jenis-jenis Panggung Panggung adalah tempat berlangsungnya sebuah pertunjukan dimana interaksi antara kerja penulis lakon. Seperti telah disebutkan di atas bahwa banyak sekali jenis panggung tetapi dewasa ini hanya tiga jenis panggung yang sering digunakan.berbeda satu dengan yang lain . Agar semua pemain dapat terlihat dari setiap sisi maka penggunaan set dekor berupa bangunan tertutup vertikal tidak diperbolehkan karena dapat menghalangi pandangan penonton. dalam panggung yang penontonnya melingkar. Segala perabot yang digunakan dalam panggung arena harus benar-benar dipertimbangkan dan dicermati secara hati-hati baik bentuk. Penonton sangat dekat sekali dengan pemain. Karena bentuknya yang dikelilingi oleh penonton. dan penempatannya. Inti dari pangung arena baik terbuka atau tertutup adalah mendekatkan penonton dengan pemain. Dengan memahami bentuk dari masingmasing panggung inilah. 5. Misalnya.maka penonton akan dengan mudah melihatnya.1.1 TATA PANGGUNG Tata panggung disebut juga dengan istilah scenery (tata dekorasi). Misalnya.Dasar-dasar Teater (5/6): Seni Rupa dalam Teater 5. ukuran. 5. tetapi segala tata letak perabot atau piranti yang akan digunakan oleh aktor disediakan oleh penata panggung. Karena jaraknya yang dekat. di atas panggung diletakkan kursi dan meja berukir. penata panggung dapat merancangkan karyanya berdasar lakon yang akan disajikan dengan baik. Berbeda dengan panggung yang penontonnya hanya satu arah dari depan. Penataan panggung disesuaikan dengan tuntutan cerita.1 Arena Panggung arena adalah panggung yang penontonnya melingkar atau duduk mengelilingi panggung. kehendak artistik sutradara. . dan panggung tempat pementasan dilaksanakan. Jika bentuk ukiran yang ditampilkan tidak nampak sempurna . seni teater memiliki berbagai macam jenis panggung yang dijadikan tempat pementasan. detil perabot yang diletakkan di atas panggung harus benar-benar sempurna sebab jika tidak maka cacat sedikit saja akan nampak.

1. Kemungkinan berkomunikasi secara langsung atau bahkan bermain di tengah-tengah penonton ini menjadi tantangan kreatif bagi teater modern. Intinya semua yang di atas panggung dapat diciptakan untuk mengelabui pandangan penonton dan mengarahkan mereka pada pemikiran bahwa apa yang terjadi di atas pentas adalah kenyataan. Banyak usaha yang dilakukan untuk mendekatkan pertunjukan dengan penonton. Karena keseluruhan objek yang ada di atas panggung dan digunakan oleh aktor membentuk satu lukisan secara menyeluruh.3 Fungsi Tata Panggung Dalam perancangan tata panggung selain mempertimbangkan jenis panggung yang akan digunakan ada beberapa elemen komposisi yang perlu diperhatikan. Panggung proscenium sudah lama digunakan dalam dunia teater. Aktor dapat bermain dengan leluasa seolah-olah tidak ada penonton yang hadir melihatnya. fungsi tata panggung perlu dibahas terlebih dahulu. Perabot dan piranti sangat penting dalam mencipta lukisan panggung. Aspek kedekatan inilah yang dieksplorasi untuk menimbulkan daya tarik penonton. Pemisahan ini dapat membantu efek artistik yang dinginkan terutama dalam gaya realisme yang menghendaki lakon seolah-olah benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata.2. 5. Perspektif dapat ditampilkan dengan memanfaatkan kedalaman panggung (luas panggung ke belakang). Semua yang ada di atas panggung dapat disajikan secara sempurna seolah-olah gambar nyata. Tata cahaya yang memproduksi sinar dapat dihadirkan dengan tanpa terlihat oleh penonton dimana posisi lampu berada. Pembelajaran tata panggung untuk menciptakan ilusi (tipuan) imajinatif sangat dimungkinkan dalam panggung proscenium. Gambar dekorasi dan perabot tidak begitu menuntut kejelasan detil sampai hal-hal terkecil. bingkai proscenium menjadi batas tepinya. Hampir semua sekolah teater memiliki jenis panggung proscenium. salah satunya adalah penggunaan panggung arena. Kedekatan jarak antara pemain dan penonton dimanfaatkan untuk melakukan komunikasi langsung di tengahtengah pementasan yang menjadi ciri khas teater tersebut. panggun arena sering menjadi pilihan utama bagi teater tradisional. Jarak yang sengaja diciptakan untuk memisahkan pemain dan penonton ini dapat digunakan untuk menyajikan cerita seperti apa adanya. Beberapa pengembangan desain dari teater arena melingkar dilakukan sehingga bentuk teater arena menjadi bermacammacam. Tata panggung pun sangat diuntungkan dengan adanya jarak dan pandangan satu arah dari penonton. Kesan inilah yang diolah penata panggung untuk mewujudkan kreasinya di atas panggung proscenium. Bentangan jarak dapat menciptakan bayangan arstisitk tersendiri yang mampu menghadirkan kesan. Jarak antara penonton dan panggung adalah jarak yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan gambaran kreatif pemangungan. Seperti sebuah lukisan. penata panggung juga bertanggungjawab terhadap segala perabot yang digunakan.Lepas dari kesulitan yang dihadapi. terutama pada panggung arena dimana lukisan dekor atau bentuk bangunan vertikal tertutup seperti dinding atau kamar (karena akan menghalangi pandangan sebagian penonton) tidak memungkinkan diletakkan di atas panggung. Bingkai yang dipasangi layar atau gorden inilah yang memisahkan wilayah akting pemain dengan penonton yang menyaksikan pertunjukan dari satu arah. Pesona inilah yang membuat penggunaan panggung proscenium bertahan sampai sekarang.1. 5. Unsur-unsur ini ditata sedemikian rupa sehingga bisa . Selain merencanakan gambar dekor.2 Proscenium Panggung proscenium bisa juga disebut sebagai panggung bingkai karena penonton menyaksikan aksi aktor dalam lakon melalui sebuah bingkai atau lengkung proscenium (proscenium arch). Penonton disuguhi gambaran melalui bingkai tersebut. Dengan pemisahan ini maka pergantian tata panggung dapat dilakukan tanpa sepengetahuan penonton. Tata perabot kemudian menjadi unsur pokok pada tata panggung arena. Sebelum menjelaskan semua itu.

Sejak ditemukannya lampu penerangan manusia menciptakan modifikasi dan menemukan hal-hal baru yang dapat digunakan untuk menerangi panggung pementasan. sutradara dapat menghadirkan ilusi imajinatif. dimensi. dan musim dalam tahun dimana lakon dilangsungkan. yaitu penerangan. Banyak hal yang bisa dikerjakan bekaitan dengan peran tata cahaya tetapi fungsi dasar tata cahaya ada empat. 1988).memberikan gambaran lengkap yang berfungsi untuk menjelaskan suasana dan semangat lakon. Pemikiran lain di luar desain akan menghambat imajinasi dan akhrinya memberikan batasan. Dalam pertunjukan era primitif manusia hanya menggunakan cahaya matahari. status karakter peran.1 Fungsi Tata Cahaya Tata cahaya yang hadir di atas panggung dan menyinari semua objek sesungguhnya menghadirkan kemungkinan bagi sutradara. 5. 5. * Penerangan. Pemilihan ini tidak hanya berpengaruh bagi perhatian penonton tetapi juga bagi para aktor di atas pentas serta keindahan tata panggung yang dihadirkan. Artinya.1. lokasi kejadian. dan atmosfir (Mark Carpenter. * Pemilihan. periode sejarah lakon.4 Elemen Komposisi Desain tata panggung sebaiknya dibuat dengan mudah dan bebas. imajinasi dapat dituangkan sepenuhnya ke dalam gambar desain tanpa lebih dulu berpikir tentang kemungkinan visualisasinya. Dengan tata cahaya kedalaman sebuah objek dapat dicitrakan.2. bulan atau api untuk menerangi. Tanpa adanya cahaya maka penonton tidak akan dapat menyaksikan apa-apa. dan memanipulasi elemen komposisi yang menjadi dasar dari seluruh kerja desain. dan penonton untuk saling melihat dan berkomunikasi. Jika semua objek diterangi dengan intensitas yang sama maka gambar yang akan tertangkap oleh mata penonton menjadi datar. menata. Dengan cahaya.2 TATA CAHAYA Cahaya adalah unsur tata artistik yang paling penting dalam pertunjukan teater. . Semua objek yang disinari memberikan gambaran yang jelas kepada penonton tentang segala sesuatu yang akan dikomunikasikan. penonton secara normal dapat melihat seluruh area panggung. Jika dalam film dan televisi sutradara dapat memilih adegan menggunakan kamera maka sutradara panggung melakukannya dengan cahaya. * Dimensi. aktor. untuk memberikan fokus perhatian pada area atau aksi tertentu sutradara memanfaatkan cahaya. Istilah penerangan dalam tata cahaya panggung bukan hanya sekedar memberi efek terang sehingga bisa dilihat tetapi memberi penerangan bagian tertentu dengan intensitas tertentu. Tata cahaya dapat dimanfaatkan untuk menentukan objek dan area yang hendak disinari. Pengetahuan dasar ini selanjutnya dapat diterapkan dan dikembangkan dalam penataan cahaya untuk kepentingan artistik pemanggungan. Dalam teater. Tidak semua area di atas panggung memiliki tingkat terang yang sama tetapi diatur dengan tujuan dan maksud tertentu sehingga menegaskan pesan yang hendak disampaikan melalui laku aktor di atas pentas. Dimensi dapat diciptakan dengan membagi sisi gelap dan terang atas objek yang disinari sehingga membantu perspektif tata panggung. Dalam pembuatan desain gambar tata panggung yang terpenting adalah cara mengatur. Dengan pengaturan tingkat intensitas serta pemilahan sisi gelap dan terang maka dimensi objek akan muncul. Seorang penata cahaya perlu mempelajari pengetahuan dasar dan penguasaan peralatan tata cahaya. Penyuntingan atau pengolahan bisa dilakukan setelah gagasan tertuang. Lampu memberi penerangan pada pemain dan setiap objek yang ada di atas panggung. Inilah fungsi paling mendasar dari tata cahaya. pemilihan. 5.

* Pemberian tanda. 5. seperti tanah. suasana. Sepanjang pementasan. Sinar mentari pagi membawa kehangatan sedangkan sinar mentari siang hari terasa panas. Kata “atmosfir” digunakan untuk menjelaskan suasana serta emosi yang terkandung dalam peristiwa lakon.tulang. Cahaya dapat menunjukkan gaya pementasan yang sedang dilakonkan. Beberapa teater primitif menggunakan bedak tebal yang biasa dibuat dari bahan-bahan alam. Beberapa fungsi pendukung yang dapat ditemukan dalam tata cahaya adalah sebagai berikut. dan lemak binatang. * Penekanan. Cahaya berfungsi untuk memberi tanda selama pertunjukan berlangsung. Tetapi pergantian cahaya dalam satu area ketika adegan tengah berlangsung terkadang tidak secara langsung disadari. fade out untuk mengakhiri sebuah adegan. Sejak ditemukannya teknologi pencahayaan panggung. efek lampu dapat diciptakan untuk menirukan cahaya bulan dan matahari pada waktu-waktu tertentu. Dalam pementasan teater tradisional. Tanpa sadar penonton dibawa ke dalam suasana yang berbeda melalui perubahan cahaya. warna cahaya matahari pagi berbeda dengan siang hari. bulan atau lampu meja.* Atmosfir. Tata cahaya dapat memberikan penekanan tertentu pada adegan atau objek yang dinginkan. Dalam pementasan komedi atau dagelan tata cahaya membutuhkan tingkat penerangan yang tinggi sehingga setiap gerak lucu yang dilakukan oleh aktor dapat tertangkap jelas oleh penonton. Dalam gaya Surealis tata cahaya diproyeksikan untuk menyajikan imajinasi atau fantasi di luar kenyataan seharihari. Jika perpindahan cahaya bergerak dari aktor satu ke aktor lain dalam area yang berbeda. Contohnya. Cahaya dapat dimanfaatkan untuk menciptakan lukisan panggung melalui tatanan warna yang dihasilkannya.3 TATA RIAS Tata rias secara umum dapat diartikan sebagai seni mengubah penampilan wajah menjadi lebih sempurna. masing-masing fungsi memiliki interaksi (saling mempengaruhi). Pemakaian tata rias akhirnya menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari peristiwa teater. tumbuhan. penonton dapat melihatnya dengan jelas. Inilah gambaran suasana dan emosi yang dapat dimunculkan oleh tata cahaya. teater Yunani yang memakai topeng lebih besar dari wajah pemain dengan garis tegas agar ekspresinya dapat dilihat oleh penonton. Keempat fungsi pokok tata cahaya di atas tidak berdiri sendiri. * Gerak. dari objek satu ke objek lain. Tata cahaya mampu menghadirkan suasana yang dikehendaki oleh lakon. black out biasanya digunakan sebagai tanda ganti adegan diiringi dengan pergantian set. yaitu seni mengubah wajah untuk menggambarkan karakter tokoh. tata cahaya memiliki fungsi pendukung yang dikembangkan secara berlainan oleh masing-masing ahli tata cahaya. Yang paling menarik dari fungsi tata cahaya adalah kemampuannya menghadirkan suasana yang mempengaruhi emosi penonton. . Tata Rias dalam teater bermula dari pemakaian kedok atau topeng untuk menggambarkan karakter tokoh. Selain keempat fungsi pokok di atas. Gaya realis atau naturalis yang mensyaratkan detil kenyataan mengharuskan tata cahaya mengikuti cahaya alami seperti matahari. Gerak perpindahan cahaya ini mengalir sehingga kadang-kadang perubahannya disadari oleh penonton dan kadang tidak. Misalnya. Misalnya. * Gaya. Tata cahaya tidaklah statis. Fungsi penerangan dilakukan dengan memilih area tertentu untuk memberikan gambaran dimensional objek. Tata rias dalam teater mempunyai arti lebih spesifik. Artinya. Penggunaan warna serta intensitas dapat menarik perhatian penonton sehingga membantu pesan yang hendak disampaikan. cahaya selalu bergerak dan berpindah dari area satu ke area lain. dan emosi peristiwa. Sebuah bagian bangunan yang tinggi yang senantiasa disinari cahaya sepanjang pertunjukan akan menarik perhatian penonton dan menimbulkan pertanyaan sehingga membuat penonton menyelidiki maksud dari hal tersebut. * Komposisi. fade in untuk memulai adegan dan black out sebagai akhir dari cerita.

tampak datar ketika tertimpa cahaya lampu. bentuk wajah dan tubuh.1. misalnya.2 Menggambarkan Karakter Tokoh Karakter berarti watak. Misalnya.1 Fungsi Tata Rias Tokoh dalam teater memiliki karakter berbeda-beda. bibir yang kurang tegas. tokoh yang pesimistis cenderung memiliki karakter garis mata yang menurun. 5. ras. wajahnya akan tampak datar. tidak memiliki dimensi. dan sebagainya. Misalnya. Oleh karena itu dibutuhkan tata rias untuk menampilkan dimensi wajah pemain. Penampilan tokoh yang berbeda-beda membutuhkan penampilan yang berbeda sesuai karakternya.5. Fungsi garis tidak sekedar menegaskan. sehingga saat berekspresi muncul efek gerak yang tegas dan dapat ditangkap oleh penonton. seorang remaja yang memerankan seorang yang telah berumur 50 tahun. 5. Tata rias berfungsi melukiskan watak tokoh dengan mengubah wajah pemeran menyangkut aspek umur. 5. Penyempurnaan wajah dilakukan pada pemain yang secara fisik telah sesuai dengan tokoh yang dimainkan.3. Seorang penata rias harus mencermati gerak ekspresi wajah untuk menentukan garis yang akan dibuat. tetapi cukup menyempurnakan dengan mengoreksi kekurangan yang ada untuk disempurnakan. Tata rias merupakan salah satu cara menampilkan karakter tokoh yang berbeda-beda tersebut. Tata rias berfungsi menegaskan garis-garis wajah karakter. Misalnya. memiliki hidung yang kurang mancung. mata yang tidak ekspresif. Tata rias memiliki kemampuan dalam mengubah sekaligus menampilkan karakter yang berbeda dari seorang pemeran. Seorang yang berperan .4 Menghadirkan Garis Wajah Sesuai Dengan Tokoh Menampilkan wajah sesuai dengan tokoh membutuhkan garis baru yang membentuk wajah baru. Karakter wajah merupakan cermin psikologis dan latar sosial tokoh yang hadir secara nyata.3. Tata rias tidak perlu mengubah usia. seorang remaja memerankan siswa sekolah. Tata rias dalam teater memiliki fungsi sebagai berikut.1.1.3 Memberi Efek Gerak Pada Ekspresi Pemain Wajah seorang pemain di atas pentas. Seorang pemain.3. 5.3.1. tetapi juga menambahkan sehingga terbentuk tampilan yang berbeda dengan wajah asli pemain. Pemain yang tidak menggunakan rias. Wajah perlu ditambahkan garis-garis kerutan sesuai wajah seorang yang berusia 50 tahun. * Menyempurnakan penampilan wajah * Menggambarkan karakter tokoh * Memberi efek gerak pada ekspresi pemain * Menegaskan dan menghasilkan garis-garis wajah sesuai dengan tokoh * Menambah aspek dramatik. seorang yang optimis digambarkan dengan tarikan sudut mata cenderung ke atas. mata menjadi lebih ekspresif.1 Menyempurnakan Penampilan Wajah Wajah seorang pemain memiliki kekurangan yang bisa disempurnakan dengan mengaplikasikan tata rias. Tata rias bisa menyempurnakan kekurangan tersebut sehingga muncul kesan hidung tampak mancung.3. Sebaliknya. dan bibir bergaris tegas.

5. bangsa.2 Jenis Tata Rias 5.2.3. watak.5 Menambah Aspek Dramatik Peristiwa teater selalu tumbuh dan berkembang. hidung kurang mancung dan sebagainya.3.1. tertembak.3. 5. Wajah pemain cukup disempurnakan dengan menyamarkan. Seseorang yang memiliki bentuk wajah kurang sempurna.2.menjadi tokoh binatang.3 Tata Rias karakter Tata rias karaker adalah tata rias yang mengubah penampilan wajah seseorang dalam hal umur. kalung. 5. Tokoh tersebut memiliki latar Suku Dayak Kalimantan yang memiliki tradisi memanjangkan telinga. menegaskan. Tata rias bisa memberikan efek dramatik dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan menciptakan efek tertentu sesuai dengan kebutuhan. gelang . Pada era teater primitif. seperti tumbuhan. seorang tokoh tertusuk belati. karena menampilkan wujud rekaan dengan mengubah wajah tidak realistik. dan batu- .3. dan menonjolkan bagian-bagian wajah sesuai dengan tokoh yang dimainkan.dapat disempurnakan dengan make up korektif. Tata rias ini menyembunyikan kekurangan-kekurangan yang ada pada wajah dan menonjolkan hal-hal yang menarik dari wajah. maka dibutuhkan tata rias yang memberikan efek sesuai dengan kebutuhan. dan segala unsur yang melekat pada pakaian. Seorang pemain membutuhkan tata rias korektif ketika tampilannya tidak membutuhkan perubahan usia. syal. ras. Mengubah anatomi wajah pemain untuk memenuhi tuntutan tokoh dapat juga digolongkan sebagai tata rias karakter. dan ciri-ciri khusus yang melekat pada tokoh. mengubah umur pemeran dari muda menjadi lebih tua . tersayat wajahnya. misalnya dahi terlalu lebar. Biasanya pemeran memiliki kesesuaian dengan tokoh yang diperankan.4 TATA BUSANA Tata busana adalah seni pakaian dan segala perlengkapan yang menyertai untuk menggambarkan tokoh. 5. Tata rias karakter tidak sekedar menyempurnakan. Setiap wajah memiliki kekuarangan dan kelebihan. sepatu. Tata rias karakter dibutuhkan ketika karakter wajah pemeran tidak sesuai dengan karakter tokoh.2. Tata busana dalam teater memiliki peranan penting untuk menggambarkan tokoh. Misalnya. misalnya memanjangkan telinga. busana yang dipakai berasal dari bahan-bahan alami. 5. Tata busana termasuk segala asesoris seperti topi. Tokoh-tokoh mengalami berbagai peristiwa sehingga terjadi perubahan dan penambahan tata rias. tetapi mengubah tampilan wajah. dan perubahan bentuk wajah. Contohnya. kulit binatang.1 Tata Rias Korektif Tata rias korektif (corective make-up) merupakan suatu bentuk tata rias yang bersifat menyempurnakan (koreksi).2 Tata Rias Fantasi Tata rias fantasi dikenal juga dengan istilah tata rias karakter khusus.3. maka perlu membuat garis-garis baru sesuai dengan karakter wajah binatang yang diperankan. sifat. Tata rias fantasi menggambarkan tokohtokoh yang tidak riil keberadaannya dan lahir berdasarkan daya khayal semata. Disebut tata rias karakter khusus.

2 Membedakan Satu Pemain Dengan Pemain Yang Lain Pementasan teater menampilkan tokoh yang bermacam-macam karakter dan latar belakang sosialnya. Masing-masing memiliki kospenya tersendiri dan lakon tidak harus berlatar jaman dimana lakon itu dibuat. Ketika manusia menemukan tekstil dengan teknologi pengolahan yang tinggi. busana pada jaman atau dekade tertentu memiliki ciri yang sama.1. maka busana berkembang menjadi lebih baik.4. Busana pementesan teater dibuat secara khusus dan dilengkapi dengan asesoris sesuai kebutuhan pemensan. Dalam masa ini. yaitu.1 Fungsi Tata Busana Busana yang dipakai manusia beraneka ragam bentuk dan fungsinya. Semua terserah pada gagasan seniman. Renaissance. Busana teater mengalami perkembangan pesat seiring lahirnya teater modern pada akhir abad 19. Pada era teater primitif. dan memenuhi hasrat manusia akan keindahan. 5. mencitrakan kesopanan. Tata busana dengan demikian sudah tidak lagi terpaku pada jaman. dan Abad 18. Tata busana dalam teater berfungsi sebagai bentuk ekspresi untuk tampil lebih indah dari penampilan seharihari. sehingga penonton mampu mengidentifikasikan tokoh dengan mudah . Jenis busana ini tidak bisa disamakan antara daerah satu dengan daerah lain. hasrat untuk tampil berbeda dan lebih indah dari tampilan sehari-hari telah muncul. Penonton membutuhkan suatu penampilan yang berbeda-beda antara satu tokoh dengan tokoh yang lain. beragam aliran teater bermunculan.batuan untuk asesoris. Restorasi. Busana dalam teater memiliki fungsi yang lebih kompleks. tetapi lebih pada konsep yang melatarbelakangi penciptaan teater. Pementasan teater adalah suatu tontonan yang mengandung aspek keindahan. Tata busana dapat dibuat berdasar budaya atau jaman tertentu. karena semua tergantung latar cerita yang ditampilkan. Sementara itu tata busana menurut jamannya bisa digeneralisasi. Artinya. Untuk membuat tata busana sesuai dengan adat dan kebudayaan daerah tertentu maka diperlukan referensi khusus berkaitan dengan adat dan kebudayaan tersebut. Penampilan busana yang berbeda akan menunjukkan ciri khusus seorang tokoh. Tidak ada periode tata busana secara khusus di teater.4.1. Abad Pertengahan.4. dalam teater Romawi Kuno maka lakon yang ditampilkan berlatar jaman tersebut sehingga busananya pun seperti busana keseharian penduduk jaman Romawi Kuno. Fungsi busana dalam kehidupan seharihari untuk melindungi tubuh. Misalnya. Demikian juga dengan teater pada jaman Yunani. 5. Teater di Inggris pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth (1580 – 1640). Masingmasing memiliki ciri khasnya. Elizabethan. memakai busana sehari-hari yang dibuat lebih indah dengan mengaplikasikan perhiasan dan penambahan bahanbahan yang mahal dan mewah.1 Mencitrakan Keindahan Penampilan Manusia memiliki hasrat untuk mengungkapkan rasa keindahan dalam berbagai aspek kehidupan. Busana menjadi salah satu tanda penting untuk membedakan satu tokoh dengan tokoh yang lain. Periode busana teater dengan demikian mengikuti periode teater tersebut. Busana pun mengikuti konsep tersebut. * Mencitrakan keindahan penampilan * Membedakan satu pemain dengan pemain yang lain * Menggambarkan karakter tokoh * Memberikan efek gerak pemain * Memberikan efek dramatik 5.

. dan tanpa asesoris yang berlebihan. penonton terbantu dalam menangkap karakter yang berbeda dari setiap tokoh. tokoh seorang pelajar yang pendiam.5. brutal. Sebaliknya. busananya cenderung rapi. warna.3 Menggambarkan Karakter Tokoh Fungsi penting busana dalam teater adalah untuk menggambarkan karakter tokoh. dan alim. dan sering membuat onar.1. Contohnya. dan garis yang diciptakan. busananya dilengkapi asesoris dan cara pemakaiannya seenaknya tidak sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan sekolah. motif. rajin. sederhana. Melalui busana.4. Perbedaan karakter dalam busana dapat ditampilkan melalui model. bentuk. tokoh seorang pelajar yang bandel.

dan peningkatan kompetensi tetapi juga untuk mengungkap makna kerja yang ada di sebalik ilmu. ketersampaian cerita. Karena prinsip teater adalah kerjasama maka belajar teater tidaklah hanya mempelajari elemen-elem yang ada di dalamnya tetapi juga mempelajari kerja pengabungan di antaranya. sutradara. Karena itu pulalah penonton merupkan kunci keberhasilan sebuah pertunjukan. Ia akan bermain dalam area yang diciptakan oleh penata panggung. Dalam satu proses pembelajaran hal semacam itu sering tejadi. bahkan penonton yang hadir di dalamnya. Saling mendukung demi tercapaiya tujuan tersebut. semua saling belajar. Membaca referensi atau buku teater tidaklah hanya untuk menambah wawasan. Sebuah langkah yang besar selalu dimulai dari langkah kecil. Jika satu saja elemen berada di luar garis ini maka kesatuan makna menjadi kabur. Karya seni yang lahir dari kreativitas dapat dialirkan kepada generasi berikutnya melalui catatancatatan. Semua elemen harus memahami hal ini. Memang perlu belajar satu bidang secara khusus tetapi pemahaman atas bidang lain tidak bisa diabaikan. Demikian pula penata panggung harus mau memahami pola laku dan gerak para aktor di atas pentas sehingga ruang yang diciptakan tidak mengganggu bagi pergerakan aktor ketika bemain. . Memiliki tujuan yang sama. Berdiskusi. Jika kualitas kerja salah satu bidang tidak baik maka keseluruhan pertunjukan menjadi terpengaruh. mempelajari teater tidak hanya mempelajari satu bidang dan mengabaikan bidang lain. maka semua komponen bekerja untuk memenuhi atmosfir kesedihan yang diharapkan. Dramaturgi atau pengetahuan teater dasar merupakan pokok pemahaman yang harus diperhatikan. Karena sifatnya yang kolaboratif maka seni teater akan kehilangan spiritnya jika masing-masing bidang berusaha untuk menonjol dan mengalahkan bidang lain. Berbicara teater adalah berbicara tentang semua hal yang ada di dalamnya. tata rias dan busana. tidak hanya tergambar keindahan karya seni tetapi juga prinsip kebersamaan. pengetahuan.Dasar-dasar Teater (6/6): Penutup Sebuah karya teater lahir dari satu proses pembelajaran yang padu. Satu proses kerja bidang tertentu bahkan dinilai lebih tinggi dari bidang lain. Oleh karena itu. seni memang tidak hanya menghasilkan sesuatu yang tampak (produk) tetapi juga mental atau jiwa para pelakunya. semua saling mendukung. Semua elemen harus besatu. Untuk kepentingan inilah buku ini disusun. Sebuah karya teater yang besar merupakan penyatuan kerja elemen-elemen yang kecil. Oleh karena itulah. Begitu pentingnya pesan yang hendak disampaikan sehingga semua elemen pendukung pementasan bekerja keras mewujudkannya. Dalam sebuah lakon yang menceritakan tentang kesedihan. Apalagi ketika proses tersebut dinilai dan memiliki konsekuensi langsung bagi pelakunya. aktor. tata panggung dan cahaya. Dalam teater hal itu tidak berlaku. pelajarilah semuanya sesuai dengan tahapan yang benar. Satu gagasan atau perwujudan karya menjadi indah dan menarik serta memiliki kesatuan makna jika semua elemennya memiliki tujuan artistik yang sama. kerja sekecil apapun dalam teater sangatlah penting. Satu bidang harus mampu dan mau menghargai bidang lain. Respon atau tanggapan yang diberikan penonton terhadap pertunjukan yang dilangsungkan merupakan tanda bagi keberhasilan atau kegagalan pertunjukan tesebut dalam menyampaikan pesan. Memecahkan persoalan bersama dan menentukan satu keputusan yang secara artistik adil bagi semua pihak. Kualitas karya yang dihasilkan menggambarkan semangat dan keadaan jiwa pembuatnya. Saling berbicara. penata artistik) akan diketahui langsung oleh para penonton dalam sebuah pertunjukan. Satu bidang kecil memiliki makna yang sama dengan bidang lain. Kualitas ketersampaian pesan yang diramu oleh para pekerja teater (pengarang. Jadi. Pemaknaan ini akan membawa satu sikap penghargaan profesi baik bagi diri sendiri atau bagi orang yang bekerja pada bidang lain. Berbicara teater tidak hanya berbicara naskah atau sutradara yang merajut proses atau aktor terkenal yang ikut terlibat di dalamnya. Dengan demikin dalam satu karya teater. Secara mendalam. semua saling membantu. konsep. Akhirnya menjadi maklumlah kita ketika seseorang berbicara tentang teater maka ia akan membicarakan semua elemen yang ada di dalamnya. Hal itu akan menyangkut soal cerita. Seorang aktor yang baik harus mengerti fungsi tata panggung karena ia akan bermain di antara objek yang ditata di atas pentas.

konflik. Banyak seniman yang lahir karena membaca atau mempelajari karya (catatan) seniman yang lainnya. Membaca catatan karya orang lain bukan dipahami sebagai bentuk plagiarisme tetapi membaca untuk mempelajari. semua bermula dari sebuah cerita. maka cerita yang satu kalimat itu pun dapat dikembangkan. Teater adalah kolketif. apapun kualitasnya gagasan tersebut harus menjadi sesuatu. Dalam teater. dan berkarya. Semua bisa dipelajari secara mandiri. Sesuatu yang sangat berarti bagi si penggagas. Dengan semangat dan ketekunan berlatih. cerita yang sudah berhasil dicipta dapat diwujudkan ke dalam sebuah pementasan. Karya seni yang lebih mementingkan proses. teater adalah kerjasama.Dramaturgi adalah catatan-catatan proses penciptaan seni drama hingga sampai pementasannya. Satu karya mempengaruhi atau terpengaruh oleh karya lain. Ketika sebuah gagasan muncul. Oleh karena itu maka tidak ada kata lain selain belajar. Masing-masing bidang yang dibahas dalam buku ini memberikan gambaran harmonisasi tersebut. Semua berjalan dalam satu proses. Gagasan hanya akan menjadi gagasan jika tidak diwujudkan. sebuah karya teater dapat dilahirkan. dan penyelesaian. berkarya. Oleh sebab itu. Semua secara harmonis bekerja bersama mendukung makna yang satu. Jika semuanya berbuat dalam semangat kerjasama maka pergelaran karaya teater menjadi karya bersama yang memiliki satu makna. membaca untuk menilhami. dan tata artistik dapat diaplikasikan untuk mendukung karya yang akan ditampilkan. Dengan berdasar pengetahuan dan keingintahuan dari membaca catatan tersebut. Catatan inti akan terus berkembang seiring dengan perkembangan teater itu sendiri. Bahkan mungkin cerita itu hanya merupakan satu rangkaian kalimat. maka ia perlu dinyatakan. Masing-masing bidang dalam teater dapat dikerjakan oleh orang-orang tertentu yang tertarik di bidang-bidang tersebut. Akan tetapi. dengan memahami dasardasar penciptaan lakon yang mengedepankan pentingnya arti konflik dalam teater. Catatan kecil yang kami sampaikan ini semoga dapat menjadi pemicu semangat untuk terus belajar dan berkarya. sebuah gagasan dapat diwujudkan. Berkarya. lebih menghargai pengalaman dari pada hasil akhir. Karya baru yang dihasilkan oleh seniman itupun pada nantinya juga akan menginspirasi karya yang lain. Semangat belajar dalam teater tidak akan pernah bisa berhenti karena teater senantiasa hidup dan berkembang. pemeranan. Apapun bentuknya. Ilmu yang didapatkan sekarang tidak akan pernah cukup. wujud awal dari sebuah gagasan harus mengalami proses pembentukan. dan proses adalah belajar. Sebuah pertunjukan dapat digelar. Tidak perlu seorang diri mengerjakan semuanya. belajar. Kerjasama sebagai semangat seni teater dapat dijadikan acuan proses penciptaan. membaca untuk menginspirasi sehingga seni baru senantiasa lahir. . Demikian berjalan secara berkesambungan. Tidak peduli berapa panjang cerita tersebut. Disitulah sebetulnya letak fungsi hakiki dari sebuah pengetahuan. Semua itu tidak berada dalam bingkai saling meniru akan tetapi bingkai kreativitas yang terus berkembang dan berkembang. Pengetahuan tentang dasar-dasar penyutradaraan. Minimal menjadi tiga kalimat yang masing-masing mewakili pemaparan. dan belajar. Hanya dengan cerita yang sangat sederhana semacam ini. akan tetapi lebih berarti jika semua bidang bersinergi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful