Dasar-dasar Teater (1/6): Definisi & Sejarah Teater 1.

1 Definisi Teater Teater berasal dari kata Yunani, “theatereatron” (bahasa Inggris, Seeing Place) yang artinya tempat atau gedung pertunjukan. Dalam perkembangannya, dalam pengertian lebih luas kata teater diartikan sebagai segala hal yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Dengan demikian, dalam rumusan sederhana teater adalah pertunjukan, misalnya ketoprak, ludruk, wayang, wayang wong, sintren, janger, mamanda, dagelan, sulap, akrobat, dan lain sebagainya. Teater dapat dikatakan sebagai manifestasi dari aktivitas naluriah, seperti misalnya, anak-anak bermain sebagai ayah dan ibu, bermain tokohg-tokohgan, dan lain sebagainya. Selain itu, teater merupakan manifestasi pembentukan strata sosial kemanusiaan yang berhubungan dengan masalah ritual. Misalnya, upacara adat maupun upacara kenegaraan, keduanya memiliki unsur-unsur teatrikal dan bermakna filosofis. Berdasarkan paparan di atas, kemungkinan perluasan definisi teater itu bisa terjadi. Tetapi batasan tentang teater dapat dilihat dari sudut pandang sebagai berikut: “tidak ada teater tanpa aktor, baik berwujud riil manusia maupun boneka, terungkap di layar maupun pertunjukan langsung yang dihadiri penonton, serta laku di dalamnya merupakan realitas fiktif”, (Harymawan, 1993). Kata “drama” juga dianggap telah ada sejak era Mesir Kuno (4000-1580 SM), sebelum era Yunani Kuno (800277 SM). Hubungan kata “teater” dan “drama” bersandingan sedemikian erat seiring dengan perlakuan terhadap teater yang mempergunakan drama lebih identik sebagai teks atau naskah atau lakon atau karya sastra (Bakdi Soemanto, 2001). Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa istilah “teater” berkaitan langsung dengan pertunjukan, sedangkan “drama” berkaitan dengan lakon atau naskah cerita yang akan dipentaskan. Jadi, teater adalah visualisasi dari drama atau drama yang dipentaskan di atas panggung dan disaksikan oleh penonton. Jika “drama” adalah lakon dan “teater” adalah pertunjukan maka “drama” merupakan bagian atau salah satu unsur dari “teater”. Dengan kata lain, secara khusus teater mengacu kepada aktivitas melakukan kegiatan dalam seni pertunjukan (to act) sehingga tindaktanduk pemain di atas pentas disebut acting. Istilah acting diambil dari kata Yunani “dran” yang berarti, berbuat, berlaku, atau beraksi. Karena aktivitas beraksi ini maka para pemain pria dalam teater disebut actor dan pemain wanita disebut actress (Harymawan, 1993). Meskipun istilah teater sekarang lebih umum digunakan tetapi sebelum itu istilah drama lebih populer sehingga pertunjukan teater di atas panggung disebut sebagai pentas drama. Hal ini menandakan digunakannya naskah lakon yang biasa disebut sebagai karya sastra drama dalam pertujukan teater. Di Indonesia, pada tahun 1920-an, belum muncul istilah teater. Yang ada adalah sandiwara atau tonil (dari bahasa Belanda: Het Toneel). Istilah Sandiwara konon dikemukakan oleh Sri Paduka Mangkunegoro VII dari Surakarta. Kata sandiwara berasal dari bahasa Jawa “sandi” berarti “rahasia”, dan “wara” atau “warah” yang berarti, “pengajaran”. Menurut Ki Hajar Dewantara “sandiwara” berarti “pengajaran yang dilakukan dengan perlambang” (Harymawan, 1993). Rombongan teater pada masa itu menggunakan nama Sandiwara, sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama. Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan, istilah sandiwara masih sangat populer. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan (Kasim Achmad, 2006). Keterikatan antara teater dan drama sangat kuat. Teater tidak mungkin dipentaskan tanpa lakon (drama). Oleh karena itu pula dramaturgi menjadi bagian penting dari seni teater. Dramaturgi berasal dari bahasa Inggris dramaturgy yang berarti seni atau tekhnik penulisan drama dan penyajiannya dalam bentuk teater. Berdasar pengertian ini, maka dramaturgi membahas proses penciptaan teater mulai dari penulisan naskah hingga pementasannya. Harymawan (1993) menyebutkan tahapan dasar untuk mempelajari dramaturgi yang disebut dengan formula dramaturgi. Formula ini disebut dengan fromula 4 M yang terdiri dari, menghayalkan, menuliskan, memainkan, dan menyaksikan. M1 atau menghayal, dapat dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang karena menemukan sesuatu gagasan yang merangsang daya cipta. Gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan pada suatu persitiwa baik

yang disaksikan, didengar maupun dibaca dari literatur tertentu. Bisa juga gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan pada kehidupan seseorang. Gagasan atau daya cipta tersebut kemudian diwujudkan ke dalam besaran cerita yang pada akhirnya berkembang menjadi sebuah lakon untuk dipentaskan. M2 atau menulis, adalah proses seleksi atau pemilihan situasi yang harus dihidupkan begi keseluruhan lakon oleh pengarang. Dalam sebuah lakon, situasi merupakan kunci aksi. Setelah menemukan kunci aksi ini, pengarang mulai mengatur dan menyusun kembali situasi dan peristiwa menjadi pola lakon tertentu. Di sini seorang pengarang memiliki kisah untuk diceritakan, kesan untuk digambarkan, suasana hati para tokoh untuk diciptakan, dan semua unsur pembentuk lakon untuk dikomunikasikan. M3 atau memainkan, merupakan proses para aktor memainkan kisah lakon di atas pentas. Tugas aktor dalam hal ini adalah mengkomunikasikan ide serta gagasan pengarang secara hidup kepada penonton. Proses ini melibatkan banyak orang yaitu, sutradara sebagai penafsir pertama ide dan gagasan pengarang, aktor sebagai komunitakor, penata artsitik sebagai orang yang mewujudkan ide dan gagasan secara visual serta penonton sebagai komunikan. M4 atau menyaksikan, merupakan proses penerimaan dan penyerapan informasi atau pesan yang disajikan oleh para pemain di atas pentas oleh para penonton. Pementasan teater dapat dikatakan berhasil jika pesan yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penonton. Penonton pergi menyaksikan pertunjukan dengan maksud pertama untuk memperoleh kepuasan atas kebutuhan dan keinginannya terhadap tontonan tersebut. Formula dramaturgi seperti disebutkan di atas merupakan tahap mendasar yang harus dipahami dan dilakukan oleh para pelaku teater. Jika salah satu tahap dan unsur yang ada dalam setiap tahapan diabaikan, maka pertunjukan yang digelar bisa dipastikan kurang sempurna. Oleh karena itu, pemahaman dasar formula dramaturgi dapat dijadikan acuan proses penciptaan karya seni teater.

1.2 Sejarah Singkat Teater 1.2.1 Teater Barat 1.2.1.1 Asal Mula Teater Waktu dan tempat pertunjukan teater yang pertama kali dimulai tidak diketahui. Adapun yang dapat diketahui hanyalah teori tentang asal mulanya. Di antaranya teori tentang asal mula teater adalah sebagai berikut. * Berasal dari upacara agama primitif. Unsur cerita ditambahkan pada upacara semacam itu yang akhirnya berkembang menjadi pertunjukan teater. Meskipun upacara agama telah lama ditinggalkan, tapi teater ini hidup terus hingga sekarang. * Berasal dari nyanyian untuk menghormati seorang pahlawan di kuburannya. Dalam acara ini seseorang mengisahkan riwayat hidup sang pahlawan yang lama kelamaan diperagakan dalam bentuk teater. * Berasal dari kegemaran manusia mendengarkan cerita. Cerita itu kemudian juga dibuat dalam bentuk teater (kisah perburuan, kepahlawanan, tokohg, dan lain sebagainya). * Rendra dalam Seni Drama Untuk Remaja (1993), menyebutkan bahwa naskah teater tertua di dunia yang pernah ditemukan ditulis seorang pendeta Mesir, I Kher-nefert, di zaman peradaban Mesir Kuno kira-kira 2000 tahun sebelum tarikh Masehi. Pada zaman itu peradaban Mesir Kuno sudah maju. Mereka sudah bisa membuat piramida, sudah mengerti irigasi, sudah bisa membuat kalender, sudah mengenal ilmu bedah, dan juga sudah mengenal tulis menulis.

1.2.1.2 Teater Yunani Klasik Tempat pertunjukan teater Yunani pertama yang permanen dibangun sekitar 2300 tahun yang lalu. Teater ini dibangun tanpa atap dalam bentuk setengah lingkaran dengan tempat duduk penonton melengkung dan berundak-undak yang disebut amphitheater (Jakob Soemardjo, 1984). Ribuan orang mengunjungi

amphitheater untuk menonton teater-teater, dan hadiah diberikan bagi teater terbaik. Naskah lakon teater Yunani merupakan naskah lakon teater pertama yang menciptakan dialog diantara para karakternya. Ciri-ciri khusus pertunjukan teater pada masa Yunani Kuno adalah: * Pertunjukan dilakukan di amphitheater. * Sudah menggunakan naskah lakon. * Seluruh pemainnya pria bahkan tokoh wanitanya dimainkan pria dan memakai topeng karena setiap pemain memerankan lebih dari satu tokoh. * Cerita yang dimainkan adalah tragedi yang membuat penonton tegang, takut, dan kasihan serta cerita komedi yang lucu, kasar dan sering mengeritik tokoh terkenal pada waktu itu. * Selain pemeran utama juga ada pemain khusus untuk kelompok koor (penyanyi), penari, dan narator (pemain yang menceritakan jalannya pertunjukan).

1.2.1.3 Teater Romawi Klasik Setelah tahun 200 Sebelum Masehi kegiatan kesenian beralih dari Yunani ke Roma, begitu juga Teater. Namun mutu teater Romawi tak lebih baik daripada teater Yunani. Teater Romawi menjadi penting karena pengaruhnya kelak pada Zaman Renaissance. Teater pertama kali dipertunjukkan di kota Roma pada tahun 240 SM (Brockett, 1964). Pertunjukan ini dikenalkan oleh Livius Andronicus, seniman Yunani. Teater Romawi merupakan hasil adaptasi bentuk teater Yunani. Hampir di setiap unsur panggungnya terdapat unsur pemanggungan teater Yunani. Namun demikian teater Romawi pun memiliki kebaruan-kebaruan dalam penggarapan dan penikmatan yang asli dimiliki oleh masyarakat Romawi dengan ciri-ciri sebagi berikut. * Koor tidak lagi berfungsi mengisi setiap adegan. * Musik menjadi pelengkap seluruh adegan. Tidak hanya menjadi tema cerita tetapi juga menjadi ilustrasi cerita. * Tema berkisar pada masalah hidup kesenjangan golongan menengah. * Karakteristik tokoh tergantung kelas yaitu orang tua yang bermasalah dengan anak-anaknya atau kekayaan, anak muda yang melawan kekuasaan orang tua dan lain sebagainya.

1.2.1.4 Teater Abad Pertengahan Dalam tahun 1400-an dan 1500-an, banyak kota di Eropa mementaskan drama untuk merayakan hari-hari besar umat Kristen. Drama-drama dibuat berdasarkan cerita-cerita Alkitab dan dipertunjukkan di atas kereta, yang disebut pageant, dan ditarik keliling kota. Bahkan kini pertunjukan jalan dan prosesi penuh warna diselenggarakan di seluruh dunia untuk merayakan berbagai hari besar keagamaan. Para pemain drama pageant menggunakan tempat di bawah kereta untuk menyembunyikan peralatan. Peralatan ini digunakan untuk efek tipuan, seperti menurunkan seorang aktor dari atas ke panggung. Para pemain pegeant memainkan satu adegan dari kisah dalam Alkitab, lalu berjalan lagi. Pageant lain dari aktor-aktor lain untuk adegan berikutnya, menggantikannya. Aktor-aktor pageant seringkali adalah para perajin setempat yang memainkan adegan yag menunjukan keahlian mereka. Orang berkerumun untuk menyaksikan drama pageant religius di Eropa. drama ini populer karena pemainnya berbicara dalam bahasa sehari-hari, bukan bahasa Latin yang merupakan bahasa resmi gereja-gereja Kristen (Wisnuwardhono, 2002). Ciri-ciri teater abad Pertengahan adalah sebagai berikut: * Drama dimainkan oleh aktor-aktor yang belajar di universitas sehingga dikaitkan dengan masalah filsafat dan agama.

* Aktor bermain di panggung di atas kereta yang bisa dibawa berkeliling menyusuri jalanan. * Drama banyak disisipi cerita kepahlawanan yang dibumbui cerita percintaan. * Drama dimainkan di tempat umum dengan memungut bayaran. * Drama tidak memiliki nama pengarang.

1.2.1.5 Renaissance Abad 17 memberi sumbangan yang sangat berarti bagi kebudayaan Barat. Sejarah abad 15 dan 16 ditentukan oleh penemuanpenemuan penting yaitu mesin, kompas, dan mesin cetak. Semangat baru muncul untuk menyelidiki kebudayaan Yunani dan Romawi klasik. Semangat ini disebut semangat Renaissance yang berasal dari kata “renaitre” yang berarti kelahiran kembali manusia untuk mendapatkan semangat hidup baru. Gerakan yang menyelidiki semangat ini disebut gerakan humanisme. Pusat-pusat aktivitas teater di Italia adalah istana-istana dan akademi. Di gedung-gedung teater milik para bangsawan inilah dipentaskan naskah-naskah yang meniru drama-drama klasik. Para aktor kebanyakan pegawai-pegawai istana dan pertunjukan diselenggarakan dalam pesta-pesta istana. Ada tiga jenis drama yang dikembangkan, yaitu tragedi, komedi, dan pastoral atau drama yang membawakan kisah-kisah percintaan antara dewa-dewa dengan para gembala di daerah pedesaan. Namun nilai seni ketiganya masih rendah. Drama dilangsungkan dengan mengikuti struktur yang ada. Meskipun demikian gerakan mereka memiliki arti penting karena Eropa menjadi mengenal drama yang jelas struktur dan bentuknya. Ciri-ciri teater Zaman Renaissance yakni sebagai berikut. * Naskah lakon yang dipertunjukkan meniru teater Zaman Yunani klasik. * Cerita bertema mitologi atau kehidupan sehari-hari. * Tata busana dan seting yang dipergunakan sangat inovatif. * Pelaksanaan bentuk teater diatur oleh kerajaan maupun universitas. * Menggunakan panggung proscenium yaitu bentuk panggung yang memisahkan area panggung dengan penonton. * Pada zaman ini juga melahirkan satu bentuk teater yang disebut commedia dell’arte. Merupakan bentuk teater rakyat Italia yang berkembang di luar lingkungan istana dan akademisi. Pada tahun 1575 bentuk ini sudah populer di Italia. Kemudian menyebar luas di Eropa dan mempengaruhi semua bentuk komedi yang diciptakan pada tahun 1600.

Ciri khas commedia dell'arte adalah: * Para pemain dibebaskan berimprovisasi mengikuti jalannya cerita dan dituntut memiliki pengetahuan luas yang dapat mendukung permainan improvisasinya. * Menggunakan naskah lakon yang berisi garis besar cerita. * Cerita yang dimainkan bersumber pada cerita yang diceritakan secara turun menurun. * Cerita terdiri dari tiga babak didahului prolog panjang. Plot cerita berlangsung dalam suasana adegan lucu. * Peristiwa cerita berlangsung dan berpindah secara cepat . * Terdapat tiga tokoh yang selalu muncul, yaitu tokoh penguasa, tokoh penggoda, dan tokoh pembantu. * Tempat pertunjukannya di lapangan kota dan panggungpanggung sederhana. * Setting panggung sederhana, yaitu rumah, jalan, dan lapangan.

1.2.1.6 Teater Zaman Elizabeth

gedung teater ini bisa menampung 3. surealisme.Pada tahun 1576. selama pemerintahan Ratu Elizabeth I. Wilayah jelajah artistik dibuka selebar-lebarnya untuk kemungkinan perkembangan bentuk pementasan seni teater. gedung teater besar dari kayu dibangun di London Inggris. Ia adalah seorang aktor dan penyair. Pada zaman itu. Ciri-ciri teater Zaman Elizabeth adalah: * Pertunjukan dilaksanakan siang hari dan tidak mengenal waktu istirahat. * Tokoh wanita dimainkan oleh pemain anak-anak laki-laki. yang disebut solilokui.2. dekorasi. Teater tradisional merupakan . beberapa cara untuk mengekspresikan karakter-karakter berbeda dalam pertunjukanpertunjukan (di samping nada suara) dapat melalui musik. Gedung-gedung pertunjukan modern memiliki efek-efek khusus dan teknologi baru. Dewasa ini. * Corak pertunjukannya merupakan perpaduan antara teater keliling dengan teater sekolah dan akademi yang keklasik-klasikan. mulai dari pembunuhan dan tokohg sampai cinta dan kecemburuan. * Tempat adegan ditandai dengan ucapan dengan disampaikan dalam dialog para tokoh.1 Teater Tradisional Kasim Achmad dalam bukunya Mengenal Teater Tradisional di Indonesia (2006) mengatakan. Penonton yang mampu membeli tiket duduk di sisi-sisi panggung. dan efek elektronik.2. epik. dan absurd. Gaya-gaya pertunjukan realistis dan eksperimental ditemukan dalam teater Amerika saat ini. usaha pencarian kaidah artistik yang dilakukan oleh seniman teater modern patut diacungi jempol karena usaha-usaha tersebut mengantarkan pada keberagaman bentuk ekspresi dan makna keindahan. kualitas pertunjukan realis oleh beberapa seniman dianggap semakin menurun dan membosankan. Lepas dari hal itu. 1. Ia biasanya menulis dalam bentuk puisi atau sajak. Gedung teater ini sangat sukses sehingga banyak gedung sejenis dibangun di sekitarnya. Tidak pemain wanita. Tidak jarang usaha mereka berhasil dan mampu memberikan pengaruh seperti gaya simbolisme.2. Beberapa ceritanya berisi monolog panjang. pendidikan. dan menceritakan gagasan-gagasan mereka kepada penonton.2. 1. selain penulis drama. Gedung ini dibangun seperti lingkaran sehingga penonton bisa duduk dihampir seluruh sisi panggung. sejarah teater tradisional di Indonesia dimulai sejak sebelum Zaman Hindu. Orang datang ke gedung pertunjukan tidak hanya untuk menyaksikan teater melainkan juga untuk menikmati musik. Seiring dengan perkembangan waktu. Teater di Tengah-Tengah Gedung. Dengan semangat melawan pesona realisme.1. * Menggunakan naskah lakon. Tetapi tidak jarang pula usaha mereka berhenti pada produksi pertama. Mereka yang tidak mampu membeli tiket berdiri di sekitar panggung. Rancangan-rancangan panggung termasuk pengaturan panggung arena.000 penonton. * Penontonnya berbagai lapisan masyarakat dan diramaikan oleh penjual makanan dan minuman. penulis drama terkenal dari Inggris yang hidup dari tahun 1564 sampai tahun 1616. aktor ataupun penata artistik. Hal ini mendorong para pemikir teater untuk menemukan satu bentuk ekspresi baru yang lepas dari konvensi yang sudah ada.2 Teater Indonesia 1. atau yang disebut saat ini. dan mempelajari hal-hal baru. hiburan. tata cahaya. Banyak gaya baru yang lahir baik dari sudut pandang pengarang. Pada awal abad 20 inilah istilah teater eksperimental berkembang. sutradara. ada tanda-tanda bahwa unsurunsur teater tradisional banyak digunakan untuk mendukung upacara ritual. para seniman mencari bentuk pertunjukannya sendiri. Globe mementaskan drama-drama karya William Shakespeare. Salah satunya yang disebut Globe.7 Teater Abad 20 Teater telah berubah selama berabad-abad. Ia menulis 37 (tiga puluh tujuh) drama dengan berbagai tema.

Dilihat dari segi sastra. meskipun masih dalam wujud cerita ringkas atau outline story (garis besar cerita per adegan). Mulai memperhitungkan teknik yang mendukung pertunjukan.2 Teater Modern 1. arja. Karenanya rombongan teater pada masa itu menggunakan nama sandiwara. mulai mengenal sastra lakon dengan diperkenalkannya lakon yang pertama yang ditulis oleh orang Belanda F. ubrug.2. ludruk .2 Teater Indonesia tahun 1920-an Teater pada masa kesusasteraaan angkatan Pujangga Baru kurang berarti jika dilihat dari konteks sejarah teater modern Indonesia tetapi cukup penting dilihat dari sudut kesusastraan. dinamakan teater bangsawan. Sandiwara Orion. Pada saat itu. yang pementasannya secara teknik telah banyak mengikuti budaya dan teater Barat (Eropa).bagian dari suatu upacara keagamaan ataupun upacara adat-istiadat dalam tata cara kehidupan masyarakat kita. Bentuk sastra drama yang pertamakali menggunakan bahasa Indonesia dan disusun dengan model dialog antar tokoh . Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan. Setelah Komedie Stamboel didirikan muncul kelompok sandiwara seperti Sandiwara Dardanella (The Malay Opera Dardanella) yang didirikan Willy Klimanoff alias A.1 Teater Transisi Teater transisi adalah penamaan atas kelompok teater pada periode saat teater tradisional mulai mengalami perubahan karena pengaruh budaya lain. lenong. Perubahan tersebut terletak pada cerita yang sudah mulai ditulis. tergantung kondisi dan sikap budaya masyarakat. Pada masa teater transisi belum muncul istilah teater. Selain pengaruh dari teater bangsawan. 1. yang menggunakan bahasa Melayu Rendah. wayang wong. Kemudian disusul oleh Lauw Giok Lan lewat Karina Adinda. Pada periode transisi inilah teater tradisional berkenalan dengan teater non-tradisi. seperti Opera Stambul. istilah sandiwara masih sangat populer. sumber dan tata-cara di mana teater tradisional lahir. sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama. Indra Bangsawan.2.2. Yang ada adalah sandiwara. drama gong. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan. dan lain-lainnya.2. pada tahun 1901. dan belum merupakan suatu bentuk kesatuan teater yang utuh. Perkenalan masyarakat Indonesia pada teater non-tradisi dimulai sejak Agust Mahieu mendirikan Komedie Stamboel di Surabaya pada tahun 1891. Pedro pada tanggal 21 Juni 1926. teater tradisional berkenalan juga dengan teater Barat yang dipentaskan oleh orang-orang Belanda di Indonesia sekitar tahun 1805 yang kemudian berkembang hingga di Betawi (Batavia) dan mengawali berdirinya gedung Schouwburg pada tahun 1821 (Sekarang Gedung Kesenian Jakarta). yang pada saat itu masih belum menggunakan naskah drama/lakon.Wiggers yang berjudul Lelakon Raden Beij Soerio Retno. Kemudian lahirlah kelompok sandiwara lain. Komidi Bangsawan.2.2.2. Macammacam teater tradisional Indonesia adalah :wayang kulit. Drama-drama Pujangga Baru ditulis sebagai ungkapan ketertekanan kaum intelektual dimasa itu karena penindasan pemerintahan Belanda yang amat keras terhadap kaum pergerakan sekitar tahun 1930-an. Lelakon Komedia Hindia Timoer (1913). 1. ketoprak.2. yang disebut “teater”. unsur-unsur teater tersebut membentuk suatu seni pertunjukan yang lahir dari spontanitas rakyat dalam masyarakat lingkungannya. Hal ini disebabkan oleh unsur-unsur pembentuk teater tradisional itu berbedabeda. sebenarnya baru merupakan unsur-unsur teater. Opera Abdoel Moeloek. Sandiwara Tjahaja Timoer. Setelah melepaskan diri dari kaitan upacara. Cara penyajian cerita dengan menggunakan panggung dan dekorasi. dan sebagainya. Kelompok teater yang masih tergolong kelompok teater tradisional dengan model garapan memasukkan unsur-unsur teknik teater Barat. randai. Proses terjadinya atau munculnya teater tradisional di Indonesia sangat bervariasi dari satu daerah dengan daerah lainnya. dan lain sebagainya. Naskah-naskah drama tersebut belum mencapai bentuk sebagai drama karena masih menekankan unsur sastra dan sulit untuk dipentaskan.

Nur Sutan Iskandar menyadur karangan Molliere. yang kesemuanya merupakan corong propaganda Jepang. Komedi Bangsawan. dan sebagainya. yang dipimpin oleh orang Jepang S. Secara istimewa selingannya kemudian ditambah dengan mode show.2. Langkah-langkah yang telah diambil oleh Badan Pusat Kesenian Indonesia untuk mewujudkan cita-cita kemajuan kesenian Indonesia. dan Merah Delima. Rombongan sandiwara Dewi Mada lebih mengutamakan tari-tarian dalam pementasan teater mereka karena Dewi Mada adalah penari terkenal . menulis dengan menggunakan bahasa Indonesia dan berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. yaitu Sanusi Pane menulis Kertajaya (1932) dan Sandyakalaning Majapahit (1933) Muhammad Yamin menulis Ken Arok dan Ken Dedes (1934). Satiman Wirjosandjojo menulis drama berjudul Nyai Blorong. dan lain-lain kembali berkembang dengan mementaskan cerita dalam bahasa Indonesia. maupun Sunda. yaitu di antara satu dan lain babak diselingi oleh tarian-tarian. dan sebagai anggota antara lain. yang sekaligus sebagai pemimpinnya. Tjahaya Asia. Maka pada tanggal 6 oktober 1942. Menyusul kemudian muncul rombongan sandiwara Dewi Mada. ternyata mengalami hambatan yang datangnya dari barisan propaganda Jepang. Pendekar Asia. Tan Ceng Bok (Si Item). Mr. yang membebaskan puteri Bebasari dari niat jahat Rahwana. Kris Bali. dengan judul Si Bachil. Lakon ini menceritakan perjuangan tokoh utama Bujangga. yaitu Anjar Asmara dan Kamajaya masih sempat berpikir bahwa perlu didirikan Pusat Kesenian Indonesia yang bertujuan menciptakan pembaharuan kesenian yang selaras dengan perkembangan zaman sebagai upaya untuk melahirkan kreasi – kreasi baru dalam wujud kesenian nasional Indonesia. Sutan Takdir Alisjabana. Ratu Asia.2. Imam Supardi menulis drama dengan judul Keris Mpu Gandring. Bahkan Presiden pertama Indonesia. dengan bintang-bintang eks Bolero. Setan. Mis Tjitjih. Ir Soekarno.2.3 Teater Indonesia tahun 1940-an Semua unsur kesenian dan kebudayaan pada kurun waktu penjajahan Jepang dikonsentrasikan untuk mendukung pemerintahan totaliter Jepang. Singgih menulis drama berjudul Hantu. di antaranya dengan jalan memperbaiki dan menyesuaikan kesenian daerah menuju kesenian Indonesia baru. Pancawarna. pada tahun 1927 menulis dan menyutradarai teater di Bengkulu (saat di pengasingan). 1. dengan peragawati gadis-gadis Indo Belanda yang cantik-cantik . Bengawan Solo.A Murdiati. yaitu Sendenbu yang membentuk badan perfilman dengan nama Djawa Eiga Kosy’. Air Mata Ibu (sudah difilmkan). Rombongan sandiwara Bintang Surabaya tampil dengan aktor dan aktris kenamaan. Segala daya kreasi seni secara sistematis di arahkan untuk menyukseskan pemerintahan totaliter Jepang. Ali Yugo. Rainbow. yaitu Dewi Mada dengan suaminya Ferry Kok. Jawa. Penulis lakon lainnya. Dahlia. dan lawak. Badan Pusat Kesenian Indonesia bermaksud menciptakan kesenian Indonesia baru. Armijn Pane. Mis Ribut. Pengarang Nyoo Cheong Seng. Dalam masa pendudukan Jepang kelompok rombongan sandiwara yang mula-mula berkembang adalah rombongan sandiwara profesional. Dr. persoalan. nyanyian. Rombongan sandiwara keliling komersial. dua orang tokoh. Dalam kurun waktu ini semua bentuk seni hiburan yang berbau Belanda lenyap karena pemerintah penjajahan Jepang anti budaya Barat. Lakon Bebasari merupakan sastra drama yang menjadi pelopor semangat kebangsaan. dan Bolero. dalam situasi yang sulit dan gawat serupa itu. Oya. Namun demikian. Sumanang (Sekretaris). Lakon-lakon ini ditulis berdasarkan tema kebangsaan. Krukut Bikutbi. Mr. dan Dr. Fifi Young. Penulis-penulis ini adalah cendekiawan Indonesia. Rombongan Sandiwara Bintang Surabaya menyuguhkan pementasan-pementasan dramanya dengan cara lama seperti pada masa Dardanella. Warna Sari. Armiijn Pane mengolah roman Swasta Setahun di Bedahulu karangan I Gusti Nyoman Panji Tisna menjadi naskah drama. dan harapan serta misi mewujudkan Indonesia sebagai negara merdeka. yang dikenal dengan nama samarannya Mon Siour D’amour ini dalam rombongan sandiwara Bintang Surabaya menulis lakon antara lain. antara lain Astaman. Sanusi Pane (Ketua). seperti misalnya Bintang Surabaya.dan berbentuk sajak adalah Bebasari (artinya kebebasan yang sesungguhnya atau inti kebebasan) karya Rustam Efendi (1926). di rumah Bung Karno dibentuklah Badan Pusat Kesenian Indonesia dengan pengurus sebagai berikut. Intensitas kerja Djawa Eiga Kosya yang ingin menghambat langkah Badan Pusat Kesenian Indonesia nampak ketika mereka membuka sekolah tonil dan drama Putra Asia. R. Mata Hari. Beberapa lakon yang ditulisnya antara lain. dan Kama Jaya. Sija. Dewi Mada.

Bentuk penyajian semacam ini di anggap kaku oleh penonton umum yang lebih suka unsur hiburan disajikan sebagai selingan babak satu dengan babak lain sehingga akhirnya dengan terpaksa rombongan sandiwara tersebut mengikuti selera penonton. Sang Pek Engtay. Peristiwa tokohg secara khas dilukiskan dalam . rombongan sandiwara ini terpaksa berlindung di bawah barisan propaganda Jepang dan berganti nama menjadi rombongan sandiwara Tjahaya Asia yang mementaskan ceritacerita baru untuk kepentingan propaganda Jepang. Bahwa teori teater perlu dipelajari secara serius.2. apoteker. dan Kama Jaya pada tanggal 6 April 1943. Garsia menempatkan deretan drumnya yang berbagai ukuran itu memenuhi lebih dari separuh panggung. Ia menabuh drum-drum tersebut sambil meloncat ke kanan – ke kiri sehingga menarik minat penonton. dan Jauh di Mata. Bende Mataram. Kembang Kaca. Sensor Sendenbu malah menjadi titik awal dikenalkannya naskah dalam setiap pementasan sandiwara. Hanya kalangan terpelajar yang menyukai pertunjukan Matahari yang menampilakan hiburan berupa tari-tarian pada awal pertunjukan baru kemudian dihidangkan lakon sandiwara dari awal hingga akhir. Bulan Punama. Nusa Penida. Dari semua lakon tersebut ada yang sudah di filmkan yaitu. Dalam perjalanannya. Ida Ayu. Jepang menugaskan Dr. Kama Jaya menulis lakon antara lain. Si Bongkok. Solo di Waktu Malam. peluang terbuka bagi seniman untuk merenungkan perjuangan dalam tokohg kemerdekaan. Rombongan sandiwara terkenal lainnya adalah rombongan sandiwara Sunda Mis Tjitjih. Huyung (Hei Natsu Eitaroo). dan lain-lain. Kusumahadi. Kelompok ini berprinsip menegakkan nasionalisme. Menjelang akhir pendudukan Jepang muncul rombongan sandiwara yang melahirkan karya ssatra yang berarti. dan lain sebagainya. humanisme dan agama. mendirikan rombongan sandiwara angkatan muda Matahari. yaitu rombongan sandiwara yang digemari rakyat jelata.sejak masa rombongan sandiwara Bolero. 1. dan D. keberanian dan nilai kemanusiaan. pengkhianatan. Pancaroba. Benteng Ngawi. Pada saat inilah pengembangan ke arah pencapaian teater nasional dilakukan. Guna-guna. dan lain-lain). mereka merenungkan peristiwa tokohg kemerdekaan. Solo di Waktu Malam dan Nusa Penida. Anjar Asmara. Panggilan Tanah Air. Amat Heiho. ceritacerita yang dipentaskan antara lain. kepahlawanan dan tindakan pengecut. Kelak. juga sebaliknya. Sendenbu menyiapkan naskah lakon yang harus dimainkan oleh setiap rombongan sandiwara karangan penulis lakon Indonesia dan Jepang. Baru kemudian Muchsin sebagai pengusaha besar tertarik dan membiayai rombongan sandiwara Warna Sari. Para pemain tidak boleh menambah atau melebih-lebihkan dari apa yang sudah ditulis dalam naskah. penderitaan. Ni Parini. keiklasan sendiri dan pengorbanan. Djajakusuma dengan dukungan Suryo Sumanto. Pertumbuhan sandiwara profesional tidak luput dari perhatian Sendenbu. Hingga tahun 1943 rombongan sandiwara hanya dikelola pengusaha Cina atau dibiayai Sendenbu karena bisnis pertunjukan itu masih asing bagi para pengusaha Indonesia. kekecewaan. Lakon Ibu Prajurit ditulis oleh Natsusaki Tani. Penggemar Maya menjadi pemicu berdirinya Akademi Teater Nasional Indonesia di Jakarta. yaitu Penggemar Maya (1944) pimpinan Usmar Ismail. Hei Natsu Eitaroo menulis Hantu.2. Kotot Sukardi menulis lakon.2. Dewi Rani. Keistimewaan rombongan sandiwara Warna Sari adalah penampilan musiknya yang mewah yang dipimpin oleh Garsia. Lakon-lakon yang ditulis Anjar Asmara antara lain. Potong Padi. seorang keturunan Filipina. dan Rencong Aceh. ahli seni drama atas nama Sendenbu memprakarsai berdirinya POSD (Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa) yang beranggotakan semua rombongan sandiwara profesional. dan Abu Hanifah dengan para anggota cendekiawan muda. Cerita yang dipentaskan antara lain. lakon Nora karya Henrik Ibsen diterjemahkan dan judulnya diganti dengan Jinakjinak Merpati oleh Armijn Pane. Rosihan Anwar. kemunafikan. Kupu-kupu.4 Teater Indonesia Tahun 1950-an Setelah tokohg kemerdekaan. nasionalis dan para profesional (dokter. Oleh karena ada sensor Sendenbu maka lakon harus ditulis lengkap berikut dialognya. Ratna Asmara. yang terkenal sebagi Raja Drum. Musim Bunga di Slabintana. Pecah Sebagai Ratna. Teater tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga untuk ekspresi kebudayaan berdasarkan kesadaran nasional dengan cita-cita menuju humanisme dan religiositas dan memandang teater sebagai seni serius dan ilmu pengetahuan.

Pertunjukannya misalnya. Badak-badak (Ionesco.2. Kapten Syaf (Aoh Kartahadimaja. 1961). Utuy Tatang Sontani dipandang sebagai tonggak penting menandai awal dari maraknya drama realis di Indonesia dengan lakon-lakonnya yang sering menyiratkan dengan kuat alienasi sebagai ciri kehidupan moderen. Sontani) dan Paman Vanya (Anton Chekhov). 1956) Sekelumit Nyanyian Sunda (Nasyah Jamin.. Alumni Akademi Teater Nasional yang menjadi aktor dan sutradara antara lain. 1955). Mengadaptasi lakon Hamlet dan diubah judulnya menjadi Jaka Tumbal (1963/1964). Taman Ismail Marzuki menerbitkan 67 (enam puluh tujuh) judul lakon yang ditulis oleh 17 (tujuh belas) pengarang sandiwara.2. Padang. seperti korupsi. melanjutkan apa yang sudah dilakukan Jim Lim yaitu mencampurkan unsur-unsur teater Barat dengan teater etnis. ATNI menggalakkan dan memapankan realisme dengan mementaskan lakon-lakon terjemahan dari Barat. Palembang. melalaikan penderitaan korban tokohg. Menurut Brandon (1997). oportunisme politis. tari topeng Cirebon.1968). 1960). menyelenggarakan festival pertunjukan secara teratur. Wahyu Sihombing. Bermain dengan akting realistis dalam lakon The Glass Menagerie (Tennesse William. ATNI inilah akademi teater modern yang pertama di Asia Tenggara. Ujung Pandang. Jim Lim menyutradari Bung Besar. Bib Bop dan Rambate Rate Rata (1967. Sementara ada lakon yang bercerita tentang kekecewaan paska tokohg. Tahun 1962 Jim Lim menggabungkan unsur wayang kulit dan musik dalam karya penyutradaraannya yang berjudul Pangeran Geusan Ulun (Saini KM. gubernur DKI jakarta tahun1970. 1. 1962). juga lokakarya dan diskusi teater secara . salah satu aktor dan juga teman Jim Lim. dan Chekov. Pakaian dan Kepalsuan oleh Akhdiat Kartamiharja (1956) berdasarkan The Man In Grey Suit karya Averchenko dan Hanya Satu Kali (1956). Didirikannya pusat kesenian Taman Ismail Marzuki oleh Ali Sadikin. Tema itu terungkap dalam lakon-lakon seperti Awal dan Mira (1952). Pada tahun 1960. Himpunan Seni Budaya Surakarta (HBS) didirikan di Surakarta.2. Islam dan Komunisme. Rendra mendirikan Bengkel Teater Yogya yang kemudian menciptakan pertunjukan pendek improvisatoris yang tidak berdasarkan naskah jadi (wellmade play) seperti dalam drama-drama realisme. 1951). longser. 1954). Teguh Karya. Pada tahun 1967 Jim Lim belajar teater dan menetap di Paris. Realisme konvensional dan naturalisme tampaknya menjadi pilihan generasi yang terbiasa dengan teater barat dan dipengaruhi oleh idiom Hendrik Ibsen dan Anton Chekhov. Kedua seniman teater Barat dengan idiom realisme konvensional ini menjadi tonggak didirikannya Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) pada tahun 1955 oleh Usmar Ismail dan Asrul Sani.5 Teater Indonesia Tahun 1970-an Jim Adi Limas mendirikan Studiklub Teater Bandung dan mulai mengadakan eksperimen dengan menggabungkan unsur-unsur teater etnis seperti gamelan. dan kreativitas berteater tidak hanya di Jakarta. Peristiwa penting dalam usaha membebaskan teater dari batasan realisme konvensional terjadi pada tahun 1967. 1959). Sayang Ada Orang Lain (1953) karya Utuy Tatang Sontani. Akan tetapi. dan lain-lain. Medan. Yogyakarta. Gogol. Sedangkan metode pementasan dan pemeranan yang dikembangkan oleh ATNI adalah Stanislavskian. dan dagelan dengan teater Barat. 1950). Tatiek Malyati. Pertahanan Akhir (Sitor Situmorang. Surabaya. Pramana Padmadarmaya. erosi ideologi. Pada akhir 1950-an JIm Lim mulai dikenal oleh para aktor terbaik dan para sutradara realisme konvensional. Menyutradarai dengan gaya realistis tetapi isinya absurditas pada lakon Caligula (Albert Camus. 1945). berdasarkan Justice karya John Galsworthy. menjadi pemicu meningkatnya aktivitas. bahkan lakon adaptasi. dan Kasim Achmad. tetapi juga di kota besar seperti Bandung. Suyatna Anirun. Karya penyutradaraanya. Di Yogyakarta tahun 1955 Harymawan dan Sri Murtono mendirikan Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI). yaitu Awal dan Mira (Utuy T. pertunjukan bermula dari improvisasi dan eksplorasi bahasa tubuh dan bebunyian mulut tertentu atas suatu tema yang diistilahkan dengan teater mini kata (menggunakan kata seminimal mungkin). kemiskinan. seperti karyakarya Moliere. Galib Husein. Lakon Awal dan Mira (1952) tidak hanya terkenal di Indonesia. teater rakyat Sunda.lakon Fajar Sidik (Emil Sanossa. The Bespoke Overcoat (Wolf mankowitz ). Titik-titik Hitam (Nasyah Jamin. dan Biduanita Botak (Ionesco. dan lain-lain. melainkan sampai ke Malaysia. Ketika Rendra kembali ke Indonesia. (Misbach Yusa Biran) dengan gaya longser.

ISI menjadi satu-satunya perguruan tinggi seni yang memiliki program Strata 1 untuk bidang seni teater pada saat itu. Di Medan muncul Teater Que dan di Palembang muncul Teater Potlot. Dari Festival Teater Jakarta muncul kelompok teater seperti. Djajakusuma. N. dan Teater Kami yang lahir di luar produk festival (Afrizal Malna. Lalu Teater Nasional Medan didirikan oleh Djohan A Nasution dan Burhan Piliang. Akhudiat. Upeti. Di samping Gapit. di Solo ada juga Teater Gidag-gidig. Teater Institut. Kholiq Dimyati dan Mukid F. Teater Bandar Jakarta. Tidak hanya Stanislavsky tetapi nama-nama seperti Brecht. D. Teater Republik. Ikranegara (Teater Saja). Teater Tetas selain teater Studio Oncor. Di Yogyakarta muncul Teater Dynasti. Di Surabaya muncul bentuk pertunjukan teater yang mengacu teater epik (Brecht) dengan idiom teater rakyat (kentrung dan ludruk) melalui Basuki Rahmat. Teater Api. Putu Wijaya (teater Mandiri) dengan ciri penampilan menggunakan kostum yang meriah dan vokal keras. Tokoh-tokoh teater yang muncul tahun 1970-an lainnya adalah. Teater Shima. Teater Jeprik. Ada pula Teater Luka. . Mohammad Diponegoro dan Syubah Asa mendirikan Teater Muslim. Dewan-dewan Mahasiswa ditiadakan. Ditiadakannya kehidupan politik kampus sebagai akibat peristiwa Malari 1974. Di Solo (Surakarta) muncul Teater Gapit yang menggunakan bahasa Jawa dan latar cerita yang meniru lingkungan kehidupan rakyat pinggiran. Artaud dan Grotowsky juga diperbincangkan. tata cahaya. Teater Tobong. Luthfi Rahman. Riantiarno (Teater Koma) dengan ciri pertunjukan yang mengutamakan tata artistik glamor.6 Teater Indonesia Tahun 1980 – 1990-an Tahun 1980-1990-an situasi politik Indonesia kian seragam melalui pembentukan lembaga-lembaga tunggal di tingkat nasional. kostum dan verbalisme naskah. Teater Tikar. dan Teater Gandrik. Teater Gandrik menonjol dengan warna teater yang mengacu kepada roh teater tradisional kerakyatan dan menyusun berita-berita yang aktual di masyarakat menjadi bangunan cerita. Jurusan teater dibuka di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada tahun 1985. Di Surabaya ada Festival Drama Lima Kota yang digagas oleh Luthfi Rahman. Di Yogyakarta Azwar AN mendirikan teater Alam. Danarto (Teater Tanpa Penonton). Aktivitas teater kampus mampu menghidupkan dan membuka kemungkinan baru gagasan-gagasan artistik. Di Makasar. Rahman Arge dan Aspar Patturusi mendirikan Teater Makasar. Teater Lektur. Adi Kurdi (Teater Hitam Putih). Sanggar Suroboyo. vokal. Dhemit.2. dan Orde Tabung.umum atau khusus. 1. Teater Sae yang berbeda sikap dalam menghadapi naskah yaitu posisinya sejajar dengan cara-cara pencapaian idiom akting melalui eksplorasi latihan. Noor (Teater Kecil) dengan gaya pementasan yang kaya irama dari blocking. dan Teater Payung Hitam. Salah satu lakonnya berjudul Tuk. Arifin C. Dalam latar situasi seperti itu lahir beberapa kelompok teater yang sebagian merupakan produk festival teater. Hasyim Amir (Bengkel Muda Surabaya. musik.1999). Teguh Karya (Teater Populer). Di Tegal lahir teater RSPD. Di Bandung muncul Teater Bel. Di Padang ada Wisran Hadi dengan teater Padang.2. Aktivitas teater terjadi juga di kampus-kampus perguruan tinggi. Lakon yang dipentaskan antra lain. Teater Rajawali. Salah satu teater kampus yang menonjol adalah teater Gadjah Mada dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Di Jakarta dikenal dengan Festival Teater Jakarta (sebelumnya disebut Festival Teater Remaja). Teater Kanvas. Teater Nol. Menampilkan manusia sebagai gerombolan dan aksi. Teater Kubur. Di Semarang muncul Teater Lingkar. Teater Melarat Malang). Meh. Festival Drama Lima Kota Surabaya memunculkan Teater Pavita. Pramana Padmodarmaya (Teater Lembaga). Fokus tidak terletak pada aktor tetapi gerombolan yang menciptakan situasi dan aksi sehingga lebih dikenal sebagai teater teror. Teater Ragil. Wahyu Sihombing.2. Beberapa jenis festival di Yogyakarta. Kontrangkantring. Sinden. di antaranya Festival Seni Pertunjukan Rakyat yang diselenggarakan Departemen Penerangan Republik Indonesia (1983). Pasar Seret. Pada saat itu lahirlah kelompok-kelompok teater baru di berbagai kota di Indonesia.

1.2. kemungkinan ekspresi artistik dikembangkan dengan gaya khas masing-masing seniman. Konsep dan gaya baru saling bermunculan. wilayah jelajah ekspresi menjadi semakin luas dan kemungkinan bentuk garap semakin banyak . Meksipun seni teater konvensional tidak pernah mati tetapi teater eksperimental terus juga tumbuh. Semangat kolaboratif yang terkandung dalam seni teater dimanfaatkan secara optimal dengan menggandeng beragam unsur pertunjukan yang lain. Dengan demikian.7 Teater Kontemporer Indonesia Teater Kontemporer Indonesia mengalami perkembangan yang sangat membanggakan.2. Gerakan ini terus berkembang sejak tahun 80.an sampai saat ini.2. Sejak munculnya eksponen 70 dalam seni teater.

thought. Jalinan cerita menuju konflik dan cara penyelesainnya inilah yang menjadikan lakon menarik. 1994). Akan tetapi. Penting sekali bahwa dalam menyusun kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa seorang penulis haruslah bersabar untuk melangkah dari satu kejadian ke kejadian lain dalam suatu perkembangan yang logis. 2.1 Tema Tema ada yang menyebutnya sebagai premis. Pesan itu bisa mengenai kehidupan lahiriah maupun batiniah. sehingga pada puncaknya masuk ke dalam penyelesaian cerita. 1983). ide utama atau pesan. dan apa yang dibaca atau diceritakan kepadanya oleh orang lain. bisa berwujud sebuah naskah atau skenario tertulis. Peristiwa lakon tersebut menuntun seseorang untuk mengikuti laku kejadian mulai dari pemaparan. driving force dan sebagainya. berliku. dan dari lingkungan tersebut dia menyerap segala persoalan yang menjadi ide-ide dalam penulisan lakonnya. Sementara. Tokoh adalah orang yang menghidupkan kejadian atau peristiwa yang dibuat oleh penulis naskah. Dalam lakon akan dijumpai dua hal yang sangat penting. Gagasan utama atau pesan lakon termaktub dalam konflik yang merupakan pertentangan antara satu pihak terhadap pihak lain mengenai sesuatu hal. pesan atau pandangan terhadap persoalan yang ada dijadikan ide sentral atau tema dalam menulis naskah lakonnya. Dengan demikian bisa ditarik kesimpulan . semakin lama semakin rumit. Jadi. pemain adalah orang yang membawakan lakon tersebut. tetapi semakin lama semakin gawat sehingga akhirnya ia sampai ke puncak yang disebut klimaks. central idea. ini mungkin bisa diuraikan sebagai keseluruhan pernyataan dalam sebuah permainan: topik. aim. 1989). Adhy Asmara (1983) menyebut tema sebagai premis yaitu rumusan intisari cerita sebagai landasan ideal dalam menentukan arah tujuan cerita. Terkadang konflik yang kecil dan sederhana jika diselesaikan secara cerdas akan membuat penonton takjub. dan bercabang-cabang jika tidak disajikan secara baik justru akan membosankan dan membuat laku lakon menjadi lamban. Kedua. yaitu pertama. karena tema merupakan sasaran yang hendak dicapai oleh seorang penulis lakon. skenario tak tertulis (dalam teater kerakyatan). Tema adalah suatu amanat utama yang disampaikan oleh pengarang atau penulis melalui karangannya (Gorys Keraf. Konflik dalam lakon bisa rumit bisa juga sederhana. lakon atau cerita yang ditampilkan. goal. tema harus dirumuskan dengan jelas. Keunggulan dari seorang pengarang ialah. Ide-ide. Lakon ditulis oleh seorang penulis naskah lakon berdasarkan apa yang dilihat. konlfik hingga penyelesaian. Seorang penulis terkadang mengemukakan tema dengan jelas tetapi ada juga yang secara tersirat. sutradara sebagai penata pertunjukan di panggung. Tema bisa juga disebut muatan intelektual dalam sebuah permainan. root idea. Konflik dalam lakon merupakan inti cerita. kalau ada anggapan bahwa semakin rumit konflik lakon semakin menarik adalah anggapan yang salah. dia mempunyai kepekaan terhadap lingkungan sekelilingnya. Peristiwa atau kejadian dibuat oleh penulis naskah sebagai kerangka besar yang mendasari terjadinya suatu lakon. Tidak ada acuan yang pasti terhadap konflik dalam lakon yang dapat membuat cerita menjadi menarik. tetapi juga menyampaikan suatu pesan tentang persoalan kehidupan manusia. Pengarang adalah seorang warga masyarakat yang tentunya mempunyai pendapat tentang masalah-masalah politik dan sosial yang penting serta mengikuti isu-isu zamannya (Rene Wellek dan Austin Warren. mungkin juga sebuah keadaan (Robert Cohen. yaitu pertama. Ketiga. konflik. apa yang dialami. yaitu konflik dan tokoh yang terlibat dalam kejadian. Tidaklah menarik sebuah cerita disajikan di atas panggung tanpa adanya konflik.Dasar-dasar Teater (2/6): Seni Sastra dalam Teater Teater memiliki sekurang-kurangnya empat unsur penting dalam setiap pementasan. tokoh atau tokoh yang terlibat dalam kejadiankejadian dalam lakon. karena peristiwa yang mengarahkan cerita kepada konflik membutuhkan tokoh sebagai pelaku. Penulis kemudian menyusun rangkaian kejadian. penonton adalah sekelompok orang yang menyerahkan sebagian dari kemerdekaannya untuk menjadi bagian dari tokoh yang tampil dalam suatu lakon dan menikmatinya. Pengarang atau penulis lakon menciptakan sebuah lakon bukan hanya sekedar mencipta. Keempat. Jadi dalam lakon ada dua hal penting yang diciptakan oleh seorang penulis lakon. konflik yang berat. Ketika tema tidak terumuskan dengan jelas maka lakon tersebut akan kabur dan tidak jelas apa yang hendak disampaikan. Kedua.

. Tema sebuah lakon bisa tunggal dan bisa juga lebih dari satu. * Raja Lear membagi kerajaan pada ketiga anaknya sesuai dengan pujian yang disampaikan anaknya. Bunuhlah tabib tuan. Tema dapat diketahui dengan dua cara : * Apa yang diucapkan tokoh-tokohnya melalui dialog-dialog yang disampaikan. Batalkan anugerah tuan.. yaitu kehancuran diri dan keluarganya. di malam begitu takkan kuusir untuk dari tempat berdiang……………….. meski dibuang. * Raja Lear murka pada Cordelia karena tidak memujinya.. Laku aksi memberikan penegasan kalimat dialog. Dari kutipan dialog dan laku serta perbuatan tokoh dalam lakon Raja Lear di atas bisa ditarik sebuah kejelasan bahwa Raja Lear adalah orang yang gila hormat. petir dahsyat yang pesat.. Atas sikapnya itu Raja Lear menuai hasil. * Anak-anak Raja Lear yang disayangi berubah memusuhi orang tuanya sehingga Raja Lear sakit. Ah wajah benginikah dipaksa menempuh pergolakan badai? Dan melawan guntur bercakra garang. berjaga dengan topi tipis ini? Anjing musuhku pun. Perhatikan kutipan dialog di bawah ini. dalam kalimat dialog Raja Lear dapat ditarik satu simpulan bahwa meskipun sebagai raja ia disegani oleh anak-anaknya. CORDELIA : Andaikan bukan seorang ayah. tiap pertalian keluarga dan darah.. * Apa yang dilakukan tokoh-tokohnya. Masing-masing tokoh mengucapkan kalimat dialognya. lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo. Semua analisis lakon dikerjakan dengan mencermati kalimat dialog tersebut serta hubungan antara kalimat satu dengan yang lain.. kalau tidak. * Raja Lear marah-marah ketika tidak dilayani hidupnya pada anak yang semula disayangi. gagasan atau pesan yang ada dalam naskah lakon dan ini menentukan arah jalannya cerita. Dalam lakon Raja Lear. nanti kuhambat untungmu…..bahwa tema adalah ide dasar.. 2. dan harus dipuji. Melalui laku atau aksi tokoh dalam lakon yang biasanya diterangkan (dituliskan) dalam arahan lakon gambaran tema semakin jelas. Detil tema selalu dapat ditemukan dari baris-baris kalimat dialog tokoh cerita. walau menggigit aku. kendalikan lidahmu sedikit. Dialog yang disampaikan tokoh dapat dijadikan acuan untuk menganalisis tema lakon. tidak bijaksana. Kadangkadang. supaya hama jahat berupah. mulai kini sampai selamanya kaulah asing bagiku dan bagi hatiku…………………. terpillih meski. Dengan merangkai setiap persoalan melalui dialog para tokohnya maka gambaran tema akan didapatkan. dialog kecil memiliki arti yang luas dan sanggup mempengaruhi tema cerita. KENT : Silakan.2 Plot .. ternyata paling kaya meski miskin... rangkung saya berteriak meyerukan tuanlah lalim……… RAJA TOKOHCIS : Cordelia jelita. LEAR : ………….. Misalnya... namun uban ini sudah menuntut belas-kasih. * Raja Lear marah-marah dan mengusir bawahannya ketika ada yang menentang.. Jika hanya membaca cerita secara keseluruhan tanpa meninjau kalimat dialog dengan teliti maka hasil akhir dari analisis yang dilakukan belum tentu benar. lalim. Tema dalam naskah lakon ada yang secara jelas dikemukakan dan ada yang samar-samar atau tersirat. LEAR : ………………. tetapi karena sikapnya yang keras maka ia juga dibenci. Misalnya. tercinta meski dihina.. Dengan berpedoman dua hal tersebut analisis tema lakon dapat dikerjakan. cepat menyambar-nyabar? Bagai prajurit yang terbuang. Dari dialog tersebut dapat diketahui perihal atau soalan yang dibahas. Sekarang kulempar tiap kewajiban orang tua. laku tokoh dapat memberikan penjelasan sebagai berikut.

diksi. Jalinan peristiwa dan jalannya cerita inilah yang dimaksud dengan plot. Plot atau alur menurut Hubert C. tema. Plot menurut Panuti Sudjiman dalam bukunya Kamus Istilah Sastra (1984) memberi batasan adalah jalinan peristiwa di dalam karya sastra (termasuk naskah drama atau lakon) untuk mencapai efek-efek tertentu. Plot atau alur adalah rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama. Cuddon dalam Dictionary of Literaray Terms (1977). Secara sederhana plot dapat dibagi menjadi dua yaitu simple plot (plot yang sederhana) dan multi plot (plot yang lebih dari satu) . Bagian ini merupakan kejadian akhir dari lakon dan terkadang memberikan jawaban atas segala persoalan dan konflik-konflik yang terjadi. yang menggerakkan jalan cerita melalui perumitan (penggawatan atau komplikasi) ke arah klimaks penyelesaian. * Klimaks adalah proses identifikasi atau proses pengusiran dari rasa tertekan melalui perbuatan yang mungkin saja sifatnya jahat. * Aksi Pendorong adalah saat memperkenalkan sumber konflik di antara karakter-karakter atau di dalam diri seorang karakter. pelaku-pelakunya. 2. Samuel Selden dan Hunton D. dan bagian akhir. bagian awal. bagian tengah. * Resolusi adalah proses penempatan kembali kepada suasana baru. Plot juga berfungsi sebagai bagian dasar yang membangun dalam sebuah teater dan keseluruhan perintah dari seluruh laku maupun semua bagian dari kenyataan teater serta bagian paling penting dan bagian yang utama dalam drama atau teater. dan merupakan dasar struktur irama keseluruhan permainan. Seorang penulis seringkali meletakkan berbagai informasi penting pada bagian awal lakon. Secara umum pembagian plot terkadang menggunakan tipe sebab akibat yang dibagi dalam lima pembagian sebagai berikut. Plot dapat dibagi berdasarkan babak dan adegan atau berlangsung terus tanpa pembagian. plot atau alur adalah kontruksi atau bagan atau skema atau pola dari peristiwa-peristiwa dalam lakon. pengawas utama dimana seorang penulis naskah dapat menentukan bagaimana cara mengatur lima bagian yang lain. Menurut J. Jadi plot berfungsi sebagi pengatur seluruh bagian permainan. Pembagian plot dalam lakon klasik atau konvensional biasanya sudah jelas yaitu. Heffner. Sellman dalam Modern Theatre Practice (1963). Hal ini berhubungan dengan pola pengadeganan dalam permainan teater. ialah seluruh persiapan dalam permainan.Plot (ada yang menyebutnya sebagai alur) dalam pertunjukan teater mempunyai kedudukan yang sangat penting. puisi atau prosa dan selanjutnya bentuk peristiwa dan perwatakan itu menyebabkan pembaca atau penonton tegang dan ingin tahu. atau baca tersebut. yaitu karakter. musik. lihat. Jadi plot merupakan susunan peristiwa lakon yang terjadi di atas panggung. waktu kejadiannya.A. Plot lakon banyak sekali ragamnya tergantung dari penulis lakon mempermainkan emosi kita. atau argumentative atau kejenakaan atau melalui cara-cara lain.1 Jenis Plot Ketika menonton atau melihat atau membaca sebuah lakon fiksi maka emosi kita akan terpengaruh dengan apa yang kita tonton. Emosi ini timbul karena terpengaruh oleh jalinan peristiwaperistiwa dan jalannya cerita yang ditulis oleh penulis. dan bagaimana peristiwa itu terjadi. Pautannya dapat diwujudkan oleh hubungan temporal (waktu) dan oleh hubungan kausal (sebab-akibat). misalnya tempat lakon tersebut terjadi. * Krisis adalah penjelasan yang terperinci dari perjuangan karakter-karakter atau satu karakter untuk mengatasi konflik.2. * Eksposisi adalah saat memperkenalkan dan membeberkan materi-materi yang relevan atau memberi informasi pada penonton tentang masalah yang dialami atau konflik yang terjadi dalam diri karakter-karakter yang ada di lakon. Pada bagian tengah biasanya berisi tentang kejadian-kejadian yang bersangkut paut dengan masalah pokok yang telah disodorkan kepada penonton dan membutuhkan jawaban. dan spektakel. Plot merupakan jalannya peristiwa dalam lakon yang terus bergulir hinga lakon tersebut selesai. Bagian akhir berisi tentang satu persatu pertanyaan penonton terjawab atau sebuah lakon telah mencapai klimaks besar.

di mana setiap episode memiliki alur cerita sendiri. Raja Lear karya William Shakespeare dan lain-lain.2.1. Plot disusun oleh pengarang dengan tujuan untuk mengungkapkan buah pikirannya yang secara khas. pembayangan ke depan yang terjadi ketika tokoh meramalkan atau membayangkan keadaan yang akan datang. Alur episode atau episodic plot adalah plot cerita yang terdiri dari bagian perbagian secara mandiri.S. Contoh lakon dengan alur mundur adalah Opera Primadona karya Nano Riantiarno yang dimainkan oleh Teater Koma.2. Alur ini merupakan kebalikan dari alur menanjak atau rising plot.2. Simple plot ini terdiri dari plot linear dan linear-circular. Alur linear ini masih bisa dibagi-bagi lagi sesuai dengan sifat emosi yang terkandung dari plot linear ini. dimana pada akhir cerita semua tokoh yang terlibat dalam cerita yang terpisah tadi akhirnya menyatu guna menyelesaikan cerita. Rendra. Jalinan jalan cerita dalam lakon bergerak mulai dari awal sampai akhir tanpa ada kilas balik. Alur mundur atau regresive plot adalah alur cerita yang dimulai dari inti cerita kemudian dipaparkan bagaimana sampai terjadi peristiwa tersebut. Alur menurun atau falling plot adalah alur dengan emosi lakon mulai dari tingkat emosi yang paling tinggi menuju tingkat emosi lakon yang paling rendah. Plot linear adalah alur cerita mulai dari awal sampai akhir cerita bergerak lurus sedangkan linear-circular adalah alur cerita mulai dari awal sampai akhir bergerak lurus secara melingkar sehingga awal dan akhir cerita akan bertemu dalam satu titik. alur maju atau progressive plot. Alur maju atau progresive plot adalah alur cerita yang dimulai dari pemaparan peristiwa lakon sampai menuju inti peristiwa lakon. dan biasanya tidak disadari oleh tokoh tersebut. Alur menanjak atau rising plot adalah alur dengan emosi lakon mulai dari tingkat emosi yang paling rendah menuju tingkat emosi lakon yang paling tinggi. Multi plot ini terdiri dari dua tipe yaitu alur episode atau episodic plot dan alur terpusat atau concentric plot. Setiap episode dalam lakon tersebut sebenarnya tidak ada hubungan sebab akibat dalam rangkaian cerita. dan tanpa disadari akan menimpa dirinya sendiri. Plotplot yang ada dalam cerita tersebut memiliki permasalah yang harus diselesaikan. terdiri dari alur menanjak atau rising plot.2 Multi Plot Multi plot adalah lakon yang memiliki satu alur utama dengan beberapa sub plot yang saling bersambungan. Alur ini merupakan kebalikan dari progressive plot. tema. alur mundur atau regressive plot.1 Simple Plot Simple plot atau plot lakon yang sederhana adalah lakon yang memiliki satu alur cerita dan satu konflik yang bergerak dari awal sampai akhir.1. alur menurun atau falling plot. Tetapi pada akhir cerita alur cerita yang terdiri dari episodeepisode ini akan bertemu.2. 2. bagian 5 menit pertama yang sengaja dibuat menarik untuk memikat penikmat * Fore Shadowing. plot atau alur cerita merupakan rangkaian peristiwa yang satu dengan yang lain dihubungkan dengan hukum sebab akibat. Alur ini adalah alur cerita paling umum pada alur lakon. Contoh lakon dengan alur episode atau episodic plot adalah lakon Panembahan Reso karya W. Alur lurus atau straight plot hampir sama dengan alur maju.2 Anatomi Plot Menurut Rikrik El Saptaria (2006). aksi seorang tokoh yang berkata atau bertindak sesuatu. * Dramatic Irony. tokoh. alur lurus atau straight plot. 2. Dalam lakon banyak dijumpai tokoh-tokoh ini. * Gimmick. Concentric plot adalah cerita lakon yang memiliki beberapa plot yang berdiri sendiri. . Dengan demikian plot memiliki anatomi atau bagian-bagian yang menyusun plot tersebut yang disebut dengan anatomi plot sebagai berikut. Pengungkapan ini lewat jalinan peristiwa yang baik sehingga menciptakan dan mampu menggerakkan alur cerita itu sendiri. dan alur melingkar atau circular plot.

2. Kalau cerita itu bisa ditebak oleh penonton maka perhatian penonton akan berkurang dan menganggap pertunjukan tersebut tidak menyuguhkan sesuatu untuk dipikirkan. Menurut Aristoteles peristiwa dalam lakon adalah mimesis atau tiruan dari kehidupan manusia keseharian. Analisis ini juga sangat penting dilakukan karena berhubungan dengan tata teknik pentas. Seperti diketahui bahwa sifat dari naskah lakon bisa berdiri sendiri sebagai bahan bacaan sastra. Analisis setting lakon ini merupakan suatu usaha untuk menjawab sebuah pertanyaan apakah peristiwa terjadi di luar ruang atau di dalam ruang? Apakah terjadi pada waktu malam. Kalau pemeran atau sutradara tidak cermat dalam menganalisisnya maka kemungkinan suspen terlewati dan tidak tergarap dengan baik. pada akhirnya mengarah ke sesuatu yang tidak disangka-sangka sebelumnya. karena memang bukan persoalan scenery yang hendak dibahas. berisi dugaan dan prasangka yang dibangun dari rangkaian ketegangan yang mengundang pertanyaan dan keingintahuan penonton. Kilas balik biasanya diceritakan melalui dialog tokoh. Hal ini akan menyebabkan kualitas pertunjukan dinilai tidak terlalu bagus. Gambaran tempat peristiwa dalam lakon kadang sudah diberikan oleh penulis lakon. Kilas balik ini berfungsi untuk mengingatkan kembali ingatan penonton pada peristiwa yang telah lampau tetapi masih dalam satu rangkaian peristiwa lakon.2. Pertanyaan untuk setting atau latar cerita adalah kapan dan dimana persitiwa terjadi. Sebagai bahan bacaan sastra. tetapi kadang tidak diberikan oleh penulis . bulan. atau sudah lain hari? Pertanyaan-pertanyaan seputar waktu dan tempat kejadian ini akan memberikan gambaran peristiwa lakon yang komplit (David Groote. Sedangkan sebagai bahan dasar pertunjukan. Pertanyaan tidak serta merta dijawab secara global tetapi harus lebih mendetil untuk mengetahui secara pasti waktu dan tempat kejadiannya. * Surprise. atau sore hari? Jika terjadi dalam ruang lalu di mana letak ruang itu. supaya penonton bertanya-tanya apa akibat yang ditimbulkan dari peristiwa sebelumnya ke peristiwa selanjutnya. * Suspen. Analisis ini perlu dilakukan guna memberi suatu gambaran pada penonton tentang tempat peristiwa itu terjadi. tempat peristiwa ini harus dikomunikasikan atau diceritakan oleh para pemeran sebagai komunikator kepada penonton. tetapi kilas balik pada film biasanya berupa nukilannukilan gambar. aksi atau ucapan tokoh utama yang beritikad tentang sesuatu persoalan yang menimbulkan pertentangan atau konflik antartokoh. 2.1 Latar Tempat Latar tempat adalah tempat yang menjadi latar peristiwa lakon itu terjadi. suatu peristiwa yang terjadi diluar dugaan penonton sebelumnya dan memancing perasaan dan pikiran penonton agar menimbulkan dugaan-dugaan yang tidak pasti. interpretasi tempat kejadian peristiwa ini terletak pada keterangan yang diberikan oleh penulis naskah lakon dan dalam imajinasi pembaca.* Flashback. Suspen ini biasanya diciptakan dan dijaga oleh penulis lakon dari awal sampai akhir cerita. kilas balik peristiwa lampau yang dikisahkan kembali pada saat ini. tetapi bisa sebagai bahan dasar dari pertunjukan. karena semuanya sudah bisa ditebak oleh penonton. * Gestus. Namun peristiwa yang diharapkan tersebut. Peristiwa dalam lakon adalah peristiwa fiktif yang menjadi hasil rekaan penulis lakon. Dalam sebuah lakon terkadang dijumpai aksi-aksi yang seperti ini dan akan menimbulkan suatu rasa simpati penonton kepada korbannya.3 Setting Membicarakan tentang setting dalam mengkaji lakon tidak ada kaitan langsung dengan tata teknik pentas.3. Suspen ini biasanya dibangun melalui dialog-dialog serta laku para tokoh yang ada dalam naskah lakon. pagi hari. di dalam gedung atau di dalam rumah? Jam berapa kira-kira terjadi? Tanggal. Suspen akan menumbuhkan dan memelihara keingintahuan penonton dari awal sampai akhir cerita.2. 1997). Dengan menimbulkan pertanyaanpertanyaan ini penonton akan betah mengikuti cerita sampai selesai. dan tahun berapa? Apakah waktu kejadiannya berkaitan dengan waktu kejadian peristiwa di adegan lain.

1985). Zaman Romantik.3. konflik yang akhirnya melahirkan cerita (A. maka perasaan penonton akan merasa terwakili oleh perasaan tokoh yang diidentifikasi tersebut. Latar waktu terkadang sudah diberikan`atau sudah diberi rambu-rambu oleh penulis lakon. Analisis latar waktu yang dilakukan oleh sutradara biasanya berhubungan dengan tata teknik pentas. zaman tokohg dan lain-lain). sore). tetapi banyak latar`waktu ini tidak diberikan oleh penulis lakon.1 Jenis-jenis Tokoh . penata artistik akan menata perabot dan mendekorasi pementasan sesuai dengan latar waktu.2. 2. Latar waktu dalam naskah lakon bisa menunjukkan waktu dalam arti yang sebenarnya (siang. Padahal ketidaksamaan watak akan melahirkan pergeseran. Suatu misal kita mengidentifisasi satu tokoh. Latar peristiwa yang nyata digunakan oleh penulis lakon untuk menggambar peristiwa yang terjadi secara nyata pada waktu itu sebagai dasar dari lakonnya. berbarti kita telah mengadopsi pikiran-pikiran dan perasaan tokoh tersebut menjadi perasaan dan pikiran kita.3 Latar Peristiwa Latar peristiwa adalah peristiwa yang melatari adegan itu terjadi dan bisa juga yang melatari lakon itu terjadi.4.2. Karakterisasi atau perwatakan dalam sebuah lakon memegang tokohan yang sangat penting. Latar peristiwa ini bisa sebagai realita bisa juga fiktif yang menjadi imajinasi penulis lakon.3. Misalnya. musim dingin dan lain-lain). atau yang mengakibatkan adegan atau lakon itu terjadi. malam. dan waktu yang menunjukkan suatu zaman atau abad (Zaman Klasik. lakon Raja Lear. pagi. Misalnya. dan babak itu terjadi. babak atau dalam keseluruhan lakon tersebut. Jika proses identifikasi ini berhasil. 2. tabrakan kepentingan. Tanpa perwatakan tidak akan ada cerita. musim kemarau. sedangkan yang dilakukan oleh pemeran biasanya berhubungan dengan akting dan bisnis akting. Perbedaan-perbedaan tokoh ini diharapkan akan diidentifikasi oleh penonton. 2.4 Karakterisasi Karakterisasi merupakan usaha untuk membedakan tokoh satu dengan tokoh yang lain. Lakon-lakon dengan latar peristiwa yang riil juga terjadi pada lakonlakon di Indonesia pada tahun 1950 sampai tahun 1970. Adjib Hamzah. waktu yang menunjukkan sebuah musim (musim hujan. Dengan menggetahui latar waktu yang terjadi pada maka semua pihak akan bisa mengerjakan lakon tersebut. adegan awal pada lakon. Misalnya. Lakon pada waktu itu mengambil latar peristiwa pada Zaman Tokohg Revolusi di Indonesia. Tugas seorang sutradara dan`pemeran ketika menghadapi sebuah naskah lakon adalah menginterprestasi latar waktu dalam lakon tersebut.2.lakon.2. Latar peristiwa pada adegan atau lakon adalah peristiwa yang mendahului adegan atau lakon tersebut. tanpa perwatakan tidak bakal ada plot. mungkin saja William Shakespeare terinspirasi oleh bencana yang melanda Inggris pada waktu itu. Bahkan Lajos Egri berpendapat bahwa berperwatakanlah yang paling utama dalam lakon. yaitu seolah-olah terjadi kiamat karena lakon ini dialegorikan sebagai kiamat kecil. 2. Analisis latar tempat dapat dilakukan dengan mencermati dialog-dialog tokoh yang sedang berlangsung dalam satu adegan. Analisis latar waktu perlu dilakukan baik oleh seorang sutradara maupun oleh pemeran.2 Latar Waktu Latar waktu adalah waktu yang menjadi latar belakang peristiwa. Analisis latar waktu bisa dilakukan dengan mencermati dialog-dialog yang disampaikan oleh tokoh dalam adegan atau babak yang sedang berlangsung.`adegan.

dan ketika sudah dewasa maka pribadinya berkembang melalui hubungan dengan lingkungan sosial. Contoh. * Utility Utility adalah tokoh pembantu atau sebagai tokoh pelengkap untuk mendukung rangkaian cerita dan kesinambungan dramatik. dan karikatural. * Antagonis Antagonis adalah tokoh lawan. bisa juga karena kekurangan dirinya sendiri. yaitu flat character. Cordelia dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. * Flat Character (perwatakan dasar) Flat character atau karakter datar adalah karakter tokoh yang ditulis oleh penulis lakon secara datar dan biasanya bersifat hitam putih. Keberadaan tokoh adalah untuk mengatasi persoalan-persoalan yang muncul ketika mencapai suatu citacita. Contoh tokoh protagonis pada lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo adalah tokoh Raja Lear itu sendiri. Ketika masih kecil dia bereksplorasi dengan dirinya sendiri untuk mengetahui perkembangan dirinya. Tokoh protagonis dan antagonis harus memungkinkan menjalin pertikaian. Contoh tokoh antagonis pada lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo adalah tokoh Gonerill dan tokoh Regan. Contoh. Biasanya tokoh ini mewakili jiwa penulis. tokoh Perwira. Contoh:tokoh Badut dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. dan cita-cita Raja Lear. Dalam teater. sedangkan penokohan adalah proses kerja untuk memainkan tokoh yang ada dalam naskah lakon. * Protagonis Protagonis adalah tokoh utama yang merupakan pusat atau sentral dari cerita. keinginan. tokoh Tumenggung Kent. Motivasi-motivasi tokoh inilah yang dapat melahirkan suatu perbuatan tokoh. Tokoh-tokoh tersebut adalah sebagai berikut. tokoh dapat dibagi-bagi sesuai dengan motivasi-motivasi yang diberikan oleh penulis lakon. * Deutragonis Deutragonis adalah tokoh lain yang berada di pihak tokoh protagonis. Contoh. karena dia seringkali menjadi musuh yang menyebabkan konflik itu terjadi. sebab dengan adanya tokoh maka timbul konflik. Tokoh antagonis harus memiliki watak yang kuat dan kontradiktif terhadap tokoh protagonis.Tokoh merupakan sarana utama dalam sebuah lakon. jenis karakter dalam teater ada empat macam. Penokohan ini biasanya didahului dengan menganalisis tokoh tersebut sehingga bisa dimainkan. dan pertikaian itu harus berkembang mencapai klimaks. Menurut Rikrik El Saptaria (2006). Karakter tokoh dalam lakon mengacu pada pribadi manusia yang berkembang sesuai dengan perkembangan lingkungan. Curan dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. Konflik dapat dikembangkan oleh penulis lakon melalui ucapan dan tingkah laku tokoh. 2. round charakter.2. tokoh Bangsawan pada lakon Raja Lear karya Willliam Sahkespeare. Persoalan ini bisa dari tokoh lain.4. Tokoh ini juga menentukan jalannya cerita. * Tritagonis Tritagonis adalah tokoh penengah yang bertugas menjadi pendamai atau pengantara protagonis dan antagonis. Jadi perkembangan karakter seharusnya mengacu pada pribadi manusia. * Foil Foil adalah tokoh yang tidak secara langsung terlibat dalam konflik yang terjadi tetapi ia diperlukan guna menyelesaikan cerita. Biasanya dia berpihak pada tokoh antagonis. yang merupakan akumulasi dari pengalaman-pengalaman dan interaksi-interaksi yang dilakukannya dan terus . Edgar. teatrikal. Dia adalah pengawal dari Cordelia. Kedua tokoh inilah yang menentang perkembangan.2 Jenis Karakter Karakter adalah jenis tokoh yang akan dimainkan. Tokoh ini ikut mendukung menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh tokoh protaganis. bisa dari alam. Oswald.

dan cenderung menyindir. Si Gembrot.. suasana. Kawan. bahkan perpaduan antara ucapan dengan tingkah laku. dan lebih bersifat simbolis. Misalnya karakter yang diciptakan oleh Putu Wijaya pada lakon-lakonnya yang bergaya post-realistic. sehingga ketika mencipta sebuah karakter dia bebas menentukan suatu perkembangan karakter. Karakter-karakter teatrikal jarang dijumpai pada lakon-lakon realis. * Round Character (perwatakan bulat) Karakter tokoh yang ditulis oleh penulis secara sempurna. satiris. . Si Tua. seperti tokoh A. Flat character ini ditulis dengan tidak mengalami perkembangan emosi maupun derajat status sosial dalam sebuah lakon.berkembang. keadaan jaman dan lain-lain yang tidak bersifat manusiawi tetapi dilakukan oleh manusia. D. tetapi diperlukan dalam sebuah lakon. C. unik. tetapi sangat banyak dijumpai pada lakon-lakon klasik dan non realis. karakteristiknya kaya dengan pesan-pesan dramatik. * Karikatural Karikatural adalah karakter tokoh yang tidak wajar. * Teatrikal Teatrikal adalah karakter tokoh yang tidak wajar. Karakter ini biasanya terdapat karakter tokoh utama baik tokoh protagonis maupun tokoh antagonis. Perkembangan dan perubahan ini mengacu pada perkembangan pribadi orang dalam kehidupan sehari-hari. Karakter ini hanya simbol dari psikologi masyarakat. antara ketegangan dengan keriangan suasana. Flat character biasanya ada pada karakter tokoh yang tidak terlalu penting atau karakter tokoh pembantu. Penulis lakon adalah orang yang memiliki dunia sendiri yaitu dunia fiktif. bisa juga dengan tingkah laku. Pemimpin (lakon LOS) dan lain-lain. Perkembangan inilah yang menjadikan karakter ini menarik dan mampu untuk mengerakkan jalan cerita. Sifat karikatural ini bisa berupa dialog-dialog yang diucapkan oleh karakter tokoh. Round karakter adalah karakter tokoh dalam lakon yang mengalami perubahan dan perkembangan baik secara kepribadian maupun status sosialnya. Karakter ini segaja diciptakan oleh penulis lakon sebagai penyeimbang antara kesedihan dan kelucuan.

3. Andre Antoine di Tokohcis dengan Teater Libre serta Stansilavsky di Rusia adalah dua sutradara berbakat yang mulai menekankan idealisme dalam setiap produksinya. Sutradara bisa memilih lakon yang sudah tersedia (naskah jadi) karya orang lain atau membuat naskah lakon sendiri. Pementasan teater muncul dari sekumpulan pemain yang memiliki gagasan untuk mementaskan sebuah cerita. Seorang bangsawan (duke) dari Saxe-Meiningen yang memimpin sebuah grup teater dan menyelenggarakan pementasan keliling Eropa pada akhir tahun 1870-1880. 2001). 1994). Nskah tersebut harus memenuhi kreteria yang diinginkan serta sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan. menentukan bentuk dan gaya pementasan. Oleh karena itu. Ada beberapa pertimbangan yang dapat dilakukan oleh sutradara dalam memilih naskah. maka seorang sutradara harus mengerti dengan baik hal-hal yang berhubungan dengan pementasan. Berhasil tidaknya sebuah pertunjukan teater mencapai takaran artistik yang diinginkan sangat tergantung kepiawaian sutradara. Max Reinhart mengembangkan penyutradaraan dengan mengorganisasi proses latihan para aktor dalam waktu yang panjang. 3. Istilah sutradara seperti yang dipahami dewasa ini baru muncul pada jaman Geroge II. Kemudian mereka berlatih dan memainkkannya di hadapan penonton.1 Pemilihan Naskah Proses atau tahap pertama yang harus dilakukan oleh sutradara adalah menentukan lakon yang akan dimainkan. Proses mengajar dijadikan tonggak awal lahirnya “sutradara”. maka para aktor memerlukan peremajaan pemain. yaitu menentukan lakon. kerja sutradara dimulai sejak merencanakan sebuah pementasan. Sejalan dengan kebutuhan akan pementasan teater yang semakin meningkat. Setelah itu tugas berikutnya adalah menganalisis lakon. produksi pementasan teater Saxe-Meiningen masih mengutamakan kerja bersama antarpemain yang dengan giat berlatih untuk meningkatkan kemampuan berakting mereka (Robert Cohen. menentukan pemain.1 Naskah Jadi Mementaskan teater dengan naskah yang sudah tersedia memiliki kerumitan tersendiri terutama pada saat hendak memilih naskah yang akan dipentaskan. Dengan demikian sutradara menjadi salah satu elemen pokok dalam teater modern. Gordon Craig merupakan seorang sutradara yang menanamkan gagasannya untuk para aktor sehingga ia menjadikan sutradara sebagai pemegang kendali penuh sebuah pertunjukan teater (Herman J. Waluyo.Dasar-dasar Teater (3/6): Dasar Seni Penyutradaraan dalam Teater Pada mulanya pementasan teater tidak mengenal sutradara. Model penyutradaraan seperti yang dilakukan oleh George II diteruskan pada masa lahir dan berkembangnya gaya realisme. Oleh karena kedudukannya yang tinggi. Meskipun demikian. maka kehadiran seorang sutradara yang mampu mengatur dan mengharmonisasikan keseluruhan unsur artistik pementasan dibutuhkan. . seperti tertulis di bawah ini. Dalam terminologi Yunani sutradara (director) disebut didaskalos yang berarti guru dan pada abad pertengahan di seluruh Eropa istilah yang digunakan untuk seorang sutradara dapat diartikan sebagai master.1. Dengan banyaknya jumlah pentas yang harus dilakukan. Para aktor yang telah memiliki banyak pengalaman mengajarkan pengetahuannya kepada aktor muda. memahami dan mengatur blocking serta melakukan serangkaian latihan dengan para pemain dan seluruh pekerja artistik hingga karya teater benar-benar siap untuk dipentaskan.

Kerangka ini membagi jalannya cerita mulai dari pemaparan. * Menentukan tema. . Tidak ada cerita teater tanpa konflik. Naskah yang tidak dikehendaki akan membawa pengaruh dan masalah tersendiri bagi sutradara dalam mengerjakannya. Akan tetapi berkenaan dengan sumber daya yang dimiliki. Persoalan atau konflik adalah inti daricerita teater. Misalnya dengan tema “kebaikan akan mengalahkan kejahatan”. sutradara harus mampu membuat naskah yang sesuai dengan kualitas sumber daya yang ada. Sutradara dengan segenap kemampuannya harus mampu meyakinkan pemain dan mengusahakan pertunjukan agar tetap digelar sehingga proses yang telah dilakukan tidak menjadi sia-sia. Naskah lakon yang baik tidak ada gunanya jika dimainkan oleh aktor yang kurang baik. Oleh karena itu. maka dalam cerita hal tersebut harus dimunculkan melalui aksi tokoh-tokohnya sehingga penonton dapat menangkap maksud dari cerita bahwa sehebat apapun kejahatan pasti akan dikalahkan oleh kebaikan. keseluruhan kerja menjadi tidak optimal.1. Jika sutradara memilih naskah yang akan ditampilkan dalam keadaan terpaksa maka bisa dipastikan hasil pementasan menjadi kurang baik. Tema. tetapi semua orang yang terlibat menjadi senang karena dapat mengerjakannya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. * Menentukan persoalan. Beberapa naskah yang baik terkadang memiliki konsekuensi logis dengan pendanaan. Kerangka cerita akan membingkai jalannya cerita dari awal sampai akhir. Mampu mementaskan sebuah naskah tentunya tidak hanya berkaitan dengan kecakapan sutradara. sutradara harus mampu mengukur kualitas sumber daya pemain yang dimiliki dalam menentukan naskah yang akan dipentaskan. Semua sumber daya dimiliki seperti pemain. naskah yang dipilih memoiliki latar cerita di rumah mewah dengan segala perabot yang indah. Dengan membuat kerangka cerita maka penulis akan memiliki batasan yang jelas sehingga cerita tidak berteletele. penata artsitik. Naskah semacam ini bersifat situasional. 3.* Sutradara menyukai naskah yang dipilih.Tidak ada gunanya berlatih naskah lakon tertentu dalam waktu lama jika di tengah proses tiba-tiba hal itu terhenti karena alasan tertentu. Sinopsis digunakan pemandu proses penulisan naskah sehingga alur dan persoalan tidak melebar. * Sutradara merasa mampu mementaskan naskah yang telah dipilih. Dengan adanya sinopsis maka penulisan lakon menjadi terarah dan tidak mengada-ada. klimaks sampai penyelesaian. konflik. membuat naskah sendiri dapat menjadi pilihan yang tepat. Tema adalah gagasan dasar cerita atau pesan yang akan disampaikan oleh pengarang kepada penonton. Gambaran cerita secara global dari awal sampai akhir hendaknya dituliskan. seperti analisis yang kurang detil. * Sutradara mampu menemukan pemain yang tepat. tetapi juga dengan unsur pendukung yang lain. dan pendanaan menjadi pertimbangan dalam memilih naskah yang akan dipentaskan. Oleh karena itupangkal persoalan atau titik awal konflik perlu dibuat dan disesuaikan dengan tema yang dikehendaki. * Membuat sinopsis (ringkasan cerita). Jika sutradara merasa mampu mengusahakan pendanaan secara optimal untuk mewujudkan tuntutan artistik lakon. William Froug (1993) misalnya. * Sutradara wajib mempertimbangkan sisi pendanaan secara khusus. sutradara harus mampu melakukan adaptasi sehingga pendanaan bisa dikurangi tanpa mengurangi nilai artistik lakon. Untuk itu. pangkal persoalan yang dibicarakan adalah sikap licik seseorang yang selalu memfitnah orang lain demi kepentingannya sendiri. akan menuntun laku cerita dari awal sampai akhir. Jika tidak. maka naskah tersebut bisa dipilih. * Sutradara mampu tetap mementaskan naskah yang dipilih.2 Membuat Naskah Sendiri Membuat naskah lakon sendiri tidak menguntungkan karena akan memperpanjang proses pengerjaan. Beberapa langkah di bawah ini dapat dijadikan acuan untuk menulis naskah lakon. yaitu pembukaan. Misalnya tema yang dipilih adalah “kebaikan akan mengalahkan kejahatan”. membuat kerangka cerita (skenario) dengan empat bagian. Persoalan ini kemudian diikembangkan dalam cerita yang hendak dituliskan. * Menentukan kerangka cerita. Misalnya. pemilihan pemain yang asal-asalan. Hal ini membawa dampak tersendiri dalam bidang pendanaan.

Pesan ini ingin disampaikan oleh pengarang dengan akhir yang tragis dimana tokoh Romeo dan Juliet akhirnya mati bersama. titik balik cerita dimulai dan konflik diselesaikan. konflik hingga klimaks. sutradara wajib menemukan pesan utama dari lakon yang telah ditentukan. berkecukupan. dan akhir.1 Analisis Dasar Analisis dasar adalah telaah unsur-unsur pokok yang membentuk lakon. Mengakhiri sebuah persoalan yang dimunculkan tidaklah mudah. pada bagian mana konflik itu memuncak. Pada bagian pembukaan memaparkan sketsa singkat tokoh-tokoh cerita. sutradara akan lebih mudah menerjemahkan kehendak pengarang dalam pertunjukan. Oleh karena itu tentukan akhir cerita dengan baik. dalam persoalan tentang kelicikan. gunakan dan manfaatkan waktu sebaik mungkin. tengah. logis. Dinamika percintaan Romeo dan Juliet yang berakhir dengan kematian inilah yang harus ditekankan oleh sutradara kepada penonton. Dalam proses analisis ini. sutradara sekaligus penulis naskah Teater Koma. sutradara memepelajari seluruh isi lakon dan menangkap gambaran lengkap lakon seperti apa yang tertulis. yaitu pembuka yang berisi pengantar cerita atau sebab awal. semangat dalam bekerja. maka tokoh lainnya mudah ditemukan. Setelah semua hal disiapkan maka proses berikutnya adalah menulis. maka tokoh lain baik yang berada di pihak protagonis atau antagonis akan mudah diciptakan. Dalam beberapa lakon ada cerita yang diakhiri dengan baik tetapi ada yang diakhiri secara tergesa-gesa. Apa yang hendak disampaikan oleh pengarang melalui naskah lakon disebut pesan. Dengan analisis yang baik.2. Bagian awal adalah bagian pengenalan secara lebih rinci masing-masing tokoh dan titik konflik awal muncul. 3. Lakon yang telah ditentukan harus segera dipelajari sehingga gambaran 100% lengkap cerita didapatkan. Oleh karena itu. dan penutup yang merupakan simpulan cerita atau akibat. maka semakin jelas pula karakter tokoh antagonis. Tokoh protagonis adalah tokoh yang membawa laku keseluruhan cerita. menentukan kerangka lakon dalam tiga bagian. * Menulis.2 Analisis Lakon Menganalisis lakon adalah salah satu tugas utama sutradara. tetapi lebih tidak mudah lagi memindahkan gagasan dalam bentuk tulisan. Dengan menulis lawan dari sifat protagonis maka karakter antagonis dengan sendirinya terbentuk. Penting mengetahui dasar persoalan (konflik) dalam sebuah lakon karena hal tersebut akan membawa laku aksi para tokohnya. senang membantu orang lain. dan tidak tergesa-gesa. * Menentukan protagonis. Jadi. Mencari dan mengembangkan gagasan memang tidak mudah. Semakin detil sifat atau karakter protagonis. Bagian tengah adalah konflik yang meruncing hingga sampai klimaks. serta jujur.bagian awal. * Pesan Lakon. Pada bagian akhir. Riantiarno (2003). dan pada akhirnya bagaimana konflik itu . Dengan menentukan tokoh protagonis secara mendetil. Akhir cerita yang mengesankan selalu akan dinanti oleh penonton. 3. Di bagian mana konflik itu muncul dan bagaimana aksi dan reaksi para tokohnya. Berhasil atau tidaknya sebuah pertunjukan teater diukur dari sampai tidaknya pesan lakon kepada penonton. * Konflik dan Penyelesaian. Jika tokoh protagonis dan antagonis sudah ditemukan. dermawan. isi yang berisi pemaparan. Misalnya. Unsur-unsur pokok yang harus dianalisis oleh sutradara adalah senagai berikut. Merupakan bahan komunikasi utama yang hendak disampaikan kepada penonton. maka tokoh protagonis dapat diwujudkan sebagi orang yang rajin. * Menentukan cara penyelesaian. Romeo and Juliet karya Shakespeare mengandung pesan bahwa seseorang yang telah menemukan cinta sejati tidak takut terhadap risiko apapun termasuk mati. dalam tahap ini sutradara hanya membaca kehendak pengarang melalui lakonnya. Oleh karena itu. bahkan ada yang bingung mengakhirinya.

Antigone. * Pesan. atau di salah satu ruang khusus. dan memahami konflik lakon. Misalnya. gaya spanyol. dan waktu kejadian harus diungkapkan dengan jelas karena hal ini berkaitan dengan tata artistik. Akan tetapi sangat mungkin seorang sutradara memiliki gagasan astistik tertentu yang akan ditampilkandalam pementasan setelah menganalisa sebuah lakon. dewan kota. * Latar. Cara menyampaikan pesan ini menjadi titik tafsir lakon yang penting karena pesan inilah inti dari keseluruhan lakon. peristiwa. * Karakter Tokoh. teras gedung. Jika apartemen disimbolkan sebagai pusat kekuasaan maka peristiwa yang terjadi di dalamnya juga harus mengikuti simbolisasi ini sedangkan latar waktunya bisa ditarik ke masa lalu atau masa kini seperti yang dikehendaki oleh sutradara. Oleh karena itu analisis karakter ini harus dilakukan dengan teliti dan hati-hati sehingga setiap perubahan karakter yang dialami oleh tokoh tidak lepas dari pengamatan sutradara. Secara artistik. maka sutradara harus menggalinya melalui kalimat-kalimat dialog. apartemen mewah disimbolkan sebagai pusat kekuasaan maka tata panggungnya disesuaikan dengan simbolisasi tersebut. artinya. Hal yang paling menarik mengenai penyampaian pesan kepada penonton adalah caranya.2 Interpretasi Setelah menganalisis lakon dan mendapatkan informasi lengkap mengenai lakon. Untuk menekankan pesan yang dimaksud ada sutradara yang memberi penonjolan pada tata artistik. tetapi karena ketersediaan sumber daya yang kurang memadahi maka bentuk penampilan apartemen mewah disesuaikan. Analisis karakter tokoh sangat penting dan harus dilakukan secara mendetil agar sutradara mendapatkan gambaran watak sejelas-jelasnya.2. dapur umum.diselesaikan.Berdasarkan hasil analisis. maka sutradara perlu melakukan tafsir atau interpretasi. Untuk mewujudkan keadaan peristiwa seperti dikehendaki lakon di atas panggung maka informasi yang jelas mengenai latar cerita harus didapatkan. Proses interpretasi biasanya menyangkut unsur latar. dan karakterisasi. Misalnya. * Latar Cerita. dalam lakon mengehendaki tempat kejadian di sebuah apartemen yang mewah. Cara menyampaikan pesan antara sutradara satu dengan yang lain bisa berbeda meskipun lakon yang dipentaskan sama. atau gedung pertunjukan. Apakah gedung tersebut merupakan gedung pertemuan. Secara teknis hal ini berkaitan dengan sumber daya yang dimiliki. Oleh karena itulah pentas teater dengan lakonlakon yang sudah berusia lama seperti Oedipus. Ada juga sutradara yang menonjolkan . Seorang sutradara sebetulnya boleh tidak melakukan interpretasi terhadap lakon. menilai. Karena tidak banyak arahan dan keterangan yang dituliskan mengenai karakter tokoh dalam sebuah lakon. museum. ia hanya sekedar melakukan apa yang dikehendaki oleh lakon apa adanya sesuai dengan hasil analisis. sutradara dapat menafsirkan tempat kejadian secara simbolis. atau ciri khas daerah tertentu. Perjalanan sebuah karakter terkadang tidak mengalami perubahan yang berarti tetapi beberapa tokoh dalam lakon (biasanya protagonis dan antagonis) bisa saja mengalami perubahan. Arsitektur gedung itu apakah menggunakan arsitektur kolonial. Di gedung tersebut cerita terjadi di ruang aula. Selain itu sudut pandang pengarang dalam menyelesaikan konflik dapat menegaskan pesan yang hendak disampaikan. Hal ini berlaku juga untuk latar peristiwa dan waktu. Romeo and Juliet masih aktual dipentaskan sekarang ini. pesan. sederhana atau mewah. Proses ini bisa disebut sebagai proses asimilasi (perpaduan) antara gagasan sutradara dan pengarang. Adaptasi terhadap tempat kejadian peristiwa sering dilakukan oleh sutradara. Penyesuaian inipun berkaitan langsung dengan latar waktu dan peristiwa. Misalnya. Ketika adaptasi ini dilakukan maka unsur-unsur lain pun seperti tata rias dan busana akan ikut terkait dan mengalami penyesuaian. sutradara memberi sentuhan dan atau penyesuaian artistik terhadap lakon yang akan dipentaskan. Dengan demikian penonton akan mendapatkan gambaran yang jelas latar cerita yang dimainkan. Semua ini akan memberi sudut pandang bagi sutradara dalam melihat. 3. misalnya warna-warna yang digunakan di atas panggung. Intinya informasi sekecil apapun harus didapatkan. Gambaran tempat kejadian. gambaran tempat kejadian persitiwa adalah di sebuah gedung maka harus dijelaskan apakah terjadi di sebuah gedung megah. Semua informasi dikumpulkan dan diseleksi untuk kemudian diwujudkan dalam pementasan.

maka ia bisa memberikan gambaran tata artistik melalui sketsa.Dalam konsep ini sutradara menjelaskan secara lengkap mengenai cara menyampaikan pesan yang berkaitan dengan pendekatan gaya pementasan dan pendekatan pemeranan serta memberikan gambaran global tata artistik. tata krama. Oleh karena itu.3 Konsep Pementasan Hasil akhir dari analisis naskah adalah konsep pementasan. Setiap kelahiran gaya baru memiliki keterkaitan atau perlawanan terhadap gaya tertentu (baca bagian sejarah teater). * Pendekatan gaya pementasan. yaitu cara berbicara. Istilah pendekatan di sini digunakan dalam arti sutradara tidak hanya sekedar melaksanakan sebuah gaya secara wantah (utuh) tetapi ada pengembangan atau penyesuaian di dalamnya. Aktor boleh berbicara secara langsung kepada penonton. Banyak hal yang harus dilakukan selain mengganti nama dan penampilan fisik. gaya berjalan. Secara umum. Tafsir ulang tokoh tidak hanya sekedar mengubah nama dan menyesuaikan bentuk penampilan fisik. * Karakterisasi. Misalnya. Seniman teater dunia telah banyak berusaha melahirkan gaya pementasan. Gerak laku aktor distilisasi atau diperindah. maka bahasa dialog antaraktor menggunakan bahasa yang puitis. * Pendekatan pemeranan. Hal ini sangat berguna bagi aktor. karena menggunakan pendekatan gaya presentasional. Dengan demikian pendekatan yang dilakukan tidak salah sasaran.4 Memilih Pemain . sutradara harus memahami gaya-gaya pementasan. Metode akting berkaitan dengan pencapaian aktor (standar) sesuai dengan pendekatan gaya pementasannya. sebuah lakon yang tokohtokohnya memiliki latar belakang budaya Eropa hendak diadaptasi ke dalam budaya Indonesia. Konvensi atau aturan main sebuah pertunjukan diungkapkan dalam poin ini. pandangan hidup. Jika tidak. Meski tidak secara mendetil. Semuanya memliki keterkaitan. tetapi gambaran tata artisitk berguna bagi para desainer untuk mewujudkannya dalam desain. dalam budaya Eropa orang bepikir secara bebas sementara orang Indonesia cenderung mempertimbangkan hal-hali lain (tata krama. takaran emosi dan cara berpikir.. Sutradara harus membuat metode tertentu dalam sesi latihan pemeranan untuk mencapai apa yang dinginkan. emosi. Untuk itu. Hal ini mempengaruhi bentuk dan gaya penampilan aktor dalam beraksi. dan keseluruhan watak tokoh. hal yang paling bisa adalah mendekatkan gaya pementasan dengan gaya tertentu yang sudah ada.Dengan demikian cara pandang sutradara terhadap keseluruhan lakon pun harus diubah atau mengalami penyesuaian. Setelah menetapkan pendekatan gaya. Hal ini mempengaruhi hasil pemikiran dan cara mengungkapkan hasil pikiran tersebut. maka metode pemeranan yang dilakukan perlu dituliskan.laku aksi aktor di atas pentas sehingga adegan dibuat dan dikerjakan secara detil. 3. * Gambaran tata artistik. sutradara harus menuliskan gambaran (pandangan) tata artistiknya. Dewasa ini hampir tidak bisa ditemukan gaya pementasan murni yang dihasilkan seorang sutradara atau pemikir teater. Jika sutradara mampu. Misalnya. 3. maka ia cukup menuliskannya. Tafsir ulang terhadap tokoh lakon paling sering dilakukan. Dengan demikian sutradara harus benar-benar memikirkan cara menyampaikan pesan lakon dengan mempertimbangkan unsur-unsur lakon dan sumber daya yang dimiliki. misalnya. pranata sosial) di luar hal utama yang dipikirkan. Hal ini biasanya berkaitan dengan isu atau topik yang sedang hangat terjadi di masyarakat. penggunaan bahasa puitis dengan sendirinya membuat aktor harus mau memahami dan melakukan latihan teknik-teknik membaca puisi agar dalam pengucapan dialog tidak seperti percakapan sehari-hari. Misalnya. Masing-masing cara penonjolan pesan ini mempengaruhi unsur-unsur lain dalam pementasan. tetapi juga mental.

* Penghayatan. * Ukuran Tubuh. dan brewok tebal cocok diberi tokoh sebagai warok atau jagoan. ukuran tubuh merupakan harga mati bagi sebuah tokoh.4. dalam cerita Kabayan. Menghayati sebuah tokoh berarti mampu menerjemahkan laku aksi karakter tokoh dalam bahasa verbal dan ekspresi tubuh secara bersamaan. maka latihan katahanan tubuh dapat diujikan. * Tinggi Tubuh. tetapi ciri wajah pemain harus diusahakan semirip mungkin dengan ciri wajah tokoh dalam lakon. Ciri fisik dapat pula dijadikan acuan untuk menentukan pemain. 3. * Ciri Wajah. Biasanya. calon aktor dapat dinilai kemampuan dasar wicaranya. memilih pemain biasanya berdasar kecapakan pemain tersebut. Dalam teater yang menggunakan ekspresi bahasa verbal kejelasan ucapan adalah kunci ketersampaian pesan dialog. maka pemain harus memiliki ciri wajah yang tampak tolol. misalnya dalam wayang orang atau ketoprak. Oleh karena itu pemain harus memiliki kemampuan wicara yang baik. Calon aktor. Meskipun kekurangan wajah bisa ditutupi dengan tata rias. Seorang yang memiliki kumis.Menentukan pemain yang tepat tidaklah mudah. Dengan memberikan teks bacaan tertentu. tokoh Bagong memiliki ukuran tubuh tambun (gemuk). sutradara dapat menilai kecakapan pemain melalui portofolio tetapi proses audisi tetap penting untuk menilai kecakapan aktor secara langsung. maka pemain yang dipilih pun harus memiliki tubuh gemuk. * Wicara. dalam teater modern. harus mampu menyajikannya dengan . Berkaitan langsung dengan penampilan mimik aktor. misalnya tokoh-tokoh dalam lakon pewayangan. Dalam sebuah grup atau sanggar. Kesiapan tubuh seorang pemain merupakan faktor utama. penentuan pemain berdasar ciri fisik ini menjadi acuan utama. Penilaian yang dapat dilakukan adalah penguasan. dalam lakon yang gambaran tokohnya sudah melekat di masyarakat. Tidak ada gunanya seorang aktor bermain dengan baik jika fisiknya lemah. Misalnya. 3. Grup teater tradisional biasanya memilih pemain sesuai dengan penampilan fisik dengan ciri fisik tokoh lakon. seorang yang tinggi tapi bungkuk dianggap tepat memainkan tokoh pendeta. Akan tetapi. Hal ini juga sama dengan ukuran tubuh. * Tubuh. sutradara dapat memberikan penggalan adegan atau dialog karakter untuk diujikan. dan pelafalan yang baik. Dalam sebuah produksi yang membutuhkan latihan rutin dan intens dalam kurun waktu yang lama ketahanan tubuh yang lemah sangatlah tidak menguntungkan. intonasi. karena tidak sesuai dengan karakter dan akan menyalahi laku lakon secara keseluruhan.1 Fisik Penampilan fisik seorang pemain dapat dijadikan dasar menentukan tokoh. janggut. Untuk menilai kesiapan tubuh pemain. Sutradara akan diprotes oleh penonton jika menampilkan Bima bertubuh kurus dan pendek. Misalnya. dalam ketoprak. Tidak masuk akal jika Bagong tampil dengan tubuh kurus. Untuk menilai hal ini. Kemampuan dasar wicara merupakan syarat utama yang lain. Meskipun dalam khasanah teater modern. Misalnya. dalam wayang wong.2 Kecakapan Menentukan pemain berdasar kecapakan biasanya dilakukan melalui audisi. diksi.4. Hal ini dianggap dapat mampu melahirkan ekspresi wajah yang natural. Dalam kasus tertentu. dalam sebuah grup teater sekolah yang pemainnya selalu berganti atau kelompok teater kecil yang membutuhkan banyak pemain lain sutradara harus jeli memilih sesuai kualifikasi yang dinginkan. Tokoh Werkudara (Bima) harus ditokohkan oleh orang yang bertubuh tinggi besar. Akan tetapi. sutradara sudah mengetahui karakter pemainpemainnya (anggota). * Ciri Tertentu.

Bentuk dan gaya yang dipilih secara serampangan akan mempengaruhi kualitas penampilan. Di bawah ini akan dibahas bentuk dan gaya pementasan menurut penuturan cerita. Untuk menguji lebih mendalam sutrdara juga dapat memberikan penggalan dialog karakter lain dengan muatan emosi yang berbeda. * Arahan dialog sudah ada. portofolio sangat penting bagi seorang aktor profesional.1. Catatan prestasi dan kemampuan yang dimiliki hendaknya ditulis dalam portofolio sehingga bisa menjadi pertimbangan sutradara. Dalam lakon terkadang arahan emosi berkaitan dengan dialog juga dituliskan sehingga sutrdara lebih mudah dalam memantau emosi tokoh yang ditokohkan aktor. bentuk penyajian. teater modern menggunakan naskah lakon sebagai sumber penuturan. tetapi latar belakang pengetahuan dan kemampuan sutradara sangat menentukan. * Durasi waktu dapat ditentukan dengan pasti. Sutradara tidak perlu menambah atau mengurangi dialog yang sudah tertulis dalam lakon kecuali punya keinginan mengadaptasinya. Dari serangkaian latihan yang dikerjakan secara rutin dan kontinyu ditambah dengan unsur artistik dan teknis maka lamanya pertunjukan teater berdasar naskah dapat ditetapkan. dan tanda keluar-masuk ilustrasi musik atau pencahayaan ditentukan waktunya sehingga setiap detik sangat berharga dan menentukan berhasil tidaknya pertunjukan tersebut. seorang calon aktor yang memiliki kemampuan menari. menyanyi atau bermain musik memiliki nilai lebih.5. Teater tradisional biasanya memilih imporivisasi karena semua pemain telah memahami dengan baik cerita yang akan dilakonkan dan karakter tokoh yang akan ditokohkan. 3. 3. di antaranya adalah sebagai berikut. Kemampuan lain selain bermain tokoh terkadang dibutuhkan.5. * Kecakapan lain. Misalnya.penuh penghayatan. tetapi bisa dipilih sebagai seorang penari latar dalam adegan tertentu. Kehatihatian dalam memilih bentuk dan gaya bukan saja karena tingkat kesulitan tertentu. Penting bagi sutradara untuk menentukan dengan tepat bentuk dan gaya pementasan. 3. Hal ini memiliki kelebihan tersendiri.1 Menurut Penuturan Cerita Ada dua jenis pertunjukan teater menurut penuturan ceritanya. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan serta membutuhkan kecakapan sutradara dalam bidang tertentu untuk melaksanakannya. Untuk itu. Bahkan dalam produksi teater profesional yang semuanya dirancang dengan baik. Meskipun beberapa kelompok teater modern tertentu memperbolehkan improvisasi (biasanya lakon komedi situasi) tetapi sumber utama dialognya diambil dari naskah lakon. Sebaliknya. lamanya adegan. Mungkin dalam sebuah produksi ia tidak memenuhi kriteria sebagai pemain utama. . yaitu berdasar naskah lakon dan improvisasi. perpindahan antaradegan. dan gaya penyajian. Karena dialog tokoh sudah ditentukan dan tidak boleh ditambah atau dikurangi maka durasi pementasan dapat ditentukan.1 Berdasar Naskah Lakon Mementaskan teater berdasarkan naskah lakon menjadi ciri umum teater modern. Tugas aktor adalah menghapalkan dialog tersebut dan mengucapkannya dalam pementasan.5 Menentukan Bentuk dan Gaya Pementasan Bentuk dan gaya pementasan membingkai keseluruhan penampilan pementasan.

Jika hendak menyesuaikan dengan ketersediaan sumber daya. Dengan berkembangnya cerita maka aktor mendapatkan arahan laku lain yang bisa dicobakan. 3. sutradara mudah dalam membuat perencanaan blocking.2 Improvisasi Mementaskan teater secara improvisasi memiliki keunikan tersendiri. Sutradara perlu meluangkan waktu untuk melakukannya. Oleh karena tidak ada petunjuk arah laku yang jelas. Hal ini perlu dilakukan.* Arahan laku permainan dapat ditemukan dalam naskah. maka konflik dan penyelesaian lakon pasti. sutradara harus mengikutinya. konflik. konflik dan mengubah cara penyelesaian. Tergantung dari kekurangan sumber daya yang dimiliki. Misalnya. * Jika sumber daya yang dimiliki tidak sesuai dengan kehendak lakon harus dilakukan adaptasi. * Gambaran bentuk latar kejadian dapat ditemukan dalam naskah. maka adaptasi lakon harus dilakukan. Meskipun secara artistik tidak masalah. Di samping kelebihan tersebut di atas. pementasan teater berdasar naskah lakon juga memiliki kekurangan dan problem tersendiri. Jika ia tetap melakukannya. * Konflik dan penyelesaian tidak bekembang. Jika memaksakan kehendak harus sesuai dengan gagasan lakon. Karena tidak ada impovisasi. Pengembangan yang dilakukan hanyalah persoalan sudut pandang. Setelah konflik ini diselesaikan dengan cara yang khas dan lucu maka cerita kembali ke konflik semula. Dalam teater improvisasi gaya pementasan juga terbuka. Lakon telah menyediakan gambaran lengkap laku perisitiwa melalui dialog tokoh-tokohnya. Jika naskah lakon tersebut telah dipublikasikan dalam bentuk buku dan memiliki hak cipta maka sutradara bisa dituntut di muka hukum. Sutradara hanya menyediakan gambaran cerita selanjutnya aktor yang mengembangkannya dalam permainan. Jika sumber dana yang kurang maka tim poruduksi harus berusaha keras untuk memenuhi tuntutan tersebut.Dengan mempelajari naskah. Setuju atau tidak setuju terhadap cerita. * Arahan laku terbuka. Dengan ditentukannya arah laku maka kreativitas aktor di atas panggung menjadi terbatas. Sutradara dapat mengembangkan cerita dengan bebas dan aktor dapat mengembangkan kemungkinan gayapermainan dengan bebas pula. arahan laku permainan dari awal sampai akhir dapat ditemukan. Jika sutradara hendak mengembangkan cerita. * Tidak memungkinkan pengembangan cerita. Dalam teater tradisional. Gambaran ini sangat penting bagi sutradara untuk mewujudkannya di atas pentas. Terkadang hal ini dapat menimbulkan efek artistik yang alami dan menarik. maka sutradara telah melanggar kode etik dan hak karya artistik. * Kreativitas aktor terbatas. maka kerja sutradara akan semakin keras. sutradara telah mendapatkan gambarannya. tetapi karya teater menjadi karya sutradara. Kalaupun hendak melakukan adaptasi atau penyesuaian. * Konflik dan sudut pandang penyelesaian bisa dikembangkan. dalam pertunjukan ketoprak sebuah adegan dilakukan mengikuti kaidah gaya presentasional (adegan . maka sutradara memerlukan waktu ekstra untuk membimbing para aktornya. Pesan ini dengan luwes dapat diselipkan dalam lakon. * Fokus permasalahan telah ditentukan. dan penyelesaian konflik. ia harus mendapatkan ijin dari penulis naskah lakon. Dengan demikian. Sutradara menjadi mudah menentukan penekanan permasalahan lakon. Dalam proses latihan terkadang sutradara mendapat inspirasi dari laku aksi pemain demikian pula sebaliknya. Aktor tidak memiliki kebebasan penuh selain menerjemahkan konsep artistik sutradara. Sifat teater improvisasi yang terbuka memungkinkan pengembangan konflik dan penyelesaian.1. mereka biasanya menerima pesan tertentu dari penyelenggara.5. * Memungkinkan percampuran bentuk gaya. maka aktor dapat mengembangkannya. Jika sumber daya manusia (aktor) yang kurang. Cerita yang telah dituliskan oleh pengarang harus ditaati. Beberapa kelebihan pentas teater improvisasi adalah: * Kreativitas sutradara dan aktor dapat dikembangkan seoptimal mungkin. Terkadang untuk menyampaikan pesan titipan tersebut konflik minor baru dimunculkan.

* Durasi waktu tidak tertentu. Jika seorang aktor beraksi. kesalahan ucap atau penyampaian informasi tertentu bisa saja salah karena memang tidak dicatat dan hanya diingat garis besarnya saja.Semua tergantung dari improvisasi aktor di atas pentas. bisa jadi ia memasangkan aktor yang memilliki kemampuan tak berimbang dalam improvisasi. Karena sifatnya yang serba terbuka. maka kualitas dialog tidak bisa distandarkan.5. Sifat akting adalah aksi dan reaksi. sutradara akan kerepotan sendiri. Oleh karena setiap bentuk penyajian memiliki kekhasan dan membutuhkan prasyarat tertentu yang harus dipenuhi. Sutradara tidak bisa lagi mengendalikan jalannya pertunjukan. * Kemungkinan aktor melakukan kesalahan lebih besar. Karena tidak ada arahan dialog yang baku. lakon sebagai pengendali cerita maka dalam teater imrpovisasi aktor harus mampu mengendalikan jalannya cerita. * Cerita bisa disesuaikan dengan sumber daya yang dimiliki. tetapi jika jumlah pemain yang memiliki kemampuan laga banyak.Istana). Untuk itu. maka durasi pementasan bisa berubahubah. Jika pementasan sudah berjalan. maka cerita penuh aksi dapat dijadikan pilihan. Kekurangan dari pemotongan adegan ini adalah jika inti dialog (persoalan) belum sempat terucapkan maka inti dialog harus diucapkan pada adegan berikutnya. kemampuan setiap aktor pasti tidak sama. 3. teater improvisasi juga memiliki kekurangan yang patut diperhatikan oleh sutradara. tetapi bagi aktor yang kualitas sastranya pas-pasan hal ini menjadi masalah besar. Kemampuan sumber daya ini bisa dijadikan strategi untuk membuat pertunjukan menarik dan memiliki ciri khas tertentu. tetapi di adegan lain menggunakan gaya realis (adegan dagelan). Sutradara bisa memotong sebuah adegan yang berjalan cukup lama dengan membunyikan tanda agar musik dimainkan dan adegan segera diselesaikan. Jika tidak. dalam adegan tersebut aktor yang satu terlalu aktif dan yang lain pasif. Karena arahan laku yang terbuka maka reaksi ucapan sering dilakukan spontan dan belum tentu benar. * Improvisasi dialog tidak berimbang. Jika dalam teater berbasis naskah.5. maka sutradara wajib mempelajari dan memahami langkah-langkah dalam melaksanakannya. jika sutradara tidak jeli memahami hal ini. aktor bisa mengembangkan cerita dan gaya permainan di atas pentas dan sutradara tidak bisa lagi mengarahkan secara langung.2. Oleh karena cerita bisa dikembangkan. Di samping itu. latihan adegan tetap harus sering dilakukan. maka aktor lawan mainnya harus bereaksi. maka panggung sepenuhnya adalah milik aktor. Jika banyak pemain yang bisa melucu maka cerita komedi akan efektif. maka akan membosankan. Aktor mengambil tokoh penuh. Salah satu kelebihan utama teater improvisasi adalah cerita dan pemeran dapat dibuat berdasarkan sumber daya yang dimiliki. Oleh karena itu. Bagi aktor yang memiliki kemampuan sastra memadai tidak jadi masalah. Pencampuran gaya ini dimaksudkan untuk memenuhi selera penonton. Akibatnya.2 Menurut Bentuk Penyajian Banyaknya pilihan bentuk penyajian pementasan teater membuat sutradara harus jeli dalam menentukannya. meskipun improvisasi. Di balik semua kelebihan di atas.1 Teater Gerak . 3. Jika hal ini terjadi cukup lama. Dalam sebuah grup teater. * Kualitas dialog tidak dapat distandarkan. * Sutradara tidak bisa sepenuhnya mengendalikan jalannya pementasan.

maka maknanya akan kabur. maka teori komposisi dan koreografi dasar wajib dimiliki oleh sutradara. Jumlah pemain bisa disiasati dengan menambah perbendaharaan gerak. Karena bekerja dengan gerak. sutradara teater gerak harus mengerti kaidah musik ilustrasi. Ekspresi emosi atau karakter tokoh harus bisa diwujudkan melalui mimik para aktor. Kapan musik mengikuti gerak pemain. Menempatkan pemain dalam posisi dan gerak yang tepat akan membuat pertunjukan semakin menarik. pengaturan pemain perlu dilakukan. Sutradara harus bisa memainkan boneka tersebut. * Mewujudkan ekspresi melalui mimik para aktor. maka pengaturan blocking harus lebih teliti. Mengubah bahasa dalam simbol gerak tidaklah mudah. Meskipun rangkaian gerak yang dihasilkan sangat indah. Boneka wayang golek memiliki teknik permainan yang berbeda dengan boneka marionette yang dimainkan dengan tali. * Memahami komposisi dan koreografi. Jika tidak pintar mengelola. Memainkan boneka bisa saja dipelajari.Teater gerak lebih banyak membutuhkan ekspresi gerak tubuh dan mimik muka daripada wicara. Apalagi jika sudah menyangkut makna. kapan pemain harus menyesuaikan dengan alunan musik. Jika gerak terlalu sulit. Banyak jenis boneka dan masing-masing membutuhkan teknik khusus dalam memperagakannya. Di bawah ini beberapa langkah yang bisa dikerjakan oleh sutradara yang hendak mementaskan teater boneka. tetapi juga mengatur permainan boneka. maka karakter boneka harus benarbenar melekat sehingga pengendali . maka banyaknya jumlah pemain justru akan memenuhi panggung dan membuat suasana menjadi sesak. maka irama rampak gerak yang diharapkan bisa kacau. harus mempertimbangkan makna pesan. Penataan gerak tidak bisa dikerjakan dengan serampangan. maka dianjurkan untuk mengkreasi gerak sederhana yang mudah dilakukan. suasana. Ekspresi selalu menyangkut penghayatan dan konsentrasi. * Jika pemain sedikit maka motif gerak harus lebih variatif. Di bawah ini beberapa langkah yang bisa diambil oleh sutradara dalam menggarap teater gerak * Sutradara mampu mengeksplorasi dan menciptakan gerak. * Mengerti musik ilustrasi. * Mampu menghidupkan ekspresi boneka yang dimainkan. Mengisi suara sesuai karakter boneka menjadi prasyarat utama. terutama menyangkut komposisi. Motif gerak yang kaya akan membuat tampilan menjadi variatif dan menyegarkan. Pesan yang tidak disampaikan secara verbal membutuhkan keahlian tersendiri untuk mengelolanya.2. maka ekspresi mimik menjadi sangat penting. Meskipun tidak bisa memainkan musik. Jumlah pemain yang banyak menimbulkan persoalan tersendiri. dan terutama musik ilustrasinya. Biasanya seorang pemain boneka bisa membuat beberapa karakter suara yang berbeda. Boneka dua dimensi seperti wayang kulit memiliki teknik memainkan berbeda dengan boneka tiga dimensi seperti wayang golek. kapan musik hadir sebagai latar suasana. Untuk mendukung rangkaian gerak yang telah diciptakan. * Mampu memainkan boneka dengan baik. Jika jumlah pemain banyak dan harus bergerak secara serempak. dan perbedaannya harus dimengerti oleh sutradara. * Jika pemain dalam jumlah banyak. sutradara harus bisa mewujudkan bahasa verbal dalam simbol gerak. Sutrdara harus mampu mengeksplorasi dan menciptakan gerak sesuai dengan makna pesan yang hendak disampaikan. tetapi jika komposisi (tata letak) pemainnya tidak berubah akan melahirkan kejenuhan. 3. Kewajiban sutradara tidak hanya mengatur pemain manusia. Jika tidak. Simbol dan makna yang disampaikan melalui gerak harus dikerjakan dengan teliti. * Mampu mengisi suara sesuai dengan karakter boneka. * Mewujudkan bahasa dalam simbol gerak. Karena tokoh diperagakan oleh boneka. tetapi memberikan ekspresi hidup adalah hal yang lain.5.2 Teater Boneka Teater boneka memiliki karakter yang khas tergantung jenis boneka yang dimainkan. Oleh karena itu. Oleh karena keterbatasan bahasa verbal dalam pertunjukan teater gerak. Karakter suara harus bisa tampil secara konsisten dari awal hingga akhir pertunjukan.

maka efek dramatik yang diharapkan dari aksi aktor menjadi gagal.3 Teater Dramatik Mementaskan teater dramatik membutuhkan kerja keras sutradara terutama terkait dengan akting pemeran. semua harus tampak natural. tetapi juga menyangkut hal-hal teknis. Oleh karena itu.2. pengaturan adegan boneka disesuaikan dengan kemampuan pengendali. seorang pengendali biasanya hanya bisa mengendalikan maksimal dua boneka. Yang terpenting dan perlu dicatat adalah setiap boneka mempunyai karakter suaranya sendiri. maka pergantian adegan bisa semrawut sehingga para pemain kewalahan. Sisi kejiwaan yang menyangkut perasaan karakter tokoh harus dapat ditampilkan senatural mungkin sehingga penonton menganggap hal itu benar-benar nyata terjadi. Jika dianalogikan dengan nilai 1 sampai dengan 10. * Jika pemain sedikit harus memiliki kemampuan mengisi suara dengan karakter yang berbeda. Keluar masuknya boneka di atas pentas berkaitan langsung dengan pengendali bonekanya.boneka seolah-olah bisa memberikan nafas hidup di dalamnya. Jika lakon yang dimainkan membutuhkan banyak tokoh. maka pengaturan adegan harus dikerjakan dengan teliti. aktor diharuskan berakting tetapi seolah-olah ia tidak berakting melainkan melakukan kenyataan hidup. Selain itu. Jika sutradara tidak memahami kejiwaan * karakter tokoh dengan baik maka penilaiannya terhadap kualitas penghayatan aktor pun kurang baik. tidak dibuat-buat. Sutradara harus memahami bobot tegangan (tensi) dramatik dalam setiap adegan yang ada pada lakon. maka sutradara harus menetapkan tegangan optimal dan minimal. maka penampilan boneka yang terlalu banyak juga akan merepotkan para pengendalinya. maka sutradara harus benar-benar jeli dalam menilai setiap aksi para aktor. Hal yang paling sulit dilakukan oleh sutradara adalah membongkar kejiwaan karakter tokoh dan mewujudkannya dalam laku aktor di ataspentas. Demikian juga dengan suasana kejadian. maka aktor akan kesulitan meninggikan tegangan pada saat klimaks. Jika tidak ada kerjasama yang baik antarpemain (pengendali boneka). 3. Tempat pertunjukan teater boneka yang terbatas harus disesuaikan dengan jumlah boneka yang tampil. Dalam teater boneka kerjasama antarpemain tidak hanya menyangkut emosi. Oleh karena tuntutan pertunjukan teater dramatik yang mensyaratkan laku aksi seperti kisah nyata. Di sinilah letak kesulitannya. . Jika pada bagian awal konflik tegangan terlalu tinggi. Hasil akhirnya adalah anti klimaks di mana pada adegan yang seharusnya memiliki tensi tinggi justru melemah karena energi para aktornya telah habis. Jumlah pengendali boneka yang sedikit tidak masalah asal setiap orang mampu menciptakan beberapa karakter suara. * Mampu membangun kerjasama antarpemain boneka. * Jika pemain boneka banyak maka harus mampu mengatur adegan agar pergerakan boneka tidak saling mengganggu. sutradara harus dapat menentukan metode yang tepat agar para aktornya dapat memahami. Banyak sutradara yang mengadakan semacam pemusatan latihan dalam kurun waktu yang cukup lama dengan tujuan agar para aktornya berada dalam suasana lakon yang akan dipentaskan. Beberapa langkah yang dapat dikerjakan oleh sutradara dalam menggarap teater dramatik adalah sebagai berikut. menghayati dan memerankan karakter dengan baik. Berkaitan dengan karakter tokoh. sehingga ketika dalam adegan tertentu membutuhkan tegangan yang lebih aktor masih bisa mengejarnya. * Memahami tensi dramatik (dinamika lakon). * Mampu meningkatkan kualitas pemeranan aktor untuk menghayati tokoh secara optimal. * Memahami sisi kejiwaan karakter tokoh. Angka tertinggi dari deret tegangan yang harus dicapai oleh aktor adalah 8 atau 9. Boneka yang dimainkan dengan hidup akan menarik dan tampak nyata. Jika demikian. bijaksanalah dalam menentukan tegangan dramatik adegan dan buatlah klimaks yang mengesankan dan penyelesaian yang dramatis. Laku lakon dari awal sampai akhir mengalami dinamika atau ketegangan yang turun naik. Intinya.5. Untuk menghindari hal tersebut sutradara harus benar-benar teliti dalam mengukur tegangan dramatik adegan per adegan dalam lakon.

Teater dramatik adalah teater yang mencoba meniru peristiwa kehidupan secara total dan sempurna. * Mampu membuat gerak. * Mengerti lagu dan nyanyian. Banyak penyanyi yang memiliki suara baik tetapi ekspresinya datar. Jika karya drama musikal tersebut berawal dari karya musik murni (musik yang bercerita) seperti The Cats karya Andrew Lloyd Webber. maka sutradara harus benar-benar piawai dalam mengolah visualisasinya di atas pentas. * Membuat penonton terkesima dengan pertunjukan tidaklah mudah. tetapi makna dan atau simbolisasi cerita harus benar-benar bisa diwujudkan dalam gerak tarian yang dilakukan. tokoh musik bisa menjadi pengiring lagu yang bercerita. Makna cerita sepenuhnya dituangkan dalam wujud gerak. maka sutradara harus mampu menciptkan koreografinya. Dituntut kepiawaian sutradara dalam memilih dan merangkai motif gerak.6 Blocking . tetapi memahami karya musik merupakan keharusan dalam drama musikal. jika melakonkan cerita yang sedih ukuran keberhasilannya adalah membuat penonton ikut terhanyut sedih. Tokohan musik sangat doniman dalam drama musikal bahkan musik bisa hadir secara mandiri untuk menceritakan sesuatu. Memilih pelaku yang tepat dan membuat komposisi atau koreografi berdasar karya musik yang ada. komposisi. dan koreografi. lagu.* Mampu menghadirkan laku cerita seperti sebuah kenyataan hidup. 3. Meskipun sutradara bekerja dengan seorang koreografer. pengiring gerak. maka penonton harus dibawa dalam suasana yang suka-ria.4 Drama Musikal Kemampuan multi harus dimiliki oleh seorang sutradara jika hendak mementaskan drama musikal. Artinya. Tokohan dialog verbal yang digubah dalam bentuk lagu dan diucapkan melalui nyanyian adalah satu hal yang membutuhkan perhatian tersendiri. Koreografer bisa saja mencipta gerak. dan musikal harus dirangkai secara harmonis untuk mencapai hasil maksimal. demikian pula sebaliknya. Demikian pula dengan cerita suka-ria. Ketepatan nada dalam nyanyian serta ekspresi wajah ketika menyanyi juga tidak boleh luput dari pengamatan. Dalam hal ini musik bertindak sebagai pengiring. Ekspresi cerita melalui nadanada musik harus benar-benar bisa divisualisasikan dengan tepat. Dalam teater dramatik.5.2. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sutradara dalam drama musikal adalah sebagai berikut. dan ilustrasi suasana kejadian. Kejanggalan-kejanggalan kecil yang dirasa kurang masuk akal oleh penonton akan mengurangi kualitas dramatika lakon yang dihadirkan. Kepiawaian sutradara dalam menentukan kegunaan karya musik yang satu dengan yang lain benarbenar dibutuhkan. Jadi. Untuk mencapai hasil maksimal maka kejelian sutradara dalam mengamati dan menangani keseluruhan unsur pertunjukan sangat dibutuhkan. Bahasa ungkap yang beragam antara bahasa verbal. Pada adegan dimana musik bercerita secara mandiri maka sutradara harus mampu memvisualisasikan cerita tersebut di atas pentas. hindarilah kesalahan atau hal yang tidak lumrah dan berada di luar jangkauan nalar penonton. musik itu sendiri sudah bercerita sehingga pemain atau penari yang berada di atas panggung hanyalah pelengkap gambaran peristiwa. Pada adegan lain. tetapi pada akhirnya sutradara yang memutuskan. Langkah pamungkas yang dapat dijadikan patokan adalah menghadirkan pentas seperti sebuah kenyataan hidup. Sutradara harus mampu memecahkan masalah dasar tersebut. * Mampu membuat gerak dan ekspresi berdasar karya musik. gerak. * Mengerti karya musik dramatik. 3. Dalam satu adegan saat cerita diungkapkan melalui gerak. Sutradara tidak harus bisa memainkan musik. Lagu dan nyanyian harus bisa ditampilkan secara baik dan harmonis.

Jika blocking dibuat terlalu rumit. blocking dapat mempertegas isi kalimat tersebut. maka perlu diperhatikan agar blocking yang dibuat tidak terlalu rumit.1 Pembagian Area Panggung Gambar Pembagian sembilan area panggung UL UC UR CL L CR DL DC DR UR = Atas Kanan. Blocking dapat diartikan sebagai aturan berpindah tempat dari titik (area) satu ke titik (area) yang lainnya bagi aktor di atas panggung. yaitu tengah. sehingga lalulintas aktor di atas panggung berjalan dengan lancar. DL = Bawah Kiri Untuk membuat atau merencanakan blocking bagi para pemain. maka karakter tokoh yang dimainkan oleh para aktor akan tampak lebih hidup. bawah kanan tengah. kiri. bawah tengah. DC = Bawah Tengah. Untuk mendapatkan hasil yang baik. LC = Tengah Kiri. Di samping itu. UL = Atas Kiri. * Memberikan pondasi yang praktis bagi aktor untuk membangun karakter dalam pertunjukan. perlu diketahui terlebih dahulu pembagian area panggung. Bukan hanya akting tetapi juga blocking. bawah kiri tengah. tengah kanan.Sutradara diwajibkan memahami cara mengatur pemain di atas pentas. RC = Tengah Kanan. Yang terpenting dalam hal ini adalah fokus atau penekanan bagian yang akan ditampilkan. Fungsi blocking secara mendasar adalah sebagai berikut. Dengan blocking yang tepat.6. DR = Bawah Kanan. maka perpindahan dari satu aksi menuju aksi yang lain menjadi kabur. kalimat yang diucapkan oleh aktor menjadi lebih mudah dipahami oleh penonton. kanan. 3. Jika blocking dikerjakan dengan baik. bawah kanan. UC = Atas Tengah. Panggung pertunjukan secara kompleks dibagi dalam lima belas area. bawah . tengah kiri. C = Tengah. Secara mendasar blocking adalah gerakan fisik atau proses penataan (pembentukan) sikap tubuh seluruh aktor di atas panggung. * Menerjemahkan naskah lakon ke dalam sikap tubuh aktor sehingga penonton dapat melihat dan mengerti. * Menciptakan lukisan panggung yang baik.

2. 3. bawah kanan. maka hal ini akan menimbulkan pemandangan yang kurang menarik dan jika hal ini berlangsung lama. Pembagian sembilan area juga memudahkan sutradara dalam memberikan arah gerak kepada para aktornya.6. yaitu komposisi simetris dan komposisi asimetris yang ditata dengan mempertimbangkan keseimbangan.2. Pengaturan posisi pemain seperti ini dilakukan agar semua pemain di atas pentas dapat dilihat dengan jelas oleh penonton. dan tinggirendah pemain dalam keadaan diam (statis). Hal ini diperlukan untuk memenuhi ruang dan menghindari komposisi aktor yang berat sebelah. Keseimbangan adalah pengaturan atau pengelompokan aktor di atas pentas yang ditata sedemikian rupa sehingga tidak menghasilkan ketimpangan. 3. Letak kanan dan kiri atau atas dan bawah ditentukan berdasar pada arah hadap aktor ke penonton. Di bawah ini adalah contoh komposisi simetris. 3. bawah tengah. Secara sederhana dan umum panggung dibagi sembilan area. atas tengah. Bedanya.kiri. tengah kiri. blocking memiliki arti yang lebih luas karena setiap gerak. atas kanan. perpindahan pemain serta perubahan posisi pemain dapat disebut blocking.6.2.2 Komposisi Komposisi dapat diartikan sebagai pengaturan atau penyusunan pemain di atas pentas.2 Asimetris Komposisi asimetris tidak membagi pemain dalam dua bagian yang sama persis. maka luas masing-masing area akan terlalu sempit sehingga tidak memungkinkan sebuah pergerakan yang leluasa baik untuk pemain maupun perabot. Kanan adalah kanan pemain dan bukan kanan penonton dan kiri adalah kiri pemain. Ada dua ragam komposisi pemain. Bagian yang satu merupakan cerminan bagian yang lain.6. atas kanan. Sedangkan komposisi. atas tengah. pose. atas kanan tengah. Pembagian panggung dalam lima belas area ini biasanya digunakan untuk panggung yang berukuran besar. dan atas kiri. dan atas kiri. yaitu tengah. tetapi membagi pemain dalam dua bagian atau lebih dengan tujuan memberi penonjolan (penekanan) bagian tertentu. arah laku.3 Keseimbangan Dalam menata komposisi pemain di atas pentas hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah keseimbangan. sedangkan kanan adalah posisi kanan arah hadap aktor atau sisi kiri penonton. atas kiri tengah. maka penonton akan menjadi jenuh. sedangkan bawah adalah jarak terdekat dengan penonton. Sekilas komposisi mirip dengan blocking. Atas adalah jarak terjauh dari penonton. tengah kanan. 3.1 Simetris Komposisi simetris adalah komposisi yang membagi pemain dalam dua bagian dan menempatkan bagianbagian tersebut dalam posisi yang benar-benar sama dan seimbang. Panggung yang tidak terlalu luas jika dibagi menjadi lima belas area. . lebih mengatur posisi. bawah kiri.6. Jika salah satu ruang dibiarkan kosong sementara ruang yang lain terisi penuh. Jika digambarkan komposisi ini mirip cermin.

3.6. * Kurangilah menempatkan pemain dalam posisi menghadap lurus ke arah penonton atau menyamping penuh. Usahakan pemain menghadap diagonal (kurang lebih 45 derajat) ke arah penonton. Hal ini mempertegas laku aksi yang sedang dikerjakan. Setiap aktivitas. * Jangan pernah memegang benda atau piranti tangan di depan wajah ketika sedang berbicara. * Gunakan lengan atau tangan panggung atas (yang jauh dari mata penonton) untuk menunjuk ke arah panggung atas dan gunakan lengan atau tangan panggung bawah (yang dekat dengan mata penonton) untuk menunjuk ke panggung bawah. Membagi arah pandangan ini sangat penting untuk menegaskan dan memberi kejelasan ekspresi karakter kepada penonton. Jika yang dilakukan sebaliknya. Hal ini dapat dikerjakan dengan menempatkan pemain dalam posisi dan situasi tertentu sehingga ia lebih menonjol atau lebih kuat dari yang lainnya. prinsip-prinsip dasar di bawah ini dapat digunakan sebagai petunjuk dalam menempatkan posisi dan mengatur pose pemain. * Usahakan agar para aktor saling menatap (berkontak mata) pada saat mengawali dan mengakhiri dialog (percakapan).1 Prinsip Dasar Pada dasarnya fokus adalah membuat pemain menjadi terlihat jelas oleh mata penonton.6. maka kaki yang jauh akan tertutup dan wajah pemain secara otomatis akan menjauh dari mata penonton. karena hal ini akan menutupi suara dan pandangan penonton. Hal ini menjadikan gerak pemain kurang terlihat dengan jelas. . usahakan untuk berbicara kepada penonton atau kepada aktor lain yang berada di atas panggung. pengaturan blocking harus mempertimbangkan pusat perhatian (fokus) penonton.3. Jika melangkah dengan kaki panggung bawah (yang dekat dari mata penonton). Oleh karena itu. Menghadap lurus ke arah penonton akan memberikan efek datar dan kurang memberikan dimensi kepada pemain. Oleh karena itu. Selebihnya. maka dimensi dan keutuhan tubuh pemain akan dilihat dengan jelas oleh mata penonton. Dengan menghadap secara diagonal. Jika tangan yang digunakan adalah tangan yang tidak menganggu pandangan penonton.3 Fokus Dalam mengatur blocking. karakter. perubahan ekspresi dan aksi di atas pentas harus dapat ditangkap mata penonton dengan jelas. sedangkan menyamping penuh akan menyembunyikan bagian tubuh yang lain. maka awali dan akhiri langkah tersebut dengan kaki panggung atas (yang jauh dari mata penonton). maka gerak laku aktor dalam menggunakan telepon akan kelihatan. * Jika pemain hendak melangkah. hal yang paling utama untuk diperhatikan sutradara adalah perhatian penonton.3. maka gerakan lengan dan tangan akan menutupi bagian tubuh lain.

2 OLAH SUARA Suara adalah unsur penting dalam kegiatan seni teater yang menyangkut segi auditif atau sesuatu yang berhubungan dengan pendengaran. Mengetahui denyut nadi sebelum latihan fisik dianjurkan karena berhubungan dengan kerja jantung. yaitu hasil getaran udara yang datang dan menyentuh selaput gendang telinga. Cara penghitungan denyut nada yang ada di pergelangan tangan. latihan inti. Latihanlatihan olah tubuh dapat dilakukan dengan tahap-tahap sebagai berikut. suara mempunyai tokohan penting. atau penghitungan dilakukan selama sepuluh detik dan hasilnya dikalikan enam. Suara adalah lambang komunikasi yang dijadikan media untuk mengungkapkan rasa dan buah pikiran. yaitu latihan pemanasan. Cara untuk menghitung denyut nadi. karena digunakan sebagai bahan komunikasi yang berwujud dialog. Untuk itu seorang pemeran harus menjaga kelenturan peralatan tubuhnya. Selama menghitung denyut nadi mata selalu melihat jam (jam tangan maupun jam dinding yang ada di dalam ruangan). dan latihan pendinginan. Latihan inti. suara dijadikan kata dan kata-kata disusun menjadi frasa serta kalimat yang semuanya dimanfaatkan dengan aturan tertentu yang disebut gramatika atau paramasastra. Prosesnya. suara tidak hanya dilontarkan begitu saja tetapi dilihat dari keras lembutnya. Dalam kenyataannya. yaitu dengan meletakkan jari tengah di atas pergelangan tangan dalam segaris dengan ibu jari atau jari jempol. 4. Penghitungan dilakukan selama enam detik dan hasilnya dikalikan sepuluh. Latihan pemanasan (warm-up). dan cepat lambatnya sesuai .1 Latihan Olah Tubuh Latihan olah tubuh melatih kesadaran tubuh dan cara mendayagunakan tubuh. Penghitungan denyut nadi yang ada dipergelangan tangan lebih dianjurkan untuk menghasilkan perhitungan yang tepat. Dalam kegiatan teater.1 Persiapan Sebelum melakukan latihan harus memperhatikan denyut nadi. Suara dihasilkan oleh proses mengencang dan mengendornya pita suara sehingga udara yang lewat berubah menjadi bunyi. Pemilihan kata-kata memiliki tokohan dalam aturan yang dikenal dengan istilah diksi.1. suara dan bunyi itu sama. Karena itu dia harus mempersiapkan dirinya secara utuh penuh baik fisik maupun psikis. Akan tetapi. yaitu dengan menghitung denyut nadi yang ada di leher atau denyut nadi yang ada di pergelangan tangan dalam. yaitu serial pendek gerakan tubuh untuk mengembalikan kesegaran tubuh setelah menjalani latihan inti. 4. Unsur dasar bahasa lisan adalah suara. dalam konvensi dunia teater kedua istilah tersebut dibedakan. Olah tubuh dilakukan dalam tiga tahap. Suara merupakan produk manusia untuk membentuk katakata. yaitu serial latihan gerakan tubuh untuk meningkatkan sirkulasi dan meregangkan otot dengan cara bertahap. sedangkan bunyi merupakan produk benda-benda.Dasar-dasar Teater (4/6): Seni Berperan dalam Teater Aktor merupakan manusia yang mengorbankan dirinya untuk menjadi orang lain. Latihan pendinginan atau peredaan (warm-down). yaitu serial pokok dari inti gerakan yang akan dilatihkan. Dialog merupakan salah satu daya tarik dalam membina konflik-konflik dramatik. Selanjutnya. * Pemanasan * Latihan ketahanan * Latihan Kelenturan * Latihan ketangkasan * Latihan pendinginan * Latihan relaksasi 4. Kegiatan mengucapkan dialog ini menjadi sifat teater yang khas. tinggi rendahnya.

Latihan-latihan untuk melenturkan peralatan suara dapat dilakukan menggunakan tahap-tahap sebagai berikut. Misalnya. maka nilai yang terkandung tidak dapat dikomunikasikan kepada penonton. Ketika pemeran mengucapkan dialog harus mempertimbangkan pikiran-pikiran penulis. Misalnya. Ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh seorang pemeran tentang fungsi ucapan. sehingga secara tidak sadar mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya tidak dikehendaki. nada suara yang terlontarkan. “Yah. Bahasa tubuh bisa berdiri sendiri. Suara merupakan unsur yang harus diperhatikan oleh seseorang yang akan mempelajari teater. Itulah yang disebut intonasi. * Melengkapi variasi. Kata-kata yang membawa informasi yang bermakna. Maksud tersembunyi seperti itu disebut subtext. ”. Banyak lagi contoh yang menunjukkan tentang makna suara. Makna katakata dipengaruhi oleh nada. menunjukkan maksud memuji atau sebenarnya ingin mengatakan. marah. * Mengendalikan perasaan penonton seperti yang dilakukan oleh musik. misalnya: umur. bisa juga bahasa tubuh sebagai penguat bahasa verbal. Proses pengucapan dialog mempengaruhi ketersampaian pesan yang hendak dikomunikasikan kepada penonton. Akan tetapi. kedudukan sosial. Maka. memang. dalam situasi tertentu tidak mampu mengungkapkan maksud yang sebenarnya. * Persiapan * Pemanasan * Senam Wajah * Senam Lidah * Senam Rahang Bawah * Latihan Tenggorokan * Berbisik * Bergumam * Bersenandung * Latihan Pernafasan * Latihan Kejelasa Diksi * Intonasi * Jeda * Tempo * Nada * Wicara * Ditutup dengan relaksasi . Hal ini merupakan kesalahan fatal bagi seorang pemeran. Dialog yang diucapkan oleh seorang pemeran mempunyai tokohan yang sangat penting dalam pementasan naskah drama atau teks lakon. kamu sekarang sudah hebat. * Ucapan yang dilontarkan oleh pemeran bertujuan untuk menyalurkan kata dari teks lakon kepada penonton. Ekspresi yang disampaikan melalui nada suara membentuk satu pemaknaan berkaitan dengan kalimat dialog... dalam arti tidak dibarengi dengan bahasa verbal. kalimat.. yaitu bahasa tubuh dan bahasa verbal yang berupa dialog. * Memberi arti khusus pada kata-kata tertentu melalui modulasi suara. * Memuat informasi tentang sifat dan perasaan tokoh. putus asa.dengan situasi dan kondisi emosi. Jika lontaran dialog tidak sesuai sebagaimana mestinya. Jika pemeran melontarkan dialognya hanya sekedar hasil hafalan saja. dan sebagainya. kekuatan. Hal ini disebabkan karena dalam dialog banyak terdapat nilai-nilai yang bermakna. kegembiraan. yaitu sebagai berikut. “kamu belum bisa apa-apa”. Seorang pemeran dalam pementasan teater menggunakan dua bahasa. maka dia mencabut makna yang ada dalam kata-kata..

Jika berlawanan dengan bahasa verbal akan mengurangi kekuatan komunikasi. Bahasa ini mendukung dan berpengaruh dalam proses komunikasi. Maka. Seorang pemeran harus memahami bahasa tubuh. Ada juga yang mengatakan bahwa gesture adalah bentuk komunikasi non verbal yang diciptakan oleh bagian-bagian tubuh yang dapat dikombinasikan dengan bahasa verbal. Makin menarik pusat perhatian. yaitu tokoh yang dimainkan. makin tinggi kesanggupan memusatkan perhatian. Kalau pemeran dengan tingkat konsentrasi yang rendah maka dia tidak akan dapat menyakinkan penonton. tetapi juga harus memberikan respon terhadap ekspresi tokoh lain. Terlebih dalam konteks aksi dan reaksi. dan imajinasi.2 Gesture Gesture adalah sikap atau pose tubuh pemeran yang mengandung makna. Oleh karena itu. Bahasa tubuh dilakukan oleh seseorang terkadang tanpa disadari dan keluar mendahului bahasa verbal. Akan tetapi. Seorang pemeran harus dapat mengontrol tubuhnya setiap saat. Seorang pemeran tidak hanya memikirkan ekspresi karakter tokoh yang ditokohkan saja. Tugas yang lain adalah memberikan reaksi. Dengan konsentrasi pemeran akan dapat mengubah dirinya menjadi orang lain. Banyak pemeran yang hanya mementingkan ekspresi yang ditokohkan sehingga dalam benaknya hanya melakukan aksi. Latihan gesture dapat digunakan untuk mempelajari dan melahirkan bahasa tubuh. latihan-latihan yang mendukung kepekaan rasa perlu dilakukan. Padahal akting adalah kerja aksi dan reaksi.3. sedangkan kalau selaras dengan bahasa verbal akan menguatkan proses komunikasi.1 Konsentrasi Pengertian konsentrasi secara harfiah adalah pemusatan pikiran atau perhatian. Pusat perhatian seorang pemeran adalah sukma atau jiwa tokoh atau karakter yang akan dimainkan. Dunia ini harus diwujudkan menjadi sesuatu yang seolah-olah nyata dan dapat dinikmati serta menyakinkan penonton.3 OLAH RASA Pemeran teater membutuhkan kepekaan rasa. cenderung dapat merusak proses pemeranan. baik bahasa tubuh budaya sendiri maupun bahasa tubuh budaya lainnya. Latihan olah rasa dimulai dari konsentrasi. tetapi juga perasaan terhadap karakter lawan main. Langkah awal yang perlu diperhatikan adalah mengasah kesadaran dan mampu menggunakan tubuhnya dengan efisien. Tujuan dari konsentrasi ini adalah untuk mencapai kondisi kontrol mental maupun fisik di atas panggung. 4. Pemakaian gesture ini mengajak seseorang untuk menampilkan variasi bahasa atau bermacam-macam cara mengungkapkan perasaan dan pemikiran. Dunia teater adalah dunia imajiner atau dunia rekaan.3. Seorang pemeran yang hanya melakukan aksi berarti baru mengerjakan separuh dari tugasnya. Dunia tidak nyata yang diciptakan seorang penulis lakon dan diwujudkan oleh pekerja teater.4. Dengan demikian. Ada korelasi yang sangat dekat antara pikiran dan tubuh. 4. Misalnya seorang pemeran melihat sesuatu yang menjijikan (meskipun sesuatu itu tidak ada di atas pentas) maka ia harus menyakinkan kepada penonton bahwa sesuatu yang dilihat benar-benar menjijikkan. Dalam menghayatai karakter tokoh. semua emosi tokoh yang ditokohkan harus mampu diwujudkan. Kekuatan pemeran untuk mewujudkan dunia rekaan ini hanya bias dilakukan dengan kekuatan daya konsentrasi. Segala sesuatu yang mengalihkan perhatian seorang pemeran. konsentrasi menjadi sesuatu hal yang penting untuk pemeran. mempelajari gesture. gesture tidak dapat . latihan olah rasa tidak hanya berfungsi untuk meningkatkan kepekaan rasa dalam diri sendiri.

3.3 Imajinasi Imajinasi adalah proses pembentukan gambaran-gambaran baru dalam pikiran. tidak pernah ada. * Pikiran bisa disuruh untuk mempertanyakan segala sesuatu. maka akan memunculkan gambaran pengandaiannya. gesture dengan badan. * Imajinasi tidak akan muncul dengan pikiran yang pasif. dan apa. bagi orangtokohcis artinya nol. Baik hal yang logis maupun yang tidak logis. gesture harus disadari dan diciptakan sebagai penguat komunikasi dengan bahasa verbal. Sedang beberapa orang menggunakan gesture sebagai tambahan dalam kata-kata ketika melakukan proses komunikasi. tetapi harus dibujuk untuk bisa digunakan. Usaha menjawab pertanyaan itu akan membawa pikiran untuk mengimajinasikan sosok Hamlet. Sebagai seorang pemeran. seorang pemeran juga harus berimajinasi tentang pengalaman hidup tokoh yang akan dimainkan. dan gesture dengan kaki. Misalnya. mengangguk tandanya tidak setuju sedangkan mengeleng artinya setuju. Sedangkan bahasa tubuh dengan kaki adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi dan bagaimana meletakkan kaki. dengan mempelajari bahasa tubuh. tetapi harus dengan pikiran yang aktif. “siapakah Hamlet itu?”. Dengan berpikir. Bahasa tubuh semacam respon atau impuls dalam batin seseorang yang keluar tanpa disadari. * Imajinasi tidak bisa dipaksa. dimana gambaran tersebut tidak pernah dialami sebelumnya. Sifat bahasa tubuh adalah tidak universal. Hal ini berlawanan dengan bangsa-bangsa lain. Jadi bahasa tubuh harus dipahami oleh pemeran sebagai pendukung bahasa verbal. bagi orang Yunani berarti penghinaan. Bahasa tubuh dengan kepala dan wajah adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi kepala maupun ekspresi wajah. maka akan terjadi proses imajinasi. Tangan mengacung dengan jari telunjuk dan jempol membentuk lingkaran. gesture dengan kepala dan wajah. Objek berfungsi untuk menstimulasi atau merangsang pikiran. Imajinasi tidak akan muncul jika direnungkan tanpa suatu objek yang menarik. orang India. sedangkan fantasi membuat hal-hal yang tidak ada. Misalnya. Melatih imajinasi sama dengan memperkerjakan pikiran-pikiran untuk terus berpikir. Belajar imajinasi harus menggunakan plot yang logis. Macam-macam gesture yang dapat dipahami orang lain adalah gesture dengan tangan. Belajar imajinasi dapat menggunakan fungsi ”jika” atau dalam istilah metode pemeranan Stanislavski disebut magic-if. siapa. Selain itu. Hal-hal yang perlu diketahui ketika berlatih imajinasi. . 4. maka pikiran dipaksa untuk menjawab pertanyaan tersebut. akan diketahui tanda kebohongan atau tanda-tanda kebosanan pada proses komunikasi yang sedang berlangsung. Dengan stimulus pertanyaan-pertanyaan atau menggunakan stimulus ”seandainya”. Bahasa tubuh atau gesture dengan tangan adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi maupun gerak kedua tangan. Manfaat mempelajari dan melatih gesture adalah mengerti apa yang tidak terkatakan dan yang ada dalam pikiran lawan bicara. dan tidak akan pernah ada. Bahasa tubuh yang tercipta oleh kedua tangan merupakan bahasa tubuh yang paling banyak jenisnya. Untuk membangkitkan imajinasi tokoh gunakan pertanyaan. Latihan imajinasi bagi pemeran berfungsi mengidentifikasi tokoh yang akan dimainkan. dan jangan menggambarkan suatu objek yang tidak pasti (perkiraan). Selain itu. Bahasa tubuh dengan tubuh adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh pose atau sikap tubuh seseorang.menggantikan bahasa verbal sepenuhnya. dimana. * Imajinasi menciptakan hal-hal yang mungkin ada atau mungkin terjadi. tetapi bagi orang Amerika artinya bagus.

1 TATA PANGGUNG Tata panggung disebut juga dengan istilah scenery (tata dekorasi).2 Jenis-jenis Panggung Panggung adalah tempat berlangsungnya sebuah pertunjukan dimana interaksi antara kerja penulis lakon.maka penonton akan dengan mudah melihatnya. detil perabot yang diletakkan di atas panggung harus benar-benar sempurna sebab jika tidak maka cacat sedikit saja akan nampak. dan penempatannya. Untuk memperoleh hasil terbaik. dan panggung arena. Segala perabot yang digunakan dalam panggung arena harus benar-benar dipertimbangkan dan dicermati secara hati-hati baik bentuk. Berbeda dengan panggung yang penontonnya hanya satu arah dari depan. penata panggung dapat merancangkan karyanya berdasar lakon yang akan disajikan dengan baik. ukuran. Di atas panggung inilah semua laku lakon disajikan dengan maksud agar penonton menangkap maksud cerita yang ditampilkan. tetapi segala tata letak perabot atau piranti yang akan digunakan oleh aktor disediakan oleh penata panggung. maka penata panggung dituntut kreativitasnya untuk mewujudkan set dekor. Perbedaan jenis panggung ini dipengaruhi oleh tempat dan zaman dimana teater itu berada serta gaya pementasan yang dilakukan. sebelum melaksanakan penataan panggung seorang penata panggung perlu mempelajari panggung pertunjukan. di atas panggung diletakkan kursi dan meja berukir. Panggung arena biasanya dibuat secara terbuka (tanpa atap) dan tertutup. Misalnya.1. Seperti telah disebutkan di atas bahwa banyak sekali jenis panggung tetapi dewasa ini hanya tiga jenis panggung yang sering digunakan. dalam panggung yang penontonnya melingkar. Untuk menyampaikan maksud tersebut pekerja teater mengolah dan menata panggung sedemikian rupa untuk mencapai maksud yang dinginkan.1 Arena Panggung arena adalah panggung yang penontonnya melingkar atau duduk mengelilingi panggung. Dengan memahami bentuk dari masingmasing panggung inilah. Ketiganya adalah panggung proscenium. sutradara. . Tidak hanya sekedar dekorasi (hiasan) semata. kehendak artistik sutradara. seni teater memiliki berbagai macam jenis panggung yang dijadikan tempat pementasan.Dasar-dasar Teater (5/6): Seni Rupa dalam Teater 5. membutuhkan tata letak perabot yang dapat enak dilihat dari setiap sisi. Karena jaraknya yang dekat. penata panggung diharuskan memahami karakter jenis panggung yang akan digunakan serta bagian-bagian panggung tersebut. 5. Misalnya. 5. dan panggung tempat pementasan dilaksanakan. Gambaran tempat kejadian lakon diwujudkan oleh tata panggung dalam pementasan.1 Mempelajari Panggung Dalam sejarah perkembangannya.1.berbeda satu dengan yang lain . Bentuk panggung yang berbeda memiliki prinsip artistik yang berbeda. 5. Inti dari pangung arena baik terbuka atau tertutup adalah mendekatkan penonton dengan pemain. Kedekatan jarak ini membawa konsekuensi artistik tersendiri baik bagi pemain dan (terutama) tata panggung. Jika bentuk ukiran yang ditampilkan tidak nampak sempurna . Oleh karena itu. Penataan panggung disesuaikan dengan tuntutan cerita. Hal ini mempengaruhi nilai artistik pementasan. Penonton sangat dekat sekali dengan pemain. panggung thrust.1. Karena bentuknya yang dikelilingi oleh penonton. Semua ditata agar enak dipandang dari berbagai sisi. Agar semua pemain dapat terlihat dari setiap sisi maka penggunaan set dekor berupa bangunan tertutup vertikal tidak diperbolehkan karena dapat menghalangi pandangan penonton. dan aktor ditampilkan di hadapan penonton.2.

terutama pada panggung arena dimana lukisan dekor atau bentuk bangunan vertikal tertutup seperti dinding atau kamar (karena akan menghalangi pandangan sebagian penonton) tidak memungkinkan diletakkan di atas panggung. Aspek kedekatan inilah yang dieksplorasi untuk menimbulkan daya tarik penonton. Tata panggung pun sangat diuntungkan dengan adanya jarak dan pandangan satu arah dari penonton.2. Kedekatan jarak antara pemain dan penonton dimanfaatkan untuk melakukan komunikasi langsung di tengahtengah pementasan yang menjadi ciri khas teater tersebut. Beberapa pengembangan desain dari teater arena melingkar dilakukan sehingga bentuk teater arena menjadi bermacammacam. Perspektif dapat ditampilkan dengan memanfaatkan kedalaman panggung (luas panggung ke belakang). Gambar dekorasi dan perabot tidak begitu menuntut kejelasan detil sampai hal-hal terkecil. bingkai proscenium menjadi batas tepinya.Lepas dari kesulitan yang dihadapi. Jarak antara penonton dan panggung adalah jarak yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan gambaran kreatif pemangungan. Jarak yang sengaja diciptakan untuk memisahkan pemain dan penonton ini dapat digunakan untuk menyajikan cerita seperti apa adanya. Pesona inilah yang membuat penggunaan panggung proscenium bertahan sampai sekarang. Selain merencanakan gambar dekor. Banyak usaha yang dilakukan untuk mendekatkan pertunjukan dengan penonton. Tata cahaya yang memproduksi sinar dapat dihadirkan dengan tanpa terlihat oleh penonton dimana posisi lampu berada. Karena keseluruhan objek yang ada di atas panggung dan digunakan oleh aktor membentuk satu lukisan secara menyeluruh. Tata perabot kemudian menjadi unsur pokok pada tata panggung arena. Aktor dapat bermain dengan leluasa seolah-olah tidak ada penonton yang hadir melihatnya. 5. Pemisahan ini dapat membantu efek artistik yang dinginkan terutama dalam gaya realisme yang menghendaki lakon seolah-olah benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata. Dengan pemisahan ini maka pergantian tata panggung dapat dilakukan tanpa sepengetahuan penonton. Seperti sebuah lukisan. Pembelajaran tata panggung untuk menciptakan ilusi (tipuan) imajinatif sangat dimungkinkan dalam panggung proscenium.3 Fungsi Tata Panggung Dalam perancangan tata panggung selain mempertimbangkan jenis panggung yang akan digunakan ada beberapa elemen komposisi yang perlu diperhatikan. Kesan inilah yang diolah penata panggung untuk mewujudkan kreasinya di atas panggung proscenium. fungsi tata panggung perlu dibahas terlebih dahulu. penata panggung juga bertanggungjawab terhadap segala perabot yang digunakan. Unsur-unsur ini ditata sedemikian rupa sehingga bisa . Kemungkinan berkomunikasi secara langsung atau bahkan bermain di tengah-tengah penonton ini menjadi tantangan kreatif bagi teater modern. Hampir semua sekolah teater memiliki jenis panggung proscenium. Sebelum menjelaskan semua itu. 5. Bingkai yang dipasangi layar atau gorden inilah yang memisahkan wilayah akting pemain dengan penonton yang menyaksikan pertunjukan dari satu arah. Bentangan jarak dapat menciptakan bayangan arstisitk tersendiri yang mampu menghadirkan kesan. Panggung proscenium sudah lama digunakan dalam dunia teater.1. Perabot dan piranti sangat penting dalam mencipta lukisan panggung.2 Proscenium Panggung proscenium bisa juga disebut sebagai panggung bingkai karena penonton menyaksikan aksi aktor dalam lakon melalui sebuah bingkai atau lengkung proscenium (proscenium arch). Penonton disuguhi gambaran melalui bingkai tersebut. panggun arena sering menjadi pilihan utama bagi teater tradisional.1. Semua yang ada di atas panggung dapat disajikan secara sempurna seolah-olah gambar nyata. salah satunya adalah penggunaan panggung arena. Intinya semua yang di atas panggung dapat diciptakan untuk mengelabui pandangan penonton dan mengarahkan mereka pada pemikiran bahwa apa yang terjadi di atas pentas adalah kenyataan.

yaitu penerangan. 1988). dan musim dalam tahun dimana lakon dilangsungkan. dimensi. Dalam teater.2. 5. Dengan tata cahaya kedalaman sebuah objek dapat dicitrakan.memberikan gambaran lengkap yang berfungsi untuk menjelaskan suasana dan semangat lakon.1. Jika dalam film dan televisi sutradara dapat memilih adegan menggunakan kamera maka sutradara panggung melakukannya dengan cahaya.1 Fungsi Tata Cahaya Tata cahaya yang hadir di atas panggung dan menyinari semua objek sesungguhnya menghadirkan kemungkinan bagi sutradara. Tanpa adanya cahaya maka penonton tidak akan dapat menyaksikan apa-apa. Dengan pengaturan tingkat intensitas serta pemilahan sisi gelap dan terang maka dimensi objek akan muncul. dan memanipulasi elemen komposisi yang menjadi dasar dari seluruh kerja desain. lokasi kejadian. Inilah fungsi paling mendasar dari tata cahaya. Pemikiran lain di luar desain akan menghambat imajinasi dan akhrinya memberikan batasan. Istilah penerangan dalam tata cahaya panggung bukan hanya sekedar memberi efek terang sehingga bisa dilihat tetapi memberi penerangan bagian tertentu dengan intensitas tertentu. Banyak hal yang bisa dikerjakan bekaitan dengan peran tata cahaya tetapi fungsi dasar tata cahaya ada empat. Tata cahaya dapat dimanfaatkan untuk menentukan objek dan area yang hendak disinari. untuk memberikan fokus perhatian pada area atau aksi tertentu sutradara memanfaatkan cahaya. aktor. penonton secara normal dapat melihat seluruh area panggung. Semua objek yang disinari memberikan gambaran yang jelas kepada penonton tentang segala sesuatu yang akan dikomunikasikan.4 Elemen Komposisi Desain tata panggung sebaiknya dibuat dengan mudah dan bebas. status karakter peran. * Dimensi. Artinya. Tidak semua area di atas panggung memiliki tingkat terang yang sama tetapi diatur dengan tujuan dan maksud tertentu sehingga menegaskan pesan yang hendak disampaikan melalui laku aktor di atas pentas. Pengetahuan dasar ini selanjutnya dapat diterapkan dan dikembangkan dalam penataan cahaya untuk kepentingan artistik pemanggungan. periode sejarah lakon. Sejak ditemukannya lampu penerangan manusia menciptakan modifikasi dan menemukan hal-hal baru yang dapat digunakan untuk menerangi panggung pementasan. menata. . * Pemilihan. sutradara dapat menghadirkan ilusi imajinatif. imajinasi dapat dituangkan sepenuhnya ke dalam gambar desain tanpa lebih dulu berpikir tentang kemungkinan visualisasinya. Penyuntingan atau pengolahan bisa dilakukan setelah gagasan tertuang. Pemilihan ini tidak hanya berpengaruh bagi perhatian penonton tetapi juga bagi para aktor di atas pentas serta keindahan tata panggung yang dihadirkan. Dengan cahaya. dan atmosfir (Mark Carpenter. Dalam pembuatan desain gambar tata panggung yang terpenting adalah cara mengatur. pemilihan.2 TATA CAHAYA Cahaya adalah unsur tata artistik yang paling penting dalam pertunjukan teater. Dalam pertunjukan era primitif manusia hanya menggunakan cahaya matahari. 5. dan penonton untuk saling melihat dan berkomunikasi. Dimensi dapat diciptakan dengan membagi sisi gelap dan terang atas objek yang disinari sehingga membantu perspektif tata panggung. * Penerangan. 5. Lampu memberi penerangan pada pemain dan setiap objek yang ada di atas panggung. Seorang penata cahaya perlu mempelajari pengetahuan dasar dan penguasaan peralatan tata cahaya. bulan atau api untuk menerangi. Jika semua objek diterangi dengan intensitas yang sama maka gambar yang akan tertangkap oleh mata penonton menjadi datar.

Keempat fungsi pokok tata cahaya di atas tidak berdiri sendiri. Tata cahaya mampu menghadirkan suasana yang dikehendaki oleh lakon.* Atmosfir. Misalnya. tata cahaya memiliki fungsi pendukung yang dikembangkan secara berlainan oleh masing-masing ahli tata cahaya. Dalam pementasan teater tradisional. Dalam pementasan komedi atau dagelan tata cahaya membutuhkan tingkat penerangan yang tinggi sehingga setiap gerak lucu yang dilakukan oleh aktor dapat tertangkap jelas oleh penonton. * Komposisi. * Pemberian tanda. teater Yunani yang memakai topeng lebih besar dari wajah pemain dengan garis tegas agar ekspresinya dapat dilihat oleh penonton. Misalnya. Fungsi penerangan dilakukan dengan memilih area tertentu untuk memberikan gambaran dimensional objek. 5.3 TATA RIAS Tata rias secara umum dapat diartikan sebagai seni mengubah penampilan wajah menjadi lebih sempurna. suasana. warna cahaya matahari pagi berbeda dengan siang hari. cahaya selalu bergerak dan berpindah dari area satu ke area lain. fade in untuk memulai adegan dan black out sebagai akhir dari cerita. seperti tanah. dari objek satu ke objek lain. Beberapa teater primitif menggunakan bedak tebal yang biasa dibuat dari bahan-bahan alam. Cahaya dapat dimanfaatkan untuk menciptakan lukisan panggung melalui tatanan warna yang dihasilkannya. dan emosi peristiwa. Artinya. * Gerak. Sinar mentari pagi membawa kehangatan sedangkan sinar mentari siang hari terasa panas. Penggunaan warna serta intensitas dapat menarik perhatian penonton sehingga membantu pesan yang hendak disampaikan. bulan atau lampu meja. Selain keempat fungsi pokok di atas. Gaya realis atau naturalis yang mensyaratkan detil kenyataan mengharuskan tata cahaya mengikuti cahaya alami seperti matahari. Yang paling menarik dari fungsi tata cahaya adalah kemampuannya menghadirkan suasana yang mempengaruhi emosi penonton. Kata “atmosfir” digunakan untuk menjelaskan suasana serta emosi yang terkandung dalam peristiwa lakon. Sepanjang pementasan. black out biasanya digunakan sebagai tanda ganti adegan diiringi dengan pergantian set. Pemakaian tata rias akhirnya menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari peristiwa teater. masing-masing fungsi memiliki interaksi (saling mempengaruhi). Dalam gaya Surealis tata cahaya diproyeksikan untuk menyajikan imajinasi atau fantasi di luar kenyataan seharihari. * Penekanan. Inilah gambaran suasana dan emosi yang dapat dimunculkan oleh tata cahaya. Tata Rias dalam teater bermula dari pemakaian kedok atau topeng untuk menggambarkan karakter tokoh. Tanpa sadar penonton dibawa ke dalam suasana yang berbeda melalui perubahan cahaya. * Gaya. Sejak ditemukannya teknologi pencahayaan panggung. efek lampu dapat diciptakan untuk menirukan cahaya bulan dan matahari pada waktu-waktu tertentu. Tata cahaya tidaklah statis. Contohnya. Sebuah bagian bangunan yang tinggi yang senantiasa disinari cahaya sepanjang pertunjukan akan menarik perhatian penonton dan menimbulkan pertanyaan sehingga membuat penonton menyelidiki maksud dari hal tersebut.tulang. Beberapa fungsi pendukung yang dapat ditemukan dalam tata cahaya adalah sebagai berikut. Tata rias dalam teater mempunyai arti lebih spesifik. Cahaya dapat menunjukkan gaya pementasan yang sedang dilakonkan. Cahaya berfungsi untuk memberi tanda selama pertunjukan berlangsung. Jika perpindahan cahaya bergerak dari aktor satu ke aktor lain dalam area yang berbeda. dan lemak binatang. Gerak perpindahan cahaya ini mengalir sehingga kadang-kadang perubahannya disadari oleh penonton dan kadang tidak. fade out untuk mengakhiri sebuah adegan. . tumbuhan. penonton dapat melihatnya dengan jelas. Tetapi pergantian cahaya dalam satu area ketika adegan tengah berlangsung terkadang tidak secara langsung disadari. yaitu seni mengubah wajah untuk menggambarkan karakter tokoh. Tata cahaya dapat memberikan penekanan tertentu pada adegan atau objek yang dinginkan.

5.3. dan sebagainya. bentuk wajah dan tubuh. tokoh yang pesimistis cenderung memiliki karakter garis mata yang menurun. Tata rias tidak perlu mengubah usia.2 Menggambarkan Karakter Tokoh Karakter berarti watak.5.3.1. sehingga saat berekspresi muncul efek gerak yang tegas dan dapat ditangkap oleh penonton.3 Memberi Efek Gerak Pada Ekspresi Pemain Wajah seorang pemain di atas pentas.3. Tata rias memiliki kemampuan dalam mengubah sekaligus menampilkan karakter yang berbeda dari seorang pemeran. Seorang penata rias harus mencermati gerak ekspresi wajah untuk menentukan garis yang akan dibuat. Tata rias dalam teater memiliki fungsi sebagai berikut.1 Fungsi Tata Rias Tokoh dalam teater memiliki karakter berbeda-beda. Seorang pemain. mata menjadi lebih ekspresif. seorang remaja memerankan siswa sekolah. Misalnya. seorang remaja yang memerankan seorang yang telah berumur 50 tahun. Karakter wajah merupakan cermin psikologis dan latar sosial tokoh yang hadir secara nyata. mata yang tidak ekspresif.4 Menghadirkan Garis Wajah Sesuai Dengan Tokoh Menampilkan wajah sesuai dengan tokoh membutuhkan garis baru yang membentuk wajah baru.1. Tata rias berfungsi menegaskan garis-garis wajah karakter. memiliki hidung yang kurang mancung. Tata rias merupakan salah satu cara menampilkan karakter tokoh yang berbeda-beda tersebut. Oleh karena itu dibutuhkan tata rias untuk menampilkan dimensi wajah pemain. 5. Misalnya. Penampilan tokoh yang berbeda-beda membutuhkan penampilan yang berbeda sesuai karakternya.3. Pemain yang tidak menggunakan rias. misalnya. dan bibir bergaris tegas. Tata rias berfungsi melukiskan watak tokoh dengan mengubah wajah pemeran menyangkut aspek umur. 5. Sebaliknya. tampak datar ketika tertimpa cahaya lampu. * Menyempurnakan penampilan wajah * Menggambarkan karakter tokoh * Memberi efek gerak pada ekspresi pemain * Menegaskan dan menghasilkan garis-garis wajah sesuai dengan tokoh * Menambah aspek dramatik. 5. seorang yang optimis digambarkan dengan tarikan sudut mata cenderung ke atas. Penyempurnaan wajah dilakukan pada pemain yang secara fisik telah sesuai dengan tokoh yang dimainkan.3. Wajah perlu ditambahkan garis-garis kerutan sesuai wajah seorang yang berusia 50 tahun.1. wajahnya akan tampak datar. ras. Seorang yang berperan .1. Tata rias bisa menyempurnakan kekurangan tersebut sehingga muncul kesan hidung tampak mancung. tetapi juga menambahkan sehingga terbentuk tampilan yang berbeda dengan wajah asli pemain. Misalnya. bibir yang kurang tegas. Fungsi garis tidak sekedar menegaskan. tidak memiliki dimensi.1 Menyempurnakan Penampilan Wajah Wajah seorang pemain memiliki kekurangan yang bisa disempurnakan dengan mengaplikasikan tata rias. tetapi cukup menyempurnakan dengan mengoreksi kekurangan yang ada untuk disempurnakan.

Biasanya pemeran memiliki kesesuaian dengan tokoh yang diperankan. mengubah umur pemeran dari muda menjadi lebih tua .3. dan menonjolkan bagian-bagian wajah sesuai dengan tokoh yang dimainkan. hidung kurang mancung dan sebagainya. Seorang pemain membutuhkan tata rias korektif ketika tampilannya tidak membutuhkan perubahan usia. tertembak. dan segala unsur yang melekat pada pakaian.4 TATA BUSANA Tata busana adalah seni pakaian dan segala perlengkapan yang menyertai untuk menggambarkan tokoh. misalnya dahi terlalu lebar. menegaskan. Tata rias fantasi menggambarkan tokohtokoh yang tidak riil keberadaannya dan lahir berdasarkan daya khayal semata. Tokoh tersebut memiliki latar Suku Dayak Kalimantan yang memiliki tradisi memanjangkan telinga. maka dibutuhkan tata rias yang memberikan efek sesuai dengan kebutuhan. 5.2. Tokoh-tokoh mengalami berbagai peristiwa sehingga terjadi perubahan dan penambahan tata rias. seperti tumbuhan. Pada era teater primitif. Tata rias karakter tidak sekedar menyempurnakan.3 Tata Rias karakter Tata rias karaker adalah tata rias yang mengubah penampilan wajah seseorang dalam hal umur.5 Menambah Aspek Dramatik Peristiwa teater selalu tumbuh dan berkembang.3. misalnya memanjangkan telinga. Setiap wajah memiliki kekuarangan dan kelebihan. sepatu. Tata rias karakter dibutuhkan ketika karakter wajah pemeran tidak sesuai dengan karakter tokoh.3.2.menjadi tokoh binatang. dan perubahan bentuk wajah. 5.2. 5. Disebut tata rias karakter khusus. maka perlu membuat garis-garis baru sesuai dengan karakter wajah binatang yang diperankan.1 Tata Rias Korektif Tata rias korektif (corective make-up) merupakan suatu bentuk tata rias yang bersifat menyempurnakan (koreksi).2 Tata Rias Fantasi Tata rias fantasi dikenal juga dengan istilah tata rias karakter khusus. 5. busana yang dipakai berasal dari bahan-bahan alami. gelang . seorang tokoh tertusuk belati.1. Tata rias bisa memberikan efek dramatik dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan menciptakan efek tertentu sesuai dengan kebutuhan. Tata busana termasuk segala asesoris seperti topi. Contohnya. Wajah pemain cukup disempurnakan dengan menyamarkan. karena menampilkan wujud rekaan dengan mengubah wajah tidak realistik. kalung. syal. watak. Tata busana dalam teater memiliki peranan penting untuk menggambarkan tokoh. Tata rias ini menyembunyikan kekurangan-kekurangan yang ada pada wajah dan menonjolkan hal-hal yang menarik dari wajah. dan ciri-ciri khusus yang melekat pada tokoh.3.dapat disempurnakan dengan make up korektif. tetapi mengubah tampilan wajah. 5.3. Mengubah anatomi wajah pemain untuk memenuhi tuntutan tokoh dapat juga digolongkan sebagai tata rias karakter. bangsa. tersayat wajahnya. Seseorang yang memiliki bentuk wajah kurang sempurna. dan batu- . Misalnya. ras. sifat. kulit binatang.2 Jenis Tata Rias 5.

1. Restorasi. Fungsi busana dalam kehidupan seharihari untuk melindungi tubuh. karena semua tergantung latar cerita yang ditampilkan. Untuk membuat tata busana sesuai dengan adat dan kebudayaan daerah tertentu maka diperlukan referensi khusus berkaitan dengan adat dan kebudayaan tersebut. Tata busana dalam teater berfungsi sebagai bentuk ekspresi untuk tampil lebih indah dari penampilan seharihari. Renaissance. busana pada jaman atau dekade tertentu memiliki ciri yang sama. Pada era teater primitif. Tidak ada periode tata busana secara khusus di teater. sehingga penonton mampu mengidentifikasikan tokoh dengan mudah .4. dalam teater Romawi Kuno maka lakon yang ditampilkan berlatar jaman tersebut sehingga busananya pun seperti busana keseharian penduduk jaman Romawi Kuno. yaitu. Elizabethan. Artinya. Busana menjadi salah satu tanda penting untuk membedakan satu tokoh dengan tokoh yang lain. Misalnya. Jenis busana ini tidak bisa disamakan antara daerah satu dengan daerah lain. Sementara itu tata busana menurut jamannya bisa digeneralisasi. dan Abad 18. memakai busana sehari-hari yang dibuat lebih indah dengan mengaplikasikan perhiasan dan penambahan bahanbahan yang mahal dan mewah.1 Mencitrakan Keindahan Penampilan Manusia memiliki hasrat untuk mengungkapkan rasa keindahan dalam berbagai aspek kehidupan. Masing-masing memiliki kospenya tersendiri dan lakon tidak harus berlatar jaman dimana lakon itu dibuat. Abad Pertengahan. Busana dalam teater memiliki fungsi yang lebih kompleks. Busana pementesan teater dibuat secara khusus dan dilengkapi dengan asesoris sesuai kebutuhan pemensan. Semua terserah pada gagasan seniman. Busana pun mengikuti konsep tersebut. Penampilan busana yang berbeda akan menunjukkan ciri khusus seorang tokoh. mencitrakan kesopanan.2 Membedakan Satu Pemain Dengan Pemain Yang Lain Pementasan teater menampilkan tokoh yang bermacam-macam karakter dan latar belakang sosialnya. * Mencitrakan keindahan penampilan * Membedakan satu pemain dengan pemain yang lain * Menggambarkan karakter tokoh * Memberikan efek gerak pemain * Memberikan efek dramatik 5. Demikian juga dengan teater pada jaman Yunani. Pementasan teater adalah suatu tontonan yang mengandung aspek keindahan. Ketika manusia menemukan tekstil dengan teknologi pengolahan yang tinggi. maka busana berkembang menjadi lebih baik. Tata busana dapat dibuat berdasar budaya atau jaman tertentu. tetapi lebih pada konsep yang melatarbelakangi penciptaan teater. 5.1 Fungsi Tata Busana Busana yang dipakai manusia beraneka ragam bentuk dan fungsinya. Busana teater mengalami perkembangan pesat seiring lahirnya teater modern pada akhir abad 19.4. Teater di Inggris pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth (1580 – 1640). hasrat untuk tampil berbeda dan lebih indah dari tampilan sehari-hari telah muncul. Penonton membutuhkan suatu penampilan yang berbeda-beda antara satu tokoh dengan tokoh yang lain. dan memenuhi hasrat manusia akan keindahan.4. Masingmasing memiliki ciri khasnya.1. Tata busana dengan demikian sudah tidak lagi terpaku pada jaman. 5. Periode busana teater dengan demikian mengikuti periode teater tersebut. beragam aliran teater bermunculan.batuan untuk asesoris. Dalam masa ini.

busananya cenderung rapi. tokoh seorang pelajar yang pendiam. dan garis yang diciptakan. dan tanpa asesoris yang berlebihan.1. bentuk. tokoh seorang pelajar yang bandel. busananya dilengkapi asesoris dan cara pemakaiannya seenaknya tidak sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan sekolah. warna. motif. .4. Perbedaan karakter dalam busana dapat ditampilkan melalui model. penonton terbantu dalam menangkap karakter yang berbeda dari setiap tokoh. brutal. sederhana.5. rajin. Sebaliknya. Melalui busana.3 Menggambarkan Karakter Tokoh Fungsi penting busana dalam teater adalah untuk menggambarkan karakter tokoh. dan alim. Contohnya. dan sering membuat onar.

Jadi. Karena itu pulalah penonton merupkan kunci keberhasilan sebuah pertunjukan. Dengan demikin dalam satu karya teater. Memiliki tujuan yang sama. Karena sifatnya yang kolaboratif maka seni teater akan kehilangan spiritnya jika masing-masing bidang berusaha untuk menonjol dan mengalahkan bidang lain. Semua elemen harus memahami hal ini. Karya seni yang lahir dari kreativitas dapat dialirkan kepada generasi berikutnya melalui catatancatatan. semua saling belajar. Semua elemen harus besatu. Satu bidang harus mampu dan mau menghargai bidang lain. Ia akan bermain dalam area yang diciptakan oleh penata panggung. Pemaknaan ini akan membawa satu sikap penghargaan profesi baik bagi diri sendiri atau bagi orang yang bekerja pada bidang lain. Respon atau tanggapan yang diberikan penonton terhadap pertunjukan yang dilangsungkan merupakan tanda bagi keberhasilan atau kegagalan pertunjukan tesebut dalam menyampaikan pesan. Dalam satu proses pembelajaran hal semacam itu sering tejadi. Satu gagasan atau perwujudan karya menjadi indah dan menarik serta memiliki kesatuan makna jika semua elemennya memiliki tujuan artistik yang sama. Saling berbicara. Dalam sebuah lakon yang menceritakan tentang kesedihan. pelajarilah semuanya sesuai dengan tahapan yang benar. seni memang tidak hanya menghasilkan sesuatu yang tampak (produk) tetapi juga mental atau jiwa para pelakunya. Demikian pula penata panggung harus mau memahami pola laku dan gerak para aktor di atas pentas sehingga ruang yang diciptakan tidak mengganggu bagi pergerakan aktor ketika bemain. tata panggung dan cahaya. penata artistik) akan diketahui langsung oleh para penonton dalam sebuah pertunjukan. mempelajari teater tidak hanya mempelajari satu bidang dan mengabaikan bidang lain. Secara mendalam. kerja sekecil apapun dalam teater sangatlah penting. Memang perlu belajar satu bidang secara khusus tetapi pemahaman atas bidang lain tidak bisa diabaikan. Sebuah langkah yang besar selalu dimulai dari langkah kecil. konsep. dan peningkatan kompetensi tetapi juga untuk mengungkap makna kerja yang ada di sebalik ilmu. Sebuah karya teater yang besar merupakan penyatuan kerja elemen-elemen yang kecil. Untuk kepentingan inilah buku ini disusun. Berbicara teater tidak hanya berbicara naskah atau sutradara yang merajut proses atau aktor terkenal yang ikut terlibat di dalamnya. Satu proses kerja bidang tertentu bahkan dinilai lebih tinggi dari bidang lain. Membaca referensi atau buku teater tidaklah hanya untuk menambah wawasan. ketersampaian cerita. bahkan penonton yang hadir di dalamnya. Berdiskusi. Dramaturgi atau pengetahuan teater dasar merupakan pokok pemahaman yang harus diperhatikan. Karena prinsip teater adalah kerjasama maka belajar teater tidaklah hanya mempelajari elemen-elem yang ada di dalamnya tetapi juga mempelajari kerja pengabungan di antaranya. Saling mendukung demi tercapaiya tujuan tersebut. tata rias dan busana. Oleh karena itulah. maka semua komponen bekerja untuk memenuhi atmosfir kesedihan yang diharapkan. Oleh karena itu. tidak hanya tergambar keindahan karya seni tetapi juga prinsip kebersamaan. Jika kualitas kerja salah satu bidang tidak baik maka keseluruhan pertunjukan menjadi terpengaruh. Jika satu saja elemen berada di luar garis ini maka kesatuan makna menjadi kabur. Memecahkan persoalan bersama dan menentukan satu keputusan yang secara artistik adil bagi semua pihak. sutradara. . Akhirnya menjadi maklumlah kita ketika seseorang berbicara tentang teater maka ia akan membicarakan semua elemen yang ada di dalamnya. Kualitas ketersampaian pesan yang diramu oleh para pekerja teater (pengarang. Dalam teater hal itu tidak berlaku.Dasar-dasar Teater (6/6): Penutup Sebuah karya teater lahir dari satu proses pembelajaran yang padu. Hal itu akan menyangkut soal cerita. Berbicara teater adalah berbicara tentang semua hal yang ada di dalamnya. aktor. Kualitas karya yang dihasilkan menggambarkan semangat dan keadaan jiwa pembuatnya. pengetahuan. Seorang aktor yang baik harus mengerti fungsi tata panggung karena ia akan bermain di antara objek yang ditata di atas pentas. semua saling membantu. Satu bidang kecil memiliki makna yang sama dengan bidang lain. semua saling mendukung. Apalagi ketika proses tersebut dinilai dan memiliki konsekuensi langsung bagi pelakunya. Begitu pentingnya pesan yang hendak disampaikan sehingga semua elemen pendukung pementasan bekerja keras mewujudkannya.

Tidak perlu seorang diri mengerjakan semuanya. maka cerita yang satu kalimat itu pun dapat dikembangkan. dan belajar. lebih menghargai pengalaman dari pada hasil akhir. berkarya. Dengan berdasar pengetahuan dan keingintahuan dari membaca catatan tersebut. Dalam teater. Minimal menjadi tiga kalimat yang masing-masing mewakili pemaparan. Semua bisa dipelajari secara mandiri. dan berkarya. Tidak peduli berapa panjang cerita tersebut. dan tata artistik dapat diaplikasikan untuk mendukung karya yang akan ditampilkan. sebuah gagasan dapat diwujudkan. Apapun bentuknya. Pengetahuan tentang dasar-dasar penyutradaraan. Catatan inti akan terus berkembang seiring dengan perkembangan teater itu sendiri. membaca untuk menginspirasi sehingga seni baru senantiasa lahir. Catatan kecil yang kami sampaikan ini semoga dapat menjadi pemicu semangat untuk terus belajar dan berkarya. Membaca catatan karya orang lain bukan dipahami sebagai bentuk plagiarisme tetapi membaca untuk mempelajari. Demikian berjalan secara berkesambungan. Satu karya mempengaruhi atau terpengaruh oleh karya lain. konflik. sebuah karya teater dapat dilahirkan. Karya seni yang lebih mementingkan proses. dan penyelesaian. belajar. dengan memahami dasardasar penciptaan lakon yang mengedepankan pentingnya arti konflik dalam teater. Gagasan hanya akan menjadi gagasan jika tidak diwujudkan. apapun kualitasnya gagasan tersebut harus menjadi sesuatu. Teater adalah kolketif. Ketika sebuah gagasan muncul. pemeranan. Oleh sebab itu. Dengan semangat dan ketekunan berlatih. Semua secara harmonis bekerja bersama mendukung makna yang satu. teater adalah kerjasama. Ilmu yang didapatkan sekarang tidak akan pernah cukup. membaca untuk menilhami. Hanya dengan cerita yang sangat sederhana semacam ini. Semangat belajar dalam teater tidak akan pernah bisa berhenti karena teater senantiasa hidup dan berkembang. dan proses adalah belajar. Sebuah pertunjukan dapat digelar. Disitulah sebetulnya letak fungsi hakiki dari sebuah pengetahuan. cerita yang sudah berhasil dicipta dapat diwujudkan ke dalam sebuah pementasan. wujud awal dari sebuah gagasan harus mengalami proses pembentukan. Oleh karena itu maka tidak ada kata lain selain belajar. Masing-masing bidang yang dibahas dalam buku ini memberikan gambaran harmonisasi tersebut. Berkarya. Banyak seniman yang lahir karena membaca atau mempelajari karya (catatan) seniman yang lainnya.Dramaturgi adalah catatan-catatan proses penciptaan seni drama hingga sampai pementasannya. . semua bermula dari sebuah cerita. Akan tetapi. akan tetapi lebih berarti jika semua bidang bersinergi. Sesuatu yang sangat berarti bagi si penggagas. Semua itu tidak berada dalam bingkai saling meniru akan tetapi bingkai kreativitas yang terus berkembang dan berkembang. Jika semuanya berbuat dalam semangat kerjasama maka pergelaran karaya teater menjadi karya bersama yang memiliki satu makna. Semua berjalan dalam satu proses. Masing-masing bidang dalam teater dapat dikerjakan oleh orang-orang tertentu yang tertarik di bidang-bidang tersebut. maka ia perlu dinyatakan. Karya baru yang dihasilkan oleh seniman itupun pada nantinya juga akan menginspirasi karya yang lain. Bahkan mungkin cerita itu hanya merupakan satu rangkaian kalimat. Kerjasama sebagai semangat seni teater dapat dijadikan acuan proses penciptaan.