P. 1
Laporan Vektor Tikus Dan Pinjal

Laporan Vektor Tikus Dan Pinjal

|Views: 1,767|Likes:
Published by Idha_Aieya

More info:

Published by: Idha_Aieya on Jul 14, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/09/2013

pdf

text

original

LAPORAN PRAKTIKUM

IDENTIFIKASI TIKUS DAN DAN PINJAL
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengendalian Vektor

Disusun oleh : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Laila Khusnul Khotimah Leo Muhammad R Mira Firdianti Mufti Afrizal Muhammad Andy Firmansyah Nimas Nurida Nur Hidayati Ratna Dwi Yulintina Siti Nurjannah P07133111020 P07133111021 P07133111022 P07133111023 P07133111024 P07133111026 P07133111028 P07133111030 P07133111032

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN 2012

IDENTIFIKASI TIKUS DAN PINJAL
A. JUDUL PRAKTIKUM Identifikasi tikus dan pinjal (ectoparasit)

B. HARI DAN TANGGAL Rabu, 30 Mei 2012

C. TUJUAN 1. Dapat mengetahui cara melakukan identifikasi tikus. 2. Dapat mengetahui cara melakukan pengambilan ectoparasit tikus (pinjal). 3. Dapat mengetahui jenis [injal yang terdapat pada tikus yang diamati.

D. DASAR TEORI Phylum chordata yaitu tikus sebagai pengganggu manusia, serta sekaligus sebagai tuan rumah (hospes), pinjal Xenopsylla cheopis yang menyebabkan penyakit pes. Karena sangat berpengaruh di dalam menyebabkan kesehatan pada manusia, untuk itu keberadaan binatang penggangu tersebut harus di tanggulangi, sekalipun demikian tidak mungkin membasmi sampai ke akar-akarnya melainkan kita hanya mampu berusaha mengurangi atau menurunkan populasinya kesatu tingkat tertentu yang tidak mengganggu ataupun membahayakan kehidupan manusia. Dalam hal ini untuk mencapai harapan tersebut perlu adanya suatu managemen pengendalian dengan arti kegiatan-kegiatan/proses pelaksanaan yang bertujuan untuk menurunkan densitas populasi binatang pengganggu pada tingkat yang tidak membahayakan. Insect dan rodent, baik disadari atau tidak, kenyataanya telah menjadi saingan bagi manusia. Lebih dari itu insect dan rodent, pada dasarnya dapat mempengaruhi bahkan mengganggu kehidupan manusia dengan berbagai cara. Dalam hal jumlah kehidupan yang terlibat dalam gangguan tersebut, erat kaitannya dengan

kejadian/penularan penyakit. Hal demikian dapat dilihat dari pola penularan penyakit pes yang melibatkan empat faktor kehidupan, yakni manusia, pinjal, kuman dan tikus. Beranjak dari pola tersebut, upaya untuk mempelajari kehidupan tikus menjadi sangat relefan. Salah satunya adalah mengetahui jenis atau spesies tikus yang ada, melalui identifikasi maupun deskripsi. Untuk keperluan ini dibutuhkan kunci identifikasi tikus atau tabel deskripsi tikus, yang memuat ciri–ciri morfologi masing – masimg jenis tikus. Ciri–ciri morfologi tikus yang lazim dipakai untuk keperluan tersebut di antaranya adalah : berat badan ( BB ), panjang kepala ditambah badan (H&B), ekor (T), cakar (HF), telinga (E), tengkorak (SK) dan susunan susu (M). Disamping itu, lazim pula untuk diketahui bentuk moncong, warna bulu, macam bulu ekor, kulit ekor, gigi dan lain-lain. Insect atau ektoparasit yang menginfestasi tikus penting untuk diketahui, berkaitan dengan penentuan jenis vektor yang berperan dalam penularan penyakit yang tergolong rat borne deseases. Dari phylum chordata yaitu tikus yang dapat sebagai sebagai binatang pengganggu, dapat dibagi menjadi 2 golongan : 1. Tikus besar (Rat) Contoh : a. Rattus norvigicus (tikus riol) b. Rattus-rattus diardiil (tikus atap) c. Rattus-rattus frugivorus (tikus buah-buahan) 2. Tikus kecil (mice) Contoh : Mussculus (tikus rumah) Untuk dapat mengenal tikus dalam arti sesungguhnya (family muridae) dapat dilakukan dengan indentifikasi morfologi yang menyolok pada jenis tikus, memperhatikan lingkungan hidupnya serta penelusuran secara deskripsi. Tikus mempunyai penglihatan yang buruk tetapi mempunyai panca indera seperti penciuman yang tajam, meraba, mendengar. Pada malam hari tikus bergerak di pandu oleh rambut, kumis yang panjang peka terhadap sentuhan. Tikus senang dengan bau harum, khususnya yang berasal dari makanan manusia. Kebiasaan waktu

makan adalah pada malam hari, tikus tidak senang di tempat – tempat yang ramai misalnya gaduh oleh suara mesin melainkan senang di tempat – tempat penyimpanan makanan. Kesukaan mencari makan adalah seperti di tempat sampah, lemari, selokan dan dapur. Umur hidup seekor tikus rata – rata mencapai 1 tahun dan pembiakan cepat terjadi selama musim hujan, apabila terdapat banyak makanan dan tempat untuk berlindung. Keberadaan tikus dapat dideteksi dengan beberapa cara, yang paling umum adalah adanya kerusakan barang atau alat. Tanda tanda berikut merupakan penilaian adanya kehidupan tikus yaitu (Ehler and Steel, 1950) : a. Gnawing (bekas gigitan) b. Burrows (galian /lubang tanah) c. Dropping (kotoran tikus) d. Runways (jalan tikus) e. Foot print (bekas telapak kaki) f. Tanda lain : Adanya bau tikus, bekas urine dan kotoran tikus, suara, bangkai tikus (WHO, 1972). Pinjal adalah hewan parasit menghisap, yang memiliki potensi penyebaran penyakit berbahaya bagi manusia dan hewan lainnya. Meskipun ada berbagai jenis pinjal, mereka semua memiliki bagian tubuh yang sama, mata dan kaki membantu mereka selamat dari bahaya hidup mereka. Pinjal memiliki panjang 1,5-4,0 mm, yang jantan biasanya lebih kecil daripada betina. Kedua jenis kelamin yang dewasa menghisap darah. Kepalanya lekuk tempat antena yang bersegmen disimpan. Tiga

segmenthoraks dikenal sebagai pronotum, mesonatum, dan metanutum (metathoraks). S e g m e n ya n g t e r a k h i r t e r s e b u t b e r k e m b a n g b a i k u n t u k menunjang kaki belakang yang mendorong pinjal tersebut saat meloncat. Di belakang pronotum pada beberapa jenis terdapat sebaris duri yang kuat berbentuk sisir, yaitu ktenedium pronotal. Sedangkan di atas mulut pada beberapa jenis terdapat duri kuat berbentuk sisir, yaitu ktenedium genal.

Pinjal dekat

betina

memiliki

spermateka

seperti

kantung

u j u n g posterior abdomen sebagai tempat untuk menyimpan

sperma, dan yang jantan mempunyai alat yang seperti per melengkung yaitu aedeagus atau penis berkitin di di lokasi yang sama.

GAMBAR MORFOLOGI PINJAL (Sumber: http.wikipedia.org) Daur Hidup Pinjal M e n u r u t http//:Canine Vector

B o r n e D i s e a s e s . c o m , p i n j a l merupakan serangga Holometabolaus atau metamorfosis sempurna karenadaur hidupnya melalui 4 stadium yaitu: telur larva-pupa-dewasa. Pinjal betina bertelur diantara rambut inang. Jumlah telur yang di keluarkan oleh pinjal betina berkisar antara 3-18 butir. Pinjal betina dapat bertelur 2-6 kali sebanyak 300-400 butir selama hidupnya. Telur pinjal berukuran 0,4-0,5 mm, bentuk oval berwarna putih,saat akan menetas telur berwarna kuning kecokelatan. Telur pinjal akan menetas menjadi larva pada suhu 18ºC-27ºC dan kelembaban 75%-80%setelah 2-12 hari. Larva menjadi kepompong 9-12 hari dan mengalami g a n t i k u l i t 2 k a l i . D a u r h i d u p p i n j a l s e c a r a n o r m a l b e r k i s a r a n t a r a 2 - 3 minggu. Jenis-jenis Pinjal Pinjal merupakan parasit pada mamalia atau unggas, insekta ini mengalami metamorfosis sempurna, pipih bilateral, tidak mempunyai sayap, mempunyai alat mulut sebagai alat penghisap.

a. Pulex iritans Ciri-ciri: 1. Tanpa sisir genal, pronotal, dan abdominal 2. 3. 4. Mesotoraks tanpa garis pleural Bagian depan kepala membulat Segmen toraks I-III lebih panjang daripada segmen abdominal.

b. Xenopsylla cheopis Ciri-ciri: 1) Tanpa sisir genal, pronotal, dan abdominal 2) Mesotoraks dengan garis pleural 3) Bulga spermateka tidak lebih lebar dari pangkal hilla 4) Hilla panjang, pangkal hilla ramping dan lebih meluas daripada bulga spermateka. c. Chidnopahaga gallinacea Ciri-ciri: 1. Tanpa sisir genal, pronotal, dan abdominal 2. Mesotoraks tanpa garis pleural 3. Bagian depan kepala membentuk 2 sudut 4. Segmen toraks I-III mengekerut lebih pendek daripada segmen abdominal I 5. Ada bulu duri pendek kecil di bagian bawah tepi koksa 6. Bulu okular di depan mata 7. Bagian depan kepala berbentuk persegi. d. Xenopsylla astia Ciri-ciri: 1. Tanpa sisir genal, pronotal, dan abdominal 2. Mesotoraks dengan garis pleural

3. Bulga spermateka tidak lebih besar dari pangkal hilla 4. Pangkal hilla spermateka lebih lebar dari bulga.

e. Stivalius cognatus Ciri-ciri: 1. Kepala hanya sisir pronotal 2. Tepi sternal posterior VII membulat 3. Bulga spermateka bulat memanjang, hilla pendek membengkok f. Nosopsyllus fasciatus Ciri-ciri: 1) Kepala hanya sisir pronotal 2) Sisir pronotal berjumlah 5-10 setiap sisinya 3) Bulga spermateka besar membulat, hilla membengkok ke atas. g. Ctenocephalides felis felis Ciri-ciri: 1. Kepala dengan sisir genal dan pronotal 2. Sisir genal berjumlah lebih dari 5 mengarah horizontal 3. Panjang sisir genal I hampir sama dengan sisir genal II 4. Bulu di atas antena tidak ada

Pinjal merupakan hewan yang kecil sehingga perlu dibuatkan sediaan untuk mengamatinya, pinjal yang digunakan dalam membuat sediaan adalah yang masih hidup, kemudian kita masukkan dalam KOH 10% agar pinjal tersebut mati, setelah itu di tempatkan di atas sebuah kaca benda (objek glass) dengan sebuah tusuk gigi , lidi, atau kawat platina. Untuk menutup morfologi pinjal digunakan satu/dua tetes larutan garam faal /entelan dan ditutup dengan sebuah kaca penutup (deck glass). Sediaan tetap memberikan kemungkinan untuk membeda-bedakan spesies dengan penelitian yang mendalam atas struktur dan dapat digunakan untuk demonstrasi/referensi, sediaan ini memberikan hasil yang terbaik biasanya adalah yang mempergunakan waktu yang lama dan sukar. (Harold W. Brown, 1983). Metode ini digunakan untuk mengawetkan serangga yang kecil yang tubuhnya bersegmen dan harus diperiksa dibawah mikroskop untuk menentukan spesiesnya. (Soedarto, 1990).

IDENTIFIKASI TIKUS
A. ALAT DAN BAHAN Alat a. Penggaris b. Sarung tangan c. Masker d. Kertas putih
e. Sisir/ suri

Bahan a. Tikus b. Chloroform

B. CARA KERJA 1. Pengamatan ectoparasit a. Memasukkan tikus yang berada di perangkapnya kedalam kantong gandum untuk kemudian memasukkan tikus kedalam toples kaca yang telah diberi chloroform. Menunggu beberapa menit hingga tikus mati. b. Mengambil tikus dari toples kemudian meletakkan tikus di atas kertas putih, agar bila terdapat pinjal mudah untuk diketahui. c. Menyisir seluruh tubuh tikus. d. Mengamati apakah terdapat pinjal atau tidak, jika ternyata saat penyisiran tubuh tikus diketahui terdapat hewan yang diduga sebagai pinjal, mengambil kertas yang digunakan sebagai alas untuk kemudian digunakan sebagai pembungkus dan membawanya ke laboratorium untuk pengamatan lebih lanjut.

2. Pengamatan morfologi tikus a. Setelah menyisir tikus kemudian melakukan identifikasi. b. Mengukur panjang total, panjang ekor, panjang kaki belakang, panjang telinga, panjang kepala dan jumlah mamae.

c. Pengukuran panjang kaki tikus dimulai dari pangkal kaki hingga kuku terpanjang. d. Pengukuran kepala tikus dimulai dari ujung mulut hingga pangkal tulang kepala. e. Pengukuran panjang telinga tikus dimulai dari pangkal telinga yang paling dalam hingga ujung telinga luar. f. Mencatat dalam form pengamatan. g. Menentukan jenis tikus yang teridentifikasi.

3. HASIL DAN PEMBAHASAAN Hari/tanggal Tempat : 30 Mei 2012 : Laboratorium Rekayasa

Hasil pengamatan : Pinjal Panjang
a.

: (-) tidak ada : Kepala b. Kepala-ekor c. e. f. g. i. d. Ekor Kelenjar susu Kaki – jari kaki Telinga : 5 cm : 34.1 cm

HB (panjang kepala + badan) : 16.5 cm : 17.6 cm : (-) tidak ada : 4 cm : 1.5 dan membentuk sudut 45o : Besar : Panjang

h. Mata Ciri kaki

Dari hasil identifikasi diatas, maka dapat diketahui jenis tikus yang didapatkan yaitu termasuk golongan tikus musmusculus jantan.

IDENTIFIKASI PINJAL

A. ALAT DAN BAHAN Alat 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Labu Erlenmeyer Gelas Ukur Pipet Ukur Ose Tusuk Ose Tumpul Petridish Objek Glass Dek Glass Bahan 1. Larutan KOH 10 % 2. Aquadest 3. Alkohol 96 % 4. Larutan xylol 5. Lem

B. CARA KERJA 1. Merendam pinjal dalam larutan KOH 10% selama 1 hari 2. Menyiapkan petridish sebanyak 6 buah untuk kemudian : a. Pada petrisdish 1, memasukkan 2 mL alcohol + 18 mL aquadest b. Pada petrisdish 2, memasukkan 6 mL alcohol + 14 mL aquadest c. Pada petrisdish 3, memasukkan 10 mL alcohol + 10 mL aquadest d. Pada petrisdish 4, memasukkan 14 mL alcohol + 6 mL aquadest e. Pada petrisdish 1, memasukkan 20 mL alkohol f. Pada petrisdish 1, memasukkan larutan xylol. 3. Memasukkan pinjal yang sudah di rendam kedalam setiap petridish bergantian dan berurutan dengan rentang waktu setiap memindahkan adalah 2 menit sampai pada petridish ke 6 (larutan xylol). 4. Mengambil pinjal lalu meletakkan kedalam objek glass kemudian menutupnya dengan dek glass (sebelumnya objek glass dan dek glass sudah disterilkan terlebih dahulu). 5. Mengelem setiap bagian tepi dek glass agar antara objek glass dan dek glass tertutup rapat. 6. Mengamati dibawah mikroskop untuk mengetahui jenis pinjal yang telah ditemukan. C. HASIL

Dari hasil pengamatan yang dilakukan, didapat hasil bahwa jenis pinjal tersebut yaitu dari genus Xenopsylla cheopis, dengan jenis kelamin jantan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->