ikm-des2006-10 (12)

TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA

HELMINTOLOGI DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT ILMU
M. Salakory1 dan Zulfendri2 Departemen Geografi, FIKIP, Universitas Pattimura Ambon Jl. Ir. Puttuhena, Poka, Ambon 2 Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan FKM USU Medan Jl. Universitas No. 21 Kampus USU Medan, 20155 ABSTRACT Basically, knowledge has three basics: ontology, epistemology, dan axiology. The stdy of helminthology is also important to be reviewed from that three basics. The study of helminthology by using ecoepidemiology approach that focus on the relationship among host, agent, and environment, need to be applied widely as an policy in controlling prevalence, incidence, and distribution of geohelminth. Controlling can be conducted by using satelite technology for ecoepidemiology sensing, geographic information system, medical geography, biometeorology, environmental health, and integration among them all. Keywords: Helminthologi, Bcoepidemiology, Biometereology PENDAHULUAN Kesehatan sesungguhnya adalah hak asasi manusia, di samping kesehatan adalah investasi bagi perorangan, keluarga, dan bangsa. Maknanya adalah pengembangan bidang kesehatan yang include dalam pembangunan bidang kesehatan jika tidak mengindahkan dampak positif dan dampak negatif terhadap kesehatan manusia, kesehatan lingkungan, kesehatan sosial, dan kesehatan budayanya merupakan bentuk dari pelanggaran hak asasi manusia. United Nation Development Program (UNDP) menyatakan bahwa Human Development Index (HDI) sesungguhnya merupakan etalase dari kesejahteraan sebuah negara dan bangsa; dengan damai makronya: kesehatan, pendidikan, dan ekonomi (in come) penduduk (Hapsara, 2004). Pembangunan kesehatan dalam kaitannya dengan konteks demokratisasi, desentralisasi dan globalisasi, sesungguhnya perlu memperhatikan 3 hal sebagai berikut: 1). Prinsip-prinsip dasar yang merupakan nilai-nilai kebenaran dengan aturan pokok yang berlaku sebagai landasan utama berfikir dan bertindak dalam pembangunan kesehatan. 2). Kejelasan transformasi pembangunan kesehatan di masa depan yang diharapkan dapat mempersatukan berbagai upaya kesehatan secara terencana dan menyeluruh. 3). Sinergisme upaya-upaya kesehatan yang bersifat dinamis, yaitu upaya kesehatan yang dikembangkan dan dilaksanakan secara terarah, terkait, dan demokratis (Hapsara, 2004). Ditegaskan lagi oleh Hapsara (2004), bahwa untuk mewujudkan Indonesia sehat 2010, telah ditetapkan empat misi pembangunan kesehatan sebagai berikut: 1). Menggerakkan pembangunan nasional berwawasan kesehatan. 2). Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat. 3). Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya. Dari angka kejadian infeksi geohelminths Soedarto (1992), nampak hampir tersebar merata di seluruh daerah di Indonesia, dengan angka kejadian yang bervariasi. Jika ini dijadikan sebagai dasar bagi penyusunan kebijakan kesehatan masyarakat yang ada
1

180
Universitas Sumatera Utara

biometeorologi. Pengontrolan dapat dilakukan secara terintegrasi yakni dengan menggunakan jasa satelit bagi penginderaan epidemiologi.saat ini. mengatakan bahwa ekoepidemiologi adalah suatu konsep baru sebagai analogi bagi epidemiologi manusia. Pemilihan topik kajian helmintologi dalam perspektif filsafat ilmu dapat dijadikan bahan referensi bagi para mahasiswa yang ingin mendalami bidang ilmu epidemiologi. The Liang Gie (1991) juga menyimpulkan bahwa ilmu adalah rangkaian aktivitas manusia yang rasional dan kognitif dengan berbagai metode berupa angka prosedur dan tata langkah sehingga menghasilkan kumpulan pengetahuan yang sistematis mengenai gejala-gejala kealaman. mesti mempertimbangkan pentingnya visi-visi dan disiplin ilmu-ilmu baru yang dapat membantu upaya memerangi dan mencegah penyakit ini. Ekoepidemiologi adalah salah satu dari disiplin ilmu tersebut. The Liang Gie (1991). pihak Dinkes dapat melakukan pengontrolan dinamika geohelminth secara akurat dan cepat. parasitologi (khususnya geohelminth). BroBasmussen (1984). dan medical geography. yang didukung oleh data penginderaan jauh dan aplikasi SIG? Pendekatan ekoepidemiologis ini di Indonesia sesungguhnya juga masih lebih banyak menjadi percakapan pada tataran akademis yang masih perlu diterjemahkan dalam tingkatan pengambilan keputusan dan kebijakan. seperti dikemukakan oleh Suriasumantri (1980) adalah merupakan kumpulan pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakan ilmu dengan pengetahuan-pengetahuan lainnya. Sistem Informasi Geografis (SIG). maupun jangka panjang ke depan. agen (agent). dengan menitikberatkan pengamatannya pada perubahan dan penyebaran spesifik lingkungan geohelminths dalam hubungannya dengan konsentrasi telur atau larva geohelminths di tanah serta pengaruhnya terhadap prevalensi infeksi geohelminth di masyarakat. Bagaimana penerapan pendekatan ekoepidemiologi di Indonesia. sudah mulai dilakukan penerapan visi-visi ekoepidemiologi dalam praktik keseharian dari kesehatan masyarakat. Hingga saat ini disiplin ini masih semata diterapkan sebagai suatu kegiatan akademis. Salakory dan Zulfendri 181 Universitas Sumatera Utara . Melalui aplikasi teknologi remote sensing dan SIG. Dengan menggunakan pendekatan ekoepidemiologis. yang didukung oleh data penginderaan jauh dan aplikasi SIG. PEMBAHASAN Filsafat Ilmu dan Pengetahuan Ilmu. Dapat juga digunakan sebagai pedoman bagi petugas kesehatan dalam menentukan prioritas penyuluhan dan isi pesan pemberantasan penyakit cacing. dan lingkungan (environment) yang terkondisikan atau membantu perkembangbiakan suatu penyakit. suatu kegiatan melakukan sesuatu yang dilaksanakan orang atau lebih tepat suatu rangkaian aktivitas yang membentuk suatu proses. dan Morales (2006). mengemukakan bahwa ilmu merupakan aktivitas manusia. Di Venezuela misalnya. Mengingat pendekatan ekoepidemiologis yang didukung oleh data penginderaan jauh dan aplikasi SIG. belum diterjemahkan ke dalam kebijakan-kebijakan kesehatan masyarakat di banyak negara. diharapkan gejala atau kejadian infeksi geohelminth yang bervariasi ini dapat dijelaskan melalui suatu penelitian prospektif. terutama yang penularannya melalui tanah. Penelitian dilakukan dengan menitikberatkan pengamatannya pada perubahan dan penyebaran spesifik lingkungan geohelminth tersebut dalam hubungannya dengan konsentrasi telur dan larva geohelminth di tanah serta pengaruhnya terhadap prevalensi infeksi geohelminth di masyarakat. medical geography. Hasil penelitian bidang ini dapat dipergunakan sebagai database. oleh pihak Dinkes dalam menentukan prioritas Rencana Strategis tahunan. Kajian Helmintologi dengan menggunakan pendekatan ekoepidemiologi yang menitikberatkan pada keterkaitan hubungan antara inang (host). Helmintologi dalam Perspektif Filsafat Ilmu (180 – 187) M. jangka menengah. kesehatan lingkungan. Upaya-upaya untuk mengaitkan kebijakankebijakan kesehatan masyarakat dengan ekoepidemiologi bagi suatu pengontrolan secara luas dan cepat terhadap penyakit terkait lingkungan telah dilakukan sejak lama. serta integrasi di antara kesemuanya itu. belum pernah dilakukan apalagi di daerah daerah otonomi maka perlu dilakukan penelitian terlebih dahulu. perlu digunakan secara lebih luas pada kesehatan masyarakat sebagai suatu kebijakan dalam melakukan pengontrolan secara terintegrasi yang nyata terhadap masalahmasalah kesehatan masyarakat.

Dasar ontologis dari ilmu berhubungan dengan materi yang menjadi obyek penelaan ilmu tentang kecacingan tersebut. epistemologi adalah suatu teori pengetahuan. Aksiologi membahas tentang manfaat yang diperoleh manusia dari pengetahuan yang didapatkannya. Dalam kaitannya dengan itu semua. Perlu kiranya dibedakan antara pengertian ilmu (science) dengan pengetahuan (knowledge). dan 6). Epistemologi membahas secara mendalam segenap proses yang terlihat dalam usaha untuk memperoleh pengetahuan. Dengan kata lain ilmu adalah kumpulan pengetahuan yang menjelaskan hubungan kausal suatu obyek berdasarkan metode tertentu yang merupakan satu kesatuan sistematis. 2001). seni. serta upaya pencegahan dan pengobatan infeksi kecacingan tersebut. secara lebih tegas Suriasumantri dalam Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM (1996). selalu identik dengan kondisi sanitasi dan personal hygiene. dan logos yang artinya ilmu. Adanya sikap ilmiah. Dalam kaitan dengan masalah kesehatan. 2002).kemasyarakatan. Dari pemahaman tersebut maka kajian ontologi hakikat dan struktur pengetahuan tentang kecacingan (helmintologi) tersebut. memperoleh pemahaman. epistemologi. 2). 5). karena belum menjawab pertanyaan sebagai dasar ilmu. 3). ontologi. Helmintologi. ontologi. Ontologi membahas tentang apa yang ingin diketahui atau dengan kata lain merupakan suatu pengkajian mengenai teori tentang ada. dan aksiologi. Masalah kecacingan di masyarakat. dalam bukunya What is Science mengemukakan enam komponen dari ragam bangun ilmu pengetahuan yaitu. dan aksiologi. masih menurut Alfandi (2001) adalah pembentukan pola pikir asosiatif antara pikiran dan kenyataan yang didasarkan pada kumpulan pengalaman manusia di suatu bidang tertentu tanpa memahami adanya hubungan kausal yang hakiki dan universal. yang belum dapat digolongkan sebagai ilmu. Pengertian pengetahuan. yang dalam bidang kedokteran dikenal sebagai ilmu yang mempelajari infeksi kecacingan pada manusia. Kajian bidang Helmintologi pun akan ditinjau dari tiga landasan tersebut. mengapa. Salakory dan Zulfendri Universitas Sumatera Utara . pengertian ilmu pengetahuan biasanya yang dimaksudkan adalah dengan ilmu. logis. Menggunakan metode ilmiah. telaah. 4). Sementara Parasitologi berasal dari kata parasitos yang artinya organisme yang mengambil makan. diadopsi dari kata helmintos yang artinya cacing. maka parasitologi medik mempelajari parasit yang menghinggapi manusia dapat menyebabkan penyakit dan bahkan kematian (Jangkung. bahwa pengetahuan pada dasarnya memiliki tiga landasan yaitu. faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya infeksi kecacingan. Hakikat Helmintologi adalah ilmu cabang dari parasitologi. memberikan penjelasan. yang bersifat umum. J. untuk mencapai kebenaran dan kebahagiaan hidup manusia. yang ditujukan untuk mencapai kebenaran (ilmiah) dan secara pragmatis dapat digunakan untuk mencapai kebahagiaan umat manusia” (Alfandi. Alfandi (2001) menyebutkan bahwa ilmu adalah sistem pengetahuan di bidang tertentu. Dengan kata lain. 1). epistemologi. Lebih lanjut. sistematis. mengatakan bahwa semua pengetahuan apakah itu ilmu. metodologis. Ontologi membahas tentang apa yang ingin diketahui atau dengan kata lain merupakan suatu pengkajian mengenai teori tentang ada. Adanya masalah. ataupun melakukan penerapan. yang jika didefinisikan adalah suatu pengetahuan yang bersifat umum dan sistematis (sistem pengetahuan) yang terdiri dari sekumpulan pengetahuan di bidang tertentu. Bahm. Epistemologi. Archie. Adanya aktivitas. Dalam keseharian kita. dan logos yang artinya ilmu. atau keorangan untuk tujuan mencapai kebenaran. dampak yang ditimbulkan oleh infeksi karena cacing. Jadi di sini biasanya disebutkan ilmu pengetahuan. yang mempunyai metode tertentu. dan Aksiologi Helmintologi Disebutkan oleh Suriasumantri (1996). Ontologi. apakah itu menyangkut infeksi kecacingan. yaitu. Karena identik itulah maka permasalahan tentang kecacingan di Indonesia berbeda dari suatu masyarakat ke masyarakat 182 Helmintologi dalam Perspektif Filsafat Ilmu (180 – 187) M. Adanya pengaruh. atau pengetahuan pada dasarnya memiliki tiga landasan yaitu. Dasar ontologis dari ilmu berhubungan dengan materi yang menjadi obyek penelaahan ilmu. Adanya kesimpulan. umum.

ada mitos bahwa anak-anak tidak boleh memakan daging ikan terlalu banyak sebab nantinya akan menderita kecacingan. sementara di kota di mana lahan tanahnya lebih sempit umumnya lebih rendah (Soedarto. Bagaimana manusia dapat mengetahui sesuatu. Secara lebih terperinci akan dibatasi uraian ini tentang geohelminth. Jadi tiap orang dalam keluarga sudah mempunyai jatah makanan masingmasing mulai dari yang usianya paling tua sampai ke anak-anak. Mitos kecacingan karena terlalu banyak makan ikan ini sampai sekarang masih tetap dipraktikkan dalam keluargakeluarga sederhana di desa-desa di Indonesia sebagai upaya untuk membangun pola hidup hemat. Suriasumantri (1994) mengatakan bahwa obyek pengetahuan sains atau obyek yang diteliti sains ialah semua obyek yang empiris (Tafsir. Sedangkan di dalam filum Nemathelminthes yang penting adalah kelas Nematoda. agent adalah cacing itu sendiri. cara memperoleh pengetahuan tentang helmintologi. 1992). Bagaimana validitas pengetahuan itu dapat dinilai. tidak boros. ada tiga jenis yang menimbulkan masalah kesehatan masyarakat. Parasit cacing termasuk golongan binatang yang mempunyai banyak sel (multiseluler) dan tubuhnya simetris bilateral. Pada prinsipnya usaha untuk pemberantasan cacing dapat dilakukan dengan memutuskan rantai daur hidup dari cacing-cacing yang hendak diberantas. Di daerah pedesaan Indonesia. sebab cacing dalam perut manusia suka sekali terhadap daging ikan. tidak menyia-nyiakan makanan sebagai suatu anugerah Tuhan. Di dalam filum Platyhelminthes terdapat dua kelas yang penting: kelas Cestoidea dan kelas Trematoda. Parasit cacing paling sering ditemukan pada manusia dan penyebarannya dapat sangat luas di daerah tropik.lainnya. Selanjutnya oleh tim tersebut disebutkan pula bahwa persoalan-persoalan dalam epistemologi adalah: 1). Dalam lingkungan masyarakat tertentu. Struktur Helmintologi Yang dibicarakan di dalam struktur helmintologi di sini adalah membicarakan sistematika ilmu tentang kecacingan itu sendiri. 4). dari sudut pandang ilmu kesehatan justru anak tersebutlah yang membutuhkan intake zat gizi lebih sebab dia berada dalam masa tumbuh-kembang. Parasit cacing yang penting bagi manusia dapat dikelompokkan ke dalam dua golongan besar yaitu filum Platyhelminthes dan filum Nemathelminthes. Obyek Helmintologi Obyek pengetahuan sains seperti dikutip oleh Ahmad Tafsir dari Jujun. Helmintologi dalam Perspektif Filsafat Ilmu (180 – 187) M. Aplikasinya dalam bidang helmintologi adalah. 3). Epistemologi Helmintologi Epistemologi menurut Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM (1996) disebutkan juga sebagai teori pengetahuan (theory of knowledge) (Tim Dosen. prevalensi infeksi cacing ini dapat mencapai 90%. atau ada yang menyebutnya soil transmitted helminths. Pemaknaan mitos ini mengandung pengertian bahwa membelanjakan makan untuk keluarga setiap hari harus dikelola secara bijaksana. 1996). dan sanitasi lingkungan yang jelek. Pada sisi lainnya. Mitos ini sebenarnya mengandung maksudnya bahwa dalam kondisi ekonomi masyarakat yang lemah untuk membelanjakan kebutuhan makanan keluarga tiap hari. oleh karena prevalensinya tinggi. dan Hookworm (cacing kait). Ascaris lumbricoides Nama Indonesia cacing ini adalah cacing gelang. 2004). Apa perbedaan antara pengetahuan apriori (pengetahuan pengalaman) dengan pengetahuan aposteriori atau pengetahuan purnapengalaman (Tim Dosen. 1996). Salakory dan Zulfendri 183 Universitas Sumatera Utara . ataupun soil mediatted helminths. Infeksi dengan cacing ini disebut ascariasis. Ketiga jenis tersebut ialah: Ascaris lumbricoides (cacing gelang). Dan ini dapat dipakai sebagai indikator sosial ekonomi masyarakat. dan environment atau lingkungan. pengaturannya harus secara pasti. host yang dalam hal ini adalah manusia. yang beriklim panas dan lembab maupun di daerah subtropik yang keadaan lingkungan hidupnya sesuai. Dari mana pengetahuan itu diperoleh. S. obyek helmintologi. 2). Dari golongan cacing-cacing yang penularannya melalui tanah. Trichuris trichiura (cacing cambuk). ukuran kebenaran pengetahuannya. Dari pemahaman tersebut maka kajian epistemologi helmintologi meliputi.

40 inci. c) mengusulkan solusi. Bahm: 17). Untuk memberantas cacing harus memutuskan rantai daur hidupnya. kemudian secara berturut-turut rasionalisme. . Cacing dewasa hidup di usus besar manusia. Telur Trichuris tak tahan terhadap sinar matahari langsung dan akibat kekeringan.Iklim panas. kelembaban dan keteduhan kurang menguntungkan maka pertumbuhan telur akan terlambat sampai beberapa bulan. oleh karena itu belum infektif. kelembaban rendah dan curah hujan 30 s. mengajukan bukti empirisnya yang terukur. . empirisme. teduh dan tanah yang basah. . Rancangan 184 Helmintologi dalam Perspektif Filsafat Ilmu (180 – 187) M. Salakory dan Zulfendri Universitas Sumatera Utara . Trichuris trichiura Nama Indonesia cacing ini adalah cacing cambuk karena bentuknya mirip cambuk. Cacing Kait (Hookworm) Nama cacing ini diberikan karena bentuknya seperti kaitan yang diterjemahkan juga dari kata hook-woorm. Oleh Archi J. d) menguji usulan atau proposal. 2004). Frekuensi tertinggi didapatkan pada daerah dengan hujan lebat dan sering. dan sebagai alatnya ialah metode ilmiah (Tafsir. Ada juga yang menamakannya dengan nama cacing tambang. Di Indonesia sangat tinggi yaitu di daerah pedesaan. metode ilmiah meliputi 5 langkah yaitu. Infeksi dengan cacing ini disebut trikuriasis.Adanya sumber penularan yaitu orangorang yang mengandung cacing tambang ini dalam ususnya. Trikuriasis pada hewan tidak menular pada manusia. kelembaban yang tinggi. Sumber penularan trikuriasis adalah manusia untuk manusia lainnya. Sedangkan pada anak-anak biasanya lewat tangannya yang terkontaminasi dengan tanah yang telah tercemar telur cacing. lingkungan yang teduh sangat cocok untuk tempat pertumbuhan larva.d. J. serta di wilayah kumuh di daerah perkotaan. Bahm. Dengan demikian aplikasinya dalam bidang geohelminth atau dengan kata lain untuk memperoleh pengetahuan tentang geohelminth dipergunakan metode ilmiah yang dalam hal ini dapat disebutkan satu contoh metode ilmiah yang dapat dipergunakan dengan melibatkan sejumlah bidang pengetahuan terkait. e) memecahkan masalah (Archi.Manusia akan terinfeksi bila menelan minuman atau makanan yang terkontaminasi dengan telur yang infektif. Penduduk yang miskin dengan tingkat pendidikan yang rendah di mana mereka tidak biasa menggunakan alas kaki terutama untuk penduduk pedesaan. sehingga telur cacing tambang ini jatuh pada tempat yang menguntungkan untuk pertumbuhan selanjutnya.Adanya kesempatan untuk kontak antara larva filariform yang infektif dengan kulit manusia. Bila lingkungannya terutama temperatur. makanan atau minuman dan alat permainan anak-anak yang berkontaminasi. Trichuris trichiura tersebar luas di daerah tropik yang panas dan lembab. yang dapat dilakukan dengan dua metode yaitu pencegahan dan pengobatan. telur yang infektif tadi akan menetas di dalam usus halus dan keluarlah “larva rabditiform” yang akan menembus dinding usus dan masuk ke vena kecil atau pembuluh limfa.Cara/kebiasaan berak. Telur yang keluar bersama tinja penderita belum mengandung larva. Nama tersebut diperoleh karena cacing ini sering menghinggapi para pekerja di tambang di Eropa yang di masa lalu belum memiliki fasilitas sanitasi yang baik. terutama di daerah sekum dengan membenamkan kepalanya di dalam dinding usus. Ada dua spesies yang merupakan parasit pada manusia yaitu Anclylostoma duodenale dan Necator americanus. dan positivisme yang memerlukan alat untuk membuktikan logikanya. a) menyadari akan masalah. disebutkan bahwa. . Infeksi terjadi apabila telur yang berisi embrio tertelan dengan perantaraan tangan.Tanah pasir atau campuran tanah liat dan pasir yang mengandung humus merupakan tempat pembiakan yang baik untuk larva cacing tambang. Cara Memperoleh Pengetahuan tentang Gohelminth Perkembangan sains pada awalnya didorong oleh paham humanisme. b) menguji masalah. sangat mudah terinfeksi dengan cacing tambang. Kadang-kadang cacing didapatkan hidup di apendiks dan illeum bagian distal. Faktor-faktor yang menguntungkan penyebaran cacing kait: .

karena tujuan penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara kondisi ekoepidemiologi (faktor risiko) dengan konsentrasi telur dan larva geohelminth di tanah (efek). bologis tanah. jumlah penderita geohelminth (prevalence. Mengingat populasi yang cukup besar dan kompleks tersebut maka perlu ditentukan sejumlah orang atau subyek sebagai sampel. Pada tahap pertama ditentukan 3 buah desa (sampling area) sebagai desa kasus.penelitian yang dapat dikembangkan adalah penelitian Cohort selama satu tahun. kegunaan pengetahuan helmintologi yang dalam hal ini dibatasi pada geohelminths. pH tanah. sedangkan desadesa dengan prevalensi rendah dipandang sebagai desa dengan faktor risiko negatif. Subjek negatif itulah yang kemudian diikuti selama 12 bulan melalui pemeriksaan faeces sebanyak 4 kali selama periode penelitian. Selain itu ditentukan pula 3 buah desa (sampling area) sebagai desa kontrol atau untuk dilakukan matching. atau halaman. Pada prinsipnya untuk cacing-cacing yang ditularkan melalui tanah memutuskan daur hidup dapat dilakukan dengan: a) membuang air besar hendaknya dilakukan di jamban. musim. b) Dinamika perkembangan telur dan larva geohelminth infektif di tanah. hidrologi. disebutkan bahwa aksiologi ilmu membahas tentang manfaat yang diperoleh manusia dari pengetahuan yang didapatnya. Pada tahap kedua. Lokasi Penelitian Penelitian dapat dilakukan di Pulau yang secara ekologis pulau tersebut merupakan satu ekosistem. serta cara pengetahuan helminths menyelesaikan masalah. c) prevalensi dan insidens geohelminth serta distribusinya. Aplikasinya dalam helmintologi adalah. pulau tersebut dapat meliputi wilayah kerja dari dua daerah administratif (kabupaten/kota). Buah dan sayuran sebelum dimakan hendaknya dicuci atau lebih baik kalau dimasak lebih dahulu. Teknik sampling dapat dilakukan secara berstrata. Kegunaan Pengetahuan Helminths Dari apa yang telah dibicarakan setelah dipahami karakteristik masing-masing spesies serta cara pencegahannya maka pada bagian ini dapat dibuat suatu resume tentang cara pemberantasan dan pencegahan infeksi cacing yang ditularkan melalui tanah. Aksiologi Helmintologi Yang dimaksudkan dengan aksiologi menurut Tim Dosen Filsafat ilmu Fakultas Filsafat UGM (1996). incidence). Desa-desa dengan prevalensi tinggi dipandang sebagai desa dengan faktor risiko positif. kebun. Pulau sebagai satu kesatuan ruang yang lebih luas dengan desadesa sebagai satu kesatuan ruang yang lebih sempit atau kecil. kelompok risiko ringan distribusinya. b) Menjaga kebersihan perorangan misalnya dengan selalu mencuci tangan dengan air bersih sebelum dan sesudah makan dan minum sehingga telur cacing yang infektif tidak tertelan. faktor fisik tanah. Salakory dan Zulfendri 185 Universitas Sumatera Utara . Sampel tanah diperoleh dari areal lahan di mana penduduk/subyek lebih banyak beraktivitas. dipilih subyek yang negatif mengandung geohelminth. Untuk itu terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan faeces agar diketahui seseorang positif atau negatif mengandung geohelminth. dengan pendekatan longitudinal ke depan atau pendekatan prospektif. juga antara konsentrasi telur dan larva geohelminth di tanah (faktor risiko) dengan prevalensi dan insidens geohelminth di masyarakat (efek). intensitas infeksi akibat geohelminth (TPG). c) Pemupukan tanaman dengan tinja segar manusia sebaiknya ditiadakan. Populasi dan Sampel Sebagai populasi adalah orang atau penduduk yang tinggal pada desa-desa di pulau-pulau tersebut. Dipilihnya desain ini. tidak di sungai. serta areal sekitar tempat biasanya buang air besar. indeks penularan. Ukuran Kebenaran Pengetahuan tentang Geohelminth Sebagai ukuran yang dimaksudkan di sini adalah meliputi variabel-variabel yang akan diteliti atau dijadikan dasar bagi pengujian hipotesis nanti dapat meliputi: a) ekoepidemiologi geohelminth. yaitu dari areal sekitar lokasi rumah tinggalnya. Ini dimaksudkan untuk mencegah tinja penderita mencemari tanah sehingga telur cacing tidak tumbuh menjadi stadium infektif yang dapat menjangkiti orang lain. dan penyiraman sayuran yang biasanya dimakan mentah hendaknya disiram dengan mempergunakan Helmintologi dalam Perspektif Filsafat Ilmu (180 – 187) M. tetapi secara administratif-pemerintahan.

maka beberapa saran dapat kami sampaikan sebagai berikut: 1. a) Prinsip-prinsip dasar yang merupakan nilai-nilai kebenaran dalam pembangunan kesehatan. maka dapat dibuat beberapa kesimpulan sebagai berikut: Pengembangan bidang kesehatan yang include dalam pembangunan bidang kesehatan yang tidak mengindahkan dampak positif dan dampak negatif terhadap kesehatan manusia. Dari kesimpulan yang dibuat tersebut. seni. e) Mengobati penderita. diskusi panel. Dengan mengobati penderita maka sumber penularan yaitu cacing dewasa yang hidup di usus penderita dapat dibasmi. dan aksiologi. seminar. dan cara pengetahuan helminths menyelesaikan masalah. maka pengembangan bidang kesehatan dewasa ini sesungguhnya memperhatikan 3 hal antara lain. lokakarya. b) Kejelasan transformasi pembangunan kesehatan di masa depan c) Sinergisme upaya-upaya kesehatan yang bersifat dinamis. penderita sebagai satu-satunya sumber infeksi cacing usus. dan penerapannya dalam pelaksanaan tugasnya sebagai ilmuan (Archie. . 186 Helmintologi dalam Perspektif Filsafat Ilmu (180 – 187) M. dan sejenisnya yang menyajikan tulisantulisan bermutu baik bagi pemecahan masalah endemis helminths maupun pengembangan bidang parasiotologi dan helmintologi. c) Para akademisi diharapkan sering melakukan penelitian helmintologi yang memiliki nilai praktis dan nilai keilmuan. serta ukuran kebenaran pengetahuan tentang soil transmitted helminths. epistemologi. Bahm dalam tulisannya What is Science kepada pembaca dalam mengkaji suatu keabsahan suatu ilmu pengetahuan sbb: a) diperlukannya komunikasi antar ilmuan dalam menyikapi suatu permasalahan. d) menjaga kebersihan lingkungan rumah dan halaman. Epistemologi helminths berbicara tentang obyek helminths. gelang dan cambuk. PENUTUP Sebagai bagian akhir dari penulisan ini. sehingga produksi telur terhenti. d) Pelaksanaan ceramah ilmiah. desentralisasi dan globalisasi. atau pengetahuan pada dasarnya memiliki tiga landasan yaitu. cara memperoleh pengetahuan tentang soil transmitted helminths. kesehatan lingkungan. ontologi. etika. kajian ilmiah bidang helmintologi dapat meliputi: a) pertemuan para pakar bidang helmintologi medik secara berkala untuk mengkaji berbagai permasalahan menyangkut perkembangan ilmu bidang helmintologi. Salakory dan Zulfendri Universitas Sumatera Utara .air bersih. dan sosiologi. Bila berkebun dianjurkan menggunakan sarung tangan. Mengingat kompleksnya pembangunan kesehatan dalam kaitannya dengan konteks demokratisasi. b) Seseorang harus mempunyai keinginan untuk menyelidiki lebih lanjut guna mendapatkan pengertian yang spesifik c) Dibutuhkannya sikap obyektif bagi seorang ilmiah akan tetapi sikap obyektif itu harus dapat dipertanggungjawabkan kemanfatannya.Aksiologi helminths berbicara tentang kegunaan pengetahuan helminths. Perguruan tinggi seluruh Indonesia perlu melakukan pencanangan mata kuliah filsafat ilmu sebagai mata kuliah wajib seluruh fakultas. Pada paragraph terakhir dari halaman pertama dinyatakan dibutuhkannya suatu komunikasi dalam penentuan keilmiahan suatu permasalahan. d) Diharapkan agar setiap ilmuan untuk selalu memahami enam unsur utama dari ilmu pengatahuan. Bagaimana aplikasinya dalam bidang kajian Helmintologi? Sebagaimana halnya pengetahuan ilmiah secara universal yang menjunjung tinggi kaidah-kaidah ilmiah dalam menyatakan jati dirinya. Sehingga dibutuhkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang seimbang dengan pengembangan aksiologi. Ontologi helmiths berbicara tentang hakikat helminths dan struktur helminths. J. kesehatan sosial. Selain untuk mencegah masuknya larva infektif cacing tambang juga mencegah tercemarnya tangan dengan telur infektif cacing tambang. Semua pengetahuan apakah itu ilmu. b) Penyajian tulisantulisan ilmiah atau artikel dan penelitian helmintologi dalam jurnal-jurnal parasitologi dan helmintologi ataupun jurnal kesehatan masyarakat. religi. Cara Pengetahuan Helminths Menyelesaikan Masalah Beberapa pesan yang disampaikan oleh Archie. Biasakan menggunakan sandal atau alas kaki jika berjalan di kebun. J. Bahm: 1-34). workshop. dan kesehatan budayanya merupakan bentuk dari pelanggaran hak asasi manusia.

Jakarta. 1996. Filsafat Ilmu. Suriasumantri J. 2000. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan. Tafsir A. Liberty. 2001. Helmintologi Kedokteran. Filsafat Ilmu. PT. disertasi para mahasiswa. Yogyakarta. PMID: 9239849 [PubMed – indexed for MEDELINE]. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kedokteran di Indonesia. Jakarta. ontologi. Archie J. Ilmu Dalam Perspektif. Parasitologi Medik. Download 16/09/2006. Journal. 1995. R. Bahm. Acta Cient Venes. Salakory dan Zulfendri 187 Universitas Sumatera Utara . Jakarta. Liberty. Yogyakarta. 1992. Pengantar Filsafat Ilmu.. ”Pandangan tentang Strategi Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kedokteran”. What Is Science. Jakarta. EGC. The Liang Gie. September 1994. Helmintologi. UGM.. Jakarta. tesis. epistemologi. DAFTAR PUSTAKA _______. Yogyakarta. Ecoepidemiology Of Ascaris lumbricoides in an endemic Artea and Its Relation with Blood Groups. tanpa tahun. Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia Komisi Bidang Ilmu Kedokteran. Remaja Rosdakarya. _______. Yogyakarta.. Soedarto. 1994.2. Aplikasi pengembangan ilmu melalui penulisan skripsi.S. Alfandi W. Yayasan Obor Indonesia. Bandung. Gadjah Mada University Press. Helmintologi dalam Perspektif Filsafat Ilmu (180 – 187) M. Raja Grafindo Persada. Pino LA. H. Modul Kuliah Filsafat Ilmu Program Doktor Bidang Kedokteran. 2004. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Notoatmodjo S.. Jakarta. Pratiknya A W. 1991.. Hapsara. EGC. Journal. 1991. Chourio-Lozano G. Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat. Jangkung S O. pada dasarnya harus memiliki tiga landasan yaitu. Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia Komisi Bidang Ilmu Kedokteran. Jakarta. Rineka Cipta. Juli 1995. Morales G A. 1993. Epistemologi Geografi. 2004. 1. Pembangunan Kesehatan Di Indonesia. dan aksiologi. Gadjah Mada University Press. 1996.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful