BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.
Kelainan pada alat kelamin pria ( penis/phallus) merupakan salah satu masalah yang memerlukan perhatian khusus. Secara fisiologis organ tersebut (penis/phallus) memiliki beberapa fungsi, antara lain: sebagai saluran pembuangan urin, phallus juga berfungsi sebagai organ seksual. Salah satu kelainan yang akan dibahas adalah hypospadia.

Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan congenital dimana meatus uretra externa terletak di permukaan ventral penis dan lebih ke proksimal dari tempatnya yang normal (ujung glans penis) Letak lubang kencing abnormal bermacam-macam; dapat terletak pada kepala penis namun tidak tepat diujung (hipospadiatipeglanular), pada leher kepala penis (tipekoronal), pada batang penis (tipepenil), pada perbatasan pangkal penis dan kantung kemaluan (tipepenoskrotal), bahkan pada kantung kemaluan (tipeskrotal) atau daerah antara kantung kemaluan dan anus (tipeperineal) (Arif Mansjoer, 2000). Hipospadia terjadi kurang lebih pada 1 dari 250 kelahiran bayi laki-laki di Amerika Serikat. Pada beberapa negara insidensi hipospadia semakin meningkat. Laporan saat ini, terdapat peningkatan kejadian hipospadia pada bayi laki-laki yang lahir premature, kecil untuk usia kehamilan, dan bayi dengan berat badan rendah. Hipospadia lebih sering terjadi pada kulit hitam daripada kulit putih, dan pada keturunan Yahudi dan Italia. Umumnya di Indonesia banyak terjadi kasus hipospadia karena kurangnya pengetahuan para bidan saat menangani kelahiran karena seharusnya anak yang lahir itu laki-laki namun karena melihat lubang kencingnya di bawah maka di anggap perempuan. Masalah yang di timbulkan akibat hipospadia dapat berupa masalah fungsi reproduksi, psikologis maupun sosial.

1

B. Tujuan 1. Tujuan umum Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui, memahami dan mempelajari serta dapat menjelaskan mengenai penyakit hipospadia.

2. Tujuan khusus Untuk mengetahui dan memahami pengertian hipospadia Untuk mengetahui dan memahami klasifikasi hipospadia Untuk mengetahui dan memahami etiologi dan gejala hipospadia Untuk mengetahui dan memahami patofisiologi hipospadia Untuk mengetahui dan memahami penatalaksanaan hipospadia Untuk mengetahui dan memahami komplikasi hipospadia Untuk mengetahui dan memahami asuhan keperawatan pada anak dengan hipospadia

2

2 Etiologi Penyebab pasti hipospadia tidak diketahui secara pasti. dan faktor lingkungan.BAB II TINJAUAN TEORITIS 2. 2000). Pembesaran tuberkel genitaliadan perkembangan lanjut dari phallus dan uretra tergantung dari kadar testosteron selama proses embriogenesis. Sekitar 28% penderita ditemukan adanya hubungan familial. Muara dari uretra dapat pula terletak pada skrotum atau perineum. termasuk faktor genetik. Gangguan dimaksud dan di ketidakseimbangan adalah hormone hormone-hormone androgen yang sini yangmengatur organogenesis kelamin (pria). Semakin ke proksimal defek uretra maka penis akan semakin mengalami pemendekan dan membentuk kurvatur yang disebut “chordee” (Ngastiyah.Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan dimana meatus uretra eksterna berada di bagian permukaan ventral penis dan lebih ke proksimal dari tempatnya yang normal (ujung glanss penis) (Arif Mansjoer. Hipospadia merupakan kelainan abnormal dari perkembangan uretra anterior dimana muara dari uretra terletak ektopik pada bagian ventral dari penis proksimal hingga glands penis. Jika testis gagal memproduksi sejumlah testosteron.endokrin.1 Definisi Hipospadia berasal dari dua kata yaitu hypo yang berarti di bawah dan spadon yang berarti keratan yang panjang. Beberapa faktor yang oleh para ahli dianggap paling berpengaruh antara lain : 1. 2005) Berdasarkan dari pengertian diatas hipospadia yaitu suatu kelainan bawaan sejak lahir dimana lubang uretra terdapat di penis bagian bawah. Beberapaetiologi dari hipospadia telah dikemukakan. bukan di ujung penis. atau biasa juga karena reseptor hormoneandrogennya sendiri di dalam tubuh yang kurang atau tidak 3 . 2..

2.Sehingga walaupun hormone androgen sendiri telah terbentuk cukupakan tetapi apabila reseptornya tidak ada tetap saja tidak akanmemberikan suatu efek yang semestinya. 3.3 Klasifikasi 1. Hipospadia sering disertai kelainan penyerta yang biasanya terjadi bersamaan pada penderita hipospadia. Hipospadia Peneescrotal yaitu lubang kencing terletak di antara buah zakar (skrotum) dan batang penis. 4 . Hidrokel. Hal ini biasanya terjadikarena mutasi pada gen yang mengode sintesis androgen tersebutsehingga ekspresi dari gen tersebut tidak terjadi. Tipe hipospadia yang lubang uretranya didepan atau di anterior: Hipospadia Glandular yaitu lubang kencing sudah berada pada kepala penis hanya letaknya masih berada di bawah kepala penisnya HipospadiaSubcoronal yaitu lubang kencing berada pada sulcus coronarius penis (cekungan kepala penis). Undescensus testikulorum (tidak turunnya testis ke skrotum) 2. Kelainan yang sering menyertai hipospadia adalah : 1. 2. Lingkungan Biasanya faktor lingkungan yang menjadi penyebab adalah polutan danzat yang bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi. Atau enzim yang berperandalam sintesis hormone androgenandrogen converting enzyme(5alpha-reductase) tidak mencukupi pun akan berdampak sama.ada. Genetika Terjadi karena gagalnya sintesis androgen. 3. Mikophalus / mikropenis4. Tipe hipospadia yang lubang uretranya berada di tengah: Hipospadia Mediopenean yaitu lubang kencing berada di bawah bagian tengah dari batang penis. 2. 4. Interseksualitas.

Tipe hipospadia yang lubang uretranya berada di belakang atau posterior Hipospadia Perineal yaitu lubang kencing berada di antara anus dan buah zakar (skrotum). Penis melengkung ke bawah 3. Penis tampak seperti berkerudung karena kelainan pada kulit depan penis 4.5 Patofisiologi 5 . 2.3.4 Gejala 1. tetapi berada di bawah penis 2. Jika berkemih. 2. Lubang penis tidak terdapat di ujung penis. anak harus duduk.

dan edema. Residual chordee / rekuren chordee. yang biasanya dicegah dengan balut tekan selama 2 sampai 3 hari pasca operasi b. Striktur uretra. Divertikulum. terjadi pada pembentukan neouretra yang terlalu lebar.7 Komplikasi 1. pada proksimal anastomosis yang kemungkinan disebabkan oleh angulasi dari anastomosis f. Tetapi dapat dilakukan pemeriksaanginjal seperti USG mengingat hipospadi sering disertai kelainan pada ginjal. akibat dari rilis chordee yang tidak sempurna. juga terbentuknya hematom/ kumpulan darah dibawah kulit. dimana tidak melakukan ereksi artifisial saat operasi atau pembentukan skar yang berlebihan di ventral penis walaupun sangat jarang. 2. nekrosis flap. Fistula uretrocutaneus. 2. Stenosis sementara karena edema atau hipertropi scar pada tempat anastomosis yang terjadi akibat reaksi jaringan besarnya dapat bervariasi. merupakan komplikasi yang tersering dan ini digunakan sebagai parameter untuk menilai keberhasilan operasi. Komplikasi lanjut a.2. atau adanya stenosis meatal yang mengakibatkan dilatasi yang lanjut g. Adanya rambut dalam uretra yang dapat mengakibatkan infeksi saluran kencing berulang atau pembentukan batu saat pubertas e. Komplikasi awal yang terjadi adalah perdarahan. Kebocoran traktus urinaria karena penyembuhan yang lama c. Jarang dilakukan pemeriksaantambahan untuk mendukung diagnosis hipospadi. jahitan yang terlepas. 6 . infeksi. Pada prosedur operasi satu tahap saat ini angka kejadian yang dapat diterima adalah 5 – 10% d.6 Pemeriksaan diagnostik Pemeriksaan diagnostik berupa pemeriksaan fisik.

Meluruskan penis yaitu orifisium dan canalis uretra senormal mungkin. Dilakukan pada usia 1 7 . Teknik tunneling Sidiq-Chaula dilakukan operasi 2 tahap : a. Penatalaksanaan Untuk saat ini penanganan hipospadia adalah dengan cara operasi.3. Operasi ini bertujuan untuk merekonstruksi penis agar lurus dengan orifisium uretra pada tempat yang normal atau diusahakan untuk senormal mungkin. hal ini berkaitan dengan tindakan operasi rekonstruksi yang akan mengambil kulit preputium penis untuk menutup lubang dari sulcus uretra yang tidak menyatu pada penderita hipospadia. dan berbeda dengan teman-temannya yang lain yaitu dimana anak yang lain biasanya miksi (buang air seni) dengan berdiri sedangkan ia sendiri harus melakukannya dengan jongkok agar urin tidak “mbleber” ke mana-mana. Operasi sebaiknya dilaksanakan pada saat usia anak yaitu enam bulan sampai usia prasekolah. Tahapan operasi rekonstruksi antara lain 1. Variasi teknik yang populer adalah tunneling Sidiq-Chaula. Teknik Horton dan Devine. Uretroplasty yaitu membuat fassa naficularis baru pada glans penis yang nantinya akan dihubungkan dengan canalis uretra yang telah terbentuk sebelumnya melalui tahap pertama. 2. Tahap pertama eksisi dari chordee dan bisa sekaligus dibuatkan terowongan yang berepitel pada glands penis. Uretroplasty Tahap kedua ini dilaksanakan apabila tidak terbentuk fossa naficularis pada glans penis. Hal ini dimaksudkan bahwa pada usia ini anak diharapkan belum sadar bahwa ia begitu “spesial”. 1. Anak yang menderita hipospadia hendaknya jangan dulu dikhitan. Hal ini dikarenakan pada penderita hipospadia biasanya terdapat suatu chorda yang merupakan jaringan fibrosa yang mengakibatkan penis penderita bengkok.Langkah selanjutnya adalah mobilisasi (memotong dan memindahkan) kulit preputium penis untuk menutup sulcus uretra.

Uretra dibuat dari flap mukosa dan kulit bagian punggung dan ujung penis dengan pedikel (kaki) kemudian dipindah ke bawah. Tahap kedua dilakukan uretroplasti. 6 bulan pasca operasi saat parut sudah lunak. luka ditutup dengan flap dari kulit prepusium dibagian sisi yang ditarik ke bawah dan dipertemukan pada garis tengah. Setelah uretra terbentuk.½-2 tahun. Dibuat insisi paralel pada tiap sisi uretra (saluran kemih) sampai ke glands. dilakukan 1 tahap. Tidak kalah pentingnya pada penanganan penderita hipospadia adalah penanganan pascabedah dimana canalis uretra belum maksimal dapat digunakan untuk lewat urin karena biasanya dokter akan memasang sonde untuk memfiksasi canalis uretra yang dibentuknya. Penis diharapkan lurus. Teknik Horton dan Devine. 8 . tapi meatus masih pada tempat yang abnormal. Penutupan luka operasi menggunakan prepusium bagian dorsal dan kulit penis. maka sebaiknya tindakan penyunatan ditunda dan dilakukan berbarengan dengan operasi hipospadia. b. dilakukan pada anak lebih besar dengan penis yang sudah cukup besar dan dengan kelainan hipospadia jenis distal (yang letaknya lebih ke ujung penis). Mengingat pentingnya prepusium untuk bahan dasar perbaikan hipospadia. Dikerjakan 6 bulan setelah tahap pertama dengan harapan bekas luka operasi pertama telah matang. 2. Urin untuk sementara dikeluaskan melalui sonde yang dimasukkan pada vesica urinaria (kandung kemih) melalui lubang lain yang dibuat oleh dokter bedah sekitar daerah di bawah umbilicus (pusar) untuk mencapai kandung kemih. lalu dibuat pipa dari kulit dibagian tengah.

Kaji fungsi perkemihan Adanya lekukan pada ujung penis Melengkungnya penis ke bawah dengan atau tanpa ereksi Terbukanya uretra pada ventral Pengkajian setelah pembedahan : pembengkakan penis. 2.4. PENGKAJIAN 1. Kecemasan orang tua berhubungan dengan prosedur pembedahan 2.Sikap pasien dengan adanya rencana pembedahan . Nyeri akut berhubungan dengan post prosedur operasi 3. perdarahan.Tingkat pengetahuan keluarga dan pasien B. Kurangnya pengetahuan orang tua berhubungan dengan diagnosa. Fisik Pemeriksaan genetalia Palpasi abdomen untuk melihat distensi vesika urinaria atau pembesaran pada ginjal. DIAGNOSA KEPERAWATAN PRE OPERASI 1. Resiko tingggi infeksi berhubungan dengan invasi kateter 4. Asuhan keperawatan anak dengan hipospadia A. 2. Kesiapan dalam peningkatan manajemen regimen terapeutik berhubungan dengan petunjuk aktivitas adekuat. dysuria. POST OPERASI 1.Sikap pasien sewaktu diperiksa . Perubahan eliminasi urine (retensi urin) berhubungan dengan trauma operasi 9 . drinage. Mental . prosedur pembedahan dan perawatan setelah operasi.Tingkat kecemasan .

Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kesiapan peningkatan regimen terapeutik baik. Tujuan: menyatakan pemahaman diagnosa dan program pengobatan. Catat komentar atau perilaku yang menunjukkan penerimaan Libatkan pasien dan keluarga dalam perencanaan keperawatan dan berikan kenyamanan fisik pasien. Anjurkan keluarga untuk lebih mendekatkan diri kepada tuhan 2. Intervensi: Anjurkan kunjungan anggota keluarga jika perlu 10 . insisi. peningkatan nyeri dada POST OPERASI 1. Diagnosa keperawatan: Kesiapan dalam peningkatan manajemen regimen terapeutik berhubungan dengan petunjuk aktivitas adekuat. Diagnosa keperawatan: Kecemasan orang tua berhubungan dengan prosedur pembedahan. INTERVENSI PRE OPERASI 1. Diagnosa keperawatan: Kurangnya pengetahuan orang tua berhubungan dengan diagnosa. Intervensi: Diskusikan diagnosa. terjadinya kesulitan pernafasan. demam.C. rencana terapi dan hasil yang diharapkan Diskusikan perlunya perencanaan untuk mengevaluasi perawatan saat pulang Identivikasi tanda atau gejala yang memerlukan evaluasi medis seperti perubahan penampilan. Tujuan : mengurangi kecemasan orang tua terlihat tenang Intervensi : Evaluasi tingkat pemahaman keluarga tentang diagnosa Akui masalah pasien dan dorong mengekspresikan masalah Berikan kesempatan untuk bertanya dan jawab dengan jujur. prosedur pembedahan dan perawatan setelah operasi.

intensitas. Diagnosa keperawatan: Nyeri akut berhubungan dengan post prosedur operasi Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri berkurang. durasi. frekuensi. durasi. karakteristik. 2. dan faktor pencetus nyeri Observasi keluhan nonverbal dari ketidaknyamanan Ajarkan teknik nonfarmakologi (relaksasi) Bantu pasien & keluarga untuk mengontrol nyeri Beri informasi tentang nyeri (penyebab. nadi. suhu pasien Monitor keabnormalan pola napas pasien Identifikasi kemungkinan perubahan TTV Monitor toleransi aktivitas pasien Anjurkan untuk menurunkan stress dan banyak istirahat 11 .- Bantu keluarga dalam melakukan strategi menormalkan situasi Bantu keluarga menemukan perawatan anak yang tepat Identifikasi kebutuhan perawatan pasien di rumah dan bagaimana pengaruh pada keluarga - Buat jadwal aktivitas perawatan pasien di rumah sesuai kondisi - Ajarkan keluarga untuk menjaga dan selalu menngawsi perkembangan status kesehatan keluarga. kualitas. prosedur antisipasi nyeri) NIC 2 : Monitor tanda vital Intervensi : Monitor TD. RR. Intervensi: NIC 1 : Manajemen nyeri Intervensi : Kaji secara komperhensif mengenai lokasi.

drainase Bersihkan luka dan ganti balutan dengan teknik steril Cuci tangan dengan benar sebelum dan sesudah tindakan Ajarkan pada pasien dan kelurga cara prosedur perawatan luka NIC 3 : Perlindungan infeksi Intervensi : Monitor peningkatan granulossi. 12 . Diagnosa keperawatan: Resiko tingggi infeksi berhubungan dengan invasi kateter Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan tidak terjadi infeksi. sel darah putih Kaji faktor yang dapat meningkatkan infeksi. Intervensi: NIC 1 : Kontrol infeksi Intervensi : Ajarkan pasien & kelurga cara mencucitangan yang benar Ajarkan pada pasien & keluarga tanda gejala infeksi & kapan harus melaporkan kepada petugas Batasi pengunjung Bersihkan lingkungan dengan benar setelah digunakan pasien NIC 2 : Perawatan luka Intervensi : Catat karakteristik luka.NIC 3 : Manajemen lingkungan Intervensi : Cegah tindakan yang tidak dibutuhkan Posisikan pasien dalam posisi yang nyaman 3.

jika diperlukan . Intervensi: Melakukan pencapaian secara komperhensif jalan urin berfokus kepada inkontinensia (ex: urin output. jika dibutuhkan Menganjurkan untuk mencegah konstipasi Monitor intake dan output Monitor distensi kandung kemih dengan papilasi dan perkusi Berikan waktu berkemih dengan interval reguler. Diagnosa keperawatan: Perubahan eliminasi urine (retensi urin) berhubungan dengan trauma operasi Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan retensi urin berkurang. 13 .4. fungsi kognitif dan masalah urin) Menjaga privasi untuk eliminasi Menggunakan kekuatan dari keinginan untuk BAK di toilet Menyediakan waktu yang cukup untuk mengosongkan blader (10 menit) Menyediakan perlak di kasur Menggunakan manuver crede. keinginan BAK yang paten.

Apa penyebabnya? Nyeri diakibatkan oleh adanya luka bekas operasi dan An. Bagaimana dirasakan An. Dimana lokasinya : Pangkal Penis.2. Region 1. Quantity/Quality 1. IDENTITAS DATA Nama : An.R tidak kesakitan lagi dan gelisah berkurang setelah selesai ganti verban. 2. : Tn.Flamboyan VI No 5 Tj Selamat Medan : Jawa : Islam : 21 Mei 2012 : 28 Mei 2012 : 24 Mei 2012 14 . Bagaimana dilihat An.R merasa kesakitan saat dilakukan ganti verban 2. Propocative/ palliative 1.A / Ny.KELUHAN UTAMA Nyeri bekas luka operasi di bagian genetalia. b. a.R menangis dan gelisah c. Hal – hal yang memperbaiki keadaan An. 26 Agustus 2010 Nama Ayah / Ibu Pekerjaan Ayah Pekerjaan Ibu Alamat Suku Agama Tanggal Masuk Tanggal Pengkajian Tanggal Operasi 3.1.BAB III LAPORAN KASUS 3.R Tempat/Tanggal Lahir : Medan.D : Karyawan Swasta : Ibu Rumah Tangga : Jl. R merasa nyeri waktu dilakukan ganti verban.

Alergi An. Pernah dirawat di Rumah Sakit Sebelumnya klien belum pernah dirawat di Rumah Sakit Obat-obat yang digunakan klien pernah di berikan „Sanmoll Syrup c. Penyakit waktu kecil Ibu An.R belum pernah dilakukan tindakan operasi d. Apakah menyebar : nyeri yang dirasakan tidak menyebar d.3. Campak belum diberikan 15 . Tindakan (operasi) An. Kecelakaan An.R mengatakan anaknya pernah mengalami demam dan batuk b. Severity (mengganggu aktivitas) Nyeri bekas operasi dan pemasangan kateter mengganggu aktivitas An. sehingga hanya dapat beraktivitas dan bermain di tempat tidur saja. Time (kapan mulai timbul dan bagaimana terjadinya Nyeri terjadi pada saat dilakukan penggantian verban.2. Imunisasi An.R tidak pernah mengalami kecelakaan sebelumnya f. 3. RIWAYAT MASA LAMPAU a. e.R tidak memiliki riwayat alergi makanan dan obat-obatan e.R sudah mendapatkan imunisasi tapi belum lengkap.R.

Yang mengasuh An.R c. Hubungan dengan anggota keluarga Hubungan dengan anggota keluarganya baik dan tidak ada masalah.4. R di asuh oleh kedua orang tuanya. Hubungan dengan teman sebaya 16 .RIWAYAT KELUARGA Keterangan = laki-laki = perempuan = meninggal = pasien 3.5 RIWAYAT SOSIAL a.3. keluarganya sangat menyayangi An. yaitu ayah dan ibunya b.

 Post-Natal: perkembangan dan pertumbuhan sampai saat ini berjalan normal.nenek dll 3. TBC. minum obat-obatan maupun minum jamu-jamuan. bunda. makanan yang tidak disukai tidak ada.R mengatakan bahwa lingkungan rumahnya bersih.. f. mie. baru bisa tersenyum pada orang lain dan baru bisa mengatakan dua huruf ma. ayah. Hipertensi dan alergi obat  Natal: anak lahir pada usia 9 bulan. tempat tinggal jauh dari jalan raya dan tidak ada pabrik yang menyebabkan polusi.tante.  Motorik halus: An.. panjangnya 51cm. terkadang sedikit rewel ketika mau tidur dan ingin minum susu atau sewaktu terasa lapar. d.An. di tolong oleh Bidan secara spontan.R sebelum masuk RS sudah berjalan dan berlari dengan baik.R ditemani oleh ibunya. Lingkungan rumah Ibu An. KEBUTUHAN DASAR a.R berusia 8 bulan. g. Riwayat Keperawatan sebelumnya  Prenatal: selama hamil ibu tidak pernah sakit. kesehariannya An. Pembawaan secara umum Ceria. dengan berat badan lahir 3600 gr.. e.6. Makanan 1) Makanan yang disukai/tidak disukai:  Sebelum MRS: Makanan yang disukai yaitu nasi.P sebelum masuk RS sudah bisa bermain-mainan  Komunikasi: sudah bisa berbicar walau masih ada yang celat  Sosial: tersenyum pada orang dan memanggil kakak . sesekali kakek neneknya serta adik ibunya. Tahap tumbuh kembang An R:  Fisik: BB= 11 kg dan PB= 84 cm  Motorik kasar: An. 17 .ma. Tidak mempunyai penyakit DM.

kapan lapar disuapin ibunya.R makan disuapin menggunakan sendok oleh ibunya 4) Pola makan/jam:  Sebelum MRS: An. 2) Tidur siang  Sebelum MRS: An.R kesulitan untuk tidur karena kondisinya yang gelisah. di bacakan cerita. lebih senang minum susu formula dan roti. post operasi menggunakan selang catheter dan kondisi ruangan yang agak panas.R makannya tidak teratur. diberi sesuai dengan diet yang diinstruksikan dari rumah sakit. b. diet yang disediakan dari rumah sakit tidak dimakan. Setelah MRS: An. An. Makan biasa nasi lembut. biasanya An. benda yang di bawa tidur)  Sebelum MRS: An. 2) Selera:  Sebelum MRS: An.R menghabiskan 1 porsi makanan yang diberikan.R selalu dinyanyikan oleh ibunya. diet yang diberikan hanya dimakan ¼ porsi.R selera makannya tidak teratur. anak suka bermain.  Setelah MRS: An. kapan lapar baru makan. 3) Alat makan yang dipakai  Sebelum MRS: An. sambil minum susu menggunakan dot dan kemudian baru tertidur  Setelah MRS: An.  Setelah MRS: An.R selera makannya tidak ada.R makannya tidak teratur berapa kali/hari. 18 . Pola tidur 1) Kebiasaan sebelum (perlu mainan.R lebih senang minum susu formula dan roti.R tidur siang namun tidak dapat diukur berapa jam/hari. kadang tidak mau tidur siang.R makan disuapin menggunakan sendok oleh ibunya  Setelah MRS: An. biasanya habis 1 porsi yang diberikan.

dimandikan oleh ibunya  Setelah MRS: An.R 1x sehari. warna kekuningan dan BAK menggunakan selang catheter dengan output rata-rata 500 cc/hari.R kondisinya lemah. 24 gtts/i (mikro) : Makan biasa lembut : inj. BAK keluar dari batang pangkal Penis dibagian atas Scrotum.Ceftriaxone 330 mg / 12 jam inj.R kadang-kadang tidur siang dan kadangkala tidak tidur siang karena gelisah. konsistensi sedang. 5) Eliminasi  Sebelum MRS: BAB An. konsistensi lunak.225% (4:1). kadang sambil duduk bermain bola ..kalnex 250 mg / 12 jam PCT 3 x 70 mg f. Status cairan d. bermain bola-bolaan dirumah diajak berjalan-jalan dekat lingkungan rumah  Setelah MRS: An.  Setelah MRS: BAB An. Tindakan operasi c. KEADAAN KESEHATAN SAAT INI a. pergerakan terbatas. Status nutrisi e.R 1x sehari. Obat-obatan : Hypospadia : Cordhectomy : IVFD D5% Nacl 0. 4) Aktivitas bermain  Sebelum MRS: An. 19 . Setelah MRS: An.tramadol ½ ampul / 8 jam inj. warna kekuningan dan normal.R hanya di lap oleh perawat dan dibantu ibunya. Aktivitas : klien hanya beraktivitas di tempat tidur. aktivitas bermain hanya dilakukan ditempat tidur.main Hp ibunya. yakni pagi dan sore.7.R selalu ditemani ibunya di rumah. Diagnosis medis b. warna kekuningan dan normal ± 500ml/hari.R mandi 2x sehari. 3. 3) Mandi  Sebelum MRS: An.

Keadaan umum 2. PB/BB 3.Dada/Thorax :Simetris kanan kiri. 8. palpebra tidak edema.karena post operasidan penggunanaan selang catheter.3 132 43  (Tanggal 22 Mei 2012) KGD SGOT SGPT 102 28 13 ALKALIS PHOSFATASE 268 TOTAL BILIRUBIN 0.13 UREUM  Foto Rontgen 3. penyebarannya merata. konjungtiva tidak anemis.24 DIREC BILIRUBIN 0. irama jantung regular dan adanya retraksi dinding dada : compos mentis : 84 cm/11 kg : 46 cm :Simetris. Lingkar kepala 4. dan pupil isokor. pertumbuhan gigi sudah lengkap 10. HR 88 x/mnt. 6. dan bersih. Kepala rambut tipis. Telinga :Tidak ada pembesaran KGB dan kelenjer tiroid. tidak ada serumen. Mulut :Lubang hidung simetris. g. :Mukosa mulut kering. 20 . sklera tidak ikterik. 5. Leher 7. tidak berbau. tidak ada pembesaran. Hasil Lab : CREATINAI 0. Mata :Simetris kanan dan kiri. tidak ada lesi. Hidung 9.31 URIC ACID NATRIUM KALIUM 3.9 17 : Tidak dilakukan PEMERIKSAAN FISIK 1. tidak ada kotoran. ukuran normal. :Simetris kanan kiri.sianosis.

dan bising usus normal. edema (-). edema (-). tidak ada kelainan. tidak ada lesi. Genetalia :Penis(+). Ekstremitas bawah :lemah.ada kelainan pada penis ( Hypospadia). 13. Ekstremitas atas :lemah. batuk tidk ada. Paru-paru retraksi :Pergerakan nafas normal.anus(+).11. dyspnea tidak ada. bersih dan di verban penggunaan selang chateter 14. turgor kulit baik kembali normal <3 detik. Tanda-tanda vital :  RR: 28 x/mnt (regular)  HR: 88 x/mnt (regular)  Temp: 36. otot bantu nafas. dan tidak ada kelainan terpasang Infus dilengan kanan 15. RR 28 x/mnt dan bunyi nafas stridor 12. tidak ada lesi 16. Abdomen :Simetris kanan kiri.5 0 C 21 .

ANALISA DATA No Data 1 DS: Ibu mengatakan An. DO: Ny.R terlihat kesakitan.R terlihat gelisah dan menolak saat dilakukan viksasi kateter Hipospadia Tindakan pembedahan chordectomy Jejas pada meatus urinaria Resiko injuri Resiko injury 22 .D terlihat cemas Kurang pengetahuan tentang program pengobatan dan proses penyembuhan 4 DS : Ibu mengatakan anaknya selalu meronta dan menangis saat memviksasi kateter. RR: 28x/menit Etiologi Hipospadia Tindakan reposisi meatus urinari Chordhectomy Luka post op Merangsang catecolamine dan prostaglandin Nyeri Hipospadia Tindakan pembedahan chordectomy Informasi yang tidak adekuat ansietas Kurangnya sumber informasi Kurangnya kemampuan menganalisa sumber informasi Inadekuat informasi tentang program pengobatan dan peoses penyembuhan Kurang pengetahuan tentang program pengobatan dan proses penyembuhan Masalah Nyeri (akut) 2 DS :Ibu mengatakan sangat khawatir dengan kondisi anaknya dan selalu menanyakan apakah operasi ini berhasil DO : Ny. DO : An. menangis (+) skala nyeri: 5-6.D terlihat cemas dan gelisah Ansietas 3 DS: Ibu bertanya terus mengenai peluang keberhasilan operasi dan keefektifan operasi. HR: 88x/menit . DO: An.R sering manangis karena kesakitan dan memegangi daerah post operasi.

5 DS : ibu mengatakan bahwa An. R selalu menangis dan gelisah saat ganti verban DO : an. Hipospadia Chordectomy Tindakan invasif Pajanan lingkungan/mikroorganisme yang menginvasi daerah post operasi Resiko tinggi infeksi Resiko infeksi post operasi 23 . R menjerit dan menangis.

Kecemasan orang tua berhubungan dengan prosedur pembedahan ditandai dengan keluarga sering bertanya mengenai prosedur tindakan operasi. Skala nyeri: 5-6. Nyeri akut berhubungan dengan tindakan pembedahan reposisi meatus urinari. Resiko injuri berhubungan dengan tindakan invasif pemasangan kateter atau pengangkatan kateter 5. kebutuhan medikasi. 3. tindakan invasif : pemasangan kateter ditandai dengan An.DIAGNOSA KEPERAWATAN BERDASARKAN PRIORITAS 1. RR: 28x/menit 2. post operasi chordectomy 24 . kemampuan dalam menganalisa informasi ditandai dengan kedua orang tua mengatakan tidak tahu tentang perawatan sebelum dan setelah operasi 4.R terlihat meringis kesakitan dan menangis. post operasi chordectomy. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif: pemasangan kateter. HR: 88x/menit. keluarga terlihat bingung dan cemas. Kurang pengetahuan orang tua mengenai program pengobatan berhubungan dengan kurangnya terpajan sumber informasi.

Mengevaluasi keefektifan dalam pemakaian obat dengan benar untuk mengontrol nyeri 5. tentukan karekteristik nyeri 1. Skala nyeri : 5-6 (sedang). Tanyakan pasien tentang nyeri. Skala nyeri: 5-6. Catat kemungkinan penyebab nyeri psikologi 4. 7. Bantu aktivitas perawatan diri. berikan lingkungan tenang. terbakar dan buat dalam skala nyeri 2. tindakan invasif : pemasangan kateter ditandai dengan An. Mengkaji kemungkinan penyebab nyeri : luka bekas operasi. Kaji pernyataan verbal dan non verbal nyeri pasien 3. HR: 88x/menit. RR: 28x/menit Perencanaan Kriteria Hasil Melaporkan bahwa nyeri Mandiri: terkontrol. Evaluasi keefektifan patofisiologi dan diinginkan kesakitan. Jadwalkan periode istirahat. Menanyakan pasien Intervensi Implementasi mengenai karateristik nyeri. Mengidentifikasi pernyataan verbal dan non verbal : ibu klien mengatakan sering anaknya merasa seperti terus menerus. 6. Berikan tindakan kenyamanan sering mengubah posisi dan masase pada punggung dan sokongan bantal. memegangi daerah post operasi.R : 1 Tahun 10 bulan : laki-laki Diagnosa keperawatan I : Nyeri akut berhubungan dengan tindakan pembedahan reposisi meatus urinari. 25 . 2. tampak rileks dan dapat tidur dengan nyaman.R terlihat meringis kesakitan dan menangis. dalam berpartisipasi aktivitas yang 1. sakit menusuk. wajah an. 3. R cemberut dan meringis menahan sakit. post operasi chordectomy.RENCANA KEPERAWATAN Nama Klien Umur Jenis kelamin : An. 4.

Berikan kesempatan untuk bertanya dan jawab dengan jujur. Diagnosa keperawatan II: Kecemasan orang tua berhubungan dengan prosedur pembedahan ditandai dengan keluarga sering bertanya mengenai prosedur tindakan operasi. keluarga terlihat bingung dan cemas. Berikan analgesik rutin sesuai dengan indikasi. berntanya proses pasien dan pemberi 26 . Kolaborasi: 1. menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi pemahaman keluarga tentang diagnosa 2.R : buruk. 5. yakinkan bahwa mengekspresikan masalahnya. R minum teratur. Memberikan mobilisasi. Akui masalah keluarga dan dorong mengekspresikan masalah 3. 3. dan mendiskusikan Mandiri: rentang 1. Evaluasi tingkat 1. Mengubah posisi : obat secara miring kanan dan kiri. 7. pemakaian obat : an. Mendorong keluarga diagnose Intervensi Implementasi menunjukkan perasaan yang tepat dan penampilan wajah tampak rileks. Mengevaluasi tingkat pemahaman keluarga mengenai an. ambulasi. Memberikan injeksi latihan klien dan sudah Tramadol ½ A/8 jam. Memberikan kesempatan keluarga untuk mengenai penyakit. kkhususnya 45-60 menit sebelum tindakan. 2. 1. PERENCANAAN Kriteria hasil Mengakui masalah. Menganjurkan beristirahat lingkungan tenang.pernafasan atau latihan tangan. 6.

Catat komentar dan perilaku yang 4. kemampuan dalam menganalisa informasi ditandai dengan kedua orang tua mengatakan tidak tahu tentang perawatan sebelum dan setelah operasi PERENCANAAN Kriteria hasil Menyatakan diagnosa pengobatan. mendiskusikan perencanaan mengevaluasi perawatan saat pulang 3. Diskusikan dengan benar prosedur yang perlu dan menjelaskan alasan tindakan tersebut. Melibatkan dalam keluarga perencanaan dan keperawatan memberikan kenyamanan. Libatkan pasien dan keluarga perncanaan keperawatan dan dalam berikan kenyamanan fisik pasien. 1. dan pemahaman Mandiri: program melakukan 1. 3. menunjukkanpenerim aan. 4. perlunya untuk terapi. saat 27 . Identifikasi tanda atau perlunya perencanaan mengevaluasi perawatan pulang. 2. Mendiskusikan kepada mengenai keluarga rencana Intervensi Implementasi rencana terapi dan hasil yang diharapkan 2.pelayanan kesehatan memiliki pemahaman yang sama. Diagnosa keperawatan III : Kurang pengetahuan orang tua mengenai program pengobatan berhubungan dengan kurangnya terpajan sumber informasi. Diskusikan diagnosa. Mengidentifikasi untuk gejala yang memerlukan evaluasi medis seperti perubahan penampilan. 5.

3. PERENCANAAN Kriteria hasil Pasien tidak mengalami tanda Mandiri: ataupun gejala injuri 1. kesulitan demam. adanya seperti kemerahan Intervensi Implementasi peradangan seperti demam. 2. Berikan perawatan kulit adanya pus pada luka. kemerahan adanya pus pada luka. nyeri Diagnosa keperawatan IV: Resiko injuri berhubungan dengan tindakan invasif pemasangan kateter atau pengangkatan kateter. sputum purulen. terjadinya kesulitan pernafasan. Mengobservasi peradangan demam. menggunakan baby oil. Mengkaji integritas kulit dan awasi tanda vital : 28 . sputum purulen. Pertahankan tehnik aseptik pada prosedur invasif yang sesuai dengan konsep baik steril mupun bersih. urine warna keruh atau berkabut : tidak ditemukan tanda infeksi. demam. peningkatan tanda yang atau gejala memerlukan medis perubahan insisi. Mempertahankan aseptik pada tehnik prosedur invasif yang sesuai dengan konsep baik steril mupun bersih. evaluasi seperti penampilan. Observasi adanya 1. urine warna keruh atau berkabut. 4. Memberikan kulit dengan perawatan teratur : dengan teratur 4. 2. terjadinya pernafasan.insisi. 3. peningkatan dada. nyeri dada. Lakukan perubahan posisi. Kaji integritas kulit dan awasi tanda vital 5.

kemerahan adanya pus peradangan seperti demam. Pertahankan tehnik aseptik pada prosedur invasif yang sesuai dengan konsep baik steril mupun bersih. Mengganti verban setiap hari serta mempertahankan luka agar tetap kering dan bersih. kebutuhan medikasi. urine warna keruh atau berkabut : tidak ada ditemukan tanda infeksi. urine warna keruh atau berkabut. 2. invasif yang sesuai dengan konsep baik steril mupun bersih. 29 . turgor lembab. 3. sputum purulen. Mempertahankan aseptik pada tehnik prosedur pada luka. Ganti verban setiap hari dan pertahankan agar luka kering dan bersih. kemerahan adanya pus pada luka. 5. Melakukan perubahan posisi : miring kanan dan kiri. 2. post operasi chordectomy PERENCANAAN Kriteria hasil Pasien tidak mengalami tanda ataupun gejala infeksi Intervensi 1. sputum purulen. 3.keadaan kulit baik. Diagnosa keperawatan V: Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif: pemasangan kateter. Mengobservasi adanya peradangan seperti demam. Observasi adanya Implementasi 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful