P. 1
Komunikasi politik

Komunikasi politik

3.0

|Views: 271|Likes:
Published by bumnbersatu
Ilmu Komukasi ,Paradigma Komunikasi Politik diera Rezim Orde baru ,Reformasi dalam menciptakan masyarakat madani
Ilmu Komukasi ,Paradigma Komunikasi Politik diera Rezim Orde baru ,Reformasi dalam menciptakan masyarakat madani

More info:

Published by: bumnbersatu on Jul 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/28/2014

pdf

text

original

Ilmu Komukasi ,Paradigma Komunikasi diera Rezim Orde baru ,Reformasi menciptakan masyarakat madani

Nama : FX. Arief Poyuono Nim : 2010010362009 Email : komunikasisaja@gmail.com Mobile: 0811996229 DOSEN : Dr. ELVINARO ARDIANTO, M. Si. I.Pendahuluan

Politik dalam

Samudera Ilmu komunikasi yang tengah kita selami berasal dari tiga muara, yaitu dari Publisistik, Jurnalistik, dan Retorika. Publisistik berkembang di benua Eropa tepatnya di Jerman, sedangkan Jurnalistik dan Retorika berkembang di Amerika. Ilmu Komunikasi di Eropa mengalami perkembangan melalui publisistik (Jerman:publizistik), bermula pada Revolusi Industri abad 19. Saat itu ditandai dengan munculnya percetakan-percetakan yang telah menjadi bagian hidup masyarakat, sehingga peranan pers mulai tampak. Max Weber (1864-1920) telah menjadikan publisistik sebagai landasan ilmu. Pada tahun 1910, Max sebagai sosiolog membagi sosiologi menjadi dua bagian, yaitu sosiologi organisasi (kurang berkembang) dan sosiologi pers (zeitungwissenschaft : ilmu persuratkabaran). Ferdinnand Tonnies (1885-1936) dalam kritiknya tentang pendapat publik, mengupas opini publik, bahwa : opini sebagai es, yaitu opini yang tertanam kuat pada masyarakat. Opini sebagai air, yaitu opini yang mengalir ke bawah; dipercaya karena berasal dari orang penting. Opini sebagai angin, yaitu opini yang berlalu begitu saja (kecuali opininya dilandasi pendapat yang empiris) Setelah masanya Max, sosiologi pers tidak hanya terbatas pada persuratkabaran, tapi juga berkembang pada retorika, radio, dan film. Dengan perkembangan itu, akhirnya muncul sebagai ilmu baru yang disebut publisistik (offentliche aussage : pernyataan publik) oleh Walter Hagemann (1966). Menurut Hageman, publisistik adalah ajaran tentang pernyataan umum mengenai isi kesadaran yang actual (die lehre von der offentliche aussage aktueller bewustseinsinhalte). Kemudian E. Dofivat

mensistematiskannya (1968), menurutnya, publisistik adalah segala usaha menggerakkan dan membimbing tingkah laku publik secara rohaniah (geitstige unterrichtung und leitung). Menurut Dofivat ada 6 unsur pokok publisistik, yaitu : 1. Offenlichkeit (ditentukan dan ditujukan pada publik) 2. Aktualitet (actual) 3. Gesinnung (didasarkan pada norma dan ideologi) 4. Uberzeugung oder kollectieve austichtung (dengan cara persuasi atau koersi kolektif) 5. Menggunakan bentuk mengesankan. pesan dan pernyataan yang jelas dan

6. Die publizistische personlichkeit (digerakkan oleh orang-orang yang mempunyai karakter dan menjiwai misi yang diembannya). Perkembangan Ilmu Komunikasi jurnalistik dan retorika. di Amerika melalui tahapan-tahapan

Perkembangan dari arah jurnalistik baru ilmu persuratkabaran saja. Menurut Weaver and Gray (1980), sejarah jurnalistik di USA terbagi dalam empat masa, antara lain : 1. Benjamin Franklin (1700-1870). Jurnalistik sebagai seni.
 

Di USA dan Eropa dipelajari dengan sistem magang. Franklin memulai karirnya di Boston kemudian di House of Coston (London) lalu diikuti oleh penulis lain dan menyempurnakan keahlian menulisnya pada pendidikan “Liberal Arts” di universitas swasta. Pada masa itu, penelitian jurnalistik dan dokumentasi kurang sistematis dan tidak ilmiah. Studi umumnya hanya berkisar tentang persuratkabaran dan penerbitannya. Pada 1810, J. Thomas (The History of Printing in America)

2. Robert Lee (1870-1930). Jurnalistik sebagai bagian dari ilmu sosial dan belum berdiri sendiri.

Mulai diajarkan secara formal di universitas.

 

Merupakan bagian dari departemen bahasa (Inggris) Yang diajarkan masih hal-hal yang bersifat teknis sehingga kurang dihargai oleh para akademisi. Dari program ini lahir doktor yang merupakan tokoh jurnalistik yaitu : Nafsiger, Siebert, dan Casey. Pada masa ini, lahir buku karangan Harold Lasswell (Propaganda Technique : The World War) merupakan studi pertama yang menganalisa isi media dengan metoda yang sistematik dan ilmiah.

3. Harold Lasswell (1930-1950). Jurnalistik sebagai Komunikasi Massa.
 

Pada masa NAZI Jerman, digunakan untuk propaganda. Hal ini menarik perhatian Lasswell sebagai sarjana ilmu politik untuk menyusun disertasi tentang teknik mempengaruhi pembentukan pendapat dan sikap publik. Sumbangan terbesarnya pada ilmu komunikasi : Metodologi. Lasswell merupakan orang pertama yang menggunakan metode analisisnya tentang struktur dan fungsi komunikasi; merintis jalan bagi penelitian-penelitian komunikasi selanjutnya dalam masyarakat. Perhatian pada efek media massa segera dikembangkan oleh Carl I. Hovland dan dua orang Jerman yaitu Paul Lazarsfeld dan Kurt Lewin. Formula Lasswell : “who, says what, in which channel, to whom, with what effect”

 

4. Wilbur Schramm (1950). Komunikasi Massa sebagai ilmu komunikasi.

Schramm sebagai sarjana bahasa Inggris tertarik ilmu komunikasi karena ditugaskan membenahi departemen komunikasi massa di Universitas IOWA, lalu ia memimpin penelitian komunikasi di Stanford, West Centre. Schramm merintis penelitian efek media pada pembangunan nasional, komunikasi pedesaan, dsb. pendidikan,

Schramm banyak menulis pada majalah atau penerbitan, sehingga mempertemukan jurnalistik dengan speech.

II.Perkembangan Ilmu Komunikasi di Indonesia Sejarah Ilmu Komunikasi di Indonesia dan perkembangannyaIstilah komunikasi berasal dari kata latin, “communicatio” yang secara estimologis bersumber dari kata “communis” yang berarti sama, bersama, atau sama makna (Drs. K. Prent CM, dkk. Kamus Latin-Indonesia. 157). Jadi, apabila ada dua orang terlibat dalam komunikasi, maka komunikasi tersebut akan terjadi selama ada kesamaan makna mengenai apa yang dipercakapkan. Bentuk dan cara komunikasi yang diciptakan manusia sesungguhnya terus berkembang sepanjang zaman, termasuk bahasa yang digunakan sebagai perantara. Ilmu komunikasi merupakan ilmu terapan dari kelompok ilmu sosial. Menurut ilmuwan, ilmu komunikasi bersifat indisipliner karena objek materialnya sama dengan ilmu-ilmu yang lain, terutama yang masuk ilmu sosial. Dinamakan ilmu terapan karena dipakai untuk memecahkan masalahmasalah praktis yang dapat dirasakan kegunaannya secara langsung dan bersifat sosial. Ilmu-ilmu terapan berhubungan dengan perubahan atau pengawasan dari situasi-situasi paraktis,ditinjau dari sudut kebutuhan manusia. Sementara itu, bedanya dengan ilmu yang murni mengembangkan ilmu itu sendiri tanpa mempertimbangkan apakah ilmu tersebut secara langsung berguna bagi masyarakat atau tidak. Di Indonesia, ilmu komunikasi yang kita kaji saat ini sebenarnya merupakan hasil dari suatu proses perkembangan yang panjang. Status ilmu komunikasi di Indonesia diperoleh melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 107/82 Tahun 1982. Keppres itu yang kemudian membawa penyeragaman nama dari ilmu yang dikembangkan di Indonesia, termasuk ilmu komunikasi. Sebelumnya dibeberapa universitas, terdapat beberapa nama yang berbeda, seperti di Universitas Padjadjaran Bandung dan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang menggunakan nama Publisistik, serta Universitas Indonesia yang telah lama mengganti nama Publisistik menjadi Ilmu Komunikasi Massa. Kajian terhadap ilmu komunikasi sendiri dimulai dengan nama Publisistik dengan dibukanya jurusan Publisistik pada Fakultas Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada pada tahun 1950, Akademi Penerangan pada tahun 1956, Perguruan Tinggi Publisistik Jakarta pada tahun 1953, dan pada Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Masyarakat Universitas Indonesia pada tahun 1959. Nama Ilmu Komunikasi Massa dan Ilmu Komunikasi

sendiri baru muncul dalam berbagai diskusi dan seminar pada awal tahun 1970-an. Beberapa tokoh yang telah berjasa memasukkan ilmu komunikasi ke Indonesia dan kemudian mengembangkannya di Perguruan Tinggi, antara lain Drs. Marbangun, Sundoro, Prof. Sujono Hadinoto, Adinegoro, dan Prof. Dr. Mustopo. Pada tahun 1960-an, deretan tokoh itu bertambah lagi dengan datangnya dua pakar dalam bidang kajian ilmu komunikasi, yaitu Dr. Phil Astrid S. Susanto dari Jerman Barat (1964) dan Dr. M. Alwi Dahlan dari Amerika Serikat (1967). Dalam perkembangannya, kendati telah terjadi perkembangan yang penting mengenai paradigma ilmu komunikasi dimana telah muncul paradigma baru yang diuraikan oleh B. Aubrey Fisher dengan sebutan perspektif psikologis, mekanis, dan pragmatis , di Indonesia hingga saat ini ternyata masih saja berkiprah pada paradigma lama atau klasik yang dinamakan perspektif mekanistis. Hampir semua penelitian empiris komunikasi manusia di Indonesia berdasar pada perspektif mekanistis dimana yang menjadi objek penelitian adalah alam atau fisik saja. Kekecewaan dan kritik terhadap kajian ini memang telah tumbuh, bersamaan dengan semakin berkembangnya teori dan pengkajian ilmu komunikasi. Namun, mekanistis masih saja dipakai walau minat baru, gagasan baru, dan teori baru telah tumbuh dan berkembang III.Komunikasi Politik Dalam Sebuah Rezim Otoriter Militeristik Dalam suatu negara yang menganut sistim demokrasi ,kebebasan mengeluarkan pendapat adalah merupakan suatu modal untuk tetap menjaga jalan suatu demokrasi disuatu negara ,lebih dari 32 tahun dalam rezim Suharto kehidupan berdemokrasi terpenjara akibat politik otoritarian yang dilakukan oleh rezim orde baru , Pendekatan otoritarian yang menjadi warna dominan pemerintahan saat itu telah membuat rakyat semakin terpinggirkan dari proses demokrasi, yang partisipasi politik rakyat tidak pernah memperlihatkan wujudnya sesuai yang diharapkan.salah satu implikasinya dapat diamati pada kenyataan bahwa Lembaga-lembaga swadaya masyarakat, termasuk pers, juga tidak berdaya memerankan fungsinya sebagai salah satu kekuatan sosial untuk melakukan kontrol secara produktif. Akibatnya, kekuasaan pemerintah cenderung tak

terbatas dan bahkan otoriter. Komunikasi politik akan menyalurkan energienergi kehidupan politik secara timbal balik, baik dari pemerintah kepada masyarakat maupun sebaliknya. Tanpa aktivitas komunikasi politik yang memadai, sulit untuk bisa membangun demokrasi. Sebab komunikasi politik dan demokrasi merupakan dua senyawa yang saling melengkapi. Dimana masih belum hilang dari ingatan ketika ditahun 1996 sekelompok aktivis muda mencoba mendobrak sistim politik yang otoriter melalui Partai Rakyat Demokratik(PRD) dengan menolak negara satu partai, PRD juga menawarkan sistem multi Partai, dimana seluruh kekuatan politik lewat pengorganisiran di tingkat partai bebas dan berpartisipasi secara aktif dalam proses politik. PRD juga menawarkan koalisi demokratik kerakyatan, agar pemerintahan tidak didominasi oleh kekuatan politik tunggal. PRD berulangkali menyatakan menentang pelarangan dan penindasan terhadap orang beragama, kebebasan beragama harus dihormati. Tetapi, PRD juga menolak jika agama dijadikan alat oleh kekuasaan untuk kepentingan politiknya. PRD tidak setuju jika semua industri secara total dinasionalisasikan. PRD menolak dengan tegas pengontrolan secara ketat terhadap pers. PRD menentang pelarangan atas kebebasan berbicara, kebebasan berserikat dan kebebasan organisasi. Jika kesemua itu dipayungi oleh azas sosial demokrasi dan dianggap oleh penguasa rejim Orde Baru sebagai komunis, maka Orde Baru melakukan penghianatan terbesar terhadap nilai-nilai dan hak dasar demokrasi yang universal dan diakui oleh dunia internasional. Setiap upaya rakyat memperjuangkan hak-hak politik dan hak-hak ekonomi dipukul oleh rejim dengan legitimasi yang dibangun melalui 5 Paket UU Politik dan Dwi Fungsi ABRI. Dengan alasan 5 Paket UU Politik dan Dwi Fungsi ABRI, kebebasan rakyat berbeda pendapat, kebebasan rakyat berorganisasi, harus dibayar mahal dengan teror, penangkapan bahkan pembunuhan. PRD menuntut pencabutan kedua pilar kediktatoran itu dalam upaya mengembalikan kedaulatan rakyat yang selama hampir tigapuluh tahun ini dikekang oleh rejim Orde Baru. Sangat mengherankan dan tidak beralasan jika suatu keinginan untuk menegakkan dan mengembalikan kedaulatan rakyat --kepada pemiliknya yang syah-- secara sewenangwenang dituduhkan subversi. Pada saat itu pemimpin redaksi dikumpulkan untuk kemudian memaksa memvonis PRD, sejumlah intelektual dan ulama serta pemuda-pemuda

karbitan dan preman dibayar dan diiming-imingi kekuasaan untuk kemudian digiring untuk mengutuk PRD. Upaya rejim untuk membangkitkan histeria massa tidak membuahkan hasil. Ummat Islam yang berupaya dijadikan sekutu untuk mengutuk PRD dan kekuatan pro demokrasi juga kandas. Hanya ormas-ormas Islam "berbaju kuning" yang aktif menjilat kekuasaan yang terus mengutuk. Sementara riil politik Islam yaitu NU dan Muhammadiyah gagal digiring oleh rejim. Bahkan sebaliknya, kedua ormas terbesar ini mengumandangkan sejumlah tuntutan dan "reserve" ekonomi politik dengan menunjukkan kebobrokan penguasa dan ketertindasan rakyat. Selama dalam era kekuasaan orde baru kekuasaan Orde Baru, pengunaan pasal 28 dalam UUD 1945 justru dijadikan suatu pasal untuk mengekang kebebasan untuk dapat berkumpul dan melakukan komunikasi serta bertukar informasi aplagi berkumpul untuk melakukan pembicaran politik yang tidak sejalan dengan garis politik rezim orde baru atau berisikan informasi berupa berita- berita dan pernyataan-pernyataan yang keseluruhan isinya dikualifikasi sebagai suatu tindak pidana, karena "menyatakan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap pemerintah Indonesia". Begitu pula kebebasan pers yang merupakan salah satu pilar dalam kehidupan negara yang demokratis pada masa rezim orde baru hampir dikatakan banyak media massa tiarap alias tidak berani memberitakan tentang kritk terhadap pemerintahan rezim orde baru ,jika media massa atau jurnalis nekat untuk menyuarakan hal yang berbeda garis politik rezim orde baru akan berhadapan dengan hukum dan pengadilan Politik akal bulus dan licik yang dilakukan rezim Suharto , tiada lain hanya untuk membangun kesadaran yang menyesatkan bahwa di atas segalagalanya, rakyat hanya butuh sandang dan pangan yang cukup. Sementara soal nasib dan masa depannya termasuk hak politiknya disubkontrakkan pada penguasa, yang sepanjang hidupnya sama sekali tak pernah memiliki rasa hormat sedikitpun kepada rakyat yang menjadi sumber kekuasaannya. Mereka, penguasa dengan kepala batunya, menganggap rakyat sematamata sebagai "anak bawang" yang tak berhak untuk ikut menentukan jalannya "pertandingan." Penguasa dengan tak tahu malu, tak pernah menyadari bahwa rakyat merupakan sumber mata air bagi kekuasaannya yang kini "digenggamnya" erat-erat. Bagai anak kecil yang takut dan cemas

kehilangan mainannya. Akibat politik massa mengambang yang dibiarkan terus hidup, maka tak ayal lagi yang akan dimangsanya adalah kedaulatan rakyat. Di era rezim Orde Baru Rakyat hidup di tengah-tengah keburaman dan kebekuan politik dan roh hidupnya yang paling utama, yaitu kodrat sosial politiknya, akan mati terpencil. Walaupun Didalam UUD 1945 juga telah menjamin akan hak untuk menyatakan kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran ,dengan lisan dan tulisan. Memang ada kelemahan dalam rumusan pasal ini karena tidak secara eksplisit disebutkan bahwa hak-hak konstitusional itu diakui dan dijamin (constitutionally protective rights), karena pengaturan lebih lanjut atas kemerdekaan berseikat dan berkumpul serta mengeluarkan pikiran itu ditetapkan dalam UU. Namun penjelasan pasal ini secara tegas menyebutkan hasrat yang terkandung didalam rumusan pasal yang bersangkutan yaitu "hasrat bangsa Indonesia untuk membangun negara yang bersifat demokratis dan yang hendak menyelenggarakan keadilan sosial dan perikemanusiaan". Padahal Penjelasan pasal 28 UUD 1945, menjadikan pasal ini berdimensi demokrasi, keadilan sosial dan berperikemanusiaan PRD sadar bahwa perubahan-perubahan yang mendasar pada akhirnya haruslah menyertakan rakyat yang luas. Karena itu PRD memilih sebagai partai yang bercorak partai kader yang berbasis massa. PRD menciptakan struktur yang komprehensif untuk menjaring seluas-luasnya aspirasi rakyat dalam basis-basis pengorganisiran. Ormas-ormas onderbow PRD, yang terdiri dari ormas sektor buruh, mahasiswa, petani, miskin kota dan kebudayaan, adalah kantung-kantung yang akan menampung secara luas rakyat yang mendambakan perubahan. Ketika rakyat bergabung dalam ormas yang berafiliasi secara politik dan organisasi ke PRD, ketika itu pula terbuka peluang rakyat untuk terlibat dalam perubahan-perubahan mendasar di bidang ekonomi dan politik. Selama orde baru berkuasa, keterlibatan rakyat secara luas dipotong oleh depolitisasi deideologisasi dan floating mass. Akibatnya rakyat selalu terasing dari proses politik. PRD tidak menolak tuduhan menggerakkan aksi-aksi massa baik di sektor buruh, mahasiswa, petani, miskin kota dan sebagainya. Berbagai aksi massa memang secara terbuka dipimpin oleh PRD, bersama buruh PRD aksi di pabrik, ke depnaker, dan beramai-ramai menduduki DPR. Begitu aksi PRD dengan sektor masyarakat lainnya. Metode perjuangan politik melalui aksi massa menjadi pilihan yang efektif bagi PRD untuk memperluas kesadaran politik rakyat. Apalagi di tengah kontrol penguasa Orde Baru terhadap pers begitu ketat, sehingga pers tidak dapat menjalankan fungsinya untuk meningkatkan kesadaran politik rakyat.

Bagaimana mungkin sebuah cita-cita luhur PRD untuk mengikutsertakan secara luas rakyat dalam proses politik dengan memperkuat basis-basis pengorganisiran di seluruh sektor masyarakat, melalui pilihan perjuangan massa yang efektif dan meluaskan kesadaran politik rakyat dituduh penguasa subversi. Ini menandakan penguasa Orde Baru tidak ingin memiliki kesadaran politik rakyat untuk terlibat aktif dalam menentukan perubahan-perubahan politik. Jelas sudah kini, bahwa ketentuan ini memang strategi korporatisasi rezim Orde Baru, yang secara jumawa hendak menguasai dan menundukkan semua kekuatan sosial politik rakyat ke dalam sebuah wadah tunggal. Kehidupan politik secara umum mengandaikan adanya kompetisi atau persaingan yang terbuka. Bisa kita bayangkan di tengah-tengah masyarakat yang bersifat plural dalam hal budaya dan kepentingannya dipaksakan hidup di bawah satu wadah organisasi yang diberi izin hidup. Yang terjadi hanya kelesuan dan kebekuan politik, tanpa dinamika pendorong atau inspirasi bagi kemajuan kehidupan demokrasi. Dengan demikian tak ada satupun jaminan bahwa wadah tunggal tersebut mampu beroperasi secara maksimal dan efektif, karena yang tergabung di dalamnya adalah pihak-pihak yang orientasi politik dan kepentingannya berlainan. Tentu kami bisa memastikan bahwa undang-undang keormasan ini dibentuk tak lain hanya demi merusak dan mengucilkan gerak ormas dari kehidupan politik praktis. Kemudian tentang UU No.5/1985 mengenai Referendum. Sejak kelahirannya, undang-undang ini memang diarahkan untuk memperkuat sistem politik yang melindungi kepentingan penguasa, yaitu sebagai konsesi terhadap tuntutan meninjau kembali pengangkatan ABRI secara sewenangwenang di dalam DPR. Pada saat itu, Jenderal (Purn) Soeharto sebagai Presiden mengatakan bahwa jika sistem tersebut -- pengangkatan ABRI secara sewenang-wenang di DPR -- diubah, maka akan membahayakan keselamatan nasional. Alasannya selama ini kekuatan yang konsisten melindungi dan menjaga konstitusi UUD 1945 adalah ABRI. Karena itulah penguasa menyusun undang-undang referendum untuk menjegal setiap usaha yang akan menggantikan UUD 1945. Secara teoretis, referendum digunakan untuk meminta pendapat rakyat secara langsung tentang hal-hal fundamental yang menyangkut nasib dan masa depan rakyat sendiri. Contohnya, kasus referendum di Quebec Canada, yang dipakai ketika muncul keinginan penduduk Quebec untuk memisahkan diri dari Canada, atau referendum di Chili tahun 1988 ketika rakyat diminta pendapatnya apakah Jenderal Pinochet masih dikehendaki untuk memimpin atau harus turun. Sedang untuk kasus yang terjadi di Indonesia hal-hal seperti tersebut di atas masih belum tersedia alat-alatnya atau masih belum diatur. Sehingga terang di mata kami, persoalan

referendum di Indonesia kepentingan Penguasa.

justru

dimanipulasi

untuk

mempertahankan

Dalam komunikasi politik di era Rezim Orde Baru hampir tidak pernah memperlihatkan wujudnya yang utuh dan cenderung komunikasi politik tidak berjalan alias tersumbat oleh kekuatan orde baru Kenyataan inilah yang sesungguhnya menjadi napas utama gelombang reformasi yang berpuncak pada turunnya Soeharto dari kursi presiden. Sejak saat itu gairah demokrasi berubah secara signifikan. Bahkan, kebebasan tumbuh sedemikian cepat melebihi kapasitas yang seharusnya terjadi. Demokrasi merupakan salah satu sistem yang sengaja dipilih untuk mengakomodasi aspirasi politik yang menuntut keterlibatan sebanyak mungkin warga negara di satu sisi, sementara di sisi lain, proses untuk bisa menyentuh partisipasi seluruh warga itu akan bergantung pada fasilitas informasi dan komunikasi yang memungkinkan satu sama lain dapat berinteraksi. Komunikasi politik yang tersumbat diakibat tidak adanya pers yang bebas dimana pada masa rezim orde baru untuk suatu media massa yang ingin terbit dan beroperasi harus mempunyai Surat Izin Terbit bagi media massa , dan dalam penyampaian berita negara pers di haruskan memberitakan berita yang baik-baik saja perihal kepemerintahan pada saat itu. Dan boleh dikatakan bahwa komunikasi politik yang terjadi pada saat jaman pemerintahan orde baru sangatlah otoriter. Komunikasi politik seringkali diartikan sebagai mekanisme komunikasi antara aktor politik untuk memperoleh dukungan politik melalui cara tatap muka. Karena itu, komunikasi politik mencerminkan adanya interaksi yang terus menerus antar elit politik dan masyarakat dengan maksud agar aspirasi masyarakat dapat diartikulasikan sehingga para aktor politik itu sendiri dapat memperoleh legitimasi dari masyarakat dengan cara memperjuangkan aspirasinya. Sedangkan di negara-negara yang kurang atau bahkan tidak demokratis, komunikasi politik acapkali hanya terjadi secara internal di lingkungan elit politik, sementara legitimasi sosial diperolehnya melalui suatu rekayasa politik. Di Indonesia, paling tidak selama kekuasaan Orde Baru, komunikasi politik masih belum berjalan secara seimbang. Akibatnya, komunikasi politik hanya berlangsung searah, tidak memberikan rangsangan positif bagi masyarakat untuk membangun hubungan timbal balik yang setara dan saling mempengaruhi.Padahal Komunikasi politik salah satunya berfungsi menyalurkan

aspirasi dan kepentingan politik masyarakat yang menjadi input bagi suatu sistem politik. Pada saat yang sama, komunikasi politik juga berfungsi menyalurkan kebijakan yang diambil untuk dipahami secara kolektif sehingga menumbuhkan partisipasi produktif dalam membangun tujuan politik yang sama. Karena itu, untuk mencapai salah satu tujuan komunikasi politik diperlukan sosialisasi politik.

IV.Komunikasi Politik Era Reformasi Menuju Masyarakat Madani Masa reformasi membawa angin segar bagi kehidupan demokrasi di Indonesia. Dalam kurun waktu 32 tahun di bawah rezim Orde Baru, kehidupan politik terbelenggu oleh ketentuan yang ada dalam lima paket undang-undang politik. Kejatuhan rezim orde baru merubah semua tatanan politik dari yang otoriter menjadi lebih demokratis . salah satu contoh demokratisasi adalah kebebasan pers dalam meyuarakan dan mengkritisi jalannya pemerintahan yang tidak sesuai dengan tujuan dari negara yang menganut sistim demokratis serta ketidak adilan yang terjadi di masyarakat . Tumbangnya rezim orde baru oleh gerakan reformasi yang dimotori oleh gerakan mahasiswa,LSM dan Partai Rakyat Demokratrik telah mendobrak sistim politik yang sebelumnya begitu militeristik, otoriterian , angker, pengap, dan mampet ,serta banyaknya pelanggaran HAM dalam politik Reformasilah yang kemudian berhasil merubah wajah politik Indonesia yang salah satunya ditandai dengan terbukanya kebebasan mendirikan partai politik Salah satu Inti pemerintahan demokrasi kekuasaan memerintah yang dimiliki oleh rakyat. Kemudian diwujudkan dalm ikut seta menentukan arah perkembangan dan cara mencapai tujuan serta gerak poloitik Negara. Keikut sertaannya tersebut tentu saja dalam batas-batas ditentukan dalamperaturan perundang-undangan atau hokum yang berlaku. Salah satu hak dalam hubungannya dengan Negara adalah hak politik rakyat dalam partisipasi aktif untuk dengan bebas berorganisasi, berkumpul, dan menyatakan pendapat baik lisan maupun tulisan. Kebebasan tersebut dapat berbentuk dukungan ataupun tuntutan terhadap kebijakan yang diambil atau diputuskan oleh pejabat negara. Demokrasi pada masa kini antara lain menyangkut hak memilih dan hak untuk dipilih, menyangkut pula adanya pengakuan terhadap kesetraan diantara warga negara, kebebasan warga negara untuk melakukan

partisipasi politik, kebebasan untuk memperoleh berbagai sumber informasi dan komunikasi, serta kebebasan utuk menyuarakan ekspresi baik memlalui organisasi, potensi, seni, serta kebudayaan, dan efektif dan lestari tanpa adanya budaya yang memawarnai pengorganisasian bebagai elemen politik seperti partai politik, lembaga-lembaga pemerintahan maupun organisasi kemasyarakatan. Demokrasi memerlukan partisipasi rakyat dan deokrasi yang kuat bersumber pada kehendak rakyat serta bertujuan untuk mencapai kemasalahatan bersama, itukah pengertian demokrasi. Media massa sebagai salah satu saluran komunikasi politik merupakan sesuatu unsur untuk tetap menjaga demokrasi berjalan pada relnya yaitu sebagai alat untuk melakukan check and balancing terhadap pemerintah pada massa era reformasi karena itu unsur yang paling lebih mendasar adalah kebebasan yaitu kebebasan berekpresi, berkumpul, berserikat, dan media (Koran, radio, TV) kebebasan memungkinkan demokrasi berfungsi. Kebebasan memberikan boksigen agar demokrasi bias bernafas kebebasan berekpresi dan memungkinkan segala masalah bias diperdebatkan, memungkikan pemerintahdikritik, dan memungkikan adanya pilihan-pilihan lain. Kebebasan berkumpul memungkinkan rakyat berkumpul untuk melakukan diskusi. Kebebasan berserikat memungkinkan orang-orang untuk bergabung dalam suatu partai atau kelompok penekan untuk mewujudkan pandangan atau cita-cita politik mereka.. Media yang bebas ( artinya, media tidak dikembalikan oleh penguasa) membantu rakyat mendapatkan informasi yang diperlukan untuk membuat pilihan mereka sendiri. Tanpa media yang bebas dan tanpa kebebasan berekpresi yang lebih luas (melalui percakapan, buku-buku, filem-filem, dan bahakan poster-poster dinding), sering kali sulit bagi rakyat untuk mengetahui apa yang sesungguhnya sedang terjadi, dan bahkan lebih sulit lagi untuk membuat keputusan yang berbobot mengenai apa yanag harus mereka pilih demi mencapai suatu mesyarakat yang mereka inginkan.

V.Makna Masyarakat Madani Masyarakat madani masih merupakan sebuah proses dalam rangka reformasi. Masyakat madani adalah masyarakat yang mampu mengisi ruang publik, sehingga dapat menjadi bumper kekuasaan negara yang berlebihan.

Dalam pemikiran reformasi ini masyarakat madani merupakan tujuan pemerintah demokrasi. Ciri-Ciri Masyarakat Madani Masyarakat madani merupakan konsep yang memiliki banyak arti atau sering diartikan dengan maksan yang berbeda-beda. Kamu pun telah memahaminya pada pembahasan materi di depan. Nah dengan adanya berbagai pendapat tentang pengertian masyarakat madani, maka perlu kita pahami ciri-ciri dari masyarakt madani seperti yang diungkapkan oleh Bahmuller dibawah ini. Merujuk pada Bahmuller (1997), ada beberapa karakter atau ciri-ciri masyarakat mafani, diantaranya sebagai berikut : a. Teruntegritasnya individu-individu dan kelompok-kelompok eksklusif ke dalam masyarakat melalui kontrak sosial dan aliansi sosial. b. Menyebarkan kekuasaan, sehingga kepentingan-kepentingan yang mendominasi dalam masyarakat dapat dikurangi oleh kekuatan-kekuatan alternatif. c. Dilengkapinya program-program pembangunan yang didomisani oleh negara dengan program-program pembangunan yang berbasis masyarakat. d. Terjembataninya kepentingan-kepentingan individu dan negara karena keanggotaan organisasi-organisasi volunter mampu mkemberikan masukanmasukan terhadap keputusan-keputusan pemerintah. e. Tumbuh kembangnya kreaticitas yang pada mulanya terhambat oleh rezim-rezim totaliter. f. Meluasnya kesetiaan (loyality) dan kepercayaan (trust), sehingga individuindividu mengakui keterlibatan dengan orang lain dan tidak mementingkan diri sendiri. g. Adanya pembebasan masyarakat melelui kegiatan lembaga-lembaga sosial dengan berbagai ragam perspektif. Dari berbagai ciri tersebut, kiranya dapat dikatan bahwa masyarakat madani adalah sebuah masyarakat demokratis, dimana para anggotanya menyadari akan hak-hak dan kewajibannya dalam menyuarakan pendapat dan mewujudkan kepentingan-kepentingannya. Dalam hal ini, pemerintahannya

memberikan peluang yang seluas-luasnya bagi kreatifitas warga negara untuk mewujudkan program-program pembangunan di wilayahnya. Namun demikian, masyarakat madani bukanlah masyarakat yang terbentuk begitu saja. Masyarakat madani adalah konsep yang dibentuk dari proses sejarah yang panjang dan memerlukan perjuangan yang terus-menerus. Apabila kita kaji masyarakat dinegara-negara maju yang sudah dikatakan sebagai masyarkat madani seperti berikut : a. Terpenuhinya kebutuhan dasar individu, keluarga, kelompok dalam masyarakat. b. Berkembangnya modal manusia (human capital) yang kondusif bagi terbentuknya kemampuan melaksanakan tugas-tugas kehidupan dan terjalinnya kepercayaan dan telasi sosial antar kelompok. c. Tidak adanya diskriminasi dalam berbagai bidang pembangunan dengan kata lain terbuka akses terhadap berbagai pelayanan sosial. d. Adanya hak, kemampuan, dan kesempatan bagi masyarakat serta lembaga-lembaga swadaya untuk terlibat dalam berbagai forum dimana isuisu kepentingan bersama dan kewajiban publik dapat dikembangkan. e. Adanya kohesifitas (keterpaduan) antar kelompok dalam masyarkat serta tumbuhnya sikap saling menghargai perbedaan antarbudaya dan kepercayaan. f. Terselenggaranya sistem pemerintahan yang memungkinkan lembagalembaga ekonomi, hukum, dan sosial berjalan secara produktif dan berkeadilan sosial. g. Adanya jaminan, kepastian, dan kepercayaan antara jaringan-jaringan kemasyarakatan yang memungkinkan terjalinnya hubungan dan komunikasi antarmereka secara teratur, terbuka, dan terpercaya. Itulah prasyarat-prasyarat yang harus kita penuhi untuk mencapai masyarakat madani. Tanpa syarat tersebut, maka masyarakat madani tidak akan terwujud. Proses Menuju Masyarakt Madani Sebagaimana dikatakan Ryaa Ryasyid, sebuah masyarakat madani (civil society) haruslah mandiri, tidak begitu terntung pada peran pemerintah atau

negara. Barangkali, diantara organisasi sosial dan politik yang patut dicatat dan meiliki kemandirian cukup tinggi adalah organisasi yang termasuk dalam kelompok lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau Non-Governmental Organization (NGO) yang di Indoneisa jumlahnya mencapai ratusan. Masyarakat madani (civil society) merupakan wujud masyarakat yang memiliki keteraturan hidup dalam suasana perikehidupan yang mandiri, berkeadilan sosial, dan sejahtera. Masyarakat madani mencerminkan sifat kemampuan dam kemajuan masyarakat yang tinggi untuk bersikap kritis dan partisipasi dalam menghadapi berbagai persoalan sosial. Civil society terbentuk dari kelompok-kelompok kecil dari luar lembaga negara dan lembaga lain yang berorientasi kekuasaan. Sebagai sebuah komunitas, posisi masyarakat madani berada di atas keluarga dan di bawah negara. Jadi, jika diandaikan bahwa kelompok terkecil dalam masyarakat adalah keluarga dan kelompok terbesr adalah negara, maka civil society berada diantara keduanya. Bentuk masyarakat madani dapat kita perhatikan pada kelompok-kelompok kecil dalam masyarakat. Organisasi-organisasi seperti organisasi kepemudaan, organisasi perempuan, atau organisasi profesi seperti organisasi profesi jurnalis serta media massa yang bebas dari kepentingan politik adalah bentuk nyata masyarakat madani. Di Indonesia organisasi semacam itu sering disebut dengan organisasi kemasyarakatan (ormas) atau juga lembaga swadaya masyarakat (LSM). Organisasi-organisasi tersebut memiliki ciri-ciri sebagai berikut : Mandiri dalam hal pendanaan (tidak tergantung kepada negara) Swadaya dalam kegiatannya (memanfaatkan berbagai sumber daya di lingkungannya) Bersifat memberdayakan masyarakat dan bergerak dibidang sosial Tidak terlibat dalam persaingan politik untuk merebut kekuasaan Bersifat inklusif (meliputi beragam kelompok) dan menghargai keragaman.

-

Bentuk sederhana masyarakat madani dapat dilihat antara lain melalui budaya gotong royong yang mencerminkan kemandirian dan partisipasi masyarakat. Budaya masyarakat nyang mandiri dan aktif harus terus kita

kembangkan demokrasi.

agar

terbangun

masyarakat

madani

yang

menopang

Organisasi-organisasi social dan Media Massa yang bebas dari kepentingan politik berperan penting dalam membentuk masyarakat yang kuat, yaitu masyarakat yang mandiri, memiliki pamahaman yang tinggi akan persoalan sosial, dan turut aktif dalam berbagai aktivitas sosial. Untuk itu perlu dibentuk kesadaran sosial yang tinggi dikalangan masyarakat agar mereka turut serta secara aktif dalam berbagai aktivitas. Hal ini penting mengungat mobilisasi politik (pengerahan massa) oleh pihak lain dengan imbalan tertentu juga dapat mendorong partisipasi politik. Tetapi, partisipasi politik yang didorong oleh mobilisasi biasanya bersifat eksternal, sementara partisipasi yang didasari oleh kasadaran politik menunjukkan adanya kecerdasan publik. Dalam hal ini kesadaran dan partisipasi akan membentuk masyarakat yang kuat dan mampu menentukan arah yang hendak mereka tuju untuk menunjukkan kehidupan yang berkeadilan dan sejahtera. Pemahaman tentang civil society menurut kita adalah pengembangan dan pembangunan masyarakat warga, yang sekali lagi membangun komunitas yang tidak pecah menjadi sana dan sini secara ekslusif oleh perbedaan pandangan dan kepentingan. Perbedaan justru disadari sebagai pentingnya komunitas warga yang inklusif, toleran, terbuka, beradab, dan berbudaya serta harus kita kembangkan dan kita bangun. V.Pemerkosaan Demokrasi Dengan Ilmu Komunikasi Sejalan dengan di mulainya politik di era reformasi terjadi trend penyalahgunaan dalam penerapan ilmu komunikasi terhadap demokrasi bagaimana tidak banyak media atau bidang publisitis yang seharusnya menjadi dasar untuk menciptakan demokrasi yang sehat untuk menciptkan masyarakt madani ,saat ini media massa sudah tidak lagi netral dan malah memanfaatkan kebebasan yang telah dilakukan oleh para anak bangsa yang telah menjatuhkan pemerintahan rezim ,untuk kepentingan partai tertentu dan elit politik tertentu ,sehingga rakyat oleh produk turunan ilmu komunikasi disuguhkan dengan suatu komunikasi politik yang dibangun yang menjerumuskan . Ini dibuktikan dengan makin maraknya terjadinya konglomerasi industry media yang sangat dipengaruhi oleh kepentingan pemilik dari media terhadap kepentingan politik para pemilik media sebut saja Harry tanoe

Sudibjo dengan MNC grupnya ,Surya paloh dengan Media Groupnya , Aburizal bakrie dengan Viva groupnya lalu Dahlan Iskan dengan Jawa pos groupnya . serta Chairul Tanjung Trans Groupnya yang semuanya memeliki kepentingan politik . Tidak hanya media massa sebagai turunan dari ilmu komunikasi , tetapi survey –survey politik yang dilakukan oleh lembaga lembaga survey juga telah melakukan permerkosaan ilmu komunikasi ,dimana yang seharusnya Lembaga survey politik memberikan gambaran yang jelas mengani keadaan politik dan keinginan rakyat akan demokrasi yang sehat untuk menciptakan masyarakat madani justru menjadi suatu lembaga yang didukung oleh media massa untuk melakukan kebohongan public dengan mengunakan yang berdasarkan metode kuantitaif , padahal kiat mengetahui bahwa derajat pendidikan rakyat rendah serta untuk mengetahui dan mengerti mengenai demokrasi sangatlah awam Agar Demokrasi tidak diperkosa oleh ilmu komunikasi maka para sarjan komunikasi dan cendikiawan ilmu komunikasi mempunyai tugas untuk menghidari pemerkosaan oleh ilmu komunikasi terhadap demokrasi yang sudah dibayar mahal oleh bangsa ini .

Daftar Pustaka         http://www.budaya-masyarakat-madani.blogspot.com/ Sulaeman. 2008. http://www.wikipedia.com/demokrasi/. Diakses Tanggal 21 Oktober 2008 Muh. Guntur. 2008. http://www.edukasi.net/artikel/demokrasi_indonesia/. Diakses Tanggal 21 Oktober 2008 https://jundiurna92.wordpress.com/2012/03/25/pengantar-ilmukomunikasi-1/ http://lelakitulen.blogspot.com/2007/08/perkembangan-ilmukomunikasi-di.html Budiharsono S, Suyuti, Drs, Hj, 2003. Politik Komunikasi, Jakarta, Grasindo. Arifin, Anwar, Prof, Dr, H, 1988. Ilmu Komunikasi, Sebuah Pengatar Ringkas, Jakarta, Rajawali Press. Effendy, Onong Uchjana, Prof, Drs, MA, 2004. Ilmu Komunikasi, Teori dan Praktek, Bandung, Remaja Rosdakarya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->