BAB II PERJANJIAN KERJA DENGAN SISTEM OUTSOURCING DI INDONESIA

A. Pengertian Outsourcing Persaingan dalam dunia bisnis antara perusahaan, membuat perusahaan harus berkonsentrasi pada rangkaian proses atau aktivitas penciptaan produk dan jasa yang terkait dengan kompetensi utamanya. Dengan adanya konsentrasi terhadap kompetensi utama dari perusahaan, akan dihasilkan sejumlah produk dan jasa memiliki kualitas yang memiliki daya saing di pasaran. Dalam iklim perusahaan yang makin ketat, perusahaan berusaha untuk melakukan efesiensi biaya produksi (cost of production). Salah satu solusinya adalah dengan sistem outsourcing, dimana dengan sistem ini perusahaan dapat menghemat pengeluaran dalam membiayai sumber daya manusia (SDM) yang bekerja di perusahaan bersangkutan.

Universitas Sumatera Utara

Outsourcing (Alih Daya) diartikan sebagai pemindahan atau pendelegasian beberapa proses bisnis kepada suatu badan penyedia jasa, dimana badan penyedia jasa tersebut melakukan proses administrasi dan manajemen berdasarkan definisi serta kreteria yang telah disepakati oleh para pihak. 23 Outsourcing atau alih daya merupakan proses pemindahan tanggung jawab tenaga kerja dari perusahaan induk keperusahaan lain diluar perusahaan induk. Perusahaan diluar perusahaan induk bias berupa vendor, koperasi ataupun instansi lain yang diatur dalam suatu kesepakatan tertentu. Outsourcing dalam regulasi ketenagakerjaan biasa hanya mencakup tenaga kerja pada proses pendukung (non core business unit) atau secara praktek semua lini kerja bias dialihkan sebagai unit outsourcing. Outsourcing (Alih Daya) dalam hukum ketenagakerjaan di Indonesia diartikan sebagai pemborongan pekerjaan dan penyediaan jasa tenaga kerja pengaturan hukum outsourcing (Alih Daya) di Indonesia diatur dalam UndangUndang Ketenagakerjaan Nomor 13 tahun 2003 (pasal 64, 65 dan 66) dan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia No.Kep.101/Men/VI/2004 Tahun 2004 tentang Tata Cara Perjanjian Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja/Buruh dan Kepmenakertrans No. 220/Men/X/2004 tentang Syarat-syarat Penyerahan Sebagai Pelaksanaan Pekerjaan Kepada Perusahaan lain. 24 Pengaturan tentang outsourcing (Alih Daya) ini sendiri masih dianggap pemerintah kurang lengkap.
23

Tunggal. Iman Sjahputra, Pokok-Pokok Hukum Ketenagakerjaan, Harvarindo, Jakarta,2009, hlm 308.
24

Ibid, hlm 334.

Universitas Sumatera Utara

Dalam Inpres No. 3 Tahun 2006 tentang paket kebijakan Iklim Investasi disebutkan bahwa outsourcing (Alih Daya) sebagai salah satu faktor yang harus diperhatikan dengan serius dalam menarik iklim investasi ke Indonesia. Bentuk keseriusan pemerintahan tersebut dengan menugaskan menteri tenaga kerja untuk membuat draft revisi terhadap Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. Outsourcing tidak dapat dipandang secara jangka pendek saja, dengan menggunakan outsourcing perusahaan pasti akan mengeluarkan dana lebih sebagai management fee perusahaan outsourcing. Outsourcing harus di pandang secara jangka panjang, mulai dari pengembangan karir karyawan, efisiensi dalam bidang tenaga kerja, organisasi, benefit dan lainnya. Perusahaan dapat focus pada kompetensi utamanya dalam bisnis, sehingga dapat berkompetisi dalam pasar, dimana hal-hal intern perusahaan yang bersifat penunjang (supporting) dialihkan kepada pihak lain yang lebih professional. Pada pelaksanaannya, pengalihan ini juga menimbulkan beberapa permasalahan terutama masalah ketenagakerjaan.

B. Dasar Hukum Sistem Outsourcing Di Indonesia Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, memberikan peluang kepada perusahaan untuk dapat menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan di dalam perusahaan, kepada perusahaan lainnya melalui: 1) pemborongan pekerjaan, atau 2) perusahaan penyedia jasa pekerjaan (PPJP). Dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan, kedua bentuk kegiatan dimaksudkan dapat dilakukan dengan syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat dimaksud antara lain,

Universitas Sumatera Utara

Hal ini menunjukkan. Ketentuan seperti ini tidak diatur lagi dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan. bahwa Undang-Undang Ketenagakerjaan melihat kenyataan sosial yang berkembang di dalam masyarakat. Sedangkan perusahaan penerima pekerjaan tersebut harus berbadan hukum. juga terdaftar pada instansi ketenagakerjaan. bukan merupakan sesuatu yang baru. Dalam KUHPerdata. kecuali di tempat ini memang benar-benar tidak ada perusahaan dimaksud yang berbadan hukum.wajib dilaksanakan melalui perjanjian yang dibuat secara tertulis. b) dilakukan dengan perintah langsung atau tidak langsung dari pemberi pekerjaan. pelaksanaan diatur dan dibedakan lebih lanjut. Dalam khasanah hukum Indonesia. KUHPerdata sejak seabad yang lalu malah lebih arif menyikapi kenyataan ini. yang pada umumnya perusahaan menengah kebawah. bahkan melindungi hak perorangan untuk menjadi pemborong pekerjaan. pemborongan pekerjaan dan pemberian jasa. Perusahaan dapat menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lain yang berbadan hukum. melalui pemborongan pekerjaan. antara pemborongan pekerjaan yang dilakukan dengan hanya menyediakan jasa tenaga kerja saja atau dengan menyediakan bahannya. Perjanjian pemborongan pekerjaan dilakukan dengan syarat-syarat sebagai berikut: a) dilakukan secara terpisah dari kegiatan utama. sehingga tidak membuka lagi peluang kepada perusahaan yang tidak berbadan hukum untuk melakukan kegiatan pemborongan pekerjaan atau penyedia jasa pekerja. c) merupakan Universitas Sumatera Utara . KUHPerdata mengakui dan memberi tempat.

kegiatan penunjang perusahaan secara keseluruhan. yang didalamnya terdapat pasal-pasal yang terkait langsung dengan outsourcing. Penyimpangan bahwa perusahaan boleh tidak berbadan hukum. maka dibuat Undang-undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Pasal 52 (1) Perjanjian kerja dibuat atas dasar: Universitas Sumatera Utara . dan menyerahkan lagi sebagian pekerjaan kepada perusahaan lain. Pasal 51 (1) Perjanjian kerja dibuat secara tertulis atau lisan. untuk itu perusahaan pemborongan yang terakhir boleh tidak berbadan hukum. Untuk mengantisipasi kontra yang terjadi dalam penggunaan outsourcing. (2) Perjanjian kerja yang dipersyaratkan secara tertulis dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. KEP 220/MEN/X/2004). juga dapat dilakukan apabila di suatu daerah tidak terdapat perusahaan pemborong pekerjaan yang berbadan hukum atau yang tidak memenuhi kualifikasi untuk dapat melakukan pekerjaan (Kepmenakertrans No. dan d) tidak menghambat proses produksi secara langsung. khususnya Bab IX tentang hubungan kerja. Berikut dijabarkan isi dari undangundang tersebut: Pasal 50 Hubungan kerja terjadi karena adanya perjanjian kerja antara pengusaha dan pekerja/buruh. Perusahaan yang mendapat borongan pekerjaan.

dan d. (3) Perjanjian kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dibuat sekurang kurangnya rangkap 2 (dua). (2) Perjanjian kerja yang dibuat oleh para pihak yang bertentangan dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a dan b dapat dibatalkan. umur. c. adanya pekerjaan yang diperjanjikan. syarat-syarat kerja yang memuat hak dan kewajiban pengusaha dan pekerja/buruh. Universitas Sumatera Utara . perjanjian kerja bersama. g. nama. h. b. dan jenis usaha. f. jabatan atau jenis pekerjaan. serta pekerja/buruh dan pengusaha masing-masing mendapat 1 (satu) perjanjian kerja. (2) Ketentuan dalam perjanjian kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf e dan f. tidak boleh bertentangan dengan peraturan perusahaan. mulai dan jangka waktu berlakunya perjanjian kerja. b.a. d. kesusilaan. pekerjaan yang diperjanjikan tidak bertentangan dengan ketertiban umum. dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. nama. besarnya upah dan cara pembayarannya. (3) Perjanjian kerja yang dibuat oleh para pihak yang bertentangan dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf c dan d batal demi hukum. Pasal 54 (1) Perjanjian kerja yang dibuat secara tertulis sekurang kurangnya memuat: a. Pasal 53 Segala hal dan/atau biaya yang diperlukan bagi pelaksanaan pembuatan perjanjian kerja dilaksanakan oleh dan menjadi tanggung jawab pengusaha. Pasal 55 adalah: Perjanjian kerja tidak dapat ditarik kembali dan/atau diubah. dan i. tanda tangan para pihak dalam perjanjian kerja. jenis kelamin. dan alamat pekerja/buruh. tempat dan tanggal perjanjian kerja dibuat. kesepakatan kedua belah pihak. dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. tempat pekerjaan. alamat perusahaan. yang mempunyai kekuatan hukum yang sama. e. kecuali atas persetujuan para pihak. c. kemampuan atau kecakapan melakukan perbuatan hukum.

jangka waktu.Selanjutnya pada Pasal 56-59 Undang No. apabila kemudian terdapat perbedaan penafsiran antara keduanya. (2) Perjanjian kerja untuk waktu tertentu yang dibuat tidak tertulis bertentangan dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dinyatakan sebagai perjanjian kerja untuk waktu tidak tertentu. Universitas Sumatera Utara . yaitu : 1. Pasal 59 (1) Perjanjian kerja untuk waktu tertentu hanya dibuat untuk pekerjaan tertentu yang menurut jenis dan sifatnya atau kegiatannya akan selesai dalam waktu tertentu. Pasal 57 (1) Perjanjian kerja untuk waktu tertentu dibuat secara tertulis serta harus menggunakan bahasa Indonesia dan huruf latin. selesainya suatu pekerjaan tertentu. Pasal 58 (1) Perjanjian kerja untuk waktu tertentu tidak dapat mensyaratkan adanya masa percobaan kerja. masa percobaan kerja yang disyaratkan batal demi hukum. 13 Tahun 2003 mengatur tentang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu ketentuan pasal sebagai berikut Pasal 56 (1) Perjanjian kerja dibuat untuk waktu tertentu atau untuk waktu tidak tertentu. (2) Dalam hal disyaratkan masa percobaan kerja dalam perjanjian kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pekerjaan yang sekali selesai atau yang sementara sifatnya. (3) Dalam hal perjanjian kerja dibuat dalam bahasa Indonesia dan bahasa asing. maka yang berlaku perjanjian kerja yang dibuat dalam bahasa Indonesia. (2) Perjanjian kerja untuk waktu tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) didasarkan atas: a. atau b.

b. adanya putusan pengadilan dan/atau putusan atau penetapan lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. pekerja meninggal dunia. kegiatan baru. (3) Perjanjian kerja untuk waktu tertentu dapat diperpanjang atau diperbaharui (4) Perjanjian kerja untuk waktu tertentu yang didasarkan atas jangka waktu tertentu dapat diadakan untuk paling lama 2 (dua) tahun dan hanya boleh diperpanjang 1 (satu) kali untuk jangka waktu palingg lama 1 (satu) tahun. Universitas Sumatera Utara . adanya keadaan atau kejadian tertentu yang dicantumkan dalam perjanjian kerja. peraturan perusahaan. Pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru. berakhirnya jangka waktu perjanjian kerja. kecuali ditentukan lain dalam perjanjian pengalihan yang tidak mengurangi hak-hak pekerja/buruh. c.2. atau d. pengusaha dilarang membayar upah di bawah upah minimum yang berlaku. pewarisan. (2) Dalam masa percobaan kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). atau produk tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajakan. Pasal 61 (1) Perjanjian kerja berakhir apabila: a. (2) Perjanjian kerja tidak berakhir karena meninggalnya pengusaha atau beralihnya hak atas perusahaan yang disebabkan penjualan. Pekerjaan yang bersifat musiman 4. Pekerjaan yang diperirakan penyelesaiannya dalam waktu yang tidak terlalu lama dan paling lama 3 (tiga) tahun. atau perjanjian kerja bersama yang dapat menyebabkan berakhirnya hubungan kerja. atau hibah. Pasal 60 – 63. 3. (3) Dalam hal terjadi pengalihan perusahaan maka hak-hak pekerja/buruh menjadi tanggung jawab pengusaha baru. (2) Pekerjaan untuk waktu tertentu tidak dapat diadakan untuk pekerjaan yang bersifat tetap. Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT) ketentuan pasal sebagai berikut: Pasal 60 (1) Perjanjian kerja untuk waktu tidak tertentu dapat mensyaratkan masa percobaan kerja paling lama 3 (tiga) bulan.

(2) Surat pengangkatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). b. atau perjanjian kerja bersama. Universitas Sumatera Utara . c. atau berakhirnya hubungan kerja bukan karena ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 ayat (1). tanggal mulai bekerja. nama dan alamat pekerja/buruh. meninggal dunia. dan d. Pasal 63 (1) Dalam hal perjanjian kerja waktu tidak tertentu dibuat secara lisan. besarnya upah. sekurang kurangnya memuat keterangan: a. ahli waris pekerja/ buruh berhak mendapatkan hak haknya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku atau hak-hak yang telah diatur dalam perjanjian kerja. peraturan perusahaan.(4) Dalam hal pengusaha. (5) Dalam hal pekerja/buruh meninggal dunia. jenis pekerjaan. orang perseorangan. ahli waris pengusaha dapat mengakhiri perjanjian kerja setelah merundingkan dengan pekerja/buruh. Pasal 62 Apabila salah satu pihak mengakhiri hubungan kerja sebelum berakhirnya jangka waktu yang ditetapkan dalam perjanjian kerja waktu tertentu. pihak yang mengakhiri hubungan kerja diwajibkan membayar ganti rugi kepada pihak lainnya sebesar upah pekerja/buruh sampai batas waktu berakhirnya jangka waktu perjanjian kerja. maka pengusaha wajib membuat surat pengangkatan bagi pekerja/buruh yang bersangkutan.

Pasal 66 Undang No. Dilakukan dengan perintah langsung atau tidak langsung dari pemberi pekerjaan c. (7) Hubungan kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (6) dapat didasarkan atas perjanjian kerja waktu tidak tertentu atau perjanjian kerja waktu tertentu apabila memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59. Dilakukan secara terpisah dari kegiatan utama b. (8) Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) tidak terpenuhi. 13 Tahun 2003 menyatakan bahwa Penyediaan jasa pekerja/buruh untuk kegiatan jasa penunjang atau kegiatan yang tidak Universitas Sumatera Utara . Merupakan kegiatan penunjang perusahaan secara keseluruhan.Selanjutnya pada Pasal 64-66 (outsourcing) Undang-Undang No. (2) Pekerjaan yang dapat diserahkan kepada perusahaan lain sebagimana dimaksud dalam ayat (1) harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: a. Pasal 65 (1) Penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lain dilaksanakan melalui perjanjian pemborongan pekerjaan yang dibuat secara tertulis. (5) Perubahan dan/atau penambahan syarat-syarat sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan ketentuan pasal sebagai berikut: Pasal 64 Perusahaan dapat menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerja kepada perusahaan lainnya melalui perjanjian penyedia jasa pekerja/buruh yang dibuat secara tertulis. (6) Hubungan kerja dalam pelaksanaan pekerjaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dalam perjanjian kerja secara tertulis antara perusahaan lain dan pekerja/buruh yang dipekerjakan. dan d. maka demi hukum status hubungan kerja pekerja/buruh dengan perusahaan penerima pemborongan beralih menjadi hubungan kerja pekerja/buruh dengan perusahaan pemberi pekerjaan. (4) Perlindungan kerja dan syarat-syarat kerja bagi pekerja/buruh pada perusahaan lain sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) sekurang-kurangnya sama dengan perlindungan kerja dan syarat-syarat kerja pada perusahaan pemberi pekerjaan atau sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tidak menghambat proses produksi secara langsung (3) Perusahaan lain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus berbentuk badan hukum.

yang mempunyai unsure pekerjaan. Universitas Sumatera Utara . dan perintah. kecuali untuk kegiatan jasa penunjang atau kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi. upah. secara legal formal. Namun.berhubungan langsung dengan proses produksi harus memenuhi syarat sebagai berikut: Adanya hubungan kerja antara pekerja/buruh dan perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh. Penggunaan outsourcing seringkali digunakan sebagai starategi kompetisi perusahaan untuk fokus pada core business-nya. menjadi legitimasi tersendiri bagi keberadaan outsourcing di Indonesia. Keadaan demikian yang membuat pengusaha menerapkan sistem ini. “Hubungan kerja adalah hubungan antara pengusaha dengan pekerja/buruh berdasarkan perjanjian kerja. pada prakteknya outsourcing didorong oleh keinginan perusahaan untuk menekan cost hingga serendah-rendahnya dan mendapatkan keuntungan berlipat ganda walupun seringkali melanggar etika bisnis yaitu bahwa pekerja merupakan stakeholder di perusahaan yang juga memiliki hak untuk memperoleh keuntungan dari hasil kerjanya di perusahaan. Dmuatnya ketentuan outsourcing pada Undang-undang Tenaga Kerja dimaksudkan untuk mengundang para investor agar mau berinvestasi di Indonesia.” Pekerjaan dari perusahaan penyedia jasa pekerja tidak boleh digunakan oleh pemberi kerja melaksanakan kegiatan pokok atau kegiatan yang berhubungan langsung dengan proses produksi. Artinya. Ketentuan Pasal 64 sampai dengan Pasal 66 UU Ketenagakerjaan dan putusan Mahkamah Konstitusi pada tahun 2004. Pasal 1 ayat (15). sistem kerja outsourcing memiliki dasar hukum yang kuat untuk diterapkan.

antara lain: Universitas Sumatera Utara . untuk selanjutnya dilaporkan kepada instansi ketenagakerjaan setempat. kedepan akan sangat membantu perusahaan dalam melakukan penyerahan pekerjaan kepada pihak ketiga (KEPMENAKERTRANS No. apabila kelak terjadi perselisihan. Melalui pengesahan peraturan perusahaan atau pendaftaran perjanjian kerja bersama. adanya bentuk kegiatan dimaksud di dalam perusahaan.220/MEN/X/2004).Hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaannya adalah. dan menetapkan pekerjaan yang utama dan penunjang. tetapi apabila hal ini dapat diselesaikan dengan baik. daftar tersebut dimasukkan kedalam peraturan perusahaan (PP) atau perjanjian kerja bersama (PKB). sekurang-kurangnya sama dengan perlindungan kerja dan syarat-syarat kerja pada perusahaan pemberi pekerjaan atau sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. ketentuan bahwa perlindungan dan syarat-syarat kerja bagi pekerja yang bekerja pada perusahaan penerima kerja. Undang-Undang Ketenagakerjaan telah memberi contoh tentang kegiatan jasa penunjang atau kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi. Agar daftar pekerjaan dimaksud mendapat legalisasi hukum yang kuat. Dengan demikian. Untuk itu perlu disusun suatu daftar pekerjaan yang menjadi pekerjaan utama dan yang bersifat terus-menerus didalam perusahaan. dapat menjadi alat bukti yang kuat. Untuk membantu kita dalam membuat daftar dimaksud. KEP. maka instansi ketenagakerjaan telah ikut mengetahui. Memang untuk pertamakali mungkin hal ini tidak mudah dikerjakan. Peraturan perundang-undangan mewajibkan pengusaha untuk membuat alur kegiatan proses produksi pelaksanaan pekerjaan.

Dengan melakukan langkah ini perusahaan akan mendapat perlindungan ganda dari para pekerja. Pertama. ditentukan sekurang-kurangnya perjanjian memuat: a) jenis pekerjaan yang akan dilakukan oleh pekerja dari perusahaan penyedia jasa. usaha penyediaan makanan bagi pekerja (catering). sehingga mereka merasa perlu ikut mengamankan kegiatan dimaksud. Untuk lebih mengamankan posisi perusahaan. mereka ikut menikmati kebijakan perusahaan tersebut. kepada perusahaan yang tidak berbadan hukum. Khususnya dalam membuat perjanjian dengan Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja. serta usaha penyediaan angkutan pekerja (transportation). usaha tenaga pengaman (security). b) penegasan bahwa melakukan pekerjaan. mereka tentunya mendukung langkah yang dilakukan pengusaha. Dengan contoh ini dapat dilakukan inventarisasi yang lebih jauh sesuai dengan sifat keadaan masing-masing perusahaan. Kedua. pekerjaan itu dapat diserahkan kepada koperasi pekerja yang telah berbadan hukum. dalam pembuatan perjanjian wajib dibuat secara tertulis. Hal kedua yang harus dicermati. dengan memperoleh kesejahteraan melalui koperasi pekerja. hubungan kerja yang terjadi Universitas Sumatera Utara . usaha jasa penunjang di pertambangan dan perminyakan. perseroan terbatas dan koperasi yang merupakan badan hukum dibidang ekonomi. Menurut hukum.usaha pelayanan kebersihan (cleaning service). Hal ketiga yang harus diperhatikan dalam penyerahan sebahagian pekerjaan kepada perusahaan lain. sehingga perusahaan aman dalam melaksanakannya. dengan penyerahan sebahagian pekerjaan kepada koperasi pekerja. perusahaan harus menjaga untuk tidak melakukan perjanjian penyerahan pekerjaan.

Perjanjian dimaksud. yang dapat didasarkan atas PKWTT atau PKWT. Apabila ketentuan sebagai badan hukum dan/atau tidak dibuatnya perjanjian secara tertulis tidak dipenuhi. Perjanjian Kerja Dengan Sistem Outsourcing di Indonesia Bentuk hubungan kerja dalam pelaksanaan pekerjaan dimakud. Universitas Sumatera Utara . sesuai dengan persyaratan yang berlaku. didaftarkan pada instansi ketenagakerjaan di wilayah berlakunya perjanjian dimaksud (Kepmenakertrans Nomor.adalah antara perusahaan penyedia jasa dengan pekerja yang dipekerjakan perusahaan penyedia jasa sehingga perlindungan upah dan kesejahteraan. KEP. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan). demi hukum status hubungan kerja antara pekerja dengan perusahaan penerima pemborongan beralih menjadi hubungan kerja antara pekerja dengan perusahaan pemberi pekerjaan. tergantung pada bentuk perjanjian kerjanya semula (Pasal 64 dan 65 Undang-Undang No. diatur dalam perjanjian kerja secara tertulis antar perusahaan penerima pekerjaan dengan pekerja yang dipekerjakan. dan c) penegasan bahwa Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja bersedia menerima pekerja dari Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja sebelumnya untuk jenis-jenis pekerjaan yang terus menerus ada di perusahaan pemberi kerja dalam hal terjadi penggantian Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja. C. Hal itu. syaratsyarat kerja serta perselisihan yang timbul menjadi tanggung jawab Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja. menyebabkan hubungan kerja beralih antara pekerja dengan perusahaan pemberi kerja. dapat berupa waktu tertentu atau untuk waktu tidak tertentu.101/MEN/VI/2004).

syarat-syarat kerja. dibuat secara tertulis sesuai ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan. Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja untuk kegiatan jasa penunjang atau kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi dipersyaratkan: a) adanyan hubungan kerja antara pekerja dan Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja. c) perlindungan upah dan kesejateraan. kecuali untuk kegiatan jasa penunjang atau kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi. disebut dengan perusahaan penyedia jasa pekerja. b) perjanjian kerja dapat berupa PKWT atau PKWTT yang dibuat secara tertulis dan ditandatangani oleh kedua belah pihak. dan d) perjanjian antara perusahaan pengguna jasa pekerja dan Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja. demi hukum status hubungan kerja antara pekerja dan Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja. Universitas Sumatera Utara . Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja wajib berbadan hukum dan memiliki izin dari instansi ketenagakerjaan. Pekerja dari Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja tidak boleh digunakan oleh pemberi kerja untuk melaksanakan kegiatan pokok atau kegiatan yang berhubungan langsung dengan proses produksi. Apabila tidak dipenuhi ketentuan sebagai Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja. beralih menjadi hubungan kerja antara pekerja dan perusahaan pemberi pekerjaan.Pengusaha yang memasok penyediaan tenaga kerja kepada perusahaan pemberi kerja untuk melakukan pekerjaan dibawah perintah langsung dari perusahaan pemberi kerja. serta perselisihan yang timbul menjadi tanggung jawab Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja.

serta penyediaan angkutan pekerja. juga memperoleh hak yang sama dengan yang diperjanjikan. dan c) penegasan bahwa Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja. Perlindungan upah dan kesejahteraan. bersedia menerima pekerja dari Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja sebelumnya untuk jenis- Universitas Sumatera Utara . Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja yang memperoleh pekerjaan dari pekerjaan dari perusahaan pemberi pekerjaan. penyediaan makanan bagi pekerja. hubungan kerja yang terjadi adalah antara Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja dengan pekerja yang dipekerjakan Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja. syarat-syarat kerja serta perselisihan yang timbul menjadi tanggung jawab Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja. jasa penunjang di pertambangan dan perminyakan. kedua belah pihak wajib membuat perjanjian tertulis yang sekurang-kurangnya memuat: a) jenis pekerjaan yang akan dilakukan oleh pekerja dari perusahaan penyedia jasa. tenaga pengaman. b) penegasan bahwa dalam melaksanakan pekerjaan.Yang dimaksud kegiatan jasa penunjang atau kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi adalah kegiatan yang berhubungan di luar usaha pokok suatu perusahaan. serta perselisihan yang timbul dengan pekerja lainnya di perusahaan pengguna jasa pekerja (Pasal 66 Undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan). syarat-syarat kerja maupun penyelesaian perselisihan antara Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja dengan pekerja dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kegiatan tersebut antara lain: pelayanan kebersihan. Pekerja yang bekerja pada Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja. syarat-syarat kerja. mengenai perlindungan upah dan kesejahteraan. sehingga perlindungan upah dan kesejahteran.

KEP. Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja untuk kegiatan jasa penunjang atau kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. pendaftarn dilakukan pada instansi ketenagakerjaan Provinsi. Apabila perjanjian itu tidak dilakukan. 101/MEN/VI/2004). instansi ketenagakerjaan akan mencabut izin operasional Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja yang bersangkutan. Universitas Sumatera Utara . adalah PKWT yang memenuhi ketentuan dan/atau PKWTT yang dibuat secara tertulis dan ditandatangani oleh kedua belah pihak. Hubungan kerja antara pekerja dan Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja. Undang No. dengan tetap menanggung hak-hak pekerja yang bersangkutan (Kepmenakertrans No. b. Perjanjian dimaksud selanjutnya didaftarkan pada instansi ketenagakerjaan Kabupaten/Kota tempat Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja melaksanakan pekerjaan. Apabila Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja melaksanakan pekerjaan pada perusahaan pemberi kerja yang berada dalam wilayah lebih dari satu provinsi. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan menetapkan syarat bahwa. pendaftaran dilakukan dengan melampirkan konsep (draft) perjanjian kerja. pendaftaran dilakukan pada Direktorat Jendral Pembinaan Hubungan Industrial di Jakarta. Perjanjian kerja yang berlaku antara pekerja dan Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja. Bagi Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja yang melaksanakan pekerjaan pada perusahaan pemberi kerja yang berada dalam wilayah lebih dari satu Kabupaten/Kota dalam satu provinsi.jenis pekerjaan yang terus menerus ada di perusahaan pemberi kerja dalam hal terjadi penggantian Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja.

Berdasarkan persyaratan ini tentunya perlu pula diawasi oleh perusahaan pemberi kerja. Perjanjian antara perusahaan pengguna jasa pekerja dan Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja dibuat secara tertulis dan wajib memuat ketentuan dalam Undang No. berarti Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja telah: a) berbentuk badan hukum. agar tidak terjadi pelanggaran hukum oleh Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja.c. apabila hendak melakukan kerja sama dengan perusahaan yang bergerak dibidang penyedia jasa pekerja. perusahaan pemberi kerja harus pula mengawasi bahwa pekerja yang bekerja pada Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja memperoleh hak yang sama sesuai dengan perjanjian kerja Peraturan Perusahaan atau Perjanjian Kerja Bersama atas perlindungan upah dan kesejahteraan. yang dapat mengganggu kelancaran jalannya perusahaan. syarat-syarat kerja. akan berpotensi menimbulkan perselisihan hak. perusahaan dimaksud wajib pula memiliki izin oprasional dari instansi ketenagakerjaan di Kabupaten/Kota sesuai domisili Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja. dan d. Apabila hal ini tidak dipenuhi oleh perusahaan penyedia jasa. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. b) Universitas Sumatera Utara . Karena sebelum melakukan perjanjian. Perlindungan upah dan kesejateraan. serta perselisihan yang timbul menjadi tanggung jawab Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja. karena tidak ditaatinya ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. serta perselisihan yang timbul dengan pekerja lainnya di perusahaan pengguna jasa pekerja. syarat-syarat kerja. Dengan memiliki izin operasional. Perusahaan perlu pula memperhatikan persyaratan tertentu. Selain itu.

perlu diawasi bentuk hubungan kerja dalam pelaksanaan pekerjaan dimaksud. perlindungan kerja dan syarat-syarat kerja di perusahaan penerima kerja. atau produk tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajakan. c) bersifat musiman. atau d) berhubungan dengan produk baru. b) diperkirakan penyelesaiannya dalam waktu yang tidak terlalu lama dan paling lama tiga tahun. baik berupa PKWT atau PKWTT. PKWT untuk pekerjaan yang sekali selesai atau sementara sifatnya adalah PKWT yang Universitas Sumatera Utara . dan d) wajib ketenagakerjaan yang masih berlaku. Undang-Undang Ketenagakerjaan memberi ciri-ciri pekerjaan yang merupakan pekerjaan tertentu yang karena jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaannya akan selesai dalam waktu tertentu. apakah telah dilakukan dalam bentuk perjanjian kerja secara tertulis antara perusahaan penerima pekerjaan dengan pekerja yang dipekerjakannya. tidak boleh lebih rendah daripada ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan mewajibkan bahwa syarat kerja bagi pekerja yang bekerja pada perusajaan penerima kerja. Ketentuan lain yang perlu diperhatikan adalah. Dalam perjanjian dengan sistem outsourcing menggunakan perjanjian kerja waktu tertentu. Demikian pula. kegitatan baru. c) SIUP. yaitu pekerjaan yang: a) sekali selesai atau yang sementara sifatnya. sekurang-kurangnya sama dengan perlindungan kerja dan syarat-syarat kerja pada perusahaan pemberi pekerjaan atau sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Undang No.mempunyai anggaran dasar yang memuat kegiatan usaha penyediaan jasa pekerja. Syarat kerja yang diperjanjikan dalam PKWT.

PKWT yang dilakukan untuk pekerjaan musiman tidak dapat dilakukan pembaharuan. PKWT yang dilakukan untuk pekerjaan musiman. harus dicantumkan batasan suatu pekerjaan dinyatakan selesai. dapat dilakukan pembaharuan PKWT. harus membuat daftr nama pekerja yang melakukan pekerjaan tambahan. Universitas Sumatera Utara . maka PKWT tersebu putus demi hukum pada saat selesainya pekerjaan. Sementara itu. tiddak ada hubungan kerja antara pekerja dan pengusaha. Pembaharuan PKWT dapat dilakukan setelah melebihi masa tenggang waktu 30 hari setelah berakhirnya perjanjian kerja. Sedangkan pekerjaan yang dilakukan untuk memenuhi pesanan atau target tertentu dapat dilakukan dengan PKWT sebagai pekerjaan musiman. yaitu pekerjaan yang pelaksanaannya tergantung pada musim atau cuaca. namun karena kondisi tertentu pekerjaan tersebut belum dapat diselesaikan. Apabila pekerjaan tertentu yang diperjanjikan dalam PKWT tersebut dapat diselesaikan lebih cepat dari yang diperjanjikan. Dalam PKWT yang didasarkan atas selesainya pekerjaan tertentu.didasarkan atas selesainya pekerjaan tertentu. bagi pengusaha yang mempekerjakan pekerja berdasarkan PKWT. Selama tenggang waktu 30 hari itu. hanya dapat dilakukan untuk satu jenis pekerjaan pada musim tertentu. yang dibentuk untuk paling lama tiga tahun. Para pihak dapat mengatur lain dari ketetuan diatas yang dituangkan dalam perjanjian. PKWT yang dilakukan untuk pekerjaan yang dilakukan untuk memenuhi pesanan atau target dimaksud hanya diberlakukan untuk pekerja yang melakukan pekerjaan tambahan. Dalam hal PKWT dibuat berdasarkan selesainya pekerjaan tertentu.

d. Universitas Sumatera Utara . atau produk tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajakan. apabila: a. kegiatan baru. PKWT dimaksud hanya dapat dilakukan untuk jangka waktu paling lama dua tahun dan dapat diperpanjang untuk satu kali paling lama satu tahun. berubah menjadi PKWTT sejak dilakukan penyimpangan. PKWT dimaksud tidak dapat dilakukan pembaharuan. Dibuat tidak memenuhi ketentuan.PKWT dapat pula dilakukan untuk melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru. Akibat hukum dari pelanggaran ketentuan mengenai PKWT adalah. berubah menjadi PKWT sejak adanya hubungan kerja. Dalam hal pengusaha mengakhiri hubungan kerja terhadap pekerja yang berubah hubungan kerja menjadi PKWTT. b. hanya boleh berlaku bagi pekerja yang melakukan pekerjaan di luar kegiatan atau di luar pekerjaan yang bias dilakukan perusahaan. Dilakukan untuk pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru menyimpang dari ketentuan. PKWT seperti ini. maka hak-hak pekerja dan prosedur penyelesaian dilakukan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan bagi PKWTT. Dibuat tidak dalam bahasa Indonesia dan huruf latin. PKWT berubah menjadi PKWTT sejak adanya hubungan kerja. c. berubah menjadi PKWTT sejak tidak terpenuhinya syarat PKWT tersebut. Dalam hal pembaharuan PKWT tidak melalui masa tenggang waktu 30 hari setelah berakhirnya perpanjangan PKWT dan tidak diperjanjikan lain.

101/MEN/VI/2004). Untuk PKHL. b) nama/alamat pekerja. dapat dilakukan dengan ketentuan. pekerja bekerja kurang dari 21 hari dalam satu bulan. Daftar pekerja dimaksud disampaikan kepada instani yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan setempat selambat-lambatnya tujuh hari kerja sejak mempekerjakan pekerja. Semua PKWT dan PKHL. untuk pekerjaan tertentu yang berubah-ubah dalam hal waktu dan volume pekerjaan serta upah didasarkan pada kehadiran. Hubungan kerja dengan membuat PKHL. Hubungan kerja dengan membuat PKHL. c) jenis pekerjaan yang dilakukan. Universitas Sumatera Utara . sebagai salah satu bentuk terpendek dari PKWT. selama tiga bulan berturut-turut atau lebih. Pengusaha yang mempekerjakan pekerja dengan PKHL wajib membuat perjanjian kerja harian lepas secara tertulis dengan pekerja. tidak dibatasi oleh jangka waktu PKWT pada umumnya. yang sekurangkurangnya memuat: a) nama/alamat perusahaan atau pemberi kerja. Apabila pekerja telah bekerja 21 hari atau lebih. maka PKHL-nya berubah menjadi PKWTT. PKHL dapat dibuat berupa daftar pekerja yang melakukan pekerjaan.Selain itu. dapat dilakukan dengan perjanjian kerja harian lepas (PKHL). wajib dicatatkan oleh pengusaha kepada instansi ketenagakerjaan Kabupaten/Kota setampat selambat-lambatnya tujuh hari kerja sejak penandatanganan. PKHL yang memenuhi ketetuan diatas. dan d) besarnya upah dan/atau imbalan lainnya. Untuk pekerjaan tertentu yang berubah-ubah dalam hal waktu dan volume pekerjaan serta upah didasarkan pada kehadiran. yang dicatatkan adalah daftar pekerja yang dipekerjakan (Kepmenakertrans Nomor: KEP. dapat dilakukan dengan perjanjian kerja harian lepas (PKHL).

hlm 9. 26 25 Koeshartono. Penyebab Lemahnya Kedudukan Salah Satu Pihak Dalam Pembuatan Perjanjian Kerja Dengan Sistem Outsourcing Susunan dan jumlah angkatan kerja selalu bertambah dari tahun ke tahun sejalan dengan laju pertumbuhan penduduk yang terjadi.F. 4. 26 Ibid. dengan kata lain menambah jumlah pengangguran. 2. Jadi tinggi rendahnya angkatan kerja dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: 1. Universitas Atma Jaya Yogyakarta.dapat dilakukan dengan ketentuan. D. hlm 7. Peluang lapangan kerja yang tersedia. 2005. Apabila pekerja telah bekerja 21 hari atau lebih. maka status PKHL-nya berubah menjadi PKWTT. 3. Kesehatan jasmani dan rohani penduduk. Cepatnya tingkat pertumbuhan penduduk menimbulkan masalah kerena belum mampunya pembangunan nasional menciptakan lapangan kerja yang sesuai. Shellyana Junaedi. pekerja bekerja kurang dari 21 hari dalam satu bulan. Tingkat pendidikan dan keterampilan penduduk. Hubungan Industrial Kajian Konsep & Permasalahan. Universitas Sumatera Utara . maka semakin besar juga jumlah angkatan kerjanya. Kelincahan pencari kerja dalam memanfaatkan setiap peluang. D dan M. 25 Semakin besar penduduk usia kerja dan semakin besar Tingkat Partisipasi Angkatan Kerjanya. Untuk mengatasinya dibutuhkan lapangan kerja yang memadai yang dapat menampung sejumlah angkatan kerja yang ada. selama tiga bulan berturutturut atau lebih. Yogyakarta.

seperti Indonesia. 28 Ibid. Tiara Wacana Yogya. pada gilirannya dapat meningkatkan produktivitas. Pengertian ini memusatkan pada pemerataan dalam peningkatan kemampuan manusia (melalui penciptaan kerangka keterlibatan manusia itu sendiri dan pada pemanfaatan kemampuan itu untuk mendapatkan penghasilan dan perluasan peluang kerja). 28 Pengangguran terbuka cenderung mengelompokkan pada angkatan kerja yang berpendidikan. Pengembangan manusia (sumber daya manusia) adalah proses meningkatkan kemampuan manusia untuk melakukan pilihan-pilihan. 1995. Pendidikan dipandang tidak hanya dapat menambah pengetahuan tetapi dapat juga meningkatkan keterampilan (keahlian) tenaga kerja. di lain pihak dapat meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan penduduk. Universitas Sumatera Utara . Meskipun kesehatan telah mendapat perhatian dalam dekade belakangan ini. hlm 5. baik perempuan maupun laki-laki. Tadjuddin Noer. Produktivitas disatu pihak dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Yogyakarta. di banyak Negara sedang berkembang. maka dibutuhkan pengembangan sumber daya manusia dan perluasan teknologi skala kecil dengan cepat agar dapa menciptakan posisi tawar yang tentunya meminimalkan pengangguran. salah satu strategi yang telah lama diterapkan dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia adalah peningkatan pendidikan.Tingginya tingkat partisipasi angkatan kerja. Sumber Daya Manusia Peluang Kerja dan Kemiskinan. juga ditentukan oleh pendidikan. 27 Membuat teori human capital kualita sumber daya manusia selain ditentukan oleh kesehatan. hlm 4. Diduga mereka yang 27 Effendy.

sedangkan lembaga perusahaan menuntut keterampilan tertentu. Universitas Sumatera Utara . hlm 23. Kemiskinan relatif disebabkan karena kurangnya pendidikan. Sulitnya mendapatkan pekerjaan diduga berkaitan dengan keterampilan dan pengalaman mereka yang baru menyelesaikan pendidikan sangat terbatas. Sumber daya yang perlu mendapat perhatian adalah sumber daya alam dan manusia (keahlian. termasuk kurangnya tenaga terampil terlatih. pekerjaan yang diharapkan umumnya tersedia di lembaga-lembaga atau perusahaan-perusahaan yang dalam penerimaan pekerja dilakukan penjatahan dan seleksi ketat dan sesuai dengan keteramapilan yang dibutuhkan.berpendidikan bersedia menganggur untuk menunggu kesempatan kerja pada pekerjaan upahan (kantor) yang bersifat tetap. dan kepemimpinan. 29 Kemiskinan yang perlu mendapat perhatian adalah kemiskinan yang berkaitan dengan sumber daya penting yang menentukan kesejahteraan masa datang daripada saat ini. kemampuan wiraswasta. 29 30 Ibid. Apabila sumber daya manusia tidak tersedia dengan baik akan menyebabkan kemiskinan. keahlian keterampilan sebagai faktor untuk memperoleh pekerjaan. kemampuan manajerial. kemampuan memimpin. hlm 23. 30 Dari penjelasan diatas dapat dilihat bahwa sumber daya manusia yang handal dan menciptakan lapangan kerja. inisiatif dan sebagainya). Namun. Ibid. Konsep kemiskinan adalah kemiskinan relatif. Berdasarkan kemiskinan relatif ini muncul pengertian kemiskinan sumber daya manusia merujuk pada kurangnya pendidikan dalam arti luas.

2. Pekerja bersedia dipekerjakan tanpa bisa menawar atau menolak syarat kerja yang ditentukan oleh pengusaha. berada pada posisi Cahyono.Apabila ingin berhasil dalam strategi pengembangan kesempatan kerja haruslah: 1. 1983:4) Dengan penelitian ini penulis mengkaji tentang keseimbangan para pihak dalam menentukan isi perjanjian kerja dengan sistem outsourcing yang menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan antara para pihak adalah lemahnya bargaining position pihak pekerja. Pekerja tidak memiliki posisi tawar yang seimbang mengenai pendidikan dan keahlian tertentu yang dibutuhkan pengusaha. Ketiga hal di atas. BPFE Yogyakarta. 3. hlm 4. 1983. Bisa meningkatakan upah kelompok penghasilan terendah baik di desa-desa. Bisa mengadakan pergeseran-pergeseran orang dari sektor marginal/informasi ke sektor yang lebih produktif. Bambang Tri. tidak hanya dapat mengurangi kemiskinan dan under employment. 31 Universitas Sumatera Utara . Dalam perakteknya pekerja yang berada dibawah perintah orang lain. Bisa meningkatkan pemakaian mesin kecil-kecil untuk meningkatkan produktivitas. 31 (Bambang Tri Cahyono. Yogyakarta. sehingga pengusaha bebas menentukan isi dan bentuk perjanjian tersebut. Pada saat ini kita melihat kenyataan sosial bahwa kondisi para pekerja yang membuat perjanjian kerja selalu dalam keadaan yang tidak seimbang. tetapi juga dapat meningkatkan penghasilan perkapita. maupun di kota-kota. Pengembangan Kesempatan Kerja.

Sulitnya mendapatkan pekerjaan diduga berkaitan dengan keterampilan dan pengalaman mereka yang baru menyelesaikan pendidikan sangat terbatas. Hubungan yang tidak seimbang adalah pelaksanaan secara tidak sepatutnya oleh salah satu pihak yang menguasai pengendalian perjanjian untuk Universitas Sumatera Utara . Sehingga pengusaha berpegang pada prinsip hubungan hukum atas dasar perjanjian baku yang menyenangkan salah satu pihak.yang lebih rendah dari pihak pengusaha. karena pada umumnya mempunyai tingkat sosial dan ekonomi yang selalu jauh lebih tinggi kedudukannya dibanding dengan pekerja. Pekerja kurang mengetahui akan Undang-Undang Ketenagakerjaan sehingga mereka tidak mengerti bagaimana hak-haknya. pekerja dipekerjakan dengan upah yang murah (di bawah upah minimum regional) berdasarkan perjanjian yang lebih menguntungkan majikan (pengusaha). Penyebab terbesar dari lemahnya posisi tawar pekerja karena kurangnya lapangan pekerjaan yang menyebabkan banyaknya pengangguran sehingga pekerja bersedia bekerja tanpa mengetahui dengan jelas apa hak dan kewajibannya. apa-apa saja yang termuat dalam perjanjian kerja waktu tertentu yakni terkait masalah masa waktu perjanjian yang dibolehkan dan sifat kerja yang dapat dibuat perjanjian kerja waktu tertentu. Pekerjaan yang diharapkan umumnya tersedia di lembaga-lembaga atau perusahaan-perusahaan yang dalam penerimaan pekerja dilakukan penjatahan dan seleksi ketat dan sesuai dengan keterampilan yang dibutuhkan. Sementara pihak pengusaha. lebih besar perannya dalam membuat perjanjian kerja. sedangkan lembaga perusahaan menuntut keterampilan tertentu.

Dalam praktek dan perkembangan perjanjian kerja dengan sistem outsourcing yang dibuat menggunakan perjanjian standar. Problematika mengenai outsourcing (Alih Daya) memang cukup bervariasi. Keseimbangan Hak dan Kewajiban Bagi Pekerja dalam Pejanjian Kerja dengan Sistem Outsourcing Universitas Sumatera Utara . sehingga perbuatan pihak yang dikuasai tersebut bukan perbuatan pihak yang sesuai dengan kemauan sendiri. Tanpa menjunjung prinsip konsensualisme yang berdasarkan kehendak bebas dari para pihak dan asas itikad baik. Hal ini disebabkan karena tidak adanya keseimbangan hak dan kewajiban antara pekerja dengan pihak perusahaan outsourcing dan pihak ketiga yang menggunakan jasa dari perusahaan outsourcing. Perjanjian standar mensyaratkan bagi pihak yang membutuhkan dengan kesepakatan take it or leave it. sementara regulasi yang ada belum terlalu memadai untuk mengatur tetang outsourcing yang telah berjalan tersebut. Salah satu pihak hanya menandatangani saja tanpa adanya kebebasan berkontrak.keuntungan dirinya atau orang lain. bahwa kedudukan para pihak dalam pembuatan perjanjian kerja dengan sistem outsourcing sangat lemah. sehingga dapat menciptakan ketidakseimbangan bagi para pihak dalam menentukan isi perjanjian. Berdasarkan pengamatan sementara penulis. E. Hal ini dikarenakan penggunaan outsourcing (Alih Daya) dalam dunia usaha di Indonesia kini semakin marak dan telah menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda-tunda oleh pelaku usaha.

Dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan. ketentuan yang mempersulit hak buruh untuk melaksanakan mogok (Pasal 137-145). memberikan peluang kepada perusahaan untuk dapat menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan di dalam perusahaan. adanya pasal yang mempermudah pengusaha untuk melakukan lock out (Pasal 146-149).Dalam Undang-Undang No. Ketiga. Sedangkan perusahaan penerima pekerjaan tersebut harus berbadan hukum. Syarat-syarat dimaksud antara lain. Perjanjian pemborongan bangunan dapat disamakan dengan sistem kontrak biasa sedangkan outsourcing sendiri bukanlah suatu kontrak. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. juga terdaftar pada instansi ketenagakerjaan. ketentuan yang membenarkan adanya percaloan dalam perekrutan tenaga kerja yang termuat dalam pasal-pasal yang mengatur lembaga penyalur tenaga kerja (Pasal 64-66). Model outsourcing dapat dibandingkan dengan bentuk perjanjian pemborongan bangunan walaupun sesungguhnya tidak sama. ketentuan-ketentuan-ketentuan yang mengacu pada konsep fleksibilitas perubahan ada sebagai berikut pertama beberapa peraturan tentang sistem kerja kontrak atau dalam istilah yang dimuat dalam undang-undang tersebut istilah “Perjanjian Kerja untuk Waktu Tertentu “ pada Bab IX tentang hubungan kerja Pasal 58 dan 59. kepada perusahaan lainnya melalui: 1) pemborongan pekerjaan. Keempat. wajib dilaksanakan melalui perjanjian yang dibuat secara tertulis. atau 2) perusahaan penyedia jasa pekerjaan (PPJP). Pekerja/buruh dalam perjanjian Universitas Sumatera Utara . kedua bentuk kegiatan dimaksudkan dapat dilakukan dengan syarat-syarat tertentu. Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Kedua.

PHL adalah pekerja yang bekerja pada pengusaha untuk melakukan suatu pekerjaan tertentu dan dapat berubah-ubah dalam hal waktu maupun volume pekerjaan dengan menerima upah yang didasarkan atas kehadiran pekerja secara harian. KUH Perdata sejak seabad yang lalu malah lebih arif menyikapi kenyataan ini. Sedangkan dalam outsourcing masa bekerja akan berakhir sesuai dengan waktu yang telah disepakati antara pengusaha dengan perusahaan penyedian jasa tenaga kerja. pemborongan pekerjaan dan pemberian jasa. Hal ini menunjukkan. Dalam khasanah hukum Indonesia. Ketentuan seperti ini tidak diatur lagi dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan. Perjanjian pemborongan bangunan akan berakhir antara pengusaha dengan pekerja apabila obyek perjanjian telah selesai dikerjakan. KUHPerdata mengakui dan memberi tempat. antara pemborongan pekerjaan yang dilakukan dengan hanya menyediakan jasa tenaga kerja saja atau dengan menyediakan bahannya. Misalnya pembangunan jembatan. 06 / MEN / 1985 tentang Perlindungan Pekerja Harian Lepas PHL). bahkan melindungi hak perorangan untuk menjadi pemborong pekerjaan. bukan merupakan sesuatu yang baru. kecuali jembatan tersebut belum selesai dikerjakan.pemborongan bangunan dapat disamakan dengan pekerja harian lepas seperti yang diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja NR: PER . Dalam KUH Perdata. pelaksanaan diatur dan dibedakan lebih lanjut. bahwa Undang-Undang Ketenagakerjaan melihat kenyataan sosial yang berkembang di dalam masyarakat. sehingga tidak membuka lagi peluang kepada perusahaan yang tidak berbadan hukum untuk melakukan Universitas Sumatera Utara . dalam hal jembatan telah selesai maka masa bekerjanya pun menjadi berakhir.

b) dilakukan dengan perintah langsung atau tidak langsung dari pemberi pekerjaan. pekerja menjalankan tugas-tugas yang diberikan perusahaan pengguna. Di perusahaan penyedia pekerja. yang pada umumnya perusahaan menengah kebawah. perusahaan pemborong memiliki hubungan kerja dengan pekerja. juga dapat dilakukan apabila di suatu daerah tidak terdapat perusahaan pemborong pekerjaan yang berbadan hukum atau yang tidak memenuhi kualifikasi untuk dapat melakukan pekerjaan (Kepmenakertrans No. kecuali di tempat ini memang benar-benar tidak ada perusahaan dimaksud yang berbadan hukum. dan menyerahkan lagi sebagian pekerjaan kepada perusahaan lain. dan d) tidak menghambat proses produksi secara langsung. Perusahaan dapat menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lain yang berbadan hukum. c) merupakan kegiatan penunjang perusahaan secara keseluruhan. Perusahaan yang mendapat borongan pekerjaan.kegiatan pemborongan pekerjaan atau penyedia jasa pekerja. melalui pemborongan pekerjaan. Penyimpangan bahwa perusahaan boleh tidak berbadan hukum. Dalam menjalankan kegiatannya. sedangkan sistem pembayaran upah dilakukan Universitas Sumatera Utara . untuk itu perusahaan pemborongan yang terakhir boleh tidak berbadan hukum. sedangkan hubungan antara perusahaan pengguna dan perusahaan pemborong hanyalah terkait dengan pekerjaan yang diborongkan tersebut. KEP 220/MEN/X/2004). Perjanjian pemborongan pekerjaan dilakukan dengan syarat-syarat sebagai berikut: a) dilakukan secara terpisah dari kegiatan utama.

Dalam perjanjian kerja kedudukan para pihak yang membuat perjanjian adalah seimbang memuat syarat kerja hak dan kewajiban para pihak secara seimbang. Hal ini bisa dihindari jika para pihak menyadari hak dan kewajibannya. Pada prakteknya konsep mengenai keseimbangan para pihak dalam menentukan hak dan kewajiban sering diabaikan perusahaan pemberi jasa atau perusahaan outsourcing dalam hal ini masih berhak memerintah dan menentukan Universitas Sumatera Utara . Hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah jenis perjanjian apa yang mengikat para pihak.oleh perusahaan pemberi kerja kepada perusahaan penyedia kerja. dimana terjadi penyimpangan dalam pelaksanaan perjanjian tersebut. sehingga tidak dapat dilepaskan dengan core business dari perusahaan. Perusahaan pemberi jasa selalu menggunakan perjanjian kerja waktu tertentu. juga jaminan kesehatan tidak dipenuhi sebagaimana yang dilindungi dalam Undang-Undang No. Hubungan antara perusahaan pemberi kerja. Namun dalam kenyataannya. Selain itu hak-hak pekerja dalam memperoleh cuti dan pesangon setelah tidak bekerja. Dalam penelitian ini penulis mengkaji tentang keseimbangan para pihak dalam menentukan perjanjian kerja dengan sistem outsourcing. sering kali terdapat perselisihan. lalu perusahaan penyedia kerja membayar upah pekerjanya. Penyimpangan antara lain pekerjaan yang diberikan merupakan pekerjaan utama. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. perusahaan penyedia pekerja/perusahaan pemborong dan pekerja itu sendiri seharusnya menciptakan triple alliance (suatu hubungan yang saling membutuhkan).

sendiri apa yang menjadi hak dan kewajiban bagi pekerja bukan berdasarkan kesepakatan yang ditentukan bersama. sehingga pengusaha bebas menentukan isi dan bentuk perjanjian tersebut. Dalam perakteknya. Penyebab terbesar dari lemahnya posisi tawar pekerja karena kurangnya lapangan pekerjaan yang menyebabkan banyaknya pengangguran sehingga pekerja bersedia bekerja tanpa mengetahui dengan jelas apa hak dan kewajibannya. berada pada posisi yang lebih rendah dari pihak pengusaha. memang pada umumnya pekerja yang berada di bawah perintah orang lain. Pekerjaan yang diharapkan umumnya tersedia di lembaga-lembaga atau perusahaan-perusahaan yang dalam penerimaan pekerja dilakukan penjatahan dan seleksi ketat dan sesuai dengan keterampilan yang dibutuhkan. Pekerja kurang mengetahui Undang-Undang Ketenagakerjaan sehingga mereka tidak mengerti bagaimana hak-haknya. Sulitnya mendapatkan pekerjaan diduga berkaitan dengan keterampilan dan pengalaman mereka yang baru menyelesaikan pendidikan sangat terbatas. Pada saat ini kita melihat kenyataan sosial bahwa kondisi para pekerja yang membuat perjanjian kerja selalu dalam keadaan yang tidak seimbang. Dengan penelitian ini penulis mengkaji tentang keseimbangan para pihak dalam menentukan isi perjanjian kerja dengan sistem outsourcing yang menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan antara para pihak adalah lemahnya bargaining position pihak pekerja. sedangkan lembaga perusahaan menuntut keterampilan tertentu. apa-apa saja yang termuat dalam Universitas Sumatera Utara .

Persoalan Hukum Terhadap Pekerja dalam Perjanjian Kerja dengan Sistem Outsourcing Persoalan outsourcing merupakan hal yang dilematis. tetapi baru diatur dalam pasal 64 sampai dengan pasal 66 UU No. pekerja tidak bekerja dengan mengandalkan pendidikan dan skill yang dimiliki atau dapat dikatakan kualitas dari pekerja sangat rendah sehingga bersedia digaji dengan lebih murah tanpa memperhatikan hak-haknya sebagai pekerja. sehingga perbuatan pihak yang dikuasai tersebut bukan perbuatan pihak yang sesuai dengan kemauan sendiri. 13 Tahun 2003 tentang Universitas Sumatera Utara . Faktor pendidikan yang rendah dan kurangnya skill yang dimiliki pekerja. Hubungan yang tidak seimbang adalah pelaksanaan secara tidak sepatutnya oleh salah satu pihak yang menguasai pengendalian perjanjian untuk keuntungan dirinya atau orang lain. BAB III Perlindungan Hukum Terhadap Pekerja dalam Perjanjian Kerja dengan Sistem Outsourcing A. atau dalam menentukan isi perjanjian seperti ketentuan yang berlawanan dengan kemauan yang patut dari para pihak. Dalam produksi manufaktur selalu menggunakan alat teknologi. Pengadilan dapat mengabaikan pelaksanaan dari ketentuan yang tidak adil atau penekanan secara kesewenangan dalam proses pembentukan perjanjian.perjanjian kerja waktu tertentu yakni terkait masalah masa waktu perjanjian yang dibolehkan dan sifat kerja yang dapat dibuat perjanjian kerja waktu tertentu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful