P. 1
Lp Colik Renal

Lp Colik Renal

|Views: 4,080|Likes:
Published by Eko Susilo

More info:

Published by: Eko Susilo on Jul 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/03/2015

pdf

text

original

LAPORAN PENDAHULUAN COLIK KRENAL A.

Pengertian Kolik renal adalah nyeri yang disebabkan oleh obstruksi akut di ginjal, pelvis renal atau ureter oleh batu. Nyeri ini timbul akibat peregangan, hiperperitalsis, dan spasme otot polos pada sistem pelviokalises ginjal dan ureter sebagai usaha untuk mengatasi obstruksi. Istilah kolik sebetulnya mengacu kepada sifat nyeri yang hilang timbul (intermittent) dan bergelombang seperti pada kolik bilier dan kolik intestinal namun pada kolik renal nyeri biasanya konstan. Nyeri dirasakan di flank area yaitu daerah sudut kostovertebra kemudian dapat menjalar ke dinding depan abdomen, ke regio inguinal, hingga ke daerah kemaluan. Nyeri muncul tiba-tiba dan bisa sangat berat sehingga digambarkan sebagai nyeri terberat yang dirasakan manusia seumur hidup. Kolik renal sering disertai mual dan muntah, hematuria, dan demam, bila disertai infeksi Batu ginjal merupakan batu saluran kemih (urolithiasis), sudah dikenal sejak zaman Babilonia dan Mesir kuno dengan diketemukannya batu pada kandung kemih mummi. Batu saluran kemih dapat diketemukan sepanjang saluran kemih mulai dari sistem kaliks ginjal, pielum, ureter, buli-buli dan uretra. Batu ini mungkin terbentuk di di ginjal kemudian turun ke saluran kemih bagian bawah atau memang terbentuk di saluran kemih bagian bawah karena adanya stasis urine seperti pada batu buli-buli karena hiperplasia prostat atau batu uretra yang terbentu di dalam divertikel uretra. Batu ginjal adalah batu yang terbentuk di tubuli ginjal kemudian berada di kaliks, infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan bisa mengisi pelvis serta seluruh kaliks ginjal dan merupakan batu slauran kemih yang paling sering terjadi (Purnomo, 2000, hal. 68-69). B. Insidens dan Etiologi Penyakit batu saluran kemih menyebar di seluruh dunia dengan perbedaan di negara berkembang banyak ditemukan batu buli-buli sedangkan di negara maju lebih banyak dijumpai batu saluran kemih bagian atas (gunjal dan ureter), perbedaan ini dipengaruhi status gizi dan mobilitas aktivitas sehari-hari. Angka prevalensi rata-rata di seluruh dunia adalah 1-12 % penduduk menderita batu saluran kemih. Penyebab terbentuknya batu saluran kemih diduga berhubungan dengan gangguan aliran urine, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi dan keadaan-keadaan lain yang masih belum terungkap (idiopatik) Secara epidemiologis terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya batu saluran kemih yang dibedakan sebagai faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik, meliputi: 1. Herediter; diduga dapat diturunkan dari generasi ke generasi. 2. Umur; paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun

penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak duduk atau kurang aktivitas fisik (sedentary life). xanthyn dan sistin. Faktor ekstrinsik. Inti bantu dapat berupa kristal atau benda asing saluran kemih. Diet. Hiperkasiuria: Kadar kasium urine lebih dari 250-300 mg/24 jam. kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium dapat meningkatkan insiden batu saluran kemih. Batu Kalsium Batu kalsium (kalsium oksalat dan atau kalsium fosfat) paling banyak ditemukan yaitu sekitar 75-80% dari seluh batu saluran kemih. Penghambat kristalisasi: Urine orang normal mengandung zat penghambat pembentuk kristal yakni magnesium. pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian yang lebih tinggi daripada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah stone belt (sabuk batu) 2. Teori nukleasi: Batu terbentuk di dalam urine karena adanya inti batu atau sabuk batu (nukleus). diet tinggi purin. 2. meliputi: 1. Teori Terbentuknya Batu Saluran Kemih Beberapa teori terbentuknya batu saluran kemih adalah: 1.3. Pengetahuan tentang komposisi batu yang ditemukan penting dalam usaha pencegahan kemungkinan timbulnya batu residif. Partikel-partikel yang berada dalam larutan kelewat jenuh akan mengendap di dalam nukleus itu sehingga akhirnya membentuk batu. magnesium-amonium-fosfat (MAP). globulin dan mukoprotein) sebagai kerangka tempat mengendapnya kristal-kristal batu. dapat terjadi karena peningkatan absorbsi kalsium pada usus (hiperkalsiuria absorbtif). 4. oksalat dan kalsium mempermudah terjadinya batu saluran kemih. Jika kadar salah satu atau beberapa zat ini berkurang akan memudahkan terbentuknya batu dalam saluran kemih. kalsium fosfat. Asupan air. asam urat. sitrat. 3. Komposisi Batu Batu saluran kemih pada umumnya mengandung unsur: kalsium oksalat. Jenis kelamin. Geografi. Pekerjaan. Iklim dan temperatur 3. mukoprotein dan beberapa peptida. jumlah pasien pria 3 kali lebih banyak dibanding pasien wanita. Teori matriks: Matriks organik terdiri atas serum/protein urine (albumin. pirofosfat. gangguan kemampuan reabsorbsi kalsium pada tubulus ginjal (hiperkalsiuria renal) dan adanya . Faktor tejadinya batu kalsium adalah: 1. 5.

banyak dijumpai pada pasien pasca pembedahan usus dan kadar konsumsi makanan kaya oksalat seperti the. Hipositraturia: Dalam urine. fosfat dan karbonat membentuk batu magnesium amonium fosfat (MAP) dan karbonat apatit.peningkatan resorpsi tulang (hiperkalsiuria resoptif) seperti pada hiperparatiridisme primer atau tumor paratiroid. . Serratia. arbei. kopi instan. amonium. sindrom malabsorbsi atau pemakaian diuretik golongan thiazide dalam jangka waktu lama. 4. Asam urat dalam urine dapat bersumber dari konsumsi makanan kaya purin atau berasal dari metabolisme endogen. thiazide dan salisilat). 5. volume urine < 2 liter/hari atau dehidrasi dan hiperurikosuria. Batu Struvit Batu struvit disebut juga batu sebagai batu infeksi karena terbentuknya batu ini dipicu oleh adanya infeksi saluran kemih. Faktor yang mempengaruhi terbentuknya batu asam urat adalah: urine terlalu asam (pH < 6. Kegemukan.. Hiperurikosuria: Kadar asam urat urine melebihi 850 mg/24 jam. pasein dengan obat sitostatika dan urikosurik (sulfinpirazone. alkoholik dan diet tinggi protein mempunyai peluang besar untuk mengalami penyakit ini. Klebsiella. Hipomagnesiuria: Seperti halnya dengan sitrat. penyakit mieloproliferatif. Batu Urat Batu asam urat meliputi 5-10% dari seluruh batu saluran kemih. jeruk sitrun dan sayuran hijau terutama bayam. Hiperoksaluria: Ekskresi oksalat urien melebihi 45 gram/24 jam. Enterobakter. sitrat bereaksi dengan kalsium membentuk kalsium sitrat sehingga menghalangi ikatan kalsium dengan oksalat atau fosfat. kakao. 3. soft drink. Kuman penyebab infeksi ini adalah golongan pemecah urea (uera splitter seperti: Proteus spp. Keadaan hipositraturia dapat terjadi pada penyakit asidosis tubuli ginjal. magnesium bertindak sebagai penghambat timbulnya batu kalsium karena dalam urine magnesium akan bereaksi dengan oksalat menjadi magnesium oksalat sehingga mencegah ikatan dengan kalsium ddengan oksalat. Suasana basa ini memudahkan garam-garam magnesium. 2. banyak dialami oleh penderita gout. Asam urat dalam urine dapat bertindak sebagai inti batu yang mempermudah terbentuknya batu kalsium oksalat. Pseudomonas dan Stafilokokus) yang dapat menghasilkan enzim urease dan mengubah urine menjadi basa melalui hidrolisis urea menjadi amoniak.

FOKUS PENGKAJIAN KEPERAWATAN Riwayat Keperawatan dan Pengkajian Fisik: Berdasarkan klasifikasi Doenges dkk. . ansietas. (2000) riwayat keperawatan yang perlu dikaji adalah: 1.C. pionefrosis. HR (nyeri. tirah baring lama) 2. aktivitas fisik rendah. Patofisiologi Batu saluran kemih dapat menimbulkan penyulit berupa obstruksi dan infeksi saluran kemih. abses ginjal. obstruksi sebelumnya 3. Aktivitas/istirahat: Gejala: Riwayat pekerjaan monoton. lebih banyak duduk Riwayat bekerja pada lingkungan bersuhu tinggi Keterbatasan mobilitas fisik akibat penyakit sistemik lainnya (cedera serebrovaskuler. Batu yang dibiarkan di dalam saluran kemih dapat menimbulkan infeksi. urosepsis dan kerusakan ginjal permanen (gagal ginjal) Batu Saluran Kemih Pielonefritis Ureritis Sistitis Obstruksi Infeksi Hidronefrosis Hidroureter Pionefrosis Urosepsis Gagal Ginjal D. gagal ginjal) Kulit hangat dan kemerahan atau pucat Eliminasi Gejala: Riwayat ISK kronis. Sirkulasi Tanda: Peningkatan TD. Manifestasi obstruksi pada saluran kemih bagian bawah adalah retensi urine atau keluhan miksi yang lain sedangkan pada batu saluran kemih bagian atas dapat menyebabkan hidroureter atau hidrinefrosis.

nyeri tekan abdomen Riwayat diet tinggi purin. tidak minum air dengan cukup Tanda: Distensi abdomen. 4. 7. E. gout. hipertensi. tiazid.Penrunan volume urine Rasa terbakar. 5. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. hiperparatiroidisme Penggunaan antibiotika. 6. paparan sumber informasi Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera biologis Resiko syok berhubungan dengan faktor resiko sepsis Mual berhubungan dengan nyeri Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang . pemasukan berlebihan kalsium atau vitamin. natrium bikarbonat. perilaku distraksi Nyeri tekan pada area ginjal yang sakit Keamanan: Gejala: Penggunaan alkohol Demam/menggigil Penyuluhan/pembelajaran: Gejala: Riwayat batu saluran kemih dalam keluarga. 3. penyakit ginjal. ISK kronis Riwayat penyakit usus halus. fosfat. dorongan berkemih Diare Tanda: Oliguria. penurunan/tidak ada bising usus Muntah Nyeri dan kenyamanan: Gejala: Nyeri hebat pada fase akut (nyeri kolik). lokasi nyeri tergantung lokasi batu (batu ginjal menimbulkan nyeri dangkal konstan) Tanda: Perilaku berhati-hati. piouria Perubahan pola berkemih 4. alopurinul. antihipertensi. Makanan dan cairan: Gejala: Mual/muntah. kalsium oksalat dan atau fosfat Hidrasi yang tidak adekuat. 2. bedah abdomen sebelumnya. hematuria.

Pada klien dengan penyakit Colik Renal pre-operasi .RENCANA dan INTERVENSI KEPERAWATAN a.

5 Menggunakan 5 teknik relaksasi 2. lokasi. kualitas. Berikan analgetik terkontrol sesuai dengan anjuran sebelum memulai aktivitas 4. Kaji latar belakang budaya klien 6. Motivasi klien untuk memonitor sendiri nyeri 10. Observasi isyarat6 Menggunakan 5 isyarat non verbal dari analgesic yang ketidaknyamanan tepat 7 Melaporkan nyeri 5 3. Evaluasi tentang keefektifan dari tindakan mengontrol nyeri yang telah digunakan 7. seperti: penyebab. Berikan dukungan terhadap klien dan keluarga 8. meliputi: skala penyebab nyeri nyeri. nyeri frekuensi. berapa lama terjadi. Ajarkan penggunaan teknik relaksasi nafas dalam . dan tindakan pencegahan 9.NO 1 Dx Keperawatan Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera biologis NOC NIC Setelah dilakukan tindakan Manajemen nyeri keperawatan selama 1x24 jam nyeri terkontrol : 1. Gunakan komunkiasi terapeutik agar klien dapat mengekspresikan nyeri 5. 4 Menggunakan 5 intensitas/beratnya langkah-langkah nyeri. Berikan informasi tentang nyeri. 2 Mengenali tanda karakteristik dan dan gejala nyeri 3 Mengetahui onset 5 onset. durasi. Kaji secara No Kriteria Score komphrehensif tentang 1 Mengenal faktor 5 nyeri. dan faktorpencegahan nyeri faktor presipitasi.

Hidrasi kulit 2 Kelembapan Score 5 5 . Kaji mual pasien hasil sebagai berikut : meliputi : frekuensi. Jelaskan tentang dengan proses kondisi klien penyakitnya 4. prognosis yang mungkin dan program digunakan untuk pengobatan mencegah komplikasi 3 Pasien dan 5 6. Eksplorasi keluarga mampu kemungkinan sumber melaksanakan yang bisa digunakan/ prosedur yang mendukung dijelaskan secara 7. Jelaskan tentang proses penyakitnya No Kriteria Score (tanda dan gejala) 1 Pasien familier 5 3.3 Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang paparan sumber informasi 4 Setelah dilakukan tindakan Mengajarkan tentang keperawatan selama 1x24 jam proses penyakitnya Pengetahuan tentang proses 1. Anjurkan pasien untuk status nutrisi : intake makanan dan mengkontrol mualnya cairan terpenuhi dengan kriteria 2. Identifikasi riwayat penggunaan medikasi sebelumnya 5. Mual berhubungan Setelah dilakukan tindakan Manajemen mual : dengan nyeri keperawatan selama 1x24 jam 1. Prosedur perawatan dan pengobatan. Jelaskan tentang 2 Pasien/keluarga 5 program pengobatan dapat dan alternatif mendeskripsikan pengobatan proses 5. Tanyakan kembali pengetahuan klien tentang penyakitnya 9. Kaji riwayat diet pasien meliputi : pilihan makanan kesukaan dan yang tidak disukai 4. Kaji pengetahuan penyakitnya terpenuhi dengan klien tentang kriteria hasil : penyakitnya 2. Instruksikan kapan benar. Intake makanan 5 2 oral Intake oral minuman 5 3. Diskusikan penyakitnya. durasi keparahan dan No Kriteria Score faktor penyebab 1. harus ke pelayanan 8. perubahan gaya hidup kondisi. Kolaborasi pemberian Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam hidrasi terpenuhi dengan kriteria hasil sebagai berikut : No Kriteria 1.

Monitor kefektifitasan manajemen mual yang dilakukan Monitor cairan : 1. Ajarkan pasien untuk menggunakan terapi nonfarmakologi : relaksasi dan distraksi. 8. Monitor toleransi pasien terhadap masukan makanan 3. Keperawatan NOC Nursing Intervention . Kaji bising usus 2. Monitor turgor kulit 5. Monitor intake dan output cairan 2.3 4 membran mukosa Tekanan darah : (100-140/6090mmhg) Urin output : (0. Kolaborasikan dengan ahli gizi perencanaan diet pasien 4. Pada Klien dengan Colik Renal Post Operasi dengan General Anastesi No Dx. Monitor tekanan darah nadi dan rr 3. kualitas urin Diet staging: 1. jumlah. Anjurkan pasien untuk istirahat dan tidur yang adekuat 9.5-1cc/kg bb/jam) obat antiemetik 5 5 6. Monitor warna. Monitor kondisi membran mukosa 4. Kaji efektivitas pemberian obat antiemetik 7. Monitor kemajuan toleransi terhadap intake makanan a.

Monitor sekresi pernafasan pasien 9. No Kriteria Score karakteristik dan 1 Mengenal faktor 5 onset. No Kriteria Score 1 Respiratori Rate : 5 Monitor Pernafasan: (18-24 x/mnt) 1. Berikan Neuromuskular terapi oksigenasi sesuai kondisi pasien. takipneu. Monitor frekuensi. meliputi: skala nyeri. 2 Mengenali tanda intensitas/beratnya dan gejala nyeri nyeri. lokasi. kualitas. Palpasi ekspansi paru 7. Catat pergerakan 4 Tidak ada retraksi 5 dada kesimetrisan dada 4. otot tambahan ritme. dan faktor3 Mengetahui 5 faktor presipitasi. Berikan O2 sesuai prosedur 10. Berikan posisi semi flower Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan Manajemen Nyeri berhubungan keperawatan selama 1x24 jam 1. pola nafas efektif posisi semi fowler dengan disfungsi dengan criteria hasil: 2. Kaji secara dengan agen cedera nyeri terkontrol : komphrehensif tentang (biologis) nyeri. Auskultasi suara pernafasan 8. lamanya (onset) nyeri 2. durasi. Penggunaan otot 5 Tidak ada dispnea 5 tambahan 6 Tidak ada 5 5.1 Clasification NIC Ketidakefektifan Setelah dilakukan tindakan Manajemen jalan nafas: pola napas keperawatan sesuai dengan kondisi 1. Observasi isyarat4 Pasien dapat 5 isyarat non verbal dari menggunakan ketidaknyamanan metode non analgetik untuk 2 . kedalaman 3 Tidak ada suara 5 pernafasan nafas tambahan 3. Monitor 2 Tidak didapatkan 5 hemodinamik pasien penggunaan otot2. Berikan berhubungan pasien 1x24 jam. Monitor pola orthopnea nafas : bradipneu. hiperventilasi 6. penyebab nyeri frekuensi.

berapa lama terjadi. Beritahu dokter jika tindakan tidak berhasil atau terjadi keluhan. Berikan informasi tentang nyeri.5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 mengurangi nyeri Menggunakan teknik relaksasi Menggunakan analgesic yang tepat Pasien dapat melaporkan gejala nyeri pada perawat/dokter Melaporkan nyeri terkontrol Melaporkan tingkat / skala nyeri. Tingkatkan tidur/istirahat yang cukup 13. Berikan dukungan terhadap klien dan keluarga 8. seperti: penyebab. Motivasi klien untuk memonitor sendiri nyeri 10. Evaluasi keefektifan dari tindakan mengontrol nyeri 12. Ajarkan penggunaan teknik relaksasi nafas dalam 11. Kaji latar belakang budaya klien 6. Gunakan komunkiasi terapeutik agar klien dapat mengekspresikan nyeri 5 5 5. 5 5 5 5 5 5 5 3 Resiko Infeksi Setelah dilakukan tindakan Kontrol infeksi . frekuensi nyeri berkurang. dan tindakan pencegahan 9. Berikan analgetik sesuai dengan anjuran sebelum memulai aktivitas 4. Evaluasi tentang keefektifan dari tindakan mengontrol nyeri yang telah digunakan 7. lama episode nyeri berkurang Ekspresi oral tentang nyeri berkurang Ekspresi wajah tentang nyeri berkurang Perilaku perlindungan diri dari rasa nyeri berkurang Tidak ada ketengangan otot Nadi : (N : 60-100 x/mnt) Tekanan darah : (100-140/6090mmhg) Respirasi : (18-24x/menit) 5 5 3.

Ajarkan pada pasien dan keluarga untuk mengenali tanda dan gejala infeksi serta melaporkan pada tenaga kesehatan ketika terdapat tanda dan gejala infeksi. Bersihkan tangan sebelum dan setelah melakukan tindakan pada pasien 8. Gunakan universal precaution 9. Bersihkan ruangan sebelum digunakan tindakan pada pasien 2. Gunakan sabun 5 Tidak terdapat 5 antimikroba untuk fungsiolesa cuci tangan 7. Bantu klien untuk 5 Pergerakan sendi 5 duduk dan fasilitasi baik keperawatan selama 1x24 jam risiko terkontrol dengan kriteria hasil : klien bebas dari tanda dan gejala infeksi : . Ganti peralatan untuk tindakan pada pasien 3.berhubungan dengan faktor resiko prosedur invasif 4 1. Hambatan mobilitas Selama dilakukan tindakan Exercise Therapy : fisik berhubungan keperawatan x24 jam mobilisasi Ambulasi dengan nyeri dan pasien meningkat dengan kriteria : 1. Ajarkan pada pasien rubor untuk melakuakn cuci 2 Tidak terdapat 5 tangan dengan benar kalor 5. Latih klien dalam kelemahan otot pemenuhan kebutuhan No Kriteria Score perawatan dirinya 1 Balance 5 performance 2. Dekatkan tempat 2 Posisi tubuh sesuai 5 tidur yang dekat 3 Tidak 5 dengan fasilitas (meja. Batasi jumlah No Kriteria Score pengunjung 1 Tidak terdapat 5 4. Instruksikan pada 3 Tidak terdapat 5 pengunjung untuk dolor melakukan cuci tangan 4 Tidak terdapat 5 sebelum ke pasien tumor 6. Gunakan sarung tangan sesuai standar universal precaution 10. Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai dengan kondisi pasien 11. sempoyongan dll) 4 Pergerakan otot 5 baik 3.

catat adanya alergi pasien 3. kemudian berjalan). Berikan alat bantu jika diperlukan 7. Jelaskan . 5 Kerusakan integritas Kulit berhubungan dengan medikasi 6 Setelah dilakukan tindakan keperawatan sesuai dengan kondisi pasien 1x24jam integritas kulit dan membran mukosa baik dengan kriteria hasil : No Kriteria Score 1 Temperature : 5 (36. berdiri. Defisiensi Setelah dilakukan tindakan Mengajarkan tentang pengetahuan keperawatan selama 1x24 jam proses penyakitnya berhubungan Pengetahuan tentang proses 10. Instruksikan pasien bagaimana tehnik pengaturan posisi dan proses berpindah yang aman 6. berikan pengobatan dengan jumlah yang benar sesuai dengan standar 6.6 7 Mampu berpindah Ambulasi bertahap (miring kanan-kiri. kaji kondisi sekitar kulit sebelum dilakukan pengobatan 5. Lakukan prosedur 5 benar dalam pemberian obat 2. Dorong pasien untuk melakukan ambulasi secara mandiri Nursing Intervention Clasification (NIC) :pengobatan pada kulit 1. 5 5 posisi yang sesuai 4. Kaji dengan kurang penyakitnya terpenuhi dengan pengetahuan klien paparan sumber kriteria hasil : tentang penyakitnya informasi 11. duduk.5 – 37. kaji pengetahuan pasien tentang cara pengobatan 4. monitor efek dari pengobatan.5 °c) 2 sensasi dalam batas 5 normal 3 elastisitas dalam 5 batas normal 4 pigmentasi dalam 5 batas normal 5 perspiration dalam 5 batas normal 6 warna kulit dalam 5 batas normal 7 teksture dalam batas 5 normal 8 perfusi jaringan 5 baik 9 pertumbuhan 5 rambut di kulit baik. Konsultasi dengan dokter/ fisioterapist tentang perencanaan tahap ambulasi yang dibutuhkan pasien 5.

Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin digunakan untuk mencegah komplikasi 15. Tanyakan kembali pengetahuan klien tentang penyakitnya 18. Eksplorasi kemungkinan sumber yang bisa digunakan/ mendukung 16.No Kriteria Score 1 Pasien familier 5 dengan proses penyakitnya 2 Pasien/keluarga 5 dapat mendeskripsikan proses penyakitnya. Jelaskan tentang program pengobatan dan alternatif pengobatan 14. prognosis dan program pengobatan 3 Pasien dan 5 keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar. Prosedur perawatan dan pengobatan. . kondisi. Instruksikan kapan harus ke pelayanan 17. tentang proses penyakitnya (tanda dan gejala) 12. Jelaskan tentang kondisi klien 13.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->