P. 1
BAB II kti

BAB II kti

|Views: 98|Likes:
Published by chepimanca

More info:

Published by: chepimanca on Jul 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/13/2013

pdf

text

original

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Pengetahuan 2.1.1 Pengertian Pengetahuan adalah merupakan hasil “tahu” , dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia di peroleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior). Perilaku di dasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak di dasari oleh pengetahuan

(Notoatmodjo,2003). 2.1.2 Tingkat Pengetahuan Pengetahuan yang dicakup di dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat yaitu : 1. Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah di pelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang

spesifik dari seluruh bahan yang di pelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu “tahu” ini adalah merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang di pelajari antara lain: menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya. 2. Memahami (comprehension) Memahami di artikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan,

meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. 3. Aplikasi (application) Aplikasi di artikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hokum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. 4. Analisis (analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih

dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. 5. Sintesis (synthesisis) Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasiformulasi yang ada. 6. Evaluasi (evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk

melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu criteria yang di tentukan sendiri, atau menggunakan criteria-kriteria yang telah ada (Notoatmodjo,2003).

2.1.3

Faktor – Factor Yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan Pengetahuan yang di miliki seseorang akan dipengaruhi oleh beberapa hal. Menurut Notoatmodjo (2003) hal tersebut adalah : a. Pengalaman Pengalaman yang dapat diperoleh dari pengalaman sendiri maupun orang lain. Pengalaman yang sudah diperoleh dapat memperluas pengetahuan seseorang.

b. Keyakinan Biasanya di peroleh secara turun temurun dan tanpa ada pembuktian terlebih dahulu. Keyakinan ini bisa di pengaruhi pengetahuan seseorang, baik yang sifatnya positif maupun negative. c. Fasilitas Fasilitas sebagai sumber informasi yang dapat

mempengaruhi pengetahuan seseorang, misalnya radio, majalah, dan buku. d. Social budaya Kebuyaan setempat dan kebiasaan keluarga dapat

mempengaruhi pengetahuan, persepsi dan sikap seseorang terhadap sesuatu.

2.1.4

Pengukuran Pengetahuan Berdasarkan pengertian pengetahuan yang telah di uraikan di atas, maka pengukuran pengetahuan dapat diketahui dengan cara bersangkutan mengungkapkan apa-apa yang diketahuinya dalam bukti atau jawaban, baik lisan maupun tulisan. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan

wawancara atau pengisian kuisioner yang menanyakan tenteng isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian koresponden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur

dapat kita sesuaikan dengan tingkat-tingkat pengetahuan tersebut di atas. Pertanyaan (question) yang dapat dipergunakan untuk pengukuran pengetahuan secara umum dapat dikelompokan menjadi dua jenis, yaitu: 1). Pertanyaan subjektif, misalnya jenis pernyataan essay 2). Pertanyaan objektif, misalnya pertanyaan pilihan ganda (multiple choice), betul salah, dan pertanyaan menjodohkan. Pertanyaan essay disebut pertanyaan subjektif karena penilaian untuk pertanyaan ini melibatkan factor subjektif dari penilai sehingga nilainya akan berbeda dari seorang penilai dibandingkan dengan penilai yang lain dari satu waktu ke waktu yang lain. Pertanyaan pilihan ganda, betul salah, dan menjodohkan disebut pertanyaan objektif karena pertanyaan tersebut dapat dinilai secara pasti oleh penilai tanpa melibatkan factor subjektif dari penilai. Dari kedua jenis pertanyaan tersebut, pertanyaan objektif khususnya pilihan berganda, lebih disukai untuk dijadikan sebagai alat ukur pengetahuan karena lebih mudah disesuaikan dengan pengetahuan yang akan diukur dan lebih cepat di nilai. Isi pertanyaan hendaknya disesuaikan dengan tujuan dari penelitian, serta tergantung dalam atau dangkalnya data yang digali. Banyaknya pertanyaan sangat relative, tergantung dari luasnya

penelitian tersebut. Tetapi perlu diperhatikan pertanyaan-pertanyaan yang terlalu banyak akan memakan waktu panjang dan dapat menimbulkan kebosanan dari responden. Apabila responden sudah bosan maka jawaban akan bias (Notoatmodjo,2005).

2.1.5

Pengetahuan Yang Mendasari Perilaku Snehandu B. menganalisa perilaku kesehatan dengan bertitik tolak bahwa perilaku merupakan fungsi dari beberapa hal sebagai berikut : a. Niat seseorang untuk bertindak sehubungan dengan kesehatan atau perawatan kesehatan (behavior intention). b. Dukungan social dari masyarakat sekitar (social support). c. Ada atau tidaknya informasi tentang kesehatan atau fasilitas kesehatan (accesebility of information). d. Otonomi pribadi yang bersangkutan dalam hal ini mengambil tindakan atau keputusan (personal autonomy). e. Situasi yang memungkinkan untuk bertindak atau tidak bertindak (action situation). Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa

sebelumnya seseorang mengadopsi perilaku (berperilaku baru), didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni:

a. Awareness (kesadaran), yaitu orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu. b. Interest, yakni orang mulai tertarik kepada stimulus. c. Evaluation (menimbang-nimbang baik atau tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya). Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi. d. Trial, orang yang telah mulai perilaku baru. e. Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, stimulus. Apabila penerima perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini didsasri oleh pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang positif maka perilaku tersebut bersifat langgeng (long lasting). Sebaliknya apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan langgeng atau berlangsung lama. kesadaran, dan sikapnya terhadap

2.2

Kehamilan 2.2.1 Pengertian Masa kehamilan di mulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi dalam 3 (tiga) triwulan/trimester yaitu trimester pertama di mulai dari konsepsi sampai 3 bulan, trimester kedua dari bulan keempat sampai 6 bulan, dan trimester ketiga dari bulan ketujuh sampai 9 bulan (Saifuddin,2002).

2.3

Kader 2.3.1 Pengertian

Kader kesehatan yaitu kader kader yang dipilih oleh masyarakat menjadi penyelenggara Posyandu. , kader kesehatan dinamakan juga promotor kesehatan desa (prokes) adalah tenaga sukarela yang dipilih oleh dari masyarakat dan bertugas mengembangkan masyarakat”. Direktorat bina peran serta

masyarakat Depkes RI memberikan batasan kader, “Kader adalah warga masyarakat setempat yang dipilih dan ditinjau oleh masyarakat dan dapat bekerja secara sukarela”.

2.3.2. Tujuan pembentukan kader Dalam rangka mensukseskan pembangunan nasional, khusus dibidang kesehatan, bentuk pelayanan kesehatan diarahkan pada prinsip bahwa masyarakat bukanlah sebagai objek akan tetapi merupakan subjek dari pembangunan itu sendiri. Pada hakekatnya kesehatan dipolakan mengikut sertakan masyarakat secara aktip dan bertanggung jawab. Keikut sertaan masyarakat dalam meningkatkan efisiensi pelayanan adalah atas dasar terbatasnya daya dan adaya dalam operasional pelayanan kesehatan masyarakat akan memanfaatkan sumber daya yang ada di masyarakat seoptimal mungkin. Pola pikir yang semacam ini merupakan penjabaran dari karsa pertama yang berbunyi, meningkatkan kemampuan masyarakat untuk menolong dirinya dalam bidang kesehatan. Menurut Santoso Karo-Karo, kader yang dinamis dengan pendidikan rata-rata tingkat desa teryata mampu melaksanakan beberapa hal yang sederhana, akan tetapi berguna bagi masyarakat sekelompoknya meliputi: 1. Pengobatan/ringan pengobatanterhadap 2. diare dan pemberian larutan gula garam, obat-obatan sederhan dan lain-lain. sederhana, pemberian obat cacing

3. Penimbangan dan penyuluhan gizi. 4. Pemberantasan penyakit menular, pencarian kasus, pelaporan vaksinasi, 5. pemberian distribusi obat/alat kontrasepsi KB penyuluhan dalam upaya 6. menanamkan NKKBS. 7. Peyediaan dan distribusi obat/alat kontasepsi KB penyuluhan dalam upaya 8. menamakan NKKBS. 9. Penyuluhan kesehatan dan bimbingan upaya keberhasilan lingkungan, 10. pembuatan jamban keluarga da sarana air sederhana. 11. Penyelenggaraan dana sehat dan pos kesehatan desa dan lainlain. Dengan terbentuknya kader kesehatan, pelayanan kesehatan yang selama ini dikerjakan oleh petugas kesehatan saja dapat dibantu oleh masyarakat. Dengan demikian masyarakat bukan hanya merupakan objek pembangunan, tetapai juga merupakan mitra pembangunan itu sendiri. Selanjutnya dengan adanay kader, maka pesan-pesan yang disampaikan dapat diterima dengan sempurna berkat adanya kader, jelaslah bahwa pembentukan kader adalah perwujudan

pembangunan dalam bidang kesehatan.

2.3.3.Tugas kegiatan kader

Tugas kegiatan kader akan ditentukan, mengingat bahwa pada umumnya kader bukanlah tenaga profesional melainkan hanya membantu dalam pelayanan kesehatan. Dalam hal ini perlu adanya pembatasan tugas yang diemban, baik menyangkut jumlah maupun jenis pelayanan. Adapun kegiatan pokok yang perlu diketahui oleh dokter kader dan semua pihak dalam rangka melaksanakan kegiatan-kegiatan baik yang menyangkut didalam maupun diluar Posyandu antara lain: a. Kegiatan yang dapat dilakukan kader di Posyandu adalah: - Melaksanan pendaftaran. - Melaksanakan penimbangan bayi dan balita. - Melaksanakan pencatatan hassil penimbangan. - Memberikan penyuluhan. - Memberi dan membantu pelayanan. - Merujuk. b. Kegiatan yang dapat dilakukan kader diluar Posyandu KB-kesehatan adalah: 1. Bersifat yang menunjang pelayanan KB, KIA, Imunisasi, Gizi dan penanggulandiare. 2. Mengajak ibi-ibu untuk datang para hari kegiatan Posyandu. 3. Kegiatan yang menunjang upanya kesehatan lainnya yang sesuai dengan

4. permasalahan yang ada:            pemberantasan penyakit menular. Penyehatan rumah. Pembersihan sarang nyamuk. Pembuangan sampah. Penyediaan sarana air bersih. Menyediakan sarana jamban keluarga. Pembuatan sarana pembuangan air limbah. Pemberian pertolongan pertama pada penyakit. P3K Dana sehat. Kegiatan pengembangan lainnya yang berkaitan dengan kesehatan. c. Peranan Kader diluar Posyandu KB-kesehatan: o Merencanakan kegiatan, antara lain: menyiapkan dan

melaksanakan survey mawas diri, membahas hasil survei, menyajikan dalam MMd, menentukan masalah dan kebutuhan kesehatan masyarakat desa, menentukan kegiatan penanggulangan masalah kesehatan bersama masyarakat, membahas pembagian tugas menurut jadwal kerja. o Melakukan komunikasi, informasi dan motivasi wawan muka (kunjungan), alat peraga dan percontohan.

o Menggerakkan masyarakat: mendorong masyarakat untuk gotng ronyong, memberikan informasi dan mengadakan kesepakatan kegiatan apa yang akan dilaksanakan dan lain-lain. o Memberikan pelayanan yaitu, :       Membagi obat Membantu mengumpulkan bahan pemeriksaan Mengawasi pendatang didesanya dan melapor Memberikan pertolongan pemantauan penyakit Memberikan pertolongan pada kecelakaan dan lainnya Melakukan pencatatan, yaitu: o KB atau jumlah Pus, jumlah peserta aktif dsb o KIA : jumlah ibu hamil, vitamin A yang dibagikan dan sebagainya o Imunisasi : jumlah imunisasi TT bagi ibu hamil dan jumlah bayi dan balita yang diimunisasikan o Gizi: jumlah bayi yang ada, mempunyai KMS, balita yang ditimbang dan yang naik timbangan o Diare: jumlah oralit yang dibagikan, penderita yang ditemukan dan dirujuk o Melakukan pembinaan mengenai laima program

keterpaduan KB-kesehatan dan upanya kesehatan lainnya.

o Keluarga pembinaan yang untuk masing-masing untuk berjumlah 10-20KK atau diserahkan dengan kader setempat hal ini dilakukan dengan memberikan informasi tentang upanya kesehatan dilaksanakan. o Melakukan kunjungan rumah kepada masyarakat terutama keluarga binaan. o Melakukan pertemuan kelompok. (http://repository.usu.ac.id)

2.4

KP-KIA (Kelompok Peminat Kesehatan Ibu Dan Anak) 2.4.1 Pengertian KP-KIA Kesehatan ibu dan anak adalah pangkal kesehatan dan kesejahteraan bangsa. Ibu sehat akan melahirkan anak yang sehat, menuju keluarga sehat dan bahagia, negara

kuat.mother_and_child_graphic Namun kesehatan ibu perlu dijaga waktu hamil, melahirkan dan menyusui. Kelalaian atas hal ini dapat mengancam kesehatan ibu dan anak yang dikandung, yang selanjutnya menggangu kesehatan dan kebahagiaan keluarga. Kesehatan ibu dan anak merupakan bagian dari pilar pembangunan bangsa. Negara dan bangsa juga akan menderita bila ibu, anak dan keluarga serta masyarkat tidak sehat.

Sebagai upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak, yang hingga saat ini masih rendah yang di tandai dengan masih tingginya angka kematian ibu dan bayi di Indonesia mengharuskan Departemen Kesehatan harus bekerja keras untuk menurunkannya. Kelompok Peminat Kesehatan Ibu Dan Anak (KP-KIA) adalah sekumpulan orang yang mempunyai tanggung jawab penting dalam program kesehatan ibu dan anak. Salah satunya adalah program buku KIA, buku KIA adalah suatu buku yang berisi catatan kesehatan ibu dan anak serta informasi bagaimana cara menjaga kesehatan dan mengatasi anak sakit .(http://www.depkes.go.id). 1. Tanda-tanda kehamilan      Tidak haid / terlambat haid Pusing – pusing Muntah – muntah (mual) Perut membesar Payudara membesar, tegang ada rasa nyeri dan putting susu lebih hitam / lebih besar. 2. Pemeriksaan kehamilan  Kapan ibu hamil diperiksa Segera setelah terlambat haid paling sedikit diperiksa 4 x selama :

-

Paling sedikit 1 x pada saat umur kehamilan 1 – 3 bulan.

-

Paling sedikit 1 x pada saat umur kehamilan 4 – 6 bulan.

-

Paling sedikit 2 x pada saat umur kehamilan 7 – 9 bulan.

Dimana ibu hamil diperiksa Posyandu Polindes Puskesmas pembantu Puskesmas dengan tempat perawatan / poned Rumah sakit Dokter dan bidan praktek swasta

Apa saja yang diperiksa Ibu harus mendapatkan pelayanan 10 T yaitu : 1. Timbang berat badan dan ukur tinggi badan. 2. Ukur tekanan darah. 3. Nilai status gizi (LILA). 4. Ukur tinggi fundus uteri. 5. Tentukan presentasi janin. 6. Pemberian imunisasi TT. 7. Pemberian tablet zat besi (fe) minimal 90 tablet selama kehamilan.

8. Tes laboratorium terhadap penyakit menular seksual (PMS). 9. Tata laksana kasus. 10. Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan. 3. Imunisasi Tetanus Toksoid (TT)  Kapan ibu hamil mendapatkan imunisasi TT (Tetanus Toksoid) Segera setelah ibu diketahui hamil Diberikan 2 kali selama kehamilan dengan jarak minimal 1 bulan Imunisasi ke 2 diberikan sebelum usia kehamilan 8 bulan.  Manfaat imunisasi TT (tetanus toksoid) Supaya bayi yang dilahirkan kebal terhadap penyakit Tetanus Neonatorum.  Tempat pelayanan imunisasi Posyandu Polindes Puskesmas pembantu Puskesmas / poned Rumah sakit Dokter dan bidan praktek swasta.

4. Manfaat pemeriksaan kehamilan  Mendeteksi dini adanya kelainan lebih awal bisa diketahui  Mendapatkan nasehat-nasehat dari petugas kesehatan yang meliputi : Makanan yang bergizi Kebersihan diri (personal hygiene) Istirahat Persiapan persalinan Bidan, Alat, Keluarga, Surat, Obat, Kendaraan, Uang, Donor darah dan Doa) Perawatan payudara selama kehamilan Tanda – tanda bahaya.

5. Perawatan payudara  Tujuan perawatan payudara  Agar puting susu menonjol / keluar Agar puting susu bersih Melancarkan keluarnya Air Susu Ibu (ASI).

Cara perawatan Tangan diolesi dengan minyak kelapa atau baby oil Payudara di urut dari pangkal kearah putting susu Putting susu ditarik-tarik keluar dan diputar-putar Perawatan dilakukan sejak kehamilan lebih dari 7 bulan.

6. Tanda – tanda ibu hamil yang kurang gizi  Tanda – tanda ibu hamil yang kurang gizi LILA (lingkar lengan atas) sebelah kiri kurang dari 23,5 cm. Penambahan berat badan tidak sesuai dengan umur kehamilan. Kurang darah (muka pucat, lesu, letih, bibir dan kelopak mata bagian dalam pucat).  Pencegahan kurang gizi pada ibu hamil Makanan yang bergizi Minum tablet tambah darah minimal 90 tablet Memeriksakan kehamilan ke petugas kesehatan sebaiknya setiap bulan. 7. Akibat kurang gizi pada ibu hamil  Pada ibu hamil akan terjadi kekurangan darah (anemi) yang ditandai : Pucat Pusing Sakit kepala Cepat lelah Berat badan tidak sesuai dengan umur kehamilan.

Pada bayi yang akan dilahirkan : Berat badan lahir rendah (BBLR) yaitu BB bayi kurang dari 2500 gram. Anak jadi cebol dan dungu.

8. Factor – factor risiko pada kehamilan  Umur kurang dari 20th atau lebih dari 35th. Tinggi badan kurang dari 145cm. Jarak kehamilan kurang dari 2th. Kehamilan lebih dari 3 kali.

Penyakit – penyakit yang mempengaruhi kehamilan antara lain : TBC (batuk lebih 4 minggu, kadang disertai darah, berkeringat malam, nafsu makan berkurang, berat badan makin berkurang). Jantung (cepat lelah, sesak nafas, kaki bengkak) Kencing manis (sering kencing, sering makan cepat lapar dan haus, kesemutan, luka yang susah sembuh).

9. Kehamilan resiko tinggi  Kehamilan resiko tinggi 1. Ketuban pecah sebelum waktunya (KPSW). 2. Perdarahan pada kehamilan. 3. Tekanan darah tinggi.

4. Sakit kepala yang hebat. 5. Bengkak pada wajah dan lengan. 6. Penglihatan berkunang – kunang.  Apa yang harus dilakukan : segera memeriksakan diri ke petugas kesehatan apabila dirasakan / ditemukan salah satu resiko atau tanda bahaya tadi, bila tidak segera ditangani dapat menyebabkan kematian ibu maupun bayinya. 10. Pertolongan persalinan  Setiap persalinan harus ditolong oleh :  Tenaga kesehatan : dokter dan bidan.

Dimana sebaiknya seorang ibu bersalin : Polindes Puskesmas Puskesmas poned Rumah sakit Klinik bersalin Dirumah, dengan memperhatikan 3 bersih yaitu : bersih penolong, bersih tempat dan bersih alat.

11. Persalinan resiko tinggi 1. Perdarahan dari jalan lahir 2. Ketuban pecah sebelum waktunya 3. Persalinan lama

4. Infeksi / demam tinggi 5. Kelainan letak 6. Tali pusat menumbung 7. Keracunan kehamilan 12. Perawatan ibu nifas 1. Perawatan payudara. 2. Menjaga kebersihan diri. 3. Minum tablet fe 30 tablet. 4. Makan – makanan bergizi. 5. Minum 1 kapsul vitamin A. 6. Senam. 13. Keluarga Berencana (KB)  Manfaat keluarga berencana (KB)  Menjarangkan kehamilan Ibu dan anak menjadi sehat Rumah tangga lebih terawat.

Bila ingin anak dan ibu sehat Usia yang baik untuk melahirkan antara 2- 30 tahun. Jarak umur anak minimal 2 tahun.

Jenis alat kontrasepsi Susuk / implant IUD / spiral / AKDR Pil

Suntik.

Tempat pelayanan Posyandu Pos KB desa Puskesmas Polindes Rumah sakit Dokter dan bidan praktek swasta.

14. Neonatal  Neonatal adalah bayi baru lahir yang berumur 0 – 28 hari.  Pemeriksaan neonatal yaitu :  Usia 0 – 7 hari : 1 kali Usia 8 -28 hari : 1 kali.

Manfaat pemeriksaan pada neonatal Untuk mengetahui secara awal kelainan – kelainan yang mungkin terjadi : 1. Kelainan bawan 2. Bayi berat lahir rendah (BBLR) 3. Tetanus Neonatorum (TN). Untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan bayi baru lahir.

Tempat untuk mendapatkan pemeriksaan Polindes Posyandu Puskesmas pembantu Puskesmas poned Rumah sakit Dokter dan bidan praktek swasta.

15. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)  Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang 2500 garm.  Perawatan BBLR Jaga bayi agar tetap hangat Perawatan tali pusat harus bersih dan kering, tutup dengan kain kasa yang steril dan kering dan dig anti setiap hari Berikan ASI segera setelah bayi lahir, usahakan sesering mungkin sesuai keinginan bayi Air susu pertama (air susu jolong/kolostrum) jangan dibuang  Jauhkan bayi dari orang sakit.

Tanda – tanda BBLR Bayi lebih kecil dari bayi baru lahir normal. LILA (lingkar lengan atas) kurang dari 9,5cm.

-

Tubuhnya kurang berisi / keriput. Mudah tersedak (keselek) Malas menghisap ASI Cepat kenyang.

16. Tetanus Neonatorum  Tetanus neonatorum adalah penyakit pada bayi baru lahir karena masuknya kuman tetanus melalui tali pusat, yang terjadi pada bayi usia kurang dari 1 bulan.  Tanda – tanda tetanus neonatorum Tiba – tiba bayi tidak bisa menetek Mulut mencucut (tidak bisa dibuka) Bayi kejang-kejang Kadang-kadang ada demam Tali pusat kemerah-merahan, basah, kotor, berbau dan bernanah → infeksi.  Yang harus dilakukan apabila menemukan bayi yang menderita tetanus neonatorum yaitu bayi harus segera di bawa ke rumah sakit / ke puskesmas.  Apa yang harus dilakukan agar bayi tidak terkena tetanus neonatorum : Pada waktu hamil ibu harus mendapatkan imunisasi TT sebanyak 2 kali. Melahirkan ditolong oleh bidan dan dokter.

-

Perawatan tali pusat harus bersih sampai puput dengan menggunakan kain kasa (perban) yang steril dan kering.

-

Tidak dibubuhi ramuan atau obat-obatan lain.

17. Perawatan diare  Diare adalah buang air besar lebih sering dari biasanya, yaitu lebih dari 3 kali dalam sehari bentuknya cair atau seperti air dan disertai muntah-muntah.  Penyebab diare adalah : kuman, kekurangan gizi, keracunan, dan kurang menjaga kebersihan.  Akibat anak terkena diare adalah anak akan menjadi lemas karena kekurangan cairan dengan cepat yang dapat mengakibatkan kematian.  Perawatan diare : Bayi tetap diberi ASI walaupun muntah tetapi ASI tetap diberikan sedikit-sedikit tapi sering. Berikan banyak minum : oralit, larutan gula-garam, air the, air tajin, air sop / sayuran. Bila anak mencret terus menerus segera bawa ke puskesmas atau petugas kesehatan terdekat,

sementara itu oralit atau minuman lain serta ASI tetap harus diberikan.

18. Pneumonia  Pneumonia adalah penyakit batuk pilek yang disertai panas badan dan nafas sesak atau cepat. Nafas sesak : apabila dinding dad bawah tertarik ke dalam. Nafas cepat : apabila tarikan nafas 50 kali atau lebih setiap menit.  Penyebab pneumonia adalah : tertular penderita lain, belum imunisasi lengkap, kurang gizi, dan tinggal dilingkungan yang tidak sehat.  Bahaya pneumonia adalah dapat menyebabkan

kematian apabila tidak segera diobati oleh petugas kesehatan.  Cara mengatasi bahya pneumonia adalah anak harus segera dibawa ke puskesmas atau ke rumah sakit, dan segera hubungi petugas kesehatan terdekat.  Cara mencegah pneumonia adalah : Jauhkan anak dari penderita batuk. Berikan cukup makanan yang bergizi. Imunisasi lengkap. Jagalah kebersihan tubuh, makanan dan lingkungan.

19. Kelainan bawaan  Kelainan bawaan adalah kelainan yang dibawa sejak lahir.  Jenis-jenis kelainan bawaan : Tidak ada lubang anus Kepala membesar Bibir sumbing Kelebihan jari tangan Kelebihan jari kaki.

20. ASI eklusif  ASI eklusif adalah memberikan ASI kepada bayi sejak lahir sampai umur 6 bulan tanpa diberikan / diselingi makanan atau minuman tambahan apapun.  Cara memberikan ASI eklusif Berikan ASI segera setelah melahirkan Berikan kolostrum / air susu pertama Tidak memberikan makanan / minuman tambahan apapun Susui bayi sesering mungkin setiap kali bayi membutuhkan.  Kolostrum adalah air susu yang keluar pertama kali setelah ibu melahirkan, berwarna kekuning-kuningan lebih kental dan mengandung zat kekebalan untuk anak.

21. Makanan bayi  Selama 6 bulan pertama bayi hanya diberi ASI karena : Pencernaan bayi belum dapat menerima makanan padat. ASI saja cukup, bayi tidak boleh mendapatkan makanan / minuman lain.  Mencegah infeksi saluran pencernaan.

Setelah bayi lahir berumur lebih 6 bulan, tetap diberikan ASI dan makanan tambahan secara bertahap sesuai dengan usia bayi dimulai dengan makanan lunak, seperti bubur tepung dan sari buah-bauhan dilanjutkan dengan makanan lembek seperti nasi tim selanjutnya baru diberikan makanan padat.

22. Imunisasi bayi  Manfaat imunisasi Imunisasi BCG untuk mencegah penyakit TBC Imunisasi Polio untuk mencegah penyakit polio Imunisasi campak Imunisasi DPT untuk mencegah penyakit Difteri, Pertusis, dan Tetanus. Hepatitis B untuk mencegah penyakit hepatitis. Campak untuk mencegah penyakit

Table 1.1 Kapan Imunisasi Diberikan Kepada Bayi Pemberian imunisasi 1 kali 1 kali 3 kali 4 kali 1 kali >4mgg/1bl >4mgg/1bl 1bl Selang waktu pemberian

NO. 1. 2. 3. 4. 5.

Vaksin Hepatitis B0 (Unject) BCG DPT Combo (DPT + HB) Polio Campak

Umur 0-7hari 0-11bl 2-11bl 0-11bl 9-11bl.

23. Desa siaga  Desa siaga adalah desa yang memiliki system kesiagaan untuk menanggulangi kegawatdaruratan ibu bersalin.  Desa siaga terdiri dari komponen-komponen,yaitu : Mekanisme pendanaan (dasolin / tabulin) : dasolin yaitu uang yang dikumpulkan oleh masyarakat secara rutin dan dikelola oleh pengurus. Sedangkan tabulin adalah uang yang dikumpulkan atau ditabung oleh ibu hamil. Mekanisme transportasi (ambulan desa) adalah kendaraan milik warga / masyarakat desa yang disepakati untuk angkutan / transportasi rujukan. Mekanisme donor darah adalah masyarakat desa yang dengan sukarela bersedia mendonorkan

darahnya baik secara rutin maupun insidentil saat dibutuhkan. Mekanisme pemberitahuan (notifikasi) adalah

system yang dikembangkan oleh masyarakat untuk menginformasikan tentang keberadaan dan kondisi ibu hamil dan masa persalinan. Kemitraan adalah kerjasama antara bidan dan paraji pada saat menolong persalinan yang berperan sesuai fungsi masing-masing.  Penyebab kematian tidak langsung adalah 4 terlalu dan 3 terlambat 4 terlalu : 1. Terlalu tua (hamil/melahirkan usia lebih dari 35th) 2. Terlalu muda (hamil/melahirkan usia kurang dari 20th) 3. Terlalu sering (melahirkan lebih dari 4 kali) 4. Terlalu dekat (jarak kehamilan kurang dari 2th). 3 terlambat 1. Terlambat memutuskan dan mengenal bahaya 2. Terlambat transportasi 3. Terlambat mendapat pelayanan di fasilitas yang memadai.

Pesan siaga 1. Pertolongan persalinan harus oleh tenaga kesehatan (bidan atau dokter) 2. Mari melahirkan ke bidan 3. Suami siaga mendukuung ibu dan bayi lahir dengan selamat 4. Periksakan kehamilan sedini mungkin agar tanda bahaya dapat diketahui sejak awal (DepKes,2007).

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3753/1/fkm-zulkifli1.pdf

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->