TEKNOLOGI PENANGKARAN BENIH PADI Pendahuluan Kegiatan agribisnis meliputi tiga sub sistem, yaitu subsistem pra produksi

, produksi, dan pemasaran. Dalam subsistem pra produksi, ketersediaan benih/ bibit merupakan prioritas yang perlu diperhatikan, karena keberhasilan agribisnis akan bergantung pada penyediaan sarana produksi, di antaranya benih bermutu. Benih bermutu adalah benih yang baik dan bermutu tinggi yang menjamin pertanaman bagus dan hasil panen tinggi. Saat ini, benih bermutu dicerminkan oleh keseragaman biji, daya tumbuh, dan tingkat kemurnian yang tinggi. Untuk menghasilkan benih padi bermutu (bersertifikat) minimum memperhatikan dua prinsip penting, yaitu prinsip genetis dan agronomis. Prinsip genetis adalah pengendalian mutu benih internal yang dilaksanakan produsen benih agar tidak terjadi kemunduran genetiknya. Sebaliknya prinsip agronomis adalah tindakan budidaya secara benar agar dapat menghasilkan benih bermutu tinggi, baik kualitas maupun kuantitas (mutu fisik dan mutu fisiologis benih) Teknologi produksi benih 1. Pemilihan lokasi Padi merupakan tanaman yang melakukan penyerbukan sendiri dan kemungkinan untuk terjadinya penyerbukan silang sangat kecil (< 0,4 %). Namun demikian, isolasi benih perlu dilakukan dari pertanaman padi lain yaitu minimal 3 meter, atau berbunga tidak bersamaan dengan selisih waktu sekitar 30 hari dari padi konsumsi. Disamping itu lokasi perbenihan harus memiliki kriteria sebagai berikut : a. Lahan hendaknya bekas jenis tanaman lain atau diberakan. b. Pada lahan bekas tanaman padi, varietas yang ditanam adalah sama dengan varietas yang ditanam sebelumnya. c. Ketinggian lahan disesuaikan dengan daya adaptasi varietas tanaman d. Lahan relatif subur dengan pH 5,4 – 6, dan memiliki lapisan olah sedalam 30 cm agar sawah tidak lekas kering. e. Lahan persemaian terhindar dari cahaya lampu pada saat malam hari. 2. Pemilihan varietas dan asal benih Varietas yang diperbanyak disesuaikan dengan kebutuhan konsumen, kesesuaian lahan, umur tanaman, dan ketahanan terhadap hama penyakit. Benih sumber yang digunakan berasal dari kelas yang sebih tinggi. Untuk menghasilkan benih dasar (FS) digunakan benih penjenis (BS), untuk menghasilkan benih pokok (SS) digunakan benih dasar, sedangkan untuk menghasilkan benih sebar (ES)digunakan benih pokok. Produksi benih dapat dilakukan pada musim hujan maupun pada musim kemarau asal kan air cukup tersedia. Untuk memudahkan prosesing hasil, lebih menguntgungkan bila usaha perbenihan dilakukan pada musim kemarau. 3. Persemaian a. Tempat persemaian dibuat seluas 5% dari luas lahan produksi benih, sebelum diolah lahan persemaian diairi terlebih dahulu dan keesok harinya lahan dicangkul dan dibuat bedengan dengan ketinggian 15-20 cm, jarak antar bedengan selebar 30 cm. b. Sebelum disebar benih dengan kadar air 11-12 % dimasukan kedalam karung kemudian direndam dalam kolam atau air yang mengalir selama 24 jam untuk mematahkan dormansi. c. Selanjutnya benih diperam ditempat teduh selama 24 jam untuk memacu perkecambahan.
1

penyulaman. Sesuai dengan anjuran BPSB jarak tanan bibuat mengikuti jarak tanam jajar legowo 2: 1. 4:1. Mulai fase keluar bunga sampai 10 hari sesudahnya. 4. lahan terus digenangi sekitar 10 cm. c. Pengaturan jarak tanam dan tanam a. Lahan persemaian diusahakan agar selalu macak-macak sehingga bibit berumur 14-18 hari. b. d. Campurkan pupuk 200 gr urea. Sedangkan untuk perbanyakan benih pokok (SS) dari benih dasar (FS) dan beih sebar (ES) dari benih pokopk (SS) di tanam 2-3 batang per lubang. jenis jumlah (dosis) dan cara pemberian pupuk mengacu pada rekomendasi pemupukan pada padi sawah daerah setempat. 1-3 batang per rumpun. Penggenangan II selama 2-3 hari di ikuti pembajakan ke II c. Pemupukan Pemupuka dilakukan sama saeperti produksi untuk konsumsi. b. Bibit umur < 21 hari dengan kondisi sehat ditanam. Lahan tidak diairi selama 5-6 hari atau sampai permukaan tanah retak-retak selama dua hari. + 100 gr sp-36 + 60 gr KCL untuk setiap 10 2 m biberikan 5 hari setelah sebar. penyiangan. . pengairan. g. c. 5:1dengan tujuan untuk mempermudah seleksi tanam yang tumbuh menyimpang. Sewaktu tanam bibit. a. Penyiangan Penyiangan (pengendalian gulma) dilakukan secara manual dengan membuang gulma dan tanamanpengganggu lain sebanyak dua kali yaitu pada umur 15 dan 35 hari setelah tanam (hst) Peyiangan dapat pula dilakukan secara kimiawi dengan menggunakan herbisida. Penggenangan ke IV diikutu pengaruan ke II sambil meratakan permukaan tanah 5. Penyiapan lahan Penanaman padi untuk produksi benih dilakukan dilahan sawah. 2 d. lahan dalam kondisi macak-macak b. f. kemudian diairi kembali setinggi 5-10 cm. Pemeliharaan Kegiatan pemeliharaan meliputi pemupukan. Untuk perbanyakan benih dasar (FS) dari benioh penjenis (BS) bibit ditanam satu batang perlubang tanam. sebagai berikut: a.Benih disebar secara merata dilahan persemaian pada keadan macak-macak (berlumpur) e. Penyulaman Tanaman yang mati atau tumbuh tidak normal diganti dengan tanaman yang sehat. persemaian disemprot dengan insektisida atau fungisida anjuran. 6. d. Agar tanaman padi dapat tumbuh optimal lahan diolah sebaik mungkin untuk mendapatkan struktur tanahdengan kedalaman lumpur 15 -30 cm. Penggenangan III selama 2-3 hari di ikuti penggaruan ke I d. Untuk meindunngi serangan persemaian dari hama penyakit. c. Pngenangan I selama 3-4 hari di ikuti pembajakan I b. serta pengendalian hama dan penyakit. Penyulaman dilakukan pada tanaman ber umur 4-10 hari setelah tanam (hst). Secara ber angsur-angsur lahan diairi 2-5 cm hingga tanaman ber umur 10 hst. Pengairan Pengairan dilakukan secara berseling (intermiten) dengan cara sebagai berikut: a.

Panen sebaiknya dilakukan per varietas. serta warna gabah. pengelolaan budidaya dan pengelolaan biologis. bentuk dan tinggi tanaman. Tanaman yang terinfeksi oleh stemborer atau penyakit tanaman lainnya seperti tungro juga harus dibuang. tinggi tanaman.ain didasarkan pada umur tanaman. Sinartani mimbar penyuluhan. Selama produksi dilapangan tanaman diseleksi minimal tiga kali yaitu : a. serta bentuk dan warna gabah yang berbeda. penggerek batang. 8. Daftar Pustaka Siti nurjanah. Pengendalian hama penyakit mengikuti cara pengendalian terpadu (PHT) yang meliputi pengelolaan varietas. dan lokasi produksi) . Teknologi produksi benih padi varietas unggul. bentuk dan warna bunga serta keseragaman saat berbunga. gabah telah kuning (kadar air sekitar 17-23%) dan beras. Tanaman yang memiliki bentuk dan posisi daun bendera . Gunakan peralatan panen (thresher) dan pengeringan (lantai jemur. Panen Setelah pemeriksaan tanaman terakhir dan dinyatakan memenuhi syarat (lulus) oleh BPSB. Hama dan penyakit utama yang biasa menyerang padi adalah hama tikus. terutama rouging terakhir (satu minggu sebelum panen). Dalam pemanen sebaiknya Dua baris tanaman yang paling pinggir dipanen terpisah dan tidak digunakan sebagai calon benih. serta tinggi tanamanyang berbeda denngan tanaman aslinya yang dibuang. Rouging (seleksi) Roguingin adalah membuang tipe simpang. Bila memakai karung sebaiknya menggunakan karung yang masih baru. Pada fase vegetative (umur 30 hari) seleksi didasarkan pada warna.e. bentuk gabah. lahan dikeringkan untuk mempercepat dan meratakan pemasakan gabah dan memudahkan panen. Sejak 10 hari sebelum panen sampai saat panen.edisi 13-19 april 2011 no. bentuk dan letak daun bendera. yakni jika populasi hama melampawi batas ambang kendali. Penggunaan bahan kimia (pestisida) hanya diberikan pada kondisi yang tepat. Pastikan bahwa areal yang akan dipanen tidak ada sisa malai yang tertinggal di pertanaman yang dibuang saat rouging. b. buku-buku gabah sebelah atas berwarna kuning serta batang mulai kering. wereng coklat dan penyakit hawar daun (kresek). tanaman siap untuk dipanen. 3401 tahun XLI. Saat yang tepat untuk panen adalah bila sebagian besar (90%) malai telah kuning. rumpun tanaman harus dibuang. Saat menjelang panen atau 80 % malai telah kuning (± 100 hst)yang antara . Calon benih kemudian dimasukkan ke karung dan diberi label (nama varietas. b. Bila memiliki posisi dan warna bunga yang berbeda dengan tanaman aslinya. campuran varietas lain. tanaman tersebut harus dibuang. c. tanggal panen. dan membuang tanaman lain. Pada fase berbunga (lebih kurang 50-60 hst) seleksi didasarkan pada tinggi tanaman. 7. tanaman yang menunjukan warna dan bentuk batang. 2011. e. mesin pengering) yang bersih agar tidak menjadi sumber kontaminasi. c. 3 . Pengendalian hama dan penyakit a.

Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk menjaminketersediaan benih bermutu dari varietas unggul padi di Jawa Baratadalah melalui pengembangan penangkaran benih. Penggunaan VUB pada skala luas sangat ditentukan olehkemampuan industri benih untuk memproduksi dan mendistribusikanbenih bermutu (pembawa potensi genetik yang dikembangkan olehpara pemulia tanaman) melalui proses sertifkasi sebagai sarana yangmampu menjamin keaslian (genuine. authentic ) varietas unggul sampai ke petani secara efektif dan efsien. 4 . Termasuk didalamnya bahwa perbenihantanaman adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan pengadaan. Demi untuk memenuhi kebutuhan tersebut.pengelolaan dan peredaran benih tanaman. Petunjuk teknis penangkaran benih padi. Penangkar Benih Padi Bermutu. dampak penggunaan varietas unggul terhadap peningkatanproduksi dan mutu produk hanya akan terasa bila varietas unggultersebut ditanam dalam skala luas. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2009 KA PENGA R TA NTA Benih tanaman merupakan salah satu sarana budidaya tanamanyang mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam upayapeningkatan produksi dan mutu budidaya hasil tanaman yangpada akhirnya peningkatan pendapatan petani dan kesejahteraanmasyarakat. untuk dapatdijadikan sebagai pedoman dalam melakukan penangkaran benihyang bermutu. Dengan demikian keunggulanvarietas baru tersebut dapat dinikmati oleh petani. Namundemikian. Untuk mencapaihasil yang optimal petani penangkar yang sudah dibina. 2002. Pembinaan penangkar ini diarahkansecara terintegrasi dengan SL-PTT pengawalan menggunakanmedia tercetak. PENDAHULUAN Jawa Barat merupakan sentra produksi padi utama di Indonesiapenggunaan benih bermutu dari varietas unggul telah berkontribusisecara nyata terhadap peningkatan produksi sehingga Indonesiamampu mencapai swasembada beras pada tahun 1984.Dalam rekapitulasi Rencana Usaha Bersama PUAP di Jawa Barattercatat tanaman pangan sangat mendominasi yaitu sekitar 34% dandari yang 34% tanaman pangan mayoritasnya adalah tanaman padi. Informasi Ringkas Bank Pengetahuan Padi Indonesia 2009 Iskandar Ishaq.Anonim. 2009. makadisusunlah Petunjuk Teknis Penangkaran Benih Padi. oleh karena itu perbaikan perbenihan tanaman harusmampu menjamin tersedianya benih bermutu secara memadaidan berkesinambungan. tetapdilakukan pembinaan secara berkesinambungan sambil mencaricalon-calon penangkar lainnya.

Untuk menekan pertumbuhan gulma. subsistem pengawasan mutu dansertifkasi serta subsistem penunjang (kelembagaan. Penyulaman dilakukan pada 7 hari setelah tanam(HST) dengan bibit dari varietas dan umur yang sama. Pemeliharaan • Pemupukan 5 . Bibit ditanam pada kedalaman 1-2 cm. dan KCl masing-masing sebanyak 15 g/m2. Terakhir tanah digaru untuk melumpurkan dan meratakan tanah. Jarak tanam dapat menggunakan sistem tegel (20 x 20 cm atau25 x 25 cm atau 27x27 cm) dan/atau sistem legowo-2 (20x10x40 cmatau 25x12. khususnya padi bertujuan untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan benih bermutu secara berkekelanjutan. namun tanpa pembuatan bedengan. 3. Diharapkan melaluikegiatan tersebut kebutuhan petani akan benih bermutu dari varietasunggul dapat dipenuhi oleh petani penangkar benih setempat TUJUAN Memproduksi benih sumber dan/atau benih sebar padi varietasunggul KELUARAN Diperoleh benih sumber dan/atau benih sebar padi varietasunggul PROSEDUR Benih sumber yang akan digunakan untuk pertanaman produksibenih haruslah satu kelas lebih tinggi dari kelas benih yang akandiproduksi. nantinya digunakanuntuk menyulam. Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam rangka menjaminketersediaan benih bermutu dari varietas unggul padi di Jawa Baratadalah melalui pengembangan penangkaran benih padi yangterintegrasi dengan program Peningkatan Produksi Beras Nasional(P2BN) dan Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu Padi Inbrida (SLPTT Padi Inbrida). subsistemproduksi dan distribusi benih. Persemaian dipupuk dengan Urea. SDM dan sarana-prasarana). Untuk daerah endemik hama penggerek batang gunakanperlakuan benih (seed treatment ) dengan menggunakan insektisida Fipronil 50 ST. sedangkan untuk memproduksi benih kelas SS (Stock Seed /Benih Pokok/BP) atau Label Ungu. dengan1 bibit per lubang. benih yang tenggelam menunjukkanbenih yang baik. penilaian dan pelepasan varietas. Sebelum disebar. merangsang pertumbuhan akar. 2. Perlakuan benih bertujuan untuk mencegah hamapada stadia awal perkecambahan. 1. Hal ini dapat dilakukan denganmengoptimalkan seluruh rangkaian sistem perbenihan yang terdiriatas subsistem penelitian. lalu dibajak II.Pembangunan perbenihan tanaman pangan. maka benih sumbernya boleh benih FS atau boleh juga BS dan untuk memproduksi benih kelas ES(Extension Seed /Benih Sebar/BR) benih sumbernya boleh benih kelasSS atau FS. Sisa bibit yang telahdicabut diletakkan di bagian pinggir petakan. memelihara dan memperbaikikualitas benih Tabur benih yang telah mulai berkecambah dengan kerapatan25-50 g/m2 atau 0.5x50 cm) tergantung tinggi tempat. air irigasi dibiarkan macak-macak (1-3 cm )selama 7-10 hari 4. maka benih sumbernya haruslahbenih padi kelas BS (Breeder Seed /Benih Penjenis/BS) atau LabelKuning. benih direndam selama 24 jam. Kebutuhan benih untuk 1 ha areal pertanaman adalah 10-20 kg. Pemilahan dan Perlakuan Benih Pemilahan benih padi sebelum disemai/ditebar dapat dilakukandengan perendaman benih ke dalam larutan garam 3% atau direndamdalam larutan ZA (225 g ZA/l air).memperkecil resiko kehilangan hasil.5-1 kg benih per 20 m2 lahan. digenangi selama2 hari dan dikeringkan lagi selama 7 hari. SP-36. digenangi selama 2hari.kesuburan lahan dan varietas yang ditanam. lahan yang telah diratakandisemprot dengan herbisida pra-tumbuh dan dibiarkan selama 7-10hari atau sesuai dengan anjuran. Penanaman Penanaman dilakukan pada saat bibit berumur 15-21 hari. lalu dikeringkan selama 7 hari. Setelah ditanam. Tanah diolah secara sempurna yaitu dibajak I. misal 2atau 3 daun/batang). Untuk memproduksi benih kelas FS ( Foundation Seed /Benih Dasar/BD) atau Label Putih.5x50 cm atau 27x13. Penyiapan Lahan Persiapan lahan untuk pertanaman mirip dengan lahan untuk persemaian.kemudian diperam selama 24 jam. Bibit yang ditanam sebaiknya memiliki umurfsiologi yang sama (dicirikan oleh jumlah daun yang sama.

Pemberian pupuk P seluruhnya diberikan bersamaan dengan pemberian pupuk dasar Urea. 2. bila takarannya rendah. maka berikan Urea sebanyak : • 50-75 kg/ha untuk daerah musim/hasil rendah • 75-100 kg/ha untuk daerah musim hasil tinggi • 100 kg/ha untuk padi tipe baru (PTB). = jumlah predator per 20 rumpun tanaman c. Bila pengembangan dilakukan di daerah endemis hama dan penyakit. Apabila pemupukan dengan cara tersebut di atas tidak memungkinkan. karena gulma sudah dikendalikan. pengukuran pada daunPTB berada pada skala 4 atau kurang. Perhatikan juga serangan tikus sejak dini dan monitor penerbangan ngengat penggerek batang. Pengendalian hama dan penyakit harus dilakukan secara terpadu. predator (labalaba. = jumlah kepik Cyrtorhinus per 20 rumpun tanaman 6 . takarannya disesuaikandengan ketersediaan P dan K dalam tanah. Pupuk susulan I (4 MST): 33 % urea (40-80 kg/ha) + 50% KCl (50-75. takaran dan waktu pemberiannya disesuaikan dengankebutuhan tanaman dengan menggunakan teknologi Bagan Warna Daun (BWD). Pupuk dasar (saat tanam): 33% urea (40-80 kg/ha)+100% SP36 (100-120 kg/ha). = jumlah wereng coklat + wereng punggung putih per 20rumpun tanaman b.Agar efsien. Hak ini dimaksudkan agar pupuk yang diberikanhanya diserap oleh tanaman padi. Pemupukan dengan menggunakan BWD dan analisa tanah adalah sebagai berikut: Pupuk dasar sebanyak 50-75 kg Urea/ha sebelum 14 HST mulai 25-28 HST lakukan pengukuran dengan menggunakan BWD sampai umur50 HST dengan selang waktu 7-10 hari sekali. Hasil pengamatan kemudiandijabarkan ke dalam rumus berikut: A – (5B + 2C) = D (jumlah wereng terkoreksi) 20 a. maka dapat digunakan anjuran umum pemupukansebagai berikut: 120-240 kg urea. Pemupukandimaksudkan untuk menambah penyediaan hara sehingga mencukupikebutuhan tanaman untuk tumbuh dan berproduksi dengan baik. Bila hasil pengukuran dibawah 4. Sedangkan untuk pupuk urea. Penyiangan dapat dilakukan sebelum pemupukan susulanpertama atau kedua.daripada musim kemarau. Hitung jumlah wereng coklat + wereng punggung putih. terapkan PHT dengan monitoring keberadaan tungro dan kepadatan populasi wereng hijau secara intensif. Dengan demikian kemampuan tanah untuk menyediakan hara bagi tanaman juga berbeda-beda. Untuk itu di dalam pengembangan atau pertanaman produksi benih supaya berhasil beberapa hal yang harus diperhatikan. Bila pada fase antara keluar malai sampai 10% berbunga. 100-120 kg SP36. Penyiangan Penyiangan dilakukan secara intensif agar tanaman tidak terganggu oleh gulma. takaran pupuk dianjurkan lebih rendah4. dan 100-150 kg KCl per hektar.kg/ha) 3.Kesuburan tanah beragam antar lokasi karena perbedaan sifat dan kimianya. Untuk pupuk SP36 dan KCI. Pupuk susulan II (7 MST): 33% urea ( 40-80 kg/ha) + 50 % KCl (50-75 kg/ha) 4. Penyiangan dilakukan paling sedikit dua atautiga kali tergantung pada keadaan gulma. takaran pupuk hendaknya disesuaikan dengan kondisilahan setempat. Hama wereng coklat dan penyakit tungro merupakan hama dan penyakit yang paling utama saat ini. dengan waktu pemberian sebagai berikut: 1. Pengendalian OPT Hama dan penyakit merupakan faktor penting yang menyebabkan suatu varietas tidak mampu menghasilkan varietas seperti yang diharapkan. Pemberian pupuk K. seluruhnya diberikan bersamaan dengan pemberian pupuk dasar dan bila takaran pupuk K tinggi (> 100 kg KCl/ha) maka 50%diaplikasikan sebagai pupuk dasar dan sisanya saat primordial bunga.0. menggunakan landak atau gasrok. 1. Paederus dan Coccinella) dan kepik Cyrtorhinus. berikan 50 kg Urea/ha. Pada musim hujan.Opionea. Teknik pemupukan lainnya pada lahan sawah dapat pulamenggunakan perangkat uji tanah sawah (PUTS) dan program PuPsvers.  Pengamatan populasi wereng coklat dilakukan pada 20 rumpun tanaman secara diagonal. yaitu :  Hindari pengembangan di daerah endemis hama dan penyakit terutama daerah endemis wereng coklat dan penyakit tungro.

atau lebih dari 20 ekorpada saat tanaman berumur 40 HST. Di pesemaian atau saat tanaman berumur1 MST gunakan tiametoksan dengan dosis 2. oleh karena itu Roguing perlu dilakukan dengan benar dan dimulai mulai fase vegetatif sampai akhirpertanaman.2.000 rumpun tanaman saat berumur 2 MST atau dua gejala dari 1.a/ha atau 0. maka pertanaman dalam situasi terancam tungro. Insektisida buprofezin dapat digunakan untuk pengendalian wereng coklat populasi generasi 1 atau2. tetapi pengamatan tetap perlu dilanjutkan. Selain itu. tiametoksan. maka insektisidatidak perlu diaplikasikan. Tabel 1. Penggunaan insektisida didasarkan pada jumlah wereng terkoreksi dan umur tanaman.Karakteristik tanaman yang perlu diperhatikan untuk mempertahankan kemurnian genetik varietas 7 . Untuk tujuan tersebut. Seleksi/Roguing Salah satu syarat dari benih bermutu adalah memiliki tingkat kemurnian genetik yang tinggi. Pertanaman ini digunakan sebagai referensi/acuan di dalam melakukan Roguing dengan cara memperhatikan karakteristik tanaman dalam berbagai fase pertumbuhan sebagaimana yang tercantum dalam Tabel 1. atau kurang dari 20 ekorpada saat tanaman berumur di atas 40 HST. juga diadakan uji yodium dari 20 daun padi yang diambil dari lahan yang sedang dievaluasi. etofenproks dan karbofuran.pertanaman petak pembanding (pertanaman check plot ) dengan menggunakan benih autentik sangat disarankan.  Insektisida yang manjur mengendalikan hama wereng coklat dan wereng punggung putih diantaranya adalah fpronil dan imidakloprid.  Bila nilai wereng terkoreksi kurang dari lima ekor pada saat•tanaman berumur di bawah 40 HST. Langkah yang perlu diambil adalah aplikasi antifidan dengan bahan aktif imidakloprid dan atau tiametoksan.5 g b.50 g imidakloprid /ha untuk menghambat penularan. 5.3 dan 4.  Monitoring terhadap penyakit tungro dilakukan dengan mengadakan pengamatan terhadap hama wereng hijau di pesemaian dengan cara menjaring serangga sebanyak 10 ayunan untuk mengevaluasi populasi wereng hijau. Apabilatidak mampu mengamati populasi dan tanaman terinfeksi dipesemaian.Aplikasi insektisida dilakukan apabila terdapat lima gejala dari 10.000 rumpun tanaman saat berumur 3 MST. Jika hasil perkalian antara jumlah wereng hijau dan persentase daun terinfeksi sama atau lebih dari 75. Roguing dilakukan untuk membuang rumpun-rumpun tanaman yang ciri-ciri morfologisnya menyimpang dari ciri-ciri varietas tanaman yang diproduksi benihnya. yaitu apabila :  Wereng terkoreksi (nilai D) lebih dari lima ekor pada saat tanaman berumur kurang dari 40 HST. sedangkan fpronil dan imidakloprid untuk wereng coklat generasi 1. Insektisida yang dapat digunakan antara lain imidakloprid. amati gejala tungro saat tanaman berumur 3 MST.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful