TEKNOLOGI PENANGKARAN BENIH PADI Pendahuluan Kegiatan agribisnis meliputi tiga sub sistem, yaitu subsistem pra produksi

, produksi, dan pemasaran. Dalam subsistem pra produksi, ketersediaan benih/ bibit merupakan prioritas yang perlu diperhatikan, karena keberhasilan agribisnis akan bergantung pada penyediaan sarana produksi, di antaranya benih bermutu. Benih bermutu adalah benih yang baik dan bermutu tinggi yang menjamin pertanaman bagus dan hasil panen tinggi. Saat ini, benih bermutu dicerminkan oleh keseragaman biji, daya tumbuh, dan tingkat kemurnian yang tinggi. Untuk menghasilkan benih padi bermutu (bersertifikat) minimum memperhatikan dua prinsip penting, yaitu prinsip genetis dan agronomis. Prinsip genetis adalah pengendalian mutu benih internal yang dilaksanakan produsen benih agar tidak terjadi kemunduran genetiknya. Sebaliknya prinsip agronomis adalah tindakan budidaya secara benar agar dapat menghasilkan benih bermutu tinggi, baik kualitas maupun kuantitas (mutu fisik dan mutu fisiologis benih) Teknologi produksi benih 1. Pemilihan lokasi Padi merupakan tanaman yang melakukan penyerbukan sendiri dan kemungkinan untuk terjadinya penyerbukan silang sangat kecil (< 0,4 %). Namun demikian, isolasi benih perlu dilakukan dari pertanaman padi lain yaitu minimal 3 meter, atau berbunga tidak bersamaan dengan selisih waktu sekitar 30 hari dari padi konsumsi. Disamping itu lokasi perbenihan harus memiliki kriteria sebagai berikut : a. Lahan hendaknya bekas jenis tanaman lain atau diberakan. b. Pada lahan bekas tanaman padi, varietas yang ditanam adalah sama dengan varietas yang ditanam sebelumnya. c. Ketinggian lahan disesuaikan dengan daya adaptasi varietas tanaman d. Lahan relatif subur dengan pH 5,4 – 6, dan memiliki lapisan olah sedalam 30 cm agar sawah tidak lekas kering. e. Lahan persemaian terhindar dari cahaya lampu pada saat malam hari. 2. Pemilihan varietas dan asal benih Varietas yang diperbanyak disesuaikan dengan kebutuhan konsumen, kesesuaian lahan, umur tanaman, dan ketahanan terhadap hama penyakit. Benih sumber yang digunakan berasal dari kelas yang sebih tinggi. Untuk menghasilkan benih dasar (FS) digunakan benih penjenis (BS), untuk menghasilkan benih pokok (SS) digunakan benih dasar, sedangkan untuk menghasilkan benih sebar (ES)digunakan benih pokok. Produksi benih dapat dilakukan pada musim hujan maupun pada musim kemarau asal kan air cukup tersedia. Untuk memudahkan prosesing hasil, lebih menguntgungkan bila usaha perbenihan dilakukan pada musim kemarau. 3. Persemaian a. Tempat persemaian dibuat seluas 5% dari luas lahan produksi benih, sebelum diolah lahan persemaian diairi terlebih dahulu dan keesok harinya lahan dicangkul dan dibuat bedengan dengan ketinggian 15-20 cm, jarak antar bedengan selebar 30 cm. b. Sebelum disebar benih dengan kadar air 11-12 % dimasukan kedalam karung kemudian direndam dalam kolam atau air yang mengalir selama 24 jam untuk mematahkan dormansi. c. Selanjutnya benih diperam ditempat teduh selama 24 jam untuk memacu perkecambahan.
1

Pengairan Pengairan dilakukan secara berseling (intermiten) dengan cara sebagai berikut: a. Penggenangan ke IV diikutu pengaruan ke II sambil meratakan permukaan tanah 5. Penyulaman Tanaman yang mati atau tumbuh tidak normal diganti dengan tanaman yang sehat. Penggenangan II selama 2-3 hari di ikuti pembajakan ke II c. 4. penyiangan. Penyiapan lahan Penanaman padi untuk produksi benih dilakukan dilahan sawah. + 100 gr sp-36 + 60 gr KCL untuk setiap 10 2 m biberikan 5 hari setelah sebar. Bibit umur < 21 hari dengan kondisi sehat ditanam. Penyulaman dilakukan pada tanaman ber umur 4-10 hari setelah tanam (hst). Penggenangan III selama 2-3 hari di ikuti penggaruan ke I d. a. lahan dalam kondisi macak-macak b. Sedangkan untuk perbanyakan benih pokok (SS) dari benih dasar (FS) dan beih sebar (ES) dari benih pokopk (SS) di tanam 2-3 batang per lubang. c. Pngenangan I selama 3-4 hari di ikuti pembajakan I b. Sewaktu tanam bibit. Campurkan pupuk 200 gr urea.Benih disebar secara merata dilahan persemaian pada keadan macak-macak (berlumpur) e. Mulai fase keluar bunga sampai 10 hari sesudahnya. Secara ber angsur-angsur lahan diairi 2-5 cm hingga tanaman ber umur 10 hst. Untuk meindunngi serangan persemaian dari hama penyakit. c. Lahan persemaian diusahakan agar selalu macak-macak sehingga bibit berumur 14-18 hari. . 1-3 batang per rumpun. 6. Pemeliharaan Kegiatan pemeliharaan meliputi pemupukan. b. persemaian disemprot dengan insektisida atau fungisida anjuran. 5:1dengan tujuan untuk mempermudah seleksi tanam yang tumbuh menyimpang. pengairan. sebagai berikut: a. Agar tanaman padi dapat tumbuh optimal lahan diolah sebaik mungkin untuk mendapatkan struktur tanahdengan kedalaman lumpur 15 -30 cm. 2 d. Sesuai dengan anjuran BPSB jarak tanan bibuat mengikuti jarak tanam jajar legowo 2: 1. Pemupukan Pemupuka dilakukan sama saeperti produksi untuk konsumsi. Untuk perbanyakan benih dasar (FS) dari benioh penjenis (BS) bibit ditanam satu batang perlubang tanam. d. lahan terus digenangi sekitar 10 cm. g. Penyiangan Penyiangan (pengendalian gulma) dilakukan secara manual dengan membuang gulma dan tanamanpengganggu lain sebanyak dua kali yaitu pada umur 15 dan 35 hari setelah tanam (hst) Peyiangan dapat pula dilakukan secara kimiawi dengan menggunakan herbisida. jenis jumlah (dosis) dan cara pemberian pupuk mengacu pada rekomendasi pemupukan pada padi sawah daerah setempat. 4:1. Lahan tidak diairi selama 5-6 hari atau sampai permukaan tanah retak-retak selama dua hari. Pengaturan jarak tanam dan tanam a. c. kemudian diairi kembali setinggi 5-10 cm. penyulaman. serta pengendalian hama dan penyakit. d. b. f.

bentuk gabah. 2011. bentuk dan warna bunga serta keseragaman saat berbunga. Gunakan peralatan panen (thresher) dan pengeringan (lantai jemur. 7. serta tinggi tanamanyang berbeda denngan tanaman aslinya yang dibuang. buku-buku gabah sebelah atas berwarna kuning serta batang mulai kering. penggerek batang. Penggunaan bahan kimia (pestisida) hanya diberikan pada kondisi yang tepat. c.edisi 13-19 april 2011 no. 3 . tinggi tanaman. yakni jika populasi hama melampawi batas ambang kendali. rumpun tanaman harus dibuang. 3401 tahun XLI. Pada fase vegetative (umur 30 hari) seleksi didasarkan pada warna. Pengendalian hama penyakit mengikuti cara pengendalian terpadu (PHT) yang meliputi pengelolaan varietas. Pastikan bahwa areal yang akan dipanen tidak ada sisa malai yang tertinggal di pertanaman yang dibuang saat rouging. Dalam pemanen sebaiknya Dua baris tanaman yang paling pinggir dipanen terpisah dan tidak digunakan sebagai calon benih. Bila memakai karung sebaiknya menggunakan karung yang masih baru. campuran varietas lain. Hama dan penyakit utama yang biasa menyerang padi adalah hama tikus. bentuk dan tinggi tanaman. dan membuang tanaman lain. wereng coklat dan penyakit hawar daun (kresek). c. Calon benih kemudian dimasukkan ke karung dan diberi label (nama varietas. mesin pengering) yang bersih agar tidak menjadi sumber kontaminasi. Tanaman yang memiliki bentuk dan posisi daun bendera . Sejak 10 hari sebelum panen sampai saat panen. tanaman siap untuk dipanen.e. Pada fase berbunga (lebih kurang 50-60 hst) seleksi didasarkan pada tinggi tanaman. gabah telah kuning (kadar air sekitar 17-23%) dan beras. bentuk dan letak daun bendera. serta bentuk dan warna gabah yang berbeda. b. tanggal panen. b. Rouging (seleksi) Roguingin adalah membuang tipe simpang. dan lokasi produksi) . tanaman tersebut harus dibuang. Panen Setelah pemeriksaan tanaman terakhir dan dinyatakan memenuhi syarat (lulus) oleh BPSB. tanaman yang menunjukan warna dan bentuk batang. Panen sebaiknya dilakukan per varietas. e. Saat menjelang panen atau 80 % malai telah kuning (± 100 hst)yang antara . terutama rouging terakhir (satu minggu sebelum panen). Tanaman yang terinfeksi oleh stemborer atau penyakit tanaman lainnya seperti tungro juga harus dibuang. Sinartani mimbar penyuluhan. Saat yang tepat untuk panen adalah bila sebagian besar (90%) malai telah kuning. serta warna gabah. Selama produksi dilapangan tanaman diseleksi minimal tiga kali yaitu : a. Bila memiliki posisi dan warna bunga yang berbeda dengan tanaman aslinya.ain didasarkan pada umur tanaman. Pengendalian hama dan penyakit a. Teknologi produksi benih padi varietas unggul. Daftar Pustaka Siti nurjanah. lahan dikeringkan untuk mempercepat dan meratakan pemasakan gabah dan memudahkan panen. pengelolaan budidaya dan pengelolaan biologis. 8.

PENDAHULUAN Jawa Barat merupakan sentra produksi padi utama di Indonesiapenggunaan benih bermutu dari varietas unggul telah berkontribusisecara nyata terhadap peningkatan produksi sehingga Indonesiamampu mencapai swasembada beras pada tahun 1984. untuk dapatdijadikan sebagai pedoman dalam melakukan penangkaran benihyang bermutu. Informasi Ringkas Bank Pengetahuan Padi Indonesia 2009 Iskandar Ishaq. 4 . Namundemikian. 2002. Petunjuk teknis penangkaran benih padi. Dengan demikian keunggulanvarietas baru tersebut dapat dinikmati oleh petani.Dalam rekapitulasi Rencana Usaha Bersama PUAP di Jawa Barattercatat tanaman pangan sangat mendominasi yaitu sekitar 34% dandari yang 34% tanaman pangan mayoritasnya adalah tanaman padi.Anonim. Demi untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Untuk mencapaihasil yang optimal petani penangkar yang sudah dibina. Pembinaan penangkar ini diarahkansecara terintegrasi dengan SL-PTT pengawalan menggunakanmedia tercetak. 2009. makadisusunlah Petunjuk Teknis Penangkaran Benih Padi. Penangkar Benih Padi Bermutu. authentic ) varietas unggul sampai ke petani secara efektif dan efsien. tetapdilakukan pembinaan secara berkesinambungan sambil mencaricalon-calon penangkar lainnya. oleh karena itu perbaikan perbenihan tanaman harusmampu menjamin tersedianya benih bermutu secara memadaidan berkesinambungan. Penggunaan VUB pada skala luas sangat ditentukan olehkemampuan industri benih untuk memproduksi dan mendistribusikanbenih bermutu (pembawa potensi genetik yang dikembangkan olehpara pemulia tanaman) melalui proses sertifkasi sebagai sarana yangmampu menjamin keaslian (genuine. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2009 KA PENGA R TA NTA Benih tanaman merupakan salah satu sarana budidaya tanamanyang mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam upayapeningkatan produksi dan mutu budidaya hasil tanaman yangpada akhirnya peningkatan pendapatan petani dan kesejahteraanmasyarakat.Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk menjaminketersediaan benih bermutu dari varietas unggul padi di Jawa Baratadalah melalui pengembangan penangkaran benih.pengelolaan dan peredaran benih tanaman. Termasuk didalamnya bahwa perbenihantanaman adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan pengadaan. dampak penggunaan varietas unggul terhadap peningkatanproduksi dan mutu produk hanya akan terasa bila varietas unggultersebut ditanam dalam skala luas.

Pembangunan perbenihan tanaman pangan. Penyiapan Lahan Persiapan lahan untuk pertanaman mirip dengan lahan untuk persemaian.kesuburan lahan dan varietas yang ditanam.5x50 cm) tergantung tinggi tempat. benih direndam selama 24 jam. penilaian dan pelepasan varietas. Pemilahan dan Perlakuan Benih Pemilahan benih padi sebelum disemai/ditebar dapat dilakukandengan perendaman benih ke dalam larutan garam 3% atau direndamdalam larutan ZA (225 g ZA/l air). dengan1 bibit per lubang. subsistemproduksi dan distribusi benih. benih yang tenggelam menunjukkanbenih yang baik. Untuk menekan pertumbuhan gulma.kemudian diperam selama 24 jam. Jarak tanam dapat menggunakan sistem tegel (20 x 20 cm atau25 x 25 cm atau 27x27 cm) dan/atau sistem legowo-2 (20x10x40 cmatau 25x12. Diharapkan melaluikegiatan tersebut kebutuhan petani akan benih bermutu dari varietasunggul dapat dipenuhi oleh petani penangkar benih setempat TUJUAN Memproduksi benih sumber dan/atau benih sebar padi varietasunggul KELUARAN Diperoleh benih sumber dan/atau benih sebar padi varietasunggul PROSEDUR Benih sumber yang akan digunakan untuk pertanaman produksibenih haruslah satu kelas lebih tinggi dari kelas benih yang akandiproduksi. misal 2atau 3 daun/batang). SP-36. Bibit ditanam pada kedalaman 1-2 cm. sedangkan untuk memproduksi benih kelas SS (Stock Seed /Benih Pokok/BP) atau Label Ungu. digenangi selama2 hari dan dikeringkan lagi selama 7 hari. Untuk daerah endemik hama penggerek batang gunakanperlakuan benih (seed treatment ) dengan menggunakan insektisida Fipronil 50 ST. Terakhir tanah digaru untuk melumpurkan dan meratakan tanah. maka benih sumbernya haruslahbenih padi kelas BS (Breeder Seed /Benih Penjenis/BS) atau LabelKuning.memperkecil resiko kehilangan hasil. Untuk memproduksi benih kelas FS ( Foundation Seed /Benih Dasar/BD) atau Label Putih. Sebelum disebar. Tanah diolah secara sempurna yaitu dibajak I. khususnya padi bertujuan untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan benih bermutu secara berkekelanjutan.5x50 cm atau 27x13. Penanaman Penanaman dilakukan pada saat bibit berumur 15-21 hari. lahan yang telah diratakandisemprot dengan herbisida pra-tumbuh dan dibiarkan selama 7-10hari atau sesuai dengan anjuran. Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam rangka menjaminketersediaan benih bermutu dari varietas unggul padi di Jawa Baratadalah melalui pengembangan penangkaran benih padi yangterintegrasi dengan program Peningkatan Produksi Beras Nasional(P2BN) dan Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu Padi Inbrida (SLPTT Padi Inbrida). Sisa bibit yang telahdicabut diletakkan di bagian pinggir petakan. nantinya digunakanuntuk menyulam. digenangi selama 2hari. 2. lalu dibajak II. merangsang pertumbuhan akar. Kebutuhan benih untuk 1 ha areal pertanaman adalah 10-20 kg. air irigasi dibiarkan macak-macak (1-3 cm )selama 7-10 hari 4. Perlakuan benih bertujuan untuk mencegah hamapada stadia awal perkecambahan. memelihara dan memperbaikikualitas benih Tabur benih yang telah mulai berkecambah dengan kerapatan25-50 g/m2 atau 0. lalu dikeringkan selama 7 hari. Hal ini dapat dilakukan denganmengoptimalkan seluruh rangkaian sistem perbenihan yang terdiriatas subsistem penelitian. Pemeliharaan • Pemupukan 5 . Bibit yang ditanam sebaiknya memiliki umurfsiologi yang sama (dicirikan oleh jumlah daun yang sama. maka benih sumbernya boleh benih FS atau boleh juga BS dan untuk memproduksi benih kelas ES(Extension Seed /Benih Sebar/BR) benih sumbernya boleh benih kelasSS atau FS. subsistem pengawasan mutu dansertifkasi serta subsistem penunjang (kelembagaan. Setelah ditanam. namun tanpa pembuatan bedengan. Persemaian dipupuk dengan Urea. Penyulaman dilakukan pada 7 hari setelah tanam(HST) dengan bibit dari varietas dan umur yang sama. SDM dan sarana-prasarana). dan KCl masing-masing sebanyak 15 g/m2. 3.5-1 kg benih per 20 m2 lahan. 1.

takaran dan waktu pemberiannya disesuaikan dengankebutuhan tanaman dengan menggunakan teknologi Bagan Warna Daun (BWD). predator (labalaba. takaran pupuk dianjurkan lebih rendah4. Penyiangan Penyiangan dilakukan secara intensif agar tanaman tidak terganggu oleh gulma. Hama wereng coklat dan penyakit tungro merupakan hama dan penyakit yang paling utama saat ini. 2. terapkan PHT dengan monitoring keberadaan tungro dan kepadatan populasi wereng hijau secara intensif.0. karena gulma sudah dikendalikan.kg/ha) 3. Pemupukan dengan menggunakan BWD dan analisa tanah adalah sebagai berikut: Pupuk dasar sebanyak 50-75 kg Urea/ha sebelum 14 HST mulai 25-28 HST lakukan pengukuran dengan menggunakan BWD sampai umur50 HST dengan selang waktu 7-10 hari sekali. Hasil pengamatan kemudiandijabarkan ke dalam rumus berikut: A – (5B + 2C) = D (jumlah wereng terkoreksi) 20 a. yaitu :  Hindari pengembangan di daerah endemis hama dan penyakit terutama daerah endemis wereng coklat dan penyakit tungro. Pengendalian OPT Hama dan penyakit merupakan faktor penting yang menyebabkan suatu varietas tidak mampu menghasilkan varietas seperti yang diharapkan. berikan 50 kg Urea/ha. bila takarannya rendah.Opionea. dengan waktu pemberian sebagai berikut: 1. seluruhnya diberikan bersamaan dengan pemberian pupuk dasar dan bila takaran pupuk K tinggi (> 100 kg KCl/ha) maka 50%diaplikasikan sebagai pupuk dasar dan sisanya saat primordial bunga. = jumlah wereng coklat + wereng punggung putih per 20rumpun tanaman b. Pupuk susulan II (7 MST): 33% urea ( 40-80 kg/ha) + 50 % KCl (50-75 kg/ha) 4. Apabila pemupukan dengan cara tersebut di atas tidak memungkinkan.  Pengamatan populasi wereng coklat dilakukan pada 20 rumpun tanaman secara diagonal. Perhatikan juga serangan tikus sejak dini dan monitor penerbangan ngengat penggerek batang. Pupuk dasar (saat tanam): 33% urea (40-80 kg/ha)+100% SP36 (100-120 kg/ha). menggunakan landak atau gasrok. 1. Sedangkan untuk pupuk urea. = jumlah predator per 20 rumpun tanaman c. Penyiangan dapat dilakukan sebelum pemupukan susulanpertama atau kedua. takarannya disesuaikandengan ketersediaan P dan K dalam tanah. pengukuran pada daunPTB berada pada skala 4 atau kurang. Hak ini dimaksudkan agar pupuk yang diberikanhanya diserap oleh tanaman padi. dan 100-150 kg KCl per hektar. Dengan demikian kemampuan tanah untuk menyediakan hara bagi tanaman juga berbeda-beda. 100-120 kg SP36. = jumlah kepik Cyrtorhinus per 20 rumpun tanaman 6 . maka berikan Urea sebanyak : • 50-75 kg/ha untuk daerah musim/hasil rendah • 75-100 kg/ha untuk daerah musim hasil tinggi • 100 kg/ha untuk padi tipe baru (PTB). takaran pupuk hendaknya disesuaikan dengan kondisilahan setempat. Paederus dan Coccinella) dan kepik Cyrtorhinus. Bila hasil pengukuran dibawah 4. Pemupukandimaksudkan untuk menambah penyediaan hara sehingga mencukupikebutuhan tanaman untuk tumbuh dan berproduksi dengan baik. Pupuk susulan I (4 MST): 33 % urea (40-80 kg/ha) + 50% KCl (50-75. Pada musim hujan. Bila pengembangan dilakukan di daerah endemis hama dan penyakit. Pengendalian hama dan penyakit harus dilakukan secara terpadu. Pemberian pupuk P seluruhnya diberikan bersamaan dengan pemberian pupuk dasar Urea. maka dapat digunakan anjuran umum pemupukansebagai berikut: 120-240 kg urea. Teknik pemupukan lainnya pada lahan sawah dapat pulamenggunakan perangkat uji tanah sawah (PUTS) dan program PuPsvers. Penyiangan dilakukan paling sedikit dua atautiga kali tergantung pada keadaan gulma.daripada musim kemarau. Bila pada fase antara keluar malai sampai 10% berbunga. Pemberian pupuk K.Kesuburan tanah beragam antar lokasi karena perbedaan sifat dan kimianya. Untuk pupuk SP36 dan KCI. Untuk itu di dalam pengembangan atau pertanaman produksi benih supaya berhasil beberapa hal yang harus diperhatikan.Agar efsien. Hitung jumlah wereng coklat + wereng punggung putih.

3 dan 4. tiametoksan.  Monitoring terhadap penyakit tungro dilakukan dengan mengadakan pengamatan terhadap hama wereng hijau di pesemaian dengan cara menjaring serangga sebanyak 10 ayunan untuk mengevaluasi populasi wereng hijau. Pertanaman ini digunakan sebagai referensi/acuan di dalam melakukan Roguing dengan cara memperhatikan karakteristik tanaman dalam berbagai fase pertumbuhan sebagaimana yang tercantum dalam Tabel 1.5 g b. Di pesemaian atau saat tanaman berumur1 MST gunakan tiametoksan dengan dosis 2. tetapi pengamatan tetap perlu dilanjutkan. Untuk tujuan tersebut. yaitu apabila :  Wereng terkoreksi (nilai D) lebih dari lima ekor pada saat tanaman berumur kurang dari 40 HST. Langkah yang perlu diambil adalah aplikasi antifidan dengan bahan aktif imidakloprid dan atau tiametoksan. Penggunaan insektisida didasarkan pada jumlah wereng terkoreksi dan umur tanaman.000 rumpun tanaman saat berumur 2 MST atau dua gejala dari 1. Insektisida yang dapat digunakan antara lain imidakloprid. Seleksi/Roguing Salah satu syarat dari benih bermutu adalah memiliki tingkat kemurnian genetik yang tinggi. etofenproks dan karbofuran. Insektisida buprofezin dapat digunakan untuk pengendalian wereng coklat populasi generasi 1 atau2.000 rumpun tanaman saat berumur 3 MST. 5.2.  Insektisida yang manjur mengendalikan hama wereng coklat dan wereng punggung putih diantaranya adalah fpronil dan imidakloprid.50 g imidakloprid /ha untuk menghambat penularan. maka pertanaman dalam situasi terancam tungro.pertanaman petak pembanding (pertanaman check plot ) dengan menggunakan benih autentik sangat disarankan. Selain itu.a/ha atau 0. Apabilatidak mampu mengamati populasi dan tanaman terinfeksi dipesemaian. maka insektisidatidak perlu diaplikasikan. oleh karena itu Roguing perlu dilakukan dengan benar dan dimulai mulai fase vegetatif sampai akhirpertanaman.  Bila nilai wereng terkoreksi kurang dari lima ekor pada saat•tanaman berumur di bawah 40 HST. amati gejala tungro saat tanaman berumur 3 MST. atau lebih dari 20 ekorpada saat tanaman berumur 40 HST. sedangkan fpronil dan imidakloprid untuk wereng coklat generasi 1. atau kurang dari 20 ekorpada saat tanaman berumur di atas 40 HST. Tabel 1.Karakteristik tanaman yang perlu diperhatikan untuk mempertahankan kemurnian genetik varietas 7 . Jika hasil perkalian antara jumlah wereng hijau dan persentase daun terinfeksi sama atau lebih dari 75. Roguing dilakukan untuk membuang rumpun-rumpun tanaman yang ciri-ciri morfologisnya menyimpang dari ciri-ciri varietas tanaman yang diproduksi benihnya. juga diadakan uji yodium dari 20 daun padi yang diambil dari lahan yang sedang dievaluasi.Aplikasi insektisida dilakukan apabila terdapat lima gejala dari 10.