P. 1
yuhana desain media intruksional

yuhana desain media intruksional

|Views: 54|Likes:
Published by Wong Ndeso Wae
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Dalam proses pembelajaran ada unsur-unsur yang harus dipenuhi oleh pembelajar agar kegiatan pembelajaran lebih efektif dan berkesan baik. Salah satu unsur yang harus dipenuhi dalam kegiatan pembelajaran adalah media. Penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran sangat urgen khususnya dalam penyampaian materi yang dirasakan sulit jikalau hanya menggunakan unsur verbal belaka.
Media belajar atau sering diistilahkan dengan media instruksional dewasa ini telah mengalami kemajuan yang cukup pesat, terutama dalam penggunaan teknologi informasi yang mendorong keinginan seorang pembelajar untuk meningkatkan lebih besar kompetensinya dalam penggunaan media tersebut. Keberhasilan penggunaan media di dalam kelas sangatlah tergantung kepada kemampuan (kompetensi) seorang pembelajar dan tujuan pembelajaran.
Media yang baik adalah media yang dipakai sesuai dengan tujuan belajar dan latar belakang pebelajar. Dalam strategi instruksional media merupakan unsur yang penting dalam pembelajaran di samping metode dan kegiatan instruksional. Kehadiran media merupakan unsur signifikan dalam proses pembelajaran karena ketidak jelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara.
Setiap materi pelajaran tentu memiliki tingkat kesukaran yang bervariasi, di satu sisi ada bahan pelajaran yang tidak memerlukan alat bantu tetapi di sisi lain ada bahan pelajaran yang sangat memerlukan alat bantu berupa media intruksional, seperti : LCD, globe, mikroskop, OHP, grafik, gambar dan sebagainya.
Dalam penggunaannya media ini harus disesuaikan dengan perumusan indikator, dan yang lebih penting adalah penggunaan media sesuai dengan kompetensi pembelajar itu sendiri. Anjuran menggunakan media dalam pembelajaran sebenarnya sangat ditekankan tetapi terkadang sulit dilaksanakan disebabkan dana yang terbatas untuk membelinya.
Disinilah kekreatifan seorang pembelajar sangat dibutuhan, karena seorang pembelajar harus bisa menciptakan atau menggunakan suatu media yang efektif dan efisien bahkan dituntut bisa menciptakan media yang merupakan hasil karya sendiri.
Namun, perlu digaris bawahi bahwa peranan media tidak akan terlihat manakala penggunaannya tidak sejalan dengan Indikator pembelajaran yang telah dirumuskan. Karena itu, tujuan pembelajaran harus dijadikan sebagai pangkal acuan untuk menggunakan media. Manakala hal itu diabaikan maka media bukan sebagai alat bantu pembelajaran tetapi sebagai penghambat dalam pencapaian tujuan secara efektif dan efisien.
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pembelajaran pasal 19 ayat 1, bahwa proses pembelajaran pada satuan pembelajaran diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi pebelajar untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis pebelajar. Oleh karena itu proses pembelajaran harus dirancang, dilaksanakan oleh seorang pembelajar dapat memenuhi amanat peraturan pemerintah tersebut.
Proses pembelajaran adalah proses komunikasi, yaitu penyampaian informasi dari sumber informasi kepada penerima melalui suatu media. Sumber informasi adalah pembelajar dan penerima adalah pebelajar, serta media adalah segala sesuatu alat bantu yang digunakan untuk memperjelas pemahaman pebelajar. Ahmad Rohani menyatakan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat diindra yang berfungsi sebagai perantara/sarana/alat untuk proses komunikasi (proses pembelajaran) .
Selanjutnya Ahmad Rohani menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran, media yang yang digunakan untuk memperlancar komunikasi pembelajaran disebut media instruksional edukatif.
Pembelajar sebagai pembelajar yang profesional harus mampu berperan sebagai komunikator dan fasilitator bagi pebelajar di dalam kelasnya. Sebagai komunikator seorang pembelajar harus mampu menyampaikan pesan-pesan pembelajaran kepada pebelaja
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Dalam proses pembelajaran ada unsur-unsur yang harus dipenuhi oleh pembelajar agar kegiatan pembelajaran lebih efektif dan berkesan baik. Salah satu unsur yang harus dipenuhi dalam kegiatan pembelajaran adalah media. Penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran sangat urgen khususnya dalam penyampaian materi yang dirasakan sulit jikalau hanya menggunakan unsur verbal belaka.
Media belajar atau sering diistilahkan dengan media instruksional dewasa ini telah mengalami kemajuan yang cukup pesat, terutama dalam penggunaan teknologi informasi yang mendorong keinginan seorang pembelajar untuk meningkatkan lebih besar kompetensinya dalam penggunaan media tersebut. Keberhasilan penggunaan media di dalam kelas sangatlah tergantung kepada kemampuan (kompetensi) seorang pembelajar dan tujuan pembelajaran.
Media yang baik adalah media yang dipakai sesuai dengan tujuan belajar dan latar belakang pebelajar. Dalam strategi instruksional media merupakan unsur yang penting dalam pembelajaran di samping metode dan kegiatan instruksional. Kehadiran media merupakan unsur signifikan dalam proses pembelajaran karena ketidak jelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara.
Setiap materi pelajaran tentu memiliki tingkat kesukaran yang bervariasi, di satu sisi ada bahan pelajaran yang tidak memerlukan alat bantu tetapi di sisi lain ada bahan pelajaran yang sangat memerlukan alat bantu berupa media intruksional, seperti : LCD, globe, mikroskop, OHP, grafik, gambar dan sebagainya.
Dalam penggunaannya media ini harus disesuaikan dengan perumusan indikator, dan yang lebih penting adalah penggunaan media sesuai dengan kompetensi pembelajar itu sendiri. Anjuran menggunakan media dalam pembelajaran sebenarnya sangat ditekankan tetapi terkadang sulit dilaksanakan disebabkan dana yang terbatas untuk membelinya.
Disinilah kekreatifan seorang pembelajar sangat dibutuhan, karena seorang pembelajar harus bisa menciptakan atau menggunakan suatu media yang efektif dan efisien bahkan dituntut bisa menciptakan media yang merupakan hasil karya sendiri.
Namun, perlu digaris bawahi bahwa peranan media tidak akan terlihat manakala penggunaannya tidak sejalan dengan Indikator pembelajaran yang telah dirumuskan. Karena itu, tujuan pembelajaran harus dijadikan sebagai pangkal acuan untuk menggunakan media. Manakala hal itu diabaikan maka media bukan sebagai alat bantu pembelajaran tetapi sebagai penghambat dalam pencapaian tujuan secara efektif dan efisien.
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pembelajaran pasal 19 ayat 1, bahwa proses pembelajaran pada satuan pembelajaran diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi pebelajar untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis pebelajar. Oleh karena itu proses pembelajaran harus dirancang, dilaksanakan oleh seorang pembelajar dapat memenuhi amanat peraturan pemerintah tersebut.
Proses pembelajaran adalah proses komunikasi, yaitu penyampaian informasi dari sumber informasi kepada penerima melalui suatu media. Sumber informasi adalah pembelajar dan penerima adalah pebelajar, serta media adalah segala sesuatu alat bantu yang digunakan untuk memperjelas pemahaman pebelajar. Ahmad Rohani menyatakan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat diindra yang berfungsi sebagai perantara/sarana/alat untuk proses komunikasi (proses pembelajaran) .
Selanjutnya Ahmad Rohani menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran, media yang yang digunakan untuk memperlancar komunikasi pembelajaran disebut media instruksional edukatif.
Pembelajar sebagai pembelajar yang profesional harus mampu berperan sebagai komunikator dan fasilitator bagi pebelajar di dalam kelasnya. Sebagai komunikator seorang pembelajar harus mampu menyampaikan pesan-pesan pembelajaran kepada pebelaja

More info:

Published by: Wong Ndeso Wae on Jul 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/30/2012

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar belakang Dalam proses pembelajaran ada unsur-unsur yang harus dipenuhi oleh pembelajar ag ar kegiatan pembelajaran lebih efektif dan berkesan baik. Salah satu unsur yang harus dipenuhi dalam kegiatan pembelajaran adalah media. Penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran sangat urgen khususnya dalam penyampaian materi yang diras akan sulit jikalau hanya menggunakan unsur verbal belaka. Media belajar atau sering diistilahkan dengan media instruksional dewasa ini tel ah mengalami kemajuan yang cukup pesat, terutama dalam penggunaan teknologi info rmasi yang mendorong keinginan seorang pembelajar untuk meningkatkan lebih besar kompetensinya dalam penggunaan media tersebut. Keberhasilan penggunaan media di dalam kelas sangatlah tergantung kepada kemampuan (kompetensi) seorang pembelaj ar dan tujuan pembelajaran. Media yang baik adalah media yang dipakai sesuai dengan tujuan belajar dan latar belakang pebelajar. Dalam strategi instruksional media merupakan unsur yang pen ting dalam pembelajaran di samping metode dan kegiatan instruksional. Kehadiran media merupakan unsur signifikan dalam proses pembelajaran karena ketidak jelasa n bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai peranta ra. Setiap materi pelajaran tentu memiliki tingkat kesukaran yang bervariasi, di sat u sisi ada bahan pelajaran yang tidak memerlukan alat bantu tetapi di sisi lain ada bahan pelajaran yang sangat memerlukan alat bantu berupa media intruksional, seperti : LCD, globe, mikroskop, OHP, grafik, gambar dan sebagainya. Dalam penggunaannya media ini harus disesuaikan dengan perumusan indikator, dan yang lebih penting adalah penggunaan media sesuai dengan kompetensi pembelajar i tu sendiri. Anjuran menggunakan media dalam pembelajaran sebenarnya sangat ditek ankan tetapi terkadang sulit dilaksanakan disebabkan dana yang terbatas untuk me mbelinya. Disinilah kekreatifan seorang pembelajar sangat dibutuhan, karena seorang pembel ajar harus bisa menciptakan atau menggunakan suatu media yang efektif dan efisie n bahkan dituntut bisa menciptakan media yang merupakan hasil karya sendiri. Namun, perlu digaris bawahi bahwa peranan media tidak akan terlihat manakala pen ggunaannya tidak sejalan dengan Indikator pembelajaran yang telah dirumuskan. Ka rena itu, tujuan pembelajaran harus dijadikan sebagai pangkal acuan untuk menggu nakan media. Manakala hal itu diabaikan maka media bukan sebagai alat bantu pemb elajaran tetapi sebagai penghambat dalam pencapaian tujuan secara efektif dan ef isien. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pembel ajaran pasal 19 ayat 1, bahwa proses pembelajaran pada satuan pembelajaran disel enggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi pe belajar untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi praka rsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan f isik serta psikologis pebelajar. Oleh karena itu proses pembelajaran harus diran cang, dilaksanakan oleh seorang pembelajar dapat memenuhi amanat peraturan pemer intah tersebut. Proses pembelajaran adalah proses komunikasi, yaitu penyampaian informasi dari s umber informasi kepada penerima melalui suatu media. Sumber informasi adalah pem belajar dan penerima adalah pebelajar, serta media adalah segala sesuatu alat ba ntu yang digunakan untuk memperjelas pemahaman pebelajar. Ahmad Rohani menyataka n bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat diindra yang berfungsi sebagai pe rantara/sarana/alat untuk proses komunikasi (proses pembelajaran) . Selanjutnya Ahmad Rohani menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran, media yang yang digunakan untuk memperlancar komunikasi pembelajaran disebut media instruk sional edukatif. Pembelajar sebagai pembelajar yang profesional harus mampu berperan sebagai komu nikator dan fasilitator bagi pebelajar di dalam kelasnya. Sebagai komunikator se orang pembelajar harus mampu menyampaikan pesan-pesan pembelajaran kepada pebela jar sebagaimana yang dinyatakan oleh Martinis Yamin bahwa mereka berperan sebag

ai komunikator, mengkomunikasikan materi pelajaran dalam bentuk verbal dan non v erbal. Pembelajar sebagai fasilitator dimaksudkan seorang pembelajar harus mampu menjad i orang yang memfasilitasi atau melayani keperluan pebelajar di dalam kelas untu k mencapai tujuan pembelajaran. Sebagaimana yang disampaikan oleh Martinis Yamin , bahwa pembelajar sebagai fasilitator memiliki peran menfasilitasi pebelajar un tuk belajar secara maksimal dengan menggunakan berbagai strategi, metode, media, dan sumber belajar . Banyak hambatan yang ditemui oleh seorang pembelajar sehubungan dengan fungsinya sebagai komunikator dan fasilitator tersebut. Salah satu faktor hambatan adalah sulitnya melakukan proses komunikasi antara pembelajar dan pebelajar dalam pros es pembelajaran. Pembelajar kurang mampu menyampaikan pesan pembelajaran kepada pebelajar. Pembel ajaran yang telah dilakukan pembelajar selama ini belum mampu menarik perhatian pebelajar, sehingga terkesan pebelajar apatis terhadap materi pembelajaran yang disapaikan oleh pembelajar. Akibatnya pebelajar gagal memahami materi pembelajar an, dan pembelajar mengalami kekecewaan dan ketidak puasan. Berdasarkan hal tersebut, adanya hambatan yang ditemukan pembelajar dalam prose s komunikasi pembelajaran disebabkan oleh kurang tepat dan menariknya media yang ditampilkan atau digunakan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu perlu dil akukan pemilihan media yang tepat dan menarik perlu dilakukan agar tercapai tran sfer ilmu pengetahuan dari pembelajar terhadap pebelajar optimal dan menyenangka n. Untuk hasil optimal dalam pembelajaran harus menyenangkan dan merangsang imajina si serta kreativitas pebelajar. Penggunaan multi metode dan media sangat membant u meningkatkan hasil belajar . dengan menggunakan media dalam pembelajaran akan membantu mengkondisikan suasana yang bisa memaksimalkan proses penerimaan suatu informasi dengan lebih baik. Agar seorang pembelajar bisa menciptakan suasana yang interaktif, inspiratif, me nyenangkan, menantang, memotivasi pebelajar untuk berpartisipasi aktif, serta me mberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai den gan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis pebelajar, maka pembel ajar harus mampu mendesain media intruksional dengan baik, agar tercapai undangundang Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pembelajaran pasal 19 ayat 1 tersebut. B. Pertanyaan Rumusan Masalah Berdasarkan rumusan masalah diatas dapatlah penulis kemukakan pertanyaan yang ak an penulis jawab melalui pembahasan pada Bab berikutnya, adapun pertanyaannya ad alah sebagai berikut. 1) Apa Pengertian media intruksional? 2) Apa pengertian deesain media intruksional? 3) Apa Manfaat Desain Media Intruksional? 4) Bagaimana Cara Memilih Media Instruksional? 5) Bagaimana Prosedur Pemilihan Desain Media intruksional? 6) Apa Kriteria Pemilihan Media Intruksional? 7) Apa Macam-Macam Media Intruksional? BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Media Instruksional Pengertian media instruksional dapat ditinjau dari dua kata yaitu “ media” dan “instru ksional.” Asal kata media merupakan jamak dari “ medium “ yang berasal dari bahasa lat in yang artinya perantara. Secara etimologi media diartikan perantara atau penga ntar pesan dari pengirim ke penerima pesan . Pengertian Media merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, pe rhatian dan minat pebelajar sedemikian rupa sehingga terjadi proses belajar” . Media intruksional secara umum adalah alat bantu proses belajar mengajar. Segala

sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian d an kemampuan atau ketrampilan pebelajar sehingga dapat mendorong terjadinya pro ses belajar. Batasan ini cukup luas dan mendalam mencakup pengertian sumber, lin gkungan, manusia dan metode yang dimanfaatkan untuk tujuan pembelajaran . Secara terminologi sebagaimana yang dirumuskan media adalah segala bentuk dan sa luran yang digunakan dalam proses penyampaian informasi. Sedangkan insruksional diartikan pembelajaran. Maka dari pengertian- pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa media instruksio nal adalah alat bantu yang digunakan sebagai perantara baik berupa alat-alat ele ktronik, gambar, alar peraga, buku dan lain-lain yangdigunakan untuk menyalurkan isi bahan ajar kepada si pebelajar. Namun terkadang pengertian media ini dibedakan dengan peralatan. Media atau baha n sering disebut perangkat lunak atau software yang berisi pesan atau informasi pembelajaran yang biasanya disajikan dengan menggunakan peralatan seperti OHT, L CD. Media instruksional adalah media yang digunakan dalam proses instruksional (bela jar mengajar) untuk mempermudah pencapaian tujuan instruksional yang lebih efekt if dan memiliki sifat mendidik. Sedangkan peralatan sering disebut dengan perangkat keras atau hardware yang mer upakan sarana untuk menampilkan pesan yang terkandung pada media tersebut,misaln ya OHP. Untuk memanfaatkan media yang baik, seorang pembelajar harus mengetahui cara yang tepat dalam memanfaatkan dan memilih media yang sesuai dengan tujuan p embelajaran agar penggunaannya tidak sia-sia. Proses belajar oleh pebelajar dan proses mengajar oleh pembelajar, disebut denga n pembelajaran, Pembelajaran (instruction) adalah suatu usaha untuk membuat pebe lajar belajar atau suatu kegiatan untuk membelajarkan pebelajar. Dengan kata lai n, pembelajaran merupakan upaya menciptakan kondisi agar terjadi kegiatan belaja r . Pembelajar bertugas untuk membagikan informasi ilmu yang dimiliki kepada pebelaj ar. Untuk berbagi ilmu pembelajar memerlukan pengalaman, pengetahuan tentang sia pa pebelajar yang dihadapi, dan bagaimana menyampaikan ilmu tersebut dengan baik . Pembelajar terbiasa dalam membuat satuan pelajaran atau lesson plan untuk menamb ah wawasan, dimana dalam membuat lesson plan tidak terpaku pada satu model saja. Untuk menciptakan kegiatan belajar yang lebih menantang dan menarik untuk pebel ajar diperlukan pengembangan lebih lanjut juga dalam pembuatan lesson plan . B. Pengertian Desain Media Intruksional Desain media intruksional adalah praktik penyusunan media teknologi komunikasi d an isi untuk membantu agar dapat terjadi transfer pengetahuan secara efektif ant ara pembelajar dan pebelajar. Proses ini berisi penentuan status awal dari pemah aman pebelajar, perumusan tujuan pembelajaran, dan merancang "perlakuan" berbasi s-media untuk membantu terjadinya transisi. Desain media intruksional dapat dimaknai dari berbagai sudut pandang, misalnya s ebagai disiplin, sebagai ilmu, sebagai sistem, dan sebagai proses. Sebagai disip lin, desain media intruksional membahas berbagai penelitian dan teori tentang st rategi serta proses pengembangan pembelajaran dan pelaksanaannya. Sebagai ilmu, desain media intruksional merupakan ilmu untuk menciptakan spesifi kasi pengembangan, pelaksanaan, penilaian, serta pengelolaan situasi yang member ikan fasilitas pelayanan pembelajaran dalam skala makro dan mikro untuk berbagai mata pelajaran pada berbagai tingkatan kompleksitas. Sebagai sistem, desain media intruksional merupakan pengembangan sistem pembelaj aran dan sistem pelaksanaannya termasuk sarana serta prosedur untuk meningkatkan mutu belajar. Sementara itu desain media intruksional sebagai proses menurut Sy aiful Sagala adalah pengembangan pembelajaran secara sistematik yang digunakan secara khusus teori-teori pembelajaran untuk menjamin kualitas pembelajaran . Pernyataan tersebut mengandung arti bahwa penyusunan perencanaan pembelajaran ha rus sesuai dengan konsep pembelajaran yang dianut dalam kurikulum yang digunakan . Dengan demikian dapat disimpulkan desain media intruksional adalah praktek pen yusunan media teknologi komunikasi dan isi untuk membantu agar dapat terjadi tra

nsfer pengetahuan secara efektif antara pembelajar dan pebelajar. Idealnya proses ini berdasar pada informasi dari teori belajar yang sudah teruj i secara pedagogis dan dapat terjadi hanya pada pebelajar, dipandu oleh pembelaj ar, atau dalam latar berbasis komunitas. Hasil dari pembelajaran ini dapat diama ti secara langsung dan dapat diukur secara ilmiah atau benar-benar tersembunyi d an hanya berupa asumsi. Sebagai suatu disiplin, desain media intruksional secara historis dan tradisiona l berakar pada psikologi kognitif dan perilaku. Namun istilah ini sering dihubun gkan dengan istilah yang berbeda dalam bidang lain, misalnya dengan istilah desa in grafis. Walaupun desain grafis (dari perspektif kognitif) dapat memainkan per an penting dalam desain media intruksional, namun keduanya adalah konsep yang te rpisah. Tugas-tugas dibagi menjadi bagian-bagian, dan setiap bagian tugas diperlakukan s ebagai tujuan belajar terpisah. Pelatihan dirancang untuk memberikan ganjaran ba gi tampilan yang benar dan melakukan remedial bagi tamilan yang salah. Diasumsik an bahwa semua pebelajar akan bisa memperoleh penguasaan kemampuan bila diberi k esempatan untuk melakukan pengulangan yang cukup dan umpan balik yang memadai. S etelah perang usai, keberhasilan model pelatihan saat perang diulang kembali dal am pelatihan bisnis dan industri, dalam jumlah yang lebih kecil di ruang kelas p rimer dan sekunder. Pada tahun 1955, Benjamin S. Bloom mempublikasikan taksonomi yang ia sebut sebag ai tiga kawasan tujuan belajar: Kognitif (apa yang kita tahu atau pikirkan), Afe ktif (yang kita rasakan, atau sikap yang kita miliki), dan Psikomotor (apa yang kita lakukan). Taksonomi ini masih berpengaruh terhadap desain media intruksiona l. Kemampuan masing-masing pebelajar dalam satu mata pelajaran akan disesuaikan den gan kemampuan kognitif, afektif dan kemampuan psikomotor. Kemampuan kognitif ada lah kemampuan yang merangsang seseorang untuk berfikir, memperoleh pengetahuan, dan yang berkaitan dengan pemerolehan pengetahuan. Proses ini berisi penentuan status awal dari pemahaman pebelajar, perumusan tuj uan pembelajaran, dan merancang "perlakuan" berbasis-media untuk membantu terjad inya transisi. Idealnya proses ini berdasar pada informasi dari teori belajar ya ng sudah teruji secara pedagogis dan dapat terjadi hanya pada pebelajar, dipandu oleh pembelajar, atau dalam latar berbasis komunitas. C. Manfaat Desain Media Intruksional Manfaat media dalam kegiatan pembelajaran adalah memperlancar proses interaksi a ntara pembelajar dengan pebelajar, dalam hal ini membantu pebelajar belajar seca ra optimal. Kemp dan dayton dalam buku martinis yamin mengidentifikasikan manfaat media dala m kegiatan pembelajaran sebagai berikut: a. Penyampaian Materi Pelajaran Dapat Diseragamkan Setiap individu mempunyai penapsiran yang berbeda beda tentang sesuatu hal. Mela ui media ini penapsiran yang ber beda-beda tersebut dapat diseragamkan. Setiap i ndividu yang melihat atau mendengar uraian tentang suatu ilmu melalui media yang sama akan menerima informasi yang persis sama seperti yang diterima orang lain. b. Proses Pembelajaran Menjadi Lebih Menarik Media dapat menyampaikan informasi yang dapat didengar (audio) dan dapat diliha t (visual), sehingga dapat mendeskripsikan sautu masalah suatu konsep, suatu pro ses atau prosedur yang bersifat abstrak dan tidak lengkap menjadi lebih jelas da n klengkap. Media dapat membangkitkan keingin tahuan pebelajar, merangsang mereka untuk bera ksi terhadap penjelsasan pembelajar, membuat mereka terbawa ikut sedih, memungki nkan mereka menyentuh objek kajian pelajaran, membantu mereka mengkonkritkan se suatu yang bastrak, dan sebagainya c . Proses Belajar Mengajar Menjadi Lebih Interaktif Media harus dirancang dengan benar, media dapat mebantu pembelajar dan pebelajar melakukan komunikasi dua arah secara aktif, tanpa media pembelajar mungkin akan cenderung berbicara “satu arah” kepoada pebelajar saja, namun dengan media para pem belajar dapat mengatur kelas mnereka sehingga kelas tidak hany di dominasi oleh pembelajar teta[pi pebelajar juga banyak berperan.

d. Jumlah Waktu Pembelajaran Dapat Dikurangi Dengan menggunkan media pembelajar tidak perlu memepergunakan waktu yang banyak untuk menjelaskan materi, sehinga pembelajaran dapat diselesaikan secara efektif dan efisien e. Kualitas Belajar Dapat Ditingkatkan Penggunaan media tidak janya peoses pembelajaran lenih efisien, tetapi juga memb antu pebelajar menyerap materi pelajaran secara lebih mendalam dan utuh. Dengan mendengar pembelajarnya saja, pebelajar sudah memahami permnasalahannya dengan b aik. Tetapi bila pemahaman itu diperkaya derngan kegiatan melihat, menyentuh, me rasakan atau mengalami melaui media, pemahaman mereka terhadap isi pelajaran pas ti akan lebih baik lagi. f. Pembelajaran Dapat Berlangsung Dimana Dan Kapan Saja Media poembelajaran dapat dirancang sedemiukian rupa sehingga pebelajar dapat br elajar diamna saja dan kapan saja mereka mau , tanpa tergantung pada keberadaan seorang pembelajar. g. Peran Pembelajar Dapat Berubah Kearah Yang Lebih Positif Dan Produktif. Pertama, pembelajar tidak perlu mengulang-ngulang penjelasan mereka bila media d igunakan dalam pembelajaran. Kedua dengan mengurangi uraian verbal (lisan) pembelajar dapat memberi perhatian lebih banyak kepada aspek-aspek lain dalam pembelajaran. Ketiga, pembelajar tid ak lagi menjadi sekedar pengajar, tetapi juga konsultan, penasehat, atau menejer pembelajaran . Manfaat Media intruksional menurut Levie dan Lentz khususnya media visual adalah : (1) Atensi yaitu menarik dan mengarahkan perhatian pebelajar untuk berkonsentra si kepada isi pembelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan (2) Afektif yang dapat mengubah emosi dan sikap pebelajar, (3) Kognitif yang memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar, (4) Kompensatoris yaitu memberikan konteks untuk memahami teks dan memabantu p ebelajar yang lemah dalam membaca dan mengorganisasikan informasi . Dari keempat manfaat media intruksional tersebut, maka dapat diketahui bahwa ses ungguhnya penggunaan media intruksional dapat meningkatkan kualitas hasil belaja r mengajar yang diperoleh oleh pebelajar karena ketiga komponen kognitif, afekti f dan psikomotorik dalam pembelajaran dapat dipacu dengan cepat. Hal tersebut dapat memepertinggi hasil dan prestasi belajar pebelajar dan sekali gus dapat mendukung dan mendorong pebelajar yang memiliki kemampuan yang terbata s dalam menerima informasi dan pesan dalam pembelajaran yang berlansung. Efektifitas penggunaan media terhadap proses pembelajaran tersebut terjadi karen a dalam proses pengugunaannya pebelajar dilibatkan tidak hanya dalam benak atau pun mentalnya saja akan tetapi dapat memperhatikan dan menyaksikan secara langu ng informasi yag disampaikan dalam pembelajaran tersebut. . Media intruksional sebagai alat bantu dalam proses belajar dan pembelajaran adal ah suatu kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri keberadaannya. Karena memang pe mbelajarlah yang menghendaki untuk memudahkan tugasnya dalam menyampaikan pesan – pesan atau materi pembelajaran kepada pebelajarnya. Pembelajar sadar bahwa tanpa bantuan media, maka materi pembelajaran sukar untuk dicerna dan dipahami oleh p ebelajar, terutama materi pembelajaran yang rumit dan komplek. Setiap materi pembelajaran mempunyai tingkat kesukaran yang bervariasi. Pada sat u sisi ada bahan pembelajaran yang tidak memerlukan media intruksional, tetapi d ilain sisi ada bahan pembelajaran yang memerlukan media intruksional. Materi pem belajaran yang mempunyai tingkat kesukaran tinggi tentu sukar dipahami oleh pebe lajar, apalagi oleh pebelajar yang kurang menyukai materi pembelajaran yang disa mpaikan. Secara 1) tanya, 2) umum manfaat media intruksional adalah : Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu verbalistis ( tahu kata –ka tetapi tidak tahu maksudnya) Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera.

3) Dengan menggunakan media intruksional yang tepat dan bervariasi dapat di atasi sikap pasif pebelajar. 4) Dapat menimbulkan persepsi yang sama terhadap suatu masalah . Selanjutnya menurut Purnamawati dan Eldarni yaitu : 1) Membuat konkrit konsep yang abstrak, misalnya untuk menjelaskan peredara n darah. 2) Membawa obyek yang berbahaya atau sukar didapat di dalamlingkunganbelajar. 3) Manampilkan obyek yang terlalu besar, misalnya pasar, candi. 4) Menampilkan obyek yang tidak dapat diamati dengan mata telanjang. 5) Memperlihatkan gerakan yang terlalu cepat. 6) Memungkinkan pebelajar dapat berinteraksi langsung dengan lingkungannya. 7) Membangkitkan motivasi belajar 8) Memberi kesan perhatian individu untuk seluruh anggota kelompok belajar. 9) Menyajikan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang maupun d isimpan menurut kebutuhan. 10) Menyajikan informasi belajar secara serempak (mengatasi waktu dan ruang ) 11) Mengontrol arah maupun kecepatan belajar pebelajar. D. Cara Memilih Media Instruksional Dalam memilih media yang digunakan dalam pembelajaran maka seorang pembelajar ha rus memilih media yang digunakan berdasarkan maksud dan tujuan pembelajaran ters ebut. Hal ini ditekankan dengan tujuan agar penggunaan materi tidak menjadi peng halang dalam proses pembelajaran yang dilakukan pembelajar di ruang kelas dan di harapkan terjadinya interaksi pembelajaran yang maksimal . Apabila kita telah menentukan alternatif media yang akan kita gunakan dalam pemb elajaran, maka pertanyaan berikutnya sudah tersediakah media tersebut di sekolah atau di pasaran ? Jika tersedia, maka kita tinggal meminjam atau membelinya saj a. Itupun jika media yang ada memang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang tela h kita rencanakan, dan terjangkau harganya. Jika media yang kita butuhkan terny ata belum tersedia, mau tak mau kita harus membuat sendiri program media sesuai keperluan tersebut. Jadi, pemilihan media itu perlu kita lakukan agar kita dapat menentukan media ya ng terbaik, tepat dan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi sasaran didik. Untuk i tu, pemilihan jenis media harus dilakukan dengan prosedur yang benar, karena be gitu banyak jenis media dengan berbagai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Harapan yang besar tentu saja media menjadi alat bantu yang dapat mempercepat da n mempermudah pencapaian tujuan pembelajaran. Ketika suatu media akan dipilih da n dipergunakan maka ketika itu pula beberapa prinsip perlu diperhatikan dan dipe rtimbangkan oleh pembelajar. Prasetyo menyarankan bahwa dalam pemilihan dan penggunaan media harus mempertimb angkan beberapa prinsip yaitu: a. Tujuan yang akan dicapai b. Kesesuai media dengan materi c Tersedianya sarana dan prasarana penunjang d. Karakteristik pembelajar Sementara itu para ahli menambahkan prinsip pemilihan media didasarkan kepada: a. Apakah media itu sesuai dengan kebutuhan belajar, pebelajar (ditinjau da risegi kebudayaan, usia, kebiasaan belajar dan sebagainya) atau malah membingung kan mereka? b. Apakah nilai bahan pembelajaran atau perubahan tingkah laku yang diharap kan terjadi, jumlah pebelajar yang akan diajarkan materi pelajaran sepadan denga n biaya yang akan dikeluarkan untuk mendapatkan media tersebut? c. Apakah diperlukan perlengkapan untuk menggunakan media yang dipilih itu? Jikaya, apakah sudah tersedia? Apakah pengadaan peralatan itu dapat dipertanggu ng jawabkan untuk pelajaran yang bersangkutan? Selanjutnya Allen memberikan petunjuk yang dapat dijadikan pertimbangan dalam me milih media yang sesuai dengan tujuan instruksional tertentu. Untuk itu ia mengg ambarkan tinggi rendahnya kemampuan setiap jenis media bagi pencapaian berbagai tujuan belajar sebagai berikut: Penggunaan media instruksional ini dalam proses belajar mengajar sangat mempunya

i nilai praktis seperti, media instruksional: 1. Dapat mengatasi berbagai keterbatasan pengalaman yang dimiliki pebelajar, 2. Dapat mengatasi ruang kelas yang terbatas, 3. Memungkinkan adanya interaksi langsung antara pebelajar, pembelajar dan mater i pembelajaran dan dengan lingkungan, 4. Menghasilkan keseragaman pengamatan dan pemahaman terhadap suatu materi at au indikator pembelajaran, 5. Menanamkan konsep-konsep pengetahuan (kognitif) mendasar yang jelas, tepat d an benar atau kongkrit, dan realistis sesuai dengan tujuan instruksiona, 6. Membangkitkan motivasi dan merangsang pebelajar untuk belajar lebih terfokus pada materi yang disampaikan, 7. Membangkitkan keinginan atau minat serta menimbulkan ide baru dan mampu mera ngsang pebelajar untuk lebih belajar lebih terkonsentrasi, serta 8. Dapat memberikan pengalaman belajar serta tertanam sikap yang terkoordinasi karena semuanya akan terarah secara integral. Setiap media intruksional memiliki keunggulan masing – masing, maka dari itulah pe mbelajar diharapkan dapat memilih media yang sesuai dengan kebutuhan atau tujuan pembelajaran. Dengan harapan bahwa penggunaan media akan mempercepat dan memper mudah pencapaian tujuan pembelajaran. Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pemilihan media intruksional, yaitu : 1) Harus adanya kejelasan tentang maksud dan tujuan pemilihan media intruks ional. Apakah pemilihan media itu untuk pembelajaran, untuk informasi yang bersi fat umum, ataukah sekedar hiburan saja mengisi waktu kosong. Lebih khusus lagi, apakah untuk pembelajaran kelompok atau individu, apakah sasarannya pebelajar TK , SD, SLTP, SMU, atau pebelajar pada Sekolah Dasar Luar Biasa, masyarakat pedesa an ataukah masyarakat perkotaan. Dapat pula tujuan tersebut akan menyangkut perb edaan warna, gerak atau suara. Misalnya proses kimia (farmasi), atau pembelajara n pembedahan (kedokteran). 2) Karakteristik Media intruksional. Setiap media intruksional mempunyai ka rakteristik tertentu, baik dilihat dari keunggulannya, cara pembuatan maupun car a penggunaannya. Memahami karakteristik media intruksional merupakan kemampuan d asar yang harus dimiliki pembelajar dalam kaitannya pemilihan media intruksional . Disamping itu memberikan kemungkinan pada pembelajar untuk menggunakan berbaga i media intruksional secara bervariasi 3) Alternatif Pilihan, yaitu adanya sejumlah media yang dapat dibandingkan atau dikompetisikan. Dengan demikian pembelajar bisa menentukan pilihan media in truksional mana yang akan dipilih, jika terdapat beberapa media yang dapat diban dingkan. Anda tentu telah mengenal beberapa jenis media yang dapat digunakan dalam pembel ajaran. Setiap jenis media pasti punya kelebihan dan kelemahan. Pemahanan masing -masing karakteristik media , akan membantu Anda dalam pemilihan jenis media yan g paling tepat untuk kegiatan pembelajaran. Sebelum kita gunakan, media harus k ita pilih secara cermat. Memilih media yang terbaik untuk tujuan pembelajaran bu kanlah pekerjaan yang mudah. Pemilihan itu rumit dan sulit, karena harus mempert imbangkan berbagai faktor. Anderson mengemukakan adanya dua pendekatan/ model dalam proses pemilihan medi a pembelajan, yaitu: model pemilihan tertutup dan model pemilihan terbuka. Pemilihan tertutup terjadi apabila alternatif media telah ditentukan “dari atas” (mi salnya oleh Dinas Pendidikan), sehingga mau tidak mau jenis media itulah yang ha rus dipakai. Kalau toh kita memilih, maka yang kita lakukan lebih banyak ke ara h pemilihan topik/ pokok bahasan mana yang cocok untuk dimediakan pada jenis med ia tertentu. Misalnya saja, telah ditetapkan bahwa media yang digunakan adala h media audio. Dalam situasi demikian, bukanlah mempertanyakan mengapa media audio yang digunak an, dan bukan media lain? Jadi yang harus kita lakukan adalah memilih topik-top ik apa saja yang tepat untuk disajikan melalui media audio. Untuk model pemilih an terbuka, lebih rumit lagi. Model pemilihan terbuka merupakan kebalikan dari pemilihan tertutup. Artinya, ki ta masih bebas memilih jenis media apa saja yang sesuai dengan kebutuhan kita. A

lternatif media masih terbuka luas. Proses pemilihan terbuka lebih luwes sifatny a karena benar-benar kita sesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi yang ada. Namun proses pemilihan terbuka ini menuntut kemampuan dan keterampilan pembelajar un tuk melakukan proses pemilihan. Seorang pembelajar kadang bisa melakukan pemili han media dengan mengkombinasikan antara pemilihan terbuka dengan pemilihan tert utup . E. Prosedur Pemilihan Desain Media intruksional Untuk jenis media rancangan (by design), beberapa macam cara telah dikembangkan untuk memilih media. Dalam proses pemilihan ini, Anderson mengemukakan prose dur pemilihan media menggunakan pendekatan flowchart (diagram alur). Dalam prose s tersebut ia mengemukan beberapa langkah dalam pemilihan dan penentuan jenis p enentuan media, yaitu : Menentukan apakah pesan yang akan kita sampaikan melalui media termasuk pesan pembelajaran atau hanya sekedar informasi umum / hiburan. Jika hanya sekedar informasi umum akan diabaikan karena prosedur yang dikembangkan khusus u ntuk pemilihan media yang bersifat / untuk keperluan pembelajaran. Menentukan apakah media itu dirancang untuk keperluan pembelajaran atau hanya sekedar alat bantu mengajar bagi pembelajar (alat peraga). Jika sekedar a lat peraga, proses juga dihentikan ( diabaikan). Menentukan apakah tujuan pembelajaran lebih bersifat kognitif, afektif a tau psikomotor. Menentukan jenis media yang sesuai untuk jenis tujuan yang akan dicapai , dengan mempertimbangkan kriteria lain seperti kebijakan, fasilitas yang tersed ia, kemampuan produksi dan beaya. Mereview kembali jenis media yang telah dipilih, apakah sudah tepat atau masih terdapat kelemahan, atau masih ada alternatif jenis media lain yang lebih tepat. Merencanakan, mengembangkan dan memproduksi media Pendekatan lain yang dapat digunakan dalam memilih media adalah pendekatan seca ra matrik. Salah satu dari pendekatan ini adalah yang dikemukakan oleh Alen. Matrik ini memberikan petunjuk yang dapat dijadikan pertimbangan dalam memilih m edia yang sesuai dengan jenis tujuan pembelajaran tertentu. Ia menggambarkan tin ggi rendahnya kemampuan setiap jenis media bagi pencapaian berbagai tujuan belaj ar sebagai berikut : Jenis Belajar Jenis Media Prosedural Informasi Faktual Pengenalan Visual Keteram-pilan, gerakan Sikap, motivasi Konsep, Prinsip

Gambar diam Gambar hidup Televisi Benda nyata Audio Pembelajan terprogram Peragaan Buku Teks Sedang Sedang Sedang Rendah Sedang Sedang Rendah Sedang Sedang Tinggi

Tinggi Sedang Tinggi Rendah Sedang Sedang Rendah rendah Sedang Tinggi Tinggi Rendah Rendah Sedang Rendah Sedang Sedang Sedang Tinggi Sedang Rendah Sedang Tinggi Tinggi Sedang sedang Rendah Sedang Rendah Rendah Rendah Rendah Sedang Rendah rendah Rendah Sedang Sedang Rendah Sedang Sedang Sedang Sedang sedang Matrik kemampuan setiap jenis media dalam mempengaruhi berbagai jenis belajar Untuk menggunakan matrik di atas, terlebih dahulu kita mempelajari jenis belaja r mana yang akan dipelajari / harus dikuasai pebelajar, apakah informasi faktua l, konsep, keterampilan dan seterusnya. Setelah itu, kita bisa memilih jenis m edia yang sesuai dengan jenis belajar tersebut. Caranya dengan melihat dalam kol om yang yang berlabel “tinggi “ yang tertera di bawah kolom jenis belajar. Selanjutn ya kita lihat secara horizontal ke kolom paling kiri untuk memperoleh petunjuk j enis media mana yang sebaiknya kita pilih. Jika media tersebut ternyata tidak t ersedia, atau tidak mungkin disediakan kareana mahal, tidak praktis, atau tidak sesuai dengan kondisi pebelajar, dengan cara yang samamaka pilihan kita beralih pada jenis media yang berlabel “ “sedang”. Ini berati kita telah memilih jenis media “terbaik kedua”, bukan yang terbaik. Sekali lagi, pertimbangan utama dalam memilih media adalah keseuaian media terse but dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai oleh pebelajar. Jika terdapat beberapa jenis media yang sama sama baik dan sesuai, maka prioritas kita adalah memilih jenis media yang murah, lebih praktis dan yang telah tersedia di sekitar

kita . F. Kriteria Pemilihan Media Intruksional Memilih media hendaknya tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan didasarkan atas kriteria tertentu. Kesalahan pada saat pemilihan, baik pemilihan jenis med ia maupun pemilihan topik yang dimediakan, akan membawa akibat panjang yang ti dak kita inginkan di kemudian hari. Banyak pertanyaan yang harus kita jawab sebe lum kita menentukan pilihan media tertentu. Secara umum, kriteria yang harus dip ertimbangkan dalam pemilihan media intruksional diuraikan sebagai berikut. 1) Tujuan Apa tujuan pembelajaran (TPU dan TPK ) atau kompetensi yang ingin dicapai? Apa kah tujuan itu masuk kawasan kognitif, afektif , psikhomotor atau kombinasinya? Jenis rangsangan indera apa yang ditekankan: apakah penglihatan, pendengaran, at au kombinasinya? Jika visual, apakah perlu gerakan atau cukup visual diam? Jawab an atas pertanyaan itu akan mengarahkan kita pada jenis media tertentu, apakah m edia realia, audio, visual diam, visual gerak, audio visual gerak dan seterusnya . 2) Sasaran didik Siapakah sasaran didik yang akan menggunakan media? bagaimana karakteristik mere ka, berapa jumlahnya, bagaimana latar belakang sosialnya, apakah ada yang berkel ainan, bagaimana motivasi dan minat belajarnya? dan seterusnya. Apabila kita me ngabaikan kriteria ini, maka media yang kita pilih atau kita buat tentu tak aka n banyak gunanya. Mengapa? Karena pada akhirnya sasaran inilah yang akan mengamb il manfaat dari media pilihan kita itu. Oleh karena itu, media harus sesuai bena r dengan kondisi mereka. 3) Karateristik media yang bersangkutan Bagaimana karakteristik media tersebut? Apa kelebihan dan kelemahannya, sesuaika h media yang akan kita pilih itu dengan tujuan yang akan dicapai? Kita tidak ak an dapat memilih media dengan baik jika kita tidak mengenal dengan baik karakter istik masing-masing media. Karena kegiatan memilih pada dasarnya adalah kegiatan membandingkan satu sama lain, mana yang lebih baik dan lebih sesuai dibanding y ang lain. Oleh karena itu, sebelum menentukan jenis media tertentu, pahami denga n baik bagaimana karaktristik media tersebut. 4) Waktu Yang dimaksud waktu di sini adalah berapa lama waktu yang diperlukan untuk menga dakan atau membuat media yang akan kita pilih, serta berapa lama waktu yang te rsedia / yang kita memiliki, cukupkah ? Pertanyaan lain adalah, berapa lama wakt u yang diperlukan untuk menyajikan media tersebut dan berapa lama alokasi waktu yang tersedia dalam proses pembelajaran ? Tak ada gunanya kita memilih media ya ng baik, tetapi kita tidak cukup waktu untuk mengadakannya. Jangan sampai pula t erjadi, media yang telah kita buat dengan menyita banyak waktu, tetapi pada sa at digunakan dalam pembelajran ternyata kita kekurangan waktu. 5) Biaya Faktor biaya juga merupakan pertanyaan penentu dalam memilih media. Bukankah pen ggunaan media pada dasarnya dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi dan efektif itas pembelajaran. Apalah artinya kita menggunakan media, jika akibatnya justru pemborosan. Oleh sebab itu, faktor biaya menjadi kriteria yang harus kita pe rtimbangkan. Berapa biaya yang kita perlukan untuk membuat, membeli atau meyewa media tersebut? Bisakah kita mengusahakan beaya tersebut/ apakah besarnya biaya seimbang dengan tujuan belajar yang hendak dicapai? Tidak mungkinkan tujuan bel ajar itu tetap dapat dicapai tanpa menggunakan media itu, adakah alternatif medi a lain yang lebih murah namun tetap dapat mencapai tujuan belajar? Media yang ma hal, belum tentu lebih efektif untuk mencapai tujuan belajar, dibanding media s ederhana yang murah. 6) Ketersediaan Kemudahan dalam memperoleh media juga menjadi pertimbangan kita. Adakah media ya ng kita butuhkan itu di sekitar kita, di sekolah atau di pasaran ? Kalau kita ha rus membuatnya sendiri, adakah kemampuan, waktu tenaga dan sarana untuk memb uatnya? Kalau semua itu ada, petanyaan berikutnya tersediakah sarana yang diperl

ukan untuk menyajikannya di kelas? Misalnya, untuk menjelaskan tentang proses te jadinya gerhana matahari memang akan lebih efektif jika disajikan melalui media video. Namun karena di sekolah tidak ada aliran listrik atau tidak punya video p layer, maka sudah cukup bila digunakan alat peraga gerhana matahari. 7) Konteks penggunaan Konteks penggunaan maksudnya adalah dalam kondisi dan strategi bagaimana media t ersebut akan digunakan. Misalnya: apakah untuk belajar individual, kelompok kec il, kelompok besar atau masal ? Dalam hal ini kita perlu merencanakan strategi p embelajaran secara keseluruhan yang akan kita gunakan dalam proses pembelajaran, sehingga tergambar kapan dan bagaimana konteks penggunaaan media tersebut dalam pembelajaran. 8) Mutu Teknis Kriteria ini terutama untuk memilih/membeli media siap pakai yang telah ada, m isalnya program audio, video, garafis atau media cetak lain. Bagaimana mutu tek nis media tersebut, apakah visualnya jelas, menarik dan cocok ? Apakah suaranya jelas dan enak didengar ? Jangan sampai hanya karena keinginan kita untuk menggu nakan media saja, lantas media yang kurang bermutu kita paksakan penggunaannya. Perlu diinggat bahwa jika program media itu hanya menjajikan sesuatu yang sebe narnya bisa dilakukan oleh pembelajar dengan lebih baik, maka media itu tidak pe rlu lagi kita gunakan . Kriteria yang paling utama dalam pemilihan media adalah media harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang ingin dicapai., sasaran didik, k arakteristik media yang bersangkutan, waktu, biaya, ketersediaan media, konteks penggunaan, mutu teknis.

J. Macam-Macam Media Intruksional Banyak sekali jenis media yang sudah dikenal dan digunakan dalam penyampaian inf ormasi dan pesan – pesan pembelajaran. Setiap jenis atau bagian dapat pula dikelom pokkan sesuai dengan karakteristik dan sifat – sifat media tersebut. Sampai saat i ni belum ada kesepakatan yang baku dalam mengelompokkan media. Jadi banyak tenag a ahli mengelompokkan atau membuat klasifikasi media akan tergantung dari su;dut mana mereka memandang dan menilai media tersebut. Penggolongan media intruksional menurut Gerlach dan Ely yaitu : 1. Gambar diam, baik dalam bentuk teks, bulletin, papan display, slide, fil m strip, atau overhead proyektor. 2. Gambar gerak, baik hitam putih, berwarna, baik yang bersuara maupun yang tidak bersuara. 3. Rekaman bersuara baik dalam kaset maupun piringan hitam. 4. Televisi 5. Benda – benda hidup, simulasi maupun model. 6. Instruksional berprograma ataupun CAI (Computer Assisten Instruction) . Penggolongan media yang lain, jika dilihat dari berbagai sudut pandang adalah se bagai berikut : 1. Dilihat dari jenisnya media dapat digolongkan menjadi media Audio, media Visual dan media Audio Visual. 2. Dilihat dari daya liputnya media dapat digolongkan menjadi media dengan daya liput luas dan serentak, media dengan daya liput yang terbatas dengan ruang dan tempat dan media intruksional individual. 3. Dilihat dari bahan pembuatannya media dapat digolongkan menjadi media se derhana dan media komplek. 4. Dilihat dari bentuknya media dapat digolongkan menjadi media grafis (dua dimensi), media tiga dimensi, dan media elektronik. Bretz didalam buku Martinis Yamin membagi media menjadi tiga macam yaitu: suara, media bentuk visual, dan media gerak. Media bentuk visual di bedakan tigala mac am pula yaitu: gambar visual, garis (grafis), dan simbol verbal.

Jenis-jenis media diatas, yang paling lengkap adalah audio-visual gerak ( ada ga mbar, suara, dan juga gerak). Ia menyandang predikat media “ paling lengkap” inipun sebenarnya masih relatif, contohnya media Tv masih kurang lengkap jika dibanding kan denmgan video interaktif yang digabung dengan program komputer. Media TV tid ak berinteraksi secara aktif dengan ssiwa sedangkan media video-interaktif bisa berinteraksi . Selain itu Schraamm juga membuat pembagian media menurut pemakaian (kontrol pema kai atas penggunaan media). Berikut inihasil penelitian Schramm tentang klasifik asi media menurut kontrol pemakai. Klasifikasi media menurut kontrol pemakai. Kontrol/media portabel Untuk Di rumah Siap Setiap saat terkendali mandiri Umpan balik Televisi Tidak Ya Tidak Tidak Ya Tidak Radio Ya Ya Tidak Tidak Ya Tidak Film Ya Ya Ya sulit sulit Tidak Vidio kaset Tidak sulit Ya Ya Ya Tidak Slide Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Film strip Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Audio kaset Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Piringan hitam Tidak Ya Ya Ya sulit Tidak Buku Ya Ya Ya Ya Ya Ya Teks program Ya Ya Ya Ya Ya Ya Komputer Tidak Tidak Ya Ya sulit Ya Permainan Ya Ya Ya Ya Tidak Ya Sumber: Martinis yamin, desain pembelajaran berbasis tingkat satuan pendidikan,g p press,2009 hal 182 Selain itu media juga dapat dibagi-bagi menurut tujuan belajar yang dapat dicapa i. Tabel berikut ini menunjukkan bahawa ada media yang baik jika dipakai untuk m encapai tujuan yang bersifat “pengenalan visual”. Tetapi jenis media ini kurang baik digunakan untuk mengajarkan keterampilan psikomotorik atau sikap afektif. Media menurut tujuan belajar Tujuan Belajar Jenis Media Informasi Faktual Pengenalan Visual Konsep, Prinsip Prosedural Unpan balik Sikap Visual diam Film Televisi Obyek 3 D Rekaman video Pelajaran terprogram Demonstarsi Buku Teks Sedang Sedang Sedang Rendah Sedang Sedang Sedang Sedang Tinggi Tinggi Sedang Tinggi Rendah Sedang Sedang rendah Sedang Tinggi

Tinggi Rendah Rendah Sedang Rendah Sedang Sedang Tinggi Sedang Rendah Sedang Tinggi Tinggi sedang Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Sedang Rendah Rendah Sedang Sedang Rendah Sedang Sedang Sedang sedang sumber Martinis yamin, desain pembelajaran berbasis tingkat satuan pendidikan,gp press,2009 hal 183 PENUTUP A. Kesimpulan

Media pada hakekatnya merupakan salah satu komponen sistem pembelajaran. Sebagai komponen, media hendaknya merupakan bagian integral dan harus sesuai dengan pr oses pembelajaran secara menyeluruh. Ujung akhir dari pemilihan media adalah pe nggunaaan media tersebut dalam kegiatan pembelajaran, sehingga memungkinkan pebe lajar dapat berinteraksi dengan media yang kita pilih. Penggunaan media intruksional dalam kegiatan pembelajaran memang sangat membantu pebelajar dan membantu pembelajar sekaligus. Akan tetapi dalam penggunannya pem belajar juga harus memahami beberapa hal yang berkaitan dengan media intruksiona l sebelum media tersebut di gunakan. Di antara sekian banyak hal yang harus diketahui oleh pembelajar, salah satunya adalah landasan pertimbangan penggunaan media intruksional. Seperti diketahui ba hwa dalam setiap proses belajar mengajar antara pembelajar dan pebelajar mempuny ai tujuan yang sama, yaitu pebelajar mengalami perubahan yang positif dan sebelu m proses belajar mengajar dilalui dan sesudah proses belajar mengajar berlangsun g meskipun ada perbedaan-perbedaan yang terdapat antara setiap pebelajar dalam m elakukan kegiatan pembelajaran. Perbedaan itu terdapat pada tingkat keterampilan kognitifnya, dapat pula cara pe belajar menangkap pengetahuan yang baru, serta pada tingkat keterampilan motorik nya. Kalau pembelajar bertolak dari pemahaman bahwa penggunaan media dalam prose s belajar mengajar bertujuan untuk memudahkan pebelajar belajar, maka dalam peng gunaan media harus juga memperhatikan adanya perbedaan-perbedaan pada diri setia p pebelajar. Pembelajar sebaiknya mengembangkan proses belajar mengajar dengan mengikuti taha p-tahap berikut: 1. Tahap eksplorasi, 2. Tahap pengenalan konsep, 3. Tahap mengaplikasikan konsep

Oleh karena itu, setiap penggunaan media dalam proses belajar mengajar pembelaja r harus memahami tingkat perkembangan intelektual pebelajar. Pembelajar juga har us memperhatikan apakah media intruksional yang digunakan itu untuk meningkatkan tahap eksplorasi, tahap pengenalan konsep, ataukah tahap pengaplikasian konsep. Sebagaimana pada uraian sebelumnya bahwa pemilihan media intruksional mestilah m engedepankan pertimbangan kondisi dan latar belakang pebelajar baik pada aspek p erkembangan dan kematangan pebelajar maupun pada aspek tahapan pembelajaran yang harus diikuti oleh pebelajar, maka dalam penetapan atau penentuan media intruks ional sedapat mungkin memperhatikan beberapa kriteria dalam memilih media intruk sional. Pertimbangan pokok dalam memilih media, terdiri atas beberapa kriteria s ebagai berikut: 1. Menunjang tercapainya tujuan pembelajaran, Media intruksional yang akan digunakan sedapat mungkin dapat membantu dan mempermudah dalam mencapai tujuan p embelajaran yang telah ditetapkan. 2. Media yang dipilih hendaknya selalu disesuaikan dengan kemampuan pebelaj ar. Penyesuaian ini dapat dilihat dari aspek umur pebelajar atau kemampuan pebel ajar sendiri untuk memahami media yang digunakan. Jika tidak maka media tersebut tidak lebih akan menjadi sebuah pajangan belaka 3. Media yang digunakan hendaknya tepat guna artinya dapat mempermudah pebe lajar untuk memahami materi pelajaran yang dipelajari 4. Media yang dipilih hendaknya memang tersedia, artinya tersedia alat/baha nnya atau tersedia waktu untuk mempersiapkan dan mempergunakannya. 5. Media yang dipilih hendaknya disenangi oleh pembelajar dan pebelajar.Med ia yang dipilih hendaknya di minati atau disenangi oleh pebelajar dan termasuk p embelajar sendiri. Disinilah perlunya pembelajar kreatif untuk menciptakan media intruksional agar dapat disesuaikan dengan apa yang disenangi pembelajar dan di sukai oleh pebelajar 6. Persiapan dan penggunaan media hendaknya disesuaikan dengan biaya yang t ersedia. Hal ini biasanya menjadi hambatan pokok karena memaksakan menggunakan m edia sementara tidak didukung oleh dana ang memadai. Hendaknya media yang diguna kan adalah media tepat guna, atau media pembelajran sederhana yang dapat dijangk au oleh pebelajar dan pembelajar. 7. Kondisi fisik lingkungan turut mempengaruhi media. Oleh karena itu, perl u diperhatikan baik-baik kondisi lingkungan pada saat merencanakan penggunaan me dia. Beberapa pertimbangan tersebut di atas dapat digunakan sebelum menetapkan media intruksional yang akan digunakan oleh pembelajar dalam kegiatan pembelajaran unt uk memotivasi para pembelajar, memfasilitasi proses belajar, membentuk manusia s eutuhnya, melayani perbedaan individu, mengangkat belajar bermakna, mendorong te rjadinya interaksi, dan memfasilitasi belajar kontekstual, Terdapat beberapa teo ri belajar yang melandasi penggunaan teknologi/komputer dalam pembelajaran yaitu teori behaviorisme, kognitifisme dan konstruktivisme. Media intruksional merupakan faktor yang penting dalam peningkatan kualitas pem belajaran. Jika dilihat dari pengertiannya, media intruksional adalah sebuah ala t yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Sedangkan pembelajaran a dalah sebuah proses komunikasi antara pembelajar, pengajar dan bahan ajar. Komun ikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampai pesan atau media, sehin gga saya menyimpulkan bahwa media intruksional itu penting dalam proses pembelaj aran. Media intruksional sangat banyak macamnya, tentunya tidak digunakan sekaligus. U ntuk itu perlu dipilih secara cermat, media mana yang lebih tepat untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Kriteria yang paling utama dalam pem ilihan media bahwa media harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran atau kompe tensi yang ingin dicapai. Untuk itu dalam penggunaan media intruksional harus memperhatikan prinsip-prinsi p dalam pemilihan media intruksional agar lebih terarah dan tercapai tujuan med ia pembelaaran itu. Ada beberapa tujuan menggunakan media intruksional, diantaranya yaitu :

-

mempermudah proses belajar-mengajar meningkatkan efisiensi belajar-mengajar menjaga relevansi dengan tujuan belajar membantu konsentrasi mahapebelajar

Media instruksional, merupakan bagian dari sumber belajar dan sekaligus bagian i ntegral dari teknologi pendidikan untuk menunjang efektifitas kegiatan belajar m engajar di sekolah. Agar media intruksional dapat dimanfaatkan secara maksimal, maka para pelaksana pendidikan, khususnya pembelajar di tuntut untuk memiliki pe ngetahuan dan kemampuan dalam memanfaatkan media. Oleh sebab itu pendidik sebagai pembelajar wajib memiliki kompetensi dan skill d alam memilih dan menggunakan media pendidikan dan pengajaran karena di tangan me rekalah nantinya pendidik membina pebelajarnya di lembaga pendidikan melalui pro ses kegiatan belajar mengajar. Peranan media sangat besar sekali dalam pembelajaran, karena kalau tanpa media, pebelajar akan lambat memahami suatu pelajaran dan hal ini akan menghambat berj alannya proses pembelajaran. Dengan terhambatnya proses pembelajaran maka sudah barang tentu kualitas pendidikan yang diharapkan tidak akan tercapai optimal. Penggunaan media intruksional dalam proses pembelajaran perlu mempertimbangkan b eberapa prinsip, prinsip-prinsip pemilihan media intruksional yang dimaksud yait u: 1. Tidak ada satu media pun yang paling baik untuk semua tujuan. Suatu medi a hanya cocok untuk tujuan pembelajaran tertentu, tetapi mungkin tidak cocok unt uk pembelajaran yang lain. 2. Media adalah bagian integral dari proses pembelajaran. Hal ini berarti b ahwa media bukan hanya sekedar alat bantu mengajar pembelajar saja, tetapi merup akan bagian yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran. Penetapan suatu media haruslah sesuai dengan komponen lain dalam perancangan pembelajaran. Tanpa alat bantu mengajar mungkin pembelajaran tetap dapat berlangsung, tetapi tanpa media itu tidak akan terjadi. 3. Media apapun yang hendak digunakan, sasaran akhirnya adalah untuk memuda hkan belajar pebelajar. Kemudahan belajar pebelajar haruslah dijadikan acuan uta ma pemilihan dan penggunaan suatu media. 4. Penggunaan berbagai media dalam satu kegiatan pembelajaran bukan hanya s ekedar selingan/pengisi waktu atau hiburan, melainkan mempunyai tujuan yang meny atu dengan pembelajaran yang berlangsung. 5. Pemilihan media hendaknya objektif, yaitu didasarkan pada tujuan pembel ajaran, tidak didasarkan pada kesenangan pribadi tenaga pengajar. 6. Penggunaan beberapa media sekaligus akan dapat membingungkan pebelajar. Penggunaan multi media tidak berarti menggunakan media yang banyak sekaligus, te tapi media tertentu dipilih untuk tujuan tertentu dan media yang lain untuk tuju an yang lain pula. 7. Kebaikan dan kekurangan media tidak tergantung pada kekonkritan dan keab strakannya saja. Media yang konkrit ujudnya, mungkin sukar untuk dipahami karena rumitnya, tetapi media yang abstrk dapat pula memberikan pengertian yang tepat. Dengan mengetahui berbagai prinsip pemilihan media intruksional diharapan akan m emberi kontribusi terhadap efektivitas pencapaian tujuan pembelajaran. Pada inti nya bahwa berbagai macam media intruksional memberikan manfaat sangat besar kepa da pebelajar dalam proses pembelajaran. Tidak diragukan lagi bahwa semua media itu perlu dalam pembelajaran. Kalau sampa i hari ini masih ada pembelajar yang belum menggunakan media, itu hanya perlu sa tu hal yaitu perubahan sikap. Dalam memilih media intruksional, perlu disesuaika n dengan kebutuhan, situasi dan kondisi masing-masing. Dengan Perkataan Lain, Media Yang Terbaik Adalah Media Yang Ada. Terserah Kepada Pembelajar Bagaimana Ia Dapat Mengembangkannya Secara Tepat Dilihat Dari Isi, Penjelasan Pesan Dan Karakteristik Pebelajar Untuk Menentukan Media Intruksional Tersebut. B. Saran-Saran Karna begiti besar manfaat nya media dalam pembelajaran, baik itu bagi pembelaja r maupun pebelajar, maka saya sarankan agar sebelum masuk ke kelas semua guru te

lah mempunyi mempunyai media pembelajaran yang digunakan dalam memberikan materi terhadap pebelajar, sehingga pebelajar lebih mudah memahami materi pembelajar Penulis menyadarai dalam penulisan makalah ini pasti banyak kesalahan dan kekhil apan, oleh karena itu Kritik dan saran yang membangun juga penulis harapan demi perbaikan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA Sagala, Syaiful. Guru profesional. (2005) Bandung : Alfabeta Prawiradilaga, Dewi Salma. (2007). Prinsip Desain Pembelajaran. Jakarta: Kencana . Warsita, Bambang Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, J akarta Rineka cipta 2008 Warsita, Bambang. Teknologi Pembelajaran: Landasan dan Aplikasinya. Jakarta: Rin eka Cipta, 2008. Arief S. Sadiman; R. Rahardjo; Anung Haryono; Rahardjito. (2009). Media Pendidik an: Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta: Rajawali Pers. Sagala, Syaiful. Konsep dan Makna Pembelajaran. (2009) Bandung : Alfabeta Yamin, Martinis. Desain Pembelajaran Berbasis Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta ; Gaung Persada Pers.2009 Yamin Martinis, Kiat Membelajarkan Siswa, gaung persada press, Jakarta 2010 Asmani, Jamal Ma’mur. Tips Efektif Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Dunia Pendidikan. Jogyakarta: Diva Press, 2011. http://sulaiman-ump.blogspot.com/2011/06/pengantar-media-pembelajaran.html Indriana, Dina. (2011). Ragam Alat Bantu Media Pengajaran. Jogjakarta: Diva Pres s.Sudrajat, Akhmad. http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/04/15/sumber-belajar-untuk-mengefektifk an-pembelajaran-siswa/ (accessed 12 29, 2011).

MAKALAH DESAIN MEDIA INTRUKSIONAL Mata kuliah: Desain Intruksional Dosen pengampu: Prof.Dr.H.Mukhtar, M.Pd

Di susun oleh Nama: Yuhana NIM: P.p.211.1.1391

PROGRAM PASCA SARJANA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SULTHAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI 2012 DAFTAR ISI

BAB I A. .. B. 4

PENDAHULUAN................................... 1 Latar belakang.......................................................... 1 Rumusan masalah......................................................

BAB II PEMBAHASAN................................................ . 5 A. Pengertian media intruksional .................................... 5 B. Pengertian desain media intruksional.......................... 7 C. Manfaat Desain Media Intruksional.............................. 9 D. Cara Memilih Media Instruksional........................................ ............ 13 E. Prosedur Pemilihan Desain Media intruksional............ 17 F. Kriteria Pemilihan Media Intruksional........................... 19 G. Macam-Macam Media Intruksional.............................. 22 BAB III PENUTUP......................................................... 25 A. Kesimpulan............................................................. ..... 25 B. Saran-saran............................................................ ...... 30 DAFTAR PUSTAKA............................................................... .31

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->