P. 1
laporan_tahunan_kpk_2010

laporan_tahunan_kpk_2010

|Views: 554|Likes:
Published by Selokan Mataram

More info:

Published by: Selokan Mataram on Jul 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/29/2012

pdf

text

original

Laporan Tahunan 2010

Laporan Tahunan 2010

LAPORAN TAHUNAN 2010
Kupu-kupu itu keluar dari garba hidupnya Kini, dia terbang tinggi mengepakkan sayapnya yang indah dan perkasa, siap mengarungi derasnya terpaan badai kehidupan Kita adalah kupu-kupu itu Yang coba lepaskan diri dari jerat korupsi dan perlawanan hebat para koruptor Demi terwujudnya bangsa yang sejahtera Bebas dari korupsi Sekaranglah saatnya Mari kawan, kita membulatkan tekad bersama melawan korupsi Yakinlah. Di depan sana, Indonesia baru tanpa korupsi, telah menanti...

LAPORAN TAHUNAN 2010

DITERBITKAN OLEH KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI DESEMBER 2010 ISBN: 978-979-18455-9-5 PENYUSUN : TIM PENYUSUN LAPORAN TAHUNAN KPK 2010 78 HAL + VIII KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI JL. H.R. RASUNA SAID KAV. C-1, JAKARTA 12920 TELP. (62-21) 2557 8300 FAKS. (62-21) 5289 2456 www.kpk.go.id

VISI, MISI, ASAS, DAN NILAI-NILAI KPK
Visi
Menjadi Lembaga yang Mampu Mewujudkan Indonesia yang Bebas dari Korupsi

v

Misi

• Pendobrak dan Pendorong Indonesia yang Bebas dari Korupsi • Menjadi Pemimpin dan Penggerak Perubahan untuk Mewujudkan Indonesia yang Bebas dari korupsi

Asas

• Kepastian Hukum • Keterbukaan • Akuntabilitas • Kepentingan Umum • Proporsionalitas

Nilai-Nilai

• Integritas • Profesionalisme • Inovasi • Religiusitas • Transparansi • Kepemimpinan • Produktivitas

vi

DAFTAR ISI
Visi dan Misi Asas dan Nilai-nilai Daftar Isi Rantai Kegiatan KPK Kliping Koran PENGANTAR PIMPINAN SEKILAS TENTANG KPK Profil Organisasi Struktur Organisasi Profil Pimpinan PENGUATAN KELEMBAGAAN Komposisi SDM Pendidikan dan Pelatihan Anggaran Pengadaan dan Pengelolaan Aset Sarana Gedung Pemanfaatan Teknologi Penguatan Aspek Yuridis Pengawasan Internal Hubungan Masyarakat Implementasi Pelayanan Informasi Publik PEMBERANTASAN KORUPSI 2010 Penegakan Hukum Koordinasi dan Supervisi Kerjasama Berantas Korupsi Mendorong Transparansi Abdi Negara Menuju Sistem Yang Lebih Baik Penanaman Nilai Antikorupsi Melalui Pendidikan Penggalangan Dukungan Masyarakat PROGRAM KERJA 2011 KPK DAN PEMBERANTASAN KORUPSI DI MATA MEREKA LAMPIRAN Penindakan Gratifikasi Pengaduan Masyarakat Pegembangan Jaringan dan Kerja sama Pengadaan, Barang Sitaan dan Rampasan Penelitian dan Pengembangan v v vi vii viii 1 5 6 7 9 12 12 13 15 15 15 16 17 17 18 19 20 22 24 26 28 31 33 35 39 43 44 62 63 65 68 72

1

PENGANTAR PIMPINAN

PENGANTAR PIMPINAN

2

Apakah yang sudah dilakukan? Setiap Desember, ketika hitungan hari pada tahun itu mulai mendekati penghabisan, pertanyaan itu selalu mengemuka.

Pertanyaan tersebut menyeruak, karena dari jawaban yang ada, akan terungkap apakah target-target yang dicanangkan telah tercapai dan apakah harapan-harapan yang menggelayut telah terpenuhi. Sebagai evaluasi untuk melangkah lebih baik di tahun berikutnya. Bagi KPK, menjelang tutup tahun tidak sekadar mengevaluasi berbagai program dan kegiatan yang telah dilakukan. Namun, juga melaporkannya kepada publik. Sebagai lembaga negara yang pembiayaannya berasal dari uang rakyat, adalah sebuah kewajiban bagi KPK untuk melaporkan kinerja setiap tahunnya kepada publik. Karena itulah, seperti tahun-tahun sebelumnya, dengan mengusung semangat keterbukaan, KPK kembali mengeluarkan laporan tahunan sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik. Tahun 2010 dilalui dengan penuh tantangan. Setidaknya, badai yang menerpa sejak 2009 terkait tuduhan yang ditujukan kepada pimpinan KPK, ternyata belum benar-benar berakhir pada tahun ini. Ketidakpastian dan ketidak-jelasan membuat konsentrasi

kerja sedikit banyak menjadi terpengaruh. Syukurlah kondisi tersebut kini mulai mendekati saat-saat akhir. Ketidakpastian mulai menyingkir sehingga fokus kerja pun kembali. Tantangan berat lainnya bernama ekspektasi publik yang begitu tinggi. Harapan demi harapan yang digantungkan di pundak KPK untuk mengungkap kasus-kasus yang menjadi perhatian publik, menjadi tantangan tersendiri. KPK menyikapi positif ekspektasi tadi. Meski ada beberapa yang direfleksikan melalui aksi unjuk rasa, kritikan, atau bahkan caci-maki, namun sejatinya itulah wujud ekspektasi itu sendiri. Bagi KPK, semua adalah manifestasi dari harapan-harapan besar masyarakat. Itulah penyemangat kerja KPK, yang disikapi dengan kesungguhan dan kerja keras dalam upaya pemberantasan korupsi. Tantangan lainnya datang dari kondisi internal di KPK. Jumlah sumber daya manusia yang terbatas sungguh tidak sebanding dengan ruang lingkup dan luasnya wilayah yang menjadi tugas KPK. Pun dengan sarana dan prasa-

PENGANTAR PIMPINAN

3

rana yang dimiliki, khususnya gedung perkantoran yang mulai “kewalahan” menampung pegawai dan dokumendokumen kerja yang dibutuhkan dalam pelaksanaan tugas pemberantasan korupsi. Meski demikian, sungguh, KPK sangat bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, bahwa di tengah badai yang belum benar-benar reda dan berbagai kendala lainnya, KPK bisa melaksanakan tugas dengan baik. Bahkan, sejumlah perubahan, terobosan, dan kerja sama penting yang signifikan dalam upaya pemberantasan korupsi, dilakukan KPK pada tahun ini. Di bidang penindakan, dilakukan perubahan strategi dengan penajaman dan pengoptimalan pelacakan aset. Hal tersebut dilaksanakan berdasarkan pengalaman penanganan kasus selama ini. Bahwa mengambil kembali kekayaan negara yang telah dicuri oleh para koruptor, bukanlah perkara mudah. Terlebih jika aset-aset tersebut telah dibawa lari ke luar negeri. Untuk itu, selain penyempurnaan metodologi pelacakan aset yang dilakukan dengan deteksi sedini mungkin, KPK juga menggandeng kerja sama dengan mitra-mitra strategis. Salah satu kerja sama strategis tersebut adalah penandatanganan MoU KPK-Divisi Internasional Polri tentang pemanfaatan jaringan komunikasi Interpol I-24/7 dan jaringan database ASEANAPOL e- ADS (Electronic ASEANAPOL Database System). Dengan adanya kerja sama ini, diharapkan akan lebih mengeratkan dan mengefektifkan hal-hal yang berkaitan dengan pelacakan aset maupun pelacakan orang. Untuk tujuan

yang kurang lebih sama, pada tahun ini KPK juga menjalin kerja sama konstruktif dengan Serious Fraud Office (SFO) Inggris. Pemanfaatan teknologi forensik juga dioptimalkan. Korupsi bukanlah kejahatan konvensional. Seringkali, pelaku - para koruptor - dengan segala akal dan kekuasaan yang dimiliki, mencoba untuk melenyapkan buktibukti demi menghindari jeratan hukum. Teknologi forensik berperan besar dalam mengatasi situasi-situasi seperti itu. Dalam hal penanganan kasus, pada tahun ini, jenis tindak pidana korupsi yang paling banyak diusut KPK adalah penyuapan, baik yang melibatkan aparat pemerintah, penegak hukum, kalangan legislatif, maupun pihak swasta. Dua kasus penyuapan terungkap setelah para pelaku tertangkap tangan saat sedang maupun setelah melakukan aksi penyuapan tersebut. Di antara kasus penyuapan itu, kasus yang terkait dengan pemberian dan penerimaan cek pelawat dalam rangka pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, cukup banyak menarik perhatian media massa dan masyarakat. Selain karena kasus tersebut sudah lama mengemuka juga karena banyaknya pihak yang ditetapkan sebagai tersangka. Sejumlah tantangan dihadapi KPK dalam penanganan kasus tersebut. Termasuk harus menghadapi sidang praperadilan. Meski demikian, KPK tetap pada konsistensinya untuk menangani kasus secara profesional. Hal yang sama juga dilakukan KPK dalam penanganan kasus Bank

Century yang hingga saat ini ada pada tahap penyelidikan. Secara total, pada tahun ini KPK menangani penindakan dengan rincian 54 kegiatan penyelidikan, 62 penyidikan, dan 55 penuntutan. Baik kasus baru, maupun sisa penanganan pada tahun sebelumnya. KPK juga melakukan eksekusi terhadap 38 putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap. Dari kegiatan-kegiatan penindakan tersebut, sebanyak 190 miliar rupiah lebih telah dimasukkan ke kas negara, baik berupa uang pengganti hasil tindak pidana korupsi, hasil sitaan, hasil lelang barang rampasan, maupun denda. Selain penindakan dengan melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan, sebagai trigger mechanism yang diamanatkan mendorong optimalisasi pelaksanaan tugas pemberantasan korupsi yang diemban oleh lembaga-lembaga yang sudah ada sebelumnya, KPK juga secara aktif meningkatkan fungsi koordinasi dan supervisinya. Tak hanya dalam hal penegakan hukum, koordinasi dan supervisi juga dilakukan dalam rangka penyelamatan potensi kerugian negara dengan fokus utama pada penertiban barang dan aset milik negara. Publik mungkin masih belum banyak yang mengetahui, bahwa sejak dibentuknya tim khusus yang menangani penertiban aset ini, tak kurang dari 2,5 triliun rupiah potensi kerugian negara berhasil dicegah. Untuk tahun ini saja, nilai potensi kerugian negara yang berhasil diselamatkan mencapai lebih dari 500 miliar rupiah.

PENGANTAR PIMPINAN

4

KUALITAS KARAKTER SISTEM ANTIKORUPSI

DAN

Perbaikan dan peningkatan kualitas karakter dan sistem menjadi fokus utama dalam pencegahan yang dilakukan KPK. Lubang-lubang yang memungkinkan munculnya kesempatan melakukan korupsi dan karakter diri yang berpotensi untuk menginginkan kekayaan dengan cara mencuri yang bukan haknya, coba untuk terus direduksi. Berbagai terobosan juga dilakukan di sektor ini. Pada peningkatan karakter melalui penanaman nilai-nilai antikorupsi, KPK secara kreatif mencoba berbagai pendekatan untuk menghasilkan anak bangsa yang benci terhadap korupsi. Cara lainnya adalah dengan memberikan perhatian lebih dan khusus kepada kompetensi terpasang para aparat negara, yaitu pada sisi integritasnya. Untuk itu, KPK telah meluncurkan program bernama “PRIMA” yang merupakan singkatan dari Program Revitalisasi Integritas Mental. Dalam hal peningkatan transparansi abdi negara, KPK pada tahun ini menggulirkan program bernama Pusat Pengendalian Gratifikasi (PPG). Program ini dilatarbelakangi analisis terhadap minimnya jumlah pelaporan gratifikasi yang masuk ke KPK yang kemungkinan disebabkan ketidaktahuan, kendala jarak, dan keengganan psikologis untuk berurusan dengan KPK. Dengan adanya PPG yang dibangun di setiap instansi, diharapkan aparat negara, baik di pusat maupun daerah, tak lagi sungkan untuk melaporkan gratifikasi yang mereka terima. Jika ada pejabat negara yang menerima gratifikasi, yang bersangkutan cukup melaporkan ke Unit Pengendalian Gratifikasi (UPG) di instansi tersebut. UPG inilah yang secara periodik akan

melaporkan gratifikasi itu kepada KPK. Pilot project program ini di Pertamina telah berjalan dengan baik. Tak kurang dari 250 laporan diterima hanya dalam kurun waktu kurang dari setengah tahun. Sedangkan upaya perbaikan sistem dilakukan dengan melakukan kajian dan memberikan rekomendasi kepada instansi terkait berdasarkan hasil kajian tersebut. Pada 2010 ini, paling tidak, terdapat dua kajian signifikan yang dilaksanakan oleh KPK. Pertama adalah yang terkait dengan penyelenggaraan ibadah haji. KPK menganggap penting sektor ini. Selain karena berhubungan dengan kebutuhan spiritual masyarakat, juga jumbonya dana yang terlibat. Ada sekitar 22 triliun rupiah yang dikelola di sana. Kedua adalah pada sektor kehutanan. Selain kajian sistem, KPK juga melakukan kajian kebijakan di sektor ini.

Pemanfaatan teknologi informasi juga dilakukan untuk mempermudah sarana pengaduan dugaan tindak pidana korupsi dengan adanya KPK WhistleBlower System (KWS). Sebuah peranti berbasis internet yang dapat digunakan masyarakat untuk mengadukan dugaan tindak pidana korupsi secara mudah, cepat, dan rahasia. Sejalan dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, KPK sebagai badan publik juga telah mengimpementasikan pengelolaan dan pelayanan informasi publik. Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumen (PPID) telah dibentuk. Pengkategorian informasi pun dilakukan. Seraya secara bertahap meningkatkan sarana dan prasarana penunjang pelayanan informasi publik lainnya. Hal ini dilakukan, karena sudah sejak awal, KPK berkomitmen mengusung asas keterbukaan. KPK menyadari bahwa jalan untuk mengikis tuntas korupsi masihlah jauh untuk ditempuh. Karena itu, sekali lagi, KPK menegaskan bahwa perjuangan melawan korupsi tak boleh berhenti sedetik pun. KPK percaya bahwa dengan kebulatan tekad, keberanian, kesolidan, kebersamaan, dan semangat yang sungguhsungguh, asa yang terbang tinggi untuk menggapai kesejahteraan bangsa yang bebas dari korupsi akan terwujud.

PERAN SERTA MASYARAKAT

Menyadari bahwa upaya mewujudkan Indonesia yang bebas dari korupsi bukanlah perkara mudah dan tidak dapat dilakukan sendirian, KPK sangat mengandalkan peran serta masyakarat untuk ambil bagian dalam upaya memberantas korupsi di bumi tercinta ini. KPK menfasilitasi pemberian akses informasi seluas-luasnya kepada masyakarat agar dapat lebih memahami bahaya korupsi. Sekaligus meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai berbagai metode dan cara pemberantasan korupsi. Salah satunya dilakukan dengan meluncurkan Portal Anti-Corruption Clearing House (ACCH) hasil kerja sama teknis dengan Deutsche Gessellschaft fur Technische Zusammenarbeit (GTZ) GmbH Jerman.

SEKILAS TENTANG KPK

SEKILAS TENTANG KPK

6

PROFIL ORGANISASI
Korupsi telah banyak merugikan keuangan negara, perekonomian negara, dan menghambat pembangunan nasional. Predikat sebagai kejahatan luar biasa pun disandangnya. Karenanya dibutuhkan pola pemberantasan yang luar biasa. Atas dasar itulah, KPK dibentuk. Demikianlah Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi berkata. Untuk mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera, KPK diberi amanat melakukan pemberantasan korupsi secara profesional, intensif, dan berkesinambungan. KPK merupakan lembaga negara yang bersifat independen yang dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya bebas dari kekuasaan manapun. Adapun tugas KPK yang dimaksud adalah koordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi (TPK); supervisi terhadap instansi yang berwenang melakukan pemberantasan TPK; melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap TPK; melakukan tindakantindakan pencegahan TPK; dan melakukan monitor terhadap penyelenggaraan pemerintahan negara. Dalam tugas koordinasi, KPK diberi kewenangan untuk mengkoordinasikan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan TPK; menetapkan sistem pelaporan dalam kegiatan pemberantasan TPK; meminta informasi tentang kegiatan pemberantasan TPK kepada instansi terkait; melaksanakan dengar-pendapat atau pertemuan dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan TPK; dan meminta laporan instansi terkait mengenai pencegahan TPK. Dalam menjalankan tugas supervisi, KPK berwenang melakukan pengawasan, penelitian, atau penelaahan terhadap instansi yang menjalankan tugas dan wewenangnya yang berkaitan dengan pemberantasan TPK dan instansi yang melaksanakan pelayanan publik. Selain itu, KPK juga dapat mengambil alih penyidikan atau penuntutan terhadap pelaku TPK yang sedang dilakukan oleh kepolisian atau kejaksaan. Namun, pengambilalihan penyidikan dan penuntutan kasus/perkara tidak serta merta dapat dilakukan. KPK dibentuk bukanlah untuk mengambil alih tugas pemberantasan korupsi dari lembaga-lembaga yang ada sebelumnya. Penjelasan undang-Undang

SEKILAS TENTANG KPK

menyebutkan peran KPK sebagai trigger mechanism, yang berarti mendorong atau sebagai stimulus agar upaya pemberantasan korupsi oleh lembaga-lembaga menjadi lebih efektif dan efisien. Undang-undang mengatur syarat untuk melakukan pengambilalihan tersebut. Yaitu, jika laporan masyarakat mengenai TPK di kedua instansi tersebut tidak ditindaklanjuti; proses penanganan TPK secara berlarut-larut atau tertunda-tunda tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan; penanganan TPK ditujukan untuk melindungi pelaku TPK yang sesungguhnya; penanganan TPK mengandung unsur korupsi; hambatan penanganan TPK karena campur tangan dari eksekutif, yudikatif, atau legislatif; atau keadaan lain yang menurut pertimbangan kepolisian atau kejaksaan, penanganan TPK sulit dilaksanakan secara baik dan dapat dipertanggungjawabkan. Berbeda dengan organisasi antikorupsi di negara lain, KPK memiliki tugas dan wewenang dalam melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan, sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 11 dan 12 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002. Namun, tidak semua ranah korupsi bisa ditangani KPK, karena KPK hanya menangani korupsi yang melibatkan aparat penegak hukum, penyelenggara negara (PN), dan orang lain yang ada kaitannya dengan TPK yang dilakukan oleh aparat penegak hukum atau PN. Selain itu, kasus korupsi tersebut juga harus mendapat perhatian yang meresahkan masyarakat. Satu hal lain yang tak kalah penting sebagai prasyarat sebuah kasus korupsi dapat ditangani KPK adalah mengenai jumlah kerugian yang ditimbulkan akibat perbuatan korupsi. Undang-undang mengamanatkan bahwa selain syaratsyarat yang sebelumnya disebutkan, KPK bisa menangani kasus korupsi jika korupsi tersebut menyangkut kerugian negara paling sedikit satu miliar rupiah. Dalam menjalankan tugas penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan ini, undang-undang memberi berbagai kewenangan kepada KPK dalam rangka menuntaskan sebuah tindak pidana korupsi. Adapun kewenangan

tersebut adalah melakukan penyadapan dan merekam pembicaraan; memerintahkan kepada instansi terkait untuk melarang seseorang bepergian ke luar negeri; meminta keterangan kepada bank atau lembaga keuangan lainnya tentang keadaan keuangan tersangka atau terdakwa yang sedang diperiksa, dan memerintahkan kepada bank atau lembaga keuangan lainnya untuk memblokir rekening yang diduga hasil dari korupsi milik tersangka, terdakwa, atau pihak lain yang terkait. Di samping itu, KPK juga memiliki kewenangan untuk memerintahkan kepada pimpinan atau atasan tersangka untuk memberhentikan sementara tersangka dari jabatannya; meminta data kekayaan dan data perpajakan tersangka atau terdakwa kepada instansi terkait; menghentikan sementara suatu transaksi keuangan, transaksi perdagangan, dan perjanjian lainnya atau pencabutan sementara perizinan, lisensi, serta konsesi yang dilakukan atau dimiliki oleh tersangka atau terdakwa yang diduga berdasarkan bukti awal yang cukup ada hubungannya dengan TPK yang sedang diperiksa. Berkaitan dengan kerja sama dengan pihak penegak hukum dan instansi lain dalam proses penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan ini, KPK berwenang meminta bantuan Interpol Indonesia atau instansi penegak hukum negara lain untuk melakukan pencarian, penangkapan, dan penyitaan barang bukti di luar negeri. Selain itu, KPK juga dapat meminta bantuan kepolisian atau instansi lain yang terkait untuk melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan dalam perkara TPK yang sedang ditangani. Sementara itu, terkait dengan langkah dan upaya pencegahan tindak pidana korupsi, KPK berwenang melakukan pendaftaran dan pemeriksaan terhadap laporan harta kekayaan PN (LHKPN); menerima laporan dan menetapkan status gratifikasi; menyelenggarakan program pendidikan antikorupsi pada setiap jenjang pendidikan; merancang dan mendorong terlaksananya program sosialisasi pemberantasan TPK; melakukan kampanye antikorupsi kepada masyarakat umum; dan melakukan kerja

sama bilateral atau multilateral dalam pemberantasan TPK. Dalam upaya peningkatan efisiensi dan efektivitas serta mencegah terjadinya TPK di lembaga negara dan pemerintahan, KPK diberi amanat oleh undang-undang untuk melaksanakan tugas monitor, dengan kewenangan melakukan pengkajian terhadap sistem pengelolaan administrasi di semua lembaga negara dan pemerintah; memberikan saran kepada pimpinan lembaga negara dan pemerintah untuk melakukan perubahan jika berdasarkan hasil pengkajian, sistem pengelolaan administrasi tersebut berpotensi korupsi; melaporkan kepada Presiden, Dewan Perwakilan Rakyat, dan Badan Pemeriksa Keuangan jika saran KPK mengenai usulan perubahan tersebut tidak diindahkan.

7

STUKTUR ORGANISASI

Pada aspek kelembagaan, ketentuan mengenai struktur organisasi KPK diatur sedemikian rupa sehingga memungkinkan masyarakat luas tetap dapat ikut berpartisipasi dalam aktivitas dan langkah-langkah yang dilakukan oleh KPK, serta pelaksanaan program kampanye publik dapat dilakukan secara sistematis dan konsisten sehingga kinerja KPK dapat diawasi oleh masyarakat luas. Berdasarkan Lampiran Peraturan Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi No.PER-08/XII/2008, struktur organisasi KPK terdiri atas Pimpinan, Penasihat, Deputi dan Sekjen, Direktur, dan Kepala Biro. Pimpinan KPK terdiri atas lima orang (satu ketua dan empat orang wakil ketua) yang merangkap sebagai anggota yang semuanya adalah pejabat negara. Pimpinan tersebut berasal dari unsur pemerintah dan unsur masyarakat sehingga sistem pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat terhadap kinerja KPK dalam melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi tetap melekat pada KPK. Sesuai dengan Undang-Undang No. 30 Tahun 2002, pimpinan KPK memegang jabatan selama empat tahun dan dapat dipilih kembali hanya untuk sekali masa jabatan.

SEKILAS TENTANG KPK

8

Untuk menjamin perkuatan pelaksanaan tugas dan wewenangnya, KPK dapat mengangkat tim penasihat yang terdiri atas empat anggota dan berasal dari berbagai bidang kepakaran. Tim penasihat ini berfungsi memberikan nasihat dan pertimbangan sesuai dengan kepakarannya kepada KPK dalam pelaksanaan tugas dan wewenang KPK.

Pimpinan KPK membawahkan empat bidang yang terdiri atas bidang Pencegahan, Penindakan, Informasi dan Data, serta Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat. Masingmasing bidang tersebut dipimpin oleh seorang deputi.

Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, KPK dibantu oleh Sekretariat Jenderal yang dipimpin oleh Sekretaris Jenderal. Sekretaris Jenderal ini diangkat dan diberhentikan oleh Presiden Republik Indonesia, namun bertanggung jawab kepada pimpinan KPK.

Pimpinan

Penasihat

Deputi Bidang Pencegahan

Deputi Bidang Penindakan

Deputi Bidang Informasi dan Data

Deputi Bidang Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat

Sekretariat Jenderal

Sektretariat Deputi Bidang Pencegahan

Sektretariat Deputi Bidang Penindakan

Sektretariat Deputi Bidang Informasi dan Data

Sektretariat Deputi Bidang PPIM

Direktorat Pendaftaran dan Pemeriksaan LHKPN

Direktorat Penyelidikan

Direktorat Pengolahan Informasi dan Data

Direktorat Pengawasan Internal

Biro Perencanaan dan Keuangan

Satgas Biro SDM Direktorat Gratifikasi Direktorat Penyidikan Direktorat Pembinaan Jaringan Kerja Antar Komisi dan Instansi Direktorat Pengaduan Masyarakat Biro Hukum Satgas

Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat

Direktorat Penuntutan

Direktorat Monitor

Biro Humas

Satgas

Biro Umum

Direktorat Penelitian dan Pengembangan

Unit Koordinasi dan Supervisi

Korsespim

SEKILAS TENTANG KPK

PROFIL PIMPINAN

9

Bibit Samad Rianto (Wakil Ketua)
Lahir di Kediri, Jawa Timur, pada 3 November 1945. Menghabiskan masa sekolah di tanah kelahirannya, Bibit kemudian memilih untuk bergabung di Akademi Kepolisian dan lulus pada 1970. Setelah itu, 30 tahun lamanya Bibit mengabdi di kepolisian. Berbagai posisi teritorial pernah diembannya, di antaranya Kapolres Jakarta Utara, Kapolres Jakarta Pusat, Wakapolda Jawa Timur, dan Kapolda Kalimantan Timur. Bibit pensiun dari kepolisian pada 15 Juli 2000 dengan pangkat terakhir Inspektur Jenderal. Atas jasa dan pengabdiannya selama ber tugas, beliau mendapatkan berbagai bintang jasa dan penghargaan, yaitu Satya Lencana Kesetiaan, Satya Lencana Dwidya Sista, Bintang Bhayangkara Nararya, Bintang Yudha Dharma Nararya, dan Bintang Bhayangkara Pratama. Selepas pensiun dari dinas kepolisian, bapak empat orang anak ini tidak lantas berdiam diri. Kehausannya terhadap ilmu pengetahuan membuat Bibit kembali ke dunia kampus untuk mengambil gelar doktoral yang akhirnya diperoleh pada 2002. Selanjutnya, kegiatan mengajar sebagai dosen menyita waktunya. Beliau bahkan sempat menjabat sebagai Rektor Universitas Bhayangkara. Bibit berkeyakinan bahwa korupsi di Indonesia sudah begitu menyebar luas. “Bisa diibaratkan seperti kita mencelupkan tangan di Danau Semayang, Sembarang pun kita celupkan tangan, niscaya akan mendapatkan ikan. Saking banyaknya ikan di sana. Seperti itulah korupsi. Karena itu, dibutuhkan kebulatan tekad, strategi tepat, dan kerja sama semua pihak agar korupsi yang sudah kronis itu berangsur berkurang dan akhirnya musnah dari bumi tercinta kita,” ujarnya bapak empat anak ini.

Chandra M. Hamzah (Wakil Ketua)
Lahir di Jakarta, 25 Februari 1967, menamatkan pendidikan sarjana di tahun 1995 pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Selepas kuliah, pada 1998, Chandra M Hamzah membidani lahirnya Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK). Chandra memiliki sejumlah lisensi keahlian bidang hukum, yakni lisensi Konsultan Hak Kekayaan Intelektual, lisensi Konsultan Hukum Pajak, lisensi Konsultan Hukum Pasar Modal, dan lisensi Pengacara/Penasihat Hukum/ Advokat. Pimpinan KPK termuda ini pernah bergiat di YLBHI sebagai asisten pembela umum. Sempat pula bekerja s eb a gai s t af hukum PT Un el ec Indonesia (UNINDO). Setelah itu, Chandra memulai karier pengacara pada sejumlah firma hukum. Sebelum berkiprah di KPK, Chandra juga sempat berkutat dalam kegiatan memberantas korupsi saat menjadi anggota Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TGPTPK) pada 2000-2001. Pada rentang waku yang sama, beliau juga ambil bagian dalam Tim Persiapan Pembentukan Komisi AntiKorupsi. Awal Desember 2010, pada acara International Corruption Hunters Alliance di Washington DC, Amerika Serikat, Chandra memperoleh penghargaan Integrity Award dari Bank Dunia. Penghargaan yang diserahkan langsung oleh Vice President Bank Dunia, Obiageli Ezekwesili, ini diperolah Chandra atas kesungguhan dan integritasnya dalam gerakan pemberantasan korupsi di Indonesia. “Merupakan suatu kehormatan memperoleh penghargaan ini. Pemberantasan korupsi di Indonesia selama ini merupakan hasil kerja sama semua elemen masyarakat,” ungkapnya.

Haryono Umar (Wakil Ketua)
Haryono Umar lahir di Prabumulih, Sumatera Selatan, pada 8 September 1960. Meraih gelar doktoral di bidang Ekonomi Akuntansi dari Universitas Padjadjaran Bandung pada 2005. Sebelumnya, lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) ini mendapatkan gelar Master of Science di bidang Akuntansi dari University of Houston, Texas, Amerika Serikat, pada 1993. Sebelum berkiprah di KPK, Haryono mengabdi pada Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) 23 tahun lamanya dengan jabatan terakhir sebagai Kepala Biro Perencanaan. Selain itu, beliau juga aktif di organisasi keprofesian dengan pernah menjabat sebagai Ketua Ikatan Akuntan IndonesiaKompartemen Akuntan Sektor Publik. Haryono juga tergolong orang yang rajin menyebarkan ilmunya melalui berbagai publikasian, baik dalam bentuk buku, modul, maupun kajian. Keahliannya dalam pemberantasan korupsi semakin mendalam setelah mengikuti pelatihan fraud yang diadakan Price Waterhouse Coopers dan Jim Petro Auditor Office, keduanya dari Amerika Serikat. Beliau juga mendalami tentang pembentukan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih melalui berbagai pelatihan.

SEKILAS TENTANG KPK

10
Jasin berhasil merampungkan gelar master bidang Business Management di Technological University of The Philippines, Manila. Gelar doktor di bidang yang sama diraihnya dari Adamson University, Manila, Filipina. Jasin memulai karier sebagai staf Departemen Perindustrian. Kariernya terus berlanjut hingga menduduki posisi Pembantu Asisten pada Asmenko IV bidang pengembangan wilayah kantor Menteri Koordinator Bidang Produksi dan Distribusi. Setelah itu menjabat Pembantu Asisten Urusan Kebijaksanaan Pengawasan Pembangunan Kantor Menteri Negara Koordinator Bidang Pengawasan Pembangunan. Pada 2000, ketika Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara (KPKPN) terbentuk, Jasin didapuk menjadi Kepala Biro Perencanaan. Setelah KPKPN dibubarkan dan terbentuk KPK, beliau hijrah dan menjabat Direktur Pendaftaran dan Pemeriksaan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara. Sebelum menduduki kursi wakil pimpinan KPK bidang pencegahan, beliau adalah Direktur Penelitian dan Pengembangan KPK. Jasin aktif mengikuti pendidikan dan pelatihan. Selain pendidikan kedinasan seperti SPAMA, SPAMEN, dan kursus reguler Lemhanas, Jasin kerap memperdalam kemampuannya dengan pelatihan-pelatihan keahlian, di antaranya Search Seizure and Warrant, Corruption Prevention Department, The Independent Commission Against Corruption, Hong kong, dan Intelligence, Surveillance, and Information Handling di Badan Intelijen Negara (BIN).

Mochammad Jasin (Wakil Ketua)
Lahir di Blitar, 14 Juni 1958, bapak dua anak ini menyelesaikan pendidikan sarjana jurusan Administrasi Negara di Universitas Brawijaya Malang pada 1984. Lima tahun kemudian, Mochamad

Setelah melalui proses yang cukup panjang, akhirnya pansel menelurkan dua buah nama yang kemudian diserahkan Presiden ke DPR, yaitu: Busyro Muqoddas yang saat itu menjabat sebagai Ketua Komisi Yudisial dan Bambang Widjojanto, seorang praktisi hukum. Dalam fit dan proper test yang dilanjutkan dengan pemungutan suara di Komisi III DPR, akhirnya terpilihlah Busyro sebagai pimpinan KPK. Dari 55 anggota Komisi III yang melakukan pemilihan langsung, Busyro mengantongi 34 suara mengungguli Bambang yang hanya mendapatkan 20. Sementara satu suara dinyatakan abstain. Pada pemilihan yang dilaksanakan setelahnya, Busyro pun terpilih sebagai Ketua KPK. Busyro resmi menjabat sebagai Ketua KPK pada Senin, 20 Desember 2010, seusai diambil sumpahnya di hadapan Presiden. Busyro bertugas sebagai pimpinan KPK dengan masa tugas hingga Desember 2011 seiring dengan berakhirnya masa jabatan pimpinan KPK yang lainnya.

Sekilas tentang Busyro

Lahir di Yogyakarta 17 Juli 1952. Busyro adalah sarjana hukum Universitas Islam Indonesia Yogyakarta tahun 1977. Ia mengawali karier di bidang hukum pada 1983 sebagai Direktur Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum, Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia. Selain itu, Busyro pernah menjabat sebagai Pembantu Dekan III Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (1986-1988) dan sebagai Pembantu Dekan I Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia hingga 1990. Gelar Magister Hukum diperoleh dari Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada, 1995. Pada 1995-1998, Busyro menjabat sebagai Ketua Pusdiklat dan LKBH Laboratorium Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia. Sebelum akhirnya terpilih untuk menduduki jabatan sebagai Ketua Komisi Yudisial. Saat mendaftar sebagai calon pimpinan KPK, Busyro mengaku bahwa dirinya termotivasi untuk mewujudkan “jihad kemanusiaan”, memerdekakan bangsa dari kondisi dan fenomena perilaku kumuh secara etika dan moral.

Perjalanan Memilih Figur Kelima

Maret 2010, Dewan Perwakilan Rakyat menolak Perppu yang menjadi dasar dikeluarkannya Keppres pengangkatan Tumpak Hatorangan Panggabean sebagai Pelaksana Tugas Ketua KPK menggantikan Antasari Azhar. Konsekuensi logis dari penolakan tersebut, Tumpak pun tidak lagi dapat menjabat sebagai pimpinan KPK. Kondisi ini membuat KPK kembali hanya dipimpin oleh empat orang. Untuk mengisi kekosongan yang ada, pada Mei 2010, Presiden mengeluarkan Kepres Nomor 6 Tahun 2010 tentang Pembentukan Panitia Seleksi (Pansel) Calon Pimpinan KPK, yang diketuai Menteri Hukum dan HAM, Patrialis Akbar.

11

PENGUATAN KELEMBAGAAN

PENGUATAN KELEMBAGAAN

12

KOMPOSISI SDM
Hingga Desember 2010, kekuatan sumber daya manusia (SDM) KPK berjumlah 638 orang. Jumlah tersebut sudah termasuk 26 orang yang hingga akhir tahun ini sudah tidak lagi menjadi pegawai KPK.
Untuk memenuhi kebutuhan pegawai, pada 2010 ini KPK melakukan rekrutmen dan seleksi pegawai melalui berbagai saluran. “Program Indonesia Memanggil 5” ditujukan untuk merekrut pegawai yang bersumber dari publik. Dari sekitar 16.623 calon, diterima 44 orang. Selain itu, juga dilakukan permintaan ke berbagai institusi pemerintah dan lembaga negara. Cara ini dilakukan terutama untuk memenuhi kebutuhan jaksa dan penyidik di KPK. Dari 271 calon, sebanyak 16 orang dinyatakan dapat dipekerjakan di KPK. Untuk jenis pekerjaan tertentu, KPK merekrut dan menyeleksi pegawai tidak tetap. Dari 235 orang calon, yang dinyatakan diterima sebanyak 8 orang. Meski telah dilakukan proses rekrutmen, secara kuantitatif, jika dibandingkan cakupan serta wilayah tugas yang diemban, jumlah tersebut masih belum mencukupi. Meski demikian, KPK tetap berupaya untuk mengoptimalkan tugas dan merealisasikan target kerja yang telah dicanangkan dengan SDM yang terbatas tersebut. Optimalisasi tersebut diupayakan dengan mengaplikasikan strategi manajemen SDM yang merupakan penjabaran dari strategi KPK yang mengacu kepada rencana jangka menengah dan tahunan, yang diturunkan dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) periode 2010-2014 serta berpijak pada PP 63/2005 tentang Sistem Manajemen SDM KPK. Strategi yang dipilih merupakan upaya untuk menjamin tercapainya perolehan, pengembangan, dan pembinaan SDM sebagai insan yang memiliki integritas dan komitmen yang tinggi serta terus meningkatkan profesionalismenya serta dapat terus meningkatkan kinerja dan citra KPK. Pada 2010, perencanaan SDM terus dilaksanakan dengan melakukan pemutakhiran uraian jabatan, persyaratan jabatan, dan kebutuhan pegawai. Perencanaan kebutuhan SDM untuk tahun mendatang mengacu kepada hasil Analisis Beban Kerja (ABK), ketersediaan anggaran dan perubahan organisasi dan tata kerja KPK; serta melengkapi formasi jabatan di setiap unit kerja berdasarkan klasifikasi jabatan untuk kebutuhan perencanaan SDM di tahun berikutnya.

PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Berdasarkan hasil analisis kebutuhan pelatihan yang dibuat setiap akhir tahun, KPK senantiasa meningkatkan kompetensi pegawainya melalui berbagai program pelatihan dan pengembangan kompetensi pegawai. Pelatihan yang diikuti pegawai ada yang sepenuhnya dikelola sendiri oleh KPK (pelatihan swakelola) ataupun yang dilaksanakan

PENGUATAN KELEMBAGAAN

KOMPOSISI SDM PER DESEMBER 2010
BIDANG KELOMPOK JABATAN JENIS PEGAWAI

13

PIMPINAN PENASIHAT PENCEGAHAN PENINDAKAN INDA PIPM SETJEN

0.6% 0.3% 18.3% 30.1% 19.9% 11.4% 19.3%

PIMPINAN PENASIHAT STRUKTURAL FUNGSIONAL ADM. & PENDUKUNG

0.6% 0.3% 4.7% 62.9% 31.5%

PIMPINAN PENASIHAT PEG. TETAP PEG. NEGERI DIPEKERJAKAN PEG. TDK.TETAP

0.6% 0.3% 57.8% 37.8% 3.4%

oleh training provider eksternal, baik di dalam maupun luar negeri. Jumlah keseluruhan program pelatihan swakelola selama tahun 2010 adalah sebanyak 73 pelatihan. Sedangkan untuk pelatihan publik telah dilakukan sebanyak 128 kegiatan, dengan perincian 113 pelatihan di dalam negeri dan 15 di luar negeri. Untuk pelatihan publik yang dilaksanakan di luar negeri dilaksanakan di berbagai negara, antara lain di Italia, Australia, Belanda, Malaysia, Thailand, Inggris, dan Korea Selatan. Selain itu, dalam rangka meningkatkan kapasitas pegawai, KPK melaksanakan kegiatan matrikulasi dan sertifikasi, baik yang dilaksanakan oleh KPK sendiri atau dengan mengirimkan pegawai kepada pihak ketiga yang memfasilitasi sertifikasi secara publik. Sertifikasi yang dikelola secara langsung terdiri atas Sertifikasi Pengadaan Barang dan Jasa dari Bapenas (56 dari 66 peserta dinyatakan lulus, Sertifikasi Jabatan Fungsional Auditor dari BPKP (24 peserta), dan Sertifikasi (Certificate Fraud Examiner) CFE sebanyak 8 peserta. Selain mengelola secara langsung, KPK juga mempersiapkan program sertifikasi dengan cara mengirimkan peserta kepada pihak ketiga yang memfasilitasi kegiatan sertifikasi secara publik, antara lain Sertifikasi Jabatan Fungsional Auditor di lingkungan Aparat Penga-

wasan Internal Pemerintah; Sertifikasi Jabatan Fungsional Auditor Pengendali Teknis; Certified Hacking Forensic Investigator (CHFI) Preview; Qualified Internal Auditor (QIA); Certified Internal Auditor (CIA); Comptia Linux : XK0002; Comptia+ Essential; Certified Wealth Management Level I; Human Capital Management Certification; dan Certified Scorecard Professional. Untuk memfasilitasi karier para pegawai negeri yang dipekerjakan di KPK, telah difasilitasi kepesertaan pegawai dalam pendidikan kedinasan instansi, yakni: Diklatpim III; Diklat Intelijen Dasar Angkatan I di Pusdiklat Kejaksaan Agung RI; Kursus Jabatan Kapolres Gelombang II-2010; Diklat Terpadu Jaksa dan Hakim Angkatan II di Pusdiklat Kejaksaan Agung RI; Lekdik Setukpa Polri Dikreg ke-39 TA. 2010; dan Sespim Polri Dikreg ke-50 TA. 2010. Dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan dan pelatihan ini, selain mendapatkan sumber dana dari APBN, KPK juga menerima bantuan pendanaan kegiatan pelatihan melalui donor dari beberapa negara/lembaga, di antaranya dari AUSAID (LDF), GTZ, UNODC, World Bank, KOICA, ILEA, JCLEC, dan COESPU. Dalam bentuk pelatihan, KPK tahun ini kembali mengirimkan lima pegawai setingkat fungsional dan dua pegawai setingkat struktural untuk mengikuti Pelatihan Government Innovative in Bureaucratic Reform di Korea Selatan

dari KOICA pada trimester keempat 2010. Bantuan donor juga ada yang dalam bentuk program beasiswa, baik di dalam dan luar negeri. Untuk beasiswa dalam negeri, melanjutkan program tahun 2009, KPK masih menerima bantuan World Bank untuk membiayai 20 orang pegawai mengikuti program beasiswa Magister Hukum Pidana dari Program Pascasarjana FHUI dan sepuluh orang pegawai mengikuti program beasiswa Magister Telekomunikasi di ITB. Untuk beasiswa luar negeri, saat ini ada sembilan orang pegawai yang sedang menjalani program beasiswa ADS di Australia atas bantuan AUSAID, dan 17 orang yang akan berangkat mengikuti program beasiswa tersebut di 2011. Sebagai implementasi program Knowledge Management, diadakan Sharing Knowledge untuk berbagai program pelatihan yang telah diikuti oleh pegawai. Untuk tahun 2010, kegiatan sharing knowledge dilakukan baik untuk pelatihan dalam dan luar negeri, telah dilakukan sebanyak 22 kegiatan.

ANGGARAN

Untuk pelaksanaan program dan kegiatan di 2010, KPK mendapatkan alokasi anggaran yang berasal dari APBN Rupiah Murni sebesar Rp431.065.431.000,00. Dalam penggunaannya, KPK berpegang pada asas manfaat dan ketaatan pada aturan yang

PENGUATAN KELEMBAGAAN

14

PNBP dari Penanganan Kasus TPK dan Gratifikasi Tahun 2010 (per 20 Desember 2010)

berlaku, tertib administrasi sehingga dapat dipertanggungjawabkan dengan baik. Predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan merupakan target KPK di setiap tahunnya dalam hal pengelolaan anggaran. Secara internal, terhadap setiap penggunaan dan pertanggungjawaban anggaran selalu dilakukan audit oleh Pengawas Internal secara berkala. KPK menetapkan aturan yang secara tegas akan memberikan sanksi kepada siapapun pegawai KPK yang melakukan penyimpangan dalam penggunaan anggaran. Terhadap alokasi anggaran yang diperoleh dari APBN, hingga 31 Desember 2010, telah direalisasikan sebesar Rp264.322.826.480,00 (61,32%) dari pagu.

Selain anggaran yang didapat dari APBN Rupiah Murni, KPK juga mendapatkan tambahan anggaran yang berasal dari hibah luar negeri sebesar Rp77.441.917.000,00, yakni GTZJerman (Rp6.508.150.000,00), World Bank (Rp2.549.590.000,00), DanidaDenmark (Rp2.896.775.000), Uni-Eropa (Rp11.743.000.000), MCC-USAID (Rp37.801.402.000), dan CIDA-Kanada (Rp15.943.000.000,00). Realisasi hibah per 31 Desember 2010 adalah Rp4.466.363.978,00 (5,77%). Sementara itu, realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) per 31 Desember 2010 adalah sebesar Rp192.430.877.162,00 yang berasal dari penanganan kasus tindak pidana korupsi sebesar Rp189.371.372.650,00 dan penanganan gratifikasi sebesar Rp3.059.504.512,00. Seluruh PNBP tersebut di atas telah disetor ke Rekening Kas Negara.

Jasa Giro Hasil Denda Ongkos Perkara Hasil Lelang Hasil Sitaan Uang Pengganti Gratifikasi

2,95 M 5,84 M 0.50 JT 2,90 M 137,39 M 40,28 M 3,05 M

REALISASI ANGGARAN RM MENURUT UNIT/ KEDEPUTIAN

285,90

189,90

Pagu RM Realisasi RM

91,99 45,76 6,39 Deputi INDA 2,52

24,85 10,45 Sekretariat Jenderal Deputi Penindakan

21,92 16,20 Deputi Pencegahan

Deputi PIPM

REALISASI ANGGARAN MENURUT JENIS BELANJA

219,47 157,95 131,93 Pagu RM Realisasi RM 79,66 39,01

67,36

Belanja Pegawai

Belanja Barang

Belanja Modal

PENGUATAN KELEMBAGAAN

PENGADAAN DAN PENGELOLAAN ASET

dan aset tetap yang tidak digunakan dalam operasi pemerintahan. Selain pengelolaan terhadap aset yang dimiliki, juga dilakukan pengelolaan terhadap barang rampasan atau sitaan yang diperoleh dari penanganan kasus. Terhadap lebih dari 35 item barang sitaan dan rampasan dengan nilai mencapai lebih dari 54 miliar rupiah. Pada 2010, terhadap sebagian dari barang rampasan tersebut, dilakukan proses pelelangan. Dari harga limit yang telah ditentukan sebesar Rp2,793,462,700, diperoleh harga jual sebesar Rp3,053,212,000, sehingga diperoleh nilai yang masuk ke kas negara sebesar Rp1,558,049,880.

Berkaitan dengan pengadaan barang dan jasa, dengan sistem single procurement, pada 2010 KPK telah melakukan penghematan terhadap harga perkiraan (HPS) sebesar Rp9.534.158.169,00. Penghematan tersebut berasal dari 571 paket pekerjaan yang berdasarkan HPS Rp87.418.758.200,00, diperoleh hasil kontrak berdasarkan negosiasi dengan vendor sebesar Rp77.884.600.031,00, baik dilakukan melalui sistem pelelangan umum, seleksi umum, pemilihan langsung, maupun penunjukan langsung yang pengumumannya dilakukan melalui e-announcement, website, dan papan pengumuman. Dari aspek internal, KPK terus mengembangkan sistem dan aplikasi pengadaaan barang dan jasa, di antaranya dengan membuat dan mengembangkan aplikasi pengadaan di bawah Rp50 juta. Dengan aplikasi ini, unit kerja yang melakukan pengadaan dapat mengajukan sekaligus memantau progres pengadaan secara online. Sementara untuk penyimpanan arsip pengadaan, dilakukan dengan menggunakan sistem arsip pengadaan melalui aplikasi ELO Document. Di samping itu, untuk menjamin pelaksanaan teknis pada pengadaan barang dan jasa, KPK juga membangun database vendor, data pendukung HPS, dan data pendukung pengadaan lainnya. Pada akhirnya, kegiatan sosialisasi kepada pegawai KPK berkaitan dengan pengadaan barang dan jasa terus dilakukan guna memberikan wawasan kepada seluruh pegawai mengenai prosedur pengadaan terbaru, di antaranya sosialisasi dan pendalaman Pepres 54. Setiap tahunnya, KPK melakukan pemaketan pekerjaan, baik yang dilaksanakan oleh KPK sendiri maupun bekerja sama dengan Kementerian Keuangan melalui e-Procurement. Adapun pelaksanaan e-Procurement kerja sama dengan Kemenkeu ini sebanyak 25 paket pekerjaan. Efisiensi anggaran tidak hanya dilakukan melalui pengadaan barang dan jasa, namun juga pada pengelolaan aset yang sistematis dan terpelihara dengan baik. Hingga saat ini, total aset yang dimiliki KPK mencapai lebih 15.476 unit senilai 240 miliar rupiah yang terdiri atas peralatan dan mesin, jaringan, aset tetap lainnya, aset tak berwujud lainnya,

pasi hal tersebut, saat ini telah dilakukan pengubahan tata ruang untuk menambah tempat kerja sehingga mengakibatkan kondisi kerja yang tidak ideal karena mengorbankan area sirkulasi. Alternatif lainnya dilakukan dengan menggunakan salah satu lantai di gedung Uppindo dan satu lantai di gedung Kementerian BUMN. Namun, kondisi tersebut tentulah tidak ideal. Selisih jarak menyebabkan terjadi beberapa inefisiensi dan sulitnya koordinasi. Kendala lain di samping sudah tidak memadainya rasio antara pegawai dan ruang kerja adalah kurangnya ruang penyimpanan arsip. Menumpuknya arsiparsip di lorong kerja pegawai menjadi pemandangan yang lazim di gedung KPK. Hal ini tentu saja menimbulkan risiko berupa hilang atau rusaknya arsip karena penyimpanan yang tidak sesuai standar. Selain itu, keterbatasan ruang pemeriksaan juga menjadi kendala tersendiri. Karena itulah, diperlukan tindakan antisipasi untuk menutupi kekurangankekurangan tersebut. Salah satunya adalah kemungkinan membangun gedung baru yang dapat menampung seluruh pegawai KPK beserta berbagai sarana lainnya untuk mendukung kerja. Saat ini, KPK telah memiliki hak atas penggunaan tanah seluas 8.294 m2.

15

Dukungan sarana dan prasarana sangatlah penting dalam menunjang pelaksanaan tugas dan fungsi KPK. Salah satu yang terpenting adalah gedung perkantoran. Hingga saat ini, KPK menempati gedung delapan lantai seluas 10.862 m2 yang berdiri di atas lahan seluas 5.000 m2 yang terletak di Jl. HR. Rasuna Said, Jakarta Selatan. Dalam pengelolaan gedung tersebut, KPK menerapkan building automation system (BAS) dan integrated security system (ISS). BAS merupakan suatu sistem yang berfungsi untuk mengamati, mengoperasikan, dan mengendalikan peralatan (equipment) yang terdapat dalam gedung KPK yang bekerja secara otomatis. Peralatan utama dari sistem unit pusat pengolah diletakkan pada ruangan pemantau utama sehingga semua aktivitas/operasional peralatan dapat dioperasikan, dimonitor, maupun dikontrol pada ruang tersebut. Peralatan yang diamati maupun dikendalikan antara lain peralatan sistem tata udara (air conditioning), sistem penerangan, lift, listrik, pompa, dan pengindera kebakaran. Sementara ISS yang terdapat di gedung KPK terdiri atas tiga komponen utama yang saling terintegrasi, yaitu closed circuit television (CCTV), access control, dan visitor management system (VMS). Pada awalnya, gedung tersebut direncanakan hanya untuk menampung 450 pegawai. Namun, saat ini jumlah pegawai KPK telah melampaui batas kapasitas gedung. Jika ditambah dengan pegawai outsource, maka ada sekitar 850 lebih pegawai. Untuk mengantisi-

SARANA GEDUNG

PEMANFAATAN TEKNOLOGI

Pada pengembangan teknologi informasi, kegiatan yang dilaksanakan meliputi pengembangan dan penyempurnaan Data Center KPK, dengan mengembangkan dan meningkatkan kapasitas data center sejalan dengan penambahan pegawai KPK dan penyimpanan data yang terus bertambah. Peningkatan kapasitas ini meliputi instalasi server baru dan penambahan fasilitas penyimpanan (storage) data. Dalam mendukung Indonesia Goes Open Source, pada tahun 2010 dilakukan uji coba perangkat server berbasis Open Source. Di samping itu dilakukan pula pengembangan dan penyempurnaan backbone jaringan TI gedung KPK dan gedung Uppindo dengan menambah kapasitas bandwidth. Selain pengembangan teknologi informasi, KPK juga melakukan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan

PENGUATAN KELEMBAGAAN

16

pengembangan sistem informasi. Kegiatan ini meliputi pengembangan aplikasi Anti Coruption Clearing House (ACCH) dan pengembangan aplikasi “Indonesia Memantau”. Melalui aplikasi ini, KPK mengajak masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam mengawasi pembangunan jalan nasional tahun 2010. Pemeliharaan dan pengembangan aplikasi yang sudah ada terus dilakukan untuk mendukung pelaksanaan tugas dan wewenang KPK, seperti aplikasi Performance Management Systems (PMS), Document Management System, aplikasi LHKPN, aplikasi Gratifikasi, aplikasi Human Resources Information System (HRIS), aplikasi KPK Whistle Blower’s System (KWS), dan aplikasi Case Management Systems. Pada 2010, pelaksanaan perekaman persidangan Tipikor baik yang dilaksanakan oleh KPK maupun bekerja sama dengan beberapa universitas di Indonesia masih dilakukan dengan menambah jumlah universitas.

Selama 2010, KPK aktif dalam kegiatan penyusunan perancangan peraturan perundangan yang terkait dengan kepentingan KPK, antara lain pembahasan Perppu Nomor 4 Tahun 2009 tentang Perubahan atas UU Nomor 30 Tahun 2002 yang akhirnya dicabut DPR, RPP tentang perubahan PP Nomor 63 Tahun 2005 tentang Sistem Manajemen Sumber Daya Manusia KPK, Rancangan Undang-Undang tentang Perampasan Aset Perkara Pidana, dan peraturan pemerintah yang terkait erat dengan tugas dan kewenangan KPK lainnya. Penyusunan dan harmonisasi regulasi internal yaitu Rancangan Peraturan KPK sebanyak 14 (empat belas) dan yang telah disahkan sebanyak 9 (sembilan) peraturan, serta penyusunan surat keputusan. Masih terkait dengan perancangan peraturan, juga dilakukan penyusunan perjanjian dan amandemen perjanjian, termasuk perjanjian pengadaan barang dan jasa, perjanjian luar negeri, penyusunan perjanjian selain pengadaan barang dan jasa, nota kesepahaman, antara lain penyusunan perjanjian kerja sama antara KPK dan delapan universitas tentang perekaman persidangan, perjanjian kerja sama dengan penyedia jasa telekomunikasi, dan penyusunan nota kesepahaman dengan LPSK, LKPP, PPATK, dan lembaga lainnya. Selain itu, untuk meningkatkan pemahaman ilmu hukum dengan narasumber yang pakar di bidangnya, KPK mengadakan pendidikan hukum berkelanjutan (CLE). CLE yang dilakukan di antaranya CLE Ketentuan Gratifikasi, Filsafat Hukum dalam Penegakan Hukum dan Pemberantasan Korupsi, CLE Kode Etik, dan CLE Keterbukaan Informasi Publik. Penyusunan legal opinion/legal advice dilakukan dalam rangka memberikan pendapat mengenai permasalahan hukum yang dihadapi berdasarkan permintaan pimpinan KPK/unit lain maupun hasil kajian-kajian hukum sendiri sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil kebijakan/tindakan

hukum selanjutnya. Di lain pihak, untuk kepentingan kajian eksaminasi internal, KPK membangun aplikasi Peta Tindak Pidana Korupsi, yang memuat database putusan-putusan perkara tindak pidana korupsi inkracht dari beberapa Pengadilan Negeri. Berkaitan dengan pelaksanaan litigasi dan bantuan hukum, KPK telah melaksanakan beberapa kegiatan yang bertujuan untuk menjaga hak dan kepentingan KPK dalam penyelesaian perkara-perkara yang dihadap terkait dengan tugas dan kewenangannya. Selama 2010 ini, dilakukan dengan bersidang di sembilan sidang praperadilan, empat sidang gugatan perdata, dan sengketa lainnya yang seluruhnya berhasil dimenangkan KPK. Dilakukan juga pendampingan dan bantuan hukum bagi pegawai KPK yang dipanggil untuk dimintai keterangan dalam pemeriksaan di kepolisian maupun sebagai saksi atau ahli terkait dalam suatu perkara dalam pelaksanaan tugas dan kewenangan KPK. Selain itu, untuk memenuhi ketentuan perundangan yang berlaku, KPK juga menfasilitasi penyediaan penasihat hukum bagi tersangka yang perkaranya ditangani oleh KPK dan tidak/belum memiliki penasihat hukum, dengan berkoordinasi dengan beberapa lembaga bantuan hukum perguruan tinggi. Dalam hal perlindungan saksi dan pelapor, telah disusun ketentuan prosedur penanganannya, termasuk juga telah ditandatanganinya MoU dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Di samping itu juga dilakukan koordinasi dengan Kementerian Hukum dan HAM dan melakukan persiapan data awal, serta penyiapan logo untuk membuat lencana antikorupsi yang akan diberikan kepada pelapor yang berhak mendapatkan penghargaan.

PENGUATAN ASPEK YURIDIS

Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, salah satu kebutuhan KPK sebagai lembaga negara yang independen dan bebas dari pengaruh manapun dibutuhkan penguatan aspek yuridis untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna terhadap upaya pemberantasan tindak pidana korupsi. Penguatan aspek yuridis secara garis besar dapat dibagi menjadi 3 (tiga), yaitu perancangan peraturan, litigasi dan bantuan hukum, serta perlindungan saksi dan pelapor. Yang dimaksud perancangan peraturan adalah penyusunan peraturan perundang-undangan dan eksternal (legislasi dan regulasi), peraturan internal (regulasi internal), perjanjian dan produk hukum lainnya, pelaksanaan harmonisasi peraturan internal, penyelenggaraan Continuing Legal Education (CLE), analisis putusan perkara tindak pidana korupsi, pemberian pendapat/kajian dan pertimbangan hukum kepada pimpinan KPK dan unit kerja terkait lainnya, dan pemberian informasi hukum kepada pihak lain dalam rangka penelitian.

PENGUATAN KELEMBAGAAN

17

PENGAWASAN INTERNAL

Bagi KPK, integritas merupakan hal yang luar biasa penting. Penerapan zero tolerance dalam pelaksanaan kode etik dikawal dengan pengawasan internal yang ketat. Hal ini untuk menjaga profesionalitas dan objektivitas pegawai dalam melaksanakan tugas mereka. Pemeriksaan bidang keuangan dan kinerja dilakukan dengan mereviu sistem pengendalian yang ada untuk memastikan ketaatan terhadap kebijakan, perencanaan, prosedur, dan tujuan organisasi. Pemeriksaan juga dilakukan untuk memastikan efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya. Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, dapat dilakukan pemberian konsultasi atas persetujuan pimpinan KPK sebagai alternatif saran dan solusi untuk perbaikan ataupun peningkatan efektivitas dan efisiensi kegiatan, personel, informasi, dan sarana/prasarana KPK. Untuk memastikan bahwa kode etik dan peraturan kepegawaian telah dipatuhi oleh pejabat, penasihat, dan pegawai KPK, pengawasan internal terbuka terhadap adanya keluhan, pengaduan, maupun masukan terkait dengan sikap dan tindak-tanduk pegawai KPK yang menyangkut dengan penerapan kode etik dan peraturan kepegawaian. Bahkan termasuk jika ada indikasi dugaan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh pegawai KPK. Terhadap pengaduan dan keluhan tersebut, akan dilakukan pemeriksaan bidang etika dan profesi, yang meliputi penelaahan pengaduan, pencarian, dan pengumpulan bukti-bukti yang terkait dengan penerapan kode etik dan peraturan kepegawaian KPK, serta penyelidikan atas dugaan terjadinya suatu tindak

pidana korupsi yang dilakukan pejabat, penasihat, dan pegawai KPK. Untuk mempermudah pengaduan, pengawasan internal juga telah dilengkapi dengan Whistleblower System, sarana pengaduan online yang sangat menjamin kerahasiaan pelapornya. Langkah lain yang dilakukan adalah manajemen risiko. Kegiatan ini dilakukan dengan koordinasi untuk identifikasi dan penilaian risiko potensial, yang berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan KPK. Manajemen risiko mulai dilaksanakan sejak 2008. Sampai saat ini, KPK telah memiliki, mengembangkan, dan menguji coba model pengelolaan risiko, yaitu risk self assesment. Monitoring dan koordinasi pengamanan, dilakukan untuk memantau pelaksanaan rekomendasi atas hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh pihak pengawasan internal KPK ataupun eksternal (Badan Pemeriksa Keuangan). Koordinasi pengamanan atas aset fisik, personel, informasi, maupun pelaksanaan kegiatan dirasakan cukup penting dan mendesak, di tengah kompleksitas penanganan perkara tindak pidana korupsi. KPK telah melakukan reviu terhadap tindak lanjut hasil audit laporan keuangan KPK tahun anggaran 2007 dan 2008. Program pemberantasan mafia hukum, merupakan salah satu program kerja dalam rangka penguatan organisasi. Program ini dimulai pada akhir 2009, termasuk di dalamnya adalah eksaminasi proses penanganan tindak pidana korupsi. Program pemberantasan mafia hukum ini terdiri atas pengawasan, pencegahan, pengawasan deteksi, pengawasan reaksi, dan pengawasan koreksi.

HUBUNGAN MASYARAKAT

Pada 2010, strategi hubungan masyarakat KPK mulai diarahkan untuk menjawab tantangan globalisasi. Hal ini ditunjukkan dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih dan modern sehingga mensyaratkan KPK lebih proaktif dan jeli membuat terobosan dalam menjawab tantangan zaman tersebut. Terlebih, pada 2010 ini KPK mengalami banyak dinamika yang harus dijawab dengan penanganan krisis lembaga dengan tetap mengedepankan profesionalisme kehumasan, transparansi, dan tidak tabu menerima kritik. Perkembangan teknologi yang semakin mutakhir menuntut KPK untuk dapat lebih dinamis dalam menyikapinya. Langkah-langkah konkret telah dilakukan agar penyampaian informasi dapat terdistribusi semakin luas dan sesuai sasaran. Pada 2010, KPK giat dalam pemanfaatan social media untuk merangkul semua elemen masyarakat yang semakin melek terhadap informasi dan teknologi, seperti pemanfaatan akun Facebook dan Twitter. Sejak kali pertama dibuat, perkembangan jumlah anggota pada kedua akun tersebut meningkat signifikan. Hingga 31 Desember 2010, follower Twitter @KPK_RI berjumlah 11.644. Sementara akun Facebook KPK hingga saat ini telah beranggotakan sejumlah 1.556. Jumlah tersebut terus meningkat dari waktu ke waktu seiring bertambahnya keinginan masyarakat untuk mendapatkan informasi yang cepat dan akurat. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan akses informasi tentang KPK secara lebih mudah, KPK meluncurkan website KPK

PENGUATAN KELEMBAGAAN

18

versi mobile dengan alamat: http:// m.kpk.go.id. Bekerja sama dengan GTZ, pada 2010 KPK juga meluncurkan Portal Anti Corruption Clearing House (ACCH) yang bisa diakses melalui http://acch.kpk.go.id. Portal ini dirancang sebagai sumber data, informasi, pengetahuan, dan best practices mengenai antikorupsi, baik yang berasal dari KPK maupun pihakpihak terkait dengan pemberantasan korupsi lainnya di Indonesia. Meskipun demikian, media konvensional juga masih menjadi salah satu alat komunikasi yang terus dipertahankan dan diperbaiki oleh KPK. Majalah Integrito yang diterbitkan secara rutin dua bulanan terus mengalami perubahan untuk menjawab kedinamisan perkembangan zaman. Begitu pula dengan pemanfaatan media elektronik, baik televisi maupun radio. Secara rutin maupun berkala, KPK hadir pada program-program pemberantasan korupsi yang berisi informasi seputar gambaran korupsi secara umum beserta dampak buruknya maupun tentang pelaksanaan tugas KPK.

IMPLEMENTASI PELAYANAN INFORMASI PUBLIK

Sejalan dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, KPK yang merupakan badan publik dituntut untuk membuka akses publik terhadap informasi publik. Hal ini dilakukan dalam rangka transparansi dan akuntabilitas KPK dalam menjalankan peran dan fungsinya serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam setiap proses terjadinya kebijakan publik di KPK. Pada 2010, KPK telah mengeluarkan Surat Keputusan pembentukan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) yang bertugas sebagai penanggung jawab pengelolaan dan diseminasi informasi kepada publik. Secara berkala, KPK melakukan koordinasi dan konsultasi dengan Komisi Informasi Pusat terkait pelaksanaan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 ini. Secara garis besar, implementasi pelayanan informasi publik KPK terdiri atas

dua bagian, yaitu pengelolaan informasi dan pelayanan informasi. Di sektor pengelolaan, hingga akhir tahun ini, terus dilakukan pembaruan klasifikasi dan kategorisasi informasi mengacu pada undang-undang yang berlaku. Pada sektor pelayanan, dilakukan dengan mengakomodasi kemudahan masyarakat dalam akses terhadap informasi publik dengan membuat dan mengembangkan sistem penyediaaan layanan informasi dan dokumentasi secara cepat, mudah, dan wajar. Hingga saat ini, KPK telah menyediakan berbagai jalur untuk pemberian informasi ini, yaitu melalui tatap muka langsung, via surat maupun email, dan telepon. Untuk informasi-informasi tertentu, seperti kasus-kasus yang telah ditangani, data statistik, maupun laporan kinerja secara keseluruhan; KPK telah menyediakannya secara langsung pada website KPK maupun pada portal ACCH.

19

PEMBERANTASAN KORUPSI DI 2010

PEMBERANTASAN KORUPSI DI 2010

20

PENEGAKAN HUKUM
Secara umum, dalam penanganan semua kasus, KPK sangat berhati-hati dan selalu mengedepankan profesionalitas dan proporsionalitas dengan mengacu pada perundangundangan yang berlaku.
Pada 2010, sejumlah perkara korupsi sudah ditangani KPK. Dengan kekuatan 191 orang di bidang penindakan, KPK melakukan penyelidikan terhadap 54 kasus yang terdiri atas dua kasus sisa tahun 2009 dan 52 kasus baru. Penyidikan sebanyak 62 perkara, yang terdiri atas 22 perkara sisa tahun 2009 dan 40 perkara baru. Penuntutan sebanyak 55 perkara, yang terdiri atas 23 perkara sisa tahun 2009 dan 32 perkara. Dan, melakukan eksekusi terhadap 38 putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap. Berdasarkan jenis tindak pidana korupsinya, penyuapan menduduki urutan pertama dari total kasus yang ditangani KPK. Diikuti oleh tindak pidana korupsi terkait pengadaan barang dan jasa, kemudian penyalahgunaan anggaran, baik di pusat maupun daerah. Perkara penyuapan yang ditangani KPK pada 2010 di antaranya adalah perkara yang terkait dengan penerimaan cek pelawat dalam pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, perkara terkait dugaan penyuapan oknum hakim PTTUN, pemberian uang untuk pengurangan pajak yang harus dibayarkan, dan pemberian uang untuk memengaruhi hasil pemeriksaan penggunaan anggaran. Di sektor pengadaan barang dan jasa, terdapat beberapa kasus yang menjadi perhatian serius KPK, salah satunya adalah pengadaan infrastruktur jalan. KPK concern pada kasus ini karena jalan merupakan urat nadi distribusi negara yang dapat menumbuhkan perekonomian dan memperlancar arus barang dan orang, sehingga tingkat kehidupan masyarakat bisa meningkat. Salah satu kasus yang sudah disidik KPK adalah kasus Tanjung Api-Api. Pada sektor pengelolaan sumber daya alam, salah satu penindakan yang dilakukan KPK terkait dengan pengeluaran izin usaha penanaman hutan industri yang dilakukan dengan penyalahgunaan kewenangan. Yakni dengan pengeluaran izin untuk menebang hutan alam, padahal yang seharusnya boleh ditebang adalah hutan tanaman. Sehingga dari situ adanya satu kerugian yang dtimbulkan oleh penyalahgunaan kewenangan. Akibat perbuatan ini, negara pun mengalami kerugian materi. Belum lagi dampak lingkungan yang mungkin terjadi. KPK juga mulai menyentuh lembaga pengawasan dan pemeriksaan. Penindakan di sektor ini untuk mencegah terjadinya pertentangan kepentingan yang

PEMBERANTASAN KORUPSI DI 2010

21

dapat membuat hasil pengawasan dan pemeriksaan menjadi tidak objektif. Hal ini penting karena akan dapat menyebabkan arah suatu perencanaan menjadi melenceng dari tujuan semula. Oleh karena itu, orang-orang yang melakukan pengawasan dan pemeriksaan ini perlu disentuh, sehingga ke depan para pengawas ini akan melaksanakan tugas dan kewenangannya dengan sebaik-baiknya. Selain yang sudah disebutkan di atas, pada tahun ini, salah satu kasus yang mendapatkan banyak sorotan dari publik dan media massa adalah proses penanganan kasus terkait Bank Century. Hingga saat ini, kasus tersebut masih dalam tahap penyelidikan. Dalam penanganannya, KPK secara berkala berkoordinasi dengan penegak hukum lain, termasuk secara bersama-sama melakukan ekspose di hadapan tim pengawas DPR. Secara umum, dalam penanganan semua kasus, KPK sangat berhati-hati dan selalu mengedepankan profesionalitas dan proporsionalitas dengan mengacu pada perundang-undangan yang berlaku. Kelengkapan bukti menjadi satu-satunya pertimbangan untuk menaikan suatu kasus. Agar penanganan kasus di KPK berjalan sistematis dan terarah, sejak proses penyelidikan, tim penyidik dan jaksa penuntut umum sudah ikut terlibat. Melalui keterlibatan ini, kegiatan pengumpulan keterangan, maupun alat bukti atau bukti-bukti akan lebih terstruktur sehingga pemenuhan unsurunsur pasal akan kelihatan jelas. Sikap kehati-hatian ini terkadang berpotensi menimbulkan dugaan di masyarakat. Jangan-jangan lamanya penanganan suatu perkara disebabkan adanya

intervensi dari pihak luar. Menyangkut independensi, KPK selalu mencoba mawas terhadap segala bentuk intervensi. Salah satunya dilakukan dengan kebijakan untuk tidak menerima dana hibah dari donor dalam kegiatan penindakan. Sejak awal KPK berdiri, tidak ada donor untuk penindakan. Khusus untuk kegiatan penindakan, KPK menggunakan rupiah murni. Langkah ini sebagai upaya untuk menjaga agar tidak timbul potensi intervensi dan conflict of interest.

PERUBAHAN STRATEGI

Di tahun ini, paling tidak, terdapat tiga hal yang coba dioptimalkan dan mendapat perhatian khusus KPK dalam penanganan kasus, yaitu pelacakan aset, pemanfaatan dan pengembangan teknologi forensik, dan pengupayaan yurisprudensi. Berkaca pada pengalaman selama ini, proses penyidikan dan penuntutan perkara korupsi nyaris selalu lemah dalam pengembalian aset. Banyak perkara korupsi yang disidangkan ternyata tidak ada barang bernilai yang bisa sita untuk mengganti kerugian negara yang dikorupsi. Minimnya pengembalian aset ini salah satunya disebabkan oleh sulitnya penanganan di lapangan. Karena asset recovery ini ibarat main kejarkejaran dengan pelaku. Siapa cepat, dia yang menang. Karena itulah, saat ini KPK sangat concern mengupayakan pengembalian harta kekayaan negara. Mengapa? Karena harta kekayaan milik negara yang harusnya bisa dinikmati oleh seluruh rakyat, banyak dirampok dan dibawa kabur oleh para koruptor. Padahal, harta ini dapat digunakan untuk memperbaiki taraf hidup rakyat. Salah satu upaya yang kini tengah intensif dilakukan oleh KPK adalah mencari, mendapatkan, dan mengembalikan harta negara yang dikorupsi oleh para koruptor.

Cara yang digunakan KPK adalah melalui program asset tracing, yakni upaya melacak harta hasil korupsi yang dibawa ke luar daerah bahkan ke luar negeri. Salah satu contoh pada tahapan operasional adalah dengan melibatkan tim asset tracing dalam gelar perkara, termasuk saat pengeledahan. Jika pada saat itu tim penyidik mencari buktibukti perbuatan, maka tim asset tracing mencari bukti aset-aset yang dimiliki seorang tersangka. Hasilnya? Ternyata cukup efektif, dalam arti barang yang berhasil disita dalam kegiatan penyidikan cukup banyak. Teknik penanganan perkara model ini belum begitu dijalankan di tempat lain. KPK sudah mencobanya dan ternyata hasilnya bagus. Untuk memuluskan kegiatan asset tracing ini, KPK telah menjalin kerja sama dengan berbagai negara lain. Sejauh ini, negara asing tersebut terbuka untuk membantu dalam hal pencarian aset, karena mereka juga memahami bahwa kejahatan korupsi adalah kejahatan transnasional. Hal lain yang terus dikembangkan adalah penerapan teknik IT Forensic. Teknik ini salah satu hal spesial yang biasa digunakan oleh penyidik KPK saat ini. Di era komputerisasi, teknik ini sangat membantu proses penyidikan karena mampu melacak dan mendapatkan bukti-bukti yang tercecer di komputer. Terakhir adalah tentang yurisprudensi. KPK terus mengupayakan untuk mendapatkan rujukan putusan pengadilan yang dapat dijadikan dalil untuk persidangan sejenis. Hingga saat ini, paling tidak, ada beberapa yurisprudensi misalnya masalah uang pengganti yang berdasarkan Pasal 18 UU 31 tahun 1999 bahwa terdakwa dapat dikenakan pidana tambahan pembayaran uang pengganti sebesar-besarnya sejumlah yang dia nikmati dari hasil tindak pidana korupsi.

PEMBERANTASAN KORUPSI DI 2010

22

KOORDINASI DAN SUPERVISI
Sebagai trigger mechanism, KPK diharapkan dapat mendorong optimalisasi pelaksanaan tugas pemberantasan korupsi yang diemban oleh lembaga-lembaga yang sudah ada sebelumnya.
Untuk pelaksanaan hal tersebut, undangundang memberikan tugas koordinasi dan supervisi. Di bidang penindakan, hal rutin yang dilakukan dalam koordinasi dengan penegak hukum lain adalah penerimaan pelaporan surat perintah dimulainya penyidikan (SPDP). Hingga akhir tahun ini, KPK telah menerima 1.372 SPDP, yang terdiri atas 1.176 SPDP yang berasal dari kejaksaan dan 196 berasal dari kepolisian. Selain penerimaan pelaporan SPDP, koordinasi lain antarlembaga penegak hukum juga terus ditingkatkan. Selama 2010, tercatat beberapa kali KPK melakukan koordinasi dalam penanganan kasus bersama. Contohnya dalam penanganan kasus Bank Century dan mafia pajak. Dalam berkoordinasi, saling tukar informasi serta diskusi konstruktif pun dilakukan. Juga kerja sama dalam hal perburuan aset-aset hasil korupsi. Agar koordinasi dapat berjalan lebih optimal, dilakukan pembahasan nota kerja sama antara KPK, kepolisian, dan kejaksaan dengan difasilitasi oleh Kemenkopolhukam. Sedangkan, fungsi supervisi dilakukan dengan menerima permintaan pengembangan penyidikan, gelar perkara, analisis bersama, maupun pelimpahan perkara. Dalam kurun waktu setahun ini, KPK telah menjawab 190 permintaan pengembangan penyidikan yang terdiri atas 64 kasus yang ditangani kepolisian dan 126 kasus yang ditangani kejaksaan. Sebanyak 21 gelar perkara dan 25 analisis dilakukan dalam fungsi supervisi selama 2010. KPK juga melimpahkan 15 perkara korupsi ke kepolisian dan 14 perkara ke kejaksaan. Pelimpahan ini dilakukan dengan berbagai alasan, di antaranya adalah perkara tersebut bukan menjadi kewenangan KPK atau karena perkara tersebut telah ditangani oleh penegak hukum lain. Untuk 2010, KPK tidak melakukan pengambilalihan kasus. Terlepas dari koordinasi dan supervisi dalam hal penegakan hukum, koordinasi dan supervisi juga dilakukan dalam rangka penyelamatan potensi kerugian negara. Dalam hal ini, KPK melakukannya dengan kementerian terkait dan beberapa badan usaha milik negara (BUMN) maupun badan usaha milik daerah (BUMD). Yang menjadi fokus utama dalam hal ini adalah upaya penertiban barang dan aset milik negara. Berdasarkan pemantauan, penyalahgunaan aset negara merupakan persoalan yang cukup

PEMBERANTASAN KORUPSI DI 2010

23

pelik dan juga berpotensi merugikan keuangan negara dalam jumlah yang sangat besar. Sejak dua tahun lalu, KPK telah membentuk tim untuk menertibkan seluruh BMN di seluruh Indonesia. Langkah yang dilakukan adalah dengan mendorong instansi/BUMN/BUMD melakukan pencatatan secara lebih baik. Pencatatan ini penting, karena berbagai kasus yang terjadi itu, memang bermula dari lemahnya pencatatan sehingga mudah disalahgunakan. Hingga saat ini, KPK telah berhasil menyelamatkan potensi kerugian negara tak kurang dari 2,5 triliun rupiah. Sedangkan untuk tahun ini, nilai potensi kerugian negara yang berhasil diselamatkan mencapai lebih dari 500 miliar rupiah. Dalam mencegah korupsi di pusat dan daerah di sektor pencegahan, KPK terus melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah untuk mewujudkan Indonesia bebas dari korupsi. Hal ini sejalan dengan tugas koordinasi dan supervisi yang memberikan wewenang KPK dalam melakukan pengawasan, penelitian atau penelaahan terhadap instansi yang menjalankan tugas dan wewenangnya yang berkaitan dengan pemberantasan TPK dan instansi yang melaksanakan pelayanan publik. KPK berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sebagai otoritas yang berwenang untuk terwujudnya identitas tunggal bagi setiap penduduk Indonesia. Hambatan utama dalam mewujudkan identitas tunggal kependudukan ini adalah belum adanya

grand design Nomor Induk Kependudukan (NIK) tunggal pada awal tahun dari Kemendagri, dan grand design yang kemudian disusun oleh Kemendagri masih menimbulkan beberapa pertanyaan. Pada 2010 hingga 2013, Kemendagri telah membuat sejumlah target, baik yang berhubungan dengan pemutakhiran data kependudukan di seluruh kabupaten/kota di Indonesia, penerbitan NIK maupun penerapan e-KTP. Namun, berkaitan dengan NIK tunggal, sampai dengan akhir 2010, kenyataan yang ada di daerah menunjukkan realitas bahwa masih terlihat ketidaksiapan, baik dari sisi perencanaan, kebijakan, teknologi informasi, sumber daya manusia, maupun infrastruktur. Terhadap kondisi tersebut, saran yang direkomendasikan KPK adalah perlunya perbaikan grand design yang telah disusun secara komprehensif dan menyeluruh; mengevaluasi dan menindaklanjuti temuan hasil audit BPKP terhadap program pengembangan SIAK Tahun Anggaran 2003-2009; melakukan reviu ulang terhadap pemilihan teknologi biometrik yang tepat, penerapan metodologi yang benar, dan perencanaan implementasi yang komprehensif agar pelaksanaan e-KTP dapat menjamin ketunggalan identitas seseorang. Saat ini, seluruh penduduk Indonesia telah memiliki NIK walaupun belum tunggal. Oleh sebab itu, penerapan biometrik sidik jari menjadi sangat penting untuk menjamin ketunggalan identitas tersebut. Di tingkat daerah, KPK terus melakukan monitoring dan evaluasi terhadap tata kelola pemerintahan yang baik,

berdasarkan studi mengenai pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik dengan cara memotret secara langsung pengalaman empirik yang dilakukan oleh Pemkab Jembrana, Pemkot Denpasar, Pemkot Yogyakarta, Pemkot Pekanbaru, dan Pemkot Gorontalo. Laporan hasil monitoring dan evaluasi implementasi tata kelola pemerintahan yang baik, yang berisi saran perbaikan dari KPK, telah dikirimkan ke lima pemkot tersebut untuk ditindaklanjuti melalui pembuatan action plan yang nantinya akan diverifikasi dan dipantau implementasinya. Lainnya adalah pelaksanaan program The Support To Indonesia’s Islands Of Integrity Program for Sulawesi (SIPS). Yang bertujuan untuk meningkatkan good governance pemerintah daerah (pemda) dalam rangka upaya pencegahan korupsi di tingkat pemda di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara, berfokus terutama pada perbaikan layanan publik, layanan pengadaan, dan manajemen kinerja pemerintah daerah. Pada Agustus 2010, Canadian International Development Agency (CIDA) dan KPK telah melakukan Inception Mission di kedua provinsi tersebut dalam rangka diseminasi dan persiapan keikutsertaan daerah dalam program SIPS. Program SIPS ini dibiayai oleh hibah dari Pemerintah Kanada melalui CIDA dengan nilai sebesar 11 juta dolar Kanada, dengan kurun waktu selama 5 tahun sebagaimana tertuang dalam memorandum of understanding (MoU) antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Kanada yang telah ditandatangani pada 14 Mei 2009.

PEMBERANTASAN KORUPSI DI 2010

24

KERJA SAMA PEMBERANTASAN KORUPSI
Pemberantasan korupsi memerlukan upaya sistematis, sinergis, dan konsisten. Masih adanya hambatan-hambatan dalam menyuarakan antikorupsi di Indonesia dan penanganannya yang cukup kompleks memerlukan pembangunan jaringan kerja sama yang luas untuk meningkatkan efektivitas pemberantasan korupsi.
Jaringan kerja sama menghubungkan relasi antar individu, lembaga, organisasi, dan negara. Pada akhirnya, jaringan tersebut akan memperluas semangat dan menciptakan kekuatan baru dalam melawan korupsi. Secara strategis, pembangunan jaringan kerja sama adalah pembangunan berbasis eksternal untuk membangun gerakan moral untuk tidak korupsi dan bersama-sama melawannya. Dalam rangka mewujudkan hal tersebut, KPK terus-menerus membina kerja sama dengan berbagai lembaga dan instansi, baik di tingkat daerah, nasional, maupun internasional. adalah database tentang kejahatan transnasional yang terjadi dan/atau melibatkan negara-negara di kawasan ASEAN, termasuk kejahatan korupsi, seseorang baik yang sudah ditangkap maupun yang masih dicari, sindikat, dan lainnya. Dengan adanya kerja sama ini, diharapkan akan lebih mengeratkan dan mengefektifkan hal-hal yang berkaitan dengan pelacakan aset maupun pelacakan orang. Sementara itu, kerja sama strategis dengan LKPP yang ditandatangani bertepatan dengan Hari Antikorupsi Internasional pada 9 Desember 2010, bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi kedua lembaga dalam menjalankan tugas dan kewenangannya dalam pemberantasan korupsi melalui kerja sama dan koordinasi. Dalam hal peningkatan kapasitas kelembagaan, KPK dan LKPP saling memberikan bantuan dalam penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan yang berkaitan dengan pengadaan barang dan jasa, termasuk menjadi narasumber. Sedangkan dalam bidang operasional, KPK dan LKPP saling memberikan data dan informasi terkait pelaksanaan tugas dan kewenangan masing-masing, melaksanakan sosialisasi/kampanye, dan mendukung pelaksanaan proses serta

KERJA SAMA NASIONAL DAN DAERAH
Pada 2010, paling tidak, terdapat dua kerja sama strategis yang dilakukan oleh KPK, yakni penandatanganan MoU antara KPK dan Divisi Internasional Polri tentang pemanfaatan jaringan komunikasi Interpol I-24/7 dan jaringan database ASEANAPOL e-ADS (Electronic ASEANAPOL Database System); dan kerja sama dengan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa (LKPP). Jaringan komunikasi Interpol I-24/7 yang juga disebut Interpol Global Communication System (IGCS) merupakan jaringan komunikasi internasional yang cepat, tepat, dan aman yang dibangun ICPO-Interpol. Sedangkan e-ADS

PEMBERANTASAN KORUPSI DI 2010

pengembangan sistem pengadaan barang dan jasa yang bebas dari KKN. Selain itu, KPK dan LKPP juga akan mendorong pengadaan barang/jasa pemerintah secara elektronik di setiap lembaga/kementerian. Kedua lembaga ini juga melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk mendukung efektivitas implementasi sistem pengadaan barang/jasa pemerintah. Selain dengan dua lembaga tersebut, pengembangan kerja sama juga dilakukan dengan pembahasan pengembangan jaringan kerja sama dengan kejaksaan dan kepolisian yang difasilitasi oleh Menko Polhukam; dengan LPSK tentang perlindungan saksi; dengan PPATK tentang pemanfaatan secure online communication untuk mendukung pelaksanaan tugas dan kewenangan tiap-tiap lembaga; dengan Universitas Parahyangan, Universitas Diponegoro, dan Universitas Mulawarman dalam bidang perekaman persidangan di pengadilan negeri setempat; dan dengan Biro Pusat Statistik dalam rangka mendukung upaya pemberantasan tindak pidana korupsi.

aktif dalam 30 forum multilateral antikorupsi di tingkat global. Salah satu prestasi yang membanggakan adalah dipercayanya KPK sebagai penyelenggara G20 Working Group on Anti-corruption yang kali pertamanya digelar di Indonesia pada 27-28 September 2010. KPK mewakili Indonesia mengambil inisiatif bersama Perancis untuk menjadi ketua bersama dalam G-20 Anti Corruption Working Group. Pertemuan ini menjadi tonggak sejarah bagi anggota-anggota G-20 untuk berkomitmen lebih lanjut sekaligus memberikan teladan dalam mengimplementasikan konvensi-konvensi internasional, seperti UNCAC, OECD Convention on Fighting Bribery in International Business Transaction, FATF, dan sebagainya. Pimpinan KPK sebagai co-chair bersama Perancis memfasilitasi keputusankeputusan penting yang meliputi kerja sama pemberantasan korupsi lintas negara melalui MLA, terciptanya rezim antipencucian uang, mencegah koruptor masuk dalam sistem keuangan dunia, melindungi saksi dan pelapor, mengembalikan aset korupsi, pencegahan imigrasi bagi koruptor, dan memperkuat lembaga antikorupsi yang independen dan profesional. Selain itu, KPK juga dipercaya sebagai focal point pada UNCAC Review yang berlangsung dari Oktober sampai November 2010. Selain menyelenggarakan kegiatan workshop yang menghadirkan pembicara internasional, termasuk kegiatan PBB dalam lingkup kegiatan UNCAC yang dikoordinasi oleh UNODC, KPK juga menangani bantuan internasional, baik secara agensi dengan agensi maupun melalui MLA. Sepanjang 2010, KPK melakukan kegiatan implementasi kerja sama internasional sebanyak 95 kegiatan. Hingga akhir Desember 2010, kerja sama internasional telah memfasilitasi lebih dari 32 permintaan bantuan internasional, baik di dalam maupun ke luar melalui mekanisme MLA dan kerja sama informal lainnya. Bantuan internasional ini diperuntukkan untuk memperkuat fungsi penindakan yang dilakukan KPK. Bantuan internasional yang dilakukan dalam rangka mendukung pengungkapan kasus-kasus korupsi di Indonesia dan beberapa kasus korupsi di luar negeri, dilakukan melalui kerja sama dengan FBI AS, CPIB Singapura, MACC Malaysia, ACB Brunei Darussalam, ICAC Hong Kong, SFO Inggris, kepolisian Jepang, AFP Australia, dan lain-lain.

KONFERENSI NASIONAL PEMBERANTASAN KORUPSI (KNPK) 2010. Pada 1 Desember 2010, KPK untuk kali kelima menyelenggarakan Konferensi Nasional Pemberantasan Korupsi (KNPK) yang bertema “Upaya Pemberantasan Korupsi melalui Mekanisme Whistleblower’s System”. Konferensi ini dibuka oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhyono, dan dihadiri sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu II serta pimpinan lembaga pemerintahan, selain pimpinan maupun perwakilan dari segenap lembaga-lembaga negara yang akan melaporkan hasil kegiatan pemberantasan korupsi di instansi masingmasing. KNPK merupakan bagian dari strategi pre-emtif, karena melalui kegiatan ini KPK bisa memberi ruang kepada masyarakat untuk mengetahui dan mendengar langsung progres pemberantasan korupsi di tiap-tiap instansi/lembaga. Di samping itu, melalui forum ini, kementerian/ lembaga pemerintah bisa menyampaikan laporan kegiatannya kepada masyarakat secara transparan. Pelaksanaan kegiatan ini sesuai dengan fungsi KPK sebagai trigger mechanism, yang berupaya mendorong kementerian/lembaga untuk mendukung pemberantasan korupsi. Whistleblowers system menjadi tema pilihan pada KNPK 2010 karena sistem ini harus dibangun sebagai bagian dari mekanisme internal yang merupakan salah satu pilar terpenting dalam upaya pencegahan tindak pidana korupsi. Sistem ini juga memberikan kesempatan kepada tiap-tiap personal untuk terlibat dengan saling menjaga integritas dalam melaksanakan tugasnya. Dalam KNPK tersebut, Presiden RI menggarisbawahi tindakan yang perlu dilakukan dalam upaya dalam pencegahan dan pemberantasan korupsi, yaitu memastikan sistem remunerasi dan pengawasan internal, termasuk whistleblowers system berjalan dengan baik; membuka perhatian kepada lembaga pengelola aset dan penerimaan negara, termasuk anggaran pengadaan barang dan jasa (PBJ); mencegah dan memberantas tindak pidana korupsi di lingkungan aparat penegak hukum; dan memberikan perhatian pada korupsi di pelayanan publik.

25

KERJA SAMA INTERNASIONAL

Sepanjang 2010, berbagai kegiatan internasional dilakukan KPK untuk memperkuat perannya di dunia. Kerja sama secara efektif dan intensif dengan mitra di luar negeri, baik yang dilaksanakan melalui kerja sama bilateral maupun multilateral berupa MoU, perjanjian internasional, konvensi multilateral, kehadiran dalam forum-forum internasional, capacity building, advokasi, koalisi, maupun upaya penggalangan donor, terus digiatkan untuk memperluas jaringan dalam mendukung bidang pencegahan. Sedangkan untuk mendukung kegiatan penindakan, KPK terus meningkatkan kerja sama bantuan hukum timbal balik antarnegara (mutual legal assistanceMLA), ekstradisi (extradition), dan upaya pencarian dan pengembalian aset hasil kejahatan korupsi di luar negeri (asset tracing and recovery) yang berguna untuk mengembalikan kerugian negara sebagaimana amanat UNCAC. Kerja sama bilateral yang dilakukan oleh KPK sepanjang tahun 2010 antara lain penandatanganan MoU dengan Serious Fraud Office (SFO) Inggris dan Government Inspection Authority, Laos. Sementara itu, pada kerja sama multilateral yang dikembangkan KPK pada 2010, terdapat peningkatan yang sangat berarti. Sampai dengan saat ini KPK

PEMBERANTASAN KORUPSI DI 2010

26

MENDORONG TRANSPARANSI ABDI NEGARA
200,000 150,000
102,229 144,557 116,669 65,448 84,813 76,116 55,039 110,892 95,359 73,474 128,030 118,340 104,329 93,570 114,570

100,000
52,137

50,000 0
29,946

42,239

2005

2006
Wajib LHKPN *)

2007

2008

2009

2010

Melaporkan LHKPN (kumulatif)

Pengumuman LHKPN (kumulatif)

*) Jumlah Wajib LHKPN akan berfluktuasi tergantung pada keaktifan pelaporan data wajib LHKPN dari instansi *) Data merupakan kumulatif dengan kategori semua PN (aktif dan nonaktif)

Transparansi merupakan salah satu upaya pencegahan yang cukup efektif, termasuk dalam hal kekayaan yang dimiliki seorang pejabat dalam bentuk Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN).

Sesuai tugasnya, KPK mendorong dan menyadarkan penyelenggara negara/ wajib LHKPN, agar bersedia melaporkan harta kekayaannya. Untuk itulah, maka berbagai upaya dilakukan KPK pada 2010. Antara lain, sosialisasi mengenai aturan main LHKPN sesuai undangundang Dalam berbagai sosialisasi, KPK menginformasikan bahwa penyelenggara negara atau penegak hukum tidak perlu khawatir laporan yang mereka berikan kepada KPK disalahgunakan. Di sisi lain, KPK juga mengingatkan bahwa melaporkan harta kekayaan, adalah wajib bagi penyelenggara negara. Tidak hanya itu. Dalam upaya peningkatan kepatuhan dan pengelolaan LHKPN, pada 2010 KPK juga telah menambah tiga kerja sama, yakni dengan Badan Meteorologi

Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Badan Search And Rescue Nasional (Basarnas), dan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN). Terkait banyaknya keluhan bahwa pengisian LHKPN cukup rumit, maka KPK juga membuat workshop dan klinik LHKPN. Melalui kegiatan tersebut, KPK memberikan bimbingan mengenai teknis pelaporan harta kekayaan tersebut. Selain itu, guna meningkatkan kesadaran penyelenggara negara/wajib LHKPN, KPK juga memberikan penghargaan kepada penyelenggara negara/ wajib LHKPN yang rajin meng-update laporannya. Untuk 2010 sendiri, tingkat kepatuhan mencapai 82% dari 144 ribu penyeleng-

PEMBERANTASAN KORUPSI DI 2010

gara negara/wajib LHKPN atau sekitar 118 ribu penyelenggara negara. Angka tersebut sudah termasuk baik dan menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, jika dibandingkan dengan pelaporan yang sama pada 2006 yang hanya 60%, jelas bahwa tingkat pelaporan pada 2010 mengalami pelonjakan yang cukup signifikan. Sebagai gambaran, Amerika Serikat saja, tingkat pelaporan kekayaan penyelenggara negaranya tidak mencapai angka 100%. Terkait pelaporan yang diterima, tentu KPK tidak menerima laporan begitu saja. Setelah menerima, KPK melakukan proses telaah, pemeriksaan, dan kajian, sebelum mengumumkannya melalui Tambahan Berita Negara (TBN). Tujuannya, untuk mengecek keabsahan dari laporan tersebut. Prinsipnya, KPK harus meyakini bahwa laporan yang diberikan itu memang benar. Setelah laporan tersebut diverifikasi, kemudian dideklarasikan agar publik mengetahui. Deklarasi tersebut melibatkan gubernur kepala daerah tempat penyelenggara negara tersebut berada dan menteri yang memimpin kementerian terkait. Kehadiran gubernur dan menteri ini sangat penting, agar masyarakat bisa melihat dan menilai para pimpinan mereka.

jika tingkat pelaporannya sama sekali tak ada, tentu ada faktor lain yang membuat jumlah pelaporan tersebut menjadi turun. Bisa jadi, ini karena kebingungan para pejabat. Mereka bingung, ke mana harus melaporkan gratifikasi yang diterima. Selain itu, tentu saja faktor psikologis jika harus berhubungan dengan KPK. Ada rasa enggan dari penyelenggara dan pejabat, jika harus melaporkan gratifikasi yang diterima ke KPK. Guna mengatasi persoalan itulah, maka pada 2010, KPK membentuk Pusat Pengendalian Gratifikasi (PPG). Dengan adanya PPG yang dibangun di setiap instansi, diharapkan penyelenggara negara, baik di pusat maupun daerah, tak lagi takut jika melaporkan gratifikasi yang mereka terima. Dengan adanya program tersebut, maka jika ada pejabat negara yang menerima gratifikasi, yang bersangkutan akan melaporkan ke Unit Pengendalian Gratifikasi (UPG) di institusi tersebut. UPG inilah yang secara periodik akan melaporkan gratifikasi di unit tersebut kepada KPK. Dari mekanisme tersebut, jelas bahwa pembentukan UPG adalah untuk mempermudah pelaporan gratifikasi. Selain itu, karena secara psikologis penyelenggara juga lebih konfinien jika melaporkan ke UPG dibandingkan ke KPK. Apalagi jika menyangkut jarak yang jauh, misalnya di Papua, maka unit seperti ini sangat diperlukan. Dengan adanya PPG, diharapkan kendala yang selama ini terjadi saat pelaporan gratifikasi, seperti kebingungan dan keengganan, bisa dieliminasi atau dihilangkan sama sekali. Hanya saja, pusat pengendalian memang hanya menerima laporan saja, sedangkan pemeriksaan tetap dilakukan oleh KPK. Untuk PPG ini, KPK menjadikan Pertamina sebagai pilot project. Ditunjuknya Pertamina, karena didasarkan pada kesiapan perangkat, infrastruktur, dan sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki. Juga karena kompleksitas dan skala bisnis Pertamina cukup besar. Selain itu, Pertamina dinilai memiliki komitmen yang tinggi terhadap gratifikasi. Baru beberapa bulan berjalan, PPG di Pertamina sudah menunjukkan hasil. Tercatat hingga akhir tahun ini, ada 266 laporan gratifikasi yang masuk.

KPK juga menganalisis faktor lain yang menyebabkan rendahnya tingkat pelaporan gratifikasi tersebut, yaitu kemungkinan diakibatkan ketidakjelasan aturan pelaporan gratifikasi itu sendiri. Salah satunya, belum ada batasan nilai harta gratifikasi yang pasti. Selain itu, mungkin juga karena masih rancunya pengertian antara gratifikasi dan suap. Untuk mengatasinya, KPK berencana membuat aturan dan batasan yang jelas soal gratifikasi. Aturan tersebut, nantinya akan dibuat secara tegas dan spesifik, khususnya soal sanksi. Hal ini penting, karena gratifikasi yang tidak dilaporkan bisa memicu kepada tindak pidana korupsi. Faktanya, tidak sedikit kasus korupsi yang ditangani KPK, bersumber dari gratifikasi.

27

Status Laporan Gratifikasi

MENGGAGAS PUSAT PENGENDALIAN GRATIFIKASI

Sepanjang 2010, laporan gratifikasi yang masuk ke KPK sejumlah 394 laporan. Dari jumlah tersebut, gratifikasi yang ditetapkan menjadi milik negara senilai 3 miliar rupiah dalam bentuk uang dan lebih dari 190 juta rupiah dalam bentuk barang. Sedangkan yang ditetapkan menjadi milik penerima sekitar 14 miliar rupiah lebih dalam bentuk uang dan 1,7 miliar dalam bentuk barang. Namun, yang menjadi perhatian utama KPK di tahun 2010 bukanlah nominalnya, melainkan minimnya pelaporan gratifikasi yang masuk. Angka pelaporan menurun, jauh dibandingkan tahuntahun sebelumnya. Jika membandingkan dengan pelaporan gratifikasi di internal KPK dan data gratifikasi di luar sangat mencolok. Di KPK sekitar 8-10% laporan per 100 orang. Sedangkan di luar ada 10/10.000. Di satu sisi, bisa jadi penurunan angka karena memang semakin banyak penyelenggara negara yang berani menolak gratifikasi. Namun, di sisi berbeda,

Milik Penerima Milik Negara Sebagian Milik Negara Masih dalam Proses Dikirimi Surat

48 95 53 135 63

PEMBERANTASAN KORUPSI DI 2010

28

MENUJU SISTEM YANG LEBIH BAIK
Salah satu unsur terpenting dalam pencegahan adalah terciptanya suatu sistem administrasi dan tata kelola pemerintahan yang bersih dan baik. Sehingga menutup lubang-lubang yang berpotensi menimbulkan korupsi. Sejumlah penelitian, pengembangan, dan kajian dilakukan KPK dalam upaya perbaikan sistem tersebut.
Sejak beberapa tahun yang lalu, KPK secara rutin melakukan survei integritas yang bertujuan untuk mengukur tingkat integritas pada layanan publik yang menjadi target penelitian. Pada tahun ini, penelitian dilakukan terhadap 23 instansi pusat (45 layanan), 6 instansi vertikal (masing-masing 11 layanan pada 22 kota) dan 22 pemerintah kota (masing-masing 3 layanan). Selain itu, KPK juga melakukan program Penilaian Inisiatif Anti Korupsi (PIAK), yang bertujuan untuk memberikan gambaran keseluruhan tentang inisiatif dan komitmen dari tiap instansi terhadap upaya pemberantasan korupsi dan mendorong instansi agar bertanggung jawab terhadap keberhasilan upaya pencegahan korupsi di instansinya. Pada 2010, pelaksanaan PIAK tidak hanya terfokus pada instansi di pusat, namun juga diikuti oleh pemerintah provinsi, pemerintah kota, dan kabupaten. PIAK 2010 diikuti oleh 18 kementerian/ lembaga dan 8 pemerintah daerah. Ke-18 kementerian/lembaga tersebut diwakili oleh 80 unit utama. Sedangkan pemerintah daerah diwakili oleh 38 SKPD dari 2 pemerintah provinsi, 2 pemerintah kabupaten, dan 4 pemerintah kota. Salah satu penelitian lainnya yang dilakukan pada tahun ini adalah di bidang pendidikan. KPK melakukan studi inovasi dalam sistem pendidikan, khususnya pendidikan menengah kejuruan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan inspirasi dan semangat kepada pemerintah daerah dan sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan kejuruan yang inovatif dan bertata kelola yang baik. Karena itulah, hasil penelitian ini kemudian disebarluaskan kepada berbagai pemerintah daerah dan sekolah-sekolah kejuruan. KPK juga melaksanakan pengembangan terhadap berbagai penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Pada tahun ini, pengembangan dilakukan KPK terhadap beberapa pelayanan publik, di antaranya: layanan pemasyarakatan dan keimigrasian pada Kemenkumham, layanan publik pada Ditjen Pos dan Telekomunikasi Kemenkominfo, layanan publik pada Kementerian Perindustrian, dan layanan cukai pada Ditjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan. Untuk observasi layanan pemasyarakatan, pada tahun ini KPK tahun ini telah menerima action plan dari Dirjen Pemasyarakatan. Untuk menananggapi action plan ini, KPK bersama Ditjen

PEMBERANTASAN KORUPSI DI 2010

29

Pemasyarakatan dan Kanwil Kementerian Hukum dan HAM DKI Jakarta melaksanakan pertemuan dan melakukan pemantauan secara berkala atas action plan dengan mengunjungi beberapa unit pelayanan teknis, yaitu LP Klas IA Cipinang, LP Klas 2A Salemba, LP Khusus Klas IIA Narkotika Jakarta, Rutan klas I Cipinang, Rutan Klas IIA Jakarta Timur, dan Rutan Klas 1A Jakarta Pusat. Sedangkan untuk observasi layanan keimigrasian, KPK melakukannya untuk menindaklanjuti hasil skor Survei Integritas tahun 2009 atas layanan keimigrasian yang masih rendah. Berdasarkan observasi, diperoleh temuan-temuan yang mencakup temuan di aspek kelembagaan, aspek tata laksana, aspek teknologi informasi, dan hasil observasi lainnya. Hasil survei integritas yang rendah juga menjadi alasan KPK untuk melakukan observasi pada Ditjen Postel Kemkominfo. Berdasarkan hasil observasi, terdapat tujuh temuan pada layanan publik di Ditjen Postel yang perlu dibenahi, yaitu: terkait regulasi, kelembagaan, dan tata laksana. Observasi layanan publik pada Kementerian Perindustrian juga dilakukan KPK dalam rangka menindaklanjuti hasil Survei Integritas 2009 yang menghasilkan skor integritas di Kementerian Perindustrian berada di posisi 5 terbawah. Kegiatan observasi ini menghasilkan beberapa temuan dan menyampaikan saran perbaikan meliputi perbaikan sistem administrasi, peningkatan pemahaman terhadap definisi gratifikasi, peningkatan transparansi dan akuntabilitas, penggunaan sistem IT, penyesuaian tarif, penertiban anggaran, keadilan dalam pelayanan, kejelasan

prosedur, serta penerapan sistem pelayanan satu pintu yang konsisten. Sebagai tindak lanjut hasil Survei Integritas dan Kajian Sistem Administrasi Impor sebelumnya, pada 2010 KPK melakukan observasi pada layanan cukai di tiga kantor penerima cukai terbesar di wilayah Kudus, Kediri, dan Malang. Observasi ini bertujuan untuk menganalisis titik potensi korupsi dan untuk memberikan saran perbaikan terkait layanan cukai. Pengembangan lain yang dilakukan adalah yang berhubungan dengan implementasi reviu UNCAC. KPK berperan aktif dalam melakukan finalisasi dua dokumen yang akan digunakan dalam mekanisme reviu UNCAC, yaitu Guidelines for Governmental Expert dan Blueprint for Country Review Report; dan drawing of lots (pengundian) untuk menentukan 35 countries under review dan 70 reviewing countries. Selain itu, KPK juga aktif melakukan kegiatan rapat pembahasan Self Assessment Checklist UNCAC tentang kriminalisasi, penegakan hukum, serta kerja sama internasional.

rong terjadinya tindak pidana korupsi. Permasalahan tersebut antara lain terkait dengan pengelolaan keuangan biaya penyelenggaraan ibadah haji, terutama berkenaan dengan pengelolaan dana setoran awal, penentuan komponen biaya-biaya yang dikategorikan direct dan indirect cost, serta pengelolaan biaya-biaya tersebut di berbagai level operasional. Permasalahan tersebut juga semakin diperkuat dengan adanya ketimpangan dalam pengelolaan SISKOHAT, dengan adanya ketidakselarasan antara catatan yang ada di SISKOHAT dan catatan keuangan. Selain permasalahan itu, masih terdapat sejumlah persoalan tata kelola yang buruk, yang berdampak pada minimnya kualitas pelayanan. Di samping itu, kompetensi penyelenggara yang sangat terbatas menjadi permasalahan tersendiri mengingat jumlah dana haji yang dikelola oleh Kementerian Agama saat ini sudah mencapai lebih dari Rp22 triliun. Sementara, berkaitan kajian sistem perencanaan dan pengelolaan kawasan hutan pada Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan Kementerian Kehutanan RI, KPK telah menyampaikan hasil kajian berupa saran perbaikan kepada Kementerian Kehutanan berupa kerentanan korupsi akibat ketidakpastian hak dan ketidakpastian ruang investasi, lemahnya regulasi, serta tidak adanya pengelola kawasan hutan di lapangan. Hasil kajian menemukan 17 kelemahan sistemik dalam aspek regulasi (9 temuan), aspek kelembagaan (3 temuan), aspek tata laksana (4 temuan), dan aspek manajemen SDM (1 temuan).

KAJIAN SISTEM

Selama 2010, KPK melakukan berbagai kegiatan pengkajian sistem, yang terdiri atas Kajian Sistem Penyelenggaraan Ibadah Haji pada Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umroh Kementerian Agama; dan Kajian Sistem Perencanaan dan Pengelolaan Kawasan Hutan pada Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan Kementerian Kehutanan RI. Berdasarkan hasil kajian penyelenggaraan ibadah haji, ditemukan sejumlah permasalahan yang berpeluang mendo-

PEMBERANTASAN KORUPSI DI 2010

30

KAJIAN KEBIJAKAN

Selain sistem, kebijakan menjadi salah satu objek KPK untuk dikaji. Hal ini dilaksanakan sebagai upaya menemukan titik kelemahan pada kebijakan tersebut dan memberikan masukan sehingga dapat menutup peluang terjadinya korupsi. Adapun kajian kebijakan yang dilakukan adalah Kajian Conflict of Interest (CoI) sebagai Bukti Adanya Mens Rea dalam Tindak Pidana Korupsi, Kajian Gratifikasi dan Buku Saku Memahami Gratifikasi, Coruption Impact Assessment: Titik Korupsi dalam Lemahnya Kepastian Hukum pada Kawasan Hutan, Analisis terhadap Aturan Terkait Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK), Kajian Dana Bantuan Sosial, serta Kajian Biaya Menjadi Kepala Daerah dan Potensi Korupsinya. Kajian Gratifikasi dan Buku Saku Memahami Gratifikasi dilakukan dengan untuk memberikan masukan dalam pengembangan kebijakan gratifikasi KPK sehingga akuntabilitas dan kepastian hukum proses penetapan status dapat dijaga atau ditingkatkan. Kajian memberikan beberapa saran perbaikan kepada pimpinan KPK untuk penguatan kebijakan dan implementasi pengelolaan gratifikasi. Selain melakukan kajian kebijakan, KPK juga mengembangkan buku saku Memahami Gratifikasi. Buku ini diharapkan memberi pemahaman yang lebih baik bagi penyelenggara negara dan pegawai negeri pada khususnya, serta masyarakat pada umumnya, mengenai gratifikasi yang terkait dengan tindak pidana korupsi.

Sementara itu, Kajian Kebijakan Titik Korupsi dalam Lemahnya Kepastian Hukum pada Kawasan Hutan merupakan suplemen dari kajian sistem kehutanan yang pelaksanaannya dilakukan secara simultan dengan kegiatan Kajian Sistem Perencanaan dan Pengelolaan Kawasan Hutan. Saran perbaikan kepada Menteri Kehutanan adalah menghilangkan ruang ketidakjelasan peraturan kebijakan dan kemungkinan perlakuan memihak terkait dengan definisi kawasan hutan, prosedur penunjukan kawasan hutan serta kewenangan dalam penentuan kawasan hutan dengan mencabut Permenhut 50 tahun 2009 dan SK Menhut 32 tahun 2001. Dalam upaya untuk mencegah tindak pidana korupsi dan meningkatkan efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan jasa konstruksi, KPK telah melakukan kajian kebijakan berkenaan dengan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK). Berdasarkan hasil kajian terkait regulasi kelembagaan LPJK dan penyelenggaraan kewenangannya, terutama dalam sertifikasi dan akreditasi, diketahui beberapa potensi permasalahan, yaitu: Over authority kepada LPJK tanpa disertai aturan pelaksana/peraturan turunan yang mendukung agar pengembangan jasa konstruksi mengedepankan peran masyarakat jasa konstruksi; tidak sesuainya kelembagaan jasa konstruksi dalam LPJK dengan amanat UU Jasa Konstruksi yaitu untuk pengembangan jasa konstruksi; adanya potensi penyimpangan dan konflik kepentingan pada penyelenggaraan sertifikasi dan akreditasi jasa konstruksi; dan lemahnya pengawasan pemerintah dalam penyelenggaraan jasa konstruksi.

Kajian Dana Bantuan Sosial merupakan kajian kebijakan terkait pengalokasian, penyaluran, maupun pemanfaatan dana bantuan sosial di daerah. Karena belanja bansos dialokasikan tidak berdasarkan target kinerja tertentu, maka penentuan besaran (jumlah) dalam APBD cenderung subjektif, artinya pengalokasian akan sangat bergantung pada kewenangan yang dimiliki oleh eksekutif dan legislatif. Hal ini menimbulkan potensi penyalahgunaan baik oleh kedua pihak tersebut. Terkait dengan pemilihan kepala daerah, KPK menganalisis proses pemilihan umum kepala daerah yang ada saat ini dan mengkritisi biaya yang harus dikeluarkan oleh para calon dalam pemilihan umum kepala daerah serta membahas potensi korupsi yang ditimbulkan di dalamnya berdasarkan peraturan, literatur, dan data sekunder. Terhadap seluruh hasil kajian, KPK menindaklanjutinya dengan pemantauan terhadap pelaksanaan action plan yang telah dirancang berdasarkan rekomendasi yang diberikan KPK. Pada 2010 ini, pemantauan dilakukan terhadap implementasi saran perbaikan pada sistem penempatan dan pemulangan TKI, sistem perpajakan, sistem perbendaharaan, sistem pengelolaan anggaran, sistem pengelolaan DAK bidang pendidikan, sistem penyelenggaraan jalan nasional, sistem penyelenggaraan ibadah haji, pengelolaan Dana Abadi Umat, kegiatan pengadaan barang dan jasa trafo pada PT. PLN (Persero), jalan nasional pada Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum, dan alat kesehatan (alkes) pada Kementerian Kesehatan.

PEMBERANTASAN KORUPSI DI 2010

31

PENANAMAN NILAI ANTIKORUPSI MELALUI PENDIDIKAN
Pendidikan antikorupsi merupakan investasi masa depan untuk menciptakan generasi antikorupsi di Indonesia. Boleh jadi, hasil yang akan didapat belum akan terlihat saat ini.
Namun, paling tidak, pada masa yang akan datang, kita dapat berharap besar akan bermunculan anak-anak bangsa yang antikorupsi. Karena itulah, KPK menggarap pendidikan antikorupsi mulai sejak usia dini. Menyadari bahwa dunia anak-anak adalah dunia bermain, maka KPK melakukan penyesuaian dalam pendekatannya. Salah satunya adalah dengan metodologi dongeng. Melalui dongeng, KPK menanamkan nilai-nilai kejujuran dan antikorupsi. Meski kelihatannya dilakukan sembari bermain, namun imbas positif yang menyertainya tetaplah besar. Di sana, KPK mencoba untuk menginternalisasi sembilan nilai antikorupsi yang telah dirumuskan sebelumnya. Metode yang nyaris serupa, dilakukan saat sang anak mulai beranjak di usia sekolah. Terhadap anak-anak bangsa pada jenjang TK-SMA, KPK telah menyiapkan modul pendidikan antikorupsi. Modul ini diinsersikan pada berbagai mata pelajaran yang ada dan tidak diujikan. Modul tersebut juga berisi nilai-nilai antikorupsi yang dikemas sesuai jenjang pendidikan. Agar nilai-nilai yang diberikan bisa diserap para siswa, maka KPK memadukan unsur KSVA di dalam modul antikorupsi tersebut, yaitu unsur pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), nilai (value), dan perilaku (attitude). Sama seperti pada buku cerita, maka melalui modul-modul tersebut, diharapkan dapat membentuk pelajar yang menjunjung tinggi nilai-nilai antikorupsi di dalam setiap sikap dan perilakunya. Dalam pelaksanaannya, modul tersebut diimplementasikan kepada Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) sehingga bisa digunakan oleh seluruh siswa yang bersekolah di 250.000 sekolah dari Sabang sampai Merauke. Kerja sama dengan Kemendiknas itu penting, karena KPK tidak bisa melaksanakan program ini sendirian. KPK memerlukan tenaga para guru sebagai penyampai modul tersebut. Terkait kerja sama ini pula, KPK tidak hanya memberikan modul dan membuat pilot project. Di beberapa daerah, KPK juga membuat training for trainer kepada para guru. Melalui perpaduan antara program tersebut, maka diharapkan para guru yang sudah diberikan pelatihan, akan menyampaikan kepada para siswa. Setelah para siswa mendapatkan pemahaman secara kognitif melalui modulmodul antikorupsi, perlu pula disiapkan pendekatan afektif dalam bentuk implementasi. KPK telah menyiapkan “arena” implementasi dari nilai-nilai tersebut, yaitu membangun warung kejujuran dan pemilihan pelajar terpuji. Dengan adanya metode afektif ini, diharapkan akan semakin membiasakan anak-anak bangsa untuk memandang tinggi dan melakoni hidup keseharian mereka dengan nilai-nilai antikorupsi.

MEREVITALISASI INTEGRITAS MENTAL

KPK juga memberikan pendidikan antikorupsi kepada kalangan instansi dan lembaga pemerintah. Reformasi birokrasi belum sepenuhnya dipahami dan diikuti dengan perubahan pola pikir dan pola budaya birokrasi.

PEMBERANTASAN KORUPSI DI 2010

32

Pada 2010 ini, KPK terus berupaya mendorong instansi dan lembaga pemerintah untuk membudayakan pola pikir antikorupsi secara intensif. Caranya dengan meningkatkan kompetensi pada aparatur negara, khususnya kompetensi terpasang aparatur negara, yakni integritas. Selama ini aparat negara cenderungmeningkatkan kompetensi terpakai atau peningkatan kinerja saja, yang dampaknya adalah remunerasi. Sementara, kompetensi terpasangnya, yakni integritas itu sendiri tidak mendapat perhatian. Terkait hal itu, KPK kemudian mendorong instansi pemerintah untuk mulai membuat pelatihan yang sesuai tuntutan dan diharapkan mampu memberikan perubahan perilaku. Namanya, Program Revitalisasi Integritas Mental (Prima). Program ini penting, karena berdasarkan survei Synovote atas biaya World Bank, integritas merupakan faktor signifikan mengatasi masalah korupsi. Program itu sendiri sudah diuji coba. Antara lain, bekerja sama dengan Pusdiklat Kemdiknas melalui pelatihan dan pendidikan untuk level pegawai yang merupakan “motor” dari lembaga itu, beberapa waktu lalu. Melalui Prima, KPK berharap mendapatkan hasil yang lebih efektif dan tepat. Dengan merevitalisasi satu “motor”, diharapkan bisa menularkan pemahaman integritas kepada teman atau anak buahnya yang lain. Ke depannya, KPK bersiap meluncurkan program Anti Corruption Learning Center (ACLC). ACLC ini tidak mengenal pembatasan strata publik. Dengan adanya ACLC, KPK membangun pusat antikorupsi yang bisa diikuti oleh seluruh masyarakat. Saat ini, KPK sudah mempersiapkan modul-modulnya yang dibuat dengan melibatkan praktisi pendidikan, widyaiswara, dan ahli pendidikan.

Melalui ACLC, akan ada program, modul, dan kurikulum. Meskipun bukan kurikulum dalam konteks pendidikan yang panjang, namun dirancang agar masyarakat bisa menyerap pendidikan antikorupsi dalam waktu yang relatif singkat. Pelaksanaannya berupa short course kurang lebih 2-3 hari. Tema dari modulmodul yang disampaikan, akan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Jika pegawai negeri, ada modul untuk pegawai negeri, begitu juga dengan swasta ada modul swatsa, dan bahkan modul untuk masyarakat umum.

Guna mendukung program tersebut, KPK menyosialisasikan penggunaan sekaligus pengawasan dana BOS kepada seluruh elemen sekolah. Baik guru, kepala sekolah, komite sekolah, orangtua siswa, siswa, maupun masyarakat umum. Untuk itu, KPK membuat papan sosialisasi tentang penggunaan dana BOS, termasuk apa saja kriteria yang dilarang dalam penggunaan dana tersebut. Untuk itu, KPK juga mengajak pihak sekolah dan masyarakat umum guna ikut mengawasi. Pada tahap awal sudah dibuat berbagai materi sosialisasi penunjang, antara lain poster, signboard, buku saku, dan gimmic. Sosialisasi langsung ke sekolahsekolah penerima dana BOS serta penyebarluasan informasi tentang saluran-saluran pengaduan yang diharapkan dapat menekan penyimpangan dan meningkatkan peran serta masyarakat dalam mengawasi langsung Dana BOS.Bahkan, semua sekolah juga wajib mengumumkan laporan penggunaan dana BOS di papan pengumuman yang bisa dibaca oleh masyarakat umum.

PENGAWASAN DANA BOS

Masih terkait dengan pendidikan, KPK tidak hanya melakukan pendidikan antikorupsi. Namun, juga memberikan perhatian tinggi pada pendidikan nasional yang ada. Termasuk di dalamnya adalah penggunaan anggaran untuk pendidikan. Salah satunya adalah bantuan operasional siswa (BOS). Sejatinya BOS merupakan dana bantuan itu diberikan pemerintah bagi para siswa yang bertujuan untuk menopang kegiatan operasional sekolah, terutama untuk kelangsungan kegiatan belajar-mengajar. Tapi, dana BOS itu sendiri memang rawan terhadap penyalahgunaan oleh berbagai pihak. Diduga, banyak sekali dana BOS yang dimafaatkan sebagaimana mestinya, misalnya darmawisata, dan ada pula yang justru diselewengkan oleh pihak yang tidak seharusnya menerima. Terkait hal itu, KPK merancang Program Anak Cerdas Aset Bangsa yang bertujuan untuk mengawasi penggunaan dana BOS melalui pendekatan pencegahan. Dalam hal ini, KPK bekerja sama dengan Word Bank, membangun sebuah sistem pelaporan short message sevice (SMS) premium di nomor 9123. Jika siswa mengetahui ada penyelewengan dana tersebut, bisa mengirimkan SMS kepada nomor dimaksud.

PEMBERANTASAN KORUPSI DI 2010

33

PENGGALANGAN DUKUNGAN MASYARAKAT
Masyarakat adalah faktor penting dalam pemberantasan korupsi. Kepedulian dan dukungan masyarakat menjadi syarat utama berhasil tidaknya perjuangan melawan korupsi yang dilakukan bangsa ini.
Karena itu, KPK secara terus-menerus berupaya membangkitkan semangat dan kepedulian, serta peran serta masyarakat Banyak cara satu tujuan. Itulah yang dilakukan KPK, terkait kampanye dan sosialisasi antikorupsi. Betapa tidak, untuk melaksanakan program tersebut, KPK tidak hanya menggantungkan pada event-event yang dilaksanakan sendiri oleh KPK, tetapi juga bisa bersinergi dengan program yang dilaksanakan pihak lain. Dengan demikian, jika KPK menilai bahwa dalam kegiatan masyarakat ada yang bisa diinsersikan kampanye dan sosialisasi antikorupsi, maka KPK akan melaksanakannya. Entah itu yang dilakukan mahasiswa, kementerian, ormas, LSM, organisasi intra dan ekstra kampus, serta kelompok usaha BUMN, swasta, atau masyarakat pada umumnya. Contoh terakhir adalah kampanye gabungan antara KPK, KY, ICW, TII, UNODC, dan Uni Eropa dalam rangka memperingati Hari Antikorupsi sedunia pada 9 Desember 2010 yang mengangkat tema “Tanpa Korupsi, Baru Indonesia”. Itu dari sisi pelaksana. Dari perspektif media kampanye dan sosialisasi pun sangat beragam. KPK tidak hanya mempergunakan media cetak, seperti brosur, buku saku, spanduk, dan sebagainya, namun juga memanfaatkan media cetak, elektronik, online, dan media sosial. Karena tidak tergantung pada pelaksanaan kegiatan yang dilakukan sendiri, maka kampanye dan sosialisasi juga bisa dilakukan melalui berbagai event. Selain dilaksanakan melalui workshop atau lokakarya mengenai pencegahan dan pemberantasan korupsi oleh KPK, kampanye dan sosialisasi juga dilaksanakan secara terus-menerus di seluruh pelosok tanah air dengan memanfaatkan kegiatan mandiri yang diinisiasi oleh Kementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah, dan sektor swasta. Khusus program di kementerian, KPK secara aktif mendorong terlaksananya kegiatan “Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK)” yang dikembangkan Kementerian Pertanian. Pada kegiatan tersebut, KPK tidak hanya melakukan dukungan program, namun juga melakukan koordinasi terhadap kegiatan dan pengembangannya. Hal ini dilakukan, karena ke depan, program tersebut ditargetkan untuk menjadi program WBK “Go National.” KPK berharap, model ini ditiru oleh kementerian atau lembaga lain. Mengadakan kegiatan kampanye di pusat keramaian menjadi daya tarik masyarakat kota. Seperti mal contohnya. KPK menggelar kampanye antikorupsi di berbagai mal di berbagai kota di seluruh Indonesia. Sebutannya, Mall to Mall. Pada 2010, kampanye dilaksanakan di Surabaya, Bogor, Jambi, Manado, dan Padang. Kampanye antikorupsi tersebut menghadirkan suasana yang sedikit berbeda dan menyesuaikan keunikan setiap kota dan mal setempat. Kampanye ini bertujuan meningkatkan perhatian masyarakat terhadap adanya tindak pidana korupsi di sekitar mereka, sehingga masyarakat aware dan menumbuhkan sikap antikorupsi di dalam diri dan lingkungan mereka. Melalui kampanye semacam ini, diharapkan masyarakat akan mengetahui bahwa korupsi berada di sekitar mereka. Dan, yang paling sering ditemukan adalah di sektor pelayanan publik, yang muaranya adalah upaya peningkatan mutu pelayanan publik dengan menerapkan zona integritas.

PEMBERANTASAN KORUPSI DI 2010

34

Karena itulah, pada setiap kampanye mall to mall, KPK menyediakan stan khusus bagi pemerintah daerah untuk menampilkan layanan publik unggulannya, seperti layanan cepat SIUP dan IMB. Tidak hanya menampilkan, melainkan juga membuka pelayanan selama kampanye. Sehingga, pengunjung dapat mengakses layanan cepat tersebut, karena loket pelayanan juga tersedia di lokasi acara.

KPK telah membuka akses seluas-luasnya kepada masyarakat dalam menyampaikan pengaduan terjadinya TPK. Pengaduan disampaikan melalui berbagai media, yaitu dengan penyampaian secara langsung ke kantor KPK, melalui telepon, pos, surat elektronik (e-mail), layanan pesan singkat (SMS), dan faksimile. Yang terbaru adalah dengan diluncurkannya KPK Whistleblower System (KWS). Program KWS ini berupa perangkat lunak yang dipasang di beberapa kantor kementerian dan langsung terhubung dengan KPK. Dengan cara ini, setiap pegawai kementerian bisa memberikan laporan secara langsung ke KPK apabila dirinya melihat atau mengetahui adanya penyimpangan di instansinya. Saat ini sudah ada enam instansi yang menerapkan KWS, yakni Lembaga Peradilan Saksi dan Korban (LPSK), Pertamina, Ditjen Pajak, Bea Cukai Kementerian Pertanian, dan PLN. Sistem whistleblower juga merupakan mekanisme deteksi dini atas kemungkinan terjadinya masalah akibat suatu pelanggaran sehingga kesempatan untuk menangani pelanggaran secara internal dapat dilakukan terlebih dahulu sebelum meluas. Dengan demikian, kementerian/lembaga dan pemerintah daerah dapat mengurangi risiko yang akan dihadapi, baik dari segi keuangan, operasi, hukum, keselamatan kerja maupun reputasi. Hingga akhir 2010, jumlah pengaduan melalui mekanisme KWS tercatat ada mendekati tiga ribu laporan. Keberadaan seorang whistleblower dibutuhkan untuk mengurangi terjadinya tindak pidana korupsi. Melalui mekanisme whistleblower system masingmasing personal memiliki kesempatan

untuk terlibat dengan saling menjaga integritas dalam melaksanakan tugasnya. Mekanisme ini disediakan bagi orang yang ingin melaporkan indikasi tindak pidana korupsi, tapi merasa sungkan atau takut jika identitasnya terungkap. Rasa sungkan ini bisa muncul jika orang yang ingin melapor kenal dengan pihak yang dilaporkan. Melalui mekanisme ini kerahasiaan identitas seorang whistleblower dijamin oleh KPK. Karena keberadaan whistleblower sangat penting dalam mengungkap kejahatan, seorang whistleblower yang merupakan collaborator of justice dilindungi dalam hukum nasional. Setelah meningkatkan kualitas dan variasi layanan pengaduan, langkah KPK berikutnya adalah dengan meningkatkan kualitas laporan yang masuk. Berdasarkan rekapitulasi pengaduan masyarakat yang masuk hingga akhir 2010, yang memiliki indikasi tindak pidana korupsi tidak sampai 20 persen. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi KPK. Artinya, KPK masih harus bekerja lebih keras lagi meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap ranah KPK, sehingga dapat meningkatkan kualitas pengaduan. Saat ini, KPK terus melaksanakan sosialisasi untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam melaporkan dugaan tindak pidana korupsi secara tepat dan berkualitas tersebut. Caranya dengan melaksanakan workshop tentang tata cara penyampaian laporan, pemahaman korupsi, jenis-jenis korupsi. Audiens workshop ini mulai dari LSM, kejaksaan, kepolisian, maupun pemda.

TINDAK LANJUT PENGADUAN MASYARAKAT 2010

Sedang ditelaah Diteruskan ke instansi lain Diteruskan ke Internal KPK Bukan TPK atau tidak lengkap Dimintakan keterangan tambahan

1,11% 9,57% 6,29% 65,39% 17,64%

Jika tingkat kepedulian sudah dilalui, maka harapan berikutnya adalah keterlibatan aktif masyarakat dalam upaya pemberantasan korupsi. Salah satunya adalah dengan melakukan pengaduan jika menemukan adanya dugaan tindak pidana korupsi.

35

PROGRAM KERJA 2011

PROGRAM KERJA 2011

36

Evaluasi program telah dilakukan. Penelaahan terhadap realisasi dari target yang dicanangkan pada 2010, telah dilakoni.

Analisis kondisi eksternal dan internal pun telah dilampaui. Maka, itulah saatnya bersiap untuk membuka lembaran perjuangan melawan korupsi di tahun berikutnya. Sebagai informasi, tahun 2011 merupakan tahun pamungkas bagi pimpinan KPK periode saat ini. Masa empat tahun periode kepemimpinan sebagaimana yang tertuang dalam undang-undang akan berakhir pada Desember 2011. Pada tahun terakhir di bawah kepemimpinan KPK periode sekarang ini, sejumlah program pemberantasan korupsi beserta strategi dan taktiknya telah disiapkan. Begitu pun dengan sasaran yang ingin dicapai. Secara garis besar, program-program yang telah dilakukan pada tahun ini seperti mendorong perbaikan layanan publik dan sistem administrasi pemerintah, penegakan hukum yang profesional, penggalangan kepedulian dan dukungan masyarakat, peningkatan transparansi penyelenggara negara, penyelamatan aset dan potensi kerugian negara, penjalinan kerja sama, serta upaya pendidikan antikorupsi; akan terus dilanjutkan dan dioptimalkan. Pemberantasan korupsi tidak bisa dilakukan sendirian oleh KPK. Oleh karena itu, ke depan, KPK berusaha untuk

lebih membuka diri dengan membuat pola-pola kerja sama dengan berbagai pihak. Semua ini agar jangkauan KPK bisa lebih luas lagi. Dan itu memerlukan semangat koordinasi untuk bisa menyiapkan paket-paket tools yang bisa digunakan untuk meluaskan jaringan. Di tahun 2011, KPK akan lebih memfokuskan pemberantasan korupsi secara lebih proaktif, yakni dengan mengawasi kegiatan yang sedang berlangsung sehingga tindak pidana korupsi tidak sampai terjadi. Langkah ini memang lebih memerlukan kesabaran bila dibandingkan mengawasi kegiatan yang sudah lewat. Namun, ini adalah tantangan baru yang harus dihadapi. Diresmikannya Pengadilan Tipikor di Bandung, Semarang, dan Surabaya dapat diharapkan mempercepat proses penindakan terhadap para pelaku tindak pidana korupsi di daerah. Kehadiran tiga Pengadilan Tipikor ini diharapkan bisa menjadi semacam embrio yang bisa dikembangkan di masa mendatang. Di sisi lain, dibentuknya Pengadilan Tipikor ini juga menjadi perhatian khusus KPK, khususnya dalam hal teknis operasional. Untuk pelaksanaan semua program yang akan dilakukan pada 2011 tersebut, KPK mendapat akan alokasi dana

PROGRAM KERJA 2011

37

yang berasal dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) sebesar Rp539.952.300.000,00. Jumlah tersebut lebih tinggi 26,64% dari APBN yang dikucurkan kepada KPK pada 2010. Selain itu, KPK juga akan telah mendapatkan komitmen berupa hibah dari luar negeri sejumlah Rp35.743.000.000,00. Mengacu pada rencana kerja dan anggaran (RKA) KPK tahun 2011, anggaran KPK akan dialokasikan untuk melaksanakan berbagai kegiatan dalam dua program sebagai berikut:

TPK sebanyak 15 kasus; dan (c) penguatan kelembagaan (hibah Uni Eropa untuk Project Strengthen the Rule of Law and Security in Indonesia). • Penyelenggaraan Kesekretariatan Deputi Bidang Penindakan; dianggarkan Rp974,76 juta untuk: (a) rapat kerja Deputi Penindakan; (b) rapat internal Deputi Penindakan; (c) rapat koordinasi dan konsultasi Deputi Penindakan; dan (d) perawatan tahanan KPK. • Pengelolaan LHKPN; dianggarkan Rp7,92 miliar untuk: (a) pengumuman LHKPN dalam BN/TBN; (b) bimbingan teknis pengisian LHKPN; dan (c) pemeriksaan LHKPN. • Pengelolaan Gratifikasi; dianggarkan Rp1,61 miliar untuk: (a) penanganan pelaporan gratifikasi; (b) pemeriksaan/investigasi gratifikasi; (c) program pengendalian gratifikasi pada instansi/lembaga (pemerintah, BUMN, swasta). • Penyelenggaraan Pendidikan, Sosialisasi, dan Kampanye Antikorupsi; dianggarkan Rp12,72 miliar untuk: (a) penerapan modul antikorupsi pada 75 sekolah/lembaga pendidikan (formal, nonformal, dan kedinasan); (b) pembentukan 15 komunitas antikorupsi; (c) pelaksanaan zona anti korupsi pada 15 instansi/ lembaga; dan (d) pelaksanaan ACLC (Anti Corruption Learning Center). • Penyelenggaraan Penelitian dan Pengembangan KPK, serta Pengkajian Sistem Pengelolaan Administrasi di Semua Lembaga Negara

dan Pemerintah; dianggarkan Rp20,73 miliar untuk: (a) penelitian pencegahan TPK (survei integritas layanan sektor publik, survei persepsi masyarakat, penilaian inisiatif antikorupsi, (b) kajian sistem administrasi dan kebijakan; dan (c) pengembangan hasil penelitian dan kajian. • Penyelenggaraan Kesekretariatan Deputi Bidang Pencegahan; dianggarkan Rp2,34 miliar untuk: (a) operasional Setdep Pencegahan (pengadaan peralatan penunjang operasional, penyusunan/perumusan sistem dan prosedur teknis, menghadiri seminar/workshop seminar di LN, dan penyelenggaraan ceramah/diskusi/seminar); (b) koordinasi dan supervisi bidang pencegahan. • Pengembangan dan Pemeliharaan Sistem dan Teknologi Informasi; dianggarkan Rp73,81 miliar untuk: (a) pengadaan dan pengembangan hardware; (b) pengadaan dan pengembangan software; (c) pemeliharaan sistem dan teknologi informasi; dan (d) layanan dukungan sistem dan TI (koneksi jaringan dan internet, prasarana penunjang operasional, operasional layanan sistem dan TI). • Pengembangan dan Pemanfaatan Jaringan Kerja Sama Antar Lembaga/Instansi; dianggarkan Rp6,04 miliar untuk: (a) MoU dengan lembaga internasional; (b) kerja sama antar lembaga/instansi; (c) pembinaan dan kerja sama nasional dan daerah; dan (d) bantuan internasional (international assistance).

PROGRAM PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI

Alokasi anggaran program teknis ini sebesar Rp158,69 miliar, untuk melaksanakan berbagai kegiatan berikut: • Penyelidikan tindak pidana korupsi; dianggarkan Rp6,15 miliar untuk penyelidikan terhadap 65 kasus TPK. • Penyidikan tindak pidana korupsi; dianggarkan Rp6,05 miliar untuk penyidikan terhadap 60 perkara TPK. • Penuntutan dan Eksekusi Tindak Pidana Korupsi; dianggarkan Rp7,03 miliar untuk: (a) penuntutan terhadap 50 perkara TPK; (b) eksekusi terhadap 40 putusan TPK yang berkekuatan hukum tetap; dan (c) pelacakan aset TPK. • Koordinasi dan Supervisi Penindakan Tindak Pidana Korupsi; dianggarkan Rp4,82 miliar untuk: (a) koordinasi penanganan TPK sebanyak 40 kasus; (b) supervisi penanganan

PROGRAM KERJA 2011

38

• Penyediaan Data dan Informasi untuk Pemberantasan TPK; dianggarkan Rp3,32 miliar untuk: (a) pemenuhan permintaan data dan informasi; dan (b) deteksi tindak pidana korupsi. • Penyelenggaraan Kesekretariatan Deputi Bidang INDA; dianggarkan Rp105,00 juta untuk operasional pelaksanaan kegiatan Setinda. • Pengawasan Internal KPK; dianggarkan Rp1,91 miliar untuk: (a) sosialisasi pengawasan internal; (b) pelaksanaan konsultasi; (c) pelaksanaan evaluasi manajemen risiko dan studi banding manajemen risiko; (d) penyusunan strategi dan kebijakan pengawasan internal; (e) implementasi sistem informasi manajemen audit; (f) pemeriksaan laporan keuangan; (g) pemeriksaan/evaluasi/audit kinerja; (h) pelaksanaan eksaminasi; (i) pemeriksaan etika dan profesi; (j) evaluasi pengamanan internal. • Penanganan Pengaduan Masyarakat; dianggarkan Rp2,64 miliar untuk: (a) kegiatan pengumpulan bahan dan keterangan tambahan; dan (b) penyelenggaraan workshop dan sosialisasi pengaduan masyarakat. • Penyelenggaraan Kesekretariatan Deputi Bidang PIPM; dianggarkan Rp526,86 juta untuk: (a) operasional Setdep PIPM; dan (b) menghadiri seminar/workshop/konferensi DN dan LN.

PROGRAM DUKUNGAN MANAJEMEN DAN PELAKSANAAN TUGAS TEKNIS DAN LAINNYA PADA KPK

Alokasi anggaran dalam program teknis ini sebesar Rp417,00 miliar, untuk melaksanakan berbagai kegiatan berikut: • Perancangan Hukum, Litigasi, dan Bantuan Hukum; dianggarkan Rp2,00 miliar untuk: (a) legal drafting (perancangan hukum); (b) litigasi dan bantuan hukum; dan (c) perlindungan saksi dan pelapor. • Penyelenggaraan Humas dan Protokoler; dianggarkan Rp7,92 miliar untuk: (a) publikasi (radio, televisi, media cetak, online, audio visual, pencetakan buku, majalah, brosur; (b) pemberitaan (langganan media massa, monitoring, dan analisis berita); (c) temu stakeholder (media dan masyarakat); (d) riset kehumasan; (e) keprotokolan (pelantikan pejabat struktural, pendampingan pimpinan); (f) administrasi perkantoran (pengiriman surat dan paket, penggandaan/penjilidan/pencetakan (termasuk UU dan publikasi), pengurusan dokumen perjalanan (paspor, visa, dan lainnya), perizinan; (g) rapat koordinasi kehumasan; (h) seminar kehumasan dan media; (i) penyusunan Laporan Tahunan KPK; dan (j) kegiatan pimpinan (rakor/ raker, pokja, sosialisasi, koordinasi dan supervisi, menghadiri acara/ undangan LN). • Perencanaan dan Pengelolaan Keuangan; dianggarkan Rp823,95 juta untuk: (a) perencanaan/penyu-

sunan/pengembangan roadmap, renstra, program, rencana kerja, dan sistem prosedur; (b) penatausahaan, pembukuan, verifikasi, pelaporan, dan pelaksanaan anggaran; dan (c) pengelolaan titipan uang sitaan dan gratifikasi. • Manajemen Sumber Daya Manusia; dianggarkan Rp273,69 miliar untuk: (a) gaji pimpinan, pegawai, dan penasihat KPK; (b) rekrutmen dan seleksi pegawai KPK; (c) diklat teknis (dalam dan luar negeri); (d) penataan manajemen kelembagaan KPK (meliputi pelaksanaan audit peraturan MSDM, analisis perilaku kompetensi dan teknis, pelaksanaan analisis jabatan, evaluasi jabatan, evaluasi PP63/2005, dan (e) layanan kesehatan pegawai. • Penyelenggaraan Operasional Perkantoran; dianggarkan Rp132,57 miliar untuk: (1) penyelenggaraan operasional dan pemeliharaan perkantoran meliputi: (a) perawatan peralatan penunjang perkantoran); (b) pengelolaan barang sitaan/rampasan; (c) pengelolaan Barang Milik Negara (BMN); (d) pelayanan pengadaan barang/jasa; (e) perawatan gedung kantor; (f) jasa keamanan; (f) langganan daya dan jasa; (g) sewa gedung/peralatan; (h) pemeliharaan kendaraan bermotor; (i) tenaga pendukung dan pengemudi; (2) sarana dan prasarana perkantoran meliputi: (a) pengadaan peralatan dan mesin; (b) renovasi gedung (gedung KPK dan gedung pinjaman); (c) pengadaan kendaraan operasional; (d) pelayanan internal perkantoran.

KPK DAN PEMBERANTASAN KORUPSI DI MATA MEREKA

KPK DAN PEMBERANTASAN KORUPSI DI MATA MEREKA

40

Endriartono Sutarto

Kegiatan pencegahan harus dilakukan dengan strategi bagus sehingga korupsi bisa dicegah. Tapi selain itu, kita tidak bisa hilangkan upaya pemberantasan. Pemiskinan adalah salah satu cara membuat orang belajar bahwa ketika seorang pelaku tindak pidana korupsi keluar dari penjara, dia lebih miskin daripada sebelum melakukan korupsi sehingga orang akan berpikir untuk korupsi. Selama pemiskinan tidak dilakukan dan hanya memperoleh penjara badan, koruptor bisa memimpin organisasi dan bisa berbuat apa saja. Pemiskinan harus jadi pertimbangan agar menjadi efek jera.

Tumpak Hatorangan Panggabean

Pada pemberantasan korupsi, KPK ditugaskan pada dua kegiatan besar, yaitu pencegahan dan penindakan. Tetapi, sampai dengan periode sekarang, masyarakat masih menilai KPK dari kegiatan penindakan yang dilakukan. Keberhasilan kepolisian, kejaksaan, termasuk KPK, dinilai masyarakat dan media adalah dengan bagaimana kita bisa menangani dua topik menonjol, yaitu kasus Gayus dan Bank Century. Satu tahun ke depan, tidak ada cerita lain, bila mau merebut opini dan kepercayaan masyarakat bahwa KPK tetap komit pada pemberantasan korupsi dan bisa dipercaya, maka kita harus menggalakkan kegiatan di bidang penindakan. Saran saya, meski tinggal sedikit, kegiatan penindakan satu tahun ini kita angkat lebih galak lagi agar dapat merebut hati dan kehendak masyarakat secara umum.

Todung Mulya Lubis

Tujuh tahun KPK dengan pasang surut dan jatuh bangun, KPK memberikan banyak sekali capaian yang kita banggakan. Tidak pernah ada yang berhasil (institusi lain selain KPK) melakukan penindakan terhadap mantan menteri anggota DPR, komisioner, bupati gubernur, dan lain-lain. Bila kita percaya pada akal sehat apa yang sudah dilakukan dengan berbagai cara dengan berbagai yang kita lakukan, tetapi publik tidak jera melakukan korupsi, genjot saja penindakan. Tetapi ingat bahwa mengikat semua koruptor tidak akan selesaikan masalah, yang memang sangat sistemik endemik dan sulit. Buat saya, yang penting dalam pemberantasan korupsi adalah selain genjot dan sikat koruptor yang ada dan masuk KPK saat ini, kita perlu ada penyidik independen. Hal ini bukan obat mujarab yang untuk menyelesaikan masalah, namun jauh lebih baik bila untuk lebih independen agar tidak bias dalam memproses penyelidikan maupun penyidikan.

KPK DAN PEMBERANTASAN KORUPSI DI MATA MEREKA

41
Amien Sunaryadi
Bila KPK memberantas korupsi sendiri adalah mimpi di siang bolong. Setahun ke depan, saya melihat KPK tidak perlu untuk tangani segala hal, tetapi fokus pada dua poin strategis, yaitu DPR dan Kejaksaan. KPK sudah punya momentum bagus untuk ke DPR, beberapa sudah dipenjarakan dan sudah diproses, tapi agak lambat. Tetapi, pencegahan tidak bergerak sama sekali ke DPR. KPK harus angkat penyidik KPK, saya tidak mengatakan penyidik independen. Seharusnya penyidik tidak independen, tetapi yang independen adalah pimpinan KPK. Penyidik atau personel lain adalah pegawai KPK pelaksana tugas.

Menurut saya, saat ini kita perlu gunakan kata “garong” atau “bangsat”, untuk mengganti kata “koruptor”. Karena kata “koruptor” terlalu sopan dan orang yang melakukannya bangga dengan status itu. Untuk hal ini, kita bisa konsultasi dengan ahli bahasa. Kalau boleh usul, dalam kemasan rokok itu terdapat warning yang jelas: “Dapat sebabkan impotensi”, sementara peringatan bahaya korupsi tidak ada. Di bawah emblem para pejabat publik seharusnya ditempelkan peringatan yang berbunyi: “Awas korupsi bisa timbulkan impotensi bangsa”. Selain itu, di setiap foto pejabat di bawahnya terdapat peringatan: “Awas korupsi dapat membahayakan”. Pesan saya, kalau memberantas korupsi tolong jangan dengan kebencian. Bila berantas dengan benci, maka keluarga kita yang kena, berantas korupsi karena memang harus diberantas bukan kebencian.

Sudjiwo Tedjo

Mas Achmad Santosa
Kita perlu menggaruk tempat yang gatal. Dan, pertanyaannya apakah saat ini kita garuk di tempat yang gatal? Ini yang perlu kita evaluasi bersama. Dari IPK, jelas sekali variabel yang diukur. Dari jawaban responden ada beberapa variabel seperti keseriusan aparat pemerintah daerah dan penegak hukum setempat untuk lakukan pemberantasan korupsi. Bila melihat survei integritas publik oleh KPK, sudah jelas ada area yang harus digaruk. Hal ini tidak bisa dilakukan oleh KPK sendiri, tapi dengan instansi lain. Soal penindakan, dalam jangka waktu sisa periode satu tahun ini, saya usulkan prioritas pada penindakan pelaku mafia peradilan dan perpajakan serta kasus Bank Century. Selain itu adalah kasus terkait dengan cek pemilihan Gubernur BI yang setengah jalan. Bila dalam satu tahun perkara tersebut bisa dilaksanakan dan diselesaikan, maka bisa merespons ekspektasi publik.

KPK DAN PEMBERANTASAN KORUPSI DI MATA MEREKA

42
Erry Riyana Hardjapamekas
Pengawasan internal, soliditas internal, dan sumber daya manusia (SDM) harus tangguh, unggul, dan bermartabat, karena salah satu modal KPK adalah SDM dan juga teknologi. Bukan hanya fasilitas yang bisa dibina dan dipelihara, tapi juga mendengar aspirasi, memberi keteladanan dan sangat prima dari pemimpin KPK. Kepemimpinan KPK adalah kolektif, tapi bukan hak veto. Yang penting adalah kami bukan saya, melainkan kami adalah pimpinan KPK. Dengan demikian, soliditas ditentukan oleh kekompakan para pimpinan. Kita sadar bahwa musuh kita ada dan musuh-musuh itu tidak bisa kita biarkan. Jaringan dengan publik dan masyarakat pendukung harus dijalin dengan mengakomodasi kasus kasus tertentu. Independensi KPK harus tegar dengan segala cara.

Sjahruddin Rasul
KPK harus dorong terus konsep island of integrity. Di samping itu, pencegahan melalui pendidikan antikorupsi harus dipikirkan karena dengan penindakan saja, koruptor baru akan tumbuh terus. Selain itu, KPK harus meningkatkan kerja sama dengan luar negeri karena banyak uang kita yang lari keluar. Maka, kegiatan penindakan harus juga menarik uang di luar negeri. Kita sudah banyak kerjasama dengan luar negeri, dan kita bisa manfaatkan untuk bagaimana caranya untuk asset tracing.

Taufiequrachman Ruki
Pemberantasan korupsi sangat simpel untuk diucapkan, namun tergantung para pimpinan. Pimpinan bukan gladiator, melainkan warrior. Warrior mati untuk kejayaan, bukan kememangan. Pemimpin di KPK harus kolegial, bukan hanya lima, tapi juga harus melebur dengan staf dan pegawai. Pemimpin KPK adalah lima ini. Soal pengambilan keputusan, kita punya hak yang sama. Bukan berarti kita tidak ada perbedaan pendapat dengan pemimpin lainnya, tapi kita selesaikan dalam kedewasaan dan kenyataan. Dengan beda pendapat ini, kita jadi sahabat. Mekanisme kita tidak ada tersangka ditetapkan oleh ketua, tapi oleh penyidik. Tersangka yang tetapkan adalah penyidik dengan supervisi JPU. Kita putuskan bersama.

LAMPIRAN

LAMPIRAN

44 PENINDAKAN 2010
PENYIDIKAN
1. Perkara TPK turut serta terkait perbuatan TAJ (Bupati Pelalawan) dkk, melakukan TPK terkait dengan penilaian dan pengesahan RKT UPHHKHT pada areal yang diberikan IUPHHKT-HT Tahun 2001 s.d. 2006 di wilayah Kabupaten Pelalawan kepada sejumlah perusahaan tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan dan mengakibatkan kerugian keuangan negara atau perekonomian negara atas nama tersangka ST (mantan Kadishut Prov. Riau). Perkara TPK turut serta terkait perbuatan TAJ (Bupati Pelalawan) dkk, melakukan TPK terkait dengan penilaian dan pengesahan RKT UPHHKHT pada areal yang diberikan IUPHHKT-HT Tahun 2001 s.d. 2006 di wilayah Kabupaten Pelalawan kepada sejumlah perusahaan tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan dan mengakibatkan kerugian keuangan negara atau perekonomian negara atas nama tersangka AR (mantan Kadishut Prov. Riau). Perkara TPK turut serta terkait perbuatan TAJ (Bupati Pelalawan) dkk, melakukan TPK terkait dengan penilaian dan pengesahan RKT UPHHKHT pada areal yang diberikan IUPHHKT-HT Tahun 2001 s.d. 2006 di wilayah Kabupaten Pelalawan kepada sejumlah perusahaan tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan dan mengakibatkan kerugian keuangan negara atau perekonomian negara atas nama tersangka BH (mantan Kadishut Prov. Riau). Perkara TPK sehubungan dengan permintaan dan penerimaan sejumlah dana terkait dengan proses permohonan alih fungsi hutan lindung Pantai Air Telang Sumatera Selatan atas nama tersangka AC, HI, dan FAL (anggota DPR RI). Perkara TPK dalam penggunaan dana Kantor Bank Jabar untuk kepentingan pribadi dan/atau pihak lain yang terjadi antara tahun 2003-2005 atas nama tersangka UKS (mantan Direktur Operasi Bank Jabar) dan ASS (mantan Direktur Pemasaran). Perkara TPK terkait penerbitan izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu pada hutan tanaman tahun 2001-2003 di wilayah Kabupaten Siak kepada sejumlah perusahaan yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan mengakibatkan kerugian keuangan negara atau perekonomian negara dan/ atau menerima hadiah berkaitan dengan kekayaan atau kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya atas nama tersangka AAS (Bupati Siak) dkk. Perkara TPK dalam penerimaan/pemberian travellers cheqeu (TC) oleh anggota DPR RI periode 1999-2004 karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya berkaitan dengan pemilihan Deputi Senior Bank Indonesia pada tahun 2004 atas nama tersangka DMM (anggota DPR RI) dkk. 8. Perkara TPK dalam penerimaan/pemberian travellers cheqeu (TC) oleh anggota DPR RI periode 1999-2004 karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya berkaitan dengan pemilihan Deputi Senior Bank Indonesia pada tahun 2004 atas nama tersangka EAJS (anggota DPR RI) dkk. Perkara TPK dalam penerimaan/pemberian travellers cheqeu (TC) oleh anggota DPR RI periode 1999-2004 karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya berkaitan dengan pemilihan Deputi Senior Bank Indonesia pada tahun 2004 atas nama tersangka UD (anggota DPR RI) dkk. sangka WS (Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan Setjen Dephut RI). 15. Perkara TPK dalam Pengadaan Sistem Komunikasi Radio Terpadu untuk Bagian Anggaran 69 pada Sekretariat Jenderal Departemen Kehutanan RI pada tahun 2006 dan 2007 atas nama tersangka PAP (swasta). 16. Perkara TPK orang yang secara bersama-sama atau turut serta terkait perbuatan Madiono dkk dalam pelaksanaan pengadaan alat rontgen portable untuk pelayanan Puskesmas di daerah tertinggal, terpencil, perbatasan dan pulau-pulau kecil di Biro Perencanaan dan Anggaran Sekjen Departemen Kesehatan RI TA. 2007 atas nama tersangka ES (Direktur Bina Kesehatan Komunitas Ditjen Bina Kesehatan Masyarakat Depkes RI). 17. Perkara TPK orang yang secara bersama-sama atau turut serta terkait perbuatan Madiono dkk dalam pelaksanaan pengadaan alat rontgen portable untuk pelayanan Puskesmas di daerah tertinggal, terpencil, perbatasan dan pulau-pulau kecil di Biro Perencanaan dan Anggaran Sekjen Departemen Kesehatan RI TA. 2007 atas nama tersangka BM (swasta). 18. Perkara TPK dalam pengadaan mobil pemadam kebakaran merek Morita TA. 2004 dan 2005 di Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam atas nama tersangka IA (Ketua Otorita Batam). 19. Perkara TPK dalam pengadaan Jasa Angkutan KRL Hibah eks. Jepang tahun 2006-2007 yang atas nama tersangka SES (Direktur Jenderal Perkeretaapian Departemen Perhubungan RI). 20. Perkara TPK dalam pengadaan tanah untuk pasar pada Pemerintah Kabupaten Brebes TA. 2003 atas nama tersangka IK (Bupati Brebes) dkk. 21. Perkara TPK penerimaan hadiah oleh pemeriksa pajak Bank Jabar pada tahun 2004 sebagai imbalan atas pengurangan jumlah pajak kurang bayar Bank Jabar tahun buku 2002 atas nama tersangka ES (Kepala Kantor Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak Bandung Satu). 22. Perkara TPK sebagaimana orang yang bersama-sama atau turut serta WMPS dalam TPK berupa penerimaan dana taktis pada kegiatan proyek pembangunan jaringan distribusi gas (Pemjadig) yang menggunakan APBN TA. 2003 atas nama tersangka DP (Direktur Keuangan PT PGN Persero). 23. Perkara TPK terkait perbuatan melakukan, menyuruh melakukan, turut serta melakukan perbuatan dengan sengaja

2.

9.

3.

10. Perkara TPK dalam penerimaan/pemberian travellers cheqeu (TC) oleh anggota DPR RI periode 1999-2004 karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya berkaitan dengan pemilihan Deputi Senior Bank Indonesia pada tahun 2004 atas nama tersangka HY (anggota DPR RI) dkk. 11. Perkara TPK pemberian sejumlah uang kepada anggota Komisi IV DPR RI dan pejabat Departemen Kehutanan RI terkait dengan proses Pengajuan Anggaran Sistem Komunikasi Radio Terpadu (SKRT) Departemen Kehutanan tahun 2007-2008 atas nama tersangka AW (swasta) dkk. 12. Perkara TPK dalam pengelolaan APBD pada Biro Hukum Sekretariat Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibu kota Jakarta TA. 2006-2007 atas nama tersangka JES (Kepala Biro Hukum Setda DKI Jakarta). 13. Perkara TPK dalam pengadaan peralatan kesehatan untuk rumah sakit rujukan penanganan Flu Burung dari DIPA APBN-P Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat TA. 2006 atas nama tersangka SY (Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat). 14. Perkara TPK dalam Pengadaan Sistem Komunikasi Radio Terpadu untuk Bagian Anggaran 69 pada Sekretariat Jenderal Departemen Kehutanan RI pada tahun 2006 dan 2007 atas nama ter-

4.

5.

6.

7.

LAMPIRAN mencegah atau merintangi atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan disidang pengadilan terhadap tersangka atau terdakwa ataupun para saksi dalam perkara korupsi, dan/ atau perbuatan melakukan percobaan memberi atau menjanjikan sesuatu kepada pimpinan KPK dan/atau pegawai KPK, pembantuan atau pemufakatan jahat untuk melakukan TPK atas nama tersangka AW (swasta) dkk. 24. Perkara TPK dalam pengadaan mesin jahit dan sapi impor pada bagian proyek pengentasan fakir miskin Departemen Sosial pada tahun 2004 dan 2006 yang menggunakan anggaran APBN atas nama tersangka BC (mantan Menteri Sosial RI). 25. Perkara TPK pada proyek pembangunan jalan Palembang – Tanjung Api-api Sumatera Selatan TA. 2005-2008 atas nama tersangka DD (Kepala Dinas PU Bina Marga) dkk. 26. Perkara TPK penyalahgunaan dana APBD dan OTSUS Pemda Kabupaten Boven Digoel Prov Papua TA. 20062007 atas nama tersangka YY (Bupati Kab. Boven Digoel). 27. Perkara TPK dalam pengadaan sarung yang dananya berasal dari pengelolaan rekening pemerintah pada Departemen Sosial pada tahun 2006-2008 atas nama tersangka BC (mantan Menteri Sosial RI). 28. Perkara TPK sebagai orang yang bersama-sama atau turut serta dalam perkara TPK pada pengadaan mesin jahit pada bagian proyek pengentasan fakir miskin Depsos Tahun 2004 dan 2006 yang dilakukan oleh tersangka BC (mantan Menteri Sosial RI) atas nama tersangka MA (swasta). 29. Perkara TPK sebagai orang yang bersama-sama atau turut serta dalam perkara TPK pada pengadaan sarung yang dananya berasal dari pengelolaan rekening pemerintah pada Depsos Tahun 2006-2008 yang dilakukan oleh tersangka BC (mantan Menteri Sosial RI) atas nama tersangka CR (swasta). 30. Perkara TPK dalam pengadaan Roll Out Customer Information System – Rencana Induk Sistem Informasi (CIS-RISI) pada PT PLN (Persero) Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang yang diduga dilakukan oleh tersangka EWS (Direktur Utama PT PLN (Persero)) dkk. 31. Perkara TPK sebagai orang yang bersama-sama atau turut serta dalam perkara TPK pada pengadaan sapi impor di bagian proyek pengentasan fakir miskin Depsos Tahun 2004 dan 2006 yang dilakukan tersangka BC (mantan Menteri Sosial RI) atas nama tersangka IKBR (swasta). 32. Perkara TPK yaitu setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi karena jabatan atau kedudukannnya wilayah Lampung Periode 11 Maret 2004-8 Februari 2008 atas nama tersangka BH (General Manager PT PLN (Persero)) dkk. 33. Perkara TPK terkait dengan memberi atau menjanjikan sesuatu kepada hakim atau pegawai negeri atau penyelenggara negara dengan maksud supaya berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya atau karena berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajibannya atas nama tersangka AS (pengacara). 34. Perkara TPK terkait dengan Hakim atau Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara yang menerima hadiah, pemberian atau janji atas nama tersangka I (Hakim Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara) dkk. 35. Perkara TPK dalam penyalahgunaan dan pengelolaan kas daerah Kabupaten langkat serta penyalahgunaan penggunaan APBD Kabupaten Langkat pada 2000-2007 atas nama tersangka SA (Bupati Langkat) dkk. 36. Perkara TPK sebagai orang yang turut serta atau bersama-sama terkait perbuatan Budiarto Maliang dan Edi Suranto dkk dalam pelaksanaan pengadaan alat rontgen portable untuk pelayanan puskesmas di daerah tertinggal, terpencil, perbatasan dan pulau-pulau kecil di Biro Perencanaan dan Anggaran Sekjen Depkes RI tahun 2007 dan perbuatannya menerima hadiah atas nama tersangka SA (mantan Sekjen Depkes 2004-2009). 37. Perkara TPK sebagai orang yang turut serta atau bersama-sama terkait perbuatan AS dalam tindak pidana memberi atau menjanjikan sesuatu kepada hakim atau pegawai negeri atau penyelenggara negara dengan maksud supaya berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya atau karena berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajibannya atas nama tersangka DLS (swasta). 38. Perkara TPK dalam pelaksanaan pengadaan peralatan medik dari sisa dana pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin dalam rangka wabah flu burung (avian influenza) pada Dirjen Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan dan dalam pelaksanaan pengadaan peralatan kesehatan penanganan wabah flu burung (avian influenza) dana APBN-P Sekretariat Dirjen Bina Pelayanan Medik Depkes TA. 2006 atas nama tersangka MAH (Ses.ditjen Bina Pelayanan Medik Depkes RI Tahun 2006) dkk. 39. Perkara TPK permintaan dan penerimaan sejumlah uang oleh penyelenggara negara terkait dengan renovasi gedung kantor, wisma duta besar, wisma DC dan rumah-rumah dinas KBRI di Singapura tahun 2003-2004 yang diduga dilakukan oleh SP (mantan Duta Besar Amerika Serikat). 40. Perkara TPK dalam Pengadaan dan Pemasangan Listrik Tenaga Surya (PLTS) berupa Solar Home System (SHS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLMTH) pada Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (LP ESDM) TA. 2009 atas nama tersangka JP (Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi Kementerian ESDM) dan MRS. 41. Perkara TPK memberi sesuatu/hadiah berupa uang kepada pejabat BPK RI perwakilan Jabar terkait pelaksanaan pemeriksaan laporan keuangan Pemerintah Daerah Kota Bekasi TA. 2009 atas nama tersangka HL dan HS (pegawai Pemkot Bekasi). 42. Perkara TPK menerima sesuatu/hadiah berupa uang dari pejabat pemerintah Kota Bekasi terkait pelaksanaan pemeriksaan laporan keuangan Pemerintah Daerah Kota Bekasi TA. 2009 atas nama tersangka S, EH bersama-sama dengan GS (Kepala Perwakilan BPK Prov. Jabar). 43. Perkara TPK dalam penggunaan APBD Pemkot Tomohon TA. 2006-2008 atas nama tersangka JSMR (Wali Kota Tomohon). 44. Perkara TPK yaitu secara bersamasama atau turut serta dengan Umar Sjarifuddin (mantan Dirut Bank Jabar) melakukan pemberian berupa uang kepada Pemeriksa Pajak Karipka Bandung Satu pada tahun 2004 atau pengurangan jumlah pajak kurang bayar PT Bank Jabar tahun pajak 2001 dan 2002 atas nama tersangka HAB (mantan Pindiv. Akuntansi PT Bank Jabar). 45. Perkara TPK yaitu secara bersamasama atau turut serta dengan Umar Sjarifuddin (mantan Dirut Bank Jabar) melakukan pemberian berupa uang kepada Pemeriksa Pajak Karipka Bandung Satu pada tahun 2004 atau pengurangan jumlah pajak kurang bayar PT Bank Jabar tahun pajak 2001 dan 2002 atas nama tersangka RY, MY, dan DRM (mantan Pemeriksa Pajak Karipka Bandung Satu). 46. Perkara TPK yaitu menerima pemberian/hadiah berupa uang pada tahun 2004 terkait dengan pemeriksaan pajak PT Bank Jabar atas pengurangan jumlah pajak kurang bayar PT Bank Jabar tahun pajak 2001 dan 2002 atas nama tersangka DS (mantan Pemeriksa Pajak Karipka Bandung Satu).

45

LAMPIRAN

46

47. Perkara TPK dalam pengadaan outsourcing pengelolaan sistem informasi (CIS) berbasis IT mencakup Sistem Informasi Pengelolaan Piutang Pelanggan (SIP3) pada PT PLN (Persero) Wilayah Lampung pada Desember 2003 s.d. Maret 2004 atas nama tersangka HS (General Manager PT PLN (Persero) wilayah Lampung Periode 2002 – 2003). 48. Perkara TPK sebagai orang yang turut serta atau bersama-sama dengan Hariadi Sadono (GM PT PLN Persero Wilayah Lampung Periode Maret 2004-2008) dalam pengadaan outsourcing pengelolaan sistem informasi CIS Berbasi IT mencakup Sistem Informasi Pengelolaan Piutang Pelanggan (SIP3) pada PT PLN wilayah Lampung tahun 20032008 dan perbuatannya memberikan hadiah atau janji kepada pegawai PT PLN (Persero) atas nama tersangka GK (Direktur Utama PT Altelindo Karyamandiri). 49. Perkara TPK bersama-sama memberikan sesuatu/hadiah berupa uang kepada pejabat BPK RI perwakilan Jawa Barat terkait pelaksanaan pemeriksaan laporan keuangan Pemda Kota Bekasi TA. 2009 atas nama tersangka TUE (Sekda Kota Bekasi). 50. Perkara TPK sebagai orang yang bersama-sama atau turut serta atau turut membantu terkait perbuatan AW dkk dalam melakukan perbuatan permufakatan jahat untuk melakukan, menyuruh melakukan, turut serta melakukan perbuatan dengan sengaja mencegah merintangi atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan disidang pengadilan terhadap tersangka atau terdakwa ataupun para saksi dalam perkara korupsi yang terjadi pada tahun 2008 sampai dengan tahun 2009, dan/ atau perbuatan bersama-sama atau turut serta, membantu melakukan percobaan memberi atau menjanjikan sesuatu kepada pimpinan KPK dan/atau pegawai KPK atas nama tersangka AM (swasta). 51. Perkara TPK dalam pelaksanaan pengadaan alat kesejahteraan dan perbekalan dalam rangka wabah flu burung (avian influenza) Dana APBN Direktorat Bina Pelayanan Medik Dasar Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Depkes RI TA. 2006 atas nama tersangka RDU (Direktur Bina Pelayanan Medik Dasar Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Depkes RI) dkk. 52. Perkara TPK dalam pengadaan dan pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berupa Solar Home System (SHS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) pada Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (LPE ESDM) TA. 2009 atas nama tersangka JP, (Dirjen LPE Departe-

men ESDM) dan MRS Pejabat Pembuat Komitmen) dkk. 53. Perkara TPK penerimaan sejumlah TC BII oleh anggota DPR RI Komisi IX periode 1999 s.d. 2004 dalam rangka pemilihan Deputi Gubernur Senior (DGS) Bank Indonesia pada tahun 2004 yang dilakukan bersama-sama Hamka Yandhu atas nama tersangka AHZ, MBS, PS, BSHS, AZA (anggota DPR RI) dkk. 54. Perkara TPK penerimaan sejumlah TC BII oleh anggota DPR RI Komisi IX periode 1999 s.d. 2004 dalam rangka pemilihan Deputi Gubernur Senior (DGS) Bank Indonesia pada tahun 2004 yang dilakukan bersama-sama Dudhie Makmun Murod atas nama tersangka ACP, MM, RL, PS, dan WMT (anggota DPR RI). 55. Perkara TPK penerimaan sejumlah TC BII oleh anggota DPR RI Komisi IX periode 1999 s.d. 2004 dalam rangka pemilihan Deputi Gubernur Senior (DGS) Bank Indonesia pada tahun 2004 yang dilakukan bersama-sama Hamka Yandhu, atas nama tersangka MN, ARS, RK, BA, dan HB (anggota DPR RI). 56. Perkara TPK penerimaan sejumlah TC BII oleh anggota DPR RI Komisi IX periode 1999 s.d. 2004 dalam rangka pemilihan Deputi Gubernur Senior (DGS) Bank Indonesia pada tahun 2004 yang dilakukan bersama-sama EJS atas nama tersangka DT dan SU (anggota DPR RI). 57. Perkara TPK penerimaan sejumlah TC BII oleh anggota DPR RI Komisi IX periode 1999 s.d. 2004 dalam rangka pemilihan Deputi Gubernur Senior (DGS) Bank Indonesia pada tahun 2004 yang dilakukan bersama-sama Dudhie Makmun Murod atas nama tersangka PN, EP, MI, B, dan JT (anggota DPR RI). 58. Perkara TPK penerimaan sejumlah TC BII oleh anggota DPR RI Komisi IX periode 1999 s.d. 2004 dalam rangka pemilihan Deputi Gubernur Senior (DGS) Bank Indonesia pada tahun 2004 yang dilakukan bersama-sama Dudhie Makmun Murod atas nama tersangka NLM, SPS, dan MP (anggota DPR RI). 59. Perkara TPK dalam pengadaan mobil pemadam kebakaran dengan menggunakan pompa merek Tohatsu type V80ASM dan merek Morita di beberapa Pemprov/PemKab./Pemkot dengan pembayaran bersumber dari APBD tahun 2002 s.d. 2005 atas nama tersangka HS (mantan Menteri Dalam Negeri). 60. Perkara TPK dalam penerimaan sejumlah uang dari Otorita Batam dalam rangka usulan anggaran Otorita Batam Tahun 2004 dan 2005 atas nama tersangka SU (anggota DPR RI). 61. Perkara TPK dalam pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan APBD 2.

Pemerintah Kota Bekasi dan/atau perbuatan melakukan percobaan perbantuan, atau permufakatan jahat untuk memberi atau menjanjikan sesuatu terkait dengan Adipura dan pengesahan APBD 2010 Pemerintah Kota Bekasi atas nama tersangka MM (Wali Kota Bekasi) dkk. 62. Perkara TPK dalam pengelolaan dana penanggulangan bencana alam Nias Tahun 2007 atas nama tersangka BBB (Bupati Nias).

PENUNTUTAN
1. Perkara TPK atas nama terdakwa AULIA T. POHAN, BUN BUNAN E.J HUTAPEA, ASLIM TADJUDDIN dan MAMAN HUSEIN SOMANTRI sehubungan dengan TPK dalam penggunaan dana Bank Indonesia yang dikelola oleh Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI) untuk kepentingan Bank Indonesia dengan tidak melalui mekanisme penganggaran dan pertanggungjawaban (inkracht MA). Perkara TPK atas nama terdakwa MOHAMAD IQBAL sehubungan dengan TPK pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji yang berhubungan dengan jabatan (inkracht MA). Perkara TPK atas nama terdakwa MULYONO SUBROTO sehubungan dengan TPK pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji yang berhubungan dengan jabatan (inkracht MA). Perkara TPK atas nama terdakwa ERRY FUAD sehubungan dengan TPK pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji yang berhubungan dengan jabatan (inkracht MA). Perkara TPK atas nama terdakwa ISMUNARSO sehubungan dengan TPK penyalahgunaan APBD Kabupaten Situbondo TA 2005-2007 (inkracht MA). Perkara TPK atas nama terdakwa JIMMY RIMBA ROGI sehubungan dengan TPK penyalahgunaan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Pemerintah Kota Manado TA. 2006 (inkracht MA). Perkara TPK atas nama terdakwa TRIJONO sehubungan dengan TPK penyelenggara negara menerima sesuatu, hadiah atau janji yang terjadi pada Strategic Business Unit (SBU) II wilayah Jawa bagian Timur PT Perusahaan Gas Negara (Persero), Tbk (inkracht MA). Perkara TPK atas nama terdakwa BAGINDO QUIRINO sehubungan dengan penerimaan uang oleh Auditor BPK-RI terkait Pemeriksaan BPK-RI terhadap Penggunaan DPKK dan Dana Pembi-

3.

4.

5.

6.

7.

8.

LAMPIRAN naan Penempatan Penyelenggaraan TKI (DP3TKI) TA. 2004 pada Ditjen PPTKDN/Binapendagri Depnakertrans pada periode Juli-Agustus 2005 dan dalam Pemeriksaan BPK-RI pada Proyek Pengembangan Sistem Pelatihan dan Pemagangan TA. 2004 pada Ditjen PPTKDN Depnakertrans periode Oktober - Nopember 2005 (inkracht MA). 9. Perkara TPK atas nama terdakwa SYAHRIAL OESMAN sehubungan dengan perbuatan turut serta terhadap pemberian sejumlah dana kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara terkait dengan proses permohonan alih fungsi hutan lindung Pantai Air Telang Sumatera Selatan (inkracht MA). Kab. Supiori Prov. Papua TA. 20062008 Kab. Supiori (kasasi). 16. Perkara TPK atas nama terdakwa ABDUL HAMID RIZAL dan DAENG RUSNADI sehubungan dengan enggunaan APBD Kabupaten Natuna TA. 2004 yang tidak sesuai dengan peruntukkannya dan pengeluaran kas tidak sesuai dan pengeluaran kas tidak disertai bukti yang lengkap dan sah (inkracht PN). 17. Perkara TPK atas nama terdakwa HARIADI SADONO sehubungan dengan Pengadaan Outsourcing Pengelolaan Sistem Manajemen Pelanggan (Customer Management System) berbasis Teknologi Informasi pada PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur Tahun 2004 -2008 (inkracht MA). 18. Perkara TPK atas nama terdakwa UMAR SJARIFUDDIN sehubungan dengan penggunaan dana Kantor Bank Jabar untuk kepentingan pribadi dan/atau pihak lain yang terjadi pada tahun 20032005 (kasasi). 19. Perkara TPK atas nama terdakwa ACHMAD SUJUDI sehubungan dengan penggunaan alat kesehatan untuk Rumah Sakit Kawasan Timur Indonesi (KTI) dan Palang Merah Indonesia (PMI) oleh Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Dep. Kesehatan RI pada TA. 2003 dari Dana Anggaran Belanja Tambahan (ABT) (inkracht PT). 20. Perkara TPK atas nama terdakwa GUNAWAN PRANOTO (Kasasi) dan RINALDI YUSUF (inkracht PN) sehubungan dengan penggunaan Alat Kesehatan untuk Rumah Sakit Kawasan Timur Indonesia (KTI) dan Palang Merah Indonesia (PMI) oleh Ditjen Pelayanan Medik Dep. Kesehatan RI. 21. Perkara TPK atas nama terdakwa Dr. MADIONO, MPH sehubungan dengan Pelaksanaan Pengadaan Alat Rontgen Portable untuk Pelayanan Puskesmas di Daerah Tertinggal, Terpencil, Perbatasan, dan Pulau-pulau Kecil di Biro Perencanaan dan Anggaran Setjen Dep. Kesehatan RI (inkracht PN). 22. Perkara TPK atas nama terdakwa WASHINGTON MAMPE PARULIAN SIMANJUTAK berupa penyelenggara negara menerima atau memberikan sesuatu, hadiah atau janji, dikarenakan atau dengan menyalahgunakan atau dengan mengingat kekuasaan atau wewenang yang berhubungan atau melekat dengan jabatannya pada PT Perusahaan Gas Negara (Persero) periode tahun 20012006 (inkracht PN). 23. Perkara TPK atas nama terdakwa R. SALEH ABDUL MALIK, ACHMAD FATHONY ZAKARIA dan ARTHUR PELUPESSY yaitu orang yang bersama-sama atau turut serta pada perkara TPK dalam pengadaan outsourcing Pengelolaan Sistem Manajemen Pelanggan (Customer Management System) berbasis teknologi Informasi pada PT PLN (Persero) distribusi Jawa Timur tahun 20042008 (inkracht PN). 24. Perkara TPK atas nama terdakwa UCE KARNA SUGANDA dan ABAS SUHARI SOMANTRI dalam penggunaan dana Kantor Bank Jabar untuk kepentingan pribadi dan/atau pihak lain yang terjadi antara tahun 2003-2005 (kasasi). 25. Perkara TPK atas nama terdakwa UDJU DJUHAERI sehubungan dengan penerimaan/pemberian travellers cheque (TC) oleh Anggota DPR RI periode tahun 1999-2004, karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya, berkaitan dengan pemilihan Deputi Senior Bank Indonesia pada tahun 2004 (inkracht PN). 26. Perkara TPK atas nama terdakwa H. DUDHIE MAKMUN MUROD, MBA sehubungan dengan penerimaan/pemberian travellers cheque (TC) oleh Anggota DPR RI periode tahun 1999-2004, karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya, berkaitan dengan pemilihan Deputi Senior Bank Indonesia pada tahun 2004 (inkracht PN). 27. Perkara TPK atas nama terdakwa ENDIN AKHMAD JALALUDIN SOEFIHARA sehubungan dengan penerimaan/pemberian travellers cheque (TC) oleh anggota DPR RI periode tahun 1999-2004, karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya, berkaitan dengan pemilihan Deputi Senior Bank Indonesia pada tahun 2004 (inkracht PT). 28. Perkara TPK atas nama terdakwa HAMKA YANDHU YR sehubungan dengan penerimaan/pemberian travellers cheque (TC) oleh anggota DPR RI periode tahun 1999-2004, karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya, berkaitan dengan pemilihan Deputi Senior Bank Indonesia pada tahun 2004 (inkracht PN). 29. Perkara TPK atas nama terdakwa EDDI SETIADI sehubungan dengan penerimaan hadiah oleh Pemeriksa Pajak Bank Jabar pada tahun 2004 sebagai imbalan atas pengurangan jumlah pajak kurang bayar Bank Jabar tahun buku 2002 (inkracht PN). 30. Perkara TPK atas nama terdakwa Drs. DJOKO PRAMONO sebagai orang yang bersama-sama atau turut serta menerima dana taktis dari Rekanan Pelaksana Proyek Pembangunan Jaringan Distribusi Gas pada PT. Perusahaan Gas Negara

47

10. Perkara TPK atas nama terdakwa MUZNI TAMBUSAI sehubungan dengan pengelolaan dana/aset Eks. Yayasan Tabungan Pensiun Pekerja Pemborong Minyak dan Gas Bumi/YDTP-MIGAS (inkracht PN). 11. Perkara TPK atas nama terdakwa OENTARTO SINDUNG MAWARDI sehubungan dengan penerbitan Radiogram dalam pengadaan mobil pemadam kebakaran dengan menggunakan pompa merek Tohatsu type V 80 ASM dan pembebasan bea masuk/pajak mobil pemadam kebakaran merek Morita di beberapa pemprov/pemkab/pemkot dengan pembayaran bersumber dari APBD tahun 2000-2005 (inkracht PN). 12. Perkara TPK atas nama terdakwa SAMUEL HENGKY DAUD, MBA. Als HENGKY SAMUEL DAUD sehubungan dengan pengadaan mobil pemadam kebakaran dengan menggunakan pompan merek Tohatsu type V 80 ASM dan merek Morita di berbagai pemprov/pemkab/pemkot yang dananya bersumber dari APBD Tahun 2002-2005 (meninggal dunia). 13. Perkara TPK atas nama terdakwa DJONI ANWIR ALGAMAR dan TANSEAN PARLINDUNGAN MALAU sehubungan dengan pelaksanaan Pengadaan Kapal Patroli Klas III type FRP panjang 28,5 meter pada Ditjen Perhubungan Laut Dep. Perhubungan (inkracht PN). 14. Perkara TPK atas nama terdakwa JULES FITZGERALD WARIKAR sehubungan dengan pembangunan renovasi pasar sentral Supiori, terminal induk, rumah dinas pejabat eselon, dan renovasi pasar sentral Supiori untuk Kantor Cabang Bank Papua yang menggunakan dana APBD Kab. Supiori Prov. Papua TA. 2006-2008 Kab. Supiori (inkracht PN). 15. Perkara TPK atas nama terdakwa SURYADI SENTOSA sehubungan dengan pembangunan renovasi pasar sentral Supiori, terminal induk, rumah dinas pejabat eselon, dan renovasi pasar sentral Supiori untuk Kantor Cabang Bank Papua yang menggunakan dana APBD

LAMPIRAN

48

(Persero) Tbk. yang menggunakan dana APBN TA. 2003 (inkracht PN). 31. Perkara TPK atas nama terdakwa BUDIARTO MALIANG sehubungan dengan secara bersama-sama atau turut serta dalam pelaksanaan pengadaan alat rontgen portable untuk pelayanan puskesmas di daerah tertinggal, terpencil, perbatasan, dan pulau-pulau kecil di Biro Perencanaan dan Anggaran Sekretariat Jenderal Dep. Kesehatan RI TA. 2007 (inkracht PN). 32. Perkara TPK atas nama terdakwa ISMETH ABDULLAH sehubungan dengan pelaksanaan pengadaan mobil pemadam kebakaran merek Morita pada TA. 2004-2005 di Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam (inkracht PN). 33. Perkara TPK atas nama terdakwa ANGGODO WIDJOJO sehubungan dengan perbuatan melakukan, menyuruh melakukan, turut serta melakukan perbuatan dengan sengaja mencegah, merintangi atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap tersangka atau terdakwa ataupun para saksi dalam perkara korupsi yang terjadi pada tahun 2008-2009, dan/atau perbuatan melakukan percobaan memberi atau menjanjikan sesuatu kepada pimpinan KPK dan/atau pegawai KPK, pembantuan atau permufakatan jahat untuk melakukan Tindak Pidana Korupsi (kasasi). 34. Perkara TPK atas nama terdakwa AZWAR CHESPUTRA, HILMAN INDRA, dan FACHRI ANDI LELUASA sehubungan dengan permintaan dan penerimaan sejumlah dana terkait dengan proses Alih Fungsi Hutan Lindung Pantai Air Telang Prov. Sumatera Selatan (inkracht PN). 35. Perkara TPK atas nama terdakwa IBRAHIM SH sehubungan dengan Hakim atau Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara yang menerima hadiah, pemberian atau janji (kasasi). 36. Perkara TPK atas nama terdakwa H ASRAL RACHMAN, SH sehubungan dengan TPK turut serta terkait perbuatan H Tengku Azmun Jaafar, SH (Bupati Pelalawan) dkk dalam penilaian dan pengesahan RKT UPHHKHT pada areal yang diberikan IUPHHKT-HT Tahun 2001 s.d. 2006 di wilayah Kabupaten Pelalawan (inkracht PN). 37. Perkara TPK atas nama terdakwa YUSAK YALUWO sehubungan dengan penyalahgunaan dana APBD dan OTSUS Pemda Kabupaten Boven Digoel Prov. Papua TA. 2006-2007 (banding). 38. Perkara TPK atas nama terdakwa INDRA KUSUMA dkk sehubungan dengan pengadaan tanah untuk pasar pada Pemer-

intah Kabupaten Brebes TA. 2003 (inkracht PN). 39. Perkara TPK atas nama tersangka ADNER SIRAT SH (inkracht PN) dan DARIANUS LUNGGUK SITORUS (banding) sehubungan dengan memberi atau menjanjikan sesuatu kepada Hakim atau pegawai negeri atau penyelenggara negara dengan maksud supaya berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya atau karena berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajibannya. 40. Perkara TPK atas nama terdakwa JORNAL EFFENDI SIAHAAN sehubungan dengan pengelolaan APBD pada Biro Hukum Sekretariat Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibu kota Jakarta TA. 2006-2007 (banding). 41. Perkara TPK atas nama terdakwa EDI SURANTO sehubungan dengan orang yang secara bersama-sama atau turut serta terkait perbuatan Madiono dkk dalam pelaksanaan pengadaan alat rontgen portable untuk pelayanan Puskesmas di daerah tertinggal, terpencil, perbatasan dan pulau-pulau kecil di Biro Perencanaan dan Anggaran Sekjen Departemen Kesehatan RI TA. 2007 (tahap persidangan). 42. Perkara TPK atas nama terdakwa ROY YULIANDRI, MUHAMMAD YAZID, dan DIEN RAJANA MULYA sehubungan dengan orang yang secara bersama-sama atau turut serta dengan Umar Sjarifuddin (mantan Dirut Bank Jabar) melakukan pemberian berupa uang kepada Pemeriksa Pajak Karipka Bandung Satu pada tahun 2004 atau pengurangan jumlah pajak kurang bayar PT Bank Jabar tahun pajak 2001 dan 2002 (tahap persidangan). 43. Perkara TPK atas nama terdakwa HERRY SUPARJAN dan HERRY LUKMANTOHARI sehubungan dengan pemberian sesuatu/hadiah berupa uang kepada pejabat BPK RI perwakilan Jabar terkait pelaksanaan pemeriksaan laporan keuangan Pemerintah Daerah Kota Bekasi TA. 2009 (inkracht PN). 44. Perkara TPK atas nama terdakwa SUHARTO dan ENANG HERNAWAN sehubungan dengan penerimaan sesuatu/ hadiah berupa uang dari pejabat pemerintah Kota Bekasi terkait pelaksanaan pemeriksaan laporan keuangan Pemerintah Daerah Kota Bekasi TA. 2009 (inkracht PN). 45. Perkara TPK atas nama terdakwa TJANDRA UTAMA EFFENDI sehubungan dengan orang yang bersama-sama memberikan sesuatu/hadiah berupa uang kepada pejabat BPK RI perwakilan Jawa Barat terkait pelaksanaan pemeriksaan laporan keuangan Pemda Kota Bekasi TA. 2009 (inkracht PN).

46. Perkara TPK atas nama terdakwa BUDI HARSONO setiap setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi karena jabatan atau kedudukannya wilayah Lampung Periode 2004-2008 (tahap persidangan). 47. Perkara TPK atas nama terdakwa DEDI SUWARDI sehubungan dengan penerimaan pemberian/hadiah berupa uang pada tahun 2004 terkait dengan pemeriksaan pajak PT Bank Jabar atas pengurangan jumlah pajak kurang bayar PT Bank Jabar tahun pajak 2001 dan 2002 (tahap persidangan). 48. Perkara TPK atas nama terdakwa HERRY ACHMAD BUCHORI sehubungan dengan orang yang bersama-sama atau turut serta dengan Umar Sjarifuddin (mantan Dirut Bank Jabar) melakukan pemberian berupa uang kepada Pemeriksa Pajak Karipka Bandung Satu pada tahun 2004 atau pengurangan jumlah pajak kurang bayar PT Bank Jabar tahun pajak 2001 dan 2002 (inkracht PN). 49. Perkara TPK atas nama terdakwa SUDJADNAN PARNOHADININGRAT sehubungan dengan permintaan dan penerimaan sejumlah uang oleh penyelenggara negara terkait dengan renovasi gedung kantor, wisma duta besar, wisma DC dan rumah-rumah dinas KBRI di Singapura tahun 2003-2004 (tahap persidangan). 50. Perkara TPK atas nama terdakwa PUTRONEFO A PRAYUGO sehubungan dengan pengadaan Sistem Komunikasi Radio Terpadu untuk Bagian Anggaran 69 pada Sekretariat Jenderal Departemen Kehutanan RI tahun 2006 dan 2007 (tahap persidangan). 51. Perkara TPK atas nama terdakwa SJAFII AHMAD sebagai orang yang turut serta atau bersama-sama terkait perbuatan Budiarto Maliang dan Edi Suranto dkk dalam pelaksanaan pengadaan alat Rontgen Portable untuk pelayanan Puskesmas di daerah tertinggal, terpencil, perbatasan dan pulau-pulau kecil di Biro Perencanaan dan Anggaran Sekjen Depkes RI tahun 2007 dan perbuatannya menerima hadiah. 52. Perkara TPK atas nama terdakwa BACHTIAR CHAMSYAH sehubungan dengan pengadaan mesin jahit dan sapi impor pada bagian proyek pengentasan fakir miskin Departemen Sosial pada tahun 2004 dan 2006 serta pengadaan sarung yang dananya berasal dari pengelolaan rekening pemerintah pada Departemen Sosial pada tahun 20062008 (tahap persidangan). 53. Perkara TPK atas nama terdakwa WANDJOJO SISWANTO sehubungan dengan pengadaan Sistem Komunikasi Radio Terpadu (SKRT) untuk Bagian

LAMPIRAN Anggaran 69 pada Sekretariat Jenderal Departemen Kehutanan RI pada tahun 2006 dan 2007 (tahap persidangan). 54. Perkara TPK atas nama terdakwa DHARNA DACHLAN sehubungan dengan proyek pembangunan jalan Palembang – Tanjung Api-api Sumatera Selatan TA. 2005-2008. 55. Perkara TPK atas nama terdakwa JEFFERSON SOLEIMAN MONTESQIEU RUMAJAR sehubungan dengan penggunaan APBD Pemkot Tomohon TA. 20062008. 9. 8. Perkara TPK atas nama terdakwa JULES FITZGERALD WARIKAR sehubungan dengan pembangunan renovasi pasar sentral Supiori, terminal induk, rumah dinas pejabat eselon, dan renovasi pasar sentral Supiori untuk Kantor Cabang Bank Papua yang menggunakan dana APBD Kab. Supiori Prov. Papua TA. 2006-2008 Kab. Supiori (inkracht PN). Perkara TPK atas nama terdakwa AULIA T. POHAN, BUN BUNAN E.J HUTAPEA, ASLIM TADJUDDIN dan MAMAN HUSEIN SOMANTRI sehubungan dengan TPK dalam penggunaan dana Bank Indonesia yang dikelola oleh Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI) untuk kepentingan Bank Indonesia dengan tidak melalui mekanisme penganggaran dan pertanggungjawaban (inkracht MA). Proyek Pengembangan Sistem Pelatihan dan Pemagangan TA. 2004 pada Ditjen PPTKDN Depnakertrans periode Oktober-Nopember 2005 (inkracht MA). 16. Perkara TPK atas nama terdakwa WASHINGTON MAMPE PARULIAN SIMANJUTAK berupa penyelenggara negara menerima atau memberikan sesuatu, hadiah atau janji, dikarenakan atau dengan menyalahgunakan atau dengan mengingat kekuasaan atau wewenang yang berhubungan atau melekat dengan jabatannya pada PT Perusahaan Gas Negara (Persero) periode tahun 20012006 (inkracht PN). 17. Perkara TPK atas nama terdakwa UDJU DJUHAERI sehubungan dengan penerimaan/pemberian travellers cheque (TC) oleh Anggota DPR RI periode tahun 1999-2004, karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya, berkaitan dengan pemilihan Deputi Senior Bank Indonesia pada tahun 2004 (inkracht PN). 18. Perkara TPK atas nama terdakwa H. DUDHIE MAKMUN MUROD, MBA sehubungan dengan penerimaan/pemberian travellers cheque (TC) oleh Anggota DPR RI periode tahun 1999-2004, karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya, berkaitan dengan pemilihan Deputi Senior Bank Indonesia pada tahun 2004 (inkracht PN). 19. Perkara TPK atas nama terdakwa HAMKA YANDHU YR sehubungan dengan penerimaan/pemberian travellers cheque (TC) oleh Anggota DPR RI periode tahun 1999-2004, karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya, berkaitan dengan pemilihan Deputi Senior Bank Indonesia pada tahun 2004 (inkracht PN). 20. Perkara TPK atas nama terdakwa R. SALEH ABDUL MALIK, ACHMAD FATHONY ZAKARIA dan ARTHUR PELUPESSY yaitu orang yang bersama-sama atau turut serta pada perkara TPK dalam pengadaan Outsourcing Pengelolaan Sistem Manajemen Pelanggan (Customer Management System) berbasis teknologi Informasi pada PT PLN (Persero) distribusi Jawa Timur Tahun 20042008 (inkracht PN). 21. Perkara TPK atas nama terdakwa ACHMAD SUJUDI sehubungan dengan penggunaan alat kesehatan untuk Rumah Sakit Kawasan Timur Indonesi (KTI) dan Palang Merah Indonesia (PMI) oleh Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Dep. Kesehatan RI pada TA. 2003 dari Dana Anggaran Belanja Tambahan (ABT) (inkracht PT).

49

PERKARA YANG BERKEKUATAN HUKUM TETAP (INKRACHT VAN GEWIJSDE)
1. Perkara TPK atas nama terdakwa OENTARTO SINDUNG MAWARDI sehubungan dengan penerbitan Radiogram dalam pengadaan mobil pemadam kebakaran dengan menggunakan pompa merek Tohatsu type V 80 ASM dan pembebasab bea masuk/pajak mobil pemadam kebakaran merek Morita di beberapa pemprov/pemkab/pemkot dengan pembayaran bersumber dari APBD tahun 2000 s.d. 2005 (inkracht PN). Perkara TPK atas nama terdakwa MUZNI TAMBUSAI sehubungan dengan pengelolaan dana/aset Eks. Yayasan Tabungan Pensiun Pekerja Pemborong Minyak dan Gas Bumi (YDTP-MIGAS) (inkracht PN). Perkara TPK atas nama terdakwa DJONI ANWIR ALGAMAR dan TANSEAN PARLINDUNGAN MALAU sehubungan dengan Pelaksanaan Pengadaan Kapal Patroli Klas III type FRP panjang 28,5 meter pada Ditjen Perhubungan Laut Dep. Perhubungan (inkracht PN). Perkara TPK atas nama terdakwa ERRY FUAD sehubungan dengan TPK pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji yang berhubungan dengan jabatan (inkracht MA). Perkara TPK atas nama terdakwa MOHAMAD IQBAL sehubungan dengan TPK pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji yang berhubungan dengan jabatan (inkracht MA). Perkara TPK atas nama terdakwa ISMUNARSO sehubungan dengan TPK penyalahgunaan APBD Kabupaten Situbondo TA. 2005-2007 (inkracht MA). Perkara TPK atas nama terdakwa JIMMY RIMBA ROGI sehubungan dengan TPK penyalahgunaan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Pemerintah Kota Manado TA. 2006 (inkracht MA).

10. Perkara TPK atas nama terdakwa ABDUL HAMID RIZAL dan DAENG RUSNADI sehubungan dengan penggunaan APBD Kabupaten Natuna TA. 2004 yang tidak sesuai dengan peruntukkannya dan pengeluaran kas tidak sesuai dan pengeluaran kas tidak disertai bukti yang lengkap dan sah (inkracht PN). 11. Perkara TPK atas nama terdakwa MULYONO SUBROTO sehubungan dengan TPK pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji yang berhubungan dengan jabatan (inkracht MA). 12. Perkara TPK atas nama terdakwa TRIJONO sehubungan dengan TPK penyelenggara negara menerima sesuatu, hadiah atau janji yang terjadi pada Strategic Business Unit (SBU) II wilayah Jawa bagian Timur PT Perusahaan Gas Negara (Persero), Tbk (inkracht MA). 13. Perkara TPK atas nama terdakwa SYAHRIAL OESMAN sehubungan dengan perbuatan turut serta terhadap pemberian sejumlah dana kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara terkait dengan proses permohonan alih fungsi hutan lindung Pantai Air Telang Sumatera Selatan (inkracht MA). 14. Perkara TPK atas nama terdakwa Dr. MADIONO, MPH sehubungan dengan Pelaksanaan Pengadaan Alat Rontgen Portable untuk Pelayanan Puskesmas di Daerah Tertinggal, Terpencil, Perbatasan, dan Pulau-pulau Kecil di Biro Perencanaan dan Anggaran Setjen Dep. Kesehatan RI (inkracht PN). 15. Perkara TPK atas nama terdakwa BAGINDO QUIRINO sehubungan dengan penerimaan uang oleh Auditor BPK-RI terkait Pemeriksaan BPK-RI terhadap Penggunaan DPKK dan Dana Pembinaan Penempatan Penyelenggaraan TKI (DP3TKI) TA. 2004 pada Ditjen PPTKDN/Binapendagri Depnakertrans pada periode Juli-Agustus 2005 dan dalam Pemeriksaan BPK-RI pada

2.

3.

4.

5.

6.

7.

LAMPIRAN

50

22. Perkara TPK atas nama terdakwa AZWAR CHESPUTRA, HILMAN INDRA, dan FACHRI ANDI LELUASA sehubungan dengan permintaan dan penerimaan sejumlah dana terkait dengan proses Alih Fungsi Hutan Lindung Pantai Air Telang Prov. Sumatera Selatan (inkracht PN). 23. Perkara TPK atas nama terdakwa ENDIN AKHMAD JALALUDIN SOEFIHARA sehubungan dengan penerimaan/pemberian travellers cheque (TC) oleh Anggota DPR RI periode tahun 1999-2004, karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya, berkaitan dengan pemilihan Deputi Senior Bank Indonesia pada tahun 2004 (inkracht PT). 24. Perkara TPK atas nama terdakwa ISMETH ABDULLAH sehubungan dengan pelaksanaan pengadaan mobil pemadam kebakaran merek Morita pada TA. 2004-2005 di Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam (inkracht PN). 25. Perkara TPK atas nama terdakwa BUDIARTO MALIANG sehubungan dengan secara bersama-sama atau turut serta dalam pelaksanaan pengadaan alat roentgen portable untuk pelayanan Puskesmas di daerah tertinggal, terpencil, perbatasan, dan pulau-pulau kecil di Biro Perencanaan dan Anggaran Sekretariat Jenderal Dep. Kesehatan RI TA. 2007 (inkracht PN). 26. Perkara TPK atas nama terdakwa HARIADI SADONO sehubungan dengan Pengadaan Outsourcing Pengelolaan Sistem Manajemen Pelanggan (Customer Management System) berbasis Teknologi Informasi pada PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur Tahun 20042008 (inkracht MA). 27. Perkara TPK atas nama terdakwa INDRA KUSUMA dkk sehubungan dengan pengadaan tanah untuk pasar pada Pemerintah Kabupaten Brebes TA. 2003 (inkracht PN). 28. Perkara TPK atas nama terdakwa H ASRAL RACHMAN, SH sehubungan dengan TPK turut serta terkait perbuatan H Tengku Azmun Jaafar, SH (Bupati Pelalawan) dkk dalam penilaian dan pengesahan RKT UPHHKHT pada areal yang diberikan IUPHHKT-HT Tahun 2001 s.d. 2006 di wilayah Kabupaten Pelalawan (inkracht PN). 29. Perkara TPK atas nama terdakwa SUHARTO dan ENANG HERNAWAN yaitu menerima sesuatu/hadiah berupa uang dari pejabat pemerintah Kota Bekasi terkait pelaksanaan pemeriksaan laporan keuangan Pemerintah Daerah Kota Bekasi TA. 2009 (inkracht PN).

30. Perkara TPK atas nama terdakwa HERRY SUPARJAN dan HERRY LUKMANTOHARI sehubungan dengan pemberian sesuatu/hadiah berupa uang kepada pejabat BPK-RI perwakilan Jabar terkait pelaksanaan pemeriksaan laporan keuangan Pemerintah Daerah Kota Bekasi TA. 2009 (inkracht PN). 31. Perkara TPK atas nama terdakwa TJANDRA UTAMA EFFENDI sehubungan dengan orang yang bersama-sama memberikan sesuatu/hadiah berupa uang kepada pejabat BPK-RI perwakilan Jawa Barat terkait pelaksanaan pemeriksaan laporan keuangan Pemda Kota Bekasi TA. 2009 (inkracht PN). 32. Perkara TPK atas nama terdakwa HERRY ACHMAD BUCHORI sehubungan dengan orang yang bersama-sama atau turut serta dengan Umar Sjarifuddin (mantan Dirut Bank Jabar) melakukan pemberian berupa uang kepada Pemeriksa Pajak Karipka Bandung Satu pada tahun 2004 atau pengurangan jumlah pajak kurang bayar PT Bank Jabar tahun pajak 2001 dan 2002 (inkracht PN). 33. Perkara TPK atas nama terpidana AGUS SAFIIN PANE sehubungan dengan TPK berupa penerimaan sejumlah uang terkait dengan proses impor barang yang masuk atau diperiksa oleh Pejabat Fungsional Pemeriksa Dokumen (PFPD) jalur hijau pada kantor pelayanan utama (KPU) Bea dan Cukai Tanjung Priok (Inkracht PT). 34. Perkara TPK atas nama terdakwa SURYADI SENTOSA sehubungan dengan pembangunan renovasi Pasar Sentral Supiori, terminal induk, rumah dinas pejabat eselon, dan renovasi Pasar Sentral Supiori untuk Kantor Cabang Bank Papua yang menggunakan dana APBD Kab. Supiori Prov. Papua TA. 2006-2008 Kab. Supiori (Inkracht MA).

kait dengan proses impor barang yang masuk atau diperiksa oleh Pejabat Fungsional Pemeriksa Dokumen (PFPD) jalur hijau pada kantor pelayanan utama (KPU) Bea dan Cukai Tanjung Priok. Putusan tingkat PT: Pidana penjara selama 2 (dua) tahun 6 (enam) bulan, denda sebesar Rp200.000.000 subsidair 4 (empat) bulan penjara, biaya perkara Rp2.500. 3. Perkara TPK atas nama terpidana MUZNI TAMBUSAI sehubungan dengan pengelolaan dana/aset Eks. Yayasan Tabungan Pensiun Pekerja Pemborong Minyak dan Gas Bumi/YDTP-MIGAS. Putusan tingkat PN: Pidana penjara selama 3 (dua) tahun, denda sebesar Rp150.000.000 subsidair 6 (enam) bulan penjara, uang pengganti Rp1.202.000.000 subsidair 3 (tiga) tahun, biaya perkara Rp10.000. Perkara TPK atas nama terpidana DJONI ANWIR ALGAMAR dan TANSEAN PARLINDUNGAN MALAU sehubungan dengan Pelaksanaan Pengadaan Kapal Patroli Klas III type FRP panjang 28,5 meter pada Ditjen Perhubungan Laut Dep. Perhubungan. Putusan tingkat PN: Terpidana I: Pidana penjara selama 3 (dua) tahun, denda sebesar Rp100.000.000 subsidair 3 (tiga) bulan penjara, uang pengganti Rp155.000.000, biaya perkara Rp10.000. Terpidana II: Pidana penjara selama 2 (dua) tahun 6 (enam) bulan, denda sebesar Rp100.000.000 subsidair 3 (tiga) bulan penjara, uang pengganti Rp2.500.000, biaya perkara Rp10.000. Perkara TPK atas nama terpidana OENTARTO SINDUNG MAWARDI sehubungan dengan penerbitan radiogram dalam pengadaan mobil pemadam kebakaran dengan menggunakan pompa merek Tohatsu type V 80 ASM dan pembebasan bea masuk/pajak mobil pemadam kebakaran merek Morita di beberapa Pemprov/PemKab./Pemkot dengan pembayaran bersumber dari APBD tahun 2000 s.d. 2005. Putusan Tingkat PN: Pidana penjara selama 3 (tiga) tahun, denda sebesar Rp100.000.000 subsidair 3 (tiga) bulan penjara, uang pengganti sebesar Rp25.000.000 subsidair 1 (satu) tahun penjara, dan biaya perkara Rp10.000. Perkara TPK atas nama terpidana AULIA T. POHAN, BUN BUNAN E.J HUTAPEA, ASLIM TADJUDDIN dan MAMAN HUSEIN SOMANTRI sehubungan dengan penggunaan dana Bank Indonesia yang dikelola oleh Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI) untuk kepentingan Bank Indonesia dengan tidak melalui mekanisme penganggaran dan pertanggungjawaban. Putusan Tingkat MA: Pidana penjara masing-masing 3 (tiga) tahun, denda

4.

5.

EKSEKUSI
1. Perkara atas nama terpidana DAVID KURNIAWAN WIRANATA sehubungan dengan TPK penyimpangan dan rekayasa pada kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi sektor perikanan tangkap pasca gempa dan gelombang tsunami, pada Satuan Kerja Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Jawa Tengah dan Dinas Perikanan Propinsi Jawa Barat dengan menggunakan anggaran APBN-P tahun 2006. Putusan tingkat MA: Pidana penjara selama 7 (tujuh) tahun, denda sebesar Rp250.000.000 subsidair 6 (enam) bulan kurungan, uang pengganti sebesar Rp1.120.000.000 subsidair 3 (tiga) tahun penjara, biaya perkara Rp10.000. Perkara TPK atas nama terpidana AGUS SAFIIN PANE sehubungan dengan TPK berupa penerimaan sejumlah uang ter-

6.

2.

LAMPIRAN masing-masing Rp200.000.000 subsidair 3 (tiga) bulan penjara, biaya perkara masing-masing Rp2.500. 7. Perkara TPK atas nama terpidana JIMMY RIMBA ROGI sehubungan dengan TPK penyalahgunaan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Pemerintah Kota Manado TA 2006. Putusan Tingkat MA: Pidana penjara selama 7 (tujuh) tahun, denda sebesar Rp200.000.000 subsidair 3 (tiga) bulan penjara, uang pengganti sebesar Rp64.137.075.000 subsidair 2 (dua) tahun penjara. Perkara TPK atas nama terpidana ABDUL HAMID RIZAL dan DAENG RUSNADI sehubungan dengan penggunaan APBD Kabupaten Natuna TA. 2004 yang tidak sesuai dengan peruntukkannya dan pengeluaran kas tidak sesuai dan pengeluaran kas tidak disertai bukti yang lengkap dan sah. Putusan Tingkat PN: Terpidana I: Pidana penjara selama 3 (tiga) tahun, denda sebesar Rp100.000.000 subsidair 3 (tiga) bulan penjara, uang pengganti sebesar Rp284.000, biaya perkara Rp10.000. Terpidana II: Pidana penjara selama 5 (lima) tahun, denda sebesar Rp200.000.000 subsidair 6 (enam) bulan penjara, uang pengganti sebesar Rp28.365.754.000 subsidair 3 (tiga) tahun penjara, dan biaya perkara Rp10.000. Perkara TPK atas nama terpidana ISMUNARSO sehubungan dengan TPK penyalahgunaan APBD Kabupaten Situbondo TA. 2005-2007. Putusan Tingkat MA: Pidana penjara selama 9 (sembilan) tahun, denda sebesar Rp300.000.000 subsidair 4 (empat) bulan penjara, uang pengganti sebesar Rp630.179.142 subsidair 1 (satu) tahun penjara, dan biaya perkara Rp2.500. 12. Perkara TPK atas nama terpidana JULES FITZGERALD WARIKAR sehubungan dengan pembangunan renovasi pasar sentral Supiori, terminal induk, rumah dinas pejabat eselon, dan renovasi pasar sentral Supiori untuk Kantor Cabang Bank Papua yang menggunakan dana APBD Kab. Supiori Prov. Papua TA. 2006-2008. Putusan Tingkat MA: Pidana penjara selama 3 (tiga) tahun, denda sebesar Rp250.000.000 subsidair 5 (lima) bulan penjara, uang pengganti sebesar Rp1.153.000.000 subsidair 1 (satu) tahun penjara, dan biaya perkara Rp5.000. 13. Perkara TPK atas nama terpidana SYAHRIAL OESMAN sehubungan dengan perbuatan turut serta terhadap pemberian sejumlah dana kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara terkait dengan proses permohonan alih fungsi hutan lindung Pantai Air Telang Sumatera Selatan. Putusan Tingkat MA: Pidana penjara selama 3 (tiga) tahun, denda sebesar Rp100.000.000 subsidair 4 (empat) bulan penjara, dan biaya perkara Rp2.500. 14. Perkara TPK atas nama terpidana Dr. MADIONO, MPH sehubungan dengan Pelaksanaan Pengadaan Alat Rontgen Portable untuk Pelayanan Puskesmas di Daerah Tertinggal, Terpencil, Perbatasan, dan Pulau-Pulau Kecil di Biro Perencanaan dan Anggaran Setjen Dep. Kesehatan RI. Putusan Tingkat PN: Pidana penjara selama 2 (dua) tahun, denda sebesar Rp100.000.000 subsidair 6 (enam) bulan penjara, dan biaya perkara Rp10.000. 15. Perkara TPK atas nama terpidana TRIJONO sehubungan dengan TPK penyelenggara negara menerima sesuatu, hadiah atau janji yang terjadi pada Strategic Business Unit (SBU) II wilayah Jawa bagian Timur PT Perusahaan Gas Negara (Persero), Tbk. Putusan Tingkat MA: Pidana penjara selama 4 (empat) tahun, denda sebesar Rp200.000.000 subsidair 4 (empat) bulan penjara, uang pengganti sebesar Rp963.580.400 subsidair 1 (satu) tahun penjara, dan biaya perkara Rp2.500. 16. Perkara TPK atas nama terpidana MULYONO SUBROTO sehubungan dengan TPK pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji yang berhubungan dengan jabatan. Putusan Tingkat MA: Pidana penjara selama 5 (lima) tahun, denda sebesar Rp300.000.000 subsidair 3 (tiga) bulan penjara, uang pengganti sebesar Rp2.523.213.664 subsidair 3 (tiga) tahun penjara, dan biaya perkara Rp2.500. 17. Perkara TPK atas nama terpidana WASHINGTON MAMPE PARULIAN SIMANJUTAK berupa penyelenggara negara menerima atau memberikan sesuatu, hadiah atau janji, dikarenakan atau dengan menyalahgunakan atau dengan mengingat kekuasaan atau wewenang yang berhubungan atau melekat dengan jabatannya pada PT Perusahaan Gas Negara (Persero) periode tahun 2001-2006. Putusan Tingkat PN: Pidana penjara selama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan, denda sebesar Rp100.000.000 subsidair 3 (tiga) bulan penjara, dan biaya perkara Rp10.000. 18. Perkara TPK atas nama terpidana BAGINDO QUIRINO sehubungan dengan penerimaan uang oleh Auditor BPK-RI terkait Pemeriksaan BPK-RI terhadap Penggunaan DPKK dan Dana Pembinaan Penempatan Penyelenggaraan TKI (DP3TKI) TA. 2004 pada Ditjen PPTKDN/Binapendagri Depnakertrans pada periode Juli-Agustus 2005 dan dalam Pemeriksaan BPK-RI pada Proyek Pengembangan Sistem Pelatihan dan Pemagangan TA. 2004 pada Ditjen PPTKDN Depnakertrans periode Oktober-November 2005. Putusan Tingkat MA: Pidana penjara selama 5 (lima) tahun, denda sebesar Rp200.000.000 subsidair 6 (enam) bulan penjara, uang pengganti sebesar Rp650.000.000 subsidair 1 (satu) tahun penjara, dan biaya perkara Rp2.500. 19. Perkara TPK atas nama terpidana HAMKA YANDHU YR sehubungan dengan penerimaan/pemberian travellers cheque (TC) oleh Anggota DPR RI periode tahun 1999-2004, karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya, berkaitan dengan pemilihan Deputi Senior Bank Indonesia pada tahun 2004. Putusan Tingkat PN: Pidana penjara selama 2 (dua) tahun, denda sebesar Rp100.000.000 subsidair 3 (tiga) bulan penjara, dan biaya perkara Rp10.000. 20. Perkara TPK atas nama terpidana H. DUDHIE MAKMUN MUROD, MBA sehubungan dengan penerimaan/pemberian travellers cheque (TC) oleh Anggota DPR RI periode tahun 1999-2004, karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya, berkaitan dengan pemilihan Deputi Senior Bank Indonesia pada tahun 2004. Putusan Tingkat PN: Pidana penjara selama 2 (dua) tahun, denda sebesar Rp100.000.000 subsidair 3 (tiga) bulan penjara, dan biaya perkara Rp10.000.

51

8.

9.

10. Perkara atas nama terpidana IRAWADY YOENOES dalam TPK penyuapan atau pemberian sejumlah uang kepada pegawai negeri/penyelenggara negara. Putusan tingkat PK: Pidana penjara selama 6 (enam) tahun, denda sebesar Rp200.000.000 subsidair 5 (lima) bulan penjara, dan biaya perkara Rp2.500. 11. Perkara TPK atas nama terpidana ERRY FUAD sehubungan dengan pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji yang berhubungan dengan jabatan. Putusan Tingkat MA: Pidana penjara selama 4 (empat) tahun, denda sebesar Rp200.000.000 subsidair 2 (dua) bulan penjara, uang pengganti sebesar Rp1.104.638.466 subsidair 1 (satu) tahun penjara, dan biaya perkara Rp2.500.

LAMPIRAN

52

21. Perkara TPK atas nama terpidana UDJU DJUHAERI sehubungan dengan penerimaan/pemberian travellers cheque (TC) oleh Anggota DPR RI periode tahun 1999-2004, karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya, berkaitan dengan pemilihan Deputi Senior Bank Indonesia pada tahun 2004. Putusan Tingkat PN: Pidana penjara selama 2 (dua) tahun, denda sebesar Rp100.000.000 subsidair 3 (tiga) bulan penjara, dan biaya perkara Rp10.000. 22. Perkara atas nama terpidana ARTHALYTA SURYANI sehubungan dengan TPK penyuapan Jaksa Penyelidik kasus BLBI. Putusan Tingkat PK: Pidana penjara selama 4 (empat) tahun 6 (enam) bulan, denda sebesar Rp250.000.000 subsidair 5 (lima) bulan penjara, dan biaya perkara Rp2.500. 23. Perkara TPK atas nama terpidana MOHAMMAD IQBAL sehubungan dengan pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji yang berhubungan dengan jabatan. Putusan Tingkat MA: Pidana penjara selama 4 (empat) tahun 6 (enam) bulan, denda sebesar Rp200.000.000 subsidair 4 (empat) bulan penjara, dan biaya perkara Rp2.500. 24. Perkara TPK atas nama terpidana R. SALEH ABDUL MALIK, ACHMAD FATHONY ZAKARIA dan ARTHUR PELUPESSY yaitu orang yang bersama-sama atau turut serta pada perkara TPK dalam pengadaan Outsourcing Pengelolaan Sistem Manajemen Pelanggan (Customer Management System) berbasis teknologi Informasi pada PT PLN (Persero) distribusi Jawa Timur Tahun 20042008. Putusan Tingkat PN: Terdakwa I: Pidana penjara selama 4 (empat) tahun, denda sebesar Rp150.000.000 subsidair 3 (tiga) bulan penjara, uang pengganti sebesar Rp47.101.910.887,01 subsidair 1 (satu) bulan penjara dan biaya perkara Rp10.000. Terdakwa II: Pidana penjara selama 2 (dua) tahun, denda sebesar Rp 50.000.000 subsidair 1 (satu) bulan penjara, dan biaya perkara Rp10.000. Terdakwa III: Pidana penjara selama 4 (empat) tahun, denda sebesar Rp150.000.000 subsidair 3 (tiga) bulan penjara, uang pengganti sebesar Rp 15.052.206.172, 04,- subsidair 1 (satu) bulan penjara dan biaya perkara Rp10.000. 25. Perkara TPK atas nama terpidana AZWAR CHESPUTRA, HILMAN INDRA, dan FACHRI ANDI LELUASA sehubungan dengan permintaan dan penerimaan sejumlah dana terkait dengan Proses Alih Fungsi Hutan Lindung Pantai Air Telang Prov. Sumatera Selatan.

Putusan Tingkat PN: Terdakwa I, II, & III masing-masing pidana penjara selama 4 (empat) tahun, denda masing-masing sebesar Rp200.000.000 subsidair 6 (enam) bulan penjara, biaya perkara masing-masing Rp10.000. 26. Perkara TPK atas nama terpidana ACHMAD SUJUDI sehubungan dengan penggunaan alat kesehatan untuk Rumah Sakit Kawasan Timur Indonesi (KTI) dan Palang Merah Indonesia (PMI) oleh Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Dep. Kesehatan RI pada TA. 2003 dari Dana Anggaran Belanja Tambahan (ABT). Putusan Tingkat PT: Pidana penjara selama 4 (empat) tahun, denda sebesar Rp200.000.000 subsidair 4 (empat) bulan penjara, dan biaya perkara Rp2.500. 27. Perkara TPK atas nama terpidana BUDIARTO MALIANG sehubungan dengan secara bersama-sama atau turut serta dalam pelaksanaan pengadaan alat roentgen portable untuk pelayanan Puskesmas di daerah tertinggal, terpencil, perbatasan, dan pulau-pulau kecil di Biro Perencanaan dan Anggaran Sekretariat Jenderal Dep. Kesehatan RI TA. 2007. Putusan Tingkat PN: Pidana penjara selama 5 (lima) tahun, denda sebesar Rp100.000.000 subsidair 3 (tiga) bulan penjara, uang pengganti Rp2.105.900.000 (kompensasi uang yang disita) dan biaya perkara Rp10.000. 28. Perkara TPK atas nama terpidana ISMETH ABDULLAH sehubungan dengan pelaksanaan pengadaan mobil pemadam kebakaran merek Morita pada TA. 2004-2005 di Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam. Putusan Tingkat PN: Pidana penjara selama 2 (dua) tahun, denda sebesar Rp100.000.000 subsidair 3 (tiga) bulan penjara, dan biaya perkara Rp10.000. 29. Perkara TPK atas nama terpidana RINALDI YUSUF sehubungan dengan penggunaan Alat Kesehatan untuk Rumah Sakit Kawasan Timur Indonesia (KTI) dan Palang Merah Indonesia (PMI) oleh Ditjen Pelayanan Medik Dep. Kesehatan RI. Putusan Tingkat PN: Pidana penjara selama 5 (lima) tahun, denda sebesar Rp300.000.000 subsidair 5 (lima) bulan penjara, uang pengganti sebesar Rp16.359.769.893 subsidair 2 (dua) tahun 6 (enam) bulan penjara dan biaya perkara Rp10.000. 30. Perkara TPK atas nama terpidana ENDIN AKHMAD JALALUDIN SOEFIHARA sehubungan dengan penerimaan/pemberian Travelers Cheque (TC) oleh Anggota DPR RI periode tahun 1999 - 2004, karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya, berkaitan dengan

pemilihan Deputi Senior Bank Indonesia pada tahun 2004. Putusan Tingkat PT: Pidana penjara selama 2 (dua) tahun, denda sebesar Rp100.000.000 subsidair 2 (dua) bulan penjara, dan biaya perkara Rp2.500. 31. Perkara TPK atas nama terpidana HARIADI SADONO sehubungan dengan Pengadaan Outsourcing Pengelolaan Sistem Manajemen Pelanggan (Customer Management System) berbasis Teknologi Informasi pada PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur tahun 20042008. Putusan Tingkat MA: Pidana penjara selama 8 (delapan) tahun, denda sebesar Rp300.000.000 subsidair 3 (tiga) bulan penjara, uang pengganti sebesar Rp6.500.000.000 subsidair 2 (dua) tahun dan biaya perkara Rp2.500. 32. Perkara TPK atas nama terpidana INDRA KUSUMA dkk sehubungan dengan pengadaan tanah untuk pasar pada Pemerintah Kabupaten Brebes TA. 2003. Putusan Tingkat PN: Pidana penjara selama 2 (dua) tahun, denda sebesar Rp250.000.000 subsidair 6 (enam) bulan penjara dan biaya perkara Rp10.000. 33. Perkara TPK atas nama terdakwa SUHARTO dan ENANG HERNAWAN sehubungan dengan penerimaan sesuatu/ hadiah berupa uang dari pejabat pemerintah Kota Bekasi terkait pelaksanaan pemeriksaan laporan keuangan Pemerintah Daerah Kota Bekasi TA. 2009. Putusan PN: Pidana penjara selama 4 (empat) tahun, denda sebesar Rp200.000.000 subsidair 3 (tiga) bulan penjara dan biaya perkara Rp10.000. 34. Perkara TPK atas nama terdakwa TJANDRA UTAMA EFFENDI sehubungan dengan orang yang bersama-sama memberikan sesuatu/hadiah berupa uang kepada pejabat BPK RI perwakilan Jawa Barat terkait pelaksanaan pemeriksaan laporan keuangan Pemda Kota Bekasi TA. 2009. Putusan PN: Pidana penjara selama 3 (tiga) tahun, denda sebesar Rp100.000.000 subsidair 3 (tiga) bulan penjara dan biaya perkara Rp10.000. 35. Perkara TPK atas nama terdakwa HERRY SUPARJAN dan HERRY LUKMANTOHARI sehubungan dengan pemberian sesuatu/hadiah berupa uang kepada pejabat BPK RI perwakilan Jabar terkait pelaksanaan pemeriksaan laporan keuangan Pemerintah Daerah Kota Bekasi TA. 2009 (inkracht PN). Putusan PN: Terdakwa I: Pidana penjara selama 2 (dua) tahun 6 (enam) bulan, denda sebesar Rp100.000.000 subsidair 3 (tiga) bulan penjara, dan biaya perkara Rp10.000. Terdakwa II: Pidana penjara selama 2 (dua) tahun, denda sebesar Rp100.000.000 subsidair 3 (tiga) bulan penjara, dan biaya perkara Rp10.000.

LAMPIRAN 36. Perkara TPK atas nama terdakwa HERRY ACHMAD BUCHORI sehubungan dengan orang yang bersama-sama atau turut serta dengan Umar Sjarifuddin (mantan Dirut Bank Jabar) melakukan pemberian berupa uang kepada Pemeriksa Pajak Karipka Bandung Satu pada tahun 2004 atau pengurangan jumlah pajak kurang bayar PT Bank Jabar tahun pajak 2001 dan 2002. Putusan PN: Pidana penjara selama 2 (dua) tahun 6 (enam) bulan, denda sebesar Rp75.000.000 subsidair 3 (tiga) bulan penjara dan biaya perkara Rp10.000. 37. Perkara TPK atas nama terdakwa SURYADI SENTOSA sehubungan dengan pembangunan renovasi Pasar Sentral Supiori, terminal induk, rumah dinas pejabat eselon, dan renovasi Pasar Sentral Supiori untuk Kantor Cabang Bank Papua yang menggunakan dana APBD Kab. Supiori Prov. Papua TA. 20062008 Kab. Supiori. Putusan MA: Pidana penjara selama 9 (sembilan) tahun, denda sebesar Rp100.000.000 subsidair 5 (lima) bulan penjara, uang pengganti sebesar Rp27.889.541.095, 82 subsidair 4 (empat) tahun penjara dan biaya perkara Rp2.500. 38. Perkara TPK atas nama terdakwa H ASRAL RACHMAN, SH sehubungan dengan TPK turut serta terkait perbuatan H Tengku Azmun Jaafar, SH (Bupati Pelalawan) dkk dalam penilaian dan pengesahan RKT UPHHKHT pada areal yang diberikan IUPHHKT-HT tahun 2001 s.d. 2006 di wilayah Kabupaten Pelalawan. Putusan PN: Pidana penjara selama 2 (tahun) tahun 6 (enam) bulan, denda sebesar Rp75.000.000 subsidair 3 (tiga) bulan penjara dan biaya perkara Rp10.000. 5. TPK terkait dengan Bantuan Sosial Kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2006. Tersangka K, BY, dan BAN. (Kejati Kaltim – proses pelimpahan PN). TPK dalam pengelolaan APBD Pemerintah Kota Tarakan berupa pengalihan deposito Pemerintah Kota Tarakan ke rekening milik pribadi. Tersangka DS dan A (Kejati Kaltim – putusan PN Tarakan). TPK dalam pemberian Asuransi Jiwa kepada Anggota DPRD Kota Bontang (periode 2000-2004), Wali Kota dan Wakil Wali Kota. Tersangka ASH (Kejati Kaltim – Penyidikan; menunggu persetujuan tertulis Presiden RI). TPK dalam penyalahgunaan dana kegiatan pelaksanaan dan operasional akademi kebidanan TA. 2007-2008 pada Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Kartanegara. Tersangka W (Kejati Kaltim – persidangan PN Tenggarong). TPK dalam pengadaan 1000 buah hand traktor di Sekretariat Kabupaten Kutai Kartanegara. Tersangka AMS (Kejati Kaltim - persidangan PN Tenggarong). 17. TPK Proyek Bantuan Rumah Layak Huni Komunitas Adat Terpencil Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur TA. 2005. Tersangka AASS, S, (Polda Jatim Qq Polres Sumenep – proses persidangan/ menunggu putusan kasasi). 18. TPK Proyek Rehabilitasi Pasar Turi TA. 2007 (Polda Jatim – pulinfo). 19. TPK dana APBD Kabupaten Jember TA. 2005 yang digunakan untuk membayar pengacara atas kasus yang dihadapi oleh anggota DPRD Jember (Kejati Jatim – proses persidangan). 20. TPK pada Pengadaan Asphalt Recycling Machine (ARM) pada Dinas PU BM Propinsi Jawa Timur TA. 2004 (Kejati Jatim – proses persidangan). 21. TPK Dana APBD Pemkot Kediri tahun 2007-2008 yang disimpan dalam BPR Kediri oleh Wali Kota Kediri (Kejati Jatim Qq Kejari Kediri – pulinfo). 22. TPK pada proyek pembangunan jalan lingkar dari Desa Mulya – Saterio sepanjang kurang lebih 9,3 km (Kejati Sumsel – pulinfo; dihentikan). 23. TPK pada kegiatan pembangunan 24 unit gedung perkantoran Badan, Dinas dan Kantor Pemerintah di Kab. Banyuasin (Kejati Sumsel – pulinfo; dihentikan). 24. TPK pada proyek Normalisasi Saluran Pembuangan Sungai Sukajadi di Kab. Banyuasin (Kejati Sumsel – pulinfo; dihentikan). 25. TPK penyalahgunaan dana bantuan sosial APBD Kota Batam TA. 2008 (Kejati Kepri Qq Kejari Batam – penyidikan). 26. TPK penyimpangan dana Perusahaan Daerah Natuna dalam pelaksanaan kegiatan pada tahun 2007 (Kejati Kepri Qq Kejari Ranai – putusan PN Ranai/ inkracht). 27. TPK penyalahgunaan dana APBD Kab. Boven Digul TA. 2006/2007 oleh Wakil Bupati Boven Digul (Kejati Papua – pulbaket). 28. TPK penyalahgunaan dana kas daerah Kab. Waropen TA. 2004/2005 (Kejati Papua). 29. TPK pada pengadaan kapal Jhonson dan Perahu Kaca (Katamaran) tahun 2007 di Dinas Pariwisata Kebudayaan dan Olahraga Kab. Nabire TA. 2007 (Kejati Papua). 30. TPK pengadaan sarana peningkatan mutu pendidikan Kabupaten Bulukumba tahun ajaran 2007 (Kejati Sulsel – putusan PN/proses banding).

53

6.

7.

8.

9.

10. TPK dalam penyalahgunaan dana kegiatan pelaksanaan dan operasional akademi kebidanan TA. 2007-2008 pada Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Kartanegara. Tersangka A (Kejati Kaltim - persidangan PN Tenggarong). 11. TPK pada Pengadaan Petak Pasar Pandansari Balikpapan. Tersangka K (Polda Kaltim – P-21). 12. TPK pada pengadaan buku teks wajib PT Balai Pustaka pada Dinas Pendidikan Kota Salatiga tahun 2003 dan 2004. Tersangka S, M, SW, S (Polda Jateng Qq Polres Salatiga – Tahap I). 13. TPK pada proyek Simpedes di 269 Desa se-Kab. Cilacap tahun 2008. Tersangka DM, S, HK (Polda Jateng – penyidikan ; P-19). 14. TPK pada proyek perbaikan jalan dengan Sistem Build and Transfer tahun 2004-2005 di Kab. Cilacap (Polda Jateng – pulinfo). 15. TPK pada program bantuan subsidi perumahan tahun 2007 dan tahun 2008 yang dilaksanakan Kementerian Negara Perumahan Rakyat dengan dana bersumber dari APBN TA. 2007 dan 2008. Tersangka FR (Kejati Jateng – pemberkasan). 16. TPK penyalahgunaan dana APBD Kab. Tegal tahun 2005-2008 pada pelaksanaan pengadaan tanah untuk jalur alternatif Jalan Lingkar Kota Slawi TA. 2006-2007 dan pinjaman daerah tahun 2007 (Kejati Jateng – penyidikan ; menunggu izin Presiden RI).

KOORDINASI DAN SUPERVISI Gelar Perkara:
1. TPK penyalahgunaan dana kas daerah Kab. Sumba Timur TA. 2004-2006. Tersangka DN, DU, dkk (Polda NTT Qq Resor Sumba Timur). Dugaan TPK penyalahgunaan dana APBD Kab. Sumba Timur TA. 2007. Tersangka DN, KM, DU, dkk (Polda NTT). TPK terkait dengan Penyalahgunaan Dana Otonomi Daerah (OTDA) Kabupaten Sintang pada APBD Kabupaten Sintang TA. 2003. Terdakwa MIKAIL ABENG, GUSTI EFFENDI, K. SUDARSO (Kejati Kalbar – putusan kasasi; inkracht). TPK pada Pembangunan Jalan Ruas Bunut-Mangin Kecamatan Bunut Hilir Kabupaten Kapuas Hulu TA. 2004. Tersangka MS, WMAM, dan S (Kejati Kalbar Qq Kejari Putussibau – proses pelimpahan PN).

2.

3.

4.

LAMPIRAN

54

31. TPK kasus penyaluran beras raskin sebanyak 308.490 kg kepada 21 kecamatan di Kabupaten Palopo (Kejati Sulsel – putusan PN/proses banding) 32. TPK penggunaan APBD Kota Gorontalo TA . 2006 dan 2007 untuk Persigo dan pembuatan sinetron Hulonthalangi (Kejati Gorontalo – pulinfo). 33. TPK penyalahgunaan APBD Kota Gorontalo TA. 2008 untuk penanggulangan bencana alam yang diduga dalam pelaksanaannya tidak sesuai dengan bestek serta terdapat pekerjaan fiktif (Kejati Gorontalo – penyidikan). 34. TPK penyalahgunaan dana APBD Kab. Musi Banyuasin TA. 2003 pada pengadaan alat berat bulldozer dan exavator serta kendaraan sepeda motor di lingkungan Pemkab Musi Banyuasin (Polda Sumsel – P-21). 35. TPK penyalahgunaan dana APBD Kab. Musi Banyuasin TA. 2003 pada 10 paket kegiatan (Polda Sumsel – pulinfo) 36. TPK pada proyek pengerukan alur pelayaran Pelabuhan Palembang TA. 2008 (Polda Sumsel – P-19). 37. TPK pemalsuan buku-buku atau daftardaftar yang khusus untuk pemeriksaan administrasi terjadi pada Januari 2007 s.d. Desember 2007 di Kantor Puskesmas Sei Panas, Kota Batam (Polda Kepri – penyidikan). 38. TPK penggelapan dana kantor Pos Serasan yang terjadi dari Februari 2010 s.d. Juli 2010 pada Kantor Pos Serasan Kec. Serasan, Kab. Natuna (Polda Kepri – P-21). 39. TPK di lingkungan DPRD Kab. Jayawijaya periode 1999-2004 pada penerimaan dana dari Pemkab Jayawijaya di luar anggaran Pos Dewan TA. 2002 (Polda Papua). 40. TPK penyalahgunaan dana otonomi khusus Kab. Wondama TA. 2004 (Polda Papua – P-21). 41. TPK dana APBN/stimulus TA. 2009 untuk pembangunan pengaman Pantai Lamangkia Kabupaten Takalar (Polda Sulsel – penyidikan). 42. TPK dalam pelaksanaan pembangunan gedung olahraga Andi Ninnong pada Dinas Pendidikan Kabupaten Wajo TA. 2007-2008 (Polda Sulsel – penyidikan). 43. TPK dalam pengadaan bantuan alat teknologi informasi dan komunikasi (TV Edukasi) pada Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sulawesi Selatan TA. 2007 (Polda Sulsel – penyidikan). 44. TPK pembangunan proyek objek wisata Pentadio Resort Kabupaten Gorontalo TA. 2008 (Polda Gorontalo – penyidikan/menunggu izin Presiden RI).

45. TPK pengadaan buku-buku, alat peraga, dan multimedia yang berasal dari Dana Alokasi Khusus bidang pendidikan TA. 2007 (Polda Gorontalo – penyidikan/P-19). 46. TPK pada Sekretariat DPRD Kota Gorontalo TA. 2008 (Polda Gorontalo – penyidikan/menunggu hasil audit).

12. TPK pada pelaksanaan pembangunan pasar umum Aikmel dan Pasar Masbagik di Kab. Lombok (Polda NTB – belum pernah ditangani/4037). 13. TPK pada pelaksanaan pembangunan Pusat Pertokoan Pancor (Pancor Trade Center) di Kab. Lombok (Polda NTB – SP-3/4037). 14. TPK dana APBD Kab. Sumenep TA 2005 pada kegiatan rehab bangunan SDN Paberesan II Kab. Sumenep (Polda Jatim – penyidikan/3924.L). 15. TPK dalam proses tukar menukar tanah (ruislag) antara tanah dan bangunan STIP dengan tanah dan bangunan PLAP/AIP Departemen Perhubungan RI (Kejati DKI – penyidikan/4050). 16. TPK pengadaan tanah stadion madya di Sanden Magelang. Tersangka F (Wali Kota Magelang) (Kejati Jateng – belum dilakukan penyidikan/4045). 17. TPK dalam pengadaan alat kesehatan pada Dinas Kesehatan Kab. Purworejo tahun 2004. Tersangka dr. MS (Polda Jateng – persidangan/4024). 18. TPK pemberian gratifikasi dari PT Bima Putra Abadi atas pembangunan proyek Citra Niaga Lahat kepada Bupati Lahat periode 2003-2008 (Polda Sumsel – penyelidikan dihentikan/3916.E). 19. TPK dalam pengelolaan keuangan PT Tulang Bawang Jaya (BUMD) tahun 2006 pada kegiatan penyertaan modal. Tersangka K, dkk. (Kejati Lampung – putusan PN/Eksekusi/3824.P). 20. TPK dalam pengelolaan keuangan PT Tulang Bawang Jaya (BUMD) tahun 2006 yang dipergunakan untuk percepatan RAPBD Kab. Tulang Bawang TA 2007. Tersangka YT, dkk (Kejati Lampung – pemberkasan/3824.P). 21. TPK dalam pelaksanaan pengoperan tanah seluas +/- 22 Ha antara pihak Yayasan Fatmawati dengan Departemen Kesehatan RI (Pidsus Kejagung RI – SP-3/4046). 22. TPK pemerasan yang dilakukan oleh oknum jaksa pada Kejati Jateng saat menangani perkara TPK yang dilakukan oleh Tersangka PY/Bupati Cilacap (Pidsus Kejagung RI – tidak pernah melakukan pemerasan/3916.M). 23. TPK berupa pemotongan gaji ke-13 guru/PNS di lingkungan kantor Departemen Agama Kab. Garut (Kejari Garut – belum pernah ditangani/3916.F). 24. TPK dana APBD Kab. Asahan TA. 2008 pada kegiatan pembangunan jalan, jembatan, dan pemukiman (Kejari Kisaran – penyelidikan/menunggu hasil audit BPKP).

Permintaan Perkembangan Penyidikan (Telah dijawab):
1. TPK penyimpangan pengelolaan Pajak PPH 21 (Pajak Penghasilan) di Dinas Pendapatan Daerah Prov. Bengkulu tahun 2007 dan tahun 2008. (Kejati Bengkulu – persidangan/4033). TPK penyalahgunaan dana APBD Prov. Gorontalo untuk kepentingan Anggota DPRD Prov. Gorontalo, Tersangka FM (Kejati Gorontalo – SP-3/3924.M). TPK penyimpangan dalam pengelolaan dana RSUD Cibinong tahun 2006 oleh bendaharawan penerima (Kejati Jabar – belum pernah ditangani/2451). TPK dalam pelaksanaan Proyek Nasional Pensertifikatan Tanah (Prona) di Desa Mlese Kec Gantiwarno Kab. Klaten, Tersangka BWN (Kejati Jateng Qq Kejari Klaten - penyidikan/2682). TPK dalam pelaksanaan Proyek Nasional Pensertifikatan Tanah (Prona) di Desa Bero Kec Trucuk Kab. Klaten, Tersangka S (Kejati Jateng Qq Kejari Klaten - Penyidikan/2682). TPK penyalahgunaan dana sosialisasi undang-undang di bidang politik dan uang perjalanan dinas Kesbang Linmas Kab. Maluku Tengah TA. 2006, Tersangka AK (Kejati Maluku Qq Kejari Masohi – menunggu audit BPKP perw. Maluku/3334). TPK dalam peralihan milik Ditjen Aneka Industri oleh BPR Syariah Cilegon Mandiri (Kejati Banten – penyelidikan/3924.J). TPK penggunaan biaya operasional dan biaya penunjang kegiatan DPRD Prov. Sumsel TA. 2002 (Polda Sumsel – SP3/4042). TPK dana APBD Prov. Sumsel TA. 2009 pada kegiatan pembangunan TK/SD model Prov. Sumsel. (Kejati Sumsel – persidangan PN Baturaja/3924.F).

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10. TPK dalam pemberian bantuan dari Pemkab. Sumedang kepada Yayasan penanggulangan bencana alam tahun 2006 (Polda Jabar – penyelidikan, belum cukup bukti/3924.E). 11. TPK pada Perum Pegadaian dengan menaikkan nilai ganti rugi atas nilai barang jaminan nasabah (emas bermata berlian) yang telah hilang akibat pencurian di Cab. Pegadaian Kebayoran Baru (Bareskrim – SP-3/4029).

LAMPIRAN 25. TPK dalam pengalihan hak atas tanah milik Departemen Perindustrian kepada Perusda BPR Syariah Cilegon Mandiri Desa Sukmajaya Kota Cilegon (Kejati Banten – penyelidikan/3924.J). 26. TPK dalam pemberian kredit investasi dari PT. Bank Mandiri (Persero) kepada KUD Sadar pada tahun 2003 (Kejati Jambi – SP-3/3332). 27. TPK penyalahgunaan dana APBD Kab. Kutai Kartanegara TA 2006 pada kegiatan pembebasan lahan/tanah untuk pembangunan sarana dan prasarana PON (Kejati Kaltim – penyidikan/3866). 28. TPK dalam pengadaan perahu bermesin jhonson dan perahu kaca/katamaran pada Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kab. Nabire TA. 2007. Tersangka ET dan JSS (Kejati Papua/ Putusan PN; JPU Kasasi/3916). 29. TPK dalam pengadaan perahu bermesin jhonson dan perahu kaca/katamaran pada Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kab. Nabire TA 2007. Tersangka OR; SB (Kejati Papua/ penyidikan/3916). 30. TPK penyalahgunaan wewenang oleh Wali Kota Padang dalam pelaksanaan proyek Meterisasi Penerangan Jalan Umum (PJU) Kota Padang (Kejati Sumbar – penyelidikan dihentikan/328-10). 31. TPK sehubungan dengan manipulasi setoran modal pada pabrik aspal selo adi karto; mark up harga pada proyek pengadaan alat-alat berat. (Kejati DIY – Putusan PN/JPU Kasasi/3916.J). 32. TPK penyalahgunaan dana APBD Kab. Kulonprogo TA 2004 pada pos Sekda, dengan cara dibagikan kepada anggota DPRD Kab. Kulonprogo periode 1999-2004 (Kejati DIY – belum pernah ditangani/3916.J). 33. TPK dalam pengadaan kawasan Sport Centre yang berasal dari dana PT. Bukit Asam dan pengadaan di Dinas Bina Marga Kab. Muara Enim tahun 2005 (Kejari Muara Enim – Belum pernah ditangani/414). 34. TPK penyalahgunaan dana rekonstruksi yang dilakukan oleh pamong desa di Desa Sitimulyo Kab. Bantul (Kejati DIY Qq Kejari Bantul – belum pernah ditangani/4334). 35. TPK penyalahgunaan dana APBD dan anggaran sekretariat DPRD Kab. Buol TA. 2003/2004 (Polda Sulteng – tahap II/496). 36. TPK pada kegiatan pengadaan tanah untuk pelabuhan di Kab. Kendal TA. 2002-2004 (Kejari Kendal – Penyidikan/586). 37. TPK berupa mark-up dan proyek fiktif dalam peningkatan jalan pada Dinas Pekerjaan Umum Kab. Asahan TA. 2007/2008 (Kejari Kisaran – penyelidikan/421). 38. TPK dalam penggunaan sisa dana DIPA TA 2008 pada KBRI di Thailand. (Pidsus Kejagung – Penyidikan/4338). 39. TPK penyalahgunaan Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang Pendidikan TA. 2007 pada SDN 2 Maria Kec Wawo, Kab. Bima (Polda NTB Qq Polres Bima – penyelidikan/430). 40. TPK dana bantuan sosial Kab. Semarang TA. 2008 a.n. tersangka S (Kejati Jateng Qq Kejari Ambarawa – belum pernah disidik/640). 41. TPK penyaluran dana bantuan bagi pengungsi kerusuhan sosial sambas tahun 1996/1997 (Kejati Kalbar – belum pernah ditangani/616). 42. TPK dana APBD Kab. Maluku Tenggara. Tersangka AR (Mantan Kadis Kimpraswil Maltra, sekarang Bupati Maluku Tenggara) - (Kejati Maluku – penyelidikan/630). 43. TPK berupa mark-up dalam pengadaan CT Scan untuk RSUD Gunung Jati Cirebon (Kejati Jabar Qq Kejari Cirebon/420). 44. TPK penyalahgunaan dana APBD Kab. Dharmasraya TA. 2008 di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Daerah Kab. Dharmasraya. Tersangka NEH (Kejati Sumbar Qq Kejari Pulau Punjung – penyidikan/593). 45. TPK penyimpangan sisa uang-uang yang dipertanggungjawabkan (UUDP) pada Sekretariat Daerah Prop Maluku TA. 2006 (Kejati Maluku Qq Kejari Ambon – penyidikan/423). 46. TPK penyalahgunaan wewenang di PT Kertas Kraft Aceh (Persero) - (Kejati NAD – penyelidikan/429). 47. TPK dana APBD Kota Salatiga TA. 2003 pada pengadaan buku balai pustaka (Kejati Jateng – Vonis PN/4038-09). 48. TPK penerimaan sejumlah uang oleh anggota DPRD Tanah Bumbu dalam rangka persetujuan APBD Kab. Tanah Bumbu (Kejati Kalsel – penyelidikan dihentikan/594). 49. TPK pengelolaan iuran dana Kehutanan PSDH, DR, IHPH, IHPHH Kab. Ketapang. Tersangka ME (Bupati Ketapang) - (Polda Kalbar – SP-3/607) 50. TPK pada pengadaan KM Pulo Weh tahun 2004 dan penyalahgunaan dana badan penguasaan kawasan sabang (BPKS) tahun 2006 s.d. 2009 (Polda NAD – belum pernah ditangani/248). 51. TPK terhadap barang-barang inventaris rumah dinas Bupati Mimika (Polda Papua – penyidikan/493). 52. TPK pada proyek pengerukan alur pelayaran Pelabuhan Palembang TA. 2008 (Polda Sumsel – penyidikan/435). 53. TPK penyalahgunaan wewenang dalam menerbitkan sertifikat hak milik dalam kawasan hutan produksi tetap di Dusun Ngguwu Wune, Desa Doropeti, Kab. Dompu, tahun 2007 (Polda NTT – penyidikan/648). 54. TPK pada kegiatan pengamanan pemilihan kepala daerah Kab. Parigi Moutong TA. 2008 (Polda Sulteng – belum pernah ditangani/622). 55. TPK penyalahgunaan wewenang pada kegiatan pembagian raskin di Desa Rengas Pendawa, Kec. Larangan, Kab. Brebes, Jateng (Polda Jateng – penyidikan/416) 56. TPK dana APBD Kab. Tapanuli Utara TA. 2006 pada pengadaan bantuan paket natal dan tahun baru 2006 (Polda Sumut – P-21/623). 57. TPK pada proyek bantuan rehab rumah layak huni program komunitas adat terpencil Dinas Sosial Pemprov Jatim TA. 2005 (Polda Jatim – penyidikan/600). 58. 58.. TPK dana alokasi khusus (DAK) bidang pendidikan TA. 2007 di SDN 2 Maria, Kec Wawo, Kab. Bima (Polda NTB – penyelidikan/430). 59. TPK pemberian izin penggunaan lahan workshop Dinas Pekerjaan Umum Kab. Sragen TA. 2005 (Kejati Jateng Qq Kejari Sragen - belum pernah ditangani/4337-09). 60. TPK penerimaan sejumlah uang di Departemen PU Ditjen Sumber Daya Air Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera VIII SNVT Pelaksana Pengelolaan SDA Sumatera VIII Prov. Sumsel TA. 2009 (Polda Sumsel – SP-3/608-10). 61. TPK penyimpangan dana Bantuan Sosial Organisasi Kemasyarakatan Tempat Ibadah Kab. Kerinci TA. 2008. Tersangka SKB. (Kejati Jambi Qq Kejari Sungai Penuh – persidangan PN Sungai Penuh/637-10). 62. TPK pada kegiatan pembangunan unit sekolah baru (USB) SMP Ebungfauw di Distrik Ebungfauw, Kab. Jayapura (Kejati Papua – penyidikan/595-10). 63. TPK penerimaan sejumlah uang oleh oknum Jaksa pada Kejati Sumut saat menangani perkara a.n. terdakwa RUDI DARLEK (Jamwas Kejagung RI – vonis hukuman disiplin kepada jaksa SS, SH/736-10).

55

LAMPIRAN

56

64. TPK berupa penggelapan dana renovasi open stage lapangan Abdul Jalil Rahmadsyah pada penyelenggaraan MTQ-N ke 31 di Sumatera Utara (Kejati Sumut Qq Kejari Tanjung Balai Asahan – penyelidikan dihentikan/634-10). 65. TPK dalam pengelolaan dan penggunaan Dana Tidak Tersangka APBD Prov. Jabar TA. 2000 pos 2.15. (Kejati Jabar – penyelidikan dihentikan/494). 66. TPK dalam pemberian kredit investasi Bank Mandiri kepada KUD Sadar pada tahun 2003. Tersangka RM; AE, dkk (Kejati Jambi – SP-3/4333-09). 67. TPK yang berhubungan dengan proyek fisik dan nonfisik pada Dinas Pendidikan Prov. Jambi TA. 2006-2007 (Kejati Jambi – tidak pernah disidik/592). 68. TPK penyalahgunaan dana APBD Kota Bima TA. 2005. Tsk HMD (Ka. BPKD Kota Bima) - (Kejati NTB Qq Kejari Bima – penyidikan/633-10). 69. TPK penyimpangan pada pembayaran reduksi terhadap pendapatan jasa labuh kapal di PT Pelindo III. Tersangka MT (Kejati Kalsel – penyidikan; menunggu hasil audit BPKP/664-10). 70. TPK dana prasarana fisik untuk Kantor Pelayanan Pajak Depok pada kegiatan pengadaan tanah tahun 2004. Tersangka HH (Kejati Jabar – persidangan/613-10). 71. TPK penyalahgunaan dana APBD Kab. Wonogiri TA. 2004 pada program pembagian Dana Tali Asih (DTA) untuk anggota DPRD Kab. Wonogiri periode 19992004 (Kejati Jateng – penyidikan/ proses SP-3 tersangka HS Meninggal Dunia/588-10). 72. TPK penyalahgunaan dana APBD Prov. NTB TA. 2003 pada Pos Belanja Dewan dan Sekretariat Dewan. Tersangka RH (Kejati NTB – penyidikan; menunggu hasil audit BPK-RI/ 632-10). 73. TPK penggelapan terhadap barang-barang inventaris rumah dinas Bupati Kab. Mimika di Kab. Mimika. Tersangka SSD (Polda Papua – penyidikan/663-10). 74. TPK penyalahgunaan dana APBD Kab. Jember TA. 2005. Tersangka SM – penyidikan/P-19. (Polda Jatim – penyidikan/737-10). 75. TPK penyimpangan pelaksanaan penyaluran dana alokasi khusus bidang pendidikan TA. 2007 dilingkungan Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kab. Pasaman. Tersangka Y (Kadis) – (Kejati Sumbar Qq Kejari Lubuk Sikaping-menunggu audit BPKP/1382-10). 76. TPK pembangunan Bangka Trade Center dengan cara ruislaag aset Pemkot Pangkal Pinang (Polda Babel-tidak pernah ditangani/492-10).

77. TPK penyalahgunaan dana APBD Kota Pangkal Pinang dalam pembebasan lahan untuk pembangunan sistem bangun guna serah (Polda Babel - tidak pernah ditangani/492-10). 78. TPK penerimaan sejumlah uang/gratifikasi oleh Wali Kota Pangkalpinang saat menjabat Sekda Kota Pangkalpinang terkait fee dalam penghapusan asset tanah (Polda Babel - tidak pernah ditangani/492-10). 79. TPK penyimpangan dalam penggunaan sisa dana pekerjaan pembangunan Pasar Kuala Kurun Kalimantan Tengah. Tersangka TK (Polda Kalteng – P-21/140810). 80. TPK pada Ditjen Pendidikan Luar Sekolah Depdiknas RI dalam pengelolaan dan pendistribusian dana bantuan langsung (blockgrant) TA 2006/2007. Terdakwa AS – (Kejati DKI Jakarta – JPU Kasasi, menunggu putusan MA/140810). 81. TPK penyimpangan dalam penerbitan izin kuasa pertambangan eksplorasi emas di kawasan Tebedo Desa Pota Wangka Kab. Manggarai Barat (Polda NTT Qq Polres Manggarai – Penyidikan/1395/10). 82. TPK pada proyek pembangunan Videotron di Kota Surakarta TA. 2009 (Kejati Jateng – Puldata/1184-10). 83. TPK dalam pembayaran ganti rugi tanah unit perkebunan PEPABRI Kec. Nan Sebaris Unit Perkebunan Kab. Padang Pariaman (Kejati Sumbar Qq Kejari Pariaman – Puldata/733-10). 84. TPK dalam pemberian dana tunjangan bagi anggota DPRD Kab. Gunung Kidul periode tahun 1999 s.d. 2004 (Kejati DIY – puldata/1195-10). 85. TPK penyalahgunaan wewenang dan penyimpangan keuangan kas daerah Kota Bima pada rekening pribadi. Tersangka D AR, BAF (Kejati NTB Qq Kejari Raba Bima – Penyidikan/633-10). 86. TPK penyimpangan dalam pembangunan jalan dan jembatan pada Dinas Pekerjaan Umum Prov. Kalteng TA. 2006 (Kejati Kalteng – Puldata/739-10). 87. TPK dalam kegiatan gerakan nasional rehabilitasi hutan dan lahan (GN-RHL) TA 2007, kegiatan pekerjaan tanaman reboisasi di Kec. Ranowulu, Kota Bitung. Tersangka AS. (Polda Sulut – P-21/1528-10). 88. TPK pada proyek sub bidang sumber daya air (penebasan rumput saluran rawa dan irigasi) tahun 2004 di Dinas Kimprasda Kab. Tanah Laut (Polda Kalsel Qq Resor Tanah Laut – penyidikan/1396-10).

89. TPK pada proyek pembangunan stadion mini Kota Dobo Kab. Kepulauan Aru TA. 2006. Tersangka BR (Polda Maluku – SP-3/644-10). 90. TPK pada pekerjaan pembangunan jalan Baru Jambu Keling – Kayu Manis Tanjung Beringin Kec. Bermani Ulu, Kab. Rejang Lebong Th 2005 (Kejati Bengkulu – Kasus telah ditangani Polda Bengkulu/1383-10). 91. TPK dalam pengelolaan dana alokasi khusus bidang pendidikan pada Dinas Pendidikan Kebudayaan dan Olahraga Kab. Tebo TA. 2008 (Kejati Jambi – kasus telah ditangani Polda Jambi/863-10). 92. TPK pada pembangunan pasar Bintoro Demak TA 2007. Tersangka SS (Kejati Jateng Qq Kejari Demak – Menunggu audit BPK/1186-10). 93. TPK berkaitan dengan pencairan dana fiktif di Ditjen Otda Wilayah II PKEKD Depdagri. Tersangka HS; KP (Polda Metro Jaya – pemberkasan/1291-10). 94. TPK penyalahgunaan dana alokasi umum dan dana alokasi khusus Kota Bima TA 2005-2006. Tersangka MNAL (Kejati NTB – SP-3/1293-10). 95. TPK dalam pengadaan Demplot Pompa Tektonik lahan pertanian di Kab. Musi Banyuasin TA 2003 (Polda Sumsel – kasus telah ditangani Kejari Sekayu/1216-10). 96. TPK penyimpangan dana bantuan sosial, alokasi dana desa dan belanja tidak terduga pada PemKab. Kutai Timur TA. 2007 (Pidsus Kejagung RI - penyidikan/636-10). 97. TPK penyalahgunaan dana APBD Kab. Waropen TA. 2004 dan TA. 2005. Tersangka OJR (Kejati Papua – penyidikan/1180-10). 98. TPK dalam pengadaan 6 (enam) unit mesin genset pada proyek pengembangan listrik perkotaan Kab. Bengkalis TA. 2003 dan TA. 2004. Tersangka MY, dkk (Polda Riau – putusan MA/1191-10). 99. TPK penyalahgunaan dana APBD Kota Slawi TA 2006 dan TA 2007 pada pengadaan tanah untuk pembangunan jalan lingkar kota Slawi (Jalinkos) - (Kejati Jateng – penyidikan/639-10). 100. TPK penyalahgunaan dana pinjaman pemKab. Tegal TA 2007. (Kejati Jateng – penyidikan/639-10). 101. TPK penyalahgunaan dana subsidi dari Kementerian Perumahan Rakyat tahun 2007 dan 2008 untuk pembangunan perumahan dan renovasi rumah secara swadaya di Kec Gondang Rejo Kab. Karanganyar. Tersangka HM (Kejati Jateng – penyidikan/ 641-10).

LAMPIRAN 102. TPK penyimpangan kontrak kerja berlangganan sistem jaringan komunikasi data antara PT Pos Indonesia dengan PT Aplikanusa Lisitas Artha (Kejati Jabar – Puldata/655-10). 103. TPK pada proyek pembangunan gedung pabrik mini Plywood di Desa Jambo Manyang Kab. Aceh Selatan TA 2007 dan TA 2008 oleh CV Krueng Kale Jaya (Polda NAD – penyidikan, P-19/124410). 104. TPK mark-up refund tiket perjalanan di Departemen Luar Negeri RI TA 2006 s.d. 2009. Tersangka SS, dkk (Pidsus Kejagung RI – Pemberkasan/1388-0410). 105. Dugaan TPK penerimaan sejumlah uang oleh oknum jaksa pada Kejari Cibadak pada saat menangani kasus perjudian. (Jamwas Kejagung RI – Pemeriksaan Fungsional oleh Kejati Jabar/Lph 861-0310). 106. TPK penyalahgunaan dana bantuan langsung (blockgrant) Ditjen Pendidikan Luar Sekolah Depdiknas RI pada kegiatan pelatihan ketrampilan para profesi (ICDL-ICT) dan penguatan kelembagaan PNF bidang pendidikan kecakapan hidup TA 2006/2007. Terdakwa ACE SURYADI; FAISAL MADANI, dkk (Kejati DKI - Putusan PN; JPU Kasasi/1407-0510). 107. TPK pada proyek peningkatan jalan Pasar Iloheluma-Sukamakmur Kab. Tilamuta TA 2003. Terdakwa MULJADI SUROTENOJO (Kejati Gorontalo Qq Kejari Tilamuta – Putusan PN; JPU Kasasi/1348-0410). 108. TPK dana bantuan Kab. Tabanan untuk pembuatan jembatan penghubung Banjar Dinas Kuwum Ancak Bija dengan Banjar Dinas Kuwum Anyar Desa Kuwum Kec Marga Kab. Tabanan. Terdakwa I WAYAN WETRA SUYASA (Kejati Bali Qq Kejari Tabanan – putusan PT; proses Kasasi/1222-0410). 109. Dugaan TPK pada pelaksanaan pengadaan jasa konstruksi jalan Lapammusureng di Kec Sabbangparu Kab. Wajo TA 2009. (Kejati Sulsel Qq Kejari Sengkang – Puldata/1187-0410) 110. TPK penyimpangan pada kegiatan pengadaan tanah untuk pembangunan Gardu Induk PT PLN Persero di Desa Boro Kec Tanggulangin Sidoarjo tahun 2007. Tersangka B, dkk (Kejati Jatim – penyidikan). 111. TPK pembangunan unit sekolah baru SMP Ebungfauw di Distrik Ebungfauw Kab. Jayapura. Tersangka ALS, dkk (Kejati Papua – penyidikan; tunggu audit BPK-RI/ 595-0210). 112. TPK penyimpangan dalam pemberian biaya perjalanan dinas tetap, bantuan kesehatan dan bantuan check up kesehatan bagi pada anggota DPRD Kab. Lumajang periode 1999-2004. Terdakwa S, dkk (Kejati Jatim Qq Kejari Lumajang – Putusan PT; proses Kasasi/661-0210). 113. TPK pengadaan bibit pada GNRHL tahun 2006 Dinas Kehutanan Kab. Batanghari. Tersangka MS, Tersangka TTS (Kejati Jambi Qq Kejari Muara Bulian – penyidikan). 114. TPK penyalahgunaan dana anggaran rutin dan pemotongan biaya perjalanan dinas di Dinas Perkebunan Kab. Batanghari. Tersangka BP (Kejati Jambi Qq Kejari Muara Bulian - penyidikan). 115. TPK penyimpangan dalam pelaksanaan bantuan infrastruktur Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal untuk perumahan Suku Anak Dalam Desa Pematang Kab.au Kec Air Hitam TA 2008. Tersangka BVJ (Kejati Jambi Qq Kejari Sarolangun – penyidikan). 116. Dugaan TPK dalam pengadaan pakaian Hansip Linmas PAM Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat PemKab. Muara Enim Prov. Sumsel TA 2009 (Polda Sumsel – Pulinfo/Lph 877-0310). 117. Dugaan TPK dana APBD Kutai Kartanegara TA. 2007 pada proyek-proyek di lingkungan Dinas Pendidikan Kab. Kutai Kartanegara (Polda Kaltim – Pulinfo/Lph 1381-0410). 118. TPK rehabilitasi jalan dan jembatan Mandeh – Sei Pinang pasca bencana alam di Kab. Pesisir Selatan TA 2007 (Polda Sumbar – penyelidikan dihentikan/1386-0410). 119. TPK proyek bantuan sarana pendidikan Kota Surakarta TA 2003. Tersangka PS, Tersangka A (Polda Jateng – persidangan PN Surakarta/1194-0410). 120. TPK penggelapan aset negara berupa sungai di Kel. Tambak Langon Kec. Asem Rowo Kota Surabaya (Kejari Surabaya – belum pernah ditangani/2709-0710). 121. TPK berupa pemotongan uang bonus atlit, pelatih dan asisten pelatih KONI Prov Jambi. Terdakwa NHRA (Kejati Jambi – persidangan; JPU Kasasi/1402-0510). 122. TPK pengalihan aset daerah milik Pemkot Kendari berupa sebuah mobil Landcruiser Nopol DT 1 E; dan tanah beserta bangunan eks rumah jabatan camat Poasia di Kec Poasia Kota Kendari, yang dialihkan kepada MASYHUR MASIE ABUNAWAS. (Kejati Sultra – Putusan PN Kendari; JPU Kasasi/316-0409. 123. TPK pengadaan kapal pada Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Wakatobi TA. 2006/2007. Tersangka MS, dkk (Kejati Sultra-penyidikan/0310). 124. TPK penyalahgunaan dana APBD Kab. Rembang TA. 2006/2007 yang dipergunakan untuk penyertaan modal usaha dengan PT Rembang Bangkit Sejahtera Jaya (RBSJ) Kab. Rembang (Polda Jateng-Puldata/1380-0410). 125. TPK pada pengadaan Radio Tetra UHF di Biro Perlengkapan Prov. DKI Jakarta TA 2006/ 2007 (Kejati DKI-penyidikan/1214-0410). 126. TPK dalam pengambilan dan pengolahan bahan galian C di Kab. Lumajang tahun 2004/ 2005 oleh PT Mutiara Halim. Tersangka AF (mantan Bupati Lumajang); EPA; SLH, dkk (Kejati JatimPemberkasan/1387- 0410). 127. TPK pada Pengadaan Petak Pasar Pandansari Balikpapan. Tsk KHAIRANI (Polda Kaltim – Tahap II/3916.T - 1010). 128. TPK penyalahgunaan dana APBD Kab. Kepulauan Sula TA 2005 untuk kegiatan Lobi Penambahan Kuota CPNS-D Kab. Kepulauan Sula tahun 2005 (Polda Malut – SP-3/1552 – 0510). 129. TPK penyalahgunaan dana APBD Kab. Kepulauan Sula TA 2005 yang berasal dari penerimaan Dana Insentif PBB (Polda Malut – penyidikan/1552 – 0510). 130. TPK penyalahgunaan dana biaya makan minum harian PemKab. Purwakarta TA 2006. Tersangka DBS (Kejati Jabar – menunggu persetujuan tertulis Presiden RI/855-0310). 131. TPK penyalahgunaan dana simpan pinjam perempuan (SPP) program nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM) Mandiri Pedesaan di Kec Nuhon Kab. Banggai TA 2008/2009. Tersangka MRL (Kejati Sulteng-penyidikan/2244-0710). 132. TPK penyimpangan dalam pelaksanaan program penghargaan masa bhakti bagi pengurus di PT. Bank NTB tahun 2007. (Kejati NTB-persidangan/2019-0710). 133. TPK berupa mark up dalam pengadaan CT Scan untuk Rumah Sakit Umum Daerah Gunung Jati Cirebon (Kejati Jabarbelum pernah ditangani/420-0210). 134. TPK penerimaan sejumlah uang oleh ketua KPUD Kab. Purwakarta. (Kejati Jabar-Belum pernah ditangani/611-0210). 135. TPK dalam pengelolaan dana anggaran program transmigrasi swakarsa mandiri asal Indramayu yang ditempatkan di Prov Kalsel (Kejati Jabar-Belum pernah ditangani/612-0210).

57

LAMPIRAN

58

136. TPK penyalahgunaan wewenang dalam proses pengadaan tanah KPP Depok tahun 2004. Tsk RUDI HARTONO (Kejati Jabar-putusan PN Depok/178-0410). 137. TPK penyimpangan dalam pelaksanaan program Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang Pendidikan TA 2007 Kab. Tasikmalaya. Tersangka AK. (Kejati JabarSP-3/605-0210). 138. TPK pada pengadaan alat medis di RS Dr. Soewondo TA. 2001 (Kejari Kendal – penyelidikan dihentikan/642-0210). 139. TPK berupa mark-up dalam ruislag tanah bengkok Desa Sendangdawuhun Kec Rowosari Kab. Kendal yang dijadikan lokasi SMPN 1 Rowosari Kab. Kendal (Kejari Kendal – penyelidikan dihentikan/642-0210). 140. TPK penyimpangan pada pembangunan terminal dan kios Weleri tahun 2004 (Kejari Kendal – penyelidikan dihentikan/642-0210). 141. TPK penyalahgunaan dana di DPRD Kab. Kendal TA 2003. Terdakwa SUTRIMO ; ABDUL WAHID HASYIM ; ENDRO ARINTOKO (Kejari Kendal – Putusan PN Kendal/642-0210). 142. TPK penyalahgunaan wewenang dalam pengadaan buku ajar di sekolah-sekolah se-Kab. Kendal (Kejari Kendal – penyelidikan dihentikan/642-0210). 143. TPK dalam pembebasan tanah untuk pembangunan Pelabuhan Mororejo Kaliwungu Kab. Kendal (Kejari Kendal – penyidikan/642-0210). 144. TPK penerimaan sejumlah uang yang diberikan oleh Eksekutif kepada Legislatif Kab. Kendal tahun 2008 (Kejari Kendal – penyelidikan dihentikan/642-0210). 145. TPK penyelewengan dana APBD Kab. Kendal TA 2006 untuk kesejahteraan Kades, Perangkat Desa dan BPD seKab. Kendal yang digunakan untuk pembayaran premi asuransi PT Pasaraya Life Insurance (Kejari Kendal – dilimpahkan ke Polres Kendal/642-0210). 146. TPK penyalahgunaan dana di Suku Dinas Pendidikan Kotamadya Jakarta Pusat TA 2004 s.d. 2006 (Kejati DKI – penyelidikan dihentikan/629-0210). 147. TPK pada Dinas Pendidikan Prov Kalimantan Barat TA 2009 (Polda Kalbar – penyelidikan/ 1952-0610). 148. TPK pada penempatan dana kas daerah Kab. Lampung Timur di PT BPR Tripanca Setiadana. Tsk SATONO (Polda Lampung – tahap II). 149. TPK pada pengadaan ranmor roda 2 Kab. Muba TA 2004. Tersangka PL (Polda Sumsel – Tahap II/ 1217- 0410).

150. TPK pada pengadaan mobil dinas Pemkot Prabumulih TA 2004. Tersangka ALM (Polda Sumsel – Tahap II/ 12170410). 151. TPK dana APBD Kab. Musi Rawas TA 2004/2005 pada pos penggunaan dana operasional Setda Kab. Musi Rawas. Tersangka SH (Polda Sumsel – Tahap II/ 1217- 0410). 152. TPK dana APBD Kab. Musi Rawas TA 2004/2005 pada pos penggunaan dana operasional Setda Kab. Musi Rawas. Tersangka IA (Polda Sumsel – Tahap II/ 1217- 0410). 153. TPK dalam penggunaan dana operasional DPRD Prov. Sumsel TA 2002. Tersangka AS (Polda Sumsel – SP-3/ 12170410). 154. TPK pada pembangunan gedung kantor Dishubkominfo Prov. Sumsel TA 2007 s.d. 2009. Tersangka H; EZ (Polda Sumsel – penyidikan; menunggu audit BPKP Sumsel/ 1217- 0410). 155. TPK penerimaan sejumlah uang oleh oknum penyidik Polda Sumsel saat menangani perkara korupsi di wilayah Prov. Sumsel (Polda Sumsel – laporan tidak benar/ 1217- 0410). 156. TPK dana purna bhakti pimpinan dan anggota DPRD Kab. Sikka periode 1999 sd. 2004. Tersangka AL (Kejati NTT – menunggu putusan Kasasi/1399-0510). 157. TPK pada pembangunan gedung kantor KPU Kab. Kepulauan Mentawai TA 2008. Tersangka BI (Kejati Sumbar – Putusan PN/2514-0810). 158. TPK penyalahgunaan dana bantuan sosial Organisasi Kemasyarakatan Tempat Ibadah Kab. Kerinci TA. 2008 (Kejati Jambi – proses persidangan PN Sungai Penuh/637-0210). 159. TPK penyimpangan dalam pengelolaan kegiatan rutin Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kab. Barito Kuala periode 2006 s.d. 2010. Tersangka N. (Kejati Kalsel Qq Kejari Marabahan – proses persidangan/1912-0710). 160. TPK penyimpangan pada proyek dilingkungan Dinas Pendidikan Kab. Kutai Kartanegara TA 2007 (Kejati Kaltim Qq Kejari Tenggarong – Pulinfo/1381-0410). 161. TPK pada pengadaan Kapal Ferrindo 5 ex Korea antara PT ASDP dengan East Japan Corp tahun 2004 (Pidsus Kejagung – Pulinfo/1556-0510). 162. TPK pada kegiatan repowering kapal KMP Namparnos, KMP Barau dan KMP Bakauheni yang diduga melibatkan PT Praba Dayatama Sakti (Pidsus Kejagung – pulinfo/1556-0510).

163. TPK pada kegiatan penyiapan data dan informasi Spasial SDA di daerah Kabupaten tertinggal dalam rangka pengambangan ekonomi lokal TA. 2006. Tersangka AN (Pidsus Kejagung – penyidikan/1557-0510). 164. TPK penyalahgunaan Dana Administrasi Proyek (AP) APBD Kota Pangkalpinang TA. 2003 (Kejati Babel – penyidikan/1410-0510). 165. TPK penerimaan gratifikasi Anggota DPRD Kota Pangkalpinang peiode 1999-2004 (Kejati Babel – penyidikan/1410-0510). 166. TPK penyimpangan pada pembayaran honor tenaga kontrak fiktif di Kab. Baa TA 2009 (Kejati NTT – belum pernah menangani/1554-0710). 167. TPK penyimpangan dalam pemberian fasilitas umum dan fasilitas sosial untuk Pemkot Tangerang (Kejati Banten Qq Kejari tangerang – belum pernah ditangani/2024-0710). 168. TPK berupa penggelapan tanah milik PemKab. Bandung. Tersangka LS (Kejati Jabar – belum pernah ditangani/2016-0710). 169. TPK penyimpangan dalam pelaksanaan sewa kapal laut/keruk Trailing Suction Hopper Dredger (TSHD) pada PT Pengerukan Indonesia (RUKINDO) tahun 2008 (Kejati DKI – penyidikan, menunggu hasil audit BPKP/ 20170710). 170. TPK penyalahgunaan dana APBD Kab. Lembata TA. 2004 untuk pemberdayaan Mangrove di Kab. Lembata. (Kejati NTT – penyelidikan dihentikan/1880-0610). 171. TPK pada proyek pembangunan lahan dan perumahan transmigrasi Kab. Tapanuli Utara TA 2009 (Polda Sumut – belum pernah ditangani/2349-0810). 172. TPK pada proyek pembangunan lahan dan perumahan transmigrasi di Desa Simpangan Bolon Kec Garoga Kab. Tapanuli Utara TA. 2009 (Polda Sumut – Pulinfo/2349-0810). 173. TPK di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Surabaya Rungkut. (Polda Jatim Qq Polrestabes Surabaya/2497-0810). 174. TPK pada pembangunan intake air baku PDAM Tebing Tinggi yang diubah menjadi pembangunan air bersih/ air minum Kab. Tanjab Barat TA. 2007. Tersangka MH, S, dkk. (Bareskrim Polri – penyidikan dihentikan/1878-0610). 175. TPK berupa mark-up harga dalam pengadaan tanah untuk pembangunan gedung perkantoran PemKab. Sekadau TA 2005-2008 (Bareskrim Polri – pulinfo/1829-0610).

LAMPIRAN 176. TPK penyalahgunaan dan penggelapan fasilitas umum (Fasum) dan fasilitas Sosial (Fasos) yang diserahkan oleh pengembang perumahan kepada Pemkot Tangerang. (Kejati Banten – belum pernah menangani/2024-0710). 177. TPK pada pembangunan pelabuhan pendaratan ikan Surodadi TA 2007 di Kab. Tegal/Slawi. (Kejati Jateng Qq Kejari Slawi – tidak pernah menangani/2075-0610). 178. TPK pada kegiatan talkshow interaktif DPRD Prov DKI Jakarta TA 2008. (Pidsus Kejagung RI – tidak pernah menangani/1876-0610). 179. TPK berupa mark-up pada kegiatan pemerataan akses, peningkatan mutu dan tata kelola SMP di Prov Banten TA 2009 Dinas Pendidikan Prov Banten (Pidsus Kejagung RI – tidak pernah menangani/2519-0810). 180. TPK penyimpangan dana subsidi dari Kantor Kementerian Perumahan Rakyat untuk pembangunan perumahan di lokasi Jeruk Sawit Kec Gondang Rejo Kab. Karanganyar TA 2007 dan TA 2008 (Kejati Jateng – Pemberkasan/2504-0810). 181. TPK penyimpangan dana subsidi dari Kantor Kementerian Perumahan Rakyat untuk pemugaran/renovasi rumah yang dilakukan secara swadaya (KPRS Bersubsidi) Kab. Karanganyar TA 2007 dan TA 2008 (Kejati Jateng – Pemberkasan/2504-0810). 182. TPK pada kegiatan Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan Kab. Indragiri Hulu TA 2005 dan TA 2006 (Kejati Riau – tidak pernah menangani/2012-0710). 183. TPK pada pengadaan mesin pembangkit dan rehabilitasi jaringan listrik Kab. Indragiri Hulu TA 2003 (Kejati Riau – tidak pernah menangani/2012-0710). 184. TPK pada penggunaan dana rutin oleh Bupati Kab. Indragiri Hulu TA 2002 dan TA 2005 (Kejati Riau – tidak pernah menangani/2012-0710). 185. TPK penyimpangan dana bantuan sosial organisasi kemasyarakatan tempat ibadah di Kab. Kerinci APBD TA 2008. Tersangka SKB (Kejati Jambi Qq Kejari Sungai Penuh – menunggu putusan kasasi/ 2642-0910). 186. TPK penyalahgunaan wewenang oleh anggota DPRD Kab. Kerinci periode 2004-2009 dalam pembahasan APBDP Kab. Kerinci TA 2008 (Kejati Jambi Qq Kejari Sungai Penuh – persidangan PN Sungai Penuh/ 2642-0910). 187. TPK penerimaan sejumlah uang sehubungan dengan penerbitan persetujuan rencana investasi atau persetujuan prinsip PT Sekar Semesta di Kab. Klungkung (Polda Bali – tidak menangani/1551-0510). 188. TPK penyalahgunaan dana sisa anggaran penunjang operasional Pimpinan DPRD Kab. Jember TA. 2004 (Polda Jatim – P-21/2498-0810). 189. TPK penyalahgunaan dana bantuan hukum Pemkab. Jember pada APBD Kab. Jember TA. 2005. (Polda Jatim – P-21/2498-0810). 190. TPK pada kegiatan pembayaran ganti rugi tanah untuk sarana olahraga seluas 22.335 m2 di Kel. Karan Aur, Kec. Pariaman Tengah, Kota Pariaman TA. 2007 oleh panitia pengadaan tanah Pemkot Pariaman (Polda Sumbar – penyidikan/2511-0810). 11. Dugaan TPK dalam pemberian ganti rugi tanah untuk perluasan Bandara Hasanuddin Makasar seluas 431 Ha tahun 1991 s.d. 1994 (Kejati). 12. Dugaan TPK penyalahgunaan dana APBD Kab. Jember TA. 2006 sd. 2009 oleh Bupati Jember. (Kejati). 13. Dugaan TPK pada program gerakan peningkatan produksi dan mutu kakao nasional di Kab. Pinrang TA. 2009 (Kejati). 14. Dugaan TPK penyalahgunaan dana Kredit Usaha Tani Kab. Bangka Selatan tahun 1999 (Kejati). 15. Dugaan TPK penyalahgunaan dana PT PANN (Persero) pada pemberian fasilitas Operating Lease Kapal Motor kepada PT Pusaka Bahari Primanusa (Polda). 16. Dugaan TPK penyalahgunaan dana PT PANN (Persero) pada pemberian fasilitas Operating Lease Kapal Motor kepada PT Samudera Mas Nugraha (Polda). 17. Dugaan TPK penyalahgunaan dana PT PANN (Persero) pada pengurusan sertifikat tanah Hotel Permata Bidakara Bandung (aset PT PANN) - (Polda). 18. Dugaan TPK penyalahgunaan wewenang dengan memalsukan SSP pada KPP Pratama Cileungsi (Kejati). 19. Dugaan TPK Dlm Pengelolaan APBD Kab. Nias Selatan TA. 2006 & 2007 pada Dinas Kimpraswil Kab. Nias Selatan. (Polda). 20. Dugaan TPK penerimaan sejumlah uang oleh oknum penyidik Kejati Kaltim saat menangani perkara penerbitan IPK kepada Koperasi Madani tahun 2005 di Kab. Berau Kaltim (Kejati). 21. Dugaan TPK penyalahgunaan wewenang pada pengadaan keramba di Dinas Perikanan Prov. Riau TA. 2008 (Kejati). 22. Dugaan TPK pada program gerakan peningkatan produksi dan mutu kakao nadional di Kab. Pinrang Prov. Sulsel TA. 2009 (Kejati). 23. Dugaan TPK di Perum Bulog Sub Divre Wilayah VI Palopo pada pembagian beras miskin untuk masyarakat Kab. Luwu Prov. Sulsel (Kejati). 24. Dugaan TPK dana APBD Kab. Cilacap TA. 2004 s.d. 2008 pada proyek SIAK Online II, proyek komputerisasi sistem pemerintahan desa dan proyek pekerjaan jalan dengan sistem build dan transfer di Kab. Cilacap (Kejati). 25. Dugaan TPK dana APBD Kab. Jember TA. 2006 sd. 2009 oleh Bupati Jember (Kejati).

59

PELAKSANAAN KEGIATAN KOORDINASI DAN SUPERVISI Analisis:
1. Dugaan Tindak Pidana Korupsi Dana Bantuan Community Development PT Aneka Tambang kepada Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan Tahun 2008 Dugaan TPK penyalahgunaan dana APBD Kab. Bojonegoro TA. 2006/2007 untuk kegiatan perjalanan dinas fiktif (Kejaksaan). Dugaan TPK penyalahgunaan dana APBD Kab. Waropen TA. 2004/2005 untuk keperluan pribadi Bupati Waropen (Kejaksaan). Dugaan TPK pada kegiatan pengadaan sapi di Dinas Sosial Kab. Probolinggo TA. 2006 (Kejaksaan). Dugaan TPK pada kegiatan ruislag tanah eks. Bengkok Kec. Lawang, Kab. Malang, tahun 2004 (Polri). Dugaan TPK pada pelepasan tanah Departemen Kesehatan RI kepada Yayasan Fatmawati (Kejaksaan). Dugaan penipuan dan penggelapan bantuan dana program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL) Pertamina Region III (Polri). Dugaan TPK pemberian Izin Pemanfaatan Kayu (IPK) kepada Koperasi Madani tahun 2005 di Kabupaten Berau Provinsi Kalimantan Timur (Kejati). Dugaan TPK penyimpangan dalam penjualan aset-aset eks PT Bank Pinaesaan tahun 1997 yang telah dialihkan kepada pihak ketiga (Kejagung).

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10. Dugaan penyimpangan dalam penanganan perkara TPK Pengadaan keramba di Dinas Perikanan Riau tahun 2008 oleh oknum penyidik Polda Riau dan oknum penyidik Kejati Riau (Kejati).

LAMPIRAN

60

Pelimpahan Penanganan Perkara :
1. Dugaan TPK dana APBD Kab. Wakatobi TA. 2006/2007 di Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Wakatobi pada kegiatan pengadaan kapal dan asesorisnya (Kejati Sultra-12/09). Dugaan TPK dana APBD Prov. Sumsel TA. 2008 di Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Prov. Sumsel pada kegiatan pengadaan benih padi (Kejati Sumsel-12/09). Dugaan TPK penyalahgunaan wewenang pada kegiatan ruislag tanah kas kelurahan Dukuh Sutorejo Kec Mulyorejo Kota Surabaya tahun 20032004 (Polda Jatim-12/09). Dugaan TPK penerimaan sejumlah uang oleh Kapolres Indramayu dari PT Adhi Jaya Utama tahun 2008 berkaitan penanganan kasus penyimpangan pekerjaan pembangunan break water (pemecah gelombang) - (Irwasum Polri). Dugaan TPK di Dinas Pekerjaan Umum Kota Pagar Alam Sumsel TA. 2009, pada kegiatan pembangunan jalan Plang Kenidai – Semidang Alas (Polda Sumsel). Dugaan TPK dalam pengadaan kawasan sport center yang dananya berasal dari PT Bukit Asam (Persero) dan pengadaan di Dinas Bina Marga Muara Enim TA. 2005 (Kejati Sumsel). Dugaan TPK dana bantuan langsung tunai (BLT) untuk Desa Agung Jaya P.17 Karang Agung Tengah Kab. Musi Banyuasin pada pembagian beras miskin dan hand tractor yang tidak diberikan kepada masyarakat (Polda Sumsel). Dugaan TPK dalam pemberian kredit PT Citrabumi Trisejati pada Legacy PT Bank Dagang Negara pada PT Bank Mandiri (Persero) (Pidsus Kejagung RI). Dugaan TPK di Kab. Banyuasin TA. 2006 sehubungan dengan laporan kepatuhan dalam kerangka pemeriksaan Laporan Keuangan Pemda Kab. Banyuasin TA. 2006 di Pangkalan Balai (LP nomor 93.c.2/S/XIV.2/06/2007 tanggal 19 Juni 2007) (Kejati Sumsel).

11. Dugaan TPK penerimaan sejumlah uang oleh oknum jaksa pada Kejari Cibadak pada saat menangani kasus perjudian (Jamwas Kejagung RI). 12. Dugaan TPK penyalahgunaan wewenang oleh oknum jaksa pada Kejari Ketapang pada saat melakukan penuntutan perkara tindak pidana illegal logging di Kab. Ketapang atas nama terdakwa WENGKY SWANDY als. AWENG (Jamwas Kejagung RI). 13. Dugaan TPK penyalahgunaan wewenang oleh oknum jaksa pada Kejati Kalbar pada saat menangani kasus pemalsuan KTP di Kec Jangkang Kab. Sanggau Prov. Kalbar (Jamwas Kejagung RI). 14. Dugaan TPK dana APBD Prov. Jatim TA. 2005 pada pelaksanaan program komunitas adat terpencil (KAT) (Polda Jatim). 15. Dugaan TPK dana bantuan korban gempa di Klaten tahun 2006 (Pidsus Kejagung RI). 16. Dugaan TPK penerimaan sejumlah uang oleh oknum jaksa pada Kejati Sumatera Utara (Jamwas Kejagung RI/736). 17. Dugaan TPK dalam produksi clinker pada proyek Optimalisasi II PT Semen Baturaja tahun 2001 (Kejati Sumsel/734). 18. Dugaan TPK pada kegiatan pemberian bantuan hukum di Pemerintah Kabupaten Jember TA. 2005 (Polda Jatim/737). 19. Dugaan TPK dalam pengelolaan dana tugas perbantuan dari Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Departemen Pertanian TA. 2008 oleh PemKab. Banyuasin (Kejati Sumsel/738). 20. Dugaan TPK penyimpangan dalam proses lelang proyek pembangunan jalan dan jembatan pada Dinas Pekerjaan Umum Prov Kalteng TA. 2006/2007 (Kejati Kalteng/739). 21. Dugaan TPK dalam pengadaan pakaian Hansip Linmas PAM Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat PemKab. Muara Enim Prov. Sumsel TA. 2009 (Polda Sumsel/877).

2.

22. Dugaan TPK dalam pengelolaan dana APBD Kab. Musi Banyuasin TA. 2006 berdasarkan temuan hasil pemeriksaan BPK dalam LHP-BPK atas kepatuhan dalam rangka pemeriksaan laporan keuangan Pemda Kab. Musi Banyuasin TA. 2006 nomor 91.a.2/S/XIV.2 /06/2007 tanggal 13 Juni 2007 (Polda Sumsel/885). 23. Dugaan TPK penyimpangan bantuan untuk pengungsi Timor Timur pasca jejak pendapat di Prov. NTB yg berasal dari Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Polda NTB/1289-10). 24. Dugaan TPK dana APBD Kab. Rembang TA. 2006/2007 pada kegiatan pendirian, pembiayaan, dan pengelolaan PT. Rembang Sejahtera Jaya tahun 2006/2007 (Polda Jateng/1380-10). 25. Dugaan TPK dana APBD Kutai Kartanegara TA. 2007 pada proyek-proyek di lingkungan Dinas Pendidikan Kab. Kutai Kartanegara (Polda Kaltim/1381-10). 26. Dugaan TPK pada proyek pemasangan bronjong di Sungai Batang Anai PLTA Singkarak dengan rekanan PT. Sriwijaya Prima Makmur (Bareskrim/1951-0610). 27. Dugaan TPK dalam pengelolaan Dana Badan Pertimbangan Tabungan Perumahan PNS (BapertarumPNS) pada tahun 2002 s.d. 2007 (Bareskrim/1953-0610). 28. Dugaan TPK berupa pemberian sejumlah uang dari Ka. Dinas Pendidikan Prov Kalbar kepada Tim Inspektorat Wilayah Prov Kalbar sehubungan dengan pemeriksaan audit yang dilakukan pada kegiatan pengelolaan dana kontribusi bidang TK/SD/SLB, SMP/SMA, SMK, DIKTI dan PNFI (Pendidikan non formal) - (Polda Kalbar/1952-0610). 29. Dugaan TPK penyalahgunaan wewenang dengan ancaman dan pemerasan oleh oknum penyidik Polres Karimun kepada aparat PemKab. Karimun, saat menyidik TPK pengelolaan dana APBD Kab. Karimun (Irwasum Polri – 1830/0610).

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10. Dugaan TPK penerimaan sejumlah uang oleh oknum Wa. Kajati Sumut dari Ka. Dis PU Kab. Langkat; pada saat menangani kasus TPK dana bantuan mega proyek banjir bandang di Bahorok (Jamwas Kejagung RI).

LAMPIRAN NO JENIS PERKARA 1 2 3 4 5 Pengadaan Barang/Jasa Perijinan Penyuapan Pungutan Penyalahgunaan Anggaran JUMLAH 2004 2005 2 12 7 2006 2007 8 5 2 7 5 27 14 1 4 2 3 24 2008 18 3 13 3 10 47 2009 16 1 12 8 37 2010 JUMLAH 16 19 5 40 86 10 57 12 31 196

PERKARA TPK BERDASARKAN JENIS PERKARA

61

2

19

PERKARA TPK BERDASARKAN PELAKU PERKARA

NO JABATAN 1 Anggota DPR dan DPRD 2 Kepala Lembaga/Kementerian 3 Duta Besar 4 Komisioner 5 Gubernur 6 Walikota/Bupati 7 Eselon I, II dan III 8 Hakim 9 Swasta 10 Lain-lain JUMLAH

2004 2005 1 3 1 2 1 4 9 4 6 23

2006 2007 2 1 2 2 3 15 5 1 29 2 1 6 10 3 2 26

2008 6 1 1 1 2 5 22 12 4 54

2009 8 1

2010 JUMLAH 27 2 1 1 4 12 1 8 9 65 43 6 4 7 8 22 84 1 44 26 245

2 4 14 11 4 44

PERKARA TPK BERDASARKAN WILAYAH

NO PROPINSI 1 Pemerintah Pusat 2 NAD 3 Sumatera Utara 4 Sumatera Selatan 5 Riau dan Kepulauan Riau 6 DKI Jakarta 7 Jawa Barat 8 Jawa Tengah 9 Jawa Timur 10 Lampung 11 Kalimantan Selatan 12 Kalimantan Timur 13 Sulawesi Utara 14 Sulawesi Selatan 15 NTB 16 Papua 17 Malaysia 18 Singapura JUMLAH

2004 2005 1 1 15 1

2006 2007 11 12 2 3

2008 23 1

2009 24

2010 JUMLAH 20 2 1 4 7 106 3 4 2 10 10 18 5 4 3 1 11 2 1 3 4 6 3 196

1 2

3 2 1 2

4 1 5 2

1 3 1 3 1 2

3 1 6 3 1 1 3 2 19 27 24 2 1 3 2 47 2 1 1 37 40 2 1

1

PERKARA TPK BERDASARKAN INSTANSI

NO INSTANSI 1 2 3 4 5 6 DPR RI Kementerian/Lembaga BUMN/BUMD Komisi Pemerintah Provinsi Pemkab/Pemkot JUMLAH

2004 2005

2006 2007

2008 7 13 2 2 5 18 47

2009 10 13 5 4 5 37

2010 JUMLAH 7 16 7 2 8 40 24 70 18 19 22 43 196

1

1 2

5 4 9 1 19

10 4 9 4 27

12 2 2 8 24

LAMPIRAN

62 GRATIFIKASI
LAPORAN GRATIFIKASI PER PROVINSI
NO PROVINSI 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 20 23 18 19 20 21 NAD Sumatera Utara Riau Sumatera Barat Sumatera Selatan Jambi Bengkulu Lampung Jawa Barat Banten Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Barat Kalimantan Timur DKI Jakarta D.I. Yogyakarta Jawa Tengah Jawa Timur Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Gorontalo Papua Bali Nusa Tenggara Barat JUMLAH 7 15 13 1 1 2 1 4 15 2 2 2 1 24 237 2 24 4 1 5 1 1 2 26 394

Jumlah

LAPORAN GRATIFIKASI PER INSTANSI

NO BIDANG 1 2 Konstitutif

INSTANSI MPR

JUMLAH 22 82 4 1 65 4 12 41 1 5 10 63 38 15 23 8 394

Legislatif DPR DPRD DPD Kepresidenan Kementerian • Kementerian Koordinator • Departemen • Kement. Negara • Setingkat Kementerian LPND Lembaga Ekstra Struktural

3

Eksekutif

4 5 6 7 8 9 10

Yudikatif Inspektif (BPK) Lembaga Independen BUMN / BUMD Pemprov Pemkab Pemkot Jumlah

LAMPIRAN

PENGADUAN MASYARAKAT
2004 LAPORAN KEMAJUAN PENANGANAN LAPORAN MASYARAKAT S.D. 31 DESEMBER 2010
I. a. Jumlah Laporan yang diterima b. Jumlah Laporan yang telah ditelaah c. Jumlah Laporan yang sedang ditelaah 2,281 2,281 -

63
2005
7,361 7,361 -

2006
6,939 6,939 -

2007
6,510 6,510 -

2008
8,699 8,699 -

2009
7,246 7,246 -

2010 JUMLAH
6,265 5,761 504 45,301 44,797 504

%

98.89% 1.11%

II. Dari Jumlah Laporan yang telah ditelaah ( I.b ) a. Jumlah yang ditindaklanjuti dari hasil telaahan dengan penyampaian surat kepada instansi berwenang b. Jumlah yg diteruskan ke Internal KPK c. Jumlah yang telah ditelaah namun tidak disampaikan kepada instansi berwenang a.l. karena bukan TPK, TPK namun tidak dilengkapi bukti awal, alamat pengadu tidak tercantum (di dokumenkan) d. Jumlah yang disampaikan kembali ke pelapor untuk dimintakan keterangan tambahan dan berkasberkas yang masih dalam proses Reviu, Perbaikan hasil reviu 2,281 7,361 6,939 6,510 8,699 7,246 5,761 44,797 98.89% 233 1,187 1,215 1,142 1,523 1,257 1.435 7.991 17.64% 27 931 109 4,750 197 4,878 221 4,578 535 6,108 949 4,923 811 3,455 2,849 29,623 6.29% 65.39% 1,090 1,315 649 569 533 117 60 4,334 9.57%

e. “Laporan yang berindikasi TPK : (Laporan Ditelaah – Laporan yg di dokumenkan)” III. Dari Laporan yang ditindaklanjuti ( II.a ) diteruskan ke : A. Kepolisian Kejaksaan BPKP Itjen & LPND BPK MA Bawasda

1,117

1,424

846

790

1,068

1,066

871

7,183

15.86%

205 463 112 153 33 39 85 1,090

320 480 120 218 49 26 102 1,315

153 234 87 78 50 6 41 649

158 227 32 40 81 6 25 569

147 236 9 45 73 6 17 533

8 4 13 29 50 1 12 117

1 1 6 20 26 6 60

992 1,645 390 583 362 84 288 4,334

22.89% 37.96% 8.77% 13.45% 8.35% 1.94% 6.65% 9.57%

B. Diteruskan ke internal KPK (II.b) - ke Penindakan - ke Pencegahan - ke bidang lainnya - ke Pimpinan 21 5 1 27 52 47 4 6 109 144 42 7 4 197 157 50 11 3 221 350 82 36 67 535 621 146 31 151 949 609 109 22 61 811 1,954 491 111 293 68.59% 17.23% 3.90% 10.28%

2,849 100.00%

LAMPIRAN

64
NO PROVINSI JUMLAH SURAT LAPORAN PENGADUAN MASYARAKAT S.D. 31 DESEMBER 2010
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 LN NANGGROE ACEH DARUSALAM SUMATERA UTARA RIAU KEPULAUAN RIAU SUMATERA BARAT SUMATERA SELATAN KEPULAUAN BANGKA BELITUNG JAMBI BENGKULU LAMPUNG JAWA BARAT BANTEN KALIMANTAN SELATAN KALIMANTAN TENGAH KALIMANTAN BARAT KALIMANTAN TIMUR DKI JAKARTA D.I. YOGYAKARTA JAWA TENGAH JAWA TIMUR SULAWESI UTARA SULAWESI SELATAN SULAWESI TENGAH SULAWESI TENGGARA GORONTALO PAPUA BALI NUSA TENGGARA BARAT NUSA TENGGARA TIMUR MALUKU UTARA MALUKU IRIAN JAYA BARAT SULAWESI BARAT Luar Negeri Tidak spesifik Jumlah

2004
56 201 86 41 34 140 10 59 24 35 139 45 50 21 58 82 405 19 132 217 39 71 26 27 10 50 27 64 36 14 26 6 18 13 2,281

2005
147 694 234 102 133 413 35 139 81 183 485 126 148 108 148 283 1,311 97 542 792 93 243 62 62 25 114 99 120 144 48 61 36 32 21 7,361

2006
202 621 195 97 100 389 32 115 93 130 626 145 133 112 109 244 1,428 70 407 606 64 209 81 70 27 80 81 160 81 41 66 29 21 47 28 6,939

2007
127 516 209 142 113 259 46 139 81 161 581 125 145 91 79 252 1,181 86 483 612 89 202 71 74 45 74 76 131 67 43 60 52 47 17 34 6,510

2008
99 815 277 85 178 323 54 216 103 189 718 149 137 131 156 209 1,270 75 555 773 124 288 63 75 41 100 107 153 136 41 102 26 54 4 873 8,699

2009
119 587 234 74 127 316 32 158 59 146 496 105 120 102 106 183 1,098 53 474 844 103 160 42 69 50 92 71 135 91 39 57 25 34 8 837 7,246

2010 JUMLAH
95 469 112 83 128 207 30 105 78 112 357 63 86 70 58 129 925 51 369 472 57 179 49 31 41 75 72 90 110 47 80 49 44 5 1,337 6,265 845 3,903 1,347 624 813 2,047 239 931 519 956 3,402 758 819 635 714 1,382 7,618 451 2,962 4,316 569 1,352 394 408 239 585 533 853 665 273 452 223 250 115 3,109 45,301

%
1.87% 8.62% 2.97% 1.38% 1.79% 4.52% 0.53% 2.06% 1.15% 2.11% 7.51% 1.67% 1.81% 1.40% 1.58% 3.05% 16.82% 1.00% 6.54% 9.53% 1.26% 2.98% 0.87% 0.90% 0.53% 1.29% 1.18% 1.88% 1.47% 0.60% 1.00% 0.49% 0.55% 0.25% 6.86%

NO DELIK TPK JUMLAH SURAT LAPORAN PENGADUAN MASYARAKAT S.D. 31 DESEMBER 2010
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Benturan kepentingan dalam pengadaan Gratifikasi Pemerasan Penggelapan dalam jabatan Penyuapan Perbuatan curang Perbuatan melawan hukum/menyalahgunakan wewenang yang mengakibatkan kerugian Negara Tindak Pidana Lain yang terkait dengan TPK Lainnya belum diklasifikasikan

2004
2,281

2005
-

2006
6,939 6,939

2007
-

2008
105 63 209 198 232 2,563 87 410 4,832

2009
123 35 74 122 124 1,514 37 184 5,033

2010 JUMLAH
100 48 96 73 196 1,519 26 135 5 4,067 13,932 23,091 328 146 379 393 552 5,596 150 729

7,361 7,361

6,510 6,510 8,699 7,246 6,265

Total

2,281

45,637

LAMPIRAN

65
NO TPK DALAM BIDANG JUMLAH SURAT LAPORAN PENGADUAN MASYARAKAT S.D. 31 DESEMBER 2010
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Belanja Pegawai Pelayanan bidang keagamaan Pelayanan bidang keimigrasian Pelayanan bidang pendidikan Pelayanan bidang perbankan Pelayanan bidang perekonomian Pelayanan bidang perpajakan Pelayanan bidang pertanahan Pelayanan bidang transportasi Pengadaan barang / jasa Pengelolaan aset negara Permasalahan Kepegawaian Proses pemeriksaan di sidang pengadilan Proses penyelidikan, penyidikan / penuntutan Lain-lain Total 2,281 2,281 7,361 7,361 6,939 6,939 6,510 6,510 5,355 8,699 5,273 7,246 4,880 6,211 38,599 45,522 84.79% 195 171 112 478 1.05%

2004
-

2005
-

2006
-

2007
-

2008
166 15 11 117 60 83 71 121 33 1,343 931 66 132

2009
54 6 10 81 30 56 32 62 24 885 473 28 61

2010 JUMLAH
46 1 2 49 29 65 27 32 11 556 344 17 40 266 22 23 247 119 204 130 215 68 2,784 1,748 111 233

%
0.58% 0.05% 0.05% 0.54% 0.26% 0.45% 0.29% 0.47% 0.15% 6.12% 3.84% 0.24% 0.51%

NO SEKTOR TPK JUMLAH SURAT LAPORAN PENGADUAN MASYARAKAT S.D. 31 DESEMBER 2010
1 2 3 4 5 Eksekutif Legislatif Yudikatif BUMN/BUMD Lainnya Total

2004
611 47 41 28 1,554 2,281

2005
593 51 163 160 6,394 7,361

2006
317 11 105 74 6,432 6,939

2007
225 17 89 38 6,141 6,510

2008
3,977 98 469 404 3,751 8,699

2009
2,231 54 237 293 146 7,246

2010 JUMLAH
2,104 53 274 184 117 6,265 10,058 331 1,378 1,181 24,535 45,637

PENGEMBANGAN JARINGAN DAN KERJA SAMA
IMPLEMENTASI KERJA SAMA NASIONAL 2010
• Dalam rangka upaya peningkatan integritas pegawai Bea Cukai, Direktorat Bea Cukai bekerja sama dengan KPK mengadakan pembekalan integritas di Bea Cukai Surabaya, Bali, Dumai, Tangerang, Lampung, Jakarta, Palembang, dan Pontianak. Melaksanakan diklat bersama tentang Fraud Control Plan bersama BPKP. Mendorong sosialisasi Know Your Customer/Anti Money Laundering bersama Bank Indonesia di Bandung, Mataram, Pekanbaru, Pontianak, Kendari. Mendorong sosialisasi Tindak Pidana Korupsi dalam Perbankan, yang dilaksanakan bersama Bank Indonesia di Solo, Lombok, dan Purwokerto. Mendorong terciptanya pemilu kepala daerah (pemilukada) yang bersih, berkerja sama dengan Bawaslu mengadakan kegiatan Koordinasi Pengawasan, Penanganan Pelanggaran dan penyelesaian sengketa pemilukada tahun 2010 serta sosialisasi bersama kepada calon kepala daerah dan wakil kepala daerah di Jakarta, Banjarmasin, dan Batam. • Mendorong terlaksananya program pembentukan lembaga e-procurement yang dilaksanakan bekerja sama dengan LKPP dengan melakukan kegiatan sosialisasi bersama di Lampung, Bangka Belitung, Kupang, Manado, Ambon, Manokwari, dan Bali. Bekerja sama dengan Komisi Yudisial melakukan implementasi kegiatan kerja sama, antaralain implementasi kerja sama dalam hal penguatan kelembagaan Komisi Yudisial, pembahasan pembentukan Pengadilan Tipikor yang akan dibentuk di beberapa kota provinsi, pembahasan implementasi Anti-Corruption Clearing House di Komisi Yudisial, dan sinergi reviu rekam persidangan. Meningkatkan kesadaran masyarakat akan perlindungan saksi dan korban, bekerja sama dengan LPSK melalui penyelenggaraan seminar perlindungan saksi dan korban. Narasumber dalam acara Sosialisasi tentang Integritas Pelayanan dalam Rapat Kerja Evaluasi Hasil Kinerja Tahun 2009 dan Paparan RKAP tahun 2010 yang diadakan oleh PT PLN (persero) Distribusi Jawa Tengah dan DI. Yogyakarta. • • • • • • • Melakukan kegiatan bersama dengan DPD RI tentang pembangunan zona integritas. Bersama dengan PPATK melakukan kegiatan Domestic Coordination Workshop. Bekerja sama dengan Mahkamah Agung dalam diseminasi evaluasi putusan pengadilan dan penguatan IT MA. Melaksanakan diseminasi Program PPG di Kementerian Negara BUMN. Ikut berpartisipasi dalam penyusunan Stranas bersama dengan Bappenas. Melakukan kegiatan UNCAC dan menjadi expert reviewer UNCAC. Bekerja sama dengan beberapa pemerintahan daerah, antara lain Kota Bandung, Kota Yogyakarta, Kota Bogor, Kota Banjarnegara, Kota Kupang, Kota Bali, dan Kota Mataram, untuk mengawal agenda pemberantasan korupsi dan mendorong implementasi good governance di daerah. Bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat untuk turut mendorong percepatan pemberantasan tindak pidana korupsi, antara lain; Dengan FSP BUMN Bersatu mengadakan seminar sosialisasi peningkatan kesadaran antikorupsi kepada para anggota FSP BUMN Bersatu.

• •

LAMPIRAN

66

• •

• • •

Dengan GAKESLAB dalam melaksanakan seminar peningkatan kesadaran antikorupsi kepada para anggota GAKESLAB. Dengan Komunitas Jurnalis Muda Padang melakukan workshop jurnalistik dalam rangka pembekalan untuk mengawal transparansi dana bantuan bencana di Padang. Dengan KAMMI Banjarmasin melaksanakan seminar antikorupsi. Dengan Center for Intenational Forestry Reaseach (CIFOR) melaksanakan seminar Upaya Penegakan Hukum Terpadu dalam Memberantas Pembalakan Liar: Penggunaan Instrumen Antikorupsi dan Anti-Pencucian Uang di Sektor Kehutanan. Dengan ICW dalam pembentukan komunitas antikorupsi di beberapa daerah dan melakukan kajian efektivitas koordinasi dan supervisi KPK. Dengan Kemitraan melaksanakan implementasi hasil survei government index dalam rangka penguatan tata kelola pemerintahan daerah. Selain itu, bersama-sama dengan 29 universitas di daerah, KPK dan Kemitraan melakukan evaluasi rekam persidangan tipikor yang bertujuan untuk perbaikan kompetensi hakim, panitera, dan jaksa. Pengembangan kuliah kerja nyata tematik yang terkait dengan semangat antikorupsi bekerja sama dengan PUKAT UGM Yogyakarta. Dengan Jatam melaksanakan kegiatan diskusi publik terkait dengan korupsi dan kerusakan lingkungan. Kerja sama yang dilakukan bersama dengan lembaga pendidikan antara lain: Melakukan studi efektivitas dan transparansi website kementerian/ lembaga yang menerima hibah, bekerja sama dengan Universitas Bina Nusantara. Melaksanakan kegiatan koordinasi dan evaluasi perekaman persidangan bersama Universitas Airlangga Surabaya, Universitas Hassanudin Makasar, Universitas Sriwijaya Palembang, Universitas Sahid Jakarta, dan Universitas Sumatera Utara Medan, Melaksanakan kegiatan Konferensi Nasional Pemberantasan Korupsi (KNPK) 2010 dengan tema Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dengan Mekanisme Whisleblower System. Konferensi tersebut diselenggarakan pada 1 Desember 2010, dibuka oleh Presiden RI dan dihadiri oleh kurang lebih 25 menteri Kabinet Indonesia Bersatu II.

• • • • • • • • • • • • • • •

• • • •

• •

Rights Commission (ACRC) - lembaga antikorupsi di Korea Selatan The Supreme National Association for Combating Corruption (SNACC) - lembaga antikorupsi di Yaman. Ministry of Supervision (MOS) - Republik Rakyat Cina Economic and Financial Crimes Commission (EFCC) - Nigeria; Inspektorat General (IG) - Vietnam Badan Mencegah Rasuah (BMR) - Brunei Darussalam Badan Pencegah Rasuah (BPR/SPRM) Malaysia; Corrupt Practices Investigation Bureau (CPIB) - Singapura National Anti-Corruption Commission (NACC) - Thailand National Anti Corruption (NAC) - Kamboja Ombudsman - Filipina Government Inspektorat Office (GIO) - lembaga yang menangani korupsi di Republik Islam Iran, United Nations of Drugs and Crime (UNODC) Federal Bureau of Investigation (FBI) Amerika Serikat Australian Public Service Commission (APSC) atau Komisi Pengawasan PNS Australia Australian Commission for Law Enforcement Integrity (ACLEI) atau Komisi Pengawasan Integritas dan Penegak Hukum di Australia Attorney General Department (AGD) atau Kejaksaan Agung Australia Department of Justice (DOJ) - Belanda Department of Foreign Affairs (DoFA) atau Departemen Luar Negeri Belanda Department of Interior and Kingdom Relations (DIKR) atau Departemen Dalam Negeri dan Hubungan Kerajaan Belanda Serious Fraud Office (SFO) - Inggris Government Inspection Authority (GIA) Laos

• • • • • •

ICPO - Interpol Conference. Working Group on UNCAC di Wina dan Basel Crime Prevention and Criminal Justice (CPCJ) Working Group UNCAC on Review Mechanism, Asset Recovery, and Technical Assistance International Anti-Corruption Conference (IACC) Asean Mutual Legal Assistance Treaty (AMLAT)

IMPLEMENTASI KEGIATAN KERJA SAMA INTERNASIONAL 2010
• Regional Consultation on Anti-Corruption Mechanisms in Asia yang diselenggarakan di Hong Kong pada 11-15 Januari 2010. Acara tersebut membahas mengenai mekanisme pemberantasan korupsi yang ada dan upaya-upaya yang akan dilakukan ke depannya MoU Implementation between KPK and Ministry of Justice Netherlands, yang diselenggarakan pada 26 Januari 2010. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka meningkatkan kerja sama antarlembaga penegak hukum dalam memberantas korupsi Menerima kunjungan Swedish Business Delegation Visit pada 1 Februari 2010. Menerima kunjungan Chaiman ACRC Korea, pada 2 Febrauari 2010 Sharing knowledge MACC dengan tema Lawfull Interception Communication International Relations pada 4-5 Februari 2010 Kunjungan kerja CPIB Singapura ke KPK pada 10 Februari 2010 Kunjungan kerja UNODC ke KPK dalam rangka membahas pengambangan software KPK pada 15 Februari 2010 Workshop ASEAN Legal Cooperation (13th ASEAN Senior Law Offials Meeting) pada 18 Februari 2010 KPK menghadiri seminar internasional tentang “Comprehensive Strategies for Global Challenges: Crime prevention and crimminal justice system and their development in a changing world”, 1719 Februari 2010, di Bandung IRI Rising Stars yang diselenggarakan di Dubai, UAE, pada 18-22 Februari 2010. Acara tersebut membahas mengenai penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bebas korupsi. Meeting on Strengthening Cooperation on Investigating and Prosecuting Corruption and Financial Crimes in Asia, yang diselenggarakan pada 21-24 Februari 2010. Forum ini dipelopori oleh World Bank dan UNDP yang bertujuan untuk meningkatkan kerja sama antarlembaga penegak hokum, khususnya dalam memberantas korupsi dibidang keuangan APEC Anti-Corruption and Transparency Task Force (ACT-TF) yang diselenggarakan di Hiroshima, Jepang, pada 27-28 Februari 2010. Acara tersebut merupakan forum kerja sama dalam memerangi

• • •

• • • •

FORUM INTERNASIONAL YANG AKTIF DIIKUTI KPK
• • • • • • • • • • • • Conference of States Parties (CoSP) UNCAC International Association of Anti Corruption Authorities (IAACA) APEC Anti Corruption Task Force OECD Working Group on Bribery in Internasional Business Transaction ADB/OECD Anti Corruption Innitiative Taskforce Anti Corruption Authorities (ACA) Forum ASEAN Multilateral Cooperation on Anti Corruption atau South East Asia Parties Against Corruption (SEAPAC) ASEAN Senior Official Meeting on Transnational Crimes (SOMTC); ICPO-Interpol G20 WG on Anti-Corruption APG/FATF Forum Organisasi Konferensi Islam (OKI); AntiCorruption and Enhancing National Integrity Anti Corruption (Hunter) Networks. •

KERJA SAMA INTERNASIONAL LEMBAGA-LEMBAGA INTERNASIONAL YANG TELAH MENJALIN MOU DENGAN KPK
• Korea Independent Commission Against Corruption (KICAC), yang kini berganti nama menjadi Anti-Corruption and Civil

LAMPIRAN korupsi guna menciptakan pemerintahan yang bersih dan menjaga stabilitas pertumbuhan dan pembangunan ekonomi di kawasan Asia Pasifik. OECD Working Group on Bribery, yang diselenggarakan di Paris, Perancis, pada 16-19 Maret 2010 dan 14-18 Juni 2010. Forum ini diselenggarakan sebanyak 4 kali dalam setahun dan membahas mengenai penyuapan dalam transaksi bisnis dan membuat laporan perkembangan mengenai pemberantasan korupsi di sektor ini. Workshop on Accountability and Effectiveness of Anti-Corruption Authorities (ACAs), yang diselenggarakan di Washington DC, AS, pada 24-26 Maret 2010. Forum ini diselenggarakan oleh World Bank dengan mengundang lembaga antikorupsi di berbagai negara. World Movement Democratic Visit, yang diselenggarakan pada 14 April 2010 di kantor KPK. KPK diundang sebagai pembicara pada acara CIFOR Meeting yang dilaksanakan di Hotel Salak pada 26 April 2010 United Nation Congress on Crime Prevention and Criminal Justice, yang diselenggarakan di Vienna, Austria, pada 17-21 Mei 2010. Dalam kongres tersebut dibahas mengenaisistem peradilan pidana sebagai pilar utama dalam arsitektur hukum dan peran penting system peradilan pidana dalam pembangunan. Selain itu, dibahas juga mengenai perlunya pendekatan holistik untuk mereformasi sistem peradilan pidana untuk memperkuat sistem peradilan dalam menangani kejahatan KPK menyelengarakan workshop “Modern investigation using UC and Surveillance Techniques” pada 25 Mei 2010 KPK menerima kunjungan kerja delegasi OECD yang diterima langsung oleh Pimpinan KPK, Moch. Jasin, di Ruang Pleno Lantai tiga Gedung KPK pada 2527 Mei 2010 Penandatanganan MoU antara KPK dan SFO Inggris pada 7 Juni 2010 di London. Global Forum on Stolen Asset Recovery and Development, yang diselenggarakan di Paris, Perancis, pada 8-9 Juni 2010. Forum ini membahas pengidentifikasian tindakan yang akan dilakukan dalam memerangi negara-negara safe heavens, mempercepat pengembalian aset, memperkuat pemerintahan dan sistem keuangan. SEA-PAC Secretariat Meeting, yang diselenggarakan di Hanoi, Vietnam, pada 22-23 Juni 2010. Forum ini merupakan pertemuan antarlembaga penegak hukum di ASEAN dalam rangka meningkatkan pemberantasan korupsi dan membentuk Head of Agency Meeting. KPK mengirimkan pegawainya ke MACC dalam rangka Secondment Program pada 28 Juni 2010-7 Juli 2010 Koordinasi dengan Kemenkumham dalam pembahasan SOP MLA pada 19 April 2010 Pembahasan draf MLA dengan pihak Jepang (II) pada 19 April 2010 • • • • • Courtessy call dengan Mr. Rajpal Singh 1st Secretary Singapore Embassy pada 21 April 2010 Joint Investigasi KPK- ACB Brunei Darussalam pada 26-28 April 2010 Penyelenggaraan Donor Evaluation antara Bappenas-KPK-Deplu pada 27 April 2010 Partisipasi KPK dalam Seminar GapAnalysis UNCAC (Kemenlu) pada 28 April 2010 Implementasi kerja sama dengan KOICA/Koordinator perwakilan Pemerintah Korea terkait kegiatan Reformasi Birokrasi pada 28 April 2010 Pembinaan jaringan kerja sama dengan UNODC terkait implementasi MoU pada 29 April 2010 Pembinaan jaringan kerja sama dengan Kedutaan Belanda pada 29 April 2010 Koordinasi dan pembahasan TOR mengenai penyelenggaraan seminar internasional pada 30 April 2010 Kerja sama bantuan internasional KPKFBI pada 3 Mei 2010 Kerja sama bantuan internasional KPK ke ICAC Hong Kong pada 4 Mei 2010 Diklat Fraud Control Plan (FCP) pada 5-7 Mei 2010 Coordination meeting dengan UNODC mengenai The Governing Board of EU Project pada 24 Mei 2010 Penyelenggaran seminar mengenai OECD Anti Bribery Convention pada 2527 Mei 2010 Pembahasan kerja sama dengan AUSAID terkait perencanaan dan implementasi pada 2 Juni 2010 Rapat persiapan EU Project (rapat pendahuluan sebelum pertemuan dengan unodc terkait penguatan supervisi dan koordinasi peran lembaga KPK) pada 3 Juni 2010 Pertemuan dengan UNODC terkait Penguatan Supervisi dan Koordinasi Peran Lembaga KPK pada 7 Juni 2010 Pembahasan rencana dan evaluasi implementasi MoU dengan Australian Public Service Commissioner (Professor Sedgwick) pada 08 Juni 2010 Penyelenggaran Expert Discussion bersama DG Dutch Ministry, Mr. HWM Dick Schoof pada 14 Juni 2010 Courtessy call dengan Bank Negara Malaysia dan Malaysia Anti-Corruption Commission PPATK pada 16 Mei 2010 Koordinasi dengan Dir. V Mabes Polri dalam rangka pembinaan jaringan kerja sama pada 16 Mei 2010 Bantuan internasional kepada MACC Malaysia pada 16 Juni 2010 KPK berpartisipasi dalam kegiatan Russian National Day pada 16 Juni 2010 Video conference dengan mengikutsertakan beberapa negara di regional Asia Timur pada 18 Juni 2010 KPK berpartisipasi dalam pertemuan pembahasan kuesioner World Bank (KPK sebagai responden) pada 25 Juni 2010 KPK didaulat sebagai pembicara pada Forum The Asia Crisis & Security Group Member Meeting pada 6 Juli 2010 • Courtessy call from The Senior Trade Development Advisor for Market Access and Compliance (MAC) of the International Trade Administration at the US Dept of Commerce - Ms. Anita Ramasastry and Ms. Lynn A. Costa pada 14 Juli 2010 Courtesy call dengan ACRC Korea (deleted, termasuk onsite consultancy) pada 15 Juli 2010 Pembahasan kerja sama melalui teleconference dengan Komisioner NACC Thailand pada 16 Juli 2010 Penyelenggaraan CCC Meeting dan OnSite Consultancy dengan ACRC Korea pada 15-16 Juli 2010 Joint investigasi dengan ACB Brunei pada 20 Juli 2010 Koordinasi dengan Set. NCB Interpol untuk persiapan ICPO-Interpol di Doha pada 22 Juli 2010 Pembinaan jaringan dan rencana kerja sama dengan Royal Canadian Mounted Police (RCMP), Allan Bell, dan Leigh Ryant pada 2 Agustus 2010 Coutessy call pimpinan KPK dengan Representative - White House mengenai persiapan G20 pada 6 Agustus 2010 Penyelenggaraan annual meeting evaluasi MoU dan sharing knowledge session (pencegahan) dengan Government Inspectorate Vietnam dalam rangka Implementasi MoU KPK-Vietnam pada 2-8 Agustus 2010 Penyelenggaraan Preliminary Meeting - Persiapan Co. Chair dalam WG Anticorruption G20 Seoul pada 10 Agustus 2010 Pembinaan jaringan kerja sama dengan MCC Indonesia (MCC Compact Program) pada 11 Agustus 2010 KPK bekerja sama dengan FBI terkait bantuan internasional pada 20 Agustus 2010 Kunjungan kerja Mr. Rod Curtis-UNODC ke KPK untuk penjajakan kerja sama pada 24 Agustus 2010 Discussion meeting dalam rangka implementasi MoU dengan Belanda pada 24 Agustus 2010 Conference call dengan Working Group on Anti Corruption G-20 pada 27 Agustus 2010 Diskusi Draft G20 Anti Corruption Action Plan pada 6 September 2010 Working visit Komisioner Komisi Anti Korupsi Timor Leste pada 6 September 2010. Kunjungan ini dalam rangka penjajakan kerja sama di bidang pencegahan. Diskusi persiapan pelaksanaan UNCAC Review dan pelatihan oleh UNODC pada 17 September 2010 2nd conference call of the G20 Anti-corruption Working Group pada 17 September 2010 KPK menerima kunjungan kerja The South African Special Investigating Unit Mr. Karam Singh (Special Investigating Unit) pada 20 September 2010 Technical meeting - persiapan G20 WG on AC Meeting, 27-28 September 2010, pada 23 September 2010 Penyelenggaraan G20 WG on AC Meeting pada 27-28 September 2010

67

• • • • • •

• • • • • • • • • •

• • •

• •

• •

• • • • • • •

• •

• •

• • o • • • • •

• • •

• • •

• •

LAMPIRAN

68

• • • •

Meeting with attorney from the Office of International Affairs, U.S. Department of Justice pada 6 Oktober 2010, dalam rangka penjajakan kerja sama antarlembaga Working visit Kepala FBI Los Angeles State ke KPK pada 12 Oktober 2010 Work plan UNCAC Implementation Review pada 19 Oktober 2010 Koordinasi meeting mengenai MoU KPK pada 28 Oktober 2010 Kunjungan Dubes AS, Scot Marciel, ke KPK pada 28 Oktober 2010 dalam rangka pemberian dukungan kepada KPK dalam pemberantasan korupsi di Indonesia Kunjungan kerja Kedubes AS ke KPK pada 16 November 2010 dalam rangka

• • • • • • •

tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya dengan pimpinan KPK Teleconference dengan OECD mengenai Konferensi Internasional di Bali 2011 pada 19 November 2010 Working visit Kepala FBI Los Angeles State ke KPK pada 12 November 2010 Reviu dan perbaikan RKA-KL 2011 dengan Renkeu pada 23 November 2010 Rapat Koordinasi Konferensi Internasional pada 24 November 2010 Kunjungan kerja Komisioner ACRC Korea pada 30 November 2010 Meeting dengan TI Malaysia 5-6 Desember 2010 Rapat kerja dengan MACC Malaysia dalam rangka Hari Antikorupsi pada 10 Desember 2010

• •

• • •

Teleconference KPK dan Kemenlu terkait G20 Working Group on Anti-Corruption pada 9 Desember 2010 KPK berpartisipasi dalam Interim Open Ended Inter Governmental Working Group on The Prevention of Corruption di Wina pada 13-15 Desember 2010 KPK menghadiri Inter Governmental Working Group on Asset Recovery di Wina pada 16-17 Desember 2010 KPK berpartisipasi dalam WGB OECD di Paris pada 14-17 Desember 2010 High Official Bilateral Meeting di Vietnam antara KPK dan GI Vietnam pada 18-23 Desember 2010. Pertemuan ini sebagai tindak lanjut dari hasil pertemuan bilateral di Bali, 2-8 Agustus 2010

PENGADAAN, BARANG SITAAN, DAN RAMPASAN
NO Unit Kerja
Sekjen Deputi INDA Deputi Pencegahan Deputi PIPM Deputi Penindakan TOTAL

DATA REALISASI PENGADAAN SAMPAI 1 DENGAN 31 DESEM- 2 BER 2010 3
4 5

Jumlah Paket
308 130 98 31 4 571

Harga Perkiraan (HPS)
29,030,593,779 47,099,204,798 10,396,795,980 781,613,643 110,550,000 87,418,758,200

Hasil Pengadaan (Nilai Kontrak)
26,872,439,977 40,870,382,763 9,310,010,957 728,272,334 103,494,000 77,884,600,031

Penghematan
2,158,153,802 6,228,822,035 1,086,785,023 53,341,309 7,056,000 9,534,158,169

(%)
7.43 13.22 10.45 6.82 6.38 10.91

NO DATA BARANG SITAAN DAN RAMPASAN YANG DIKELOLA OLEH KPK YANG DALAM TAHAP PROSES PELELANGAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

URAIAN Kapal tug boat dan 2 unit mesin kapal Yamaha V6 150 PK - Muhammad Harun Let Let Satu hamparan tanah seluas 170.000 M Harun Let Let Satu hamparan tanah seluas 147200 M Harun Let Let Tanah & bangunan - Perumahan Legenda Wisata PT Misaya Properindo Kendaraan bus bermotor roda enam merek Hino RG 1 JSK Sylvira Ananda Kendaraan bus bermotor roda enam merek Mercedez Benz OH 1518 Kendaraan bus bermotor roda enam merek Mercedez Benz OH 1518 Sylvira Ananda Kendaraan bus bermotor roda enam merek Mercedez Benz OH 1518 Sylvira Ananda Kendaraan bus bermotor roda enam merek Mercedez Benz OH 1518 Sylvira Ananda Kendaraan bermotor roda empat Mitsubishi Chassis Truck FE 304 Satu bidang tanah dan bangunan Jl. Aria Barat, No.9, Aria Graha, Cipamokolan, Bandung, Jawa Barat Satu bidang tanah dan bangunan Muarasanding, Garut Kota, Jawa Barat Dua bidang tanah dalam satu hamparan dengan bangunan villa - Mekargalih, Tarogong Kidul,

SATUAN SET SET SET SET UNIT UNIT UNIT UNIT UNIT UNIT SET

JUMLAH BARANG 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

HARGA LIMIT Rp35,805,000 Rp850,000,000 Rp736,000,000 Rp362,541,000 Rp262,500,000 Rp375,000,000 Rp375,000,000 Rp375,000,000 Rp375,000,000 Rp51,063,000

KETERANGAN Kep-420/50/11/2010

Kep-420/50/11/2010 KEP-444/50/11/2010 KEP-444/50/11/2010 KEP-444/50/11/2010 KEP-444/50/11/2010 KEP-444/50/11/2010 KEP-444/50/11/2010

Rp1,377,402,000

12 13

SET SET

1 1

Rp1,690,290,000 Rp2,058,137,000

LAMPIRAN JUMLAH BARANG

DATA BARANG SITAAN DAN RAMPASAN YANG DIKELOLA OLEH KPK YANG DALAM TAHAP PROSES PELELANGAN

NO

URAIAN

SATUAN

HARGA LIMIT

KETERANGAN

69

Garut, Jawa Barat 14 Satu unit kendaraan bermotor Isuzu Panther nopol D 1818 NH 15 Satu unit kendaraan bermotor Toyota Camry nopol B 1840 Ql 17 Satu unit Longway Printing Machine 2 Colour 3” X 7” merek Hong Shan 18 17 unit dies kotak suara Type Knock Down th.2004 19 Satu unit Roller Die Cut Type Lighting Sensor th.1997 20 Dua unit Wax Machine Type Duty Roll Laminating th.1990 21 Satu UNIT Press Machine Type 4 silinder/ mould press th.1992 22 Satu unit Netbool merk Fujitsu type P 1510 tahun pembuatan 2006 23 Satu unit ponsel tipe Nokia 3100 tahun pembuatan 2004 24 Satu unit ponsel tipe Nokia E 90 tahun pembuatan 2007 25 Satu unit ponsel tipe Nokia 8800 tahun pembuatan 2005 26 Satu unit ponsel tipe Nokia 2626 tahun pembuatan 2006

Unit Unit UNIT SET UNIT SET UNIT UNIT UNIT UNIT UNIT UNIT

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

Rp124,846,000 Rp229,950,000 Rp101,200,000 Rp2,100,000 Rp10,650,000 Rp37,700,000 Rp98,500,000 Rp2,695,000 Rp95,400 Rp2,249,000 Rp1,147,000 Rp116,000 Rp103,440,000 Kep-420/50/11/2010 Kep-420/50/11/2010 Kep-420/50/11/2010 Kep-420/50/11/2010 Kep-420/50/11/2010 Kep-420/50/11/2010

27 Satu unit kendaraan bermotor roda empat UNIT Nissan Terrano Spirit S1, warna hijau metalik, nopol B 2618 MQ, tahun pembuatan 2003 28 Satu unit kendaraan bermotor roda empat UNIT Honda CRV S102WD AT, warna hitam Nopol B 1599 BM, tahun pembuatan 2001 29 Satu unit kendaraan bermotor roda empat UNIT Nissan Terrano Spirit S1, warna hijau metalik nopol B 2606 MQ, tahun pembuatan 2003 30 Satu Unit ponse tipe Nokia 2626 tahun pembuatan 2006 UNIT 31 Sebidang tanah seluas 14,987 m2 yang terletak SET di Jalan Raya Bangkinang, Kel. Sidomulyo Barat, Kec. Tampan, Kota Pekan Baru, Riau 32 Tanah dan bangunan serta sarana pelengkap lainnya SET di atas tanah di Jalan Peta 10/181, Tanjung Batu Wanea Manado, Sulawesi Utara. Luas tanah 2.100 m2 33 Tanah kosong berupa kebun di atasnya terletak SET di Jalan Raya Manado – Bitung, Desa Watu Dambu/ Tontalete, Kec. Airmadidi, Kab. Minahasa, Sulut. Luas tanah 61.000 m2 34 Tanah kosong berupa kebun di atasnya terletak SET di Desa Kinilow, Kec Tomohon I, Kotamadya Tomohon, Sulut. Luas tanah 90.750 m2 35 Tanah dan bangunan di atasnya serta sarana SET pelengkap lainnya berupa resort terletak di Kel Kakasken I dan Kinilow I, Kec Tomohon Utara, Kotamadya Tomohon, Sulut. Luas tanah 57.196 m2 36 Tanah dan bangunan di atasnya serta sarana SET pelengkap bangunan lainnya berupa rumah tinggal terletak di Perumahan Kejaksaan Agung RI, Jalan Adiyaksa VI Kav 8, 10, 12 dan 14 RT.003/05, Kel Lebak Bulus, Kec Cilandak, Kotamadya Jaksel 37 Satu unit apartemen dengan luas 88 m2 terletak SET di Apartemen Taman Anggrek, Block Cattelya, room 43.1, Jl S.Parman, Kav 21, Kel. Tanjung Duren ,Jakbar TOTAL

1

Rp90,031,000

Kep-420/50/11/2010

1

Rp94,545,000

Kep-420/50/11/2010

1 Rp116,000 1 Rp13,074,226,000

Kep-420/50/11/2010 KEP-444/50/11/2010

1

Rp2,114,637,000

KEP-333/50/08/2010

1

Rp396,500,000

KEP-333/50/08/2010

1

Rp291,455,000

KEP-333/50/08/2010

1

Rp11,028,171,000

KEP-333/50/08/2010

1 Rp16,807,273,000

KEP-333/50/08/2010

1

Rp572,346,000

KEP-333/50/08/2010

54,107,726,400

LAMPIRAN

70

BARANG RAMPASAN YANG 1 SUDAH TERJUAL MELALUI PROSES PELELANGAN UNTUK TAHUN 2010

NO OBJEK PENILAIAN 1 (satu) bidang tanah beserta bangunannya a.n Hari Purnomo sesuai Tanda Bukti Hak Guna Bangunan No.510 seluas 170 M2 sesuai Akte Jual Beli Tanggal 10 April 2007, yang berlokasi di Tambak Harjo Taman 1 No.5 Kec. Semarang Barat, Semarang, Jawa Tengah 2

JUMLAH BARANG 1 unit

HARGA LIMIT Rp328,500,000

HARGA TERJUAL Rp329,000,000

NILAI YANG MASUK KE KAS NEGARA

TGL LELANG

Rp309,260,000 Feb 11, 2010

1 (satu) paket Peralatan Kantor 1 Paket berupa: 4 unit komputer, 5 monitor, 2 printer, 1 PABX, 1 mesin fax, 4 AC, 2 exhaust fan, 2 dispenser, 26 kursi, 13 meja, 5 lemari dan 2 whiteboard.

Rp8,442,000

Rp8,500,000

Rp8,415,000 April 29, 2010

3 4 5

1 (satu) unit lukisan “Ikan Koi” 1 (satu) unit lukisan “Lion Fish” 1 (satu) bidang tanah, AJB No.192/206 tgl 20 November 2006 seluas 97 M2 dengan bangunan ruko di atasnya, di Ruko Intan Bisnis Center, Pakuwon, Garut Kota, Garut, Jawa Barat.

1 unit 1 unit 1 unit

Rp2,457,000 Rp4,255,000 Rp359,786,000

Rp2,457,000 Rp4,255,000 Rp610,000,000

Rp2,432,430 April 29, 2010 Rp4,212,450 April 29, 2010 Rp573,400,000 Mei 4, 2010

6

1 (Satu) Unit Kobelco Hydraulic Excavator. Tahun 2002 Type SK 200 DA-VI Super version yang berada di TualMaluku.

1 unit

Rp236,274,500

Rp241,000,000

Rp238,590,000 Mei 26, 2010

7

1 (Satu) Unit Komatsu Bulldozer, Tahun 2002, Type D70LE-8 yang berada di Tual-Maluku.

1 unit

Rp422,539,700

Rp426,000,000

Rp421,740,000 Mei 26, 2010

8

Satu Bidang Tanah dan Bangunan Jl. 1 Paket Rp1,431,208,500 Rp1,432,000,000 Sindang I, Kelurahan Jati, Pulo Gadung, Jakarta Timur TOTAL PNBP DARI HASIL PELELANGAN BARANG RAMPASAN

Sedang proses Des 17, 2010 administrasi lelang

Rp2,793,462,700 Rp3,053,212,000 Rp1,558,049,880

LAMPIRAN TAHUN 2009 (LAP TAHUNAN) 70,897,700,000 14,631,880,000 104,818,331,000 10,455,648,000 11,380,962,000 6,479,187,000 7,140,549,000 41,175,416,000 25,119,851,000 1,652,615,583,000 16,176,211,000 9,013,120,000 43,834,461,000 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 jan 2010 s.d. Desember 2010 0 67,254,838,360 0 0 14,193,198,000 0 0 0 96,243,044,339 0 3,240,041,291 2,394,777,352 1,650,886,000 1,193,900,000 12,269,662,214 1,486,733,000 6,746,987,700 21,297,062,500 17,044,233,500 92,512,400,000 36,654,150,000 15,110,000,000 136,974,108,000

PENYELAMATAN POTENSI KERUGIAN NEGARA AKIBAT PENGALIHAN HAK BMN YANG DAPAT DICEGAH

No. DEPERTEMEN/LEMBAGA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kementerian Hukum & HAM Kementerian Agama Kementerian Sekretariat Negara Kementerian PU Perum Bulog PT Kereta Api BKKBN Kementerian Luar Negeri Kementerian Kesehatan

JUMLAH 70,897,700,000 81,886,718,360 104,818,331,000 10,455,648,000 25,574,160,000 6,479,187,000 7,140,549,000 41,175,416,000 121,362,895,339 1,652,615,583,000 19,416,252,291 11,407,897,352 45,485,347,000 1,193,900,000 12,269,662,214 1,486,733,000 6,746,987,700 21,297,062,500 17,044,233,500 92,512,400,000 36,654,150,000 15,110,000,000 136,974,108,000

71

10 Kementerian Keuangan (DJP) 11 Perum Pegadaian 12 Asuransi Jiwasraya 13 Kementerian Diknas (Unibraw) 14 Kementerian Diknas (ITS)) 15 Kementerian Diknas (Udayana) 16 Kementerian Diknas (Unila) 17

Kementerian Diknas ( Universitas Palangkaraya)

18 Kementerian Diknas (Universitas Surabaya) 19 Kementerian Diknas (Unair) 20 Kementerian Diknas (USU) 21 Fasum & Fasos Pemko Surabaya 22 Kementerian ESDM 23 PT PLN

JUMLAH

2,013,738,899,000

526,266,022,256

2,540,004,921,256

LAMPIRAN

72 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
NO NAMA KEGIATAN PENELITIAN 1 Survei Integritas Sektor Publik 2010 (SI 2010) PENJELASAN SINGKAT Survei Integritas Sektor Publik 2010 (SI 2010) telah selesai dilaksanakan dan hasilnya telah dipublikasikan pada 2 November 2010. Survei ini bertujuan untuk mengukur tingkat integritas pada layanan publik yang menjadi target penelitian. SI 2010 diikuti oleh 23 instansi pusat (45 layanan), 6 instansi vertikal (masing-masing 11 layanan pada 22 kota), dan 22 pemerintah kota (masing-masing 3 layanan). Pengumpulan data lapangan dilakukan pada April-Agustus 2010, dengan menggunakan metode wawancara tatap muka langsung dengan bantuan kuesioner pada responden yang merupakan pengguna langsung layanan pada 1 tahun terakhir. Dengan indeks standar integritas minimal 6,00 seperti yang ditetapkan KPK, Indeks Integritas Nasional yang diperoleh untuk 2010 adalah 5,42. Apabila dirinci, secara nasional, Indeks Integritas Instansi Pusat adalah 6,16; Indeks Integritas Instansi Vertikal adalah 5,26; dan Indeks Integritas Pemerintah Kota 5,07. Hasil survei integritas ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi instansi yang memberikan layanan publik untuk melakukan upaya antikorupsi yang efektif di unit layanannya. Program Penilaian Inisiatif Anti Korupsi (PIAK) bertujuan untuk memberikan gambaran keseluruhan tentang inisiatif dan komitmen dari tiap instansi terhadap upaya pemberantasan korupsi dan mendorong instansi agar bertanggung jawab terhadap keberhasilan upaya pencegahan korupsi di instansinya. PIAK merupakan instrumen yang digunakan untuk menilai dan memberikan penghargaan bagi unit utama yang telah mengembangkan inisiatifinisiatif dalam meningkatkan integritas serta budaya antikorupsi di unit utamanya. Pada 2010, pelaksanaan PIAK yang tidak hanya terfokus pada instansi di pusat, namun juga diikuti oleh pemerintah provinsi, pemerintah kota, dan kabupaten, diikuti oleh 18 kementerian/lembaga dan 8 pemerintah daerah. Ke-18 kementerian/lembaga tersebut diwakili oleh 80 unit utama. Sedangkan pemerintah daerah diwakili oleh 38 SKPD dari 2 pemerintah provinsi, 2 pemerintah kabupaten, dan 4 pemerintah kota. Survei Persepsi Masyarakat (SPM) terhadap korupsi dan KPK merupakan kegiatan dalam rangka mendapatkan gambaran mengenai persepsi masyarakat terhadap korupsi, lembaga KPK, serta kinerja KPK. SPM 2010 dilakukan di 13 kota dan kabupaten di lima wilayah, yaitu Sumatera Utara, Jabodetabek, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, dan Maluku (yang dipilih berdasarkan kriteria kepadatan penduduk, jumlah penduduk, dan luas area), dengan jumlah responden 2.525 orang yang sesuai dengan kriteria responden yang ditentukan. Tujuan pelaksanaan SPM adalah untuk mendapatkan gambaran perkembangan pemahaman masyarakat mengenai korupsi dan mengetahui perkembangan persepsi masyarakat mengenai KPK. Hasil survei ini dapat dimanfaatkan oleh KPK sebagai bahan masukan dalam menyusun strategi pemberantasan korupsi yang efektif. Pemahaman mengenai kesadaran, pengetahuan, sikap dan pengetahuan masyarakat mengenai korupsi dan KPK dapat dijadikan landasan bagi pengembangan strategi tersebut. Dalam rangka pencegahan tindak pidana korupsi, KPK selalu mendorong upaya-upaya pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) di berbagai bidang/ sektor, terutama bidang layanan publik. Pada 2009, KPK melakukan studi terhadap pelaksanaan tata kelola pemerintahan di bidang pendidikan. Kegiatan ini kemudian berlanjut pada 2010 dalam bentuk pengembangan buku dan CD interaktif/mutimedia terkait inovasi pada sistem pendidikan di sekolah kejuruan. Studi difokuskan kepada pelaksanaan tata kelola layanan pendidikan kejuruan, yaitu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan mengambil contoh tata kelola yang baik pada SMKN 4 Kota Malang dengan program kejuruan grafika, SMKN 8 Kota Makassar dengan program kejuruan perhotelan dan restoran, dan SMKN 2 Kabupaten Subang dengan program kejuruan pertanian. Output studi dalam bentuk buku dan CD interaktif ini selanjutnya akan disebarluaskan ke pemerintah daerah dan sekolah-sekolah kejuruan dengan tujuan memberikan inspirasi dan semangat kepada pemerintah daerah dan sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan kejuruan yang inovatif dan bertata kelola yang baik. Survei Kepuasan Pegawai KPK Tahun 2010 (SKP-2010) merupakan usaha dari institusi yang diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai pandangan dan harapan pegawai KPK terhadap institusinya. Survei sejenis pernah dilakukan oleh KPK pada 2008. Pengumuman pengisian kuesioner survei dilakukan melalui email oleh pimpinan KPK. Kuesioner ditayangkan dan diisi langsung oleh pegawai KPK di dalam portal KPK selama satu bulan, mulai 29 Maret hingga 30 April 2010. Setiap responden harus mengisi semua pertanyaan yang diajukan. Survei ini menguji delapan aspek, yaitu tujuan dan efektivitas organisasi, sistem reward and punishment, struktur dan kelembagaan, pengarahan dan pengawasan atasan, hubungan antarpegawai, kepuasan intrinsik, partisipasi dan kerja sama, serta iklim organisasi. Kuesioner yang sudah terisi ditabulasi dan dianalisis lebih lanjut kemudian dilaporkan secara tertulis kepada pimpinan dan para pejabat struktural KPK

2 Penilaian Inisiatif Anti Korupsi 2010

3 Survei Persepsi Masyarakat 2010

4 Studi Inovasi dalam Sistem Pendidikan: Potret Praktik Tata Kelola Pendidikan Menengah Kejuruan (Seri Model Tata Kelola Pemerintahan yang Baik)

5 Survei Kepuasan Pegawai KPK Tahun 2010

LAMPIRAN

73
NO NAMA KEGIATAN KEGIATAN PENGEMBANGAN ATAS HASIL PENELITIAN KPK TAHUN 2010 No Nama kegiatan 1 Observasi Layanan Pemasyarakatan pada Kementerian Hukum dan HAM PENJELASAN SINGKAT Sebagai tindak lanjut atas kegiatan observasi yang telah dilakukan KPK terhadap Dirjen Pemasyarakatan pada 2009, KPK tahun ini telah menerima action plan dari Dirjen Pemasyarakatan. Sebagai respons positif, Kanwil Kementerian Hukum dan HAM DKI Jakarta juga turut memberikan action plan atas hasil observasi KPK. Terkait tanggapan dan action plan yang disampaikan, KPK bersama Ditjen Pemasyarakatan dan Kanwil Kementerian Hukum dan HAM DKI Jakarta telah beberapa kali melaksanakan pertemuan untuk membahas tindak lanjut dari action plan tersebut. Selanjutnya dilakukan pemantauan secara berkala atas action plan dengan mengunjungi beberapa unit pelayanan teknis, yaitu LP Klas IA Cipinang,LP Klas 2A Salemba, LP Khusus Klas IIA Narkotika Jakarta, Rutan klas I Cipinang, Rutan Klas IIA Jakarta Timur, Rutan Klas 1A Jakarta Pusat. Observasi pada Ditjen Postel Kemkominfo dilakukan sebagai tindak lanjut atas perolehan skor integritas yang rendah dari layanan publik bidang telekomunikasi. Observasi dilakukan dengan memfokuskan pada proses layanan izin penyelenggaraan jasa telekomunikasi, sertifikasi radio elektronika dan operator radio, izin stasiun radio, serta sertifikasi alat dan perangkat telekomunikasi. Hasil observasi menghasilkan tujuh temuan, dengan rincian 1 temuan terkait regulasi, 2 temuan terkait kelembagaan, dan 4 temuan terkait tata laksana. Laporan hasil observasi telah dipaparkan pimpinan KPK kepada jajaran Ditjen Postel pada 17 September 2010. Menindaklanjuti saran perbaikan KPK tersebut, Ditjen Postel telah menyampaikan action plan pada 13 Oktober 2010. Observasi layanan publik pada Kementerian Perindustrian dilakukan KPK dalam rangka menindaklanjuti hasil Survei Integritas 2009 yang menghasilkan skor integritas di Kementerian Perindustrian berada di posisi 5 terbawah. Observasi dilakukan pada kantor-kantor layanan publik di lingkungan Kementerian Perindustrian, untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi layanan yang sesungguhnya, menemukan permasalahan yang terjadi dalam proses pelayanan, sekaligus memberikan saran untuk perbaikan di masa mendatang. Layanan yang diobservasi adalah Jasa Pelayanan Teknis (JPT) dan Sertifikat Produk Penggunaan Tanda (SPPT) SNI. Kedua jenis layanan tersebut termasuk dalam layanan yang menjadi objek Survei Integritas 2009. Observasi dilakukan di enam tempat, yaitu Balai Besar Industri Agro (BBIA), Balai Besar Kimia dan Kemasan (BBKK), Balai Besar Kulit, Karet dan Plastik (BBKKP), Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB), Pusat Standardisasi (Pustan), dan Balai Riset dan Standardisasi (Baristand) Pontianak pada Mei 2010. Kegiatan observasi ini menghasilkan beberapa temuan dan menyampaikan saran perbaikan meliputi perbaikan sistem administrasi, peningkatan pemahaman terhadap definisi gratifikasi, peningkatan transparansi dan akuntabilitas, penggunaan sistem IT, penyesuaian tarif, penertiban anggaran, keadilan dalam pelayanan, kejelasan prosedur, serta penerapan sistem pelayanan satu pintu yang konsisten. Pada Februari 2010-Agustus 2010, KPK melakukan observasi layanan keimigrasian. Observasi layanan keimigrasian ini adalah sebuah kegiatan untuk menindaklanjuti hasil skor Survei Integritas tahun 2009 atas layanan keimigrasian yang masih rendah. Observasi terhadap layanan keimigrasian bertujuan untuk: (a). Mengetahui alur proses layanan keimigrasian, yaitu proses permohonan paspor; (b) Mengetahui alur proses pemeriksaan keimigrasian di Tempat Pemeriksaan Imigrasi; (c) Mengidentifikasi permasalahan-permasalahan dalam proses layanan keimigrasian yang menyebabkan rendahnya kualitas layanan; (d) Mengidentifikasi permasalahan-permasalahan dalam proses pemeriksaan keluar/masuk wilayah Indonesia di TPI; (e) Memberi saran perbaikan sehingga kualitas layanan keimigrasian meningkat dan berdampak pada peningkatan skor integritas. Berdasarkan observasi terhadap layanan keimigrasian diperoleh temuan-temuan yang mencakup temuan di aspek kelembagaan, aspek tata laksana, aspek teknologi informasi, dan hasil observasi lainnya. Dari hasil observasi tersebut, KPK merekomendasikan sejumlah perbaikan dan meminta action plan atas temuan yang telah disampaikan kepada Plt. Dirjen Imigrasi pada November 2010. Action plan atas temuan dalam observasi layanan Imigrasi telah disampaikan oleh Ditjen Imigrasi dan diterima KPK pada November 2010. Sebagai tindak lanjut hasil Survei Integritas dan Kajian Sistem Administrasi Impor sebelumnya, pada 2010 KPK melakukan observasi pada layanan cukai di tiga kantor penerima cukai terbesar di wilayah Kudus, Kediri, dan Malang. Observasi ini bertujuan untuk menganalisis titik potensi korupsi dan untuk memberikan saran perbaikan terkait layanan cukai. Laporan observasi layanan cukai diselesaikan pada pertengahan Desember 2010.

2 Observasi Layanan Publik pada Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi Kementerian Komunikasi dan Informatika

3 Observasi Layanan Publik pada Kementerian Perindustrian

4 Observasi Layanan Keimigrasian pada Kementerian Hukum dan HAM

5 Observasi Layanan Cukai pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan

LAMPIRAN

74
NO NAMA KEGIATAN KEGIATAN PENGEMBANGAN LAINLAIN KPK 2010 1 Implementasi Reviu-United Nation Convention Against Corruption (UNCAC) PENJELASAN SINGKAT Dalam implementasi reviu UNCAC, KPK berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan: (1) Mengikuti pertemuan Implementation Review Group (IRG) UNCAC yang diselenggarakan di Wina, Austria pada tanggal 28 Juni-2 Juli 2010. Tujuan utama pertemuan ini adalah: (a) Melakukan finalisasi 2 (dua) dokumen yang akan digunakan dalam mekanisme reviu UNCAC, yaitu Guidelines for Governmental Expert dan Blueprint for Country Review Report, (b) Drawing of Lots (pengundian) untuk menentukan 35 countries under review dan 70 reviewing countries; (2) Melakukan kegiatan rapat pembahasan Self Assessment Checklist UNCAC terhadap isi Bab III yang berisi tentang Kriminalisasi dan Penegakan Hukum; dan Bab IV UNCAC yang berisi tentang Kerjasama Internasional. Perpustakaan KPK merupakan perpustakaan khusus yang berperan mendukung KPK dalam melaksanakan visi, misi, dan tugasnya untuk mewujudkan Indonesia yang bebas dari korupsi. Perpustakaan KPK mengumpulkan, menyimpan, dan mengelola data dan informasi mengenai korupsi dan subjek terkait untuk memenuhi kebutuhan literatur Pegawai KPK dalam melakukan pekerjaan sehari-hari, terutama berkaitan dengan pengkajian dan penelitian. Perpustakaan KPK tidak hanya diperuntukkan bagi pegawai KPK, namun juga terbuka bagi masyarakat umum yang hendak mengakses data dan informasi publik mengenai korupsi dan subjek terkait. Dengan fungsinya yang cukup strategis, perpustakaan KPK terus dikembangkan menjadi pusat rujukan subjek korupsi dan subjek yang terkait. Enam komponen utama yang dikembangkan pada perpustakaan KPK adalah koleksi, administrasi, pengembangan, kegiatan dan layanan, ruang dan perabot, serta pustakawan.

2 Pengembangan Perpustakaan KPK

NO NAMA KEGIATAN KEGIATAN PENGKAJIAN SISTEM KPK 2010 1 Kajian Sistem Penyelenggaraan Ibadah Haji pada Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umroh Kementerian Agama

PENJELASAN SINGKAT Kajian Penyelenggaraan Ibadah Haji dilakukan sejak Januari 2009 dan berakhir hingga musim haji 1430 Hijriah berakhir, yakni Januari 2010. Kajian ini bertujuan untuk memetakan permasalahan termasuk di dalamnya potensi terjadinya korupsi dalam rangkaian kegiatan penyelenggaraan ibadah haji. Fokus kajian diarahkan pada alur penyelenggaraan ibadah haji baik yang diikuti oleh jemaah maupun yang dilakukan oleh pihak penyelenggara dalam hal ini Departemen Agama. Lingkup kajian terbatas pada penyelenggaraan ibadah haji reguler, yang selama ini dimonopoli penyelenggaraannya oleh Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah. Field Review dilakukan di dalam negeri terhadap beberapa Kandepag Kabupaten/Kota, Kanwil Depag Provinsi, asrama embarkasi, dan Ditjen PHU serta di Arab Saudi (Jeddah, Makkah, Madinah) pada musim haji 1430 H. Hasil pengkajian ini adalah ditemukannya sejumlah permasalahan yang berpeluang mendorong terjadinya tindak pidana korupsi. Permasalahan tersebut antara lain terkait dengan pengelolaan keuangan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji terutama berkenaan dengan pengelolaan dana setoran awal, penentuan komponen biaya-biaya yang dikategorikan direct dan indirect cost, serta pengelolaan biaya-biaya tersebut di berbagai level operasional. Permasalahan tersebut juga semakin diperkuat dengan adanya ketimpangan dalam pengelolaan SISKOHAT, yang tidak selaras dengan antara catatan keuangan. Selain permasalahan tersebut, masih terdapat sejumlah persoalan tata kelola yang buruk, yang berdampak pada minimnya kualitas pelayanan. Hal ini tercermin dari berbagai keluhan yang dialami oleh calon jemaah haji terkait pelayanan pada saat pendaftaran, keberangkatan, dan pelayanan selama di Arab Saudi. Masalah tata kelola yang buruk dalam penyelenggaraan ibadah haji tersebut, tidak terlepas dari masalah kelembagaan. Kelembagaan penyelenggaraan haji yang berbentuk kepanitiaan, sepertinya sudah tidak layak diterapkan mengingat kegiatan ini bersifat rutin dan melibatkan banyak orang sehingga sudah selayaknya dikelola secara lebih permanen dan profesional. Di samping itu, masalah kompetensi penyelenggara yang sangat terbatas menjadi permasalahan tersendiri mengingat jumlah dana haji yang dikelola oleh Kementerian Agama saat ini sudah mencapai lebih dari Rp14 triliun. Hasil kajian sistem telah dipaparkan pada Menteri Agama dan jajarannya pada Mei 2010, sedangkan action plan dari kementerian Agama telah diterima pada Juli 2010. Kajian ini diawali dengan kick off meeting (KOM) pada 23 Maret 2010 oleh KPK dengan Direktorat Jenderal Planologi Kementerian Kehutanan dan dilanjutkan dengan field review, baik di pusat maupun di daerah serta instansi lain yang terkait. Hasil kajian berupa saran perbaikan disampaikan KPK kepada Kementerian Kehutanan pada 3 Desember 2010 berupa kerentanan korupsi akibat ketidakpastian hak dan ketidakpastian ruang investasi, lemahnya regulasi, serta tidak adanya pengelola kawasan hutan di lapangan. Hasil kajian menemukan 17 kelemahan sistemik dalam aspek regulasi (9 temuan), aspek kelembagaan (3 temuan), aspek tata laksana (4 temuan), dan aspek manajemen SDM (1 temuan).

2 Kajian Sistem Perencanaan dan Pengelolaan Kawasan Hutan pada Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan Kementerian Kehutanan RI

LAMPIRAN

LINGKUP KEGIATAN KEGIATAN PENGEMBANGAN ATAS HASIL PENGKAJIAN KPK 2010 Pemantauan Implementasi Saran Perbaikan

NAMA KEGIATAN Sistem Penempatan dan Pemulangan TKI

75
PENJELASAN SINGKAT KPK telah melaksanakan kajian sistem penempatan TKI pada 2006-2007 di Ditjen PPTKLN Kemenakertrans. Hasil kajian telah dipaparkan di hadapan Menakertrans dan Kepala BNP2TKI. Hasil kajian KPK tersebut telah ditindaklanjuti oleh BNP2TKI dengan pengiriman action plan pada Oktober 2007, Februari 2008, dan Februari 2009. Verifikasi action plan yang dilakukan KPK pada 2009-2010 terhadap BNP2TKI mengalami kesulitan karena adanya perrmasalahan dualisme pelayanan penempatan TKI antara Kemenakertrans dan BNP2TKI pasca-keluarnya Permenakertrans Nomor 22 Tahun 2008. Permasalahan dualisme baru berakhir pada 13 Oktober 2010 setelah keluarnya Permenakertrans Nomor 14 Tahun 2010 yang mengembalikan kewenangan pelaksanaan penempatan TKI kepada BNP2TKI. Akibat permasalah dualisme tersebut, pada 2010 KPK lebih memfokuskan pemantauan sistem penempatan TKI kepada permasalahan yang masih banyak terjadi dan memberikan dampak positif yang besar terhadap TKI tetapi tidak terkait terkait dualisme, yaitu asuransi TKI. Kegiatan tindak lanjut terkait asuransi TKI yang telah dilakukan adalah:(1) Meminta tanggapan kepada Menakertrans atas surat rekomendasi KPK terkait Asuransi TKI. Atas surat rekomendasi KPK tersebut, Menakertrans telah memberikan tanggapan melalui surat Nomor B.626/MEN-PPTK/V/2010 tanggal 10 Mei 2010 tentang asuransi TKI beserta lampiran datanya, (2) Melakukan pemantauan pelayanan asuransi TKI di Terminal Kepulangan Selapajang pada September 2010, (3) Meminta klarifikasi dari pihak Ditjen Binapenta – Kemenakertras terkait penunjukan konsorsium asuransi TKI baru yang banyak menuai protes pasca-keluarnya Permenakertrans Nomor 7 Tahun 2010 tentang Asuransi TKI, (4) Melakukan pemantauan pelayanan asuransi TKI di BP3TKI Ciracas pada November 2010. KPK telah menyelesaikan kajian sistem pelayanan pajak pada Agustus 2008. Hasil kajian telah ditindaklanjuti dengan pengiriman action plan oleh Ditjen Pajak pada awal 2009. Terkait action plan tersebut, KPK telah melaksanakan pemantauan dan diperoleh hasil dari total 26 rekomendasi, Ditjen Pajak telah melaksanakan 19 rekomendasi dan menyisakan 7 item dalam status open. Laporan hasil pemantauan per 3 September 2010 telah disampaikan kepada Dirjen Pajak pada 16 September 2009. Item rekomendasi yang masih berstatus open (7 item), yaitu: (1) Membuat suatu sistem yang terintegrasi dan dapat diakses oleh semua pihak sesuai dengan kewenangannya, (2) DJP mengembangkan sistem yang terintegrasi secara nasional, (3) Memperbaiki kelemahan SIDJP dengan menginventarisasi semua permasalahan terlebih dahulu, (4) Memutakhirkan informasi yang tersimpan dalam SIMPP, (5) Biaya untuk melaksanakan tugas ke luar kantor dibebankan at cost, (6) Membentuk tim untuk menertibkan aktiva tetap DJP, (7) KPP dan Kanwil DJP mengirimkan laporan rutin ke KP DJP dalam bentuk softcopy, sehingga laporan rutin tersebut dapat diolah oleh KP DJP menjadi laporan lain sesuai dengan kebutuhannya. Ketujuh item rekomendasi yang berstatus open tersebut belum bisa diverifikasi karena berkaitan dengan pengembangan sistem informasi perpajakan yang ditargetkan terimplementasi pada 2011 sesuai dengan tanggapan dari DJP. Kegiatan ini merupakan langkah tindak lanjut kajian terhadap sistem Perbendaharaan Negara pada Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPBN). Pemantauan difokuskan pada penerapan SOP percontohan pada Kantor Pelayanan Perbendaharaan di seluruh Indonesia, sehingga pelayanan lebih transparan dan handal serta mampu mengurangi titik-titik lemah yang berpotensi koruptif. Terdapat 7 (tujuh) saran perbaikan dari KPK terhadap DJPBN, yaitu: rencana bertahap penerapan SOP Percontohan kepada semua KPPN, Penegakan kode etik, Larangan pihak yang tidak berwenang melakukan pengurusan dan kontak langsung dengan petugas KPPN, Transparansi realisasi belanja, Perbaikan sistem keamanan database, dan Analisa beban kerja SDM. Pada tahun ini, keseluruhan saran perbaikan KPK telah diimplementasikan 100% oleh DJPBN Kegiatan ini merupakan tindak lanjut hasil kajian terhadap pengelolaan APBN pada Direktorat Jenderal Anggaran (DJA) Kementerian Keuangan. Pemantauan difokuskan pada perbaikan sistem penganggaran di DJA agar lebih transparan dan mengurangi titik-titik lemah yang berpotensi koruptif. KPK mengobservasi keadaan lapangan sesuai dengan action plan yang dibuat oleh DJA terkait saran perbaikan dari KPK. Dari 19 saran perbaikan yang diberikan KPK, di antaranya pembentukan unit pengawasan internal, penegakan kode etik, perbaikan teknis sistem penganggaran, dan perbaikan manajemen SDM. 15 (lima belas) saran perbaikan telah diimplementasikan dan 1 (satu) saran perbaikan terus dipantau sampai implementasi SPAN (Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara) sepenuhnya di tahun 2012.

Sistem Perpajakan

Sistem Perbendaharaan

Sistem Pengelolaan Anggaran

LAMPIRAN

76
KEGIATAN PENGEMBANGAN ATAS HASIL PENGKAJIAN KPK 2010

LINGKUP KEGIATAN Pemantauan Implementasi Saran Perbaikan

NAMA KEGIATAN Sistem Pengelolaan DAK Bidang Pendidikan

PENJELASAN SINGKAT Sebagai bagian dari upaya pencegahan korupsi di sektor pendidikan, pada 2009 KPK telah melakukan Kajian Sistem Pengelolaan DAK Bidang Pendidikan. Dalam kajian tersebut, KPK telah memberikan saran perbaikan kepada Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) terkait dengan berbagai kelemahan sistem yang ditemui saat kajian yang berpotensi menimbulkan tindak pidana korupsi. Saran perbaikan KPK yang disampaikan dalam paparan hasil Kajian Sistem Pengelolaan DAK Bidang Pendidikan kepada Ditjen Perimbangan Keuangan, Ditjen Mandikdasmen dan Itjen Kemendiknas pada 15 Januari 2010, telah direspons oleh Ditjen Mandikdasmen dengan mengirimkan action plan. KPK telah melakukan verifikasi action plan pada triwulan 1 dan 2 tahun 2010, tetapi pemberlakuan UU Nomor 2 Tahun 2010 tentang Perubahan APBN-P pada awal Juni 2010 mengakibatkan beberapa saran perbaikan KPK kepada Ditjen Mandikdasmen menjadi tidak relevan lagi. Status implementasi saran perbaikan sistem pengelolaan DAK bidang pendidikan yang dilakukan KPK per 8 September 2010, dari 9 saran perbaikan KPK, terdapat 6 saran perbaikan telah berstatus closed (catatan: 3 saran perbaikan sudah tidak relevan karena keluarnya UU Nomor 2 Tahun 2010) dan terdapat 3 (tiga) saran perbaikan yang masih berstatus open dan akan terus dipantau implementasinya. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Kajian Penyelenggaraan Jalan Nasional yang telah dilaksanakan pada 2008-2009. Pada 2010 KPK telah melakukan beberapa kegiatan untuk memastikan diimplementasikannya saran perbaikan yang telah diberikan KPK. Selama 2010 telah dilakukan beberapa pertemuan dengan Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum, beberapa field review ke lapangan dan diskusi dengan ahli. Beberapa saran perbaikan yang telah diimplentasikan oleh DJBM adalah perubahan organisasi kelembagaan dengan memisahkan fungsi regulator dan operator; penegasan tindak lanjut terhadap paket kritis proyek penanganan jalan nasional; serta melakukan sertifikasi terhadap laboratorium Balai Besar Penanganan Jalan Nasional IV. Sedangkan saran perbaikan yang masih dalam proses antara lain terkait Sistem Manajemen Mutu (SMM) penanganan jalan nasional; peningkatan sistem pengawasan internal; manajemen aset, mekanisme pengaduan masyarakat, penilik jalan, administrasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), dan pelaporan progress penyelenggaraan jalan nasional. Dari total 19 saran perbaikan, per 15 Desember sudah 3 saran perbaikan berstatus closed. Menindaklanjuti Kajian Penyelenggaraan Ibadah Haji, kegiatan pemantauan implementasi saran perbaikan pada Sistem Penyelenggaraan Ibadah Haji dilakukan mulai 2010. Terdapat 48 total saran perbaikan yang dihasilkan dalam kajian yang meliputi aspek regulasi, kelembagaan, tata laksana, manajemen sumber daya manusia, dan manajemen kesehatan. Kegiatan pemantauan dilakukan secara terbuka dan tertutup di sejumlah titik pengamatan di beberapa daerah. Sampai saat ini, dari 48 saran perbaikan, ditargetkan 13 saran perbaikan terlaksana (closed) pada tahun 2010. Tetapi per 15 Desember 2010, baru 5 saran yang berstatus closed. Kegiatan pemantauan implementasi saran perbaikan pada Pengelolaan Dana Abadi Umat yang dikelola di Kementerian Agama merupakan tindak lanjut dari kegiatan Kajian Pengelolaan Dana Abadi Umat yang dilakukan pada 2009. Kegiatan pemantauan implementasi saran perbaikan ini dilakukan dalam rangka meyakinkan apakah saran perbaikan yang disampaikan dari hasil kajian dilaksanakan dan apakah pelaksanaannya dilakukan sesuai dengan waktu yang ditetapkan. Terdapat 9 saran yang harus dipantau mencakup empat aspek utama, yaitu aspek regulasi, kelembagaan, ketatalaksanaan dan manajemen sumber daya manusia. Per 15 Desember baru 1 saran yang berstatus closed. Pemantauan dilakukan atas kegiatan pengadaan trafo di PLN mengingat jumlah dan kerentanannya terhadap korupsi yang sangat besar. Kegiatan yang telah dilakukan adalah berkoordinasi dengan pihak PLN, mengumpulkan data terkait pengadaan, diskusi teknis, workshop e-procurement, serta audiensi antara jajaran Direksi PLN dan pimpinan KPK dengan tujuan akhir tersedianya software aplikasi untuk monitoring PBJ trafo PLN. Ke depan, software ini akan dikembangkan untuk seluruh item PBJ di PLN.

Sistem Penyelenggaraan Jalan Nasional

Sistem Penyelenggaraan Ibadah Haji

Pengelolaan Dana Abadi Umat

Trafo pada PT. PLN (Persero)

LAMPIRAN LINGKUP KEGIATAN KEGIATAN PENGEMBANGAN ATAS Pemantauan HASIL Pengadaan PENGKAJIAN Barang dan Jasa KPK 2010 NAMA KEGIATAN Jalan Nasional pada Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum

PENJELASAN SINGKAT Dengan tujuan utama untuk mencegah penyimpangan dalam pengadaan barang dan jasa dalam proyek penanganan jalan nasional, maka dikembangkan database jalan nasional lengkap dengan proyek pengadaannya. KPK berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Bina Marga (DJBM) Kementerian Pekerjaan Umum untuk memperoleh data-data yang dibutuhkan. DJBM telah memenuhi permintaan data pengadaan barang dan jasa dalam penyelenggaraan jalan nasional dengan mengirimkan link dan password untuk memonitor progres pengadaan tersebut. Terkait dengan kebutuhan sistem database yang terus berkembang, timbul kendala yang dihadapi, yaitu terkait kode ruas jalan, di antaranya disebabkan oleh adanya perbedaan sistem penomoran ruas jalan antara sistem yang lama dan yang baru, adanya ruas jalan yang belum memiliki nomor ruas, ketidaksesuaian antara koordinat ruas jalan di peta jalan nasional dengan yang disebutkan dalam kontrak/paket pengadaan, maupun tidak disebutkannya nomor ruas untuk pengadaan jalan baru. Kendala ini diupayakan untuk diatasi dengan koordinasi yang terus menerus antara KPK dan DJBM. Pemantauan dilakukan atas kegiatan pengadaan barang dan jasa (PBJ) alkes di Kementerian Kesehatan mengingat jumlah dan kerentanannya terhadap korupsi yang sangat besar. Kegiatan yang telah dilakukan adalah berkoordinasi dengan pihak Kedeputian Informasi dan Data KPK dan Kementerian Kesehatan serta mengumpulkan data PBJ dan satker, anggaran, dan pengadaan di lingkungan Kementerian Kesehatan. Saat ini KPK sedang mempersiapkan aplikasi pemantauan PBJ alkes tersebut.

77

Alat Kesehatan (Alkes) pada Kementerian Kesehatan

NO NAMA KEGIATAN KEGIATAN PENGKAJIAN KEBIIJAKAN KPK 2010 1 Kajian Conflict of Interest (CoI) Sebagai Bukti Adanya Mens Rea dalam Tindak Pidana Korupsi

PENJELASAN SINGKAT Conflict of interest (konflik kepentingan) adalah situasi di mana penyelenggara negara yang mendapatkan kekuasaan dan kewenangan berdasarkan peraturan perundang-undangan memiliki atau diduga memiliki kepentingan pribadi atas penggunaan wewenang yang dimilikinya sehingga dapat memengaruhi kualitas dan kinerja yang seharusnya. Salah satu kesimpulan dalam Kajian Conflict of Interest yang telah dilakukan oleh KPK pada tahun 2009 menyatakan bahwa konflik kepentingan dapat menyebabkan terjadinya tindak pidana korupsi. Kesimpulan tersebut ditunjang dengan fakta beberapa kasus korupsi yang ditangani KPK memiliki unsur konflik kepentingan. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis apakah konflik kepentingan dapat dijadikan sebagai bukti adanya mens rea (niat jahat) dari pelaku tindak pidana korupsi. Kajian dilakukan dengan cara studi beberapa kasus tindak pidana korupsi yang ditangani oleh KPK dan sifatnya sudah inkracht. Berdasarkan hasil kajian, ada 4 kesimpulan yang dihasilkan: (1) Conflict of interest bukanlah mens rea dari suatu tindak pidana korupsi, tetapi situasi conflict of interest dapat memperbesar atau mempermudah seseorang untuk melaku kan tindak pidana korupsi, (2) Situasi conflict of interest dapat terjadi sebelum ataupun setelah seseorang melakukan tindak pidana korupsi, (3) Seseorang yang memiliki mens rea untuk melakukan tindak pidana korupsi bisa menciptakan situasi conflict of interest untuk mempermudah atau memperbesar peluang untuk melakukan tindak pidana korupsi, (4) Seseorang yang masuk ke dalam situasi conflict of interest, mens rea bisa timbul karena orang tersebut terpapar dalam kondisi yang mudah atau memiliki peluang besar untuk menyalahgunakan wewenang/melawan hukum. Laporan kajian ini telah dipresentasikan kepada pimpinan KPK pada 6 Mei 2010. Pada Juni 2009 hingga Juni 2010, KPK melakukan Kajian Kebijakan Gratifikasi. Tujuan kajian ini adalah untuk memberikan masukan dalam pengembangan kebijakan gratifikasi KPK sehingga akuntabilitas dan kepastian hukum proses penetapan status dapat dijaga atau ditingkatkan. Metode yang dipergunakan dalam pengumpulan serta analisis data terdiri atas : (1) Pengkajian literatur dan dokumen, (2) Kunjungan lapangan, (3) Working Group Discussion, (4) Questionnaire, (5) Focus Group Discussion (FGD) dan In Depth Interview. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Kajian memberikan beberapa saran perbaikan kepada pimpinan KPK untuk penguatan kebijakan dan implementasi pengelolaan gratifikasi. Pembelajaran yang didapatkan di berbagai negara dan hasil kajian sosiologis yang dilakukan pada kajian ini menekankan pada pentingnya memperhatikan aspek budaya dan dinamika sosial dalam menetapkan dan menegakkan kebijakan pemberian sesuatu/hadiah/ gratifikasi. Selain melakukan kajian kebijakan, KPK juga mengembangkan Buku Saku Memahami Gratifikasi. Buku ini diharapkan memberi pemahaman yang lebih baik bagi penyelenggara negara dan pegawai negeri pada khususnya, serta masyarakat pada umumnya, mengenai gratifikasi yang terkait dengan tindak pidana korupsi, seperti yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 juncto Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001. Buku saku ini juga memaparkan tentang peran KPK sebagai lembaga yang diberi kewenangan untuk menegakkan aturan tersebut. Contoh-contoh kasus gratifikasi yang sering terjadi juga diuraikan dalam buku saku, dengan disertai analisis mengapa suatu pemberian/hadiah tersebut bersifat legal atau ilegal, serta sikap yang harus diambil (dalam hal ini penyelenggara negara dan pegawai negeri) ketika berada dalam situasi tersebut.

2 Kajian Gratifikasi dan Buku Saku Memahami Gratifikasi

LAMPIRAN

78
NO NAMA KEGIATAN KEGIATAN PENGKAJIAN KEBIIJAKAN KPK 2010 3 Coruption Impact Assessment : Titik Korupsi dalam Lemahnya Kepastian Hukum pada Kawasan Hutan PENJELASAN SINGKAT Kajian Kebijakan Titik Korupsi dalam Lemahnya Kepastian Hukum pada Kawasan Hutan merupakan suplemen dari kajian sistem kehutanan yang pelaksanaannya dilakukan secara simultan dengan kegiatan Kajian Sistem Perencanaan dan Pengelolaan Kawasan Hutan. Kajian ini menggunakan metodologi yang disebut Corruption Impact Assessment (CIA) dan menemukan adanya ketidakpastian definisi kawasan hutan dalam Undang-Undang No. 41 tahun 2009, Peraturan Pemerintah No. 44 tahun 2004, Surat Keputusan Menhut No. 32 tahun 2001 dan Peraturan Menteri Kehutanan No. 50 tahun 2009. Terdapat kemungkinan perlakuan memihak yang dapat dimanfaatkan untuk meloloskan pelaku illegal logging dan illegal mining dari tuntutan hukum. Kemungkinan perlakuan memihak ini dapat juga terjadi dari ketidakjelasan kewenangan menentukan kawasan hutan antara pusat dan daerah terkait Rencana Tata Ruang Wilayah. Temuan lain adalah direduksinya azas fair procedure dalam proses penunjukan kawasan hutan pada aturan-aturan pelaksanaan UU No. 41 tahun 1999 sehingga melemahkan legalitas dan legitimasi 88,2% kawasan hutan (+ 105,8 juta ha) yang sampai saat ini belum selesai ditetapkan. Saran Perbaikan KPK kepada Menteri Kehutanan adalah menghilangkan ruang ketidakjelasan peraturan kebijakan dan kemungkinan perlakuan memihak terkait dengan definisi kawasan hutan, prosedur penunjukan kawasan hutan serta kewenangan dalam penentuan kawasan hutan dengan mencabut Permenhut 50 tahun 2009 dan SK Menhut 32 tahun 2001. Dalam upaya untuk mencegah tindak pidana korupsi, meningkatkan efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan jasa konstruksi, Direktorat Litbang telah melakukan kajian kebijakan berkenaan dengan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK). Berdasarkan hasil kajian terkait regulasi kelembagaan LPJK dan penyelenggaraan kewenangannya terutama dalam sertifikasi dan akreditasi maka dapat diketahui beberapa potensi permasalahan yaitu sebagai berikut: (1) UU No. 18/1999 memberikan over authority kepada LPJK tanpa disertai aturan pelaksana/peraturan turunan yang mendukung agar pengembangan jasa konstruksi mengedepankan peran masyarakat jasa konstruksi; (2) Kelembagaan jasa konstruksi dalam LPJK tidak sesuai dengan amanat UU Jasa Konstruksi yaitu untuk pengembangan jasa konstruksi; (3) Penyelenggaraan sertifikasi dan akreditasi jasa konstruksi berpotensi menyimpang dan rentan konflik kepentingan; (4) Lemahnya pengawasan Pemerintah dalam penyelenggaraan jasa konstruksi. Dengan demikian maka perlu dilakukan penanganan segera. Hal ini mengingat peran jasa konstruksi yang relatif besar dalam mendukung sektor perekonomian dan pembangunan nasional. Di samping itu, keberadaan APBN yang sangat besar dalam membiayai sebagian sektor konstruksi, memerlukan upaya-upaya tersendiri untuk mencegah kebocoran dan kerugian keuangan negara Kajian ini merupakan kajian kebijakan terkait pengalokasian, penyaluran, maupun pemanfaatan dana bantuan sosial di daerah. Pada prinsipnya pemberian bantuan sosial ini diperuntukkan bagi pemerintah daerah dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat secara langsung serta bersifat stimulan bagi program dan kegiatan pemerintah daerah pada umumnya. Namun, karena belanja bansos dialokasikan tidak berdasarkan target kinerja tertentu, maka penentuan besaran (jumlah) dalam APBD cenderung subjektif, artinya pengalokasian akan sangat bergantung pada kewenangan yang dimiliki oleh eksekutif dan legislatif. Hal ini menimbulkan potensi penyalahgunaan baik oleh kedua pihak tersebut. Akibatnya, dana ini rentan digunakan untuk kepentingan pribadi misalnya untuk kampanye kepala daerah yang akan mencalonkan diri kembali pada periode berikutnya. Oleh karena itu, perlu langkah-lagkah pengendalian pemanfaatan dana bantuan sosial ini, terutama karena sudah begitu banyaknya kasus-kasus korupsi yang mencuat terkait dana bantuan sosial ini. Kajian ini menganalisis proses pemilihan umum kepala daerah yang ada saat ini dan mengkritisi biaya yang harus dikeluarkan oleh para calon dalam pemilihan umum kepala daerah serta membahas potensi korupsi yang ditimbulkan di dalamnya berdasarkan peraturan, literatur, dan data sekunder. Dari informasi dan data yang diperoleh, diketahui bahwa tahapan pilkada yang membutuhkan biaya besar adalah saat mendaftarkan pasangan calon baik melalui jalur partai politik maupun perorangan dan tahap kampanye. Partai politik yang kurang kritis terhadap kompetensi pasangan calon dan kerap bersikap oportunis untuk mendapatkan dana politik mengharuskan para pasangan calon mengeluarkan dana besar untuk mendapatkan kendaraan politik dalam pemilihan pemilihan umum kepala daerah. Selain itu, kesulitan ekonomi yang ada di tengah masyarakat merupakan salah satu penyebab praktik politik uang untuk membeli suara pemilih masih terjadi yang akhirnya membengkakkan biaya yang harus ditanggung pasangan calon untuk mendapatkan suara dari masyarakat. Selisih yang besar antara biaya dan pendapatan ini tentu berpotensi menjadi sumber masalah di kemudian hari. Dengan tidak mengesampingkan faktor integritas dan murninya pengabdian dari para kepala daerah dan wakil kepala daerah, hal ini harus diperbaiki untuk menghindari terjadinya penyimpangan-penyimpangan di kemudian hari yang pada akhirnya akan merugikan masyarakat.

4 Analisis terhadap Aturan Terkait Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK)

5 Kajian Dana Bantuan Sosial

6 Kajian Biaya Menjadi Kepala Daerah dan Potensi Korupsinya

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->