P. 1
Ekspositori

Ekspositori

|Views: 407|Likes:
Published by Yanet Muna Huma
Teologi Praktika, Homiletika Ilmu Berkhotbah
Ekspositori adalah salah satu bentuk atau metode berkhotbah yang paling sistematis selain Khotbah Tekstual dan Topikal.
Teologi Praktika, Homiletika Ilmu Berkhotbah
Ekspositori adalah salah satu bentuk atau metode berkhotbah yang paling sistematis selain Khotbah Tekstual dan Topikal.

More info:

Published by: Yanet Muna Huma on Jul 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/16/2013

pdf

text

original

Tugas Pribadi

KHOTBAH-KHOTBAH EKSPOSITORI “KHOTBAH ALKITABIAH”
Tugas ini diserahkan sebagai salah satu syarat penilaian pada mata kuliah Homiletika II

Dosen: Myr. Janneman Usmany, S.Th., M.A., M.Th

Mahasiswa: Yanet Kristin Muna NIM. 12 09 015

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI PALU Oktober 2011

Judul Teks

: :

“Arti Sebuah Kebersamaan” Hakim-hakim 5:1-31

Pendahuluan : 1. Dalam menyusun khotbah ini saya teringat tentang perayaan hari kemerdekaan yang diadakan di sekolah Bala Keselamatan. Pada saat itu banyak diadakan perlombaan-perlombaan antara lain lomba futsal, volley ball, senam Madamba dan lomba lukis. Pada saat itu saya dan kedua rekan mahasiswa STT dipercayakan untuk mengikuti lomba melukis dinding. Pukul 9 pagi itu saya pergi ke sekolah dan melihat kesibukan peserta lain dalam mempersiapkan alat lukis seperti kuas lukis, kuas cat, cat dinding, spidol, dan pensil. Namun, ketika semua peserta perwakilan unit SD, SM, SMA, dan SMK telah mempersiapkan semuanya, kak Iven baru pergi ke toko bangunan untuk membeli perlengkapan lukis yang diperlukan sementara tersebut. Disaat semua peserta telah membuat sketsa di dinding, saya dan kak Andre masih menunggu seorang rekan lagi dan alat lukis sehingga saat itu kami hanya membuat sketsa di kertas. Pada saat itu kami berpikir pesimis karena kami adalah peserta paling sedikit dibandingkan dengan peserta lainnya sehingga kami berpikir pasti tidak dapat menyelesaikan lukisan tepat waktu. Lama waktu berselang akhirnya kami memutuskan untuk membuat grafitty saja, 1 jam berlalu akhirnya rekan kami seorang Maestro Lukis datang dan memberi ide yang cemerlang. Kami bertiga memutuskan untuk mengutip kata Descrates: “Cogito Ergo Sum”. Kami semakin bersemangat untuk melukis karena rekan-rekan STT lain memberikan sorak bahkan membantu untuk mewarnai sketsa. Tidak disangka bahwa kami adalah peserta yang dapat menyelesaikannya tepat waktu yaitu 3 jam. Sedangkan peserta lain masih sibuk mewarnai sehingga diberikan lagi waktu untuk menyelesaikan lukisan pada keesokan harinya. Disini saya merasakan bahwa segala hal yang dianggap sulit jika dilakukan bersama akan jauh lebih mudah untuk diselesaikan. Dengan melakukan segala hal bersama-sama segala kesulitan dapat menjadi kemudahan.

2.

Semua orang tentunya tidak dapat melakukan segala sesuatu dengan sendirinya, walaupun terkadang kita merasa hal tersebut dapat kita lakukan namun tentu kita akan menghadapi suatu kesulitan. Oleh sebab itu segala sesuatu kita tentunya masih memerlukan orang lain. Seperti Barak membutuhkan Debora yang akan kita pelajari bersama dalam suatu teks Alkitab. Marilah kita membaca kitab Hakimhakim 5.

Proposisi

:

Banyak orang yang berpendapat bahwa ia dapat menyelesaikan segala

sesuatunya tanpa membutuhkan orang lain. Ia merasa mampu dan sanggup menghadapi masalah, kesulitan hidupnya sendiri. Kalimat Tanya : Namun, apakah Barak hanya sendirian memimpin bangsa Israel berperang melawan musuh-musuhhnya?. Tentu tidak, di depannya ada Debora seorang wanita tangguh yang dipimpin oleh Allah. Kalimat Peralihan : Mari kita belajar bersama dari teks Alkitab berikut ini. :

Bagian utama pertama

“Dengan bersama-sama,Debora merasa tidak sendirian” Dalam sejarah Perjanjian Lama, periode Hakin-hakim berlangsung sekitar 200 tahun, diakhiri dengan pengangkatan Saul menjadi raja sekitar tahun 1020 sebelum Masehi. Selama periode ini suku-suku Israel harus menemukan jatidiri mereka dan menegaskan kedudukan mereka di Kanaan (tanah terjanji). Kitab Hakim-hakim menceritakan peristiwa-peristiwa selama masa itu dengan pola yang sama, yaitu Israel meninggalkan Allah mereka dan menyembah dewa-dewi Kanaan, Sehingga Tuhan mengutus bangsa asing untuk menindas Israel, namun di saat inilah bangsa Israel berseru kepada Allah dan Ia mengutus seorang hakim untuk membebaskan Israel. Pada perikop Hakim-hakim 5, kita dapat melihat tokoh-tokoh yang besar pengaruhnya bagi kemenangan bangsa Israel melawan bangsa asing yang pada saat itu menindas mereka. Ialah Debora dan Barak. Di mana mereka hanya bergantung kepada Allah mereka dan menjadi pemimpin bangsa Israel untuk berbalik kembali kepada Allah. Entah apa yang terjadi jika di antara bangsa pilihan Allah ini tidak ada seorang tokoh yang menjadi pemimpin, tentunya

bangsa itu akan terus ditindas dan tidak ada keberanian untuk melawan musuh sebab mereka meras hanya sendirian dalam menghadapi kesulitan-kesulitan?. Hal itu nyata ketika pemimpin mereka yaitu Yosua yang telah membawa mereka masuk ke tanah Kanaan yakni tanah perjanjian telah tiada. Israel mengalami masa “krisis kepemimpinan”. Siapakah yang dapat menolong mereka?. Namun benarkah bangsa Israel sendirian? Tidak. Allah senantiasa menyertai bangsa itu. Debora adalah wanita pertama yang dipilih oleh Allah untuk bersama-sama dengan bangsa Israel mengalahkan raja Kanaan. Ia memang seorang wanita yang secara lahiriah mungkin semua orang berpendapat bahwa semua wanita penuh kelemahan. Tentu Debora menyadari keradaan dirinya itu, namun tidak tunduk pada kelemahannya melainkan ia meyakinkan dirinya untuk berdiri di depan bangsa Israel dengan sikap yang tangguh. Ia sadar betul bahwa Allah Israel menyertainya sehingga apapun yang ada di hadapannya ia tidak pernah merasa takut dan gentar sedikitpun. Dalam kehidupan kita ini kita pasti pernah merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan orang Israel pada masa itu. Terkadang masalah-masalah datang menghampiri kita dan kita merasa tidak ada jalan keluar bagi kita, tidak ada yang dapat menolong kita. Namun Tuhan selalu memberikan jalan keluar yang ajaib, ia memberikan kita orang-orang tertentu yang mau mendengarkan keluh kesah kita, mendengarkan masalah hidup kita bahkan memberikan kita sukacita meskipun dalam keadaan yang sangat sulit sekalipun. Oleh karena itu, janganlah kita merasa bahwa semua masalah dapat kita selesaikan sendirian, namun belajarlah dari Debora. Ia tidak mau melakukan peperangan hanya seorang diri, dia juga memerlukan orang lain bersama-sama dengan dia. Bagian utama kedua: “Dengan bersama-sama, Debora menyalurkan semangat” Kita membaca ayat 15 maka kita menemukan bahwa dibalik keberhasilan Debora, ada banyak pihak yang mendukungnya. Ia tidak sendirian, tetapi ia bersama-sama dengan banyak orang. Allah memberikan kemudahan-kemudahan baginya lewat keberadaan orang-orang seperti Barak, Yael isteri Heber, suku Isakhar, Naftali, bahkan Allah sendiri turut bersamasama dengan Debora.

.Akibat semangat yang diberikan oleh Debora, maka semangat pun bermunculan dari banyak orang. Seperti Yael isteri Heber yang tidak takut mematok pelipis Sirera yaitu panglima tentara Yabin raja Kanaan. Seorang sahabat pernah berkata kepada saya, “terima kasih teman-teman, saya dapat menyelesaikan skripsi ini karena Tuhan memberikan saya anugerah yang luar biasa melalui kalian. Tanpa kalian, saya tidak mungkin bersemangat seperti ini dalam menyelesaikan tugas akhir”. Dari pernyataan ini saya berpikir bahwa ternyata sebuah semangat yang kita berikan sungguh sangat berarti bagi orang lain. Marilah terus memberikan semangat satu sama lain, sesame mahasiswa kita dapat menyemangati teman-teman kita yang sudah mulai merasa jenuh dengan tugas-tugas kuliah. Mulailah dari hal-hal yang kecil seperti ini, saya yakin dampakdampak besarnya akan mengikuti dari belakang. Jadilah Debora-Debora yang dapat diandalkan. Bagian utama ketiga: “Dengan bersama-sama, Debora membawa kesejahteraan” Hakim-hakim 5:31 adalah dampak dari kebersamaan yang dilakukan oleh Debora. Empat puluh tahun bukannya waktu yang singkat, melainkan waktu yang sangat panjang. Tidak terpikirkan apa yang terjadi jika pada saat itu, Debora hanya sendirian. Apakah hasil dari perjuangannya akan dirasakan oleh orang Israel?. Saya rasa tidak. Allah sudah mengaturnya sedemikian rupa agar kemenangan itu adalah hasil usaha bersama Debora dan Barak dengan orang Israel. Pernyataan “aku berpikir maka aku ada” yang diungkapkan oleh Descartes berarti bahwa dengan cara meragukan semua hal termasuk dirinya sendiri tersebut, dia telah membersihkan dirinya dari segala prasangka yang mungkin menuntunnya ke jalan yang salah. Ia takut bahwa mungkin saja berpikir sebenarnya tidak membawanya menuju kebenaran. Mungkin saja bahwa pikiran manusia pada hakikatnya tidak membawa manusia kepada kebenaran, namun sebaliknya membawanya kepada kesalahan. Oleh karena itu kita membtuhkan seseorang untuk memikirkan hal-hal yang kita hadapi sehingga kita dapat mengevaluasi diri kita masing-masing.

“Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing” ungkapan ini berarti segala hal yang dilakukan bersama-sama pasti menjadi mudah dan memberikan kesejaheteraan dalam diri. Jadilah Debora-Debora yang dapat membawa kesejahteraan di dalam hidup sesorang. Peralihan: Marilah kita mulai memikirkan keberadaan diri kita masing-masing dan marilah kita saling memberi dukungan dan semangat satu sama lainnya dengan kasih. Jadikan kehadiran diri kita berarti bagi teman-teman, saudara, orang tua, maupun semua orang yang ada di sekeliling kita. Kesimpulan: Menjalani dengan kebersamaan jauh lebih berarti daripada sendiri. Sendiri dapat membuat kita jenuh, bosan, patah semangat, stress, bahkan putus asa dan hilang harapan. Jalani semuanya dengan kebersamaan dan jangan melupakan Yesus di dalam setiap kebersamaan kita. Apa yang bisa pelajari dari bagian Alkitab pada saat ini?. Setidaknya ada 2 hal yang bisa kita lakukan untuk mengaplikasikan firmanNya dalam kehidupan kita: 1) Sebagai mahasiswa, kerjakanlah tugas-tugas kuliah bersama-sama. Ini bukan berarti “nyontek tugas bersama”, namun saling memberi dukungan dan motifasi untuk menjalani masa perkuliahan. 2) Tahun 2012 sering disebut-sebut sebagai “lonceng kematian” bagi sekolah-sekolah tinggi teologi di Indonesia yang tidak lolos dalam proses akreditasi BAN PT. Meskipun rasanya sulit, namun baik staff, dosen dan mahasiswa harus saling mendukung satu sama lain sehingga pada waktunya nanti lonceng yang ditakuti bersama itu menjadi “lonceng kehidupan” bagi kita semua. Tuhan memberkati kita sekalian melalui firman-Nya. Amin.

Judul Teks 1.

: :

“Ketulusan Hati” Kidung Agung 1:9-2:1

Pendahuluan : Kehidupan manusia yang seringkali sulit untuk melakukan segala sesuatu dengan tulus. Seringkali melakukan suatu tindakan karena ada U di balik hati. 2. Dalam Kidung Agung 1:9-2:1 kita dapat membaca nyanyian atau kidung agung dari raja Salomo. Dalam setiap ayat yang tertulis kelihatannya mengandung arti yang negatif bahkan mungkin kita langsung berpikir bahwa Salomo adalah raja sekaligus pujangga, sehingga dapat menarik hati 1000 orang wanita yang kemudian menjadi istrinya. Namun, benarkah demikian? Tentu tidak, sebab sesungguhnya tulisan Salomo ini mengungkapkan suatu hal yang sangat sulit kita temukan saat ini, yaitu ketulusan hatinya. Proposisi Kalimat Tanya Kalimat Peralihan : Ketulusan yang sesungguhnya berasal dari hati : Bagaimana kita dapat melakukan hal-hal yang tulus? : Mari kita belajar bersama dari raja Salomo melalui pembacaan dari B. Inilah yang membuat manusia sulit untuk melakukan sesuatu yang tulus dari

kitab yang ditulisnya dalam Kidung Agung 1:9-2:1 Bagian utama pertama :

“Hati yang tulus berarti tidak berpura-pura” Salomo adalah seorang raja yang dipilih oleh Allah untuk menggantikan raja Daud. Kehidupannya yang dicatat dalam kitab Raja-raja nampak saling bertentangan, sebab dari satu pihak ia sangat dipuji tetapi dari pihak lain ia dicela karena mengijinkan istri-istri yang diambil dari bangsa lain menyembah dewa-dewi mereka sendiri di gunung Sion. Namun, pada saat ini kita tidak akan membahas pertentangan itu namun menilik sedikit sifat Salomo yang melankholis dan kidung agung yang ia tuliskan. Banyak hal di dalam dunia ini seringkali kita lakukan dengan pura-pura. Bahkan mungkin segala sesuatu yang kita miliki adalah kepura-puraan. Coba kita mengingat kembali, pernahkah kita tidak berpura-pura baik di depan teman, sahabat, orang tua, atau pacar

mungkin?. Saya rasa tidak pernah!. Mengapa demikian? Mengapa kita senang untuk berpurapura agar kelihatannya baik-baik saja di depan setiap orang?. Mari kita melihat ayat 9, sungguh pujian yang berasal dari hati. Disini Salomo mengatakan bahwa mempelai laki-laki hanya fokus pada mempelai wanitanya yang berdiri dari sekian banyak wanita-wanita yang lain. Seorang dosen kami pernah berkata bahwa “masalah berpikir yang paling sulit untuk dilakukan adalah fokus”. Dan saya sangat setuju dengan perkatannya tersebut, sebab sesungguhnya apapun yang kita katakana atau pikirkan dengan mudah mendapat pengaruh dari luar seperti ada U di balik B. Dari ayat yang ditulisnya ini kita dapat melihat sosok raja Salomo yang melankholis. Setiap kata yang dia ucapakan tidak ada yang berpura-pura, semua ditulisnya jelas bahkan kita mungkin berpikir, “ah, Salomo terlalu polos”. Justru, kita dapat melihat dan belajar dari kehidupan raja Salomo ini. Mengapa ia dapat “menarik hati” wanita-wanita cantik pada masa itu dan mereka semua mau dinikahi olehnya?. Jika saya diberi pertanyaan kesempatan untuk memilih, tentu saya juga akan rela menjadi istri seorang raja yang tulus hati seperti ini. Sebab, jaman sekarang sungguh sangat sulit mencari seseorang yang tulus hati, tulus dalam berkata-kata, memuji seseorang, tulus melakukan segala sesuatu, dan tidak berpura-pura. Kunci pertama, yaitu berpikir apa adanya. Bagian utama kedua : “Hati yang tulus berarti bertindak apa adanya, bukan ada apanya” Tidak dapat dipungkiri bahwa kita sering membawa diri kepada “posisi” yang aman. Artinya kita tidak ingin dipersulit dengan keadaan yang terjadi di sekitar kita. Namun, sadar maupun tidak sadar kita sudah membawa diri kepada sifat yang tidak tulus, yaitu kemunafikan. Adakah kemunafikan membawa kita kepada suatu posisi yang baik-baik saja?. Saya rasa mungkin akan terjadi sebaliknya. Sebab sifat kemunafikan menutupi jalan yang dicari-cari oleh setiap orang, yakni “kebahagiaan”. Misalnya saja, seorang mahasiswa Teologi yang kelihatannya sangat rajin melakukan pelayanan dan kegiatan di gereja maupun di kampus, mungkin saja ia melakukan hal itu untuk motifasi lain, yakni hanya sekedar dilihat oleh dosen, rekan-rekan mahasiswa, atau seseorang. Ia hanya mau mengikuti ibadah kapel jika ada ketua STT saja, ia mau mengerjakan tugas-tugas jika ada “sesuatu” saja, pujian atau penghargaan

misalnya. Hal-hal seperti menunjukkan bahwa kita ingin menutupi sesuatu demi menunjukkan diri kita yang sebenarnya “bukanlah diri kita”. Pada ayat 14 mempelai perempuan memuji mempelai laki-laki. Adakah tiap perkataannya menujukkan bahwa ia hanya “just kidding lebay, istilah anak muda sekarang” yang artinya menyimpan rasa kagumnya terhadap sang mempelai pria pasangannya?. Apakah ada kemunafikan?. Tentu tidak, justru ia mengatakan apa adanya, benar-benar dari hatinya. “Bagiku kekasihku setangkai bunga pacar di kebun-kebun anggur En-Gedi”. Tidak ada yang munafik atau ditutup-tutupi, semuanya diuraikan secara jelas dalam teks ini. Inilah kunci kedua jika kita ingin memiliki hati yang tulus, yaitu bertindak apa adanya. Peralihan :

Memang tidaklah mudah untuk berkata tulus dari dalam hati dan bertindak tulus dari dalam hati. Ada dua hal yang seringkali menutupinya yaitu, kepura-puraan dan kemunafikan. Namun kita telah belajar bersama dari kidung agung yang ditulis oleh Salomo. Bahwa kunci dari sebuah ketulusan adalah “hati”. Jadi kita harus memperbaiki hati kita jika sekiranya masih terdapat Kesimpulan : Ada dua hal yang menjadi kunci utama jika ingin memperoleh hati yang tulus seperti Salomo, yaitu pikiran yang apa adanya dan bertindaklah apa adanya. Ingatlah, ketulusan hati ini sangat banyak manfaatnya, yaitu keberhasilan dan kebahagiaan. Namun jangan melupakan bahwa Salomo meminta hikmat dari Tuhan, oleh karena itu kita sebagai orang-orang percaya juga harus meminta hikmat dariNya dan bukan dari dunia. Kiranya Tuhan tolong kita untuk mengerti setiap firman-Nya yang tertulis dalam Alkitab. Amin.

Judul Teks

: :

“Sulit tapi harus dikerjakan” Yehezkiel 3:16-21

Pendahuluan : 1. Seorang pegawai diberi tugas oleh bos nya di kantor untuk mengontrol kerja para karyawan lainnya. Ia ditugaskan untuk mengabsen tiap hari selama bosnya itu pergi keluar kota. Ada beberapa teman kerjanya yang mengejeknya sehingga banyak di antara mereka yang bolos kerja atau sengaja datang terlambat. Pegawai ini menjadi bingung, apa yang harus ia lakukan. Mengikuti keinginan teman-temannya ataukah harus menjalani tanggung jawab. 2. Latar belakang kitab Yehezkiel. Proposisi : Tanggung jawab diberikan kepada orang yang dianggap bisa

menjalankan tanggung jawab itu Kalimat Tanya : Namun, bagaimanakah jika kita yang sebenarnya lebih tahu

kemampuan diri kita namun diberikan tanggung jawab yang rasanya tidak mungkin kita lakukan?. Bagaimanakah sikap kita, menerimanya saja atau menolaknya mentahmentah? Kalimat Peralihan : Mari kita membaca teks Yehezkiel 3:16-21 :

Bagian utama pertama

“Yehezkiel, orang yang dipilih untuk menerima tanggung jawab” Lembaga Alkitab Indonesia memilih judul “Yehezkiel dipanggil menjadi penjaga Israel” untuk perikop ini. Namun perikop sebelumnya dituliskan mengenai panggilan Yehezkiel. Jika kita membaca perikop tersebut maka kita dapat melihat dan mengenal siapa sosok Yehezkiel. Ia adalah seorang nabi yang dipilih oleh Allah. Semua nabi dalam kitab Perjanjian Lama diberi tugas yang khusus oleh Allah yaitu mendengar langsung perintah-Nya

dan menubuatkannya kepada orang-orang tertentu yang hidup pada zaman itu ataupun tentang masa yang akan datang. Dalam ayat 16-17 dicatat bahwa Yehezkiel dipilih oleh Tuhan Allah untuk menjalankan tugas khusus, yaitu menjadi penjaga Israel. Tugas apakah ini?. Bagaimanakah sikap Yehezkiel dalam menanggapi tugas ini?. Dalam seluruh kitab Perjanjian lama dicatat bahwa nabi ini adalah nabi yang betul-betul taat mendengar dan menjalankan perintah Tuhan. Ketika ia harus mempertanggungjawaban nyawa orang-orang yang berbuat jahat, dia taat saja. Ketika ia dipilih oleh Allah untuk bernubuat menghukum para nabi dan nabiah palsu, ia taat saja. Ketika ia harus kehilangan istri yang sangat dicintainya bahkan Tuhan Allah melarangnya untuk menangisi istrinya tersebut, ia taat saja. Mengapa ia sanggup melakukan semuanya itu dengan taat saja, mengapa ia tidak menolak perintah Tuhan yang mendukakan hatinya itu?. Karena ia yakin bahwa ia dipilih oleh Allah. Ia dipilih untuk menyatakan maksud Tuhan yang luar biasa bagi kaum-Nya Israel. Ia membuktikan panggilannya di hadapan Tuhan dengan tanpa keraguan sedikitpun di dalam hatinya. Bagian utama kedua: “Yehezkiel diperlengkapi oleh Allah dalam menjalani tanggung jawabnya” Seorang yang dipilih oleh Allah pasti tidak akan merasa kekurangan dalam hidupnya. Hal ini dibuktikan oleh Yehezkiel. Tanggung jawab yang diberikan kepadanya sungguh sangat membebaninya. Bagaimana mungkin ia harus bertanggung jawab terhadap nyawa orang jahat (ayat 18)? Dan bagaimana mungkin jika seorang yang benar jika berbalik dari kebenaranya dan berbuat curang maka Yehezkiel pula yang bertanggung jawba di hadapan Tuhan atas nyawa orang itu (ayat 20)?. Namun, sesukar apapun tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepadanya ia menerimanya dengan taat tanpa mengeluh sedikitpun. Sebab, sebelum menerima tugas itu Allah telah menyertai lidahnya. Ia diberi hikmat langsung oleh Allah untuk berkata-kata kepada bangsa Israel yang berkepala batu dan bertegar hati. Terlebih dari pada itu Tuhan Allah meneguhkan hatinya sehingga ia tidak merasa takut sedikitpun dalam melaksanakan tugasnya. Seringkali kita merasa tidak pantas menerima tugas yang diberikan kepada kita. Mungkin saja kita menolaknya dengan beribu macam alasan. Tidak sangguplah, merasa tidak

pantaslah, atau orang lain sajalah. Ingatlah, jika kita diberi kepercayaan oleh Tuhan atas suatu panggilan jangan takut sedikitpun, berpeganglah atas janji penyertaan Tuhan dalam hidupmu. Bagian utama ketiga: “Yehezkiel bersedia menerima konsekuensi” Ungkapan yang mengatakan segala sesuatu pasti ada konsekuensinya memang benar. Sebab, seperti firman-Nya yang berkata: “apa yang kau tabur, itu yang kau tuai”. Nanti tinggal tunggu hasilnya, berbuah baik atau kurang baik. Yehezkiel yang taat dan setia sudah memberi contoh dan teladan bagi kita semua, bahwa sampai akhir hidupnya ia dapat menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik. Apa konsekuensi dari ketaatan Yehezkiel?, ia masuk dalam golongan nabi besar sepanjang sejarah Perjanjian Lama. Ia membawa bangsanya pada suatu pembaharuan dan kebangkitan yang sudah banyak jatuh terhadap penyembahan berhala dan dosa-dosa percabulan. Ia menjadi pahlawan yang dikenang sepanjang masa bahkan sampai saat ini. Meskipun banyak tantangan yang diperhadapkan kepadanya namun ia dapat menjalankannya dengan takut akan Tuhan hingga akhir hidupnya. Dapatkah kita seperti Yehezkiel yang memberi dampak yang baik dan dapat dikenang selama hidup kita?. Marilah kita membuktikan diri kita masing-masing, tidak perlu mendengar cemooh dari orang-orang di sekitar kita, taat saja dengan tugas dan panggilan kita, sebab kita percaya bahwa Allah yang memilih kita maka Ia juga yang memperlengkapi kita, tinggal tunggu konsekuensinya saja. Biarlah Tuhan yang bertindak sesuai dengan kehendak-Nya di dalam diri kita masing-masing. Peralihan: Belajarlah dari sikap Yehezkiel yang senantiasa taat terhadap panggilannya. Kesimpulan: Jadi, bagaimanakah sikap kita dalam menghadapi suatu tanggung jawab khususnya sebagai pelayan Tuhan?.

Ada 3 hal yang dapat kita lakukan, yaitu: 1) 2) 3) terima saja sesulit apapun itu lakukan apa yang semestinya kita lakukan pakailah perlengkapan iman yang sudah Tuhan sediakan bagi kita, dan terimalah setiap konsekuensi dengan rendah hati dan takut akan Dia. Tuhan memberkati kita sekalian melalui firman-Nya. Amin.

Judul Teks

: :

“Dikasihi karena Mengasihi” Yohanes 21:20-23

Pendahuluan : 1. Mana yang dahulu dilakukan? Mengasihi karena telah dikasihi? Atau karena dikasihi maka harus mengasihi?. Tiap-tiap orang mungkin mempunyai jawaban yang berbedabeda. Misalnya saja, seseorang ingin setia kepada kekasihnya apabila kekasihnya itu setia juga kepadanya. Atau mungkin karena kekasihnya setia maka ia juga menjadi setia meskipun dahulu tidak demikian. 2. Marilah kita membaca bagian teks dari Injil Yohanes 21:20-23 dan melihat kehidupan Yohanes yang adalah murid yang paling setia dibandingkan dengan kesebelas muridNya yang lain. Proposisi Kalimat Tanya Kalimat Peralihan : Mengasihi dan dikasihi adalah kebutuhan pokok setiap orang. : Bagaimana menjadi orang yang dapat dikasihi? : Kita dapat mempelajarinya dalam teks berikut ini. :

Bagian utama pertama “rendah hati”

Penulis kita ini adalah Yohanes anak Zebedeus yang dipilih Yesus untuk menjadi salah satu muridNya. Jika kita membaca keseluruhan kitab injil Yohanes, maka kita akan menemukan banyak kata mengenai orang ketiga yang menyebutkan dirinya “murid yang dikasihi itu”. Menjadi pertanyaan, mengapa rasul Yohanes yang menulis injil tersebu menyebut dirinya demikian?. Namun inilah salah satu keunikan penulisan kitab injil Yohanes dibandingkan ketiga injil sinopsis lainnya. Ia menekankan bahwa ia memiliki hubungan yang khusus dengan gurunya, yaitu Yesus. Pola penulisan injil ini juga agak berbeda. Injil Matius, Markus dan Lukas menuliskan perkataan-perkataan Yesus yang singat dan tajam. Namun dalam injil Yohanes, perkataan Yesus adalah dalam bentuk percakapan yang lebih panjang. Ini adalah salah satu bukti bahwa Yohanes adalah pengikut Yesus yang setia.

Dalam ayat 20 dari perikop yang kita bahas saat ini, kita melihat bahwa Petrus yang adalah salah satu murid Yesus menanyakan tentang kehidupan Yohanes. Petrus dikenal sebagai murid yang memiliki sikap spontan dan menggebu-gebu sehingga terkesan ingin terlihat “lebih” dari murid-murid yang lain. Petrus hanya pintar berkata-kata, namun buktinya ia menyangkal Yesus ketika Ia hendak disalibkan. Namun rasul Yohanes berbeda dengan Petrus, meskipun tidak banyak berbicara seperti Petrus, ia lebih menunjukkan tindakkan nyata. Yohanes adalah murid yang rendah hati, dan ia sangat menghargai Yesus sebagai guru agungnya. Hal ini dibuktikan dalam tulisan-tulisan Yohanes dalam kitabnya ini yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang pribadi yang sederhana dan rendah hati sehingga Yesus mengasihinya dan mempercayakan ibuNya untuk tinggal bersama dengan Yohanes di rumahnya (Yohanes 19:25-26). Bagian utama kedua: “setia” Bukan hanya sifatnya yang rendah hati, namun Yohanes adalah murid yang paling setia dibandingkan murid-murid Yesus yang lainnya. Kesetiaan memang sulit untuk dilakukan namun jika dilakukan maka akan terjalin suatu hubungan batin yang erat di dalamnya. Inilah yang telah dirasakan oleh Yohanes. Sebelum Yesus memanggilnya untuk menjadi murid, ia adalah seorang penjala ikan. Kehidupannya mungkin begitu sulit pada waktu itu karena ia harus bekerja keras menebarkan jala dan mengumpulkan ikan dalam perahunya tiap hari, bahkan pada malam hari disaat semua orang tertidur lelap ia terus bekerja sepanjang malam dengan setia tanpa mengeluh seperti Petrus untuk menjala ikan. Namun, ketika Yesus memanggil dan memilihnya menjadi murid, ia bukan lagi seorang penjala ikan namun menjadi penjala manusia. Ini berarti Yesus mempercayakan Yohanes untuk pekerjaan yang lebih besar akibat dari kesetiaannya melakukan pekerjaan-pekerjaan sebelumnya. Tidak hanya itu saja, ia terus bersama-sama dengan Yesus kemanapun Ia pergi bahkan ia berusaha dekat dengan Yesus. Kita dapat melihat dalam kisah ketika perjamuan makan malam ia duduk dekat Yesus, sampai ketika Yesus disalibkan ia ada di bawah salibNya. Kemana murid-murid yang lain? Entahlah, mungkin mereka bersembunyi karena ketakutan dikejar oleh perwira-perwira Romawi.

Bagian utama ketiga: “taat” Yohanes adalah salah satu murid pertama yang mengikuti Yesus. Ia taat mengikut Yesus kemanapun Ia pergi. Yohanes juga adalah murid yang paling dipercayai oleh Yesus. Buktinya saja Ia menitipkan ibu jasmaniNya yaitu Maria kepada Yohanes. Mengapa Yesus begitu mempercayai Yohanes?. Jawabannya karena ia taat. Yohanes tidak mungkin menolak tugas yang dipercayakan oleh Yesus yang dikasihinya itu. Ketika Yesus telah mati dan dikuburkan, para murid Yesus kembali kepada pekerjaan semula yaitu menjala ikan. Hal ini menunjukkan keputusasaan mereka kepada Yesus yang telah mati. Mungkin mereka melupakan perkataan Yesus bahwa Ia akan bangkit. Namun, dalam kisah ini Yohanes adalah murid pertama yang mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan yang telah bangkit. Apa akibat dari ketaatan Yohanes, mari kita lihat pada ayatnya yang ke 22. Yohanes adalah murid Yesus yang umurnya paling panjang. Ia dikaruniakan umur panjang oleh Tuhan. Dan inilah berkat yang luar biasa yang diterima oleh Yohanes sehingga ia dapat menuliskan kitab Wahyu pada akhir-akhir hidupnya. Kitab ini memberikan sumbangsih yang sangat luar biasa dalam dunia Teologi di sepanjang zaman. Sebab dalam kitab yang dituliskannya ini sedikitnya kita dapat melihat rahasia mengenai kerajaan Allah. Peralihan: Belajarlah dari sikap Yohanes jika kita ingin dikasihi oleh semua orang. Kesimpulan: Ada 3 hal yang dapat kita lakukan untuk menjadi seorang yang dikasihi, yaitu: 1) Rendah hati dalam segala hal. Artinya mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi. 2) Setia. Memang sulit dilakukan, namun jika kita melakukannya maka kita dapat dipercayakan hal-hal yang lebih besar. 3) Taat. Artinya tidak ada alasan titik. Kerjakan segala sesuatu dengan taat!. Kiranya Tuhan memberkati kita sekalian melalui firman-Nya. Amin.

Judul Teks

: :

“Mencari Muka” Matius 2:1-12

Pendahuluan : 1. Dalam pekerjaan kita mungkin pernah ingin “dilirik” oleh pemimpin kita atau atasan kita. Mungkin dengan melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Namun tujuan kita sebenarnya hanya untuk dilihat orang dan mendapat penghargaan. Inilah yang biasanya kita sebut dengan “mencari muka”. Sadar maupun tidak sadar, kita pernah melakukannya. 2. Herodes adalah pemimpin daerah yang mahir mencari muka di hadapan Kaisar Agustus dan orang-orang Yahudi. Proposisi Kalimat Tanya Kalimat Peralihan : Mencari muka adalah sifat ketidakpercayaan terhadap diri sendiri. : Apakah ada manfaat dari sikap seperti ini? : Marilah kita bersama-sama belajar dari teks Matius 2:1-12. :

Bagian utama pertama “Berusaha dengan tulus”

Sejarah menuliskan bahwa Herodes adalah keturunan dari bangsa Idumea atau Edom keturunan Esau. Dari sinilah dapat kita melihat permusuhan turun temurun yang terjadi antara orang-orang Edom dengan bangsa Yahudi keturunan Yakub saudara Esau. Namun sega usaha diupayakan Herodes sebagai seorang pemimpin di kerajaan Romawi. Ia seringkali mencari muka terhadap bangsa Yahudi yang pada umumnya sangat membencinya kecuali golongan Herodian. Kenisah yang menjadi pusat peribadatan Yahudi diperbaikinya, bahkan Yerusalem diperindah pula olehnya. Tidak hanya itu ia juga mencari muka terhadap kaisar Agustus. Ia banyak membangun benteng-benteng, membangun kembali Samaria dan mendirikan kuil Agustus di sana. Semua usaha telah dilakukannya untuk menyenangkan oranglain. Bahkan pada ayat 8 ia menyuruh orang-orang majus untuk menyelidiki kelahiran raja orang Yahudi, yaitu Yesus.

Dikatakan pada ayat itu ia pun akan menyembah Dia apabila ia menemukanNya. Namun, lagilagi ia tidak berhasil menaklukan hati orang Yahudi. Apa yang salah dari Herodes?. Jawaban pertama adalah, meskipun segala daya upaya dan usaha telah dilakukannya untuk mencari muka terhadap orang-orang Yahudi, ia tidak pernah berhasil karena ia tidak dengan tulus berusaha. Bagian Umum Kedua: “Mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi” Ketidak tulusan hati Herodes dikarenakan semua yang dilakukannya demi kepentingan pribadinya semata. Ia hanya ingin mendapat pengakuan dan kehormatan di mata orang-orang Yahudi. Peralihan: Mungkin sulit untuk menjauhkan sikap ini dari kehidupan kita, namun apa salahnya jika kita berusaha. Kesimpulan: Setidaknya ada juga manfaat dari mencari muka: 1) 2) Kita dapat intropeksi diri dan belajar bersikap tulus hati. Memikirkan kepentingan bersama daripada diri sendiri.

Tuhan memberkati kita sekalian melalui firman-Nya. Amin.

Judul Teks

: :

“Yesus Kristus Tuhan, karena Ia kekal” Wahyu 12:1-6

Pendahuluan : 1. Pernahkah kita melihat orang-orang memakai perhiasan?. Menurut saudara perhiasan apa yang paling diminati oleh orang-orang?. Jawabannya pasti emas. Mengapa emas? Bukankah harganya mahal? 1 gram saja harganya hampir 300-an ribu. Jawabannya mungkin bervariasi, ada yang mengatakan karena proses pembuatannya yang sangat sulit, bahan bakunya juga sangat sulit dicari, nilai inventasinya yang makin hari makin meroket, atau karena emas tidak mudah berubah bentuk dan kualitasnya terjaga. Dan saya setuju dengan jawaban terakhir. Emas adalah perhiasan yang bersifat mulia dan kekal. Dari zaman dahulu emas sering dipakai sebagai alat penentu kekayaan seseorang sehingga diwariskan turun temurun. Perhiasan emas dan kuningan sepintas nampak sama persis dan tidak dapat dibedakan. Namun, apabila dengan teliti maka kualitasnya sangat jauh berbeda. Semakin digesek maka emas semakin bercahaya, lain halnya dengan kuningan ia akan semakin pudar. 2. Kitab Wahyu adalah salah satu kitab yang sangat sulit dikhotbahkan. Karena menimbulkan pelbagai penafsiran. Tidak dipungkiri bahwa pemahaman dalam menafsirkannya tergantung dari dogma yang dianut dalam suatu gereja tertentu. Namun apabila dengan tekun mempelajarinya, maka kita akan menemukan sifat-sifat kekekalan Yesus Kristus sebagai Tuhan. Sedikitnya ada empat metode dalam penafsiran kitab Wahyu: yaitu preterist, historistist, symbolis, dan futuris. Proposisi Kalimat Tanya Kalimat Peralihan Wahyu 12:1-6. Bagian utama pertama : “Yesus Kristus sudah ada sebelum dunia dijadikan ” : Meskipun Ia kekal namun masih banyak orang Kristen yang

meragukan keTuhan-an Yesus. : Mengapa masih meragukan? : Renungkanlah bagian Alkitab yang akan kita baca saat ini dalam

Kitab Wahyu diambil dari kata Yunani yaitu apokalupsis yang berarti membuka selubung. Wahyu dapat diartikan sebagai penyataan dalam arti sesuatu yang rahasia namun sudah dinyatakan. Oleh karena itu kitab Wahyu menuliskan penglihatan-penglihatan. Kitab ini ditulis oleh rasul Yohanes sekitar tahun 96 Masehi. Menurut sejarah, Yohanes menulis kitab itu ketika ia mendapatkan penglihatan-penglihatan pada saat ia dibuang oleh Kaisar Domitian ke pulau Patmos yang tak berpenghuni. Meskipun sangat sulit dikhotbahkan kita dapat mempelajari bagian kitab ini dengan salah satu metode penafsiran kitab Wahyu yaitu metode symbolis atau idealis. Pada perikop ini diceritakan mengenai 3 tokoh yaitu, perempuan, seorang Anak lakilaki dan naga. Masing-masing mewakili tokoh yaitu Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Iblis. Dalam teks ini, diceritakan bahwa ketiga tokoh ini berada di sorga dan ketika itu naga ingin menelan Anak laki-laki dari perempuan itu. Namun terjadi peperangan di sana sehingga naga itu kalah dan dicampakkan ke bumi. Dengan kisah ini, kita mengingat kepada seorang malaikat tertinggi bernama Lucifer. Ia mulanya adalah seorang malaikat yang bertugas memuji Bapa di sorga, tubuhnya indah dan dipenuhi oleh alat-alat musik untuk memuji dan memuliakan Bapa di sorga. Namun, ia jatuh kedalam dosa karena kesombongannya sehingga dicampakkan Allah ke bumi dan hilang kemuliaannya. Dari kedua sisi ini kita melihat bahwa Yesus Kristus yang dicimbolkan sebagai Anak laki-laki dalam kisah tersebut sudah ada jauh sebelum Allah menciptakan bumi dan segala isinya. Ia kekal, sebab sebelum segala sesuatu jadi Ia telah ada. Bagian utama kedua: “Yesus sudah ada dalam Perjanjian Lama” Ayat pararel dari perikop ini adalah Daniel 7:7; 8:10. Di sana diceritakan mengenai penglihatan Daniel mengenai keempat binatang dan anak manusia. Meskipun Yesus Kristus baru diceritakan secara jelas dalam kitab Perjanjian Baru, namun sebenarnya Ia sudah ada pada zaman Perjanjian Lama. Khususnya nampak dalam nubuat-nubuat para nabi. Misalnya dalam Mikha 5:1 dan Yesaya 9:5 yang telah digenapi di dalam Perjanjian Baru dengan kelahiranNya oleh seorang keturunan Daud. Bagian utama ketiga:

“Yesus Kristus sejak semula dipilih oleh Allah” Dalam kitab Perjanjian Lama, Allah mengikat diriNya dengan bangsa pilihanNya yaitu bangsa Israel. Bangsa ini terdiri dari duabelas suku dari keturunan Yakub yang disebut Israel. Pada pembacaan kita dalam perikop ini, kita menemukan symbol mahkota dari duabelas bintang yang ada di atas kepala perempuan itu. Tentu, hal ini tidak begitu saja diungkapkan melainkan ada arti khusus di dalamnya. Perempuan yang berselubungkan matahari dengan bulan di bawah kakinya melambangkan kekuasaan Allah atas segala yang diciptakanNya. Dan keduabelas mahkota bintang berarti Allah yang memilih keduabelas sukusuku Israel. Namun, pada ayat berikutnya dikatakan bahwa perempuan itu sedang mengandung dan hendak melahirkan. Jika Anak tersebut dilahirkan, maka seluruh kekuasan dan kemuliaan yang dimiliki oleh perempuan itu akan menjadi miliknya. Hal ini melambangkan bahwa Yesus Kristus adalah ahli waris kerajaan Allah. Ia sejak semula dipilih dan ditentukan sebagai juruselamat oleh Allah. Ini artinya semua kekuasaan yang ada di bumi dan di sorga menjadi milik Yesus. Inilah alasan ketiga, Yesus Kristus Tuhan karena ia kekal adanya. Peralihan: Banyaklah bukti bahwa kita tidak harus meragukan keTuhan-an Yesus, melainkan kita mengakui akan kekekalannya di masa lalu, sekarang bahkan yang akan datang. Kesimpulan: 1) 2) 3) Kita hanya dapat mengerti firmanNya sejauh Ia memberikan pengertian kepada kita. Yesus Kristus adalah manusia sejati dan Allah sejati. Yesus Kristus sejak semula sudah ada, sekarang masih ada, dan akan terus ada hingga kesudahannya. Kiranya Roh kudus akan memberi pengertian bagi kita sekalian. Amin.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->