P. 1
Prosiding Pertemuan Ilmiah HFI-Jateng2011 - Fisika UNSOED

Prosiding Pertemuan Ilmiah HFI-Jateng2011 - Fisika UNSOED

|Views: 4,827|Likes:
Published by Han Wihantoro

More info:

Published by: Han Wihantoro on Jul 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/12/2013

pdf

text

original

ISSN 0853 - 0823

 

PROSIDING PERTEMUAN ILMIAH XXV HIMPUNAN FISIKA INDONESIA JATENG & DIY
PURWOKERTO, 9 APRIL 2011
   

PENELITIAN DAN PENDIDIKAN FISIKA BERBASIS SUMBER DAYA DAN KEARIFAN LOKAL

Penyunting : Pramudita Anggraita  Kusminarto  Kuwat Triyana  Yusril Yusuf   Pekik Nurwantoro  Sismanto  Suparwoto  Edi Santosa  Rinto Anugraha NQZ  Kirbani Sri Brotopuspito  Dewita  Frida Iswinning Diah 

Bagian Penerbitan HIMPUNAN FISIKA INDONESIA Cabang Jateng & DIY 2011
 

d/a Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan Badan Tenaga Nuklir Nasional Jl. Babarsari POBox 6101ykbb Yogyakarta 55281

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY, Purwokerto 9 April 2011

PENGANTAR REDAKSI
Prosiding Pertemuan Ilmiah (PI) ke XXV Himpunan Fisika Indonesia (HFI) Cabang Jawa-Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini berisikan makalah-makalah yang akan disajikan dalam Seminar Nasional Fisika 2011 di Universitas Jendral Soedirman 9 April 2011. Sesuai dengan temanya yaitu “PENELITIAN DAN PENDIDIKAN FISIKA BERBASIS SUMBER DAYA DAN KEARIFAN LOKAL” akan disajikan seminar umum oleh Prof. Dr. -Ing Mitra Jamal dari Institut Teknologi Bandung , Prof. Suparwoto MPd. dari Universitas Negeri Yogyakarta dan M.R. Sahar dari Universiti Teknologi Malaysia. Pada pertemuan ini akan disajikan pula 78 makalah yang terbagi dalam 7 kelompok yaitu: A. Fisika Bumi, B. Fisika Instrumentasi, C. Fisika Komputasi, D. Fisika Teori, E. Fisika Pendidikan, F. Fisika Nuklir dan. G. Fisika Material, yang akan disajikan dalam sidang paralel dan poster. Peserta dan penyaji makalah berasal dari berbagai instansi di bawah KEMENDIKNAS baik yang berada di pulau jawa maupun luar pulau jawa, KNRT seperti LAPAN, BATAN, LIPI, Lembaga Kajian maupun dari negara tetangga Malaysia . Makalah yang akan disajikan, diterbitkan dalam Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY sebagai penerbitan awal. Makalah tersebut telah melewati penyuntingan kembali dan ditulis berdasarkan format template yang telah disepakati antara panitia penyelenggara dan tim editor. Penerbitan prosiding yang kedua akan dilakukan pasca penyajian dengan menambahkan tanya jawab yang muncul saat persidangan. Keberhasilan PI XXV merupakan hasil kerja keras seluruh anggota panitia penyelenggara dengan dukungan penuh instansinya dan seluruh warga HFI Jateng & DIY. Panitia penyelenggara yang terdiri dari anggota HFI maupun staf UNSOED telah berhasil dengan baik mempersiapkan dan menyelenggarakan pertemuan ilmiah tersebut. Pada kulit depan bagian dalam disajikan susunan dan personalia panitia penyelenggara. Kepada para penceramah dan penyaji makalah, dan peserta pada umumnya, serta semua pihak yang telah berperan-serta dalam seluruh acara PI XXV ini, diucapkan banyak terima kasih. Mudah-mudahan hasil yang diterbitkan dalam prosiding ini semuanya dapat bermanfaat, memberikan kepercayaan nasional dan berperan serta menyumbang sumber daya dan kearifan lokal melalui bidang fisika dan pendidikan fisika Yogyakarta, 7April 2011 Penyunting, Kusminarto, Pramudita Anggraita, Suparwoto, Kuwat Triyana, Sismanto, Edi Santoso, Yusril Yusuf, Pekik Nurwantoro, Rinto Anugraha, Kirbani Sri Brotopuspito

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY, Purwokerto 9 April 2011

Penerbitan Prosiding Editor

: Dra. Dewita, Frida Iswinning Diah, ST : 1. Prof. DR. Pramudita Anggraita (BATAN) 2. Prof.DR. Kusminarto (UGM) Sekretariat Panitia Jurusan Fisika, Kampus FMIPA UNDIP Tembalang Semarang Telp. (024) 70790933, Fax. (024) 76480822

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY, Purwokerto 9 April 2011

3. Dr. Kuwat Triyatna (UGM) 4. Prof. Dr. Kirbani Sri Brotopuspito (UGM) 5. Dr. Eng. Rinto Anugraha NQZ, S.Si(UGM) 6. Drs. Pekik Nurwantoro MS. Phd. (UGM) 7. Dr. Ign. Edi Santoso (USD) 8. Dr. Yusril Yusuf, M.Si(UGM) 9. Dr. Sismanto M.S (UGM) 10. Prof.DR.Suparwoto (UNY)

Sekretariat Panitia Jurusan Fisika, Kampus FMIPA UNDIP Tembalang Semarang Telp. (024) 70790933, Fax. (024) 76480822

Daftar Isi 

v

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY ISSN 0853 - 0823
      PENGANTAR REDAKSI  SUSUNAN PANITIA  DAFTAR ISI     CERAMAH UMUM : 
1. SENSOR MAGNETIK GMR, TEKNOLOGI DAN APLIKASI PENGEMBANGANNYA Mitra Djamal, Jurusan Fisika, Institut Teknologi Bandung; Ramli, Jurusan Fisika, Institut Teknologi Bandung, dan Jurusan Fisika, Universitas Negeri Padang; Rahadi Wirawan, Jurusan Fisika, Institut Teknologi Bandung, dan Prodi Fisika, FMIPA Universitas Mataram, Edi Sanjaya Jurusan Fisika, Institut Teknologi Bandung, dan Fisika, FST UIN Jakarta---------------------------SPECTROSCOPIC INVESTIGATION OF THE OPTICAL PROPERTIES OF RARE EARTH DOPED PHOSPHATE AND TELLURITE GLASSES M. R. Sahar, M. S. Rohani, R. Ariffin and S. K. Ghoshal, Advanced Optical Material Research Group, Department of Physics, Faculty of Science, Universiti Teknologi Malaysia, 81310 UTM Skudai, Johor--------------------------------------------------------------------------------------------------ASPEK KEARIFAN LOKAL UNTUK PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN FISIKA Suparwoto, FMIPA UNY Yogyakarta---------------------------------------------------------------------INTERAKSI ANTAR PELAKU EKONOMI DI PASAR BARANG DENGAN POTENSIAL OSILATOR HARMONIS Rizqan Desman, Bachtiar Rifai, Muhammad Farchani Rosyid, Kelompok Penelitian Kosmologi, Astrofisika, dan Fisika Matematik (KAM) - Jurusan Fisika FMIPA UGM, Yogyakarta ----------PERHITUNGAN SWAKONSISTEN DISTRIBUSI MUATAN INTI HALO 11Li Raden Oktova, Program Magister Pendidikan Fisika, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta--METODE PENETAPAN TINGKAT PANDUAN PAPARAN MEDIK DI RADIOLOGI DIAGNOSTIK DAN TINJAUAN DIBEBERAPA NEGARA Putri Suryo Dinoto, Intanung Syafitri, Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN), Jakarta----STANDARDISASI IODIUM-125 MENGGUNAKAN SISTEM KOINSIDENSI FOTONFOTON DENGAN DETEKTOR NaI(Tl)-NaI(Tl) Pujadi, Gatot Wurdiyanto dan Hermawan Candra, Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi, Badan tenaga Nuklir Nasional, Jakarta Selatan------------------------------------------------ANALISIS KALIBRASI EFISIENSI DETEKTOR HPGE RENTANG ENERGI 121 – 1408 keV Pujadi, Gatot Wurdiyanto dan Hermawan Candra, Badan Tenaga Nuklir Nasional, Jakarta Selatan----------------------------------------------------------------------------------------------------------APLIKASI SISTEM KESELAMATAN PASIF PADA REAKTOR NUKLIR Nur Syamsi Syam, Anggoro Septilarso, Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN), Jakarta GAUGE INVARIANCE FOR NONLINEAR MASTER SCHRÖDINGER T. B. Prayitno, Universitas Negeri Jakarta, Jakarta Timur----------------------------------------------STANDARDISASI RADIONUKLIDA 192Ir DAN APLIKASINYA Hermawan Candra, Pujadi, Gatot Wurdiyanto, Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi – BATAN--------------------------------------------------------------------------------------------METODE PENENTUAN FAKTOR HOMOGENITAS LARUTAN RADIOAKTIF COBALT60 MENGGUNAKAN PERANGKAT SPEKTROMETER GAMMA Gatot Wurdiyanto dan Pujadi, Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi, Badan Tenaga Nuklir Nasional--------------------------------------------------------------------------------------halaman ii iii-iv v-x

1-8

2.

9-18

3.

19-23

MAKALAH‐MAKALAH YANG DISAJIKAN 
1.

24-27 28-31

2. 3.

32-35

4.

36-39

5.

40-42 43-47 48-50

6. 7. 8.

51-54

9.

55-58

 

vi   

Daftar Isi 

10. CHERNOBYL, 25 TAHUN YANG LALU Anggoro Septilarso, Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN), Jakarta-------------------------11. ANALISIS PELURUHAN FLOURINE-18 MENGGUNAKAN SISTEM PENCACAH KAMAR PENGION CAPINTEC CRC-7BT S/N 71742 Wijono dan Pujadi, Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi - Badan Tenaga Nuklir Nasional, Jakarta ---------------------------------------------------------------------------------------------12. PEMANFAATAN KAMERA DIGITAL UNTUK MENGUKUR PANJANG GELOMBANG SPEKTRUM NEON Deomedes, Yulia I. Piyoh, Yusak A. Talangas, Debora N. Sudjito, Ferdy S. Rondonuwu, Program Studi Pendidikan Fisika, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga ----------------------------------------------------------------------------------------------13. PERANCANGAN PROTOTIPE INSTRUMENT PENDETEKSI GAS METAN (CH4) MENGGUNAKAN SENSOR FIGARO BERBASIS MIKROKONTROLER SERI AT MEGA 8535 Lalu Husnan Wijaya, Toni Subiakto, Peneliti SPD – LAPAN Watukosek, Gempol – Pasuruan 14. RANCANG BANGUN SISTEM TOMOGRAFI KOMPUTER ULTRASONIK UNTUK INVESTIGASI LUBANG PADA BETON Suryono, Jurusan Fisika FMIPA Universitas Diponegoro, Semarang; Kusminarto, Gb. Suparta Jurusan Fisika FMIPA, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta----------------------------------------15. RANCANG BANGUN SISTEM PERAGA EKSPERIMEN LENSA KONVERGEN MENGGUNAKAN WEBCAM SEBAGAI PENANGKAP CITRA DENGAN KOMPUTER SEBAGAI PERANGKAT PEMROSES DAN PENAMPIL HASIL Sumariyah, Ainie Khuriatie RS, Bernadi Dannadri Zhuriadan Tisda Renza Fanerva, Jurusan Fisika FMIPA UNDIP----------------------------------------------------------------------------------------16. APLIKASI WAVELET PADA PROSES EKSTRAKSI CIRI SINYAL KELUARAN ELECTRONIC-NOSE UNTUK DETEKSI BAHAN HERBAL Fajar Hardoyono, Jurusan Tarbiyah STAIN Purwokerto, Jurusan Fisika FMIPA UGM; Kuwat Triyana, Jurusan Fisika FMIPA UGM --------------------------------------------------------------------17. KONSISTENSI TAHANAN KAWAT KUMPARAN TERHADAP HUKUM OHM PADA BERBAGAI MEDIUM Sandi Somantri, Moh. Toifur, Sumaji, Program Magister Pendidikan Fisika, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta-------------------------------------------------------------------------------------------18. IMMOBILISASI AMYGLUKOSIDASE DALAM KALSIUM ALGINAT SEBAGAI PROTOTIPE BIOSENSOR PENDETEKSI KADAR KARBOHIDRAT Umiatin, Jurusan Fisika, FMIPA Universitas Negeri Jakarta-------------------------------------------19. PEMANTAU PARAMETER FISIS UNTUK LINGKUNGAN INKUBATOR BAYI Wihantoro, Program Studi Fisika , Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto-----------------------------------------------------------------------------------------------------20. SINTESA PADUAN NANO PARTIKEL Fe-Ti HIDRID DAN TINJAUAN TERMODINAMIKNYA Hadi Suwarno, Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir, BATAN, Banten------------------------------21. RASIO GIROMAGNETIK BATANG FEROMAGNET DENGAN METODE EINSTEIN-DE HAAS Moh. Toifur dan Nanang Ruhimat, Program Studi Fisika FMIPA Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta; Hedriawan, Jurusan Sains dan Teknologi, Fakultas Teknik Universitas Teknologi Yogyakarta-----------------------------------------------------------------------------------------------------22. PENGAMATAN PERILAKU FENOMENA SURFACE PLASMON RESONANCE (SPR) PADA SISTEM LAPISAN TIPIS PERAK-CuPc Nafingati Zakiyah, Kamsul Abraha, Laboratorium Fisika Zat Padat, Jurusan Fisika FMIPA UGM, Yogyakarta--------------------------------------------------------------------------------------------23. STUDI AWAL PENGUKURAN PERUBAHAN FUNGSI KERJA FILM TIPIS AG2O TERHADAP GAS POLUTAN DENGAN KELVIN PROBE W. Widanarto dan Bilalodin, Program Studi Fisika, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto----------------------------------------------------------------------------

59-62

63-68

69-71

72-75

76-79

80-84

85-88

89-92

93-95

96-98

99-102

103-106

107-110

111-113

 

Daftar Isi 
24. SIFAT KONDUKTIVITAS LISTRIK HiPCO SINGLE-WALLED CARBON NANOTUBES YANG SUDAH DI-ANNEAL Mukhtar Effendi, Program studi Fisika Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto--------------25. SEL SURYA BERBASIS MATERIAL NANOKOMPOSIT TiO2 Sahrul Saehana dan Darsikin, Program Studi Pend. Fisika FKIP Universitas Tadulako, Kampus Bumi Tadulako Tondo Palu; Rita Prasetyowati, Marina I. Hidayat, Mikrajuddin Abdullah, dan Khairurrijal, KK Fisika Material Elektronik FMIPA Institut Teknologi Bandung------------------26. AN ORDER-DISORDER TRANSITION IN SOFT-MODE TURBULENCE Rinto Anugraha NQZ, Physics Department, Gadjah Mada University, Bulaksumur Yogyakarta ; Yoshiki Hidaka and Shoichi Kai, Graduate School of Engineering, Kyushu University, Fukuoka, JAPAN---------------------------------------------------------------------------------------------27. ASSIMETRI PERGERAKAN GRUP-GRUP SUNSPOT DI LINTANG UTARA DAN SELATAN MATAHARI PADA SIKLUS AKTIVITAS MATAHARI KE 22 Nanang Widodo, Stasiun Pengamat Dirgantara, LAPAN Watukosek, Pasuruan--------------------28. PENGUJIAAN DAN PENGEMBANGAN AKUISISI DATA EXTENSOMETER UNTUK MONITORING KONDISI LERENG Andi Setiono, Prabowo Puranto dan Bambang Widiyatmoko, Group THz-Photonics, Puat Penelitian Fisika –LIPI, Tangerang Selatan---------------------------------------------------------------29. GEOFISIKA BAGIAN DARI GEOSAINS UNTUK EKSPLORASI SUMBER DAYA ALAM (GEOPHYSICS PART OF GEOSCIENCE FOR EXPLORATION OF NATURAL RESOURCES) Sismanto, Geofisika UGM, Jogjakarta---------------------------------------------------------------------30. VARIASI LOKAL DALAM VISIBILITAS HILAAL: OBSERVASI HILAAL DI INDONESIA PADA 2007–2009 Muh. Ma’rufin Sudibyo, Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Falak Rukyatul Hilal Indonesia (LP2IF–RHI), Yogyakarta----------------------------------------------------------------------31. PENDUGAAN RESISTIVITAS BATUAN BAWAH PERMUKAAN DESA BULUPAYUNG KECAMATAN KESUGIHAN KABUPATEN CILACAP Sehah dan Hartono, Program Studi Fisika, Jurusan MIPA, Fakultas Sains dan Teknik Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto-------------------------------------------------------------32. EFISIENSI ENERGI DARI TUNGKU SEKAM DENGAN KOMPOR BAHAN BAKAR CAMPURAN AIR, MINYAK DAN GAS KARBON (ASAP) DENGAN METODE KAVITASI Casnan, Mahasiswa Pasca Sarjana Departemen Fisika FMIPA, Institut Pertanian Bogor; Irzaman, Departemen Fisika FMIPA, Institut Pertanian Bogor; Pudji Untoro, Badan Teknologi Nuklir Nasional (BATAN), Tangerang--------------------------------------------------------------------33. PERHITUNGAN INDEKS BIAS ATMOSFER BUMI SEBAGAI FUNGSI KETINGGIAN Siti Wahyuni1,2, Jurusan Fisika FMIPA Unnes, Semarang dan Penelitian Kosmologi, Astrofisika, dan Fisika Matematik (KAM), Laboratorium Fisika Atom dan Inti, Jurusan Fisika FMIPA UGM Yogyakarta; Muhammad Farchani Rosyid, Kelompok Penelitian Kosmologi, Astrofisika, dan Fisika Matematik (KAM), Laboratorium Fisika Atom dan Inti, Jurusan Fisika FMIPA UGM Yogyakarta-----------------------------------------------------------------------------------34. ESTIMASI ALIRAN SUNGAI BAWAH TANAH DENGAN MENGGUNAKAN METODE GEOFISIKA VLF EM, MODE SUDUT TILT DI DAERAH DENGOK DAN NGREJOK WETAN, GUNUNGKIDUL, YOGYAKARTA Febria Anita dan Sismanto, Jurusan Fisika, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta---------------35. REPROCESSING DATA SEISMIK UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PENAMPANG STACK Nurita Sulistiana, Rina Dwi Indriana, Udi Harmoko, Laboratorium Geofisika, Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Diponegoro, Semarang--------------------------------------------------------------36. RANCANG BANGUN SISTEM MEJA OBJEK PUTAR DAN VISUALISASI OBJEK MENGGUNAKAN WEBCAM BERBASIS KOMPUTER Sumariyah, Heri Sugito, Evi Setiawati, Zaenul Muchlisin dan Hendra Ardian, Jurusan Fisika FMIPA UNDIP, Semarang----------------------------------------------------------------------------------37. APLIKASI RADIO KOMERSIAL UNTUK PENGUKURAN JARAK MENGGUNAKAN SINYAL SINUS Wahyu Widada, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, LAPAN Bogor-------------------

vii

114-117

118-120

121-124

125-128

129-131

132-135

136-140

141-144

145-147

148-151

152-154

155-157

158-160

161-164

 

viii   

Daftar Isi 

38. OPTIMASI SPEKTROMETER FOTOAKUSTIK LASER CO2 DAN APLIKASINYA DALAM PENDETEKSIAN KONSENTRASI ETILEN DI DALAM TANAH Mitrayana, M.A.J. Wasono dan Karno, Lab. Fisika Atom-Inti Jurusan Fisika FMIPA UGM, Yogyakarta-----------------------------------------------------------------------------------------------------39. OPTIMASI SISTEM ELEKTROOSMOSIS DENGAN VARIASI POLA PULSA PADA PROSES PENGURANGAN KANDUNGAN AIR UNTUK PELESTARIAN CAGAR BUDAYA Chotimah, Ar Rahim, Akrom Hasani, Detiza, Kuwat Triyana, Jurusan Fisika FMIPA UGM Yogyakarta-----------------------------------------------------------------------------------------------------40. APLIKASI SENSOR OPT101 SEBAGAI PENDETEKSI INTENSITAS CAHAYA UNTUK RANCANG BANGUN DENSITOMETER BERBASIS MIKROKONTROLER ATMEGA8535 Heri Sugito, Arifin Sijabat, M. Munir, Laboratorium Elektronika dan Instrumentasi Jurusan Fisika FMIPA Undip Semarang----------------------------------------------------------------------------41. PERANCANGAN INSTRUMENT PENGUKUR INTENSITAS CAHAYA MATAHARI GLOBAL (ICMG) MENGGUNAKAN SENSOR SOLAR CELL SISTEM LOGGER Toni Subiakto, Lalu Husnan Wijaya, SPD – LAPAN, Pasuruan --------------------------------------42. PENENTUAN BESAR DAN POSISI MASSA KOREKSI PADA PENYEIMBANGAN ROTOR MENGGUNAKAN LABVIEW Manggar Riyan Mirani, Jurusan Fisika FMIPA, UNJ, Jakarta; R. Wibawa Purabaya, UPT Laboratorium Aero-Gasdinamika dan Getaran, BPPT , Serpong; Agus Setyo Budi, Jurusan Fisika FMIPA, UNJ, Jakarta--------------------------------------------------------------------------------43. KARAKTERISTIK SEL SURYA ORGANIK BERBASIS POLIMER P3HT:PCBM Kuwat Triyana, Sholihun, Chotimah dan Renita Anggraeni, Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta------------------44. SPEKTRUM SERAPAN CAHAYA TAMPAK LAPISAN TIPIS POLY(3,4ETHYLENEDIOXY-THIOPHENE): POLY(STYRENESULFONATE) UNTUK APLIKASI SENSOR GAS AMONIAK La Aba, Jurusan Fisika Universitas Haluoleo, Kampus Bumi Tridharma, Kendari; Yusril Yusuf , Mitrayana, dan Kuwat Triyana, Jurusan Fisika Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta------------45. OPTIMALISASI OUTPUT MODUL SURYA POLIKRISTAL SILIKON DENGAN CERMIN DATAR SEBAGAI REFLEKTOR PADA SUDUT 60O Amalia dan Satwiko S, Universitas Negeri Jakarta, Jakarta--------------------------------------------46. STUDI KARAKTERISTIK ARUS-TEGANGAN (KURVA I-V) PADA SEL TUNGGAL POLIKRISTAL SILIKON SERTA PEMODELANNYA Karina A, Satwiko S, Universitas Negeri Jakarta, Jakarta-----------------------------------------------47. KAJIAN RESPONS FREKUENSI TETAPAN DIELEKTRIK MATERIAL KERAMIK CALCIUM COPPER TITANATE (CaCu3Ti4O12) Reny Eryolamda, Kamsul Abraha, Laboratorium Fisika Zat Padat, Jurusan Fisika FMIPA UGM, Yogyakarta-----------------------------------------------------------------------------------------------------48. PENENTUAN NILAI POLARISABILITAS TAKLINIER PADA MOLEKUL MINYAK KELAPA SAWIT MENGGUNAKAN SIFAT ELEKTROOPTIS K. Sofjan Firdausi dan Ade Ika Susan, Lab. Optoelektronik & Laser, Jurusan Fisika, UNDIP, Semarang-------------------------------------------------------------------------------------------------------49. MAGNETIC AND TRANSPORT PROPERTIES OF SUPERCONDUCTOR HAVING SLITS Harsojo Sabarman, Pekik Nurwantoro, Kamsul Abraha, Department of Physics, University Gadjah Mada, Sekip Utara Yogyakarta 55281------------------------------------------------------------50. PENGEMBANGAN SIMULASI KOMPUTER DALAM MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF UNTUK MEMINIMALISIR MISKONSEPSI FISIKA PADA SISWA SMA DI KOTA PALU Sahrul Saehanaa, Haeruddin, Program Studi Pend. Fisika FKIP Universitas Tadulako------------51. PEMANFAATAN KAMERA DIGITAL DALAM PEMBELAJARAN FISIKA TENTANG DAMPAK GAYA SENTRIFUGAL Ester Fatmawati, Program Studi Pendidikan Fisika , Puji Kuswanti, Program Studi Fisika dan Program Studi Pendidikan Fisika, Debora N. Sudjito, Program Studi Pendidikan Fisika, Ferdy S. Rondonuwu, Program Studi Fisika dan Program Studi Pendidikan Fisika, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Kristen Satya Wacana ----------------------------------------------------------

165-169

170-172

173-176

177-179

180-182

183-185

186-188

189-191

192-195

196-199

200-202

203-206

207-210

211-214

 

Daftar Isi 
52. ANALISIS KECEPATAN DAN ENERGI OSILASI SILINDER PEJAL PADA BIDANG SETENGAH LINGKARAN MENGGUNAKAN KAMERA DIGITAL Indah D. Lestari, Hardianus Wilson, Monika Leta, Debora N. Sudjito, Ferdy S. Rondonuwu Program Studi Pendidikan Fisika, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Kristen Satya Wacana --------------------------------------------------------------------------------------------------------53. JUMP SHOT CIRCLE BALL TRACK: SEBUAH INOVASI MEDIA PEMBELAJARAN GERAK PARABOLA (PARABOL MOTION) PADA SISWA SMA KELAS XI IPA Yuli Estrian, Jurusan Pendidikan Fisika, FMIPA UNY, Yogyakarta---------------------------------54. STUDI PENGEMBANGAN ALAT SAINS SEDERHANA DARI BARANG-BARANG BEKAS UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN SAINS SD PADA DAERAH TERPENCIL DI KABUPATEN DONGGALA Sahrul Saehana, Muhammad Ali, Dan Supriyatman, Program Studi Pend. Fisika FKIP Universitas Tadulako-----------------------------------------------------------------------------------------55. RANCANG BANGUN ALAT EKSPERIMEN ROKET AIR DARI BARANG BEKAS SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN MEKANIKA Nizar Nuril Barjah, Aceng Sambas, Mada Sanjaya WS, Jurusan Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung---------------------------------56. INTEGRASI FISIKA TEORITIK, KOMPUTASI, DAN IMPLEMENTASI HARDWARE SIRKUIT NONLINIER Mada Sanjaya WS, Jurusan Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung, Jurusan Matematika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universiti Malaysia Terengganu, MALAYSIA-----------------------------------------------------------------------57. PERBANDINGAN TEORI RELATIVITAS DAN TEORI KUANTUM : RELEVANSINYA DENGAN PENGAJARAN S1 FISIKA Arief Hermanto, Jurusan Fisika, FMIPA-UGM, Sekip Utara, Yogyakarta---------------------------58. KAJIAN EFISIENSI ENERGI TUNGKU SEKAM PADI UNTUK MEDIA TANAM JAMUR TIRAM (PLEUROTUS OTREATUS) Abdul Djamil Husin1, Irzaman1, Jajang Juansah1, 1Departemen Fisika FMIPA IPB, Kampus IPB Dramaga Bogor; Sobri Effendy, Departemen Geofisika dan Meteorologi FMIPA IPB, Kampus IPB Dramaga Bogor -----------------------------------------------------------------------------------------59. PENUMBUHAN DAN KARAKTERISASI LAPISAN TIPIS TIO2 YANG DISIAPKAN DENGAN TEKNIK SPIN COATING Bilalodin dan Mukhtar Effendi, Program studi Fisika, Jurusan MIPA Fakultas Sains dan Teknik, Purwokerto-------------------------------------------------------------------------------------------60. PROTOTIPE PEMANAS AIR TENAGA SURYA MENGGUNAKAN REFLEKTOR SEBAGAI PENAMPUNG KALOR Agus Yanto, Program Studi Fisika, Fakultas Sains dan Teknik Universitas Jenderal Soedirman 61. PENGAMATAN FENOMENA SURFACE PLASMON RESONANCE PADA PERMUKAAN LAPISAN TIPIS PERAK MENGGUNAKAN LASER DENGAN PANJANG GELOMBANG BERBEDA DALAM KONFIGURASI KRETSCHMANN Almaratus Sholihah Rifqi Rufaida, Kamsul Abraha, Laboratorium Fisika Zat Padat, Jurusan Fisika FMIPA UGM, Yogyakarta -------------------------------------------------------------------------62. PENGARUH PERUBAHAN PANJANG RESONATOR TERHADAP DAYA KELUARAN LASER HE-NE Ign Edi Santosa, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Sanata Dharma, Paingan Maguwohardjo, Depok Sleman, Yogyakarta--------------------------------------------------------------63. KAJIAN PENGARUH SUSUNAN LAPISAN AKTIF TERHADAP JUMLAH REKOMBINASI EKSITON DALAM PERANTI SEL SURYA ORGANIK MELALUI ANALISA ARUS-FOTO DAN PARAMETER KUNCI Sholihun, Kuwat Triyana dan Pekik Nurwantoro, Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Unive\rsitas Gadjah Mada, Yogyakarta-------------------------------------------64. RANCANG BANGUN SIRKUIT PENGHASIL SINYAL CHAOS SERTA APLIKASINYA DALAM SISTEM KEAMANAN KOMUNIKASI Mada Sanjaya WS, Jurusan Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung, dan Jurusan Matematika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universiti Malaysia Terengganu, Kuala Terengganu, Malaysia; Dian Syah Maulana, Jurusan Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung;

ix

215-217

218-221

222-224

225-228

229-233

234-237

238-239

240-241

242-243

244-247

248-250

251-254

x   

Daftar Isi 
Mustafa Mamat, Zabidin Salleh, Jurusan Matematika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universiti Malaysia Terengganu, Kuala Terengganu, MALAYSIA------------------------------------------------APLIKASI PLATFORM KOMPUTASI SOFTWARE-DEFINED RADIO (SDR) UNTUK DIGITAL SPECTRUM ANALIZER Eko Marpanaji, Kadarisman Tejo Yuwono, Adi Dewanto, Pendidikan Teknik Elektronika Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta, Karangmalang, Yogyakarta-----------------------PERANCANGAN POMPA GRAVITASI BERBASIS METODE RUNGE-KUTTA Jamrud Aminuddin, Aris Haryadi, dan Sunardi, Program Studi Fisika, Fakultas Sains dan Teknik Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto ---------------------------------------------------APLIKASI JARINGAN SARAF TIRUAN (ARTIFICIAL NEURAL NETWORK) PADA PENGENALAN POLA TULISAN Alvama Pattiserlihun, Andreas Setiawan, Ferdy S. Rondonuwu, Program Studi Fisika, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga-----------------------------------APLIKASI TRANSFORMASI HARTLEY PADA ANALISA KONTINUASI DATA GRAVITASI DAN GEOMAGNET Syamsu Rosid dan Benny Irawan, Departemen Fisika, FMIPA Universitas Indonesia, Kampus Depok-----------------------------------------------------------------------------------------------------------ANALISIS PELEMAHAN DAYA SINYAL PADA LARGE SCALE FADING DENGAN METODE LEE Kartika Sari, Sunardi, Prodi Fisika, Jurusan MIPA, FST-Unsoed, Purwokerto--------------------SINTESIS DAN MIKROSTUKTUR NANOPARTIKEL CERIUM OXIDE Ida Nursanti, Arik Aina S.N, Zaenul Muhlisin, Heri Sutanto dan Iis Nurhasanah, Laboratorium Fisika Material, Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Diponegoro, Semarang --------------------------------------------------------------------------------------PROFIL INDEK BIAS OLI MESRAN DAN OLI TOP-1 TERHADAP VARIASI JARAK TEMPUH Alex Nurwidiyanto dan Moh. Toifur, Program Magister Pendidikan Fisika Universitas Ahmad Dahlan, Kampus II, Yogyakarta -----------------------------------------------------------------------------

255-259

65.

260-265

66.

266-268

67.

269-272

68.

273-276

69.

277-279

70.

280-284

71.

285-287

   
 

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

1

Sensor Magnetik GMR, Teknologi dan Aplikasi Pengembangannya
1
1 2

Mitra Djamal, 1,2Ramli, 1,3Rahadi Wirawan, 1,4Edi Sanjaya

Jurusan Fisika, Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesa 10, Bandung 40132, Indonesia Jurusan Fisika, Universitas Negeri Padang, Jl. Prof. Hamka, Padang 25131, Indonesia 3 Prodi Fisika, FMIPA Universitas Mataram, Jl. Majapahit 62 Mataram 83125, Indonesia 4 Fisika, FST UIN Jakarta, Jl. Ir. H. Juanda 49 Jakarta, Indonesia 1 mitra@fi.itb.ac.id

Abstrak – Kebutuhan akan sensor tidak hanya pada bidang industri, namun juga merambah pada aplikasi di bidang otomotif, kesehatan, pertambangan, transportasi, dan bidang-bidang lainnya. Salah satu sensor yang banyak dikembangkan saat ini adalah sensor magnetik, yakni sensor yang mengukur besaran-besaran fisika berdasarkan perubahan medan magnet. Giant magnetoresistance (GMR) merupakan suatu material yang memiliki karakteristik magnetoresistansi yang tinggi, sifat-sifat magnetik dan elektrik yang baik, sehingga GMR sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi berbagai divais pengindera medan magnet generasi mendatang (next generation magnetic field sensing devices) seperti sensor, penyimpanan data, heads recording, dan non-volatile magnetic random access memory (MRAM). Dalam tulisan ini akan dipaparkan tentang material GMR dan pengembangannya sebagai sensor magnetik serta prospek GMR sebagai biosensor.

Kata Kunci : sensor, sensor magnetik, magnetoresistance, GMR.

I. PENDAHULUAN Kemajuan dunia industri saat ini dan masa datang yang menekankan pada peningkatan sistem otomatisasi, keamanan dan kenyamanan akan sangat bergantung pada suatu piranti yang dikenal sebagai sensor. Kebutuhan akan sensor tidak hanya pada bidang industri, namun juga merambah pada aplikasi di bidang otomotif, kesehatan, pertambangan, transportasi, dan kebutuhan untuk menghadapi berbagai permasalahan seperti bencana alam gempa bumi, tsunami, gunung meletus, serta polusi lingkungan. Penelitian dan pengembangan sensor serta sistem sensor di semua bidang menempati posisi yang sangat penting[1]. Para peneliti di lembaga riset maupun perguruan tinggi terus-menerus berusaha membuat dan mengembangkan sensor-sensor baru dan sistem sensor dengan teknologi dan metode yang berbeda-beda serta mengembangkan berbagai aplikasi sensor-sensor tersebut. Salah satu sensor yang cukup banyak dikembangkan saat ini adalah sensor magnetik, sensor yang mengukur besaranbesaran fisika berdasarkan perubahan medan magnet. Berbeda dengan sensor lainnya, sensor magnetik tidak melakukan pengukuran secara langsung sifat fisik besaran yang diukur namun melalui pendeteksian perubahan medan magnet yang diakibatkan karena keberadaan atau pergerakan suatu benda yang menjadi obyek pengukuran. Beberapa metode pembuatan sensor magnetik[2] antara lain: menggunakan efek Hall, menggunakan bahan magnetoresistif dan menggunakan metode fluxgate. Giant magnetoresistance (GMR) merupakan suatu material yang memiliki karakteristik magnetoresistansi yang tinggi, sifat-sifat magnetik dan elektrik yang baik. Berdasarkan karakteristik yang dimiliki tersebut, GMR sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi berbagai divais pengindera medan magnet generasi mendatang (next generation magnetic field sensing devices).

Dalam paper ini dipaparkan tentang karakteristik, keunggulan, teknologi pembuatan serta aplikasi pengembangan GMR sebagai sensor magnetik. II. SENSOR MAGNETIK GMR Sensor magnetik berbasis GMR (giant magnetoresistance) merupakan sensor yang bekerja berdasarkan efek perubahan resistansi yang sangat besar pada bahan logam bila berada dalam medan magnet luar. Material GMR memiliki magnetoresistance yang sangat besar sehingga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi devais pendeteksi medan magnet. Penggunaan material GMR sebagai sensor medan magnet, memiliki beberapa kelebihan dibandingkan sensor lainnya yakni: sensitivitas yang tinggi, kestabilan temperatur tinggi, konsumsi daya rendah, ukuran kecil dan harga murah, sifat magnetik dapat bervariasi dalam rentang yang sangat luas[3,4]. Pada tabel 1 ditunjukkan perbedaan sensor GMR dengan beberapa sensor medan magnetik lainnya.
TABEL 1 PERBANDINGAN KARAKTERISTIK BEBERAPA SENSOR MEDAN [5] Sensor GMR Hall SQUID Fluxgate Range H (T) 10-12-10-2 10-6-102 10-14-10-6 10-12-10-2 Sensivitas (V/T) 120 0.65 10-14 3.2 Waktu respon 1 MHz 1 MHz 1 MHz 5 kHz Konsumsi daya 10 mw 10 mw 10 mw 1w Ukuran sensor (head size) 10-100µm 10-100µm 10-100µm 10-20 mm

Selain itu, pemasangan sensor GMR yang tidak bersentuhan dengan rangkaian yang diukur, dapat mengurangi kesalahan pengukuran. A. Prinsip Kerja Prinsip dasar dari magnetoresistance (MR) adalah perubahan resistivitas material sebagai akibat dari respon terhadap keberadaan medan magnet luar. Fenomena efek

ISSN 0853-0823

2

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

GMR ini pertama kali dilaporkan oleh Baibich, dkk. (1988)[6]. Perubahan resistansi GMR sebagai akibat keberadaan magnet luar secara umum dituliskan melalui persamaan (1): R = f (B) (1) dengan R adalah resistansi, B adalah medan magnet. Efek GMR merupakan efek mekanika kuantum yang diamati dalam struktur lapisan tipis yang terdiri lapisanlapisan feromagnetik yang dipisahkan oleh lapisan nonmagnetik. Efek GMR ini berhubungan dengan kenyataan bahwa spin elektron memiliki dua nilai yang berbeda (spin up dan spin down). Ketika spin-spin ini melintasi material yang telah dimagnetisasi, salah satu jenis spin mungkin mengalami hambatan (resistance) yang berbeda daripada jenis spin lainnya. Sifat ini menunjukkan adanya hamburan bergantung spin (spin-dependent scattering). Dalam multilayer magnetik terjadi dua jenis hamburan yaitu: hamburan bergantung spin (spin-dependent scattering) dan hamburan pembalikan spin (spin flip scattering) seperti tampak pada Gambar 1.

penting dalam menyediakan keadaan akhir untuk hamburan elektron-elektron dalam pita sp. Dalam feromagnetik pita d adalah bertukar-pisah (exchange-split), sehingga rapat keadaan elektron-elektron pada tingkat energi Fermi tidak sama untuk spin up dan spin down. Peluang hamburan dalam keadaan ini sebanding dengan kerapatannya, sehingga laju hamburan bergantung spin, atau dengan kata lain hamburan berbeda untuk kedua saluran konduksi di atas. B. Struktur dan Rasio GMR Struktur GMR terdiri dari struktur sandwich, spin valve (sandwich pinned) dan multilayer. Struktur sandwich merupakan struktur dasar GMR yang terdiri dari tiga lapisan dengan susunan bahan feromagnetik/nonmagnetik/ feromagnetik (FM-NM-FM). Struktur spin valve merupakan struktur sandwich yang diberi lapisan pengunci (pinning layer), sedangkan struktur multilayer, adalah struktur dengan pengulangan lapisan feromagnetik/non magnetik (FM/NM)n dengan indeks n adalah jumlah pengulangan seperti terlihat pada Gambar 2.

Gambar 1. Jenis hamburan spin dalam multilayer magnetik[7]

Hamburan bergantung spin menyebabkan timbulnya GMR, sedangkan hamburan pembalikan spin merusak timbulnya GMR. Kedua jenis hamburan ini dibedakan berdasarkan perubahan arah perambatan elektron. Kajian fisika dari GMR berdasarkan pada pengaruh spin terhadap sifat konduksi dan sifat penerobosan (tunneling) elektron-elektron dalam logam feromagnetik. Perbedaan sifat konduksi mayoritas dan minoritas dari spin elektron dalam logam feromagnetik pertama kali diamati oleh Mott[8]. Secara kualitatif, GMR dapat dijelaskan dengan menggunakan model Mott ini. Ada dua hal yang diusulkan oleh Mott, yakni:(1) konduktivitas listrik dalam logam dapat diuraikan dalam hubungannya dengan dua saluran konduksi bebas; yang pertama berhubungan dengan elektron dengan spin up dan yang lain berhubungan dengan elektron dengan spin down dan (2) di dalam logam feromagnetik, laju hamburan dari spin up dan spin down elektron-elektron sangat berbeda. Menurut Mott arus listrik semata-mata dibawa oleh elektron-elektron dari pita valensi sp dengan massa efektif rendah dan mobilitas tinggi. Pita valensi d memainkan peran

Gambar 2. Struktur lapisan tipis GMR: (a) sandwich, (b) spin valve, dan (c) multilayer.

Ketiga struktur di atas memiliki dua geometri utama dari efek GMR, yaitu geometri arus tegak lurus bidang (CPP) dan geometri arus sejajar bidang (CIP), seperti tampak pada Gambar 3.

Gambar 3. Geometri GMR; (a) CPP), (b) CIP

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

3

Pada Gambar 4 dideskripsikan tentang hamburan pada lapisan multilayer ferromagnetik dimana hamburan kuat terjadi untuk elektron dengan spin antiparalel terhadap arah magnetisasi, sedangkan hamburan lemah terjadi untuk elektron dengan spin paralel terhadap arah magnetisasi. Anggapan ini menggambarkan asimetri dalam rapat keadaan pada tingkat Fermi yang bersesuaian dengan argumentasi Mott yang kedua.

menempel pada substrat dan membentuk lapisan tipis di substrat. Ilustrasinya diperlihatkan dalam Gambar 5.

Gambar 5. Ilustrasi proses sputtering

Beberapa sistem sputtering yang dapat digunakan untuk deposisi lapisan tipis meliputi; dioda dc, dioda rf, magnetron, dan ion-beam sputtering[9]. Konstruksi dasar sistem sputtering dideskripsikan pada Gambar 6.

Gambar 4. Model rangkaian resistor untuk magnetisasi paralel dan antiparalel pada lapisan GMR[7]

Material GMR memperlihatkan bahwa resistansinya rendah ketika arah magnetisasi dalam lapisan-lapisan feromagnetik dalam arah paralel, namun bila arah magnetisasi dalam lapisan feromagnetik antiparalel, maka resistansinya menjadi besar. Hal ini menunjukkan bahwa momen magnetik elektron internal yang terkait dengan spin memainkan dalam transport muatan listrik. Dalam multilayer magnetik yang terdiri dari dua lapisan feromagnetik dengan lapisan pemisah non magnetik, GMR memiliki rasio magnetoresistance yang amat besar. Secara umum, besarnya rasio magnetoresistance diungkapkan melalui persamaan:

(a). Dioda dc sputtering

(b). Dioda rf sputtering

∆R R ↑↓ − R ↑↑ = R R ↑↑
dengan

(2)

R ↑↓ adalah resistansi material GMR ketikan ↑↑ konfigurasi magnetisasi anti parallel, dan R adalah

(c). Magnetron sputtering

(d). Ion beam sputtering

resistansi material GMR ketika konfigurasi magnetisasi parallel. C. Teknologi Penumbuhan GMR Teknik penumbuhan lapisan tipis GMR dapat dilakukan dengan metode Opposed Target Magnetron Sputtering (OTMS). Ketika permukaan benda padat (target sputtering) ditembaki dengan partikel-partikel berenergi, seperti ion-ion Ar+ yang dipercepat, maka atom-atom permukaan dari target itu akan terpencar ke arah berlawanan dengan arah partikel datang, yang disebabkan oleh tumbukkan antara atom-atom permukaan target dengan ion-ion Ar+ tersebut. Peristiwa ini disebut dengan sputtering. Dengan energi termal yang cukup, atom-atom permukaan yang terlepas ini akan

Gambar 6. Sistem Sputtering

Metode opposed target sputtering (OTS) dikembangkan tahun 1980-an[10], yang didesain khusus untuk penumbuhan lapisan tipis material magnetik dengan laju sputtering yang tinggi dan pada suhu rendah[11]. Keuntungan metode OTS adalah mampu men-sputter hampir semua jenis material termasuk material ferromagnetik dengan laju yang tinggi tanpa menaikkan temperatur substrat. Untuk meningkatkan laju deposisi dapat dilakukan dengan penurunan tekanan gas sputtering serendah mungkin, dan membuat jarak substrat dan sumber sputtering sedekat mungkin. Pada Laboratorium Fisika Material Elektronik, Departemen Fisika ITB, OTS dikembangkan menjadi sistem Opposed Target Magnetron Sputtering (OTMS) dengan menggunakan magnet tak seimbang[11]. Gambar 7.

ISSN 0853-0823

4

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

menunjukkan foto reaktor dc-OTMS yang telah dikembangkan untuk penumbuhan lapisan tipis GMR.

Gambar7. Foto reaktor dc-OTMS[11]

Dalam Gambar 8. ditampilkan hasil citra SEM permukaan dan penampang lapisan tipis NiCoFe/Cu/NiCoFe/Si dengan waktu penumbuhan 5 dan 10 menit.
Citra SEM Permukaan Citra SEM Penampang

Gambar 10. Hasil EDX dari lapisan tipis NiCoFe/Cu/NiCoFe/Si dengan waktu penumbuhan 10 menit[12].

III. APLIKASI PENGEMBANGAN GMR Pengembangan penelitian GMR yang dilakukan di Laboratorium Fisika Material Elektronik dan Laboratorium Instrumentasi ITB antara lain meliputi penelitian pada pengembangan material GMR dan aplikasi GMR sebagai sensor pendeteksi medan magnetik. Berikut ini beberapa penelitian yang dikembangkan antara lain: A. Pengukuran Medan Wheatstone) Magnetik (Metode Jembatan

Dalam aplikasi sensor medan magnetik, sensor yang terintegrasi dalam jembatan Wheatstone dimasukkan kedalam kumparan solenoida yang merupakan sumber medan magnetik. Pendeteksian medan magnet didasarkan pada perubahan tegangan keluaran jembatan Wheatstone. Konfigurasi jembatan Wheatstone ditunjukkan Gambar 11.

Gambar 8. Citra SEM permukaan dan penampang dari lapisan tipis NiCoFe/Cu/NiCoFe/Si dengan perbesaran 20.000 kali[12].

Untuk hasil EDX lapisan tipis NiCoFe/Cu/NiCoFe/Si yang menunjukkan komposisi atomik Ni, Co dan Fe dengan waktu penumbuhan 5 menit dan 10 menit ditunjukkan dalam Gambar 9 dan Gambar 10.

Gambar 11. (a) Konfigurasi Jembatan Wheatstone, (b) Hasil pengukuran dalam konfigurasi jembatan Wheatstone[13].

Dalam penelitian ini, karakteristik selenoida yang digunakan: panjang selenoida 240 mm, diameter 41.6 mm, jumlah lilitan kawat sekitar 200 buah, dengan diameter kawat sekitar 0.4 mm. Hasil kalibrasi menunjukkan hubungan antara medan magnet aplikasi yang dialami sampel terhadap arus induksi (I) sebagai fungsi linier berikut: H(I) = 1.9568I - 0.043
Gambar 9. Hasil EDX dari lapisan tipis NiCoFe/Cu/NiCoFe/Si dengan waktu penumbuhan 5 menit[12].

(3)

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

5

dimana induksi magnetik H dalam µT dan arus induksi I dalam mA. Hasil pengukuran karaktristik sensor GMR dengan ketebalan lapisan magnetik 10 nm untuk ketebalan lapisan non magnetik 2 nm dan 6 nm ditunjukkan pada Gambar 11(b). Pengukuran medan magnetik menggunakan metode jembatan wheatstone juga dikembangkan pada aplikasi pengukuran medan magnetik pada larutan yang mengandung besi (Fe2+), dengan menggunakan lapisan tipis GMR NiCoFe/Cu/NiCoFe sebagai sensor pendeteksi medan magnetik seperti tampak pada Gambar 12.

Hasil pengukuran arus ditunjukkan pada Gambar 15. Medan yang terdeteksi sandwich GMR untuk arus dibawah 200 mA cukup kecil (akibat adanya perbedaan jarak antara arus dan permukaan sandwich). Oleh karena itu rentang kerja sensor diambil di atas 200 mA. Grafik keluaran sensor terhadap arus yang dilewatkan pada kawat untuk daerah kerja di atas 200 mA. Kesalahan absolut maksimum dan kesalahan relatif maksimum pengujian adalah masing-masing 1.65 mV dan 5.77 % pada arus 300 mA.

(a)

(b)

Gambar 12. Seting peralatan sensor GMR untuk mendeteksi larutan yang mengandung bahan magnetik Fe+2 [14]

Medan magnetik pada larutan dideteksi melalui pengukuran tegangan keluaran GMR. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa tegangan output sensor GMR sebanding dengan konsentrasi molar larutan pada range 0,01-0,4 M[14] seperti tampak pada Gambar 13.

Gambar 15. Keluaran sensor terhadap arus yang dilewatkan pada kawat[15].

C. Pengukuran Putaran Karakteristik sensor GMR yang peka terhadap adanya medan magnet eksternal dapat dimanfaatkan untuk menghitung pulsa yang ditimbulkan oleh medan magnet tetap yang ditempelkan pada suatu roda atau motor, sehingga dapat diaplikasikan sebagai suatu sensor putaran, seperti tampak pada Gambar 16.

Gambar 13. Hubungan antara tegangan keluaran GMR dengan molaritas larutan FeCl2[14].

B. Pengukuran Arus Dalam aplikasi sebagai sensor arus, film tipis sandwich GMR diletakkan diatas kawat yang dialiri arus, seperti tampak pada Gambar 14.
Gambar 16. Setting sensor GMR untuk sensor putaran[16].

(a)

(b)

Gambar 14. (a) Posisi film tipis sandwich GMR sebagai sensor arus, (b) Foto set up peralatan pengukuran arus[15].

Sensor magnet GMR mendeteksi putaran ketika magnet tetap yang melekat pada piringan roda bergerak menjauh dan mendekati sensor, akibatnya akan timbul pulsa-pulsa dari rangkaian sensor. Pulsa-pulsa ini kemudian dihitung dengan menggunakan pencacah mikrokontroller, dan ditampilkan langsung pada displai seven segment. Hasil pengukuran sensor putaran ini diperlihatkan dalam Gambar 17, dimana diperoleh hubungan yang linear antara tegangan motor dengan banyaknya putaran/perdetik motor yang tercacah.

ISSN 0853-0823

6

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Gambar 17. Tegangan keluaran motor terhadap putaran/detik[16].

D. Pengembangan material GMR berbasis material organik (OMAR) Dalam struktur sandwich GMR yang telah dikembangkan digunakan lapisan pemisah (non ferromagnetik) berbasis material anorganik. Pengembangan penelitian material GMR yang dilakukan saat ini adalah pengembangan material sensor GMR baru berbasis material organik (OMAR). Pada awalnya, OMAR ditemukan dalam divais sandwich polyfluorene (PFO) oleh Francis, dkk [17]. Kurva rasio magnetoresistance untuk tegangan yang berbeda-beda yang mereka peroleh diperlihatkan dalam Gambar 18. Mereka memperoleh rasio magnetoresistance maksimum 13,5 %.

Selain PFO, material organik seperti polimer π - conjugated dan semikonduktor organik juga memperlihatkan efek magnetoresistance, yang mana telah diperoleh lebih dari 10% rasio GMR pada suhu ruang dan pada medan magnet rendah [17,18]. Penemuan ini membuka jalan pada bidang baru yang menjanjikan yang dinamakan organic spintronics. Dalam organic spintronic digunakan material organik untuk mengontrol atau sebagai perantara sebuah sinyal spinpolarized [19]. Terkait dengan material sensor GMR baru ini, penelitian yang dilakukan di Laboratorium Fisika Material Elektronik ITB telah berhasil menumbuhkan struktur sandwich NiCoFe/Alq3/NiCoFe dengan metode dc-Opposed Target Magnetron Sputtering (dc-OTMS) di atas substrat Si (100). Pembuatan target NiCoFe dilakukan dengan reaksi padatan dengan perbandingan molar Ni:Co:Fe = 60:30:10. Nilai rasio magnetoresistance maksimum yang diperoleh sekitar 35,5% pada suhu ruang dengan lama penumbuhan 15 menit[20]. Kurva rasio magnetoresistansi dari lapisan tipis NiCoFe/Alq3/NiCoFe ditunjukkan dalam Gambar 19.

Gambar 19. Kurva rasio GMR sandwich NiCoFe/Alq3/NiCoFe pada suhu kamar dengan lama penumbuhan: (a) 10 menit (b) 15 menit, dan (c) 20 menit[20].

IV. TREND PENGEMBANGAN GMR KE DEPAN GMR memiliki potensi untuk dikembangkan ke arah biosensor, dan pengembangannya diharapkan dapat memberikan implikasi yang luas dalam pengobatan, diagnosa klinis untuk perawatan, pengembangan obat farmasi, dan penelitian genomik dan proteomika. Biosensor memanfaatkan medan magnet untuk pengikatan partikel-partikel magnetik biomolekul target seperti tampak pada Gambar 20.

Gambar 18. Kurva magnetoresistance yang diukur pada suhu ruang yang diperoleh oleh Francis, dkk. Inset: Resistansi divais sebagai fungsi tegangan [17].

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

7

lebih sensitif, portabel dan dapat memberikan pembacaan elektronik sepenuhnya[23]. Selain itu, sensor GMR murah dan fabrikasinya saat ini kompatibel dengan teknologi VLSI (Very Large Scale Integration), sehingga sensor GMR dapat dengan mudah diintegrasikan dengan rangkaian elektronik dan mikrofluida untuk mendeteksi banyak analit yang berbeda pada sebuah chip tunggal. Salah satu contoh penerapan biosensor GMR adalah pada pendeteksian DNA. Pada Gambar 23 diilustrasikan langkah-langkah pendeteksian DNA oleh biosensor.
Gambar 20. Skema pendeteksian biomolekul secara magnetik pada biosensor.

Pada Gambar 21 diilustrasikan proses penggabungan struktur GMR dalam penginderaan bakteri oleh Millen [21]. Modifikasi area penginderaan GMR dilakukan untuk memungkinkan pengikatan antibodi. Ketika struktur GMR terkena larutan sampel yang mengandung antigen sasaran, terbentuk ikatan kompleks antara antigen target dan antibodi. Hal ini diikuti dengan penambahan lapisan antibodi-partikel magnetik yang kemudian dilapisi antigen target hingga membentuk lapisan seperti struktur sandwich.

Gambar 21. Penginderaan bakteri menggunakan biosensor GMR[21].

Untuk mendeteksi lapisan partikel magnetik pada struktur permukaan GMR, medan magnetik luar diaplikasikan dalam arah sumbu-z, seperti dilukiskan pada Gambar 22[22].

Gambar 23. Prinsip biosensor GMR: (a) imobilisasi probe DNA; (b) hibridisasi DNA dari analit (c) pengikatan penanda magnetik dan deteksi medan oleh biosensor GMR [23].

V. KESIMPULAN GMR memiliki potensi sebagai pengindera medan magnet yang cukup potensial, hal ini didasarkan pada karakteristik yang dimiliki yaitu rasio magnetoresistansi yang tinggi, sifat-sifat magnetik dan elektrik yang baik. Teknologi nano memungkinkan GMR dibuat dalam ukuran sekecil mungkin, kompak, dengan biaya produksi yang lebih murah. Potensi pengembangan GMR ke depan sebagai biosensor sangat potensial terutama untuk instrumen biomedis.

PUSTAKA
Gambar 22. Pendeteksian partikel magnetik pada biosensor GMR[22] .

Biosensor GMR mendeteksi penyimpangan medan dari tag magnetik untuk menyimpulkan banyaknya analit yang ditangkap. Lapisan batas partikel magnetik yang terekspose oleh medan magnet akan menghasilkan induksi magnetik di arah-x. Karenanya struktur GMR hanya mendeteksi medan magnet dalam arah-x, medan magnet eksternal dalam arah-z tidak memberikan pengaruh pada pendeteksian. Hambatan sensor GMR akan berubah bila medan magnet dikenakan pada sensor, sehingga biomolekul yang dilabeli secara magnetis dapat menghasilkan sinyal. Jika dibandingkan dengan pendeteksi optik yang saat ini banyak digunakan dalam biomedis, keunggulan sensor GMR adalah

[1]

[2] [3] [4] [5]

[6]

M. Djamal, Sensor dan Sistem Sensor: State of The Art, Kontribusi dan Perspektif Pengembangannya di Masa Depan, Bandung 2010. J. Fraden, Handbook of Modern Sensor, New York, SpringerVerlag New York Inc, 1996. S. Tumanski, Thin Film Magnetoresistive Sensors, IoP Publishing, London, 2001. NVE Corporation, Application Notes, www.nve.com, 2007. M. Han, D. F. Liang, L. J. Deng, Sensors development using its unusual properties of Fe/Co-based amorphous soft magnetic wire, Journal of Materials Science, 40, 5573-5580, 2005. M. N. Baibich, et. al, “Giant Magnetoresistance of (001) Fe/(001) Cr Magnetic Superlattices”, J, Phys. Rev. Lett. 68 pp. 2472 – 2475, 1998.

ISSN 0853-0823

8 [7] J. Mathon, Phenomenology Theory of Giant Magnetoresistance, dalam Spin Electronics, ed. By M. Ziese and Thornton, M.J., Springer-Verlag, Berlin, 2001. A. Fert, A. Barthelemy, and F. Petroff, “Spin Transport in Magnetic Multilayers and Tunnel Jnctions”, dalam Contemprorary Concepts of Condensed Matter Science, Nanomagnetism: Ultrathin films, multilayers and nanostructures, Elsevier B.V., Amsterdam, 2006. K. Wasa, M. Kitabatake, H. Adachi, Thin Film Materials Technology, Sputtering of Compound Materials, William Andrew. Inc, NY, 2004. M. Naoe, Y. Hoshi, and S. Yamanaka, Facing targets type of sputtering method for deposition of magnetic metal films at low temperature and high rate, IEEE Trans.Magn., MAG-18, 646648, 1980. T. Saragi, Pengembangan Reaktor Opposed-Target Magnetron Sputtering (OTMS) untuk Penumbuhan Lapisan Tipis Giant Magnetoresistance (GMR), Disertasi Program Doktor Departemen Fisika, Institut Teknologi Bandung, 2005. M. Djamal, Pengembangan Material Giant Magnetoresistance (GMR) dan Aplikasinya untuk Sensor Getaran, Laporan Penelitian Program Riset KK-ITB, November 2008. M. Djamal, Ramli, Giant Magnetoresistance, dalam Kapita Selekta Fisika Teoritik Energi Tinggi dan Instrumentasi, Penerbit ITB Bandung, 2009. Ramli, A. H. Muhtadi, M. F. Sahdan, Freddy Haryanto, Khairurrijal and Mitra Djamal, The Preliminary Study of Giant Magnetoresistance Sensor for Detection of Oxygen in Human Blood, Proceeding 4rd Asian Physic Symposium (APS) 2010, Bandung, 12 – 13 Oktober 2010. M. Djamal, R.N. Setiadi, Current Sensor Instrument Using GMR Magnetic Sensor, Proceedings on International Conference on Instrumentation, Communication and Information Technology (ICICI 2005), Bandung, Indonesia, 3-5 Agustus, 2005. [16]

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY M. Djamal, R.N. Setiadi, Rotation Speed Measurement Using GMR Magnetic Sensor, Proceedings on International Conference on Instrumentation, Communication and Information Technology (ICICI 2005), Bandung, Indonesia, 3-5 Agustus, 2005. T.L. Francis, O. Mermer, G. Veeraraghavan, M. Wohlgenannt, Large magnetoresistance at room temperature in semiconducting polymer sandwich devices, New J. Phys. 6, p.185, 2004. J. Kalinowski, M. Cocchi, D. Virgili, P. Di Marco, and V. Fattori, Magnetic field effects on emission and current in alq3based electroluminescent diodes, Chem. Phys. Lett. 380 (2003) p.710. Dediu V, Murgia M, Matacotta F C, Taliani C and Barbanera S, Room temperature spin polarized injection in organic semiconductors, Solid State Commun. 122 181 (2002). M. Djamal, Ramli, R. Wirawan, Widyaningrum, Khairurrijal, Pengembangan Material Sensor Giant Magnetoresistance Berbasis Material Organik, SIBF 22 Desember 2010, ITB Bandung. Millen RL, Kawaguchi T, Granger MC, Porter MD, Giant Magnetoresistive Sensors and Superparamagnetic Nanoparticles: A Chip-Scale Detection Strategy for Immunosorbent Assays”. Anal. Chem. 77, 6581–6587, 2005. J.C. Rife, M.M. Miller, P.E. Sheehan, C.R. Tamanaha, M. Tondra and L.J. Whitman, Design and performance of GMR sensors for the detection of magnetic microbeads in biosensors, Sens. Actuator A:Physical 107, 209-218, 2003. J. Schotter, P.B. Kamp, A. Becker, A. Puhler, G. Reiss and H. Brückl, Comparison of a prototype magnetoresistive biosensor to standard fluorescent DNA detection, Biosensors and Bioelectronics 19 (10), 1149 -1156, 2004.

[8]

[17]

[9]

[18]

[10]

[19]

[11]

[20]

[12]

[21]

[13]

[22]

[14]

[23]

[15]

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

9

Spectroscopic Investigation of The Optical Properties of Rare Earth Doped Phosphate and Tellurite Glasses
M. R. SAHAR, M. S. ROHANI, R. ARIFFIN and S. K. GHOSHAL
Advanced Optical Material Research Group, Department of Physics, Faculty of Science, Universiti Teknologi Malaysia, 81310 UTM Skudai, Johor Email: mrahim057@gmail.com

Abstract-Improving the up-conversion efficiency is the key issue in rare earth doped glasses. The quantum efficiency, optical gap, radiative transition rate and lifetimes of excited states are greatly influenced by the optical properties of the host material, ligand field, multi-phonon relaxation processes, impurities, temperature and concentration of rare earth ions. This presentation gives a panoramic view of the state of art of investigating experimentally the optical properties of rare earth doped phosphate and tellurite glasses with different compositions and preparation techniques that our group has been carried out in the recent past. We have prepared these glasses by using two different methods melt quenching and sol-gel, however in the present paper we only report on the former method. Series of erbium-doped magnesium-phosphate glasses based on (P2O5)0.5–(MgO)0.5-x–(Er2O3 / Nd2O3)x, ytterbium-doped sodium-tellurite glasses based on (80– x)TeO2 –20Na2O-(x)Yb2O3 (x=0.0-2.0 mol%), samarium-doped glasses having composition of (P2O5)50-x–(MgO) 50-(Sm2O3) x (0≤x≤4 mol%), and (50x)P2O5-50MgO-xSm2O3 (x= 0.0-3.0 mol%) have been studies. In addition, ytterbium-doped sodium-tellurite glasses having composition of (80– x)TeO2–20Na2O-(x)Yb2O3 (x=0.0-2.0 mol%) is also presented. The amorphous nature of all these samples is confirmed using the X-ray diffraction technique. The optical properties of the glass have been measured employing Infrared, FTIR and UV-Visible spectroscopy. The vibrational frequencies are attributed predominately due to the OH- band, P=O, P-OP, and P-O- stretching vibrations respectively. Furthermore, it is found that the absorption cut-off wavelength very much depending on the MgO contents and the integration mode area of absorption band is strongly affected by the phosphate contents. Our systematic spectral analysis revealed that the substitution of P2O5 by a small amount of Sm2O3 has negligible effect on the absorption band and hence on the glass structure. It is further observed that MgO does not affect the P-O bond characters. The optical energy gap (Eg ) and the Urbach energy (∆E) has been estimated from the absorption edge studies. It is found that Eg depend on the concentration of the non bridging oxygen in the glass network. Meanwhile, ∆E is found to be depending on the Yb2O3 concentration. Interestingly, samarium doped magnesium-phosphate glasses have been found to change from colorless to light yellow on increasing the Sm2O3 content. The transmission spectra of ytterbium-doped sodiumtellurite glasses revealed that the predominant absorption peaks are due to the vibration of Te-O-Te and Yb3+ ions. The main results on vibrational frequencies, optical gap, Urbach energy and absorption edge has been found to be quantitatively consistent with other observations. Our detailed systematic spectroscopic studies provide useful information for further development of up-conversion lasers. Keywords: Phosphate glass, Tellurite glass, Melt-quenching, Sol-gel, Optical absorption, UV-VIS Spectroscopy, X-ray diffraction, IR-spectroscopy, Optical properties, Cut-off wavelength, Urbach energy. properties of interest for specific technological applications [3, 4]. It is also an excellent material as host material due to their good chemical durability, ion exchange ability, high gain coefficient, wide bandwidth capability and low up conversion emission. Compared to silicates phosphate sol-gels studies are very few in the literature. The solution chemistry of phosphate materials is very different from silicate, which, consequently, continues to make the phosphate systems much more complex than the silicates [5]. Nowadays, ytterbium (Yb3+) ion is regarded as the main dopant for the application of high-power diode-pumped laser systems. Since there are only two manifolds in the Yb3+ energy level scheme namely the 2F7/2 ground state and 2F5/2 excitation state, it is commonly believed that concentration quenching and multi-phonon relaxation should not affect the excitation wavelength [6]. However, metaphosphate glasses containing rare-earth ions have potentially important applications in optical communications and laser technologies. Glasses of the R(PO3)3 formulas (where R represents one of the lanthanide ions) have been reported to exhibit the largest magnetic contributions to the low temperature specific heats

I.

INTRODUCTION In the new millennium, there has been a renaissance in the study of rare-earth doped glass materials for photonic applications, e.g. phosphors, display monitors, X-ray imaging, scintillators, lasers, up-conversion and amplifiers for fiber-optic communications [1–10]. There are many candidates in the family viz., borate, chalcogenide, fluoride, germinate, oxynitride, silicate, phosphate, sulphide, zirconate, and tellurite glasses. Rare-earth ions, especially erbium, ytterbium and samarium, have played an important role in the development of broadband fiber amplifiers in optical communication technology during the past few decades [5-7]. Phosphate glasses has attracted much attention in recent years due to their unique high thermal expansion, low melting temperature, high transmission in the UV region and radiative properties [1, 2]. The main advantage of a phosphate glass over other oxide glasses (e.g. silicate and borate) is its ability to accommodate high concentration of transition metal ions and remain amorphous. In addition, phosphate glasses enjoy a range of compositional and structural possibilities (ultra, meta, pyro, and ortho) that facilitate tailoring chemical and physical

ISSN 0853-0823

10

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

known in oxide glasses. Even though there have been studies of phosphate glasses doped with the lanthanide ions, there have been limited studies of phosphate glasses codoped with the lanthanide ions [4]. They find a place in the phosphor and luminescence materials applications, cathode ray tube phosphors and scintillate phosphors, because of their unique spectroscopic properties [1, 2, 4]. Recently, phosphate and tellurite glasses have been exploited for various applications in optoelectronic devices, fibre lasers, optical amplifiers, sensing and laser technologies [1-2]. These glasses also exhibit reasonable mechanical properties although may show some anomalous characteristic due to the excessive amount of the modifier [4]. The study on the effect of rare earth doped phosphate glasses on the optical properties has also been done by many workers especially in the ternary systems [5-6]. Our study provides essential information on the band structure and the energy gap in the non-crystalline material. While the absorption in the lower energy part gives information about the atomic vibrations, the higher energy part carries information on the electronic state of the atom. Tellurite glasses are considered as one of the best hosts for doping with rare earth elements. It is a good candidate for practical laser applications because of low crystallization rate, excellent transparency in a wide spectral range (3–18µm), good mechanical stability and chemical durability [7-9]. The optical properties of tellurite glasses doped with rare earth have been investigated by several groups [9-11]. Tellurite glasses doped with Nd3+ and Yb3+ are important for possible applications as luminescent solar concentrator [11]. TeO2-based glasses were most studied in the last 10 years, considering the scientific and technological interest due to their high refractive indices, low melting temperatures, high dielectric constants and good infrared transmissions [12]. Topically important rare earth doped tellurite and phosphate glasses in general are intensively studied, as they are promising for widespread potential applications due to excellent third-order nonlinear optical performance. Recently, light energy up-conversion property of such nonlinear optical glasses received special attention because of their prospective use in biological labeling and solar near infrared concentration for photovoltaic exploitation [3-9]. Meanwhile, erbium doped tellurite glass containing quantum dots or metal nanoparticles (NPs) stimulate intense interest in functionalizing tellurite glass by NPs. In that respect, NPs dispersed up-converting glasses seem to be the ideal candidates in terms of both efficiency and large area coverage provided the absorption cross-section be enhanced. To achieve enhanced optical characteristics in these glasses, the concentration of rare-earth ions should be low enough to avoid the quenching effect. Use of two or more rare-earth ions together and energy transfer between them or doping metallic NPs with rare-earth ions etc. has been found a successful way to enhance luminescence. Therefore, glasses containing metallic NPs doped with low concentration of RE ions are of particular research interest to us. The characterizations of the nonlinear optical and thermo-optical properties of these glasses are very important for the optimization and the nanophotonic applications. In spite of some experiments on these glasses, the fundamental understanding on the unusual nonlinear optical properties is

still lacking [7-15]. Interestingly, the quantum effect due to metal NPs around the luminescent ion that possibly enhances the nonlinear optical performance requires further systematic experimental theoretical investigation. We will focus on issues those are relevant to the fabrication of tellurite glass-based nanophotonic devices and photovoltaics. So far, there is no systematic theory or model and not too many experiments exists to explain the influence of embedded NPs in the erbium doped tellurite glasses. Lanthanide doped crystal and glasses differ in their physical properties as well, which influences the manufacturing. Glasses can be produced much more inexpensively and offer more flexibility in the size and shape. They can be drawn into fibers that microns in diameter and meters in length, or made into bulk rods that are centimeters in diameter and meters long. Glasses also have larger flexibility in their physical properties through selection of the base material [13]. Analytical method using X-rays are some of the most powerful techniques for materials characterization. When X-rays encounter matter, a variety of processes may take place and each of these processes can be utilized to study particular properties of material [14]. Infrared absorption spectra of glasses can give valuable information about atomic configurations in glasses even though quantitative analysis is rarely possible. Experimental as well as theoretical investigations of vibrational spectra for vitreous solids have been undertaken [15]. In spite of vast literature, the detailed mechanism behind the origin of linear and nonlinear optical properties is far from being understood. In view of the topical importance of these glasses we are tempted to investigate the optical properties of samarium doped magnesium-phosphate glasses, phosphate glass co-doped with the lanthanide ions by using Infrared and UV-Visible spectroscopy following two different sample preparation roots namely, melt quenching and sol-gel respectively. II. METHODOLOGY A. Experimental A.1 Glass Preparation The glass samples have been prepared from starting material constituents of P2O5, MgO, Er2O3 and Nd2O3 by melt-quenching technique with constants phosphate content at 50 mol% and by changing the MgO content as the Er2O3 and Nd2O3 change. Four samples co-doped with constant of the Er2O3 contents at 2.5 mol% and 0.25, 0.50, 0.75 and 1 mol% of Nd2O3 has been obtained. In addition, another three samples co-doped with constant of Nd2O3 contents at 0.50 mol% and 1.50, 2.00 and 3.00 mol% respectively has been synthesized. An appropriate mixture of 20 gm. batch is place in a silica crucible. The mixture was then mixed to become homogenous by using milling machine at about 30 minutes. The mixture was heated in an electrical furnace at 1100ºC and then kept inside about 1 hour for the glass to melt. The melts were quenched into a steel plate mould before transferred to another furnace at 450 ºC for 3 hours and then the sample was allowed to cool down to room temperature. It is needless to mention that all our samples have been prepared with starting materials from Aldrich products with 99.99% purity. Series of samarium-doped magnesium phosphate glasses, with composition of [P2O5]50-x-[MgO]50-[Sm2O3]x with

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

11

0≤x≤4 mol% has been prepared from chemically pure raw materials by employing the melt quenching technique. Analytical grade of P2O5 MgO and Sm2O3 (purity 99.99%) were used as starting materials. The corresponding weights of the starting materials were mixed thoroughly in an alumina crucible and then placed in air before heated inside the electric furnace at temperature 900oC-1300oC depending on composition. Higher temperature was needed for higher Sm2O3 content. The melts was then poured on a brass plates before being annealed at 300oC for 3 hours and then allowed to cool down to room temperature. The raw materials of TeO2-Na2O- Yb2O3 glass were obtained in the powder form. All samples were synthesized using the conventional melt-quenching technique. An appropriate amount of TeO2, Na2O and Yb2O3 powder were mixed properly in a silica crucible to the corresponding composition. 10 gm batches of mixture were heated at 900 ۫C for about 1 hour. After the mixture was completely melted, it was quenched on a mould of stainless steel and then allowed to anneal at 300 ۫C for 2 hours. Finally, the furnace was switched off to allow the sample to cool down to the ambient temperature to remove thermal strains. All samples obtained are transparent and have good optical quality. The gel with composition of P2O5-Al2O3-Na2O glass was prepared by dissolving aluminum isopropoxide in isopropanol at about 150ºC for 2 hours. Then, a mixture of HNO3 and NaNO3 in water is added to the alcoholic solution of aluminum isopropoxide and stirred again at 150ºC until a clear solution is attained before another alcoholic solution of H3PO4 (obtain by dissolving H3PO4 in isopropanol) is added. To the resulting solution, YbCl3 solution is added and was stirred together under reflux at the same temperature for 3 hours, where a completely clear and stable solution formed. The gel was obtained after all the solvent and water evaporated. The formed gels were then left in a furnace at 150ºC for 72 hours so that the xerogel powders were formed. The powder as finally melted in air at temperature around 950ºC. The melts was quickly poured on a stainless steel plate to obtain the colorless glass. A.2. X-Ray Diffraction The X-ray diffraction studies of all the samples (in powder form) has been carried out using an automatic Phillips made X ray powder diffractometer to verify the amorphosity of the samples. The running voltage of 30 kV and current 20 mA has been employed. A radiation source of Cu-Kα (λ=1.5418Å) is used with a step scan of 0.52. The degree of crystallinity of the samples was also determined by using a Siemens made diffractometer D5000 model, equipped with diffraction software analysis. Diffraction patterns were collected in the 2θ range from 10 to 80o, in steps of 0.04o and 4s counting time per step. Meanwhile, the actual glass composition is determined using Energy Dispersive X-ray microanalysis (EDX). A.3. Infrared Spectral Studies The infrared absorption spectra of the glass samples were recorded using a Perkin-Elmer double beam spectrophotometer in conjunction with the KBr disc technique, over the spectral range of 4000–450 cm−1 at room

temperature. Glass powdered samples of 4mg were thoroughly mixed and grounded with 200 mg KBr, after which the mixtures were pressed at 10 tonnes/cm2 for 5 min into a pellet with a surface area of 1 cm2. The IR spectra were recorded in the spectral range 4000-400 cm-1 using Perkin Elmer Fourier Transform Infra Red (FTIR) spectrophotometer. The UV-Vis spectroscopy is recorded to determine the absorption characteristic at 200–700 nm. A.4. Optical Absorption The optical absorption spectra are recorded at room temperature. These curves are traced for highly polished glass samples of ~3mm thickness using a Perkin-Elmer spectrophotometer in the wavelength range of 200 - 800nm. The optical spectra of the sample are recorded using the UV-Vis spectroscopy in the region of 300 – 700 nm at normal incidence. The transmission cut-off spectra in the visible and ultraviolet region were recorded at room temperature. These curves have been traced for highly polished glass samples of ~3mm thickness using a PerkinElmer spectrophotometer in the wavelength range of 200800 nm. B. Theoretical The optical absorption coefficient α(ω) for each photon energy was calculated by using the relation

where A is the absorbance and d is the thickness of the sample. In amorphous materials the absorption due to the electronic transition within the band in relation with the optical band gap is described by Mott and Davis [16] equation given by, where α(ω) is the absorption coefficient, ħω the photon energy (Eg ) the optical band gap and n is an index which can have any values between ½ and 3 depending on the nature of interband electronic transition. It has been found out that for most amorphous material n is equal to 2 (indirect band gap) will gives reasonable fit to Equation (2) [17]. This means that at these allowed indirect transition, the interactions of photons with lattice vibrations will take place. The value of Eg can be obtained by extrapolating the linear part of the (α(ω) ħω)½ versus photon energy, ħω graph to the x-axis. The absorption coefficient, α(ω) in the optical region near the absorption edge, at certain temperature, always obey the Urbach equation [18] can be written as, where ∆E is called Urbach energy that can be interpreted as the width of the localized state in the normally forbidden gap. This energy can be obtained by the inverse of the slope lnα(ω) against photon energy (ħω). C. Result and Discussion The compositions and the XRD patterns of the Er3+/ Nd3+ co-doped magnesium phosphate glasses obtained are depicted in Table 1 and Figure 1 respectively. The

 

 

 

 

 

   

ISSN 0853-0823

12

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

amorphous nature of all the glass samples is confirmed by a broad halo as that is a characteristic of amorphous structure [19].
TABLE 1. THE COMPOSITIONS (MOL %) OF THE MAGNESIUM

Figure 2. FTIR spectra for the glass samples. This problem can also be avoided by preparing the samples in high vacuum or in the environment of nitrogen gas. The occurrence of strong absorption bands around 1312 cm-1-1319 cm-1 can be assigned to the stretching vibration of P=O [20, 21] that appear in the branching group of Q3 tetrahedral site exist in most phosphate glass system. However, these bands shifted towards a lower wave number as the amount of Er3+/Nd3+ content increase indicating that there are some structural changes occur in the glass network. The bands around 1060 cm-1-1083 cm-1 is assigned to the asymmetrical stretching vibration of P-O-P bonds. The bands for (P-O-P)as-s shifts to lower wave number with increasing of Er2O3 and Nd2O3 content, presumably, due to the changes in the phosphate chain length and the chain PO-P band angle. Another absorption bands are located around 933 cm-1-938 cm-1 are due to the stretching vibration of P-O- [22]. A shift towards lower bands is believed to be due to the existence of the bonds between Er3+/Nd3+ ions and the non-bridging oxygen. A small absorption bands occur around 764 cm-1-769 cm-1 are due to the symmetric stretching modes of the P-O-P linkages and (P-O-P)s. The other absorption bands around 471 cm-1–474 cm-1 can be assigned to the P-O-P bending vibration are actually the signature of the phosphate glass IR transmission spectra [23]. Figure 3 shows the UV-Vis spectra of the sample 1 with the thickness ~2.90 mm. Using Figure 3 the cut-off wavelengths is obtained and is summarized in Table 2.

Figure 1. X-ray diffraction pattern of the glass samples. phosphate glasses. The absorption spectra of all 7 samples are shown in Figure 2. It is clear that the absorption bands are around 3420 cm-1-3560 cm-1 and that can be assigned to the vibration peaks of OH- band. The strong absorption reflects the higher degree of hygroscopicity of glass samples and can be minimized using high purity materials. Figure 3: Optical transmittance spectra for Sample 1 TABLE 2: CUT-OFF WAVELENGTH VERSUS MGO CONTENTS.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

13

A plot for the cut-off wavelength versus sample number generated from Table 2 is depicted in Figure 4.

TABLE 3. NOMINAL COMPOSITION OF [P2O5]50-xWITH 0≤X≤4 MOL% GLASSE [MgO]50[Sm2O3] x SAMPLES.

Figure 4. Cut-off wavelength versus sample number obtained from Table 2. It is clear that the cut-off wavelength shows gradual decrement with decreasing MgO contents that is due to the change in glass network structures. A series of samples of samarium doped magnesium phosphate glass having a composition of [P2O5]50-x-[MgO] 50-[Sm2O3] x, with 0≤x≤4 mol% is represented in Table 3 and the corresponding X-ray diffraction pattern Is shown in Figure 5.

Figure 5. X-ray diffraction pattern of samples The table 3 shows the possibility of wide glass-forming region is phosphate glasses. The absence of sharp peaks in the measured X-ray spectra confirms the amorphous nature of the sample.
50.0

45

40

S5
35

S4 S3 S2

30

%T

25

20

15

S1

10

5

0.0 4000.0 3600 3200 2800 2400 2000 1800 cm-1 1600 1400 1200 1000 800 600 400.0

Figure 6. IR absorption spectra of the [P2O5]50-x -[MgO]50-[Sm2O3] x glass system with x=0, 1, 2, 3 and 4 mol%.

ISSN 0853-0823

14

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

The room temperature infrared spectra for all five samples is shown in Figure 6.The spectra reveals broad, strong and weak absorption bands over the investigated range of wave numbers namely, 4000 cm-1-400 cm-1. The comparison shows the sample modifications with the increment of Sm2O3 contents in the sample. The frequencies of predominant absorption peaks are characterized and presented in Table 4. Figure 6 clearly shows the existence of a low frequency envelope around 462-474 cm-1consist of one absorption band. This band is assigned as a bending vibration of O-P-O units, δ(PO2) modes of (PO-2) chain groups [24, 25], while a fundamental band at ~500 cm-1 can be ascribed as a fundamental frequency of (PO43-) [26] or as harmonics of P=O bending vibration [26]. The absorption band around 753-769 cm-1is assigned to the symmetric stretch of P-O-P bridges and vs(P-O-P) those are generally the characteristics of cyclic meta-phosphates. Furthermore, Shikerkar et al [27] reported the occurrence of P-O-P symmetric stretch absorption band around 731-778 cm-1. TABLE 4. THE IR PEAKS POSITIONS OF [P2O5]50-x[MgO]50-[Sm2O3]x GLASSES WITH 0≤X≤4 MOL%
Sample no. S1 S2 S3 S4 S5 IR absorption Peaks Positions (cm-1) 472.05 462.99 467.03 474.95 474.81 752.99 757.00 762.94 764.80 768.84 931.82 927.77 931.59 931.36 927.80 1086.31 1076.92 1068.53 1074.12 1082.51 1341.07 1333.67 1323.49 1315.05 1307.34 3425.98 3413.79 3413.87 3414.16 3414.20

(b) Figure 7. Variation of frequency of vibration of P-O-P mode (a) and P=O mode (b) as a function of Sm2O3 concentration. The report of Moustafa [28] on IR absorption in the region 850-1200 cm-1 showed the sensitiveness for the different meta-phosphate groups in the form of chain-, ring-, and terminal groups [29, 30]. The spectral analysis of this region shows the existence of seven bands: 927, 931, 1068, 1074, 1076, 1082 and 1086 cm-1. The asymmetric stretch of P-O-P bridges, vas (P-O-P) occur around 931-928cm-1, while the absorption band around 1050-1071cm-1can be assigned as symmetric stretch of PO2. It is also found that PO2 absorption band occur at 1068-1086 cm-1 and increases with increasing of Sm2O3. The bands around 1307-1341cm-1 are assigned to P=O asymmetric stretching vibration modes, in which the bands become sharper by the increment of Sm2O3. This attribution is based on the assumption that increasing Sm2O3 content leads to a breakdown of some terminal bonds (P=O) in the glass network. Such alteration in the structure decreases the bond strength and consequently, the band centre is shifted towards lower wave number as observed [28]. The Sm2O3 concentration dependence of P=O vibration frequency mode is shown in Figure 7(b). It can be seen that as the Sm2O3 content increases the frequency of vibration decreases and the behavior is similar to the P-O-P mode explained in Figure 7(a). The absorption around 3400 cm-1 is due to OH- ion that demonstrates the presence of small amount of water in the sample. The report of Bridge and Patel [31] indicated that the intake of water occurred mostly during the preparation of the pellets. However, the width of the bands, which become progressively weaker with increasing Sm2O3 content, shows that the OH- groups are an integral part of the glass network and causes considerable absorption. Although, the presence of small amount of OH- does not dramatically change the structure of phosphate glasses. However, the calculation on the relative integrated area for these bands show that it is reduced as the Sm2O3 content is increased which is shown in Figure 8. Relatively broad absorption band of OH- bonds reflects the amount of these groups present in a sample.

The frequency of vibration of P-O-P bonds enhances with increasing Sm2O3 content as clearly depicted in Figure 7(a). However, at about 3.0 mol% of Sm2O3, the rate of increment in frequency starts decreasing. This phenomenon indicates that at this point Sm2O3 may act as a modifier.

(a)

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

15

TABLE 5. NOMINAL COMPOSITION OF THE P2O5MgO- Sm2O3 GLASSES AND THE VALUES OF Eg AND ∆E EXTRACTED FROM THE PLOT.
Sample number Nominal composition (mol%) P2O5 MgO Sm2O
3

Optical band gap (Eg) in eV

Urbach energy (∆E) in eV

S1 S2 S3 S4

50 49 48 47

50 50 50 50

1 2 3

4.35 4.45 4.30 4.30

0.32 0.28 0.29 0.37

Figure 8. Relative area of OH- absorption band (cm2) of [P2O5]50-x[MgO] 50-[Sm2O3] x, with 0≤x≤4 mol% glass system. It is clear from the plot that as the concentration of Sm2O3 is increased, the glass becomes more stable. Moreover, there is an indication that if the dopant concentration is higher than some threshold, the glass becomes less stable. This is expected, because the Sm3+ ions either enter in the lattice sites by replacement of OH- ions or reside between the lattices. In case of low Sm3+ content, the Sm3+ ions would replace the OH- from the lattices, and thus, the glass becomes more stable. On the other hand, for higher Sm3+ content (>3 mol%) the rate of OH- absorption is reduced but the PO4 structure may experience changes in their structural network that may reduce the stability of the glass. In this case, the dopant may be featured as an oxide modifier confirming our earlier explanation. Now we turn our attention to the absorption edge studies for the estimation of the optical energy gap (Eopt) and the Urbach energy (∆E) and their dependence on the nature of samples with varying Sm2O3 concentration. Table 5 shows the composition of our prepared samples. All glasses are found to be very stable except the one with more than 3 mol% of samarium oxide where the glass is easily devitrified. Figure 9 shows the plot of (α(ω)ħω)½ versus photon energy (ħω) for the sample S2. By extrapolating the linear part of the graph to the x-axis, the optical energy gaps are obtained and are listed in Table 5.

Figure 9. Typical plot of (α(ω) ħω)½ versus photon energy (ħω) for S2. The existence of the linear dependence of the graph on photon energy suggested that the transition is of indirect nature. The dependence of Eg on Sm2O3 content is shown in Figure 10. It can clearly be seen that the optical band gap increases gradually as the Sm2O3 content is increased. However, as the amount of Sm2O3 is about 1 mol%, the gap is decreased. This indicates that the addition of Sm2O3 into the glass network in the presence of MgO that acts as a modifier impinged the network into a more compact structure through the formation of P-O-Mg cross-links. As a result, the hardness as well as the Young’s modulus also increased with the MgO content [32]. However, if the amount of Sm2O3 is further increased, the effect is lessening which indicates the increasing amount of non-bridging oxygen in the glass network. In this sense, the MgO seem successfully opens up the chain by breaking up the oxygen bond which finally forming the bridge between the corners of the PO4 tetrahedra.

Figure 10. Plot for the variation of Eg versus Sm2O3 mol%. ISSN 0853-0823

16

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Figure 11 shows the plot of lnα(ω) against photon energy (ħω) of S2. The Urbach energy, were found to be in the range of 0.28-0.37 eV and is depicted in Table 5.

broad halo characteristic of amorphous samples. The broad peaks around 30º show the characteristic of most tellurite glasses. TABLE 6. THE NOMINAL COMPOSITION OF THE PREPARED SAMPLES.

Figure 11. Graph lnα(ω) versus photon energy (ħω) of S2. The variation of Urbach energy (∆E) as a function of Sm2O3 contents is presented in Figure 12. It is observed that the Urbach energy decreases as the Sm2O3 concentration increases indicating the fact that the indirect nature of the band gap becomes weaker. However, at 1.0 mol% of Sm2O3, the effect gets weaker and thereby the energy is increased. This result shows that the width of the localized state in the forbidden gap become smaller and indicates that the density of electrons with higher energy becomes smaller thus reducing the probability of electronic transition from the valence band to the conduction band. As a result, we observe a decrease in the optical band gap as has been shown in Figure 10. However, with an increase of 1.0 mol% of Sm2O3 the probability of electronic transitions is increased. At this point, the absorption coefficient is slightly increased as has also been observed by Sahar et al [32] in the samarium doped Mn phosphate glasses. Figure 13. X-ray diffraction patterns for the glass system. (80 – x) TeO2 – 20Na2O - (x)Yb2O3 glass system. The positions of the absorption bands of these glasses are listed in Table 7 with the specification of their corresponding attributed vibrational modes. For all glasses presented in this work, the spectra occurs at range 3405 cm1 -3423 cm-1, 1632 cm-1-1643cm-1, 1377 cm-1-1382 cm-1, 721 cm-1-732 cm-1 and 589 cm-1-606 cm-1. The predominant peaks around700 cm-1 is attributed to symmetrical vibration oscillations of the Te–O bonds. The position of all peaks in TeO2 spectrum showed a close agreement with those previously reported [33]. Rare earths connected to the chains of TeO4 groups are identified based on the simultaneous presence of the bands at ~721 cm-1-732 cm−1. For rare earth-doped glasses, new bands were detected around 592, 599, 600, 580 and 606 cm−1 respectively and those are attributed to Yb–O stretching vibrations.

Figure 12. Variation of the Urbach energy (∆E) as a function of Sm2O3 contents at room temperature. Now we focus our attention to the tellurite glass. In this study, Ytterbium doped sodium-tellurite glasses having composition of (80–x)TeO2 –20Na2O-(x)Yb2O3 (x = 0.0-2.0 mol%) are prepared and X-ray diffraction technique and the transmission spectroscopy is employed for characterization. The absorption vibrational spectra is analyzed is detail. Table 6 shows the nominal composition of the prepared samples. The X-ray diffraction patterns for the samples with Yb2O3 concentration from 0.5 to 2.0 mol% are shown in Figure 13. The X-ray diffraction pattern shows expected

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

17

TABLE 7. INFRARED ABSORPTION PEAKS FOR ALL SAMPLES.

54 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5

T%

4000

3000

2000

1500

1000

450

Figure 14. IR absorption spectra for TeO2–RE glass system. The main absorption frequencies around 730 cm-1–600 cm as shown in Figure 14 are assigned to the stretching vibrations of the Te–O bonds. The spectra of the all studied glasses showed the typical broadening of the observed bands. In most cases, they are very similar to the spectra of the crystalline phases. This is the direct proof for the similarities of the structural units and of the short-range order believed to be crystalline. Due to this reason, the spectra of tellurite glasses are interpreted based on their crystalline phases. The vibrations of a specific group of atoms in a lattice are regarded as relatively independent from motions of the rest of the atoms, as mentioned earlier [34, 35], according to an assumption in vibrational spectroscopy of the solid-state [36]. The concept of separate vibrations for glasses was discussed in detail for the first time in the work of Tarte [35-40]. A similar approximation is used in the present investigation. This empirical analysis can give some useful information concerning the arrangement of atoms in glasses.
−1

been confirmed by X-ray diffraction techniques. The IR spectra show that there are six broad absorption peaks corresponding to the OH- band, P=O, P-O-P, P-O- stretching vibrations. The absorption cut-off wavelength in the range 318 nm to 322 nm depends strongly on the concentration of MgO in the sample. In a separate study the [P2O5]50-x-[MgO]50-[Sm2O3]x glass with 0≤x≤4 mol% has been prepared again by melt quenching technique. XRD shows all samples are glass in nature. While, IR shows that the glass network is dominated by the existence of asymmetric and symmetric of P-O-P bridges around 931 cm-1-928 cm-1 and 753 cm-1-769 cm-1 respectively. While, P=O asymmetric stretching vibration modes exists around 1307 cm-1-1341cm-1. For low Sm3+ content, the glass becomes more stable but only up to 3 mol% when the glass start to be precisely influence by the existence of broad OH peak. In this case, the Sm2O3 may act as a modifier. To estimate the relevant optical parameter a series of samarium doped magnesium phosphate glasses have been made and the optical absorption characteristics showed that the transition is of indirect type with n=2. The doping of Sm2O3 into the glass network with the present of MgO as modifying oxides does not alter very much the optical nature of band gap as well as the Urbach energy tail. Only after the further addition of 1 mol% Sm2O3 the optical band gap is affected because the formation range of the glass become very small beyond a certain threshold concentration of the samarium ion. We further investigate the optical behavior of a series of ytterbium doped sodium tellurite glasses. Glasses with more than 2 mol% of Yb2O3 are found to be chemically unstable. The X-ray diffraction pattern confirms the amorphous nature of the samples. The infrared absorption spectra for all the glasses showed bands around 3500, and 600 cm−1. Rare earths connected to the chains of TeO4 groups identified based on the simultaneous presence of the bands at 589 to 606 cm−1. Our spectroscopic investigations on phosphate and tellurite samples prepared by sol-gel techniques will be reported in future communications. Temperature and concentration dependence of the multi-phonon relaxation rates, radiative decay and upconversion luminescence is worth to look at. It is hoped that our detail systematic experimental study may provide useful information for exploiting rare earth doped tellurite and phosphate glasses in fabricating up-conversion lasers. In addition, there is a need to extend our studies to examine the temporal behavior of up-conversion emission and Stokes emission for red and green transition. A complete microscopic picture on optical characteristics, however, require rigorous theoretical model and simulation on the local bonding environment and the local vibrational density of states of the rare earth ion within the matrix because some of these vibrational modes may or may not be coupled to electronic excited states. The effect of embedded metallic nanoparticles on the optical properties of these glasses will be reported elsewhere.

III. CONCLUSION In conclusion, the phosphate glass sample has successfully been made and their amorphous nature has ISSN 0853-0823

18

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY [19] F.F. Sene, J.R. Martinelli, and L. Gomes, J. Non-Cryst. Sol. 348 (2004) 63. [20] M.R. Sahar, A. Wahab M.A. Hussein, and R. Hussin, J. Non-Cryst. Sol. 353 (2007) 1134. [21] S.M. Abo-Naf , M.S. El-Amiry, and A.A. Abdel-Khalek, Opt. Mat. 30 (2008) 900. [22] P.Y. Shih, S.W. Yung, and T.S. Chin. J. Non-Cryst. Sol. 244 (1999) 211. [23] Dora Ilieva, Bojidar Jivov, Georgi Bogachev, Christo Petkov, Ivan Penkov, and Yanko Dimitriev, J. Non-Cryst. Sol. 283 (2001) 195. [24] P. Znáŝik, M. Jamnick, J. Non-Cryst. Solids 146 (1992) 74. [25] A. Abdel-Kader, A.A. Higazy, and M.M. Elkholy, J. Mater. Sci.: Mater. Electron. 2 (1991) 157. [26] K. Nakamoto, Infra-Red Spectra of Inorganic and Coordination Compounds, Wiley, New York, 1963. [27] A.G. Shikerkar, J.A.E. Desa, P.S.R. Krishna, and R.Chitra, J. NonCryst. Sol. 270 (2000) 234. [28] Y.M. Moustafa, and K.El. Egili, J. Non-Cryst. Sol. 240 (1998) 144. [29] E.I. Kamitsos, A.P. Patsis, M.A. Karakassides, and G.D. Chryssikos, J. Non-Cryst. Sol. 126 (1990) 52. [30] E.I. Kamitsos, J.A. Kapoutsis, G.D. Chryssikos, J.M. Hutchinson, A.J.Pappin, M.D. Ingram, and J.A. Duffy, Phys. Chem. Glasses 36 (3) (1995) 141. [31] B. Bridge and N.D. Patel, J. Non-Cryst. Sol. 91 (1987) 27. [32] M.R. Sahar, and A.Z. Abidin, J. Mater. Sci. Lett. 13 (1994) 227. [33] M.R. Sahar, and B. Astuti, Optical Review (2007). [34] M. Arnaudov, V. Dimitrov, and Y. Dimitriev, Mater. Res. Bull. 17 (1982) 1121. [35] P. Tarte, and J.A. Prins (Ed.), Physics of Non-Cystalline Solid, North Holland, Amsterdam, 1964, p. 549. [36] O. Lindqvist, Acta Chem. Scand. 22 (2007) 977. [37] R.K. Brow, R.J. Kirkpatrick, and G.L. Turner, J. Non-Cryst. Sol. 116 (1990) 39. [38] X. Fang, C.S. Ray, A. Mogus-Milankovic and D.E. Day, J. NonCryst. Sol. 283 (2001) 162. [39] C. Nelson and D.R. Tallant, Phys. Chem. Glass. 26 (1985) 119. [40] R.Hussin, A.S. Musdalilah., A. Nur Shahira, A. Mutia Suhaibah, A. Suhailah, A.F. Siti Aishah, H. Sinin and M.Y. Mohd Noor, J. Fund. Sc. 2008 (accepted for publication).

ACKNOWLEDGEMENTS S.K. Ghoshal especially thanks to the Physics Department, Universiti Teknologi Malaysia for providing research facilities to complete this work. REFERENCES
[1] Jong-Oh Byun, Byong-Ho Kim, Kun-Sun Hong , Hyung-Jin Jung , Sang-won Lee, and A.A. Izyneev, J. Non-Cryst. Sol. 190 (1995) 288. [2] A. Mogus-Milankovic, V. Licˇina, S.T. Reis, and D.E. Day, J. NonCryst. Sol. 353 (2007) 2659. [3] E. Metwalli, M. Karabulut, D.L. Sidebottom, M.M. Morsi, and R.K. Brow, J. Non-Cryst. Sol, 344 (2004) 128. [4] H. Desirena, E. De la Rosa, L.A. Dı´az-Torres, and G.A. Kumar, Opt. Mater. 28 (2006) 560. [5] Sherief M. Abo-Naf, N.A. Ghoneim, and H. A. El-Batal, J. Mater. Sc.: Mater. in Elect. 15 (2004) 273. [6] Chun Jiang, Fuxi Gan, Junzhou Zhang, Peizhen Deng, and Guosong Huang, Mater. Lett. 41 (1999) 209. [7] M.J. Weber, J.D. Myers, and D.H. Blackburn, J. Appl. Phys. 52 (1981) 2944. [8] H. Nii, K. Ozaki, M. Herren, and M. Morita, J. Lumin. 76–77 (1998) 116. [9] J.S. Wang, E.M. Vogel, and S. Snitzer, Opt. Mater. 3 (1994) 187. [10] S. Xu, D. Fang, Z. Zhang, and Z. Jiang, J. Solid State Chem. 178 (2005) 1817. [11] W. Ryba-Romanwski, S. Golab, L. Cichosz, and B. JezowaskaTrzebiatawska, J. Non- Cryst. Sol. 105 (1988) 295. [12] S. Biswal, J. Nees, A. Nishimura, H. Takuma,and G. Mourou,Opt.Comm. 160 (1999) 92. [13] Brian M. Walsh, Norman P. Barnes, and Russell and J. DeYoung. Lath. Glass Spectroscopy and Fiber Laser, 2008. [14] O. Glatter, and O.Kratky Small Angel X-ray Scattering Academic Press, 1982. [15] I. Simon, Modern Aspects of the Vitreous State, Butterworth, London, 1964. [16] N.F. Mott, and E.A. Davis, Phil. Mag. 28 (1970) 903. [17] A.A. Higazy, B.Y. El-Baradic, and M.I. Abd El-Ati, J. Mater. Sci. Lett. 11 (1992) 581. [18] F. Urbach, Phys. Rev. 92 (1953) 1324.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

19

Aspek Kearifan Lokal untuk Peningkatan Kualitas Pembelajaran Fisika
Suparwoto
FMIPA UNY Yogyakarta suparwoto@gmail.com

Abstrak-Pembelajaran melibatkan aspek seni, IPTEK dan nilai/value dan implementasi kearifan lokal mengintegrasikan ketiga hal tersebut. Tentu tidak semua nilai kearifan lokal dapat diimplementasikan dalam pembelajaran, oleh karena itu hanya dipilih aspek tertentu yang mengait dengan budaya keilmuan. Untuk maksud itu diperlukan wahana yang mendukung sistem nilai yang dianut oleh masyarakat sekitar. Bagi masyarakat Jawa tentunya nilai yang bersumber dari budaya jawa ada dalam konteks pembelajaran fisika dan aspek kearifan lokal dapat dikembangkan lewat pembelajaran yang partisipatif aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Cara yang ditempuh adalah mengubah peran guru yang indokrinatif menjadi peran sebagai fasilitator dan teladan serta memiliki komitmen dan empati yang kuat untuk mengembangkan karakter dan memajukan peserta didik. Disinilah perlunya pengembangan kultur sekolah yang mengintegrasikan budaya keilmuan dengan budaya setempat. Tujuan akhirnya adalah munculnya keunggulan lokal yang dapat berkontribusi pada ranah nasional dan bahkan global. Kata kunci : kearifan lokal, pembelajaran fisika I. LATAR BELAKANG Praxis pembelajaran menuntut agar seseorang mampu melakukan aksi terhadap apa yang telah dipahaminya. Pembelajaran selalu melibatkan seni, IPTEK dan pengembangan value/nilai. Pembelajaran adalah upaya rekayasa sosial yang dilakukan guru untuk kepentingan perbaikan karakter peserta didik. Karakter berkaitan dengan akhaq, yakni respon spontan terhadap situasi dan kondisi terjadinya interaksi sosial antar manusia dengan sumber belajarnya. Ki Hadjar Dewantoro mendeskripsikan bahwa dalam pembelajaran sekurangnya ada 3 tahapan yang berkaitan dengan karakter yakni ‘ngerti, ngrasa lan nglakoni’ diteruskan dengan dibiasakan sehingga respon peserta didik menghasilkan perilaku spontan. Tahap ngerti merupakan tahap merespon secara kognitif pembelajaran sampai memahami dan memiliki pengetahuan tentang hal yang dipelajari. Ngrasa artinya menggunakan perasaan untuk menakar, menimbang dan mengukur lewat perasaan/hati yang merupakan respon afeksinya. Nglakoni adalah memanfaatkan pemahaman pengetahuan yang dilandasi dengan keikhlasan hati untuk diamalkan kepada pihak yang membutuhkan (masyarakat). Seterusnya pembiasaan adalah merupakan proses ulangan untuk melatih dan menggunakan secara kreatif sehingga menjadi budaya belajar yang ditampilkan dalam bentuk aksi perilaku spontan. Respon spontan inilah yang menggambarkan akhlak peserta didik. Suprapto Brotosiswoyo (2000) menyatakan bahwa aspek budaya keilmuan yang dapat dibina lewat fisika adalah rasa ingin tahu; kerjasama; reproducible; cara penalaran yang konsisten; terbuka dan observable. Rasa ingin tahu dan kerjasama yang dilandasi kejujuran merupakan sifat dasar manusia yang telah dirintis semenjak lama selalu berkembang dari waktu ke waktu. Temuan fisika yang kita pelajari sekarang ini merupakan bukti nyata adanya rasa ingin tahu dan hasil kerjasama dari para fisikawan. Reproducible artinya dapat diulang dengan hasil yang tidak berbeda, ini memperlihatkan bahwa siapapun orangnya yang menelaah gejala alam sepanjang mengikuti kaidah yang sudah mapan akan diperoleh hasil yang sama. Reproducible dan cara bernalar fisika akan mengajarkan kepada kita agar tidak berbohong, karena setiap temuan akan dapat diuji orang lain dengan hasil yang sama setiap saat. Terbuka dan observable memberikan indikasi bahwa dalam fisika mengajarkan sifat terbuka, artinya temuan fisika dapat dikaji dengan cara pandang yang berbeda baik lewat berpikir yang taat asas maupun observasi. Pengamatan penulis di lingkungan wilayah Yogya-Solo (mungkin di Jawatengah) untuk siswa setingkat sekolah menengah adalah munculnya dua pola interaksi yang sifatnya consolidated dan intersected. Pola consolidated digambarkan sebagai upaya siswa untuk mengkonsolidasi diri yang belum mampu mencerna informasi di luar diri maupun kelompok mereka. Perilaku ini dalam kelas ditandai dengan pola ‘ngalah-ngalih-ngamuk’. yang dalam praktik nyata di luar kelas adalah munculnya perilaku kekerasan atau perilaku kasar pada sebagian atau sekelompok peserta didik Perilaku ini juga seringkali ditampilkan juga sebagai pola konformis, yakni tidak suka kepada siswa lain yang menonjol. Pada jejaring facebook seringkali dimanfaatkan untuk menggambarkan respon negatif siswa terhadap guru di sekolah. Sebaliknya pola intersected memberikan gambaran bahwa pada sebagian siswa sangat antusias dalam menjalin pergaulan, perilaku yang memberikan indikasi positif, sifat empati terhadap orang lain. Pola intersected ini memberikan gambaran pada sebagian siswa yang butuh pergaulan. Kesadaran akan uniknya dan beragamnya cara belajar seseorang mendorong perlunya dipahami gaya belajar seseorang. Nasution, (1987 ) menyatakan bahwa gaya belajar adalah cara yang konsisten dilakukan oleh siswa dalam menangkap stimulus atau informasi, cara menginggat, berpikir dan memecahkan masalah. Gaya belajar disebut juga learning style yang pada setiap orang dapat berbedabeda, sehingga tidak semua orang mengikuti cara yang sama dalam mengikuti pembelajaran. Gaya belajar ini biasanya berkaitan dengan pengalaman pribadi seseorang, riwayat pendidikan, pengalaman yang dijalaninya serta riwayat perkembangannya. Dalam pembelajaran dikenal 4 pasangan gaya belajar antara lain yang tergolong dalam gaya kognitif siswa yakni field dependence versus fiels independence;

ISSN 0853-0823

20

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

impulsive versus reflektif; preseptif versus reseptif dan intuitif versus sistematis. Lewat ke empat pasangan tersebut dapat diungkap 4 hal yang seringkali diutamakan dalam
TABEL I. KEMAMPUAN DAN PENGUTAMAAN BERFIKIR
No 1 2 3 4 Kemampuan Concrete Exerience (CE) Reflection Obser vation ( RO) Abstract Conceptualization (AC) Active Experimentation (AE)

berpikir dan bertindak di kalangan siswa seperti pada Tabel I berikut :

Uraian Siswa melibatkan diri sepenuhnya dalam pengalaman baru Siswa mengobservasi, merefleksi dan memikirkan pengalaman dari berbagai segi Siswa menciptakan konsep yang mengintegrasikan observasi menjadi teori yang sehat Siswa menggunakan teori itu untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan

Pengutamaan Feeling (perasaan) Watching (mengamati) Thinking (berpikir) Doing (berbuat)

Sumber : Nasution(1987)

Berdasarkan penggolongan pengutamaan dalam berpikir ini, selanjutnya dengan menggunakan instrument model learning style inventory (LSI) dapat dibedakan 4 gaya belajar yang dikenal dengan converger, diverger, assimilator, dan accommodator. Menggunakan Learning Style Inventory (LSI) yang berupa daftar pilihan yang didasarkan pada pertimbangan rsional siswa, selanjutnya dengan memberikan pembobotan pilihan dapat diperoleh kecenderungan gaya belajar masing-masing. Dari hasil respon dengan inventorygaya kognitif pada guru IPA/fisika yang mengikuti PLPG tahun 2008 dan 2009 dan kepada mahasiswa prodi pendidikan fisika terdapat kecenderungan (>90%) memiliki gaya belajar converger (pengutamaan AC dan AE) serta sebagian kecil asimilator (pengutamaan AC dan RO, accomodator( pengutamaan CE dan AE) dan diverger (CE dan RO). Selanjutnya terkait dengan gaya responnya ada kecenderungan memiliki gaya belajar visual baru kemudian auditorial dan kinestetik. Pada pola respon visual memberikan gambaran bahwa sebagian besar responden menyukai pembelajaran yang mengutamakan indera mata, baru kemudian indera lainnya. Hal ini berarti pada gaya converger sebagian responden memiliki kesukaan belajar dengan pola memusat, yakni pembelajaran problem memiliki jawab tunggal. Apabila diberikan tugas/ lebih menyukai masalah yang dapat dicari jawaban tertutup/memusat. Peserta didik cenderung dalam pembelajaran tidak emosional, dan lebih suka menghadapi benda daripada manusia dengan minat terbatas. Seterusnya dalam pembelajaran gambaran visual yang dapat direspon lewat indera mata cenderung lebih disukai peserat didik. Di sini aktivitas pengamatan, observasi dan pengukuran menjadi daya tarik dalam pembelajaran. Bertolak dari uraian di atas muncul pertanyaan bagaimana aspek kearifan lokal yang dapat dikembangkan lewat pembelajaran fisika? Bagaimana nilai kearifan lokal dapat diintegrasikan dalam budaya keilmuan yang telah dibangun semenjak lama ? II. PARADIGMA FISIKA Pembelajaran fisika baik di sekolah maupun di perguruan tinggi tekanan intinya pada upaya memahami konsep fisika melalui proses internalisasi dalam diri peserta didik dan selanjutnya penguasaan konsep tersebut diterapkan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Oleh sebab itu seorang guru perlu memahami paradigma pengembangan materi yang bertumpu pada tiga paradigma utama fisika yakni simetri, optimalisasi dan unifikasi (Muslim, 1997). Simetri diartikan sebagai suatu sifat yang tak berubah bila

suatu sistem dikenai operasi transformasi. Sifat simetri ini mengarahkan fisika kepada upaya untuk mencari kesesuaian antara ramalan dengan hasil yang didapat lewat pengukuran gejala alam. Setiap temuan fisika sebagai ‘wasit/hakim’ adalah realitas alam. Implikasi paradigma ini adalah setiap pembelajaran fisika seharusnya bertumpu pada pengukuran gejala alam. Dalam mengukur gejala alam seharusnya setiap siswa menggunakan alat ukur yang telah dikalibrasi. Dalam kaitan dengan muatan kearifan lokal simetri digambarkan sebagai curiga manjing ing warongko artinya klop ada kecocokkan. Dampak pengiring dari simetri ini adalah kekuatan fisika pada aspek kuantitatif, pengukuran, observasi yang melibatkan aspek kejujuran, kecermatan, ketelitian dan sekaligus keterbatasan. Bila ditampilkan dalam dunia pewayangan sebagai ponokawan. Optimalisiasi diartikan sebagai upaya untuk memilih yang terbaik/memuaskan melalui prinsip dasar matematis yang cermat dan akurat (pendekatan extrimum dan metode variasional menjadi sarana berpikir fisika). Melalui optimalisasi ini dapat dipilih dan ditetapkan waktu terpendek dan tindakan dengan resiko terkecil dalam pemecahan masalah fisika. Pengenalan terhadap bentuk geometris yang berpangkal tolak dari prinsip optimalisasi seharusnya menjadi tekanan utama dalam pembelajaran fisika. Implikasi paradigma ini adalah perilaku alam yang sangat menakjubkan sehingga membangkitkan rasa ingin tahu dan kerjasama antar manusia. Setiap temuan fisika akan memberikan tantangan temuan berikutnya, yang memiliki dampak pengiring terhadap perilaku manusia untuk selalu bersabar dan bersyukur. Ucapan mahasuci Allah dan segala puji bagi Allah merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan paradigma ini. Unifikasi merupakan upaya menurunkan hukum fisika bagi sekelompok gejala dengan latar belakang sama dari gagsan terpadu. Dengan demikian apapun usaha yang dilakukan di kelas, lewat belajar fisika yang benar tujuan akhirnya adalah memperoleh manfaat peningkatan kecakapan hidup dan memperoleh kebenaran. Lewat unifikasi inilah dapat disadarkan bahwa kebenaran yang dapat dijangkau lewat fisika dapat didekatkan pada aspek empiris, rasional, probabilistik dan relativistik. Dampak pengiringnya antara lain manusia akan menyadari bahwa di balik keunggulan akan ada kekurangannya, yakni kesadaran akan datangnya hari kemudian yang pasti. Lewat alam semesta ciptaan Tuhan Allah SWT ini manusia selalu berusaha memperoleh kemudahan dalam mengelola dan memanfaatkannya. Oleh karena itu berbagai

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

21

kemampuan yang dapat dikembangkan lewat pembelajaran fisika adalah (a).mencetuskan konsep alat yang dapat memberikan kemudahan pada manusia. (b). menghayati dan mengalami gejala alam secara seksama dan hati-hati. (c). membedakan dan memilih tindakan dengan waktu tunda terpendek yang pada akhirnya menusia dapat bergerak maju. Adapun sarana berpikir yang dapat digunakan adalah logika matematika, logika bahasa, statistika dan sebagainya. Dalam mempelajari fisika, pertanyaan yang muncul antara lain, untuk apa kita mempelajari fisika ? Bagaimana seharusnya kita belajar fisika? Kapan kita mulai dapat belajar fisika ? Apa manfaatnya kita mempelajari fisika ? , dan sebagainya. Jawaban apapun yang diberikan pada pertanyaan di atas, dalam mempelajari fisika haruslah dipahami dahulu matra fisika, yakni bahwa setiap individu yang mempelajari fisika tidak dapat melepaskan diri dari aspek observasi/eksperimentasi dan berpikir taat asas. Observasi/ eksperimentasi merupakan kegiatan yang berkaitan dengan pengamatan gejala alam. Observasi/eksperimentasi merupakan bagian mendasar yang perlu mendapatkan perhatian dalam pembelajaran fisika, sebab hasil pengamatan ini merupakan hakim yang memutus benar atau salah mengenai apa yang dipelajari. Dalam hal pengamatan terhadap gejala alam, kemampuan menggunakan alat ukur baik pengetahuan nilai skala, skala terendah, skala tertinggi, sikap nol dan pengetahuan tentang kalibrasi alat merupakan bagian yang perlu mendapatkan perhatian. Menaksir kesalahan dalam pengamatan juga merupakan begian yang penting dalam observasi/eksperimentasi ini, sehingga dalam mempelajari fisika tak dapat dilepaskan dari berpikir yang taat asas. Berpikir taat asas diartikan sebagai berpikir yang bertolak dari gejala alam yang tidak diragukan lagi kebenarannya, selanjutnya lewat deduksi (matematis,silogisme) dapat diperoleh kebenaran. III. PENDEKATAN PEMBELAJARAN LEWAT ORGANISASI KURIKULUM Dalam kurikulum berbasis kompetensi (sekarang KTSP) organisasi kurikulum memegang peran utama, sehingga pendekatan pembelajaran yang digunakan guru dalam pembelajaran dapat dibedakan menjadi tiga alternatif yakni (1). pendekatan terpisah (separated approach), (2). Pendekatan korelasi (corelated approach) dan (3). Pendekatan integrasi (integrated approach). Ketiga pendekatan tersebut tentu saja saling mengisi. Sebagai gambaran dalam pembelajaran IPA dengan pendekatan terpisah artinya pengembangan materi bersumber dari monodisiplin keilmuan, sehingga karakteristik dan matra keilmuan tampak nyata terpisah. Misalnya : pembahasan materi IPA hanya ditelaah dari aspek fisika, maka matra fisika yakni semua diarahkan pada pemecahan masalah yang cenderung kuantitatif semakin tampak jelas, observasi dan

berpikir rasional menjadi dasar telaah materi yang dikembangkan dalam pembelajaran. Penekanan materi pembelajaran didasarkan pada pengembangan konsep yang sejalan dengan tingkatan sekolah. Pendekatan korelasi mengacu pada sumber bahan yang berasal dari berbagai cabang ilmu dalam bentuk konsep saling berkaitan baik secara sistematis maupun secara vokasional menurut topik. Dalam pengembangan pendekatan model korelasi ini tiap disiplin ilmu memiliki kesamaan peran dengan mempertimbangkan bahwa topik tertentu sebagai inti persoalannya, sedang disiplin ilmu lainnya sebagai penopang. Satu disiplin keilmuan tertentu pengembangannya dibantu dengan ilmu yang menjadi titik tolaknya. Misalnya : telaah materi mengenai energi, maka inti materi bersumber pada fisika sedang dari telaah biologi dapat dikaitkan dengan sejumlah kalori yang diperlukan tubuh dan dari segi kimia dibahas perubahan bentuk energi dari energi gerak menjadi energi kimia, terbentuknya air lewat mekanisme kimia dalam tubuh. Pendekatan integrasi merupakan harapan pengembangan materi IPA yang ideal, yakni merupakan bentuk pendekatan yang menggambarkan suatu disiplin pokok dengan konsep dari disiplin yang ditunjang oleh konsep ilmu lainnya. Pendekatan ini mirip dengan pendekatan korelasi, namun inti persoalan/bahan didapat dari berbagai disiplin ilmu yang dilebur menjadi satu sehingga subjek yang dibahas menimbulkan masalah baru terpadu merupakan satu materi yang bulat. Sumbangan dari berbagai disiplin ilmu diolah dan diramu disesuaikan dengan sequence, tingkat kesukaran dan kepenatingan materi tersebut bagi peserta didik. Hal yang lebih penting dari model pendekatan integrasi ini adalah kesiapan dan kemampuan guru dalam memahami konteks dan integrasi materi dari berbagai segi. Misalnya : pembahasan topik yang berkaitan dengan pencemaran, tentu guru perlu melihat konteksnya yakni dimana pencemaran terjadi, kapan terjadinya, sumber polutannya berasal dari mana dan apa akibat dari pencemaran tersebut. Topik ini dapat dikaji ari aspek fisika, kimia dan biologi secara terpadu. Dalam hubungannya dengan pendekatan yang bersumber dari organisasi kurikulum ini, maka modus kegiatan pembelajaran bertumpu pada upaya yang dilakukan guru untuk memberikan pengalaman belajar bermakna bagi para siswa. Kearifan lokal bermakna dalam menuntun siswa berpikir dan bertindak yang kontekstual untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Dengan perkataan lain dapatkah konteks budaya lokal membantu peserta didik dalam menghadapi dan memecahkan masalah yang dihadapinya. Untuk mendapatkan gambaran tentang kebermaknaan belajar di pihak siswa dan mengajar dipihak guru Yamamoto (1969) memetakan antara kegiatan belajar dipihak siswa dan mengajar guru sebagai berikut :

ISSN 0853-0823

22

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

TABEL II. ASPEK BELAJAR DAN MENGAJAR
Aspek Ada Intensional Insidental Mengajar Ada Tak ada Intensional Pembelajaran optimal Produknya: belajar siswa sadar Insidental Brain washing Produknya: Modeling, contagion, osmosis , dsb. Rekreasi tanpa niat belajar Belajar Tak ada Situasi pembelajarn diupayakan optimal, namun siswa tak peduli Situasi tertentu diadakan, namun siswa tak ada di sini. Non instruksional presensi,beasiswa, SPP. dsb.

Latihan mandiri

*Sumber : Pengembangan Kurikulum dan Sistem Instruksional (1982/1983) Dirjendikti.

Bagan di atas memberikan gambaran tentang keragaman situasi pembelajaran, di antaranya guru dengan aktif membantu, siswa penuh semangat, guru dengan aktif membantu siswa namun siswa tidak merespon dengan baik, siswa merespon dengan baik, tetapi guru kurang komitmennya atau keduanya, yakni guru dan siswa sama-sama kurang komitmennya. IV. UPAYA PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN SAINS/FISIKA LEWAT MUATAN KEARIFAN LOKAL Implikasi dari uraian di bagian depan menurut Ki Hadjar Dewantoro selalu mengait dengan tri pusat pendidikan, yakni pendidikan dalam lingkungan rumah tangg, sekolah dan masyarakat. Tentu aja keterpaduan tri pusat pendidikan ini perlu dilakukan, dan dalam praktik nyata di sekolah terkait kearifan lokal tidak mudah, dan diperlukan berbagai prasyarat. Hal ini disebabkan saratnya beban guru yakni mengajar minimal 24 jam/minggu dan penyelesaian tugas administratif yang harus dikerjakan simultan. Prasyarat implementasi muatan kearifan lokal ke dalam pembelajaran akan menjadi efektif menurut Kyle dan Kirchenbaum dalam Darmiyati Zuhdi(2008) mencakup 5 hal yakni adanya (a) iklim sekolah yang kondusif (b). adanya harapan guru bahwa semua siswa dapat berprestasi (c).tekanan pembelajaran pada kemampuan dasar (d) adanya keterpaduan sistem instruksioal dengan assesment (e). kepala sekolah memberikan ‘insentif’ dalam pembelajaran. Kelima prasayarat tersebut perlu didukung dengan strategi inkulkasi, teladan, fasilitasi value dan adaptasi. Inkulkasi artinya pembelajaran bukan sebagai kegiatan indoktrinasi dan memperlakukan siswa secara adil, berempati kepada siswa, menerapkan pengharagaan dan hukuman yang masuk akal dan menghargai perbedaan. Peran guru sebagai teladan dengan memfasiltasi untuk kegiatan dialogis, tarnsfer nilai lewat rasa simpati antara gurusiswa, serta memberikan fasilitas untuk beribadah secara kafah kepada semua siswa serta memperkenalkan tokohtokoh yang dapat diteladani lewat pola dialogis. Beberapa hasil penelitian dalam pembelajaran sains/fisika berikut ini dapat digunakan dalam mempertimbangkan metode/model pembelajaran yang dikembangkan. Hasil penelitian yang telah dilakukan menyimpulkan, antara lain : a. Kemampuan dan sifat guru lebih penting dalam menentukan hasil keluaran (outcomes) dibandingkan input luar, misalnya metode pembelajaran atau buku pegangan siswa. Dalam hal tertentu, jika beberapa set kriteria minimum untuk tugas guru telah ditetapkan maka metode memiliki efek yang tinggi terhadap hasil

b.

c.

d.

e.

f.

g.

belajar. Dengan demikian karakter guru memilki peran dominan dalam keberhasilan pembelajaran sains/fisika. Karakter guru fisika dibentuk lewat karakteristik fisika yang mencakup kejujuran, hati-hati, faktual, observabel, prediktif, dsb. Pendekatan pembelajaran/metode yang sifatnya induktif, problem solving dan laboratorium centered lebih disukai siswa dari pada pendekatan/metode deduktif atau demonstrasi manakala hasil yang dikehendaki pengetahuan sederhana. Pendekatan pembelajaran secara induktif memberikan kemantapan pengetahuan yang lebih baik daripada pendekatan deduktif. Hal ini berarti pelibatan secara aktif peserta didik dalam pembelajaran memiliki peran penting dalam pencapaian skor yang tinggi dan ketuntasan pembelajaran. Prosedur pembelajaran dapat disusun untuk membantu berpikir lebih kritis atau mengubah sikap tetentu yang mungkin dimiliki siswa. Dalam kaitan ini langkahlangkah pembelajaran yang sistematis dan sistemik perlu dilakukan agar perilaku dan kebiasaan belajar aktif di kalangan peserta didik. Misalnya mengintegrasikan pembelajaran dengan problem masyarakat setempat dapat membantu peserta didik dalam pengayaan pengalaman hidup dan life skill/kecakapan hidup. Team teaching memberikan waktu persiapan yang lebih banyak kepada guru, tanpa memberikan efek yang berarti pada hasil belajar siswa. Perbaikan terhadap hasil belajar siswa amat tergantung dari cara bagaimana guru bertindak efektif dengan menggunakan waktu yang disediakan. Bertindak efektif bertumpu pada upaya pengembangan kreativitas dan kemampuan berfikir diverger. Pembelajaran berprogram (programmed instruction) merupakan pendekatan/ metode yang efisien untuk pola belajar mandiri dengan materi yang telah ditentukan dan bantuan minimal dari pihak guru. Program ini hanya cocok untuk remedial activity atau program ulangan. Media audio visual , film, TV, audio disc program sebaiknya tidak dimanfaatkan untuk mengambil oper seluruh peran guru dalam pembelajaran di kelas, tetapi diintegrasikan secara hati-hati dalam pola pembelajaran. Banyaknya waktu yang digunakan guru untuk menyelesaikan satu satuan pembelajaran ternyata hanya memiliki efek yang kecil terhadap aktivitas pembelajaran siswa.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

23

h. Semakin besar aktivitas dan partisipasi siswa dalam pembelajaran lewat audio visual ternyata semakin banyak siswa yang dapat belajar. i. Problem solving merupakan pengalaman pribadi bagi siswa, sehingga pengalaman demikian hendaknya dilakukan oleh masing-masing siswa secara intensif untuk memenuhi kebutuhan siswa. j. Pengalaman lapangan membantu proses pencapaian tujuan daripada penguasaan materi ajar. k. Aktivitas siswa dalam eksperimen yang dilakukan siswa tingkat pendidikan dasar dan menengah adalah penting sebagai pre requisite untuk belajar secara efektif mengenai sains. Oleh karena itu belajar sains secara verbalistis merupakan langkah paling akhir untuk memahami arti konsep tersebut. l. Individualisasi proses pembelajaran merupakan alternatif yang memuaskan untuk pembelajaran yang sifatnya global atau menyeluruh, bagi siswa tingkat pendidikan dasar membutuhkan bekerja dengan pengalaman yang dipersiapkan melalui alat bantu yang cermat, khususnya bantuan guru seminimal mungkin. m. Pada siswa tingkat pendidikan dasar, berada pada operasi konkrit dan formal diperlukan pendekatan pembelajaran yang spesifik dibandingkan pada tingkatan kelas lainnya. V. KESIMPULAN Fisika dan pembelajaran fisika telah memfasilitasi peserta didik untuk memberikan apresiasi terhadap muatan kearifan lokal lewat interaksi dialogis di kelas maupun dalam laboratorium. Keberhasilan implementasi muatan kearifan lokal ditandai dengan apresiasi peserta didik terhadap ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Apresiasi yang tinggi ditandai dengan kesenangan peserta didik terhadap fisika memungkinkan ditingkatkan kualitas peserta didik. Namun demikian upaya tersebut perlu dikembalikan pada hakikat peserta didik sebagai manusia seutuhnya, yakni pembelajaran fisika yang bermuatan

kearifan lokal menjadi bermakna bagi siswa manakalah hidayah Allah telah menjadi miliknya (baik hidayah taufiq, ‘irsyad, ilham maupun dzilallah). Kewajiban kita adalah mengembangkan wahana agar peserta didik mampu beradaptasi dengan lingkungan sekolah, tempat tinggal dan masyarakat menggunakan pengetahuan fisika yang telah dipelajarinya. Cara yang ditempuh adalah menata segala sesuatu sebelum diputuskan, pembelajaran value yang bersifat dialogis, keteladanan dalam bertindak dan berperilaku, komitmen dan konsisten untuk membantu peserta didik agar berhasil dalam studinya.

PUSTAKA
Anonim,(1982/1983). Pengembangan Kurikulum dan Sistem Instruksional. Jakarta : Dirjen Dikti Depdikbud Anderson, Richard J. (1980). The Real World of Physics Teaching at the University of Arkansas. Physics Teacher Journal, vol.18 No.1; January 1980. Cajori,F., (1962). A History of Physics. New York. : Dover Publ. Darmiyati Zuchdi, (2008), editor. Pendidikan Karakter Grand Design dan Nilai-nilai Target, , Yogyakarta : UNY Press. Muslim, (1997). Peranan Simetri dalam Menelusuri, Menata dan Merintis Hukum-hukum Fisika. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam bidang Ilmu Fisika - FMIPA UGM, 12 Mei 1997. Nasution, S. (1987). Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bina Aksara. Piet A. Suhertian, (1992). Profil Pendidik Profesional. Yogyakarta : Andi Ofset Scheider, Walt, (1980). ’27 Commandements for Physics Teachers. The Physics Teacher Journal Vol. 18, No. 1 January, 1980 Squires David A. , William G. Huitt and john K. Segars, (1983). Effective Schools and Classrooms. Washington : ASCD.\ Suprapto Brotosiswoyo (2000). Matematika dan IPA sebagai Komponen Budaya dan Penopang Teknologi. Makalah semlok dosen IAD di ITB Bandung. Winne, Phillip H., and Ronald W. Marx (1979). Percetual Problem Solving : Reseach on Teaching (ed. Penelope C. Patterson et.al.). California : McCutchan Pub.

ISSN 0853-0823

24

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Interaksi Antar Pelaku Ekonomi di Pasar Barang Dengan Potensial Osilator Harmonis
Rizqan Desman1 Bachtiar Rifai2 Muhammad Farchani Rosyid3
1,2,3

Kelompok Penelitian Kosmologi, Astrofisika, dan Fisika Matematik (KAM) Jurusan Fisika FMIPA UGM, Yogyakarta rafqi_aury@yahoo.com, bachtiar_rifai@rocketmail.com, farchani@ugm.ac.id

Abstrak - Telah dikaji perpadanan sistem ekonomi mikro dengan sistem kuantum. Dalam makalah ini interaksi antar pelaku ekonomi di pasar barang di modelkan dengan potensial osilator harmonis dan intervensi harga pemerintah dimodelkan dengan potensial sumur tak hingga atau potensial tanggul tak hingga tergantung jenis komoditas yang ditinjau. Potensial osilator harmonis menunjukkan osilasi harga pembeli di sekitar harga penjual sedangkan potensial sumur tak hingga atau tanggul tak hingga menggambarkan intervensi pemerintah terhadap batas atas dan batas bawah harga suatu komoditas. Kata kunci: kuantum ekonomi, potensial ekonomi, ekonofisika, pasar barang

I. PENDAHULUAN "Economics should replace its Newtonian framework with quantum understanding and a "true transformation" so that the unsuccessfulness of development economics can be eliminated with wholly new reanimation/revitalization ".[1] Ekonomi dan fisika dikenal sebagai dua bidang ilmu yang sangat berbeda satu dari yang lainnya. Ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam memilih dan menciptakan kemakmuran. Inti masalah ekonomi menurut paham ekonomi konvensional adalah adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan manusia (yang tidak terbatas) dengan alat pemuas kebutuhan (yang jumlahnya terbatas). Permasalahan itu kemudian menyebabkan timbulnya kelangkaan. Kata "ekonomi" sendiri berasal dari kata Yunani οικος (oikos) yang berarti "keluarga, rumah tangga" dan νοµος (nomos), atau "peraturan, aturan, hukum," dan secara garis besar diartikan sebagai "aturan rumah tangga" atau "pengelolaan rumah tangga", sehingga secara umum ekonomi adalah ilmu yang mempelajari "interaksi" antar manusia guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Teori ekonomi menurut [2] adalah "Pandangan-pandangan yang menggambarkan sifat hubungan yang wujud dalam kegiatan ekonomi, dan ramalan suatu peristiwa yang akan terjadi apabila suatu keadaan yang mempengaruhinya mengalami perubahan....mengetahui kenyataan-kenyataan dan menyusunnya secara sistematik, dan memberikan gambaran umum tentang kegiatan suatu perekonomian dan komponen komponennya" . Sementara fisika adalah upaya mempelajari gejala-gejala keteraturan alam dan membingkainya secara matematis [35]. Namun sebenarnya baik fisika maupun ekonomi mempunyai kesamaan yaitu keduanya merupakan upayaupaya mempelajari pola-pola keteraturan dan kemudian menyatakannya secara matematis. Hal yang berbeda hanya objek kajiannya, ekonomi bekerja pada besaran-besaran

ekonomi dan fisika pada besaran-besaran fisika. Di samping itu, baik fisika maupun ekonomi dituntut memberikan gambaran sifat hubungan antar besaran-besarannya dan memberikan ramalan peristiwa yang akan terjadi pada besaran-besaran tersebut. Adalah Jan Tinbergen yang pada masa setelah Perang Dunia II merupakan salah satu pelopor utama ekonometrika, yang mengkombinasikan matematika, statistik, dan teori ekonomi. Di dalam sistem ekonomi terdapat penjual dan pembeli yang masing-masing mempunyai hasrat untuk menjual dan membeli. Keduanya akan bertemu pada suatu titik optimal yaitu saat terjadi kesepakatan antara penjual dan pembeli. Kesepakatan ini berupa harga optimum barang yang dijual. Berdasarkan teori ekonomi mikro keduanya akan bertemu di titik kesetimbangan yaitu kurva penawaran dan permintaan. Pelaku ekonomi dasar yaitu penjual dan pembeli saling berinteraksi dalam sebuah pasar ekonomi yang juga dipengaruhi oleh faktor-faktor luar seperti contohnya intervensi harga oleh pemerintah (digambarkan sebagai potensial luar). Disini dilakukan penerapan teori kuantum dalam sistem ekonomi. Model ekonomi kuantum berusaha menjelaskan "interaksi" antar pelaku ekonomi dengan menggunakan konsep observabel dan keadaan dalam mekanika kuantum melalui perpadanan pelaku ekonomi dengan partikel mikroskopis dalam mekanika kuantum. II. MEKANISME HARGA PASAR Mekanisme kesepakatan harga pasar di suatu pasar barang yang hanya dihuni oleh satu penjual, satu pembeli dan satu komoditas yang diperdagangkan diantara keduanya. Ambil pembeli B dan penjual S masing-masing mempunyai fungsi gelombang dan . Bentuk Hamiltonannya diberikan oleh persamaan (1), dengan m1 dan m2 adalah tensor massa ekonomis penjual dan pembeli (indeks 1 untuk penjual, indeks 2 untuk pembeli), adalah potensial interaksi antara pembeli dan penjual, dan adalah pengaruh luar (potesnial luar kepada penjual), dan

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

25

adalah pengaruh dari luar kepada pembeli. Bentuk persamaan Hamiltonannya adalah

(1) sehingga evolusi pelaku ekonomi (penjual dan pembeli) dalam ruang fase dinyatakan oleh persamaan Schrödinger gayut waktu, yaitu (2) dengan peluang kesepakatan harga antara penjual dan pembeli dinyatakan dengan rapat peluang fungsi gelombang penjual dan pembeli pada saat t, yaitu dengan (3)

ke dalam persamaan Schrödinger tak gayut waktu (dan memberikan syarat batas) dan menyelesaikannya untuk penjual dan pembeli maka diperoleh jawaban untuk keadaan stasioner, yaitu swakeadaan-swakeadaan penjual dan pembeli milik swanilai penjual dan pembeli

IV. EKONOMI OSILATOR HARMONIK Dalam makalah ini kami menggunakan potensial interaksi yang didekati dengan potensial osilator harmonis (ekonomi osilator harmonis). Diambil asumsi bahwa persepsi harga penjual berada pada titik x = 0 dan tidak bergerak sepanjang waktu t (pengaruh potensial interaksi pembeli kepada penjual = 0), sehingga hanya pembeli yang mengalami potensial interaksi oleh penjual, seperti dijelaskan pada Gambar 1 dan 2.

Berdasarkan pengaruh dan jenis potensialnya maka sistem ekonomi dibagi menjadi tiga jenis [5][7], yaitu: 1. Kasus I: Potensial interaksi antara penjual dan pembeli jauh lebih kecil dari potensial luar (pengaruh dari luar). 2. Kasus II: Tidak ada pengaruh potensial luar (sistem tertutup). 3. Asumsi yang terakhir jika pasar yang ditinjau dipengaruhi pada baik oleh potensial interaksi maupun potensial dari luar. Pasar seperti ini adalah sistem yang lebih riil karena biasanya transaksi dalam suatu pasar barang akan dipengaruhi baik oleh pelaku transaksi itu sendiri maupun oleh pengaruh dari luar (contoh: intervensi pemerintah soal harga). Asumsi di atas masih ditambah lagi dengan kemungkinan perbedaan massa ekonomis yang dimiliki oleh masingmasing pelaku ekonomi. Ketiga kasus di atas dapat dijabarkan dengan massa ekonomis yang berbeda: monopoli, monopsoni atau seimbang, sehingga masingmasing persamaan di atas dapat dijabarkan lagi menjadi tiga jenis persamaan dengan variasi massa ekonomis yang berbeda. Jawaban di atas juga merupakan jawaban yang stasioner sehingga hanya didapatkan harga rerata pasar dari sistem ekonomi yang tetap sepanjang waktu, untuk mengetahui evolusi dari sistem ekonomi dan menentukan kesepakatan harga antara penjual dan pembeli maka dicari suatu keadaan awal yang bukan merupakan swavektor bagi E. III. EVOLUSI HARGA PASAR Pada kasus stasioner, probabilitas rerata penjual dan pembeli berada pada suatu harga yang tetap sepanjang waktu, sehingga hanya bisa ditentukan harga rerata pasar yang merupakan rerata dari persepsi harga penjual dan pembeli. Untuk menjelaskan evolusi maka yang diambil sebagai keadaan awal adalah yang bukan merupakan swavektor dari swanilainya. Tinjau suatu pasar ekonomi dengan satu penjual, satu pembeli, dan satu komoditas yang berinteraksi dengan potensial ,dan mempunyai potensial luar (sistem dalam keadaan tertutup). Dengan memasukkan potensial interaksi

Gambar 1. Grafik Penjual-Pembeli Sebelum Transaksi (Penjual: Biru).

Gambar 2. Grafik Penjual-Pembeli Saat Transaksi (Penjual: Biru).

Penjual mempunyai massa ekonomis [3-6] yang sangat besar sehingga sangat massive dalam merubah kecepatan persepsi harganya. Hal ini berakibat persepsi harga penjual cenderung tetap dan tidak terpengaruh oleh potensial pembeli, sebaliknya pembelilah yang terpengaruh oleh potensial penjual. Penjual dan pembeli mempunyai massa ekonomis yang hampir sama tetapi ada regulasi harga pemerintah yang memaksa harga suatu komoditas tertentu harus tetap (potensial luar). Persepsi harga penjual di bukanlah menunjukkan harga komoditas yang sebenarnya tetapi menunjukkan posisi harga relatif penjual. Penempatan persepsi harga penjual di titik nol juga berguna untuk memudahkan pengamatan transaksi, jika pada suatu saat t persepsi harga pembeli mendekati titik nol berarti penjual dan pembeli menuju kesepakatan harga .

ISSN 0853-0823

26

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Dengan menggunakan persamaan (4) dan (5) Persamaan (4) dan (5) sebenarnya adalah persamaan partikel bebas tetapi dengan mengambil asumsi bahwa penjual berapa pada x = 0 maka persamaan di atas mempunyai nilai probablilitas selalu di x = 0, yang bisa juga dinyatakan dalam fungsi delta Dirac . Persamaan (5) adalah persamaan osilator harmonik yang mempunyai swavektor-swavektor Hn yang diberikan oleh
Gambar 4. Grafik Evolusi Persepsi Harga dengan n=20.

dst. Untuk memberikan gambaran evolusi maka diambil keadaan awal sembarang yang berdistribusi Gaussan. Sebagai contoh ambil keadaan awalnya adalah fungsi gelombang dari wave packet (Gambar 3) . (6)

Berbagai bentuk potensial selain potensial osilator harmonis masih memungkinkan untuk dicoba, di antaranya potensial sumur tak hingga yang menyatakan potensial luar sebagai representasi dari intervensi harga pemerintah dipadu dengan potensial lain seperti potensial osilator tak harmonis, potensial Coloumb dan masih banyak lagi potensial lain. Suatu saat diharapkan dapat ditentukan berbagai potensial interaksi dan potensial luar yang sesuai untuk berbagai jenis pasar. Sebagai contoh jika pemerintah menetapkan harga gabah berada pada rentang harga Rp 1000 s/d Rp 1500 maka pelaku ekonomi akan mempunyai persepsi harga di sekitar harga tersebut. Perpadanan dengan sistem fisis yaitu jika partikel berada pada sumur potensial tak hingga dengan batas bawah yang menyatakan harga terendah dan batas atas menyatakan harga tertinggi dari pemerintah. Dengan kata lain tidak mungkin memperoleh persepsi harga di luar rentang harga tersebut. V. KESIMPULAN Dalam makalah ini kami telah menunjukkan interaksi antar pelaku ekonomi di pasar barang dengan pemodelan osilator harmonis. Potensial interaksi penjual dan pembeli yang ditunjukkan dengan potensial osilator harmonis. Dan adanya intervensi harga pemerintah (potensial luar) terhadap persepsi harga penjual dan pembeli yang ditunjukan dengan potensial sumur tak hingga. Diharapkan nantinya ide ini akan dapet diterapkan dalam pemecahan masalah-masalah ekonomi yang terkait dengan makalah ini. PUSTAKA
A.D. Murat dan M. Okçu, Toward Quantum Economics Development:Transcending Boundaries, Ankara Üniversitesi SBF Dergisi. pp. 55-3, 1999. [2] S. Sukirno. Ekonomi Mikro: Teori Pengantar, Edisi ke-3. Rajagrafindo Persada, Jakarta. 2005. [3] B. Rifai, D. S. Palupi , M.F. Rosyid M,. Konsep Massa Ekonomis Sebagai Ukuran Kelembaman Pelaku Ekonomi di Pasar Barang.. in press [4] B. Rifai, D. S. Palupi , M.F. Rosyid, Quantum Two Body Problem as Solution Of Transaction Between Buyer and Seller in Good Market, Proceedings 5th Kentingan Physics Forum. pp. 231-233, Solo, 14 Juli 2010. [5] B. Rifai, Quantum Microeconomics Modelling: Economical Mass and Interaction Between Economics Agents in Price Space. Skripsi: Jurusan Fisika, Fakultas MIPA UGM: Yogyakarta. 2010. [1]

Gambar 3. Gaussan Wave Packet. Jika pada osilator harmonis diambil n = 20, maka dengan menggunakan Mathematica diperoleh grafik Gambar 4. Grafik hasil plot untuk n = 0; 1; 2 dan n = 0,1,2,3,.., 20 menunjukkan bahwa persepsi harga pembeli berosilasi di sekitar harga penjual, jika n terus diperbesar sampai mendekati tak berhingga hasil representasi grafik yang diperoleh juga masih sama yaitu persepsi harga pembeli berosilasi di sekitar harga penjual. Untuk potensial sumur tak hingga bisa dipandang sebagai pengambilan batas tertinggi dan batas terendah dari invervensi pemerintah. Peristiwa seperti ini dapat digambarkan sebagai dua buah partikel (agen ekonomi) yang berosilasi di dalam sumur potensial tak berhingga dengan batas bawah harga terendah dan batas atas harga tertinggi yang mungkin.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY [6] [7] M. F Rosyid, Mekanika di Ruang Tak Isotrop, 2008, in press. A .Kondratenko, Physical Modeling of Economic Systems: Classical and Quantum Economies. MPRA Paper No. 10452, posted 25. December 2007.

27

ISSN 0853-0823

28

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Perhitungan Swakonsisten Distribusi Muatan Inti Halo 11Li
Raden Oktova
Program Magister Pendidikan Fisika, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta Kampus II, Jl. Pramuka 42, Yogyakarta 55161 r.oktova@uad.ac.id

Abstrak – Telah dilakukan perhitungan swakonsisten distribusi muatan inti halo 11Li dengan menggunakan metode SkyrmeHartree-Fock. Himpunan parameter Skyrme yang digunakan adalah Z ο , SkM*, dan SkIII. Hasil perhitungan iteratif dengan ketiga himpunan parameter Skyrme menghasilkan distribusi muatan inti dan jari-jari rms muatan inti. Jika dibandingkan dengan nilai eksperimental, perhitungan dengan himpunan parameter SkM* memberikan nilai jari-jari rms muatan paling teliti. Ketelitian hasil perhitungan sangat dipengaruhi oleh kopling spin-orbit dan folding potensial Coulomb. Kata kunci – distribusi muatan, inti halo, 11Li, metode swakonsisten I. PENDAHULUAN Salah satu gejala menarik pada inti-inti eksotik di dekat garis leleh (drip line) nukleon adalah terjadinya efek halo [1], yaitu inti mempunyai jari-jari jauh lebih besar dari ramalan jari-jari inti dalam model tetes cairan [2] karena adanya nukleon yang terikat lemah. Inti 11Li adalah salah satu inti dengan struktur halo yang sudah dikenal baik, yaitu dua buah neutron yang secara longgar mengelilingi suatu teras 9Li. [3] Kajian mutakhir tentang jari-jari muatan inti isotop-isotop Li dilakukan antara lain oleh Sánchez dkk. [4,5], yaitu dengan kombinasi pengukuran pergeseran isotop dan perhitungan pergeseran massa; dan hasilnya menunjukkan bahwa jari-jari muatan menurun secara kontinu terhadap nomor massa inti dari 6Li ke 9Li, kemudian naik dari 9Li ke 11Li; selain itu, diperoleh nilai eksperimental jari-jari rms muatan inti 11Li sebesar 2,467(37) fm. Makalah ini menyajikan suatu model perhitungan secara swakonsisten distribusi muatan pada inti halo. Dengan perhitungan swakonsisten diharapkan dapat ditarik kesimpulan umum yang bukan hanya berlaku untuk inti-inti halo yang sudah dikenal, melainkan juga untuk memberikan prediksi yang cukup teliti akan inti-inti halo yang belum ditemukan. Jika diasumsikan potensial inti mempunyai simetri bola, perhitungan swakonsisten tsb. dapat dilakukan secara iteratif menggunakan metode Hartree-Fock yang memerlukan suatu fungsional kerapatan-tenaga (untuk selanjutnya disebut fungsional saja). Dalam kajian ini digunakan fungsional Skyrme, mengingat fungsional ini telah digunakan secara luas untuk menjelaskan berbagai sifat keadaan dasar inti bola dalam berbagai daerah peta inti [6]. Sebagai bahan kajian awal, dalam makalah ini disajikan contoh hasil perhitungan pada salah satu isotop yang sudah dikenal baik menunjukkan efek halo, yaitu 11Li. II. DASAR TEORI Dalam perhitungan keadaan dasar inti bola dengan model Skyrme-Hartree-Fock, tenaga total inti dapat dituliskan sebagai (1) E = E Skyrme + E coul + E pair − E cm , dengan suku-suku pada ruas kanan berturut-turut adalah tenaga Skyrme, Coulomb, pasangan, dan pusat massa, dan E Skyrme merupakan suku yang dominan. Secara singkat metode perhitungan keadaan dasar inti bola secara swakonsisten dengan model Skyrme-HartreeFock [7] adalah sebagai berikut. Perhitungan keadaan dasar secara swakonsisten didasarkan pada persamaan HartreeFock,
ˆ ˆ ˆ 〈ϕ α | H HF | ϕ β 〉 ≡ 〈ϕα | T | ϕ β 〉 + ∑ 〈ϕα ϕ j | V | ϕ j ϕ β 〉 a = ε α δ αβ , (2)
j =1 N

dengan subskrip “a” menunjukkan fungsi gelombang bersifat antisimetrik. Persamaan ini dapat diungkapkan dalam wakilan koordinat sebagai
⎧ h2 ⎫ , (3) ∆ + U H ( x )⎬ϕ α ( x ) + ∫ dx´U EX ( x, x´) ϕ α ( x´) = ε α ϕ α ( x ) ⎨− 2m ⎩ ⎭

ˆ dengan Hamiltonian Hartree-Fock H HF dapat dipisahkan menjadi potensial lokal atau Hartree berbentuk
ˆ ˆ U H ( x) = ∑ ∫ dx´ ϕ j * ( x´) V ( x, x´) ϕ j ( x´),
j =1 N

(4)

dan suatu potensial nonlokal atau pertukaran

ˆ ˆ U EX ( x, x´) = ∑ ϕ j * ( x´) V ( x, x´) ϕ j ( x´).
j =1

N

(5)

Potensal Skyrme menyajikan suatu gaya berjangkauan nol yang bergantung pada kerapatan dan momentum,
r r VSkyrme = t 0 (1 + x0 Px )δ (ri − rj ) r r r r r r r r + 1 t1 (1 + x1 Px ) ( pi − p j ) 2 δ (ri − rj ) + δ (ri − rj )( pi − p j ) 2 2 r r r r r r + t 2 (1 + x2 Px )( pi − p j ) ⋅ δ (ri − rj )( pi − p j ) r r + 1 t 3 (1 + x3 Px )ρ α (r )δ (ri − rj ) 6 r r r r r r r r + it4 ( pi − p j ) ⋅ δ (ri − rj )(σ i + σ j ) × ( pi − p j ) ,

{

}

(6)

r r r Px adalah operator pertukaran ruang ri ↔ r j , σ vektor
matriks spin Pauli, dan r = (ri + r j ) / 2 , dan parameterparameter t 0 , x0 , t1 , x1 , t 2 , x 2 , t3 , x3 , α , t 4 ditentukan secara empiris dari data jari-jari rms dan tenaga ikat inti. Bentuk potensial sederhana tsb. memungkinkan nilai harap tenaga untuk determinan-determinan Slater dapat dihitung dari besaran-besaran kerapatan dan arus partikel berikut,

r

r

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

29

r r r ρq(r ) = ∑ w β ϕ β (r )+ϕ β (r ),
β∈q

melalui Hamiltonian medan rata-rata hq yang bergantung

r r r r r ∇J q (r ) = −i ∑ wβ ∇ϕ β (r ) + ⋅ ∇ × σϕ β (r ),
β∈q

r r i r r r r j q(r ) = ∑ w β ∇ϕ β (r )+ϕ β (r ) − ϕ β (r )+ ∇ϕ β (r ) , 2 β∈q r r r τ q(r ) = ∑ w β ∇ϕ β (r )+ ⋅ ∇ϕ β (r ),

[

]

(7)

β∈q

pada kerapatan. Karena nukleon yang terikat lemah pada inti halo mempunyai kontribusi penting dalam gerak pusat massa, koreksi pusat massa perlu diperhitungkan untuk inti halo. Prosedur pertama adalah dengan suatu koreksi diagonal, dapat dihitung koreksi massa efektif ⎡ 1⎤. (12) m = m 1−
eff

dengan

ϕβ

⎢ ⎣

A⎥ ⎦

adalah fungsi gelombang partikel-tunggal

keadaan β , dan indeks isospin q meliputi keadaan-keadaan proton dan neutron. Peluang pengisian keadaan β adalah

dan operator dua-benda tenaga kinetik pusat massa r r dihampiri dengan operator satu-benda, ∑ p cm 2 ≈(∑ pi ) 2 . Prosedur ini mungkin baik untuk perhitungan keadaan dasar namun dapat menghasilkan parameter massa yang kurang tepat untuk translasi, rotasi, vibrasi dan fisi. Suatu koreksi pusat massa yang lebih konsisten adalah dengan tetap menggunakan massa nukleon bebas namun tenaga dari perhitungan Hartree-Fock dikurangi dengan tenaga titik nol translasi (zero-point-motion energy, ZPE) r 2 〈p 〉 (13) Z trans = cm , 2 Am r dengan pcm adalah operator momentum pusat massa. Pemilihan prosedur ini konsisten dengan koreksi ZPE dalam perhitungan-perhitungan kolektif inti [8], namun memerlukan waktu lama dalam perhitungan komputasi. Jika telah diperoleh penyelesaian pers. Hartree-Fock (10), dan diperoleh nilai wβ , dapat dihitung tenaga sistem dari fungsional

wβ . Bila suatu kulit sepenuhnya terisi, maka wβ = 1 ,
namun nilai-nilai pecahan dapat terjadi untuk inti-inti tanpa bilangan ajaib (nonmagic nuclei), dan pengisian ini dapat dihitung dengan skema perhitungan gaya pasangan. Khusus untuk keadaan dasar inti bola, dalam koordinat bola fungsi gelombang partikel-tunggal dapat dipisahkan, r R (r ) (8) ϕ β (r ) = β Y jβ l β mβ (θ ,φ ), r dengan Y j l m (θ , φ ) adalah fungsi-fungsi harmonik bola
β β β

spinor. Fungsi gelombang radial

Rβ (r ) tidak bergantung

pada bilangan kuantum m β . Fungsional tenaga Skyrme dapat dinyatakan dalam bentuk
∞ ⎧ h2 2 E Skyrme = 4π ∫ dr r 2 ⎨ τ + 1 t 0 (1 + 1 x0 ) ρ 2 − 1 t 0 ( 1 + x0 )∑ ρ q 2 2 2 2 q 0 ⎩ 2m 1 1 + 12 t 3 (1 + 1 x3 ) ρ α + 2 − 12 t 3 ( 1 + x3 ) ρ α ∑ ρ q 2 2 2

E Skyrme . Namun sebagian besar informasi

− 1 [t1 ( 1 + x1 ) − t 2 ( 1 + x2 )]∑ ρ qτ q 4 2 2
q 1 − 16 [3t1 (1 + 1 x1 ) − t 2 (1 + 1 x2 )]ρ∇ 2 ρ 2 2 1 + 16 [3t1 (1 + 1 x1 ) + t 2 (1 + 1 x2 )]∑ ρ q ∇ 2 ρ q 2 2 q

+ 1 [t1 (1 + 1 x1 ) + t 2 (1 + 1 x2 )]ρτ 4 2 2

q

(9)

tenaga dapat diperoleh dari tenaga partikel-tunggal

εβ .

Gaya Coulomb mempunyai jangkauan tak terhingga, sehingga akan sangat menghabiskan waktu jika suku pertukaran dihitung secara eksak; bagian ini dihitung dengan hampiran Slater, dan diperoleh tenaga Coulomb, 1 1 (14) E = e 2 d 3 d 3 ´ρ ( ) , ρ ( ') + E
Coul

2

C

| − '|

C

Coul,exch

r ⎤⎫ ⎡ r ⎪ − t ⎢ ρ∇J + ∑ ρ q ∇J q ⎥ ⎬ , q ⎣ ⎦⎪ ⎭
1 2 4

dengan suku pertukaran
3⎛ 3 ⎞ 4/3 (15) E Coul,exch = − ⎜ ⎟ .4π ∫ dr r 2 ρ pr , 4⎝π ⎠ 0 dan sumbangannya pada potensial Hartree-Fock dapat dihitung dengan variasi (16) U Coul = U Coul,dir + U Coul,exch ,
1/ 3 ∞

dengan ∇ = ∂ 2 + 2 ∂ r , kerapatan total ρ = ρ proton + ρneutron, r r
2

r r r τ = τ proton +τ neutron, kerapatan arus total J = J proton + J neutron, r r r r dan ∇J = ∇J proton + ∇J neutron . Untuk keadaan dasar arus j

Dengan suku langsung
− ∆ U Coul, dir = 4π e 2 ρ C , U Coul, exch ⎛3⎞ = −⎜ ⎟ ⎝π ⎠
1/ 3

nol, sedangkan besaran-besaran kerapatan dan arus dalam pers. (7) menjadi fungsi radial r dan turunannya. Dalam wakilan bola, persamaan Hartree-Fock untuk Rβ (r) dapat diungkapkan sebagai

(17)
.

ρ pr

1/3

hq Rβ = ε β Rβ ,
dengan Hamiltonian medan rata-rata (Hartree-Fock)

(10) (11)

Perhitungan dalam kajian ini menggunakan gaya pasangan sederhana (skematik) dengan fungsional berbentuk
⎡ ⎤ E pair = −∑ G q ⎢ ∑ wβ (1 − wβ ) ⎥ , q ⎣ β ∈q ⎦
2

r r hq = ∂ r B q ∂ r + U q + U ls ,q l ⋅ σ,

(18)

B q , U q dan U ls ,q merupakan fungsi r r dari ρ q , ρ , J q , dan J . Perlu diperhatikan bahwa pers.
dengan operator (10) bersifat nonlinear dalam fungsi gelombang

dengan unsur matriks gaya pasangan dengan bentuk dan

G q adalah konstan

G proton = 22 / A dan Gneutron = 29 / A ,

Rβ (r )

wβ dihitung secara iteratif dengan hampiran BCS.

ISSN 0853-0823

30

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Kerapatan muatan inti dihitung dengan transformasi invers Fourier-Bessel terhadap faktor bentuk proton dan neutron 1 (19) ρ c ( r ) = 2 ∫ dk k 2 j0 (kr ) FC (k ), 2π dengan j0 fungsi Bessel bola orde nol, dan diperoleh jarijari rms muatan inti

lengkap (suku langsung dan tidak langsung) sesuai pers. (14-17), suku pasangan (18) diperhitungkan dengan skema BCS. Perhitungan kerapatan muatan inti ρ c ( r ) secara lengkap memperhitungkan folding muatan nukleon bebas dengan faktor bentuk (19), dan koreksi gerak pusat massa dilakukan secara lengkap (dengan operator dua-benda) menggunakan pers. (13). IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Perhitungan jari-jari rms muatan inti dapat dilakukan dengan membedakan massa proton dan neutron sehingga 2 sehingga 2h2 = 20,735 MeV.fm2 dan 2hm = 20,721 MeV.fm2 , m
p
n

rc =

3 d 2 FC (k ) . FC (0) dk 2 k =0

(20)

III. METODE PERHITUNGAN Untuk membantu perhitungan numerik, program Fortran 77 HAMOMN [7] digunakan pada komputer pribadi dengan bahasa pemrograman Windows Compaq Visual Fortran Professional Edition 6.5. Himpunan parameter fungsional Skyrme yang digunakan adalah Z ο , SkM*, dan SkIII [9], dengan nilai parameter-parameter seperti ditunjukkan dalam Tabel I.
TABEL I PARAMETER FUNGSIONAL SKYRME UNTUK HIMPUNAN PARAMETER Z ο , SkM*, DAN SkIII Parameter

Zο
-1983,76 362,252 -104,27 11861,4 123,69 1,1717 0 0 1,7620 0,25

SkM* -2645,0 410,0 -135,0 15595,0 130,0 0,09 0 0 0 0,16667

SkIII -1128,75 395,0 -95,0 14000,0 120,0 0,45 0 0 1,0 1,0

t0

t1 t2 t3 t4 x0 x1 x2 x3

α

Proses iteratif untuk menyelesaikan persamaan HartreeFock radial (pers. 10) guna mendapatkan keadaan dasar inti dimulai dengan potensial osilator harmonik isotropik [10] sebagai tebakan awal. Ruang koordinat radial dibagi menjadi 31 titik kisi, dengan ukuran langkah 0,3 fm. Cacah aras partikel-tunggal yang digunakan, nmax dihitung sedemikian rupa sehingga seluruh cacah nukleon (proton atau neutron) dapat tertampung dalam aras-aras tersebut. Langkah iterasi dihentikan ketika terpenuhi dua syarat sekaligus: (a) selisih nilai tenaga total partikel-tunggal (pers. 1) pada dua langkah berurutan lebih kecil atau sama dengan nilai toleransi tenaga tertentu., dan (b) selisih nilai jari-jari muatan pada dua langkah berurutan lebih kecil atau sama dengan nilai toleransi jari-jari tertentu. Dalam kajian ini digunakan nilai toleransi tenaga dan jari-jari berturut-turut sama dengan 0,001 MeV dan 0,001 fm. Kecuali dikatakan lain, perhitungan yang lengkap memperhitungkan semua suku fungsional tenaga total dalam pers. (1), khususnya fungsional tenaga Skyrme pers. (9), dengan memperhitungkan sumbangan tenaga Coulomb

dan dapat juga dilakukan dengan massa proton dan neutron 2 h2 bebas sama sehingga 2m = 20,7525MeV.fm . Ternyata kedua prosedur pemilihan massa nukleon tsb. tidak berpengaruh terhadap jari-jari rms muatan inti yang diperoleh, namun ternyata akan berpengaruh jika kopling spin-orbit diabaikan. Pada Tabel II ditunjukkan hasil perhitungan jari-jari rms muatan inti dengan menggunakan massa proton dan neutron bebas sama. Jika kopling spinorbit dalam fungsional tenaga Skyrme tidak diperhitungkan, selisih antara nilai terhitung dari nilai eksperimental 2,467 fm [2] untuk perhitungan dengan himpunan parameter Z ο , SkM*, dan SkIII berturut-turut adalah -0,105, -0,039, dan -0,107 fm, sedangkan jika kopling spinorbit diperhitungkan maka selisih antara nilai terhitung dari nilai eksperimental berturut-turut menjadi -0 ,088, -0 ,020, dan -0 ,092 fm, jadi pengaruh kopling spinorbit adalah menurunkan jari-jari rms muatan inti sekitar 0,2 fm Z ο dan SkIII, namun hanya sekitar 0,06 untuk SkM*. Terlihat bahwa semua hasil perhitungan jari-jari rms muatan inti lebih kecil daripada nilai eksperimentalnya, dan perhitungan dengan himpunan parameter SkM* adalah yang paling teliti, baik dengan maupun tanpa kopling spin-orbit. Sebaliknya perhitungan dengan himpunan parameter SkIII adalah yang paling tidak teliti, baik dengan maupun tanpa kopling spin-orbit. Dengan memperhitungkan kopling spinorbit, diperoleh hasil perhitungan yang lebih teliti. Menarik untuk dilihat bahwa nilai parameter t 4 , yaitu parameter terkait kopling spin-orbit pada potensial Skyrme (pers. 6), adalah yang terbesar pada SkM* dan terkecil pada SkIII, suatu petunjuk bahwa kopling spin-orbit boleh jadi merupakan salah satu faktor paling berpengaruh terhadap ketelitian hasil perhitungan jari-jari rms muatan inti. Grafik distribusi kerapatan muatan sebagai fungsi jarak radial hasil perhitungan dengan ketiga himpunan parameter (dengan memperhitungkan kopling spin-orbit) tidak menunjukkan perbedaan yang berarti satu sama lain, sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 1. Sayang, tidak tersedia data eksperimental untuk menguji ketelitian distribusi muatan hasil perhitungan. Jika dibandingkan dengan jari-jari rms muatan inti, nilai jari-jari rms proton (tanpa folding) menurun sekitar 0,13 fm. Selisih yang besar menunjukkan pentingnya folding potensial Coulomb untuk meningkatkan ketelitian hasil perhitungan.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY TABEL II HASIL PERHITUNGAN JARI-JARI MUATAN, MASSA PROTON DAN NEUTRON SAMA Himpunan Jari-jari muatan, rc (fm) parameter
Tanpa spin-orbit Dengan spin-orbit

31

Zο
SkM* SkIII

2,362 2,428 2,360

2,379 2,447 2,375

dengan kerapatan muatan inti akan diperoleh jari-jari rms muatan inti yang lebih kecil dengan selisih 0,001 fm. Jika suku pertukaran Coulomb dalam pers. (14) diabaikan, diperoleh jari-jari rms muatan inti lebih besar sekitar 0,05 fm hingga 0,08 fm. IV. KESIMPULAN DAN SARAN Pada perhitungan swakonsisten distribusi muatan inti halo Li dengan menggunakan metode Skyrme-Hartree-Fock menggunakan tiga himpunan parameter Z ο , SkM, dan SkIII, himpunan parameter SkM* memberikan nilai jari-jari rms muatan paling teliti. Ketelitian hasil perhitungan sangat dipengaruhi oleh kopling spin-orbit dan folding potensial Coulomb. Pemilihan massa nukleon yang berbeda antara proton dan neutron tidak berpengaruh. Selanjutnya masih dapat dikaji lebih jauh sejumlah informasi menyangkut hasil perhitungan distribusi muatan, misalnya pengaruh pasangan terhadap distribusi muatan positif inti.
11

z
0.08

SkM*

SkIII

Kerapatan muatan, ρ c (e fm -3)

0.06

0.04

0.02

PUSTAKA
[1] P.G. Hansen, and B. Johnson, Europhys. Lett. vol. 4, p. 409, 1987. [2] P. Ring and P. Schuck, The Nuclear Many-Body Problem, Berlin: Springer, first ed. 2nd printing, 2000, p. 3. [3] A. S. Jensen, K. Riisager, D. V. Fedorov, and E. Garrido ”Structure and reactions of quantum halos,” Rev. Mod. Phys. vol. 76, pp. 215261, 2004. [4] R. Sánchez, W. Nörtershäuser, G. Ewald, D. Albers, J. Behr, P. Bricault, B. Bushaw, A. Dax, J. Dilling, M. Dombsky, G.W.F. Drake, S. Götte, R. Kirchner, H.-J. Kluge, Th. Kühl, J. Lassen, C.D.P. Levi, M.R. Pearson, E. Prime, V. Ryjkov, A. Wojtaszek, Z.C. Yan, and C. Zimmermann, Nuclear Charge Radius of Lithium-11, Preprint of GSI Scientific Report 2005 (GSI Report 2006-1) APEXP-SPECTROSCOPY-03. [5] R. Sánchez, W. Nörtershäuser, G. Ewald, D. Albers, J. Behr, P. Bricault, B. Bushaw, A. Dax, J. Dilling, M. Dombsky, G.W.F. Drake, S. Götte, R. Kirchner, H.-J. Kluge, Th. Kühl, J. Lassen, C.D.P. Levi, M.R. Pearson, E. Prime, V. Ryjkov, A. Wojtaszek, Z.C. Yan, and C. Zimmermann, “Nuclear charge radii of 9,11Li: the influence of halo neutrons,” Phys. Rev. Lett. vol. 96, p. 033002, 2006. [6] M. Bender, P.-H. Heenen, and P.-G. Reinhard, Rev. Mod. Phys. vol. 75, p. 121, 2003. [7] P.-G. Reinhard, “The Skyrme-Hartree-Fock model of the nuclear ground state”, in Computational Nuclear Physics 1: Nuclear Structure, K. Langanke, J.A. Maruhn, and S.E. Koonin (eds.), Berlin: Springer Verlag, 1991, pp. 28-50. [8] B. Giraud, and B. Grammaticos, Nucl. Phys. vol. A255, p. 141, 1975. [9] J. Friedrich, and P.-G. Reinhard, Phys. Rev. vol. C33, p. 335, 1986. [10] R.Oktova, ”Perhitungan aras-aras tenaga partikel-tunggal inti bola dalam ruang koordinat,” Jurnal Forum MIPA vol. 5 (1), p.1, 2007.

0.00

0

1

2
Jarak radial, r (fm )

3

4

Gambar. 1. Kerapatan muatan sebagai fungsi jarak radial.

Perhitungan dengan menggunakan massa proton berbeda dari massa neutron memberikan jari-jari rms muatan inti yang sama dengan kolom terakhir Tabel II jika kopling spinorbit diperhitungkan; perbedaannya adalah, jika kopling spin-orbit diabaikan nilai jari-jari rms muatan inti menjadi 0,001 fm lebih kecil daripada perhitungan menggunakan massa proton dan neutron bebas sama. Untuk selanjutnya hanya dibicarakan perhitungan di mana massa proton dibedakan dari massa neutron, dan kopling spin-orbit diperhitungkan dalam fungsional tenaga. Jika digunakan koreksi gerak pusat massa secara kasar dengan pers. (12), jari-jari rms muatan inti yang diperoleh akan berkurang sekitar 0,04 fm dibandingkan jika digunakan koreksi secara lengkap dengan pers. (13). Pada perhitungan tenaga Coulomb (14) digunakan distribusi kerapatan muatan proton, ρ proton , yang jika diganti

ISSN 0853-0823

32

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Metode Penetapan Tingkat Panduan Paparan Medik Di Radiologi Diagnostik dan Tinjauan di beberapa Negara
Putri Suryo Dinoto, Intanung Syafitri
Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN), Jakarta p.dinoto@bapeten.go.id

Abstrak – Salah satu langkah yang diperlukan untuk mendapatkan optimisasi proteksi radiasi pada pasien yang mengalami pemeriksaan radiodiagnostik yaitu penetapan tingkat panduan paparan medik. Optimisasi secara tidak langsung menyatakan bahwa pemeriksaan dilakukan sedemikian rupa sehingga dosis radiasi sekecil mungkin tanpa membahayakan keamanan diagnostik. Dalam hal tersebut harus diterapkan pula justifikasi dengan mempertimbangkan bahwa manfaat lebih besar daripada resiko yang ditimbulkan. Justifikasi dan optimisasi tersebut adalah prinsip proteksi radiasi yang utama pada pemanfaatan sinar-X dalam bidang diagnostik. Istilah tingkat panduan paparan medik untuk pertama kali diperkenalkan oleh Komisi Internasional tentang Proteksi Radiasi (ICRP) pada tahun 1996, khususnya sebagai pedoman yang ditetapkan oleh badan profesional untuk digunakan pada dosis pasien atau asupan radiofarmaka, dan memerlukan kajian jika secara konsisten nilai tersebut terlampaui. Penetapan tingkat panduan paparan medik dapat dilakukan dengan dua metode yaitu menggunakan phantom dan pasien. Di beberapa negara (Jerman, Portugis, dan Uni Emirat Arab), penetapan tingkat panduan paparan medik dilakukan dengan menggunakan pasien yang memiliki berat badan standar (Jerman 70 ±3 kg, Portugis 70 ±10 kg, Uni Emirat Arab 65 dan 75 kg) pada minimum 10 pasien. Dosis hasil pengukuran akan dibandingkan dengan tingkat panduan paparan medik yang ditetapkan sebelumnya. Kata kunci: radiologi diagnostik, tingkat panduan paparan medik I. PENDAHULUAN Untuk memastikan paparan pada pasien adalah seminimum mungkin yang dapat dicapai maka perlu mempertimbangkan mutu citra sesuai dengan yang ditetapkan lembaga profesional dan tingkat panduan paparan medik (guidance level) yang relevan. Tingkat panduan paparan medik merupakan penerapan dari prinsip optimisasi proteksi dan keselamatan radiasi yang dinyatakan dalam Publikasi IAEA Safety Series 115 Tahun 1996 (BSS-115).[1] Hal ini yang menjadi bahan pertimbangan Peraturan Perundang-undang Nasional dalam hal penerapannya di Indonesia. Tingkat panduan diatur dalam Peraturan Kepala BAPETEN No. 01-P/Ka-BAPETEN/I-03 tentang “Pedoman Dosis Pasien Radiodiagnostik,”[2] dan dalam Draft Peraturan Kepala BAPETEN tentang “Ketentuan Keselamatan Penggunaan Pesawat Sinar-X untuk Radiologi Diagnostik dan Intervensional.” II. METODE PENENTUAN TINGKAT PANDUAN PAPARAN MEDIK Ada 2 (dua) metode yang berbeda untuk menetapkan tingkat panduan paparan medik, yaitu dengan mengunakan: 1. Phantom 2. Pasien Penggunaan phantom memiliki beberapa keuntungan, yaitu dapat dilakukan satu atau dua kali penyinaran untuk tiap jenis pemeriksaan dan pesawat sinar-X. Namun demikian penggunaan phantom hanya mungkin dilakukan jika tersedia phantom untuk berbagai jenis pemeriksaan atau tersedianya faktor konversi dari phantom ke pasien. Pengukuran tingkat panduan paparan medik pada pasien dilakukan dengan mengunakan Thermoluminescence Dosemeter (TLD) yang dipasang pada bagian tubuh pasien yang diperiksa atau dengan mengukur Dose Area Product (DAP, Gycm2). DAP lebih praktis karena beberapa hal: 1. seluruh pemeriksaan dapat direkam; 2. posisi pasien pada berkas kurang penting dibandingkan dengan menggunakan TLD; dan 3. pengukuran tidak mengganggu pemeriksaan terhadap pasien. Pengukuran tingkat panduan paparan medik dilakukan pada pasien dengan ukuran standar yaitu pasien dengan berat badan 70 ± 3 kg. Untuk mendapatkan hasil dosis pada pasien dengan ukuran standar diperlukan pangukuran dosis pada minimum 10 pasien per jenis pemeriksaan dan proyeksinya. Pada beberapa pengujian jumlah pasien yang tersedia dalam jangka waktu yang relatif pendek tidak cukup. Selain itu pasien dapat sangat berbeda dalam hal ukuran dan bentuk, sehingga pada kenyataannya jumlah pasien yang benar-benar standar adalah sangat sedikit. Karena ukuran dan bentuk seseorang juga berbeda di antara populasi, rentang jenis pasien per-negara dapat dikaji. Untuk penggunaan tingkat panduan yang telah disetarakan, faktor koreksi harus dikaji dan diterapkan. Setelah tingkat panduan paparan medik ditetapkan dengan pengukuran dosis pasien baik menggunakan phantom standar maupun sekelompok pasien dengan ukuran standar, maka tingkat panduan tersebut harus dikaji ulang secara periodik untuk mengevaluasi kesesuaian pada tingkat panduan paparan medik standar. Tingkat panduan paparan medik untuk radiologi diagnostik harus didasarkan pada dosis yang diukur dari berbagai jenis rumah sakit, klinik, dan tempat praktek, serta tidak hanya pada rumah sakit yang memiliki peralatan yang bagus.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

33

III. TINGKAT PANDUAN DI BERBAGAI NEGARA B. Malaysia[4] A. Swiss
[3]

Di negara Swiss, strategi untuk menetapkan tingkat panduan terdiri dari: 1. menggunakan bilangan Uni Eropa jika memungkinkan; 2. menghitung nilai tingkat panduan dari rata-rata dosis yang ditetapkan sebelumnya; dan 3. mengadakan survei dosimetrik secara nasional dengan tujuan untuk menentukan tingkat panduan yang difokuskan pada pemeriksaan CT dan dosis pada pemeriksaan fluoroskopi. Kajian di negara Swiss ini menggambarkan survei fluoroskopi. Metode yang digunakan pada survei ini; mencakup 5 bidang radiologi dan 9 bidang kardiologi dalam 9 rumah sakit umum dan klinik. Setiap pusat dilakukan pencatatan 20 pemeriksaan untuk tiap jenisnya. Dari 4 pusat diperoleh data untuk 2 kombinasi pemeriksaan yaitu tindakan angiografi koroner dilanjutkan dengan tindakan PCI dan tindakan elektropsiologi dengan thermoablasi.. Pusat diminta mengisi kuisioner untuk tiap pemeriksaan yang terdiri dari berbagai informasi seperti waktu fluoroskopi, jumlah citra analog dan frame digital, perkalian dosis-luasan (DAP), kasus yang sulit, data pasien (umur, jenis kelamin, tinggi dan berat badan), dan praktisi yang melakukan tindakan (spesialisasinya, pengalaman kerja dalam melakukan tindakan, jumlah tindakan yang sanggup dilakukan). Selama kajian ini telah dilakukan pendataan pada 1000 pemeriksaan. Itu menunjukkan respon yang baik karena mencapai 70% dari kondisi ideal yang diharapkan yaitu 1440 pendaftaran yang ada dan diperoleh rata-rata 77 pemeriksaan per pusat dan 83 pemeriksaan per jenisnya. Ditetapkan nilai 75% dari distribusi, dalam hal ini DAP, diperkirakan dan diajukan sebagai tingkat panduan untuk jenis pemeriksaan yang diperoleh dalam kajian ini. Tingkat panduan dapat dilihat pada Tabel 1. TABEL 1. TINGKAT PANDUAN UNTUK 14 JENIS PEMERIKSAAN Jenis Pemeriksaan DAP (mGy.cm2) Barium meal 60 Lower limb and iliac angiography 210 Cerebral angiography 125 Barium enema 150 Coronary angiography (CA) 80 Electrophysiology (EP) 10 Hepatic embolisation 620 Biliary drainage and stent insertion 240 Cerebral embolisation 440 Iliac dilatation and stent insertion 460 Percutaneous coronary intervention (PCI) 110 Cardiac thermo-ablation (CTA) 140 CA + PCI 260 EP + CTA 280

Pemantauan dosis radiasi yang diterima pasien menjadi pusat perhatian di negara Malaysia. Dosis tindakan itu sendiri diharapkan dapat mencapai optimasi yaitu jumlah radiasi yang diperlukan bagi pasien rendah, penaksiran akan faktor gangguan pada kesehatan yang disebabkan radiasi pada pasien sebanding dengan manfaat, adanya audit klinis, dan panduan medik. Survei dosis secara nasional dilakukan pertama kali di Malaysia tahun 1993 hingga tahun 1995 dengan 7 jenis pemeriksaan dan 12 proyeksi yaitu: Manfaat yang diperoleh negara Malaysia dengan melakukan survei nasional ini adalah: 1. meningkatkan kesadaran dan perhatian para ahli di bidang radiologi, 2. implementasi teknik penurunan dosis, 3. melaksanakan program jaminan mutu, 4. sebagai dasar untuk panduan dosis nasional yang mengacu pada BSS 115, dan 5. menyediakan informasi dosimetri pada pasien. Nilai terimaan dosis pasien radiodiagnostik hasil dari survei nasional negara Malaysia dapat dilihat pada Tabel 2. C. Portugis[5] Tingkat panduan lokal dilaksanakan untuk pemeriksaan radiologi rutin di Pusat Onkologi di Coimbra, Portugal (IPOFG-CROC, S.A). Penentuan nilai dosis di setiap pemeriksaan radiologi harus didiskusikan. Diambil sample pasien sekurang-kurangnya 10 pasien dewasa untuk setiap jenis pemeriksaan. Ketebalan rangka anterior-posterior (AP) rata-rata 20 cm dan berat rerata 70 kg ± 10 kg (tidak termasuk pasien dengan berat di atas 90 kg dan di bawah 50 kg). Dengan belum tersedianya tingkat panduan di negara Portugis, maka nilai dosis yang didapatkan dibandingkan dengan tingkat panduan Eropa. Dosis entrans adalah salah satu kuantitas yang direkomendasikan yang harus sesuai dengan tingkat panduan pada pemeriksaan dan prosedur Radiologi Konvensional yang sering dilakukan. Dosis entrans dimaksudkan sebagai dosis serap di udara pada titik potong berkas dengan permukaan tubuh pasien yang berukuran standar, termasuk hamburan balik radiasi. Nilai dosis entrans diperoleh dari pemeriksaan radiologi yang berbeda untuk setiap paparan, 2 TLD dengan setiap TLD dilengkapi dengan penutup proteksi Mylar yang tipis yang ditempatkan pada kulit pasien pada garis potong berkas. Lebih kurang 10 pasien dipilih untuk setiap jenis pemeriksaan. TLD selain digunakan untuk perhitungan dosis, juga digunakan untuk dosimeter kontrol untuk semua prosedur kecuali paparan radiasi agar mendapatkan faktor koreksi latar (background). Nilai dosis kulit dapat dibandingkan dengan tingkat panduan Eropa untuk setiap jenis pemeriksaan, yang diperoleh melalui nilai rerata sampel pasien untuk setiap pasien ESDpasien = TL ∗ Fcal

ISSN 0853-0823

34

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

dengan ESDpasien nilai rata-rata untuk kedua TLD yang diletakkan pada kulit pasien, TL hasil bacaan untuk setiap dosimeter, koreksi untuk background, dan Fcal faktor kalibrasi dosis. Nilai terimaan dosis pasien radiodiagnostik negara Portugis dapat dilihat pada Tabel 2. IV. PERBANDINGAN ANALISIS DOSIS PASIEN DENGAN NEGARA LAIN Pada tahun anggaran 2007 P2STPFRZR-BAPETEN telah melaksanakan kajian tentang Pengawasan Keselamatan Radiologik di Fasilitas Radiologi Diagnostik dan Intervensional khususnya yang dikaitkan dengan tingkat panduan paparan medik, meliputi paparan medik dalam

radiologi diagnostik, justifikasi pemanfaatan, optimisasi proteksi dan keselamatan radiasi. Hasil survey dari kajian yang telah dilaksanakan berdasarkan data terimaan dosis pasien radiodiagnostik di beberapa rumah sakit di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2 menyajikan perbandingan terimaan dosis pasien yang diperoleh dalam survei tersebut dengan nilai terimaan dosis pasien pada pemeriksaan radiodiagnostik yang dilakukan di negara lain, seperti Portugis, UK dan Malaysia. Secara umum, dengan asumsi yang sangat konservatif dalam hal ini metode, jumlah sampel dan postur tubuh dianggap sama, maka nilai terimaan dosis pasien pada beberapa jenis pemeriksaan radiodiagnostik yang dilakukan di Indonesia masih di bawah nilai dosis hasil survei negara lain.

TABEL 2. PERBANDINGAN NILAI TERIMAAN DOSIS PASIEN RADIODIAGNOSTIK DI BEBERAPA NEGARA.

No.

Jenis Pemeriksaan

Proyeksi

Hasil dosis pemeriksaan beberapa rumah sakit di Indonesia (mGy)

Portugis
[4]

(mGy)

NRPB (1990) (mGy)

UK National (mGy)

Malaysia [5] (mGy)

1

Thorax (dada)

AP PA

2,006 0,205 2,723 5,741 2,326 0,236 2,439 0,391 0,233 0,369 0,090 0,054 0,056 4,038 1,597 0,080

0,2 6,7 7,6 1,5 5,1 -

0,18 7,68 19,7 4,20 2,19 6,68 5,67 -

0,3 10 30 5 3 10 10 -

0,3 10,2 17,9 5,9 4,0 9,9 5,2 -

2

Lumbo Sacral (tulang pinggang)

AP LAT

3

Skull (kepala)

AP LAT

4

Shoulder (bahu)

AP LAT

5

Genu (lutut)

AP LAT

6

Femur (ekst. bawah)

AP LAT

7

Manus (ekst. atas)

AP PA LAT

8

Abdomen (perut)

AP LAT

9

Pelvis (tulang pinggul)

AP LAT

10

Wrist Joint

LAT

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

35 [2] [3] Peraturan Kepala BAPETEN No. 01-P/Ka-BAPETEN/I-03 tentang Pedoman Dosis Pasien Radiodiagnostik, 2003. A. Aroua1, S. Baechler, H. Rickli, Ph. R. Trueb, P. Vock and F. R. Verdun1, Swiss National Reference Levels in Fluoroscopy, Institut Universitaire de Radiophysique Appliquée, Lausanne, Cardiology Department, Kanton Hospital, Saint-Gall, Federal Office of Public Health (FOPH), Bern, Universitätsspital Bern, Institut für Diagnostische Radiologie, Bern, 2005. Ng Kwan-Hong, PhD, ABMP, Monitoring of Radiation Doses to Patient and Stuff, Departement University of Malaya Medical Centre, 2000. Local Diagnostic Reference Levels At The Portuguese Institute Of Oncology Francisco Gentil of Coimbra, Lopes M.C.2, Brás S.1, De Sousa M.C.1 LIP-Algarve, FCT, University of Algarve, Portugal2 Medical Physics Department, IPOFG-CROC, S.A., Coimbra, Portugal, 2003.

V. KESIMPULAN Secara umum dengan pertimbangan yang sangat konservatif, nilai terimaan dosis pasien pada beberapa jenis pemeriksaan radiologi diagnostik yang dilakukan di Indonesia masih lebih rendah dibandingkan dengan nilai dosis hasil survei yang dilakukan oleh negara lain. Mengacu pada rekomendasi IAEA bahwa semua prosedur harus dievaluasi secara rutin tiap tahun, yaitu meliputi evaluasi uji klinis, mutu berkas, dan penilaian dosis. Pemantauan lebih lanjut dilakukan pada radiologi intervensional, penghitungan tomografi, radiografi digital, dan penggunaan non-radiologi. PUSTAKA
[1] Safety Series 115, International Basic Safety Standards for Protection Against Ionizing Radiation and for the Safety of Radiation Sources, 1996.

[4]

[5]

ISSN 0853-0823

36

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Standardisasi Iodium-125 Menggunakan Sistem Koinsidensi FotonFoton dengan Detektor NaI(Tl)-NaI(Tl)
Pujadi, Gatot Wurdiyanto dan Hermawan Candra
Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi Badan tenaga Nuklir Nasional Jl. Lebak Bulus Raya - Jakarta Selatan pujadi@batan.go.id

Abstrak - Radionuklida Iodium – 125 banyak digunakan pada kedokteran nuklir terutama untuk diagnosis gangguan pada thyroid. Selain itu sumber standar Iodium -125 juga digunakan sebagai sumber standar untuk kalibrasi beberapa peralatan di bidang kedokteran. Iodium-125 memancarkan foton gamma dengan energi yang relatif rendah tersebar dari 27,2 – 35,5 keV. Sumber Iodium-125 cair dalam bentuk Kalium Iodida (KI) dalam H20 dipreparasi menjadi titik padatan dalam bentuk AgI dengan menambahkan AgNO3, pada penyangga sumber dari plastik poliester tipis. Metode pengukuran aktivitas secara absolut Iodium-125 dilakukan menggunakan sistem koinsidensi foton-foton dengan dua buah detektor NaI(Tl) – NaI(Tl), yang diletakkan berhadap-hadapan dan dilengkapi dengan unit koinsidensi, sehingga diperoleh laju cacah gamma-1, gamma-2 dan koinsidensi. Dua metode dilakukan pada pengukuran Iodium-125, metode pertama dengan variasi jarak sumber ke detektor 10 sampai 100 mm dengan masing-masing rentang 10 mm dan metode kedua dengan jarak tetap (tidak divariasikan). Pencacahan dilakukan pada salur energi foton gamma 13 – 42 keV, waktu pengukuran 1000 detik dan setiap cuplikan dilakukan pengukuran 10 kali pengulangan. Koreksi pengukuran untuk mendapatkan nilai aktivitas Iodium-125 dilakukan terhadap cacah latar belakang, waktu mati detektor dan waktu resolusi. Pengukuran aktivitas Iodium-125 dengan metode pertama, variasi jarak sumber ke detektor, didapatkan variasi efisiensi berkisar antara 7,4 – 9,1 %. Hasil pengukuran dengan metode pertama didapatkan nilai aktivitas (446,56 ± 3,1) kBq/g dan dengan metode kedua (444,96 ± 1,67) kBq/g, perbedaan dari kedua pengukuran 0,36%. Kedua hasil pengukuran aktivitas Iodium-125 tersebut bersesuaian dengan hasil pengukuran aktivitas secara relatif menggunakan Kamar Pengionan 4πγ yang dikalibrasi dengan sumber standar dari PTB – Jerman , dengan perbedaan 0,76 -1,28 %. Kata kunci: standardisasi, Iodium-125, gamma-gamma, koinsidensi Abstract - Radionuclide Iodine - 125 are widely used in nuclear medicine mainly for the diagnosis of thyroid disorders. The standard source of Iodine -125 is also used as standard sources for the calibration of some equipment in the medical field. Iodine-125 emits photons with relatively low energy spread from 27.2 to 35.5 keV. Iodine-125 solution was in the form of potassium iodide (KI) in H20 solution, prepared to point source solid form AgI by adding AgNO3 , on a thin polyester film plastic as support. The absolute methods of measuring activity of Iodine-125 carried out using photon-photon coincidence system with two NaI(Tl) detectors facing each other and is equipped with a coincidence unit, so that obtained the counting rate of gamma-1,-gamma 2 and coincidence. Two methods were performed on the measurement of Iodine-125, the first method with variation of source to detector distance of 10 to 100 mm with each 10 mm range and the second method with a fixed distance (not varied). Counting channel window were taken at the energy region from 13 to 42 keV, measuring time 1000 seconds and each sample was measured 10 times repetition. Correction made to obtain the value of Iodine-125 activity, the single and coincidence count rate were corrected for background, dead time and resolving time. The activity measurement of Iodine-125 with the first method, the efficiency varied by the changing the distance between source and detector, were obtained efficiency between 7.4 and 9,1%. The measurement results obtained with the first method, the value of activity are (446.56 ± 3.1) kBq/g and the second method (444.96 ± 1.67) kBq/g , the result from both methods showed a difference of 0.36%. Both activity value agrees with the results of measurement using the 4πγ ionization chamber (calibrated with standard PTB – Germany standards source) with difference about (0.76 -1.28 )%. Keywords: standardization, Iodine -125, gamma-gamma, coincidence I. PENDAHULUAN pada penggunaan radiasi pengion. Pada kegiatan pengukuran radiasi diperlukan sumber standar radionuklida sebagai acuan dalam pengukuran atau untuk kalibrasi alat ukur radiasi. Salah satu faktor yang mempengaruhi ketelitian dan keakuratan pengukuran radioaktivitas sangat bergantung pada sumber standar radionuklida yang digunakan. Sumber standar radionuklida yang digunakan oleh pemangku kepentingan di Indonesia, seperti lembaga penelitian, industri dan rumah sakit hampir sebagian besar masih impor dari negara lain diantaranya dari USA, Jerman, Perancis dll.

Teknologi dan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang nuklir telah berkembang dan menyebar ke berbagai bidang kegiatan. Oleh karena itu agar pemanfaatan radiasi pengion dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya dengan resiko bahaya radiasi sekecil-kecilnya maka pengukuran radiasi secara tepat dan akurat merupakan suatu hal yang harus benar-benar menjadi prioritas utama. Metrologi radiasi merupakan ilmu pengetahuan dalam bidang pengukuran radiasi meliputi aktivitas, dosis, intensitas radiasi, waktu paro dan sifat-sifat lain dari zat radioaktif, yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

37

Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi (PTKMR) – BATAN, sebagai instansi yang salah satu misinya adalah melakukan penelitian, pengembangan, pengkajian dan pelayanan serta penerapan Iptek nuklir untuk keselamatan, keamanan dan kesehatan radiasi, maka penelitian dan pengembangan dibidang keselamatan radiasi, khususnya dalam bidang metrologi radiasi pengukuran aktivitas dan standardisasi radionuklida harus diarahkan agar dapat memproduksi sumber standar radionuklida sendiri, sehingga mengurangi ketergantungan produk luar negeri, mengurangi nilai impor dan menghemat devisa negara. Atas dasar itu maka dilakukan standardisasi secara absolut radionuklida I-125, dengan metode koinsidensi foton-foton menggunakan dua buah detektor NaI(Tl) yang diletakkan berhadap-hadapan dan dilengkapi dengan unit koinsidensi. Menurut Taylor (1967) dan Walz Schrader (1987), metode koinsidensi foton-foton hanya cocok digunakan untuk standardisasi I-125 karena metode ini hanya dapat digunakan untuk radionuklida yang mempunyai 2 atau lebih pancaran foton yang peluruhannya spesifik dan energinya hampir sama. [1,2] Pengembangan metode ini untuk standardisasi radionuklida yang lainnya, seperti Cd-109, I-129, I-124, dan lain-lain adalah dengan menggunakan tracer I-125. [3] Pada makalah ini dibahas metode koinsidensi fotonfoton untuk standardisasi secara absolut radionuklida I125. II. TEORI

memancarkan dua atau lebih radiasi foton serempak atau cascade tanpa significant delay di antara satu dengan yang lainnya, seperti I-125, pancaran radiasi foton pertama (i=1) menuju ke tingkat energi tertentu di mana pada tingkat energi tersebut dimulainya pancaran radiasi foton kedua (i=2). Pancaran foton setiap seri harus memiliki energi yang berdekatan atau hampir sama, dengan probabilitas disintegrasi sendiri-sendiri (Pij), intensitas Pix = Σ j Pij(X). [1,4,5] Persamaan yang digunakan untuk menghitung aktivitas 125 I dengan metode ini [1,6,7]
N* i

Ni Ni * t BG

− BG ( N ) i 1− t N* i = laju cacah belum terkoreksi (i =1 detektor 1 dan i=2 detektor 2) = laju cacah terkoreksi = waktu mati detektor = cacah latar N i

=

(1)

A. Radionuklida I-125 Radionuklida I-125 meluruh melalui tangkapan elektron, kemudian menuju ke keadaan dasar (ground state) 35,5 keV dari 125Te dengan memancarkan beberapa foton dengan energi yang cukup rendah yaitu 27,5 keV (114%), 31 keV (25,8%) dan 35,5 keV (6,67%), dengan waktu paro 59,4 hari.[3,4] Pancaran foton-foton ini serempak tanpa significant delay di antara satu dengan yang lainnya, sehingga pengukuran aktivitas secara absolut dapat dilakukan menggunakan metode koinsidensi fotonfoton.[1,3] Radionuklida I-125 banyak digunakan di kedokteran nuklir untuk diagnosis maupun terapi. B. Metode koinsidensi foton-foton Metode koinsidensi foton-foton merupakan metode pengukuran aktivitas secara absolut menggunakan dua buah detektor NaI(Tl) yang diletakkan berhadap-hadapan dan dihubungkan dengan unit koinsidensi. Kedua buah detektor yang digunakan sebaiknya memiliki ukuran yang hampir sama, efisiensi intrinsik yang serupa untuk semua jenis foton, sehingga memungkinkan terjadinya cacah koinsidensI.[1] Cuplikan yang diukur berupa sumber titik, yang diletakkan di antara kedua buah detektor tersebut. Ada dua cara yang dapat digunakan untuk pengukuran aktivitas yaitu dengan jarak cuplikan sumber ke detektor tetap, dan jarak cuplikan sumber ke detektor yang bervariasi. [1,2] Metode ini dapat digunakan untuk pengukuran aktivitas secara absolut terhadap radionuklida X, yang

Nc Nc * t R BG

N * − RN * N * c 1 2 − BG ( N ) N = c c 1− t N* c = laju cacah koinsidensi belum terkoreksi = laju cacah koinsidensi terkoreksi = waktu mati detektor = waktu resolusi koinsidensi = cacah latar
⎡ ⎤ N N 2 1 2 = No (1+ K )2 ⎢1− K ε + ε + K εε ⎥ 4K ⎢ 1 + K 1 2 12 2N (1 + K )2 ⎥ c ⎣ ⎦

(2)

(

)

(3)

ε =
1

(1 + K ) N

N2 c [1 − 1 Nc ] /[1 − 1 c ] 4N N 2KN 2 2 N1 2 1 2

(4)

ε =
1

(1 + K ) N

N2 c [1 − 1 Nc ] /[1 − 1 c ] 2KN 2 2 N1 4N N 2 1 2

(5)

K = (1 + α ω ) /[ p ω (1 + α ) k k k k T
N1 N2 Nc N0 ε1 ε2 K Pk : laju cacah sinar gamma terkoreksi pada detektor-1 : laju cacah sinar gamma terkoreksi pada detektor-2 : laju cacah koinsidensi terkoreksi : aktivitas I-125 : efisiensi pada detektor-1 : efisiensi pada detektor-2 : nisbah probabilitas per disintegrasi (= 1,0865) : koefisien konversi pada kulit K : yield fluoresensi pada kulit K : probabilitas tangkapan elektron dari kulit K

(6)

αk ωk

ISSN 0853-0823

38

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

αT

: koefisien konversi total Persamaan (3) disederhanakan dengan asumsi

B. Pencacahan Pencacahan terhadap sumber titik padatan dilakukan menggunakan sistem pencacah absolut koinsidensi fotonfoton dan sistem pencacah relatif spektrometer gamma detektor HPGe, sedangkan untuk sumber bentuk cair diukur menggunakan detektor non diskriminator kamar pengion 4πγ. Sistem koinsidensi foton terdiri dari dua buah detektor NaI(Tl) yang saling berhadap-hadapan, dan dilengkapi dengan sistem koinsidensi, kemudian dihubungkan dengan perangkat amplifier, single channel analyzer (SCA), modul delay signal dan counter. Detektor NaI(Tl) yang digunakan mempunyai kristal dengan ketebalan 6 mm dan diameter 75 mm (sekitar 3 inci) dan dilapisi dengan aluminium foil. Gerbang pencacahan kedua saluran gamma dari kedua detektor dipasang pada daerah energi foton/ gamma 13 – 42 keV.[1,5,8] Gambar 1 menyajikan tipe spektrum I-125 keluaran detektor NaI(Tl), dan ilustrasi pemasangan gerbang saluran gamma. Untuk mendapatkan efisiensi pencacahan yang bervariasi maka pencacahan dilakukan dengan variasi jarak sumber ke detektor dari 10 sampai 100 mm.

Y = Y − mX o
dengan
Y
Y

=
= N

N

N 1 2 2 N c

(7) (8)

(1 + K ) 2 o o 4K K K2 ε ε X = (ε + ε ) − 1 2 1 2 (1 + K ) (1 + K ) 2

(

)

(9)

No =

4K (1 + K ) 2

) Nc(1 − Nc Nc(1 − Nc 2 N 2 ][ N + 2 N1 ] 1 (10) [N + 1 2 Nc 2 Nc 2(1 − ) (1 + K ) 2 2 N1

III. TATA KERJA A. Bahan dan Peralatan Zat radioaktif I-125 yang digunakan dalam bentuk larutan dengan pengemban terdiri dari campuran (Na2SO3 + LiOH + KI) dalam H2O. Zat radioaktif 125I bersifat mudah menguap, sehingga pada waktu preparasi pembuatan cuplikan dalam bentuk titik padatan, perlu ditambahkan larutan Ag(NO)3 untuk menjadikan kristal dalam bentuk AgI. Agar kristal AgI yang didapatkan lebih halus ditambahkan larutan Catanac (SiO2). Penyangga sumber yang dipergunakan adalah plastik polyethylen (PE) tipis, sedangkan cuplikan dalam bentuk cair dibuat dalam wadah ampul gelas standar PTKMR volume 5 ml. Berat setiap cuplikan yang dibuat ditentukan menggunakan timbangan elektronik semi-mikro. Alat ukur aktivitas yang digunakan adalah sistem pencacah absolut koinsidensi foton-foton menggunakan dua buah detektor NaI(Tl), sistem pencacah relatif Spektrometer-gamma detektor LeGe dan sistem pencacah kamar pengion 4πγ. B. Pembuatan cuplikan Cuplikan dibuat dalam dua bentuk yaitu bentuk titik padatan dengan penyangga sumber plastik PE dan bentuk cair pada wadah ampul gelas voleme 5 ml. Pada pembuatan cuplikan bentuk titik padatan, sumber zat radioaktif I-125 diteteskan diatas platik PE dan segera ditambah larutan Catanac (SiO2) dan Ag(NO)3 untuk menjadikan kristal dalam bentuk AgI.[1,3,7] Penambahan larutan Catanac (SiO2) bertujuan untuk mendapatkan kristal AgI yang lebih halus, sehingga memperkecil serapan diri pada cuplikan. Kemudian cuplikan dikeringkan dalam desikator pada suhu ruangan. Setelah kering bagian cuplikan yang terbuka, ditutup dengan plastik PE, untuk mencegah terjadinya kontaminasi. Pembuatan cuplikan dalam bentuk cair dengan wadah ampul gelas volume 5 ml. Berat masing-masing cuplikan ditentukan menggunakan timbangan elektronik semimikro. Untuk cuplikan bentuk titik padatan beratnya bervariasi antara 11,4 – 27,4 miligram, sedangkan cuplikan dalam bentuk cair beratnya berkisar antara 2 – 3 gram.

Gambar 1. Spektrum I-125 keluaran detektor NaI(Tl), dan ilustrasi pemasangan gerbang saluran gamma.

Pencacahan secara relatif menggunakan sistem spektrometer gamma dilakukan menggunakan sumber standar multi gamma Eu-152, sedangkan untuk pencacahan menggunakan kamar pengion 4πγ dilakukan pada jarak cuplikan 7 cm dari dasar lubuk kamar pengion. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada Tabel 1 disajikan hasil pengukuran aktivitas I-125 menggunakan metode jarak sumber–detektor tetap dan dengan variasi jarak sumber ke detektor. Gambar 2 menyajikan hasil pengukuran aktivitas I-125 dengan metode variasi jarak sumber–detektor. Koreksi waktu mati, cacah latar dan waktu resolusi dilakukan pada laju cacah tiap-tiap detektor dan cacah koinsidensi. Pengukuran menggunakan metode jarak sumber–detektor tetap, dilakukan pada beberapa posisi tetap 10, 20, 30, 40, 50, 60, dan 100 mm. Nilai parameter K = 1,0865 dihitung dengan mengadopsi nilai data tabel peluruhan I-125 dari data TdeR Tabel de Radionuclides, [4] sehingga nilai parameter
(1 + K ) 2 4K

= 1,0017.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY
TABEL 1. Hasil Pengukuran aktivitas I-125.

39

No. Cuplikan 01 02 03 04 05 06 07 Rerata :

Aktivitas Jarak Tetap (KBq/gram) 446,87 439,79 446,13 448,33 442,52 442,01 446,24 446,56 ± 3.10

Aktivitas Variasi Jarak (KBq/gram) 445,65 445,01 447,12 442,94 443,28 443,89 446,82 444,96 ± 1.67

Keterangan Jarak (mm) 10 20 30 40 50 60 100

TABLE 2. Komponen ketidakpastian relatif gabungan (%)

Komponen ketidakpastian Statistik pencacahan Penimbangan Waktu mati Waktu cacah Cacah latar Waktu resolusi Parameter skema peluruhan Waktu Paro ( T1/2) Ekstrapolasi kurva efisiensi Ketidakpastian relatif gabungan (Combined relative Standard Uncertainty /quadratic sum)

Metode 1 0,69 0,5 0,05 0,01 0,02 0,02 0,17 0,02 0,67

Metode 2 0,37 0,5 0,05 0,01 0,02 0,02 0,17 0,02 0,35 0,75

12:00WIB. Nilai aktivitas rerata yang diperoleh menggunakan posisi sumber detektor bervariasi 444,96 kBq/g dengan waktu acuan tanggal 15-Juli-2010 jam 12.00. Ketidakpastian relatif gabungan (combined relative standar uncertainty) 0,75%, dengan komponen ketidakpastian pengukuran disajikan pada Tabel 2 ditambah parameter ekstrapolasi kurva efisiensi 0,35%. Hasil pengukuran dengan kedua metode menunjukkan kesesuaian nilai aktivitasnya dengan perbedaan hanya 0,36%. Kedua hasil pengukuran tersebut bersesuaian juga dengan pengukuran secara relatif menggunakan kamar pengion 4πγ yang dikalibrasi menggunakan sumber standar dari PTB- Jerman, perbedaan pengukuran 0,76 dan 1,28%. III. KESIMPULAN DAN SARAN Penentuan aktivitas I-125 secara absolut menggunakan sistem koinsidensi foton-foton, dengan metode jarak detektor dengan sumber tetap maupun jarak detektor dengan sumber divariasikan menunjukkan hasil yang relatif sama. Metode jarak sumber tetap lebih praktis dilakukan dengan keakuratan yang tinggi. Pada waktu preparasi sumber, agar dijaga kemungkinan terjadinya penguapan iodium, denagn jalan Ag(NO3) diteteskan terlebih dahulu di atas penyangga, kemudian sumber diteteskan sesudahnya. IV. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan di Sub Bidang Standardisasi PTKMR-BATAN. DAFTAR PUSTAKA
[1] H. Schrader dan K.F. Walz, Standardization of 25I by photon-photon coincidence counting and efficiency extrapolation. Appl. Radiat. Isot.41, 417, 1987. [2] J.G.V. Taylor, Standardization of Radionuclides, IAEA Vienna, 1967, p.341. [3] H. Schrader, Photon - photon coincidences for activity determination : I-125 and other radionuclides. Appl. Radiat. Isot. 64 (2006) 11791185. [4] T. deR, (2004). Table de Radionuclides. Atomic and Nuclear Data, Recommended data/table BNM-LNHB/CEA – Table de Radionuclides – CEA. http://www.nucleide.org/DDEP_WG/DDEPdata.htm [5] T. Pomme, Altzitglou, R. Van Ammel, G. Sibbens, Nuclear Inst. & Methods in Physics Research Section A, A 544 (2005) 584-592. [6] G. Ratel, J.W. Muller, Trial comparison of activity measurement of solution of I-125. BIPM Report-88/2, February 1988. [7] Maria Sahagia, C. Ivan, E.L. Grigorescu, Anamaria Razdolescu, Standardization of 125I by the Coincidence Method and Practical Applications. Appl. Radiat. Isot. 66 (2008) 895-899. [8] G. Ratel, International comparison of activity measurement of a solution of 125I (May 1988) CCEM-RI(II)/89-2. Bureau International des Poids et Mesures, 1989.

Gambar 2. Penentuan aktivitas dengan variasi jarak sumber ke detektor/ekstrapolasi efisiensi ( jarak 100 mm)

Perhitungan dengan metode kedua nilai aktivitas pada setiap posisi/jarak sumber ke detektor dihitung menggunakan persamaan 3, kemudian dibuat fitting antara aktivitas dan X, Gambar 2, contoh pada penentuan nilai aktivitas menggunakan metode kedua yaitu dengan mengekstrapolasikan X = 0. Aktivitas yang diperoleh pada jarak sumber ke detektor 100 mm, dengan metode ekstrapolasi ke arah Y=0 diperoleh nilai aktivitas sebesar 446,82 kBq/g dengan waktu acuan tanggal 15 Juli 2010,

ISSN 0853-0823

40

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Analisis Kalibrasi Efisiensi Detektor HPGe Rentang Energi 121 – 1408 keV
Pujadi, Gatot Wurdiyanto dan Hermawan Candra
Badan tenaga Nuklir Nasional Jl. Lebak Bulus Raya - Jakarta Selatan pujadi@batan.go.id

Abstrak – Keakuratan dan ketelitian pada pengukuran aktivitas zat radioaktif secara relatif menggunakan sistem spektrometer gamma dengan detektor HPGe, sangat tergantung pada ketelitian dan keakuratan kalibrasi efisiensi dari sistem tersebut. Telah dilakukan analisis terhadap kurva kalibrasi efisiensi sistem spektrometer gamma detektor HPGe, PTKMR – BATAN, pada rentang energi gamma 121 – 1408 keV. Kalibrasi efisiensi sebagai fungsi energi gamma, dilakukan menggunakan sumber standar Europium-152, yang mempunyai sembilan titik puncak energi yang tersebar secara merata pada rentang energi tersebut diatas. Kalibrasi efisiensi dilakukan pada jarak sumber ke detektor 25 cm. Data kurva kalibrasi efisiensi yang dianalisa sebanyak 25 data, yang dibuat dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2010. Analisis dilakukan menggunakan rasio efisiensi terukur (ε) terhadap efisiensi hasil perhitungan (εo) dari persamaan kurva kalibrasi efisiensi sebagai fungsi energi. Nilai rasio efisiensi terukur dan perhitungan dengan persamaan kalibrasi efisiensi, pada rentang energi gamma 121 – 344 keV berkisar antara 0,88 – 1,12 dan pada rentang energi gamma 400 keV keatas rasionya berkisar antara 0,98 – 1,02. Hasil analisis menunjukkan bahwa penentuan efisiensi menggunakan kurva kalibrasi pada daerah energi 121 – 344 keV berbeda 6-12% dengan nilai efisiensi terukur dan pada daerah energi 400 – 1408 keV perbedaan berkisar antara 0,1- 3 % . Kata kunci: kalibrasi, efisiensi, detektor HPGe, Europium-152, akurasi Abstract - Accuracy in determining the relative activities of radioactive materials using HPGe detector gamma spectrometer system, is highly dependent on the precision and accuracy of the efficiency calibration of the detector. The analysis of HPGe detector efficiency calibration curve, PTKMR – BATAN, at the energy range 121 - 1408 keV have been done . Efficiency calibration curve as a function of energy was made using standard sources of Europium-152, which have a nine-point energy peaks distributed evenly in the range of energy mentioned above. Efficiency calibration performed at a distance of 25 cm source to detector. The twenty-five datas of efficiency calibration curve, which made from years 2008 until 2010, are analyzed. Analysis was performed using ratio of the measured efficiency (ε) with calculated the efficiency of the calibration curve equation as a function of energy efficiency (εo). Ratio of measured and calculated efficiency values wiith a calibration equation of efficiency, at energies from 121 to 344 keV ranged from 0.88 to 1.12 and the energy of 400 above the ratio ranged from 0.98 to 1.03. The results show that determining of efficiency using the calibration curve in the energy region 121-344 keV different from 6-12% with the measured efficiency and on the energy region 400 - 1408 keV the difference ranged between 0.1 - 3%. Keywords: calibration, efficiency, HPGe detector, Europium-152, accuracy I. PENDAHULUAN sumber standar radionuklida sebagai acuan pengukuran atau untuk kalibrasi alat sebelum digunakan. Salah satu alat yang banyak digunakan untuk pengukuran secara relati diantaranya adalah spektrometer gamma. Oleh karena itu pengukuran aktivitas zat radioaktif menggunakan spektrometer gamma sangat tergantung dari sumber standar atau sumber acuan yang digunakan untuk kalibrasi [1]. Kalibrasi spektrometer gamma bertujuan untuk mengetahui respon detektor, yang ditunjukkan dengan nilai efisiensi, biasanya disebut kalibrasi efisiensi. Sumber standar yang digunakan untuk kalibrasi efisiensi dapat digunakan sumber campuran yang dapat mewakili data efisiensi pada jangkau energi tertentu atau dapat pula menggunakan sumber standar yang mempunyai banyak energi gamma, seperti Eu-152 yang mempunyai energi dari 121 – 1408 keV. Keakuratan dan ketelitian pada penentuan aktivitas zat radioaktif secara relatif menggunakan sistem spektrometer gamma detektor HPGe, sangat tergantung pada ketelitian dan keakuratan kalibrasi efisiensi detektor. Menurut K. Debertin (1978), Youngseok Lee et al. (1992) terungkap bahwa dari

Teknologi dan ilmu pengetahuan khususnya teknologi di bidang nuklir di Indonesia telah berkembang dengan cepat, menyebar ke berbagai bidang kegiatan. Perkembangan teknologi nuklir ini harus diimbangi dengan kemampuan dalam bidang metrologi radionuklida, yaitu teknologi pengukuran aktivitas dan dosis radiasi, agar teknologi nuklir atau radiasi pengion dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya dengan resiko bahaya radiasi sekecil-kecilnya. Pengukuran radiasi secara tepat dan akurat merupakan suatu hal yang harus benarbenar menjadi prioritas. Metode pengukuran aktivitas radionuklida secara umum dapat dikatagorikan menjadi dua yaitu pengukuran secara absolut dan relatif. Pengukuran secara absolut biasanya di gunakan untuk standardisasi radionuklida, sedangkan pengukuran secara relatif biasanya digunakan untuk pengukuran secara rutin seperti untuk keperluan monitoring radiasi lingkungan, pengukuran sampel dari industri dan lain-lain. Pada pengukuran aktivitas radioaktif secara relatif digunakan

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

41

pengamatan kurva kalibrasi efisiensi detektor HPGe, pada daerah di bawah 600 keV tidak linear, sedangkan pada daerah energi diatasnya cukup linear . Selain itu, terungkap pula pada puncak energi 121,8 keV dari Eu-152 terdapat impuritas energi 123,1 keV dari Eu-154 sebesar 0,32%. Pada puncak energi 244,7 keV memiliki Compton edge ( 119,7 keV) dan backscatter (125 keV), sehingga mengintervensi puncak energi 121,7 keV. Efek jumlah juga mungkin terjadi pada puncak energi 411,1 keV dan pada puncak energi ini terjadi puncak ganda (double peaks) , berhimpit dengan puncak energi 416 keV. Puncak ganda (double peaks) terjadi juga pada puncak enrgi 1112,1 keV yang berhimpit dengan puncak energi 1109,2 keV [2,3,6]. Oleh karena itu pada penelitian ini dilakukan analisis terhadap kurva kalibrasi efisiensi detektor HPGe, PTKMR – BATAN, menggunakan sumber Eu-152, pada rentang energi 121 – 1408 keV. Kalibrasi efisiensi sebagai fungsi energi menggunakan sumber standar Eu-152, yang mempunyai sembilan titik puncak energi yang tersebar secara merata pada rentang energi tersebut di atas. Kalibrasi efisiensi dilakukan pada jarak sumber ke detektor 25 cm. Data kurva kalibrasi efisiensi yang dianalisa sebanyak 25 data, yang dibuat dari tahun 2008 s/d 2010 [3-5]. Analisis dilakukan terhadap rasio efisiensi hasil pengukuran (ε) dengan efisiensi hasil perhitungan dari persamaan kurva kalibrasi efisiensi sebagai fungsi energi (εo). II. TATA KERJA

Kurva kalibrasi efisiensi dibuat sebagai fungsi dari energi dan persamaan kalibrasi efisiensi dibuat menggunakan program Microsoft Office Excel. C. Analisis Efisiensi Setiap kurva kalibrasi efisiensi dianalisis, perbandingan antara efisiensi hasil pengukuran dengan efisiensi hasil perhitungan menggunakan persamaan kalibrasi efisiensi yang diperoleh, pada masing-masing puncak energi gamma. Selain itu dilihat pula kemungkinan terjadinya puncak ganda yang berimpit (double peaks). III. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambar 1 menyajikan contoh kurva kalibrasi efisiensi, pada jangkau dengan persamaan kalibrasi efisiensi yang diperoleh. Tanda adalah hasil kalibrasi pada tahun 2008 dan tanda adalah hasil kalibrasi tahun 2009. Terlihat bahwa hampir disemua titik energi berimpit, ini berarti bahwa respon detektor dengan selang waktu satu tahun masih relatif sama.

A. Bahan dan Peralatan 1. 2. 3. 4. Sumber standar Eu-152 LMRI Sistem spektrometer gamma detektor HPGe Osiloskop Pengolah data
Gambar 1. Contoh kurva kalibrasi efisiensi detektor HPGe PTKMR.

B. Kalibrasi Efisiensi Kalibrasi efisiensi spektrometer gamma detektor HPGe dilakukan menggunakan sumber standar Eu-152 buatan LMRI – Perancis, pada posisi jarak sumber ke detektor 25 cm. Data kalibrasi efisiensi sebanyak 25 data diambil dari data yang dilakukan sejak tahun 2008 sampai tahun 2010. Kalibrasi dilakukan dengan waktu cacah selama 7200 detik untuk setiap pengukuran dan setiap kali kalibrasi dilakukan pengulangan tiga kali. Penentuan luas puncak serapan total dari sumber standar Eu-152 dipilih pada energi 121,7 keV; 244,7 keV; 344,3 keV; 411,1 keV; 444 keV; 778,9 keV; 964 keV; 1112,1 keV dan 1408 keV, perhitungan luasan puncak menggunakan software Genie 2000. Sedangkan nilai efisiensi pada masing-masing puncak tersebut adalah efisiensi mutlak, yang dihitung menggunakan persamaan [2]

(Ε) cps dps yield(E)

: efisiensi mutlak pada puncak energi E, : laju cacah pada puncak energi (E), : aktivitas standar Eu-152 pada saat pengukuran, : intensitas pancaran sinar gamma masing-masing energi gamma.

Pada beberapa titik energi gamma yaitu pada energi 121,7 keV; 244,7 keV; dan 344,3 keV garis kurva efisiensi tidak berimpit dengan nilai efisiensi hasil pengukuran, sehingga pada daerah ini terjadi perbedaan antara efisiensi hasil pengukuran dan perhitungan yang signifigan. Tabel 1 menyajikan efisiensi setiap energi gamma hasil pengukuran dan hasil perhitungan dari data kalibrasi efisiensi spektrometer gamma detektor HPGe PTKMR – BATAN, menggunakan sumber standar Eu152. Hasil yang disajikan adalah hasil pengukuran yang dilakukan pada tanggal 5 Maret 2008, 9 Juli 2009 dan 3 Nopember 2010. Terlihat perbedaan efisiensi terukur dan hasil perhitungan, menggunakan persamaan kurva, perbedaannya paling besar terletak pada energi 121,7 keV dengan rasio perbedaan sebesar 0,88 artinya antara pengukuran dan perhitungan berbeda 12%. Hal ini disebabkan pada energi 121,7 keV mendapatkan sumbangan cacahan dari energi 123,1 keV yang berasal dari radionuklida pengotor Eu-154, besarnya sumbangan ini menurut K. Debertin [2] dapat menambah kesalahan sebesar 0,5%. Pada energi 244,7 keV, rasionya berturutturut 1,11-1,12 perbedaan pengukuran dan perhitungan mencapai 11% dan 12%, pada puncak energi gamma 344,3 keV dan rasionya 1,06, artinya perbedaan antara

ISSN 0853-0823

42

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

pengukuran dan perhitungan mencapai 6%. Pada energi diatasnya perbedaan relatif masih baik dibawah 5%. Perhatian khusus harus dilakukan dalam evaluasi daerah puncak energi 121,7 keV, kemungkinan sumbangan dari ketidakpastian sistematis yang terjadi, diperkirakan mempengaruhi hasil sekitar 1 - 2%, sedangkan pada puncak energi 244,7 keV memiliki Compton edge (119,7 keV) dan backscatter (125 keV), sehingga mengintervensi puncak energi 121,7 keV [2,6].
Tabel 1. Efisiensi hasil pengukuran dan perhitungan kurva kalibrasi tgl. 5 Maret 2008, 9 Juli 2009 dan 3 Nopember 2010.
Efisiensi hasil pengukuran (ε) 0,002685 0,002698 0,002693 0,001801 0,001793 0,001789 0,001247 0,001246 0,001249 0,001022 0,001070 0,001024 0,000943 0,000935 0,000941 0,000549 0,000547 0,000551 0,000438 0,000446 0,000448 0,000398 0,000395 0,000392 0,000315 0,000315 0,000317 Efisiensi hasil perhitungan (εo). 0,003043 0,003065 0,003056 0,001606 0,001615 0,001614 0,001174 0,001180 0,001184 0,000998 0,001003 0,000996 0,000930 0,000934 0,000934 0,000556 0,000558 0,000554 0,000457 0,000459 0,000461 0,000401 0,000402 0,000399 0,000323 0,000322 0,000326

Energi (keV) 121,7

Waktu Kalibrasi 5 Maret 2008 9 Juli 2009 3 Nop 2010

ε /εo 0,88 0,88 0,88 1,12 1,11 1,11 1,06 1,06 1,06 1,02 1,04 1,03 1,01 1,0 1,01 0,99 0,98 0,99 0,96 0,97 0,97 0,99 0,98 0,98 0,97 0,97 0,97

keV yang berimpit dengan puncak energi 411,1 keV, spektrum kedua puncak ini tidak dapat dipisahkan pada waktu pencacahan dengan detektor HPGe. Koreksi efek jumlah pada energi ini sangat tergantung pada kondisi pengukuran yaitu jarak sumber ke detektor, dan tergantung pula pada spesifikasi volume detektor. Menurut hasil interkomparasi internasional pada pengukuran laju cacah Eu-152, khusus pada energi 411,1 keV, harus dikoreksi sebesar 0,4% apabila jarak sumber ke detektor 16 cm dengan volume detektor 30 cm3 , koreksi 1,6% untuk jarak 8 cm , sedangkan detektor dengan volume 70 cm3 pada jarak 16 cm koreksi 0,6% dan untuk jarak detektor 8 cm koreksi 2,4%. Puncak ganda (double peaks) terjadi juga pada puncak energi 1112,1 keV yang berhimpit dengan puncak energi 1109,2 keV, diperkirakan memberikan kontribusi kesalahan 1,2% [2]. IV. KESIMPULAN DAN SARAN

244,7

5 Maret 2008 9 Juli 2009 3 Nop 2010

344,3

5 Maret 2008 9 Juli 2009 3 Nop2010

411,1

5 Maret 2008 9 Juli 2009 3 Nop 2010

444

5 Maret 2008 9 Juli 2009 3 Nop 2010

Kalibrasi efisiensi terhadap sistem spektrometer gamma detektor HPGe pada daerah energi gamma rendah di bawah 300 keV perlu mendapat perhatian. Apabila menggunakan sumber standar Eu-152, khususnya pada energi 121,7 keV perlu mendapat perhatian khusus akibat adanya sumbangan cacahan dari pengotor Eu-154, ketidakpastian sistematis, Compton edge dan backscatter. Pada daerah energi dibawah 300 keV perlu dipertimbangkan penggunaan sumber standar lain yang mempunyai banyak energi untuk daerah ini. Menurut beberapa pakar metrologi radionuklida, bahkan perlu di carikan solusi untuk sumber standar pada daerah energi dibawah 600 keV. DAFTAR PUSTAKA
[1] H Candra, Gatot W dan Pujadi, Metode statistik untuk penentuan luas puncak serapan total pada kalibrasi effisiensi menggunakan spektrometer gamma, Prosiding Seminar Nasional Keselamatan Kesehatan dan Lingkungan – III, PTKMR – BATAN, Jakarta 14 Desember 2007. [2] K. Debertin, RG.Helmer, Gamma and X-ray spectrometry with semiconductor detector, Elsevier Science Publisher BV, NorthHolland, Amsterdam, 1988. [3] Pujadi, H. Candra, Gatot W., Minimalisasi Efek Geometri pada Standardisasi Radionuklida bentuk Cair volume besar; Perbandingan pengukuran aktivitas Co-60 dan I-125 dengan tiga metode, 6th Basic Science National Seminar , Universitas Brawijaya, Malang 21 Februari 2009. [4] Wijono, Pujadi, Hermawan Candra, Penggunaan metode spektrometri gamma detektor HPGe dalam penentuan kandungan radioisotop dalam TENORM. Seminar Nasional Keselamatan Kesehatan dan Lingkungan IV, International Seminar on Occupational Health and Safety, PTKMR – BATAN - Universitas Indonesia, Depok, 27 Agustus 2008. [5] Gatot W , Candra H., Pujadi, Standardisasi sumber radioaktif bentuk gas kripton-85 menggunakan metode spektrometri gamma. Pertemuan dan Presntasi Ilmiah – Penelitian Dasar Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir, PTAPB – BATAN, Yogyakarta, 14 Juli 2009. [6] Pujadi dkk, Kalibrasi efisiensi spektrometer gamma pada energi 13 -244 keV, Simposium Fisika Jakarta 1990, Universitas Indonesia, Depok, 28 Februari 1990. [7] Laboratoire National Henri Becquerel LNE-LNHB/CEA, Table de Radionuclides, (lihat punya Margarida Caldeira) , Recommended Data, updated 5th May 2010.

778,9

5 Maret 2008 9 Juli 2009 3 Nop 2010

964

5 Maret 2008 9 Juli 2009 3 Nop 2010

1112,1

5 Maret 2008 9 Juli 2009 3 Nop 2010

1408

5 Maret 2008 9 Juli 2009 3 Nop 2010

Terlihat bahwa pada semua puncak energi gamma yang di bawah 344,3 keV perbedaannya cukup besar, sehingga perlu penggunaan sumber standar tambahan yang mempunyai energi di daerah ini. Menurut beberapa pakar metrologi radionuklida, bahkan perlu di carikan solusi untuk sumber standar pada daerah energi dibawah 600 keV. Efek jumlah juga mungkin terjadi pada puncak energi 411,1 keV karena adanya puncak ganda (double peaks) pada daerah energi ini, yaitu puncak energi 416

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

43

Aplikasi Sistem Keselamatan Pasif pada Reaktor Nuklir
Nur Syamsi Syam, Anggoro Septilarso
Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) Jakarta n.syam@bapeten.go.id, a.septilarso@bapeten.go.id

Abstrak – Saat ini diperkirakan 15% kebutuhan listrik dunia dipenuhi oleh Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Isu paling mengemuka dari pembangunan dan pengoperasian suatu PLTN adalah masalah keselamatan dan faktor keekonomisan. Berdasarkan pengalaman pengoperasian reaktor nuklir yang telah ada, maka untuk menjawab tantangan tersebut pada reaktor generasi terkini telah dikembangkan suatu sistem yang mampu menjawab kedua tantangan tersebut tanpa harus mengorbankan salah satu diantaranya, yaitu sistem keselamatan pasif. Pada prinsipnya sistem keselamatan pasif ini memanfaatkan sifat atau kondisi fisis dari suatu benda/material sebagai suatu suatu sistem yang mampu mempertahankan pengoperasian suatu reaktor nuklir dengan selamat. Sifat atau kondisi yang sering digunakan sebagai sistem keselamatan pasif pada suatu reaktor nuklir tersebut antara lain adalah gaya gravitasi, tekanan dan konveksi alamiah. Dengan diterapkannya sistem keselamatan pasif ini mampu menaikkan tingkat keselamatan suatu reaktor nuklir karena sistem keselamatan reaktor mampu berfungsi dengan baik saat dibutuhkan tanpa harus diinisiasi oleh operator. Di sisi lain, penerapan sistem keselamatan pasif ini akan menghasilkan disain reaktor yang lebih sederhana dengan lebih sedikit komponen yang digunakan sehingga dari segi ekonomi pun menjadi lebih baik. Kata kunci: sistem keselamatan pasif, gravitasi, tekanan, sirkulasi alamiah I. PENDAHULUAN Penggunaan energi nuklir melalui PLTN saat ini memberikan sekitar 15% dari kebutuhan listrik dunia. Sebagaimana pembangkit tenaga listrik lainnya, PLTN juga tidak lepas dari resiko yakni potensi bahaya karena zat radioaktif yang dimiliki oleh PLTN. Oleh karena itu, aspek keselamatan menjadi prioritas utama dalam pembangunan dan pengoperasian PLTN dari generasi ke generasi. Perancang dan produsen PLTN terus berupaya untuk mengembangkan dan meningkatkan aspek keselamatan PLTN. Peningkatan aspek keselamatan salah satunya dilakukan melalui pengembangan sistem keselamatan PLTN. Salah satu konsep sistem keselamatan yang terus dikembangkan saat ini adalah sistem keselamatan pasif. Sistem keselamatan tersebut bekerja secara pasif untuk memenuhi salah satu atau lebih dari ketiga hal berikut, yaitu (a) memadamkan/shutdown reaktor dengan selamat (b) mengambil panas peluruhan setelah shutdown (c) mengungkung zat radioaktif agar tidak terlepas ke lingkungan. Sistem keselamatan pasif mulai diterapkan pada PLTN generasi III. Gagasan dasar dari pengembangan sistem keselamatan pasif tersebut adalah menyederhanakan desain sehingga memudahkan pengoperasiannya, meningkatkan keselamatan dengan menggunakan sistem yang lebih sederhana dan lebih andal karena menggunakan tenaga ”alami,” serta menurunkan biaya untuk pembangunan, pengoperasian dan perawatan PLTN. Dalam makalah ini akan diuraikan beberapa jenis sistem keselamatan pasif yang digunakan pada PLTN. II. KATEGORI SISTEM KESELAMATAN PASIF Pada prinsipnya sistem keselamatan pasif ini memanfaatkan sifat atau kondisi fisis dari suatu benda/material sebagai suatu suatu sistem yang mampu mempertahankan pengoperasian suatu reaktor nuklir dengan selamat. Sifat atau kondisi yang sering digunakan sebagai sistem keselamatan pasif pada suatu reaktor nuklir tersebut antara lain adalah gaya gravitasi, tekanan dan konveksi alamiah. Menurut IAEA-TECDOC-626 definisi sistem keselamatan pasif adalah sistem yang menggunakan komponen dan struktur yang seluruhnya pasif atau sistem yang menggunakan komponen aktif dalam jumlah yang sangat terbatas untuk menginisisasi operasi pasif berikutnya. Berdasarkan hal tersebut, dokumen IAEA mengelompokkan sistem keselamatan pasif dalam 4 kategori (Tabel 1)[1]. Tabel 1. Kategorisasi sistem keselamatan pasif Kate- KateKateKarakteristik gori A gori B gori C Input sinyal Tidak Tidak Tidak Sumber daya/tenaga Tidak Tidak Tidak luar Bagian mekanik Tidak Tidak Ada bergerak Fluida kerja Tidak Ada Ada bergerak Kategori D Tidak Tidak Tidak/ Ada Tidak/ Ada

Berikut ini diberikan contoh sistem untuk masing-masing kategori tersebut: − Kategori A : Penghalang fisik terhadap pelepasan produk fisi, seperti kelongsong bahan bakar, struktur bangunan tahan gempa, pendingin teras yang hanya mengandalkan perpindahan panas secara konduksi atau radiasi. − Kategori B : sistem pendingin darurat atau sistem shutdown reaktor yang bekerja dengan menginjeksikan larutan air-borat sebagai akibat adanya gangguan terhadap kesetimbangan hidrostatis antara sistem bertekanan dan kolam air luar. − Kategori C : sistem injeksi yang terdiri atas akumulator dan tanki penyimpanan dan pipa keluaran yang dilengkapi dengan check valves. − Kategori D : sistem injeksi atau pendinginan teras darurat yang bekerja dengan gaya gravitasi, dengan inisiasi oleh katup elektro-pneumatic atau katup bertenaga baterai.

ISSN 0853-0823

44

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

III. APLIKASI SISTEM KESELAMATAN PASIF PADA REAKTOR MAJU Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, sistem keselamatan pasif telah diterapkan pada PLTN generasi III dan III+ atau pada reaktor maju. Berikut ini diuraikan secara rinci penggunaan sistem yang telah dikategorisasikan tersebut pada PLTN. Berdasarkan fungsinya, sistem keselamatan pasif tersebut dibagi dalam dua kelompok yakni sistem untuk pengambilan panas peluruhan dari teras reaktor dan sistem untuk pendinginan pengungkung dan supresi tekanan. A. Sistem keselamatan pasif untuk pengambilan panas peluruhan dari teras reaktor − Pre-pressurized core flooding tanks (accumulators) Akumulator merupakan bagian dari sistem pendingin teras darurat, berupa tangki besar berisi 75% air mengandung borat dan sisanya berisi Nitrogen bertekanan atau gas inert. Isi tanki diisolasi dari sistem pendingin teras dengan menggunakan sejumlah check valve. Dalam keadaan normal, check valve tersebut tertutup akibat adanya perbedaan tekanan antara sistem pendingin reaktor dan gas dalam tangki. Pada kejadian kecelakaan kehilangan pendingin (LOCA), tekanan pada teras akan turun di bawah tekanan gas dan menyebabkan terbukanya katup sehingga air mengandung borat mengalir ke teras reaktor. Secara sederhana, sistem ini ditunjukkan pada Gambar 1.

Gambar 2. Elevated tank natural circulation loops (core make-up tanks)

Sistem ini bekerja apabila katup isolasi terbuka, yakni apabila head fluida melebihi tekanan sistem pendingin primer ditambah dengan sedikit tekanan untuk mengatasi tekanan yang dibutuhkan oleh check valve. Kekurangan dari sistem ini adalah kinerjanya dapat dibatasi oleh uap panas yang terbentuk di sekitar teras. Sistem ini termasuk dalam kategori D (Gambar 3).

Gambar 3. Elevated gravity drain tanks[2]

− Passively cooled steam generator natural circulation Sistem yang terdapat pada PWR (Pressurized Water Reactor) ini diintegrasikan dengan generator uap. Prinsip kerjanya adalah dengan mengkondensasikan uap dari generator uap pada penukar panas yang berada dalam tanki berisi air atau pada sistem pendingin dengan udara. Sistem ini memiliki karakteristik yang mirip dengan kondenser isolasi. Sistem ini termasuk dalam kategori D (Gambar 4).

Gambar 1. Pre-pressurized core flooding tanks (accumulator)[2]

− Elevated tank natural circulation loops (core make-up tanks) Sistem ini terdiri atas tangki yang terhubung dengan kalang pendingin primer pada bagian atas dan bawah tanki. Tangki tersebut berisi air mengandung borat untuk menyediakan injeksi pendingin pada tekanan sistem. Dalam keadaan normal tangki tersebut diisolasi dari bejana reaktor dengan katup isolasi yang berada pada pipa keluaran di bagian dasar tangki (Gambar 2). Fluida di dalam tanki selalu mendeteksi tekanan sistem penuh melalui pipa koneksi di bagian atas tanki. − Elevated gravity drain tanks

Gambar 4. Passively cooled steam generator (water-cooled)[2]

Sistem ini terdiri dari tangki berisi air dingin mengandung borat dengan tekanan rendah untuk menyirami teras dengan menggunakan gaya gravitasi. Pada beberapa desain, volume air dalam tangki cukup besar sehingga mampu memenuhi seluruh ruang reaktor.

− Passive residual heat removal heat exchangers Fungsi utama sistem ini adalah untuk memberikan waktu yang lebih lama dari pengambilan panas peluruhan teras dengan perpindahan panas menggunakan kalang sirkulasi

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

45

alamiah satu fase (cair). Kalang penukar panas pada sistem ini dalam keadaan normal bersifat bertekanan dan siap untuk dioperasikan. Aliran satu fase diaktuasi dengan membuka katup isolasi pada bagian dasar penukar panas. Sistem ini optimal untuk perpindahan panas satu fasa (berbeda dengan kondenser isolasi yang optimal untuk pendidihan dan kondensasi). Sistem ini sangat berguna untuk skenario station blackout. Sistem ini termasuk dalam kategori D (Gambar 5).

bergerak ke atas melalui katup sistem depressurasi otomatis yang menghembuskan uap tersebut secara langsung ke pengungkung. Perbedaan densitas yang terbentuk antara daerah teras dengan kolam mengakibatkan terjadinya aliran sirkulasi alamiah yang menarik air melalui sump screen ke dalam bejana reaktor dan mengambil panas peluruhan. Pada desain tertentu, sirkulasi alamiah pada bejana reaktor dapat mengambil panas peluruhan tanpa perlu mengoperasikan ADS. Sistem ini termasuk dalam kategori D (Gambar 7).

Gambar 5. Passive residual heat removal heat exchangers[2]

Gambar 7. Core cooling by sump natural circulation[2]

− Passively cooled core isolation condensers Sistem ini didesain untuk menyediakan pendinginan teras reaktor air didih setelah diisolasi dari pengambilan panas primer, dalam hal ini turbin/kondenser. Selama operasi daya, reaktor diisolasi dari penukar panas kondenser isolasi dengan menggunakan katup. Pada kejadian dimana teras reaktor harus diisolasi dari pengambilan panas primer, katup yang berada pada pipa kondenser isolasi dibuka dan uap primer dialihkan ke penukar panas kondenser isolasi untuk dikondensasikan pada bagian pipa vertikal. Panas dipindahkan ke atmosfer melalui kolam ICS/PCCS. Kondensat kembali ke teras karena adanya gaya gravitasi dalam pipa. Sistem ini termasuk dalam kategori D (Gambar 6).

B. Sistem keselamatan pasif untuk pengungkung dan supresi tekanan.

pendinginan

Sistem keselamatan pasif yang akan diuraikan berikut ini adalah sistem pada reaktor maju untuk memindahkan panas dari pengungkung dan menurunkan tekanan dalam pengungkung setelah terjadinya kecelakaan kehilangan air pendingin. − Kolam supresi tekanan pengungkung Ketika terjadi LOCA, uap dihasilkan pada pengungkung primer (drywell) yang merupakan hasil dari penguapan air dan atau ekpansi uap yang berasal dari sistem primer akibat adanya kebocoran. Uap dari drywell dialirkan melalui pipa yang terendam ke kolam supresi. Uap tersebut mengalami kondensasi sehingga menurunkan tekanan pada pengungkung. Sistem ini termasuk dalam kategori B dan C (Gambar 8).

Gambar 6. Isolation condenser cooling system[2]

− Sump natural circulation Beberapa desain menggunakan ruang reaktor dan bagian pengungkung lebih rendah lainnya sebagai reservoar pendingin untuk pendinginan teras dalam kondisi pecahnya sistem primer. Dengan sistem tersebut, air yang keluar dari sistem reaktor dikumpulkan pada penampung (sump). Akibatnya reaktor terendam dalam air dan katup isolasi terbuka. Pengambilan panas peluruhan terjadi melalui pendidihan dalam teras. Uap yang dihasilkan

Gambar 8. Kolam supresi tekanan pengungkung.[2]

− Sistem supresi tekanan/pengambilan panas pengungkung pasif. Sistem ini menggunakan kolam yang diletakkan pada tempat yang lebih tinggi sebagai media pengambil panas. Uap yang dihembuskan ke pengungkung akan mengalami kondensasi pada permukaan tabung kondenser pengungkung sehingga menyebabkan supresi tekanan dan

ISSN 0853-0823

46

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

menyediakan pendinginan bagi pengungkung. System ini termasuk dalam Kategori D (Gambar 9).

Gambar 9. Reduksi tekanan dan pengambilan panas pengungkung setelah LOCA dengan menggunakan kalang sirkulasi alamiah eksternal.[2]

Gambar 11. Sistem Keselamatan pasif ESBWR.[3]

− Penyemprot pengungkung pasif Sistem ini menggunakan gaya alami dari udara pendingin yang terdapat dalam pengungkung. Ketika terjadi LOCA, uap yang menyentuh permukaan dalam dari pengungkung baja mengalami kondensasi. Panas dipindahkan melalui dinding pengungkung ke udara luar. Kolam yang berada di atas pengungkung, menyemprotkan air dingin yang digerakkan oleh gaya gravitasi untuk memberikan pendinginan pada skenario LOCA. Aliran udara melalui celah sempit, yang disebabkan oleh efek chimney termasuk dalam Kategori B, sedangkan penyemprot bejana pengungkung termasuk dalam Kategori D (Gambar 10).

ESBWR (Economic Simplified Boiling Water Reactor) menggunakan beberapa jenis sistem keselamatan pasif sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 11. Pada Tabel 2 diberikan beberapa jenis reaktor dengan sistem keselamatan pasif yang digunakan. Tabel 2. Sistem Keselamatan Pasif pada Sistem Reaktor yang Berbeda[2]
Sistem Reaktor SWR 1000 AREVA, France (BWR) AP 600 dan AP 1000 Westinghouse Electric, USA (APWR) − − − − − − − − − − − − − − − − Advanced PWR (APWR+) Mitsubishi, Japan ESBWR, General Electric, USA − − − − − − − − − − Sistem Keselamatan pasif Emergency Condenser System Core Flooding System Containment Cooling Condensers Passive Residual Heat Removal System Core Make-up Tanks Automatic Depressurization System Steam Vent into IRWST Accumulator Tanks In-containment Refuelling Water Storage Tank Injection Lower Containment Sump Recirculation Passive Containment Cooling Sistem ECCS Accumulator Subsystem ECCS Tank Subsistem Primary Circuit Un-tightening Subsistem Steam Generator Passive Heat Removal System Containment Passive Heat Removal System Passive Core Cooling System using Steam Generator Advanced Accumulators Gravity Driven Cooling System Suppression Pool Injection Isolation Condenser System Standby Liquid Control System Passive Containment Cooling System ADS-SRV Vent into Suppression Pool Passive Reactor Cooling System Passive Containment Cooling Sistem

Gambar 10. Penyemprot pengungkung pasif[2]

Pada umumnya reaktor maju menggunakan gabungan dari berbagai sistem keselamatan pasif tersebut untuk meningkatkan keselamatannya. Sebagai contoh, reaktor tipe

WWER-640/407 Atomenergoproje ct/Gidropress, Russian Federation (PWR)

Advanced BWR (ABWR-II) TEPCO, GE, Hitachi and Toshiba, Japan

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

47

PUSTAKA RUJUKAN
Advanced CANDU Reactor (ACR 1000) , AECL, Canada Core Make-up Tanks Reserve Water System (RWS) Containment Cooling Spray
International Atomic Energy Agency, “Safety Related Terms for Advanced IAEA, Nuclear Plants, IAEA-TECDOC-626, Wina, 1991. [2] International Atomic Energy Agency, “TECDOC 1264, Passive Safety Sistems and Natural Circulation in Water Cooled Nuclear Power Plants”, Wina, 2009. [3] New Boiling Water Reactor (BWR) Options, Presented by Willard Roit. GE Energy – Nuclear, 2007. cstools.asme.org/csconnect/ FileUpload.cfm?View=yes&ID=24116 [1]

IV. KESIMPULAN Berdasarkan uraian yang diberikan dapat disimpulkan bahwa sistem keselamatan pasif dengan penyederhanaan desain yang diterapkan pada reaktor maju mampu mengatasi aspek penting dari pembangunan dan pengoperasian PLTN yakni keselamatan, keandalan dan ekonomi.

ISSN 0853-0823

48

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Gauge Invariance for Nonlinear Master Schrödinger
T. B. Prayitno
Universitas Negeri Jakarta Jl. Pemuda Rawamangun No. 10 Jakarta Timur trunk_002@yahoo.com

Abstrak - We have considered the formulation of gauge invariance for nonlinear master Schrödinger equation. This formalism itself is based on the local gauge transformation in which the structure of the theory should be invariant. We also redefine the Hamilton-Jacobi and continuity equations constructing the nonlinear master Schrödinger. In the other hand, it is shown that the formulation for including spin concept will not be accepted. Keywords: gauge invariance, nonlinear Schrödinger

I. INTRODUCTION Gauge invariance has been well-known as one of the physical principle unifying the fundamental forces in nature. The theory was initially recognized as the symmetry of Maxwell’s equations in classical electrodynamics in which the electromagnetic potential could be chosen by considering the certain transformation called phase transformation. The idea of gauge invariance was initially proposed in 1919 by Hermann Weyl [1] by considering the Einstein connection in general relativity. The Einstein connection itself was based on the idea of replacing gravity by space-time curvature satisfied Mach’s principle [2]. In mathematical framework, general relativity should be considered by defining only local coordinates in order to involve the specific gravitation force at each point in spacetime [2]. In this case, the essential features of general relativity were discussed in the frame of local theory. For the first time, this local theory inspired Weyl to build the similar method by introducing the gauge connection as the electromagnetic potential. In quantum theory, we are dealing with the particle’s wave function having no physical interpretation, but taking all information of observable quantities. Actually, the construction of ordinary quantum mechanics was proposed by two famous scientists, Heisenberg and Schrödinger, in order to conciliate the different characteristic appeared in microscopic level. Heisenberg proposed matrix mechanics based on the corpuscular characteristic, while Schrödinger elaborated his wave mechanics based on the ideas from Einstein and de Broglie. Unfortunately, they could not conciliate the matter’s antagonistic properties. It was Bohr, who initially considered that quantum particle has a dual property for solving the conciliation. According to him, the particle shows wave properties, while in another displays corpuscular entities, but their characteristics never appear at the same time [3]. Even though the ordinary quantum mechanics succeed to explain most of the experiment results, de Broglie and Einstein never quite accepted that the equation was the fundamental one. They and their followers believed that the fundamental one has to be a nonlinear theory. The first construction of nonlinear quantum mechanics was initially built by three Italian scientists, Guerra, Pusterla, and Smolin based on two classical conservation laws [3-8]. They combined the Hamilton-Jacobi and continuity equations into

one equation named nonlinear master Schrödinger. In classical mechanics, Hamilton-Jacobi represents the motion of particle while the continuity equation describes the fluid motion, including waves. It is clear that the nonlinear master Schrödinger has ignored two fundamental postulates in ordinary quantum mechanics, quantization of energy and momentum, postulated by Einstein and de Broglie. Those three scientists postulated that Hamilton-Jacobi and continuity equations still hold not only in macroscopic but also in microscopic level. However, the probability to find the particle at the certain time for all space is still unity. The interesting case can be found by looking at the general solution which has the similar form in the phase term as the Feynman propagator in quantum mechanics. In addition, another Italian Scientists, Gueret and Vigier found that it is possible to get the solution like soliton by adding a certain parameter in the quantum potential [3, 5]. In this paper, we investigate the construction of gauge invariance for nonlinear master Schrödinger based on the local gauge theory from Weyl’s idea which describe the interaction of electromagnetic fields. After that, we also redefine the Hamilton-Jacobi and continuity equations since they are used to build the nonlinear master Schrödinger. In addition, since the concept of spin was initially considered by Stern-Gerlach experiment when they passed through a neutral atom to inhomogeneous region, we also study Pauli’s contribution to include half-integer spin concept similar to ordinary Schrödinger equation, but unfortunately the formalism can not be constructed. II. GAUGE INVARIANCE In classical electrodynamics theory, physical quantities, electric field ( E ) and magnetic field ( B ), are related to the vector potential ( A ) and scalar potenstial ( φ ) [9, 10]

r

r

r

r r ∂A E = −∇φ − . ∂t r r r 1 A → A′ = A + ∇θ , q

r r B = ∇ × A,

(1) (2)

Those potentials are not uniquely determined since they are invariant under gauge transformation (3)

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

49

1 ∂θ . (4) q ∂t The constant of q must be set as − e / h if one works in the SI system of units, where e represents the magnitude of

φ → φ′ = φ −

the electric charge of electron. Next, we consider the nonlinear master Schrödinger derived by Guerra, Pusterla, and Smolin

On that conditions, we also assume that those two unknown potentials can also transform into another. Then, we substitute the equations (11), (12), and (13) into those conditions, we get the same relations of the unknown potentials as the equation (3) and (4) as the gauge transformation in classical electrodynamics

where ψ has general form

∂ψ h2 2 h2 ∇2a ∇ψ+ ψ + Vψ = ih , ∂t 2m 2m a
ϕ ( r ,t ) r r ψ (r , t ) = a(r , t ) e h .
i r

(5)

r r r 1 A → A′ = A + ∇θ , q 1 ∂θ φ → φ′ = φ − . q ∂t

(16) (17)

Based on the result, the gauge invariance of nonlinear master Schrödinger must be written as (6)

and the term

h2 ∇2a ψ Q= 2m a

(7)

is called the quantum potential. For details, one should refer the following references [3,8]. The reader can compare the general solution above with Feynman propagator which has the expression [11]

r r2 h2 h 2 ∇ − iqA a − ∇ − iqA ψ + ψ + Vψ 2m 2m a ⎛∂ ⎞ = ih⎜ + iqφ ⎟ψ . ⎝ ∂t ⎠

(

)

(

)

(18)

r r K (r2 , t 2 ; r1 , t1 ) =

r (t2 )

r ( t1 )

∫ [dr (t )]exp⎜ h S ⎝

r

⎛i

cl

⎞ ⎟. ⎠

(8)

The following Hamilton-Jacobi and continuity equations satisfy1

Therefore, the equation above describes the interaction between the charged particle and electromagnetic fields which remains invariant under three simultaneous transformations in equations (3), (4), and (11). For that reason, we have to redefine the Hamilton-Jacobi and continuity equations in the expressions (9) and (10)

1 (∇ϕ )2 + V = − ∂ϕ , ∂t 2m ∂a 2 1 ∇ ⋅ (a 2 ∇ϕ ) = − . m ∂t

(9) (10)

r ⎛ A ⋅ ∇ϕ ⎞ 1 ∂ϕ 2 (∇ϕ ) + V − qh⎜ −φ⎟ = − , ⎜ m ⎟ 2m ∂t ⎝ ⎠ ∂a 2 1 ∇ ⋅ a 2 ∇ϕ = − . m ∂t

(19)

(

)

(20)

If one makes a global gauge transformation on the amplitude, a , in which the parameter of θ is only a constant as (11) the theory is unchanged. However, the theory should not be invariant anymore when we take the local gauge transformation on a . In this case the parameter of θ is the function of space and time. In order to make the theory be invariant under local gauge transformation, we generalize the differential operators as same as in ordinary quantum mechanics.

r r r a(r , t ) → a ′(r , t ) = e iθ a(r , t ) .

III. FAILURE FOR INCLUDING SPIN In ordinary quantum mechanics the half-integer spin concept was proposed by Pauli when he wanted to explain the experiment’s result of Stern-Gerlach. Classically, spin is the angular momentum describes the rotation of particle under its center of mass. By this concept, Pauli introduced the intrinsic angular momentum for the electron. According to him, the intrinsic angular momentum has never appeared except we disturbed the system by the electromagnetic fields. In mathematical concept, generalized the gradient operator, ∇ , in ordinary quantum mechanics changing the basis into 2×2 matrices [10]

r r ∇ → D = ∇ − iqA , (12) ∂ ∂ (13) → Dt = + iqφ , ∂t ∂t r where φ and A are initially considered as unknown
potentials. In addition, we also make conditions that
2

∇ =σx

∂ ∂ ∂ +σ y +σ z ∂x ∂y ∂z

(21)

′ Dt a ′ = e iθ Dt a ′ , r r D ′ a ′ = e iθ Da .
1 2

which satisfy the following algebra (14) (15)

σ x 2 = σ y 2 = σ z 2 = 1, {σ i ,σ j } = 0 ,

(22) (23)

ϕ means the classical action in classical physics These conditions were taken from behavior of covariant derivative in ordinary quantum mechanics (see [10])

and the indices stand for x , y , and z . Those algebra will be satisfied if we choose the following matrices3
3

Those matrices are called Pauli spin matrices

ISSN 0853-0823

50

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

σx = ⎜ ⎜1 0⎟ ;σ y = ⎜ i ⎟ ⎜ ⎝ ⎠ ⎝

⎛0 1⎞

⎛1 0 ⎞ ⎛0 − i⎞ ⎟ ;σ z = ⎜ ⎜ 0 − 1⎟ . (24) ⎟ ⎟ 0⎠ ⎝ ⎠

V. APPENDIX In classical mechanics, the corresponding threedimensional Hamilton-Jacobi and continuity equations are generally defined

Since Pauli spin matrices are 2×2 matrices, then the wave function has form at least a 2×1 matrix. By this generalization, the ordinary Schrödinger takes the form

h r (σ ⋅ ∇ )2ψ + Vψ = ih ∂ψ . 2m ∂t
2

(25)

In the expression (25) the wave function should be seen as the column vector containing identical particle with the same mass. Here we apply the similar analogy since the ordinary and nonlinear master Schrödinger are different in the term of quantum potential. However, if we apply the analogy directly, mathematically we have wrong equation since the denominator is the 2-element column matrix which has form

1 (∇S cl )2 + V = − ∂S cl , 2m ∂t r ∂ρ + ∇ ⋅ J = 0, ∂t

(28) (29)

where all of those symbols have the usual meaning. The reader can review for more detail in the following textbooks [11-13]. In discussion of nonlinear master Schrödinger, those symbols are transformed into the appropriate wave quantities below

2 h2 r (σ ⋅ ∇ )2ψ + h (σ ⋅ ∇ ) a ψ + Vψ 2m 2m a ∂ψ . = ih ∂t 2

[

r

]

S cl = ϕ ,

r ∂ϕ p = ∇ϕ , E = − , ∂t r r r ∇ϕ v= , ρ = a 2 , J = ρv , m

(30)

(26)

and the constant of normalization will be found by normalizing the wave function for all space

Therefore, we have to modify the potential quantum term to agree with the mathematical rule as

2 r h2 r (σ ⋅ ∇ )2ψ + h (σ ⋅ ∇ )2 a e + Vψ 2m 2m ∂ψ = ih . (27) ∂t

[

]

∫ ρ (r , t )d

r

3

r r = 1.

(31)

i ϕ h

REFERENCES
[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] [11] [12] K. Moriyasu, An Elementary Primer for Gauge Theory, 2nd ed., Singapore:World Scientific, 1983, pp. 5-14. R. D’Inverno, Introducing Einsteins’s Relativity, 1st ed., New York: Oxford University Press Inc., 1992, pp. 68-87, 120-132. J. R. Croca, Series In Contemporary Chemical Physics, 1st ed., vol. 20. Singapore : World Scientific, 2003, pp. 65-78. F. Guerra and M. Pusterla, Lett. Nuovo Cimento, 34, 1982, 351. Ph. Gueret and J. P. Vigier, Lett. Nuovo Cimento, 38, 1983, 125. L. Smolin, Phys. Lett. A 113, 1986, 408. J. P. Vigier, Phys. Lett. A 135, 1989, 99. T. B. Prayitno, The Free Particle Solution For Nonlinear Master Schrödinger, Spektra Journal., in press. D. J. Griffiths, Introduction To Electrodynamics, 2nd ed., New Jersey: Prentice-Hall, 1999, pp. 416-421. G. Kane, Modern Elementary Particle Physics, 1st ed., Michigan : Westview Press, 1993, pp. 35-40. W. Dittrich and M. Reuter, Classical and Quantum Dynamics, 1st ed., Berlin : Springer-Verlag, 1996, pp. 62-73. W. Greiner, Classical Mechanics (System of Particles and Hamiltonian Dynamics), 2nd ed., Berlin: Springer-Verlag, 2003, pp. 386-409. H. Goldstein, Classical Mechanics, 3rd ed., Addison Wesley, New York 2000, pp. 430-439.

Unfortunately, the expression (27) violates the definition of wave equation since the wave function in the quantum potential term has now disappeared. In other words, there are no appropriate formulas to consider Pauli’s contribution in order to include spin concept. IV. CONLUSIONS In this paper, we have discussed the formulation of nonlinear master Schrödinger satisfied gauge invariance based on Weyl’s idea in term of local gauge transformation. We also reformulate the Hamilton-Jacobi and continuity equation building the nonlinear master Schrödinger and find that Hamilton-Jacobi gets the additional potential coming from electromagnetic interaction, while the continuity equation doesn’t change. On the other hand, it is shown that the nonlinear master Schrödinger together with Pauli’s contribution for including the spin concept has no appropriate expressions since the denominator is the 2-element column matrix in the equation (26) and the wave function has disappeared in the quantum potential term in the expression (27).

[13]

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

51

Standardisasi Radionuklida 192Ir dan Aplikasinya
Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi – BATAN Jalan Cinere Ps. Jum’at, Kotak Pos 7043 JKSKL Jakarta Selatan 12070 hermawan@batan.go.id
1

Hermawan Candra1, Pujadi1, Gatot Wurdiyanto1

Abstrak –Pada penelitian ini telah dilakukan standardisasi radionuklida Ir-192 menggunakan sistem pencacah spektrometer gamma detektor High Purity Germanium dan dose calibrator (Ionization Chamber) merk Capintec CRC-7BT. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan standardisasi radionuklida secara metode relatif untuk radioisotop Ir-192 dan aplikasinya untuk. menentukan calibration setting pada dose calibrator merk Capintec milik PTKMR terhadap sumber radioaktif 192Ir . Standardisasi radionuklida 192Ir dilakukan dengan cara mengukur aktivitas menggunakan sistem pencacah spektrometer gamma detektor germanium HPGe. Hasil pengukuran aktivitas sampel padat (point source) 192Ir menggunakan spektrometer gamma adalah ( 19512.794 ± 289.057) Bq/mg atau (19512.794±1.48%) Bq/mg. Koreksi yang dilakukan adalah koreksi dead time, koreksi latar dan koreksi waktu peluruhan. Pada hasil anlisa spektrum tidak adanya. Hasil perhitungan aktivitas sampel radiofarmaka 192Ir berbentuk cair dalam vial yaitu 6859.31kBq ( 185µCi). Nilai ini digunakan untuk menentukan calibration setting pada dose calibrator Capintec terhadap192Ir. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mengakalibrasi dose calibrator-dose calibrator di rumah sakit . Kata Kunci: standardisasi radionuklida, 192Ir , spectrometer gamma, kamar pengion

ABSTRACT This study has been carried out Radionuclide Standardization of 192Ir using gamma spectrometer with High Purity Germanium detector and dose Calibrators (Ionization Chamber) CRC-7BT Capintec brand. This research aims to develop of radionuclide standardization of relative method of 192Ir radioisotope and its application to. determining the calibration setting on the dose calibrator Capintec brand belongs to the source of radioactive 192Ir PTKMRRadionuclide Standardization of 192Ir done by measuring activity use the system of counting of spectrometer of gamma of detector of germanium HPGE. Result of solid activity sample measurement ( point source) 192Ir using gamma spectrometer is( 19512.794 ± 289.057) Bq/mg or (19512.794±1.48%) Bq/mg . Corrective taken is correction of dead time, corrective of background and correction of time decay. The result of analize of spectrum of inexistence impurity. Result of calculation of activity of sample radiopharmaceuticals192Ir in form of melting in vial that is 6859.31kBq ( 185µCi). Assess this used to determine the calibration setting of dose calibrator Capintec of 192Ir. this Research result applicable to calibrate dose calibrators at hospitals Keywords: radionuclide standardization, 192Ir, gamma spectrometer, ionization chamber satu misinya adalah melakukan pengembangan dan pengkajian serta penerapan Iptek nuklir untuk keselamatan, keamanan dan kesehatan radiasi, maka penelitian, pengembangan dibidang keselamatan radiasi, khususnya dalam bidang metrologi radiasi, termasuk didalamnya adalah kegiatan pengukuran aktivitas dan standardisasi radioisotop, harus menjadi perhatian utama, agar sasaran utama dalam pembangunan Iptek nuklir untuk keselamatan dan kesehatan radiasi terwujud. Selain itu PTKMR-BATAN yang akan ditunjuk oleh koordinator National Metrology Institute ( NMI) Indonesia menjadi NMI bidang radiasi pengion di Indonesia, perlu meningkatkan kemampuannya dalam bidang standardisasi radioisotop. Khusus untuk standardisasi radioisotop yang digunakan dalam bidang kedokteran, perlu secara terus menerus dilakukan agar pengendalian mutu pengukuran radioisotop di rumah sakit dapat berjalan lebih baik, sehingga keakuratan pengukuran aktivitas atau dosis radiasi terjamin, yang selanjutnya akan berdampak pada kebenaran dan keakuratan analisis/diagnosis penyakit dan terapi, serta aman bagi pasien. Beberapa tahun terakhir ini para peneliti di bidang metrologi radiasi sedang

I. PENDAHULUAN Peranan teknik nuklir nuklir dalam bidang kedokteran semakin luas. Cabang dari ilmu kedokteran yang menangani masalah teknologi nuklir adalah ilmu kedokteran nuklir. Sumber radiasi yang digunakan dalam ilmu kedokteran nuklir digunakan untuk tujuan terapi, diagnostik dan penelitian. Untuk tujuan diagnostik dapat digunakan metode in vivo dan in vitro. Pengobatan dengan metode in vivo dengan cara memasukkan radioisotop ke dalam tubuh melalui jalan pernafasan atau melalui mulut atau penyuntikan. Sedangkan pengobatan dengan metode in vitro dengan cara mereaksikan radiosotop dengan darah, urine yang diambil dari tubuh pasien.Salah satu alat ukur aktivitas yang sering digunakan untuk mengukur aktivitas sumber radiasi adalah system pencacah kamar pengion. Salah satu jenis kamar pengion yang digunakan oleh kedokteran nuklir di rumah-rumah sakit adalah jenis dosecalibrator. Untuk mengecek kestabilan dari alat ukur aktivitas tersebut maka alat tersebut perlu dikalibrasi dengan radiosotop yang sudah diketahui aktivitasnya. Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi (PTKMR) – BATAN, sebagai instansi yang salah

ISSN 0853-0823

52

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

mengembangkan metode pengukuran standardisasi radioisotop yang banyak digunakan di kedokteran nuklir, diantaranya adalah Sm-153, Tc-99m, I-131, Re-186 Iodium125, Iodium-129, Indium-111, Fluor-18 dan Ir-192. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan standardisasi radioisotop secara metode relatif untuk radioisotop 192Ir dan aplikasinya untuk. menentukan calibration setting pada dose calibrator merk Capintec milik PTKMR terhadap sumber radioaktif 192Ir .

4.

Sistem pencacah spektrometer gamma detektor semikonduktor High Purity Germanium GC 1018 buatan Canberra 5. High Voltage Supply TC 950 buatan Tennelec 6. Amplifier 2022 buatan Canberra, 7. Multiport II buatan Canberra, 8. Osiloskop, 9. Timbangan semimikro KERN 10. Software Genie 2000 buatan Canberra B. Tata Kerja

II. DASAR TEORI Ir merupakan sumber radioaktif pemancar β dan diikuti dengan γ. 192Ir mempunyai waktu paro 73,827 hari. Energi β− yang dimiliki adalah 675,1 keV dengan intensitas (47,9%) dan 538,8 keV dengan intensitas (41,4%) serta 258,7% dengan intensitas (5,59%). Energi γ yang dimiliki adalah E γ adalah 205,79430 keV (3,34%), 295,95650 keV (28,72%), 308,45507 keV (29,68%), 316,50618 (82,75%) serta 468,0688 (47,81%). Radioisotop 192Ir meluruh menjadi radioisotop stabil 192Pt [1] Bagan peluruhan 192Ir disajikan pada Gambar 1.
192 −

Proses standardisasi radionuklida meliputi: 1. Preparasi cuplikan 192Ir dalam 2 bentuk yaitu padat (point source) dan bentuk cair dalam vial. 2. Pengukuran aktivitas cuplikan bentuk padat (point source) menggunakan sistem pencacah spektrometer gamma dan bentuk cair dalam vial menggunakan sistem pencacah dose calibrator. 3. Penentuan nilai radionuclide factor pada dose calibrator. C. Preparasi Pembuatan Cuplikan 192Ir Radionuklida 192Ir bentuk cair dari POLATOM POLANDIA dipreparasi dan disiapkan dalam 2 bentuk yaitu dalam bentuk padat (titik) atau point source pada penyangga sumber mylar, sebanyak 5 buah dan dalam bentuk cair pada vial. Berat setiap cuplikan ditentukan secara gravimetri menggunakan timbangan semimikro KERN. Masing-masing sampel kedua bentuk mempunyai berat yang bervariasi. D. Pengukuran Aktivitas Cuplikan 192Ir Standardisasi radionuklida cuplikan 192Ir bentuk padat (titik) atau point source diukur aktivitasnya menggunakan sistem pencacah spektrometer gamma detektor semikonduktor High Purity Germanium (HPGe).[3] Pengukuran aktivitas dilakukan menggunakan metode relatif yaitu menggunakan analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Pada analisis kualitatif analisisnya menggunakan kurva kalibrasi energi sedangkan analisis kuantitatif menggunakan kurva kalibrasi efisiensi. [4] Sumber standar yang digunakan adalah sumber standar Eu-152 buatan LMRI Prancis. [5] Sumber radionuklida Eu-152 mempunyai rentang energi gamma dari 244,7-1408 keV. [6] Sebelum dilakukan pengukuran sistem pencacah spektrometer gamma detektor HPGe dikalibrasi energi dahulu. Nilai efisiensi yang sering dipakai adalah efisiensi mutlak. Nilai efisiensi tersebut dihitung dengan persamaan

Gambar 1. Bagan Peluruhan Ir-192 [2] Iridium-192 merupakan sumber zat radioaktif yang digunakan dalam brakhiterapi High Dose Rate, biasanya ditanamkan dalam tubuh manusia. Ir-192 mempunyai waktu paro 74,02 hari, energi gamma yang dipancarkan cukup banyak berkisar dari 201,3 – 884,5 keV dengan energi ratarata 389 keV (NCRP.No.58,1984). Pemakaian aktivitas I192 ini biasanya cukup besar sekitar 10 Ci, sehingga penanganannya perlu lebih ekstra, terutama pada pengukuran aktivitasnya, untuk menjamin keselamatan dan kesehatan pasien. Pengukuran aktivitas ini perlu sumber standar sebagai acuannya. Standardisasi Ir-192 akan dilakukan menggunakan metode relatif non-diskriminator dan spektrometer gamma. III. TATA KERJA [1] Bahan dan Peralatan 1. Radionuklida 192Ir bentuk cair dari POLATOM POLANDIA. 2. Sumber standar multi gamma Eu-152 buatan LMRI 3. Sistem pencacah detektor kamar pengion 4πγ CAPINTEC CRT-7BT,

ε (E ) =

cps dps × Y ( E )

(1 )

dengan ε (E) efisiensi mutlak pada energi E, cps laju pencacahan pada pengukuran, dps aktivitas standar pada saat pengukuran, Y(E) adalah yield sebagai fungsi energi gamma. Dengan menggunakan kurva kalibrasi efisiensi tersebut maka dapat dtentukan nilai aktivitas masing-masing cuplikan 192Ir bentuk titik dan bentuk cair dalam wadah vial tersebut. E. Penentuan Nilai radionuclide factor pada dose calibrator

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

53

Penentuan nilai calibration setting pada dose calibrator dilakukan setelah diketahui aktivitas Sumber radioaktif 192Ir menggunakan sistem pencacah spektromer gamma.[7-8] Nilai tersebut digunakan untuk menghitung nilai aktivitas bentuk cair dalam wadah vial. Kamudian dilakukan pencacahan 192Ir bentuk cair tersebut menggunakan dose calibrator sambil mengatur tuning pada panel dose calibrator sesuai nilai aktivitas radioaktif 192Ir yang diperoleh dari perhitungan. Apabila hasil cacahan dan perhitungan sudah sesuai, maka calibration setting pada panel tuning sudah dapat ditentukan. Nilai calibration setting ini digunakan untuk mengukur radionuklida 192Ir yang merupakan nilai acuan kalibrasi dose calibrator terhadap 192Ir. Pengukuran dilakukan sebanyak 25 kali pengulangan selama beberapa hari.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil pengukuran aktivitas menggunakan sumber standar Eu-152 LMRI dapat digunakan untuk mendapatkan nilai efisiensi setiap energi gamma. Dari nilai efisiensi deteksi tersebut dapat dibuat kurva kalibrasi effisiensi sebagai fungsi energi gamma. Kurva kalibrasi efisiensi dari penentuan luas puncak serapan total menggunakan sumber standar multi gamma Eu-152 dari energi 244,7 keV sampai 1408 keV disajikan pada Gambar 2. Pada kurva kalibrasi efisiensi di atas terlihat bahwa nilai koefisiensi linieritas yang telah diperoleh cukup bagus yaitu R2 =0,9998 mendekati 1. Untuk ketelitian dan keakuratan penentuan luas puncak serapan total maka dilakukan koreksi terhadap sumbangan dari puncak-puncak yang bersebelahan (double peaks). Salah satu koreksi terhadap energi gamma Eu-152 tersebut adalah pada energi puncak energi gamma 251,8 keV terhadap 244,7 keV berkisar 0,5%, sedangkan pada puncak energi gamma 1112,1 keV mendapat sumbangan dari energi gamma 1109,2 sebesar 1,2%.

berakibat pada penentuan luas puncak serapan total pada kedua energi tersebut. Nilai aktivitas masing-masing sampel diperoleh dengan menggunakan persamaan cps (2) dps = ε (E) ×Y (E) dengan ε(E) efisiensi mutlak pada energi E, cps laju pencacahan pada pengukuran, dps aktivitas standar pada saat pengukuran, Y(E) adalah yield sebagai fungsi energi gamma. Hasil pengukuran aktivitas berjumlah 5 buah sampel 192Ir bentuk padat (point source) menggunakan spektrometer gamma detektor HPGe ditampilkan pada Tabel I. Pada tabel tersebut dapat dijelakan bahwa hasil pengukuran dari 5 sampel cuplikan 192Ir setelah dikoreksi waktu peluruhan sebesar (19512,794 ± 289,057) Bq/mg atau (19512,794±1,48%) Bq/mg. Hasil pegukuran tersebut cukup bagus dengan kesalahan 1,481%. Dari kurva kalibrasi tersebut dapat diperoleh nilai efisiensi 192Ir adalah 0,000600124. Salah satu faktor penyebab kesalahan hasil pengukuran aktivitas kemungkinan adalah faktor penimbangan. Koreksi-koreksi yang dilakukan pada pengukuran menggunakan spektrometer gamma adalah koreksi latar, koreksi dead time dan koreksi waktu peluruhan pada reference time yang sama.
Tabel I. Hasil pengukuran aktivitas 186Re menggunakan spektrometer gamma.

Sampel 19201 19202 19203 19204 19205

Energi (keV) 295,95650

Yield 0,2872

Efisiensi 0,000600124

Aktivitas (Bq/mg) 29-12-2010

Rerata
Standar deviasi
0.000800 0.000700 0.000600 Effisien si 0.000500 0.000400 0.000300 0.000200 0.000100 0.000000 0 200 400 600 800 1000 Energi (keV) 1200 1400 1600

%

19145,317 19414,135 19865,779 19740,310 19398,427 19512,794 289,057 1,481

y = 0.156x R2 = 0.9998

-0.9772

Gambar 2. Kurva Kalibrasi Efisiensi Detektor HPGe Menggunakan Sumber Standar Eu-152 LMRI.

Gambar 3. Spektrum

192

Ir.

Oleh sebab itu maka perlu dilakukan koreksi perhitungan pada energi gamma tersebut agar diperoleh nilai yang sebenarnya. Koreksi tersebut dilakukan untuk meminimalisasi efek penjumlahan korelasi karena efek ini

Spektrum 192Ir menggunakan spektrometer gamma ditampilkan pada Gambar 3. Pada gambar spektrum terlihat bahwa 192Ir mempunyai energi gamma pada 295,95650 keV(28,72%), 316,50618 keV (82,75%), dan 468,06880 keV (47,81%). Selain itu pada spektrum 192Ir tidak tampak

ISSN 0853-0823

54

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

adanya impuritas (pengotor) yang signifikan, sehingga tidak perlu adanya koreksi impuritas. Pada pengukuran dan perhitungan aktivitas 192Ir yang kita gunakan adalah pada ketiga energi gamma tersebut. Tabel II menjelaskan bahwa nilai aktivitas yang diperoleh dari pengukuran menggunakan spektrometer gamma tersebut digunakan untuk menghitung nilai aktivitas 192 Ir bentuk cair pada wadah vial. Berat radiofarmaka 192Ir cair dalam vial adalah 351,529 mg, sehingga dapat dihitung nilai aktivitas 192Ir cair dalam vial sebesar 6859,31 kBq (185 µCi). Nilai ini digunakan untuk menentukan calibration setting pada dose calibrator Capintec terhadap 192Ir, sehingga dengan diperolehnya calibration setting maka dose calibrator milik PTKMR dapat digunakan sebagai alat standar untuk mengkalibrasi dose calibrator milik rumah sakit terhadap 192Ir sehingga dapat tertelusur ke laboratorium acuan nasional PTKMR BATAN dan aspek keselamatan pada pasien lebih terjamin.
Tabel II. Hasil pengukuran aktivitas calibrator.
192

latar, koreksi dead time dan koreksi waktu peluruhan. Dari spektrum 192Ir dapat diketahui bahwa tidak ditemukannya impuritas (pengotor) yang signifikan dari 192Ir sehingga tidak perlu dilakukan koreksi impuritas. Hasil perhitungan aktivitas sampel 192Ir berbentuk cair dalam vial memberikan hasil yaitu 6859,31 kBq (185µCi). Hasil ini digunakan untuk menentukan calibration setting pada dose calibrator Capintec milik PTKMR. Penentuan calibration setting pada dose calibrator Capintec dapat dilakukan menggunakan sistem pencacah spektrometer gamma. PTKMR BATAN mampu mengkalibrasi dose calibrator milik rumah sakit terhadap 192 Ir sehingga dapat tertelusur ke laboratorium acuan nasional PTKMR BATAN. PUSTAKA
[1] [2] [3] National Council On Radiation Protection And Measurements, A Handbook of Radioactivity Measurements Procedures, NCRP Report No. 58, November 1978. ICRP Publication 38, Radionuclide Transformation Energy & Intensity of Emissions, Vol. 11-13, Pergamon Press, Oxford, 1983. K. Debertin dan R.G. Helmer, Gamma and X-Ray Spectrometry with Semiconductor Detector, North-Holland, Elsevier Press, 1988. K. Debertin, Schotzig, K.F. Walz, Efficiency Calibration of Semiconductor Spectrometers Techniques and Accurates , PTB Germany, 1980. K. Debertin, International Intercomparison of Gamma-Ray Emision Rate Measurement by Means of Germanium Spectrometers and 152Eu Sources, 1987. K. Debertin, A Guide and Instruction for Determining Gammay-ray Emission Rates with Germanium Detector Systems, PTB, 1985. H.M. Weiss, 4 πγ Ionization Chamber Measurements, Nuclear Intruments and Method 112 (1973) 291-297. Schrader, Activity Measurements with Ionization Chambers, Bureau International des Poids et Mesures, 1997.

Ir menggunakan dose

Sampel A19201

mg 351,5287

Aktivitas (kBq) 29-12-2010 6859,31

[4] [5] [6] [7] [8]

V. KESIMPULAN Hasil pengukuran aktivitas sampel 192Ir berbentuk padat (point source) menggunakan spektrometer gamma sebanyak 5 buah memberikan hasil yang cukup baik yaitu (19512,794 ± 289,057) Bq/mg atau (19512,794 ± 1,48%) Bq/mg. Koreksi pengukuran yang dilakukan adalah koreksi

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

55

Metode Penentuan Faktor Homogenitas Larutan Radioaktif Cobalt-60 Menggunakan Perangkat Spektrometer Gamma
Gatot Wurdiyanto dan Pujadi
Gatot_w@batan.go.id  Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi – Badan Tenaga Nuklir Nasional 

Abstrak-Telah dilakukan penelitian untuk menentukan faktor homogenitas larutan radioaktif Cobalt 60 menggunakan perangkat spektrometer gamma di Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi – BATAN. Hal ini perlu dilakukan guna mendapatkan larutan induk standar radioaktif cobalt 60 yang akan digunakan sebagai sumber standar untuk mengkalibrasi perangkat nuklir. Co-60 diperoleh dari produsen radioisotop POLATOM – POLANDIA merupakan bahan mentah (raw material) yang akan diproses untuk menjadi sumber radioaktif standar. Cara yang dilakukan adalah dengan mengencerkan sumber Co-60 dengan faktor pengenceran tertentu kemudian menyiapkan sampel dalam bentuk titik sebanyak 15 buah pada lapisan penyangga lapisan tipis mylar. Metode preparasi yang digunakan adalah gravimetri karena lebih akurat. Pengukuran radioaktivitas sampel menggunakan metode spektrometri gamma. Pengukuran tingkat kekotoran (impuritas) sumber menggunakan perangkat spektrometer gamma. Sumber standar yang digunakan adalah sumber multigamma Eu-152 yang memiliki ketertelusuran ke Sistem Internasional. Koreksi yang dilakukan adalah waktu mati (dead time) peluruhan, cacah latar, impuritas, efek jumlahan spektrum (sumpeak). Penentuan faktor homogenitas larutan radioaktif Co-60 ditentukan dengan metode terompet dari besaran radioaktivitas per satuan berat. Hasil penentuan faktor homogenitas cukup baik dengan tingkat keberterimaan 3 % dan aktivitas jenis larutan Co-60 adalah (1620 ± 40) Bq/mg pada tanggal 1 Oktober 2010 jam 12.00. Dengan berhasilnya penelitian ini diharapkan Laboratorium Metrologi Radiasi PTKMR-BATAN dapat membuat larutan sumber standar Co-60 yang mempunyai tingkat homogenitas memadai dan memiliki ketertelusuran pada Sistem satuan Internasional, sehingga pemanfaatan teknologi nuklir di segala bidang dapat terlaksana dengan aman dan selamat baik bagi pekerja, masyarakat maupun lingkungannya.
Kata kunci : Homogenitas, Cobalt 60, sumber standar, dan spektrometri gamma.

Abstract. METHOD OF DETERMINING HOMOGENEITY FACTOR FOR COBALT-60 RADIOACTIVE SOLUTION USING GAMMA SPECTROMETER APPARATUS. The Research was conducted to determine the homogeneity factor solution of radioactive Cobalt 60 gamma spectrometer using the device in the Center for Technology of Radiation Safety and Metrology - BATAN. This research needs to be done to get a master solution of radioactive standard of cobalt 60 that will be used as a standard source to calibrate the nuclear instruments. Co-60 radioisotope is obtained from the manufacturer POLATOM - POLAND is the raw material to be processed to become the standard radioactive sources. Ways done in this study is to dilute the Co-60 source with a specific dilution factor and then prepare the sample in the form of 15-point sources on a thin layer of mylar. Preparation method used is gravimetry because it is more accurate than others method. Sample radioactivity measurements using gamma spectrometry method. Impurity measurement of sources using gamma spectrometer system. Standard sources used were Eu-152 multigamma source, Co-60 and Cs-137 that have traceability to International System. Correction is done is dead time, decay, background counting, impurity, and sum effect spectrum (sumpeak). Determination of homogeneity factor solution of radioactive Co-60 is determined using the horn of the magnitude of radioactivity per unit weight. The result of the determination of homogeneity factors fairly well with the level of acceptance of 3% and specific activity of a solution of Co-60 is (1620 ± 40) Bq/mg on October 1, 2010 at 12.00. With the success of this research is expected Radiation Metrology Laboratory PTKMR-BATAN can make a standard solution of Co-60 sources that have a sufficient degree of homogeneity and have traceability to the International unit system, so that utilization of nuclear technology in all fields can be accomplished with a secure and safe both for workers, communities and the environment. Keywords : Homogenity, Cobalt 60, Standard Source, and gamma spectrometry.

I. PENDAHULUAN Pemanfaatan teknologi nuklir dalam segala bidang telah berkembang dengan pesat baik di dunia internasional maupun di Indonesia. Dalam pemanfaatannya dibutuhkan suatu standar yang memenuhi persyaratan teknis sehingga hasil produknya mempunyai tingkat kualitas yang memadai. Beberapa laboratorium memanfaatkan standar sebagai pengkalibrasi alat ukur yang dimiliki, maupun sebagai perangkat penjamin kualitas terhadap hasil produknya. Salah satu persyaratan yang digunakan untuk mendapatkan material standar acuan (Standard refernce material) yang berkualitas maka diperlukan tingkat homogenitas yang memadai.

Berdasar pada tugas dan fungsinya sebagai laboratorium acuan nasional dalam bidang pengukuran radioaktivitas, maka PTKMR harus mampu dalam menyediakan sumber standar berbagai jenis maupun tipe sehingga hasil pengukuran maupun pengujian sampel memiliki nilai yang akurat, presisi dan tertulur ke Sistem Internasional. Pada penelitian ini akan dilakukan pengembangan metode pengukuran faktor homogenitas larutan standard acuan Co-60. Cara yang dilakukan adalah dengan membuat suatu larutan induk Co-60 yang bahan dasarnya diperoleh dari produsen radioisotop POLATOM – POLANDIA. Dari larutan induk tersebut dipreparasi dan dibuat sumber titik kemudian distandarkan menggunakan metode spektrometri gamma. Metode ini dipilih karena

ISSN 0853-0823

56

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

sangat fleksibel untuk mengukur radioaktif yang memancarkan foton gamma serta dapat melakukan analisa secara kualitatif dan kuantitatif. Selain itu metode ini dapat digunakan untuk menganalisa pengotor (impuritas) yang ada pada sumber standar tersebut, sehingga bila terdeteksi adanya impuritas maka dapat dilakukan koreksi secara bersamaan dengan pengukuran radioaktivitas sumber standar. Pengukuran aktivitas untuk Co-60 dilakukan dengan menganalisa spektrum pada energi 1173,2 dan 1332,5 keV. Beberapa peneliti seperti Hiroshi Miyahara dan Chizuo Mori , Yasushi Kawada dan Yoshio Hino melakukan standardisasi sumber Co-60 menggunakan metode koinsidensi 4π β-γ [1, 2]. Standardisasi Co-60 dengan metode ini dapat secara langsung dilakukan karena Co-60 memancarkan beta dan gamma secara serentak (3, 4, 5, 6). Co-60 merupakan radionuklida yang mempunyai umur paro cukup panjang, yaitu 5,2711 tahun, meluruh dengan mengemisi partikel beta sambil memancarkan photon gamma pada energi 1173,2 KeV dan 1332,5 keV dengan intensitas mendekati 100 % , menjadi unsur stabil Ni-60 [6]. Dengan sifat seperti ini, maka Co-60 sangat baik untuk dijadikan sumber standar pemancar photon gamma pada energi di atas 1000 keV. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan larutan material standard acuan Co-60 yang memiliki tingkat homogenitas yang memadai dan nilai aktivitasnya memiliki ketertelusuran ke Sistem Satuan Internasional, sehingga kebutuhan sumber standar radioaktif nasional dapat diselenggarakan secara mandiri. Dengan adanya sumber standar ini diharapkan pemanfaatan teknologi nuklir di segala bidang dapat terlaksana dengan aman dan selamat baik bagi pekerja, masyarakat maupun lingkungannya III.TATA KERJA Penelitian dimulai dengan preparasi, penghitungan aktivitas dan impuritas, koreksi-koreksi, analisis data dan kesimpulan. A. Preparasi Preparasi sampel dimulai dengan menyiapkan wadah, alat-alat dan penyangga sumber baik berupa ampul maupun lapisan film tipis mylar, kemudian dibersihkan menggunakan alkohol encer dan disterilkan dari unsurunsur pengotor lain. Preparasi dilakukan dengan metode gravimetrik menggunakan perangkat semimikro balance yang terkalibrasi karena lebih akurat dibandingkan metode lain. Sumber berbentuk titik yang disiapkan sebanyak 20 (dua puluh) buah. Setelah sumber Co-60 diteteskan pada penyangga mylar lalu dikeringkan menggunakan sinar infra merah. Setelah kering sumber campuran tersebut ditutup dengan lapisan mylar yang sama dan diberi kode. Selanjutnya sumber campuran tersebut siap diukur.

semikonduktor HPGe Model GC1018, serial number 08057902 yang memiliki efisiensi relatif 10,3% dengan energi resolusi 1,69 keV pada energi 1333 keV. Detektor ini dilengkapi dengan pre-amplifier model 2002CSL dan bekerja pada tegangan operasional 4500 volt dengan polaritas positif. Amplifier yang digunakan adalah buatan Canberra tipe 2022 sedangkan setelan amplifier adalah coarse gain pada posisi 100 dan fine gain 0,73. Selanjutnya dihubungkan ke sistem Multichannel analyzer (MCA) dalam software Gennie 2000 yang di program dalam personal computer. Jarak sumber ke detektor 25 cm. Sebelum dilakukan pengukuran perangkat spektrometer gamma harus dikalibrasi lebih dulu menggunakan sumber standar yang mempunyai ketertelusuran ke sistem internasional. Pada penelitian ini sumber standar yang digunakan adalah sumber multigamma Eu-152 serta sumber Cs-137 dan Co-60 berbentuk titik. Kalibrasi yang dilakukan adalah kalibrasi energi dan kalibrasi efisiensi deteksi [7, 8, 9]. Pengukuran dilakukan terhadap masingmasing sampel sebanyak 3 kali dan lama pengukuran untuk sekali pengulangan adalah 60 menit. Pengukuran terhadap sumber standar dilakukan selama 10.000 detik agar dicapai nilai ketelitian yang tinggi. C. Pengukuran impuritas Impuritas diukur menggunakan perangkat spektrometer gamma yang sama dengan yang digunakan saat mengukur aktivitas. Pengukuran dilakukan beberapa kali dalam waktu yang berbeda untuk melihat kemungkinan adanya impuritas yang mempunyai umur paro lebih besar dari sampel yang diukur. Sumber standar yang digunakan dalam pengukuran impuritas ini adalah Co-60, Cs-137 dan Eu-152. Kandungan impuritas suatu bahan standar perlu diketahui dan harus dikoreksi agar mendapatkan nilai standar yang akurat dan teliti. Alat yang digunakan adalah perangkat spektrometer gamma yang dapat melakukan analisa secara kualitatif maupun kuantitaif. Pengukuran impuritas dilakukan tersendiri agar efek puncak jumlahan (sumpeak) maupun gejala penumpukan (pile-up) yang terjadi seminimal mungkin. Faktor-faktor ini menjadi pengganggu utama saat melakukan analisis kualitatif.

Gambar . 1 Diagram balok perangkat spektrometer gamma dengan detektor HPGe

D. Koreksi – koreksi Faktor yang sangat menentukan keberhasilan pengukuran adalah melakukan sejumlah koreksi-koreksi yang mempengaruhi kondisi ideal pengukuran. Dalam penelitian ini koreksi yang dilakukan adalah cacah latar, waktu mati (dead time), faktor kekotoran sampel (impuritas), faktor peluruhan, dan lain-lain. Koreksi

B. Pengukuran aktivitas Aktivitas sumber campuran berbentuk titik diukur menggunakan perangkat spektrometer gamma seperti pada Gambar 1. Detektor yang digunakan adalah

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

57

terhadap cacah latar dilakukan dengan mencacah latar selama 54.000 detik. Hal ini dilakukan untuk mencapai nilai pengukuran yang akurat. Sedangkan koreksi terhadap waktu mati (dead time) dilakukan secara langsung dengan menyetel (setting) waktu cacah pada posisi live time. III. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penimbangan sumber Co-60 ditampilkan pada Tabel 1. Banyaknya sumber yang diteteskan ke penyangga disesuaikan agar diameter yang terbentuk kurang dari 0,5 cm dan perkiraan aktivitas yang dimiliki tidak melebihi batas maksimum dari alat yang digunakan. Hasil kalibrasi efisiensi dengan menggunakan sumber standard Eu-152, Co-60 dan Cs-137 ditunjukkan oleh kurva pada Gambar 2. Energi yang digunakan untuk membuat kurva kalibrasi efisiensi sebanyak 9 (sembilan) energi, yaitu: 244,7 ; 344,3; 661,657; 778,9; 964,1; 1112,1; 1173,228 ; 1332,492 dan 1408,0 keV. Energi 661,657 keV adalah energi gamma yang dipancarkan oleh radionuklida Cs-137. Sedangkan energi 1173,228 dan 1332,492 keV merupakan energi gamma yang dipancarkan oleh radionuklida Co-60. Selebihnya adalah energi gamma yang dipancarkan oleh radionuklida Eu-152. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas pengukuran agar hasil pengukuran menjadi lebih akurat, presisi dan memiliki ketertelusuran. Kurva efisiensi kalibrasi adalah Efisiensi = 0,1598 E -0,98 dengan koefisien korelasi 0,9998 dan ketidakpastian daerah fitting 1,5 %. Dari kurva ini didapatkan nilai efisiensi untuk energi 1173,228 keV adalah 0,0001569 dan untuk energi 1332,492 keV adalah 0,0001385.
Table 1. Data preparasi Co-60
No. Kode Co-01/10 Co-02/10 Co-03/10 Co-04/10 Co-05/10 Co-06/10 Co-07/10 Co-08/10 Co-09/10 Co-1010 Co-11/10 Co-12/10 Co-13/10 Co-14/10 Co-15/10 Berat (mg) 45,167 23,263 39,1611 26,238 15,356 35,878 28,72 39,3012 45,156 52,385 59,192 59,572 37,79 45,127 22,473

Gambar. 2 Kurva Kalibrasi Efisiensi Menggunakan Sumber Standard Eu-152 , Co-60 dan Cs-137.

Spektrum Co-60 ditampilkan pada Gambar 3. yang didapat menggunakan perangkat spektrometer gamma dengan detektor semikonduktor HPGe. Spektrum Co-60 pada energi 1173,2 dan 1332, 496 keV. Pada Gambar ini tidak ditemukan impuritas yang cukup signifikan, sehingga koreksi terhadap impuritas tidak perlu dilakukan.

Gambar 3. Suatu Contoh Spektrum puncak energi Co-60 menggunakan Sistem Spektrometer Gamma dengan Detektor Semikonduktor HPGe.

Hasil penentuan aktivitas sumber Co-60 masing-masing sumber ditampilkan pada Table 2. Hasil ini cukup baik dengan ketidakpastian bentangan 3,8 %. Karena sumber tersebut berasal dari larutan yang sama maka dapat dihitung aktivitas jenis larutan asal sumber tersebut. Nilai aktivitas jenis larutan Co-60 dilakukan dengan membagi terhadap berat masing-masing sumber yang diteteskan pada masing-masing sampel. Hasil penentuan aktivitas jenis ditampilkan pada Table 2, dengan rata-rata nilainya (1620 ± 40) Bq/mg. Hasil ini cukup baik karena memiliki standard deviasi di bawah 3 %. Nilai aktivitas jenis yang didapat melalui pengukuran tiap-tiap sampel yang dibuat dari larutan induk yang sama dimana mempunyai nilai ketidakpastian yang kurang dari 3 % , dapat dikatakan bahwa larutan induk tersebut cukup homogen dengan batas keberterimaan 3% .

ISSN 0853-0823

58

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Tabel 2. Hasil Pengukuran Aktivitas dan Aktivitas Jenis Sumber Co-60. No. Kode Aktivitas Aktivitas Jenis (Bq) (Bq/mg) Co-01/10 70280 1556 Co-02/10 36592 1573 Co-03/10 64037 1635 Co-04/10 42158 1607 Co-05/10 24934 1624 Co-06/10 58747 1637 Co-07/10 46268 1611 Co-08/10 63793 1623 Co-09/10 74410 1648 Co-10/10 84961 1622 Co-11/10 94470 1595 Co-12/10 96655 1622 Co-13/10 64949 1719 Co-14/10 70788 1569 Co-15/10 37408 1665 Nilai rata-rata 1620 ± 40

UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih sebesar-besarnya penulis ucapkan kepada Ka. PTKMR dan Ka Bidang Metrologi Radiasi yang memberikan kesempatan kepada kami untuk melakukan penelitian ini sehingga kami mendapatkan peluang untuk menstandardkan sumber Co-60. Mudah-mudahan hasil penelitian ini bermanfaat sehingga tujuan pemanfaatan teknologi nuklir di segala bidang dapat berjalan secara tepat, aman dan selamat. PUSTAKA [1] Miyahara H. And C. Mori ., Memoirs of the Faculty of Enginnering, Nagoya University, Vol.2, No. 1, Nagoya-Japan , 1990. [2] Kawada Y. And Yoshio Hino , Report of researches of Electro Technical Laboratory, Tsukuba – Japan , 1972. [3] International Commission on Radiological Protection, Radionuclide Transformation, ICRP Publication No. 38, 11-13 (1983) [4] Table de Radionucleides, Laboratoire de Metrologie des Rayonnements Ionisants, Medical Selection, Commissariat a I energie Atomique, 1982. [5] Ineel , Helmer, R. G., Table de Radionucleides, LNHB/CEA, 2010. [6] Ineel & KRI/ Helmer, R. G. And V.P. Chechev, Table de Radionucleides, LNHB/CEA, 2007. [7] Knoll, G. F., Radiation Detection and Measurement, Second Edition, John Wiley & Sons, Inc. , 1989. [8] Debertin, K and Helmer, R. G., Gamma and X-ray Spectrometry With Semiconductor Detectors, Elsevier Science Publishers B.V., Amsterdam, 1988. [9] Susetyo, W., Spektrometri Gamma dan Penerapannya Dalam Analisis Pengaktifan Neutron, Yogyakarta, Gama Press, 1988.

IV. KESIMPULAN Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan : 1. Hasil pengukuran aktivitas tiap-tiap sampel cukup baik dengan ketidakpastian bentangan (expanded uncertainty) 3,8 %. 2. Nilai aktivitas jenis dari larutan induk Co-60 adalah (1620 ± 40) Bq/mg , nilai ini menunjukkan bahwa larutan induk Co-60 adalah cukup homogen. 3. Standardisasi sumber Co-60 bentuk cair telah dapat dilakukan di Laboratorium Metrologi Radiasi Nasional, dengan tingkat homogenitas yang memadai dan batas keberterimaan 3%.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

59

Chernobyl, 25 Tahun Yang Lalu
Anggoro Septilarso
a.septilarso@bapeten.go.id Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) Jakarta

Abstrak – Tepat pada tanggal 26 April ini, 25 tahun yang lalu yaitu pada tahun 1986 terjadi kecelakaan nuklir yang memiliki akibat terbesar dalam sejarah manusia. Zat radioaktif dalam jumlah besar terlepas ke lingkungan dan hampir menutupi seluruh daratan Eropa. Kecelakaan ini tejadi saat dilakukannya suatu percobaan oleh operator pada sistem listrik dari salah satu unit Reaktor Chernobyl. Pemicu terjadinya kecelakaan ini adalah kombinasi antara buruknya disain Reaktor Chernobyl, kesalahan tindakan operator dan rendahnya tingkat budaya keselamatan. Pada makalah ini akan dibahas mengenai kondisi disain dari Reaktor Chernobyl, kurangnya budaya keselamatan dan pengaruh tindakan operator yang memicu terjadinya baik proses neutronik dan termohidrolik pada sistem reaktor tersebut hingga terjadi kecelakaan nuklir. Kata kunci : kecelakaan nuklir, disain Reaktor Chernobyl, tindakan operator, budaya keselamatan

I. PENDAHULUAN Kecelakaan nuklir dengan akibat terparah dalam sejarah manusia terjadi 25 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 26 April 1986. Kecelakaan yang terjadi pada dini hari tersebut telah menghancurkan teras dan gedung reaktor yang menyebabkan terlepasnya material radioaktif dalam jumlah besar ke lingkungan. Penyebaran radioaktif yang disebut awan radioaktif tersebut menyebarkan berbagai jenis radionuklida (khususnya iodium dan cesium) ke hampir seluruh daratan Eropa. Berdasarkan kriteria kecelakaan yang dikembangkan oleh The International Nuclear Event Scale (INES), kecelakaan Reaktor Chernobyl ini termasuk dalam kategori kecelakaan tingkat 7 atau kecelakaan yang sangat parah. Kecelakaan yang termasuk dalam kategori ini ditandai dengan adanya dampak terhadap kesehatan/keselamatan manusia dan lingkungan hingga ke luar tapak[1]. Pengalaman kecelakaan Reaktor Chernobyl dan kecelakaan nuklir lainnya menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi industri nuklir khususnya dan kehidupan manusia pada umumnya. Respon yang diberikan oleh para pelaku industri nuklir dan badan pengawas di seluruh dunia adalah adanya peningkatan standar keselamatan dalam pembangunan dan pengoperasian PLTN. Sedangkan bagi masyarakat pada umumnya, kecelakaan nuklir yang terjadi, khususnya kecelakaan Reaktor Chernobyl senantiasa menjadikan nuklir sebagai momok yang menakutkan bagi mereka. II. REAKTOR CHERNOBYL[2] A. Prinsip Kerja Reaktor Chernobyl Reaktor Chernobyl ini adalah merupakan reaktor jenis Reactory Bolshoi Moshnosti-kanalye 1000 (RBMK 1000) atau reaktor pipa tekan berdaya tinggi atau dalam bahasa inggris dikenal dengan istilah Light Water-cooled Graphitemoderated Reactor (LWGR). Reaktor jenis ini menggunakan air sebagai pendingin, grafit sebagai moderator dan bahan bakar menggunakan Uranium Dioksida dengan pengayaan rendah. Bahan bakar dibungkus oleh kelongsong yang terbuat dari Zirconium alloy membentuk eleman bakar. Sekumpulan elemen bakar

dirangkai menjadi satu bundel dan ditempatkan pada suatu pipa bertekanan yang disebut sebagai kanal bahan bakar dimana air pendingin yang mengalir di dalamnya akan mengambil panas dari bahan bakar tersebut. Pipa tekan ini ditempatkan dalam suatu blok grafit yang berperan sebagai moderator neutron dengan batang kendali yang berada diantaranya untuk mengatur reaktivitas reaktor. Air pendingin yang dipanaskan oleh bahan bakar tersebut dibiarkan mendidih dan menghasilkan uap. Kemudian uap tersebut digunakan untuk menggerakan turbin dan menghasilkan listrik. Setelah melewati turbin, uap dikondensasi oleh kondenser menjadi fasa cair untuk kemudian disirkulasikan lagi ke teras reaktor. Gambar 1 menunjukkan sketsa sistem kerja Reaktor Chernobyl ini.

Gambar 1. Sketsa sistem kerja Reakor Chernobyl[3].

B. Disain Batang Kendali Batang kendali terbuat dari bahan penyerap neutron, yaitu Boron Carbida dengan jumlah 179 batang kendali. Pada bagian bawah batang kendali dilengkapi dengan displacer yang terbuat dari grafit yang berguna untuk menghalangi masuknya air pada kanal batang kendali saat batang kendali berada di luar teras. Pada saat batang kendali berada di luar teras, displacer ini berada tepat ditengah-tengah panjang efektif bahan bakar dengan menyisakan ruang masingmasing sepanjang 1,25 m pada bagian atas dan bawah displacer yang terisi air. Disain yang seperti ini

ISSN 0853-0823

60

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

menyebabkan adanya sifat reaktivitas positif scram. Gambar sketsa displacer ditunjukkan pada Gambar 2. Adanya sifat reaktivitas positif scram ini telah terdeteksi pada tahun 1983 di Reaktor Ignalina dan hal ini telah disebarluaskan kepada pengoperasi reaktor RBMK lainnya guna ditindak lanjuti dengan perbaikan disain. Akan tetapi tidak ada tindak lanjut yang dilakukan untuk perbaikan disain hingga hal ini terlupakan.

berkala harga marjin reaktivitas di dalam teras yang memerlukan total waktu 10 -15 menit untuk sekali pengukuran dan perhitungan. Sistem ini juga didisain untuk memberikan panduan bagi operator untuk kondisi tunak dan juga ditujukan untuk terus memantau distribusi daya di dalam teras. G. Ukuran Teras Reaktor Teras reaktor memiliki ukuran tinggi 7 m dan diameter 11,8 m. Besarnya ukuran teras ini mengakibatkan tidak meratanya distribusi daya baik pada arah aksial maupun arah radial. Ukuran teras yang sangat besar ini menuntut konfigurasi posisi tertentu dari batang kendali agar reaktor dapat dipadamkan dengan cepat saat dibutuhkan. H. Akses Untuk Mengubah Sistem Keselamatan dan Alarm Reaktor Chernobyl ini didisain sedemikian hingga mudah bagi operator untuk secara manual mengubah (menghidup dan mematikan) sistem keselamatan dan peringatan dini. Hal ini didukung dengan adanya prosedur kerja yang mengijinkan pengubahan tersebut pada kondisi tertentu.

Gambar 2. Sketsa posisi displacer pada saat (a) batang kendali berada di luar teras dan (b) batang kendali berada di dalam teras[2].

C. Koefisien reaktivitas uap Berbeda dengan reaktor berpendingin air ringan lainnya, pada Reaktor Chernobyl air pendingin lebih berperan sebagai penyerap neutron daripada sebagai moderator neutron. Hal ini berarti dengan semakin banyaknya air yang berubah menjadi uap air akan mengakibatkan turunnya absorpsi neutron sehingga laju reaksi fisi (reaktivitas) akan meningkat dan selanjutnya akan meningkatkan level daya reaktor. Peningkatan level daya reaktor ini selanjutnya akan meningkatkan laju pendidihan air menjadi uap air yang akan meningkatkan reaktivitas dan meningkatkan level daya reaktor. Mekanisme ini menunjukkan bahwa sistem sangat tidak stabil terutama pada daya rendah. Karena mdanya pengaruh yang seperti ini, maka uap disebut memiliki koefisien reaktifitas positif. D. Waktu Jatuh Batang Kendali Waktu yang diperlukan oleh batang kendali untuk scram adalah 18 detik. Lamanya waktu jatuh batang kendali ini disebabkan karena sempitnya ruang kanal batang kendali dan adanya air di dalam kanal batang kendali ini. E. Sistem Pemantau Daya Reaktor Reaktor dilengkapi dengan dua sistem pemantau daya reaktor yang masing-masing bekerja pada kisaran daya 10120% dan 5-120% daya normal. Pada saat reaktor dioperasikan pada daya rendah sistem pemantau daya tidak mampu untuk menunjukkan level daya dengan akurat, sehingga operator hanya bisa mengandalkan pengalaman dan intuisi mereka.

I. Pendinginan Air Masukan Reaktor Chernobyl ini menggunakan pendingin air ringan yang dibiarkan mendidih. Air pendingin masuk dalam wujud cair (bersuhu dibawah titik didih air) untuk kemudian dididihkan saat melalui teras. Bila air pendingin ini tidak cukup dingin (memiliki suhu mendekati titik didihnya) maka pendidihan bisa terjadi pada daerah masukan teras reaktor. Pendidihan yang terlalu cepat terjadi (utamanya pada daerah masukkan kanal bahan bakar atau bagian bawah teras reaktor) menjadi penting artinya karena adanya sifat reaktivitas positif void dan daya. Kondisi ini menjadi lebih berbahaya saat dikombinasikan dengan adanya sifat reaktifitas positif scram. J. Sistem Pengungkung dan Penyungkup Reaktor Chernobyl tidak memiliki sistem pengungkung dan penyungkup reaktor yang memadai. Kondisi ini ditujukan untuk menyediakan akses bagi pengisian ulang bahan bakar pada saat reaktor beroperasi. III. KRONOLOGI KECELAKAAN[3,4] 1. Reaktor diturunkan dayanya untuk keperluan pengujian untuk mengetahui apakah dengan hanya satu turbogenerator yang beroperasi akan mampu menghidupkan pompa pendingin primer hingga catu daya darurat mengambil alihnya saat terjadi kegagalan catu daya utama. a. Daya reaktor mulai diturunkan hingga 1600 MWth (25 April 1986, 01:06 – 03:47) b. Agar reaktor tidak shutdown secara otomatis, para operator mematikan sistem pendingin teras darurat dan sistem scram otomatis lainnya (14:00). c. Pengujian ditunda karena ada permintaan untuk tetap menyuplai listrik ke Kiev (14:00). d. Penurunan daya dilanjutkan lagi (23:00) e. Pergantian shift pekerja (24:00) f. Daya reaktor turun terlalu jauh dari yang direncanakan (22-32% daya penuh) hingga hanya 1% daya penuh dan para operator gagal untuk

F. Penunjukan Marjin Reaktivitas Komputer dan sistem instrumentasi penentuan marjin reaktivitas reaktor, terletak pada jarak 50 m dari ruang kontrol. Sistem ini digunakan untuk menghitung secara ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

61

2.

3.

4.

5.

6.

menaikkannya kembali menuju daerah yang telah direncanakan (26 April 1986, 00:28). g. Hampir semua batang kendali ditarik dari teras reaktor, daya naik menjadi 7% daya penuh, masih jauh dibawah yang direncanakan (00:32). h. Delapan pompa pendingin primer dalam kondisi beroperasi. Turbin dimatikan sehingga empat pompa pendingin primer mati. (Jika sistem scram otomatis tidak dimatikan, sebenarnya reaktor bisa scram secara otomatis). Berkurangnya laju alir menyebabkan bertambahnya void dengan cepat sehingga reaktivitaspun meningkat dengan cepat pula (01:23:04). Daya reaktor meningkat dengan cepat, batang kendali dimasukkan ke dalam teras secara manual tetapi sangat terlambat karena hampir semua batang kendali berada di luar teras dan kecepatan jatuh batang kendali yang lambat dan ditambah dengan adanya sifat reaktivitas positif scram, kondisi ini semakin memperburuk keadaan (01:23:40). Reaktor menjadi superkritis, mengubah semua air pendingin menjadi uap dan merusak kanal bahan bakar (01:23:44). Tekanan uap air yang terbentuk melontarkan bagian atas reaktor, menghancurkan kanal bahan bakar sehingga teras reaktor terekspos udara bebas (01:24:00). Urutan kenaikan daya reaktor bisa dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Kronologi kecelakaan Chernobyl[3].

IV. TAHAPAN MENUJU KECELAKAAN Saat daya reaktor diturunkan hingga hanya 1% daya penuh, xenon diproduksi di dalam bahan bakar dalam jumlah yang sangat besar. Sifat xenon ini adalah menyerap neutron hasil produk fisi. Pada kondisi daya steady state, jumlah xenon ini selalu terkompensasi oleh neutron. saat daya diturunkan dengan memasukkan batang kendali ke dalam teras reaktor, artinya sejumlah besar neutron yang tadinya diserap oleh xenon berganti menjadi diserap oleh batang kendali. Kondisi ini mengakibatkan banyaknya xenon yang tidak terbakar di dalam bahan bakar. Pada gilirannya saat daya akan dikembalikan ke kondisi yang direncanakan, maka hampir semua batang kendali dikeluarkan dari dalam teras dengan tujuan agar jumlah penyerap neutron di dalam teras reaktor berkurang. Bahkan tindakan inipun masih belum mampu mengembalikan daya reaktor ke tingkat yang diinginkan. Tidak mampunya

operator untuk mengembalikan reaktor pada kondisi pengujian seperti yang telah direncanakan di dalam prosedur ternyata tidak membuat mereka untuk membatalkan pengujian. Sebaliknya dengan ijin dari teknisi kepala, mereka malah mengubah prosedur pengujian dan melakukan pengujian pada kondisi yang ada. Saat turbin dimatikan untuk memulai pengujian, empat dari delapan pompa pendingin primer ikut mati. Berkurangnya jumlah pompa pendingin primer yang beroperasi mengakibatkan terjadinya kenaikan temperatur pendingin primer dan terbentuknya gelembung/uap. Dengan semakin banyaknya gelembung yang terbentuk di dalam teras reaktor mengakibatkan berkurangnya jumlah penyerap neutron yang ada di dalam teras reaktor. Kondisi ini mengakibatkan kenaikan reaktivitas daya reaktor dan jumlah neutron di dalam teras reaktor dengan cepat. Naiknya jumlah neutron di dalam teras dalam jumlah besar seketika itu juga membakar sebagian besar xenon yang ada di dalam teras. Begitu xenon yang ada di dalam teras habis terbakar, maka kenaikan reaktivitas daya reaktor pun bergerak dengan sangat cepat. Peristiwa penyerapan neutron oleh xenon ini dikenal dengan istilah peracunan xenon seperti yang diilustrasikan pada Gambar 4. Peristiwa peracunan xenon ini adalah alasan utama mengapa saat reaktor dimatikan, maka tidak boleh dihidupkan kembali untuk suatu periode waktu tertentu sampai reaktor dianggap bersih dari xenon. Begitu juga saat reaktor diturunkan dayanya ke tingkat yang sangat rendah dengan cepat, peristiwa peracunan xenon ini pun terjadi dan reaktor harus langsung dimatikan. Batang kendali segera dimasukkan secara manual ke dalam teras reaktor, tetapi hal ini sudah sangat terlambat. Ditambah dengan disain batang kendali yang saat masuk ke dalam teras memiliki sifat reaktivitas positif scram sebelum ia melakukan fungsi sebenarnya sebagai penyerap neutron. Adanya sifat reaktivitas positif scram ini malah semakin menaikkan reaktivitas reaktor terutamanya pada bagian bawah teras. Daya reaktor naik dengan sangat cepat hingga 100 kali lipat daya operasi normal. Kenaikan daya yang sangat besar ini secara seketika mengubah semua air pendingin menjadi uap. Dengan tidak adanya sistem pengungkung dan penyungkup yang memadai mengakibatkan tekanan uap yang tercipta menghancurkan bagian atas reaktor dan gedung reaktor sehingga sebagian isi teras reaktor terekspose ke udara luar hingga pada akhirnya menimbulkan awan radioaktif yang menyelimuti sebagian besar wilayah eropa. V. PEMBAHASAN Berdasarkan kajian berkelanjutan setelah kecelakaan Chernobyl, didapat banyak keterangan mengenai penyebab kecelakaan ini. Pada awal kajian, berdasarkan laporan dari pemerintah Uni Soviet kesalahan lebih banyak ditimpakan kepada tindakan operator dalam melaksanakan pengujian sebagai penyebab utama terjadinya kecelakaan ini. Kajian berkelanjutan menunjukkan bahwa terjadinya kecelakaan ini adalah hasil dari banyak faktor yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya.

ISSN 0853-0823

62

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Gambar 4. Ilustrasi peracunan xenon di dalam teras reaktor[3].

A. Penyebab Kecelakaan Faktor pertama penyebab kecelakaan adalah buruknya disain reaktor jenis RBMK itu sendiri. Banyak fitur pada reaktor ini yang tidak mampu mewujudkan kondisi pengoperasian reaktor yang aman, utamanya yaitu adanya sifat reaktivitas positif daya dan reaktivitas positif scram yang banyak ditengarai menjadi penyebab utama terjadinya kecelakaan ini. Adanya sifat reaktivitas positif ini sangat berbahaya dalam hal tidak adanya sifat keselamatan melekat dalam disain reaktor RBMK dan mengakibatkan reaktor sangat tidak stabil untuk beroperasi pada daya rendah. Sedangkan sifat reaktivitas positif scram menunjukkan adanya sifat yang berlawanan dengan tujuan scram itu sendiri. Ukuran teras yang sangat besar mengakibatkan tidak meratanya distribusi daya dalam reaktor. Telah diketahui bahwa distrbusi daya dalam teras reaktor memiliki lebih dari satu puncak daya. Adanya karakteristik yang sangat bertentangan dengan prinsip keselamatan melekat ini ternyata juga tidak didukung dengan sistem proteksi dan pendukung yang memadai. Lamanya waktu jatuh batang kendali nyata menunjukkan bahwa sistem keselamatan reaktor tidak akan mampu untuk memadamkan reaktor dengan cepat saat dibutuhkan. Ditambah juga tiadanya pengungkung dan penyungkup yang memadai sebagai lapisan terakhir dalam prinsip multiple barrier mengakibatkan kecelakaan yang terjadi berakibat hingga ke daerah luar tapak. Sistem pemantauan reaktor yang ada pun tidak cukup membantu dalam memberikan jaminan keselamatan reaktor. Sistem pemantau daya yang ada tidak mampu untuk menunjukkan nilai dengan pasti untuk daya rendah, padahal sudah diketahui sebelumnya bahwa reaktor ini sangat tidak stabil pada daya rendah. Sedangkan penunjukkan marjin reaktivitaspun tidak memadai. Saat itu marjin reaktivitas hanya dipahami sebagai jumlah minimal batang kendali yang harus tetap berada di dalam teras reaktor saat reaktor dioperasikan, mengenai konfigurasi posisi batang kendali tidak pernah diperhatikan dengan mengingat besarnya ukuran teras reaktor ini. Selain itu penunjukkan marjin reaktivitas inipun terletak pada tempat yang tidak mudah terlihat oleh operator dari ruang kendali. Walau bagaimanapun, tindakan operator tetap tidak bisa dibenarkan, dan ini adalah faktor kedua penyebab terjadinya kecelakaan. Ada beberapa butir prosedur pengujian yang dilanggar dikarenakan bila pengujian gagal dilakukan maka

mereka hanya bisa melakukan pengujian serupa setahun kemudian. Tindakan operator dalam menaikkan hampir semua batang kendali juga tidak bisa dibenarkan. Kekurangpahaman mereka terhadap keselamatan reaktor menjadi penyebab utama mereka melakukan tindakan yang tidak bisa dibenarkan ini. Faktor ketiga penyebab kecelakaan adalah kurangnya budaya keselamatan baik pada tingkat pengoperasi Reaktor Chernobyl maupun tingkat nasional. Prosedur operasi yang tidak memadai dalam hal analisis kecelakaan adalah salah satu yang menunjukkan kurangnya budaya keselamatan pada tingkat lokal. Prosedur tidak mampu secara jelas menunjukkan hal-hal apa saja yang tidak boleh dilakukan oleh operator. Sebuah kecelakaan kecil sebelumnya pernah terjadi pada reaktor RBMK di Leningard pada tahun 1975, suatu usulan modifikasi telah diusulkan tetapi tidak mendapatkan tanggapan lebih lanjut dari pengoperasi reaktor RBMK lainnya. Setelah itu pada tahun 1983 adanya sifat reaktivitas positif scram juga telah dilaporkan terjadi PLTN Ignalina, pihak disainer telah mengusulkan adanya modifikasi dan disebarluaskan pula ke seluruh pengoperasi reaktor RBMK lainnya tetapi sekali lagi tidak ada tindakan lebih lanjut dari para pengoperasi reaktor RBMK. Kurangnya koordinasi di antara para pengoperasi reaktor RBMK dan antara disainer dan pihak pengoperasi reaktor RBMK menunjukkan kurangnya budaya keselamatan pada tingkat nasional. B. Tindak Lanjut Secara umum kecelakaan ini menimbulkan ketakutan masyarkat dunia akan resiko bahaya reaktor nuklir. Akan tetapi di sisi lain kecelakaan ini juga menyadarkan para pelaku industri nuklir akan beberapa hal, yaitu : 1. Perlunya peningkatan standar keselamatan reaktor nuklir khususnya perbaikan disain reaktor RBMK itu sendiri. 2. Perlunya sumber daya manusia yang terlatih. 3. Pentingnya prosedur kerja yang jelas dan tegas. 4. Pentingnya budaya keselamatan baik di tingkat lokal maupun nasional. VII. KESIMPULAN Penyebab terjadinya kecelakaan Chernobyl, paling tidak diakibatkan karena tiga faktor, yaitu : 1. buruknya disain reaktor, 2. tindakan operator, dan 3. kurangnya budaya keselamatan baik di tingkat lokal maupun nasional.

PUSTAKA
IAEA, The International Nuclear and Radiological Event Scale User’s Manual 2008 Edition, WIna, 2008. [2] IAEA, INSAG-7 The Chernobyl Accident : Updating of INSAG-1, Safety Series, Wina, 1992. [3] Chernobyl Nuclear Power Plant, http://new.chnp.gov.ua/eng/ [4] Ragheb, M., Chernobyl Accident., Department of Nuclear Engineering, MIT, 2007. [1]

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

63

Analisis Peluruhan Flourine-18 menggunakan Sistem Pencacah Kamar Pengion Capintec CRC-7BT S/N 71742
Wijono dan Pujadi
johnrida@batan.go.id Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi - Badan Tenaga Nuklir Nasional Jl. Lebak Bulus Raya No. 49. Jakarta 12440

Abstrak – Telah dilakukan analisis peluruhan Flourine 18 (F-18) kode A1801/10 menggunakan sistem pencacah kamar pengion Capintec CRC-7BT S/n.71742. Impuritas F-18 pada proses analisis tersebut telah diukur menggunakan perangkat spektrometer gamma. Tujuan analisis ini untuk memperoleh nilai umur paro dan karakteristik peluruhan dari F-18 secara eksperimen yang selanjutnya digunakan sebagai data acuan dalam aplikasi penyediaan sumber standar F-18. Umumnya F-18 digunakan untuk keperluan diagnostik/terapi pada suatu rumah sakit. Proses analisis diawali dengan pencacahan yang terdiri dari dua tahap. Tahap pertama dalam orde satuan mCi dan ke dua dilakukan setelah proses peluruhan pada orde µCi. Hasil menunjukkan umur paro dan ketidakpastiannya masing-masing (1,8183 ± 5,293%) dan (1,8288 ± 5,794%) jam. Persamaan garis grafik eksponensial peluruhan F-18 tahap pertama dan ke dua masing-masing adalah y = 11,28 x e-0,37x (R = 1,000) dan y = 18,18 x e-0,38x (R = 0,999). Hasil ini cukup stabil karena perbedaan umur paro dan ketidakpastian dari ke dua tahap tidak terlalu jauh. Dengan diketahui umur paro, ketidakpastian yang terkoreksi dan karakteristik peluruhan ini diharapkan dapat mendongkrak peningkatan jaminan kualitas pengukuran radiasi khususnya F-18, sehingga pihak konsumen (pasien) lebih mendapatkan perlindungan keselamatan dari radiasi sesuai peraturan ketenaganukliran yang berlaku. Kata kunci : umur paro, peluruhan dan ketidakpastian

I. PENDAHULUAN Dewasa ini perkembangan aplikasi berbagai jenis radioisotop dalam kedokteran nuklir telah berkembang dengan pesat. Salah satu contoh adalah penggunaan F-18 untuk keperluan diagnostik maupun terapi pada suatu rumah sakit. Di dalam proses penggunaannya tak lepas dari faktor keakurasian dan kepresisian untuk menentukan kualitas hasil pengukuran radioaktivitas menggunakan alat ukur radiasi. Tingkat kualitas hasil pengukuran ini juga dapat dipengaruhi oleh hal lain misalnya nilai ketidakpastian umur paro secara eksperimen dan karakteristik peluruhannya, yang selanjutnya digunakan sebagai dasar penentuan waktu penyinaran yang tepat kepada konsumen (pasien). Umur paro F-18 sebenarnya memiliki nilai yang tidak selalu sama dibandingkan dengan umur paro secara teori. Perbedaan ini dipengaruhi oleh beberapa hal yang antara lain faktor kemurnian (impuritas) radiokimia maupun kemurnian radionuklidanya. Di dalam perumusan program software suatu alat ukur radiasi (dose calibrator) biasanya menggunakan masukan (input) umur paro secara teori. Apabila perbedaan umur paro yang sebenarnya terhadap teori ini terlalu besar maka akan menyebabkan kesalahan yang besar pula pada penentuan waktu penyinaran yang tepat ke konsumen. Dalam kondisi ini bisa membahayakan keselamatan pasien. Oleh karena itu diperlukan hasil analisis yang dapat menginformasikan nilai ketidakpastian waktu paro dan karakteristik peluruhan F-18. Pada kesempatan ini akan dilakukan analisis peluruhan F18 kode A1801/10 menggunakan sistem pencacah kamar pengion Capintec CRC-7BT nomor seri 71742 yang bertujuan untuk memperoleh nilai umur paro dan karakteristik peluruhan dari F-18 secara eksperimen. Dengan diketahui umur paro, ketidakpastian yang terkoreksi dan karakteristik peluruhan ini diharapkan dapat

mendongkrak peningkatan jaminan kualitas pengukuran radiasi khususnya F-18, sehingga pihak konsumen (pasien) lebih mendapatkan perlindungan keselamatan dari radiasi sesuai peraturan ketenaganukliran yang berlaku [1]. II. TINJAUAN PUSTAKA Pada umumnya Pesawat Siklotron merupakan mesin penghasil radiofarmaka berupa Flourine 18 (F-18) yang digunakan untuk merunut fungsi organ melalui Positron Emission Tomography (PET). F-18 memancarkan energi gamma (γ) dan beta positif (β+) masing-masing 511 dan 149,8 keV. Umur paro F-18 secara teori 1,8288 jam [2]. Dalam pemanfaatannya pesawat Siklotron menghasilkan proton. Selanjutnya direaksikan dengan Oxygen 18 (O-18) sehingga menghasilkan F-18. Proses ini menimbulkan paparan radiasi netron dan gamma. Radiasi netron hanya dihasilkan oleh reaksi O-18 + proton. Sedangkan radiasi gammanya diakibatkan 2 kemungkinan, yaitu hasil reaksi O18 + proton dan hasil interaksi antara radiasi netron dengan partikel disekitarnya. Perhitungan nilai ketidakpastian (U) terdiri dari tipe A dan B. Tipe A meliputi nilai-nilai ketidakpastian data pengukuran alat ukur standar Capintec CRC-7BT (ucp) dan tipe B meliputi nilai-nilai ketidakpastian kebocoran detektor (uleak), Umur paro teori (upr), resolusi bacaan (uresl), respon detektor (ures), linieritas (ulin), akurasi (uakr) dan repeatability (urpb) [3]. Untuk tipe A, deviasi standar pengukuran capintec (σcp) adalah : [4]

σ cp =

∑ (A
i =1

N

icp

− Acp ) 2

N(N − 1)

(1)

ISSN 0853-0823

64

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

sehingga ketidakpastian capintec (ucp) dalam prosen (%) adalah :

ucp =

σ cp

Acp ( N − 1)

x 100

(2)

pencacahan dengan alat ukur standar Capintec CRC-7BT adalah menyiapkan formulir data pencacahan kamar pengion capintec serta mencatat identitas radionuklida sampel, nama pelaksana/penyelia, waktu pengukuran, temperatur (oC) dan kelembaban (%) sebelum menghubungkan kabel Capintec ke power supply PLN.

Dari nilai-nilai ketidakpastian tipe A dan B diperoleh nilai ketidakpastian standar gabungan (uc) sebagai berikut :
2 2 2 2 2 uc = ucp + uleak + upr + uresl + ures + ui2

(3)

Apabila k adalah faktor cakupan untuk nilai derajat kebebasan efektif (veff) dengan tingkat kepercayaan 95% dan menggunakan nilai kritis k-students, maka nilai ketidakpastian bentangan (U) dapat ditentukan. [4]
4 4 4 4 4 4 4 ucp + uleak + upr + uresl + ures + ulin + uakr = 4 4 4 (ucp /vcp )+(uleak /vleak)+(upr /vpr )+(ui4 /vi ))

Gambar 1. Sistem Pencacah Kamar Pengion Capintec CRC-7BT.

v eff

(4)

Nilai ketidakpastian bentangan (U) diperoleh dari hasil perkalian nilai faktor cakupan (k) dengan nilai ketidakpastian gabungan (uc). U = k . uc (5)

TABEL I HUBUNGAN DERAJAT KEBEBASAN TERHADAP FAKTOR CAKUPAN
Derajat Kebebasan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Nilai k pada TK 95% 12.706 4.303 3.182 2.776 2.571 2.447 2.365 2.306 2.262 2.228 2.201 2.179 Derajat Kebebasan 13 14 15 16 17 18 19 20 25 30 60 >>60 Nilai k pada TK 95% 2.160 2.145 2.131 2.120 2.110 2.101 2.093 2.086 2.060 2.042 2 1.96

III. TATA KERJA Peralatan yang digunakan dalam analisis peluruhan F-18 adalah sistem pencacah kamar pengion Capintec CRC-7BT S/n 71742. Foto alat tersebut dapat dilihat di dalam Gambar 1. Radioisotop yang digunakan adalah sebuah sampel F-18 di dalam ampul 5 ml hasil produksi Sistem Pesawat Siklotron milik Rumah Sakit Gading Pluit Jakarta. Aktivitas awal F18 tersebut sebesar 11,266 mCi (per 28 Oktober 2010 jam 15.28 WIB). Sebelum melakukan pencacahan menggunakan Capintec CRC-7BT operator wajib memakai monitor radiasi perorangan (TLD) sampai pekerjaan selesai. Langkah awal

Pengaktifan Capintec dilakukan dengan menekan tombol “on” pada panel belakang dan membiarkannya hingga stabil dalam rentang waktu antara 30 sampai 60 menit. Setelah itu menekan tombol “range” 20 mCi dan “averaging”, tombol “TEST” bacaan yang harus terletak pada 140-155 volt, tombol “ZERO” dan memutar “Zero adjustment” agar bacaan 0,00 mCi. Tombol “BGK” ditekan dan “Background adjustment” diputar agar bacaan 0,00 mCi. Dengan demikian Radionuclide Factor (RF) dapat diatur dengan menekan tombol yang sesuai untuk radionuklida sampel (tombol F-18). Agar proses pencacahan dapat dilakukan dengan baik maka radsionuklida sampel dimasukkan ke dalam holder dan meletakkannya tepat pada posisi tengah sumur detektor. Dengan demikian aktivitas ter-display dapat diamati dan dicatat sebanyak 15 kali pada FORMLMR-STD-15. Tahap pengukuran pertama dilakukan sebanyak 11 tahap pada selang waktu tertentu sehingga hasil pengukuran aktivitas terakhirnya telah meluruh dan melewati besaran umur paronya. Satuan ukur pada pengukuran tahap pertama ini adalah mili Curie (mCi). Sedangkan pada pengukuran tahap kedua dilakukan seperti tahap pertama setelah melalui proses delay atau peluruhan, sehingga F-18 memiliki aktivitas sampai dalam satuan mikro Curie (µCi). Dari kedua tahap pengukuran di atas dapat ditentukan akuisisi data, rerata aktivitas dan deviasi standarnya. Selanjutnya dapat dibuat karakteristik grafik peluruhan, umur paro dan ketidakpastiannya. Nilai ketidakpastian terdiri dari tipe A dan B. Tipe A diperoleh dari distribusi cacah sampel dan latar. Sedangkan Tipe B diperoleh dari spesifikasi alat ukur standar yang meliputi : kebocoran, waktu paro, resolusi, respon, linieritas, akurasi dan repeatability. Dengan menggunakan persamaan 6 dapat ditentukan nilai ketidakpastian gabungan (uc). Berdasarkan hasil pengukuran, perhitungan dan analisis data pencacahan/ketidakpastian maka dapat ditentukan karakteristik peluruhan dengan aktivitas yang tertelusur. Dari hasil ini dapat dibandingkan karakteristik peluruhan dari masing-masing tahap (dalam satuan mCi dan µCi) untuk memperkirakan kemurnian bahan (raw material) dari F-18 melalui perbandingan terhadap umur paro secara teoritisnya (berdasarkan acuan terbaru standar peluruhan

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

65

radioisotop internasional seperti yang direkomendasikan oleh BIPM). IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Dari kegiatan Uji Karakteristik Peluruhan F-18 Kode A1801/10 menggunakan Sistem Pencacah Kamar Pengion

Capintec CRC-7BT diperoleh Tabel data hasil pengukuran aktivitas F-18 pada tahap pertama dan kedua serta distribusi waktu luruhnya (jam) seperti yang ditunjukkan dalam Tabel II dan III.

TABEL II HASIL PENGUKURAN AKTIVITAS F-18 TAHAP PERTAMA
1 Latar No (µCi) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 x σ u (%) 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0 0 15.28 (mCi) 11,28 11,27 11,28 11,27 11,27 11,27 11,27 11,27 11,26 11,26 11,26 11,26 11,26 11,26 11,25 11,266 0,008 0,074 16.02 (mCi) 9,12 9,11 9,10 9,11 9,11 9,10 9,10 9,10 9,10 9,10 9,09 9,10 9,10 9,10 9,09 9,102 0,008 0,085 16.32 (mCi) 7,53 7,54 7,53 7,53 7,53 7,53 7,52 7,52 7,53 7,52 7,52 7,52 7,52 7,52 7,51 7,525 0,007 0,099 17.03 (mCi) 6,20 6,20 6,20 6,20 6,20 6,19 6,19 6,18 6,18 6,19 6,18 6,17 6,18 6,19 6,18 6,189 0,010 0,160 18.02 (mCi) 4,27 4,27 4,26 4,26 4,26 4,26 4,26 4,26 4,26 4,26 4,26 4,26 4,26 4,26 4,26 4,261 0,004 0,083 18.47 (mCi) 3,21 3,22 3,21 3,21 3,21 3,20 3,21 3,20 3,20 3,21 3,20 3,20 3,20 3,20 3,20 3,205 0,006 0,200 19.20 (mCi) 2,60 2,60 2,60 2,60 2,60 2,60 2,60 2,60 2,60 2,60 2,60 2,60 2,59 2,59 2,60 2,599 0,004 0,135 19.52 (mCi) 2,13 2,13 2,13 2,13 2,13 2,13 2,13 2,13 2,13 2,13 2,13 2,13 2,13 2,12 2,12 2,129 0,004 0,165 20.17 (mCi) 1,81 1,81 1,81 1,81 1,81 1,81 1,81 1,81 1,81 1,81 1,81 1,81 1,81 1,81 1,81 1,810 0,000 0,000 20.30 (mCi) 1,68 1,67 1,67 1,68 1,67 1,67 1,67 1,68 1,68 1,67 1,67 1,67 1,67 1,67 1,67 1,673 0,005 0,274 20.48 (mCi) 1,50 1,50 1,50 1,50 1,49 1,49 1,49 1,49 1,49 1,49 1,49 1,49 1,49 1,49 1,49 1,493 0,005 0,307 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

TABEL III HASIL PENGUKURAN AKTIVITAS F-18 TAHAP KEDUA
1 Latar No (µCi) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 x σ u (%) 0,6 0,7 0,8 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,620 0,054 08.31 (µCi) 18,6 18,6 18,6 18,7 18,6 18,6 18,6 18,7 18,7 18,6 18,5 18,4 18,5 18,6 18,5 17,967 0,083 0,464 09.58 (µCi) 11,0 11,1 11,0 11,0 11,0 11,0 11,0 11,0 10,9 11,0 11,1 11,1 11,0 11,0 10,9 10,387 0,059 0,572 11.09 (µCi) 7,3 7,3 7,3 7,2 7,3 7,2 7,2 7,2 7,2 7,2 7,2 7,2 7,2 7,3 7,2 6,613 0,049 0,738 (µCi) 0,7 0,8 0,9 0,9 0,9 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8 0,9 0,9 0,9 0,9 0,8 0,840 0,061 2 3 Latar 12.00 (µCi) 5,5 5,4 5,6 5,6 5,5 5,4 5,5 5,5 5,5 5,6 5,5 5,5 5,5 5,5 5,4 4,660 0,065 1,405 12.31 (µCi) 4,6 4,7 4,7 4,8 4,8 4,7 4,7 4,8 4,7 4,7 4,8 4,8 4,6 4,6 4,6 3,867 0,080 2,066 13.40 (µCi) 3,5 3,4 3,5 3,5 3,5 3,5 3,4 3,3 3,3 3,3 3,2 3,3 3,4 3,3 3,3 2,540 0,101 3,993 14.13 (µCi) 2,8 2,7 2,7 2,7 2,7 2,7 2,8 2,8 2,8 2,8 2,8 2,9 2,9 2,9 2,9 1,952 0,082 4,185 14.53 (µCi) 2,4 2,4 2,3 2,3 2,3 2,4 2,5 2,5 2,4 2,4 2,3 2,3 2,4 2,4 2,3 1,533 0,070 4,590 15.45 (µCi) 1,8 1,9 2,0 2,2 2,1 2,0 2,0 1,9 1,9 1,8 1,8 1,8 1,9 1,9 1,9 1,087 0,116 10,702 4 5 6 7 8 9

ISSN 0853-0823

66

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Pada tahap pertama diperoleh aktivitas F-18 masih dalam satuan mCi. Sedangkan pada tahap 2 aktivitas sudah menurun hingga dalam satuan µCi. Hal ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik peluruhan F-18 pada saat aktivitas tinggi dan rendah. Hal ini sangat penting dilakukan agar tujuan ketepatan besarnya dosis yang dibutuhkan melalui peluruhan dapat di dicapai dengan tepat dan akurat. Dari hasil pengukuran aktivitas F-18 Kode A1801/10 menggunakan Sistem Pencacah Kamar Pengion Capintec CRC-7BT selanjutnya dapat dibuat perhitungan umur paro F-18 dan ketidakpastiannya seperti yang ditunjukkan dalam Tabel IV dan V. Dalam tabel IV di atas diperoleh hasil uji karakteristik peluruhan F-18 pada tahap pertama menggunakan SPKP Capintec CRC-7BT berupa umur paro dan

ketidakpastiannya sebesar (1,832 ± 0,52%) jam. Nilai ketidakpastiannya cukup kecil kurang dari 1%. Hal ini menunjukkan bahwa akurasi dan kestabilan alat ukur cukup baik, terutama untuk pengukuran aktivitas F-18 yang masih besar (dalam satuan mCi). Sedangkan pada uji karakteristik tahap dua akurasi dan kestabilannya menurun, sehingga diperoleh nilai ketidakpastian umur paro yang lebih besar (lebih dari 1%). Perbedaan karakteristik peluruhan F-18 pada tahap pertama dan kedua secara lebih jelas ditunjukkan dalam Gambar 2 dan Gambar. 3. Karakteristik grafik peluruhan aktivitas F-18 pada tahap pertama memiliki persamaan y = 11,28 e-0,37x dan R2 = 1,000 yang terdistribusi dari 11 titik pengukuran. Sedangkan grafik karakteristik peluruhan F18 pada tahap kedua yang terdiri dari 9 titik distribusi memiliki persamaan garis y = 18,18 e-0,38x dan R2 = 0,999.

TABEL IV HASIL KETIDAKPASTIAN PENGUKURAN AKTIVITAS F-18 TAHAP PERTAMA
SUMBER RADIASI : F-18 (T½ teori = 1,8288 jam) Aktivitas Awal No. (mCi) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 11,266 11,266 11,266 11,266 11,266 11,266 11,266 11,266 11,266 11,266 11,266 (MBq) 416,84 416,84 416,84 416,84 416,84 416,84 416,84 416,84 416,84 416,84 416,84 = 28/10/2010 15:28 28/10/2010 15:28 28/10/2010 15:28 28/10/2010 15:28 28/10/2010 15:28 28/10/2010 15:28 28/10/2010 15:28 28/10/2010 15:28 28/10/2010 15:28 28/10/2010 15:28 28/10/2010 15:28 1,832 1,832 Ref. Date Pengukuran 28/10/2010 15:28 28/10/2010 16:02 28/10/2010 16:32 28/10/2010 17:03 28/10/2010 18:02 28/10/2010 18:47 28/10/2010 19:20 28/10/2010 19:52 28/10/2010 20:17 28/10/2010 20:30 28/10/2010 20:48 jam jam ± ± 0,00000 0,56667 1,06667 1,58333 2,56667 3,31667 3,86667 4,40000 4,81667 5,03333 5,33333 0,009 0,52 Tanggal t (Jam) (mCi) 11,266 9,120 7,525 6,189 4,261 3,205 2,599 2,129 1,810 1,673 1,493 jam % (MBq) 416,84 337,44 278,43 228,99 157,66 118,59 96,16 78,77 66,97 61,90 55,24 Aktivitas Akhir T1/2 (Jam)

--1,8583 1,8317 1,8318 1,8294 1,8284 1,8270 1,8301 1,8256 1,8289 1,8288

Umur Paro

TABEL V HASIL KETIDAKPASTIAN PENGUKURAN AKTIVITAS F-18 TAHAP KEDUA
SUMBER RADIASI : F-18 (T½ teori = 1,8288 jam) Aktivitas Awal No. (µCi) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 17,967 17,967 17,967 17,967 17,967 17,967 17,967 17,967 17,967 (kBq) 664,78 664,78 664,78 664,78 664,78 664,78 664,78 664,78 664,78 29/10/2010 8:31 29/10/2010 8:31 29/10/2010 8:31 29/10/2010 8:31 29/10/2010 8:31 29/10/2010 8:31 29/10/2010 8:31 29/10/2010 8:31 29/10/2010 8:31 Ref. Date Pengukuran 29/10/2010 8:31 29/10/2010 9:58 29/10/2010 11:09 29/10/2010 12:00 29/10/2010 12:31 29/10/2010 13:40 29/10/2010 14:13 29/10/2010 14:53 29/10/2010 15:45 0,00000 1,45000 2,63333 3,48333 4,00000 5,15000 5,70000 6,36667 7,23333 Tanggal t (Jam) (µCi) 17,967 10,387 6,613 4,66 3,867 2,54 1,952 1,533 1,087 (kBq) 664,78 384,32 244,68 172,42 143,08 93,98 72,22 56,72 40,22 Aktivitas Akhir T1/2 (Jam)

--1,834 1,826 1,789 1,805 1,824 1,780 1,793 1,787

Umur Paro

=

1,805 1,805

jam jam

± ±

0,021 1,15

jam %

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

67

Gambar. 2. Grafik Karakteristik Peluruhan Aktivitas F-18 Tahap Pertama.

Gambar. 3. Grafik Karakteristik Peluruhan Aktivitas F-18 Tahap Kedua.

Temperatur pada saat pengukuran adalah 22oC, sedangkan temperatur ukur terbaik untuk pengoperasian sistem pencacah kamar pengion adalah 22o ± 2o C. Hal ini menunjukkan bahwa temperatur saat pengukuran di atas masih dalam daerah temperatur ukur terbaik untuk melakukan pengukuran. Hal ini perlu diperhatikan karena apabila perbedaan temperatur pengukuran terlalu jauh dari batas temperatur ukur terbaik maka akan mempengaruhi kinerja alat ukur itu sendiri, terutama di dalam menentukan distribusi data aktivitas peluruhan F-18. Kelembaban pada saat pengukuran adalah 53%, sedangkan nilai kelembaban yang dianjurkan sesuai IKLMR-STD-10 adalah 60 ± 10%. Hal ini menunjukkan bahwa kelembaban saat pengukuran tersebut masih dalam kondisi kelembaban yang dianjurkan. Namun hal yang paling penting untuk diperhatikan dalam pengukuran metode relatif adalah kesamaan kondisi pada saat pengukuran dengan alat standar dan dengan alat ukur yang dikalibrasi. Dasar peraturan pengkondisian ruang ukur tidak secara jelas dinyatakan, namun secara tujuan pengkondisian ruang ukur adalah untuk menjaga kestabilan peralatan (instruments). Dalam kondisi ruang ukur yang stabil (tidak terlalu panas dan lembab), maka kestabilan umur komponen-komponen elektronik dalam sistem peralatan ukur juga lebih panjang. Kondisi ruang ukur yang stabil ini juga mendukung faktor linieritas dari alat ukur yang bersangkutan. Hasil perhitungan ketidakpastian tipe A dan B dari pengukuran F-18 tahap pertama dan kedua ditunjukkan dalam Tabel II dan III. Dari hasil ketidakpastian tipe A pada kedua tahap menunjukkan beberapa perbedaan, yaitu nilai deviasi standar akuisisi data cacah F-18 tahap kedua lebih besar dibanding tahap pertama. Perbedaan ini mungkin disebabkan akurasi alat ukur pada saat

pengukuran tahap pertama lebih baik karena nilai besaran aktivitas F-18 masih relatif lebih besar (dalam satuan mCi). Dari hasil ketidakpastian tipe B (rectangular) untuk kebocoran, umur paro, respon, linieritas, akurasi dan repeatability memiliki nilai sama, namun untuk resolusi bacaan memiliki nilai yang berbeda. Perbedaan ini disebabkan skala rentang ukur yang digunakan tidak sama. Pada pengukuran F-18 pada tahap pertama menggunakan satuan mCi. Sedangkan pada tahap kedua menggunakan satuan µCi. Dari Tabel VI dan VII dapat diketahui jenis distribusi, ketidakpastian (Ui), bilangan pembagi, nilai derajat kebebasan (vi) dan ketidakpastian efektif (ui) dari masingmasing komponen tipe A dan B. Hasil perhitungan di atas dengan ketetapan faktor konversi (ci) = 1 (satu), sehingga ui = ui.ci. Sesuai persamaan 4 dapat diketahui nilai ketidakpastian standar gabungan (uc) untuk F-18 tahap pertama dan kedua masing-masing sebesar 2,468% dan 2,769%. Nilai derajat kebebasan efektif dan faktor cakupan k (untuk tingkat kepercayaan 95%) pada kedua sumber tersebut sama. Dengan persamaan (6) diperoleh nilai ketidakpastian bentangan (U) dari F-18 tahap pertama dan kedua masingmasing sebesar 5,293% dan 5,794%.

ISSN 0853-0823

68

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

TABEL VI HASIL KETIDAKPASTIAN UMUR PARO F-18 TAHAP PERTAMA

TABEL VII HASIL KETIDAKPASTIAN UMUR PARO F-18 TAHAP KEDUA

Masing-masing pencacahan dilakukan dalam 11 dan 9 tahap. Pengulangan data tiap tahap sebanyak 15 kali cacahan dalam satuan aktivitas (mCi dan µCi). Hasil perhitungan berupa grafik karakteristik peluruhan F-18 tahap pertama dan kedua yang memiliki umur paro masing-masing (1,8183 ± 5,293%) dan (1,8288 ± 5,794%) jam. Hasil ini cukup stabil dimana perbedaan Umur paro dan ketidakpastiannya tidak terlalu jauh bila dibandingkan teori, prosentase perbedaannya masing-masing 0,42% dan 0,69%. Persamaan garis grafik eksponensial peluruhan F18 tahap pertama dan kedua masing-masing adalah y = 11,28 x e-0,37x (R = 1) dan y = 18,18 x e-0,38x (R = 0,999). Dengan diketahuinya karakteristik peluruhan dan ketidakpastian yang tertelusur ini diharapkan dapat mendongkrak peningkatan jaminan kualitas bagi pihak konsumen untuk mendapatkan perlindungan keamanan, keselamatan dan kesehatan yang memadai sesuai peraturan ketenaganukliran yang berlaku. PUSTAKA
[1] [2] Peraturan Pemerintah, Keselamatan Radiasi Pengion dan Keamanan Sumber Radioaktif, PP No. 33, Jakarta, 2007 TdeR, Table de Radionuclides Atomic and Nuclear Data, Recommended data/table BNM-LNHB/CEA – Table de Radionuclides – CEA, http://www. nucleide.org/DDEPWG/DDEPdata.htm, 2004 International Atomic Energy Agency, Measurement Uncertainty, A Practical Guide for Secondary Standards Dosimetry Laboratories, Tecdoc-1585, Vienna, 2008 Instruksi Kerja Unit Standarisasi, No. Dokumen: IK-LMR-STD10, P3KRBiN-Batan, 2003 A Handbook of Radioaktivity Measurements Procedures, NCRP Report No. 58, 1 Edition, 1978

[3]

IV. KESIMPULAN Telah dilakukan penentuan karakteristik peluruhan F-18 pada tahap pertama dan kedua menggunakan sistem pencacah kamar pengion Capintec CRC-7BT S/N 71742.

[4] [5]

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

69

Pemanfaatan Kamera Digital untuk Mengukur Panjang Gelombang Spektrum Neon
Deomedes, Yulia I. Piyoh, Yusak A. Talangas, Debora N. Sudjito, Ferdy S. Rondonuwu e.mail : deo.mdz@gmail.com Program Studi Pendidikan Fisika, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Kristen Satya Wacana Jl. Diponegoro No. 52 – 60 Salatiga 50711, Jawa Tengah –Indonesia, telp (0298) 321212 Abstrak – Lampu neon merupakan salah satu sumber cahaya yang terdiri dari dua elektroda (logam) terletak di ujung-ujung sebuah tabung berisi gas neon, argon, atau krypton. Cahaya lampu neon ketika dilewatkan pada sebuah kisi akan membentuk garis-garis spektrum. Garis-garis spektrum lampu neon memiliki panjang gelombang yang berbeda-beda. Dalam penelitian ini dengan memanfaatkan kamera digital garis-garis spektrum direkam kemudian dianalisis. Hasil analisis spektrum lampu neon, lampu neon memiliki dua bagian spektrum, panjang gelombang dan intensitas yang berbeda-beda. Panjang gelombang yang dimiliki spektrum lampu neon adalah 379.2nm, 461.8nm, 588.4nm, 598.1nm, 613.3nm, 617.7nm, 635.1nm, 640.9nm. Kata kunci: lampu neon, garis spektrum, kamera digital

I. PENDAHULUAN Cahaya putih adalah kombinasi cahaya dari panjang gelombang yang berbeda. Ketika melewati prisma, cahaya putih menyebar berdasarkan panjang gelombang penyusunnya dan menghasilkan sebuah spektrum. Sebuah spektrum menyerupai pelangi dan mengandung banyak panjang gelombang cahaya yang berbeda. Ketika cahaya dari tabung gas dilewatkan melalui prisma hasilnya adalah spektrum garis [1]. Lampu neon yang berisi tiga jenis zat kimia yakni neon, argon, dan kripton merupakan salah satu tabung gas yang memancarkan cahaya. yang dipancarkan lampu neon memiliki spektrum. Ketika cahaya lampu neon dilewatkan pada sebuah kisi atau spektrometer maka terbentuk garis spektrum yang memiliki panjang gelombang dan intensitas berbeda [2]. Panjang gelombang dan intensitas lampu neon tergantung warna dan terangnya suatu spektrum lampu neon. Hasil dari spektrum garis lampu neon setelah melewati kisi atau spektrometer direkam dengan mengunakan kamera digital. Dengan mengetahui spektrum neon, panjang gelombang dan intensitas spektrum dapat diketahui. Untuk itu digunakan kamera digital sebagai alat bantu melihat warna dan intensitas spektrum warna yang dihasilkan lampu neon dan hasilnya direkam dalam format digital ke dalam media simpan digital. Karena hasilnya disimpan secara digital, maka hasil rekam gambar ini diolah menggunakan pengolah digital, semacam komputer atau mesin cetak yang dapat membaca media simpan digital tersebut [3]. Dalam penelitian ini kamera digital dimanfaatkan untuk menentukan panjang gelombang spektrum lampu neon. Tujuan penelitian ini adalah memanfaatkan kamera digital untuk merekam spektrum lampu neon dan untuk menentukan panjang gelombang spektrum lampu neon. Manfaat penelitian ini adalah panjang gelombang spektrum lampu neon dapat diketahui dengan akurat.

listrik, maka elektron akan keluar dari salah satu elektroda menuju elektroda lain. Dalam perjalanannya, elektronelektron ini akan menghantam atom-atom gas neon. Gas neon akan tereksitasi (energinya naik) dalam waktu yang singkat untuk kemudian kembali ke keadaan semula. Selama proses kembali ke keadaan semula itu, gas neon akan memancarkan energi berupa gelombang cahaya[2]. Cahaya inilah yang dilihat sebagai lampu neon. B. Kisi Kisi-kisi dibuat dengan menggarisi galur-galur sejajar yang berjarak sama satu dengan yang lain pada sebuah pelat gelas atau pada sebuah pelat logam dengan menggunakan sebuah ujung runcing pemotong yang terbuat dari intan yang geraknya diatur secara otomatis. Kisi-kisi difraksi digunakan untuk memecah cahaya berdasarkan panjang gelombangnya dan untuk mengkaji struktur dan intensitas garis-garis spektrum[4]. Jika seberkas cahaya ditembakkan pada kisikisi difraksi maka berkas ini akan memunculkan pola difraksi yang memiliki daerah-daerah terang dan gelap. Pola gelap dan terang ini berada di sisi utama. Lokasi terang diberikan oleh d sin θ=m λ (1) dengan d adalah lebar kisi, λ adalah gelombang cahaya, m adalah orde difraksi (atau nomor kumpulan pola berdasarkan pengulangan pola spektrum), dan θ adalah sudut [5]. C. Spektrometer Kisi Spektrometer kisi adalah alat untuk melihat spektrum dari suatu sumber cahaya, baik berupa sumber cahaya kontinu (dari filamen bola lampu) maupun sumber cahaya diskrit (dari lucutan suatu gas dengan menggunakan tegangan tinggi), dengan perantara suatu kisi. Kisi digunakan untuk menghasilkan difraksi yang menimbulkan pola interferensi sehingga pola gelap (minimal) dan terang (maximal) dapat diamati melalui teropong. Sebuah kisi untuk difraksi dapat terdiri dari 100 garis/mm atau 300 garis/mm, di mana garis yang dimaksudkan di sini adalah celah. Dengan demikian spektrometer dapat mengukur panjang gelombang serta intensitas spektrum. D. MatLab MatLab adalah sebuah bahasa pemrograman dengan unjuk kerja tinggi untuk komputasi teknis, yang

II. KAJIAN PUSTAKA A. Lampu Neon Lampu neon terdiri dari dua elektroda (logam) yang terletak di ujung-ujung sebuah tabung berisi gas neon, argon, atau krypton. Ketika kedua elektroda diberi tegangan

ISSN 0853-0823

70

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

mengintegrasikan komputasi, visualisasi, dan pemrograman di dalam lingkungan yang mudah penggunaannya untuk memecahkan persoalan dengan solusinya yang dinyatakan dengan notasi matematik. MatLab adalah sebuah sistem interaktif yang elemen data dasarnya menggunakan array yang tidak membutuhkan dimensi. Hal ini mempermudah untuk menyelesaikan masalah komputasi terutama yang menyangkut matriks dan vektor [5]. Dalam proses analisis gambar MatLab menentukan nilai-nilai pixel dan statistiknya. MatLab menyediakan fungsi yang menghasilkan informasi tentang nilai-nilai data yang membentuk gambar. Informasi yang dihasilkan dari fungsifungsi tersebut menyangkut gambar dengan berbagai bentuk, yaitu: ‐ nilai-nilai data untuk pixel yang dipilih (nama fungsi:pixval,impixel) ‐ nilai-nilai data sepanjang lintasan dalam sebuah gambar (nama fungsi:improfil) ‐ plot konur dari data gambar (nama fungsi:imcontour) ‐ histogram dari data gambar (nama fungsi:imhist) ‐ rangkuman statistik untuk data gambar (nama fungsi:mean2,std2,corr2) ‐ pengukuran fitur untuk area gambar (nama fungsi:imfeture) Ada 2 fungsi yang menyediakan informasi tentang nilainilai data warna dari pixel gambar yang ditetapkan yaitu: ‐ Fungsi pixval secara interaktif menampilkan nilai-nilai data untuk pixel. ‐ Fungsi impixel menghasilkan nilai-nilai data untuk sebuah pixel atau sekumpulan pixel. ‐ Fungsi imfrofile akan melakukan proses perhitungan dan menggambarkan nilai-nilai intensitas sepanjang sepanjang terdiri banyak warna sebuah gambar. Untuk merekam gambar spektrum dalam penelitian ini menggunakan kamera digital.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada Gambar 2 tampak bahwa neon mempunyai beberapa garis spektrum yang berbeda. Ada 2 bagian garis spektrum. Bagian pertama sekumpulan garis spektrum yang jaraknya berdekatan. Bagian kedua garis spektrum yang terpisah jauh dari kumpulan garis spektrum. Spektrum neon kemudian di analisa menggunakan MatLab untuk memperoleh grafik seperti Gambar 3.

Gambar 2. Spektrum lampu neon.
80 70 60 intensitas (a.u .) 50 40 30 20 10 0 0 200 400 600 800 1000 pixel 1200 1400 1600 1800

Gambar. 3. Grafik intensitas terhadap pixel dan spektrum neon.

III. METODE PENELITIAN

Intensitas menunjukkan terang suatu garis spektrum lampu neon dan pixel daya tangkap kamera digital. Dari grafik terlihat intensitas dari setiap spektrum yang dimiliki lampu neon berbeda. Ada 2 spektrum lampu neon yang memiliki intensitas paling terang. Untuk mendapatkan grafik intensitas terhadap panjang gelombang terlebih dahulu dicari fungsi grafik panjang gelombang terhadap nomor pixel.
650 600 P anjang gelom bang (nm ) 550 500 450 400 350 300 200

Gambar 1. Susunan alat untuk merekam spektrum lampu neon.

Kisi ditempelkan pada optik kamera digital, jarak antara kisi dan lampu neon 3 m, lampu neon diberi tegangan 5 kV, ketika lampu neon menyala cahaya yang dipancarkan melewati kisi, cahaya yang melewati kisi tersebut membentuk garis-garis spektrum, garis-garis spektrum direkam menggunakan kamera digital. Hasil garis-garis spektrum kemudian dicrop dan dianalisis menggunakan MatLab.

400

600

800

1000 1200 Nomor pixel

1400

1600

1800

Gambar 4. Grafik panjang gelombang terhadap nomor pixel. Panjang gelombang diperoleh dari referensi panjang gelombang lampu neon. Nilai kuadratik grafik memenuhi fungsi (x)=ax2 +bx+c.

Grafik pada Gambar 4 digunakan untuk mengkalibrasi pixel pada grafik Gambar 3 sehingga didapatkan grafik perbandingan intensitas terhadap panjang gelombang.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

71

80
461.8 588.4

70 60 Intensitas (a.u.) 50 40 30

V. KESIMPULAN Ada 2 bagian garis spektrum neon yaitu sekumpulan garis spektrum neon yang berdekatan dan garis spektrum yang terpisah jauh dari kumpulan garis spektrum. Lampu neon mempunyai banyak spectrum. Setiap spektrum memiliki panjang gelombang dan intensitas yang berbedabeda tergantung warna dan terang garis spektrum. Lampu neon mempunyai nilai FWHM sebesar 1 nm.
700

598.1 613.3 617.7

20 10 0 350
379.2

400

450

500 550 600 Panjang Gelombang (nm)

635.1

640.9

650

PUSTAKA
[1] http://www.doctortang.com/AP%20Chemistry/Lab%2004%20Quantita tive%20Spectroscopy%20of%20Hydrogen%20Emission%20Spectrum. pdf  [2] http://www.intl-lighttech.com/applications/light-source-apps/neonlamps/neon-lamps.pdf  [3] http://www.fisicarecreativa.com/papers_sg/papers_sgil/Docencia/digita l_camera_ajp2k6.pdf  [4] Halliday, David dan Resnick, Fisika jilid 1, Jakarta : Erlangga, 1984, XI.  [5] Wijaya,Marvin dan Agus Prijono, Pengolahan Citra Digital Menggunakan MatLAB. Bandung, 2007. 

Gambar 5. Grafik intensitas terhadap panjang gelombang. Nilai di setiap gelombang menunjukan nilai maksimum gelombang untuk garis-garis spektrum lampu neon. Gambar pick pada grafik menunjukkan nilai FWHM.

Terlihat jelas pada grafik spektrum mempunyai panjang gelombang yang berbeda-beda tergantung pada garis-garis spektrum lampu neon. Setiap garis spektrum masing-masing memiliki nilai puncak panjang gelombang maksimum. Untuk mencari FWHM dilakukan dengan mencari jarak panjang gelombang pada titik tengah setiap puncak gelombang. Spektrum neon mempunyai nilai FWHM 1 nm.
 

ISSN 0853-0823

72

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Perancangan Prototipe Instrumen Pendeteksi Gas Metan (CH4) Menggunakan Sensor Figaro Berbasis Mikrokontroler Seri AT Mega 8535
Lalu Husnan Wijaya 1, Toni Subiakto 2.
1, 2. Peneliti SPD – LAPAN Watukosek Email : lalu_wako@yahoo.co.id Email : toni_wako@yahoo.com Jln. Raya Watukosek Po Box. 4 Gempol – Pasuruan 67155

Abstrak – Dalam makalah ini dibahas mengenai perancangan prototipe instrumen yang dapat digunakan untuk mendeteksi gas metan (CH4) dengan menggunakan sensor Figaro seri TGS 3870 yang mempunyai karakteristik sensitifitas cukup tinggi dalam merespon gas metan (CH4). Hasil keluaran dari sensor menjadi perubahan tegangan (∆V) pada rangkaian pengkondisi sinyal (PS) operational amplifier (Op-Amp) proportional bermanfaat untuk penguat sinyal analog, yang selanjutnya dikonversi menjadi sinyal digital pada mikrokontroler seri AT Mega 8535. Proses kalibrasi untuk tingkat validasi instrumen menggunakan alat pemantau konsentrasi metan berupa : Minimet CH4 GMM . Kata kunci : Prototipe, Instrumen, Sensor, Operational Amplifier. Sesuai cara menentukan tingkat validasi instrumen diatas, dalam menempatkan posisi pembagi atau pengurang perlu diperhatikan kondisi berikut : SL Resolusi Akurasi : selisih dari jumlah antara 2 data (AD dengan AR). : selisih dibagi jumlah terbesar dari 2 data : jumlah data terbesar dibagi terkecil kali 100%.

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gas metan (CH4) merupakan jenis polutan yang dihasilkan dari emisi kendaraan bermotor atau hasil pembakaran. Gas metan (CH4) merupakan salah satu gas yang memiliki kontribusi langsung proses terjadinya gas rumah kaca (GRK) sehingga tingkat sebaran konsentrasi terutama di permukaan harus selalu diketahui Untuk mengetahui tingkat kenyamanan suatu lingkungan terhadap polutan antara lain harus di ketahui tingkat konsentrasi gas metan yang ada. Data gas metan (CH4) sulit di dapatkan, karena peralatan untuk mengukur tingkat konsentrasi CH4 sangat terbatas. Perancangan prototipe instrumen yang dapat digunakan untuk mendeteksi konsentrasi CH4 ini dapat memberikan solusi dalam memenuhi kebutuhan data konsentrasi gas metan pada suatu daerah yang diperlukan. B. Referensi Instrumen Validasi instrumen yang berfungsi sebagai pendeteksi gas metan (CH4) ini dapat diketahui dari perbandingan dalam merespon gas metan dengan respon yang di hasilkan dari alat acuan (referensi) alat lain yang dgunakan sebagai acuan adalah Minimet CH4 GMM. Hasil data keluaran dua alat dibandingkan untuk dapat disimpulkan tingkat validasi antara alat desain (AD) terhadap alat lain (AR) sebagai referensi. Dari data perbandingan respon AD terhadap AR maka kondisi validasi instrumen dapat dicari dengan cara sebagai berikut : Selisih (SL) : ( ∑data AD - ∑ dataAR ) atau ( ∑data AR - ∑data AD ) Resolusi : (( SL / ∑data AD )x100%) atau (( SL / ∑data AR )x100%) Tingkat Akurasi : (( AD / AR ) x 100% ) atau (( AR / AD ) x 100% )

II. METODOLOGI A. Blok Diagram Rancangan Instrumen elektronika dapat bekerja sesuai dengan yang diharapkan karena ditunjang dari rancangan blok diagram sistem rangkaian elektronik. Pada desain instrumen ini prototipe perancangan ditunjukkan pada blok diagram sistem seperti pada Gambar 1 . B. Alur Respon Sinyal Sesuai urutan blok sistem rancangan diatas, alur respon sinyal dimulai dari sensor CH4 seri TGS 3870 yang melakukan koversi perubahan input berupa gas metan menjadi perubahan elektron bermuatan positip sehingga terjadi perubahan tegangan ( ∆CH4 ∆V ) perubahan tegangan yang dihasilkan dari sensor tersebut relatip kecil, sehingga di perlukan untuk memasang penguat tegangan (Av) berupa operational amplifier (Op-Amp) sistem proportional 1 tingkat dengan input non-inverting, yang dapat menghasilkan keluaran sinyal berupa tegangan analog. Pengolahan sinyal analog menjadi sinyal digital dilakukan pada unit mikrokontroler seri AVR ATMega 8535. yang dapat melakukan komando operasional dalam mengatur pemanfaatan data konsentrasi gas metan (CH4) yang dihasilkan dari instrumen.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

73

Operational Sensor CH4 Amplifier Proportional 1 Tingkat Mikrokontroler AVR ATMega 8535 LCD Display / Komputer

Tingkat penguatan (Av) pada Op-Amp proportional 1 tingkat ini adalah : V out : V in x (Rf / R1) Rangkaian operational amplifier (Op-Amp) 1 tingkat tetrsebut ditunjukkan pada Gambar. 3 :

Rf

R1

-

Regulator Power Supply (RPS) : +12V, +5V, -12V
V in R2

741

V out

+

11

Gambar 1 : Blok Diagram Sistem Rangkaian

Gambar. 3 : Operational Amplifier Proportional 1 Tingkat

C. Mikrokontroler III. PEMBAHASAN BLOK INSTRUMEN A. Karakteristik Sensor CH4 Sensor CH4 dari Figaro seri 3870 dalam rancangan instrumenasi berfungsi sebagai transduser yang merubah sinyal masukan berupa gas metan (CH4) menjadi perubahan tegangan (∆CH4 ∆V) sensor ini memiliki respon dengan tingkat sensitifitas tinggi, adapun karakteristik sensor tersebut sebagai berikut : Seri nomor : TGS 3870 Tipe element sensor : Micro-bead Bahan standar : Plastik dan logam can Range (jangkauan) : 500 ~ 12500 ppm Daya VH : VHH = 0,9V ± 3%, 5 s, VHL = 0,2V ± 3%, 15s Disipasi daya : 120 mW Tegangan input : 5 V DC Resistansi sensor (Rs) : 0,35 – 3,5 KΩ pada 3.000 ppm methan Secara fisik sensor CH4 dari Figaro seri TGS 3870 ditunjukkan seperti pada Gambar. 2 : Sistem konversi sinyal analog ke digital menggunakan ADC dari mikrokontroler seri ATMega 8535, dengan hasil keluaran pada LCD Hitachi - M1632. visualisasi seperti gambar 4:
J2 CON8 PB[0..7 ]Ke LCD penampil 1 2 3 4 5 6 7 8 VCC +5V

IC1 R1 4,7K 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 PB0(XCK/T0) PA0(ADC0) PB1(T1) PA1(ADC1) PB2(INT2/AIN0) PA2(ADC2) PB3(OC0/AIN1) PA3(ADC3) PB4(SS) PA4(ADC4) PB5(MOSI) PA5(ADC5) PB6[MISO) PA6(ADC6) PB7[SCK) PA7(ADC7) RESET AREF VCC AGND GND AVCC XTAL2 PC7(TOSC2) XTAL1 PC6(TOSC1) PD0(RXD) PC5 PD1(TXD) PC4 PD2(INT0) PC3 PD3(INT1) PC2 PD4(OC1B) PC1(SDA) PD5(OC1A) PC0(SCL) PD6(ICP) PD7(OC2) ATmega8535 40 39 38 37 36 35 34 33 32 31 30 29 28 27 26 25 24 23 22 21

J1 1 2 3 4 5 6 7 8 P P

C3 VCC +5V 27p C2 8 MHz 27p C1 27p Y1

CON8 J4 1 2 3 4 5 6 7 8 CON8 PC[0..6] Keran

0

0

8 7 6 5 4 3 2 1 k i k d

Gambar 4 : Rangkaian Mikrokontroler ATMega 8535 pada aplikasi

Gambar 2 : Fisik sensor CH4 Figaro seri TGS

3870

B. Operational Amplifier (Op-Amp) Operational Amplifier (Op-Amp) digunakan sebagai penguat sinyal (Av) dalam rancangan prototipe ini Op-Amp yang digunakan sistem proportional 1 tingkat input non – inverting dari IC 741, dengan memanfaatkan input dominan pada kaki nomor 3,

Rangkaian penampil hasil sinyal analog yang dikonversi menjadi digital berupa angka numerik ditampilkan pada LCD Hitachi – M1632 yang sudah terdapat driver untuk mengubah data ASCII keluaran mikrokontroler menjadi tampilan karakter. Untuk mengatur kontras karakter yang ditampilkan, maka dipasang potensio sebesar 5 KΩ skematik blok LCD ditampilkan seperti pada Gambar 5. Algoritma system konversi analog ke digital (ADC) untuk tampilan LCD ditunjukkan pada Gambar.6.

ISSN 0853-0823

74

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

B. Data Hasil Pengujian Observasi dilakukan di SPD – LAPAN Watukosek pada lokasi : 112º , 65’ BT, -7º,57’ LS Elevasi 50 Meter. Hasil data observasi sebagai berikut :
TABEL 1 : HASIL UJI COBA ALAT DESAIN (AD) DENGAN ALAT REFERENSI (AR)

AR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 18.3 24.6 27.2 31.2 35.7 37.9 39.2 42.7 44.6 52.5 57.8 61.6 65.7

AD
9.4 16.8 18.5 22.7 28.9 34.6 37.5 39.9 43.8 52.8 58.9 62.5 67.4

AR
66.8 69.5 72.4 73.6 75.5 76.8 77.5 78.8 80.2 82.5 84.7 86.6 88.5

AD
68.9 72.5 74.2 74.1 78.2 79.6 79.9 79.7 81.5 83.6 84.1 90.2 92.6

AR
89.2 89.9 91.8 92.4 96.5 98.8 101 104 101 104 103 106 109

AD
93.1 94.2 93.5 94.8 98.3 99.8 102 103 102 105 106 108 109

Gambar 5 : Skematik blok LCD

Start

Ambil Data ADC

Kalibrasi

Dari data observasi AR vs AD sifat respon dapat dilihat pada Gambar 8.
Grafik AR vs AD
120 100 80 AR
10

Konversi ke ASCII

Tampilkan ke LCD

60 40 20 0 0 20 40 60 AD 80 100 120

Gambar. 6 : Algoritma konversi sinyal analog ke digital

IV. PENGUJIAN ALAT A. Instrumen Acuan Dalam melakukan pengujian dan observasi lapangan, maka diperlukan alat lain sebagai acuan (AR) dalam desain prototipe instrumen ini alat referensi yang digunakan adalah Minimet CH4 GMM. Pengujian instrumen alat desain (AD) dan alat referensi (AR) di operasikan secara bersama-sama pada satu tempat, selanjutnya hasil data keluaran dibandingkan untuk mengetahui tingkat validasinya. Alat referensi (AR) ditunjukkan pada Gambar.7

Gambar 8. AR vs AD

Respon AR terhadap AD tidak begitu linear masih terdapat sedikit distorsi pada kondisi pengukuran tertentu .

V. KESIMPULAN Dengan telah didesain suatu instrumen prototype yang bermanfaat untuk mendeteksi konsentrasi gas metan (CH4) maka dapat disimpulkan kondisi instrumen tersebut dalam merespon gas metan melalui hasil data observasi antara alat acuan (Minimet CH4 GMM) dan alat desain (AD) yang menggunakan sensor Figaro TGS 3870, sebagai berikut : • Sesuai grafik respon masih tidak begitu linear pada kondisi konsentrasi gas metan pada besaran tertentu berimpit • Sifat distorsi yang kurang ekstrim menggambarkan kondisi instrumen masih layak digunakan untuk observasi dilapangan • Pengaturan (setting) penguatan (Av) pada Op-Amp dapat dilakukan dengan melakukan pendekatan hasil koreksi perbedaan data pengaturan tersebut terletak pada nilai penguatan (Rf/R1) sehingga pengaturan validasi instrumen berada pada pengaturan variable Rf.

Gambar. 7 : Alat referensi (AR) Minimet CH4 GMM

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

75 [6]. Rashid, M.H., Power Electronics: Circuit, Devices, and Application, Prentice Hall International, INC., Englewood Cliffs, New Jersey, 1993. [7]. P. Gendroyono, Sistem Penggerak Motor Induksi dengan Beban Berubah Menggunakan Inverter PWM Berbasis Mikrokontroler, Tesis S2, Program Studi Teknik Elektro Jurusan Ilmuilmu Teknik, Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta,. 1999. [8]. A.i Oratomo, Panduan Praktis Pemograman AVR Mikrokontroler AT90S2313, C.V ANDI OFFSET, Yogyakarta. 2004. [9]. L. Wardhana, Mikrokontroler AVR Seri Atmega8535 Simulasi, Hardware, dan aplikasi, C.V ANDI OFFSET, Yogyakarta, 2006.

PUSTAKA [1]. Couglin F. Robert dan Driscoll F. Frederick , Penguat Operational dan
Rangkaian Terpadu Linear. Cetakan kedua Penerjemah :Soemitro, Herman Widodo. Jakarta : Erlangga, 1992. [2]. Mac Kenzie, L. Scott, The 8051 Microcontroller, 2 nd edition, Prentice Hall, Inc., USA,1995. [3]. Malvino , Prinsip – prinsip Elektronika, Jakarta – Erlangga, 1996 [4]. Toni Subiakto, Desain & Rancang Bangun Instrumen Pendeteksi Ozon Permukaan Sistem Logger dari Sensor ECC Ozonesonde, Prosiding Seminar Instrumenasi Berbasis Fisika 2008 Gedung Fisika ITB, 28 Agustus 2008 Editor : Mitra Djamal, Suparno Satira, ISBN 978-97996520-4-1 Hal : 145 – 149 [5]. Agfianto Eko Putra ,Belajar Mikrokontroler AT89C51/52/55 (Teori dan Aplikasi), Penerbit Gava Media, 2004.

ISSN 0853-0823

76

Prosiding Perte emuan Ilmiah XX HFI Jateng & DIY XV

Ranca Ban ang ngun Sis stem Tom mografi Kompu Ult i uter trasonik untuk Inve estigasi Lubang pada B g Beton
Suryo 1,2 , Kusm ono minarto2 and GB. Supart 2 ta
(1) J Jurusan Fisika F FMIPA Univers sitas Diponegor Semarang, Jl. Prof. Sudhart SH, Semaran ro J to, ng-50275, Indo onesia (2) Jurusan F Fisika FMIPA U Universitas Ga adjah Mada, Jl. Sekip Utara, Y Yogyakarta-5528 Indonesia 81, e-mail : suryono@undip p.ac.id

Ab bstrak - Sistem tomografi m m menggunakan gelombang u ultrasonik telah direalisasik dan berha kan asil mencitrak lubang pada kan bet ton. Sistem ini sangat bergu untuk pen una ngujian, inspe dan pengu eksi ukuran kualita beton. Sist yang diba as tem angun terdiri d dari per rangkat keras yang melipu sistem tra s uti ansmitter dan receiver ultr rasonik transduser 1 MHz serta peran z ngkat lunak y yang me elakukan siste akuisisi t em tomografi den ngan ukuran jumlah data 100 proyek x 63 raya ksi -sum. Model tomografi y yang dik kembangkan menggunakan sistem pen n ncacahan tim me-of-flight ge elombang ultrasonik berb basis mikrok kontroler deng gan kec cepatan 0,1 us Hasil penca s. acahan dilaku ukan proses b back-projectio menggunak proses Sum on kan mmation Con nvolution Filte ered Back Projection (SCFBP).  C n Citra hasil re ekonstruksi te elah berhasil memperlihatk dua luba yang diin tkan ang nvestigasi ses suai den ngan demensi benda yang sebenarnya. Untuk mend i g dapatkan ukur lubang sa ran ampel yang d dibuat, dilaku ukan perhitung gan den ngan teknik p perbandingan terhadap sam mpel untuk m memperoleh re esolusi spasia citra. Hasi resolusi ter al il rsebut diguna akan unt mengukur lubang samp internal. H tuk r pel Hasil perhitun ngan diameter dari citra ke r emudian diban ndingkaan den ngan penguku uran sta andar diperole deviasi rata eh a-rata 0,18 cm m. Ka kunci: tomo ata ografi, ultraso onik, time-of-f flight

I. PENDAHUL LUAN Pengukuran p P parameter fisis gelombang u s ultrasonik dap pat dila akukan tanpa merusak oby dan memb yek berikan manfa faat yan besar pa ng ada kehidupa sehari-har Pada ma an ri. asa sek karang, metod pengukura tersebut dikenal deng de an gan isti ilah NDT (N Non-Destructi ive Test) da NDE (No an onDe estructive Evaluation) [1]. P Pengujian den ngan gelomba ang pul ultrasonik telah dituan lsa k ngkan dalam aturan standa ard Am merican Standa Testing fo Material (A ard or ASTM) C597-0 02. Ge elombang ult trasonik dapa mengalam refleksi d at mi dan tran nsmisi jika mengenai obyek dengan dua beda impedan k nsi aku ustik. Sifat t tersebut juga dapat dima anfaatkan unt tuk pen ngujian kekasaran permuka pada mater padat [2].   aan rial Sistem tomog S grafi gelomba ang ultrasoni telah bany ik yak diu ujikan pada b berbagai perm masalahan. Si istem tomogr rafi ultr rasonik untuk diagnostik m k medis telah ber rhasil digunak kan unt mendetek kanker, ki tuk ksi ista, patologi anatomi org gan ser mendeteks ketebalan kortek dan panjang tula rta si ang fetu di dalam kandungan [3]. Pada aplikasi ND us m DT, tom mografi ultras sonik dapat digunakan un ntuk pencitra aan tan nggul [4] dan investigasi hu ubungan pers sambungan pa ada bor eksplorasi s r serta melihat struktur lap pisan tanah [5]. Sis stem tomogr rafi ultrasoni dapat dig ik gunakan unt tuk me endeteksi jeni gas dan ge is elembung (bu ubble) sehing gga dap dilakukan filtrasi tanp memerluka interupsi [6] pat n pa an seh hingga dapat m meningkatkan produktivita keseragama n as, an, me eminimalkan material mas sukan, mered duksi konsum msi ene ergi, merenda ahkan kerusak lingkungan dan efek pa kan n ada ora yang bera di dekatny Aplikasi sistem tomogr ang ada ya. rafi ultr rasonik di bid dang instrume entasi dan ko ontrol juga tel lah dia aplikasikan untuk monito oring secara on-line, no a oninf fasif dan n non-interusif [7,8]. Pada penelitian ini dila akukan pem mbuatan sis stem tomogr rafi kompu uter ultr rasonik untu uk investiga asi lubang beton deng gan me enggunakan si istem immerse transduser. e

II LANDASA TEORI I. AN Sistem tom mografi perta ama kali dirancang den ngan menggunakan berkas sinar- yang inten m -x nsitas radiasi inya be erkurang seca eksponensi setelah me ara ial elalui obyek y yang di itomografikan Berkas tersebut dipancar n. rkan oleh tabung sin katoda da diterima ole detektor un nar an eh ntuk mempero oleh ko oefisien serap obyek di sep p panjang lintasannya. Sifat f fisis ge elombang ultr rasonik mem miliki kemirip dengan s pan sifat ra adiasi sinar-x tersebut. Ji x ika transmitt ter dan receiver ul ltrasonik dilet takkan berhad dapan pada su uatu obyek m maka da apat dilakuka pengukura nilai time an an e-of-flight (TO OF) ge elombang dengan meng ghitung wak ktu saat pu ulsa di ibangkitkan o oleh transmitt ter hingga diterima receiver. d Nilai TOF ters N sebut memilik kaitan erat dengan besa ki t aran fis obyek dian sis ntaranya : ma assa jenis, mo odulus elastisi itas, modulus Young dan rasio Po m g, oisson. Nilai TOF dari satu pen ngukuran pad sudut terte da entu di isebut ray-sum dan sekump m pulan ray-sum pada satu su m udut Φ disebut pro oyeksi. Prose pemayaran pada tomog es n grafi ul ltrasonik ditun njukkan pada Gambar 1.

Gambar 1. Proses pemayar pada tomogra ultrasonik ran afi

Gelombang ultrasonik di ipancarkan dari transdu user pe emancar seh hinggga meng genai obyek dan selanjut tnya

ISSN 0853-0823 3

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HF Jateng & DIY n FI

77

dite erima oleh tra ansduser pene erima. Pada fr rekuensi 1 MH Hz sam dengan 1 MHz pelem mpai 10 mahan di uda sangat ting ara ggi, ma transduser tersebut dicelupkan pada air atau cair aka r a ran lain nnya. Hubung sinyal ultr gan rasonik yang d dipancarkan d dan yan diterima tr ng ransduser dipe engaruhi oleh beberapa fakt tor ant tara lain : fun ngsi transfer t transduser, pe erlemahan air di dep pan dan dibelakang obye transmita ek, ansi permuka aan tran nsduser terha adap air, perlemahan obyek transmitan k, nsi oby yek terhadap air, serta f fungsi transfe tekanan d er dari tran nsduser pener rima [9]. Parameter fisi penting pad saat gelom P is da mbang ultrason nik dir radiasikan pa ada obyek adalah besar TOF ya ran aitu wa aktu tempuh gelombang ul ltrasonik pada lintasan oby a yek sep panjang l yang mengikuti p persamaan :

te ersebut selan njutnya diseb but sinogram Transform m. masi Radon disimbu ulkan dengan p(xr, φ) didefinisikan seba agai in ntegral fungsi kartesian (x,y di sepanja sebuah g y) ang garis de engan kemirin ngan sudut-φ dan berjarak xr dari titik a k asal da dituliskan d an dengan persam maan: p(xr, φ) =
os ∫ ∫ A( xr , yr ).δ ( xr − ( x. co φ +
y. sin φ )). dx dy dx.

(3 3)

1 TOF = ∫ .dx x c( x ) 0

l

ray-sum y Nilai dari p r,φ) N p(x me erupakan yang garis dari c(x,y) sepanjang menggambarka integral g m an c lin ntasan radia asi pada ja arak xr dari titik asal den t ngan ke emiringan φ t terhadap sumb bu-y.

(1 1) II. E II METODE

mana c(x) me erupakan kece epatan gelom mbang ultrason nik Dim pad obyek sete da ebal dx. Denga mengasum an msikan A=1/c( (x), ber rkas radiasi membentuk sudut φ terh hadap sumbu u-y dal lam kerangka diam dinya a atakan sebaga lintasan ya ai ang me elalui titik (xr, yr) dalam kerangka ro x otasi. Hubung gan ked duanya dinyat takan dengan p persamaan : TOF (φ,xr) =

−∞

∫ A( xr , yr ).dyr

(2 2)

Transformasi Radon untuk sistem tom T k mografi terseb but dap digunakan untuk melak pat n kukan tranform masi dari rua ang dua demensi (2- ke ruang satu demensi (1-D). Integ a -D) gral gar 1-D yang melalui se ris g ebuah titik d dapat bervariasi me enurut sudut potong proy yeksi, sehingg transformasi ga Radon merupak transform kan masi yang me emetakan fung gsi dom main ruang kartesian (x,y) ke ruang Radon (xr,φ). g Pen nggambaran t titik-titik hasil proyeksi pad ruang Rad l da don                               

Rancangan eksperimen dari tomo ografi kompu uter ul ltrasonik untuk investigasi l k lubang beton ditunjukkan p pada Gambar 2. Tran G nsduser yang digunakan memiliki diam m meter 2 cm dan frek kuensi senter transduser 1 MHz. Panjang fo okus transdus berada p ser pada rentang area 4,0 cm (m minimum) dan 27,0 cm (ma n aksimum). Tra ansduser terse ebut di icelupkan dal lam air dan diatur dalam posisi sal ling be erhadapan. M Model tomogra ultrasonik yang diguna afi akan ad dalah pemetaa nilai TOF untuk memperoleh impeda an ansi ak kustik materia yang diuji. al Sebuah mikr rokontroler di igunakan untu menggerak uk kkan se ecara rotasi da motor stepp untuk me ari per emperoleh jum mlah pr royeksi Σφ d melakukan translasi un dan an ntuk mempero oleh ju umlah ray-sum Σxr. Sist m tem tomograf ultrasonik ini fi menggunakan r m resolusi data (proyeksi x ray-sum) sebe r esar 10 x 63. Setiap 63 ray-sum dilakukan perubahan su 00 udut pr royeksi 1,8o.

Ga ambar 2. Skema b blok eksperimen tomografi kompu ultrasonik t uter

 

ISSN 0853-0823 3

78

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Sistem tomografi ultrasonik yang dikembangkan dalam penelitian ini menggunakan model pengukuran nilai TOF gelombang ultrasonik pada beton. Oleh karena itu digunakan rangkaian pencacah waktu yang bekerja sesaat setelah pulsa dibangkitkan oleh transduser transmitter hingga diterima oleh transduser receiver. Pencacahan tersebut dilakukan oleh unit counter pada mikrokontroler yang dipicu melaui external clock dengan kecepatan 10 MHz (100 ns per siklus). Pencacahan diset sesaat setelah pulsa ultrasonik dibangkitkan oleh mikrokontroler dan diakhiri setelah mikrokontroler tersebut menerima pulsa interupsi dari receiver. Hasil pencacahan pada mikrokontroler berupa data binner 16 bit yang dikirim menggunakan protokol komunikasi serial UART ke komputer. Akuisi data pada sistem ini dilakukan secara otomatis menggunakan komputer. Sistem antarmuka yang digunakan adalah sistem serial UART mikrokontroler dengan kecepatan 9600 BPS pada level tegangan RS-232. Lebar data hasil pencacahan adalah 16 bit, sedangkan lebar data komunikasi antramuka serial yang digunakan adalah 8 bit, maka untuk pembacaan hasil pencaahan TOF pada mikrokontroler digunakan metode data multiplex. Data yang diterima oleh komputer ditampilkan pada layar monitor komputer dalam format grid. Penyimpanan data dilakukan dalam format matrik text (*.txt ) dengan dimensi sebanyak 100 x 63 data. Obyek yang diuji pada penelitian ini berupa silinder beton dengan diameter 12,43 cm. Beton tersebut terbuat dari bahan gypsum yang dicampur semen dengan perbandingan 1:1. Campuran bahan sampel tersebut selanjutnya di sebut sample A. Pada phantom diberi lubang sebanyak 2 buah, salah lubang diberi lilin dan lubang yang lain kosongkan tanpa diberi material. Foto dari sampel ditunjukkan pada Gambar 3a sedangkan skema konstruksi penampang sampel yang dibuat ditunjukkan Gambar 3b.

dan 120o. Dari 4 grafik tersebut dapat dijelaskan bahwa hasil awal dan akhir pemayaran setiap proyeksi terdapat ketidakstabilan nilai TOF. Hal ini menunjukkan bahwa gelombang ultrasonik lebih cenderung mengalami refleksi dari pada transmisi karena sudut kritis gelombang datang pada permukaan bidang lebih besar dari sudut pantulnya. Ketidakstabilan ini terjadi pada 10 ray-sum pertama dan terakhir. Selain posisi ray-sum tersebut terlihat adanya fluktuasi nilai TOF yang berbeda pada masing-masing susut proyeksi. Hal ini menunjukkan bahwa posisi obyek pemayaran menyebabkan perubahan nilai TOF.
90 80 70
o

ToF (uS)

60 50 40 30 20 10 0 10 20 30 40 50 60 70

120 o 90 o 60 o 0

N o m o r R a y -s u m

Gambar 4. Grafik hasil pemayaran pada 4 sudut proyeksi

Pencacahan TOF gelombang ultrasonik dilakukan dengan menggunakan mikrokontroler dengan kecepatan 0,1 us. Hasil pencacahan tersebut dikirim ke komputer dengan format text berekstensi ATT. Selanjutnya dilakukan proses back-projection menggunakan proses Summation Convolution Filtered Back Projection (SCFBP). Gambar 5 merupakan citra hasil rekonstruksi tomografi komputer ultrasonik dari akuisisi data yang dilakukan. Dari citra hasil rekonstruksi tersebut terlihat dengan jelas adanya dua lubang yang diinvestigasi. Bentuk dimensi dari sampel A, B dan C sesuai dengan demensi benda yang sebenarnya.

   

A

Sampel A

C  E 

 
(a) (b) Sampel C

Gambar 3. (a) Foto sampel dan (b) skema penampang sampel yang diuji (b). Sampel B

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Citra tomografi ultrasonik diperoleh dari 6300 data yang dibentuk dari 100 proyeksi x 63 ray-sum. Pemayaran dilakukan pada setiap sudut proyeksi 1,8o dan jarak antar ray-sum sebesar 0,171 cm. Gambar 4 menunjukkan grafik hasil pemayaran 4 sudut proyeksi pada 0o, 60o, 90o

Gambar 5. Citra hasil rekonstruksi tomografi komputer ultrasonik

Pada penelitian ini untuk mendapatkan ukuran spasial lubang sampel yang dibuat dilakukan dengan teknik perbandingan terhadap sampel A karena sampel tersebut dapat diukur dari luar dengan peralatan ukur standar jangka sorong. Sampel A diukur dari luar dan memperoleh

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

79

nilai sebesar 12,43 cm. Setelah dilakukan analisis citra tersebut diperoleh jumlah pixel 285, maka resolusi spasial citra tersebut dapat dihitung sebesar 0,004 cm/pixel. Dari resolusi spasial citra yang diperoleh dapat ditentukan diameter sampel B dengan jumlah pixel 102 sebesar 4,49 cm dan diameter sampel C dengan jumlah pixel 58 memperoleh nilai 2,58 cm. Pengukuran diameter lubang sampel B dan C dengan alat ukur standar diperoleh sampel B adalah 4,32 cm dan sampel C adalah 2,37 cm. Dari nilai tersebut dapar disimpulkan bahwa ukuran lubang hasil pencitraan setelah dilakukan penghitungan memiliki deviasi rata-rata 0,18 cm terhadap nilai hasil pengukuran standar.

PUSTAKA
[1] J. Krautkramer, and H. Krautkramer, Ultrasonic Testing of Materials, Springer-Verlag, Berlin, 1990. [2] Suryono, Kusminarto, and G.B Suparta, Estimation of Solid Material Surface Roughness Using Time-of-Flight Ultrasound Immerse Transducer, Jurnal of Material Science and Engineering, Vol. 4 No. 8, 2010, pp. 35 -39. [3] P. Lasaygues, Ultrasound in Medicine & Biology Assessing the cortical thickness of long bone shafts in children using twodimensional ultrasonic diffraction tomography, Ultrasound in Medicine & Biology journal, Vol. 32, Issue 8, 2006, pp. 1215-1227. [4] G.P. Deidda, and G. Ranieri, Seismic tomography imaging of an unstable embankment, Journal of Engineering Geology, Vol. 82, Issue 1, 2006, pp. 32-42. [5] J.L. Martins, J.A. Soares, and J.C. Silva, Ultrasonic travel-time tomography in core plugs, Geophysics Engineering Journal, Vol. 4 2007 pp. 117–127. M. Ohkawa, N. Kawata, and S. Uchida, Cross-sectional of gas and solid holdups in slurry bubble column by ultrasonic computed tomography, Chemical Science, Vol. 54, 1999, pp. 4711–4728.

V. KESIMPULAN Gelombang ultrasonik dapat digunakan untuk sistem tomografi dan telah berhasil menginvestigasi lubang pada beton dengan metode pencacahan nilai timeof-flight pada obyek. Pecitraan tersebut dapat diperolehdari proses back-projection untuk memperoleh distribusi impedansi akustik sampel. Dari citra yang diperoleh dilakukan interpolasi terhadap ukuran luar obyek sehingga diperolah ukuran lubang dalam beton yang dijuji tersebut. Ukuran spasial citra yang diperoleh memiliki deviasi rata-rata sebesar 0,18 cm terhadap pengukuran manual dengan besaran standar.

[6] W. Warsito, distributions investigated Engineering

[7] R.A. Rahim, H.M.F. Rahiman, K.S. Chana, and S.W. Nawawi, Non-invasive imaging of liquid/gas flow using ultrasonic transmission-mode tomography, Sensors and Actuators Journal A: Physical, Vol. 135, Issue 2, 15 April 2007, pp. 337-345. [8] D.M. Supardan, Y. Masuda, Investigation of Gas Holdup Column Using Ultrasonic Engineering Journal, Volume A. Maezawa, and S. Uchida, The Distribution in a Two-phase Bubble Computed Tomography, Chemical 130, 2007, pp. 125–133.

[9] C.A. Kak, and M. Slaney, Principles of Computer Tomographic Imaging, IEEE Press, New York, 1999.

ISSN 0853-0823

80

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Rancang Bangun Sistem Peraga Eksperimen Lensa Konvergen Menggunakan Webcam Sebagai Penangkap Citra Dengan Komputer Sebagai Perangkat Pemroses dan Penampil Hasil
Sumariyah, Ainie Khuriatie RS, Bernadi Dannadri Zhuria dan Tisda Renza Fanerva
sumariyah@undip.ac.id Jurusan Fisika FMIPA UNDIP Kampus Tembalang UNDIP

ABSTRAK-Telah dilakukan rancang bangun sistem peraga eksperimen lensa konvergen menggunakan webcam sebagai penangkap citra dengan komputer sebagai perangkat pemroses dan penampil hasil. Sistem terdiri dari perangkat mekanik, rangkaian elektronik, perangkat antarmuka, komputer dan perangkat lunak. Komponen utama perangkat mekanik meliputi satu buah lensa konvergen, satu buah layar, satu buah lampu sebagai sumber cahaya dan dua buah webcam. Benda berupa anak panah yang terletak didepan dan terkopel dengan lampu. Posisi sumber cahaya dan posisi layar diperoleh dengan menggerakan rel lampu dan rel Layar oleh motor langkah yang dikendalikan komputer melalui mikrokontroler dengan antarmuka gerbang serial. Citra benda dan citra bayangan ditangkap menggunakan webcam. Citra hasil tangkapan akan dibaca oleh komputer melalui gerbang USB yang selanjutnya diolah dan ditampilkan pada monitor. Program penangkapan citra oleh webcam menggunakan DSPack. Sedangkan program kendali posisi secara serial menggunakan program TcomPOrt. Perangkat lunak mikrokomputer menggunakan Reads52. Program aplikasi antarmuka, olah dan tampil data menggunakan bahasa pemrograman Delphi7. Penelitian ini menghasilkan sistem peraga eksperimen lensa konvergen yang dapat dioperasikan dari luar ruang eksperimen atau di ruangan yang terang. Sistem dapat menampilkan jarak benda, jarak bayangan dan jarak fokus lensa. Sedangkan spesifikasi sistem sebagai berikut: jarak benda dengan jangkauan 17,5 cm sampai 32,2 cm, jarak bayangan dengan jangkauan 17,0 sampai 39,4 cm,. Berdasarkan hasil uji diperoleh jarak fokus lensa sebesar 10,95 cm. Pengujian yang dilakukan menunjukan bahwa sistem kendali posisi sumber cahaya dan layar dapat bergerak dengan jarak perpindahan sebesar 1,6 mm per langkah. Kata kunci: eksperimen lensa, komputer, kamera-web, mikrokontroler

1. PENDAHULUAN Teknologi komputer saat ini berkembang dengan pesat, seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Dalam perkembangannya komputer tidak hanya berperan dalam satu bidang saja, melainkan hampir di segala bidang kehidupan manusia. Banyak hal yang mungkin saat ini untuk menyelesaikan permasalahan manusia membutuhkan biaya, waktu, tenaga yang cukup besar untuk penyelesaiannya. Tetapi dengan adanya kemajuan teknologi komputer hal-hal tersebut dapat ditekan seminimal mungkin. Pemakaian komputer personal (PC) dapat dikembangkan ke berbagai kebutuhan dengan membuat perangkat lunak (software) dan menambahkan perangkat keras (hardware). Perangkat keras tambahan ini disebut sebagai antarmuka (interface equipment) yang berfungsi menghubungkan peralatan pelengkap tambahan dengan komputer [1]. Pengembangan pemakaian komputer pada instrumentasi diantaranya digunakan sebagai sistem CT Scan 2D Berbasis sinar-X Flouresens Digital [2] , Sistem Pengukurr kekentalan fluida [3], Sistem Pemantau Hujan Melalui Gelombang Radio [4], Sistem Pemantauan Kecepatan Angin Melalui Gelombang Radio [5], Eksperimen Effek Hall Untuk Menentukan Mobilitas Pembawa Muatan Bahan Semikonduktor [6] dan Sistem Pengukur Intensitas Cahaya Berbasis Komputer [7] Dalam penelitian ini telah dikembangkan salah satu pemakaian komputer yaitu sebagai Sistem pengendali, Penangkap Citra Wbcam, Pemroses data dan Penampilkan

Hasil Eksperimen Lensa Konvergen. Komputersasi Eksperimen Lensa tipis sangat penting karena baik asisten maupun praktikan tidak harus berada didalam ruang optik yang gelap tetapi pengamatan dapat dilakukan di luar ruang optic dan dapat dilakuakan dari jarak jauh. Untuk keperluan tersebut, selama ini dilakukan secara manual,. Hal ini kurang efisien dan dimungkinkan adanya ralat karena kesalahan manusia. Eksperimen Lensa Tipis yang dapat dioprasikan dan diamati dari luar ruang optic secara otomatis dengan dilengkapi komputer akan memiliki keunggulan/kelebihan dari system pengamatan secara manual. Beberapa keunggulan tersebut selain mengoptimalkan fungsi komputer PC adalah dapat memvisualisasi bayangan dan mengetahui jarak bayangan secara otomatis dan mengumpulkan data jarak, pemrossan hasil lebih teliti, lebih cepat serta dapat menyimpan dan menampil ulang hasil yang dilengkapi dengan informasi penting (Misal: nama assiten, nama praktikan, waktu eskperimen, dll). 2. METODE PENELITIAN

A. Diagram Blok Sistem Diagram blok sistem dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar1. Bagian yang dikerjakan dan dibahas adalah bagian yang dibatasi oleh garis tebal terdiri dari aplikasi antarmuka, penangkapan citra menggunakan kamera-web, penyimpanan citra bayangan fokus, dan

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

81

penyimpanan hasil eksperimen ke dalam komputer dalam bentuk berkas. Mekanik peraga eksperimen lensa konvergen berfungsi sebagai pengganti peraga eksperimen lensa konvergen konvensional. Peraga ini menggunakan dua motor langkah yang berfungsi untuk menggerakkan rel lampu dan rel layar. Kamera-web 2 (terletak di belakang layar) berfungsi untuk menangkap citra bayangan yang terbentuk di layar dan menampilkannya di komputer [8]. Kamera-web 1 (terletak di pojok ruang eksperimen) berfungsi untuk menampilkan proses yang terjadi di mekanik peraga eksperimen.

yaitu: dua roda gigi berdiameter 2,5 cm, dua roda gigi berdiameter 5 cm, dua timming belt dengan panjang 40 cm. C. Rancangan Perangkat Lunak Aplikasi antarmuka dibuat menggunakan Delphi 7. Aplikasi antarmuka berfungsi untuk mengoperasikan alat, menampilkan dan menangkap citra bayangan dari kameraweb, menampilkan jarak benda dan jarak bayangan, menampilkan hasil perhitungan jarak fokus, menyimpan hasil eksperimen ke dalam komputer dalam bentuk berkas berekstensi “xlsx” (Office Excel 2007) , dan menyimpan citra bayangan fokus ke dalam komputer dalam bentuk berkas berekstensi “jpg”]. Saat aplikasi antarmuka dijalankan, aplikasi mengidentifikasi semua perangkat kamera-web yang terpasang di komputer dan memberikan nomor ke masingmasing kamera-web supaya mudah dibedakan. Untuk mengoperasikan alat, pengguna harus memilih kamera-web yang digunakan untuk menampilkan citra bayangan. Motor langkah dapat digerakkan setelah aplikasi antarmuka terhubung dengan alat melalui port serial. Pengguna harus menggerakkan motor langkah hingga memperoleh bayangan fokus. Setelah didapatkan citra bayangan fokus, maka jarak benda, jarak bayangan, dan citra bayangan fokus dapat disimpan ke dalam komputer menjadi sebuah berkas. Gambar 3. adalah rancangan jendela aplikasi antarmuka yang terdiri dari: (A) menu utama, (B) kameraweb 1, (C) kamera-web 2, (D) pengaturan port serial, (E) motor langkah 1, (F) motor langkah 2, (G) jendela kameraweb 1, (H) jendela kamera-web 2, (I) tombol penangkap citra, (J) tabel data, (K) bagian informasi, dan (L) bagian status.

Gambar 1 Diagram blok sistem

Cara kerja sistem ini dimulai dengan menjalankan aplikasi antarmuka. Aplikasi ini terkoneksi dengan mekanik alat peraga melalui antarmuka port serial dan terkoneksi dengan kamera-web melalui antarmuka port USB [9]. Untuk mengoperasikan alat, pengguna diminta untuk memposisikan lampu dan layar, sehingga citra bayangan yang ditampilkan di layar komputer menjadi citra bayangan yang fokus. Citra bayangan yang sudah fokus, jarak benda, dan jarak bayangan kemudian disimpan ke dalam komputer. B. Rancangan Mekanik Peraga Eksperimen Lensa Konvergen Rancangan mekanik peraga eksperimen lensa konvergen mengikuti rancangan pada Gambar2. Rancangan mekanik sistem peraga eksperimen lensa konvergen terdiri dari (A) lampu eksperimen, (B) lensa eksperimen, (C) layar, (D dan G) kamera-web, (E) rel lampu dan rel layar, dan (F) motor langkah. Lampu eksperimen, lensa, dan layar ditopang oleh batang besi pejal berdiameter 1 cm, panjang 20 cm. Jarak lampu ke lensa dan jarak lensa ke layar pada kondisi awal adalah 15 cm.

Gambar 3. Rancangan jendela aplikasi antarmuka

Gambar 2 Desain peraga eksperimen lensa konvergen

Panjang rel lampu dan rel lensa adalah 50 cm. Rancangan mekanik ini menggunakan komponen tambahan

Bagian menu utama berisi menu untuk melihat perangkat kamera-web terpasang, menu untuk menyimpan dan menghapus data, menu untuk menampilkan hasil penangkapan citra, dan menu untuk pengaturan kameraweb. Bagian kamera-web 1 dan kamera-web 2 berisi tombol untuk memilih perangkat kamera-web yang akan diaktifkan dan tombol untuk menonaktifkan kamera-web yang aktif. Bagian pengaturan port serial berisi tombol untuk menampilkan jendela pengaturan port serial, dan tombol untuk memulai sambungan dan memutus sambungan ke port serial. Bagian motor langkah berisi tombol untuk

ISSN 0853-0823

82

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

menggerakkan motor langkah, tombol untuk menggerakkan motor langkah dengan kecepatan yang sudah diatur oleh pewaktu (timer), dan tombol untuk mengatur interval pewaktu. Bagian jendela kamera-web 1 dan kamera-web 2 adalah jendela untuk menampilkan citra dari kamera-web setelah diaktifkan. D. Pengujian Sistem Pengujian sistem dibagi menjadi dua yaitu pengujian pengambilan citra dari kamera-web dan pengujian citra bayangan fokus. Pengujian pengambilan citra dilakukan dengan cara menghubungkan kamera-web ke komputer dan menjalankan aplikasi antarmuka. Aplikasi antarmuka akan menampilkan citra bayangan dari kameraweb. Penangkapan citra dilakukan dengan menekan tombol “Capture” di aplikasi antarmuka. Jika pengambilan gambar berhasil, citra bayangan tersimpan di dalam komputer berupa berkas berekstensi “jpg”. Pengujian citra bayangan fokus dilakukan dengan cara menangkap citra bayangan fokus yang dapat ditampilkan oleh sistem. Data tambahan diperlukan pada pengujian ini sebagai data kalibrasi jarak tempuh rel lampu dan rel layar tiap langkah motor langkah. Data kalibrasi ditambahkan ke dalam aplikasi antarmuka sehingga jika motor langkah bergerak dengan jumlah langkah tertentu, jarak benda dan jarak bayangan tertampil di bagian informasi. III. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil perancangan sistem peraga eksperimen lensa terdiri dari realisasi sistem peraga eksperimen lensa dan realisasi perancangan aplikasi antarmuka. Pengujian sistem keseluruhan dilakukan setelah kedua bagian tersebut terealisasi. A. Hasil Perancangan Peraga Eksperimen Lensa Konvergen Hasil perancangan sistem peraga eksperimen lensa dapat dilihat pada Gambar 4. Alat pada Gambar 4. dirancang untuk memperagakan eksperimen lensa konvergen dengan motor langkah sebagai penggerak, kamera-web sebagai penangkap citra, dan komputer sebagai perangkat pemroses dan penampil hasil.

B. Hasil Perancangan Rangkaian Elektronik Rangkaian elektronik pendukung dibagi menjadi tiga bagian, yaitu rangkaian mikrokontroler AT89S51 , rangkaian konverter RS232, dan rangkaian penggerak motor langkah seperti yang terlihat pada Gambar 5

Gambar 5 Rangkaian elektronik pendukung

Rangkaian elektronik ini dicatu dengan tegangan DC 12 V untuk rangkaian penggerak motor langkah dan DC 5 V untuk rangkaian mikrokontroler AT89S51 dan rangkaian konverter RS232 . Gambar 5(A) adalah rangkaian konverter RS232. Rangkaian ini berfungsi untuk menerima sinyal dari komputer (lewat port serial) kemudian diteruskan ke rangkaian mikrokontroler dan sebaliknya. Gambar 5 (B) adalah rangkaian mikrokontroler AT89S51. Mikrokontroler AT89S51 adalah bagian penting dari penghubung antara aplikasi antarmuka dengan alat peraga. Dan Gambar 5 (C) adalah rangkaian penggerak motor langkah. Rangkaian ini mendapat masukan dari mikrokontroler AT89S51 dan memberikan keluaran ke motor langkah. C. Hasil Perancangan Aplikasi Antarmuka Gambar6 adalah tampilan aplikasi antarmuka ketika digunakan. Aplikasi ini didesain untuk mengoperasikan alat, menampilkan citra bayangan dari kamera-web, memproses data eksperimen, menampilkan hasil eksperimen, menyimpan citra bayangan fokus ke dalam komputer, dan menyimpan hasil eksperimen ke dalam komputer dalam bentuk berkas.

Gambar 4. Sistem peraga eksperimen lensa konvergen

Hasil dari perancangan sistem peraga eksperimen lensa terdiri dari mekanik alat peraga eksperimen lensa konvergen yaitu (A) lampu eksperimen, (B) lensa eksperimen, (C) rangkaian elektronik pendukung, (D) layar, dan (E) komputer sebagai perangkat pemroses dan penampil hasil.

Gambar 6.Tampilan awal hasil perancangan aplikasi antarmuka

Pertama kali aplikasi dijalankan, aplikasi antarmuka mengenali semua perangkat kamera-web yang terhubung ke komputer. Kamera-web diberi nomor sehingga memudahkan pengguna untuk membedakan masing-masing kamera-web. Pengguna diharuskan memilih dan

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

83

mengaktifkan kamera-web seperti yang terlihat pada bagian yang ditandai di Gambar 6. Jika proses berjalan lancar, citra bayangan dari kamera-web tertampil di jendela kamera-web seperti yang terlihat pada Gambar 7.

Gambar 8. Grafik hubungan antara dengan

Gambar 7. Aplikasi antarmuka menampilkan citra dari kamera-web

D.Hasil Pengambilan Citra Data hasil pengujian diperlihatkan pada tabel 1.. Dari data hasil pengujian sistem, terlihat keseragaman hasil perhitungan jarak fokus. Hal ini menunjukkan bahwa sistem peraga eksperimen lensa konvergen sudah bekerja sesuai dengan desain. Tabel 1 adalah tabel hasil pengujian sistem yang menunjukkan bahwa sistem mampu memperagakan eksperimen lensa konvergen dan menghasilkan perhitungan jarak fokus lensa yang hampir sama dengan jarak fokus spesifikasi lensa [10-12]. Gambar 8 adalah grafik hubungan antara - dengan . Dari Gambar 8 diperoleh . Jika dari Gambar13 adalah adalah
Tabel 1 Hasil pengujian sistem
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Jarak benda (cm) 17,5 17,9 18,4 19,0 19,6 20,0 20,8 21,5 Jarak bayangan (cm) 26,0 25,3 24,4 23,4 22,5 22,4 21,2 20,8 Jarak fokus (cm) 10,46 10,48 10,49 10,49 10,48 10,57 10,50 10,57

IV. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat diambil beberapa kesimpulan, antara lain: 1. Telah berhasil dirancang dan direalisasikan aplikasi antarmuka untuk mengoperasikan sistem peraga eksperimen lensa konvergen, menangkap citra bayangan menggunakan kamera-web, menampilkan dan memproses data hasil eksperimen, menyimpan citra bayangan dalam bentuk berkas berekstensi “.jpg”, dan menyimpan hasil eksperimen ke dalam bentuk berkas berekstensi “.xlsx”. 2. Dengan menggunakan sistem peraga eksperimen ini, memudahkan pengukuran (jarak benda dan jarak bayangan), pengambilan data eksperimen menjadi terkomputerisasi, dan eksperimen lensa tidak harus dilakukan di ruangan gelap. 3. Rel lampu mempunyai rentang jarak minimal 17,5 cm dan maksimal 32,2 cm. Rel layar mempunyai rentang jarak minimal 17,0 cm dan maksimal 39,4 cm. B. Saran Saran untuk penelitian selanjutnya antara lain: 1. Kemampuan sistem dapat ditingkatkan dengan menambahkan fungsi fokus otomatis. 2. Lensa pada kamera-web sebaiknya dilepas untuk menghasilkan Gambardengan ukuran yang sama seperti aslinya. 3. Ketelitian yang diperoleh pada pengukuran jarak benda dan jarak bayangan dapat diperbesar dengan cara menambahkan roda gigi pada motor penapak. 4. Jangkauan jarak dapat ditambah dengan memperpanjang lintasan (rel) lampu dan layar. 5. Sistem peraga eksperimen dapat dikembangkan agar dapat dioperasikan dari jarak jauh. DAFTAR PUSTAKA [1] Sumariyah, Pembuatan Sistem Penggerak Sensor Dan Penampil Hasil, ThesisS2, Pasca Sarjana UGM, Yogyakarta. , 1995 [2] Sumariyah, Evi Setiawati dan Zanul Muchlisin, CT Scan 3D Berbasis sinar-X Flouresens Digital, Laporan Pnelitian Hibah Pekerti, Lab. Citra UGM dan Lab. Radiolagi FMIPA UNDIP, 2009.

persamaan

garis

, nilai P dari grafik

. Jadi, nilai

ISSN 0853-0823

84

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

[3] Sumariyah, Rancang Bangun Sistem Pengukur Kekentalan Berbasis Komputer, Laporan Penelitian Dosen Muda, FMIPA UNDIP, Semarang, 2003. [4]  Sumariyah dan Hendro,J.S,Komputerisasi Sistem Pemantau Hujan Melalui Gelombang Radio Lap penelitian Dosen Muda, FMIPA UNDIP, Semarang, 2005. [5]  Sumariyah dan Hndro.J.S, , “Komputerisasi Sistem Pemantauan Kecepatan Angin Melalui Gelombang Radio”, Lap Penelitian Dosen Muda, FMIPA UNDIP, Semarang, 2004. [6] Sumariyah dan Iis Nurhasanah, Komputerisasi Eksperimen Effek Hall Untuk Menentukan Mobilitas Pembawa Muatan Bahan Semikonduktor, Lap Penelitian Dosen Muda FMIPA UNDIP, Semarang, 2003. [7] Sumariyah, Rancang Bangun Sistem Pengukur

Intensitas Cahaya Berbasis Komputer, Laporan Penelitian Dosen Muda, FMIPA UNDIP, Semarang, 2001. [8] Baggio, D., Enhanced Human Computer Interface Through Webcam Image Processing Library, Natural User Interface Group Summer of Code Application, 2008. [9] Peacock, C, USB in A Nutshell, Making Sense of the USB Standard, 2002, www.beyondlogic.org [10] Halliday, D., Resnick, R., and Walker, J., Fundamental of Physics (5th edition, John Willey & Sons, 1997. [11] Tipler, P. A., Fisika Untuk Teknik dan Sains (terjemahan), Jakarta, Erlangga,1991. [12] Young, H. D., Freedman, R.A.,. University Physics, (9th edition). Massachusetts, Addison Wesley, 1996.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

85

Aplikasi Wavelet pada Proses Ekstraksi Ciri Sinyal Keluaran Electronic-Nose untuk Deteksi Bahan Herbal
Fajar Hardoyono1,2) dan Kuwat Triyana1) hardoyono@mail.ugm.ac.id, triyana@ugm.ac.id
1) 2)

Jurusan Fisika FMIPA UGM, Sekip Utara BLS.21 Yogyakarta, 55281 Jurusan Tarbiyah STAIN Purwokerto, Jln A. Yani 40 A Purwokerto

Abstrak – Penggunaan wavelet untuk mengekstraksi ciri pola keluaran larik sensor gas dalam sistem olfaktori elektronik atau electronic nose (yang selanjutnya disebut enose) telah diterapkan terhadap empat macam sampel bahan herbal. Keempat bahan herbal tersebut meliputi: jahe (zingiber officinale), temulawak (cucuma zanthorizha), kunyit (curcuma domestica val) dan lengkuas (languas galanga). Enose yang digunakan terdiri atas empat sensor gas berbahan logam oksida seri TGS 822, TGS 825, TGS 826, dan TGS 880. Seperti dalam sistem olfaktori pada manusia (hidung) maka untuk dapat mengidentifikasi pola berdasarkan aroma khas yang ada pada setiap sampel bahan herbal, enose harus melalui serangkaian proses pelatihan dan pengujian dengan model tertentu, salah satunya dengan menggunakan jaringan syaraf tiruan (JST). Sebelum diproses lebih lanjut, sinyal keluaran (berupa tegangan) dari masing-masing sensor yang membentuk suatu pola perlu diekstraksi untuk memperoleh karakteristik ciri masing-masing sampel sekaligus mereduksi himpunan datanya. Dalam bidang pengolahan sinyal seperti pada seismik, transformasi wavelet terbukti merupakan metode yang handal untuk mencari ciri dari suatu pola. Dengan menggunakan dekomposisi wavelet daubechies 4 tingkat 8, sinyal asli keluaran yang membentuk sinyal kontinyu tak periodik dengan himpunan data berbentuk matriks 400×4 tereduksi menjadi himpunan data yang tersusun atas matriks berukuran 16×4, dimana setiap sensor akan diwakili dengan himpunan data berdimensi 16 yang merupakan nilai koefisien aproksimasi cA8, dan himpunan data koefisien detail cD8. Matriks berukuran 16×4 inilah yang merupakan hasil ekstraksi ciri masing-masing sinyal keluaran sistem larik empat sensor. Makalah ini baru membahas hasil ekstraksi ciri yang ditampilkan secara visual dan belum diterapkan dalam system pengenal pola. I. PENDAHULUAN Indonesia adalah negara yang sangat kaya dengan keanekaragaman hayati. Salah satu varian keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia adalah keanekaragaman hayati tanaman herbal. Karena khasiat yang telah teruji selama berpuluh-puluh tahun di masyarakat, kalangan industri farmasi dan industri jamu kemasan selalu menggunakan tanaman herbal sebagai bahan dasar dan bahan mentah untuk membuat jamu kemasan dan obat-obatan. Dalam dekade terakhir, perhatian akan tanaman obat telah meningkat cukup besar [1]. Evaluasi senyawa aktif dari tanaman obat serta pengendalian mutu bahan baku herbal mulai memainkan peran penting dalam industri farmasi dan kosmetik. Penerapan metode analisis kimia yang rumit banyak digunakan, namun akhir-akhir ini sistem olfaktori elektronik atau enose mulai banyak digunakan karena faktor kemudahannya [2]. Kualitas bahan herbal dapat dikenali dengan baik oleh masyarakat dengan cara menyentuh dan menghirup aroma dari tanaman herbal secara langsung [3]. Selama ini proses penyortiran tanaman herbal untuk bahan dasar industri jamu kemasan dan obat-obatan masih bersifat manual dengan menggunakan tenaga manusia, dalam hal ini mengandalkan indera penglihatan dan penciuman untuk menentukan kualitas dari tanaman herbal. Proses penyortiran dengan menggunakan tenaga manusia tidak efektif untuk memisahkan bagian yang berkualitas baik dan bagian yang berkualitas tidak baik, karena keterbatasan respon indera manusia dan membutuhkan waktu yang cukup panjang. Untuk dapat mengidentifikasi pola-pola aroma yang ada, enose harus melalui serangkaian proses pelatihan dan pengujian dengan model tertentu untuk menghasilkan tingkat keakurasian yang tinggi. Salah satu model pelatihan yang cukup efektif dalam pengenalan pola adalah proses pelatihan dan pembelajaran dengan menggunakan konsep jaringan syaraf tiruan atau JST [4]. Sebelum melalui tahapan proses lebih lanjut dengan menggunakan JST, sinyal keluaran enose memerlukan pemrosesan awal (preprocessing). Tujuan dari preprocessing ini adalah untuk memperoleh ekstraksi ciri spesifik dari setiap pola yang mewakili suatu sampel sekaligus untuk mereduksi data masukkan sehingga proses pelatihan dalam sistem JST menjadi lebih cepat. Salah satu metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode alih ragam (transformasi) wavelet. II. DASAR TEORI A. Transformasi Wavelet Wavelet merupakan suatu fungsi yang digunakan untuk melokalisasi sebuah fungsi dalam ruang dan skala yang sering dilakukan pada sinyal dalam domain waktu dan bersifat non stasioner. Penggunaan transformasi wavelet banyak digunakan diantaranya untuk analisis sinyal, citra, dan kompresi data tanpa kehilangan informasi dari fungsi aslinya [5,6]. Salah satu kelebihan dari transformasi wavelet ini adalah kemampuan dari transformasi ini untuk melokalisasi sinyal pada suatu daerah yang kecil pada sinyal yang besar. Pada dasarnya wavelet merupakan hasil perkalian dalam (inner product) antara sinyal dengan fungsi waveletnya. Secara umum, transformasi wavelet kontinyu untuk sinyal f ( x ) satu dimensi dinyatakan sebagai :
W f (a, b ) = f ψ a ,b =
∞ −∞

∫ f (x )ψ (x )dx
a ,b

(1)

ISSN 0853-0823

86

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY Gambar 1 : Penguraian sinyal dengan DWT menjadi aproksimasi A(t )

Dimana fungsi wavelet dinyatakan sebagai:
ψ a ,b (t ) =
1

Fungsi

ψ a,b

⎛t −b⎞ ψ⎜ ⎟ a ⎝ a ⎠

(2)

dan detail

D(t ) melalui filtering

di atas disebut sebagai mother wavelet

(induk wavelet), dimana a adalah parameter skala dan b adalah parameter translasi (pergeseran) terhadap sumbu x. Dengan kata lain, transformasi wavelet memecah sinyal menjadi sekumpulan sinyal tergeser dan terskala dari wavelet induknya. Jika a > 1 fungsi wavelet ψ akan teregang sepanjang sumbu waktu, sementara itu jika 0 < a < 1 maka ψ akan termampatkan. Sementara itu jika nilai a < 0 maka ψ akan terbalik terhadap sumbu waktu. Berbeda dengan transformasi wavelet kontinyu, transformasi wavelet diskret lebih efisien. Secara ringkas,
2

suatu sinyal diskret s (n ) ∈ L (R ) dengan n adalah indeks waktu diskret diuraikan sebagai berikut : (3) C (a, b ) = c( j , k ) = s (n ) g j , k (n )
n∈Z

Dalam prakteknya penentuan nilai aproksimasi dan detail dilakukan dengan proses filtering sesuai skema seperti yang tersaji pada Gambar 1 [7]. Secara mudah dapat dilihat bahwa bagian aproksimasi atau A(t ) , merupakan bagian yang mengandung nilai frekuensi di paruh interval yang rendah, sedang bagian detail D(t ) merupakan bagian yang mengandung nilai frekuensi di paruh interval yang tinggi [8]. Pada proses dekomposisi wavelet, sinyal asli akan didekomposisi menjadi koefisien-koefisien aproksimasi dan detail yang jumlahnya tergantung pada tingkat/level dekomposisinya. Sebagai contoh, pada dekomposisi wavelet tingkat tiga, sinyal asli akan didekomposisi dengan persamaan 9.
s = cA1 + cD1 = cA2 + cD2 + cD1 = cA3 + cD3 + cD2 + cD1

(9)

Dalam hal ini g mengambil peran fungsi wavelet

ψ

. Secara singkat pohon dekomposisi dari persamaan (9) digambarkan pada Gambar 2.

Faktor skala a dan parameter lokalisasi waktu b dirumuskan sebagai a = 2 j , dan b = k .2 j , dengan ( j , k )∈ Z 2 . j dan k merupakan bilangan bulat, dimana j pada transformasi wavelet diskret menyatakan jumlah level. Untuk memperoleh sinyal s(t ) kembali, inversi transformasi wavelet diskret dapat ditentukan dengan (4) s(t ) = c( j , k ) ψ (t )

∑∑
j∈Z k ∈Z

j,k

Gambar 2 : Pohon dekomposisi wavelet tingkat 3

Di setiap level j dapat ditentukan bagian sinyal yang disebut detail yang dapat dituliskan kembali sebagai: (5) D (t ) = c( j , k )ψ (t )
j k ∈Z

III. METODE PENELITIAN A. Sistem olfaktori elektronik Peralatan yang digunakan untuk memperoleh data menggunakan enose yang terdiri dari dua bagian, yaitu perangkat keras dan perangkat lunak. Perangkat keras meliputi unit akuisisi data dan antar muka, unit power supply dan sistem kendali, unit pompa, dan unit pengolah data (Gambar 3). Perangkat keras unit akuisisi data dan antarmuka secara umum berisi sensor suhu, kelembaban dan sensor gas yang terbuat dari material oksida logam atau MOS seri figaro. Sedangkan SHT11 sebagai sensor kelembaban dan suhu presisi tinggi.

j,k

Secara nyata detail menyatakan bagian sinyal yang berada pada paruh frekuensi tinggi dari suatu interval frekuensi. Selain detail, separuh lainnya yang menyatakan bagian frekuensi yang rendah disebut sebagai aproksimasi, yang untuk level j dituliskan sebagai: (6) A (t ) = D
J −1


j>J

j

Dari persamaan (5) dan (6)) dapat ditunjukkan bahwa :

AJ −1 (t ) = A j (t ) + D j (t )

(7)

Sehingga sinyal hasil rekonstruksi wavelet (hasil dari inversi transformasi wavelet diskret) dapat dinyatakan sebagai: (8) s (t ) = A (t ) + D
J


j≤ J

j

Gambar 3. Perangkat keras pada sistem enose

B. Bahan dan preparasinya Sampel uji dibuat dari 6 jenis tanaman herbal segar yang berbeda. Sampel-sampel tersebut dibeli dari pasar tradisional, meliputi seperti jahe (zingiber officinale), kunyit

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

87

(curcuma domestica val), kencur (kaempferia galanga), dan lengkuas (languas galanga). Setelah dicuci, bahan yang digunakan untuk pengujian di timbang terlebih dahulu ditimbang sehigga berat sampelnya masing-masing 150 gram. Setiap sampel kemudian dicacah dan dimasukkan dalam Erlenmeyer tempat sampel. C. Perekaman data Setiap sampel yang dimasukkan ke dalam breaker glass pada enose akan mengeluarkan aroma yang unik antara satu sampel dengan sampel yang lain. Proses deteksi dan pengukuran aroma dengan menggunakan enose dilakukan selama 5×5 detik, dengan proses cut off antara proses penghisapan dan flushing selama 5 detik. Hasil keluaran dari enose akan menghasilkan 4 sinyal kontinyu yang merupakan grafik sinyal tegangan (V) versus waktu (t) yang merupakan representasi hasil pengukuran tegangan keluaran untuk sensor gas secara berurutan. Dari masing-masing sinyal, 400 data terbaik diambil untuk proses analisa data dengan menggunakan dekomposisi transformasi wavelet digital untuk menghasilkan ekstraksi ciri masing-masing sampel. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Sinyal keluaran pada electronic nose berbentuk sinyal kontinyu tak periodik dalam fungsi waktu, dimana sinyal keluarannya merupakan representasi tegangan versus waktu. Setiap deteksi aroma sampel bahan herbal, sistem enose akan mencatat harga tegangan yang diukur oleh masingmasing sensor TGS 880, TGS 822, TGS 826, dan TGS 825, sehingga untuk setiap satu deteksi sampel bahan herbal yang diteliti akan dihasilkan empat buah sinyal berbentuk grafik yang tidak teratur (tak periodik). Bentuk sinyal keluaran sensor pada sampel ditampilkan pada Gambar 4.

Sementara itu, jumlah himpunan data untuk masingmasing koefisien aproksimasi cA8, dan koefisien detail cD8 akan tereduksi menjadi 8 x 2 data atau 16 data. Dengan demikian maka untuk dekomposisi empat sinyal keluaran masing-masing sampel diperoleh sebanyak 4x8x2 data = 64 data. Artinya, jumlah himpunan data untuk masing-masing sampel yang diteliti akan tereduksi dari 1600 data menjadi 64 data. Berdasarkan hasil jumlah himpunan data dari koefisien aproksimasi ini, maka himpunan data koefisien Aproksimasi cA8, dan himpunan data koefisien detail cD8 cukup representatif untuk dijadikan data masukan pada unit pemroses berikutnya untuk proses identifikasi, misalkan dengan menggunakan jaringan syaraf tiruan. Secara lengkap jumlah himpunan data yang mencerminkan karakteristik ekstraksi ciri untuk masing-masing sampel jahe, kunyit, kencur, lengkuas disajikan dalam Tabel 1-2.
TABEL 1 : GRAFIK HIMPUNAN DATA KOEFISIEN APROKSIMASI CA8, DAN HIMPUNAN DATA KOEFISIEN DETAIL CD8 SAMPEL JAHE,DAN KUNYIT DENGAN DEKOMPOSISI DAUBECHIES 4 LEVEL 8 Sampel Sensor TGS 822 TGS 825 TGS 826 TGS 880 TGS 822 Kunyit TGS 825 TGS 826 TGS 880 cA8 cD8

Jahe

Gambar 4 : Grafik sinyal keluaran asli enose pada sensor TGS 822 pada sampel jahe

TABEL 2 : GRAFIK HIMPUNAN DATA KOEFISIEN APROKSIMASI CA8, DAN HIMPUNAN DATA KOEFISIEN DETAIL CD8 SAMPEL KENCUR, DAN LENGKUAS DENGAN DEKOMPOSISI DAUBECHIES 4 LEVEL 8 Sampel Sensor TGS 8220 TGS 8250 TGS 8260 TGS 8800 cA8 cD8

Sebagaimana dikemukakan, semua sinyal dianalisis dengan menggunakan dekomposisi wavelet daubechies 4 dan symlet 4 tingkat 8 sehingga diperoleh koefisien aproksimasi cA8, koefisien detail cD1, cD2, cD3, cD4, cD5, cD6, cD7, dan cD8 yang menggambarkan karakteristik ekstraksi ciri dari setiap sampel bahan herbal yang diteliti. Setelah melalui proses dekomposisi wavelet, terjadi proses reduksi jumlah himpunan data untuk masing-masing sinyal keluaran enose yang dihasilkan oleh aroma sampel yang diteliti. Sebagai contoh untuk sinyal asli keluran enose pada deteksi sampel jahe, jumlah himpunan data empat sensor akan berjumlah 400x4 data.

Kencur

ISSN 0853-0823

88

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

V. KESIMPULAN DAN SARAN
Sampel Sensor TGS 8220 TGS 8250 TGS 8260 TGS 8800 cA8 cD8

Lengkuas

Ekstraksi ciri untuk menggambarkan karakteristik unik dari pola telah dilakukan dengan menggunakan metode transformasi wavelet. Perbandingan secara visual antara data sebelum dan setelah dilakukan transformasi menunjukkan perbedaan yang sangat tajam untuk setiap pola. Setiap sensor diwakili dengan himpunan data berdimensi 16 yang merupakan nilai koefisien aproksimasi cA8, dan himpunan data koefisien detail cD8. Matriks berukuran 16×4 inilah yang merupakan ekstraksi ciri masing-masing sinyal keluaran enose dan menjadi data masukkan bagi tahapan pemroses berikutnya. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Joko Nugroho dan Ibu Sri Rahayoe dari Fakultas Teknologi Pertanian UGM yang telah memberikan ijin menggunakan enose untuk riset ini.

Berdasarkan Tabel 1-2 dan dengan menggunakan proses dekomposisi wavelet daubechies 4 maupun symlet 4 tingkat 8, terjadi reduksi data yang signifikan tanpa menghilangkan karakteristik ciri spesifik masing-masing sampel. Karakteristik ciri dari masing-masing sampel terlihat dari bentuk grafik himpunan data koefisien aproksimasi cA8, dan himpunan data koefisien detail cD8 yang unik untuk setiap sampel. Bentuk grafik himpunan data koefisien aproksimasi cA8, dan himpunan data koefisien detail cD8 yang unik dan berbeda dengan sampel bahan herbal yang lain. Dibandingkan dengan pola asli tanpa ekstraksi cirri, pola masing-masing sensor setelah mengalami ekstraksi menunjukkan bentuk visual dengan perbedaan yang sangat tajam. Dengan menggunakan dekomposisi wavelet daubechies 4 tingkat 8, setiap sampel tereduksi menjadi dalam wakilan himpunan data yang tersusun atas matriks berukuran 16x4, dimana setiap sensor akan diwakili dengan himpunan data berdimensi 16 yang merupakan nilai koefisien aproksimasi cA8, dan himpunan data koefisien detail cD8. Matriks berukuran 16×4 inilah yang merupakan hasil ekstraksi ciri masing-masing sinyal keluaran enose dan menjadi data masukkan bagi tahapan pemroses berikutnya yaitu dengan menggunakan JST.

PUSTAKA
[1] N.W. Hamon, Herbal Medicine Hawthorns (genus crataegus), Can. Pharm. J. 121, 1988, pp. 708–724. [2] A.K.M. Shafiqul Islam, Z. Ismail, B. Saad, A.R. Othman, M.N. Ahmad, dan A.Y.Md. Shakaff, Correlation studies between electronic nose response and headspace volatiles of Eurycoma longifolia extracts, Sensors and Actuators B, 120, 2006, pp. 245–251. [3] A. Hariana, Tumbuhan Obat dan Khasiatnya, Seri 1 – 3, Penebar Swadaya, Jakarta, 2009. [4] R. Rahman, Intisari kunyit, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 1995. [5] K. Triyana, A. Masthori, B.P. Supardi, dan A.M.I. Bharata, Prototype of Electronic Nose Based on Gas Sensors Array and Back Propagation Neural Network for Tea Classification, Berkala MIPA, 17(3), 2007, pp. 57. [6] R. Polikar, The Wavelet Tutorial, Departement of Electrical and Computer Engineering, Rowan University, 1995. [7] A. K. Chan dan S.J. Liu, Wavelet Toolware : Sofware for Wavelet Training, Academic Press Limited, London, 1998. [8] N.J. Little dan L. Shure, Signals processing Toolbox, for use with MATLAB, the MATH WORKS inc., 2006.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

89

Konsistensi Tahanan Kawat Kumparan Terhadap Hukum Ohm pada Berbagai Medium
Sandi Somantri, Moh. Toifur, Sumaji
Program Magister Pendidikan Fisika, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta Kampus II, Jl.Pramuka 42 Sidikan Yogyakarta 55161, Telp (0274) 563515 e-mail: copriangan@yahoo.com

Abstrak- Hukum Ohm mengungkapkan hubungan linier antara beda potensial dan kuat arus listrik yang mengalir dalam suatu konduktor berhambatan. Di Indonesia pada tingkat SLTP dan SLTA hukum Ohm jarang sekali dipelajari dengan eksperimen, tapi lebih banyak ditinjau dari segi teori yang terdapat pada buku referensi sehingga siswa kurang mendapatkan gambaran nyata. Di perguruan tinggi hukum Ohm pembelajarannya disertai dengan percobaan yang menggunakan berbagai jenis bahan, salah satunya adalah kawat kumparan. Penelitian tentang konsistensi kawat kumparan terhadap hukum ohm penting dilakukan karena banyak peralatan elektronik yang memanfaatkan kawat kumparan. Terkait hal itu telah dilakukan percobaan hukum Ohm menggunakan kumparan tembaga berdiameter 0,125 mm sepanjang 30 meter dan ditempatkan pada beberapa medium (udara, kumparan kawat diberi angin, air, dan minyak tanah). Kumparan diberi tegangan (V) yang bervariasi dari 1,8 – 9 volt, kemudian kuat arus listrik (I) pada rangkaian diukur. Dari set data (Vi, Ii) kemudian difitting menurut model yang sesuai, selanjutnya dari penyimpangan kurva terhadap garis lurus dianalisis tingkat konsistensinya terhadap hukum Ohm. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh bahwa pada tegangan 1,8 – 4 volt kumparan konsisten terhadap hukum Ohm pada semua medium, namun pada tegangan 4 – 9 volt kumparan tidak konsisten terhadap hukum Ohm. Urut-urutan medium dari yang kurang konsisten sampai dengan yang paling tidak konsisten terhadap hukum Ohm adalah minyak tanah, air, kumparan kawat diberi angin, dan udara. Dengan keadaan ini maka jika kumparan tersebut akan digunakan sebagai komponen elektronik yang ikut memberikan andil pada timbulnya hambatan arus listrik, maka pada pasokan tegangan lebih besar dari 4 volt perlu dipertimbangkan penggunaan medium untuk mengurangi terjadinya simpangan terhadap hukum Ohm.
Kata Kunci : Hukum Ohm, kawat kumparan, udara, air, minyak tanah

I. PENDAHULUAN Kehidupan manusia tidak terlepas dari kebutuhan energi terutama yang berasal dari listrik. Alat-alat yang membantu kehidupan manusia pada zaman modern sekarang ini sebagian besar difungsikan dengan energi listrik seperti : lampu, TV, radio, telepon selular, internet, komputer, laptop, notebook, dan sebagainya. Alat-alat tersebut dapat berfungsi ketika terhubung dengan sumber listrik. Sumber listrik mengalirkan arus listrik yang melalui alat-alat tersebut sehingga dapat berfungsi. Setiap bahan yang dilewati arus listrik memiliki besaran yang dapat menghambat laju arus listrik dan dinamakan “tahanan” (resistor). Fenomena adanya tahanan (resistor) pada suatu bahan telah diteliti fisikawan Jerman yang bernama Georg Simon Ohm pada tahun 1825. Hasil penelitiannya menghasilkan suatu hukum yang dipublikasikan pada sebuah paper berjudul The Galvanic Circuit Investigated Mathematically pada tahun 1827. Untuk mengenang jasanya maka hukum tersebut dinamakan hukum Ohm. Hukum Ohm didefinisikan sebagai tegangan V pada hambatan berbanding lurus dengan kuat arus I untuk suhu yang konstan[2]. Berdasarkan hubungan antara beda potensial dengan kuat arus listrik didapatkan nilai tahanan dari bahan tersebut. Beda potensial dalam suatu bahan bertahanan akan mempunyai hubungan yang linier terhadap kuat arus listrik asalkan suhu konstan. Praktikum hukum Ohm biasanya menggunakan komponen elektronik yang bentuk dan nilai tahanannya telah diatur sedemikian rupa sehingga hasil yang didapatkan sesuai dengan yang diharapkan. Salah satunya adalah kawat kumparan yang merupakan bahan yang banyak dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Namun percobaan tersebut jarang dilakukan karena tergolong rumit dan hasilnya kurang sesuai dengan yang diharapkan. Hal tersebut terjadi karena suhu kawat berubah ketika diberi perlakuan yang berbeda. Perubahan suhu kawat mengakibatkan ketidakkonsistenan

hukum Ohm. Pada tingkat SLTP dan SLTA hukum Ohm jarang sekali dipelajari dengan percobaan. Hukum Ohm lebih banyak ditinjau dari segi teori yang terdapat pada buku referensi sehingga siswa tidak mendapatkan gambaran yang nyata. Pada tingkat perguruan tinggi hukum Ohm dipelajari dengan percobaan yang menggunakan tahanan cincin, dan dioda. Jarang ditemukan referensi percobaan hukum Ohm yang menggunakan kawat kumparan. M. J. Madsen (2009) meneliti hukum Ohm menggunakan tiga utas kawat tembaga (email) yang masing-masing panjangnya 19,00 m dengan diameter 0,32 mm. Dua utas kawat dibentuk kumparan terbuka dan satu kumparan tertutup yang masing-masing ditempatkan di ruangan kering dan dalam rendaman air. Percobaanya menunjukan bahwa karakteristik nilai tahanan kawat yang berada dalam rendaman air hasilnya lebih sesuai dengan persamaan hukum Ohm dibandingkan dengan kawat yang berada di ruangan kering. Berdasarkan pemaparan di atas telah dilakukan percobaan hukum Ohm dengan menggunakan tahanan kawat kumparan. Penelitian tersebut dimaksudkan untuk penemuan ulang hukum Ohm melalui praktikum menggunakan kawat kumparan panjang yang diatur secara sederhana dan mudah dikerjakan. Hasil percobaan digunakan untuk memverifikasi perbandingan antara beda potensial dengan kuat arus listrik sesuai dengan persamaan hukum Ohm. II. LANDASAN TEORI 1. Hukum Ohm

Setiap bahan tersusun atas atom-atom yang terdiri dari inti dan elektron. Elektron bergerak mengelilingi inti (proton dan neutron) pada orbitnya. Semakin jauh elektron dari inti maka semakin lemah gaya tarik menarik antara elektron dengan inti. Jika elektron atom penyusun logam

ISSN 0853-0823

90

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

(konduktor) dikenai medan listrik maka, elektron tersebut akan terlepas dari atom penyusun logam dan bergerak bebas mengalami percepatan oleh gaya qE,dengan q adalah muatan elektron dan E adalah kuat medan listrik. Hukum II Newton tentang gerak menyatakan bahwa gaya yang bekerja pada suatu benda berbanding lurus dengan percepatannya. Hukum tersebut berlaku pula pada elektron bebas yang bergerak dalam suatu konduktor. Mengacu hukum II Newton tersebut seharusnya kecepatan elektron bebas berubah beraturan semakin besar. Bertambahnya kecepatan elektron bebas mengakibatkan kuat arus bertambah pula. Tapi kenyataanya jika suatu konduktor diukur kuat arusnya dalam rentang waktu menunjukan bahwa kuat arus dalam konduktor relatif tetap. Hal ini disebabkan bukan hanya gaya qE saja yang bekerja ketika elektron bebas bergerak namun ada gaya gesek yang berasal dari tumbukan antara elektron bebas dengan atom konduktor. Gaya gesek menghambat percepatan elektron bebas sehingga kecepatannya menjadi tetap. Elektron bebas dalam sebuah logam seperti molekul dalam gas, bergerak dalam arah rambang dan terus menerus bertumbukan [1]. Aliran elektron dapat digambarkan sebagai rentetan percepatan oleh medan elektrik diikuti dengan perlambatan oleh tumbukan yang hasil netonya adalah kecepatan hanyut v [5]. Kecepatan hanyut tersebut sebanding dengan kuat medan listrik yang mengakibatkan rapat arus tetap dan sebanding dengan kuat medan listrik E secara matematis ditulis : j = σE (1) Dengan, j = rapat arus listrik, σ = tetapan konduktivitas listrik, E = intensitas medan listrik. Bila medan listrik dalam konduktor dapat dianggap serba sama, maka kuat medan listrik memenuhi persamaan [8] :

getaran atom-atom (molekul-molekul) di sekitar kedudukan setimbang akan bertambah. Pertambahan amplitudo mengkakibatkan intensitas benturan antara atom konduktor dengan elektron-bebas semakin sering. Akibatnya aliran elektron-bebas menjadi terhambat yang menjadikan nilai kuat arus listrik menjadi kecil dan nilai tahanan konduktor menjadi besar. Berdasarkan eksperimen-eksperimen hukum Ohm yang telah dilakukan didapatkan hasil seperti yang ditunjukan grafik pada Gambar 1[2]. Pada garis ohmik nilai R selalu konstan asalkan suhu bahan bersifat konstan, sedangkan garis non-ohmik, nilai R berubah tergantung pada tegangan V. 2. Konduktor

E=
dengan l sehingga,

V l

(2)

V (3) l dengan mengingat i = jA , dan dengan memisalkan σA / l = 1 / R , maka persamaan (1) menjadi : V = iR (4) j =σ
Secara garis besar hukum Ohm menyatakan bahwa : besar kuat arus listrik yang mengalir pada suatu konduktor pada suhu tetap sebanding dengan beda potensial antara kedua ujung-ujung konduktor. Untuk konduktor yang memiliki luas penampang A serba sama berlaku R = (1 / σ )l / A , dimana l = panjang

konduktor, A = luas penampang konduktor, dan 1 / σ merupakan tetapan dari nilai hambat jenis listrik bahan (ρ) sehingga [7] :

R=ρ

l A

(5)

Adanya tumbukan antara elektron-bebas dengan atom konduktor mengakibatkan naiknya suhu konduktor. Pada bahan konduktor kenaikan suhu menyebabkan amplitudo

Setiap zat tersusun atas atom-atom yang masingmasing terdiri dari inti atom (proton dan neutron) bermuatan positif yang dikelilingi elektron-elektron bermuatan negatif. Atom akan bersifat netral ketika jumlah muatan sama dengan nol (jumlah muatan inti = jumlah muatan semua elektron). Antara inti dengan elektron terdapat gaya interaksi (gaya Coulomb) yang menyebabkan elektron terikat (tidak bebas) dan bergerak mengelilingi intinya. Elektron bergerak dalam orbit-orbit tertentu mengelilingi inti, semakin dekat elektron dengan inti, maka semakin kuat gaya interaksinya, begitupula sebaliknya semakin jauh elektron dari inti, maka semakin lemah gaya interaksinya. Elektron-elektron yang lemah gaya interaksinya dengan inti atom akan mudah dibebaskan jika mendapat gangguan medan listrik. Elektron-elektron yang terlepas dari inti akan bergerak dalam medan listrik sebagai arus listrik hantaran. Bahan yang atom-atom penyusunnya memiliki sifat seperti ini dinamakan penghantar (konduktor). Bahan penghantar (konduktor) merupakan bahan yang menghantarkan listrik dengan mudah. Bahan ini mempunyai daya hantar listrik (electrical conductivity) yang besar dan tahanan listrik (electrical resistance) kecil. Konduktor tidak hanya terbuat dari zat padat tetapi dapat juga berupa zat cair, dan gas. Pada zat cair (elektrolit) arus listrik terjadi disebabkan ion yang bergerak dibawah pengaruh listrik. Dan pada gas menyala (misalnya lampu advertensi) arus listrik terjadi karena gas dalam keadaan terionisasi sehingga gas bersifat sebagai konduktor. Salah satu bahan konduktor yang sering dijumpai adalah tembaga, tembaga mempunyai daya hantar listrik yang tinggi. Selain mempunyai daya hantar listrik yang tinggi daya hantar panasnya juga tinggi dan tahan karat. Oleh karena itu tembaga juga dipakai untuk kelengkapan bahan radiator, ketel, dan alat kelengkapan pemanasan. Tembaga mempunyai sifat dapat dirol, ditarik, ditekan, dan dapat ditempa (meleable). Hambat jenisnya 1,72 x 10-8 ohm.m, temperatur koefisien resistivitasnya 390 x 10-5 /oC, kelajuan rata-rata elektron bebas dalam tembaga 1,6 x 108 cm/s [3], konduktivitas termalnya 400 W/m.K, dan kalor jenisnya 386 J/Kg oC [9].

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

91

Non-ohmik (R berkurang ketika V bertambah) gradien = 1 I ohmik Non-Ohmik Ohmik Non-Ohmik Non-ohmik (R bertambah ketika V bertambah) V

2. Prosedur Pengambilan Data Eksperimen dilaksanakan mengikuti prosedur sebagai berikut: a. Merangkai alat seperti pada gambar 2. b. Kawat kumparan ditempatkan di udara. c. Memasang tegangan input sebesar 1,98 V; Mengukur tegangan output, dan kuat arus listrik dilakukan sebanyak 10 kali. d. Mengulangi point d untuk tegangan input sebesar 4.55 V; 6,98 V; 9,34 V. e. Mengulangi point a, c dan d untuk kawat kumparan yang ditempatkan di udara berangin, air mineral, dan minyak tanah. IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil pengukuran tegangan output dan kuat arus listrik untuk kawat kumparan yang ditempatkan di berbagai medium terdapat pada Tabel 1, Tabel 2, Tabel 3, dan Tabel 4. Ada beberapa data (udara berangin, air, dan minyak tanah) diduga tersebar linier dan sebagian lagi (udara) diduga cenderung lengkung (tidak linier). Untuk memastikan linier atau tidak dan mengetahui keelokan fitting data dilakukan fitting 2 kali dengan cara yang berbeda, yaitu : 1. Semua data difitting secara linier dan didapatkan persamaan fitting data sebagaimana ditampilkan pada Tabel 1. Berdasarkan persamaan fitting data didapatkan bahwa hasilnya dapat diterima dengan masing-masing nilai r2 seperti yang ditunjukan pada Tabel 1. Nilai r2 yang paling mendekati 1 terdapat pada medium minyak tanah (r2 = 0.999) sedangkan nilai r2 yang paling tidak mendekati 1 terdapat pada medium udara (r2 = 0.988). Koefisien V menunjukkan tingkat kelinieran sebaran data dengan tingkat kelinieran terbesar terdapat pada air (V = 0,020) dan kelinieran terkecil terdapat pada udara (V = 0,018). Jika ditampilkan dalam bentuk grafik maka hasilnya sebagaimana pada Gambar 3.
Tabel 1. Medium udara
n 1 2 3 4 Vukur (V) 1,88 4,22 6,69 9,00 I (A) 0,03 0,09 0,13 0,16 sI 0.001265 0.000843 0.000966 0.001291

R

Gambar 1. Grafik hukum Ohm pada bahan konduktor bersifat Ohmik dan non-Ohmik

3.

Air dan Minyak Tanah

Air termasuk bahan yang dapat menghantarkan arus listrik meksipun daya hantarnya tidak sebaik kawat tembaga. Air memiliki massa jenis sebesar 1000 kg/m3 dan memiliki konduktivitas termal sebesar 0,6 W/m.K [2] sehingga termasuk penghantar kalor yang baik. Air merupakan pendingin yang paling banyak digunakan untuk meredam panas agar suhu tetap stabil. Air memiliki kalor jenis yang besar yaitu sekitar 4,18 x 103 J/kg oC [9] sehingga suhunya tidak dapat berubah drastis dalam waktu yang singkat. Dalam proses penguapan dan pengembunan prosesnya memerlukan rentang waktu. Minyak tanah memiliki kalor jenis sebesar 2,2 x 103 J/kg oC [4] sehingga masih lebih baik air jika dijadikan sebagai zat peredam panas, selain itu minyak tanah tidak digunakan sebagai pendingin mesin dikarenakan tidak ekonomis. Minyak tanah memiliki karakteristik yang unik dibandingkan air, minyak tanah dapat menguraikan zat-zat yang berasal dari polimer. Minyak tanah memiliki massa jenis sebesar 800 kg/m3. III. PROSEDUR EKSPERIMEN 1. Alat dan bahan Alat-alat yang digunakan adalah : Slide regulator dengan variasi tegangan input sebesar 1,88V; 4,22V; 6,69V; 9,00V; amperemeter analog merek sunwa tipe 20D, voltmeter digital merek sunwa tipe YX-830B, termokopel digital merek protek tipe DM-32, kipas angin, kabel penghubung, wadah (tandon) berisi udara, air tawar (air mineral merek aqua), bensin, kumparan kawat tembaga email berdiameter 0,12 mm dengan panjang kawat 30 m.
Voltmeter

Tabel 2. Medium udara berangin
n 1 2 3 4 Vukur (V) 1,88 4,22 6,69 9,00 I (A) 0,04 0,09 0,14 0,18 sI 0,000316 0,000264 0,000258 0,000791

Kawat kumparan n 1 2 3 4 tandon

Tabel 3. Medium air
Vukur (V) 1,88 4,22 6,69 9,00 I (A) 0,04 0,09 0,14 0,18 sI 0,004400 0,001107 0,000791 0,000747

Slide regulator Amperemeter

+

Tabel 4. Medium minyak tanah
n 1 2 3 4 Vukur (V) 1,88 4,22 6,69 9,00 I (A) 0,04 0,08 0,14 0,18 sI 0,000685 0,000675 0,001863 0,001054

Gambar 2. Skema rangkaian alat eksperimen

ISSN 0853-0823

92

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Tabel 5. Persamaan fitting data I terhadap V (dengan cara linier).
BAHAN Udara Udara + Kipas Air Minyak Tanah PERSAMAAN I TERHADAP V I = 0,018V + 0,004 I = 0,019V + 0,007 I =0,020V + 0,001 I = 0,019V + 0,003

r

2

Tabel 6. Persamaan fitting data I terhadap V (dengan cara polynomial orde dua).
BAHAN Udara Udara + Kipas Air Minyak Tanah PERSAMAAN I terhadap V I = -0,0009V2+0,0282V-0,0156 I = -0,0006V2+0,0258V-0,0066 I = -0,0004V2+0,025V-0,0084 I = -0,0002V+0,0221V-0,0012

0.988 0.995 0.997 0.999

r2
0,9997 1 1 0.999

Gambar 3. Grafik Kuat arus I sebagai fungsi dari beda potensial V yang bersifat linier pada tahanan kawat kumparan berbagai medium

Gambar 4. Grafik Kuat arus I sebagai fungsi dari beda potensial V yang bersifat polinom pada berbagai medium

Semua data difitting dengan menggunakan persamaan polinomial orde 2 dan didapatkan persamaan fitting data sebagaimana ditampilkan pada Tabel 6. Hasil fitting data dengan persamaan polinomial ternyata lebih baik dibandingkan dengan cara linier, hal ini terlihat dari nilai r2 seperti yang terdapat pada Tabel 2. Medium udara berangin dan air memiliki nilai r2 = 1, udara memiliki nilai r2 = 0,999. Tetapi minyak tanah memiliki nilai r2 yang sama dengan cara linier (r2 = 0,999) sehingga kedua cara memiliki keelokan fitting data yang sama. Pada persamaan fitting data polinomial terdapat koefisien -V yang menunjukkan besarnya ketidaklinieran sebaran data. Semakin besar nilainya maka ketidaklinieranya pun semakin besar. Dari tabel 2 didapatkan bahwa koefisien -V2 yang terbesar adalah udara (-0,0009) dan yang paling kecil adalah minyak tanah (-0,0002). Medium minyak tanah sebaran datanya memiliki ketidaklinieran paling kecil atau cenderung bersifat linier jika dibandingkan dengan medium yang lainnya. Sedangkan sebaran data yang ketidaklinierannya paling besar terdapat pada udara. Jika ditampilkan dalam bentuk grafik maka hasilnya sebagaimana pada Gambar 4. Berdasarkan analisis data diperoleh bahwa perbandingan antara beda potensial V dengan kuat arus I kumparan pada tegangan output 1,8 – 4 volt konsisten terhadap hukum Ohm pada semua medium, namun pada tegangan output 4 – 9 volt tidak konsisten terhadap hukum Ohm. Urut-urutan medium dari yang kurang konsisten sampai dengan yang paling tidak konsisten terhadap hukum Ohm adalah minyak tanah, air, udara berangin, dan udara. Berdasarkan dua cara fitting data tersebut ternyata minyak tanah merupakan medium yang dapat meredam panas sehingga perbandingan antara beda potensial dengan kuat arus listrik mendekati hukum Ohm. Sedangkan air dan udara berangin hasilnya sedikit mendekati hukum Ohm. Medium udara tidak dapat meredam panas dengan baik sehingga hasilnya menjauhi hukum Ohm jika dibandingkan dengan medium-medium yang lainnya. 2.

V. KESIMPULAN Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa konsistensi hukum Ohm berlaku pada tegangan 1,8 – 4 volt namun pada tegangan 4 – 9 volt kumparan tidak konsisten terhadap hukum Ohm. Hukum Ohm akan berlaku jika suhu bahan dan lingkungan sekitar bersifat konstan. Urut-urutan medium dari yang kurang konsisten sampai dengan yang paling tidak konsisten terhadap hukum Ohm adalah minyak tanah, air, udara berangin, dan udara. UCAPAN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan makalah ini terutama kepada : PPs Magister Pendidikan Fisika UAD tempat dilakukan penelitian. PUSTAKA RUJUKAN
[1] [2] [3] [4] [5] [6] Beiser, A.. Konsep Fisika Modern Edisi Empat. Jakarta : Penerbit Erlangga. 1987 Foster, B.. Fisika Kelas 10. Jakarta : Penerbit Erlangga. 2004 Halliday dan Resnick.. Fisika Jilid 2 (Terjemahan). Jakarta : Penerbit Erlangga. 1988 Humizar dan Sarlem.. Dunia Fisika 2 untuk SMP Kelas VIII. Jakarta : Esis. 2005 Krane, K. . Fisika Modern, Jakarta : UI-Press, 2008 Madsen, M.J. “Ohm’s Law For a Wire in Contact with a Thermal Reservoir”, American Journal of Physics, Volume 77, No. 6 June 2009. Muslim dan Zahara.. Listrik Dinamik Magnet Statik Sumber dan Medium. Yogyakarta : Jurusan Fisika FMIPA UGM. 2004 Sutrisno dan Gie.. Seri Fisika Dasar Listrik, Magnet, dan Termofisika. Bandung : Penerbit ITB Bandung. 1983 Tipler.. Fisika Untuk Sains dan Teknik (Terjemahan). Jakarta : Penerbit Erlangga, 1991

[7] [8] [9]

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

93

Immobilisasi Amyglukosidase dalam Kalsium Alginat sebagai Prototipe Biosensor Pendeteksi Kadar Karbohidrat
Umiatin
Ummiatin@yahoo.com Jurusan Fisika, FMIPA Universitas Negeri Jakarta Jl. Pemuda No.10 Jakarta 13220

Abstrak – Biosensor merupakan salah satu jenis sensor kimia yang menggunakan elemen biologis sebagai fungsi sensingnya. Dua parameter utama yang sangat penting dalam pembuatan biosensor adalah: jenis biomolekul yang digunakan dan metode pengimmobilisasian biomolekul tersebut. Dalam penelitian ini dilakukan pengimmobilisasian enzim amyloglucosidase dalam polimer kalsium alginat dengan metode gel entrapment. Larutan sodium alginat dengan konsentrasi 5%, 6%, 7%, 8%, 9% dan 10% dengan volume enzim dibuat bervariasi sebesar 50µL, 75µL, 100µL, 125µL dan 150µL. Pengukuran konduktivitas dengan metode four probe resistance menunjukkan bahwa film alginat dengan konsentrasi 5% memiliki konduktivitas yang lebih tinggi dibandingkan yang lain. Kata kunci: biosensor, kalsium alginat, AMG.

I. PENDAHULUAN Sensor merupakan piranti yang sangat menarik karena keberadaannya memudahkan kita memperluas dan mempertajam penginderaan kita. Sebagai contoh, sensor fisik yang digunakan untuk mengukur tekanan dan temperatur sudah banyak diterapkan dalam industri. Sedangkan penggunaan sensor berbasis elektrokimia masih relatif terbatas [1,2]. Biosensor, yaitu sensor yang menggunakan elemen biologi untuk fungsi sensingnya, sampai beberapa tahun lalu hanya digunakan dalam riset maupun laboratorium klinik untuk memonitor sistem kehidupan mahluk hidup. Sebagai komponen sensingnya digunakan biomolekul seperti: enzim, antibodi maupun jaringan. Biosensor digunakan secara luas dalam industri, pertanian, kedokteran maupun lingkungan hidup. Prinsip kerja biosensor diawali dengan adanya biomolekul yang terjebak dalam suatu divais. Biomolekul tersebut akan bereaksi dengan zat asing yang ingin diketahui karakteristiknya, selanjutnya reaksi ini akan direspon oleh serangkaian divais yang dapat mentranformasikan besaran biologis menjadi besaran listrik. Dalam pembuatan suatu biosensor, langkah awal yang dilakukan adalah melakukan imobilisasi biomolekul dalam polimer tertentu yang sesuai dengan karakterisitik biomolekul yang dipakai. Dalam penelitian ini, polimer yang dipakai adalah alginat, yang memiliki struktur yang kuat dan fleksibel, sedangkan biomolekulnya digunakan enzim amyloglukosidase yang biasa dipakai untuk mengontrol kandungan zat tepung (amylum). Alginat biasanya dijual di pasaran berbentuk Asam Alginat dengan rumus kimia (C6H8O6)n atau Sodium Alginat (Natrium Alginat) dengan rumus kimia (C6H7NaO6)n [3,4]. Pembuatan film tebal sodium alginat terjadi melalui pertukaran posisi dari ion monovalen natrium dengan ion divalen kalsium. Dengan kata lain, pembuatannya menyangkut pencelupan larutan sodium alginat ke dalam larutan kalsium klorida (CaCl2) sehingga terjadi reaksi susbtitusi antara kedua senyawa tersebut. Persamaan reaksi kimianya adalah : 2(C6H7NaO6)n + 2n CaCl2 → 2(C6H7CaO6)n+ + 2n NaCl + 2n Cl

CO2+ Na

H O

O H

O O

O

H O

O H

-

Na O C

+ 2

n

Gambar 1. Struktur polimer alginat

Enzim yang digunakan dalam penelitian ini adalah enzim amyloglucosidase (AMG) yang diproduksi dari Aspergillus niger. Amyloglucosidase adalah enzim extra selular yang berfungsi menguraikan α 1-4 dan α 1-6 rantai glucosisdic dalam tepung menjadi rantai shacaride. Enzym ini banyak digunakan secara luas dalam produksi glukose, makanan, minuman, tekstil maupun industri farmasi [5,6]. II. METODE PENELITIAN Mula - mula dipersiapkan preparat tempat deposisi lapisan alginat yang terbuat dari bahan gelas. Sebelum digunakan, preparat dicuci dengan sabun, dipanaskan selama 15 menit dalam temperatur air mendidih, dan terakhir dilakukan pembilasan dengan alkohol. Berikutnya dipersiapkan larutan alginat dengan berbagai konsentrasi, baik alginat murni maupun dengan penambahan enzim. Sodium alginat dilarutkan dalam aqua bidest steril dengan pengadukan selama 15 – 20 menit. Larutan alginat yang dibuat ini didiamkan dalam wadah tertutup selama 24 jam, untuk mendapatkan larutan yang benar – benar homogen. Dalam eksperimen ini dibuat larutan alginat dengan

ISSN 0853-0823

94

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

konsentrasi 5%, 6%, 7%, 8%, 9% dan 10%, dengan enzim dibuat bervariasi pada harga 50 µl, 75 µl, 100 µl, 125 µl dan 150 µl. Metode yang digunakan dalam pembuatan film alginat ini adalah teknik spin coating. Film alginat yang telah homogen, kemudian direndam dalam larutan CaCl2 sehingga akan terbentuk film Ca Alginat. Untuk mengangkat garam – garam yang terbentuk pada permukaan film, film alginat tersebut dibilas dengan aqua bidest steril, dan selanjutnya dikeringkan dengan cara pemvakuman pada suhu ruang. Proses pemvakuman ini memerlukan waktu 45 menit sampai 1 jam. Untuk mendapatkan film alginat dengan kualitas terbaik, dilakukan karakterisasi meliputi pengukuran konduktivitas film dengan metode four probe resistance dan scaning electron microscope untuk mengetahui strukturnya. III. HASIL DAN PEMBAHASAN Eksperimen yang pertama kali dilakukan adalah pembuatan film tipis alginat tanpa enzim, dengan cara memvariasikan konsentrasi alginat : 5 %, 6 %, 7 %, 8 %, 9 %, dan 10 %. Eksperimen ini bertujuan untuk mencari film alginat yang memiliki sifat mekanik (kekuatan film) maupun sifat listrik (konduktivitas) yang paling bagus, untuk selanjutnya akan digunakan untuk mengimmobilisasi biomolekul enzim. Karakteristik masing – masing film alginat dengan berbagai konsentrasi tersebut digambarkan dalam Gambar 2.
Alginat tanpa enzim 3

TABEL 1. KONDUKTIVITAS FILM ALGINAT TANPA ENZIM
Konsentrasi Alginat 5% 6% 7% 8% 9% 10% Konsentrasi Amyloglukosidase (ul) 0 0 0 0 0 0 Konduktivitas ( Scm-2) 2.73E-06 2.03E-06 1.15E-06 9.63E-07 6.54E-07 6.24E-07

Alginat dengan Amyloglucosidase 50 mikroliter 3

2.5

10% 9%

tegangan output (volt)

2 8%

1.5

1

7% 6%

0.5

5% 0 100 200 300 400 500 waktu (detik) 600 700 800 900 1000

Gambar 3. Grafik pengukuran tegangan keluaran film alginat dengan enzim amyloglukosidase sebesar 50µl

2.5

9% 10%

tegangan output (volt)

2

1.5

7% 8%

Besarnya konduktivitas film alginat dengan enzim 50 µl adalah sebagai berikut. Penambahan enzim amyloglukosidase dalam polimer alginat, nilai konduktivitasnya akan naik. Hal ini mengindikasikan bahwa keberadaan enzim dalam film alginat menjadikan sifat film tersebut lebih stabil.
TABEL 2. KONDUKTIVITAS FILM ALGINAT DENGAN ENZIM
Konsentrasi Alginat 5% 6% 7% 8% 9% 10% Konsentrasi Amyloglukosidase (ul) 50 50 50 50 50 50 Konduktivitas ( Scm-2) 3.00E-06 2.07E-06 1.54E-06 9.90E-07 6.87E-07 6.72E-07

1 6% 0.5

5%

0

0

100

200

300

400

500 waktu (detik)

600

700

800

900

1000

Gambar. 2. Grafik pengukuran tegangan keluaran film alginat tanpa enzim

Nilai konduktivitas film alginat pada berbagai konsentrasi larutan, seperti tercantum dalam Tabel 1 dan terlihat bahwa konduktivitas film alginat semakin menurun pada saat konsentrasi alginat terlarut diperbesar. Penelitian selanjutnya adalah dengan membuat film alginat dengan konsentrasi yang berbeda – beda, seperti pada eksperimen sebelumnya dan dengan menambahkan enzim amyloglukosidase sebesar 50µl.

Selanjutnya konsentrasi alginat dibuat tetap namun dengan penambahan enzim yang bervariasi. Alginat yang dipakai adalah alginat dengan konsentrasi 8% dan 9% karena secara fisik, film alginat dengan konsentrasi ini memiliki sifat yang kuat dan tidak mudah rusak. Besarnya konduktivitas film alginat 8 % dengan variasi enzim di atas dirangkum dalam Tabel 3.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

95

TABEL 3. KONDUKTIVITAS FILM ALGINAT 8%
Konsentrasi Alginat 8% 8% 8% 8% Konsentrasi Amyloglukosidase 75 100 125 150 Konduktivitas ( Scm-2) 5.10E-07 3.31E-07 3.76E-07 3.69E-07

Konduktivitas film alginat 9 % dengan variasi enzim di atas adalah sebagai berikut :
TABEL 4. KONDUKTIVITAS FILM ALGINAT 9%
Konsentrasi Alginat 9% 9% 9% 9% Konsentrasi Amyloglukosidase 75 100 125 150 Konduktivitas ( Scm-2) 7.36E-07 6.46E-07 5.75E-07 5.24E-07

Gambar 4. Hasil SEM Film Alginat 9% dengan Enzim

IV. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa konduktivitas film alginat akan menurun bila konsentrasi sodium alginat terlarut dinaikkan. Konduktivitas tinggi diperoleh pada konsentrasi rendah, namun film alginat dengan konsentrasi rendah ini sifatnya kurang bagus karena mudah rusak. Keberadaan enzim menyebabkan film alginat bersifat lebih stabil dalam pengukuran. Enzim amiloglucosidase yang diimmobilisasi dalam polimer alginat bisa dikembangkan untuk biosensor pendeteksi kandungan zat tepung dalam suatu bahan. PUSTAKA RUJUKAN
[1] [2] [3] [4] [5] Lambrechts M, Sansen W, Biosensors : Microelectrochemical Divices, Philadelphia : IOP Thevenot DR, Toth K, Durst RA, Wilson GS. Electrochemical biosensors : recommended difinition and classification ( technical report ). Pure Appl. Chem. 1999; 71 :2333-48. Byfield MP, Abuknesha RA. Biochemical Aspect of Biosensors. Biosensors & Bioelectronic 1994; 373 – 400. Ikram –ul-Haq, Shahida Javed, Hamad Asraf. Production of Amyloglucosidase by UV Irradiated Strain of Aspergillus Niger. Biotechnology, Vol 1 Number 1 : 34-39, 2002. Ikram –ul-Haq, Hamad Asraf, S. Omar, Qadeer,M..A. Biosynthesis of Amyloglucosidase by Aspergillus niger Using Wheat Bran as Substrate, Pakistan Journal of Biological Sciences 5 (9), 962964,2002. Haberkora. M, Hinsmann. P, Lendl. B. A mid- IR flow-through sensor for monitoring of enzyme catalysed reactions. Case Study : Measurement of Carbohydrates in Beer. The Analyst, 127, 109113,2002.

Setelah didapatkan enzim yang bisa terimmobilisasi dengan baik, langkah selanjutnya adalah melakukan pengujian sensitifitas dengan menggunakan tepung, kemudian dilakukan pengukuran konduktivitas lagi. Nilai konduktivitas film alginat 8% setelah diuji dengan tepung :
TABEL 5. KONDUKTIVITAS FILM ALGINAT 8%
Konsentrasi Alginat 8% 8% 8% 8% Konsentrasi Amyloglukosidase 75 100 125 150 Konduktivitas ( Scm-2) 5.10E-07 3.31E-07 3.76E-07 3.69E-07 Konduktivitas dengan tepung (Scm2) 8.51E-07 4.31E-07 5.82E-07 5.06E-07

[6]

Karakterisasi dengan Scanning Electron Microscope untuk menganalisa struktur enzym amilo glucosidase yang terimmobilisasi dalam polimer alginat. SEM hanya dilakukan pada sampel alginat berkonsentrasi 9 % yang mengandung amiloglukosidase sebesar 75 µL dan 125 µL.

ISSN 0853-0823

96

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Pemantau Parameter Fisis untuk Lingkungan Inkubator Bayi
Wihantoro
email: wihantoro.han@gmail.com Program Studi Fisika – Fakultas Sains dan Teknik – Universitas Jenderal Soedirman Jl. Dr. Suparno 61 Karangwangkal, Purwokerto. (53123)

Abstrak – Pemantau parameter fisis sebagai sebuah sistem yang memberikan informasi nilai intensitas cahaya, suhu dan kelembaban relatif untuk lingkungan inkubator bayi telah berhasil dibuat. Sistem pemantau ini dirancang sebagai piranti tambahan bagi inkubator bayi produksi sendiri agar berfungsi seperti halnya inkubator pabrikan. Nilai intensitas cahaya dipantau dengan memanfaatkan LDR, sedangkan nilai kelembahan relatif diperoleh dengan menghitung selisih antara suhu kering dan basah. Nilai suhu kering dan basahnya sendiri dipantau dengan menggunakan IC LM35. Pemantau parameter fisis ini dirancang sedemikian hingga agar dapat bekerja secara simultan, yaitu pemantaun parameter satu tidak bergantung pada pemantauan parameter lain. Sistem pemantau ini juga dirancang agar sepraktis mungkin terutama dalam hal perangkat lunak yang mendukung kinerjanya. Mikrokontroler AVR ATmega8535 dipilih untuk mendukung kepraktisan ini yang ditunjang dengan perangkat lunak AVRStudio4. LCD matriks 16x2 dipilih untuk menampilkan nilai-nilai parameter fisis yang dipantau. Sebagai sebuah sistem, pemantauan ketiga parameter fisis untuk lingkungan inkubator bayi ini merujuk pada batasan yang lazim berlaku dalam sebuah inkubator bayi. Intensitas cahaya yang tertangkap oleh sistem tidak lebih dari 200 candela, suhu tidak melebihi 38°C dan kelembaban tidak lebih dari 80%. Saat tampilan layar LCD menunjukkan nilai di atas syarat batas ini, mikrokontroler akan mengirimkan sinyal untuk menghidupkan lampu dan/atau alert melalui Buzzer. Penyempurnaan sistem pemantau parameter fisis ini masih perlu dilakukan terutama dalam penentuan batas ambang yang seharusnya dalam bentuk jangkauan atau range nilai. Karakterisasi untuk ketiga besaran fisis yang dipantau juga perlu dilakukan guna menjamin bahwa sistem pemantau bekerja secara akurat, tepat dan dapat dipertanggungjawabkan. Kata Kunci: sistem pememantau, inkubator.
.

I. PENDAHULUAN Ketersediaan inkubator bayi pada rumah sakit bersalin maupun Puskesmas rawat inap di tingkat kecamatan adalah hal krusial bagi bayi yang dilahirkan prematur, kembar siam ataupun bayi baru lahir dengan kebutuhan khusus. Inkubator bayi dirancang untuk membantu adaptasi bayi dengan lingkungan baru setelah “terbiasa” dengan lingkungan rahim ibu. Selain perlakuan medis yang harus diberikan, pemantauan parameter fisis di dalam inkubator berupa suhu, kelembaban relatif, intensitas cahaya dan laju aliran udara juga memegang peran yang sangat penting [1]. Build in inkubator bayi yang tersedia di pasaran sudah dilengkapi dengan piranti elektronik guna memantau dan mengendalikan parameter fisis tersebut. Namun karena harganya yang sangat tinggi, mencapai $1350,00 per unitnya [2], tidak memungkinkan bagi rumah sakit kelas C ataupun Puskesmas Rawat Inap dalam menyediakan unit inkubator yang memadai ini. Dari sini timbul gagasan untuk merancang inkubator bayi sederhana produksi sendiri Namun sebagai langkah awal adalah membuat sistem pemantau parameter fisis untuk lingkungan inkubator ini. Bagian ini dirancang pertama kali karena merupakan bagian paling utama dalam memantau keadaan fisik bayi terutama pada bayi prematur, bayi kembar siam ataupun bayi yang memerlukan kebutuhan khusus. Parameter fisis yang dipantau untuk keperluan ini dibatasi hanya tiga, yaitu pemantauan untuk nilai intensitas cahaya, suhu dan kelembaban relatif (multisensor) [3]. Rekomendasi suhu dan kelembaban relatif untuk lingkungan inkubator bayi yang disarankan berturut-turut adalah 35oC dan 60% RH dengan kondisi suhu ruang 22,0oC [4,5] dan intensitas cahayanya sebesar 200 lumen/m2 atau 200 candela [6].

II. ALAT, BAHAN & METODE A. Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan pemantau parameter fisis untuk lingkungan inkubator bayi disajikan pada TABEL 1 dan TABEL 2.
TABEL I DAFTAR PERALATAN YANG DIGUNAKAN
Nama Alat 1 unit personal komputer untuk menjalankan perangkat lunak 1 unit downloader mikrokontroler AVR 910 perangkat lunak CodeVisionACR C Compiler perangkat lunak AVRStudio4 luxmeter, termometer digital dan higrometer sebagai pembanding nilai parameter fisis terukur botol kecil berisi kapas basah sebagai suhu basah

TABEL 2 DAFTAR BAHAN YANG DIGUNAKAN
Bahan 1 unit Adaptor, output 10V, arus 1ª 1 unit mikrokontroler AVR ATmega8535 1 modul mikrokontroler AVR Atmega8535 beberapa buah resistor 5 kΩ, tripot 5 kΩ PCB dan pelarut tembaga FeCl3 1 buah LCD matriks 16x2 Bahan 2 buah IC LM35 1 buah LDR 2 buah relay 2 buah lampu pijar 5W 1 meter kabel tembaga 1 buah buzzer

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

97

B. Metode Secara garis besar, pemantau parameter fisis yang berupa multisensor untuk lingkungan inkubator bayi dibuat berdasar skema seperti yang tersaji dalam Gambar 1.

3. Buzzer akan berbunyi apabila nilai dari parameter yang diamati tidak sesuai dengan syarat batas parameter fisis pada point 1 dan 2. 4. LCD akan menampilkan nilai dari besaran-besaran yang diamati secara real-time.

III. HASIL & PEMBAHASAN Ilustrasi dalam bentuk blok diagram pembuatan pemantau parameter fisis untuk lingkungan inkubator bayi disajikan pada Gambar. 2.

Gambar. 1. Skema multisensor yang digunakan pada pemantau parameter fisis untuk lingkungan inkubator bayi.

Gambar. 2. Ilustrasi blok diagram pemantau parameter fisis untuk lingkungan inkubator bayi

Secara garis besar pemantau parameter fisis untuk lingkungan inkubator bayi dapat dideskripsikan sebagai berikut. LDR dan IC LM35 yang masing-masing berperan sebagai sensor-sensor dihubungkan dengan pin-pin input sistem konversi sinyal analog ke sinyal digital (sistem ADC) yang telah terdapat di dalam chip mikrokontroler. ADC tersebut mempunyai jumlah maksimum delapan saluran masukan analog yang dapat direspon secara bersamaan melalui port A mikrokontroler. Sistem ADC mempunyai lebar pita 8 bit, sehingga proses sampling data analog dapat dibagi menjadi 28 atau 256 bagian (dari bit 0 – 255). Pin-pin ADC yang digunakan untuk pemantau parameter fisis ini adalah pin 0 untuk output sensor intensitas cahaya, pin 1 untuk output sensor suhu kering dan pin 2 untuk sensor suhu basah. Kedua output dari pin1 dan pin 2 ini selanjutnya dibagi dan dikalikan 100% guna diperoleh nilai untuk parameter kelembaban udara relatif. Selanjutnya, sinyal digital keluaran dari ADC akan langsung diolah oleh mikrokontroler. Dengan program bahasa C, mikrokontroler akan mengatur sinyal keluaran menuju aktuator 1, aktuator 2 dan buzzer yang dipasang pada port B, serta LCD pada port C. Beberapa syarat batas yang berkenaan dengan parameter fisis yang ditetapkan sesuai dengan kondisi normal lingkungan inkubator bayi yang diinputkan pada mikrokontroler adalah sebagai berikut 1. Lampu (aktuator 1) akan menyala ketika intensitas cahaya yang terpantau kurang dari intensitas cahaya yang dirujuk (I < 200 cd). 2. Penyemprot (aktuator 2) akan menyala ketika temperatur t ≥ 38°C dan kelembaban udara yang terpantau lebih rendah dari nilai rujukan (RH < 80%).

Ketiga pemantau parameter fisis (sistem multisensor) ini diinputkan pada mikrokontroler yang sebelumnya sudah dibuatkan program dengan syarat batas seperti yang diuraikan pada bagian metode. Pemantau parameter fisis ini dilengkapi dengan sistem pensaklaran menggunakan relay 5V berupa lampu indikator dan penyemprot. Relay ini nantinya akan menghasilkan pensaklaran aktuator, yaitu jika relay dicatu tegangan 5V (bit 1) dari mikrokontroler, ia akan menghubungkan dua titik kabel bertegangan 220 V guna menyalakan lampu sebagai indikator bahwa suhu lingkungan di dalam inkubator melebihi batas ambang yang telah ditetapkan. Nilai parameter-parameter fisis yang dihasilkan oleh sistem sensor setelah diolah dengan bantuan bahasa C kemudian ditampilkan pada layar kristal cair (LCD Matrik). Selain ditampilkan pada LCD, informasi berupa nilai parameter fisis ini juga dikirimkan melalui sinyal alert yang disalurkan menuju buzzer. Buzzer akan aktif (berbunyi) ketika kondisi fisis lingkungan di dalam inkubator bayi berada pada nilai di luar syarat batas yang ditentukan. Secara keseluruhan, perakitan sistem multisensor, aktuator serta display alertnya yang dirangkai menjadi sebuah sistem pemantau parameter fisis linkungan inkubator bayi disajikan dalam Gambar 3. IV. KESIMPULAN DAN TINDAK LANJUT PENELITIAN Secara garis besar dapat disimpulkan disini bahwa (1) pemantau parameter fisis inkubator bayi sebagai sebuah piranti berdiri sendiri (stand alone) yang dapat diperuntukkan sebagai piranti tambahan bagi inkubator produksi sendiri telah berhasil dibuat. (2) mikrokontroler dapat digunakan sebagai pengganti unit komputer dalam

ISSN 0853-0823

98

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

memantau perubahan parameter fisis sebuah lingkungan, sehingga dapat dibuat sebuah piranti berukuran kecil, dapat dioperasikan dengan catu daya baterai dan tidak memerlukan ketrampilan khusus dalam pengoperasiannya.

Namun beberapa usaha perbaikan masih perlu dilakukan agar kinerja pemantau parameter fisis lingkungan inkubator bayi ini dapat berfungsi secara akurat, tepat dan dapat diandalkan. Hal yang paling mendesak untuk dilakukan adalah (1) penentuan batas ambang seharusnya berupa nilai jangkauan (range), bukan nilai tunggal berupa batas atas. (2) Perlunya dilakukan karakterisasi untuk ketiga besaran fisis yang dipantau guna menjamin kinerja sistem pemantau yang akurat, tepat dan dapat dipertanggungjawabkan (reliable).

PUSTAKA
[1] Abbas K. Abbas and Steffen Leonhardt, “System Identification of Neonatal Incubator based on Adaptive ARMAX Technique,” 4th European Conference of the International Federation for Medical and Biological Engineering. Vol. 22 pp. 2515-2519, 2009. [2] ____. New and Refurbished Pediatric Equipment. Brochure products of Angelus Medical & Optical Co. Inc. Canada, 2000 [3] Johnson, C.D., Process Control Instrumentation of Technology. McGraw-Hill, Inc., 1997 [4] Dahm, Lida Swafford and Stanley James, “Newborn Temperature And Calculated Heat Loss In The Delivery Room”, Pediatrics Vol. 49 No. 4, pp. 504-513, 1977 [5] IEC 60601-2-19. Medical electrical equipment. Part 2: Particular requirements for the safety of baby incubators. 1990 [6] Wolke, Dieter.Enviromental Neonatology, Archieve of Disease in Childhood, Vol. 62, 987-988, 1987

Gambar. 3. Perakitan sistem multisensor, aktuator serta display alert-nya sebagai sebuah sistem pemantau parameter fisis linkungan inkubator bayi

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

99

Sintesa Paduan Nano Partikel Fe-Ti Hidrid Dan Tinjauan Termodinamiknya
Hadi Suwarno
Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir, BATAN Gedung 20, Kawasan Puspiptek-Serpong, Tangerang Selatan 15314, Banten e-mail: hadis@batan.go.id

Abstrak – Hidrogen dimasa depan diharapkan mampu menggantikan bahan bakar fosil yang ketersediaannya semakin terbatas. Untuk mengelola gas hidrogen diperlukan media penyimpan yang aman. Menyimpan hidrogen dalam bentuk gas dipandang kurang efisien, sedangkan menyimpan dalam bentuk cair perlu teknologi yang sangat mahal. Metoda penyimpanan hidrogen secara padat dengan cara diikat dalam senyawa metal-hidrid merupakan cara baru yang memiliki prospek baik di masa datang. Telah dilakukan penelitian sintesa dan karakterisasi paduan hidrida logam sistem Fe–Ti melalui proses mechanical alloying dalam suasana larutan toluen. Paduan Fe – Ti dengan rasio atom Fe:Ti = 2:1 dibuat melalui proses milling dengan waktu milling 30 jam. Alat yang digunakan untuk menyintesa paduan Fe-Ti adalah sebuah high energy ball mill, type SPEX 8000. Paduan hasil milling kemudian dianalisis dengan mesin Difraktometer Sinar-X, merk Philip tipe PW 1710, menggunakan Cu sebagai anoda dan = 1.5406 Å. Analisa kualitatif dan kuantitatif dilakukan dengan program Rietveld. Analisa mikrostruktur specimen setelah proses milling dilakukan dengan menggunakan mesin scanning electron micrograph (SEM), Philip tipe 550. Hasil refinement atas pola difraksi sinar-x menunjukkan bahwa sebelum milling serbuk terdiri dari logam Fe dan Ti, sedangkan setelah proses milling selama 30 jam terbentuk fasa Fe2Ti sebesar 96 % berat. Dari hasil pengamatan foto SEM menunjukkan bahwa sebelum milling serbuk berbentuk bola, sedangkan setelah milling terjadi perubahan bentuk menjadi poligonal. Ukuran partikel berubah dari skala -325 mesh menjadi nano partikel berukuran < 15 nm. Serbuk Fe-Ti kemudian dihidriding paad suhu kamar untuk membentuk paduan Fe-Ti-H. Tinjauan sifat termodinamik paduan Fe-Ti-H dilakukan dengan memahami diagram fasa tekanan versus konsentrasi hidrogen dalam kondisi isothermal disajikan dalam paper ini dalam bentuk persamaan van Hoff. Detil hasil penelitian ini disampaikan dalam makalah ini. Kata Kunci: Sintesa, Mechanical Alloying, Fasa, Mikrostruktur, Termodinamik I. PENDAHULUAN Menyimpan hidrogen merupakan teknologi cukup yang menantang bagi para ilmuwan karena dapat dilakukan dengan beberapa metoda simpan. Metoda simpan hidrogen cara konvensional adalah dalam bentuk gas bertekanan tinggi dan bentuk cair dengan teknik kriogenik. Kedua metoda simpan ini dipandang kurang efisien karena disamping memerlukan teknologi tinggi, daya tampung yang rendah dan tingkat bahaya menjadi pertimbanan tersendiri untuk mengembangkan metoda simpan baru, yaitu dengan disimpan dalam bentuk padat sebagai metal hidrid [1]. Hidrogen dapat diproduksi dari berbagai sumber dengan memakai berbagai teknologi. Senyawa-senyawa mengandung hidrogen seperti bahan bakar fosil, biomass dan air merupakan sumber hidrogen. Proses termokimia dapat digunakan untuk memproduksi hidrogen dari biomass dan bahan bakar fosil (batubara, minyak bumi dan gas alam) [2]. Pembangkit tenaga dari sumber energi matahari, angin dan pusat pembangkit tenaga nuklir juga dapat digunakan untuk memproduski hidrogen secara elektrolisa [3,4]. Mayoritas hidrogen saat ini diproduksi dari bahan bakar fosil, baik melalui proses reforming minyak bumi, gas alam, ataupun via gasifikasi batubara. Reaktor nuklir merupakan sarana terbaik untuk memproduksi hidrogen secara ekonomis karena tidak menggunakan bahan dasar fosil tetapi dari air yang dipecah (water splitting) maupun diproses secara kimia yang dikenal sebagai siklus sulfuriodida (reaksi Bunsen, disosiasi hidrogen iodida, dan dekomposisi sulfat) dan siklus hibrida[5]. Pemanfaatan hidrogen sebagai sumber energi mendorong terciptanya teknologi baru, seperti fuel cell dan hydrogen storage. Disamping fuel cell, penelitian hydrogen storage material hingga saat ini sudah berkembang sangat pesat. Perkembangan ini diawali setelah ditemukannya logam magnesium yang mampu menyerap hidrogen cukup besar (mengandung 7,6% berat H2). Lagipula, entalpi pembentukan senyawa hidrid cukup besar (∆H = -75 kJ/mol) membuat magnesium sangat atraktif dipromosikan sebagai penyimpan energi panas [6]. Sejak dipromosikannya magnesium sebagai kandidat material penyimpan hydrogen, penelitian logam-logam lain juga dilakukan secara intensif dan diantaranya adalah paduan Fe-Ti. Paduan logam Fe dan Ti bisa membentuk senyawa antar logam stabil sebagai FeTi dan Fe2Ti. Selain itu ada juga senyawa FeTi2 yang terbentuk pada suhu > 1000 oC dan berdekomposisi menjadi FeTi dan Ti pada suhu di bawahnya. Wiswall telah mendapatkan dari hasil penelitiannya dengan menggunakan arc melting furnace untuk pembuatan paduan FeTi bahwa, senyawa FeTi mampu menyerap hydrogen membentuk senyawa hidrida Fe-Ti-H dan sangat mudah pula berdekomposisi menjadi senyawa FeTi dan H, sehingga paduan ini menarik untuk dipromosikan sebagai paduan penyimpan hydrogen [7]. Karena metoda yang digunakan sangat sederhana, yaitu dengan peleburan logam Fe dan Ti, maka hasil yang diperoleh juga tidak begitu memuaskan. Akhir-akhir ini interes terhadap paduan logam Fe-Ti dalam bentuk serbuk tumbuh dengan cepat disebabkan karena beberapa peneliti menyatakan bahwa paduan ini dapat dipromosikan sebagai media simpan-lepas hydrogen yang baik serta mampu menyerap hydrogen hingga 1,8 % berat paduan pada suhu kamar [8].

ISSN 0853-0823

100

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Tujuan penelitian ini adalah membuat sintesa paduan Fe-Ti dengan menggunakan mesin high energy ball milling, mengukur kapasitas serapan hydrogen, dan menganalisis sifat termodinamika paduan metal hidrid dengan neraca van Hoff. II. BAHAN DAN PERCOBAAN Paduan hidrida logam system Fe-Ti dibuat sebanyak 15 gram melalui teknik mechanical alloying dengan perbandingan atom unsur Fe : Ti = 2 : 1. Besi (Fe) dan titanium (Ti), berasal dari produk Merck dengan tingkat kemurnian lebih dari 99 % dan ukuran butir masing-masing adalah -325 mesh. Alat yang digunakan untuk teknik mechanical alloying adalah High Energy Ball Milling (HEBM) tipe PW 700i hasil rancangan dalam negeri, berada di laboratorium Bidang Bahan Bakar Nuklir (B3N), Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir (PTBN), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dengan spesifikasi normal speed 1400 rpm, run time 90 menit, of time 30 menit, dan on of cycle 1 kali. Dimensi vial HEBM, panjang 7,6 cm dan diameter 5,1 cm. Sedangkan diameter ball mill sebesar 12 mm, terbuat dari bahan stainless steel. Serbuk Fe dan Ti hasil timbang di tuang ke dalam vial kemudian ditambahkan toluen di lingkungan hingga penuh dan di-milling selama 30 jam pada suhu ruang. Kualitas dan kuantitas fasa-fasa yang ada di dalam sampel diukur menggunakan alat x – ray diffractometer (XRD) Philip tipe PW1710. Pengukuran pola difraksi sampel dilakukan dengan berkas sinar-x dari tube anode Cu dengan panjang gelombang, λ = 1,5406 Å, mode: continuous-scan, step size : 0,02°, dan time per step : 0,5 detik. Profil difraksi sinar-x dianalisis menggunakan perangkat lunak program RIETAN (Rietveld Analysis) 1994 [9]. Hidriding dilakukan di sebuah alat hidriding ciptaan Penulis dengan menggunakan sistem Sievert. Konsentrasi hidrogen di dalam paduan FeTi dihitung berdasarakan tekanan yang ada di dalam alat hidriding dan dapat dilihat pada paper-paper Penulis [10]. Sifat termodinamika diekspresikan dalam bentuk persamaan van’t Hoff yang diperoleh dari diagram P-c-T, yaitu diagram kesetimbangan tekanan, suhu dan konsentrasi yang diperoleh dari percobaan. III. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambar 1 menampilkan hasil Refinement pola XRD campuran Fe dan Ti sebelum dan sesudah di-milling selama 30j. Hasil refinement dari pola XRD menunjukkan bahwa fraksi massa campuran Fe dan Ti sebelum milling berturutturut sebesar 59,17 % dan 40,83 %, sesuai dengan komposisi stokiometri dari campuran yang diinginkan. Hal ini dibuktikan dengan analisis Rietan bahwa fasa Fe sesuai dengan referensi Swanson [11] bentuk kristal kubus dan Sailer [12] untuk fasa Ti dengan bentuk kristal heksagonal. Setelah di-milling terjadi perubahan fasa membentuk Fe2Ti dan FeTi, selain masih adanya Fe. Perubahan in menunjukkan bahwa sintesa dapat dilakukan dengan mesin HEBM. Setelah milling spesimen terdiri dari 3 komponen utama yaitu fasa Fe, Fe2Ti dan FeTi dengan fraksi massa masing-masing sebesar 49,32; 34,63; dan 16,05 %. Hasil analisis Rietan diperoleh bahwa fasa Fe2Ti sesuai dengan

referensi Speich [13] sedangkan fasa FeTi bisa dideteksi sesuai referensi Dwight [14]. Perubahan intensitas yang sangat mencolok atas spesimen sebelum dan setelah di-milling menunjukkan bahwa serbuk mengalami proses milling yang menyebabkan terjadinya amorfisasi, dimana serbuk paduan kehilangan orientasi kristalnya.

Gambar 1. Hasil refinement XRD campuran Fe dan Ti sebelum dan setelah di-milling.

Gambar 2 menampilkan hasil refinement pola XRD spesimen Fe-Ti setelah dihidriding pada suhu kamar. Dari gambar tampak bahwa fasa yang terbentuk adalah Ti4FeH8,5, TiH2, dan Fe, sementara hasil analisis kuantitatif diperoleh komposisi fasa masing-masing adalah sebesar 32,5 %; 42,18 % dan 25,32 %. Terbentuknya fasa TiH2 yang cukup dominan menunjukkan bahwa ikatan interstitial mudah dibentuk oleh logam Ti. Tambahan lagi, adanya fasa Fe2Ti mengganggu terbentuknya fasa FeTiH yang sangat diharapkan. Fasa TiH2 dan β-Ti4FeH8,5 ini dapat diidentifikasi menurut hasil analisis Crane [15] dan Rupp [16]. Untuk menghindari terbentuknya fasa Fe2Ti diperlukan analisis proses treatment.

Gambar 2. Hasil refinement XRD paduan Fe-Ti setelah dihidriding pada suhu kamar. Gambar 3 menampilkan diagram P-c-T yang diperoleh Zaluska [17] yang merupakan gabungan dari fasa nano kristal dan amorf. Data ini diperoleh dengan high pressure method, meskipun tekanan tidak terlalu tinggi. Dari data Pc-T ini dapat diambil rentang konsentrasi hidrogen pada 0,35 < X < 1,0, yaitu pada daerah kesetimbangan plateau, maka

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

101

dengan menggunakan kaidah termodinamika dan mengasumsi bahwa gas hidrogen mengikuti hukum gas ideal, digunakan persamaan van’t Hoff sebagai berikut:

dalam hal ini P = tekanan, ∆H = perubahan entalpi, R = konstanta gas, dan T = suhu. Dari Pers. (1) akhirnya diperoleh hubungan entalpi dan entropi proses hidriding fasa FeTi, seperti ditampilkan pada Gambar 4. Ditampilkan pula pada Gambar 4 persamaan van’t Hoff untuk proses hidriding logam Mg, Mg2Ni dan Mg2Fe sebagai pembanding. Tampak dari gambar bahwa tekanan dissosiasi paduan FeTi-H cukup rendah dan berlangsung pada suhu kamar relatif rendah pula, sehingga paduan ini sangat prospektif apabila dipromosikan sebagai material penyimpan hidrogen. Dari grafik diperoleh harga entalpi pembentukan FeTiH2 adalah sekitar -9 kcal/mol. Harga ini tidak jauh berbeda dibandingkan dengan harga teoritis pembentukan FeTiH2 teoritis menurut kaidah Miedema [18] yang ditampilkan pada Pers. (2) sebagai berikut:

dP ∆H dT = P RT 2

(1)

Gambar 4. Persamaan van’t Hoff untuk paduan Fe-Ti-H. Sayang, kapasitas serapan hidrogen yang relatif rendah, yaitu pada rasio atom H/FeTi ≈ 1,2. Agar paduan FeTi dapat menyimpan hidrogen lebih besar lagi, perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan memadu paduan FeTi dengan logam lain, khususnya dari deret transisi lainnya, sehingga diharapkan akan diperoleh paduan logam terner yang mampu menyerap hidrogen dengan kapasitas yang lebih besar. IV. KESIMPULAN Telah dilakukan penelitian sintesa senyawa biner Fe-Ti dengan menggunakan mesin HEBM. Hasil analisis XRD menunjukkan bahwa fasa nano partikel Fe2Ti dan FeTi terbentuk selama milling 30 jam. Hasil hidriding membentuk fasa β-Ti4FeH8,5 dan TiH2, sementara fasa FeTiH2 tidak dapat dibentuk. Sifat termodinamik serbuk dapat diekspresikan sebagai entalpi dan hasil perhitungan serta hasil percobaan tidak berbeda jauh. Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk menghindari pembentukan fasa Fe2Ti yang akan mengganggu terbentuknya fasa FeTiH2. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih disampaikan kepada Bapak Menteri Negara Riset dan Teknologi yangtelah menyediakan dana untuk penelitian ini. Terima kasih juga disampaikan kepada jajaran Eksekutif BATAN da semua pihak yang telah membantu terlaksananya penelitian ini. PUSTAKA
Zuttel, “Materials for Hydrogen Storage”, Mater. Today, 2003, pp. 24-33 [2] C.P. Huang, A.T. Raissi, “Thermodynamic analyses of hydrogen production from sub-quality natural gas. Part I: Pyrolysis and autothermal pyrolysis”, Journal of Power Sources, vol. 163, 2007, pp. 637-644. [3] T. Riis, E.F. Hagen, P.J.S. Vie, O. Ulleberg, Hydrogen Production and Storage, IEA Hydrogen Implementing Agreement (HIA), HIA_HCG_Production_2005-03-15_rev1_final.doc, Publikasi IEA, Januari 2006, download dari internet. [4] N.H.Afgan, A.Veziroglu, M.G. Carvalho, “Multi-criteria evaluation of hydrogen system options”, International Journal of Hydrogen Energy, vol. 32, 2007, pp. 3183-3193. [5] R. Allen and R. Elder, “Thermochemical Cycles and the Hydrogen Economy”, http://www.docstoc.com/docs/23551124/ThermochemicalCycles-and-the-Hydrogen-Economy, diakses tanggal 1 Januari 2011. [1]

∆H ( FeTiH 2 ) = ∆H ( FeH ) + ∆H (TiH − ∆H ( FeTi )
Dari data pembentukan senyawa biner FeTi, FeH dan TiH diperoleh bahwa harga entalpi masing-masing adalah sebesar -19, 4 dan -30 kcal/mol, sehingga harga entalpi pembentukan fasa FeTiH2 adalah sebesar -7 kcal/mol. Sementara itu Wiswall [7] memperoleh dari hasil percobaannya bahwa entalpi pembentukan FeTiH2 adalah sebesar 7,38~8,02 kcal/mol. Harga entalpi yang sangat rendah ini bisa menjawab mengapa senyawa FeTiH2 bisa diperoleh dengan reaksi pada suhu kamar. Sementara itu, entalpi MgH2 adalah sebesar -75 kJ/mol, atau 3 kali lebih besar dibanding fasa FeTiH2. Hal ini dibuktikan dari tingginya suhu yang dibutuhkan untuk proses hidridingdehidriding; demikian pula hanya untuk fasa Mg2NiH4.

Gambar 3. Diagram P-c-T fasa FeTi nanokristal dan amorf.

ISSN 0853-0823

102 [6] [7] [8] [9] [10] [11] [12] [13] Zaluska, L. Zaluski, J.O. Ström–Olsen, “Nanocrystalline magnesium for hydrogen storage”, J. Alloys Comp.,vol. 228, 1999, pp. 217-225. R. H. Wiswall, Jr. and J. J. Reilly, “Metal Hydrides for Energy Storage,” Intersociety Energy Conversion Eng. Conf., San Diego; Sept. 1972. M. Bououdina, D. Grant, G. Walker, Int. J. Hydrogen Energy , 31, 2006, 177. F. Izumi, “Rietan Manual”, 1994 (private communication). Suwarno, “preparation and Characterization of Mg2NiH4 for Hydrogen Storage Material”, Indonesian Journal of Material Science, special Edition, 2008, pp. 153-157. T. Swanson, JC Fe Reports, NBS, Natl. Bur. Stand. Report, (1951). R. Sailer and G. Mc. Carthy, North Dakota State University, North Dakota, USA, ICDD Grand in Aid, 1993. Speich, Tans. Am. Inst. Min. Eng., 224(1962)850.

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY [14] Dwight, Met. Div. Argonne Nat. Lab., Illinois, USA, Private Communication, 1965. [15] R.L. Crane, S.C. Chattoraj, M.B. Strope, “A room temperature transition of titanium hydride”, J. Less-Common Met., vol. 25, 1971, pp. 225-227. [16] Rupp, Institute fur Physikalische Chemie der Universitat Wien, Vienna, Austria, Private Communication, 1985. [17] L. Zaluski, A. Zaluska, J.O. Ström-Olsen, “Nanocrystalline metal hydrides”, J. Alloy Comp., vol 253-254, 1997, pp. 70-79. [18] A.R. Miedema, K.H. Buschow and H.H. Van Mall, “Which intermetallic compounds of transition metals from stable hydrides?”, J. Less-Common Metals, vol. 49, 1976, pp. 463-472.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

103

Rasio Giromagnetik Batang Feromagnet dengan Metode Einstein-De Haas
Moh. Toifur1), Nanang Ruhimat1), Hedriawan2)
Program Studi Fisika FMIPA Universitas Ahmad Dahlan Jl. Prof. Dr. Soepomo, Janturan Umbulharjo Yogyakarta 55164 2) Jurusan Sains dan Teknologi, Fakultas Teknik Universitas Teknologi Yogyakarta Jl. Ringroad Utara Jombor Sleman Yogyakarta Email: mtoifur@yahoo.com
1)

Abstrak – Telah dilakukan identifikasi sifat magnet beberapa batang feromagnet berdasarkan rasio giromagnet bahan dengan metode Einstein De Haas. Sebagai sampel digunakan tiga batang feromagnet (besi hitam, besi putih, dan besi kuning) yang telah diuji kandungan besinya dengan AAS masing-masing sebesar 95,54%, 86,72%, dan 95,71%. Eksperimen dilakukan dengan memvariasi medan magnet melalui pengaturan arus listrik yang mengalir pada koil dari 0,04 A s/d 1,80 A, dan menentukan kecepatan osilasi melalui pengukuran periode ayun menggunakan pewaktu otomatis yang dikendalikan melalui komputer. Pengolahan data dilakuan dengan metode regresi linier antara frekuensi osilasi dengan arus listrik, sedangkan rasio giromagnetik diperoleh melalui slope grafik. Dari penelitian yang telah dilakukan diperoleh besarnya rasio giromagnet pada masing-masing batang feromagnet γhitam =(1,033 ± 0,02)x104 Hz/T, γputih = (1,031 ± 0,03)x104 Hz/T, dan γkuning= (0,998 ± 0,03)x104 Hz/T. Dari hasil tersebut menunjukkan adanya kesesuaian antar rasio giromagnet batang feromagnet terhadap kadar besi hasil karakterisasi dengan metode AAS. Semakin besar kadar besinya semakin besar rasio giromagnetnya. Kata kunci: feromagnet, rasio girimagnet, metode Einstein De Haas, besi

I. PENDAHULUAN Alat yang sangat populer untuk menentukan sifat magnet bahan adalah VSM (vibrating sample magnetometer). Dengan alat ini dapat diperoleh profil loop histeresis yang memuat informasi mengenai medan koersif, magnetisasi jenuh dan magnetisasi remanen. Alat ini dapat digunakan untuk mengkarakterisasi bahan magnet keras dan magnet lunak. Cara lain untuk mengetahui sifat magnet bahan makroskopis khususnya untuk bahan magnet keras adalah dengan menentukan rasio giromagnet bahan. Secara mikroskopis rasio giromagnet (γ) merupakan perbandingan antara momen magnet (µ) dan momentum sudut elektron (L). Pada bahan makroskopis, rasio giromagnet merupakan perbandingan antara µ dan L seluruh bahan. Salah satu cara untuk menentukan rasio giromagnet adalah dengan percobaan efek Einstein-de Haas, dimana batang feromagnet digantungkan pada seutas benang dimasukkan kedalam medan magnet yang ditimbulkan oleh solenoida sejajar dengan arah sumbu solenoida, maka batang feromagnet tersebut akan berosilasi. Berdasarkan arus yang dialirkan pada solenoida dan periode osilasi batang feromagnet, rasio giromagnet bahan dapat diketahui. Pada makalah ini ditampilkan hasil penelitian rasio giromagnet 3 jenis batang feromagnet yang memiliki kadar besi yang berlainan untuk mengetahui nilai rasio giromagnetnya.

II. DASAR TEORI A. Nisbah Giromagnet Jika ada arus listrik I berputar mengelilingi luasan lingkaran kecil dA, maka akan timbul momen magnet dµ yang besarnya: dµ = I dA (1)

Arah momen magnet sesuai dengan arah vektor luasan dA. Momen magnet ini identik dengan momen dipole magnet pada batang magnet. Untuk arus listrik yang melalui penghantar berbentuk lingkaran dengan luas A maka momen magnet yang dihasilkan adalah: µ=I A (2) Selanjutnya arus listrik merupakan jumlah muatan listrik yang lewat persatuan waktu. Untuk elektron yang bergerak dalam lintasan lingkaran solenoida maka satuan waktunya adalah periode, yaitu waktu yang dibutuhkan elektron untuk menempuh satu putaran. −e (3) I= T Dengan mengingat periode putaran adalah keliling lingkaran dibagi gerak laju elektron maka: −ev (4) I= 2πr Dengan mengalikan bagian pembilang dan penyebut pada persamaan (4) dengan mr, dan dengan mengingat bahwa mvr adalah momentum sudut L serta πr 2 adalah luas lingkaran A, maka persamaan (4) menjadi: −e (5) I= L 2mA Persamaan (5) menjelaskan hubungan antara arus listrik yang ditimbulkan oleh gerak melingkar elektron dengan momentum sudut L. Selanjutnya dengan memindahkan A pada persamaan (5), ke ruas kiri maka perkalian loop arus listrik terhadap luasan lingkaran yang dilingkupinya menyatakan momen magnet µ, sehingga persamaan (5) dalam bentuk vektor menjadi: e µ =− L (6) 2m Momen magnet inilah yang berperan menimbulkan medan magnet. Dari persamaan (6) tampak bahwa arah momen

ISSN 0853-0823

104

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

magnet berlawanan dengan arah momentum sudut. Konstanta -e/2m disebut rasio giromagnet (γ) yang menyatakan perbandingan momen magnet dengan momentum sudut. Jadi persamaan (6) dapat dituliskan menjadi [2,3,4]: (7) µ =γ L Kuantitas L tergantung pada keadaan dinamik dari electron sedangkan kuantitas µ tergantung pada rapat muatan pada bahan. Persamaan (7) dapat digunakan untuk mengkarakterisasi sifat magnet bahan. Bahan dengan kandungan magnet yang besar akan memiliki µ yang besar dan L yang kecil, dan sebaliknya.

mf = massa batang feromagnet rf = jari-jari batang feromagnet vf = kecepatan linier batang feromagnet Dengan mensubstitusikan persamaan (9) ke persamaan (8) maka diperoleh: (10) NIπr 2 = γm f r f v f Pada ruas kiri r merupakan jari-jari koil. Untuk kepentingan eksperimen jari-jari koil diganti dengan diameter koil (d) dan jari-jari batang feromagnet diganti dengan diameter batang feromagnet (df). Selanjutnya kecepatan linier dapat ditentukan dengan mengukur panjang busur osilasi (S) batang feromagnet dibagi periode osilasi (T). Maka persamaan (10) dapat dituliskan menjadi: 1 Nπd 2 (11) = I . T 2 Sγm f d f Dengan persamaan (11) memungkinkan untuk melakukan eksperimen dengan memvariasi arus I dan mencatat periode osilasi T sehingga data dapat diolah dengan regresi linier untuk memperoleh γ. III. METODE PENELITIAN A. Alat dan Bahan 1. Sampel uji berupa batang besi 3 jenis seperti pada Gambar 2, dengan data fisik seperti tercantum pada tabel 1, serta kadar besi masing-masing sampel hasil identifikasi dengan alat AAS (Atomic Absorption Spectroscopy) dicantumkan pada kolom 5.

B. Efek Einstein - de Haas pada Batang Feromagnet Pada Gambar 1 ditampilkan batang feromagnet yang digantungkan pada benang tipis kemudian batang tersebut dimasukkan ke dalam koil. Jika koil dialiri arus listrik maka timbul medan magnet. Penimbul medan magnet di sini bukan hanya 1 elektron tetapi sejumlah (n) elektron (awan elektron) yang berada pada lapisan terluar solenoida yang bergerak melingkar mengikuti lingkaran solenoida. Selain itu dengan mengingat elektron merupakan pertikel bermassa, maka adanya gerakan berputar awan elektron tersebut menimbulkan momentum sudut.

(a)

(b)

(c)

Gambar 1. Efek Einstein-de Haas pada batang feromagnet [5]

Gambar 2. Sampel batang feromagnet, (a) besi hitam, (b) besi putih, dan (c) besi kuning

Karena momentum bersifat kekal maka timbulnya momentum sudut tersebut harus dilawan oleh gerak rotasi batang feromagnet pada arah sebaliknya. Efek ini dikenal dengan efek Einstein-de Haas, yaitu peristiwa berputarnya batang feromagnet yang tergantung pada seutas benang akibat adanya gerak secara impuls yang ditimbulkan oleh arus listrik yang melalui koil. Jika momentum sudut batang feromagnet dan momen magnet yang ditimbulkan oleh kawat solenoida dapat ditentukan faktor giromagnet bahan dapat ditentukan. Dengan menyamakan persamaan (2) dan persamaan (6) dan dengan mengingat bahwa koil terdiri dari N lilitan maka diperoleh: (8) NIA = γL Dengan prinsip kekekalan momentum sudut maka momentum sudut L yang ditimbulkan oleh gerak melingkar awan elektron ini dapat diganti dengan momentum sudut batang feromagnet Lf yang berputar pada arah berlawanan terhadap arah arus yaitu: (9) L f = m f rf v f dengan Lf = momentum sudut batang feromagnet

TABEL I DATA TEKNIS SAMPEL BATANG BESI
Sampel Besi Hitam Besi Putih Besi Kuning Diameter batang, df (mm) 8,85 8,95 8,90 Berat batang, mf (gr) 16,5 18,9 19,0 Kadar Fe hasil AAS (%)s 95,54 86,72 95,71 Kadar Fe (g) 15,76 16,39 18,18

2. 3. 4.

5. 6. 7.

Benang nilon 15 cm sebagai pengikat sampel Penggantung untuk menggantungkan sampel Solenoida 1500 lilitan dengan diameter rongga 10,75 cm yang dapat menimbulkan medan magnetik sebesar 300 gauss. Slide Regulator merek Matsunaga untuk memasok tegangan pada solenoida. Multimeter merek Mazda tipe 12 B untuk mengukur arus listrik pada solenoida Gaussmeter merk Hirst tipe GM 04 untuk mengukur medan magnet pada solenoida

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

105

Laser pointer 593 nm (kuning), 10 mW sebagai sumber cahaya untuk menyinari sampel. 9. Fotodioda untuk menangkap sinar laser yang terpantul dari sampel. 10. Timer untuk mengukur waktu osilasi sampel terkomputerisasi dengan memanfaatkan mikrokontroler AT Mega8-16PU sebagai ADC. 11. Kabel konektor untuk mengirim sinyal digital ke komputer melalui USB to Serial (RS-232) Converter. 12. Software delphi 6 ebagai penampil frekuensi osilasi. B. Prosedur Penelitian 1. Menyusun alat menjadi sistem perangkat penelitian seperti pada Gambar 3. 2. Menghidupkan komputer dan mempersiapkan software yang akan digunakan. 3. Menghidupkan laser dan mengarahkan ke sampel serta memastikan bahwa sinar pantul ditangkap oleh sensor fotodioda.

8.

γ =

Nπd 2 . 2 Sam f d f

(13)

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada Gambar 4 ditampilkan foto perangkat eksperimen untuk penelitian ini. Selanjutnya pada Gambar 5 ditampilkan kurva hasil fitting data antara I dan 1/T menurut garis lurus untuk sampel besi warna hitam, putih, dan kuning menurut persamaan (11).

Gambar 4. Foto perangkat percobaan
0,3 0,28 Putih Kuning Hitam

Frekuensi (Hz)

0,26 0,24 0,22 0,2 0,18 0,16 0,45

0,65

0,85

1,05

1,25

1,45

1,65

1,85

Gambar 3. Diagram block desain penelitian

Arus Listrik (A)

4.

5.

6.

Menghidupkan sumber tegangan slide regulator dan mengatur pada posisi 10 volt sehingga batang feromagnetik berosilasi kemudian membaca besarnya medan magnet melalui gauss meter. Membaca penunjukan arus solenoida melalui amperemeter, frekuensi osilasi melalui pada PC, medan magnetik melalui gaussmeter, dan mengukur panjang busur osilasi dengan jangka sorong. Mengulangi langkah 4 pada setiap kenaikan tegangan 10 volt sehingga tegangan mencapai 200 volt.

Gambar 5. Kurva hubungan antara frekuensi osilasi batang feromagnet terhadap arus listrik

Persamaan hasil fitting masing-masing sampel, indek diterminasi, serta rasio giromagnetik masing-masing sampel ditampilkan pada Tabel II. TABEL II PERSAMAAN HUBUNGAN ANTARA ARUS LISTRIK DAN FREKUENSI OSILASI SERTA NILAI RASIO GIROMAGNET
Sampel Persamaan regresi linier y = 0,082x + 0,151 y = 0,073x + 0,136 y = 0,073x + 0,148 Indek Diterminasi R2 = 0,995 R2 = 0,986 R2 = 0,988 Rasio giromagnetik (Hz/T) (1,033 ± 0,02)x104 (1,031 ± 0,03)x104 (0,998 ± 0,03)x104

C. Metode Analisis Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah regresi linier model y = ax + b , antara arus listrik (I) dan frekuensi osilasi sampel (1/T) pada persamaan (11). Nilai slope grafik a adalah Nπd 2 , (12) a=
2 Sγm f d f
Besi hitam Besi putih Besi kuning

sehingga rasio giromagnet sampel

Pada Gambar 4 ditampilkan berat besi pada sampel (sebagaimana ditunjukkan pada tabel I kolom 6) serta rasio giromagnetik (seperti pada table 2 kolom 4). Sebagai perbandingan rasio giromagnetik electron yang terisolasi adalah -1,76 × 1011 Hz/T, sedangkan untuk besi dengan kemurnian tinggi besarnya rasio giromagnetik adalah 1,81 ×

ISSN 0853-0823

106

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

1012 Hz/T [4]. Memang rasio giromagnetik 1 partikel lebih besar dibandingkan dengan rasio giromagnetik untuk bahan secara makroskopis. Hal ini terkait dengan tingkat kebebasan elektron untuk berotasi. Pada bahan momen magnet hanya disumbang oleh arus di bagian kulit sedangkan pada bagian dalam momen magnet tidak ada karena arus putar yang dihasilkan terkompensasi oleh arus putar lain dengan arah berlawanan. Tampak adanya hubungan yang konsisten yaitu untuk sampel yang memiliki kadar besi rendah maka rasio giromagnetiknya besar sedangkan untuk sampel yang memiliki kadar besi tinggi memiliki rasio giromagnetik kecil. Memang sebagaimana ditunjukkan oleh pers. (6) massa berkontribusi pada momentum sudut sedangkan rasio giromagnetik berbanding terbalik terhadap momentum sudut, sehingga semakin besar massa semakin kecil rasio giromagnetik.
19 10400 10300 10200 17 10100 16 10000 9900

Dengan eksperimen ini dapat digunakan untuk menentukan sifat magnet bahan. Dari Gambar 4 diketahui pula bahwa nilai rasio giromagnetik mulai kecil ke besar adalah besi hitam-putih-kuning. V KESIMPULAN Dari penelitian yang telah dilakukan ini dapat disimpulkan bahwa eksperimen dengan efek Einstein-de Haas telah berhasil dilaksanakan untuk mengetahui rasio giromagnet bahan. Dari ketiga sampel uji diketahui bahwa nilai rasio giromagnet bahan berbanding terbalik terhadap kadar besi pada bahan. Batang besi kuning memiliki rasio giromagnet terbesar diantar sampel yang lain sebesar (0,998 ±
0,03)x104 Hz/T.

PUSTAKA
[1] [2] G.G. Scott, “A Precise Mechanical Measurement of the Gyromagnetic Ratio of Iron”, Physical Review, vol. 82, Issue 4, 2011, 542-547. Anonim, Einstein-de Haas Effect in a NiFe Film Deposited on a Microcantilever, http://www.nist.gov, diakses tanggal 1 Januari 2011. J.-L. Basdevant, and J.Dalibard, "Measuring the Electron Magnetic Moment Anomaly." Ch. 11 in The Quantum Mechanics Solver: How to Apply Quantum Theory to Modern Physics. Berlin: SpringerVerlag, 2000, pp. 79-81. C. Lim Chjan, “A Classical version of the Einstein-de Haas E®ect, Mathematical Sciences, RPI, 110 8th St.”, Troy: New York, 2007, pp. 12180 S. Blundel, Magnetism in Condensed Matter, New York: Oxford University Press, 2001.

18

Rasio giromagnet (Hz/T

[3]

Berat Besi (g)

[4]

[5]

15

Besi hitam

Besi putih

Besi kuning

Gambar 6. Berat besi dan rasio giromagnetik batang besi

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

107

Pengamatan perilaku fenomena surface plasmon resonance (SPR) pada sistem lapisan tipis perak-CuPc
1,2

Nafingati Zakiyah1, Kamsul Abraha2
Laboratorium Fisika Zat Padat, Jurusan Fisika FMIPA UGM, Sekip Utara, Yogyakarta 55281 1 patu_32gemini@yahoo.com, 2 kamsul@ugm.ac.id , kamsoel@yahoo.com

Abstrak – Pada penelitian ini telah diamati fenomena Surface Plasmon Resonance (SPR) pada sistem empat layer (prismaperak-CuPc-udara). Pendeposisian lapisan tipis perak (Ag) dan Copper Pthalocyanine (CuPc) pada sisi prisma telah menggunakan vacuum evaporator. Konfigurasi yang digunakan dalam pengamatan SPR adalah konfigurasi Kretschmann. Cahaya monokromatik melewati gelas prisma menuju sistem lapisan tipis. Intensitas laser yang diukur adalah intensitas yang dipantulkan oleh prisma yang merupakan fungsi dari sudut datang berkas laser. Cahaya sumber yang telah digunakan untuk mengamati fenomena SPR tersebut adalah laser He-Ne dengan panjang gelombang 632,8 nm. Pengamatan pertama dilakukan untuk lapisan tipis perak, dilanjutkan dengan pengamatan saat lapisan perak tersebut dilapisi lagi dengan lapisan tipis CuPc. Sudut SPR untuk lapisan tipis perak ditemukan pada sudut 46.67o. Kata kunci: Surface Plasmon Resonance (SPR), konfigurasi Kretschmann, CuPc

I. PENDAHULUAN Surface plasmon resonance (SPR) adalah osilasi densitas muatan yang berlangsung pada permukaan batas antara dua medium dengan konstanta dielektrik yang berlawanan (logam dan dielektrik). Gelombang densitas muatan diasosiasikan dengan gelombang elektromagnetik dengan vektor medan yang mencapai besar maksimum pada perbatasan kedua medium dan meluruh secara evanescent menjauhi dua medium tersebut [1]. Surface plasma wave (SPW) adalah gelombang terpolarisasi TM (vektor magnetik tegak lurus pada arah perambatan dan paralel terhadap bidang batas kedua medium). Konstanta perambatan SPW pada permukaan antara logam dan dielektrik adalah   (1) dan berturut-turut adalah konstanta dielektrik dengan logam dan dielektrik, adalah frekuensi sudut dan adalah kecepatan cahaya. Dalam penelitian ini digunakan sistem empat lapisan dalam konfigurasi Kretschmann (Gambar 1). Pada konfigurasi ini cahaya mengenai prisma dan lapisan tipis dengan sudut datang yang lebih besar daripada sudut kritis sehingga cahaya dipantulkan secara total (100 %) dari permukaan batas antara prisma dan lapisan tipis logam (dengan ketebalan sekitar 50 nm) [2]. Prisma dilapisi dengan logam perak untuk kemudian dilapisi dengan material semikonduktor organik CuPc sehingga akhirnya membentuk sistem empat lapisan seperti diperlihatkan pada Gambar 1. Laser yang digunakan pada penelitian ini adalah laser helium-neon (He-Ne) dengan panjang gelombang 632,8 nm.

Gambar 1. Gambar sistem empat lapisan, 1. Prisma, 2. Logam, 3. CuPc, 4. Lingkungan luar(udara)

Pada penelitian ini diperoleh nilai reflektansi dari sinar laser yang dipantulkan oleh sistem empat lapisan. Reflektansi untuk sistem tersebut diberikan oleh

(2) dengan (3) (4)

,(

)

(5)

dengan medium

adalah koefisien reflektansi permukaan diantara dan medium , adalah komponen vektor

ISSN 0853-0823

108

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

gelombang tegak lurus pada permukaan,

adalah

komponen vektor gelombang yang sejajar dengan dan ( ) adalah permukaan, serta ketebalan dan konstanta dielektrik dari medium ke i [3]. Kurva hasil eksperimen dari salah satu pustaka rujukan [3] adalah reflektansi terukur seperti pada Gambar 2.

B. Pengamatan fenomena SPR

(a)

Gambar 2. Plot reflektansi versus sudut datang untuk lapisan tipis perak (Ag), emas (Au), dan Copper (Cu) menggunakan sistem 4 lapis .

II. EKSPERIMEN Pendeposisian lapisan tipis perak dan CuPc Lapisan tipis perak dan CuPc (Gambar 3 a) dideposisikan menggunakan evaporator vakum. Evaporasi adalah satu metode deposisi lapisan tipis. Deposisi ini mempunyai tujuan untuk mendapatkan lapisan tipis yang berkualitas baik. Dalam eksprimen ini evaporasi dilakukan dengan tekanan 1x10-5 mBar. Langkah-langkah penelitian dilukiskan dalam Gambar 3 b. A.

Gambar 3. Struktur molekul CuPc dan langkah-langkah penelitian

Gambar 4. Set-up peralatan eksperimen.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

109

Pengambilan data dilakukan melalui dua tahap. Tahap pertama dilakukan untuk lapisan tipis perak yang dideposisi pada prisma dengan menggunakan laser He-Ne. Tahap kedua pengambilan data dilakukan setelah penambahan lapisan tipis CuPc pada lapisan tipis perak. Sinar laser dilewatkan melalui dua buah polarisator yang salah satu sudutnya dibuat 45o. Lensa positif berfungsi untuk memfokuskan sinar laser. Selanjutnya sinar akan melewati beam splitter yang berfungsi membagi sinar menjadi dua bagian dengan intensitas yang sama yang akan ditangkap oleh laser beam receiver pertama (detektor 1) dan laser beam receiver kedua (detektor 2). Detektor 1 terletak sebelum sinar mengenai prisma. Sedangkan detektor 2 terletak setelah sinar mngenai prisma. Selanjutnya berkas sinar laser He-Ne diukur intensitas menggunakan dua multimeter. (a)

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar 4. Grafik reflektansi vs sudut datang untuk lapisan tipis perak(Ag),CuPc 3mg dan CuPc 7mg.

(b)
Gambar 5. Grafik reflektansi vs sudut datang. Indeks bias prisma 1.5 dengan massa CuPc : (a) 3mg dan (b) 7mg

Gambar 4 menunjukkan perubahan sudut SPR secara eksperimen akibat penambahan lapisan tipis CuPc pada lapisan tipis perak massa 7 mg yang telah dideposisi pada prisma. Penambahan lapisan tipis CuPc dengan massa yang berbeda menghasilkan reflektansi dan sudut SPR yang berbeda. Ketebalan yang diperoleh dari hasil evaporasi dengan massa 3 mg adalah 34.6 nm, sedangkan untuk massa 7 mg diperoleh ketebalan 36.3 nm. Kurva SPR dengan variasi ketebalan CuPc yang dideposisi pada perak ditunjukkan pada Gambar 4. Perubahan ketebalan lapisan tipis CuPc akan menyebabkan perubahan dip kurva SPR. Berdasarkan eksperimn evaporasi CuPc dengan massa 3mg dipnya lebih tajam dibandingkan dengan CuPc massa 7 mg yaitu 38.09% untuk CuPc massa 3mg dan 42.24% untuk CuPc massa 7mg.

Dari Gambar 5 dan simulasi mathlab diperoleh data kontinu karena pada simulasi matlab perhitungan reflektansi tidak menyertakan koefisien absorbsi sedangkan pada eksperimen terjadi absorbsi oleh lapisan tipis perak dan CuPc. IV. KESIMPULAN Telah berhasil diamati fenomena Surface Plasmon Resonance (SPR) dalam sistem empat layer dalam konfigurasi Kretcshmann. Pendeposisian lapisan tipis perak (Ag) dan Copper Pthalocyanine (CuPc) pada prisma menggunakan vacuum evaporator. Untuk lapisan tipis perak diperoleh sudut SPR pada 46.67o. Setelah penambahan lapisan tipis CuPc diperoleh sudut 56.9o untuk massa 3mg dan sudut 58o untuk massa CuPc 7mg.

ISSN 0853-0823

110

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY [3] C. H. LIAO, C.-Min LEE, L.-Be C., J.-H. T., Effects of a metal film and prism dielectric on properties of surface resonance in a multilayer system, Jpn. J. Appl. Phys. Vol. 36, 1997.

REFERENSI
[1] [2] J Homola, Sinclair S Yee, Gϋnter G, “Surface Plasmon Resonance Sensors”. Jerman,1999. J Homola, Present and Future of Surface Plasmon Resonance Biosensor, Jerman, 2003.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

111

Studi Awal Pengukuran Perubahan Fungsi Kerja Film Tipis Ag2O Terhadap Gas Polutan dengan Kelvin Probe
W. Widanarto dan Bilalodin
Program Studi Fisika, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Jenderal Soedirman Jl. dr. Soeparno No. 61 Purwokerto e-mail : wahyu.widanarto@unsoed.ac.id

Abstrak - Film tipis oksida logam Ag2O telah ditumbuhkan pada substrat Si/Ti/Pt dengan evaporasi thermal. Proses evaporasi dilakukan pada tekanan 2x10-2mbar dalam lingkungan oksigen sintetik. SEM dan XPS digunakan untuk menganalisa komposisi dan struktur permukaan film. Kelvin Probe dengan emas sebagai elektroda referensi digunakan sebagai studi awal untuk mengkarakterisasi perubahan fungsi kerja film terhadap konsentrasi gas-gas polutan. Karakterisasi dilakukan dengan mengalirkan gas-gas uji secara seri ke film pada temperatur kamar, 80°C dan 130°C dalam kondisi kering. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa film tipis Ag2O merupakan sebuah material baru yang menjanjikan sebagai film sensistif gas untuk pendeteksian H2S dalam FG-FET. Perubahan fungsi kerja (∆Φ) yang signifikan dan reversibel serta respon yang sama dapat diamati ketika film dikenai 25 ppm H2S pada temperatur yang berbeda. Kata Kunci: Fungsi Kerja, Kelvin Probe, Film Tipis, Ag2O, H2S I. PENGANTAR William Lord Kelvin of Largs pada tahun 1824-1907 [6]. Alat ini terdiri dari sebuah elektroda emas yang diletakan pararel diatas permukaan sampel, membentuk sebuah kapasitor. Elektroda digetarkan secara mekanik pada frekuensi tertentu. Elektroda yang berosilasi menyebabkan perubahan kapasitas sehingga arus listrik (AC) dihasilkan, besarnya nilai amplitudo sebanding dengan perubahan fungsi kerja ∆Φ atau beda pontesial kontak (∆VC) antara sampel dan elektroda. ∆VC = ∆Φ (1)

Pencemaran lingkungan merupakan masalah yang serius dalam kehidupan masyarakat saat ini. Hal ini muncul sebagai akibat perkembangan dunia industri yang sangat pesat dan gas buang kendaraan bermotor. Industri dan kendaraan bermotor mengeluarkan gas-gas berbahaya seperti timbal/timah hitam (Pb), suspended particulate matter (SPM), oksida nitrogen (NOx), hidrokarbon (HC), karbon monoksida (CO), oksida fotokimia (Ox), hidrosulfur (H2S), dan oksida sulfur (SO2). Adanya produksi gas polutan dapat menimbulkan dampak negatif, baik terhadap kesehatan manusia maupun terhadap lingkungan. Sebagian besar gas-gas polutan memiliki sifat fisis tidak terlihat dan tidak berbau. Hal ini menyebabkan proses monitoring dan analisa tidak dapat dilakukan hanya menggunakan bantuan panca indra manusia. Lebih dari 20 tahun, tujuan penelitian difokuskan pada pengembangan divais sensor gas berukuran kecil yang dapat diaplikasikan secara portable dalam pendeteksian gas-gas polutan. Sensor yang mempunyai kinerja stabil sangat diperlukan untuk mengetahui batas ambang dari suatu tingkat pencemaran atau komposisi dari suatu produk polutan. Berdasarkan penelitian terdahulu, berbagai macam sensor telah dikembangkan dan direalisasikan untuk mendeteksi gas-gas polutan. Sebagian besar dari pengembangan sensor tersebut berbasis pada perubahan konduktivitas material yang digunakan pada sensor akibat interaksi permukaan material dengan molekul-molekul gasgas polutan [1-4], akan tetapi tingginya suhu operasi sensor (> 250°C) untuk mencapai reaksi antara molekul gas polutan dengan permukaan lapisan tipis, menyebabkan pengembagan sensor sulit diterapkan pada portable system akibat keterbatasan penyediaan daya. Oleh karena itu, sistem pendeteksian gas-gas polutan akan dibuat dengan mengukur perubahan fungsi kerja ∆Φ dari material film sensitif akibat proses interaksi yang terjadi antara gas dengan film [5]. Kelvin-Probe merupakan sebuah model yang paling sederhana dan cepat untuk menganalisa respon material terhadap gas uji. Metode ini pertama kali dikenalkan oleh

Gambar 1. Skematik Kelvin Probe

II. HASIL DAN DISKUSI A. Penumbuhan Film Ag2O Penumbuhan film oksida perak (Ag2O) dilakukan setelah substrat Si dilapisi dengan film tipis Titanium/Platinum (Ti/Pt). Tujuan pelapisan ini adalah untuk memperkuat daya rekat oksida logam pada substrat. Film tipis Ti/Pt ditumbuhkan pada Si dengan menggunakan sputtering masing-masing selama 5 menit dan 10 dengan daya 350 watt dan 500 watt. Scanning Electron Microscope (SEM) digunakan untuk melihat penampang lintang dan ketebalan dari film Ti/Pt. Hasil SEM dengan perbesaran 50.000 kali menunjukkan bahwa lapisan Ti dan Pt dengan ketebalan

ISSN 0853-0823

112

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

dalam kisaran nanometer terlihat dengan jelas seperti dalam Gambar 2. Penumbuhan film Ag2O pada substrat Si dilakukan dengan menggunakan evaporasi thermal pada tekanan 2x10-2 mbar dalam oksigen sintetik. Rata-rata deposisi evaporasi dijaga konstan antara 0,5-1nm/detik untuk ketebalan 200nm. Morfologi permukaan film tipis Ag2O hasil penumbuhan dikarakterisasi dengan SEM. Hasil SEM dengan perbesaran 50.000 kali menunjukkan bahwa permukaan Ag2O sangat solid seperti terlihat dalam Gambar 3.

yang dihasilkan dengan teknik evaporasi termal merupakan film Ag2O nonstoichiometry. Artinya untuk menjadi film Ag2O stoichiometry masih dibutuhkan oksigen. Oksigen akan diambil dari udara untuk memenuhi kebutuhan oksigen pada film, dimana hal tersebut sangat sesuai dengan sifat dari oksida logam yang cenderung mengikat oksigen dalam keadaan normal. Ikatan antara keduannya sangat lemah sehingga ikatan tersebut dapat berubah-ubah sesuai dengan gas yang berinteraksi dengan film tersebut. Oleh karena itu film ini sangat memungkinkan untuk dijadikan sebagai film sensitif pada sensor gas.

Gambar 2. Penampang melintang film Ti/Pt pada elektroda Gambar 4. Spektrum XPS dari permukaan Ag2O

C. Pengukuran Perubahan Fungsi Kerja Ag2O dengan Kelvin Probe Kelvin Probe dengan emas (Au) sebagai elektroda referensi digunakan untuk mengkarakterisasi film Ag20 terhadap gas polutan. Sampel diletakkan dibawah elektrode dengan jarak tertentu membentuk sebuah kapasitor. Elektrode tersebut digetarkan pada frekuensi tertentu oleh Kelvin Control dan jarak diatur sedemikian rupa sehingga sinyal output yang terbentuk merupakan gelombang sinusoidal yang terbaik. Jika terjadi interaksi antara film dan gas uji yang mengakibatkan perubahan fungsi kerja film, maka contact potential difference VC akan berubah. Karakterisasi dengan Kelvin Probe dilakukan dengan mengalirkan 12 macam gas uji pada konsentrasi sesuai dengan maximum allowed concentration. Gas-gas dialirkan secara seri ke film pada temperatur kamar, 80°C dan 130°C. Setiap gas dialirkan ke film selama 30 menit dan diikut dengan pembersihan chamber dengan oksigen sintetik selama 30 menit. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui stabilitas film terhadap gas polutan tertentu dan menyakinkan tidak terjadi pengotoran oleh gas sebelumnya. Pemvariasian temperatur dilakukan untuk mendapatkan operasi temperatur yang optimal, karena proses adsorpsi dan desorpsi gas pada permukaan film merupakan fungsi dari temperatur. Namun demikian perlu diingat bahwa temperatur yang tinggi akan merusak film pada substrat. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa film Ag2O memberikan respon ketika H2S, NH3, NO2 dan Cl2 berinteraksi dengan film seperti terlihat dalam Gambar 5. Perubahan sinyal VC atau ∆Φ yang reversibel hanya terjadi

Gambar 3. Foto SEM morfologi permukaan film Ag2O

B. Karakteristik Permukaan Film Ag2O Methode karakterisasi X-ray Photoelectron Spectroscopy (XPS) digunakan untuk mempelajari permukaan film yang dihasilkan. Methode ini merupakan grup dari prosedur elektronspektrokopi yang sangat cocok digunakan untuk menentukan komposisi material dan ikatan kimia pada ring sampel tertentu. Komposisi kimia dari film yang dihasilkan dinyatakan dalam gambar 4. Pada gambar dapat dilihat bahwa puncak-puncak energi perak (Ag) dan oksigen (O) mendominasi spektrum XPS dengan konsentarsi 65% Ag dan 30% O. Berdasarkan hal tersebut, film Ag2O

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

113

ketika film berinteraksi dengan H2S dan menunjukkan pola yang sama pada operasi temperatur yang berbeda. VC menurun secara signifikan ketika film dikenai H2S dan naik ketika H2S dihilangkan. Sensitivitas film terhadap H2S sangat tinggi. Hal ini ditunjukkan oleh waktu responnya ketika film dikenai H2S. Berdasarkan hal tersebut, film Ag2O sangat menjanjikan untuk diaplikasikan sebagai film sensitif H2S dalam FG-FET. .

1 O2 2

O (ads )

(2)
O2 − (ads )

O (ads ) + 2e −

(3)

Lapisan permukaan semikonduktor Ag2O mempunyai peran penting dalam pendeteksian gas NO2. Cacat permukaan film akibat kekurangan oksigen menyebabkan Ag2O menyerap oksigen pada keadaan normal dan menghasilkan keadaan permukaan akseptor (acceptor surface state). Hal ini menyebabkan pelebaran lapisan deplesi dalam semikonduktor dekat permukaan yang diikuti perubahan fungsi kerja pada semikonduktor. Adsorbsi H2S menyebabkan keadaan kembali seperti semula. III . KESIMPULAN Berdasarkan hasil karakterisasi perubahan fungsi kerja dengan menggunakan Kelvin Probe dapat disimpulkan bahwa Film oksida perak (Ag2O) sangat menjanjikan untuk digunakan sebagai film sensitif gas H2S (polutan) pada Floating Gate - Field Effect Transistor (FG-FET) Sensor System.

Gambar 5. Karakterisasi film Ag2O dengan Kelvin Probe pada temperatur berbeda dalam kondisi kering.

PUSTAKA
[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] G. Telipan, A thick film semiconductor NOx detector, IEEE, 1997. J. Y. Yun, CO-Gas sensing characteristics of Pt/SnO2 thin composite film, Pusan National University, Korea, 2000. J. Tamaki, Detection of dilute nitrogen dioxide and thickness effect of tungsten oxide thin film sensors, Sensors and Actuators B 95, 2003, 111-115. Z. Ling, The effect of relative humidity on the NO2 sensitivity of a SnO2/WO3 heterojunction gas sensor, Sensors and Actuators B 102, 2004, 102-106. I. Eisele, Low power gas detection with FET sensors, Sensors and Actuators B 78, 2001,19. W. Thomson, in Phil. Mag Vol. 46, 1898, p. 82 J.Oscik, , Adsorbtion Ellis Horwood Limited Publisher Cichester, John Wiley and Son, New York, USA, 1982. S. M. Sze, Semiconductor devices physics and technology, John Wiley and Sons, New York, 1985. A.M., Gaskov, M.N., Rumyantseva, Materials for Solid-State Gas Sensors, Inorganic Materials, Vol.36, No.3, 2000, 239-301.

D. Mekanisme Pendeteksian Gas Oksida logam secara alami merupakan sebuah semikonduktor yang berasal dari logam yang berikatan dengan oksigen. Lapisan teratas permukaan semikonduktor oksida logam disusun oleh ion-ion oksigen, kemudian lapisan bawahnya terisi oleh ion-ion logam. Sisi-sisi logam hanya berisi sebagian sedangkan sisi yang tersisa hadir sebagai cacat (defect) [7,8]. Pada kondisi normal (suhu kamar), permukaan semikonduktor oksida logam akan berinteraksi dengan molekul-molekul oksigen yang terdapat di udara. Atomatom oksigen akan teradsorpsi dan mengikat elektron bebas yang terdapat pada permukaan bahan semikonduktor oksida logam. Proses serapan oksigen dan penangkapan elektron dapat ditulis sebagai berikut [9].

ISSN 0853-0823

114

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Sifat Konduktivitas Listrik HiPCO Single-Walled Carbon Nanotubes yang sudah di-anneal
Mukhtar Effendi
Program studi Fisika Universitas Jenderal Soedirman Jl. dr. Soeparno No.61 Purwokerto, Kode Pos 53123, Indonesia mukhtar.effendi@unsoed.ac.id

Abstrak – Telah dilakukan penelitian mengenai perubahan sifat konduktivitas listrik single-walled carbon nanotube (SWNT) yang disintesis dengan proses high pressure CO disproportionation (HiPCO). Bahan tersebut di-anneal pada suhu 533 K dalam aliran gas N2 selama 15, 30, 45 dan 60 menit. Spektrum raman diukur pada kondisi kamar dengan menggunakan sumber cahaya laser pada panjang gelombang 514,5 nm. Selanjutnya, spektrum pantulan pada daerah infra merah diukur dengan menggunakan Fourier transform infrared spectrometer (FTIR). Spektrum Raman merekam adanya kemunculan puncak-puncak D-band dan G-band. Dari analisa, diketahui bahwa perbandingan nilai intensitas G-band terhadap D-band (yaitu rasio IG/ID) hampir sama untuk semua rentang waktu annealing. Selanjutnya terlihat adanya peningkatan puncak BreitWigner-Fano seiring dengan peningkatan waktu annealing. Hal ini menandakan adanya peningkatan sifat metallic pada sampel HiPCO SWNT yang di-anneal.Spektrum pantulan pada daerah infra merah menunjukkan adanya sifat-sifat pantulan metallic. Untuk mengkaji konduktivitas listriknya, spektrum ini dianalisa dengan menggunakan pemodelan Drude-Lorentz. Dari analisa spektrum pantulan ini diketahui bahwa konduktivitas listrik meningkat seiring dengan peningkatan waktu annealing. Kata kunci: konduktivitas listrik, HiPCO, single-walled carbon nanotubes, anneal

I. PENDAHULUAN Carbon Nanotube (CNT) dapat digambarkan sebagai sebuah kisi lembaran grafin (graphene sheet lattice) yang digulung menjadi sebuah silinder. Material ini memiliki diameter dalam orde beberapa nanometer dan panjangnya dapat mencapai jutaan kali lebih besar daripada luas penampangnya tersebut, sehingga akan nampak seperti material satu dimensi. CNT merupakan salah satu material yang paling menarik untuk diteliti diantara material nanokarbon yang ada. Hal ini, salah satunya, disebabkan oleh karena CNT akan memiliki struktur elektronik bahan logam (metallic) atau semikonduktor yang bergantung pada diameternya dan chiralitasnya. Sifat istimewa ini akan membuka peluang aplikasi CNT pada berbagai bidang, misalnya sebagai layar pancaran medan (field emission display), elektrode baterai lithium ion, nanowire, dan lain sebagainya. Telah dilaporkan bahwa pada multi-walled carbon nanotube (MWNT) nilai perbandingan intensitas puncak spektrum raman di sekitar 1600 cm-1 (pita G) terhadap puncak spektrum di sekitar 1350 cm-1 (pita D), dalam hal ini sering disebut sebagai rasio IG/ID, akan meningkat setelah material tersebut dikenakan proses annealing [1]. Oleh karena itu, kami melakukan serangkaian percobaan untuk mengkaji efek dari proses annealing terhadap single-walled carbon nanotube (SWNT), terutama terkait dengan sifat konduktivitas listriknya. II. METODE PENELITIAN A. Bahan dan Peralatan CNT yang digunakan pada penelitian kali ini adalah SWNT yang disintesa dengan metode CO disproprsionasi tekanan tinggi (high pressure CO disproportionation) atau sering disebut sebagai HiPCO SWNT. Pemanas kering elektrik ADVANTEC FS-420 digunakan untuk mencapai

suhu annealing yang diinginkan. Untuk menjaga atmosfer material yang di-anneal digunakan gas N2 yang dilengkapi dengan pengatur laju, serta seperangkat pipa untuk pengalirannya (gas masuk dan keluar) dan sebuah botol kecil sebagai tempat sampel. Untuk selanjutnya spektrum raman diukur menggunakan seperangkat alat spektroskopi raman, yang terdiri dari sumber laser ion argon (Spectra-Physics Stabilite 2017, model 2017-04s) yang dioperasikan pada panjang gelombang 514,5 nm, sebuah filter optik, beberapa cermin datar dan lensa beserta penyangganya, serta spektrometer cahaya (SPEX 1877 TRIPLEMATE, triple spectrometer), sebagai penganalisa hamburan raman, yang dilengkapi dengan perangkat pelengkap yaitu Charge-Coupled Device (CCD) dari Andor Technology CCD (model no: DV401-FI, serial no: CCD-3965). Spektrum yang tertangkap oleh CCD ditampilkan oleh perangkat komputer yang tersambung dengannya. Pengukuran spektrum pantulan yang nantinya akan digunakan untuk penghitungan konduktivitas listrik dilakukan dengan FTIR (Fourier Transform Infrared, Jasco FT/IR-410) spektrometer yang digandeng dengan mikroskop dan komputer. B. Eksperimental Proses annealing dilakukan pada suhu 533 K dalam aliran gas N2 selama 15, 30, 45 dan 60 menit. Sampel yang sudah di-anneal selanjutnya diambil spektrum ramannya. Berkas laser pada sistem spektroskopi raman difokuskan pada sampel dengan sistem lensa yang ada, dan dijaga untuk tidak melebihi 6 mW, serta dikenakan pada sampel dengan sudut datang 45°. Berkas hamburan raman yang muncul dianalisa dengan menggunakan tripel spektrometer dan direkam dengan CCD yang terhubung dengan komputer.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

115 beserta dekonvolusinya.

Kalibrasi spektrum raman dilakukan dengan menggunakan spektrum lampu neon. Selanjutnya spektrum pantulan diukur di daerah infra merah dan dianalisis dengan pemodelan Drude-Lorentz untuk mengetahui konduktivitas listriknya. III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Unannealed
1594 cm
-1

1572 cm Intensity (a.u) 1550 cm 1530 cm 1340 cm
-1 -1

-1

1609 cm

-1

-1

1723 cm

-1

Spektrum raman untuk sample yang tidak di-anneal ditampilkan pada Gambar 1. Spektrum raman untuk sampel yang di-anneal hasilnya tidak jauh berbeda dengan sampel yang tidak di-anneal. Semua hasil spektrum raman tersebut di-dekonvolusi untuk mengetahui puncak-puncak yang muncul dan menganalisanya. Contoh pen-dekonvolusi-an diperlihatkan juga pada Gambar 1 diatas. Hasil dekonvolusi menunjukkan bahwa spektrum raman sampel HiPCO SWNT memiliki 7 puncak komponen, yaitu pada 1340 cm-1 (D-band), 1530 cm-1 (BWF = Breit-WignerFano) [2], 1550, 1572, 1594 dan 1609 cm-1 (G-band) [3]; serta 1723 cm-1 (puncak tambahan). Parameter dekonvolusi secara lengkap dari spektrum raman yang diperoleh dengan berkas laser 514,5 nm (2,41 eV) untuk sampel yang tidak dianneal maupun yang sudah di-anneal ditampilkan pada Tabel 1 berikut ini.

800

1000

1200 1400 -1 Raman shift (cm )

1600

1800

Gambar 1. Spektrum raman sampel HiPCO SWNT yang tidak di-anneal

TABLE 1. FREKUENSI ( ), FULL-WIDTH AT HALF-MAXIMUM (FWHM, ) DAN LUAS AREA DI BAWAH PUNCAK (A) ATAU INTENSITAS (I0) DARI LORENTZIAN AND KURVA BWF YANG DIGUNAKAN UNTUK MENGANALISA PUNCAK-PUNCAK YANG TERKAIT DENGAN D-BAND, G-BAND AND BWF SPEKTRUM RAMAN SAMPEL HIPCO SWNT YANG TIDAK DI-ANNEAL MAUPUN YANG DI-ANNEAL. D-band Waktu annealing (menit) 1340 cm A 0 (tidak di-anneal) 15 30 45 60 21353 23580 22349 25543 25114
-1

BWF 1530 cm I0 1623 2007 2235 2093 2378 1/q -0.27 -0.22 -0.21 -0.22 -0.19
-1

G-band 1550 cm
-1

Puncak tambahan 1594 cm A
-1

1572 cm

-1

1609 cm

-1

1723 cm-1 A 80662 91073 110924 98632 98332

Γ
44 49 48 46 50

Γ
28 32 35 33 36

A 96780 67234 55154 75153 60474

Γ
33 29 28 31 29

A 57332 55839 54592 64168 63495

Γ
23 23 24 24 24

Γ
24 24 24 24 23

A 42577 32945 31701 29956 29883

Γ
23 24 24 23 24

Γ
159 158 171 164 156

173438 174559 179468 185343 187137

35

I G/I D

Dari Tabel 1 diatas, dapat dihitung rasio intensitas IG/ID untuk menganalisa struktur kristal Di sisi lain, IBWF dan 1/q dapat digunakan untuk menyelidiki sifat metalic-nya. Perbandingan nilai IG/ID, IBWF dan 1/q ditampilkan pada Tabel 2 berikut ini, dan di-plot secara berturut turut pada gambar 2, 3 dan 4.
TABLE 2 RASIO INTENSITAS RELATIF G-BAND TERHADAP DBAND (IG/ID), INTENSITAS BWF (IBWF) DAN PARAMETER 1/Q PUNCAK BWF DARI SAMPEL HIPCO SWNT. Waktu annealing IBWF 1/q IG/ID (menit) 0 (tidak di-anneal) 15 30 45 60 29.46 27.55 27.88 25.49 28.34 1623 2007 2235 2093 2378 -0.27 -0.22 -0.21 -0.22 -0.19

30 25 20 15 10 5 0 30 45 60 waktu annealing (menit) Gambar 2. Ketergantungan IG/ID terhadap waktu annealing. Garis putusputus hanya digunakan sebagai alat bantu penglihatan. 0 15

ISSN 0853-0823

116
3000

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

2000 I BWF

pada gambar 5 di bawah ini. Sedangkan spektrum pantulan untuk sampel yang di-anneal memiliki bentuk yang sama dengan sedikit perbedaan yang terletak pada ketinggian nilai pantulan di daerah energi dibawah 0,3 eV. Hasil plotting pemodelan Drude-Lorentz terhadap spektrum pantulan serta hasil perhitungan kondukitivitas listriknya ditampilkan pada Tabel 3.
30

1000
HiPCO SWNT reflectivity spectrum Drude-Lorentz model

0 0 15
Reflectivity (%)

30 45 waktu annealing (menit)

60

20

Gambar 3. Ketergantungan IBWF terhadap waktu annealing. Garis putusputus hanya digunakan sebagai alat bantu penglihatan.

10

waktu annealing (menit) 0 0 15 30 45 60
0 0.2 0.4 0.6 0.8

Photon energy (eV)

-0.1

Gambar 5. Spektrum pantulan HiPCO SWNT di daerah infra merah beserta pemodelan Drude-Lorentz yang sesuai.

1/q

-0.2

-0.3

TABLE 3. NILAI PERMITIVITAS, PLASMA ENERGY DAN DAMPING ENERGI YANG SESUAI DENGAN PEMODELAN DRUDELORENTZ. Waktu annealing (menit) 0 (tidak dianneal) 15 30 45 60 Permittivity Plasma energy (eV) 0.36 0.36 0.36 0.36 0.38 Damping energy (eV) 0.38 0.36 0.30 0.28 0.29 Electric conductivity (S. cm-1) 45.8 48.4 58.1 62.2 66.9

-0.4

Gambar 4. Ketergantungan 1/q terhadap waktu annealing. Garis putusputus hanya digunakan sebagai alat bantu penglihatan.

1.82 1.80 1.85 1.86 2.20

Dari gambar 2 dapat diketahui bahwa nilai IG/ID cenderung tidak berubah dengan adanya kenaikan waktu annealing. Proses annealing mungkin saja memperbaiki struktur di bagian-bagian tertentu, akan tetapi ternyata ada peningkatan juga di bagian defect-nya, sehingga secara umum dapat dikatakan bahwa proses annealing pada suhu 533 K tidak atau belum mampu memperbaiki kualitas struktur kristal sampel yaitu HiPCO SWNT secara signifikan. Grafik ketergantungan intensitas puncak BWF terhadap waktu annealing (gambar 3) menunjukkan adanya peningkatan intensitas BWF seiring dengan peningkatan waktu annealing. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan sifat metallic pada sampel HiPCO SWNT yang di-anneal. Pendapat ini didukung oleh adanya peningkatan parameter 1/q seiring dengan peningkatan waktu annealing seperti yang ditunjukkan pada gambar 4. Peningkatan 1/q menunjukkan adanya pengurangan interaksi antara fonon diskret dengan keadaan kontinyu, yang berujung pada peningkatan sifat metallic suatu bahan. Dengan demikian dapat bahwa disampaikan bahwa proses annealing pada sampel HiPCO SWNT pada suhu 533K sampai rentang waktu 60 menit akan meningkatkan sifat metallic bahan tanpa adanya perbaikan struktur kristalnya. Selanjutnya akan ditinjau pengaruh proses annealing terhadap konduktivitas listriknya. Spektrum psntulsn sampel HiPCO SWNT yang tidak dianneal beserta pemodelan Drude-Lorentz [4] ditampilkan

Untuk lebih jelasnya, plotting nilai konduktivitas listrik sampel HiPCO SWNT terhadap waktu annealing ditampilkan pada gambar 6 di bawah ini.
75 Konduktivitas listrik (S. cm -1 ) 60 45 30 15 0 0 15 30 45 waktu annealing (menit) 60

Gambar 6. Ketrgantungan nilai konduktivitas listrik sampel HiPCO SWNT terhadap waktu annealing. Garis putus-putus hanya digunakan sebagai alat bantu penglihatan.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

117

Dari Gambar 6. terlihat jelas bahwa kenaikan waktu annealing mengakibatkan kenaikan nilai konduktivitas listrik sampel HiPCO SWNT. Kenaikan ini sesuai dengan hasil spektroskopi raman yang mengindikasikan adanya kenaikan sifat metallic dari sampel. Proses annealing diketahui dapat melepaskan asam dan sisa-sisa bahan yang menempel pada permukaan suatu sampel yang tersisa dari proses pemurnian dan penyaringan. Oleh karenanya dapat disampaikan bahwa efek dari proses annealing pada sampel HiPCO SWNT adalah terjadinya perubahan struktur kristal (bukan perbaikan) serta pembersihan asam dan bahan-bahan yang menempel di permukaan sampel tersebut. Hal inilah yang akhirnya menyebabkan kenaikan sifat metallic dan muncul sebagai kenaikan konduktivitas listrik. IV. KESIMPULAN

UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih disampaikan kepada Monbukagakusho (Departemen Pendidikan Pemerintah Kekaisaran Jepang) atas segala dukungannya sehingga terselesaikannya penelitian ini. Terima kasih disampaikan juga kepada Rektor Kumamoto University, Rektor Universitas Jenderal Soedirman serta pemerintah Republik Indonesia yang telah memberi ijin kepada penulis untuk melaksanakan penelitian ini di Kumamoto University, Jepang. Tidak lupa penghargaan dan ucapan terima kasih disampaikan pula kepada Prof. N. Kuroda dan Assoc. Prof. H. Yokoi atas segala bimbingan dan bantuannya. Ucapan terima kasih disampaikan pula kepada semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu, yang terlibat dalam penelitian serta publikasi makalah ini. PUSTAKA

Penelitian spektroskopi optik, yaitu melalui spektrum raman dan spektrum pantulan di daerah inframerah, terhadap efek proses annealing pada sampel HiPCO SWNT yang dilakukan dengan suhu 533 K dan rentang waktu sampai dengan 60 menit menujukkan adanya peningkatan sifat metallic yang nampak sebagai peningkatan konduktivitas listrik sampel tersebut. Perubahan struktur kristal akibat proses annealing belum menghasilkan perbaikan pada stuktur tersebut. Namun demikian, pembersihan asam dan bahan-bahan yang menempel di permukaan sampel menyebabkan terjadinya peningkatan konduktivitas listriknya.

[1] B. R. Huang, C. S. Huang, C. C. Wu, L. –C. L. Chen and K. H. Chen, “Electrical properties of annealed MPCVD grown vertically aligned carbon nanotube films”, Diamond and Related Mater., vol 13, 2004, pp. 2156-2159. [2] S. D. M. Brown, et al., “Origin of the Breit-Wigner-Fano lineshape of the tangential G-band feature of metallic carbon nanotube”, Phys. Rev. B, vol. 63, 2001, pp. 155414. [3] A. Jorio, et al., “Polarized raman study of single-walled semiconducting carbon nanotubes”, Phys. Rev. Lett., vol. 85, 2000, pp. 2617- 2620. [4] M. Effendi dan H. Yokoi, “ Spektroskopi optic terhadap struktur dan konduktivitas listrik material nanokarbon”, Prosiding Seminar Nasional Fisika Jurusan Fisika FMIPA UNNES Semarang, 2010, pp. FM103-1 – FM103-5.

ISSN 0853-0823

118

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Sel Surya Berbasis Material Nanokomposit TiO2
Sahrul Saehana1,(a), Darsikin1, Rita Prasetyowati2, Marina I. Hidayat2, Mikrajuddin Abdullah2, dan Khairurrijal2
2

Program Studi Pend. Fisika FKIP Universitas Tadulako, Kampus Bumi Tadulako Tondo Palu KK Fisika Material Elektronik FMIPA Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganeca 10 Bandung 40132 a) Email: oel_281@yahoo.com

1

Abstrak – Penelitian ini bertujuan untuk mengembangan sel surya berstruktur baru, dengan material TiO2 sebagai lapisan aktif dan logam tembaga (Cu) yang dideposisi pada ruang antar partikel TiO2 sebagai saluran elektron. Adapun struktur sel surya yang dikembangkan terdiri atas material TiO2, partikel tembaga (Cu) yang berada ruang antar partikel TiO2, polimer elektrolit serta aluminium sebagai elektroda bantu. Dalam penelitian ini, lapisan nanokomposit TiO2 dibuat dengan metode printing sedangkan elektrolit yang berbentuk gel dideposisi dengan metode doctor-blade. Kontak antara partikel TiO2 dengan Cu dapat dilihat melalui karakterisasi struktur morfologi dengan Scanning Electron Microscopy (SEM). Adanya kontak ini diharapkan dapat mengurangi rekombinasi elektron-hole, yang cukup dominan pada permukaan TiO2, sehingga efisiensi sel surya dapat ditingkatkan. Hasil pengukuran karakteristik IV sel surya menunjukkan bahwa efisiensi sel surya dengan penyisipan logam Cu lebih baik dibandingkan tanpa penyisipan logam Cu. Kata kunci: Sel Surya, Nanokomposit, TiO2, doctor-blade, efisiensi, polimer I. PENDAHULUAN Krisis energi yang sedang dialami oleh sebagian besar negara di dunia termasuk Indonesia, menjadi perhatian utama pemerintah termasuk para peneliti. Pengembangan sumber energi terbarukan, seperti energi matahari yang ketersediaannya cukup melimpah, menjadi salah satu alternatif untuk mengatasi krisis energi tersebut [1]. Namun demikian, pemanfaatan sel surya berbasis silikon yang telah mencapai efisiensi sekitar 20% terkendala dengan biaya produksi yang tinggi [2,3]. Di sisi lain, pengembangan sel surya berbasis material dye sensitized solar cell (DSSC) juga memiliki kelemahan, yaitu masa hidup dye yang relatif singkat serta harga elektrolit yang cukup mahal [4,5]. Oleh karena itu, pengembangan sel surya dengan menggunakan material yang murah dan mudah diperoleh serta proses fabrikasi yang sederhana dan berbiaya rendah perlu dilakukan. Dalam studi terdahulu yang telah dilakukan oleh kelompok kami [2,3], diketahui bahwa material TiO2 dapat digunakan sebagai material aktif dalam sel surya. Hal ini disebabkan karena material TiO2 tersebut dapat mengabsorbsi panjang gelombang dalam rentang yang cukup lebar. Namun demikian, adanya proses rekombinasi elektron-hole pada permukaan TiO2 masih cukup dominan sehingga efisiensi sel surya yang diperoleh masih rendah. Oleh karena, dalam penelitian ini struktur baru sel surya TiO2 dikaji, dimana dilakukan penyisipan logam Cu pada ruang antar partikel TiO2 sehingga rekombinasi dapat dikurangi. Struktur sel surya yang dikembangkan dalam penelitian dapat dilihat pada Gambar 1. Adanya logam Cu, pada ruang antar partikel TiO2, diharapkan dapat menjadi saluran elektron dan mencegah terjadinya rekombinasi pada permukaan TiO2. Adapun mekanisme kerja dari sel surya yang dikembangkan, yaitu, apabila foton datang mengenai permukaan TiO2, maka elektron pada pita valensi tereksitasi menuju pita konduksi. Selanjutnya, elektron pada pita konduksi TiO2 mengalir ke kaca indium tin oxide melalui kontak logam (Cu) yang dibuat. Elektron kemudian mengalir melalui beban dan terakumulasi pada permukaan elektroda bantu. Elektron yang berada pada permukaan elektroda bantu akan diterima oleh elektrolit. Demikian proses ini berlangsung secara terus menerus hingga menghasilkan arus listrik yang konstan.

Gambar 1. Struktur sel surya yang dikembangkan.

Dengan demikian, tujuan penelitian ini adalah melakukan pengembangan sel surya berbasis material TiO2 melalui penyisipan logam tembaga (Cu) pada ruang antar partikel TiO2 sehingga efisiensi sel surya dapat meningkat. II. METODE Komposit TiO2 dibuat dengan mencampurkan TiO2 bubuk (Bratachem, Indonesia) dengan bubuk Cu pada gel polyvinil acetat. Setelah diaduk selama beberapa menit dan membentuk komposit yang cukup homogen, kemudian komposit TiO2 tersebut dideposisi di atas substrat kaca transparan konduktif (ITO) dengan metode doctor blade dan dibakar pada suhu 450°C selama 45 menit. Selanjutnya, film Cu/TiO2 tersebut dilapisi dengan polimer elektrolit, yang dibuat dengan metode sol gel, dan ditutup dengan elektroda aluminium sehingga membentuk struktur sandwich. Untuk mengetahui karakteristik morfologi film, yang dibuat, dilakukan karakterisasi dengan SEM, sedangkan

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

119

untuk mengetahui performansi sel surya yang dikembangkan dilakukan pengukuran arus-tegangan (IV) pada kondisi gelap dan terang. III. HASIL DAN DISKUSI Spektrum absorbsi film TiO2 yang dihasilkan dalam penelitian ini ditunjukkan oleh Gambar 2, dimana spektrum absorbsinya berada dalam rentang yang cukup lebar sehingga sangat potensial digunakan sebagai elektroda kerja. Rentang spekrum ini lebih lebar apabila dibandingkan dengan TiO2 murni [2]. Sel surya berbasis nanokomposit TiO2 yang dikembangkan, seperti desain pada pada Gambar 1, menggunakan kontak logam Cu sebagai jalur transfer elektron. Dimana logam tersebut dibuat menjadi nanokomposit bersama dengan TiO2 kemudian diprinting di atas substrat kaca konduktif transparan (ITO).
0.8

Menurut B. O’Regan dkk [3] bahwa ukuran ini cukup baik untuk elektron berdifusi serta efek scatering terjadi [6]. Selain itu, tampak adanya ruang antar partikel TiO2 (pori) yang cukup banyak sehingga memunkinkan untuk disisipi dengan material logam, misalnya Cu. Gambar 3(b) memperlihatkan adanya kontak antara partikel TiO2 dengan partikel Cu yang berukuran lebih besar. Adanya kontak antara kedua partikel ini diharapkan dapat mengurangi rekombinasi yang cukup dominan terjadi pada permukaan TiO2 [7-10]. Hal ini dapat dijelaskan melalui diagram pada Gambar 4.
a

Absorbance (a.u)

0.7

a dan b : Proses rekombinasi c : Menyumbangkan elektron d : Menyumbangkan hole

b
0.6

200

300

400

500

600

700

800

900

Panjang Gelombang (nm)

Gambar 2. Spektrum absorbsi material TiO2 yang digunakan.

Adanya kontak antara partikel TiO2 dan logam Cu dapat diamati melalui Scanning Electron Microscopy (SEM), seperti ditunjukkan pada Gambar 3(b).
Gambar 4. Peristiwa fotoeksitasi pada permukaan TiO2: (a) tanpa adanya kontak dengan logam Cu, dan (b) terdapat kontak dengan logam Cu.

a
TiO2
0.050

a
Pori
Current (mA) 0.040 0.030 0.020 0.010

Pin = 37.48 mW/cm2 FF = 0.35 η = 0.03%

1 µm

Pin = 4.39 mW/cm2 FF = 0.24 η = 0.05 %

b

TiO2

0.000 0 20 40 60 80 100 Voltage (mV)

0.500

b
Cu
Current (mA)

0.375

Pin = 37.48 mW/cm2 FF = 0.35 η = 0.39%

0.250

10 µm

0.125

Gambar 3. Hasil karakterisasi SEM: (a) TiO2 tanpa Cu, dan (b) TiO2 dengan Cu.

Pin = 4.39 mW/cm2 FF = 0.34 η = 0.37 %

0.000 0.0

0.2

0.4
Voltage (V)

0.6

0.8

Gambar 3(a) menunjukkan penampang lintang film TiO2 tanpa adanya logam Cu. Melalui gambar ini diketahui bahwa rata ukuran partikel TiO2 berada dalam orde 200 nm.

Gambar 5. Karakteristik IV sel surya: (a) TiO2 tanpa Cu, dan (b) TiO2 dengan Cu.

ISSN 0853-0823

120

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Gambar 4(a) menjelaskan tentang proses rekombinasi yang cukup dominan terjadi pada permukaan TiO2. Hal ini menyebabkan sel surya tanpa penyisipan logam menjadi rendah. Di sisi lain, Gambar 4(b) menunjukkan peristiwa eksitasi elektron yang diikuti peristiwa terperangkapnya elektron pada logam sehingga lebih negatif. Adanya fenomena ini tentu saja diharapkan dapat mengurangi rekombinasi elektron dan hole pada permukaan TiO2 [7-10]. Adanya peningkatan performa sel surya TiO2 dengan penambahan Cu dapat dilihat pada Gambar 5. Gambar 5(a) menggambarkan performa sel surya tanpa adanya tambahan logam Cu. Dimana efisiensi sel surya baik dalam keadaan gelap maupun terang terlihat masih sangat kecil yaitu sekitar 0.03% dan 0.05%. Di sisi lain, fill faktor sel surya juga masih rendah 0.24 dan 0.35. Hal ini kemungkinan besar disebabkan karena tingginya resistansi internal sel surya tersebut [5]. Di sisi lain, Gambar 5(b) menunjukkan performa sel surya dengan adanya tambahan logam Cu. Performa sel surya tersebut mengalami peningkatan dibandingkan hasil pada Gambar 5(a). Hal ini diduga kuat karena penurunan tingkat rekombinasi elektronhole karena adanya kontak antar partikel TiO2 dan logam Cu [7-10]. Akan tetapi, ukuran partikel Cu yang masih cukup besar (dalam orde mikron) menyebabkan intensitas foton tidak maksimal diserap oleh TiO2 Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sel surya, dengan TiO2 sebagai lapisan aktif dan jalur transfer elektron “cepat”, telah berhasil dibuat. Namun demikian, adanya resistansi internal yang masih tinggi diduga sebagai penyebab rendahnya efisiensi dan fill faktor sel surya yang dikembangkan. Untuk itu, perlu dilakukan beberapa optimasi, seperti banyak partikel Cu yang disisipkan, pori lapisan TiO2, untuk memperbaiki performa sel surya tersebut.

IV. KESIMPULAN Sel surya berbasis nanokomposit TiO2 telah berhasil dikembangkan melalui pembuatan kontak antara partikel TiO2 dan logam Cu. Hasil karakterisasi IV menunjukkan bahwa sel surya yang dikembangkan dalam penelitian ini lebih baik dibandingkan dengan sel surya tanpa adanya kontak antara TiO2 dan logam (Cu). UCAPAN TERIMA KASIH Penelitian ini didanai secara parsial oleh penelitian Hibah Doktor, Hibah Strategis Nasional dan Assahi Glass Foundation tahun anggaran 2010. PUSTAKA
[1] P. Joshi, Y. Xie, M. Ropp, D. Galipeau, S. Bailey and Q. Qiao, En. Environ. Sci. 2, 2009, 333–440. [2] M. Grätzel, J. of Photochem. and Photobio.: Photochem. Rev. 4, 2003, 145–153. [3] B. O'Regan and M. Grätzel, Nature 353, 1991, 737-740. [4] M. Abdullah, I. Nurmawarti, H. Subianto, Khairurrijal and H. Mahfudz, J. Nano Saintek. 3, 2010. [5] S. Saehana, Rita, Marina, M. Abdullah and Khairurrijal, The Thrd. Nanosci. and Nanotech. Symp., 2010, 23-26. [6] X. Bi-Tao, Z. Bao-Xue, B. Jing, Z. Qing, L. Yan-Biao, C. Wei-Min and C. Jun. Chinese Physics B, 17, 10,2008, 37143719. [7] A. L. Linsebigler, G. Lu and J.T. Yates, Jr., Chem. Rev. 95, 1995, 735-758. [8] V. Subramanian, E.E. Wolf and P.V. Kamat, J. Am. Chem. Cos. 2004 126, 2004, pp. 4943-4950. [9] V. Subramanian, E.E. Wolf and P.V. Kamat, J. Phys. Chem. B 105, 2001, pp. 11439-11446. [10] Z. HaiLing, Z. JunYing, W. TianMin, W. LiuGang, L. Xiang and H. BaiBiao, Sci. in China Ser. E: Tech. Sci. 52, 8, 2009, pp. 2175-2179.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

121

An Order-Disorder Transition in Soft-Mode Turbulence
Rinto Anugraha NQZ1, Yoshiki Hidaka2 and Shoichi Kai3
1 Physics Department, Gadjah Mada University, Bulaksumur Yogyakarta 2 Graduate School of Engineering, Kyushu University, Fukuoka, JAPAN Email: rinto@ugm.ac.id

Abstract – In the soft-mode turbulence which is a kind of spatiotemporal chaos generated by nonlinear interaction between the Nambu-Goldstone mode and the convective mode, an order-disorder transition is revealed by introducing an order parameter called pattern ordering. We found that the transition point equals to the Lifshitz frequency which separates between the oblique and the normal rolls. The order-disorder transition is due to the different type of nonlinear interaction in the oblique and the normal rolls. Keywords: electroconvection, homeotropic nematic, soft-mode turbulence, order-disorder transition fluctuations in the SMT therefore depend on the details of the interaction. The spatial fluctuations in the SMT are investigated using the spatial correlation function of the local wavevector q(r). Experimental results on the order– disorder transition of chaotic patterns in a nonequilibrium open system characterized by a newly defined order parameter called pattern ordering are reported. Due to the existence of the Goldstone mode in the SMT, it is interesting to compare the SMT with a well–known two-dimensional (2D) XY model, because the 2D XY model also possesses the Goldstone mode, and as a consequence no ordered state in the model is realized [6]. Nevertheless, the Kosterlitz–Thouless (KT) transition was discovered in the conventional 2D XY model [7, 8]. With respect to the dimension of systems as well as degree of freedom of variables, both the SMT and the conventional 2D XY model are similar, although the present study considers spatiotemporal chaos in a nonequilibrium open system. Therefore, research by analogy with the 2D XY model may be useful to understand the statistical properties of the SMT. II. EXPERIMENTAL In the present experiment, two sample cells were used, namely cell I (d = 50 ± 2 µm) and cell II (d = 51 ± 2 µm). Although the properties of both cells were slightly different, the results obtained from both were qualitatively the same. % The dielectric constant ε / / and the electric conductivity σ / / of the material in cell I (II) were 3.53 ± 0.05 (3.30 ± 0.10) and 3.3 ± 0.1 × 10–7 Ω–1m–1 (2.7 ± 0.1 × 10–7 Ω–1m–1), respectively. The images in the x–y plane were captured using a CCD camera (QImaging Retiga 2000R–Sy) mounted on a microscope and software (QCapture Pro v.5). The size of the captured images was 1.14 mm × 1.14 mm (1000 pixel × 1000 pixel). The image analysis was performed by custom software. By observing patterns with the change of frequency at the fixed normalized voltage ε = 0.05, the Lifshitz frequency fL for cell I and cell II is 380 Hz and 250 Hz, respectively. In the OR regime, some characteristic blacklines which are darker than the convective ones in the OR pattern are recognized. However, the blacklines cannot appear in the NR regime. Figures 1(a) and 1(b) show typical images in the OR regime observed below fL and the NR regime beyond fL, respectively.

I. INTRODUCTION Turbulence is a very common phenomenon and observed everywhere, mostly in fluid systems. Recently great development related to concept and classification of turbulence has been obtained, e.g. a new mathematical concept for chaos and detailed classification of turbulence such as fully-developed, weak, defect turbulence, spatiotemporal chaos (STC) and so on. The STC which is a spatially and temporally disordered structure is frequently observed in a typical nonequilibrium open systems such as electroconvection of nematic system [1]. Very recently, the soft-mode turbulence (SMT) which is a quite novel STC has been found in electroconvection in nematic liquid crystals of homeotropic system [2]. In the homeotropic system, below the critical threshold for convection Vc, there exists the so-called Fréedericksz transition at the voltage VF. Below the Fréedericksz transition point (V < VF), the director n is not tilted so that the continuous rotational symmetry is not broken. Beyond VF but below Vc, the director n is tilted. Since the continuous rotational symmetry is spontaneously broken, the C-director behaves as a Goldstone mode [3, 4]. There are two typical roll patterns in electroconvection of nematics, namely oblique rolls (OR) and normal rolls (NR) [5]. For the OR pattern, there are two roll patterns regarded as zig and zag. The zig and zag patterns can be represented by wavevector q1 and q2, respectively. Both the wavevectors q1 and q2 are not parallel but oblique (zig-zag) to a preferred direction such as x-axis, the C-director or an external magnetic field H. The angle between q1 or q2 and the preferred direction is nonzero. The wavevector q1 and q2 can be regarded as zig and zag, respectively. For the NR regime, the wavevector q is parallel to the preferred direction. Here, order-disorder transition in the SMT which is a type of spatiotemporal chaos observed in electroconvection of nematics is investigated. The SMT is induced by nonlinear interaction between the resulting convective mode q and the Goldstone mode C. Although the SMT appears in both regimes of the oblique rolls (OR) and the normal rolls (NR), the symmetry of the nonlinear interaction between the Goldstone mode and the convective mode is different in both regimes. Therefore, from the different symmetry of the interaction in the OR and the NR regimes, it can be easily expected that the properties of fluctuations between the OR and the NR regimes are also different. The properties of

ISSN 0853-0823

122

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

M = (1 / N )∑ cos(ϕi − ϕ ) ,
i =1

N

(3) (4)

where

ϕ = tan −1[∑ i sin ϕi / ∑ i cos ϕi ]

is averaged ϕi and N is the number of cites in the system.

Figure 1. Images of the SMT (ε = 0.1) in cell II in (a) the OR regime (f = 200 Hz) and (b) the NR regime (f = 1000 Hz). The spectra, which are calculated from (a) and (b), are shown in (c) and (d), respectively. Figure 2. Spatial correlation S(r) for the OR (circle) and the NR (rectangular) regimes for a fixed ε = 0.05, f = 300 Hz (OR), f = 500 Hz (NR). These data were taken from cell I. The thick lines are determined by the fitting (see text).

III. RESULTS AND DISCUSSION A spectrum shown in Figure 1(c) corresponding to Figure 1(a) indicates an isotropic property of the pattern in the OR regime. On the other hand, the anisotropic feature of the pattern shown in Figure 1(b) can be recognized both in the real image and in the 2D spectrum. Although the SMT patterns in the OR and the NR regimes can be distinguished qualitatively distinguish by seeing their spectra, more quantitative information is necessary for further discussion. The spatial correlation function S(r) is defined as S (r ) = cos 2[ϕ (r + r0 ) − ϕ (r0 )] r . (1)
0

The formula can be applied to pattern ordering, which can show the order of local wavevector q(r). Since the local wavevector q(r) vector has a symmetry with respect to ϕ – rotation (q(r) → – q(r) symmetry), the pattern ordering M p should be written as

M p = cos 2(ϕ − ϕ ) where

∫ = π

π /2

− /2

B (ϕ ) cos 2(ϕ − ϕ ) dϕ

Here, ϕ (r ) is the local azimuthal angle of the local wavevector. The angle ϕ (r ) is obtained by the local spectrum method [9]. The correlation function S(r) for patterns in the OR and the NR regimes by changing f (fixed ε) is shown in Figure 2. The data is fitted by the least mean square method to the function S (r ) = S∞ + (1 − S∞ ) exp(−r / ξ ) . (2) For the OR regime S∞ is equal to zero, and for the NR regime S∞ is finite. This can be interpreted as the absence of macroscopic order in the SMT patterns in the OR regime, but the order exists in the NR regime. However, the local spectrum method needs one arbitrary parameter, i.e., the clipped image size expressed as m. To avoid the obscurity in ϕ (r ) due to that, a new order parameter obtained directly from 2D spectra is introduced. Here, since the local wavevector q(r) can freely rotate and its norm is almost constant, it has the same degree of freedom as that in the 2D XY model. Therefore, the formula of magnetization in the 2D XY model can be applied to the present system. The magnetization in a discrete 2D XY model is defined as

∫π

π /2

− /2

B (ϕ ) dϕ

,

(5)

ϕ and B(ϕ ) are the spatial average and the

distribution function of ϕ (r ) , respectively. Using the similar expression with Eq. (4), the spatial average of the azimuthal angle is written as

ϕ

∫ ϕ B(ϕ ) dϕ . = ππ ∫ π B(ϕ ) dϕ
− /2 /2 − /2

π /2

(6)

For the experiment of the pattern ordering, 10 images of 1000 pixel × 1000 pixel in size and a resolution of 12 bits were captured for a fixed control parameter (ε = 0.1) and frequency. The pattern ordering for each image is calculated from Eq. (5). By averaging the pattern ordering from 10 2 images, M p is obtained. The frequency dependence of M p for fixed ε = 0.1 is shown in Figure 3. 2 Figure 3 shows that a transition from zero to nonzero M p occurs at a transition frequency ftr = 270 Hz, which is close to the above–mentioned Lifshitz frequency fL = 250 Hz. Here, the small difference between fL and ftr was due to the small difference in ε for each experiment that is ftr is equal to fL. Namely, M p = 0 for the OR regime, whereas M p ≠ 0

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

123

for the NR regime. This means the SMT patterns in the OR and NR regimes correspond to the paramagnetic and ferromagnetic phases, respectively. The transition of the SMT patterns from the NR regime to the OR regime can be regarded as a kind of order–disorder transition [10].

Figure 3. The square pattern ordering versus frequency f for the constant control parameter (ε = 0.1) measured in cell II.

To interpret the above result, the analogy between the SMT and the conventional 2D XY model is used. As mentioned above, the degree of freedom of the vector fields and the spatial dimension of the systems are the same. However, the causes of the disorders are different. The absence of long-range correlation in the conventional 2D XY model is caused by thermal fluctuations, whereas the disordered pattern in the OR regime in the present system is caused by the nonlinear interaction between the Goldstone mode and the convective mode. Therefore, it should be pointed out that the different mechanisms in the SMT and the 2D XY model lead to the different phenomena. Thus, in the present system, the Kosterlitz-Thouless transition does not occur, whereas an order–disorder transition is absent in the conventional 2D XY model. To understand the role of the nonlinear interaction in both regimes, the coupled equations of the convective amplitude and the local azimuthal angle α (r, t ) of C(r, t ) are used [11, 12]. For a simple case, a stationary solution of α in the spatially uniform case is considered. For the OR regime, there is no stationary solution of α due to the existence of uncompensated torque on the C–director. The torque generates global fluctuations in both the C–director and the q–wavevector through the nonlinear interaction between them. As a result, the anisotropy in the initial state is rapidly broken, and no long–range correlation exists. On the other hand, for the NR regime, there is a stationary solution, but it is unstable. It is thought that the instability causes the C– director to locally fluctuate around the initial direction. The local fluctuations may not completely break the initial anisotropy, and the wavelength of the fluctuations should be short. By observing the NR pattern and calculating M p for

one week, it is expected that the anisotropy of the NR pattern is kept eternally. The order in the NR regime is maintained due to the nonbreaking of anisotropy in the initial condition immediately after convection occurs. However, the anisotropy is kept in the present experimental system, because the correlation of C-director by thermal fluctuations decays very slowly. Actually, according to the Mermin-Wagner theorem [6], the existence of Goldstone mode in the Fréedericksz state makes C-director isotropic by thermal fluctuation. In the initial condition after Fréedericksz transition, C-director seems anisotropic. In the NR regime, since the characteristic wavelength of the excitation by the instability is small, the excitation relaxes to the direction which is selected by the Fréedericksz transition. Consequently, the fluctuation by the instability occurs around the "selected" direction, and the anisotropy cannot be broken. For more details of discussion, let's make an analogy for the SMT pattern in the NR regime with the pattern in the planar alignment. The spatially uniform solution has the uniform azimuthal angle of C-director α = 0. The C-director is parallel globally to the wavevector q. By the instability, α increases. In order to keep the convection, q follows the Cdirector. Due to the Carr-Helfrich effect, then C-director will comeback to the original position and followed by q. This activator-inhibitor mechanism will guarantee that C is parallel to q. This scenario can be adopted for the SMT in the NR regime. However in the SMT, the initial condition in convection state depends on that in the Fréedericksz state. The stationary α will be different in any point, but all of them also unstable. The same mechanism occurs as in the planar case; a little difference is the stationary α in the SMT will degenerate due to the spontaneously rotational symmetry breaking in Fréedericksz state. As a result of the same mechanism, the pattern ordering is finite in the NR regime. It is expected that this mechanism is responsible for the local fluctuation in the NR regime. For the SMT in the OR regime, there is no stationary solution for spatially uniform of α. The global fluctuation occurs; this situation gives no order for the SMT pattern in the OR regime. In final discussion, a comparison between the pattern ordering of the SMT in the NR regime and the magnetization of spin glass after removing magnetic fields is worth to be described here. After jumping the voltage to positive ε, a fast decay of the pattern ordering in the NR regime is observed. Beyond the relaxation time, the pattern ordering will be almost constant (with very small fluctuation) which is similar to remanent magnetization in spin glass [13]. The experimental measurement is done in this state. However, a slow decay of the magnetization in spin glass appears after the remanent magnetization, whereas that of the pattern ordering of the SMT in the NR regime is still difficult to be observed. For future research, it should be interesting to compare dynamics of the pattern ordering in the NR regime to that in spin glass.
IV. CONCLUSION

By introducing a new order parameter called pattern ordering M p for the soft–mode turbulence, which is caused by the nonlinear interaction between short wavelength mode

ISSN 0853-0823

124

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] [11] [12] [13] S. Kai, K. Hayashi, and Y. Hidaka, J. Phys. Chem. Vol. 100, 1996, pp. 19007. A. Hertrich, W. Decker, W. Pesch, and L. Kramer, J. Phys. II France Vol. 2, 1992, pp. 1915. M. I. Tribelsky and K. Tsuboi, Phys. Rev. Lett. Vol. 76, 1996, pp. 1631. W. Zimmermann and L. Kramer, Phys. Rev. Lett. Vol. 55, 1985, pp. 402. N. D. Mermin and H. Wagner, Phys. Rev. Lett. Vol. 17, 1966, pp. 1133. J. M. Kosterlitz and D. J. Thouless, J. Phys. C Vol. 6, 1973, pp. 1181. J. M. Kosterlitz, J. Phys. C Vol. 7, 1974, pp. 1046. K. Tamura, R. Anugraha, R. Matsuo, Y. Hidaka, and S. Kai, J. Phys. Soc. Jpn. Vol 75, 2006, pp. 063801. R. Anugraha, K. Tamura, Y. Hidaka, N. Oikawa, and S. Kai, Phys. Rev. Lett. Vol. 100, 2008, pp. 164503. A. G. Rossberg and L. Kramer, Phys. Scri. Vol. T67, 1996, pp. 121. A. G. Rossberg, A. Hertrich, L. Kramer, and W. Pesch, Phys. Rev. Lett. Vol. 76, 1996, pp. 4729. G. Parisi and F. Ritort, J. Phys. I France Vol. 3, 1993, pp. 969.

and Goldstone mode, a hidden order is found in the NR regime. Therefore, a new type of order–disorder transition from the OR regime to the NR regime for increasing applied frequency is revealed. The present transition is due to the change in the symmetry for the interaction between the short wavelength and the Goldstone mode. Generally, in order to investigate the behaviors of spin systems, consideration should be given not only to the dimensions of the systems and the degrees of freedom of the spin variables, but also to the properties of the fluctuating force.
ACKNOWLEDMENTS This research is partially supported by the funding from the Monbukagakusho, Japan. REFERENCES
[1] M. C. Cross and P. C. Hohenberg, Rev. Mod. Phys. Vol. 60, 1993, pp. 851.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

125

Assimetri Pergerakan Grup-Grup Sunspot di Lintang Utara dan Selatan Matahari pada Siklus Aktivitas Matahari Ke 22
Nanang Widodo
Stasiun Pengamat Dirgantara, LAPAN Watukosek P.O.Box 04 Gempol Pasuruan Telp(0343) 852311, 081333307090, Email: nang_widodo@yahoo.co.id Abstrak - Sunspot merupakan salah satu indikator aktivitas matahari. Pada awal siklus aktivitas matahari ditandai oleh munculnya sunspot di lintang tinggi sekitar 45oLU atau 45oLS. Selama dalam perjalanan evolusinya sunspot mengalami pergeseran posisi, sunspot dapat bergerak menuju ke kutub atau menuju ke ekuator. Pergerakan grup sunspot di fotosfer adalah implementasi bahwa ada aliran plasma. Plasma keluar dari fotosfer dipengaruhi oleh medan magnet khususnya di lapisan konvektif . Pergerakan grup sunspot dapat dinyatakan dalam vektor resultan, R = (+ bB, + l L). Dimana B menyatakan sumbu bujur dan L sumbu lintang matahari. Besar b adalah rata-rata selisih derajat bujur/hari, dan l adalah rata-rata selisih derajat lintang/hari. Data yang digunakan untuk analisis pergerakan grup sunspot adalah kelas H dan J (klasifikasi Zurich) di belahan Utaradan Selatan cakram matahari dari hasil pengamatan matahari SPD Watukosek dari tahun 1988 – 1997 (siklus ke 22). Hasil penelitian ini diperoleh informasi bahwa tidak semua grup sunspot di lintang tinggi bergerak menuju kutub dan grup sunspot di lintang rendah bergerak ke ekuator. Gerak grup sunspot di sekitar ekuator relatif lebih cepat dari pada gerak sunspot yang berada di lintang tinggi. Kecepatan grup sunspot di lintang utara dan selatan adalah relatif sama besar. Tetapi ada ketidak-simetrisan dalam arah gerak sunspot menuju ke kutub atau menuju ke ekuator.
Kata kunci: sunspot, lapisan konvektif, lintang Utara-Selatan matahari.

I.

PENDAHULUAN Aktivitas matahari yang ditandai oleh kemunculan sunspot di permukaan matahari mempunyai siklus 11 tahunan. Kemunculan sunspot di permukaan matahari dikendalikan oleh medan magnet matahari. Sirkulasi meridional matahari merupakan pola aliran masif di dalam matahari yang mengangkut plasma panas dekat permukaan dari ekuator matahari ke kutub dan kembali ke ekuator di lapisan konvektif, Gambar 1. menyerupai sabuk konveyor (conveyor belt), NASA, 2010.

medan magnet, seperti yang dilukiskan pada Gambar 2.

Gambar 2. Garis-garis medan magnet yang mengalami puntiran sehingga muncul keluar di fotosfer dan menghasilkan sunspot.

Gambar 1. Konsep sirkulasi meridional Matahari.(Sumber science@ NASA).

Akibatnya ada sebagian garis gaya magnet yang muncul ke permukaan dan mengakibatkan terjadinya polaritas positif dan negatif (preceeding dan following). Pengaruh dari rotasi matahari menyebabkan medan magnet mengalami puntiran sehingga terjadi ketidakstabilan struktur garis

Selain berotasi pada permukaan matahari (fotosfer) grup sunspot juga mengalami evolusi (lahir, berkembang dan tenggelam) [1]. Dalam perjalanan evolusinya, mayoritas grup sunspot mengalami perubahan citra sunspotnya. Berdasarkan citra tersebut, grup sunspot diklasifikasikan dalam kategori kelas A, B, C, D, E, F, G, H dan J menurut klasifikasi Zurich. Widodo melakukan pemodelan rotasi diferensial sunspot untuk sunspot yang berada di lintang utara pada siklus aktivitas matahari ke 22, [2]. Dalam

ISSN 0853-0823

126

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

perjalanan evolusinya, posisi grup sunspot (bujur dan lintang) diukur pada pusat (antara daerah polarisasi negatif dan positif) dari grup sunspot,
http://www.sciencenetlinks.com/pdfs/sunspots3_actsheet2.pdf

Pada penelitian ini, penulis akan menganalisis pergerakan grup sunspot selama evolusi diwakili dalam vektor resultan. Arah vektor resultan memproyeksikan arah bujur dan lintang. Dengan bantuan program IDL, diperoleh pengukuran posisi grup sunspot secera presisi pada arah Bujur dan Lintang, sesuai besaran oP, oB dan oL pada hari pengamatan [3]. II. DATA OBSERVASI DAN METODOLOGI PENELITIAN Pengamatan harian aktivitas matahari (khususnya sunspot) dilakukan secara rutin di Stasiun Pengamat Dirgantara LAPAN Watukosek dari tahun 1987 hingga sekarang. Data sunspot yang digunakan pada penelitian ini adalah data sunspot ke 22 (tahun 1987 s/d 1996). Grup-grup sunspot yang diambil sebagai sampling adalah kelas G, H dan atau J (klasifikasi Zurich). Alasan pemilihan grup sunspot untuk kelas-kelas di atas adalah citra umbra dan penumbranya mempunyai bentuk yang relatif stabil, sehingga akan lebih mudah untuk dilakukan tracking posisi grup sunspot. Berikut ini contoh sunspot yang berotasi dari timur ke barat selama 5 hari amatan dan berevolusi pada kelas J, seperti Gambar 3.

Metodologi Penelitian Berikut ini beberapa tahapan metodologi dalam penelitian ini antara lain: 1. Mengamati evolusi grup sunspot secara digital dan citra. 2. Mengukur posisi sunspot oB dan oL dengan program IDL 3. Mengukur ∆b dan ∆l selama evolusi sunspot. 4. Mengukur ∆b dan ∆l selama evolusi sunspot. 5. Menggambarkan vektor rata-rata pergerakan sunspot/hari. 6. Analisis pergerakan sunspot dalam selang 5oL. 7. Memodelkan pergerakan grup sunspot dalam vektor dua arah yaitu derajad bujur (oB) dan derajad lintang (oL). Perubahan posisi grup sunspot secara harian dalam arah (oB, oL), dapat diartikan sebagai pergerakan vektor r1,  r2, . . ., rn (dalam pasangan koordinat oB, oL) dengan n = lama evolusi grup sunspot (satuan hari), k = konstanta vektor. Howard menyatakan kombinasi linier dari beberapa vektor ri dinyatakan sebagai vektor resultan R, R(boB, loL), persamaan (1), [5]. R = k1 r1 + k2 r2 + …. + kn rn (1)

Supaya didapatkan satu besaran yang mewakili arah gerak grup sunspot dalam suatu evolusi, akan dihitung rata-rata selisih derajat bujur/hari ( ∆b ) dan rata-rata selisih derajat lintang/hari (+ ∆l ). Tanda (+) berarti vektor ri condong ke arah ekuator, sedangkan tanda (-) berarti vektor ri condong ke arah kutub. Selisih derajat bujur, (∆b), Tabel 1, kolom 2 diperoleh dari bi+1 dikurangi bi, dan rata-rata selisih derajat bujur ( ∆b ) yang dituliskan dalam persamaan (2).

∆bi = bi − bi +1 ; ∆b

∑b
=
i =1

n

i

n −1

 

(2)

Selisih derajat lintang, (∆l) Tabel 1, kolom 5 diperoleh dari li+1 dikurangi li, dan rata-rata selish derajat lintang ( ∆l ) yang dituliskan dalam persamaan (3)

 

∆l i = l i − l i +1 ; ∆l =

∑l
i =1

n

i

n −1

(3)

Gambar 3. Contoh evolusi sunspot dari timur ke barat, dari sunspot di lintang selatan.

Chiu menyatakan bahwa pada awal siklus, sunspot sering muncul dekat 30-35 oLU (Lintang Utara) atau oLS (Lintang Selatan) hemisfer matahari [4]. Sedangkan data hasil pengamatan sunspot dari SPD Watukosek didapatkan sunspot yang muncul pada awal siklus sampai pada ketinggian 40-45 oLU dan oLS. Data tersebut dibagi dalam dua bagian yaitu grup sunspot di lintang utara sebanyak 163 data dan grup sunspot di lintang selatan sebanyak 240 data. Evolusi grup sunspot yang dipilih adalah yang berdurasi antara 3 – 13 hari amatan.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN Karena evolusi setiap grup sunspot mempunyai durasi waktu yang berbeda, maka untuk mendapatkan infomasi secara umum arah pergerakan grup sunspot akan dihitung rata-rata selisih oB/hari dituliskan persamaan (2), dan ratarata selisih oL/hari persamaan (3). Selama evolusi grup sunpsot no 318 ini berada pada posisi rata-rata = 21,45 oL dan condong ke ekuator sebesar 0.16 oL, Gambar 4. Hasil perhitungan persamaan (2) dan (3) dimasukkan dalam kolom 3 dan kolom 6, Tabel 1.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY TABEL 1.CONTOH PENGUKURAN POSISI GRUP SUNSPOT NO 318 TANGGAL 1-6 AGUSTUS 1990 bi 77.47 62.20 49.02 34.5 23.45 11.57 b 15.27 13.18 14.52 11.05 11.88

127

∆b

li 21.34 21.66 21.97 22.58 20.88 20.54

l -0.32 -0.31 -0.61 1.70 0.34

∆l

13.18

0.16

selatan, yang berada di daerah 0.00 – 25.00 oL menunjukkan semakin tinggi lintangnya semakin lama waktu 1 kali rotasinya. Adanya penyimpangan, dari teori bahwa waktu 1 kali rotasi dari sunspot di lintang tinggi lebih cepat, disebabkan data grup sunspot sangat sedikit, sehingga bila ada kesalahan dalam mengukur posisi akan berakibat penyimpangan besar kecepatan rotasinya [6]. Dalam pengamatan rotasi, peneliti menyimpulkan bahwa sunspot di sekitar ekuator perlu waktu 25 hari untuk satu kali rotasi. Sunspot pada ketinggian lintang 30 oL (utara atau selatan) membutuhkan waktu rotasi 27,5 hari. Sedangkan sunspot yang mendekati kutub 75 oL membutuhkan waktu rotasi sekitar 33 hari, [6]. IV. KESIMPULAN Pada tabel 2, kolom 4 dan 7 sunspot di daerah 0.0 – 25.0 L dari lintang utara maupun lintang selatan diperoleh hasil bahwa semakin tinggi posisi sunspot gerak rotasi sunspotnya lebih lambat atau lama rotasi lebih panjang. Pada lintang tinggi 30,0 – 40,0, sunspot dari lintang utara dan menunjukkan ketidak-simetrisan yang signifikan dalam hal kecepatan gerak sunspot oB/hari dan pergeseran arah lintang o L/hari. Secara fisis, fenomena tersebut disebabkan dorongan plasma yang dipengaruhi oleh garis-garis medan magnet di lapisan konvektif matahari. Berdasarkan analisis evolusi posisi grup-grup sunspot dari vector resultan R(oB, oL) menunjukkan secara global topografi pergerakan grup sunspot dari lintang utara dan selatan, halini mendukung pernyataan teori rotasi diferensial sunspot [7]. Dengan diketahui vector resultan R(oB, oL) dari sunspot pada siklus aktivitas matahari ke 22 ini dan diketahui beberapa indikator fisis citra sunspot [1], maka dapat diperkiraan posisi munculnya grup sunspot pada hari berikutnya secara tepat.
o

Gambar 4. Perubahan posisi grup sunspot no 318 dari tgl 1-6 Agustus 1990, sumbu X (=oB) vs sumbu Y (=oL).

Berdasarkan pengamatan harian, suatu grup sunspot tidak akan bergerak lebih dari 5 derajat lintang, kolom 1 Tabel 2. Kolom 3 dan kolom 6, tanda (-) berarti vektor ri condong ke arah kutub dan sebaliknya tanda (+) berarti vektor ri condong ke arah ekuator. Analisis lintang Utara, sunspot yang berada di daerah 0.00 – 30.00 menunjukkan semakin tinggi lintangnya semakin lama waktu 1 kali rotasinya. Sedangkan pada daerah 30.01 – 40.00 oL waktu 1 kali rotasi sedikit lebih cepat dibandingkan daerah 25.00-30.00 oL Analisis lintang

TABEL 2. HASIL ANALISIS PERGERAKAN GRUP SUNSPOT ARAH BUJUR DAN LINTANG DARI SUNSPOT DI LINTANG UTARA DAN SELATAN. Utara Selang
o

Selatan Lama rotasi (hari) 26.67 27.11 27.35 28.01 28.16 28.48 27.99 27.80 31.33 Arah R (oB, oL) rata-rata rata-rata Lama rotasi (hari) 26.73 27.09 27.42 28,13 28.10 30.43 29.08 28.35 31.33 Arah R (oB, oL)

rata-rata

rata-rata

L

∆oB/day
13.5 13.28 13.16 12.85 12.78 12.64 12.86 12.95 11.49

∆oL/day
0.08 -0.02 -0.03 0.04 0.16 0.08 0.25 0.16 -0.02

∆oB/day
13.52 13.29 13.13 12.8 12.81 11.83 12.38 12.7 11.49

∆oL/day
-0.04 0.04 0.02 0.07 0.05 -0.12 0.07 -0.01 -0.02

0.00 – 5.00 5.01–10.00 10.01-15.00 15.01–20.00 20.01-25.00 25.01–30.00 30.01-35.00 35.01–40.00 40.01-

ISSN 0853-0823

128

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY [5] A. Howard. Elementary Linear Algebra” Anton Textbooks Inc, Fifth Edition, 1987, diterjemahkan oleh Pantur Silaban, ITB, Penerbit Erlangga. [6] J.K.William. Exploration of the solar system. Macmillan Publising Co.Inc, Newyork, 1978. [7] N. Widodo. Analisis pergerakan grup sunspot pada arah bujur dan lintang matahari menggunakan data sunspot siklus ke 22 dari LAPAN Watukosek. Prosiding Seminar Sains Antariksa V, DRNPuspitek Serpong. Tangerang, 15 Nop 2010, (dalam proses penerbitan). Conveyor belt, http://science.nasa.gov/headlines/y2010/image/conveyorbelt/convey orbelt.jpg, diakses tgl 4 Oktober 2010 Solar rotation, http://en.wikipedia.org/wiki/Solar_rotation",diakses tanggal 13 Maret 2010 Tracking the Movement of sunspots, http://www.sciencenetlinks.com/pdfs/sunspots3_actsheet2.pdf, diakses tgl 11 Okt. 2010

PUSTAKA
[1] N Widodo. Analisis evolusi grup sunspot SPD LAPAN Watukosek untuk memperoleh indicator kemunculan flare. Jurnal Sains Dirgantara, LAPAN Vol 4, No 1. Desember 2006, ISSN : 1412808X. [2] N. Widodo. Pemodelan kurva rotasi diferensial surya dari sunspot di belahan utara matahari pada siklus ke 22, data pengamatan SPD LAPAN Watukosek. Prosiding Seminar Nasional Matematika IV, Jur. Matematika FMIPA ITS. Surabaya 13 Desember 2008, hal 131 - 139, ISBN: 978-979-96152 [3] S. Bambang. Solar Observation Procedures to obtain the Watukosek White Light Solar ASCII Data for Statistical Space Warnings, ITB Research Centre on ICT (Information & Communication Technology), 2007, p 101. [4] Chiu Hung-yu The relationship between sunspot activity and the several of the sun’s magnetic polarity. 2010, Hong Kong Observatory.

 

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

129

Pengujiaan dan Pengembangan Akuisisi Data Extensometer Untuk Monitoring Kondisi Lereng
Andi Setiono, Prabowo Puranto dan Bambang Widiyatmoko
Group THz-Photonics, Puat Penelitian Fisika –LIPI Komplek PUSPIPTEK, Setu Tangerang Selatan Email : andisetiono@gmail.com

Abstrak – Bencana tanah longsor merupakan bencana alam yang cukup sering terjadi di Indonesia dimana bencana ini tidak

jarang memakan korban baik jiwa maupun harta dalam jumlah yang tidak sedikit. Tanah longsor adalah peristiwa gerakan tanah atau batuan dalam jumlah massa tertentu dengan berbagai tipe dan jenis seperti longsoran translasi, longsoran rotasi, dan rayapan tanah. Tanah longsor dapat terjadi jika gaya pendorong pada lereng lebih besar dari gaya penahan. Gaya pendorong diakibatkan oleh besarnya sudut kemiringan lereng, kandungan air, beban serta berat jenis tanah batuan. Sedangkan penyebab gaya penahan adalah kekuatan batuan dan kepadatan tanah. Melihat kondisi yang demikian maka sangat dibutuhkan alat deteksi longsor guna meminimalisir korban yang diakibatkan oleh bencana tanah longsor. Telah dibuat dan diujicoba sistem exstensometer yaitu perangkat elektronik yang berfungsi sebagai sensor untuk mendeteksi pergeseran tanah dalam orde millimeter beserta sistem akusisi data. Karakterisasi sensor dilakukan dengan mengukur perubahan tegangan luaran terhadap pergeseran yang diberikan. Dari hasil pengukuran diperoleh sensitivitas ekstensometer rata-rata sebesar 105,24 mV. Sistem ini telah diujicoba di Karangsambung, Kebumen dengan memasang titik reference dan titik bergerak yang berjarak 30 m. Data yang terekam selama 5 hari yaitu tanggal pada 20 s/d 24 November 2010 menunjukkan bahwa tidak terjadi pergeseran tanah dalam daerah yang diujicobakan. Sistem akuisisi data dikembangkan dengan memberikan sistem transmisi data melalui jaringan GSM dalam bentuk SMS.
Kata kunci : ekstensometer, akuisisi data, tanah longsor.

I. PENDAHULUAN Indonesia merupakan Negara yang dijuluki “zamrud khatulistiwa” hanya memiliki 2 musim dalam satu tahun yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Bentuk geografis yang berupa pegunungan dan perbukitan menimbulkan ancaman bencana tanah longsor, selain bencana-bencana lain yang tidak jarang terjadi seperti banjir, gunung meletus, gempa bumi sampai dengan ancaman Tsunami. Bencana tanah longsor merupakan bencana alam yang cukup sering terjadi di Indonesia, khususnya pada musim penghujan dimana bencana ini tidak jarang memakan korban baik jiwa maupun harta dalam jumlah yang tidak sedikit. Minimalisasi korban dapat dilakukan bila perubahan alam tersebut dapat diprediksi secara akurat dengan sistem monitoring yang berkelanjutan. Sistem monitoring membutuhkan sistem akuisisi data yang memuat data-data mengenai faktor penyebab bencana. Namun demikian beberapa permasalahan diantaranya adalah masih mahalnya peralatan untuk mengukur dan menganalisa serta memantau kejadian tersebut dan belum ada yang dapat dibuat sendiri sehingga tidak banyak dipasang di Indonesia, khususnya daerah-daerah yang sebetulnya sangat memerlukan peralatan tersebut. Berkaitan dengan hal tersebut diatas, Group Terahertz Photonics Pusat Penelitian Fisika LIPI merancang sistem data akuisisi yang dimaksudkan untuk keperluan monitoring kondisi lereng di Indonesia. Group Terahertz Photonics telah mengembangkan sensor strain tanah berbasis fiber bragg grating [1]. Beberapa sensor pergeseran diantaranya adalah ekstensometer berbasis elektronik dan optik, serta inklinometer yang berfungsi untuk mendeteksi kemiringan

tanah. Penelitian ini fokus pada parameter pergeseran tanah yang dihasilkan dari ekstensometer elektronik. Ekstensometer elektronik adalah perangkat elektronika yang berfungsi untuk menghasilkan parameter pergeseran tanah. Ekstensometer ini menggunakan potensiometer multitone sebagai komponen utama, disertai rangkaian penguat dan pengkondisian sinyal. Dengan mekanik roda dan pegas pembalik, gerakan radial potensiometer dikonversi menjadi gerakan translasi oleh seutas tali pancing. Tali ini kemudian diikatkan pada tiang pancang diatas lereng yang akan dimonitor/dipantau pergerakan tanahnya. Foto ekstensometer elektronik ditunjukkan pada gambar 1.

Gambar 1. Foto ekstensometer elektronik

Selain beberapa sensor yang telah disebutkan diatas, Group Terahertz Photonic juga telah merancang sistem akuisisi data berupa data logger berbasis mikrokontroler Atmega32 (ditunjukkan pada gambar 2). Parameter pergeseran tanah diakuisisi oleh data logger dengan cara menyimpannya di dalam memory card.

ISSN 0853-0823

130

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

EKSTENSOMETER

DATA LOGGER

MODEM GSM

HANDPHONE

Gambar 4. Blok diagram sistem monitoring data

Gambar 2. Foto data logger sebagai sistem akuisisi data

Data logger ini dapat menambahkan sistem transmisi mengenai pergeseran tanah dapat GSM dalam bentuk SMS. SMS logger diterima oleh handphone. II. METODOLOGI

dikembangkan dengan GSM dimana data-data dikirim melalui jaringan yang dikirim oleh data

Sistem telemetri adalah sebuah teknologi yang memungkinkan untuk melakukan pengukuran jarak jauh dan mengumpulkan informasi tertentu [2], dalam hal ini data pergeseran tanah. Mikrokontroler Atmega32 yang menjadi “roh” data logger mengirimkan data ke modem GSM melalui komunikasi RS232. IC MAX232 merupakan chip yang sangat popular sebagai solusi interface RS-232 [3]. Secara teknis, data yang diberikan berupa AT Command yang diikuti nomor tujuan dan isi pesan yang dikirimkan. III. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa prinsip kerja data logger ini mendeteksi perubahan tegangan keluaran sensor. Prinsip ini sama dengan prinsip kerja dalam voltmeter. Kenaikan tegangan keluaran sensor diatur oleh mikrometer dengan range pergeseran tiap 1 mm. Hasil perbandingan pembacaan tegangan keluaran sensor ekstensometer oleh data logger dan multimeter ditunjukkan oleh grafik pada gambar 5. Melihat kedua gambar grafik tersebut, terlihat bahwa kedua persamaan memiliki gradient kemiringan yang hampir sama, yaitu 0,098 dan 0,097. Hal ini mengindikasikan bahwa sistem akuisisi ini memiliki kemampuan pembacaan yang cukup baik.

Penelitian ini menggunakan sistem akuisisi berupa data logger yang bekerja dengan cara mendeteksi perubahan tegangan sensor. Dalam hal ini sensor yang digunakan adalah ekstensometer elektronik. Di dalam laboratorium, ekstensometer dihubungkan titik acuan yang dapat digeser menggunakan mikrometer. Dengan menggunakan mikrometer maka pergeseran tali pada ekstensometer dapat diatur secara presisi. Pengujian sistem akuisisi data dilakukan dengan cara membandingkan hasil pembacaan data logger dengan hasil pembacaan multimeter karena pada prinsipnya cara kerja data logger sama dengan voltmeter. Multimeter yang digunakan tentunya yang sudah terkalibrasi. Skema pengujian ini ditunjukkan seperti gambar 3.

DATA LOGGER

MIKROMETER

EKSTENSOMETER

MULTIMETER

Gambar 3. Skema pengujian sistem akuisisi data

Implementasi dari sistem data akuisisi ini adalah pemantauan kondisi lereng. Konsekuensinya adalah akses mendapatkan data rekaman data menjadi sulit walaupun masih bisa dijangkau. Seperti yang sudah dijelaskan bahwa data yang diakusisi disimpan dalam memory card yang tertanam dalam data logger. Oleh karena itu pengembangan selanjutnya adalah pengiriman data jarak jauh (telemetri). Group Terahertz Photonics merancang pengiriman data jarak jauh melalui jaringan GSM. Prinsip kerjanya, data dikirim dalam bentuk SMS ke handphone selain disimpan dalam memory card. Blok diagram sistem monitoring data ditunjukkan pada gambar 4.

Gambar 5. Gambar grafik perbandingan pembacaan ekstensometer oleh data logger dan multimeter

Sistem telemetri memudahkan pengguna untuk mendapatkan data. Dengan demikian monitoring pergeseran tanah dapat dilakukan melalui jarak jauh. Analisis data perlu dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya potensi bencana

ISSN 0853-0823

\

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

131

tanah longsor. Foto bentuk SMS yang diterima melalui handphone ditunjukkan pada gambar 5.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN Pada penelitian ini telah diujicoba sistem akuisisi data untuk monitoring kondisi lereng. Sistem ini mampu membaca pergeseran tanah dari ekstensometer elektronik dalam orde milimeter. Berdasarkan pengujian lapangan di daerah karangsambung selama 5 hari yaitu tanggal pada 20 s/d 24 November 2010 menunjukkan bahwa tidak terjadi pergeseran tanah. Penelitian perlu dikembangkan lagi terutama pada sistem telemetri. Solusi SMS gateway akan mejadi fitur yang memudahkan untuk melihat kondisi lereng melalui sistem online. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Group Terahertz Photonic yang telah banyak membantu terlaksananya penelitian ini. Penelitian ini didanai oleh DIPA Pusat Penelitian Fisika LIPI dan Kompetitif LIPI. PUSTAKA
[1] Widiyatmoko, Bambang; Tresna, Wildan P; Hanto, Dwi; Puranto, Prabowo. Pengembangan Sensor Strain Tanah Berbasis Fiber Bragg Grating untuk Deteksi Longsor. Prosiding Seminar Nasional Astechnova Vol 1 pp III41-48. 2009. [2] Barculo, Diana.. Telemetry: Research, Technology and Applications. Nova Science Publishers, 2009. [3] J. Axelson. The Microcontroller Idea Book : Circuits, Programs, & Applications featuring the 8052 BASIC Microcontroller. Lakeview Research. Madison, 1997.

Gambar 5. Foto bentuk SMS yang diterima

Sistem akusisi data ini telah diuji coba di daerah Karangsambung, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Gambar grafik yang didapatkan dari kondisi lapangan ditunjukkan pada gambar 6. Berdasarkan grafik tersebut, data yang terekam selama 5 hari yaitu tanggal pada 20 s/d 24 November 2010 menunjukkan bahwa tidak terjadi pergeseran tanah dalam daerah yang diujicobakan.

Gambar 6. Bentuk grafik data lapangan di Karangsambung

ISSN 0853-0823

132

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Geofisika Bagian Dari Geosains Dalam Eksplorasi Sumber Daya Alam
Sismanto
Geofisika UGM, Jogjakarta sismanto@ugm.ac.id Abstrak - Geofisika merupakan bagian dari ilmu geosain, geosain menurut Bath terbagi atas empat bagian: geodesi, geografi, geologi, dan Geofisika. Banyak metoda geofisika seringkali digunakan untuk eksplorasi bahan-bahan tambang yang beasosiasi dengan batuan beku, metamorf, ataupun sediment, di antaranya adalah metoda geolistrik beserta variasinya, elektromagnetik dengan berbagai metode, dan magnetik. Pada umumnya, hasil survey metoda geofisika mampu memberikan informasi yang berupa posisi (x,y,z), dimensi, dan sifat fisis dari medium target yang menjadi sasaran penelitian, khususnya daerah anomali yang berbeda karakteristik fisisnya dari lingkungannya. Metoda geofisika mampu bekerja dengan baik apabila di daerah penelitian terdapat kontras besaran fisis yang cukup signifikan antara medium target terhadap medium lingkungannya. Dari informasi geologis dapat diperkirakan adanya kontras besaran fisis yang kemudian dapat ditentukan metoda geofisika yang tepat untuk mengkaji lebih jauh posisi, dimensi dan sifat fisis sumber anomalinya. Sebagai contoh metoda geolistrik dan elektromagnetik VLF akan tepat digunakan pada daerah penelitian dengan target yang mempunyai kontras resistivitas/ konduktivitas cukup kuat terhadap medium lingkungannya. Metoda magnetik pada daerah yang memiliki kontras suseptibilitas dan seterusnya. Dalam tulisan ini, akan disampaikan pokok-pokok kerja dan filosofi metode geofisika yang kerap digunakan sebagai alat bantu eksplorasi bahan-bahan tambang sulfida logam. Kata Kunci: Metode Geofisika

I. PENDAHULUAN Geofisika merupakan bagian dari ilmu geosain, geosain menurut Bath [1] terbagi atas empat bagian: geodesi, geografi, geologi, dan geofisika seperti yang sketsakan pada Gambar 1. Sedangkan menurut PACS (Physics and Astronomy Classificationb Scheme) yang dibuat oleh American Institute of Physics (AIP), Geofisika dibagi menjadi Solid Earth Physics (91), Hydrospherics and Atmoshperics Geophysics (92), Geophysical Observations, Instrumentation, and Techniques (93), Physics of the Ionosphere and Magnetosphere (94) dan Solar System; Planetology. Di dalam bagian tersebut terdapat berbagai bidang ilmu lagi yang jumlahnya mencapai seratus bidang lebih (www.aip.org/pacs). Kembali pada pembagian Bath yang sederhana, geofisika sendiri terbagi atas: geokosmofisika, meteorologi, oseanografi, hidrologi, dan fisika bumi padat. Fisika bumi padat ini dibagi atas: seismologi, vulkanologi, geomagnetisma, geolistrik, tektonofisika, gravimetrik, geokosmologi, geotermi, dan geokronologi. Geologi sendiri mempelajari keadaan permukaan bumi dengan mengadakan ekstrapolasi ke hal-hal di bawah permukaan bumi secara dugaan empiris/logis, sedangkan geofisika justru mempelajari segala sesuatu yang ada di bawah permukaan bumi yang tidak dapat dilihat dengan mata, dengan memakai alat-alat fisika yang ditempatkan di atas permukaan bumi. Hal ini berarti, bagi geofisikawan bumi merupakan sebuah kotak hitam (black box) yang ingin diketahui apa yang ada di dalamnya dengan mengukur sinyal-sinyal yang dengan sendirinya keluar dari kotak tersebut, misalnya gaya berat (pasif), atau dimasukannya sebuah sinyal ke dalam bumi (aktif) [2]. Demikian pula halnya dengan pencarian bahan-bahan tambang di lapangan, metode geofisika bekerja memanfaatkan prinsip aktif dengan cara mengukur dan mengevaluasi hasil ukur untuk dicari perubahan-perubahan sinyal yang signifikan.

Di dalam geofisika semua pengaruh lingkungan medium bumi (baik yang di dalam maupun yang di luar bumi) turut terukur oleh alat ukur sesuai dengan kadarnya masing-masing. Sehingga harus diadakan pemrosesan data yang sangat seksama untuk membuang gangguan-gangguan yang tidak relevan terhadap target studi. Kalau variable yang akan dikaji adalah sinyal, maka variable yang mengganggu adalah noise. Sehingga sebelum dilakukan interpretasi dan kesimpulan perlu dilakukan koreksi atau memperbaiki sinyal to noise ratio, sudah tentu semakin besar signal to noise ratio semakin baik semakin menonjol informasi target yang akan dikaji [3]. Interpretasi data hasil pengukuran di lapangan secara geologis merupakan tujuan dan produk akhir dari pekerjaan eksplorasi. Interpretasi yang dimaksud adalah menentukan posisi anomali, dimensi, dan ukuran atau memperkirakan arti geologis anomali target tersebut melalui data pengukuran. Sering interpretasi juga termasuk reduksi data, pemilihan dan pemrosesan data tertentu, serta lokalisasi target yang akan dicari. Interpretasi tidak bisa dinilai benar atau salah, karena keadaan geologi sesungguhnya tidak ada yang tahu. Interpretasi hanya bisa diuji mengenai konsistensinya dari suatu data/ fenomena/ pernyataan ke data/ fenomena/ pernyataan berikutnya atau ke lainnya. Apabila trend data/polanya tersebar secara random atau tidak konsisten, sehingga menyulitkan penelusuran konsistensinya dalam menginterpretasi, maka sebagai seorang interpreter harus dapat membuat kemungkinankemungkinan yang masih dapat konsisten dengan data lainnya. Tetapi biasanya hanya satu interpretasi saja yang diminta, oleh karena itu ia harus dapat dan berani menarik satu kemungkinan/kebolehjadian/ kesimpulan yang paling besar peluangnya dan yang paling dapat di pertanggungjawab-kan berdasarkan data yang ada. Karenanya seorang interpreter harus optimis dan yakin akan pekerjaannya.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

133

Geodesy Geocosmophysics (ionospheric research)

Seismology Geoelectricity Geomagnetism Volcanology

Geoscience

Geophysics

Meteorology Oceanography

Tectonophysics Gravimetry Geothermy

Geography Hydrology Solid-earth physics Geology

Geocosmogony Geochronology

Gambar 1. Tempat geofisika di dalam geosain secara skematik [1]. Subdivision of solid-earth geophysics: 1. Seismology: earthquake, seismic exploration. 2. Volcanology (also part of geology): Volcanoes, hot springs, etc. 3. Geomagnetism: the magnetic field of the earth. 4. Geoelectricity: the electrical properties of the earth. 5. Tectonophysics (common with geology): physics applied to geological processes. 6. Gravimetry (also part of geodesy): measurement of gravity and its interpretation. 7. Geothermy: The temperature condition in the earth’s interior. 8. Geocosmogony: the origin of the earth. 9. Geochronology: the dating of events in the earth’s history.

II. GEOFISIKA Geofisika adalah ilmu yang mengunakan metode fisika untuk mempelajari bumi (isi dan lingkungan bumi serta interaksinya, baik kondisi statik dan dinamikanya). Salah satu metode fisika yang dipakai geofisika sebagai dasar untuk mempelajari struktur bawah permukaan bumi dan penerapannya, besaran fisisnya yang diukur dan sumber penyebab anomalinya [2] disajikan pada Tabel 1, seperti metode getaran/gelombang elastic yang dikenal dengan metode seismic, gravitasi, resistivity, magnetic, elektromagnetik, panas, dan radioaktivitas. Yang dimaksud dengan struktur bawah permukaan bumi meliputi sistem perlapisan bumi sampai dengan kedalaman kurang dari 10 km yang banyak mengandung sumberdaya alam, seperti minyak dan gas bumi, bahan-bahan tambang baik yang dangkal maupun dalam. Sedangkan struktur bumi dengan kedalaman lebih besar dari 10 km atau bahkan sampai dengan inti bumi yang panas dan dinamis merupakan penyebab gerakan-gerakan kulit bumi. Gerakan tersebut bahkan mampu sampai menggoyangkan kulit bumi dengan kuat sebagai gempabumi dan menimbulkan aktivitas bencana gunungapi, tsunami, tanah longsor dan lain sebagainya yang sangat mempengaruhi pola lingkungan hidup di dunia.

Dalam mempelajari struktur bawah permukaan bumi, geofisika mempunyai tahapan-tahapan sistematik ilmiah yang meliputi: A. Rancangan Survey Rancangan survey adalah perencanaan sistematis semua aktivitas, sasaran, alat-alat utama dan alat bantu yang akan digunakan lengkap dengan spesifikasinya, jadwal, kebutuhan logistic yang sesuai dengan lapangan daerah survey, pembiayaan dan sebagainya yang berkaitan dengan aspek keamanan, keselamatan, kesehatan, keberhasilan survey dan jaminan mutu proses dan hasilnya. B. Pengumpulan Data Pengumpulan data adalah pengukuran besaran-besaran fisika di lapangan yang jenis, akurasi, dan keluarannya sesuai dengan rancangan sasaran dan spesifikasi semula. Data tersebut diukur pada titik ukur yang posisinya harus ditentukan juga dengan akurat dengan menggunakan alat ukur posisi yang presisi, dengan menggunakan Global Positioning System (GPS). Karena pada umumnya data geofisika juga merupakan fungsi waktu, maka pengukuran waktu saat mengukur juga harus direkam secara akurat, dan kadang-kadang malah harus disinkronisasi secara presisi dengan waktu universal (Universal Time, UT).

ISSN 0853-0823

134

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

TABEL 1. PENGGUNAAN BERBAGAI METODE FISIKA (GEOFISIKA), KARAKTER BESARAN FISIS, DAN PENERAPANNYA DI DALAM EKSPLORASI STRUKTUR DAN ISI BAWAH PERMUKAAN BUMI [3].

METHOD
(d):dynamic (s):static G : Ground V: Airborne X : Logging available W: Marine

PARAMETERS
DESIGNATION UNIT

CHARACTERISTIC PHYSICAL PROPERTY

Resistivity (d) Induced Polarization (d) Self Potentia (d) Mise Ala Mas (d) Telluric (s) Magneto-Tellu (s) Electromagne (d)

Apparent Resistivity Time Domain: Chargeability Polarizability Frequency Domain : Freq. effec Natural Potential Applied Potential Relative Ellipse Area Apparent Impedance (Resistivity and Phase) Phase Difference Tilt Angle Amplitude Ratio Input sampling of decay curve induced in receiving coil by eddy currents in phase out of phase components Earth magnetic filed: Vertical component Z. Total Intensity Earth magnetic filed: Total Intensity Vertical gradient. Gravity field Intensity of gamma rays

Ohm.m ms % % mV mV

Resistivity Conductivity Ionic-electronic Over voltage Conductivity Oxidability Conductivity Horizontal Conductance

ELECTRICAL

Ohm.m radian degree

Resistivity Conductivity

Electrical Conductivity µV

MAGNETIC (s) GRAVITY (s) RADIOACTIVITY (s) REFRACTI (d) REFLECTIO (d) THERMOMETRY X (s)

1 gamm = 10-6 Ga Magnetic Susceptibility

milliga 1 gal = 1 c µ/roentgen, or CPS

Density Radioactivity

SEISM

Travelling Time of Seismic Waves

milliseco

Seismic waves velocity Dynamic Modulus

Temperature

o

C

Geothermal gradient or Temperature Surfial Thermal Anomaly

C. Pengolahan Data Pengolahan data yaitu koreksi data dari pengaruh gangguan (noise) yang terjadi selama proses pengukuran, memperkuat signal to noise ratio, penampilan data dalam table, grafik, peta kontur, visualisasi tiga dimensi, dan proses lanjut yang sesuai dengan rancangan sasaran dan spesifikasi serta ilmu dan teknologi mutakhir pada saat itu. Noise sistematis dapat berasal dari dari pengaruh bendabenda langit terutama dari matahari dan bulan; pengaruh rotasi bumi; pengaruh bentuk bumi nyata dengan pegunungan yang tinggi dan palung laut yang dalam beserta variasi morfologi di antaranya; demikian juga pengaruh posisi dan geometri konfigurasi pengukuran yang dipergunakan; bahkan pengaruh struktur dan dinamika internal global dari bumi itu sendiri juga harus diperhatikan. Proses pembersihan noise sistematik ini dapat dilakukan dengan menapisnya dalam kawasan ruang dan waktu bagi gejala unum geofisika yang periodik dalam ruang dan waktu; mengurangkan pengaruh global yang sifatnya

bervariasi secara tak-periodik terhadap ruang dan waktu; dan sering diperoleh noise yang sangat komplek sehingga harus dilaksanakan penapisan yang bersifat adaptif setelah dikaji polanya [3]. 4. Interpretasi dan Pemodelan Interpretasi dan pemodelan struktur bawah permukaan bumi merupakan proses penghitungan balik atau penyelesaian inversi atau pembuatan model-model alternatif yang paling mungkin dengan penjelasan kualitatif dan kuantitatif, misalnya seperti posisi, kedalaman, dimensi, bentuk, dan parameter fisis yang terkandung serta dinamika sumber model anomali. Sesuai dengan sifat data geofisika yang dinamis sebagai fungsi waktu, kadang-kadang juga harus ditampilkan gambar tiga dimensi yang berubah terhadap waktu yang saat ini lebih dikenal dengan empat dimensi (4D). Pemodelan, pada umumnya dilakukan secara matematis dan melibatkan persamaan diferensial yang linier maupun yang non linier sesuai dengan tingkat kecanggihan

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

135

masalah dan penyelesaiannya, oleh karena itu tidak jarang pemodelan juga dilakukan secara fisis. III. EKSPLORASI DENGAN METODE GEOFISIKA Para pelaku jasa profesional geofisika eksplorasi pada umumnya bertugas mencari atau mengeksplor sumberdaya alam, hal ini berkembang sesuai dengan kebutuhan manusia akan energi dan mineral, termasuk air dan dampak lingkungannya sebagai tempat tinggal manusia itu sendiri di dalamnya. Kegiatan eksplorasi yang tadinya hanya mengandalkan penemuan-penemuan singkapan di permukaan bumi oleh para ahli geologi diekstrapolasikan ke bawah permukaan, untuk mengetahui/ diinterpretasikan sebaran penemuan tersebut secara lateral maupun vertikal. Dengan demikian, hasil interpretasinya menjadi sangat subyektif. Geofisika berperan membantunya dengan menerapkan hampir semua metode fisika untuk mengungkap struktur bawah permukaan bumi. Hasil pengukuran besaran-besaran fisika di permukaan bumi di analisis dan diinterpretasikan dengan menyelesaikan problem baliknya, sehingga para ahli geologi menjadi sangat terbantu secara kuantitatif dalam menafsir isi fisisnya (batuannya), menentukan posisi dan sebarannya, kedalaman dan ukuran serta proses dinamisnya. Metode geofisika dapat juga digunakan untuk membantu survei pencemaran lingkungan yang disebut sebagai geofisika lingkungan [4]. Untuk aplikasi metode geofisika yang tepat terhadap pencemaran lingkungan, sebelumnya perlu diketahui terlebih dahulu sumber percemaran lingkungannya, misal sumbernya berupa limbah padat, limbah cair yang mengadung logam berat, atau bersifat radioaktif dan lain sebagainya. Apabila sumbernya sudah jelas, kemudian diperkirakan parameter fisis apa yang paling signifikan perubahannya akibat limbah tersebut [5]. Dengan demikian metoda geofisika yang tepat dapat ditentukan setelah perubahan parameter fisis yang dominan akibat limbah tersebut telah diperkirakan. Seperti diketahui bahwa satu metoda pengukuran geofisika hanya peka terhadap satu parameter fisis. Beberapa metoda geofisika lingkungan yang penting terhadap target sumber pencemar lingkungan dirangkum [6]. Pelayanan eksplorasi profesional geofisika telah sangat berkembang seiring dengan kemajuan instrumentasi dan teknologi informasi dan komunikasi. Setelah diperoleh hasil interpretasi struktur bawah permukaan, untuk membuktikannya sering harus dilakukan pengeboran.

Kegiatan pengeboran ini masih bisa dikaitkan dengan pelaksanaan eksplorasi sehingga kerap disebut sebagai pengeboran eksplorasi. Pada awalnya target pengeboran ini hanya untuk memperoleh cuplikan batuan-batuan sampel yang diketemukan sebagai fungsi kedalaman, tetapi “Schlumberger” telah memanfaatkannya juga untuk melakukan pengukuran besaran-besaran fisika yang juga sebagai fungsi kedalaman. Hasil pengukuran besaranbesaran fisika fungsi kedalaman ini selanjutnya dimanfaatkan untuk keperluan kalibrasi atas hasil interpretasi pengukuran besaran fisika di permukaan bumi yang telah di ekstrapolasikan ke bawah permukaan bumi. Dengan demikian terjadi peningkatan keyakinan kebenaran atas hasil interpretasinya. Berdasarkan semua informasi yang terpadu dari hasil keseluruhan kegiatan tersebut, harus berakhir menjadi suatu laporan dan rekomendasi penentuan posisi dan kedalaman pengeboran eksploitasi untuk pengambilan sumberdaya alamnya. IV. KESIMPULAN Kegiatan eksplorasi sumberdaya alam maupun penelitian dengan menggunakan metode geofisika merupakan kegiatan yang padat modal dan teknologi, penguasaan teknologi dan informasi tinggi serta sumberdaya manusia yang trampil, jujur, bertanggung jawab dan memiliki berkompetensi tinggi sangat diperlukan. Sehingga geofisikawan tersebut mampu berkerja melalui tahapan-tahapan yang ilmiah dan sistematik, cermat, teliti, tepat metode yang digunakan untuk akuisisi, pengolahan dan interpretasi data di dalam menemukan sumber daya alam. PUSTAKA
[1] M. Bath. Introduction to seismology, Birkhüser Verlag. 1973 [2] S.B. Kirbani. Pengembangan Pendidikan Geofisika (Dalam Kaitannya dengan Kegiatan Industri dan Penelitian Geofisika di Indonesia). FMIPA, UGM, Yogyakarta, 2003. [3] R. Mugiono. Geofisika, Obyek Studinya, Metodanya, Pembatasannya Hasilnya. Naskah Pidato, Fakultas Pasca Sarjana, UGM, 1986. [4] W.H. Stanley. Geotechnical and Environmental Geophysics. Society of Exploration Geophysicists, Tulsa, Oklahoma. 1990, [5] J. M. Raynolds. An Introduction to Applied and Environmental Geophysics. John Willey and Sons Ltd. Baffins Lane, Chisester, England, 1997 . [6] P.V. Sharma. Environmental and Engineering Geophysics, Cambridge University Press, United Kingdom, 1997.

ISSN 0853-0823

136

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Variasi Lokal Dalam Visibilitas Hilaal: Observasi Hilaal di Indonesia Pada 2007–2009
Muh. Ma’rufin Sudibyo
Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Falak Rukyatul Hilal Indonesia (LP2IF–RHI) Jl. Gejayan Soropadan CC XII/04 Depok Sleman Yogyakarta 55283 Telp. / Fax : (0274) 552630 marufins@yahoo.com

Abstrak – Telah dilaksanakan observasi hilaal selama Januari 2007–Desember 2009 guna memperbaiki “kriteria” MABIMS (Imkan Rukyat) sekaligus menguji kriteria LAPAN. Selain menjadi basis kalender Hijriyyah nasional, “kriteria” MABIMS pun merupakan alat uji validitas laporan–laporan visibilitas hilaal terutama kala Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha. Namun validitas “kriteria” MABIMS sendiri dipertanyakan mengingat homogenitasnya, pun kriteria LAPAN akibat keterbatasan datanya. Observasi dilakukan dengan bantuan alat optik (binokuler dan teleskop) maupun tidak dan telah menghasilkan 168 data visibilitas. Analisis variabel selisih terbenamnya Bulan dengan terbenamnya Matahari (Lag) dengan variabel waktu saat hilaal pertama terlihat (Best Time) menghasilkan definisi kuantitatif hilaal sebagai fungsi sederhana dari Lag. Hubungan Best Time dengan Lag memiliki bentuk sangat berbeda dibanding persamaan Yallop, namun pada Lag < 40 menit relatif mirip. Sementara analisis variabel selisih tinggi Bulan dan Matahari (aD) terhadap variabel selisih azimuthnya (DAz) dengan metode least–square menghasilkan persamaan visibilitas dua–orde: aD ≥ 0,099DAz2–1,490DAz + 10,382 yang kami usulkan dinamakan kriteria RHI. Bentuk kriteria RHI hampir sama dengan kriteria LAPAN meski lebih optimistik, namun berbeda bila dibandingkan dengan kriteria yang sejenis seperti dari Scoch, Maunder dan Fotheringham. Tetapi terhadap “kriteria” MABIMS sangat berbeda karena tinggi Bulan mar’i minimum tidak homogen melainkan bervariasi antara 9,38°– 3,77° sesuai nilai selisih azimuth Bulan–Matahari (0° – 7,5°) . Analisis komparatif dengan data visibilitas global menunjukkan konsistensi kriteria RHI khususnya bagi daerah tropis. Sehingga perbedaan bentuk kriteria RHI dibandingkan kriteria global dua–orde sejenis merupakan variasi lokal visibilitas hilaal, yang hanya berlaku bagi daerah tropis. Kata kunci : Hilaal, ”kriteria” MABIMS, kriteria LAPAN, kriteria RHI

I. PENDAHULUAN Bulan sabit termuda (hilaal) merupakan fenomena fisis ekstraterestrial dan atmosferik yang menjadi penentu sistem kalender Hijriyyah yang digunakan Umat Islam [2,4,7]. Pergantian antar bulan (lunasi) Hijriyyah yang diwujudkan dalam bentuk penentuan tanggal 1 tiap lunasi bergantung pada eksistensi hilaal. Namun berbeda dengan definisi kualitatifnya yang telah disepakati bersama, yakni sebagai Bulan dalam fase sabit yang paling tipis menyerupai sehelai benang melengkung, secara kuantitatif belum ada definisi hilaal yang bisa diterima seluruh komponen Umat Islam. Implikasinya memunculkan problem klasik: perbedaan dalam awal bulan suci Ramadhan atau dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) di seluruh dunia. Pun demikian di Indonesia. Salah satu sumber perbedaan adalah terjadinya ”pemisahan” antara hisab (pemodelan matematis gerak Bulan) dan rukyat (observasi Bulan dengan metode tepercaya) sehingga keduanya seolah saling berseberangan dan berhadapan. Akibatnya eksistensi kriteria visibilitas hilaal, yakni hisab tentang batas minimum prediktif nan valid dan reliabel dalam kondisi ideal untuk terlihatnya hilaal yang disusun berdasarkan hasil–hasil rukyat, terabaikan. Hal ini menyebabkan pergeseran paradigma dalam mendefinisikan hilaal, dari semula berparadigma empirik menjadi asumtif [9]. Dalam praktiknya paradigma hilaal asumtif kemudian terbagi dalam kubu wujudul hilaal (yang mendefinisikan hilaal sebagai Bulan pasca konjungsi yang terbenam lebih lambat dari Matahari) dan kubu imkan rukyat (mendefinisikan hilaal mirip dengan wujudul hilaal namun menambahkan ketentuan sudah menampakkan bentuk sabit tertipis yang bisa dilihat mata dalam kondisi ideal).

Di Indonesia secara garis besar perbedaan itu mengkristal dalam dua kutub: kutub hisab haqiqi wujudul hilaal (yang dipelopori Muhammadiyah) dan kutub rukyatul hilaal (yang dipelopori Nahdlatul ’Ulama). Secara kuantitatif kedua ormas tersebut memiliki massa terbesar sehingga perbedaan antar keduanya membawa implikasi pada perbedaan signifikan dalam tubuh Umat Islam Indonesia. Kementerian Agama RI mencoba menjembataninya dengan menggagas ”kriteria” visibilitas tiga–orde sebagai merupakan derivasi ”kriteria” MABIMS yang merupakan kesepakatan menteri– menteri agama dari Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam dan Indonesia, sehingga dikenal pula sebagai ”kriteria” MABIMS (Imkan Rukyat). ”Kriteria” ini memiliki ketentuan: a). umur Bulan ≥ 8 jam pasca konjungsi, b). tinggi Bulan mar’i (toposentrik) ≥ 2° dari horizon (aD ≥ 3°) dan c). jarak Bulan–Matahari (elongasi) ≥ 3°[1,9]. ”Kriteria” ini menjadi dasar penyusunan kalender Hijriyyah nasional dan taqwim standar Kementerian Agama RI sekaligus alat evaluasi untuk laporan–laporan rukyatul hilaal khususnya dalam forum sidang itsbat penentuan 1 Ramadhan, 1 Syawwal maupun 1 Zulhijjah. ”Kriteria” ini dibangun berdasarkan laporan rukyatul hilaal 29 Juni 1984 (penentuan 1 Syawwal 1404 H) dimana hilaal dilaporkan teramati dari Jakarta, Pelabuhan Ratu dan Pare–Pare. Belakangan ”kriteria” ini didukung pula oleh laporan rukyatul hilaal 16 September 1974 (penentuan 1 Ramadhan 1394 H) dimana hilaal dilaporkan terlihat dari dua lokasi di Jakarta dan satu lokasi di Yogyakarta [1]. Namun demikian validitas ”kriteria” ini sendiri banyak dipertanyakan karena bentuknya sangat berbeda dibandingkan kriteria visibilitas lainnya. Dalam perkembangannya aplikasi ”kriteria” MABIMS (Imkan Rukyat) pun cenderung inkonsisten, sehingga dari tiga ketentuannya hanya dua yang sering diterapkan (yakni umur

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

137

Bulan dan tinggi Bulan mar’i). Begitupun bila hanya ada satu dari dua ketentuan yang memenuhi syarat maka ”kriteria” dianggap telah terpenuhi [9]. Akibatnya ”kriteria” ini sulit untuk membedakan apakah hilaal yang dilaporkan pengamat merupakan hilaal yang sebenarnya ataukah obyek terang di langit latar belakang maupun latar depan yang bentuknya menyerupai hilaal. Bangun dasar sebuah kriteria visibilitas senantiasa mengikutsertakan parameter iluminansi Bulan (jumlah cahaya yang jatuh di sebuah permukaan per unit area dari sebuah sumber cahaya) dan parameter kegelapan langit (meredupnya cahaya senja di langit latar belakang sebagai akibat kian turunnya Matahari di bawah horizon pasca terbenam). Rasio antara iluminansi Bulan dengan kegelapan langit dinamakan kontras hilaal [4]. Kriteria visibilitas empiris seperti kriteria Maunder–Fotheringham, Schoch dan Bruin mengandung parameter kegelapan langit berupa selisih tinggi Bulan–Matahari (aD) dan parameter iluminansi Bulan berupa selisih azimuth Bulan–Matahari (DAz) [10]. Tinggi Bulan mar’i, meski adalah derivasi dari aD dalam bentuk ≈ aD–1, tidak pernah dikategorikan baik sebagai parameter kegelapan langit maupun iluminansi Bulan, mengingat acuan pengukuran tinggi Bulan mar’i adalah horizon sehingga berpotensi bias. Observasi hilaal 6 Desember 2010 oleh tim pengamat USM di Teluk Kemang (Malaysia) misalnya, baru berhasil mengidentifikasi hilaal ketika tinggi Bulan mar’i 1,67° (atau di bawah angka 2° versi ”kriteria” Imkan Rukyat) namun sejatinya pada saat itu Bulan memiliki aD=8,14°. Bilamana tinggi Bulan mar’i hendak dijadikan parameter visibilitas hilaal, maka harus ditekankan tinggi Bulan mar’i tersebut diukur tepat pada saat Matahari terbenam. Dan merujuk pada kriteria visibilitas empiris di atas, tinggi Bulan mar’i saat visibilitas hilaal sangat dipengaruhi oleh nilai DAz. Dalam kriteria Maunder–Fotheringham misalnya, tinggi Bulan mar’i bervariasi antara 8,5° (DAz=10°) hingga 10° (DAz=0°). Hal senada juga nampak dalam kriteria Scoch dimana tinggi Bulan mar’i bervariasi antara 8,3° (DAz=10°) hingga 9,4° (DAz=0°). Pendekatan fisis F. Bruin yang kemudian menjadi dasar bagi kriteria–kiteria visibilitas fisis modern (seperti kriteria Schaefer, Yallop dan Odeh) pun menyajikan hasil yang mirip dimana tinggi Bulan mar’i bervariasi antara 7,5° (DAz=10°) hingga 9,1° (DAz=0°) [10]. M. Ilyas memperlihatkan nilai aD minimal 4° namun hanya terjadi bila DAz besar [1,6]. Nampak bahwa kriteria – kriteria itu menyaratkan perlunya DAz dipertimbangkan, bukannya dianggap homogen dan diabaikan seperti dalam ”kriteria” MABIMS. Guna memperbaikinya Djamaluddin telah mengusulkan adanya kriteria LAPAN sebagai kriteria empiris hasil analisis data laporan rukyatul hilaal Kementerian Agama RI periode 1962–1997 tanpa membedakan apakah visibilitas berdasarkan alat bantu optik (teleskop atau binokuler) maupun tidak. Hasilnya, tinggi Bulan mar’i bervariasi antara 2,1° (DAz=6,5°) hingga 8,1° (DAz=0°) saat visibilitas hilaal. Seperti halnya MABIMS (Imkan Rukyat), kriteria LAPAN pun terdiri dari 3 ketentuan: a). umur Bulan ≥ 8 jam pasca konjungsi, b). elongasi Bulan–Matahari ≥ 5,6° dan c). Tinggi Bulan–Matahari mengikuti selisih azimuthnya (DAz), dimana untuk DAz ≥ 6°maka aD > 3° dan untuk DAz < 6°maka aD ≥ 0,14DAz2–1,83DAz + 9,11 [1]

Kriteria ini didasarkan pada data yang terbatas (11 data, sebagai hasil reduksi dari 38 data) namun 3 data diantaranya diragukan karena memiliki nilai elongasi Bulan–Matahari (aL) kurang dari batas Danjon. Djamaluddin berpendapat batas Danjon disebabkan sensitivitas mata manusia sehingga visibilitas hilaal pada saat aL < 7° (yakni nilai batas yang diusulkan Danjon) adalah memungkinkan, apaLagi McNally telah menyarankan nilai batas Danjon seyogyanya lebih rendah yakni 5°, sehingga ketiga data itu masih memenuhi syarat [3,5,8]. Dalam kondisi tersebut hilaal dianggap bisa terlihat sebagai titik cahaya mirip bintang (bukan lengkungan cahaya) sehingga mata manusia yang paling sensitif berkemungkinan melihatnya. Argumen ini dipatahkan oleh observasi Jim Stamm (13 Oktober 2004), yang hanya bisa mengidentifikasi hilaal (pada aL=6,4°) yang sangat tipis dengan teleskop pada lokasi dengan elevasi cukup tinggi (+2.210 m dpl), sementara observasi serupa dengan mata telanjang dan binokuler gagal mengidentifikasinya. Dengan demikian batas Danjon termutakhir saat ini tidak lebih kecil dari 6,4°[8]. Observasi Stamm sekaligus menunjukkan adanya kebutuhan alat bantu optik (teleskop) dan lokasi berelevasi tinggi, hal mendasar yang tidak dijumpai dalam rukyatul hilaal yang menghasilkan ketiga data meragukan tersebut. Sebagai upaya memperbaiki ”kriteria” MABIMS (Imkan Rukyat) dan sekaligus menguji kembali validitas kriteria LAPAN maka diselenggarakanlah kampanye observasi hilaal dengan tujuan: 1. Merekapitulasi data observasi hilaal di Indonesia sehingga terbentuk basis data lokal termutakhir. 2. Menyusun kriteria baru yang bertujuan memperbaiki ”kriteria” MABIMS (Imkan Rukyat) maupun LAPAN. 3. Merumuskan definisi hilaal, khususnya untuk Indonesia. 4. Menguji variasi lokal terhadap visibilitas hilaal global. II. DATA Kampanye observasi dilaksanakan pada periode Zulhijjah 1427–Zulhijjah 1430 H (Januari 2007–Desember 2009) tiap menjelang lunasi Hijriyyah oleh relawan di jejaring titik observasi LP2IF–RHI yang secara geografis merentang dari garis lintang 5° LU (Lhokseumawe, NAD) hingga 32° LS (Perth, Australia) dengan titik observasi terbarat di garis bujur 97° BT (Lhokseumawe, NAD) dan titik tertimur di garis bujur 112,5° BT (Gresik, Jawa Timur). Target observasi berupa hilaal (Bulan sabit termuda dan tertipis yang hanya terlihat pasca terbenamnya Matahari) dan hilaal tua (Bulan sabit tertua dan tertipis yang hanya terlihat menjelang terbitnya Matahari). Observasi dilakukan dengan menggunakan alat bantu optik (binokuler dan teleskop) maupun tidak. Data primer berupa koordinat lokasi, elevasi, kapan Matahari teramati terbenam dan hilaal mulai terlihat (untuk hilaal) serta kapan hilaal tua terakhir kali terlihat dan Matahari terbit (untuk hilaal). Sementara data sekunder adalah kondisi kualitatif langit di atas horizon, orientasi serta citra (foto) hilaal dan hilaal tua. Reduksi data dilaksanakan dengan mempertimbangkan data sekunder. Data primer yang telah tereduksi lantas dibagi ke dalam kelompok data positif (hilaal/hilaal tua teramati) dan data negatif (hilaal/hilaal tua tidak teramati). Keduanya lalu diolah dengan menggunakan software Moon Calculator v6.0 secara toposentrik, airless dan

ISSN 0853-0823

138

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY TABEL 2 aD DAN DAz DAz (°) aD (°) 0 10,38 1 9,00 2 7,80 3 6,80 4 6,01 5 5,41

terbit/terbenamnya Matahari secara geometrik. Keluaran data berupa aD, DAz, aL dan Lag (interval waktu terbenamnya Matahari dan Bulan). Untuk data positif, perhitungan dilaksanakan saat Best Time (waktu saat hilaal dilaporkan pertama kali terlihat atau hilaal tua dilaporkan terakhir kali terlihat) sementara data negatif dihitung saat Matahari terbit/terbenam. Selama kampanye observasi berhasil terkumpul 174 data visibilitas yang membentuk basis data RHI, terdiri dari 107 data positif dan 67 data negatif. Data kemudian dianalisis menggunakan spreadsheet MS Excell. Sebagai pembanding digunakan data visibilitas dari basis data Yallop dan ICOP yang dibatasi hanya untuk lokasi di daerah tropis (antara garis lintang 23,5° LU hingga 23,5° LS). Data Yallop berjumlah 28 data (9,5 % dari basis data) yang terdiri dari 21 data positif dan 7 data negatf. Sedangkan data ICOP berjumlah 54 data (7,3 % dari basis data) yang terdiri dari 23 data positif dan 31 data negatif. Yallop mendefinisikan variabel Best Time (Tb) sebagai waktu saat hilaal mulai terlihat pasca Matahari terbenam sebagai fungsi dari variabel Lag. Baik Best Time maupun Lag diukur secara relatif sejak waktu terbenamnya Matahari. Plot data Best Time dan Lag disajikan dalam Gambar.1. sementara nilai minimum Best Time dan Lag dinyatakan dalam tabel (1).
TABEL 1 BEST TIME DAN LAG Best Time (menit) Lag (menit) 5 24 7 26 –7 56 –12 72 –15 80 –29 105

Analisis polinomial menghasilkan persamaan (2):
a D ≥ 0,099 DAz 2 − 1,490 DAz + 10,382

(2)

Berdasarkan persamaan (2) maka tinggi Bulan mar’i pada saat Matahari terbenam yang memenuhi kriteria RHI bervariasi dari yang terkecil 3,77° (terjadi pada DAz=7,5°) hingga yang terbesar 9,38° (terjadi pada DAz=0°). III. PEMBAHASAN A. Definisi Hilaal Pada persamaan (1) untuk Tb=0 diperoleh Lag=40 menit, sehingga Bulan dengan Lag > 40 menit telah memperlihatkan bentuk sabitnya bahkan sebelum Matahari terbenam. Secara filosofis hilaal hanya akan terlihat setelah terbenamnya Matahari sehingga Lag=40 menit menjadi batas atas bagi hilaal. Sementara untuk Tb=Lag diperoleh Lag=12 menit maka Bulan dengan Lag < 12 menit takkan memperlihatkan bentuk sabitnya meskipun ditunggu sampai tiba waktunya Bulan terbenam. Namun data memperlihatkan nilai Lag minimum yang lebih besar, yakni 24 menit sehingga inilah batas bawah bagi hilaal. Lag ini tidak berbeda jauh bila dibandingkan dengan Lag minimum dalam basis data ICOP yakni 21 menit [8]. Menggunakan hubungan aD=aS cos ϕ dimana ϕ=lintang pengamatan (yang mendekati nol bagi wilayah tropis sehingga cos ϕ ≈1) dan aS ≈ ¼ Lag maka pada persamaan (2) untuk DAz=0 diperoleh Lag ≈ 41 menit yang tidak berbeda jauh dengan 40 menit. Sedangkan pada aD terkecil (terjadi pada DAz=7,5° dan berkorelasi dengan aD=4,78°) didapat Lag ≈ 19 menit. Dari data diketahui bahwa aD terkecil=5,8° yang menghasilkan Lag ≈ 23 menit yang tidak berbeda jauh dengan 24 menit. Dengan demikian hilaal secara kuantitatif dapat didefinisikan sebagai Bulan pasca konjungsi yang memiliki Lag ≥ 24 menit dan Lag ≤ 40 menit. Bulan dengan Lag < 24 menit diusulkan untuk diistilahkan sendiri sebagai Bulan gelap (dark moon), untuk membedakannya dengan hilaal [9].
22 20 18

Analisis linear menghasilkan persamaan (1):

Tb = −0,420 Lag + 16,941 + Tsunset

(1)

Mengikuti langkah al–Biruni yang kemudian diikuti Fotheringham, Maunder dan Schoch di kemudian hari, kriteria visibilitas disusun dengan berdasarkan variabel aD (parameter kegelapan langit latar belakang) dan DAz (parameter iluminansi Bulan) [5]. Plot data aD dan DAz disajikan dalam Gambar.2. sementara nilai minimum aD dan DAz dinyatakan dalam tabel (2).
50 45 40 35

Best time (menit)

30 25 20 15 10 5 0 -5 -10 -15 -20 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85 90 95 100 105

Selisih altitude (derajat)

16 14 12 10 8 6 4 2 0 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18

y = -0.4205x + 16.941

Lag (menit)
Gambar.1. Best Time hilaal sebagai fungsi dari Lag.

Selisih azimuth (derajat)

Gambar.2. aD dan DAz hilaal serta kriteria RHI.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

139

Persamaan (1) sekilas relatif berbeda bila dibandingkan dengan persamaan Best Time Yallop yang berbentuk Tb = 4 /9Lag + Tsunset. Namun khusus pada Lag ≤ 40 menit terdapat kesesuaian antara persamaan Yallop dengan data, yang diperlihatkan oleh deviasi standar residual sebesar + 4 menit. Sehingga estimasi Best Time pada hilaal bisa berdasarkan pada persamaan (1) maupun persamaan Yallop. B. Kriteria RHI dan Variasi Lokal Persamaan (2) merupakan kriteria visibilitas hilaal yang diusulkan diberi nama kriteria RHI. Bentuk kriteria ini relatif sama dengan kriteria LAPAN yakni sebagai kurva terbuka ke atas, meskipun pada DAz < 11° kriteria LAPAN lebih pesimistik dibanding kriteria RHI. Namun apabila pada basis data kriteria LAPAN dilakukan eliminasi terhadap 3 data meragukan, maka yang tersisa akan bersesuaian dengan kriteria RHI. Sehingga bisa disimpulkan bila proses reduksi data dipertajam, maka kriteria LAPAN pada hakikatnya adalah kriteria RHI. Bentuk kriteria RHI berbeda dibanding kriteria visibilitas dua–orde sejenis seperti kriteria Maunder–Fotheringham, Schoch dan Bruin, seperti dalam tabel (3), terlihat perbedaan sangat mendasar dimana ketiga kriteria terakhir berbentuk kurva terbuka ke bawah sehingga tidak memiliki titik balik nyata. Mengingat basis data untuk kriteria RHI maupun LAPAN terbatas hanya dari Indonesia, perbedaan bentuk ini kemungkinan mengindikasikan adanya variasi lokal dalam visibilitas hilaal.
TABEL 3 PERBANDINGAN KRITERIA RHI DENGAN MAUNDER– FOTHERINGHAM, SCHOCH DAN BRUIN DAz (°) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
26 24 22

Bukti adanya variasi lokal dalam visibilitas hilaal nampak ketika kriteria RHI dibandingkan dengan data visibilitas hilaal global seperti dari basis data Yallop dan ICOP yang telah dibatasi hanya yang berasal dari daerah tropis. Keduanya ternyata bersesuaian dengan kriteria RHI seperti diperlihatkan Gambar.3. Sehingga sifat visibilitas hilaal seperti dinyatakan kriteria RHI adalah karakteristik daerah tropis, tidak hanya terbatas di Indonesia. Data visibilitas hilaal termutakhir seperti dihimpun tim pengamat USM dengan teleskop dari lokasi di Teluk Kemang, Negeri Sembilan (Malaysia) pun memperkuatnya. Besarnya selisih nilai aD dalam kriteria RHI dengan nilai aD dalam kriteria Maunder–Fotheringham, Schoch dan Bruin khususnya pada DAz > 2° akibat tidak dibedakannya visibilitas hilaal dengan ataupun tanpa alat bantu optik dalam kriteria RHI. Sementara pada tiga kriteria lainnya, data visibilitas hanya didasarkan pada mata tanpa alat bantu optik. Data visibilitas hilaal dari Teluk Kemang (observasi 12 Juli 2010 dan 6 Desember 2010) serta Semarang (observasi 19 September 2009) yang diambil dengan teleskop dan dilengkapi citra fotografis membuktikan nilai aD yang lebih kecil seperti termaktub dalam kriteria RHI adalah mungkin. IV. KESIMPULAN Telah tersusun basis data RHI tentang visibilitas hilaal Indonesia yang terdiri dari 174 data dengan 107 data positif dan 67 data negatif sebagai hasil observasi hilaal secara tak teputus dalam periode Zulhijjah 1427–Zulhijjah 1430 H (Januari 2007–Desember 2009). Dari basis data ini tersusun definisi baru hilaal, yakni sebagai Bulan pasca konjungsi yang memiliki Lag ≥ 24 menit dan Lag ≤ 40 menit. Telah tersusun pula kriteria visibilitas baru yang diusulkan sebagai kriteria RHI, dalam bentuk: aD ≥ 0,099 DAz2–1,490 DAz + 10,382. Sehingga tinggi Bulan mar’i pada saat Matahari terbenam kala visibilitas hilaal bervariasi dari yang terkecil 3,77° (DAz=7,5°) hingga yang terbesar 9,38° (DAz=0°). Perbedaan bentuk kriteria RHI dengan kriteria visibilitas sejenis seperti kriteria Maunder–Fotheringham, Schoch dan Bruin memperlihatkan kiteria RHI merupakan variasi lokal dalam visibilitas hilaal yang hanya berlaku di daerah tropis, seperti diperlihatkan oleh basis data Yallop dan ICOP. Dengan kata lain, kriteria RHI hanya bisa digunakan di daerah tropis. PUSTAKA
[1] T. Djamaluddin. Visibilitas Hilal di Indonesia, Warta LAPAN, vol. 2 no. 4, pp. 137–138, Oktober 2000. [2] L.E. Dogget and B. E. Schaefer, Lunar Crescent Visibility, Icarus, vol. 107, pp. 388–403, 1994. [3] L.J. Fatoohi, F.R. Stephenson and S.S. Dargazelli, The Danjon Limit of First Visibility of The Lunar Crescent, The Observatory, vol. 118, pp.65–72, April 1998. [4] R.E. Hoffman, Rational Design of Lunar Visibility Criteria, The Observatory, vol. 125, pp. 156–168, 2005. [5] M. Ilyas, Lunar Crescent Visibility Criterion and Islamic Calendar, Q.J.R. astr. Soc, vol. 35, pp. 425–461, 1994. [6] M. Ilyas. Limiting Altitude Separation in The New Moon’s Visibility Criterion, Astron. & Astophys, vol. 206, pp. 133, 1988. [7] J.S. Mikhail, A.S. Asaad, S. Nawar and N.Y. Hassanin. Visibility of The New Moon at Two Sites: I. Maryland Situated at Northern geographical Latitude. II. Sacramento Peak Situated at High Altitude Above Sea Level. Earth, Moon & Planets, vol.70, pp. 93–108, 1995. [8] M.S. Odeh, New Criterion for Lunar Crescent Visibility. Exp. astr, vol. 18, pp. 39–64, 2004.

RHI 10,38 9,00 7,80 6,80 6,01 5,41 5,01 4,80 4,80 5,00 5,38

aD (°) Maunder– Fotheringham 11,00 10,94 10,86 10,76 10,64 10,50 10,34 10,16 9,96 9,74 9,50

Scoch 10,37 10,35 10,31 10,25 10,16 10,06 9,94 9,80 9,64 9,47 9,27

Bruin 10,14 10,25 10,30 10,29 10,22 10,09 8,94 8,80 8,64 8,47 8,27

Selisih altitude (derajat)

20 18 16 14 12 10 8 6 4 2 0 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18

Selisih azimuth (derajat) Yallop ICOP

Gambar.3. Perbandingan kriteria RHI dengan data Yallop dan ICOP yang telah direduksi untuk daerah tropis.

ISSN 0853-0823

140 [9] M.M. Sudibyo, M. Arkanuddin and A.R.S. Riyadi, Observasi Hilaal 1427–1430 H (2007–2009 M) dan Implikasinya untuk Kriteria Visibilitas di Indonesia. Proceed. Sem.Nas Obs. Bosscha, 2009.

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY [10] B.D. Yallop. A Method for Predicting the First Sighting of The New Crescent Moon. NAO Technical Note, no.69, 1997.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

141

Pendugaan Resistivitas Batuan Bawah Permukaan Desa Bulupayung Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap
Sehah dan Hartono
Program Studi Fisika, Jurusan MIPA, Fakultas Sains dan Teknik Universitas Jenderal Soedirman Jalan dr. Soeparno No.61 Karangwangkal Purwokerto, Jawa Tengah, INDONESIA e-mail: sehahallasimy@yahoo.com Abstrak – Penelitian telah dilakukan di Desa Bulupayung, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap untuk menentukan resistivitas lapisan batuan bawah permukaan menggunakan metode Geolistrik atau Resistivitas. Metode ini didasarkan pada pengukuran arus dan tegangan di permukaan bumi melalui penginjeksian arus listrik ke dalam bumi. Berdasarkan nilai arus dan tegangan terukur, dapat diperoleh nilai resistivitas batuan bawah permukaan. Berdasarkan nilai resistivitas setiap lapisan bawah permukaan, dapat diinterpretasi jenis litologi masing-masing lapisan. Daerah penelitian merupakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu yang terdegradasi oleh aliran air sungai, sehingga statusnya menjadi lahan kritis. Oleh karena itu diperlukan penelitian untuk mengungkap struktur batuan bawah permukaannya melalui pendugaan resistivitasnya. Pengukuran Geolistrik dilakukan secara vertical sounding menggunakan konfigurasi Schlumberger di tiga lokasi, yaitu Bulupayung 01, Bulupayung 02, dan Bulupayung 03. Berdasarkan hasil pengolahan dan interpretasi data, maka diperoleh enam lapisan batuan bawah permukaan di titik lokasi Bulupayung 01 dengan nilai resistivitas berkisar 4,88 – 60,00 Ωm. Selanjutnya untuk titik lokasi Bulupayung 02 diperoleh enam lapisan batuan bawah permukaan dengan nilai resistivitas berkisar 2,50 – 76,92 Ωm. Sedangkan untuk titik lokasi Bulupayung 03 diperoleh enam lapisan batuan juga dengan nilai resistivitas berkisar 3,26 – 105,72 Ωm. Berdasarkan nilai resistivitas tersebut, maka jenis formasi batuan di daerah penelitian diinterpretasi sebagai Aluvium yang merupakan endapan sungai Serayu, seperti lempung, lempung pasiran, pasir lempungan, pasir dan sejenisnya. Juga diperkirakan bahwa kekritisan DAS Serayu di daerah penelitian akibat tidak terdapatnya batuan penyangga DAS yang kokoh yang “mampu” menahan gerusan aliran air sungai.

Kata Kunci: Resistivitas, Bulu Payung

I. PENDAHULUAN Salah satu daerah di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu Kabupaten Cilacap yang sering terkena abrasi aliran Sungai Serayu adalah Desa Bulupayung Kecamatan Kesugihan. Proses abrasi mengakibatkan warga kehilangan lahan pertanian yang berguna untuk menunjang kehidupan serta turunnya fungsi DAS dalam menyerap air sehingga sering terjadi banjir pada musim hujan, kekeringan pada musim kemarau dan merusak tatanan ekosistem air tanah. Untuk mengatasi masalah ini di beberapa titik lokasi yang terkena abrasi, diberi damping stone agar tanah yang terkikis tidak semakin melebar, terutama ketika musim hujan [1]. Untuk membantu permasalahan abrasi Sungai Serayu di sekitar DAS yang berlahan kritis, maka perlu dilakukan survei Geolistrik Resistivitas. Berdasarkan data resistivitas batuan bawah permukaan yang ditunjang data geologi, maka dapat diinterpretasi jenis litologi batuan bawah permukaan penyangga DAS Serayu. Hasil interpretasi dapat digunakan untuk mengevaluasi kawasan DAS Serayu yang berlahan kritis, mengingat di kawasan ini tidak ditemukan tanaman yang berakar kokoh untuk melindungi tebing DAS dari gerusan air sungai. Bagaimanapun jua kerusakan kawasan DAS dapat berakibat rusaknya formasi batuan penyangga DAS, sehingga fungsi akuifer air tanah pada DAS sebagai recharge area menjadi terganggu. Metode geolistrik atau resistivitas merupakan suatu metode Survei Geofisika yang bertujuan untuk mengetahui struktur geologi dan formasi batuan bawah permukaan berdasarkan sifat resistivitas listriknya. Penerapan metode ini banyak digunakan untuk penelitian dan ekplorasi sumberdaya alam, seperti sumber panas bumi [2], eksplorasi sumber air tanah [3-4-5], gerakan tanah [6], dan sebagainya.

Pada penelitian ini, metode geolistrik resistivitas telah diterapkan untuk memodelkan struktur dan jenis litologi lapisan batuan bawah permukaan pada kawasan lahan kritis DAS Serayu di Desa Bulupayung Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap. Teknik akuisisi data dalam metode ini dilakukan dengan mengalirkan arus listrik searah ke dalam lapisan batuan kerak bumi melalui dua buah elektroda arus di titik C1 dan C2. Arus listrik yang diinjeksikan ke dalam lapisan batuan akan menyebar secara merata ke seluruh medium batuan, seperti sketsa pada Gambar 1. Polarisasi listrik yang terjadi dalam batuan diukur beda potensialnya melalui dua buah elektroda potensial di titik P1 dan P2. Setelah diketahui nilai arus dan beda potensial, maka nilai resistivitas semu (apparent resistivity) lapisan batuan bawah permukaan dapat dihitung dengan mengunakan persamaan [7]: ∆V (1) ρa = K I dengan ρa adalah resistivitas semu, ∆V beda potensial, K faktor geometri yang tergantung pada konfigurasi jarak elektroda, dan I kuat arus listrik.

ISSN 0853-0823

142

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Gambar 1. Skema pengukuran metode Resistivitas.

B. Lokasi Penelitian Secara administratif, lokasi penelitian terletak di Desa Bulupayung, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Pemilihan lokasi penelitian di kawasan ini karena daerah ini dilalui oleh Sungai Serayu dan berstatus sebagai daerah aliran sungai (DAS) yang berlahan kritis akibat proses abrasi aliran air sungai yang sangat parah. Pengukuran difokuskan di tiga titik lokasi yaitu Bulupayung 01, Bulupayung 02, dan Bulupayung 03 seperti terlihat pada Gambar 3, karena di lokasi-lokasi tersebut abrasinya paling parah. Hal ini didasarkan atas informasi dari masyarakat dan pengamatan langsung di lapangan.

Nilai faktor geometri (K) tergantung dari susunan atau konfigurasi elektroda yang digunakan dalam pengukuran. Pada konfigurasi Schlumberger susunan dan jarak antar elektroda didesain seperti Gambar 2, dengan nilai faktor geometri adalah [7]: (2) ⎛ a 2 − b2 ⎞ 2π
K Sch = ⎛ 1 1 ⎞ ⎛ 1 1 ⎞ − − ⎟ ⎜ ⎟−⎜ ⎝ A M MB ⎠ ⎝ AN NB ⎠ =π ⎜ ⎝ 2b ⎟ ⎠

Gambar 3. Tiga titik lokasi penelitian di sekitar DAS Serayu Desa Bulupayung Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap (Sumber: Google Map). Gambar 2. Skema pengukuran metode resistivitas konfigurasi Schlumberger.

II. METODE PENELITIAN A. Bahan dan Peralatan Bahan dan peralatan yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 1.
TABEL 1. PERALATAN DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN DALAM PENELITIAN No. 1 Nama Alat/Bahan Resistivitymeter, tipe NANIURA model NRD 22S lengkap dengan elektroda tembaga dan stainless steel Accu 12 V Pita ukur 250 meter Kabel 300 meter Palu Konektor Global Positioning System Laptop lengkap dengan printer Software Excell 2003 Software Geolistrik Progress 3.0 Peta Geologi Lembar Purwokerto – Tegal Peta Potensi Indikasi Air Tanah dan Daerah Irigasi Kabupaten Cilacap Buku catatan dan alat tulis Jumlah 1 set

C. Teknik Akuisisi Data Sebelum melakukan pengukuran, dilakukan survei pendahuluan di daerah penelitian untuk menentukan posisi titik sounding dan bentangan elektroda berdasarkan peta topografi dan peta geologi daerah Kabupaten Cilacap. Akuisisi data yang diterapkan dalam pengukuran geolistrik resistivitas adalah konfigurasi Schlumberger dengan teknik vertical sounding. Teknik akuisisi data ini dilakukan dengan cara memvariasi jarak bentangan elektroda C1 terhadap P1, dan C2 terhadap P2 seperti Gambar 4.

2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

2 buah 2 buah 2 rol 4 buah 8 buah 1 buah 1 set 1 paket 1 paket 1 eks 1 eks 1 set

Gambar 4. Pergerakan elektroda dalam survei resistivitas dengan model konfigurasi Schlumberger.

Pada saat pengukuran pertama, jarak bentangan antar elektroda dibuat sama misal a, lalu dilakukan pengukuran arus (I), beda potensial (∆V), jarak ½AB dan jarak ½MN.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

143

Setelah selesai, maka posisi elektroda arus digeser ke arah kiri maupun kanan, dengan jarak yang sama. Selanjutnya dilakukan lagi pengukuran I, ∆V, jarak ½AB dan ½MN. Demikian seterusnya hingga pengukuran ke-n. Selama proses akuisisi data ini, jarak bentangan elektroda potensial juga ditambah dengan syarat jarak AB ≥ 5MN. Semakin lebar jarak entangan elektroda, maka informasi struktur dan lapisan batuan bawah permukaan yang didapat juga semakin dalam [8]. Data hasil pengukuran nilai resistivitas semu (ρa) pada konfigurasi Schlumberger digunakan sebagai input untuk menghitung resistivitas sesungguhnya (true resistivity) dari setiap lapisan batuan bawah permukaan secara inversi [9]. Berdasarkan nilai resistivitas sesungguhnya, maka dapat ditafsirkan jenis litologi serta formasi geologi lapisan batuan bawah permukaan daerah penelitian secara vertikal satu dimensi (1D). III. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengolahan dan interpretasi data resistivitas satu dimensi (1D) bertujuan untuk mengetahui struktur batuan bawah permukaan secara vertikal 1D. Target yang diteliti adalah lapisan batuan penyangga DAS Serayu yang berlahan kritis. Informasi yang diperoleh dari pengolahan data adalah data susunan lapisan batuan bawah permukaan lengkap dengan nilai resistivitas, ketebalan, dan kedalaman masing-masing lapisan batuannya. Sedangkan informasi yang diperoleh dari hasil interpretasi adalah jenis litologi masing-masing lapisan berdasarkan nilai resistivitas batuannya [10]. A. Titik Lokasi Bulupayung 01 Posisi titik sounding pengukuran resistivitas di Bulupayung 01 adalah 109,1435o BT; 7,5808o LS, dan tinggi 41,6 meter dpl. Panjang lintasan pengukuran adalah 240 meter yang berarah relatif dari barat daya ke timur laut dengan sudut 54,16o dari arah utara ke timur. Hasil pemodelan data resistivitas 1D dengan software Geolistrik Progress 3.0 dapat dilihat pada Gambar 5. Adapun hasil interpretasi litologi terhadap hasil pemodelan tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.

penyangga DAS yang kokoh dalam menahan gempuran air sungai. Selain itu, dari pengamatan vegetasi di lapangan juga tidak terdapat tanaman besar berakar kuat di sekitar DAS Serayu di titik lokasi Bulupayung 01 untuk menopang dan melindungi DAS.
TABEL 2. INTERPRETASI LITOLOGI DATA RESISTIVITAS 1D DI LOKASI BULUPAYUNG 01 Urutan Lapisan 1 2 3 4 5 6 Resistivitas (Ωm) 60,00 5,38 28,64 6,80 28,12 4,88 Kedalaman (m) 0 – 2,85 2,85 – 4,77 4,77 – 10,47 10,47 – 21,93 21,93 – 63,99 > 63,99 Interpretasi Litologi Top soil Pasir lempungan Lempung kasar Pasir lempungan Pasir

B. Titik Lokasi Bulupayung 02 Posisi titik sounding pengukuran resistivitas di Bulupayung 02 adalah 109,1404o BT; 7,5934o LS, dan tinggi 25,6 meter dpl. Panjang lintasan pengukuran adalah 240 meter yang berarah relatif dari selatan ke utara dengan sudut 2,73o dari arah utara ke timur. Hasil pemodelan terhadap data resistivitas 1D dengan software Geolistrik Progress 3.0, dapat dilihat pada Gambar 6. Adapun hasil interpretasi litologi terhadap hasil pemodelan tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.

Gambar 6. Hasil pemodelan resistivitas 1D dengan software Geolistrik Progress 3.0 di titik lokasi Bulupayung 02. TABEL 3. INTERPRETASI LITOLOGI DATA RESISTIVITAS 1D DI LOKASI BULUPAYUNG 02 Urutan Lapisan 1 2 3 4 5 6 Resistivitas (Ωm) 8,71 20,71 76,92 13,22 5,37 2,50 Kedalaman (m) 0 – 2,00 2,00 – 3,91 3,91 – 11,36 11,36 – 32,81 32,81 – 43,34 > 43,34 Interpretasi Litologi Top soil Batupasir kompak Pasir lempungan Lempung Pasir

Gambar 5. Hasil pemodelan resistivitas 1D dengan software Geolistrik Progress 3.0 di titik lokasi Bulupayung 01.

Berdasarkan Tabel 2 terlihat bahwa formasi batuan di titik lokasi Bulupayung 01 didominasi oleh jenis Alluvium seperti pasir lempungan, lempung kasar, dan pasir [11]. Dari formasi batuan yang diperoleh tersebut tidak terdapat batuan

Berdasarkan Tabel 3 terlihat bahwa formasi batuan di titik lokasi Bulupayung 02 didominasi oleh jenis Alluvium seperti batupasir kompak, pasir lempungan, lempung dan pasir [11]. Berdasarkan formasi tersebut, tidak diperoleh batuan penyangga DAS yang kokoh di dalam menahan gempuran air sungai. Selanjutnya berdasarkan pengamatan vegetasi di sekitar DAS Serayu di titik lokasi Bulupayung 01 juga tidak terlihat adanya tanaman besar berakar kuat untuk menopang dan melindungi DAS.

ISSN 0853-0823

144

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

C. Titik Lokasi Bulupayung 03 Posisi titik sounding pengukuran resistivitas di Bulupayung 03 adalah 109,1273o BT; 7,5935o LS, dan tinggi 28,5 meter dpl. Panjang lintasan pengukuran adalah 240 meter yang berarah relatif dari barat ke timur dengan sudut 87,62o dari arah utara ke barat. Hasil pemodelan data resistivitas 1D menggunakan software Geolistrik Progress 3.0 dapat dilihat pada Gambar 7. Adapun hasil interpretasi litologi terhadap hasil pemodelan tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.

b. Bulupayung 02 berkisar antara 2,50 hingga 76,92 Ωm dengan kedalaman interpretasi maksimum lebih dari 43,34 m. c. Bulupayung 03 berkisar antara 3,26 hingga 105,72 Ωm dengan kedalaman interpretasi maksimum lebih dari 46,95 m. 2. Berdasarkan nilai resistivitas yang diperoleh, formasi batuan di seluruh titik lokasi penelitian diperkirakan merupakan formasi Alluvium hasil endapan Sungai Serayu. 3. Kritisnya lahan DAS Serayu diperkirakan akibat tidak terdapat batuan penyangga DAS yang kokoh dalam menahan abrasi air sungai. UCAPAN TERIMAKASIH Terima kasih disampaikan kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi KEMENDIKNAS RI atas dukungan dana yang disediakan dalam Penelitian Hibah Bersaing tahun 2010. Terima kasih juga disampaikan kepada Ketua Program Studi Fisika dan Kepala Laboratorium Fisika Eksperimen Fakultas Sains dan Teknik UNSOED atas peralatan serta fasilitas lain yang disediakan, serta kepada mahasiswa Program Studi Fisika UNSOED yang ikut bersusah payah membantu pengukuran data di lapangan. PUSTAKA
[1] Kompas Cyber Media. Abrasi Sungai Serayu di Cilacap Makin Parah. Edisi Selasa 03 April 2007. Sumber: www.kompas.com. [2] N. Haerudin, S. Rasimeng, dan E., Yuliana. Metode Geolistrik untuk Menentukan Pola Penyebaran Fluida Geothermal di Daerah Potensi Panasbumi Gunung Rajabasa Kalianda Lampung Selatan. Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008. Universitas Lampung. 17-18 November 2008. [3] A. E. Zarkasyi, Suhanto dan A., Sugianto. Penyelidikan Geolistrik dan Head-On di Daerah Panas Bumi Wapsalit Kabupaten Buru, Propinsi Maluku. Prosiding Pemaparan Hasil Kegiatan Lapangan dan Non Lapangan Tahun 2007. Kelompok Progam Penelitian Panas Bumi – Pusat Sumberdaya Geologi. Bandung. 2007. [4] K.A.N. Adiat, G.M. Olayanju, G.O. Omosuyi and B.D. Ako. Electromagnetic Profiling and Electrical Resistivity Soundings in Groundwater Investigation of a Typical Basement Complex; a Case Study of Oda Town Southwestern Nigeria. Ozean Journal of Social Sciences 2(4). 2009. [5] Darsono. Penentuan Batuan Akuifer Air Tanah di Daerah Sulit Air dengan Menggunakan Metode Geolistrik. Jurnal Fisika FLUX. Jurusan Fisika FMIPA Universitas Lambung Mangkurat. p.15-20. 2007 [6] R.Sule, Syamsuddin, F.,Sitorus, D.A., Sarsito, and I.A., Sadisun. The Utilization of Resistivity and GPS Methods in Landslide Monitoring: Case Study at Panawangan Area – Ciamis, Indonesia. Proceedings Joint Convention Bali 2007. [7] W.M. Telford, Gedaart, L.P., and Sheriff, R.E. Applied Geophysics. Cambridge. New York. 1990. [8] A. M. Al-Bassam and M.T., Hussein. without year. Geoelectrical and hydro-chemical methods for groundwater investigations in coastal plains: example from Saudi Arabia. College of Science. King Saud University. P.O.Box 2455. Riyadh 11451. Saudi Arabia. [9] P.I.Tsourlos and R.D., Ogilvy. An Algorithm for The 3D Inversion of Tomographic Resistivity and Induced Polarisation Data: Preliminary Results. Journal of The Balkan Geophysical Societ. Vol. 2. No.2. May 1999. p. 30-45. [10] J.M. Reynolds. An Introduction to Applied and Enviromental Geophysics. John Willey and Sons. New York. 1997. [11] S. Asikin, Handoyo, A., dan Prastistho, B. Peta Geologi Lembar Banyumas, Jawa. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (P3G). Bandung. 1992.

Gambar 7. Hasil pemodelan resistivitas 1D dengan software Geolistrik Progress 3.0 di titik lokasi Bulupayung 03. TABEL 4. INTERPRETASI LITOLOGI DATA RESISTIVITAS 1D DI LOKASI BULUPAYUNG 03 Urutan Lapisan 1 2 3 4 5 6 Resistivitas (Ωm) 37,08 105,72 75,95 11,58 7,39 3,26 Kedalaman (m) 0 – 1,92 1,92 – 5,00 5,00 – 10,83 10,83 – 31,31 31,31 – 46,95 > 46,95 Interpretasi Litologi Top soil Batupasir kasar kompak Batupasir kompak Lempung pasiran Lempung kasar Pasir

Berdasarkan Tabel 4 diketahui bahwa formasi batuan di titik lokasi Bulupayung 03 juga didominasi oleh Alluvium seperti batupasir kasar kompak, batupasir kompak, lempung pasiran, lempung kasar dan pasir [11]. Berdasarkan jenis formasi batuan tersebut, tidak terdapat batuan penyangga DAS yang kokoh untuk menahan gempuran air sungai. Pengamatan terhadap vegetasi di sekitar DAS Serayu di titik lokasi Bulupayung 03 juga tidak terlihat adanya tanaman besar berakar kuat untuk menopang dan melindungi DAS. IV. KESIMPULAN Berdasarkan hasil yang telah diperoleh dari penelitian ini dapat diambil beberapa simpulan, yaitu: 1. Nilai resistivitas lapisan batuan bawah permukaan di daerah penelitian diperkirakan sebagai berikut: a. Bulupayung 01 berkisar antara 4,88 hingga 60,00 Ωm dengan kedalaman interpretasi maksimum lebih dari 63,99 m.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

145

Efisiensi Energi Dari Tungku Sekam Dengan Kompor Bahan Bakar Campuran Air, Minyak Dan Gas Karbon (Asap) Dengan Metode Kavitasi
Mahasiswa Pasca Sarjana Departemen Fisika FMIPA, Institut Pertanian Bogor Kampus FMIPA IPB Darmaga Jl. Meranti Darmaga Bogor 16680, Indonesia Telp/ Fax : 0251-8625728 2 Departemen Fisika FMIPA, Institut Pertanian Bogor Kampus FMIPA IPB Darmaga Jl. Meranti Darmaga Bogor 16680, Indonesia Telp/ Fax : 0251-8625728 3 Lembaga Penelitian Badan Teknologi Nuklir (BATAN) SerpongTangerang Indonesia Email: casnan.ipb@gmail.com
1

Casnan 1, Irzaman2, Pudji Untoro3

Abstrak - Pertumbuhan ekonomi dan pertambahan penduduk yang terus meningkat menyebabkan pertambahan konsumsi energi di dunia meningkat. Di Indonesia diperkirakan kebutuhan energi nasional akan meningkat dari 674 juta SBM tahun 2002 menjadi 1680 juta SBM pada tahun 2020, meningkat sekitar 2,5 kali lipat atau naik dengan laju pertumbuhan rata-rata tahunan sebesar 5,2%. Namun, pasokan energi yang ada semakin hari semakin menipis. Untuk mengatasi hal tersebut perlu dilakukan suatu terobosan untuk mencegah terjadinya krisis energi. Salah satu energi yang terbarukan yang mempunyai potensi besar adalah pemanfaatan sekam padi untuk tungku sekam dengan efisiensi energi 14,34%-21,21%. Pemanfaatan sekam menjadi kompor menghasilkan gas karbon yang cukup banyak. Konsentrasi karbon yang berlebihan di udara bukan merupakan suatu hal yang baik bagi kondisi lingkungan, karena karbon yang terlepas ke udara secara berlebihan dapat mengakibatkan peningkatan suhu bumi. Sehingga diperlukan suatu alternative baru untuk memanfaatkan gas karbon hasil pembakaran sekam tersebut. Gas karbon hasil pembakaran sekam padi yang dicampur dengan hasil kavitasi campuran minyak dan air dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif. Tujuan pemanfaatan gas karbon pembakaran sekam padi adalah untuk menciptakan energi alternatif yang dapat mengurangi pelepasan karbon ke udara sebagai salah satu upaya untuk mengurangi dampak global warming dan energi murah yang dapat digunakan oleh masyarakat luas. Metode yang digunakan dalam pembuatan energi alternatif ini adalah dengan metode kavitasi. Minyak yang dicampur dengan air diberi getaran ultrasonik dari sonokimia sehingga menghasilkan uap kering, kemudian asap (gas Karbon) yang dihasilkan oleh tungku sekam dialirkan pada uap kering tersebut, sehingga campuran uap kering dengan asap (gas karbon) dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar yang siap digunakan dengan efisiensi energi 11,36% - 17,28%. Kata kunci

: Tungku Sekam, karbon, efisiensi energi , metode kavitasi

I. PENDAHULUAN Pertumbuhan ekonomi dan pertambahan penduduk yang terus meningkat menyebabkan pertambahan konsumsi energi di dunia meningkat. Pertumbuhan populasi dunia diperkirakan dapat menyebabkan krisis energi di tahun 2030. Konsumsi energi dunia meningkat sebesar 49 % atau 1.4 % per tahun dari 495 x 1015 Btu di tahun 2007 menjadi 739 x 1015 Btu di tahun 2035 [3]. Di Indonesia permintaan energi nasional diestimasikan meningkat dari 674 juta di tahun 2002 menjadi 1680 juta SBM di tahun 2020, peningkatan diperkirakan 2.5 kali lipat atau peningkatan rata-rata pertahun tumbuh 5.2% [6]. Jika tidak ditemukan cadangan energi baru, maka cadangan energi nasional diperkirakan akan semakin menipis. Sehingga perlu dilakukan berbagai terobosan untuk mencegah terjadinya krisis energi. Untuk mengantisipasi hal tersebut Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan blueprint pengelolaan energi nasional tahun 2005-2025. Kebijakan energi ini khususnya ditekankan pada usaha untuk menurunkan ketergantungan penggunaan energi hanya pada minyak bumi. Meningkatnya biaya mendorong upaya untuk mengembangkan teknologi yang efisien. Sekam padi memiliki potensi besar untuk digunakan sebagai bahan bakar dalam memproduksi energi alternatif [4]. Bagian yang dapat dijadikan sebagai energi alternatif adalah gas karbon hasil pembakaran sekam padi. Penggunaan gas karbon

sebagai energi alternative menjadi salah satu upaya untuk mengurangi jumlah karbon di udara karena gas karbon yang terlepas dalam jumlah yang berlebih memiliki dampak negative bagi lingkungan dan menjadi salah satu penyebab untuk meningkatkan suhu bumi yang mengakibatkan pemanasan global. II. METODE PENELITIAN Karbon Karbon atau juga yang disebut dengan zat arang merupakan salah satu unsur yang berbentuk padat, cair, maupun gas yang terdapat di dalam perut bumi, di dalam batang pohon, ataupun di udara (atmosfer). Sumber terciptanya karbon yang berada di udara dapat berasal dari pembakaran minyak dan gas dari kendaraan, industri, pembakaran hutan, asap yang keluar dari letusan gunung berapi, kayu yang dibakar, ataupun proses pelapukan tumbuh-tumbuhan. Konsentrasi karbon yang berlebihan di udara bukanlah merupakan suatu hal yang baik bagi kondisi lingkungan, karena karbon yang terlepas ke udara secara berlebihan dapat mengakibatkan peningkatan suhu bumi atau pemanasan global (global warming). Bersama gas-gas hasil pencemaran lain, gas karbon membentuk lapisan yang dapat menahan panas bumi keluar dari atmosfer sehingga menyebabkan suhu udara di bumisemakin panas.

ISSN 0853-0823

 

146

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Karakteristik utama dari produk karbon adalah hampir semua produk karbon bersifat basa (pH) 7), yang sama dengan arang, mungkin karena detasemen logam alkali. Tingkat karbon dalam ternak merupakan yang terbesar dan yang terkecil berasal dari kotoran lumpur, sedangkan untuk karbon yang berasal dari sekam padi berada diurutan ketiga.
TABEL 1. KARAKTERISTIK KARBON Carbon Product PH (H2O) 6.8 8.5 8.7 8.2 9.8 7.0

III. PEMBAHASAN Sekam yang merupakan kulit terluar dari gabah yang melimpah di tiap penggilingan padi. Sekam padi dapat dimanfaatkan untuk bahan bakar alternatif. Dengan teknologi kompor sekam segar bisa digunakan untuk memasak. Energi alternatif dengan menggunakan sekam padi lebih murah dibandingkan dengan energi yang lain.[4][5] Kompor sekam mempunyai efisiensi 14.34% sampai 21.21% dapat pada tabel 3.
TABEL 3. EFISIENSI ENENRGI MENDIDIHKAN 1 LITER AIR Massa Sekam (kg) 0.45 0.3 Air (0C) 98 96 97 KOMPOR SEKAM UNTUK

Sumber : [9]
Maximum Water Capasity (%) 497 57 232 294 117 184 Density (t/m3) 0.23 0.65 0.31 0.32 0.34 0.35

EC (mS/cm) 0.38 0.09 0.22 2.90 0.14 0.08

Sugarcane straw Sewage sludge* Rice husk Cattle waste* Charcoal 1 Charcoal 2

Efisiensi Energi (%) 14.34 20.91 21.21

Waktu (menit) 10 10 10

Kerosin Kerosin memiliki titik didih tertinggi dan biasanya digunakan sebagai Minyak tanah, Bahan bakar jet untuk air plane.
TABEL 2. PROSES DESTILASI BERTINGKAT Sumber : [1] Jangka titik didih (0C) Dibawah 30 30 – 180 180 – 230 230 – 305 305 – 405 Banyaknya atom karbon 1–4 5 – 10 11 – 12 13 – 17 18 - 25 Nama Fraksi Gas Bensin Minyak tanah Minyak Gas Minyak Gas Berat Penggunaan Bahan Bakar Pemanas Bahan Bakar Mobil Bahan Bakar Jet Bahan Bakar Diesel, Pemanas Bahan Bakar Pemanas

0.3

Metode Akustik Kavitasi Metode akustik kavitasi merupakan metode dimana terdapat variasi tekanan dalam cairan yang dilakukan dengan menggunakan gelombang suara, biasanya ultrasound 16 kHz-100 MHz. Perubahan kimia yang terjadi karena kavitasi disebabkan oleh berlalunya gelombang suara biasanya dikenal sebagai sonochemistry (Gambar 1). Jika tekanan yang cukup besar yang diterapkan pada cairan sehingga rata-rata jarak antara molekul molekul melebihi jarak kritis yang dibutuhkan untuk menahan cairan utuh, rongga atau void akan dibuat. Selanjutnya kompresi dan penghalusan siklus menyebabkan gelombang suara gelembung - rongga yang dibentuk untuk mengembangkan, mencapai maksimum ukuran gelembung tergantung pada kondisi operasi dan kemudian melepaskan sejumlah besar energi yang menghasilkan efek spektakuler.

Panas pembakaran sekam dapat mencapai 3300 Kkal dan bulk density 0,100 g/ml serta konduktivitas panas 0,068 Kkal. [4][5][8]. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan kompor sekam cukup prospektif untuk digunakan pada skala rumah tangga petani / pedesaan. Sekam mudah ditemukan di sekitar penduduk yang berada di pedesaan, Namun masih ada kelemahan pada kompor sekam yaitu masih banyak asap (gas karbon) yang dihasilkan dari kompor sekam yang belum termanfaatkan dan menjadi masalah untuk lingkungan. Gas karbon hasil pembakaran sekam saat ini dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif dengan menggunakan metode kavitasi. Gas karbon yang dihasilkan tidak lagi dilepas ke alam sehingga dapat mengurangi pelepasan karbon ke udara yang dapat menyebabkan perubahan suhu bumi. Tabel 4 menunjukan bahwa karbon yang dihasilkan pembakaran sekam padi sebesar 41,44%. Angka tersebut cukup besar menyumbangkan karbon yang dilepas ke udara. Jika penggunaan sekam padi semakin meningkat dikhawatirkan akan meningkatnya jumlah karbon di atsmosfir yang dapat menyebabkan perubahan suhu sebagai awal terjadinya global warming.
TABEL 4. HASIL AKHIR DAN PERKIRAAN ANALISIS BAHAN BAKAR SEKAM PADI

Gambar 1. Ilustrasi vibrasi cairan menjadi droplet-droplet oleh gelombang ultrasonik.[7]

ISSN 0853-0823

 

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

147

Karbon hasil pembakaran kompor sekam dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif dengan bantuan alat sonokimia. Penggunaan sonokimia menghasilkan getaran ultrasonic yang berguna untuk mengubah campuran air dan minyak menghasilkan uap kering. Setelah itu, gas karbon (asap) yang dihasilkan dari pembakaran sekam padi dialirkan pada hasil kavitasi campuran minyak dan air. Hasil proses tersebut dapat digunakan untuk mendidihkan air sebanyak 1 liter dengan efisiensi energi antara 11.36% 17.28%. Untuk mengetahui nilai efisiensi yang dihasilkan dari pemanfaatan karbon ini menggunakan persamaan berikut:[4] η = m c ∆t Ein Keterangan: η : Efisiensi energi m : massa air (kg) c : kalor jenis (J/kg0C) ∆t : perubahan suhu (0C) Ein : Energi input (J)
TABEL 5. HASIL PENGGUNAAN KARBON DAN CAMPURAN KEROSIN DAN AIR UNTUK MENDIDIHKAN 1 LITER AIR

Gambar 2 merupakan gambaran dari kompor yang dapat digunakan dengan pemanfaatan gas karbon sekam padi yang dicampur dengan air dan bahan bakar nabati. Sehingga energi yang dihasilkan dapat digunakan langsung dalam kegiata rumah tangga maupun industri.

IV. KESIMPULAN Salah satu energi alternatif yang memiliki potensi besar adalah dengan memanfaatkan gas karbon hasil pembakaran tungku sekam padi. selain murah dan efisien, pemanfaatan karbon dengan metode kavitasi akustik dari hasil pembakaran sekam padi juga dapat mudah diterapkan dalam kegiatan rumah tangga dan industri. Dengan peralatan sederhana dan bahan baku yang cukup murah diharapkan hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi semua kalangan dan diharapkan di masa depan tidak hanya karbon hasil pembakaran sekam padi yang dapat dijadikan energi alternatif tetapi juga jenis karbon dari hasil pembakaran apapun dapat dijadikan bahan baku. Sehingga selain menghasilkan energi alternatif tetapi juga dapat melestarikan lingkungan. PUSTAKA

(1)

Minyak/air (ml) 150:450 120:480 100:500

Air (0C) 95 99 97

Efisiensi Energi (%) 11.36 17.28 13.63

Waktu (menit) 11 15 13

[1]
[2]

[3] [4]

Hal ini menunjukan bahwa penggunaan gas karbon dari hasil pembakaran sekam padi dapat mengefisienkan penggunaan minyak yang cukup besar dengan panas yang relative tinggi.

[5]

Air + kerosin 

[6]

[7]

Sonokimia [8] [9] Kompor Sekam Gambar 2. Desain Gambar Kompor

C.F.Zahro. Penyulingan, Pemrosesan dan Penggunaan Minyak Bumi. Jurusan Kimia FMIPA Universitas Sumatra Utara, 2003. D.O.Albino. Emissions from multiple-spouted and spout-fluid fluidized beds using rice husks as fuel. School of Engineering and Architecture, Mindanao Polytechnic State College, Cagayan de Oro City 9000, Philippines, 2006. International Energy Outlook World Energy Demand and Economic Outlook, 2010. H. Irzaman, Darmasetiawan, H. Alatas, Irmansyah, A.D. Husin, dan M.N. Indro. Workshop on Renewable Energy Technology Applicaitons to Support E3i Village, 22 – 24 July 2008, Jakarta Indonesia, 2008. H. Irzaman,. Darmasetiawan, H. Alatas, Irmansyah, A. D. Husni, M.N. Indro, H. Herdhienata, K. Abdullah, T. Mandang, dan S. Tojo. Optimization of Thermal Efficiency of Cooking Stove with Rice-Husk Fuel in Supporting the Proliferation of Alternative Energy in Indonesia, 2009. Kementerian Negara Ristek (KNRT). Buku Putih Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Bidang Sumber Energi Baru dan Terbarukan untuk Mendukung Keamanan Ketersediaan Energi Tahun 2025, Jakarta, 2006. Liherlinah, Muhammad Sanny, Ahmad Rifki Marully, Mikrajuddin Abdullah dan Khairurrijal. Desain Prototipe Reaktor Steam Reforming Menggunakan Ultrasonik Nebulizer. Laboratorium Sintesis dan Fungsionalisasi Nanomaterial KK Fisika Material Elektronik, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung, 2008. R. Rachmat. Litbang Pascapanen. Dimuat pada Tabloid Sinar Tani, 4 Januari 2006 Y. Shinogi, H. Yoshida, T. Koizumi, M. Yamaoka, and T. Saito Basic characteristics of low temperature carbon products from waste sludge. Elsevier Science Ltd. All rights reserved, 2002.

ISSN 0853-0823

 

148

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Perhitungan Indeks Bias Atmosfer Bumi sebagai Fungsi Ketinggian
Siti Wahyuni1,2, dan Muhammad Farchani Rosyid2
Jurusan Fisika FMIPA Unnes Sekaran Gunungpati Semarang 50229 2 Kelompok Penelitian Kosmologi, Astrofisika, dan Fisika Matematik (KAM), Laboratorium Fisika Atom dan Inti, Jurusan Fisika FMIPA UGM Sekip Utara BLS 21 Yogyakarta yuni@staff.unnes.ac.id, farchani@ugm.ac.id Abstrak – Variasi indeks bias atmosfer terhadap ketinggian ditentukan berdasarkan kebergantungan indeks bias pada tekanan dan komposisi gas. Tekanan atmosfer sebagai fungsi ketinggian ditentukan dari hukum barometrik yang telah memperhitungkan temperatur atmosfer. Komposisi atmosfer dan variasi temperatur terhadap ketinggian didasarkan pada data-data yang telah ada dan terkait dengan lapisan-lapisan atmosfer.
1

Kata kunci: atmosfer, indeks bias, hukum barometrik

I.

PENDAHULUAN

[(n

2

−1

) (n

2

+2

)] = ∑
i

Riρ i ,

(1)

Atmosfer dapat diartikan sebagai gas yang menyelubungi benda angkasa. Gas-gas itu tertahan oleh gravitasi benda tersebut. Tidak setiap benda angkasa memiliki atmosfer. Benda angkasa semisal Bumi beserta planet-planet lain dalam tatasurya (kecuali Merkurius), bintang katai putih, dan bintang neutron yang memiliki atmosfer. Atmosfer Bumi dimulai dari ketinggian 0 km di atas permukaan air laut, sampai dengan batas yang tidak begitu jelas. Atmosfer tidak mempunyai batas mendadak, tetapi menipis lambat laun dengan bertambahnya ketinggian, dan tidak ada batas pasti antara atmosfer dan angkasa luar. Atmosfer tersusun atas beberapa lapisan, yang dinamai menurut fenomena yang terjadi di lapisan tersebut. Berdasarkan komposisi penyusunnya, atmosfer Bumi tersusun atas sekitar 78,084% Nitrogen, 20,9476% Oksigen, 0,934% Argon, 0,039% Karbondioksida, dan sisanya adalah campuran gas lain [1]. Pada kenyataannya, atmosfer Bumi sebagai medium tidaklah seragam, sehingga indeks biasnya bergantung pada posisi. Selain itu, karena atmosfer bergolak, maka indeks bias atmosfer juga bergantung pada waktu. Kedua fenomena itu mengakibatkan perjalanan sinar di ruang angkasa mengalami penyimpangan (defleksi). Pada pengamatanpengamatan posisi-posisi astronomis, penyimpangan (defleksi) ini sangat berpengaruh pada keakuratan data-data pengamatan. Artikel ini menyodorkan penurunan rumus indeks bias dengan memanfaatkan rumus barometrik yang telah memperhitungkan variasi temperatur atmosfer Bumi terhadap ketinggian. Dengan adanya rumusan ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pada peningkatan presisi pengamatan benda-benda astronomis. Tentang defleksi sinar-sinar yang memasuki atmosfer akan menjadi tema kajian dalam artikel lain yang menyusul. II. HUBUNGAN ANTARA INDEKS BIAS DAN TEKANAN Indeks bias campuran berbagai macam gas nonpolar diberikan oleh

dengan Ri adalah pembiasan jenis (specific refractivity) dan ρi kerapatan komponen gas ke-i [2] dalam atmosfer. Pada tekanan atmosfer, pembiasan jenis tidak terpengaruh (invarian) oleh perubahan kerapatan komponen udara sampai pada pendekatan yang sangat tinggi. Oleh karena itu besaran ini dapat dihitung melalui pengukuran mutlak pembiasan terhadap panjang gelombang pada salah satu kerapatan komponen, yaitu diberikan oleh 2 2 (2) R i = n i − 1 n i + 2 (1 ρ i )

[(

)(

)]

Persamaan (1) digunakan untuk mewakili indeks bias campuran gas, sedangkan kontribusi masing-masing komponen diberikan oleh perkalian antara kerapatan bagian dan kuantitas Ri yang hanya bergantung pada panjang gelombang. Berdasarkan komposisi penyusun atmosfer Bumi, indeks bias pada medium ini dapat diwakili oleh komponen yang dominan, yaitu dituliskan dalam bentuk (3) n 2 − 1 n 2 + 2 = R1 ρ 1 + R 2 ρ 2 , dengan indeks 1 dan 2, berturut-turut menyatakan besaran terkait Nitrogen dan Oksigen. Jika udara atmosfer yang kita tinjau merupakan gas ideal, maka dari persamaan keadaan diperoleh kerapatan sebagai (4) ρ = p RT , sehingga indeks bias dapat dituliskan sebagai fungsi tekanan, yaitu (n 2 − 1 ) = R p 1 + R p 2 . (5)

(

)(

)

(n

2

+ 2

)

1

RT

2

1

RT

2

III. RUMUS BAROMETRIK Rumus barometrik yang biasa dikenal luas diturunkan dengan anggapan bahwa atmosfer isotermal dan isogravitasional. Rumus barometrik ini berbentuk ⎛ mgz ⎞ . (6) p ( z ) = p ( 0 ) exp ⎜ − ⎟ ⎝ kT ⎠ Persamaan (6) menghubungkan tekanan p(z) gas ideal dengan massa molekuler m pada suatu ketinggian z di atas permukaan Bumi, dengan g adalah percepatan gravitasi

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

149

Bumi (dianggap seragam, yakni isogravitasional), k tetapan Boltzmann, dan T temperatur (juga dianggap seragam, yakni isotermal). Selanjutnya, pada pustaka [3] telah dibahas rumus barometrik yang telah memperhitungkan variasi temperatur atmosfer dan percepatan gravitasi terhadap ketinggian yang terbagi dalam dua pendekatan: pertama medan gravitasi tak seragam namun isotermal, dan kedua adanya gradien temperatur arah radial namun isogravitasional. Medan gravitasi tak seragam Tekanan pada ketinggian z di atas permukaan Bumi sesuai dalam pustaka [3] dinyatakan sebagai ⎛ mg 0 R 0 ⎞, z (7) ⎟ p ( z ) = p (0 ) exp ⎜ − ⎜ (z + R 0 ) ⎟ kT ⎝ ⎠ dengan g 0 adalah percepatan gravitasi pada permukaan Bumi, R0 jari-jari Bumi, k tetapan Boltzmann, dan p(0) tekanan pada permukaan Bumi yang diberikan oleh ⎛ mg 0 R 0 ⎞ exp ⎜ ⎟ , (8) ⎝ kT ⎠ NkT p (0 ) = Rw ⎛ GmM r ⎞ 2 ∫R 0 4 π r exp ⎜ kT ⎟ dr ⎝ ⎠ dengan r = R 0 + z [3]. Gradien temperatur arah vertikal Pada bagian ini ditinjau kasus gravitasi seragam di semua titik, namun terdapat perbedaan temperatur arah vertikal. Permukaan Bumi melepaskan kembali energi yang diperolehnya dari radiasi matahari melalui transfer panas ke atmosfer, sehingga wilayah terdekat permukaan Bumi merupakan wilayah terhangat, kemudian temperatur akan berkurang seiring meningkatnya ketinggian. Hal ini mengakibatkan adanya gradien arah vertikal. Adapun temperatur rata-rata pada permukaan Bumi adalah 140C (297 K) atau 150C (288 K), tergantung pada referensi. Indeks bias udara bergantung pada temperatur, memunculkan efek pembiasan ketika gradien temperatur cukup besar.

Gambar 1 memperlihatkan variasi temperatur pada ketinggian yang berbeda. Setiap penggal linier pada Gambar1 memenuhi persamaan (9) T (z ) = T 0 − β z dengan β adalah tetapan terkait kemiringan penggal kurva. Selanjutnya, Tabel 1 merupakan kompilasi dari Gambar1 dengan mengambil setiap penggal yang linier. Sama halnya dengan penurunan pada tinjauan gravitasi tak seragam, pada bagian ini tekanan pada ketinggian z dari permukaan Bumi diperoleh dari persamaan hidrostatik, yaitu
TABEL 1. PEMBAGIAN PENGGAL ATMOSFER BUMI BESERTA TETAPAN YANG TERKAIT Ketinggian (km) 0-11 11-20 20-47 47-54 54-84 84-94 94-140 T0 (0C) 15 -56,5 -56,5 -2,5 -2,5 -92,5 -92,5 Gradien β (K km-1) 6,5 0 -2 0 3 0 -3,1

⎛ β z p ( z ) = p (0 ) ⎜ 1 − ⎜ T0 ⎝

⎞ ⎟ ⎟ ⎠

mg

(10)

dengan m adalah massa molekular gas [3]. Kesulitan kita adalah menggabungkan kedua persamaan tekanan sebagai fungsi ketinggian untuk dua kasus di atas, yaitu persamaan (7) dan persamaan (10). Sesuai dengan hukum Newton tentang gravitasi, besar percepatan gravitasi pada ketinggian z di atas permukaan Bumi diberikan oleh GM , (11) g =

(R 0

+ z)

2

dengan G tetapan umum gravitasi, M massa Bumi, dan R0 jari-jari Bumi. Jika ketebalan efektif atmosfer Bumi (~ 500 km) dibandingkan dengan jari-jari Bumi (~ 6378 km), maka besar percepatan gravitasi disepanjang atmosfer efektif Bumi tidak berubah signifikan, nilainya mendekati konstan, yaitu sekitar 9,8 m/s2. Dengan asumsi semacam ini, dapat digunakan pendekatan yang kedua, yaitu isogravitasional namun terdapat gradien temperatur arah vertikal dalam merumuskan tekanan sebagai fungsi ketinggian. Oleh karena itu, yang akan kita gunakan selanjutnya adalah persamaan (10) untuk penggal yang mengandung gradien temperatur arah vertikal, serta persamaan (6) untuk penggal yang isotermal. Berdasarkan data pada pustaka [5], nilai tekanan sebagai fungsi ketinggian telah dapat dihitung, dan disajikan dalam Gambar 2. Sebagai perbandingan, nilai tekanan sebagai fungsi ketinggian berdasarkan hukum barometrik yang biasa, sesuai persamaan (6), disajikan dalam Gambar 3. Tampak bahwa kedua rumusan ini mempunyai kesesuaian nilai tekanan pada daerah sekitar troposfer, yaitu pada ketinggian 0 – 11 km.

Gambar 1. Temperatur sebagai fungsi ketinggian [4]

ISSN 0853-0823

150

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Tekanan sebagai Fungsi Ketinggian
100000 90000 80000

Tekanan (Hukum Barometrik)
100000,00 90000,00 80000,00 Tekanan (N/m2) 70000,00 60000,00 50000,00 40000,00 30000,00 20000,00 10000,00 0,00

Tekanan (N/m2)

70000 60000 50000 40000 30000 20000 10000 0 -10000 0 20 40 60 80 100 120 140 160 Altitude (km)

0

20

40

60

80

100

120

140

160

Altitude (km)

Gambar 2. Hasil Perhitungan Tekanan Atmosfer Bumi sebagai Fungsi Ketinggian (Altitude) Berdasarkan Hukum Barometrik diperluas

Gambar 3. Tekanan Atmosfer Bumi sebagai Fungsi Ketinggian (Altitude) Berdasarkan Hukum Barometrik yang Biasa

Selanjutnya, dengan semua besaran yang telah dapat dihitung, maka indeks bias atmosfer Bumi dapat ditentukan melalui persamaan (5) dengan temperatur
5, 078

dinyatakan oleh persamaan (9), sebagai berikut. Untuk penggal pertama (0 - 11 km)

⎛ 6,5 z ⎞ ⎛ 6,5 z ⎞ ⎟ ⎜1 − ⎟ ⎜1 − 2 n −1 288 ⎠ 288 ⎠ ⎝ ⎝ = 0,387 + 0,236 8,314 . (288 − 6,5 z ) 8,314 . (288 − 6,5 z ) n2 + 2
Untuk penggal kedua (11 - 20 km)

5,80

(12a)

exp (0,152 . z ) exp (0,174 . z ) n2 −1 = 9,09 ⋅ 10 − 2 + 4,51 ⋅ 10 − 2 2 216,5 216,5 n +2
Untuk penggal ketiga (20 - 47 km)

(12b)

2z ⎞ 2z ⎞ ⎛ ⎛ ⎜1 + ⎟ ⎜1 + ⎟ 2 216,5 ⎠ 216,5 ⎠ n −1 −3 ⎝ −3 ⎝ = 4,31 ⋅ 10 + 1,38 ⋅ 10 8,314 . (216,5 + 2 z ) 8,314 . (216,5 + 2 z ) n2 + 2
Untuk penggal keempat (47 - 54 km)

−16 , 504

−18,852

(12c)

exp (0,139 . z ) exp (0,122. z ) n2 −1 = 8,5 ⋅ 10 −7 + 2,49 ⋅ 10 −9 2 270,5 270,5 n +2
Untuk penggal kelima (54 - 84 km)

(12d)

n2 −1 = 3,62 ⋅ 10 −7 n2 + 2
Untuk penggal keenam (84 - 94 km)

3z ⎞ ⎛ ⎜1 − ⎟ ⎝ 270,5 ⎠ + 9,39 ⋅ 10 −10 8,314 . (270,5 − 3 z )

11, 002

3z ⎞ ⎛ ⎜1 − ⎟ ⎝ 270,5 ⎠ 8,314 . (270,5 − 3 z )

12 , 568

(12e)

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

151

exp (0,183 . z ) exp (0,209 . z ) n2 −1 = 05,5.10 − 20 + 2,14 ⋅ 10 − 24 2 180,5 180,5 n +2
Untuk penggal kelima (94 - 140 km)

(12f)

n2 −1 = 1,88 ⋅ 10 − 27 n2 + 2

3,1 z ⎞ 3,1 z ⎞ ⎛ ⎛ ⎜1 + ⎟ ⎜1 + ⎟ ⎝ 180,5 ⎠ ⎝ 180,5 ⎠ −33 + 6,36 ⋅ 10 8,314 . (180,5 + 3,1 z ) 8,314 . (180,5 + 3,1 z )
IV. KESIMPULAN

−10 , 648

−12 ,163

(12g)

Hasil akhir perhitungan indeks bias atmosfer Bumi sebagai fungsi ketinggian disajikan dalam Gambar 4.
Indeks Bias Atmosfer Bumi
1,0035 1,003 1,0025 Indeks B ias 1,002 1,0015 1,001 1,0005 1 0,9995 0 20 40 60 Altitude (km) 80 100 120

Telah diturunkan rumusan indeks bias atmosfer Bumi sebagai fungsi ketinggian sebagaimana disajikan dalam persamaan (12a) sampai dengan persamaan (12g). Akan tetapi, karena sumber data empiris yang penulis dapatkan masih terbatas, maka hasil perhitungan baru sekedar uji coba, belum menunjukkan hasil yang sebenarnya. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan masukan dari berbagai pihak demi kesempurnaan artikel ini. PUSTAKA
[1] CRC Handbook of Chemistry and Physics, edited by David R. Lide, 1997. [2] J.C. Owens, “Optical refractive index of air: dependence on pressure, temperature, and composition,” Applied Optics, Vol. 6, No. 1, January 1967. [3] M.N. Berberan-Santos, E.N. Bodunov, and L. Pogliani, “On the barometric formula,” Am. J. Phys. 65 (5), May 1997. [4] www.colorado.edu/geography/ class...1_sum08/ [5] www.lookchem.com

Gambar 4. Indeks Bias Atmosfer Bumi sebagai Fungsi Ketinggian (Altitude)

ISSN 0853-0823

152

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Estimasi Aliran Sungai Bawah Tanah Dengan Menggunakan Metode Geofisika VLF em, Mode Sudut Tilt di Daerah Dengok dan Ngrejok Wetan, Gunungkidul, Yogyakarta
Febria Anita dan Sismanto1
Iya_2802@yahoo.co.id, sismanto@ugm.ac.id 1 Jurusan Fisika, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Abstrak - Telah dilakukan penelitian estimasi aliran sungai bawah tanah di daerah Dengok dan Ngrejok Wetan Gunungkidul Yogyakarta dengan menggunakan metode geofisika elektromagnetik (em) VLF (Very Low Frequency) untuk mengetahui respon VLF mode sudut tilt. Interpretasi dilakukan dari data VLF sudut tilt dan elliptisitas untuk mengestimasi aliran sungai bawah tanah yang diinterpretasi secara kualitatif dan kuantitatif. Pengukuran dilakukan pada tanggal 24-28 November 2009. Pemprosesan data menggunakan bahasa komputasi MATLAB 7.5.0 dan software Inv2DVLF. Interpretasi kualitatif dilakukan dengan pengolahan data yang difilter dengan Moving Average melalui filter Karous-Hajelt dan filter Fraser sehingga memperlihatkan anomali benda konduktif bawah tanah. Sedangkan interpretasi kuantitatif menggunakan program Inv2DVLF untuk menentukan posisi sungai bawah tanah. Dari hasil penelitian dapat diketahui estimasi sungai bawah tanah di daerah Dengok dan Ngrejok Wetan Gunungkidul mengalir dari Timurlaut ke Baratdaya, terdiri dari dua aliran sungai bawah tanah dan tidak saling berhubungan dengan kedalaman berkisar 55-75 meter.

Kata kunci: respon VLF, mode sudut tilt, Inv2DVLF

I. PENDAHULUAN Morfologi karst Gunungsewu yang terletak di wilayah Gunungkidul merupakan kawasan perbukitan batu gamping (limestone) dengan bentangan alam karst yang tandus dan kekurangan air permukaan. Proses geologi pada kawasan karst ini terbentuk pada batuan karbonat yang mudah bereaksi dan larut dalam air, terutama air yang bersifat asam. Batuan karbonat berpotensial menghasilkan airtanah karena porositas sekunder hasil pelarutan akan membentuk rongga dengan diameter yang cukup besar sehingga air di atas permukaan akan mudah lolos ke bawah permukaan dan mengalirkan air dalam volume yang besar [1]. Air yang mengalir di bawah permukaan akan membentuk suatu pola aliran tertentu seperti sungai permukaan dengan melewati lorong-lorong gua yang dikenal sebagai aliran sungai bawah tanah. Untuk mengetahui jalur sungai bawah tanah yang melewati lorong-lorong goa tersebut diperlukan suatu metode geofisika yang efektif dan efisien sesuai dengan keadaan topografi di daerah Gunungsewu. Metode tersebut diharapkan dapat membantu melaksanakan pemetaan regional potensi sungai bawah tanah di kawasan karst. Sismanto pernah melakukan uji coba di sekitar Gua Bribin dengan metode VLF dan dihasilkan respon yang jelas dan akuisisi data yang relatif lebih mudah walaupun medan cukup berat, sehingga metode elektromagnetik VLF ini cukup menjanjikan untuk digunakan dalam pemetaan sungai bawah tanah seperti di daerah Gunungkidul Yogyakarta ini [2]. II. DASAR TEORI VLF-EM Persamaan Maxwell merupakan bentuk dari perambatan gelombang elektromagnetik yang berhubungan dengan vektor medan listrik dan medan magnet adalah: dan  

dengan = rapat arus listrik (A/m2), = medan listrik = induksi magnetik (Wb/m2), = pergeseran (V/m), 2 listrik (C/m ) dan = medan magnetik (A/m). Apabila tersebut sebagai fungsi waktu diasumsikan medan dan eksponensial, maka akan diperoleh persamaan vektorial sebagai berikut ;  

adalah konduktifitas listrik (mho/m), µ dengan permeabilitas (H/m) dan permitivitas dielektrik (F/m). Pada persamaan (2.3) dan (2.4) bagian kiri pada sisi kanan menunjukkan arus konduksi dan bagian kanannya menunjukkan sumbangan arus pergeseran. Medan elektromagnetik primer sebuah pemancar radio, memiliki komponen medan listrik vertikal Ez dan komponen medan magnetik horizontal Hy tegak lurus terhadap arah perambatan sumbu x. Pada jarak yang cukup jauh dari antena pemancar, komponen medan eletromagnetik primer Hy dapat dianggap sebagai gelombang yang berjalan secara horizontal. Jika di bawah permukaan terdapat suatu medium yang konduktif, maka komponen medan magnetik dari gelombang elektromagentik primer akan menginduksi medium tersebut sehingga akan menimbulkan arus induksi (Eddy Current) Gambar 1. Arus Eddy disebabkan oleh sebuah medan magnetik VLF pada bagian tanah yang lebih konduktif yang menghasilkan medan magnet sekunder dengan frekuensi

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

153

yang sama dan fase yang berbeda. Bagian magnetik vertikal Hz berguna untuk menentukan anomali dan sebagian besar instrument VLF membandingkan medan magnetik vertikal dengan medan magnetik horizontal yang bertujuan untuk mengamati sudut tilt [4].

Gambar 3. Parameter Polarisasi Ellips

Tangen dari sudut tilt dan eliptisitas dapat digunakan untuk membandingan komponen medan magnetik sekunder S vertikal dengan medan magnetik primer P horizontal, serta membandingkan komponen kuadrat dari medan sekunder S vertikal terhadap medan primer P horizontal [6]. III. METODE PENELITIAN
Gambar 1. Gelombang elektromagnetik untuk metoda VLF [3] TABEL 1. PARAMETER AKUISISI SURVEY VLF PARAMETER Jumlah lintasan Panjang tiap lintasan Spasi titik pengukuran Jumlah titik pengukuran lintasan Frekuensi pengukuran Data terukur NILAI PARAMETER 5 lintasan 990 m 10 m 100 titik 19800 Hz tilt, elliptisitas

Karakteristik gelombang elektromagnetik dalam metode VLF dapat dijelaskan sebagai berikut. Pada saat gelombang primer masuk kedalam medium, gaya gerak listrik (ggl) induksi es akan muncul dengan frekuensi yang sama, tetapi fase tertinggal 900 [5]. Gambar 2 menunjukkan diagram vektor antara medan primer P dan ggl induksinya. Kombinasi antara medan P dan medan S (Rcosα) disebut komponen real (in-phase) dan komponen yang tegak lurus P (Rsinα) disebut komponen imaginer (out-of-phase, komponen kuadratur).

tiap

Gambar.2. Hubungan ampitudo dan fase gelombang sekunder (S) dan primer (P) [5].

Jika medan magnet horizontal adalah Hx dan medan magnet vertikalnya adalah Hz, maka besar sudut tilt dapat ditunjukkan seperti Gambar 3, yang besarnya adalah:

Beberapa peralatan utama yang di gunakan dalam penelitian ini terdiri dar satu unit T-VLF Iris yang berfungsi sebagai receiver, enam buah baterai 1.5 Volt (pemakaian 8 jam) sebagai sumber daya untuk unit sensor dan sebuah baterai 9 volt sebagai daya internal monitor. Desain survei penelitian (Tabel 1) dengan metode Very Low Frequensi pada mode sudut tilt adalah sebagai berikut: 1. Mode sudut tilt digunakan untuk mengetahui struktur konduktifitas kontak geologi seperti zona alterasi, patahan, dan dike konduktif. 2. Arah strike target memiliki sudut toleransi ±45 derajat dengan lokasi pemancar (gambar 3). 3. Medan primer akan memberikan fluks yang maksimum jika memotong struktur, sehingga akan memberikan kemungkinan anomali yang besar. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambar 4 merupakan gabungan lima lintasan hasil pengolahan data sudut tilt dengan filter liniear yang dihitung pada berbagai kedalaman. Sehingga didapatkan indikasi adanya daerah konduktif dengan nilai rapat arus ekivalen yang tinggi. Kelima lintasan tersebut, bila dikorelasikan keberadaan sungai bawah tanah, diperoleh hasil interpretasi distribusi aliran sungai bawah tanah.

dan eliptisitasnya diberikan sebagai:

ISSN 0853-0823

154

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

dan Ngrejok Wetan Gunungkidul Yogyakarat maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1.Secara kualitatif sungai bawah tanah di Dusun Dengok dan Ngrejok Wetan terdiri dari dua sungai bawah tanah 2.Secara kuantitatif sungai bawah tanah mengalir dari arah Timurlaut menuju Baratdaya dan kedalaman sungai bawah tanah berkisar 55-75 meter. 

Gambar 4. Profil estimasi pola aliran sungai bawah tanah dengan kerapatan arus ekivalen

Gambar 5 merupakan distribusi profil estimasi kelima lintasan dari pemodelan ke belakang sungai bawah tanah bentuk model resistivitas pemodelan kebelakang dengan menggunakan software Inv2DVLF dibuat oleh Fernando A. monteiro Santos dari Universitas Lisboa (Portugal). Program ini telah diaplikasikan dan memperoleh hasil yang baik yaitu pada pemetaan hidrogeologi di pulau Santiago [7] dan pemetaan pencemaran hidrogeologi di pulau daerah berpenduduk [8]. Program ini mengasumsikan bahwa lapisan bawah permungkaan bersifat homogen sehingga nilai resistivitasnya memiliki satu nilai rata-rata dari seluruh lapisan daerah tersebut. Nilai resistivitas hasil pemodelan kebelakang berkisar dari (0 hingga 15000 ohm-meter). Nilai resistivitas terendah ditandai dengan warna biru dan resistivitas tertinggi ditandai dengan warna merah. Semakin rendah resistivitas batuan maka konduktifitas batuan yang berada disekitarnya semakin tinggi atau berbanding terbalik.

Gambar 6. Hasil gabungan estimasi sungai bawah tanah Bribin dari beberapa penelitian

UCAPAN TERIMA KASIH  Terimakasih kami sampaikan kepada Pemda. DIJ, Pemda. Kab. Gunungkidul dan masyarakat dusun Dengok, Ngrejok Wetan, Dayakan dan sekitarnya yang telah banyak membantu baik berupa fasilitas tempat, sarana dan kemudahan dalam kegiatan dalam penelitian ini. Tidak lupa pula kami ucapkan banyak terima kasih kepada Fernando A. monteiro Santos dari Universitas Lisboa (Portugal), atas software Inv2DVLF yang digunakan dalam penelitian ini. Begitu juga dengan rekan-rekan Geofisika yang telah bersama-sama di lapangan untuk pengumpulan data dan diskusi yang bermanfaat.   PUSTAKA [1] S.B. Kusumayudha. Hidrogeologi Karst dan Geometri Fraktal di
Daerah Gunungsewu, Adicita, Yogyakarta, 2005. [2] Sismanto, Eddy H, Sudarmadji, M. Nukman, dan W. Suryanto. Tanggapan Gelombang Elektromagnetik Frekuensi Rendah (VLF) dari Sungai Bawah Tanah: Sebuah Uji Coba Metoda VLF di Sekitar Goa Bribin, Gunungkidul, Yogyakarta, Jurnal Fisika Indonesia, No.2, Vol.VII, Edisi April 2003, 31-42. [3] H. Grandis. Aplikasi Metoda VLF-EM Untuk Studi Geofisika DekatPermukaan, Catatan Kuliah, Departemen Geofisika ITB, Bandung. 2005. [4] J. Milson. Field Geophysics, John Wiley&Son, London, 1989. [5] P. Kaikkonen. Numerical VLF Modelling, Geophysical Prospecting, 27, 815-834, 1979. [6] N.R. Peterson and Ronka, V., Five Years of Surveying With The Very Low Frequency-Elektromagnetik Method, Geoexploration, 9, page 726. 1971. [7] F.A.M. Santos, E.P. Almeida, M. Gomes and A. Pina. Hydrogeological Investigation In Santiago Island (Cabo Verde) Using Magnetotellurics And VLF Methods, Journal of African Earth Sciences. 45, 421–430. 2006a. [8] F.A.M. Santos, Mateus A., Figueiras J., and Gonçalves M.A.,. Mapping Groundwater Contamination Around A Landfill Facility Using The VLF-EM Method — A Case Study, Journal of Applied Geophysics xx, 2006b.

Gambar 5. Model estimasi aliran sungai bawah tanah dengan Inv2DVLF.

Dari Gambar 6 dapat diketahui bahwa estimasi aliran sungai bawah tanah dari beberapa penelitian gabungan yang telah dilakukan mengalir dari arah Timurlaut menuju Baratdaya. V. KESIMPULAN Dari penelitian yang telah dilakukan melalui proses pengolahan dan interpretasi data VLF di daerah Dengok

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

155

Reprocessing Data Seismik Untuk Meningkatkan Kualitas Penampang Stack
Nurita Sulistiana, Rina Dwi Indriana, Udi Harmoko
rita_heartpearl_2910@yahoo.com, rina_dei@yahoo.com, Udiharmoko@undip.ac.id Laboratorium Geofisika, Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Diponegoro Jl. Prof. Soedarto, SH Tembalang, Semarang

Abstrak - Telah dilakukan penelitian reprocessing data seismik marine 2D untuk meningkatkan image bawah permukaan, sehingga dengan reprocessing ini dapat mengetahui fokus yang lebih baik pada daerah target yang belum terlihat pada processing lama. Data yang digunakan adalah data yang pernah diolah, tetapi pada hasil processing lama masih terdapat random noise pada penampang stack nya. Processing lama dilakukan dengan migrasi poststack. Sedangkan reprocessing dilakukan dengan dua macam migrasi yaitu migrasi poststack dan migrasi prestack. Pada proses akhir, hasil dari reprocessing dibandingkan dengan hasil dari processing lama. Penampang prestack hasil reprocessing mengalami peningkatan image yang cukup signifikan. Pertama, penggambaran struktur penampang prestack hasil reprocessing mampu menggambarkan struktur sesar dengan lebih baik. Kedua, kemenerusan reflektor penampang prestack hasil reprocessing pada time 4000 mengalami perbaikan dibandingkan dengan penampang poststack processing lama. Studi ini sangat membantu dalam memperbaiki dan membuat image reflektor seismik menjadi lebih baik, sehingga dapat memudahkan dalam interpretasi. Kata kunci: noise, penampang stack, reflektor, migrasi poststack, migrasi prestack

I. PENDAHULUAN Semakin pesatnya kemajuan teknologi pada saat ini, mempengaruhi kemajuan pengolahan data khususnya di bidang geofisika. Sebagai contoh adalah dalam pengolahan data seismik. Tujuan dari pengolahan data seismik adalah untuk menghasilkan penampang seismik yang mencerminkan geologi bawah permukaan, sehingga memungkinkan interpreter untuk lebih mudah mendefinisikan prospek. Untuk memperoleh informasi yang lebih baik diperlukan suatu pengambilan data baru, tetapi umumnya pengambilan data baru tidak dilakukan karena biaya tinggi, waktu dan pembatasan lingkungan saat ini, sehingga akuisisi data baru tidak akan diizinkan dalam beberapa wilayah [1]. Proses pengolahan data seismik menggunakan perangkat keras maupun perangkat lunak yang ada pada waktu data tersebut diolah. Dengan semakin berkembangnya teknologi pengolahan data, reprocessing dapat dilakukan pada data seismik lama untuk menghasilkan penampang seismik yang lebih baik. Reprocessing data seismik merupakan suatu pengolahan ulang data seismik lama untuk meningkatkan image bawah permukaan, sehingga dengan reprocessing ini dapat mengetahui fokus yang lebih baik pada daerah target yang belum terlihat pada processing terdahulu. Dahulu pernah dilakukan akuisisi dan pengolahan data seismik dengan kualitas hasil processing yang diperoleh tidak maksimal. Faktor yang menyebabkan kualitas hasil processing lama tidak maksimal antara lain: 1. Noisy (masih banyak random noise yang mengganggu data). 2. Resolusinya rendah (karena merupakan data yang dilakukan akuisisi dan pengolahan sudah cukup lama kemungkinan ada keterbatasan teknologi waktu itu sehingga hasil processing tidak maksimal). Secara umum tujuan reprocessing adalah memperbaiki dan membuat image reflektor seismik menjadi lebih baik. Selain itu reprocessing dilakukan untuk mempertajam target zona lain yang belum fokus pada pengolahan sebelumnya. Hal ini

dilakukan agar zona yang menarik secara struktur geologi lebih tajam resolusinya dan lebih menggambarkan struktur geologi yang bagus pada kemenerusan event. Untuk mencapai tujuan tersebut, pada reprocessing diperlukan pemilihan parameter yang sesuai dengan karakter data agar dapat meningkatkan resolusi penampang seismik. Pemilihan parameter yang sesuai dengan karakter data dan permasalahan pada data merupakan tugas dari pengolah data seismik. Pengolahan data seismik merupakan hal yang penting agar diperoleh penampang seismik yang lebih baik untuk proses selanjutnya. Oleh karena itu pengolahan dari data mentah sampai menghasilkan penampang stack harus diberi perhatian dengan porsi yang besar [2]. II. METODE Pengolahan data seismik marine 2D dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak CGG Geovecteur series 5000. Tahapan pengolahan data untuk penelitian ini secara umum dilakukan dalam tiga tahapan yaitu preprocessing, processing dan postprocessing. Penelitian ini dititik beratkan untuk menghasilkan penampang stack yang lebih baik dibandingkan dengan penampang stack hasil pengolahan terdahulu, dengan indikator yaitu reflektor yang terlihat lebih jelas, noise yang banyak berkurang, sehingga struktur geologinya dapat mencitrakan kondisi geologi bawah permukaan yang lebih baik. Tahapan Preprocessing Tahapan preprocessing bertujuan untuk memperbaiki parameter fisik dari input (data seismik) melalui penyusunan geometri dan penguatan sinyal-sinyal refleksi. Tahapan preprocessing pada penelitian ini reformat, trace labelling geometry, summing trace, CDP gather dan koreksi amplitudo.

ISSN 0853-0823

156

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Tahapan Processing Pada tahap processing ini dilakukan dalam beberapa proses yaitu tahap analisis kecepatan, tahap SRME, tahap dekonvolusi, tahap radon demultiple, tahap koreksi NMO dan tahap filtering menggunakan filter f–k dan filter time variant. Tahapan Postprocessing Pada tahap postprocessing ini dilakukan proses migrasi yaitu migrasi poststack dan migrasi prestack. III. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada penelitian ini dilakukan analisis perbandingan penampang seismik hasil processing lama dengan hasil reprocessing untuk melihat keefektifan reprocessing dalam memberikan citra bawah permukaan yang lebih baik. Perbandingan Penampang Poststack dan Penampang Prestack Hasil Reprocessing Sebagai hasil akhir pengolahan data seismik didapatkan penampang seismik yang telah termigrasi. Migrasi dilakukan untuk mengembalikan reflektor ke posisi yang sebenarnya, sehingga dengan melakukan migrasi diharapkan reflektor berada pada posisi yang sebenarnya. Pada penelitian ini dilakukan dua jenis migrasi yaitu migrasi poststack dan migrasi prestack. Perbandingan penampang migrasi poststack dan prestack dilakukan untuk melihat keefektifan metode migrasi dalam memberikan citra bawah permukaan. Data prestack mempunyai data yang lebih banyak daripada data poststack. Hal ini dikarenakan pada data prestack terdiri dari sejumlah data mulai dari near offset sampai far offset sedangkan pada poststack data tersebut dilakukan stack pada zero offset sehingga jumlah data berkurang. Perhitungan prestack dilakukan untuk setiap trace, sehingga perhitungannya lebih detail dan memerlukan waktu yang lebih lama dan menghasilkan penampang yang lebih sesuai dengan geologi bawah permukaan yang sebenarnya. Migrasi poststack dilakukan setelah data dilakukan stack pada analisis kecepatan ketiga yang menunjukkan adanya peningkatan kualitas penampang seismik setelah dilakukan migrasi seperti yang terlihat pada gambar 1. Penampang stack hasil migrasi poststack menunjukkan bahwa reflektor berada pada posisi yang sebenarnya.

Pada migrasi prestack, data diolah sebelum dilakukan stacking yaitu setelah analisis kecepatan ketiga. Kemudian dilanjutkan dengan analisis kecepatan yang keempat dan stacking. Data yang telah dimigrasi dilakukan analisis kecepatan untuk yang keempat kalinya dengan tujuan untuk mendapatkan kecepatan yang sebenarnya karena reflektor telah berada pada posisi sebenarnya. Kualitas penampang seismik pada migrasi prestack ditunjukkan pada gambar 2, yang menunjukkan kualitas penampang seismik yang lebih baik bila dibandingkan dengan penampang seismik setelah analisis kecepatan ketiga maupun pada penampang stack pada migrasi poststack. Pada penampang stack hasil migrasi prestack terlihat detail struktur yang lebih baik terutama pada reflektor yang lebih dalam, sehingga image bawah permukaannya menjadi lebih terlihat jelas.

Gambar 2. Penampang prestack hasil reprocessing

Perbandingan Penampang Poststack Hasil Processing Terdahulu Dengan Penampang Poststack Hasil Reprocessing Perbandingan penampang poststack hasil reprocessing dengan penampang poststack hasil processing lama dilakukan untuk melihat keefektifan poststack yang diterapkan pada reprocessing dalam memberikan citra bawah permukaan. Gambar 3 menunjukkan penampang poststack hasil processing lama dan gambar 1 adalah penampang poststack hasil reprocessing.

Gambar 1. Penampang poststack hasil reprocessing

Gambar 3. Penampang poststack hasil processing lama

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

157

Berdasarkan perbandingan pada gambar 1 dan gambar 3 menunjukkan bahwa penampang poststack pada reprocessing memberikan kualitas hasil yang lebih baik bila dibandingkan dengan penampang poststack pada processing lama. Hal ini ditunjukkan dalam kemenerusan reflektor yang lebih jelas ditunjukkan pada penampang poststack hasil reprocessing. Jika reflektor semakin jelas maka penggambaran struktur juga menjadi semakin jelas. Terlihat jelas bahwa pada reprocessing, penggambaran struktur yang berupa sesar menjadi lebih jelas. Akan tetapi pada reprocessing ini, penggambaran struktur pada time yang lebih dalam kurang jelas karena reflektor yang kurang terlihat. Migrasi poststack pada reprocessing lebih efektif digunakan jika kedalaman timenya dangkal sehingga penggambaran struktur terlihat jelas semua. Perbandingan Penampang Poststack Hasil Processing Terdahulu Dengan Penampang Prestack Hasil Reprocessing Perbandingan penampang prestack hasil reprocessing dengan penampang poststack hasil processing terdahulu dilakukan untuk melihat keefektifan reprocessing dalam memberikan citra bawah permukaan. Gambar 3 menunjukkan penampang poststack hasil processing lama dan gambar 2 adalah penampang prestack hasil reprocessing. Penampang poststack pada processing lama terlihat adanya random noise yang menutupi event-event reflektor sehingga dapat menjadi kendala dalam proses interpretasi. Setelah dilakukan reprocessing pada data seismik seperti yang ditunjukkan pada gambar 2, terlihat random noise yang menutupi reflektor pada hasil processing terdahulu sudah berkurang. Hal ini karena reflektor mengalami peningkatan signal to noise ratio yang terlihat pada garis-garis reflektor yang menjadi lebih tegas. Jika diamati antara penampang poststack processing lama dengan penampang prestack hasil reprocessing, pada

penampang prestack hasil reprocessing terjadi peningkatan image yang cukup signifikan. Pertama dalam penggambaran struktur, untuk penampang prestack hasil reprocessing mampu menggambarkan struktur sesar dengan lebih baik, yang tidak digambarkan dengan baik pada penampang poststack processing lama. Kedua dalam kemenerusan reflektor, pada time 4000 ms terjadi perbaikan, jika pada penampang poststack processing lama pada time yang sama yaitu 4000 ms reflektor terlihat terputus-putus maka berbeda halnya dengan penampang prestack reprocessing dimana reflektor lebih kelihatan menerus. Hasil reprocessing data seismik menggunakan prestack migrasi secara umum menghasilkan penampang seismik yang lebih baik daripada processing lama. Sesar secara jelas digambarkan pada event reflektor patah (discontinuitas). IV. KESIMPULAN 1. Reprocessing data seismik menunjukkan adanya peningkatan kualitas penampang stack yang terlihat dengan semakin jelasnya image reflektor. 2. Migrasi prestack menghasilkan penampang stack yang lebih bagus daripada migrasi poststack. 3. Kualitas penampang stack hasil reprocessing lebih baik dibandingkan kualitas penampang stack hasil processing sebelumnya. 4. Pemetaan zona/area prospek lebih mudah karena hasil reprocessing yang lebih baik. PUSTAKA
[1] R.M. Avila, dan L.R. Nascimento. 2D Seismic Lines Reprocessing Using Prestack Time Migration: Case Study of the Solimões Basin. AAPG International Conference and Exhibition: Rio de Janeiro, Brazil. 2010. [2] Y. Ginting. Pemrosesan Data Seismik Lapangan Blackfoot. Skripsi Program Studi Teknik Geofisika Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung: Bandung, 2008.

ISSN 0853-0823

158

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Rancang Bangun Sistem Meja Objek Putar dan Visualisasi Objek Menggunakan Webcam Berbasis Komputer
Sumariyah, Heri Sugito, Evi Setiawati, Zaenul Muchlisin dan Hendra Ardian
Jurusan Fisika FMIPA UNDIP Kampus Tembalang UNDIP sumariyah@undip.ac.id

Abstrak -Telah dilakukan perancangan dan realisasi sistem meja objek putar dan visualisasi objek menggunakan webcam berbasis komputer. Sistem ini dapat memutar objek sekaligus mengambil citra secara otomatis.Sistem menggunakan motor stepper yang mampu berputar 1,8o untuk setiap step. Motor stepper dikopel pada gear dengan rasio 5 : 9 untuk mengubah sudut putar, sehingga putaran pada objek menjadi 1o untuk setiap step. Putaran motor stepper dikendalikan oleh komputer menggunakan Program Meja Putar yang berbasis Delphi 7. Pengendalian motor stepper dilakukan menggunakan antarmuka port parallel printer DB-25 yang level arus dan tegangannya telah disesuaikan dengan kebutuhan motor stepper pada rangkaian pengendali motor stepper. Pada sistem visualisasi objek menggunakan webcam dengan antarmuka USB, dan proses pengambilan citra juga dikendalikan oleh Program Meja Putar. Sistem dapat terealisasi dengan interval pengambilan citra pada Program Meja Putar yang dapat diatur sudut dari 1o sampai 30o. Dalam setiap proses, sistem ini akan memutar objek sebesar 180o sekaligus mengambil citra dan menyimpannya di dalam komputer setiap besar sudut tertentu. Kata kunci: Meja Objek Putar, Webcam, komputer

I. PENDAHULUAN Pemakaian komputer personal (PC) dapat dikembangkan ke berbagai kebutuhan dengan membuat perangkat lunak (software) dan menambahkan perangkat keras (hardware). Perangkat keras tambahan ini disebut sebagai antarmuka (interface equipment) yang berfungsi menghubungkan peralatan pelengkap tambahan dengan komputer [1]. Dalam penelitian ini telah dikembangkan salah satu pemakaian komputer yaitu sebagai pengatur Sistem Meja Obyek Putar Dan Visualisasi Obyek Sistem ini amat penting untuk Tomografi sinar-X yang berbasis Radiografi Digital karena tomografi sendiri pada dasarnya adalah sebuah metode pencitraan yang menyediakan tampang lintang objek dari semua sudut yang memungkinkan. Secara matematis, citra objek yang sudutnya berbeda-beda tersebut kemudian diolah menjadi sebuah citra 3 dimensi menggunakan perangkat lunak [2]. Pemutaran obyek dari semua sudut pada Tomografi sinarX yang berbasis Radiografi Digital dapat dilakukan secaran manual. Namun dengan cara manual diperoleh pergeseran sudut obyek yang kurang tepat dan tidak presisi juga memerlukan waktu lama [3]. Sementara untuk keperluan tomografi diperlukan pergeseran sudut obyek yang presisi dan ketelitian besar dengan waktu yang singkat. Hal ini akan berpengaruh terhadap hasil rekonstruksi citra. tomografi [4] Pengaturan pemutaran obyek secara otomatis dapat mnggunakan mikrokontroler, PLC (Programmable Logic Control) atau Komputer PC. Namun pengaturan pemutaran obyek secara otomatis menggunakan Komputer PC lebih memadai dibanding sistem pengendali lainnya. Hal ini disebabkan Komputer PC menggunakan bahasa pemrograman tingkat tinggi yang memungkinkan untuk dikompilasi dengan bahasa pemgrograman dari Sistem Radiografi Digital membentuk program CT Scan [5].

Disamping itu citra objek akan dapat ditampilkan dan disimpan untuk diproses lebih lanjut. II. METODE PENELITIAN Sistem terdiri dari sistem meja objek putar dan sistem visualisasi yang keduanya dikendalikan oleh komputer seperti terlihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Diagram blok sistem

Sistem pengoperasian meja objek putar dikendalikan oleh komputer menggunakan program Delphi 7 melalui port parallel. Setelah melalui port parallel, perlu dilakukan pengkondisian sinyal oleh rangkaian darlington agar level arus dan tegangan sesuai dengan yang dibutuhkan oleh motor stepper [6]. Keluaran dari rangkaian darlington ini langsung terhubung dengan motor stepper yang terkopel dengan gear pada meja objek putar [7]. Sedangkan gear-nya juga terkopel dengan as objek putar dan objek putar. Maka ketika motor stepper berputar, objek putar akan ikut berputar. Pada sistem pengambilan visualisasi objek, digunakan webcam yang menggunakan antarmuka USB [8]. Ketika sistem berjalan, webcam akan terus menerus mengambil citra dari objek dan menampilkannya pada layar komputer,

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

159

tapi belum tersimpan di dalam komputer. Citra dari webcam akan tersimpan di komputer setiap motor stepper berputar pada step tertentu, sesuai dengan pengaturan pada program Delphi yang berjalan. III. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Perancangan Meja Objek Putar Hasil perancangan sistem meja objek putar ini meliputi meja objek putar dan rangkaian elektronik pendukung seperti terlihat pada Gambar 2. Kerangka meja terbuat dari besi berlubang dengan panjang 55 cm dan lebar 35 cm. Sedangkan Objek putar terbuat dari akrilik, dimensi 20 x 8 x 8 cm dan dudukan as terbuat dari akrilik.

berasal dari catu daya. Catu daya ini memiliki level tegangan 12 volt dan arus listrik maksimal 5 ampere sehingga cukup untuk menggerakkan motor stepper yang membutuhkan tegangan 12 volt dan arus listrik 0,44 ampere. C.Hasil Perancangan Program Meja Putar Gambar 3 adalah hasil tampilan Program Meja Putar ketika digunakan. Program ini didesain untuk mengendalikan putaran motor stepper dan pengambilan gambar secara otomatis dari kamera .

(A)

(B)

Gambar 3 Tampilan awal Program Meja Putar

Jika webcam terpasang dengan benar maka Program Meja Putar akan menampilkan citra dari webcam pada jendela sebelah kiri dan terlihat seperti pada gambar 4
Gambar 2. Sistem meja objek putar

Dari Gambar 2 terlihat untuk nomor 1 adalah Kotak objek, 2 adalah As meja putar, 3 adalah Motor stepper, 4 adalah Gear dan 5 adalah Webcam. Motor stepper ini mempunyai ketelitian sudut putar terkecil 1,8o untuk setiap step. Motor steper dikopel dengan as meja putar menggunakan dua buah gear. Di sini gear selain berfungsi untuk memutar as objek, juga mengubah besarnya sudut putar. Pada motor stepper dipasang gear dengan 20 gigi sedangkan pada as dipasang gear 36 gigi. Dengan kata lain perbandingan gear antara motor stepper dengan as objek adalah 5 : 9. Akibatnya kecepatan putar antara motor motor steper dengan as objek menjadi berbeda. Pada saat motor stepper berputar satu step yaitu sebesar 1,8o, maka pada as objek hanya berputar sebesar 1o saja ,. As objek ini langsung terhubung dengan kotak objek, sehingga jika motor stepper berputar satu step maka kotak objek akan berputar sebesar 1o. B. Hasil Perancangan Rangkaian Elektronik Rangkaian elektronik ini mempunyai tiga buah bagian, yaitu antarmuka dari komputer, rangkaian darlington untuk menggerakkan motor stepper, dan catu daya DC. Rangkaian antarmuka yang menggunakan port parallel printer. Antarmuka ini berfungsi menerima sinyal dari komputer dan diteruskan ke rangkaian elektronik selanjutnya untuk dilakukan pengkondisian sinyal. Di antara 25 pin dari port parallel, hanya digunakan empat buah pin dari register data dan satu pin untuk ground. Empat buah pin dari register data ini kemudian dihubungkan dengan rangkaian darlington.. Pada rangkaian darlington ini digunakan dua buah transistor untuk setiap pin. Kedua buah transistor tersebut berfungsi menguatkan arus listrik dari masukan sehingga keluarannya dapat digunakan untuk menggerakkan motor stepper. Sedangkan arus yang digunakan untuk penguatan

Gambar 4 Citra hasil rekaman webcam

Pilihan sudut pengambilan citra adalah 1, 2, 3, 4, 5, 6, 9, 10, 12, 15, 20, dan 30 Nilai sudut pengambilan citra ini menentukan setiap berapa derajat citra dari webcam akan disimpan di komputer. Objek akan diputar sebesar 180o. Misalnya seperti yang terlihat pada Gambar 4, sudut pengambilan citra yang dipilih adalah 10 maka citra yang akan diperoleh adalah 19 buah. D. Hasil Pengujian Sistem Meja Objek Putar Pada pengujian ini digunakan tiga macam interval sudut, yaitu 20o, 15o, dan 9o. Dari ketiga pengujian diperoleh hasil persamaan regresi linear y = 0,989 x + 0,181 dengan r = 0,999 untuk interval 20 step, y = 0,985 x + 0,274 dengan r = 1 untuk interval 15 step, dan y = 0,988 x + 0,502 dengan r = 0,999 untuk interval 9 step (dengan x adalah step dan y adalah sudut putar). Besar sudut putar untuk ketiga persamaan tersebut adalah 0,929o per step untuk interval 20 step, 0,985o per step untuk interval 15 step, dan 0,988o untuk interval 9 step.

ISSN 0853-0823

160

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

IV. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan secara bertahap dapat diambil beberapa kesimpulan : 1. Telah dapat terealisasi sistem meja objek putar dan visualisasi objek menggunakan webcam berbasis komputer. 2. Objek dapat diputar dengan ketelitian sudut 1o dan dapat diputar untuk interval 1o, 2o, 3o, 4o, 5o, 6o, 9o, 10o, 12o, 15o, 20o, dan 30o. 3. Pengambilan citra dari objek dapat dilakukan secara kontinu. UCAPAN TERIMAKASIH Pada kesempatan ini kami mengucapkan beribu trimakasih kepada Tim riset Laboratorium Fisika Citra FMIPA UGM yaitu Prof.Dr.Kusminarto dan Dr. IG Bayu Suparta yang telah membimbing kami dalam Program riset hibah pekerti tahun 2009 PUSTAKA [1]. Sumariyah dan J.E Suseno, Komputerisasi Sistem Pemantau Hujan Melalui Gelombang Radio, Dosen Muda, 2005.

[2]. C. Kak and M. Slaney, Principles of Computerised Tomographic Imaging, IEEE Press, New York, 1988. [3]. Sumariyah, Evi Setyawati dan Zainul Mukhlisin , CT Scan 3D Berbasis sinar-X Floursens Digital, Laporan Penelitian Hibah Pekerti Tahun 2009. [4]. Warsito, Review: Komputasi Tomograf dan Aplikasinya dalam Proses Industri, Prosiding Semiloka Teknologi Simulasi dan Komputasi serta Aplikasi, 2005. [5]. G.B Suparta, N Waskito, Swakarma dan Kusminarto, Tomografi Komputer Sebagai Alat Uji Mutu Produk Industri, Hasil Penelitian Berpotensi, Lembaga Penelitian UGM, 2004. [6]. Sumariyah, J.E. Suseno dan I Arimono, Linierisasu Keluaran Pencatu Daya Menggunakan Komputer , Berkala Fisika vol.9 No.2, 2006. [7]. Sumariyah, M. Nur, dan A. Triyono, Pengembangan Dan Karakterisasi GeneratorPlasma Bergerak (mobile Plasma Generator), Berkala Fisika vol. 7 No.1, 2005. [8]. R. Mardika, Sistem Pengendali Dan Pemantau Lampu Lalu Lintas Melalui Internet Menggunakan Webcam, Skripsi Jurusan Sistem Komputer, Universitas Gunadarma, 2010.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

161

Aplikasi Radio Komersial Untuk Pengukuran Jarak Menggunakan Sinyal Sinus
Wahyu Widada
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Jln. Raya LAPAN Rumpin Bogor Indonesia w_widada@yahoo.com

Abstrak – Tulisan ini membahas aplikasi gelombang radio amatir/komersial untuk aplikasi pengukuran jarak antara stasiun radio transceiver dengan radio lain diposisi tertentu. Sinyal sinus 3000 Hz dikirim dengan radio transmitter, kemudian diterima dan dikirim kembali oleh radio pada jarak yang diukur. Jarak diukur dengan waktu tempuh dikalikan kecepatan gelombang radio dan dibagi dua. Prototipe yang telah dibuat mempunyai resolusi sekitar 545 meter dan telah diaplikasikan untuk mengukur jarak roket. Sistem ini dapat diaplikasikan untuk pengukuran jarak posisi diam maupun dikembangkan lebih lanjut untuk benda bergerak seperti untuk kendaraan, kapal, maupun pesawat. Kata kunci : pengukuran jarak roket, gelombang radio amatir I. PENDAHULUAN Pengukuran jarak sangat penting pada kehidupan seharihari, baik untuk jarak pendek maupun untuk jarak jauh. Pengukuran jarak dengan jangkauan yang jauh tidak dapat diukur secara langsung menggunakan alat manual, tetapi harus menggunakan bantuan gelombang sinar dan radio. Gelombang radio banyak dimanfaatkan untuk komunikasi data suara maupun untuk data-data digital. Dengan menggunakan gelombang ini, pengukuran jarak dapat dilakukan hingga jangkauan ratusan hingga ribuan kilometer. Jangkauan hingga ke satelit mencapai ribuan kilometer, sedangkan untuk pengukuran di bumi hingga mencapai ratusan kilometer. Alat ukur ini dapat kita buat dengan menggunakan radio komersial yang mudah diperoleh. Radio amatir dapat dimanfaatkan untuk mengukur jarak hingga ratusan kilometer, sedangkan radio untuk TV transceiver hanya untuk pengukuran jarak relatif pendek, tetapi lebih akurat dibanding dengan radio suara. Hal ini disebabkan TV transmitter mampu membawa sinyal dengan frekuensi hingga kira-kira 4.5 MHz, sedangkan radio amatir hanya dapat membawa sinyal dengan frekuensi kurang dari 4 KHz. Oleh karena itu sangat tergantung oleh sinyal sub-carrier yang dapat dibawa oleh radio tersebut. Tentunya dengan membuat radio transceiver sendiri akan sangat mudah sesuai kebutuhan untuk pengukuran baik jarak dekat maupun jarak jauh. Tulisan ini membahas aplikasi radio komersial atau radio amatir untuk diaplikasikan pengukuran jarak yang relatif jauh hingga ratusan kilometer. Prototipe yang telah dibuat berhasil mengukur jarak dengan resolusi 545 m dan telah dicoba hingga 8 kilometer pengukuran. Hasil ini dapat membuktikan bahwa radio komersial dapat dimanfaatkan untuk mengukur jarak dan dapat ditingkatkan lagi untuk pengukuran yang lebih akurat. II. TEORI PENGUKURAN JARAK Pengukuran jarak dilakukan dengan mengukur delay waktu antara sinyal radio pada saat dikirim dan sinyal radio pada saat diterima. Secara teori hal ini mudah dihitung, karena cepatan gelombang radio di atmospher sudah diketahui yaitu 3x108 m/sec. Karena jarak yang ditempuh oleh sinyal dua kali lipat dari jarak yang diukur, maka perlu dibagi dua. Ilustrasi pengukuran jarak adalah seperti pada Gambar 1 berikut.

Gambar 1. Skema perhitungan jarak dengan radio.

Perhitungan tersebut dapat ditulis dengan persamaan berikut ini. ∆T × C (1) R= 2 Untuk mengukur delay waktu, maka perlu sebuah sinyal yang dikirim via transmisi radio agar mudah untul digunakan dalam proses deteksi. Dalam hal ini sinyal sinus digunakan sebagai sinyal beacon atau pandu. Sinyal ini akan bergeser sejauh satu gelombang kemudian kembali seperti semula. Oleh karena itu jarak maksimum yang akan diukur, diusahakan tidak melebihi satu gelombang sinus ini, agar proses perhitungannya tidak kesulitan. Jika misal sinyal beacon yang dikirim adalah 3 KHz, maka satu gelombang ini berdasarkan persamaan (1) diatas sama dengan jarak 50 km. Jika jarak maksimum yang akan diukur adalah 100 km, maka sebaiknya sinyal beaconnya menggunakan frekuensi 1.5 KHz. Dalam pembuatan prototipe perlu digunakan sinyal beacon yang dapat dirubah-rubah frekuensinya untuk disesuaikan dengan jarak maksimum yang akan kita ukur. III. PROTOTIPE UJICOBA Prototipe untuk ujicoba alat ukur ini terdiri dari sebuah radio transponder, radio transceiver, sinyal beacon, dan sinyal prosesor. Radio transponder merupakan radio yang

ISSN 0853-0823

162

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

dapat menerima dan sekaligus mengirim kembali sinyal yang diterima pada frekuensi yang berbeda. Radio ini dapat menggunakan radio dual band VHF dan UHF yang dapat melakukan crossband repeater. Radio in ditempatkan pada posisi tempat yang akan diukur dari stasiun atau base stasiun. Sedangkan radio transceiver untuk mengirim sinyal beacon dan menerima kembali sinyal tersebut dapat dilihat pada Gambar 2. di bawah.

sampling maksimum 1 MSPS. Komponen ini cukup untuk membuat sinyal sinus dengan baik.

Gambar 2. Radio transceiver.

Radio komersial tipe DR-635T pada frekuensi UHF untuk frekuensi pengiriman sinyal dan frekuensi VHF pada frekuensi penerimaan kembali sinyal. Untuk mengukur jarak dengan jangkauan yang jauh, sangat diperlukan antena dengan ketinggian yang cukup, agar dapat menjangkau tempat yang jauh. Gambar 3 dibawah adalah prototipe prosesor 8 bit untuk memproses akuisisi data sinyal. Terdiri dari mikrikontroller 16 MHz, sebuah IC analog to digital converter ADC dan IC usb-serial converter. IC ADC yang digunakan adalah 8 bit dengam kemampuan sampling data maksimal 1 MSPS (mega sampling per second). Prosesor yang digunakan adalah mikrokontroller ATMega32.

Gambar 4. Signal generator untuk beacon sinus.

Gambar 5 di bawah adalah contoh sinyal sinus beacon yang dibuat dengan menggunakan sinyal generator pada Gambar 4. Frekuensi sinyal adalah 3 KHz dengan maksimum sampling DAC 1 MSPS. Kemudian sinyal analog tersebut dibaca secara langsung dengan ADC mikrokontroller pada gambar 2 diatas.
1 0.8 0.6 0.4

Amplitudo

0.2 0 -0.2 -0.4 -0.6 -0.8 -1

0

0.1

0.2

0.3

0.4

0.5

0.6

0.7

0.8

0.9 x 10

1
-3

Waktu [sec]

Gambar 5. Contoh sinyal beacon berbentuk sinus.

Gambar 3. Sinyal processing.

Proses komunikasi data dengan menggunakan data serial melalui USB to serial seperti pada gambar di atas. Kecepatan maksimum transfer adalah 921.600 bps. Jumlah data yang dikirim sebanyak 2000 data tiap sekali kirim. Sampling ADC maksimum adalah 275.000 tiap detik. Sehingga resolusi data dapat dihitung menjadi 545 meter. Resolusi ini cukup untuk pengukuran jarak jauh hingga puluhan kilo meter, terutama untuk objek bergerak seperti untuk roket dan pesawat udara. Sinyal beacon yang dikirim dibuat dengan menggunakan mikrokontroller di bawah ini. IC digital to analog converter menggunakan DAC080 juga 8 bit, dengan kecepatan

Jika sinyal sudah dibuat dan dapat diterima kembali walaupun secara langsung dengan menggunakan kabel, maka percobaan selanjutnya adalah dengan menggunakan radio. Jarak pendek pada kabel tidak cukup membuat delay waktu agar dapat dimonitor. Dari kemampuan sampling ADC saja perlu jarak hingga 545 meter agar dapat dilihat delaynya. Mengukur delay waktu antara dua sinyal yang digunakan adalah cross correlation. Hasil korelasi ini, jika dua sinyal sama persis maka posisi puncak sinyal tepat ditengah. Jika ada perbedaan delay waktu maka hasilnya bergeser sesuai dengan delay tersebut. Penggunaan fungsi korelasi ini memudahkan penentuan delay, disebabkan nilai puncak hanya satu tempat. Seperti contoh pada Gambar 6, maka jika terjadi delay waktu, puncak kurva akan semakin bergeser kekanan jika posisi sinyal beacon semakin jauh.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

163

150

100

50

Amplitudo

0

-50

-100

-150

0

50

100

150

200

250

300

350

400

450

500

550

Sample Waktu
Gambar 6. Contoh cross correlation pada saat delay 0 detik.

Gambar 8. Lokasi ujicoba pengukuran jarak peluncuran roket, pamengpeuk Jawa Barat. Gambar 9 di bawah adalah hasil percobaan pengukuran jarak secara langsung atau jarak pandang atau slant-range. Dapat dilihat digambar resolusi jarak kira-kira 545 meter, sebelum lebih dari jarak tersebut tidak akan ada perubahan jarak. Jika jarak maksimum adalah 8 km, maka nilai jarak terbagi menjadi 16 nilai.

Satu point pergeseran sinyal pada Gambar 7 senilai 545 meter. Gambar 7 adalah contoh hasil korelasi dengan delay waktu yang cukup besar, yaitu hampir seperempat gelombang sinus. Nilai kurva korelasi menjadi bergeser dari posisi tengah (jika tak ada delay). Untuk deteksi pergeseran tersebut, cukup dengan mengukur perbedaan posisi titik puncak. Dengan demikian secara umum prototipe yang digunakan dan algoritma telah dapat diintegrasikan untuk mengukur jarak pada ujicoba pengukuran secara nyata. Radio transponder (dual crossband) yang digunakan pada titik yang akan diukur jaraknya, menggunakan radio amatir tipe genggam yaitu ICOM-IC32A. Radio HT ini mempunyai kemampuan crossband repeater, atau dapat menerima dan sekaligus memancarkan kembali sinyal secara bersamaan.
Signal Radar Beacon dan Echo 1.5 1 0.5 0 -0.5 -1 -1.5

P ower S ignal

0

1

2

3 Time (sec)

4

5

6 x 10
-4

Delay Time with Cross-Correlation 400 300 200 Correlation 100 0 -100 -200 -300 -400 0 100 200 300 400 500 Delay 600 700 800 900 1000

Gambar 9. Hasil percobaan pengukuran jarak pandang roket. Dari hasil pembuatan prototipe dan percobaan diatas, maka dapat direkomendasikan beberapa hal agar kemampuan menjadi lebih meningkat. Antara lain adalah 1.) peningkatan kecepatan ADC prosesor, jika mampu hingga 40 MSPS maka resolusi akan meningkat menjadi 3.75 meter. 2). Kemampuan daya pancar radio juga perlu ditingkatkan lebar pitanya, semakin tinggi frekuensi yang dapat dikirim, maka akurasi pengukuran jarak juga akan meningkat. Radio amatir komersial rata-rata hanya mampun membawa sinyal hingga 4 KHz. Oleh karena itu perlu menggunakan radio tipe lain, atau dapat membuat perangkat radio tersendiri. Tetapi pada dasarnya, jika lebar pita meningkat, maka jangkauan radio menjadi tidak jauh. Oleh karena itu akurasi dan daya jangkau tidak mudah untuk disatukan dalam satu perangkat. Daya ukur sangat jauh, biasanya resolusi menjadi lebih jelek, sebaliknya daya

Gambar 7. Sinyal dengan perbedaan delay waktu.

Percobaan alat ini dilakukan untuk mengukur pergerakan roket. Percobaan dilakukan pada roket tipe RX100, yang mempunyai diameter 100 cm dengan daya jangkau maksimum kira-kira hingga 9 kilo meter. Gambar 8 adalah lokasi ujicoba, terlihat tenda tempat menaruh transceiver dan antenna untuk mengirim sinyal sinus dan antena untuk menerima.

ISSN 0853-0823

164

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

jangkau pendek, resolusi menjadi meningkat. Pengabungan dua hal tersebut dapat dilakukan dengan menambah biaya dan kerumitan perangkat yang dibutuhkan. IV. KESIMPULAN Telah dipaparkan pengukuran jarak dengan jangkauan jauh menggunakan radio komersial. Resolusi jarak sekitar 545 meter, tetapi masih dapat dikembangkan dengan menggunakan ADC kecepatan tinggi. Penggunaan radio transmitter bandwidth lebar dapat meningkatkan akurasi dan resolusi jarak, tetapi daya jangkau akan semakin pendek. Rancangan hardware harus disesuaikan dengan keperluan jarak yang akan diukur. Prototipe ini telah diujicoba untuk mengukur pergerakan roket dan dikalibrasi dengan

menggunakan data GPS. Metoda dan prototipe ini masih dapat dikembangkan lagi untuk aplikasi-aplikasi dalam bidang lain yang memerlukan pengukuran jarak jauh. PUSTAKA
[1]. NN. Distance_measuring_equipment, wikipedia.org/wiki/Distance_measuring_equipment [2]. P.K. Govind, Velocity Computations from Radio-Range Measurements, Aerospace and Electronic Systems, IEEE Transactions on 1974, vol. 5, pp. 636 - 642 [3]. Infineon Technologies AG (DE), Distance measurement in a radio communication device, United States Patent 7639182.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

165

Optimasi Spektrometer Fotoakustik Laser CO2 dan Aplikasinya Dalam Pendeteksian Konsentrasi Etilen di Dalam Tanah
Mitrayana1)*, M.A.J. Wasono1) dan Karno1)
1) Lab. Fisika Atom-Inti Jurusan Fisika FMIPA UGM, Yogyakarta, BLS 21 55281 *Corresponding author Email: mitrayana@ugm.ac.id

Abstrak - Telah dilakukan optimasi kinerja spektrometer fotoakustik (SFA) konfigurasi ekstrakavitas bersumberkan laser CO2 pada penentuan batas deteksi terendah (BDT) gas etilen (C2H4). Diperoleh BDT gas etilen sebesar (59 ± 7 ) ppt. Selanjutnya SFA digunakan untuk mendeteksi konsentrasi etilen di dalam tanah. Diperoleh konsentrasi etilen di dalam tanah sebesar (0,6 ± 0,3) ppm, (1,1 ± 0,2 ) ppm dan (2,2 ± 0,5) ppm, yang secara berurutan untuk daerah selatan, tengah dan utara dari kawasan hutan biologi UGM yang berlokasi di bagian barat gedung biologi dan gedung fisika FMIPA utara UGM. Sementara itu konsentrasi etilen akan semakin membesar ketika kondisi vakum sampel semakin lama. Kata kunci: Spektrometer fotoakustik, Etilen spektroskopi serapan optis, teknik FA menawarkan satu derajat sensitivitas yang lebih tinggi [6]. Karena banyaknya kelebihan yang dimiliki oleh spektroskopi fotoakustik laser CO2 ini, banyak para peneliti mengaplikasikan di berbagai bidang semisal untuk pemantauan lingkungan (di udara ambien, knalpot [pembuangan] mobil dan cerobong emisi gas), pada aplikasi medis dan pada aplikasi biologi (dalam fisiologi pascapanen, fisiologi tanaman, mikrobiologi dan entomologi) [7]. Perbaikan sensitivitas deteksi spektrometer FA telah dilakukan dengan mengoptimasi sel FA resonan yang dikombinasikan dengan sistem gas mengalir untuk kepentingan penelitian di bidang biologi dan pertanian menghasilkan batas deteksi etilen terendah sebesar (0,20 ± 0,02) nl/l pada tekanan 1 atm, lebar pita 1 Hz. Dengan menggunakan spektometer fotoakustik tersebut, etilen yang diemisikan oleh buah-buahan dapat dimonitor secara berketerusan [8]. Spektrometer fotoakustik konvigurasi intrakavitas telah dirancang dan diuji kinerjanya dengan batas detaksi terkecil gas uji adalah (148±16) pptv, (420±40) pptv dan (172±18) pptv, secara berurutan untuk gas etilen, aseton dan amonia. Kemudian spektrometer digunakan untuk mendeteksi konsentrasi ketiga gas biomarker yang diemisikan melalui gas pernapasan yaitu etilen, aseton dan amonia dari berbagai kondisi relawan. Dan telah ditemukan pula korelasi positif antara besar konsentrasi etilen, aseton dan amonia dari emisi pernapasan masing-masing terhadap besar kolestrol total, glukosa puasa dan SGOT dalam darah [8]. Dengan menggunakan kromatografi gas, Arsana dkk. [9] melakukan penelitaian mengamati pengaruh penggenangan dini dan potensi redoks terhadap produksi etilen. Selanjutnya, pada penelitian kali ini akan digunakan metode spektrometer fotoakustik untuk mendeteksi gas etilen di dalam tanah sekaligus menentukan konsentrasinya. II. METODE EKSPERIMEN Konfigurasi ekstrakavitas disusun dengan menempatkan sel fotoakustik diluar laser CO2 sebagaimana dalam Gambar 1. konfigurasi ini dipilih karena untuk memudahkan dalam penyetingan rangkainaan, namun jika dibandingkan dengan konfigurasi intrakavitas maka daya laser yang dihasilkan oleh konfigurasi ekstrakavitas lebih kecil. Cuplikan yang

I. PENDAHULUAN Tanah dapat didefinisikan sebagai medium alami untuk pertumbuhan tanaman yang tersusun atas mineral, bahan organik, dan organisme hidup. Bahan-bahan organik tanah terdiri dari sisa-sisa tanaman dan hewan dari semua tahapan dekomposisi karena kerja mikroorganisme tanah [1]. Sparling [2] menyatakan bahwa sejumlah mikroba memegang peranan penting pada tanah yang normal dan sehat, dan merupakan indikator dalam menentukan kualitas tanah. Etilen diidentifikasi sebagai unsur yang terkandung dalam atmosfer tanah, baik dalam keadaan aerobik maupun anaerobik. Etilen ini dihasilkan oleh aktivitas mikrobia. [3]. Ishii dan Kadoya [4] menduga bahwa etilen dibebaskan oleh aktivitas microbial dan non-microbial, meskipun pembebebasan non-microbial masih diperdebatkan. K. A. Smith dan Restall menduga bahwa sembarang mikroorganisme anaerobik hampir bisa dipastikan menghasilkan etilen di dalam tanah. Produksi etilen terjadi dalam keadaan aerobik maupun anaerobik [3]. Selama ini pengukuran gas etilen (C2H4) yang dihasilkan oleh sample (cuplikan) biologis dilakukan dengan menggunakan kromatografi gas (GC = Gas Chromatography ) yang dilengkapi dengan detektor ionisasi nyala (FID = Flame Ionization Detector). Cara pengukuran dengan metode GC tersebut mempunyai beberapa kelemahan, masalah kelemahan yang dimiliki oleh pengukuran dengan metode GC tersebut, terpecahkan dengan penggunaan metode baru yaitu metode spektroskopi fotoakustik (FA) laser [5]. Teknik spektoskopi fotoakustik (FA) telah digunakan dalam pendeteksian kelumit, karena menawarkan sensitivitas yang tinggi. Di dalam metode ini, sinar laser energi tinggi digunakan untuk meradiasi bahan yang akan di deteksi. Berkas cahaya akan menghasilkan suatu muai panas (peningkatan suhu) di dalam bahan, yang kemudian membangkitkan suatu gelombang akustik. Ciri-ciri dari gelombang ini tidak hanya ditentukan oleh koefisien serapan optis bahan, juga disebabkan oleh parameter-parameter fisis termal yang berkenaan dengan pemuaian panas, panas jenis dan kecepatan bunyi. gelombang akuistik juga dipengaruhi oleh hamburan optis yang mempengaruhi distribusi cahaya di dalam bahan. Karena itu, sehubungan dengan

ISSN 0853-0823

166

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

akan diselidiki ditempatkan dalam sel fotoakustik dan dikenai radiasi laser yang dimodulasi oleh chopper. Chopper ditempatkan didekat grating. Hal ini dilakukan untuk mengurangi derau dari chopper sekaligus menghindarkan masuknya sinar laser dari pantulan chopper ke sel fotoakustik.

2.

Gambar 1. Konfiguarasi ekstrakavitas

Sinyal yang muncul akibat pemanasan cuplikan yang dimodulasi dideteksi dengan mikrofon. Karena sinyal yang muncul sangat kecil maka dikuatkan dengan menggunakan lock-in (lock-in amplifier). Alat ini hanya menguatkan sinyal yang berfrekuensi sama dengan frekuensi referensi yaitu frekuensi choppernya. Karena daya keluaran laser tidaklah sama, maka sinyal dinormalisasi terhadap daya. Hal ini dilakukan dengan mencatat sinyal akustik keluaran lock-in bersamaan dengan daya lasernya yang dioptimasi menggunakan komputerisasi sistem spektroskopi. Konfigurasi eksperimen yang digunakan dalam pendeteksian etilen di dalam tanah ditunjukan dalam Gambar 2

beberapa tempat yang berbeda (dalam penelitian kali ini daerah/kawasan pengambilan sample dibagi 3 yaitu bagian utara, tengah dan selatan). Untuk masing-masing daerah diambil 3 sampel dari tempat yang berbeda, jadi total sampel ada 9. Untuk mengamati pengaruh lamanya sample dalam keadaan vakum terhadap konsentrasi etilen, sampel diambil dari daerah/kawasan yang memiliki kadar konsentarsi tertinggi, yang didapat dari penelitian sebelumnya. Dan untuk masing-masing sampel di variasi waktunya (lamanya sample dalam keadaan vakum) selama kurang lebih 1 jam untuk masingmasing sampel.

Pendeteksian sinyal fotoakustiknya untuk masing-masing sampel dilakukan pada garis laser yang paling tinggi serapannya yaitu pada garis laser 10P14, frekuensi dimana serapannya tertinggi, dan data disimpan dalam komputer secara otomatis. III. HASIL DAN PEMBAHASAN Untuk mendapatkan kinerja spektrometer fotoakustik yang optimal, maka komponen-komponen yang berhubungan langsung dengan aksi laser seperti grating, tabung laser, dan cermin keluaran harus benar-benar lurus. Selanjutnya, optimasi dilakukan dengan cara mengatur komposisi campuran medium aktif, hal ini dilakukan untuk mencari daya tertinggi dengan perbandingan CO2:He:N2 yang tepat. Didapat perbandingan CO2:He:N2 yang berbeda dalam beberapa waktu penelitian yang berbeda, yang merupakan perbandingan terbaik pada saat itu dimana dayanya tertinggi. Perbandingan CO2:He:N2 yang didapat adalah 55:20:45, 60:20:50, 60:15:45, dan 50:20:40 didapat daya laser 0,7 W, 0,9 W, 0,6 W, dan 1,6 W sebelum chopper dihidupkan dan 0,3 W, 0,27 W, 0,21 W, dan 0,2 W setelah chopper dihidupkan, secara berurutan. A. Laser CO2 A.1 Spektrum keluaran Dari Gambar 3. diperoleh 11 garis laser yang teragih dalam dua cabang (diidentifikasi menggunakan CO2 spectrum analyzer), 7 garis laser pada cabang 10P (10P14, 10P16, 10P18, 10P20, 10P22, 10P24, 10P26) dan 4 garis laser pada cabang 10R (10R26, 10R18, 10R12, 10R8). Hasil ini sudah cukup untuk keperluan dari penelitian ini, yaitu melakukan pengukuran terhadap gas etilen yang memiliki koefisien serapan tertinggi pada garis 10P14.

Gambar 2.Konfigurasi eksperimen pendeteksian konsentrasi etilen dalam tanah

Bahan uji yang digunakan adalah tanah yang diambil dari kawasan hutan biologi yang berlokasi di bagian barat gedung biologi dan MIPA utara UGM. Dari gambar 2.2 dapat dilihat bahwa bahan uji yang akan dideteksi diletakan di dalam toples (yang sudah di uji kevakumannya), kemudian di alirkan menuju sel FA dengan cara disentor oleh udara tekan, selanjutnya dialirkan menuju pengukur aliran gas agar laju alirannya stabil, dan diatur pada laju aliran 1 l/h, kemudian dari pengukur aliran gas dilanjutkan dengan mengalirkannya menuju sel FA. Untuk mendeksi keberadaan etilen di dalam tanah sekaligus menentukan kadar konsentrasinya, bahan uji (sampel tanah) di masukan kedalam toples (volume 1,5 l), tidak terlalu penuh, kurang lebih setengah dari volume toples. Dimana toples yang digunakan sebelumnya diuji dulu tingkat kevakumannya, kemudian toples tersebut ditutup rapat, diusahakan toples tertutup dengan sempurna. Perlakuan untuk sample divariasi menjadi dua yaitu: 1. Untuk mengamati sebaran gas etilen dari beberapa tempat yang berbeda, sampel tanah diambil dari

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

167

Gambar 3. Spektrum garis-garis laser CO2 konfigurasi ekstrakavitas

A.2 Kestabilan daya Kestabilan daya laser yang tampak pada Gambar 4. cukup bagus dan bernilai ≈ 0,66 /menit. Hanya saja tetap daya laser yang didapat masih kurang stabil, oleh karena itu kekurang stabilan daya laser ini diatasi dengan melakukan normalisasi sinyal fotoakustik terhadap daya laser dimana spektrometer beroperasi.
1,0 0,9

dihasilkan sinyal akustik sebesar (44,1 ± 0,5) mV/W (Gambar 7.), maka diperoleh hubungan 10ppm ≈ (44,1±0,5) mV/W. Dari hubungan ini, dan memasukan koefisien absorbs etilen pada garis laser 10P14 sebesar α C2 H 4 = 30,4 atm-1cm-1, maka tetapan sel dapat dicari

S

I

= FRαC

(tanggap mikrofon R = 7,5 mV/Pa) didapat Feks= 19342,11 Pa cm/W.
4,00 3,50
Sinyal/Daya  (mV/W)

Daya ekstrakavitas (Watt)

0,8 0,7 0,6 0,5 0,4 0,3 0,2 0,1 0,0 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75

3,00 2,50 2,00 1,50 1,00 0,50 0,00 10P12 10P14 10P16 Garis Laser 10P18 10P20

Waktu (menit)

Gambar 4. Grafik kestabilan daya laser pada garis 10P14

B. Kurva Resonansi dan Faktor Kualitas Dari Gambar 5. tampak bahwa frekuensi resonansi untuk gas etilen terjadi pada frekuensi chopper ve = (1620 ± 2) Hz dengan lebar puncak kurvanya (pita resonansinya) ∆v = (82 ± 4) Hz., dan diperoleh nilai Qe eksperimen sebesar (20 ± 1) . Faktor kualitas Q menyatakan tingkat kebocoran atau disipsi akustik dan merupakan nisbah antara energi yang disimpan dalam gelombang akustik dengan rugi per siklus yang dialami gelombang tersebut. Nilai Q yang tidak terlalu tinggi menjamin kestabilan pengukuran terhadap derau dan perubahan frekuensi chopper.
1,1 1,0 0,9 0,8

Gambar 6 Spektrum serapan gas etilen terhadap garis-garis laser CO2
0,05

0,04

Sinyal/Daya (V/W)

0,03

0,02

0,01

0,00 2400 2600 2800 3000 3200 3400 3600 3800 4000 4200

Waktu (detik)

Gambar 7. Kalibrasi spektrometer fotoakustik terhadap gas etilen 10 ppm pada garis laser 10P14

E. Derau dan Batas Deteksi Terendah (BDT)
0,5

Sinyal/Daya (mV)

0,7 0,6 0,5 0,4

0,4

0,2 0,1 0,0 -0,1 1000 1100 1200 1300 1400
1572,62 1657,43

Sinyal Derau (10 Volt)

0,3

-6

0,3

1500

1600

1700

1800

1900

2000

0,2

Frekuensi Chopper (Hz)

0,1

Gambar 5. Kurva resonansi gas etilen pada garis laser 10P14
0,0

C. Spektrum Serapan Gas Kelumit Dari Gambar 6. diketahui bahwa gas etilen menyerap pada garis 10P12, 10P14, 10P16, 10P18, dan 10P20, dan paling baik menyerap pada garis laser 10P14. D. Kalibrasi Spektrometer Fotoakustik terhadap Serapan Gas Kalibrasi dilakukan dengan cara mengalirkan gas etilen 10 ppm, dengan laju aliran 1 l/h, pada garis laser 10P14

0

200

400

600

800

1000

Waktu (detik)

Gambar 8. Derau sistem spektrometer fotoakustik pada garis laser 10P14

Dari Gambar 8 diperoleh sinyal derau sebesar (1,8 ± 0,1) µV/Hz1/2. Satuan 1/Hz1/2, kemudian dicari BDT menggunakan persamaan BDT = (C S n )N , dengan C

ISSN 0853-0823

168

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

konsentrasi sampel, Sn sinyal ternormalisasi dan N derau sistem. Untuk gas etilen 10 ppm didapatkan sinyal ternormalisasi (44,1±0,5) mV/W, maka didapat BDT spektrometer fotoakustik untuk cuplikan gas etilen sebesar (59 ± 7) ppt. F. Sinyal Latar Sinyal latar merupakan sinyal fotoakustik yang muncul selain dari hasil serapan sampel seperti akibat pemanasan jendela dan dinding sel dan memiliki nilai fase dan frekuensi yang sama. Dari Gambar 9. diperoleh sinyal latar ternormalisasi untuk garis laser 10P14 sebesar (0,48 ± 0,02) mV/W.
8 7 6

spektrometer digunakan untuk mendeteksi dan menentukan konsentrasi etilen di dalam tanah. H.1. Konsentrasi etilen di dalam tanah dari tempat yang berbeda (variasi tempat) Pada penelitian yang pertama akan dideteksi etilen di dalam tanah, dimana sampel tanah diambil di sekitar hutan biologi UGM, yang berada di bagian barat fakultas biologi dan MIPA utara, dan sampel tanah diambil dari bebeapa titik yang berbeda.
3,00 2,50
Konsentrsi etilen (ppm)

2,00 1,50 1,00 0,50 0,00

Sinyal Latar (10 V)

-4

5 4 3 2 1 0 0 200 400 600 800 1000 1200

selatan 1 selatan 2 selatan 3 tengah 1 tengah 2 tengah 3 utara 1 utara 2 utara 3 Lokasi pengambilan  sampel

W aktu (detik)

Gambar 11. Konsentrasi etilen di dalam tanah dari beberapa tempat yang berbeda

Gambar 9. Sinyal latar pada garis laser 10P14 dengan daya ekstrakavitas

G. Linieritas Gas Kelumit Linieritas sinyal fotoakustik gas kelumit diperoleh dari hubungan antara sinyal fotoakustik terhadap konsentrasi gas kelumit yang divariasi. Gambar 10. menunjukan kelinieran sistem spektrometer fotoakustik terhadap gas etilen yang ditunjukan

P < 0,0001 . Dari grafik diatas dapat ditunjukan bahwa

dengan

nilai

r 2 = (0,99 ± 0,02 )

dan

Dari Gambar 11. di atas dapat diketahui bahwa etilen di dalam tanah dapat di deteksi dan konsentrasinya di setiap tempat berbeda. bahwa berbedanya kadar konsentrasi etilen pada setiap tempat di sebabkan karena pada setiap tempat tersebut kandungan bahan-bahan organiknya berbeda-beda. Karena produksi etilen sangat bergantung terhadap bahanbahan organik juga bergantung pada keberadaan mikroorganisme di dalam tanah. Besarnya konsentrasi etilen di setiap tempat tersebut ditunjukan pada Tabel I

semakin besar konsentrasi gas etilen maka sinyal fotoakustik yang dihasilkan oleh serapan gas etilen semakin besar.

TABEL I. KONSENTRASI ETILEN DIDALAM TANAH DARI BEBERAPA TEMPAT YANG BERBEDA
Lokasi pengambilan tanah selatan 1 selatan 2 selatan 3 tengah 1 tengah 2 tengah 3 utara 1 utara 2 utara 3 Konsentrasi (ppm) 0,80 0,32 0,80 0,94 1,28 1,22 2,74 1,73 2,08

0,9 0,8 0,7

Sinyal/Daya (mV/W)

0,6 0,5 0,4 0,3 0,2 0,1 0,0 0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 1000 1100

Rata-rata konsentrasi etilen dari setiap daerah adalah selatan (0,6 ± 0,3) ppm, tengah (1,1 ± 0,2 ) ppm dan utara

Konsentrasi (ppb)

(2,2 ± 0,5) ppm.

Gambar 10.Linieritas sinyal fotoakustik terhadap konsentrasi gas etilen

H. Deteksi dan Penentuan Konsentrasi Etilen di Dalam Tanah Setelah kinerja spektrometer fotoakustik dalm pendeteksian gas kelumit etilen diketahui, selanjutnya

H.2. Pengaruh lamanya keadaan vakum sampel terhadap konsentrasi etilen Pada penelitian kedua diamati pengaruh lamanya keadaan vakum sampel terhadap konsentrasi etilen yang dihasilkan, hal ini dilakukan karena etilen dihasilkan dengan baik dalam keadaan anaerob. Dari Gambar 12. diketahui bahwa konsentrasi etilen akan semakin besar ketika keadaan

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

169

vakum sampel dalam toples semakin lama. Besarnya konsentrasi etilen terhadap lamanya sampel dalam keadaan vakum ditunjukan oleh Tabel II.
1,0 0,9 0,8 0,7 0,6 0,5 0,4 0,3 0,2 0,1 0,0 1 2 3 Waktu (jam) 4 5

(0,6 ± 0,3) ppm, tengah (1,1 ± 0,2 ) ppm dan utara (2,2 ± 0,5) ppm. Konsentrasi etilen sendiri akan
membesar ketika kondisi kevakuman sampel semakin lama. PUSTAKA
[1] N.S.S. Rao, Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman, (diterjemahkan olehSusilo, H.), Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta, 1994. R. Hindersah, dan T Simartama, Potensi Rizobakteri Azotobacter dalam Meningkatkan Kesehatan Tanah, Jurnal Natur Indonesia 5(2), 2004, pp. 127-133 A.M. Smith, Ethylene in Soil Biology, Biological and Chimical Research Institute, New South Wales Department of Agriculture, Australia, 1976, T. Ishii dan K. Kadoya, Ethylene Evolution from Organic Materials Applied to Soil and its Relation to The Growth of Graevines, J. Japan. Soc. Hort. Sci. 53(2), 1984, pp. 157-167. M.A.J. Wasono, Spektrometer Fotoakustik Ultra-Sensitif Pendeteksian Emisi Gas Produk Hortikultura Pasca Panen, Prosiding Simposium Spektrometer Fotoakustik dalam Teknologi Pasca Panen UGM, 25 Mei 2000, 1 dan 9. Z. Zhaou, Pulsed Photoacoustic Techniques and Glucose Determination in Human Blood and Tissue, Department of Electrical Engineering and Infotech Oulu, University of Oulu, Oulu, 2002. F.J.M Herren., G. Cotti, J. Oomens, S.L Hekkert, in Ensyclopedia of Analytical Chemistry; Photoacuostic Spectroscopy in Gas Monitoring, Meyers, R.R., ed. ,John Wiley & sons Ltd. Chichester, 2000. Mitrayana, Aplikasi Spektroskofi Laser pada Bidang Lingkungan dan Kedokteran, Lab. Fisika Atom dan Inti Jurusan Fisika FMIPA UGM, Yogyakarta. 2009. IGK.D Arsana, dkk., Hubungan Antara Penggenangan Dini dan Potensi Redoks, Produksi Etilen dan Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan dan Hasil Padi (Oryza Sativa) Sistem Tabela, Bul. Agron. (31) (2) 2003, pp. 37 – 41.

Konsentrasi etilen (ppm)

[2]

[3]

Gambar 12 Konsentrasi etilen terhadap lamanya sampel dalam keadaaan vakum TABEL II. KONSENTRASI ETILEN TERHADAP LAMANYA SAMPEL DALAM KEADAAN VAKUM
Lamanya kevakuman sample (jam) 1 2 3 4 5 Konsentrasi etilen (ppm) 0,29 0,55 0,73 0,82 0,87

[4]

[5]

[6]

[7]

[8]

IV. KESIMPULAN Dari hasil penelitian dan analisis data yang diperoleh selama penelitian, dapat disimpulkan 1. Spektrometer fotoakustik laser CO2 yang telah dioptimasi kinerjanya menghasilkan batas deteksi terendah (BDT) sebesar (59±7) ppt. 2. Rata-rata konsentrasi etilen yang didapat untuk setiap tempat pengambilan sampel di selatan, tengah, dan utara dari hutan biologi UGM, yaitu selatan
[9]

ISSN 0853-0823

170

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Optimasi Sistem Elektroosmosis dengan Variasi Pola Pulsa pada Proses Pengurangan Kandungan Air untuk Pelestarian Cagar Budaya
Chotimah*, Ar Rahim, Akrom Hasani, Detiza, Kuwat Triyana
Jurusan Fisika FMIPA UGM Sekip Utara Bulaksumur BLS 21 Yogyakarta Chotimah_w@ugm.ac.id Abstrak - Keberadaan air yang berlebihan dalam suatu bangunan menyebabkan bangunan menjadi lembab yang bila dibiarkan akan menimbulkan kerusakan. Upaya pengeringan secara konvensional, misalnya dengan pemanasan dibawah sinar matahari, melalui oven atau dibakar sangat tidak memungkinkan dilakukan pada suatu bangunan. Pemberian zat-zat kimia tertentu sangat tidak dianjurkan terutama untuk bangunan yang merupakan cagar budaya. Metode alternatif yang lebih aman untuk pengeringan adalah sistem elektroosmosis.Sistem elektroosmosis pulsa diterapkan pada medium berupa batu candi yang disusun bertumpuk. Dengan elektroda berbentuk lempeng dan jarak yang tetap dilakukan optimasi dengan variasi pola pulsa tegangan. Pulsa dibangkitkan oleh alat relai elektroosmosis yang mempunyai arus masukan 5 A dan tegangan searah 40 V. Sebagai pembanding dilakukan pengurangan kandungan air dengan metode pengeringan biasa yaitu melalui suhu kamar, dibawah sinar matahari dan menggunakan oven. Dari hasil eksperimen dengan 3 variasi pola pulsa ditemukan bahwa volume pengurangan air lebih banyak pada variasi pulsa dengan tegangan positif yang lebih besar. Kata kunci : elektroosmosis, pola pulsa, kandungan air, batu candi

I. PENDAHULUAN Indonesia yang beriklim tropis dengan curah hujan cukup tinggi membawa dampak yang kurang menguntungkan pada tingkat ketahanan bangunan. Air hujan yang merembes masuk ke pori-pori bangunan (dinding, lantai dan sebagainya) dan terperangkap menyebabkan bangunan menjadi lembab dan mudah rusak. Bangunan cagar budaya sangat rentan terhadap fenomena ini. Upaya untuk meminimalisir keruskan akibat perembesan air telah dilakukan dengan metode elektroosmosis. Teknologi EOP (Elektroosmosis Pulse) tebukti efektif untuk mengontrol gangguan air pada struktur beton dengan menancapkan elektroda di dalam beton [1] dan pada basement [2]. Dinding beton dengan campuran tanah liat lebih mudah dikeringkan dengan metode ini dibanding beton yang tersusun dari campuran kerikil [3]. Kajian awal prototipe sistem elektroosmosis telah dilakukan dengan medium pasir dengan variasi jarak dan variasi pasangan elektroda dengan tegangan yang mempunyai pola pulsa 85 detik tegangan positif, 5 detik tegangan negatif dan 10 detik tanpa tegangan [4,5]. Penelitian ini menggunakan sampel batu candi yang banyak dijual di toko materian bangunan. Batu candi disusun menyerupai susunan batuan pada candi. Diharapkan dengan model sampel ini lebih mendekati kenyataan akan susunan batuan pada bangunan candi. Selain itu penelitian ini juga melakukan variasi pemberian pola pulsa tegangan. II. TEORI Elektroosmosis merupakan suatu peristiwa pergerakan air dibawah pengaruh medan listrik. Elektroomosis terjadi pada suatu media yang berpori yang didalamnya terdapat air. Air tersusun atas molekul polar. Medium berpori membawa partkel negatif dan membentuk lapisan disekitar pori. Muatan positif ion (kation) akan berinteraksi dengan permukaan negatif pori. Kation membawa molekul bipolar

air dan membenuk kation terhidrasi. Kation terhedritasi kemudian membentuk lapisan listrik ganda sepanjang dinding pori [6]. Perpindahan kation dan anion yang terjadi sekeliling molekul air terjadi lebih cepat disekitar lapisan listrik ganda.

 
Gambar 1. Ilustrasi penerapan sistem elektroosmosis pada struktur bangunan yang lembab dengan

Jika pada medium dipasang elektroda dan diberi medan listrik, maka kation akan terhidrasi tertarik menuju katoda dan anion menuju anoda sehingga terjadi aliran air (Gambar 1). Pada elektroda akan terjadi polarisasi akibat penumpiukan kation dan anion, sehingga aliran air terhambat. Untuk mengatasi ini, dilakukan pemberian tegangan berupa pulsa yang bernilai positif, negatif dan netral bergantian. Adanya pembalikan arah tegangan membuat ikatan anion dan kation pada elektroda menjadi lepas dan mengurangi hambatan aliran molekul air, Pembangkit pulsa elektroosmosis merupakan rangkaian untuk membangkitkan tegangan searah (DC) yang arah polaritasnya bisa diubah pada periode waktu tertentu. Untuk membangkitkan tegangan berupa pulsa yang teratur, dirancang sistem dengan 4 relai yang mengatur pola pulsa

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

171

tegangan, sebagaimana ditampilkan pada Gambar 2 dan bentuk pola pulsa tegangan searah pada Gambar 3.

Gambar 2. Sistem pembangkit pulsa tegangan searah

gravitasi. Sebagai pembanding juga dilakukan pengeringan dengan beberapa metode pengeringan seperti membiarkannya di ruang terbuka, di bawah sinar matahari langsung, dipanaskan dalam oven dan juga dengan pemberian tegangan searah yang besarnya tetap. Pengamatan dilakukan pada masing-masing 4 sampel batu selama 4 jam. Set percobaan dengan sistem elektroosmisis ditampilkan pada Gambar 4 dengan meletakkan batuan sebanyak 81 potongan batu candi yag tersusun dalam formasi 3 x 3 dalam 9 lapis. Pada ujung wadah dipasang elektroda tembaga berupa lempeng sebagai elektroda. Pada masing elektroda dihubungankan dengan sumber tegangan searah 40 V dengan arus masukan 5 A yang dilengkapi relai untuk mengatur pulsa dengan pola masing-masing 80 detik, 10 detik dan 10 detik atau (80;10;10), 70 detik, 20 detik dan 10 detik atau (70;20;10), 60 detik, 30 detik dan 10 detik atau (60;30;10), dan 50 detik, 40 detik dan 10 detik atau (50;40;10). Setiap pengamatan dilakukan selama 7 jam dengan mengukur volume air yang dapat dialirkan.

Gambar 4. Konstruksi eksperimen sistem elektroosmosis

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Gambar 3. Contoh pola pulsa tegangan yang diterapkan pada sistem elektroosmosis dengan formasi (85, 5, 10) dengan periode 100 detik.

Ada beberapa jenis sistem elektroosmosis. Kebanyakan dari jenis yang ada adalah berupa sistem yang pasif yaitu sistem dengan penggunaan tegangan DC tanpa pemulsaan atau pembalikan polaritas elektroda. Pada sistem semacam ini umumnya beda potensial dibentuk dengan mengalirkan arus DC maupun AC pada elektroda. Dengan sistem tersebut, pemindahan air hanya berumur sangat pendek karena gaya osmosis akan mudah terbalik sehingga air akan mengalir kembali ke dalam obyek. Beberapa penelitian telah terbukti mampu mengatasi kelembaban atau bahkan air yang terjebak dalam sebuah obyek dengan menggunakan sistem tak merusak elektroosmosis. Dalam hal ini, anoda dipasang pada dinding dan lantai bangunan dengan membuat lubang dan saluran rangkaian elektronik. Katoda di tempatkan di luar dinding berhubungan langsung dengan tanah. III. METODE PENELITIAN Batuan disusun menyerupai susunan batuan pada candi yaitu dengan memotong batuan menjadi bangun ruang yang beraturan. Sebelumnya seluruh sampel batuan direndam dalam air selama 24 jam. Sampel kemudian digantung untuk mengetahui kondisi jenuh air yang diserap, yang ditandai dengan tidak adanya lagi air yang menetes karena pengaruh

Hasil uji coba dengan cara konvensional ditunjukkan pada Gambar 5. Rata-rata volume air yang menguap dalam satu sampel batu candi diperoleh dengan cara menghitung massa air yang menguap berdasarkan selisih massa sampel sebelum dan setelah perlakuan dengan asumsi massa jenis air yang diserap dan menguap sama dengan 1 g/cm3. Sementara itu, hasil eksperimen dengan berbagai macam pola pulsa disajikan pada Gambar 6. Anoda sebagai elektroda yang mana elektron ada dalam sel dan oksidasi terjadi, dan katoda sebagai elektroda yang mana elektron memasuki sel dan reduksi terjadi. Apabila dalam suatu elektrolit ditempatkan sepasang elektroda dan dialiri arus listrik searah, maka akan terjadi peristiwa elektrokimia yaitu gejala dekomposisi elektrolit, ion positif (kation) bergerak ke katoda dan menerima elektron yang direduksi dan ion negatif (anion) bergerak ke anoda dan menyerahkan elektron yang dioksidasi. Dalam deret potensial logam, logam-logam yang terletak di sebelah kiri atom hidrogen (H) sukar mengalami reduksi dan mudah mengalami oksidasi, logam-logam yang terletak disebelah kanan atom hidrogen (H) mudah mengalami reduksi dan sukar mengalami oksidasi. Oleh karena itu unsur-unsur logam yang berada disebelah kiri atom hodrogen (H) adalah logam yang aktif.

ISSN 0853-0823

172

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

anoda dan katoda. Hal ini mengakibatkan arus listrik mengalir sejalan dengan ion hidrasi yang mengangkut molekul air. Bentuk elektroda yang berupa lempeng memberikan peluang untuk gerakan molekul air dalam arah relatif lurus dibanding elektroda yang berupa batang. Nilai maksimum pada pola pulsa 60,30 10 ditengarai merupakan pola yang memberikan kesempatan bagi masingmasing anoda untuk melepaskan ikatan antara kation dan anion yang menempel pada masing-masing katoda yang menghambat laju aliran molekul air. Dengan bersihnya masing-masing elektroda dari masing-masing kation, menyebabkan molekul air yang yang terangkut oleh ion terhidrasi semakin banyak. Metode ini dapat diterapkan untuk bangunan dengan dimensi besar, dengan melakukan penempatan elektroda yang berpindah-pindah sesuai bagian yang telah dipetakan.
Gambar 5. Volume air yang menguap berdasarkan metode pengeringan: A ( terpapar matahari), B ( dalam oven suhu 50o C) dan C ( diberi tegangan tetap 12 V)

V. KESIMPULAN Dari hasil eksperimen yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa metode elektroosmosis mampu mengurangi keberadaan air yang terperangkap dalam medium berpori. Penerapan sistem elektroososis tanpa penerapan pulsa tegangan tidak memberikan efek pengeringan yang baik. Namun demikian pemberian pola pulsa yang sesuai (dalam hal ini dengan konfigurasi 60 menit, 30 menit dan 10 menit) dengan jenis medium akan semakin meningkatkan kinerja sistem elektroosmosis. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih diucapkan kepada Saudara Aji Muhammad Iqbal Bharata dan segenap teknisi LPPT UGM yang telah membantu memodifikasi sumber tegangan dengan varisi pola pulsa sebagaiamana yang digunakan dalam eksperimen ini. PUSTAKA
[1] V. F. Hock, M. K. McInerney, and E. Kirstein, Demonstration of Electro-Osmotic Pulse Technology for Groundwater Intrusion Control in Concrete Structures, U.S. Army Construction Engineering Research Laboratories, Champaign, IL, 1998. M. K. McInerney, S. Cooper, P. Malone, C. Weiss, M. Brady, S. Morefield, J.P. Bushman, J. Taylor, dan V.F. Hock, Electroosmotic pulse Technology for Controlof WaterSeepage in Concrete Structures, U.S. Army Construction Engineering Research Laboratories, Campaign, IL, 2002. S. Morefield, V. Hock, M. McInerney, O. Marshall, C. Marsh, dan S. Cooper, Control of Water Migration Through Concrete Using Electro-osmosis, U.S Army Engineer Research and Development Center Construction Engineering Research Laboratory, Champaign, IL., 2005. L. F. Fitria Ramayanti, Prototipe Sistem Elektroosmosis Sebagai Kajian Awal Keadaan Optimum Sistem Pada Berbagai Pasangan Elektroda, Skripsi S1, Fisika FMIPA UGM, Yogyakarta, 2009. Soumiyatun, Kajian Awal Prototipe Sistem Elektroosmosis Pada Media Pasir dengan Variasi Jenis Bahan Anoda, Skripsi S1, Fisika FMIPA UGM, Yogyakarta, 2009. P. Femmer, dan O. Marshal, 2002, New Ways of Mitigating Moisture Intrusion, Corrosion and ASR, OsmoTech and US Army Corps of Engineers, http://www.goosmo.com/, diakses 15 Februari 2011.

Proses pengeringan kandungan air secara konvensional sangat dipengaruhi oleh permukaan medium. Semakin luas permukaan, semakin banyak bagian medium yang bersinggungan dengan udara luar. Jika medium berupa susunan sampel batu maka luas permukaan efektif adalah luas permukan seluruh medium, bukan jumlahan luas permukaan masing-masing batu penyusun. Berdasarkan kenyataan ini, pengeringan dengan metode konvenional dengan memanfaatkan sinar matahari tidak bisa menjangkau lapisan bagian tengah. Dengan menggunakan oven atau pemanasan eksternal sangat tidak diajurkan jika digunakan untuk mengurangi volume air yang terperangkap terutama untuk bangunan yang merupakan cagar budaya, karena akan merusak lapisan luar penyusun bangunan tersebut.

[2]

[3]

Gambar 6. Volume air yang dapat dialirkan pada berbagai variasi pola pulsa tegangan

[4]

Pengeringan dengan metode elektroosmosis dalam beberapa variasi pola pulsa menunjukkan kemampuan yang cukup baik dalam upaya mengurangi keberadaan air dalam medium berupa susunan batuan berpori. Dari varisasi pola pulsa yang digunakan, terlihat pola 60,30,20 memberikan hasil yang terbaik. Dengan jenis elektroda yang sama untuk katoda dan anoda maka antara tidak ada perbedaan potensial antara

[5]

[6]

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

173

Aplikasi Sensor OPT101 Sebagai Pendeteksi Intensitas Cahaya untuk Rancang Bangun Densitometer Berbasis Mikrokontroler ATMega8535
Heri Sugito, Arifin Sijabat, M. Munir
Laboratorium Elektronika dan Instrumentasi Jurusan Fisika FMIPA Undip Semarang heri_fisika_undip@yahoo.co.id

Abstrak - Telah dilakukan penelitian aplikasi sensor OPT101 untuk merancang dan merealisasikan alat densitometer yang berfungsi sebagai pengukur besar derajat kehitaman atau densitas radiograf berbasis mikrokontroler ATMega 8535. Sistem dibangun dengan mengunakan sensor OPT101 sebagai pendeteksi intensitas cahaya yang diubah menjadi tegangan analog. Tegangan analog OPT101 diolah oleh mikrokontroler ATMega 8535 selanjutnya dikirim pada komputer untuk diterjemahkan menjadi besaran densitas. Pengujian dilakukan dengan membandingkan hasil pengukuran densitas alat hasil perancangan dengan densitas alat standar. Dari hasil penelitian ini diperoleh densitometer pengukur densitas film radiograf. Alat ini telah terkalibrasi dengan densitometer standard dengan koefisien korelasi sebesar 0,99. Kata kunci: sensor OPT101, densitas, radiograf, mikrokontroler ATMega 8535 I. PENDAHULUAN Nilai densitas optik radiograf diperlukan untuk mengetahui kualitas radiograf dan alat untuk mengukur skala densitas dari film radiografi disebut densitometer. Sinar-X yang melewati bahan akan mengalami perubahan intensitas dan menimbulkan perbedaan kehitaman (kontras) pada film. Perbedaan kontras ini membentuk gambar yang merupakan bentuk dari objek yang dilewati sinar-X. Untuk aplikasi tersebut, pada unit radiologi perlu diperhatikan kualitas dan skala densitas dari radiografnya [1]. Kualitas radiograf yang baik, sangat diperlukan untuk diagnosa suatu penyakit. Kualitas radiograf dapat didefinisikan sebagai kemampuan radiograf untuk menghasilkan gambar dari sinar-X yang melalui objek. Kualitas radiograf dalam memberikan informasi yang jelas mengenai objek yang diperiksa ditentukan oleh densitas optik, kontras radiograf, ketajaman dan resolusi. Berdasarkan keperluan uji kualitas radiografi maka perlu dilakukan penelitian dan realisasi pembuatan suatu alat densitometer yang berkualitas dan mempunyai ketelitian yang baik dengan harga yang relatif murah. Densitas optik radiograf merupakan tingkat kehitaman dari suatu radiografi. Densitas optik didefinisikan sebagai [2]: pada operasi sumber tegangan rangkap atau tunggal, yang sesuai untuk peralatan battery-operated. Kombinasi yang terintegrasi antara fotodioda dan transimpedance amplifier pada satu chip tunggal, mengurangi masalah yang biasa ditemui pada perancangan sistem seperti error kebocoran arus, noise yang berlebihan, dan puncak kapasitansi. Fotodioda yang berukuran 0.09x0.09 inci dioperasikan di dalam photoconductive untuk menghasilkan linieritas sempurna dan arus rendah [3]. B. Mikrokontroler AVR Atmega 8535 Mikrokontroler AVR (Alf and Vegard’s Risc Prosessor) merupakan salah satu perkembangan produk mikroelektronika dari vendor Atmel. Mikrokontroler AVR memiliki arsitektur RISC (Reduced Instruction Set Computing) 8 bit, dimana semua intruksi dikemas dalam kode 16 bit dan sebagian besar intruksi dieksekusi dalam 1 (satu) siklus clock. ATmega8535 menyediakan fasilitas ADC dengan resolusi 10 bit. ADC ini dihubungkan dengan 8 channel Analog Multiplexer yang memungkinkan terbentuk 8 input tegangan single-ended yang masuk melalui pin pada PortA. ADC memiliki pin supply tegangan analog yang terpisah yaitu AVCC. Besarnya tegangan AVCC adalah ±0.3 volt dari VCC. ADC mengkonversi tegangan input analog menjadi data digital 8 bit atau 10 bit. Data digital tersebut akan disimpan di dalam ADC Data Register yaitu ADCH dan ADCL. Sekali ADCL dibaca, maka akses ke data register tidak bisa dilakukan. Dan ketika ADCH dibaca, maka akses ke data register kembali enable. Untuk mengatur mode dan cara kerja ADC dilakukan melalui register ADMUX, ADCSRA, ADCL, ADCH dan SFIOR [4]. C. Komunikasi Serial RS-232 Komunikasi serial adalah pengiriman data secara serial (data dikirim satu per-satu secara berurutan) sehingga komunikasi serial lebih lambat dari komunikasi paralel. Pada penggunaan perangkat keras dapat dilakukan dengan Universal Asyncronous Receiver Transmitter (UART). Serial port mengirim logika 1 dengan kisaran

D = log
(1) Dengan

I0 I

I 0 adalah intensitas awal, I adalah intensitas setelah menembus objek dan D adalah densitas optik.
Realisasi alat pada penelitian ini menggunakan sensor OPT 101 yang merupakan sensor pengubah intensitas cahaya menjadi tengangan listrik, mikrokrotroler AVR ATMega8535, dan program Visual Borland Delphi 7 untuk menampilkan hasil ukur densitas pada layar komputer. A. Sensor OPT 101 OPT101 adalah fotodioda monolitis dengan chip transimpedance amplifier. Tegangan keluaran meningkat secara linier terhadap intensitas cahaya. Amplifier dirancang

ISSN 0853-0823

174

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

tegangan -3 volt hingga -25 volt dan logika 0 sebagai +3 volt hingga +25 volt [5]. D. Borland Delphi 7 Delphi merupakan Compiler atau penerjemah bahasa Delphi (awalnya dari Pascal) yang merupakan bahasa tingkat tinggi sekelas dengan Basic dan C. Bahasa pemograman di Borland Delphi disebut bahasa prosedural, artinya bahasa atausintaknya mengikuti urutan (prosedur) tertentu. Delphi termasuk keluarga visual sekelas Visual Basic dan Visual C, artinya perintah-perintah untuk membuat objek dapat dilakukan secara visual. Pemograman tinggal memilih objek apa yang ingin dimasukkan kedalam form /window, lalu tingkah laku objek tersebut saat menerima event (aksi) tinggal dibuat programnya [6]. II. METODE PENELITIAN Skema sistem alat yang dibuat dan merupakan alur kerja sistem, secara garis besar ditunjukkan pada Gambar 1. Sensor fotodioda OPT 101 digunakan untuk menangkap besar intensitas cahaya yang melewati film radiograf dan mengubahnya menjadi tegangan analog. Tegangan analog tersebut merupakan input pada mikrokontroler AVR8535. Tegangan analog ini kemudian diubah oleh rangkaian ADC pada mikrokontroler menjadi nilai digital selanjutnya dikirim ke komputer melalui koneksi serial RS-232 dan ditampilkan pada komputer dengan tampilan Borland Delphi. Nilai yang ditampilkan pada komputer menyatakan besarnya densitas film radiograf yang terukur. Sensor OPT101 merupakan rangkaian fotodioda yang dipadukan dengan rangkaian penguat (amplifier) memilki impedansi keluaran rendah sehingga mudah untuk melakukan pengukuran keluarannya. Sensor ini memiliki sensitivitas 0,45 V/µW dengan luas fotodioda 5,2 mm2. Tegangan keluaran mengalami peningkatan 0,45 volt untuk setiap kenaikan daya 1 µW. Agar keluaran tegangan lebih stabil diperlukan sebuah rangkaian RC-Dumper yang berfungsi sebagai penahan tegangan keluaran sehingga tegangan keluaran menjadi stabil. Gambar 2. merupakan rangkaian sederhana sensor OPT101.

Gambar. 2. Rangkaian sensor OPT101 [3]

Sinyal analog dari OPT101 dapat diolah dalam ADC mikrokontroler menjadi data digital sehingga dapat ditampilkan dalam komputer. Pada Gambar 3. yang merupakan sistem minimum mikrokontroler ATMega8535, port MOSI, MISO, SCK, GRND dan RESET digunakan untuk memasukan program ke dalam mikrokontroler dengan menghubungkan port-port tersebut dengan rangkaian AVR ISP (rangkaian downloader) yang telah dihubungkan dengan komputer.
1 2 3 4 5 6 7 8 14 15 16 17 18 19 20 21 9 SW-PB 12 13 C1 33pf 2 PB0 (XCK/T0) PB1 (T1) PB2 (AIN0/INT2) PB3 (AIN1/OC0) PB4 (SS) PB5 (MOSI) PB6 (MISO) PB7 (SCK) PD0 (RXD) PD1 (TXD) PD2 (INT0) PD3 (INT1) PD4 (OC1B) PD5 (OC1A) PD6 (ICP) PD7 (OC2) RESET XTAL2 XTAL1 PA0 (ADC0) PA1 (ADC1) PA2 (ADC2) PA3 (ADC3) PA4 (ADC4) PA5 (ADC5) PA6 (ADC6) PA7 (ADC7) PC0 (SCL) PC1 (SDA) PC2 PC3 PC4 PC5 PC6 (TOSC1) PC7 (TOSC2) VCC AVCC AREF GND GND 11.0992 MHz C2 33pf 18pF 1 ATmega8535-16PC 40 39 38 37 36 35 34 33 22 23 24 25 26 27 28 29 VCC 10 30 32 31 11

MOSI MISO SCK

VCC R1 10K Reset

C1
10uF

Gambar. 3. Sistem minimum mikrokontroler ATMega8535 [7]

Gambar 1. Skema alat

Pada gambar 3, Pin 12 dan 13 dipasang kristal sebagai sumber clock eksternal. Suatu mikrokontroler membutuhkan detak (clock) agar dapat menjalankan instruksi program yang telah dimasukan ke dalam mikrokontroler dan disimpan dalam memori mikrokontroler. Pada rangkaian digunakan sumber detak (clock) kristal 11,0592 MHz. Besarnya nilai kristal akan menentukan kecepatan mikrokontroler. Pada perancangan digunakan IC MAX232 sebagai pengubah level tegangan agar dapat berkomunikasi dengan komputer melalui port serial DB9. Rangkaian komunikasi serial terdiri dari sebuah IC MAX 232 dan empat buah kapasitor polar sebagai filter dan stabilizer. Rangkaian ini mengunakan catu daya 5 volt. Serial port RS232 terhubung ke mikrokontroler melalui IC MAX 232 yaitu pin 13 data receiver satu masukan sebagai Rx (receiver) dengan pin 3 DB 9 (data transmited) dan pin 14 (driver satu keluaran) sebagai Tx (transmitter) sedangkan pin 11 dan 12 menuju ke mikrokontroler.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

175

ADC yang digunakan pada perancangan adalah mode free running dengan 1 kanal, yaitu pada ADC0 dengan referensi tegangan dari VREF. ADC ini akan mengubah tegangan analog yang berasal dari rangkaian sensor OPT101 menjadi data digital 10 bit. Setiap perubahan tegangan akan sebanding dengan data digital hasil konfersinya. Jangkauan tegangan masukan ADC adalah 0-5 volt. Untuk menampilkan hasil ukur densitas pada layar komputer digunakan pemograman Borland Delphi 7. Saat aplikasi, maka akan ditampilkan nilai densitas dari film radiograf yang terukur. Urutan pemograman ADC dalam mikrokontroler ATMega 8535 ditunjukkan oleh diagram alir pada gambar 4.

menggunakan LED menghasilkan cahaya merah yang dilewatkan pada film standar kemudian dilakukan pengukuran tegangan keluaran sensor OPT101 dengan menggunakan multimeter. Dari hasil pengukuran pada Tabel I terlihat semakin besar tingkat densitas semakin kecil tegangan keluaran sensor OPT101. Tegangan analog keluaran sensor ini merupakan masukan pada ADC mikrokontroler yang akan diubah menjadi data digital. Gambar 5 menunjukkan hubungan antara tegangan keluaran sensor OPT101 terhadap densitas standar.

B. Pengujian Densitas Terhadap Bobot Desimal Pengujian ini dilakukan dengan melakukan karakterisasi antara pembacaan densitas oleh sensor cahaya OPT101 terhadap data desimal keluaran ADC 10 bit yang dihasilkan
TABEL I HUBUNGAN DENSITAS TERHADAP TEGANGAN KELUARAN SENSOR
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Densitas 2,36 2,11 1,83 1,54 1,21 0,91 0,64 0,42 0,27 0,18 0,14 0,11 Tegangan keluaran sensor (mV) 17,8 32,1 69,6 172,2 436 995 1880 2740 3420 3880 4150 4235

Gambar.4. Diagram alir pemograman ADC dalam ATMega8535

III. HASIL DAN PEMBAHASAN Pembahasan meliputi pengujian karakteristik sensor OPT101, pengujian ADC pada mikrokontroler ATMega 8535 dan pengujian seluruhnya yaitu hasil perbandingan hasil ukur densitas alat dengan hasil ukur alat standar, terhadap film standar. Film standar ini diperoleh dengan menggunakan step wedge sehingga didapat film dengan beberapa densitas atau derajat kehitaman. A. Pengujian Sensor Cahaya OPT101 Pengujian ini dilakukan untuk menentukan karakteristik sensor OPT101 pada pengukuran densitas film radiograf. Hasil pengukuran ditampilkan dengan tabel perbandingan antara nilai ukur densitas dengan nilai tegangan keluaran sensor cahaya OPT101. Pada pengujian ini digunakan film radiograf yang telah diukur dengan alat standar sehingga nilai densitasnya telah diketahui. Sumber cahaya

Gambar 5. Hubungan tegangan keluaran sensor OPT101 terhadap densitas standar

oleh mikrokontroler melalui pembacaan komputer. Data hasil pengujian ditampilkan pada Tabel II. dan Gambar 6. Dari Gambar 6, didapat persamaan logaritma : (2) Dari persamaan (2) didapat estimasi a = 2,33, b = 0,32 dan c = -5,04. Dari Gambar 6 juga diperoleh model fungsi pendekatan logaritma yang paling tepat untuk menjelaskan hubungan antara densitas standar dengan bobot desimal keluaran ADC mikrokontroler. Persamaan ini kemudian dimasukkan ke listing program Borland Delphi 7 untuk menampilkan hasil pengukuran densitas yang mendekati karakteristik hasil standar, selanjutnya ditempatkan pada akuisisi data pada Borland Delphi.

ISSN 0853-0823

176

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

TABEL II DESIMAL
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

HUBUNGAN DENSITAS TERHADAP BOBOT
Densitas Standar 2,36 2,11 1,83 1,54 1,21 0,91 0,64 0,42 0,27 0,18 0,14 0,12 Bobot Desimal 6 7 9 17 39 91 211 390 589 745 824 870

Gambar 7. Hubungan densitas standar terhadap densitas hasil ukur alat

Dari Gambar 7 diperoleh persamaan regresi linier y=0.014+ 1.008x dan memiliki koefisien korelasi linier sebesar 0,99. Hal ini menunjukkan bahwa perbanding hasil ukur densitas alat dengan nilai densitas standar mendekati 1 atau memiliki presisi, hal ini menunjukkan bahwa alat cukup baik untuk digunakan mengukur densitas film radiograf. IV. KESIMPULAN Dari hasil pengukuran, didapat perbandingan nilai pengukuran antara densitometer hasil rancang bangun dengan alat ukur densitometer standar terhadap densitas film dengan korelasi linear sebesar 0,99. Nilai ini menunjukkan bahwa pengukuran dengan alat yang dibuat presisi dengan alat ukur standar.
Gambar. 6. Hubungan antara densitas standar terhadap bobot desimal

PUSTAKA
[1] F.Suyatno, Aplikasi Radiasi sinar-x dibidang kedokteran untuk menunjang kesehatan masyarakat, Yogyakarta, 2008. W. J Meredith, and J. B. Massey, Fundamental Physics Of Radiolog, Briston edisi 4 John Wright And Sons Ltd , 1997. Burr-Brown, Datasheet: Monolitic Photodiode And Single Supply Transimpedance Amplifiier, Texas Instrument, Dallas, 2003. L. Wardhana, Mikrokontroler AVR Seri ATMega 8535, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2007. W. Budiharto, Belajar Sendiri 12 Proyek Mikrokontroler Untuk Pemula, Elex Media Komputindo, Jakarta, 2004. Wahana Komputer, Pemograman Borland Delphi 7.0, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2003. Atmel, Datasheet: 8-bit AVR Microcontroller ATMega 8535, Atmel Corporation, San Jose, 2002.

C. Pengujian Keseluruhan Alat Pengujian keseluruhan alat dilakukan dengan melakukan pengukuran densitas standar dan hasilnya ditampilkan pada Delphi yang menunjukkan nilai densitas, sehingga didapat perbandingan hasil antara densitas pada alat ukur standar dengan densitas hasil ukur densitometer hasil perancangan. Perbandingan densitas film standar dengan hasil ukur alat ditunjukkan pada Tabel III dan Gambar 7.
TABEL III. PERBANDINGAN HASIL PENGUKURAN DENSITAS STANDAR DENGAN DENSITAS TERUKUR ALAT
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Densitas Standar 2,36 2,11 1,83 1,54 1,21 0,91 0,64 0,42 0,27 0,18 0,14 0,11 Densitas Terukur 2,35 2,12 1,89 1,53 1,18 0,89 0,59 0,39 0,26 0,18 0,15 0,12

[2] [3] [4] [5] [6] [7]

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

177

Perancangan Instrument Pengukur Intensitas Cahaya Matahari Global (ICMG) Menggunakan Sensor Solar Cell Sistem Logger
Toni Subiakto 1, Lalu Husnan Wijaya 2.
SPD – LAPAN Watukosek Jl. Raya Watukosek, Po. Box 4 Gempol – Pasuruan 67155 toni_wako@yahoo.com ,lalu_wako@yahoo.co.id

Abstrak – Perancangan instrument pengukur intensitas cahaya matahari global (ICMG) dengan menggunakan sensor solar cell ini memiliki jangkauan tegangan keluaran sensor antara : 0 ~ 3000 mV. Penguat tegangan yang dihasilkan dari sensor menggunakan rangkaian operational amplifier (Op-Amp) 2 tingkat sistem proportional dari IC 741, menempatkan variabel resistor sebagai feed-back yang dapat berfungsi untuk mengatur penyesuaian respon instrument terhadap hasil dari pengukuran alat lain sebagai acuan (referensi). Data hasil pengukuran berupa sinyal analog selanjutnya dikonversi ke digital pada unit ADC 12 bit dengan menggunakan chip IC AD574AKD. Tampilan data berupa grafik dan numerik ditunjukkan pada display komputer (PC) Dengan menggunakan sistem logger ini transformasi penyimpanan data dilakukan secara otomatis menggunakan soft-ware delphi. Yang tersimpan pada direktori dengan nama nomor file berdasarkan : tahun, bulan, tanggal dan jam. Kata kunci : Instrument, Intensitas Cahaya Matahari Global, Solar Cell.

I. PENDAHULUAN A. Latar belakang Data intensitas cahaya matahari global (ICMG) sangat diperlukan oleh para peneliti maupun instansi yang melakukan penelitian tentang parameter di atmosfer. Data intensitas cahaya MTH antara lain bermanfaat untuk dapat menunjang analisa data lain seperti: suhu, kelembaban, CO2, CH4 dan data parameter permukaan lainnya. Untuk mendapatkan data intensitas cahaya matahari secara real time tidak mudah dilakukan dengan beberapa alasan kondisi, diantaranya terbentur masalah-masalah seperti: • Memilih jenis sensor yang digunakan. • Sistem rancangan elektronika instrument • Peralatan diproduksi dari pihak luar negeri • Peralatan yang ada jumlahnya sangat terbatas Dari beberapa permasalahan diatas, dalam pengadaan alat pengukur intensitas cahaya yang diproduksi dari luar negeri, sehingga harganya sangat mahal dan sulit untuk mengatasi apabila terjadi kerusakan. B. Manfaat Perancangan Instrument Desain yang dilakukan pada perancangan ini menggunakan sistem yang lebih menitik beratkan pada tingkat kepresisian sinyal analog pada blok sensor sampai ke tingkat penguatan sinyal pada blok Operational Amplifier (Op-Amp) dengan penguatan (Av). Sistem pengubah sinyal analog menjadi sinyal digital dilakukan secara logger menggunakan ADC 12 bit, yang dapat menampilkan data berupa grafik pada display komputer. Sistem penyimpan data numerik dilakukan dalam direktori. Dengan dilakukannya perancangan instrument yang bermanfaat untuk dapat digunakan mendeteksi intensitas cahaya dengan sistem ini diharapkan dapat memberikan kontribusi didalam mengatasi kendala pada kebutuhan data intensitas cahaya matahari, terutama dapat mendorong kemandirian dalam bidang teknologi elektronika dan instrumentasi khususnya dapat memacu peningkatan SDM.

II. METODOLOGI A. Blok Diagram Sistem Rangkaian Rangkaian suatu instrument akan dapat bekerja (berfungsi) sesuai dengan yang diharapkan, antara lain ditunjang dari susunan beberapa bagian blok. Kerangka rancangan instrument terdiri dari beberapa blok yang saling terkait dan terintegrasi satu sama lain, untuk memberikan fungsi dalam merespon sinyal yang di deteksi menjadi besaran yang sebanding dengan hasil respon alat acuan (referensi) dan dikonversi kedalam sinyal digital. Adapun blok diagram sistem rangkaian dapat ditampilkan seperti pada Gambar 1.

SENSOR
SOLAR CELL

Op -Am p 2 Tin ka g t

ADC 12 b it

Ko p te mu r (P ) C

Re u to P w r Su p g la r o e p ly +1 2V, +5V, -1 2V

Gambar 1. Blok Diagram Sistem Rangkaian

Sesuai alur sinyal pada blok diagram sistem rangkaian tersebut terdiri bagian: Sensor, Op-Amp, ADC, Komputer dan catu daya berupa Regulator Power Suplai. B. Fungsi Setiap Blok Solar cell, merupakan ransduser berfungsi sebagai sensor yang melakukan konversi sinyal masukan (berupa intensitas cahaya MTH) menjadi perubahan tegangan ( ∆ Int ∆ V ) Operational Amplifier, bermanfaat sebagai penguat sinyal (Av) respon sensor menjadi input Op-Amp diperkuat sebesar Vin x (Rf/R1)

ISSN 0853-0823

178

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

ADC 12 bit, penyimpanan data dan sistem konversi sinyal analog menjadi sinyal digital dilakukan pada ADC 12 bit yang merupakan logger Komputer (PC), peraga data intensitas ditampilkan pada display komputer berupa grafik dan numerik Regulator Power Suplai, kebutuhan catu daya untuk variasi tegangan disuplai dari unit power supply (RPS) III. PEMBAHASAN SETIAP BLOK A. Solar Cell Solar cell, dimanfaatkan sebagai transduser (sensor), yang dapat melakukan konversi berupa intensitas cahaya matahari menjadi keluaran berupa tegangan. Jangkauan tegangan keluaran sensor solar cell ini antara: 0 ~ 3000 mV. Sensitifitas solar cell terhadap intensitas cahaya MTH ini cukup tinggi dalam merespon, penempatan sensor harus terjaga dari pengaruh hujan, sehingga perlu ditutup menggunakan kaca cembung ½ lingkaran yang dapat menerima cahaya dari semua arah seperti pada Gambar 2 di bawah

berupa Operational Amplifier (Op-Amp) 2 tingkat sistem proportional dengan input defferensiator menggunakan IC 741. Pengatur respon keluarannya diatur dengan memutar adjust nilai variabel Rf yang terdapat pada Op-Amp tingkat pertama, perhitungan penguatan (Av) adalah :
Respon Solar Cell vs Tegangan
50 ICMG (W/m2) 40 30 20 10 0 0 100 200 300 400 500 Tegangan (m V)

Gambar 3 Grafik ICMG vs Tegangan SC

VoA1 : (Vo2 – Vo1)x(-Rf/R1) Vout : ((Vo2 – Vo1)x(-Rf/R1))x(-R5/R3) Dari persamaan (1) dan (2) di atas maka Vout : VoA1 x (-R5/R3) rangkaian Op-Amp ditunjukkan pada Gambar 4. :

(1) (2)

Gambar 2 : Sensor cahaya MTH

Gambar 4. Op-Amp Proportional 2 Tingkat

Karakteristik solar cell didapatkan dengan cara melakukan pengukuran respon solar cell terhadap intensitas cahaya MTH secara bersamaan dengan alat acuan lain dari automatic weather station (AWS) Perbandingan respon alat referensi dari AWS dengan Solar Cell menunjukkan kesetaraan, tetapi masih terdapat distorsi, sehingga kurang linear, selain itu respon SC masih lemah dengan perbedaan respon rata-rata sekitar 10,2 (SC<AWS)
TABEL I. AWS VS TEGANGAN SOLAR CELL
AWS (W/m2) 18 37 59 78 97 129 164 201 Teg. SC (mV) 1,7 3,4 6,2 8,1 9,5 12,5 17,3 20,4 AWS (W/m2) 238 368 381 399 405 419 427 448 Teg. SC (mV) 24,3 37,3 38,5 40,2 41,4 42,8 43,5 46,3

C. ADC 12 Bit Analog to digital converter (ADC) berfungsi untuk mengkonversi sinyal analog menjadi sinyal digital. ADC ini merupakan logger yang melakukan penyimpanan data observasi secara otomatis pada komputer. Sistem penyimpan data dilakukan langsung dengan nama file: tahun, bulan, tanggal dan jam pada saat observasi dilakukan, rangkaian elektronik ADC 12 bit ditunjukan pada Gambar 5 .

Respon solar cell terhadap intensitas cahaya matahari, masih kurang linear dan terdapat distorsi tetapi sudah menunjukkan kesejajaran B. Operational Amplifier 2 Tingkat Hasil keluaran sensor berupa tegangan analog dalam orde kecil, untuk itu perlu dipasang rangkaian penguat sinyal ISSN 0853-0823

Gambar 5. Rangkaian Elektronik ADC 12 bit

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

179

Desain fisik ADC 12 bit ini ditunjukkan pada Gambar 6 dibawah ini

TABEL I. DATA HASIL PENGUKURAN
AD AL AD AL AD AL

Gambar 6. Desain fisik ADC 12 bit

18,5 23,5 36,2 47,8 58,2 63,5 77,8 86,9 88,8 95,8 102,5 115,8 125,2 136,7 140,4

15,8 20,1 35,2 46,2 55,5 61,9 76,6 85,5 87,9 94,5 101,8 114,6 124,7 135,5 138,7

142,6 145,9 153,7 166,5 175,5 188,4 195,7 202,5 215,6 223,8 235,7 246,8 252,7 267,5 271,5

141,6 145,2 152,9 166,3 175,8 189,7 196,3 203,2 217,3 224,9 237,5 249,5 256,6 266,8 270,1

278,6 281,2 295,5 310,5 325,2 336,6 348,2 352,5 375,4 391,7 405,2 418,5 425,6 450,5 470,5

277,2 280,9 296,4 311,9 326,9 338,4 350,5 353,9 376,5 393,5 407,5 419,9 430,2 452,8 471,9

D. Tampilan Display Komputer Hasil data pengukuran instrument ditampilkan pada display komputer berupa grafik, sedangkan data numerik tersimpan di direktori yang ditentukan. Tampilan grafik ditunjukkan pada Gambar 7

V. KESIMPULAN Nilai intensitas cahaya matahari yang diamati dari 2 alat (AD dan AL) dapat ditunjukkan melalui respon masingmasing alat berdasarkan data : • Data numerik yang ditampilkan tidak menunjukkan kesejajaran ( terdapat distorsi kecil) • Penggunaan Op-Amp 2 tingkat sistem proportional memiliki tingkat penguatan ganda, antara Op-Amp 1 dengan Op-Amp 2, tetapi penguatan (Av) sinyal terdapat pada OP-Amp1 sedangkan Op-Amp 2 hanya sebagai pembalik fasa (inverting) dengan penguatan (Av) = 1 kali dari jumlah data observasi didapatkan kondisi AD : 9.767,7 AL : 9.776,6 Dan SL : 8,9 Resolusi : ((SL / AL) x 100%) = 0,091% Instrument tersebut mempunyai toleransi penyimpangan sebesar : 0,091% • Kondisi toleransi tersebut masih dalam range (jangkauan) suatu instrument masih layak digunakan untuk observasi di lapangan. PUSTAKA
[1] T. Subiakto, Desain & Rancang Bangun Instrument Pendeteksi Ozon Permukaan Sistem Logger dari Sensor ECC Ozonesonde, Prosiding Seminar Instrumentasi Berbasis Fisika, Bandung 28 Agustus 2008, pp. 145 – 149. Coughlin, Robert and Federick Driscoll, Penguat Operasional Dan Rangkaian Terpadu Linear, Erlangga, Jakarta. Milman dan Halkias, Elektronika Terpadu (Integrated Electronics) Rangkaian Sistem Analog dan Digiail, Terjemahan, Erlangga Jakarta, 1985. M.H Rashid, Power Electronics: Circuit, Devices, and Application, Prentice Hall International, INC., New Jersey, 1993. Malvino, ”Prinsip – prinsip Elektronika”, Erlangga, Jakarta,1996.

Gambar 7. Tampilan data pada display

IV. DATA PENGUJIAN Pengujian alat desain solar cell (AD) dilakukan secara bersamaan dengan alat lain (AL) berupa AWS sebagai acuan, terlihat pada Tabel. I. proses pengukuran kedua alat tersebut dilakukan dalam posisi berdekatan, hasil pengukuran dari kedua alat dibandingkan Hasil data pengukuran antara alat desain (AD) dari solar cell dengan alat lain (AL) dari AWS sebagai acuan mendapatkan jumlah data yang dihasilkan dari AD dan AL pada observasi sebagai berikut : AD : 9.767,7 AL : 9.776,6 Dari masing-masing instrument tersebut mempunyai selisih (SL) dari jumlah data sebesar 8,9

[2] [3]

[4] [5]

ISSN 0853-0823

180

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Penentuan Besar dan Posisi Massa Koreksi pada Penyeimbangan Rotor Menggunakan LabVIEW
Manggar Riyan Mirani*, R. Wibawa Purabaya**, dan Agus Setyo Budi*
* Jurusan Fisika FMIPA, UNJ, ** UPT Laboratorium Aero-Gasdinamika dan Getaran, BPPT * Jl. Pemuda 10, Rawamangun Jakarta 13220, ** Kawasan PUSPITEK, Serpong manggarrani_sebelas@yahoo.com

Abstrak - Ketidakseimbangan mesin yang berputar umumnya terjadi pada rotor. Hal tersebut menyebabkan terbentuknya eksitasi harmonik. Eksitasi harmonik yang terjadi pada rotor, dapat mengganggu pada sistem operasi dan struktur rotor. Seiring dengan semakin besarnya kecepatan operasi rotor, gaya ketidakseimbangan pada rotor tersebut akan semakin besar. Oleh karena itu, dibutuhkan penyeimbangan pada rotor sehingga rotor dapat beroperasi dalam keadaan seimbang. Dalam proses penyeimbangan, dibutuhkan massa koreksi yang akan diletakkan pada permukaan rotor dengan besar dan posisi yang tepat. Suatu pengukuran diperlukan karena penentuan besar dan posisi dari massa koreksi tidak dapat dilakukan secara langsung. Pada makalah ini penulis memanfaatkan LabVIew untuk membuat program yang dapat menentukan besar dan posisi dari massa koreksi yang akan ditambahkan pada permukaan rotor sehingga tercapai keseimbangan. Dari hasil tersebut proses penyeimbangan rotor akan dapat dilakukan dengan cara yang lebih mudah.
Kata kunci: Massa Koreksi, Penyeimbangan Rotor, LabVIEW I. PENDAHULUAN Mesin merupakan perlengkapan utama dalam seluruh industri di dunia. Mesin dapat dikatakan sangat bermanfaat apabila pekerjaan yang sulit dapat diselesaikan dengan waktu yang relatif singkat. Untuk itu, dibutuhkan mesin yang memiliki ketahanan uji yang baik. Ketahanan uji dapat dilihat pada keseimbangan yang dimiliki oleh rotor pada mesin tersebut. Suatu mesin dapat dikatakan seimbang apabila nilai residual unbalance mesin tersebut memenuhi standart. Pada mesin yang berputar umumnya memiliki ketidakseimbangan. Hal tersebut menyebabkan terbentuknya eksitasi harmonik. Eksitasi harmonik yang terjadi pada mesin yang berputar, membuat gangguan pada sistem operasi mesin atau dapat mengganggu keamanan struktur mesin apabila terjadi amplitudo getaran yang besar [5]. Oleh karena itu, perlu dilakukan penyeimbangan (balancing) pada mesin. Proses balancing yang dilakukan sebelumnya relatif lebih rumit. Oleh karena itu, pada penelitian kali ini, penulis mencoba mengaplikasikan LabVIEW dalam proses penyeimbangan mesin. II. KAJIAN PUSTAKA A. Ketidakseimbangan yang Berputar Massa tak seimbang pada komponen mesin yang berputar (Rotating Equipment) akan menimbulkan gaya sentrifugal yang menjadi salah satu sumber getaran. Kondisi tak seimbang merupakan sumber utama getaran pada mesin dengan elemen yang berputar. Ketidakseimbangan pada rotor dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang terjadi saat getaran atau gerakan diberikan pada bearing rotor tersebut sebagai hasil dari gaya sentrifugal. Gaya sentrifugal dihasilkan ketika pusat massa pada rotor tidak sesuai dengan pusat rotasi [4]. B. Penyeimbangan (Balancing) pada Mesin yang Berputar Penyeimbangan merupakan suatu prosedur atau proses pengecekan untuk mengetahui distribusi massa suatu rotor dan melakukan koreksi atau perbaikan jika diperlukan sehingga jumlah residual unbalance atau vibrasi atau gaya sentrifugal pada bearing dapat memenuhi batas yang diijinkan sesuai dengan standart [4]. Pengalaman telah menunjukkan bahwa penurunan nilai residual unbalance akan menurunkan biaya perawatan, gangguan lingkungan, dan penurunan struktur rotor. Sumber dari seluruh ketidakseimbangan lebih sedikit dibandingkan pabrik yang sempurna. Kesempurnaan tidak dapat dicapai dengan biaya berapa pun. Biaya yang dikeluarkan akan meningkat cukup tinggi ketika mencoba mencapai kesempurnaan. Penyebab ketidakseimbangan dibagi dalam kategori berikut : 1. Kesalahan dalam desain, 2. variasi bahan, 3. bentuk, kecocokan, dan variasi perakitan [7]. Pada kategori pertama, ketidakseimbangan dapat terjadi apabila terjadi proses pencetakan rotor yang tidak seimbang (non uniform), proses perakitan yang kurang tepat, dan ketidaklurusan poros rotor. Sedangkan pada kategori kedua, ketidak seimbangan dapat terjadi apabila pada bahan pembuat rotor terdaoat density, void (rongga), dan inclusion atau terselipnya jenis material yang berbeda [7]. Berdasarkan cara pengoperasian alat, terdapat beberapa metode balancing untuk mesin yang berputar yaitu shop balancing dan insitu / field balancing. Shop balancing adalah penyeimbangan mesin dengan membawa mesin atau rotor yang akan diseimbangakan ke tempat yang menyediakan jasa penyeimbangan. Sedangkan field balancing adalah penyeimbangan mesin atau rotor di tempat mesin yang ingin diseimbangkan tersebut berada [7].

ISSN 0853-0823

 

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HF Jateng & DIY n FI

18 81

Untuk mengu U urangi ketidak kseimbangan p pada mesin y yang ber rputar, mesin tersebut har dikoreksi. Pada prinsip rus pnya kor reksi unbalan adalah de nce engan membe erikan efek g gaya sen ntrifugal yang sebanding d g dengan gaya sentrifugal y yang dih hasilkan oleh massa unbal lance (massa koreksi), den ngan ara yang berlaw ah wanan 180° [4 Untuk leb jelasnya, d 4]. bih dapat dili pada Gam ihat mbar 1. Terdapat tiga metode koreksi unbalance yaitu, den T ngan pen nambahan ma assa, penguran ngan massa, da centering m an mass ata pemusatan massa. Pada metode pen au a nambahan ma assa, kor reksi unbalance dapat dilak kukan dengan Penamb bahan dengan epoxy / fibre glass Penamb bahan massa d dengan baut a revert atau Penamb bahan denga metal (ca an ast iron, tim mah, cooper dll.) Penamb babahan massa dengan peng gelasan. Pada metode pengurangan massa atau removal m P n u mass, kor reksi unbalan dapat dilakukan deng nce gan cara seb bagai ber rikut : g. Drilling Milling shaping atau fly cutting g, u Grindin ng Sedangkan m S metode pemus satan massa (centering m mass) pad prinsipnya adalah untuk merubah pos rotor terha da k sisi adap por rosnya sendir sehingga an ri, ntara sumbu p poros dan sum mbu prin ncipal ( sumb titik berat benda ) berad pada satu titik bu da ata coincide [4 Pada mak au 4]. kalah ini, pen nyeimbangan atau bal lancing dilaku ukan dengan cara penamb bahan massa p pada rotor.

(1) Sudut penempa massa pe S atan enyeimbang ad dalah : (2) Dengan β mer D rupakan sudut antara ampli t itudo massa c coba den ngan amplitud yang didapa pada prosed pertama (R1). do at dur R Sud β dapat dih dut hitung dengan persamaan (3 n 3), (3) Dan besar mas penyeimba yang diperlukan adalah D ssa ang h: (4) Dengan emc adalah jari-jar massa coba dan emp ada D ri a alah jari-jari massa pe enyeimbang [3 3].

Gambar 2. Sistem denga ketidakseimban r an ngan statik.

Gambar 1. Ar pemberian ma koreksi yang berlawanan 180°. rah assa g

1. 1 Ketidakseim mbangan Sta atik Bila B semua m massa yang me embuat tidak seimbang terl letak pad satu bidang seperti pada keping rotor yang tipis, m da g, a r maka res sultan ketidakseimbangan a adalah gaya radial tunggal [6]. Sep perti ditunjuk kkan dalam G Gambar 2, ke etidakseimban ngan jen ini dapat d nis dideteksi lewat tes statik d dimana gabun ngan rod da-poros itu d diletakkan pad sepasang b da batang horizon ntal. Ro akan berpu ke posisi dimana titik y oda utar yang berat berada lan ngsung di b bawah poros. Karena ke . etidakseimban ngan ma acam ini dap dideteksi tanpa mem pat mutar roda, m maka ket tidakseimbang ini disebu ketidakseimb gan ut bangan statik. . Pada penyeimbangan sta P atik, proses penyeimban ngan dila akukan pada satu bidang penyeimbang gan. Metode y yang dila akukan penul adalah me lis etde sudut fas Prosedur y sa. yang per dilakukan p rlu pada metode i adalah: ini 1. Putar rot pada put tor taran tertentu kemudian u u ukur amplitudo (R0) dan sud fasa (α0) dari getaran a o dut awal yang terja adi. 2. Pasang m massa coba seb besar mc pada posisi sembar rang dan putar rotor denga kecepatan putar yang s r an sama dengan pr rosedur perta ama, kemudian ukur amplit n tudo (R1) serta sudut fasa (α1) getaran yan terjadi. α ng Berdasarkan d pengukur yang diper B data ran roleh, selanju utnya dila akukan perh hitungan den ngan menggu unakan diag gram vek ktor. Didapat amplitudo ge etaran massa c coba seperti p pada per rsamaan (1),

2. Ketidakseim 2 mbangan Din namik Bila ketidakse B eimbangan itu muncul pad lebih dari s u da satu bida ang, maka has silnya adalah sebuah gaya dan momen pu d utar dan disebut keti n idakseimbangan dinamik [6]. Seperti y [ yang tela dijelaskan sebelumny ah n ya, suatu te statik da es apat men ndeteksi gaya yang dihasilk itu, tetapi momen putar kan rnya tida dapat terde ak eteksi tanpa m memutar rotor. Sebagai contoh, . perh hatikan suatu batang dengan dua piring (disk) sep u gan perti yan terlihat pad Gambar 3. Bila kedua massa yang a ng da m akan mem mbuat tidak seimbang ada alah sama da terpisah 18 an 80°, mak rotor akan seimbang s ka n secara static terhadap sum mbu bata ang. Namun, bila rotor ber rputar maka ti piringan y iap yang tida seimbang akan mengha ak asilkan gaya sentrifugal y yang berp putar, dan be erusaha memu utar batang pada bantalan p nnya (bea arings) [6].

Gambar 3 Sistem dengan ketidakseimbang dinamik. 3. n gan

C. LabVIEW L LabVIEW (La L aboratory Vir rtual Instrum ment Engineer ring Workbench) mer rupakan suatu program pen u ngembangan dari bah hasa pemrogr raman visual yang dikelu uarkan Natio onal Inst truments. Tujuan T dar ri program m ini ada alah men ngotomatisasi pengolahan dan penggu i unaan alat u ukur dala skala labo am oratorium. Um mumnya, LabV VIEW diguna akan untu akuisisi da kontrol a dan otom industri p uk ata, alat masi pada berb bagai operat ting system seperti Micr rosoft Windo ows, berb bagai versi UN NIX, Linux, d Mac OS. dan Dengan men D nggunakan L LabVIEW, pengguna da p apat men ndesain suatu system yang menyerupai system aslin u g i nya. Lab bVIEW adalah sebuah syste pemrogram yang terb h em man buka dan fleksibel, seh n hingga penggu dapat menghubungkan una nnya

IS 0853-082 SSN 23

182

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

dengan alat lainnya. Selain itu, pengguna dapat memrogram human machine interface (HMI) dan logic pada daerah program yang sama, sehingga dapat meminimalkan biaya pembuatan dan waktu pembelajaran, serta dapat memaksimalkan ketrampilan pemrograman kita. LabVIEW merupakan pemrograman visual berbasis grafis yang menggunakan bahasa pemrograman berupa bahasa gambar atau dapat disebut dengan bahasa G [1]. Dengan bahasa pemrograman tersebut, pengguna dapat memrogram dengan menggunakan sebuah blok diagram grafik, dimana blok diagram tersebut dapat dijalankan dan dibuat kedalam kode mesin. Tipe data dalam LabVIEW adalah string, numerik, boolean, integer dan enumerate [2]. Perangkat pemrograman untuk balancing mesin atau rotor pada LabVIEW dapat digunakan untuk memperoleh data dari proses pengukuran getaran rotor, untuk menampilkan secara grafik kondisi rotor saat diputar pada kecepatan tertentu, dan dapat mencetak hasilnya. Pada penelitian ini, hasil yang diinginkan adalah program yang dibuat penulis menggunakan LabVIEW dapat menampilkan dan mencetak besar dan posisi massa koreksi pada proses penyeimbangan rotor.

ketidakseimbangan statik. Hanya saja massa coba ditempatkan di kedua bidang koreksi secara bergantian.

Gambar 4. Halaman Waveform

Gambar 5. Halaman Initial

III. HASIL Pada makalah ini penulis memanfaatkan aplikasi software LabVIEW dalam penentuan besar dan posisi massa koreksi pada penyeimbangan rotor. Dengan meletakkan sensor accelerometer pada bearing rotor dan sensor optik yang diarahkan pada rotor, akan didapatkan data yang digunakan dalam perhitungan pada balancing rotor. Pada makalah ini, sebelum proses penyeimbangan (balancing) dimulai, dilakukan pengujian sensor terlebih dahulu. Hal ini dilakukan agar dapat dipastikan bahwa sensor terhubung dengan komputer. Proses ini dapat dilihat pada Gambar 4. Signal dari seluruh sensor akan terlihat pada halaman waveform. Setelah sensor terhubung dengan komputer, proses balancing dapat dilakukan. Pada proses balancing rotor dalam kasus ketidakseimbangan statik, tahap pertama yang dilakukan adalah memutar rotor pada putaran tertentu. Dari tahap ini, didapatkan data initial dari rotor tersebut berupa amplitudo (R0) dan sudut fasa (α0) dari getaran yang terjadi. Data tersebut ditampilkan pada layar komputer seperti pada Gambar 5 yang merupakan halaman initial. Tahap selanjutnya adalah memutar rotor dengan massa coba. Seperti terlihat pada Gambar 6 yang merupakan halaman 1st trial data yang didapat dari tahap ini adalah besar amplitudo (R1) dan besar sudut fasa (α1) getaran yang terjadi. Dari data-data yang telah didapatkan, LabVIEW akan memproses data tersebut melalui perhitungan pada persamaan (1), (2), (3), dan (4). Dari hasil perhitungan didapatkan solusi besar dan posisi massa koreksi yang akan ditambahkan pada permukaan rotor seperti pada Gambar 7 yang merupakan halaman solution. Selanjutnya, pada halaman solution juga ditampilkan run rotor saat sebelum dan sesudah dilakukan balancing kemudian diletakkan massa koreksi pada permukaannya. Pada kasus ketidak seimbangan dinamik, tahap-tahap pengukuran yang dilakukan sama seperti pada

Gambar 6. Halaman 1st dan 2nd Trial

Gambar 7. Halaman Solution

IV. KESIMPULAN Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa LabVIEW dapat digunakan dalam penentuan besar dan posisi massa koreksi pada proses penyeimbangan rotor (Rotary Balancing). Program penyeimbangan rotor yang dibuat dapat disimpan menggunakan flash disk atau compact disc dan dapat dieksekusi di seluruh komputer yang memiliki operating system Windows. PUSTAKA RUJUKAN
[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] Beyon, Jeffrey. 2001. LabVIEW Programming, Data Acquisition and Analysis. United States of America : Pretince Hall NI customer Education. 2004. LabVIEW Basics II Development Course Manual. Texas : National Instrument PAU ITB. 1999. Balancing of Rotating Equipment. Bandung : ITB Raharjo, Dwi. 2006. Balancing Kursus Swakelola PT Badak NGL. Bontang : PT Badak NGL Robichaud, J. Michael. 1996. Insitu Roll Balancing :A Revolutionary Method For Improving Dryer Section Performance. Canada : Bretech Engineering Thomson, William T. 1995. Teori Getaran dengan Penerapan. Jakarta : Erlangga Wowk, Victor. 1995. Machinery Vibration Balancing. United States of America : McGraw-Hill

ISSN 0853-0823

 

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

183

Karakteristik Sel Surya Organik Berbasis Polimer P3HT:PCBM
Kuwat Triyana, Sholihun, Chotimah dan Renita Anggraeni
Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Gadjah Mada Sekip Utara BLS. 21, Yogyakarta 55281, Indonesia Email : triyana@ugm.ac.id

Abstrak – Karakteristik sel surya organik yang diwakili dengan nilai parameter internalnya telah ditentukan berdasarkan rangkaian ekivalennya. Sel surya organik (SSO) yang menjadi bahan kajian adalah berbasis polimer campuran poly-3hexylthiophene (P3HT) dan [6,6]-phenyl-C61-butyric acid methyl ester (PCBM). Berdasarkan rangkaian ekivalennya, dapat ditentukan parameter internalnya, meliputi faktor idealisasi dioda (n), rapat arus foto (Jph), rapat arus jenuh dioda (Js), hambatan paralel (Rp), hambatan seri (Rs), rapat arus hubung singkat (Jsc) serta tegangan rangkaian terbuka (Voc). Dengan menggunakan metode pendekatan aproksimasi linier pada daerah tegangan dadal dari kurva rapat arus versus tegangan dari SSO yang ditinjau. Dengan metode ini selanjutnya dilakukan fitting antara data hasil eksperimen dengan hasil pemodelannya. Hasil yang diperoleh memperlihatkan hasil fitting yang sangat baik yang terlihat dari hampir tidak ada data eksperimen yang lepas dari kurva hasil pemodelan. Selain diperoleh parameter internal SSO, juga telah dilakukan interpretasi fisis dari paremeter tersebut. Kata kunci: parameter internal, sel surya organik, polimer, P3HT, PCBM I. PENDAHULUAN Kemajuan pengembangan sel surya organik sangat cepat dalam dekade terakhir. Disamping kajian teoritis, sintesis dan pencarian material baru juga dilakukan untuk meningkatkan efisiensi konversi dayanya. Penyebab penurunan fill factor (FF) umumnya dikaitkan dengan masalah karakteristik materialnya ataupun dengan antarmuka dengan elektroda. Dalam hal ini, antar muka dengan elektroda dimaknai karena adanya potensial penghalang pada sambungan. Ada kaitan antara penurunan FF dalam SSO sangat dipengaruhi oleh adanya S-kinks. Fenomena ini disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan mobilitas pembawa muatan (mobilitas lubang dalam donor dan mobilitas elektron dalam akseptor) pada SSO [1]. Meskipun upaya-upaya peningkatan efisiensi telah dilakukan [2,3], hingga saat ini secara faktual efisiensi SSO masih relatif rendah dibandingkan dengan pendahulunya, sel surya anorganik. Selain itu, karena mekanisme dasar yang mengatur operasi sel surya organik masih kurang dipahami, maka akan tetap sulit untuk meningkatkan efisiensi. Oleh karena itu, pemahaman yang lebih baik akan memandu perbaikan dalam desain perangkat dan kinerja SSO. Dalam rangka memahami mekanisme tersebut banyak penelitian telah dilakukan termasuk studi pada model analitis untuk tegangan arus terbuka dan hambatan yang berkaitan dalam SSO [4], serta studi tentang ketergantungan intensitas cahaya dari tegangan rangkaian terbuka dan rapat arus hubung singkat [5,6]. Dalam eksperimen, lebih sering dilakukan trial-error sehingga sampai sekarang belum didapatkan informasi yang pasti tentang kriteria SSO yang dapat menghasilkan efisiensi tinggi. Upaya pencarian informasi tersebut dilakukan dengan permodelan komputasi untuk untuk mencari parameter wakilan yang menentukan performa SSO yang biasa disebut parameter internal [6]. Setelah didapatkan parameter internal tersebut diharapkan akan diperoleh pemahaman lebih tentang kinerja peranti dan dengan parameter tersebut akan diperoleh pula informasi penting untuk proses fabrikasi peranti serupa dengan performa yang lebih baik pada masa yang akan datang. II. EKSPERIMEN Peranti yang dikaji adalah SSO berbasis polimer dengan struktur Glass/ITO/PEDOT:PPS/ P3HT:PCBM/LiF/Al (Gambar 1). Indium Thin Oxide (ITO) digunakan sebagai elektroda positif (anoda) dan LiF/Al digunakan sebagai elektroda negatif (katoda). Bahan PEDOT:PPS digunakan untuk menghindari terjadinya hubung singkat antara anoda dan katoda. Polimer P3HT dan PCBM dicampur dengan rasio 1:1 dengan berat total 12,6 mg P3HT:PCBM dilarutkan dalam 0,5 ml pelarut dichlorobenzene. Untuk membuat lapisan tipis campuran P3HT:PCBM digunakan spin-coating 2000 rpm selama 30 detik dan kemudian dipanaskan pada suhu 100oC selama 10 menit.

GLASS ITO/PEDOT:PPS P3HT/PCBM LiF Al
Gambar 1. Struktur molekul PCBM dan P3HT serta skema SSO yang dikaji.

III. MODEL RANGKAIAN SETARA Untuk mendapatkan nilai parameter internal sel surya digunakan metode yang telah dirancang yang diberi nama metode linear approximation near break-down voltage (LANBV) yaitu pendekatan profil linear di dekat tegangan

ISSN 0853-0823

184

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

dadal pada kurva J-V [7]. Dalam makalah ini kami menerapkan metode tersebut untuk SSO berbasis polimer dan menganalisa intrepetasi fisis dari masing–masing parameter internal. Permodelan dilakukan dengan menggunakan rangkaian setara satu dioda (Gambar 2) untuk mencari parameter internal SSO. Adapun parameter internal yang dimaksud adalah faktor ideal dioda (n), rapat arus foto (Jph), rapat arus hubung singkat (Jsc), tegangan rangkai terbuka (Voc), hambatan seri (Rs) dan hambatan paralel (Rp) [7].

c=−

J s + J ph R 1+ s Rp

(4)

Nilai m dan c diperoleh dari gradien kurva dari Gambar 4. Pengambilan profil linier berdasarkan beberapa data J-V yang mengindikasikan adanya kurva linier.

Gambar 2. Rangkaian ekuivalen satu dioda yang digunakan untuk permodelan [4].

Persamaan dasar sel surya yang sering dipakai adalah

⎡ ⎧ ⎛ V − JRs A ⎞ ⎫⎤ − 1⎬⎥ ⎢ J s ⎨exp ⎜ e nkT ⎟ ⎭⎥ 1 ⎢ ⎩ ⎝ ⎠ J= ⎥ R ⎢ 1 + s ⎢ − J ph + V ⎥ Rp ⎢ Rp A ⎥ ⎣ ⎦

(1)

Gambar 3. Pengambilan profil linear dari kurva karakteristik J-V (rapat arus – tegangan ).

dengan Js, n, k, T,e dan A berturut-turut adalah rapat arus saturasi dioda, faktor ideal dioda, konstanta Boltzman, temperatur, muatan keunsuran dan luas peranti. Pendekatan yang digunakan dalam pemodelan adalah asumsi adanya profil linier di dekat tegangan dadal. Pendekatan tersebut sesuai dengan karakteristik kurva J-V yang terlihat pada Gambar 3. Secara jelas diterangkan sebagai berikut, kurva pada Gambar 3. terdiri dari dua bagian, yaitu bagian forward bias (panjanr maju) dan reverse bias (panjar mundur). Pada bagian forward bias, kurva J-V didominasi oleh kurva eksponensial karena nilai e meledak dengan membesarnya nilai V. Pada keadaan reverse bias sebelum terjadi tegangan dadal, nilai e meluruh mendekati nol. Hal ini terjadi karena V bernilai negative dan JRsA kecil menyebabkan e meluruh mendekati nilai nol. Akibatnya pers (1) dapat didekati dengan pers (2) [5]
⎛ V − JRs A ⎞ ⎜e ⎟ nkT ⎠ ⎝ ⎛ V − JRs A ⎞ ⎜e ⎟ nkT ⎠ ⎝ ⎛ V − JRs A ⎞ ⎜e ⎟ nkT ⎠ ⎝

Gambar 4. Profil linear di dekat tegangan dadal kurva karakteristik J-V.

J reverse =

J + J ph V − s ⎛ ⎞ ( Rs + Rp ) A ⎜1 + Rs ⎟ ⎜ Rp ⎟ ⎝ ⎠

(2)

Pers (2) merupakan persamaan linier dengan gradien

m=

1 ( Rs + Rp ) A

(3)

Dan titik potong terhadap sumbu J

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini fokus pada pencarian parameter kunci SSO dan analisa fisisnya. Parameter kunci telah berhasil diperoleh secara komputasi melalui metode LANBV. Nilai – nilai parameter tersebut disajikan pada Tabel 1. Parameter n adalah faktor ideal dioda yang idealnya mempunyai nilai n = 1 (walaupun ini tidak mungkin untuk sel surya, karena sel surya riil mempunyai nilai n > 1). Parameter Jph (photo current density) adalah rapat arus foto dan Js (saturation current density) adalah rapat arus jenuh/saturasi dioda. Kedua parameter ini bukan merupakan arus yang terukur pada SSO, namun arus yang muncul dari permodelan. Dengan kata lain, Jph dan Js secara berurutan adalah rapat arus yang muncul tepat pada saat peranti disinari dan rapat arus jenuh yang yang muncul pada dioda seandainya dapat diukur dengan alat ukur arus. Sedangkan J dan Jsc berturut – turut merupakan rapat arus terukur pada setiap nilai tegangan (V) dan rapat arus hubung pendek (short circuit current density) yakni rapat arus yang terukur pada saat tegangannya nol. Kedua rapat arus tersebut merupakan arus keluaran yang terukur pada SSO. Secara fisis, untuk SSO

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

185

yang baik, nilai Jph mendekati nilai |Jsc| namun sedikit lebih besar dan tidak mungkin lebih kecil dari nilai |Jsc|. Hasil pemodelan (Tabel I dan Gambar 5.) menunjukkan kesesuaian secara fisis dengan diperolehnya nilai Jph yang sedikit lebih besar dari nilai |Jsc|. Adapun Voc merupakan tegangan yang terukur saat tidak ada arus yang mengalir [7]. Parameter lain yang penting dalam analisa mekanisme fisis SSO adalah Rs dan Rp yang berturut – turut adalah hambatan seri dan hambatan parallel. Hambatan Rs mewakili hambatan internal peranti yang sering disebut bulk resistant dan Rp mewakili hambatan kebocoran arus, sehingga idealnya Rs sangat kecil (relatif terhadap Rp) dan nilai Rp sangat besar (relatif terhadap Rs). Dengan kata lain SSO yang baik, mempunyai nilai Rs/Rp sangat kecil (mendekati nol). Namun karena dalam peranti terjadi rekombinasi electron-hole dan beberapa hal yang menghambat terbentuknya arus diantaranya pendeknya panjang difusi dan besarnya energi gap, maka nilai Rs tidak bisa seideal yang diinginkan. Jika kondisi ideal, maka nilai perbandingan antara Rs dan Rp mendekati nol (Rs/Rp 0). Pada Tabel I, nilai Rs/Rp = 1,59 x 10-3 cukup dekat dengan nilai nol sehingga peranti yang dikaji dikatakan cukup bagus. Jika ditinjau dari nilai RsA dan RpA, hambatan seri mempunyai nilai cukup kecil relatif terhadap hambatan paralel sehingga mengijinkan cukup banyak eksiton menjadi arus listrik. Selain parameter kunci, juga telah dihitung Fill Factor (faktor isian) sebesar 0,565 dan efisiensi konversi daya sebesar 2,38 %.
TABEL I. NILAI-NILAI PEMODELAN
Parameter Kunci SSO n RpA (Ω m ) (10 )
-2 2

Hasil komputasi parameter kunci SSO yang telah dilakukan diuji kevalidannya dengan membandingkan antara kurva J-V data eksperimen dan data hasil pemodelan. Pada Gambar. 5 terlihat adanya kesesuaian yang sangat baik yang diperlihatkan oleh kurva fitting yang berimpit dengan kurva data eksperimen. Kesesuaian ini menunjukkan ketelitian dalam komputasi. V. KESIMPULAN Parameter kunci SSO berbasis campuran polimer secara komputasi telah berhasil dilakukan dengan teliti. Dari nilai parameter kunci, diperoleh nilai hambatan seri yang cukup kecil (relatif terhadap hambatan parallel) yang menafsirkan terjadi cukup banyak konversi eksiton menjadi arus listrik, serta diperoleh hambatan parallel yang cukup besar (relatif terhadap hambatan seri) yang menafsirkan tidak terjadi kebocoran arus yang cukup besar. Hasil komputasi berupa parameter kunci tersebut dapat memberi informasi yang dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam fabrikasi SSO di masa mendatang. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. Katsuhiko FUJITA (Graduate School of Engineering Sciences, Kyushu University Japan) yang telah memberi kesempatan penulis untuk menggunakan fasilitas penelitiannya. Penelitian ini didanai oleh Hibah Sabbatical Leave UGM 2009. PUSTAKA

PARAMETER

KUNCI

HASIL
[1] W. Tress, A. Petrich, M. Hummert, M. Hein, K. Leo, and M. Riede, Imbalanced mobilities causing S-shaped IV curves in planar heterojunction organik solar cells, Appl. Phys. Lett. Vol. 98, 2011, pp. 063301. M. Reinhard, J. Hanisch, Z. Zhang, E. Ahlswede, A. Colsmann, and U. Lemmer, Inverted organik solar cells comprising a solutionprocessed cesium fluoride interlayer, Appl. Phys. Lett. Vol. 98, 2011, pp. 053303 S. Chuangchote, P. Ruankham, T. Sagawa, dan S. Yoshikawa, Improvement of Power Conversion Efficiency in Organik Photovoltaics by Slow Cooling in Annealing Treatment, Appl. Phys. Express Vol. 3, 2010, pp. 122302 D. Cheyns, J. Poortmans, P. Heremans, C. Deibel, S. Verlaak, B. P. Rand, and J. Genoe, Analytical model for the open-circuit voltage and its associated resistance in organik planar heterojunction solar cells, Phys. Rev. B Vol. 77, 2008, pp 165332-1. L. J. A. Koster, V. D. Mihailetchi, R. Ramaker and P. W. M. Blom, Light intensity dependence of opencircuit voltage of polymer:fullerene solar cells, J. Appl. Phys. Vol. 86, 2005, pp. 1-3. L. J. A. Koster, V. D. Mihailetchi, H. Xie. and P. W. M. Blom, Origin of the light intensity dependence of the short-circuit current of polymer/fullerene solar cells, Appl. Phys. Lett. Vol. 87, 2005, pp 203502. K. Triyana, T. Siahaan, Sholihun, K. Abraha, and M. Mat Salleh, On the Dependency of Equivalent Circuit Parameters of Heterojunction Bilayer Copper Phthalocyanine/Perylene Photovoltaic Device on Light Intensity based on Reverse Bias Characteristic, Proc. IEEE International Conference on Semiconductor Electronics (ICSE), 2008, Johor Bahru, Malaysia, 25-27 November 2008. pp. 331-335, ISBN: 978-1-4244-2561-7.

Hasil Permodelan 3,55 5,35 8,50 1,59 1,17 7,33 7,32 5,77 5,65 2,38

RsA (Ω m2) (10-5) Rs/Rp
2

[2]

(10-3)
-1

Js (A/m ) (10 ) Jph (A/m2) (101) |Jsc| (A/m2) (101) Voc (Volt) (10 )
-1

[3]

FF

(10-1)

[4]

Efisiensi (%)

[5]

[6]

[7]

Gambar 5. Kurva kesesuaian antara data eksperimen dan data pemodelan. Sisipan adalah perbesaran daerah kuadran 4 dari kurva

ISSN 0853-0823

186

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Spektrum Serapan Cahaya Tampak Lapisan Tipis Poly(3,4ethylenedioxy-thiophene): Poly(styrenesulfonate) untuk Aplikasi Sensor Gas Amoniak
La Aba 1,2)*, Yusril Yusuf 1), Mitrayana 1), Kuwat Triyana 1)
1)

Jurusan Fisika Universitas Gadjah Mada, Sekip Utara-BLS 21, Yogyakarta Jurusan Fisika Universitas Haluoleo, Kampus Bumi Tridharma, Kendari *Corresponding author e-mail: laabaz@yahoo.com, triyana@ugm.ac.id
2)

Abstrak - Telah dilakukan fabrikasi lapisan tipis Poly(3,4-ethylenedioxythiophene): poly(styrenesulfonate) (PEDOT:PSS) dan diuji respon optiknya terhadap gas amoniak. Lapisan tipis PEDOT:PSS dideposisi di atas substrat kaca menggunakan metode spin-coating. Penambahan jumlah lapisan dilakukan untuk meningkatkan ketebalan film. Selanjutnya dilakukan anealing pada suhu 1000C selama 30 menit untuk menghilangkan pelarutnya. Pengukuran spektrum serapan (absorbance) dari lapisan tipis PEDOT:PSS dilakukan pada panjang gelombang cahaya tampak 400-800 nm menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa lapisan yang lebih tebal (4 lapis) memiliki spektrum serapan lebih tinggi daripada lapisan yang lebih tipis (2 lapis). Diperoleh juga bahwa spektrum serapan cahaya tampak dari lapisan tipis PEDOT:PSS setelah dipaparkan gas amoniak lebih tinggi dibandingkan ketika lapisan tersebut di udara. Meningkatnya serapan cahaya ini karena molekul-molekul gas amoniak diserap ke dalam lapisan polimer. Adanya perbedaan serapan cahaya sebelum dan sesudah pemaparan gas amoniak ini menunjukkan karakteristik optik yang penting untuk aplikasi sensor gas. Dengan demikian lapisan tipis PEDOT:PSS sangat potensial digunakan sebagai bahan aktif untuk aplikasi sensor gas amoniak. Kata kunci: PEDOT:PSS, spin-coating, absorbance, sensor gas, amoniak. CdSnO3 bekerja pada suhu 2400C, dan sensor TiO2 bekerja pada suhu 3000C [4]. Di samping itu, dewasa ini perhatian banyak dicurahkan pada penggunaan polimer konduktif dalam sensor gas, seperti lapisan-lapisan pengindera untuk mendeteksi berbagai gas, karena beberapa kelebihannya seperti mudah difabrikasi, konsumsi daya rendah, pengaruh racunnya rendah, dan dapat beroperasi dengan baik pada suhu ruang [5]. Selain PAni dan Ppy yang sudah lama dikenal, ada polimer konduktif lain yang lebih menjanjikan sebagai bahan aktif sensor gas, yaitu PEDOT:PSS. Polimer konduktif ini sangat cocok untuk aplikasi sensor karena konduktivitasnya yang memadai, stabil terhadap perubahan lingkungan, dan sensitif untuk mendeteksi gas amoniak (NH3), nitrogen dioksida (NO2), aseton, methanol, etanol, dan uap beracun organik lainnya [6,7]. Parameter sensitif dalam sensor tersebut merupakan perubahan-perubahan dalam fungsi kerja, koefisien serapan optik atau konduktivitas dari polimer. Usaha yang cukup telah diarahkan pada pengembangan sensor gas dengan mengkaji perubahan sifat-sifat optik [8]. Kehadiran metode optik menunjukkan independensi dari interferensi lingkungan. Terkait dengan sifat optik dan elektronik polimer tersebut di udara, PEDOT:PSS bersifat transparan terhadap daerah cahaya tampak [9]. Parameter yang biasa digunakan dalam metode optik ini adalah perubahan indeks bias, warna, transmitansi, dan serapan optik dari sensor tersebut ketika menyerap gas. Dalam makalah ini, dibahas perubahan spektrum serapan optik (absorbance) dari lapisan tipis PEDOT:PSS sebelum dan sesudah menyerap gas amoniak.

I. PENDAHULUAN Pengembangan dan miniaturisasi sensor kimia untuk berbagai macam gas adalah sangat pesat dalam dekade terakhir ini. Hal ini diakibatkan oleh pengembangan sensor kimia yang cenderung lebih murah, lebih kecil, dan lebih mobile daripada instrumen analitis tradisional yang banyak digunakan saat ini [1-2]. Sensor gas telah diaplikasikan untuk mendeteksi keberadaan gas amoniak (NH3) yang digunakan sebagai pendingin di dalam pabrik kimia dan pabrik pengolahan daging, untuk monitoring kebersihan ruangan pada industri semikonduktor, serta monitoring lingkungan pada industri pertanian. Hal ini sangat penting dilakukan, karena gas NH3 selain bermanfaat bagi manusia, juga dikenal sebagai racun dan dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan paru-paru. Paparan gas NH3 dalam jangka panjang dengan konsentrasi mencapai 8 ppm dan pemaparannya dalam waktu yang singkat dengan konsentrasi mencapai 35 ppm dapat berbahaya untuk kesehatan manusia. Paparan gas amoniak dengan konsentrasi tinggi dapat mengakibatkan kerusakan paru-paru dan dapat menyebabkan kematian [3]. Dengan demikian, pengembangan sistem peringatan dini (early warning system) untuk pendeteksian bahan-bahan kimia berbahaya seperti gas amoniak di atas, merupakan topik yang sangat penting untuk diteliti serta pengembangannya. Pengembangan sensor gas termasuk pengembangan material aktif yang digunakan dan sistem pengolah sinyal keluaran sensor gas tersebut. Sampai sekarang, sebagian besar material sensor yang telah beredar di pasaran masih menggunakan oksida logam seperti SnO2 dan Fe2O3. Sensor-sensor tersebut dapat beroperasi dengan baik pada suhu tinggi (di atas suhu ruang), misalnya sensor SnO2 bekerja pada suhu 3500C, sensor Pt dan SiO2 didoping SnO2 beroperasi pada suhu 1600C, sensor Pt didoping

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

187

II. METODE EKSPERIMEN Bahan aktif yang digunakan dalam penelitian ini adalah larutan PEDOT:PSS (merk Clevios PH500 dari H.C. Starck) yang dibeli di Kyushu Jepang, dengan struktur seperti ditunjukkan pada Gambar 1.

koefisien absorbsi, C adalah konsentrasi media, dan l adalah tebal media yang diukur [9]. Karena media dalam penelitian ini berupa padatan, yaitu lapisan tipis PEDOT:PSS, maka perubahan nilai absorbansi hanya dipengaruhi oleh
0.14

0.12 2 lapis 4 lapis 0.1

Absorbance

0.08

0.06

0.04

0.02

Gambar 1. Struktur molekul dari PEDOT terdoping PSS, Ref. [10]

Sebelum PEDOT:PSS dideposisi di atas substrat kaca, substrat tersebut terlebih dahulu dibersihkan dengan deterjen, etanol, aseton, dan etanol lagi menggunakan alat Ultrasonic Cleaner. Masing-masing proses pembersihan di atas dilakukan selama 15 menit. Selanjutnya, lapisan tipis PEDOT:PSS dideposisi menggunakan metode spin-coating. Pertama, larutan PEDOT:PSS disebarkan secara merata di atas substrat, lalu diputar dengan kecepatan 100 rpm selama 10 detik dan dikeringkan pada suhu 600C selama 5 menit. Penambahan jumlah lapisan dilakukan untuk meningkatkan ketebalan film. Dalam penelitian ini dibuat 2 sampel masing-masing dengan ketebalan 2 lapis dan 4 lapis. Selanjutnya, sampel di-annealing pada suhu 1000C selama 30 menit agar pelarutnya menguap dengan sempurna dan struktur lapisan PEDOT:PSS dapat teratur. Akhirnya, sampel tersebut diletakkan dalam sebuah dry box agar tidak terkontaminasi dengan lingkungan. Spektrum serapan cahaya tampak (absorbance) dari lapisan tipis PEDOT:PSS diukur menggunakan Spektrometer UV-Vis. Pengukuran dilakukan pada cakupan panjang gelombang cahaya tampak 400 – 800 nm. III. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil deposisi lapisan tipis PEDOT:PSS di atas substrat kaca menggunakan metode spin-coating menunjukkan bahwa lapisan yang terbentuk nampak transparan berwarna kebiru-biruan. Lapisan yang lebih tebal (4 lapis) menunjukkan warna lebih kebiruan, namun masih tetap nampak transparan. Selanjutnya, kedua sampel tersebut diukur karakteristik optiknya berupa spektrum serapan cahaya tampak menggunakan spektrometer UV-Vis. Hasil pengukuran spektrum serapan cahaya tampak dari lapisan tipis PEDOT:PSS dengan ketebalan yang berbeda ditunjukkan pada Gambar 2. Dari gambar tersebut terlihat bahwa lapisan yang lebih tebal (4 lapis) memiliki spektrum serapan cahaya tampak yang lebih tinggi dari pada spektrum serapan cahaya tampak lapisan yang lebih tipis (2 lapis). Hasil tersebut sejalan dengan Hukum Beer yang menyatakan bahwa absorbansi cahaya berbanding lurus dengan konsentrasi dan ketebalan media seperti ditunjukkan dalam persamaan A = αCl. Dengan A adalah absorbansi, α adalah

0 400

450

500

550

600

650

700

750

800

Panjang gelombang (nm)

Gambar 2. Spektrum serapan cahaya tampak lapisan tipis PEDOT:PSS dengan ketebalan (jumlah lapisan) yang berbeda
0.12

0.1

Tanpa amoniak Dengan amoniak

0.08

Absorbance

0.06

0.04

0.02

0 400

450

500

550

600

650

700

750

800

Panjang gelombang (nm)

Gambar 3. Spektrum serapan cahaya tampak lapisan tipis PEDOT:PSS sebelum dan sesudah dipaparkan gas amoniak

perubahan ketebalan lapisan dimana nilai absorbansi meningkat seiring dengan meningkatnya ketebalan lapisan. Selanjutnya, hasil pengukuran spektrum serapan cahaya tampak dari lapisan tipis PEDOT:PSS sebelum dan sesudah dipaparkan gas amoniak adalah seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3. Dari gambar tersebut terlihat bahwa spektrum serapan cahaya tampak dari lapisan tipis PEDOT:PSS setelah dipaparkan gas amoniak lebih tinggi dibandingkan ketika lapisan tersebut di udara. Meningkatnya serapan cahaya ini karena molekul-molekul gas amoniak diserap ke dalam lapisan polimer. Ketika molekul-molekul gas diserap ke dalam lapisan tipis PEDOT:PSS, interaksi terjadi antara gas amoniak dan lapisan tipis dan selanjutnya gaya repulsif dibangkitkan diantara rantai-rantai PEDOT:PSS. Gaya ini menimbulkan pengembangan (swelling) lapisan tipis PEDOT:PSS dan

ISSN 0853-0823

188

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY S. Chopra, A. Pham, J. Gaillard, A. Parker, and A. M. Rao, “Carbonnanotube-based resonant-circuit sensor for ammonia”, Applied Physics Letters, Volume 80, Number 24, 2002 pp. 4632-4634 [3] P. Chambers, W.B. Lyons, E. Lewis, T. Sun, and K.T.V. Grattan, “The Potential for Development of an NH3 Optical Fibre Gas Sensor”, Journal of Physics; Conference Series 85, 2007, pp. 012015. [4] O.K. Varghese, D. Gong, W.R. Dreschel, K.G. Ong, and C.A. Grimes, “Ammonia detection using nanoporous alumina resistive and surface acoustic wave sensors”, Sensors & Actuators B 94, 2003, pp. 27–35 [5] P.S. Vukusic and J.R. Sambles, “Cobalt phthalocyanine as a basis for the optical sensing of nitrogen dioxide using surface plasmon resonance”, Thin Solid Films 221, 1992, pp. 311–317. [6] Y. Dan,, Y. Cao, Tom E. Mallouk, A. T. Johnson, S. Evoy, “Dielectrophoretically assembled polymer nanowires for gas sensing”, Sensors and Actuators B 125, 2007, pp. 55–59 [7] Yang, Y. Xu, Y.J.J. Yu, J., “Conducting polymeric nanoparticles synthesized in reverse micelles and their gas sensitivity based on quartz crystal microbalance”, Polymer 48, 2007, pp. 4459-4465 [8] M.E. Nicho, M. Trejo, A.G. Valenzuela, J.M. Saniger, J. Palacios, and H. Hub, “Polyaniline composite coatings interrogated by a nulling optical-transmittance bridge for sensing low concentrations of ammonia gas”, Sensor and Actuators B 76, 2001, pp. 18–24. [9] L.A.A. Pettersson, S.Ghosh, O. Inganas, “Optical anisotropy in thin films of poly (3,4-ethylenedioxythiophene) – poly (4styrenesulfonate)”, Organic Electronics 3 2002 pp. 143–148 [10] T. M. Schweizer, “Electrical characterization and investigation of the piezoresistive effect of PEDOT:PSS thin films”, Master Thesis, Georgia Institute of Technology, 2005, pp.15-16. [11] Y-S. Lee, B-S. Joo, N-J. Choi, , J-O. Lim, J-S. Huh, D-D. Lee, “Visible optical sensing of ammonia based on polyaniline film”, Sensors and Actuators B 93, 2003, pp. 148–152 [2]

mengubah ketebalan lapisan [11]. Perubahan ketebalan ini menghasilkan perubahan absorbansi seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2. Adanya perbedaan serapan cahaya sebelum dan sesudah pemaparan gas amoniak ini menunjukkan karakteristik optik yang penting untuk aplikasi sensor gas. Dengan demikian lapisan tipis PEDOT:PSS sangat potensial digunakan sebagai bahan aktif untuk aplikasi sensor gas amoniak. IV. KESIMPULAN Kami telah berhasil melakukan fabrikasi dan karakterisasi optik lapisan tipis PEDOT:PSS. Hasil karakterisasi optik menunjukkan bahwa lapisan yang lebih tebal (4 lapis) memiliki spektrum serapan lebih tinggi dari pada lapisan yang lebih tipis (2 lapis). Diperoleh juga bahwa sprektrum serapan cahaya tampak dari lapisan tipis PEDOT:PSS setelah dipaparkan gas amoniak lebih tinggi dibandingkan ketika lapisan tipis tersebut di udara. Adanya perbedaan serapan cahaya sebelum dan sesudah pemaparan gas amoniak ini menunjukkan karakteristik optik yang penting untuk aplikasi sensor gas. Dengan demikian lapisan tipis PEDOT:PSS sangat potensial digunakan sebagai bahan aktif untuk aplikasi sensor gas amoniak. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (DIKTI), Kementrian Pendidikan Nasional, atas dukungan dana melalui beasiswa BPPS. PUSTAKA
[1] F. L. Dickert, W. Greibl; A. Rohrer, and G. Voigt, “Sol-gel-coated quartz crystal microbalances for monitoring automotive oil degradation”, Advanced Materials, 13, 2001 pp.1327-1330.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

189

Optimalisasi Output Modul Surya Polikristal Silikon dengan Cermin Datar sebagai Reflektor pada Sudut 60o
Amalia dan Satwiko S
Universitas Negeri Jakarta Jl.Pemuda No:10, Rawamangun, Jakarta amaliamaya@ymail.com

Abstrak-Optimalisasi output daya modul surya agar dapat meningkatkan daya keluaran yang dihasilkan salah satunya dengan menggunakan cermin datar sebagai reflektor. Pengukuran dilakukan dengan mengarahkan posisi modul surya tegak lurus terhadap arah datangnya sinar guna mendapatkan hasil yang optimum. Reflektor diletakan pada sudut 60o dengan penambahan cermin datar pada bagian sisi kanan, kiri, atas dan bawah. Berdasarkan hasil pengukuran didapatkan Output daya maksimal dengan reflektor empat sisi lebar 15 cm, 30 cm dan 45 cm yaitu 31,75 Watt, 37,73 Watt, dan 53,54 Watt. Prosentase kenaikan output daya rata-rata reflektor empat sisi lebar 15 cm sebesar 56,63 % dibandingkan tanpa reflektor, lebar 30 cm sebesar 77,46% dibandingkan tanpa reflektor dan lebar 45 cm sebesar 70,73% dibandingkan tanpa reflektor. Kata kunci: output (keluaran) daya, reflektor, modul surya I. PENDAHULUAN Energi merupakan salah satu kebutuhan utama dalam kehidupan manusia. Kebanyakan energi dipakai saat ini berasal dari bahan bakar fosil dimana keadaannya semakin menipis dan persediaannya terbatas (unrenewable). Dibutuhkan energi alternatif yang tidak hanya efisien tetapi juga bernuansa ramah lingkungan, salah satunya sel surya. Saat ini efisiensi dari sel surya masih rendah dimana tingkat efisiensi sel surya menunjukkan seberapa banyak jumlah radiasi cahaya mampu dikonversikan ke dalam penggunaan energi listrik. Dampak dari efisiensi sel surya yang rendah ini, berpengaruh pada hasil keluaran (output) daya listrik pada modul surya. Untuk itu perlu upaya mengoptimalkan hasil keluaran daya listrik modul surya agar efisiensinya meningkat juga, antara lain dengan cara menambah luasan bidang permukaan modul surya, namun dengan menambah luasan bidang permukaan modul surya secara otomatis akan menambah biaya. Oleh karena masih mahalnya harga modul surya di pasaran, maka salah satu solusi yang memungkinkan yaitu dengan menambah jumlah cahaya yang mengenai permukaan modul surya dengan menggunakan cermin datar sebagai reflektor. Dengan menggunakan cermin datar, maka jumlah sinar matahari jatuh pada area permukaan modul surya akan lebih banyak, dimana hal ini menyebabkan keluaran daya listrik yang dihasilkan akan lebih besar. Jadi dengan adanya peningkatan keluaran daya listrik yang dihasilkan, maka nilai efisiensinya juga akan meningkat. II. KAJIAN TEORI A. Daya pada Sel Surya Intensitas cahaya menentukan besarnya daya dari energi sumber cahaya yang sampai pada seluruh permukaan sel surya. Jika luas permukaan sel surya (A) dengan intensitas tertentu, maka daya input sel surya adalah:
Pin = JA

Sedangkan untuk besarnya daya output sel surya (Pout) yaitu perkalian tegangan rangkaian terbuka (Voc), arus hubungan singkat (Isc), dan fill factor (FF) yang dihasilkan oleh sel surya dapat dihubungkan dengan rumus sebagai berikut :
P =Voc Isc FF out

(2)

dimana Pout = Daya yang dibangkitkan oleh sel surya (Watt) Voc = Tegangan rangkaian terbuka pada sel surya (Volt) Isc = Arus hubungan singkat pada sel surya (Ampere) FF = Fill Factor B. Fill Factor Faktor pengisi (Fill factor, FF) merupakan nilai rasio tegangan dan arus pada keadaan daya maksimum dan tegangan open circuit (Voc) dan arus short circuit (I sc).
FF = V m ax I m ax V o c I sc

(3)

dimana Vmax = Tegangan pada saat sel surya mencapai maksimum (Volt) Imax = Arus pada saat sel surya mencapai maksimum (Ampere) Voc = Tegangan rangkaian terbuka pada sel surya (Volt) Isc = Arus hubungan singkat pada sel surya (Ampere) Persamaan fill factor digunakan untuk mengukur bagaimana luasan persegi pada karakteristik I-V suatu sel surya. Harga fill factor dapat merupakan fungsi Voc. Secara empiris hubungan antara fill factor dengan Voc adalah : Voc − ln(Voc + 0.72) (4) FF = Voc + 1 C. Efisiensi pada Sel Surya Energi cahaya yang diterima oleh sel surya dapat diubah menjadi energi listrik. Semakin besar energi cahaya yang diserap maka semakin besar enegi listrik yang dapat dihasilkan. Maka konversi energi ini pun memiliki nilai

(1)

dimana Pin =Daya yang diterima akibat irradiance matahari (Watt) J = Intensitas cahaya (W/m2) A = Luas area permukaan sel surya (m2)

ISSN 0853-0823

190

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

efisiensi di dalamnya. Efisiensi keluaran maksimum (η) didefinisikan sebagai prosentase keluaran daya optimum terhadap energi cahaya yang digunakan, yang dituliskan sebagai :
η= η=
Vmax Imax Pin Voc I sc FF Pin

(5)

mencapai 1000W/m2 sering disebut sebagai full sun, one sun, atau AM1 intensity. Jika sinar jatuh tegak lurus bidang modul surya, maka posisi dari pengaturan sudut cermin diatur dengan sudut 60o dengan tujuan agar sinar yang datang (mengenai) pada cermin dapat dipantulkan menuju bidang modul surya seperti pada Gambar 1.. E. Kedudukan Modul Surya Posisi matahari terus-menerus berubah relatif terhadap tanah, oleh karena itu untuk mendapatkan keluaran energi listrik yang optimum maka dilakukan dengan memiringkan modul surya tersebut ke suatu arah dengan sudut kemiringan sebesar lintang lokasi tersebut berada. Sebagai contoh apabila lokasi tersebut berada di sebelah utara khatulistiwa maka modul surya tersebut dihadapkan ke selatan, dan sebaliknya seperti pada Gambar 2. Hal ini bertujuan untuk menghindari penumpukan debu dan kelembaban pada modul surya.

P η = out ×100% Pin

Dimana η = Efisiensi Sel Surya (%) Pout = Daya yang dibangkitkan oleh sel surya (Watt) Pin = Daya yang diterima akibat irradiance matahari (Watt) Efisiensi maksimal konversi energi cahaya menjadi energi listrik oleh suatu sel surya adalah sekitar 30%. Tetapi pada umumnya, untuk kebanyakan sel surya, besar efisiensinya hanya berkisar 10%-15%. D. Radiasi Cahaya Matahari Pada Permukaan Bumi Radiasi cahaya matahari yang jatuh langsung pada suatu permukaan bidang tegak lurus menghadap matahari dapat terjadi pada daerah-daerah yang dekat dengan khatulistiwa, seperti di Indonesia disebut penyinaran matahari maksimum. Energi dari radiasi matahari yang tiba di permukaan atmosfir dapat mencapai harga konstanta surya sebesar 1350 W/m2 dan hal ini akan berlangsung terus menerus sepanjang tahun. Radiasi matahari yang menuju permukaan bumi mengalami gangguan berupa penyerapan, pembiasan dan pemantulan ketika melewati atmosfer bumi sehingga hanya sebagian saja dari radiasi yang sampai di luar atmosfer bumi yang diteruskan dan mencapai permukaan bumi.

Gambar 2. Kedudukan Modul Surya

III. EKSPERIMEN Eksperimen dilakukan untuk mendapatkan parameterparameter yang dihasilkan oleh modul surya polikristal silikon. Dengan membuat rangkaian modul surya polikristal silikon dimana reflektor diletakan pada empat sisi yaitu di sisi kanan,kiri, atas dan bawah modul surya pada sudut 60o dengan variasi reflektor sebesar 15 cm, 30 cm, 45 cm (lihat Gambar 3).

Gambar 1. Arah Pemantulan Cahaya Jika Cahaya Tegak Lurus Bidang Sel Surya

Besarnya gangguan yang dialami oleh radiasi matahari didalam atmosfer sangat dipengaruhi oleh keadaan dari atmosfer. Jika langit mendung atau berawan tebal, maka semakin banyak radiasi matahari yang diserap dan dipantulkan sehingga semakin sedikit radiasi yang sampai kepermukaan bumi. Energi maksimum setelah mencapai permukaan bumi hanya tinggal 1000W/m2 yang umumnya terjadi ketika langit sedang cerah, sebuah penyinaran yang

Gambar 3: Desain Alat dengan Reflektor Diletakan pada Empat Sisi

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

191

Pengambilan data dilakukan dari pukul 06:00-18:00 dengan memiringkan modul ke arah utara. Dalam eksperimen ditetapkan variabel terikat meliputi arus hubung singkat (Isc), tegangan rangkaian terbuka (Voc), temperatur modul surya, cuaca (cerah/berawan), output daya modul surya. Sedangkan variabel bebasnya yaitu waktu pengukuran, dan besar perubahan ukuran reflektor. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

45 cm sebesar 70,73% (dibandingkan tanpa reflektor) (lihat Gambar 6).

Daya terhadap Waktu
55 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17
Waktu (Jam)

Daya (Watt)

Daya terhadap Waktu
55 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17
Waktu (Jam)

Tanpa R eflektor 45 c m

Daya (Watt)

Tanpa R eflektor 15 c m

Gambar 6. Grafik Output Daya terhadap Waktu Reflektor Empat Sisi Lebar 45 cm TABEL I. PROSENTASE KENAIKAN DAYA REFLEKTOR EMPAT SISI
Ukuran Reflektor Prosentase Kenaikan Daya Rata-Rata 15 cm 56,63% 30 cm 77,46% 45 cm 70,73%

Gambar 4. Grafik Output Daya terhadap Waktu Reflektor Empat Sisi Lebar 15 cm

Output daya maksimal dengan reflektor empat sisi lebar 15 cm pada pukul 11:00 sebesar 31,75 Watt. Sedangkan output daya maksimal tanpa reflektor pada pukul 11:00 sebesar 19,51 Watt. Prosentase kenaikan daya rata-rata reflektor empat sisi 15 cm sebesar 56,63% (dibandingkan tanpa reflektor) (lihat Gambar 4).
Daya terhadap Waktu
55 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17
Waktu (Jam)

Dari Tabel I. Output Daya yang optimum pada reflektor empat sisi terdapat pada lebar 30 cm. Penambahan reflektor dapat menyebabkan penurunan output daya karena intensitas cahaya yang diterima oleh modul surya dapat terhalang oleh reflektor itu sendiri V. KESIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan optimalisasi output modul surya polikristal silikon pada sudut 60O dengan variasi lebar reflektor, dapat disimpulkan: a. Upaya mengoptimalkan hasil output (keluaran) daya modul surya dengan menggunakan cermin datar sebagai reflektor. b. Flil Factor dari modul surya polikristal silikon yang digunakan dalam eksperimen bernilai antara 0,7-0,85. c. Output Daya yang optimum pada reflektor empat sisi terdapat pada lebar 30 cm. d. Intensitas cahaya berpengaruh terhadap output (keluaran) daya modul surya. e. Penambahan reflektor dapat menyebabkan penurunan output daya karena intensitas cahaya yang diterima oleh modul surya dapat terhalang oleh reflektor itu sendiri. Disamping itu intensitas cahaya berbeda-beda setiap waktu. PUSTAKA
[1] [2] [3] [4] A. Eka, Studi Peningkatan Output Modul Dengan Menggunakan Reflektor, Universitas Negeri Jakarta, Jakarta, 2009. Marzuki, Analisa Beberapa Faktor Yang Dapat Mempengaruhi Efisiensi Sel Surya, Universitas Indonesia, Depok, 1995. S. Purba, Konsentrator Bentuk V Untuk Menaikkan Daya Sel Surya, Universitas Indonesia, Depok, 1996. Tim Fotovoltaik UPT LSDE, BPP Teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Surya Penerangan Rumah (SHS), Jurnal BPP Teknologi, 1995. H. Wibowo, Studi Penggunaan Solar Reflector Untuk Optimalisasi Output Daya Pada Photovoltaic (PV), Universitas Kristen Petra, Surabaya, 2009.

Daya (Watt)

Tanpa R eflektor 30 c m

Gambar 5. Grafik Output Daya terhadap Waktu Reflektor Empat Sisi Lebar 30 cm

Output daya maksimal dengan reflektor empat sisi lebar 30 cm pada pukul 11:00 sebesar 37,73 Watt. Sedangkan output daya maksimal tanpa reflektor pada pukul 11:00 sebesar 19,51 Watt. Prosentase kenaikan daya rata-rata reflektor empat sisi 30 cm sebesar 77,46% (dibandingkan tanpa reflektor) (lihat Gambar 5). Output daya maksimal dengan reflektor empat sisi lebar 45 cm pada pukul 13:00 sebesar 53,54 Watt. Sedangkan daya output maksimal tanpa reflektor pada pukul 11:00 sebesar 19,51 Watt. Penurunan output daya secara signifikan mulai pukul 14:00 karena intensitas cahaya yang diterima modul surya terhalang oleh reflektor yang dipasang pada sisi kiri. Prosentase kenaikan daya rata-rata reflektor empat sisi

[5]

ISSN 0853-0823

192

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Studi Karakteristik Arus-Tegangan (Kurva I-V) pada Sel Tunggal Polikristal Silikon serta Pemodelannya
Karina A, Satwiko S
Universitas Negeri Jakarta Jl. Pemuda No 10, Rawamangun, Jakarta karinanjarani@gmail.com

Abstrak – Sel surya merupakan salah satu sumber energi listrik terbarukan, parameter dari sel surya dapat diperoleh melalui karakteristik arus-tegangan antara lain, arus hubungan singkat (Isc), tegangan rangkain terbuka (Voc), daya maksimum dan nilai Fill Factor. Sel surya dapat dimodelkan sebagai sumber arus yang diparalelkan dengan dioda berdasarkan persamaan dioda Schockley. Dengan menggunakan sumber cahaya dari lampu xenon serta sel tunggal polikristal silikon diletakan dalam ruang cermin diperoleh bentuk karakteristik arus-tegangan bila dibandingan dengan hasil pemodelan diperoleh kesamaan bentuk namun masih diperlukan analisis lebih lanjut. Dari hasil pemodelan diketahui karakteristik sel tunggal polikristal yang digunakan dipengaruhi adanya kenaikan hambatan seri (Rs). Bentuk karakteristik tersebut dipengaruhi adanya parameter lingkunagan yaitu iradiansi dan temperatur. Perubahan tegangan terhadap temperatur sekitar 0.02433 V/oC saat disinari lampu xenon pada jarak 11 cm. Penggunaan blower sangat membantu dalam menjaga kestabilan temperatur dalam ruang cermin. Dengan menggunakan sumber cahaya yang berbeda arus meningkat sebanding dengan intensitas cahaya yang digunakan sumber lampu xenon dengan daya 100 watt dan 200 watt yang diletakkan pada jarak 11 cm tegak lurus terhadap permukaan sel mendapatkan nilai Voc sebesar 0.397 V dan 0.500 V serta nilai Isc 0.104 A dan 0.153 A. Nilai Fill Factor dari sel tunggal polikristal yang digunakan bernilai 0.3 hingga 0.5 dengan sumber cahaya lampu yang berbeda. Daya keluaran maksimal didapat saat disinari lampu xenon 200 watt pada jarak 11 cm dengan blower yaitu sebesar 0.042 watt. Kata kunci : sel surya, karakteristik arus-tegangan, sel tunggal susunan paralel akan menghasilkan teganagan yang sama namun jumlah arus lebih besar. Sifat dari sel surya adalah nonlinier, sehingga untuk memahami arus dan tegangannya tidak mudah diungkapkan secara matematik. Untuk dapat menjelaskan keadaan arus dan tegangan pada sel surya yang diberi radiasi iluminasi, maka ditinjau terlebih dahulu bentuk rangkaian pengganti sel surya. Sel surya dapat dimodelkan sebagai sumber arus yang diparalelkan dengan diode. Ketika tidak ada cahaya untuk membangkitkan arus listrik, maka sel surya berjalan seperti diode (ID). Ketika intensitas cahaya meningkat maka sel surya berfungsi sebagai sumber energi dan arus (IL) atau fotolistrik dapat dibangkitkan oleh sel surya tersebut [1]. Sel surya biasanya dapat dimodelkan dengan rangkaian pengganti satu dioda [2], seperi pada Gambar 1 berikut:

I. PENDAHULUAN Energi merupakan kebutuhan mendasar dalam kehidupan di dunia, sehingga kebutuhan energi di dunia terus meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut perlu dikembangkan berbagai energi alternatif, yaitu energi terbarukan. Energi matahari sangat berpotensi sebagai energi terbarukan, karena ketersediannya melimpah di alam dan tidak akan habis. Salah satu upaya dilakukan dalam pemanfaatan energi matahari yaitu dikembangkannya teknologi sel surya. Teknologi sel surya merupakan teknologi konversi, dengan mengubah energi matahari menjadi energi listrik. Sel surya dibedakan menjadi beberapa macam, antara lain monokristal silikon, polikristal silikon dan amorf silikon. Polikristal lebih banyak dipakai saat ini karena proses pembuatannya lebih mudah dengan tingkat efisiensi yang sedang. Karakteristik dari sel surya dapat dilihat dari parameterparameter pada kurva IV seperti arus hubung singkat (Isc), tegangan rangkaian terbuka (Voc) dan faktor pengisian (FF). Dalam mengembangkan sel surya dalam penerapan praktis maka perlu diketahui karakteristik listrik sel surya baik secara teoritis maupun eksperimen. II. SEL FOTOVOLTAIK A. Model Sel fotovoltaik Sel surya adalah sel semikonduktor sebagai sumber energi listrik Sel surya terdiri dari sel tunggal dalam sususnan seriparalel membentuk modul/panel surya dan menjadi array apabila terdiri dari kumpulan modul/panel surya. Ketika sel atau modul disusun secara seri maka akan menghasilkan arus yang sama dan teganga bertambah sedangakan dalam

Gambar 1. Rangkaian ekuivalen pada sel tunggal

Model tersebut terdiri dari sumber arus fotolistrik (IL), satu dioda dan hambatan seri Rs dimana menggambarkan hambatan dalam tiap sel dan koneksi antara sel. Arus yang didapat adalah selisih antara arus fotolistrik (IL) dan arus dioda ID. Persamaan dasar dari teori semikonduktor yang dapat menjelaskan kurva IV secara matematik pada sel fotovoltaik ideal adalah sebagai berikut :

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

193

(1) dimana : IL I0 q V I Rs Rsh n k T = arus akibat sel surya disinari = arus saturasi dioda (Ampere) = muatan elektron, 1.602 x 10-19 C = tegangan keluaran (Volt) = arus keluaran (Ampere) = hambatan seri pada sel (Ω) = hambatan paralel pada sel (Ω) = faktor ideal dioda (antara 1 sampai 2) = konstanta Boltzman, 1.38 x 10-23 J/K = temperatur sel (Kelvin)

dengan garis I/V = I/R. Hal tersebut menunjukkan daya yang didapat bergantung pada nilai resistansi. Jika R kecil maka sel beroperasi pada daerah kurva MN, dimana sel beroperasi sebagai sumber arus yang konstan atau arus short circuit. Pada sisi lain, jika R besar, sel beroperasi pada daerah kurva PS, dimana sel beroperasi sebagai sumber tegangan yang konstan atau tegangan open-circuit. Jika dihubungkan dengan dengan hambatan optimal Ropt berarti sel surya menghasilkan daya maksimal dengan tegangan maksimal dan arus maksimal [3].

Pada persamaan (1) banyak terdapat parameter yang nantinya mempengaruhi kurva karakteristik arus-tegangan, antara lain: temperatur mempengaruhi arus fotolistrik, tegangan open circuit dan arus saturasi. . (2) (3) (4)
Gambar 2. Karakteristik arus tegangan (kurva I-V)

Voc (T) = Voc(Tref) + β(T-Tref)

(5)

dimana G adalah iradiasi, α adalah koefisien arus, β adalah koefisien temperature tegangan, n adalah factor ideal diode (antara 1 sampai 2), dan I0 adalah arus saturasi dioda yang besarnya bergantung pada temperatur [2]. Indeks ref menunjukkan keadaan STC (Standard Test Condition) berdasarkan standar internasional IEC (International Electrotechnical Commisson). Nilai Tref= 250C dan Gref = 1000 W/m2. Hambatan seri Rs menunjukkan hambatan dalam setiap sel yang dihubungkan secara seri antara sel. (6)

C. Parameter pada Kurva IV Parameter yang biasa digunakan untuk menentukan output karakteristik dari sel fotovoltaik, yaitu : 1. Arus hubungan terbuka atau short circuit current (Isc) adalah arus keluaran maksimum dari sel surya pada kondisi tidak ada resistansi. 2. Tegangan rangkaian terbuka atau open circuit voltage (Voc) adalah kapasitas tegangan maksimum yang dapat dicapai pada saat tidak adanya arus. 3. Daya maksimum (Pmax) pada gambar 2 berada pada titik A (Vmax, Imax). 4. Faktor Pengisian atau Fill factor (FF) merupakan harga yang mendekati konstanta suatu sel fotovoltaik tertentu. Perbandingan antara daya maksimum yang didapat pada beban dan dengan perkalian Isc dan Voc. 5. Jika nilai fill factor lebih tinggi dari 0.7 maka sel tersebut lebih baik [3]. D. Pemodelan Marcelo Gradella Villalva Dalam perancangan simulasi fotovoltaik dibutuhkan beberapa parameter untuk mendapatkan kurva karakteristik yang sesuai dengan datasheet. Metode dalam pemodelan dan simulasi oleh Marcelo Gradella Villalva (2009) dikerjakan untuk mendapatkan parameter dari persamaan nonlinier I×V dengan menyesuaikan tiga titik pada kurva yaitu arus hubungan singkat (Isc), daya maksimum (Pmax) dan tegangan rangkaian terbuka (Voc). Tiga titik tersebut didapat dari datasheet fotovoltaik. Metode tersebut mendapatkan fungsi arus tegangan (kurva IV) untuk model fotovoltaik dioda tunggal termasuk pengaruh hambatan seri dan paralel dan daya maksimum model yang disesuaikan dengan nilai sebenarnya. Dari pemodelan tersebut dapat diketahui pengaruh parameter lingkungan pada fungsi arus tegangan, yaitu temperatur dan iradiansi.

(7) Nilai Rs memberikan pengaruh yang lebih besar saat sel surya beroperasi di daerah sumber tegangannya, sedangkan hambatan paralel (Rshunt) berpengaruh saat sel surya beroperasi di daerah sumber arus. Sel surya yang ideal adalah yang memiliki nilai Rshunt yang sangat besar dan nilai Rs sangat kecil ( Rs = 0 dan Rshunt= ∞). B. Karakteristik pada Sel Fotovoltaik (Kurva IV) Sel fotovoltaik adalah sebuah alat non-linier, sehingga untuk memahami karakteristiknya digunakan suatu grafik. Sifat elektrik dari sel fotovoltaik dalam menghasilkan energi listrik dapat diamati dari karakteristik listrik sel tersebut, yaitu berdasarkan arus dan tegangan yang dihasilkan sel fotovoltaik pada kondisi cahaya dan beban yang berbedabeda. Kurva IV menggambarkan sifat dari sel surya secara lebih lengkap. Gambar 2 menunjukkan ketika sel dihubungkan dengan beban (R). Beban memberi hambatan sebagai garis linear

III. EKSPERIMEN

ISSN 0853-0823

194

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Eksperimen dilakukan dalam medapatkan parameterparameter yang dihasilkan oleh sel tunggal polikristal. Dengan membuat rangkaian pengukuran arus dan tegangan keluaran pada sel tunggal polikristal dilengkapi dengan cermin datar sebagai pemantul cahaya lampu xenon yang digunakan. Lampu xenon adalah lampu polikromatik yaitu lampu yang memiliki sinar-sinar yang dapat diuraikan atas beberapa komponen warna yang memiliki spektrum cahaya seperti spektrum cahaya matahari. Hasilnya kemudian ditampilkan dalam kurva I-V. Dalam pemodelan secara teori juga didapatkan bentuk kurva IV sehingga dapat dilakukan perbandingan antara hasil pengukuran dengan hasil teori.

temperatur. Besaranya arus yang dipengaruhi oleh temperatur yaitu arus saturasi dioda (Io) dan arus ketika sel tunggal polikristal silikon dikenai cahaya/fotolistrik (IL).

Gambar 4. Kurva karakteristik arus tegangan sel tunggal polikristal pada intensitas lampu yang berbeda.
blower

Tabel 1. Nilai parameter pemodelan sel tunggal polikristal 100 Watt 200 Watt

Parameter

11 cm 7,190×10 A 0,104 A 1,554× 103Ω 1,600 Ω
-7

11 cm 4,764×10-8 0,153 A 2,334×103 Ω 0,860 Ω

Io IL Rp Rs

Gambar 3. Desain pengukuran arus-tegangan pada ruang cermin dengan blower

IV. HASIL A. Pemodelan Pada saat pengambilan data sel tunggal polikristal silikon diletakkan di dalam ruang cermin yang tertutup. Sehingga ketika sumber cahaya dari lampu yang digunakan tidak dinyalakan, alat ukur tidak mendeteksi adanya pengaruh dari cahaya lain di luar ruang cermin tersebut. Hal ini mungkin saja karena cahaya datang tidak sampai pada permukaan sel surya, intensitas cahaya sangat lemah dan frekuensi cahaya tersebut sangat kecil sehingga energinya pun kecil tidak dapat mengeksitasi elektron yang ada dalam sel tersebut. Untuk mengamati pengaruh perubahan arus terhadap tegangan sel tunggal polikristal silikon secara keseluruhan, beban hambatan yang digunakan harus disesuaikan dengan intensitas cahaya pada eksperimen ini. Semakin besar intensitas cahaya secara proposional akan menghasilkan arus yang besar. Karakteristik I-V yang ditunjukkan pada Gambar 4 diamati saat sel tunggal polikristal silikon disinari oleh sumber lampu xenon dengan daya 100 watt dan 200 watt yang diletakkan pada jarak 11 cm tegak lurus terhadap permukaan sel. Dalam pemodelan sel tunggal polikristal silikon ini dianalisa dengan parameter-parameter yang dapat mempengaruhi kinerja yang dihasilkan oleh sel tunggal polikristal silikon tersebut. Model sederhana dari dioda tunggal digunakan untuk memperkirakan parameter elektrik dari sel surya. Dari hasil pemodelan pada Gambar 4 dan 5 diketahui parameter model antara lain IL, Io, Rs, Rp dimana mewakili sifat fisik dari sel tunggal polikristal. Kelima parameter tersebut berhubungan dengan dua parameter lingkungan yaitu iradiansi dan

Hasil pemodelan pada Gambar 5 dan Gambar 6 dari data eksperimen didapatkan bentuk karakteristik IV sel tunggal polikristal silikon dengan sumber cahaya lampu xenon 100 watt dan 200 watt pada kurva berwarna biru. Bila dibandingkan dengan hasil pemodelan karakteristik I-V yang ideal diketahui hasil eksperimen dari sel tunggal polikristal dipengaruhi oleh hambatan seri (Rs) pada kurva IV. Rs tersebut menjadikan penurunan bentuk kurva pada saat tegangan hampir konstan. Selain itu hambatan paralel (Rp) sedikit berpengaruh pada bentuk kurva IV, yaitu menjadikan penurunan pada bentuk kurva saat arus hampir konstan.

Gambar 5. Pengaruh hambatan seri pada karakteristik arustegangan dengan sumber lampu xenon 100 watt

B. Pengaruh Temperatur Terhadap Kurva IV Temperatur dalam eksperimen ini dikondisikan pada dua keadaan yang berbeda yaitu dengan blower dan tanpa blower. Dengan menggunkan rangkaian sensor pengukur suhu LM-35, sehingga dapat mengamati keadaan

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

195

lingkungan di dalam ruang cermin. Sedangakan temperatur dari sel tunggal polikristal diukur menggunakan thermometer infrared.

Suhu lingkungan saat pengukuran dengan blower adalah 300Celsius dan suhu ketika blower dimatikan 340 Celsius. Pada grafik diamati bahwa semakin tinggi suhu, karakteristik arus-tegangan pada sel tunggal polikristal bergeser. Saat menggunakan blower didaptkan nilai Voc sebesar 0.37025 V sedangkan tanpa blower nilai Voc sebesar 0.33725V atau menurun sekitar 0.00825 V/oC. V. KESIMPULAN Setelah melakukan pengukuran terhadap arus dan tegangan untuk mendapatkan karakteristik dari sel tunggal polikristal silikon dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Karakteristik arus tegangan pada sel tungal polikristal dipengaruhi oleh iradiansi dan temperatur. 2. Penggunaan blower pada ruang cermin dapat menjaga kondisi temperatur didalamnya, secara tidak langsung menjaga temperatur di permukaan sel tunggal polikristal silikon. 3. Perubahan tegangan terhadap temperatur sekitar 0.02433 V/oC saat disinari lampu xenon 200 watt pada jarak 11 cm dan sekitar 0,00825 V/oC saat disinari lampu xenon 100 watt pada jarak 23 cm. 4. Hambatan seri (Rs) sangat berpengaruh pada karakteristik arus-tegangan sel tunggal polikristal silikon dari hasil eksperimen ini. 5. Fill Factor dari sel tunggal polikristal yang digunakan dalam eksperimen ini bernilai antara 0.37 hingga 0.55 6. Daya keluaran maksimal sel tunggal polikristal silikon saat disinari dengan sumber lampu xenon 200 watt pada jarak 11 cm, yaitu sebesar 0,042 watt. PUSTAKA
[1] [2] [3] Fahrenbruch, Alan L. “Fundamental of Solar Cell.” New York: Academic Press,Inc, 1983. Lorenzo, E. “Solar Electricity Engineering of Photovoltaic System”. Spain: Artes Graficas Gala, S.L, 1994. Hansen, Anca D dkk. “Model for a Stand-Alone PV System.” Roskilde: Riso National Laboratory, 2000.

Gambar 6. Pengaruh hambatan seri pada karakteristik arustegangan dengan sumber lampu xenon 200 watt

Ketika pengukuran dilakukan tanpa menghidupkan blower, suhu sekitar sel meningkat sehingga memungkinkan suhu pada permukaan sel tersebut ikut meningkat. Namun hal ini diatasi dengan cara menyinari lampu untuk beberapa lama hingga kenaikan suhu akibat radiasi dari sinar lampu xenon tersebut tidak terlalu cepat, maka dilakukan pengukuran. Pengukuran dengan menggunakan blower,dinilai cukup membantu dalam menjaga kestabilan dalam ruang cermin yaitu membuang suhu panas yang berada disekitar permukaan sel. Suhu pada pengukuran ini lebih rendah dibandingkan dengan pengukuruan tanpa blower. Hal ini dapat diamati dengan besarnya perbedaan karakteristik arustegangan antara tanpa blower dan dengan blower. Pada gambar 6 terlihat adanya pergeseran pada kurva I-V karena adanya perbedaan suhu.

Gambar 7. Pengaruh perbedaan suhu terhadap karakteristik arus-tegangan pemodelan

ISSN 0853-0823

196

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Kajian Respons Frekuensi Tetapan Dielektrik Material Keramik Calcium Copper Titanate (CaCu3Ti4O12)
1,2

Reny Eryolamda1, Kamsul Abraha2
Laboratorium Fisika Zat Padat, Jurusan Fisika FMIPA UGM Sekip Utara, Yogyakarta 55281 1 yolamda_a@yahoo.com, 2kamsul@ugm.ac.id

Abstrak – Dalam penelitian ini telah disintesis material keramik calcium copper titanate (CaCu3Ti4O12) melalui metode reaksi padatan (solid-state reaction method) yang mencakup pencampuran, pembentukan dan pemanasan (kalsinasi dan sintering). Sampel telah dikalsinasi pada suhu 1100 °C selama 7 jam dan disintering dengan variasi suhu 500 °C, 700 °C dan 900 °C. Struktur CaCu3Ti4O12 (CCTO) ditentukan menggunakan X-Ray Diffraction (XRD) dan komposisi CCTO ditentukan menggunakan X-Ray Flourescence (XRF). Hasil XRD menunjukkan bahwa struktur CaCu3Ti4O12 adalah perovskite pada semua suhu sintering. Besaran yang menjadi pusat perhatian pada penelitian ini adalah tetapan dielektrik kompleks yang mengikutsertakan gejala dissipasi energi elektromagnetik melalui pemunculan besaran rugi dielektrik. Pengukuran tetapan dielektrik kompleks dilakukan dalam rentang frekuensi 80 – 1300 kHz. Tetapan dielektrik maksimum terukur pada sampel yang disintering dengan suhu 900 °C, yaitu sekitar 5165 pada frekuensi 600 kHz. Hasil penelitian ini juga memperlihatkan adanya pengaruh frekuensi terhadap tetapan dielektrik kompleks, baik bagian imajiner maupun bagian realnya. Kata kunci : reaksi padatan, CaCu3Ti4O12, tetapan dielektrik kompleks I. PENDAHULUAN CCTO merupakan material keramik yang terdiri dari unsur-unsur Ca, Cu, Ti dan O. Bahan ini ditemukan dan dikaji pertama kali pada tahun 1979 [1]. CaCu3Ti4O12 menunjukkan sifat elektrik yang paling istimewa yaitu mempunyai tetapan dielektrik yang sangat tinggi, biasa disebut Giant Dielektric Constant, dan stabil pada rentang suhu kamar tanpa diikuti perubahan fase atau struktur. Material ini ditemukan memiliki tetapan dielektrik sebesar 12.000 pada frekuensi 1 kHz dan sekitar 10.286 pada frekuensi 100 kHz. Tidak seperti bahan-bahan keramik ferroelektrik yang lain, sifat tetapan dielektrik material CCTO stabil dan tidak menunjukkan perubahan struktur pada rentang suhu suhu 100 – 600 K [2–4]. Berdasarkan sifat dielektrik ini, CCTO sangat bermanfaat untuk dijadikan bahan pada piranti elektronik seperti kapasitor, piranti memori, piranti gelombang mikro dan thin film CCTO juga lebih memudahkan menghasilkan piranti berukuran kecil. Penelitian pun berkembang pada proses sintesis material CCTO. Berbagai metode sintesis telah dilaporkan untuk menghasilkan CCTO. Dengan perkembangan teknologi, metode yang digunakan untuk mensintesis material CCTO menjadi sangat banyak, diantaranya adalah solid state reaction method [5–10], glycine nitrate process [11], microwave heating [12, 13], dan wet-chemistry method [14]. Metode yang paling sederhana dalam mensintesis material CCTO ini adalah metode reaksi padatan (solid state reaction method) yang meliputi pencampuran, pembentukan (pengompakan) dan pemanasan (kalsinasi dan sintering). Selain penelitian tentang berbagai macam sintesis bahan, juga dilakukan beberapa penelitian untuk dapat mengetahui karakteristik mikrostruktur material CCTO, mulai dari XRD (X-Ray Diffraction), XRF (X-Ray Flourescence), SEM (Scanning Electron Microscope), FT-IR (Fourier Transform-Infrared), RBS (Rutherford Backscattering Spectroscopy), AFM (Atomic Force Microscopy) sampai TEM (Transmission Electron Microscopy). Dalam penelitian ini akan dilakukan sintesis material CCTO dengan menggunakan metode yang paling sederhana yaitu metode reaksi padatan (solid state reaction method), karakterisasi hasil sintesis material CCTO dan pengukuran tetapan dielektrik kompleks material CCTO. II. METODE EKSPERIMEN A. Pembuatan sampel CCTO
CaCO3 (s) + 3CuO (s) + 4TiO2 (s) → CaCu3Ti4O12 (s) + CO2 (g)

Bahan – bahan CaCO3, CuO, TiO2 dengan kemurnian 99,99% ditimbang sesuai dengan perhitungan stoikiometri,  (masing – masing gram pereaksi CaCO3, CuO dan TiO2 berturut – turut yaitu 16,68 gram, 39,77 gram dan 53,24 gram) kemudian dicampur dengan menambahkan alkohol dalam agate mortar. Untuk menguapkan alkohol maka serbuk dikeringkan pada suhu 80 oC lalu disaring dengan penyaring 0,45 mm. Serbuk ini kemudian dikalsinasi dalam 3 langkah yaitu : a. suhu dinaikkan dari suhu kamar sampai 500 oC selama 1,5 jam, dijaga konstan pada suhu 500 oC selama 1 jam. b. suhu dinaikkan sampai 850 oC selama 1,5 jam suhu lalu dijaga konstan selama 1 jam. c. suhu dinaikkan lagi sampai 1100 oC selama 1 jam dan dijaga konstan selama 1 jam. Serbuk yang sudah dikalsinasi dihaluskan kembali dicetak dan ditambahkan bahan perekat (binder) waterglass sebesar 10 %, kemudian disaring dengan penyaring 0,35 mm lalu menjadi pelet dengan diameter 24 mm dan ketebalan 2-4 mm dibawah tekanan 300 MPa. Pelet yang sudah terbentuk disintering dengan variasi suhu 900 oC, 700 oC, 500 oC dan non sintering. Sampel CCTO yang dihasilkan diuji struktur kristalnya dengan XRD dan komposisi dari sampel CCTO diuji dengan XRF. B. Pengukuran Kapasitansi Plat Kapasitor, Loss Tangent dan Tetapan Dielektrik kompleks Pengukuran kapasitansi plat kapasitor, loss tangent dan tetapan dielektrik kompleks dilakukan dalam rentang frekuensi antara 100 – 1300 kHz. Untuk mengukur nilai

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

197

kapasitansi plat kapasitor digunakan Meter Kapasitansi DM - 9023 dengan akurasi pengukuran ± 10%. Rangkaian pengukuran kapasitansi dan R-C ditunjukkan pada Gambar 1 dan 2. + C
Kapasitansi meter

+

_

_

Gambar 1. Rangkaian Pengukuran Kapasitansi

Nilai permitivitas relatif (εr) dari bahan dihitung dengan menggunakan persamaan εr = C/C0. Dengan C adalah nilai kapasitansi hasil pengukuran dan C0 adalah nilai kapasitansi plat kapasitor kosong.
H C V VT R VR OSILOSKOP H G V

maupun TiO2. Tidak terdapatnya fase lain ini menunjukkan bahwa CCTO murni dapat diperoleh dengan melakukan kalsinasi pada suhu 1100 oC. Tapi dari Gambar 3(b) terlihat bahwa saat sampel mengalami pembakaran lagi (sintering 700 oC) muncul puncak baru yang juga merupakan bagian dari fase CCTO. Perbedaan satu puncak pada Gambar 3 ini menunjukkan bahwa perlakuan sintering terhadap sampel memberikan pengaruh terhadap terbentuknya kristal CCTO. Pada non sintering, satu puncak puncak pada bidang hkl (411) tidak terekam pada detektor, dimana intensitasnya lebih rendah dibanding pada sintering 700 oC. Hal ini disebabkan belum sempurnanya fase CCTO, namun keadaan ini juga mengindikasikan bahwa pada proses kalsinasi fase CCTO sudah mulai terbentuk. Puncak-puncak Gambar 3 memperlihatkan bahwa dengan penambahan pemanasan sintering pada sampel maka intensitas dari sampel tersebut juga meningkat. Puncak-puncak yang terjadi menunjukkan terjadinya interferensi yang konstruktif. B. Karakterisasi dengan XRF Pengujian XRF (X-Ray Flourescence) dilakukan untuk mengetahui kandungan atom – atom yang terdapat dalam sampel. Pengujian XRF ini hanya dilakukan terhadap sampel yang disintering pada suhu 900 oC. Hasil dari pengujian ini bisa dilihat pada Tabel 1.
TABEL 1. HASIL PENGUJIAN XRF (X-RAY FLOURESCENCE)

G (ground)

Nama sampel CCTO

Parameter Ca Cu Ti

Hasil Uji 6,97±0,02 11,56±0,11 16,30±0,17

Satuan % % %

Gambar 2 Rangkaian R-C untuk pengukuran loss tangent dan tetapan dielektrik kompleks

Jumlah atom 1 1 2

III. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakterisasi dengan XRD Karakterisasi XRD (X-Ray Diffraction) dilakukan untuk mengetahui struktur kristal material CCTO yang telah disintesis. Sampel yang dikarakterisasi dengan XRD yaitu berupa serbuk non sintering dan yang disintering pada suhu 700 oC.
(220) 

(b)  (400)  (110)  (211)  (222)  (310)  (321)  (411) 

Jumlah atom O dapat diketahui dengan perhitungan manual, jumlah atomnya adalah 25. Dari Tabel 1 dapat diketahui bahwa jumlah perbandingan atom-atom Ca:Cu:Ti:O yaitu 1:1:2:25, hal ini jelas sangat jauh sekali dari yang diharapkan. Kalau dilihat dari rumus molekul CaCu3Ti4O12 maka perbandingan masing-masing atom Ca:Cu:Ti:O seharusnya 1:3:4:12. Perbedaan yang sangat signifikan ini bisa disebabkan karena ketidakhomogenan material yang disintesis, kecuali untuk atom Ca yang mendekati referensi yaitu 1. Sedangkan ketidakhomogenan ini sendiri bisa disebabkan karena beberapa faktor saat mensintesis CCTO, diantaranya saat proses penggerusan, pemilihan binder (bahan pengikat) dan pembakaran. C. Ketergantungan hasil pengukuran terhadap frekuensi dan suhu sintering Gambar 4 memperlihatkan bahwa perlakuan sintering yang berbeda pada sampel akan mempengaruhi nilai dari permitivitas relatifnya, semakin tinggi suhu yang diberikan pada sampel saat sintering semakin besar pula nilai bagian real permitivitas relatifnya. Bahkan untuk sampel yang disintering dengan suhu 900 oC nilai bagian real permitivitas relatifnya hampir dua kali dibanding sampel yang disintering pada suhu 500 oC. Kenaikan nilai bagian real permitivitas relatif untuk masing-masing perlakuan sintering tidaklah terlalu signifikan dalam rentang frekuensi 80 – 1300 kHz sehingga grafik yang diperoleh seolah-olah konstan terhadap frekuensi. Hasil yang diperoleh ini sesuai dengan penelitian sebelumnya [15]. Penelitian terhadap

(a)
Gambar 3. Pola XRD material CCTO (a) non sintering (b) sintering suhu 700 oC

Pola XRD serbuk non sintering menunjukkan pembentukan material CCTO dengan puncak-puncak dimana bidang difraksi hkl yang sesuai dengan referensi. Pola difraksi sampel yang tidak disintering menunjukkan bahwa tidak terdapat fase tambahan seperti : CaCO3, CuO,

ISSN 0853-0823

198

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

CCTO dilakukan dengan memvariasikan suhu dan lamanya waktu sintering dan hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai bagian real permitivitas relatif sebanding dengan suhu dan lamanya sintering yang diberikan. Dari penelitiannya diperoleh juga nilai permitivitas relatif yang cukup konstan dalam rentang frekuensi antara 100 – 1000 kHz.

Gambar 4. Grafik ketergantungan bagian real permitivitas relatif terhadap frekuensi pada perlakuan suhu sintering yang berbeda

Pada saat pengukuran kapasitansi masing-masing sampel nilai kapasitansinya memuat bagian real dan imajiner, namun bagian real pengukuran kapasitansi tidak tidak dapat dihitung dan hanya dapat dirasakan pada sampel yang cukup hangat setelah dilakukan pengukuran. Hal ini menunjukkan adanya energi yang hilang menjadi panas yang tidak lain mewakili bagian imajinernya.

dielektriknya mengalami kenaikan yang cukup signifikan mencapai (5,7 ± 0,7) x 103 untuk sampel yang disintering pada suhu 900 oC. Hasil yang diperoleh tidaklah sesuai dengan percobaan sebelumnya [3] yang menunjukkan besarnya nilai tetapan dielektrik bahan CCTO sekitar 10.286 pada 100 kHz. Perbedaan hasil ini dapat terjadi karena perbedaan penggunaan alat dan perlakuan sintesis bahan yang berbeda. Lamanya waktu yang diberikan pada saat pemanasan, baik kalsinasi dan sintering, juga saat penggerusan menyebabkan perbedaan nilai yang cukup signifikan seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Pada penelitian ini lamanya proses penggerusan, kalsinasi dan sintering relatif sangat singkat dibanding penelitian sebelumnya, hal ini dilakukan karena mengingat keterbatasan alat yang dimiliki di Laboratorium Fisika Zat Padat UGM, yang ternyata memberikan efek yang cukup besar terhadap nilai tetapan dielektrik yang diperoleh. Selain itu disebabkan karena pengukuran tetapan dielektriknya dilakukan dengan cara yang manual dengan membaca gambar lissajous yang tertangkap pada osiloskop. Dimana perubahan gambar lissajous yang diperoleh tidak mengalami perubahan yang signifikan sehingga dalam pembacaan skalanya tidak terlalu tepat. Akan tetapi, jika hasil penelitian ini dibandingkan dengan penelitian sebelumnya [9] yang melakukan sintesis CCTO dengan metode yang sama yaitu reaksi padatan dan dalam rentang frekuensi yang hampir sama (100 – 1200 kHz), diperoleh nilai tetapan dielektrik sekitar 3000 – 5000, hasil yang diperoleh [9] tidak jauh berbeda dengan penelitian ini [16]. Gambar 6 dan 7 menunjukkan ketergantungan bagian imajiner tetapan dielektrik dan loss tangent terhadap frekuensi. Gambar tersebut memperlihatkan bahwa keduanya mempunyai karakteristik pola grafik yang hampir mirip dan nilainya menurun dengan kenaikan frekuensi. Hal ini memperkuat teori bahwa bagian imajiner tetapan dielektrik berbanding lurus dengan faktor rugi dielektrik (loss tangent). Jika dibandingkan antara nilai bagian real tetapan dielektrik dengan nilai loss tangentnya pada percobaan ini, menunjukkan bahwa nilai dari kedua parameter tersebut berbanding terbalik.

Gambar 5. Grafik ketergantungan bagian real tetapan dielektrik (ε’) terhadap frekuensi pada perlakuan suhu sintering yang berbeda

Gambar 5 menunjukkan bahwa nilai bagian real tetapan dielektrik merupakan fungsi frekuensi. Besarnya nilai ini juga dipengaruhi oleh suhu sintering yang diberikan. Semakin tinggi suhu sintering yang diberikan maka nilai tetapan dielektriknya pun semakin besar. Sampel CCTO menunjukkan nilai bagian real tetapan dielektrik maksimum yang berkisar (4,2 ± 1,0) x 102 pada frekuensi 100 kHz, dan (1,8 ± 0,6) x 103 pada frekuensi 1 MHz, sedangkan pada pengukuran kapasitansi nilai bagian real permitivitas relatifnya lebih besar yaitu (2,7 ± 0,1) x 103 pada frekuensi 100 kHz dan (2,8 ± 0,1) x 103 pada frekuensi 1 MHz. Namun pada saat frekuensi 600 kHz nilai tetapan

Gambar 6. Grafik ketergantungan loss tangent (tan δ) terhadap frekuensi pada perlakuan suhu sintering yang berbeda

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

199

PUSTAKA
[1] P. Jha, P. Arora, A.K. Ganguli, “Polymeric citrate precursor route to the synthesis of the high dielectric constant oxide CaCu3Ti4O12,” Mater. Lett., 57, 2003, pp. 2443–2446. C. C. Homes, T. Vogt, S. M. Saphiro, S. Wakimoto, M.A. Subramanian, and A. P. Ramirez, “Charge Transfer in the High Dielectric Constant Materials CaCu3Ti4O12 and CdCu3Ti4O12,” Phys. Rev. B, 67, 2003. M. A. Subramanian, D. Li, N. Duan, B.A. Reisner, A.W. Sleight, “High Dielectric Constant in ACu3Ti4O12 and ACu3Ti3FeO12 Phases,” Journal Solid State Chemistry, 151, 2000, pp. 323-325. T.T. Fang and C.P. Liu, “Evidence of the internal domains for inducing the anomalously high dielectric constant of CaCu3Ti4O12,” Chem. Mater., 17, 2006, pp. 5167–5171. A. P. Ramirez, M.A. Subramanian, M.Gardel, G.Blumberg, D. Li, T. Vogt, S. M. Saphiro, “Giant Dielectric Constant Response in a copper-titanate,” Solid State Communication, 115, 2000, pp. 217-220. B. S. Prakash and K. B. R. Varma, “Microstructural and Dielectric Properties of Donor Doped ( ) CaCu3Ti4O12 Ceramics,“ Journal of Material Science : Material Electronics, 17, 2006, pp. 899. J.Y. Li, X.T. Zhao, S.T. Li, and M. A. Alim, “Intrinsic and extrinsic relaxation of CaCu3Ti4O12 ceramics : Effect of sintering,” Journal Of Applied Physics, 108, 2010, pp. 104104. L. Wu, Y. Zhu, S. Park, S. Shapiro, G. Shirane, J. Tafto, “Defect structure of the high-dielectric-constant perovskite CaCu3Ti4O12,” Phys. Rev. B, 71, 2005, pp. 014118-1–014118-7. V.P.B. Marques, A. Ries, A.Z. Simo˜es, M.A. Ramirez, J.A. Varela, E. Longo, “Evolution of CaCu3Ti4O12 varistor properties during heat treatment in vacuum,” Ceramics International, 33, 2007, pp. 1187 – 1190. D. Capsoni, M. Bini, V. Massarottia, G. Chiodellib, M.C. Mozzatica, C.B. Azzoni, “Role of doping and CuO segregation in improving the giant permittivity of CaCu3Ti4O12,” Journal of Solid State Chemistry, 177, 2004, pp. 4494–4500. W. Ren, Z. Yu, V.D. Krstic and B.K., Mukherjee, “Structure and Properties of High Dielectric Constant CaCu3Ti4O12 Ceramics,” IEEE International Symposium on Applications of Ferroelectrics, Canada, 2004. A.F.L. Almeida, P.B.A. Fechine, M.P.F. Graca, M.A. Valente, A.S.B. Sombra, “Structural and electrical study of CaCu3Ti4O12 (CCTO) obtained in a new ceramic procedure,” J Mater Sci: Mater Electron, 20, 2009, pp. 163–170 P. Thomas, L.N. Sathapathy, K.Dwarakanath, K.B.R. Anf Varma, “Microwave Synthesis and Sintering Characteristic of CaCu3Ti4O12,” Bull. Material Science, 6, 30, 2007, pp. 567-570. J. Liu, R.W. Smith, and Wai-Ning, “Synthesis of the Giant Dielectric Constant Material CaCu3Ti4O12 by Wet-Chemistry Methods,” Departments of Physics and Chemistry, University of Nebraska at Omaha, Omaha, Nebraska 68182-0109, Mei 2007. D-k. Yoo and S-I. Yoo, “Microstructures and Dielectric Properties of CaCu3Ti4O12 Polycrystalline Ceramics,” Solid State Phenomena, Vols. 124 – 126, 2007, pp. 143 – 146. R. Eryolamda, “Kajian Respons Frekuensi Tetapan Dielektrik Material Keramik Calcium Copper Titanate (CaCu3Ti4O12)”, Skripsi, Jurusan Fisika FMIPA, UGM, Yogyakarta.

[2]

[3]

[4]

Gambar 7. Grafik ketergantungan bagian imajiner tetapan dielektrik (ε”) terhadap frekuensi pada perlakuan suhu sintering yang berbeda

[5]

Pada Gambar 6 dalam rentang frekuensi antara 700 – 1300 kHz menunjukkan bahwa sampel yang disintering dengan suhu 500 oC.dan 900 oC berhimpit, hal yang sama juga bisa dilihat pada Gambar 5 dan 7. Keanehan ini terjadi bisa disebabkan karena perubahan gambar lissajous nya yang tidak terlalu signifikan sehingga pembacaan skalanya tidak terlalu tepat. IV. KESIMPULAN DAN SARAN Material CaCu3Ti4O12 (CCTO) dapat disintesis melalui metode reaksi padatan (solid state reaction method) dengan kalsinasi pada suhu 1100 oC dan sintering 500 oC, 700 oC dan 900 oC. Struktur CaCu3Ti4O12 (CCTO) dapat ditentukan menggunakan X-Ray Diffraction (XRD) dan komposisi CCTO ditentukan menggunakan X-Ray Flourescence (XRF). Hasil XRD menunjukkan bahwa struktur CaCu3Ti4O12 adalah perovskite pada semua suhu sintering. Besarnya nilai-nilai yang didapat, yang meliputi bagian real permitivitas relatif, bagian real dan imajiner tetapan dielektrik, serta rugi dielektrik (loss tangent), semua hasilnya menunjukkan bahwa nilai yang diperoleh dipengaruhi oleh perlakuan sintering yang diberikan pada sampel. Semakin tinggi suhu sintering yang diberikan maka nilai-nilai tersebut semakin meningkat. Nilai maksimum bagian real permitivitas relatif, bagian real tetapan dielektrik dan bagian imajiner tetapan dielektrik diperoleh pada sampel yang disintering dengan suhu 900oC pada frekuensi 600 kHz, pada keadaan yang sama diperoleh nilai tan δ minimum. Nilai – nilai tersebut adalah, ε’ ± ∆ε’ = (5,2 ± 0,7) x 103, ε” ± ∆ε” = (2,8 ± 0,4) x 103 , εr ± ∆εr = (2,9 ± 0,2) x 103, tan δ ± ∆tan δ = 0,5 ± 0,1. Perlu dilakukan penelitian lagi dengan waktu yang lebih lama dan suhu yang lebih tinggi saat pemanasan (kalsinasi dan sintering). Selain itu dalam proses pembuatannya dapat juga menggunakan metode lain sebagai pembanding. Karakterisasi yang dilakukan terhadap sampel CCTO dapat menggunakan SEM maupun TEM untuk mengetahui morfologi dan mikrostruktur dari sampel. Pengukuran tetapan dielektrik kompleks dapat dilakukan dalam rentang frekuensi yang jauh lebih besar misalnya antara 1 Hz - 1 MHz, dengan demikian bisa diketahui dengan tepat nilai maksimum tetapan dielektrik dari sampel yang diuji.

[6]

[7]

[8]

[9]

[10]

[11]

[12]

[13]

[14]

[15]

[16]

ISSN 0853-0823

200

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Penentuan Nilai Polarisabilitas Taklinier pada Molekul Minyak Kelapa Sawit menggunakan Sifat Elektrooptis
K. Sofjan Firdausi dan Ade Ika Susan
Lab. Optoelektronik & Laser, Jurusan Fisika, UNDIP SEMARANG k.sofjanfirdausi@yahoo.co.id, firdausi@undip.ac.id

Abstract – In this paper, we demonstrated a measurement of linear polarisability and nonlinear polarisability (hyperpolarisability) 2nd order using semi empirical formula and classical models of electric dipole interactions. We assumed that the polarisabilities were scalars and positive values and also measured average from the whole of palm oils composition. Interactions between electric field of ligth and static electric dipoles lead to change of electrooptic properties, i.e. change of polarisation angle. In the research, the sample was placed in high static electric field produced by 2 parallel plates 1 cm apart and supplied by DC 0-10 kV high voltage. Source of ligth was a 100W-light bulp and 1 mW-He-Ne laser. The result shows that the change of polarisation angle tends to polinom 3rd order of applied voltage. The linier and nonlinear polarisability values are in the range of 1 – 4 (10-32 m3) and 5 – 28 (10-44 m4CV-3), respectively. The values are apparently dependent on the temperature and wavelength, and provide opportunity as an alternative quality investigation and more other studies. Keywords: Electrooptics, nonlinear polarisability, palm oil Abstrak –Telah ditentukan polarisabilitas relatif tak linier dari berbagai minyak goreng kemasan secara empiris. Diasumsikan bahwa polarisabilitas berupa skalar yang positif, serta rerata dari seluruh komposisi bahan. Interaksi antara dipol listrik oleh berkas cahaya dengan dipol listrik oleh medan listrik statis mengakibatkan sifat elektrooptis minyak goreng berubah, yakni perubahan sudut polarisasi cahaya setelah mengenai sampel. Bahan uji ditempatkan dalam medan listrik statis, yang dihasilkan dari plat logam sejajar berukuran 3×5 cm2 dan diberi tegangan tinggi DC 0-10 kV. Sumber cahaya yang digunakan adalah lampu pijar 100 W dan laser He-Ne 1 mW. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa polarisasi cenderung polinomial (orde tiga) terhadap beda potensial yang diberikan. Nilai polarisabilitas linier berkisar antara 1 – 4 (10-32 m3) dan nilai polarisabilitas taklinier berkisar antara 5 – 28 (10-44 m4CV-3). Nilai tersebut berubah terhadap suhu maupun sumber cahaya yang digunakan, dan dimungkinkan sebagai data uji kualitas secara alternatif dari berbagai minyak goreng dan pengembangan lainnya. Kata kunci: Elektrooptis, polarisabilitas taklinier, Minyak goreng I. PENDAHULUAN Studi sifat elektrooptis pada minyak goreng kemasan (minyak kelapa sawit) telah membuka kemungkinan pada pengembangan uji minyak goreng alternatif berdasarkan radikal bebas yang dihasilkan [1,2]. Sifat khas polarisabilitas pada minyak kelapa sawit sangat menarik untuk dipelajari dan selama ini belum tereksploitasi secara mendalam. Dalam tulisan ini, hendak dibahas hasil pengukuran secara empiris nilai polarisabilitas taklinier molekul minyak kelapa sawit, menggunakan interaksi klasik dipol listrik dengan polarisasi cahaya. Dalam kasus ini, cairan minyak dianggap material sentrosimetris, yang berarti bahwa gaya pulih yang bekerja pada molekul dipenuhi oleh persamaan [3]: F = -kx + bx3 (1) (2), serta asumsi bahwa gaya pulih yang bekerja sebanding dengan dipol listrik, maka dapat diprediksi bahwa nilai-nilai khas yang akan muncul adalah α, dan γ. Seberkas cahaya dengan medan Ec bila dikenakan pada minyak akan menghasilkan dipol pc=αc Ec. Energi potensial interaksi antara Ec dengan p dapat ditentukan dengan mengukur perubahan sudut polarisasi cahaya Ec setelah melewati minyak. Intensitas transmisi sebanding dengan sin2θ, dengan θ adalah perubahan sudut polarisasi [2]. Besar dipol listrik pada persamaan (2) dapat ditentukan sebagai fungsi medan listrik dengan pendekatan: sinθ = p/pc (3)

dengan k dan b tetapan, serta x besar perpindahan. Dari persamaan (1) dapat ditentukan nilai suseptibilitas linier dan taklinier orde 3. Bila molekul minyak dikenai medan cukup besar, maka dipol listrik terimbas dapat ditulis dengan persamaan [4]: p = αE + βE2 + γE3 (2)

Bila medan listrik statis yang dikenakan pada minyak memenuhi hubungan E=φ/L, dengan φ dan L masingmasing beda potensial dan jarak antar plat, maka persamaan (3) dapat ditulis lagi menjadi (4)

dengan α polarisabilitas, β dan γ adalah polarisabilitas taklinier orde 1 dan 2. Diasumsikan bahwa α, β dan γ konstanta skalar positif. Dengan membandingkan (1) dan

II. METODE PENELITIAN Bahan uji yang digunakan adalah berbagai jenis minyak goreng kemasan. Sumber cahaya lampu pijar 100 W (λ ≈ 580 nm) dan laser He-Ne 1 mW (633 nm) digunakan sebagai pengimbas dipol relatif pc. Medan listrik E

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

201

dihasilkan dari dua plat sejajar berukuran 3×5 cm2 berjarak 1 cm dan dihubungkan dengan beda potensial DC 0-10 kV, sehingga menghasilkan dipol listrik statis p. Perubahan sudut polarisasi cahaya diukur menggunakan dua buah polarisator. III. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada Gambar 1 ditampilkan grafik fraksi intensitas transmisi (sin2θ) sebagai fungsi beda potensial, φ, untuk beberapa jenis minyak kemasan.

270 C. Prediksi awal adalah sebaliknya. Belum dapat dijelaskan mengapa hal itu terjadi. Dari semua sampel, hasil fitting pers. (4), ruas kanan, diperoleh suku pertama bernilai positif, koefisien suku kedua negatif dan koefisien suku ketiga positiftif. Hal ini menunjukkan bahwa polarisabilitas linier dan taklinier yang berlaku adalah α dan γ. Sedangkan β ditiadakan karena negatif yang berarti tidak bernilai fisis. Sejauh ini belum ada perhitungan nilai α tersebut di literatur lain kecuali untuk asam oleic [5] dengan orde yang masih bersesuaian. Demikian pula untuk γ . Tabel 1 menampilkan nilai α dan γ untuk semua sampel pada λ = 633 nm.
TABEL I. NILAI α DAN γ* MINYAK GORENG KEMASAN PADA λ=633 nm
Minyak 260-270 C 220-230 C (10-44 m4CV-3) (10-32 m3) (10-44 m4CV-3) (10-32 m3) M 9±1 1,97±0,01 10,14±0,03 1,61±0,24 N 9,0±0,7 3,49±001 22,09±0,07 1,63±0,14 O 6,5±0,6 2,0±0,1 10,1±0,5 1,1±0,1 P 1,44±0,06 9,3±0,4 2,07±0,04 14,0±0,3 Q 6,6±0,5 1,00±0,17 5,1±0,8 1,09±0,08 R 11±2 4,20±0,08 27,6±0,5 1,92±0,29 S 6,1±0,3 1,93±0,01 9,32±0,03 1,58±0,08 T 5,3±0,6 1,97±0,08 10,1±0,4 1,04±0,13 U 6,4±0,1 4,17±0,11 27,8±0,7 1,60±0,02 * Sejauh ini belum ditemukan hasil pembanding dengan referensi lain.

Gambar 1. Fraksi intensitas tramsmisi vs beda potensial beberapa merk minyak kemasan, λ=633 nm, pada suhu kamar 260 – 270 C.

Tren serupa juga berlaku untuk semua jenis minyak goreng uji baik pada λ = 633 nm maupun 580 nm. Diperoleh bahwa intensitas transmisi sebagai fungsi potensial polinomial orde 3. Dipercaya bahwa peningkatan intensitas transmisi yang drastis untuk φ yang semakin besar diakibatkan oleh semakin banyaknya pembentukan radikal bebas yang berujung pada pembentukan dipol listrik dalam jumlah semakin besar [2]. Aspek inilah yang memungkinkan untuk uji kualitas minyak secara alternatif.

2.4 2.2 2.0
α (10 m )
3 -32

suhu sampel: 26 -27 C
580 nm

0

0

1.8 1.6 1.4 1.2 1.0 0.8 M N O P Q R S T U
633 nm

Miyak kemasan

Gambar 3. Nilai α pada λ = 633 nm dan 580 nm, untuk suhu kamar 260 – 270 C.
.

Gambar 2. Fitting pers. (4) sebagai fungsi beda potensial. Contoh untuk minyak M, λ=580 nm, pada suhu kamar 260 – 270 C dan 220 – 230 C. Pola serupa juga diperoleh untuk semua sampel uji.

Secara umum, hasil pengukuran menunjukkan bahwa nilai α dan γ tergantung pada sumber cahaya dan suhu sampel. Untuk perbedaan dua kondisi tersebut, ketelitian pengukuran masih perlu ditingkatkan dan masih perlu dilakukan penyelidikan lebih lanjut. Pada Gambar 3 – 6 ditunjukkan perbedaan nilai α dan γ pada 633 nm dan 580 nm serta suhu 220 – 230C dan 260 – 270 C. Gambar 2 menampilkan kurva persamaan (4) fungsi beda potensial. Hal yang tidak diduga dari gambar 2 adalah kurva pada suhu 220 – 230 C di atas kurva pada suhu 260 –

Gambar 4. Nilai α pada λ = 633 nm, pada suhu kamar 260 – 270C dan 220 – 230C.

ISSN 0853-0823

202

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

suhu sampel: 26 -27 C 13 12 11 10
-3

0

0

580 nm

m CV

9 8 7 6 5 4 3 M N O P Q R S T U
633 nm

γ (10

IV. KESIMPULAN Pada tulisan ini telah diperoleh nilai polarisabilitas linier, α dan taklinier orde 2, γ berbagai merk minyak goreng kemasan menggunakan rumus semi empiris dengan model interaksi dipol listrik klasik. Pada suhu kamar dengan sumber cahaya tampak, α berkisar antara 1 – 4 (10-32 m3) dan γ berkisar antara 5 – 28 (10-44 m4CV-3). PUSTAKA
[1] Nina Widyastuti, K. Sofjan Firdausi, dan Much. Azam, “Pengamatan Perubahan Sudut Polarisasi Cahaya Akibat Pemberian Medan Listrik pada Minyak Goreng”, Semarang, in press. K. Sofjan Firdausi, Ade Ika Susan dan Wahyu Setia Budi, “Sifat Elektrooptis pada Minyak Goreng”, Prosiding Seminar Nasional Fisika UNNES, Semarang, 2010. Robert W. Boyd, “Nonlinear Optics,” Academic Press, 1992, pp. 2832. H. Haken & H. C. Wolf, “Molekülphysik und Quantenchemie,” 3. Auflage, Springer, 1998, pp. 27-28. F. F. De Sousa, S. G. C. Moreira, S. J. Dos Santos da Silva, J. Del Nero, and P. Alcantra Jr., “Dielectric Properties of Oleic Acid in Liquid Phase,” Journal of Bionanoscience, vol. 3, 2010, pp. 1-4.

-44

4

Minyak goreng kemasan

[2]

Gambar 5. Nilai γ pada λ = 633 nm dan 580 nm, untuk suhu kamar 260 – 270 C.

[3] [4] [5]

Gambar 6. Nilai γ pada λ = 633 nm, pada suhu kamar 260 – 270C dan 220 – 230C.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

203

Magnetic and Transport Properties of Superconductor Having Slits
Harsojo Sabarman1, Pekik Nurwantoro2, Kamsul Abraha3
Department of Physics, University Gadjah Mada, Sekip Utara Yogyakarta 55281 1 email:harsojougm@ugm.ac.id , 2pekik@ugm.ac.id, 3kamsul@ugm.ac.id

Abstract. We study the magnetic and transport properties of the superconductor having an array of slits in contact with non vacuum materials when it is exposed under electric current and perpendicular magnetic fields. The size of the superconductor is in the mesoscopic scale. The study is to show the interesting phenomena related with the magnetic and transport properties such as a significant enhancement of Meissner state, critical current and critical magnetic field. We study the phenomena using time dependent Ginzburg-Landau equation. We calculate the spatial distribution of superconducting electron density based on the technique of gauge invariant variable. We use de Gennes extrapolation length to express various materials in contact with the inner holes sides and superconductor edges. Keywords: superconductor, time dependent Ginzburg-Landau equation, critical current, critical magnetic field, slits I. INTRODUCTION The properties of superconductor in mesoscopic scale showed various interesting phenomena. Due to surface pinning, the critical current and the critical magnetic fields changes significantly. Much effort was done to enhance these properties. Experimentally, it was shown that the critical current can be enhanced using different lattice microholes of microholes arrays [1,2,3,4] fabricated at the superconductor. The calculation done using TimeDependent Ginzburg-Landau Equation (TDGLE) can also show this phenomenon [5]. Using such holes, the vortices are trapped at the array of holes. When the lattice holes cannot accommodate the vortices, they will be trapped by the interstitial such that a series of maximum critical current appears at matching magnetic fields. Therefore the critical current enhancement will depend on the hole size and the lattice hole geometry. Through this mechanism the pinning force is enhanced and the higher critical current is produced. Even, when the lattice hole in contact with the superconductor material having higher critical temperature, the critical current can be enhanced significantly higher [6] and still preserving the matching phenomenon. In contrast to that phenomenon, when the array of hole on the superconductor is replaced by an array of slits, the matching phenomenon disappears. Now the force to resist the vortices from motion now depends on the pinning force due to the interaction between the slits and the vortices. When the slits length is parallel to vortices motion, it will produce the minimum pinning force. However, when the slits are perpendicular to the vortices motion, they will produce bigger pinning force to prevent the vortices from motion. Since slits perpendicular to vortices motion produce serial barrier to vortices, they will be able to produce enhancement to critical current and critical magnetic fields. In this contribution we will study the critical magnetic field and current density of superconductor having such slits using time dependent Ginzburg-Landau when the superconductor in contact with materials having higher critical temperature. II. THEORY A. Time-Dependent Ginzburg-Landau Equation Time dependent Ginzburg-Landau equation governing the order parameter Ψ and the magnetic field vector A can be written as [7]
1 ∂t Ψ = η (− i∇ − A) Ψ + (1 − T ) Ψ −1 Ψ . 2 2

(

)

(1)

It couples with the magnetic field A as Where J s = (1 − T ) Re Ψ * (− i∇ − A )Ψ is the super-current. Here J n = −∂ t A is the normal current and J = κ 2∇ × ∇ × A is the total current density. In this equation we use the length is expressed in the unit of coherence length ξ (0) , time is in unit τ = πh / 96k BTc , A in is unit H c 2 (0) / ξ (0) , the critical current density is expressed in unit H c 2 (0) / τξ (0) , and temperature T is in unit Tc , while η is a positive constant indicating a ratio of characteristic times for Ψ and A . In the case when there exist an external constant current flow and the superconductor exposed under a constant magnetic field H the total A become A = A M + A j where A M and A j are respectively the vector magnetic field due to magnetic field and due to current density. B. Boundary condition The boundary condition at the external edges of superconductor is expresses as superconductor in contact ˆ ˆ with vacuum. Therefore we use (∇ × H ) • n = J .no for the boundary condition of H indicating the current density into the superconductor equal to the current outward. The de Gennes boundary condition boundary condition for Ψ i ˆ is n.( i∇ − A )Ψ = − b Ψ . Since there is no current flow at the hole edges, the boundary condition of the hole edges follows the similar boundary condition of Ψ , but the ˆ boundary condition of H is (∇ × H ) • n = 0 Inside the whole Here H = H e + H j produced by external current flowing at superconductor such that ∇ × H j = J . To accommodate the existence of holes, we imply the proper boundary condition

∂ t A = −κ 2∇ × ∇ × A + (1 − T ) Re Ψ * (−i∇ − A)Ψ (2)

ISSN 0853-0823

204

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY
x Ψ1, j = ( 1 − h / b )Ψ2 , jU 2 , j ;

for magnetic field on the surface of the superconductor as the external magnetic field is on the z-direction while the density current flows on the x-direction such that ˆ • ( i∇ − A )Ψ = − J , while ˆ • ( i∇ − A )Ψ = 0 where x and y ˆ ˆ x y is unit normal vectors. Such a boundary condition is also implemented at the edges of superconductor as well. The 1 ˆ boundary condition n • ( i∇ − A )Ψ = b Ψ is implemented at

(8a)

x ΨNy +1,1 = ( 1 − h / b )ΨNy , jU Ny , j .

(8b)

Here we use (i , j ) to indicate mesh position of the superconductor having size with maximum number ( N x h × N y h ) where (h × h) is the unit mesh area. The boundary at each hole is expressed as
x ΨW +1, j = ( 1 − h / b )ΨW , jUW , j ; x ΨE , j = ( 1 − h / b )ΨW +1, jUW +1, j

ˆ each square hole, here n is a normal unit vector, b and is de Gennes extrapolation length. This b > 0 relates with the condition when the hole edges in contact with metal. Vacuum can be associated with b >> 0 . When b < 0 , Ψ at the boundary will be higher, therefore this boundary can be related to the condition when the superconductor is in contacts with a superconductor of higher temperature [7].
III. NUMERICAL METHODS

(9a) (9b) (10a) (10b)

Ψi ,N +1 = ( 1 − h / b )Ψi ,N U iyN ; , Ψi ,S = ( 1 − h / b )Ψi ,S +1U i yS +1 . ,

The full discretization of TDGLE for A is done using link variables technique. Here Aµ ( ( µ = x, y ) is linked to variable U µ as
U µ = exp(−i Aµ ( µ ,ν ,t )dν ).
0

∫ µ

µ

(3)

This technique was taken from [8]. However, in this problem we use Aµ = AMµ + A jµ where AMµ and

A jµ comes from the external magnetic field and the electric
current respectively. − ∂ t A = κ 2∇ × ∇ × A − J s , where J s = (1 − T ) Im(U µ Ψ )∂ µ (U µ Ψ )). (4) (5)

The symbols E , W , N , and S stand for index of the corner position of a hole. Having this done in two dimensions approach and using finite difference approximation for space and using linear integration in time, we determine the critical current density at a certain magnetic field using the voltage cut off criterion from the graph between voltage and the current density. We increase the current density with the step of 10-7 in dimensionless unit. In the calculation, we use a type II superconductor having κ = 2 . The mesh size of the superconductor is 0.2 5 ξ (0 ) , so that the calculation is done in 4 N x × N y meshes. The time step used in calculation is 0,0035 in dimensionless time unit. When the vortices configuration is unchanged, the condition of the stable configuration is determined after 10000000 steps, where H e is the external perpendicular magnetic field (∇ × A ) • ˆ = H i and H j is z induced magnetic field
IV. RESULTS AND DISCUSSION

Here µ = x , y and ν = ξ ,η . The voltage generated due to vortices motion is calculated from
V = − ∂t A
x

= κ 2∇ × H − J s

x

.

(6)

Having an external current added to the sample, some extra boundary shall be managed such that the first derivative of the normal scalar field zero and the local magnetic field contain the sum of external magnetic field and the induced magnetic field. Here we split H = H e + H j in Eq. (5) such that H j is the field due to the electric current flow at x and H e is a constant external magnetic field [9]. The external current density is then inserted through J = κ 2∇ × H j x .To study the effect of de

The configuration of slits is shown at Figure 1.

(

)

Gennes boundary, we assume that superconductor in contact with non vacuum boundary. Numerically, de Gennes boundary condition at the edges of the superconductor is expressed as Ψi ,1 = ( 1 − h / b )Ψi ,2U iy2 ; (7a) ,
Ψi , N x +1 = ( 1 − h / b )Ψi , N U i yN , ,
x x

Figure 1. The sketch of the superconductor having slits. The sizes indicates by d = 4ξ (0) and S (left). The size of a slit is

(7b)

l = 16ξ (0) , w = ξ ( 0 ) , and the distance between slits is p . We
use p = 4ε (0) and the number of slits are 3 and 5.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

205

Figure 2. The magnetization of the superconductor having 5 slits for b = 1000,-5, and -1 compared to the superconductor having the same size without slits. The size of the superconductor is 20×20 in dimensionless scale.

to superconductor always increases the second critical magnetic field (Hc2). It is even higher when b = -1. From this, it may be predict that the addition of the slits to superconductor may change the critical current of the superconductor especially when the superconductor and slits are in contact with material having b = -1. This we can understand because due to the slits in contact with that materials, the potential barrier at the superconductor edges and around the slits increase therefore the nucleation of the vortices requires more energy comparing to the superconductor without slits or superconductor with slits having b=1000 and b = -5. Further we compare the effect of the number of slits to the critical magnetic fields, we can see that generally with b = -1, the Hc1 and Hc2 increase as the number of slits goes from 1.3 to 5 as shown in Figure 3. This indicates that the critical current may be increased as the number of slits fabricated on the superconductor become increase.

The magnetic properties are shown at Figure 2. First it can be seen that there is similarity in M(H) in the case the show many peaks after the straight line. The regions of the straight line indicate the Meissner state. The peaks after this state indicate the vortices quantization as already pointed out by many authors for instance in [5].

(a)

(b)

Figure 3. The magnetization M versus external magnetic field H for superconductor having 1,3,and 5 slits in contact with materials with b = -1.The size of the superconductor is 20×20 in dimensionless scale.

Figure 4. (a) voltage generated V by superconductor having 5 slits with various b as the eletric current density J flows at x-direction under magnetic field H=0 and (b) the critical current Jc versus b.

However, there are significant differences in the shape of M(H) between the superconductor without slit compared to the superconductor having slits. The changes are first at the entrance of vortices, the height of M(H), and the critical magnetic fields. Here we can assume that the de Gennes extrapolation length b = 1000 approximates the vacuum materials, while b<0 reflects the superconductor having a higher critical temperature. Adding 5 slits to the superconductor in contact of vacuum (b =1000) makes the first critical magnetic field (Hc1) becomes smaller. It happens also when the slits area in contact with materials having b = -5. But it Hc1 becomes higher as the slits is in contact with material b = -1. However, the addition of slits

Figure 5. The critical current Jc versus external magnetic field H of the superconductor having 3 slits when they contact with materials having different b<0.

ISSN 0853-0823

206

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

When the electric current flows along x-direction, the Lorentz force in the y-direction may be resisted by the pinning force created by slits. Because vortices have to interact with the surface along the x-direction with is quite long therefore the pinning force may be high. When the slits in contact with superconductor materials having a higher critical temperature, this effect is even bigger, therefore we may expect that the critical current can be made higher using the combination of number Similar significant enhancement was observed at superconductor having an array of hole in contact with materials having b < 0 [5].
V. CONCLUSION

ACKNOWLEDGMENT

This work is supported by Doctorate Research Grant from Directorate of High Degree Education of Indonesia.
References
[1]. V. V. Moshchalkov, M.Baert, V. V Metlushko, E.Rosseel, M. J.Van Bael, , K.Temst, dan Y. Bruynseraede, Phys. Rev. B Vol. 57, 1997, pp. 3615. [2]. V. Silhanek, L. Van Look, R. Jonckheere, B. Y. Zhu, S. Raedts, and V. V.Moshchalkov, Phys.Rev. B Vol. 72, 2005, pp. 014507. [3]. M. Kemmler, C. Gurlich, A.Sterck, H. Pohler, M. Neuhaus, M. Siegel, R. Kleiner, and, D. Koelle, Phys. Rev. Lett. Vol. 97, 2006, pp. 147003. [4]. A.V. Silhanek , L. Van Look, R. Jonckheere, B.Y. Zhu, S. Raedts, V.V. Moshchalkov, Physica C 460–462, 2007, pp. 1434–1435. [5]. Harsojo, Kamsul Abraha, Pekik Nurwantoro, accepted in 2011 International Conference on Applied Physics and Mathematics (ICAPM 2011) , Chennai, India, 29-30 April 2011. [6]. Harsojo, Abraha Kamsul, Nurwantoro Pekik, AIP Conference Proceedings, Vol. 1169, 2009, pp. 132-137. [7]. C. Bolech, G.C. Buscaglia, A. Lopez, Phys. Rev. B. Vol. 52, 1995, pp. 15719 [8]. J. Barba Ortega, Clecio C. De Souza, J. Albino Aguiar, Physica C Vol. 469, 2009, pp. 852-856. [9]. M. Machida and H. Kaburaki, Phys. Rev. Lett. Vol. 75, 1995, pp. 3178.

The calculation result of superconductor having paralel slits indicates that due to the slits and the materials having negative De Gennes extrapolation length, b<0, the critical magnetic fields changes significantly especially when the number of slits become many and b close to -1. Similar enhancement of critical current happens when the slits are constructed perpendicular to vortices motion. The addition of slits in contact with materilas having b = -1 may become an alternative way to enhance the critical magnetic fields as well as the critical current.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

207

Pengembangan Simulasi Komputer Dalam Model Pembelajaran Kooperatif Untuk Meminimalisir Miskonsepsi Fisika Pada Siswa SMA Di Kota Palu
Sahrul Saehanaa, Haeruddin
Program Studi Pend. Fisika FKIP Universitas Tadulako Alamat: Kampus Bumi Tadulako Tondo Palu email: oel_281@yahoo.com

Abstrak – Pengembangan simulasi komputer sebagai media dalam model pembelajaran kooperatif telah dilakukan untuk meminimalisir
miskonsepsi fisika konsep mekanika pada siswa kelas X SMA di Kota Palu. Penelitian ini dilakukan dengan mengikuti metodologi penelitian pengembangan yang terdiri atas fase investigasi awal, fase desain, fase realisasi, fase implementasi dan uji coba. Tingkat penurunan miskonsepsi dan peningkatan hasil belajar siswa adalah indikator utama keberhasilan penelitian, disamping validitas, kepraktisan dan efektivitas. Melalui implementasi pembelajaran dengan media simulasi komputer diperoleh rerata skor siswa sebesar 8,01, n-gain ternormalisasi 79,26% serta penurunan tingkat miskonsepsi sebesar 39,75%. Pembelajaran kooperatif dengan simulasi komputer lebih baik dari pembelajaran kooperatif tanpa menggunakan simulasi komputer yang dibuktikan melalui uji beda dengan taraf signifikansi 5% serta perbandingan rerata nilai n-gain. Disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif menggunakan simulasi komputer cukup efektif dalam mengatasi miskonsepsi fisika konsep mekanika yang dialami oleh siswa SMA.

I. PENDAHULUAN Salah satu penyebab rendahnya hasil belajar fisika pada siswa SMA di Kota Palu adalah tingginya tingkat miskonsepsi [1-5]. Adapun konsep yang mengalami miskonsepsi tersebut yaitu mekanika, listrik, magnet, termodinamika, gelombang, dan optik. Tingginya abstraksi konsep pada mata pelajaran fisika diduga kuat sebagai penyebabnya, dimana hal tersebut membuka peluang yang cukup besar bagi siswa untuk mengalami miskonsepsi [2]. Apalagi metode konvensional (ceramah) masih dominan yang diterapkan sebagian besar guru fisika. Hingga saat ini, model pembelajaran kooperatif telah diterapkan dalam pembelajaran fisika di kelas oleh sebagian besar guru di Kota Palu. Namun, pemanfaatkan media pembelajaran, seperti simulasi komputer, belum pernah dilakukan. Hal ini disebabkan karena keterbatasan media pembelajaran, seperti simulasi komputer, belum tersedianya perangkat pembelajaran, serta belum adanya desain pembelajaran kooperatif dengan media tersebut [1]. Di sisi lain, studi mengenai model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan simulasi komputer untuk mengatasi miskonsepsi fisika juga belum pernah dilakukan. Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan simulasi komputer konsep mekanika sehingga miskonsepsi fisika yang dialami oleh siswa SMA dapat dikurangi. Dimana, upaya ini dilakukan melalui identifikasi miskonsepsi fisika, pengembangan simulasi komputer, penerapan pembelajaran kooperatif dengan menggunakan simulasi komputer serta evaluasi pembelajaran fisika. II. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode penelitian pengembangan. Tahapan penelitian ini meliputi studi pendahuluan, pengembangan simulasi dan perangkat pembelajaran, uji coba terbatas dan uji coba lebih luas, uji model pembelajaran dan sosialisasi hasil penelitian [6,7]. Identifikasi miskonsepsi yang dialami siswa menggunakan tes diagnostik miskonsepsi dengan CRI yang

dikembangkan oleh Masril dan Nurasma [8] serta tes yang dibuat oleh tim peneliti. Penentuan kriteria siswa yang mengalami miskonsepsi dapat dilihatkan pada Tabel I [8].
TABEL I. PENENTUAN SISWA YANG MENGALAMI MISKONSEPSI. Tipe CRI Rendah ( < 2,5) CRI Tinggi (> 2,5) Jawaban Jumlah jawaban yang Jumlah jawaban yang benar Jawaban benar dan CRI rendah, dan CRI tinggi, pengetahuan benar menebak konsep benar Jumlah jawaban yang Jawaban Jumlah jawaban yang salah salah dan CRI rendah, salah dan CRI tinggi, miskonsepsi kurang pengetahuan

Indikator keberhasilan penelitian adalah peningkatan hasil belajar siswa dan penurunan tingkat miskonsepsi yang dialami siswa. Peningkatan hasil belajar siswa ditentukan melalui perhitungan gain ternormalisasi seperti pada Persamaan 1 [7]. (1) Dimana, kategori tinggi= g > 70, sedang = 30 ≤ (g) ≤ 70 dan rendah = g < 30. Penurunan tingkat miskonsepsi dihitung berdasarkan selisih miskonsepsi awal siswa (pretes) dan miskonsepsi yang dialami siswa setelah mengikuti pembelajaran. Uji model dilakukan dengan membandingkan hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran kooperatif dengan simulasi komputer dan hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran kooperatif tanpa simulasi komputer. Uji ini dilakukan pada dua sekolah dengan asumsi bahwa data yang diperoleh berdistribusi normal dan homogen. III. HASIL DAN DISKUSI A. Hasil Identifikasi jenis miskonsepsi yang dialami siswa dilakukan dengan menggunakan tes diagnostik dengan FCI (Force Concept Inventory) sebanyak 36 soal pilihan ganda. Penentuan siswa yang mengalami miskonsepsi mengacu pada metode yang dikemukakan oleh Masril dan Nurasma

ISSN 0853-0823

208

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

[8]. Hasil identifikasi miskonsepsi siswa dapat dilihat pada Tabel II.
TABEL II. HASIL TES DIAGNOSTIK MISKONSEPSI SISWA. Persentase Pemahaman Siswa No Sekolah Mis TB KK KB 1 SMAN 7 Palu 41.58 40.10 9.20 9.11 2 SMAN Muhammadiyah 42.78 34.44 12.50 10.28 3 MAN Model 49.69 29.94 5.40 14.97 4 SMAN 2 Palu 57.75 22.57 5.21 14.47 5 SMAN 5 Palu 56.16 23.27 6.31 14.26 6 SMAN 3 Palu 48.65 32.43 6.98 11.94 Rata-rata 49.44 30.46 7.60 12.51 Dimana, Mis= miskonsepsi, KK= kurang konsep, TB = menebak, dan KB= konsep benar.

Gambar 1. Simulasi komputer tentang aplikasi Hukum Newton II.

Hasil pada Tabel II menunjukkan bahwa miskonsepsi mekanika yang dialami oleh sebagian besar siswa kelas X di Kota Palu berada dalam kategori tinggi yaitu sebesar 49,44%. A.1.Pengembangan simulasi komputer Dalam penelitian ini telah dikembangkan simulasi komputer konsep mekanika menggunakan program Delphi 7.0, seperti pada Gambar 1. Simulasi yang ditunjukkan Gambar 1 menjelaskan aplikasi hukum Newton II pada gerak benda yang dihubungkan katrol [9,10]. Aspek kemudahan penggunaan, kepraktisan, efektivitas dan validitas menjadi bahan pertimbangan dalam mengembangan simulasi tersebut. Selain itu, dalam penelitian ini juga telah dikembangkan perangkat pembelajaran yang didasarkan pada model kooperatif, yaitu skenario pembelajaran, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), buku guru dan buku siswa, serta lembar kerja siswa.

A.2.Pembelajaran kooperatif dengan media simulasi komputer Pelaksanaan pembelajaran kooperatif dengan menggunakan media simulasi komputer telah dilakukan pada enam SMA di Kota Palu. Hasil evaluasi pelaksanaan pembelajaran ini dapat dilihat pada Tabel III dan IV.
TABEL III. RERATA NILAI TES DAN N-GAIN Rerata No Sekolah Pretes Postes 1 SMA Negeri 2 Palu 4.42 7.92 2 SMA Negeri 3 Palu 4.31 8.00 3 SMA Negeri 5 Palu 4.41 8.00 4 SMA Negeri 7 Palu 4.09 8.00 5 MAN Model 4.24 8.12 6 SMA Muhammadiyah 4.10 8.00 Rerata 4.26 8.01

N-gain 76.53 78.67 79.32 79.43 81.76 79.83 79.26

TABEL IV. TINGKAT PEMAHAMAN SISWA SEBELUM DAN SESUDAH PEMBELAJARAN Pretes Postes No Sekolah MS KK TB KB MS KK TB KB 1 SMA Negeri 2 Palu 63.75 10.00 7.08 19.17 17.92 4.58 4.17 73.33 2 SMA Negeri 3 Palu 61.18 11.60 9.42 17.80 24.86 5.14 3.24 66.76 3 SMA Negeri 5 Palu 61.27 9.22 7.87 21.64 22.97 4.59 2.70 69.73 4 SMA Negeri 7 Palu 67.81 6.56 4.69 20.94 23.75 3.44 3.44 69.38 5 MAN Model 58.75 5.42 6.25 29.58 17.78 4.44 3.89 73.89 6 SMA Muhammadiyah 50.00 9.00 5.00 36.00 17.00 6.00 7.00 70.00 Rerata 60.46 8.63 6.72 24.19 20.71 4.70 4.07 70.51 Keterangan: MS = Miskonsepsi, KK = Kurang konsep, TBK = Menebak, KB = Konsep benar

Hasil observasi terhadap kegiatan pembelajaran menggunakan simulasi komputer menunjukkan peningkatan aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Hasil ini menunjukkan rerata aktivitas siswa sebesar 70% yang berada dalam kategori tinggi. Dari hasil wawancara diketahui bahwa aspek minat dan motivasi belajar juga menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Sedangkan dari angket yang diberikan kepada guru diketahui bahwa sebagian guru besar mengungkapkan bahwa pembelajaran kooperatif dengan media simulasi komputer sangat cocok diterapkan untuk meningkatkan kualitas belajar fisika. A.3.Uji model Uji model dilakukan untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran yang dikembangkan dibandingkan dengan model pembelajaran kooperatif tanpa media pembelajaran.

Dalam uji ini, data hasil belajar siswa diasumsikan berdistribusi normal dan homogen. Selanjutnya dilakukan uji perbedaan rata-rata dua sampel independen dengan taraf signifikansi 5%. Hasil pengolahan data dengan menggunakan software SPSS 11.5 dapat dilihat pada Tabel V. Dari Tabel V, diketahui bahwa nilai thitung sebesar 11,568 dengan probabilitas 0,867. H0 dapat diterima karena probabilitas > 0,05. Disimpulkan bahwa rata-rata nilai hasil belajar siswa kelas kontrol dan eksperimen berbeda. Perbedaan nilai hasil belajar antara kelas kontrol dan eksperimen juga dapat dilihat pada Tabel VI.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY TABEL V. HASIL UJI BEDA ANTARA KELAS KONTROL DAN EKSPERIMEN Group Statistic Hasil Belajar Kelas kontrol Kelas eksperimen N 20 20 Mean 7.20 9.00 Std. Deviation 0.41 0.56 Std. Error Mean 0.09 0.13

209

Independent Samples Test Levene’s Test for Equality Variances F Sig. 0.028 t-test for Equality of Means t df

Hasil Belajar Equal var. ass. Equal var. not ass.

Sig. (2 Mean Std. Err. tailed) Diff. Diff. 0.867 -11.6 38 0 -1.8 0.156 -11.6 37.8 0 -1.8 0.156

TABEL VI. PERBANDINGAN NILAI POSTTES KELAS KONTROL DAN EKSPERIMEN Kelas Rerata Postes Standar Deviasi N-Gain (%) Kontrol 7.20 0.41 60.83 Eksperimen 9.00 0.56 75.00

Nilai rerata postes dan n-gain pada Tabel VI menunjukkan bahwa hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran kooperatif dengan simulasi komputer (kelas eksperimen) lebih baik dibandingkan hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran kooperatif tanpa menggunakan simulasi komputer (kelas kontrol). B. Pembahasan Hasil studi awal menunjukkan bahwa tingkat miskonsepsi pada siswa kelas X SMA di Kota Palu cukup serius. Dimana dari hasil identifikasi pada enam SMA di Kota Palu dengan tes diagnostik diketahui bahwa rata-rata miskonsepsi sebesar 49,44%. Bahkan siswa memiliki pengetahuan yang kurang serta menjawab pertanyaan dengan asal-asalan (menebak) juga cukup signifikan, masing-masing sebesar 30,46% dan 7,60%. Cukup mengejutkan bahwa siswa yang memiliki pemahaman konsep benar hanya sebesar 12.51%. Hasil studi pendahuluan juga mengungkapkan bahwa konsep mekanika yang mengalami miskonsepsi, yaitu: gerak lurus beraturan, gerak lurus berubah beraturan, gerak melingkar, Hukum Newton dan perpaduan gerak. Beberapa jenis kesalahan konsep siswa dalam materi gerak lurus beraturan yaitu siswa belum dapat: (a) membedakan perpindahan dan jarak tempuh, dan (b) menginterpretasi grafik posisi, kecepatan dan percepatan terhadap waktu. Jenis kesalahan konsep pada materi gerak lurus berubah beraturan yaitu siswa belum memahami karakteristik benda yang bergerak jatuh bebas. Di sisi lain, siswa juga belum dapat menerapkan konsep Hukum Newton dalam beberapa kasus, seperti gerak benda pada katrol. Sedangkan pada materi gerak melingkar, siswa juga belum memahami arah kecepatan linier dari benda yang bergerak melingkar dan kecepatan kritis yang dimilikinya. Penulis menduga bahwa penyebab terjadinya miskonsepsi tersebut adalah: (1) pengalaman sehari-hari siswa, (2) buku teks, dan (3) metode mengajar guru yang salah [11]. Penerapan pembelajaran menggunakan simulasi komputer dilakukan dalam model pembelajaran kooperatif sesuai dengan skenario dan rencana pelaksanaan

pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, siswa menggunakan simulasi komputer serta mengikuti prosedur kerja sesuai LKS. Hasil yang diperoleh kemudian didiskusikan serta dituangkan dalam kesimpulan. Setiap kelompok melakukan presentasi hasil kerja kelompoknya di depan kelas. Dalam kegiatan ini terjadi diskusi antar siswa dan dan siswa dengan guru. Kelompok yang memiliki kinerja yang baik memperoleh penghargaan dari guru. Di akhir pembelajaran dilakukan evaluasi dengan menggunakan tes pemahaman konsep yang dikembangkan oleh tim peneliti. Keberhasilan penerapan pembelajaran kooperatif dengan media simulasi komputer dapat dilihat dari peningkatan rerata hasil belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran kooperatif dengan simulasi komputer yaitu sebesar 3.75. Adanya peningkatan pemahaman siswa juga diindikasikan rerata nilai n-gain ternormalisasi sebesar 79,26% yang berada dalam kategori tinggi. Rerata nilai n-gain setiap sekolah dapat dilihat pada Tabel 3. Penerapan pembelajaran kooperatif dengan simulasi komputer juga berhasil menurunkan tingkat miskonsepsi siswa. Hal ini disebabkan karena melalui penggunakan simulasi komputer siswa dapat memanipulasi parameter input sesuai dengan nilai yang diinginkan, mengamati gerak benda, menyimpulkan konsep dan mengkonstruksi konsepnya sendiri [11]. Perbandingan tingkat miskonsepsi siswa sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran dapat dilihat pada Tabel 4. Pada Tabel 4 tampak bahwa terjadi penurunan tingkat miskonsepsi siswa sebesar 39,75%, setelah dilakukan pembelajaran kooperatif dengan media simulasi komputer. Di sisi lain, dapat dilihat adanya peningkatan pemahaman konsep siswa sebesar 50,32%. Hal ini disebabkan karena melalui penggunaan simulasi komputer siswa dapat melihat fenomena fisis secara langsung. Model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan media simulasi komputer ternyata memiliki perbedaan cukup signifikan dibandingkan dengan model pembelajaran kooperatif tanpa menggunakan media simulasi komputer. Berdasarkan uji beda dua sampel independen dengan tingkat signifikansi 5% diketahui bahwa hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran kooperatif dengan menggunakan media simulasi komputer berbeda dengan hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran kooperatif tanpa menggunakan media simulasi komputer (Tabel 5). Hal ini juga diperkuat dengan perbedaan rerata nilai n-gain ternormalisasi yang dapat dilihat pada Tabel 6. Hasil tanggapan siswa terhadap simulasi dalam model pembelajaran kooperatif memberikan respon rata-rata dengan persentase 78,57 % yang termasuk dalam kategori baik. Jika dilihat pada tiap aspek yang ditinjau, maka untuk aspek penampilan materi pada simulasi, rata-rata siswa memberikan respon sangat baik yakni dengan persentase terbesar 98,21 %. Sedangkan untuk aspek materi dan aspek Ilustrasi berupa gambar, grafik, mendapat respon dengan kategori baik masing-masing sebesar 80,36 % dan 81,25 %. Pilihan jawaban siswa dalam angket untuk aspek contohcontoh soal yang ada dan aspek latihan soal serta tes formatif yang ada pada setiap kegiatan belajar sudah mengukur pemahaman siswa tentang materi dalam simulasi dalam model pembelajaran kooperatif termasuk dalam kategori cukup yakni dengan persentase masing-masing

ISSN 0853-0823

210

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

76,78%; 73,21% dan 70,53%. Hal ini disebabkan karena siswa lebih tertarik pada tampilan materi maupun ilustrasi yang ditampilkan, sehingga mereka cenderung termotivasi untuk mengeksplorasi sendiri menú-menu yang ada pada program pembelajaran ketimbang melatih penguasaan konsep yang sudah disediakan melalui contoh soal, latihan soal maupun tes formatif. Penulis berkesimpulan bahwa penggunaan media simulasi komputer memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap peningkatan hasil belajar siswa dan penurunan tingkat miskonsepsi. Adanya perbedaan ini mungkin disebabkan karena pembelajaran kooperatif dengan bantuan simulasi komputer disajikan lebih menarik melalui, visualisasi gambar, simulasi dan animasi [11]. Selain itu siswa aktif belajar secara individu mengikuti menu-menu yang ada sesuai dengan keinginannya. Materi yang dipelajari dapat diulangi tanpa perlu didampingi oleh guru. Siswa juga dapat menguji sendiri penguasaan konsepnya dengan cara mengerjakan soal-soal yag tersedia dalam simulasi. Model pembelajaran yang dikembangkan dalam penelitian ini sangat mungkin untuk diterapkan pada pembelajaran di SMA karena saat ini ketersediaan laboratorium komputer serta kemampuan guru dan siswa dalam menggunakan media berbasis multimedia sudah cukup memadai. IV. KESIMPULAN Studi pengembangan simulasi komputer dan perangkat pembelajarannya telah dilakukan pada siswa kelas X SMA di Kota Palu. Penerapan pembelajaran kooperatif dengan menggunakan simulasi komputer dapat dikatakan berhasil karena rerata skor hasil belajar siswa, n-gain ternormalisasi dan penurunan miskonsepsi, sebesar 8,01, 79,26% dan 39,75%, secara berurut. Bahkan, hasil uji beda yang dilakukan dengan taraf signifikansi 5% dan perbandingan rerata nilai n-gain menunjukkan pembelajaran kooperatif dengan simulasi komputer lebih baik dari pembelajaran kooperatif tanpa menggunakan simulasi komputer. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan simulasi komputer cukup efektif dalam mengatasi miskonsepsi mekanika yang dialami oleh siswa SMA. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih disampaikan kepada Direktorat

Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat DIKTI yang telah membiayai penelitian ini melalui dana DIPA Universitas Tadulako dalam Penelitian Hibah Bersaing tahun anggaran 2009. PUSTAKA [1] S. Saehana, Nurjannah, U. Nasir, A. Razak, A. Rahman, Pemanfaatan simulasi komputer sebagai media pembelajaran untuk mengatasi miskonsepsi mekanika pada siswa kelas XI SMAN 5 Palu, Palu: Lembaga Penelitian Univ. Tadulako, 2006. [2] Kamaluddin dan W. Nur, Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kesalahan konsep fisika pada siswa SMUN di Kotamadya Palu, Lembaga Penelitian UNTAD, Palu, 1998. [3] I.W. Darmadi, Meminimalisir miskonsepsi mahasiswa dalam mata kuliah fisika dasar I melalui penggunaan peta konsep dan peta vee, Lembaga Penelitian UNTAD, Palu, 2005. [4] J. Mansyur, Meminimalisir miskosepsi siswa dalam mata pelajaran IPA-Fisika melalui penerapan pembelajaran model elaborasi (penelitian tindakan kelas di SMP Negeri 1 Sindue Kab. Donggala), Lembaga Penelitian UNTAD, Palu, 2002. [5] L. Saehana, Pengungkapan miskonsepsi mahasiswa fisika FKIP UNTAD menggunakan force concept inventory and certainity responses indenx, Skripsi, tidak dipublikasikan, Universitas Tadulako, Palu, 2006. [6] P. Tjeerd, Education and training system design, Instruction, University of Twente, Enschede, Netherland, 1997. [7] Nieven dan Nienke, Prototyping to reach product quality, Netherlands, 1999. [8] Masril dan N. Asma, Pengungkapan miskonsepsi siswa menggunakan force concept inventory and certainty of response index, Jurnal HFI B5, Bandung, 2002, pp. 559-1–559-9. [9] S. Saehana, Simulasi gerak parabola sebagai media pengajaran fisika. Skripsi, tidak dipublikasikan, Universitas Tadulako, Palu, 2004. [10] H. Oemar, Komputerisasi pendidikan nasional, Mandar Maju, Bandung, 1989. [11] P. Suparno, Miskonsepsi dan perubahan konsep dalam pendidikan fisika, Gramedia, Jakarta, 2005.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

211

Pemanfaatan Kamera Digital dalam Pembelajaran Fisika tentang Dampak Gaya Sentrifugal
1

Program Studi Fisika dan 2Program Studi Pendidikan Fisika, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Kristen Satya Wacana Jl. Diponegoro No. 52 – 60 Salatiga 50711, Jawa Tengah –Indonesia, telp (0298) 321212 e.mail: ster_4ma@yahoo.com

Ester Fatmawati2, Puji Kuswanti1,2, Debora N. Sudjito2, Ferdy S. Rondonuwu1,2

Abstrak - Gaya sentrifugal merupakan salah satu jenis gaya semu. Gaya ini timbul dalam gerak melingkar beraturan. Pemahaman siswa tentang gaya semu sentrifugal masih sangat kurang. Oleh sebab itu penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk membantu pembelajaran yang memudahkan siswa untuk memahami materi gaya semu khususnya gaya sentrifugal dengan memanfaatkan kamera digital sebagai media pembelajarannya. Mula-mula sebuah meja putar dipasang bidang miring. Dalam bidang miring tersebut diletakkan kelereng. Selanjutnya meja datar diputar dengan kecepatan tertentu sehingga kelereng dalam bidang miring bergerak. Eksperimen ini direkam dengan fitur video kamera digital. Pengambilan data dilakukan 2 kali dengan kecepatan sudut putar yang berbeda untuk membandingkan pengaruh besar kecepatan sudut meja terhadap pergerakan kelereng dalam bidang miring. Setelah dianalisa menggunakan Movie Tracker 3.10 diperoleh hasil bahwa dampak gaya sentrifugal terjadi sesaat setelah meja berputar yaitu saat kelereng bergerak naik dalam bidang miring. Jadi dapat disimpulkan bahwa besar kecepatan sudut mempengaruhi kecepatan kelereng bergerak dalam bidang miring. Semakin besar kecepatan sudut putar meja semakin besar pula kecepatan gerak kelereng pada bidang miring dan kecepatan kelereng sebanding dengan besar gaya sentrifugalnya. Kata Kunci : gaya sentrifugal, kamera digital, Movie Tracker 3.10.

I. PENDAHULUAN Gaya fiktif atau gaya semu merupakan sebuah konsep abstrak dalam pokok bahasan dinamika gerak partikel. Pembahasan tentang gaya fiktif yang dilakukan oleh guru seringkali hanya didasarkan pada teori semata sehingga sulit bagi siswa untuk memvisualisasikannya. Gaya sentrifugal merupakan salah satu jenis gaya fiktif atau gaya semu. Dikatakan semu karena tidak jelas apa dan siapa yang melakukan gaya ini [1]. Gaya sentrifugal dalam kehidupan sehari-hari dapat diamati sebagai peristiwa yang sering terjadi tetapi jarang diperhatikan. Peristiwa yang menunjukkan adanya gaya sentrifugal di antaranya adalah saat kita mengaduk minuman dalam gelas, air akan melengkung ke atas [2]. Guru maupun siswa seringkali mengalami kesulitan mempelajari sesuatu yang semu atau abstrak dan guru kesulitan dalam menjelaskan gaya sentrifugal disebabkan oleh sifat gaya yang tidak kasat mata. Oleh sebab itu, diperlukan sebuah media pembelajaran yang tepat agar proses penyampaian pesan mengenai gaya semu dapat diterima dengan benar oleh siswa. Salah satu media pembelajaran yang dapat dimanfaatkan adalah kamera digital. Kamera digital merupakan suatu piranti elektronik yang berfungsi untuk membentuk dan merekam suatu bayangan ke dalam media simpan digital dalam format digital. Keuntungan dari kamera digital ini adalah hasil gambar atau rekaman dapat langsung dilihat. Apabila hasil yang diinginkan kurang maksimal dapat langsung diulangi lagi percobaannya dan mudah diatur warna, ketajaman, kecerahan dan ukurannya untuk menjelaskan gaya sentrifugal dibandingkan dengan kamera konvensional yang menggunakan film negatif [3]. Melalui penelitian ini seluruh dampak yang ditimbulkan oleh gaya sentrifugal dapat direkam dan faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya gaya ini dalam kerangka diam dapat dianalisis dengan jelas. Proses merekam gaya sentrifugal dapat dilakukan dengan memanfaatkan fitur video dalam kamera digital. Diharapkan dengan alat ini, siswa mendapatkan pengalaman visual dalam mengamati

gaya sentrifugal sehingga pemahaman terhadap gaya semu menjadi lebih jelas dan mudah serta dapat menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi besar gaya sentrifugal. II. KAJIAN PUSTAKA A. Kamera Digital Kamera merupakan salah satu perangkat yang populer dalam dunia fotografi. Piranti ini berfungsi untuk membentuk dan merekam suatu bayangan potret. Kamera sendiri memiliki dua jenis yaitu kamera film negatif dan kamera digital. Kamera film merupakan kamera yang menggunakan film negatif untuk merekam bayangan potret yang ingin diabadikan. Sedangkan kamera digital adalah perangkat untuk membuat gambar dari obyek yang selanjutnya dibiaskan melalui lensa kepada sensor CCD atau CMOS dan hasilnya kemudian direkam dalam format digital ke dalam media simpan digital. Karena hasilnya disimpan secara digital, maka hasil rekam gambar ini harus diolah menggunakan pengolah digital semacam komputer atau mesin cetak yang dapat membaca media simpan digital tersebut [4]. Dalam kamera digital terdapat beberapa fitur yang dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran misalnya fitur video. Fitur ini membantu merekam eksperimen yang nantinya dapat dianalisa menggunakan perangkat pengolah digital. Video adalah teknologi untuk menangkap, merekam, memproses, mentransmisikan dan menata ulang gambar bergerak yang biasanya menggunakan film seluloid, sinyal elektronik, atau media digital [5]. Secara mudah dapat diartikan bahwa video adalah kumpulan gambar-gambar yang digabungkan secara berurutan dalam suatu waktu dengan kecepatan tertentu. Gambar-gambar yang digabung tersebut dinamakan frame dengan satuan fps (frame per second). Akibat pengaruh kecepatan inilah maka kumpulan gambar tersebut akan bergerak secara halus. Semakin besar kecepatannya maka video yang dihasilkan akan semakin baik. Pemanfaatan video dalam kamera digital ini merupakan salah satu terobosan dalam pengembangan media

ISSN 0853‐0823

 

212

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

pembelajaran. Sebagai contoh, pergerakan dan kecepatan suatu benda dapat dihitung dengan menganalisa video yang sebelumnya diconverter menjadi frame. A. Gerak Melingkar

   
Gambar. 1. Gerak melingkar beratura Gambar. 2. Hubungan gaya sentripetal dan gaya

Gerak melingkar adalah gerak suatu benda yang lintasannya berupa lingkaran. Gerak melingkar dapat kita amati dalam peristiwa sehari-hari misalnya gerak roda kendaraan yang sedang melaju, jarum jam berputar,kipas angin [6]. Berdasarkan pada Gambar 1 perubahan kecepatan dari P ke P’ adalah ∆v=v’-v. Gerak melingkar beraturan kecepatannya tetap, tetapi arahnya berubah. Hal ini memberikan percepatan a yang besarnya juga tetap, (tidak nol) dan juga terus menerus berubah tegak lurus terhadap V dan arahnya selalu menuju pusat lingkaran [7]. Besarnya perubahan posisi dalam gerak melingkar dapat dihitung dengan persamaan : θ=ω.t (1) Keterangan : θ = lintasan sudut (rad) ω = Kecepatan sudut (rad/s) t = waktu berputar (s) Kecepatan sudut sendiri dapat diperoleh dari persamaan : ω = dθ/dt atau v = 2πr/T (2) dθ dt r T = Perubahan lintasan sudut (rad) = Perubahan waktu (s) = jari-jari lingkaran (m) = Periode (s)

Andaikan sentrifugal pada gerak melingkar. gaya sentrifugal dianggap sebagai gaya pada umumnya, dalam arti bekerja pada benda yang melakukan gerak melingkar, maka hukum I Newton ΣF = 0 akan dilanggar [8]. Menurut Hukum I Newton, jika terdapat gaya total pada suatu benda maka benda tersebut akan berada dalam keadaan diam atau bergerak dengan laju tetap sepanjang garis lurus. Ketika sebuah benda melakukan gerak melingkar, pada benda tersebut bekerja gaya sentripetal yang arahnya menuju pusat lingkaran. Apabila terdapat gaya sentrifugal yang arahnya menjauhi pusat, maka akan terdapat gaya total yang menyebabkan benda tersebut bergerak sepanjang garis lurus. Kenyataan yang terjadi, benda tetap melakukan gerak melingkar. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa gaya sentrifugal merupakan gaya non-Newtonian (gaya inersia) [7]. Gaya ini disebut sebagai gaya non-Newtonian karena tidak sesuai dengan Hukum Newton dan gaya inersia karena kerangka acuannya diam atau bergerak dengan kecepatan tetap. Besarnya gaya sentrifugal sama dengan gaya sentripetal namun keduanya saling berlawanan arah, sehingga secara matematis dapat dituliskan : (3) Dengan : m = massa benda (kg) v = kecepatan putar benda (m/s) R = jari-jari lingkaran (m) Tanda (+) menandakan bahwa arah gaya menjauhi pusat lingkaran III. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan media berupa meja datar yang mudah diputar (r = 12,5 cm). Dalam meja datar tersebut dipasang sebuah bidang miring dengan panjang tertentu dan kemiringan yang diatur konstan. Meja diputar dengan kecepatan tertentu (kecepatan tetap) sehingga sedemikan rupa dapat membuat kelereng (m = 1,38 gr) yang diletakkan dalam bidang miring bergerak naik dengan kecepatan tertentu. Proses pergerakan tersebut direkam dengan menggunakan fitur video kamera digital. Rancangan percobaan tampak pada Gambar. 3.

B. Gaya Sentrifugal Pada gerak melingkar akan menimbulkan gaya sentripetal yang arahnya menuju pusat lingkaran lihat Gambar 2. Untuk mempertahankan posisi agar tetap melingkar di lintasannya, seolah-olah ada gaya lain yang memiliki arah berlawanan mengimbangi gaya sentripetal. Gaya semu itulah yang disebut dengan gaya sentrifugal [1]. Dapat dikatakan bahwa gaya ini muncul apabila ada gaya lain dalam satu sumbu yang berlawanan arah dengannya. Gaya sentrifugal timbul saat ada gaya sentripetal dan tidak berlaku sebaliknya. Gaya sentripetal dan gaya sentrifugal bukan merupakan pasangan gaya aksi-reaksi. Salah satu syarat pasangan gaya aksi-reaksi adalah kedua gaya bekerja pada dua benda yang berbeda. Akan tetapi gaya sentripetal dan gaya sentrifugal bekerja pada satu benda yang sama. Contoh adanya gaya sentrifugal adalah pemisahan cairan yang berbeda kerapatannya dalam alat sentrifugal yang berputar, aliran angin global pada bumi yang berputar, dan keadaan antariksawan dalam satelit.

ISSN 0853‐0823

 

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

213

 
Gambar. 3. Rancangan percobaan.

Percobaan dilakukan 2 kali dengan besar kecepatan putar yang berbeda. Hasil rekaman percobaan dianalisa dengan menggunakan program Movie Tracker 3.10. Perhitungan data didasarkan pada besar kecepatan sudut bidang datar saat diputar dan kecepatan naik kelereng ketika bidang berputar. Analisa dilakukan dengan membandingkan pengaruh besar kecepatan putar meja dengan kecepatan gerak kelereng. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Untuk mengkonversi kecepatan sudut dalam bentuk radian menjadi meter digunakan persamaan θ = x/r sehingga x = θ.r. Dari data di atas diperoleh bahwa kecepatan b1 lebih besar daripada kecepatan a1. Selisih kecepatan antara a1 dan b1 terlihat jelas pada Gambar. 5. Dari Gambar. 5 diperoleh informasi bahwa bentuk grafiknya mendekati linier, artinya kecepatannya sudut putar meja adalah konstan. Dalam grafik di atas, kecepatan a1 lebih mendekati trendline daripada b1, sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin kecil kecepatan putar bidang meja, perubahan kecepatannya semakin tetap (konstan).

Gambar. 5. Grafik posisi sudut (θ) terhadap waktu (t). Kemiringan grafik menunjukkan kecepatan putar. ) Kecepatan sudut putar a1 ( ( ) Kecepatan sudut putar b1 Va1 < Vb1

 

     
Gambar. 4. Kecepatan sudut putar bidang datar dan kecepatan naik kelereng pada bidang miring. (a1) kecepatan putar 1, (a2) kecepatan naik kelereng saat Va1 , (b1) kecepatan putar 2, (b2) kecepatan naik kelereng saat Vb1.

Tanda panah pada Gambar. 4 (a2) dan (b2) menunjukkan arah pergerakan kelereng. Arah inilah yang dianalogikan sebagai arah gaya sentrifugal. Kelereng bergerak saat adanya gerak melingkar. Hal ini sama prinsipnya dengan gaya sentrifugal yaitu ada saat ada gaya sentripetal. Gaya sentripetal sendiri erat kaitannya dengan gerak melingkar. Pada Gambar 4. tampak bahwa kecepatan sudut putar meja dan kecepatan naik kelereng pada bidang miring. Kecepatan putar pada Gambar. 4 (a1) dan (b1) berbeda. Besar kecepatan sudut pada gambar. 4 (a1) dan (b1) diperoleh dari perhitungan seperti pada Tabel 1.
TABEL I. HASIL PERHITUNGAN KECEPATAN SUDUT.
Parameter yang dihitung Kecepatan sudut (ω) Kecepatan sudut ratarata (ϖ) Kecepatan sudut ratarata (ϖ) V (a1) 5,115t – 0,531 4,14 rad/s 49,6 mm/s ~ 0,05 m/s V(b1) 4.797t + 3.273 11 rad/s 132.03 mm/s = 0.13 m/s

Jika diperhatikan dengan seksama pada detik ke-0 sampai ke-0,1, grafik terlihat belum naik. Hal ini mengindikasikan bahwa meja putar masih mempertahankan posisi semula (diam). Sifat kelembaman inilah yang mengakibatkan pada detik awal seolah-olah meja belum bergerak. Sedangkan untuk kecepatan naik kelereng pada bidang miring (lihat Gambar 4. (a2) dan (b2)) diperoleh dari persamaan v = x / t (karena bidangnya linear) (4) dengan : x = jarak bola terhadap titik acuan tiap sekonnya (mm). t = waktu tempuh (s). Dari data dan perhitungan persamaan (4) diperoleh hasil bahwa a2  = 100,8322 mm/s dan b2  = 129,7044 mm/s, artinya kecepatan gerak b2 lebih besar daripada a2. Hasil perhitungan dapat terlihat dalam Gambar. 6. Dari Gambar. 6 diperoleh informasi bahwa kecepatan gerak kelereng seharusnya linier, namun hasil yang diperoleh tidak cukup baik. Kemungkinan hal ini dikarenakan track miring, tempat kelereng bergerak tidak presisi, dan kelereng telah mengalami gesekan terlebih dahulu dengan bidang miring sehingga membuat kecepatannya berubah menjadi tidak linier. Sedangkan hubungan antara kecepatan sudut putar bidang datar dengan kecepatan kelereng pada bidang miring dapat terlihat dari Gambar. 7.

ISSN 0853‐0823

 

214

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

v2 = 0,13 m/s (hasil percobaan II). Hasil perhitungan menunjukkan bahwa pada percobaan I besar sf1 = 2,76 x Newton dan sf1 = 2,76 x Newton, sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin besar kecepatan putar meja, semakin besar pula gaya sentrifugalnya. V. KESIMPULAN

Gambar. 6. Grafik posisi kelereng (x) terhadap waktu (t). Kemiringan grafik menunjukkan kecepatan naik kelereng pada bidang miring. ) Kecepatan a2 ( ( ) Kecepatan b2

Gaya sentrifugal adalah gaya semu. Gaya ini hanya ada saat ada gaya sentripetal (ketika terjadi gerak melingkar). Dalam penelitian ini arah gaya sentrifugal dianalogikan sebagai arah pergerakan kelereng yaitu menjauhi pusat lingkaran. Meskipun gaya sentrifugal adalah gaya semu namun dampak adanya gaya sentrifugal menyebabkan kelereng bergerak naik dalam bidang miring. Besarnya Kecepatan sudut gerak melingkar pada bidang meja datar mempengaruhi kecepatan kelereng bergerak di bidang miring. Dari hasil analisa didapatkan bahwa Semakin besar kecepatan sudut putar bidang datar ( ω), semakin besar pula kecepatan kelereng dalam bidang miring. Besar kecepatan kelereng sebanding dengan besar gaya sentrifugal yang dihasilkan saat meja berputar dan secara matematis dapat dituliskan :

vω ~ vkelereng

vω ~

sf

Artinya, semakin besar kecepatan sudut putar bidang, semakin besar pula gaya sentrifugalnya. PUSTAKA
Gambar. 7. Grafik kecepatan sudut dan kecepatan kelereng pada bidang miring. ) Kecepatan sudut putar Va1 ) Kecepatan kelereng pada bidang miring saat Va1 ) Kecepatan sudut putar Vb1 ) Kecepatan kelereng pada bidang miring saat Vb1
[1] [2] [3] [4] [5] Anonim, GayaSentrifugal, 2010 http ://id.wikipedia.org/ wiki/ Gaya_Sentrifugal, tanggal 10 November 2010 Michael Beeson, How We Know The Earht Moves.2009 Kamera digital. 2010 http://valda34mm1Anonim2, pickso.blogspot.com/2009/10/kamera-digital.html, 28 Oktober 2010 Valda, Kamera Digital Definisi. 2009, http://valda34mm1pickso.blogspot.com/2009 /10 / kamera-digital.html, Di unduh tanggal 23 November 2010 Feri, Pengertian Video, 2010, http://www.total.or.id/info.php?kk=video, Di unduh tanggal 23 November 2010 Taranggo, Agus dan Hari Subagya, Sains Fisika, Jakarta: Bumi Aksara. 2003 Halliday, Resnick, Fisika Jilid 1. Ed-3, Jakarta : Erlangga, 1985 Sutopo, Beberapa Miskonsepsi tentang gaya Sentripetal dan Sentrifugal, 2009. http://journal.um.ac.id/journal/1,12,15/2010/ , 28 Oktober 2010 Sutrisno, Seri Fisika-Fisika Dasar, Bandung, ITB

( ( ( (

Gambar. 7 memperlihatkan bahwa kecepatan sudut putar bidang datar mempengaruhi besarnya kecepatan kelereng. Semakin besar kecepatan sudut, semakin besar pula kecepatan yang dialami oleh kelereng. Untuk memperoleh besarnya gaya sentrifugal yang dihasilkan dalam pergerakan meja putar dapat dihitung dengan persamaan (3). Kecepatan yang digunakan adalah v1=0,05 m/s (hasil percobaan I) dan

[6] [7] [8] [9]

 

ISSN 0853‐0823

 

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

215

Analisis Kecepatan dan Energi Osilasi Silinder Pejal pada Bidang Setengah Lingkaran Menggunakan Kamera Digital
Indah D. Lestari, Hardianus Wilson, Monika Leta, Debora N. Sudjito, Ferdy S. Rondonuwu
Program Studi Pendidikan Fisika, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Kristen Satya Wacana Jl. Diponegoro No. 52 – 60 Salatiga 50711, Jawa Tengah –Indonesia, telp (0298) 321212 e-mail : wilson.hardianus@gmail.com

Abstrak – Siswa kerap kali mengalami kesulitan dalam mempelajari benda yang berosilasi. Pengamatan menggunakan mata telanjang menjadi salah satu kendala dalam mengamati osilasi. Dalam penelitian ini, dimanfaatkan video pada kamera digital untuk mengamati osilasi silinder. Video pada kamera digital dapat merekam gerakan benda dalam selang waktu yang berubah-ubah. Penelitian ini bertujuan memanfaatkan video pada kamera digital untuk menghitung kecepatan, dan energi osilasi silinder pejal. Silinder yang berosilasi direkam dengan menggunakan kamera digital. Hasil video diubah ke format JPG kemudian dianalisa posisi silinder dan diolah menggunakan excel. Dari hasil perhitungan diperoleh grafik kecepatan sudut dan grafik energi terhadap waktu. Kecepatan sudut maksimum saat silinder bergerak pada sudut (θ) terkecil disekitar 0.1 rad dan minimum di sekitar sudut -1 rad, 0.96 rad, -8.87 rad, 0.83 rad, -0.76 rad, 0.72 rad, dan 0.65 rad. Energi kinetik maksimum, energi potensial maksimum dan energi mekanik menurun pada selang waktu tertentu. Kata kunci: osilasi silinder pejal, kamera digital, kecepatan sudut, energi. I. PENDAHULUAN Mekanika adalah pelajaran yang cukup sulit bagi siswa untuk dipahami, padahal mekanika digunakan untuk menjelaskan banyak peristiwa dalam kehidupan sehari-hari misalnya gerak osilasi benda, seperti: gerakan bandul jam, ayunan, senar gitar saat dipetik, dan sebagainya. Salah satu indikasi adanya kesulitan siswa dalam mempelajari mekanika adalah siswa kerap kali salah dalam menentukan kecepatan dan percepatan ayunan bandul sederhana [1]. Siswa mengalami kesulitan untuk menentukan kecepatan dan energi benda pada simpangan tertentu jika penyelesaiannya hanya dengan konsep. Pengamatan menggunakan mata telanjang juga menjadi salah satu kendala dalam mengamati osilasi. Mata kurang teliti untuk melihat peristiwa yang begitu cepat contohnya gerakan bandul pada simpangan tertentu. Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, alat dan analisa sederhana (praktis) adalah salah satu alternatif untuk membuat siswa menjadi tertarik mempelajari mekanika pada materi osilasi benda. Dalam penelitian ini dimanfaatkan video pada kamera digital untuk merekam pergerakan benda dalam selang waktu yang berubah-ubah, sehingga osilasi suatu benda dapat teramati dengan teliti. Permasalahan yang diteliti pada penelitian ini adalah bagaimana memanfaatkan video pada kamera digital untuk menghitung kecepatan dan energi silinder pejal yang berosilasi. Tujuan dari penelitian ini adalah memanfaatkan video pada kamera digital untuk menghitung kecepatan dan energi osilasi silinder pejal. Manfaat yang dapat diperoleh adalah memberi alternatif baru untuk pengukuran osilasi benda dengan memanfaatkan IT yang sudah berkembang pesat dan membantu siswa mempelajari osilasi benda. II. KAJIAN PUSTAKA A. Gerak Melingkar Berubah Beraturan Gerak melingkar adalah gerak sebuah benda pada lintasan berbentuk lingkaran yang jari-jarinya R dan menempuh panjang busur yang berubah pada tiap satu satuan waktu. Sudut yang dibuat pada setiap satu satuan waktu dinyatakan sebagai kecepatan angular (ω)[2]. ∆θ (1) ω =
∆τ

B. Kombinasi Gerak Translasi dan Rotasi Sebuah benda yang mengalami gerak translasi dan rotasi tanpa slip memiliki kecepatan pusat massa sebesar (2) vpm = Rω dan energi kinetik dari benda yang mengalami gerak translasi dan rotasi dapat dinyatakan sebagai jumlah energi kinetik yang disebabkan oleh gerak pusat massa dan energi kinetik rotasi di sekeliling sumbu yang melalui pusat massa yaitu [3]: 1 1 2 (3) Ek = M ν pm + I pm ω 2 2 2 Sedangkan benda tegar M yang mengalami perubahan ketinggian, memiliki energi potensial sebesar : (4) Ep = Mgypm C. Kekekalan Energi Mekanik Penjumlahan energi kinetik dan energi potensial merupakan energi mekanik total. Energi mekanik akan konstan jika hanya ada gaya gravitasi yang bekerja pada benda [4]. E = Ek + Ep = konstan (jika hanya gaya gravitasi yang bekerja pada benda) 1 1 (5) mv 2 + mgy = mv 2 + mgy
2
1 1

2

2

2

D. Disipasi Energi Disipasi energi (penurunan energi) adalah energi yang hilang dari suatu sistem, hilang dalam arti berubah menjadi energi lain yaitu menjadi energi panas, bunyi, dan lain-lain. Penurunan energi ditunjukkan oleh persamaan 8. (6) adalah suatu konstanta lain, yang merupakan energi pada waktu t = 0.

ISSN 0853-0823

216

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

merupakan konstanta waktu [5]. III. METODE PENELITIAN Sebuah bidang setengah lingkaran berjari-jari 32 cm, silinder bermassa 0,042gr, dan dinding berpetak yang panjang sisi-sisinya 2 cm dirangkai seperti Gambar. 1. Kemudian silinder diletakkan pada bidang setengah lingkaran di ketinggian tertentu lalu saat silinder mulai bergerak, pergerakannya direkam dengan menggunakan video pada kamera digital.

mencapai kecepatan sudut maksimum. Ketika silinder bergerak di sekitar sudut -1 rad, 0.96 rad, -8.87 rad, 0.83 rad, -0.76 rad, 0.72 rad, dan 0.65 rad, kemiringan garisnya nol sehingga kecepatan sudut silinder minimum (nol). Sudut terkecil berada pada bidang paling bawah dan sudut terbesar pada bagian paling atas. Dari Gambar. 2 dapat diperoleh besarnya energi pada silinder yang bergerak pada bidang setengah lingkaran seperti pada Gambar. 3, 4, dan 5.

Gambar. 3. Grafik perubahan energi potensial terhadap waktu Gambar. 1. Susunan alat percobaan.

Hasil rekaman (video) tersebut diubah ke format jpg dan dipilih gambar yang paling banyak memberikan informasi. Data yang diperoleh kemudian diolah dengan excel untuk memperoleh besarnya kecepatan sudut, kecepatan linier, dan energi pada saat silinder berosilasi. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada percobaan ini, besarnya sudut yang ditempuh oleh silinder saat menggelinding pada bidang setengah lingkaran dianalisa. Nilai sudut yang diperoleh digunakan untuk mendapatkan besarnya kecepatan sudut silinder dan energi silinder. Dari pengukuran yang dilakukan maka dihasilkan grafik pada Gambar 2.

Gambar. 4. Grafik perubahan energi kinetik terhadap waktu.Energi kinetik sebelum di smooting dengan matlab ( ) Energi kinetik setelah di smooting dengan matlab (

)

Gambar.2. Grafik perubahan sudut (θ) terhadap waktu (t).

Pada Gambar.2. besarnya kecepatan sudut yang dicapai silinder saat bergerak dapat dilihat dari kemiringan garis biru. Saat silinder bergerak disekitar sudut (θ) -0,1 rad, kemiringan garisnya paling tajam sehingga silinder

Gambar. 5. Grafik perubahan energi terhadap waktu. Energi potensial ( ) Energi kinetik ( ) Energi mekanik ( ) Eksponensial energi mekanik ( ) Energi mekanik total (y2) Fungsi polynomial orde 2 ( ) Energi panas + bunyi ( )

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

217

Nilai energi dan waktu di setiap titik grafik pada Gambar. 3, 4, dan 5 tidak diketahui secara pasti. Jadi nilai yang digunakan dalam analisa ini adalah perkiraan. Dari Gambar 3.diketahui bahwa energi potensial silinder maksimum saat silinder mencapai ketinggian maksimum pada bidang setengah lingkaran. Besarnya energi potensial maksimum dapat dilihat pada Tabel I.
TABEL I. ENERGI POTENSIAL MAKSIMUM PADA SELANG WAKTU TERTENTU
Waktu (s) 0 0,74 1,46 2,22 2,94 3,66 4,4 Energi Potensial maksimum (J) 0,074 0,063 0,053 0,048 0,040 0,036 0,030

Pada Tabel I besarnya energi potensial menurun pada selang waktu tertentu karena ketinggian maksimum yang dicapai silinder semakin berkurang. Ketika silinder berada pada titik terendah bidang, energi potensial menjadi nol, yaitu saat t = 0.38 s, 1.1 s, 1.84 s, 2.58 s, 3.3 s, dan 4.04 s. Sedangkan Gambar 4. menunjukkan grafik perubahan energi kinetik terhadap waktu. Besarnya energi kinetik maksimum (▬) dapat dilihat pada Tabel II.
TABEL II. ENERGI KINETIK MAKSIMUM PADA SELANG WAKTU TERTENTU
Waktu (s) 0,35 1,1 1,85 2,54 3,3 4,1 Energi Kinetik maksimum (J) 0,042 0,036 0,031 0,027 0,023 0,020

mekaniknya adalah 0.064 J dan saat t = 0.26 s besar energi mekanik silinder adalah 0.07 J . Ketika t = 0 s , 0.18 s, dan 0.26 s besarnya energi mekanik tidak konstan, tetapi naik turun. Bila grafik energi mekanik dilihat dari t = 0 s sampai t = 4.4 s, terlihat bahwa grafik menurun. Seharusnya dalam percobaan ini diperoleh grafik energi mekanik yang halus dan menurun seperti ditunjukkan garis (▬). Bila dikaji dari hukum kekekalan energi, besarnya energi mekanik akan konstan di setiap waktunya jika tidak ada gaya luar dan hanya ada gaya gravitasi yang mempengaruhinya. Dalam percobaan ini ada gaya gesek (gaya luar) yang menyebabkan silinder berotasi, bersuara, dan menjadi panas. Energi potensial silinder diubah ke dalam energi kinetik translasi, energi kinetik rotasi, energi panas, dan energi bunyi. Energi panas dan bunyi (▬) didapat dari energi mekanik (▬) dikurangi energi mekanik (▬). Ketika silinder memiliki energi kinetik maksimum (kecepatan silinder paling besar), energi panas dan bunyi juga besar, sedangkan energi panas dan bunyi kecil ketika energi kinetik silinder minimum (kecepatan silinder minimum). Besarnya energi mekanik (▬) tidak halus seperti garis (▬) disebabkan oleh adanya energi panas dan dan bunyi. Dari Gambar 5. tampak bahwa besarnya laju disipasi didapat dari persamaan eksponensial dan nilai laju disipasi energinya adalah -19 J/s.

V. KESIMPULAN Kecepatan sudut silinder maksimum ketika berada pada sudut yang mendekati nol dan minimum pada sudut yang paling besar. Sudut terkecil pada bidang paling bawah dan sudut terbesar pada bagian paling atas. Besarnya energy potensial maksimum, energi kinetik maksimum, dan energy mekanik menurun pada selang waktu tertentu. Hal ini disebabkan karena adanya gaya gesek. Energi potensial diubah menjadi energi kinetik translasi, energi kinetik rotasi, energi panas, dan bunyi. PUSTAKA
[1] Benito, S. J. V and Marti, G. A., Ubiquitous drawing errors in theSimple Pendulum, Departement de Fisica Aplicada, Universitat d’Alacant, <http://agm.cat/recerca-divulgacio/pendulum-TPT.pdf >, (2004). Sarojo, G. A., Seri Fisika Dasar Mekanika, Jakarta : Penerbit Salemba Teknika, 2002, I. 44 Young, H. D dan Freedman, R. A., Fisika Universitas edisi kesepuluh jilid 2 (Terjemahan), Jakarta: Penerbit Erlangga, 1999, X. 298 Halliday, David dan Resnick, Fisika jilid 1, Jakarta : Erlangga, 1984, XI. 209 Tipler, A. P, Fisika Untuk Sains dan Teknik jilid 1, Jakarta : Erlangga, 1998, XII. 449

Besarnya energi kinetik maksimum yang terlihat pada Tabel II menurun selama selang waktu tertentu. Penurunan ini disebabkan oleh kecepatan sudut maksimum silinder yang berkurang karena besarnya energi potensial yang digunakan silinder untuk bergerak juga berkurang. Ketika silinder berada pada bidang tertinggi dan berhenti bergerak energi kinetik bernilai nol saat t = 0.74 s, 1.5 s, 2.22 s, 2.94 s, 3.66 s, dan 4.4 sekon. Pada Gambar. 4 terlihat bahwa garis untuk energi kinetik (▬) tidak halus. Hal ini terjadi karena gambar silinder blur sehingga pengukurannya menjadi kurang teliti. Energi mekanik yang terlihat pada Gambar 5. merupakan jumlahan besarnya energi kinetik dan energi potensial. Besarnya energi mekanik saat t = 0 adalah 0.72 J. Nilai ini sama dengan besarnya energi potensial maksimum pada selang waktu tersebut. Saat t = 0,18 s besar energi

[2] [3] [4] [5]

ISSN 0853-0823

218

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

JUMP SHOT CIRCLE BALL TRACK: SEBUAH INOVASI MEDIA PEMBELAJARAN GERAK PARABOLA (PARABOL MOTION) PADA SISWA SMA KELAS XI IPA
Yuli Estrian
Jurusan Pendidikan Fisika, FMIPA UNY Kampus Karangmalang, Yogyakarta E-mail: yulies_pfuny07@yahoo.com

Abstrak - Tujuan dari penulisan ini adalah untuk memaparkan cara pembuatan Jump Shot Circle Ball Track sebagai sebuah inovasi media pembelajaran pada gerak parabola (parabol motion) pada siswa SMA kelas XI IPA serta menjelaskan penerapannya dalam pembelajaran di kelas dengan menggunakan dua metode, yaitu metode ekspsrimen dan diskusi (Medis), guru hanya berperan sebagai fasilitator semata. Hal ini dikarenakan pentingnya media pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Dalam pembelajaran gerak parabola, kebanyakan sekolah di SMA belum memiliki alat pembelajaran untuk eksperimen gerak parabola (parabol motion). Pembuatan Jump Shot Circle Ball Track cukup mudah karena dalam pembuatannya menggunakan alat dan bahan yang sederhana dan mudah didapatkan. Walaupun demikian media pembelajaran ini masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut sehingga lebih optimal untuk digunakan dalam pembelajaran. Kata kunci: Jump Shot Circle ball track, Inovasi media pembelajaran, Gerak parabola.

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mata pelajaran fisika merupakan salah satu mata pelajaran di Sekolah Menengah Atas (SMA) yang dianggap paling sulit oleh para siswa [1]. Hal ini terjadi ada kemungkinan salah satu sebabnya adalah cara penyampaian guru dalam pembelajaran fisika. Di beberapa Sekolah Menengah Atas (SMA), pengajaran tentang ilmu fisika masih menggunakan metode ceramah sehingga siswa sussah untuk memahami konsep dari ilmu fisika tersebut [1].. Fisika sebagai ilmu yang mempunyai obyek berupa benda-benda real jika disampaikan hanya dengan cara ceramah maka materi yang diterima siswa dapat dipahami sebagai kumpulan rumus-rumus atau konsep-konsep abstrak. Mereka tidak dituntut untuk belajar dalam memecahkan persoalan-persoalan dalam mata pelajaran fisika dan kurangnya pemahaman konsep fisika[2]. Suasana belajar yang mengedepankan guru sebagai penceramah (metode ceramah) akan menyebabkan para siswa cepat merasa bosan [3]. Salah satu cara penyampaian materi fisika yang dapat menjembatani antara konsep fisis yang abstrak dengan keadaan fisis yang real adalah dengan menggunakan media. Untuk menghasilkan konsep fisika yang tepat, akurat, dan seketika, salah satunya dapat menggunakan alat percobaan sebagai media pembelajaran Fisika [4]. Banyak materi pelajaran Fisika yang diajarkan disekolah. Salah satunya adalah pokok bahasan Kinematika Dengan Analisis Vektor, Salah satu sub babnya adalah tentang gerak parabola. Biasanya dalam menyampaikan materi gerak parabola ini guru hanya melakukan demonstrasi dan ceramah. Hal ini dikarenakan tidak tersedianya alat percobaan gerak parabola dibeberapa sekolah, kalaupun ada jumlahnya masih sedikit dan terbatas. Belum lagi harga alatalat eksperimen saat ini harganya cukup mahal [1]. Alat percobaan gerak parabola saat ini masih cukup jarang dimiliki oleh sekolah. Alat percobaan yang telah

beredar yaitu proyektil peluru yang harganya cukup mahal. Kondisi ini menyebabkan tidak semua sekolah-sekolah mempunyai alat-alat percobaan yang memadai, khususnya alat percobaan Gerak Parabola. Sehingga, para guru mengajarkan materi tersebut sekedar teori semata tanpa adanya praktik. Hal ini menyebabkan suasana belajar terkesan monoton karena tidak ada variasi dalam penyampaian materi dan feedback relative rendah [3]. Oleh karena itu, Guru seharusnya dapat membuat alat percobaan yang inovatif yang dapat digunakan dalam pembelajaran gerak parabola. Dengan kondisi-kondisi seperti yang demikian itu maka perlu ditemukannya suatu cara untuk membuat alat percobaan yang inovatif khususnya tentang Gerak Parabola. Oleh karena itu, dibuatlah alat percoban ini yang cukup sederhana karena hanya memanfaatkan bahan-bahan dari lingkungan sekitar yang sudah tidak terpakai lagi. Alat tersebut kami beri nama Jump Shot Circle Ball Track. Ada beberapa keuntungan berkaitan dengan pembuatan alat percobaan sederhana Jump Shot Circle Ball Track ini, diantaranya: bahan-bahan nya mudah didapat, murah harganya, dan mampu meningkatkan kreativitas guru. Dengan adanya alat percobaan ini nantinya dalam pembelajara gerak parabola, guru tidak lagi hanya menggunakan metode ceramah dan demonstrasi saja tetapi juga dapat menggunakan metode eksperimen dan diskusi. Dimana siswa dapat menggunakan alat percobaan tersebut untuk mempelajari gerak parabola sehingga akan dapat menghasilkan konsep fisika Gerak Parabola yang tepat, akurat, dan seketika. Selain itu dapat menjembatani antara konsep fisis yang abstrak dengan keadaan fisis yang real. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana membuat alat percobaan Sederhana Jump Shot Circle Ball Tracki sebagai media pembelajaran gerak parabola (parabol motion)?

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

219

2.

Bagaimana penerapan penggunaan alat percobaan Jump Shot Circle Ball Track dalam pembelajaran gerak parabola (parabol motion)?

C. Tujuan Penulisan 1. Mengetahui cara pembuatan alat percobaan sederhana Jump Shot Circle Ball Track sebagai media pembelajaran gerak parabola (parabol motion) pada siswa SMA kelas XI IPA. 2. Menjelaskan penggunaan alat percobaan sederhana Jump Shot Circle Ball Track dalam pembelajaran gerak parabola (parabol motion) pada siswa SMA kelas XI IPA. D. Manfaat Penulisan 1. Dapat menjelaskan cara pembuatan alat percobaan sederhana Jump Shot Circle Ball Track, sehingga memberikan suatu bukti bahwa alat-alat percobaan dalam pembelajaran di sekolah dapat diciptakan dengan bahan-bahan sederhana dari lingkungan kita 2. Dapat mengaplikasikan alat percobaan sederhana Jump Shot Circle Ball Track dalam pembelajaran gerak parabola (parabol motion), sehingga dapat mendorong para pendidik dan peserta didik untuk selalu berpikir kreatif dalam kegiatan belajar mengajar. II. KAJIAN PUSTAKA A. Alat Percobaan Sederhana Pengertian media mengarah pada sesuatu yang mengantar/meneruskan informasi (pesan) antara sumber (pemberi pesan) dan penarima pesan. Menurut Santoso S. Hamidjojo bahwa media adalah semua bentuk perantara yang dipakai orang untuk menyebar ide, sehingga ide atau gagasan yang dikemukakan itu bisa sampai pada penerima. Beberapa media atau alat bantu pembelajaran IPA Fisika menurut Supriyadi Mantek dalam bukunya Kurikulum Sains dalam Proses Pembelajaran Sains [4] antara lain: 1. Alat peraga, digunakan untuk menunjukkan suatu benda atau dapat digunakan menunjukkan suatu proses fisika. Alat peraga ini cenderung pada apa yang disebut dengan model. 2. Alat percobaan, gunanya sama dengan alat peraga. Bilamana suatu model hanya dapat menunjukkan suatu proses tanpa diharapkan hasil konsep yang tepat, maka alat pecobaan akan dapat menghasilkan konsep fisika yang tepat, akurat, dan seketika.
TABEL I. KOMPONEN GERAK DALAM GERAK PARABOLA
Komponen Gerak Dalam Sumbu x Komponen Gerak Dalam Sumbu y

oleh seorang pendidik sangat berpengaruh terhadap kemampuan para peserta didik dalam memahami sebuah mata pelajaran. Para siswa akan merasa enjoy dan nyaman apabila metode pembelajaran yang digunakan pendidik pada saat mengajar sesuai dengan kondisi para peserta didik. Kondisi yang dimaksud yaitu komunikatif, kreatif dan aktif [5]. Metode pembelajaran dalam dunia pendidikan ada beberapa macam. Metode pembelajaran tesebut, antara lain : metode ceramah, metode eksperimen, metode demosntrasi, metode diskusi.dan lain-lain [6]. a. Metode Ceramah Metode ceramah, ialah sebuah cara melaksanakan pembelajaran yang dilakukan guru secara monolog dan hubungan satu arah (one way communication). b. Metode Eksperimen Metode eksperimen, ialah metode pembelajaran dengan cara guru dan siswa bersama-sama mengerjakan sesuatu sebagai latihan praktis dari apa yang diketahui c. Metode Diskusi Metode diskusi, ialah metode mengajar yang sangat erat hubungannya dengan belajar memecahkan masalah (problem solving). d. Metode Demonstrasi Metode demonstrasi ialah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pembelajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang disajikan. C. Gerak Parabola (Parabol Motion) Gerak parabola merupakan perpaduan antara Gerak Lurus Beraturan (GLB) di sumbu X dengan Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB) di sumbu Y lihat Gambar 1. Gerak parabola dapat dianalisis dengan meninjau gerak lurus beraturan pada sumbu X dan gerak lurus berubah beraturan pada sumbu Y secara terpisah. Dikatakan gerak parabola karena grafik y = f(x) berbentuk kurva [7]. Gerak Parabola merupakan gerak suatu benda dengan lintasan berbentuk parabola. Gerak parabola adalah gerak dengan percepatan konstan g yang berarah ke bawah dan tidak ada komponen percepatan pada arah horizontal [8].Komponen gerak dalam gerak parabola ditunjukan oleh Tabel.I y

v x = vo cos θ

vy = v0 sin θ - gt y = 1/2 (v0 sin θ + vy) t y = (v0 sin θ) t - 1/2 g t2 vt 2 = (v0 sin θ)2 – 2gy

y
Gambar 1. Lintasan gerak parabola dan arah kecepatan

III. METODE PENULISAN Dalam penulisan ini, metode penulisan digambarkan dalam bagan Gambar 2.

x = (vo cos θ )t
B. Pembelajarn Fisika dan Metode Pembelajaran Dalam dunia pendidikan, ada beberapa metode pembelajaran yang dapat diterapkan saat proses kegiatan belajar berlangsung. Metode pembalajaran yang diterapkan

ISSN 0853-0823

220

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Observasi

Masalah

Referensi, Angket, dan Interview

Alat percobaan jump shot circle ball track (Gambar 4) dapat digunakan untuk percobaan pada pembelajaran gerak parabola. Alat percobaan ini digunakan saat guru mengajar dengan menggunakan metode eksperimen, baik eksperimen di dalam laboratorium maupun eksperimen di luar kelas.

Alternatif pemecahan Masalah

Referensi

Gambar 4. Jump Shot Circle Ball Track

Analisis dan Pembahasan

Simpulan

Gambar 2.Skema Penulisan

IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN Dalam pembuatan alat percobaan sederhana gerak parabola (parabol motion) yang diberi nama jump shot circle ball track memerlukan bahan-bahan, antara lain: Ban luar sepeda “jangki” bekas, Papan kayu, Balok Penyangga, Kayu “plepet” , Paku reng secukupnya, Kertas HVS dan kertas karbon. Ukuran beserta bentuknya dapat dilihat pada Gambar 3.

Papan kayu

Balok Penyangga

Potongan ban
Gambar 3. Bahan-bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan jump shot circle ball track dan ukurannya

Penerapan alat percobaan jump shot circle ball track dapat menggunakan metode pembelajaran campuran atau gabungan antara metode eksperimen (experiment method) dengan metode diskusi (discussion method). Saat menggunakan alat percobaan jump shot circle ball track dilengkapi dengan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) dan Learning guide beserta LKS (Lembar Kerja Siswa) yang telah disediakan. Hal ini bertujuan agar guru dapat dengan mudah menggunakan alat percobaan sederhana ini untuk pembelajaran gerak parabola. Selain itu, siswa juga mudah untuk melakukan percobaan dengan menggunakan alat percobaan jump shot circle ball track sehingga siswa lebih paham tentang pembelajaran gerak parabola. Adapun RPP dan Learning guide dilengkapi dengan LKS yang dimaksud dalam karya tulis ini dicantumkan dalam lampiran. Berikut gambaran dalam pembelajaran di kelas tentang gerak parabola: Para siswa dibagi kedalam beberapa kelompok. Anggota dalam satu kelompok antara 3 - 5 siswa. Para siswa tersebut dalam satu kelompok diberikan kesempatan untuk melakukan percobaan gerak parabola dengan menggunakan alat percobaan jump shot circle ball track. Pada saat mereka melakukan percobaan tersebut, para siswa melakukan sendiri percobaan tentang gerak parabola serta dapat mengamati bagaimana gerak parabola dapat terjadi pada sebuah benda atau materi. Mereka diberikan kesempatan seluas-luasnya dalam melakukan percobaan atau eksperimen tentang gerak parabola. Selama melakukan percobaan gerak parabola dengan jump shot circle ball track, para siswa saling mendiskusikan hasil (data) percobaan. Kemudian, mereka melakukan perhitungan terhadap data percobaan yang telah didapatkan. Kondisi pembelajaran yang demikian sangat mendukung terhadap peningkatan motivasi (motivation increasing) para siswa dalam memyenangi pelajaran fisika khususnya tentang gerak parabola (parabol motion). Karena kondisi ini memungkinkan para siswa untuk menunujukan kemampuan diri (self skill) mereka dalam bereksperimen khususnya tentang gerak parabola (parabol motion). Penggunaan alat peraga ini sangat sederhana. Bahanbahan dan alat-alat percobaan yang dibutuhkan, antara lain: 1. Kelereng atau bola berdiameter 1- 2,5 cm 1 buah 2. Kertas karbon 1 lembar 3. Kertas HVS putih atau sejenisnya 1 lembar 4. Busur derajat 1800 1 buah

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

221

5. Penggaris 1 buah Perhitungan yang digunakan Hukum Kekekalan Energi Mekanik dan komponen gerak dalam gerak parabola seperti pada Tabel I a. Apabila kelereng atau bola dianggap meluncur sempurna Em0 = Em’ (1/2) m ν 02 + m g h0 = (1/2) m ν ’2 + m g h’ Karena pada h0, ν 0 = 0 m/s maka:

menyususun laporan eksperimen tentang gerak parabola namun juga mempertanggungjawabkan tentang hasil eksperimen gerak parabola (parabol motion) kepada seluruh teman-temannya dalam kelas. V. KESIMPULAN Kesimpulan yang kami dapatkan dalam penulisan karya tulis ini, antara lain: 1. Pembuatan alat percobaan sederhana jump shot circle ball track untuk gerak parabola (parabol motion) dilakukan dengan menyusun bahan-bahan yang cukup sederhana dari lingkungan sekitar sesuai dengan gambar atau skema rancangan alat. 2. Cara mengaplikasikan alat percobaan sederhana jump shot circle ball track adalah dengan melibatkan siswa dalam penggunaan alat agar proses penemuan konsep fisis terjadi pada siswa. Dan dipandu dengan learning guide dilengkapi dengan LKS, hal ini untuk memudahkan siswa dan guru dalam melakukan percobaan. PUSTAKA
[1]. Anonim, Fisika Pelajaran Yang Menyenangkan, Kompas, p.1, 11 Desember 2007 [2] Indra Djati Sidi Menuju Masyarakat Belajar. Jakarta: Radar Jaya Officer, 2001 [3] Hisyam Zaini, Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: CTSD, 2002. [4] Supriyadi, kurikulum sains dalam proses pembelajaran sains. Yogyakarta: Pustaka Tempel Sari, 2007 [5] Diknas. (tt). Diambil pada tanggal 20 Januari 2008, dari http://www.media.diknas.go.id. Cony Semiawan, dkk. Pendekatan Ketrampilan Proses. Jakarta: PT Gramedia Widia Sarana Indonesia, 1985 [6] Gurupaismalmut, Metode Pembelajaran, Diambil pada tanggal 18 Januari 2008, dari http://www.Guruismal mut.blogspot. com/2007/08/metode-pembelajaran.html [7] Kompas. (tt) Diambil pada tanggal 13 Januari 2008, dari http://www.kompas.com/kompas-cetak/0009/25/dikbud/dipe09.html. versi electronik [8] Haliday dan Resnic, . Fisika Dasar Universitas jilid 1(terjemahan). Jakarta: Erlangga, 1998[1]. Cony Semiawan, dkk. Pendekatan Ketrampilan Proses. Jakarta: PT Gramedia Widia Sarana Indonesia, 1985

ν
b.

’= 2 g ( h0 − h' )

Apabila kelereng atau bola dianggap menggelinding sempurna dengan mengabaikan gaya gesek yang terjadi pada bola = Em’ Em0 (1/2) m ν
2 0

+m g h0 +(1/2) I
2

ω0 2

= (1/2) m ν ’2 +

m g h’ +(1/2)I ω ' Karena pada h0, ν 0 = 0m/s dan

ω 0 = 0 rad/s maka:

ν

’=

10 g (h0 − h' ) 7

Catatan:

merupakan kecepatan awal saat bola atau kelereng meninggalkan ujung ban yang menyentuh papan.

ν'

Setelah proses melakukan eksperimen dan analisis data selesai, para siswa dalam satu kelompok diberikan kesempatan untuk mengungkapkan hasil eksperimen mereka tentang gerak parabola dengan alat jump shot circle ball track. Mereka diberikan kesempatan untuk mempresentasikan hasilnya di depan kelas. Saat ada kelompok yang berpresentasi, siswa - siswa yang lainnya mendengarkan dan memperhatikan. Kemudian setelah proses presentasi satu kelompok selesai, dibuka pertanyaan untuk para siswa yang mendengarkan tentang hasil eksperimen gerak parabola (parabol motion). Dengan demikian, akan terjadi alur komunikasi dua arah, yaitu antara siswa yang berpresentasi dengan yang mendengarkan. Sistem pembelajaran yang demikian, dapat menciptakan kondisi pembelajaran dalam kelas yang tidak monoton. Para siswa dapat saling berargumen atau meyampaikan pendapat tentang apa yang telah mereka percobakan, yaitu tentang gerak parabola. Sehingga, para siswa tidak hanya

ISSN 0853-0823

222

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Studi Pengembangan Alat Sains Sederhana dari Barang-Barang Bekas Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Sains SD pada Daerah Terpencil di Kabupaten Donggala
Sahrul Saehanaa, Muhammad Ali, dan Supriyatman
Program Studi Pend. Fisika FKIP Universitas Tadulako Alamat: Kampus Bumi Tadulako Tondo Palu a email: oel_281@yahoo.com

Abstrak – Alat sains sederhana dari barang-barang bekas telah dimanfaatkan sebagai media pembelajaran sains kelas V SD pada daerah terpencil di Kabupaten Donggala. Barang-barang bekas, seperti sandal jepit, botol minuman ABC, tripleks, kaleng dan plastik, dibuat sebagai media pembelajaran untuk menjelaskan konsep sains, yaitu pemuaian, perpindahan panas dan konsep tekanan pada zat cair. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode penelitian pengembangan. Peningkatan hasil belajar sains siswa merupakan indikator utama keberhasilan penelitian ini. Melalui implementasi pembelajaran dengan media alat sains sederhana diperoleh rerata nilai pretes, posttes dan n-gain sebesar 4,40; 8,04; dan 78,54%, secara berurut. Melalui uji model diketahui bahwa pembelajaran kooperatif dengan media alat sains sederhana lebih baik dibandingkan pembelajaran kooperatif tanpa menggunakan media. Kata kunci : Perpindahan panas, uji model, pembelajaran kooperatif I. PENDAHULUAN Sebagian besar sekolah dasar di Kabupaten Donggala berada di daerah yang memiliki akses transportasi dan informasi terbatas (daerah terpencil) [1]. Akibatnya, ketersediaan alat sains dan praktikum sangat kurang dan bahkan tidak ada sama sekali. Hal ini diperparah dengan rendahnya kreativitas guru dalam strategi/model pembelajaran di kelas. Rendahnya kreativitas guru disebabkan karena sebagian besar guru tersebut mengajar dengan latar belakang pendidikan yang berbeda (mismatch). Ketidaktersediaan sarana pendukung pembelajaran sains mengakibatkan menurunnya minat siswa, bahkan, menjadikan siswa menjadi kurang kreatif dan cenderung merasa bosan sehingga tidak memahami pelajaran. Akibatnya tujuan pembelajaran tidak tercapai serta kualitas pembelajaran sains menjadi rendah. Tabel 1 memperlihatkan statistik nilai UAN siswa di Kabupaten Donggala dalam kurun waktu 5 tahun terakhir (2005 s.d. 2009) yang berada dalam kategori rendah [1].
TABEL I. NILAI UAN SISWA SD DAN SMP DI KABUPATEN DONGGALA
Tahun Ajaran Nilai Rata-Rata UAN SD 2005/2006 2006/2007 2007/2008 2008/2009 5,10 4,50 4,10 4,15 SMP 6,10 6,00 4,25 3,95

belajar siswa sehingga cukup potensial untuk terus dikembangkan. Dalam makalah ini akan dijelaskan pemanfaatan media pembelajaran sains dengan memanfaatkan barang bekas pakai dalam meningkatkan hasil belajar sains siswa pada beberapa sekolah terpencil di Kabupaten Donggala. II. METODE Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode penelitian pengembangan. Dimana pengembangan tersebut dilakukan pada alat sains sederhana yang dibuat dari barangbarang bekas sehingga dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran sains. Tahapan penelitian meliputi: studi pendahuluan, perencanaan, pengembangan dan sosialiasi. Dalam tahap pengembangan dilakukan uji ahli dan pengembangan perangkat pembelajaran [4,5]. Uji coba pembelajaran dengan memanfaatkan alat sains sederhana dilakukan pada tiga sekolah di Kecamatan Labuan yaitu SD Labuan Panimba, SD Labuan dan SD Salumbone. III. HASIL DAN PEMBAHASAN Alat sains sederhana yang dibuat dari barang-barang bekas pakai (Tabel II) ditunjukkan pada Gambar 1 s.d. Gambar 6. Gambar 1 memperlihatkan alat sains sederhana yang menjelaskan pemuaian pada zat cair dan gas. Pada Gambar 1a, ketika botol dipanaskan maka zat cair (air berwarna) akan memuai yang diindikasikan dengan naiknya zat cair tersebut pada pipet. Besarnya kenaikan zat sebanding dengan kenaikan suhu pemanasan. Prinsip yang sama juga diterapkan pada Gambar 1b. Dimana ketika botol dipanaskan maka udara dalam botol tersebut akan bergerak/masuk ke dalam balon sehingga mengembang. Suhu pemanasan botol sebanding dengan ukuran pengembangan balon. Fenomena pemuaian zat padat dapat dilihat pada Gambar 2. Apabila batang logam pada Gambar 2 dipanaskan maka logam tersebut akan mengalami pemuaian (pertambahan panjang). Ketika logam mengalami pertambahan panjang maka bagian ujungnya akan mendorong bagian ujung pipet yang berdekatan sehingga

Pengembangan alat sains sederhana dari barang-barang bekas merupakan salah satu solusi yang dapat ditempuh untuk mengatasi ketidaktersediaan media pembelajaran sains [2]. Dari hasil studi yang sebelumnya telah dilakukan oleh kelompok kami [3] diketahui bahwa barang-barang bekas seperti sandal jepit dan botol bekas dapat dibuat sebagai alat sains sederhana. Bahkan, pemanfaatan media pembelajaran sains tersebut dapat meningkatkan hasil

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

223

bagian ujung yang lain bergerak naik. Semakin tinggi suhu pemanasan maka besar pemuaian yang dialami oleh logam yang diindikasikan dengan kenaikan pipet.
TABEL II. DAFTAR ALAT SAINS SEDERHANA YANG DIBUAT.
No 1 Alat Sains Pemuaian pada zat cair Barang-barang Bekas Botol ABC bekas, botol kratindaeng bekas, kaleng, sedotan minuman, sumbu kompor, spritus, dan pewarna Botol ABC bekas, botol kratindaeng bekas, kaleng, sumbu kompor, spritus, dan balon mainan Sedotan minuman, balok kayu, logam/kawat, tripleks, kertas mm Botol kratindaeng bekas, spritus, sumbu kompor, sedotan minuman, balok kayu, logam/kawat, lilin Kaleng biskuit, potongan pipa, obat nyamuk, lilin, plastik Lampu bekas, selang, pewarna Botol aqua bekas, sandal jepit bekas

lebih cepat mencair dibandingkan dengan lilin yang jaraknya lebih jauh dari pemanas.

2

Pemuaian pada gas

3 4

Pemuaian pada zat padat Perpindahan panas secara konduksi Perpindahan panas secara konveksi Perpindahan panas secara radiasi Tekanan pada zat cair

Gambar 3. Alat sains sederhana pada konsep perpindahan panas secara konduksi.

5 6 7

Gambar 4. Alat sains sederhana pada konsep perpindahan panas secara konveksi.

Konveksi merupakan perpindahan panas yang diikuti oleh perpindahan zat perantaranya. Peristiwa ini dapat diamati melalui demonstrasi dengan menggunakan alat sederhana pada Gambar 4.

Gambar 1. Alat sains sederhana pada konsep pemuaian: (a) zat cair, (b) gas.

Gambar 5. Alat sains sederhana pada konsep perpindahan panas secara radiasi.

Gambar 2. Alat sains sederhana pada konsep pemuaian pada zat padat.

Alat pada Gambar 3 dibuat dengan menerapkan prinsip perpindahan panas secara konduksi. Proses tersebut dapat terjadi karena perbedaan suhu yang umumnya terjadi pada zat padat (logam). Pemanasan yang dilakukan pada salah satu ujung logam akan menyebabkan lilin yang ditempelkan mencair. Lilin yang lebih dekat dengan alat pemanas akan

Proses radiasi atau perpindahan panas melalui pancaran dapat diamati dengan alat sains sederhana pada Gambar 5. Alat pada Gambar 5 dapat digunakan dengan sumber energi listrik maupun sumber cahaya matahari. Pada prinsipnya, lampu yang dicat hitam dapat menerima energi kalor lebih besar dibandingkan lampu yang dicat warna putih. Adanya energi kalor pada balon tersebut akan menggeser kesetimbangan zat cair (berwarna merah) pada pipa yang dibuat berbentuk huruf U.

ISSN 0853-0823

224

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

metode ceramah, tertarik menerapkan model pembelajaran ini. Selain itu, sekitar 98% peserta menilai bahwa alat sains sederhana yang digunakan memiliki desain yang menarik, disajikan secara sistematis sehingga layak digunakan sebagai media pembelajaran sains.
TABEL 5. HASIL UJI PERBANDINGAN DENGAN SPSS 11.5. Group Statistic Hasil Belajar N Mean Std. Std. Error Deviation Mean Kelas kontrol 16 8.44 0.51 0.13 Kelas eksperimen 16 8.38 0.62 0.15

Gambar 6. Alat sains sederhana pada konsep tekanan pada zat cair.

Setiap titik pada zat cair yang ditempatkan dalam wadah tertentu memiliki tekanan. Besarnya tekanan tersebut bervariasi sesuai dengan posisi/kedudukannya. Variasi dari tekanan pada zat cair tersebut dapat diamati dengan menggunakan alat pada Gambar 6. Dimana ketika karet penyumbat botol dibuka maka air yang terdapat dalam botol tersebut akan keluar. Kecepatan aliran air tersebut bervariasi bergantung posisi/kedudukannya. Selain alat sains sederhana, dalam penelitian ini juga dikembangkan perangkat pembelajaran berupa skenario pembelajaran, RPP, LKS, buku siswa dan buku guru. Hasil penerapan pembelajaran kooperatif dengan media alat sains sederhana dapat dilihat pada Tabel 3.
TABEL III. HASIL TES SISWA SERTA NILAI N-GAIN
No 1 2 3 SDN Labuan Panimba Labuan Salumbone Rerata Pretes Posttes N-gain Ternormalisasi(%) 4,31 7,81 73,33 4,63 8,13 80,10 4,25 8,19 82,19 4,40 8,04 78,54

Independent Samples Test Levene’s Test for Equality Hasil Belajar Variances F Sig. Equal var. ass. Equal var. not ass.

t-test for Equality of Means t df

0.699

Sig. (2 Mean Std. Err. tailed) Diff. Diff. 0.311 30 0.758 0.063 0.20 0.410 0.311 28.98 0.758 0.063 0.20

IV. KESIMPULAN Studi pengembangan alat sains sederhana dari barangbarang bekas pakai telah dilakukan pada sekolah dasar yang terletak pada daerah terpencil di Kabupaten Donggala. Alat sains tersebut dapat digunakan sebagai media pembelajaran pada konsep perpindahan panas, pemuaian dan tekanan pada zat cair. Hasil ujicoba penerapan pembelajaran ini menunjukkan rerata hasil belajar siswa dan n-gain ternormalisasi masing-masing sebesar 8,04 dan 83,38%. Melalui uji model diketahui bahwa pembelajaran kooperatif dengan alat sains sederhana lebih baik daripada pembelajaran kooperatif tanpa menggunakan media. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih disampaikan kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat DIKTI yang telah membiayai penelitian ini melalui dana DIPA Universitas Tadulako dalam Penelitian Hibah Bersaing tahun anggaran 2010. PUSTAKA [1] BPS, Nilai UAN siswa SD Kabupaten Donggala, Donggala, 2010. [2] J. Vancleave, Proyek-proyek fisika, Pakar Raya, Bandung, 2004. [3] M. Ali, S. Saehana, dan Supriyatman, Tool development studies simple science of goods quality used to improve elementary science learning on the remote region in donggala, Proc. of The Third Int. Sem. on Sci. Ed., UPI, 2009, pp. 544-549. [4] T. Plomp, Education and training system design. Univ. of Twente, Enschede, The Netherland, 1997. [5] Nieven dan Nienke, Prototyping to reach product quality, Netherlands, 1999.

Tingkat efektivitas model pembelajaran ini dapat dilihat dari perolehan rerata n-gain ternormalisasi sebesar 78.54% yang berada pada kriteria sedang. Aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini diketahui dari lembar observasi kegiatan siswa selama pembelajaran yang berada dalam kategori baik. Melalui wawancara, siswa mengungkapkan ketertarikannya terhadap model pembelajaran ini. Dimana dalam pembelajaran ini siswa dapat melakukan eksperimen, berdiskusi dalam kelompok, mempresentasikan di depan kelas serta mendapat apresiasi dari guru dan siswa lain. Uji model menunjukkan hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran kooperatif dengan media alat sains sederhana lebih baik daripada siswa yang mengikuti pembelajaran kooperatif tanpa menggunakan media. Data hasil belajar yang diolah dengan software SPSS 11.5 dapat dilihat pada Tabel 5. Nilai thitung untuk hasil belajar adalah 0,311 dengan probabilitas 0,410. Oleh karena probabilias > 0,05 maka H0 diterima, atau rata-rata (mean) nilai hasil belajar siswa kelas kontrol dan eksperimen adalah berbeda. Hasil penelitian ini telah disosialisasikan dengan metode diskusi dan demonstrasi pada MGMP Kecamatan Labuan Kabupaten Donggala. Dari hasil analisis angket diketahui bahwa sekitar 95% guru, yang umumnya menggunakan

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

225

Rancang Bangun Alat Eksperimen Roket Air dari Barang Bekas sebagai Media Pembelajaran Mekanika
Nizar Nuril Barjah, Aceng Sambas, Mada Sanjaya WS
Jurusan Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung, INDONESIA madasws@gmail.com

Abstrak – Gerak roket merupakan salah satu aplikasi konsep mekanika yang menerapkan banyak hukum fisika. Dalam makalah ini, telah dibangun dan dilakukan eksperimen menggunakan alat eksperimen roket air sederhana yang dapat dibuat dari barang bekas. Tujuan dari eksperimen ini adalah untuk mempelajari prinsip kerja roket berdasarkan hukum Newton serta menganalisis gerak roket tersebut dengan pendekatan gerak proyektil berupa parabola. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa jarak terjauh lintasan tempuh roket terjadi ketika alat peluncur membentuk sudut 450 terhadap horizontal, sesuai dengan konsep teori gerak parabola. Selain itu, dalam eksperimen ini juga dapat diukur besar percepatan gravitasi yaitu 10.37 m/s2 dan 13.22 m/s2 yang nilainya memiliki sedikit perbedaan dengan literatur, terjadinya kesalahan ini disebabkan adanya faktor gesekan udara yang merupakan keterbatasan namun tidak disertakan dalam eksperimen. Kata kunci : gerak roket, gterak proyektil, gerak parabola, I. PENDAHULUAN Mekanika merupakan salah satu materi pokok dalam fisika yang menjadi awal sejarah berkembangnya hukumhukum fisika. Sedangkan gerak roket merupakan salah satu aplikasi konsep mekanika yang menerapkan banyak hukum fisika seperti hukum Newton tentang gerak, konsep momentum dan kekekalan momentum, serta konsep tentang gerak proyektil [1]-[4]. Dalam makalah ini, telah dipelajari prinsip kerja propulsi roket serta analisis sederhana gerak proyektil menggunakan media alat eksperimen roket air yang dapat dibuat dari barang bekas seperti botol bekas, nozzle bekas, kayu penyangga atau besi peluncur, serta alat pompa sepeda yang mudah untuk diperoleh [5]-[7]. Dalam eksperimen roket ini, prinsip propulsi roket akan dianalogikan dengan menggunakan roket air sederhana. Pada dasarnya, prinsip kerja roket air sederhana adalah botol akan meluncur bila botol diberi tekanan udara yang tinggi (dari pompa) dan di dalamnya diberi sedikit air untuk menghasilkan tenaga semburan yang lebih besar. Percobaan ini mengacu pada hukum ketiga Newton (hukum aksi reaksi) [1]-[4]. Prinsip kerja propulsi roket merupakan penerapan dari hukum ketiga Newton dan kekalan momentum. Prinsip kerja pada roket ini sama dengan yang dipakai cumi-cumi atau gurita untuk mendorong diri mereka. Mereka mengeluarkan air dari tubuh mereka dengan gaya yang sangat besar, dan air yang dikeluarkan mengerjakan gaya yang sama dan berlawanan pada cumi-cumi atau gurita, mendorongnya ke depan. Sebuah roket mendapatkan sebuah dorongan dengan membakar bahan bakar dan membuang gas yang terbentuk lewat belakang. Roket mengerjakan gaya pada gas buang, dan dari hukum Newton III, gas mengerjakan gaya yang sama dan berlawanan pada roket[1]-[4]. II. DASAR TEORI A. Prinsip Kerja Propulsi Roket Dengan menggunakan analisis perubahan momentum sistem maka diperoleh persamaan propulsi roket, secara matematis dapat dirumuskan sebagai

m

dv dm = u keluar + Feks dt dt

(1)

dimana u keluar adalah kecepatan semburan gas, m adalah massa roket dan air di dalamnya, dan Feks adalah gaya eksternal dari berat roket[1]-[4]. Gaya dorong roket merupakan gaya yang bekerja pada roket akibat gas yang dikeluarkannya. Sesuai persamaan diatas, maka diperoleh

Fdorong = u keluar

dm dt

(2)

Gaya eksternal (Feks = -mg) bernilai negatif, agar roket dapat dipercepat keatas maka gaya dorong harus lebih besar dari gaya eksternal tersebut. Setelah kita mensubstitusi Feks dan membagi dengan m diperoleh

u dv dm = + keluar −g dt m dt

(3)

Gambar 1. (a) momentum roket sebelum bergerak, (b) momentum roket setelah bergerak

ISSN 0853-0823

226

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Dengan mengintegralkan persamaan (3), maka diperoleh kelajuan gerak roket yang dapat ditulis sebagai

m v f = vi + u keluar ln i − gt . mf

(4)

y (t ) = v0 y t −

1 2 gt 2

(7)

Sedangkan untuk kelajuan roket yang bergerak dalam ruang bebas tanpa gaya eksternal, persamaan (1.4) menjadi

Kecepatan partikel pada arah x tetap, yaitu v x (t ) = v0 x , sedangkan kecepatan partikel pada arah y berubah sebagai

m v f = vi + u keluar ln i mf

v y (t ) = v0 y − gt . Besar kecepatan

(5)

partikel diberikan oleh

dimana vf dan vi adalah kelajuan akhir dan awal roket, mf dan mi adalah massa akhir dan roket roket. B. Analisis Gerak Proyektil

v(t ) = v x (t ) 2 + v y (t ) 2 .
Dengan mensubstitusikan variabel waktu t pada pers. (6) ke dalam pers. (7) diperoleh

y ( x) = tan θx −

g 2 x 2 2 v0 x

(8)

Persamaan ini menghubungkan y dengan x dan menyatakan persamaan lintasan proyektil, Karena v0 x , θ 0 dan g konstan, maka persamaan tersebut dapat dituliskan dalam bentuk

y ( x) = Bx − Cx 2 ,
Gambar 2. vektor gerak parabola

Besaran-besaran gerak yang berupa besaran vektor dapat diuraikan menjadi komponen-komponennya dalam setiap arah vektor-vektor basisnya. Sehingga gerak dalam dua dimensi dapat diuraikan menjadi kombinasi dua gerak satu dimensi dalam dua arah yang saling tegak lurus (misalnya dalam arah x dan y). Demikian juga gerak dalam tiga dimensi dapat diuraikan menjadi kombinasi tiga gerak satu dimensi dalam tiga arah yang saling tegak lurus (dalam arah x, y, dan z). Semua persamaan-persamaan kinematika gerak lurus, dapat digunakan untuk mendeskripsikan gerak dalam masing-masing arah. Sebagai contoh akan diberikan gerak partikel dalam dua dimensi (bidang) yang mengalami percepatan konstan dalam arah vertikal dan tidak mengalami percepatan dalam arah horizontal. Aplikasi dari gerak ini adalah gerak peluru, yang lintasannya berupa lintasan parabolik. Misalkan di titik asal koordinat (0,0) sebuah partikel r bergerak dengan kecepatan awal v0 yang membentuk sudut terhadap sumbu x. Partikel ini mengalami percepatan gravitasi sebesar −g (ke arah sumbu y negatif). Kecepatan awal partikel dapat diuraikan menjadi komponen x dan y, yaitu v0 x = v0 cos θ dan v0 y = v0 sin θ . Gerak partikel sekarang dapat dianalisa sebagai gerak dengan kecepatan konstan pada arah x dan gerak dengan percepatan konstan pada arah y. Posisi partikel pada arah x dan y diberikan oleh

yaitu persamaan parabola, Jadi lintasan proyektil bentuknya adalah parabola. Dengan sedikit analisis diperoleh ketinggian maksimum sebesar

y=

2 v0 sin 2 θ . 2g

(9)

Posisi terjauh partikel, yaitu posisi ketika partikel kembali memiliki posisi y = 0, terjadi pada

x=

2v 0 y v 0 x g

=

2 v0 sin 2θ . g

(10)

Waktu tempuh partikel sampai kembali ke posisi y = 0, dapat ditulis sebagai

θ

t=

2v0 sin θ g

(11)

[1]-[4]. III. RANCANGAN ALAT Dalam pembuatan roket air sederhana, komponen penting yang diperlukan dalam pembuatannya adalah botol bekas air mineral, nozzle (pentil) dari ban bekas dalam sepeda, alat peluncur yang dapat dibuat menggunakan penyangga dari besi ataupun dari kayu, serta mesin pompa sepeda untuk membeerikan tekanan pada roket. Set-up eksperimen roket air yang telah siap ditunjukkan pada Gambar 3. [5]-[7].

x(t ) = v0 x t

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

227

Untuk melakukan eksperimen kuantitatif dari roket air diperlukan alat dan bahan sebagai berikut: 1. Set peralatan roket air 2. Air 3. Kayu penyangga atau tempat peluncuran 4. Pompa sepeda ( kompresor ) 5. Pengukur tekanan 6. Penggaris busur derajat 7. Stop watch 8. Mistar/ jangka sorong 9. Meteran 10. Neraca ohaus IV. METODE EKSPERIMEN Teknik pengambilan data eksperimen [1] roket air dapat digambarkan melalui diagram alir berikut
Mulai

Gambar 3. Set up peralatan roket air

V. HASIL DAN PEMBAHASAN Dengan luas lubang roket sebesar 1.96 x 10-5 m2, diperoleh hasil eksperimen sebagai berikut:
TABEL I DATA HASIL PENGAMATAN
Sudut (0±0.50) 15 30 45 60 75 90 ttotal (t±0.05) s 0.60 0.80 1.40 1.50 1.60 1.70 Xtotal (x±0.5) m 3.6 8.7 11.6 6.5 4.59 0.68 P (105 Pa) 3.5 3.0 2.5 2.1 2.0 2.0 Mawal (m±5 ×10-5) kg 0.3884 0.3884 0.3884 0.3884 0.3884 0.3884 Makhir (m±5×10-5) kg 0.1722 0.1626 0.1588 0.1588 0.1588 0.1588

Menyusun peralatan

Megukur lubang roket air

Mengisi roket dengan air dan mengukur massa awal roket

Menghubungkan roket dengan mesin pompa

Perhitungan semburan air pada roket Ukeluar dapat diperoleh dengan memasukkan data perubahan massa roket dan besar gaya dorong dari pembacaan tekanan sesuai persamaan (2), kecepatan awal roket V0 dapat didekati dengan kecepatan peluncuran vf dari persamaan (4). Sehingga, dari nilai Ukeluar dan V0 dapat diperoleh jarak dan waktu tempuh roket air secara teoritik sesuai persamaan (10) dan (11). Hasil teori ini disajikan dalam Tabel 2.
TABEL II. DATA HASIL PERHITUNGAN TEORI
Sudut (0) 15 30 45 60 75 90 Ukeluar (m/s) 19.15567 20.86448 29.92378 26.93140 27.35889 29.06882 V0(m/s) 9.700822 10.32759 13.04354 9.387182 8.789518 9.338863 ttotal(s) 0.510778 1.053836 1.881996 1.659041 1.732791 1.905890 Xtotal(m) 4.801324 9.425187 17.36059 7.786859 3.941614 0

Melakukan percobaan dengan variasi sudut penyangga roket 150 sampai 900 dengan interval 150 serta mencatat besarnya tekanan pada pompa, jarak dan waktu tempuh roket

Mengukur massa akhir roket

Belum Apakah gerak roket telah sempurna membentuk parabola

Terjadinya perbedaan kuantitatif antara hasil pengamatan dan teoretik pada pengukuran jarak dan waktu tempuh roket lebih disebabkan karena tidak dimasukkannya faktor gesekan atau hambatan udara pada pendekatan teoritik serta ketidaktelitian dalam pengukuran. Tapi secara kualitatif hasil pengmatan dan teoritik memiliki pola dan kesimpulan yang sama, yaitu jarak terjauh diperoleh pada sudut peluncuran 450.

Ya Selesai

Dalam eksperimen roket air sederhana dan analisis gerak proyektil, dilakukan analisis dengan dua cara yaitu berdasarkan hasil pengamatan langsung dan berdasarkan perhitungan dalam teori dasar.

Gambar 4. Kurva jarak tempuh terhadap sudut peluncur

Dari Tabel I diperoleh kurva perbandingan jarak maksimum yang ditempuh pada sudut-sudut tertentu seperti terlihat pada Gambar 4.

ISSN 0853-0823

228

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Gambar 4. Menunjukan kurva jarak tempuh terhadap sudut peluncuran, terlihat bahwa jarak tempuh terjauh diperoleh saat sudut peluncuran sebesar 450. Hasil ini menunjukkan kesesuaian pengamatan langsung dengan teori dasar. Dari eksperimen roket air dan analisis gerak proyektil ini juga dapat ditentukan besarnya percepatan gravitasi. Terdapat dua metode dalam menentukan percepatan gravitasi, yaitu menggunakan regresi linier kurva jarak maksimum (xmax) terhadap sin 2θ sesuai persamaan (7) dan menggunakan regresi linier kurva waktu tempuh (ttotal) terhadap sin θ sesuai persamaan (8). Berikut analisis kurva hasil eksperimen untuk menentukan besarnya percepatan gravitasi g.

Dengan pendekatan regresi linier, sesuai persamaan (7) dengan data gradient dari kurva pada Gambar 5, maka diperoleh percepatan gravitasi sebesar 10.37 m/s2 dengan ketepatan 94.18% jika dibandingkan dengan literatur ratarata percepatan gravitasi sebesar 9.8 m/s2. Sedangkan berdasarkan persamaan (8) dengan data gradient dari kurva pada Gambar 6, maka diperoleh percepatan gravitasi sebesar 13.22 m/s2 dengan ketepatan 65.10% jika dibandingkan dengan literatur rata-rata percepatan gravitasi sebesar 9.8 m/s2. Terjadinya perbedaan antara kedua metode ini ketidaktepatan dalam pengukuran ketika eksperimen serta karena tidak dimasukkannya faktor gesekan udara yang sebenarnya sangat mempengaruhi proses eksperimen ini. Pada Gambar 7, terlihat lintasan parabola yang dihasilkan pada gerak roket air. Kurva parabola dihasilkan dengan mensubstitusikan parameter hasil eksperimen pada persamaan (6) dan (7). IV. KESIMPULAN Dalam makalah ini, telah dibangun dan dilakukan eksperimen menggunakan alat eksperimen roket air sederhana yang dapat dibuat dari barang bekas. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa jarak terjauh lintasan tempuh roket terjadi ketika alat peluncur membentuk sudut 450 terhadap horizontal, sesuai dengan konsep teori gerak parabola. Selain itu, dalam eksperimen ini juga dapat diukur besar percepatan gravitasi yaitu 10.37 m/s2 dan 13.22 m/s2 yang memiliki sedikit perbedaan dengan literatur, terjadinya sedikit kesalahan ini disebabkan karena adanya faktor gesekan udara yang tidak disertakan dalam eksperimen serta ketidaktelitian dalam eksperimen. PUSTAKA RUJUKAN
[1] [2] [3] [4] [5] [6] M. Sanjaya, “Modul eksperimen Fisika II: roket dan analisis gerak proyektil”, Bandung: UIN SGD, 2010. R. Serway, “Physics for scientist & Engineers With Modern Physics”, Virginia: James Madison University Harrison burg, 1989. Sutrisno “Fisika Dasar : Mekanika” Bandung: Penerbit ITB, 1979. P. Tipler,”Fisika Untuk Sains dan Teknik Jilid II” Jakarta: Erlangga, 1991 (Terjemahan) A.A. Baskoro, “Panduan Lengkap Membuat Roket Air”. Jakarta: Komunitas langit selatan, 2009. J.V. Cleave’s, “Guide to The Best Science Fair Project”, New York: John Willey & Sons, Inc., 1997. J. Shariff, ”50 green project for the evil genius”, USA : The McGraw-Hill Companies, Inc., 20

Gambar 5. Kurva jarak tempuh terhadap sin 2θ

Gambar 6. Kurva waktu tempuh terhadap sin θ

(a) 150

(b) 300

(c) 450

(d) 600

[7]

(e) 750 Gambar 7. Lintasan parabola gerak roket air

(f) 900

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

229

Integrasi Fisika Teoritik, Komputasi, dan Implementasi Hardware Sirkuit Nonlinier
Mada Sanjaya WS
Jurusan Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung, INDONESIA Jurusan Matematika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universiti Malaysia Terengganu, Kuala Terengganu 21030, MALAYSIA madasws@gmail.com

Abstrak – Fenomena chaos merupakan salah satu fenomena fisika nonlinier yang terus berkembang dan dipelajari oleh kalangan ilmu murni maupun teknik, khususnya dalam aplikasi teknologi informasi dewasa ini. Manfaat dari mempelajari sistem chaos bukan hanya untuk dapat mengkontrol chaos dalam dalam sirkuit, tetapi juga untuk mengembangkan aplikasi yang benar-benar memanfaatkan fenomena ini. Dalam makalah ini, akan dikaji salah satu fenomena chaos yang terjadi pada sirkuit nonlinier. Terdapat dua sistem sirkuit nonlinier yaitu sirkuit autonomous dan nonautonomous yang keduanya dapat menghasilkan fenomena chaos. Program Matlab dan MultiSIM digunakan untuk mensimulasikan sirkuit dan menunjukkan terjadinya fenomena chaos. Kata kunci : fenomena chaos, fisika non linier, sirkuit autonomous I. PENDAHULUAN Fisika nonlinear, seperti halnya mekanika kuantum dan relativitas, membawa sekumpulan ide-ide mendasar dan hasil-hasil yang mengejutkan. Akan tetapi, tidak seperti mekanika kuantum dan relativitas, bidang fisika nonlinear ini mencakup sistem pada seluruh ukuran dan benda-benda untuk semua kecepatan. Oleh karena itu, fisika nonlinear memiliki aplikasi yang sangat luas dalam kehidupan manusia sehari-hari[1]. Secara sederhana sebuah sistem bersifat nonlinear jika keluaran dari sistem tidak sebanding dengan masukannya. Nonlinieritas dalam sistem fisika bertanggung jawab atas kemunculan gejala chaos, yang secara harfiah dapat diartikan sebagai “kekacauan”. Chaos berlainan dengan random, karena keadaan ini masih memiliki sifat deterministik. Secara matematika, gejala ini pertama kali diprediksi oleh matematikawan besar abad 19, Henri Poincare, disekitar tahun 1880-an ketika mencoba memecahkan permasalahan stabilitas dari suatu sistem dinamis, seperti gerak tiga benda langit di bawah pengaruh gaya gravitasi[1]. Secara lebih visual, gejala chaos pertama kali dipelajari secara tidak sengaja oleh Edward N. Lorenz, seorang pakar sains atmosfir dari MIT, di tahun 1963. Kala itu ia tengah mencoba memodelkan aliran konveksi udara tiga dimensi di atmosfir. Lorenz dengan menurunkan model ideal persamaan nonlinier yang terkopel tiga dan berusaha memecahkannya secara numerik menggunakan pertolongan komputer. Alih-alih memperoleh pemecahan yang berkelakuan baik, ia malah menemukan perilaku aneh yang semula ia anggap sebagai kesalahan numerik. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa lintasan pemecahan dalam ruang tiga dimensi tersebut memiliki ciri lintasan yang tidak teratur (strange attractor), dan tidak pernah menempuh lintasan yang sama. Jika titik awal perhitungan dirubah sedikit saja, maka akan muncul pola orbit dengan kelakuan serupa tetapi memiliki pola lintasan yang lain sama sekali. Hingga kini, gejala chaos juga dapat dijumpai dimana-mana, mulai dari sistem fisika seperti sirkuit listrik, turbulensi gerak benda dalam fluida, fenomena superkonduktor, gerak bandul, sistem jaringan syaraf, atau pada perubahan cuaca. Pemodelan mengenai perilaku sistem sosial, fluktuasi harga saham, dan pola hubungan antara mangsa dan pemangsa di dalam suatu ekosistem pun memprediksikan kemungkinan munculnya chaos[1]. Fokus kajian dalam makalah ini adalah mempelajari fenomena chaos yang terjadi pada sirkuit nonlinier. Pada bagian pertama, akan dikaji sirkuit nonlinier yang bersifat autonomous yang secara harfiah dapat diartikan tidak bergantung secara implisit terhadap waktu. Sedangkan pada bagian kedua, akan dikaji fenomena chaos yang terjadi pada sirkuit nonlinier yang bersifat nonautonomous yang dipengaruhi secara implisit oleh waktu. Metode yang digunakan dalam makalah ini adalah perpaduan teori fisika, simulasi komputasi, serta implementasi dalam bentuk desain hardware sirkuit nonlinier. II. DINAMIKA CHAOTIC SIRKUIT AUTONOMOUS Salah satu sirkuit nonlinier autonomous adalah sirkuit Chua [2][3][4][5][6][7][8], seperti ditunjukkan pada Gambar. 1 adalah sirkuit osilator yang dapat menghasilkan fenomena bifurkasi dan chaos. Sirkuit ini terdiri dari tiga elemen linier penyimpan energi (satu induktor dan dua kapasitor), sebuah resistor linier, serta sebuah resistor nonlinier NR.

Gambar. 1. Sirkuit autonomous Chua.

Dengan menggunakan hukum Kirchhoff, sirkuit Chua dapat digambarkan dalam tiga persamaan diferensial biasa (1) yang mana vC1 = tegangan pada kapasitor C1 ,
vC 2 = tegangan pada kapasitor C 2 ,
i L = arus yang melalui induktor,

C = kapasitansi kapasitor,

ISSN 0853-0823

230

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

L = induktansi induktor, dan

G = konduktansi resistor R.

yang digunakan pada sistem (1) ditentukan seperti tertera pada Tabel I.
TABEL I PARAMETER SIRKUIT CHUA
Simbol R1 R2 R3 R4 R5 R6 C1 C2 L R Esat U1A U1B
8 6 4 2 Vc2 0 -2 -4 -6 -8 -40

C1

dvC1 = G(vC 2 − vC1 ) − g (vC1 ) dt dv C2 C 2 = G(vC1 − vC 2 ) + iL dt diL L = −vC 2 dt

(1)

Komponen Resistor Resistor Resistor Resistor Resistor Resistor Kapasitor Kapasitor Induktor Potentiometer Power Supply Op amp TL082CD TL082CD
Double Scroll Attractor Chua Circuits

Nilai 220 Ω 220 Ω 2.2kΩ 22kΩ 22k Ω 3.3k Ω 10nF 100nF 18mH 1.85 kΩ 9V

Toleransi

± 5%

± 10 %

± ± ± ± ± ± ±

5% 5% 5% 5% 5% 5% 5%

± 5%

Time Series Double Scroll Attractor Chua Circuits 40 30 20 10 Vc1 0 -10 -20 -30 -40

Gambar. 2. Fungsi resistor non-linier sirkuit Chua.

g (vC1 ) adalah karakteristik arus-tegangan non-linier dari resistor non-linier sebagaimana ditunjukkan pada Gambar. 2, dapat ditulis sebagai

-30

-20

-10

0 Vc1

10

20

30

40

0

0.005

0.01

0.015

0.02 t

0.025

0.03

0.035

0.04

1 g(vC1 ) = g(vR ) = m0vR + (m1 − m0 )[ vR + BP − vR − BP ] (2) 2
yang mana m1 dan m0 adalah gradient dalam dan luar, dan

(a)Diagram fase (b) Time series Gambar. 3. Hasil simulasi numeric sistem Chua menggunakan Matlab.

± BP menunjukkan kondisi terjadinya breakpoints. Resistor R adalah sebuah potensiometer dan digunakan sebagai parameter kontrol yang menghasilkan fenomena bifurkasi dari atraktor periodik sampai atraktor chaos. Penetapan nilai parameter dua buah kapasitor, induktor dan resistor telah dibuat oleh Matsumoto [2]. Esat adalah tegangan saturasi dari komponen op-amp yang besarnya ditentukan oleh catu daya dan karakteristik internal dari opamp. Resistor non-linier terdiri dari dua buah resistor yang terhubung secara paralel. Secara detail desain resistor nonlinier telah dibuat oleh Kennedy [3]. Konstanta mo, m1, dan Bp telah ditentukan oleh Kennedy [4].

Dalam makalah ini juga telah dibuat implementasi sirkuit Chua menggunakan software MultiSIM, sebagaimana diperlihatkan pada Gambar.4. serta hasil simulasinya pada Gambar.5. dan Gambar.6.

R R R 1 ⎞ ⎛ ⎜ m1 = − 2 − 5 , m0 = − 2 + ,⎟ R1R3 R4 ⎟ R1R3 R4 R6 ⎜ ⎜ ⎟ R6 R3 ⎜ BP1 = Esat, BP2 = Esat ⎟ ⎜ ⎟ R2 + R3 R5 + R6 ⎝ ⎠

Gambar. 4. Implementasi sirkuit autonomous Chua menggunakan MultiSIM. (3)

Dalam artikel ini telah dibuat simulasi numeric untuk menggambarkan fenomena dinamika dari sirkuit Chua dengan menyelesaikan persamaan (1). Simulasi numeric dari solusi persamaan diferensial (1) dibuat menggunakan MATLAB, dengan metode Runge-Kutta berorde empat. Gambar. 3. Menunjukkan diagram fase dan time series hasil simulasi numeric menggunakan Matlab. Parameter

Gambar. 5. Diagram fase sirkuit autonomous Chua menggunakan MultiSIM

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

231

Gambar. 8. Sirkuit nonautonomous Chua.

Gambar. 6. Time series sirkuit autonomous Chua menggunakan MultiSIM

C

dvC = iL − g (vC ), dt di L L = − RiL − Rs iL − vC + Vs sin(2πft ). dt

(4)

dengan g (vC ) adalah karakteristik arus-tegangan non-linier dari resistor non-linier yang dirumuskan pada persamaan (2).

(a)Implementasi PCB sirkuit Chua

Gambar. 9. Implementasi sirkuit nonautonomous Chua menggunakan MultiSIM.

(b)Diagram fase (c) Time series Gambar. 7. Hasil eksperimen sirkuit autonomous menggunakan osiloskop.

Jika kita membandingkan hasil output dari ketiga metode analisis yaitu simulasi numerik Matlab, simulasi sirkuit MultiSim serta hasil Osiloskop hardware, maka terlihat adanya kesamaan karakteristik diagram fase dan time series secara kualitatif. Adanya sedikit perbedaan antara ketiga hasil tersebut disebabkan karena fenomena chaos sangatlah sensitif terhadap perubahan kondisi awal dan parameternya, dalam eksperimen hardware sangatlah sulit untuk dapat membuat semua parameter sesuai dengan simulasi karena adanya nilai toleransi dari tiap komponen elektronik.
III. DINAMIKA CHAOTIC SIRKUIT NONAUTONOMOUS

Pada bagian ini fokus kajiannya adalah pada sirkuit yang bersifat nonautonomous yang bergantung secara implicit terhadap waktu. Sirkuit yang akan digunakan tetap berbasis sirkuit Chua yang telah dimodifikasi. Sesuai hukum Kirchhoff maka diperoleh persamaan diferensial yang menggambarkan sirkuit Chua nonautonomous sebagai berikut [9],[10],

Terdapat dua variasi yang digunakan dalam menganalisis sirkuit nonautonomous berbasis Chua, yaitu dengan membuat variasi frekuensi dengan tegangan tetap, dan membuat variasi tegangan dengan frekuensi tetap[9],[10]. Pada Gambar. 10 diperlihatkan terjadinya fenomena bifurkasi yaitu perubahan atraktor pada diagram fase dari osilasi harmonic menjadi chaos, dan akhirnya kembali harmonic seiring perubahan parameter frekuensi sinyal generator. Sedangkan pada Gambar 11. diperlihatkan terjadinya fenomena bifurkasi yaitu perubahan atraktor pada diagram fase dari osilasi harmonic menjadi chaos, dan akhirnya kembali harmonic seiring perubahan parameter tegangan dari generator sinyal. Pengetahuan mengenai parameter terjadinya chaos sangat berguna ketika sirkuit nonlinier ini akan dikembangkan dan diaplikasikan dalam sistem keamanan komunikasi. Sirkuit nonlinier penghasil sinyal chaos dapat digunakan sebagai modulator sinyal informasi sehingga informasi yang ditransmisikan merupakan sinyal chaos dan berfungsi sebagai pengaman informasi tersebut. Sirkuit nonlinier juga telah banyak dikembangkan dalam teknologi sistem radar, sensor robotik, modulasi gelombang mikro pada perangkat oven, alat bantu pengajaran fisika nonlinier, sistem keamanan wireless, dan sistem keamanan informasi lainnya[11][12][13][14].

ISSN 0853-0823

232

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

(a) f = 29 Hz

(b) f = 26 Hz

(c) f = 23 Hz

(d) f = 17 Hz

(a) f = 29 Hz (b) f = 26 Hz (c) f = 23 Hz (d) f = 17 Hz Gambar. 10. Hasil simulasi diagram fase dan time series saat frekuensi generator sinyal divariasikan pada tegangan rms 1.5 volt.

(a) VS = 3 volt

(b) VS = 2 volt

(c) VS = 1 volt

(d) VS = 0.1 volt

(e) v VS = 3 volt

(f) VS = 2 volt

(g) VS = 1 volt

(h) VS = 0.1 volt

Gambar. 11. Hasil simulasi diagram fase dan time series saat tegangan generator sinyal divariasikan pada frekuensi tetap 23 Hz.

IV. KESIMPULAN

[5] [6] [7] [8] [9] [10] [11] [12] [13]

Dalam makalah ini telah dipelajari dan dilakukan simulasi baik secara numeric menggunakan Matlab, simulasi implementasi sirkuit menggunakan MultiSIM, serta hasil output eksperimen menggunakan osiloskop. Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan adanya kesesuaian kualitatif antara ketiga analisis tersebut. Fokus dari makalah ini adalah mengkaji sirkuit nonlinier berbasis sirkuit Chua, baik yang bersifat autonomous maupun nonautonomous yang keduanya menunjukkan pada parameter tertentu dapat menghasilkan fenomena sinyal yang chaos.
PUSTAKA
[1] [2] [3] [4] Alligood, K. T., Sauer, T. D., & Yorke, J. A., Chaos: An Introduction to Dynamical Sistems. Springer-Verlag, New York, 1996. T. Matsumoto, A chaotic attractor from Chua's circuit, IEEE Trans. Circuits Syst., CAS 31(12):1055|1058, 1984. M.P. Kennedy, Robust op amp implementation of Chua’s Circuit, Frequenz, vol.46, no.3-4, pp.66-80, 1992. M.P. Kennedy, Three steps to chaos-part I, Evolution, IEEE Transaction on Circuits and Sistems, vol.40, no.10, pp.640-656, October 1993.

M.P. Kennedy, Three steps to chaos-part II, A Chua's Circuit Primer, IEEE Transaction on Circuits and Sistems, vol.40, no.10, pp.657674, October 1993. L. O. Chua et al, A universal circuit for studying and generating chaos-part I : routes to chaos, IEEE Transaction on Circuit and Sistems, vol.40, no10, October 1993, pp.732-744. L. O. Chua et al, A universal circuit for studying and generating chaos-part II : strange attractors, IEEE Transaction on Circuit and Sistems, vol.40, no10, October 1993, pp.745-762. M. Sanjaya et al., Numerical and Experimental Simulation Nonlinear Chaotic Attractor of Chua Circuit, J.Oto.Ktrl.Inst (J.Auto.Ctrl.Inst) vol 3(1), 2011. M. Lakshmanan, & K. Murali, Eksperimental chaos from nonautonomous electronic circuit. Phil. Trans. R. Soc. Lond. A. 1995. 535, 33-46. K. Thamilmaran et al, Rich variety of bifurcations and chaos in a variant of Murali Lakshmanan Chua circuit, International Journal of Bifurcation and Chaos, vol. 10, No. 7 (2000) 1781-1785. J. C. Feng, & C. K. Tse, Reconstruction of Chaotic Signals with Applications to Chaos-Based Communications,. Tsinghua University Press dan World Scientific Publishing Co. Pte. Ltd., 2007. I. Pehlivan, & Y. Uyaroglu, Rikitake attractor and it’s synchronization application for secure communication systems. Journal of Applied Sciences, 7(2):232-236, 2007. T. H. Lee, and J. H. Park, Generalized functional projective synchronization of Chen-Lee chaotic sistems and its circuit implementation. International Journal of the Physical Sciences, Vol. 5(7), pp. 1183-1190, July 2010.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY [14] I. Pehlivan, Y. Uyaroglu, & M. Yogun, Chaotic oscillator design and realizations of the Rucklidge attractor and its synchronization and masking simulations. Scientific Research and Essays, Vol. 5(16), pp. 2210-2219, 18 August, 2010.

233

ISSN 0853-0823

234

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Perbandingan Teori Relativitas dan Teori Kuantum : Relevansinya dengan Pengajaran S1 Fisika
Arief Hermanto
Jurusan Fisika, FMIPA-UGM Sekip Utara, Yogyakarta arief_hermanto@ugm.ac.id

Abstrak – Kami membahas keadaan fisika saat ini yang ditandai dengan dominannya dua teori besar yaitu Teori Relativitas dan Teori Kuantum. Kedua teori itu sangat kuat dalam daerahnya masing-masing namun tidak mudah untuk digabungkan sehingga harus dilakukan studi perbandingan yang mendalam. Kesadaran akan hal ini sangat penting ditanamkan kepada para mahasiswa fisika. Kesimpulan kami adalah bahwa ternyata kontinum tetap melekat erat dalam fisika sehingga komputasi simbolik perlu digalakkan dalam pengajaran fisika. Kata kunci: Teori Relativitas, Teori Kuantum, Komputasi simbolik

I. PENDAHULUAN A. Dinamika Fisika Fisika adalah ilmu yang bersifat sangat dinamis. Secara sangat sederhana kita dapat menyatakan bahwa fisika berupa himpunan pernyataan (yang berbentuk kalimat, baik verbal maupun matematis) yang berkaitan dengan gejala-gejala dalam alam semesta atau alam semesta itu sendiri. Jadi, wujud fisika adalah himpunan kalimat. Tentu saja kalimatkalimat itu tidak saling lepas, melainkan saling berkaitan secara logis [1]. Fisika bersifat sangat dinamis dalam arti kalimat-kalimat yang menjadi anggota himpunan itu cepat sekali mengalami perubahan. Ada kalimat baru yang masuk menjadi anggota himpunan dan ada kalimat lama yang tidak lagi digunakan (dan boleh dianggap keluar dari himpunan). Dinamika fisika adalah dinamika keluar-masuknya kalimat-kalimat fisis terhadap himpunan kalimat sebagai perwujudan ilmu fisika itu. Ada aspek lain dari dinamika fisika selain dari kelajuan keluar-masuknya pernyataan atau kalimat fisis terhadap himpunan atau tubuh fisika seperti yang sudah disebutkan di atas. Aspek lain itu adalah ketegangan. Kalimat-kalimat yang menjadi anggota himpunan selalu dalam keadaan tegang karena di luar himpunan itu selalu ada banyak kalimat-kalimat lain yang siap dan selalu berusaha menggantikan. B. Fisika yang Sangat Mendasar Kalimat fisika mempunyai kekuatan yang sangat besar. Fisika adalah ilmu yang sangat mendasar. Kalimatkalimatnya berkaitan dengan pandangan dunia (world view) karena kalimat-kalimat itu dimaksudkan untuk menjelaskan penyusun dan interaksi paling mendasar dari seluruh materienergi yang mengisi jagad raya. Perubahan dalam fisika membawa perubahan pandangan dunia [2]. Begitu dalamnya akibat yang ditimbulkan perubahan dalam fisika sehingga banyak yang berpendapat bahwa ketika terjadi revolusi dalam fisika (misalnya perubahan dari Mekanika Newton menjadi Teori Relativitas) para tokoh fisika penganut paham lama tetap bertahan pada posisinya. Sangatlah berat bagi mereka untuk mengubah pandangan dunia yang tentu saja sudah mendarah-daging.

C. Pentingnya Pemahaman Dinamika Fisika Pengajaran S1 Fisika (yang diselenggarakan oleh Program Studi S1 Fisika) menghasilkan sarjana fisika yang sebagian di antaranya akan menjadi fisikawan dan sisanya (meskipun tidak berprofesi sebagai fisikawan) akan menjadi agen yang berpotensi sangat besar untuk membangkitkan apresiasi masyarakat terhadap fisika. Para mahasiswa dilatih untuk menguasai fisika secara teknis (yaitu memahami dan dapat menggunakan seluruh kalimat anggota himpunan sebagai perwujudan ilmu fisika). Namun yang juga tidak kalah pentingnya adalah pemahaman terhadap dinamika fisika yang sangat mendalam itu. Bagi sarjana fisika yang tidak berprofesi fisikawan, pemahaman itu merupakan suatu bentuk apresiasi yang sangat penting untuk kemudian disebarkan ke dalam masyarakat. Masyarakat sangat memerlukan apresiasi itu karena masyarakat yang modern dan global tidak dapat lepas dari teknologi canggih dan pandangan dunia yang beragam. Fisika merupakan dasar dan sarana fundamental untuk menghadapinya. Bagi sarjana fisika yang berprofesi sebagai fisikawan, dia akan berhubungan baik secara langsung maupun tidak langsung dengan pengembangan ilmu fisika. Pengembangan fisika berkaitan erat dengan dinamika fisika. Pembahasan dinamika fisika dari sudut pandang di luar fisika dilakukan dalam filsafat fisika, sedangkan pembahasan dari dalam dilakukan biasanya oleh para fisikawan sendiri dan sering disebut juga filsafat fisika, meskipun penggunaan istilah fisika filsafati mungkin lebih tepat. D. Tujuan Makalah ini Makalah ini membahas keadaan fisika saat ini dalam kaitannya dengan dinamika fisika dan relevansinya dengan pengajaran filsafat fisika atau fisika filsafati dalam Program Studi S1 Fisika. Seperti halnya bidang-bidang lain yang sejenis (misalnya geofisika, astrofisika) di mana istilahnya menyangkut dua ilmu dasar, filsafat fisika dapat dianggap sebagai cabang dari filsafat (yaitu bagian dari filsafat ilmu) atau cabang dari fisika (yang [mungkin] boleh disebut sebagai fisika filsafati). Kami membaca literatur dalam filsafat fisika untuk membahas keadaan fisika saat ini dalam kaitannya dengan dinamika fisika. Fisika saat ini dapat dicirikan dengan

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

235

dominannya dua teori besar yaitu Teori Relativitas dan Teori Kuantum. Kedua teori itu sangat kuat dalam daerahnya masingmasing, yaitu Teori Relativitas dalam dunia makro (kecepatan tinggi dan gravitasi kuat) dan Teori Kuantum dalam dunia mikro (ukuran kecil) [3]. Kedua teori ini nampaknya mengangkat kembali pertentangan yang sudah ada sejak jaman Yunani Kuno, yaitu antara kontinum dan diskret (atau atomistik). Teori Relativitas bertumpu pada ruang-waktu yang kontinum sedangkan Teori Kuantum bercirikan pada besaran-besaran fisika yang diskret (berkaitan dengan istilah kuantum). Ketika kita membahas gejala yang harus menggabungkan kedua teori itu (misalnya lubang hitam mikro yang melibatkan ukuran kecil dan gravitasi sangat kuat) ternyata kedua teori itu tidak mudah untuk digabungkan. Gravitasi kuantum yang sudah cukup lama digeluti para fisikawan ternyata tidak kunjung sampai pada perumusan yang memuaskan. Ketidak-rukunan dua teori besar tentu saja tidak mudah untuk diatasi. Kesadaran akan hal ini perlu ditanamkan kepada para mahasiswa fisika [4]. Mata kuliah Filsafat Fisika merupakan salah satu mata kuliah wajib dalam Program Studi S1 Fisika di UGM. Dalam makalah ini kami juga akan menyampaikan pengalaman ketika mengajarkannya dalam periode 20052011. II. TEORI RELATIVITAS DAN KUANTUM A. Diskret dan Kontinum Pengertian diskret dan kontinum dirasakan lebih mudah untuk dipahami jika dihubungkan dengan himpunan. Suatu himpunan disebut diskret (atau bersifat diskret) jika anggota-anggota himpunan itu dapat dikawankan satu-satu dengan anggota-anggota himpunan bilangan alam. Jadi, himpunan bilangan alam, demikian pula himpunan bilangan cacah bersifat diskret. Ternyata himpunan bilangan rasional juga bersifat diskret. Sebuah himpunan disebut suatu kontinum (atau bersifat kontinyu) jika anggota-anggota himpunan itu dapat dikawankan satu-satu dengan anggota-anggota himpunan bilangan real. Jika anggota-anggota himpunan bilangan alam dicoba untuk dikawankan dengan anggota-anggota himpunan bilangan real, maka ternyata ada tak berhingga banyak bilangan real yang tidak mempunyai pasangan. Itu berarti bahwa tingkat ketak-berhinggaan himpunan bilangan real lebih tinggi dari pada himpunan bilangan alam. Kita tak pernah bisa mengetahui apakah ada ketakberhinggaan lain di antara bilangan alam dan bilangan real. Asumsi bahwa hal itu tidak ada disebut Aksioma Pilihan (Axiom of Choice). B. Pengertian Teori dalam Fisika Di muka sudah disebutkan bahwa fisika adalah himpunan pernyataan atau kalimat yang berkaitan secara logis. Kaitan antara berbagai kalimat itu tidaklah sama kuatnya sehingga kalimat-kalimat anggota himpunan bisa dikelompokkan dalam beberapa kelompok yang disebut teori. Kalimat-kalimat atau pernyataan-pernyataan dalam teori berkaitan sangat erat. Setiap kalimat dapat dijabarkan secara logis dari beberapa kalimat yang lain. Dengan kata lain, setiap kalimat merupakan kesimpulan dari suatu

argumentasi dengan premis yang berasal dari teori itu sendiri. Ada satu pengecualian dalam hal ini yaitu adanya beberapa kalimat yang merupakan pangkal dari semua penjabaran. Kalimat-kalimat ini disebut postulat. Teori yang mapan mempunyai struktur logis yang cukup ketat seperti itu. Teori Relativitas Khusus mempunyai dua postulat yang sangat terkenal yaitu postulat tentang invariansi kelajuan cahaya dalam hampa dan postulat tentang kovariansi hukum-hukum fisika. Teori Kuantum juga mempunyai beberapa postulat. Dalam postulat Teori Relativitas kontinum masuk secara implisit lewat konsep kelajuan yang berkaitan dengan gerak dalam ruang-waktu yang kontinum. Dalam postulat Teori Kuantum diskret masuk lewat nilai-eigen yang cenderung bersifat diskret. Sebuah pernyataan dalam teori disebut benar dan bisa diterima jika memenuhi dua syarat. Pertama, kalimat itu harus dapat dijabarkan secara deduktif dari postulat-postulat teori itu. Kedua, kalimat itu harus cocok dengan kenyataan dalam alam yang diperoleh lewat eksperimen. Beberapa kalimat yang penting sering disebut hukum. Kalimat dalam teori dapat dinyatakan secara verbal maupun secara matematis. Sebagai contoh adalah persamaan yang sangat terkenal dalam abad 20, yaitu yang menyatakan kesetaraan antara energi dan massa bagi benda yang diam.

E = m0 c 2

(1)

Persamaan (1) di atas sebenarnya adalah sebuah pernyataan atau kalimat. Kebenarannya sudah dibuktikan secara deduktif dalam Teori Relativitas Khusus dan juga sudah terbukti secara eksperimen dengan sangat meyakinkan. C. Penggabungan Relativitas dan Kuantum Ketika bertemu dengan suatu gejala di mana beberapa aspek dari gejala itu memerlukan teori yang berbeda, maka dilakukanlah penggabungan dua teori atau lebih. Sebagai contoh adalah ketika berhadapan dengan gejala elektron yang bergerak dalam atom. Elektron itu bermuatan listrik dan bergerak dengan kecepatan tinggi. Aspek muatan elektron itu memerlukan Teori Elektromagnetika sedangkan aspek kecepatan yang sangat tinggi memerlukan Teori Relativitas. Penggabungan keduanya menghasilkan Teori Elektrodinamika. Karena elektron berukuran sangat kecil, maka memerlukan Teori Kuantum dan penggabungannya dengan Elektrodinamika menghasilkan Elektrodinamika Kuantum. Salah satu hasil perhitungan dalam Elektrodinamika Kuantum adalah momen magnet elektron. Perhitungan ini melibatkan integral yang nilainya tak-berhingga. Dengan menggunakan prosedur yang disebut renormalisasi, dari ketak-berhinggaan itu dapat diekstrak nilai yang berhingga. Hasil perhitungan ini sangat sukses karena kecocokannya dengan hasil eksperimen ternyata paling tinggi dibandingkan dengan pencocokan lain antara teori dan eksperimen, sehingga Elektrodinamika Kuantum merupakan salah satu teori terbaik dalam fisika. Keberhasilan Elektrodinamika Kuantum disusul dengan penggabungannya dengan gabungan Relativitas Khusus dan Teori Kuantum yang digunakan untuk menangani interaksi nuklir kuat dan interaksi nuklir lemah. Ketiga interaksi (nuklir kuat, nuklir lemah dan elektromagnet) sudah berhasil digabungkan. Tinggal satu langkah lagi dengan

ISSN 0853-0823

236

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

penggabungan interaksi gravitasi (yang identik dengan Relativitas Umum). Namun penggabungan Relativitas (Umum) dengan Kuantum yang biasa disebut (Teori) Gravitasi Kuantum ternyata tidak mudah. Kita bertemu dengan integral takberhingga yang tidak dapat direnormalisasikan. Kita bertemu dengan ketak-berhinggaan yang tak-tereduksi. Jika ada dua teori yang sangat kuat menolak untuk digabungkan, maka telaah penyebabnya harus dilakukan sampai ke dasar yang sangat dalam, dengan kata lain harus bersifat filsafati. D. Perbandingan Relativitas dan Kuantum Perbedaan atau kontras antara Relativitas dan Kuantum meliputi berbagai hal. Di antaranya ada beberapa hal yang utama sebagai berikut [5]. Teori Relativitas bersifat deterministik. Pengamat berada di luar sistem dan dapat melakukan observasi yang pada prinsipnya dapat diatur sedemikian rupa sehingga bisa diperoleh informasi akurat tentang sistem dalam keadaan tanpa pengamat. Relativitas adalah teori terakhir dalam deretan teori-teori klasik. Probabilitas yang kadang muncul di sini bukanlah berasal dari postulat dan hanya menggambarkan ketidak-tahuan pengamat. Probabilitas klasik bersifat dapat direduksi. Jika kita melempar dadu dan mengatakan bahwa keluarnya nilai tertentu dari mata dadu bersifat probabilistik, maka itu adalah karena kita tidak ingin membahas dinamika gerakan dadu itu dengan lebih rinci. Jika kita mempunyai waktu dan sarana komputasi yang cukup, maka probabilitas dalam pelemparan dadu itu akan dapat dihilangkan. Teori Kuantum bersifat non-determininistik. Probabilitas masuk lewat postulat dan melibatkan pengamat. Salah satu postulat menyatakan bahwa sebuah sistem kuantum yang berada dalam keadaan tertentu akan meloncat menuju ke salah satu keadaan-eigen secara probabilistik dan hal ini terjadi atas aksi pengamat terhadap sistem. Pengamat tidak bisa dipisahkan dari sistem. Pengamat tidak mungkin lagi mendapatkan informasi tentang keadaan sistem tanpa pengamat. Keadaan sistem tanpa pengamat tidak mempunyai arti dalam Teori Kuantum. Probabilitas dalam Kuantum bersifat fundamental dan tidak bisa direduksi. Perlu dicatat di sini bahwa ada beberapa interpretasi dalam Teori Kuantum. Relativitas seperti halnya teori-teori klasik lainnya tidak mempunyai masalah dalam interpretasi. Relativitas disebut sebagai bagian dari Fisika Modern hanya karena munculnya adalah pada abad 20, sedangkan pada hakikatnya dia adalah teori klasik. Interpretasi Kuantum yang dibahas di sini adalah Interpretasi Copenhagen. Interpretasi ini sebenarnya menjadi kurang populer akhir-akhir ini karena persaingan dengan interpretasi yang lain (misalnya Interpretasi Banyak Dunia atau Many World Interpretation). Namun di sini digunakan interpretasi ini untuk memperlihatkan kontras antara Kuantum dengan Relativitas secara lebih jelas. Dalam Relativitas pengamat berlaku sebagai penonton sedangkan dalam Kuantum pengamat harus ikut menjadi partisipan dalam tarian alam semesta. Relativitas bersifat lokal artinya jika ada dua peristiwa yang berhubungan secara kausal maka antara penyebab dan akibatnya harus terhubung dengan suatu sinyal dan sinyal yang paling cepat adalah gelombang elektromagnetik atau

cahaya. Hubungan kausal ini bersifat invarian. Teori Kuantum bersifat non-lokal artinya antara dua peristiwa bisa terjadi korelasi yang sifatnya melebihi cahaya atau superluminal. Kedua kontras itu bersifat saling menetralkan. Kedua teori itu bisa hidup berdampingan (tanpa kerja sama) secara damai. Pelanggaran kausalitas diimbangi dengan nondeterminisme. Korelasi super-luminal yang bersifat probabilistik masih dapat diterima. Kedua kontras ini tidak menimbulkan masalah yang berwujud matematis. Kontras ini bersifat filsafati. Relativitas bertumpu pada ruang-waktu yang kontinyu sedangkan Kuantum bermaksud mendiskretkan semua besaran fisika. Dalam sejarah sifat diskretisasi dari Kuantum inilah yang menandai kelahirannya. Pengamatan terhadap gejala pancaran radiasi benda hitam mengharuskan adanya kuantisasi terhadap energi. Ketika disusun formalisme yang bisa menghasilkan kuantisasi ternyata formalisme itu juga memunculkan probabilitas dan non-lokalitas. Kontras inilah (antara kontinyu dan diskret) yang muncul dalam wujud matematis, yaitu ketika formalisme pengkuantuman diterapkan terhadap relativitas, maka ruangwaktu yang bersifat kontinyu itu menyebabkan ketakberhinggaan yang tak bisa direduksi dengan prosedur renormalisasi. III. KONTINUM Aristoteles berpendapat bahwa alam semesta membenci keadaan vakum. Jika benda bersifat diskret yaitu tersusun atas atom-atom maka di antara atom-atom itu akan terjadi kevakuman. Karena hal itu harus dihindari maka ruang alam semesta harus terisi suatu kontinum yaitu eter. Pencocokan antara sebuah kalimat sebagai hasil deduksi dengan hasil eksperimen dilakukan dengan menggunakan bilangan. Dari teori dilakukan komputasi yang menghasilkan bilangan real sebagai nilai besaran fisis. Hasil pengukuran dalam eksperimen juga menghasilkan bilangan real. Kedua bilangan itu kemudian dibandingkan dan jika selisihnya masih di dalam toleransi kesalahan eksperimental maka kebenaran pernyataan itu dikuatkan. Komputer bersifat diskret sehingga pada dasarnya dia hanya bisa menghasilkan bilangan rasional. Jika komputer itu harus berhadapan dengan kontinum, maka kadang bertemu dengan bilangan yang tidak komputabel. Dalam pencocokan antara teori dengan eksperimen hal itu tidak menimbulkan masalah karena hasil eksperimen juga dibatasi oleh ketelitian alat sehingga hasil eksperimen sebenarnya juga bilangan rasional. Bilangan yang tidak komputabel hanya ada dalam simbol matematik dan ketika harus diwujudkan dengan komputer akan diaproksimasi dengan bilangan rasional. Aproksimasi ini pada prinsipnya dapat dilakukan sampai sejauh mungkin sesuai dengan ketelitian yang diperlukan sesuai dengan ketelitian alat eksperimental (yang bergantung pada kemajuan teknologi pada saat itu). Selain jalur aproksimasi yang ditempuh dalam komputasi numerik, komputer dapat menempuh jalur lain yaitu komputasi simbolik. Ketak-berhinggaan yang berkaitan dengan kontinum kadang tidak dapat diwujudkan dalam bentuk bilangan rasional, namun dapat dinyatakan dalam bentuk simbol matematik.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

237

Bahasa matematik dapat digunakan untuk membahas ketak-berhinggaan dan simbol-simbol yang digunakan hanya mencapai ketak-berhinggaan bilangan alam sehingga dalam komputasi simbolik komputer melakukan pengolahan terhadap simbol matematik dan dalam hal ini komputer dapat mengikuti bahasa matematik secara ketat. Sebagai contoh dapat dikemukakan di sini sebuah pembuktian bentuk persamaan elips dalam sistem koordinat polar. Dalam sistem koordinat Kartesian persamaan elips berbentuk ( x − c)2 y 2 (2) + 2 =1 a2 b yang kemudian berubah bentuk menjadi
r= A 1 + B cosθ

bahasa komputasi simbolik juga mencakup komputasi numerik secara terbatas dan lebih lambat. IV. PENGAJARAN FILSAFAT FISIKA Dalam kurikulum yang diberlakukan mulai 2005 Program Studi S1 Fisika di UGM memasang mata kuliah Filsafat Fisika sebagai wajib di semester 1. Bahan yang diajarkan meliputi logika secara singkat, pengertian teori dalam fisika dan sejarah perkembangan pemikiran mekanika mulai dari Aristoteles sampai Einstein. Dengan kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat memperoleh pemahaman tentang teori dalam fisika dan dinamikanya (dalam hal ini pertumbuhan dalam teori mekanika). Setelah mengajar dalam kurun waktu 2005-2011 ini kami berkesimpulan bahwa mata kuliah ini dapat memberikan perspektif (meskipun mungkin masih agak samar) kepada mahasiswa bahwa fisika sebenarnya bersifat sangat dinamis. Namun dirasa bahwa efektivitas akan bertambah jika mata kuliah ini diberikan lebih belakangan ketika mahasiswa sudah lebih matang. V. KESIMPULAN Kontinum (yang salah satu perwujudannya adalah himpunan bilangan real) nampaknya akan selalu melekat dalam fisika. Teori Kuantum yang pada awalnya bermaksud mendiskretkan besaran fisika (dengan menggunakan formalisme kuantisasi) ternyata juga tidak bisa melepaskan diri dari kontinum. Salah satu interpretasi yang sekarang cukup populer adalah Interpretasi Banyak Dunia. Dalam interpretasi ini kita berhadapan dengan banyak dunia. Dalam setiap dunia, semua besaran fisika bersifat diskret, namun banyaknya dunia ternyata membentuk himpunan bilangan real. Kita kembali berhadapan dengan kontinum. PUSTAKA
[1] [2] [3] J. Losee, A Historical Introduction to The Philosophy of Science, Fourth Edition, Oxford: Clarendon, 2001, pp. 158-176. E. Marquit, Philosophy of physics in general physics courses, Am. J. Phys., vol. 46, pp.784-788, August 1978. M. Longair, Theoretical Concepts in Physics, Cambridge: Cambridge, 2003, pp. 431-471. M. Eger, Hermeneutics as an approach to science, Science & Education, vol. 2, pp. 303-328, 1993. M. Sachs, Concepts of Modern Physics, London: Imperial College, 2007, pp. 106-115.

(3)

Pembuktian bahwa kedua bentuk persamaan (2) dan (3) identik dengan menggunakan komputasi numerik tidak akan pernah konklusif karena melibatkan himpunan bilangan real. Kita harus memeriksa bahwa setiap pasangan nilai bilangan real yang memenuhi persamaan (2) juga memenuhi persamaan (3). Akan tetapi dengan menggunakan bahasa matematik dan dengan bantuan komputasi simbolik maka pembuktian itu bisa konklusif karena hanya melibatkan simbol-simbol matematik yang diskret. > restart; > prop01:=((x-c)^2/(a^2))+(y^2/(b^2))=1; > x:=r*cos(theta);y:=r*sin(theta); > prop01; > simplify(%,trig); > r:=1/u; > prop02:=%%; > b:=sqrt(a^2-c^2);c:=epsilon*a;prop02; > u:=solve(prop02,u); > r:=1/(u[2]);
Gambar. 1. Contoh penggunaan komputasi simbolik

[4]

Pada Gambar 1 di atas disajikan contoh penggunaan komputasi simbolik dalam masalah pembuktian bentuk persamaan elips dalam sistem koordinat polar. Biasanya

[5]

ISSN 0853-0823

238

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Kajian Efisiensi Energi Tungku Sekam Padi untuk Media Tanam Jamur Tiram (Pleurotus otreatus)
Abdul Djamil Husin1, Irzaman1, Jajang Juansah1, Sobri Effendy2
1

Departemen Fisika FMIPA IPB, Kampus IPB Dramaga Bogor – 16680, Email : irzaman@yahoo.com 2 Departemen Geofisika dan Meteorologi FMIPA IPB, Kampus IPB Dramaga Bogor – 16680

Abstrak – Proses sterilisasi media jamur tiram terdapat tiga proses perpindahan panas yaitu konduksi, konveksi dan radiasi. Peristiwa konduksi terjadi saat energi kalor dari api tungku sekam ditransfer menuju drum. Alas drum merupakan bahan konduktor yang dapat mentransfer kalor dengan baik.peristiwa konveksi terjadi pada proses pemanasan air didalam drum sedangkan radiasi terjadi dari api tungku sekam yang meradiasikan panasnya kelingkungan sekitar. Semakin kecil massa air yang didihkan maka semakin kecil pula energi yang dibutuhkan sedangkan semakin tinggi suhu lingkungan maka semakin kecil energi yang dibutuhkan. Kebutuhan energi dan laju bahan bakar pada tungku sekam berpengaruh besar pada efisiensi dari bahan bakar sekam tersebut. Efisiensi terbesar pada proses sterilisasi media jamur tiram ini terjadi pada proses sterilisasi selama 6 jam yaitu mencapai 12,87 %. Penelitian ini menunjukkan bahwa tungku sekam dapat menggantikan bakar bakar dalam proses sterilisasi media jamur tiram.

Kata kunci :

Efisiensi energi, tungku sekam, media tanam, jamur tiram. yang dapat diperbarui dan terbarukan untuk mendukung pengembangan kawasan E3i (Energy, Economy and Environment) di Indonesia kelak di kemudian hari [4-7]. Tungku sekam telah terbukti dapat digunakan sebagai pengganti kompor minyak untuk kebutuhan sehari-hari, seperti memasak selain itu tentu kompor sekam juga dapat diaplikasikan untuk berbagai kegiatan lain, seperti untuk pemanasan dalam proses sterilisasi jamur tiram. Waktu pemanasan yang dibutuhkan untuk proses sterilisasi media tumbuh jamur dengan menggunakan tungku sekam lebih singkat dan lebih murah dibandingkan dengan kompor LPG. Di samping itu, pertumbuhan miselium dan massa jamur tiram yang dipanen menggunakan tungku sekam lebih baik dan lebih banyak karena suhu pemanasan mencapai 95oC, dibandingkan dengan kompor LPG yang suhunya hanya mencapai 85oC [8]. III. METODOLOGI A. Pembuatan media jamur tiram dan proses sterilisasi media Media jamur tiram dibuat dengan komposisi 100 kg serbuk gergaji, 16 kg dedek, 1 kg tepung jagung, 1 kg kapur. Media yang telah dikemas dalam bentuk baglog kemudian di sterilisasi. Teknik sterilisasi yang digunakan yaitu dengan menguapkan langsung dengan menggunakan drum. Media baglog yang sudah dibuat kemudian disusun di dalam drum dengan kapasitas 152 baglog. Baglog tersebut di kukus atau diuapkan (dikukus) selama 6 jam, 8 jam dan 10 jam dengan menggunakan tungku sekam dan kayu bakar sebagai pembanding. B. Pengukuran lama pendidihan air (pengukusan) dengan menggunakan tungku sekam dan kayu bakar Air yang digunakan untuk proses penguapan ini menggunakan air sebanyak 49,455 liter air (17,5 cm dari dasar drum yang berdiameter 60 cm). Pengukuran yang dilakukan yaitu menghitung massa sekam yang dipakai selama proses penguapan sehingga dapat diketahui laju bahan bakar yang digunakan pada masing-masing bahan bakar.

I. PENDAHULUAN Pemanfaatan energi terbarukan Indonesia diharapkan meningkat sebesar 13 kali dalam 25 tahun mendatang (terhitung 1996 – 2020), untuk memenuhi kebutuhan energi listrik dan energi terbarukan Indonesia yang akan meningkat sebesar 6 kali dalam periode yang sama Sumbangsih energi angin dan biomassa (sekam padi termasuk di dalamnya) terhadap ketersediaan energi nasional sangat nyata yakni sebesar masing-masing 4,38 MW dan 457,85 MW pada tahun 2020, yang dapat menyumbangkan sebesar 8 % dari kebutuhan energi nasional. Oleh sebab itu IPB perlu mengembangkan terkonologi hemat energi pedesaan betupa tungku sekam untuk budidaya jamur tiram (Pleurotus otreatus) [1-3]. Tujuan penelitian ini adalah pengembangan teknologi hemat energi pedesaan dan mengoptimalkan energi panas dari tungku sekam untuk peningkatan efisiensi energi dari budidaya jamur tiram (Pleurotus otreatus) yang murah dan hemat energi. II. TINJAUAN PUSTAKA Telah dirancang inovasi dan invensi berupa tungku sekam padi IPB berbentuk kerucut terbalik yang mampu menghasilkan efisiensi tungku yang tinggi (13% sampai dengan 23,5%). Tungku sekam terdiri dari dua bagian utama, yakni bagian kerucut dan bagian badan tungku. Bagian kerucut yang pada tungku sekam biasa dibuat dari pelat seng. Kemudian, di bagian tengah kerucut yang diletakkan dalam posisi terbalik tersebut terdapat sebuah kendi dari tanah liat yang bagian atas dan bawahnya berlubang, dan pada bagian tengah ruang kendi tersebut dipasang sebuah silinder yang seluruh sisinya telah dilubangi. Kendi tersebut berfungsi untuk meredam panas api agar proses pembakaran sekam efektif. Sedangkan silinder yang seluruh sisinya telah dilubangi tersebut berfungsi sebagai tempat pembakaran sekam. Proses api dalam sekam terjadi karena setiap bulir sekam padi yang turun secara gravitasi bumi menyentuh bara sekam melalui pengaturan suplai oksigen yang cukup. Inovasi dan invensi tungku sekam sangat tepat untuk digunakan sebagai penerapan teknologi berbahan bakar

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

239

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hubungan lama sterilisasi terhadap efisiensi bahan bakar sekam padi. Kebutuhan energi dan laju bahan bakar pada tungku sekam berpengaruh besar pada efisiensi dari bahan bakar

sekam tersebut. Tabel I menunjukkan hubungan lamanya sterilisasi terhadap efisiensi bahan bakar. Efisiensi terbesar pada proses sterilisasi media jamur tiram ini terjadi pada proses sterilisasi selama 6 jam pada ulangan kedua yaitu mencapai 12,87 %.

TABEL I. HUBUNGAN LAMA STERILISASI TERHADAP EFISIENSI BAHAN BAKAR
Ulangan Lama sterilisasi (Jam) 6 8 10 FCR (kg/hari) 116 176 126 162 144,8 134,4 Laju energi panas total (Qn) (kkal/hari) 46600 74760 44520 55320 37500 47220 HVf (kkal/kg) 3300 3300 3300 3300 3300 3300 Efisiensi bahan bakar sekam padi (%) 12,17 12,87 10,71 10,34 7,85 10,65

1 2 1 2 1 2

B. Hubungan lama sterilisasi terhadap produksi panen jamur tiram. Tabel II. menunjukkan hubungan lamanya sterilisasi (pengukusan) terhadap panen jamur tiram baik yang berasal dari tungku sekam maupun kayu bakar sebagai pembanding. Nampak dalam tabel bahwa pengukusan dengan tungku sekam selama 6 jam lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan pengukusan selama 8 jam dan 10 jam. Ini diduga dalam proses termodinamika semakin kecil massa air yang didihkan maka semakin kecil pula energi yang dibutuhkan sedangkan semakin tinggi suhu lingkungan maka semakin kecil energi yang dibutuhkan. Di samping itu, proses termodinamika dalam 6 jam sangat disukai pertumbuhhan jamur tiram terlihat dengan nilai efisiensi energi termal yang tinggi jika dibanding dengan 8 jam dan 10 jam. Produksi panen jamur tiram setiap sterilisasi (pengukusan) dengan kayu bakar lebih tinggi dibandingkan dengan tungku sekam padi. Ini diduga bahwa pertumbuhan miselium dan massa jamur tiram yang dipanen menggunakan tungku sekam belum mencapai suhu pemanasan optimum 95oC, karena ada kebocoran dalam drum pengukusan media tanam jamur tiram. Namun berdasarkan analisis biaya produksi setiap pengukusan tungku sekam padi sebesar Rp 30.000,- lebih murah dibandingkan dengan kayu baker sebesar Rp 60.000,-. Di samping itu sekam padi sangat melimpah dan belum termanfaatkan, sedangkan kayu baker persediaannya sangat sedikit dan dapat merusak limgkungan. Dengan demikian maka produksi panen jamur tiram menggunakan tungku sekam padi dalam pengukusannya sangat potensial untuk dikembangkan. TABEL II. HUBUNGAN LAMA STERILISASI (PENGUKUSAN) TERHADAP PRODUKSI PANEN JAMUR TIRAM. Tungku sekam Kayu bakar 6 8 10 6 8 10 jam jam jam Jam jam jam Massa 14,5 12,5 10 26 22 15 panen (kg)

V. KESIMPULAN Analisis biaya produksi setiap pengukusan tungku sekam padi sebesar Rp 30.000,- lebih murah dibandingkan dengan kayu bakar sebesar Rp 60.000,-. Di samping itu sekam padi sangat melimpah dan belum termanfaatkan, sedangkan kayu bakar persediaannya sangat sedikit dan dapat merusak lingkungan. Penelitian ini menunjukkan bahwa tungku sekam dapat menggantikan bakar bakar dalam proses sterilisasi (pengukusan) media jamur tiram. PUSTAKA
[1] [2] BPP Teknologi, Tantangan dan Peluang Pembangunan Energi dan Tenaga Listrik, Elektro Indonesia, BPP Teknologi no. 13, 1996. Ismet, I., A. Sopandi dan H. Sopyan, Fabrikasi Model Surya dan Peluang Bisnis, Prosiding Pertemuan Ilmiah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Bahan’99, Serpong, hal. 29 –31,1999. Oemry, A., Silicon Solar Cell in Indonesia, Proceedings International Conference of Japan-Indonesia Joint Seminar on Photovoltaics, ITB Bandung, pp. P2.1 – P2.3, 1997. Irzaman, H. Alatas, H. Darmasetiawan, A. Yani dan Musiran,Tungku Sekam Padi sebagai Energi Alternatif dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat (Kajian Ekonomi dan Finansial Tungku Sekam Padi : Skala Rumah Tangga), Laporan Kegiatan Pengembangan IPTEK. Institut Pertanian Bogor, 2007. Irzaman, H. Darmasetiawan, H. Alatas, Irmansyah, A.D. Husin, M.N. Indro. Workshop on Renewable Energy Technology Applicaitons to Support E3i Village, 22 – 24 July 2008, Jakarta Indonesia, 2008. Irzaman, H. Darmasetiawan, H. Alatas, Irmansyah, A.D. Husin, M.N. Indro, H. Hardhienata, K. Abdullah, T. Mandang, S. Tojo, Optimization of Thermal Efficiency of Cooking Stove with Rice-Husk Fuel in Supporting the Proliferation of Alternative Energy in Indonesia, Proceeding Symposium on Advanced Technological Development of Biomass Utilization in Southeast Asia, page, Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT), Japan, pp. 40 – 43, 2009. Husin, A.D., M. Misbakhusshudur, Irzaman, Jajang Juansah, Sobri Effendy, Pemanfaatan dan Kajian Termal Tungku Sekam untuk Penyulingan Minyak Atsiri dari Daun Cengkeh sebagai pengembangan Produksi dan Energi Alternatif Terabrukan, Prosiding Seminar Sains MIPA IPB III, hal. 364 – 372, 2010. Desna, R.D. Puspita, Irzaman. A.D. Husin. Tungku Sekam sebagai bahan baker alternatif pengganti LPG pada sterilisasi media jamur tiram. Presented Seminar Nasional Bioenergi, SBRC LPPM IPB, Desember 2009.

[3]

[4]

[5]

[6]

[7]

[8]

ISSN 0853-0823

240

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Penumbuhan dan Karakterisasi Lapisan Tipis Tio2 yang Disiapkan dengan Teknik Spin Coating
(1)

Bilalodin dan (2)Mukhtar Effendi

1. bilalodin.unsoed@gmail.com 2. mukhtar.effendi@gmail.com Program studi Fisika, Jurusan MIPA Fakultas Sains dan Teknik Jl. Dr. Soeparno No. 61 Karangwangkal Purwokerto

Abstrak – Telah berhasil ditumbuhkan film tipis TiO2 menggunakan teknik spin coating. Film tipis dibuat dari bubuk TiO2 menggunakan pelarut aquades. Bubuk TiO2 dan aquades diaduk menggunakan magnetic stirer selama 1 jam untuk mendapatkan larutan yang homogen. Film tipis ditumbuhkan diatas substrat silikon dan kaca menggunakan teknik spin coating. Sifat fisis film tipis di karakterisai menggunakan X-Ray Diffraction (XRD) dan Scanning Electron Microscopy (SEM). Hasil karakterisas XRD menunjukkan bahwa struktur Kristal film tipis TiO2 berbentuk tetragonal dengan sistem berbentuk anastase. Berdasarkan perhitungan parameter kisi menggunakan metode Chohen diperoleh parameter kisi film tipis pada subtrat silikon adalah a=b= 3.859 Å dan c= 9,704 Å.Sedangkan pada subtrat kaca diperoleh a=b= 3.893 Å dan c= 9,784Å. Hasil karakterisasi menggunakan SEM menunjukkan bahwa film tipis TiO2 memiliki bentuk grain size berbentuk bulat dengan ukuran 100 nm. Kata kunci : film tipis TiO2, spin coating, XRD dan SEM

I. PENDAHULUAN Meskipun sudah dikenal lama, namun lapisan tipis TiO2 yang bersifat semikonduktor tetap sangat menarik untuk diteliti karena bermacam macam pengunaan diantaranya: sebagai elektrokhromik, photokatalistik dan sensor [1]. TiO2 yang didoping dengan logam Fe, Nb, dan Ce dapat dimanfaatkan sebagai sensor gas [2]. Pembuatan atau fabrikasi TiO2 yang paling dasar untuk aplikasi tersebut adalah dalam bentuk film tipis. Fabrikasi film tipis pada saat ini memungkinkan kegunaannya yang begitu luas, mengingat sifat-sifat bahan dari film tipis dapat dimodifikasi sesuai dengan divais yang diinginkan. Oleh sebab itu pembuatan lapisan tipis TiO2 terus dilakukan guna mendapatkan karakteristik film yang lebih baik. Beberapa metoda yang dapat digunakan pembuatan lapisan tipis TiO2 adalah seperti : Pulsa Laser Ablation (PLAD), puttering, dan Chemicel Deposition Solution (CDS) [3]. Metode CDS cukup baik karena kontrol yang baik pada stoikiometri, mudah dibuat dan dapat dilakukan pada suhu kamar[4]. Pada penelitian ini lapisan tipis TiO2 ditumbuhkan dengan metode CDS kemudian diproses lebih lanjut dengan teknik Spin coating. Lapisan tipis dikarakterisasi mengunakan difraksi sinar X dan Scanning Electron Microscopy (SEM) untuk mengetahui struktur kristal dan morfologi permukaan film. II. METODE PENELITIAN Bahan yang digunakan adalah serbuk TiO2, substrat kaca (corning), silikon, metanol, akuades. Alat yang digunakan, gelas ukur 100 ml, pengaduk, pipet, crucibel alumina, Spin Coating, Hotplate, Furnace, SEM (Scanning Electron Microscopy ), XRD (X-Ray Difraction) dan EDX (Energy Dispersive X-Ray Spectroscopy). Pembuatan lapisan tipis adalah sebagai berikut: langkah pertama ádalah pembuatan larutan TiO2 0,25M dengan menggunakan pelarut aquades. Larutan diaduk selama 1 jam untuk memperoleh larutan yang homogen[5]. Langkah selanjutnya adalah proses pembentukan film tipis, yaitu dengan mengambil 4 tetes larutan TiO2 untuk diteteskan

pada substrat kaca (corning) dan silikon yang sudah ditempatkan pada alat spin coating, kemudian substrat yang sudah terdapat larutan tersebut diputar dengan putaran 2500 rpm. Setelah dilakukan proses spin coating, langkah selanjutnya adalah melakukan pemanasan awal (pra annealing) dengan menggunakan hotplate dengan suhu 110o selama 30 menit. Langkah terakhir adalah dilakukan pemanasan (annealing) dengan menggunakan furnace dengan suhu 600 ºC dan 700 oC selama 1 jam. Karakterisasi komposisi kimia dari lapisan tipis dilakukan menggunakan EDX, struktur kristal dilakukan dengan menggunakan XRD dan morfologi permukaan menggunakan SEM [6,7]

III. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pola difraksi lapisan TiO2 ditunjukkan pada Gambar 1 dan 2. Hasil XRD menunjukkan bahwa lapisan tipis TiO2 yang terbentuk bersifat polikristal. Hal ini diindikasikan dengan banyaknya puncak yang terbentuk. Hasil XRD menunjukan intensitas tertinggi terjadi pada

sudut 2 θ = 25,5 dengan bidang kristal (101). Film tipis TiO2 yang terbentuk masih terdapat daerah yang berupa amorf yang diindikasikan puncak-puncak yang belum nampak. Tabel 1. Nilai parameter kisi lapisan tipis TiO2 pada temperatur Annealing 600 oC dan 700 oC Subtrat Silikon (Si) Kaca(Corning) a=b ( Ǻ ) 3,859 3,893 c(Ǻ) 9,704 9,784

Nilai konstanta kisi yang dihitung berdasarkan metode Cohen diperlihatkan pada Tabel 1. Hasil perhitungan parameter kisi film tipis TiO2 yang ditumbuhkan diatas substrat corning maupun silikon memiliki nilai yang hampir sama dengan data parameter kisi ICDD ( International Centre for Diffraction Data ) untuk TiO2

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

241

dimana a = b= 3,785 Ǻ dan nilai c = 9,514 Ǻ. Hasil tersebut juga sesuai dengan hasil yang dilakukan oleh [8].
( 101)

( 004)

( 200)

( 1105) (211) ( 103) ( 112)

(b)
Gambar 3. Morfologi permukaan film tipis TiO2 diatas substrat corning pada temperatur annealing (a) 600 oC dan (b) 700 oC.

Gambar 1. Hasil XRD film tipis TiO2 di atas Substrat silikon pada temperatur annealing 600 0C.

2 theta

IV. KESIMPULAN Lapisan tipis TiO2 dapat ditumbuhkan dengan baik pada subtrat kaca ( corning) dan sikon pada konsentrasi 0,25 M. Hasil karakterisas XRD menunjukkan bahwa struktur Kristal film tipis TiO2 berbentuk tetragonal dengan sistem berbentuk anastase. Berdasarkan perhitungan parameter kisi menggunakan metode Chohen diperoleh parameter kisi film tipis pada substrat silikon adalah a=b= 3.859 Å dan c= 9,704 Å. Sedangkan pada subtrat kaca diperoleh a=b= 3.893 Å dan c= 9,784Å. Sedangkan hasil karakterisasi menggunakan SEM menunjukkan bahwa film tipis TiO2 memiliki bentuk grain size berbentuk bulat.. dengan ukuran 100 nm. PUSTAKA

( 101)

( 004) ( 103) ( 112) ( 20001) (105) (211)

Gambar 2. Hasil XRD film tipis TiO2 di atas substrat corning pada temperatur annealing 600 0C.

2 theta

Hasil Scaning Electron Microscopy (SEM) film tipis TiO2 di atas substrat corning dan silikon yang ditunjukkan pada Gambar 3a dan 3b. Berdasarkan Gambar 3a dan 3b. memperlihatkan bahwa peningkatan temperatur annealing hanya sedikit merubah ukuran butiran (grain size). Pada temperatur annealing 600 oC maupun 700 oC memiliki butiran berbentuk bulat dengan ukuran yang beragam, hal ini diperkuat oleh hasil XRD yang memunculkan banyak puncak. Pada temperatur annealing 700 oC memiliki butiran dengan ukuran yang lebih seragam dengan ukuran 100 nm.

[1] Fujishima, R.C. 1997. Biochemical application of TiO2 photochatilysis. Tokyo: The University Of Tokyo. [2] Sotter, E., X. Vilanova, E. Liobet, M. Stankova. 2005. Correig, Niobium Doped Titanium Nanopowder for gas sensor Applications. Journal of Optoelectronics and Advanced Material Vol.7. No.3. pp. 1395-1398 [3] Iriani, Y, M. Hikam dan Irzaman. 2005. Analisa struktur Kristal dan Kompisisi Lapisan Tipis Ba0,5Sr0,5TiO3 yang disiapkan dengan Spin Coating. 3rd kentingan physics forum. Sharing ideas, developing skills and building network. [4] Bilalodin, 2004. Pembuatan dan Karakterisasi Film Tipis PbTiO3. Makalah Seminar Hasil Penelitian Dosen. Purwokerto. [5] Sutanto, H. 2009. Deposisi Lapisan Tipis (TiO2) di Atas Subtrat Gelas Dengan Metode Sol-Gel Teknik Spin Coating & Spray-Coating. Workshop Nanomaterial, UNDIP, Semarang 17-19 November 2009. [6] Culity, B.D. 1978. Elements Of X-Ray Diffraction. Massachusets: Addison Wesley Publishing Company Inc. [7]. Siswosuwarno, M, 1996. Scaning Electron Microscopy Sebagai Salah Satu Teknik Pemeriksaan Material, Seminar on Advances in Material Research and Develompment, Bandung. [8] Hemissi, M, dan H.A. Adnani. 2007. Optical and Structural Properties Of Titanium dioxide Thin Films Prepared By Sol Gel Methode. Journal Of Nanomaterials and Biostructure. Vol.2. no 4, pp 299-305.

(a)

ISSN 0853-0823

242

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Prototipe Pemanas Air Tenaga Surya Menggunakan Reflektor Sebagai Penampung Kalor
Agus Yanto
Program Studi Fisika, Fakultas Sains dan Teknik Universitas Jenderal Soedirman Abstrak- Pada penelitian ini telah dihasilkan prototipe pemanas air tenaga surya dengan membuat pipa pembawa air dalam bentuk spiralplanar yang disusun dalam kotak. Penyerapan kalor dari cahaya matahari dibantu dengan membalurkan benda hitam berupa campuran karbon-semen pada pipa. Pemberian campuran semen dengan karbon ternyata hanya menghasilkan daya sebesar 0,075 kW. Untuk meningkatkan daya pada pemenas, pada penelitian ini juga dilakukan modifikasi dengan cara memasang lensa-lensa cembung di atas permukaan pemanas sebagai alat pengumpul cahaya matahari. Hasil yang diperoleh adalah suhu air dalam tandon naik sebesar 0,001 oC dalam setiap detik, dan laju panas yang ditransfer dari bahan karbon cemen pada air sebesar 0,0869 kW. Dengan bantuan lensa cembung dapat meningkatkan sedikit daya prototipe pemanas air tenaga surya yaitu sekitar 15,9 %.

I. PENDAHULUAN Tandon air dengan pipa-pipa salurannya merupakan instalasi air yang banyak dijumpai di rumah-rumah. Pengalaman sehari-hari membuktikan bahwa aliran air yang dikucurkan dari kran selalu diawali oleh aliran air yang memiliki panas cukup tinggi. Namun aliran air panas ini hanya berlangsung sesaat dan aliran air selanjutnya akan terasa sejuk biasa. Hal ini menunjukkan bahwa air yang tertampung disepanjang instalasi pipa mampu menyimpan energi panas. Hipotesis penulis merujuk pada kesimpulan, bahwa aliran air panas sesaat ini berasal dari air yang tesimpan di dalam pipa yang memperoleh energi panas dari semen beton yang menutupi pipa tersebut. Sedangkan panas di dalam semen beton berasal dari cahaya matahari yang menyinari permukaaan semen beton melalui mekanisme konduksi kalor (Halliday, 1985). Timbul gagasan penulis untuk merancang pemanas air yang memanfaatkan energi panas surya. Pada tahap awal digunakan campuran karbon+ cemen sebagai penampung energi, sedangkan pada penelitian pengembangan ditambahkan susunan lensa cembung diatas lapisan adukan semen+karbon. Tujuan penelitian adalah merancang prototipe pemanas air tenaga surya dengan memanfaatkan sifat lensa cembung sebagai alat pengumpul cahaya matahari, sehingga dapat mempertukarkan cahaya matahari menjadi energi panas pada air lebih optimal II. METODE PENELITIAN Penelitian dilakukan di laboratorium Fisika Eksperimen Program Studi Fisika, Fakultas Sains dan Teknik Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto pada bulan Mei sampai Agustus 2010. Katagori penelitian termasuk eksperimental dengan suhu air dalam tandon dan waktu sebagai parameter pengukuran. Rancangan penelitian meliputi: (i) Mempersiapkan prototipe pemanas air hasil penelitian awal. Pemanas berupa kotak logam yang didalamnya ditempatkan pipa tembaga berbentuk spiral planar (Gambar 1.a) yang ditutupi dengan adukan cemen+karbon yang berfungsi sebagai penampung kalor (Gambar 1.b). (ii)

Gambar 1. (a) Instalasi pipa tembaga di dalam kotak pemanas air tenaga surya dan (b) instalasi pemanas yang telah ditutup adukan karbon+cemen.

(iii) Membuat kisi-kisi dari pelat baja sebagai tempat menyusun lensa-lensa cembung (Gambar 2.a). Keempat kaki-kaki kisi di las pada tepi kotak pemenas, jarak tinggi kaki-kaki kisi sama dengan jarak rata-rata fokus lensa sehingga cahaya matahari terfokus di atas permukaan lapisan semen+karbon.

Gambar 2. (a) susunan lensa cembung dalam rangka logam dan (b) penempatan lensa di atas permukaan pemanas.

(ii) Pengujian kinerja pemanas adalah dengan mengukur suhu air dalam tandon dalam setiap 15 menit. Data yang diperoleh dalam bentuk grafik disajikan pada Gambar 3.

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

243

Dari keempat data di atas, nilai rata-rata B = 0,001036 o C/sekon, Dengan demikian kinerja pemanas dapat dihitung dengan menggunakan persamaan P = 4,193 m B kJ/s dimana m menyatakan massa air dalam tandon. Dalam penelitian ini massa air dalam tandon 20 kg sehingga nilai P = 0,0869 kJ/s. Pada penelitian awal, kinerja prototipe pemanas air adalah P = 0,0755 kJ/s. Artinya dengan menambah lensa cembung pada permukaan pemanas dapat meningkatkan kinerja pemanas sebesar 0,0114 kJ/s atau 15,1%. IV. KESIMPULAN Telah dilakukan modefikasi sebuah prototipe pemanas air tenaga surya, yaitu dengan menempatkan cermin cembung di atas permukaan lapisan karbon+semen seperti pada gambar 4. Dapat disimpulkan bahwa dengan menambahkan lensa cembung pada protipe pemanas air hasil penelitian tahap awal; (i) kinerja pemanas dapat meningkat sebesar 15,1% (ii) transfer energi panas tersebut dapat menaikan suhu air dalam tandon sebesar 0,001 °C dalam setiap detik.

Gambar 3. Grafik yang menunjukkan profil kenaikan suhu selama pengukuran pada bulan basah. Pengujian pemanas air, berdasarkan kenaikan suhu air dalam tandon diukur setiap ¼ jam. (a) Tanggal pengamatan 24 s/d 26 Juli 2010; (b) Tanggal pengamatan 9 s/d 21 Agustus 2010.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN Skema prototipe pemanas air tenaga surya disajikan pada Gambar 4. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada; DIKTI, Lembaga Penelitian Universitas Jenderal Soedirman, dan Wihantoro atas kerjasama team dalam menyelesaikan penelitian ini. PUSTAKA
[1] [2] Gambar 4. Prototipe pemanas dengan lensa-lensa cembung di atas permukaan karbon+cemen sebagai penguat intensitas cahaya matahari. Brian Yulianto. Alternatif Sumber Energi Masa Depan di Indonesia. Sumber Berita Iptek, 16 Februari 2006. Direktorat Teknologi Energi BPPT. Peranan Energi dalam Menunjang Pembangunan Berkelanjutan, Publikasi Ilmiah. Jakarta 1995. Suryo W.P. dan Rochim Armando. Seri Teknologi Tepat Guna “Membuat Kompor tanpa BBM”. Penebar Swadaya, Jakarta 2005. Lilik Hendrajaya. 2003. Pengembangan Riset IPTEK Studi Kasus Pengembangan Riset Fisika Kementrian Riset dan Teknologi Deputi Bidang Perkembangan RIPTEK. Seminar Nasional, Universitas Negeri Semarang Jean R dan Wilson W.W. 2003. Gelisah Akan Tragedi Sel Surya. Kompas, 20 Desember 2003 Ted. J. Jansen. 1995. Teknologi Rekayasa Surya, Ryerson Polytechnical Institute. Prentice-Hall, Inc, Englewood, New Yersey 1995. Halliday Resnick, 1978, Fisika, Institut Teknologi Bandung, 1978. Mark W. Zemansky, Ph.D dan Richard H Dittman, Ph.D., 1986, Kalor dan Termodinamika, Penerbit ITB Bandung, 1986.

[3] [4]

Untuk keperluan perhitungan, hubungan suhu air dalam tandon dan dengan waktu pengamatan pada Gambar 2 disajikan kembali padab Tabel 1. Sehingga masing-masing fungsi θ = Bt + θo memberikan nilai B.

[5] [6]

TABEL 1. BEBERAPA BESARAN SUHU (θ) SEBAGAI FUNGSI DARI WAKTU (T) PADA BULAN DAN KEADAAN CUACA SAAT PENGAMATAN, DENGAN KONSTANTA B YANG BERSESUAIAN. No. 1. 2. 3. 4. θ = Bt + θo (oC) θ = 0,0630 t + 30,325 θ = 0,0643 t + 29,739 θ = 0,0607 t + 24,489 θ = 0,0606 t + 24,781 Tanggal Pengamatan 24 Juli 2010 26 Juli 2010 06 Sep 2010 18 Sep 2010 B (oC/menit) 0,0630 0,0643 0,0607 0,0606

[7] [8]

ISSN 0853-0823

244

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

Pengamatan Fenomena Surface Plasmon Resonance pada Permukaan Lapisan Tipis Perak Menggunakan Laser dengan Panjang Gelombang Berbeda dalam Konfigurasi Kretschmann
1

Almaratus Sholihah Rifqi Rufaida1, Kamsul Abraha2

a_toes2@yahoo.com, 2kamsul@ugm.ac.id, kamsoel@yahoo.com Laboratorium Fisika Zat Padat, Jurusan Fisika FMIPA UGM Sekip Utara, Yogyakarta 55281

Abstrak – Telah dilakukan pengamatan fenomena surface plasmon resonance (SPR) pada lapisan tipis perak yang telah dideposisikan pada prisma. Pengamatan dilakukan dalam konfigurasi Kretschmann dengan menggunakan dua sumber cahaya laser yang mempunyai panjang gelombang berbeda. Dengan menggunakan teknik attenuated total reflection (ATR), terlihat adanya penurunan intensitas (dip) saat berkas laser mengenai prisma. Hal ini mengkonfirmasi munculnya fenomena SPR pada bidang batas prisma-lapisan tipis perak. Dengan memvariasi ketebalan lapisan, terlihat adanya perbedaan penurunan intensitas. Dari kajian ini telah diperoleh ketebalan lapisan dan sudut SPR secara berturut-turut untuk 3 variasi ketebalan yaitu: 68 nm dan 46,67o+ 0,05o; 71 nm dan 46,67o+ 0,05o; 82,5 nm dan 46,40o+ 0,05o. Hasil yang diperoleh dari kurva SPR menunjukkan bahwa untuk lapisan yang semakin tebal, maka nilai reflektansi yang dihasilkan akan semakin besar. Sedangkan untuk variasi panjang gelombang laser, dengan ketebalan yang sama yaitu 61,9 nm, diperoleh hasil sebagai berikut: untuk laser merah (laser He-Ne) dengan panjang gelombang 632,8 nm diperoleh sudut SPR 47,10o+ 0,05o, dan untuk laser hijau (laser zat padat) dengan panjang gelombang 532 nm diperoleh sudut SPR 47,50o+ 0,05o. Hasil ini sesuai dengan kurva resonan untuk variasi ketebalan panjang gelombang laser yang diperoleh oleh peneliti lain, bahwa untuk panjang gelombang sinar laser yang semakin kecil, sudut SPR bergeser ke nilai sudut datang yang lebih besar. Kata kunci: surface plasmon resonance (SPR), attenuated total reflection (ATR), laser, konfigurasi Kretschmann

I. PENDAHULUAN Fenomena surface plasmon (SP) telah ditemukan pada tahun 1957 dan sejak itu banyak studi yang telah dilakukan terhadap sifat-sifat fundamental dan aplikasinya. Resonansi SP telah digunakan untuk menghasilkan beragam variasi sensor optik. Suatu SP dapat dihasilkan melalui interaksi antara elektron pada berbagai macam permukaan, seperti pada sebuah logam, dengan sebuah muatan partikel atau dengan sebuah foton. Hal ini merupakan osilasi terkuantisasi kolektif dari elektron konduksi dekat permukaan logam atau semikonduktor. SP dapat dihasilkan dalam lapisan tipis dengan menggunakan konfigurasi di mana cahaya masuk pada lapisan dari suatu medium dengan indeks bias lebih besar dari 1. Dalam penelitian ini yang digunakan adalah metode ATR (Attenuated Total Reflection) dengan konfigurasi Kretschmann (Gambar. 1).

Gelombang SP adalah gelombang elektromagnetik berpolarisasi-p atau transverse magnetic (TM) yang merambat sepanjang bidang batas dua medium berbeda (logam-dielektrik). SP secara efektif dapat dihasilkan pada unsur logam maupun semikonduktor ketika dimensi partikel lebih kecil daripada setengah panjang gelombang cahaya yang mengenai partikel [3]. Total Internal Reflection (TIR) adalah fenomena optik saat cahaya sinar menembus batas medium dengan sudut datang lebih besar daripada sudut kritis saat ia mengenai permukaan. Saat terjadi TIR maka gelombang elektromagnetik yang terbiaskan mempunyai bentuk gelombang bidang dengan amplitudo meluruh secara eksponensial saat ia menjauhi bidang batas kedua medium yg disebut sebagai gelombang evanescent (Gambar. 2). Perilaku gelombang ini persis sama dengan perilaku gelombang SP. Artinya yang akan beresonansi dalam fenomena SPR adalah kedua gelombang tersebut.

Gambar 1. Diagram skematik metode ATR dengan menggunakan Konfigurasi Kretschmann [1] Pada konfigurasi ini, cahaya masuk pada lapisan tipis melewati prisma dengan sudut datang yang lebih besar daripada s muncul hanya dalam sepersekian derajat putaran sudut datangnya. Selain itu, resonansi dapat diamati dengan menggunakan spektrometer untuk men-scan panjang gelombang sementara sudut datang dibuat konstan. Saat sudut SP dicapai, intensitas berkas terpantul secara dramatis berkurang karena adanya transfer energi ke lapisan tipis logamnya [2]. Gambar 2. Gelombang evanescent Medan gelombang evanescent mengambil bentuk

E = ( Ex , 0, Ez )ei ( kx x −ωt ) eikz H = (0, H y , 0)ei ( k x x −ωt ) eikz

(1) (2)

Gelombang bidang ini terlokalisir di bidang batas, artinya hanya boleh merambat pada bidang tersebut (sb-x),

ISSN 0853-0823

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY

245

sedangkan ke arah sb-z hanya berbentuk semakin kecil amplitudonya ketika makin menjauh dari bidang batas. Sedangkan ATR merupakan TIR tetapi medium udaranya ditukar dengan lapisan tipis logam sehingga jarak jangkau gelombang evanescent menjadi lebih pendek atau disebut mengalami attenuasi yang diakibatkan oleh indeks bias atau tetapan dielektrik logam yang merupakan bilangan kompleks [4]. Geometri ATR ditunjukkan pada Gambar 3.

II. METODE EKSPERIMEN A. Skema Langkah Kerja Penelitian (Gambar 5)

Gambar 3. Geometri ATR untuk lapisan logam tipis antara kaca prisma dan udara [3]

r12 =

ε ε
1

1

2

cos θ1 − n cos 2

2

cos θ1 + n cos θ 2
1 1 2 2

(3)

r23 =

cos θ 2 − ε cos θ 2 + ε

cos θ3 cos θ3
1/ 2

(4) Gambar 4. Skema langkah kerja penelitian (5) (6) (7) Pengambilan data dilakukan melalui dua tahap. Tahap pertama menggunakan laser merah (laser He-Ne) dengan memvariasi ketebalan lapisan tipis perak hasil deposisi pada prisma, sedangkan tahap kedua menggunakan laser merah (laser He-Ne) dan laser hijau (laser zat padat) untuk ketebalan lapisan yang sama. Proses pengambilan data dilakukan dengan menggunakan set-up SPR yang telah dirancang (Gambar 5). Sinar laser dilewatkan melalui dua buah polarisator yang salah satu sudutnya dibuat 45o. Lensa positif untuk memfokuskan sinar yang keluar. Selanjutnya sinar akan melewati beam splitter yang berfungsi membagi sinar menjadi dua bagian dengan intensitas sama yang akan ditangkap oleh laser beam receiver pertama (detektor 1) dan laser beam receiver kedua (detektor 2). Detektor 1 terletak sebelum sinar mengenai prisma, sedangkan detektor 2 letaknya setelah sinar mengenai prisma. Alat yang digunakan untuk menampilkan nilai tegangan yang terbaca adalah mikrokontroler ATMEGA 835. Dalam alat ini juga telah diatur agar nilai reflektansi dapat langsung diketahui, yaitu nilai tegangan D2 dibagi D1. Saat sinar mengenai prisma, divariasi sudut datangnya dengan memuta