P. 1
Pendekatan Dan Pembelajaran

Pendekatan Dan Pembelajaran

|Views: 90|Likes:

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Diah Fitri Wulandari on Jul 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/15/2013

pdf

text

original

BAB 3 PENDEKATAN BELAJAR DAN PEMBELAJARAN Pendekatan pembelajaran merupakan jalan yang akan ditempuh oleh guru dan

siswa dalam mencapai tujuan instruksional untuk suatu satuan instruksional tertentu. Pendekatan pembelajaran berfungsi sebagai penjelas untuk mempermudah bagi para guru memberikan pelayanan belajar dan juga mempermudah bagi siswa untuk memahami materi ajar yang disampaikan oleh guru, dengan memelihara suasana pembelajaran yang menyenangkan. Ada banyak sekali pendekatan yang dapat di terapkan dalam proses pembelajaran, diantaranya adalah sebagai berikut. 3.1 Pendekatan Tingkah Laku (Behavioristik) Menurut teori behavioristik, belajar merupakan perubahan tingkah laku hasil interaksi antara stimulus dan respon, yaitu proses manusia untuk memberikan respon tertentu berdasarkan stimulus yang dating dari luar. Teori behavioristik sangat menekankan pada hasil belajar, yaitu perubahan tingkah laku yang dapat di lihat, dan tidak begitu memperhatikan apa yang ada di dalam otak manusia karena hal tersebut tidak dapat di lihat. Seseorang di anggap telah belajar sesuatu jika ia mampu menunjukan perubahan tingkah laku. Untuk memperoleh hasil berlajar yang di inginkan, selain manipulasi stimulus, ada factor lain yang berpengaruh yaitu faktor penguatan. Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon. Penguatan dapat di tambahkan dan di kurangi untuk memperoleh respon yang semakin kuat ataupun semakin lemah. Pada teori ini guru bertindak sebagai pengendali dalam pembelajaran, dan akan memberi pujian/hadiah kepada siswa yang berhasil dan akan menghukum (dengan memperhatikan kehidupan anak secara vertika dan horizontal) kepada siswa yang melakukan pelanggaran. Kelemahan teori ini adalah siswa dapat berada dalam situasi dimana rangsangan (stimulus) atas jawaban yang benar tidak tersedia. Misalnya, siswa harus belajar membedakan antara barbagai jenis bola tetapi tidak semua jenis bola tersedia. Sedangkan kekuatannya adalah siswa di fokuskan pada tujuan yang jelas sehingga dapat menanggapi secara otomatis. Misalnya, setelah siswa belajar tentang berbagai jenis bola di harapkan siswa mampu menjelaskan perbedaan dari berbagai jenis bola tersebut. 3.2 Pendekatan Kostruktivisme Kostruktivisme merupakan landasan berfikir secara kontekstual, dimana pengetahuan di bangun sedikit demi sedikit, yang hasilnya di perluas melalui konteks yang terbatas dan tidak dengan tiba-tiba.manusia harus mengkonstruksi pengetahuan dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Siswa perlu di biasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide, yaitu siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Esinsi dari teori konstruktivisme adalah ide bahwa siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu imformasi kompleks ke situasi lain, dan apa bila di kehendaki imformasi itu menjadi milik mereka sendiri. Dengan dasar ini pembelajaran harus di kemas menjadi proses mengkonstruksi bukan menerima pengetahuan. Dalam pandangan kostrukivisme, strategi memperoleh lebih di utamakan di bandingkan dengan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan.

Untuk itu, tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut adalah dengan:

1. 2. 3.

Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa Memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar 3.3.Pendekatan Student Center Learning (SCL) Student Center Learning (SCL) merupakan pendekatan pembelajaran berbasis siswa. Penerapan SCL bertujuan untuk memberi kesempatan kepada pesera didik untuk berlatih menjadi pembelajar aktif selama pendidikan formal sehingga peserta didik akan terbiasa meningkatkan kemampuannya secara mandiri untuk kemudian menjadi pembelajar seumur hidup. Perubahan peradigma yang terdapat pada pendekatan SCL adalah sebagai berikut. a. Proses pendidikan di fokuskan pada “materi yang dipelajari siswa”, tidak lagi hanya pada”materi yang di ajarkan guru” b. Proses pendidikan disesuaikan dengan tuntutan kompetensi (relevansi) dan real world (kontektual) dengan memperhatikan suasana akademik yang kondusif untuk belajar sejak dini c. Peserta didik di tuntut untuk meningkatkan kemampuan, efisiensi, dan menumbuh kembangkan jiwa kepemimpinan

Berikut Diagram Pendekatan SCL STUDENT CENTERED LEARNING

GURU

SEBAGAI MOTIVATOR DAN FASILISATOR

MULTI DIMENSI

Gambar 1. Pendekatean SCL (Pembelajaran Berbasis Siswa) Semua elemen pembelajaram mempunyai peran yang sangat penting dalam penerapan SCL. a. Peran peserta didik • Peserta didik berperan sebagai pencari dan penggali ilmu secara aktif (explorer notreceiver), yang bertanggung jawab atas hasil belajar melalui proses pendidikan yang kontekstual dan kolaboratif • Mengubah proses transfer ilmu menjadi transformasi ilmu

b. Peran guru

• • •

Guru sebagai fasilitator dan penuntun dalam proses pencarian dan penggalian ilmu guru bekerja bersama-sama siswa untuk meningkatkan pemahaman tentang suatu pokok bahasan sehingga terjadi sharing ilmu (mitra pembelajaran) guru tidak harus menjadi sumber belajar utama

c. Peran institusi Institusi bertanggung jawab atas peruses pendidikan interaktif ini dengan menyediakan sunber belajar dan fasilitas lainnya yang memungkinkan siswa berlajar dalam suasana yang kondusif (suasana pembelajaran yang ngangeni) c. Peran SCL • SCL mendukung pengembangan hard skills sekaligus soft skills • hal tersebut akan terjadi apabila SCL di laksanakan dengan cara”disengajakan”, dan prosesnya di perbaiki secara terus-menerus (continuous improvement) Penerapan pendekatan SCL harus mengarahkan peserta didik mampu: a) Mandiri: bertanggung jawab terhadap proses dan hasil pembelajaran b) Membagi pengetahuannya kepada teman/kelompoknya c) Mendifinisikan dan memecahkan masalah d) Bersikap toleran terhadap”kekaburan arti” e) Membuat asumsi f) Bersikap terbuka dan menerima alternative lain g) Mengembangkan argumentasi h) Menjunjung tinggi bukti (evidence-based) i) Tahan terhadap kegagalan j) Mengukur kemajuan & mengoreksi keselahan sendiri k) Melihat msalah dari berbagai sudut l) Mengoleksi, memilah, menganalisis, dan menjelaskan data m) Mencari sumber informasi:pakar, buku, jurnal, internet, teman, orang awam, dsb Karateristik institusi/lembaga/kampus yang menerapkan SCL adalah sebagai berikut. a) Adanya berbagai aktivitas dan tempat belajar b) Display hasil karya peserta didik c) Tersedia banyak materi belajar d) Tersedia banyak tempat yang nyaman untuk diskusi / bercengkerama e) Terjadi kelompok-kelompok dan interaksimulti-angkatan f) Ada keterlibatan dunia bisnis / industri dan masyarakat lainnya g) Jam buk perpustakaan fleksibel Tugas guru dalam penerapan SCL adalah sebagai berikut. 1. Memfasilitasi Buku, modul ajar,hand-out, journal, hasil penelitian, dan waktu. 2. Memotivasi Dengan memmberi perhatian pada peserta dididk Memberi materi yang relevan dengan tingkat kemampuan peserta didik dan dengan situasi yang kontektual Memberi semangat dan kepercayaan pada peserta didik bahwa ia dapat mencapai kompetensi yang di harapkan Memberi kepuasan pada peserta didik terhadp pembelajaran yang kita jalankan. 3. Memberi tutorial Menunjukkan jalan / cara / metode yang dapat membantu peserta didik menelusuri dan menemukan penyelesaian masalah yang berkaitan dengan materi pembelajaran. 4. Memberi umpan balik Memonitor dan mengoreksi jalan fikiran / hasil kinerjanya agar mencapai sasaran yang optimum sesuai kemampuannya.

Jenis-jenis strategi pembelajaran yang termasuk dalam SCL adalah sebagai berikut.

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Collaborative learning : kerja sama Cooperative learning Case - based learning Problem - based learning Project/research-based learning Role play & simulation 3.4. Cooperative learning Cooperative Learning (Pembelajaran Kooperatif) Merukan Bentuk Strategi Pembelajaran Yang Sistematik Di mana kelompok-kelompok kecil di bentuk untuk belajar atau bekerjasama dalam rangka mencapai tujuan dan keberhasilan dimana guru bertindak sebagai faslitator. Kooperatif berasal dari kata “cooperation” yang berarti bekerjasama. Dengan kata lain bekerja bersamasama untuk mencapai tujuan yang sama. Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang menekankan pada saling ketergantungan positif antara peserta didik, dengan anggapan bahwa ”keberhasilan saya karna keberhasilan anda”. Struktur pembelajaran kooperatif: 1. Dalam pembelajaran kooperatif, peserta didik belajar dalam kelompok untuk memaksimalkan tahap pembelajaran mereka secara berkelompok atau individu 2. Idenya mudah saja, suatu kelas di bagi menjadi beberapa kelompok kecil, setelah menerima arahan dari guru mereka selanjutnya belajar melalui tugas-tugas sehingga semua anggota kelompok berhasil memahami dan menyelesaikan tugas itu dengan baik. 3. Guru hanya bertindak sebagai fasiliator saja 4. Kesannya, setiap anggota kelompok berusaha bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuan/keberhasilan sehingga dapat nilai terbaik dari hasil usaha setiap anggota dalam kelompok tersebut. 5. Ini karena setiap anggota mempunyai tujuan yang sama. Kelebihan pembelajaran kooperatif 1. Setiap anggota dalam kelompok senantiasa menyatukan tujuan, pengetahuan, kemahiran untuk mencapai keberhasilan/tujuan 2. Menanamkan semangat musyawarah, menghindari jarak antara etnis/suku/ bahasa dan agama. 3. Dari segi social pula peserta didik itu dapat berkomunikasi dan berinteraksi secara mengesankan. 4. Meningkatkan kepercayaan diri. 5. Meningkatka motivasi Model pembelajaran kooperatif dapat di gunakan untuk mengajar materi yang agak kompleks. Model ini membantu guru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang berdimensi social dan hubungan antara manusia. Pembelajaran kooperatif di kembangkan berdasarkan teori belajar kognitif konstruktivisme dan teori belajar social vygotsky. Sintaks umum pembelajaran kooperatif a. Menyampaikan tujuan dan memotivasi pelajar b. Menyajikan imformasi. c. Mengorganisasi siswa dalam kelompok belajar d. Membimbing kelompok belajar untu bekerja dan belajar e. Evaluasi f. Memberi penghargaan.

1. 2. 3.

Ada beberapa macam pembelajaran kooperatif, di antaranya adalah: Cooperative script Cooperative integrated reading and composition (circ) Cooperative jigsaw Penjelasan

1.

Cooperative Script Cooperative script merukan metode belajar dimana siswa bekerja barpasangan dan bergantian secara lisan menngikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang di pelajari. Langkah-langkah cooperaktive script: a) guru membagi siswa untuk berpasangan. b) Guru membagi wacana/materi setiap siswa untuk di baca dan membuat ringkasan. c) Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pasangan. 2. Cooperative Integrated Reading And Composition (Circ) Cooperative integrated reading and composition (CIRC) merupakan kooperatif terpadu membaca dan menulis. Langkah-langkah: a) Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen b) Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topic pembelajaran c) Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan di tulis pada selembar kertas d) Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok. e) Guru mrmbuat kesimpulan bersama f) Penutup.

2.

Cooperative jigsaw Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah sebagai berikut. a. pembentukan kelompok asal dan pemberian tugas kepada setiap anggota kelompok. Jumlah anggota kelompok sesuai banyaknya tugas. b. Pembentuan kelompok ahli sesuai tugas yang telah di berikan dan belajar menuntaskan tugasnya. Semua peserta yang bertugas sama bentuk kelompok yang sama c. Pakar di undang ke kelompok ahli untuk berbagi kepakarannya dengan peserta d. Para peserta ahli kembali ke kelompokasal dan saling berbagi pengalaman dengan sejawatnya. e. Evaluasi lewat tournament/cara lain. f. Penghargaan Pendekatan SCL dan kooperatif dapat di terapkan dalam pendidikan formal, informal dan nonformal. Pendekatan SCL dan kooperatif dapat di terapkan utuk pembelajaran pelajaran apa saja, dimana saja, kapan saja dan siapa saja. Pendekatan pembelajaran tertentu tidak kaku harus menggunakan pendekatan tertentu, tetapi sifatnya lugas dan terencana, artinya pendekatan di sesuaikan dengan kebutuhan materi ajar yang di tuangkan dalam perencanaan pembelajaran.

TUGAS 3

Tulislah jawaban secara jelas dan singkat haya pada halaman yang telah di sediakan Jelaskan apa fungsi pendekatan belajar dalam proses pembelajaran ........................................................................ ........................................................................ ........................................................................ ........................................................................ ........................................................................ Jelaskan bagaimana konsep belajar dengan pendekatan behavioristik ........................................................................ ........................................................................ ........................................................................ ........................................................................ ........................................................................ Jelaskan bagaimana konsep belajar dengan pendekatan konstruktivisme ........................................................................ ........................................................................ ........................................................................ ........................................................................ ........................................................................ Jelaskan bagaimana konsep belajar dengan pendekatan SCL ........................................................................ ........................................................................ ........................................................................ ........................................................................ ........................................................................ Jelaskan bagaimana konsep belajar dengan pendekatan cooperatif learning ........................................................................ ........................................................................ ........................................................................ ........................................................................ ........................................................................

3.1. Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, dan Model Pembelajaran. Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah: (1) pendekatan pembelajaran, (2) strategi pembelajaran, (3) metode pembelajaran; (4) teknik pembelajaran; (5) taktik pembelajaran; dan (6) model pembelajaran. Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut, dengan harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut.

Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach). Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu :

1. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya. 2. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran. 3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran. 4. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha. Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah: 1. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik. 2. Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif. 3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran. 4. Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan. Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif. Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: ceramah; demonstrasi; diskusi; simulasi; laboratorium; pengalaman lapangan; brainstorming; debat, simposium, dan sebagainya. Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode

diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama. Taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat) Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran. Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:

Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun. Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan di Indonesia, para guru atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran, yang kadang-kadang untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun penelitian tindakan) sangat sulit menermukan sumbersumber literarturnya. Namun, jika para guru (calon guru) telah dapat memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->