P. 1
Bangunan Air 3

Bangunan Air 3

|Views: 228|Likes:
Published by yoska sesario p

More info:

Published by: yoska sesario p on Jul 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/12/2014

pdf

text

original

GAMBAR 10 : BENDUNG TETAP

BANGUNAN AIR
OLEH : SRI EKO WAHYUNI
November 2011, SESI-3
Perlengkapan Bangunan Utama Pengelak :

Bangunan/perlengkapan pada bangunan utama
pengelak biasanya berupa :

- pengukuran debit dan muka air di sungai maupun di
saluran (ambang lebar, Romijn, Crump de Gruiter dll).
- pengoperasian pintu.
- peralatan komunikasi, tempat teduh serta
perumahan untuk tenaga eksploitasi.
- gudang dan ruang kerja untuk kegiatan eksploitasi
dan pemeliharaan.
- jembatan di atas bendung, agar seluruh bagian
bangunan utama mudah dijangkau atau agar
bagian-bagian itu terbuka untuk umum.
- instalasi tenaga air mikro atau mini, tergantung pada
hasil evaluasi ekonomi & kemungkinan hidrolik.

Penentuan Lokasi Bang. Utama Pengelak :

Dalam menentukan lokasi, formasi dan dimensi bendung perlu
memperhatikan hal-hal sbb. :
1. Lokasi bendung penyadap harus diusahakan
sedapat mungkin lebih ke hulu, agar bendung
tidak terlalu tinggi. Sedangkan bendung
pembagi banjir di tempatkan sedekat mungkin
dengan titik percabangan sungai.

2. Morfologi sungai :
- Dipilih pada ruas sungai yang lurus dengan
penampang yang sempit dan konstan.
- Dipilih pada sungai yang alurnya stabil
dengan perubahan dasar sungai (i) kecil.
- Diusahakan pengaruh air balik (back water)
tidak terlalu jauh ke arah hulu.

3. Topografi (peta kontur) :
- Kondisi topografi sangat menentukan panjang dan letak
tanggul banjir maupun tanggul penutup.
- Dipilih kondisi topografi sedemikian rupa sehingga
perencanaan trase saluran tidak mahal.

- Ditepi sungai tersedia tempat untuk membuat
bangunan pelengkap, seperti kantong lumpur, tanggul,
bangunan pembilas dll.


4. Kondisi geologi teknik (jenis batuan, daerah geser,
sesar, daerah patahan dan kemiringan lapisan), daya
dukung tanah & kelulusan tanah pondasi.

5. Data hidrologi  curah hujan, debit, neraca air.
6. Kebutuhan air  irigasi, air baku dll.
7. Data mekanika tanah dengan sumur dan parit uji.
Diharapkan setelah mengikuti perkuliahan mahasiswa
dapat merencanakan dimensi hidrolis bendung/
pelimpah untuk tipe Ogee dan tipe bulat.

Perencanaan hidrolis bendung tetap dan
pelimpah pada dasarnya sama, yang
membedakan adalah ketinggiannya :

Perencanaannya dapat dibagi menjadi beberapa
langkah sebagai berikut :
A. Perencanaan elevasi mercu/puncak
mercu).
B. Perencanaan lebar efektif bendung.
C. Perencanaan hidrolis mercu bendung.
D. Perencanaan peluncur/saluran peluncur.
E. Perencanaan kolam olak.

A. Perencanaan Elevasi Mercu
Bendung Tetap DAN Pelimpah :

Elevasi mercu bendung tetap ditentukan
berdasarkan elevasi yang diperlukan agar air
dapat mengalir secara gravitasi.
 direncanakan = elevasi muka air
rencana didepan pengambilan + 0,1 m,
 untuk mencegah kehilangan air pada
bendung akibat gelombang.

Elevasi mercu pelimpah ditentukan
berdasarkan besarnya volume air yang akan
ditampung di dalam waduk.

Sedangkan Elevasi muka air rencana di depan
bangunan pengambilan ditentukan berdasarkan :

1. Elevasi muka air yang diperlukan untuk eksploitasi
normal, dengan mempertimbangkan :
- Elevasi maksimum daerah layanan misal sawah, industri,
perumahan.
- Kedalaman air di sawah untuk daerah irigasi.
- Kehilangan tinggi energi di saluran dan bangunan
sepanjang saluran tersier, saluran sekunder, sal. primer.

2. Beda tinggi energi pada kantong lumpur/pengendap
lumpur yang diperlukan untuk membilas sedimen dari kolam

3. Beda tinggi energi pada bangunan pembilas yang diperlukan
untuk membilas sedimen dekat pintu pengambilan.

4. Beda tinggi energi yang diperlukan untuk meredam energi
pada kolam olak.
Elevasi muka air yang diperlukan di saluran primer/sekunder
di hulu bangunan sadap tersier dapat ditentukan dengan rumus :

P = A + a + b + n.c + d + m.e + f + g + ∆h + Z
h100 = kedalaman muka air
pada muka air normal 100 %
~10 cm
~5cm ~5cm
~10 cm
~5cm
=0,18 h100
=IxL
Di mana :
P = muka air di saluran sekunder.
A = elevasi air tertinggi di sawah.
a = tebal lapisan air di sawah ~ 10 cm.
b = kehilangan tinggi energi di sal. kuarter ke sawah ~ 5 cm
c = kehilangan tinggi energi di box bagi kuarter ~ 5 cm/box
d = kehilangan tinggi energi selama pengaliran di
saluran irigasi, I x L.
e = kehilangan tinggi energi di box bagi tersier ~ 10 cm.
f = kehilangan tinggi energi di gorong-gorong ~ 5 cm
g = kehilangan tinggi energi di bangunan sadap tersier.
∆h = variasi tinggi muka air 0,18 h100 (h100 = kedalaman
muka air pada muka air normal 100 %).
Z = kehilangan tinggi energi di bangunan tersier yang lain (jembatan).



B. Perencanaan Lebar Efektif Bendung & Pelimpah:

Lebar bendung/pelimpah adalah jarak antara pangkal-
pangkalnya (abutment), sebaiknya dibuat = lebar rata-rata
sungai pada bagian yang stabil, maksimum = 1,2 kali lebar rata2.
- Di bagian ruas bawah sungai, lebar rata-rata sungai dapat
diambil pada debit penuh (bankfull discharge).
- Di bagian ruas atas agak sulit untuk menentukan debit
penuh, sehingga untuk menentukan lebar rata-rata sungai
dapat diambil debit banjir rata-rata tahunan untuk
menentukan lebar bendung.
Untuk keperluan perencanaan diperlukan lebar efektif bendung
/pelimpah yaitu bentang bendung/pelimpah dikurangi dengan
kontraksi yang terjadi, dihitung dengan persamaan sbb. :





B
e
= lebar efektif bendung ; B = lebar bendung/jarak antara pangkal bendung
n = jumlah pilar ; K
p
= koefisien kontraksi pilar ; H
1
= tinggi energi, m
K
a
= koefisien kontraksi pangkal bendung (abutment).
1
) ( 2 H
a
K
p
nK B + ÷ =
e
B
Lebar efektif bendung : B
e
= B - 2(n.K
p
+ K
a
) H
1

Lebar bendung =
Dalam memperhitungkan lebar efektif, lebar pembilas
sebaiknya diambil 0,8 dari lebar rencana (Bs = 0,8 B3)
untuk mengkompensasi perbedaan koefisien debit
dibandingkan dengan mercu bendung itu sendiri.
 lihat gambar 4.1

Besarnya koefisien kontraksi abutment dan koefisien
kontraksi pilar tergantung dari bentuk pilar dan abutment.

Semakin besar penyimpangan (divergence) dari garis aliran
(streamline), semakin besar pula koefisien kontraksinya
sehingga semakin kecil bentang efektif dari mercu
bendung/pelimpah.

Nilai koefisien kontraksi pilar K
p
sesuai bentuk pilar dan
koefisien kontraksi pangkal bendung K
a
dapat dilihat pada
tabel dibawah ini.
Agar pembuatan bangunan peredam energi tidak terlalu
mahal maka aliran per satuan lebar dibatasi sekitar 12 – 14
m³/det yang akan memberikan tinggi energi maksimum
sebesar 3,5 – 4,5 m  gambar 4.1.

No. Bentuk Pilar Kp
1.

2.
Ujung pilar segiempat dengan sudut dibulatkan
pada jari-jari yang hampir = 0,1 dari tebal pilar.
Ujung pilar segiempat dengan sudut tanpa
pembulatan.

0,02

0,10
3. Ujung pilar bulat 0,01
4. Ujung pilar runcing 0,00
No. Bentuk Pangkal Tembok Ka
1. Abutment/pangkal tembok segiempat dengan
dinding hulu pada 90⁰ ke arah aliran

0,20
2.

3.
Abutmen bulat dengan tembok hulu pada 90⁰ ke
arah aliran dengan 0,5 H1 > r > 0,15 H1.
Abutmen bulat di mana tembok hulu < 45⁰ ke
arah aliran dengan r > 0,5 H1.
0,02

0,00
Tabel Nilai K
p
(koefisien kontraksi pilar).
Tabel Nilai Ka (koefisien kontraksi pangkal bendung).


C. Perencanaan hidrolis mercu bendung :
Bentuk mercu yang banyak dipakai di Indonesia adalah tipe Ogee
dan mercu bulat (mercu Vlugter dan Schoklitsch)  dapat dipakai
untuk konstruksi beton, pasangan batu atau kombinasi keduanya.

Mercu Ogee :
Mercu Ogee berbentuk tirai luapan (flow nappe) bawah dari
bendung ambang tajam.
Bagian hulu permukaan mercu Ogee mempunyai empat bentuk
yaitu vertikal, miring dengan kemiringan 3:2, 3:1, 1:1.

Sedangkan bentuk baku permukaan mercu Ogee bagian hilir
dinyatakan dengan persamaan sbb. :




X dan Y = koordinat permukaan hilir  lihat Gambar 4.9.
h
d
= tinggi energi rencana di atas mercu bendung.
K dan n = parameter yang besarnya tergantung pada faktor kemiringan permukaan bendung
bagian hulu  lihat tabel dibawah.
n
d
h
X
K
¦
)
¦
`
¹
¦
¹
¦
´
¦
=
1
d
h
Y
Y
n
d
Kh
1 ÷
=
n
X
Kemiringan
permukaan hulu mercu
K n
Vertikal 2,000 1,850
3 : 2 atau (1:0,67) 1,939 1,810
3 : 1 atau (1:0,33) 1,936 1,836
1 : 1 1,873 1,776
Tabel harga
K dan n
Mercu Schoklitsch Mercu Vlugter
(2 jari-jari)
Tinggi energi
di atas mercu.

hd = tinggi air
di atas mercu.
Bagian hulu mercu
Ogee bervariasi
sesuai dengan
kemiringan
permukaan hilir.
Karakteristik :
Tinggi energi di atas bendung lebih pipih (debit
lebih kecil)



By : Miftakhur Riza
 “b” tidak masuk dalam “akar”



Debit melalui pelimpah Ogee dapat
dihitung dengan rumus sbb. :



Q = debit, m³/detik
H
1
= tinggi energi total di atas mercu
C = koefisien debit ; Cd = koefisien debit = C0C1C2 
C0 = 1,3 (konstanta)
C1 = fungsi p/hd dan H1/hd
C2 = faktor koreksi untuk permukaan hulu.
Faktor koreksi C1 disajikan pada Gambar 4.10 dan sebaiknya
dipakai untuk berbagai tinggi bendung di atas dasar sungai.

B
e
= Bentang efektif ; b = lebar mercu.

5 , 1
1
H
e
CB Q = g bH
3
2
5 , 1
1
3
2
d
C Q =
atau :
Harga pada Gambar 4.5 sahih/valid jika mercu bendung cukup tinggi di atas
dasar rata-rata alur pengarah (p/H1 ≥ 1,5).
Dalam tahap perencanaan, p dapat diambil 0,5 jarak mercu sampai dasar
rata-rata sungai sebelum bendung dibuat.

Jika p/H1 < 1,5 maka Gambar 4.6 dapat dipakai untuk menentukan
faktor pengurangan C1.
1,3
C0 maksimum = 1,49 jika H1/r > 5
0,91
0,46
Digunakan jika : p/H1 < 1,5
Besarnya koefisien debit C pada rumus di atas
tergantung pada beberapa faktor :

a. Pengaruh kecepatan awal.
b. Pengaruh kemiringan permukaan hulu
mercu.
c. Pengaruh efek aliran tenggelam di
landasan hilir.
a. Pengaruh kecepatan awal :
Besarnya koefisien debit tergantung dari ketinggian
bendung/pelimpah Ogee (h) dan tinggi rencana di
atas mercu bendung/pelimpah (h
d
) :
- Bila ketinggian bendung/pelimpah > 1,33 kali
tinggi rencana, maka efek kecepatan masuk dapat
diabaikan atau bila :


- Bila ketinggian bendung/pelimpah < 1,33 kali
tinggi rencana, maka efek kecepatan masuk tidak
dapat diabaikan. Kondisi ini biasanya terjadi pada
bendung yang rendah dengan :


33 , 1 >
d
h
h
00 , 1 =
d
h
1
H
33 , 1 <
d
h
h
maka :
Kecepatan masuk akan mempunyai efek yang
cukup besar terhadap debit/koefisien debit.
Gambar grafik dibawah, merupakan grafik tidak
berdimensi, dibuat oleh Waterways Experimental
Station (WES) yang dapat dipakai untuk
mengetahui besarnya efek kecepatan masuk.


Grafik ini merupakan fungsi dengan
untuk suatu mercu bendung/pelimpah yang
direncanakan dengan bentuk WES dengan
kemiringan hulu tegak lurus.

d
h
1
H
d
C
C
Dari gambar di atas, harga C1 berlaku untuk tipe Ogee, hulu vertikal.
Jika permukaan hulu miring  harus pakai koefisien koreksi C2, Gbr 4.7.

b. Pengaruh kemiringan
permukaan hulu mercu.
Koefisien debit bendung/pelimpah Ogee juga
dipengaruhi oleh kemiringan permukaan hulu.
Untuk permukaan hulu yang miring, nilai C
harus dikoreksi dengan efek kemiringan hulu
tersebut, yaitu dengan mengalikan nilai C2
dengan suatu faktor koreksi yang diambil dari
grafik 4.7 di bawah.
Grafik tersebut dibuat berdasarkan data dari
U.S. Bureau of Reclamation.

Gambar di atas  Harga koefisien koreksi untuk pengaruh kemiringan
muka bendung bagian hulu terhadap debit.
Koefisien koreksi C2 merupakan fungsi kemiringan permukaan
bendung dan perbandingan p/H1.
Koefisien koreksi C2 kurang lebih = harga faktor koreksi mercu tipe Ogee.
1,006
0,46
c. Efek aliran tenggelam di landasan hilir :

Pelimpah/bendung disebut tenggelam
(submerged) bila air di hilir lebih tinggi dari
mercu. Terbenamnya pelimpah atau
bendung akan memperkecil koefisien debit.

Hasil percobaan USBR (United States Bureau
of Reclamation) terhadap pengurangan ini
dinyatakan dalam prosentase koefisien
debit untuk aliran tenggelam & ditunjukkan
dalam Gambar 4.8.
Dari gambar di atas dapat diperoleh harga faktor pengurangan
aliran tenggelam sebagai fungsi perbandingan aliran tenggelam H2/H1.
Faktor pengurangan aliran tenggelam mengurangi debit dalam
keadaan tenggelam.
Satu perbandingan
Dua perbandingan
Mercu Bulat :
Bendung dengan mercu bulat, koefisien debitnya jauh lebih
tinggi (44%) dibanding dengan bendung ambang lebar 
karena lengkung streamline & tekanan negatif ada mercu 
keuntungannya adalah bangunan tersebut akan
mengurangi tinggi muka air hulu selama banjir.

Mercu bulat ada dua tipe yaitu :

a. Mercu bulat dengan jari-jari satu (mercu Vlugter) :
r = (0,5 s/d 1,0) H
1
b. Mercu bulat dengan jari-jari dua (mercu Schoklitsch) :
r
1
= 0,5 H
1 ;
r
2
= (1,0 s/d 1,5) H
1

Yang digunakan untuk menentukan nilai C adalah r
2.

 tidak dianjurkan jika debit fluktuatif, misal
bendung disungai, better tipe bak tenggelam.
p = tinggi mercu, m.
H1 = tinggi energi di atas mercu, m.
r = jari-jari mercu
h1 = hd = tinggi air di atas mercu.
k =
Persamaan tinggi energi – debit :
Q = debit, m³/detik
b = panjang mercu ; H
1
= tinggi energi total pada mercu
Cd = koefisien debit = C0C1C2 ; g = percepatan gravitasi, 9,8 m/det²
C0 = koefisien debit, fungsi H1/r  Gambar 4.5.
C1 = koefisien debit, fungsi p/H1  Gambar 4.6.
C2 = fungsi p/H1, faktor koreksi untuk permukaan hulu bendung, Gambar. 4.7.
g bH
3
2
5 , 1
1
3
2
d
C Q =
Karakteristik :
1. Debit yang dihasilkan lebih besar


2. Dapat mengurangi tinggi muka air di hulu saat banjir

By : Miftakhur Riza
 “b” tidak masuk dalam akar !.
Tekanan pada mercu adalah fungsi perbandingan antara H1 & r(H1/r).
Untuk bendung dengan 2 jari-jari (Schoklitsch), jari-jari hilir digunakan
untuk menentukan harga koefisien debit.
Untuk menghindari bahaya kavitasi lokal, tekanan pada mercu
dibatasi -4 m tekanan air jika mercu dari beton, untuk pasangan batu
dibatasi -1 m tekanan air.
-0,2
Kavitasi = terjadinya
tekanan < 1 atm yang
mengakibatkan gelembung
udara dipermukaan badan
bendung, menimbulkan
lubang karena terlepasnya
butiran agregat dari
permukaan konstruksi.
Debit melalui mercu dapat dihitung dengan rumus berikut :

- Untuk aliran sempurna bila




- Untuk aliran tidak sempurna bila




1
3
1
H z <
( )
1
1
3
2
43 , 0 43 , 0
H d
H
h
t m
gz H mB Q
d
d
e
=
÷ + =
=
1
3
1
H z >
1
2
3
2
5 018 , 0 49 , 1
H d
r
h
m
gd d mB Q
e
=
|
.
|

\
|
÷ ÷ =
=
Di mana :
Q = debit ; m = koefisien debit
B
e
= bentang efektif ; H
1
= tinggi energi
d = kedalaman kritik
g = percepatan gravitasi
h = tinggi bendung ; r = jari-jari mercu
z = perbedaan tinggi energi hulu dan hilir mercu

t = koefisien yang tergantung dari nilai , seperti
dalam tabel berikut ini :













d
d
H
h
0,05 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 0,9

t


0,31

0,39

0,48

0,54

0,57

0,59

0,59

0,61

0,64

0,69
d
d
H
h
CONTOH SOAL :
1. Direncanakan bendung pasangan dengan mercu
bulat, kemiringan muka hulu 1:0,33, bagian hilir 1:1.
Estimasi awal jari-jari mercu r = 1,75 m.
Lebar efektif 62,40, lebar antar tumpu (abutment)
71,40 m, p = 1,50 m, Q = 800 m³/det. Hitung H1 dan
Penyelesaian :
Asumsi awal, ambil Cd = 1,3.







81 , 9
3
2
5 , 1
1
40 , 62 30 , 1
3
2
800
3
2
5 , 1
1
3
2
x x xH x x
g bH
=
=
d
C Q
79 , 5
5 , 1
1
= H
m H 22 , 3
1
= 

84 , 1
75 , 1
22 , 3
1
= =
r
H
 C0 diperkirakan dari Gambar 4.5 :
diperoleh C0 = 1,30.
cek tekanan air pada mercu !.



Karena permukaan hulu miring 1:0,33 maka perlu faktor
koreksi C2 dari Gambar 4.7 :


Harga Cd berbeda dari asumsi awal Cd = 1,30, maka harus
dilakukan perhitungan ulang, diperoleh : H1 = 3,40 m.

Bendung dari pasangan batu  besar tekanan > -1,0 m,
dengan menggunakan Gambar 4.4, dengan

maka besar tekanan air pada mercu adalah :

50 , 1 46 , 0
22 , 3
50 , 1
1
< = =
H
p
 Maka harus dikoreksi dengan
koefisien C1 dengan Gambar 4.6 :
diperoleh C1 = 0,91.
46 , 0
1
=
H
p
 C2 = 1,006.
 Cd = C0 x C1 x C2 = 1,30 x 0,91 x 1,006 = 1,19.
94 , 1
75 , 1
40 , 3
1
= =
r
H
2 , 0 :
1
÷ =
|
|
.
|

\
|
H
g
p
µ
0 , 1 68 , 0 4 , 3 2 , 0 ÷ > ÷ = ÷ =
|
|
.
|

\
|
x
g
p
µ

 ok.

2. Rencanakan dimensi hidrolis mercu bendung tipe Vlugter
jika diketahui tinggi bendung 5 m, Q rencana 300 m
3
/dt,
bentang efektif 30 m dan aliran sempurna.
Penyelesaian :
Mercu Vlugter : r = (0,5 s/d 1,0) H
1

Direncanakan r = H
1

Untuk aliran sempurna :

2
1
1
2
1
2
45 , 0 9 , 0
04 , 1
5
5 018 , 0 49 , 1
5 018 , 0 49 , 1
H
H
m
H
m
r
h
m
+ ÷ =
|
|
.
|

\
|
÷ ÷ =
|
.
|

\
|
÷ ÷ =
Dengan trial and error (coba-coba) diperoleh :
H
1
= 2,715 m
Jadi r = H
1
= 2,715 m

1 1
2
1 1
1
3
2
81 , 9
3
2
30
45 , 0 9 , 0
04 , 1 300
3
2
H x xH x x
H H
H d
gd d mB Q
e
|
|
.
|

\
|
+ ÷ =
=
=
3. Rencanakan dimensi hidrolis mercu bendung bila
diketahui data-data sebagai berikut :
Q rencana = 1.000 m
3
/dt.
Lebar rata-rata sungai di lokasi bendung = 80 m.
Pengambilan satu sisi, pintu pembilas bagian
depannya terbuka.
Koefisien debit C = 2,22 ; Tinggi bendung = 6 m.
Koefisien yang belum ada silakan ditentukan sendiri.
Penyelesaian :
Nilai C = 2,22, direncanakan tipe mercu bendung adalah
Ogee, dengan permukaan hulu tegak, efek kecepatan
awal diabaikan atau sehingga
atau H
1
= H
d


33 , 1 >
d
H
h
1 =
d
H
1
h
Bendung direncanakan dengan bentuk abutment segi-4 dengan
dinding hulu ke arah aliran, nilai K
a
= 0,2 dan bentuk pilar
pembilas ujung segiempat, nilai K
p
= 0,10 dan tebal = 0,267 H
d


B
e
= B - 2(n.K
p
+ K
a
)H
1
- 0,267.H
d

B
e
= 80 – 2(1.0,10 + 0,2).H
d
– 0,267.H
d

Be = 80 – 0,867.H
d








Dengan trial and error (coba-coba) didapat H
d
= H
1
= 3,2 m
B
e
= 80 – 0,867 x 3,2 = 78,3 m
Tebal pilar pembilas = 0,267 x 3,2 = 0,8544 m

5 , 1
1
H
e
CB Q =
| |
5 , 2
907 , 1
5 , 1
176 1000
5 , 1
Hd Hd ÷ =
= Hd 0,867Hd - 80 2,22 1000
Persamaan permukaan hilir mercu bendung dengan
permukaan hulu tegak : K = 2,0
n = 1.85




Tabel koordinat permukaan hilir mercu bendung :




















( )
Y X
Y X
Y
n
KHd
375 , 5
85 , 1
85 , 0
2 , 3 2
85 , 1
1
=
=
÷
=
n
X
Y (m) X (m)
0 0
1 2,48
2 3,61
3 4,49
4 5,25
5 5,92
6 6,54
Bentuk bagian hulu :

R = 0,2 H
d
= 0,2 x 3,2 = 0,64 m
Jarak dari sumbu Y = 0,282 H
d
= 0,282 x 3,2 = 0,9 m.
(lihat gambar 4.9).

R = 0,5 H
d
= 0,5 x 3,2 = 1,6 m
Jarak dari sumbu Y = 0,175 H
d
= 0,175 x 3,2 = 0,56 m.


stop


You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->