KEBENARAN DALAM PANDANGAN FILSAFAT

I.

PENDAHULUAN Manusia selalu berusaha menemukan kebenaran. Beberapa cara ditempuh

untuk memperoleh kebenaran, antara lain dengan menggunakan rasio seperti para rasionalis dan melalui pengalaman atau empiris. Pengalaman-pengalaman yang diperoleh manusia membuahkan prinsip-prinsip yang lewat penalaran rasional, kejadian-kejadian yang berlaku di alam itu dapat dimengerti. Ilmu pengetahuan harus dibedakan dari fenomena alam. Fenomena alam adalah fakta, kenyataan yang tunduk pada hukum-hukum yang menyebabkan fenomena itu muncul. Ilmu pengetahuan adalah formulasi hasil aproksimasi atas fenomena alam atau simplifikasi atas fenomena tersebut. Struktur pengetahuan manusia menunjukkan tingkatan-tingkatan dalam hal menangkap kebenaran. Setiap tingkat pengetahuan dalam struktur tersebut menunjukkan tingkat kebenaran yang berbeda. Pengetahuan inderawi merupakan struktur terendah dalam struktur tersebut. Tingkat pengetahuan yang lebih tinggi adalah pengetahuan rasional dan intuitif. Tingkat yang lebih rendah menangkap kebenaran secara tidak lengkap, tidak terstruktur, dan pada umumnya kabur, khususnya pada pengetahuan inderawi dan naluri. Oleh sebab itulah pengetahuan ini harus dilengkapi dengan pengetahuan yang lebih tinggi. Pada tingkat pengetahuan rasional-ilmiah, manusia melakukan penataan pengetahuannya agar terstruktur dengan jelas. Plato pernah berkata: “Apakah kebenaran itu? lalu pada waktu yang tak bersamaan, bahkan jauh belakangan Bradley menjawab; “Kebenaran itu adalah kenyataan”, tetapi bukanlah kenyataan (dos sollen) itu tidak selalu yang seharusnya (dos sein) terjadi. Kenyataan yang terjadi bisa saja berbentuk ketidakbenaran (keburukan). Jadi ada 2 pengertian
1

Sebaliknya pengetahuan dan pemahaman tentang kebenaran. Kebenaran adalah satu nilai utama di dalam kehidupan human. sifat asasinya terdorong pula untuk melaksanakan kebenaran itu. makna “kebenaran” dibatasi pada kekhususan makna “kebenaran keilmuan (ilmiah)”. ada kebenaran khusus individual. Ada kebenaran alami dan ada pula kebenaran illahi.kebenaran. Semua orang yang berhasrat untuk mencintai kebenaran. Kebenaran sebagai ruang lingkup dan obyek pikir manusia sudah lama menjadi penyelidikan manusia. tanpa melaksanakan kebenaran tersebut manusia akan mengalami pertentangan batin. 2 . Menurut para ahli filsafat itu bertingkat-tingkat bahkan tingkat-tingkat tersebut bersifat hirarkhis. konflik spikologis. ada pula kebenaran umum universal. sementara (tentatif) dan hanya merupakan pendekatan II. PEMBAHASAN Pendidikan pada umumnya dan ilmu pengetahuan pada khususnya mengemban tugas utama untuk menemukan. ada kebenaran mutlak (absolut). Kebenaran yang satu di bawah kebenaran yang lain tingkatan kualitasnya ada kebenaran relatif. pengembangan. Manusia sepanjang sejarah kebudayaannya menyelidiki secara terus menerus apakah hakekat kebenaran itu? Jika manusia mengerti dan memahami kebenaran. bertindak sesuai dengan kebenaran. menyampaikan nilai-nilai kebenaran. Dalam bahasan ini. melainkan bersifat nisbi (relatif). Sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia. dan kebenaran dalam arti lawan dari keburukan (ketidakbenaran) . yaitu kebenaran yang berarti nyata-nyata terjadi di satu pihak. menjelaskan. Artinya sifat manusiawi atau martabat kemanusiaan (human dignity) selalu berusaha “memeluk” suatu kebenaran. Kebenaran ini mutlak dan tidak sama atau pun langgeng.

Ukuran kebenarannya : . disamping potensi subyek yang menyadarinya.A. Tingkat filosofis. Tingkatan ilmiah. Tingkatan kebenaran indera adalah tingakatan yang paling sederhanan dan pertama yang dialami manusia. kebenaran mutlak yang bersumber dari Tuhan yang Maha Esa dan dihayati oleh kepribadian dengan integritas dengan iman dan kepercayaan Keempat tingkat kebenarna ini berbeda-beda wujud.Berfikir merupakan suatu aktifitas manusia untuk menemukan kebenaran . diolah pula dengan rasio 3. 2. renungan yang mendalam mengolah kebenaran itu semakin tinggi nilainya 4. potensi subyek yang menangkapnya ialah panca indera. sifat dan kualitasnya bahkan juga proses dan cara terjadinya. Tingkatan religius. Manusia di dalam kepribadian dan kesadarannya tak mungkin tanpa kebenaran.Oleh karena itu diperlukan suatu ukuran atau kriteria kebenaran 3 . membina dan menyempurnakannya sejalan dengan kematangan kepribadiannya. maka susunan tingkatan kebenaran itu menjadi : 1. Manusia selalu mencari kebanran itu. pengalaman-pengalaman yang didasarkan disamping melalui indera. Misalnya pada tingkat kebenaran indera. kebenaran adalah fungsi rohaniah.Apa yang disebut benar oleh seseorang belum tentu benar bagi orang lain . Kebenaran itu ialah fungsi kejiwaan.rasio dan pikir murni. Pengertian Kebenaran dan Tingkatannya Dalam kehidupan manusia. Berdasarkan scope potensi subjek. Potensi subyek yang dimaksud disini ialah aspek kepribadian yang menangkap kebenarna itu. fungsi rohaniah.

Nilai kebenaran agama menduduki status tertinggi karena wujud kebenaran ini ditangkap oleh integritas kepribadian. Hal ini bukan saja karena sumber kebnarna itu bersal dari Tuhan Yang Maha Esa supernatural melainkan juga karena yang menerima kebenaran ini adalah satu subyek dengna integritas kepribadian. Teori-Teori Kebenaran Menurut Filsafat 1. Karena di dalam kehidupan manusia sesuatu yang dilakukan harus diiringi akan kebenaran dalam jalan hidup yang dijalaninya dan manusia juga tidak akan bosan untuk mencari kenyataan dalam hidupnya yang dimana selalu ditunjukkan oleh kebanaran. jika manusia mengerti dan memahami kebenaran. Sebaliknya pengetahuan dan pemahaman tentang kebenran. Kebenaran semantis (berkaitan dengan bahasa dan tutur kata) Manusia selalu mencari kebenaran. dan pengalaman filosofis terhimpun pada puncak kesadaran religius yang dimana di dalam kebenaran ini mengandung tujuan hidup manusia dan sangat berarti untuk dijalankan oleh manusia. Kebenaran ontologis (berkaitan dengan sesuatu yang ada/ diadakan) 3. Kebenaran agama yang ditangkap dengan seluruh kepribadian. terutama oleh budi nurani merupakan puncak kesadaran manusia. Jenis-jenis Kebenaran : 1. sifat asasinya terdorong pula untuk melaksankan kebenaran itu. manusia akan mengalami pertentangan batin. Kebenaran Epistemologi (berkaitan dengan pengetahuan) 2. Teori Corespondence (korespondensi) Teori kebenaran korespondensi adalah teori yang berpandangan bahwa pernyataan-pernyataan adalah benar jika berkorespondensi terhadap fakta atau 4 . Seluruh tingkat pengalaman. yakni pengalaman ilmiah. konflik spilogis. tanpa melaksankan konflik kebenaran. B.B.

Di samping itu teori kebenaran korespondensi tidak berlaku pada objek/bidang nonempiris atau objek yang tidak dapat diinderai.” Lalu bagaimana jika kita tidak mengetahui realitasnya? Bagaimanapun hal itu sulit untuk dilakukan. ia harus didukung oleh fakta-fakta yang berupa kenyataan dalam pembentukan objektivanya. sehingga dapat digolongkan ke dalam teori kebenaran tradisional karena Aristoteles sejak awal (sebelum abad Modern) mensyaratkan kebenaran pengetahuan harus sesuai dengan kenyataan yang diketahuinya. apakah pernyataan tersebut berhubungan dengan realitasnya atau tidak. teori korespondensi bekerja dengan idea. Kedua. Kebenaran atau suatu keadaan dikatakan benar jika ada kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh suatu pendapat dengan fakta. Kebenaran yang benar-benar lepas dari kenyataan subjek. Suatu proposisi adalah benar apabila terdapat suatu fakta yang sesuai dan menyatakan apa adanya. atau indera tidak normal lagi. “bahwa dalam mengukur suatu kebenaran kita harus melihat setiap pernyataan satu-per-satu. Dua kesukaran utama yang didapatkan dari teori korespondensi adalah: Pertama. Teori ini sering diasosiasikan dengan teori-teori empiris pengetahuan. Bahkan seseorang dapat menolak pernyataan sebagai sesuatu yang benar didasarkan dari suatu latar belakang kepercayaannya masing-masing. teori korespondensi memberikan gambaran yang menyesatkan dan yang terlalu sederhana mengenai bagaimana kita menentukan suatu kebenaran atau kekeliruan dari suatu pernyataan. Ketiga.pernyataan yang ada di alam atau objek yang dituju pernyataan tersebut. Kebenaran dalam ilmu adalah kebenaran yang sifatnya objektif. Kelemahan teori kebenaran korespondensi ialah munculnya kekhilafan karena kurang cermatnya penginderaan. Teori kebenaran korespondensi adalah teori kebenaran yang paling awal. 5 .

Sebab apabila didasarkan atas hubungan subyek (ide. sesuai dengan nilai-nilai moral itu. Teori ini dipandang sebagai teori ilmiah yaitu sebagai usaha yang sering dilakukan di dalam penelitian pendidikan khsusunya di dalam bidang pengukuran pendidikan. Teori koherensi/konsistensi Teori ini merupakan suatu usaha pengujian (test) atas arti kebenaran. kesannya dan comprehensionnya ) dengan obyek. Hasil test dan eksperimen dianggap relible jika kesan-kesany ang berturut-turut dari satu penyelidik bersifat konsisten dengan hasil test eksperimen yang dilakukan penyelidik lain dalam waktu dan tempat yang lain. 2. Artinya anak harus mewujudkan di dalam kenyataan hidup. Apa yang diajarkan oleh nilai-nilai moral ini harus diartikan sebagai dasar bagi tindakan-tindakan anak di dalam tingkah lakunya. obyek. kesan) termasuk tingkah laku harus dicocokkan dengan apa yang ada di luar subyek (realita. Oleh karena itu pemahaman subyek yang satu tentang sesuatu realitas akan mungkin sekali berbeda dengan apa yang ada di dalam pemahaman subyek lain. Bahkan anak harus mampu mengerti hubungan antara peristiwa-peristiwa di dalam kenyataan dengan nilai-nilai moral itu dan menilai adakah kesesuaian atau tidak sehingga kebenaran berwujud sebagai nilai standard atau asas normatif bagi tingkah laku. Teori kebenaran menuru corespondensi ini sudah ada di dalam masyarakat sehingga pendidikan moral bagi anak-anak ialah pemahaman atas pengertianpengertian moral yang telah merupakan kebenaran itu. 6 . Teori konsisten ini tidaklah bertentangan dengan teori korespondensi. Teori ini untuk menetapkan suatu kebenaran bukanlah didasarkan atas hubungan subyek dengan realitas obyek. pastilah ada subyektivitasnya.Cara berfikir ilmiah yaitu logika induktif menggunakan teori korespodensi ini. nilai-nilai) bila sesuai maka itu benar. Apa yang ada di dalam subyek (ide.

gaya dan kecepatan dalam fisika. Teori kebenaran koherensi adalah teori kebenaran yang didasarkan kepada kriteria koheren atau konsistensi. Teori ini sudah ada sejak Pra Socrates. Kebenaran ialah kesesuaian antara suatu pernyataan dengan pernyataan-pernyataan lainnya yang sudah lebih dahulu diketahui. Sedah teori konsistensi merupakan usaha pengujian (test) atas arti kebenaran tadi. Teori konsistensi adalah pendalaman dankelanjutan yang teliti dan teori korespondensi. bersifat koheren dan konsisten dengna pernyataan sebelumnya yang telah dianggap benar. teori ini mengenal tingkat-tingkat kebenaran. Dengan demikian suatu putusan dianggap benar apabila mendapat penyaksian (pembenaran) oleh putusan-putusan lainnya yang terdahulu yang sudah diketahui. Suatu pernyataan disebut benar bila sesuai dengan jaringan komprehensif dari pernyataan-pernyataan yang berhubungan secara logis. Seperti sebuah percepatan terdiri dari konsep-konsep yang saling berhubungan dari massa. Pernyataan-pernyataan ini mengikuti atau membawa kepada pernyataan yang lain. Kalau teori ini bertentangan dengan data 7 . Disini derajat koherensi merupakan ukuran bagi derajat kebenaran menganggap suatu pernyataan benar bila di dalamnya tidak ada perntentangan. Teori korespondensi merupakan pernyataan dari arti kebenaran. Karena sifatnya demikian.diterima dan diakui benarnya. Suatu teori dianggap benar apabila telah dibuktikan (klasifikasi) benar dan tahan uji. Suatu proposisi benar jika proposisi itu berhubungan (koheren) dengan proposisi-proposisi lain yang benar atau pernyataan tersebut bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar.Kedua teori ini lebih bersifat melengkapi. diterima dan diakui sebagai benar. kemudian dikembangan oleh Benedictus Spinoza dan George Hegel. Teori ini digunakan oleh aliran metafisikus rasional dan idealis.

teori ini salah. mampu memecahkan problem secara tepat barulah teori itu benar. Teori Pragmatisme Paragmatisme menguji kebenaran dalam praktek yang dikenal para pendidikan sebagai metode project atau medoe problem solving dai dalam pengajaran. Dalam dunia pendidikan. Sesuai dengan keinginan dan tujuan 2. Akibat/ hasil yang memuaskan bagi kaum pragmatis adalah : 1. suatu teori akan benar jika ia membuat segala sesutu menjadi lebih jelas dan mampu mengembalikan kontinuitas pengajaran. maka teori itu akan gugur atau batal dengan sendirinya.terbaru yagn benar atau dengan teori lama yang benar. Artinya sesuatu itu benar. jika mengembalikan pribadi manusia di dalamkeseimbangan dalam keadaan tanpa persoalan dan kesulitan. jika tidak. 3. Sesuai dengan teruji dengan suatu eksperimen 3. teori atau dalil itu memliki kebanran bila memiliki kegunaan dan manfaat bagi kehidupan manusia. Jika teori itu praktis. Teori pragmatisme (the pragmatic theory of truth) menganggap suatu pernyataan. untuk ini manusia harus mampu melakukan penyesuaian dengan tuntutan-tuntutan lingkungan. kebenarannya tergantung pada manfaat dan akibatnya. Sebab tujuan utama pragmatisme ialah supaya manusia selalu ada di dalam keseimbangan. Yang dapat secara efektif memecahkan masalah itulah teori yang benar (kebenaran). Kaum pragmatis menggunakan kriteria kebenarannya dengan kegunaan (utility) dapat dikerjakan (workobility) dan akibat yagn memuaskan (satisfaktor consequence). Ikut membantu dan mendorong perjuangan untuk tetap eksis (ada) 8 . Mereka akan benar-benar hanya jika mereka berguna mampu memecahkan problem yang ada. Oleh karena itu tidak ada kebenaran yang mutak/ tetap.

budi. kebenaran ilmiah. Teory Dewey bukanlah mengerti obyek secara langsung (teori korepondensi) atau cara tak langsung melalui kesan-kesan dari pada realita (teori konsistensi). dan perbandingan antara kesan dengan realita objek. Nilai kebenaran mutlak yang bersumber dari Tuhan itu adalah objektif namun bersifat superrasional dan superindividual. malainkan dalam hubungan ide dengan konsekuensinya setelah dilakukan. kebenaran filosofis) taraf dan nilainya berada di bawah kebenaran ini. Dalam teori kebenaran agama digunakan wahyu yang bersumber dari Tuhan. sesuatu dianggap benar bila sesuai dan koheren dengan ajaran agama atau wahyu 9 . Kebenaran Religius Kebenaran adalah kesan subjek tentang suatu realita. Kebenaran bersifat objective. realitas dan kegunaan sebagai landasannya.Teori ini merupakan sumbangan paling nyata dari pada filsuf Amerika tokohnya adalah Charles S. karena kebenaran ini secara antalogis dan aksiologis bersumber dari Tuhan yang disampaikan melalui wahyu. Ketiga teori kebenaran sebelumnya menggunakan alat. universal. Pierce (1914-1939) dan diikuti oleh Wiliam James dan John Dewey (1852-1859). Bahkan bagi kaum religius kebenarn aillahi ini adalah kebenarna tertinggi. 4. Sebagai makluk pencari kebeanran. Wiliam James misalnya menekankan bahwa suatu ide itu benar terletak pada konsikuensi.berlaku bagi seluruh umat manusia. Jika keduanya ada persesuaian. Kebenaran tak cukup hanya diukur dnenga rasion dan kemauan individu. Dengan demikian. manusia dan mencari dan menemukan kebenaran melalui agama. dimana semua kebenaran (kebenaran inderan. Melainkan mengerti segala sesuai melalui praktek di dalam program solving.fakta. persamaan maka itu benar. pada hasil tindakan yang dilakukan. Bagi Dewey konsikasi tidaklah terletak di dalam ide itu sendiri.

4. Bahkan ada pula yang mutlak.sebagai penentu kebenaran mutlak.com/teori-teori-kebenaran-filsafat/ (diakses tanggal 23 Januari 2012) http://filsafat-ilmu. jasmaniah. KESIMPULAN 1. Diktat Kuliah Filsafat Pendidikan Sains. abadi dan universal. intelektual). 2011.blogspot. Kebenaran itu ada yang relatif terbatas. kebenaran ditentukan oleh potensi subyek yang berperanan di dalam penghayatan atas sesuatu itu. 3.rasio. 2. Kebenaran itu adalah perwujudan dari pemahaman (comprehension) subjek tentang sesuatu terutama yang bersumber dari sesuatu yang diluar subyek itu realita. ada yang berupa ide-ide yang merupakan pemahaman potensi subjek (mental. ada pula yang umum. III.html (diakses tanggal 23 Januari 2012) 10 . 2004.agama dengan kitab suci dan haditsnya dapat memberikan jawaban atas segala persoalan manusia. Kebenaran itu sangat ditentukan oleh potensi subyek kemudian pula tingkatan validitas. Wujud kebenaran itu ada yang berupa penghayatan lahiriah.com/2008/01/teori-kebenaran. DAFTAR RUJUKAN Jujun Suriasumantri. Jakarta: Yayasan Sinar Harapan Widha Sunarno. Filsafat Ilmu (Sebuah Pengantar Populer). teori koherensi atau konsistensi dan teori kebenaran pragmatis. Surakarta: UNS http://van88. nilai-nilai (norma dan hukum) yang bersifat umum. termasuk kebenaran. Dalam filsafat ada beberapa teori kebenaran yaitu teori korespondensi.wordpress. perisitwa. indera.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful