PENATALAKSANAAN HIPERBILIRUBINEMIA DENGAN FOTOTERAPI KONSEP DASAR Ikterus Patologis / Hiperbilirubinemi Adalah suatu keadaan dimana kadar Bilirubin

dalam darah mencapai suatu nilai yang mempunyai potensi untuk menimbulkan Kern Ikterus kalau tidak ditanggulangi dengan baik, atau mempunyai hubungan dengan keadaan yang patologis. Brown menetapkan Hiperbilirubinemia bila kadar Bilirubin mencapai 12mg% pada cukup bulan, dan 15 mg % pada bayi kurang bulan. Utelly menetapkan 10 mg% dan 15 mg%. Kern Ikterus Adalah suatu kerusakan otak akibat perlengketan Bilirubin Indirek pada otak terutama pada Korpus Striatum, Talamus, Nukleus Subtalamus, Hipokampus, Nukleus merah , dan Nukleus pada dasar Ventrikulus IV. CARA KERJA 1. Cara kerja terapi sinar adalah dengan mengubah bilirubin menjadi bentuk yang larut dalam air untuk dieksresikan melalui empedu atau urin. 2. Ketika bilirubin mengabsorbsi cahaya, terjadi reaksi fotokimia yaitu isomerisasi. 3. Terdapat konversi ireversibel menjadi isomer kimia lainnya bernama lumirubin yang dengan cepat dibersihkan dari plasma melalui empedu. 4. Lumirubin adalah produk terbanyak degradasi bilirubin akibat terapi sinar pada manusia. 5. Sejumlah kecil bilirubin plasma tak terkonyugasi diubah oleh cahaya menjadi dipyrole yang diekskresikan lewat urin. Foto isomer bilirubin lebih polar dibandingkan bentuk asalnya dan secara langsung bisa dieksreksikan melalui empedu 6. Dari empedu kemudian diekskresi ke dalam Deodenum untuk dibuang bersama feses tanpa proses konjugasi oleh Hati (Avery dan Taeusch, 1984). 7. Hanya produk foto oksidan saja yang bisa diekskresikan lewat urin. 8. Fototherapi mempunyai peranan dalam pencegahan peningkatan kadar Bilirubin, tetapi tidak dapat mengubah penyebab Kekuningan dan Hemolisis dapat menyebabkan Anemia. KRITERIA ALAT 1. Menggunakan panjang gelombang 425-475 nm. 2. Intensitas cahaya yang biasa digunakan adalah 6-12 mwatt/cm2 per nm. 3. Cahaya diberikan pada jarak 35-50 cm di atas bayi. 4. Jumlah bola lampu yang digunakan berkisar antara 6-8 buah, terdiri dari biru (F20T12), cahaya biru khusus (F20T12/BB) atau daylight fluorescent tubes . PROSEDUR PEMBERIAN FOTOTERAPI Persiapan Unit Terapi sinar 1. Hangatkan ruangan tempat unit terapi sinar ditempatkan, bila perlu, sehingga suhu di bawah lampu antara 38 0C sampai 30 0C. 2. Nyalakan mesin dan pastikan semua tabung fluoresens berfungsi dengan baik. 3. Ganti tabung/lampu fluoresens yang telah rusak atau berkelip-kelip (flickering): a. Catat tanggal penggantian tabung dan lama penggunaan tabung tersebut. b. Ganti tabung setelah 2000 jam penggunaan atau setelah 3 bulan, walaupun tabung masih bisa berfungsi.

4. Gunakan linen putih pada basinet atau inkubator, dan tempatkan tirai putih di sekitar daerah unit terapi sinar ditempatkan untuk memantulkan cahaya sebanyak mungkin kepada bayi Pemberian Terapi sinar 1. Tempatkan bayi di bawah sinar terapi sinar. a. Bila berat bayi 2 kg atau lebih, tempatkan bayi dalam keadaan telanjang pada basinet. Tempatkan bayi yang lebih kecil dalam inkubator. b. Letakkan bayi sesuai petunjuk pemakaian alat dari pabrik. 2. Tutupi mata bayi dengan penutup mata, pastikan lubang hidung bayi tidak ikut tertutup. Jangan tempelkan penutup mata dengan menggunakan selotip. 3. Balikkan bayi setiap 3 jam 4. Pastikan bayi diberi makan: 5. Motivasi ibu untuk menyusui bayinya dengan ASI ad libitum, paling kurang setiap 3 jam: 6. Selama menyusui, pindahkan bayi dari unit terapi sinar dan lepaskan penutup mata 7. Pemberian suplemen atau mengganti ASI dengan makanan atau cairan lain (contoh: pengganti ASI, air, air gula, dll) tidak ada gunanya. 8. Bila bayi menerima cairan per IV atau ASI yang telah dipompa (ASI perah), tingkatkan volume cairan atau ASI sebanyak 10% volume total per hari selama bayi masih diterapi sinar . 9. Bila bayi menerima cairan per IV atau makanan melalui NGT, jangan pindahkan bayi dari sinar terapi sinar . 10. Perhatikan: selama menjalani terapi sinar, konsistensi tinja bayi bisa menjadi lebih lembek dan berwarna kuning. Keadaan ini tidak membutuhkan terapi khusus. 11. Teruskan terapi dan tes lain yang telah ditetapkan: 12. Pindahkan bayi dari unit terapi sinar hanya untuk melakukan prosedur yang tidak bisa dilakukan di dalam unit terapi sinar . 13. Bila bayi sedang menerima oksigen, matikan sinar terapi sinar sebentar untuk mengetahui apakah bayi mengalami sianosis sentral (lidah dan bibir biru) 14. Ukur suhu bayi dan suhu udara di bawah sinar terapi sinar setiap 3 jam. Bila suhu bayi lebih dari 37,5 0C, sesuaikan suhu ruangan atau untuk sementara pindahkan bayi dari unit terapi sinar sampai suhu bayi antara 36,5 0C – 37,5 0C. 15. Ukur kadar bilirubin serum setiap 24 jam, kecuali kasus-kasus khusus: 16. Hentikan terapi sinar bila kadar serum bilirubin < 13mg/dL 17. Bila kadar bilirubin serum mendekati jumlah indikasi transfusi tukar, persiapkan kepindahan bayi dan secepat mungkin kirim bayi ke rumah sakit tersier atau senter untuk transfusi tukar. Sertakan contoh darah ibu dan bayi. 18. Bila bilirubin serum tidak bisa diperiksa, hentikan terapi sinar setelah 3 hari. 19. Setelah terapi sinar dihentikan: 20. Observasi bayi selama 24 jam dan ulangi pemeriksaan bilirubin serum bila memungkinkan, atau perkirakan keparahan ikterus menggunakan metode klinis. 21. Bila ikterus kembali ditemukan atau bilirubin serum berada di atas nilai untuk memulai terapi sinar , ulangi terapi sinar seperti yang telah dilakukan. Ulangi langkah ini pada setiap penghentian terapi sinar sampai bilirubin serum dari hasil pemeriksaan atau perkiraan melalui metode klinis berada di bawah nilai untuk memulai terapi sinar. 22. Bila terapi sinar sudah tidak diperlukan lagi, bayi bisa makan dengan baik dan tidak ada masalah lain selama perawatan, pulangkan bayi. 23. Ajarkan ibu untuk menilai ikterus dan beri nasihat untuk membawa kembali bayi bila bayi bertambah kuning

Dikemukakan bahwa angka kejadian ikterus terdapat pada 60% bayi cukup bulan dan pada 80% bayi kurang bulan. Prosedur ini timbul berkat adanya enzim glukotonil transferase yang kemudian menghasilkan bentuk bilirubin indirek. Sebagian besar bilirubin yang terkonjugasi ini dikeskresi melalui duktus hepatikus ke dalam saluran pencernaan dan selanjutnya menjadi urobilinogen dan keluar dengan tinja sebagai . perlu diketahui sedikit tentang metabolisme bilirubin pada neonatus. ikterus yang berlangsung lebih dari 1 minggu serta bilirubin direk lebih dari 1 mg/dl juga merupakan keadaan yang menunjukkan kemungkinan adanya ikterus patologik. Dalam keadaan tersebut penatalaksanaan ikterus harus dilakukan sebaik-baiknya agar akibat buruk ikterus dapat dihindarkan. Pengertian Ikterus fisiologik adalah ikterus yang timbul pada hari kedua dan ketiga yang tidak mempunyai dasar patologis. sehingga bilirubin terikat oleh reseptor membran sel hati dan masuk ke dalam sel hati. II. Sebagian besar bilirubin tersebut berasal dari degredasi hemoglobin darah dan sebagian lagi dari hem bebas atau eritropoesis yang tidak efektif. Ikterus patologik adalah ikterus yang mempunyai dasar patologis atau kadar bilirubinnya mencapai suatu nilai yang disebut hiperbilirubin. Zat ini sulit larut dalam air tetapi larut dalam lemak. infeksi berat. Segera setelah ada dalam sel hati. tempat terjadinya proses konjugasi. karenanya setiap bayi dengan ikterus harus mendapat perhatian terutama apabila ikterus ditemukan dalam 24 jam pertama kehidupan bayi atau kadar bilirubin meningkat lebih dari 5 mg/dl dalam 24 jam. Metabolisme Bilirubin Untuk mendapat pengertian yang cukup mengenai masalah ikterus pada neonatus. Proses hemolisis darah. B. Bilirubin bebas tersebut kemudian bersenyawa dengan albumin dan dibawa ke hepar. KONSEP DASAR A. kadarnya tidak melewati kadar yang membahayakan atau mempunyai potensi menjadi “kernicterus” dan tidak menyebabkan suatu morbiditas pada bayi. Biliverdin inilah yang mengalami reduksi dan menjadi bilirubin bebas atau bilirubin IX alfa. terjadi persnyawaan dengan ligandin (protein-Y) protein Z dan glutation hati lain yang membawanya ke retikulum endoplasma hati. ikterus akan ditemukan dalam minggu pertama kehidupannya. Pembentukan bilirubin tadi dimulai dengan proses oksidasi yang menghasilkan biliverdin serta beberapa zat lain.ASKEP ANAKDENGAN HIPERBILIRUBIN I. Pada sebagian neonatus. Di dalam hepar terjadi mekanisme ambilan. Di Jakarta dilaporkan 32. Bilirubin merupakan produk yang bersifat toksik dan harus dikeluarkan oleh tubuh. Jenis bilirubin ini dapat larut dalam air dan pada kadar tertentu dapat diekskresikan melalui ginjal. karenanya mempunyai sifat lipofilik yang sulit diekskresi dan mudah melalui membran biologik seperti plasenta dan sawar darah otak. Ikterus ini pada sebagian lagi mungkin bersifat patologik yang dapat menimbulkan gangguan yang menetap atau menyebabkan kematian.19% menderita ikterus. PENDAHULUAN Ikterus terjadi apabila terdapat akumulasi bilirubin dalam darah.

akibat asidosis. Gangguan ambilan bilirubin plasma terjadi apabila kadar protein-Z dan protein-Y terikat oleh anion lain. memendeknya umur eritrosit janin/bayi. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran eritrosit.sterkobilin. Gangguan transportasi Bilirubin dalam darah terikat pada albumin kemudian diangkat ke hepar. Defisiensi albumin menyebabkan lebih banyak terdapat bilirubin indirek yang bebas dalam darah yang mudah melekat ke sel otak. Gangguan proses “uptake” dan konjugasi hepar Gangguan ini dapat disebabkan oleh immturitas hepar. Peningkatan kadar bilirubin yang berlebihan dapat menimbulkan kerusakan sel tubuh t3. ditentukan gangguan konjugasi hepar (defisiensi . dan sulfaforazole. C. atau terdapatnya peningkatan sirkulasi enterohepatik. misal kerusakan sel otak yang akan mengakibatkan gejala sisa dihari kemudian. Kelainan di luar hepar biasanya disebabkan oleh kelainan bawaan. Proses tersebut antara lain karena tingginya kadar eritrosit neonatus. 2. perdarahan tertutup dan sepsis. 3. Sebagian besar neonatus mengalami peninggian kadar bilirubin indirek pada hari-hari pertama kehidupan. golongan darah lain. meningkatnya bilirubin dari sumber lain. ABO. Masalah akan timbul apabila produksi bilirubin ini terlalu berlebihan atau konjugasi hati menurun sehingga kumulasi di dalam darah. hipoksia dan infeksi atau tidak terdapatnya enzim glukoronil transferase (sindrom Criggler-Najjar) penyebab lain atau defisiensi protein Y dalam hepar yang berperan penting dalam “uptake” bilirubin ke sel hepar. Gangguan dalam ekskresi Gangguan ini dapat terjadi akibat obstruksi dalam hepar atau di luar hepar. kurangnya substrat untuk konjugasi bilirubin. kemudian akan menurun kembali pada hari ke 10-14 kadar bilirubin pun biasanya tidak melebihi 10 mg/dl pada bayi cukup bulan dan kurang dari 12 mg/dl pada bayi kurang bulan. Patofisiologi Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan bebab bilirubin pada streptucocus hepar yang terlalu berlebihan. D. Peninggian kadar bilirubin ini terjadi pada hari ke 23 dan mencapai puncaknya pada hari ke 5-7. Hal ini terjadi karena terdapatnya proses fisiologik tertentu pada neonatus. misal pada hemolisis yang meningkat pada inkompabilitas darah Rh. Produksi yang berlebihan Hal ini melebihi kemampuannya bayi untuk mengeluarkannya. Obstruksi dalam hepar biasanya akibat infeksi/kerusakan hepar oleh penyebab lain. piruvat kinase. Ikatan bilirubin dengan albumin dapat dipengaruhi oleh obat misalnya salisilat. defisiensi enzim G-6-PADA. misalnya pada bayi dengan asidosis atau dengan anoksia/hipoksia. masa hidup eritrosit yang lebih pendek (80-90 hari) dan belum matangnya fungsi hepar. Pada keadaan ini peninggian bilirubin masih dianggap normal dan karenanya disebut ikterus fisiologik. Dalam usus sebagian diabsorbsi kembali oleh mukosa usus dan terbentuklah proses absorbsi enterohepatik. polisitemia. Etiologi Penyebab ikterus pada bayi baru lahir dapat berdiri sendiri ataupun dapat disebabkan oleh beberapa faktor: 1. 4. gangguan fungsi hepar.

Penghentian atau peninjauan kembali penyinaran juga dilakukan apabila ditemukan efek samping terapi sinar. letargi dan iritabilitas. policitemia. antara lain: enteritis. Toksisitas ini terutama ditemukan pada bilirubin indirek. merupakan tindakan yang juga dapat mengendalikan kenaikan kadar bilirubin. bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusakan jaringan otak. mengurangi sirkulasi enterohepatik (pemberian kolesteramin). liver atau gangguan metabolik. Berat lahir rendah. Bilirubin indirek akan mudah melalui sawar darah otak apabila pada bayi terdapat keadaan imaturitas. terapi sinar atau transfusi hikan. Tanda dan Gejala ♦ Kulit tampak berwarna kuning terang sampai jingga (pada bayi dengan bilirubin indirek). gangguan minum. obstruksi menetap. misalnya penderita hepatitis neonatal atau sumbatan saluran empedu intra/ekstra hepatika. Pemberian substrat yang dapat menghambat metabolisme bilirubin (plasma atau albumin). penderita mungkin menderita kernikterus atau ensefalopati biliaris. Pada stadium mungkin didapatkan adanya atitosis ditai gangguan pendengaran atau retardasi mental di hari kemudian. dehidrasi. memar. Pada stadium mungkin didapatkan adanya atitosis didan ditemukan opistotonis. E. Mudah tidaknya bilirubin melalui sawar darah otak ternyata tidak hanya tergantung dari tingginya kadar bilirubin tetapi tergantung pula pada keadaan neonatus sendiri. Kelainan yang terjadi pada otak ini disebut kernikterus atau ensefalopati biliaris. Konjugasi bilirubin dapat lebih cepat berlangsung ini dapat dilakukan dengan merangsang terbentuknya glukuronil transferase dengan pemberian obat seperti luminal atau agar. G. Prognosis Hiperbilirubin baru akan berpengaruh bentuk apabila bilirubin indirek telah melalui sawar otak. hipertermia. ASUHAN KEPERAWATAN A. ♦ Anemia ♦ Petekie ♦ Perbesaran lien dan hepar ♦ Perdarahan tertutup ♦ Gangguan nafas ♦ Gangguan sirkulasi ♦ Gangguan saraf F. hematom. Penatalaksanaan Tujuan utama adalah untuk mengendalikan agar kadar bilirubin serum tidak mencapai nilai yang dapat menimbulkan kernikterus/ensefalopati biliaris. serta mengobati penyebab langsung ikterus. Pengkajian a. selanjutnya bayi mungkin kejang. . Pada derajat tertentu. hiperkarbia. ibu dengan diabetes. Sifat indirek ini yang memungkinkan efek patologik pada sel otak apabila bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak. spastik dan ditemukan opistotonis. III. Riwayat penyakit Kekacauan/ gangguan hemolitik (Rh atau ABO incompabilitas). hipoglikemia dan kelainan susunan saraf pusat yang karena trauma atau infeksi. infeksi. letargi dan hipotonia.enzim glukuronii transferase) atau bayi menderita gangguan ekskresi. gejala ensefalopati pada neonatus mungkin sangat ringan dan hanya memperlihatkan gangguan minum. hipoksia. Efek samping bersifat sementara dan kadang-kadang penyinaran dapat diteruskan sementara keadaan yang menyertainya diperbaiki. kelainan kulit (ruam gigitan kutu).

Pucat .Monitor berat badan tiap hari e.Monitor tanda-tanda vital b.Kolaborasi terapi dengan tim medis e. Diagnosa keperawatan 1. membina kekeluargaan dengan bayi yang lain yang menderita ikterus.b.Berikan minum ekstra f.Gatal .Urine pekat .Penurunan refleks menghisap .Letargi . Resiko perubahan suhu Tubuh berhubungan dengan efek samping fototerapi .Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian fototerapi 2.Lakukan oral hygiene dan olesi mulut dengan kapas basah c.Tremor . tindak lanjut pengobatan.Penurunan kekuatan otot (hipotonia) .Monitor bila ada muntah.Menangis dengan nada tinggi c.Observasi turgor dan membran mukosa 3. B. merasa asing. d.Monitor bilirubin serum c. kurang membaca dan kurangnya kemauan untuk belajar.Kuning .Convulsio (kejang perut) . tidak kooperatif/ sulit kooperatif. Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan malas menghisap Tujuan/Kriteria Kebutuhan nutrisi terpenuhi Rencana Tindakan a. tingkat pendidikan. Pemeriksaan fisik . Resiko peningkatan kadar bilirubin dalam darah berhubungan dengan kondisi fisiologis/patologis Tujuan/Kriteria Tidak ada peningkatan hiperbilirubinemia Rencana Tindakan a. gelisah. Pemeriksaan psikologis Efek dari sakit bayi.Berikan minum melalui sonde(ASI yang diperah atau PASI) b. kaku otot atau tremor d.Monitor intake dan output d. Pengkajian pengetahuan keluarga dan pasien Penyebab dan perawatan.

Tujuan/Kriteria: Suhu tubuh tetap normal Rencana Tindakan: a.Beri penyuluhan pada orang tua tentang tujuan.Libatkan orang tua dalam prosedur fototerapi .Berikan minum tambahan 4.Kaji efek samping fototerapi 2.Observasi keadaan keutuhan kulit dan warnanya b. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang tujuan.Lakukan alih baring dan pemijatan 6.Observasi dan catat penggunaan lampu 5.Gunakan lotion pada daerah bokong d.Monitor tanda-tanda vital tiap 4jam b.Perhatikan suhu lingkungan dan gunakan isolasi c. prosedur dan efek samping fototerapi Rencana Tindakan: 1.Letakkan bayi 45 cm dari sumber cahaya/lampu 3.Selama dilakukan fototerapi tutup mata dan genital dengan bahan yang tidak tembus cahaya 4.Monitor reflek mata dengan senter pada saat bayi diistirahatkan dan kontrol keadaan mata setiap 8 jam 5. Resiko terjadi gangguan integritas kulit berhubungan dengan efek samping fototerapi Tujuan/Kriteria: Selama dalam perawatan kulit bayi tidak mengalami gangguan integritas kulit Rencana Tindakan: a. prosedur pemasangan dan efek samping fototerapi Tujuan/Kriteria: Orang tua mengerti tujuan tujuan.Bersihkan segera bila bayi buang air besar atau buang air kecil c.Berikan support mental 3.Buka tutup mata bila diberi minum atau saat tidak dibawah sinar 6. Resiko terjadi trauma persepsi sensori penglihatan berhubungan dengan efek samping fototerapi Tujuan/Kriteria: Tidak terjadi gangguan pada retina pada masa perkembangan Rencana Tindakan: 1. prosedur dan efek samping fototerapi 2.Jaga alat tenun dalam keadaan bersih dan kering e.

Pada kebanyakan kasus ikterus neonatorum. . juga dapat menyebabkan gejala sisa berupa cerebral palsy. Ensefalopati bilirubin adalah terdapatnya tanda-tanda klinis akibat deposit bilirubin dalam sel otak. Ikterus menetap pada usia >2 minggu. Hal ini dapat terjadi karena jumlah eritosit pada neonatus lebih banyak dan usianya lebih pendek. Ikterus neonatorum merupakan fenomena biologis yang timbul akibat tingginya produksi dan rendahnya ekskresi bilirubin selama masa transisi pada neonatus. Sebagian besar tidak memiliki penyebab dasar atau disebut ikterus fisiologis yang akan menghilang pada akhir minggu pertama kehidupan pada bayi cukup bulan.Angka kematian bayi (AKB) di Indonesia. Pada neonatus produksi bilirubin 2 sampai 3 kali lebih tinggi dibanding orang dewasa normal. Sebagian kecil memiliki penyebab seperti hemolisis. dengan proyeksi pada tahun 2025 AKB dapat turun menjadi 18 per 1000 kelahiran hidup. A. Hiperbilirubinemia adalah keadaan kadar bilirubin dalam darah >13 mg/dL. penyakit metabolik (ikterus non-fisiologis). Kadar bilirubin direk > 2 mg/dL. Secara klinis. Dalam upaya mewujudkan visi “Indonesia Sehat 2010”. terutama bayi kecil (bayi dengan berat lahir < 2500 g atau usia gestasi <37 minggu) mengalami ikterus pada minggu pertama kehidupannya. tuli nada tinggi. maka salah satu tolok ukur adalah menurunnya angka mortalitas dan morbiditas neonatus. ikterus yang terjadi pada umumnya adalah fisiologis. Salah satu penyebab mortalitas pada bayi baru lahir adalah ensefalopati bilirubin (lebih dikenal sebagai kernikterus). Bilirubin total/indirek untuk bayi cukup bulan > 13 mg/dL atau bayi kurang bulan >10 mg/dL. hipotonia. kadar bilirubin tidak berbahaya dan tidak memerlukan pengobatan. Selain memiliki angka mortalitas yang tinggi. kejang. Terdapat faktor risiko. Kelainan ini dapat terjadi dalam bentuk akut atau kronik. tahap 1 (1-2 hari pertama): refleks isap lemah. Efek toksik bilirubin ialah neurotoksik dan kerusakan sel secara umum. paralisis dan displasia dental yang sangat mempengaruhi kualitas hidup. Ensefalopati bilirubin merupakan komplikasi ikterus neonatorum yang paling berat. Peningkatan bilirubin > 5 mg/dL/24 jam. Definisi Ikterus adalah gambaran klinis berupa pewarnaan kuning pada kulit dan mukosa karena adanya deposisi produk akhir katabolisme hem yaitu bilirubin. Pada bayi baru lahir. septikemi.4 per 1000 kelahiran hidup. Bilirubin dapat masuk ke jaringan otak. ikterus pada neonatus akan tampak bila konsentrasi bilirubin serum lebih 5 mg/dL. Bentuk akut terdiri atas 3 tahap. kecuali:       Timbul dalam 24 jam pertama kehidupan. Data epidemiologi yang ada menunjukkan bahwa lebih 50% bayi baru lahir menderita ikterus yang dapat dideteksi secara klinis dalam minggu pertama kehidupannya. Banyak bayi baru lahir. pada tahun 1997 tercatat sebanyak 41.

C. menemukan prevalensi ikterus pada bayi baru lahir sebesar 58% untuk kadar bilirubin di atas 5 mg/dL dan 29. 78% di antaranya merupakan ikterus fisiologis dan sisanya ikterus patologis. Tahun 2003 terdapat sebanyak 128 kematian neonatal (8.8% memiliki kadar bilirubin di atas 13 mg/dL.7%.6% bayi cukup bulan. Sardjito melaporkan sebanyak 85% bayi cukup bulan sehat mempunyai kadar bilirubin di atas 5 mg/dL dan 23. Dengan pemeriksaan kadar bilirubin setiap hari. didapatkan data ikterus neonatorum dari beberapa rumah sakit pendidikan. Etiologi dan Faktor Risiko 1. Di Indonesia. Sedangkan pada bayi kurang bulan. motorik terlambat. Sardjito menggunakan metode spektrofotometrik pada hari ke-0. 3 dan 5.0% dan bayi kurang bulan 22. Pemeriksaan dilakukan pada hari 0. Epidemiologi Di Amerika Serikat. Sedang setelah tahun pertama didapati gangguan gerakan.tahap 2 (pertengahan minggu pertama): tangis melengking. Etiologi Peningkatan kadar bilirubin umum terjadi pada setiap bayi baru lahir. dilaporkan ikterus dan hiperbilirubinemia ditemukan pada 95% dan 56% bayi. Kariadi Semarang. tahap 3 (setelah minggu pertama): hipertoni.3% dengan kadar bilirubin di atas 12 mg/dL pada minggu pertama kehidupan. Didapatkan juga data insidens ikterus pada bayi cukup bulan sebesar 12. Perbedaan angka yang cukup besar ini mungkin disebabkan oleh cara pengukuran yang berbeda.dan RS Dr. Sensus yang dilakukan pemerintah Malaysia pada tahun 1998 menemukan sekitar 75% bayi baru lahir mengalami ikterus pada minggu pertama.8%. Angka kematian terkait hiperbilirubinemia sebesar 13. RS Dr. . 3 dan 5 . Sebuah studi cross-sectional yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Rujukan Nasional Cipto Mangunkusumo selama tahun 2003. karena:  Hemolisis yang disebabkan oleh jumlah sel darah merah lebih banyak dan berumur lebih pendek.1%. di mana insidens ikterus pada tahun 2003 hanya sebesar 13. RS Dr. Cipto Mangunkusumo ikterus dinilai berdasarkan kadar bilirubin serum total > 5 mg/dL. kehilangan pendengaran sensorial. dari 4 juta bayi yang lahir setiap tahunnya. Data yang agak berbeda didapatkan dari RS Dr. Soetomo Surabaya sebesar 30% pada tahun 2000 dan 13% pada tahun 2002. Bentuk kronik : pada tahun pertama: hipotoni. epistotonus. Kariadi menilai ikterus berdasarkan metode visual. sekitar 65% mengalami ikterus. Insidens ikterus neonatorum di RS Dr.5%) dari 1509 neonatus yang dirawat dengan 24% kematian terkait hiperbilirubinemia. Di RS Dr. B. didapatkan ikterus dan hiperbilirubinemia terjadi pada 82% dan 18. hipertonia.

ekimosis) Infeksi (bakteri. septikemia. Infeksi. sepsis. Native American. defisiensi G6PD. Ekstravasasi sel darah merah. meningitis. trauma lahir. inkompatibilitas ABO dan Rh) Penggunaan infus oksitosin dalam larutan hipotonik. protozoa) c. Hipoksia/asfiksia. Faktor Perinatal   Trauma lahir (sefalhematom. Sumbatan traktus digestif yang mengakibatkan peningkatan sirkulasi enterohepatik. Sirkulus enterohepatikus meningkat karena masih berfungsinya enzim -> glukuronidase di usus dan belum ada nutrien. Asidosis. sulfisoxazol) Rendahnya asupan ASI Hipoglikemia Hipoalbuminemia D. kloramfenikol. UDPG/T dan ligand dalam protein belum adekuat) -> penurunan ambilan bilirubin oleh hepatosit dan konjugasi. virus. Faktor Neonatus        Prematuritas Faktor genetik Polisitemia Obat (streptomisin.Yunani) Komplikasi kehamilan (DM. ASI b. 2. infeksi intra uterin. sferositosis herediter dan pengaruh obat. Patofisiologi . kontusio.  Fungsi hepar yang belum sempurna (jumlah dan fungsi enzim glukuronil transferase. Ibu diabetes. infeksi saluran kemih. benzyl-alkohol. Faktor Maternal     Ras atau kelompok etnik tertentu (Asia. Peningkatan kadar bilirubin yang berlebihan (ikterus nonfisiologis) dapat disebabkan oleh faktor/keadaan:         Hemolisis akibat inkompatibilitas ABO atau isoimunisasi Rhesus. Polisitemia. Faktor Risiko Faktor risiko untuk timbulnya ikterus neonatorum: a. sefalhematom.

Pola ikterus fisiologis pada bayi baru lahir sebagai berikut: kadar bilirubin serum total biasanya mencapai puncak pada hari ke 3-5 kehidupan dengan kadar 5-6 mg/dL. ras. 2. dapat terjadi ikterus yang yang berkepanjangan. Gambar berikut menunjukan metabolisme pemecahan hemoglobin dan pembentukan bilirubin. Bilirubin mulai meningkat secara normal setelah 24 jam. Bayi ras Cina cenderung untuk memiliki kadar puncak bilirubin maksimum pada hari ke-4 dan 5 setelah lahir. Faktor yang berperan pada munculnya ikterus fisiologis pada bayi baru lahir meliputi peningkatan bilirubin karena polisitemia relatif. Ikterus fisiologis Secara umum. setiap neonatus mengalami peningkatan konsentrasi bilirubin serum. pemendekan masa hidup eritrosit (pada bayi 80 hari dibandingkan dewasa 120 hari). dan faktor-faktor lain.Bilirubin pada neonatus meningkat akibat terjadinya pemecahan eritrosit. 1. Hal ini dapat terjadi karena adanya faktor tertentu dalam ASI yang diduga meningkatkan absorbsi bilirubin di usus halus. Apabila keadaan umum bayi baik. kadang sampai beberapa minggu. proses ambilan dan konyugasi di hepar yang belum matur dan peningkatan sirkulasi enterohepatik. E. kemudian menurun kembali dalam minggu pertama setelah lahir. ibu tidak perlu khawatir. aktif. tidak ada tata laksana khusus meskipun ada peningkatan kadar bilirubin. bayi prematur akan memiliki puncak bilirubin maksimum yang lebih tinggi pada hari ke-6 kehidupan dan berlangsung lebih lama. Penegakan Diagnosis . namun kurang 12 mg/dL pada hari ketiga hidupnya dipertimbangkan sebagai ikterus fisiologis. minum kuat. Bila tidak ditemukan faktor risiko lain. Sebagai contoh. Ikterus pada bayi mendapat ASI (Breast milk jaundice) Pada sebagian bayi yang mendapat ASI eksklusif. ASI tidak perlu dihentikan dan frekuensi ditambah. Setelah itu perlahan-lahan akan menurun mendekati nilai normal dalam beberapa minggu. dan puncaknya pada hari ke 3-5. Pola ikterus fisiologis ini bervariasi sesuai prematuritas. Kadang dapat muncul peningkatan kadar bilirubin sampai 12 mg/dL dengan bilirubin terkonyugasi < 2 mg/dL.

Dari penelitian ini didapatkan bahwa pemeriksaan TcB dan Total Serum Bilirubin (TSB) memiliki korelasi yang bermakna (n=303. Tentukan keparahan ikterus berdasarkan umur bayi dan bagian tubuh yang tampak kuning. p<0. Pemeriksaan ini sulit diterapkan pada neonatus kulit berwarna.0001). karena besarnya bias penilaian. Visual Metode visual memiliki angka kesalahan yang tinggi. Bilirubin Serum Pemeriksaan bilirubin serum merupakan baku emas penegakan diagnosis ikterus neonatorum serta untuk menentukan perlunya intervensi lebih lanjut. Sampel serum harus dilindungi dari cahaya (dengan aluminium foil) Beberapa senter menyarankan pemeriksaan bilirubin direk. namun masih dapat digunakan apabila tidak ada alat. Bilirubinometer Transkutan Bilirubinometer adalah instrumen spektrofotometrik yang bekerja dengan prinsip memanfaatkan bilirubin yang menyerap cahaya dengan panjang gelombang 450 nm. Tekan kulit bayi dengan lembut dengan jari untuk mengetahui warna di bawah kulit dan jaringan subkutan.76.1. namun apabila terdapat keterbatasan alat masih boleh digunakan untuk tujuan skrining dan bayi dengan skrining positif segera dirujuk untuk diagnostik dan tata laksana lebih lanjut. sehingga TcB tidak dapat digunakan untuk mengukur TSB. Namun disebutkan . Saat ini. sebagai berikut:    Pemeriksaan dilakukan dengan pencahayaan yang cukup (di siang hari dengan cahaya matahari) karena ikterus bisa terlihat lebih parah bila dilihat dengan pencahayaan buatan dan bisa tidak terlihat pada pencahayaan yang kurang. Briscoe dkk. Penelitian ini dilakukan di Inggris. WHO dalam panduannya menerangkan cara menentukan ikterus secara visual.4 mg/dL (249 umol/l). bukan untuk diagnosis. (2002) melakukan sebuah studi observasional prospektif untuk mengetahui akurasi pemeriksaan bilirubin transkutan (JM 102) dibandingkan dengan pemeriksaan bilirubin serum (metode standar diazo). Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan pemeriksaan serum bilirubin adalah tindakan ini merupakan tindakan invasif yang dianggap dapat meningkatkan morbiditas neonatus. Pemeriksaan bilirubin transkutan dilakukan untuk tujuan skrining. bila kadar bilirubin total > 20 mg/dL atau usia bayi > 2 minggu. 3. Pemeriksaan bilirubin transkutan (TcB) dahulu menggunakan alat yang amat dipengaruhi pigmen kulit. r=0. melibatkan 303 bayi baru lahir dengan usia gestasi >34 minggu. namun interval prediksi cukup besar. Pada penelitian ini hiperbilirubinemia dibatasi pada konsentrasi bilirubin serum >14. (tabel 1) 2. Secara evidence pemeriksaan metode visual tidak direkomendasikan. Cahaya yang dipantulkan merupakan representasi warna kulit neonatus yang sedang diperiksa. alat yang dipakai menggunakan multiwavelength spectral reflectance yang tidak terpengaruh pigmen. Umumnya yang diperiksa adalah bilirubin total.

Hasil analisis biaya yang dilakukan oleh Suresh dkk.pula bahwa hasil pemeriksaan TcB dapat digunakan untuk menentukan perlu tidaknya dilakukan pemeriksaan TSB. Umumnya pemeriksaan TcB dilakukan sebelum bayi pulang untuk tujuan skrining. Tata laksana 1. sesuai dengan panduan WHO . Pemeriksaan bilirubin bebas dan CO Bilirubin bebas secara difusi dapat melewati sawar darah otak. dapat dilakukan beberapa cara berikut:   Minum ASI dini dan sering Terapi sinar. F. 4. aktif. Tidak perlu menunggu hasil pemeriksaan kadar bilirubin serum untuk memulai terapi sinar. pada kadar bilirubin tinggi. Untuk mengatasi ikterus pada bayi yang sehat. Ikterus Fisiologis Bayi sehat. tungkai. cukup bulan. tangan dan kaki pada hari kedua. Bilirubin menjadi substansi tidak berwarna. (2004) menyatakan bahwa pemeriksaan bilirubin serum ataupun transkutan secara rutin sebagai tindakan skrining sebelum bayi dipulangkan tidak efektif dari segi biaya dalam mencegah terjadinya ensefalopati hiperbilirubin. tata laksana ikterus neonatorum akan lebih terarah. Salah satunya dengan metode oksidase-peroksidase. Perlu diingat bahwa pada bayi sehat. tanpa faktor risiko. kemungkinan terjadinya kernikterus sangat kecil. Dengan pendekatan bilirubin bebas. tidak diterapi. Beberapa metode digunakan untuk mencoba mengukur kadar bilirubin bebas. Berdasarkan hal ini. Seperti telah diketahui bahwa pada pemecahan heme dihasilkan bilirubin dan gas CO dalam jumlah yang ekuivalen. maka pengukuran konsentrasi CO yang dikeluarkan melalui pernapasan dapat digunakan sebagai indeks produksi bilirubin. Hal ini menerangkan mengapa ensefalopati bilirubin dapat terjadi pada konsentrasi bilirubin serum yang rendah. Tabel 1. maka digolongkan sebagai ikterus sangat berat dan memerlukan terapi sinar secepatnya. minum kuat. Perkiraan Klinis Tingkat Keparahan Ikterus Usia Kuning terlihat pada Tingkat keparahan ikterus Berat Hari 1 Bagian tubuh manapun Hari 2 Tengan dan tungkai * Hari 3 Tangan dan kaki * Bila kuning terlihat pada bagian tubuh manapun pada hari pertama dan terlihat pada lengan. Prinsip cara ini berdasarkan kecepatan reaksi oksidasi peroksidasi terhadap bilirubin.

Hal ini kurang dapat diterapkan di Indonesia karena tidak praktis dan membutuhkan biaya yang cukup besar. hemolisis atau sepsis Ambil contoh darah dan periksa kadar bilirubin serum dan hemoglobin. Bilirubin serum total 24 jam pertama > 4. lakukan terapi sinar Bila faktor Rhesus dan golongan darah ABO bukan merupakan penyebab hemolisis atau bila ada riwayat defisiensi G6PD di keluarga.5 mg/dL dapat digunakan sebagai faktor prediksi hiperbilirubinemia pada bayi cukup bulan sehat pada minggu pertama kehidupannya. Tata laksana Hiperbilirubinemia Hemolitik Paling sering disebabkan oleh inkompatibilitas faktor Rhesus atau golongan darah ABO antara bayi dan ibu atau adanya defisiensi G6PD pada bayi. lakukan terapi sinar. Bila penyebab ikterus adalah inkompatibilitas Rhesus. lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu. hentikan terapi sinar.     Bila nilai bilirubin serum memenuhi kriteria untuk dilakukannya terapi sinar. segera rujuk bayi bila ikterus telah terlihat sejak hari 1 dan hemoglobin < 13 g/dL (hematokrit < 40%). Bila kadar bilirubin serum berada pada atau di atas nilai dibutuhkannya terapi sinar. mengapa perlu dirujuk dan terapi apa yang akan diterima bayi. Bila bilirubin serum tidak bisa diperiksa dan tidak memungkinkan untuk dilakukan tes Coombs. segera rujuk bayi. Bila rujukan untuk dilakukan transfusi tukar memungkinkan: Bila bilirubin serum mendekati nilai dibutuhkannya transfusi tukar. lakukan uji saring G6PD bila memungkinkan. Tata laksana Awal Ikterus Neonatorum (WHO)    Mulai terapi sinar bila ikterus diklasifikasikan sebagai ikterus berat. apapun penyebabnya. o Kirim contoh darah ibu dan bayi. diperlukan pemeriksaan ulang dan kontrol lebih cepat (terutama bila tampak kuning). o Jelaskan kepada ibu tentang penyebab bayi menjadi kuning. tentukan golongan darah bayi dan lakukan tes Coombs: Bila kadar bilirubin serum di bawah nilai dibutuhkannya terapi sinar.5 kg. Tentukan apakah bayi memiliki faktor risiko berikut: berat lahir < 2. Tentukan diagnosis banding     2. Tata laksana untuk keadaan ini berlaku untuk semua ikterus hemolitik. pastikan ibu mendapatkan informasi yang cukup mengenai hal ini karena berhubungan dengan kehamilan berikutnya. Pada bayi yang pulang sebelum 48 jam. o Segera kirim bayi ke rumah sakit tersier atau senter dengan fasilitas transfusi tukar.   . Bila bayi dirujuk untuk transfusi tukar: o Persiapkan transfer. kadar hemoglobin < 13 g/dL (hematokrit < 40%) dan tes Coombs positif.

G. Bila hemoglobin < 10 g/dL (hematokrit < 30%). Kerusakan jaringan otak yang terjadi seringkali tidak sebanding dengan konsentrasi bilirubin serum. informasikan kepada ibu untuk menghindari zat-zat tertentu untuk mencegah terjadinya hemolisis pada bayi (contoh: obat antimalaria. Hal ini terjadi akibat terikatnya asam bilirubin bebas dengan lipid dinding sel neuron di ganglia basal. Bilirubin juga dapat menghambat sinyal neuroeksitatori dan konduksi saraf (terutama pada nervus auditorius) sehingga menimbulkan gejala sisa berupa tuli saraf. dan 3 minggu pada neonatus kurang bulan. Sejauh ini hubungan antara peningkatan kadar bilirubin serum dengan ensefalopati bilirubin telah diketahui. Bila buang air besar bayi pucat atau urin berwarna gelap. dan lakukan pemeriksaan penunjang untuk mencari penyebab. Hal ini disebabkan kerusakan jaringan otak yang terjadi ditentukan oleh konsentrasi dan lama paparan bilirubin terhadap jaringan. Tetapi belum ada studi yang mendapatkan nilai spesifik bilirubin total serum pada bayi cukup bulan dengan hiperbilirubinemia non hemolitik yang dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pada kecerdasan atau kerusakan neurologik yang disebabkannya. Ensefalopati bilirubin Ikterus neonatorum yang berat dan tidak ditata laksana dengan benar dapat menimbulkan komplikasi ensefalopati bilirubin. Bila ikterus menetap selama 2 minggu atau lebih pada bayi cukup bulan atau 3 minggu lebih lama pada bayi kecil (berat lahir < 2. hipoksia dan asfiksia bisa menyebabkan kerusakan pada sawar darah otak. Dengan adanya ikterus. persiapkan kepindahan bayi dan rujuk ke rumah sakit tersier atau senter khusus untuk evaluasi lebih lanjut. kamfer/mothballs. periksa kadar hemoglobin setiap minggu selama 4 minggu. obatobatan golongan sulfa. berikan transfusi darah. berikan transfusi darah. terapi sebagai sifilis kongenital. aspirin. Pada bayi dengan sepsis. Follow up setelah kepulangan.    Bila bayi memiliki defisiensi G6PD. Bilirubin dapat menghambat enzim-enzim mitokondria serta mengganggu sintesis DNA. Nasihati ibu:  Ikterus Berkepanjangan (Prolonged Jaundice)     Diagnosis ditegakkan apabila ikterus menetap hingga 2 minggu pada neonatus cukup bulan. bila memungkinkan. Mengenai penatalaksanaan dengan terapi sinar dan transfusi tukar selengkapnya dimuat terpisah. bilirubin yang terikat ke albumin plasma bisa masuk ke dalam cairan ekstraselular. terapi sebagai ikterus berkepanjangan (prolonged jaundice). . Terapi sinar dihentikan.5 kg atau lahir sebelum kehamilan 37 minggu). Bila tes sifilis pada ibu positif. favabeans). Efek Hiperbilirubinemia Perhatian utama pada hiperbilirubinemia adalah potensinya dalam menimbulkan kerusakan sel-sel saraf. Bila hemoglobin < 8 g/dL (hematokrit < 24%). meskipun kerusakan sel-sel tubuh lainnya juga dapat terjadi. batang otak dan serebelum yang menyebabkan kematian sel.

ikatan albumin dengan bilirubin. Meningkatkan frekuensi menyusui dapat menurunkan kecenderungan keadaan hiperbilirubinemia yang berat pada neonatus. Penilaian Klinis . Bayi yang selamat setelah mengalami ensefalopati bilirubin akan mengalami kerusakan otak permanen dengan manifestasi berupa serebral palsy. Rendahnya asupan kalori dan atau keadaan dehidrasi berhubungan dengan proses menyusui dan dapat menimbulkan ikterus neonatorum. Faktor tersebut antara lain: konsentrasi albumin serum. keadaan ini adalah peristiwa yang tidak biasa ditemukan sekalipun pada bayi prematur dan kadar albumin serum yang sebelumnya diperkirakan dapat menempatkan bayi prematur berisiko untuk terkena ensefalopati bilirubin. Bila ibu belum pernah menjalani pemeriksaan golongan darah selama kehamilannya. penetrasi albumin ke dalam otak. Apabila golongan darah ibu adalah O dengan Rh-positif. Primer AAP merekomendasikan pemberian ASI pada semua bayi cukup bulan dan hampir cukup bulan yang sehat. susu botol maupun dekstrosa) pada neonatus nondehidrasi.Faktor yang mempengaruhi toksisitas bilirubin pada sel otak bayi baru lahir sangat kompleks dan belum sepenuhnya dimengerti. H. sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan golongan darah dan Rhesus. Dokter dan paramedis harus memotivasi ibu untuk menyusukan bayinya sedikitnya 8-12 kali sehari selama beberapa hari pertama. Jika darah bayi bukan O. dan kerawanan sel otak menghadapi efek toksik bilirubin. Pemeriksaan Golongan Darah Semua wanita hamil harus menjalani pemeriksaan golongan darah ABO dan Rhesus serta menjalani skrining antibodi isoimun. AAP dalam rekomendasinya mengemukakan beberapa langkah pencegahan hiperbilirubinemia sebagai berikut: 1. 2. dapat dilakukan tes Coombs. epilepsi dan keterbelakangan mental atau hanya cacat minor seperti gangguan belajar dan perceptual motor disorder. Pemberian cairan tambahan tidak dapat mencegah terjadinya ikterus neonatorum maupun menurunkan kadar bilirubin serum. Lingkungan yang kondusif bagi ibu akan menjamin terjadinya proses menyusui yang baik. Bagaimanapun juga. Pencegahan Perlu dilakukan terutama bila terdapat faktor risiko seperti riwayat inkompatibilitas ABO sebelumnya. AAP juga melarang pemberian cairan tambahan (air. Sekunder Dokter harus melakukan pemeriksaan sistematik pada neonatus yang memiliki risiko tinggi ikterus neonatorum. perlu dilakukan pemeriksaan darah tali pusat.

Laporan RS Dr. 5th edition. Penyebab yang tersering . Ruang perawatan sebaiknya memiliki prosedur standar tata laksana ikterus. Masukan Dr.Dokter harus memastikan bahwa semua neonatus dimonitor secara berkala untuk mengawasi terjadinya ikterus. 3. kulit atau jaringan lain akibat penimbunan bilirubin dalam tubuh atau akumulasi bilirubin dalam darah lebih dari 5 mg/dl dalam 24 jam. and midwives. Penilaian ini harus dilakukan dalam ruangan yang cukup terang. editors. sistem biliary. Stevenson DK. umumnya hanya berlaku pada bayi kulit putih dan memiliki angka kesalahan yang tinggi.114:917-24.41:69-75. 6. 2. Clark S. Dennery PA. Seidman DS. kulit atau jaringan lain akibat penimbunan bilirubin dalam tubuh atau akumulasi bilirubin dalam darah lebih dari 5 mg/dl dalam 24 jam Ikterus neonatorum I. Sardjito Yogyakarta. Can transcutaneous bilirubinometry reduce the need for blood tests in jaundiced full term babies? Arch Dis Child Fetal Neonatal 2002. 4. 11. Yoxall CW. Neonatal Hyperbilirubinemia. Berkala Ilmu Kedokteran 1995. Tambunan T. 8. Ikterus pada awalnya muncul di bagian wajah. Surjono A. Paedatr Indones 2001. Managing newborn problems:a guide for doctors. Ali Usman. Sp Info ikterus neonatorum Ikterus adalah menguningnya sklera. Geneva 2003. atau sistem hematologi. Etiologi Hiperbilirubinemia dapat disebabkan oleh bermacam-macam keadaan. In: Cloherty JP. Masukan berdasarkan hasil rapat tim ahli HTA Indonesia. Lippincott Williams and Wilkins. Hiperbilirubinemia pada neonatus:pendekatan kadar bilirubin bebas. Neonatal hyperbilirubinemia. Pediatrics 2004. Health Technology Assessment Unit Medical Development Division Ministry of Health Malaysia. Eichenwald EC. ikterus dapat dinilai dengan menekan kulit bayi sehingga memperlihatkan warna kulit dan subkutan. Laporan RS Dr. 5. Situmeang EH. 7. Suradi R. kemudian akan menjalar ke kaudal dan ekstrimitas. Stark AR. N Engl J Med 2001. nurses. 9. Referensi: 1.344:581-90. Martin CR. Suresh GK. Ikterus harus dinilai sekurang-kurangnya setiap 8 jam bersamaan dengan pemeriksaan tanda-tanda vital lain. Clark RE. Departement of Reproductive Health and Research.86:F190-2. The association of neonatal jaundice and breast-feeding. Kariadi Semarang. Cost-effectiveness of strategies that are intended to prevent kernicterus in newborn infants. Definisi Ikterus adalah menguningnya sklera. World Health Organization.2004.27:43-6. Penilaian ini sangat kasar. Ikterus dapat terjadi baik karena peningkatan bilirubin indirek ( unconjugated ) dan direk ( conjugated ) . Manual of Neonatal Care. 12. 10. Briscoe L.185-222. 2002. Cloherty JP. Management of neonatal hyperbilirubinemia. paling baik menggunakan sinar matahari. II. Pada bayi baru lahir. Philadelphia. yang menandakan terjadinya gangguan fungsional dari hepar.

Zat ini sulit larut dalam air tetapi larut dalam lemak. sehingga bilirubin terikat dengan oleh reseptor membran sel hati dan masuk ke dalam sel hati. tempat terjadinya proses konjugasi. memendeknya umur eritrosit bayi/janin. Sebagian besar bilirubin yang terkonjugasi ini diekskesi melalui duktus hepatikus ke dalam saluran pencernaan dan selanjutnya menjadi urobilinogen dan keluar dari tinja sebagai sterkobilin. Hemolisis ini juga dapat timbul akibat perdarahan tertutup (hematom cefal. masa hidup eritrosit yang lebuh pendek (80 – 90 hri ). . Gangguan ambilan bilirubin plasma juga dapat menimbulkan peningkatan kadar bilirubin tubuh.ditemukan disini adalah hemolisis yang timbul akibat inkompabilitas golongan darah ABO atau defisiensi enzim G6PD. perdarahan subaponeurotik) atau inkompabilitas darah Rh. Ikterus ini pada sebagian penderita dapat berbentuk fisiologik dan sebagian lagi patologik yang dapat menimbulkan gangguan yang menetap atau menyebabkan kematian. infeksi juga memegang peranan penting dalam terjadinya hiperbilirubinemia. dehidrasi dan asidosis. IV. ikterik akan ditemukan dalam minggu pertama kehidupannya. Pembentukan bilirubin tadi dimulai dengan proses oksidasi yang menghasilkan biliverdin serta beberapa zat lain. keadaan ini terutama terjadi pada penderita sepsis dan gastroenteritis. Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein-Y berkurang atau pada keadaan protein-Y dan protein-Z terikat oleh anion lain. terjadi persenyawaan dengan ligandin ( protein-Y). Hal ini terjadi karena terdapatnya proses fisiologik tertentu pada neonatus. polisitemia. atau terdapatnya peningkatan sirkulasi enterohepatik. Patolofisiologi Bilirubin merupakan produk yang bersifat toksik dan harus dikeluarkan oleh oleh tubuh. misalnya penderita hepatitis neonatal atau sumbatan saluran empedu ekstra/intrahepatik. Proses ini timbul berkat adanya enzim glukoronil transferase yang kemudian menghasilkan bentuk bilirubin direk. Jenis bilirubin ini larut dalam air dan pada kadar tertentu dapat diekskresikan melalui ginjal. Bilirubin bebas tersebut kemudian bersenyawa dengan albumin dan dibawa ke hepar. karena mempunyai sifat lipofilik yang sulit diekskresi dan mudah melalui membrane biologic seperti placenta dan sawar darah otak. meningkatnya bilirubin dari sumber lain. Epidemiologi Pada sebagian besar neonatus. dan glutation hati lain yang membawanya ke reticulum endoplasma hati. Sebagian besar neonatus mengalami peningkatan kadar bilirubin indirek pada hari-hari pertama kehidupan. protein-Z. dan belum matangnya fungsi hepar. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran eritrosit. Beberapa faktor lain adalah hipoksia/anoksia. Dalam usus sebagian diarbsorbsi kembali oleh mukosa usus dan terbentuklah proses arbsorpsi enterohepatik. Peningkatan kadar bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan. misalkan pada bayi dengan asidosis atau keadaan anoksia/hipoksia. Sebagian besar hasil bilirubin berasal dari degredasi hemoglobin darah dan sebagian lagi berasal dari hem bebas atau dari proses eritropoesis yang tidak efektif. Biliverdin inilah yang mengalami reduksi dan menjadi bilirubin bebas atau bilirubin IX alfa. Dikemukan bahwa angka kejadian iketrus terdapat pada 60 % bayi cukup bulan dan 80 % bayi kurang bulan. Proses tersebut antara lain karena tingginya kadar eritrosit neonatus. III. dan polisitemia. Segera setelah ada dalam sel hati. Dalam hepar terjadi mekanisme ambilan. Keadaan lain yang dapat memperlihatkan peningkatan kadar bilirubin adalah apabila ditemukan konjugasi hepar ( defisiensi enzim glukoronil transferase ) atau bayi menderita gangguan eksresi. Kejadian tersering adalah apabila terdapat pertambahan beban bilirubin pada sel hepar yang berlebihan. hipoglikemia.

rubella. VII.V. dan lain-lain. adanya hepatitis hepatitis. Jika hitung retikulosit. kulit tampak berwarna kuning terang sampai jingga. sedangkan pada penderita dengan gangguan obstruksi empedu warna kuning kulit tampak kehijauan. malnutrisi intrauterine. hepatitis serum homolog. Ikterus yang timbul setelah hari ke 3 dan dalam minggu pertama. Termasuk anamnesis mengenai riwayat inkompabilitas darah. Ikterus yang permulaannya timbul setelah minggu pertama kehidupan memberi petunjuk adanya septicemia. Diagnosis banding Ikterus yang timbul 24 jam pertatama kehidupan mungkin akibat eritroblstosis foetalis. harus dipikirkan kemungkinan septicemia sebagai penyebabnya. golongan darah. hepatitis herpetika. Secara klinis ikterus pada bayi dapat dilihat segera setelah lahir atau setelah beberapa hari kemudian. biasanya mencapai puncak antara hari ke 2 – 4. anemia hemolitik yang disebabkan oleh obat-obatan dan sebagainya. Kadang bilirubin fisiologis dapat berlangsung berkepanjangan sampai beberapa minggu seperti pada bayi yang menderita penyakit hipotiroidisme atau stenosis pylorus. Diagnosis Anamnesis ikterus pada riwayat onstetri sebelumnya sangat membantu dalam menegakan diagnosis hiperbilirubnemia pada bayi. Ikterus fisiologis. rubella atau toksoplasmosis congenital. Faktor risiko itu antara lain adalah kehamilan dengan komplikasi. Pada bayi dengan peninggian bilirubin indirek. Pada bayi dengan berat badan lahir rendah akan memperlihatkan kernikterus pada kadar yang lebih rendah ( 10 – 15 mg/dl) VI. dengan kadar 5 – 6 mg/dl untuk selanjutnya menurun sampai kadar 5 – 6 mg/dl untuk selanjutnya menurun sampai kadarnya lebih rendah dari 2 mg/dl antara hari ke 5 – 7 kehidupan. fibrosis kistis dan sepsis. riwayat transfusi tukar atau terapi sinar pada bayi sebelumnya. hiperbilirubinemia yang cukup berarti memerlukan penilaian diagnostic lengkap. Makna hiperbilirubinemia terletak pada insiden kernikterus yang tinggi . obat yang diberikan pada ibu selama hamil/persalinan. retikulositosis dan sediaan apusan memperlihatkan petunjuk adanya hemolisis akibat nonimunologik. Ikterus ini dapat dihubungkan dengan nutrisi parenteral total. infeksi intranatal. tes Coombs dan pemeriksaan apusan darah tepi. Bilirubinemia indirek. Komplikasi Kernikterus adalah suatu sindrom neurologik yang timbul sebagai akibat penimbunan tak terkonjugasi dalam sel-sel otak . tes Coombs dan bilirubin indirek normal. maka mungkin terdapat hiperbilirubinemia indirek fisiologis atau patologis. kadar bilirubin indirek dalam serum tali pusat adalah 1 – 3 mg/dl dan akan meningkat dengan kecepatan kurang dari 5 mg/dl /24 jam. Tanpa mempersoalkan usia kehamilan atau saat timbulnya ikterus. dengan demikian ikterus baru terlihat pada hari ke 2 -3. yang mencakup penentuan fraksi bilirubn langsung (direk) dan tidak langsung (indirek) hemoglobin. Dalam keadaan normal. atresia kongental saluran empedu. Disamping itu faktor risiko kehamilan dan persalinan juga berperan dalam diagnosis dini ikterus/hiperbilirubinemia pada bayi. hitung lekosit. kehamilan dengan diabetes mellitus. Ikterus yang persisten selama bulan pertama kehidupan memberi petunjuk adanya apa yang dinamakan “inspissated bile syndrome”. gawat janin. Penilaian ini sangat sulit dikarenakan ketergantungan dari warna kulit bayi sendiri. berhubungan dengan kadar bilirubin serum yang lebih dari 18 – 20 mg/dl pada bayi aterm. Jika terdapat hiperbilirunemia direk. sepsis. Hiperbilirubin patologis.

Meningkatkan konjugasi dan ekskresi bilirubin. Fenobarbital. bayi mendapat panas yang berlebihan dan dehidrasi akibat cahaya. Pada suatu penelitian menunjukan pemberian fenobarbital pada ibu untuk beberapa hari sebelum kelahiran baik pada kehamilan cukup bulan atau kurang bulan dapat mengkontrol terjadinya hiperbilirubinemia. Indikasi fototerapi hanya setelah dipastikan adanya hiperbilirubin patologik. yaitu warna kulit menjadi gelap. Ikterus klinis dan hiperbilirubin indirek akan berkurang kalau bayi dipaparkn pada sinar dalam spectrum cahaya yang mempunyai intensitas tinggi. Terapi Tujuan utama penatalaksanaan ikterus neonatal adalah untuk mengendalikan agar kadar bilirubin serum tidak mencapai nilai yang dapat menimbulkan kernikterus/encefalopati biliaris. kalau peningkatan yang lebih diduga akan terjadi. IX. dan sindrom bayi perunggu. Komplikasi fototerapi meliputi tinja yang cair. yang melalui fotoisomerasi mengubah bilirubin tak terkonjugasi yang bersifat toksik menjadi isomer-isomer terkonjugasi yang dikeluarkan ke empedu dan melalui otosensitisasi yang melibatkan oksigen dan mengakibatkan reaksi oksidasi yang menghasilkan produk-produk pemecahan yang akan diekskresikan oleh hati dan ginjal tanpa memerlukan konjugat. Transfusi tukar mungkin merupakan metode yang paling efektif untuk mengkontrol terjadinya hiperbilirubinemia. Bilirubin dalam kulit akan menyerap energi cahaya. Dilakukan untuk mempertahankan kadar bilirubin indirek dalam serum bayi aterem kurang dari 20 mg/dl atau 15 mg/dl pada bayi kurang bulan . Pemberian obat ini akan mengurangi timbulnya ikterus fisiologik pada bayi neonatus. Bilirubin akan menyerap cahaya secara maksimal dalam batas wilayah warna biru ( mulai dari 420 – 470 nm ).VIII. kalau diberikan pada ibu dengan dosis 90 mg/24 jam beberap hari sebelum kelahiran atau bayi pada saat lahir dengan dosis 5 mg/kgBb/24 jam. Prognosis Hiperbilirubemia baru akan berpengaruh buruk apabila bilirubin indirek telah melalui sawar otak. Pemberian substrat yang dapat menghambat matabolisme bilirubin ( plasma atau albumin ). Transfusi tukar. terapi sinar atau transfusi tukar. dan mempunyai efek sedatif yang tidak diinginkan dan tidak menambah respon terhadap fototerapi. Pengendalian bilirubin juga dapat dilakukan dengan mengusahakan agar kunjugasi bilirubin dapat dilakukan dengan megusahakan mempercepat proses konjugasi. menggigil karena pemaparan pada bayi. . tetapi tidak dilakukan pada hari ke empat pada bayi aterm atau hari ke tujuh pada bayi premature. ruam kulit. Hal ini dapat dilakukan dengan merangsang terbentuknya glukoronil transferase dengan pemberian obat seperti luminal atau fenobarbital. merupakan tindakan yang juga dapat mengendalikan kenaikan kadar bilirubin. serta mengobati penyebab langsung ikterus tersebut. mengurangi sirkulasi enterohepatik ( pemberian kolesteramin ). kalau diharapkan akan segera terjadi penurunan kadar bilirubin serum atau akibat mekanisme konjugasi yang bekerja lebih efektif. Namun karena efeknya pada metabolisme bilirubin biasanya belum terwujud sampai beberapa hari setelah pemberian obat dan oleh karena keefektifannya lebih kecil dibandingkan fototerapi. Fototerapi. Dapat diulangi sebanyak yang diperlukan. atau keadaan bayi yang dipandang kritis dapat menjadi petunjuk melakukan transfusi tukar selama hari pertama atau kedua kehidupan. maka fenobarbital tidak dianjurkan untuk pengobatan ikterus pada bayi neonatus. cokelat dan keabuan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful