Etika

Filsafat : Refleksi yang kritis
rasional serta bersifat integral, radikal, dan komprehensif.

Philosophy, dari kata Yunani: philos = mencinta, mencari sophia = kebijaksanaan

Etika
• Obyek material Filsafat: Segala sesuatu yang ada atau mungkin ada
• Obyek formal Filsafat: Hakekat/Keberadaannya

Etika
Mempelajari filsafat dapat secara: Kronologis : Sejarah Filsafat: Filsafat Yunani, Filsafat Abad Pertengahan, Filsafat Modern, Filsafat Abad XX, dan seterusnya.

Etika
Sistematis : • Filsafat Ketuhanan • Filsafat Antropologi/ Filsafat Manusia • Metafisika • Epistemologi • Etika • Estetika

Etika
Epistemologi (Filsafat Pengetahuan): • Filsafat Berpikir (Logika) • Filsafat Ilmu Pengetahuan: • Filsafat Komunikasi • Filsafat Ilmu Pengetahuan Alam • Filsafat Teknologi • Filsafat Politik • Filsafat Hukum • Filsafat Budaya • Filsafat Bahasa

Etika
Etika: • Etika Umum • Etika Khusus: • Etika Medis: Aborsi Euthanasia Rekayasa Genetika • Etika Bisnis

Etika
• Etika Khusus: (lanjutan) - Etika Profesi - Etika Komunikasi - Etika Seksual:

Free Sex/Free Love
Homo Seksual

Etika
• Etika adalah standar tentang mana yang benar dan salah, baik dan buruk. Pakar manajemen Chris Argyris menyebutnya sebagai • Istilah etika berasal dari kata Latin Ethic, sedangkan dalam bahasa Yunani Ethikos (a body of moral principles or values). Jadi ethic berarti kebiasaan (habit, custom). Yang dimaksud dengan baik dan buruk dalam hal ini yang sesuai dengan kebiasaan masyarakat atau tidak, meskipun kebiasaan masyarakat itu akan berubah sejalan dengan perkembangan masyrakat.

espoused theory.

Etika
• Etika dengan sendirinya bisa diartikan sebagai ilmu yang membicarakan masalah perbuatan atau tingkah laku manusia, mana yang dapat dinilai baik dan mana yang jahat. Etika sendiri sering digunakan dengan kata moral, susila, budi pekerti, dan akhlak (Burbanuddin Salam, 2000).

Etika
• Moralitas adalah tindakan aktual tentang hal yang benar dan salah, baik dan buruk. Argyris menyebutnya sebagai theory in-use. • Kata moral berasal dari bahasa Latin Mores. Mores berasal dari kata mos yang berarti kesusilaan, tabiat, atau kelakuan. Dengan demikian, moral dapat diartikan sebagai ajaran kesusilaan. Moralitas berarti hal mengenai kesusilaan. Moral juga berarti ajaran tentang baik-buruk perbuatan dan kelakuan.

Etika
Menurut Kees Bertens (1994) , etika adalah ilmu yang membahas tentang moralitas atau tentang menusia sejauh yang berkaitan dengan moralitas. Dengan kata lain, etika adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku moral.

Etika
• Franz Magnis Suseno (2001) membedakan etika menjadi dua, yakni etika umum dan etika khusus. Etika umum mempertanyakan prinsip-prinsip dasar yang berlaku bagi segenap tindakan manusia, sedangkan etika khusus membahas prinsip-prinsip itu dalam hubungannya dengan kewajiban moral manusia dalam berbagai lingkup kehidupannya.

Etika
• Untuk lebih mudahnya, kita dapat membedakan etika dan moralitas sebagai berikut: Etika ada di level teoretika, moralitas ada di level praktika.

Integritas
Integritas
Integritas adalah wholeness, completeness, entirety, unified.
Sebuah pengertian integritas yang bagus adalah the

character of uncorrupted virtue.
Integritas adalah integrasi antara etika dan moralitas. Semakin keduanya terintegrasi, semakin tinggi level integritas.

Etiket
Kata “etiket” berasal dari bahasa Perancis “Etiquette” , semula adalah kartu undangan pesta dari Raja Louis XIV kepada orang-orang tertentu. Perancis adalah negara yang terkenal karena tinggi peradaban dan sopan-santunnya. Lama kelamaan, bukan kartu itu yang dinamai etiket, melainkan isinya, yaitu aturan-aturan yang harus diikuti selama pesta.

Etiket
Hingga sekarang, arti etiket ialah kumpulan peraturan bergaul, yaitu kumpulan tata tertib dan caracara bergaul di antara orang-orang beradab. Dalam pergaulan hidup, etiket itu merupakan tata cara yang baik dalam menggunakan bahasa maupun dalam tingkah laku. Disebut juga tata krama atau sopan santun.

Etika dan Etiket
Selanjutnya kita akan melihat perbedaan antara etika dengan etiket sebagai berikut: a.Etiket menyangkut cara suatu perbuatan harus dilakukan manusia. Di antara beberapa cara yang mungkin, etiket menunjukkan cara yang tepat, artinya cara yang diharapkan serta ditentukan dalam suatu kalangan tertentu.

Etika dan Etiket
Sedangkan etika tidak terbatas pada cara dilakukannya suatu perbuatan, etika memberi norma tentang perbuatan itu sendiri. Etika menyangkut masalah apakah suatu perbuatan boleh dilakukan atau tidak.

Etika dan Etiket
b. Etiket hanya berlaku dalam pergaulan. Bila tidak ada orang lain yang hadir atau tidak ada saksi mata, maka etiket tidak berlaku. Sebaliknya, etika selalu berlaku, termasuk tidak ada saksi mata sekalipun. Etika tidak tergantung pada hadir tidaknya orang lain.

Etika dan Etiket
c. Etiket lebih bersifat relatif. Hal yang dianggap tidak sopan pada suatu kebudayaan, belum tentu berlaku pada kebudayaan lain. Etika jauh lebih absolut.

Etika dan Etiket
d. Jika kita berbicara tentang etiket, kita hanya memandang manusia dari segi lahiriah, sedangkan etika menyangkut manusia dari dalam. Bisa saja orang tampil dengan “musang berbulu domba”, dari luar sangat sopan dan halus, tetapi di dalam penuh dengan kebusukan.

I. Macam-macam norma kelakuan dalam masyarakat Manusia berlaku dan bertindak dalam suatu jaringan norma-norma. Sejak kecil manusia belajar apa yang boleh dan apa yang dilarang. Di rumah, di sekolah, di tempat kerja, agama, dan negara mengajukan bermacam-macam keharusan yang harus dipatuhi. Selain itu orang dengan sendirinya menerima ketentuanketentuan adat-istiadat.

Norma

Norma
Semua ketentuan, keharusan, larangan, dan lain-lain merupakan norma bagi kelakuan kita, yaitu ukuranukuran padanya diukur apakah kelakuan kita betul atau salah atau barangkali diwajibkan kepada kita.

Norma
Macam-macam norma:

a. Norma-norma teknis dan permainan Norma-norma ini hanya berlaku untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu atau untuk kegiatankegiatan sementara dan terbatas, misalnya peraturan-peraturan dalam suatu permainan, peraturanperaturan dalam suatu perusahaan, peraturan-peraturan dalam suatu perguruan tinggi.

Norma
b. Norma-norma kelakuan umum Norma-norma ini berlaku umum bagi setiap warga masyarakat. Ada tiga macam norma kelakuan umum: • Peraturan sopan santun • Norma-norma hukum • Norma-norma moral

Norma
• Peraturan-peraturan sopan santun hanya berlaku berdasarkan suatu kebiasaan dan menurut pendapat kebanyakan orang, dapat saja diubah. Norma sopan santun hanya berdasarkan konvensi saja.

Norma
• Norma hukum adalah norma yang pelaksanaannya dapat dituntut dan dipaksakan serta pelanggarannya ditindak dengan pasti oleh penguasa yang sah dalam masyarakat. Norma hukum biasanya berlaku berdasarkan suatu perundangundangan.

Norma
Norma hukum adalah sesuatu yang harus dapat dibuktikan berlakunya, misalnya kapan mulai berlaku efektif. Norma hukum yang tidak lagi ditaati atau tidak cocok lagi dengan perkembangan zaman dapat saja dicabut sama sekali.

Norma
• Norma-norma moral belum tentu dapat dituntut pelaksanaannya serta ditindak pelanggarannya. Norma moral tidak ada kapan mulai berlakunya dan tetap berlaku walaupun hanya sedikit orang yang mentaatinya. Norma moral menjadi dasar yang menentukan bagaimana kita menilai seseorang.

Norma
Norma moral adalah norma yang paling dasar. Terhadap norma moral semua norma lain mengalah. Thomas Aquinas berpendapat bahwa suatu hukum yang bertentangan dengan hukum moral (hukum kodrat dalam istilah Thomas) kehilangan segala kekuatannya.

Norma
Norma-norma moral lebih besar pengaruhnya daripada pendapat-pendapat masyarakat pada umumnya dan bahkan juga daripada kehendak segala macam penguasa. Atas dasar norma moral orang mengambil sikap dan menilai norma-norma lain yang berlaku, termasuk ketentuan penguasa.

Etika
II. Beberapa sikap moral yang tidak mencukupi a. Legalisme Legalisme adalah sikap orang yang selalu bertindak menurut segala macam peraturan yang ada, tetapi tidak karena ia mengerti dan mengiyakan apa yang dimaksud dengan peraturan itu, melainkan karena ia sudah biasa untuk berpegang secara buta pada peraturan, misalnya karena ia bersifat penakut atau selalu mencari yang “aman”.

Etika
Sikap ini bukan suatu sikap tanggung jawab moral karena tidak keluar dari kesadarannya sendiri. Ketaatannya tidak kritis dan tidak rasional, karena ia tidak sanggup atau tidak berani untuk mempersoalkan atau mencari makna dari normanorma yang umum berlaku dalam suatu masyarakat.

Etika
b. Menilai orang lain dari luar

Banyak orang begitu saja menjatuhkan penilaian moral pada orang lain hanya atas dasar kelakuan lahiriah orang itu. Karena ia melakukan apa yang dipuji orang, ia dinilai orang baik, kalau yang dilakukannya dicela, ia dinilai berdosa.

Etika
Menjatuhkan penilaian begitu berarti bersalah sendiri. Kita tidak pernah tahu bagaimana maksud dan keinsyafan orang yang melakukan sesuatu, padahal kebaikan atau keburukannya tergantung dari apakah ia bertindak sesuai atau tidak sesuai dengan apa yang diinsyafinya.

Etika
Maka tindakan lahiriah tidak pernah mencukupi untuk menilai orang lain. Dan oleh karena suara batin orang lain tak pernah dapat kita lihat, tak pernah kita dapat memastikan bahwa orang itu berdosa. Yang dapat kita pastikan hanyalah bahwa secara obyektif tindakan orang lain dapat salah.

Etika
c. Maksud yang baik Tetapi dari situ tidak boleh ditarik kesimpulan bahwa “asal maksudnya baik pelaksanaan lahiriah itu kurang penting”. Semboyan ini semboyan orang lemah dan tidak jujur.

Etika
Maksud itu memang penting, malah menentukan, tetapi orang yang tidak berusaha agar “maksud baik” itu memang tercapai dalam realita, dia sebetulnya juga belum mempunyai maksud yang baik.

Etika
Memang mungkin juga ada kekuatan di luar kemampuan kita atau kesulitan di luar dugaan yang menggagalkan pelaksanaan maksud baik itu, tetapi orang harus berusaha sungguh-sungguh. Dan tanda kesungguhan itu biasanya adalah pelaksanaan lahiriah daripada maksud baik itu.

Etika
Suatu maksud yang tidak mau direalisasikan itu sebetulnya tidak merupakan suatu maksud, melainkan paling-paling suatu keinginan murah orang yang terlalu lemah untuk sungguh-sungguh menghendaki sesuatu.

Etika
III. Kebebasan yang bertanggung jawab Kebebasan manusia baru ditantang dan berkembang sungguhsungguh kalau berhadapan dengan kewajiban moral. Karena berhadapan dengan kewajiban, penggunaan kebebasan itu tidak lagi bersifat main-main, melainkan sungguh-sungguh menentukan diri manusia. Kewajiban moral bukanlah suatu beban yang tidak masuk akal.

Etika
Kewajiban itu tantangan agar kita mengatasi kemalasan dan kekhawatiran tentang kepentingan kita sendiri dan berani untuk mencapai sesuatu yang baik atau bernilai pada dirinya sendiri, seperti: melindungi masyarakat, membiarkan cintakasih yang sebenarnya berkembang.

Etika
Jadi melakukan kewajiban itu tidak demi melakukan sesuatu yang asal diwajibkan, melainkan untuk mencapai kebaikan yang mau dijamin oleh kewajiban itu.

Etika
Dengan kata lain: sikap moral yang dewasa adalah sikap bertanggung jawab. Bertanggung jawab agar saya sedapat mungkin mencapai yang baik dan bernilai pada dirinya sendiri.

Etika
Dengan mata terbuka bagi kebutuhan orang lain dan dirinya sendiri, dengan memperhatikan setiap kesempatan yang tersedia untuk sedikit memperbaiki, memperingan, mempermudah, memperenak hidup manusia, orang itu bertanggung jawab.

Etika
Maka kebebasan dan tanggung jawab erat hubungannya: tak mungkin ada tanggung jawab tanpa kebebasan, dan baru dalam sikap bertanggung jawab kebebasan mencapai pelaksanaannya yang menyeluruh. Sikap moral yang otonom (bahasa Yunani: auto = diri sendiri, dan nomos = hukum) dan dewasa adalah sikap bertanggung jawab berdasarkan kebebasan.

Etika
Lain halnya sikap heteronom (bahasa Yunani: hetero = yang lain, dan nomos). Sikap ini memandang kewajiban sebagai beban yang mau tidak mau harus ditanggung, entah karena konformisme, atau karena takut terhadap ancaman, atau karena ada tekanan-tekanan dari dalam.

Etika
Sikap heteronom kelihatan dalam sikap budak: ia taat terhadap apa saja yang diharuskan oleh majikannya, tetapi kalau tidak ada pengharusan, ia merasa apa saja boleh dan tidak ada urusan wajib.

Etika
Sedangkan orang yang bebas dan bertanggung jawab, di satu pihak tidak bersedia untuk melakukan sesuatu sematamata karena diharuskan dari luar, di lain pihak merasa bertanggung jawab terhadap apa saja juga tanpa adanya perintah khusus.

Etika
Hubungan antara kebebasan dan tanggung jawab disalah gunakan kalau misalnya seorang penguasa mengekang kebebasan para mahasiswa dengan argumen bahwa kebebasan harus selalu bertanggung jawab.

Etika
Mengurangi kebebasan berarti mengurangi tanggung jawab juga, karena tanggung jawab yang sebenarnya mengandaikan kebebasan. Oleh karena itu orangtua dalam pendidikan anak-anaknya jangan hanya memberikan larangan dan ancaman saja.

Etika
Yang penting ialah mereka harus membuka kesadaran anaknya terhadap apa yang baik dan bernilai, dengan selalu menerangkan mengapa ada yang tidak boleh dan seterusnya.

Etika
Mereka hendaknya memberikan kepada anaknya kemungkinan untuk mengembangkan kebebasannya, dengan cara menantang anaknya dengan kesempatan-kesempatan untuk menunjukkan tanggung jawabnya.

Dikutip dari buku Etika Umum – Prof. Dr. Franz von Magnis

Etika
• Self-responsibility is the core

quality of the fully mature, fully functioning, self-actualizing individual.

- The Treasury of Quotes by Brian Tracy

Etika
• Let the views of others educate

and inform you, but let your decisions be a product of your own conclusions.

- The Treasury of Quotes by Jim Rohn

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful