?J)E~CE~JKESEHATAN

KEPUTUSAN

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1087/MENKES/SKNIII/201 0 TENTANG

STAN DAR KESEHATAN

DAN KESELAMATAN

KERJA 01 RUMAH SAKIT

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang:

a. bahwa bahaya potensial di Rumah Sakit yang disebabkan oleh faktor biologi, faktor kimia, faktor ergonomi, faktor fisik, faktor psikososial dapat mengakibatkan penyakit dan kecelakaan akibat kerja bagi pekerja, pengunjung, pasien dan masyarakat di lingkungan sekitarnya; b. bahwa pekerja Rumah Sa kit mempunyai risiko lebih tinggi dibanding pekerja industri lain untuk terjadinya Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Akibat Kerja (KAK), sehingga perlu dibuat standar perlindungan bagi pekerja yang ada di Rumah Sakit; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu ditetapkan Standar Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit (K3RS) dengan Keputusan Menteri Kesehatan;

Mengingat:

1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1970 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2918); 2. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4729); 3. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 116, Tambahan . Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4431); 4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); 5. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063); 1

VS~-:--~Rl t<ESE~TAN .~S'::':_j~,IJK NDONE:S.IA

6. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5072); 7. Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2000 tentang Keselamatan Dan Kesehatan Terhadap Pemanfaatan Radiasi Pengion (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 136, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3992); 8. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Repubtik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737); 9. Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 1993 tentang Penyakit Yang Timbul Karena Hubungan Kerja; 10. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 02/MEN/1980 tentang Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja Dalam Penyelenggaraan Keselamatan Kerja; 11. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 5/MEN/1996 Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja; tentang Sistem

12. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1333/Menkes/SKlX11I1999 tentang Standar Pelayanan Rumah Sakit; 13. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1075/Menkes/SKl2003 tentang Sistem Informasi Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3); 14. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1204/Menkes/SKIXI2004 Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rurnah Sakit; tentang

15. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1575/Menkes/PerIX1I2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan sebagaimana telah diu bah terakhir dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 439/Menkes/PerN1I2009 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1575/Menkes/Per/X1I2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan; 16. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 432/Menkes/SKlIV/2007 tentang Pedoman Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di Rumah Sakit; 17. Peraturan Menteri Kesehatan Perizinan Rumah Sakit; Nomor 147/Menkes/Per/1/2010 tentang

2

JiE~"'-ER_!KESEHATAN _':::'~&';U'< ~NDO\!SS!A

MEMUTUSKAN Menetapkan KESATU KEPUTUSAN KESEHATAN

:

MENTERI KESEHATAN TENTANG STANOAR DAN KESELAMATAN KERJA 01 RUMAH SAKIT. Sakit (K3RS)

KEOUA

Standar Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah sebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan ini.

KETIGA

Standar K3RS sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua harus dijadikan acuan bagi pengelola kesehatan dan keselamatan kerja di rumah sakit dan pekerja rumah sakit dalam melaksanakan upaya kesehatan dan keselamatan kerja. Setiap Rumah Sakit harus memenuhi kualifikasi sesuai dengan Standar K3RS dan/atau memiliki sertifikasi dalam bidang kesehatan dan keselamatan kerja. Pelaksanaan Standar K3RS harus didokumentasikan dan dilaporkan secara berkala sebagai salah satu indikator dalam penilaian akreditasi rumah sa kit. Pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan Standar K3RS sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kelima dilakukan oleh Menteri Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi, dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sesuai dengan fungsi dan tugasnya masing-masing. Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

KEEMPAT

KELIMA

KEENAM

KETUJUH

~~~Rl

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 10 Agustus 2010

/' (\

" t

MEN, ., TERI
.\

KESEHATAN, <

~\
~

(

.'

\-<

ttK~

>~

ENDANG RAHAYU SEDYANINGSIH

3

pasien dan masyarakat sekitar Rumah Sakit ingin mendapatkan perlindungan dari gangguan kesehatan dan kecelakaan kerja. Rumah Sakit dituntut untuk melaksanakan Upaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) yang dilaksanakan secara terintegrasi dan menyeluruh sehingga risiko terjadinya Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Akibat Kerja (KAK) di Rumah Sakit dapat dihindari. Rumah Sakit harus menjamin kesehatan dan keselamatan baik terhadap pasien. Oleh karena itu. penyedia layanan atau pekerja maupun masyarakat sekitar dari berbagai potensi bahaya di Rumah Sakit. pengobatan dan pemulihan bagi tenaga kerja". organisasi kesehatan yang dianggap pasti telah melindungi diri dalam bekerja. program K3 telah lama diterapkan di berbagai sektor industri (akhir abad 18). kecuali di sektor kesehatan. PENDAHULUAN A.~E~iER~KESEHA!AN ~~?U3Ul< INDONESIA Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 1087/MENKES/SKNII1I201 Tanggal : 10 Agustus 2010 0 STAN DAR KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA DI RUMAH SAKIT I. Salah satunya adalah melalui upaya kesehatan kerja disamping keselamatan kerja. Perkembangan K3RS tertinggal dikarenakan fokus pada kegiatan kuratif. tenaga protesi di bidang K3 masih terbatas. Rumah Sakit juga dituntut harus melaksanakan dan mengembangkan program K3 di Rumah Sakit (K3RS) seperti yang tercantum dalam buku Standar Pelayanan Rumah Sakit dan terdapat dalam instrumen akreditasi Rumah Sakit. Rumah Sakit sebagai institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat dengan karateristik tersendiri yang dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan kesehatan. 8erdasarkan pasal di atas maka pengelola tempat kerja di Rumah Sakit mempunyai kewajiban untuk menyehatkan para tenaga kerjanya. dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang harus tetap mampu meningkatkan pelayanan yang lebih bermutu dan terjangkau oleh masyarakat agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Latar belakang Oengan meningkatnya pemantaatan tasilitas pelayanan kesehatan oleh masyarakat maka tuntutan pengelolaan program Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit (K3RS) semakin tinggi karena Sumber Oaya Manusia (SOM) Rumah Sakit. baik sebagai dampak proses kegiatan pemberian pelayanan maupun karena kondisi sarana dan prasarana yang ada di Rumah Sakit yang tidak memenuhi standar. Oalam Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. Selain dituntut mampu memberikan pelayanan dan pengobatan yang bermutu. khususnya Pasal 165 : "Pengelola tempat kerja wajib melakukan segala bentuk upaya kesehatan melalui upaya pencegahan. bukan preventif. . Fokus pada kualitas pelayanan bagi pasien. pengunjung/pengantar pasien. Oi dunia Internasional. peningkatan. kemajuan teknologi. 1 .

Keluhan subyektif low back pain didapat pada 83. pengunjung/pengantar pasien. • Staf wan ita Rumah Sakit yang terpajan gas anestesi. Penderita terbanyak usia 30-49 : 63. kefarmasian. prasarana.032 orang. disamping standar pelayanan lainnya. Selain itu seperti yang tercantum dalam Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit. • 41% perawat Rumah Sakit mengalami cedera tulang belakang akibat kerja (occupational low back pain). tahun 1981-1985). (instalasi bedah sentral di RSUD di Jakarta 2006).000-1.1985). bahwa "Rumah Sakit harus memenuhi persyaratan lokasi. • Penelitian dr. c. 1.404. (Harber P et al. pasien. dicabut atau tidak diperpanjang izin operasional Rumah Sakit (Pasal 17). yang mana persyaratan-persyaratan tersebut salah satunya harus memenuhi unsur K3 di dalamnya. • 8-12% pekerja Rumah Sakit.VE~7ERIKESEHATAN :"t.4% petugas pembersih suatu Rumah Sakit di Jakarta menderita Dermatitis Kontak Iritan Kronik Tangan (2004).000 HBC.3 %. secara signifikan meningkatkan abortus spontan. b. Hal ini secara tegas dinyatakan di dalam Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit. khususnya dalam hal kesehatan dan keselamatan bagi SDM Rumah Sakit. 0. sumber daya manusia. dan peralatan".000 luka tusuk jarum dilaporkan (diperkirakan lebih dari 60% tidak dilaporkan). • 65. Oi luar negeri : • USA: (per tahun) 5000 petugas kesehatan terinfeksi Hepatitis B. sensitif terhadap lateks ILO (2000): Kematian akibat penyakit menular yang berhubungan dengan pekerjaan: Laki-Iaki 108. masyarakat sekitar Rumah Sakit. Pasal 40 ayat (1) yakni "Oalam upaya peningkatan mutu pelayanan Rumah Sakit wajib dilakukan akreditasi secara berkala menimal 3 (tiga) tahun sekali". Dan bagi Rumah Sakit yang tidak memenuhi persyaratan-persyaratan tersebut tidak diberikan izin mendirikan.9 juta terpajan virus HBC dan 170.000. • SC-Amerika (1998) mencatat frekuensi angka KAK di Rumah Sakit lebih tinggi 41 % dibanding pekerja lain dengan angka KAK terbesar adalah cedera jarum suntik (NSI-Needle Stick injuries). 47 positif HIV dan setiap tahun 600.256 dan perempuan 517. Secara Global: WHO: Oari 35 juta pekerja kesehatan : • 3 juta terpajan patogen darah (2 juta terpajan virus HBV.000 terpajan virus HIV/AIDS).000 HBB & 1000 kasus HIV.:?:J3UK INDONESIA K3RS merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pelayanan Rumah Sakit. K3 termasuk sebaqai salah satu standar pelayanan yang dinilai di dalam akreditasi Rumah Sakit. • Lebih dari 90% terjadi di negara berkembang.3% pekerja. Indonesia: • Gaya berat yang ditanggung pekerja rata-rata lebih dari 20 kg. Joseph tahun 2005-2007 mencatat bahwa angka KAK NSI mencapai 38-73 % dari total petugas kesehatan. • Oapat terjadi : 15. anak yang dilahirkan mengalami kelainan kongenital (studi restrospektif di Rumah Sakit Ontario terhadap 8. 2 .0ata dan fakta K3RS : a. bangunan. 70.

berkaitan dengan citra dan kelangsungan hidup Rumah Saklt. f. Tuntutan masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang terbaik. ras.\J::=\'-. 8eberapa isu K3 yang penting di Rumah Sakit.37: 100.432/Menkes/SKlIVl2007 tentang Pedoman Manajemen K3 di Rumah Sakit dan OHSAS 18001 tentang Standar Sistem Manajemen K3. e. b. h. Keselamatan pasien dan pengunjung. • Lingkungan. Risiko penularan HBV setelah luka tusuk jarum suntik yang terkontaminasi HBV 27 . g. pelayanan kesehatan merupakan industri yang terdiri dari banyak tenaga kerja (labor intensive). umur dan status pekerjaan. c. Insiden akut secara signifikan lebih besar terjadi pada Pekerja Rumah Sakit dibandingkan dengan seluruh pekerja di semua kategori Genis kelamin. Tuntutan hukurn terhadap mutu pelayanan Rumah Sakit semakin meningkat. 2. Kebijakan pemerintah tentang Rumah Sakit di Indonesia. logistik obatireagensia/peralatan. pelayanan kamar operasi. (Gun 1983). Pekerja RS berisiko 1.5 kali lebih besar dari golongan pekerja lain. bidang pekerjaan dengan tingkat keterlibatan manusia yang tinggi. padat teknologi.10 : 100. baik sebagai dampak proses kegiatan pemberian pelayanan maupun karena kondisi sarana dan prasarana yang ada di Rumah Sakit yang tidak memeriuhi standar. Probabilitas penularan HIV setelah luka tusuk jarum suntik yang terkontaminasi HIV 4: 1000. 3 . • Keluaran (output) : pelayanan dan pengobatan prima (excellence medicine and services). Pelaksanaan K3. monitoring dan evaluasi K3 Rumah Sakit serta tindak lanjut. K3 pekerja atau petugas kesehatan. pengunjung. ras. padat modal. terbukanya akses bagi bukan pekerja Rumah Sakit dengan leluasa serta kegiatan yang terus menerus setiap hari.. Berdasarkan data-data yang ada insiden akut secara signifikan lebih besar terjadi pada Pekerja RS dibandingkan dengan seluruh pekerja di semua kategori Genis kelamin. tuntutan pengelolaan program K3 di Rumah Sakit (K3RS) semakin tinggi karena pekerja.7% pada perawat di suatu Rumah Sakit di Jakarta berhubungan bermakna dengan stresor kerja. Perlunya pelaksanaan K3RS : a. keselamatan bangunan dan peralatan di Rumah Sakit yang berdampak terhadap keselamatan pasien dan pekerja dan keselamatan lingkungan yang berdampak terhadap pencemaran lingkungan. fasilitas. keterjanqkauan dan kualitas pelayanan kesehatan yang aman di Rumah Sakit. • Proses: pelayanan rawat jalan dan rawat inap (in and out patient). dan status pekerjaan) (Gun 1983). Karakteristik Rumah Sa kit. Rumah Sakit kompetitif di era global. Rumah Sakit sebagai sistem pelayanan yang terintegrasi meliputi : • Input kebijakan. sistem informasi. Risiko penularan HCV setelah luka tusuk jarum suntik yang mengandung HCV 3 . yang merujuk pada SK Menkes No. dan padat pakar. d. meningkatkan akses. i.ERI KESEHATAN ~~:S0~U~ iNDO\]ES1A • • Prevalensi gangguan mental emosional 17. keuangan dan lain-lain. umur. pemulihan. Perencanaan. Sistem manajemen K3 Rumah Sakit adalah bagian dari sistem manajemen Rurnah Sakit. pasien dan masyarakat sekitar Rumah Sakit ingin mendapatkan perlindungan dari gangguan kesehatan dan kecelakaan kerja. pelaksanaan. yang dilaksanakan dengan baik dan benar dan lain-lain. instalasi gawat darurat (IGO). SOM.

liur. Bakteri (misal : S. getaran. listrik statis Diantaranya kecelakaan benda tajam Diantaranya limbah medis (iarum suntik. Saphrophyticus.1AE\!7ER! KESEHATAN :~EPU~UK lNOONESiA B. S. Halothane. Tujuan. gas anestesi). Pseudomonas). menarik. tergulung. faktor psikososial (kerja bergilir. faktor kimia (pemaparan dalam dosis kecil yang terus menerus seperti antiseptik pada kulit. reagen. gas anestesi pada hati). HIV). pengunjung/pengantar pasien. limbah cairan tubuh manusia (misal : droplet. aman dan sehat bagi pasien.parasit). terpukul. sehat dan produktif untuk SDM Rumah Sakit.Pneumoniae. bisinq. Chlorine Diantaranya Virus (misal : Hepatitis B. H. tersayat. diantaranya posisi kerja statis. Bahaya-bahaya berikut: 8ahaya Fisik 8ahaya Kimia potensial di Rumah Sakit dapat dikelompokkan. bakteri. bangsal penyakit jiwa. faktor kimia (antiseptik. fa kto r psikologis (ketegangan di kamar bedah.Meningitidis. angkat angkut pasien. umumnya berkaitan dengan faktor biologi (kuman patogen yang berasal umumnya dari pasien). cahaya. getaran dan radiasi). mendorong Diantaranya kerja shift.Mercury. suhu panas. hubungan sesama pekerja/atasan) dapat mengakibatkan penyakit dan kecelakaan akibat kerja. PAK di Rumah Sa kit. post traumatic Diantaranya terjepit.cara kerja. darah) limbah non medis. tertusuk benda tajam Diantaranya sengatan listrik. sputum) c. faktor ergonomi (Iingkungan kerja. B. Tujuan umum Terciptanya lingkungan kerja yang aman.lnfluenzae. bising. faktor fisik (panas pada kulit. Sumber bahaya yang ada di Rumah Sakit harus diidentifikasi dan dinilai untuk menentukan tingkat risiko.. Influenza.jamur. Ether. tegangan tinggi pada sistem reproduksi. Hepatitis C. membungkuk. Jamur (misal : Candida) dan Parasit (rnisal : S. faktor fisik (suhu. N. dan lain-lain). Keadaan dan Masalah di Rumah Sakit Bahaya-bahaya potensial di Rumah Sakit yang disebabkan oleh faktor biologi (virus. pencahayaan Diantaranya Ethylene Oxide. dan posisi kerja yang salah). faktor ergonomi (cara duduk salah. listrik. Porionibacterium sp. 4 . penerimaan pasien gawat darurat. stres beban kerja.. Scebiet. yang merupakan tolok ukur kemungkinan terjadinya kecelakaan dan PAK. Etrane. hubungan kerja. cara mengangkat pasien salah). terpotong. Cara kerja yang salah. seperti dalam tabel Bahaya Biologi Bahaya Ergonomi Bahaya Psikososial Bahaya Mekanik 8ahaya Listrik Kecelakaan Limbah RS Diantaranya : radiasi pengion. beban kerja. hubungan arus pendek. Sasaran dan Ruang Lingkup 1.Streptococcus.vial obat. radiasi non-pengion. petir. Formaldehyde. suhu dingin. kebakaran. radiasi pada sistem produksi sel darah). nanah. Bacillus sp. masyarakat dan lingkungan sekitar Rumah Sakit sehingga proses pelayanan Rumah Sa kit berjalan baik dan lancar. Glutaraldehyde.

Terpenuhi syarat-syarat K3 di setiap unit kerja. standar sarana. pengendalian bahaya di tempat kerja. K3RS. Ruang Lingkup Standar K3RS mencakup. Sasaran a. d. 5. Terselenqqaranya program K3RS secara optimal dan menyeluruh. citra dan produktivitas Rumah Sakit. pengawasan. tempat kerja Rumah Sakit yang sehat. pasien. c. SOM Rumah Sakit. 2.M~~~E~IKESEHATAN ~<~~USU!< INDONESIA 2. am an dan nyaman baik bagi pekerja Rumah Sakit. K3RS. Pasal 12 ayat 1 dan ayat 4). e. 3. prasarana dan peralatan pengelolaan barang berbahaya. pnnsrp. pengobatan dan rehabilitasi. Meningkatnya profesionalisme dalam hal K3 bagi manajemen. Terwujudnya organisasi kerja yang menunjang tercapainya K3RS. pengunjung/pengantar orang sakit maupun bagi masyarakat dan lingkungan sekitar Rumah Sakit. Pengertian 1. Pengelola K3RS adalah organisasi yang menyelenggarakan program kesehatan dan keselamatan kerja (K3) secara menyeluruh di Rumah Sakit. . Tujuan khusus a. tenaga manajemen Rumah Sakit. f. b. Sumber Oaya Manusia (SOM) Rumah Sakit adalah orang yang bekerja di Rumah Sakit yang meliputi tenaga tetap yakni tenaga medis dan penunjang medis. 3. Secara ringkas merupakan penyesuaian pekerjaan kepada manusia dan setiap manusia kepada pekerjaan atau jabatannya. K3RS. Kesehatan Kerja bertujuan untuk peningkatan dan pemeliharaan derajat kesehatan fisik. 4. promosi kesehatan. Kesehatan Kerja Menurut WHO/ILO (1995). 5 . Pengelola Rumah Sakit.pengunjung/pengantar orang sakit untuk menciptakan lingkungan kerja. pencegahan terhadap gangguan kesehatan pekerja yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan. 4. tenaga kefarmasian. D. dan penempatan serta pemeliharaan pekerja dalam suatu lingkungan kerja yang disesuaikan dengan kondisi fisiologi dan psikologisnya.44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit. Peningkatan mutu. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah upaya untuk memberikan jaminan keselamatan dan meningkatkan derajat kesehatan pekerja dengan cara pencegahan kecelakaan dan Penyakit Akibat Kerja (PAK). Konsep dasar K3RS adalah upaya terpadu seluruh pekerja Rumah Sakit. standar sumber daya manusia pembinaan. tenaga keperawatan. pasien. pelaksana dan pendukung program. dan tenaga nonkesehatan serta tenaga tidak tetap dan konsultan. pencatatan dan pelaporan. perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaannya dari risiko akibat faktor yang merugikan kesehatan. (UU No. mental dan sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja di semua jenis pekerjaan. b. Terlindunginya pekerja dan mencegah terjadinya PAK dan KAK. program dan kebijakan pelaksanaan standar pelayanan K3RS.

Pemeriksaan kesehatan berkala adalah pemeriksaan kesehatan pad a waktuwaktu tertentu terhadap tenaga kerja yang dilakukan oleh dokter. PRINSIP. program K3RS. Contoh. serta menilai kemungkinan adanya pengaruhpengaruh dari pekerjaan seawal mungkin yang perlu dikendalikan dengan usahausaha pencegahan. 3. perlu diketahui pengertian 3 (tiga) komponen yang saling berinteraksi. Prinsip K3RS K3RS dan kebijakan Agar K3RS dapat dipahami secara utuh.~Ex7E~!KESEHATAN 't. Pemeriksaan kesehatan khusus adalah pemeriksaan kesehatan yang dilakukan oleh dokter secara khusus terhadap tenaga kerja tertentu. Pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3RS adalah pelatihan tentang K3 Rumah Sakit yang diakreditasi dan Pelatihan Kesehatan). bila seorang pekerja kekurangan zat besi yang menyebabkan anemia.. Sertifikasi dalam bidang K3 adalah pengetahuan dan keahlian yang didapat baik secara formal melalui jenjang pendidikan resmi di perguruan tinggi maupun secara informal melalui pelatihan yang disertifikasi oleh Kementerian Kesehatan. 2. maka lingkungan kerjanya adalah ruanganruangan yang berkaitan dengan proses pekerjaannya di instalasi radiologi (kamar X Ray. seorang yang bekerja di instalasi radiologi. Contoh. yang dibagi dalam 3 (tiga) bagian yakni : A. pekerja yang bekerja melebihi waktu kerja maksimum dll. PROGRAM. kamar gelap. yang dimaksudkan untuk mempertahankan derajat kesehatan tenaga kerja sesudah berada dalam pekerjaannya. 6 . yang dimaksudkan adanya pengaruh-pengaruh dari pekerjaan tertentu terhadap tenaga kerja atau golongan-golongan tenaga kerja tertentu. oleh Kementerian Kesehatan (Pusat Pendidikan 8.ES!A 6. Contoh. untuk menilai II. tidak mempunyai penyakit menular yang akan mengenai tenaga kerja lainnya dan cocok untuk pekerjaan yanq akan dilakukan sehingga keselamatan dan kesehatan tenaga kerja yang bersangkutan dan tenaga kerja lain-Iainnya yang dapat dijamin. maka kapasitas kerja akan menurun karena pengaruh kondisi lemah dan lesu.:!E::'li~UK tNDC~\. 9. yang ditujukan agar tenaga kerja yang diterima berada dalam kondisi kesehatan yang setinggi-tingginya. 10. yaitu : 1. Kapasltas kerja adalah status kesehatan kerja dan gizi kerja yang balk serta kemampuan fisik yang prima setiap pekerja agar dapat melakukan pekerjaannya dengan baik. DAN KEBIJAKAN PELAKSANAAN K3RS pelaksanaan Pembahasan difokuskan pada prinsip K3RS. kedokteran nuklir dan lain-lain). Beban keria adalah beban fisik dan mental yang harus ditanggung oleh pekerja dalam melaksanakan tugasnya. 7. Pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja adalah pemeriksaan kesehatan yang dilakukan oleh dokter sebelum seorang tenaga kerja diterima untuk melakukan pekerjaan. Lingkungan kerja adalah lingkungan terdekat dari seorang pekerja.

pengunjung/pengantar pasien dan masyarakat serta lingkungan sekitar Rumah Sakit. area/tempat kerja yang sudah melaksanakan dan mendokumentasikan ksanaan m K3R 7 . area/tempat kerja yang belum melaksanakan program K3RS. dan lingkungan kerja. Mapping lingkungan tempat kerja (area atau tempat kerja yang dianggap berisiko dan berbahaya. area/tempat kerja yang sudah melaksanakan program K3RS.M~xiER! KESE!-i. et dll: dan pad a para 3 5 a.ATAN ~EpuSUK !NDONESlA B. Program K3RS yang harus diterapkan adalah : 1 2 b. melindungi pasien. leaflet. poster. beban kerja. Penyebaran media komunikasi dan informasi baik melalui film. Kinerja· setiap petugas kesehatan dan non kesehatan merupakan resultante dari tiga komponen yaitu kapasitas kerja. Program K3RS Program K3RS bertujuan untuk melindungi keselamatan dan kesehatan serta meningkatkan produktivitas SOM Rumah Sakit.

:~ .': 2.'-. risiko pajanan dan cara penanggulangan bila terjadi kontaminasi. pemeriksaan kesehatan berkala dan meriksaan kesehatan khusus i SOM Rumah Sa b..~UK INDONESiA "):} b. kondisi mental (rohani) dan kemampuan fisik SOM Rumah d. survei dan kuesioner. g. yang 8 . a. Membuat kebijakan dan prosedur pengadaan.1:::'. cara penyimpanan. Memberikan pengobatan dan perawatan serta rehabilitasi bagi SOM Rumah Sakit menderita sakit· c. Evaluasi lingkungan tempat kerja (walk through dan observasi. checklist dan evaluasi lingkungan tempat secara rinci . Melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja. b. wawancara SOM Rumah Sakit.'(j KESEHATAN ::. 6 a. Meningkatkan kesehatan badan. penyimpanan dan penanggulangan bila terjadi kontaminasi dengan acuan Lembar Data Keselamatan Bahan (MSOS-Material Safety Data Sheet) atau Lembar Data Pengaman (LOP). petugas di tempat-tempat an dl . lembar informasi dari pabrik tentang sifat khusus (fisiklkimia) dari bahan.

prasarana dan peralatan keselamatan kerja. • Data kejadian nyaris celaka (near miss) dan celaka. jumlah. • Kasus diduga penyakit akibat kerja (SDM Rumah Sakit). Pendokumentasian data. • Data pemeriksaan kesehatan SDM Rumah Sakit : . • Kasus kecelakaan akibat kerja (pekerja luar Rumah Sakit). • Data kegiatan pemantauan kesehatan lingkungan kerja dan pengendalian di te at ke nit Rumah Sa 9 . • Kasus penyakit akibat kerja (SDM Rumah Sakit). • Kasus penyakit umum pada pekerja luar Rumah Sa kit. • Data promosi kesehatan dan keselamatan kerja bagi SDM Rumah Sakit. PAK. • Angka absensi SDM Rumah Sakit. Pembuatan sistem pelaporan kejadian dan tindak lanjutnya (alur pelaporan kejadian nyaris celaka dan celaka serta SOP pelaporan. penanganan dan tindak la ut dian ris celaka dan eel c. Menyusun prosedur pencatatan dan pelaporan serta penanggulangan kecelakaan kerja.lM~~~:-cRJ KESEHATAN !\:E?0~U1< !NDO. • Data kegiatan pemantauan keselamatan kerja. • Kasus penyakit umum pada SDM Rumah Sakit. • Kasus penyakit akibat kerja (pekerja Luar Rumah Sakit). • Data pelatihan dan sertifikasi. kondisi dan penggunaannya). sudah dilatih Kesehatan dan Keselamatan Kerja dan sudah dilatih tentang Diagnosis PAK. • Data seluruh SDM Rumah Sakit. • Data perizinan. pasien dan pengunjung/pengantar pasien. • Jenis penyakit yang terbanyak di kalangan pekerja Luar Rumah Sakit.' Data petugas kesehatan RS yang berpendidikan formal kesehatan kerja. • Data sarana. • Kasus kebakaran/peledakan akibat bahan kimia. • Data SDM Rumah Sakit yang sakit yang dilayani. . • Data kegiatan pemantauan APD Genis. • Kasus kecelakaan akibat kerja (SDM Rumah Sakit). • Data pekerja luar Rumah Sakit yang sakit yang dilayani. • Kasus diduga penyakit akibat kerja (pekerja luar Rumah Sakit).!ESIA j. • Data pembinaan dan pengawasan terhadap kantin dan pengelolaan makanan di Rumah Sakit (dapur).Serkala (orang) • Khusus (orang) • Cakupan MCU bagi SDM Rumah Sakit.Sebelum bekerja (awal) (orang) . Pembentukan sistem komunikasi internal dan eksternal tanggap darurat Rumah 11 a.. • Jenis penyakit yang terbanyak di kalangan pekerja Rumah Sakit. kebakaran dan bencana (termasuk format pencatatan dan ran sesuai de n kebutuha b.

petunjuk teknis dan SOP-K3RS seperti yang telah disebutkan dalam poin II. d.4 dalam buku standar K3RS ini. Mengikuti Akreditasi Rumah Sakit. Membentuk Organisasi K3RS. b. b. Membudayakan perilaku K3RS. Menyusun pedoman. dan teknologi. Analisis biaya terhadap SOM Rumah Sakit atas kejadian penyakit dan kecelakaan akibat ke c. d. masyarakat dan lingkungan sekitar Rumah Sakit sehingga proses pelayanan Rumah Sakit berjalan baik dan lancar.:V:E~". Kebijakan Pelaksanaan K3RS Agar penerapan K3RS dapat dilaksanakan disusun hal-hal berikut ini : 1. 10 a. f. am an dan sehat bagi pasien. Menyusun kebijakan K3RS yang ditetapkan oleh Pimpinan Rumah Sakit. Meningkatkan SOM yang profesional dalam bidang K3 di masing-masing unit kerja di Rumah Sakit. Melakukan internal audit K3 dengan menggunakan akreditasi Rumah Sakit· instrumen self assessment b. Perencanaan K3 sesuai Standar K3RS yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan. bila Rumah Sakit tersebut tidak melaksanakan prosedur K3. Melakukan sosialisasi K3RS pad a seluruh jajaran Rumah Sakit. f. c. observasi singkat. g. c. Melakukan Evaluasi Pelaksanaan Program K3RS. sesuai peraturan yang berlaku.ER! KESEHATAN ~«~?J9U~'( lNDC\lESIA a. Sosialisasi dan pembudayaan K3RS. namun keberadaan Rumah Sakit juga memiliki dampak negatif terhadap timbulnya penyakit dan kecelakaan akibat kerja. Melakukan Internal Audit Program K3RS dengan menggunakan instrumen penilaian sendiri (self assessment) akreditasi Rumah Sakit yang berlaku. survei tertulis dan kuesioner. . dan evaluasi ulang.\ i. Kebijakan Pelaksanaan K3RS Rumah Sakit merupakan tempat kerja yang padat karya. e. c. Oleh sebab itu perlu dilaksanakan regulasi sebagai berikut: a. Meningkatkan Sistem Informasi K3RS. Langkah dan Strategi Pelaksanaan K3RS Advokasi ke pimpinan Rumah Sakit. Membuat kebijakan tertulis dari pimpinan Rumah Sakit. sehat dan produktif untuk SOM Rumah Sa kit. e. pengunjung/pengantar pasien. 2. Umpan balik SOM Rumah Sakit melalui wawancara langsung. Tujuan Kebijakan Pelaksanaan K3RS Menciptakan lingkungan kerja yang aman.B pad a buku standar K3RS ini. maka perlu 3. Menyediakan Organisasi K3RS sesuai dengan Kepmenkes Nomor 432/Menkes/SKlIV/2007 tentang Pedoman Manajemen K3 di Rumah Sakit. Melaksanakan 12 Program Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit (K3RS) yang tertera pada poin II. h.B. modal. pakar.

STAN DAR PELAY ANAN K3RS Rumah Sakit merupakan salah satu tempat kerja. 3. • Pemeriksaan kesehatan kesehatan khusus diadakan pula apabila terdapat keluhan-keluhan diantara SOM Rumah Sakit. Melaksanakan pendidikan dan penyuluhan/pelatihan tentang kesehatan kerja dan memberikan bantuan kepada SOM Rumah Sakit dalam penyesuaian diri baik fisik maupun mental. serta pemeriksaanpemeriksaan lain yang dianggap perlu. • Jika 3 (tiga) bulan sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan kesehatan oleh dokter (pemeriksaan berkala). • Pemeriksaan yang sesuai kebutuhan guna mencegah bahaya yang diperkirakan timbul. yang wajib melaksanakan Program K3RS yang bermanfaat baik bagi SOM Rumah Sakit. khususnya untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu. . rontgen paru-paru (bilamana mungkin) dan laboratorium rutin. • Pemeriksaan lain yang dianggap perlu. Standar Pelayanan Kesehatan Kerja di Rumah Sakit Sentuk pelayanan kesehatan kerja yang perlu dilakukan. Hal ini dikarenakan masih banyak Rumah Sakit yang belum menerapkan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3). • Kesegaran jasmani. Melakukan pemeriksaan kesehatan khusus pad a : • SOM Rumah Sakit yang telah mengalami kecelakaan atau penyakit yang memerlukan perawatan yang lebih dari 2 (dua) minggu./:f\rr2R! KESEHATAN . maupun bagi masyarakat di lingkungan sekitar Rumah Sakit. Melakukan pemeriksaan kesehatan berkala bagi SOM Rumah Sakit : • Pemeriksaan berkala meliputi pemeriksaan fisik lengkap. • Informasi tentang risiko dan bahaya khusus di tempat kerjanya.:'. kesegaran jasmani. pengunjung/pengantar pasien. Pelayanan K3RS harus dilaksanakan secara terpadu melibatkan berbagai komponen yang ada di Rumah Sa kit. Pelayanan K3RS sampai sa at ini dirasakan belum maksimal. Melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja bagi SOM Rumah Sakit: • Pemeriksaan fisik lengkap. • Rontgen paru-paru (bilamana mungkin). • Pemeriksaan kesehatan berkala bagi SOM Rumah Sakit sekurang-kurangnya 1 tahun.:E~03U~'(!NDO\lES!J\ III. sebagai berikut : 1. • SOM Rumah Sakit yang berusia di atas 40 (empat puluh) tahun atau SOM Rumah Sakit yang wanita dan SOM Rumah Sakit yang cacat serta SOM Rumah Sakit yang berusia muda yang mana melakukan pekerjaan tertentu. • SOM Rumah Sakit yang terdapat dugaan-dugaan tertentu mengenai gangguangangguan kesehatan perlu dilakukan pemeriksaan khusus sesuai dengan kebutuhan. atau atas pengamatan dari Organisasi Pelaksana K3RS. A. • Laboratorium rutin. 4. 2. tidak ada keragu-raguan maka tidak perlu dilakukan pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja. Yang diperlukan antara lain: • Informasi umum Rumah Sakit dan fasilitas atau sarana yang terkait dengan K3. pasien. 11 .

9. 12 . • Melakukan analisis hasil pemeriksaan kesehatan berkala dan khusus. biologi. lama pajanan dan dosis pajanan. kimia. • Melakukan pemantauan perkembangan kesehatan SOM Rumah Sakit. Melakukan koordinasi dengan tim Panitia Pencegahan dan Pengendalian mengenai penularan infeksi terhadap SOM Rumah Sakit dan pasien: • Pertemuan koordinasi. senam kesehatan dan rekreasi. Melaksanakan pemantauan lingkungan kerja dan ergonomi yang berkaitan dengan kesehatan kerja (Pemantauanl pengukuran terhadap faktor fisik. • Memberikan pengobatan dan menanggung biaya pengobatan untuk SOM Rumah Sakit yang terkena Penyakit Akibat Kerja (PAK). merekomendasikan pemberian istirahat kerja). • Melakukan tindak lanjut anal isis pemeriksaan kesehatan berkala dan khusus. Memberikan pengobatan dan perawatan serta rehabilitasi bagi SOM Rumah Sakit yang menderita sakit : • Memberikan pengobatan dasar secara gratis kepada seluruh SOM Rumah Sa kit. • Menindak lanjuti hasil pemeriksaan kesehatan berkala dan pemeriksaan kesehatan khusus.Melaksanakan pendidikan. • Melakukan identifikasi SOM Rumah Sakit berdasarkan jenis pekerjaannya. • Melakukan upaya rehabilitasi sesuai penyakit terkait. • Pembinaan mental/rohani.pencatatan dan pelaporan kegiatan K3RS yang disampaikan kepada Oirektur Rumah Sakit dan Unit teknis terkait di wilayah kerja Rumah Sakit. Melaksanakan kegiatan surveilans kesehatan kerja : • Melakukan pemetaan (mapping) tempat kerja untuk mengidentifikasi jenis bahaya dan besarnya risiko. Meningkatkan kesehatan badan. SOP penggunaan alat pelindung diri dan kewajibannya. • Penanggulangan kejadian infeksi nosokornial. • Orientasi K3 di tempat kerja. • Pemberian imunisasi bagi SOM Rumah Sakit.'~''3I_l~< INDONESIA SOP kerja. kondisi mental (rohani) dan kemampuan fisik SOM Rumah Sakit : • Pemberian makanan tambahan dengan gizi yang mencukupi untuk SOM Rumah Sakit yang dinas malam. 10. (dirujuk ke spesialis terkait. rotasi kerja. petugas radiologi. SOP peralatan. petugas lab.~E~iERIKESEHAiAN :'tr~':. 6. Infeksi • 8. psikososial dan ergonomi). • . petugas kesling dll. 5. Membuat evaluasi. • Pembahasan kasus. 7. • ' Olah raga. pelatihan ataupun promosi/penyuluhan kesehatan kerja secara berkala dan berkesinambungan sesuai kebutuhari dalam ranqka menciptakan budaya K3.

meliputi : • Penyehatan makanan dan minuman. dan orang usia lanjut.prasarana. berkala sarana dan prasarana serta peralatan kesehatan dan selanjutnya didokumentasikan dan dievaluasi secara berkala dan berkesinambungan. yang memenuhi syarat.{7ER!KESEHATAN :::. biologi. ergonomi dan psikososial. keamanan. Pembinaan dan pengawasan kesehatan dan keselamatan sarana. memelihara. Pembinaan dan pengawasan terhadap lingkungan kerja : • Manajemen harus menyediakan dan menyiapkan lingkungan kerja yang memenuhi syarat fisik. peralatan kesehatan harus diuji dan dikalibrasi secara berkala oleh Balai Pengujian Fasilitas Kesehatan dan/atau institusi pengujian fasilitas kesehatan yang berwenang. • Membuat program pelaksanaan kegiatan. mengevaluasi dan mengendalikan risiko ergonomi. dan tata ruang. Bentuk pelayanan keselamatan kerja yang dilakukan : 1. • Peralatan kesehatan meliputi peralatan medis dan nonmedis dan harus memenuhi standar pelayanan. • Melengkapi perizinan dan sertifikasi sarana dan prasarana serta peralatan kesehatan. persyaratan mutu. kenyamanan dan kemudahan dalam pemberian pelayanan serta perlindunqan dan keselamatan bagi semua orang termasuk penyandang cacat. anak-anak. • Teknis bangunan Rumah Sakit. sesuai dengan fungsi. serta keselamatan dan kesehatan kerja penyelenggaraan Rumah Sakit. mengawasi sanitasi. keselamatan dan laik pakai. 13 sarana dan prasarana . • Pengoperasian dan pemeliharaan sarana.t~E. • Peralatan kesehatan yang menggunakan sinar pengion harus memenuhi ketentuan dan harus diawasi oleh lembaga yang berwenang. keamanan. 2. • Prasarana harus memenuhi standar pelayanan. ergonomi dan psikososial secara rutin dan berkala. Pembinaan dan pengawasan terhadap sanitasi : Manajemen harus menyediakan. prasarana dan peralatan Rumah Sakit harus dilakukan oleh petugas yang mempunyai kompetensi di bidangnya (sertifikasi personil petugas/operator sarana dan prasarana serta peralatan kesehatan Rumah Sakit). 3.:~c'0gUK!NDO~~S!A B. • Membuat program pengujian dan kalibrasi peralatan kesehatan. biologi. prasarana dan peralatan kesehatan : • Lokasi Rumah Sakit harus memenuhi ketentuan mengenai kesehatan. dan pemeliharaan rutin dan. dan peralatan kerja. kimia. kimia..1. keselamatan lingkungan. Standar Pelayanan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit Pad a prinsipnya pelayanan keselamatan kerja berkaitan erat dengan sarana. serta sesuai dengan hasil kajian kebutuhan dan kelayakan penyelenggaraan Rumah Sakit. Pembinaan dan pengawasan atau penyesuaian peralatan kerja terhadap SOM Rumah Sakit : • Melakukan identifikasi dan penilaian risiko ergonomi terhadap peralatan kerja dan SOM Rumah Sakit. • Membuat program pengoperasian. perbaikan. • Melakukan evaluasi dan' memberikan rekomendasi untuk perbaikan lingkungan ker]a. 4. • Pemantauan/pengukuran terhadap faktor fisik.

• Membuat alur pelaporan kejadian nyaris celaka dan celaka. • Melakukan pembinaan dan pemantauan terhadap kepatuhan penggunaan peralatan keselamatan dan APO. • Membuat SOP peralatan keselamatan kerja dan APO. ' 8. 10. • Membuat SOP pelaporan. 6. Pembinaan dan pengawasan terhadap Manajemen Sistem Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran (MSPK). • Membuat SOP. Penanganan sampah dan limbah. • Membentuk tim penanggulangan kebakaran.?'UK .-.ERI KESEHATAN -~':"~:'_. Penyehatan tempat pencucian. penanganan dan tindak lanjut kejadian nyaris celaka (near miss) dan celaka. Pelatihan dan promosi/penyuluhan keselamatan kerja untuk semua SOM Rumah Sakit: • Sosialisasi dan penyuluhan keselamatan kerja bagi seluruh SOM Rumah Sakit. pencatatan dan pelaporan kegiatan pelayanan keselarnatan kerja yang disampaikan kepada Oirektur Rumah Sakit dan Unit teknis terkait di wilayah kerja Rumah Sakit. Membuat sistem pelaporan kejadian dan tindak lanjutnya. • Mengevaluasi dan mendokumentasikan kondisi sarana. • Penyediaan peralatan keselamatan kerja dan Alat Pelindung Oiri (APO). 14 . desainllay out pembuatan tempat kerja dan pemilihan serta pengadaan sarana. • Melakukan audit internal terhadap sistem pencegahan dan penanggulangan kebakaran. Upaya penyuluhan kesehatan lingkungan.!\!bON~SlA • • • • • • • Penyehatan air. • Melaksanakan pelatihan dan sertifikasi K3 Rumah Sakit kepada petuqas K3 Rumah Sakit. Sterilisasi/desinfeksi. prasarana dan peralatan keselamatan kerja. prasarana dan peralatan keselamatan kerja dan membuat rekomendasi sesuai dengan persyaratan ya_ng berlaku dan standar keamanan dan keselamatan. 7. 5. Membuat evaluasi. 9. • Manajemen menyediakan sarana dan prasarana pencegahan dan penanggulangan kebakaran. Pengendalian serangga dan tikus. Perlindungan radiasi. • Melakukan sosialisasi dan pelatihan pencegahan dan penanggulangan kebakaran. 'Memberi rekomendasilmasukan mengenai perencanaan. Pembinaan dan pengawasan perlengkapan keselamatan kerja : • Pembuatan rarnbu-rarnbu arah dan tanda-tanda keselamatan.!Jf:\. desainllay out pembuatan tempat keria dan pemilihan alat serta pengadaannya terkait keselamatan dan keamanan: • Melibatkan petugas K3 Rumah Sakit di dalam perencanaan.

• Izin Pemakaian Lift. • Izin berdasarkan Undang-undang Gangguan.~~ER~ I<ESEHA1AN x::::::'U~UK tNDO. Sertifikasi. merawat orang sakit. • Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. c. menyembuhkan dan meringankan penyakit.:E\. • Izin Pemakaian Boiler. • Keputusan Menkes No. • Izin Deepwell khusus untuk DKI Jakarta Raya. rnesin dan/atau implan yang tidak mengandung obat yang digunakan untuk mencegah. • Keputusan Menteri Kesehatan No. 432/Menkes/lV/2007 tentang Pedoman Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit. • Izin Operasional Rumah Sakit untuk Rumah Sakit Swasta dan BUMN. • Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. • Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit. • Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.\. Standar Manajemen Standar manajemen perbekalan kesehatan Rumah Sakit meliputi : 1. Pedoman dan standar prosedur operasional K3.A. 1204/Menkes/SKlXl2004 tentang Persyaratan Kesehatan lingkungan Rumah Sakit. Sistem komunikasi baik internal maupun eksternal. 1405/Menkes/SKlXI/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri. STANOAR K3 PERBEKALAN KESEHATAN 01 RUMAH SAKIT Perbekalan kesehatan adalah semua bahan dan peralatan yang diperlukan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan. Perizinan sesuai dengan peraturan yang berlaku meliputi : • Izin Mendirikan Bangunan. • Peraturan Menaker No. dan/atau membentuk struktur dan memperbaiki fungsi tubuh. aparatus. • Izin Pemakaian Diesel. 15 . d. • Izin Penggunaan Bangunan khusus untuk DKI Jakarta Raya. • Rekomendasi Dinas Pemadam Kebakaran. • Izin Pengolahan Limbah Padat. • Keputusan Menkes No. Standar K3 perbekalan kesehatan di Rumah Sakit harus meliputi : A. • Penggunaan Radiasi. memulihkan kesehatan pada manusia. mendiagnosis. 876/Menkes/SKNIII/2001 tentang Pedoman Teknis Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan. • Izin Bejana Tekan. Kebijakan tertulis tentang pengelolaan K3RS yang mengacu minimal pad a peraturan sebagai berikut : • Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Alat kesehatan adalah instrumen. e. Setiap bahan dan peralatan dalam penyelenggaraan upaya kesehatan di Rumah Sakit harus dilengkapi dengan : a. 5/MENAKER/1996 tentang Sistem Manajemen K3.~~S\A IV. • Izin Instalasi Petir. b. • Izin Instalasi Listrik. Cair dan Gas.

sterilisasi sentral. kamar isolasi penyakit menular. pemantauan sterilisasi dan desinfeksi. api/kebakaran. penyehatan air. 2. Fasilitas sanitasi yang memadai dan memenuhi persyaratan kesehatan. penghawaan dan kebisingan. Sistem alarm. 7. Setiap bahan dan peralatan dalam penyelenggaraan upaya kesehatan di Rumah Sakit yang menggunakan bahan beracun berbahaya maka pengirimannya harus dilengkapi dengan MSDS. siap dan layak pakai. Setiap lingkungan kerja harus dilakukan pemantauan lingkungan kerja secara berkala dan berkesinambungan. 10. pengawasan perlindungan radiasi dan promosi kesehatan lingkungan. kamar operasi. bangunan dan fasilitas sanitasi termasuk pencahayaan. 16 . harus 6. prasarana 9. j. pengolahan lim bah dan laundry. Evaluasi. tikus dan binatang pengganggu lain. Program penyehatan lingkungan Rumah Sakit meliputi.ME~:~RIKESEHATAN I:<E?UBUK !NDONESlA Program pemeliharaan. farmasi. Alat Pelindung Diri (APD) yang memadai. prasarana dan peralatan yang disesuaikan dengan jenisnya. pengendalian serangga. 8. radiologi. dan peralatan. prasarana dan peralatan Rumah Sakit. g. Setiap operator/petugas sarana. 4. k. prasarana pemeriksaan kesehatan secara berkala. Fasilitas penanganan lim bah padat. genset. h. pencatatan dan pelaporan program pelaksanaan dan peralatan Rumah Sakit. sistem pendeteksi api/kebakaran dan penyediaan alat pemadam . Kalibrasi internal dan kalibrasi legal secara berkala terhadap sarana. Peta/denah lokasi/ruang/alat yang dianggap berisiko dan berbahaya dengan dilengkapi simbol-simbol khusus untuk daerah/tempatlarea yang berisiko dan berbahaya. Manual operasional yang jelas. i. penyehatan tempat pencucian umum termasuk laundry. 3. K3 sarana. cair dan gas. penyehatan makanan dan minuman. . I. Sarana. harus dilakukan f. harus dikelola dan dilakukan oleh petugas yang mempunyai komptensi di bidangnya. terutama laboratorium. atau monitoring kualitas 5. Rambu-rambu K3 seperti rambu larangan dan rambu penunjuk arah. penyehatan ruangan. Khusus sarana bangunan yang menggunakan bahan beracun berbahaya dilengkapi fasilitas dekontaminasi bahan beracun berbahaya. dan disediakan ruang atau tempat penyimpanan khusus bahan beracun berbahaya yang aman. penanganan Iimbah.

5 m2m . serta sesuai dengan hasil kajian kebutuhan dan kelayakan penyelenggaraan Rumah Sakit. kenyamanan dan kemudahan dalam pemberian pelayanan serta perlindungan dan keselamatan bagi semua orang termasuk penyandang cacat. Luas lahan untuk bangunan tidak bertingkat minimal 1.Sedangkan untuk persyaratan bangunan diatur pada pasal 9 yakni bangunan Rumah Sakit harus memenuhi. persyaratan administratif dan persyaratan teknis bangunan gedung pada umumnya. Standar teknis sarana a. anak-anak. keselamatan lingkungan. tempat bongkar muat barang.Ruang perawatan minimal 4. dan tata ruang.5 kali luas bangunan.1tE~'~E~! KESEHATAN :=<E?~BLfKtND()~~S~A B. Didalam UU No.Ruang isolasi minimal 6 m2m Persyaratan luas ruangan sebaiknya berukuran minimal: -Ruang periksa 3 x 3 m2 -Ruang tindakan 3 x 4 m2 -Ruang tunggu 6 x 6 m2 -Ruang utilitas 3 x 3 m2 Ruang bangunan yang digunakan untuk ruang perawatan mempunyat • Rasio tempat tidur dengan kamar mandi 10 IT : 1 • Bebas serangga dan tikus • Kadar debu maksimal 150 ~g/m3 udara dalam pengukuran rata-rata 24 jam • Tidak berbau (terutama H2S dan atau NH3) • Pencahayaan 100-200 lux • Suhu 26. Perbandingan jumlah tempat tidur dengan luas lantai untuk ruang perawatan dan ruang isolasi adalah : • Ruang bayi : . Lokasi dan bangunan : Secara umum lokasi rumah sakit hendaknya mudah diianqkau oleh masyarakat.Ruang isolasi minimal 3.Ruang perawatan minimal 2 m2m . Luas lahan untuk bangunan bertingkat minimal 2 kali luas bangunan lantai dasar. dan tidak berdekatan dengan rei kereta api. dan limbah pabrik. pabrik industri. tempat bermain anak. dan orang usia lanjut. Bangunan minimal adalah 50 m2 per tempat tidur.27°C (dengan AC) atau suhu kamar (tanpa AC) dengan sirkulasi udara yang baik • Kelembaban 40-50% (dengan AC) kelembaban udara ambient (tanpa AC) • Kebisingan <45 dBA 17 . banjir. Luas bangunan disesuaikan dengan jumlah tempat tidur (IT) dan klasifikasi rumah sakit. Untuk persyaratan teknis bangunan Rumah Sakit.5 m2m • Ruang dewasa I anak : . Standar Teknis 1. bebas dari pencemaran.44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit khususnya pasal 8 disebutkan bahwa persyaratan lokasi Rumah Sakit harus memenuhi ketentuan mengenai kesehatan. harus sesuai dengan fungsi. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

. rata. tidak licin. • Khusus ruang radiologi dinding dilapis Pb minimal 2 mm atau setara dinding bata ketebalan 30 cm serta dilengkapi jendela kaca anti radiasi.1204 tahun 2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit) : • Dinding berwarna terang. • Khusus jendela yang berhubungan langsung keluar memakai jeruji. mudah dibersihkan mempunyai kemiringan yang cukup dan tidak ada genangan air. cat tidak luntur dan tidak mengandung logam berat. • Khusus ruang operasi. 18 . dinding dengan langitlangit. menggunakan bahan vinyl anti elektrostatik dan tidak mudah terbakar. • Permukaan dinding keramik rata. • Langit-Iangit menggunakan cat anti jamur. • Khusus ruang operasi. pintu terdiri dari dua daun pintu dan dilapisi Pb minimal 2 mm atau setara dinding bata ketebalan 30 cm dilengkapi dengan lampu merah tanda bahaya radiasi serta dilengkapi jendela kaca anti radiasi. mudah dibuka tetapi harus dapat menutup sendiri (dipasang penutup pintu (door close». • Pintu dapat dibuka dari luar.5 m dari lantai. d. • Permukaan plafond berwarna terang.ERIKESEHATAN :-::'2~=-lIBUKINDONESIA b. mudah dibersihkan tidak menggunakan berbahan asbes. penutup pintu otomatis (automatic door closer) dan membuka ke arah tangga daruraUarah evakuasi dengan bahan tahan api minimal 2 jam. membentuk konus (tidak membentuk siku). Pintu/jendela: • Pintu harus cukup tinggi minimal 270 cm dan Iebar minimal 120 cm. • Dinding ruang laboratorium dibuat dari porselen atau keramik setinggi 1. • Khusus pintu darurat menggunakan pegangan panik (panic handle).8 m dari lantai. tidak mempunyai pori atau lubang untuk berkembang biaknya bakteri. rapi. rata. • Sudut dinding dengan dinding. • Khusus ruang radiologi. Lantai: • Lantai ruangan dari bahan yang kuat.N-. tidak licin dan mudah dibersihkan dan berwarna terang. • Khusus ruang operasi lantai rata. e.ME. Plafond: • Rangka plafon kuat dan anti rayap. pintu terdiri dari dua daun. • Ambang bawah jendela minimal 1 m dari lantai. • Lantai KMIWC dari bahan yang kuat. kedap air. • Dinding KMIWC dari bahan kuat dan kedap air. Dinding (Mengacu Kepmenkes No. kedap air. • Langit-Iangit dengan ketinggian minimal 2. sisa permukaan keramik dibagi sarna ke kanan dan ke kiri. harus disediakan gelagar (gantungan) lampu bedah dengan profil baja double INP 20 yang dipasang sebelum pemasangan langit-Iangit. dinding dengan lantai. c.

untuk ruang operasi kombinasi antara fan. serta mudah dibersihkan. Saluran (drainase): • Saluran keliling bangunan drainase dari bahan yang kuat. . urinoar. k.Pemasangan ventilasi alamiah dapat memberikan sirkulasi udara yang cukup. • Ventilasi mekanik disesuaikan dengan peruntukkan ruangan. Atap: • Atap kuat. • Air bersih dilakukan pemeriksaan fisik. • Bak mandi tidak berujung lancip. • Air untuk keperluan sanitasi seperti mandi. dilengkapi disinfektan dan dilengkapi tisu yang dapat dibuang (disposable tissues). • Ventilasi AC dilengkapi dengan filter bakteri. Sanitasi: • Closet. • Sistem penyediaan air bersih menggunakan jaringan PAM atau sumur dalam (artesis). j. tidak menjadi perindukan serangga. h. g. keluar dengan lancar dan jumlahnya cukup. • Indeks perbandingan jumlah tempat tidur pasien dengan jumlah toilet dan kamar mandi 10: 1. • Pipa air bersih tidak boleh bersilangan dengan pipa air kotor. kuat. Air bersih : • Kapasitas reservoir sesuai dengan kebutuhan Rumah Sakit (250-500 liter/tempat tidur). Pemipaan (plumbing): • Sistem pemipaan menggunakan kode warna : biru untuk pemipaan air bersih dan merah untuk pemipaan kebakaran. kuat. cuci. exhauster dan AC harus dapat memberikan sirkulasi udara dengan tekanan positif.~E~JERlKESEHATAN ~E::J. kedap air dan berkualitas baik dengan dasar mempunyai kemiringan yang cukup ke arah aliran pembuangan. tegak lurus dinding. wastafel dan bak mandi dari bahan kualltas baik. • Atap dengan ketinggian lebih dari 10 meter harus menggunakan penangkal petir. tikus dan binatang pengganggu lain. luas minimum 15% dari luas lantai. • Indeks perbandingan jumlah pekerja dengan jumlah toiletnya dan kamar mandi 20:1. • Instalasi pemipaan tidak boleh berdekatan atau berdampingan dengan instalasi listrik. tidak menimbulkan bau. closet.UgLiKINDONE:::". tidak bocor. wastafel. • Urinoar dipasang/ditempel pada dinding. • Sumber air bersih dimungkinkan dapat digunakan sebagai sumber air dalam penanggulangan kebakaran. i. f. berfungsi dengan baik. • Wastafel dipasang rata. kimia dan biologi setiap 6 bulan sekali. Ventilasi: • .. tidak menjadi sarang nyamuk dan niudah dibersihkan. 19 . utuh dan tidak cacat. urinoar.

• Dilengkapi pegangan. • Parkir dasar (basement) dilengkapi dengan exhauster yang memadai untuk menghilangkan udara tereemar di dalam ruang dasar (basement). Taman • Akses jalan harus lanear dengan rambu-rambu yang jelas. dan di tiap sudut pertemuan. tidak liein. m. • Untuk penyandang eaeat disediakan ramp trotoar. p. I. be bas dari segala instalasi. Pemandangan (Landscape) : Jalan. • Tidak berbentuk bulat/spiral. • Diberi rambu penyandang eaeat yang bisa membedakan untuk mempermudah dan membedakan dengan fasilitas parkir bagi umum. ketinggian 60-80 em dari lantai. • Memiliki dimensi pijakan dan tanjakan yang seragam. Pegangan rambat mudah dipegang. bak kontrol dilengkapi penutup yang mudah di buka/ditutup memenuhi syarat teknis. • Drainase searah jalur. • Ukuran minimum 120 em Ualur searah). kedua ramp tersebut dilengkapi pegangan rambatan. Jalur pejalan kaki (pedestrian track): • Tersedia jalur kursi roda dengan permukaan keras/stabil. khusus ramp evakuasi dilengkapi dengan pressure fan untuk membuat tekanan udara positif. Area parkir: • Area parkir harus tertata dengan baik. 20 . setiap jarak 9 meter ada border. kuat. dan tidak o. liein. • Memiliki kemiringan injakan < 90 derajat. • Tinggi injakan maksimum 21 em. kuat. • Tangga diluar bangunan diraneang ada penutup tidak kena air hujan. • Lebar injakan minimum 28 em. • Hindari sambungan atau gundukan permukaan. • Saluran pembuangan yang melewati jalan harus tertutup dengan baik dan tidak menimbulkan bau. 160 (jalur 2 arah). • Ramp untuk evakuasi harus satu arah dengan lebar minimum 140 em. dilengkapi petunjuk arah dan disediakan tempat sampah yang memadai serta pemadam kebakaran. • Area awal dan akhir ramp harus bebas dan datar.M~X-:ER! t<ESf::HATAN ?(S::):J8U!< iNDO\!ES!A • Saluran air hujan tertutup telah dilengkapi bak kontrol dalam jarak tertentu. Jalur yang melandaillereng (ramp): • Kemiringan rata-rata 10-15 derajat. ketinggian 80 em. • Mempunyai ruang bebas disekitarnya. • Setiap ramp dilengkapi lampu penerangan darurat. mudah untuk berputar. khusus ramp koridor dapat dibuat dua arah dengan lebar minimal 240 em. • Kemiringan 7 derajat. Tangga: • Lebar tangga minimum 120 em jalan searah dan 160 em jalan dua arah. n. serta berfungsi dengan baik. • Tepi jalur pasang pengaman. minimum pada salah satu sisinya.

• Kapasitas generator (Gen set) disediakan minimal 40% dari daya terpasang dan dilengkapi AMF dan ATS system.2 Ohm. Instalasi penangkal petir : Pengawasan instalasi penangkal No. sesuai pedoman bahwa rumah sakit kelas B mempunyai Kapasitas daya llstrik ± 1 MVA (1000 KVA) • Kapasitas dan instalasi listrik terpasang memenuhi standar PUlL. terpampang di bag ian depan Rumah Sakit. • Grounding System harus terpisah antara grounding panel gedung dan panel alat. petir sesuai dengan ketentuan Permenaker c. ICCU. ICU.~E\. • Taman tertata rapi. Nilai grounding peralatan tidak boleh kurang dari 0. jelas atau mudah dibaca untuk umum. Standar teknis prasarana a.2~1 KESE4ATAN ~~. • Tersedia koneksi siamese. ICU. • Jalan dalam area Rumah Sakit pad a kedua belah tepinya dilengkapi dengan kansten dan dirawat. kenyamanan bagi pengunjung maupun pekerja dan pasien Rumah Sakit. • Tersedia instalasi alarm kebakaran otomatis sesuai dengan Permenaker No. dan diberi pendingin ruangan. kesejukan.-:":Y~UK INDONESIA • Tanam-tanaman tertata dengan baik dan tidak menutupi rambu-rambu yang ada. • Tersedia dan tercukupi air untuk pemadaman kebakaran. Pencegahan dan penanggulangan kebakaran : • Tersedia APAR sesuai dengan Norma Standar Pedoman dan Manual (NSPM) kebakaran seperti yang diatur oleh Permenaker No. • Papan nama Rumah Sakit dibuat rapi. • Tersedia pompa HIDRAN dengan generator cadangan.2 Tahun 1983. 2. Penyediaan listrik : • Untuk rumah sakit yang rnemllikl kapasitas daya listrik tersambunq darl PLN minimal 200 KVA disarankan agar sudah memiliki sistem jaringan listrik Tegangan Menengah 20 KV (jarinqan listrik TM 20 KV). 21 . Tersedia alat penyemprot air (sprinkler) dengan jumlah yang memenuhi kebutuhan luas area. terpelihara dan berfungsi memberikan keindahan. b.2 Tahun 1989. • HIDRAN terpasang dan berfungsi dengan baik dan tersedia air yang cukup.4 tahun 1980.-. • Kapasitas UPS disesuaikan dengan kebutuhan. sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan . • Harus tersedia ruang UPS minimal 2 x 3 m2 (sesuai kebutuhan) terletak di gedung COT. •. • Untuk kamar bedah. ICCU menggunakan catu daya khusus dengan sistem catu daya cadangan otomatis dua lapis (generator dan UPSIUninteruptable Power Supply). kuat. • Harus tersedia area untuk tempat berkumpul (public comer). • Pintu gerbang untuk masuk dan keluar berbeda dan dilengkapi dengan gardu jaga.

• Tersedia sistem tata suara pusat (central sound system). c. . 3. • Tersedia komunikasi lain (HT. • Tersedia saluran telepon khusus untuk keadaan darurat (untuk UGD. gas nitrous oxida (N02).:J'E~TERI KESEHATAN ~::?~~~UK INDONESIA d. berfungsi dengan baik dilengkapi dengan ALARM untuk menunjukkan kondisi sentral gas medis dalam keadaan rusak/ketersediaan gas tidak cukup. Standar peralatan Rumah Sakit a. Penggunaan peralatan medis dan nonmedis di Rumah Sakit harus dilakukan sesuai dengan indikasi medis pasien. • Kelengkapan sentral gas berupa gas oxigen (02). g. Pengoperasian dan pemeliharaan peralatan Rumah Sakit harus dilakukan oleh petugas yang mempunyai kompetensi di bidangnya. d. Limbah cair : Tersedianya Instalasi Pengolahan Air Limbah (lPAL) dengan perizinannya. sentral telepon dan posko tanggap darurat). • Tersedia peralatan pemantau keamanan/CC1V (Close circuit television) Gas medis : • Tersedianya gas medis dengan sistem sentral atau tabung. f. Pemeliharaan peralatan harus didokumentasi dan dievaluasi secara berkala dan berkesinambungan. • Tersedia sistem panggilan perawat (nurse call) yang terpasang dan berfungsi dengan baik. terpelihara dan berfungsi dengan baik. f. b. Memiliki perizinan. . Peralatan yang menggunakan sinar pengion harus memenuhi ketentuan dan harus diawasi oleh lembaga yang berwenang. • Instalasi kabel telah terpasang rapi. ' • Tersedia tempat pembuangan lim bah padat sernentara. e. g. Sistem komunikasi : • Tersedia saluran telepon internal dan eksternal dan berfungsi dengan baik. aman dan berfungsi dengan baik. • Tersedia pengisap (suction pump) pada jaringan sentral gas medik. Tersertifikasi badan atau lernbaqa terkait. paging sistem dan alarm) untuk mendukung komunikasi tanggap darurat. Pengolahan limbah padat : • Tersedianya tempatlkontainer penampungan limbah sesuai dengan kriteria limbah. tertutup dan berfungsi dengan baik. • Tersedia incinerator atau yang sejenisnya. • Kapasitas sentral gas medis telah sesuai dengan kebutuhan. e. 22 . • Sentral gas medis dengan sistem jaringan dan outlet terpasang. Diuji dan dikalibrasi secara berkala oleh Balai Pengujian Fasilitas Kesehatan dan/atau institusi pengujian fasilitas kesehatan yang berwenang. gas tekan dan vacum.

Sa153. sehingga keeepatan reaksi.< INDO\l:'. peralatan laboratorium terkontaminasi. biakan kultur. kelainan organ genetik) dan risiko bahaya kimia. jarum suntik. sinar beta.ME~7ERIKESEHATAN ~2?lJ13U. Kategori B3 1. Limbah medis termasuk dalam kategori limbah berbahaya dan beraeun (LB3) sesuai dengan PP 18 Tahun 1999 jo PP 85 Tahun 1999 lampiran I daftar limbah spesifik dengan kode limbah D 227. bahaya radiasi (kanker. Tegg. mengatur tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Rumah Sakit.S!A v. Memancarkan radiasi Bahan yang memanearkan gelombang elektromagnetik atau partikel radioaktif yang rnarnpu mengionkan seeara langsung atau tidak langsung materi bahan yang dilaluinya. • Kepmen KLH 58/1995. bahan atau perlengkapan yang bersentuhan dengan penyakit menular atau media lainnya yang diperkirakan tereemari oleh penyakit pasien. pengunjung/pengantar pasien ataupun masyarakat di sekitar Iingkungan Rumah Sakit. A. Dalam kode limbah 0227 tersebut disebutkan bahwa Iimbah rumah sakit dan limbah klinis yang termasuk lirnbah B3 adalah lim bah klinis. mengatur tentang pengelolaan lim bah bahan berbahaya dan Beraeun (B3). • PP18 tahun 1999 jo PP 85 tahun 1999. Sebagian lim bah medis termasuk kedalam kategori Iimbah berbahaya dan sebagian lagi termasuk kategori infeksius. produk farmasi kadaluwarsa. limbah laboratorium. eampak. Mudah meledak Bahan yang mudah membebaskan panas dengan eepat tanpa disertai pengimbangan kehilangan panas. • Kepdal 01. Limbah infeksius biasanya berupa jaringan tubuh pasien. PENGELOLAAN BARANG BERBAHAYA DAN BERACUN Limbah medis Rumah Sakit termasuk kedalam kategori lim bah berbahaya dan beraeun yang sangat penting untuk dikelola seeara benar. Beberapa peraturan yang mengatur tentang pengelolaan lingkungan Rumah Sakit antara lain diatur dalam : • Permenkes 1204/Menkes/PerX1/2004. Beberapa risiko kesehatan yang mungkin ditimbulkan akibat keberadaan rumah sakit antara lain: penyakit menular (hepatitis. Sedangkan limbah infeksius merupakan lim bah yang bisa menjadi sumber penyebaran penyakit baik kepada SDM Rumah Sakit. pasien. lim bah genotoxic dan wadah bertekanan masih banyak yang belum dikelola denqan . Bahan mudah meledak apabila terkena panas. Limbah medis berbahaya yang berupa limbah kimiawi. peningkatan suhu dan tekanan meningkat pesat dan dapat menimbulkan peledakan. AIDS. sinar alfa. mengatur tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. kemasan produk farmasi. 2. logam berat. dll. sinar X. lim bah farmasi. perban.05 tahun 1995 tentang pengelolaan lim bah B3. sinar gamma. Pengelolaan lingkungan yang tidak tepat akan berisiko terhadap penularan penyakit. . diare. misalnya: Ir192. 23 . baik. darah. gesekan atau bantingan dapat menimbulkan ledakan. 1131. influenza). dan residu dari proses insinerasi.

4. Diantaranya yang sangat berbahaya adalah yang melalui saluran pernapasan karena tanpa disadari B3 akan masuk ke dalam tubuh bersama udara yang dihirup yang diperkirakan sekitar 8. mengakibatkan reaksi keluar panas (eksothermis). Racun Bahan yang bersifat beracun bagi manusia atau lingkungan yang dapat menyebabkan kematian atau sakit yang serius apabila masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan kulit atau mulut. karena masing-masing individu mempunyai daya tahan yang berbeda terhadap pengaruh bahan kimia. Konsentrasi dan lama paparan.3 M2 selama 8 jam kerja dan sulit dikeluarkan kembali dari dalam tubuh. menyulitkan tindakan-tindakan pertolongan atau pengobatan. 4. 11. Cara B3 masuk ke dalam tubuh yaitu melalui saluran pernapasan. Mutagenik Sifat bahan yang dapat mengakibatkan perubahan kromosom yang berarti dapat merubah genetika. 9. Arus listrik B. Mudah menyala atau terbakar Bahan yang mudah membebaskan panas dengan cepat disertai dengan pengimbangan kehilangan panas. Efek kombinasi bahan kimia. dan sam a atau lebih dari 12. 24 2. yakni sel luar yang dapat merusak jaringan tubuh. Karsinogenik Sifat bahan penyebab sel kanker. mempunyai pH sama atau kurang dari 2 (asam). yaitu paparan bermacam-macam B3 dengan sifat dan daya racun yang berbeda. Bahan mudah menyala atau terbakar mempunyai titik nyala (flash point) rendah (21DC).5 (basa). dimana makin kecll nilai LD50 atau LC50 B3 menunjukkan makin tinggi daya raeunnya. Iritasi Bahan yang dapat mengakibatkan peradangan pada kulit dan selaput lendir.::'{jgUK INDONES!A 3. menyebabkan proses pengkaratan pada lempeng baja (SAE 1020) dengan laju korosi lebih besar dari 6. Teratogenik Sifat bahan yang dapat mempengaruhi pembentukan dan pertumbuhan embrio.V:E\\-:ERI KESEHATAN R~. 10. 6. 8. Korosif Bahan yang dapat menyebabkan iritasi pada kulit. Faktor yang mendukung timbulnya situasi berbahaya/tingkat bahaya dipengaruhi oleh daya racun dinyatakan dengan satuan LD50 atau LC50.35 mm/tahun dengan temperatur uji 55DC. Kerentanan calon korban paparan B3. 7. . 3. terjadi reaksi 5. Oksidator Bahan yang mempunyai sifat aktif mengoksidasikan sehingga oksidasi. sehingga tercapai kecepatan reaksi yang menimbulkan nyala. . saluran pencernaan dan penyerapan melalui kulit. 1.

. Identifikasi semua 83 dan instalasi yang akan ditangani untuk mengenal ciri-ciri dan karakteristiknya. cara penyimpanan. d. untuk dapat membedakan satu sama lainnya. Prinsip Dasar Pencegahan dan Pengendalian 83 1. pengaturan tata ruang. cara pengobatan bila terjadi kecelakaan dan sebagainya. 4. g. bocoran/tumpahan. Pembatasan keberadaan 83 di tempat kerja sesuai jumlah am bang.gUK INDO\l!::SiA C. 25 . i. cara penanganan. pemantauan rutin dan pendidikan atau latihan. b. yaitu mengganti penggunaan bahan berbahaya dengan yang kurang berbahaya. Upayakan substitusi. cara pembuangan dan penanganan sisa atau . Upayakan untuk mendapatkan informasi terlebih dahulu tentang bahan berbahaya yang menyangkut sifat berbahaya. 3. Upayakan proses dilakukan secara tertutup atau mengendalikan kontaminan bahan berbahaya dengan sistem ventilasi dan dipantau secara berkala agar kontaminan tidak melampaui nilai am bang batas yang ditetapkan. untuk menentukan langkah-Iangkah atau tindakan yang diperlukan sesuai sifat dan karekteristik dari bahan atau instalasi yang ditangani sekaligus memprediksi risiko yang mung kin terjadi apabila kecelakaan terjadi. dan menjaga higiene perorangan. dan terpelihara dengan baik. d. pelatihan dan pengawasan. Untuk mengurangi risiko karena penanganan bahan berbahaya antara lain: a. penggunaan alat perlindungan diri. Upayakan agar sistem izin kerja diterapkan dalam penanganan bahan-bahan berbahaya. c. Pengendalian operasional. Pengendalian organisasi administrasi. Dalam hal ini bahan dapat dipesan sesuai kebutuhan sehingga risiko dalam penyimpanan kecil. Upayakan agar pekerja memakai alat pelindunq diri yang sesuai atau tepat melalui pengujian. Informasi tersebut dapat dirninta kepada penyalur atau produsen bahan berbahaya yang bersangkutan. penyediaan MSDS. seperti pemasangan label. substitusi. dilakukan oleh petugas yang ditunjuk sebagai penanggung jawab. Sumber informasi didapatkan dari MSDS. ventilasi. f. e. Upayakan menggunakan atau menyimpan bahan berbahaya sedikit mungkin dengan cara memilih proses kontinyu yang menggunakan bahan setiap saat lebih sedikit. Inspeksi dan pemeliharaan sarana. pembuatan prosedur kerja. Upayakan agar penyimpanan bahan-bahan berbahaya sesuai prosedur dan petunjuk teknis yang ada dan memberikan tanda-tanda peringatan yang sesuai dan jelas. Diperlukan penataan yang rapi dan teratur. prosedur dan proses kerja yang aman. Pengendalian sebagai alternatif berdasarkan identifikasi dan evaluasi yang dilakukan meliputi: a. Tempat penyimpanan bahan-bahan berbahaya harus dalam keadaan aman.ME\:':-ERI KESEHATAN ~E?:_. 2. Evaluasi. h. c. Hasil identifikasi diberi label atau kode . bersih. b. seperti eliminasi. Upayakan agar pekerja tidak mengalami paparan yang terlalu lama dengan mengurangi waktu kerja atau sistem shift kerja serta mengikuti prosedur kerja yang aman.

kapabilitas rekanan. D. c. menangani tumpahan. rekanan dalam memenuhi apa yang tertulis dalam 2. Metodologi bag us. 4. Jaminan garansi yang disediakan baik waktu maupun jenis garansi yang diberikan. d. menyimpan. Persyaratan K3 dan lingkungan a. b. Upayakan agar lim bah yang dihasilkan sekecil mungkin dengan cara memelihara instalasi menggunakan teknologi yang tepat dan upaya pemantaatan kembali atau daur ulang. Penanganan setiap masalah yang timbul pad a saat pelaksanaan. persyaratan K3 dan lingkungan serta informasi lain yang dibutuhkan oleh Rumah Sakit. Sudah sertifikasi ISO 9000. Memberikan layanan purna jual yang memadai dan dukungan teknis disertai sumber daya manusia yang handal. Sistem mutu a. pelayanan. Mengikuti ketentuan K3 yang berlaku di Rumah Sakit. 3. Rekanan yang akan diseleksi diminta memberikan proposal berikut profil perusahaan (company profile). menggunakan. Pendekatan yang dilakukan supplier dalam melaksanakan tugasnya. 26 . harga. d. mengelola 83 harus menginformasikan kepada Instalasi Logistik sebagai unit pengadaan barang setiap kali mengajukan permintaan bahwa barang yang diminta termasuk jenis 83. memindahkan. Kualitas dan garansi Kualitas barang yang diberikan memuaskan dan sudah sesuai dengan spesifikasi yang sudah disepakati. Menyertakan MSDS. Hal-hal yang menjadi kriteria penilaian : 1. E.M~N~2~!KESEHATAN :'<t:C3LJBUK INDO!\!ESJA j. dll) 83. Informasi yang diperlukan menyangkut spesifikasi lengkap dari material atau produk. b. Kapabilitas Kemampuan dan kompetensi kontrak kerja sama. Kemasan produk memenuhi persyaratan K3 dan lingkungan. Setiap unit kerjallnstalasi/satker yang menggunakan. Melaksanakan Sistem Manajemen Lingkungan atau ISO 14001. Kesesuaian waktu pelayanan dengan kontrak yang ada. setiap stat wajib mengetahui betul jenis bahan dan cara penanqanannya dengan melihat SOP dan MSDS yang telah ditetapkan. Pelayanan a. c. Pengadaan Jasa dan Bahan Berbahaya Rumah sakit harus melakukan seleksi rekanan berdasarkan barang yang diperlukan. Dokumen sistem mutu lengkap. c. b. Penanganan Bahan Berbahaya dan Beracun Dalam penanganan (menyimpan. dibuat formulir seleksi yang mernuat kriteria wajib yang harus dipenuhi oleh rekanan serta sistem penilaian untuk masingmasing kriteria yang ditentukan. Untuk memudahkan melakukan proses seleksi. 5.

g. Penanganan a. dan di lokasi tersebut tersedia SOP untuk menangani 83 antara lain: a. Laporkan segera bila terjadi kebocoran bahan kimia atau gas. f. STAN DAR sUMBER Kriteria Tenaga K3 1. b. d. Pastikan kerja aman sesuai prosedur dalam pengambilan dan penempatan bahan. serta dibuat dalam denah Rumah Sakit dan disebarluaskanl disosialisasikan kepada seluruh penghuni Rumah Sakit. (optional). Cara penanganan 83 dll. VI. radiologi. 3. farmasi dan ternpat penyimpanan. j. i. Letakkan bahan sesuai ketentuan. penggunaan dan pengelolaan 8~ harus di beri tanda sesuai potensi bahaya yang ada. Cara penanggulangan bila terjadi kontaminasi. 27 . penggunaaan dan pengelolaan 83 yang ada di Rumah Sakit harus di tetapkan sebagai daerah berbahaya dengan menggunakan kode warna di area bersangkutan. Tenaga paramedis dengan sertifikasi dalam bidang K3 (informal) yang rnendapatkan pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3RS minimal 1 orang. e. h. Cara penanggulangan apabila terjadi kedaruratan. S3/S2 K3 minimal 1 orang dan mendapatkan pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3RS. 8aca petunjuk yang tertera pada kemasan.ERIKESEHATAN ~=?u~UI< ~NDO~ES!A 1. b. yang rnendapatkan pelatihan tambahan yang berkaitan dengan K3 secara umum serta mendapatkan pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3RS. Laporkan setiap kejadian atau kemungkinan kejadian yang menimbulkan bahayal kecelakaan atau nyaris celaka (accident atau near miss) melalui formulir yang telah disediakan dan alur yang telah ditetapkan. berdasarkan lokasi 2. Jangan menyimpan bahan melebihi pandangan mata. f. e. Penanganan Daerah-daerah yang berisiko (Iaboratorium. Tenaga Kesehatan Masyarakat K3 Diploma III dan S1 minimal 2 orang dan mendapatkan pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3RS.ME~. hindari terjadinya tumpahan/kebocoran. DAYA MANUslA K3Rs Rumah sakit Umum kelas A dan Rumah sakit Khusus kelas A a. Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi (SpOk) dan S2 Kedokteran Okupasi minimal 1 orang. d. Jangan menyimpan bahan yang mudah bereaksi di lokasi yang sama. Tempatkan bahan pada ruang penyimpanan yang sesuai dgn petunjuk. untuk personil Kenali dengan seksama jenis bahan yang akan digunakan atau disimpan. c. S2 kesehatan minimal 1 orang. c. c. A. Perhatikan batas waktu pemakaian bahan yang disimpan. Penanganan administratif Di setiap tempat penyimpanan. Dokter/dokter gigi Spesialis dan dokter umum/dokter gigi minimal 1 orang dengan sertifikasi dalam bidang K3 dan mendapatkan pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3RS. b.

Selanjutnya transformasi sistem manajemen K3 dari prosedur tertulis menjadi proses yang efektif merupakan komitmen bersama. orientasi. pengkajian. Program Pendidikan. Dokter/dokter gigi Spesialis dan dokter umum/dokter gigi minimal 1 orang dengan sertifikasi dalam bidang K3 dan mendapatkan pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3RS. d. Tenaga paramedis dengan sertifikasi dalam bidang K3 yang mendapatkan pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3RS minimal 1 orang. B. h. e. Rumah Sakit Umum kelas C dan Rumah Sakit Khusus kelas C a. 3. Tenaga teknis lainnya dengan sertifikasi dalam bidang K3 yang mendapatkan pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3RS minimal 1 orang. Tenaga teknis lainnya yang mendapatkan pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3RS minimal 1 orang. Tenaga teknis lainnya yang mendapatkan pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3RS minimal 1 orang. c. Tenaga Kesehatan Masyarakat K3 Diploma III dan S1 minimal 1 orang dan mendapatkan pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3RS. f. Identifikasi pengetahuan. 2. c. g. Tenaga paramedis yang mendapatkan pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3RS minimal 2 orang. Tenaga Kesehatan Masyarakat K3 Diploma III dan S1 minimal 1 orang dan mendapatkan pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3RS.~~'~E~IKESEHATAN '=<2~U8UK INDONESIA g. 28 . d. rotasi dan mutasi. Tenaga paramedis yang mendapatkan pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3RS minimal 1 orang. Dokter/dokter gigi Spesialis dan dokter umum/dokter gigi minimal 1 orang dengan sertifikasi dalam bidang K3 dan mendapatkan pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3RS. serta hukuman & penghargaan (reward & punishment). penempatan. kompetensi dan keahlian yang diperlukan dalam mencapai tujuan dilakukan mulai dari proses: rekruitmen. S2 kesehatan minimal 1 orang. Pelatihan dan Pengembangan SOM K3 Program pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) K3RS merupakan hal pokok yang. i. Tenaga paramedis yang mendapatkan pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3RS minimal 1 orang. Tenaga teknis lainnya yang mendapatkan pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3RS minimal 2 orang. Rumah Sakit Umum kelas B dan Rumah Sakit Khusus kelas B a. b. tidak bisa dikesampingkan. Direktur memegang peranan penting dalam membangun kepedulian dan memotivasi pekerja dengan menjelaskan nilai-nilai organisasi dan mengkomunikasikan komitmennya pad a kebijakan yang telah dibuat. b. yang mendapatkan pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3RS. pelatihan dan pengembangan kompetensi/keahlian lainnya. Tenaga teknis lainnya dengan sertifikasi dalam bidang K3 yang mendapatkan pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3RS minimal 1 orang. seleksi.

4. 5. Penqawasan pelaksanaan Standar Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit (K3RS) dibedakan dalam dua macam. Kejadian/kasus yang berkaitan dengan K3 serta upaya penanggulangan dan tindak lanjutnya. PEMBINAAN. yang tercakup di dalam : 1. A. Harus ada kegiatan keterampilan melalui seminar. dan pengawasan eksternal. mencatat dan melaporkan setiap kejadian/kasus K3. Pencatatan dan Pelaporan Pencatatan dan pelaporan adalah pendokumentasian kegiatan K3 secara tertulis dari masing-masing unit kerja Rumah Sakit dan kegiatan K3RS secara keseluruhan yang dilakukan oleh organisasi K3RS. mendokumentasikan hasil-hasil pelaksanaan kegiatan K3. Oitetapkannya program simulasi atau latihan praktek untuk semua SOM Rurnah Sakit di bidang K3. ke Oirektur Rumah Sakit dan unit teknis terkait di wilayah Rumah Sakit (Oinas Kesehatan setempat. pertemuan ilmiah. 9. 2. penyuluhan. sesuai dengan fungsi dan tugasnya masing-masing. yakni pengawasan internal. VII. Program K3. 6. Pelatihan untuk sekelompok SOM Rumah Sakit yang menjadi sasaran. Penanggung jawab/Pengelola Program Kesehatan Kerja). workshop. Tujuan kegiatan pencatatan dan pelaporan kegiatan K3 adalah menghimpun dan menyediakan data dan informasi kegiatan K3. pelatihan SOM Rumah Sakit yang dituangkan dalam matriks pelatihan. Verifikasi kesesuaian program pelatihan dengan persyaratan organisasi atau perundang-undangan. pendidikan lanjutan yang dibuktikan dengan sertifikat. B.VEN7ERI KESEHATAN R5~UBUK iNDONESIA Program pelatihan yang dikembangkan unsur: untuk SOM Rumah Sakit setidaknya mempunyai 1. termasuk penanggulangan kebakaran dan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. 7. 3. yang dilakukan oleh pimpinan langsung Rumah Sakit yang bersangkutan. Pembinaan dan pengawasan tertinggi dilakukan oleh Oepartemen Kesehatan. yang dikumpulkan dan dilaporkanl diinformasikan oleh orqanisasi K3RS. PENGAWASAN. Pembinaan dapat dilaksanakan antara lain dengan melalui pelatihan. Pendokumentasian pelatihan yang telah diterima. Evaluasi pelatihan yang telah diterima. Sasaran kegiatan pencatatan dan pelaporan kegiatan K3 adalah mencatat dan melaporkan pelaksanaan seluruh kegiatan K3. dan menyusun dan melaksanakan pelaporan kegiatan K3. cq. yang dilakukan oleh Menteri Kesehatan dan Oinas Kesehatan setempat. PENCATATAN DAN PELAPORAN Pembinaan dan Pengawasan Pembinaan dan pengawasan dilakukan melalui sistem berjenjang. Identifikasi kebutuhan 2. 8. Oitetapkannya program dan jadwal pelatihan di bidang K3. bimbingan teknis dan temu konsultasi dan lain-lain. 29 . Pengembangan rencana pelatihan untuk memenuhi kebutuhan tertentu.

Tentu saja standar K3RS ini masih jauh dari sempurna. wajib dicatat dan dilaporkan secara tepat waktu kepada wadah organisasi K3 di Rumah Sa kit.ME~. Rumah Sakit perlu menetapkan dengan jelas alur pelaporan rutin/berkala.: . baik untuk laporan VIII. belum menggambarkan permasalahan dan cara penanggulangan secara menyuluruh terutama berdasarkan instalasi yang ada dl Rumah Sakit. Pencatatan dan pendokumentasian pelaksanaan kegiatan K3 dilakukan setiap waktu.)~\ .. semester. . diharapkan standar ini dapat membantu mereka dalam memahami masalah-masalah K3RS dan dapat melakukan upaya-upaya antisipasi terhadap akibat-akibat yang ditimbulkan sehingga tercapai budaya "sehat dalam bekerja".~AIl}I. I~( v... // --f ~'l ... PEN U T U P Diharapkan dengan dengan adanya standar ini. sesuai dengan jadwal pelaksanaan kegiatan yang telah ditetapkan.-~~:"J:3U!< !NDO~ESiA Pelaksanaan pencatatan dan pelaporan untuk masing-masing aspek K3.. ... Pelaporan terdiri dari.r. Setiap kegiatan dan atau kejadian/kasus sekecil apapun. /Y"~ t . H "f1... pelaporan berkala (bulanan. ~ I (Vd'(. dan tahunan) dilakukan sesuai dengan jadual yang telah ditetapkan dan pelaporan sesaatiinsidentil. yaitu pelaporan yang dilakukan sewaktu-waktu pada saat kejadian atau terjadi kasus yang berkaitan dengan K3.'. dan atau pad a saat terjadi kejadian/kasus (tidak terjadwal). laporan kasus/kejadian tidak terduga.E~1 KESEHATAN :._. Kepada para pembaca yang berminat dalam bidang K3RS diharapkan bantuan dan masukan yang berharga bagi penyempurnaan standar K3RS ini di masa mendatang. yang berkaitan dengan K3.~:-<MENTERI KESEHATAN. dilaksanakan dengan membuat atau menggunakan formulir-formulir yang telah ada atau yang telah ditetapkan sesuai dengan aturan yang berlaku serta formulir-formulir seperti terlampir di dalam standar K3RS ini. ENOANG RAHA YU SEOYANINGSIH 30 . pembinaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) yang selama ini sudah dijalankan oleh Kementerian Kesehatan dapat ditingkatkan hasilnya. Untuk SOM Rumah Sakit.

.... serta informasi lain yang diperlukan...... Formulir laporan rekapitulasi semester (6 bulan) kesehatan kerja FORMULIR LAPORAN REKAPITULASI SEMESTER PELAYANAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN (Form LS4-Untuk Rumah Sakit) .. Pengelola Program Kesehatan dan Keselamatan Kerja ... ....... Berpendidikan formal Kesehatan dan Keselamatan Kerja b........ Nip .....Juni dilaporkan pada bulan Juli ... ...Pelatihan intemal K3 yang dilaksanakan Pemantauan keselamatan kerja 3 4 5 Keteranqan : • Dilaporkan 6 bulan sekali: ...serta infromasi lain yang diperlukan......... • Baris ke-5 pada kolom jumlah diisi "berapa kali dladakan"........ pada kolom keterangan diisi "tempat pemantauan dU. dll ...d .. pengawasannya dimana dll. • Baris ke-6 pada kolom jumlah diisi "berapa kaf diadakan"...... Sudah dilatih tentan is PAK Kasus kebakaran/peledakan akibat bahan kimia. pada kolom keterangan diisi "tempat pemantauannya" dan informasi lain yang diperlukan. serta informasi lain yang diperlukan... Sudah dilatih tentang Kesehatan dan Keselamatan Kerja c....Periode Juli .....................Periode Januari .. Nip ......2...Desember dilaporkan pada bulan Januari • Baris ke-4 pada kolom jumlah diisi "berapa kali diadakan"........ • Baris ke-9 pada kolom jumlah diisi "berapa kall diadakan"... (6 BULAN) KERJA Nama Rumah Sakit : Alamat Lokasi Kabupaten/Kota : Periode Bulan : ========================================================================== : s.. Propinsi Tahun SDM Rumah Sakit 2 SDM Rumah Sakit yang: a..... Mengetahui Direktur ....... 33 ......... pada kolom keterangan diisi "bentuk pembinaannya... pada kolom keterangan diisi "jenis pelatihan dU..... serta informasi lain yang diperlukan... • Baris ke-8 pada kolom jumlah diisi "berapa kali diadakan".... pada kolom keterangan diisi "sasarannya siapa dll. pada kolom keterangan diisi "tempat pemantauan dU. serta informasi lain yang diperlukan. 20 .. • Baris ke-7 pada kolom jumlah diisi "berapa kali diadakan".

...... b... Propinsi .. ........ SDM-RS · · · · · .....•. di awal bulan....••....Contoh Formulir: 1............. ... ........ :..•••••......................... • *= diisi jika ada...... .. :.•..... .•• 3 RS 5 (lima) jenis penyakit yang terbanyak pada : a.....•...............•••............•... .... .. Keteranqan : • • • SDM-RS : Sumber Daya Manusia-Rumah Sakit Pelaporan dari Rumah Sakit yang bersangkutan...•....•... penyakit akibat kerja supaya Selanjutnya jika ada yang menderita penyakit akibat k~~a atau diduga menderita disebutkan jumlahnya dan jenisnya penyakit akibat kerja tersebut..•...... Formulir laporan bulanan kesehatan SOM Rumah Sakit dan Pekerja Luar Rumah Sakit FORMULIR LAPORAN BULANAN KESEHATAN SDM-RS DAN PEKERJA LUAR RS (Form LBKP-4 Untuk Rumah Sa kit) Nama Rumah Sakit Alamat Lokasi Kabupaten/Kota Bulan Pelaporan --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------: ..... ......... · · 4 5 6 ............•.................. pad a kolom keterangan agar diisi hasil pemeriksaan : tidak ada kelainan atau ada kelainan...•. 31 ... Pelaporan sekali sebulan.. Pekerja Luar RS · · · .

......... yakni jumlah SDM-RS yang diperiksa dibagi dengan jumlah Mengetahui Direktur ........... 32 . 20 .................... ..................Baris 10 (Sepuluh)........... Nip ...... Pengelola Program Kesehatan dan Keselamatan Kerja Nip ....... dan dikali 100%. agar diisi dalam bentuk persentase.... seluruh SDM-RS..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful