P. 1
Pedoman Ejaan Dan Penulisan Kata

Pedoman Ejaan Dan Penulisan Kata

4.44

|Views: 5,585|Likes:

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Himatekom Politeknik Madiun on Jan 11, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/01/2013

pdf

text

original

Pedoman ejaan dan penulisan kata

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Penulisan kata
Berikut adalah ringkasan pedoman umum penulisan kata. 1. Kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan. Contoh: Ibu percaya bahwa engkau tahu. 2. Kata turunan (lihat pula penjabaran di bagian Kata turunan) 1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasar. Contoh: bergeletar, dikelola [1]. 2. Jika kata dasar berbentuk gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. Tanda hubung boleh digunakan untuk memperjelas. Contoh: bertepuk tangan, garis bawahi 3. Jika kata dasar berbentuk gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan ditulis serangkai. Tanda hubung boleh digunakan untuk memperjelas. Contoh: menggarisbawahi, dilipatgandakan. 4. Jika salah satu unsur gabungan hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata ditulis serangkai. Contoh: adipati, mancanegara. 5. Jika kata dasar huruf awalnya adalah huruf kapital, diselipkan tanda hubung. Contoh: non-Indonesia. 3. Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung, baik yang berarti tunggal (lumba-lumba, kupu-kupu), jamak (anak-anak, buku-buku), maupun yang berbentuk berubah beraturan (centang-perenang, sayur mayur). 4. Gabungan kata atau kata majemuk 1. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, ditulis terpisah. Contoh: duta besar, orang tua, ibu kota, sepak bola. 2. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian. Contoh: alat pandang-dengar, anak-istri saya. 3. Beberapa gabungan kata yang sudah lazim dapat ditulis serangkai. Lihat bagian Gabungan kata yang ditulis serangkai. 5. Kata ganti (kau-, ku-, -ku, -mu, -nya) ditulis serangkai. Contoh: kumiliki, kauambil, bukumu, miliknya. 6. Kata depan atau preposisi (di [1], ke, dari) ditulis terpisah, kecuali yang sudah lazim seperti kepada, daripada, keluar, kemari, dll. Contoh: di dalam, ke tengah, dari Surabaya. 7. Artikel si dan sang ditulis terpisah. Contoh: Sang harimau marah kepada si kancil. 8. Partikel 1. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai. Contoh: bacalah, siapakah, apatah.

2. Partikel -pun ditulis terpisah, kecuali yang lazim dianggap padu seperti adapun, bagaimanapun, dll. Contoh: apa pun, satu kali pun. 3. Partikel per- yang berarti "mulai", "demi", dan "tiap" ditulis terpisah. Contoh: per 1 April, per helai. 9. Singkatan dan akronim. Lihat Wikipedia:Pedoman penulisan singkatan dan akronim. 10. Angka dan bilangan. Lihat Wikipedia:Pedoman penulisan tanggal dan angka.

Kata turunan
Secara umum, pembentukan kata turunan dengan imbuhan mengikuti aturan penulisan kata yang ada di bagian sebelumnya. Berikut adalah beberapa informasi tambahan untuk melengkapi aturan tersebut.

Jenis imbuhan
Jenis imbuhan dalam bahasa Indonesia dapat dikelompokkan menjadi: 1. Imbuhan sederhana; hanya terdiri dari salah satu awalan atau akhiran. 1. Awalan: me-, ber-, di-, ter-, ke-, pe-, per-, dan se2. Akhiran: -kan, -an, -i, -lah, dan -nya 2. Imbuhan gabungan; gabungan dari lebih dari satu awalan atau akhiran. 1. ber-an dan ber-i 2. di-kan dan di-i 3. diper-kan dan diper-i 4. ke-an dan ke-i 5. me-kan dan me-i 6. memper-kan dan memper-i 7. pe-an dan pe-i 8. per-an dan per-i 9. se-nya 10. ter-kan dan ter-i 3. Imbuhan spesifik; digunakan untuk kata-kata tertentu (serapan asing). 1. Akhiran: -man, -wan, -wati, dan -ita. 2. Sisipan: -in-,-em-, -el-, dan -er-.

Awalan mePembentukan dengan awalan me- memiliki aturan sebagai berikut: 1. tetap, jika huruf pertama kata dasar adalah l, m, n, q, r, atau w. Contoh: me- + luluh → meluluh, me- + makan → memakan. 2. me- → mem-, jika huruf pertama kata dasar adalah b, f, p*, atau v. Contoh: me- + baca → membaca, me- + pukul → memukul*, me- + vonis → memvonis, me- + fasilitas + i → memfasilitasi.

3. me- → men-, jika huruf pertama kata dasar adalah c, d, j, atau t*. Contoh: me- + datang → mendatang, me- + tiup → meniup*. 4. me- → meng-, jika huruf pertama kata dasar adalah huruf vokal, k*, g, h. Contoh: me- + kikis → mengikis*, me- + gotong → menggotong, me- + hias → menghias. 5. me- → menge-, jika kata dasar hanya satu suku kata. Contoh: me- + bom → mengebom, me- + tik → mengetik, me- + klik → mengeklik. 6. me- → meny-, jika huruf pertama adalah s*. Contoh: me- + sapu → menyapu*. Huruf dengan tanda * memiliki sifat-sifat khusus: 1. Dilebur jika huruf kedua kata dasar adalah huruf vokal. Contoh: me- + tipu → menipu, me- + sapu → menyapu, me- + kira → mengira. 2. Tidak dilebur jika huruf kedua kata dasar adalah huruf konsonan. Contoh: me- + klarifikasi → mengklarifikasi. 3. Tidak dilebur jika kata dasar merupakan kata asing yang belum diserap secara sempurna. Contoh: me- + konversi → mengkonversi.

Aturan khusus
Ada beberapa aturan khusus pembentukan kata turunan, yaitu: 1. ber- + kerja → bekerja (huruf r dihilangkan) 2. ber- + ajar → belajar (huruf r digantikan l)

Konsensus penggunaan kata
Tiongkok dan tionghoa
Cina adalah bentuk dan penggunaan baku menurut KBBI. Ada himbauan untuk menghindari kata ini atas pertimbangan kesensitifan penafsiran. Sebagai alternatifnya diusulkan menggunakan kata China. Ini sebuah argumen yang tidak bisa didiskripsikan dan dijelaskan secara ilmiah bahasa, apalagi bunyi ujaran China - Cina adalah hampir sama (China dibaca dengan ejaan Inggris). Padanan untuk kata Cina yaitu Tiongkok (negara), Tionghoa (bahasa dan orang).

Mayat dan mati
• •

mati: hindari penggunaannya dalam penulisan biografi. Gunakan kata wafat, meninggal, gugur, atau tewas (tergantung konteks). mayat: hindari penggunaannya dalam penulisan biografi. Gunakan kata jasad atau jenazah.

Pranala ke situs luar

Sebisa mungkin hindari penggunaan kalimat seperti "Untuk informasi lebih lanjut, silakan mengunjungi situs ini." pada artikel yang belum lengkap. Sebaiknya pranala ke situs tersebut dimasukkan ke bagian Pranala luar dan menambahkan Templat:Stub dengan mengetik:
{{stub}}

atau
{{rintisan}}

di bagian akhir artikel.

Penggunaan "di mana" sebagai penghubung dua klausa
Untuk menghubungkan dua klausa tidak sederajat, bahasa Indonesia TIDAK mengenal bentuk "di mana" (padanan dalam bahasa Inggris adalah "who", "whom", "which", atau "where") atau variasinya ("dalam mana", dengan mana", dan sebagainya). Penggunaan "di mana" sebagai kata penghubung sangat sering terjadi pada penerjemahan naskah dari bahasa-bahasa Indo-Eropa ke bahasa Indonesia. Pada dasarnya, bahasa Indonesia hanya mengenal kata "yang" sebagai kata penghubung untuk kepentingan itu dan penggunaannya pun terbatas. Dengan demikian, HINDARI PENGGUNAAN BENTUK "DI MANA", apalagi "dimana", termasuk dalam penulisan keterangan rumus matematika. Sebenarnya selalu dapat dicari struktur yang sesuai dengan kaidah tata bahasa Indonesia. Contoh-contoh: (1) Dari artikel Kantin: ... kantine adalah sebuah ruangan dalam sebuah gedung umum di mana para pengunjung dapat makan ... .

Usul perbaikan: ... kantine adalah sebuah ruangan di dalam sebuah gedung umum yang dapat digunakan (oleh) pengunjungnya untuk makan ... .

(2) Dari artikel Tegangan permukaan: Teganganpermukaan = F / L dimana : F = gaya (newton) L = panjang m).[sic]

Usul perbaikan: Apabila F = gaya (newton) dan L = panjang (m), tegangan permukaan S dapat ditulis sebagai S = F / L.

Di sini tampak bahwa "apabila" menggantikan posisi "di mana" (ditulis di kalimat asli sebagai "dimana"). (3) Dari kalimat bahasa Inggris: Land which is to be planted only with rice ... .

Usul terjemahan: Lahan yang akan ditanami padi saja ... .

Contoh-contoh lain silakan ditambahkan.

Kata penghubung "sedangkan"
Kesalahan penggunaan kata penghubung yang juga sering kali terjadi adalah yang melibatkan kata "sedangkan". "Sedangkan" adalah kata penghubung dua klausa berderajat sama, sama seperti "dan", "atau", serta "sementara". Dengan demikian secara tata bahasa ia TIDAK PERNAH bisa mengawali suatu kalimat (tentu saja lain halnya dalam susastra!). Namun justru di sini sering terjadi kesalahan dalam penggunaannya. "Sedangkan" digunakan untuk mengawali kalimat, padahal untuk posisi itu dapat dipakai kata "sementara itu". Contoh: Dari harian Jawa Pos: "Sebelumnya disebutkan, dalam pilgub Banten kali ini, 6.208.951 pemilih terdaftar dalam DPT (daftar pemilih tetap). Sedangkan jumlah total TPS seBanten ada 12.849." Usulan perbaikan 1: "Sebelumnya disebutkan, dalam pilgub Banten kali ini ada 6.208.951 pemilih terdaftar dalam DPT (daftar pemilih tetap) sedangkan jumlah total TPS se-Banten ada 12.849." Usulan perbaikan 2: "Sebelumnya disebutkan, dalam pilgub Banten kali ini ada 6.208.951 pemilih terdaftar dalam DPT (daftar pemilih tetap). Sementara itu, jumlah total TPS seBanten ada 12.849."

Daftar kata
Gabungan kata yang ditulis serangkai
1. acapkali 2. adakalanya 3. akhirulkalam 4. alhamdulillah 5. astagfirullah 6. bagaimana 7. barangkali 8. bilamana 9. bismillah 10. beasiswa

11. belasungkawa 12. bumiputra 13. daripada 14. darmabakti 15. darmasiswa 16. dukacita 17. halalbihalal 18. hulubalang 19. kacamata 20. kasatmata 21. kepada 22. keratabasa 23. kilometer 24. manakala 25. manasuka 26. mangkubumi 27. matahari 28. olahraga 29. padahal 30. paramasastra 31. peribahasa 32. puspawarna 33. radioaktif 34. sastramarga 35. saputangan 36. saripati 37. sebagaimana 38. sediakala 39. segitiga 40. sekalipun 41. silaturahmi 42. sukacita 43. sukarela 44. sukaria 45. syahbandar 46. titimangsa 47. wasalam

Kata yang sering salah dieja
Daftar ini disusun menurut urutan abjad. Kata pertama adalah kata baku menurut KBBI (kecuali ada keterangan lain) dan dianjurkan digunakan, sedangkan kata-kata selanjutnya adalah variasi ejaan lain yang kadang-kadang juga digunakan. 1. aktif, aktip 2. aktivitas, aktifitas

3. al Quran, alquran 4. analisis, analisa 5. Anda, anda 6. apotek, apotik (ingat: apoteker, bukan apotiker) 7. asas, azas 8. atlet, atlit (ingat: atletik, bukan atlitik) 9. bus, bis 10. besok, esok 11. diagnosis, diagnosa 12. ekstrem, ekstrim 13. embus, hembus 14. Februari, Pebruari 15. frekuensi, frekwensi 16. foto, Photo 17. gladi, geladi 18. hierarki, hirarki 19. hipnosis (nomina), menghipnosis (verba), hipnotis (adjektiva) 20. ibu kota, ibukota 21. ijazah, ijasah 22. imbau, himbau 23. indera, indra 24. indragiri, inderagiri 25. istri, isteri 26. izin, ijin 27. jadwal, jadual 28. jenderal, jendral 29. Jumat, Jum'at 30. kanker, kangker 31. karier, karir 32. Katolik, Katholik 33. kendaraan, kenderaan 34. komoditi, komoditas [2] 35. komplet, komplit 36. konkret, konkrit, kongkrit 37. kosa kata, kosakata 38. kualitas, kwalitas, kwalitet [2] 39. kuantitas, kwantitas [2] 40. kuitansi, kwitansi 41. kuno, kuna [3] 42. lokakarya, loka karya 43. maaf, ma'af 44. makhluk, mahluk, mahkluk (salah satu yang paling sering salah) 45. mazhab, mahzab 46. metode, metoda 47. mungkir, pungkir (Ingat!) 48. nakhoda, nahkoda, nakoda

49. narasumber, nara sumber (berlaku juga untuk kata belakang lain) 50. nasihat, nasehat 51. negatif, negatip (juga kata-kata lainnya yang serupa) 52. November, Nopember 53. objek, obyek 54. objektif, obyektif/p 55. olahraga, olah raga 56. orang tua, orangtua 57. paham, faham 58. persen, prosen 59. pelepasan, penglepasan 60. penglihatan, pelihatan; pengecualian 61. permukiman, pemukiman 62. perumahan, pengrumahan; baik untuk arti housing maupun PHK 63. pikir, fikir 64. Prancis, Perancis [4] 65. praktik, praktek (Ingat: praktikum, bukan praktekum) 66. provinsi, propinsi 67. putra, putera 68. putri, puteri 69. realitas, realita 70. risiko, resiko 71. saksama, seksama (Ingat!) 72. samudra, samudera 73. sangsi (=ragu-ragu), sanksi (=konsekuensi atas perilaku yang tidak benar, salah) 74. saraf, syaraf 75. sarat (=penuh), syarat (=kondisi yang harus dipenuhi) 76. sekretaris, sekertaris 77. sekuriti, sekuritas [2] 78. segitiga, segi tiga 79. selebritas, selebriti 80. sepak bola, sepakbola 81. silakan, silahkan (Ingat!) 82. sintesis, sintesa 83. sistem, sistim 84. sorga, surga, syurga 85. subjek, subyek 86. subjektif, subyektif/p 87. Sumatra, Sumatera 88. standar, standard 89. standardisasi, standarisasi [5] 90. tanda tangan, tandatangan 91. tahta, takhta 92. teknik, tehnik 93. telepon, tel(f/p)on, telefon, tilpon 94. teoretis, teoritis (diserap dari: theoretical)

95. terampil, trampil 96. ubah (=mengganti), rubah (=serigala) -- sepertinya kedua-duanya berlaku 97. utang, hutang (Ingat: piutang, bukan pihutang) 98. wali kota, walikota 99. Yogyakarta, Jogjakarta 100.zaman, jaman

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->