ABSTRAK

UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA BIDANG STUDI BIOLOGI MELALUI PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD Penelitian Tindakan Kelas Pada Siswa Kelas X-1 Semester I SMA Negeri 1 Babat Tahun Pelajaran 2007/2008 Disusun oleh: SITI FATIMAH, S.Pd NIP. 510135672/19720919 200312 2 002 SMA Negeri 1 Babat-Lamongan

Penelitian tindakan ini dilatarbelakangi oleh permasalahan yang timbul dalam pembelajaran Biologi, khususnya pada materi atau kompetensi dasar ”Mendeskripsikan ciriciri virus, replikasi dan peranannya dalam kehidupan” di kelas X-1 Semester I SMA Negeri 1 Babat Tahun Pelajaran 2007/2008. Guru dengan berbagai cara telah mengusahakan agar semua siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran. Pembelajaran standar juga telah dilaksanakan, berbagai media pembelajaran yang ada di sekolah telah dimanfaatkan, berbagai bentuk penugasan telah pula diberikan untuk dilaksanakan oleh siswa, baik di dalam maupun di luar kelas, mulai dari tugas melakukan observasi, melakukan eksperimen, membuat laporan singkat hasil eksperimen atau hasil observasi, mengerjakan LKS, dan lain sebagainya. Namun demikian, dalam berbagai kesempatan tanya jawab, diskusi kelas, maupun ulangan harian, aktivitas dan prestasi belajar mereka sangat rendah. Berdasarkan catatan guru, aktivitas siswa dalam tanya jawab dan diskusi kelas masing-masing hanya sebesar 30% dan 35% dari 40 siswa yang ada. Sebagian besar dari siswa justru memperlihatkan aktivitas yang tidak relevan dengan pembelajaran, seperti kelihatan bengong dan melamun, kurang bergairah, kurang memperhatikan, bermain-main sendiri, berbicara dengan teman ketika dijelaskan, canggung berbicara atau berdialog dengan teman waktu diskusi, dan lain sebagainya. Sementara itu dari hasil ulangan harian/ulangan blok, prestasi belajar mereka hanya sebesar 45% yang berhasil mencapai batas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Padahal KKM yang ditetapkan bagi Kelas X SMA Negeri 1 Babat Tahun Pelajaran 2007/2008 untuk mata pelajaran biologi (IPA) hanya sebesar 65. Melihat data aktivitas dan prestasi belajar siswa yang demikian rendah tersebut jelas hal itu mengindikasikan adanya permasalahan serius dalam kegiatan pembelajaran yang harus segera dicarikan pemecahannya. Bertolak dari permasalahan tersebut kemudian dilakukan refleksi dan konsultasi dengan guru sejawat untuk mendiagnosis faktor-faktor yang mungkin menjadi penyebab timbulnya masalah. Dari situ diperoleh beberapa faktor kemungkinan penyebab, di antaranya adalah: 1. faktor rendahnya minat dan motivasi belajar siswa;

2. faktor penyampaian materi dari guru; 3. faktor pengelolaan kelas; dan 4. faktor kesulitan adaptasi dan kerjasama di antara siswa. Dari berbagai faktor kemungkinan penyebab tersebut Guru lebih condong pada faktor ke-4, yaitu faktor kesulitan adaptasi dan kerjasama di antara siswa, dan hal itu diduga kuat sebagai faktor utama penyebab rendahnya aktivitas dan prestasi belajar siswa Kelas X-1 Semester I SMA Negeri 1 Babat Tahun Pelajaran 2007/2008 pada mata pelajaran Biologi, khususnya pada materi/Kompetensi Dasar: “Mendeskripsikan ciri-ciri, replikasi, dan peranan virus dalam kehidupan”. Dugaan tersebut sangat beralasan, karena bagi siswa kelas X, suasana sekolah di lingkungan SMA adalah suasana baru, yang jelas berbeda dalam segala sesuatunya dengan suasana dan lingkungan sekolah mereka sebelumnya, baik itu menyangkut tempat, teman sekolah, mata pelajaran, guru, dan lain sebagainya, yang kesemuanya masih memerlukan waktu bagi mereka untuk beradaptasi dengan baik. Kesulitan siswa dalam beradaptasi, terutama dengan materi pelajaran di SMA dan dengan teman-teman sekelas, sangat mungkin menjadi penyebab utama rendahnya aktivitas mereka dalam pembelajaran dan juga rendahnya prestasi belajar yang mereka capai. Sebagai langkah dan upaya pemecahan terhadap masalah yang timbul dalam pembelajaran biologi di Kelas X-1 Semester I SMA Negeri 1 Babat tersebut maka dilakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau disebut pula dengan istilah Classroom Action Research. Pendekatan dari segi metode pembelajaran yang dipilih dan digunakan dalam penelitian tindakan ini adalah “Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student TeamsAchievement Divisions atau Tim Siswa Kelompok Prestasi)”. Banyak ahli berpendapat bahwa metode pembelajaran kooperatif (cooperative learning) memiliki keunggulan dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. Pembelajaran kooperatif juga dinilai bisa menumbuhkan sikap multikultural dan sikap penerimaan terhadap perbedaan antar-individu, baik itu menyangkut perbedaan kecerdasan, status sosial ekonomi, agama, ras, gender, budaya, dan lain sebagainya. Selain itu yang lebih penting lagi, pembelajaran kooperatif mengajarkan keterampilan bekerja sama dalam kelompok atau teamwork. Pembelajaran kooperatif sangat menekankan tumbuhnya aktivitas dan interaksi di antara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran demi tercapainya prestasi belajar yang optimal. Berdasarkan latar pemikiran yang telah terurai maka penelitian tindakan kelas ini diformulasikan dengan judul sebagai berikut: “UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA BIDANG STUDI BIOLOGI MELALUI PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD (Penelitian Tindakan Kelas Pada Siswa Kelas X-1 Semester I SMA Negeri 1 Babat Tahun Pelajaran 2007/2008)”. Pada akhirnya diharapkan, melalui penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD itu nantinya bisa memicu dan memacu tumbuhnya semangat kebersamaan, saling membantu dan saling memotivasi di antara siswa, yang pada gilirannya juga bisa meningkatkan aktivitas belajar dan prestasi belajar mereka pada bidang studi biologi, khususnya pada materi dan atau Kompetensi Dasar: “Mendeskripsikan ciri-ciri, replikasi, dan peranan virus dalam kehidupan”.

Adapun masalah utama yang ingin dicarikan pemecahannya melalui penelitian tindakan ini adalah: 1. Apakah penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD bisa meningkatkan aktivitas belajar siswa Kelas X-1 Semester I SMA Negeri 1 Babat Tahun Pelajaran 2007/2008 pada bidang studi Biologi, khususnya pada materi/Kompetensi Dasar: “Mendeskripsikan ciri-ciri, replikasi dan peranan virus dalam kehidupan”? Apakah penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD bisa meningkatkan prestasi belajar siswa Kelas X-1 Semester I SMA Negeri 1 Babat Tahun Pelajaran 2007/2008 pada bidang studi Biologi, khususnya pada materi/Kompetensi Dasar: “Mendiskripsikan ciri-ciri, replikasi, dan peranan virus dalam kehidupan”?

2.

Sehubungan dengan permasalahan tersebut, dari penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa melalui penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD, aktivitas belajar siswa pada pembelajaran Biologi di sini pada akhir siklus II mencapai hasil yang fantastis, ditunjukkan dengan besaran angka prosentase sebesar 87,5% atau mengalami peningkatan sebesar 25% dari siklus I. Sementara di sisi lain, aktivitas siswa yang tidak relevan dengan pembelajaran mengalami penurunan yang cukup mengesankan sampai ke tingkat yang serendah mungkin, ditunjukkan dengan besaran angka prosentase rata-rata sebesar 12,5% pada akhir siklus II, atau mengalami penurunan sebesar 27,5% dari siklus I. Selanjutnya, terkait dengan prestasi belajar dan ketuntatasan belajar siswa, penelitian tindakan ini telah berhasil meningkatkan prestasi belajar dan atau ketuntasan belajar siswa sebesar 15% dari siklus I ke siklus II. Angka prosentase kenaikan prestasi belajar siswa ini sudah jauh melampaui kriteria pengujian hipotesis yang telah ditetapkan, yakni sebesar 10% kenaikan dari siklus I ke siklus II. Dengan ini maka 85% lebih (tepatnya, 87,5%) dari siswa subyek penelitian ini telah mengalami ketuntatasan belajar, yang berarti juga telah melampaui batas kriteria ketuntasan yang telah ditetapkan dalam penelitian ini, yakni sebesar 85% siswa dalam kelas harus mencapai ketuntasan belajar sebagai syarat keberhasilan penelitian tindakan ini. Dari hasil-hasil penelitian tindakan yang telah disebutkan, maka kedua hipotesis penelitian yang telah dirumuskan untuk menjawab kedua permasalahan utama yang ada dalam penelitian tindakan ini terbukti bisa diterima kebenarannya secara sah dan meyakinkan. Dari sini kemudian dirasakan perlu untuk memberikan saran, terutama kepada teman sejawat guru, jika menghadapi masalah yang sama atau mirip dengan masalah pembelajaran yang ada dalam penelitian tindakan ini, patut kiranya untuk dicoba mengatasinya melalui penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD, baik untuk bidang studi yang sama dengan ini ataupun untuk bidang studi yang lainnya. Mengingat satu dan lain hal, pembelajaran kooperatif tipe STAD di samping prosedur penerapannya sederhana dan mudah, dampak yang ditimbulkannya bagi peningkatan aktivitas belajar siswa sangat mengesankan dan sangat sesuai dengan tuntutan paradigma pendidikan yang berkembang belakangan ini, yakni pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif dan menyenangkan (PAIKEM) sesuai dengan motto: “learning is fun”.

Lamongan,

Nopember 2007

Penulis

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sejak ditetapkannya Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tetang Standar Isi dan berikutnya Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL), maka di sekolah-sekolah dari jenjang pendidikan dasar dan menengah diterapkan kurikulum baru yang dikenal dengan sebutan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, disingkat KTSP, sebagai penyempurnaan dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) Tahun 2004. Semangat yang mendasari pemberlakuan KTSP ini adalah semangat perubahan, perubahan dari suasana keterpasungan menjadi suasana yang penuh dengan kebebasan dan kreativitas. Dari segi proses pembelajaran, KTSP menghembuskan perubahan dari model pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered) menjadi model pembelajaran yang berpusat pada subyek didik (students centered), perubahan dari kegiatan mengajar menjadi kegiatan membelajarkan, dan seterusnya, dan seterusnya.

Penerapan KTSP membuat guru semakin pintar dan kreatif, karena mereka dituntut harus mampu menyusun sendiri kurikulum yang sesuai dan tepat bagi peserta didiknya, guru dituntut harus mampu merencanakan sendiri materi pelajarannya untuk mencapai kompetensi yang telah ditetapkan. Hal ini jelas berbeda dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya yang datang dari dan dibuat oleh Pemerintah Pusat, dan guru hanya tinggal menerapkannya, sehingga nyaris tidak memberikan ruang dan tantangan bagi perkembangan ide dan kreativitas dari guru.

Namun demikian, di balik perubahan-perubahan besar dan mendasar yang dihembuskan oleh KTSP, tantangan yang dihadapi oleh guru tidaklah semakin ringan, melainkan semakin berat. Penerapan Standar Isi dan Standar Kompetensi sebagai acuan dasar dalam penyusunan KTSP membawa konsekuensi yang tidak ringan dalam implementasinya di lapangan. Itu berarti KTSP menuntut adanya profesionalisme yang tinggi dari guru.

Dan dalam kaitannya dengan konsep pembelajaran biologi, KTSP menghendaki dilakukakannya perubahan mendasar dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Kesalahan yang selama ini terjadi dalam penyelenggaraan pembelajaran biologi tidak boleh terulang lagi. Tugas guru sekarang ini bukanlah ”mengajar biologi”, tetapi ”membelajarkan siswa tentang biologi”. Itu berarti bahwa kegiatan pembelajaran harus berpusat pada siswa, dan bukan pada guru. Guru tidak lagi harus mendominasi kegiatan pembelajaran dengan metode ceramah sampai berbusa-busa, sementara siswa hanya duduk manis mendengarkan sambil bengong atau bahkan sampai terkantuk-kantuk.

Biologi

sebagai

bagian

dari

Ilmu

Pengetahuan Alam merupakan ilmu yang lahir dan berkembang dan eksperimen. berdasarkan Dengan

observasi

demikian, belajar Biologi tidak cukup hanya dengan menghafalkan fakta dan

konsep yang sudah jadi, tetapi dituntut pula menemukan fakta-fakta dan konsep-konsep tersebut melalui observasi dan eksperimen. Melalui pembelajaran biologi (IPA) siswa dilibatkan secara aktif untuk melakukan eksplorasi alam. Melalui proses inilah dapat dikembangkan Keterampilan Sains (Keterampilan pengalaman Proses belajar Ilmiah), yang sehingga

benar-benar

bermakna tentang Sains dapat diperoleh subyek didik.

Keterampilan-keterampilan bidang Sains (Biologi) meliputi:
 Observasi  Klasifikasi, prediksi, inferensi  Membuat hipotesis  Mendisain dan melakukan percobaan  Menggunakan alat ukur (pengamatan)  Identifikasi variabel  Mengontrol variabel  Mengumpulkan data  Mengorganisasi data (tabel, grafik, dll)  Memaknakan data, tabel, dan grafik  Menyusun kesimpulan  Mengkomunikasikan hasil/ide/secara tertulis atau lisan

dalam

Keterampilan Sains yang dimiliki siswa merupakan pintu gerbang untuk menguasai pengetahuan yang lebih tinggi dan akhirnya merupakan kecakapan hidup (Life Skill), karena

dengan keterampilan Sains yang dimiliki, maka siswa secara mental siap untuk menghadapi permasalahan yang terjadi dalam hidupnya.

Dengan demikian proses belajar mengajar Biologi bukan sekedar transfer ilmu dari guru kepada siswa. Pola interaksi seharusnya terjadi antara siswa dengan materi (obyek), dan guru hanya bertindak sebagai motivator, fasilitator dan supervisor. Itulah perubahan

mendasar dalam pola pembelajaran biologi yang harus diakomodir dan disikapi secara positif oleh guru biologi seiring dengan penerapan KTSP.

Namun demikian, meskipun sikap positif terhadap perubahan telah diakomodir oleh guru, bukan berarti bahwa guru akan serta merta terbebas sama sekali dari masalah-masalah yang berhubungan dengan kegiatan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran di kelas sepertinya akan selalu memunculkan permasalahan seiring dengan perkembangan pribadi subyek didik dan seiring pula dengan perkembangan sekolah dan tuntutan masyarakat yang semakin dinamis. Terkait dengan itu tugas guru adalah merespon dan mencari pemecahan terhadap setiap masalah yang timbul sepanjang masih dalam batas jangkauan kompetensi dan profesinya demi terciptanya suasana belajar yang lebih baik dan kondusif dan demi tercapainya tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

Seperti halnya yang terjadi dalam pembelajaran biologi di Kelas X-1 Semester I SMA Negeri 1 Babat Tahun Pelajaran 2007/2008, khususnya terhadap penguasaan

materi/Kompetensi Dasar: “Mendeskripsikan ciri-ciri, replikasi, dan peran virus dalam kehidupan”. Guru dengan berbagai cara telah mengusahakan agar semua siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran. Pembelajaran standar juga telah dilakukan oleh guru, berbagai media pembelajaran yang ada di sekolah telah dimanfaatkan, berbagai bentuk penugasan telah pula diberikan untuk dilaksanakan oleh siswa, baik di dalam maupun di luar kelas, mulai dari tugas melakukan observasi, melakukan eksperimen, membuat laporan singkat hasil

eksperimen atau hasil observasi, mengerjakan LKS, dan lain sebagainya. Namun demikian, dalam berbagai kesempatan tanya jawab, diskusi kelas, maupun ulangan harian, aktivitas dan prestasi belajar mereka sangat rendah. Berdasarkan catatan guru, aktivitas siswa dalam tanya jawab dan diskusi kelas masing-masing hanya sebesar 30% dan 35% dari 40 siswa yang ada. Sebagian besar dari siswa justru memperlihatkan aktivitas yang tidak relevan dengan pembelajaran, seperti kelihatan bengong dan melamun, kurang bergairah, kurang memperhatikan, bermain-main sendiri, berbicara dengan teman ketika dijelaskan, canggung berbicara atau berdialog dengan teman waktu diskusi, dan lain sebagainya. Sementara itu

dari hasil ulangan harian/ulangan blok, prestasi belajar mereka hanya sebesar 45% yang berhasil mencapai batas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Padahal KKM yang ditetapkan bagi Kelas X SMA Negeri 1 Babat Tahun Pelajaran 2007/2008 untuk mata pelajaran biologi (IPA) hanya sebesar 65.

Melihat data aktivitas dan prestasi belajar siswa yang demikian rendah tersebut jelas hal itu mengindikasikan adanya permasalahan serius dalam kegiatan pembelajaran yang harus segera dicarikan pemecahannya.

Bertolak dari permasalahan tersebut kemudian dilakukan refleksi dan konsultasi dengan guru sejawat untuk mendiagnosis faktor-faktor yang mungkin menjadi penyebab timbulnya masalah. Dari situ diperoleh beberapa faktor kemungkinan penyebab, di antaranya adalah:

1. faktor rendahnya minat dan motivasi belajar siswa;

2. faktor penyampaian materi dari guru;

3. faktor pengelolaan kelas; dan

4. faktor kesulitan adaptasi dan kerjasama di antara siswa.

Dari berbagai faktor kemungkinan penyebab tersebut Guru lebih condong pada faktor ke-4, yaitu faktor kesulitan adaptasi dan kerjasama di antara siswa, dan diduga kuat sebagai faktor utama penyebab rendahnya aktivitas dan prestasi belajar siswa Kelas X-1 Semester I SMA Negeri 1 Babat Tahun Pelajaran 2007/2008 pada mata pelajaran Biologi, khususnya pada materi/Kompetensi Dasar: “Mendeskripsikan ciri-ciri, replikasi, dan peranan virus dalam kehidupan”. Dugaan tersebut sangat beralasan, karena bagi siswa kelas X, suasana sekolah di lingkungan SMA adalah suasana baru, yang jelas berbeda dalam segala sesuatunya dengan suasana dan lingkungan sekolah mereka sebelumnya, baik itu menyangkut tempat, teman sekolah, mata pelajaran, guru, dan lain sebagainya, yang kesemuanya masih memerlukan waktu bagi mereka untuk beradaptasi dengan baik. Kesulitan siswa dalam beradaptasi, terutama dengan materi pelajaran di SMA dan dengan teman-teman sekelas, sangat mungkin menjadi penyebab utama rendahnya aktivitas mereka dalam pembelajaran dan juga rendahnya prestasi belajar yang mereka capai.

Sebagai langkah dan upaya pemecahan terhadap masalah yang timbul dalam pembelajaran biologi di Kelas X-1 Semester I SMA Negeri 1 Babat tersebut maka dilakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau disebut pula dengan istilah Classroom Action Research. Pendekatan dari segi metode pembelajaran yang dipilih dan digunakan dalam penelitian tindakan ini adalah “Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student TeamsAchievement Divisions)”.

Banyak ahli berpendapat bahwa metode pembelajaran kooperatif (cooperative learning) memiliki keunggulan dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. Pembelajaran kooperatif juga dinilai bisa menumbuhkan sikap multikultural dan sikap penerimaan terhadap perbedaan antar-individu, baik itu menyangkut perbedaan kecerdasan,

status sosial ekonomi, agama, ras, gender, budaya, dan lain sebagainya. Selain itu yang lebih penting lagi, pembelajaran kooperatif mengajarkan keterampilan bekerja sama dalam kelompok atau teamwork. Pembelajaran kooperatif sangat menekankan tumbuhnya aktivitas dan interaksi di antara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran demi tercapainya prestasi belajar yang optimal.

Berdasarkan latar pemikiran yang telah terurai maka penelitian tindakan kelas ini diformulasikan dengan judul sebagai berikut: “UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA BIDANG STUDI BIOLOGI MELALUI PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD (Penelitian Tindakan Kelas Pada Siswa Kelas X-1 Semester I SMA Negeri 1 Babat Tahun Pelajaran 2007/2008)”.

Pada akhirnya diharapkan, melalui penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD itu nantinya bisa memicu dan memacu tumbuhnya semangat kebersamaan, saling membantu dan saling memotivasi di antara siswa, yang pada gilirannya juga bisa meningkatkan aktivitas belajar dan prestasi belajar mereka pada bidang studi biologi, khususnya pada materi dan atau Kompetensi Dasar: “Mendeskripsikan ciri-ciri, replikasi, dan peranan virus dalam kehidupan”.

B. Rumusan Masalah

Untuk memberikan arahan bagi pelaksanaan penelitian, maka perlu dirumuskan masalah-masalah pokok yang ingin dicarikan jawaban pemecahannya melalui penelitian tindakan ini, sebagai berikut:

1.

Apakah penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD bisa meningkatkan aktivitas belajar siswa Kelas X-1 Semester I SMA Negeri 1 Babat Tahun Pelajaran 2007/2008 pada bidang studi Biologi, khususnya pada materi/Kompetensi Dasar: “Mendeskripsikan ciri-ciri, replikasi dan peranan virus dalam kehidupan”?

2.

Apakah penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD bisa meningkatkan prestasi belajar siswa Kelas X-1 Semester I SMA Negeri 1 Babat Tahun Pelajaran 2007/2008 pada bidang studi Biologi, khususnya pada materi/Kompetensi Dasar: “Mendiskripsikan ciri-ciri, replikasi, dan peranan virus dalam kehidupan”?

C. Tujuan Penelitian Tindakan

Penelitian tindakan ini bertujuan:

1. Ingin mengetahui ada tidaknya peningkatan aktivitas belajar melalui penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siswa Kelas X-1 Semester I SMA Negeri 1 Babat Tahun Pelajaran 2007/2008 dalam bidang studi Biologi, khususnya pada materi/Kompetensi Dasar: “Mendeskripsikan ciri-ciri, replikasi, dan peranan virus dalam kehidupan”.

2.

Ingin mengetahui ada tidaknya peningkatan prestasi belajar melalui penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siswa Kelas X-1 Semester I SMA Negeri 1 Babat Tahun Pelajaran 2007/2008 dalam bidang studi Biologi, khususnya pada materi/Kompetensi Dasar: “Mendiskripsikan ciri-ciri, replikasi, dan peranan virus dalam kehidupan”.

D. Batasan Masalah

Untuk menghindari meluasnya permasalahan yang tidak diinginkan, maka perlu diberikan batasan-batasan dalam penelitian ini, sebagai berikut:

1.

Penelitian tindakan ini hanya dilakukan terhadap siswa kelas X-1 Semester I SMA Negeri 1 Babat Tahun Pelajaran 2007/2008.

2. Penelitian ini berlaku dalam ruang lingkup kegiatan pembelajaran bidang studi Biologi, khususnya pada materi atau Kompetensi Dasar: “Mendeskripsikan ciri-ciri, replikasi, dan peranan virus dalam kehidupan”.

3.

Rentang waktu pelaksanaan penelitian tindakan ini hanya berlangsung selama kurang lebih 3 (bulan) mulai dari awal bulan September sampai dengan akhir Nopember 2007.

4.

Pelaku dan pelaksana penelitian tindakan ini dilakukan secara individual oleh guru bidang studi yang bersangkutan sendiri.

E. Manfaat Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan manfaat, sekecil apapun, kepada:

1.

Siswa; mereka diharapkan bisa mengambil pelajaran yang berharga tentang betapa pentingnya kerjasama, saling membantu dan saling memotivasi demi tercapainya tujuan bersama yang diinginkan, termasuk salah satu di antaranya adalah demi tercapainya tujuan pembelajaran dan prestasi belajar yang telah ditetapkan bagi suatu lembaga, kelas atau kelompok. Lebih dari itu, siswa secara sadar belajar menerapkan prinsip “simbiosis mutualisme” dalam kehidupan riil di kelas, sebagaimana diajarkan dalam ilmu biologi,

demi kelangsungan hidup dan kemajuan ekosistem sekolah. Dengan kata lain, hasil penelitian ini diharapkan bisa semakin meningkatkan aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa Kelas X-1 Semester I SMA Negeri 1 Babat Tahun Pelajaran 2007/2008 pada bidang studi Biologi, khususnya pada penguasaan materi atau Kompetensi Dasar: “Mendeskripsikan ciri-ciri, replikasi dan peran virus dalam kehidupan”.

2.

Guru; hasil penelitian ini diharapkan bisa semakin meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru dalam merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif dan menyenangkan demi tercapainya tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Sehingga dengan begitu aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa bisa ditingkatkan secara optimal.

3.

Sekolah; hasil penelitian ini setidaknya bisa menambah referensi dan khazanah bagi kepustakaan sekolah, yang suatu saat mungkin berguna sebagai bahan pertimbangan dalam menetapkan kebijakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan di sekolah setempat.

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Aktivitas Belajar Siswa

Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung pada bagaimana proses belajar itu dilakukan oleh peserta didik. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah belajar itu?

Dari pertanyaan sederhana tersebut tentu akan kita dapatkan beragam jawaban dengan berbagai argumen yang tidak bisa dibilang sederhana. Hal itu wajar mengingat perbuatan yang disebut belajar itu dalam kenyataannya memang ada bermacam-macam bentuk dan jenisnya. Ada yang berpendapat bahwa belajar merupakan kegiatan menghafal fakta-fakta. Guru yang berpendapat demikian akan merasa puas jika murid-muridnya telah sanggup menghafal sejumlah fakta di luar kepala. Pendapat lain mengatakan bahwa belajar adalah sama dengan latihan, sehingga hasil belajar akan nampak dalam keterampilan-keterampilan tertentu yang bersifat mekanis atau otomatis. Alhasil, banyak definisi tentang apa itu belajar, dan setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda satu sama lain.

Menurut James O. Whittaker (dalam Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, 1991), belajar dapat didefinisikan sebagai proses di mana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman (”Learning may be difined as the process by which behavior originates or is altered through training or experience”).

Hampir senada dengan pendapat di atas, Howard L. Kingsley (dalam Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, 1991) menyatakan sebagai berikut: “Learning is the process by which behavior (in the broader sense) is originated or changed through practice or training” {Belajar adalah proses di mana tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan}.

Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Nana Syaodih Sukmadinata (2005) menyebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar.

Menurut Winarno Surakhmad (1980), belajar dapat dipandang sebagai hasil, sebagai proses dan sebagai sebuah fungsi. Belajar dipandang sebagai hasil bilamana guru terutama hanya melihat bentuk terakhir dari berbagai pengalaman interaksi edukatif. Yang diperhatikan adalah menampaknya sifat dan tanda-tanda tingkah laku yang dipelajari. Adapun belajar dipandang sebagai proses dimaksudkan adalah sebagai proses di mana guru terutama melihat apa yang terjadi selama murid menjalani pengalaman-pengalaman edukatif untuk mencapai sesuatu tujuan. Yang diperhatikan adalah pola-pola tingkah laku selama pengalaman belajar itu berlangsung. Selanjutnya, belajar dipandang sebagai fungsi dimaksudkan adalah bilamana perhatian ditujukan pada aspek-aspek yang menentukan atau yang memungkinkan terjadinya perubahan tingkah laku manusia di dalam pengalaman edukatif. Sementara itu menurut Moh. Surya (1997) : “belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”.

Jadi, kata kunci dari belajar menurut pendapat tersebut adalah perubahan perilaku. Lebih lanjut Moh Surya (1997) mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku yang diperoleh dari belajar, sebagai berikut:

1. Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional).

Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang bersangkutan. Begitu juga dengan hasil-hasilnya, individu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan, misalnya pengetahuannya semakin bertambah atau keterampilannya semakin meningkat, dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar.

2. Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu).

Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. Begitu juga, pengetahuan, sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan berikutnya.

3. Perubahan yang fungsional.

Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan, baik untuk kepentingan masa sekarang maupun masa mendatang.

4. Perubahan yang bersifat positif.

Perubahan perilaku yang terjadi bersifat normatif dan menujukkan ke arah kemajuan. Misalnya, seorang mahasiswa sebelum belajar tentang Psikologi Pendidikan menganggap

bahwa dalam proses belajar mengajar tidak perlu mempertimbangkan perbedaanperbedaan individual atau perkembangan perilaku dan pribadi peserta didiknya, namun setelah mengikuti pembelajaran Psikologi Pendidikan, dia memahami dan berkeinginan untuk menerapkan prinsip-prinsip perbedaan individual maupun prinsip-prinsip perkembangan individu jika dia kelak menjadi guru.

5. Perubahan yang bersifat aktif.

Untuk memperoleh perilaku baru, individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan. Misalnya, mahasiswa ingin memperoleh pengetahuan baru tentang Psikologi Pendidikan, maka mahasiswa tersebut aktif melakukan kegiatan membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan, berdiskusi dengan teman tentang psikologi pendidikan dan sebagainya.

6. Perubahan yang bersifat permanen.

Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. Misalnya, siswa belajar mengoperasikan komputer, maka penguasaan keterampilan mengoperasikan komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam diri siswa tersebut.

7. Perubahan yang bertujuan dan terarah.

Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang

8. Perubahan perilaku secara keseluruhan.

Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata, tetapi termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan keterampilannya. Misalnya, mahasiswa belajar tentang “Teori-Teori Belajar”, disamping memperoleh informasi atau pengetahuan tentang “Teori-Teori Belajar”, dia juga memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai “Teori-Teori Belajar”. Begitu juga, dia memperoleh keterampilan dalam menerapkan “Teori-Teori Belajar”.

Menurut Gagne (Abin Syamsuddin Makmun, 2003), perubahan perilaku yang merupakan hasil belajar dapat berbentuk :

1.

Informasi verbal; yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal, baik secara tertulis maupun tulisan, misalnya pemberian nama-nama terhadap suatu benda, definisi, dan sebagainya.

2.

Kecakapan intelektual; yaitu keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol, misalnya: penggunaan simbol matematika. Termasuk dalam keterampilan intelektual adalah kecakapan dalam membedakan (discrimination), memahami konsep konkrit, konsep abstrak, aturan dan hukum. Ketrampilan ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi pemecahan masalah.

3.

Strategi kognitif; kecakapan individu untuk melakukan pengendalian dan pengelolaan keseluruhan aktivitasnya. Dalam konteks proses pembelajaran, strategi kognitif yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara-cara berfikir agar terjadi aktivitas yang efektif. Kecakapan intelektual menitikberatkan pada hasil pembelajaran, sedangkan strategi kognitif lebih menekankan pada proses pemikiran.

4. Sikap; yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih macam tindakan yang akan dilakukan. Dengan kata lain, sikap adalah keadaan dalam diri

individu yang akan memberikan kecenderungan bertindak dalam menghadapi suatu obyek atau peristiwa, di dalamnya terdapat unsur pemikiran, perasaan yang menyertai pemikiran dan kesiapan untuk bertindak.

5. Kecakapan motorik; ialah hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fisik.

Sedangkan menurut Bloom, perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil belajar meliputi perubahan dalam kawasan (domain) kognitif, afektif dan psikomotor, beserta tingkatan aspek-aspeknya. Perubahan yang dihasilkan oleh proses belajar bersifat progresif dan akumulatif, mengarah kepada kesempurnaan, misalnya dari tidak mampu menjadi mampu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, baik mencakup aspek pengetahuan (cognitive domain), aspek afektif (affective domain) maupun aspek psikomotorik (psychomotoric domain).

Selanjutnya, perlu pula diketengahkan di sini empat pilar belajar sebagai landasan pendidikan yang dikemukakan oleh organisasi pendidikan sedunia, yakni UNESCO (dalam Nana Syaodih Sukmadinata, 2005), dalam rangka membangun kebersamaan masa depan memasuki abad ke-21 dan dalam rangka menyesuaikan diri dengan tuntutan perkembangan dunia yang semakin cepat. Keempat pilar belajar dimaksud adalah: : belajar mengetahui (learning to know), belajar berkarya (learning to do), belajar hidup bersama (learning to live together), dan belajar berkembang secara utuh (learning to be).

1. Belajar mengetahui (learning to know)

Belajar mengetahui berkenaan dengan perolehan, penguasaan dan pemanfaatan informasi. Dewasa ini terdapat ledakan informasi dan pengetahuan. Hal itu bukan saja disebabkan karena adanya perkembangan yang sangat cepat dalam bidang ilmu dan

teknologi, tetapi juga karena perkembangan teknologi yang sangat cepat, terutama dalam bidang elektronika, memungkinkan sejumlah besar informasi dan pengetahuan tersimpan, bisa diperoleh dan disebarkan secara cepat dan hampir menjangkau seluruh planet bumi. Belajar mengetahui merupakan kegiatan untuk memperoleh, memperdalam dan

memanfaatkan pengetahuan. Pengetahuan diperoleh dengan berbagai upaya perolehan pengetahuan, melalui membaca, mengakses internet, bertanya, mengikuti kuliah, dll. Pengetahuan dikuasai melalui hafalan, tanya-jawab, diskusi, latihan pemecahan masalah, penerapan, dll. Pengetahuan dimanfaatkan untuk mencapai berbagai tujuan: memperluas wawasan, meningkatakan kemampuan, memecahkan masalah, belajar lebih lanjut, dll. Pengetahuan terus berkembang, setiap saat ditemukan pengetahuan baru. Oleh karena itu belajar mengetahui harus terus dilakukan, bahkan ditingkatkan menjadi knowing much (berusaha tahu banyak).

2. Belajar berkarya (learning to do)

Agar mampu menyesuaikan diri dan beradaptasi dalam masyarakat yang berkembang sangat cepat, maka individu perlu belajar berkarya. Belajar berkarya berhubungan erat dengan belajar mengetahui, sebab pengetahuan mendasari perbuatan. Dalam konsep komisi Unesco, belajar berkarya ini mempunyai makna khusus, yaitu dalam kaitan dengan vokasional. Belajar berkarya adalah balajar atau berlatih menguasai keterampilan dan kompetensi kerja. Sejalan dengan tuntutan perkembangan industri dan perusahaan, maka keterampilan dan kompetisi kerja ini, juga berkembang semakin tinggi, tidak hanya pada tingkat keterampilan, kompetensi teknis atau operasional, tetapi sampai dengan kompetensi profesional. Karena tuntutan pekerjaan didunia industri dan perusahaan terus meningkat, maka individu yang akan memasuki dan/atau telah masuk di dunia industri dan perusahaan perlu terus bekarya. Mereka harus mampu doing much (berusaha berkarya banyak).

3. Belajar hidup bersama (learning to live together)

Dalam kehidupan global, kita tidak hanya berinteraksi dengan beraneka kelompok etnik, daerah, budaya, ras, agama, kepakaran, dan profesi, tetapi hidup bersama dan bekerja sama dengan aneka kelompok tersebut. Agar mampu berinteraksi, berkomonikasi, bekerja sama dan hidup bersama antar kelompok dituntut belajar hidup bersama. Tiap kelompok memiliki latar belakang pendidikan, kebudayaan, tradisi, dan tahap perkembangan yang berbeda, agar bisa bekerjasama dan hidup rukun, mereka harus banyak belajar hidup bersama, being sociable (berusaha membina kehidupan bersama)

4. Belajar berkembang utuh (learning to be)

Tantangan kehidupan yang berkembang cepat dan sangat kompleks, menuntut pengembangan manusia secara utuh. Manusia yang seluruh aspek kepribadiannya berkembang secara optimal dan seimbang, baik aspek intelektual, emosi, sosial, fisik, maupun moral. Untuk mencapai sasaran demikian individu dituntut banyak belajar mengembangkan seluruh aspek kepribadiannya. Sebenarnya tuntutan perkembangan kehidupan global, bukan hanya menuntut berkembangnya manusia secara menyeluruh dan utuh, tetapi juga manusia utuh yang unggul. Untuk itu mereka harus berusaha banyak mencapai keunggulan (being excellence). Keunggulan diperkuat dengan moral yang kuat. Individu-individu global harus berupaya bermoral kuat atau being morally.

Masalahnya sekarang adalah bagaimana meningkatkan aktivitas dan kreativitas belajar dari siswa atau subyek didik dalam suatu proses pembelajaran? Pertanyaan demikian sangatlah penting dikemukakan mengingat lembaga pendidikan (baca, sekolah) dengan segala komponennya itu didirikan dan diselenggarakan tidak lain adalah untuk memfasilitasi kepentingan belajar siswa. Tidak berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa pada hekekatnya

mereka (siswa) itulah yang menjadi pemilik sekolah. Berbagai pembekalan yang diberikan oleh para guru di sekolah pada hakikatnya, menurut Wardiman Djojonegoro, untuk menginternalisasikan tiga nilai dasar. Masing-masing adalah (1) membangun atau membentuk siswa yang memiliki orientasi ke depan dengan ciri-ciri, antara lain luwes, tanggap terhadap perubahan, dan memiliki semangat berinovasi; (2) senantiasa punya hasrat untuk mengeksploitasi lingkungan dan kekuatan-kekuatan alam, artinya tidak tunduk pada nasib, senantiasa memecahkan masalah yang dihadapi dan berusaha menguasai iptek, dan (3) memiliki orientasi terhadap karya yang bermutu atau punya achievement orientation, antara lain ditandai oleh penilain yang tinggi terhadap hasil karya. Untuk menuju pada tiga nilai dasar tersebut siswa harus dipacu kemauan belajarnya (Suyanto dan M.S. Abbas, 2001: 148).

Proses pembelajaran pada hakekatnya dimaksudkan untuk mengembangkan aktivitas dan kreativitas peserta didik, melalui berbagai interaksi dan pengalaman belajar. Namun dalam pelaksanaannya seringkali kita tidak sadar, bahwa masih banyak kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan justru menghambat aktivitas dan kreativitas peserta didik.

Banyak resep untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif, di mana para peserta didik dapat mengembangkan aktivitas dan kreativitas belajarnya secara optimal, sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

Gibbs (dalam E. Mulyasa, 2003:106) berdasarkan berbagai hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa kreativitas dapat dikembangkan dengan memberi kepercayaan, komunikasi yang bebas, pengarahan diri, dan pengawasan yang tidak terlalu ketat. Hasil penelitian tersebut dapat diterapkan dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini peserta didik akan lebih kreatif jika:

a. dikembangkannya rasa percaya diri pada peserta didik, dan mengurangi rasa takut;

b. memberi kesempatan kepada seluruh peserta didik untuk berkomunikasi ilmiah seara bebas dan terarah; c. melibatkan peserta didik dalam menentukan tujuan belajar dan evaluasinya; d. memberikan pengawasan yang tidak terlalu ketat dan tidak otoriter; dan e. melibatkan mereka secara aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran secara keseluruhan.

Kendatipun begitu, menurut E. Mulyasa (2003:107), kualitas pembelajaran sangat ditentukan oleh aktivitas dan kreativitas guru dengan segala kompetensi profesionalnya. Aktivitas dan kreativitas peserta didik dalam belajar sangat bergantung pada aktivitas dan kreativitas guru dalam mempersiapkan rencana pembelajaran, penyampaian dan

pengembangan materi pelajaran, pemilihan metode dan media pembelajaran, serta penciptaan lingkungan belajar yang kondusif. Guru dapat menggunakan berbagai pendekatan untuk meningkatkan aktivitas dan kreativitas peserta didik. Pendekatan mana yang digunakan, harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan, kebutuhan peserta didik, dan tujuan yang ingin dicapai.

Selanjutnya, yang dimaksud dengan aktivitas belajar siswa di sini adalah segala bentuk kegiatan yang dilakukan oleh siswa terutama dalam proses pembelajaran di kelas atau di sekolah. Bentuk kegiatan yang disebut aktivitas belajar itu dapat bermacam-macam, bisa berupa mendengarkan, mencatat, membaca, membuat ringkasan, bertanya, menjawab pertanyaan, berdiskusi, melakukan eksperimen, dan lain sebagainya, yang dengan itu semua dapat diketahui bahwa kegitan pembelajaran berpusat pada siswa dan bukan pada guru. Guru hanya sekedar berperan untuk memfasilitasi, membelajarkan, membimbing dan

mengarahkan, serta mengkoreksi dan mengevaluasi hasil belajar dari siswa.

B. Prestasi Belajar

Istilah prestasi belajar mempunyai hubungan yang erat kaitannya dengan hasil belajar. Sebenarnya sangat sulit untuk membedakan pengertian prestasi belajar dengan hasil belajar. Ada yang berpendapat bahwa pengertian prestasi belajar sama dengan hasil belajar. Akan tetapi ada pula yang mengatakan bahwa hasil belajar berbeda secara prinsipil dengan prestasi belajar. Hasil belajar menunjukkan kualitas jangka waktu yang lebih panjang, misalnya satu cawu, satu semester dan sebagainya. Sedangkan prestasi belajar menunjukkan kualitas yang lebih pendek, misalnya satu pokok bahasan, satu kali ulangan harian dan sebagainya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990), prestasi adalah hasil yang telah dicapai (dari yang telah dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya). Sedangkan prestasi belajar diartikan sebagai penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru.

Nawawi (1981:100) mengemukakan pengertian hasil belajar sebagai keberhasilan murid dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau skor dari hasil tes mengenai sejumlah pelajaran tertentu.

Selanjutnya Nawawi (1981:127) membedakan hasil belajar menjadi tiga macam yaitu:

a. Hasil belajar yang berupa kemampuan keterampilan atau kecakapan di dalam melakukan atau mengerjakan suatu tugas, termasuk di dalamnya keterampilan menggunakan alat.

b. Hasil belajar yang berupa kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan tentang apa yang dikerjakan, dan

c. Hasil belajar yang berupa perubahan sikap dan tingkah laku.

Dari berbagai pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil belajar memiliki cakupan makna yang lebih luas dibanding prestasi belajar. Dengan kata lain, prestasi belajar adalah sebagian dari hasil belajar pada mata pelajaran atau materi pelajaran tertentu yang dinyatakan dengan nilai atau angka berdasarkan tes yang dikembangkan dan diberikan oleh guru. Meskipun demikian, dalam tulisan ini kedua istilah tersebut dianggap identik dan karenanya bisa saling dipertukarkan pemakaiannya.

Selanjutnya perlu dikemukakan di sini, bahwa hasil belajar (baca, prestasi belajar) merupakan hasil dari proses yang kompleks. Hal itu disebabkan banyak faktor yang mempengaruhi hasil atau prestasi belajar. Secara garis besar, faktor-faktor yang mempengaruhi hasil atau prestasi belajar itu dapat dibedakan atas dua macam, yaitu faktor dari dalam diri individu (baca, subyek didik) atau disebut faktor internal, dan faktor dari luar diri subyek didik, atau disebut faktor eksternal. Baik buruknya kualitas kedua faktor ini akan banyak berpengaruh terhadap baik buruknya hasil atau prestasi belajar. Semakin baik kondisi atau kualitas kedua faktor tersebut dimiliki oleh subyek didik, maka cenderung semakin baik hasil atau prestasi belajar yang bisa dicapai. Demikian pula sebaliknya, semakin buruk kondisi atau kualitas kedua faktor dimaksud, maka cenderung semakin buruk pula hasil atau prestasi belajar yang dicapai.

Adapun faktor internal yang mempengaruhi hasil belajar yaitu:  

Faktor fisiologi, seperti kondisi fisik dan kondisi indera.

Faktor Psikologi, meliputi bakat, minat, kecerdasan, motivasi, kemampuan kognitif.

Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi hasil belajar adalah: 

Lingkungan, seperti keluarga, sekolah, masyarakat, lingkungan alam.

Faktor Instrumental, seperti kurikulum, bahan pengajaran, sarana dan fasilitas.

C. Pembelajaran Kooperatif

Metode pembelajaran kooperatif (cooperative learning) dikembangkan oleh Robert Slavin dan kawan-kawannya dari Universitas John Hopkins. Tipe ini dipandang sebagai yang paling sederhana dan paling langsung dari pendekatan pembelajaran kooperatif.

Belajar secara koperatif adalah strategi mengajar yang menyertakan partisipasi anak dalam aktivitas belajar kelompok kecil yang mengembangkan interaksi positif. Pemikiran ini mendiskusikan alasan untuk menggunakan strategi belajar secara koperatif di pusat dan kelas-kelas, cara menerapkan strategi, dan keuntungan jangka panjang bagi pendidikan anak.

Belajar secara kooperatif dapat meningkatkan prestasi akademik, ini relatif mudah diterapkan, dan tidak mahal. Anak-anak bertambah baik tingkah laku dan kehadirannya, serta senang bersekolah adalah beberapa keuntungah belajar secara kooperatif (Slavin, 1987).

Abdurrahman dan Bintoro (2000:78) mengatakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang silih asah, silih asih, dan silih asuh antara sesama siswa sebagai latihan hidup di dalam masyarakat nyata.”

Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang didalamnya terdapat elemenelemen yang saling terkait. Adapun berbagai elemen dalam pembelajaran kooperatif adalah adanya (1) saling ketergantungan positif, (2) interaksi tatap muka, (3) akuntabilitas individual dan (4) keterampilan untuk menjalin hubungan antar pribadi atau keterampilan sosial yang secara sengaja diajarkan”(Abdurrahman &Bintoro, 2000:78-790). Itulah unsur dasar yang

terdapat dalam metode pembelajaran kooperatif, yang perlu mendapatkan penjelasan lebih lanjut sebagai berikut:

1. Saling ketergantungan positif;

Dalam pembelajaran kooperatif guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan. Hubungan yang saling membutuhkan inilah yang dimaksud dengan saling memberikan motivasi untuk meraih hasil belajar yang optimal. Saling ketergantungan tersebut dapat dicapai melalui (a) saling ketergantungan pencapaian tujuan (b) saling ketergantungan dalam menyelesaikan tugas, (c) saling ketergantungan bahan dan sumber, (d) saling ketergantungan peran, dan (e) saling ketergantungan hadiah.

2. Interaksi tatap muka;

Interaksi tatap muka menuntut para siswa dalam kelompok dapat saling bertatap muka sehingga mereka dapat melakukan dialog, tidak hanya dengan guru, tetapi juga dengan sesama siswa. Interaksi semacam itu memungkinkan para siswa dapat saling menjadi sumber belajar sehingga sumber belajar lebih bervariasi. Interaksi semacam itu sangat penting karena ada siswa yang merasa lebih mudah belajar dari sesamanya.

3. Akuntabilitas individual;

Pembelajaran kooperatif menampilkan wujudnya dalam belajar kelompok. Meskipun demikan, penilaian ditujukan untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran secara individual. Hasil penilaian secara individual tersebut selanjutnya disampaikan oleh guru kepada kelompok agar semua anggota kelompok mengetahui siapa anggota kelompok yang memerlukan bantuan dan siapa anggota kelompok yang

dapat memberikan bantuan. Nilai kelompok didasarkan atas rata-rata hasil belajar semua anggotanya, dan karena itu tiap anggota kelompok harus memberikan urunan atau kontribusi demi kemajuan kelompok. Penilaian kelompok secara individual inilah yang dimaksudkan dengan akuntabilitas individual.

4. Keterampilan menjalin hubungan antar pribadi;

Dalam pembelajaran kooperatif, keterampilan sosial seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman, mengkritik ide dan bukan mengkritik teman, mempertahankan pikiran logis, tidak mendominasi orang lain, mandiri dan berbagai sifat lain yang bermanfaat dalam menjalin hubungan antar pribadi (interpersonal relationship) tidak hanya diasumsikan tetapi secara sengaja diajarkan. Siswa yang tidak dapat menjalin hubungan antara pribadi tidak hanya memperoleh teguran dari guru tetapi juga dari sesama siswa.

Selanjutnya, bagaimanakah peran guru dalam pembelajaran kooperatif? Pembelajaran kooperatif menuntut guru untuk berperan relatif berbeda dari model pembelajaran tradisional. Berbagai peran guru dalam pembelajaran kooperatif tersebut dapat dikemukanan sebagai berikut ini:

a. Merumuskan tujuan pembelajaran. Ada dua tujuan pembelajaran yang perlu diperhatikan oleh guru, yaitu tujuan akademik (Academic objectives) dan tujuan keterampilan bekerja sama (collaboratives skill objectives). Tujuan akademis dirumuskan sesuai dengan taraf perkembangan siswa dan analisis tugas atau analisis konsep. Tujuan keterampilan bekerja sama meliputi keterampilan memimpin, berkomunikasi, mempercayai orang lain dan mengelola konflik.

b. Menentukan jumlah anggota dalam kelompok belajar. Jumlah anggota

dalam tiap

kelompok belajar tidak boleh terlalu besar, biasanya 2 hingga 6 siswa. Ada 3 (tiga) faktor yang menentukan jumlah anggota tiap kelompok belajar. Ketiga faktor tersebut adalah (1) taraf kemampuan siswa, (2) ketersediaan bahan dan (3) ketersediaan waktu. Jumlah anggota kelompok belajar hedaknya menyelesaikan tugas. kecil agar tiap siswa aktif menjalin kerjasama

Ada sedikitnya 4 (empat) pertanyaan yang hendaknya dijawab oleh oleh guru saat akan menempatkan siswa dalam kelompok. Keempat pertanyaan tersebut dapat dikemukanan sebagai berikut:

1. Pengelompokan siswa secara homogen atau heterogen?

Pengelompokan siswa hendaknya heterogen. Heterogenitas

kelompok mencakup

jenis kelamin, ras, agama (kalau mungkin) tingkat kemampuan (tinggi, sedang, rendah) dan sebagainya.

2. Bagaimana menempatkan siswa dalam kelompok? Ada dua jenis kelompok belajar kooperatif, yaitu (1) yang berorientasi bukan pada tugas (non task orientied) dan (2) yang berorientasi pada tugas (task oriented). Kelompok belajar kooperatif yang berorientasi bukan pada tugas tidak menuntut adanya pembagian tugas untuk tiap angota kelompok. Kelompok belajar semacam ini tampak seperti pada saat siswa mengerjakan soal-soal LKS atau soal-soal latihan yang diberikan guru yang berbentuk prosedur penyelesaian dan mencocokan pendapatnya antar kelompok satu dengan yang lain. Sedangkan kelompok belajar yang berorientasi pada tugas menekankan adanya pembagian tugas yang jelas bagi semua anggota kelompok. Kelompok belajar semacam ini tampak seperti pada saat siswa melakukan kunjungan

ke kebun binatang sehingga harus disusun oleh panitia untuk menentukan siapa yang menjadi ketua, sekretaris, bendahara, seksi transportasi, seksi konsumsi, dan sebagainya. Siswa yang baru mengenal belajar kooperatif dapat ditempatkan dalam kelompok belajar yang berorientasi pada tugas, dari jenis tugas yang sederhana hingga yang kompleks.

3. Siswa bebas memilih teman atau ditentukan oleh guru? Kebebasan memilih teman sering menyebabkan kelompok belajar menjadi homogen sehingga tujuan belajar kooperatif tidak tercapai. Anggota tiap kelompok belajar hendaknya ditentukan secara acak oleh guru. Ada tiga teknik untuk menentukan anggota kelompok secara acak yang dapat digunakan oleh guru. Ketiga teknik tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:

1) Berdasarkan metode sosiemetri. Melalui metode sosiometri guru dapat menentukan siswa yang tergolong disukai oleh banyak teman (bintang kelas) hingga yang paling tidak disukai atau tidak memiliki teman (terisolasi).

Berdasarkan metode sosiometri tersebut guru menyusun kelompol-kelompok belajar yang di dalam tiap kelompok ada siswa yang tergolong banyak teman, yang tergolong biasa, dan yang terisolasi.

2) Berdasarkan

kesamaan nomor. Jika jumlah siswa dalam kelas terdiri atas 30

siswa misalnya, dan guru ingin membentuk 10 kelompok belajar yang terdiri dari 1 hingga 10, maka para siswa yang bernomor sama dikelompokkan sehingga terbentuk 10 kelompok siswa dengan masing-masing beranggotakan 3 orang siswa yang memiliki karakteristik heterogen.

3) Menggunakan teknik acak

berstrata. Para siswa dalam kelas lebih dahulu

dikelompokkan secara homogen atas dasar jenis kelamin dan atas dasar kemampuannya (tinggi, sedang, rendah) dan sebagainya. Setelah itu, secara acak siswa diambil dari kelompok homogen tersebut dan dimasukkan ke dalam sejumlah kelompok-kelompok belajar yang heterogen.

4. Bagaimana menentukan tempat duduk siswa? Tempat duduk siswa hendaknya disusun agar tiap kelompok dapat saling bertatap muka tetapi cukup terpisah antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya. Susunan tempat duduk dapat dalam bentuk lingkaran atau berhadap-hadapan.

c. Merancang bahan untuk meningkatkan saling ketergantungan positif. Cara menyusun bahan ajar dan penggunaannya dalam suatu kegiatan pembelajaran dapat menentukan tidak hanya efektifitas pencapaian tujuan belajar siswa. Bahan ajar hendaknya dibagikan kepada semua siswa agar mereka dapat berpartisipasi dalam pembelajaran yang telah ditetapkan. Jika pencapaian tujuan

kelompok belajar telah memiliki cukup

pengalaman, guru tidak perlu membagikan bahan ajar dengan berbagai petunjuk khusus. Jika kelompok belajar belum banyak pengalaman atau masih baru, guru perlu memberi tahu para siswa bahwa mereka harus bekerja sama, bukan bekerja sendiri-sendiri. Ada sedikitnya 3 (tiga) macam cara untuk meningkatkan saling ketergantungan positif. Ketiga macam cara tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:

1) Saling ketergantungan bahan. Tiap kelompok hanya diberi satu bahan ajar dan kelompok harus bekerja sama untuk mempelajarinya.

2) Saling ketergantungan informasi. Tiap anggota kelompok diberi bahan ajar yang berbeda bentuk untuk selanjutnya disatukan untuk disintesiskan. Bahan ajar juga

dapat disajikan dalam bentuk “jigsaw puzzle” sehingga dengan demikian tiap siswa memiliki bagian dari bahan yang diperlukan untuk melengkapi atau menyelesaikan tugas.

3) Saling ketergantungan menghadapi lawan dari luar. Bahan ajar disusun dalam suatu bentuk pertandingan antara kelompok yang memiliki kekuatan seimbang sebagai dasar untuk meningkatkan saling ketergantungan positif antar anggota kelompok. Keseimbangan kekuatan antar kelompok perlu diperhatikan karena pretandingan antar kelompok yang memiliki kekuatan seimbang atau memiliki peluang untuk kalah atau menang yang sama dapat meningkatkan motivasi belajar.

d. Menentukan peran siswa untuk menunjang saling ketergantungan positif. Saling ketergantungan positif dapat diciptakan melalui pembagian tugas kepada tiap anggota kelompok dan mereka bekerja untuk saling melengkapi. Dalam mata pelajaran Biologi misalnya, seorang anggota kelompok diberi tugas sebagai peneliti, yang lainnya sebagai penyimpul, yang lainnya lagi sebagai penulis, dan yang lainnya lagi sebagai pemberi semangat dan ada pula yang menjadi pengawas terjalinnya keja sama. Penugasan untuk memerankan suatu fungsi semacam itu merupakan metode yang efektif untuk melatih keterampilan menjalin kerja sama.

e. Menjelaskan tugas akademik. Ada beberapa aspek yang perlu disadari oleh para guru dalam menjelaskan tugas akademik kepada para siswa. Beberapa aspek dimaksud dapat dikemukanan sebagai berikut:

1) Menyusun tugas sehingga siswa menjadi jelas mengenai tugas tersebut. Kejelasan tugas sangat penting bagi para siswa karena dapat menghindarkan mereka dari frustasi

atau kebingungan. Dalam pembelajran kooperatif siswa yang tidak dapat memahami tugasnya dapat bertanya kepada kelompoknya sebelum bertanya kepada guru.

2) Menjelaskan tujuan belajar dan mengaitkannya dengan pengalaman siswa di masa lampau.

3) Menjelaskan berbagai konsep atau pengertian atau istilah, prosedur yang harus diikuti atau pengertian contoh kepada para siswa.

4) Mengajukan berbagai pertanyaan khusus untuk mengetahui pemahaman para siswa mengenai tugas mereka.

f. Menjelaskan kepada siswa mengenai tujuan dan keharusan bekerja sama. Menjelaskan tujuan dan keharusan bekerja sama kepada para siswa dilakukan dengan contoh sebagai berikut:

1) Meminta kepada kelompok untuk menghasilkan suatu karya atau produk tertentu. Jika karya kelompok berupa laporan, tiap anggota kelompok harus menandatangani laporan tersebut sebagai tanda bahwa ia setuju dengan isi laporan kelompok dan dapat menjelaskan alasan isi laporan tersebut.

2) Menyediakan hadiah bagi kelompok. Pemberian hadiah merupakan salah satu cara untuk mendorong kelompok menjalin kerja sama sehingga terjalin pula rasa

kebersamaan antara anggota kelompok. Semua anggota kelompok harus saling membantu agar masing-masing memperoleh skor hasil belajar yang optimal karena keberhasilan kelompok ditentukan oleh keberhasilan tiap anggota.

g. Menyusun akuntabilitas individual. Suatu kelompok belajar tidak dapat dikatakan benarbenar kooperatif jika memperbolehkan adanya anggota kelompok tertentu saja yang

mengerjakan seluruh pekerjaan kelompok. Suatu kelompok belajar juga tidak dapat dikatakan benar-benar kooperatif jika memperbolehkan adanya anggota yang tidak melakukan apapun demi kelompoknya. Oleh karena itu, untuk menjamin agar seluruh anggota kelompok benar-benar menjalin kerjasama dan agar kelompok mengetahui

adanya anggota kelompok yang memerlukan bantuan atau dorongan, guru harus sering melakukan pengukuran untuk mengetahui taraf penguasaan tiap siswa terhadap materi yang sedang dipelajari.

h. Menyusun kerja sama antara kelompok. Hasil positif yang ditemukan dalam suatu kelompok belajar kooperatif dapat diperluas ke seluruh kelas dengan menciptakan kerja sama antar kelompok. Nilai tambahan dapat diberikan jika seluruh siswa di dalam kelas meraih standar mutu yang tinggi. Jika suatu kelompok telah menyelesaikan pekerjaannya dengan baik para anggotanya dapat diminta untuk membantu kelompok-kelompok lain yang belum selesai. Upaya semacam ini memungkinkan terciptanya suasana kehidupan kelas yang sehat, yang memungkinkan semua potensi siswa berkembang optimal dan terintegrasi.

i. Menjelaskan kriteria keberhasilan. Penilaian dalam pembelajaran kooperatif bertolak dari penilaian acuan patokan (criterium referenced). Pada awal kegiatan belajar guru hendaknya menerangkan secara jelas kepada siswa mengenai bagaimana pekerjaan mereka akan dinilai.

j. Menjelaskan perilaku siswa yang diharapkan. Perkataan kerjasama atau gotong royong sering memiliki konotasi dan penggunaan yang bermacam-macam. Oleh karena itu guru perlu mendefinisikan perkataan kerja sama tersebut secara operasional dalam bentuk berbagai perilaku, antara lain dapat dikemukakan dengan kata-kata seperti “Tetaplah berada dalam kelompokmu”, “Berbicaralah pelan-pelan”, “Berbicaralah menurut giliran,”

dan sebagainya. Jika kelompok mulai berfungsi secara efektif, perilaku yang diharapkan dapat mencakup hal-hal sebagai berikut:

1) Tiap anggota kelompok menjelaskan bagaimana memperoleh jawaban.

2) Meminta kepada tiap anggota kelompok untuk mengaitkan pelajaran baru dengan yang telah dipelajari sebelumnya.

3) Memeriksa untuk meyakinkan bahwa semua anggota kelompok memahami bahan yang dipelajari dan menyetujui jawaban-jawabannya.

4) Mendorong semua anggota kelompok agar berpartisipasi dalam menyelesaikan tugas.

5) Memperhatikan dengan sungguh-sungguh mengenai anggota lain.

apa yang

dikatakan

oleh

6) Jangan mengubah pikiran karena berbeda dari pikiran anggota lain tanpa penjelasan yang logis.

7) Memberikan kritik kepada ide, bukan kepada pribadi.

k. Memantau perilaku siswa. Setelah semua kelompok mulai bekerja, guru harus menggunakan sebagian besar waktunya untuk memantau kegiatan siswa. Tujuan pemantauan, guru harus menjelaskan pelajaran, mengulang prosedur atau strategi untuk menyelesaikan tugas, menjawab pertanyaan dan mengajarkan keterampilan

menyelesaikjan tugas kalau perlu.

l. Memberikan bantuan kepada siswa dalam menyelesaikan tugas. Pada saat melakukan pemantauan, guru harus menjelaskan pelajaran, mengulang prosedur atau strategi untuk

menyelesaikan

tugas,

menjawab

pertanyaan,

dan

mengerjakan

keterampilan

menyelesaikan tugas kalau perlu.

m. Melakukan intervensi untuk mengerjakan keterampilan bekerja sama. Pada saat memantau kelompok-kelompok yang sedang belajar, guru kadang-kadang menemukan siswa yang tidak memiliki keterampilan untuk menjalin kerja sama yang cukup dan adanya kelompok yang memiliki masalah dalam menjalin kerja sama. Dalam kondisi semacam itu, guru perlu memberikan nasihat agar siswa dapat bekerja efektif.

n. Menutup pelajaran. Pada saat pelajaran berakhir, guru perlu meringkas pokok-poko pelajaran, meminta kepada siswa untuk mengemukakan ide atau contoh, menjawab pertanyaan dan mengevaluasi hasil belajar mereka.

o. Menilai kualitas pekerjaan atau hasil belajar siswa. Guru menilai kualitas pekerjaan atau hasil belajar para siswa berdasarkan penilaian acuan patokan. Para anggota kelompok hendaknya juga diminta untuk memberikan umpan balik mengenai kualitas pekerjaan dan hasil belajar mereka.

p. Menilai kualitas kerja sama antar anggota kelompok. Meskipun waktu belajar di kelas terbatas, diperlukan waktu untuk berdiskusi dengan para siswa untuk membahas kualitas kerja sama antar anggota kelompok pada hari itu. Pembicaraan dengan para siswa dilakukan untuk mengetahui apa yang telah dilakukan dengan baik dan apa yang masih perlu ditingkatkan pada hari berikutnya.

Demikian itulah gambaran umum tentang peran yang harus dilakukan oleh guru dalam penerapan metode pembelajaran kooperatif.

Badeni (1998), menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan suatu pendekatan pengajaran yang efektif dalam pencapaian tujuan pendidikan, khususnya dalam keterampilan interpersonal siswa.

Nur (1996: 25) mengatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tidak hanya unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep IPA yang sulit, tetapi juga sangat berguna untuk menumbuhkan kerjasama, berfikir kritis, kemauan membantu teman dan sebagainya. Pada prinsipnya model pembelajaran kooperatif bertujuan mengembangkan tingkah laku kooperatif antar siswa sekaligus membantu siswa dalam pelajaran akademisnya.

Ada banyak variasi pendekatan dalam model pembelajaran kooperatif. Setiap pendekatan memberi penekanan pada tujuan tertentu yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Salah satu dari model pemebelajaran kooperatif adalah model atau tipe STAD (Sudent Teams-Achievement Divisions) atau dapat diterjemahkan dengan istilah “Tim Siswa Kelompok Prestasi”.

Keunggulan dari metode pembelajaran kooperatif tipe STAD yaitu adanya kerja sama dalam kelompok dan dalam menentukan keberhasilan kelompok ter keberhasilan individu. pada Namun anggota demikian, yang lain. setiap anggota kelompok kooperatif tergantung tidak tipe bisa STAD saling

menggantungkan

Pembelajaran

menekankan pada aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi, membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang optimal.

Model

pembelajaran

Student

Teams-Achievement

Divisions

(STAD)

yang

dikembangkan oleh Slavin, dkk tersebut secara garis besar terdiri dari 6 (enam) langkah, sebagai berikut:

1.

Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll);

2. Guru menyajikan pelajaran;

3. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggota yang tahu dan mengerti menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti dan memahami materi yang dipelajari;

4. Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis, anggota dalam suatu kelompok tidak boleh saling membantu;

5. Memberi evaluasi; dan

6. Kesimpulan.

Dari berbagai pendapat tersebut kiranya bisa diambil suatu kesimpulan, bahwa metode pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa di kelas. Dan dari situ pula diduga kuat bahwa metode pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat menjadi salah satu solusi alternatif untuk memecahkan masalah yang timbul dalam pembelajaran biologi di kelas X-1 Semester I SMA Negeri 1 Babat Tahun Pelajaran 2007/2008, khususnya terhadap materi atau Kompetensi Dasar: “Mendeskripsikan ciri-ciri, replikasi dan peranan virus dalam kehidupan”.

D. Hipotesis Tindakan

Bertolak dari kerangka pemikiran yang telah terurai kiranya dapat dirumuskan hipotesis tindakan dalam penelitian ini, sebagai berikut:

1.

Bahwa penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD pada pembelajaran Biologi, dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas X-1 Semester I SMA Negeri 1 Babat Tahun Pelajaran 2007/2008, khususnya pada materi atau Kompetensi Dasar: “Mendeskripsikan ciri-ciri, replikasi dan peranan virus dalam kehidupan”.

2.

Bahwa penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD pada pembelajaran Biologi, dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas X-1 Semester I SMA Negeri 1 Babat Tahun Pelajaran 2007/2008, khususnya pada materi atau Kompetensi Dasar: “Mendeskripsikan ciri-ciri, replikasi dan peranan virus dalam kehidupan”.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Lokasi, Subyek dan Waktu Penelitian

Seperti telah disinggung pada bagian terdahulu, lokasi atau tempat dilaksanakannya penelitian ini adalah SMA Negeri 1 Babat yang terletak di ibu kota wilayah Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Propinsi Jawa Timur.

Dari segi letak geografis, ibu kota wilayah Kecamatan Babat ini berada di persimpangan jalan ke arah wilayah kabupaten Jombang, Bojonegoro dan Tuban. Bahkan dari segi batas wilayah, Kecamatan Babat ini berbatasan dekat dengan wilayah Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Tuban. Karena itu maklum jika siswa-siswi SMA Negeri 1 Babat ini juga banyak yang berasal dari luar wilayah Kabupaten Lamongan, atau dengan kata lain banyak yang berasal dari wilayah Kabupaten Bojonegoro dan Tuban.

Adapun subyek penelitian dalam hal ini adalah siswa Kelas X-1 Semester I SMA Negeri 1 Babat Tahun Pelajaran 2007/2008.

Selanjutnya berkaitan dengan masalah waktu, penelitian ini dilaksanakan dalam rentang waktu selama kurang lebih 3 (tiga) bulan, mencakup keseluruhan tahapan yang diperlukan, mulai dari tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap penulisan laporan penelitian. Tepatnya, penelitian ini dijadwalkan dan dilaksanakan September sampai dengan akhir bulan Nopember 2007. mulai awal bulan

B. Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas, disingkat PTK. Penelitian tindakan kelas berasal dari istilah bahasa Inggris Classroom Action Research, yang berarti penelitian yang dilakukan pada sebuah kelas untuk mengetahui akibat tindakan yang dilakukan terhadap subyek penelitian di kelas tersebut.

Menurut DR.Sulipan,M.Pd, dalam tulisannya yang disusun untuk Program Bimbingan Karya Tulis Ilmiah Online (http://www.ktiguru.org) berjudul ”Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research)”, pertama kali penelitian tindakan kelas diperkenalkan oleh Kurt Lewin pada tahun 1946, yang selanjutnya dikembangkan oleh Stephen Kemmis, Robin Mc Taggart, John Elliot, Dave Ebbutt dan lainnya. Pada awalnya penelitian tindakan menjadi salah satu model penelitian yang dilakukan pada bidang pekerjaan tertentu di mana peneliti melakukan pekerjaannya, baik di bidang pendidikan, kesehatan maupun pengelolaan sumber daya manusia. Salah satu contoh pekerjaan utama dalam bidang pendidikan adalah mengajar di kelas, menangani bimbingan dan konseling, dan mengelola sekolah. Dengan demikian para guru atau kepala sekolah dapat melakukan kegiatan penelitiannya tanpa harus pergi ke tempat lain seperti para peneliti konvensional pada umumnya. Adapun tujuan penelitian tindakan kelas itu tidak lain adalah untuk memecahkan masalah, memperbaiki kondisi, mengembangkan dan meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.

Menurut Suharsimi Arikunto (2002:82), penelitian tindakan adalah penelitian tentang hal-hal yang terjadi di masyarakat atau sekelompok sasaran dan hasilnya langsung dapat dikenakan pada masyarakat yang bersangkutan. Ciri atau karakteristik utama dalam

penelitian tindakan adalah adanya partisipasi dan kolaborasi antara peneliti dengan anggota kelompok sasaran. Penelitian tindakan adalah salah satu strategi pemecahana masalah yang memanfaatkan tindakan nyata dalam bentuk proses pengembangan inovatif yang dicoba

sambil jalan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah. Dalam prosesnya, pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut dapat saling mendukung satu sama lain.

Sedangkan tujuan penelitian tindakan harus memenuhi beberapa prinsip sebagai berikut;

1. Permasalahan atau topik yang dipilih harus memenuhi kriteria, yaitu benar-benar nyata dan penting, menarik perhatian dan mampu ditangani serta dalam jangkauan kewenangan peneliti untuk melakukan perubahan.

2. Kegiatan penelitian, baik inferensi maupun pengamatan yang dilakukan tidak boleh sampai mengganggu atau menghambat kegiatan utama.

3. Jenis intervensi yang dicobakan harus efektif dan efisien, artinya terpilih dengan tepat sasaran dan tidak memboroskan waktu, dana dan tenaga.

4. Metodologi yang digunalkan harus jelas, rinci dan terbuka, setiap langkah dari tindakan dirumuskan dengan tegas sehingga orang yang berminat terhadap penelitian tersebut dapat mengecek setiap hipotesis dan pembuktiannya.

5. Kegiatan penelitian diharapkan dapat merupakan proses kegiatan yang berkelanjutan (ongoing), mengingat bahwa pengembangan dan perbaikan terhadap kualitas tindakan memang tidak dapat berhenti tetapi Suharsimi, 2002:82). menjadi tantangan sepanjang waktu (Arikunto,

Menurut Sukidin, dkk (2002:54), ada 4 (empat) macam bentuk penelitian tindakan kelas, yaitu : (1) penelitian tindakan guru sebagai peneliti, (2) penelitian tindakan kolaborasi, (3) penelitian tindakan simultan terintegratif dan (4) penelitian tindakan sosial eksperimental. Keempat bentuk penelitian tindakan itu ada persamaan dan perbedaannya.

Penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian tindakan guru sebagai peneliti, dimana guru terlibat langsung secara penuh dalam proses pelaksanaan penelitian, mulai dari tahap menyusun perencanaan, melakukan tindakan, melakukan observasi dan tahap refleksi. Kehadiran pihak lain dalam penelitian ini, kalaupun ada, peranannya sangat kecil dan tidak dominan. Penelitian ini mengacu pada perbaikan pembelajaran yang berkesinambungan.

Ada banyak model penelitian tindakan yang dikemukakan oleh para ahli, tetapi secara garis besar suatu penelitian tindakan lazimnya memiliki 4 (empat) tahapan yang harus dilalui, yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan refleksi.

Kemmis dan Taggart (1988:14) menyatakan bahwa model penelitian tindakan adalah berbentuk spiral. Tahapan penelitian tindakan pada suatu siklus meliputi empat tahapan, yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan tahap refleksi. Siklus ini berlanjut dan akan dihentikan jika dirasa sudah cukup memenuhi kebutuhan dan tujuan penelitian yang telah ditetapkan.

Sesuai dengan jenis rancangan penelitian yang dipilih,

yaitu penelitian tindakan

kelas, maka penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart (dalam Arikunto, Suharsimi, 2002:83), yaitu berbentuk spiral dari siklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan), observasi (pengamatan) dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus berikutnya adalah perencanaan yang sudah direvisi, tindakan, pengamatan dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus I dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi permasalahan.

Siklus spiral dari tahap-tahap penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada gambar 1 berikut:

Gambar 1: Alur PTK

Penjelasan alur diatas adalah:

1. Rancangan/rencana awal. Sebelum mengadakan penelitian, terlebih dahulu menyusun rumusan masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan termasuk di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran atau rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

2. Pelaksanaan tindakan. Pada tahap ini guru menerapkan tindakan yang telah disusun dan direncanakan sebelumnya, yang tidak lain adalah langkah-langkah kegiatan pembelajaran terkait dengan penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD yang telah dipilih dan ditetapkan.

3. Pengamatan atau observasi. Tahap ini pelaksanaannya bersamaan dengan tahap sebelumnya, yakni pelaksanaan tindakan. Dan jika pelaksana tindakan (guru) sekaligus bertindak sebagai pengamat (dalam penelitian tindakan individual, di mana guru bertindak sekaligus sebagai peneliti tanpa kolaborasi dengan pihak lain), maka instrumen pengamatan sebaiknya telah disiapkan secara terstruktur dan sistematis.

4. Refleksi. Tahap ini merupakan kegiatan untuk merenungkan dan memikirkan kembali tindakan-tindakan yang sudah maupun yang belum dilakukan, keberhasilan dan

kekurangannya, hambatan-hambatan yang dihadapi selama melakukan tindakan, dan lain sebagainya. Apabila guru pelaksana tindakan juga berstatus sebagai pengamat (peneliti), maka refleksi dilakukan terhadap diri sendiri. Dengan kata lain, guru tersebut melihat dirinya kembali, melakukan ”dialog” dengan dirinya sendiri untuk menemukan hal-hal yang sudah dirasakan memuaskan hati karena sudah sesuai dengan rencana, atau untuk menemukan hal-hal yang masih perlu diperbaiki. Dalam hal seperti ini maka guru melakukan ”self evaluation”, introspeksi, oto-kritik, dan sebagainya yang sudah barang tentu diharapkan bisa bersikap obyektif. Dan untuk menjaga obyektifitas yang diharapkan seringkali diperlukan hasil refleksi itu divalidasi atau minimal dikonsultasikan dengan teman sejawat, ketua jurusan, kepala sekolah, atau pihak lain yang kompeten dalam bidang itu. Jadi pada intinya, kegiatan refleksi adalah kegiatan evaluasi tindakan, analisis, pemaknaan, penjelasan, penyimpulan dan identifikasi tindak lanjut dalam perencanaan siklus penelitian berikutnya.

C. Alat Pengumpul Data

Alat pengumpul data dalam penelitian ini adalah tes buatan guru yang fungsinya adalah (1) untuk menentukan seberapa baik siswa telah menguasai bahan pelajaran yang diberikan dalam waktu tertentu, (2) untuk menentukan apakah suatu tujuan telah tercapai, dan (3) untuk memperoleh suatu nilai (Arikunto, Suharsimi, 2002:149). Sedangkan tujuan dari tes adalah untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa secara individu maupun secara klasikal. Di samping itu tes juga berguna untuk mengetahui letak kesalahan-kesalahan yang dilakukan

siswa sehingga dapat dilihat di mana kelemahan, khususnya pada bagian mana dari materi atau kompetensi dasar berikut indikator-indikatornya yang belum dikuasai siswa.

Selain tes, alat pengumpul data lain yang dipergunakan dalam penelitian tindakan ini adalah format observasi berupa tabel-tabel isian yang telah dipersiapkan dan disusun secara terstruktur dan sistematis, sehingga guru tinggal membubuhkan tanda centang atau check list pada kolom-kolom tabel isian format observasi yang sesuai dengan aspek pengamatan. Di samping itu dipergunakan juga teknik pengumpulan data yang bersifat dokumenter melalui tugas-tugas prtofolio dan catatan-catatan pelajaran yang telah dibuat oleh siswa.

D. Variabel dan Data Penelitian

Beberapa pakar mengatakan bahwa dalam penelitian tindakan kelas hanya dikenal adanya variabel tunggal, yaitu variabel tindakan. Namun beberapa pakar lain, sebagaimana dikemukakan oleh DR.Sulipan,M.Pd, menyebutkan terdapat dua variabel, yaitu variabel tindakan dan variabel masalah, karena tindakan yang dilakukan adalah untuk memecahkan masalah.

Sehubungan dengan yang disebut belakangan itu maka dalam penelitian ini yang menjadi variabel penelitian adalah “Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD” sebagai variabel tindakan, atau dalam penelitian konvensional dikenal dengan sebutan “variabel bebas” atau “variabel pengaruh” (independent variable), sedangkan “Aktivitas Belajar dan Prestasi Belajar Siswa” sebagai variabel masalah, atau dalam penelitian konvensional dikenal dengan istilah “variabel terikat” atau “variabel terpengaruh” (dependent variable).

Adapun data yang diperlukan dalam penelitian tindakan ini dilihat dari sifatnya ada yang berupa data kuantitatif dan ada pula yang berupa data kualitatif, atau kombinasi dari keduanya. Data kuantitatif terutama adalah data yang berhubungan dengan prestasi belajar siswa, yang datanya akan dijaring melalui alat tes tertulis yang dibuat sendiri oleh guru. Sedangkan data kualitatif adalah data yang berhubungan dengan aktivitas belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran di kelas, seperti ketekunan dan kerajinannya dalam kegiatan pembelajaran, tingkat keaktifannya dalam tanya jawab, semangat dan motivasinya dalam belajar, partisipasinya dalam diskusi dan kerja kelompok, dan lain sebagainya. Untuk data kualitatif ini pengumpulan datanya terutama dilakukan melalui format observasi dalam bentuk tabel isian yang telah dipersiapkan sebelumnya dan disusun secara terstruktur dan sistematis. Selain itu juga dilakukan pengumpulan data dengan teknik dokumentasi melalui lembar-lembar portofolio dan catatan-catatan pelajaran dari siswa yang relevan.

E. Teknik Analisis Data

Sesuai dengan jenis rancangan penelitian yang dipakai di sini, yaitu penelitian tindakan kelas (classroom action research), maka teknik analisis data yang relevan dan yang diterapkan adalah teknik analisis deskriptif-kualitatif. Dengan teknik ini maka data yang telah dikumpulkan dari hasil penelitian akan disortir dan selanjutnya disajikan dalam bentuk prosentase atau tabel distribusi untuk selanjutnya dilakukan penafsiran dan pemaknaan secara kualitatif dalam bentuk seperti, tinggi-rendah, tuntas-tidak tuntas, aktif-tidak aktif, dan lain sebagainya sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.

F. Prosedur Penelitian

Seperti telah dikemukakan pada bagian terdahulu, bahwa penelitian tindakan kelas berjalan melalui siklus-siklus dalam sebuah spiral, di mana setiap siklus terdiri dari 4 (empat) tahapan kegiatan yang terus berulang dan meningkat. Sejalan dengan itu maka prosedur pelaksanaan penelitian ini diwujudkan dalam bentuk tahapan-tahapan siklus yang berkesinambungan dan berkelanjutan, di mana untuk setiap siklus terdiri dari 4 (empat) tahapan langkah yang secara garis besar adalah: 1) membuat perencanaan tindakan perbaikan, 2) implementasi atau pelaksanaan tindakan yang telah direncanakan, 3) melakukan observasi atau pengamatan atas tindakan perbaikan yang dilakukan, dan 4) melakukan refleksi, termasuk di dalamnya analisis, interpretasi dan evaluasi atas tindakan yang telah dilakukan, sehingga bisa diketahui tindakan-tindakan mana yang sudah berhasil sesuai rencana dan tindakan mana yang masih perlu diperbaiki lebih lanjut pada siklus berikutnya.

Untuk lebih jelasnya, prosedur pelaksanaan penelitian ini bisa dipaparkan sebagai berikut:

Siklus I : meliputi tahapan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Perencanaan

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap ini meliputi:    

Identifikasi masalah dan penetapan alternatif pemecahan masalah;

Merencanakan pembelajaran yang akan diterapkan dalam proses belajar mengajar;

Menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar;

Memilih bahan pelajaran yang sesuai;

Menentukan skenario pembelajaran sesuai dengan pendekatan yang telah dipilih, yang

dalam hal ini adalah metode pembelajaran kooperatif tipe STAD;     

Mempersiapkan sumber, bahan, dan alat bantu yang dibutuhkan;

Menyusun lembar kerja siswa;

Menyusun format observasi;

Mengembangkan format evaluasi;

Dan lain-lain persiapan yang berhubungan dengan pelaksanaan tindakan dan kegiatan

pembelajaran.

2. Tindakan

Kegiatan pada tahap ini merupakan pelaksanaan tindakan perbaikan dalam kegiatan pembelajaran sesuai dengan pendekatan yang dipilih dan dengan mengacu pada skenario pembelajaran yang telah direncanakan, yang dalam hal ini terdiri dari urut-urutan tindakan sebagai berikut: 

Guru membuka pelajaran dengan terlebih dahulu melakukan apersepsi untuk menyiapkan

mental dan membangkitkan motivasi belajar siswa serta memberitahukan tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan pembelajaran; 

Siswa membentuk kelompok kecil beranggotakan 5 orang yang dibentuk secara acak

sesuai arahan dari guru; 

Siswa mendengarkan secara aktif penjelasan materi pelajaran secara global dari guru

tentang ciri-ciri virus reproduksi dan replikasinya;

Siswa mengamati gambar-gambar atau foto-foto virus yang telah disiapkan oleh guru dan

dibagikan kepada setiap kelompok; 

Siswa melakukan tanya jawab dengan guru seputar materi pelajaran dan gambar-gambar

virus yang telah disampaikan oleh guru; 

Setiap kelompok diminta membuat dan merumuskan kesimpulan tentang materi yang

telah dipelajari di bawah bimbingan guru; 

Pada akhir kegiatan pembelajaran, siswa mencatat tugas kelompok yang diberikan oleh untuk membuat rangkuman materi tentang virus beserta ciri-ciri dan

guru

reproduksi/replikasinya sebagai bahan untuk diskusi kelas pada pertemuan yang akan datang;

3. Pengamatan

Tahap pengamatan atau observasi ini dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan perbaikan di atas. Teknik pelaksanaannya untuk pengamatan ini dilakukan dengan menggunakan format observasi terstruktur yang telah disiapkan sebelumnya, yaitu berupa tabel-tabel isian untuk setiap aspek pengamatan dari aktivitas belajar siswa. Dengan demikian, sambil melakukan tindakan (perbaikan), guru melakukan pengamatan terhadap aktivitas belajar setiap siswa dalam proses pembelajaran.

4. Refleksi

Tahap ini merupakan evaluasi atas tindakan yang telah dilakukan, tindakan mana yang sudah berhasil sesuai dengan rencana dan mana yang perlu diperbaiki sebagai acuan untuk menyusun rencana tindakan pada siklus berikutnya.

Siklus II: meliputi tahapan langkah-langkah seperti pada siklus I, tetapi berbeda bentuk dan sifat tindakan yang dilakukan. Bahkan boleh dikata, sikulus II ini merupakan perbaikan dan peningkatan dari siklus I dengan tetap mengacu pada hasil tindakan dan perbaikan pembelajaran yang ingin dicapai, sebagai berikut:

1. Perencanaan

Tahap perencanaan pada siklus II ini mencakup kegiatan-kegiatan sebagai berikut: 

Identifikasi masalah yang muncul pada siklus I dan belum teratasi berikut penetapan

alternatif pemecahannya; 

Merumuskan rencana pembelajaran sebagai kelanjutan sekaligus perbaikan dari rencana

pada siklus sebelumnya; 

Pengembangan program tindakan yang perlu untuk mengatasi masalah yang muncul

ataupun yang belum teratasi melalui tindakan pada siklus I.

2. Tindakan

Pelaksanaan program tindakan pada siklus II ini mengacu pada identifikasi masalah yang muncul pada siklus I, sesuai dengan alternatif pemecahan masalah yang sudah ditentukan, antara lain melalui urut-urutan langkah sebagai berikut: 

Guru membuka pelajaran dengan terlebih dahulu melakukan apersepsi untuk menyiapkan serta untuk menjajagi kemampuan

mental dan membangkitkan motivasi belajar siswa,

pemahaman siswa tentang materi yang telah dipelajari sebelumnya;

Siswa duduk bersama anggota kelompoknya masing-masing dan mendengarkan secara

aktif penjelasan materi pelajaran dari guru tentang peranan virus dalam kehidupan; 

Siswa terlibat aktif tanya jawab dengan guru tentang materi pelajaran yang telah dibahas.

Dalam kesempatan ini antar anggota kelompok tidak boleh saling membantu. 

Pada akhir kegiatan pembelajaran, siswa mencatat tugas kelompok yang diberikan oleh

guru untuk dikerjakan di luar kelas (Pekerjaan rumah) berupa membuat klipping dari koran, majalah ataupun internet dengan tema “Perkembangan virus dan dampaknya bagi kehidupan manusia”. Setiap anggota kelompok harus menyumbangkan minimal satu judul/topik kliping sesuai dengan tema tersebut disertai komentar pribadi seperlunya dan dengan jelas mencantumkan nama penyusunnya. Kliping yang dibuat oleh setiap anggota kelompok tersebut kemudian disatukan dan menjadi milik hasil kerja kelompok yang bersangkutan dengan tetap memperlihatkan nama masing-masing anggota kelompok kontributor (di bagian dalam kliping) di samping menyebutkan nama-nama anggota kelompok di bagian sampul depan kliping. 

Pada pertemuan tatap muka selanjutnya, setiap kelompok siswa mempresentasikan hasil

kerja kelompoknya di depan kelas secara bergiliran disertai dengan tanya jawab antar siswa antar kelompok. Dalam kesempatan ini siswa dalam suatu kelompok harus kompak dan saling membantu dalam bertanya maupun dalam menjawab; 

Pada akhir kegiatan diskusi kelas, siswa membuat kesimpulan hasil diskusi di bawah

bimbingan guru. 

Setelah itu sampai akhir jam pelajaran, siswa secara individual mengerjakan soal Post tes

yang diberikan oleh guru.

3. Pengamatan (Observasi)

Sama seperti pada siklus I, tahap ini guru melakukan observasi sesuai dengan format yang sudah disiapkan dan mencatat semua yang terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung.

5. Refleksi

Tahap ini juga sama seperti pada siklus I, yaitu meliputi kegiatan-kegiatan, antara lain sebagai berikut:   

Melakukan evaluasi terhadap tindakan pada siklus II berdasarkan data yang terkumpul.

Membahas hasil evaluasi tentang skenario pembelajaran pada siklus II.

Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai dengan hasil evaluasi untuk digunakan pada

siklus III (Jika masih diperlukan).

Siklus III (bila diperlukan).

G. Indikator Keberhasilan dan Indikator Proses

Untuk mengetahui apakah penelitian tindakan ini berhasil mencapai tujuannya maka perlu ditetapkan indikator keberhasilan dan indikator proses berikut kriteriannya masingmasing. Dengan adanya indikator keberhasilan maka dapat dilakukan pengukuran dan mudah diketahui apakah penerapan tindakan ini sudah tepat atau belum. Demikian pula dengan indikator proses, perlu ditetapkan langkah-langkah pokok tindakan untuk mencapai keberhasilan yang telah digariskan dalam indikator keberhasilan.

Dengan demikian maka tolok ukur atau kriteria keberhasilan penelitian ini dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi proses dan dari sisi hasil. Dari sisi proses, keberhasilan penelitian ini dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dipilih sebagai alternatif pemecahan masalah dapat dilihat dari adanya perubahan tingkah laku belajar siswa yang relevan atau yang positif secara signifikan, seperti meningkatnya motivasi belajar siswa di kelas, meningkatnya partisipasi belajar siswa, meningkatnya keberanian bertanya dan berpendapat, meningkatnya atensi atau perhatian siswa dalam proses pembelajaran, meningkatnya kemampuan mendengarkan, meningkatnya kreativitas belajar siswa, meningkatnya interaksi belajar siswa, dan lain sebagainya.

Sedangkan keberhasilan dari sisi hasil dapat dilihat dari meningkatnya prestasi hasil belajar siswa dan ketuntasan belajar siswa secara signifikan sesuai dengan acuan yang telah ditentukan dalam penelitian ini. Prinsip penilaian yang diterapkan di sini sedapat mungkin mengacu pada Penilaian Berbasis Kelas atau Berbasis Peserta Didik, artinya penilaian dilakukan sepenuhnya oleh guru terhadap seluruh aspek dan proses kegiatan belajar siswa dengan isntrumen penilaian yang bervariasi dengan tetap memperhatikan perbedaan kemampuan individual siswa. Oleh karena itu Pedoman acuan penilaian yang ditentukan dalam penelitian ini untuk mengukur kemajuan hasil belajar dan ketuntasan belajar siswa ditetapkan berdasarkan kriteria PAP (Penilaian Acuan Patokan). Berdasarkan kriteria PAP, kemajuan hasil belajar siswa melalui penerapan model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dikatakan meningkat secara signifikan manakala dari hasil evaluasi di akhir tindakan penelitian (siklus), seluruh siswa atau secara klasikal 85% dari siswa telah berhasil mencapai batas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan untuk mata pelajaran Biologi pada kelas X Semester I SMA Negeri 1 Babat Tahun Pelajaran 2007/2008, yang dalam hal ini adalah sebesar 65. Atau secara prosentase, kemajuan hasil belajar siswa di sini dikatakan meningkat secara signifikan manakala nilai rata-rata hasil belajar siswa di akhir

tindakan menunjukkan peningkatan sebesar 10% dari hasil belajar sebelumnya. Dan dengan begitu berarti menandai berakhirnya siklus pelaksanaan program tindakan.

Berikut ini ditetapkan kisi-kisi indikator keberhasilan dan indikator proses sebagai berikut:

Tabel 1: Kisi-kisi Indikator Keberhasilan

No

Variabel Masalah

Pemecahan Masalah

Indikator Keberhasilan

1

1.Aktivitas belajar siswa

Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

Meningkatnya aktivitas belajar siswa sebesar 10-20% secara kumulatif dalam aspek-aspek berikut:  Keberanian siswa dalam bertanya dan mengemukakan pendapat  Motivasi dan kegairahan dalam mengikuti pembelajaran (menyelesaikan tugas mandiri dan aktif mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru)  Kerjasama dalam mengerjakan

tugas kelompok  Kreativitas belajar (membuat catatan, ringkasan, dan lainnya)  Interaksi dengan guru selama kegiatan pembelajaran  Interaksi dengan sesama siswa selama pembelajaran (komunikasi dalam kelompok belajar)  Partisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran (memperhatikan dan mendengarkan, ikut melakukan kegiatan kelompok, selalu mengikuti petunjuk guru) 2.Menurunnya aktivitas yang tidak relevan dengan belajar, sebagai berikut:  Tidak memperhatikan penjelasan guru  Asyik bermain sendiri  Melamun dan tidak bergairah belajar  Mengobrol sendiri dengan teman dalam proses belajar  Mengerjakan tugas lain Sebanyak 85% dari siswa telah mencapai ketuntasan belajar sesuai KKM yang telah ditetapkan, yaitu 65.

2

2.Prestasi belajar siswa

Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

Tabel 2: Kisi-kisi Indikator Proses

No

Variabel Tindakan

Indikator Proses

Urutan Kegiatan

1

Pembentukan kelompok belajar secara acak terstruktur; Pemberian dan penyematan nomor identifikasi siswa selama proses; belajar berlangsung Pemberian tugas kelompok; Guru memfasilitasi diskusi kelas; Guru melakukan tanya jawab tentang penguasaan materi dengan seluruh siswa di kelas; Guru memberikan post tes tertulis ke1 dan ke-2 dan pada pertemuan selanjutnya menyampaikan hasil evaluasi kepada siswa dan mengumumkannya di depan kelas;

1. Interaksi dengan sesama siswa dalam proses belajar; 2. Kerjasama dalam mengerjakan tugas kelompok; 3. Motivasi dan kegairahan dalam proses belajar; 4. Keberanian siswa dalam bertanya dan mengemukaka n pendapat; 5. Kreativitas belajar siswa (membuat catatan, ringkasan, dan lainnya); 6. Interaksi dengan guru selama kegiatan pembelajaran;

2

1. Guru mengarahkan pembentukan kelompok beranggotakan 5 orang secara heterogen berdasarkan gender, sekolah asal, dan kecerdasan. 2. Guru membagikan tanda nomor identifikasi yang harus disematkan pada diri siswa selama proses belajar di kelas untuk memudahkan observasi dan penilaian proses; 3. Guru menyampaikan kriteria penilaian hasil dan penilaian proses

Instrumen Pengumpul Data  Format observasi  Lembar portofolio siswa;  Buku catatan pelajaran siswa.

3

4

5

6

4. Guru memberikan tugas kelompok dan mengarahkan perlunya pembagian peran yang jelas di antara anggota kelompok; Pemeriksaan 7. Partisipasi aktif portofolio dan buku siswa dalam 5. Guru memfasilitasi catatan belajar kegiatan dan membimbing siswa. pembelajaran. diskusi kelas; 6. Guru memandu tanya jawab tentang penguasaan materi; 7. Guru membagikan

lembar soal post tes ke-1 dan ke-2, dan pada pertemuan berikutnya membagikan dan mengumumkan hasilnya kepada siswa; 7 8. Guru memeriksa hasil portofolio dan buku catatan pelajaran siswa.

Selanjutnya perlu pula dikemukakan di sini kriteria penilaian hasil sehubungan dengan penguasaan siswa terhadap materi atau kompetensi dasar dan kriteria penilaian proses terkait dengan aktivitas belajar siswa, sebagai berikut:

Tabel 3

Kriteria Penilaian Prestasi Belajar

No 1 2 3 4

NiIai < 65 65 - 75 76 - 90 91 - 100

Kriteria Tidak Tuntas (Remidi) Tuntas dan cukup Tuntas dan Memuaskan (Pengayaan) Tuntas dan Sangat Memuaskan (Pengayaan) Tabel 4

Kriteria Aktivitas Siswa Yang Relevan Dengan Belajar No 1 2 3 4 5 Nilai/Frekuensi < 40 41 - 55% 56 – 70% 71 – 85% 86 – 100% Kriteria Rendah Sekali Rendah Cukup Tinggi Tinggi Sekali

Tabel 5 Kriteria Aktivitas Siswa Yang Tidak Relevan Dengan Belajar No 1 2 3 4 5 Nilai/Frekuensi 1 – 20% 21 - 40% 41 – 60% 61 – 80% 81 – 100% Kriteria Rendah Sekali Rendah Cukup Tinggi Tinggi Sekali

Indikator keberhasilan dan indikator proses yang telah ditetapkan tersebut dengan sendirinya juga merupakan kriteria penerimaan ataupun penolakan hipotesis penelitian (tindakan) yang telah dirumuskan di bagian awal penelitian.

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Subyek dan Obyek Penelitian

Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X-1 Semester I SMA Negeri 1 Babat Tahun Pelajaran 2007/2008 yang berjumlah 40 orang siswa, terdiri dari 19 putra dan 21 putri.

Adapun obyek penelitian tindakan kelas ini tidak lain adalah variabel tindakan dan variable masalah. Variabel tindakan dimaksud adalah “penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD”, sedangkan variabel masalah terdiri dari “aktivitas belajar siswa” dan “prestasi belajar siswa”. Hasil penelitian terkait dengan kedua variabel penelitian tersebut dapat dilihat pada bagian berikut ini.

B. Hasil Penelitian

Penelitian ini berjalan dalam dua siklus, yang dalam setiap siklusnya berlangsung dua kali pertemuan atau pembelajaran tatap muka (setiap pertemuan = 2 x 45 menit). Setiap siklus penelitian terdiri dari 4 (empat) tahap kegiatan utama, yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Data yang dikumpulkan dalamsetiap siklus adalah data yang berhubungan dengan aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa melalui instrumen pengumpul data yang telah ditetapkan, dalam hal ini adalah melalui format observasi dan lembar soal tes yang telah disiapkan oleh guru.

Hasil Observasi terhadap aktivitas belajar siswa dari siklus ke siklus setelah diolah dapat dilihat pada tabel 6 berikut ini :

Tabel 6

Data Aktivitas Belajar Siswa (N = 40)

No INDIKATOR PROSES 1 Keberanian siswa dalam bertanya dan mengemukakan pendapat 2 Motivasi dan kegairahan dalam proses belajar (meyelesaikan tugas mandiri atau tugas kelompok) 3 Kerjasama dalam kelompok 4 Kreativitas belajar siswa (membuat catatan, ringkasan) 5 Interaksi dan komunikasi dengan sesama siswa selama pembelajaran (dalam kerja kelompok) 6 Interaksi dan komunikasi dengan guru selama kegiatan pembelajaran 7 Partisipasi siswa dalam pembelajaran (memperhatikan dan mendengarkan, ikut melakukan kegiatan kelompok, selalu mengikuti petunjuk guru). Rata-rata

Ketercapaian Siklus I Siklus II f % f % 22 55 33 82,5 26 65 35 87,5

26 28 25

65 70 62,5

37 35 34

92,5 87,5 85

24 25

60 62,5

36 38

90 95

25

62,5

35

87,5

Berdasarkan data pada tabel 6 tersebut diketahui bahwa aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan dari 62,5% pada siklus I meningkat menjadi 87,5% pada siklus II, yang berarti mengalami peningkatan sebesar 25%.

Selanjutnya,

bagaimana data aktivitas siswa yang kurang relevan dengan

pembelajaran, dapat dilihat pada tabel 7 berikut ini.

Tabel 7

Data Aktivitas Siswa Yang Kurang Relevan Dengan Pembelajaran

(N = 40)

No INDIKATOR PROSES 1 Asyik bermain sendiri 2 Tidak/kurang memperhatikan penjelasan dari guru atau teman sekelas 3 Mengobrol dan bercanda sendiri dengan teman 4 Melamun dan kurang bergairah belajar 5 Mengerjakan tugas pelajaran lain Rata-rata

Ketercapaian Siklus I Siklus II f % f % 16 40 7 17,5 18 45 5 12,5

12 22 10 16

30 55 25 40

6 8 0 5

15 20 100 12,5

Berdasarkan data pada tabel 7 diatas terlihat bahwa aktivitas siswa yang kurang relevan dengan kegiatan pembelajaran mengalami penurunan, dari 40% pada siklus I menjadi 12,5% pada siklus II, yang berarti mengalami penurunan sebesar 27,5% pada akhir siklus II.

Selanjutnya, prestasi hasil belajar dan atau ketuntasan belajar siswa terhadap materi pokok pembelajaran “virus, berikut ciri-ciri, replikasi dan peranannya dalam kehidupan” setelah data diolah dan disederhanakan dapat dilihat pada tabel 8 berikut ini (Data mentahnya dapat dilihat pada Lampiran 8).

Tabel 8 Data Prestasi Belajar Siswa Ketercapaian Siklus I Siklus II % f % 27,5 5 12,5 45 21 52,5 20 10 25 7,5 4 10 40

No 1 2 3 4

Kriteria Penilaian Tidak Tuntas (Remidi) Tuntas Tuntas Memuaskan (Pengayaan) Tuntas Sangat Memuaskan (Pengayaan) N=

f 11 18 8 3 40

Dari data pada tabel 8 di atas dapat diketahui bahwa prestasi belajar dan atau ketuntasan belajar siswa dari siklus I ke siklus II cenderung mengalami peningkatan yang relatif besar. Dari 11 siswa (27,5%) yang tidak tuntas pada siklus I menurun menjadi hanya 5 siswa (12,5%) yang tidak tuntas dan memerlukan remidi pada akhir siklus II. Seiring dengan itu

jumlah siswa yang tuntas tetapi tidak perlu pengayaan juga meningkat, dari 18 siswa (45%) pada siklus I meningkat menjadi 21 siswa (52,5%) pada siklus II. Siswa dalam kategori tuntas tetapi tidak memerlukan pengayaan ini merupakan jumlah yang terbesar dalam sebaran distribusi. Berikutnya adalah siswa yang “tuntas dengan predikat memuaskan” dan “sangat memuaskan”, masing-masing sebanyak 8 (20%) dan 3 (7,5%) pada siklus I dan hanya meningkat sedikit pada akhir siklus II, yaitu masing-masing menjadi 10 (25%) dan 4 (10%). Baik yang tuntas memuaskan maupun yang tuntas sangat memuaskan, keduanya adalah termasuk kategori siswa yang perlu mendapat program pengayaan. Jumlah siswa dalam kategori yang terakhir itu secara kumulatif pada akhir siklus II adalah sebanyak 14 siswa (35%).

C. Pembahasan Hasil

Dari data hasil penelitian yang telah tersaji pada tabel 6, 7, dan 8 tersebut dengan jelas diketahui bahwa aktivitas belajar siswa dalam segala aspek pengamatan mengalami peningkatan yang sangat berarti dari siklus I ke siklus II. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD melalui tindakan guru yang berupa pembentukan kelompok belajar secara acak terstruktur ditambah dengan pemberian dan penyematan tanda nomor identifikasi selama proses belajar untuk memudahkan observasi dan penilaian sepertinya cukup ampuh untuk menggugah motivasi dan gairah belajar siswa. Siswa seolah menjadi sangat terkesan dengan penciptaan suasana belajar dan proses penilaian yang tampak serius dan resmi dari guru. Mereka berusaha untuk tampil sebaik mungkin dalam rangka mendapat penilaian yang terbaik dari guru selama proses pembelajaran. Apalagi setelah mereka mengetahui tentang aturan main dalam penilaian proses maupun penilaian hasil.

Itulah kiranya yang mendorong siswa untuk, sepertinya, berlomba dan terpacu meningkatkan aktivitas belajar mereka di kelas. Dari yang semula kelihatan pemalu dan pendiam berubah menjadi pro-aktif dalam berinteraksi dan berkomunikasi, baik dengan guru maupun apalagi dengan teman sekelas atau teman kelompok belajarnya; dari yang semula pemalas, pelamun dan kurang bergairah belajar mendadak menjadi rajin dan bersemangat belajar; dari yang semula kelihatan peragu dan penakut berubah menjadi penuh percaya diri dalam kegiatan tanya jawab; dari yang semula kelihatan “cuek” dan egois berubah menjadi penuh “atensi” dan mau berbagi dengan teman. Hal itu semua terbukti dari data hasil penelitian sebagaimana tersajikan pada tabel 6 di atas, di mana aktivitas belajar siswa dalam segala aspek pengamatan dari 62,5% pada siklus I meningkat menjadi 87,5% pada akhir siklus II, yang berarti naik sebesar 25%. Berdasarkan kriteria penilaian aktivitas belajar

yang telah ditetapkan (lihat tabel 4 Bab III), prosentase aktivitas belajar sebesar 87,5% itu tergolong tinggi sekali. Demikian pula angka prosentase kenaikan sebesar 25% tersebut jelas jauh melampaui kriteria keberhasilan penilaian proses sekaligus kriteria pengujian hipotesis yang telah ditetapkan dalam penelitian ini, yakni sebesar 10%. Dengan demikian maka hipotesis penelitian (tindakan) pertama yang dirumuskan di bagian terdahulu dalam penelitian ini bisa diterima kebenarannya secara meyakinkan. Hal itu berarti, bahwa “penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada mata pelajaran Biologi, khususnya pada materi/Kompetensi Dasar “Mendeskripsikan ciri-ciri, replikasi dan peranan virus dalam kehidupan” terbukti dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa Kelas X-1 Semester I SMA Negeri 1 Babat Tahun Pelajaran 2007/2008.

Memang harus diakui, bahwa dengan model pembelajaran kooperatif seperti yang diterapkan dalam penelitian tindakan ini suasana belajar di kelas menjadi “kesannya” agak ramai dan cenderung gaduh. Sesekali sering terdengar suara tepukan meriah dan gelak tawa riang dari para siswa untuk memberikan “applause” dan support atau karena munculnya

spontanitas perilaku jenaka dari teman sekelas ketika berdiskusi ataupun saat mengerjakan tugas-tugas kelompok dan tanya jawab.. Meskipun begitu suasana kelas tetap kondusif bagi proses pembelajaran, dan bahkan siswa sepertinya merasakan adanya suasana belajar yang menyenangkan (joyful learning atau learning is fun). Hal ini setidaknya terbukti dari semakin menurunnya secara signifikan aktivitas siswa yang tidak relevan dengan belajar dari siklus I ke siklus berikutnya, sebagaimana terlihat dari sajian data pada tabel 7 di atas, dari 40% aktivitas siswa yang kurang relevan dengan pembelajaran pada siklus I turun menjadi 12,5% pada siklus II. Dan berdasarkan kriteria penilaian yang telah ditetapkan untuk ini (lihat tabel 5 Bab III), angka prosentase 12,5% itu tergolong rendah sekali. Itu artinya apa? Penerapan tindakan melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD terbukti bisa mereduksi atau mengurangi sampai seminimal mungkin aktivitas siswa yang tidak relevan dengan pembelajaran.

Demikian pula halnya bila ditinjau dari segi hasil, data hasil belajar atau prestasi belajar siswa sebagaimana tersajikan pada tabel 8 di atas dengan jelas membuktikan bahwa telah terjadi peningkatan yang sangat signifikan pada prestasi belajar siswa, dari semula hanya 29 siswa (18 + 8 + 3 ) atau sebesar 72,5% yang tuntas belajar pada siklus I meningkat menjadi 35 siswa (21 + 10 + 4) atau sebesar 87,5% pada akhir siklus II, yang berarti mengalami peningkatan sebesar 15% untuk kategori ini. Sementara itu untuk kategori penilaian hasil yang lain, yakni kategori siswa yang tidak tuntas, dari semula sebanyak 11 siswa (27,5%) yang tidak tuntas pada siklus I berkurang secara drastis menjadi hanya 5 siswa (12,5%) yang tidak tuntas pada akhir siklus II, yang berarti berkurang sebesar 15%.

Meskipun angka prosentase kenaikan bagi yang tuntas maupun prosesntase pengurangan bagi yang tidak tuntas dari siklus I ke siklus II tersebut tidak terlalu fantastis, yakni masing-masing hanya, kebetulan sama 15%, namun bila dihubungkan dengan kriteria

keberhasilan yang telah ditetapkan sebelumnya untuk pengujian hipotesis, yakni kenaikan 10%, maka hal itu sudah lebih dari cukup membanggakan. Terlebih lagi bila dilihat dari segi kriteria keberhasilan secara klasikal yang telah ditetapkan, yakni sebesar 85% dari seluruh siswa dalam kelas harus mencapai ketuntasan belajar, sementara dari penilaian hasil di akhir siklus II ini hanya menyisakan 12,5% yang tidak tuntas (yang berarti 87,5% siswa telah mencapai ketuntasan belajar), maka dari situ dapat dipahami lebih jauh bahwa tindakan guru melalui penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD ini telah berhasil mencapai tujuannya. Dengan demikian pula maka hipotesis penelitian (tindakan) kedua yang dirumuskan dalam penelitian ini terbukti dapat diterima kebenarannya secara sah dan meyakinkan. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada pembelajaran Biologi, khususnya pada materi atau kompetensi dasar “mendeskripisikan ciri-ciri virus, replikasi dan peranannya dalam kehidupan” terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar siswa Kelas X-1 Semester I SMA Negeri 1 Babat Tahun Pelajaran 2007/2008.

BAB V

PENUTUP

A. Simpulan

Simpulan utama yang dihasilkan dalam penelitian tindakan kelas ini merupakan jawaban terhadap masalah penelitian yang telah dirumuskan, sebagai berikut:

1.

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada bidang studi Biologi, khususnya pada materi atau kompetensi dasar “mendeskripsikan ciri-ciri, replikasi dan peranan virus dalam kehidupan” terbukti telah berhasil meningkatkan sebesar 25% (dari semula 62,5% pada siklus I menjadi 87,5% pada akhir siklus II) dari aktivitas belajar siswa Kelas X-1 Semester I SMA Negeri 1 Babat Tahun Pelajaran 2007/2008.

2.

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada bidang studi Biologi, khususnya pada materi atau kompetensi dasar “mendeskripsikan ciri-ciri, replikasi dan peranan virus dalam kehidupan” terbukti juga telah berhasil meningkatkan sebesar 15% (dari semula 27,5% yang tidak tuntas pada siklus I berkurang menjadi 12,5% yang tidak tuntas pada akhir siklus II) dari prestasi belajar atau ketuntasan belajar siswa Kelas X-1 Semester I SMA Negeri 1 Babat Tahun Pelajaran 2007/2008.

Dengan demikian maka tindakan guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada bidang studi Biologi di sini telah berhasil mencapai tujuan yang diinginkan.

B. Saran

Mengingat hasil-hasil penelitian yang telah dicapai di sini, maka disarankan:

1.

Kepada siswa; mereka para siswa hendaknya lebih meningkatkan kerjasamanya dalam kegiatan pembelajaran, terutama dalam mengerjakan tugas-tugas kelompok yang diberikan oleh guru. Dengan begitu maka selain akan menimbulkan rasa saling asah, saling asih dan saling asuh di antara siswa juga akan mempermudah upaya pencapaian tujuan pembelajaran di sekolah.

2.

Kepada teman sejawat, guru; jika menghadapi masalah pembelajaran yang sama atau yang mirip dengan masalah yang ada dalam penelitian ini, kiranya patut dicoba untuk diatasi dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, pada bidang studi yang sama dengan ini ataupun untuk bidang studi yang lain. Mengingat satu dan lain hal, model pembelajaran kooperatif tipe STAD selain prosedurnya mudah dan sederhana, dampaknya sangat terasa bagi peningkatan aktivitas belajar siswa sesuai dengan tuntutan dan trend pembelajaran yang berkembang akhir-akhir ini.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi,Abu,Drs., dan Supriyono,Widodo,Drs., Psikologi Belajar, Jakarta, Penerbit Rineka Cipta, 1991. De Porter,Bobbi dan Hernacki,Mike dalam Abdurrahman,Alwiyah (penerjemah), Quantum Learning, Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan, Bandung, Kaifa, 2002. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI; Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 1990. Mulyasa,E., Dr.,M.Pd., Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep, Karakteristik Implementasi, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya, 2003. dan

--------------------------, Manajemen Berbasis Sekolah, Konsep, Strategi, dan Implementasi, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya, 2003. Gordon,Thomas, dalam Mudjito,Drs.,MA. (Penyadur); Guru Yang Efektif, Cara Mengatasi Kesulitan Dalam Kelas, Jakarta, CV Rajawali, 1984. Hamalik,Oemar,Dr., Perencanaan dan Manajemen Pendidikan, Bandung, Penerbit CV Mandar Maju, 1991. Madya,Suwarsih,Prof.,Ph.D., Teori dan Praktik, Penelitian Tindakan (Action Research), Bandung, Penerbit Alfabeta, 2006. Pemerintah RI; UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta, Penerbit Cemerlang, 2003. -------------------; UU RI No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, Bandung, Penerbit Citra Umbara, 2006. Surakhmad,Winarno,Dr.,M.Sc.,Ed.; Metodologi Pengajaran Nasional, Bandung, Penerbit Jemmars, 1980. Sunarto,H.,Prof.,Dr. dan Hartono, Ny.B.Agung,Dra.; Perkembangan Peserta Didik, Jakarta, Penerbit Rineka Cipta, 1999. Sudjana,Nana,Dr.; Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung, Penerbit PT Remaja, 1989. Suyanto,Prof.,Drs.,M.Ed.,Ph.D. dan Abbas,M.S.,Drs.,M.Si.; Wajah dan Dinamika Pendidikan Anak Bangsa, Yogyakarta, Penerbit Adi Cita Karya Nusa, 2001. Sulipan,Dr., Artikel Bimbingan Karya Tulis Ilmiah Online, “Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research)”, http://www.ktiguru.org/

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Lampiran I Format Observasi Aktivitas Belajar Siswa Siklus I dan II

N o

NAMA SISW A

Keberania n bertanya

Motivasi belajar

Kerja Sama dlm kelompok

Kreativi tas belajar

Interaks i Sesama siswa

Interaks i Dengan guru

Partisipa si dalam pembelajara n

Ya

Tdk

Y a

Td k

Y a

Td k

Y

T

Y

T

Y

T

Y

T

1 2 3 4 5 6 7 8 9 40

Lampiran II

Format Observasi Aktivitas Siswa Yang Kurang Relevan Dengan Pembelajaran Siklus I dan II No
NAMA SISWA Asyik bermain sendiri Ya Kurang Berbicara memperhatikan sendiri penjelasan guru dengan teman Melamun dan kurang bergairah Mengerjakan tugas pelajaran lain

Tdk

Ya

Tdk

Ya

Tdk

Ya

Tdk

Ya

Tdk

1 2 3 4 5 6 7 8 9 40

Lampiran III
INTRUMEN PENILAIAN MEMBUAT RANGKUMAN MATERI

Standar Kompetensi : Kompetensi Dasar Tanggal Penilaian : :

No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 40.

Nama siswa

1

2

Kriteria /Aspek 3 3

5

6

Skor Nilai

Kriteria: 1. Kelengkapan dan keluasan cakupan materi 2. Keruntutan sitematika rangkuman 3. Kecermatan dan ketepatan bahasa 4. Kerapian tulisan 5. Ketepatan waktu pengumpulan 6. Keanekaragaman sumber informasi

Lampiran IV INSTRUMEN PENILAIAN KLIPING Standar Kompetensi Kompetensi Dasar : :

Indikator Tanggal Penilaian

:
:

No 1.

Nama siswa

1

Kriteria /Aspek 2 3 3

5

6

Skor Nilai

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful