PROSPEK USAHA Sapi potong merupakan jenis ternak yang mempunyai nilai jual tinggi diantara ternak-ternak

lainnya. Pada umumnya masyarakat membutuhkan hewan ini dikonsumsi, karena kandungan proteinnya yang tinggi. Laju pertambahan penduduk yang terus meningkat menuntut ketersediaan akan daging yang terus meningkat pula, oleh karena itu usaha sapi potong merupakan salah satu usaha yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Usaha penggemukan sapi potong memiliki prospek cerah karena beberapa negara Asean kini lebih menyukai sapi potong dari Indonesia. Dalam pemeliharaanpun relatif tidak begitu sulit karena jenis pakan yang dimakan sapi potong biasanya adalah rumput, jerami, bungkil pisang ataupun berbagai jenis dedaunan yang banyak tumbuh disekitar. Dengan ketersediaan padang rumput yang masih sangat luas peluang membuka usaha penggemukan sapi potong masih terbuka lebar. Pada lahan yang tidak begitu luas pun usaha ini masih dapat dilakukan yaitu dengan sistem atau teknik ”kereman”, yaitu suatu cara pemeliharaan dikandang secara terus menerus dalam kurun waktu 4 sampai 12 bulan. Tujuan pemeliharaan sapi dengan cara ini adalah untuk meningkatkan atau menghasilkan daging yang relatif lebih cepat. Selain menghasilkan daging yang dibutuhkan masyarakat hasil ikutannya pun seperti pupuk kandang, kulit, tulang dan lain sebagainya dapat memberikan pendapatan sampingan. kotoran sapi mempunyai nilai ekonomis, karena termasuk pupuk organik yang dibutuhkan semua jenis tumbuhan. Kotoran sapi dapat menjadi sumber hara yang dapat memperbaiki struktur tanah sehingga menjadi lebih gembur dan subur. Kulit sapi, dapat dijadikan sebagai bahan industri tas, sepatu, ikat pinggang, topi, jaket. Tulangnya dapat diolah menjadi bahan bahan perekat/lem, tepung tulang dan barang kerajinan atau dibuat makanan seperti sop kaki. Tanduknya dapat digunakan sebagai bahan kerajinan seperti: sisir, hiasan dinding dan sebagainya. Sementara ekornya pun masih dapat dimanfaatkan sebagai makanan khas yaitu sop buntut.

IPS KEBERHASILAN USAHA keberhasilan usaha penggemukan sapi potong, di awali dengan pemilihan bakalan sapi yang akan digemukan. Terdapat beberapa jenis sapi yang biasa dipiliha sebagai bakalan, yaitu:

punggungnya bergaris warna hitam. Sapi Ongole Sapi jenis ini memiliki ciri kulit berwarna putih dengan warna hitam di beberapa bagian tubuh. dengan warna putih pada bagian kepala. sehingga menjadi primadona sapi potong di Indonesia. Sapi Brahman Sapi jenis ini memiliki ciri kulit berwarna coklat hingga coklat tua. ekor dan kaki bawah. berpunuk. tubuh berukuran besar dan mempunyai tingkat produksi yang baik Pemeliharaan sapi sistem kereman. Pemeliharaan sapi kereman yang baik selain menghasilkan daging yang bermutu tinggi juga menghasilakan pupuk yang dapat dipergunakan untuk memperbaiki kesuburan tanah. Sapi Madura Sapi jenis ini memiliki ciri kulit berwarna kuning hingga merah bata. dan daya adaptasinya baik. terdapat warna putih pada moncong kepalanya.Sapi Bali Sapi jenis ini memiliki ciri kulit berwarna merah dengan kaki dari lutut ke bawah dan pada pantat berwarna putih. bila dilakukan sesuai anjuran akan memberikan manfaat ekenomi yang besarnya. pertambahan berat badan rendah Sapi Limousin Sapi jenis ini memiliki ciri kulit berwarna hitam bervariasi dengan warna merah bata dan putih. bergelambir dan berpunuk. Sapi jenis ini memiliki keunggulan dalam beradaptasi yang baik dengan lingkungan yang baru. dan sebagian terdapat warna putih pada moncong. Pencagahan terhadap penyakit dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan. keturunannya disebut Peranakan Ongole (PO) cirinya sama dengan sapi Ongole tetapi kemampuan produksinya lebih rendah. Jenis ini telah disilangkan dengan sapi Madura. Daya pertumbuhannya cepat. FAKTOR KRITIS PADA KEBERHASILAN USAHA .

Beberapa jenis penyakit yang sering terjadi pada sapi potong diantaranya adalah : . 2. 5. Cacing perut.Cacing hati.Penyakit surra .Penyakit mulut .Anthrax (radang limpa) .Kuku busuk (foot ror) . maupun hijauan) pengelolaan yang tidak fokus (hanya sambilan) pengadministrasian proses penggemukan Penanggulangan penyakit.Penyakit radang paha . 3. Memilih Bakalan . pencarian bibit yang berkualitas penyediaan pakan (baik konsentrat.Penyakit Bruccellosis (keguguran menular) . TEKNIS MELAKUKAN USAHA 1. 4.Faktor-faktor kritis yang harus diperhatikan dalam usaha pengemukan domba diantaranya adalah: 1.

pundak minimal 135 cm. karena tidak terjadi kompetisi dalam mendapatkan pakan dan memiliki ruang gerak terbatas. Kelemahan tipe kandang ini yaitu terjadi kompetisi dalam mendapatkan pakan sehingga sapi yang lebih kuat cenderung cepat tumbuh daripada yang lemah. . bulat dan lebar. Pada kandang individu. tulang menonjol dan sehat. Oleh karena itu PT. Tubuh kurus (bukan karena penyakit). Mg. Ciri-ciri bakalan yang baik adalah : Berumur di atas 2. karena pencernaannya melalui tiga proses. sehingga energi yang diperoleh dari pakan digunakan untuk hidup pokok dan produksi daging tidak hilang karena banyak bergerak.Memilih bakalan memerlukan ketelitian. yaitu NPK. Salah satu cara mempercepat penggemukan adalah dengan pakan kombinasi antara hijauan dan konsentrat. Ca. Kandang Secara umum. Konsentrat yang digunakan adalah ampas bir. pembentuk sel dan organ tubuh. setaria kolonjono sebagai pakan berkualitas tinggi.5 m. Mata cerah dan bulu halus. Pada kandang kelompok. setiap sapi menempati tempatnya sendiri berukuran 2. Jenis kelamin jantan. kurang memberikan hasil yang optimal dan membutuhkan waktu yang lama. POC NASA dan HORMONIK. darah dan berperan dalam sintesis enzim. lingkar dada 133 cm. sehingga ketika pakan hijauan masuk rumen.5% berat badannya. yaitu dengan meneliti berbagai nutrisi yang dibutuhkan ternak. daun jagung. 2 Asam-asam amino. Kebutuhan pakan (dalam berat kering) tiap ekor adalah 2. panjang minimal 170 cm tinggi. Pakan Berdasarkan kondisi fisioloigis dan sistem pencernaannya. bekatul. Cl dan lain-lain. kejelian dan pengalaman. kulit biji kedelai. Penentuan kualitas pakan tersebut berdasarkan tinggi rendahnya kandungan nutrisi (zat pakan) dan kadar serat kasar. Tipe ini dapat memacu pertumbuhan lebih pesat. Penelitian menunjukkan bahwa penggemukan dengan mengandalkan pakan berupa hijauan saja. ampas tahu. Isoleusin dan lain-lain sebagai penyusun protein. Bentuk tubuh panjang. secara fermentatif dalam rumen dengan bantuan mikrobia rumen dan secara enzimatis setelah melewati rumen. 3 Vitamin lengkap yang berfungsi untuk berlangsungnya proses fisiologis tubuh yang normal dan meningkatkan ketahanan tubuh sapi dari serangan penyakit. NATURAL NUSANTARA membantu peternak dengan mengeluarkan produk VITERNA Plus. bakalan dalam satu periode penggemukan ditempatkan dalam satu kandang. Leusin. alang-alang dan rumput-rumputan liar sebagai pakan berkualitas rendah dan rumput gajah. VITERNA Plus merupakan nutrisi organik yang diolah dari bahan-bahan alami yang mengandung berbagai nutrisi yang dibutuhkan ternak. Pakan hijauan yang berkualitas rendah mengandung serat kasar tinggi yang sifatnya sukar dicerna karena terdapat lignin yang sukar larut oleh enzim pencernaan. Hijauan yang digunakan adalah jerami padi. mikrobia rumen telah siap dan aktif mencerna hijauan. ampas tebu. Satu ekor sapi memerlukan tempat yang lebih luas daripada kandang individu. kulit nenas dan buatan pabrik pakan. Histidin. daun tebu.5 X 1. yaitu : 1 Mineral-mineral sebagai penyusun tulang. Produk ini menggunakan teknologi asam amino yang diciptakan dengan pendekatan fisiologis tubuh sapi.5 tahun. Kotoran normal 2. sapi digolongkan hewan ruminansia. yaitu Arginin. Konsentrat diberikan lebih dahulu untuk memberi pakan mikrobia rumen. yaitu individu dan kelompok. karena lebih banyak mendapatkan pakan. yaitu secara mekanis dalam mulut dengan bantuan air ludah (saliva). kandang memiliki dua tipe. 3.

Vaksinasi untuk bakalan baru. Kandang karantina selain untuk sapi baru juga digunakan untuk memisahkan sapi lama yang menderita sakit agar tidak menular kepada sapi lain yang sehat. Dalam pengendalian penyakit. kembung (Bloat) dan lain-lain. Pakan Pakan yang berkualitas dan dalam jumlah yang optimal akan berpengaruh baik terhadap kualitas . Sapi yang digemukkan secara intensif akan menghasilkan kotoran yang banyak karena mendapatkan pakan yang mencukupi. POC NASA.asam organik essensial. diantaranya asam propionat. b. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi daging adalah a. Larutan suplemen sudah siap diberikan kepada ternak sapi. Usaha pencegahan yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan sapi adalah : a. mengurangi kadar kolesterol daging dan mengurangi bau kotoran. K. Produksi Daging. Aduk/kocok merata. Cara Praktis Pemakaian VITERNA Plus. seperti N. Cara pemberian larutan POC NASA. Pemanfaatan kandang karantina. Pada waktu sapi dikarantina. karena penggunaan obat akan menambah biaya produksi dan tidak terjaminnya keberhasilan pengobatan yang dilakukan. ketahanan tubuh. Mg. dan HORMONIK tadi dengan dosis 10 cc (1 tutup botol)/10 liter air komboran/ekor dengan interval 2 kali sehari (pagi dan sore). sebaiknya diberi obat cacing karena berdasarkan penelitian sebagian besar sapi di Indonesia (terutama sapi rakyat) mengalami cacingan. mampu meningkatkan pertumbuhan ternak sapi. tetapi akan mengurangi kecepatan pertambahan berat badan ketika digemukkan. Sapi bakalan yang baru hendaknya dikarantina pada suatu kandang terpisah. HORMONIK berfungsi sebagai Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) untuk memacu dan meningkatkan bobot ternak. Tambahkan 20 cc (2 tutup botol) HORMONIK ke dalam campuran VITERNA Plus dan POC NASA tadi. c. Waktu mengkarantina sapi adalah satu minggu untuk sapi yang sehat dan pada sapi yang sakit baru dikeluarkan setelah sapi sehat. Penyakit ini memang tidak mematikan. asam asetat dan asam butirat. HORMONIK POC NASA dan VITERNA Plus dioplos dalam satu wadah kocok/aduk hingga larut. sehingga pembuangan kotoran harus dilakukan setiap saat jika kandang mulai kotor untuk mencegah berkembangnya bakteri dan virus penyebab penyakit. P. Pemberian vaksin cukup dilakukan pada saat sapi berada di kandang karantina. 4. VITERNA Plus. 5. POC NASA merupakan formula khusus yang berguna bagi ternak/ikan maupun tanaman yang dibuat murni dari bahan-bahan organik mengandung berbagai mineral penting untuk pertumbuhan ternak. Menjaga kebersihan sapi bakalan dan kandangnya. Beberapa jenis penyakit yang dapat meyerang sapi potong adalah cacingan. yang lebih utama dilakukan adalah pencegahan penyakit daripada pengobatan. Vaksinasi yang penting dilakukan adalah vaksinasi Anthrax. dengan tujuan untuk memonitor adanya gejala penyakit tertentu yang tidak diketahui pada saat proses pembelian. Disamping itu juga untuk adaptasi sapi terhadap lingkungan yang baru. Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).4 Asam . Fe dan lain-lain serta dilengkapi protein dan lemak nabati. Ca. Pengendalian Penyakit.

sebab untuk tahap awal tidak membutuhkan aspek legal yang lengkap. c. 4. Surat Ijin Tempat Usaha (SITU). Sebagai bentuk hubungan dalam masyarakat. Ternak jantan tumbuh lebih cepat daripada ternak betina. ASPEK LEGALITAS Legalitas untuk budidaya penggemukan sapi potong/pedaging relatif mudah. 3. Tanda Daftar Perusahaan (TDP). Nomor PokoknWajib Pajak (NPWP). Perlakuan pakan dengan NPB akan meningkatkan daya cerna pakan terutama terhadap pakan yang berkualitas rendah sedangkan pemberian VITERNA Plus memberikan berbagai nutrisi yang dibutuhkan ternak sehingga sapi akan tumbuh lebih cepat dan sehat. sehingga masa penggemukan menjadi lebih singkat. 5.b. sehingga pada umur yang sama. Faktor Genetik Ternak dengan kualitas genetik yang baik akan tumbuh dengan baik/cepat sehingga produksi daging menjadi lebih tinggi. Manajemen Pemeliharaan dengan manajemen yang baik membuat sapi tumbuh dengan sehat dan cepat membentuk daging. ternak jantan mempunyai tubuh dan daging yang lebih besar. maka sebaiknya diperoleh ijin kepada tetangga terdekat dan Kepala Dusun. Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP). d. Jenis Kelamin. Namun Apabila usaha sudah berkembang maka aspek legal (ijin-ijin usaha) harus sudah mulai dilengkapi. daging. perijinan tersebut diantaranya adalah: 1. Akte Pendirian Perusahaan melalui Notaris dan lainnya sesuai dengan kebutuhan perusahaan . 2.

000 246.000.000 Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 30.1.131.000.869.500.000. 2.000 1.000 1. TOTAL BIAYA Penerimaan @Rp 4.000/hari x 90 hari x 10 ekor Biaya obat-obatan Biaya lain-lain Total D.500.500.000 m2 per tahun Total B.000.000 Uraian A.000.000 umur ekonomis 20 tahun Harga jual Rp. 3.000 o .000 x 10 ekor Keuntungan Jumlah (Rp) Rp. BIAYA INVESTASI Kandang dan peralatannya Sewa lahan 4.000. BIAYA TETAP Biaya penyusutan kandang dan peralatannya Sewa Lahan Total C. Rp Rp 10.000 Rp Rp Rp 123.000 200.000 Biaya Tenaga Kerja per hari Rp.800.000. 5.500.000. 4.000 Biaya obat per ekor Rp.00 x 96 Biaya tenaga kerja @ Rp 2.000 11.000 7.000 1.3.000 Biaya kandang per ekor Rp.000.125.000 37. BIAYA TIDAK TETAP Biaya bibit @ Rp.000 45. 5.ANALISA USAHA 1. 20.000 Biaya Pakan per hari Rp.000 4.000/hari x 90 x 10 ekor Biaya pakan sapi Rp.000 37.000 369. ASUMSI o o o o o o o o o Sapi perkandang 10 ekor masa penggemukan 90 hari harga bakalan Rp.

.

Retribusi kesehatan ternak: 25 x Rp.000.000.000.Rp.x 365 hari Rp.550 kg Harga jual sapi hidup: Rp.b.000.550 kg Rp.205..8 kg = 7. 7. 8.000.000.800.500.500.. Rp. 111.300 kg = 13.750. Penjualan kotoran basah: 25 x 365 x 10 kg x Rp.Jumlah biaya produksi Rp. 3.- 2) Pendapatan a. B/C ratio = 1.Hijauan: 25 x 35 kg x Rp. 410. 7.3) Keuntungan a. 12. 112.000. 69. Pakan . 69.Rp.000.Konsentrat: 25 x 2kg x Rp.500.c.482.500.Rp.50 x 365 hari . 48. Kandang Rp.- 2) Pendapatan a.Jumlah biaya produksi Rp. 42.4) Parameter kelayakan usaha a.Rp. Tanpa memperhitungkan biaya tenaga internal keuntungan Penggemukan 25 ekor sapi selama setahun. 1.200.-/kg x 13.37.307.897.d. Penjualan sapi kereman Tambahan >Rp. 75. 12.000.b.61 Gambaran Peluang Agribisnis Sapi potong mempunyai potensi ekonomi yang tinggi baik sebagai ternak potong maupun ternak . 75.110.095.000..Analisa Usaha Ternak Sapi Analisa Usaha Ternak Sapi Perkiraan analisis budidaya sapi potong kereman setahun di Bangli skala 25 ekor pada tahun 1999 adalah sebagai berikut: 1) Biaya Produksi a. Penjualan sapi kereman Tambahan berat badan: 25 x 365 x 0. Pembelian 25 ekor bakalan : 25 x 250 kg x Rp.Jumlah pendapatan Rp.307. 1.000.300 kg Berat sapi setelah setahun: (25 x 250 kg) + 7.

Golongan ini mencakup porsi yang paling besar dalam konsumsi daging. restoran. Jakarta. b) Konsumen Industri Konsumen industri merupakan pembeli-pembeli yang menggunakan daging untuk diolah kembali menjadi produk lain dan dijual lagi guna mendapatkan laba. 1996. Petunjuk Teknis Pemeliharaan Sapi Potong. artinya ekspor belum dilakukan/jika dilakukan porsinya tidak signifikan. diperkirakan mencapai 98% dari konsumsi total. Di Indonesia terdapat 3 organisasi yang bertindak seperti pemasok daging yaitu : a) KOPPHI (Koperasi Pemotongan Hewan Indonesia). Direktorat Bina Produksi Peternaka 4. 3. yang mewakili peternak penggemukan c) ASPIDI (Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia). yang mewakili pemasok produksi peternakan rakyat. Yogyakarta. 11. Penebar Swadaya. Yogyakarta. b) APFINDO (Asosiasi Peternak Feedlot (penggemukan) Indonesia). Mereka ini dapat dikelompokkan lagi ke dalam ova sub segmen yaitu : 1. Sapi Bali. 2. Kanisius. 5. Konsumen dalam negeri ( Golongan menengah keatas ) Segmen ini merupakan segmen terbesar yang kebutuhan dagingnya kebanyakan dipenuhi dari pasokan dalam negeri yang masih belum memperhatikan kualitas tertentu sebagai persyaratan kesehatan maupun selera. 24 Januari 1994. 1997. Selama ini sapi potong dapat mempunyai kebutuhan daging untuk lokal seperti rumah tangga. Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Sapi. Teuku Nusyirwan Jacoeb dan Sayid Munandar. hotel. atau disebut konsumen rumah tangga adalah pembeli-pembeli yang membeli untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan individunya. Konsumen asing Konsumen asing yang mencakup keluarga-keluarga diplomat. perdagangan antar pulau. 1991. industri pengolahan. Jakarta. DAFTAR PUSTAKA 1. Pasaran utamanya adalah kota-kota besar seperti kota metropolitan Jakarta. Yusni Bandini. Usaha Ternak Sapi.Program Magister Manajemen UGM. . Di samping itu juga kemungkinan terdapat konsumen manca negara yang selama ini belum terjangkau oleh pemasok dalam negeri. karyawan perusahaan dan sebagian pelancong ini porsinya relatif kecil dan tidak signifikan. Konsumen ini terutama meliputi: hotel dan restauran dan yang jumlahnya semakin meningkat Adapun mengenai tata niaga daging di negara kita diatur dalam inpres nomor 4 tahun 1985 mengenai kebijakansanakan kelancaran arus barang untuk menunjang kegiatan ekonomi. Konsumen untuk daging di Indonesia dapat digolongkan ke dalam beberapa segmen yaitu : a) Konsumen Akhir Konsumen akhir. Lokakarya Nasional Manajemen Industri Peternakan. 1995. Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian.bibit. Penebar Swadaya. 2. Abbas Siregar Djarijah. Jakarta Undang Santosa.

N. . RL. Macmillan Publishing Co. New York. Uhl.6. Marketing of Agricultural Products. and J. Kohl. 1986. 5 th ed.

Rp.- 2) Pendapatan a. 12.110. 112.Jumlah biaya produksi Rp.8 kg = 7.Analisa Usaha Ternak Sapi Perkiraan analisis budidaya sapi potong kereman setahun di Bangli skala 25 ekor pada tahun 1999 adalah sebagai berikut: 1) Biaya Produksi a.300 kg Berat sapi setelah setahun: (25 x 250 kg) + 7. Pasaran utamanya adalah . restoran. Rp.000.000. 1.37.000.Jumlah biaya produksi Rp. Pakan .c. 410.b.Hijauan: 25 x 35 kg x Rp.Konsentrat: 25 x 2kg x Rp.550 kg Rp. B/C ratio = 1. Penjualan sapi kereman Tambahan >Rp. industri pengolahan. 7.61 Gambaran Peluang Agribisnis Sapi potong mempunyai potensi ekonomi yang tinggi baik sebagai ternak potong maupun ternak bibit. 3.500.-/kg x 13.800.4) Parameter kelayakan usaha a. 12. 42.000. 69. Penjualan kotoran basah: 25 x 365 x 10 kg x Rp.200.b. 48. 75.500.000. perdagangan antar pulau. Retribusi kesehatan ternak: 25 x Rp. 111.000. Tanpa memperhitungkan biaya tenaga internal keuntungan Penggemukan 25 ekor sapi selama setahun.482.Rp. 75.500. Penjualan sapi kereman Tambahan berat badan: 25 x 365 x 0.897. Pembelian 25 ekor bakalan : 25 x 250 kg x Rp.307. hotel.000..50 x 365 hari .000.Rp.205.- 2) Pendapatan a.Jumlah pendapatan Rp.000.000. Kandang Rp. 7.Rp.3) Keuntungan a.000.300 kg = 13.x 365 hari Rp.095.. 8.500.d.750.550 kg Harga jual sapi hidup: Rp. Selama ini sapi potong dapat mempunyai kebutuhan daging untuk lokal seperti rumah tangga. 1. 69..307.

kota-kota besar seperti kota metropolitan Jakarta. 11. Marketing of Agricultural Products. Kohl. Direktorat Bina Produksi Peternaka 4. Penebar Swadaya. and J. RL. Petunjuk Teknis Pemeliharaan Sapi Potong. b) APFINDO (Asosiasi Peternak Feedlot (penggemukan) Indonesia). 5. Mereka ini dapat dikelompokkan lagi ke dalam ova sub segmen yaitu : 1. 1995. 24 Januari 1994. DAFTAR PUSTAKA 1. Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian. Macmillan Publishing Co. 3. Sapi Bali. Uhl. . Di samping itu juga kemungkinan terdapat konsumen manca negara yang selama ini belum terjangkau oleh pemasok dalam negeri. diperkirakan mencapai 98% dari konsumsi total. Kanisius. 1991. 5 th ed. Jakarta. 1996. New York. Konsumen untuk daging di Indonesia dapat digolongkan ke dalam beberapa segmen yaitu : a) Konsumen Akhir Konsumen akhir. Jakarta. Di Indonesia terdapat 3 organisasi yang bertindak seperti pemasok daging yaitu : a) KOPPHI (Koperasi Pemotongan Hewan Indonesia). Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Sapi. Lokakarya Nasional Manajemen Industri Peternakan. 2. Yogyakarta. yang mewakili peternak penggemukan c) ASPIDI (Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia).Program Magister Manajemen UGM. Konsumen ini terutama meliputi: hotel dan restauran dan yang jumlahnya semakin meningkat Adapun mengenai tata niaga daging di negara kita diatur dalam inpres nomor 4 tahun 1985 mengenai kebijakansanakan kelancaran arus barang untuk menunjang kegiatan ekonomi. 1997. Abbas Siregar Djarijah. Yusni Bandini.N. 6. Teuku Nusyirwan Jacoeb dan Sayid Munandar. Usaha Ternak Sapi. karyawan perusahaan dan sebagian pelancong ini porsinya relatif kecil dan tidak signifikan. Konsumen asing Konsumen asing yang mencakup keluarga-keluarga diplomat. yang mewakili pemasok produksi peternakan rakyat. Penebar Swadaya. Konsumen dalam negeri ( Golongan menengah keatas ) Segmen ini merupakan segmen terbesar yang kebutuhan dagingnya kebanyakan dipenuhi dari pasokan dalam negeri yang masih belum memperhatikan kualitas tertentu sebagai persyaratan kesehatan maupun selera. atau disebut konsumen rumah tangga adalah pembeli-pembeli yang membeli untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan individunya. Golongan ini mencakup porsi yang paling besar dalam konsumsi daging. 1986. 2. b) Konsumen Industri Konsumen industri merupakan pembeli-pembeli yang menggunakan daging untuk diolah kembali menjadi produk lain dan dijual lagi guna mendapatkan laba. artinya ekspor belum dilakukan/jika dilakukan porsinya tidak signifikan. Jakarta Undang Santosa. Yogyakarta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful