PROGRAM DIPLOMA 3 TEKNIK SIPIL

2011
STRUKTUR BANGUNAN AIR

MODUL AJAR




Ir . PUDIASTUTI
F A K U L T A S T E K N I K S I P I L D A N P E R E N C A N A A N I T S
2

TUJUAN PEMBELAJARAN

* MAHASISWA MENGENAL DASAR DASAR PENGENDALIAN SUNGAI .

* MAHASISWA MENGENAL BANGUNAN BANGUNAN YANG TERLETAK DI SEPANJANG
SUNGAI .

* MAHASISWA MAMPU MENGHITUNG KAPASITAS BANGUNAN PENGENDALIAN
SUNGAI ( SABO DAM / CHECK DAM ) DAN MENGHITUNG KEBUTUHAN DEMENSI
SERTA STABILITASNYA .


POKOK BAHASAN

MENGENAL DASAR DASAR PENGENDALI SUNGAI :
KARAKTERISTIK SUNGAI , METODE PENGENDALIAN SUNGAI , PERHITUNGAN DEBRIS
BERDASARKAN DEBIT.
PERHITUNGAN KAPASITAS PENGENDALIAN SABO / CHECK DAM :
KAPASITAS PENGENDALI DARI RENCANA INDUK , AS DAM , TINGGI MAIN DAM ,
TAMPUNGAN SEDIMEN DAN EROSI .
MENGHITUNG DEMENSI DAN STABILITAS MAIN DAM , APRON DAN SUB DAM
TUGAS : DESAIN CHECK DAM .



3

PUSTAKA :
1. DR. Ir . SUYONO SOSRODARSONO ; DR . MASATERU TOMINAGA ,
“ PERBAIKAN DAN PENGATURAN SUNGAI “

2. Ir . BAMBANG SUJADI , “ SEDIMEN TRANSPORT “

3. DEPARTEMEN PU TAHUN 1983 , “ SABO DESAIN “

4. DEPARTEMEN PU TAHUN 1986 , “ KRITERIA PERENCANAAN “


PRASYARAT :
1. REKAYASA PONDASI DAN KERJA TANAH .

2. HIDROLIKA TERAPAN.

3. HIDROLOGI TERAPAN .

4. IRIGASI .






4






* BANGUNAN PENGELAK SEMENTARA

* PENURAPAN

* KIST DAM







5

BANGUNAN PENGELAK SEMENTARA .
A. PEKERJAAN DRAINASE :
SISTEM DRAINASE PADA PEKERJAAN TANAH ADALAH PENGATURAN PENGELUARAN AIR
DARI LOKASI PEKERJAAN YANG TERDIRI DARI :
- AIR SUMBER
- AIR GENANGAN
- AIR TANAH
- AIR HUJAN
PEMBUATAN SISTEM DRAINASE YANG SESUAI DENGAN TUJUAN SEBAGAI BERIKUT :
* MENINGKATKAN EFISIENSI PEKERJAAN , MEMPERPENDEK WAKTU
PELAKSANAAN UNTUK MENCAPAI HASIL YANG OPTIMAL .

KONSTRUKSI YANG DIPAKAI :
* SALURAN TERBUKA
* SALURAN TERTUTUP / GORONG GORONG

PEMBUATAN BANGUNAN SUNGAI UNTUK PADA LOKASI PEKERJAAN , MISAL :
* PONDASI PERKUATAN LERENG .
* PONDASI PINTU PEMBUANG.
* SISTEM DRAINASE UNTUK SUATU DAERAH YANG TERTUTUP OLEH KIST DAM
( BENDUNG ELAK SEMENTARA ) DAN DRAINASE UNTUK MENURUNKAN
AIR TANAH MENJADI LEBIH RENDAH .
* MEMBUAT KOLAM DANGKAL SEDIKIT DIBAWAH PERMUKAAN DASAR GALIAN
SEHINGGA AIR REMBESAN / AIR SUMBER MENGALIR MEMASUKI KOLAM DAN
DIKELUARKAN MELALUI POMPA .
6

B. PENURAPAN SEMENTARA .
FUNGSINYA :
* MEMPERTAHANKAN STABILITAS LERENG DI SEKELILING PONDASI YANG SEDANG
DIGALI ( DENGAN SEKAT PANCANG BAJA ).
* SEKAT MENGATASI ALIRAN AIR REMBESAN YANG MEMASUKI DAERAH ALIRAN
PONDASI .
* LEBIH EKONOMIS PAKAI SEKAT PANCANG KAYU APABILA DIGUNAKAN PADA LOKASI
KEDAP AIR DAN TIDAK DIPERLUKAN PENURUNAN MUKA AIR TANAH YANG TERLALU
TINGGI .

TIPE SEKAT PANCANG
1. TIPE DINDING TEGAK 2. TIPE TIANG PANCANG MIRING DIAGONAL






3. TIPE ANGKER TANAH 4. TYPE BALOK PENOPANG







Tanah yang digali
Dinding sekat
Balok penopang
Balok ganjal datar
Dinding sekat
Dinding sekat
Dinding sekat
Tanah yang digali
Tanah yang digali
7

KIST DAM ( BENDUNG ELAK SEMENTARA )

* KIST DAM DARI KARUNG PASIR .






* KIST DAM DAN SEKAT PANCANG LAPIS TUNGGAL















penguat
Karung pasir

Karung pasir
Tanah kohesif
Sekat pancang
kolom
sedimen
sedimen
Sekat pancang
Urugan tanah
Hamparan batu lindung
Sekat pancang
8


* KIST DAM LAPIS GANDA




Muka tanah galian
Muka tanah exsisting
Batang tarik untuk memperkuat
Sekat pancang baja
Di isi dengan tanah
9

BANGUNAN PENGENDALI PASIR / SEDIMEN


- SABO / CHECK DAM




















10

BANGUNAN PENGENDALI PASIR / SEDIMEN

1. SABO DAM : DARI BAHASA JEPANG
ADALAH BANGUNAN MELINTANG SUNGAI YANG BERSIFAT / BERFUNGSI UNTUK
MENAHAN , MENAMPUNG , DAN MENGURANGI KECEPATAN TURUNNYA MATERIAL.

2. CHECK DAM : DARI BAHASA DARATAN EROPA
ADALAH BANGUNAN MELINTANG SUNGAI YANG BERFUNGSI SAMA DENGAN
SABO DAM .

3. KONSOLIDASI DAM
ADALAH BANGUNAN MELINTANG SUNGAI YANG BERFUNGSI UNTUK
MENSTABILKAN BANGUNAN YANG ADA DIATASNYA .

BAGIAN DARI SABO DAM / CHECK DAM

* MAIN DAM : FUNGSI UTAMA ADALAH MENAHAN MATERIAL .

* SUB DAM : FUNGSI UTAMA ADALAH MEMBANTU MENGAMANKAN
MAIN DAM TERHADAP GERUSA YANG TERJADI KARENA LONCATAN AIR.

* APRON : BERFUNGSI UNTUK MENAHAN GERUSAN SERTA MENCEGAH IKUT
MENGALIRNYA BUTIRAN BUTIRAN TANAH HALUS AKIBAT ADANYA
ALIRAN TURBULEN DI HILIR MAIN DAM .
11

















GUNUNG
HULU
TENGAH
HILIR
Daerah produksi Daerah pengendapan
Daerah transportasi
LOKASI SABO DAM DAN CHECK DAM
Tempat pengendapan
Kantong pasir / kerikil
12

















SINGLE DAM
CONTINUES DAM
STEP DAM
KONSOLIDASI DAM
13





LETAK BANGUNAN TERHADAP ALIRAN SUNGAI




















BILA ARAH ALIRAN MELENGKUNG , MAKA L ETAK BANGUNAN
T EGAK LURUS ARAH ALIRAN .


14





















KETERANGAN : 1 . MAIN DAM 6. DRAIN HOLE
2. PELIMPAH 7. DASAR MAIN DAM
3. SAYAP 8. APRON
4. KEMIRINGAN HILIR 9. SUB DAM
5. KEMIRINGAN HULU

4
GAMBAR PENAMPANG SABO DAM / CHECK DAM

1
6
3 2
8
9
7
1
5
15

Perencanaan Check Dam

Perencanaan Main Dam

a) Penentuan lebar dasar peluap Main Dam

Untuk menentukan lebar dasar peluap pada suatu perencanaan sabo dam
dapat digunakan rumus dari Tomoaki Yokota, yaitu :

( ) 2
3
3 2 1
2 3 2
15
2
h B B g C Q + =
Dimana :
Q = debit debris ( m³/ dt );
C = koefisien ( 0,60 – 0,66 );
g = percepatan gravitasi ( 9,8 m/dt );
B
1
= lebar peluap bawah (m);
B
2
= lebar muka air di atas peluap (m)
h
3
= tinggi air di atas peluap (m).

Dari rumus di atas, maka penurunan debit yang akan mengalir di atas
peluap berbentuk trapesium dengan kemiringan 1:1 dengan angka hara C = 0.6,
adalah sebagai berikut :
Q = (1,77B
1
+1,42 h
3
) .h
3
3/2

Dimana :
Q = debit debris 450 (m³/ dt);
B
1
= lebar peluap bawah (m);
h
3
= tinggi air di atas peluap (m).
Kemudian untuk menentukan B
1
dan

h
3
maka dapat dilakukan dengan
cara coba-coba (trial and error)
B
2
= B
1
+ 2h
16

b) Penentuan tinggi air di atas peluap Main Dam

Dengan menggunakan rumus di atas yaitu rumus untuk mencari lebar dasar
peluap, maka dapat pula kita tentukan tinggi air yang berada di atas peluap
(h
3
)

c ) Penentuan tinggi jagaan (free Board)

Untuk penentuan tinggi jagaan (free board) dapat ditentukan berdasarkan
debit banjir rencana yang melimpas, seperti yang telah diuraikan pada tabel
berikut ini:

Penentuan Tinggi Freeboard
Debit Rencana
(Q)
Free Board (w)
(m)
(m³/dt)
Q < 200 0,6
200 < Q < 500 0,8
500 < Q < 2000 1
2000 < Q < 5000 1,2


d ) Penentuan tinggi efektif Main Dam

Untuk tinggi efektif Main Dam didasarkan pada bentuk penampang
sungai. Yaitu dari elevasi tertinggi tebing sungai dengan dikurangi tinggi
jagaan dan tinggi air di atas mercu peluap




17

e ) Volume Tampungan

Volume tampungan dapat dihitung dengan cara sebagai berikut :
V = ½ .B
.
H . L

Dimana :
V = volume tampungan (m³)
B

= lebar rata rata sungai ( m )
H = tinggi efektif Main Dam ( m )
L = panjang tampungan ( m )

f ) Kecepatan air di atas peluap

Kecepatan air diatas peluap dihitung dengan menggunakan rumus sebagai
berikut :

rata rata
Debris
b
Q
q
÷
=
0

0
0
3
v
q
h =
3
0
0
h
q
v =

Dimana :
h
3
= tinggi air di atas mercu peluap Main Dam ( m )
q
0
= debit per meter lebar pada titik jatuhnya terjunan (m³/dt/m’)
v
0
= kecepatan terjunan air pada titik jatuhnya terjunan (m/dt)
Q
debris
= debit debris ( m³/ dt);
b
rata-rata
= lebar rata-rata peluap, yaitu ½. (B
1
+ B
2
) m
18


g ) Penentuan tebal mercu peluap Main Dam
Untuk menentukan tebal mercu peluap Main Dam dapat dihitung dengan
rumus Thiery & Wang sebagai berikut :
b min =
pas
w
f o
h
¸
¸
.
.
3

Dimana :
b min = tebal mercu peluap Main Dam (m)
γw = berat volume air (1,2 t/m³)
γpas = berat volume pasangan (2,4 t/m³)
fo = koefisien geser air dan material (1)
h
3
= tinggi air diatas peluap ( m)
(Sumber: Tomoaki Yokota, Guide line for sabo plan n design of sabo dam, hal
11)
Adapun tebal mercu yang disarankan adalah:
Tebal mercu peluap yang ditinjau dari keadaan material dan keadaan air.
Tebal
mercu
b = 1,5m - 2,5m b = 3m - 4m
Material Pasir dan kerikil / Batuan besar
kerikil dan batuan
Hidrologis Kandungan
sedimen
Debris flow
kecil
sedikit, sampai
Sampai
debris
sedimen yang Flow besar
Banyak
(sumber : perencanaan bangunan pengendali sedimEn, VSTC, Yogyakarta,
1983)
19


h ) Penentuan kedalaman pondasi Main Dam

Untuk menentukan kedalaman pondasi Main Dam, maka untuk
perhitungannya dapat menggunakan persamaan sebagai berikut :

δ = ( )
3
'
.
3
1
4
1
h H + |
.
|

\
|
~

Dimana :
δ = Kedalaman pondasi main dam (m);
H’ = Tinggi efektif main dam (m);
h
3
= Tinggi air diatas mercu peluap ( m);
H = Tinggi main dam (m).

Untuk harga δ dihitung masing-masing untuk
3
1
= n
sampai dengan
4
1
= n

δ1 =
3
1
(H’+ h
3
) δ2 =
4
1
(H’ + h
3
)


δ =
2
2 1
o o +



Sehingga tinggi main dam dapat dihitung sebagai berikut :

H = δ + H’

Dimana :
H = Tinggi main dam (m).
δ = Kedalaman pondasi main dam (m);
H’ = Tinggi efektif main dam ( m);












20

I ) Penentuan kemiringan tubuh Main Dam

Untuk perencanaan kemiringan tubuh Main Dam, dipakai perumusan dari
Tomoaki Yokota.

 Kemiringan tubuh Main Dam bagian hilir (n)

n = Vk .
H g.
2

Vk =
w
w pas
dm f
¸
o ¸ ¸ | cos ) ( . . ÷


Dimana :
n = Kemiringan Main Dam bagian hilir;
Vk = kecepatan kritis teoritis (m/dt);
H = Tinggi Main Dam ( m);
g = Percepatan gravitasi (9,8 m/dt).
β =
457 , 1
/ 8 , 9 . 2 2 dt m
k
g
=
= 13,45 m/dt
k = koefisien tekanan positif dan negatif, dimana berdasarkan kondisi
di Indonesia nilai k = 1,457;
f = Koefisien Hauska (0.3);
dm = Diameter batu yang dianggap merusak bangunan (0,5 m);
γpas = berat jenis material (2,4 t/m³);
γw = berat jenis air + sedimen (1,2 t/m³);
α = sudut yang dibentuk antar garis horizontal dengan garis kemiringan
dasar sungai yang baru ( α = arc tg I
0
)















21

 Kemiringan tubuh Main Dam bagian hulu (m)


( ) ( ) ( ) | |
( ) ( ) ( ) 0 3 4 3 1
2 4 2 1
2 2
2
= + + + + + + ÷
+ + + + + +
n n n
m n n m
| | ¸ | o| o
o| ¸ o | o

dimana :
H
h
3
= o
h
3
= tinggi air pada mercu peluap ( m);
H = tinggi Main Dam ( m);
s w
pas
+
=
¸
¸
¸
γ
pas
= berat volume pasangan (2,2 t/m³);
γ
w+s
= berat volume air + sediment (1,2 t/m³);
H
b
min
= |
b
min
= tebal mercu peluap Main Dam ( m);
H = tinggi Main Dam ( m);
n = kemiringan tubuh Main Dam bagian hilir
m = kemiringan tubuh Main Dam bagian hulu.

Perhitungan :

H
h
3
= o
8 , 1
2 , 1
2 , 2
= = =
+s w
pas
¸
¸
¸
H
b
min
= |
22



j ) Penentuan lubang drainase (drain hole)

Dalam perencanaan Check Dam , direncanakan drain hole berbentuk segi
empat .
Lubang Drainase


Ilustrasi penempatan Drain hole

Perencanaan Apron

- Penentuan tebal Apron

Tebal Apron diperhitungkan dengan mempertimbangkan material yang ada
dalam aliran air dan gaya yang ditimbulkan oleh jatuhnya debris pada lantai di
hilir Main Dam.
Untuk menentukan tebal apron dapat digunakan rumus :

( ) 1 3 6 , 0
3 1
÷ + = h H C t
t H H ÷ =
1

dimana :
t = tebal lantai olakan (m);
C = angka koefisien (0,1 - 0,2)
H = tinggi main dam ( m);
H
1
= tinggi mercu main dam dari muka lantai permukaan batuan (m)
h
3
= tinggi air diatas mercu main dam ( m)
(Sumber:Tomoaki Yokota, Guide line for sabo plan n design of sabo dam, hal
47)
23


Dimana syarat lantai olakan pada saat muka air normal ialah :


t

>

pas
Ux
¸

Ux = (Hx -
L
Lx
E
E
.ΔH)
w
¸





Dimana syarat lantai olakan pada saat muka air banjir ialah


t

>

pas
w
h Ux
¸
¸ ) . (
1
÷

Ux = (Hx -
L
Lx
E
E
.ΔH)
w
¸


Maka :
t >
pas
w
h Ux
¸
¸ ) . (
1
÷







- Panjang Apron

Persamaan yang dapat digunakan untuk merencanakan panjang Apron
adalah sebagai berikut :

sub
b X Lw L + + =




24


 Panjang terjunan air (Lw)

Untuk menghitung panjang terjunan air menggunakan rumus :
2
1
3 1
0
)
2
1
( 2
(
(
(
(
¸
(

¸

+
=
g
h H
V Lw

Dimana :

L
w
= panjang terjunan (m);
V
0
= kecepatan air diatas pelimpah main dam ( m/dt);
q
0
= debit per meter lebar peluap ( m³/dt/m’);
h
3
= tinggi air diatas mercu main dam (m);
H
1
= tinggi mercu main dam dari muka lantai apron atau permukaan
batuan (m);
g = percepatan gravitasi (m/dt
2
);


 Panjang loncatan air (X)

Untuk mencari panjang loncatan air menggunakan rumus :


j
h X . | =

Perhitungan :

) ( 2
1 1 0 3 1 1
K h K h H g V ÷ ÷ + + =














25


Perencanaan Sub Dam

Untuk mencegah bahaya gerusan serta mencegah ikut mengalirnya butiran–
butiran tanah halus, maka perlu dibangun kolam olakan (apron) dan Sub Dam.
Prencanaan Sub Dam dan Apron meliputi :

1. Perencanaan lebar dasar mercu peluap Sub Dam
Aliran yang melalui overflow / peluap Main Dam secara langsung jatuh
bebas kea rah hilir Main Dam, dimana disitu terdapat Apron dan Sub Dam yang
berfungsi untuk menstabilkan aliran. Aliran yang telah distabilkan tersebut
akan melalui peluap Sub Dam. Pada pekerjaan Check Dam ini lebar peluap Sub
Dam diambil sama dengan lebar Apron .

2 Perencanaan tebal mercu peluap Sub Dam

Seperti halnya pada Main Dam, perencanaan tebal mercu peluap pada Sub
Dam, direncanakan sama dengan tebal mercu peluap Main Dam.

3 Perencanaan kemiringan tubuh Sub Dam

- Kemiringan tubuh bagian hilir
Kemiringan tubuh bagian hilir Sub Dam direncanakan sama dengan
kemiringan hilir tubuh Main Dam .

- Kemiringan tubuh bagian hulu
Kemiringan tubuh bagian hilir Sub Dam direncanakan sama dengan
kemiringan hulu tubuh Main Dam .





26

4 Perencanaan letak dan tinggi Sub Dam

 Perencanaan letak Sub Dam

Berdasarkan panjang Apron yang diperoleh, maka Sub Dam terletak di
hilir Main Dam m.

 Analisa gerusan local (Scouring) terhadap Sub Dam.

Kedalaman pondasi Sub Dam akan menentukan keamanan dari
pengaruh adanya Scouring yang akan terjadi, juga memberikan kestabilan
terhadap kedudukan Main Dam. Untuk menentukan kedalaman pondasi
dihitung berdasarkan perumusan Scouring yang akan terjadi.

Rumus Dr. Fushitani :

42 , 0 63 , 1
2
2 , 0
) . 00224 . 0 . (
663 , 0
m
m
D V q
D
T ÷ =

Dimana :
T = kedalaman Scouring (m);
D
m
= diameter rata – rata material (30mm);
V
2
= kecepatan aliran di atas pelimpah Sub Dam (m/dt.)

Berdasarkan rumus diatas , maka besar Scouring ditetapkan sedalam T m
untuk memberi keamanan bagi kedudukan Sub Dam terhadap bahaya
scouring yang akan terjadi .


 Penentuan Tinggi Sub Dam

Tinggi Sub Dam (H
2
) diperoleh melalui persamaan

T t H H + + =
2
"
.
4
1
3
1
2
~ = H H
main dam

Dimana :
H″ = tinggi total sub dam (m);
t = tebal lantai olakan / apron (2m);
T = kedalaman penetrasi (m);
H
2
= tinggi efektif Sub Dam.

27

Penentuan tinggi air pada hilir Sub Dam

Pehitungan untuk menentukan tinggi muka air pada bagian hilir Sub Dam
memperhatikan kemiringan dasar sungai dan debit yang melimpas dari mercu
peluap Sub Dam serta semua faktor-faktor yang mempengaruhi ada tidaknya
loncatan setelah limpasan dari mercu sub Dam. Tentunya perhitungan tersebut
didasarkan pada asumsi bahwa keadaan air banjir dan Check Dam kosong
material.



Kontrol Stabilitas Check Dam

Tinjauan Stabilitas

Mengingat selama dan sesudah Check Dam dibangun akan selalu menahan
gaya-gaya yang bekerja pada konstruksinya, maka perlu untuk memperhitungkan
faktor kestabilan melalui perhitungan stabilitas. Agar perhitungan stabilitas mudah
dipahami, maka dapat dibuat anggapan sebagai berikut :

a) Gaya-gaya yang bekerja ditinjau per satuan meter.
b) Titik guling ditempatkan pada tempat dimana akan terjadi pengulingan di
tempat tersebut, seperti yang ditunjukkan pada gambar, yaitu titik B dan E.
c) Dalam perhitungan ini ditinjau pada keadaan yang memungkinkan terjadinya
keadaan kritis. Untuk itu pada Main Dam ditinjau dalam 4 keadaan, yaitu :
- Kondisi air penuh rata ambang.
- Kondisi air banjir.
- Check Dam terisi air dan material penuh rata ambang.
- Check Dam penuh material rata ambang dan air banjir.






28

Gaya-gaya yang Bekerja

 Gaya Berat / Berat sendiri


G1
G2 G3


Diagram Gaya Berat Sendiri pada Main Dam





 Gaya Akibat Tekanan Hidrostatis

a. Pada keadaan air rata ambang

W1
W2
Main Dam


Diagram Gaya Akibat Tekanan Hidrostatis pada Main Dam Saat Muka Air
Normal .



29

b. Pada keadaan air banjir
W9
W4
W1
W3
W5
W6
W2
W7
W8
Main Dam

Diagram Gaya Akibat Tekanan Hidrostatis Pada Main Dam Pada Saat Muka
Air Banjir.





 Gaya Akibat Tekanan Sedimen dan Tekanan Tanah


Ps1
Ps2
Ps3
Pt1
Ps2
Pt3
Main Dam



Diagram Gaya Akibat Tekanan Sedimen dan Tekanan Tanah pada Main Dam
Saat Muka Air Normal dan Banjir.



30

 Gaya Tekanan Keatas

A
C B
UB
U1
UC
Main Dam


Diagram Gaya Akibat Uplift pada Main Dam.


Syarat Kestabilan


- Tahan terhadap gaya guling

- Tahan terhadap gaya geser

- Tahan terhadap gaya turun

- Tahan terhadap gaya retak














31

Perhitungan Stabilitas Check Dam

γ
sed
= 1,9 ton/m
3

γ
tnh
= 1,712 ton/m
3


γ
pas
= 2,2 ton/m
3
γ
w
= 1,2 ton/m
3

(Sumber: Data Perencanaan Proyek )

Untuk Ka pada air = 1


Dimana Φ
air
= 45°
Φ
sed
= 35° ≈ K
a
= tg
2
(45 -
2
|
)
= tg
2
(45 -
2
35
)
= 0,271
Φ
tnh
= 30° ≈ K
a
= tg
2
(45 -
2
|
)
= tg
2
(45 -
2
30
)
= 0,333

Dengan Φ
tnh
= 30° Maka didapatkan:
Nc = 35
Nq = 22
N¸ = 20
(Sumber:Ir. Sunggono kh, Mekanika Tanah, hal 214)
Sehingga :
Qult = 1,3.C.Nc + q.Nq + 0,4.γt.B.Nγ
q = γ.(Df – D) + γ’.D
q = 1,712t/m
2
. (3m–2m) + 0,725t/m
2
. 2m
q = 3,162 t/m
2


Dimana :
C = kohesi (0,1);
Df = kedalaman pondasi (2,5 m);
D = kedalaman muka air tanah sampai dengan dasar pondasi ( 2,5m – 1m =
1,5m);
γ’ = γsat – γw = 1,725t/m
2
– 1t/m
2
= 0,725 t/m
2
.
32


Maka :
Qult = 1,3.0,1.35+3,162.22+0,4.0,712ton/m
2
. 10,15m.20
Qult = 131,93 ton/m
3

SF
Qult
Qijin =


Dimana :
FK = Safety Factor (Faktor Feamanan) 1,5 s/d 2


3
3
/ 96 , 65
2
ton/m 93 , 131
m ton Qijin = =


 Perhitungan stabilitas Main Dam pada keadaan muka air normal.

- Tekanan Uplift
U
x
= (H
x
-
L
Lx
E
E
. ΔH) γ
w ;

Dimana :
U
x
= tekanan Up lift pada titik yang ditinjau (ton);
H
x
= jarak antara muka air up stream dan titik yang ditinjau (m);
¿L
x
= panjang garis Creep Line sampai titik yang ditinjau (m);
¿L = panjang garis Creep Line (m);
AH = beda tinggi elevasi garis energi pada muka air up stream pada Main Dam
dan muka air down stream pada Sub Dam (m);
γ
w
= berat volume air (1 t/m
3
).



33

No. Uraian Notasi Perhitungan (P) lengan Momen m guling m tahan
(ton) (m) (ton.m)
1 Berat G1(↓)
Sendiri G2(↓)
G3(↓)
2 Tekanan W1(↓)
Hidrostatis W2(→)
W3(→)
W4(↓)
W5(↓)
W6(↓)
W7(↓)
W8(←)
W9(←)
3 Tekanan Ps1(↓)
Sedimen Ps2(→)
4 Tekanan Pt1(↓)
Tanah Pt2(←)
5 Up Lift U1(↑)
U2(↑)
6 Gempa I1(→)
I2(→)
I3(→)
ΣV
ΣH
Perhitungan Gaya dan Momen Sub Dam (Muka Air Banjir)











a) Kestabilan terhadap Guling
Syarat :
guling
tahan
M
M
E
E
≥ 1,5 s/d 2






b) Kestabilan terhadap Geser

Syarat :
H
V
E
E
. f ≥ 1,3
f = angka keamanan (2 s/d 3)
34






c) Kestabilan Terhadap Turun
Syarat :
'
t
o =
' 1 .
6
1
) .
2
1
( .
' 1 .
2
m B
x B V y H
m B
V
÷ E ÷ E
±
E

t
o

Dari rumus ini didapat б
t1

t
o
бt
2


>
t
o

Tt1
Tt2 +


Diagram Gaya Tegangan Tanah 1 dan Tegangan Tanah 2.
Bangunan stabil tidak mengalami penurunan

d) Kestabilan Terhadap Retak
- Secara grafis :
Syarat : arah resultan semua gaya horisontal dan gaya vertikal harus masuk
bidang KERN

Letak bidang Kern dapat dicari dengan penurunan rumus dari tegangan tanah,
yaitu :

m' 1 . B .
6
1
V.e
B.1m'
V

2
± = o

m' 1 . B .
6
1
V.e
B.1m'
V
0
2
± =

B.1m'
V
m' 1 . B .
6
1
V.e
2
= ±

1
1
B .
6
1
e
= ±
B .
6
1
e ± =
35

-1/6 B 1/6 B
e e
CL
1
B
1
B
1
B


Bidang KERN Tampak Samping.

1
3
B
1
3
B
1
3
B
¿H
¿V
o
R



Diagram Gaya Arah Resultan Pada Bidang KERN Tampak Samping.

3 3 3
1
3 H
1
3 H
1
3 H
R
R
1
3
H
4,71 m

Letak Bidang KERN dan Resultan Ditinjau Dari Atas Bangunan dan Detail Bidang KERN.


R =
2 2
H V E + E

tg α =
V
H
E
E







36

- Secara analisis :
tg α =
V
H
E
E

tg α =
y
x a ÷


y
x a ÷
=
V
H
E
E

ΣV(α - x ) = ΣH. y
ΣV. α – ΣV. x = ΣH. y
α =
V
x V y H
E
E + E . .
=


syarat :


3
1
B < α <
3
2
B , dimana B = lebar pondasi MAIN DAM


Bangunan stabil, tidak mengalami keretakan.

 Perhitungan stabilitas Main Dam pada keadaan muka air banjir.

- Tekanan Uplift
U
x
= (H
x
-
L
Lx
E
E
. ΔH) γ
w ;

dimana :
U
x
= tekanan Up lift pada titik yang ditinjau (ton);
H
x
= jarak antara muka air up stream dan titik yang ditinjau (m);
¿L
x
= panjang garis Creep Line sampai titik yang ditinjau (m);
¿L = panjang garis Creep Line (m);
AH = beda tinggi elevasi garis energi pada muka air up stream pada Main Dam dan
muka air down stream pada Sub Dam (m);
γ
w
= berat volume air (1t/m
3
).








37

No. Uraian Notasi Perhitungan (P) lengan Momen m guling m tahan
(ton) (m) (ton.m)
1 Berat G1(↓)
Sendiri G2(↓)
G3(↓)
2 Tekanan W1(↓)
Hidrostatis W2(↓)
W3(↓)
W4(↓)
W5(→)
W6(→)
W7(↓)
W8(↓)
W9(←)
3 Tekanan Ps1(↓)
Sedimen Ps2(↓)
Ps3(→)
Ps4(→)
4 Tekanan Pt1(↓)
Tanah Pt2(→)
5 Up Lift U1(↑)
U2(↑)
6 Gempa I1
I2
I3
ΣV
Perhitungan Gaya dan Momen Main Dam (Muka Air Banjir)




a) Kestabilan terhadap Guling

Syarat :
guling
tahan
M
M
E
E
≥ 1,5 s/d 2

Bangunan stabil tidak mengguling dan ekonomis.

b) Kestabilan terhadap Geser

Syarat :
H
V
E
E
. f ≥ 1,3

f = angka keamanan (2 s/d 3)


Bangunan stabil tidak menggeser
38


c) Kestabilan Terhadap Turun
Syarat :
'
t
o =
' 1 .
6
1
) .
2
1
( .
' 1 .
2
m B
x B V y H
m B
V
÷ E ÷ E
±
E

t
o

Dari rumus ini didapat б
t1

t
o
бt
2


>
t
o




Tt1
Tt2 +

Bangunan stabil, tidak mengalami penurunan.


d) Kestabilan Terhadap Retak
- Secara grafis :


1
3
B
1
3
B
1
3
B
¿H
¿V
o
R



Diagram Gaya Arah Resultan Pada Bidang KERN Tampak Samping.


39

1
3 B
1
3 B
1
3 B
1
3 H
1
3 H
1
3 H
R
1
3
H
R
4,34

Letak Bidang KERN dan Resultan Ditinjau Dari Atas Bangunan dan Detail Bidang KERN.


R =
2 2
H V E + E


tg α =
V
H
E
E


- Secara analisis :
tg α =
V
H
E
E

tg α =
y
x a ÷


y
x a ÷
=
V
H
E
E

ΣV(α - x ) = ΣH. y
ΣV. α – ΣV. x = ΣH. y
α =
V
x V y H
E
E + E . .



syarat :

3
1
B < α <
3
2
B , dimana B = lebar pondasi MAIN DAM


Bangunan stabil, tidak mengalami keretakan.











40




 Perhitungan stabilitas Sub Dam pada keadaan muka air normal.


No. Uraian Notasi Perhitungan (P) lengan Momen m guling m tahan
(ton) (m) (ton m)
1 Berat G1(↓)
Sendiri G2(↓)
G3(↓)
2 Tekanan W1(↓)
Hidrostatis W2(→)
3 Tekanan Ps1(↓)
Ps2(→)
4 Tekanan Pt1(↓)
Tanah Pt2(←)
5 Up Lift U1(↑)
U2(↑)
6 Gempa I1(→)
I2(→)
I3(→)
ΣV
Perhitungan Gaya dan Momen Sub Dam (Muka Air Normal)

a) Kestabilan terhadap Guling

Syarat :
guling
tahan
M
M
E
E
≥ 1,5 s/d 2


Bangunan stabil tidak mengguling

b) Kestabilan terhadap Geser

Syarat :
H
V
E
E
. f ≥ 1,3

Dimana f = angka keamanan (2 s/d 3)


Bangunan stabil tidak menggeser







41



c) Kestabilan Terhadap Turun
Syarat :
'
t
o =
' 1 .
6
1
) .
2
1
( .
' 1 .
2
m B
x B V y H
m B
V
÷ E ÷ E
±
E

t
o


Dari rumus ini didapat б
t1

t
o
бt
2


>
t
o



Tt1
Tt2 +

Bangunan stabil, tidak mengalami penurunan.

d) Kestabilan Terhadap Retak
- Secara grafis :
1
3
B
1
3
B
1
3
B
¿H
¿V
o



Diagram Gaya Arah Resultan Pada Bidang KERN Tampak Samping.


42

1
3 H
1
3 H
R
R
1
3
H
1
3 B
1
3 B
1
3 B
1
3 H
3,01 m
Gambar 4.14
Letak Bidang KERN dan Resultan Ditinjau Dari Atas Bangunan dan Detail Bidang KERN.

R =
2 2
H V E + E

tg α =
V
H
E
E

- Secara analisis :
tg α =
V
H
E
E

tg α =
y
x a ÷


y
x a ÷
=
V
H
E
E


ΣV(α - x ) = ΣH. y
ΣV. α – ΣV. x = ΣH. y
α =
V
x V y H
E
E + E . .


syarat :

3
1
B < α <
3
2
B , dimana B = lebar pondasi SUB DAM

Bangunan stabil, tidak mengalami keretakan.















43


 Perhitungan stabilitas Sub Dam pada keadaan muka air banjir.


No. Uraian Notasi Perhitungan (P) lengan Momen m guling m tahan
(ton) (m) (ton.m)
1 Berat G1(↓)
Sendiri G2(↓)
G3(↓)
2 Tekanan W1(↓)
Hidrostatis W2(→)
W3(→)
W4(↓)
W5(↓)
W6(↓)
W7(↓)
W8(←)
W9(←)
3 Tekanan Ps1(↓)
Sedimen Ps2(→)
4 Tekanan Pt1(↓)
Tanah Pt2(←)
5 Up Lift U1(↑)
U2(↑)
6 Gempa I1(→)
I2(→)
I3(→)
ΣV
ΣH
Perhitungan Gaya dan Momen Sub Dam (Muka Air Banjir)


a) Kestabilan terhadap Guling

Syarat :
guling
tahan
M
M
E
E
≥ 1,5 s/d 2

Bangunan stabil, tidak mengguling


b) Kestabilan terhadap Geser

Syarat :
H
V
E
E
. f ≥ 1,3

Dimana f = angka keamanan (2 s/d 3)


Bangunan stabil, tidak menggeser
44




c) Kestabilan Terhadap Turun
Syarat :
'
t
o =
' 1 .
6
1
) .
2
1
( .
' 1 .
2
m B
x B V y H
m B
V
÷ E ÷ E
±
E

t
o

Dari rumus ini didapat б
t1

t
o
бt
2


>
t
o





Tt1
Tt2 +

Bangunan stabil, tidak mengalami penurunan.

d) Kestabilan Terhadap Retak
- Secara grafis :
1
3
B
1
3
B
1
3
B
¿H
¿V R


Diagram Gaya Arah Resultan Pada Bidang KERN Tampak Samping.


1
3 B
1
3 B
1
3 B
1
3 H
1
3 H
1
3 H
1
3
H
R
R 2,403 m

45

Letak Bidang KERN dan Resultan Ditinjau Dari Atas Bangunan dan Detail Bidang KERN.


R =
2 2
H V E + E

tg α =
V
H
E
E

- Secara analisis :

tg α =
V
H
E
E

tg α =
y
x a ÷


y
x a ÷
=
V
H
E
E

ΣV(α - x ) = ΣH. y
ΣV. α – ΣV. x = ΣH. y

α =
V
x V y H
E
E + E . .


syarat :


3
1
B < α <
3
2
B , dimana B = lebar pondasi SUB DAM


Bangunan stabil, tidak mengalami keretakan.




46

















47

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful