P. 1
Proposal Puisi

Proposal Puisi

|Views: 603|Likes:
Published by Yuyun Mailufa

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Yuyun Mailufa on Jul 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/24/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Pembelajaran puisi yang diberikan kepada siswa sekolah dasar berbentuk prosa, puisi, irama. Pelaksanaan pembelajaran umumnya hanya pada teori-teori saja, belum memenuhi tujuan pengajaran puisi yang meliputi teori dan praktek. Salah satu alasan yang menjadi penyebab pembelajaran puisi tidak optimal karena kurangnya alokasi waktu. Selain alasan di atas, ada juga guru bahasa Indonesia yang kurang meminati karya puisi khususnya puisi, sehingga pembelajaran puisi hanya diberikan teorinya saja. Pembelajaran puisi dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik

mengapresiasikan puisi, baik itu prosa, puisi, maupun irama. Pembelajaran puisi bukan hanya proses penguasaan teori puisi atau sejarah puisi. Pembelajaran puisi mencakup dua segi yaitu: (1) peningkatan kemampuan menikmati, menghayati, dan memahami karya puisi, (2) peningkatan keberanian dan keterampilan dalam menuangkan gagasan, pengalaman, dan perasaan dalam berbagai bentuk karya puisi serta membahas secara lisan atau tulisan terhadap karya puisi. Mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia adalah satu diantara banyak mata pelajaran yang dapat digunakan untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa Indonesia. Mengajarkan mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia pada prinsipnya adalah menanamkan kemampuan dan keterampilan dalam empat aspek kebahasaan yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Pengajaran bahasa Indonesia di sekolah mempunyai tujuan akhir, yakni agar siswa terampil berbicara, menyimak, dan membaca dan menulis. Saat ini orang berpuisi untuk mengekspresikan perasaannya, terutama mengenai keadaan sekarang dam keadaan yang sedang terjadi sekarang ini. Pemahanam puisi tidak mudah. Sumardjono (1984:72) mengemukakan membaca puisi lebih sulit daripada membaca karya-karya fiksi lain. Kesulitan itu disebabkan oleh cara dan bahasa yang digunakan dalam puisi berbeda dengan karya-

karya fiksi yang lain. Sehubungan dengan hal tersebut, maka peneliti mengambil masalah tersebut di atas guna melakukan penelitian mengenai Peningkatan kemampuan siswa kelas VI SDN Grogol Kecamatan Tulangan Kabupaten Sidoarjo dalam membaca puisi anak dengan metode pemberian tugas.

1.2 Rumusan Masalah Agar rumusan penelitian ini lebih terarah, maka masalah yang ada perlu dirumuskan. Rumusan ini penting karena nantinya akan menjadi panutan dan langkah-langkah selanjutnya. Bertitik tolak dari judul dan latar belakang masalah, maka dapat dikemukakan perumusan masalah sebagai berikut Adakah peningkatan kemampuan siswa kelas VI SDN Grogol Kecamatan Tulangan Kabupaten Sidoarjo dalam membaca puisi anak dengan metode pemberian tugas.

1.3 Tujuan Penelitian Setiap kegiatan yang dilakukan manusia dengan kesadaran hati mempunyai tujuan tertentu. Apalagi suatu penelitian yang hasilnya dapat memberikan sumbangan dalam meningkatkan kualitas pendidikan khususnya, serta memperkaya ilmu pengetahuan pada umumnya di samping itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa kelas VI SDN Grogol Kecamatan Tulangan Kabupaten Sidoarjo dalam membaca puisi anak dengan metode pemberian tugas”.

1.4 Manfaat Penelitian Pelatihan kependidikan sangat besar manfaatnya bagi pengembangan sistem pendidikan maupun untuk kepentingan praktis dalam penyelenggaraan pendidikan. Dengan penelitian diharapkan dapat mengetahui hal-hal atau faktor-faktor yang menghambat maupun yang menunjang pengembangan pendidikan. Hasil penelitian ini sangat penting bagi berbagai pihak antara lain :

1.4.1 Bagi Guru (a) Dengan penelitian ini, penulis berharap dapat memberikan informasi atau masukan pengetahuan khususnya bidang puisi. (b) Siswa dapat lebih memahami atau mengembangkan gagasan atau ide-ide dalam membaca puisi. 1.4.2 Bagi Peneliti (aa Dapat dijadikan suatu masukan atau informasi emiris yang dapat memperkaya teori

mengenai puisi. (aa Sebagai dasar untuk penelitian serupa dimasa yang akan datang.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Puisi Sampai sekarang orang tidak dapat memberikan definisi setepatnya apakah puisi itu, namun untuk memahaminya perlu diketahui ancar-ancar sekitar pengertian puisi. Secara intuitif orang dapat mengerti apakah puisi berdasarkan konvensi wujud puisi, namun sepanjang sejarahnya wujud puisi selalu berubah seperti yang dikemukakan oleh Rifferre dalam bukunya “Puisi Pradopo (2000:72) menyatakan bahwa puisi selalu berubah-ubah dengan evolusi selera dan perubahan konsep estetiknya. Sumardjo (1984:72) mengemukakan bahwa puisi adalah bentuk pengucapan sastra bahasa yang istimewa, bukan bahasa biasa. Prinsip puisi adalah berkata sedikit mungkin, tetapi mempunyai arti sebanyak mungkin. Puisi adalah keajaiban kata-kata dan bahasa. Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan ada tiga unsur ynag pokok; Pertama, hal yang meliputi pemikiran, ide, atau emosi. Kedua, bentuknya; dan yang ketiga adalah kesannya. Semuanya itu terungkap dengan media bahasa.

2.2 Macam-macam Puisi 2.2.1 Puisi Lama Puisi lama merupakan cermin masyarakat lama. Karena masyarakat lama atau masyarakat masa lampau itu bersifat koleletif dan cenderung statis, maka sifat yang demikian itu juga tercermin dalam karya sastranya khususnya puisi. Sifat kolektivitas menimbulkan pandangan kolektivisme, segala sesuatu merupakan karya bersama dan milik bersama. Demikian pula ukuran baik atau buruk mengenai suatu karya yang dianggap baik adalah yang menurut anggapan secara kolektif baik, jadi kalau ada suatu karya yang tidak mengenai aturan yang telah dianggap baik, maka karya tersebut dianggap karya yang tidak baik. Macam-macam puisi yang termasuk dalam puisi lama antara lain sebagai berikut. (a) Mantra

(b) Pantun Menurut isinya pantun dibedakan atas: (i) Pantun anak-anak, biasanya pantun ini berisi permainan. (ii) Pantun muda-mudi, biasanya berisi percintaan. (iii)Pantun orang tua, biasanya berisi nasihat atau petuah. (iv)Pantun jenaka, biasanya berisi sindiran sebagai bahan kelakar. (v) Pantun teka-teki. Sedangkan menurut bentuknya atau susunannya pantun terbagi atas: (i) Pantun Biasa. (ii) Pantun Berkait. (iii)Pantun Kila. (c) Talibun (d) Gurindam (e) Syair Menurut isinya syair terbagi dalam: (i) Syair yang berisi dongeng. (ii) Syair yang berisi kiasan atau sindiran. (iii) Syair yang berisi cerita atau hikayat. (iv) Syair yang berisi cerita kejadian. (v). Syair yang berisi ajaran budi pekerti.

2.3 Puisi Baru Puisi baru ini mulai populer pada tahun 30-an yakni masa Pujangga Baru. Hal yang demikian

dapat kita mengerti pada masa itu tentu sudah banyak orang yang pandai membaca dan menulis bahkan belajar ilmu pengetahuan sampai tingkat tinggi.Macam-macam puisi yang termasuk dalam puisi baru antara lain sebagai berikut: (a) Distikon (b) Tersina (c) Kuatren (d) Kuint (e) Sekstet (f) Septime (g) Stanza (h) Soneta. Soneta yang masuk ke dalam kesusastraan Indonesia umumnya soneta dari sastra Belanda dan Inggris.

2.4 Puisi Modern Puisi modern adalah bentuk puisi yang benar-benar bebas. Bebas dalam bentuk maupun isi. Jenis puisi ini tidak terikat lagi oleh aturan jumlah baris, rima, atau ikatan lain yang biasa dikenakan pada puisi lama maupun puisi baru. Dengan kebebasannya penyair dapat mengungkapkan rasa, hati dan pikirannya secara total. Macam-macam puisi modern yaitu: (a) Balada (b) Romance (c) Elegi (d) Himne (Gita Puja) (e) Ode (f) Satire

2.5 Unsur-unsur Puisi 2.5.1 Unsur Intrinsik Di depan sudah dikatakan bahwa puisi adalah karangan yang singkat dan padat dan pekat. Agar segala isi hati dan pikiran serta perasaan penyair tertuang secara penuh dengan wujud yang demikian itu, maka harus memanfaatkan daya dan kemampuan bahasa semaksimal mungkin. Dengan sifat puisi yang demikian itu sudah barang tentu unsur intrinsik yang membentuknyapun akan berbeda dengan unsur intrinsik yang membentuk karya sastra prosa. Unsur intrinsik tersebut adalah tema, amanat, musikalitas, korespondensi, diksi, simbolisasi, dan gaya bahasa. 2.5.2 Unsur Ekstrinsik Unsur ekstrinsik adalah unsur yang berada di luar tubuh karya sastra itu sendiri dan ikut mempengaruhi penciptaan karya sastra. Unsur-unsur tersebut meliputi latar belakang kehidupan pengarang, keyakinan dan pandangan hidup pengarang, adat istiadat yang berlaku saat itu, situasi politik, persoalan sejarah, ekonomi, pengetahuan agama dan lain-lain.

2.6 Pembacaan Puisi 2.6.1 Vokal dan Pengucapan (a) Kejelasan Artikulasi Yang dimaksud artikulasi adalah perubahan ringga dan ruang dalam saluran suara untuk menghasilkan suara bunyi bahasa. Sedangkan artikulator adalah bagian alat ucap yang dapat bergerak, misalnya bagian-bagian lidah dan bibir bawah. (b) Kemerduan Setiap pembaca puisi seyogyanya berusaha agar suara terdengar merdu. Suara yang merdu akan menggelitik sukma pendengar sehingga memantulkan rasa sejuk, damai, dan terpesona. 2.6.2 Gerak dan Penampilan (a) Gerak dan Mimik

Ada tiga pendapat tentang perlu tidaknya gerakan dalam membaca puisi. Pertama, yang mengatakan tidak penting. Kedua, yang mengatakan gerak itu penting. Ketiga, yang mengatakan bahwa gerak dalam membacakan puisi kadang diperlukan dan kadang tidak. Kalau perlu bergerak bergeraklah dengan wajar. (b) Pengembangan dan Pembinaan Klimaks Yang dimaksud dengan pengembangan adalah usaha untuk menjadikan pembacaan puisi semakin menarik. Pengembangan menjadikan pembacaan tidak datar. Sedangkan pembinaan klimaks maksudnya usaha untuk menahan agar tahap-tahap pengembangan berbeda intensitasnya. (c) Keserasian gerak dengan ucapan Pengucapan dan gerak adalah dua hal yang saling mendukung. Ucapan yang mantap dibantu dengan gerak yang tepat akan memberikan tekanan dan penonjolan. Intensitas ucapan akan semakin baik apabila diiringi dengan gerakan yang sesuai dengan maksud ucapan tersebut. Hanya saja yang perlu diperhatikan ialah agar gerak yang dilakukan tidak dibuat-buat tetapi harus wajar dan spontan. Artinya, gerak yang dilakukan tidak melebihi dan mengurangi intensitas ucapan. 2.6.3 Komunikatif Membaca puisi bertujuan agar penonton dapat menangkap makna puisi dan menikmatinya maka seorang pembaca harus mampu berkomunikasi dengan pendengar. Akan terlihat aneh apabila seorang pembaca puisi sibuk sendiri sementara ia ditonton. Oleh sebab itu ia harus mengadakan kontak dengan penonton. Mengadakan kontak dengan penonton dapat dilakukan dengan sekali-kali melihat kepada penonton. Jangan sibuk membaca saja, walaupun namanya baca puisi. Maka untuk itu sebaiknya pembaca sebelum tampil telah membaca berulang-ulang dan kalau perlu menghafal puisi yang akan dibawakannya. 2.6.4 Intonasi

Intonasi adalah lagu yang menyertai percakapan. Setiap percakapan selalu disertai lagu yang tinggi atau rendah, yang keras atau yang lambat, yang cepat atau yang lambat, dan disertai perhentianperhentian. Lagu yang menyertai percakapan itulah yang disebut intonasi. Sedangkan intonasi meliputi (Tjiptadi dan Nugroho, 1983:16) (aa Tekanan dinamik, yaitu tekanan keras dan lambat. Tekanan dinamik tersebut tidak

berfungsi membedakan arti, melainkan hanya berfungsi pementing. Pada kata yang dipentingkan akan diberikan tekanan yang kuat. (aa Nada, yaitu tinggi rendahnya suara. Bila dalam keadaan sedih orang akan menggunakan

nada rendah, sebaliknya dalam suasana riang sering menggunakan nada tinggi. Sementara itu dari anda dapat kita ketahui bahwa orang tersebut bermaksud memberitahu, bertanya atau menyuruh. (aa Tempo, yaitu cepat lambat suara dalam percakapan. Tempo ini pun digunakan sesuai

susunannya. Orang yang riang selain berbicara dengan nada tinggi, tekanan keras, juga disertai tempo percakapan yang cepat. Sedangkan bila suasana sedih hanya menggunakan nada rendah, tekanan dinamik lembut dan tempo yang lambat. (aa Perhentian dibagi menjadi dua yaitu perhentian antara dan perhentian akhir.

2.7 Metode Pemberian Tugas Bahwa kegiatan interaksi belajar mengajar harus selalu ditingkatkan, dalam usaha meningkatkan mutu, guru perlu memberikan tugas-tugas. Penyelesaian tugas ini tidak terkait dengan tepat, bisa di kelas, bisa di laboratorium, bisa juga di perpustakaan ataupun di rumah. Tugas dapat diberikan dalam bentuk daftar sejumlah pertanyaan mengenai mata pelajaran tertentu, atau satu perintah yang harus dibahas dengan diskusi atau dicari uraiannya pada buku pelajaran. Tugas dalam artian assesment atau recitation dapat diartikan sebagai suatu pekerjaan yang harus dilakukan oleh peserta didik, yang diberikan oleh pengajarnya untuk mencapai tujuan pengajaran. Hasil tugas tersebut dipertanggungjawabkan kepada pengajar, penyelesaian tugas ini tidak terikat dengan tempat, bisa di kelas, di perpustakaan ataupun di rumah. Sedangkan menurut

Djamarah dan Zain, (2002: 96) memberikan pendapat tentang metode pemberian tugas adalah metode penyajian bahan dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar, masalah tugas yang dilaksanakan oleh siswa dapat dilakukan didalam kelas, di halaman sekolah, di laboratorium, di perpustakaan, di bengkel, di rumah atau dimana saja asalkan tugas itu dapat dikerjakan. Pemberian tugas dapat diamati sebagai bentuk penilaian (formatif) hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Suryabrata, (1987: 317-318) bahwa terdapat banyak cara penilaian ada yang dengan jalan testing, ada yang dengan jalan melakukan sesuatu tugas tertentu dan lain-lain. Berdasarkan beberapa pemikiran di atas, pemberian tugas individu akan memberikan pengaruh baik pada performance tugasnya maupun didalam hasil belajar, yang perlu diperhatikan dalam pemberian tugas individual ini adalah seorang guru hendaknya merumuskan tugas-tugas dengan jelas dan mudah dimengerti sehingga mudah dipahami siswa, sehingga siswa melakukan dengan tanggung jawab. Begitu juga tugas yang diberikan cukup jelas sehingga siswa tidak bertanya-tanya lagi apa yang harus dikerjakan. Setelah siswa memahami tujuan dari makna tugas, maka mereka melaksanakan tugas sesuai dengan tujuan yang digariskan oleh guru. Dalam proses ini guru perlu mengontrol, pelaksanaan tugas itu dikerjakan dengan baik, apakah dikerjakan oleh siswa sendiri, tidak dikerjakan oleh orang lain, maka perlu diawasi dan diteliti. Siswa yang telah melaksanakan/mempelajari tugas, maka membuat laporan yang telah disesuaikan dengan tujuan dan dievaluasi agar dapat mengetahui gambaran yang obyektif mengenai usaha siswa dalam melaksanakan tugas. Evaluasi ini penting karena dapat menimbulkan semangat kerja yang lebih baik dan meningkatkan hasrat belajar. 2.8 Hipotesis Hipotesis secara etimologi adalah perkataan yang berasal dari dua kata “hypo” yang artinya kurang dari dan “thesa” yang artinya mendapat atau teori. Pengujian hipotesis adalah merupakan jawaban sementara terhadap masalah yang dihadapi. Pada uraian ini penulis akan mengajukan pertanyaan sementara yang masih lemah kebenarannya dan

masih perlu dibuktikan kebenarannya melalui pengujian berikutnya. Berdasarkan hal tersebut, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: ada peningkatan kemampuan siswa kelas VI SDN Grogol Kecamatan Tulangan Kabupaten Sidoarjo dalam membaca puisi anak dengan metode pemberian tugas”.

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian Penelitian ini meneliti tentang penerapan pembelajaran dengan metode pemberian tugas

untuk meningkatkan kemampuan membaca puisi siswa kelas VI SDN Grogol

Kecamatan

Tulangan Kabupaten Sidoarjo . Penelitian yang dilakukan termasuk jenis Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Menurut Prabowo (2001) dalam Jatmiko, penelitian tindakan kelas merupakan suatu penelitian yang dilakukan secara kolektif oleh suatu kelompok sosial (termasuk juga pendidikan) yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas kerja mereka serta mengatasi berbagai permasalahan dalam kelompok tersebut (Jatmiko, 2005 : 3) Tahap-tahap Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang dikembangkan oleh Lewin dalam Jatmiko, Budi yaitu : 1. Planning (Rencana) 2. Action (Tindakan) 3. Observation (Pengamatan) 4. Reflection (Refleksi)

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian Pelaksanaan penelitian ini adalah pada semester II yakni pada bulan Januari s.d Maret 2008. Tempat pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini adalah di SDN Grogol Kecamatan Tulangan Kabupaten Sidoarjo .

3.3 Subyek Penelitian Adapun subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VI SDN Grogol Kecamatan Tulangan Kabupaten Sidoarjo Tahun Pelajaran 2007/2008, yakni 30 siswa. 3.4 Teknik Pengumpulan Data Dalam suatu penelitian selalu terjadi proses pengumpulan data, pengumpulan data tersebut akan menggunakan satu atau beberapa teknik. Jenis teknik yang dipilih dan digunakan dalam pengumpulan data harus sesuai dengan karakteristik penelitian yang dilakukan. Data penelitian ini dikumpulkan melalui langkah-langkah sebagai berikut.

aa

Mempersiapkan kelas dan alat-alat seperti tape recorder dengan pita rekaman

suara seseorang, dan dua buah buku. aa aa Peneliti membagikan buku yang berisi puisi. Memutarkan pita kaset dan mendengarkan pembacaan sebuah puisi.

3.5 Metode Analisis Data Metode analisis data adalah cara-cara yang digunakan untuk menganalisis data yang terkumpul atau yang diperoleh dari penelitian. Setelah memperoleh data yang diharapkan, langkah selanjutnya adalah menganalisis data. Yang dimaksud dengan analisis data ialah carayang digunakan memeriksa data yang diperoleh dari penelitian untuk mengetahui kemampuan membaca puisi.Untuk menganalisis data-data dalam suatu penelitian diperlukan teknik yang tepat dan sesuai dengan penelitian yang dilakukan sehingga hasilnya dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Untuk menentukan nilai rata-rata pada variabel (x) yaitu Kemampuan membaca puisi, digunakan rumus sebagai berikut : MX = ΣFx n Keterangan : ΣFx = Jumlah frekuensi nilai pada variabel X n = Jumlah sampel/jumlah siswa

3.8 Kategori Penelitian Setelah diperoleh nilai rata-rata dengan rumus di atas, kemudian dikonfersikan dengan kriteria atau kategori nilai yang telah ditentukan menggunakan patokan seperti yang dilakukan oleh Purwanto : 76,00 s/d 100 Kriteria Baik Sekali

66,00 s/d 75,99 55,00 s/d 65,99 40,00 s/d 55,99 0 s/d 39,99

Kriteria Baik Kriteria Cukup Kriteria Kurang Kriteria Kurang Sekali

DAFTAR PUSTAKA
Arikunta, Suharsimi. 1989. Prosedur Penelitian. Jakarta : Bina Aksara Atmazaki. 1990. Pembacaan Karya Susastra Sebagai Suatu Seni Pertunjukan. Padang : Angkasa Raya Badudu, W.J.S. 1991. Inilah Bahasa Indonesia Yang Benar. Jakarta : PT. Gramedia

De Porter, Boby. 1992.Quantum Learning, Bandung : Kaifa. Depdiknas, 2001, KBBI, Jakarta: Balai Pustaka Guntur Tarigan, 1998, Membaca Ekspresi, Bandung: Angkasa. _________________ , Membaca Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa, Bandung, Angkasa. Depdikbud. 1987. Pedoman Umum Ejaan Yang Disempurnakan. Jakarta : Balai Pustaka Hadi, Sutrisno. 1987. Metodologi Research 3, Yogyakarta : Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta Natawijaya P. Suparman. 1982. Apresiasi Sastra dan Budaya. Jakarta : PT.Internusa Nugryntoro, Burhan. 1984. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa Indonesia. Yogyakarta : BPFEE Pradopa Rahmat Djoko. 1995. Pengkajian Puisi. Yogyakarta : Gajah Mada Universitas Press Suroto. 1989. Apresiasi Sastra Indonesia. Jakarta : Erlangga Sordarso, 2002, Speed Reading Sistem Membaca Cepat dan Efektif, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Sudjana, 1989, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung, Sinar Baru Argensindo. Sudjana, 1984, Pedoman Praktis Mengajar, Bandung : Departemen Agama RI Suwarno, 1977, Pengantar Umum Pendidikan, Surabaya : IKIP Surabaya. Tampubolon, DP.1987.Kemampuan Membaca, Bandung : Angkasa. Tarigan, Henri Guntur. 1984. Pengajaran Ejaan Bahasa Indonesia, Bandung : Angkasa Udjang Parmin M. Basir. 1988. Keterampilan Membaca, Teori dan Penerapannya. University Press IKIP Surabaya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->