BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG Rinitis alergi merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat serta dapat berdampak pada penurunan kualitas hidup penderitanya. Rinitis alergi merupakan penyakit hipersensitifitas tipe 1 yang diperantarai oleh IgE pada mukosa hidung dengan gejala karakteristik berupa bersin-bersin, rinore encer, obstruksi nasi dan hidung gatal. Gejala terjadi pada hidung dan mata dan biasanya terjadi setelah terpapar debu, atau serbuk sari musiman tertentu pada orang-orang yang alergi terhadap zat ini. Berdasarkan atas saat pajanan rhinitis alergi diklasifikasikan menjadi rhinitis alergi musiman (seasonal) dan rhinitis alergi tahunan (perennial). ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) bekerjasama dengan WHO 2001 membuat klasifikasi baru rhinitis alergi berdasarkan parameter gejala dan kualitas hidup penderita. Berdasarkan atas lama dan beratnya penyakit, rhinitis alergi diklasifikasikan menjadi intermiten ringan, intermiten sedang berat, persisten ringan dan persisten berat. Rhinitis alergi bukanlah kondisi yang mengancam jiwa, namun komplikasi masih dapat terjadi dan menyebabkan kondisi yang secara signifikan dapat mengganggu kualitas hidup.(2) Pasien dengan rinitis alergi merasa penyakitnya sama beratnya dengan asma berat dalam penurunan aktivitas harian. Pekerja dengan riwayat alergi yang tidak kunjung sembuh dilaporkan 10% kurang produktif dibandingkan pekerja yang tidak memiliki riwayat alergi, dan pekerja yang menjalani pengobatan untuk rinitis alergi dilaporkan 3% kurang produktif. Hal ini menunjukkan bahwa pengobatan yang efektif dapat menekan keseluruhan biaya dari penurunan produktivitas. Dua pertiga dari pasien memiliki gejala rinitis alergi sebelum usia 30, tapi kejadiannya dapat terjadi pada usia kapanpun. Rhinitis alergi tidak memiliki predileksi seksual. Ada kecenderungan genetik yang kuat untuk rhinitis alergi. Satu

1

4. 5. Mengetahui klasifikasi rinitis alergi. Mengetahui komplikasi rinitis alergi. 9. MANFAAT 2 . 1. TUJUAN 1. Mengetahui prognosis rinitis alergi. 6. Mengetahui epidemiologi rinitis alergi.2. 5. 2. 7.orang tua dengan riwayat rhinitis alergi memiliki sekitar 30 persen kesempatan untuk memproduksi keturunan dengan gangguan tersebut. RUMUSAN MASALAH 1. Mengetahui etiologi rinitis alergi.4. 9. 4. 2. Resiko meningkat sampai 50 persen jika kedua orang tua memiliki riwayat alergi. 3. 7. Mengetahui penanganan rinitis alergi. Apakah definisi rinitis alergi? Apa saja etiologi rinitis alergi? Bagaimana epidemiologi rinitis alergi? Bagaimana patofisiologi rinitis alergi? Bagaimana klasifikasi rinitis alergi? Bagaimana penegakan diagnosis rinitis alergi? Bagaimana penanganan rinitis alergi? Apa saja komplikasi rinitis alergi? Bagaimana prognosis rinitis alergi? 1. 6. Mengetahui patofisiologi rinitis alergi. 8. 3. Mengetahui penegakan diagnosis rinitis alergi. Mengetahui definisi rinitis alergi. (3) 1.3. 8.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. EPIDEMIOLOGI Penelitian di Scandinavia menunjukkan prevalensi pada laki-laki adalah 15% dan 14% pada wanita.1. Pada anak-anak. pajanan alergen (serbuk sari. DEFINISI Definisi rinitis alergi menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2001 adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin.2. alergen makanan seperti susu. GAMBAR 1. dan makanan). rasa gatal. telur. faktor geografi atau perbedaaan lingkungan.3. polusi pabrik. 2. bulu hewan. 2. Pada bayi dan balita.1. Manfaat keilmuan : Sebagai landasan ilmiah mengenai penyakit rinitis alergi. rinore. RHINITIS ALERGI 2. kedelai serta debu dan alergen inhalan merupakan penyebab utama dan menjadi komorbid dari penyakit dermatitis atopi. tetapi pada dewasa dapat terjadi dengan prevalensi yang 3 . Manfaat praktis : Memberi dasar bagi penanganan rinitis alergi bagi dokter umum maupun spesialis di tempat pelayanan kesehatan. dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh Ig E. Prevalensi penyakit ini sangat bervariasi antara populasi dan budaya yang disebabkan oleh perbedaan genetik. faktor lingkungan (pajanan debu dan jamur). ETIOLOGI Rinitis alergi dapat disebabkan oleh faktor herediter (riwayat rinitis alergi dalam keluarga). lebih sering muncul pada laki-laki dibanding perempuan. dan astma. perokok pasif (terutama dalam masa kanak-kanak). otitis media.

makrofag atau monosit yang berperan sebagai APC akan menangkap alergen yang menempel di permukaan mukosa hidung. REAKSI ALERGI PADA RINITIS ALERGI Pada kontak pertama dengan alergen (sensitisasi). IL-4 dan IL-13 4 . Prevalensi dari penyakit ini telah dilaporan sebanyak 40% pada anak-anak. Th 2 akan menghasilkan berbagai sitokin seperti IL-3. Setelah diproses. 2. usia remaja dan dewasa muda. Kemudian APC akan melepas sitokin seperti IL-1 yang akan mengaktifkan Th 0 untuk berproliferasi menjadi Th 1 dan Th 2.4. GAMBAR 2. IL-5 dan IL-13. IL-4. Onset sering terjadi pada masa anak-anak. PATOFISIOLOGI Rinitis alergi merupakan suatu penyakit inflamasi yang diawali dengan tahap sensitisasi dan diikuti dengan tahap provokasi/reaksi alergi. dan menurun sesuai dengan usia. dengan usia onset rata-rata 8-11 tahun. Rinitis alergi dapat muncul pada usia berapa saja. dalam 80% terjadi pada usia 20 tahun. Alergi terdiri dari 2 fase yaitu Reaksi Alergi Fase Cepat (RAFC) yang berlangsung sejak kontak dengan alergen sampai 1 jam setelahnya dan Reaksi Alergi Fase Lambat (RAFL) yang berlangsung 2-4 jam dengan puncak 6-8 jam (fase hiperreaktifitas) setelah pemaparan dan dapat berlangsung sampai 24-48 jam. antigen akan membentuk fragmen pendek peptida dan bergabung dengan molekul HLA kelas II membentuk komplek peptida MHC kelas II (Major Histo Compatibility Complex) yang kemudian dipresentasikan pada sel T helper (Th 0).sama.

IL-6. Platelet Activating Factor (PAF) dan berbagai sitokin (IL-3. Bila mukosa yang sudah tersensitisasi terpapar dengan alergen yang sama. Histamin akan merangsang reseptor H1 pada ujung saraf sehingga menimbulkan rasa gatal pada hidung dan bersin. maka kedua rantai Ig E akan mengikat alergen spesifik dan terjadi degranulasi (pecahnya dinding sel) mastosit dan basofil dengan akibat terlepasnya mediator kimia yang sudah terbentuk (Preformed Mediators) terutama histamin. bradikinin. Gejala lain adalah hidung tersumbat akibat vasodilatasi sinusoid. Selain histamin merangsang ujung saraf. IL-6. Selain histamin juga dikeluarkan Newly Formed Mediators antara lain prostaglandin D2 (PG D2). PATOFISIOLOGI RINITIS ALERGI ( EARLY AND LATE PHASE REACTION ) 5 . Inilah yang disebut Reaksi GAMBAR 3.dapat diikat oleh reseptornya di permukaan sel limfosit B. sehingga sel limfosit B menjadi aktif dan akan memproduksi Imunoglobulin E. Alergi Fase Cepat. Histamin juga menyebabkan kelenjar mukosa dan sel goblet mengalami hipersekresi dan permeabilitas kapiler meningkat sehingga terjadi rinore. IL-4. PAF. juga mengakibatkan rangsangan pada mukosa hidung sehingga terjadi pengeluaran Inter Celluler Adhesion Molecule 1 (lCAM-1). Leukotrien D4 (LT D4). Proses ini disebut sensitisasi yang menghasilkan sel mediator yang tersensitisasi. GM-CSF (Granulocyte Macrophage Colony Stimulating Factor)). Ig E di sirkulasi darah akan masuk kejaringan dan diikat oleh reseptor Ig E di permukaan sel mastosit atau basofil (sel mediator) sehingga ke dua sel ini menjadi aktif. Leukotrien C4 (LT C4).

perubahan cuaca dan kelembaban udara yang tinggi. yaitu tepung sari (pollen) dan spora jamur. tanpa variasi musim. 2. selain factor spesifik yang memperberat gejala antara lain seperti asap rokok. bau yang merangsang. Intermiten (kadang-kadang) : gejala < 4 hari/minggu atau < 4 minggu.Pada RAFC. 2. Rinitis alergi musiman (seasonal.5. yaitu: 1. limfosit. terutama pada dewasa. yaitu berdasarkan sifat berlangsungnya dibagi menjadi: 1. Penyebab yang sering ialah alergen inhalan. dan alergen inhalan utama adalah alergen diluar rumah (out door). sel mastosit akan melepaskan molekul komotaktik yang menyebabkan akumulasi sel eosinofil dan netrofil di jaringan target. Respons ini tidak berhenti sampai disini saja. 6 . tetapi gejala akan berlanjut dan mencapai puncak 6-8 jam setelah pemaparan. IL-4. basofil dan mastosit di mukosa hidung serta peningkatan sitokin seperti seperti IL-3. Pada fase ini. IL-5 dan Granulocyte Macrophag Colony Stimulating Factor (GM-CSF) dan ICAM. Saat ini digunakan berdasarkan rekomendasi dari WHO initiative ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2001. KLASIFIKASI Dahulu rinitis alergi dibedakan berdasarkan sifat berlangsungnya. Pada RAFL ditandai dengan penambahan jenis dan jumlah sel inflamasi seperti eosinofil. netrofil. Timbulnya gejala hiperaktif hidung akibat peranan eosinofil dan mediator inflamasi dari granulnya seperti Eosinophilic Derived Protein (EDP).1 pada sekret hidung. Alergen penyebabnya spesifik. dapat ditemukan sepanjang tahun. Major Basic Protein (MPB) dan Eosinophilic Peroxidase (EPO). Alergen ingestan sering merupakan penyebab pada anak-anak dan biasanya disertai dengan gejala alergi yang lain. Rinitis alergi sepanjang tahun (perennial) Gejala intermiten atau terus menerus. seperti urtikaria dan gangguan pencernaan. hanya ada di negara yang mempunyai 4 musim. polinosis) Di indonesia tidak dikenal rinitis alergi musiman. hay fever.

rinitis alergi dibagi menjadi: 1. bekerja dan hal-hal lain yang mengganggu. olah raga dan santai terganggu • masalah dalam sekolah dan bekerja • ada keluhan yang mengganggu • keluhan yang mengganggu (-) GAMBAR 4. KLASIFIKASI RINITIS ALERGI 2. Intermiten Gejala Persisten Gejala • > 4 hari per minggu • dan > 4 minggu 2. Allergic shiner 4. olah raga dan santai normal • bekerja dan sekolah normal • tidur terganggu • aktivitas sehari-hari. Sedangkan untuk berat ringannya penyakit. Persisten/menetap : gejala lebih dari 4 hari/minggu dan lebih dari 4 minggu. Pada anak-anak. Gejala lain berupa keluarnya ingus yang encer dan banyak. Sedang-berat bila terdapat satu atau lebih dari gangguan tersebut diatas. Allergic crease 3.2. bersantai. Allergic salute 2. akan ditemukan tanda yang khas seperti: 1. • ≤ 4 hari per minggu • atau ≤ 4 minggu Ringan • tidur normal Sedang-Berat Satu atau lebih gejala • aktivitas sehari-hari. Ringan bila tidak ditemukan gangguan tidur. Pada anak-anak sering gejala tidak khas dan yang sering dikeluhkan adalah hidung tersumbat. GEJALA KLINIS Gejala klinis yang khas adalah bersin yang berulang. belajar. hidung tersumbat. Bersin lebih dari lima kali sudah dianggap patologik dan perlu dicurigai adanya rinitis alergi dan ini menandakan reaksi alergi fase cepat. gangguan aktivitas harian.6. berolahraga. Bersin biasanya pada pagi hari dan karena debu. mata gatal dan banyak air mata. "Bunny rabbit" nasal twiching sound 7 .

Kemosis pada konjungtiva mungkin terjadi. Pemeriksaan sitologi hidung 4.7. dan allergic crease. Pasien biasanya mengalami mata berair. Kepala Periksa adanya gejala khas seperti allergic shiner. 8 . GAMBAR 5. Uji kulit Pasien rinitis alergi datang ke klinik dengan bercerita bahwa ia sering bersin karena serangannya tidak terjadi di hadapan pemeriksa. Allergic shiner adalah bayangan gelap di bawah mata yang terjadi akibat stasis vena sekunder akibat obstruksi hidung. Allergic crease adalah alur yang melintang di sepertiga bawah dorsum nasi akibat sering menggosok hidung. DIAGNOSIS Diagnosis rinitis alergi dapat ditegakkan berdasarkan: 1. Hampir 50% diagnosis dapat ditegakkan dari anamnesis saja Pemeriksaan fisik dilakukan secara menyeluruh melingkupi: 1. Pemeriksaan fisik 3. allergic salute. GAMBARAN KLINIS RINITIS ALERGI 2. Anamnesis 2. 2.Allergic salute adalah gerakan pasien menggosok hidung dengan tangannya karena gatal. Bunny-rabbit sound adalah suara yang dihasilkan karena lidah menggosok palatum yang gatal dan gerakannya seperti kelinci mengunyah. Mata Tentukan apakah ada eritema dan edema pada konjungtiva palpebra dan hipertrofi papil dari konjungtiva tarsal.

Lidah tampak seperti gambaran peta (geographic tongue). basah. akibat operasi sebelumnya. 4. KONKA PADA PASIEN RHINITIS ALERGI 5. Ingus biasanya cair bening atau putih dan sedikit. pecandu kokain. Rongga mulut Permukaan berbenjol-benjol atau granuler dan edema (cobblestone appearance) pada faring posterior juga merupakan tanda dari hipertrofi folikular dari mukosa jaringan limfoid akibat dari kongesti hidung yang kronik. Ukuran tonsil dapat meberikan petunjuk ukuran dari adenoid. kental. Dinding leteral faring menebal. 9 . dan banyak. Darah kering umumnya ditemukan sebagai trauma sekunder akibat menggosok hidung. pengguna dekongestan berlebih. penyakit granulamatosis. Sumbatan hidung yang kronis akibat hipertrofi adenoid sering ditemukan pada anak-anak dengan otitis media dan sinusitis berulang. Periksa septum nasi untuk melihat deviasi septum atau perforasi septum yang mungkin dapat disebabkan oleh rhinitis kronik. Telinga Membran timpani harus diperiksa untuk menilai adanya infeksi kronis atau efusi telinga tengah. berwarna pucat atau livid disertai adanya sekret encer yang banyak. diagnosis infeksi virus atau sinusitis dipertimbangkan. Hidung Pada rinoskopi anterior tampak mukosa edema. Adenoid yang besar dapat menimbulkan gejala dan tanda rinitis alergi. jarang bewarna kuning atau hijau. Bila ingus berwarna. mukosa inferior tampak hipertrofi. GAMBAR 6. Pemeriksaan nasoendoskopi dapat dilakukan bila fasilitas tersedia.3. Bila gejala persisten.

limfosit adalah fokus perhatian. 2. dan serbuk sari. Eosinofilia mengarah pada penyebab berupa alergi. Penderita yang alergi terhadap tepungsari (pollen). maka rinitis alergi dan NARES (non-allergic rhinitis with eosinophilic syndrome) perlu dipikirkan. Uji kulit atau Prick test. jamur.8. farmakoterapi dan imunoterapi. 10 . Tes kulit yang positif menunjukkan adanya antibiodi IgE yang spesifik terhadap alergen tersebut. Disebut eosinofilia bila ditemukan >10% eosinofil. Alergen dapat berupa tungau debu. Pengelolaan Lingkungan Mengurangi kontak dengan alergen dapat menurunkan kadar kambuhnya gejala rinitis alergi secara signifikan.GAMBAR 7. Adanya sel netrofil. Apabila eosinofilia ditemukan pada anak-anak. PENATALAKSANAAN Secara umum. bulu binatang. penatalaksaan rhinitis alergi meliputi tiga kategori besar yaitu menghindari kontak dengan alergen dan pengelolaan lingkungan. Netrofil dan eosinofil yang ditemukan bersamaan menunjukkan infeksi pada pasien alergi. Apabila netrofil > 90% maka disimpulkan terjadinya infeksi. maka rinitis alergi perlu dicurigai. eosinofil. 1. Sedangkan eosinofilia pada orang dewasa muda. digunakan untuk menentukan alergen penyebab rinitis alergi pada pasien. GEOGRAPHIC TONGUE Pemeriksaan sitologi hidung dilakukan dengan mengambil cairan hidung pasien dan menempelkannya pada kaca apus dan diberi pewarna Giemsa-Wright. NARES adalah pasien dengan eosinofilia yang tidak menunjukkan nilai positif pada tes kulit dengan allergen yang sering menyebabkan keluhan bersin. dianjurkan mengurangi kegiatan di luar rumah selama musim yang bersangkutan.

GAMBAR 8. siproheptadin. Pemberian dapat dalam kombinasi atau tanpa kombinasi dengan dekongestan secara peroral. dan (5) bagi penderita yang tinggal di daerah padat dan kotor. sehingga dapat menembus sawar darah otak (mempunyai efek pada SSP) dan plasenta serta mempunyai efek kolinergik. Pengendalian debu rumah. merupakan preparat farmakologik lini pertama pengobatan rhinitis alergi.menutup celah masuknya udara luar ke dalam rumah atau mobil serta menggunakan pendingin udara. sedapatnya membasmi kecoa. a. (4) menggunakan bahan yang hipoalergenik. (3) jauhkan karpet dan binatang piaraan dari ruang yang sering digunakan penderita. jamur dan bulu binatang dengan cara: (1) mengurangi kelembaban rumah. Antihistamin dibagi 2 golongan yaitu antihistamin generasi 1 (klasik) dan generasi 2 (non-sedatif). Antihistamin generasi 1 bersifat lipofilik. Yang termasuk kelompok ini antara lain adalah difenhidramin. (2) mencuci pakaian terutama alas kasur dengan air hangat. sedangkan yang dapat diberikan secara topical adalah azelastin. PENGELOLAAN LINGKUNGAN TERHADAP ALERGEN 2. klorfeniramin. Farmakoterapi Antihistamin Antagonis histamine H-1 bekerja secara inhibitor kompetitif pada reseptor H-1 sel target. prometasin. Antihistamin generasi 2 11 .

d. Kelompok pertama adalah astemisol dan terfenadin yang mempunyai efek kardiotoksik. bermanfaat untuk mengatasi rinore. fexofenadin. Obat ini dapat diberikan sebagai 12 . Onset obat topikal lebih cepat daripada sistemik. karena aktifitas inhibisi reseptor kolinergik pada permukaan sel efektor. dan levosetirisin. Dosis: 15 mg untuk anak 2-5 tahun. Efek samping yang paling sering adalah insomnia dan iritabilitas. Antihistamin non sedative dibagi menjadi dua menurut keamananya. Dekongestan Tersedia dalam bentuk topikal maupun sistemik. 30 mg untuk anak 6-12 tahun. Kelompok kedua adalah loratadin. antiadrenergik dan pada efek pada SSP minimal (non-sedatif). c. Penstabil Sel Mast Contoh golongan ini adalah sodium kromoglikat. Antihistamin oral diabsorpsi cepat dan mudah serta efektif mengatasi gejala obstruksi hidung pada fase lambat. Bersifat selektif mengikat resptor H-1 perifer dan tidak mempunyai efek antikolinergik. desloratadin. henti jantung dan bahkan kematian medadak. tiap 6 jam. dan 60 mg untuk dewasa. Toksisitas terhadap jantung disebabkan repolarisasi jantung yang tertunda dan dapat menyebabkan aritmia ventrikel. Dekongestan sistemik yang sering digunakan adalah pseudoephedrine HCl dan Phenylpropanolamin HCl. namun dapat menyebabkan rhinitis medikamentosa bila digunakan dalam jangka waktu lama. Sayangnya. b. Obat ini dapat menyebabkan vasokonstriksi. Obat ini efektif mengontrol gejala rinitis dengan efek samping yang minimal. sehingga sulit menembus sawar darah otak. Preparat ini bekerja dengan cara menstabilkan membran mastosit dengan menghambat influks ion kalsium sehingga pelepasan mediator tidak terjadi. efek terapi tersebut hanya dapat digunakan sebagai preventif. Antikolinergik Preparat antikolinergik topikal adalah ipratropium bromide. setirisin.bersifat lipofobik.

furoat dan triamsinolon).Kelemahan lain adalah frekuensi pemakaiannya sebanyak 6 kali per hari sehingga mempengaruhi kepatuhan pasien. dilakukan pada alergi inhalan dengan gejala yang berat dan sudah berlangsung lama serta dengan pengobatan lain tidak memberikan hasil yang memuaskan.pilihan alternatif apabila antihistamin tidak dapat ditoleransi pada pasien. dan membentuk kompleks antigen-antibodi untuk difagosit. mometason. Preparat sodium kromoglikat topikal bekerja menstabilkan mastosit (mungkin menghambat ion kalsium) sehingga pelepasan mediator dihambat. maka antibodi ini akan bersifat "blocking antibody" karena berkompetisi dengan IgE terhadap alergen. Ada 2 metode imunoterapi yaitu intradermal dan sublingual. Kortikosteroid topikal bekerja untuk mengurangi jumlah sel mastosit pada mukosa hidung. Dengan adanya IgG. e. Imunoterapi. kemudian mengikatnya. mengurangi aktifitas limfosit. f. Kortikosteroid Kortikosteroid dipilih bila gejala terutama sumbatan hidung akibat respon fase lambat tidak berhasil diatasi dengan obat lain. obat ini menghambat proses inflamasi dengan menghambat aktifasi sel netrofil. Imunoterapi bekerja dengan pergeseran produksi antibodi IgE menjadi produksi IgG atau dengan menginduksi supresi yang dimediasi oleh sel T (meningkatkan produksi Th1 dan IFN). Akibatnya alergen tersebut tidak ada dalam tubuh dan tidak merangsang membran mastosit. d. Yang sering dipakai adalah kortikosteroid topikal (beklometason. eosinofil dan monosit. Cara ini dikenal sebagai desensitisasi atau hiposensitisasi. mencegah bocornya plasma. budesonid. Tujuan 13 . Kaustik kaustik merupakan suatu tindakan mengoleskan aplikator kapas yang telah dibasahi dengan cairan asam triklor asetat 100% pada mukosa konka. Hal ini menyebabkan epitel hidung tidak hiperresponsif terhadap rangsangan alergen (bekerja pada respon cepat dan lambat). Pada respons fase lambat. flutikason. flunisolid. mencegah pengeluaran protein sitotoksik dari eosinofil.

Dilakukan kaustik pada konka inferior untuk rhinitis alergi. g. dikerjakan apabila hipertrofi berat tidak berhasil dikecilkan dengan cara kauterisasi memakai AgNO3 25% atau triklor asetat. 5. ditambahkan lidokain 8% dan ditunggu 5-10 menit. Dilakukan anestesi dengan lidokain 2%. Konkotomi dilakukan pada konka inferior. Atau dilakukan kaustik pada mukosa yang diterapi. 3. GAMBAR 9. Dievaluasi adanya warna keputihan pada bekas olesan tersebut. FARMAKOTERAPI UNTUK RINITIS ALERGI 14 . 2. Konkotomi Konkotomi dilakukan pada rhinitis alergi yang berlangsung lama dan berubah menjadi rhinitis vasomotor. Kontrol 1 minggu kemudian untuk melihat hasil tindakan dan kemungkinan komplikasi yang terjadi. Prosedur: 1.dari tindakan kaustik ini adalah untuk menyembuhkan penyakit rhinitis alergi atau penyakit lainnya yang memerlukan tindakan kaustik. 4.

GAMBAR 10. ALGORITMA PENATALAKSANAAN RHINITIS ALERGI 15 .

16 .

10. bahwa alergi hidung merupakan slah satu faktor penyebab terbentuknya polip hidung dan kekambuhan polip hidung. udara lembab.9. Pada tes kulit bernilai negatif. rokok. 17 . Penyebab keluhan pada NARES adalah alergi pada makanan. DIAGNOSIS BANDING NARES (non-allergic rhinitis with eosinophilic syndrome) dapat disingkirkan bila tes kulit menunjukkan positif terhadap alergen lingkungan. KOMPLIKASI Komplikasi rinitis alergi yang sering ialah: 1. Tabel 1. Rinitis vasomotor dapat dibedakan dengan rinitis alergi dengan keluhan bersin pada perubahan suhu ekstrim. licin. hidung tersumbat pada posisi miring dan bergantian tersumbatnya. edema juga mendukung rinitis vasomotor. Polip hidung Beberapa peneliti mendapatkan. Sekresi hidung yang kekuningan dan tampak purulen tetapi eosinofilik sering terjadi pada rinitis alergi. tetapi pada sekresi yang berbau busuk dan purulen dan terjadi unilateral perlu dicurigai adanya benda asing. tidak terdapat gatal pada mata. Rinitis alergi dan vasomotor dapat pula terjadi bersamaan dengan memberi gambaran rinoskopi anterior yang bercampur seperti mukosa pucat tetapi positif pada tes kulit.2. Diagnosis Banding Rinitis Alergika 2. Selain itu mukosa yang pucat atau merah gelap.

terutama pada anak-anak. Prognosis yang terjadi dapat dipengaruhi banyak faktor termasuk status kekebalan tubuh maupun anomali anatomi. Setelah masa tersebut. PROGNOSIS Secara umum. Sinusitis paranasal. maka kemungkinan rinitis pasien ini dapat terjadi musiman.2. Otitis media efusi yang sering residif. Pada pasien yang diketahui alergi terhadap serbuk sari. 18 . 3.11. Prognosis sulit diprediksi pada anak-anak dengan penyakit sinusitis dan telinga yang berulang. pasien rinitis alergi tanpa komplikasi yang berrespon dengan pengobatan memiliki prognosis baik. Perjalanan penyakit rinitis alergi dapat bertambah berat pada usia dewasa muda dan tetap bertahan hingga dekade lima dan enam. 2. gejala klinik akan jarang ditemukan karena menurunnya sistem kekebalan tubuh.