kata-kata tabu n idiom

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Bahasa adalah alat komunikasi manusia dalam melakukan interaksi dengan sesamanya dan lingkungan sosialnya. Dalam berkomunikasi, manusia pada umumnya berinteraksi untuk membina kerjasama antar sesamanya dalam rangka membentuk, mengembangkan, dan mewariskan budaya dalam arti yang luas. Dalam pada itu adakalanya atau dapat dikatakan sering manusia berselisih atau berbeda pendapat antara satu dengan yang lainnya. Dari situasi dan kondisi ini manusia sebagai pemakai bahasa sering memanfaatkan bahasa atau berbagaikata-kata yang kurang dimengerti oleh lawan bicaranya, karena kata yang digunakan terdiri dari gabungan kata yang berbeda makna tetapi gabungan tadi satu maksud atau sering disebut Idiom atau kata-kata yang tidak sepatutnya diucapkan yang biasa dikenal dengan tabu. Kata-kata kasar, jorok, makian, sindiran halus dan sejenisnya sengaja atau tidak sengaja terlontar dari lidah seseorang untuk mengekpresikan segala bentuk ketidaksenangan, kebencian, atau ketidakpuasan terhadap situasi yang tengah dihadapinya.

Dalam kehidupan manusia sebagai makhluk Tuhan yang berbudaya perlu diperhatikan bagaimana seseorang mengungkapkan kata-kata dalam berbahasa yang baik khususnya mengenai penggunaan kata-kata yang bermakna kultural untuk diekpresikan dalam bahasa. Ekspresi bahasa yang ungkapkan dalam bentuk kata-kata harus tetap dalam koridor normanorma sosial dan agama yang dapat diterima oleh masyarakat luas. Ada beberapa kata-kata tertentu yang harus dihindari, baik untuk diucapkan maupun diekspresikan karena hal itu dipandang tabu dan dilarang untuk disebarluaskan. Tulisan ini disusun untuk membahas masalah tang terkait dengan komunikasi, lebih tepatnya “idiom dan kata-kata yang dianggap tabu” yang sekiranya pantas, sopan, dan bisa dimengerti oleh lawan bicaranya, baik berupa perilaku atau ucapan, eufemisme, dan makian.

Sebutkan jenis-jenis taboo? 1. Untuk mengetahui jenis-jenis taboo. Sebutkan macam-macam idiom? 3. Apa definisi idiom? 2. BAB II PEMBAHASAN A. maka tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan adalah: 1. Menurut Munir Ba‟albaki. Untuk mengetahui definisi idiom. Apa definisi kata taboo? 4.2 RUMUSAN MASALAH Dari uraian latar belakang masalah diatas dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui definisi kata taboo. 2.3. . Beekmaan dan Callow (1974) menjelaskan idiom yaitu ungkapan untuk dua kata atau lebih yang tidak dapat dimengerti secara harfiah dan secara semantis berfungsi sebagai satu kesatuan. Idiom adalah ungkapan yang mempunyai makna yang mana tidak mungkin difahami secara kata-perkata saja. diantaranya: 1. Tujuan Penulisan Sesuai dengan rumusan masalah diatas. Untuk mengetahui macam-macam idiom. 3. DEFINISI IDIOM Ada beberapa pendapat mengenai penjelasan idiom. 2. 4.1.

karena ketika digabungkan akan mempunyai makna yang baru. tetapi gabungan kata dengan preposisi tersebut menjadi satu kesatuan yang bermakna lain dari makna kata jika berdiri sendiri. Idiom bisa terdiri dua kata atau lebih yang menjadi satu kesatuan ataupun bisa berupa ungkapan. Gabungan kata dengan kata . Idiom tidak bisa diterjemahkan dan difahami secara harfiyah karena kata-kata tersebut mempunyai m. Gabungan kata dengan preposisi Konstruksi dari unsur-unsur yang saling memilih masing-masing anggota mempunyai makna yang ada hanya karena bersama yang lain.Idiom adalah suatu ungkapan yang tidak bisa difahami dengan makna harfiyah kata-kata yang menyusunnya. Pengertian ini mengacu pada gabungan ََ kata dengan preposisi seperti kata: ‫ أَخذ‬yang bermakna mengambil. Longman. Muhammad Ismail Shiniy. (1). 5. 4. 2. Dari beberapa pengertian diatas.Idiom adalah ungkapan atau kumpulan kata yang tidak bisa kita fahami maknanya secara harfiah setiap katanya.3. Idiom harus difahami dan diterjemahkan dengan melihat konteks dan melihat padanannya dalam bahasa sasaran. Di sini harus dilihat bahwa tidak bisa langsung diterjemahkan satu persatu kemudian makna kata tersebut digabungkan. B.akan berbeda dari kata-kata yang menjadi bagiannya. Idiom adalah kumpulan kata-kata yang memiliki makna khusus yang berbeda dengan makna tiap-tiap kata dalam pengertian kata itu sendiri. Sbrony Rachmadie. (3). Macam-macam idiom macam-macam idiom berdasarkan konstruksi yang membentuknya menurut Kridalaksana dalam Imamuddin (2001) bisa berupa: 1. (2). Dalam hal ini idiom bisa dilihat dari makna konteks. ketika kata ini bergabung ََ dengan preposisi ‫ بـ‬yang bermakna dengan dan menjadi ِ ‫أَخذبـ‬bukan bermakna “mengambil dengan” tetapi bermakna “melakukan”. dapat disimpulkan bahwa.

1989: 121) Seperti menterjemahkan peribahasa (tamsil) metafora. bahasa adat atau yang lainnya. Menurut Mead dalam Apte (1998:986) salah satu dari banyak arti konsep tabu dalam budaya-budaya polenisean adalah larangan apa saja yang tidak membawa hukuman-hukuman melebihi keinginan dan keadaan yang memalukan yang muncul dari pelanggaran batasanbatasan ketat adat. (Midred L Larson. Dapat َ ِ َ ِ disepadankan dengan “maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai. Misalnya: ‫العيْن‬ َ ‫بَصيرة واليَد قَصيرة‬terjemahan harfiah: “Mata melihat sedangkan tangan pendek”. Konsep tabu itu sendiri diadopsi para ahli barat dari budaya polenisean dan budaya-budaya nusantara termasuk ke dalam kelompok ini. ٌ ْ Pengertian ini mengacu pada gabungan kata dengan kata lain seperti kata ‫ثَقِيل‬yang bermakna َّ ُ ْ “berat” ketika bergabung dengan ‫الدم‬yang bermakna “darah” lalu menjadi ‫ . tetapi bisa dicarikan padanannya dalam bahasa sasaran atau cukup maksudnya saja. Definisi kata tabu Konsep tentang tabu yang dipakai dalam kata-kata tabu merupakan adopsi dari disiplin ilmu antropologi. Contoh lain: ‫الَتُصعِّر خدكَ لِلنَّاس‬terjemahan harfiah: “Janganlah kamu َ palingkan pipimu dari manusia”. .ثَقِيل الدم‬bukan berarti bermakna “berat darahnya” tetapi bermakna “tidak disukai orangnya”. C.Kontruksi yang maknanya tidak sama dengan gabungan makna anggota-anggotanya. karena mungkin ungkapan tersebut tidak lazim pada bahasa sasaran. maka ungkapan yang biasa dipakai adalah “memalingkan muka”. Ungkapan “memalingkan pipi” dalam bahasa Indonesia tidak lazim. 3. ” Penerjemahan ungkapan ini harus juga diselaraskan dengan ungkapan yang lazim digunakan َّ dalam bahasa sasaran. Dengan demikian penerjemahan peribahasa atau ungkapan tak perlu diterjemahkan secara harfiah. Peribahasa Ungkapan yang bisa diterjemahkan dengan penerjemahan para frase atau pengungkapan bebas mutlak dapat juga digunakan ungkapan bahasa sasaran yang selaras. 1.

dan sebagainya Dengan demikian. tetapi dalam konteks tertentu dihindari dalam ranah publik karena alasan agama. dan sesuatu yang tidak santun dan tidak pantas (taboo of propriety). Penghalusan makna ini sering disebut dengan istilah eufemisme. perlombaan adu binatang. Platt. dan politik. Akibatnya kata yang tidak ditabukan itu memperoleh beban makna tambahan. kematian. D. fungsi-fungsi anggota tubuh. eksresi. Penggantian itu bertujuan untuk menghaluskan makna. Jenis-jenis tabu Tabu memegang peranan penting dalam bahasa. Menurut Richards. Sebuah kata yang ditabukan tidak dipakai. Matthews (1997:371) adalah kata-kata yang diketahui oleh penutur. persoalan agama. Berdasarkan motivasi psikologis. dapat dikatakan bahwa kata-kata tabu adalah kata-kata yang diketahui. sesuatu yang membuat perasaan tidak enak (taboo of delicacy). dan sebagainya. kemudian digunakan kata lain yang sudah mempunyai makna sendiri. Dalam hal ini untuk memudahkan pembahasan penulis ingin melihat dari segi psikologis yang melatarbelakangi munculnya istilah tabu. kesantunan. dan Platt (1997:130) eufemisme adalah penggunaan kata yang dirasakan jadi kurang menyerang atau lebih menyenangkan daripada kata lain. seperti seks. penggunaan jari tangan kiri (yang menunjukkan sinister/ancaman) dan sebagainya. Subyek yang ditabukan sangat bervariasi. kesantunan. kepantasan. . Mengganti kata yang seharusnya dengan kata-kata dan beberapa kelompok kata yang memiliki kemiripan makna. kepantasan.2. yang mana permasalahan ini merupakan kategori dari ilmu semantik. Ilmu ini memperhatikan tabu sebagai penyebab berubahnya makna kata. yakni adanya sesuatu yang menakutkan (taboo of fear). tetapi dihindari dalam sebagian atau semua bentuk atau konteks dalam sebuah tuturan karena alasan agama. Obyek yang ditabukan pun beragam antara lain mertua. kata-kata tabu muncul minimal karena tiga hal.

Demikian juga halnya dengan pengungkapan secara langsung nama-nama Tuhan dan makhluk halus tergolong taboo of fear. termasuk juga ungkapan l‟Autre „the other one‟. adatistiadat dan kebudayaan. Di Inggris dan Prancis secara berturut-turut digunakan kata the Lord dan Seigneur sebagai pengganti kata Tuhan. Nama-nama penyakit tertentu secara etimologis sebenarnya merupakan bentuk eufemisme yang kemudian kehilangan nuansa eufemistisnya dan saat ini berhubungan erat dengan kata-kata yang ditabukan. 2. Nama-nama setan dalam bahasa Prancis pun telah diganti dengan eufemismenya. Taboo of Fear Segala sesuatu yang mendatangkan kekuatan yang menakutkan dan dipercaya dapat membayakan kehidupan termasuk dalam kategori tabu jenis ini. seperti berbagai jenis penyakit dan kematian tergolong pada jenis tabu yang kedua ini. Taboo of Delicacy Usaha manusia untuk menghindari penunjukan langsung kepada hal-hal yang tidak mengenakkan. . agama. Sebagai contoh orang Yahudi dilarang menyebut nama Tuhan mereka secara langsung. Contoh kasus semacam ini tentu banyak dijumpai khususnya di Indonesia sebagai negara yang multi etnik. Untuk itu mereka menggunakan kata lain yang sejajar maknanya dengan kata „master„ dalam bahasa Inggris. yang dikenal dengan Ratu Pantai Selatan tidak suka/marah dengan pengunjung yang mengenakan baju merah dan tentunya dipercaya akan ada dampak buruk yang akan diterima oleh si pelanggarnya. Pertabuan ini disebabkan karena mereka percaya bahwa makhluk ghaib Penguasa Laut Selatan yakni Nyi Roro Kidul. Di Indonesia. masyarakat Pantai Selatan pulau Jawa memandang tabu terhadap siapa saja yang melancong atau berekreasi di pantai tersebut dengan mengenakan pakaian yang berwarna merah.1.

scabies. tetapi hendaknya diganti dengan para penyandang cacat. Mereka yang menderita cacat tersebut akan tidak mengenakkan atau tidak santun bila dikatakan para penderita cacat. 3. Beberapa nama penyakit yang merupakan cacat bawaan seperti buta. dan tunagrahita. borok. . kata seperti ini kurang nyaman didengar telinga. serta beberapa kata makian yang semuanya tidak pantas atau tidak santun untuk diungkapkan. kanker. kudis.1 KESIMPULAN Idiom atau disebut juga dengan ungkapan adalah gabungan kata yang membentuk arti baru di mana tidak berhubungan dengan kata pembentuk dasarnya. Olehnya itu sebaiknya nama-nama penyakit itu diganti dengan bentuk eufemistik seperti epilepsi. tuli. tunawicara. Dalam bahasa Indonesia. BAB III PENUTUP 3. dan gila secara berturut-turut dapat diganti dengan kata tunanetra. Taboo of Propriety Tabu jenis ini berkaitan dengan seks. Macam-macam idiom:  Gabungan kata dengan preposisi.  Gabungan kata dengan kata. bagian-bagian tubuh tertentu dan fungsinya.Pengungkapan jenis penyakit yang mendatangkan malu dan aib seseorang tentunya akan tidak mengenakkan untuk didengar. Dimana kata tunawisma lebih santun dari kata pelacur. bisu. tunarungu. abses dan CA untuk mengganti kata kanker. seperti ayan. kata pelacur misalnya.  Peribahasa / ungkapan. Maka dari itu kata pelacur bisa dieufemismekan menjadi kata tuna wisma.

vektonest.html 2.wordpress.com/index..blogspot. nanoazza.com/../idiom-ungkapan-dan-peribahasa-dalam-bahasaindonesia/ 3./menu-id-435. kesantunan...Drs.. Soedjito. 5..1990.kata-kata-tabu. www. dan sebagainya.seruu.Jakarta: PT Gramedia..Kosa Kata Bahasa Indonesia..com/. Jenis-jenis tabu:  Taboo of Fear (adanya sesuatu yang menakutkan)  Taboo of Delicacy (sesuatu yang membuat perasaan tidak enak)  taboo of propriety (sesuatu yang tidak santun dan tidak pantas) DAFTAR PUSTAKA 1./idiom-adalah-suatu-ungkapan-seperti. kepantasan.html . eritristiyanto.com/2008/07/03/tabu-dan-eufemisme/ 4. tetapi dalam konteks tertentu dihindari dalam ranah publik karena alasan agama.wordpress.Kata-kata tabu adalah kata-kata yang diketahui.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful