P. 1
NOSARARA NOSABATUTU

NOSARARA NOSABATUTU

|Views: 318|Likes:
Published by Nuraedah Irwan

More info:

Published by: Nuraedah Irwan on Jul 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/08/2014

pdf

text

original

1

ARTIKEL PERUBAHAN SOSIAL: (Studi terhadap Komunitas Kaili di Desa Raranggonau Kabupaten Sigi) By. NURAEDAH1
http://blog.wikipedia.orq/wp-login.php? action=rp&key=FqxmsYR1xzub1DADKd84&loqin=Nuraedah%20Irwan ABSTRAK

Komunitas Kaili sebagai suatu suku bangsa mayoritas bermukim di Kabupaten Sigi. Umumnya komunitas suku bangsa tersebut hidup sebagai petani, mereka yang mendiami daerah pantai, sedikit yang menjadi nelayan. Kalaupun ada hanyalah sekedar pekerjaan sampingan. Desa yang menjadi perhatian adalah desa di sebuah lereng bukit. Desa itu bernama desa Raranggonau. Desa sesungguhnya adalah tatanan yang unik. Pada satu sisi ia sebagai tatanan wilayah, yang merupakan suatu entitas yang homogen. Setiap penduduk desa terutama pada tahap perkembangan primer adalah sebuah entitas yang homogen (geneologis), mendiami suatu lingkungan yang kecil yang memiliki ikatan primordal yang masih cukup tinggi, serta kelembagaan sosial (adat) yang hampirhampir homogen pula.2 Mengacu pada konsep Redfield, desa Roronggonau dikategorikan sebagai sebuah komunitas yang tidak lagi terisolasi atau disebutnya sebagai “Peasent Community”atau bersifat lebih terbuka, karena memiliki hubungan dengan komunitas-komunitas lain, seperti karena adanya ikatan perkawinan dengan komunitas yang berasal dari komunitas Kulawi, yang dilakukan karena merasa seperasaan sentimen keagamaan seperti menikah karena memiliki agama yang sama yakni kristen. Jenis penelitian adalah kualitatif, dengan lokasi penelitian dilakukan di desa Raranggonau Kabupaten Sigi. Data terkait komunitas ini diperoleh melalui observasi langsung dan wawancara bebas terpimpin, kemudian data yang diperoleh dianalisis dengan cara reduksi data, display data dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Desa Raranggonau masih bersifat tradisional, masih mempercayai adanya kekuatan roh yang berada di luar diri manusia.Kepercayaan terhadap adanya kekuatan roh itu diwujudkan dalam kegiatan upacara Balia. Balia adalah kegiatan yang dilakukan secara tradisional untuk mengobati berbagai jenis penyakit. Pengobatan Balia dilakukan oleh dukun (bayasa dalam bahasa Kaili). Balia untuk komunitas Kaili di desa Raranggonau selain untuk pengobatan juga ada balia untuk pertanian, seperti upacara yang berkenaan dengan kesuburan tanah, menolak wabah, hama tanaman, keselamatan para petani selama mengolah kebun atau ladang mereka. Komunitas juga memiliki unsur-unsur perasaan komuniti (community sentiment), unsur-unsur
1 Dosen tetap pada FKIP Universitas Tadulako, dan kini mahasiwa pada program kekhususan Sosiologi, di UNM. 2 Radi A.Gany, Demokratisasi Masyarakat Desa:Dinamika Politik dan Kelembagaan Politik Desa Pemberdayaan Ekonomi Desa: http://www.fppm.org/makalah%20radi%20gany.htm (online), diakses tanggal 4/2/2004.hal.9.

perasaan komunitas ini terdiri atas tiga bagian, yang meliputi seperasaan, sepenanggungan dan saling membutuhkan. PENDAHULUAN Orang Kaili adalah adalah suatu suku bangsa yang mendiami daerah Sulawesi Tengah. Awal abad XVI kerajaan yang ada di Sulawesi Tengah antara lain Banawa, Sigi,Biromaru, Tawaeli, Pantoloan, Sindue, Dolo,Bangga, Tatanga, Palu, Sibalaya, Kulawi,Parigi, Kasimbar,Moutong,Lambunu,Pamona, Pekurehua, Ondae,Mori, Banggai, dan Buol.Di Pantai teluk Tomini ada juga kerajaan tua seperti Sipayo dan Bondoyo tapi berita-berita tentang kerajaan tua tersebut tidak ada lagi. Buku karya Al.C.Kruijt De West Toraja van Midden Celebes,3 membagi lima golongan penduduk di wilayah suku Toraja barat berdasarkan lingkungan bahasanya sebagai berikut: Golongan penduduk Kaili mendiami daerah Banawa, Tawaeli, Palu, Dolo, Topoatara, Parigi dan Sausu. Golongan penduduk Sigi mendiami Sigi, Palolo, Biromaru, Raranggonau, Bangga, Pakuli, Sibalaya, dan Sidondo. Golongan penduduk Pakawa mendiami daerah Balaroa, Rondingo, Tamado, Dombu, Binggi, Kabuyu, Konggone, Rio, dan Tinauka. Golongan penduduk Kulawi mendiami daerah Kulawi, Tamuku, Lowitoro, Lindu dan Tuwa. Golongan penduduk Koro mendiami daerah Moa, Pili, Gimpu, Karangana, Mapahi, Banasu, Palempea, Penea, Kantevu,Unu, Lowe Siwangi,Towunu, Karosa,Masimbu dan Towoni. Untuk jelasnya dapat dituliskan bahwa untuk Sulawesi Tengah wilayah Sigi merupakan wilayah yang banyak memiliki dialek bahasa.Walaupun tadinya bahasa itu merupakan satu rumpun yaitu bahasa Ledo. Bahasa Ledo ini dapat dimengerti oleh semua penduduk sekalipun dalam pergaulan sehari-harinya menggunakan bahasanya sendiri. Jenis bahasa di Sulawesi Tengah serta daerahdaerah pemakaiannya adalah: (1). Bahasa Ledo daerah pemakaiannya Palu, Kalukubula, Biromaru, Dolo, Raranggonau, (2)Bahasa Tara daerah pemakaiannya Talise, Kawatuna, dan Parigi, (3)Bahasa Rai daerah pemakaiannya Tawaeli dan Tosale, (4)Bahasa Ija di Bora (5)Bahasa Edo di Sidondo dan Pesaku (6)Bahasa Ado di Pandere, Pakuli dan Sibalaya, (7)Bahasa Tea di Palolo 8)Bahasa Tado di Lindu, (9) Bahasa Moma di Kulawi, Bolapapu, Toro, Tunungku dan Lowi, (10)Bahasa Uma dan Tipikoro di Winatu, Gimpu, Pili, Penna, Kante wu, Lawe, Tuwulu.(11)Bahasa Aria di Karangana,Mapohi dan Banasu.(12)Bahasa Undo di Banawa dan Loli. (12)Bahasa Doa di Tamado, Rondingo.Di samping itu ada lagi bahasa daerah di teluk tomini yaitu bahasa Lauje, Tajio, dan Tialo yang pemakaiannya dijumpai di wilayah Tomini dan Moutong. Suku Bangsa yang mendiami wilayah Sulawesi Tengah di tinjau dari lokasi
3 Depdikbud, 1996/1997, Sejarah Daerah Sulawesi Tengah, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Sulawesi Tengah, Jakarta.Lihat hal.4546.

3

penelitian, mayoritas mempergunakan bahasa Kaili, oleh penulis disebut Komunitas4 Kaili. Komunitas Kaili di Raranggonau memiliki kebiasaan atau tradisi dan bentuk bahasa, yakni bahasa Kaili. Komunitas Kaili sebagai suatu suku bangsa mayoritas bermukim di Kabupaten Sigi. Umumnya komunitas suku bangsa tersebut hidup sebagai petani, mereka yang mendiami daerah pantai, sedikit yang menjadi nelayan. Kalaupun ada hanyalah sekedar pekerjaan sampingan. Desa yang menjadi perhatian adalah desa di sebuah lereng bukit. Desa itu bernama desa Raranggonau. Desa sesungguhnya adalah tatanan yang unik. Pada satu sisi ia sebagai tatanan wilayah, yang merupakan suatu entitas yang homogen. Setiap penduduk desa terutama pada tahap perkembangan primer adalah sebuah entitas yang homogen (geneologis), mendiami suatu lingkungan yang kecil yang memiliki ikatan primordal yang masih cukup tinggi, serta kelembagaan sosial (adat) yang hampir-hampir homogen pula.5 PERUBAHAN SOSIAL (SUATU KAJIAN SOSIAL KOMUNITAS KAILI DI LERENG BUKIT KABUPATEN SIGI) Mengacu pada konsep Redfield, desa Roronggonau dikategorikan sebagai sebuah komunitas yang tidak lagi terisolasi atau disebutnya sebagai “Peasent Community”atau bersifat lebih terbuka, karena memiliki hubungan dengan komunitas-komunitas lain, seperti karena adanya ikatan perkawinan dengan komunitas yang berasal dari komunitas Kulawi, yang dilakukan karena merasa seperasaan sentimen keagamaan seperti menikah karena memiliki agama yang sama yakni kristen. Komunitas juga memiliki unsur-unsur perasaan komuniti (community sentiment), menurut Soerjono Soekanto6 unsur-unsur perasaan komunitas terdiri atas tiga bagian, yang meliputi seperasaan, sepenanggungan dan saling memerlukan. Komponen ini untuk komunitas Kaili di desa Raranggonau dimiliki berdasarkan uraian yang akan diketengahkan kemudian. Suku Kaili yang berada di desa Raranggonau, pada umumnya sebagai petani dan pekerja ladang menetap. Mereka terdiri dari kurang lebih 431.000 orang. Warisan nilai-nilai lama, masih terasa mewakili. Makna dan konsep sosiologis-kultural masyarakat desa Raranggonau masih sangat kental dan
4 Menurut Ross komunitas adalah sejumlah keluarga dan individu-individu yang menempati sebuah wilayah yang saling berdekatan, ditandai oleh aspek-aspek kehidupan bersamaseperti kesamaan dalam cara produksi, kebiasaan atau tradisi dan bentuk bahasa, lihat dalam Esrom Aritonang, et al, 2001, Pendampingan Komunitas Pedesaan, sekretariat Bina Desa/IndHRRa: Jakarta, hal.40. 5 Radi A.Gany, Demokratisasi Masyarakat Desa:Dinamika Politik dan Kelembagaan Politik Desa Pemberdayaan Ekonomi Desa:Http://www.fppm.org/makalah%20radi%20gany.htm (online), diakses tanggal 4/2/2004.hal.9. 6 Menurut Soerjono Soekanto unsur-unsur perasaan komuniti (community sentiment), antara lain, a).seperasaan :unsur seperasaan akibat seseorang berusaha untuk mengidentifikasi dirinya dengan sebanyak mungkin orang dalam kelompok tersebut, sehingga kesemuanya dapat menyebutkan dirinya sebagai “kelompok kami” “perasaan kami” dan lain sebagainya.b)Sepenanggungan:setiap individu sadar akan peranannya dalam kelompok dan keadaan masyarakat sendiri memungkinkan peranannya, dalam kelompok dijalankan, sehingga dia mempunyai kedudukan yang pasti dalam darah dagingnya sendiri.c)Saling memerlukan:Individu yang tergabung dalam masyarakat setempat merasakan dirinya tergabung dalam masyarakat setempat merasakan dirinya tergantung pada “komunitinya” yang meliputi kebutuhan fisik maupun kebutuhan-kebutuhan psikologis. Lihat Soerjono Soekanto, 2003, Sosiologi Suatu Pengantar,PT.RajaGrafindo Persada:Jakarta, hal.150-151.

membumi pada komunitas Kaili tersebut.Hal tersebut dapat dibuktikan dari perasaan kesatuan pemukiman (teritorial) yang terletak di sebuah lereng bukit dengan kesatuan sosial hidup yang mendapat pengaruh luar,namun lebih banyak berhubungan dengan komunitas desa mereka sendiri.Untuk mencapai lokasi hanya dengan kendaraan roda dua, namun sekitar tahun 1990-an, masih harus dilewati dengan jalan kaki atau naik kuda sebagai alat transportasi. Dari ibukota kabupaten dapat dicapai dengan waktu kurang lebih 2 jam dengan kendaraan roda dua. Sedangkan berjalan kaki kurang lebih tujuh sampai delapan jam. Jarak dari ibukota Propinsi mencapai 45 km. Sebagai orang awam yang baru memasuki rute perjalanan yang terjal dan curam sekali dengan ketinggian dari atas pemukaan laut mencapai 640 meter, membuat bulu roma bergidik merinding. Biasanya penulis7, untuk memasuki desa tersebut harus berjalan kaki, walaupun dengan susah payah, hal tersebut terjadi ketika jalanan yang curam dan terjal menakutkan sekali. Ketika musim hujan berjalan, maka jalanan lebih parah lagi, longsor di sana-sini, jalanan begitu licin, salah melangkah bisa masuk jurang menganga, jadi nyawa taruhannya. Sampai di wilayah desa maka yang pertama di dapat adalah dua buah rumah yang terbuat dari dinding sayatan bambu. Kemudian kurang lebih 15 meter berjalan, maka akan didapati gereja kecil, tempat beribadah Kristen Protestan. Gereja tersebut dapat menampung 30 sampai 50 jamaah yang kadang sampai diluar pintu.Kurang lebih lima meter ditemukan SD Inpres untuk wilayah tertinggal. Mayoritas penduduknya beragama Kristen Protestan dan selebihnya Katolik, juga satu keluarga muslim yang bertugas sebagai bidan desa. Di mana rumahnya difungsikan sebagai tempat bertugas sekaligus buka warung kecilkecilan yang berisi keperluan sehari-hari, seperti gula, sampo, sabun, mie instan dan-lain kebutuhan sehari-hari. Pola pemukiman dari gambaran tersebut di atas berpencar, setiap pemencaran terdiri atas 4-7 kelompok rumah, yang dihubungkan dengan jalan setapak dan hutan liar, jadi antara kelompok rumah tersebut cukup berjauhan. Terbentuknya komunitas juga ditetapkan berdasarkan ikatan kepentingan, karena adanya ikatan kesamaan pandangan, kesamaan tujuan, kesamaan masalah dan kesamaan kebutuhan tanpa memandang asal usul wilayah, kedudukan sosial ekonomi, jenjang usia dan jenis kelamin, sebagai contoh kebutuhan akan air bersih untuk desa Raranggonau masih sulit terpenuhi untuk satu desa, di desa itu hanya satu buah tempat penampungan air berdekatan dengan rumah bidan desa. Ketika penampungan air tersebut menipis, maka warga desa harus turun gunung untuk mendapatkan air bersih ditempuh dengan jalan kaki 4 sampai 5 jam. Ikatan relasi sosial masih terasa begitu kental yang melahirkan rasa kesatuan sosial (komunitas), itu terjadi karena adanya ikatan darah, perkawinan, tetangga dan karena kepentingan bersama dalam hubungan kerja seperti dalam pertanian, pertukangan, perkawinan dan sebagainya. Semua warga merasa dalam suatu ikatan warga dan satu kesatuan hidup setempat (community). Desa Raranggonau masih bersifat tradisional, masih mempercayai adanya
7 Penulis pada tahun 2005-2007 pernah menjadi FDI (Fasilitator Desa Intensif).Untuk wilayah Sigi Biromaru dengan pokja Raranggonau dan Tompu, dua lokasi yang berbeda, namun memiliki resiko yang sama-sama besar untuk mencapai lokasi. Kemudian pada tanggal 12,13 dan 14 Oktober 2009 mengadakan perjalanan kesana dengan kendaraan roda dua,ditemani aparat setempat bernama Andi Irwan yang memiliki lokasi kerja di POLSEK Biromaru.

5

kekuatan roh yang berada di luar diri manusia. Kepercayaan terhadap adanya kekuatan roh itu diwujudkan dalam kegiatan upacara Balia. Balia adalah kegiatan yang dilakukan secara tradisional untuk mengobati berbagai jenis penyakit. Pengobatan Balia dilakukan oleh dukun (bayasa dalam bahasa Kaili). Balia untuk komunitas Kaili di desa Raranggonau selain untuk pengobatan juga ada balia untuk pertanian, seperti upacara yang berkenaan dengan kesuburan tanah, menolak wabah, hama tanaman, keselamatan para petani selama mengolah kebun atau ladang mereka. Pengobatan dapat dilakukan secara massal sebagai bentuk ikatan seperasaan dalam kelompoknya. Pada unsur seperasaan ini, kepentingan individu diselaraskan dengan kepentingan-kepentingan kelompok, sehingga merasa sebagai satu kesatuan kelompok masyarakat desa Raranggonau, yang dapat diselaraskan dengan struktur sosial masyarakatnya. Berdasarkan teknis pelaksanaannya, pengobatan Balia8 digolongkan atas tiga bagian, yakni : Tambilangi, adapun alat-alat yang digunakan adalah tambur, gong, tombak. Hewan persembahannya berupa kambing dan juga babi. Acara pengobatan dilakukan dengan ritual, pada awal pengobatannya, orang yang sakit ditempatkan pada tempat yang sudah ditentukan. Pengobatan diawali dengan memanggil roh oleh dukun yang nantinya akan mengobati orang yang sakit. Pemanggilan roh ini dilakukan dengan pemukulan gong dan tambur sampai sando kemasukan roh dan kesurupan. Setelah Sando kemasukan roh, kemudian sando melakukan pengobatan dengan cara memegang sebuah tombak bersama keluarga yang sakit (yang diobati) untuk menusuk hewan persembahan hingga mati. Maksud penusukan hewan sesembahan diharapkan penyakit akan segera sembuh dan tidak akan kembali lagi. Jinja, dengan bahan dan alat berupa perahu, ayam, beras pulut empat warna, yakni merah, putih, kuning dan hitam, berbagai macam kue (yang manismanis), pisang dan buah-buahan secukupnya, dan uang logam. Pelaksanaannya; bahan-bahan tersebut dialirkan ke aliran sungai, kemudian dilepaskan ke sungai yang mengalir dengan pimpinan sando. Pelepasan perahu kecil beserta isinya dimaksudkan sebagai sesaji yang dipersembahkan kepada roh halus (penguasa alam), dengan tujuan menyembuhkan penyakit. Di samping itu jinja berfungsi sebagai acara tolak bala agar terhindar dari bencana dan berbagai musibah. Torilapi, bahan dan alatnya berupa tongkat, tambur, gong, ayam. Pengobatan dalam Torilapi dilaksanakan pada masyarakat yang miskin. Penduduk (orang sakit) di tempatkan dalam posisi tertentu. Dukun memegang tombak sambil menyanyi dan menari diiringi pemukulan tambur dan gong oleh bule. Setelah Sando kesurupan dilanjutkan dengan memotong ayam dengan menggunakan tombak bersama keluarga orang sakit yang diawali dengan pembacaan mantramantra. Sementara Balia yang berhubungan dengan pertanian, disebut dengan Balia Tampilangi, yaitu balia yang digunakan dalam bidang pertanian. Balia Tampilangi adalah balia yang umum digunakan dalam upacara pertanian. Balia
8 Hasil wawancara dengan Markus pada tanggal 12 Oktober 2010 didesa Raranggonau.

Tampilangi menampakkan ciri menggunakan tombak bercabang dan bertaji pada saat upacara balia dilaksanakan. Upacara jenis9 ini dilakukan dalam beberapa tahap, Pertama adalah tahap persiapan. Tahap ini dimulai dengan libu (musyawarah) dewan pemimpin pertanian. Dalam libu dibicarakan waktu pelaksanaannya.Disiapkan alat-alat perlengkapan upacara seperti gendang, gong dan sebagainya. Kedua, adalah tahap pelaksanaan. Bila waktu yang direncanakan tiba seluruh penyelenggaraan dan partisipan hadir termasuk penyelenggara upacara yaitu Sando, yang dibantu oleh para Tobalia ( para penari yang mudah kesurupan) yang disebut topokoro balia.Mereka nantaro di bawah iringan bunyi gendang dan gong yang bertalu-talu dan seterusnya mengadakan acara moraro (menombak babi) sebagai korban. Ketiga, Upacara pesta makan, dari korban dalam upacara tersebut pada siang harinya di Bantaya. Upacara Balia Tampilangi diadakan dalam rangka mengajukan permohonan, sesembahan dan perlindungan kepada penguasa alam, agar terhindar dari malapetaka, bencana alam sebagai akibat dari kecerobohan, keacuhan dan kelalaian manusia berkomunikasi dengan dunia gaib. Cara ini merupakan permohonan agar supaya mereka membuka dan mengolah kebun baru untuk mendapatkan hasil yang melimpah, terhindar dari hama dan bahaya yang mengancam pertanian dan kehidupan mereka pada umumnya.Upacara Balia Tampilangi adalah rangkaian upacara yang berkaitan dengan upacara ada ntana (upacara adat pengolahan tanah) yaitu saat membuka ladang baru sampai dengan selesai panen. Upacara Balia Tampilangi berlangsung pada malam hari, dan kadang dilaksanakan dua sampai tiga malam berturut-turut. Upacara ini diselenggarakan pada saat bibit padi atau bibit coklat atau merica siap tanam, karena ladang selesai diolah dan menjelang penanaman benih (motuda). Jarak waktu itu digunakan untuk mengadakan upacara balia, sebagai salah satu upacara yang mengandung makna tersendiri, yaitu pemujaan dewa. Penyelenggaraan Balia Tampilangi diselenggarakan di halaman Bantaya, adalah suatu tempat khusus yang dibangun sebagai tempat berkumpul dan bermusyawarah para petani sebagai pendukung upacara dan sekaligus menjadi pusat kegiatan bersama selama membuka ladang baru sampai selesai panen.Bantaya dibangun secara gotong royong oleh seluruh anggota. Upacara dipimpin oleh Sando dan Tolanggara atau biasa disebut Topokoro Balia kemasukan roh halus. Mereka terdiri dari laki-laki dan wanita sering pula anakanak atau orang tua. Pemukul Gendang terdiri dari dua sampai tiga orang dan sering pula diiringi dengan gong. Mereka disebut Bule.10Orang yang terlibat dalam upacara tersebut ialah seluruh pimpinan penyelenggara pertanian yakni; ulutumba, pemimpin proses upacara ada ntana, panuntu adalah wakil atau pembantu pelaksana dari ulutumba, pagane (pawang) adalah orang yang ahli dan bertugas membacakan mantra-mantra (gane) serta menyampaikan harapan dan doa kepada penguasa
9 Hasil wawancara dengan Randa pada tanggal 13 Oktober 2010 di desa Raranggonau. 10 Bule adalah orang yang ahli memukul gendang dalam berbagai bunyi dan nada yang memudahkan dan memberikan semangat Topokoro Balia tersebut kemasukan roh halus. Sehingga mampu melompat-lompat dengan gaya bebas kesana kemari.Hasil wawancara dengan Martinus di desa Raranggonau pada tanggal 14 Oktober 2009 di desa Raranggonau.

7

langit dan bumi (nokimba’a), togura nutana, bertugas sebagai hakim yag mengadili perkara-perkara sengketa, pengaduan yang berkaitan dengan pelanggaran pertanian, maradika ntana bertugas sebagai penguasa dan pemimpin pertanian secara keseluruhan dan suro sebagai penghubung atau pesuruh yang bertugas menghubungi anggota-anggota dalam rangka mensukseskan tugas-tugas dalam bidang pertanian. Semakin beraneka ragamnya lapangan hidup di semua sektor pedesaan tidak demikian halnya pada komunitas desa Raranggonau, untuk mendapatkan sumber hidup, maka kelompok-kelompok petani dan lapangan kerjanya masih orientasi pada ladang dan pertanian sawah tadah hujan, juga rasa keterikatan genealogis masih menjadi tali penghubung relasi sosial masyarakat ini. Dasar geneologis nampaknya kuat sebagai syarat terciptanya hubunganhubungan atau interaksi sosial, tanpa dibatasi teritorial tertentu.11 Suku Kaili terutama di komunitas desa Raranggonau yang sejak dahulu telah terbuka dengan dunia luar, perkawinan dengan penduduk pendatang, juga dengan adanya agen pembaharu seperti LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) juga para tenaga FDI(Fasilitator Desa Intensif) sebagai tenaga trampil untuk merekrut warga mengikuti pendidikan luar sekolah melalui kejar Paket A, B dan C, lewat pendidikan non formal dengan tenaga tutor yang didatangkan dari tutor-tutor dari Ibukota Propinsi, juga tutor dari wilayah kabupaten Sigi yang memiliki kemampuan dan paruh waktu turun ke desa. Hubungan kerjasama antara Komunitas Kaili di desa Raranggonau pada setiap kegiatan terlihat harmonis dan baik tanpa merasa ada yang lebih di antara anggota masyarakat. Kalaupun ada perasaan merasa lebih, bukan karena kesukuan melainkan karena kondisi ekonomi masing-masing warga yang memiliki lahan perladangan yang lebih luas. Kondisi sosial ekonomi inilah yang memicu penulis untuk menuangkan gagasan mengantar pemerhati sosial untuk melihat bagaimana bangunan Nosarara-Nosabatutu perlu dilestarikan dan dijadikan sebagai tiang penyanggah keharmonisan di sebuah komunitas untuk kemudian dilestarikan disetiap generasi untuk menjadi sebuah kearifan lokal. Nosarara Nosabatutu sebagai ungkapan kata, dalam perbendaharaan sosial budaya to kaili, dijumpai pada hampir sub dialek bahasa Kaili di Kabupaten Sigi.Pada sub dialek bahasa to potorai (Tawaeli, Labuan, dan Sindue),kata ungkapan yang mengandung makna yang sama dengan Nosarara yaitu :“Nosalara” (rara = lara), dan ungkapan nosabatutu hampir digunakan pada semua sub dialek to Kaili, termasuk komunitas to Kaili di desa Raranggonau. Nosarara terdiri dari dua kata awalan dan kata dasar. ( Nosa = awalan, rara dan batutu keduanya kata benda. Rara atau lara bermakna majemuk (1) hati (2) di dalam sebuah ruang tertutup (3) tempat menyimpan sesuatu yang terbuat dari kain atau sejenisnya, berbentuk kantongan segi empat yang pada bagian atas diberi tali pengikat (pangguru) seperti tali papuru (celana dalam). Tali dimasukkan dalam lipatan bagian atas yang memudahkan di buka dan di tutup dengan cara melepas
11 Depdikbud, 1985, Upacara Tradisional dalam Kaitannya dengan Peristiwa Alam dan Kepercayaan Daerah Sulawesi Tengah, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah: Jakarta,lihat hal.14.

ikatan. Tulisan ini mencoba melihat makna dua ungkapan secara terpisah baik dalam makna denotatif atau makna konotatif. Makna denotatif menunjukkan makna kata yang sesungguhnya baik kata dasarnya (rara, batutu) maupun kata awalan (bentukan katanya-nosa). Makna konotatif bisa dilihat dari penggunaan kata atau dalam konteks sosiologis dan kultural dalam satu komunitas to kaili.12 Makna Denotatif Kata Nosa adalah awalan seperti juga kata nosi. Nosa sebagai awalan selalu dirangkai dengan kata benda, seperti nosabatutu, nosabanua, nosangapa, nosalara, nosambanga, nosa (ngg) ura (kura = belanga). Sebagai awalan kata, nosa juga terangkai dengan kata kerja seperti nosa (mpa) ngaji, nosampaturu,nosamaturu dan sebagainya. Awalan kata nosa dalam konteks sosiologis yaitu :nompakasangu (menunjukkan adanya) (1)unsur kesatuan kelompok/komunitas (2) unsur kebersamaan dalam berbagai hal/keadaan. Nosarara (Ledo) juga mengandung banyak makna :1) Nosangurara (hati), 2) Nosanguraa (darah), 3)Nosampesusu (bersaudara).Kata lara (rai) atau rara (ledo), mengandung makna lain yang juga digunakan dalam percakapan seharihari. Rara menunjukkan tempat pada bagian dalam (Bagian dalam dari sesuatu yang yang tertutup) seperti : rarantaiku (dalam hatiku, di dalam perutku)rara lamari (lemari), rara laci,rarampeti(peti)dan sebagainya.Bisa juga makna dalam hubungan sosiologis dan kultural seperti “rara ponjambokoa” raramparuja, rarantalua, raranggayu, rarampangale.Rarapojambokoa menunjukkan “keadaan dimana seseorang berada di dalam ikatan perkawinan.”Ri rara pojambokoa, rajagai kedo ante totua”(ketika sedang berada di dalam ikatan perkawinan, hendaknya menjaga perilaku kepada orang tua). Raramparauja (sawah), rarantalua (kebun), rarampangale (hutan belantara) menunjukkan tempat (area) atau bagian dalam sawah, kebun dan hutan tersebut.Nosarara (nosalara) dalam bahasa Kaili lebih menunjukkan makna konotatif daripada denotatif. Nosarara mengandung arti nosanguraa, nosampesuvu. Nosarara menunjuk pada makna “adanya satu ikatan (hubungan darah (geneologis) dan atau karena ikatan hubungan perkawinan dalam satu komunitas to Kaili. Orang yang tidak dikenal asal usulnya keluarga dan kampungnya dalam bahasa Kaili dianggap sebagai orang asing. Mereka itu disebut “tona le nisani unu nuapuna”. Rai Rinjani unu nuapuna (rai). Ketika to Kaili sudah kawin mawin dengan suku pendatang dan telah menghasilkan keturunan dan telah menetap tinggal di tanah Kaili, sejak ratus tahun lalu maka asal usul mereka tidak lagi dipertanyakan. Mereka telah menjadi bagian dari keluarga komunitas to Kaili. Mereka itu termasuk sarara = Salara. Nosa batutu = Nosangu palisa (rai),nosangupomboli,nosanguasala (dari rahim ibu yang sama).Nosabatutu bisa berarti suatu keluarga (komunitas)
12 Lihat Makalah yang disampaikan oleh H.Syamsuddin.H.Chalid, Nosarara Nosabatutu, Disampaikan pada kegiatan Diskusi yang Diselenggarakan FKIP Universitas Tadulako Palu pada tanggal 28 Maret 2007 di FKIP UNTAD.

9

memiliki batutu yang sama (nosangu batutu) dan digunakan sebagai alat menyimpan “uang”, seperangkat alat khusus, seperti alat penyimpan pomongoa (alat makan sirih). Makna Konotatif Ketika ingin mengangkat satu ungkapan menjadi “ ide sosiologis” sebagai alat perekat persaudaraan, atau komunitas, maka satu ungkapan dapat diberi makna sosiologis-kultural yang luas, tanpa mengurangi makna asli (yang sesungguhnya). Nosarara Nosabatutu dapat diberi makna yang lebih dalam, baik dilihat dari hubungan sosiologis-kultural. Nosarara Nosabatutu dapat diberi makna yang lebih dalam, baik dilihat dari hubungan sosiologis-kultural. Nosarara menunjukkan makna ikatan kekeluargaan karena ikatan (hubungan) darah (geneologis) dan ikatan perkawinan, terutama antar suku (komunitas) to kaili di desa Raranggonau. Nosabatutu dapat bermakna bahwa suatu komunitas mempunyai tempat/wadah menyimpan harta/kekayaan dan peralatan untuk kepentingan bersama secara bersama-sama menggunakan isi batutu dalam bentuk uang harta(kekayaan) untuk kepentingan komunitas tersebut. Secara normatif, to pasabatutu (komunitas yang menggunakan “batutu” yang sama sebagai tempat menyimpan harta/kekayaan, tidak pernah berani menyimpan dan memanfaatkan dana dari batutu (pundi-pundi) untuk kepentingan pribadinya saja. Toposabatutu memiliki ciri budaya sebagai berikut: Hanya menyimpan (hasil pendapatannya) di dalam batutu bersama komunitasnya. Hanya mengambil dan memanfaatkan (dana/benda) berharga isi batutu tersebut untuk kepentingan bersama komunitasnya. Semua anggota komunitas berupaya memiliki saham untuk ditabung dan dimanfaatkan bersama. Mendapatkan sumber hidup di sini dan hasilnya dipakai membangun di sini. Topesarara mengandung arti : Mempunyai komitmen dan semangat kekeluargaan dan persaudaraan (saling mengunjungi dan memberi perhatian) seperti nosipanjayo, nositora, nosiayo. Secara sosial psikologis anggota komunitas merasa dalam satu ikatan darah, ikatan komunitas dan ikatan kepentingan bersama (topasalara-topasabatutu). Komunitas itu memiliki simpati dan empati tinggi, terhadap anggota komunitasnya, ketika ditimpa musibah dan atau ketika “mosusa”atau”mosalia”. Siap membela dan berkorban untuk kepentingan bersama, ketika ditimpa musibah, dengan menyisihkan dana pribadi. Membangun budaya gotong-royong (baik di bidang sosial, ekonomi, pertanian dan sebagainya (Hasil wawancara dengan Tahwiri Labontina di desa Sidera).

Bila ciri budaya komunitas toposalara-toposabatutu digunakan sebagai “jargon” perekat sosial kultural to kaili di desa Raranggonau, maka makna tersebut dapat diperluas, tanpa kehilangan makna dan ciri khas kandungan makna kedua ungkapan tersebut.Ungkapan “Kita Pura hii nosarara nosabatutu” dapat bermakna luas sama seperti jargon persatuan masyarakat Minahasa “ Kita Samua Basudara”. Secara terminologi kata nosarara mengandung empat macam komitmen yang harus ditegakkan, yaitu: Komitmen persaudaraan yang kuat. Artinya bahwa setiap warga masyarakat harus menjadi keluarga besar sebagai orang-orang yang bersaudara atau bersatu asal kejadian. Dengan demikian tidak boleh ada rasa atau anggapan bukan bersaudara antara sesama anggota masyarakat. Komitmen persatuan yang erat.Artinya bahwa setiap warga masyarakat harus bersatu padu dalam melakukan setiap kegiatan, yang dalam hal ini diwujudkan dalam sifat gotong-royong seperti nosidondo, nobalibalia, nokajulu dan sebagainya. Komitmen kebersamaan yang erat.Artinya bahwa setiap warga masyarakat harus bersama-sama untuk mengatasi segala sesuatu masalah bersama dengan tidak memandang adanya perbedaan status sosial, pangkat, kedudukan dan sebagainya. Jadi di sini dilihat hanyalah persamaan, bukan perbedaan. Komitmen kekeluargaan yang utuh.Artinya bahwa setiap warga masyarakat harus menempatkan dirinya dalam satu ikatan atau kewargaan yang besar sehingga bila ada seorang warga masyarakat yang ditimpa bencana, maka seluruh anggota masyarakat harus membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi anggota masyarakat yang bersangkutan. Selanjutnya kata nosabatutu, secara terminologi mengandung beberapa komitmen sebagai berikut: Komitmen rasa senasib dan sepenanggungan. Artinya bahwa setiap anggota masyarakat harus menempatkan dirinya sebagai anggota masyarakat yang memiliki nasib yang sama sehingga setiap kesulitan seseorang merupakan kesulitan bagi seluruh anggota masyarakat lainnya. Dengan demikian beban hidup seseorang juga merupakan beban hidup bagi yang lainnya.Dalam hal ini tentu berkaitan dengan masalah hidup dan kehidupan khususnya dalam bidang ekonomi. Komitmen menghargai dan memelihara kekayaan yang ada (baik kekayaan alam/lingkungan maupun kekayaan pribadi. Untuk itu kekayaan yang ada dalam lingkungan masyarakat desa, kampung, kota, dan sebagainya adalah kekayaan bersama yang harus dilestarikan dan dipelihara secara bersama-sama untuk kepentingan bersama pula. Dalam hal ini perlu adanya rasa memiliki, sehingga tercipta rasa tanggung jawab bersama atas milik masyarakat. Komitmen kerahasiaan. Artinya bahwa setiap anggota masyarakat memiliki beban moral kerahasiaan terhadap apa yang menjadi milik bersama maupun milik pribadi, untuk tidak bukakan rahasia itu kepada orang atau pihak-pihak lain yang tidak bertanggung jawab.Hal ini berkaitan dengan kerahasiaan pemerintah, masyarakat maupun individu yang ada dalam lingkungan

11

masyarakat.Hal ini dimaksudkan untuk menghindari adanya penghianatan. Komitmen kewaspadaan.Artinya bahwa setiap anggota masyarakat harus waspada terhadap hal-hal yang merugikan masyarakat seperti pencurian, perampokan, penyalahgunaan hak dan kewajiban. Delapan komitmen yang dibangun melalui ungkapan nosarara nosabatutu berkaitan dengan nilai falsafah leluhur untuk membangun suatu peradaban yang kuat, kebudayaan yang tangguh dalam hal pembentukan karakter (caracter building) bagi komunitas kaili di desa Raranggonau dan secara keseluruhan di lembah Kaili. KESIMPULAN Terbentuknya komunitas juga ditetapkan berdasarkan ikatan kepentingan, karena adanya ikatan kesamaan pandangan, kesamaan tujuan, kesamaan masalah dan kesamaan kebutuhan tanpa memandang asal usul wilayah, kedudukan sosial ekonomi, jenjang usia dan jenis kelamin. Ikatan relasi sosial masih terasa begitu kental yang melahirkan rasa kesatuan sosial (komunitas), itu terjadi karena adanya ikatan darah, perkawinan, tetangga dan karena kepentingan bersama dalam hubungan kerja seperti dalam pertanian, pertukangan, perkawinan dan sebagainya. Semua warga merasa dalam suatu ikatan warga dan satu kesatuan hidup setempat (community). Komunitas Kaili di desa Raranggonau masih bersifat tradisional, masih mempercayai adanya kekuatan roh yang berada di luar diri manusia. Kepercayaan terhadap adanya kekuatan roh itu diwujudkan dalam kegiatan upacara Balia. Pengobatan Balia dilakukan oleh dukun (bayasa dalam bahasa Kaili).

DAFTAR PUSTAKA Depdikbud, 1996/1997, Sejarah Daerah Sulawesi Tengah, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Sulawesi Tengah, Jakarta.Lihat hal.45-46. -------------, 1985, Upacara Tradisional dalam Kaitannya dengan Peristiwa Alam dan Kepercayaan Daerah Sulawesi Tengah, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah: Jakarta,lihat hal.14. Esrom Aritonang,et al, 2001, Pendampingan Komunitas Pedesaan, sekretariat Bina Desa/IndHRRa: Jakarta, hal.40. Lihat Makalah yang disampaikan oleh H.Syamsuddin.H.Chalid, Nosarara Nosabatutu, Disampaikan pada kegiatan Diskusi yang Diselenggarakan FKIP Universitas Tadulako Palu pada tanggal 28 Maret 2007 di FKIP

UNTAD. Radi A.Gany, Demokratisasi Masyarakat Desa:Dinamika Politik dan Kelembagaan Politik Desa. Pemberdayaan Ekonomi Desa: http://www. fppm.org/makalah %20 radi%20gany.htm (online), diakses tanggal 4/2/2004.hal.9.

Redfield, Robert. 1963. The Litle Community, Peasant Society and Culture. The University of Chicago Press, The University of Toronto Press: Chicago dan London, Toronto dan Canada. Soerjono Soekanto, 2003, Sosiologi Persada:Jakarta, hal.150-151. Suatu Pengantar,PT.RajaGrafindo

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->