P. 1
Pendidikan Karakter Teori Dan Aplikasi

Pendidikan Karakter Teori Dan Aplikasi

|Views: 253|Likes:
Published by Awan Doubleprinces

More info:

Published by: Awan Doubleprinces on Jul 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/20/2014

pdf

text

original

Pendidikan Karakter; Teori dan Aplikasi

BAB I PENDAHULUAN

1

Seri Pendidikan Karakter

BAB I PENDAHULUAN

A. Pendahuluan

Globalisasi dapat diartikan sebagai proses saling berhubungan yang mendunia antar individu, bangsa dan negara, serta berbagai organisasi kemasyarakatan, terutama perusahaan. Proses ini dibantu berbagai alat komunikasi dan transportasi yang berteknologi canggih, dibarengi kekuatan-kekuatan politik dan ekonomi serta nilai-nilai sosial-budaya yang saling mempengaruhi. Era globalisasi dengan ciri-ciri adanya saling keterbukaan dan ketergantungan antar negara. Akibat saling keterbukaan dan ketergantungan ditambah dengan arus informasi yang sangat cepat maka kompetisi antar negara pun akan semakin ketat terutama pada bidang ekonomi. Bagi Indonesia globalisasi ini tidak hanya memiliki dimensi domestik akan tetapi juga dimensi global. Dari sisi dimensi domestik globalisasi ini memberi peluang positif terutama
2

Pendidikan Karakter; Teori dan Aplikasi

untuk mengadopsi dan menerapkan inovasi yang datang dari luar untuk meningkatkan peluang kesempatan kerja bagi masyarakat. Di samping itu dari sisi keuntungan domestik, pengaruh globalisasi ini dapat mendidik masyarakat untuk memiliki pola pikir kosmopolitan dan pola tindak kompetitif, suka bekerja keras, mau belajar untuk meningkatkan keterampilan dan prestasi kerja. Dari sisi globalisasi, kita hidup di dalam dunia yang terbuka, dunia yang tanpa batas. Perdagangan bebas serta makin meningkatnya kerjasama regional memerlukan manusia-manusia yang berkualitas tinggi. Kehidupan global merupakan tantangan sekaligus membuka peluang-peluang baru bagi pembangunan ekonomi dan bagi pembangunan SDM Indonesia yang berkualitas tinggi untuk memperoleh kesempatan kerja di luar negeri. Di sinilah tantangan sekaligus peluang bagi peningkatan mutu pendidikan Indonesia baik untuk memenuhi SDM yang berkualitas bagi kebutuhan domestik maupun global. Untuk menjawab tantangan sekaligus peluang kehidupan global di atas, diperlukan paradigma baru pendidikan. H.A.R. Tilar (2000:19-23) mengemukakan pokok-pokok paradigma baru pendidikan sebagai berikut: (1) pendidikan ditujukan untuk membentuk masyarakat Indonesia baru yang demokratis; (2) masyarakat demokratis memerlukan pendidikan yang dapat menumbuhkan individu dan masyarakat yang demokratis; (3) pendidikan diarahkan untuk mengembangkan tingkah laku yang menjawab tantangan internal dan global; (4) pendidikan harus mampu mengarahkan lahirnya suatu bangsa Indonesia yang bersatu serta demokratis; (5) di dalam menghadapi kehidupan global yang kompetitif dan inovatif, pendidikan harus mampu mengembangkan kemampuan berkompetisi di dalam rangka kerjasama; (6)
3

Dalam paradigma baru ini. menghayati dan bangga sebagai insan Indonesia. dan (7) yang paling penting. 4 . tiba-tiba ditantang menjadi penanggung jawab pendidikan. Konflik-konflik sosial. akan tetapi yang lebih penting masyarakat ditantang untuk turut serta menentukan jenis pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan. dan (5) membangun pendidikan yang berorientasi pada kualitas individu berbasis karakter. Tanggung jawab ini tidak hanya sekedar memberikan sumbangan untuk pembangunan gedung sekolah dan membayar uang sekolah. Paradigma baru pendidikan di atas mengisyaratkan bahwa tanggung jawab pendidikan tidak lagi dipikulkan kepada sekolah. (3) sumber daya pendidikan yang profesional. Untuk mencapai tujuan ini diperlukan aktualisasi pendidikan nasional yang baru dengan prinsip-prinsip : (1) partisipasi masyarakat di dalam mengelola pendidikan (community based education). (2) demokratisasi proses pendidikan. dan (4) sumber daya penunjang yang memadai. akan tetapi dikembalikan kepada masyarakat dalam arti sekolah dan masyarakat sama-sama memikul tanggung jawab. pendidikan harus mampu meng-Indonesiakan masyarakat Indonesia sehingga setiap insan Indonesia merasa bangga menjadi warga negara Indonesia.Seri Pendidikan Karakter pendidikan harus mampu mengembangkan kebhinekaan menuju kepada terciptanya suatu masyarakat Indonesia yang bersatu di atas kekayaan kebhinekaan masyarakat. masyarakat yang selama ini pasif terhadap pendidikan. Dan di sinilah para pemimpin formal dan informal pada semua aspek kehidupan harus menjadi teladan. perilaku yang exklusif dan primordial muncul karena belum semua masyarakat merasa. tindakan-tindakan diskriminasi.

ketidakadilan dan sebagainya itu. Misalnya masalah akhlak lulusan. dan lain-lain. Tapi disisi lain keberhasilan tersebut belum dibarengi pada upaya yang maksimal dalam menanamkan akhlak pada anak didik kita. akhir-akhir ini banyak hal yang patut menjadi bahan renungan mendalam. nepotisme.Pendidikan Karakter. kesesuaian lulusan dengan lapangan kerja. Hal ini bukanlah sesuatu yang mudah karena banyak kendala yang mempengaruhi. (2) bagi masyarakat yang tinggal di ibukota propinsi. antara lain: (1) bagi masyarakat hal ini merupakan masalah baru sehingga perlu proses sosialisasi. monopoli. masalahnya lebih sederhana karena tingkat pendidikan dan ekonomi relatif baik. Mengapa lulusan pendidikan kita masih menghasilkan lulusan yang sebagiannya masih sanggup korupsi. Permasalahan lain yang membutuhkan renungan sehingga dirasakan perlunya paradigma baru berkaitan dengan pendidikan. (3) bagi masyarakat yang tinggal di ibukota kecamatan dan desa masalahnya menjadi rumit karena tingkat pendidikan masyarakatnya rendah dengan kondisi kehidupan miskin. banyak anak didik kita telah menorehkan prestasi pada ajang olimpiade baik pada tingkat nasional maupun internasional. Akar masalah adalah jiwa korup. Pendidikan sejatinya telah memberikan kontribusi pada pengembangan intelektual. Masih cukup banyak siswa-siswa kita di sekolah 5 . sehingga tidak sulit menyeleksi orang-orang yang akan duduk pada posisi tanggung jawab ini. kotamadya dan kabupaten. Teori dan Aplikasi termasuk meningkatkan mutu pendidikan dan memikirkan kesejahteraan tenaga pendidik agar dapat memberikan pendidikan yang bermutu kepada peserta didik. masalah nasionalisme di tengah masa globalisasi. Sebenarnya jiwa korup inilah yang menurunkan sifat berkolusi.

tawuran. khususnya pendidikan formal. Remaja yang nakal amat potensial untuk berkembang menjadi orang dewasa yang jahat. Masalah terbesar apa? Pendidikan akhlak. Rumah tangga dan masyarakat pun ikut menentukan. Karena itu. Tidak dapat diragukan lagi bahwa masalah kurang relevannya kemampuan lulusan dengan lapangan kerja memang merupakan salah satu kekurangan dalam pendidikan kita. hasil pendidikan seseorang tidak hanya ditentukan oleh pendidikan di sekolah (dan perguruan tinggi). Apa yang seharusnya menjadi inti pendidikan kita? Beberapa tahun yang lalu ada keluhan dari Menteri Pendidikan tentang pendidikan kita.Seri Pendidikan Karakter menengah yang nakal seperti mabuk-mabukan. sekolah dan perguruan tinggi kita ikut ambil bagian juga sebagai penyebab terjadinya krisis yang kita alami sekarang. Dari sinilah muncul konsep link and match yang tekenal itu. Keluhan itu ialah kurang sesuainya lulusan sekolah kita dengan tuntutan lapangan kerja.yang kurang baik. Sebenarnya. kita mengetahui bahwa kenakalan itu potensial untuk kejahatan. sebagiannya diakibatkan oleh akhlak pelaku bisnis -dan orang-orang yang berhubungan dengan itu. Jika ditelusuri perjalanan sejarah maka akan muncul informasi 6 . Padahal. bolos sekolah. Krisis ekonomi yang kita alami sekarang yang merambat ke krisis kepercayaan kepada pemerintah. Artinya. Mereka itu adalah lulusan sekolah dan perguruan tinggi. Namun demikian ada satu hal yang harus diingat: itu bukan masalah terbesar dalam pendidikan kita. dimana akhlak yang dibangun merupakan karakter dari hasil pendidikan. kata “pendidikan” yang dimaksud dalam buku ini mencakup pendidikan di tiga tempat pendidikan tersebut.

yaitu manusia harus disiapkan agar menjadi manusia yang bijaksana. Pada dasarnya. Manusia yang bijaksana itu ternyata sulit dihasilkan. yang harus menjadi tujuan pendidikan. Sekolah ketika itu menekankan tujuannya pada meningkatkan kemanusiaan manusia. bukan mengajarkan keterampilan untuk bekerja. Teori dan Aplikasi berkaitan dngan tujuan pendirian sekolah. yang dimaksud mereka dengan manusia bijaksana atau pencinta kebijaksanaan ialah manusia yang banyak pengetahuannya dan memiliki kemampuan tinggi dalam pengendalian diri. lebih mendasar. mereka haruslah menjadi bintang 7 . Sekolah ketika itu memang belum diarahkan untuk mencetak tenaga kerja. sekolah pada awalnya memang dibuat bukan menyediakan lapangan kerja. Karena itulah Pythagoras mendirikan orde (aliran) yang lebih berorientasi dalam mengajarkan aktivitas ritual yang diduga dapat menjadikan seseorang memiliki kemampuan tinggi dalam mengendalikan diri.Pendidikan Karakter. Plato melihat ada masalah yang lebih esensial. Dalam fikiran Plato tujuan mendirikan lembaga pendidikan bukan untuk mencetak tenaga kerja. sebab semua pekerjaan saat itu bisa dikerjakan tanpa harus mengenyam bangku sekolah. Meskipun demikian. dengan nama Akademia. ada masalah yang lebih besar. Ada banyak ciri manusia bijaksana yang dimaksud oleh Plato dan kawan-kawannya. yang agak mudah dihasilkan ialah manusia yang mencintai kebijaksanaan (the lover of wisdom). bukan berarti pada saat itu belum ada lapangan kerja. Sejarah mencatat nama Plato ( filsuf Yunani) adalah orang yang mulamula mendirikan lembaga pendidikan yang mirip dengan sekolah kita sekarang. Orang-orang terdidik haruslah menjadi panutan orang di sekitarnya dalam hal perikemanusiaan yang tinggi.

ukuran yang mereka gunakan ialah prosentase lulusan yang lulus perguruan tinggi favorit. Dalam UU Nomor 2 tahun 1989 disebutkan bahwa keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah inti pendidikan kita. khususnya pemilihan SMA. Orang yang bijaksana atau pencinta kebijaksanaan yang dimaksud orang-orang Yunani Kuno itu mirip sekali dengan akhlak mulia (dalam ajaran Islam). tidak nakal merupakan kriteria pertama dalam pemilihan SMA. 8 . Tetapi. Mungkin tidak terlalu keliru bila disimpulkan bahwa inti pendidikan pada zamanYunani Kuno itu ialah pendidikan akhlak.Ahmad Tafsir (1991 dan 1996) menggambarkan kebanyakan orang tua menyekolahkan anak dengan tujuan: 1) agar anaknya tidak nakal. pembentukan akhlak selalu merupakan inti tujuan. Diterimanya hukuman mati -yang dijatuhkan oleh pengadilan Athena. 2) alasan pemilihan sekolah oleh orang tua murid telah bergeser. Misalnya pengetahuan yang banyak dan terampil bekerja. Anehnya. mereka harus mampu menjadi teladan kemanusiaan masyarakatnya. Jadi. Kriteria nomor satu ialah besarnya kemungkinan sekolah itu mendidik anaknya agar tidak nakal. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Prof. Memang tujuan pendidikan tidaklah hanya akhlak mulia. Dr.oleh Socrates menjelaskan kenyataan itu. Dahulu. Sekarang menemukan data bahwa sebagian besar orang tua murid menjadikan mutu akademik itu sebagai kriteria kedua. mutu akademik SMA merupakan kriteria pertama dalam pemilihan. Tetapi dalam operasinya kita masih menempatkan penguasaan pengetahuan dan keterampilan sebagai inti pendidikan. Tujuan-tujuan lain ada juga.Seri Pendidikan Karakter bersinar dalam masyarakatnya.

sebab Jalan terbaik dalam membangun seseorang ialah pendidikan. Penting untuk meneruskan perjalanan bangsa yang besar ini. Bangsa yang besar terutama ditandai oleh ketinggian akhlaknya. keempat. berbagai lembaga swadaya masyarakat. Berhasilnya pendidikan membangun akhlak adalah amat penting bagi kita. organisasi politik. orang tua akan malu bila anaknya nakal. lembaga pendidikan sekolah ialah sekolah dengan bermacam tingkat dan jenis. kepolisian. Ada tiga tempat pendidikan yaitu sekolah. Adapun lembaga pendidikan yang berlaku di masyarakat ialah di lembaga-lembaga masyarakat seperti koperasi. ketiga. pengadilan. Lembaga pendidikan di rumah sudah jelas yaitu rumah tempat tinggal seseorang. dan masyarakat. Bila anaknya di SMA nakal maka akan timbul banyak kerugian. Agar zaman global tahan banting. dan lain-lain. Jalan terbaik dalam membangun masyarakat ialah pendidikan. Jalan terbaik 9 .Pendidikan Karakter. kesehatan anak itu akan merosot bila nakal. Teori dan Aplikasi Pergeseran itu dapat dipahami. penjara. rumah. maka bisa dilakukan dengan pendidikan. Jalan terbaik dalam membangun negara ialah pendidikan. Penting karena ia merupakan inti pendidikan kita. Dalam zaman global itu seseorang memerlukan pengendali yang kuat agar ia mampu memilih dan memilah nilai-nilai yang banyak sekali ditawarkan kepadanya. Berhasilnya pendidikan akhlak penting pula dalam rangka menyiapkan generasi penerus untuk mampu hidup dalam zaman global. Pertama. kedua. Jadi sebenarnya harapan pertama orang tua murid kepada sekolah ialah agar anaknya tidak nakal. kadang-kadang pengeluaran uang akan lebih besar bila anaknya nakal. prestasi akademik anaknya itu akan turun bila nakal.

misalnya pada bidang hukum lawyer kita hebat. dan membangun karakater. Dalam pembinaan pendidikan keterampilan kita juga berhasil. Pendidikan kita cukup berhasil dalam membangun pengetahuan (sain dan teknologi). matematika dan perlombaan robot pada level international semua itu menggunakan teknologi mutakhir. kokoh secara ideolgi dan juga mempunyai 10 . adalah karakter. dalam beberapa bidang keterampilan memang terlihat pendidikan keterampilan kita kurang berhasil namun kekurangberhasilan itu lebih disebabkan oleh lemahnya karakter lulusan kita. fokus pendidikan hanya tiga. tenaga medis kita banyak dipakai di manca negara. Membangun kemampuan sain dan teknologi cukup berhasil.Seri Pendidikan Karakter membangun dunia juga pendidikan. namun pendidikan kita ternyata belum maksimal dalam membangun karakter. Sekarang ini pendidikan kita sedang fokus pada pendidikan keterampilan tingkat menengah dengan dibukanya begitu banyak sekolah menengah keterampilan (SMK). Dari ketiga elemen pendidikan intnya hanya satu yakni berbasis. Secara sederhana. membangun keterampilan (skill). anak didik kita memperoleh juara dalam olimpiade sain. arsitek kita hebat juga. yaitu membangun pengetahuan. Dalam hal pendidikan karakter yang sudah dibangun selama ini sejatinya perlu penguatan dari sisi ideologi kebangsaan dan kesantunan sehingga pendidikan dapat melahirkan warga negara yang berilmu. cukup berhasil juga dalam membangun keterampilan. indikatornya lulusan pendidikan telah mempu membuat pesawat terbang. Keberhasilan SMK belum dapat kita nilai karena memang baru-baru ini saja kita memulainya.

pesuruh sekolah. Pendidikan karakter selalu ada sejak UU yang pertama secara tersamar. UU Nomor 2 Tahun 1989. semua pegawai tata usaha. Pengajaran matematik dapat diserahkan hanya kepada guru matematik. Beberapa mata pelajaran memang dapat berhasil sekalipun tidak dijadikan fokus. fokus pendidikan. Teori dan Aplikasi kesantunan. 11 . UU Tahun 1954. bila institusi itu sekolah maka yang bertanggung jawab sekurang-kurangnya adalah kepada sekolah. pendidikan akhlak harus dijadikan fokus program. Perhatikan Undang-Undang System Pendidikan Nasional (UUSPN). Dari sekian banyak menteri pendidikan belum ada menteri pendidikan yang menjadikan pembangunan karakter sebagai pendidikan nasional. Dengan demikian Mengapa pendidikan kita belum maksimal dalam membangun karakter? Pembangunan karakter belum maksimal dalam pendidikan kita karena pembangunan karakter itu belum pernah dijadikan fokus dalam pendidikan kita. pendidikan karakter merupakan bagian dari pendidikan agama dan pendidikan kewarganegaraan (PKn) tetapi pendidikan karakter itu tidak dijadikan salah satu fokus pendidikan nasional. Tidak satupun UU itu yang menjadikan pembangunan karakter sebagai fokus pendidikan nasional. misalnya mata pelajaran matematik. Pengajaran matematik itu dapat berhasil hanya oleh guru matematik dan sedikit bantuan orang tua di rumah. dan terakhir UU Nomor 20 Tahun 2003. semua guru. TAP-MPR Tahun 1967. bila dijadikan fokus maka yang bertanggung jawab terhadap keberhasilan pendidikan karakter itu adalah institusi tersebut.Pendidikan Karakter. Kita telah memiliki 6 UUSPN yaitu UU tahun 1946. UU Tahun 1950.

Deklarasi itu harus disambut dengan penuh antusias. Dalam kontek berbangsa pendidikan karakter adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana serta proses pemberdayaan potensi dan pembudayaan peserta didik guna membangun karakter pribadi dan/atau kelompok yang unik-baik sebagai warga negara. dan orang tua di rumah. Hal itu diharapkan mampu memberikan kontribusi optimal dalam mewujudkan masyarakat yang berketuhanan yang Maha Esa. tukang jaga sepeda atau petugas parkir. yaitu memperbaiki karakter orang Indonesia. yaitu berpindah dari paradigma bahwa pendidikan karakter hanya oleh guru agama dan PKn ke paradigma bahwa pendidikan karakter itu 12 . karena pendidikan karakter sebenarnya adalah pendidikan kepribadian yang memerlukan sebanyak mungkin pembiasaan dan peneladanan. Baru inilah ada menteri pendidikan yang kelihatannya hendak menjadikan pembangunan karakter sebagai fokus pendidikan nasional. deklarasi itu harus diikuti oleh pencanangan perubahan paradigma. orang yang berjualan di kantin sekolah. Pendidikan karakter tidak bisa dilaksanakan seperti pendidikan matematik. karena pendidikan karakter itu memiliki kekhasan tertentu. hendaknya deklarasi itu tidak sekedar deklarasi. berkemanusiaan yang adil dan beradab. Agar deklarasi itu mencapai hasil sebagaimana yang diharapkan.Seri Pendidikan Karakter tukang sapu. berjiwa kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan. bukan sekedar mengingatkan. berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pada tanggal 2 Mei 2010 yang lalu Menteri pendidikan nasional medeklarasikan dimulainya pendidikan karakter bangsa. berjiwa persatuan Indonesia.

pengorganisasian. pelaksanaan. serta memiliki integritas moral yang tinggi. Pendidikan merupakan tulang punggung strategi pembentukan karakter bangsa. penyelenggaraan pendidikan karakter mencakup keseluruhan kegiatan perencanaan. Salah satunya dengan pendidikan karakter.Pendidikan Karakter. B. Selain dipengaruhi faktor politik dan ekonomi. dan pengendalian mutu yang melibatkan seluruh unit utama di lingkungan pemangku kepentingan pendidikan nasional. Paparan lain juga menjelaskan bagaimana gambaran permasalahan dan solusi baik secara teoritis maupun secara praktis berkaitan dengan paradigma pendidikan karakter. Peran pendidikan sangat strategis karena merupakan pembangun integrasi nasional yang kuat. C. Mengapa pendidikan menjadi tumpuan menyelesaikan masalah yang muncul di masyakarat. pendidikan juga dipengaruhi faktor sosial budaya. Isi dari Buku Buku ini mencoba memaparkan permasalahan-permasalahan masyakarat yag bisa diselesaikan dengan pendidikan. Hal itu terjadi karena dalam konteks makro. Teori dan Aplikasi adalah tugas semua aparat yang terkait dengan murid. khususnya dalam aspek integrasi dan ketahanan sosial. 13 . Deklarasi itu berpijak pada pemikiran bahwa strategi pembangunan karakter bangsa melalui pendidikan dapat dilakukan dengan pendidikan dan pembelajaran. Tujuan Penulisan Buku Tujuan utama penulisan buku ini adalah mencoba memberikan masukan tentang bagaimana membangun paradigma pendidikan di Indonesia supaya bisa melahirkan lulusan yang berkualitas.

Seri Pendidikan Karakter 14 .

Pendidikan Karakter. Teori dan Aplikasi BAB II PERMASALAHAN BANGSA INDONESIA DAN PENDIDIKAN 15 .

berdasarkan buku Desain Induk Pembangunan Karater bangsa (2010) dapat di identifikasi sebagai berikut: 1. Deskripsi Permasalahan Berbangsa Permasalahan yang muncul dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia dan sangat membahayakan dalam membangun bangsa yang kuat.Seri Pendidikan Karakter BAB II PERMASALAHAN BANGSA INDONESIA DAN PENDIDIKAN A. Pancasila sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 merupakan ideologi negara dan sebagai dasar 16 . Disorientasi dan belum Dihayatinya Nilai-nilai Pancasila sebagai Filosofi dan Ideologi Bangsa Pancasila sebagai kristalisasi nilai-nilai kehidupan masyarakat yang bersumber dari budaya Indonesia telah menjadi ideologi dan pandangan hidup.

kebiasaan. merasa dirinya bersatu. Teori dan Aplikasi negara. bakat. baik hukum tertulis maupun hukum tidak tertulis sudah tertuang secara implisit maupun eksplisit dalam produk-produk hukum yang ada. dan pola pikir yang dimiliki oleh sekelompok manusia yang mau bersatu.Pendidikan Karakter. asal. Pancasila sebagai sumber karakter bangsa yang dimaksudkan adalah keseluruhan sifat yang mencakup perilaku. adat dan sejarah Indonesia. Masalah tersebut muncul karena telah terjadi disorientasi dan belum dihayatinya nilai-nilai Pancasila yang diakui kebenarannya secara universal. potensi. dan hubungan antara manusia dengan manusia. kesukaan. bahasa. 2. nilai-nilai. serta hubungan antara manusia dengan lingkungannya. kemampuan. Pancasila sebagai pandangan hidup mengandung makna bahwa hakikat hidup bermasyarakat. Kekerasan (domestik maupun nasional) dan hempasan globalisasi sampai kepada korupsi. memiliki kesamaan nasib. berbangsa dan bernegara dijiwai oleh moral dan etika yang dimanifestasikan dalam sikap perilaku dan kepribadian manusia Indonesia yang proporsional baik dalam hubungan manusia dengan yang maha pencipta. Substansi hukum mengarah pada pemenuhan kebutuhan 17 . keturunan. kolusi. Keterbatasan Perangkat Kebijakan Terpadu dalam Mewujudkan Nilai-nilai Esensi Pancasila Substansi hukum. Namun dalam kehidupan masyarakat prinsip tersebut tampak belum terlaksana dengan baik. dan nepotisme (KKN) masih belum dapat diatasi.

nilai solidaritas sosial. seperti penghargaan terhadap nilai budaya dan bahasa. terutama dalam pemenuhan rasa keadilan di depan hukum. kekeluargaan. Namun. identitas 18 . kejujuran. Bergesernya Nilai-nilai Etika dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Pembangunan nasional dalam segala bidang yang telah dilaksanakan selama ini memang mengalami berbagai kemajuan. Namun demikian berbagai kebijakan dan produk hukum tersebut masih belum sepenuhnya dapat mengakomodasi kebutuhan untuk mewujudkan nilai-nilai esensi Pancasila sebagai landasan dalam kehidupan masyarakat. maka penanaman nilai-nilai Pancasila sebagai wahana dan sarana membangun karakter bangsa. rasa malu dan rasa cinta tanah air dirasakan semakin memudar. di tengah-tengah kemajuan tersebut terdapat dampak negatif. Oleh karena itu. 3. Pergeseran sistem nilai ini sangat nampak dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. yaitu terjadinya pergeseran terhadap nilai-nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. musyawarah mufakat. sopan santun. Perilaku korupsi masih banyak terjadi.Seri Pendidikan Karakter pembangunan dan aspirasi masyarakat. berbangsa dan bernegara. pewujudan nilai-nilai esensi Pancasila pada semua lapisan masyarakat Indonesia perlu didukung perangkat kebijakan terpadu. meningkatkan komitmen terhadap NKRI serta menumbuhkembangkan etika kehidupan berbangsa bagi seluruh rakyat Indonesia belum optimal. Akibatnya.

4. menegaskan bahwa telah terjadi pergeseran nilai-nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ruang publik yang terbuka dimanfaatkan dan dijadikan sebagai ruang pelampiasan kemarahan dan amuk massa.Pendidikan Karakter. lemahnya budaya patuh pada hukum. Namun arus budaya global yang sering dikaitkan dengan kemajuan di bidang komunikasi mencakup juga penyebaran informasi 19 . Teori dan Aplikasi ke-”kami”-an cenderung ditonjolkan dan mengalahkan identitas ke-”kita”-an. kepentingan kelompok. bahkan merobek dan membakar lambang-lambang Negara yang seharusnya dijunjung dan dihormati. Memudarnya Kesadaran terhadap Nilai-nilai Budaya Bangsa Pembangunan di bidang budaya telah mengalami kemajuan yang ditandai dengan meningkatnya pemahaman terhadap keberagaman nilai-nilai budaya bangsa. kurangnya keteladanan para pemimpin. merusak lingkungan. cepatnya penyerapan budaya global yang negatif dan ketidakmerataan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. dan golongan seakan masih menjadi prioritas. Banyak penyelesaian masalah yang diakhiri dengan tindakan anarkis dan cenderung. Bisa jadi kesemua itu disebabkan belum optimalnya upaya pembentukan karakter bangsa. Aksi demontrasi mahasiswa dan masyarakat seringkali melewati batasbatas ketentuan. Benturan dan kekerasan masih saja terjadi di mana-mana dan memberi kesan seakan-akan bangsa Indonesia sedang mengalami krisis moral sosial yang berkepanjangan. Hal tersebut.

globalisasi telah membawa perubahan terhadap pola berpikir dan bertindak masyarakat dan bangsa Indonesia. dan dampak 20 . kekayaan alam yang melimpah. Selain itu. 5. Pengaruh arus deras budaya global yang negatif menyebabkan kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa dirasakan semakin memudar. Hal ini tercermin dari perilaku masyarakat Indonesia yang lebih menghargai budaya asing dibandingkan budaya bangsa. agama. terutama pemahaman masalah multikulturalisme yang telah berdampak munculnya gerakan separatis dan konflik horisontal. pergaulan bebas. primordialisme yang tak terkendali. serta belum tuntasnya pembangunan karakter bangsa. diperlukan upaya dan strategi yang tepat agar masyarakat Indonesia dapat tetap menjaga nilai-nilai budaya dan jati diri bangsa sehingga tidak kehilangan kepribadian sebagai bangsa Indonesia. dan keutuhan wilayah sangat terkait dengan posisi geografis Indonesia. keselamatan bangsa. terutama masyarakat kalangan generasi muda yang cenderung mudah terpengaruh oleh nilai-nilai dan budaya luar yang tidak sesuai dengan kepribadian dan karakter bangsa Indonesia. Ancaman Disintegrasi Bangsa Ancaman dan gangguan terhadap kedaulatan negara. dan pola hidup konsumtif. Berdasarkan indikasi di atas. bertutur kata.Seri Pendidikan Karakter secara mendunia melalui media cetak dan elektronika berdampak terhadap ideologi. belum meratanya hasil pembangunan antardaerah. budaya dan nilai-nilai yang dianut manyarakat Indonesia. Untuk itu. baik dalam cara berpakaian. serta kurangnya penghargaan terhadap produk dalam negeri.

Deskripsi Permasalahan yang Menggerogoti Pendidikan Masalah besar masyarakat Indonesia secara umum sebagai 21 . Kemandirian suatu bangsa tercermin. kemandirian aparatur pemerintahan dan aparatur penegak hukum dalam menjalankan tugasnya. B. Melemahnya Kemandirian Bangsa Kemampuan bangsa yang berdaya saing tinggi adalah kunci untuk membangun kemandirian bangsa. pembiayaan pembangunan yang bersumber dari dalam negeri yang semakin kukuh. 6. Kurangnya kemandirian.Pendidikan Karakter. serta produk bangsa Indonesia dalam beberapa bidang pertanian belum kompetitif di dunia internasional. etos kerja yang masih perlu ditingkatkan. juga tercermin dari sikap masyarakat yang menjadikan produk asing sebagai primadona. Namun hingga saat ini sikap ketergantungan masyarakat dan bangsa Indonesia masih cukup tinggi terhadap bangsa lain. Konsekuensinya bangsa Indonesia dalam berbagai aspek kurang memiliki posisi tawar yang kuat sehingga tidak jarang menerima kehendak negara donor meskipun secara ekonomi kurang menguntungkan. dan kemampuan memenuhi sendiri kebutuhan pokok. akan menjadikan Indonesia siap menghadapi tantangan globalisasi dan mampu memanfaatkan peluang yang ada. antara lain pada ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu memenuhi tuntutan kebutuhan dan kemajuan pembangunan. Teori dan Aplikasi negatif implementasi otonomi daerah cenderung mengarah kepada terjadinya berbagai permasalahan di daerah. Daya saing yang tinggi.

boros.Seri Pendidikan Karakter akibat era globalisasi terjadinya interaksi dan ekspansi kebudayaan ditandai dengan semakin berkembangnya pengaruh budaya pengagungan materi secara berlebihan (materialistik). adat luhur. dan pemujaan kesenangan indera mengejar kenikmatan badani (hedonistik). erotik. terlepas dari kawalan agama. pergaulan a-susila dikalangan pelajar dan mahasiswa. Diperparah oleh limbah budaya barat berbentuk sensate-culture yang selalu bertalian dengan hedonistik dengan orientasi hiburan selera rendah 3-S tourisme sun-see-sex dan gaya hidup konsumeristis. moral akhlak. mengutamakan kesenangan badani (jasmani). menyelami black-magic dan mempercayai mistik. Budaya sensate memuja nilai rasa panca indera. Dunia pendidikan di negara kita akhir-akhir ini digerogati oleh fenomena kurang menggembirakan terlihat dari banyaknya terjadi tawuran pelajar. di sentuh. Sadisme. dengan tumpuan kepada sensual. seronok. menonjolkan keindahan sebatas yang dilihat (tonton). mencari jawaban dari paranormal. Gejala ini merupakan penyimpangan jauh dari budaya luhur turun temurun serta merta telah memunculkan berbagai bentuk Kriminalitas. kecabulan pornografi tak terbendung. rakus. dan tercerabut dari budaya dan nilai22 . pergaulan bebas sex. Krisis moral secara meluas. dirasa. individualistik kebebasan salah arah lepas dari kawalan agama dan adat luhur dengan tampilan permissivesness dan anarkis. dicicipi. ilmu dan filsafat. cinta mode. sebahagian cendekiawan berminat tinggi terhadap kehidupan non-science asyik mencari kekuatan gaib belajar sihir. didengar. Orientasinya hiburan melulu. pemisahan kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik).

geng motor. pribadi yang terbelah “too much science too little faith”. night club. nyontek saat ujian. worldwide sing. minuman keras. Seni dibungkus selimut art for art’s sake.Pendidikan Karakter. erotik. kasino dan panti pijat. kesukaan judi dalam urban popular culture. kecanduan narkoba. Perilaku sedemikian banyak melahirkan split personalities. Budaya sensate ini dipertajam dampaknya dalam kehidupan remaja oleh budaya popular kekota (urban popular culture) yang hedonistik. dan sejenisnya. sensual. Teori dan Aplikasi nilai normatif lainnya. Kondisi seperti itu telah memberikan penilaian buruk terhadap dunia pendidikan pada umumnya. karena itu generasi muda (remaja) harus 23 . dan berkembang lagi US culture imperialisme (uncle Sam Culture) dan the globalization of lifestyle gaya hidup global. Para remaja cenderung bergerak menjadi generasi buih terhempas di pantai menjadi suatu generasi yang bergerak menjadi “X-G” the loses generation dan tidak berani ikut serta didalam perlombaan ombak gelombang samudera globalisasi. Kalangan anak sekolah dijangkiti kebiasaan bolos sekolah. C. lebih banyak ilmu dengan tipisnya kepercayaan keyakinan agama. musro. Pada hakekatnya semua prilaku a-moral tersebut lahir karena lepas kendali dari nilai-nilai agama dan menyimpang jauh terbawa arus deras keluar dari alur budaya luhur bangsa. eksotik. horor. yang lazimnya melahirkan klub malam. Akar Permasalahan Remaja akan menjadi aktor utama dalam pentas kesejagatan (millenium ketiga). berkembangnya paham nihilisme budaya senang lenang (culture contenment).

Kenakalan remaja lebih banyak disebabkan rusaknya sistem. bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi lembaga bisnis. Dengan berpikiran positif tidak pula harus ditunggu setelah semua remaja terpuruk kedalam lumpur a-moral barulah upaya perbaikannya dilaksanakan dengan intensif. kehilangan kendali para remaja. luputnya tanggung jawab institusi lingkungan masyarakat. Keutuhan budaya bertumpu kepada individu dan himpunan institusi masyarakat yang memiliki kapasitas berkemampuan dalam mempersatukan seluruh potensi yang ada. Ketahanan bangsa akan lenyap dengan lemahnya remaja. berkembangnya kejahatan orang tua. Kecemasan atas penyimpangan prilaku kemunduran moral dan akhlak. Analisis realitas objektif menunjukkan bahwa tidak seluruhnya remaja rusak. hilangnya wibawa ulama. Pergeseran budaya dengan mengabaikan nilai-nilai budaya 24 . Saya tidak senang menggeneralisasi kenakalan remaja terjerumus kedalam lembah dekadensi moral dan kenakalan remaja. Perkembangan kedepan banyak ditentukan oleh peranan remaja sebagai generasi penerus dan pewaris dengan kepemilikan ruang interaksi yang jelas menjadi agen sosialisasi guna menggerakkan kelanjutan survival kehidupan kedepan. Kerusakan diperparah oleh hilangnya tokoh panutan. impotensi dikalangan pemangku adat. pola dan politik pendidikan. Budaya adalah wahana kebangkitan bangsa. sepatutnya menjadi kerisauan semua pihak. dan profesi guru dilecehkan. Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan budayanya.Seri Pendidikan Karakter dibina dengan budaya yang kuat berintikan nilai-nilai dinamik yang relevan dengan realitas kemajuan di era globalisasi.

Pendidikan Karakter. Generasi kedepan wajib digiring menjadi taat hukum dimulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga dengan memperkokoh peran orang tua. Menanamkan kesadaran tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah. penyayang dan adil dalam memelihara hubungan harmonis dengan alam. Hakikatnya generasi yang menjaga destiny. Generasi yang patuh kepada Allah dan taat beragama akan berkembang secara pasti menjadi agen perubahan sanggup menghadapi realita baru di 25 . kukuh ekonomi. memperkaya warisan budaya dengan setia mengikuti dan mempertahankan. berjiwa inovatif dengan motivasi yang bergantung kepada Allah akan tampil menjadi penyelesai masalah. melahirkan tatanan hidup masyarakat pengidap penyakit sosial kronis dengan kegemaran berkorupsi. Dapat dipahami bahwa kekuatan hubungan ruhaniyah spiritual emosional dengan iman dan taqwa memberikan ketahanan bagi umat dan hubungan ruhaniyah ini akan lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional. teguh politik. individu yang berakhlak berpegang pada nilai-nilai mulia iman dan taqwa yang dipadukan dengan kerja sama berdisiplin gigih serta memiliki vitalitas tinggi. istiqamah pada agama yang dianut. melazimkan musyawarah dengan disiplin dan bijak memilih prioritas pada yang hak sebagai nilai puncak budaya yang benar. Teori dan Aplikasi dan agama atau pengamatan nilai-nilai tidak komprehensif dan sistematik. dan unsur masyarakat secara efektif dalam menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur kepada generasi pelanjut bertumpu kepada cita rasa patah tumbuh hilang berganti.

Seri Pendidikan Karakter era kesejagatan. Seluruh sektor mestinya berkembang saling terkait harmonis serasi dalam menghasilkan suatu bentuk masyarakat madani melalui penjelmaan nilai-nilai bukan pendangkalan. krisis konsep pergeseran pandang (view) cara hidup ukuran nilai jadi kabur. sosial. krisis beban institusi pendidikan terlalu besar dengan tuntutan memikul tanggung jawab moral sosial kultural dikekang oleh sisitim dan aturan birokrasi berbelit membelenggu dinamika institusi pada akhirnya tidak mampu (impoten) memikul beban tanggung jawab. krisis relevansi program pendidikan yang mendukung 26 . Bila terjadi inequilibrium kelahirannya adalah krisis-krisis: 1. 4. yang padamulanya dalam pandangan luhur dilihat sebagai buruk dan dijauhi bergeser kencang kearah tidak acuh dan bahkan lebih parah mentolerir. Lembaga pendidikan sebagai mesin sosial bertujuan menggerakkan segala dimensi kehidupan kemanusian disegala sektor. ilmu pengetahuan. menyangkut etika individu dan sosial berubah drastik dalam sikap menilai baik buruk. 2. ekonomi. budaya. 5. teknologi. 3. politik dan agama. guru dan tokoh agama pada mimbarmimbar kehidupan mengalami kegoncangan wibawa. sekolahan yang merupakan cerminan idealitas masyarakat tidak bisa bertahan. krisis kridebilitas dengan erosi kepercayaan terpampan di pergaulan orang tua. krisis nilai.

kebebasan. 6. muatan pendididkan agama terlihat pada seluruh mata pelajaran memaparkan apa adanya dan membimbing kepada yang seharusnya berdasarkan paradigma tauhid membentuk suatu iklim pendidikan agama terasa pada seluruh lembaga sekolah. Fenomena dimasa Orde Baru pengembangan pendidikan terlihat arahnya ke barat. rumah tangga). acuan orientasi pengembangan pendidikan agama. masyarakat. Teori dan Aplikasi kepentingan elitis non-populis. persamaan dan usaha ilmiah sistematis yang mampu merumuskan epistemologi dan aksiologi dengan memberikan penekanan kepada : 1. tidak demokratis. Revitalisasi pendidikan agama. diajarkan oleh seluruh komponen masyarakat. 3. dan akibat terasa mengikis karakteristik asli pendidikan agama yaitu akhlak. membesarnya kesenjangan miskin kaya sehingga kesempatan mendapatkan pendidikan tidak merata dan kemudian yang terjadi adalah kurangnya idealisme (citra remaja) tentang peran dimasa datang.Pendidikan Karakter. 2. Lembaga-lembaga (institusi) di tuntut adil. 27 . Generasi yang mampu mencipta menjadi syarat utama keunggulan. Kewajiban perguruan tinggi memikul beban moral intelektual sebagai bangsa. demokratis. tidak berorientasi kearah kepentingan mempertahankan prestasi eksistensi kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat namun beralih kepada orientasi prestise keijazahan. Rumusan ulang kiblat (arah).

dunia tak ada jarak seakan global village. penghormatan terhadap orang tua. Pendidikan moral generasi dengan membangun akhlak. Tahap perencanaan dengan rangka kerja yang terarah.Seri Pendidikan Karakter 4. Langkah-langkah Strategis Millenium Baru (diawali abad keduapuluh satu) ditandai serba cepat. 5. Tahap kesadaran tinggi (to create the high level awareness). melalui penguatan pendidikan antara lain : 1. Tujuan pendidikan yang akan dikembangkan adalah pendidikan akhlak. Proses pembangunan anak didik yang harus ditempuh. budi pekerti. Langkahnya perlu dengan penggarapan secara sistematik dan pendekatan proaktif mendorong terbangunnya proses pengupayaan (the process of empowerment). Buku dasar pegangan mesti memiliki kesamaan visi dan misi mengacu kepada platform yang sama. akan banyak ditemui limbah budaya kebaratan westernisasi. mengenal kehidupan duniawi yang bertaraf perbedaan. yang akan menjadi kekuatan moral. 2. modern dengan persaingan kompetitif dan komunikasi serba efektif. terencana mewujudkan keseimbangan dan minat (motivasi) 28 . D. keteguhan memilih dan mengamalkan nilai-nilai kebajikan. adab percakapan ditengah pergaulan. kesadaran tentang perlunya perubahan dan dinamik yang futuristik. Kuatnya iman dan teraturnya ketaatan kepada tuhan bagi generasi muda menjadi awal langkah menuju ketahanan bangsa. harus diyakini bahwa kehadirannya tak bisa di cegah.

para siswa 29 . 3. internet. Konsep-konsep visi. Membangun Kesadaran Anak Didik Pembinaan perilaku dan etika anak didik merupakan pembinaan yang sangat baik. informasi elektronik dan digital. ucapan. dan merupakan suatu pembinaan dasar yang utama bagi seluruh mahluk dalam kehidupan bermasyarakat. walaupun kenyataannya sering terlepas dari sistim nilai dan budaya sangat cepat terkesan oleh generasi muda yang cenderung cepat dipengaruhi oleh elemen-elemen baru yang merangsang. sangat perlu pembentukan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan yang sedari awal mendapatkan pembinaan. keterampilan dan pemantapan strategi. Bila pendidikan ingin dijadikan modus operandus disamping kurikulum ilmu terpadu dan holistik. Tahap aktualisasi secara sistematis (the level of actualization). Perkembangan cyber space. Teori dan Aplikasi kepada iptek. Aspek pendidikan dan latihan adalah faktor utama dalam pengupayaan. Di dalam pembinaan perilaku dan etika. Agar selalu berbuat kebaikan dan mencegah kesalahan yang dapat menghasilkan penderitaan bagi diri kita sendiri dan orang lain. Pendekatan integratif dengan mempertimbangkan seluruh aspek metodologis berasas kokoh tamaddun yang holistik dan bukan utopis. Pembinaan tersebut bertujuan untuk melatih perbuatan. misi.Pendidikan Karakter. E. dan pikiran. selalu terbentur dalam pencapaian oleh karena lemahnya metodologi dalam operasional pencapaiannya.

dimana pembinaan perilaku dan etika untuk mencegah dan menghentikan kita untuk berbuat yang tidak baik. Setelah beberapa saat. maka dapat ditemukan cara pembinaan yang tepat. dan bertahuntahun. kita telah membuat orang lain menderita atau merasa dirugikan. tentu kita masih dapat mengatasinya. Keinginan yang timbul untuk melakukan perbuatan ini kadang muncul dengan kuatnya. siswa dilarang untuk mencuri. Pembinaan perilaku dan etika anak didik ditetapkam untuk mengetahui penyebab/ salinan awal terjadinya perbuatan yang tidak baik. setiap kali pula mereka akan muncul kembali. Dengan Pembinaan perilaku dan etika yang kuat. timbul lagi keinginan tersebut yang mendorong kita untuk melakukan. Dengan mengetahui penyebabnya untuk memahami sumber awal timbulnya maka dapat ditemukan cara yang tepat. Setiap kali ditolak.Seri Pendidikan Karakter ditekankan untuk menghindari perbuatan yang menghasilkan penderitaan. Alasan ini bermacam bentuk seperti: ‘Hanya 30 . bahkan kedatangnya disertai berbagai macam alasan yang membujuk dan membuat kita lebih tidak merasa bersalah bila melakukannya. berbulan-bulan. Kali ini disertai dengan berbagai alasan yang timbul. dengan pembinaan perilaku dan etika yang kuat tentu kita dapat menahan diri untuk tidak mengikuti keinginan ini. dan aturan. berbohong. Sebagai contoh dalam pembinaan perilaku dan etika. Gambaran keinginan ini terus timbul kembali bahkan hingga berhari-hari. Sebagai contoh. sehingga para siswa tidak akan mengulangi perbuatannya tadi. untuk membuat kita tidak merasa benar-benar bersalah. Sehingga pembinaan ini tampaknya penuh dengan berbagai larangan. menyontek karena melakukan perbuatan tersebut.

Membiasakan Bicara dengan Baik. Membiasakan Keadilan.Etika berbicara akan berpengaruh pada perilaku siswa dalam berinteraksi dengan 31 . Teori dan Aplikasi sekali saja’. saudara. a. b. c. Apabila aspek ini diterapkan. Membiasakan meminta Izin. Setiap orang baik guru maupun orang tua wajib menanamkan nilai kejujuran pada anak dalam setiap ucapan dan perbuatan. maka anak akan menjadi generasi pendusta. Membiasakan Kejujuran. Apabila aspek ini diabaikan. d. sehingga mampu bersikap bijaksana dalam bertindak. ketika hendak mengambil sesuatu dan meninggalkan tempat dimanapun ia berada. yakni. Mereka akan memahami bahwa gambaran pikiran adalah sumber awal timbulnya semua keinginan-keinginan yang selalu memperdaya itu.Pendidikan Karakter.’Orang lain udah sering melakukan. Pola Pembinaan Anak didik Pola pembinaan anak didik yang dilakukan menyangkut beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam membinaan perilaku dan etika. ‘Sekali ini saja. teman. kita coba aja sekali ini’dan sebagainya Pembinaan perilaku dan etika tidak menfokuskan pada pembinaan melawan berbagai keinginan yang timbul satu persatu tanpa hentinya sepwerti pada gambar Pembinaan perilaku dan etika akan memahami sumber awal. Adil adalah sikap yang mampu mengontrol perilaku dan etika. F. lalu tobat’. maka ketika dewasa siswa tersebut sudah terbiasa untuk meminta izin kepada orang tua.

h. Hal ini menentukan apakah dia akan dihargai atau tidak oleh lingkungan. Penghargaan akan menumbuhkan sikap percaya diri pada siswa. tidak boleh mencela makanan. Di sekolah hendaknya diciptakan lingkungan yang baik untuk siswa berinteraksi sesama. Apabila gagal tetap perlu dihargai atas kemauan dan keberaniannya untuk mencoba usaha tersebut. g. Keberhasilan siswa dapat dihargai dengan senyuman. pujian. Membiasakan Bergaul yang Baik. Membiasakan Makan dan Minum dengan Baik. dan katakata. Membiasakan Kasih Sayang. Memberikan Penghargaan. dan tidak boleh berlebihan. individu lain. makan dengan tangan kanan. 32 . membaca basmalah sebelum dan hamdalah setelah makan. Etika makan dan minum diantaranya : mencuci tangan sebelum makan. Kasih sayang berpengaruh penting dalam menentukan sikap dan tingkah laku kejiwaan seseorang.Seri Pendidikan Karakter e. tidak sambil bersandar. dan dengan elemen sekolah. f. tepuk tangan.

Pendidikan Karakter. Teori dan Aplikasi BAB III MEMAHAMI PENDIDIKAN KARAKTER 33 .

fisik.Seri Pendidikan Karakter BAB III MEMAHAMI PENDIDIKAN KARAKTER A. keilmuan. tujuan pendidikan nasional sebenarnya sangat ideal karena menjangkau semua dimensi kemanusiaan (religiusitas. kenyataan dilapangan tidak sesuai dengan harapan terjadi gap antara cita-cita dengan upaya dan instrumen untuk mencapai cita-cita tersebut. Secara tersurat. yaitu orientasi filosofis dan arah kebijakan. etis. Pada tataran makro. setidaknya ada dua permasalahan mendasar. Pendahuluan Pendidikan saat ini dihadapkan pada sejumlah problem yang bersifat makro dan mikro. Pada tataran mikro. kita dihadapkan pada kesenjangan kualitas yang sangat jauh antar 34 . Implementasi pendidikan kita sering lebih menciptakakan manusia yang bertipe mekanistik daripada humanistik. dan life skill). Berbagai kebijakan juga seringkali mengebiri dan sengaja mengerdilkan pendidikan.

menjaga. Urgensi Pendidikan Karakter dikembangkan karena. siswa-siswa kita juga bisa berlaga di ajang internasional. banyak guru kita juga yang merupakan manusia-manusia kreatif. dan mengawal karakter positif bangsa ini. Namun demikian. Belakangan ini telah tumbuh kesadaran betapa mendesaknya agenda untuk melakukan terobosan guna membentuk dan membina karakter para siswa sebagai generasi penerus bangsa. Teori dan Aplikasi lembaga pendidikan dalam hal in put siswa. SDM. Sejumlah ahli pendidikan mencoba untuk merumuskan konsepkonsep tentang pendidikan karakter. masihkah ada harapan terhadap pendidikan di negara kita? Tentu masih banyak sisisisi positif pendidikan. ketersediaan sarana. Melihat kenyataan seperti itu. bukan hanya by accident. salah satu bidang pembangunan nasional yang sangat penting dan menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat. Secara filosofis. dan lain-lain. Pada sisi ini guru dituntut ikut berperan aktif secara optimal. dan lain-lain. lingkungan. dan sebagiannya lagi bahkan sudah melangkah jauh dalam mempraktekannya.Pendidikan Karakter. agar pendidikan kita mampu berperan lebih besar dalam menggali. historis maupun sosiokultural. normatif. Ada beberapa alasan mendasar yang melatari pentingnya pembangunan karakter bangsa. ideologis. baik secara filosofis. pembangunan karakter bangsa merupakan sebuah kebutuhan asasi dalam proses berbangsa karena hanya 35 . Sejumlah lembaga pendidikan alternatif semakin bermunculan. berbangsa. mengembangkan. dan bernegara adalah pembangunan karakter bangsa. perlu ada design besar yang sistematis dan terarah.

Secara historis. baik pada zaman penjajahan maupun pada zaman kemerdekaan. bangsa Indonesia membutuhkan kesamaan pandangan tentang budaya dan karakter yang holistik sebagai bangsa. Secara sosiokultural.Seri Pendidikan Karakter bangsa yang memiliki karakter dan jati diri yang kuat yang akan eksis. dan keadilan sosial. yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Pembangunan karakter bangsa merupakan gagasan besar yang dicetuskan para pendiri bangsa karena sebagai bangsa yang terdiri atas berbagai suku bangsa dengan nuansa kedaerahan yang kental. Secara normatif. perdamaian abadi. pembangunan karakter merupakan upaya mengejawantahkan ideologi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. memajukan kesejahteraan umum. pandangan. pembangunan karakter bangsa merupakan wujud nyata langkah mencapai tujuan negara. dan gerak langkah untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran seluruh rakyat Indonesia. ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan. Secara ideologis. Hal itu sangat penting karena menyangkut kesamaan pemahaman. mencerdaskan kehidupan bangsa. Memaknai Tujuan Pendidikan Tujuan Pendidikan Nasional termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan untuk itu setiap warga negara Indonesia berhak memperoleh 36 . B. pembangunan karakter bangsa merupakan suatu keharusan dari suatu bangsa yang multikultural. pembangunan karakter bangsa merupakan sebuah dinamika inti proses kebangsaan yang terjadi tanpa henti dalam kurun sejarah.

Pendidikan Karakter. Untuk mewujudkannya. (2) mewujudkan bangsa Indonesia yang adil dan demokratis. ras. ketakwaan. dan kompetensi kinestetis. etnis. Oleh karena itu misi pembangunan nasional. bangsa kita harus menjadi bangsa yang berkualitas. terdiri dari tiga besaran yaitu (1) mewujudkan negara Indonesia yang aman dan damai. Pembangunan pendidikan nasional didasarkan pada paradigma membangun manusia Indonesia seutuhnya. Pemerataan dan mutu pendidikan akan membuat warga negara Indonesia memiliki keterampilan hidup (life skills) sehingga memiliki kemampuan untuk mengenal dan mengatasi masalah diri dan lingkungannya. produktifitas dan daya saing terhadap bangsa lain di era global. dan (3) psikomotorik yang tercermin pada kemampuan mengembangkan keterampilan teknis. agama. 37 . yaitu (1) afektif yang tercermin pada kualitas keimanan. dan (3) mewujudkan bangsa Indonesia yang sejahtera. Dimensi kemanusiaan itu mencakup tiga hal paling mendasar. sehingga setiap warga negara mampu meningkatkan kualitas hidup. akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur serta kepribadian unggul. (2) kognitif yang tercermin pada kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk menggali dan mengembangkan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Teori dan Aplikasi pendidikan yang bermutu sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya tanpa memandang status sosial. dan kompetensi estetis. mendorong tegaknya masyarakat madani dan modern yang dijiwai nilai-nilai Pancasila. dan gender. kecakapan praktis. yang berfungsi sebagai subyek yang memiliki kapasitas untuk mengaktualisasikan potensi dan dimensi kemanusiaan secara optimal.

Dengan demikian. Mamahami makna Karakter Menurut Wynne (1991) kata karakter berasal dari Bahasa Yunani yang berarti “to mark” (menandai) dan memfokuskan pada bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku. sehingga cita-cita membangun manusia Indonesia seutuhnya dapat tercapai. namun sekaligus sadar akan keterbatasannya. Landasan Pendidikan Karakter Berpijak dari dasar antropologis setiap pemikiran tentang pendidikan karakter adalah keberadaan manusia sebagai penghayat nilai. Oleh sebab itu seseorang yang berperilaku tidak jujur. Dengannya manusia menghayati transendensi dirinya dengan cara membaktikan diri pada nilai-nilai yang diyakininya sebagai berharga bagi dirinya sendiri serta bagi komunitas di mana individu tersebut berada.Seri Pendidikan Karakter Pendidikan merupakan proses sistematis untuk meningkatkan martabat manusia secara holistik. C. Menuju Pendidikan Karakter 1. Dinamika struktur manusia yang seperti inilah yang memungkinkan pendidikan karakter menjadi sebuah pedagogi. pendidikan seyogyanya menjadi wahana strategis bagi upaya mengembangkan segenap potensi individu. 2. yang memungkinkan ketiga dimensi kemanusiaan paling elementer di atas dapat berkembang secara optimal. kejam atau rakus dikatakan 38 . Keberadaan seperti ini menggambarkan struktur dasar manusia sebagai mahluk yang memiliki kebebasan.

tetapi juga “desiring the good” atau “loving the good” (moral feeling) dan “acting the good” (moral action). Tanpa itu semua manusia akan sama seperti robot yang terindoktrinasi oleh sesuatu paham. suka menolong dikatakan sebagai orang yang berkarakter mulia. sementara orang yang berperilaku jujur. Teori dan Aplikasi sebagai orang yang berkaraktek jelek. Jadi istilah karakter erat kaitannya dengan personality (kepribadian) seseorang. dimana seseorang bisa disebut orang yang berkarakter (a person of character) jika tingkah lakunya sesuai dengan kaidah moral. Misalnya saja ketika seseorang berbuat jujur hal itu dilakukannya karena ia takut dinilai oleh orang lain. bukan karena tingginya penghargaan akan nilai itu. Memakai istilah Lickona (1992) komponen ini dalam pendidikan karakter disebut “desiring the good” atau keinginan utnuk berbuat kebaikan. Karakter.Pendidikan Karakter. Oleh sebab itu dalam pendidikan karakter diperlukan juga aspek perasaan (domein affection atau emosi). Bila dilakukan analisis secara mendalam istilah karakter sebenarnya memiliki sifat ambiguitas. secara etimologis berasal dari bahasa Yunani “karasso”. Menurut Lickona pendidikan karakter yang baik dengan demikian harus melibatkan bukan saja aspek “knowing the good” (moral knowing). Berkowitz (1998) menyatakan bahwa kebiasaan berbuat baik tidak selalu menjamin bahwa manusia yang telah terbiasa tersebut secara sadar (cognition) menghargai pentingnya nilai karakter (valuing). bukan karena keinginannya yang tulus untuk menghargai nilai kejujuran itu sendiri. Karena mungkin saja perbuatannya tersebut dilandasi oleh rasa takut untuk berbuat salah. berarti ‘cetak 39 .

sebagai sekumpulan kondisi yang telah diberikan begitu saja. tidak terselami. Karakter yang demikian ini disebutnya sebagai sebuah proses willed yang dikehendaki melalui proses tertentu. Namun sekaligus. bumi itu sendirilah yang memberikan karakter pada realitas lain. Mounier. sebagai sebuah karakter. seperti. mengajukan dua cara interpretasi. Kedua. ‘sidik’ semisal dalam sidik jari. ganasnya laut dengan gelombang pasang dan angin yang menyertainya. atau seperti menangkap asap keberadaanya dapat dilihat namun tak dapat di tangkap. manusia tidak dapat ikut campur tangan atasnya. karakter juga bisa dipahami sebagai tingkat kekuatan melalui mana seorang individu mampu menguasai kondisi tersebut. ‘format dasar’. Manusia tidak dapat memberikan bentuk atasnya. tak dapat diintervensi. Dalam tradisi Yahudi.Seri Pendidikan Karakter biru’. yaitu pertama. yang lebih kurang dipaksakan dalam diri kita. Karakter sebagai suatu kondisi yang diterima tanpa kebebasan dan karakter yang diterima sebagai kemampuan seseorang untuk secara bebas mengatasi keterbatasan 40 . laut. Ia melihat karakter sebagai dua hal. Tentang ambiguitas terminologi ‘karakter’ ini. Karakter yang demikian ini dianggap sebagai sesuatu yang bersifat given (telah ada). seperti. yaitu sebagai sesuatu yang bebas. Karakter adalah sesuatu yang tidak dapat dikuasai oleh intervensi manusiawi. tidak dapat dikuasai manusia. berhadapan dengan apa yang memiliki karakter. Sama seperti bumi. manusia tidak dapat membentuknya sebab bumi memiliki karakter berupa sesuatu yang ‘mrucut’ tadi. Karena itu. para tetua melihat alam. atau telah ada begitu saja. Mereka memahami karakter seperti lautan.

ataupun terlalu tinggi optimisme seolah kodrat alamiah kita tidak menentukan pelaksanaan kebebasan yang dimiliki. Sebaliknya. Orang yang memiliki karakter kuat adalah mereka yang tidak mau dikuasai oleh sekumpulan realitas yang telah ada begitu saja sejak awalnya. orang yang memiliki karakter lemah adalah orang yang tunduk pada sekumpulan kondisi yang telah diberikan kepadanya tanpa dapat menguasainya. model tipologi yang lebih menekankan penerimaan kondisi natural yang dari sononya tidak cocok. Melalui dua hal ini kita diajak untuk mengenali keterbatasan diri. Cara-cara ini hanya salah satu cara dalam memandang dan menilai karakter. Sedangkan. Untuk itulah. potensi-potensi.Pendidikan Karakter. dalam tingkatan yang paling ekstrem bisa jatuh 41 . Orang yang berkarakter dengan demikian seperti seorang yang membangun dan merancang masa depannya sendiri. Teori dan Aplikasi kondisinya ini membuat tidak serta merta jatuh dalam fatalisme akibat determinasi alam. Apakah yang given itu lebih kuat daripada yang willed tadi. menguasainya. Paparan tersebut mendeskripsikan bahwa karakter seseorang hanya bisa dinilai apakah seorang itu memiliki karakter kuat atau lemah. serta kemungkinan-kemungkinan bagi perkembangan kita. Apakah ia lebih terdominasi pada kondisi-kondisi yang telah ada atau menjadi tuan atas kondisi natural yang telah diterima. dan tidak mau dikuasai oleh kondisi kodratinya yang menghambat pertumbuhannya. Orang yang terlalu dikuasai oleh situasi kondisi yang dari awalnya. mengembangkannya demi kesempurnaan kemanusiaannya.

Manusia adalah apa yang dapat dikerjakan. sehingga menjadi seperti yang diinginka. Mau apa lagi?” “Saya menjadi demikian ini sudah dari sejak dari lahir. Mounier menegaskan bahwa manusia itu selalu bergerak maju mengarah ke masa depan. manusia 42 . antara kebebasan dan determinasi.Seri Pendidikan Karakter dalam fatalisme. manusia ini hanya semacam wayang yang tergantung dari gerakan tangan sang dalang. “karakter saya memang demikian. yang senantiasa berubah menuju kepenuhan diri sebagai manusia yang lebih besar. Saat tampil. antara karakter yang stabil dengan ekspresi periferikal atasnya yang sifatnya lebih dinamis dan mudah berubah. Manusia memiliki struktur antropologis yang terbuka ketika berhadapan dengan fenomena kontradiktif yang ditemukan dalam dirinya. Fatalisme seperti ini sangat kontraproduktif dengan cita-cita sebuah pendidikan yang merupakan sebuah intervensi sadar dan terstruktur agar manusia itu semakin dapat memiliki kebebasan sehingga mampu lebih gesit dan lincah dalam menempa dan membentuk dirinya berhadapan dengan determinasi alam dalam dirinya. Kalau saatnya masuk kotak ya kita tinggal masuk kotak saja. Dengan gambaran manusia seperti ini. Manusia adalah sebuah gerak menuju masa depan. Ekspresi umum orang seperti ini adalah. Karena itu tidak ada gunanya lagi mencoba mengatasinya. yaitu. manusia bukanlah sekumpulan masa lalu. Inilah takdir dan keberuntungan hidup saya”. Semua ini seolah ada di luar kendali dirinya. dilakukan. Sebab jika sesuatu itu telah ditentukan. ya kita tampil.

melainkan secara simultan merupakan hasil dan proses. tempat di mana manusia menghayati kebebasannya dan mengatasi keterbatasan dirinya. sebelum akhirnya menjadi 43 . dan “pointed stake”. dan kharax. 3. yang tidak mau sekedar berhenti atas determinasi kodratinya melainkan juga sebuah usaha hidup untuk menjadi semakin integral mengatasi determinasi alam dalam dirinya demi proses penyempurnaan dirinya terus menerus. Jadi. manusia memiliki kemampuan untuk berharap dan bermimpi. “to engrave”. Manusia adalah apa yang masih bisa diharapkan daripada sekedar halhal yang telah diperoleh selama ini. Kata ini mulai banyak digunakan (kembali) dalam bahasa Perancis caractere pada abad ke-14 dan kemudian masuk dalam bahasa Inggris menjadi character. Struktur antropologis ini melihat bahwa karakter bukan sekedar hasil dari sebuah tindakan. kharassein. Membangun Karakter Akar kata karakter dapat dilacak dari kata Latin kharakter. Dinamika ini menjadi semacam dialektika terus menerus dalam diri manusia untuk menghayati kebebasannya dan mengatasi keterbatasannya. yang maknanya “tools for marking”. Teori dan Aplikasi mengatasi apa yang ada dalam diri manusia saat ini. sebab harapan dan impian ini merupakan semacam daya dorong yang membuatnya mampu secara optimis menatap masa depan dengan mempertimbangkan daya-daya aktualnya yang sekarang ini dimiliki.Pendidikan Karakter. Karakter merupakan struktur antropologis manusia. Karakter merupakan kondisi dinamis struktur antropologis individu.

dan c) Seseorang yang unusual atau memiliki kepribadian yang eksentrik. Untuk membangun karakter bisa dilakukan dengan berbagai cara. demikianlah orang-orang yang berkarakter dapat dibedakan satu dengan yang lainnya (termasuk dengan yang tidak/belum berkarakter atau `berkarakter’ tercela). watak. Salah satu cara yang efektif membangun karakter adalah dengan disiplin. namun karakter adalah sesuatu yang bisa dibangun dan dibentuk melalui proses. Seorang anak manusia yang memiliki keterbatasan yakni sudah buta dan tuli pada usia 19 bulan. karakter diartikan sebagai tabiat. menarik. Sebab karakter mengandung pengertian: a) Suatu kualitas positif yang dimiliki seseorang. dan berbeda atau dapat dibedakan dengan orang lain. dia menjadi manusia buta-tuli pertama yang lulus cum laude dari Radcliffe College di tahun 1904. dalam cacatan sejarah.Seri Pendidikan Karakter bahasa Indonesia karakter. sifat-sifat kejiwaan. jika menyadari bahwa karakter bukan sesuatu yang sudah ada dari sananya. ada pemikiran yang hingga saat ini dijadikan pijakan oleh Keller dengan 44 . Dengan pengertian di atas dapat dikatakan bahwa membangun karakter (character building) adalah proses mengukir atau memahat jiwa sedemikian rupa. tercatat nama Helen Keller (1880-1968). b) Reputasi seseorang. akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang daripada yang lain. Dalam Kamus Poerwadarminta. Ibarat sebuah huruf dalam alfabet yang tak pernah sama antara yang satu dengan yang lain. sehingga `berbentuk’ unik. Karakter Bisa di Bentuk. sehingga membuatnya menarik dan atraktif.

Pendidikan Karakter. ambition inspired. Pentingnya karakter bagi kehidupan manusia. like muscle and physical skills. Diperlukan sejumlah waktu untuk membuat semua itu menjadi custom (kebiasaan) dan membentuk watak atau tabiat seseorang. And if that does not govern and direct your brains and learning. Teori dan Aplikasi ucapannya: “Character cannot be develop in ease and quite. ia kemudian menjadi salah seorang pahlawan besar dalam sejarah Amerika yang mendapatkan berbagai penghargaan di tingkat nasional dan internasional atas prestasi dan pengabdiannya. Antonin Scalia. pernah diungkap oleh salah seorang Hakim Agung di Amerika. Only through experience of trial and suffering can the soul be strengthened. Lewat perjuangan panjang dan ketekunan yang sulit dicari tandingannya. and success achieved”. are articles of commerce. yang pernah mengatakan: “Bear in mind that brains and learning. Dan sejarah hidupnya mendemonstrasikan bagaimana proses membangun karakter itu memerlukan disiplin tinggi karena tidak pernah mudah dan seketika atau instant. they will do you and the world more harm than good”. You can hire them by the year or by the hour. Scalia menunjukkan dengan tepat bagaimana karakter 45 . dan praktik. The only thing in the world NOT FOR SALE IS CHARACTER. Kalimat itu boleh jadi merangkum sejarah hidupnya yang sangat inspirasional. vision cleared. Keller adalah model manusia berkarakter (terpuji). refleksi. Diperlukan refleksi mendalam untuk membuat rentetan moral choice (keputusan moral) dan ditindaklanjuti dengan aksi nyata sehingga menjadi praksis. They are bought and sold.

Seri Pendidikan Karakter harus menjadi fondasi bagi kecerdasan dan pengetahuan (brains and learning). 4. rasa. Sebab kecerdasan dan pengetahuan (termasuk informasi) itu sendiri memang dapat diperjualbelikan. Sedangkan karakter bangsa adalah kualitas perilaku kolektif kebangsaan yang unik-baik yang tecermin dalam kesadaran. olah hati. Karakter merupakan ciri khas seseorang atau sekelompok orang yang mengandung nilai. Membangun Bangsa Melalui Pendidikan karakter Karakter adalah nilai-nilai yang unik-baik (tahu nilai kebaikan.termasuk pengajaran di institusi formal dan pelatihan di institusi nonformal--seharusnya bermuara. dan ketegaran dalam menghadapi kesulitan dan tantangan. kapasitas moral. Demikianlah makna penting sebuah karakter dan proses pembentukkannya yang tidak pernah mudah melahirkan manusia-manusia yang tidak bisa dibeli. menjadi manusia yang utuh atau memiliki integritas. yakni membangun manusia-manusia berkarakter (terpuji). olah rasa dan karsa. serta olahraga seseorang atau sekelompok orang. dan perilaku berbangsa 46 . Karakter secara koheren memancar dari hasil olah pikir. manusia-manusia yang memperjuangkan agar dirinya dan orang-orang yang dapat dipengaruhinya agar menjadi lebih manusiawi. pemahaman. Ke arah yang demikian itulah pendidikan dan pembelajaran . karsa. dan nyata berkehidupan baik) yang terpateri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku. mau berbuat baik. kemampuan. Dan sudah menjadi pengetahuan umum bahwa di era knowledge economy abad ke-21 ini knowledge is power.

regional. Karakter bangsa Indonesia akan menentukan perilaku kolektif kebangsaan Indonesia yang unik-baik yang tecermin dalam kesadaran. berjiwa patriotik. bermoral. namun lebih jauh dan pengertian itu yang lebih utama adalah dapat mengubah atau membentuk karakter dan watak seseorang agar menjadi lebih baik. konstitusi. Teori dan Aplikasi dan bernegara dari hasil olah pikir. bertoleran. berbudi luhur. dan perilaku berbangsa dan bernegara Indonesia yang berdasarkan nilainilai Pancasila. dan global yang berkeadaban. dan komitmen terhadap NKRI. pemahaman. bergotong royong. olah rasa dan karsa. keberagaman dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika. Pembangunan Karakter Bangsa adalah upaya kolektifsistemik suatu negara kebangsaan untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang dan negaranya sesuai dengan dasar dan ideologi. Namun apa yang terjadi di era sekarang? Banyak kita jumpai 47 . serta potensi kolektifnya dalam konteks kehidupan nasional. a. lebih sopan dalam tataran etika maupun estetika maupun perilaku dalam kehidupan sehari-hari. olah hati. Semuanya itu untuk membentuk bangsa yang tangguh. rasa. norma UUD 1945. karsa. haluan negara. pendidikan atau mendidik tidak hanya sebatas mentransfer ilmu saja. berakhlak mulia. Idealnya demikian. Pendidikan Paradigma pendidikan saat ini telah bergeser. berkembang dinamis. kompetitif. serta olahraga seseorang atau sekelompok orang. berorientasi ipteks yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.Pendidikan Karakter.

pendidikan menyebabkan terjadinya beragam perubahan dalam bidang sosial budaya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Jelas hal ini tidak dapat terlepas adanya perkembangan atau laju ilmu pengetahuan dan teknologi serta informasi yang mengglobal. namun apabila “watak” = batuk. Proses akulturasi bukan sematamata transmisi budaya dan adopsi budaya. dan adopsi tradisi budaya oleh orang yang belum mengetahui budaya tersebut sebelumnya. ekonomi. pada saat bersamaan. Apabila “watak” bisa terjadi karena sudah dari sananya atau bisa juga karena faktor bawaan yang sulit untuk diubah. dan agama. Banyak kalangan yang mengatakan bahwa “watak” dengan “watuk” (batuk) sangat tipis perbedaannya. Proses pembudayaan terjadi dalam bentuk pewarisan tradisi budaya dari satu generasi kepada generasi berikutnya. transmisi. adopsi. sedangkan adopsi tradisi budaya dikenal sebagai proses akulturasi (aculturation). mudah disembuhkan dengan minum obat batuk. Pewarisan tradisi budaya dikenal sebagai proses enkulturasi (enculturation). dan pendidikan juga dipandang sebagai alat untuk perubahan budaya. Sebagaimana diketahui. dan pelestarian budaya.Seri Pendidikan Karakter perilaku para anak didik kita yang kurang sopan. Pendidikan merupakan proses pembudayaan. Proses pembelajaran di sekolah merupakan proses pembudayaan yang formal atau proses akulturasi. bahkan sudah tidak mengenal batas-batas negara hingga mempengaruhi ke seluruh sendi kehidupan manusia. politik. bahkan lebih ironis lagi sudah tidak mau menghormati kepada orang tua. tetapi juga perubahan budaya. baik guru maupun sesama. pendidikan juga merupakan alat untuk konservasi budaya. Kedua 48 . Namun.

Misalnya. Karakter bangsa yang kuat merupakan produk dari pendidikan yang bagus dan mengembangkan karakter. jika mayoritas karakter masyarakat 49 . keterampilan suatu suku/keluarga biasanya diturunkan kepada generasi berikutnya melalui proses enkulturasi. Proses pembudayaan enkulturasi dilakukan oleh orang tua.Pendidikan Karakter. tangguh peradaban yang tinggi dapat dibangun dengan baik dan sukses. Tata krama. adat istiadat. Sebaliknya. Proses pembudayaan enkulturasi biasanya terjadi secara informal dalam keluarga. proses akulturasi biasanya terjadi secara formal melalui pendidikan. komunitas budaya suatu suku. serta melakukan kebiasaan sebagaimana masyarakat di tempat itu b. lalu orang itu akan berbahasa dan berbudaya. atau terhadap orang yang dianggap lebih muda. diberitahu dan disadarkan akan keberadaan suatu budaya. Sementara itu. budaya. kemudian mempelajari bahasa. kebiasaan dari masyarakat di tempat baru tersebut. seseorang yang pindah ke suatu tempat baru. atau komunitas budaya suatu wilayah. atau orang yang dianggap senior terhadap anak-anak. Seseorang yang tidak tahu. Urgensi Pendidikan Berbasis karakter Pendidikan merupakan proses yang paling ber-tanggung jawab dalam melahirkan warga negara Indonesia yang memiliki karakter kuat sebagai modal dalam membangun peradaban tinggi dan unggul. Teori dan Aplikasi proses tersebut berujung pada pembentukan budaya dalam suatu komunitas. Ketika mayoritas karakter masyarakat kuat. positif. kemudian orang tersebut mengadopsi budaya tersebut.

hak asasi manusia yang terkadang mendahulukan hak daripada kewajiban. bisa dipercaya. Mengapa mutlak diperlukan? Karena adanya krisis yang terus berkelanjutan melanda bangsa dan negara kita sampai saat ini belum ada solusi secara jelas dan tegas. Karakter bangsa adalah modal dasar membangun peradaban tingkat tinggi. seperti tuntutan demokrasi yang diartikan sebagai kebebasan tanpa aturan. mandiri. masyarakat yang memiliki sifat jujur. bekerja-sama. patuh pada peraturan. Kerancuan ini menyebabkan orang frustasi dan cenderung meluapkan perasaan tanpa kendali dalam bentuk “amuk massa 50 . tuntutan otonomi sebagai kemandirian tanpa kerangka acuan yang mempersatukan seluruh komponen bangsa.Seri Pendidikan Karakter negatif. Banyak kalangan masyarakat yang mempunyai pandangan terhadap istilah “kelatahan sosial” yang terjadi akhir-akhir ini. tangguh dan memiliki etos kerja tinggi akan menghasilkan sistem kehidupan sosial yang teratur dan baik. bahkan sangat mendesak dan mutlak adanya (tidak bisa ditawar-tawar lagi). kekerasan. karakter negatif dan lemah mengakibatkan peradaban yang dibangun pun menjadi lemah sebab peradaban tersebut dibangun dalam fondasi yang amat lemah. Hal ini cukup beralasan. terorisme dan lain-lain. Hal ini memang terjadi dengan berbagai peristiwa. Pada akhirnya berkembang ke arah berlakunya hukum rimba yang memicu kesukubangsaan (ethnicity). Ketidakteraturan sosial menghasilkan berbagai bentuk tindak kriminal. lebih banyak berupa wacana yang seolaholah bangsa ini diajak dalam dunia mimpi. Pembentukan karakter dan watak atau kepribadian ini sangat penting.

keterampilan. Berbeda dengan peran pendidikan pada negara-negara maju. yang bersatu padu (integrated).Pendidikan Karakter. yang pada gilirannya sangat krusial bagi notion building atau dalam bahasa lebih populer menuju rekonstruksi negara dan bangsa yang lebih maju dan beradab. bahkan merupakan kebutuhan mendesak. peranan pendidikan nasional di Indonesia memikul beban lebih berat Pendidikan berperan bukan hanya merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan saja. merupakan ciri dan karakter paling pokok dari suatu masyarakat madani Indonesia. Reformasi kehidupan nasional secara singkat. etos dan motivasi serta berpartisipasi aktif. yang pada dasarnya lebih terbatas pada transfer ilmu pengetahuan. Di samping itu. sehingga betul-betul menjadi Indonesia baru yang madani. Berhadapan dengan berbagai masalah dan tantangan. membesarkan dan mengembangkan warga negara yang demokratis dan memiliki keadaban (civility) kemampuan. peran pendidikan nasional dengan berbagai jenjang dan jalurnya merupakan sarana paling strategis untuk mengasuh. Oleh karena itu. Teori dan Aplikasi atau amuk sosial”. Jangan sampai yang terjadi malah kekerasan 51 . reformasi pendidikan sangat mutlak diperlukan untuk membangun karakter atau watak suatu bangsa. pada intinya bertujuan untuk membangun Indonesia yang lebih genuinely dan authentically demokratis dan berkeadaban. tetap lebih luas lagi sebagai pembudayaan (enkulturisasi) yang tentu saja hal terpenting dan pembudayaan itu adalah pembentukan karakter dan watak (nation and character building). pendidikan nasional pada saat yang sama (masih) tetap memikul peran multidimensi.

Kekerasan fisik yang mengorbankan nyawa dan harta benda tersebut. budi pekerti yang luhur dan lain sebagainya. Implementasi Pendidikan berbasis Karakter Pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua pihak baik rumah tangga dan keluarga. dan warrahmah). Dengan demikian. sekolah dan lingkungan sekolah. Sedangkan pendidikan karakter melalui sekolah. Pembentukan dan pendidikan karakter tersebut. yaitu penanaman moral. masyarakat luas. nilai-nilai etika. Oleh karena itu. c. tidak semata-mata pembelajaran pengetahuan semata.Seri Pendidikan Karakter yang meregenerasi seperti halnya yang terjadi di IPDN yang menjadi sorotan akhir-akhir ini (Kompas 16/4). perlu menyambung kembali hubungan dan educational networks yang mulai terputus tersebut. sangat jelas terkait pula dengan masih bertahannya “kekerasan struktural” (structural violence) pada tingkat tertentu. sekolah untuk kasih sayang (Philips. Pemberian penghargaan (prizing) kepada yang berprestasi. Akibatnya. keluarga hendaklah kembali menjadi school of love. menumbuhsuburkan 52 . 2000) atau tempat belajar yang penuh cinta sejati dan kasih sayang (keluarga yang sakinah. Sebagaimana disarankan Philips. dan hukuman kepada yang melanggar. perdamaian hati secara hakiki tidak atau belum berhasil diwujudkan. rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan pendidikan karakter pertama dan utama harus lebih diberdayakan. mawaddah. tidak akan berhasil selama antar lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan keharmonisan. tatapi lebih dari itu. estetika.

estetika untuk pembentukan karakter. KH. Sangat jelas cara mendidik seperti ini dikenal dengan pendekatan 53 . situasi kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya. Selanjutnya menerapkan pendidikan berdasarkan karakter (characterbase education) dengan menerapkan ke dalam setiap pelajaran yang ada di samping mata pelajaran khusus untuk mendidik karakter. penyadaran dan kreativitas sesungguhnya sejak masa kemerdekaan sudah digagas oleh para pendidik kita. Teori dan Aplikasi (cherising) nilai-nilai yang baik dan sebaliknya mengecam dan mencegah (discowaging) berlakunya nilai-nilai yang buruk. pelajaran Agama. Sejarah. Moral Pancasila dan sebagainya. Mukti Ali. seperti. Ahmad Dahlan.Pendidikan Karakter. Jika sistem nilai dan pandangan mereka terbatas pada kini dan di sini. Di samping itu tidak kalah pentingnya pendidikan di masyarakat. mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat secara keseluruhan. Menurut Qurais Shihab (1996 . bahwa desain pendidikan yang mengacu pada pembebasan. maka upaya dan ambisinya terbatas pada hal yang sama. tetapi dengan “tuntunan” bukan “tontonan”. 321). mengajarkan praktek pendidikan yang mengusung kompetensi/kodrat alam anak didik. Prof. Apabila kita cermati bersama. Ki Hajar Dewantara misalnya. seperti Ki Hajar Dewantara. bukan dengan perintah paksaan. Lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi terhadap karakter dan watak seseorang. HA. Lingkungan masyarakat luas sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai etika.

sistem pendidikan yang masih lemah. Ahmad Dahlan berusaha “mengadaptasi” pendidikan modern Barat sejauh untuk kemajuan umat Islam. baik dan rendah hati. seperti penyakit dikotomi.Seri Pendidikan Karakter “among”’ yang lebih menyentuh langsung pada tataran etika. d. hormat dan santun. KH. Karakter diri dilandasi nilai-nilai serta cara berpikir berdasarkan nilai-nilai tersebut dan terwujud di dalam perilaku. Mengembangkan karakter Salah satu poin penting dari tugas pendidikan adalah membangun karakter (character building) anak didik. perilaku pendidiknya dan lain sebagainya. jujur. kasih sayang. disiplin dan mandiri. Namun mengapa dunia pendidikan kita yang masih berkutat dengan problem internalnya. percaya diri. kreatif. kerja keras dan pantang menyerah. cinta damai dan persatuan. Bentuk-bentuk karakter yang dikembangkan telah dirumuskan secara berbeda. sedangkan Mukti Ali mendesain integrasi kurikulum dengan penambahan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan. Karakter merupakan standar-standar batin yang terimplementasi dalam berbagai bentuk kualitas diri. Indonesia Heritage Foundation merumuskan beberapa bentuk karakter yang harus ada dalam setiap individu bangsa Indonesia di antaranya. cinta kepada Allah dan semesta beserta isinya. peduli. profesionalitas pendidiknya. tanggung jawab. perilaku yang tidak terlepas dengan karakter atau watak seseorang. 54 . dan kerja sama. keadilan dan kepemimpinan. dan toleransi.

Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan tersebut seharusnya menjadi dasar dari kurikulum sekolah yang bertujuan mengembangkan secara berkesinambungan dan sistematis karakter siswa. yaitu nilai-nilai etika seperti menghargai diri sendiri dan orang lain. Kurikulum yang menekankan pada penyatuan pengembangan kognitif dengan pengembangan karakter 55 . Teori dan Aplikasi Sementara itu. rasa hormat dan perhatian (respect). integritas. sikap bertanggung jawab. character counts di Amerika mengidentifikasikan bahwa karakter-karakter yang menjadi pilar adalah. dapat dipercaya (trustworthiness). tanggung jawab (responsibility). jujur (fairness). masyarakat dan negara untuk mengisi pola pikir dasar anak didik. ketulusan (honesty). moral dan tanggung jawab.Pendidikan Karakter. berani (courage). Hal itu memberikan solusi jangka panjang yang mengarah pada isu-isu moral. Oleh karena itu. pendidikan yang mengembangkan karakter adalah bentuk pendidikan yang bisa membantu mengembangkan sikap etika. tekun (diligence) dan integritas. memberikan kasih sayang kepada anak didik dengan menunjukkan dan mengajarkan karakter yang bagus. peduli (caring). Pada intinya bentuk karakter apa pun yang dirumuskan tetap harus berlandaskan pada nilai-nilai universal. etika dan akademis yang merupakan concern dan sekaligus kekhawatiran yang terus meningkat di dalam masyarakat. dan disiplin diri. kewarganegaraan (citizenship). Hal itu merupakan usaha intensional dan proaktif dari sekolah.

Di samping nilai tersebut diintegrasikan dalam kurikulum. Sekolah dengan sekuat tenaga membangun istana yang cantik. Peranan Lingkungan dalam Membangun Karakter Sementara itu. perlu pendekatan yang komprehensif dari sekolah. ombak besar meluluhlantakkan istana yang telah dibangun di sekolah. pengendalian diri. dan melakukan apa yang mereka yakini sebagai yang benar-walaupun ada tekanan dari luar dan godaan dari dalam. sangat memedulikan tentang yang benar. Anak didik bisa menilai mana yang benar. dan bertindak berdasarkan nilai-nilai etika. pembuatan keputusan yang matang. tetapi begitu anak keluar dari lingkungan sekolah. Lebih spesifiknya. ketekunan. keluarga. keberanian. menurut Dr Thomas Lickona. tanggung jawab untuk kebaikan umum dan lainlain. toleransi. menghormati harga diri individu. simpati. D. kesopanan. dan masyarakat dalam mengembangkan karakter anak 56 . pendidikan yang mengambangkan karakter adalah upaya yang dilakukan pendidikan untuk membantu anak didik supaya mengerti. keadilan. kesetiaan. pertimbangan moral.Seri Pendidikan Karakter melalui pengambilan perspektif. seperti kejujuran. juga yang tidak kalah penting adalah adanya role model yang baik dalam masyarakat untuk memberikan contoh dan mendorong sifat baik tertentu atau ciri-ciri karakter yang diinginkan. upaya pendidikan yang dilakukan di sekolah oleh para guru seperti membuat ‘istana pasir di tepi pantai’. dan pengetahuan diri tentang moral. memedulikan. Oleh karena itu.

sekolah maupun masyarakat sebagai komunitas moral yang berbagi tanggung jawab untuk pendidikan yang mengembangkan karakter dan setia dan konsisten kepada nilai dasar yang diusung bersama-sama. Berbagai prilaku ambigu dan inkonsistensi yang diperlihatkan dalam masyarakat akan memberi kontribusi yang buruk yang secara signifikan dapat melemahkan karakter siswa. Teori dan Aplikasi didik yang kuat. proaktif dan efektif dalam membangun dan mengembangkan karakter anak didik serta menciptakan komunitas yang peduli. Character education quality standards merekomendasikan bahwa pendidikan akan secara efektif mengembangkan karakter anak didik ketika nilai-nilai dasar etika dijadikan sebagai basis pendidikan. baik. baik di keluarga. orang tua harus menjadi role model yang baik dalam menanamkan karakter yang baik kepada anaknya. pemegang otoritas di masyarakat. para pemimpin. pembuat kebijakan. 57 . menggunakan pendekatan yang tajam. Lingkungan masyarakat. dan positif secara konsisten.Pendidikan Karakter.

Seri Pendidikan Karakter 58 .

Pendidikan Karakter. Teori dan Aplikasi BAB IV PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH 59 .

integritas. Ini adalah suatu usaha yang disengaja dan proaktif baik dari sekolah. bertanggung jawab. Ini bukanlah suatu “perbaikan cepat” atau “obat kilat untuk semua”. dan perduli melalui pemodelan dan mengajarkan karakter baik dengan penekanan pada nilai universal yang kita setujui bersama. etika.Seri Pendidikan Karakter BAB IV PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH A. daerah. bertanggung jawab. Pendahuluan Pendidikan karakter adalah gerakan nasional untuk menciptakan sekolah yang membina generasi muda yang beretika. dan disiplin diri. Dia menyediakan solusi jangka panjang pada moral. dan isu akademis yang 60 . dan juga negara untuk menanamkan siswanya pada nilai etika utama seperti menghargai diri sendiri dan orang lain.

B. hamil muda. sebagai mana di ungkapkan oleh Horace Mann (1837). tidak memihak (non sectarian). penggunaan obat terlarang. dan bebas. tetapi ia juga bertugas dalam pembentukan kapasitas bertanggungjawab siswa dan kapasitas pengambilan keputusan yang bijak dalam kehidupan.Pendidikan Karakter. The common school should teach virtue before knowlede. dan performa akademis yang buruk. Konsep moral reasoning dan values clarification yang selama ini 61 . Teori dan Aplikasi menjadi keprihatinan yang berkembang di masyarakat dan keselamatan di sekolah-sekolah kita. tidak sebatas membangun dan meningkatkan penguasaan informasi dan teknologi dari anak didik. seorang filsuf pendidikan. Dengan demikian menurut Mann sejalan dengan John Dewey. jadi bukan untuk kepentingan salah satu pihak tertentu (sectarian ends). pembentuk kebijakan berkewarganegaraan (civic virtue) dan penciptaan manusia berkarakter. Urgensi Pendidikan Karakter di Sekolah Institusi sekolah memiliki beban tugas tugas penting. Pendidikan karakter boleh ditujukan pada keprihatinan kritis seperti siswa yang membolos.: “the highest and noblest office of education pertains to our moral nature. pendidikan karakter mengintegrasikan nilai positif ke setiap aspek dari hari-hari di sekolah. tujuan utama pendidikan adalah sebagai penggerak efisiensi sosial. kekerasan berkelompok. for. masalah disiplin. Pada kemungkinan yang terbaik. dimana pendidikan sebaiknya bersifat universal. knowledge without virtue poses its own dangers “ Karena itu menurut Mann (1796-1859) bahwa sekolah negeri haruslah menjadi penggerak utama dalam pendikan yang bebas (free public education)..

yakni kegagalan melahirkan generasi yang dapat menentukan kehidupan masyarakat. dan apa yang terekam dalam memori anak-anak di sekolah akan mempengaruhi kepribadian anak ketika dewasa kelak. Di Indonesia. bangsa dan negara sehingga masyarakat memerlukan warga negara yang baik (caring citizenry) dengan karakter moral yang baik pula. Dilihat dari esensinya 62 . Brooks dan Goble membuat rumusan paradigma baru pembelajaran dalam bukunya The Case for Character Education agar sistem pendidikan moral tidak lagi memikirkan tentang nilai-nilai siapa yang akan diajarkan pada siswa di sekolah.Seri Pendidikan Karakter di banggakan telah menuai kecaman. akan tetapi perlu dipikirkan nilai-nilai apa yang akan diajarkan pada siswa (what values should we teach?). Dia juga menekankan bahwa agama-agama besar di Amerika telah memiliki kesamaan dalam hal pendidikan karakter dan mempunyai nilai-nilai luhur yang dapat ditemukan dalam masing-masing ajaran agamanya: Menurut William Bennett (1991) sekolah mempunyai peran yang amat penting dalam pendidikan karakter anak. kelihatannya pendidikan moral masih belum berhasil dilihat dari parameter kejahatan dan demoralisasi masyarakat yang tampak meningkat pada periode ini. terutama jika anak-anak tidak mendapatkan pendidikan karakter di rumah. Mereka juga yakin bahwa seseorang tidak secara otomatis memiliki karakter moral yang baik sehingga perlu dipikirkan upaya untuk mendidik karakter secara efektif (effective character education). Argumennya didasarkan kenyataan bahwa anak-anak Amerika menghabiskan cukup banyak waktu di sekolah. dimana agama di ajarkan di sekolah-sekolah negeri.

Teori dan Aplikasi seperti yang terlihat dari kurikulum pendidikan agama tampaknya agama lebih mengajarkan pada dasar-dasar agama. dan nuraninya.Pendidikan Karakter. Ini merupakan kesalahan metodologis yang mendasar dalam pengajaran moral bagi manusia. emosi. moral dan etika) harus mengandung unsur afeksi. Selain itu tidak dilakukan praktek perilaku dan penerapan nilai kebaikan dan akhlak mulia dalam kehidupan di sekolah. sentuhan nurani. Nilai-nilai yang Diajarkan Dalam Pendidikan Karakter di Sekolah Dalam pendidikan karakter Lickona (1992) menekankan 63 . Dilihat dari metode pendidikan pun tampaknya terrjadi kelemahan karena metode pendidikan yang disampaikan dikonsentrasikan atau terpusat pada pendekatan otak kiri/kognitif. yaitu hanya mewajibkan siswa didik untuk mengetahui dan menghafal (memorization) konsep dan kebenaran tanpa menyentuh perasaan. C. sementara akhlak atau kandungan nilai-nilai kebaikan belum sepenuhnya disampaikan. Dengan demikian peran orangtua dalam pendidikan agama untuk membentuk karakter anak (baca:akhlak) menjadi amat mutlak. dan prakteknya sekaligus dalam bentuk amalan kehidupan sehari-hari. Tanpa keterlibatan orangtua dan keluarga maka sebaik apapun nilai-nilai yang diajarkan di sekolah akan menjadi sia-sia. sebab pendidikan karakter (akhlak. Karena itu tidaklah aneh jika dijumpai banyak sekali inkonsistensi antara apa yang diajarkan di sekolah dan apa yang diterapkan anak di luar sekolah. karena melalui orangtua pulalah anak memperoleh kesinambungan nilai-nilai kebaikan yang telah ia ketahui di sekolah. perasaan.

4) loving the good. dan kemandirian (responsibility. dan kerjasama (love. excellence. Pertama. Hormat dan santun (respect. Tanggungjawab. Terdapat 6 hal yang merupakan aspek dari emosi yang harus mampu dirasakan oleh seseorang untuk menjadi manusia berkarakter yakni : 1) conscience. compassion. reliability. merasakan dan mengerjakan sekaligus nilai-nilai kebajikan. obedience) 5. Dalam implementasinya di kelas pendidikan karakter bisa dikembangkan melalui point-point berikut:: 1. 5) self-control dan 6) humility. courtessy. Ketiga Moral Action. honesty) 4. orderliness) 3. 2) knowing moral values. discipline. Kasih sayang. 5) decision making dan 6) self-knowledge. Hal ini diperlukan agar siswa didik mampu memahami. 4) moral reasoning. 2) keinginan (will) dan 3) kebiasaan (habit). 64 . kepedulian. Moral Knowing. Cinta Tuhan dan kebenaran (love Allah. loyalty) 2. 3) persperctive taking. self reliance. Untuk memahami apa yang mendorong seseorang dalam perbuatan yang baik (act morally) maka harus dilihat tiga aspek lain dari karakter yaitu : 1) kompetensi (competence). kedisiplinan. 3) empathy. 2) self-esteem. Kedua Moral Feeling. Secara umum terdapat enam hal yang menjadi tujuan dari diajarkannya moral knowing yaitu: 1) moral awereness. Perbuatan/tindakan moral ini merupakan hasil (outcome) dari dua komponen karakter lainnya. reverence. trust. Amanah (trustworthiness.Seri Pendidikan Karakter pentingya tiga komponen karakter yang baik (components of good character) yaitu moral knowing atau pengetahuan tentang moral. moral feeling atau perasaan tentang moral dan moral action atau perbuatan bermoral.

tetapi juga kepada keluarga/rumah dan masyarakat sekitarnya. courage. caring. 2. 8. flexibility. fairness. peacefulness. Teori dan Aplikasi 6. sekolah harus dipandang sebagai suatu lingkungan yang diibaratkan seperti pulau dengan bahasa dan budayanya sendiri. humility. Dalam menjalankan kurikulum karakter maka sebaiknya: 1) 65 . leadership) Baik dan rendah hati (kindness. unity) D. Pendekatan yang sebaiknya dilaksanakan adalah meliputi: 1. mercy. staf dan siswa didik. resourcefulness. determination and enthusiasm) Keadilan dan kepemimpinan (justice. assertiveness. Dalam menjalankan prinsip itu maka nilai-nilai yang diajarkan harus termanifestasikan dalam kurikulum sehingga semua siswa dalam sekolah faham benar tentang nilai-nilai tersebut dan mampu menerjemahkannya dalam perilaku nyata. kreatif. generousity. cooperation) Percaya diri. creativity. modesty) Toleransi dan cinta damai (tolerance. 7. Untuk itu maka diperlukan pendekatan optimal untuk mengajarkan karakter secara efektif yang menurut Brooks dan Goble harus diterapkan di seluruh sekolah (school-wide approach). empathy. Elemen dan Pendekatan Pendidikan Karakter di Sekolah Menurut Brooks dan Gooble dalam menjalankan pendidikan karakter terdapat tiga elemen yang penting untuk diperhatikan yaitu prinsip. moderation.Pendidikan Karakter. 9. Namun sekolah juga harus memperluas pendidikan karakter bukan saja kepada guru. friendliness. proses dan prakteknya dalam pengajaran. dan pantang menyerah (confidence.

Namun sejalan dengan perkembangan usia anak maka alasan (reason) atau mengapa (why) di balik nilai-nilai 66 . Penekanan ditempatkan untuk merangsang bagaimana siswa menterjemahkan prinsip nilai ke dalam bentuk perilaku prososial. 3) seluruh staf menyadari dan mendukung tema nilai yang diajarkan. Cerita-cerita kepahlawanan dan kisah kehidupan yang perlu diteladani baik dari para orang bijak. dan lain-lain) sebagai sesuatu hal yang tidak boleh dipaksakan kepada anak justru merupakan kelemahan dari mereka sendiri. Mengingat moral adalah sesuatu yang bersifat abstrak maka nilai-nilai moral kebaikan harus diajarkan pada generasi muda ini.Seri Pendidikan Karakter pengajaran tentang nilai-nilai berhubungan dengan sistem sekolah secara keseluruhan. Bahkan imajinasi anak terhadap kehidupan yang ideal ini (meskipun apa yang dilihatnya dari sekitarnya tidaklah demikian) perlu ditekankan kepada anak agar ia mencintai kebajikan dan terdorong untuk berbuat hal yang sama. Kritik para pendidik progresif tentang indoktrinasi nilai (Simon. 3. Kirschenbaum. 2) diajarkan sebagai subyek yang berdiri sendiri (separate-stand alone subject) namun diintegrasikan dalam kurikulum sekolah keseluruhan. Sebab pendidikan tanpa nilai moral seperti yang mereka lakukan kepada siswa didik adalah merupakan nilai sendiri. Oleh sebab itu tema yang sesuai dengan usia anak dalam berpikir konkrit perlu diakomodasi. Karena itu dalam mendidik karakter pada anak pengenalan dini terhadap nilai baik dan buruk sangat diperlukan. maupun para pejuang bangsa dan humanisme tetap diperlukan.

Down through history. tidak hanya melalui pendidikan formal. It is in fact. menjiplak karya orang lain. pendidikan karakter seolah menjadi tanggung jawab secara parsial. as old as education itself. education has had two great goals: to help young people become smart and to help them become good” E. Teori dan Aplikasi baik dan buruk dapat mulai diajarkan kepada siswa didik. Mencontek. sebab tanpa moral maka manusia seperti dikatakan Wilson (1997) hanyalah seperti “social animal”. Akibatnya. adalah hal yang sering terjadi dan dianggap biasa. Untuk itu maka tugas para pendidik dan sekolah-lah untuk menjadikan manusia menjadi makhluk baik yang beradab dan berbudi luhur. melakukan sabotase. Permasalahan Membangun karakter dari pintu pendidikan harus dilakukan secara komprehensif-integral.Pendidikan Karakter. Banyak hal yang memiriskan ketika mengamati sistem pendidikan kita. 67 . ada kecenderungan pendidikan formal. berjalan terpisah satu dengan yang lainnya. namun juga melalui pendidikan informal dan non formal. in countries all over the world. Sekali lagi perlu difahami benar oleh para pendidik dan pemerhati kehidupan bangsa. seperti dikatakan Lickona :”Moral education is not a new idea. Di depan mata. nilai-nilai kejujuran telah diinjak-injak. Strategi Pendidikan Karakter di Sekolah 1. Selama ini. informal dan non formal. bahwa pendidikan moral dan karakter adalah seperti dua sisi mata uang yang saling melengkapi yang memiliki tujuan mulia dalam membentuk moral manusia.

mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. sepertinya lebih banyak menghasilkan generasi yang pandai mengeluh. bukan mendampingi dan menuntun anak menyelesaikan PR tersebut. PR yang harusnya dikerjakan anak justru dikerjakan oleh orang tua atau kakaknya. Di rumah misalnya. 2. Di sekolah. Namun sayang. Pemerintah hendaknya memasukkan pendidikan budaya dan karakter bangsa melalui penguatan kurikulum. dan mengambil jalan pintas. sekolah ramai-ramai membuat kantin kejujuran. Bagaimana mengatasinya? Secara institusional. gagasan yang tampaknya relevan dalam mengembangkan nilai kejujuran ini mengabaikan prinsip dasar pedagogi pendidikan berupa kedisiplinan sosial yang mampu mengarahkan dan membentuk pribadi anak didik.Seri Pendidikan Karakter Pendidikan kita selama ini. Demikian juga perilaku masyarakat banyak yang memberi contoh kurang mendidik seperti perilaku kurang sopan. Anak diajak untuk jujur dalam membeli dan membayar barang yang dibeli tanpa ada yang mengontrolnya. Hal ini penting dilakukan agar nilai-nilai budaya dan karakter bangsa itu tetap melekat pada diri anak sehingga tidak terjadi lost generation dalam hal budaya dan karakter 68 . mencuri. membebek. Untuk menanamkan nilai kejujuran misalnya. dan yang lainnya. sering kali ditemukan anak-anak yang menyontek ketika ujian karena mengejar target kelulusan dengan nilai tinggi. sebagai bagian dari penguatan sistem pendidikan nasional.

Pendidikan Karakter; Teori dan Aplikasi

bangsa. Keluaran (output) pendidikan harus direorientasi pada keseimbangan tiga unsur pendidikan berupa karakter diri, pengetahuan, soft skill. Jadi bukan hanya berhasil mewujudkan anak didik yang cerdas otak, tetapi juga cerdas hati, dan cerdas raga. Lickona (2007) menyatakan: terdapat 11 prinsip agar pendidikan karakter dapat berjalan efektif: (1) kembangkan nilai-nilai etika inti dan nilai-nilai kinerja pendukungnya sebagai fondasi, (2) definisikan “karakter” secara komprehensif yang mencakup pikiran, perasaan, dan perilaku, (3) gunakan pendekatan yang komprehensif, disengaja, dan proaktif, (4) ciptakan komunitas sekolah yang penuh perhatian, (5) beri siswa kesempatan untuk melakukan tindakan moral.(6) buat kurikulum akademik yang bermakna dan menantang yang menghormati semua peserta didik, mengembangkan karakter, dan membantu siswa untuk berhasil. (7) Usahakan mendorong motivasi diri siswa, (8) libatkan staf sekolah sebagai komunitas pembelajaran dan moral, (9) tumbuhkan kebersamaan dalam kepemimpinan moral, (10) libatkan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra, dan (11) evaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai pendidik karakter, dan sejauh mana siswa memanifestasikan karakter yang baik. Agar dapat berjalan efektif, pendidikan karakter dapat dilakukan melalui tiga desain, yakni; (1) Desain berbasis kelas, yang berbasis pada relasi guru sebagai pendidik dan siswa sebagai pembelajar, (2) Desain berbasis kultur sekolah, yang
69

Seri Pendidikan Karakter

berusaha membangun kultur sekolah yang mampu membentuk karakter anak didik dengan bantuan pranata sosial sekolah agar nilai tertentu terbentuk dan terbatinkan dalam diri siswa, dan (3) Desain berbasis komunitas. Dalam mendidik, komunitas sekolah tidak berjuang sendirian. Masyarakat di luar lembaga pendidikan, seperti keluarga, masyarakat umum, dan negara, juga memiliki tanggung jawab moral untuk mengintegrasikan pembentukan karakter dalam konteks kehidupan mereka. Dengan desain demikian, pendidikan karakter akan senantiasa hidup dan sinergi dalam setiap rongga pendidikan. Sejak anak lahir atau bahkan masih dalam kandungan, ketika berada di lingkungan sekolah, kembali ke rumah, dan bergaul dalam lingkungan sosial masyarakatnya, akan selalu menjadi tempat bagi anak-anak untuk belajar, mencontoh, dan mengaktualisasikan nilai-nilainya yang dipelajari dan dilihatnya itu. Hal lain yang perlu diperhatikan agar pendidikan karakter berhasil di kembangkan di sekolah yakni : Pertama, istilah karakter harus sama-sama dipahami dahulu. Kebanyakan sekolah mengindetikkan karakter dengan pelajaran agama, sehingga dikuatirkan justru kegiatan keagamaan yang ditonjolkan. Padahal pendidikan karakter bukan hanya tentang agama an sich. Karakter lebih kepada agama yang dipraktekan (teopraksis), yang mana nilai-nilai universalnya hidup, menjadi sehingga menumbuhkembangkan kebiasaan yang positif dan produktif yang berujung kepada pembentukan manusia yang berwawasan dan bertindak luas dan mempunyai kepribadian, identitas dan kepercayaan diri, dan nilai-nilai yang berdasarkan
70

Pendidikan Karakter; Teori dan Aplikasi

Pancasila. Kedua, pembentukan karakter tidak dapat terjadi melalui proses belajar mengajar di kelas secara konvensional. Dalam hal ini peran seorang guru sebagai role model mutlak dibutuhkan. Fenomena yang kita lihat di sekolah adalah guru adalah “sumber pengetahuan” bagi murid, sedangkan kepala sekolah adalah “sumber pengetahuan” bagi guru. Yang saya maksud adalah baik murid maupun guru sudah keenakan diajarkan dan dinasihati. Saya perhatikan bahkan kepala sekolah juga sangat suka dinasihati oleh pejabat pemerintahan. Pembangunan karakter jangan sampai terjebak dalam kebiasaan menasihati semata. Karakter hanya terbentuk dengan persentuhan kualitas kepribadian dalam proses belajar bersama. Karakter murid akan terbentuk ketika mereka melihat kualitas hidup gurunya dalam proses interaksi bersama, demikian juga guru terhadap kepala sekolah, dan kepala sekolah terhadap pejabat daerah. Maka dalam hal ini peran kepala sekolah sebagai instructional leader (pemimpin pembelajaran) dan pejabat daerah sebagai teladan dalam karakter sangat berpengaruh. Ketiga, keberhasilan pendidikan karakter harus jelas indikatornya. Nilai-nilai karakter ini akan menjadi bagian di dalam kurikulum, rencana pembelajaran, dan silabus, yang dikemas di dalam KTSP. Namun untuk kita ingat bersama masih banyak KTSP sekolah yang adalah bagian dari standar pendidikan yang belepotan. Tidak sedikit juga sekolah yang mengaku sudah lengkap KTSP nya namun tidak mempunyai akar pemahaman yang kuat. Wajar dicurigai kalau dokumen KTSP sebagian sekolah adalah hasil copy paste, bukan lahir
71

bahkan Kemendikas dan pemerintah daerah sudah sangat banyak mengucurkan dana untuk mengadakan berbagai pelatihan penyusunan KTSP tersebut. selain selain waktunya yang menggangu anak belajar acaranya juga sering kali menonjolkan tindakan amoral dan ketidakjujuran. dan lain sebagainya. perlu kerja sama seluruh elemen masyarakat karena salah besar jika kita ingin mengubah karakter bangsa hanya dengan mengubah sekolah. Keempat.Seri Pendidikan Karakter dari kristalisasi kegelisahan bersama yang didiskusikan dan direfleksikan bersama para pelaku pendidikan. Padahal KTSP ini sudah dicanangkan lebih dari 5 (lima) tahun terakhir. Ada banyak hal yang semestinya dibenahi antara lain: pemerintah harus berani mengubah acaraacara di TV di mana pada saat jam belajar malam siswa tidak ada siaran sinetron. kalau pemerintah pusat benar-benar berkomitmen dengan pembentukan karakter bangsa ini maka tanggung jawab jangan semata-mata diserahkan kepada Kementerian Pendidikan Nasional semata. membatasi program-program “pencari bakat” di TV yang mengandung unsur ekspoitasi anak dan menumbuhkembangkan lagi progam-program TV yang sarat muatan pendidikan. Pengambilan kebijakan pemihakan terhadap pembangunan karakter secara konsiten ini mencerminkan karakter pemerintah yang sangat efektif dalam membangun kesadaran dan semangat pelaku pendidikan. 72 . membatasi situs-situs internet yang merusak moral. Jika hal tersebut di atas berhasil dilaksanakan maka pemerintah akan semakin kuat legitimasinya sebagai garda depan dalam pembentukan karakter bangsa. menghukum secara tegas dan terbuka kepada publik para produsen dan penyebar narkoba.

Pendidikan Karakter; Teori dan Aplikasi

Yang terakhir, libatkan masyarakat secara penuh mulai dari proses perencanaan sampai evaluasi. Makna karakter yang ingin dibentuk pada peserta didik harus berasal dari masyarakat dan menjadi tanggung jawab semua pihak, bukan hanya sekolah. Pilihlah pegawai pemerintah yang eligible, berkarakter kuat, dan mau fokus dan bekerja keras dalam membangun pondasi program ini. Program ini hanya bisa optimal jika penggeraknya adalah orang-orang yang disegani karena dedikasi dan karakternya yang baik. Orang-orang seperti itu sebenarnya banyak, namun sering tertutup oleh orang-orang yang senang mencari muka saja. Oleh karena ini secara teknis mereka yang potensial harus diberi ruang gerak yang luas sehingga pekerjaan mereka juga dapat berjalan sebagaimana yang telah direncanakan. Selain itu libatkan secara luas motivator, penceramah, pelatih, yang berkualitas dengan catatan para motivator tersebut tidak boleh menjadikan kegiatan ini sebagai ajang bisnis pula. Kalau hal-hal di atas dapat dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan, saya optimis program ini dalam waktu tidak begitu lama akan mulai dapat dituai hasilnya. Beberapa catatan ini sebenarnya masih sangat sederhana dan tidak akan menjawab rumitnya pembangunan karakter di negeri tercinta ini. Ringkasnya, pendidikan pembentukan karakter hanya bisa berhasil jika dimulai dari hal-hal yang mendasar, keseharian, dan yang terkadang kelihatannya sepele, bukan dengan retorika dan slogan-slogan yang fantastis. Masih teringat kalimat Bung Karno sebagi inti nation and character building, “Satukan kata dan perbuatan!”.

73

Seri Pendidikan Karakter

F. Karakter Utama dalam Pendidikan Karakter di Sekolah

Untuk membangun pendidikan karakter yang kuat, harus memperhatikan delapan karakter utama pendidikan karakter di sekolah yakni 4. Courage: Keberanian / Keteguhan Hati: Memiliki keinginan untuk berbuat yang benar meskipun yang lain tidak. Memiliki keberanian untuk mengikuti kesadaran / kebenaran dibandingkan mengikuti kebanyakan orang lain. Memilih hal-hal yang baik bila memang lebih bermanfaat. 5. Good Judgement: Pertimbangan yang Baik: Memilih tujuan hidup yang baik dan membuat prioritas yang sesuai, berfikir sampai pada konsekuensi dari setiap aksi, dan memutuskan berdasar pada kebijaksanaan dan pendirian yang baik. 6. Integrity: Integritas: Memiliki kekuatan dalam (inner strength) untuk jujur, dapat dipercaya, dan berkata benar dalam segala hal. Bersikap adil dan terhormat. 7. Kindness: Kebaikan hati: Perhatian, sopan, membantu, dan memahami orang lain; memperlihatkan perhatian, rasa kasihan, berkawan, dan dermawan, dan memperlakukan orang lain seperti halnya anda ingin diperlakukan. 8. Perseverance: Ketekunan:Tekun mengejar tujuan hidup meskipun dihalangi kesulitan, perlawanan, atau keputusasaan. Memperlihatkan kesabaran dan keinginan untuk mencoba lagi meskipun ada keterlambatan, kesalahan, atau kegagalan. 9. Respect: Penghargaan: Memperlihatkan penghargaan pada
74

Pendidikan Karakter; Teori dan Aplikasi

wewenang, pada orang lain, pada diri sendiri, untuk barang hak milik, dan untuk Negara. Dan memahami bahwa semua orang memiliki nilai sebagai manusia. 10.Responsibility: Tanggung Jawab: Bebas dalam menjalankan kewajiban dan tugas, menunjukkan dapat diandalkan dan konsisten dalam perkataan dan perbuatan, dapat dipercaya dalam setiap kegiatan, dan komitmen untuk aktif terlibat di lingkungan. 11.Self-Discipline: Disiplin Diri: Memperlihatkan kerja keras dan komitmen pada tujuan, mengatur diri untuk perbaikan diri dan juga menghindari perilaku tidak baik, dapat mengendalikan kata-kata, aksi, reaksi, dan juga keinginan. Menghindari seks di luar nikah, narkoba, alcohol, rokok, zat dan perilaku berbahaya lainnya. Melakukan yang terbaik dalam segala hal.
G. Strategi Pembangunan Karakter Bangsa Melalui Pendidikan

Strategi pembangunan karakter bangsa melalui pendidikan dapat dilakukan dengan pendidikan dan pembelajaran dan fasilitasi sebagai berikut. Pendidikan merupakan tulang punggung strategi pembentukan karakter bangsa. Hal itu terjadi karena dalam konteks makro, penyelenggaraan pendidikan karakter mencakup keseluruhan kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian mutu yang melibatkan seluruh unit utama di lingkungan pemangku kepentingan pendidikan nasional. Peran pendidikan sangat strategis karena merupakan pembangun integrasi nasional yang kuat. Selain dipengaruhi
75

pendidikan juga dipengaruhi faktor sosial budaya. dan dirumuskan dengan menggunakan berbagai sumber.Seri Pendidikan Karakter faktor politik dan ekonomi. materialistik. Pada tahap perencanaan dikembangkan perangkat karakter yang digali. globalisasi mempengaruhi nilai-nilai solidaritas sosial seperti sikap individualistik. Disadari bahwa pembangunan karakter bangsa dihadapkan pada berbagai masalah yang sangat kompleks. pelaksanaan. antara lain pertimbangan (1) filosofis: 76 . menipisnya solidaritas terhadap sesama. Pada aspek sosial dan budaya. dan evaluasi hasil. dikristalisasikan. Perkembangan masyarakat yang sangat dinamis sebagai akibat dari globalisasi dan pesatnya kemajuan teknologi komunikasi dan informasi tentu merupakan masalah tersendiri dalam kehidupan masyarakat. melemahnya toleransi antarumat beragama. Secara makro pengembangan karakter dibagi dalam tiga tahap. Akan tetapi. gotong royong. Globalisasi dan hubungan antarbangsa sangat berpengaruh pada aspek ekonomi (perdagangan global) yang mengakibatkan berkurang atau bertambahnya jumlah kemiskinan dan pengangguran. yakni perencanaan. dengan menempatkan strategi pendidikan sebagai modal utama menghalangi virus-virus penghancur tersebut. hedonistik yang seperti virus akan berimplikasi terhadap tatanan budaya masyarakat Indonesia sebagai warisan budaya bangsa seperti memudarnya rasa kebersamaan. dan itu semua pada akhirnya akan berdampak pada berkurangnya rasa nasionalisme sebagai warga negara Indonesia. masa depan bangsa ini dapat diselamatkan. khususnya dalam aspek integrasi dan ketahanan sosial.

serta sosial-kultural. Proses ini dilaksanakan melalui proses pemberdayaan dan pembudayaan sebagaimana digariskan sebagai salah satu prinsip penyelenggaraan pendidikan nasional. Dalam intervensi dikembangkan suasana interaksi belajar dan pembelajaran yang sengaja dirancang untuk mencapai tujuan pembentulkan karakter dengan menerapkan kegiatan yang terstruktur. Proses pembudayaan dan pemberdayaan yang mencakup pemberian contoh. Agar proses pembelajaran tersebut berhasil guna. nilai dan moral. pembiasaan. dan UU N0. antara lain tokoh-tokoh. pesantren. satuan pendidikan unggulan.Pendidikan Karakter. peran guru sebagai sosok panutan sangat penting dan menentukan. pendidikan. kelompok kultural. dan masyarakat. psikologis. Teori dan Aplikasi Pancasila. dll. (3) empiris: berupa pengalaman dan praktik terbaik. dan penguatan harus dikembangkan 77 . pembelajaran. di lingkungan masyarakatnya membiasakan diri berperilaku sesuai nilai dan menjadi karakter yang telah diinternalisasi dan dipersonalisasi dari dan melalui proses intervensi. Pada tahap implementasi dikembangkan pengalaman belajar dan proses pembelajaran yang bermuara pada pembentukan karakter dalam diri peserta didik. di rumahnya. (2) teoretis: teori tentang otak. Proses ini berlangsung dalam tiga pilar pendidikan yakni dalam satuan pendidikan.20 Tahun 2003 beserta ketentuan perundang-undangan turunannya. UUD 1945. Dalam masingmasing pilar pendidikan akan ada dua jenis pengalaman belajar yang dibangun melalui dua pendekatan yakni intervensi dan habituasi. keluarga. Sementara itu dalam habituasi diciptakan situasi dan kondisi dan penguatan yang memungkinkan peserta didik pada satuan pendidikannya.

Gambar 2: Konteks Makro Pendidikan Karakter Pendidikan karakter dalam konteks mikro. berpusat pada satuan pendidikan secara holistik. komunikasi dan informasi. serta pemuda dan olahraga juga sangat dimungkinkan. merupakan komitmen seluruh sektor kehidupan. bukan hanya sektor pendidikan nasional. Keterlibatan aktif dari sektor-sektor pemerintahan lainnya. dan pikiran yang argumentatif. Pelaksanaan pendidikan karakter dalam konteks makro kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. dilakukan asesmen program untuk perbaikan berkelanjutan yang dirancang dan dilaksanakan untuk mendeteksi aktualisasi karakter dalam diri peserta didik sebagai indikator bahwa proses pembudayaan dan pemberdayaan karakter itu berhasil dengan baik. Pada konteks makro. dan dinamis. holistik. kesehatan. Pada tahap evaluasi hasil.Seri Pendidikan Karakter secara sistemik. menghasilkan sikap yang kuat. Satuan pendidikan 78 . pemerintahan. program pendidikan karakter bangsa dapat digambarkan sebagai berikut. khususnya sektor keagamaan. kesejahteraan. hukum dan hak asasi manusia.

kegiatan keseharian dalam bentuk pengembangan budaya satuan pendidikan.Pendidikan Karakter. yakni kegiatan belajar-mengajar di kelas. Teori dan Aplikasi merupakan sektor utama yang secara optimal memanfaatkan dan memberdayakan semua lingkungan belajar yang ada untuk menginisiasi. serta kegiatan keseharian di rumah dan masyarakat. dan menyempurnakan secara terus-menerus proses pendidikan karakter di satuan pendidikan. Untuk kedua mata pelajaran tersebut. menguatkan. Pendidikan karakter dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas. Sementara itu mata pelajaran lainnya. Pendidikanlah yang akan melakukan upaya sungguhsungguh dan senantiasa menjadi garda depan dalam upaya pembentukan karakter manusia Indonesia yang sesungguhnya. kegiatan kokurikuler dan/atau ekstra kurikuler. Pengembangan karakter dibagi dalam empat pilar. 79 . memperbaiki. dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan terintegrasi dalam semua mata pelajaran. untuk materi Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan – karena memang misinya adalah mengembangkan nilai dan sikap – pengembangan karakter harus menjadi fokus utama yang dapat menggunakan berbagai strategi/metode pendidikan karakter. wajib mengembangkan rancangan pembelajaran pendidikan karakter yang diintegrasikan kedalam substansi/kegiatan mata pelajaran sehingga memiliki dampak pengiring bagi berkembangnya karakter dalam diri peserta didik. karakter dikembangkan sebagai dampak pembelajaran dan juga dampak pengiring. Khusus. yang secara formal memiliki misi utama selain pengembangan karakter.

Dalam kegiatan ko-kurikuler (kegiatan belajar di luar kelas yang terkait langsung pada materi suatu mata pelajaran) atau kegiatan ekstra kurikuler (kegiatan satuan pendidikan yang bersifat umum dan tidak terkait langsung pada suatu mata pelajaran. Kegiatan ekstrakurikuler dapat diselenggarakan melalui kegiatan olahraga dan seni dalam bentuk pembelajaran.) perlu dikembangkan proses pembiasaan dan penguatan dalam rangka pengembangan karakter. Pecinta Alam. Kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan oleh gerakan pramuka dimaksudkan untuk mempersiapkan generasi muda sebagai calon pemimpin bangsa yang memiliki watak. perilaku. Palang Merah Remaja. dll. Di lingkungan keluarga dan masyarakat diupayakan agar terjadi proses penguatan dari orang tua/wali serta tokoh80 . seperti kegiatan Dokter Kecil. kepribadian. dan akhlak mulia serta keterampilan hidup prima. Pola ini ditempuh dengan melakukan pembiasaan dengan pembudayaan aspek-aspek karakter dalam kehidupan keseharian di sekolah dengan pendidik sebagai teladan. Liga Pendidikan Indonesia. dan kepribadian para pelaku olahraga atau seni agar menjadi manusia Indonesia berkarakter. kompetisi atau festival. Berbagai kegiatan olahraga dan seni tersebut diorientasikan terutama untuk penanaman dan pembentukan sikap.Seri Pendidikan Karakter Lingkungan satuan pendidikan perlu dikondisikan agar lingkungan fisik dan sosial-kultural satuan pendidikan memungkinkan para peserta didik bersama dengan warga satuan pendidikan lainnya terbiasa membangun kegiatan keseharian di satuan pendidikan yang mencerminkan perwujudan karakter yang dituju. pelatihan.

baik yang diselenggarakan pemerintah maupun organisasi 81 . pertemuan wali murid. dan di masyarakat. di rumah. Teori dan Aplikasi tokoh masyarakat terhadap perilaku berkarakter mulia yang dikembangkan di satuan pendidikan sehingga menjadi kegiatan keseharian di rumah dan di lingkungan masyarakat masingmasing. Program pendidikan karakter pada konteks mikro dapat digambarkan sebagai berikut. Gambar 3: Konteks Mikro Pendidikan Karakter Dengan prinsip yang sama. kunjungan/kegiatan wali murid yang berhubungan dengan kumpulan kegiatan sekolah dan keluarga yang bertujuan menyamakan langkah dalam membangun karakter di sekolah.Pendidikan Karakter. kursus kepemudaan. misalnya kursus keterampilan. pelatihan-pelatihan singkat. pendidikan karakter dapat dilakukan pada jalur pendidikan nonformal yang diselenggarakan oleh masyarakat. Hal ini dapat dilakukan lewat komite sekolah. bimbingan belajar.

Pendidikan karakter pada kegiatan pendidikan dan latihan nonformal serta kegiatan kemasyarakatan tersebut dapat diarahkan untuk menanamkan kepedulian sosial. kesenian. dan akhlak mulia. Pendidikan nonformal yang dilaksanakan pada lingkup dunia usaha dalam bentuk pendidikan dan pelatihan calon pegawai. pelatihan kode etik jurnalistik. pelatihan kepemimpinan. 82 . Demikian pula pendidikan karakter dapat dilakukan pada kegiatan kemasyarakatan. Pada lingkup masyarakat politik dilakukan bentuk pelatihan dan kaderasisasi partai. Oleh karena itu. Pendidikan karakter pada pendidikan nonformal dilaksanakan dengan pendekatan holistik dan terintegrasi pada setiap aspek pekerjaan atau kegiatan dalam kehidupan sehari-hari. pelatihan etika politik dan pembudayaan politik. kejujuran. Strategi pembangunan karakter bangsa melalui program pendidikan memerlukan dukungan penuh dari pemerintah yang dalam hal ini berada di jajaran Kementerian Pendidikan Nasional. keagamaan. seperti kegiatan karang taruna. sosial. pelatihan kewirausahaan. Sedangkan pada lingkup media masa. pendidikan nonformal berupa pelatihan dasar komunikasi. jiwa patriotik. atau kegiatan pelatihan penanggulangan bencana alam.Seri Pendidikan Karakter massa. dan pemahaman profesi jurnalis dan pelatihan transaksi elektronik. dan pelatihan keterampilan profesi. kepribadian. pelatihan kepemimpinan. dan kerukunan berkehidupan dalam masyarakat serta untuk mempersiapkan generasi muda sebagai calon pemimpin bangsa yang memiliki watak. olahraga. fasilitasi yang perlu didukung berupa hal-hal sebagai berikut.

83 . menengah maupun pendidikan tinggi yang relevan dengan pendidikan karakter dalam berbagai modus dan konteks dilakukan secara sistemik oleh semua direktorat terkait. serta pendidikan tinggi dilakukan secara sistemik oleh semua direktorat terkait di lingkungan Kementerian Pendidikan Nasional. inovasi pembelajaran dan pembudayaan karakter. Pengembangan kelembagaan dan program pendidikan nonformal dan informal dalam rangka pendidikan karakter melalui berbagai modus dan konteks dilakukan secara sistemik oleh semua direktorat terkait di lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal. d. Pengembangan kerangka dasar dan perangkat kurikulum. dasar. c. standardisasi perangkat dan proses penilaian. baik di jenjang pendidikan usia dini. Pengembangan dan penyegaran kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan. b. pendidikan dasar dan menengah. Teori dan Aplikasi a.Pendidikan Karakter. Pengembangan satuan pendidikan yang memiliki budaya kondusif bagi pembangunan karakter dalam berbagai modus dan konteks pendidikan usia didin. kerangka dan standardisasi media pembelajaran yang dilakukan secara sinergis oleh pusat-pusat di lingkungan Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Nasional.

pembinaan lembaga pendidikan tenaga kependidikan. penelitian dan pengembangan pendidikan karakter. Misalnya. Pelaksanaan Pendidikan Karakter Pada Jenjang Pendidikan 1. dan penguatan jaringan informasi profesional pembangunan karakter dilakukan secara sistemik oleh semua direktorat terkait. dan perilaku amoral (termasuk kasus video mesum yang juga sering kali terjadi di kalangan siswa). Artinya. oknum pelakunya merupakan 84 . pembelajaran ilmu pengetahuan tidaklah bisa disamakan antara satu tempat atau negara dan negara lain karena jelas mempunyai karakteristik pola tradisi dan budaya yang berbeda. Begitu pula dengan kondisi di negara kita. kriminalitas (tawuran antarpelajar/mahasiswa). bahwa pendidikan karakter menjadi relevan diterapkan untuk mengatasi pelbagai fakta-fakta empiris yang menyiratkan adanya sinyal ketidakberesan di lingkungan pendidikan. yang bila kita telusuri. H. pendidikan karakter dimaknai sebagai bentuk pengajaran yang sesuai serta memperhatikan kondisi sosial pada setiap lokasi pembelajaran. Pengembangan karakter peserta didik di perguruan tinggi melalui penguatan standar isi dan proses. serta kompetensi pendidiknya untuk kelompok Mata kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) dan Matakuliah Berkehidupan Bermasyarakat (MBB). kasus korupsi.Seri Pendidikan Karakter e. Indonesia. suap. pengembangan. Pendidikan Formal Pada pendidikan formal.

perlu adanya integrasi yang utuh antara IQ (intelligence quotient). yakni Pancasila dan kewarganegaraan (PPKn) 85 . agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan tercela (amoral) yang itu jelas-jelas tidak mencerminkan adat dan budaya ketimuran kita. Inilah relevansi mempertanyakan fungsi pendidikan formal dalam perilaku keseharian masyarakat dan juga.Pendidikan Karakter. Pertama. SQ (spiritual quotient) Sejauh ini. dimungkinkan akan timbul kesadaran bagi anak didik hingga ketika mereka lulus nanti. untuk mewujudkan pendidikan karakter bagi anak didik. Jika itu berjalan dengan efektif dan maksimal. yang terintegrasi ke dalam dua mata pelajaran. pendidikan karakter di lingkungan pendidikan formal dapat ditempuh lewat integrasi keilmuan. Metode pembelajaran itu umumnya disebut sebagai pendidikan moral. Teori dan Aplikasi jebolan dari lembaga pendidikan nasional yang kita miliki. Padahal. sistem pendidikan Indonesia lebih berorientasi pada pengisian kognisi yang ekuivalen dengan peningkatan IQ semata--walaupun juga di dalamnya terintegrasi pendidikan EQ. alasan itu pulalah yang menjadi latar belakang Depdiknas yang akhir-akhir ini menggelorakan pentingnya melakukan pendidikan karakter untuk generasi bangsa. Meningkatkan kesadaran anak didik terhadap pengenalan budaya-budaya ketimuran yang sudah sejak lama dijunjung tinggi oleh nenek moyang dan founding fathers kita. EQ (emotional quotient). Dalam wujud praksis. warisan terbaik bangsa kita adalah tradisi spritualitas (SQ) yang tinggi kemudian nyaris terabaikan--untuk tidak mengatakan terlupakan. mungkin.

2.Seri Pendidikan Karakter dan pendidikan agama. dalam praktiknya terasa masih tampak kurang pada keterpaduan model dan strategi pembelajarannya. model pendidikan 86 . Hal itu sejalan dengan model pembelajaran tempo dulu di masamasa awal digalakkannya pendidikan di Tanah Air. atau dengan kata lain. Telah menjadi adat kebiasaan yang turun-temurun bahwa di pundak ibu dan bapaklah tanggung jawab atas segala hal ihwal kehidupan anaknya. Siswa lebih diorientasikan pada penguasaan materi yang tercantum dalam kurikulum atau buku teks. Pendidikan di masa lampau umumnya belum memerlukan pendidikan dalam arti formalisme pendidikan yang mendorong tumbuhnya kompetisi kecerdasan satu sama lain. dan kurang mengaitkan dengan isu-isu moral esensial yang sedang terjadi dalam masyarakat sehingga peserta didik kurang mampu memecahkan masalah-masalah moral yang terjadi dalam masyarakat. dan agamawan. para ibu dan bapak merasa harus bertindak sebagai contoh (kaca benggala) untuk anak cucu dan keturunan mereka selanjutnya (Anshory dan GKR Pembayun. yang memfungsikan peran-peran sosial dari keluarga. Dalam pengertian yang tidak ekstrem. Dengan kebiasaan itu. Namun. tetapi yang menjadi pusat dan syarat pendidikan ialah berupa kesejahteraan rumah tangga. tokoh masyarakat. 2008). Pendidikan Nonformal Pendidikan karakter dapat pula ditumbuhkembangkan di luar pendidikan formal. pendidikan berpusat pada kesejahteraan dan keutuhan hidup bersama antara ibu dan bapak.

sejalan dengan apa yang pernah dilontarkan Ivan Illich di akhir 1970-an lewat gagasan kontroversialnya tentang deschooling society (masyarakat tanpa sekolah). Ide Illich tersebut tentulah sangat cemerlang. kita optimistis kualitas pendidikan nasional kita kian lebih baik. Teori dan Aplikasi di jalur nonformal itu. Masyarakat akan mampu menjalankan fungsi pendidikan lewat elemen sosial dan budaya yang luas.Pendidikan Karakter. yang justru kita berharap terjadi simbiosis mutualistis. maka harus membicarakan adalah tentang usaha-usaha manusiawi dalam mengatasi keterbatasan dirinya melalui praksis nilai yang yang dihayatinya. perlu adanya reinterpertasi untuk mencari relevansinya. menurut saya. Illich meramalkan jika pengetahuan dan tingkat kedewasaan masyarakat sudah berkembang dengan wajar. Usaha ini tampil dalam setiap perilaku dan keputusan yang diambilnya secara bebas. institusi-institusi pendidikan formal tidak lagi diperlukan. Karena itu berbicara tentang pendidikan karakter. pendidikan nonformal belum bisa difungsikan dan disejajarkan dengan ide deschooling society Illich. Keputusan ini pada gilirannya semakin mengukuhkan identitas dirinya sebagai manusia. yang salah satunya ditandai dengan berkurangnya angka kriminalitas. saling dukung di antara keduanya. tetapi lagilagi. dan perbuatan asusila. tanpa harus terikat dengan otoritas kelembagaan seperti sekolah. Dalam konteks Indonesia. kasus korupsi. 87 . Dengan menegakkan pendidikan karakter. Pendidikan formal maupun nonformal tetap masih dibutuhkan.

baik secara nasional maupun lokal di satuan pendidikan. tetapi menjadi penguat kurikulum yang sudah ada. mayoritas guru belum punya kemauan untuk melakukan itu. Masalahnya. Kesadaran sudah ada.Seri Pendidikan Karakter Dalam konteks persekolahan pendidikan karakter dan budaya di sekolah harus dilakukan secara holistis. namun konsep pendidikan tersebut harus diintegrasikan ke dalam kurikulum. misalnya. diberi pemahaman tentang manfaatnya. Mata pelajaran biologi. falsafah budaya. dan manfaatnya. dikaitkan dengan kerusakan lingkungan dan sebagainya. Dikatakannya. siswa bisa diajak langsung menanam tumbuh-tumbuhan. aspek soft skils atau nonakademik sebagai unsur utama pendidikan karakter justeru diabaikan. Pendidikan karakter. Sebaliknya. tidak bisa terpisah dengan bentuk pendidikan sifatnya kognitif atau akademik pendidikan karakter sebaiknya tidak dikotomikan macam-macam. hanya saja belum menjadi sebuah aksi nyata. pelajaran biologi juga menyangkut hal-hal lain di luar disiplin ilmu tersebut. disebabkan pendidikan Indonesia masih terfokus pada aspek-aspek kognitif atau akademik. bukan berarti akan diterapkan secara teoritis. 88 . Pada mata pelajaran kesenian pun bisa diterapkan pendidikan karakter. Sebutlah contohnya. siswa diajak mengenal dan mempraktikkan beragam peninggalan seni budaya yang menjadi muatan-muatan lokal. yaitu dengan mengimplementasikannya dalam mata pelajaran dan keseharian anak didik.

Teori dan Aplikasi BAB V PERANAN KELUARGA DALAM PENDIDIKAN KARAKTER 89 .Pendidikan Karakter.

sehingga fitrah setiap anak yang dilahirkan suci dapat berkembang segara optimal.keluarga. komunitas bisnis.turut andil dalam perkembangan karakter anak. 90 . dalam pembentukan karakter seseorang. bahkan mungkin lebih penting. maka semua pihak . media massa. dan sebagainya .Seri Pendidikan Karakter BAB V PERANAN KELUARGA DALAM PENDIDIKAN KARAKTER A. Anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter apabila dapat tumbuh pada lingkungan yang berkarakter. lingkungan yang lebih luas memegang peranan penting. sekolah. Mengingat lingkungan anak bukan saja lingkungan keluarga yang sifatnya mikro. Pendahuluan Keluarga adalahpfilar pertama yang bisa membangun pendidikan pendidikan yang dilakukan oleh keluarga. sekolah.

merupakan akibat dari lemahnya institusi keluarga. maka akan sulit bagi institusi-institusi lain di luar keluarga (termasuk sekolah) untuk memperbaikinya. sehingga mereka berteori bahwa keluarga adalah unit yang penting sekali dalam masyarakat. Keluarga Basis Pertama Pendidikan Karakter Anak Keluarga memiliki peran penting dalam menentukan kemajuan suatu bangsa.. para sosiolog meyakini bahwa berbagai masalah masyarakat . Oleh karena itu. Bagi seorang anak. mengembangkan kemampuan seluruh anggotanya agar dapat menjalankan fungsinya di masyarakat dengan baik. keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi pertumbuhan dan perkembangannya. Kegagalan dalam mendidik dan membina anak di keluarga. serta memberikan kepuasan dan lingkungan yang sehat guna tercapainya keluarga. sehingga jika keluarga-keluarga yang merupakan fondasi masyarakat lemah.seperti kejahatan seksual dan kekerasan yang merajalela. Kegagalan keluarga dalam membentuk karakter anak akan berakibat pada tumbuhnya masyarakat 91 . Teori dan Aplikasi Seklaipun mengembangkan generasi penerus bangsa yang berkarakter baik adalah tanggung jawab semua pihak. Oleh karena itu keluarga merupakan wahana pertama dan utama bagi pendidikan karakter anak. maka masyarakat pun akan lemah. Keluarga berfungsi sebagaisarana mendidik. serta segala macam kebobrokan di masyarakat . dan mensosialisasikan anak. mengasuh. Apabila keluarga gagal melakukan pendidikan karakter pada anak-anaknya. sejahtera”. maka akan sulit sekali bagi institusi-institusi lain untuk memperbaiki kegagalankegagalannya.Pendidikan Karakter. B.

dasar kepercayaan yang ditumbuhkan melalui hubungan ibuanak pada tahun-tahun pertama kehidupan anak akan memberi bekal bagi kesuksesan anak dalam kehidupan sosialnya ketika ia dewasa. Kelekatan ini membuat anak merasa diperhatikan dan menumbuhkan rasa aman sehingga menumbuhkan rasa percaya. Aspek-aspek Penting dalam Pendidikan Karakter Anak Untuk membentuk karakter anak diperlukan syarat-syarat mendasar bagi terbentuknya kepribadian yang baik. Oleh karena itu. Menurut Megawangi (2003). dan stimulasi fisik dan mental. C. Dengan kata lain. ikatan emosional yang erat antara ibu-anak di usia awal dapat membentuk kepribadian yang baik pada anak. Menurut Erikson. Maternal bonding (kelekatan psikologis dengan ibunya) merupakan dasar penting dalam pembentukan karakter anak karena aspek ini berperan dalam pembentukan dasar kepercayaan kepada orang lain (trust) pada anak. yaitu maternal bonding. Kebutuhan ini penting bagi pembentukan karakter anak karena lingkungan yang berubah-ubah akan membahayakan perkembangan emosi bayi. Kebutuhan akan rasa aman yaitu kebutuhan anak akan lingkungan yang stabil dan aman. Menurut Bowlby (2003). Pengasuh yang berganti-ganti juga akan berpengaruh negatif pada perkembangan emosi anak. setiap keluarga harus memiliki kesadaran bahwa karakter bangsa sangat tergantung pada pendidikan karakter anak di rumah. ada tiga kebutuhan dasar anak yang harus dipenuhi. rasa aman.Seri Pendidikan Karakter yang tidak berkarakter. normal bagi seorang bayi untuk mencari kontak dengan hanya 92 .

antusias mengeksplorasi lingkungannya. Tentu saja hal ini membutuhkan perhatian yang besar dari orang tua dan reaksi timbal balik antara ibu dan anaknya. Menurut pakar pendidikan anak. menggendong. Pola Asuh Menentukan Keberhasilan Karakter Anak dalam Keluarga Pendidikan Keberhasilan keluarga dalam menanamkan nilai-nilai kebajikan (karakter) pada anak sangat tergantung pada jenis pola asuh yang diterapkan orang tua pada anaknya. dan menjadikannya anak yang kreatif. D. serta sosialisasi normanorma yang berlaku di masyarakat agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungannya. Pola asuh dapat didefinisikan sebagai pola interaksi antara anak dengan orangtua yang meliputi pemenuhan kebutuhan fisik (seperti makan. seorang ibu yang sangat perhatian (yang diukur dari seringnya ibu melihat mata anaknya. minum dan lain-lain) dan kebutuhan psikologis (seperti rasa aman. 93 . Kekacauan emosi anak yang terjadi karena tidak adanya rasa aman ini diduga oleh para ahli gizi berkaitan dengan masalah kesulitan makan pada anak. Teori dan Aplikasi satu orang (biasanya ibu) pada tahap-tahap awal masa bayi. mengelus. Tentu saja hal ini tidak kondusif bagi pertumbuhan anak yang optimal. Dengan kata lain.Pendidikan Karakter. dan berbicara kepada anaknya) terhadap anaknya yang berusia usia di bawah enam bulan akan mempengaruhi sikap bayinya sehingga menjadi anak yang gembira. kasih sayang dan lain-lain). pola asuh juga meliputi pola interaksi orang tua dengan anak dalam rangka pendidikan karakter anak. Kebutuhan akan stimulasi fisik dan mental juga merupakan aspek penting dalam pembentukan karakter anak.

yaitu : (1) Pola asuh Authoritarian. anak belajar tentang banyak hal. Selanjutnya pola asuh permisif mempunyai ciri :1) Dominasi pada anak. 5) Sementara pola asuh demokratis mempunyai ciri :1) Ada kerjasama antara orangtua – anak.. Baumrind mengkategorikan pola asuh menjadi tiga jenis. (2) Pola asuh demokratis. patuh. anak harus tunduk. 2) Sikap longgar atau kebebasan dari orangtua. dan tidak boleh bertanya. (2) Pola asuh Authoritative. 4) Kontrol dan perhatian orangtua sangat kurang. dan (3) Pola asuh permisif.Seri Pendidikan Karakter Secara umum. 3) Kontrol terhadap tingkah laku anak sangat ketat. 3) Ada bimbingan dan pengarahan dari orangtua. Melalui pola asuh yang dilakukan oleh orang tua. 2) Anak diakui sebagai pribadi. 3) Tidak ada bimbingan dan pengarahan dari orangtua. Pola asuh demokratis mempunyai ciri orangtua mendorong anak untuk membicarakan apa yang ia inginkan. (3) Pola asuh permissive. termasuk karakter. Pola asuh permisif mempunyai ciri orangtua memberikan kebebasan penuh pada anak untuk berbuat. Pola asuh otoriter mempunyai ciri orangtua membuat semua keputusan. Kita dapat mengetahui pola asuh apa yang diterapkan oleh orang tua dari ciri-ciri masing-masing pola asuh tersebut. 4) Ada kontrol dari orangtua yang tidak kaku. 2) Anak tidak diakui sebagai pribadi. 4) Orangtua menghukum anak. Tiga jenis pola asuh Baumrind ini hampir sama dengan jenis pola asuh menurut Hurlock juga Hardy & Heyes yaitu: (1) Pola asuh otoriter.jika anak tidak patuh. Tentu saja pola 94 . yaitu sebagai berikut : Pola asuh otoriter mempunyai ciri : 1) Kekuasaan orangtua dominan.

dan kelekatan emosi orangtua . kurangnya kebersamaan dan interaksi antar keluarga.anak sehingga antara orang tua dan anak seakan memiliki dinding pembatas yang memisahkan “si otoriter” (orang tua) dengan “si patuh” (anak). jenis pola asuh yang diterapkan oleh orang tua terhadap anaknya menentukan keberhasilan pendidikan karakter anak oleh keluarga. Dengan memberi kebebasan yang berlebihan. Pola asuh demokratis tampaknya lebih kondusif dalam 95 . Teori dan Aplikasi asuh otoriter (yang cenderung menuntut anak untuk patuh terhadap segala keputusan orang tua) dan pola asuh permisif (yang cenderung memberikan kebebasan penuh pada anak untuk berbuat) sangat berbeda dampaknya dengan pola asuh demokratis (yang cenderung mendorong anak untuk terbuka. sentuhan. di mana keluarga yang broken home. Pola asuh otoriter cenderung membatasi perilaku kasih sayang. Studi yang dilakukan oleh Fagan (dalam Badingah. akan membuat anak bingung dan berpotensi salah arah. Pada akhirnya. Artinya. Bagaimana pun anak tetap memerlukan arahan dari orang tua untuk mengenal mana yang baik mana yang salah. apalagi terkesan membiarkan. hal ini akan berpengaruh terhadap kualitas karakter anak. Pola asuh permisif yang cenderung memberi kebebesan terhadap anak untuk berbuat apa saja sangat tidak kondusif bagi pembentukan karakter anak. namun bertanggung jawab dan mandiri) terhadap hasil pendidikan karakter anak. 1993) menunjukan bahwa ada keterkaitan antara faktor keluarga dan tingkat kenakalan keluarga.Pendidikan Karakter. dan orang tua yang otoriter cenderung menghasilkan remaja yang bermasalah.

1993). (b) adanya perasaanperasaan menyakitkan yang mendorong tingkah laku agresif. Sementara itu. orangtua yang otoriter merugikan. (d) tingkah laku agresif orangtua menjadi model bagi anak. anak yang dididik secara otoriter atau ditolak memiliki kecenderungan untuk mengungkapkan agresivitasnya dalam bentuk tindakan-tindakan merugikan. misalnya anak menahan diri untuk memukul atau merusak pada waktu ada orangtua tetapi segera melakukan setelah orangtua tidak ada. hukuman fisik yang umum diterapkan dalam pola asuh otoriter kurang efektif untuk membentuk tingkah laku anak karena : (a) menyebabkan marah dan frustasi (dan ini tidak cocok untuk belajar). Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Baumrind yang menunjukkan bahwa orangtua yang demokratis lebih mendukung perkembangan anak terutama dalam kemandirian dan tanggungjawab. sedangkan orangtua yang permisif mengakibatkan anak kurang mampu dalam menyesuaikan diri di luar rumah. anak yang dididik secara permisif cenderung mengembangkan tingkah laku agresif secara terbuka atau terang-terangan. Sementara. kurang tanggungjawab serta agresif. anak yang dididik dengan cara demokratis umumnya cenderung mengungkapkan agresivitasnya dalam tindakan-tindakan yang konstruktif atau dalam bentuk kebencian yang sifatnya sementara saja.Seri Pendidikan Karakter pendidikan karakter anak. Di sisi lain. (c) akibat-akibat hukuman itu dapat meluas sasarannya. karena anak tidak mandiri. Hasil penelitian Rohner (2003) menunjukkan bahwa pengalaman masa kecil seseorang sangat mempengaruhi perkembangan kepribadiannya (karakter atau kecerdasan 96 . Menurut Middlebrook (1993). Menurut Arkoff (dalam Badingah.

anak yang ditolak adalah anak yang mendapat perilaku agresif orang tua. dan kata-kata lainnya yang dapat mengecilkan hati). atau menampar). akan mempengaruhi perkembangan emosi. perilaku. kata-kata yang membesarkan hati. Anak-anak 97 .Pendidikan Karakter. elusan di kepala. dan kontak mata yang mesra). dan pujian). dorongan. Pola asuh ini sangat kondusif mendukung pembentukan kepribadian yang pro-sosial. Sementara. Penelitian tersebut . baik yang menerima (acceptance) atau yang menolak (rejection) anaknya. yaitu sifat yang tidak mepedulikan kebutuhan anak baik fisik maupun batin. tidak disayang. dan kesehatan fungsi psikologisnya ketika dewasa kelak. walaupun orang tua tidak merasa demikian. pelukan. bahkan dibenci oleh orang tuanya. yang dimaksud dengan anak yang diterima adalah anak yang diberikan kasih sayang. Dalam hal ini. Sifat penolakan orang tua dapat juga bersifat indifeerence atau neglect. Teori dan Aplikasi emosinya). Sementara itu. yaitu sifat penolakan yang tidak terlalu tegas terlihat. dan mandiri namun sangat peduli dengan lingkungannya. bentakan. percaya diri. mencubit.menunjukkan bahwa pola asuh orang tua. dilindungi. maupun secara fisik (diberi ciuman. ataupun secara fisik (memukul. Hasil penelitian Rohner menunjukkan bahwa pola asuh orang tua yang menerima membuat anak merasa disayang. dianggap berharga. sosial-kognitif. tetapi anak merasa tidak dicintai dan diterima oleh orang tua. pola asuh yang menolak dapat membuat anak merasa tidak diterima.yang menggunakan teori PAR (Parental Acceptance-Rejection Theory). dikecilkan. baik secara verbal (diberikan kata-kata cinta dan kasih sayang. dan diberi dukungan oleh orang tuanya. atau bersifat undifferentiated rejection. sindiran negatif. baik secara verbal (kata-kata kasar.

misalnya memukul. rasa tidak percaya. Tidak menanamkan “good character’ kepada anak. Karena sejak kecil mengalami kemarahan. simpati. bersikap sangat agresif kepada orang lain. Selain itu anak ini akan cepat tersinggung. Bersikap kasar secara verbal. akan menghasilkan anak-anak yang mempunyai kepribadian bermasalah atau mempunyai kecerdasan emosi rendah. 98 . Ketika dewasa ia akan menolak dukungan. Menurut Megawangi (2003) ada beberapa kesalahan orang tua dalam mendidik anak yang dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan emosi anak sehingga berakibat pada pembentukan karakternya. mengecilkan anak. 2. atau kelihatan mandiri tetapi tidak mempedulikan orang lain. 7. dan berkata-kata kasar 4. tidak butuh orang lain. Bersikap kasar secara fisik. Kurang menunjukkan ekspresi kasih sayang baik secara verbal maupun fisik. dan berpandangan negatif terhadap orang lain dan terhadap kehidupannya. 3. dan memberikan hukuman badan lainnya. yaitu : 1.Seri Pendidikan Karakter yang mengalami penolakan dari orang tuanya akan menjadi pribadi yang tidak mandiri. 5. Terlalu memaksa anak untuk menguasai kemampuan kognitif secara dini. Anak menjadi acuh tak acuh. misainya menyindir. dan gangguan emosi negatif lainnya. Kurang meluangkan waktu yang cukup untuk anaknya. dan tidak dapat menerima persahabatan. mencubit. 6. atau merasa minder dan tidak merasa dirinya berharga. Dampak yang ditimbulkan dari salah asuh seperti di atas.

Orang tua yang tidak memberikan rasa aman dan terlalu menekan anak. dan merasa orang lain sedang mengkritiknya. dan tidak menjadikan orang tuannya sebagai ”role model” Anak akan lebih percaya kepada ”peer group”nya sehingga mudah terpengaruh dengan pergaulan negatif. dan lainnya. yaitu selalu ingin menyakiti orang baik secara verbal maupun fisik. akan membuat anak merasa tidak dekat.Selalu berpandangan negatif pada lingkungan sekitarnya. tetapi tidak hangat dan tidak disenangi oleh orang lain. . dan sifat yang tidak dapat dipreaiksi oleh orang lain. Dampak negatif lainnya dapat berupa mogok belajar.Ketidakstabilan emosional. Secara emosiol tidak responsif. tawuran. seperti rasa tidak aman.Menjadi minder. 12. 8. 10. 14. 99 . 11.Pendidikan Karakter. curiga dengan orang lain. mudah marah. mudah tersinggung. minder.Keseimbangan antara perkembangan emosional dan intelektual. Berperilaku agresif. Teori dan Aplikasi cinta dan respons positif lainnya dari orang di sekitarnya. yaitu tidak toleran atau tidak tahan terhadap stress. 9. khawatir. dan bahkan dapat memicu kenakalan remaja. la kelihatan sangat mandiri. merasa diri tidak berharga dan berguna. 13. dimana anak yang ditolak akan tidak mampu memberikan cinta kepada orang lain.

Seri Pendidikan Karakter 100 .

2010 Pembangunan Karakter Pemerintah Republik Indonesia bangsa 2010-2025 Bennet. The Education of Complete Moral Brooks.Bennigna (ed).E. the Case for Character Education: The Role of the School in Teaching Values and Virtues. Teori dan Aplikasi DAFTAR PUSTAKA Anonim. Moral Character. Teachers College Press.W. Agresivitas Remaja Kaitannya dengan Pola Asuh. 1991.Goble. 1995.D.J.B. Badingah. and Civic Education in the Elementary School. Berkowitz.M. Tingkah Laku Agresif Orang Tua dan Kegemaran 101 . Studios 4 Productions. New York. Moral Literacy and the Formation of Character. and F.W.S. S. Person 1998. Boyer. (1993).G. In: J. Character in the Basic School.L. Making a Commitment to Character.Pendidikan Karakter.

. Program Studi Psikologi – Pascasarjana. _________. Emotional Intelligence. 1995. Bantam Books. The Real Root Causes of Violent Crime: the Breakdown of Marriage. Child Development. IPB.F. Goleman.D. Raising Good Children: From Birth Through the Teenage Years. McGraw Hill Kogakusha International Student.P.W. (1983).thefreedictionary. 1981. Fagan. Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru 102 .F.Faperta. New York. 1991.R. T. Laporan Karya Ilmiah Produktif Bidang Sosial. New York. Depok. Children and Family in America: Chalange for the 1990s.W. How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. 1999. 1992.Widiastuti. Why It Can Matter More than IQ. Kilpatrick. 1994. New York. Mack. http://encyclopedia. Simon & Schuster. West Publishing Co.F. Inc. 1992.Seri Pendidikan Karakter Menonoton Film Keras. The Assault on Parenthood: How Our Culture Undermine the Family. Lickona. New York. Bantam Books.com.W. Horn.Tanjung. I.D.D. Coon. Diakses tanggal 26 April 2004. Dina. E. E. Sixth Edition. Jurusan GMSK. Megawangi. Bantam Books.B. 2001. Family and Community. 1997.R. Dennis. Why Johny Can’t Tell Right From Wrong. Educating for Character. UI. Introduction to Psychology : Exploration and Aplication. Hurlock.Puspita. 1995.

Ratna. 1986. Pickthall.Miller..J.Haynes. Views or Virtues? Schikendanz. and C. Sage Publications.S. New York. 194. College & University Press. “The Basic Trends of Our Time”.Tavris. Rich. New York.J. Bandung. The Child.A. Ryan and Bohlin. Shambala Publications. Dikunjungi di: Info@ soundvision. 1993.Pendidikan Karakter. 2002.New York.R. The Relationship of Religion to moral Education in the Public Schools.17-18).Y. Child Psychology: The Modern Science. and C. Publishers.E.M. 1995. Pustaka Mizan. Pendidikan Karakter untuk Membangun Masyarakat Madani. Harper & Row Wilson.R. Statistics of Teens.. Houghton Mifflin Company. (2003). Nord.Haith. IPPK Indonesia Heritage Foundation Neuman. p. The Warmth Dimension of Parenting: Parental Acceptance-Rejection Theory.A. Massachusetts. Building Children’s Achievement for the Information Age.D. Rohner.C. Vasta. Megawangi. Psychology. New York. Values. Teori dan Aplikasi tentang Relasi Gender. Sorokin. The Moral Sense.A. Pada bulan Oktober 2001. Wade. New Haven. 103 .C. 1990.Inc.com. John Wiley & Sons Inc. 1990.W.Q. 1997. 2002. Family Socialization and Academic Achievement. California. Simon & Schuster Inc. M. Boston University Press.. Mega Skills. Pitirim. 1999. 1992.

In J. Benigna (ed).S. 1991. 104 . Teachers College Press. Moral Character.E.A. and Civic Education in the Elementary School.Seri Pendidikan Karakter Wynne. New York. Character and Academics in the Elementary School.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->