P. 1
Manajemen Media Massa

Manajemen Media Massa

|Views: 3,818|Likes:
Published by teguhkresnoutomo
Pembicaraan tentang manajemen media massa memerlukan telaah yang lebih mendalam. Yang pertama kali perlu dilakukan adalah membuat garis demarkasi antara kata “manajemen” dan “media massa” itu sendiri. Artinya, diperlukan suatu dekonstruksi etimologis sebelum membuat tinjauan secara holistik. Simplikasi kata manajemen bermakna: getting result through the work of other. Ini inheren dalam konteks institusi media massa baik cetak maupun elektronik.
Perkembangan teknologi media massa dalam budaya kapitalistik ini membawa sejumlah konsekuensi manajerial. Antara lain muncul pertanyaan dengan beberapa alternatif jawaban. Sebagai ilustrasi matra kepemimpinan manakah yang dibutuhkan oleh media massa: leader, entrepreneur atau administrator. Tentu jawabannya sangat kontekstual tergantung realitas obyektif yang dihadapi.
Pembicaraan tentang manajemen media massa memerlukan telaah yang lebih mendalam. Yang pertama kali perlu dilakukan adalah membuat garis demarkasi antara kata “manajemen” dan “media massa” itu sendiri. Artinya, diperlukan suatu dekonstruksi etimologis sebelum membuat tinjauan secara holistik. Simplikasi kata manajemen bermakna: getting result through the work of other. Ini inheren dalam konteks institusi media massa baik cetak maupun elektronik.
Perkembangan teknologi media massa dalam budaya kapitalistik ini membawa sejumlah konsekuensi manajerial. Antara lain muncul pertanyaan dengan beberapa alternatif jawaban. Sebagai ilustrasi matra kepemimpinan manakah yang dibutuhkan oleh media massa: leader, entrepreneur atau administrator. Tentu jawabannya sangat kontekstual tergantung realitas obyektif yang dihadapi.

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: teguhkresnoutomo on Jul 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

11/01/2015

1

MANAJEMEN MEDIA MASSA

Pembicaraan tentang manajemen media massa memerlukan telaah yang lebih mendalam. Yang pertama kali perlu dilakukan adalah membuat garis demarkasi antara kata “manajemen” dan “media massa” itu sendiri. Artinya, diperlukan suatu dekonstruksi etimologis sebelum membuat tinjauan secara holistik. Simplikasi kata manajemen bermakna: getting result through the work of other. Ini inheren dalam konteks institusi media massa baik cetak maupun elektronik. Perkembangan teknologi media massa dalam budaya kapitalistik ini membawa sejumlah konsekuensi manajerial. Antara lain muncul pertanyaan dengan beberapa alternatif jawaban. Sebagai ilustrasi matra kepemimpinan manakah yang dibutuhkan oleh media massa: leader, entrepreneur atau administrator. Tentu jawabannya sangat kontekstual tergantung realitas obyektif yang dihadapi.

I. PENDAHULUAN Manajemen dapat ditinjau dari tiga aspek: Pertama, manajemen sebagai struktur adalah organisasi. Kedua, manajemen sebagai mekanisme adalah administrasi. Ketiga, manajemen sebagai kepemimpinan adalah manajer. Berdasarkan logika di atas, media massa baik cetak maupun elektronik dalam arti jurnalisme maupun institusi sosial memerlukan manajemen.

2

Pada intinya ada dua tugas utama manajemen media massa: Pertama, memilih dan memilah realitas sosial yang dikemas menjadi informasi yang disebut berita.

Kedua, menyebarluaskannya pada khalayak. Secara ringkas tulisan ini dapat dipilah menjadi enam bagian: Pertama, konsep dasar manajemen dan media massa. Kedua, komunikasi, manajemen dan organisasi. Ketiga, fungsi manajemen media massa. Keempat, manajemen media cetak. Kelima, manajemen media elektronik. Keenam, kantor berita dan manajemen LKBN Antara. Setiap bagian akan diuraikan secara ringkas tanpa menghilangkan relevansinya terhadap keseluruhan materi yang akan dibahas.

II. KONSEP DASAR MANAJEMEN DAN MEDIA MASSA A. MANAJEMEN DAN KEPEMIMPINAN Kata manajemen berasal dari management (Inggris) yang diambil dari manaj (iare) (Italia) yang bermuara pada mamis (Latin) yang berarti tangan. Jadi manajemen dalam arti asalnya bermakna memimpin, membimbing atau mengatur (Djuroto, 2000). Dalam literatur lainnya disebutkan: management is the direction of enterprise through the planning, coordinating and controlling of its human materials resources toward the attainment of pre determined objectives. Manajemen dapat dikaji dari tiga perspektif: Pertama, manajemen sebagai profesi. Kedua, manajemen sebagai kolektivitas manusia yang melakukan aktivitas

3

manajemen. Ketiga, manajemen sebagai ilmu pengetahuan dan seni. Tulisan ini lebih dititikberatkan pada hal yang disebut terakhir ini. Pakar manajemen Hendry Fayol menyebutkan bahwa manajemen adalah proses interpretasi, koordinasi SDM, dana dll untuk mencapai tujuan dan sasaran melalui tindakan POAC: Planning (perencanaan), Organizing (pengorganisasian), Actuating (penggerakan), Controlling (pengawasan). Serta memanfaatkan 6 M: Men, Materials, Machines, Methods, Money and Market. Sementara esensi manajemen adalah leaderships (kepemimpinan). Artinya, tanpa kepemimpinan manajemen bukanlah manajemen. Ada pun syarat-syarat kepemimpinan sebagai berikut:
1. Memiliki pengetahuan (knowledge). 2. Mampu dan cakap (ability and skil). 3. Memahami dan menjunjung tinggi moralitas dan etika profesi (morality and ethics). 4. Mampu beradabtasi dan menempatkan dirinya baik sebagai pribadi maupun bagian

dari masyarakat (personal and social). Di bawah ini ada matra kepemimpinan yang terdiri dari beberapa tipe pemimpin yang perlu diketahui sebagai berikut:
1. Leader (pemimpin): menjadi tumpuan dan harapan dan berbagai aspek kehidupan

bawahannya.

4 2. Entrepreneur (pengusaha): memiliki keberanian menanggung resiko yang dapat

diperhitungkan (calculated risk) dalam setiap keputusan yang diambilnya.
3. Manager

(manajer):

mampu

memecahkan

persoalan

multikompleks.

Serta

menjembatani para generalis dan spesialis yang menjadi bawahannya.
4. Administrator: mampu menjabarkan konsep kebijakan dalam tindakan operasional. 5. Supervisor (pengawas): secara formal bertanggung jawab atas kinerja suatu unit

organisasi.
6. Staff (staf): membantu pimpinannya agar berhasil dalam tugasnya. 7. Technicist (teknisi): mempunyai pengetahuan spesifik dalam pekerjaannya yang

menjadi pendidikan dasar dalam jenjang kariernya. Di samping itu tidak tertutup kemungkinan terjadi disharmoni keahlian dengan jabatan. Secara ringkas ada dua kemungkinan penyebabnya sebagai berikut:
1. Margin of fear (rendah diri). Ini muncul karena keahlian lebih rendah dari pada

tanggung jawab jabatan.
2. Margin of apathy (apatis). Sebaliknya, keahlian lebih tinggi dari pada jabatan

(Soebagio, 1999). Manajemen tentu tidak bisa dilepaskan dari aspek berpikir. Pada hakekatnya, berpikir adalah proses bekerja otak dalam rangka mengolah informasi. Ada empat tahap pola berpikir sebagai berikut:
1. Insight thinking (berpikir dalam hati).

5 2. Sequential thinking (berpikir secara bertahap dan beruntun). 3. Logical/practical thinking (berpikir logis/praktis). 4. Creative/strategic/lateral thinking (berpikir kreatif/strategis/lateral).

B. MEDIA MASSA DAN KOMUNIKASI MASSA Berbicara tentang media massa tentu harus membicarakan pula komunikasi massa sebagai subyeknya. Dalam berbagai literatur dapat disimpulkan maknanya mass communication is a process in which professional communicators use media to disseminate messages widely, rapidly and continually to arouse intended meanings in the large and diverse audiences in attempt to influence them in a variety of ways (DeFleur, 1985). Kata “professional communicator use media…” perlu kita perhatikan. Artinya, komunikatornya profesional dan biasanya berbentuk lembaga atau orang yang dilembagakan (institutionalize person). Medianya berbentuk surat kabar, majalah, tabloid dan buku (cetak), radio, televisi dan film (elektronik). Tetapi perlu diingat bahwa buku dalam konteks jurnalistik tidak termasuk pers. Sebab content-nya bergerak dalam dunia ide. Bukan informasi yang disebut berita. Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah konsep massa. Ada beberapa tahapan konseptual sebelumnya yang harus dipahami sebagai berikut.
1. Crowd (kerumunan) yang bersifat sementara dan tidak bisa

dibentuk kembali

seperti semula.

6 2. Group (kelompok) bercirikan saling kenal, sadar akan keanggotaannya, menganut

nilai-nilai yang sama sebagai acuan dan strukturnya stabil. Artinya, ia bisa dibentuk kembali seperti semula.
3. Public (publik) yang terbentuk karena adanya masalah atau sasaran tertentu. 4. Mass (massa) dengan karakter tersebar luas, tidak saling kenal, tidak punya

kesadaran atau identitas diri dan tidak dapat bergerak serempak atau terorganisasi. Dari istilah massa ini dalam konteks budaya muncul konsep mass/popular culture (budaya massa) sebagai resultan dari folk culture (budaya rakyat) dan high culture (budaya tinggi) Ada beberapa fungsi media massa modern. Tiga fungsi media massa

menurut Harold D Lasswell:
1. The surveillance of the environment (yang kurang lebih dimaknai sebagai

penyampaian berita).
2. The correlation of the parts of society in responding to the environment (semacam

seleksi, evaluasi dan interpretasi media terhadap lingkungan sosial). Tetapi perlu diingat bahwa realitas media tidak selalu identik dengan realitas sosial.
3. The transmission of the sosial heritage from one generation to the next (pewarisan

nilai-nilai sosial). Dua fungsi lainnya dikemukakan oleh Wilbur Schramm:
1. Communicative acts primarily for amusement irrespective of any instrumental effects

they may have (menampilkan realitas psikologis yang bersifat hiburan).

7 2. To sell goods for us (manual ruang iklan, publisitas dll) (McQuail, 1991).

III. KOMUNIKASI, MANAJEMEN DAN ORGANISASI Manajemen memerlukan coordinating (Inggris) yang berasal dari coordinatio (Latin) yang berarti kombinasi atau interaksi yang harmonis dalam suatu organisasi. Sementara komunikasi merupakan sine qua non organisasi. A. PROSES KOMUNIKASI Dalam komunikasi yang paling sederhana akan meliputi komunikator, pesan, medium dan komunikan (Effendy, 1988). Biasa dikenal dengan rumus S-M-C-R (source, message, channel dan receiver). Tetapi sukses tidaknya proses komunikasi juga memerlukan beberapa pertimbangan. Diantaranya sebagai berikut: communication skill (keahlian berkomunikasi), science and knowledge (ilmu dan pengetahuan), social system (sistem sosial), (salah culture (budaya). Jika tidak akan (salah menimbulkan: pengertian),

miscommunication

komunikasi),

misunderstanding

misleading (salah kaprah), misinterpretation (salah tafsir), misperception (salah tanggap) dan failure (kegagalan) (Soebagio, 1999). B. POLA JARINGAN KOMUNIKASI
1. Sentralisasi dengan bentuk roda: ada satu titik pusat komando yang bagian-bagian

lain pasti berhubungan dengannya.

8 2. Sentralisasi dengan bentuk Y: ada dua bagian melewati titik pusat komando yang

kemudian diteruskan ke bagian-bagian lain di bawahnya.
3. Desentralisasi dengan bentuk rantai: berbanding terbalik dengan yang pertama dan

kedua. Artinya, titik pusat komando mendelegasikan wewenangnya secara garis lurus kepada bagian-bagian di bawahnya.
4. Desentralisasi dengan bentuk lingkaran: informasi dari titik pusat komando

diteruskan ke bagian-bagian lain secara paralel yang akhirnya kembali lagi ke titik pusat komando.
5. Desentralisasi dengan bentuk semua jalur: ini pola yang rumit, informasi dari titik

pusat komando tersebar ke semua bagian secara acak. C. KOMUNIKASI DAN PRILAKU ORGANISASI Seperti yang telah disebutkan di awal tulisan ini bahwa manajemen sebagai struktur adalah organisasi. Istilah organisasi berasal organizare (Latin) yang diterjemahkan jadi organization (Inggris): to form as or into a whole consisting of independent or coordinated parts. Dengan kata lain, organisasi merupakan sistem. Sementara korelasi komunikasi dengan organisasi terfokus pada manusia yang terlibat dalam organisasi yang menentukan tujuan dan prilaku organisasi itu. Ini berpengaruh ke publik baik secara internal (internal public) maupun eksternal (external pulic) dengan beberapa faktor di bawah ini:
1. Peranan antarpribadi (interpersonal roles) yang terdiri dari: a. Figurehead role yang melakukan tugas seremonial.

9 b. Leader

role

yang

bertanggung

jawab

atas

lancar

tidaknya

pekerjaan

bawahannya.
c. Liason role yang menjadi penghubung di luar jalur komando vertikal. 2. Peranan informasi (informational roles) yang bisa dikatakan sebagai pusat saraf

(nerve centre). Posisinya berada di tengah jaringan kontak dengan semua pihak yang berkaitan dengan organisasi yang terdiri dari:
a. Monitor role yang memandang lingkungannya sebagai sumber informasi. Baik itu

berupa desas-desus (gossip), kabar angin (hearsay) maupun spekulasi (speculation).
b. Disseminator role merupakan penyebar informasi ke dalam organisasi yang

berbeda dengan liason role.
c. Spokesman role mirip dengan liason role tetapi sifatnya resmi. 3. Peranan memutuskan (decision role) yang mencakup a. Entrepreneur. b. Disturbance handler. c. Resources allocator. d. Negosiator .

Sementara itu ada dua dimensi komunikasi yang perlu diketahui sebagai berikut:

10 1. Komunikasi

internal

(internal

communication):

pembagian

tugas

dalam

organisasi yang diklasifikasikan dengan pemimpin dan yang dipimpin. Mengutip Lawrence D. Brennan “interchange of ideas among the administratory and its particular structure (organization) and interchange of ideas horizontally and vertically within the firm which gets work done (operation and management)”. Ini mencakup dua jenis komunikasi sebagai berikut:
a. Komunikasi vertikal: downward communication, upward communication atau

two ways traffic communications. Prof. Harry Ingham memperkenalkan konsep Johari Window dengan empat skema: free activities area, blind area, hidden area dan unknown area. b. Komunikasi horizontal yang sifatnya lebih informal antarperson dengan kedudukan yang relatif sama.
2. Komunikasi eksternal (external communication): komunikasi antara pemimpin

organisasi dengan khalayak di luar organisasi. Ini mencakup dua jenis komunikasi sebagai berikut:
a. Komunikasi dari organisasi kepada khalayak yang biasanya dilakukan oleh PRO

(Public Relations Officer).
b. Komunikasi dari khalayak kepada organisasi yang berbentuk opini publik (public

opinion) (Onong, 1988).

IV. FUNGSI MANAJEMEN MEDIA MASSA

11

A. RISET (RESEARCH) Pengumpulan data (fakta sebagai mana adanya yang benar dan lengkap) baik sebelum maupun setelah diterbitkan, disiarkan atau ditayangkan dengan beberapa bidang sebagai berikut: 1. Redaksi: pedoman kerja dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan oleh rapat pemegang saham/yayasan. 2. Iklan: sumber iklan dan rencana pemasangan iklan. 3. Percetakan: mengetahui mesin, material dan SDM (Sumber Daya Manusia) yang dibutuhkan. 4. Pemasaran: menentukan karakteristik pembaca, pendengar atau pemirsa (jenis kelamin, pendidikan, agama, sikap politik, penghasilan, profesi dan tempat tinggal) dan karakteristik pasar (surat kabar, majalah, radio atau televisi) harga, pembayaran, distribusi, transportasi, kendala, jaringan agen dan bonafiditas dsb. B. PERENCANAAN (PLANNING) Tindakan untuk menentukan tujuan: policy, prosedur, metode, standar, budjet, program dan fakta teknis. 1. Redaksi: menetapkan tujuan dan sasaran, merumuskan pedoman kerja bidang redaksi, menentukan prosedur, menetapkan strategi, menyusun program dan anggaran.

12

2. Iklan: meyakinkan pengiklan untuk memasang iklan disertai kenuntungan dan manfaat yang diperoleh pengiklan. 3. Percetakan: menyiapkan sumber daya dalam jumlah dan waktu yang tepat dengan biaya yang dapat diminimalisir. 4. Pemasaran: penggolongan penduduk, pasar, jaringan transportasi dan jaringan agen. C. PENGORGANISASIAN (ORGANIZING) Mencakup empat asas sebagai berikut: Pertama, fungsional: kontribusi masingmasing. Kedua, koordinasi: kontribusi diarahkan pada pencapaian tujuan. Ketiga, delegasi: wewenang. Keempat, kesatuan: sub wewenang dari wewenang di atasnya.
1. Redaksi: menyediakan copy berita, opini dan lay out. 2. Iklan: menyediakan copy iklan dan lay out.

3. Percetakan: deskripsi hubungan kerja melalui pengelompokan kegiatan sesuai dengan keahlian. 4. Pemasaran: deskripsi hubungan kerja dengan pengelompokan kegiatan dan rencana kerja secara efisien. D. PENGGERAKAN (DIRECTING/ACTUATING) Meliputi aspek produksi (production) dan pemasaran (marketing).

13 1. Redaksi: memotivasi dan menggerakkan mulai dari reporter sampai dengan

pemimpin redaksi untuk menghasilkan content yang menarik pembaca, pendengar atau pemirsa. 2. Iklan: memperkenalkan perusahaan kepada sumber iklan dan biro iklan, meyakinkan pengiklan agar memasang iklan disertai keuntungan dan manfaat yang diperoleh pengiklan. 3. Percetakan: tekanannya pada proses produksi dengan penetapan prioritas dan jadwal pekerjaan yang mengacu pada kronologi percetakan. 4. Pemasaran: mengenal terbitan, siaran atau tayangan dan program ruang iklan. E. PENGAWASAN DAN PENILAIAN (CONTROLLING) Bidang pengawasan mencakup memastikan pencapaian tujuan seperti yang telah direncanakan semula. Antara lain menetapkan laporan, mengembangkan tolak ukur atau parameter prestasi, mengukur hasil, melakukan koreksi dan menjatuhkan sanksi. Sementara bidang penilaian mencakup evaluasi resmi secara periodik hasil pekerjaan dengan catatan pekerjaan itu baik secara kuantitatif dan kualitatif.
1. Redaksi: pengawasan mulai dari pengumpulan naskah, penyeleksian, penyuntingan

dan lay out copy berita dan opini. 2. Iklan: mulai dari tahap perkenalan sampai dengan meyakinkan pengiklan.
3. Percetakan: mulai dari SDM (Sumber Daya Manusia), mesin, bahan percetakan,

copy berita dan opini.

14

4. Pemasaran: mulai dari jadwal percetakan, siaran, jaringan transportasi dan keagenan. Serta berbagai kendala yang mungkin muncul (Soehoet, 2002).

V. MANAJEMEN MEDIA CETAK Manajemen merupakan konsekuensi logis dari kepercayaan (responsibility) dan kenyataan (reality) yang harus dibuktikan melalui struktur organisasi media cetak yang bersifat formal dan kecakapan yang bersifat fungsional (authority). Diantaranya bidang: redaksi, iklan, pemasaran dll. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan diantaranya: peluang usaha, kemampuan SDM (sumber Daya Manusia), kapital, SWOT (Strenght, Weakness, Opportunity, Threat) dengan kompetitor, keinginan pembaca, perubahan sosial berupa teknologi, ekonomi, politik, budaya dll. Langkah yang perlu dilakukan antara lain: perhatian terhadap lingkungan eksternal, menjual ruang untuk iklan, efesiensi di semua unit usaha, suntikan modal dll. Semua pendapatan diperoleh dari penjualan produk media cetak (eceran, langganan, barter dll), penjualan kolom (iklan baris, duka cita dll) dan penjualan jasa kegiatan off print seperti seminar, pameran dll untuk membentuk image posistif (Djuroto, 2000). A. STRUKTUR ORGANISASI MEDIA CETAK 1. Redaksi yang terdiri dari: a. Pemimpin redaksi. b. Wakil pemimpin redaksi.

15

c. Sekretaris redaksi. d. Dewan redaksi. e. Redaktur pelaksana. f. Redaktur. g. Koresponden (reporter di luar kota atau di luar negeri). 2. Tata usaha yang terdiri dari: a. Administrasi internal penggajian b. Administrasi eksternal yang mengurusi pemasaran, sirkulasi, iklan, langganan dll. 3. Produksi yang terdiri dari percetakan sendiri atau percetakan lain. Sebagai ilustrasi di bawah ini dipaparkan sepintas struktur organisasi surat kabar KOMPAS yang didirikannya Jakob Oetama dan dengan PK Ojong (alm) tanggal 28 Juni 1965:
1. Owner: pemilik perusahaan yang menerima laporan pertanggungjawaban dari top

yang mengurusi manajemen internal, kepegawaian,

manager. Terkadang owner identik dengan top manajer.
2. Top manager: pengambil kebijakan internal dan eksternal. Serta pengendali

perusahaan baik redaksional maupun usaha. Juga menerima laporan pemimpin redaksi dan pemimpin perusahaan.
3. Pemimpin umum: orang pertama dalam perusahaan yang bertanggung jawab atas

maju mundurnya institusi pers yang dipimpinnya. Serta menjadi penentu kebijakan, arah perkembangan laba rugi perusahaan. Termasuk berhak mengangkat atau

16

memecat bawahannya. Terkadang pemimpin umum adalah top manager sekaligus owner. 4. Wakil pemimpin umum: menjalankan tugas-tugas menggantikannya dalam operasionalisasi harian.
5. Bidang redaksi: pemimpin redaksi, wakil pemimpin redaksi, sekretaris redaksi,

pemimpin umum atau

redaktur pelaksana, redaktur dan reporter bertanggung jawab terhadap semua isi penerbitan pers. Ini meliputi penyajian berita, peliputan fokus pemberitaan, topik, pemilihan headline dll. 6. Bidang cetak: ditangani oleh operator cetak dan pengepakan hasil penerbitan sehingga sampai ke tangan pembaca. 7. Bidang usaha: menerima laporan para manajer demi kepentingan perusahaan baik produksi dan distrubusi. B. PROSES MEDIA CETAK
1. Kebijakan redaksi yang tergantung pada ideologi atau politik media cetak. Misal,

KOMPAS (Katolik), Suara Pembaruan (Kristen), Republika (Islam), Suara Karya (Partai Golkar) dll. 2. Frekuensi terbit: harian; mingguan, dwi mingguan; bulanan. 3. Tenggat terbit: jam (harian); hari tertentu (mingguan); minggu tertentu (bulanan). Ini perlu diketahui dan diperhatikan oleh pemasang iklan.
4. Cetak: off set modern sampai dengan cetak digital jarak jauh.

5. Sirkulasi: lokal; nasional; regional; internasional.
6. Pembaca: jenis kelamin, usia, pendidikan, penghasilan, profesi, hobby, suku, agama

dan ras/etnik.

17

7. Metode distribusi: bagaimana media cetak itu didistribusikan. Misalnya, eceran, loper, agen, toko dll. C. FORMAT MEDIA CETAK
1. Broadsheet: ukuran surat kabar umum. Misalnya, KOMPAS, Media Indonesia,

Republika dll.
2. Tabloid: ukuran setengah broadsheet. Format ini diperkenalkan untuk dikonsumsi

oleh pembaca di kalangan masyarakat urban yang sibuk dalam transportasi umum seperti bus, kereta api dll. Misalnya, KORAN TEMPO dll.
3. Magazine: ukuran setengah tabloid atau seperempat broadsheet. Halamannya diikat

dengan kawat, sampul lebih tebal dan mengkilap daripada halamannya. Misalnya, Majalah TEMPO dll.
4. Book: ukuran setengah magazine atau seperempat tabloid atau seperdelapan

broadsheet. Misalnya, Majalah INTISARI dll. D. ZONA PASAR MEDIA CETAK
1. CZ (City Zone): batas wilayah media cetak itu berada. 2. PMA (Primary Market Area): area utama tempat media cetak itu menyajikan berita

dan pelayanan iklannya.
3. RTZ (Retail Trading Zone): wilayah

di luar CZ tempat media cetak itu

diperjualbelikan.
4. NDM (Newspaper Designated Market): area geografis yang dianggap media cetak

itu sebagai pasarnya (Fink, 1996). VI. MANAJEMEN MEDIA ELEKTRONIK A. RADIO

18

Dirintis oleh Dane tahun 1802 yang berhasil menemukan pesan yang dapat dikirim melalui kawat beraliran listrik dalam jarak pendek. Kemudian dilanjutkan oleh Maxwell (Inggris) yang digelari scientific father of wireles karena menemukan wujud gelombang elektro magnetik dengan kecepatan 166.000 mil/dt (kecepatan cahaya). Tahun 1884 Heinrich Hertz membenarkan teori Maxwell. Selanjutnya dikembangkan oleh Guglemo Marconi yang dapat menerima pesan tanpa kawat yang melintasi Samudera Atlantik.. Tahun 1906 Le de Forest (AS) mengembangkan temuan Marconi dengan menciptakan tabung hampa (vacuum tube) yang dapat memancarkan suara. Akhirnya tahun 1915 David Sarnoff memperkenalkan radio siaran. Di Indonesia zaman Orde Baru dulu ada dua tipe radio sebagai berikut: Pertama, radio amatir yang izinnya dikeluarkan oleh Dirjen Parpostel yang hanya untuk teknik dan eksperimen pemancar radio. Kedua, radio siaran yang izinnya dikeluarkan oleh SK Menpen tentang radio siaran non-RRI yang berbentuk badan usaha di bidang jasa penyiaran. Batas pancaran stasiun radio bersifat regional yang diawasi oleh Kanwil Deppen RI. Sementara izin frekuensi dikeluarkan oleh Depparpostel. B. STRUKTUR DAN MANAJEMEN RADIO
1. Direktur Utama (managing director): bertanggung jawab secara hukum dan etika

atas keseluruhan materi siaran. Sekaligus menjadi mediator antara institusi yang dipimpinnya dengan institusi lain. Termasuk dengan pemerintah dan masyarakat.
2. Direktur (director): bertanggung jawab atas kelancaran kegiatan perusahaan dan

menerima laporan pertanggungjawaban para manajer yang jadi bawahannya.
3. Wakil Direktur (vice director): pelaksana harian tugas-tugas direktur. Sekaligus

memberi wewenang para manajer yang terdiri dari:

19 a. Manajer

Pemasaran (marketing manager) yang dibantu oleh akuntan,

administrasi iklan dan promosi off air.
b. Manajer Produksi (production manager) yang dibantu dua asisten manajer di

bawah ini:
1) Asisten Manajer Produksi (assistant production manager) yang membawahi

para redaktur dan sekretaris produksi yang menangani administrasi.
2) Asisten Manajer Teknik (assistant engineer manager) yang membawahi

teknisi transmisi, teknisi audio-elektronik dan teknisi umum.
c. Manajer

Umum (general affair manager) bertanggung jawab terhadap

keseluruhan tugas-tugas administrasi yang dibantu oleh administrasi personalia, SDM (Sumber Daya Manusia), rumah tangga dan organisasi tat laksana.
d. Manajer Keuangan (finance manager) bertanggung jawab terhadap keuangan

baik pendapatan maupun pengeluaran perusahaan yang dibantu oleh kasir dan pembukuan. C. TELEVISI Istilah televisi berasal dari kata tele (Yunani): jauh dan visi atau videre (Latin): penglihatan yang dicetuskan di Paris tanggal 25 Agustus 1900. Peletak dasar televisi adalah Paul Nipkow yang menemukan Jantra Nipkow (Nipkow Disk) dengan nama electrische teleskop yang melahirkan televisi mekanis tahun 1884. Tahun 1923 Vladimir Zworykin menciptakan sistem televisi elektris dengan prinsip iconoscope (tabung). Akhirnya tahun 1940 Peter Goldmark dari CBS (The Columbia Broadcasting System) berhasil mengadakan siaran televisi berwarna.

20

Televisi siaran terdiri dari: Pertama, perangkat keras (hardware): stasiun televisi dan pesawat televisi. Kedua, perangkat lunak (software): personal, sistem, policy, pewrencanaan, organisasi, administrasi dan manajemen yang semuanya disebut Badan Penyiaran (broadcasting organization) (Wahyudi, 1986). D. STRUKTUR DAN MANAJEMEN TELEVISI
1. Model Stasiun Televisi Besar: General Manager yang membawahi manajer

pemasaran dan stafnya, direktur program, direktur pemberitaan (jurnalis, juru kamera dan editor video), manajer operasional/teknik (teknisi dan pemeliharaan) dan manajer keuangan (akuntan dan administrasi). 2. Model Stasiun Kecil: General Manager yang membawahi direktur keuangan, direktur pemberitaan (jurnalis, juru kamera dan editor video) dan direktur operasional/teknik (teknisi dan pemeliharaan) (Herford, 2002).

VII. KANTOR BERITA DAN MANAJEMEN LKBN ANTARA Kantor Berita adalah alat komunikasi yang beroperasi dalam menyebarkan berita ke seluruh penjuru dunia. Ia merupakan pusat pengumpulan dan penyebaran berita ke seluruh dunia, melayani surat kabar harian, mingguan, penerbitan berkala, siaran radio dan televisi. Serta instansi pemerintah dan swasta. Kantor Berita ANTARA didirikan tanggal 13 Desember 1937 oleh Adam Malik, AM Sipahoetar, RM Soemanang dan Pandoe Kartawigoena. Eksistensinya tidak terlepas dari situasi gerakan kemerdekaan tahun 1930-an. Pada waktu itu terjadi penangkapan beberapa tokoh pergerakan nasional. Seperti Soekarno, M. Hatta dan

21

Sutan Syahrir yang membuat komunikasi dan informasi antartokoh menjadi terhambat. Sehingga muncullah ide untukmendirikan Kantor Berita sendiri. Nama ANTARA diambil dari nama surat kabar mingguan PERANTARAAN milik RM Soemanang yang terbit di Bogor. Ia merupakan gabungan beberapa Kantor Berita lainnya: PIA (Press Indonesia Agency), INPS (Indonesian National Press and Publicity) dan APB (Asian Press Board). Beradasarkan SK Presiden RI No.37/1962 ANTARA menjadi lembaga yang berada di bawah presiden dengan nama LKBN (Lembaga Kantor Berita Nasional) ANTARA yang pemimpinnya diangkat oleh dan bertanggung jawab kepada presiden dengan struktur organisasi sebagai berikut: 1. Pemimpin Umum. 2. Sekretaris Lembaga. 3. Direktorat Redaksi (umum, ekonomi, internasional, berkala, biro foto dan sekretariat). 4. Direktorat Pemasaran. 5. Direktorat Teknik dan Logistik. 6. Direktorat Keuangan. 7. Unit Staf Ahli. 8. Biro Personalia. 9. Biro Kerjasama Internasional. 10. Biro Litbang.
11. IMQ (Indonesia Market Quatation/Data Pasar Modal). 12. Asian Pulse (komentar pakar ekonomi dan peluang bisnis).

22 13. Public Relations Wire (Humas).

DAFTAR PUSTAKA Djuroto, Totok. Manajemen Penerbitan Pers. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2000. Effendy, Onong Uchjana. Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung: CV. Remadja Karya, 1988. Fink, Condrad C. Strategic Newspaper Management. USA: A Simon and Schuster Co, 1996. Herford, Peter. Anda Ingin Mendirikan Stasiun Televisi? (terj.). Jakarta: Media Development Loan Fund, 2002). McQuail, Denis. Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar (terj.). Jakarta: Penerbit Erlangga, 1991. DeFleur, Melvin L. Understanding Mass Communication. Boston: Houghton Mifflin Co, 1985. Soehoet, AM Hoeta. Manajemen Media Massa. Jakarta: Yayasan Kampus Tercinta IISIP, 2002. Wahyudi, JB. Media Komunikasi Massa Televisi. Bandung: Alumni, 1986.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->