P. 1
Pembalajaran PKN SD

Pembalajaran PKN SD

|Views: 1,821|Likes:
Published by Kang Zuhro Wardi

More info:

Published by: Kang Zuhro Wardi on Jul 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/04/2015

pdf

text

original

Sections

SELAYANG PANDANG
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

A. Pengertian

Pendidikan Kewarganegaraan merupakan bidang studi
yang bersifat multifaset dengan konteks lintas bidang
keilmuan, namun secara filsafat keilmuan ia memiliki
ontology pokok ilmu politik, khususnya konsep “political
democracy”
untuk aspek “duties and rights of citizen”
(Chreshore:1886). Dari ontologi pokok inilah berkembang
konsep “civics”, yang secara harfiah diambil dari bahasa
Latin “civicus” yang artinya warga negara pada jaman
Yunani kuno, yang kemudian diakui secara akademis sebagai
embrionya “civic education”, yang selanjutnya di Indonesia

diadaptasi menjadi “pendidikan kewarganegaraan” (PKn).

Secara epistemologis, PKn sebagai suatu bidang
keilmuan merupakan pengembangan dari salah satu dari lima
tradisi “social studies” yakni “citizenship transmission”
(Barr, Barrt, dan Shermis:1978). Saat ini tradisi itu sudah
berkembang pesat menjadi suatu “body of knowledge” yang
dikenal dan memiliki paradigma sistemik yang didalamnya
terdapat tiga domain “citizenship education” yakni: domain
akademis, domain kurikuler, dan domain sosial kultural”
(Winataputra:2003). Ketiga domain itu satu sama lain
memiliki saling keterkaitan struktural dan fungsional yang
diikat oleh konsepsi “civic virtue and culture” yang
mencakup “civic knowledge, civic disposition, civic skills,
civic confidence, civic commitment, dan civic competence”

(CCE:1998).

Oleh karena itu, ontologi PKn saat ini sudah lebih luas
dari pada embrionya, sehingga kajian keilmuan PKn,
program kurikuler PKn, dan aktivitas sosiokultural PKn
bersifat multidimensional. Sifat multidimensionalitas inilah
yang membuat bidang studi PKn dapat disikapi sebagai

Pembelajaran PKn SD

2

pendidikan kewarganegaraan, pendidikan politik, pendidikan
nilai dan moral, pendidikan kebangsaan, pendidikan
kemasyarakatan, pendidikan hukum dan hak azasi manusia,
dan pendidikan demokrasi. Bagi negara kita, Indonesia, arah
pengembangan PKn tidak boleh keluar dari landasan
ideologis Pancasila, landasan konstitusional UUD 1945, dan
landasan operasional Undang-undang Sisdiknas yang berlaku
saat ini, yakni UU Nomor 20 tahun 2003. Mata pelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) merupakan salah satu
bentuk dari domain kurikuler PKn. Sesuai dengan namanya,
PKn merupakan mata pelajaran dalam kurikulum SD, sebagai
mata kuliah dalam program pendidikan tenaga kependidikan,
PKn mempunyai misi sebagai pendidikan nilai Pancasila dan
pendidikan kewarganegaraan dan sebagai “subject-specific
pedagogy” atau pembelajaran materi subjek untuk guru PKn,
sebagai mata pelajaran di SD, PKn mempunyai misi sebagai
pendidikan nilai Pancasila dan kewarganegaraan untuk warga
negara muda usia SD.

Pembelajaran PKn di SD adalah pengembangan
kualitas warga negara secara utuh, dalam aspek-aspek:
o Kemelek-wacanaan kewarganegaraan (civic literacy),
yakni pemahaman peserta didik sebagai warga negara
tentang hak dan kewajiban warga negara dalam kehidupan
demokrasi konstitusional Indonesia serta menyesuaikan
perilakunya dengan pemahaman dan kesadaran itu;
o Komunikasi sosiokultural kewarganegaraan (civic
engagement), yakni kemauan dan kemampuan peserta
didik sebagai warga negara untuk melibatkan diri dalam
komunikasi sosial-kultural sesuai dengan hak dan
kewajibannya.
o Pemecahan masalah kewarganegaraan (civic skill and
participation), yakni kemauan, kemampuan, dan
keterampilan peserta didik sebagai warga negara dalam
mengambil prakarsa dan/atau turut serta dalam pemecahan
masalah sosialkultur kewarganegaraan di lingkungannya.

Pembelajaran PKn SD

3

o Penalaran kewarganegaraan (civic knowledge), yakni
kemampuan peserta didik sebagai warga negara untuk
berpikir secara kritis dan bertanggungjawab tentang ide,
instrumentasi, dan praksis demokrasi konstitusional
Indonesia.
o Partisipasi kewarganegaraan secara bertanggung jawab
(civic participation and civic responsibility), yakni
kesadaran dan kesiapan peserta didik sebagai warga
Dalam UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003, terdapat
pasal yang mengatur tentang Pendidikan Kewarganegaraan
untuk tingkat satuan pendidikan. Negara untuk berpartisipasi
aktif dan penuh tanggung jawab dalam berkehidupan
demokrasi konstitusional. PKn untuk sekolah sangat erat
kaitannya dengan dua disiplin ilmu yang erat dengan
kenegaraan, yakni Ilmu Politik dan Hukum yang terintegrasi
dengan humaniora dan dimensi keilmuan lainnya yang
dikemas secara ilmiah dan pedagogis untuk kepentingan
pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu, PKn di tingkat
persekolahan bertujuan untuk mempersiapkan para peserta
didik sebagai warga negara yang cerdas dan baik (to be smart
dan good citizen). Warga negara yang dimaksud adalah
warga negara yang menguasai pengetahuan (knowledge),
keterampilan (skills), sikap dan nilai (attitudes and values)
yang dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan rasa
kebsangsaan dan cinta tanah air.
Pembelajaran PKn di SD lebih dititikberatkan pada
penghayatan dan pembiasaan diri untuk berperan sebagai
warga negara yang demokratis dalam konteks Indonesia.
Untuk itu guru PKn harus menjadi model warga negara yang
demokratis sehingga menjadi teladan bagi peserta didiknya.
Bertolak dari berbagai pertimbangan, maka untuk
pembelajaran PKn di SD tersebut seyogianya diorganisasikan
sebagai berikut.

o Pada jenjang SD kelas rendah (lower primary), yakni
rentang kelas 1-3, pengorganisasian materi pendidikan
kewarganegaraan menerapkan pendekatan terpadu

Pembelajaran PKn SD

4

(integrated) dengan fokus model pembelajaran yang
berorientasi pada pengalaman (experience oriented)
dengan memanfaatkan pola pengorganisasian
lingkungan yang meluas (expanding environment/
community approach). Tujuan akhir dari pendidikan
kewarganegaraan di kelas rendah ini adalah untuk
menumbuh kembangkan kesadaran dan pengertian awal
tentang pentingnya kehidupan bermasyarakat secara
tertib dan damai. Melalui pembiasaan para peserta didik
dikondisikan untuk selalu bersikap dan berperilaku
sebagai anggota keluarga, warga sekolah, dan warga
masyarakat di lingkungannya secara cerdas dan baik
(good and smart citizen). Proses pembelajaran
diorganisasikan dalam bentuk belajar sambil bermain
(learning through gaming), belajar sambil berbuat
(learning by doing), dan belajar melalui interaksi sosial-
kultural di lingkungannya (enculturation and
socialization).
o Pada jenjang SD kelas tinggi (upper primary) (4-6)
pengorganisasian materi pembelajaran pendidikan
kewarganegaraan sama dengan jenjang kelas 1-3 yakni
menerapkan pendekatan terpadu (integrated) dengan
model pembelajaran yang berorientasi pada pengalaman
(experience oriented) dengan pola pengorganisasian
lingkungan meluas (expanding environment/community
approach) dengan visi utama sebagai pendidikan nilai
dan moral demokrasi (democracy value and moral
education). Perbedaannya, pada jenjang SD kelas
tinggi, pembelajaran sudah mulai dikenalkan mata
pelajaran yang terpisah. Guru SD sebagai guru kelas
membelajarkan lima mata pelajaran (Bahasa Indonesia,
Matematika, IPA, IPS, PKn) secara terpisah. Namun,
dianjurkan pula untuk beberapa kompetensi dasar, agar
guru menerapkan pendekatan tematik (integrated)
sesuai dengan memperhatikan prinsip kontekstual,
aktualitas, dan kebutuhan peserta didik. Untuk itu maka

Pembelajaran PKn SD

5

substansi pendidikan kewarganegaraan di kelas tinggi
dipilih dan diorganisasikan secara terorkestrasi
(orchestrated) dengan menekankan pada tumbuh-
kembangnya lebih lanjut kesadaran, pengertian, tentang
pentingnya kehidupan bermasyarakat secara tertib dan
damai dan mulai tumbuhnya tanggungjawab
kewarganegaraan (civic responsibility). Para peserta
didik dikondisikan, difasilitasi, dan ditantang untuk
selalu bersikap dan berperilaku sebagai anggota
keluarga, warga sekolah, dan warga masyarakat di
lingkungannya yang cerdas dan baik. Proses
pembelajaran diorganisasikan dalam bentuk belajar
sambil bermain (learning through gaming), belajar
sambil berbuat (learning by doing), dan belajar melalui
pembiasaan serta interaksi sosial-kultural di
lingkungannya (enculturation and socialization)
termasuk di lingkungan bermain.
Tujuan akhir dari pendidikan kewarganegaraan di SD
adalah menumbuh kembangkan kepekaan, ketanggapan,
kritisasi, dan kreativitas sosial dalam konteks kehidupan
bermasyarakat secara tertib, damai, dan kreatif. Para peserta
didik dikondisikan untuk selalu bersikap kritis dan
berperilaku kreatif sebagai anggota keluarga, warga sekolah,
anggota masyarakat, warga negara, dan ummat manusia di
lingkungannya yang cerdas dan baik. Proses pembelajaran
diorganisasikan dalam bentuk belajar sambil berbuat
(learning by doing), belajar memecahkan masalah sosial
(social problem solving learning), belajar melalui perlibatan
sosial (socioparticipatory learning), dan belajar melalui
interaksi sosial-kultural sesuai dengan konteks kehidupan
masyarakat.

Untuk mempermudah kajian dan analisis PKn dalam
mencapai tujuannya, maka para mahasiswa perlu mengenal
sejumlah dimensi Pendidikan Kewarganegaraan yang ada di
Indonesia seperti yang berkembang di negara lain memiliki
multidimensional, artinya bahwa program PKn bukan hanya

Pembelajaran PKn SD

6

untuk satu tujuan. Winataputra (2003) mengemukakan bahwa
ada tiga dimensi PKn, yakni: (1) PKn sebagai program
kurikuler; (2) PKn sebagai program akademik; dan (3) PKn
sebagai program sosial kultural. Dalam pelaksanaan program,
tiga dimensi ini dapat saja terjadi secara simultan atau secara
bersamaan (overlaping), khususnya dalam mencapai tujuan
umum, yakni membentuk warga negara yang cerdas dan baik.
Khusus untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),
tujuan PKn dapat dilihat dalam UU RI No. 20 tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional pada bagian Penjelasan
Pasal 37 ayat (1) bahwa “Pendidikan kewarganegaraan
dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi
manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air.”
Domain yang dikembangkan dalam pembelajaran PKn
dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut:
1. Domain PKn sebagai program kurikuler merupakan
program PKn yang dirancang dan dibelajarkan kepada
peserta didik pada jenjang satuan pendidikan tertentu.
Melalui domain ini, proses penilaian dimaksudkan untuk
mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap
program pembelajaran dan program pembangunan
karakter. Namun diakui oleh para pakar bahwa pencapaian
program PKn dalam domain kurikuler belumlah optimal
karena masih adanya kelemahan dalam dimensi kurikuler,
seperti masalah landasan, pengorganisasian kurikulum,
buku pelajaran, metodologi, dan kompetensi guru.
2. Domain PKn sebagai program akademik merupakan
program kajian ilmiah yang dilakukan oleh komunitas
akademik PKn menggunakan pendekatan dan metode
penelitian ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah
konseptual dan operasional guna menghasilkan
generalisasi dan teori untuk membangun batang tubuh
keilmuan PKn. Kajian ini lebih memperjelas bahwa PKn
bukan semata-mata sebagai mata pelajaran dalam
kurikulum sekolah melainkan pendidikan disiplin ilmu
yang memiliki tugas komprehensif dalam arti bahwa

Pembelajaran PKn SD

7

semua community of scholars mengemban amanat
(missions) bukan hanya di bidang telaah instrumental,
praksis-operasional dan aplikatif melainkan dalam bidang
kajian teoritis-konseptual yang terkait dengan
pengembangan struktur ilmu pengetahuan dan body of
knowledge.
3. Domain PKn sebagai program sosiokultural pada
hakikatnya tidak banyak perbedaan dengan program
kurikuler dilihat dari aspek tujuan, pengorganisasian
kurikulum dan materi pembelajaran. Perbedaan terutama
pada aspek sasaran, kondisi, dan karakteristik peserta
didik. Program PKn ini dikembangkan dalam konteks
kehidupan masyarakat dengan sasaran semua anggota
masyarakat. Tujuannya lebih pada upaya pembinaan
warga masyarakat agar menjadi warga Negara yang baik
dalam berbagai situasi dan perkembangan zaman yang
senantiasa berubah. Bangsa Indonesia pernah
menyelenggarakan PKn melalui program sosial kultural
pada masa pemerintahan Orde Baru, yakni melalui
berbagai program penataran P4. Program ini sekarang
sudah tidak ada lagi karena dipandang telah menyimpang
dari tujuan, sehingga tidak efektif lagi, sedangkan kalau
dipandang dari sudut kepentingan berbangsa dan
bernegara, terutama dalam pembangunan karakter bangsa,
PKn melalui program sosial kultural ini sangat penting.
Oleh karena itu, program PKn dalam dimensi sosiokultural
pada pasca dibubarkannya BP7 dan penghentian program
penataran P4 perlu direvitalisasi sesuai dengan tuntutan
dan kebutuhan pembangunan karakter warga negara
Indonesia yang baik.

B. Pengembangan Konsep, Nilai, Moral dan Norma
Dalam PKn
1. Konsep

Konsep merupakan pokok pengertian yang bersifat
abstrak yang menghubungkan orang dengan kelompok

Pembelajaran PKn SD

8

benda, peristiwa, atau pemikiran (ide). Lahirnya konsep
disebabkan oleh adanya kesadaran atas atribut kelas yang

ditunjukkan oleh simbol. Konsep “rakyat” merupakan

sebutan umum untuk sekelompok penghuni wilayah suatu
negara yang ada dalam pemerintahan negara tertentu.
Konsep “demokrasi” merupakan sebutan abstrak tentang
sistem kekuasaan pemerintahan yang berasal dari rakyat,
oleh rakyat, dan untuk rakyat. Contohnya, tampak bahwa
konsep bersifat abstrak dalam pengertian yang berkaitan
bukan hanya dengan contoh tertentu melainkan dengan
konteks. Konsep dapat dianggap sebagai suatu model
kelompok benda yang terpikirkan. Konsep “buruh”,
misalnya, dapat dipandang sebagai kesan mental tentang
semua yang memiliki ciri umum pekerja.
Konsep bukanlah verbalisasi melainkan kesadaran yang
bersifat abstrak tentang atribut umum dari suatu kelas.
Konsep merupakan kesadaran mental internal yang
mempengaruhi perilaku yang tampak. Konsep-konsep yang
digunakan dalam proses pembelajaran dapat diperoleh dari
konsep disiplin ilmu atau dari konsep yang telah biasa
digunakan di lingkungan kehidupan siswa atau masyarakat
setempat. Namun, sebagai ilustrasi dan contoh, sejumlah
konsep dasar yang sering digunakan dalam pembelajaran
PKn dapat diidentifikasi sebagai berikut: pemerintah,
negara, bangsa, negeri, wilayah, pembangunan, negara
berkembang, negara sedang berkembang, negara tertinggal,
pengambilan keputusan, moral, nilai, karakter, perasaan,
sikap, solidaritas, kekuasaan, kekuatan rakyat, kelas
penguasa, kelompok penekan, nasionalisme, moral,
perilaku, tindakan moral, kata hati, empati, kekuasaan,
wewenang, politik, partai politik, pemilu, konstitusi.

2. Nilai

Menurut Frankel (1978), nilai (value) adalah konsep
(concept), seperti umumnya konsep, maka nilai sebagai
konsep tidak muncul dalam pengalaman yang dapat

Pembelajaran PKn SD

9

diamati melainkan ada dalam pikiran orang. Nilai dapat
diartikan kualitas dari sesuatu atau harga dari sesuatu yang
diterapkan pada konteks pengalaman manusia. Nilai dapat
dibagi atas dua bidang, yakni nilai estetika dan nilai etika.
Estetika terkait dengan masalah keindahan atau apa yang
dipandang indah (beautiful) atau apa yang dapat dinikmati
oleh seseorang. Sedangkan etika terkait dengan
tindakan/perilaku/ akhlak (conduct) atau bagaimana
seseorang harus berperilaku. Etika terkait dengan masalah
moral, yakni pertimbangan reflektif tentang mana yang
benar (right) dan mana yang salah (wrong). Nilai bukanlah
benda atau materi. Nilai adalah standar atau kriteria
bertindak, kriteria keindahan, kriteria manfaat, atau disebut
pula harga yang diakui oleh seseorang dan oleh karena itu
orang berupaya untuk menjunjung tinggi dan
memeliharanya. Nilai tidak dapat dilihat secara konkrit
melainkan tercermin alam pertimbangan harga yang khusus
yang diakui oleh individu. Raths (dalam Fraenkel, 1978)
mengidentifikasi tiga aspek kriteria untuk melakukan
penilaian, yakni perlu ada pilihan (chooses), penghargaan
(prizes), dan tindakan (acts); Pertama, tindakan memilih
hendaknya dilakukan secara bebas dan memilih dari
sejumlah alternatif dan melakukan memilih hendaknya
dilandasi oleh hasil pemikiran yang mendalam, artinya
setelah memperhitungkan berbagai akibat dari alternatif
tersebut; Kedua, ada penghargaan atas apa yang telah
dipilih dan dikenal oleh masyarakat; Ketiga, melakukan
tindakan sesuai dengan pilihannya dan dimanfaatkan dalam
kehidupan secara terus menerus. Selain dengan kriteria di
atas, ada sejumlah indikator untuk menentukan nilai, yakni
dilihat dari tujuan, maksud, sikap, kepentingan, perasaan,
keyakinan, aktivitas, dan keraguan.
Namun, dalam konteks tertentu nilai dapat diidentifikasi
dari keadaan dan kegunaan atau kemanfaatan bagi
kehidupan umat manusia. Secara singkat dapat disimpulkan
bahwa nilai merupakan hasil pertimbangan baik atau tidak

Pembelajaran PKn SD

10

baik terhadap sesuatu yang kemudian dipergunakan sebagai
dasar alasan (motivasi) melakukan atau tidak melakukan
sesuatu. Prof. Dr. Notonegoro membagi nilai menjadi tiga
bagian, yaitu: (1) Nilai Material, yaitu segala sesuatu yang
berguna bagi unsur jasmani manusia; (2) Nilai Vital, yaitu
segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat
melaksanakan kegiatan atau aktivitas; (3) Nilai
Kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani
manusia. Sesuatu yang dianggap benar disebut nilai
kebenaran. Sesuatu yang dianggap indah disebut nilai
estetika. Sesuatu yang dianggap baik disebut nilai
moral/etika. Sesuatu yang dianggap berpahala dan berdosa
bila dilakukan disebut nilai religius, sedangkan Rokeah
(dalam Kosasih Djahiri, 1985:20) mengatakan bahwa
“Nilai adalah suatu kepercayaan/keyakinan (belief) yang
bersumber pada sistem nilai seseorang, mengenai apa yang
patut atau tidak patut dilakukan seseorang atau mengenai

apa yang berharga dan apa yang tidak berharga”.

3. Norma

Norma adalah kaidah atau peraturan yang pasti dan bila
dilanggar mengakibatkan sanksi. Norma disebut pula dalil
yang mengandung nilai tertentu yang harus dipatuhi oleh
warga masyarakat di dalam berbuat, bertingkah laku, untuk
menciptakan masyarakat yang aman, tertib, dan teratur.
Secara umum, norma biasanya bersanksi, yakni ancaman
atau akibat yang akan diterima apabila norma itu tidak
dilaksanakan. Sedikitnya ada empat jenis norma, ialah:
norma kesopanan, norma kesusilaan, norma agama, dan
norma hukum. Dapat dijelaskan sebagai berikut: (1) Norma
kesopanan atau disebut pula norma sopan santun. Norma
ini dimaksudkan untuk menjaga atau menciptakan
keharmonisan hidup bersama dan sanksinya berasal dari
masyarakat berupa celaan atau pengucilan; (2) Norma
kesusilaan atau disebut pula moral/akhlak. Norma ini
dimaksudkan untuk menjaga kebaikan hidup pribadi atau

Pembelajaran PKn SD

11

kebersihan hati nurani serta ahklak. Sanksinya berupa
sanksi moral yang berasal dari hati nurani manusia itu
sendiri; (3) Norma Agama atau disebut pula norma religius.
Norma ini dimaksudkan untuk mencapai kesucian hidup
beriman dan sanksinya berasal dari Tuhan; (4) Norma
hukum adalah norma yang dimaksudkan untuk
menciptakan kedamaian hidup bersama dan sanksinya
berupa sanksi hukum yang berasal dari Negara atau
aparatur Negara. Ada beberapa ciri norma hukum yang
berbeda dari tiga norma lainnya, misalnya: (1) Adanya
paksaan dari luar yang berwujud ancaman hukum bagi
mereka yang melanggarnya. Ancaman hukum tersebut
pada umumnya berupa sanksi fisik yang dapat dipaksakan
oleh aparatur Negara; (2) Bersifat umum, yaitu berlaku
bagi semua orang.

Dengan kata lain, sanksi yang diterima oleh orang yang
melangggar norma hukum lebih pasti atau tegas, jelas, dan
nyata. Lebih pasti yang dimaksud bahwa sanksi hukum
sudah ditentukan berapa lama hukuman yang harus dijalani
oleh pelanggar hukum karena telah ada kitab undang-
undang yang mengatur. Tegas berarti norma hukum dapat
memaksa siapa saja yang melanggarnya melalui aparatur
penegak hukum. Norma hukum diperlukan karena: (1)
Tidak semua kepentingan atau tata tertib telah dilindungi
atau diatur oleh norma agama, norma moral, dan norma
sopan santun. Misalnya, norma sopan santun tidak
mengatur bagaimana penduduk/warga negara harus
membayar utang pitutang. Demikian pula, norma
kesusilaan tidak mengatur hal-hal tentang pajak, upah, lalu
lintas dan lain-lain; (2) Sanksi terhadap pelanggaran norma
kesopanan dan kesusilaan bersifat psikis dan abstrak,
sedangkan sanksi terhadap norma hukum bersifat fisik dan
konkrit; (3) Pada norma hukum, sifat pemaksaannya sangat
jelas dan dapat dipaksakan oleh aparatur Negara,
sedangkan norma kesusilaan tidak dapat dipaksakan oleh

Pembelajaran PKn SD

12

aparatur Negara, melainkan hanya berupa dorongan dari
diri pribadi manusia bahkan tidak tegas.

4. Moral

Istilah moral berasal dari bahasa Latin, mores, yaitu
adat kebiasaan. Istilah ini erat dengan proses pembentukan
kata, ialah: mos, moris, manner, manners, morals. Dalam
bahasa Indonesia kata moral hampir sama dengan akhlak
atau kesusilaan yang mengandung makna tata tertib batin
atau hati nurani yang dapat menjadi pembimbing tingkah
laku lahir dan batin manusia dalam menjalani hidup dan
kehidupannya. Oleh karena itu, moral erat kaitannya
dengan ajaran tentang sesuatu yang baik dan buruk yang
menyangkut tingkah laku dan perbuatan manusia. Dalam
konteks etika, setiap orang akan memiliki perasaan apakah
yang dilakukan itu benar atau salah, baik atau jelek?
Pertimbangan ini dinamakan pertimbangan nilai moral
(moral values). Pertimbangan nilai moral merupakan aspek
yang sangat penting khususnya dalam pembentukan warga
negara yang baik sebagai tujuan pendidikan
kewarganegaraan.

Tingkah laku yang sesuai dengan nilai-nilai moral yang
dianut dan ditampilkan secara sukarela diharapkan dapat
diperoleh melalui proses pendidikan. Hal ini dilakukan
sebagai transisi dari pengaruh lingkungan masyarakat
hingga menjadi otoritas di dalam dirinya dan dilakukan
berdasarkan dorongan dari dalam dirinya. Tindakan yang
baik yang dilandasi oleh dorongan dari dalam diri inilah
yang diharapkan sebagai hasil pendidikan nilai dalam
pendidikan kewarganegaraan. Secara yuridis-formal,
pendidikan nilai, moral, dan norma di Indonesia
dilaksanakan melalui pendidikan kewarganegaraan yang
berlandaskan pada Undang-Undang Dasar Republik
Indonesia Tahun 1945 (UUD RI 1945) sebagai landasan
konstitusional, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) sebagai

Pembelajaran PKn SD

13

landasan operasional, dan Peraturan Menteri Nomor 22
Tahun 2006 tentang Standar Isi (SI) dan Nomor 23 Tahun
2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL) sebagai
landasan kurikuler. Sejalan dengan kebijakan Departemen
Pendidikan Nasional melalui Badan Standar Nasional
Pendidikan (BSNP), maka kurikulum pendidikan
kewarganegaraan untuk lingkungan lembaga pendidikan
formal dilaksanakan dengan berpedoman pada Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
UUD 1945 sebagai landasan konstitusional pada bagian
Pembukaan alinea keempat memberikan dasar pemikiran
tentang tujuan negara. Salah satu tujuan negara tersebut

dapat dikemukakan dari pernyataan “mencerdaskan
kehidupan bangsa”. Apabila dikaji, maka tiga kata ini
mengandung makna yang cukup dalam. Mencerdaskan
kehidupan bangsa mengandung pesan pentingnya
pendidikan bagi seluruh anak bangsa. Dalam kehidupan
berkewarganegaraan, pernyataan ini memberikan pesan
kepada para penyelenggara negara dan segenap rakyat agar
memiliki kemampuan dalam berpikir, bersikap, dan
berperilaku secara cerdas baik dalam proses pemecahan
masalah maupun dalam pengambilan keputusan
kenegaraan, kebangsaan, dan kemasyarakatan.
UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas sebagai
landasan operasional penuh dengan pesan yang terkait
dengan pendidikan kewarganegaraan. Pada Pasal 3 ayat (2)
tentang fungsi dan tujuan negara dikemukakan bahwa:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara
yang demokratis serta bertanggung jawab. Selanjutnya,
pada Pasal 37 ayat (1) dikemukakan bahwa kurikulum

Pembelajaran PKn SD

14

pendidikan dasar dan menengah wajib memuat: “... b.
pendidikan kewarganegaraan; ...” dan pada ayat (2)
dikemukakan bahwa kurikulum pendidikan tinggi wajib
memuat: “... b. pendidikan kewarganegaraan; ...”.
Sedangkan pada bagian penjelasan Pasal 37 dikemukakan
bahwa “Pendidikan kewarganegaraan dimaksudkan untuk
membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki
rasa kebangsaan dan cinta tanah air.”
Adanya ketentuan tentang pendidikan kewarganegaraan
dalam UU Sisdiknas sebagai mata pelajaran wajib di
jenjang pendidikan dasar, menengah, dan tinggi
menunjukkan bahwa mata pelajaran ini menempati
kedudukan yang strategis dalam mencapai tujuan
pendidikan nasional di negara ini. Adapun arah
pengembangannya

hendaknya

difokuskan

pada
pembentukan peserta didik agar menjadi manusia Indonesia
yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air.
Arah pengembangan pendidikan nasional pada era
reformasi mengacu pada UU Sisdiknas yang
dioperasionalkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor
19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
(SNP). Sejalan dengan kebijakan otonomi pendidikan,
maka pengembangan kurikulum sekolah tidak lagi
dibebankan kepada pemerintah pusat sebagaimana
terdahulu melainkan diserahkan kepada masing-masing
satuan pendidikan. Pemerintah pusat melalui Departemen
Pendidikan Nasional hanya menyediakan standar nasional
yakni berupa standar isi dan standar kompetensi lulusan
sementara pelaksanaan pengembangan kurikulum
dilaksnakan oleh setiap satuan pendidikan sesuai dengan
jenjang dan jenisnya. Sebagai landasan kurikulernya,
pendidikan kewarganegaraan untuk jenjang pendidikan
dasar dan menengah mengacu pada Permendiknas Nomor
22 dan 23 Tahun 2006 masing-masing tentang SI dan SKL.
Berlakunya ketentuan tentang otonomi pendidikan
membawa implikasi bagi setiap satuan pendidikan

Pembelajaran PKn SD

15

termasuk implikasi dalam pengembangan kurikulum.
Bahwa mereka memiliki kewenangan yang lebih besar
dalam pengembangan kurikulum bahkan dalam
pengelolaan bidang lainnya, namun di pihak lain mereka
pun dituntut agar selalu meningkatkan kualitas satuan
pendidikan yang sesuai dengan standar nasional terkait.

C. Dimensi Pembelajaran PKn

Dimensi pembelajaran yang diperlukan adalah
pembelajaran yang dapat mempersiapkan warga negara yang
mampu hidup dalam masyarakat demokratis. Dengan kata
lain, perlu ada sejumlah alternatif model pembelajaran PKn
yang mampu mengantarkan dan mengisi masyarakat
demokratis. Dalam masa transisi atau proses perjalanan
bangsa menuju masyarakat madani (civil society), pendidikan
kewarganegaraan sebagai salah satu mata pelajaran di
sekolah dan mata kuliah di perguruan tinggi perlu
menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman sejalan
dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat yang sedang
berubah. Tuntutan dan tantangan masyarakat yang selalu
berubah ini tidak dapat dipisahkan dari pengaruh lingkungan
sekitar yang pada gilirannya berpengaruh pula terhadap
kehidupan bangsa dalam konteks yang lebih luas.
Proses pembangunan karakter bangsa (national
character building) yang sejak proklamasi kemerdekaan RI
telah mendapat prioritas tidak steril pula dari pengaruh
perubahan ini sehingga perlu direvitalisasi agar sesuai dengan
arah dan pesan Konstitusi Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI). Pada hakekatnya proses pembentukan
karakter bangsa diharapkan mengarah pada penciptaan suatu
masyarakat Indonesia yang menempatkan demokrasi dalam
kehidupan berbangsa
dan bernegara sebagai titik sentral. Dalam proses itulah,
pembangunan karakter
bangsa kembali dirasakan sebagai kebutuhan yang sangat
mendesak yang harus

Pembelajaran PKn SD

16

dijawab oleh pendidikan kewarganegaraan dengan paradigma
barunya.

Tugas PKn dengan paradigma yang direvitalisasi adalah
mengembangkan pendidikan demokrasi yang mengemban
tiga fungsi pokok, yakni mengembangkan kecerdasan
warganegara (civic intelligence), membina tanggung jawab
warganegara (civic responsibility) dan mendorong partisipasi
warganegara (civic participation). Kecerdasan warganegara
yang dikembangkan untuk membentuk warganegara yang
baik bukan hanya dalam dimensi rasional dan intelektual
semata melainkan juga dalam dimensi spiritual, emosional
dan sosial sehingga paradigma baru PKn bercirikan
multidimensional. Untuk mengembangkan masyarakat yang
demokratis melalui pendidikan kewarganegaraan diperlukan
suatu strategi dan pendekatan pembelajaran khusus yang
sesuai dengan paradigma PKn yang baru. Sebelum
mengembangkan model pembelajaran yang dimaksud,
terlebih dahulu perlu dikemukakan dahulu tentang konsep
warga negara yang demokratis. Oleh karena itu, bab ini akan
membahas secara berturut-turut dua topik utama, yakni: (1)
Warga negara demokratis dan (2) Pembelajaran PKn untuk
warga negara demokratis Dengan menganalisis kehidupan
warga negara yang demokratis dan bagaimana pembelajaran
untuk membentuk warga negara yang demokratis dalam
paradigm PKn yang baru, para pembaca diharapkan memiliki
kemampuan : (1) memahami kebutuhan kualitas WNI yang
demokratis; dan (2) membelajarkan PKn untuk
kewarganegaraan yang demokratis. Selain itu, menguasai
paradigma baru PKn baik tentang kualitas warga negara yang
demokratis maupun pembelajaran untuk mengembangkan
warga negara yang demokratis penting bagi calon guru dan
atau guru-guru pemula yang sering mengalami kesulitan
dalam memilih dan menyusun materi serta menentukan
model pembelajaran yang cocok untuk pokok bahasan
tertentu.

Pembelajaran PKn SD

17

Khusus bagi calon guru dan guru pemula diharapkan
agar sedapat mungkin memperbanyak latihan dalam
menerapkan model pembelajaran PKn dengan paradigma
baru. Dengan memahami dan menguasai materi ini
diharapkan anda akan terbantu dan tidak mengalami
kesulitan lagi dalam menguasai materi dan membelajarkan
PKn yang sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat
saat ini. Dengan demikian, kemampuan anda dalam
menerapkan model pembelajaran PKn menjadi semakin kaya
dan implikasi lebih lanjut, para siswa akan semakin
menyenangi belajar PKn karena gurunya memiliki
kemampuan yang memadai. Pada bagian pendahuluan telah
dikemukakan bahwa kebutuhan akan adanya revitalisasi
paradigma PKn saat ini sudah mendesak. Bangsa Indonesia
saat ini sedang mengalami perubahan ke arah terbentuknya
masyarakat demokratis yang sesungguhnya sesuai dengan
pesan dan misi gerakan reformasi dalam segala bidang
terutama bidang politik dan hukum. Namun, pembentukan
masyarakat demokratis tidaklah mudah terutama bagi
masyarakat yang memiliki pengalaman pada masa lampau
yang hidup dalam lingkungan masyarakat yang tidak
demokratis atau undemocratic democracy. Dapat dikatakan
bahwa membentuk masyarakat demokratis itu perlu
direncanakan. Artinya masyarakat demokratis tidak terjadi
dengan sendirinya, melainkan perlu dipersiapkan karena
demokrasi adalah karakter atau watak yang dapat terbentuk
melalui suatu proses. Alexis de Toqueville, negarawan
Perancis yang hijrah ke Amerika Serikat, menyatakan “The
habits of the mind, as well as „habits of the heart‟, the
dispositions that inform the democratic ethos, are not

inherited.” (Branson, 1999:2) Artinya, kebiasaan pikiran dan
juga „kebiasaan hati‟ yakni watak yang menginformasikan
demokrasi tidak diturunkan. Dengan kata lain, seorang
demokrat belum tentu melahirkan seorang anak yang
demokrat apabila anak itu tidak belajar demokrasi. Untuk
menjadi seorang demokrat perlu proses pendidikan dan

Pembelajaran PKn SD

18

pembelajaran. Demokrasi sering dikatakan sistem
pemerintahan yang cerdas dan rasional. Suatu negara tidak
dapat hidup secara demokratis apabila masyarakatnya dalam
keadaan miskin, bodoh, dan tidak terdidik. Dengan kata lain,
masyarakat demokratis baru dapat terwujud apabila
masyarakatnya berpendidikan, cerdas, memiliki tingkat
penghidupan yang cukup (layak), dan mereka punya
keinginan berpartisipasi aktif dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena
persyaratannya begitu tinggi maka sering dikatakan pula
bahwa demokrasi adalah sistem pemerintahan yang mahal.
Tujuan pendidikan kewarganegaraan adalah partisipasi
yang penuh nalar dan tanggung jawab dalam kehidupan
politik dari warga negara yang taat kepada nilai-nilai dan
prinsip-prinsip dasar demokrasi konstitusional Indonesia.
Partisipasi warga negara yang efektif dan penuh tanggung
jawab memerlukan penguasaan seperangkat ilmu
pengetahuan dan keterampilan intelektual serta keterampilan
untuk berperan serta. Partisipasi yang efektif dan
bertanggung jawab itu pun ditingkatkan lebih lanjut melalui
pengembangan disposisi atau watak-watak tertentu yang
meningkatkan kemampuan individu berperan serta dalam
proses politik dan mendukung berfungsinya sistem politik
yang sehat serta perbaikan masyarakat. Menimbang dasar
pikiran dan tujuan PKn di atas, selayaknya pembelajaran PKn
dapat membekali siswa dengan pengetahuan dan
keterampilan intelektual yang memadai serta pengalaman
praktis agar memiliki kompetensi dan efektivitas dalam
berpartisipasi.

Oleh karena itu, ada dua hal yang perlu mendapat
perhatian kita dalam mempersiapkan pembelajaran PKn di
kelas, yakni bekal pengetahuan materi pembelajaran dan
metode atau pendekatan pembelajaran. Hal terakhir ini
merupakan titik yang masih lemah untuk mengantarkan para
peserta didik menjadi warga Negara yang demokratis.
Pembelajaran partisipatif yang berbasis portofolio (portfolio

Pembelajaran PKn SD

19

based learning) merupakan alternatif utama guna mencapai
tujuan PKn tersebut. Namun, sebelum membahas lebih jauh
tentang model pembelajaran PKn yang berbasis portofolio
Anda perlu pula mengenali materi pembelajarannya. Materi
PKn dengan revitalisasi paradigmanya dikembangkan dalam
bentuk standar nasional PKn, yakni standar kompetensi (SK)
dan kompetensi dasar (KD) yang pelaksanaannya berprinsip
pada implementasi kurikulum terdesentralisasi. PKn dengan
revitalisasi paradigma bertumpu pada kemampuan dasar
kewarganegaraan (civic competence) untuk semua jenjang
SD/MI; SMP/MTs; dan SMA/MA. Kemampuan dasar
tersebut selanjutnya diuraikan atau dirinci dalam bentuk
sejumlah kemampuan disesuaikan dengan tingkat/jenjang
sekolah sejalan dengan tingkat perkembangan para siswa.
Kemampuan diuraikan dalam bentuk butiran standar
kompetensi dan kompetensi dasar sebagaimana tertuang
dalam Peraturan Menteri nomor 22 tentang Standar Isi (SI)
dan 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL).
Portofolio adalah suatu kumpulan pekerjaan siswa
dengan maksud tertentu dan terpadu yang diseleksi menurut
panduan-panduan yang ditentukan. Panduan-panduan ini
beragam tergantung pada mata pelajaran dan tujuan penilaian
portofolio. Portofolio dalam pembelajaran PKn merupakan
kumpulan informasi/data yang tersusun dengan baik yang
menggambarkan rencana kelas siswa berkenaan dengan suatu
isu kebijakan publik yang telah diputuskan untuk dikaji oleh
mereka, baik dalam kelompok kecil maupun kelas secara
keseluruhan. Portofolio kelas berisi bahanbahan seperti
pernyataan-pernyataan tertulis, peta, grafik, photografi, dan
karya seni asli. Bahan-bahan ini menggambarkan:
1. Hal-hal yang telah dipelajari siswa berkenaan dengan
suatu masalah yang telah mereka pilih.
2. Hal-hal yang telah dipelajari siswa berkenaan dengan
alternatif-alternatif pemecahan terhadap masalah tersebut.
3. Kebijakan publik yang telah dipilih atau dibuat oleh siswa
untuk mengatasi masalah tersebut.

Pembelajaran PKn SD

20

4. Rencana tindakan yang telah dibuat siswa untuk
digunakan dalam mengusahakan agar pemerintah
menerima kebijakan yang mereka usulkan.
Dengan demikian, portofolio merupakan karya terpilih
kelas siswa secara keseluruhan yang bekerja secara
kooperatif membuat kebijakan publik untuk membahas
pemecahan terhadap suatu masalah kemasyarakatan. Dalam
menilai portofolio, “karya terpilih” merupakan istilah yang
sangat penting. Bahan penilaian harus menjadi akumulasi
dari segala sesuatu yang dapat ditemukan para siswa pada
topik mereka bukan hanya seksi penayangan dan bukan pula
seksi pendokumentasian. Portofolio harus memuat bahan-
bahan yang menggambarkan usaha terbaik siswa dalam
mengerjakan tugas-tugas yang diberikan kepadanya, serta
mencakup pertimbangan terbaiknya tentang bahan-bahan
mana yang paling penting. Pembelajaran PKn yang berbasis
portofolio memperkenalkan kepada para siswa dan mendidik
mereka dengan beberapa metode dan langkah-langkah yang
digunakan dalam proses politik atau kebijakan publik.
Pembelajaran ini bertujuan untuk membina komitmen aktif
para siswa terhadap kewarganegaraan dan pemerintahannya
dengan cara: membekali pengetahuan dan keterampilan yang
diperlukan untuk berpartisipasi secara efektif; membekali
pengalaman praktis yang dirancang untuk mengembangkan
kompetensi dan efektivitas partisipasi, dan mengembangkan
pemahaman akan pentingnya partisipasi wargan negara.
Pembelajaran ini akan menambah pengetahuan,
meningkatkan keterampilan, dan memperdalam pemahaman
siswa tentang bagaimana bangsa Indonesia, yakni kita semua,
dapat bekerja sama mewujudkan masyarakat yang lebih baik.
Pembelajaran ini bertujuan untuk membantu siswa belajar
bagaimana cara mengungkapkan pendapat, bagaimana cara
menentukan tingkat pemerintahan dan lembaga pemerintah
manakah yang paling tepat dan layak untuk mengatasi
masalah yang diidentifikasi oleh mereka, dan bagaimana cara
mempengaruhi penetapan-penetapan kebijakan pada tingkat

Pembelajaran PKn SD

21

pemerintahan tersebut. Pembelajaran ini mengajak para siswa
untuk bekerjasama dengan teman-temannya di kelas dan
dengan bantuan guru serta para relawan agar tercapai tugas-
tugas pembelajaran berikut: mengidentifikasi masalah yang
akan dikaji; mengumpulkan dan menilai informasi dari
berbagai sumber berkenaan dengan masalah yang dikaji;
mengkaji pemecahan masalah; membuat kebijakan publik,
dan membuat rencana tindakan.
Dalam usaha mencapai tugas-tugas pembelajaran ini
ditempuh melalui enam tahap kegiatan sebagai berikut:
• Tahap I : Mengidentifikasi masalah kebijakan publik di
masyarakat.
• Tahap II

: Memilih satu masalah untuk kajian kelas
• Tahap III : Mengumpulkan informasi masalah yang
akan dikaji oleh kelas
• Tahap IV : Membuat portofolio kelas
• Tahap V

: Menyajikan portofolio
• Tahap VI : Refleksi terhadap pengalaman belajar
Dalam pembelajaran PKn yang berbasis portofolio, kelas
dibagi ke dalam empat kelompok. Setiap kelompok
bertanggung jawab untuk membuat satu bagian portofolio
kelas. Setiap kelompok memiliki tugas yang berbeda namun
mulai kelompok pertama sampai keempat harus saling terkait
(sekuensial) dan merupakan satu kesatuan. Adapun tugas
mereka dapat diuraikan sebagai berikut:

o Kelompok portofolio Satu: Menjelaskan Masalah.

Kelompok portofolio satu ini bertanggung jawab untuk
menjelaskan masalah yang telah dipilih untuk dikaji oleh
kelas. Kelompok ini pun harus menjelaskan mengapa
masalah tersebut penting dan mengapa lembaga
pemerintahan tersebut harus menangani masalah tersebut.

o Kelompok Portofolio Dua: Menilai kebijakan alternatif
yang diusulkan untuk memecahkan masalah. Kelompok ini
bertanggung jawab untuk menjelaskan kebijakan saat ini
dan/atau kebijakan alternatif yang dirancang untuk
memecahkan masalah.

Pembelajaran PKn SD

22

o Kelompok Portofolio Tiga: Membuat satu kebijakan publik
yang akan didukung oleh kelas. Kelompok ini bertanggung
jawab untuk membuat satu kebijakan publik tertentu yang
disepakati untuk didukung oleh mayoritas kelas serta
melakukan justifikasi terhadap kebijakan tersebut.

o Kelompok Portofolio Empat: Membuat suatu rencana
tindakan agar pemerintah mau menerima kebijakan kelas.

Kelompok ini bertanggung jawab untuk membuat suatu
rencana tindakan yang menunjukkan bagaimana warga
Negara dapat mempengaruhi pemerintah untuk menerima
kebijakan yang didukung oleh kelas. Bahan-bahan dalam
portofolio memuat dokumentasi terbaik yang telah
dikumpulkan oleh kelas dan kelompok dalam meneliti
masalah. Bahan-bahan dalam portofolio itu pun hendaknya
memuat bahan-bahan tulis tangan asli dan/atau karya seni
asli para siswa.

Dengan demikian, model pembelajaran PKn yang
berbasis portofolio yang diharapkan dapat menjadi wahana
dalam mengantarkan pelaksanaan kehidupan berdemokrasi.
Namun untuk penerapan di SD, guru perlu melakukan proses
penyederhanaan lagi, disesuaikan dengan tingkat
perkembangan anak usia SD.***

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->