P. 1
Pengembangan Pendidikan IPS SD

Pengembangan Pendidikan IPS SD

|Views: 1,220|Likes:
Published by Kang Zuhro Wardi

More info:

Published by: Kang Zuhro Wardi on Jul 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/04/2013

pdf

text

original

Diktat

Pengembangan Pendidikan IPS SD

Oleh:

Habibuddin
(Untuk kalangan sendiri) PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

(STKIP) HAMZANWADI SELONG
2010

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

i

Motto:

“Kebenaran hanya dicari oleh para individu, dan mereka ini memutuskan hubungan dengan orang-orang yang tidak cukup mencintainya. Berapa banyak di dunia ini yang berhak atas kesetiaan kita? Sungguh sedikit sekali, Saya kira orang harus setia kepada keabadian, yang merupakan kata lain dari hidup, kata yang justru lebih kuat untuk itu” (Dr. Zhivago)

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

ii

Daftar Isi

Motto Daftar Isi Kata Pengantar
Bagain 1 Pendahuluan Bagian 2 Hakikat dan Arah Pembelajaran IPS di SD a. Hakikat dan Arah Pembelajaran IPS di SD b. Tujuan Pembelajaran IPS di SD c. Pengembangan Pengetahuan dan Pemahaman d. Pengembangan Aspek Sikap, Nilai, dan Moral e. Pengembangan Aspek Konatif f. Pengembangan Materi Pembelajaran IPS di SD Bagian 3 Inovasi Pembelajaran IPS di SD a. Pembelajaran Tematik b. Karakteristik Pembelajaran Tematik c. Strategi Pembelajaaran Tematik d. Pembelajaran Kontekstual dalam IPS e. Prinsip Pembelajaran CTL f. Sumber dan Media Pembelajaran IPS g. Media Pembelajaran Berbasis ICT Bagian 4 Pembelajaran Pengendalian Diri, Keluarga, dan Lingkungan a. Manusia sebagai Individu b. Interaksi Sosial c. Masyarakat d. Pembelajaran Lingkungan Rumah dan Keluarga e. Pembelajaran Peran Keluarga dan Lingkungan f. Pembelajaran Lingkungan Hidup, Jenis Pekerjaan dan Jual Beli g. Pembelajaran Kegiatan Jual Beli Bagian 5 Pembelajaran Peta, Kenampakan Alam, dan Persebaran Sumber Daya Alam (SDA) a. Pembelajaran Peta b. Pembelajaran Kenampakan Alam c. Pembelajaran Persebaran SDA dan Manfaatnya d. SDA yang Dapat dan Tidak Dapat Diperbaharui

iii iv vi 1 3 3 9 12 13 14 15 21 21 24 25 28 29 32 37 38 38 39 40 50 53 57 63 67 67 71 75 78

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

iii

Bagain 6 Pembelajaran Aktivitas Ekonomi, Teknologi, dan Permasalahan Sosial a. Pembelajaran Aktivitas Ekonomi b. Pembelajaran Perkembangan Teknologi c. Pembelajaran Permasalahan Sosial Bagain 7 Penutup

82 82 86 89 96 97

Daftar Pustaka

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

iv

Kata Pengantar

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Swt., atas rahmat dan karunia yang dilimpahkan-Nya, sehingga Bahan Ajar ini ini dapat diselesaikan dengan baik. Bahan ajar ini terkait dengan mata kuliah Pengembangan Pendidikan IPS SD. Bahan Ajar hadir sebagai salah satu upaya untuk berpartisipasi memperkaya khazanah literatur yang terasa begitu minim di bidang Pengembangan Pendidikan IPS SD. Bahan Ajar ini disusun secara sederhana berdasarkan silabus Mata Kuliah Pengembangan Pendidikan IPS SD, selain itu mata kuliah ini sebagai mata kuliah yang memiliki peran penting dalam mendukung kelancaran proses pembelajaran IPS SD pada Program Studi PGSD STKIP HAMZANWADI Selong. Bahan ajar ini disusun secara sederhana, dengan harapan agar mahasiswa dapat memahami strategi Pengembangan Pendidikan IPS SD, khususnya pada pemahaman terkait dengan pembelajaran IPS SD. Harapan ini dapat tercapai jika mahasiswa mempunyai kemampuan berfikir kritis-analitis-sistematis dalam menghadapi setiap permasalahan yang diketengahkan kepada mereka, sehingga mampu mengembangkan permasalahan, aktif menyelami seluk-beluk dan landasan permasalahan dalam dunia pendidikan; khususnya pada materi Pembelajaran Pendidikan IPS SD, kemudian mencari dan menemukan hubungan antara permasalahan dengan landasan pemecahan, menarik dan memaparkan hasil-hasil penghubungan itu ke dalam bentuk rumusan-rumusan yang logis dan membuktikan kebenarannya dengan jalan menghadapkannya kepada fakta-fakta sosial yang telah ada. Penulis menyadari sepenuhnya, bahwa di dalam bahan ajar mata kuliah Pengembangan Pendidikan IPS SD ini terdapat banyak kekurangan dan kesalahan, oleh karena itu saran-saran perbaikan yang membangun sangat diharapkan dari mahasiswa untuk kesempurnaan bahan ajar ini. Semoga karya yang sangat sederhana ini bermanfaat bagi mahasiswa dalam mengkaji dan menganalisis Persoalan Sosial maupun Pendidikan Sosial. Akhirnya kepada Allah Swt jua penulis memohon ampun, sekiranya terdapat kesalahan dalam penyusunan bahan ajar (diktat) Mata Kuliah Pengembangan Pendidikan IPS di SD ini. *** Selong, 17 Maret 2010

Penulis

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

v

Bagian 1

Pendahuluan
A social scientist is a man who, if he was two little boys, sends one to Sunday schools every Sundays and keeps the other one home as an experimental group. (Raymond Mack)

Pendidikan ilmu sosial di sekolah berbeda tujuannya dengan pendidikan ilmu sosial di perguruan tinggi. Di sekolah, semua mata pelajaran yang diajarkan umumnya diarahkan dalam rangka menyiapkan siswa untuk belajar lebih lanjut ke jenjang perguruan tinggi dan mempersiapkan siswa untuk terjun ke masyarakat dan memasuki dunia kerja yang tersedia. Pendidikan ilmu sosial yang diajarkan hanya bersifat pengenalan yang kelak jika mereka berminat memperdalamnya di perguruan tinggi. Perbedaan ini akan berpengaruh terhadap ruang lingkup materi yang harus dikaji oleh siswa. Masalah yang paling krusial adalah memilih mata pelajaran di sekolah yang akan dipilih sebagai dasar bagi ilmu-ilmu sosial di perguruan tinggi. Sebagaimana diketahui bahwa ilmu-ilmu sosial di perguruan tinggi ada disiplin ilmu politik, administrasi negara, sosiologi, sejarah, geografi, dan lain-lain. Permasalahan ini tidak mudah, seperti kita saksikan saat ini, mengapa IPS pada jenjang SMP hanya direkomendasikan atas empat disiplin ilmu yaitu geografi, sejarah, ekonomi, dan sosiologi. Para ahli mencoba menguraikan pokok persoalannya dari sudut pandangnya masing-masing, kemudian membedakan antara ilmu sosial (social science), studi sosial (social studies), dan IPS. Ilmu sosial dan atau ilmu-ilmu sosial adalah bidang-bidang keilmuan yang mempelajari manusia di masyarakat, mempelajari manusia sebagai anggota masyarakat. Ilmu-ilmu sosial lebih bersifat akademis yang diajarkan di perguruan tinggi dan tiap bidang keilmuan mempelajari salah satu aspek tingkah laku manusia sebagai anggota masyarakat. Oleh karena itu kita mengenal rumpun ilmu-ilmu sosial seperti ilmu ekonomi, hukum, politik, sosiologi, antropologi, dan lain-lain. Berbeda dengan ilmu sosial, studi sosial (social studies) bukan merupakan suatu bidang keilmuan atau disiplin akademik, melainkan lebih merupakan suatu bidang pengakajian tentang gejala dan masalah sosial. Dalam kerangka kerja pengkajiannya, studi sosial ini menggunakan bidang-bidang keilmuan yang termasuk dalam ilmu-ilmu sosial.

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

1

Manusia sebagai individu selalu berada di tengah-tengah kelompok individu lain yang sekaligus mematangkannya untuk menjadi pribadi. Proses dari individu untuk menjadi pribadi tidak hanya didukung dan dihambat oleh dirinya, tetapi juga oleh kelompok sekitarnya. Dalam proses untuk menjadi pribadi, individu dituntut mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana ia berada. Lingkungan tersebut meliputi lingkungan fisik dan non-fisik (psikis). Kecenderungan manusia untuk hidup berkelompok sebenarnya bukanlah sekedar suatu naluri atau keperluan yang diwariskan secara biologis semata-mata. Akan tetapi dalam kenyataannya manusia berkumpul sampai batas-batas tertentu juga menunjukkan adanya suatu ikatan sosial tertentu. Kesadaran anak terhadap lingkungannya bersifat universal artinya setiap anak dibelahan dunia manapun memiliki keinginan dan kesukaan untuk menggambar. Keinginan untuk mencorat-coret adalah keinginan yang seolah-olah “tidak tertahankan” bagi seorang anak. Dorongan ini harus dimanfaatkan oleh guru sebagai kekuatan motivasi agar senang belajar. Artinya, sekali waktu ajaklah anak belajar di kelas dengan cara metode bermain dan menggambar. Apalagi untuk anak usia SD, metode bermain dan menggambar merupakan metode pembelajaran untuk semua mata pelajaran termasuk IPS. Tujuan mempelajari IPS salah satunya adalah agar siswa mengenal permasalahan sosial yang ada di sekitarnya. Masalah sosial banyak sekali jenisnya, sehingga perlu dipilih agar lebih bermakna bagi siswa. Diusahakan agar guru dapat mengupas masalah sosial diambil dari lingkungan sekitar siswa. Namun, jika dicari irisannya, setiap masayarakat Indonesia umumnya menghadapi permasalahan sosial yang hampir sama seperti kemiskinan, pecahnya ikatanikatan keluarga, masalah generasi muda dalam masyarakat modern, masalah kependudukan, masalah lingkungan hidup, kehidupan politik yang tidak stabil, kejahatan, dan konflik antar masyarakat yang memicu terjadinya kerusuhan dan peperangan. Masalah sosial timbul dari berbagai sebab yang saling terkait. Awalnya orang menganggap bahwa masalah sosial disebabkan oleh karena kemiskinan. Namun ternyata, pada masyarakat yang makmur sekalipun masalah sosial juga dapat muncul seperti kenakalan remaja, penggunaan obat-obat terlarang, kehidupan seks bebas, dan kehidupan hedonisme (memuja kesenangan hidup di dunia tidak peduli terhadap norma agama). Dengan demikian, masalah sosial terjadi di setiap masyarakat. Semua kehidupan di masyarakat adalah cobaan, siapa yang bisa menghadapinya dengan baik maka akan bermanfaat, jika tidak, maka akan jadi masalah sosial. Masalah sosial merupakan suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur dalam masyarakat atau kebudayaan yang membayakan kehidupan kelompok sosial, terhambatnya pemenuhan kebutuhan masyarakat, hingga rusaknya ikatan sosial dan keluarga, oleh karena itu dalam pembelajaran pendidikan IPS di SD penekanannya disesuaikan dengan kondisi yang ada dan dihadapi oleh peserta didik dalam kehidupan bermasyarakat.***

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

2

Bagian 2

Hakikat dan Arah Pembelajaran IPS di SD
Pembelajaran IPS A. HAKIKAT DAN ARAH PEMBELAJARAN IPS DI SD Zamroni (2001) mengemukakan bahwa studi tentang kehidupan manusia dan masyarakatnya relatif baru, namun sejauh ini sudah menghasilkan akumulasi pengetahuan yang dapat diwujudkan dalam suatu sistem pengetahuan tentang hakikat, pertumbuhan, dan fungsi kehidupan manusia. Ilmu-ilmu sosial berusaha untuk memahami kompleksitas manusia dan interaksinya serta strukturnya secara rasional dan analitis. Selain itu, tidak dapat dipungkiri bahwa kajian ilmu-ilmu sosial muncul kecenderungan ethnocentric dan kurang objektif. Lebih lanjut, Zamroni (2001) mendefinisikan bahwa ilmu-ilmu sosial adalah studi tentang tingkah laku kelompok umat manusia. Artinya semua disiplin ilmu yang mempelajari tingkah laku kelompok umat manusia di masukkan dalam kelompok ilmu-ilmu sosial. Apabila ada disiplin ilmu yang mempelajari aspek lain dari umat manusia selain tingkah laku, maka disiplin itu bukanlah ilmu-ilmu sosial. Walaupun sejumlah ilmu yang berkembang saat ini seperti geografi, antropologi fisik, dan psikologi (karena perhatian utamanya pada tingkah laku individu bukan kelompok), dan ilmu pendidikan (yang terlalu terpusat pada metodologi) tidak selalu membahas tingkah laku kelompok, tetapi Calhoun mengelompokkan ilmu-ilmu di atas memiliki bagian yang juga memperhatikan tingkah laku kelompok umat manusia. Kelompok ilmu-ilmu sosial, di dunia pendidikan dikenal dengan adanya pendidikan mengenai disiplin-disiplin ilmu sosial yang disebut pendidikan ilmu sosial. Di lingkungan perguruan tinggi, pendidikan ilmu-ilmu sosial tidak mengalami masalah epistimologi karena mahasiswa yang memilih salah satu disiplin ilmu tersebut akan dididik dalam pola pikir menurut disiplin ilmu itu, dikembangkan perhatiannya kepada objek studi disiplin ilmu yang bersangkutan, menguasai berbagai teori yang dianggap mutakhir, serta dilatih bekerja menurut metode kerja keilmuan dalam suatu prosedur penelitian yang diakui. Pendidikan ilmu sosial di sekolah berbeda tujuannya dengan pendidikan ilmu sosial di perguruan tinggi. Di sekolah, semua mata pelajaran yang diajarkan di sekolah umumnya diarahkan dalam rangka menyiapkan siswa untuk belajar lebih lanjut ke jenjang perguruan tinggi dan kedua mempersiapkan siswa untuk terjun ke masyarakat dan memasuki dunia kerja yang tersedia. Pendidikan ilmu sosial yang diajarkan hanya bersifat pengenalan yang kelak jika mereka berminat memperdalamnya di perguruan tinggi. Perbedaan ini akan berpengaruh terhadap ruang lingkup materi yang harus dikaji oleh siswa. Masalah yang paling krusial

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

3

adalah memilih mata pelajaran di sekolah yang akan dipilih sebagai dasar bagi ilmu-ilmu sosial di perguruan tinggi. Sebagaimana diketahui bahwa ilmu-ilmu sosial di perguruan tinggi ada disiplin ilmu politik, administrasi negara, sosiologi, ilmu sejarah, geografi, dan lain-lain. Permasalahan ini tidak mudah, seperti kita saksikan saat ini, mengapa IPS pada jenjang SMP hanya direkomendasikan atas empat disiplin ilmu yaitu geografi, sejarah, ekonomi, dan sosiologi. Mengapa tidak diajarkan ilmu politik, administrasi negara, antropologoli, dan lain-lain. Di tingkat SMA, kedudukan mata pelajaran ilmu-ilmu sosial semakin dipertegas yaitu masing-masing telah mandiri sebagai mata pelajaran tetapi pertanyaannya adalah sama, yaitu mengapa hanya mata pelajaran tertentu saja dan tidak untuk yang lainnya. Para ahli mencoba menguraikan pokok persoalannya dari sudut pandangnya masing-amsing. Pertama pendapat dari Sumaatmadja (1980), membedakan antara ilmu sosial (social science), studi sosial (social studies), dan IPS. Ilmu sosial dan atau ilmu-ilmu sosial adalah bidang-bidang keilmuan yang mempelajari manusia di masyarakat, mempelajari manusia sebagai anggota masyarakat. Ilmu-ilmu sosial lebih bersifat akademis yang diajarkan di perguruan tinggi dan tiap bidang keilmuan mempelajari salah satu aspek tingkah laku manusia sebagai anggota masyarakat. Oleh karena itu kita mengenal rumpun ilmu-ilmu sosial seperti ilmu ekonomi, ilmu hukum, ilmu politik, sosiologi, antropologi, dan lain-lain. Berbeda dengan ilmu sosial, studi sosial (social studies) bukan merupakan suatu bidang keilmuan atau disiplin akademik, melainkan lebih merupakan suatu bidang pengakajian tentang gejala dan masalah sosial. Dalam kerangka kerja pengkajiannya, studi sosial ini menggunakan bidang-bidang keilmuan yang termasuk dalam ilmu-ilmu sosial. Lebih lanjut, Sumaatmadja mengatakan bahwa studi sosial tidak selalu bertaraf akademis universiter, bahkan dapat merupakan bahan-bahan pelajaran bagi murid-murid sejak pendidikan dasar, dan dapat berfungsi sebagai pengantar bagi lanjutan kepada disiplin-disiplin ilmu sosial. Studi sosial bersifat interdisipliner, dengan menetapkan pilihan judul atau masalah-masalah tertentu berdasarkan sesuatu rangka referensi, dan meninjaunya dari berberapa sudut sambil mencari logika dari hubungan-hubungan yang ada satu dengan lainnya. Kerangka kerja studi sosial menurut Sumaatmadja, penekanannya tidak pada bidang teoritis, melainkan lebih kepada praktis dalam mengkaji atau mempelajari gejala dan masalah sosial di masyarakat. Tugas studi sosial sebagai suatu bidang studi mulai dari tingkat SD ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi, yaitu membina warga masyarakat yang mampu menyerasikan kehidupannya berdasarkan kekuatan-kekuatan fisik dan sosial, dan mampu memecahkan masalah-masalah sosial yang dihadapinya. IPS bukanlah ilmu sosial tetapi lebih dekat dengan studi sosial. Pengajaran IPS di sekolah tidak menekankan kepada aspek teoritis keilmuannya, melainkan lebih ditekankan kepada segi praktis dalam mempelajari, menelaah, dan mengkaji gejala dan masalah sosial. Walaupun harus tetap diakui bahwa induk dari IPS berasal dari rumpun ilmu-ilmu sosial yang banyak dikaji di perguruan tinggi secara spesifik. Walaupun penjelasan sudah cukup memberikan kedudukan IPS diantara ilmu sosial dan atau studi sosial. Di kalangan para ilmuan tetap terbagi atas dua kelompok (terkait dengan kesepakatan

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

4

ilmu-ilmu sosial yang manakah yang dapat dijadikan kajian pokok di jenjang persekolahan). Kelompok pertama, menghendaki agar materi dari disiplin ilmuilmu sosial hanyalah sebagai salah satu sumber materi/pokok bahasan kurikulum, tetapi sebagian yang lain masih tetap beranggapan bahwa di sekolah, ilmu-ilmu sosial harus memiliki jalurnya sebagaimana yang berlaku di perguruan tinggi. Penganut kelompok pertama disebut golongan behavioralisme sosial sedangkan kelompok kedua disebut golongan intelektual tradisional (Schubert, 1986: 223). belajaraGolongan behavioralisme sosial beranggapan bahwa disiplin ilmu-ilmu sosial hanyalah merupakan salah satu sumber materi untuk pendidikan. Golongan ini tidak melihat pengajaran disiplin ilmu-ilmu sosial sebagai suatu yang penting dibandingkan dengan perkembangan manusianya. Golongan ini berpendapat bahwa pendidikan tidak boleh membatasi diri pada suatu bidang ilmu atau bahkan disiplin ilmu tertentu. Mereka beraggapan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk menjadikan siswa sebagai warga negara yang baik (Hasan, 1995: 16). Kelompok ini kurang mendapat tempat di Indonesia. Posisi mata pelajaran dari rumpun ilmu sosial di sekolah masih sangat tegas perbedaannya. Disiplin ilmu sosial yang diajarkan di sekolah mengikuti nama jurusan di perguruan tinggi seperti adanya mata pelajaran sosiologi, antropologi, geografi, ekonomi, dan lain-lain. Di Amerika Serikat, kelompok ini juga sangat sedikit pengikutnya. Di antara mereka yang memperjuangkan pendapat ini adalah Engle dan Longstreet. Kedua orang ini dengan tegas membedakan antara pendidikan sosial (social education) dan social studies. Bagi mereka pendidikan sosial (dan atau studi sosial) adalah jauh lebih penting daripada ilmu sosial atau bentuk apapun karena akan memberikan bekal nyata bagi kehidupan sosial siswa di masyarakat setelah mereka selesai pendidikannya di sekolah (Hasan, 1995: 17). Dari pola pikirnya, Engle dan Longstreet lebih dekat dengan keyakinan Sumaatmadja yang mengelompokkan IPS sebagai suatu studi sosial. Golongan yang kedua adalah intelektual tradisional. Golongan ini beraggapan bahwa disiplin ilmu-ilmu sosial adalah sumber satu-satunya untuk pendidikan IPS. Golongan ini dibagi tiga atas kelompok yaitu: 1. Mereka yang beranggapan bahwa pengajaran ilmu-ilmu sosial adalah terpisah. Pengajaran ilmu sosial yang terpisah, menurut mereka jauh lebih baik karena siswa tidak perlu berfikir dalam dimensi ilmu yang kabur. Sudah sejak awal cara berfikir siswa terkendali untuk memperhatikan halhal tertentu yang menjadi kepedulian ilmu tersebut. Namun demikian, ada pula sisi kelemahannya yaitu terkadang ilmu yang dipelajari oleh siswa terpisah dari keseluruhan konteks sosialnya. Suatu peristiwa (misalnya interaksi di pasar) tidak dapat dibatasi oleh hanya ilmu ekonomi saja tetapi peristiwa interaksi di pasar dapat dikaji oleh sosiologi, geografi, antropologi, dan lain-lain. Untuk memahami pasar secara utuh dibutuhkan berbagai disiplin ilmu yang tidak terpisah-pisah. 2. Kelemahan pada kelompok pertama memunculkan kelompok kedua yaitu bahwa untuk mempelajari suatu konteks sosial (misalnya: interaksi di pasar) dibutuhkan analisis keterhubungan antardisiplin ilmu-ilmu sosial. Gagasan ini diusulkan dengan dua pendekatan yaitu pendekatan berhubungan atau korelasional yang bersifat interdisipliner dan pendekatan

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

5

terpadu (integrated). Keterpaduan multidisiplin menganggap bahwa kedudukan setiap disiplin ilmu dianggap sama. Problema yang sama dikaji dalam berbagai dimensi dengan pendekatan keilmuan yang berbeda-beda. 3. Gagasan keterhubungan ilmu sosial lainnya adalah gagasan keterpaduan (integrated). Kelompok ini dibagi dua lagi yaitu mereka yang menghendaki agar ilmu-ilmu sosial melebur dirinya menjadi suatu disiplin ilmu tertentu yang dinamakan ilmu sosial. Kelompok ini disebut synthetic social sciences. Alat yang dikembangkan oleh kelompok ini adalah generalisasi. Dengan cara ini, ilmu-ilmu sosial tidak terpisah-pisah lagi. Artinya tidak ada lagi pendidikan sejarah, geografi, ekonomi, maupun sosiologi di sekolah. Kelompok ini menurut Hasan (1995) dianggap gagal karena terlalu berpihak pada suatu ilmu tertentu yaitu antropologi. Kelompok kedua sepakat adanya gagasan mempadukan ilmu-ilmu sosial tetapi tidak bermaksud menciptakan ilmu sosial yang baru. Kelompok ini sudah cukup puas jika disiplin ilmu-ilmu sosial itu digunakan untuk membahas berbagai permasalahan kehidupan sosial di sekitar siswa. Batasan disiplin ilmu tidak perlu dikemukakan tetapi materi dari disiplin itu digunakan berdasarkan kemanfaatannya dalam kajian terhadap masalah yang sedang dibahas. Berdasarkan pada sejarah perkembangan ilmu sosial di atas, pendidikan ilmu sosial di Indonesia nampaknya mengambil langkah keterpaduan ilmu-ilmu sosial tetapi tidak ingin mengembangkan ilmu baru. Ilmu sosial di SMA pendekatan keilmuan sesuai jalur kajian ilmu di perguruan tinggi tetap dipertahankan sedangkan untuk di SMP pendekatan gabungan tetap diterapkan tanpa memperjelas kedudukan ilmu geografi, ekonomi, sejarah, dan sosiologi secara terpisah. Bagaimana IPS untuk SD? Mata pelajaran IPS SD nampaknya memiliki kecenderungan untuk memadukan pendekatan behavioralisme sosial dan intelektual tradisional sekaligus. Di SD, pendidikan IPS tidak nampak sebagai disiplin ilmu sosial secara terpisah-pisah, namun masih memiliki alur pengelompokkan berdasarkan disiplin ilmu sosial tertentu. Dalam naskah Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ditegaskan bahwa IPS bersumber pada materi disiplin ilmu Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi, tetapi tujuan pembelajaran IPS sudah diarahkan untuk membina warga negara Indonesia yang demokratis, bertanggung jawab, dan warga dunia yang cinta damai. Dengan demikian, tujuan IPS mengacu pada pendekatan behavioralisme sosial sedangkan dalam pendekatan pembelajaran memilih pendekatan intelektual tradisional yaitu IPS yang terintegrasi. Ruang lingkup mata pelajaran IPS SD meliputi aspek-aspek manusia, tempat, dan lingkungan; waktu, keberlanjutan, dan perubahan; sistem sosial dan budaya; dan perilaku ekonomi dan kesejahteraan. Aspek-aspek yang dikaji tidak menunjukkan adanya pemisahan antara disiplin ilmu sosial (geografi, ekonomi, sejarah, dan sosiologi), dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelaran IPS di SD mengambil pendekatan integratif. Dalam bentuk berbagai disiplin ilmu saling membantu secara fungsional atau berdasarkan kebutuhan yang timbul dari pokok bahasan yang dipelajari. Dalam kedudukan semacam itu maka batas-batas

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

6

antara satu disiplin ilmu dengan disiplin ilmu lainnya (penunjang) tidak terlalu digambarkan dengan jelas. Dengan alur pikir di atas, ilmu sosial (social science) dapat dikatakan sebagai kumpulan ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan untuk tujuan pendidikan (yaitu membina warga negara Indonesia yang demokratis, bertanggung jawab, dan warga dunia yang cinta damai). Isi ilmu sosial terdiri dari ilmu sejarah, ilmu sosial, sosiologi, geografi, dan filsafat yang dalam prakteknya dipilih untuk tujuan pembelajaran di sekolah bersangkutan. Apapun bentuk penyederhaan dan atau pengintegrasian dari ilmu-ilmu sosial di sekolah, ilmu sosial dan atau IPS di SD memiliki misi yang penting dalam membangun masyarakat dan negara. IPS tidak sekedar mata pelajaran yang disampaikan dalam bentuk penyederhanaan ilmuilmu sosial tetapi sebaiknya dimaknai sebagai suatu internalisasi nilai-nilai budaya bangsa, pembinaan karakter bangsa, membina persatuan dan kesatuan bangsa. IPS bukan semata-mata penyederhanaan ilmu-ilmu sosial tetapi memiliki nilai untuk menyiapkan peserta didik menghadapi kehidupan dengan segala tantangannya. Mengikuti sebagian dari pendapat Tilaar (2002: 80), tantangan yang sedang dihadapi bangsa Indonesia dan membutuhkan peran mata pelajaran IPS dalam membangun masyatakat Indonesia baru adalah: 1. Bangsa Indonesia sedang menghadapi lahirnya masyarakat terbuka atau masyarakat demokratis. IPS diharapkan memberi bekal peserta didik untuk dapat hidup bersama dalam masyarakat terbuka yaitu memiliki sikap yang penuh toleransi tanpa mengorbankan prinsip sebagai bangsa yang beragama dan berbudaya luhur. Selain itu, dalam masyarakat demokratis perlu disiapkan masyarakat Indonesia yang cerdas dan mau aktif berperan serta dalam semua aspek kehidupan baik dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial. 2. Bangsa Indonesia sedang mempersiapkan diri menghadapi era gloalisasi yang didukung oleh teknologi informasi. Di dalamnya memiliki pengaruh terhadap menurunnya rasa nasionalisme bangsa. Karena itu tanpa menutup diri terhadap perubahan dunia dan globalisasi, bangsa Indonesia perlu memupuk rasa nasionalisme budaya (cultural nationalism) yang berarti pengakuan terhadap budaya etnis yang beragam, yang lahir dan berkembang di dalam masyarakat Indonesia yang bhinneka. IPS diharapkan lebih giat memperkenalkan khasanah budaya bangsa yang luhur dan secara bersamaan membentuk karakter bangsa yang tangguh terhadap norma agama dan norma masyarakat yang terus berkembang. 3. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya akan SDA. SDA tersebut tersebar di daerah-daerah. Ekonomi bangsa Indonesia harus dapat dikembangkan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi (knowledge-based economy). Karena itu, IPS sebaiknya segera memaknai sumberdaya alam sebagai kekayaan bangsa yang perlu digali dan dikelola oleh anak bangsa Indonesia dan bukan oleh pihak asing (sebagaimana yang saat ini masing berlangsung). IPS tidak hanya menyampaikan materi bahwa SDA tersebar di tanah air tetapi juga memberi motivasi anak didik bahwa kekayaan itu adalah warisan yang harus dikelola sendiri untuk kemakmuran bangsa. 4. Saat ini bumi nusantara sedang mengalami kerusakan alam yang semakin parah. IPS hendaknya dapat berperan untuk memberi pemahaman yang baik

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

7

tentang upaya pelestarian dan memanfaatkan SDA lokal. Program penghijauan, program perlindungan kekayaan alam Indonesia hanya dapat dilaksanakan dengan peran serta masyarakat lokal. IPS di SD-MI sebaiknya menyampaikan pesan moral bahwa alam di muka bumi termasuk di bumi Indonesia telah terjadi kerusakan dunia saat ini sedang menghadapi perdagangan pasar bebas (WTO) sebagai dampak lanjutan proses globalisasi. 5. Dalam perdagangan bebas, perusahaan-perusahaan asing akan dengan bebasnya masuk ke dalam negeri tanpa proteksi sesuai dengan Agreement Establishing the World Trade Organization (WTO) pada tanggal 15 April 1994 di Marrakesh Maroko yang telah diratifikasi melalui Undang-Undang No. 7 Tahun 1994. Indonesia yang menyetujui agreement tersebut harus membuka diri dan tunduk terhadap berbagai ketentuan dan aturan main dalam organisasi tersebut baik yang tertuang dalam General Agreement on Tariff (GATT), maupun Trade General Ageement on Trade in Service (GATS). Sebagai negara yang memiliki potensi pasar yang besar. Langkah yang strategis untuk mengimbangi dan mengungguli pasar bebas tersebut satu-satunya jalan adalah meningkatkan daya saing produk barang dan jasa, melalui peningkatan kualitas SDM sebagai subjek dalam persaingan tersebut. IPS harus mampu berperan serta dalam menyampaikan informasi tantangan pasar bebas dengan baik agar peserta didik dapat menyiapkan diri lebih awal. 6. Masyarakat dunia yang pada tahun 2000 telah mencapai lebih dari 5 milyar tentu saja membutuhkan kehidupan yang layak, perlu bahan pangan, sandang, dan fasilitas kehidupan lainnya yang diambil dari sumberdaya alam yang jumlahnya semakin terbatas. Karena itu dibidang energi perlu ada upaya alternatif untuk menggantikannya atau melahirkan teknologi canggih yang hemat energi dan hemat bahan baku. Di bidang pertanian dibutuhkan teknologi alternatif seperti bioteknologi dalam meningkatkan produktivitas dan diversifikasi bahan pangan dan bahan konsumtif lainnya. Penduduk dunia yang padat akan menimbulkan guncangan kehidupan, karena itu IPS hendaknya dapat memberi rancangan agar peserta didik dapat berperan serta dalam menghadapi ledakan penduduk. 7. Dunia pasar bebas yang berkembang saat ini cenderung mengarah pada era kapitalisme. Setiap negara akan berusaha menjadi negara yang paling makmur yang terkadang tidak peduli terhadap nasib negara lain. Dalam era kapitalisme, negara maju mencoba menciptakan suatu kondisi agar negara lain (negara berkembang) tergantung kepada negaranya. Cara yang kasar dapat dengan cara menyerang negara lain dengan kekuatan militer sedangkan caracara yang halus dapat menciptakan ketergantungan ekonomi. Cara yang lebih halus lagi adalah menurunkan vitalitas kesehatan suatu bangsa dengan cara menjual produk dagangan yang haram, mengandung zat pengawet, zat kimia yang berbahaya, penggunaan obat-obatan kimia sintetik, dan lain-lain. Dengan cara itu, sedikit demi sedikit bangsa Indonesia akan semakin rapuh tingkat kesehatan tubuhnya dan dengan cara ini maka bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang lemah dan semakin tergantung kepada negara lain. PS

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

8

B. TUJUAN PEMBELAJARAN IPS Davies (dalam Hasan, 1995: 100) mengatakan bahwa tujuan dapat diartikan sebagai titik yang menandai hasil suatu usaha, ambisi atau penyelesaian tugas. Suatu tujuan tidak harus dilihat sebagai suatu tujuan akhir yang ditandai selesainya suatu kegiatan, tetapi tujuan dapat diartikan sebagai tanda-tanda yang ada di sepanjang perjalanan. Dari pengertian di atas dapat diilustrasikan, sekelompok regu pramuka sedang mengikuti kegiatan lintas alam atau latihan mencari jejak. Biasanya di setiap pos terdapat pesan yang disimpan di tempat yang tersembunyi. Isi pesan biasanya ada dua bentuk yaitu pertama menyatakan selamat atas tercapainya tujuan sementara hingga sampai di lokasi tersebut, dan memberi pesan lanjutan agar regu tersebut menuju ke tempat tujuan berikutnya. Tercapainya satu lokasi ke lokasi lainnya menunjukkan bahwa perjalanan mereka tidak tersesat. Dalam dunia pendidikan, setiap orang akan mengetahui perjalanannya tersesat, jika mereka mengetahui arah tujuannya. Sebaliknya jika seseorang tidak mengetahui arah tujuannya sejak awal maka di perjalanan tidak mungkin menyadari apakah perjalananya tersesat atau tidak. Selanjutnya, tujuan akhir dapat tercapai apabila tujuan antara juga berhasil dilalui. Dalam konteks pendidikan, tujuan akhir pendidikan adalah tujuan pendidikan nasional. Tujuan pendidikan nasional dapat tercapai jika setiap lembaga mencapai tujuan institusionalnya masing-masing yang dirumuskan dalam KTSP. Tujuan institusional (lembaga) akan tercapai jika setiap kegiatan di sekolah juga tercapai seperti tujuan dari masing-masing mata pelajaran, tujuan pengembangan diri tercapai, tujuan muatan lokal tercapai, tujuan pendidikan kecakapan hidup, dan tujuan-tujuan kegiatan lainnya tercapai. Tujuan antara biasanya bersifat lebih operasional, ruang lingkupnya lebih terbatas, dan lebih mudah diketahui tercapai-tidaknya dibandingkan dengan tujuan akhir. Oleh karena itu tujuan pembelajaran akan lebih mudah diketahui dari pada tujuan kurikulum. Tujuan kurikulum akan lebih mudah juga diketahui dibandingkan dengan tujuan nasional. Ketercapaian tujuan pembelajaran lebih sempit rumusan indikatornya dibandingkan dengan indikator keberhasilan dalam tujuan kurikulum. Indikator keberhasilan kurikulum juga lebih sederhana dibandingkan dengan indikator ketercapaian tujuan pendidikan secara nasional. Tujuan antara dapat bersifat tujuan tuntas (mastery objectives) dan bersifat berkembang dan berkelanjutan (development objectives). Keduanya menunjukkan indikator ketercapaian tujuan tetapi ada perbedaannya yaitu tujuan yang bersifat tuntas biasanya cukup dicapai dalam satu pertemuan dan indikatornya sangat sempit sedangkan tujuan antara yang berkembang dan berkelanjutan membutuhkan waktu yang lebih dari dua kali pertemuan dan indikatornya lebih rumit. Untuk memahami tentang konsep pasar, konsep uang, konsep cuaca, konsep prasasti dan sejenisnya dapat dikelompokkan sebagai mastery objectives sedangkan untuk menganalisis pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi, perjuangan meraih kemerdekaan RI, dan lain-lain adalah sebagai tujuan berkelanjutan atau development objectives. Tujuan pembelajaran untuk mengembangkan sikap dan kebiasaan tertentu juga dikelompokkan sebagai tujuan berkembang dan berkelanjutan. Pencapaian tujuan tersebut memerlukan waktu

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

9

lama dan proses pemantapan yang lama pula. Contoh tujuan mengembangkan sikap dan kebiasaan dalam Pembelajaran IPS misalnya memupuk rasa cinta tanah air, budi pekerti yang luhur, beriman dan bertakwa, dan lain-lain. Pencapaian tujuan sikap dan kebiasaan mungkin tidak cukup sampai anak lulus di bangku SD, tujuan sementara bagi anak itu akan dilanjutkan di jenjang yang lebih tinggi yaitu di SMP, SMA, dan seterusnya. Seperti halnya mata pelajaran yang lain, pembelajaran IPS memiliki tujuan yang bersifat tuntas dan yang berkembang. Menurut Hasan (1995: 98), tujuan pendidikan ilmu-ilmu sosial dikelompokkan dalam tiga kategori yaitu pengembangan kemampuan intelektual siswa, pengembangan kemampuan dan rasa tanggung jawab sebagai anggota masyarakat dan bangsa, serta pengembangan diri siswa sebagai pribadi. Tujuan pertama berorientasi pada pengembangan kemampuan kemampuan intelektual yang berhubungan dengan diri siswa dan kepentingan ilmu; tujuan kedua berorientasi pada pengembangan diri siswa dan kepentingan masyarakat; sedangkan tujuan ketiga lebih berorientasi pada pengembangan pribadi siswa baik untuk kepentingan dirinya, masyarakat maupun ilmu. Untuk mencapai tiga tujuan di atas, seorang guru harus mampu menguraikan indikator-indikator ketercapaiannya dari indikator yang sederhana sampai indikator lebih kompleks. Caranya dapat mengamati dua indikator ketercapaian yaitu penguasaan siswa terhadap materi kajian dan melihat dampak dari hasil pembelajarannya. Ketercapaian tujuan berdasarkan materi kajian dapat dilihat dari ruang lingkup yang berkembang dari lingkungan terdekat dengan kehidupan siswa sampai dengan kehidupan yang sangat jauh berada di luar lingkungan fisik kebereradaan siswa. Tujuan yang bersifatnya global dan menyangkut kehidupan manusia di luar batasbatas negara Indonesia. Pendidikan ilmu-ilmu sosial akan melakukan kajian materi yang berhubungan dengan kehidupan manusia di luar negara Indonesia. Kajian sosial, budaya, ekonomi, politik, militer, lingkungan dan sebagainya di negara luar baik yang berpengaruh langsung maupun yang tidak langsung. Peristiwa yang terjadi di belahan benua lain membentuk suatu kenyataan yang dipelajari siswa dalam mata pelajaran IPS. Cara kedua dalam melihat ketercapaian tujuan IPS adalah berdasarkan dampak pembelajarannya. Menurut Joyce dan Weil (1980) ada dua dampak pembelajaran yaitu dampak pengajaran (instructional effect) dan dampak pengayaan (nurturant effect). Dengan mengadopsi istilah tersebut, dampak pengajaran merupakan pencapaian tujuan pengajaran yang dicapai dengan melakukan kegiatan dan pembahasan materi tertentu. Tujuan pengajaran merupakan tujuan utama yang berkaitan dengan tujuan yang secara khusus akan tercapai melalui kegiatan yang dirancang oleh guru bagi siswa. Selain tujuan utama, dalam proses pembelajaran terkadang siswa memperoleh pengetahuan tambahan yang tidak dirancang sebelumnya oleh guru. Pengetahuan tambahan tersebut disebut tujuan pengayaan (nurturant objectives). Tujuan pengayaan adalah tujuan ikutan dan positif sebagai akibat yang dilakukan siswa belajar. Contohnya, pada saat siswa berdiskusi. Tujuan utamanya adalah membahas tentang sesuatu yang menjadi tujuan pokok. Di dalam proses diskusi, siswa akan memperoleh pengalaman baru atau pengalaman tambahan yaitu pengalaman menghargai pendapat orang lain, pengalaman cara

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

10

mengungkapkan pendapat, pengalaman mengajukan argumentasi, dan mempertahankan pendapatnya. Berdasarkan hirarki tujuan pendidikan, tujuan pembelajaran IPS (instruksional) tidak terlepas dari tujuan kurikuler (tujuan mata pelajaran IPS), di atasnya terdapat tujuan institusional, dan di atasnya ada tujuan pendidikan nasional. Tujuan pendidikan nasional tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II Pasal 3 yang menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan pendidikan nasional tersebut diterjemahkan ke dalam tujuan sekolah yang dituangkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Semua KTSP di semua jenjang pendidikan menurunkan tujuan pendidikan nasional menjadi tujuan institusional. Dari setiap tujuan institusional diselaraskan dengan tujuan kurikuler setiap mata pelajaran. Seperti mata pelajaran IPS, untuk tingkat SD memiliki tujuan yaitu agar peserta didik memiliki kemampuan: 1. mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya; 2. memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial; 3. memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan; 4. memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global. Untuk meraih tujuan pendidikan tingkat lembaga yang tertuang dalam KTSP, pencapaiannya tidak bisa oleh satu cara di dalam ruang kelas. Pencapaian tujuan pembelajaran IPS sebagaimana yang tertera dalam dokumen Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar perlu diciptakan suatu kondisi atau lingkungan SD yang kondusif. Komponen yang ada dalam KTSP perlu diimplementasikan secara simultan, seperti komponen pengembangan diri, komponen kecakapan hidup, dan lain-lain. Dalam komponen pengembangan diri, pihak sekolah harus secara disengaja menciptakan kegiatan pembimbingan dan konseling bagi siswa secara rutin. Jika perlu, disediakan waktu untuk membina siswa agar tumbuh potensi dirinya. Kegiatan bimbingan dan konseling di SD diharapkan dapat mendukung mata pelajaran IPS yaitu untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan bekerjasama. Selain itu, dalam pengembangan diri perlu juga diciptakan suatu kegiatan pembiasaan berakhlak mulia seperti dalam pergaulan antar sesama siswa maupun antara siswa dengan para guru di SD. Dalam komponen kecakapan hidup, sekolah sebaiknya merancang suatu kondisi agar program kecakapan hidup yang berlaku di sekolah mendukung terhadap peningkatan kecakapan hidup baik yang bersifat kecakapan umum (general life skill) maupun kecakapan khusus (spesific life skill). Kecakapan

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

11

umum misalnya kecakapan pribadi, kecakapan berpikir, dan kecakapan sosial, sedangkan kecakapan khusus yang dekat dengan mata pelajaran IPS adalah kecakapan akademik yaitu kecakapan belajar mandiri. Pembelajaran IPS jika hanya mengandalkan pertemuan di ruang kelas, tidak akan mencapai tujuan yang optimal. Berdasarkan ranah tujuan pembelajaran, mata pelajaran IPS sama halnya dengan mata pelajaran lainnya, memiliki tiga kelompok ranah tujuan pembelajaran yaitu ranah kognitif, afektif, dan konatif. Ranah kognitif yang paling esensial adalah pengetahuan dan pemahaman. Ranah afektif yang paling esensial adalah pengembangan nilai, sikap, dan moral. Ranah konatif adalah keinginan untuk melaksanakan dan membuktikannya dalam kehidupan sehari-hari. C. PENGEMBANGAN PENGETAHUAN DAN PEMAHAMAN Pengetahuan dan pemahaman adalah tujuan pendidikan yang paling dasar. Pengetahuan berhubungan dengan daya ingat seseorang. Apa yang didengar, dlihat, atau dibaca seseorang disimpan dalam ingatannya kemudian dipanggil kembali dalam keadaan yang belum terolah, maka itulah pengetahuan. Pengetahuan atau ingatan menjadi penting sebagai dasar untuk meningkat pada tahapan pemahaman. Seseorang yang tidak ingat terhadap sesuatu, tidak akan memiliki pemahaman apapun. Namun demikian, untuk mencapai pemahaman terhadap sesuatu tidak cukup hanya dengan ingatan. Ada satu lagi yang dbutuhkan yaitu seseorang harus mampu mengaitkan apa yang dihafalnya dengan pengetahuan yang sudah ada dalam dirinya. Pemahaman dapat pula dikatakan sebagai sesuatu yang diingatnya dan bermakna. Pengetahuan tanpa pemahaman akan menjadikan seseorang hafal, tetapi tidak mengerti apa yang dikatakannya. Dalam pembelajaran dikatakan sebagai verbalistis, tahu banyak istilah, konsep, atau teori tapi tidak memahami maknanya. Untuk mencapai suatu pemahaman, sesorang dituntut untuk melakukan proses pengolahan informasi. Suatu istilah, peristiwa, konsep, generalisasi, teori, atau prosedur yang diketahuinya dapat dimaknai oleh dirinya baik mengaitkan antar konsep dan peristiwa maupun mengaitkan antara teori dengan prosedur tertentu. Dalam tingkatan yang tertinggi, seseorang dapat dikatakan paham terhadap suatu informasi apabila ia mampu menggunakan informasi yang telah dimilikinya tersebut untuk menghasilkan informasi baru. Pendidikan IPS penuh dengan tujuan yang termasuk pengetahuan dan pemahaman. Dalam belajar ilmuilmu sosial seorang siswa diharapkan memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang berbagai konsep pokok dalam suatu disiplin ilmu. Dalam proses memahami IPS terdapat proses berpikir, sebagaimana Beyer (dalam Hasan, 1995: 110) mengatakan bahwa berpikir adalah suatu proses penemuan makna dari apa yang didengar, dilihat, dibaca atau dari apa yang sudah menjadi ingatan dan pemahaman seseorang. Proses berpikir juga dikatakan sebagai suatu keterampilan kognitif yang di dalamnya terdapat proses menggunakan/menerapkan, menganalisis, mensintesa dan menilai berdasarkan kriteria tertentu. Dari itu semua kita mengenal keterampilan dasar berpikir yaitu berpikir deduktif (dari sesuatu yang bersifat umum ke sesuatu yang sifatnya khusus), induktif (dari sesuatu yang

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

12

sifatnya khusus menjadi sesuatu yang sifatnya umum), mengembangkan alternatif model atau pola, dan lain-lain. Keterampilan berpikir sangat penting bagi pendidikan ilmu-ilmu sosial. Dengan menguasai keterampilan berpikir, siswa akan mampu mengolah apa yang dibaca, dilihat, dan didengarnya sehingga ia menemukan sesuatu yang memiliki makna bagi dirinya. Siswa yang memiliki keterampilan berpikir dalam pembelajaran IPS akan mampu: 1. Menyelesaikan pendidikan formalnya dan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Keterampilan berpikirnya menjadi modal dalam proses belajarnya dan setiap tahapan ujian yang diikutinya; 2. Siswa dapat menyederhakan informasi-informasi yang diperolehnya setiap hari. Penyederhanaan itu dilakukan untuk menemukan pikiran pokok atau hal-hal yang mendasar dari informasi yang diperolehnya. Proses yang terjadi di dalam pikirannya akan mampu mengenali persamaan, perbedaan, pengelompokkan, dan pengambilan kesimpulan. Dengan penyederhanaan, informasi baru dapat disimpan lebih bermakna dan akan tersimpan lama sebagai pengetahuannya. D. PENGEMBANGAN ASPEK SIKAP, NILAI, DAN MORAL Sikap, nilai, dan moral merupakan aspek afektif dalam ranah tujuan pendidikan. Sikap adalah kecenderungan psikologis seseorang terhadap benda, sifat, keadaan, pekerjaan, pendapat, dan lain-lain. Kecenderungan tersebut baru berkembang setelah yang bersangkutan mengetahui benda, sifat, keadaan, pekerjaan, atau pendapat tersebut. Artinya, sikap hanya berlaku untuk sesuatu yang sudah dikenal dan bukan sesuatu yang belum pernah diketahui sama sekali. (Hasan, 1995; 114). Nilai adalah sesuatu yang menjadi kriteria apakah tindakan, pendapat, atau hasil kerja itu bagus dan positif atau sebaliknya, sedangkan moral adalah kriteria yang menjadi dasar untuk menentukan apakah tindakan, pendapat, atau suatu hasil kerja itu baik atau tidak baik, boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan, dianggap membangun atau merusak masyarakat, dan seterusnya. Nilai dapat dikembangkan menjadi moral. Nilai tidak menuntut adanya sanksi sedangkan moral selalu diikuti oleh sanksi jika ada yang melanggaranya. Setiap ilmu yang dikembangkan atau diajarkan di sekolah memiliki tujuan untuk mengembangkan aspek sikap, nilai, dan moral. Dengan demikian, ilmu tidak pernah bebas dari nilai. Setiap ilmu yang dikembangkan oleh suatu masyarakat akan terkait dengan nilai dan moral yang berlaku pada masyarakat yang bersangkutan. Ilmu-ilmu sosial memiliki kepedulian terhadap pengembangan sikap, nilai, dan moral. Sekurang-kurangnya ada dua alasan yaitu bahwa IPS merupakan wahana untuk menarik perhatian generasi muda sehingga mereka mau belajar tentang kehidupan sosial masyarakatnya. Dengan mempelajari ilmu-ilmu sosial, nilai-nilai dan moral suatu masyarakat dapat diwariskan kepada generasi penerusnya. Selain mewariskan nilai-nilai dan moral positif, ilmu-ilmu sosial memiliki kewajiban untuk mengembangkan nilai-dan moral yang berlaku dalam masyarakat agar menjadi bagian dari kepribadian individu siswa. Nilai dan moral masyarakat yang dapat

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

13

diajarkan oleh ilmu-ilmu sosial misalnya nilai kebenaran, sikap kritis, penghargaan kepada pendapat orang lain, menghargai fakta dan bersikap jujur, kepatuhan terhadap aturan, penghargan terhadap prestasi, rasa kebangsaan, cinta tanah air, dan lain-lain. E. PENGEMBANGAN ASPEK KONATIFmbelajaran IPS Tujuan pembelajaran yang ketiga adalah ranah konatif. Konatif adalah kualitas yang menunjukkan bahwa seseorang tidak hanya memiliki pengetahuan dan pemahaman, memiliki sikap, nilai, dan moral tetapi juga ia memiliki keinginan untuk melaksanakan dan membuktikannya dalam kehidupan seharihari. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa konatif adalah pelaksanaan dari apa yang diketahui dan diyakininya. Pengetahuan, pemahaman, sikap, nilai dan moral telah menjadi kebiasaan dan menjadi jati dirinya. Dalam pembelajaran IPS, ranah konatif dapat dinilai dari perilaku siswa keseharian. Siswa berbuat jujur dan menghargai sesama temannya bukan hanya karena ia ingin berlaku jujur dan menghargai temannya tetapi memang ia mengetahui, memahami, menyadari, dan menjadi nilai serta moral bagi dirinya. Dimensi konatif dapat dikatakan mudah dinilai tetapi juga sulit. Mudah dinilai jika sikap dan perilaku siswa menunjukkan perilaku yang wajar dan tidak dibuatbuat, karena ingin dipuji. Sebaliknya akan terasa sulit jika siswa berpura-pura pada saat dilakukan penilaian. Tujuan konatif untuk pendidikan ilmu-ilmu sosial, menurut Hasan (1995: 117) antara lain: 1. sikap dan kehidupan yang religius 2. melaksanakan tugas-tugas sosial 3. melaksanakan tanggung jawab pribadi 4. bekerja keras 5. bekerja dengan jujur 6. kemampuan dan kemauan beradaptasi Konatif tidak terbatas pada keinginan dan melaksanakan apa yang diyakinnya saja. Selain itu, terdapat aspek kesiapan bertindak, responsif, kehatihatian, dan keaslian tindakan menjadi bagian dari ranah konatif. Kesiapan bertindak yaitu kesiapan mental untuk melakukan suatu tindakan jika bertemu atau menghadapi suatu hal atau persoalan yang harus diselesaikan. Kesiapan tindakan dapat dilihat dari cepat bereaksi untuk bertindak jika ada rangsangan yang harus diselesaikan. Responsif artinya menanggapi dengan cepat terhadap sesuatu yang dihadapinya. Dalam tulisan ini, responsif dimaknai sebagai kata yang berlawanan dengan kekurangpedulian terhadap sesuatu yang menjadi tugasnya. Jika suatu saat, ke sekolah ada tamu yang ingin berjumpa dengan salah seorang guru. Siswa yang responsif akan cepat menyambut tamu dan mempersilakannya menunggu di ruang tamu. Setelah itu, ia segera memberi tahu guru yang akan ditemui oleh tamu tersebut. Berbeda jika siswa tersebut membiarkan tamu di luar ruangan dan ia sendiri tidak berusaha mencari guru yang dimaksud. Kehati-hatian juga merupakan aspek konatif, yaitu tindakan yang cepat dilaksanakan tetapi tidak terlepas dari perhitungan, ketertiban, dan cermat. Tindakannya tidak hanya

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

14

mengandalkan kekuatan fisik tetapi juga dibarengi dengan hasil pemikirannya sehingga tujuannya tercapai. Keaslian tindakan dapat dimaknai dua jenis yaitu merupakan penciptaan pola-pola tindakan baru yang sesuai dengan situasi dan masalah khusus. Artinya tidak ada penjiplakan (imitasi) dari perilaku orang lain. Walupun tidak dapat dikatakan sebagai perilaku buruk (bahkan mungkin perlu), keaslian tindakan adalah wujud apresiasi individu yang khas dan dapat dikatakan sebagai karakter kepribadiannya. an IPS F. PENGEMBANGAN MATERI PEMBELAJARAN IPS SD Materi pembelajaran IPS di sekolah bersumber dari ilmu-ilmu sosial, dikembangkan dalam desain kurikulum tertentu yang akan dipelajari oleh siswa. Materi kurikulum yang dikembangkan dari disiplin ilmu-ilmu sosial dipilih berdasarkan keterkaitannya dengan tujuan yang akan dicapai. Semakin kuat keterkaitannya semakin besar kemungkinan materi tersebut akan dipilih sebagai materi kurikulum. Pada saat memilih materi kurikulum perlu dibekali suatu kerangka pikir dalam subtansinya masing-masing yaitu substansi dari pandangan, tema, fenomena, fakta, peristiwa, prosedur, konsep, generalisasi, dan teori. Menurut Hasan (1995: 124), setiap kali orang berbicara mengenai kurikulum maka yang dimaksud adalah hal yang berhubungan dengan pokok-pokok bahasan yang berisikan pandangan, tema, fenomena, fakta, konsep, generalisasi, dan teori. Berikut akan dibahas beberapa materi substansi materi kurikulum yang terkait dengan fakta, konsep, generalisasi, teori, dan proses: 1. Fakta Fakta merupakan dasar bagi berkembangnya suatu ilmu. Fakta menjadi bahan untuk menguji hipotesis, mengembangkan konsep, generalisasi, dan teori. Tanpa fakta suatu disiplin ilmu tidak akan berkembang. Fakta bukan sesuatu yang kasat mata. Lahirnya suatu fakta diperoleh dari hasil mengumpulkan data dan informasi, selanjutnya diolah melalui prosedur tertentu hingga melahirkan fakta. Dengan demikian, fakta tidak pernah tersedia begitu saja di lapangan bahkan tidak juga dapat dikumpulkan langsung dari lapangan. Data atau informasi yang diperoleh oleh sejumlah peneliti dengan latar belakang keilmuannya akan berbeda fakta yang akan didapatkannya. Dari suatu bencana semburan Lumpur Lapindo di Jawa Timur, bagi seorang geograf (ahli geografi) akan memperoleh fakta bahwa material lumpur yang disemburkan mengandung unsur gas metana, debit aliran sekian meterkubik per detik, dan lain-lain. Bagi seorang sejarah akan mencatat bahwa akan banyak tersimpan fosil yang tertimbun dan akan ditemukan di masa yang akan datang. Bagi seorang ahli ekonomi akan berpikir, berapa kerugian yang diderita oleh masyarakat, dan seterusnya. 2. Konsep Konsep adalah abstraksi kesamaan atau keterhubungan dari sekelompok benda atau sifat (Hasan, 1995; 129). Kesamaan adalah adanya unsur-unsur yang sama, baik dalam bentuk konkrit maupu dalam bentuk abstrak. Sedangkan keterhubungan diartikan sebagai adanya hubungan antara berbagai benda atau sifat, baik yang sifatnya konkret maupun yang sifatnya abstrak dan terjadi

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

15

hanya atas dasar pemikiran abstrak tertentu pula. Selanjutnya Hasan menyebutkan bahwa suatu konsep memiliki bagian yang dinamakan atribut. Atribut adalah karakterustik yang dimiliki suatu konsep. Atribut atau gabungan dari beberapa atribut menjadi suatu pembeda antara satu konsep dengan konsep lainnya. Misalnya konsep sungai, di dalamnya terdapat atribut panjang, lebar, kedalaman, arah aliran, dan isi sungai. Dengan adanya atribut, konsep sungai berbeda dengan konsep parit atau selokan. Jumlah atribut dalam setiap konsep berbeda-beda. Semakin banyak atribut yang dimiliki suatu konsep, semakin sedikit benda atau sifat yang dapat menjadi anggotanya. Sebaliknya, semakin sedikit atribut yang melekat pada suatu konsep semakin banyak anggotanya. Misalnya, Konsep “hewan”, maka semua makhluk hidup selain manusia dan tumbuhan dinamakan hewan seperti gajah, ular, belalang, kambing, dan lainlain. Tetapi jika dimunculkan konsep “kambing” maka akan muncul atribut yang lebih banyak seperti bentuk, makanan, bau, cara hidup, ekor, kaki, janggut, dan lain-lain. Antar atribut dalam suatu konsep memiliki pola keterhubungan tertentu. Pola keterhubungannya akan menentukan jenis konsep. Dalam disiplin ilmu-ilmu sosial dikenal adanya tiga jenis konsep sebagai akibat dari pola keterhubungan atribut-atributnya, yaitu konsep konjungtif, konsep disjungtif, dan konsep relasional. Konsep konjungtif merupakan konsep paling rendah yaitu dengan jumlah atribut yang banyak. Konsep ini mengarah pada benda atau sesuatu yang spesifik dan mudah difahami. Contohnya konsep matahari, bulan, mesjid, romadhon, idul fitri, dan lain-lain. Konsep disjungtif adalah konsep dengan atribut yang terbatas sehingga banyak sekali anggotanya, seperti konsep hewan, alat kantor, harta warisan, pasar, gunung, dan lain-lain, sedangkan konsep relasional adalah konsep yang atributnya berdasarkan kriteria abtrak dan selalu dalam hubungan dengan kriteria tertentu (relasional) di luar konseplain , seperti konsep interaksi, akulturasi, perubahan, dan lainlain. 3. Generalisasi Generalisasi menggambarkan keterhubungan antara dua atau lebih konsep dan merupakan hasil yang sudah teruji secara empirik. Generalisasi diperoleh sebagai suatu kesimpulan yang bersifat umum dari suatu penelitian yang menggunakan sampel. Atas dasar kebenaran yang ditemukan dari sampel itu maka ditariklah kesimpulan mengenai kebenaran yang sama terhadap polulasi. 4. Teori Teori adalah komposisi yang dihasilkan dari pengembangan sejumlah proposisi atau generalisasi yang dianggap memiliki keterhubungan secara sistematis. Selain sistematis, keterhubungan antara proposisi atau pun generalisasi tersebut sudah harus teruji kebenarannya secara empirik dan dianggap berlaku universal. Kebenaran yang menjadi idaman disiplin ilmu tercermin dalam kebenaran dan kekuatan teori yang dianutnya. Goetz dan LeCompte (dalam Hasan, 1995; 126) membagi teori atas empat jenis yaitu: grand theory (teori besar), theoriticalmodels (model teoritis), formal and middle-range theory (teori formal dan tingkat menengah), substantive theory (teori substantif).

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

16

a. Teori besar adalah sistem yang secara ketat mengkaitkan preposisipreposisi dan konsep-konsep yang abstrak sehingga dapat digunakan menguraikan, menjelaskan, dan memprediksi secara komprehensif sejumlah fenomena besar secara non-probabilitas. Contoh teori besar adalah teori challenge dan response yang dikembangkan oleh Toynbee. b. Model teori adalah teori yang didefinisikan sebagai keterhubungan yang longgar antara sejumlah asumsi, konsep, dan preposisi yang membentuk pandangan ilmuan tentang dunia. Model teori banyak digunakan sebagai pendekatan dalam melihat, mengembangkan dan memecahkan berbagai persoalan. Contohnya teori fungsional, teori konflik, teori evolusi, dan lain-lainnya. c. Teori formal dan menengah didefinisikan sebagai preposisi yang berhubungan yang dikembangkan untuk menjelaskan beberapa kelompok tingkah laku manusia yang abstrak. Teori formal masih dekat dengan generalisasi yang masih teterkaitan dengan data empirik masih kuat. d. Teori substantif yaitu teori yang paling rendah tingkatan abtraksi dan dan sangat terbatas dalam keumuman generalisasinya. Teori yang dikembangkan berisi preposisi atau konsep yang hanya berlaku untuk kelompok populasi, lingkungan, atau waktu tertentu. Contohnya teori hubungan ras di suatu tempat, kejahatan remaja, dan lain-lain. Materi proses adalah materi kurikulum ilmu-ilmu sosial yang berkenaan dengan berbagai prosedur, cara kerja, metode kerja tertentu yang harus dilakukan siswa di dalam proses pembelajaran. Proses dapat digunakan untuk mengembangkan wawasan, keterampilan, dan berbagai kemampuan berpikir. Materi proses misalnya cara melihat permasalahan, pemilihan masalah, operasionalisasi masalah dari yang abstrak menjadi sesuatu yang konkret, pendekatan yang digunakan untuk memecahkan masalah, teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data, cara pengolahan informasi. Materi proses yang bukan dari ilmu-ilmu sosial tetapi mendukung materi IPS antara lain keterampilan berkomunikasi baik melalui tulisan maupun melalui alat komunikasi lainnya. Setelah materi pokok diidentifikasi berdasarkan fakta, konsep, generalisasi, teori, dan materi dalam kajian proses selanjutnya materi tersebut diurutkan (sekuensi) dan ditentukan ruang lingkupnya (scope) berdasarkan tingkat perkembangan siswa. Sekuensi materi adalah tata urutan antara pokok bahasan dengan pokok bahasan lain atau dalam konteks kurikulum, sekuensi dapat berkenaan dengan tata urutan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya. Penentuan urutan mata pelajaran dapat dibicarakan oleh para guru melalui tim pengembang KTSP, sedangkan penentuan urutan pokok bahasan pada satu mata pelajaran dapat ditentukan oleh guru. Tata urutan materi atau sekuensi dapat dikelompokkan atas dua pendekatan yaitu pendekatan logis dan pendekatan pedagogis. Kedua pendekatan itu tidak harus saling bertentangan satu dengan lainnya. Pendekatan logis adalah pendekatan berdasarkan pemikiran logis suatu disiplin ilmu, seperti menjelaskan tentang sejarah perjuangan kemerdekaan RI, maka urutan yang terbaik diurut secara kronologis, misalnya dimulai dari pendirian organisasi Boedi Utomo, perang kemerdekaan, proklamasi, dan terakhir menjelaskan perjuangan

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

17

mempertahankan kemerdekaan. Sekuensi logis dikembangkan berdasarkan keterhubungan logis antara satu pokok bahasan dengan pokok bahasan lainnya. Hubungan logis yang dimaksud adalah hubungan mana yang dianggap harus dikuasai lebih dahulu untuk dapat menguasai materi berikutnya secara lebih baik. Sekuensi pedagogis adalah urutan yang memperhatikan kondisi siswa dan bukan berdasarkan urutan yang ada dari disiplin ilmu. Kriteria pertimbangannya adalah kemudahan, familiarisasi dengan pokok bahasan, serta tingkat abstrak suatu materi. Berdasarkan kriteria tersebut, sekuensi pedagogik sering dimulai dari lingkungan terdekat siswa dan berkembang ke lingkungan terjauh. Dalam ilmuilmu sosial, model ini dinamakan expanding community approach (pendekatan komunitas yang meluas) yang dikemukakan oleh Paul Hanna (Hasan, 1995; 145). Hanna membuat lingkaran dan menempatkan siswa sebagai pusat lingkaran. Secara bertahap, siswa diperkenalkan mulai dari komunitas keluarganya, komunitas sekolah, terangga, kota tempat tinggalnya, negara bagian (provinsi), region, negara, dan terakhir dunia. Pada lingkaran tersebut dibagi-bagi lagi berdasarkan segemen-segmen pendidikan, transportasi, komunikasi, parwisata, dan lain-lain. Dengan model expanding community approach, ruang lingkup atau scope materi dapat pula ditentukan kedalaman kajiannya. Untuk mengkaji tentang alat transportasi, misalnya, anak usia dini cukup mengenal alat transportasi yang dimiliki keluarganya yaitu sepeda miliknya, sepeda motor, dan mobil. Scara bertahap, pada saat usianya sudah cukup ia dapat memperhatikan jenis kendaraan milik tetangganya dan yang berada di kota kecamatan, hingga kendaraan yang menghubungkan antara provinsi (pesawat, kereta api, atau kapal laut). Arthur K. Ellis (1997), dalam bukunya yang berjudul: Teaching and Learning Elementary Social Studies mengajukan model spiral yaitu berputar keatas sambil terus melebar atau meluas, hal yang akan berkembang dari siswa adalah isi, sikap, keterampilan, dan konsep seiring dengan masalah atau topik bahasan IPS yang semakin kompleks. Pengembangan materi pembelajaran IPS adalah pengorganisasian materi. Sebagaimana diketahui bahwa sumber pembelajaran IPS berasal dari ilmu-ilmu sosial, karena itu perlu organisir. Apakah pokok bahasan disusun berdasarkan materi pokok dari masing-masing ilmu-ilmu sosial, artinya pokok bahasannya masih menampakkan karakteristik disipilin ilmu masing-masing atau melebur dan memunculkan tema pembelajaran tertentu. Dalam rangka mengorganisasi materi pembelajaran IPS ada empat strategi yaitu terpisah (separated), korelatif (correlated), antardisiplin (interdiciplinary), dan fusi (integrated). 1. Pengorganisasian terpisah Cara ini merupakan cara yang paling tua, yaitu ilmu-ilmu sosial diajarkan secara terpisah berdasarkan ciri dan karakteristiknya masing-masing. Dalam organisasi itu, geografi diajarkan terpisah dari sejarah, ekonomi, antropologi, sosiologi, dan seterusnya. Keuntungannya, siswa dapat terpusat pada satu disiplin ilmu dan memudahkan dalam pengembangan tujuan pembelajaran. Kelemahannya, guru akan terfokus pada materi ajar dan kurang memperhatikan tingkat perkembangan siswa.

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

18

2. Pengorganisasian korelatif Pengorganisasian ini masih menonjolkan ciri dari masing-masing disiplin ilmu, tetapi mencoba mencari keterkaitan pembahasan antara satu pokok bahasan dengan pokok bahasan lain. Pengembangan materi dengan cara ini menuntut guru yang mengampu mata pelajaran ilmu-ilmu sosial (geografi, sejarah, ekonomi, sosiologi, dan seterusnya) harus kompak. Mereka harus bertemu dan menyepakati materi yang akan diajarkan di satu minggu pertama, minggu kedua, dan seterusnya. 3. Antar disiplin (interdisciplinary) dan berbagai disiplin (multidisiplinary). Pendekatan antar disiplin dan atau multidisiplin, keduanya menggunakan lebih dari satu disiplin ilmu. Perbedaannya, pada pendekatan antar disiplin ada satu disiplin ilmu yang dijadikan sumber materi utama sedangkan disilin ilmu lainnya dijadikan sebagai sumber yang menambah kedalaman atau keluasan materi. Sedangkan pendekatan multidisipilin, kedudukan setiap disiplin ilmu itu sejajar (juxtaposition). Pada pengorganisasian antar disiplin, para guru menetapkan satu mata pelajaran yang akan dijadikan disiplin utama sedangkan mata pelajaran lainnya mengikuti, memperluas, dan memperdalam. Misalnya akan membahas tentang status sosial (disiplin utamanya adalah sosiologi), geografi dapat menjelaskan tentang ciri masyarakat perkotaan dan masyarakat perdesaan. Ekonomi membahas tentang berbagai jenis kebutuhan manusia seperti kebutuhan primer, sekunder, dan tertier. Pada saat membahas dapat disinggung tentang status orang kaya telah mampu membeli barang-barang dari kelompok sekunder dan tertier. Sejarah, mungkin dapat menjelaskan tentang masa feodalisme yaitu adanya golongan ningrat dan rakyat biasa. 4. Pengorganisasian fusi Dalam pengorganisasian fusi, ciri dan warna disiplin ilmu sudah tidak tampak. Dalam organisasi semacam ini, orang tidak dapat mengatakan bahwa ini adalah bahasan geografi, sosiologi, ekonomi, sejarah, antropologi atau ilmu politik. Walaupun fusi, tetapi tidak melahirkan ilmu baru. Organisasi fusi hanya didasarkan pada kepentingan anak didik bukan didasarkan kepentingan keilmuan. Materi yang dijadikan pokok bahasan dikembangkan dari fenomena sosial yang ada atau memilih salah satu konsep, prosedur atau generalisasi tertentu. Guru yang mengembangkan materi IPS harus bersedia untuk tidak menonjolkan dirinya dalam topik pembahasan itu. Misalnya dalam membahas status sosial, tidak lagi nampak sosiologi, sejarah, geografi, atau ekonomi. Status Sosial dibahas dapat dibahas tentang pengertian, status sosial di masyarakat, simbol-simbol dalam mempertahankan status sosial, perjuangan orang dalam meraih status di masa penjajahan, di era kemerdekaan, dan di era global saat ini.***

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

19

Bagian 3

Inovasi Pembelajaran IPS di SD

A. PEMBELAJARAN TEMATIK Fokus utama sejak memasuki reformasi pendidikan adalah bagaimana guru mampu peningkatan kualitas pembelajarannya di kelas sehingga siswa dapat melakukan lompatan dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Zamroni, 2007). Pada sisi lain, para ahli pendidikan dan para guru bekerja keras belajar melakukan berbagai inovasi dalam pembelajaran. Salah satu buktinya muncul berbagai model yang diperkenalkan kepada masyaraat seperti Contextual Teaching dan Learning (CTL), Cooperative Learning, Pendekatan Tematik, model-model pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM) dan lain-lain. Dalam melakukan reformasi pembelajaran. Pembahasannya akan difokuskan pada pembelajaran yang dibutuhkan di SD yaitu tematik dan pendekatan CTL. Untuk memperluas wawasan akan diulas tentang sumber dan media pembelajaran IPS di SD (Solihatin dan Rahardjo, 2007). Pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang tidak memunculkan nama mata pelajaran berdasarkan disiplin ilmu tertentu. Orientasi pembelajarnnya pada kebutuhan siswa dan tidak semata-mata pada kepentingan keilmuan. Pembelajaran tematik selalu berusaha agar materi yang disampaikan bermakna bagi siswa, oleh karena itu landasan filosofisnya adalah pembelajaran bermakna. Pembelajaan tematik dapat pula diartikan sebagai pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Pengorganisasian materi pada pembelajaran tematik adalah fusi. Materi yang dijadikan pokok bahasan dikembangkan dari fenomena sosial yang ada atau memilih salah satu konsep, prosedur atau generalisasi tertentu. Guru yang mengembangkan materi tematik tidak akan menonjolkan disiplin ilmu tertentu. Pembelajaran tematik sebenarnya diperuntukkan bagi siswa di kelas I, II, dan III, oleh karena itu materi IPS tidak akan nampak dengan jelas karena telah fusi pada suatu tema tertentu. Materi modul ini dimaksudkan untuk mengakomodasi adanya kemungkinan menggunakan pendekatan antar disiplin. Jika menggunakan pendekatan antar disiplin, para guru menetapkan IPS sebagai mata pelajaran yang utama. Konsep atau tema pokok yang dipilih sesederhana mungkin dan mencari konsep yang berada di lingkungan terdekat siswa.

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

20

IPS SD Kelas I dinyatakan bahwa anak diharapkan dapat mengidentifikasi diri, keluarga, dan kerabat; menceriterakan pengalaman diri, menceriterakan kasih sayang antar anggota keluarga, dan menunjukkan sikap hidup rukun dalam kemajemukan keluarga. Tema yang dapat dipilih antara lain keluarga, kasih sayang, pengalaman diri, dan hidup rukun. Penetapan tema tersebut sebenarnya dapat dianalisis pada konteks sosial yang berlaku pada suatu tempat dan waktu tertentu. Jika kondisi masyarakat dalam kondisi yang aman dan damai, kita bisa memilih tema keluarga atau kasih sayang. Pemilihan pendekatan tematik sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia dini. Masa usia dini ini merupakan masa yang pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupan seseorang. Oleh karena itu, pada masa ini seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga akan berkembang secara optimal. Karakteristik perkembangan anak pada kelas satu, dua dan tiga SD biasanya pertumbuhan fisiknya telah mencapai kematangan, mereka telah mampu mengontrol tubuh dan keseimbangannya. Mereka telah dapat melompat dengan kaki secara bergantian, dapat mengendarai sepeda roda dua, dapat menangkap bola dan telah berkembang koordinasi tangan dan mata untuk dapat memegang pensil maupun memegang gunting. Selain itu, perkembangan sosial anak yang berada pada usia kelas awal SD antara lain mereka telah dapat menunjukkan keakuannya tentang jenis kelaminnya, telah mulai berkompetisi dengan teman sebaya, mempunyai sahabat, telah mampu berbagi, dan mandiri. Menurut Piaget (1950), setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya (teori perkembangan kognitif). Dalam diri setiap anak terdapat struktur kognitif (yang disebut schemata) yaitu sistem konsep yang ada dalam pikirannya sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya. Anak memperoleh pemahaman tentang objek yang ada di lingkungannya melalui proses asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah proses menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran sedangkan akomodasi adalah proses memanfaatkan konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek. Kedua proses tersebut berangsung secara terus menerus sehingga membuat pengetahuan lama dan pengetahuan baru menjadi seimbang. Tidak hanya itu, secara bertahap anak dapat membangun pengetahuan dan pemahaman terhadap lingkungannya. Jika terjadi perbedaan antara apa yang ia ketahui dengan keadaan lingkungannya, anak akan mengalami split-personality. Proses belajar anak usia sekolah dasar, menurut Piaget berada pada tahapan operasi konkret. Pada rentang usia tersebut anak mulai menunjukkan perilaku belajar sebagai berikut: 1. Mulai memandang dunia secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak; 2. Mulai berpikir secara operasional; 3. Mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan bendabenda; 4. Membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab akibat, dan 5. Memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas, dan berat.

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

21

Memperhatikan tahapan perkembangan berpikir tersebut, belajar anak usia sekolah dasar memiliki 3 (tiga) ciri, yaitu: 1. Konkrit. Konkrit mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal yang konkrit yakni yang dapat dilihat, didengar, diraba, dicium, dan diotak atik. Agar anak dapat melakukan semua kegiatan belajar (melihat, mendengar, meraba, mencium, dan seterusnya) maka dibutuhkan keadaan lingkungan sebagai sumber belajar. Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih bermakna, dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan. 2. Integratif. Pada tahap usia sekolah dasar anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu, hal ini melukiskan cara berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke bagian demi bagian. Di dalam makna integratif juga terkandung harmonisasi yaitu keseimbangan antar komoponen. Biasanya akan akan kritis terhadap sesuatu yang tidak harmois atau tidak seimbang. 3. Hierarkis. Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu diperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan keluasan serta kedalaman materi. Pembelajaran tematik sebagaimana telah disinggung di awal tulisan adalah agar pembelajaran itu bermakna. Kegiatan pembelajaran ini akan menjadi bermakna bagi anak jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman bagi anak. Proses belajar bersifat individual dan kontekstual, artinya proses belajar terjadi dalam diri individu sesuai dengan perkembangannya dan lingkungannya. Belajar bermakna (meaningfull learning) merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsepkonsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. PembeLandasan pembelajaran tematik secara teoritis dilandasi oleh dua yaitu landasan filosofis dan landasan psikologis. Landasan filosofis dalam pembelajaran tematik sangat dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat yaitu: progresivisme, konstruktivisme, dan humanisme. Dapat dijelaskan secara sederhana, bahwa:  Aliran progresivisme memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreatifitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman siswa;  Aliran konstruktivisme melihat pengalaman langsung siswa (direct experiences) sebagai kunci dalam pembelajaran. Menurut aliran ini, pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan objek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada anak, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing siswa. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

22

suatu proses yang berkembang terus menerus.  Aliran humanisme melihat siswa dari segi keunikan/kekhasannya, potensinya, dan motivasi yang dimilikinya. Dengan humanisme, proses belajar bagi seorang anak akan berbeda dengan anak lainnya. Karena memiliki perbedaan maka perlu diperatikan oleh guru. Landasan psikologis dalam pembelajaran tematik terutama berkaitan dengan psikologi perkembangan peserta didik dan psikologi belajar. Psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam menentukan isi/materi pembelajaran tematik yang diberikan kepada siswa agar tingkat keluasan dan kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik. Psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana isi/materi pembelajaran tematik tersebut disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa harus mempelajarinya. B. KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN TEMATIK Pembelajaran tematik merupakan pembelajaran yang lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. Proses pembelajaran tematik juga menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing). Oleh karena itu, guru dituntut untuk mampu mengemas atau merancang pengalaman belajar yang akan mempengaruhi kebermaknaan belajar siswa. Beberapa ciri khas dari pembelajaran tematik antara lain: 1. Pengalaman dan kegiatan belajar sangat relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak usia SD; 2. Kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak dari minat dan kebutuhan siswa; 3. Kegiatan belajar akan lebih bermakna dan berkesan bagi siswa sehingga hasil belajar dapat bertahan lebih lama; 4. Membantu mengembangkan keterampilan berpikir siswa; 5. Menyajikan kegiatan belajar yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui siswa dalam lingkungannya; dan 6. Mengembangkan keterampilan sosial siswa, seperti kerjasama, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain. Dengan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan tema ini, akan diperoleh beberapa manfaat yaitu: 1. Dengan menggabungkan beberapa kompetensi dasar dan indikator serta isi mata pelajaran akan terjadi penghematan, karena tumpang tindih materi dapat dikurangi bahkan dihilangkan, 2. Siswa mampu melihat hubungan-hubungan yang bermakna sebab isi/materi pembelajaran lebih berperan sebagai sarana atau alat, bukan tujuan akhir; 3. Pembelajaran menjadi utuh sehingga siswa akan mendapat pengertian mengenai proses dan materi yang tidak terpecah-pecah. 4. Dengan adanya pemaduan antar mata pelajaran maka penguasaan konsep akan semakin baik dan meningkat.

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

23

Dengan pembelajaran tematik, diharapkan akan memberikan banyak keuntungan yaitu di antaranya: 1. Siswa lebih mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu, dengan demikian pemahaman terhadap materi pelajaran akan lebih mendalam dan berkesan; 2. Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa; 3. Siswa akan lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas; karena itu mereka akan lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain; 4. Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkaan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan. C. STRATEGI PEMBELAJARAN TEMATIK Prinsip dasar dari pembelajaran tematik adalah tidak menonjolkan mata pelajaran tertentu. Namun dalam menentukan tema, guru dapat memilih suatu tema yang menarik dan bernuansa islami. Berikut adalah langkah-langkah persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi dalam pembelajaran tematik. 1. Tahap perencanaan Tahap perencanaan meliputi empat kegiatan yaitu kegiatan pemetaan kompetensi dasar, pengembangan jaringan tema, pengembangan silabus dan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran. - Kegiatan pemetaan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh dan utuh semua standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator dari berbagai mata pelajaran yang dipadukan dalam tema yang dipilih. Kegiatan yang dapat dilakukan adalah: Penjabaran Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ke dalam indikator-indikator. Dalam mengembangkan indikator perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut: dikembangkan sesuai dengan karakteristik siswa; dikembangkan sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar; dikembangkan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran; dirumuskan dalam kata kerja oprasional yang terukur dan dapat diamati - Menentukan tema. Dalam menentukan tema dapat dilakukan dengan dua cara yakni: (a) mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat dalam masing-masing mata pelajaran, dilanjutkan dengan menentukan tema yang sesuai. (b) menetapkan terlebih dahulu tema-tema pengikat keterpaduan, untuk menentukan tema tersebut, guru dapat bekerjasama dengan peserta didik sehingga sesuai dengan minat dan kebutuhan anak. Untuk menentukan tema sebagaimana disarankan adalah yang aktual dan memiliki maksud tertentu yaitu menanamkan nilai-nilai keimanan dan membina kehidupan masyarakat yang harmonis. Dalam menetapkan tema perlu memperhatikan beberapa prinsip yaitu:

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

24

-

-

-

-

memperhatikan lingkungan yang terdekat dengan siswa; dari yang termudah menuju yang sulit; dari yang sederhana menuju yang kompleks, dari yang konkret menuju ke yang abstrak, tema yang dipilih harus memungkinkan terjadinya proses berpikir pada diri siswa; ruang lingkup tema disesuaikan dengan usia, perkembangan siswa, termasuk minat, kebutuhan, dan kemampuannya Identifikasi dan analisis Standar Kompetensi, Kompetensi dasar dan Indikator. Kompetensi Dasar dan indikator yang cocok untuk setiap tema sehingga semua standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator terbagi habis. Menetapkan Jaringan Tema o Jaringan tema adalah membuat peta pemikiran yang menghubungkan kompetensi dasar dan indikator dengan tema pemersatu. Dengan jaringan tema tersebut akan terlihat kaitan antara tema, kompetensi dasar dan indikator dari setiap mata pelajaran. Jaringan tema ini dapat dikembangkan o sesuai dengan alokasi waktu setiap tema. Penyusunan Silabus o Setelah dibuat peta pikir dalam jaringan teman, selanjutnya dibuat silabus o yang mencoba menata dalam sekuensi dan lama waktu yang dibutuhkan. o Komponen silabus mengacu pada ketentuan umum yaitu terdiri dari standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, pengalaman belajar, alat/sumber, dan penilaian. Dalam menyusun silabus, dapat menandai kompetensi dasar yang terkait dengan tema lingkungan. Penyusunan Rencana Pembelajaran o Untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran, guru perlu menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran. Komponen rencana pembelajaran tematik meliputi: identitas mata pelajaran (nama mata pelajaran yang akan dipadukan, kelas, semester, dan waktu/banyaknya jam pertemuan yang dialokasikan); kompetensi dasar dan indikator yang akan dilaksanakan; materi pokok beserta uraiannya yang perlu dipelajari siswa dalam rangka mencapai kompetensi dasar dan indikator; strategi pembelajaran (kegiatan pembelajaran secara konkret yang harus dilakukan siswa dalam berinteraksi dengan materi pembelajaran dan sumber belajar untuk menguasai kompetensi dasar dan indikator, kegiatan ini tertuang dalam kegiatan pembukaan, inti dan penutup); alat dan media yang digunakan untuk memperlancar pencapaian kompetensi dasar, serta sumber bahan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran tematik sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai; penilaian dan tindak lanjut (prosedur dan instrumen yang akan digunakan untuk menilai pencapaian belajar peserta didik serta tindak lanjut hasil penilaian).

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

25

2. Tahap Pelaksanaan Pelaksanaan pembelajaran tematik adalah melaksanakan Rencana Pelaksanan Pembelajaran (RPP). Kegiatannya bertahap mulai dari kegiatan pembukaan atau pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Kegiatan pendahuluan dilakukan terutama untuk menciptakan suasana awal pembelajaran untuk mendorong siswa menfokuskan dirinya agar mampu mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Pada tahap ini dapat dilakukan penggalian terhadap pengalaman anak tentang tema yang akan disajikan. Beberapa contoh kegiatan yang dapat dilakukan adalah bercerita, kegiatan fisik/jasmani, dan menyanyi. Setelah selesai melakukan kegiatan pembukaan, secara mengalir (tanpa dirasakan adanya suasana yang berbeda), guru memasuki kegiatan inti yaitu memfokuskan pada kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk pengembangan kemampuan tertentu, misalnya cara berkomunikasi, membaca, tulis dan hitung. Penyajian bahan pembelajaran dilakukan dengan menggunakan berbagai strategi/metode yang bervariasi dan dapat dilakukan secara klasikal, kelompok kecil, ataupun perorangan. Setelah tujuan dianggap dicapai, kegiatan berikutnya adalah penutup dan tindak lanjut. Sifat dari kegiatan penutup adalah untuk menenangkan. Beberapa contoh kegiatan penutup yang dapat dilakukan adalah menyimpulkan atau mengungkapkan hasil pembelajaran yang telah dilakukan, mendongeng, membacakan cerita dari buku, pantomim, pesan-pesan moral, musik/apresiasi musik. 3. Tahap penilaian Tujuan Penilaian pembelajaran tematik adalah mengetahui percapaian indikator yang telah ditetapkan, memperoleh umpan balik bagi guru, untuk pengetahui hambatan yang terjadi dalam pembelajaran maupun efektivitas pembelajaran, memperoleh gambaran yang jelas tentang perkembangan pengetahuan, keterampilan dan sikap siswa, dan hasilnya sebagai acuan dalam menentukan rencana tindak lanjut (remedial, pengayaan, dan pemantapan). Alat penilaian dapat berupa tes dan non-tes. Tes mencakup tes tertulis, lisan, atau perbuatan, catatan harian perkembangan siswa, dan portofolio. Dalam kegiatan pembelajaran di kelas awal penilaian yang lebih banyak digunakan adalah melalui pemberian tugas dan portofolio. Guru menilai anak melalui pengamatan yang lalu dicatat pada sebuah buku bantu, sedangkan tes tertulis digunakan untuk menilai kemampuan menulis siswa, khususnya untuk mengetahui tentang penggunaan tanda baca, kata atau angka Nilai akhir pada laporan, akan dikembalikan pada kompetensi mata pelajaran yang terdapat pada kelas satu, dua, atau SD, yaitu: Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, Pendidikan Kewarganegaraan dan Ilmu Pengetahuan Sosial, Seni Budaya dan Keterampilan, dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan kesehatan. Pembelajaran D. PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DALAM IPS Pembelajaran kontekstual lebih dikenal dengan istilah Contextual Teaching and Learning (CTL). CTL merupakan pendekatan pendidikan yang melakukan kegiatan pembelajaran yang lebih dari sekedar menuntun para siswa dalam menggabungkan subjek-subjek akademik dengan konteks keadaan mereka sendiri. CTL berusaha melibatkan para siswa untuk mencari makna “konteks” itu

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

26

sendiri. Dalam pembelajaran kontekstual, siswa diharapkan mengerti apa makna dari belajar, manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya, dengan ini siswa akan menyadari bahwa apa yang mereka pelajari berguna sebagai hidupnya nanti. Untuk mencapai tujuan pembelajaran, tugas guru adalah membantu siswa. Guru akan lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi materi pelajaran. Guru hanya mengelola kelas dan menciptakan situasi atau kondisi agar siswa dapat belajar untuk mencapai tujuannya. Johnson (2007; 65) menyatakan bahwa pembelajaran kontekstual memiliki delapan komponen sistem yaitu: 1. Membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna 2. Melakukan pekerjaan yang berarti 3. Melakukan pembelajaran yang diatur sendiri 4. Bekerjasama 5. Berpikir kritis dan kreatif 6. Membantu individu untuk tumbuh dan berkembang 7. Mencapi standar yang tinggi 8. Menggunakan penilaian autentik. Dari delapan komponen di atas, jika dipraktekkan dalam proses pembelajaran sebenarnya ada lima kegiatan yang dapat diamati yaitu kegiatan mengaitkan (relating), mengalami (experiencing), menerapkan (applying), bekerjasama (cooperating) dan mentransfer (transfering). 1. Mengaitkan berbagai konsep, gejala, atau pengetahuan yang telah diketahui siswa sehingga siswa dapat membangun pengetahuannya. Strategi ini dianggap inti dari konstruktivisme, guru selalu mencoba mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang sudah dikenal siswa. Pembelajaran kontekstual akan berusaha menghadirkan benda asli, model, atau contoh yang telah diketahui siswa di depan kelas. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menghindarkan siswa dari verbalisme. 2. Mengalami yaitu berusaha mengajak siswa untuk mengamati atau melakukan kegiatan yang bermakna sesuai dengan tujuan belajarnya. Belajar dapat terjadi lebih cepat ketika siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan serta melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif. 3. Menerapkan yaitu mengajak siswa untuk mencoba menerapkan suatu konsep dalam memecahkan masalah. Guru bertugas untuk memotivasi siswa dan memberikan latihan yang realistik dan relevan agar masalah yang dihadapi dapat diatas dengan baik. 4. Kerjasama. Siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu kemajuan yang signifikan, sebaliknya siswa yang bekerja secara kelompok sering dapat mengatasi masalah yang komplek dengan sedikit bantuan. Pengalaman kerjasama tidak hanya membantu siswa mempelajari bahan ajar, tetapi konsisten dengan dunia nyata. 5. Mentransfer. Peran guru membuat bermacam-macam pengalaman belajar dengan fokus pada pemahaman bukan hapalan. Guru menyampaikan informasi baru dan atau menunjukkan cara dalam mengatasi masalah sehingga siswa terbimbing dalam memahami dan mengatasi masalah.

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

27

Oleh karena pembelajarannya berorientasi kepada siswa, guru harus melaksanakan beberapa hal yaitu mengkaji konsep atau teori yang akan dipelajari oleh siswa secara utuh, memahami latar belakang dan pengalaman hidup siswa, mempelajari lingkungan sekolah dan tempat tinggal siswa yang selanjutnya memilih dan menentukan apakah lingkungan sekolah dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar siswa, merancang pengajaran dengan mengkaitkan konsep atau teori yang dipelajari dengan mempertimbangkan pengalaman yang dimiliki oleh siswa dan lingkungan hidup mereka, serta melaksanakan penilaian terharap proses dan atau hasil pekerjaan siswa selama kegiatan belajar. E. PRINSIP PEMBELAJARAN CTL Ada tiga prinsip pembelajaran yang menjadi ciri khas CTL dibandingkan dengan pembelajaran yang lain yaitu prinsip kesalingketergantungan, prinsip diferensiasi, dan prinsip pengaturan diri (Johnson, 2007; Solihatin dan Rahardjo, 2007): 1. Prinsip kesaling-bergantungan adalah prinsip yang mengajak para pendidik untuk memperhatikan keterkaitan mereka dengan pendidik yang lainnya, dengan siswa-siswa mereka, dengan masyarakat, dan dengan lingkungan. Prinsip itu menganggap bahwa sekolah adalah sebuah sistem kehidupan. Para siswa, para guru, tukang kebun, tukang sapu, pegawai administrasi, sekretaris, sopir bus, orangtua, dan masyarakat berada di dalam sebuah jaringan hubungan yang menciptakan lingkungan belajar. Prinsip saling ketergantungan akan memungkinkan melakukan kerjasama sehingga para siswa terbantu dalam menemukan persoalan, merancang rencana, dan mencari pemecahan masalah. Kaitannya dengan pembelajaran dalam CTL, prinsip saling ketergantungan harus dirancang oleh guru dan atau oleh sekolah bahwa semua pihak pada dasarnya akan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif untuk belajar. 2. Prinsip diferensiasi adalah prinsip yang memandang siswa dalam keberagaman dan unik. Dengan keberagaman siswa, memungkinkan mereka untuk melakukan kerjasama dan termotivasi untuk kreatif. Secara alami, prinsip deferensiasi akan terus menerus menciptakan perbedaan dan keragaman, menghasilkan keragaman yang tidak terbatas, keunikan yang tidak terbatas, dan penggabungan-penggabungan yang sangat banyak antara entitas-entitas yang berbeda. Secara alami, CTL akan memajukan kreativitas, keragaman, keunikan, dan kerjasama. 3. Prinsip pengaturan diri meminta para pendidik untuk mendorong setiap siswa untuk mengeluarkan seluruh potensinya. Caranya dengan menolong para siswa untuk mencapai keunggulan akademik, memperoleh keterampilan, dan mengembangkan karakter. Ketika siswa menghubungkan materi akademik, mereka terlibat dalam kegiatan yang mengandung prinsip pengaturan-diri. Mereka menerima tanggung jawab atas keputusan dan perilaku sendiri, menilai alternatif, membuat pilihan, mengembangkan rencana, menganalisis informasi, menciptakan solusi, dan dengan kritis menilai bukti.

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

28

Ketiga prinsip tersebut terasa sulit diterapkan di tingkat sekolah dasar, tetapi sebenarnya sangat mudah. Anda sebaiknya membayangkan bahwa ketiga prinsip di atas dapat diciptakan asalkan di sekolah semua pihak kompak saling mendukung program. Sebagai ilustrasi kita awali dari kehidupan siswa dari pagi sampai sore hari. Mereka dari rumah pergi ke sekolah tentu dengan niat ingin belajar. Ini adalah modal awal untuk keberhasilan pendidikan di hari itu. Seandainya mereka disambut oleh dua atau tiga guru dengan keramahan di pintu gerbang sekolah, menyapa dan memujinya, maka setiap hari anak-anak akan selalu bersemangat untuk hadir kembali keesokan harinya. Setelah mereka hadir, lakukanlah upacara di setiap koridor ruang kelas untuk bernyanyi, mengaji, berhitung, atau menyebutkan beberapa hafalan. Semua guru hadir dan semua kelas bernyanyi. Karyawan administrasi, tukang kebun, pedagang di kantin sekolah atau siapapun yang ada menyambut hari gembira untuk belajar. Semua saling ketergantungan untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Pada saat masing-masing kelas masuk ruangan, sudah tersedia ruangan yang selalu berbeda setiap hari. Keadaannya bersih, wangi, penuh gambar, warna-warni. Untuk jam petama, sediakan waktu bermain sesuai minatnya sambil diarahkan oleh guru akan rencana pembelajaran. Perbedaan pendapat di antara mereka dicoba untuk diramu menjadi kegiatan yang saling bekerjasama. Selanjutnya setelah semua terkondisikan, pembelajar CTL mulai dilakukan. Ada tujuh pilar dalam pembelajaran CTL yang perlu diperhatikan yaitu: a. Konstruktivisme (constructivism). Landasan filosofis ini beranggapan bahwa pengetahuan manusia diperoleh sedikit demi sedikit dan setelah diperoleh sejumlah pengetahuan lalu dikonstruksi (bentukan) sendiri oleh siswa. Secara sederhana konstruktivisme itu beranggapan bahwa pengetahuan bukanlah suatu fakta yang ditemukan, melainkan suatu perumusan yang diciptakan oleh orang yang sedang mempelajarinya. Menurut teori konstruktivisme, belajar adalah kegiatan yang aktif di mana siswa membangun sendiri pengetahuannya. Siswa juga mencari sendiri makna dari sesuatu yang mereka pelajari. Sesuai dengan prinsip-prinsip tersebut, maka proses pembelajaran, bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa (subjek belajar), tetapi suatu kegiatan yang memungkinkan siswa merekonstruksi sendiri pengetahuannya. Pembelajarannya dalam bentuk partisipasi dan interaksi antar siswa yang sedang membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, dan menentukan justifikasi. b. Menemukan (Inquiry) merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran kontekstual. Kegiatan menemukan (inquiry) merupakan sebuah siklus yang terdiri dari observasi (observation), bertanya (questioning), mengajukan dugaan (hiphotesis), pengumpulan data (data gathering), penyimpulan (conclusion).

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

29

Bertanya (Questioning). Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu dimulai dari bertanya. Bertanya merupakan strategi utama pembelajaan berbasis kontekstual. Kegiatan bertanya berguna untuk menggali informasi, menggali pemahaman siswa, membangkitkan respon, mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa, mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa, memfokuskan perhatian pada sesuatu yang dikehendaki guru, dan membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa, untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa. d. Masyarakat Belajar (Learning Community). Konsep masyarakat belajar menyarankan hasil pembelajaran diperoleh dari hasil kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperolah dari tukar pikiran atau sharing antar teman, antar kelompok, dan antar yang tahu ke yang belum tahu. Masyarakat belajar tejadi apabila ada komunikasi dua arah, dua kelompok atau lebih yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar. e. Pemodelan (Modeling). Pemodelan pada dasarnya membahasakan yang dipikirkan, mendemonstrasi bagaimana guru menginginkan siswanya untuk belajar dan malakukan apa yang guru inginkan agar siswanya melakukan. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa dan juga mendatangkan dari luar. f. Refleksi (Reflection). Refleksi merupakan cara berpikir atau respon tentang apa yang baru dipelajari aau berpikir kebelakang tentang apa yang sudah dilakukan dimasa lalu. Realisasinya dalam pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi yang berupa pernyataan langsung tentang apa yang diperoleh hari itu. g. Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment). Penialaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberi gambaran mengenai perkembangan belajar siswa. Dalam pembelajaran berbasis CTL, gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami pembelajaran yang benar. Fokus penilaian adalah pada penyelesaian tugas yang relevan dan kontekstual serta penilaian dilakukan terhadap proses maupun hasil. Pendekatan kontekstual dalam pembelajaran IPS, pada mata pelajaran IPS di SD sangat tepat jika banyak menerapkan pembelajaran kontekstual. Semua prinsip CTL memiliki kedekatan dengan pembelajaran IPS seperti bekerjasama, masyarakat belajar, dan saling ketergantungan satu dengan yang lain. Bahkan dalam metode inquiry, dalam IPS akan banyak sumber belajar yang dapat digali oleh siswa. Praktek pendekatan CTL hampir semunya dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran IPS. Gambaran umum bahwa IPS dapat memanfaatkan CTL sebagai pendekatan pembelajaran yang menarik. 1. Konstruktivisme (constructivism) dan inquiry. Landasan filosofis ini dapat membangun konsep atau generalisasi oleh siswa sendiri. Kuncinya, para guru harus pandai bertanya dan menerapkan metode inquiry dan modeling. Dalam menemukan (Inquiry), siswa dapat diberi tugas dalam bentuk LKS terbimbing sehingga dapat menemukan sendiri dan terbentuk pengetahuan dalam diri siswa.

c.

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

30

2. Bertanya merupakan strategi utama pembelajaan berbasis kontekstual. Dalam mata pelajaran IPS, pertanyaan dapat dipersiapkan oleh oleh guru secara sistematis sehingga menggiring pemahaman siswa terhadap sesuatu yang menjadi tujuan pembelajaran 3. Konsep masyarakat belajar juga bukan hal yang aneh. Mata pelajaran sangat berkepentingan terhadap pembinaan masyarakat belajar. Sejak awal menerapkan CTL, hendaknya sudah menciptakan masyarakat belajar untuk belajar saling berbagi, menghargai pendapat orang lain, toleransi, dan lain-lain. 4. Pemodelan dalam mata pelajaran IPS dapat menghadirkan pihak tertentu sebagai model. Untuk materi-materi seperti sumberdaya alam, guru dapat membawa berbagai sumberdaya alam. 5. Refleksi dan penilaian autentik dapat digunakan secara bersamaan dalam IPS. Hasil pekerjaaan siswa seperti kliping, resume diskusi, dan tugas dapat dijadikan bahan refleksi untuk memupuk karakter atau kepribadian siswa. F. SUMBER DAN MEDIA PEMBELAJARAN IPS Sumber belajar dalam arti sempit sering disamakan dengan berbagai jenis buku atau bahan-bahan cetak lainnya yang dimanfaatkan dalam proses belajar mengajar. Belakangan, sumber belajar dimaknai lebih luas yaitu berbagai daya yang bisa dimanfaatkan guru guna kepentingan proses belajar mengajar, baik secara langsung maupun secara tidak langsung, sebagian atau secara keseluruhan. Dengan demikian, apa saja yang dapat digunakan untuk mendukung dan atau menjadi bahan belajar siswa, disebut sumber belajar. Secara teoritis, sumber belajar dapat dibagi atas dua kelompok yaitu sumber belajar yang dirancang atau learning resources by design yakni sumber belajar yang sengaja dirancang, disiapkan untuk tujuan pembelajaran tertentu. Sedangkan sumber belajar yang dimanfaatkan atau learning resources by utilization adalah sumber belajar yang tidak sengaja dirancang atau tanpa dipersiapkan terlebih dahulu, tetapi langsung dipakai guna kepentingan pengajaran. Sumber belajar jenis ini diambil langsung dari dunia nyata. Kedua jenis sumber belajar ini sama-sama digunakan dalam kegiatan pengajaran karena keduanya memberikan kemudahan belajar siswa. Sumber pembelajaran IPS dapat pada klasifikasi dan diuraikan sebagai berikut: 1. Sumber belajar yang berupa pesan baik yang dirancang maupun dimanfaatkan untuk pembelajaran IPS cukup melimpah. Sumber belajar yang dirancang seperti bahan pelajaran dapat menggunakan buku paket IPS yang telah dinilai lulus oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Jika bahan ajar atau materi pembelajaran akan dibuat oleh guru, maka ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan bahan ajar atau materi pembelajaran. Prinsip-prinsip dalam pemilihan materi pembelajaran meliputi prinsip relevansi, konsistensi, dan kecukupan. o Prinsip relevansi artinya keterkaitan. Materi pembelajaran hendaknya relevan atau ada kaitan atau ada hubungannya dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sebagai misal, jika kompetensi yang

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

31

2.

3.

4.

5.

diharapkan dikuasai peserta didik berupa menghafal fakta, maka materi pembelajaran yang diajarkan harus berupa fakta atau bahan hafalan. o Prinsip konsistensi artinya keajegan. Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa empat macam, maka bahan ajar yang harus diajarkan juga harus meliputi empat macam. Misalnya kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa adalah pengoperasian bilangan yang meliputi penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, maka materi yang diajarkan juga harus meliputi teknik penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. o Prinsip kecukupan artinya materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit akan kurang membantu mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sebaliknya, jika terlalu banyak akan membuang-buang waktu dan tenaga yang tidak perlu untuk mempelajarinya. Untuk bahan yang dimanfaatkan (tidak dirancang), guru IPS dapat memanfaatkan berbagai buku yang bersifat pengayaan seperti cerita anak, cerita penek, tulisan di koran atau majalah. Sumber belajar yang berupa orang dalam pembelajaran IPS sangat beragam, baik yang dirancang maupun yang dimanfaatkan. Guru adalah salah satu sumber belajar dan dapat berperan sebagai fasilitator dalam menghadirkan sumber belajar. Guru dapat merancang siswa agar dapat berperan sebagai sumber belajar yang dirancang. Selain itu, dapat menghadirkan berbagai pihak narasumber yang diperlukan dalam pembelajaran IPS. Sekali waktu guru dapat menghadirkan pemuka masyarakat, kepala desa, camat, petani yang berhasil, pedagang, dan lain-lain sebagai narasumber dalam belajar. Bahan atau material yang dirancang dalam pembelajaran IPS antara lain transparansi, slide, tape, buku, gambar, dan berbagai media pembelajaran lainnya. Selain yang dirancang banyak pula yang dimanfaatkan seperti film lepas, relief, candi, situs sejarah, batuan, dan lain-lain. Sumber dari unsur bahan atau material IPS akan terus berkembang. Perkembangannya dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, nilai-nilai budaya setempat, dan keadaan pemakai. Perkembangan teknologi akan mempengaruhi sumber belajar yang dipergunakan. Pada masa lampau jenis sumber belajar yang tidak dirancang banyak dipergunakan oleh guru, tetapi sekarang justru sumber belajar yang dirancang lehih banyak dimanfaatkan. Pengaruh teknologi bukan hanya terhadap bentuk dan jenis-jenis sumber belajar, melainkan juga terhadap komponen-komponen sumber belajar. Peralatan yang dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran IPS hampir sama dengan bahan yaitu OHP, proyektor, slide, film, TV, kamera, papan tulis dan lain-lain. Teknik, metode, teknik, atau kegiatan lainnya dapat dijadikan sumber belajar. Aktivitas siswa dalam kegiatan belajar menjadi sumber belajar bagi siswa sendiri (yang kemudian kita sebut nurturant effect). Sumber kegiatan yang berupa kegiatan misalnya wawancara, kerja kelompok, observasi, simulasi,

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

32

permainan, dan lain-lain. Dalam pembelajaran IPS, semuanya dapat dirancang agar dapat menjadi sumber. 6. Lingkungan (setting) seperti ruang kelas, studio, perpustakaan, auditorium. Lingkungan yang dirancang disebut juga sumber belajar fasilitas karena oleh guru dapat disengaja dirancang agar dapat menjadi sumber belajar. Pembelajaran IPS di SD dapat memanfaatkan taman, kebun, pasar, musium bahkan alam terbuka seperti pantai, pegunungan, sungai, dan lain-lain dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar. Sumber belajar harus dipilih sedemikian rupa agar efektif. Memilih sumber belajar harus didasarkan atas kriteria tertentu yang secara umum terdiri dari dua macam ukuran, yaitu kriteria umum dan kriteria berdasarkan tujuan yang hendak dicapai. Kedua kriteria pemilihan sumber belajar tersebut berlaku baik untuk sumber belajar yang dirancang maupun bagi sumber belajar yang dimanfaatkan. Kriteria umum dalam memilih berbagai sumber belajar antara lain: 1. Ekonomis dalam pengertian murah. Ekonomis tidak berarti harganya selalu harus rendah. Bisa saja dana pengadaan sumber belajar itu cukup tinggi, tetapi pemanfaatannya dalam jangka panjang terhitung murah. Misalnya, pengadaan kamera atau video shooting harganya sangat mahal tetapi karena pemanfaatannya dalam jangka panjang maka akan terhitung murah. 2. Praktis dan sederhana, artinya tidak memerlukan pelayanan serta pengadaan yang sulit karena langka. Guru harus pandai memilih, secara sederhana batuan ditengah jalan atau potbunga dapat dijadikan sumber belajar. Penyediaan sumber belajar tidak hanya oleh guru, tetapi siswa dapat pula menyediakan sumber belajar yang dipandu oleh guru seperti kliping dan tugas lainnya. 3. Mudah diperoleh dalam arti sumber belajar itu dekat, tidak perlu diadakan atau dibeli di toko dan pabrik. Sumber belajar yang tidak dirancang lebih mudah diperoleh asal jelas tujuannya dan dapat dicari di lingkungan sekitar. 4. Bersifat fleksibel dan sesuai dengan tujuan, artinya bisa dimanfaatkan untuk berbagai tujuan pembelajaran, serta kriteria lainnya adalah sumber belajar yang berdasarkan pada tujuan yaitu berguna untuk memotivasi belajar siswa, untuk tujuan pengajaran, untuk penelitian, untuk memecahkan masalah, dan untuk presentasi. Berdasarkan penjelasan di atas, media pembelajaran merupakan bagian dari sumber belajar yaitu bahan dan juga peralatan. Di bawah ini akan dijelaskan secara sekilas tentang media pembelajaran untuk pembelajaran IPS. Berdasarkan pandangan ahli media, proses pembelajaran dianggap sebagai proses komunikasi. Keberhasilan pembelajaran bergantung pada kesuksesan dalam berkomunikasi. Di dalam proses komunikasi terdapat komunikator, pesan, saluran, dan komunikan (penerima pesan). Semuanya tidak boleh ada gangguan, jika ada gangguan (noise) maka komunikasi akan gagal. Media berperan sebagai saluran yang dapat dimanipulasi (dioptimalkan) agar memperlancar komunikasi.

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

33

Dengan media pembelajaran, perhatian komunikan (penerima informasi) akan lebih termotivasi untuk memperhatian komunikator (guru). Bagi guru, media atau saluran akan lebih mudah menyampaikan pesan. Dalam proses pembelajaran, guru dapat dibantu oleh media bahkan sekali waktu, media dapat berperan sebagai “guru”. Manfaat media pembelajaran antara lain: 1. Membantu penyampaian pesan 2. Membantu pemahaman siswa dalam pembelajaran 3. Meningkatkan apresiasi 4. Menambah motivasi 5. Mengefektifkan waktu 6. Membantu keterbatasan daya abstraksi siswa 7. Pembelajaran lebih menarik 8. Modernisasi pembelajaran 9. Efisiensi karena dapat dipakai berulangulang 10. Mengurangi keterbatasan ruang Berdasarkan jenisnya, media pembelajaran dibagi tiga yaitu media penyaji, media objek, dan media interaktif. Media penyaji digunakan untuk membantu menyampaikan pesan, sifatnya berusaha menyajikan. Kelompok media penyajian ada tujuh yaitu media grafis (atau gambar, angka, huruf, dan fotografis), media proyeksi diam, media audio, media visual diam, gambar hidup (film), televisi, dan multimedia. Khususnya tentang multimedia, adalah gabungan dari seluruh media penyajian. Kelengkapan multi media biasanya tersedia komputer, LCD, dan soundsystem. Komputer yang digunakan multimedia dapat memutar kepingan CD atau DVD. Media objek dibagi dua yaitu objek yang sebenarnya (alami dan buatan) dan objek pengganti (reflika, model, benda tiruan, mockup). Sedangkan media interaktif merupakan media yang dirancang dapat berkomunikasi dengan siswa secara individual. Media interaktif dirancang dalam komputer, sekurangkurangnya ada empat pola praktek dan latihan, pola tutorial, pola simulasi, dan pola games. Pola praktek dan latihan bertujuan untuk memberi pengalaman belajar konkrit melalui penciptaan tiruan-tiruan bentuk pengalaman. Langkahnya diawali dari penyajian masalah, siswa mengerjakan soal, program merekam penampilan siswa, dan jika jawaban benar maka program dapat dilanjutkan sedangkan jika salah maka disarankan untuk remedial. Pola tutorial bertujuan untuk memberikan pemahaman secara tuntas (mastery learning) kepada siswa mengenai materi pelajaran yang sedang dipelajari. Langkah kegiatannya adalah penyajian informasi, pertanyaan dan respon, penilaian respon, pemberian balikan respon, dan pengulangan. Pola simulasi, siswa menasukkan data. Program memprosesnya dan kemudian sistem akan menentukan jawabannya. Simulasi untuk memberi pengalaman yang lebih konkrit menciptakan tiruan-tiruan bentuk pengalaman yang mendekati suasana sebenarnya. Pola permainan adalah untuk menyediakan suasana lingkungan yang memberikan fasilitas belajar yang menambah kemampuan siswa. ***

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

34

Bagian 4

Pembelajaran Pengendalian Diri, Keluarga, dan Lingkungan
A. MANUSIA SEBAGAI INDIVIDU Individu dalam Bahasa Perancis berarti orang seorang. Kata ini mengacu pada manusia atau satu orang manusia. "In-dividere" berarti makhluk individual yang tidak dapat dibagi-bagi lagi. Kata sifatnya "individual", menunjuk pada satu orang dengan ciri-ciri khas yang melekat pada dirinya dan sekaligus untuk membedakan dengan masyarakat. Ciri-ciri watak seorang individu yang konsisten, yang memberikan kepadanya identitas khusus, disebut sebagai "kepribadian". Banyak pakar yang memberikan pengertian tentang kepribadian. Dari beberapa konsep atau pengertian tentang kepribadian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kepribadian adalah ciri-ciri/karakteristik watak individu yang konsisten yang berkenaan dengan sikap, keinginan, pola pikiran dan tingkah laku untuk berbuat, berpikir, dan merasakan khususnya apabila individu itu berhubungan dengan orang lain atau menanggapi suatu keadaan di lingkungannya. Kepribadian mempunyai karakteristik yang konsisten dan mencirikan 2 kepribadian secara normal. Karakteristik kepribadian tersebut merupakan perpaduan antara bawaan atau warisan yang dibawa sejak lahir dengan faktor lingkungan. Manusia sebagai individu selalu berada di tengah-tengah kelompok individu lain yang sekaligus mematangkannya untuk menjadi pribadi. Proses dari individu untuk menjadi pribadi tidak hanya didukung dan dihambat oleh dirinya, tetapi juga oleh kelompok sekitarnya. Dalam proses untuk menjadi pribadi, individu dituntut mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana ia berada. Lingkungan tersebut meliputi lingkungan fisik dan non-fisik (psikis). Kecenderungan manusia untuk hidup berkelompok sebenarnya bukanlah sekedar suatu naluri atau keperluan yang diwariskan secara biologis semata-mata. Akan tetapi dalam kenyataannya manusia berkumpul sampai batas-batas tertentu juga menunjukkan adanya suatu ikatan sosial tertentu. Mereka berkumpul dan saling berinteraksi satu sama lain. Interaksi antar manusia merupakan suatu kebutuhan dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Individu yang satu pasti akan membutuhkan individu yang lain, karena seorang individu tidak akan bisa hidup sendiri tanpa bantuan individu lain. Jadi kehidupan berkelompok merupakan kebutuhan mutlak, maka timbullah kelompok-kelompok sosial (social group) di dalam kehidupan manusia. Kelompok-kelompok sosial tersebut merupakan himpunan atau kesatuan manusia yang hidup bersama.

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

35

Menurut Soerjono Soekanto (1989), suatu himpunan manusia dapat dikatakan kelompok sosial apabila: 1. Ada kesadaran dari setiap anggota bahwa ia merupakan bagian dari kelompok yang bersangkutan. 2. Ada interaksi timbal balik antara anggota kelompok satu dengan anggota lainnya. 3. Ada sesuatu yang dimiliki bersama, misalnya: tujuan, cita-cita, idiologi, dan kepentingan. 4. Berstruktur, berkaidah, dan memiliki pola perilaku. 5. Bersistem dan berproses. 6. Suatu kelompok sosial cenderung untuk tidak menjadi kelompok yang statis, tetapi dinamis, selalu berkembang dan mengalami perubahan-perubahan baik dalam aktivitas maupun bentuknya. B. INTERAKSI SOSIAL Menurut Gillin dan Gillin, interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis, menyangkut hubungan antara orang perorangan, kelompokkelompok manusia, maupun orang perorangan dengan kelompok manusia. Interaksi sosial dapat terjadi karena adanya komunikasi, jadi komunikasi di sini sangatlah penting artinya. Komunikasi berarti seseorang memberikan tafsiran pada perilaku orang lain baik berwujud pembicaraan, gerak, maupun sikap. Interaksi sosial merupakan dasar dari proses sosial, pengertian ini menunjukkan pada hubungan-hubungan yang dinamis. Interaksi sosial juga merupakan kunci dari semua kehidupan sosial, karena tanpa interaksi sosial tidak akan mungkin ada kehidupan bersama. Dengan demikian jelas sekali bahwa interaksi sosial itu sangat penting dalam kehidupan masyarakat, tidak terkecuali dalam kehidupan di sekolah. Bentuk-bentuk interaksi sosial dapat berupa: kerja sama (cooperation), persaingan (competition), pertikaian (conflict), dan akomodasi (accomodation). Perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi dalam masyarakat dan telah didukung oleh sebagian besar anggota masyarakat. Perubahan yang terjadi tidak selalu sama, ada yang lambat (evolusi) dan ada yang cepat (revolusi). Pada evolusi, perubahan terjadi dengan sendirinya tanpa rencana atau kehendak tertentu. Perubahan tersebut terjadi karena usaha-usaha masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan keperluan-keperluan, kondisi baru yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat. Sebaliknya revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa rencana. Faktor-faktor yang mendasari terjadinya perubahan sosial bisa bersumber dari dalam masyarakat (intern) dan bisa juga dari luar masyarakat (ekstern). Faktor-faktor intern, antara lain: (1) Perubahan jumlah penduduk, (2) Penemuan baru, (3) Pertentangan (konflik) sosial, (4) Pembrontakan atau revolusi. Adapun faktor-faktor ekstern dapat disebabkan oleh lingkungan fisik yang ada di sekitar manusia, misalnya: bencana alam, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan komunikasi, dan sebagainya.

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

36

Faktor-faktor yang mendorong proses perubahan antara lain: (1) Kontak dengan kebudayaan lain, (2) Kemajuan pendidikan, (3) Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan untuk maju, (4) Sistem terbuka lapisan masyarakat, (5) Penduduk yang heterogen, (6) Ketidakpuasan masyarakat terhadap aspek-aspek kehidupan, (7) Nilai bahwa manusia harus senantiasa berusaha untuk memperbaiki hidupnya. Selain faktor- faktor yang mendorong, ada juga faktor-faktor yang menghambat yaitu: (1) Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain, (2) Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat, (3) Sikap masyarakat yang sangat tradisional, (4) Adanya kepentingan-kepentingan yang telah tertanam dengan kuat, (5) Rasa takut akan terjadinya perubahan kebudayaannya, (6) Sikap tertutup terhadap hal-hal baru/asing, (7) Adat atau kebiasaan, (8) Hambatan- hambatan yang bersifat idiologis, (9) Nilai bahwa hidup ini pada hakikatnya tidak dapat diperbaiki. C. MASYARAKAT Masyarakat dalam bahasa Inggris disebut "society" yang berarti sekelompok manusia (minimal dua orang) yang hidup bersama, saling berhubungan dan mempengaruhi, saling terikat satu sama lain, sehingga menghasilkan kebudayaan yang sama. Beberapa pakar juga mengemukakan pendapatnya, seperti Selo Soemardjan, mengatakan bahwa masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan. M.J. Herkovits, juga mengemukakan bahwa masyarakat adalah kelompok individu yang diorganisasikan dan mengikuti tata cara hidup tertentu. Menurut Koentjaraningrat, mengartikan masyarakat adalah kelompok manusia yang saling berinteraksi, memiliki prasarana untuk kegiatan tersebut, dan adanya saling keterkaitan untuk mencapai tujuan bersama. Anderson dan Parker, menyatakan ciri-ciri masyarakat yaitu: (1) adanya sejumlah orang; (2) bertempat tinggal dalam suatu daerah tertentu; (3) mengadakan hubungan satu sama lain; (4) saling terikat satu sama lain karena mempunyai kepentingan bersama; (5) merupakan satu kesatuan sehingga mereka mempunyai perasaan solidaritas; (6) adanya saling ketergantungan; (7) merupakan suatu sistem yang diatur oleh norma-norma atau aturan-aturan tertentu, dan (8) menghasilkan suatu kebudayaan. Oleh karena itu, dapat diketahui bahwa komponen masyarakat itu terdiri dari: (1) kelompok besar manusia yang relatif permanen; (2) berinteraksi secara permanen; (3) menganut dan menjunjung suatu sistem nilai dan kebudayaan, dan (4) self supporting. 1. Status dan Peran Individu dalam Masyarakat Status adalah jenjang atau posisi seseorang dalam suatu kelompok, atau dari satu kelompok dalam hubungannya dengan kelompok lain. Adapun peran diartikan sebagai suatu konsep fungsional yang menjelaskan fungsi atau tugas seseorang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa status dan peran merupakan dua hal yang saling berkaitan. Status menunjuk pada siapa orangnya, sedangkan peran menunjukkan apa yang dilakukan oleh orang itu. Menurut S. Bellen, ada beberapa jenis status dan peran sosial dalam masyarakat, yaitu:

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

37

   

Peran yang diharapkan (expected roles) dan peran yang terlaksana dalam kenyataan (actual roles) Peran yang terberi (ascribed roles) dan peran yang diperjuangkan (achieved roles) Peran kunci (key roles) dan peran tambahan (supplementary roles) Peran tinggi, peran menengah, dan peran rendah

2. Pranata Sosial dan Hubungannya dengan Nilai dan Norma Sosial Kebutuhan-kebutuhan dasar masyarakat menggambarkan adanya nilainilai sosial yang hidup dalam masyarakat, yang sangat dihargai dan dijunjung tinggi oleh masyarakat karena berguna sebagai pedoman dalam kehidupannya. Menurut Hendropuspito, nilai sosial adalah segala sesuatu yang dihargai masyarakat karena mempunyai daya guna fungsional bagi perkembangan hidup bersama. Hal-hal yang dihargai masyarakat dapat berupa orang, benda, hewan, sikap, perbuatan, perilaku, cara berfikir, dan pandangan. Nilai-nilai tersebut sifatnya masih abstrak, oleh karena itu harus dijabarkan ke dalam hal-hal yang sifatnya lebih kongkrit, yang disebut dengan norma. Menurut Th. L. Vanhoeven, dalam bahasa Latin, norma berasal dari kata "normalis" yang berarti: menurut petunjuk, kaidah, kebiasaan, kelaziman. Dengan demikian norma juga berarti kaidah (patokan, standar, ukuran). Norma-norma yang ada dalam masyarakat mempunyai kekuatan mengikat yang berbeda-beda. Ada norma yang lemah, sedang sampai yang terkuat daya ikatnya, untuk yang terakhir ini biasanya masyarakat tidak berani melanggarnya. Berikut ini adalah beragam norma dari yang lemah sampai yang kuat, yaitu: (a) Folkways, norma-norma berdasar kebiasaan atau kelaziman dalam tradisi, apabila dilanggar tidak ada sangsinya; (b) Tata krama ( sopan santun, etiket), pola kelakuan tertentu yang digolongkan sebagai norma, kaidah atau patokan tata krama, sopan santun pergaulan. Pelanggaran terhadap norma tidak mendapat sangsi hukum, hanya mendapat sangsi sosial; (c) Mores (tata kelakuan), norma moral yang menentukan suatu kelakuan tergolong benar atau salah, baik atau buruk. Perbuatan yang melanggar mores biasanya dikenakan sangsi. Norma-norma atau kaidah-kaidah tersebut sebetulnya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar masyarakat. Himpunan norma atau kaidah itu disebut pranata sosial. Jadi yang dimaksud dengan pranata sosial adalah himpunan kaidah atau norma yang bertujuan untuk menata atau mengatur pola kelakuan warga masyarakat tertentu yang lahir dari hubungan-hubungan sosial yang menyangkut kedudukan dan peran sosialnya dalam masyarakat. D. Hendropuspito membagi pranata sosial berdasar fungsinya, yaitu: 1. Pranata kekeluargaan (family institution); 2. Pranata perekonomian (economic institution); 3. Pranata pendidikan (educational institution); 4. Pranata religi (religius institution);

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

38

5. Pranata seni dan rekreasi (aesthetic and recreation institution); 6. Pranata ilmiah (scientific institution). Peranan yang paling penting dalam interaksi sosial untuk anak-anak dan atau orang dewasa adalah komunikasi. Kontak sosial, setiap orang dapat melakukannya tetapi untuk berkomunikasi belum tentu mampu. Kita dapat bertemu dengan orang Arab bahkan bersalaman, tetapi belum tentu kita dapat melakukan interaksi sosial karena ia berbahasa Arab sedangkan kita berbahasa Indonesia. Kita berusaha menggunakan bahasa Inggris, tetapi orang Arab juga tidak memahaminya akhirnya keduanya menggunakan isyarat. Hal yang mungkin perlu dipelajari lebih lanjut, dikalangan anakanak terkadang tidak memiliki hambatan dalam komunikasi. Keduanya dalam bahasanya masing-masing tetapi mereka akan tetap ceria dan saling memahami. Arti penting dari komunikasi sosial adalah bahwa seseorang menyampaikan pesan melalui pembicaraan, gerak-gerak isyarat, atau sikap untuk difahami oleh pihak lainnya. Perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh seseorang dapat difahami oleh lawan komunikasinya. Oleh karena itu, sejak awal tahun ajaran pengetahuan IPS langsung “bekerja” memperbaiki bahasa anak agar mereka tahu tentang bahasa yang baik dan sopan. Di dalam interaksi sosial, terdapat proses sosial yang harus dieksplorasi oleh guru seperti adanya imitasi, sugesti, identifikasi, dan simpati. Keempatnya dapat bergerak bersama-sama dalam membentuk kepribadian siswa sejak awal. adapun empat jenis eksplorasi proses interaksi sosial tersbut dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Imitasi Imitasi adalah proses menirukan tindakan orang lain. Seseorang anak yang melakukan imitasi dapat menimbulkan ketaatan terhadap norma tertentu. Mungkin pernah kita berdebat dengan anak kecil di rumah, anak biasanya akan lebih taat apa yang dikatakan oleh gurunya daripada oleh orang tuanya. Jika menemukan fenomena di atas, artinya sekolah telah berhasil menanamkan proses sosial imitasi bagi anak. Celakanya, jika yang diimitasi oleh anak-anak adalah perilaku buruk beberapa anak dari keluarga yang kurang baik dan suka berkata kasar dan kotor. Dengan demikian, guru di kelas 1 harus hati-hati dan menjadi teladan baik bagi anak didiknya. Imitasi bersifat positif jika hasil imitasi “serasi” dengan norma-norma dan kaidah yang diantut sebelumnya, sedangkan imitasi bersifat negatif jika hasil imitasi “menentang” norma dan kaidah yang dianut sebelumnya oleh masyarakat sekitarnya. Contoh imitasi positif misalnya meniru pola hidup sehat, cara membuang sambah pada tempatnya, cara makan yang baik, dan lain-lain, sedangkan contoh imitasi yang negatif misalnya kebiasaan merokok, berkata kasar, suka bertengkar dan berkelahi, dan lain-lain. Imitasi tidak perlu diajarkan di kelas dengan cemarah, imitasi yang positif cukup dengan memberi contoh dalam kehidupan di lingkungan sekolah. Program imitasi dapat disengaja dalam kegiatan pembiasaan di SD.

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

39

b. Sugesti Proses sugesti berlangsung jika seseorang memberi suatu pandangan dan pandangan tersebut kemudian diterima oleh fihak lain. Proses sugesti sebenarnya hampir sama dengan imitasi akan tetapi titik tolaknya berbeda. Pada imitasi proses peniruan dilakukan oleh yang meniru dan seseorang yang ditiru terkadang tidak sengaja ingin ditiru oleh orang lain. Sedangkan pada sugesti, ada pihak tertentu yang berusaha mempengaruhi seseorang untuk menirukan tindakan tertentu sesuai dengan yang diinginkannya. Dalam sugesti, pihak yang meniru biasanya dalam keadaan “setengah” sadar atau dalam keadaan tidak stabil emosinya. Karena fikiran rasionalnya terganggu, maka ia meniru saja apa yang dilakukan oleh orang lain. Sugesti akan berjalan lancar jika yang memberi pandangan adalah orang yang berwibawa, otoriter, atau mungkin memiliki kemampuan hipnotis. Tidak hanya oleh orang yang berwibawa, proses sugesti dapat juga terjadi di antara kita orang biasa. c. Identifikasi Identifikasi merupakan kecenderungan-kecenderungan atau keinginankeinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan orang lain. Proses identifikasi dapat terjadi secara sadar maupun tidak sadar. Secara sadar jika seseorang berusaha bekerja keras karena ingin sukses seperti orang yang dijadikan idolanya. Walaupun dapat berlangsung dengan sendirinya, proses identifikasi berlangsung dalam suatu keadaan di mana seseorang yang beridentifikasi benar-benar mengenal fihak lainnya dengan baik, sehingga sikap, tindakan, pakaian, dan pandangan hidupnya sangat dijiwai oleh yang bersangkutan. Identifikasi adalah peniruan yang lebih mendalam dari proses imitasi dan sugesti, dan tidak menutup kemungkinan proses identifikasi diawali dari imitasi dan sugesti. Pada anak usia SD, kegiatan belajar banyak berlangsung dari proses identifikasi atau meniru. Untuk keberhasilan pembelajaran IPS, proses identifikasi hendaknya dimanfaatkan sebaik-baiknya. Ciptakanlah kegiatan yang menarik di sekolah, maka siswa akan melakukan identifikasi menirunya di lain kesempatan. Disayangkan, identifikasi pada diri anak masih didominasi oleh acara-acara televisi dan hiburan yang tidak mendidik, akhirnya yang diikuti adalah perilaku yang tidak baik. d. Simpati Proses simpati merupakan suatu proses di mana seseorang merasa tertarik pada fihak lain. Di dalam proses simpati perasaan seseorang memiliki keinginan untuk memahami fihak lain, bahkan ingin melakukan kerjasama dengannya. Timbulnya rasa simpati karena fihak lain dianggap memiliki kedudukan yang lebih tinggi dan dihormati karena mempunyai kelebihankelebihan atau kemampuan-kemampuan tertentu yang patut dijadikan contoh. Atau bagi remaja, merasa simpati karena bertutur kata yang sopan, cakep, tidak sombong, dan pantai. Awalnya simpati, tetapi selanjutnya timbul rasa mencintai dan seterusnya. Lawan kata simpati adalah antipati, yaitu proses di mana seseorang tidak menyukai kepada pihak lain. Faktorfaktornya karena tidak sesuai dengan norma dan kaidah-kaidah yang

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

40

dianutnya, pernah melakukan perbuatan yang melanggar hukum, dan kelemahan-kelemahan lainnya. Di lingkungan sekolah, proses interaksi sosial dapat kita bagi dua kelompok besar yaitu bentuk interaksi yang bersifat asosiatif (positif) dan yang bersifat disosiatif (negatif). Bentuk asosiatif akan menimbulkan bentuk kerjasama, saling menghargai, dan saling memberi dan menerima. Adapun bentuk disosiatif biasanya menimbulkan persaingan, pertentangan, dan pertikaian. Materi yang diajarkan untuk tingkat SD adalah bentuk interaksi asosiatif, dapat dijelaskan sebagai berikut yaitu: a. Kerjasama Kerjasama merupakan proses interaksi sosial yang paling utama dalam kehidupan manusia. Tidak ada orang yang hidup sukses tanpa ada kerjasama dengan orang lain. Orang yang hidupnya ingin menyendiri dan tidak mau bekerjasama tidak akan mencapai sukses, bahkan akan dikucilkan tanpa teman. Namun perlu diingat, bekerjasama dalam tulisan ini adalah bekerjasama dalam kebaikan bukanbekerjasama dalam kejahatan. Bekerjasama dalam kejahatan biasanya disebut dengan istilah bersekongkol atau berkomplot. Kerjasama dapat dijumpai pada semua kelompok manusia, yaitu pada kanak-kanak, pemuda, dan orang dewasa. Pada anak-anak dapat kita saksikan pada saat bermain bersama, sedangkan pada orang dewasa dapat diamati ketika melakukan usaha bersama, hidup bermasyarakat, dan lain-lain. Bentuk kerjasama dapat dibedakan atas dua yaitu: 1. Kerjasama spontan yaitu kerjasama yang terjadi secara spontan atau mendadak. Orang-orang dalam kerjasama spontan tidak memiliki perjanjian terlebih dahulu di antara mereka. Contohnya, orang-orang spontan bekerjasama dalam menolong kecelakaan di jalan raya. Para penolong tanpa menghitung untung-rugi membantu korban, yaitu ada yang mengangkat tubuh korban, bagi yang memiliki kendaraan menyediakan jasanya untuk mengantar ke Rumah Sakit, sebagian ada yang menelopong keluarga korban, ada yang mengatur lalu lintas yang macet, dan lain-lain. 2. Kerjasama langsung yaitu bentuk kerjasama yang terorganisir baik melalui perjanjian maupun secara kebiasaan tradisional. Kerjasama yang melalui perjanjian disebut kerjasama kontrak. Semua pihak yang bekerjasama mencatatkan perjanjiannya dalam bentuk surat-surat perjanjian, sedangkan kerjasama tradisional biasanya terjadi tanpa ada kontrak kerja tetapi berlangsung karena ikan solidaritas. Contohnya bergotong-royong membangun rumah pada masyarakat pedesaan. Seseorang membantu tetangga lainnya dalam membangun rumah, kelak jika orang tersebut membangun rumah akan dibantu juga oleh tetangga lainnya. Bagaimana jika tidak mau membantu membangun rumah tetangganya? hukumannya adalah, orang itu tidak akan dibantu oleh tetangganya pada saat membangun rumah. Untuk memupuk jiwa bekerjasama, pembelajaran IPS dapat membinanya melalui kegiatan saling membantu dalam suatu

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

41

pendekatan masyarakat belajar. Strategi pembelajaran untuk memupuk jika bekerjasama misalnya dengan tugas kerja kelompok untuk mengerjakan sesuatu, misalnya membuat kliping yang berhias, menggunting dan menempel gambar secara bersama-sama, dan lain-lain. b. Akomodasi Akomodasi memiliki dua pengertian yaitu suatu keadaan yang menunjukkan keseimbangan dalam suatu interaksi sosial baik antara orang perorangan maupun antara orang dengan kelompoknya. Keseimbangan terjadi karena diantara norma-norma dan nilai sosial masyarakat tidak terganggu. Keadaan masyarakat yang aman dan tentram dapat dikatakan sebagai kondisi yang seimbang. Arti yang lain dari akomodasi adalah usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan, yaitu usaha-usaha untuk mencapai keseimbangan atau stabilitas. Usaha akomodasi adalah usaha untuk menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan fihak lawan. Tujuan dari akomodasi dapat berbeda-beda sesuai dengan situasi yang dihadapinya, yaitu: 1. Untuk mengurangi pertentangan antara orang-perorangan atau kelompokkelompok manusia sebagai akibat perbedaan faham. Akomodasi di sini bertujuan untuk menghasilkan suatu jalan tengah antara kedua pendapat yang berbeda agar menghasilkan suatu cara baru yang lebih adil. 2. Untuk mencegah meledaknya suatu pertentangan, baik untuk sementara waktu maupun untuk waktu yang lama 3. Untuk memungkinkan terjadinya kerja sama antara kelompokkelompok sosial yang berbeda baik karena perbedaan kebudayaan maupun suasana psikologis. 4. Pada masyarakat yang pernah mengalami konflik sosial (misalnya kerusuhan antar desa) perlu ada usaha akomodasi yaitu misalnya melakukan perayaan bersama, mengadakan pasar seni bersama, atau melakukan upacara adat bersama agar kedua belah pihak merasa aman kembali jika bertemu antar sesamanya. 5. Mengusahakan peleburan antara kelompok-kelompok sosial yang terpisah, misalnya, melalui perkawinan campuran atau kerjasama budaya. Akomodasi dapat berhasil tetapi juga dapat gagal. Karena itu benih-benih pertentangan harus dihapuskan secara tuntas, salah satunya menghilangkan prasangka buruk antara dua belah pihak. 6. Di lingkungan anak-anak terkadang terjadi pertentangan, sebaiknya guru mengajak siswa untuk melakukan akomodasi secara demokratis. Guru tidak boleh menghakimi tanpa pemeriksaan terhadap dua pihak yang konflik (misalnya berkelahi). Biasanya, guru berusaha mendamaikan tanpa melihat pihak yang mana yang benar dan mana yang salah. Perdamaian dapat saja menimbulkan ketidakpuasan salah satu pihak, karena tidak ada hukuman bagi yang salah. Karena itu guru harus adil dalam memutuskan perkelahian. c. Asimilasi

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

42

Asimilasi adalah proses sosial yang merupakan kelanjutan dari proses akomodasi. Di dalam asimilasi, setiap pihak berusaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat di antara orang perorangan atau kelompok manusia. Selain itu, terdapat pula usaha-usaha mempertinggi kesatuan tindak, sikap dan proses-proses mental dengan memperhatikan kepentingan-kepentngan dan tujuan bersama. Orang-orang yang mengadakan asimiliasi, akan berusaha untuk tidak lagi membedakan dirinya dengan kelompok tersebut yang mengakibatkan adanya angapan bahwa mereka sebagai orang asing. Dalam proses asimilasi, mereka berusaha untuk memenuhi tujuan dan kepentingan kelompok. Apabila dua kelompok manusia mengadakan asimilasi, maka batas-batas antara kelompok-kelompok tersebut akan hilang dan keduanya lebur menjadi satu kelompok. Budaya yang tercipta adalah budaya baru yang merupakan perpaduan dua kelompok yang melakukan asimilasi. Proses asimilasi terjadi jika: (1) terdapat dua kelompok yang berbeda kebudayaannya, (2) orang perorang dalam kelompok tadi saling bergaul secara langsung dan intensif (sangat sering) untuk waktu yang lama, dan (3) kebudayaankebudayaan dari kelompok-kelompok manusia tersebut masing-masing berubah dan saling menyesuaikan diri. Asimilasi atau pembauran sangat positif dilakukan di Indonesia yang terdiri dari bermacam ragam budaya bangsa. Pemerintah saat ini sedang berusaha untuk melakukan asimilasi antara suku warga negara asli dengan warga negara Indonesia asal keturunan Tionghoa. Walaupun sudah lama bergaul tetapi nampaknya keduanya belum sepenuhnya membaur. Untuk memperlancar proses asimilasi, maka sangat dianjurkan untuk: a. Toleransi b. Kesempatan-kesempatan di bidang ekonomi yang seimbang, yaitu antara penduduk asli dengan penduduk pendatang agar tidak dibedakanbedakan. c. Jika salah satu merasa ada yang dibedakan, biasanya akan menimbulkan konflik dan asimilasi gagal terjadi. d. Adanya sikap menghargai keberadaan orang asing dan kebudayaannya. Artinya jika asimilasi ingin mulus berjalan maka sikap penduduk asli harus terbuka. e. Sikap yang terbuka dari golongan yang berkuasa dalam masyarakat. f. Persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan. g. Perkawinan campuran (amalgamation). h. Adanya musuh bersama dari luar. Pada saat kedatangan agama Islam di tanah air, asimilasi berjalan dengan sukses. Persyaratan asimilasi dapat terpenuhi dengan baik. Berbeda ketika yang datang adalah para pedagang bangsa Eropa, mereka sangat sukar diterima oleh penduduk asli Indonesia. Hal ini karena bangsa Eropa berniat jahat yaitu bangsa Indonesia dijadikan sebagai bangsa jajahan, diperas tenaganya diperkebunan untuk memperkaya para pedagang Eropa. Faktor lainnya yang paling berpengaruh adalah perkawinan campuran (amalgamation). Perkawinan campuran adalah faktor yang paling

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

43

menguntungkan bagi jalannya proses asimilasi. Hal itu terjadi pada masyarakat pedagang Islam dengan penduduk asli nusantara. Proses asimilasi semakin kuat antara kaum pedagang Islam dengan penduduk lokal karena menghadapi musuh bersama dari luar, yaitu para penjajah dari Eropa. Dengan adanya serangan dari para penjajah Portugis dan Belanda, bangsa Indonesia semakin kuat persatuannya hingga melahirkan semangat kemerdekaan untuk melepaskan diri dari penjajahan. Hasil asimilasi yang masih ada bekas-bekasnya adalah penerimaan bangsa Indonesia terhadap warga negara keturunan asal Arab dan India. Bangsa Indonesia sampai saat ini merasa tidak memiliki perbedaan dengan mereka karena sejak dulu senasib sepenanggungan dalam melawan pejajahan. d. Akulturasi Akulturasi adalah proses sosial yang timbul bila dua kelompok kebudayaan yang berbeda bertemu. Unsur-unsur kebudayaan dari dua kelompok tersebut lambat laun diterima oleh kedua belah pihak dan “diolah” ke dalam budayanya masing-masing tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan sendiri. Jika dalam asimilasi, dua kebudayaan bertemu dan melahirkan kebudayaan yang baru sedangkan dalam akulturasi kedua budaya tetap berjalan seiring sejalan, atau disesuaikan seperlunya tanpa menghilangkan unsur-unsur budaya asli dari masing-masing kelompok tersebut, dan tidak membentuk budaya baru. Contoh adanya akulturasi adalah sebagai dari budaya barat yang diterima oleh bangsa Indonesia (seperti cara berpakaian dengan memakai jas, rias pengantin, berpesta, dan upacara agama Nasrani). Semua unsur budaya itu diterima oleh bangsa Indonesia, tetapi unsur-unsur kebudayaan itu masih memiliki jati dirinya masing-masing. Kita mengenal pakaian daerah tetapi juga mengetahui model pakaian asal Eropa. Kita mengenal dan menerima berbagai pernak-pernik dari Tionghoa tetapi kita juga masih dapat membedakannya dengan jelas. Dalam proses akulturasi terkadang terdapat adaptasi agar dapat disesuaikan dengan budaya pihak lainnya. Adaptasi adalah penyesuaian diri untuk mengatasi perbedaan yang sangat mencolok. Adaptasi terjadi di berbagai proses interaksi sosial, misalnya budaya memakai peci atau kopiyah bagi orang Islam Indonesia. Pada kebudayaan Turki, ada kopiyah seperti Tokoh Aladin sedangkan ketika masuk ke Indonsesia kopiyah telah diadaptasi menjadi berwana hitam tetapi bentuknya hampir sama. Proses interaksi yang bersifat disosiatif yang cenderung berlawanan, dapat dimanfaatkan untuk memberi motivasi belajar. Bentuk disosiatif di masyarakat antara lain persaingan dan pertikaian. Persaingan adalah proses sosial, di mana orang perorang atau kelompok bersaing untuk memperoleh keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan tanpa mempergunakan ancaman atau kekerasan kepada pihak yang dianggap pesaing. Persaingan mempunyai dua tipe umum yaitu persaingan yang bersifat pribadi dan bukan pribadi. Persaingan yang bersifat pribadi, misalnya siswa secara langsung bersaing dengan yang lainnya untuk memperoleh kedudukan rangking nomor satu di kelas. Tipe ini dinamakan juga rivalry. Sedangkan persaingan yang tidak bersifat

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

44

pribadi adalah persaingan antar kelompok yang satu dengan kelompok lainnya. Misalnya persaingan antara dua kelompok tim cerdas cermat melakukan persaingan untuk memperoleh juara satu. Di masyarakat juga terjadipersaingan, seperti perusahaan besar yang bersaing untuk mendapatkan monopoli di suatu wilayah tertentu. Persaingan dalam batas-batas tertentu dapat mempunyai manfaat yang baik bagi masyarakat yaitu: 1. Persaing dapat menyalurkan keinginan-keinginan individu atau kelompok untuk merebut sesuatu yang menjadi pusat perhatian masyarakat seperti kedudukan dan peluang usaha. Dengan persaingan setiap orang dapat berusaha sekuat tenaga untuk memperolehnya. Berbeda jika peluang itu ditutup oleh unsur KKN (Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme), walaupun kita berjuang dan berusaha sekuat tenaga untuk meraih sesuatu tetapi karena ada KKN maka usaha kita akan sia-sia karena yang akan memenangkan adalah mereka yang pandai berkolusi, korupsi, dan unsur saudara (nepotisme). 2. Persaingan dapat melahirkan inovasi-inovasi dari berbagai bidang. Jika kita ingin meraih sukses dan berhasil dalam persaingan maka perlu selalu ada inovasi dari apa yang sedang kita perjuangkan. Akhirlahir ini banyak sekali handphone dengan berbagai bentuk inovasi. Handphone selalu diperbaharui agar memenangkan persaingan. 3. Persaingan juga dapat dijadikan alat untuk melakukan seleksi atas dasar prestasi. Diakhir persaingan akan terpilih juara yang lebih unggul dan terbaik dari yang lainnya. 4. Fungsi lainnya adalah untuk menentukan seseorang dalam pekerjaannya sesuai dengan keahliannya. Konsep persaingan secara bertahap perlu disampaikan kepada siswa. Di lingkungan keluarga, persaingan sebenarnya telah diajarkan antara kakak dan adik. Dalam batas-batas tertentu, persaingan akan memberi motivasi belajar yang baik bagi siswa. Dari persaingan jika salah satu pihak tidak sehat atau melakukan kecurangan dan atau mencederai lawan pesaingnya akan menimbulkan pertentangan dan pertikaian. Pertentangan atau pertikaian adalah suatu proses sosial di mana orang-perorangan atau kelompok manusia berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menantang fihak lawan yang disertai dengan ancaman dan/atau kekerasan. Akar dari pertentangan sekurang-kurangnya ada empat yaitu: 1. Perbedaan antara orang perorangan yaitu permusuhan pribadi. Contoh pertentangan antar pribadi misalnya dua orang tukang baso keliling berebut jalur dagangan. Awalnya mereka berdua membenci, lama kelamaan memfitnah, dan akhirnya berkelahi. Menyelesaikan masalah dengan perkelahian adalah cara-cara kekanak-kanakan atau tidak dewasa. Jika mereka dewasa, sebenarnya mereka dapat saling kompromi yaitu sekali waktu berkeliling pada jam 10 malam dan satu jam berikutnya (jam 11 malam) untuk tukang bakso yang lain, sehingga keduanya dapat berkeliling tanpa harus bentrokan.

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

45

2. Bentrok karena kepentingan yang berbeda. Misalnya, sekelompok petugas ketertiban dan keamanan membubarkan para pedagang Kaki Lima (PKL) di tepi jalan atau trotoar, sebaliknya para PKL menolak dan tidak mau dibubarkan, akhirnya kedua kelompok saling memukul dan terjadilah perkelahian. 3. Bentrok karena perubahan sosial. Contohnya pada saat bangsa Indonesia melakukan reformasi pada tahun 1998, banyak jatuh korban akibat bentrokan. Pada waktu itu para demonstran menuntut agar Presiden Soeharto mundur sedangkan para petugas keamanan menjaga istana agar para demostran tidak masuk ke istana dan merusak gedung. Kedua kelompok itu akhirnya bentrok dan terjadilah kerusuhan sosial. 4. Bentrok karena perbedaan kebudayaan. Bentrokan semacam ini pernah terjadi di Amerika Serikat antara warga kulit putih dan kulit hitam. Keduanya saling bertikai menunut persamaan derajat dari warga kulit hitam sedangkan bagi kulit putih merasa paling mulia dan terhormat. Ketika tidak terjadi keseimbangan maka terjadilah pertikaian terbuka. Bentuk pertentangan bermacam-macam mulai dari pertentangan pribadi, pertentangan rasial, pertentangan antara kelas-kelas sosial, pertentangan politik, dan pertentangan yang bersifat internasional. Pertentangan yang menimbulkan pertikaian umumnya merugikan banyak pihak. Berikut adalah dampak pertikaian yang sangat membahayakan: 1. Tumbuhnya solidaritas kelompok (in-group) yang membabi buta. Benar atau salah terkadang tidak menjadi pertimbangan lagi. Asalkan ia berasal dari kelompoknya maka akan dibelanya sampai mati. 2. Perubahan kepribadian dari orang perorang. Semangat solidaritas kelompok 3. Terkadang mempengaruhi kepribadian seseorang sebagai anggota dari kelompok tersebut. Contohnya seseorang menjadi benci kepada sesuatu karena anggota kelompok lainnya juga membencinya. 4. Hancurnya harta benda dan jatuhnya korban manusia 5. Dominasi dari pihak-pihak yang menang terhadap pihak-pihak yang dikalahkan. Pada jaman dahulu banyak negara yang kalah perang, rakyatnya dijadikan budak yang diperjualbelikan. Sejak awal, pembelajaran IPS harus mulai membentuk karakter siswa yaitu suka bekerjasama dan hidup harmonis. Jika menghadapi pertengkaran dengan kakak dan aknya di rumah, atau bertikai dengan teman-temannya di sekolah mereka harus mampu mengendalikan dirinya (tidak marahmarah atau mengamuk di sekolah). Siswa harus menyadari bagaimana cara penyelesaian masalah bagi diri dan temannya. Strategi pembelajaran terhadap materi tentang mengenal diri dan keluarganya adalah tematik, sasarannya adalah untuk menanamkan kesadaran siswa bahwa mereka harus mampu hidup bersama dengan orang lain antara lain mengangkat tema: bekerjasama, cara berteman baik, indahnya hidup damai, rumahku, dan lain-lain.

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

46

D. PEMBELAJARAN LINGKUNGAN RUMAH DAN KELUARGA Setelah anak mengetahui tentang identitas diri dan keluarga, materi berikutnya adalah mengajak agar siswa mampu mendeskripsikan lingkungan rumahnya dan mampu memahami peristiwa penting di rumah. Untuk peristiwa penting di rumah diharapkan berisi tentang peristiwa yang berkesan baik bukan berkesan buruk. Untuk menyampaikan materi keadaan lingkungan rumah, siswa dapat diajak untuk menyebutkan satu persatu nama benda yang ada di rumahnya. Guru juga dapat menampilkan gambar-gambar peralatan rumah tangga sambil memperkenalkan perkembangan berbagai teknologi alat rumah tangga. Pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman merupakan suatu proses belajar-mengajar yang menekankan pada pengalaman siswa, baik pengalaman individual, emosional, sosial maupun fisik-motorik. Ciri Pembelajarannya menekankan pada proses daripada hasil, terarah pada pengembangan kepribadian siswa secara utuh (pengetahuan, sosial, emosi, dan motorik), dan pembelajaran merupakan proses adaptasi terhadap lingkungan alam dan sosial. Langkahlangkah pembelajaran berbasis pengalaman adalah berupa siklus yang diawali dari (1) Pengalaman konkrit, (2) Pengalaman reflektif, (3) Konseptualisasi abstrak, dan (4) Percobaan aktif. Hasil percobaan aktif merupakan pengalaman konkrit baru bagi siswa (Sukmadinata, 2004). Secara teori, guru harus menyadari dan selalu mengingatnya bahwa setiap individu berbeda satu dengan lainnya baik secara fisik maupun psikhis. Siswa merupakan pribadi yang unik, artinya tidak ada dua orang siswa yang sama persis. Mereka memiliki latar berlakang keluarga yang berbeda, dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat yang berbeda, dan memiliki potensi serta minat yang berbeda pula. Selain itu, guru harus memahami dengan baik bahwa peserta didik adalah individu yang sedang berada dalam proses perkembangan, seperti perkembangan dalam aspek fisik/jasmani, intelektual, sosial, emosional, moral dan lain-lain. Tugas guru adalah membantu mengoptimalkan perkembangan peserta didik tersebut. Setiap siswa adalah unik, maka guru harus memahami siswa dalam tingkat perkembangannya masing-masing. Salah satu cara agar guru mengenal siswanya dengan baik maka ia harus berbekal ilmu psikologi khususnya psikologi perkembangan dan psikologi belajar. Psikologi perkembangan berguna untuk menentukan isi materi yang akan diberikan kepada siswa arag tingkat keluasan dan kedalaman materi/bahan ajar sesuai dengan taraf perkembangan siswa sedangkan psikologi belajar berkenan untuk memberi pemahaman kepada guru tentang bagaimana pembelajaran dilakukan dan bagaimana siswa dapat belajar dalam proses pembelajaran yang dirancang guru. Dalam mengenal siswa, guru harus memahami bahwa proses belajar merupakan proses perbantuan untuk mendewasakan anak didik. Siswa yang menuju kedewasaannya harus dianggap sebagai orang yang memiliki potensi bawaan dan akan berkembang menjadi baik dan sempurna berkat pengaruh lingkungan. Sebagai orang yang memiliki potensi, siswa harus dipandang sebagai orang yang memiliki tugas-tugas perkembangannya masing-masing sesuai dengan taraf/tingkat perkembangan yang dituntut oleh lingkungnnya. Bagaimana agar guru dapat mempraktekkan teori yang telah diketahuinya dalam mengenal

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

47

siswanya? Guru yang mengenal siswanya sebagai sosok yang (1) unik, (2) memiliki potensi dan selalu dipengaruhi oleh lingkungannya, dan (3) sedang dalam proses berkembang maka dalam praktek pembelajarannya harus mengandung prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. Setiap anak diberi kesempatan untuk berkembang sesuai dengan bakat, minat dan kebutuhannya. 2. Disamping disedikan pelajaran yang sifatnya umum (program inti) yang wajib dikuasai setiap anak, disediakan pula pelajaran-pelajaran pilihan yang sesuai dengan minat siswa. 3. Dalam pengembangan media pembelajaran yang digunakan memperhatikan tingkat verbalisme media sehingga dapat dipahami oleh siswa sesuai tingkat perkembangannya. Bagaimana upaya guru untuk berkomunikasi dengan siswanya agar proses belajar berjalan lancar. Upaya guru yang pokok untuk dapat berkomunikasi dengan siswanya adalah memahami dengan baik tentang proses komunikasi yang efektif. Komunikasi sebagai interaksi edukatif harus disadari guru bahwa komunikasi tersebut memiliki makna yang berharga yaitu bertujuan untuk mendidik dan mengatarkan siswa ke arah kedewasaan. Bentuk interaksi yang digunakan tidak terlalu penting tetapi yang pokok adalah maksud berkomunikasinya sehingga perlu dirancang dengan baik. Ciri komunikasi yang telah dirancang misalnya: 1. telah menggunakan bahasa yang sesuai dengan kemampuan siswa 2. menggunakan berbagai rangsangan untuk meningkatkan komunikasi 3. memilih bentuk komunikasi yang tepat sesuai situasi belajar, topik bahasan dan perkembangan siswa. 4. berkembangnya proses tanya-jawab antara siswa dan guru yang lebih efektif. 5. guru terampil dalam mengajukan teknik pertanyaan yaitu: pertanyaan yang diajukan berlaku untuk seluruh kelas; menggunakan waktu “jeda” dan membiarkan semua siswa untuk berfikir tentang jawabannya; dengan tepat guru menentukan seorang siswa untuk menjawab; guru dengan bijak mendengarkan jawaban siswa; guru menghargai jawaban siswa yang benar dan tidak menyurutkan motivasi siswa ketika jawabannya salah. 6. guru dapat menggunakan bahasa tubuh dengan efektif dan juga memahami bahasa tubuh siswa. Misalnya guru harus mengetahui dengan cepat tentang siswa yang menghadapi masalah, sakit, atau lainnya. 7. guru dapat menghidupkan kehangatan suasana kelas yaitu misalnya dengan humor, kedekatan, dan sentuhan. 8. guru dapat mengendalikan suasana kelas dengan menghilangkan kendala atau gangguan komunikasi, dan menegakkan aturan kelas yang telah disepakati di awal pembelajaran. Satu lagi hal yang perlu diingat adalah bahwa guru memiliki peranan sebagai leader di kelas dan di masyarakat. Kepemimpinan (leadership) merupakan kemampuan (kompetensi) kunci dalam keseluruhan peran guru baik di kelas maupun di masyarakat. Peran guru di kelas dan merupakan kompetensi guru yang sepatutnya dikuasai adalah sebagai pencipta lingkungan belajar dan mengendalikan proses belajar, sebagai konselor (BP), pemerhati kesehatan dan

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

48

keselamatan siswa, pengelola kelas, dan kepemimpinan program. Berdasarkan kompetensi yang dipersyaratkan, dalam kelas guru akan optimal mengambil perannya sebagai: 1. Subjek ahli dalam proses pembelajaran, artinya sebagai sosok yang berkompeten di lingkungan proses pembelajaran. 2. Peneliti, artinya selain berperan sebagai pengajar, guru juga secara aktif sebagai peneliti untuk mengembangkan dan meningkatkan proses pembelajaran secara efektif. 3. Pembimbing dan konselor (guidance and counselling) yaitu menjadi tumpuan siswa dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi siswa. 4. Ahli dalam berkomunikasi, artinya jalinan interaksi pembelajaran antara gurusiswa dan antara siswa dengan siswa dapat berkembang sesuai dengan yang diharapkan dan semua itu tidak terlepas dari peran guru. 5. Administrator, yaitu mengatur proses pembelajaran agar berjalan seefektif dan seefisien mungkin pemenuh kebutuhan yang bersifat khusus, artinya guru melayani kebutuhan siswa dan pembelajaran yang bersifat khusus evaluator seluruh program pembelajaran penilai (assesor) hasil belajar siswa. 6. Desain program pengembang staf yaitu sebagai orang yang diharapkan dapat mengoptimalkan peran staf dalam proses pembelajaran juru penerang program, yaitu menerangkan atau menjelaskan setiap program kepada orang tua siswa atau masyarakat pembuat dan pengguna media pembelajaran E. PEMBELAJARAN PERAN DALAM KELUARGA & LINGKUNGAN Siswa di sekolah merupakan “anak” masyarakat yang memiliki latar belakang kedudukan sosial yang beragam. Mereka ada yang berasal dari keluarga kaya, terpandang, kedudukan sosial tertinggi, terkenal dan lain-lain. Sebaliknya diantara mereka juga ada dari keluarga miskin, tidak terkenal dan memiliki kedudukan yang rendah. Seorang guru harus memahami tentang status sosial sebelum mengajar tentang kedudukan dan peranan anggota dalam keluarga dan lingkungan tetangga. Status adalah posisi yang dimiliki seseorang dalam suatu kelompok. Untuk memperoleh status seseorang di masyarakat ada yang bersifat objektif dan subjektif. Status yang bersifat objektif adalah status yang diperoleh karena jabatan formal yang diperolehnya seperti menjadi lurah, menjadi kepala sekolah, menjadi kepala stasiun, dan lain-lain. Sedangkan status subjektif yaitu status karena faktor kelahiran (asal usul keturunanya), prestasi, otoritas (kekuasaan), dan mutu pribadinya. Status objektif dan subjektif sebaiknya seiring sejalan. Ketika seseorang memiliki status formal menjadi lurah maka diharapkan didukung oleh status subjektifnya yaitu prestasi yang terbaik, otoritas yang bijaksana, dan kepribadiannya yang luruh. Kepribadian seseorang akan berbeda jika dilihat dari cara seseorang memperoleh status atau peranan.

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

49

Ada dua cara yang utama bagi seseorang untuk memperoleh status sosialnya yaitu: 1. Ascribed status adalah status yang diperoleh secara otomatis dan tanpa ada usaha. Status jenis ini diperoleh karena garis keturunanya. Misalnya keturunan raja atau keturunan seorang bangsawan. Ascribed status ditemukan pada masyarakat dengan sistem lapisan sosial tertutup yaitu pada masyarakat feodal atau masyarakat yang rasial. Kepribadian yang dibentuk adalah kesombongan dan selalu menganggap orang dibawah kedudukannya adalah rendah. 2. Achieved status yaitu status yang diperoleh seseorang melalui usaha yang sungguh-sungguh. Statusnya tidak diperoleh melalui kelahiran atau keturunan, tetapi melalui kerja dan belajar dengan keras, contohnya status menjadi bupati, menteri, atau guru. Kepribadiannya akan sangat menghargai orang lain berdasarkan usaha dan prestasinya. 3. Selain kedua usaha tersebut ada juga status yang diberikan karena jasajasanya yaitu assigned status, contohnya gelar kebangsawanan bagi orang umum yang telah berjasa kepada kerajaan atau negara. Dengan kedudukan statusnya, seseorang akan memperoleh peranan sosialnya. Peran merupakan tindakan atau prilaku yang diharapkan dari seseorang karena posisi atau status yang dimilikinya. Peran merupakan aspek dinamis jika seseorang melaksanakan hak dan kewajiban sesuai dengan kedudukannya. Jika tidak sesuai dengan hak dan kewajibannya seseorang akan dicopot statusnya, terutama status pada kelompok Achieved status. Agar tidak dicopot dari statusnya maka ia berusaha bertindak dalam kepribadian yang sesuai dengan tuntutan statusnya. Kepribadian dirinya disesuaikan dengan tuntutan hak dan kewajibannya. Untuk menjalankan perana dan statusnya tidak semua berhasil tergantung pada kepribadian yang dimunculkannya. Kegagalan terjadi karena adanya konflik peranan. Contoh konflik peranan yang sangat nyata misalnya seorang jaksa harus menuntut anaknya atas tindak kejahatan yang telah dilakukannya, yaitu mencuri. Dalam kasus ini ia akan diuji kepribadiannya yaitu apakah bertindak sebagai ayah (dari anak itu) atau sebagai jaksa yang menuntut anaknya sendiri. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa status sosial adakan membentuk mempengaruhi kepribadian seseorang dan sebaliknya kepribadian juga akan menentukan keberhasilan dalam menduduki peranan sosialnya. Untuk mengenal kepribadian seseorang dapat dipelajari dari pendidikannya, kebudayaan daerahnya, lingkungan hidupnya (apakah di kota atau di desa), dari kelas sosial yang mana, agamanya, profesi pekerjaannya, dan status/peranan sosialnya. Dengan mengetahui latar belakang sosialnya, kita dapat “memperkirakan” kepribadian seseorang. Namun demikian perlu dicatat, untuk menilai kepribadian seseorang tidak mudah. Perlu waktu yang panjang yaitu perlu berdialog, melihat pekerjaannya, temperamennya, dan keteguhan hatinya. Sebagaimana diketahui, anak adalah cerminan kedudukan dan status orangnya. Guru harus bersifat adil tehadap semua anak baik orang tuanya memiliki status yang tinggi atau yang rendah. Dalam diri anak juga harus ditanamkan bahwa di sekolah semua memiliki kedudukan yang sama.

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

50

Tapi biasanya, orang tua yang sombong mempengaruhi anaknya agar jangan bergaul dengan anak yang miskin dan memiliki kedudukan sosial yang rendah. Hal ini terkadang mengganggu suasana kelas. Caranya agar tidak berlanjut, guru menampaikan materi tentang kedudukan seseorang dan bahwa masing-masing peranan memiliki tugas dan fungsinya di masyarakat. Cara yang paling bijak misalnya dengan menerapkan metode bermain peran atau sosiodrama. Sosiodrama (role playing) berasal dan kata sosio dan drama. Sosio berarti sosial menunjuk pada objeknya yaitu masyarakat menunjukkan pada kegiatan-kegiatan sosial, dan drama berarti mempertunjukkan, mempertontonkan atau memperlihatkan. Sosiodrama adalah mtode mempertunjukkan atau mempertontonkan suatu keadaan atau peristiwaperistiwa yang dialami orang, tingkah laku oraang sesuai perannya. Metode sosiodrama berarti cara menyajikan bahan pelajaran dengan mempertunjukkan dan mempertontonkan atau mendramatisasikan cara tingkah laku dalam hubungan sosial. Jadi sosiodrama ialah metode mengajar yang dalam pelaksanaannya peserta didik mendapat tugas dan guru untuk mendramatisasikan suatu situasi sosial yang mengandung suatu problem, agar peserta didik dapat memecahkan suatu masalah yang muncul dan suatu situasi sosial. Metode sosiodrama mempunyai kebaikan kebaikan antara lain ialah: 1. Siswa melatih dirinya untuk memahami dan mengingat bahan yang akan didramakan. Sebagai pemain harus memahami, menghayati isi cerita secara keseluruhan, terutama untuk materi yang akan disampaikan, sehingga daya ingatan siswa harus tajam; 2. Siswa akan terlatih untuk berinisiatif dan berkreatif. Pada waktu bermain drama para pemain dituntut untuk mengemukakan pendapatnya sesuai dengan waktu yang tersedia; 3. Bakat yang terpendam pada siswa dapat dipupuk sehingga dimungkinkan akan muncul atau timbul bibit seni dani sekolah. Jika seni drama mereka dibina dengan baik kemungkinan besar mereka akan jadi pemain yang baik di kemudian hari; 4. Kerja sama antar pemain dapat ditumbuhkan dan dibina dengan sebaikbaiknya; siswa memperoleh kebiasaan untuk menerima dan membagi tanggung jawab dengan sesamanya; 5. Bahasa lisan siswa dapat dibina menjadi bahasa yang baik agar mudah dipahami orang lain. Selain keunggulan-keunggulannya, metode sosiodrama mempunyai sejumlah kelemahan-kelemahan, antara lain: 1. Sebagian besar anak yang tidak ikut bermain drama menjadi kurang aktif; 2. Banyak memakan waktu, baik waktu persiapan dalam rangka pemahaman isi bahan pelajaran maupun pada pelaksanaan pertunjukan; 3. Memerlukan tempat yang cukup luas. Jika tempat bermain sempit menyebabkan gerak para pemain kurang bebas; dan 4. Kelas lain sering terganggu oleh suara pemain dan para penonton yang kadang-kadang bertepuk tangan dan sebagainya.

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

51

Usaha-usaha untuk mengatasi kelemahan-kelemahan dan metode sosiodrama antara lain ialah: 1. Guru harus menerangkan kepada siswa, untuk memperkenalkan metode ini, bahwa dengan jalan sosiodrama siswa diharapkan dapat memecahkan masalah hubungan sosial yang aktual ada di masyarakat. Kemudian guru menunjuk beberapa siswa yang berperan, masing-masing akan mencari pernecahan masalah sesuai dengan perannya, dan siswa yang lain menjadi penonton dengan tugas-tugas tertentu pula; 2. Guru harus memilih rnasalah yang urgen sehingga menarik minat anak. Ia dapat menjelaskan dengan baik dan menarik, sehingga siswa terangsang untuk memecahkan masalah itu; 3. Agar siswa memahami peristiwanya maka guru harus bisa menceritakan sambil mengatur adegan pertama; dan 4. Bobot atau luasnya bahan pelajaran yang akan didramakan harus sesuai dengan waktu yang tersedia. Oleh karena itu harus diusahakan agar para pernain berbicara dan melakukan gerakan jangan sarnpai banyak variasi yang kurang berguna. Pertanyaan berikutnya, materi apa yang dapat disampaikan pada bermain peran. Dengan tujuan agar siswa memahami tugas dan peranan setiap anggota masyarakat misalnya tentang ajakan untuk melakukan kerjabakti di lingkungan RT. Apapun metode yang akan digunakan guru, teori pembelajaran memberi petunjuk bahwa dalam pemilihan strategi pembelajaran, hal yang perlu memperhatikan lebih lanjut adalah memperhatikan tujuan, materi, siswa, fasilitas, waktu dan guru. a. Faktor tujuan Tujuan merupakan faktor yang paling pokok, sebab semua faktor yang ada di dalam situasi pembelajaran, termasuk strategi pembelajaran, diarahkan dan diupayakan untuk mencapai tujuan. Dalam penentuan strategi pembelajaran sangat ditekankan untuk memahami esensi tujuan pembelajaran. Artinya tidak hanya dalam bentuk rumusan tujuan yang disusun berdasarkan konsep Audience-Behavior-Condition-Degree (ABCD) dan harus tersirat tujuan pengembangan baik aspek afektif, psikomotor maupun aspek kognitifnya secara lebih spesifik. b. Faktor materi Sebagaimana sudah dimaklumi bahwa pada hakikatnya ilmu atau materi pelajaran memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Karakteristik setiap ilmu atau matapelajari membawa implikasi terhadap penggunaan cara dan teknik di dalam proses belajar mengajar. Namun secara umum, setiap mata pelajaran memiliki pola yang sama yaitu mengajarkan fakta, konsep, prinsip, masalah, prosedur (keterampilan), dan sikap. Dalam mata pelajaran IPS, mengajarkan fakta kelihatannya tidak terlalu sulit dan dapat dibantu dengan berbagai media pembelajaran yang ada. Misalnya menggunakan gambar pasar, melihat proses transaksi jual beli melalui video, dan lain-lain. Mengajarkan konsep bukan sekedar supaya siswa hafal akan konsep tersebut tetapi yang lebih utama ialah supaya siswa memahami tentang ciri-ciri dari konsep tersebut.

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

52

c. Faktor siswa Siswa adalah pihak yang berkepentingan di dalam proses pembelajaran. Karena itu tidak bijaksana jika dalam pemilihan strategi pembelajaran tidak memperhatikan faktor siswa. Hal yang sangat penting dari faktor siswa adalah bahwa siswa merupakan pribadi yang utuh-menyeluruh, siswa merupakan pribadi tersendiri yang memiliki perbedaan dari yang lainnya baik kemampuan, cara belajar, kebutuhan, dan sebagainya. Selain memperhatikan kualitas individu siswa, faktor siswa lainnya yang perlu diperhatikan adalah kuantitasnya dalam suatu rombongan belajar (rombel). d. Faktor fasilitas Faktor fasilitas juga menentukan proses dan hasil belajar. Bila guru merencanakan penggunaan metode demonstrasi dalam memberi contih cara memasak kue tertentu, maka berbagai fasilitas yang dibutuhkan harus tersedia. Tanpa ada fasilitas demonstrasi memasak maka metode pembelajaran dengan sendirinya berubah yaitu menjadi metode ceramah. e. Faktor waktu Faktor lainnya yang perlu dipertimbangkan adalah waktu, baik jumlah waktu yang tersedia maupun kondisi waktu. Jumlah waktu dihitung dalam menit atau jumlah jam yang tersedia sedangkan kondisi waktu adalah pagi, siang, sore dan waktu lainnya. f. Faktor Guru Jika sumber pembelajaran hanya guru, maka guru menjadi penentu yang harus diperhatikan dalam strategi pembelajaran. Dedikasi dan kemampuan gurulah yang pada akhirnya mempengaruhi pelaksanaan proses pembelajaran, tetapi jika guru hanya salah satu alternatif sumber belajar maka pemilihan strategi pembelajaran harus dikoordinasikan dengan fasilitas yang tersedia. F. PEMBELAJARAN LINGKUNGAN HIDUP, JENIS PEKERJAAN DAN JUAL BELI. 1. Pembelajaran Tentang Lingkungan. Berdasarkan lingkungan ekologinya, lingkungan hidup dibedakan juga atas tiga kelompok, yaitu lingkungan alam, lingkungan sosial dan lingkungan budaya. Lingkungan alam merupakan kondisi alamiah, lingkungan sosial adalah manusia, baik dalam posisinya sebagai makhluk pribadi maupun makhluk sosial, dan lingkungan budaya merupakan hasil aktifitas manusia, baik berupa karsa, karya maupun rasa. Lingkungan budaya terkadang disebut juga lingkungan buatan (man made environment). Di dalam lingkungan hidup terdapat keterkaitan antar komponen lingkungan hidup. Jalinan keterkaitan antar komponen dalam suatu sistem kehidupan dikenal dengan istilah ekosistem. Di dalam ekosistem unsurunsur hayati (organisme) dan unsur-unsur non hayati (zat-zat tak hidup) menjalin hubungan timbal balik atau berinteraksi, konsep ini bisa ditampilkan secara rumit atau sebaliknya menjadi sederhana.

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

53

Untuk siswa SD hendaknya disampaikan dengan cara yang sederhana. Untuk anak usia SD tingkat bawah, cukup kiranya disampaikan tentang pengelompokkan unsur lingkungan hidup dan secara sederhana dapat ditunjukkan bahwa antar komponennya saling keterkaitan satu dengan yang lain. Anak usia SD, sudah mengenal konsep bahwa ada mahluk hidup dan benda mati. Anak dapat mengamati ciri-ciri makluk hidup dari apa yang dilihatnya seperti dapat bernafas, tumbuh, dan berkembang biak. Untuk menyampaikan materi ini, guru dapat membawa binatang peliharaan ke dalam kelas (ayam, kelinci, itik, dan lain-lain), batu, potongan kayu, air, pot bunga, dan berbagai benda yang ada di lingkungan hidup. Secara bertahap, anak akan mampu menunjukkan bahwa binatang peliharaan dan bunga dikelompokkan sebagai makhluk hidup sedangkan batu, kayu, atau air dikelompokkan sebagai benda mati. Setelah siswa mampu mengelompokkan berdasarkan benda nyata, untuk anak usia SD tingkatan rendah (kelas I, II, dan III) dapat diajak untuk menggambar dan atau menempel gambar-gambar benda-benda yang ada di lingkungan siswa. Sambil mengambar anak, dapat diminta untuk memilih mana gambar makhluk hidup dan maka yang benda mati. Substansi materi tentang lingkungan hidup secara normatif dibedakan atas dua bagian utama, yaitu lingkungan biotik dan lingkungan abiotik. Lingkungan biotik adalah segala makhluk hidup, mulai mikroorganisme sampai dengan tumbuhan dan hewan, termasuk di dalamnya manusia. Lingkungan abiotik adalah segala kondisi yang terdapat di sekitar makhluk hidup yang bukan organisme hidup, seperti batuan, tanah, mineral, dan udara. Lingkungan biotik sering pula dinamakan lingkungan organik, sedangkan lingkungan abiotik dinamakan juga lingkungan anorganik Pada tingkatan yang lebih tinggi, materi tentang lingkungan hidup dapat diperluas. Konsep ekosistem sederhana sudah dapat disampaikan dan guru dapat memulai dari rantai makanan sederhana dan dilanjutkan dengan konsep interaksi dan selanjutnya konsep saling ketergantungan. Untuk menyampaikan materi tentang rantai makanan, guru hanya perlu keterampilan untuk memilih yaitu mana yang sederhana dan maka yang lebih kompleks. Perhatikan gambar berikut yang sama-sama satu tema yaitu rantai manakan tetapi memiliki tingkatan kerumitan yang berbeda. Penyampaian materi tentang lingkungan alam dan lingkungan buatan sebaiknya dilakukan di luar kelas. Menurut Sumaatmadja (1980; 109) sekurang-kurangnya ada dua metode yang digunakan di luar kelas yaitu tugas belajar (resitasi) dan metode karya wisata. Metode tugas adalah untuk mengembangkan potensi anak didik. Tugas dalam pembelajara IPS bukan merupakan pemberian beban dari guru kepada anak tetapi harus didasarkan atas kegairahan anak untuk memenuhi tugas tersebut. Jika anak bergairah dalam melaksanakan tugas, akan mengurangi kecurangan atau penipuan yang dilakukan oleh anak didik dalam memenuhi tugas tersebut. Bentuk tugas yang dapat diberikan kepada siswa dapat diberikan untuk tugas individual dan tugas kelompok. Tugas individual lebih menekankan pada kepada pembinaan kognitif, afektif, dan psikomotor secara individual. Sedangkan tugas kelompok ditunjukan untuk memupuk kemampuan saling menghargai, bergotong royong, toleransi kelompok, bekerjasama, dan kepatuhan terhadap ketentuan bekerja kelompok.

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

54

Metode karyawisata adalah suatu kunjungan ke objek tertentu di luar sekolah, yang ada di bawah bimbingan guru IPS. Kunjungan ke objek tertentu tidak harus jauh, menggunakan waktu yang berhari-hari, dan menghabiskan biaya besar. Karyawisata dapat saja mengunjungi ke lokasi di dekat sekolah seperti mengunjungi sungai, danau, pabrik, ternak, pasar, mall, kantor instansi, dan lainlain. Dalam penyelenggaraan karyawisata, siswa diharapkan memiliki dorongandorongan minat dan perhatian terhadap apa yang sedang dipelajarinya (sense of interest), dorongan untuk melihat kenyataan (sense of reality), dan dorongan untuk menemukan sendiri hal-hal yang menarik perhatiannya (sense of discovery). Hakikat naluriah tersebut harus mendapat perhatian guru untuk selanjutnya dibina dan dikembangkan pada pengajaran IPS. Pelaksanaan metode karyawisata, harus tetap diusahakan mengembangkan minat anak didik. Proses pengembangan dan pemantapan sense of discovery inilah yang membantu anak-didik untuk menjadi insan yang pandai peneliti. Berdasarkan penekanan ketiga aspek tadi untuk tiap jenjang pendidikan sudah pasti harus berbeda-beda. Terlepas dari nilai positif di dalam metode tugas dan karyawisata, yang pasti pemberian tugas dan karyawisat membutuhkan media. Artinya, pemberian tugas dalam pembelajaran IPS tidak dapat dilakukan secara konvensional, tetapi harus dibarengi oleh lembaran kerja siswa yang bertujuan. Berdasarkan pengelompokkan sumber belajar, LKS termasuk kelompok sumber belajar yang dirancang (learning resources by design), artinya dapat digunakan untuk memperkaya pembelajaran. LKS dalam mendukung metode tugas sangat tepat, asalkan LKS dirancang sedemikian rupa untuk membangun konsep pengetahuan yang dikehendaki. 2. Pembelajaran pada Jenis-Jenis Pekerjaan. Anak usia SD sudah tahu bahwa orang tuanya bekerja, tetapi mengapa setiap orang tua mimiliki jenis pekerjaan yang berbeda-beda, mungkin belum diketahui oleh setiap siswa. Siswa kebanyakan sudah tahu bahwa setiap orang memiliki pekerjaan yang dapat menghasilkan pendapatan (uang) untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Orang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup bagi dirinya dan keluarganya. Kebutuhan yang paling utama adalah untuk dapat membeli makanan, pakaian, membangun dan memelihara tepat tinggal, menyekolahkan anak-anaknya, untuk berobat jika sakit, dan lain-lain. Pekerjaan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan hidup dikenal dengan mata pencaharian. Mata pencaharian penduduk dalam ruang lingkup pertanian umumnya terikat oleh tempat pekerjaannya dan berhubungan langsung tanah dan lahan. Keberhasilan mereka sangat ditentukan oleh keadaan alam lingkungannya. Di antara jenis mata pencaharian pertanian antara lain: 1. Berburu dan meramu Kegiatan ini merupakan kegiatan yang paling sederhana. Alam menyediakan bahan makanan dan manusia hanya mengambil, memburu, mengumpulkan, dan meramu saja. Kehidupan masyarakat yang berburu dan meramu umumnya mengembara ke berbagai wilayah yang luas dalam mencari makan. Dengan demikian mereka hidup berpindah-pindah (nomaden) dan tidak membangun rumah atau tempat tinggal yang tetap atau permanen.

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

55

2. Perladangan berpindah-pindah Mata pencaharian berladang yang berpindah-pindah berbeda dengan kegiatan berburu dan meramu. Walaupun berpindah-pindah, masyarakat yang melakukan perladangan sudah melakukan pengolahan tanah pertanian. Aktivitas perladangan dapat dilakukan apabila jumlah penduduknya masih sedikit dengan lahan untuk dijadikan ladang masih luas. Hutan yang dijadikan ladang dapat ditanami dua atau tiga kali panen, setelah itu mereka pindah dan membuka hutan kembali untuk dijadikan ladang. Aktivitas perladangan dapat dilakukan apabila jumlah penduduknya masih sedikit dengan lahan ladang yang masih luas. Hutan yang dijadikan ladang dapat ditanami dua atau tiga kali panen, setelah itu mereka pindah dan membuka hutan kembali untuk dijadikan ladang. Lahan yang ditinggalkan suatu saat akan dimanfaatkan kembali karena ladang telah ditumbuhi hutan kembali dan kesuburan tanahnya sudah kembali baik . 3. Pertanian sawah Pertanian sawah merupakan mata pencaharian yang telah banyak kita kenal. Ciri masyarakat bertani sawah adalah sudah menetap dan tidak berpindahpindah tempat. Pada pertanian sawah, lahan sudah benar-benar diusahakan baik dalam pengolahan lahan, pemupukan, maupun pengairannya. Jenis tanaman pertanian sawah umumnya bahan makanan pokok seperti padi. Pada pertanian sawah dilakukan pula pertanian lahan kering yang mengusahakan jenis tanaman seperti padi gogo, kedelai, ubi jalar, kacang-kacangan. 4. Perkebunan Perkebunan hampir sama dengan mata pencaharian pada pertanian lahan kering yaitu masyarakatnya sudah menetap. Berdasarkan besar kecilnya usaha, ada dua jenis usaha perkebunan yaitu perkebunan rakyat dan perkebunan besar. Perkebunan rakyat merupakan usaha perkebunan yang dilakukan masyarakat dalam skala kecil. Ciri-ciri perkebunan rakyat adalah luas lahan garapan relatif sempit, jumlah tenaga kerja sedikit, peralatan pengolahan dan pemeliharaan tanaman perkebunan sederhana, modal yang digunakan sangat kecil, dan tentu saja hasil atau keuntungannya sedikit. Perkebunan besar adalah usaha yang dilakukan dalam skala besar. Lahan yang diusahakan sangat luas, modal yang digunakan cukup besar, jumlah tenaga kerja cukup besar, peralatan pertanian sangat maju, dan hasil keuntungannya juga besar. 5. Peternakan Beternak juga salah satu jenis mata pencaharian penduduk. Cara beternak di Indonesia umumnya masih bersifat usaha keluarga dan dipelihara di halamanhalaman rumah, seperti beternak itik, ayam, kambing, dan lembu. Berdasarkan jenis ternak yang diusahakan, usaha peternakan ada tiga yaitu ternak kecil seperti kambing, domba, dan kelinci. Usaha ternak besar seperti sapi, kerbau, dan kuda, sedangkan ternak unggas adalah seperti ayam, itik, dan burung. 6. Perikanan Usaha perikanan ada dua yaitu perikanan darat dan perikanan laut. Perikanan darat merupakan usaha perikanan yang dilakukan pada perairan darat seperti di kolam, di danau, keramba di sungai, dan lain-lain. Usaha pengolahan perikanan dimulai dari pembibitan, pemupukan, pemeliharaan ikan,

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

56

pemberantasan hama, dan pemanenan. Adapun perikanan laut dinamakan usaha nelayan. Jadi nelayan adalah salah satu mata pencaharian penduduk. Mereka hidup dengan cara menagkap ikan di laut, hasil tangkapannya dijual untuk memenuhi kebutuhannya. 7. Industri Mata pencaharian penduduk dibidang industri banyak sekali jenisnya. Pokoknya semua kegiatan yang melakukan proses pengolahan bahan mentah menjadi barang jadi, atau pengolahan bahan mentah menjadi barang setengah jadi, adalah bagian dari kegiatan industri. Jenis pekerjaan daam bidang industri antara lain dipengaruhi oleh kebutuhan manusia yaitu kebutuhan makanan, pakaian, perumahan, hiburan, olah raga, dan lain-lain. Banyaknya kebutuhan manusia, banyak pula jenis pekerjaan di bidang industri. Di Indonesia, kegiatan industri dapat dikelompokkan dengan berbagai klasifikasi, yaitu: Berdasarkan bahan bakunya, industri dikelompokkan atas tiga jenis yaitu: (a) Industri ekstraktif, yaitu industri yang bahan bakunya diperoleh langsung dari alam, seperti industri dari hasil pertanian, perikanan, dan kehutanan; (b) Industri nonekstraktif, yaitu industri yang bahan bakunya berasal dari tempat atau industri lain. Industri nonekstraktif dibagi dua jenis yaitu reproduktif jika bahan baku berasal dari alam seperti industri teh dan susu. Jenis kedua adalah industri manufactur, yaitu industri yang mengolah bahan baku yang hasilnya untuk keperluan sehari-hari atau digunakan oleh industri lain. Contohnya industri kayu lapis, benang tenun, dan kain; (c) Industri fasilitatif, yaitu industri yang menjual jasa untuk keperluan orang lain, seperti: perbankan, perdagangan, angkutan dan pariwisata. Berdasarkan hasil produksi yang dihasilkan, industri ini dapat dibagi tiga yaitu: (a) Industri primer, yaitu industri yang menghasilkan barang-barang tanpa pengolahan barang lebih lanjut, seperti penggilingan padi (hueler), industri anyaman; (b) Industri sekunder, yaitu industri yang menghasilkan barang yang hasil produksinya membutuhkan pengolahan lebih lanjut sebelum dikonsumsi, seperti pemintalan benang dan industri ban; (c) Industri tersier, yaitu industri yang dihasilkan dari kegiatan industri itu bukan berupa barang tetapi bergerak di bidang jasa, seperti angkutan dan pariwisata. Berdasarkan proses produksinya, jenis industri dapat dibedakan atas industri hulu dan industri hulu: (a) Industri hulu, yaitu industri yang mengolah bahan mentah menjadi barang setengah jadi, seperti industri kayu lapis dan aluminium; (b) Industri hilir, yaitu industri yang mengolah barang setengah jadi menjadi barang jadi atau industri yang menyempurnakan sehingga barang yang dihasilkan dapat langsung dipakai konsumen, seperti industri meubel dan industri konveksi. Berdasarkan produknya, jenis industri dapat dibedakan atas: (a) Industri berat, yaitu industri yang menghasilkan mesin atau alat produksi lainnya. Contohnya industri alat-alat berat dan mesin percetakan; (b) Industri ringan, yaitu industri yang menghasilkan barang siap pakai untuk dikonsumsi, seperti industri obatobatan, makanan dan minuman.

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

57

Berdasarkan bahan dasar industri, jenisnya dapat dibedakan atas: (a) Industri campuran, yaitu industri dimana bahan dasar yang digunakan lebih dari satu jenis; (b) Industri trafik, yaitu industri khusus dimana bahan mentahnya diimpor dari negara lain, seperti industri minuman cocacola; (c) Industri konveksi, yaitu industri yang membuat pakaian yang siap dipakai; (d) Industri perakitan, yaitu industri yang kegiatannya merakit komponen untuk menjadi suatu barang yang siap pakai, seperti industri perakitan mobil. Berdasarkan cara pengorganisasian, jenis industri dibedakan atas: (a) Industri kecil, yaitu industri dengan ciri-ciri memiliki modal relatif kecil, teknologi sederhana, pekerjanya kurang dari 10 orang, produknya masih sederhana, seperti kerajinan anyam-anyaman dan gerabah; (b) Industri menengah, industri yang memiliki ciri-ciri memiliki modal relatif besar, teknologi cukup maju tetapi masih terbatas, pekerja antara 10-200 orang, tenaga kerja upahan, seperti industri bordir, keramik; (c) Industri besar/berat, industri yang memiliki ciri-ciri: modal sangat besar, teknologi lengkap dan modern, organisasi teratur, tenaga kerja terampil dan jumlahnya lebih dari 300 orang, produknya berkualitas dan jumlah yang besar, seperti: industri semen, pupuk. a. Pertambangan Kegiatan pertambangan adalah usaha penggalian sumberdaya mineral dan berbagai sumberdaya alam lainnya. Jenis mata pencaharian di bidang pertambangan cukup beragam yaitu mulai dari kegiatan pemetaan sumber atau bahan galian, survey lapangan datau eksplorasi, perencana dan pelaksanaan penggalian (eksploitasi), sampai dengan pengolahan menjadi barang jadi dan setengah jadi. b. Perdagangan Jenis mata pencaharian dalam bidang perdagangan dapat dibagi tiga sesuai skala perdanagannya, misalnya pada perdagangan besar untuk ekspor. Pedagangan pada skala menengah disebut grosir dan atau penyalur, sedangkan pedagangan yang langsung dengan konsumen disebut pengecer baik dalam skala pertokoan besar (swalayan) maupun warung-warung kecil dan pedagang asong. c. Jasa Mata pencaharian jenis jasa umumnya banyak dilakukan pada masyarakat perkotaan. Jenisnya sangat beragam, mulai dari tukang sol sepatu, sopir angkot (jasa angkutan), paket barang-barang (jasa pengatar barang), perhotelan (jasa penginapan), sampai kepada pengacara (pembela dalam kasus-kasus hukum). Lahirnya jenis pekerjaan sebenarnya adanya kebutuhan pada manusia yaitu kebutuhan akan barang dan jasa. Dengan adanya kebutuhan tersebut, setiap orang akan berusaha memenuhi barang dan jasa bagi mereka yang membutuhkannya. Dengan demikian, pekerjaan akan muncul sebagai upaya mendatangkan atau mengali barang kebutuhan dan atau bekerja untuk melayani orang lain. Banyak pekerjaan yang dapat dilakukan oleh setiap orang, tetapi ada pula pekerjaan yang dilarang oleh agama dan aturan hukum yaitu pekerjaan yang mengambil barang orang lain (mencuri), merampok, menipu, menjual barang-barang yang haram dan atau dilarang pemerintah, dan meminta-minta.

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

58

Untuk menyampaikan materi tentang jenis pekerjaan dapat dilakukan dengan metode permainan, yaitu: 1. Guru menyiapkan poster dan sejumlah kartu (5 cm x 10 cm) yang bertuliskan jenis-jenis pekerjaan. Jenis-jenis pekerjaan yang ditulis harus spesifik misalnya petani sayuran, petani padi, petani jagung, nelayan tambak, dan lainlain. Setiap kartu dapat berwarna warni dan sediakan masing-masing jenis pekerjaan ada 5 buah atau lebih (misalnya kartu nelayan tambak, jumlahnya 5 buah dan begitu pula yang lainnya). 2. Guru memberi apersepsi tentang melimpahnya sumberdaya alam untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Bisa saja guru menerangkan sekilas tentang kekayaan sumberdaya alam Indonesia, misalnya berbagai jenis tanaman, kayu, ikan, ternak, dan lain-lain. Selain itu dapat pula ditambahkan bahwa Indonesia kaya akan barang tambang seperti batu gamping, marmer atau batuan pualam, fosfat, mangan, obsidian, bauksit, intan, timah, nikel, emas dan perak, tembaga, dan lain-lain. G. PEMBELAJARAN TENTANG KEGIATAN JUAL BELI Munculnya kegiatan jual beli berawal dari usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan dan atau memiliki keinginan terhadap sesuatu. Acuan dari kebutuhan ini adalah seberapa sering dan seberapa penting tingkat kebutuhan tersebut diperlukan manusia : 1. Kebutuhan primer Kebutuhan primer adalah kebutuhan pokok yang harus dipenuhi, merupakan kebutuhan agar manusia tetap survive. Kebutuhan primer merupakan kebutuhan yang pertama harus dipenuhi oleh manusia. 2. Kebutuhan Sekunder Manusia tidak hanya memerlukan kebutuhan primer saja, tetapi juga memerlukan kebutuhan lainnya. Kebutuhan sekunder diperlukan untuk menjaga kenyamanan hidupnya. 3. Kebutuhan Tersier Dari namanya tersier berasal dari bahasa latin yang berarti ketiga. Merupakan kebutuhan ketiga setelah kebutuhan primer dan sekunder. Adakalanya kebutuhan tersier ini bagi sebagian orang merupakan kebutuhan sekunder bagi sebagian yang lainnya. Misalnya TV berwarna bagi orang di desa terpencil merupakan kebutuhan sekunder bagi orang kota. Barang-barang mewah merupakan contoh dari kebutuhan tersier ini, misalnya villa, berlian, mobil ferarri dan sebagainya. Kebutuhan sosio-budaya sangat erat kaitannya dengan faktor lingkungan dan tradisi masyarakat serta dengan sifat-sifat psikologis manusia. Oleh karena itu, kebutuhan dapat dirinci dengan kebutuhan sosial dan kebutuhan psikologis. Kebutuhan sosial adalah kebutuhan dikarenakan tuntutan hidup di masyarakat tempat ia tinggal. Seorang yang memiliki kedudukan tertentu di masyarakat mengharuskan orang mempunyai atau melakukan upaya yang dipandang pantas. Sedangkan kebutuhan psikologis berhubungan dengan kebutuhan sifat rohani manusia, misalnya kebutuhan akan rasa aman, rasa dihargai, kebutuhan keamanan dan ketentraman hati, dan kebebasan mengatur hidupnya.

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

59

Ketika kebutuhan manusia ada, maka harus diikuti dengan adanya benda pemuas kebutuhan. Adanya kebutuhan dan tersedianya barang pemuas kebutuhan terdapat kaitan yang sangat erat. Barang atau benda pemuas kebutuhan adalah segala sesuatu yang menjadi sarana, baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk memenuhi kebutuhan manusia. Kebutuhan manusia memiliki dua bentuk yaitu kebutuhan barang dan kebutuhan jasa. Barang merupakan pemuas kebutuhan yang berwujud, sedangkan jasa merupakan benda pemuas kebutuhan yang tak berwujud. Alat pemuas kebutuhan tersebut diperoleh dengan cara dibeli dari seseorang melalui alat pembayaran, yang kita kenal dengan sebutan uang. Sebelum dikenal alat tukar (uang), orang memenuhi suatu kebutuhan dengan cara menukar apa yang dimilikinya dengan apa yang tidak dimilikinya dari orang lain yan kemudian dikenal barter. Sebagai tempat pertemuan antara penjual barang/jasa dengan pembelinya dikenal sebagai pasar. Pasar dalam arti sempit adalah tempat dimana pada umumnya barang atau jasa diperjualbelikan. Kembali kepada alat pembelian barang/jasa atau uang. Dalam sejarahnya, uang awalnya berupa logam berupa logam emas, lama-kelamaan muncul kesulitan dalam penyesuaian transaksi-transaksi besar, di antaranya uang logam emas tidak praktis, adanya biaya, dan dengan berkembangnya perdagangan, logam mulia semakin banyak diperlukan padahal persediaan terbatas. Untuk menghindari kesulitan tersebut, para pedagang mulai menitipkan sejumlah uang/ emasnya kepada seseorang (pedagang, relasi atau familinya) di pasar. Orang yang menerima titipan di pasar pada awalnya hanya menggunakan meja atau bangku saja (dalam bahasa Itali bangku=banca). Orang tempat menitipkan emas atau pandai emas semula hanya dititipi emas dan sebagai bukti penitipan dikeluarkan surat atau bank notes, yaitu surat janji akan membayar kembali kepada pembawa surat itu sejumlah uang/ emas seperti yang tertera pada surat tersebut. Bank notes ini mulai berkembang sebagai uang kertas, dan tempat penitipannya berkembang menjadi bank. Semula bank notes mewakili sejumlah emas yang dititipkan pada bank dengan jumlah yang sama, atau bank notes dijamin 100% dengan emas yang dititipkan, tetapi karena sebagian besar dari emas yang ditiitpkan pada bank itu ternyata tidak diminta kembali secara sekaligus, maka para bankir mulai memutarkan/menyalurkan sebagian dari emas atau uang tersebut dengan memberikan pinjaman kepada pedagang yang memerlukan pinjaman (kredit). Untuk itu, mereka juga mengeluarkan bank notes sehingga jumlah bank notes yang beredar menjadi lebih besar dari jumlah emas yang disimpan di bank. Berdasarkan pengalaman banyak bank-bank yang tidak bijaksana, mereka mengeluarkan bank notes jauh lebih besar dari jumlah emas yang disimpan di bank-bank tersebut sehingga ketika terjadi penarikan emas secara serentak (rush), bank tidak dapat memenuhi kewajibannya sehingga kepercayaan masyarakat hilang terhadap bank. Dari pengalaman tersebut pemerintah turut campur tangan dengan mengeluarkan peraturan yang mewajibkan setiap bank mempunyai sejumlah emas/uang sebesar minimal 40% dalam bentuk tunai sebagai cadangan kas terhadap kewajiban-kewajibannya. Pemerintah juga memberikan hak mengedarkan bank notes dibatasi pada beberapa bank yang telah mendapatkan kepercayaan pemerihtah dan masyarakat dengan mengeluarkan charter (piagam)

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

60

berhak mengedarkan uang kertas (uang kartal). akhirnya hak mengedarkan uang kertas dipusatkan hanya pada satu bank saja, yaitu bank sirkulasi/bank sentral. Dari sejarah bank tersebut kita dapat mengidentifikasikan definisi bank, menurut Prof. G.M. Verryn Stuart, bank adalah suatu badan yang bertujuan untuk memuaskan kebutuhan kredit, baik dengan alat-alat pembayaran sendiri, dengan uang yang diperolehnya dari orang lain, maupun dengan jalan memperedarkan alat-alat penukaran uang berupa uang giral. Menurut Undang-Undang No.7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No.10 Tahun 1998, bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan mengeluarkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat. Demikianlah kegiatan ekonomi yang berlangsung saat ini. Bank sendiri mengeluarkan kartu kredit seperti kredit rekening koran yaitu kredit yang diberikan oleh kreditor (bank) kepada debitor (nasabah) tercatat dan tersimpan dalam rekening koran debitor yang pengambilan atau penarikannya tidak sekaligus, tetapi bertahap sesuai jenis kreditnya. Jenis kredit rekening koran ada dua macam yaitu kredit rekening koran bebas yang sangat disukai karena sesuai dengan kebutuhan para pedagang, yaitu penarikannya sesuai kehendak debitur asalkan tidak melampaui jumlah kredit sedangkan kredit rekening koran terbatas yaitu kredot yang diberikan kepada nasabah dengan pembatasan tertentu dalam melakukan penarikan uang melalui rekeningnya. Nasabah tidak diizinkan melakukan penarikan kredit sekaligus, tetapi bertahap sesuai dengan kebutuhannya. Kalau perorangan, kredit koran mirip dengan kartu kredit yang dapat digunakan untuk berbelanja. Uang belanja dibayar oleh bank dan nasabah “tinggal” membayar utang atau kreditnya ke bank bersangkutan. Terkadang kartu kredit juga efektif untuk belanja barang-barang yang kemudian dijual kembali. Barang-barang yang dibeli dengan kartu kredit antara lain di supermarketsupermarket di kota-kota. Besaran kredit yang dapat digunaan oleh si pemlik kartu berbeda-beda. Untuk pemula biasanya hanya dikasih peluang 2 juta, tetapi jika telah lama dan pihak bank mempercayai pihak nasabah plapon pinjaman dapat dinaikka sampai puluhan juta. Bagi pedagang kecil dan kios-kios kecil yang menjual kebutuhan rumah tangga, sangat baik jika menggunakan kartu kredit atau kredit rekening koran. Dengan kartu kredit, orang dapat memperoleh barang di toko dan nasabah membayarnya di bank yang mengelurkan kartu kredit. Dalam pembelajaran IPS, selain aspek kognitif juga harus ditanamkan aspek sikap. Khususnya dalam pemanfaatan uang dan kartu kredit, siswa harus diberi tahu tentang cara bijak dalam pemanfatan uang. Untuk mendidik siswa memanfaatkan uang dalam berbelaja, siswa dapat melakukan simulasi jual beli di kelas. Nilai yang perlu ditanamkan dalam transaksi jual beli adalah kejujuran, dan bagi penjual tidak berbohong kepada pembeli, tidak curang dalam timbangan.

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

61

Bagian 5

Pembelajaran Peta, Kenampakan Alam, dan Persebaran Sumber Daya Alam
A. PEMBELAJARAN PETA Setiap anak sejak masih bayi telah terbiasa memperhatikan keadaan lingkungan di sekitarnya. Hasil pengamatannya sangat senang ia tuangkan dalam sebuah gambar sesuai dengan imajinasinya. Keadaan benda atau lingkungan yang suka digambar anak-anak adalah rumah, halaman rumah, taman bunga, kendaraan yang sangat ia sukai, gunung, pohon, gambar dirinya sendiri, orang tuanya, dan lain-lain. Pada usia tertentu, ia mampu mengambar jalan yang menghubungkan antara rumah dengan sekolahnya. Setiap benda atau keadaan yang dilalui selama perjalanan dari rumah ke sekolahnya, digambar di dekat jalan. Kesadaran anak terhadap lingkungannya bersifat universal artinya setiap anak dibelahan dunia manapun memiliki keinginan dan kesukaan untuk menggambar. Keinginan untuk mencorat-coret adalah keinginan yang seolah-olah “tidak tertahankan” bagi seorang anak. Dorongan ini harus dimanfaatkan oleh guru sebagai kekuatan motivasi agar senang belajar. Artinya, sekali waktu ajaklah anak belajar di kelas dengan cara metode bermain dan menggambar. Apalagi untuk anak usia SD, metode bermain dan menggambar merupakan metode pembelajaran untuk semua mata pelajaran termasuk IPS. Peta yang diajarkan di SD hendaknya tidak dibayangkan seperti membaca atau membuat peta dinding atau atlas yang dijual di toko-toko buku. Bagi anak usia SD, cukup hanya mengenal, bisa membaca, memanfaatkannya dalam menunjukkan suatu tempat, dan sedikit mengetahui sejumlah bagian penting peta (seperti simbol peta, legenda, orientasi atau arah utara peta, dan titik koordinat). Untuk memperkenalkan peta kepada siswa; guru dapat membawa atlas, peta, dan globel. ketiganya dapat ditujukkan sekaligus di depan kelas. Siswa diharapkan menentukan pilihan, manakah dari ketiga benda tersebut yang paling menarik perhatiannya. Jika ketiga benda tersebut tidak asing bagi mereka, kelas dapat dibagi enam kelompok atau lebih dan masing-masing kelompok memperoleh satu atlas, satu peta, dan satu globe. Untuk mengarahkan cara belajar peta, guru dapat mengajukan permintaan untuk: 1. menunjukkan nama kota ibu kota provinsi atau kabupaten/kota para siswa; 2. menunjukkan nama jalan, gunung, sungai, atau danau 3. menunjukkan wilayah Indonesia secara keseluruhan pada globe 4. menunjukkan letak pelabuhan atau bandara, 5. dan seterusnya.

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

62

Untuk pertanyaan tentang letak bandara, pelabuhan, atau lainnya sebagian anak mungkin akan berapresiasi mencari simbol pesawat terbang atau kapal laut, sedangkan sebagian lainnya mungkin masih mengalami kebingungan. Jika sudah ada yang tahu, guru dapat bertanya, mengapa ia tahu bahwa tempat itu adalah bandara atau pelabuhan. Jika dijawab karena ada gambar pesawat terbang dan kapal laut, katakan bahwa jawabannya sudah baik. Namun, guru tidak cukup sampai disitu. Guru diharapkan mulai mengarahkan pada kotak legenda peta yang merupakan kumpulan dari simbol-simbol peta. Dengan cara ini, anak akan semakin bersemangat karena dalam legenda tertera banyak simbol. Dari simbol-simbol yang terdapat pada legenda peta, guru dapat mengekplorasi atau menggali minat siswa untuk menemukan. Cara menentukan letak suatu tempat di peta cukup dengan: “..... ini.... ini.....sebelah kanan atau ini... ini...sebelah kiri!”. Hal ini akan membingungkan semua anak. Jika ada anak yang tidak mengetahui, kondisi yang kacau di kelas akan menurunkan minat siswa untuk belajar. Oleh karena itu, guru sudah mulai menentukan aturan main baru yaitu permainan mencari nama tempat dalam peta antar kelompok. Misalnya kelompok A bertanya kepada kelompok B untuk meminta untuk dicarikan nama lokasi tertentu (bisa sungai, gunung, jalan, dan lain-lain). Cara menjawabnya dengan menentukan titik koordinat tempat tersebut, misalnya dengan menggunakan titik koordinat pada garis lintang dan garis bujur. Jika tidak, bisa juga menentukan angka-angka grid yang tertera pada tepi peta. Perhatikan contoh berikut. Kelompok A bertanya tentang letak Pelabuhan Lembar-Lombok, kelompok yang ditanya harus segera menjawab terletak pada titik koordinat 40 dan 119,70 (jawaban yang lengkap seharusnya: 40 LS dan 119,70 BT). Namun karena konsep tentang garis Lintang Selatan dan Bujur Timur belum diajarkan maka pembahasannya ditangguhkan). Dengan cara yang sama, setiap kelompok mengajukan kuis dan kelompok lain menjawabnya. Agar bervariasi, simbol peta yang diajukan harus bervariasi pula. Berbeda jika anak lebih suka mengawali dari atlas. Pada atlas, simbol peta terdapat di bagian atau halaman khusus (bisa di awal atau di akhir atlas, tergantung dari buku atlasnya). Pada prinsipnya sama yaitu bermain mencari lokasi di atlas, tetapi menggunakan indeks atlas, yaitu daftar nama kota, sungai, jalan, gunung, dan lain-lain yang biasanya disimpan di bagian belakang atlas. Pada daftar tersebut tertera kode halaman, kolom, dan baris. Nanti akan dijelaskan. Sebelumnya perlu dijelaskan sekilas tentang atlas. Pada awalnya peta adalah lembaran-lembaran yang terpisah. Setiap lembaran biasanya digulung agar mudah dibawa. Awalnya terasa ringan dan mudah dipelihara dari kerusakan. Namun semakin banyak peta yang harus di bawa, orang merasa kesulitan untuk membawanya. Informasi yang akan dicari juga tidak mudah karena tidak memiliki indeks peta. Indeks peta adalah semacam daftar isi nama-nama daerah berdasarkan alfabetis dan letak nama daerah tersebut pada halaman-halaman lembaran peta. Untuk mempermudah dibawa dan agar memuat informasi lebih lengkap maka disusunlah buku kumpulan peta yang kemudian disebut atlas. Kata “atlas” diambil dari nama Dewa Yunani yang bertugas memikul bola dunia yang berarti Dewa Penopang Bumi.

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

63

Peta yang dikumpulkan pada atlas umumnya bersifat tematis artinya setiap peta yang dimuat memiliki tema tertentu. Ada juga, satu atlas isinya bertema yang sama untuk setiap daerah yang dibuat. Karena itu nama atlas bermacam-macam tergantung isinya, misalnya atlas geografi, atlas geologi, atlas histologi, dan atlas astronomis. Atlas geografi berisikan lembaran-lembaran peta umum tentang keadaan permukaan bumi. Atlas geologi berisikan peta yang memuat keadaan batuan dan proses geologinya. Atlas histlologi berisikan peta-peta yang memuat peristiwa-peristiwa bersejarah. Adapun atlas astronomis yaitu atlas yang berisi keadaan alam semesta yang meliputi galaksi, tata surya, perbintangan dan benda angkasa lainya. Berdasarkan luas cakupannya, atlas dibagi atas atlas nasional, atlas kawasan regional, dan atlas dunia. Atlas nasional yaitu atlas yang hanya memuat peta-peta daerah di negara bersangkutan. Misalnya Atlas Indonesia, tentu saja isinya hanya memuat wilayah-wilayah negara kesatuan Indonesia, peta daerahdaerah propinsi, kabupaten, atau kecamatan tertentu yang dinaggap perlu diinformasikan. Atlas kawasan regional, misalnya Atlas Asia, Atlas Eropa, dan lain-lain. Isinya memuat peta-peta negara yang termasuk pada kawasan tersebut. Adapun atlas dunia isinya meliputi seluruh daerah yang terdapat di permukaan bumi. Isi atlas dunia menampilkan peta-peta benua, peta-peta negara- negara yang ada di seluruh dunia. Manfaat atlas diantaranya untuk; (a) mencari letak suatu obyek geografi, misalnya negara, propinsi, dan kota; (b) mencari informasi tentang keadaan sosial dan ekonomi suatu daerah atau negara; (c) mencari informasi tentang keadaan alam, misalnya yang berhubungan dengan iklim, flora dan fauna; (d) mencari informasi tentang keadaan budaya, misalnya yang berhubungan dengan pendidikan dan kebudayaan suatu daerah. Bagaimana cara menggunakan atlas agar memperoleh informasi geografis? Caranya sebagai berikut: 1. Bacalah judul atlas terlebih dahulu dan perhatikan tahun penerbitannya, ketahui perusahaan atau lembaga yang menerbitkan atlas tersebut. 2. Dengan mengetahui lembaga penerbitnya, kita dapat memperkirakan maksud dan tujuan pembuatan atlas. 3. Kalau ada kata pengantarnya lebih baik dibaca terlebih dahulu agar lebih memahami maksud pembuatan atlas, carilah halaman daftar isi atlas yang memuat daftar judul peta yang dimuat berikut halaman peta yang ditampilkan, disarankan untuk mempelajari simbol-simbol peta yang digunakan. 4. Hal ini penting karena simbol peta tidak akan ditampilkan pada setiap lembaran peta di masing-masing halaman tetapi ditampilkan di halaman awal atau akhir buku atlas tersebut. Pengamatan simbol peta sangat penting agar tidak keliru dalam mempelajari atlas, kalau tujuan kita ingin langsung mencari nama-nama kota, sungai, gunung, danau, rawa, nama jalan atau lainnya disarankan untuk mencari daftar indeks atlas. 5. Indeks peta sebagaimana telah disinggung adalah daftar isi nama-nama daerah berdasarkan alfabetis dan letak nama daerah tersebut pada halaman lembaran peta. Biasanya pada atlas tertentu akan diberi petunjuk dan contoh cara menggunakan indeks atlas.

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

64

Bagaimana jika anak lebih suka memulai dari globe?. Guru harus siap sedia mengajaknya “bermain”. Untuk mengawali belajar globe, setiap kelompok dipersilakan untuk memutar-mutar globe, kearah kanan atau ke arah kiri. Untuk mempelajari globe, sebaiknya tiap kelompok disediakan satu buah senter untuk simulasi keadaan pada waktu siang dan waktu malam. Dari globe yang tersedia, guru bisa meminta siswa untuk menemukan nama-nama benua, nama kota, nama negara, nama pegunungan, nama sungai, dan lain-lain. Namun jangan lupa, mereka harus tahu konsep bahwa globe adalah miniatur planet bumi. Setelah mereka puas dengan saling bertanya tentang namanama lokasi, pertanyaan diarahkan pada bagaimana globe berputar? Caranya, salah seorang anak menyinari globe. Globe lalu diputar kearah menyongsong matahari. Artinya, perhatikan agar setiap bagian timur dari globe tersinari oleh matahari terlebih dahulu. Setiap anak harus merasakan proses siang dan malam di permukaan bumi. Pergerakan bumi yang menyongsong ke arah timur, bermanfaat untuk menghitung waktu matahari. Pada globe terlihat garis-garis yang menghubungkan kutub utara dan kutub selatan bumi. Garis-garis tersebut dinamakan garis meridian, sedangkan garis-garis yang sejajar memotong garis meridian disebut garis lintang atau paralel. Fungsi garis lintang salah satunya dapat dijadikan patokan untuk menentukan ciri iklim di bumi: 1. Daerah khatulistiwa (ekuator) terletak antara 100 LU dan 100 LS. Daerah ini beriklim panas setiap tahun. Adanya musim dingin dan musim panas kurang terasa karena setiap hari terasa panas. 2. Daerah Tropik terletak antara 100 – 250 LU dan LS. Musim dingin dan musim panas sudah mulai terasa perbedaannya tetapi suhu udara relatif tetap panas. 3. Daerah Subtropik terletak 250 – 350 LU dan LS (disebut daerah Etesia) 4. Daerah Lintang Sedang; di utara disebut Lintang Boreal dan di selatan disebut Lintang Austral. Keduanya terletak antara 350-550 LU dan LS. Di daerah ini pergantian musim panas dan musim dingin sangat terasa. Pada musim dingin terjadi turun salju. 5. Daerah Subarctik dan Subantartic. Subarctik di utara dan subantartic di selatan, masing-masing 550 – 600 LU dan LS. 6. Daerah Arctik di utara dan Antartic di selatan terletak antara 600– 750 LU dan LS. 7. Daerah kutub utara dan kutub selatan masing-masing antara 750 – 900 LU dan LS. Di daerah ini seluruhnya tertutup es abadi dan selalu dingin. Globe memiliki banyak manfaat dalam memahami planet bumi. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, diantaranya dapat memperagakan gerakan perputaran bumi pada porosnya atau gerak rotasi bumi. Gerakannya pada globa adalah dari kiri ke kanan, atau menyongsong ke arah timur, dapat menunjukkan garis-garis koordinat bumi yaitu garis lintang (paralel) dan garis bujur (meridian) yang disepakati dunia internasional, dapat mencari jalur kapal laut yang terdekat antara titik berangkat dan titik tujuan.

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

65

B. PEMBELAJARAN KENAMPAKAN ALAM Untuk memahami kenampakan alam di lingkungan setempat, sebaiknya siswa dibawa keluar sejenak untuk melihat keadaan di sekelilingnya. Namun jika lingkungan sekolah berada di tengah perkotaan atau permukiman, akan menjadi sulit melihat kenampakan alam yang alami. Oleh karena itu, bisa juga seminggu sebelumnya guru mengajak siswa menuju di suatu tempat yang agak tinggi dan terbuka lalu memandang ke sekelilingnya. Dari tempat pemandangan yang indah, mungkin kita dapat melhat gunung, lembah, sungai, sawah. Jika dekat dengan pantai, mungkin akan melihat garis pantai dan dari kejauhan terlihat gunung. Dari pengalaman langsung, pengetahuan anak akan lebih melekat. Setelah puas di halaman sekolah atau tempat terbuka, semua anak bisa mengamati peta relief atau peta timbul. Jika disekolah ada internet akan lebih afdhol dengan cara mencari googleearth yaitu sebuah situs yang menyediakan gambar satelit permukaan bumi. Warna gambar adalah warna sebenarnya sehingga akan terlihat nyata sebuah relief permukaan bumi. Umumnya para guru sangat suka berceramah di depan kelas sesuai dengan apa yang dikuasainya, tetapi jarang sekali mencoba melakukan empati atau mendalami harapan siswa terhadap mata pelajaran IPS di setiap kali pertemuan dengan guru. Guru yang baik setiap saat harus memiliki berbagai kejutan bagi siswanya sehingga kehadiran guru selalu dinanti di kelas oleh siswa. Dari pengalaman dan mengamati gambar permukaan bumi, guru sebenarnya dapat juga mencari guntingan koran yang menggambarkan tentang sketsa permukaan bumi. Untuk menyampaikan materi pembelajaran tentang kenampakan alam lingkungan, guru harus banyak dokumentasi foto-foto baik hasil yang diambil oleh kamera pribadi maupun diambil dari foto-foto di internet. Guru IPS yang menyampaikan materi tentang kenampakan alam lingkungan sekitar “dilarang” untuk tidak membawa gambar-gambar. Sumber gambar sangat berserakan di sekitar siswa dan kewajiban guru untuk mengkoordinir dan menatanya menjadi sumber belajar. Kalau tidak sempat, bisa saja seminggu sebelumnya, guru memberi tugas kepada siswa untuk mengumpulkan kliping gambar sesuai tema yang akan dibahasnya. Sehingga pada saat hari pertemuan, pembelajaran dapat memanfaatkan kliping sebagai media pembelajaran. Dengan demikian, guru tidak perlu mempersiapkan bahan-bahan pembelajaran dengan biaya sendiri dan atau menghabiskan waktu istirahat di rumahnya masing-masing. Guru IPS di SD setiap saat meminta siswa membawa kliping, koran bekas, atau majalah bekas yang mengandung tema pokok bahasan. Tugasnya tidak boleh sekaligus. Satu anak cukup satu judul tulisan, jika satu kelas ada 30 orang siswa maka akan terkumpul 30 tulisan. Agar tidak ada yang sama maka sejak awal dipantau cara pengumpulannya agar masing-masing siswa mencari dari koran yang berbeda, tanggal yang berbeda, dan halaman koran yang berbeda. Penulis sangat yakin, jika guru membawa gambar (apalagi besar dan berwarna), siswa pasti tertarik dan tidak ada satu pun yang berbicara menyaksikan gambar planet bumi yang dibelah tersebut. Dari sinilah kita dapat menerangkan bahwa keadaan bumi kita terdiri dari berbagai lapisan. Untuk anak usia SD, nama-nama lapisan bumi disesuaikan dengan gambar yang tersedia. Jika ada gambar yang menerangkan 4 lapisan

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

66

pokok, terangkan saja 4 lapisan pokok. Jika gambar yang ditemukan ternyata memuat 5 lapisan bumi, maka itulah yang diterangkan. Semuanya benar asalkan ada sumbernya, seperti gambar yang saya temukan di atas: o lapisan inti besi (inner core) atau baresfir yang padat dengan kedalaman antara 4980- 6370 km. o lapisan inti besi yang cair (outer core) dengan kedalaman 2900- 4980 km. o lapisan mantel dengan kedalaman 250-2900 km. o lapisan astenosfer yang lunak atau cair kental pada kedalaman 70-250 km. o lapisan litosfer yang keras dan kaku dengan kedalaman 0-70 km. Singkat cerita, guru bisa langsung menerangkan tentang proses yang terjadi di dalam astenosfer dan mantel bumi, yaitu proses seperti berputar. Terjadinya gerakan karena keadaan di dalam perut bumi yang selalu dalam keadaan panas sebagai sisa tenaga sejak terbentuknya planet bumi. Akibat dari perputarannya, lapisan paling atas (litosfer) ikut hanyut di atas aliran astenosfer. Gerakan lempeng litosfer dikenal dengan gerak tektonik. Gerakannya terus menerus bahkan kadang-kadang terdengar “gemeretak” atau lebih tepat terdengar bergemuruh. Jika gerak lempeng itu tertahan, maka suatu saat akan bergerak dengan cara menghentak. Bagi kita di atas permukaan bumi, gerakan lempeng yang menghentak akan menimbulkan gempa bumi. Jika gempa bumi terjadi di tengah samudera, maka dapat menimbulkan bencana tsunami seperti terjadi di Aceh tahun 2004. Dahsyatnya tenaga yang berasal dari dalam bumi, maka dikenal dengan sebutan tenaga endogen. Lempeng litosfer yang selalu bergerak itu jumlahnya 12 kepingan menutupi seluruh permukaan bumi. Keduabelas lempeng tersebut ada yang saling menjauh, dan ada pula yang saling bertubrukan. Tempat di lokasi lempeng yang saling menjauh, gejala gempa bumi sangat lemah sebaliknya jika dua lempeng saling bertumburkan sewaktu-waktu akan terjadi gempa bumi. Tumbukan kulit samudera dan litosfer mendesak benua sehingga membentuk deretan gunungapi. Daerah ini disebut zone konvergen. (a) konvergensi lempeng samudera dengan lempeng benua; (b) konvergensi lempeng benua dengan lempeng benua. Pada serudukan lempeng tektonik selalu terjadi desakan terhadap lempeng benua. Desakannya menciptakan pegunungan lipatan dan umumnya menjadi gunung api yang aktif. Guru membuka peta relief muka bumi secara utuh, atau membuka persebaran peristiwa gempa bumi. Bukti adanya pergerakan benua-benua dibuktikan oleh Alfred Wegener. Ia mengembangkan konsep lempeng tektonik dari teori penghanyutan benua. Hasil penelitiannya dari tahun 1912 hingga meninggalnya tahun 1930, menyimpulkan bahwa benua kita dahulu berasal dari satu massa daratan raksasa yang bernama Pangaea. Ia menunjukkan bahwa dahulu antara Amerika Selatan dan Afrika pernah bersatu, karena ada kekuatan endogen tektonik lempeng maka kepingan benua Amerika Selatan dan Afrika terpisah. Pada saat lempeng tektonik bergeser akan terjadi gempa bumi. Peristiwa gempa belum dapat diduga dan diantisipasi oleh teknologi saat ini. Terjadinya gempa bumi, seringkali didahului oleh suara gemuruh atau suara ladakan. Suara ini menunjukkan sumber gempa yang dangkal. Gempa bumi mempunyai pengaruh besar pada tanah dan air di dalamnya. Misalnya tanah retak, tanah

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

67

longsor, air sumur yang tiba-tiba mengering, timbulnya air panas. Kelainankelainan pada tingkah laku binatang sebelum terjadi gempa bumi, misalnya singa di kebun binatang meraung-raung, ikan lele melonjak-lonjak, burung sekonyongkonyong berterbangan, ular keluar dari sarangnya, ikan laut yang biasanya hidup di perairan yang dalam tiba-tiba tampak mendekati pantai. Hasil penelitian memberi petunjuk, bahwa binatang-binatang tadi sudah dapat menangkap getaran-getaran, sebelum manusia dapat merasakannya. Titik terjadinya disebut hiposentrum atau pusat sumber gempa, sedangkan titik di permukaan bumi yang tepat di atas hiposentrum adalah titik episentrum dan merupakan tempat yang pertama kali merasakan gempa dari bawah permukaan. Akibat gempa, permukaan bumi bergetar dan merembet melalui gelombang. Ada dua macam gelombang gempa yang perlu diketahui yaitu: o Gelombang longitudinal yaitu gelombang dengan gerak merapat-merentang yang merambat dari sumber gempa ke segala arah dengan kecepatan 7-14 km per detik. Gelombang ini tercatat pertama kali oleh alat pencatat gempa (seisograf). o Gelombang tranversal adalah gelombang dengan gerak meluik-liuk naik turun. Kecepatannya 4-7 km per detik. Gelombang ini disebut gelombang sekunder. Untuk menentukan besaran kekuatan gempa, para ahli melahirkan berbagai skala, misalnya ada Skala Richter dan Skala Mercalli. Di sini hanya akan diterangkan skala Richter dan skala Mercalli yang umumnya digunakan orang. Menurut catatan banyak sekali gempa yang menelan korban, katakanlah gempa di Kota Kobe, Jepang. Gempa di Padang Panjang Sumatera Barat, 28 Juni 1926. Gempa ini dirasakan hingga P. Enggano, Singapura, dan Sibolga, kurang lebih pada jarak 560 Km. Kerusakan hebat terjadi di daerah antara Payakumbuh, Bukit tinggi, Padang, dan Solok. Gempa dahsyat lain yang menimbulkan tsunami adalah di Aceh, 26 Desember 2004. Gempa dan tsunami ini bukan hanya menelan korban di Banda Aceh dan Sumatera Barat tetapi juga di negara-negara yang memiliki garis pantai dengan Samudera Hindia Malaysia, Thailand, Myanmar, Bangladesh, India, Maladewa, sampai ke Somalia di Afrika. Dengan adanya desakan lempeng yang menimbulkan gempa, permukaan bumi sebagian ada yang terangkat, remuk, amblas, melipat, dan kerusakan lainnya. Kerusakan permukaan bumi yang ditimbulkan gerak lempeng teknonik inilah yang membentuk permukaan bumi menjadi tidak rata, yaitu adanya deretan pegunungan, lembah yang lebar dan dalam, dan lain-lain. Penjelasan ini sangat penting disampaikan agar siswa mengetahui asal kejadian gunung dan pegunungan, lembah, dan perombakan permukaan bumi lainnya. Pada daerah jalur tumbukan antar dua lempeng tektonik, selain kerusakan permukaan bumi, “tumbuh atau terbangun” pula vulkanisme atau gunung api. Gejala vulkanisme adalah segala kegiatan magma dari lapisan litosfer menyusup ke berbagai lapisan batuan, ke atas dan ke samping. Proses penyusupan magma hingga sampai ke permukaan bumi dinamakan ekstrusi magma. Cara keluarnya magma disebut erupsi, jika dalam bentuk leleran lava disebut letusan efusif sedangkan jika dalam bentuk ledakan atau letusan disebut eksplosif. Mengapa terjadi gunungapi? Kita masih ingat ketika lempeng tektonik saling mendesak.

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

68

Lempeng benua menjadi terangkat dan membengkak. Pada saat pendesakan tentu saja akan terjadi retakan dan sebagian hancur lebur. Pada celah retakan, astenosfer mengisinya dengan magma sehingga terkumpullan dapur magma. Di sinilah awal mula terjadinya gunungapi. Magma yang terus bertambah dari bawah akan terus mendesak ingin keluar. Satu hal yang perlu dicatat, pada saat gunungapi sudah tidak aktif lagi, dapur magma yang berada di bawah kepundan gunungapi, yang dahulu membara terisi oleh lava (batuan cair pijar dan panas), membeku menjadi batuan yang sangat kuat. Apakah proses permukaan bumi sudah sampai di sini?. Tidak, proses perubahan permukaan bumi dilanjutkan oleh tenaga dari luar bumi yang disebut tenaga eksogen. Tenaga eksogen berasal dari keadaan iklim permukaan bumi seperti perubahan suhu udara, hujan, kelembaban, dan angin. Dari perubahan suhu udara yang terkadang panas dan terkadang dingin mengakibatkan batuan di sekitarnya menjadi lapuk. Batuan yang telah lapuk akan menjadi bahan dasar untuk terbentuknya tanah. Tanah yang sudah ada sangat rawan oleh erosi air. Butiran tanah bisa hanyut berpuluh-puluh kilometer jauhnya dari tempat asalnya. Jika butiran tanah hanyut sampai muara sungai dan mengendap maka endapannya dinamakan delta. Jika tertahan di tengah perjalanan, butiran tanah akan menutupi permukaan dataran rendah. Jadi dataran rendah pada dasarnya merupakan hamparan batuan berbagai ukuran (dari pasir halus sampai kerikil dan bongkah batuan) dan butiran tanah. Hamparan batuan dari pasir halus sampai bongkaha batuan bisa berasal dari hasil letusan gunungapi sehingga lembah-lembah yang dahulu ada terisi oleh material gunungapi sehingga terlihat rata. Setelah itu, ditambah oleh endapan hasil erosi dari lereng-lereng perbukitan yang terdekat. C. PEMBELAJARAN PADA PERSEBARAN SDA DAN MANFAATNYA Untuk menyampaikan materi tentang SDA disarankan untuk menggunakan pendekatan pembelajaran kontruktivisme. Ada tiga alasan, pertama karena pandangan konstruktivsme sangat menghargai apa yang telah diketahui siswa sebelumnya. Walaupun tahu serba sedikit, para siswa telah mengetahui tentang sumbedaya alam yang ada di masyarakat seperti minyak tanah, batu bara, besi, kayu, dan lain-lain. Apa yang telah diketahui oleh siswa, dapat kita manfaatkan untuk membangun pengetahuan baru siswa. Kedua, prinsip pembelajaran konstruktivisme adalah bahwa anak-anak memperoleh banyak pengetahuan dari luar. Untuk memperlancar dan mempermudah siswa dalam memahami materi ajar, guru harus banyak menyediakan dan menggunakan alat peraga, mengajak siswa untuk berinteraksi, mengajukan pertanyaan-pertanyaan produktif, dan menganjurkan agar siswa berpikir dengan cara mereka sendiri. Guru tidak boleh memaksakan pengertian tentang suatu istilah atau definisi yang tertera dalam teks buku. Konstruktivisme harus membiarkan siswa menyusun kata-katanya sendiri dalam mengartikan sesuatu istilah atau definisi, asalkan tidak terlalu menyimpang. Ketiga, konstruktivisme mengandalkan metode inkuiri. Dengan inquiri, siswa diharapkan lebih aktif. Untuk mendukung proses pembelajaran yang aktif, guru harus menyediakan banyak sumber belajar di kelas. Dengan cara ini, siswa akan termotivasi untuk aktif mencari jawaban atas pertanyaan sendiri dan atau pertanyaan dari guru. Dalam inquiry, pengetahuan dan

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

69

keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil dari mengingat faktafakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Menurut J.A. Katili (1983), yang menyatakan bahwa SDA adalah semua bahan yang ditemukan manusia dalam alam, yang dapat dipakai untuk kepentingan hidupnya. Ramdan, dkk (2003) juga menyebutkan bahwa sumberdaya alam adalah bagian dari lingkungan alam (tanah, air, padang penggembalaan, hutan, kehidupan liar, mineral atau populasi manusia) yang dapat digunakan oleh manusia untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Dari semua pengertian itu dapat dirangkum bahwa sumberdaya alam pada dasarnya adalah semua keadaan lingkungan yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dan mensejahterakannya. Jika kurang yakin, guru dapat menunjukkan gambar-gambar tentang sumberdaya alam yang dijual di pasar. Untuk menambah wawasan, guru harus mengetahui bahwa SDA yang ada di permukaan bumi itu sangat beragam jenisnya. Para ahli mengelompokkannya sesuai karakteristiknya masing-masing. Ada yang mengelompokkan berdasarkan proses terbentuknya, berdasar sifatnya, berdasarkan bisa tidaknya diperbaharui kembali, dan ada pula berdasarkan harga atau derajat nilai ekonominya. Tujuan pengelompokkan sumberdaya itu adalah untuk mempermudah pemahaman kita mengenai sifat-sifatnya, mempermudah dalam perencanaan, pemanfaatan dan pengelolaannya, dan untuk memberikan manfaat yang lebih optimal. Klasifikasi sumberdaya alam juga merupakan rambu-rambu bagi kita untuk berfikir bijak dalam mengelolanya agar diperoleh hasil efisien dan aman bagi lingkungan sekitar (Ramdan, dkk., 2003). Berdasarkan sifatnya, SDA dibagi dua yaitu sumberdaya alam yang melimpah dan ada pula yang terbatas. Sumerdaya alam yang melimpah tidak akan habis walaupun dipakai terus menerus. Atau setidaknya dalam jangka waktu yang lama tidak akan habis dipakai, contohnya sinar matahari, udara, angin, dan air laut. Jika dikaitkan dengan harga uang, biasanya akan dihargai dengan murah atau justru tidak dapat diperjualbelikan. Kebalikan dari sumberdaya alam yang melimpah adalah sumberdaya alam yang terbatas. SDA yang terbatas misalnya minyak bumi, batubara, bahan galian mineral, dan lainnya. Sumberdaya ini jika telah dipakai, tidak akan ada lagi atau habis (setidaknya diperlukan ratusan bahkan ribuan tahun untuk pembentukannya). Menurut proses terbentuknya, sumber daya alam dibedakan atas dua golongan yaitu sumberdaya fisik-abiotik dan sumberdaya biotik. Sumber daya fisik-abiotik adalah sumber daya alam yang terbentuk oleh proses alamiah dan membutuhkan jangka waktu yang lama. Misalnya mineral tambang, bahan galian, udara, tanah, dan lain-lain. Pembentukan batu bara misalnya adalah barang tambang yang terbentuk dari sisasisa tumbuhan yang sudah memfosil dan mengendap selama berjuta-juta tahun. Setelah “matang” menjadi batu bara, lalu manusia menemukan dan menggalinya. Batu bara bermanfaat untuk bahan bakar pabrik dan pembangkit listrik tenaga uap. Setelah bahan batu bara terbakar, manusia tidak mampu memperbahruinya lagi. Yang tersisa hanyalah debu dan asapnya. Sumber daya biotik adalah sumber daya yang dapat tumbuh dan berkembangbiak, misalnya flora dan fauna dalam wujud pertanian, perkebunan, hutan produksi dan peternakan. Manusia makan nasi yang berasal dari bulir-bulir padi.

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

70

Dengan ketekunan, manusia dapat mengembangbiakkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena ada sumberdaya abiotik dan biotik dengan sifatsifatnya yang khas. Barlow akhirnya membagi sumberdaya alam itu menjadi tiga kelompok yaitu: 1. SDA yang tak dapat diperbaharui atau tidak dapat dipulihkan (bersifat abiotik). Sumberdaya alam ini mempunyai sifat fisik yang tetap dan tidak dapat diperbaharui kembali dalam waktu singkat. Untuk terjadinya sumberdaya jenis ini diperlukan waktu ribuan tahun dan dengan proses geologis tertentu. Sumberdaya alam ini dapat dibedakan atas sumberdaya alam yang jika dipakai akan habis dan tidak dapat dipakai ulang (contohnya batubara dan mineral) dan ada pula yang dapat dipakai ulang (seperti logam yang didaur ulang dan batubatuan). 2. SDA yang dapat diperbaharui atau dapat dipulihkan Sumberdaya ini secara alamiah terperbaharui secara terus menerus. Proses pembaharuannya melalui mekanisme alam atau proses alamiah. Selama struktur lingkungan tidak terganggu maka pembaharuan dapat dilakukan. Contohnya air, udara, angin, sinar matahari, dan lain-lain. Struktur lingkungan yang terganggu misalnya rusak akibat pencemaran. Air sungai yang telah dipakai umumnya akan tercemar. Selama zat pencemar tidak membunuh organisme pengurai yang terkandung dalam air, maka air akan pulih kembali setelah sampai ke laut. Struktur lingkungan akan terganggu jika zat pencemar itu adalah logam berat seperti merkury atau air raksa. Organisme air yang mati oleh zat pencemar tidak mampu lagi melakukan pemulihan air. Bahkan ikan yang tahan akan zat pencemar akan menyimpan zat berbahaya itu dalam tubuhnya. Jika ikan dimakan oleh manusia, maka manusia akan menjadi korban yaitu menderita penyakit syaraf minamata. 3. Sumberdaya alam yang mempunyai sifat gabungan antara yang dapat diperbaharui dan yang tidak dapat diperbaharui (bersifat biotik). Contohnya sumberdaya pertanian, hutan, margasatwa, padang rumput, perikanan, dan peternakan. Dikatakan sebagai sumberdaya perpaduan karena sumberdaya ini ditopang oleh sumberdaya alam yang dapat diperbaharui (air, sinar matahari, udara, dan lain-lain) dan oleh sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui seperti tubuh tanah dan unsur mineral lainnya. Dilihat dari penggunaannya, sumber daya alam dibagi atas tiga jenis yaitu sumberdaya ruang, materi, dan energi. Penjelasannya sebagai berikut: 1. Sumber daya ruang; merupakan sumber daya alam yang wujudnya berupa ruang atau tempat hidup. Di dalam ruang terdapat udara, sinar matahari, angin, lahan, dan seluruh lingkungan yang memungkinkan manusia untuk menghirup udara dan melakukan aktivitas hidup lainnya. Di dalam ruang, sumberdaya yang bersifat melimpah memberi kesejahteraan tanpa harus “dibeli” seperti sinar matahari, udara segar, angin, dan lain-lain. 2. Sumber daya materi; yaitu sumber daya alam yang tampak fisik dan wujudnya. Materi tersebut dapat diambil dari alam dan wujudnya dapat bersifat biotik dan abiotik. Untuk memperoleh sumber daya materi, manusia mengusahakannya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penggalian sumberberdaya mineral sering kita namakan pertambangan, dan penggalian

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

71

sumber daya biotik lahirlah istilah-istilah pertanian, perikanan, peternakan, dan lain-lain. Departemen pertambangan memperjelas pembagian sumberdaya materi, khususnya dari unsur barang tambang bahan industri. Penggolongan sumberdaya alam bahan industri adalah berdasarkan tinggi rendahnya nilai manfaat mineral. Pemerintah melalui peraturannya No. 27 tahun 1980 membagi 3 golongan bahan galian yaitu: a. Bahan galian strategis disebut pula sebagai bahan galian golongan A terdiri dar: minyak bunii, bitumen cair, lilin beku, gas alam, bitumen padat, aspal, antrasit, batubara, batubara muda, uranium radium, thorium bahan galian radioaktif Iainnya, nikel, kobalt, timah. b. Bahan galian vital disebut pula sebagai bahan galian golongan B, terdiri dari: besi, rnangaan, molibden, khrom, wolfram, vanidium, titan, bauksit, tembaga, timbal, seng, emas, platina, perak, air raksa, arsen, antimon, bismut, ytrium, rhutenium, cerium, dan logam-logam Iangka lainnya, berillium, korundum, zirkon, kristal kuarsa, kriolit, fluorspar, barit, yodium, brom, khlor, dan belerang. c. Bahan galian non strategis dan non vital, disebut pula sebagai bahan galian golongan C. Terdiri dari nitrat, nitrit. fosfat, garam batu (halit), asbes, talk, mika, graft, magnesit, yarosit, leusit, tawas (alum), oker, hatu permata. batu setengah permata, pasir kuarsa, kaolin, feldspar, batutulis, batu kapur, dolomit, kalsit, granit, andesit, bagipsum, bentonit, tanah diatomea, tanah serap (fuller earth), batu apung, trass, obsidian, marmer, salt, trakhit, tanah hat, pasir, sepanjang tidak niengandung unsur-unsur mineral golongan A maupun golongan B dalam skala yang berarti dari segi ekonomi pertambangan. Bahan galian industri sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia sehari-hari, bahkan dapat dikatakan bahwa manusia hidup tidak terlepas dan bahan galian industri. Menurut Sukandarrumidi (1999) bahan galian industri yang bermanfaat bagi manusia dikelompokkan atas 6 kelompok yaitu: (1) bahan galian industri yang berkaitan dengan batuan sedimen (contohnya batu gamping, dolomit, kalsit, marmer, fosfat, gipsum, bentonit, zeolit, yodium, mangan, dan feldspar); (2) bahan galian industri yang berkaitan dengan batuan gunungapi (obsidian, tras, belerang, andesit dan basalt, serta pasir gunungapi); (3) bahan galian industri yang berkaitan dengan intrusi plutonik batuan asam dan ultra basa (alkali felspar, bauksit, mika, dan asbes); (4) bahan galian industri yang berkaitan dengan endapan residu dan endapan letakan (lempung, pasir kuarsa, intan, kaolin, dan sirtu); (5) bahan galian industri yang berkaitan dengan proses ubahan hidrothermal (gipsum, talk, magnesit, oker, dan tawas); (6) bahan galian industri yang berkaitan dengan batuan malihan (kalsit, batu sabak, kuarsit, dan grafit). 3. Sumber daya alam energi; merupakan sumber daya alam fisik yang diambil manfaatkan untuk membangkitkan energi. Jumlahnya ada yang melimpah dan ada pula yang terbatas, namun semuanya membutuhkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk penggaliannya. Contohnya sinar matahari, jumlahnya sangat melimpah dan telah menjadi roda penggerak siklus hidrologi dan pembangkit kehidupan. Walaupun kekuatannya sangat besar, tetapi manusia jarang

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

72

menyadarinya. Sinar matahari dapat “disadap” untuk membangkitkan listrik tenaga surya. Sumberdaya energi yang melimpah tetapi belum banyak dimanfaatkan untuk membangkit tenaga listrik antara lain tenaga ombak, angin, dan air terjun. Adapun sumberdaya energi yang jumlahnya terbatas antara lain batu bara, minyak bumi, dan gas bumi. Pembelajaran D. SDA YANG DAPAT DAN TIDAK DAPAT DIPERBAHARUI Dengan cara yang sama, siswa terus diajak untuk mengelompokmengelompokkan sumber daya alam ruang, materi, dan energi. Untuk pengelompokkan materi dikelompokkan lagi berdasarkan barang tambang strategis, vital, dan non vital. Selanjutnya, guru bisa juga menunjukkan peta persebaran sumber daya mineral. Setelah siswa dianggap faham, guru mengajukan lagi pertanyaan yang merangsang anak untuk berpikir yaitu bagaimana cara mengambil, mengolah, dan memanfatakan sumberdaya alam. Guru bisa mencari contoh dari yang sederhana, misalnya tentang cara menggali pasir, menggali batu, dan sejenisnya. Setelah itu, bagaimana cara mengolah batu, dan bagaimana cara memanfaatkannya. Atau bisa juga kita bertanya bagaimana cara menanam padi, memelihara, memanen, mengolahnya hingga menjadi nasi. Dari yang paling sederhana kemudian beranjak ke informasi yang lebih sulit. Guru harus menyediakan berbagai bahan bacaan, buku, majalah, koran, gambar, sumber dari internet yang menyampaikan informasi tentang pengambilan dan pengolahan sumberdaya alam. Foto-foto yang menarik tentang pengeboran minyak lepas pantai, mengambilan batu bara, menambang emas, dan lain-lain dapat membantu mengapresiasi tentang SDA. Pengetahuan guru yang lebih menjadi modal utama agar siswa bertambah wawasannya tentang sumberdaya alam. Sebagai tambahan informasi tentang pengelolaan sumberdaya yang dibagi atas pengelolaan sumberdaya alam biotik, mineral (abiotik), dan sumber energi. Pengelolaan sumberdaya alam abiotik atau dalam hal ini merupakan sumber daya mineral adalah merupakan bahan penopang pembangunan. 1. Bijih besi termasuk mineral logam terpenting. Besi disebut juga sebagai logam tulang punggung (backbone metal) dan mempunyai penggunaan yang sangat luas sebagai bahan pembuatan mesin, alat tranportasi dan alat berat lainnya, persenjatan berat dan sebagainya. 2. Nikel sebagai unsur alloy digunakan dalam baja tahan karat dan dalam pipa tekanan tinggi untuk bagian automotif dan mesin. Bijih nikel telah ditemukan di Pulau Gak, Gebe. Pegunungan Cyclop di Irian Jaya dan jazirah tenggara Sulawesi. Indonesia merupakan salah satu negara yang berpotensi besar bijih nikel-laterit. 3. Mangan termasuk unsur alloy yang penting dalam pembuatan baja. Untuk produksi setiap ton baja dibutuhkan kira-kira 16 pon mangan, sebagian besar untuk mengeluarkan belerang dalam tanur tinggi baja. Bahan pengganti rnangan belum ditemukan. Kira-kira 90% dan konsumsi mangan adalah untuk kepenluan metalurgi. Mangan dalam jumlah kecil ditemukan di Pulau Jawa dan juga di Pulau Ternate serta Nusa Tenggara Timur. 4. Chromium (chromir) juga termasuk unsur alloy. Di samping itu dipakai untuk bagian tertentu mobil. bahan pelapis pelat (plating material) untuk kamar

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

73

mandi, dalam pabrik bahan pelapis pelat (refractories), dalam industri kimia untuk pembuatan cat, pabrik kulit dan pelapis pelat elekiro (electro plating) 5. Molibdenium dan Vanadium sebagai bahan alloy juga penting untuk pembuatan baja. Endapan Molibdenium telah ditemukan di Sulawesi Tengah. Kalimantan Barat, Sumatera dan pulau-pulau timah. 6. Tembaga merupakan salah satu metal dasar (base metal) yang penting. Penggunaan terbesar adalah dalam alat listrik. Eksplorasi intensif sedang dilakukan di Sulawesi Utara dan Selatan yang diperkirakan mengandung tembaga porfir sebagaimana di Filipina. 7. Timbal selain untuk pematrian (plumbing) mempunyai penggunaan besar sekali dalam industri mobil. Sebagian terbesar dipakai dalam baterai penyimpan aki. 8. Seng dalam penggunaannya didasarkan pada sifatnya yang khusus ialah menahan efek yang merusak dan kelembaban dan gas dalam atmosfera. Endapan-endapan kecil timbal dan seng tersebar di Sumatera, Sulawesi, Kalimantan dan daerah-daerah lain. 9. Timah sebagai logam dasar mempunyai penggunaan yang luas dalam lempeng timah (tin plate) sebagai solder di mana timah dicampur dengan timbal dan sebagai brass di mana timah dicampur dengan tembaga. Mineral ini ditemukan di Kepulauan Riau, Bangka, Belitung, Singkep dan di sebelah timur Sumatera antaranya di Bangkinang. 10. Aluminium digolongkan ke dalam logam ringan dan mempunyai penggunaan luas sekali dalam industri dan konstruksi, serta alat transpor seperti kapal terbang, bis, kereta api dan lain-lain. 11. Bauksit merupakan kelompok mineral aluminium hidroksida. Tambang bauksit ditemukan pertama kali di Pulau Bintan. Kegunaan bauksit adalah bahan utama pembuatan logam alumunium dan bahan dasar industri kimia dan refractory. 12. Titanium sebagai logam ringan juga memainkan peranan tertentu dalam industri. Penggunaan utama adalab sebagai oksida dalam pembuatan cat. 13. Bahan galian industri adalah mineral bukan logam seperti pasir, lempung, gamping, marmer, ziolit, dan lain.lain. Jenis sumberdaya energi yang sangat terkenal adalah minyak bumi, gas alam, batubara, angin dan sinar matahari. 1. Minyak bumi merupakan salah satu bahan bakar dan sumber energi yang sangat penting. Minyak bumi terbentuk selama berjuta-juta tahun. Endapan minyak dan gas bumi di Indonesia terdapat pada 60 cekungan sedimen tersier yaitu di Sumatera, kalimantan, Jawa, Sukawesi, NTT, maluku, dan lain-lain. Bahan Bakar Minyak (BBM) yang berasal dari minyak bumi antara lain: (a) Minyak tanah (kerosin), yaitu minyak mentah yang meliputi cairan hidrokarbon dengan titik nyalaa 38 C. Minyak tanah dimanfaatkan untuk bahan bakar kompor minyak dan bahan penerangan pada lampu minyak. (b) Gas minyak diesel (diesel gas oil), yaitu bahan bakar yang digunakan untuk pembakaran pada mesin-mesin diesel dan penyala bahan bakar

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

74

pada instalasi pemanas. Kelompok gas minyak diesel adalah minyak bakar, minyak diesel, minyak solar, minyak residu, dan minyak gas. (c) Premium, yaitu bensin beroktan tinggi yang digunakan untuk bahan bakar kendaraan bermotor. (d) Avtur (Aviation turbine fuel), yaitu bahan bakar yang digunakan untuk pesawat terbang turbin gas atau bermesin jet. (e) Avgas (Aviation gasoline) digunakan untuk bahan bakar pesawat terbang bermesin piston atau bukan jet. Sifat Avagas adalah seperti bensin tetapi dengan oktan tinggi, sangat mudah menguap, dan mempunyai titik beku yang rendah. Selain Avgas terdapat Jet Propellant (JP) yang juga digunakan sebagai bahan bakar pesawat terbang bermesi jet. (f) Super TT, yaitu bensin super tanpa timbal yang digunakan untuk bahan bakar 2. kendaraan bermotor. Pengusahaan tambang minyak bumi Indonesia searang ini adalah Pertamina (Perusahaan Tambang Minyak Nasional) yaitu berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1968. 3. Batu bara terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan yaang sudah memfosil dan mengendap selama berjuta-juta tahun. Kumpulan sisa tumbuhan yang telah tertutup oleh proses geologis akan mengalami proses coalification. Potensi bahan taambang batu bara di Indonesia diperkirakan sebesar 36 miliar ton yang tersebar di beberapa wilayah antara lain di Nanggroe Aceh Darussalam sebesar 4,70%, Sumatra bagian tengah (Sumatra Barat, Riau, dan Jambi) sebesar 11,40%, serta Sumatra bagian selatan sebesar 51,73%. Di Pulau Kalimantan terdapat di Kalimantan Barat sebesar 5,83%, Kalimantan Tengah sebesar 1,20%, Kalimantan Selatan sebesar 9,99%, dan Kalimantan Timur sebesar 14,62%. Sisanya sebesar 0,53% tersebar di Pulau Jawa, Sulawesi daan Irian Jaya. 4. Tenaga Panas Bumi merupakan sumber daya energi yang cukup penting. Potensi panas bumi di Indonesia diperkirakan antara 8.000 – 10.000 mega watt (MW), 5.500 MW diantaraanya terdapat di Pulau Jawa dan Bali, 1.100 MW, di Pulau Sumatraa, serta 1.400 MW di Pulau Sulawesi. Selebihnya tersebar di wilayah Nusa Tenggara, Irian Jaya, daan pulaupulaau lainnyaa, selain Pulau Kalimantaan. Sumber tenaga panas bumi lainnya yang sudah berproduksi adalah sumber tenaga panas bumi Dieng (Jawa Tengah), Lahendong (Sulawesi Utara), Gunung Salak daaan Gunung Darajat (Jawa Barat), Sarula (Sumatra Barat), serta Gunung Sibayak (Sumatera Utara).

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

75

Bagian 6

Pembelajaran Aktivitas Ekonomi, Teknologi, dan Permasalahan Sosial
A. PEMBELAJARAN AKTIVITAS EKONOMI Mengawali pembelajaran IPS tentang aktivitas ekonomi, guru sebaiknya merenung sejenak; apakah anak pernah dibawa ke pasar oleh orang tuanya? Jawabannya, hampir 100% semua anak pernah dibawa ke pasar oleh orang tuanya. Ini dalah sumber belajar yang harus digali oleh guru. Saya sarankan, agar Anda mengawali pembelajaran dengan cara meminta siswa satu persatu untuk bercerita tentang pengalamannya ketika diajak oleh orang tua atau saudaranya ke pasar. Anak bisa bercerita apa yang dilihat, dibeli, atau dilakukan di pasar. Dari seluruh cerita siswa, guru dapat merekam pengalaman tersebut untuk dilakukan refleksi. Misalnya diawali dari pertanyaan pokok, mengapa kita perlu pergi ke pasar? Orang pergi ke pasar karena ada kebutuhan. Dari sini, guru dapat menggali berbagai kebutuhan orang pada umumnya. Setelah penuh dengan daftar kebutuhan manusia, guru dapat mengajak siswa untuk berpikir lebih lanjut yaitu apakah setiap kebutuhan manusia dapat terpenuhi semua. Mungkin ada siswa yang menginginkan untuk memiliki sepeda mini, tetapi mengapa tidak semua orang mampu membelinya. Orang banyak menginginkan emas permata tetapi mengapa orang sangat sulit memperolehnya. Setelah pertanyaan berkembang, guru mulai mengurai logika bahwa sebagaimana kita ketahui bahwa sumberdaya yang kita manfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia jumlahnya terbatas. Karena jumlahnya terbatas, maka tidak semua orang dapat memperoleh kesempatan untuk memilikinya. Untuk memiliki sumberdaya itu, orang-orang berusaha baik dengan cara berjualan, bekerja, menawarkan jasa, dan lain-lain. Karena ada keinginan untuk memiliki sumberdaya maka lahirlah berbagai tindakan ekonomi. Untuk memperoleh keuntungan yang besar, ia berusaha menjual barang sebanyak-banyaknya agar dari itu ia memperoleh selisih keuntungan yang besar. Jika kehidupan ekonomi didasari oleh usaha dan pengorbanan yang optimal, nampaknya tidak ada di masyarakat yang dikecewakan. Semua orang akan merasa senang karena diantara mereka tidak ada yang berusaha menipu orang lain tetapi justru akan memberi pelayanan terbaik agar memperoleh keuntungan yang sepadan dengan usahanya. Prinsip ekonomi yang mengatakan bahwa “dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya untuk mendapat hasil yang sebesar-besarnya” di masa depan perlu dikaji ulang. Prinsip ekonomi pada jaman sekarang ini, adalah bekerjasama untuk memperoleh keuntungan sesuai pengorbanan yang diberikannya. Besarnya keuntungan disepakati bersama

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

76

sehingga tidak merugikan kedua belah pihak. Kita belum bisa mencontoh cara Rasulullah berdang, tetapi minimal ada prinsip keterbukaan seperti dicontohkan pada sistem perdagangan pasar swalayan. Pada setiap barang tertera harga jual yang pasti, jika pembeli cocok dengan harganya akan diambil, tetapi jika tidak cocok maka ia tidak akan membelinya. Harga yang ditawarkan tentunya telah diperhitungkan, yaitu akan memberi keuntungan kepada semua pihak sesuai dengan pengorbanan masing-masing. Para pengusaha, manajer pasar swalayan, dan para pelayan akan memperoleh keuntungan tetapi besarannya sesuai dengan pengorbanannya. Coba bandingkan dengan juan beli di pasar tradisional, terkadang barang yang sama bisa berbeda-beda harganya untuk setiap pembeli. Bagi yang pandai menawar barang akan lebih murah tetapi bagi yang malas menawar, harganya akan melambung. Cara berjualan di pasar tradisional memiliki prinsip yaitu bagaimana caranya agar dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya mendapat hasil yang sebesar-besarnya. Jika pedagangnya tidak bermoral, maka rawan sekali adanya penipuan atau mengurangi timbangan ketika sedang menimbang barang. Namun demikian, pasar tradisional jaman dahulu tidaklah “sekejam” sekarang. Orangorang dipasar penuh kasih sayang, mereka menjual barang dengan harga yang relatif murah karena yang dituju bukan hanya keuntungan tetapi jalinan kemitraan (persaudaraan). Guru mengajak diskusi atau tanya jawab tentang prinsip tindakan ekonomi yang dianggap berlaku umum adalah: 1. Hemat. hemat artinya tidak boros. Sikap hemat berlaku bagi semua tindakan ekonomi. Sebagai pengusaha harus bersikap hemat dalam menggunakan bahan bakar, listrik, bahan baku, dan biaya. Pengusaha yang hemat adalah orang yang bermoral, penghematannya akan mendapat barang yang berkualitas tetapi dengan harga yang paling murah. Menjual barang yang murah dan berkualitas tinggi sangat membantu masyarakat sebagai konsumennya. 2. Selalu menentukan skala prioritas. Menentukan skala prioritas merupakan prinsip umum dalam tindakan ekonomi. Dengan menentukan skala prioritas akan diperoleh keuntungan yang lebih besar. Jika seorang ingin membuka usaha goreng pisang, apakah ia akan membeli pisang dan terigu sebelum membeli kompor dan bahan bakarnya?. Pedagang yang tahu skala prioritas pasti akan membeli alat-alat produksi terlebih dahulu yaitu kompor, penggorengan, dan minyak tanah. Setelah itu barulah ia membeli bahan baku seperti pisang dan terigu. 3. Bertindak rasional. Berusaha yang baik, tidak akan melakukan sesuatu tanpa ada perhitungan, bahkan dihindari melakukan sesuatu yang didasarkan oleh tindakan “untung-untungan”. Bertindak rasional tujuannya agar tidak merugi. Perhitungan para pedagang akan dimulai ketika memilih lokasi berjualan, menentukan modal, menentukan biaya promosi, mencari bahan baku, dan lain-lain. 4. Bertindak sesuai prinsip cost and benefit. Orang yang memiliki prinsip ekonomi cost and benefit selalu menghitung biaya (cost) yang harus dikeluarkan dan menghitung berapa besar manfaat (benefit) yang akan

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

77

diperoleh sebagai hasil pengeluaran biaya tersebut. Misalnya seorang pedang ayam goreng, setiap hari mengeluarkan biaya Rp. 3.000.000 dan rata-rata akan memperoleh penghasilan (manfaat) Rp. 5.000.000, setelah dikeluarkan untuk para karyawan dan sewa tempat maka diperoleh keuntungan bersih Rp. 1000.000,- Jika ia tidak melakukan perhitungan itu, maka tidak diketahui keuntungan yang sebenarnya dari usahanya. Secara umum kegiatan ekonomi dapat dibagi tiga yaitu kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi. Kegiatan produksi merupakan kegiatan membuat sesuatu barang atau menambah nilai sesuatu barang dan jasa. Untuk memroduksi barang diperlukan sejumlah faktor yaitu antara lain faktor alam, tenaga kerja, modal, dan pengusaha. Oleh karena faktor produksi tidak mudah diperoleh, para pengusaha (produsen) harus senantiasa menerapkan prinsip ekonomi sebagai produsen, yaitu: 1. memroduksi barang yang berkualitas tinggi; 2. memroduksi barang yang dibutuhkan masyarakat; 3. memroduksi barang yang harganya terjangkau masyarakat; 4. memroduksi barang dengan biaya seminimal mungkin; 5. menggunakan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan. Berbeda dengan prinsip para produsen, para distributor atau pedagang perlu memperhatikan prinsip distributor yaitu: 1. menjual barang yang dibutuhkan dan sesuai dengan selera masyarakat; 2. menjual barang yang berkualitas baik; 3. menggunakan saluran distribusi yang tepat; 4. memberikan pelayanan yang baik; 5. memberikan pelayanan purnajual yang memuaskan; 6. membeli barang semurah mungkin agar memperoleh keuntungan yang memadai dan terjangkau oleh masyarakat. Sebaliknya bagi konsumen sebaiknya melakukan prinsip ekonomi sebagai konsumen yaitu: 1. harus dapat memilih barang dan jasa yang benar-benar diperlukan; 2. harus dapat memilih barang dan jasa yang kualitas atau bermutu baik dan terjamin; 3. harus memperhatikan jumlah uang yang dimiliki, jangan sampai terlalu banyak utang karena pengeluaran lebih besar daripada penghasilannya. 4. Belilah barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan hidup yang diperluas, yaitu dapat bermanfaat bagi orang lain. Artinya bukan semata-mata karena motif kemewahan atau ingin dihormati oleh orang lain, tetapi ada keinginan untuk membantu orang lain.

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

78

Untuk materi tentang ekonomi, guru tentu sudah menguasai dengan baik. Hal perlu dipikirkan sekarang adalah bagaimana mendidik siswa untuk dapat berbuat baik (bermoral) dalam melakukan tindakan ekonomi dan atau dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Berikut dalam misi guru IPS adalah sejumlah ciri-cirinya: a. Jujur. Salah satu ciri dari makhluk ekonomi yang bermoral adalah berperilaku jujur. Jika tidak jujur maka dapat kita katakan sebagai orang yang tidak bermoral. Apapun usahanya, setiap orang harus jujur. Sebagai pedagang harus jujur, sebagai karyawan juga harus jujur, sebagai direktur harus jujur. Guru menanamkan moral dengan cara memberi contoh bersikap jujur. Misalnya ada seorang pedagang kain, ia tahu dagangannya ada yang cacat (sobek sedikit). Ia sengaja, pada bagian yang sobek disembunyikan dan ia mengatakan kepada calon pembeli bahwa dagangannya mulus dan tidak cacat. Pedagang itu sudah tidak jujur karena tidak mengatakan apa adanya. Di masyarakat sering ditemukan pedagang yang tidak jujur. Misalnya, ia punya barang jualan seharga Rp. 5000, kemudian ada seorang pembeli menawar barang itu dengan harga Rp. 2500. Pedagang menolak tawaran itu dan berkata: “wah, belinya juga belum dapat!,” padahal ia tahu bahwa harga barang yang dibelinya seharga Rp. 2000,- Ia tidak jujur karena telah berbohong. Padahal cukup saja ia berkata, “maaf belum bisa,....tolong naikkan dong tawarannya!”. b. Memenuhi janji. Pengusaha, pedagang, karyawan, dan siapa saja hendaknya berusaha memenuhi janji yang telah diucapkannya. Jika berjanji akan mengirim barang besok pagi jam 10.00, maka penuhilah janji itu bahkan kalau perlu sebelum jam 10.00 pagi sudah terkirim. Dengan cara memenuhi janji, kegiatan ekonomi akan lancar. Bagi pengusaha, keterlambatan pengiriman barang berakibat fatal. Barang yang kita kirim, bisa tidak dibayar oleh pembeli atau setidak-setidaknya harga barang akan dipotong. Jika janji sering tidak dipenuhi maka pengusaha akan terus merugi. c. Menghargai waktu. Ada kata-kata mutiara, “waktu adalah uang”. Di tempat lain ada juga yang menyatakan bahwa “waktu bagaikan pedang”, jika tidak digunakan dengan baik maka waktu akan memenggal kepalamu. Orang yang menghargai waktu akan berusaha untuk terus menerus berbuat baik dan bermanfaat. Tidak ada waktu baginya untuk melakukan perbuatan yang sia-sia, misalnya kebanyakan tidur, kebanyakan main, ngombrol kesana-kemana, dan lain-lain. Dengan sikap yang menghargai waktu, kita akan berdisiplin. d. Menghargai mutu. Artinya mampu menciptakan produk barang yang terbaik dan atau memberi pelayanan yang prima. Orang yang menghargai mutu tidak asal-asalan, misalnya asal jadi atau asal dilaksanakan. Karyawan yang tidak menghargai mutu akan merugikan perusahaan. Coba bayangkan, jika setiap karyawan bekerja apa adanya maka perusahan akan cepat bangkrut, karena barang yang diproduksi akan tidak laku dijual. Jika sudah bangkrut, akan banyak yang diPHK (pemutusan hubungan kerjanya).

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

79

e. Peduli sosial. Peduli sosial adalah perhatian kepada orang lain. Orang yang peduli sosial akan mementingkan kesehatan dan keselamatan konsumen. Pedagang yang peduli sosial akan memperhatikan barang jualannya dengan baik, misalnya tidak akan menjual makanan yang habis masa kedaluwarsanya. Pengusaha yang peduli sosial akan mendirikan pabriknya jauh dari permukiman penduduk supaya tidak mengganggu kehidupan masyarakat. Limbah pembuangannya tidak mencemari lingkungan hidup. Jika berupa produk makanan, ia tidak menambahkan zat pewarna atau zat-zat berbahaya lainnya. Penguasaha yang tidak peduli terhadap keselamatan konsumen adalah pengusaha yang tidak bermoral. f. Hemat. Sikap hemat dalam ilmu ekonomi tidak berlaku hanya untuk diri sendiri, tetapi harus menjadi jiwa dan moral setiap orang. Tahukah kalian, saat ini kita sedang menghadapi krisis bahan bakar minyak dan listrik? Salah satu cara mengatasi krisis bahan bakar dan listrik adalah dengan cara berhemat. Walaupun kalian adalah orang kaya, tetapi jika bersikap boros (misalnya menyalakan lampu taman di siang hari) maka kalian termasuk orang yang tidak bermoral karena tidak memperhatikan kepentingan masyarakat banyak. g. Menyadari lingkungan sebagai sumber kehidupan. Lingkungan adalah sumber daya kehidupan. Jika lingkungan hidup dirusak. maka dapat mengakibatkan bencana. Pengusaha yang menyadari lingkungan sebagai sumber kehidupan akan bersikap hati-hati, tidak mencemai lingkungan dan tidak merusak. Pengusaha yang merusak lingkungan hidup adalah pengusaha yang tidak bermoral. B. PEMBELAJARAN TENTANG PERKEMBANGAN TEKNOLOGI Perkembangan teknologi yang pesat saat ini, tidak terlepas dari penemuan mesin uap oleh James E. Watt (1736-1819) seorang ahli teknik atau insinyur bangsa Skotlandia. Gagasan tentang sebuah mesin yang digerakkan oleh uap telah diperkenalkan oleh Hero dan Iskandaria (Alexandria) pada abad ke-2 namun tidak ada tindak lanjutnya. Dalam eksperimennya Watt mengadakan perubahanperubahan atas mesin-mesin yang pernah ada. Mesin uapnya yang pertama selesai dibuat pada tahun 1769 dan terus disempurnakan hingga tahun 1774 ia berhasil membuat mesin uap yang dapat memasok daya pada peralatan pabrik seperti mesin pintal dan mesin bubut. Perkembangan teknologi pada mesin uap tersebut ternyata membawa dampak yang sangat luas yaitu masyarakat memasuki era industrialisasi yaitu kehidupan yang serba menggunakan mesin. Dengan diciptakannya mesin-mesin yang terbuat dan besi di Inggris pada tahun 1780 telah terjadi suatu fenomena yang disebut “revolusi industri” di bidang mesin produksi pertekstilan. Sebelum terjadinya revolusi industri, barang-barang yang dibutuhkan oleh masyarakat telah diproduksi oleh anggota masyarakat sendiri secara “industri rumahan”. Artinya alat-alat atau barang-barang yang diperlukan dibuat oleh suatu keluarga mula-mula untuk mereka pergunakan sendiri, misalnya alat-alat dapur, alat-alat pertanian perabot rumah tangga. Pembuatan tekstil juga masih

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

80

diusahakan oleh masing-masing keluarga untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Setelah kebutuhan mereka terpenuhi barang-barang yang dibuat tersebut sebagian diperdagangkan, artinya dijual kepada para pedagang yang kemudian dibawa oleh mereka ke luar daerah untuk dijual kepada masyarakat yang membutuhkannya. Pembelajaran IPS tidak membahas tentang bentuk dan proses ketiga teknologi (produksi, komunikasi, dan transportasi) tersebut. Pembaasan IPS adalah perubahan perilaku manusia akibat perkembangan teknologi dan bagaimana sikap kita dalam menghadapi perkembangan teknologi tersebut. Untuk materi ini, sekurang-kurangnya siswa harus mampu mengidentifikasi perbedaan perilaku masyarakat akibat perkembangan teknologi. Strategi pembelajaran yang disarankan adalah menggunakan strategi cooperative learning dengan metode dua tinggal dua tamu atau bentuk lainnya yang inovatif. Landasan pembelajaran kooperatif adalah bekerjasama. Landasan filsafatnya berlawanan dengan Teori Darwin yang menekankan bahwa manusia adalah makhluk yang harus bersaing dengan manusia yang lain. Coorperative learning memiliki asumsi bahwa tanpa kerja sama, tidak akan ada individu, keluarga, organisasi, atau sekolah. Tanpa kerja sama, tidak ada proses pembelajaran. Tanpa kerja sama, kehidupan akan punah. Pengembangan model pembelajaran cooperative learning belum banyak diterapkan dalam pendidikan karena masih banyak orang yang beranggapan bahwa belajar harus sunyi dan tidak boleh melakukan permainan apalagi berpindah tempat dan bermain. Mereka beranggapan, cara itu akan menimbulkan kekacauan di kelas dan siswa tidak bisa belajar jika mereka di tempatkan dalam kelompok diskusi. Selain itu, banyak orang mempunyai kesan negatif mengenai kegiatan kerja sama atau belajar dalam kelompok. Banyak siswa juga tidak senang disuruh bekerja sama dengan yang lain. Siswa yang tekun merasa harus bekerja melebihi siswa yang lain dalam kelompok mereka, sedangkan siswa yang kurang mampu merasa minder ditempatkan dalam satu kelompok dengan siswa yang lebih pandai. Siswa yang tekun juga merasa temannya yang kurang mampu hanya menghambat atau menumpang saja pada hasil jerih payah mereka. Kesan negatif dalam kegiatan berkelompok tidak mampu melakukan percepatan penguasaan informasi dan ilmu pengetahuan. Pekerjaan kelompok hanya ngobrol antar siswa dan tidak banyak yang dibaca. Cooperative learning yang sekarang dikembangkan mencoba menjawab kesan negatif tersebut dengan cara benarbenar menerapkan prosedur model pembelajaran cooperative learning secara terkontrol. Banyak guru hanya membagi siswa dalam kelompok lalu memberi tugas untuk menyelesaikan sesuatu tanpa pedoman mengenal pembagian tugas. Cara-cara seperti itu akan dihindari oleh guru pembelajaran cooperative learning. Model pembelajaran cooperative learning tidak sama dengan sekadar belajar dalam kelompok. Ada unsur-unsur dasar pembelaiaran cooperative learning yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Pelaksanaan prosedur model cooperative learning dengan benar akan memungkinkan pendidik mengelola kelas dengan lebih efektif. Salah satu teknis pembelajaran cooperative learning dari puluhan teknis lainnya adalah Dua Tinggal Dua Tamu (Two Stay Two Stray). Metode ini memberi kesempatan

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

81

kepada kelompok untuk membagikan hasil dan informasi dengan kelompok lain. Caranya: 1. Siswa bekerja sama dalam kelompok berempat seperti biasa. 2. Setelah selesai, dua orang dan masing-masing kelompok akan meninggalkan kelompoknya dan masing-masing bertamu ke dua kelompok yang lain. 3. Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi mereka kepada tamu mereka. 4. Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain. 5. Kelompok mencocokkan dan membahas hasil-hasil kerja mereka. Penerapan metode dua tinggal dua tamu bisa dimodifikasi, karena jika jumlah siswa di kelas ada 32 orang, maka dibutuhkan 8 kelompok. Jumlah ini terlalu ricuh dan pelaksanaan salng kunjung akan memakan waktu yang sangat lama. Mungkin cukup dibagi 4 kelompok sehingga masing-masing kelompok 8 orang. Pada saat berkunjung, ada 4 orang yang bertamu dan 4 orang lainnya tinggal di tempat. Jumlah putaran menjadi lebih singkat. Masing-masing kelompok bisa mengambil tema diskusi yaitu: Kelompok 1: Kelemahan alat-alat transportasi jaman dulu dan keuntungan alat-alat transportasi jaman sekarang Kelompok 2: Kelemahan alat tenun jaman dulu dan keuntungan mesin tenun jaman sekarang Kelompok 3: Kelemahan alat-alat komunikasi jaman dulu dan keuntungan alat-alat komunikasi jaman sekarang Kelompok 4: Kelemahan alat-alat masak jaman dulu dan keuntungan alat-alat masak jaman sekarang Jika terlalu sulit, judul diskusi dapat diturunkan lagi, misalnya: Kelompok 1: Sebutkan berbagai kecanggihan alat-alat transportasi jaman modern (pesawat terbang, kapal laut, mobil, dan lain-lain) Kelompok 2: Sebutkan berbagai kecanggihan alat produksi bahan pakaian jaman modern (alat pintal, pembuatan kain batik, dan lain-lain) Kelompok 3: Sebutkan berbagai kecanggihan alat-alat komunikasi jaman modern (telepon selular, fax, email, internet, SMS, MMS, dan lain-lain) Kelompok 4: Sebutkan berbagai kecanggihan alat-alat produksi bahan makanan jaman sekarang (blender, kompor gas, magicjar, open, dan lain-lain)

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

82

Setelah selesai berdiskusi sesuai dengan temanya masing-masing, setiap kelompok berdiskusi tentang pertanyaan apa saja yang akan diajukan kepada tuan rumah jika mereka berkunjung. Sebaliknya mereka juga bersiap diri, sebagai tuan rumah harus siap mengajukan argumentasi jika ada tamu yang berkunjung. Di akhir acara, yaitu setelah semua kelompok saling berkunjung, guru dapat melakukan refleksi dan menyimpulkan tentang berbagai manfaat dari semua teknologi yang dibahas oleh setiap kelompok. Selain mengkaji manfaatnya, guru bisa menambahkan bahwa dengan adanya teknologi canggih, jika manusia tidak bisa menyesuaikan diri akan mengancam kehidupan sosial. C. PEMBELAJARAN TENTANG PERMASALAHAN SOSIAL Saidihardjo (1992) mengungkapkan bahwa tujuan mempelajari IPS salah satunya adalah agar siswa mengenal permasalahan sosial yang ada di sekitarnya. Masalah sosial banyak sekali jenisnya, sehingga perlu dipilih agar lebih bermakna bagi siswa. Diusahakan agar guru dapat mengupas masalah sosial diambil dari lingkungan sekitar siswa. Namun, jika dicari irisannya, setiap masayarakat Indonesia umumnya menghadapi permasalahan sosial yang hampir sama seperti kemiskinan, pecahnya ikatan-ikatan keluarga, masalah generasi muda dalam masyarakat modern, masalah kependudukan, masalah lingkungan hidup, kehidupan politik yang tidak stabil, kejahatan, dan konflik antar masyarakat yang memicu terjadinya kerusuhan dan peperangan. Masalah sosial timbul dari berbagai sebab yang saling terkait. Awalnya orang menganggap bahwa masalah sosial disebabkan oleh karena kemiskinan. Namun ternyata, pada masyarakat yang makmur sekalipun masalah sosial juga dapat muncul seperti kenakalan remaja, penggunaan obat-obat terlarang, kehidupan seks bebas, dan kehidupan hedonisme (memuja kesenangan hidup di dunia tidak peduli terhadap norma agama). Dengan demikian, masalah sosial terjadi di setiap masyarakat. Semua kehidupan di masyarakat adalah cobaan, siapa yang bisa menghadapinya cobaan dengan baik maka akan bermanfaat, jika tidak, maka akan jadi masalah sosial. Apa yang disebut masalah sosial? Secara sederhana masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur dalam masyarakat atau kebudayaan yang membayakan kehidupan kelompok sosial, terhambatnya pemenuhan kebutuhan masyarakat, hingga rusaknya ikatan sosial dan keluarga. Masalah sosial secara umum dibagi empat kelompok yaitu masalah sosial yang ditimbulkan oleh faktor ekonomis, biologis, psikologis, dan kebudayaan. Faktor ekonomis yang dapat menimbulkan masalah sosial misalnya kmiskinan, pengangguran, persaingan bisnis, dan lain-lain. Faktor biologis yang dapat menimbulkan masalah sosial misalnya terjangkitnya wabah penyakit yang menular, seperti flu burung, demam berdarah, dan lain-lain. Faktor psikologis yang dapat menimbulkan masalah sosial misalnya penyakit syaraf dan disorganisasi jiwa (stress), dan lain-lain, sedangkan faktor kebudayaan yang dapat menimbulkan masalah sosial misalnya menyangkut mudahnya perceraian, kenakalan anak-anak, konflik rasial dan konflik keagamaan. Untuk memberi wawasan tentang permasalahan sosial, brikut akan dijelaskan serba sedikit tentang kemiskinan, pecahnya ikatan-ikatan keluarga, masalah generasi muda dalam

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

83

masyarakat modern, masalah kependudukan, masalah lingkungan hidup, kehidupan politik yang tidak stabil, kejahatan, dan konflik antar masyarakat yang memicu terjadinya kerusuhan dan peperangan: 1. Kemiskinan merupakan masalah sosial yang bersifat resiprokal (timbal balik) antara rendahnya pendidikan, masalah kependudukan, lingkungan hidup, kejahatan, konflik sosial, dan berbagai masalah sosial lainnya. Semua dapat disebabkan oleh faktor kemiskinan dan pada saat yang lain semua masalah sosial akan berakhir pada satu kata yaitu kemiskinan. Rendahnya pendidikan mengakibatkan kurangnya peluang terhadap dunia usaha, karena itu ia akan mengendap pada lembah kemiskinan. Kebanyakan orang terpaksa melakukan urbanisasi karena di desa terhimpit kemiskinan, tetapi di perkotaan ia pun tidak memiliki keterampilan yang memadai sehingga tetap miskin dan menempati kawasan kumuh di perkotaan. Untuk mengatasi masalah kemiskinan, salah satu langkah konkrit adalah agar setiap diri mau belajar meningkatkan taraf pendidikan, semangat hidup yang tinggi, dan secara bertahap belajar untuk bersilaturahim mencari peluang. 2. Pecahnya ikatan-ikatan keluarga merupakan masalah sosial kedua yang paling nampak. Jika di masyarakat banyak kasus perceraian, keluarga yang tidak bahagia, dan lain-lain. Disorganisasi keluarga dapat terjadi dari kalangan keluarga sederhana, menengah, sampai atas. Namun kebanyakan kasus perceraian terjadi pada keluarga yang kepala keluarganya gagal memenuhi kebutuhan-kebutuhan primer dan atau karena seorang istri tidak bersedia dimadu. Di kalangan keluarga modern, disorganisasi keluarga bisa disebabkan oleh terjerat kasus obat-obatan terlarang, kejahatan kerah putih, kasus korupsi, berselingkuh, dan lain-lain. Apapun penyebabnya, perceraian adalah masalah sosial yang perlu diperhatikan oleh para tokoh masyarakat dan pemerintah agar dapat dicegah. Masalah perceraian akhir-akhir ini menggejala di kalangan para keluarga yang para istri (ibu dari anak-anaknya) pergi menjadi Tenaga Kerja Wanita di luar negeri. Di kalangan mereka, para TKW memperoleh kesempatan untuk bekerja di luar negeri dengan gaji yang cukup. Sementara para suami tinggal di rumah mengasuh anak-anaknya. Pada saat pengiriman uang dari luar negeri (upah menjadi TKW), masalah keluarga mencuat. Para suami merasa dirinya paling berhak, tetapi terkadang istri tidak percaya kepada suaminya karena satu dan lain hal para suami semakin malas tidak mau bekerja, para suami banyak utang, terkadang ada yang berselingkuh dan menikah lagi dengan uang kiriman dari istrinya. Di lain pihak, orang tuanya (nenek dari anak-anak mereka) yang telah berperan sebagai pengasuhnya bertahun-tahun meminta bagian dari hasil kerja anaknya. Jika tidak dapat dikontrol, biasanya pernikahannya tidak dapat dipertahankan. 3. Masalah generasi muda dalam masyarakat modern menjadi masalah sosial jika terdapat kesalahpahaman dalam kehidupan keluarga. Generasi muda dalam wujud fisiknya merasa ingin bebas dari aturan orang tuanya sedangkan jauh di lubuk hati yang paling dalam ingin diperhatikan sebagai anak, membutuhkan kasih sayang, dan ingin mencurahkan kegalauan harinya (curhat). Pada sisi yang lain, orang tua terlalu sibuk dalam pekerjaannya mencari uang. Orang tua menganggap bahwa dengan memenuhi segala kebutuhan materi bagi anak-

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

84

anaknya dipandang cukup. Di sinilah terjadi saling tuduh, orang tua sudah merasa telah memperhatikan sepenuh hatinya kepada anak-anaknya sedangkan anak-anaknya tetap protes karena kurang mendapat pehatian. Anak yang kurang mendapat perhatian dari orang tuanya terjerumus kepada kenakalan remaja, masuk gang berandalan, obat-obatan terlarang, dan lain-lain. Banyak kasus, dari anak-anak yang kurang perhatian dan menjadi berandalan telah meresahkan masyarakat. Para anggota gang motor merasa paling jagoan dan mereka tidak segan-segan membawa senjata seperti pistol ataupun benda tajam lainnya yang kemudian mereka lancarkan begitu saja di jalan-jalan. Tidak sedikit korban yang terluka akibat ulah mereka bahkan ada yang tewas. Saat ada anggota baru yang akan masuk, mereka harus mengikuti adu kelahi antara junior. Hal ini sama halnya seperti tindakan ploncoan dari para seniornya. Itu salah satu cara untuk melindungi diri dari musuh (gang motor lain). Selain itu mereka juga pernah melakukan tindak penculikan, perampasan, dan pembunuhan. Di Bandung pernah ada nama geng motor yang cukup meresahkan warga diantaranya Exalt To Coitus (XTC), Grab On Road (GRB), Berigadir Seven (Briges) dan Mounraker yang pada hakikatnya memiliki ideologi sama, mencetak anggota dari kalangan siswa SMP dan SMA menjadi remaja yang berperilaku jahat dan tak lepas dari tiga sumpah di atas. Anggota bukan saja laki-laki, tetapi banyak juga remaja putri yang senang ngumpul-ngumpul, berbaur dengan putra. 4. Masalah kependudukan, biasanya disebabkan oleh pertambahan jumlah penduduk yang lebih cepat dari ketersediaan lapangan pekerjaan, sarana dan prasarana sosial, pranata sosial yang mengatur tingginya jumlah penduduk dan lain-lain. Akibat belum tersedianya lapangan pekerjaan mengakibatkan banyaknya pengangguran. Sarana sosial menjadi kumuh seperti di komplekkomplek kumuh (slum areas) di perkotaan, dan banyaknya kerusuhan akibat konflik sosial untuk memperoleh kesempatan hidup yang lebih sejahtera. Masalah kependudukan tidak dapat diatasi oleh satu-satunya program pembatasan jumlah anak (program KB) tetapi harus terintegrasi dengan sektor atau urusan penyediaan tenaga kerja, peningkatan kualitas pendidikan, dan lain-lain. 5. Masalah lingkungan hidup, adalah ekses dari keinginan untuk memeroduksi berbagai barang dan jasa tanpa memperhatikan kapasitas daya tampung dan daya lenting lingkungan hidup. Masalah lingkungan tidak hanya terjadi di perkotaan yang banyak limbah dan polusi, di pedesaan juga terjadi masalah lingkungan seperti pencemaran tanah dan air oleh penggunaan pestisida dan pupuk kimia yang berlebihan. Masalah lingkungan akan menjadi masalah sosial baik langsung maupun tidak langsung. Secara langsung akan menimbulkan wabah penyakit yang pada gilirannya banyak penduduk terjangkit penyakit. Karena penyakitnya, pendapatan dari hasil kerjanya berbulan-bulan dapat habis seketika untuk berobat sehingga menimbulkan kemiskinan. Secara tidak langsung, pencemaran lngkungan akan mengurangi produktivitas lahan pertanian, karena banyak yang gagal panen maka penduduk akan miskin kembali.

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

85

6. Kehidupan politik yang tidak stabil merupakan masalah sosial yang sangat kentara. Kehidupan politik yang tidak stabil banyak menimbulkan kerusuhan sosial, dan dari itu akan menimbulkan masalah sosial. 7. Kejahatan adalah refleksi dari adanya masalah sosial. Tingginya angka kejahatan biasanya seiring dengan meruncingnya masalah sosial. Penyebabnya bermacam-macam, misalnya karena kemiskinan, kurangnya stabilitas politik dan penegakan hukum, kesenjangan yang terlalu jauh antara si kaya dan si miskin, dan lain-lain. 8. Peperangan juga merupakan masalah sosial di mana dua negara saling berperang. Negara yang merasa paling berkuasa dengan sesuka hati merampas tanah negara lain sehingga menimbulkan masalah sosial yaitu kemiskinan, penderitaan, kebodohan, penindasan, dan lain-lain. Bagaimana cara menyampaikan materi tentang masalah sosial yang sangat rumit bagi anak usia SD? Disarankan agar guru IPS menggunakan metode konstruktivistik dari wawasan yang sederhana merangkak kepada masalah yang sangat kompleks. Sebagai contoh, anak usia SD kelas IV mungkin tahu tentang orang miskin yaitu tentang kehidupan kesehariannya, apa yang dimakan, pakaiannya, kondisi rumuahnya, dan lain-lain. Dimulai dari pertanyaan, mengapa mereka bisa miskin? Anak dapat menyebutkan penyebabnya yaitu karena mereka tidak memiliki uang, tidak memiliki uang karena tidak bekerja atau karena pekerjaannya merupakan pekerjaan kasar, pedagang kecil, banyak keluarganya, tidak memiliki lahan pertanian, dan lain-lain. Ambillah salah satu kasus tentang seorang peminta-minta. Untuk anak usia kelas IV mungkin dapat digali pengalamannya ketika memberi uang recehan kepada pengemis dan atau menolak tidak mau memberi. Bagi anak yang memberi, dapat mengemukakan alasannya sedangkan bagi yang tidak memberi juga dengan alasannya. Dari sosok pengimis, siswa diajak untuk merasakan apa yang terdapat dalam dirinya yaitu antara rasa iba dan rasa waspada jika si pengemis adalah berpura-pura, pengemis sebagai seorang yang pemalas atau sebagai pihak yang korban keadaan ekonomi yang sulit, dan berbagai komentar tetapi diharapkan satu kesimpulan yang sama bahwa meminta-minta adalah perbuatan hina. Namun beberapa kasus jika pengemis itu adalah benar adanya, usaha yang dapat dilakukan adalah oleh pemerintah atau swadaya masyarakat berupa panti-panti asuhan dan panti jompo. Untuk mengarahkan proses pembelajaran, guru harus memiliki pegangan bahwa mengkaji sosial bukan hanya menjawab apa, tetapi juga harus menjawab 5 W + 1 H yaitu apa (what), di mana (where), kapan (when), mengapa (why), siapa (who), dan bagaimana (how). What untuk mengetahui apa yang terjadi?, where untuk mengetahui di mana peristiwa itu terjadi? when untuk mengetahui kapan peristiwa itu terjadi?, why untuk mengetahui mengapa peristiwa itu dapat terjadi’?, who untuk mengetahui siapa yang bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa itu atau terlibat di dalamnya?, dan how untuk mengetahui bagaimana peristiwa itu seharusnya diselesaikan dengan baik (how to solve the problem). Cara ini akan melatih siswa untuk jeli dan lebih cermat dalam menelaah tulisan atau wacana sehingga lebih efektif. Penggunaan metode inquiry 5 W + 1 H dapat

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

86

dilakukan secara bervariasi. Pada perencanaan, misalnya direncanakan skenario pembelajaran yang berisi langkah-langkah yang diambil diantaranya: 1. Menyusun atau membuat rencana pembelajaran yang sesuai dengan permasalahan tentang kemampuan membaca pemahaman. 2. Menyiapkan siswa secara berkelompok di ruang kelas dan diberi tugas untuk membaca kliping 3. Menyediakan media atau alat peraga untuk membantu pemahaman membaca. 4. Guru menjelaskan arti 5 W + 1 H dan selanjutnya guru menulis 5 W + 1 H di papan tulis. 5. Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang masing-masing beranggotakan 7 orang. 6. Masing-masing kelompok membagi anggotanya untuk membaca suatu tema tentang masalah sosial dan mencari jawaban dari 5 W+1 H. Tugas membaca cerita, tema cerita di setiap kelompok berbeda. 7. Kelompok diubah dan ditukar menjadi kelompok baru berdasarkan fokus perndalaman unsur 5 W+1 H. 8. Masing-masing anggota kelompok pada kelompok baru bercerita satu sama lainnya dari cerita yang telah dibaca. Terkait dengan metode inquiry perlu dijelaskan sedikit bahwa inkuiri yang dalam bahasa inggris Inquiry adalah berarti pertanyaan atau pemeriksaan, penyelidikan. Inkuiri sebagai suatu proses dilakukan manusia untuk mencari atau memahami informasi. Gulo (2002) menyatakan strategi inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis,logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Sasaran utama kegiatan pembelajaran inkuiri adalah (1) keterlibatan siswa secara maksimal dalam proses kegiatan belajar, (2) keterarahan kegiatan secara logis dan sistematis pada tujuan pembelajaran; dan (3) mengembangkan sikap percaya diri siswa tentang apa yang ditemukan dalam proses inkuiri. Inquiry Learning (belajar mencari dan menemukan sendiri) yaitu system belajar dimana guru menyajikan bahan pelajaran tidak dalam bentuk yang formal, tetapi peserta didik yang diberi peluang untuk mencari dan menemukan sendiri dengan mempergunakan teknik pendekatan pemecahan masalah (dalam hal ini memecahkan masalah yang dipandu dengan 5 W + 1 H. Di dalam sistem pembelajaran ini guru menyajikan bahan pelajaran tidak dalam bentuk yang final, tetapi peserta didik yang diberi peluang untuk mencari dan menemukannya sendiri dengan mempergunakan teknik pendekatan pemecahan masalah. Secara garis besar prosedurnya sebagai berikut: 1. Stimulation (Rangsangan Masalah): guru mengemukakan permasalahan (sosial), secara langsung melalui perantara media yang mengungkapkan data yang sifatnya probelamtik. 2. Problem Statement (Pernyataan/Perumusan Masalah). Siswa diberi kesempatan untuk mengidentifikasi berbagai permasalahan yang relevan sebanyak mungkin, brainstorming. Kemudian diminta menentukan

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

87

permasalahan yang amat mungkin dapat dipecahkan. Permasalahan dirumuskan dalam bentuk pertanyaan. 3. Data Collection (Pengumpulan Data). Siswa diberi kesempatan untuk mencari berbagai informasi yang dapat mendukung terhadap pemecahan pertanyaan masalah/hipotesis melalui telaah literatur, kunjungan objek, atau wawancara kepada sumber. 4. Data Processing (Analisis Data). Siswa diberi kesempatan untuk melakukan analisis data dengan melakukan olahan atas hasil data-data yang diperoleh melalui langkah berikut: pengecekan data, pengklasifikasian data, pentabulasian data dan penafsiran dengan memperkirakan tingkat kepercayaan tertentu (secara statistic). 5. Verifikasi. Siswa diberi kesempatan untuk melakukan pengujian apakah pertanyaan masalah/hipotesis teruji atau tidak? 6. Generalisasi. Siswa diberi kesempatan untuk dapat mengambil kesimpulan atau generalisasi atas hasil temuannya dalam verifikasi. Untuk dapat melaksanakan pembelajaran inquiry, dengan tahapan pembelajaran sebagaimana diterangkan di atas maka dibutuhkan suatu strategi pembelajaran yang berorientasi kepada masalah. Model pembelajaran yang berorientasi masalah (problems centred) direncang agar siswa dapat belajar langsung terhadap fokus yang diminatnya dan yang dapat diusahakan pemecahannya sebagai masalah kehidupan baik secara individual maupun sosial. Desain pembelajarannya menekankan pada desain tematik dan desain masalah. Pada desain tematik, mata pelajaran tidak berbentuk suatu body of knowledge tertentu tetapi berdasarkan realitas kebutuhan siswa dan berdasarkan desain masalahnya, pembelajaran diarahkan pada realitas esensial masalah sosial yang dihadapi siswa. Dalam pembelajaran yang berorientasi masalah, setting kelas dirancang dalam suatu diskusi dan kerja kelompok artinya pendidikan bukan upaya sendiri, melainkan kegiatan bersama, interaksi, dan kerjasama. Kerjasama atau interaksi bukan hanya terjadi antara siswa dengan guru (instruktur), tetapi juga antar siswa dengan siswa, siswa dengan orang-orang di lingkungannya, dan dengan sumber belajar lainnya. Melalui interaksi dan kerjasama ini siswa berusaha memecahkan problemproblem yang dihadapinya dalam masyarakat menuju pembentukan masyarakat yang lebih baik. Satu lagi jika siswa yang Anda ajar lebih “encer” dan dapat mengembangkan masalah lebih baik. Jika menghadapi kondisi kelas yang lebih berani mengemukakan pendapat, guru dapat mengunakan pendekan mindmapping. Pemetaan pikiran (mind mapping) sangat terkenal pada revolusi Quantum Leraning. Peta pikiran adalah salah suatu teknik penggambarkan lintasan gagasan yang ada pada otak secara keseluruhan dalam satu halaman dengan mengunakan citra visual dan perangkat grafisnya. Teknik Peta pikiran mulai dikembangkan pada 1970-an oleh Tony Buzan yang didasarkan pada cara kerja otak. Peta pikiran menggunakan pengingat-pengikat bentuk visual dan sensorik dalam suatu pola dari ide-ide yang berkaitan, seperti peta jalan yang digunakan untuk belajar, mengorgansasi dan merencanakan (DePorter dan Hernacki, 1999; 152). Dikatakan bahwa metode ini dapat membangkitkan ide-ide

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

88

orisinal dan memicu ingatan yang mudah. Selain itu, sangat menyenangkan, menenangkan, dan kreatif. Dalam sebuah artikel karya Hernowo (Pikiran Rakyat, edisi 17 Februari 2005) dikatakan bahwa mind mapping dapat melancarkan kegiatan menulis (tentu saja dekat dengan melakukan penelitian) yaitu: o Memberi kebebasan dalam menuangkan gagasan, penuh rasa percaya diri, dan dapat mengalirkan apa pun yang ia kehendaki o Memfungsikan secara sinergi belahan otak kiri dan otak kanan yaitu mempadukan cara kerja otak yang logis, sekuensial, linier, dan rasional (otak kiri) dengan cara kerja yang acak, tidak teratur, intuitif, dan holistik (otak kanan). o Peta pikiran dapat mendeteksi lebih dini apakah semangat menulis didukung oleh ketersediaan bahan yang akan dituangkan. Jika cukup maka dapat dilanjutkan, jika masih kurang perlu disediakan terlebih dahulu dengan baca atau dengan mencari informasi lainnya. Peta pikiran dapat memetakan jaringan pikiran sehingga dapat melahirkan gagasan baru daripada menggunaan teknik outlining (membuat outline). o Membantu menulis secara kreatif dan menemukan keunikan gaya masingmasing penulis, membantu menulis secara lebih cepat, membantu menulis secara mendalam dan bermakna. Lewat pemetaan, pikiran kita dapat diajak untuk mengeksplorasi sampai sejauh-jauhnya apa yang disimpan oleh kita sendiri. Teknik pemetaan pikiran hanya dapat dilakukan bagi mereka yang sudah terbebas dari rasa takut menulis dan telah terbiasa membaca dan mencerap informasi. Informasi yang dimiliki menjadi modal dasar untuk menyebarnya jaringan gagasan. Contoh cara memetakan pikiran yang diaplikasikan untuk pemetaan masalah penelitian diawali dengan menancapkan satu topik masalah, lalu mulai menjalar ke berbagai sudut dengan cara membuat garis dan simbolsimbol visual yang mengingatkan kita pada pengalaman di masa lalu (imajinasi reproduktif) atau pada wujud imajinasi produktif.***

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

89

Bagian 7

Penutup
Pengembangan materi Pengembangan Pendidikan IPS SD adalah pengorganisasian materi yang berasal dari ilmu-ilmu sosial. Pokok bahasan disusun berdasarkan materi masing-masing ilmu-ilmu sosial, artinya masih menampakkan karakteristik disipilin ilmu masing-masing atau melebur dan memunculkan tema pembelajaran tertententu. Dalam rangka mengorganisasi materi pembelajaran IPS ada empat strategi yaitu terpisah (separated), korelatif (correlated), antardisiplin (interdiciplinary), dan fusi (integrated). Dalam proses pembelajaran, pemanfaatan teknologi informasi dalam pembelajaran di kelas, dapat memberi pengayaan bagi siswa tetapi juga dapat membantu guru dalam proses interaksi antara guru dengan siswanya. Dalam pembelajaran IPS, selain aspek kognitif juga harus ditanamkan aspek sikap. Model pembelajaran yang berorientasi masalah (problems centred) direncang agar siswa dapat belajar langsung terhadap fokus yang diminatnya dan yang dapat diusahakan pemecahannya sebagai masalah kehidupan baik secara individual maupun sosial. Desain pembelajarannya menekankan pada desain tematik dan desain masalah. Pada desain tematik, mata pelajaran tidak berbentuk suatu body of knowledge tertentu tetapi berdasarkan realitas kebutuhan siswa dan berdasarkan desain masalahnya, pembelajaran diarahkan pada realitas esensial masalah sosial yang dihadapi siswa. Oleh karena itu, dalam pembelajaran yang berorientasi masalah, setting kelas dirancang dalam suatu diskusi dan kerja kelompok artinya pendidikan bukan upaya sendiri, melainkan kegiatan bersama, interaksi, dan kerjasama. Kerjasama atau interaksi bukan hanya terjadi antara siswa dengan guru, tetapi juga antar siswa dengan siswa, siswa dengan orang-orang di lingkungannya, dan dengan sumber belajar lainnya.***

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

90

Daftar Pustaka
Arthur K. Ellis, (1997), Teaching and Learning Elementary Social Studies, Six Edition, London: Allya and Bacon Bouman, P. J., (1953), Ilmu Masyarakat Umum. Jakarta: Pembangunan Cholisin dan Djinad Hisyam (ed), (2006), Reorientasi dan Pengembangan IPS di Era Indonesia Baru. Yogyakarta: Efisiensi Press. Dadang Supardan, (2008), Pengantar Ilmu Sosial. Jakarta: Bumi Aksara Dorothy J. Skeel, (1995), Elementary Social Studies. Orlando, Florida: Harcourt Brace & Company Etin Solihatin dan Raharjo, (2007), Cooperative Learning: Analisis Model Pembelajaran IPS. Jakarta: Bumi Aksara. Hamzah B. Uno, (2007), Model Pembelajaran: Menciptakan Proses Belajar Mengajr yang Kreatif dan Efektifitas, Jakarta: Bumi Aksara James A. Banks, (1990), Teaching Strategies for the Social Studies, 5ed, Longman; New York Kenneth R. Hoover, (1990), Unsur-unsur Pemikiran Ilmiah dalam Ilmu-ilmu Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana. Manasse Malo, (ed), (1989), Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial di Indonesia Sampai Dekade 80-an. Jakarta: Rajwali Press. Mochtar Buchori, (2001), Pendidikan Antisipatoris. Yogyakarta: Kanisius Poedjawiyatna, (2003), Etika: Filsafat Tingkah Laku, Jakarta: Rineka Cipta ______, (1991), Tahu dan Pengetahuan, Jakarta: Rineka Cipta Robert E. Slavin, (2008), Cooperative Learning: Teori, Riset, dan Praktik, Bandung: Nusa Media Saidihardjo, (1992), Problem-problem Penyiapan Guru Ilmu-Ilmu Sosial di Masa Mendatang, Makalah disampaikan pada seminar sehari di FPIPS dalam rangkan Dies Natalis IKIP Yogyakarta. Tanggal 18 Mei 1992. Yogyakarta: FPIPS IKIP Yogyakarta. Sindhunata, (ed), (2000), Menggagas Paradigma Baru Pendidikan: Demokratisasi, Otonomi, Civil Society, Globalisasi. Yogyakarta: Kanisius Soerjono Soekanto, (1989), Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Press. Sue Law D. Gloves, (2000), Educational Leadership and Learning: Practice, Policy, and Research, Philadelphia: Chestnut Street. Tilaar, HAR, (2002), Perubahan Sosial dan Pendidikan: Pengantar Pedagogik Transformatif untuk Indonesia. Jakarta: Gramedia. Zamroni, (2001), Pengajaran Ilmu-Ilmu Sosial Pada Era Globalisasi, Makalah disampaikan pada Lokakarya membedah Ilmu-Ilmu Sosial yang diselenggarakan oleh FIS-UNY, tanggal 13 Oktober 2001. Yogyakarta: FIS-UNY.

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

91

______, (2007), Pendidikan dan Demokrasi dalam Transisi: Prakondisi Menuju era Globalisasi. Jakarta: PSAP Muhammadiyah.

Pengembangan Pendidikan IPS di SD

92

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->