P. 1
Pemahaman Tingkah Laku

Pemahaman Tingkah Laku

|Views: 236|Likes:
Published by Kang Zuhro Wardi

More info:

Published by: Kang Zuhro Wardi on Jul 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/17/2015

pdf

text

original

KATA PENGANTAR Bismillahiwabihamdih

Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan rahmatNya sehingga Bahan diktat mengajar ini dapat terselesaikan. Bahan bacaan mahasiswa ini bersumber dari berbagai sumber bacaan yang dihimpun menjadi bahan bacaan untuk mata kuliah Pemahaman Tingkah Laku Dengan membaca diktat ini mahasiswa diharapkan memiliki pengatahuan tentang pemahaman tingkah laku manusia yang dibahas pada Bab I, II,III,IV dan V. Mata kuliah ini membahas pemahaman tingkah laku manusia dari sudut pandang Psikologi khususnya teori-teori Kepribadian. Sangat disadari bahwa bahan bacaan mahasiswa ini masih sangat jauh dari sempurna, oleh sebab itu tegur sapa dan kritik yang konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan. Kepada pihak-pihak yang telah memberikan bantuannya dalam penulisan diktat ini diucapkan banyak terima kasih.

Pancor; februari 2011 Penulis

i

DAFTAR ISI BAB I POKOK-POKOK TEORI FREUD MENGENAI KEPRIBADIAN 1. Truktur Kepribadian ...................................................................... 1 2. Dinamika Kepribadian ................................................................... 3 3. Perkembangan Kepribadian .......................................................... 10 BAB II ORANG YANG BERFUNGSI SEPENUHYNYA A. Pendekatan Rogers Terhadap Kepribadian ................................. B. Motivasi Orang Yang Sehat : Aktualisasi...................................... C. Perkembangan “Diri” ..................................................................... D. Orang Yang Berfungsi Sepenuhnya .............................................. BAB III PENDEKATAN ALLPORT TERHADAP KEPRIBADIAN  Motivasi pada Pribadi yang Sehat .................................................  Diri Orang Yang Sehat ....................................................................  Perkembangan Kepribadian Yang Sehat ......................................  Kriteria Pribadi Yang Matang ....................................................... BAB VI IDENTITAS DALAM KOMUNIKASI ....................................... BAB V LOGOTERAPI SEBAGAI TEORI KEPRIBADIAN .................. DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................

16 17 18 21

27 30 32 33 34 47 53

ii

BAB I POKOK-POKOK TEORI FREUD MENGENAI KEPRIBADIAN Teori Freud mengenai kepribadian dapat diikhtisar dalam rangka struktur, dinamika dan perkembangan kepribadian. 1. Struktur Kepribadian Menurut Freud kepribadian terdiri atas tiga sistem atau aspek yaitu:, 1. Das Es (the id), yairu aspek Biologis, 2. Das Ich (the ego), yaitu aspek Psikologis, 3. Das Ueber kit (the super ego) yaitu aspek sosiologis. Kendatipun ketiga aspek itu masing-masing mempunyai fungsi, sifat, komponen, prinsip kerja, dinamika sendiri-sendiri, namun ketiganya berhubungan dengan rapatnya sehingga sukar (tidak mungkin) untuk memisahmisahkan pengaruhnya terhadap tingkah laku manusia: tingkah laku selalu merupakan hasil dari ketiga aspek tersebut. 1. Das Es Das Es atau dalam Bahasa Inggris the id disebut juga oleh Freud System der Unbewussten, Aspek ini adalah aspek: biologis dan merupakan sistem yang original di dalam kepribadian; dari aspek inilah kedua aspek yang lain tumbuh. Freud menyebutnya juga realitas psikis yang sebenar-benarnya (The true psychic reality), oleh karena id itu merupakan dunia batin atau subyektif manusia, dan tidak mempunyai hubungan langsung dengan dunia obyektif. Id berisikan hal-hal yang dibawa sejak lahir (unsur-unsur biologis), termasuk instink-instink; id merupakan "reservoir' energi psikis yang menggerakkan id dan super ego. Energi Psikis di dalam id itu dapat meningkat oleh karena perangsang; baik perangsang dari luar maupun perangsang dari dalam. Apabila energi itu meningkat, maka lalu menimbulkan tegangan, dan ini menimbulkan pengalaman tidak enak (tidak menyenangkan) yang oleh id tidak dapat dibiarkan karena itu apabila energi meningkat, yang berarti ada tegangan, segeralah id mereduksikan energi itu untuk menghilangkan rasa tidak enak itu. Jadi yang menjadi pedoman dalam berfungsinya id ialah menghindarkan diri dari ketidakenakan dan mengejar keenakan: Pedoman ini disebut Freud "prinsip kenikmatan" atau "prinsip keenakan" (Lust prinzip, the pleasure principle). Untuk menghilangkan ketidakenakan dan mencapai kenikmatan itu id mempunyai dua cara (alat proses), yaitu: (a). refleks dan reaksi-reaksi otomatis, seperti misalnya bersin, berkedip, dan sebagainya. (b). proses primer (primair Vorgang), seperti misalnya orang lapar membayangkan makanan (wishfullfillment, wensvervuilling). Akan tetapi jelas bahwa cara "ada" yang demikian itu tidak memenuhi kebutuhan; orang yang lapar tidak akan menjadi kenyang dengan membayangkan makanan. Karna itu maka perlulah (merupakan keharusan kodrati) adanya sistem lain yang menghubungkan pribadi dengan dunia obyektif. Sistem yang demikian itu ialah das Ich. 2. Das Ich/ego Das Ich atau dalam bahasa Inggris the ego disebut juga System der

iii

Bewussicn-Vorbewussten. Aspek ini adalah aspek psikologis daripada kepribadian dan timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan (Realitat). Orang yang lapar mesti perlu makan untuk menghilangkan tegangan yang ada dalam dirinya; ini berarti bahwa organisme harus dapat membedakan antara khayalan tentang makanan dan kenyataan tentang makanan. Disinilah letak perbedaan yang pokok antara id dan ego, yaitu kalau id itu hanya mengenal dunia suhyektif (dunia batin) maka ego dapat membedakan sesuatu yang hanya ada di dalam batin dan sesuatu yang ada di dunia luar (dunia obyektif, dunia realitas). Di dalam berfungsinya ego berpegang pada "Prinsip kenyataan" atau "prinsip realitas" (Realitatsprinzip, the reality principle) dan bereaksi dengan proses sekunder (Sekundar Vorgang, secondary process). Tujuan Realitatsprinzip itu ialah mencari objek yang tepat (serasi) untuk mereduksikan tegangan yang timbul dalam organisme. Proses sekunder itu adalah proses berpikir realistis; dengan mempergunakan proses sekunder ego merumuskan suatu rencana untuk pemuasan kebutuhan dan mengujinya atau men-test-nya (biasanya dengan sesuatu tindakan) untuk mengetahui apakah rencana itu berhasil atau tidak. Misalnya Orang lapar merencanakan di mana dia dapat makan, lalu pergi ke tempat tersebut untuk mengetahui apakah rencana tersebut berhasil (cocok dengan realitas) atau tidak. Perbuatan ini .secara teknis disebut reality testing. Ego dapat pula dipandang sebagai aspek eksekutif kepribadian, oleh karena id ini mengontrol jalan-jalan yang ditempuh, memilih kebutuhankebutuhan yang dapat dipenuhi serta cara-cara memenuhinya, serta memilih obyek-obyek yang dapat memenuhi kebutuhan; di dalam menjalankan fungsi ini seringkali ego harus mempersatukan pertentangan-pertentangan antara id dan das Lieber Ich dan dunia luar. Namun haruslah selalu diingat, bahwa ego adalah derivat id dan bukan untuk merintanginya; peran utamanya ialah menjadi perantara antara kebutuhan-kebutuhan instinktif dengan keadaan lingkungan, demi kepentingan adanya organisme. 3. Das Ueber Ich/Super Ego Das Ueber Ich adalah aspek sosiologi kepribadian, merupakan wakil dari tradisional serta cita-cica masyarakat sebagaimana ditafsirkan orang tua kepada anak-anaknya, yang dimasukkan (diajarkan) dengan berbagai perintah dan larangan. Super ego lebih merupakan kesempurnaan daripada kesenangan; karena itu super ego dapat pula dianggap sebagai aspek moral kepribadian. Fungsinya yang pokok ialah menentukan apakah sesuatu benar atau salah, pantas atau tidak, susila atau tidak, dan dengan demikian pribadi dapat bertindak sesuai dengan moral masyarakat. Super ego diinternalisasikan dalam perkembangan anak sebagai response terhadap hadiah dan hukuman yang diberikan oleh orang tua (dan pendidik-pendidik yang lain). Dengan maksud untuk mendapatkan hadiah dan menghindari hukuman anak mengatur tingkah lakunya sesuai dengan garis-garis yang dikehendaki oleh orang tuanya. Apapun juga yang dikatakannya sebagai tidak baik dan bersifat menghukum akan cenderung untuk menjadi "Conscientia" anak, apapun juga yang disetujui dan

iv

membawa hadiah cenderung untuk menjadi Ich-ideal anak. Mekanisme yang menyatukan sistem tersebut kepada prihadi disebut introjeksi. Jadi super ego berisikan dua hal, ialah ―conscientia‖ dan Ich-ideal. Conscientia menghukum orang denagn memberikan rasa dosa, sedangkan Ich-ideal menghadiahkan orang dengan rasa bangga akn dirinya. Denagan terbentuk super ego ini maka kontrol terhadap tingkah laku yang dulunya dilakukan orang tuanya menjadi dilakukan oleh pribadi sendiri, moral yang dulunya hetronom menjadi otonom. Adapun fungsi pokok das ueber Ich itu dapat dilihat dalam hubungan dengan ketiga aspek keperibadian itu, yaitu: a. Merintangi inplus-nplus id, terutama implus-implus seksual dan agresif yang peryataannya sangat ditentukan oleh masyarakat b. Mendorong ego untuk lebih mengejar hal-hal yang moralistis daripada yang realistis. c. Mengejar kesempurnaan Demikianlah struktur kepribadian menurut Frued, terdiri dari tiga aspek. Dalam pada itu harus selalu diingat, bahwa aspek-aspek tersebut hanya nama-nama untuk berbagai proses psikologis yang berlangsung dengan prinsip-prinsip yang berbeda satu sama lainya. Dalam keadaan biasa ketiga sistem itu bekerja sama dengan diatur oleh ego; kepribadian berfungsi sebagai kesatuan. 2. Dinamika Kepribadian Frued sangat sangat terpengaruh oleh filsafat determinisme dan positivisme abad XIX dan menganggap organisme manusia sebagai suatu kompleks sistem energi, yang memperoleh energinya dari makanan serta mempergunakannya untuk bermacam-macam hal: sirkulasi, penafasan, gerakan otot-otot, mengamati, mengingat, berpikir, dan sebagainya. Sebagaimana ahliahli ilmu alam abad XIX yang mendifinisikan energi berdasarkan lapangan kerjanya, maka Frued menamakan energi dalm bidang psike ini energi psikis. Menurut hukum penyimpangan tenaga maka energi dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi tak dapat hilang. Berdasarkan pemikirian itu Frued berpndapat, bahwa energi psikis dapat dipindahkan ke energi fisiologis dan sebaliknya. Jembatan antara energi tubuh dengan kepribadian ialah id dengan instink-instinknya. a. lnstink Ada tiga istilah yang hanyak persamaannya, yaitu instink, keinginan (wish) dan kebutuhan (need). Instink adalah sumber perangsang somatis dalam yang dibawa sejak lahir, keinginan adalah perangsang psikologis, sedangkan kebutuhan adalah perangsang jasmani. Jadi, lapar misalnya, dapat digambarkan secara fisiologis sebagai kekurangan akan makanan anti secara psikologis sebagai keinginan akan makanan. Keinginan itu menjadi alasan (motif) tingkah laku: misalnya orang lapar mencari makanan. Dalam pada itu organisme juga dapat dirangsang dari luar kendatipun demikian Freud beranggapan, bahwa sumber-sumber perangsang dari luar ini memainkan peranan yang kurang penting jika dibandingkan dengan instink; pada umumnya perangsang dari luar lebih sedikit pengaruhnya terhadap

v

individu daripada perangsang dari dalam; orang dapat menghindarkan diri dari perangsang dari luar, tetapi tak akan dapat melarikan diri dari perangsang dari dalam. Suatu instink adalah sejumlah energi psikis; kumpulan dari semua instink-instink merupakan keseluruhan daripada energi psikis yang dipergunakan oleh kepribadian. Sebagaimana telah disebutkan di muka id adalah reservoir energi ini, serta merupakan tempat kedudukan instink-instink pula. Id dapat dimisalkan sebagai dinamo yang memberikan tenaga penggerak kepada kepribadian; tenaga itu diasalkan dari proses metabolisme di dalam tuhuh. Suatu instink mempunyai empat macam sifat, yaitu: (a) sumber, (b) tujuan, (c) obyek, dan (d) pendorong atau penggerak. (a) Sumber instink Yang menjadi sumher instink yaitu kondisi jasmani; jadi kebutuhan. (b) Tujuan instink Adapun tujuan instink ialah menghilangkan rangsangan kejasmanian, sehingga ketidakenakan yang timbul karena adanya tegangan yang disebabkan oleh meningkatya energi dapat ditiadakan. Misalnya: tujuan instink lapar (makan) ialah menghilangkan keadaan kekurangan makanan, dengan cara makan. (c) Obyek instink Obyek instink ialah segala aktivitas yang mengantarai keinginan dan terpenuhinya keinginan itu. Jadi tidak hanya terbatas pada bendanya saja, tetapi termasuk pula cara-cara memenuhi kebutuhan yang timbul karena instink (d) Pendorong atau penggerak instink Pendorong atau penggerak instink adalah kekuatan instink itu, yang tergantung kepada intensitas (besar kecilnya) kebutuhan. Misalnya: makin lapar orang (sampai batas tertentu) penggerak instink makannya makin besar. Sumber dan tujuan instink itu tetap selama hidup, sedangkan obyek beserta cara-cara yang dipakai orang untuk memenuhi kebutuhannya selalu berubah-ubah. Hal ini disebabkan karena energi psikis itu dapat dipindahpindahkan, dapat digunakan dalam berbagai jalan; akibamya apabila sesuatu obyek tidak dapat dipergunakan maka lalu dicari obyek yang lain, dan apabila obyek yang kedua ini juga tak dapat dipergunakan. dicari lagi obyek yang lain, begitu seterusnya sampai diketemukan obyek yang cocok. Dengan kata lain obyek instink dapat disubstitusikan. Apabila energi instink dipergunakan secara tetap pada substitusi obyek yang sebenarnya tidak asli, maka tingkah laku yang timbul dan di dorong oleh energi itu disebut derivat instink itu (instinct derivative). Misalnya: pemuasan instink seksual bayi adalah dengan cara mempermainkan alat kelaminnya sendiri; apabila ini di ubah dan anak menggantinya dengan mengisap ibu jari itu merupakan derivat instink seksual. Tujuannya tidak berubah, yaitu kepuasan seksual. Pemindahan energi dari satu obyek ke obyek yang lain adalah sifat yang sangat panting pada kepribadian. Inilah yang menyebahkan flexibility

vi

manusia. inilah yang menyebabkan plastisitas tingkah laku manusia. Praktis, semua perhatian, kegemaran, perasaan, kebiasaan serta sikap orang dewasa adalah pemindahan energi dari obyek aslinya (instink); jadi semua itu adalah instinct derivative. Teori Freud tentang motivasi semata-mata didasarkan pada pikiran bahwa instink adalah sumber energi tunggal bagi tingkah laku manusia. Salah satu masalah yang banyak dibicarakan oleh para ahli ialah jumlah dan macam-macamnya instink. Untuk menyebutkan beberapa macam saja misalnya James mengemukakan 32 macam instink, McDougall mengemukakan 14 dan kemudian 18 macam instink, Thorndike mengemukakan 40 macam atau lebih, Warren mengemukakan 26 macam atau lebih, Angel mengemukakan 16 macam. Freud tidak berusaha memberikan jumlah serta macam-macamnya instink itu sebab dia beranggapan bahwa keadaan tubuh tempat bergantungnya instink itu tidak cukup dikenal. Mengenal keadaan tubuh bukanlah tugas ahli psikologi, melainkan tugas ahli fisiologi. Walaupun demikian Freud menerima bahwa bermacam-macam instink itu dapat dikelompokkan menjadi dua kelempok, yaitu: (a) Instink-instink hidup Fungsi instink-instink hidup ialah melayani maksud individu untuk tetap hidup dan memperpanjang ras. Bentuk-bentuk utama daripada instink ini ialah instink-instink makan, minum, dan seksual. Bentuk energi yang dipakai oleh instink-instink hidup itu disebut ‖libido‖ Walaupun Freud mengakui adanya bermacam-macam bentuk instink hidup, namun dalam kenyataannya yang paling diutamakan adalah instink seksual (terutama pada masa-masa permulaan, sampai kira-kira tahun 1920). Dalam pada itu sebenarnya instink seksual bukanlah hanya untuk satu instink saja, melainkan sekumpulan instink-instink, karena ada bermacam-macam kebutuhan jasmaniah yang menimbulkan keinginan-keinginan erotis. (b) Instink-instink mati Instink-instink mati disebut juga instink-instink merusak (destruktif). Instink-instink ini berfungsinya kurang jelas jika dibandingkan dengan instink-instink hidup, karenanya tidak begitu dikenal. Akan tetapi adalah suatu kenyataan yang tak dapat dipungkiri, bahwa tiap orang itu pada akhimya akan mati juga. lnilah yang menyebabkan Freud merumuskan bahwa "Tujuan semua hidup adalah mati" (1920). Freud berpendapat bahwa tiap orang mempunyai keinginan yang tidak disadarinya untuk mati. Pendapat tentang adanya keinginan mati itu didasarkan kepada prinsip konstansi yang dirumuskan oleh Fechner, yaitu bahwa semua proses kehidupan itu cenderung untuk kembali kepada ketetapan dunia tiada kehidupan (anorganis). Dalam bukunya yang berjudul Jenseitu des Lust Prinzips (1920) Freud membuat alasan tentang adanya keinginan untuk mati itu demikian: Kehidupan itu ditimbulkan oleh aksi tenaga kosmis terhadap benda anorganis. Lambat laun karena perubahan evolusi lamanya masa hidup itu berambah, tetapi keadaan tak stabil (dalam hidup) itu selalu kembali ke

vii

keadaan stabil benda-benda tak berkehidupan. Dengan berkembangnya mekanisme reproduksi benda-benda hidup dapat memeproduksi jenisnya sendiri dan tak tergantung kepada diciptakan dari alam tak berkehidupan; tetapi walaupun demikian individu-individu tak dapat tiada mesti mengikuti prinsip konstansi, karena prinsip inilah yang menguasainya ketika ia dihidupi. Menurut Freud hidup itu tidak lain hanya perjalanan ke arah mati. Keinginan mati pada manusia adalah pernyataan psikologis prinsip konstansi. Suatu derivatif instink-instink mati yang terpenting adalah dorongan agresif. Sifat agresif adalah pengrusakan diri yang diubah dengan obyek substitusi. Seseorang berkelahi dengan perang lain dan bersilat destruktif, karena keinginan matinya dirintangi oleh kekuatan lain dalam kepribadian yang berlawanan dengan keinginan mati. Instink-instink hidup dan instink-instink mati dapat saling bercampur, saling menetralkan. Makan misalnya merupakan campuran dorongan makan dan dorongan destruktif, yang dapat dipuaskan dengan menggigit, mengunyah dan menelan makanan. Telah dikemukakan, bahwa id berisikan energi yang digunakan oleh ketiga aspek kepribadian. Bagaimanakah caranya ketiga aspek itu mempergunakan energi itu akan jelas dari uraian yang berikut. b. Distribusi dan Penggunaan Energi Psikis Dinamika kepribadian terdiri dari cara bagaimana energi psikis itu didistribusikan serta digunakan oleh Id, ego dan Super ego. Oleh karena jumlah atau banyaknya energi itu terbatas, maka akan terjadi semacam persaingan di antara ketiga aspek itu dalam mempergunakan energi tersebut: kalau sesuatu aspek banyak mempergunakan energi (jadi menjadi kuat), maka kedua aspek yang lain harus (dengan sendirinya) menjadi lemah. Pada mulanya Id yang memiliki semua energi dan mempergunakannya untuk gerakan-gerakan refleks dan pemenuhan keinginan (wish-fulfillment; wensvervulling). Kedua aktivitas ini dikemudikan oleh Lustprintip. Penggunaan energi di dalam gerakan atau khayalan ini disebut pemilihan obyek secara instinktif (instinctual object cathexis). Energi di dalam id itu sangat mudah bergerak dan berpindah (sangat fluid), sehingga dapat dengan mudah pindah dari satu gerakan ke gerakan yang lain, atau dari khayalan yang serta ke khayalan yang lain, Sifat dapat dengan mudah dipindahkannya energi instinktif ini disebabkan karena id tidak mampu mengadakan diskriminasi di antara obyek-obyek; obyek yang berlainan diperlukan seakan-akan sama; misalnya bayi yang lapar akan mengambil apa saja dan memasukkannya ke dalam mulut. Karena ego tidak mempunyai energi sendiri, maka dia harus meminjamnya dari id. Jadi harus ada perpindahan energi dari id ke ego perpindahan energi dari id ke ego ini terjadi karena suatu mekanisme yang disebut: identifikasi. Pengertian identifikasi ini adalah pengertian yang sangat penting dalam psikologi Freud, tetapi juga sangat sukar untuk dimengerti. Seperti telah dikemukakan, id tidak dapat membedakan khayalan subyekrif dan kenyataan obyektif. Apabila id

viii

menghadapi tanggapan tentang sesuatu akan sama saja dengan menghadapi sesuatu itu sendiri; tetapi karena tanggapan ini tidak dapat memuaskan kebutuhan, maka manusia terpaksa harus membedakan dunia batin dan dunia luar (dunia realitas); dia harus belajar memperbedakan tanggapan atau pikiran tentang sesuatu yang "tidak ada" (tidak ada dalam kenyataan) dan kesan sensoris atau pengamatan sesuatu obyek yang betul-betul ada. Jadi dengan demikian, untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya manusia harus belajar membandingkan dan membedakan apa yang hanya ada dalam batinnya dengan apa yang benar-benar ada dalam kenyataan; alat untuk ini ialah proses sekunder (Sekundar Vorgang). Perbandingan dan pembedaan antara apa yang hanya ada dalam batin dengan apa yang benar-benar ada dalam kenyataan inilah yang disebut identifikasi. Karena id tidak membeda-bedakan apa yang dihadapi: apakah itu pengamatan; ingatan, tanggapan, pengertian, ataukah halusinasi, maka pemilihan obyek (cathexis) dapat terjadi baik terhadap pengamatan realistis maupun tanggapan ingatan yang memenuhi keinginan (wishfulfillment, wensvervulling). Karena hal yang demikian maka energi lalu dipindahkan dari proses-proses psikologis id yang autistis ke proses pengertian ego yang realistis dan logis. Pada kedua hal itu energi dipergunakan untuk proses-proses psikologis, tetapi: kalau pada id tak ada pembedaan antara lambang mental dan kenyataan fisis yang dilambangkan, sedangkan dalam gas Ich pembedaan itu ada. Jadi identilikasi ini memungkinkan proses sekunder untuk melebihi proses primer. Karena proses sekunder lebih berhasil dalam mengurangi tegangan, maka pemilihan obyek yang dilakukan oleh das Ich (ego-eathexis), penggunaan energi oleh ego makin terbentuk, sehingga lambat laun ego seakan-akan memonopoli energi psikis. Terapi monopoli ini sifatnya relatif, sebab apabila ego gagal dalam memuaskan instink, id akan menguasai kembali energi psikis ini. Sekali ego telah menguasai energi dia dapat mempergunakannya kecuali untuk memuaskan instink dengan proses sekunder, juga untuk tujuan-tujuan lain. Sebagian energi dipergunakan untuk berbagai proses psikologis seperti mengamati, mengingat, membeda-bedakan, mengabstraksikan, berpikir, dan sebagainya; sebagian lagi harus dipergunakannya untuk mengekang id dangan sampai bertindak impulsif dan irasional. Kekuatan pengekang ini disebut antichathexis (dilawankan dengan kekuatan pendorong yang disebut carhexis), apabila id menjadi terlalu berbahaya (mengancara), maka ego lalu membentuk pertahanan terhadapnya; pertahanan ini berlangsung secara mekanis dan disebut mekanisme pertahanan ( Abwehrmechanismen, mechanism of defence). Kecuali untuk hal-hal seperti yang tersebut di atas itu energi ego itu juga dipergunakan untuk membentuk pemilihan obyek yang baru; dengan demikian maka perhatian, sikap, kegemaran, dan sebagainya yang merupakan derivat Instink dibentuk dalam das Ich. Pemilihan obyek oleh das Ich ini mungkin tidak secara langsung memuaskan kebutuhan pokok organisme, tetapi berhubungan secara asosiatif dengan obyek yang dapat secara langsung memenuhi kebutuhan tersebut. Energi dari dorongan lapar misalnya dapat melingkupi cathexis seperti perhatian terhadap iklan mengenai makanan, kegemaran mengumpulkan resep makanan, mengunjungi rumah makan, dan sebagainya. Meluasnya cathexis ke dalam hal-hal yang hanya secara tidak jelas berhubungan dengan obyek instink

ix

yang asli ini dimungkinkan oleh makin besarnya efisiensi ego dalam melaksanakan tugas pokoknya memuaskan instink-instink, sehingga dengan demikian ego mempunyai kelebihan energi yang dapat dipergunakannya untuk tujuan-tujuan lain. Selanjumya sebagai aspek eksekutif kepribadian ego mempergunakan juga energi yang dikuasainya untuk mengintegrasikan ketiga aspek kepribadian itu. Tujuan fungsi integrasi ini ialah untuk menimbulkan keselarasan batin, sehingga hubungan-hubungan antara pribadi dengan dunia luar dapat berlangsung dengan baik dan efektif. Mekanisme identifikasi ini juga meliputi pemberian energi kepada super ego. Adapun jalannya sebagai berikut: cathexis oleh super ego ini mula-mula sekali berkembang karena bayi dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya sama sekali tergantung kepada orang tua substitusi orang tua. Dalam hubungan ini orang tua memainkan peranan sebagai pendisiplin, orang tua mengajar anak-anak tentang moral, nilai-nilai tradisional dan cita-cita masyarakat di mana dia dibesarkan. Orang tua mengerjakan hal ini dengan memberi hadiah bila anak-anak mengerjakan yang benar dan menghukumnya bila mereka mengerjakan yang salah. Hadiah adalah segala sesuatu yang dapat mengurangi tegangan atau yang diharapkan demikian, misalnya sepotong roti, senyuman atau kata-kata manis, sedangkan hukuman adalah segala sesuatu yang meningkatkan tegangan, seperti pukulan, pandangan tanda tidak setuju, dan sebagainya. Jadi anak belajar mengidentifikasikan, yaitu belajar membandingbandingkan atau mencocokkan tingkah lakunya dengan sanksi dan larangan yang diberikan oleh orang tua. Anak mengintroyeksikan keharusan moral dari orang tua sebagai cara untuk memuaskan kebutuhannya, anak memilih cita-cita orang tuanya menjadi Ich idealnya; anak memilih larangan orangtuanya sebagai pantangan, dan ini menjadi conscientian-nya. Jadi super ego memperoleh energinya Dari id dengan jalan identifikasi anak terhadap orangtuanya. Apa yang dikerjakan oleh super ego seringkali walaupun tidak selalu bertentangan langsung dengan impuls-impuls dari id. Hal ini disebabkan karena nilai-nilai moral itu mewakili usaha masyarakat untuk mengontrol, bahkan kalau perlu mencegah, pernyataan-pernyataan dari dorongan-dorongan primitif, terutama dorongan seksual dan agresi. Biasanya orang dikatakan baik kalau menurut dan tidak melakukan atau mengatakan hal-hal yang "kotor", dan orang dikatakan buruk kalau tidak menurut dan melakukan atau mengatakan hal-hal yang "kotor‖. Orang yang saleh ialah orang yang dapat mengekang impulsimpulsnya, sedangkan orang yang berdosa adalah orang yang membiarkan (Jawa, ‖nguja") impuls-impuls itu. Namun adakalanya juga super ego itu dikorupsi oleh id; hal yang demikian ini terjadi misalnya kalau orang mempergunakan cara-cara agresif untuk mempertahankan nilai-nilai moral. Kalau energi telah disediakan oleh instink-instink, dan dengan mekanisme identifikasi dipindahkan ke id dan super ego, maka dapat terjadi saling pengaruh antara kekuatan-kekuatan pendorong dan kekuatan-kekuatan penahan pada pribadi. Id memiliki tenaga pendorong, sedangkan Id dan super ego mempergunakan energinya untuk memenuhi atau menahan tujuan instink-instink. Sebagai aspek yang berfungsi dengan prinsip realitas, id mengontrol ego dan super ego

x

supaya keduanya berfungsi sesuai dengan realitas. Apabila id menguasai kembali sebagian besar dari pada energinya, maka tingkah laku orang akan impulsif dan primitif; sebaliknya kalau super ego menguasai sebagian besar daripada energi, maka tindakan-tindakan orang akan lebih-lebih bersandar kepada petimbanganpertimbangan moral. Dalam pada ini perpindahan energi dari sari sistem ke sistem yang lain secara mendadak dan tak terduga-duga adalah soal biasa, terutama sebelum orang berumur 20 tahun, yaitu sebelum distribusi energi itu menjadi stabil. Perpindahanperpindahan energi inilah yang menyebabkan bahwa kepribadian itu selalu dalam keadaan dinamis. Oleh karma itu Freud pessimis tentang kemungkinan psikologi menjadi ilmu pengetahuan golongan eksakta, sebab perubahan yang kecil saja dalam distribusi energi mungkin telah menimbulkan tingkah laku yang sangat berbeda dengan yang semula. Dalam analisis terakhir dinamika kepribadian itu mungkin terdiri dari saling pengaruh antara kekuatan-kekuatan pendorong (cathexis) dan kekuatankekuatan penahan atau penghambat (anti-cathexis). Semua konflik di dalam kepribadian dapat dijabarkan kembali kepada pertentangan antara kedua kekuatan itu; semua ketegangan yang lama adalah karena pertentangan antara cathexis dan anti carhexis. Apakah cathexis id bertentangan dengan cathexis this Ich, ataukah carhexis ego bertentangan dengan anthcathexis das Veber Ich, itu akibamya sama saja, yaitu ketegangan di dalam diri atau pribadi manusia. Menurut Freud Psikoanalisis adalah konsepsi dinamis yang mereduksikan kehidupan jiwa menjadi saling pengaruh antara kekuatan pendorong dan kekuatan penahan. c. Kecemasan atau Ketakutan Dinamika kepribadian untuk sebagian besar dikuasai oleh keharusan untuk memuaskan kebutuhan dengan cara berhuhungan dengan obyek-obyek di dunia luar. Lingkungan menyediakan makanan bagi orang yang lapar dan minuman bagi orang yang haus; disamping itu lingkungan juga berisikan daerah-daerah yang berbahaya dan tidak aman. Jadi lingkungan dapat memberi kepuasan maupun mengancam; atau dengan kata lain, lingkungan mempunyai kekuatan untuk memberikan kepuasan dan mereduksikan tegangan maupun menimbulkan sakit dan meningkatkan tegangan; dapat menyenangkan maupun mengganggu. Biasanya reaksi individu terhadap ancaman ketidaksenangan dan pengrusakan yang belum dihadapinya ialah menjadi cemas atau takut. Orang yang merasa terancam umumnya adalah orang yang penakut. Kalau id mengontrol soal ini, maka orang lalu menjadi dikejar oleh kecemasan atau ketakutan. Freud mengemukakan adanya tiga macam kecemasan, yaitu: (a). Kecemasan realistis, (b). Kecemasan neurosis, (c). Kecemasan moral atau perasaan berdosa. (a). Kecemasan realistis Dari ketiga macam kecemasan itu yang paling pokok adalah kecemasan atau ketakutan yang realistis, atau takut akan bahaya-bahaya di dunia luar; kedua kecemasan yang lain diasalkan dari kecemasan yang realistis ini. (b). Kecemasan neurotis Kecemasan neurotis adalah kecemasan kalau-kalau instink-instink tidak dapat

xi

dikendalikan dan menyebabkan orang berbuat sesuatu yang dapat dihukum. Kecemasan ini sebenarnya mempunyai dasar di dalam realitas, karena dunia sebagaimana diwakili oleh orang tua dan lain-lain orang, yang memegang kekuasaan itu menghukum anak yang melakukan tindakan impulsif. (c). Kecemasan moral adalah kecemasan kata hati Orang yang super egonya berkembang baik cenderung untuk merasa dosa apabila di melakukan atas bahkan berpikir untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan norma-norma moral. Kecemasan moral ini juga mempunyai dasar dalam realitas; karena di masa yang lampau orang telah mendapatkan hukuman sebagai akibat dan perbuatan yang melanggar kode moral, dan mungkin akan mendapat hukuman lagi. Adapun fungsi kecemasan atau ketakutan itu ialah untuk memperingatkan orang akan datangnya bahaya sebagai isyarat bagi id, bahwa apabila tidak dilakukan tindakan-tindakan yang tepat bahaya itu, akan meningkat sampai id dikalahkan (Jawa: Kuwalahan). Kecemasan adalah juga pendorong seperti halnya lapar dan seks; bedanya: kalau lapar dan seks itu adalah keadaan dari dalam, maka kecemasan itu asalnya disebabkan oleh sebab-sebah dari luar. Apabila kecemasan timbul, maka itu akan mendorong orang untuk melakukan sesuatu supaya tegangan dapat direduksikan atau dihilangkan, mungkin dia akan lari dari daerah atau tempat yang menimbulkan kecemasan atau ketakutan itu, atau mencegah impuls-impuls yang berbahaya, atau menuruti kata hati. Kecemasan atau ketakutan yang tidak dapat dikuasai dengan tindakantindakan yang efektif disebut ketakutan traumatis. Ketakutan yang demikian itu akan membawa orang kepada ketidakberdayaan yang infantal. Sebenarnya, demikian menurut Freud, prototipe dari semua ketakutan itu adalah trauma kelahiran. Neonatus pada waktu kelahirannya digerebeg dengan perangsangperangsang dari dunia luar yang dia belum kenal dan belum dapat menyesuaikan diri terhadapnya. Baby membutuhkan lingkungan yang aman sampai idnya mempunyai kemampuan untuk menguasai perangsang-perangsang yang kuat dari lingkungannya. Apabila id tidak dapat menguasai kecemasan dengan jalan dan cara yang rasional, maka dia akan menghadapinya dengan jalan yang tidak realistis. Inilah mekanisme pertahanan Id. 3. Perkembangan Kepribadian Freud umumnya dipandang sebagai ahli yang pertama-tama mengutamakan aspek perkembangan (genetic) daripada kepribadian, dan terutama yang menekankan peranan yang menentukan dari pada tahun-tahun permulaan masa kanak-kanak dalam meletakkan dasar-dasar struktur kepribadian. Freud berpendapat, bahwa kepribadian Sebenarnya pada dasarnya telah terbentuk pada akhir tahun kelima, dan perkembangan selanjutnya sebagian besar hanya merupakan penghalusan struktur dasar itu. Kesimpulan yang demikian itu diambilnya atas dasar pengalaman-pengalamannya dalam melakukan psikoanalisis. Penyelidikan dalam hati ini selalu menjurus ke arah masa kanakkanak, yaitu masa yang mempunyai peranan yang menentukan dalam hal timbulnya neurosis pada tahun-tahun yang lebih kemudian. Freud beranggapan bahwa Kanak-kanak adalah ayahnya manusia (The Child is the Father of Man). Dalam menyelidiki masa kanak-kanak ini Freud tidak langsung menyelidiki

xii

kanak-kanak, akan tetapi membuat rekonstruksi atas dasar ingatan orang dewasa mengenai masa kanak-kanaknya. Kepribadian itu berkembang dalam hubungan dengan empat macam sumber tegangan pokok, yaitu: (1). Proses pertumbuhan fisiologis, (2). Frustasi, (3). Konflik, dan (4). Ancaman. Sebagai akibat dari meningkatnya tegangan karena keempat sumber itu, maka orang terpaksa harus belajar cara-cara yang baru untuk mereduksikan tegangan. Belajar mempergunakan cara-cara baru dalam mereduksikan tegangan inilah yang disebut perkembangan kepribadian. Identifikasi dan pemindahan obyek adalah cara-cara atau metede-metode yang dipergunakan oleh individu untuk mengatasi frustasi-frustasi, konflikkonflik serta kecemasan-kecemasannya. a. Identifikasi Pengertian ini di depan sudah dibicarakan, yaitu dalam hubungan dengan pembentukan id dan super ego. Di sini identifikasi itu dapat diberi definisi sebagai metode yang dipergunakan orang dalam menghadapi orang lain dan memahaminya menjadi bagian daripada kepribadiannva. Dia belajar mereduksikan tegangannya dengan cara bertingkah laku seperti tingkah laku orang lain. Untuk hal yang demikian itu Freud mempergunakan istilah identifikasi dan bukan imitasi sebab menurut di imitasi mengandung arti peniruan yang dangkal, sedangkan dalam identifikasi apa yang ditiru itu lalu menjadi bagian daripada kepribadiannya. Anak mengidentifikasikan diri dengan orang tuanya, karena baik anak mereka itu adalah omnipotent, setidak-tidaknya selama mereka masih sangat kecil; setelah anak lebih besar dia menemukan orang-orang lain tempat dia mengidentifikasikan diri oleh karena ternyata orang-orang lain itu lebih cocok dengan kebutuhannya. Tiap masa mempunyai tokoh-tokoh identifikasi yang khas. Pada umumnya identifikasi ini berlangsung dengan tidak disadari; jarang dilakukan dengan maksud sadar. Dalam pada itu perlu dikemukakan, bahwa orang tidak perlu mengidentifikasikan diri dengan semua hal yang ada pada orang lain tempat dia mengidentifikasikan diri itu, akan tetapi biasanya dia memilih hal-hal yang dalam anggapannya akan dapat menolongnya untuk mencapai sesuatu maksud. Dalam proses identifikasi ini banyak terjadi jatuh bangun, trial and error, karena biasanya orang tidak pasti benar, apakah yang ada pada orang lain itu yang dapat membawa sukses baginya. Jadi apa yang akan diambil atau ditiru itu ditest dulu apakah hal tersebut dapat membantu mengurangi tegangan. Obyek identifikasi itu tidak hanya terbatas pada manusia saja, tetapi dapat bermacammacam sekali; orang dapat mengidentifikasikan diri dengan binatang, sifat-sifat yang dikhayalkan, pikiran-pikiran abstrak dan sebagainya. Kecuali dalam bentuk seperti yang sudah dibicarakan ini identifikasi dapat merupakan cara yang dipergunakan orang untuk mencapai kembali hal yang telah hilang. Misalnya, dengan mengidentifikasikan diri dengan kecintaan yang telah meninggal atau terpisah, maka kecintaan ini dapat menjelma kembali dalam pribadi orang yang mengidentifikasikan itu.

xiii

Dapat juga orang mengidentifikusikan diri karena takut. Anak mengidentifikasikan diri dengan larangan-larangan orang tua untuk menghindarkan diri dari hukuman. Identifikasi macam ini merupakan dasar pembentukan super ego. Struktur kepribadian yang terakhir merupakan kumpulan atau lebih tepatnya Gestalt daripada bermacam-macam identifikasi yang dibuat dalam berhagai masa dalam hidup seseorang, walaupun mungkin sekali tokoh-tokoh identifikasi yang terpenting adalah ayah-ibu. b. Pemindahan Obyek Apabila obyek pilihan sesuatu instink yang asli tidak dapat dicapai karena rintangan (anti-cathexis), baik rintangan dari dalam maupun dari luar, maka terbentuklah cathexis yang baru, kecuali kalau terjadi penekanan yang cukup kuat. Apabila cathexis yang baru ini juga tak dapat dipenuhi, akan terjadi cathexis yang lain pula,.... demikian seterusnya sampai ada obyek yang dapat dipakai untuk mereduksikan tegangan; obyek ini akan dipakai terus sampai saat habis kemampuannya untuk mereduksikan tegangan. Selama proses pemindahan itu sumber dan tujuan instink tetap, hanya obyeknya yang berubah-ubah. Dalam pada itu jarang sekali obyek pengganti itu dapat pengganti pemuasan sebesar obyek aslinya; makin jauh pemindahan obyek itu dari obyek asli, maka makin sedikitlah tegangan yang dapat direduksikan. Sebagai akibat dari bermacam-macam pemindahan obyek itu, maka terjadilah penumpukan tegangan, yang kemudian bertindak sebagai alasan yang tetap (kekuatan pendorong yang tetap) bagi tingkah laku. Di muka telah disebutkan, bahwa orang selalu mencari cara-cara baru yang lebih baik untuk mereduksikan tegangan itu. Inilah yang menyebabkan bermacam-macamnya serta berbeda-bedanya tingkah laku serta yang menyebabkan kegelisahan manusia. Dalam pada itu pribadi makin lama makin stabil, karena telah memiliki bentuk-bentuk "kompromi" antara dorongandorongan dari instink dan anti cathexis-nya dari id dan super ego. Freud menunjukkan, bahwa pengekangan terhadap pemilihan-pemilihan obyek yang primitif serta penggunaan energy instinktif untuk hal-hal yang dapat diterima oleh masyarakat serta bersifat kreatif itulah yang memungkinkan perkembangan kebudayaan. Pemindahan obyek yang menghasilkan hasil kebudayaan yang tinggi disebut sublimasi. Karen sublimasi ini juga tidak dapat memberikan kepuasan yang sempurna (seperti halnya lain-lain pemindahan obyek), maka selalu akan ada sisa tegangan yang tak terpuaskan. Tegangan ini selanjutnya mungkin muncul atau menjelma dalam bentuk kegelisahan atau gangguan syaraf, suatu keadaan yang oleh Freud ditafsirkan sebagai pembayaran yang harus diberikan oleh manusia sebagai makhluk beradab. Adapun arah pemindahan obyek ini ditentukan oleh dua faktor, yaitu: (1). Kemiripan obyek pengganti terhadap obyek aslinya, dan (2). Sanksi-sanksi dan larangan-larangan masyarakat. Kemampuannya untuk membentuk object-cathexis pengganti ini adalah mekanisme yang paling kuat dalam perkembangan kepribadian. Semua perhatian/minat, kegemaran, nilai-nilai, sikap, yang menjadi ciri kepribadian orang dewasa dimungkinkan oleh pemindahan obyek ini. Jika sekiranya energi

xiv

psikis itu tak dapat dipindahkan obyeknya dan tak dapat dibagi-bagi, maka tak akan ada perkembangan dalam kepribadian, orang hanya akan merupakan semacam mesin robot yang melakukan tindakan-tindakan yang pasti dan tetap atas dorongan instink-instinknya. c. Mekanisme Pertahanan das Ich Karena tekanan kecemasan ataupun ketakutan yang berlebih-lebihan, maka id kadang-kadang terpaksa mengambil cara yang ekstrim untuk menghilangkan atau mereduksikan tegangan. Cara-cara yang demikian itu disebut mekanisme pertahanan. Bentuk-bentuk pokok mekanisme pertahanan itu adalah: (a). Penekanan atau represi, (b). Proyeksi, (c). Pembentukan reaksi, (d). Fiksasi, (e). Regresi. Semua mekanisme pertahanan itu mempunyai kesamaan sifat-sifat yaitu: (1). kesemuanya itu menolak, memalsukan atau mengganggu kenyataan; (2). kesemuanya itu bekerja dengan tidak disadari, sehingga orangnya yang bersangkutan tak tabu (tak menginsyafi) apa yang sedang terjadi. (a). Penekanan atau represi Penekanan adalah pengertian yang mula-mula sekali dalam psikoanalisis. Sebelum Freud sampai pada perumusan teorinya mengenai id, ego dan super ego, maka dia menganggap kepribadian itu terdiri dari tiga bagian yaitu: (1). alam sadar (kesadaran) (2). alam prasadar (keprasadaran), (3). alam tak sadar (ketaksadaran). Alan prasadar berisikan hal-hal yang dapat disadari apabila perlu, sedangkan halhal yang ada dalam ketaksadaran secara nisbi tak dapat disadari; hal-hal tersebut ada dalam keadaan tertekan. Ketika Freud memperbarui teorinya, pengertian penekanan dipakainya sebagai salah satu bentuk mekanisme pertahanan ego. Penekanan terjadi apabila suatu pemilihan obyek dipaksa ke luar dari kesadaran oleh anti cathexis; misalnya ingatan yang mengganggu mungkin tercegah untuk menjadi sadar, atau orang mungkin tidak melihat sesuatu yang terletak di daerah pandangannya karena pengamatan mengenai hal itu tertekan. Penekanan dapat juga mempengaruhi normalnya fungsi badan; misalnya seseorang mungkin menjadi impotent karena takut impuls-impuls seksual. Penekanan mungkin juga mengambil jalan dengan melawan anti cathexis, atau mungkin menjelma dalam bentuk pemindahan obyek. Supaya pemindahan obyek itu berhasil dalam mencegah kembali timbulnya ketakutan maka haruslah dijelmakan dalam bentuk lambang yang tepat; misalnya seorang anak laki-laki yang menekan rasa benci atau permusuhannya terhadap ayahnya mungkin menyatakan rasa permusuhannya itu terhadap lambang-lambang pemegang kuasa yang lain. Sekali penekanan itu telah berbentuk, maka akan sukarlah untuk dihapuskan, orang harus meyakini dirinya kembali, bahwa bahaya tidak ada; tetapi dia tidak akan memperoleh keyakinan kembali yang demikian itu sebelum

xv

penekanannya dihilangkan, sehingga dia dapat mentest kenyataan. Itulah sebabnya maka ada orang dewasa yang selalu dihinggapi oleh ketakutan kekanakkanakan; sebab dia tidak pernah mempunyai kesempatan untuk mengetahui bahwa ketakutan-ketakutan yang demikian itu tidak mempunyai dasar dalam kenyataan. (b) Proyeksi Ego lebih mudah menghadapi ketakutan yang realistis daripada ketakutan neurotis dan ketakutan moral. Akibat dari hal yang demikian ini ialah apabila sumber ketakutan atau kecemasan itu dapat ditunjukkan terdapat di dunia luar dan bukan impuls-impuls primitifnya atau ancaman kata hatinya, orang agaknya akan mendapatkan keinsyafan yang lebih besar mengenai ketakutannya itu. Mekanisme yang dipergunakan untuk mengubah ketakutan neurotis dan ketakutan moral menjadi ketakutan realistis inilah yang disebut proyeksi. Pengubahan ini mudah dilakukan, karena ketakutan neurotis dan ketakutan moral itu kedua-duanya sumber aslinya ialah ketakutan akan hukuman dari luar. Dalam proyeksi orang mengatakan: Dia membenci saya sebagai pengganti: ‖Saya membenci dia,‖ atau "Dia selalu mengancam saya" sebagai pengganti: 'Kata hati saya selalu mengganggu saya". Proyeksi seringkali mempunyai tujuan rangkap, yaitu pertama mengurangi tegangan dengan cara mengganti obyek dengan obyek lain yang kurang, berhahaya, dan kedua memungkinkan orang menyatakan impuls-impulsnya dengan alasan (sebenarnya Pura-pura) mempertahankan diri terhadap musuhnya. (c). Pembentukan reaksi Pembentukan reaksi adalah penggantian impuls atau perasaan yang menimbulkan ketakutan atau kecemasan dengan lawannya di dalam kesadaran. Misalnya benci diganti dengan cinta. Impuls atau perasaan yang asli masih tetap ada tetapi ditutupi dengan sesuatu yang tidak menyebabkan ketakutan. Bagaimanakah pembentukan reaksi itu dapat dibedakan dari pernyataan impuls atau perasaan yang Sebenarnya? Misalnya bagaimana "cinta reaktif‖ dapat dibedakan dari "cinta sejati" Biasanya pembentukan reaksi ditandai oleh sifat yang berlebih-lebihan; bentuk-bentuk yang ekstrem dari sesuatu tingkah laku biasanya menunjukkan pembentukan reaksi. Misalnya seorang suami yang membenci istrinya membelikan hadiah ulang tahun atau mencumbu istrinya sampai berlebih-lebihan. Dalam pada itu kadang-kadang pembentukan reaksi itu juga berhasil memuaskan impuls asli yang dibelanya itu, misalnya seorang ibu lalu mengusap-usap anaknya, dengan penuh kasih sayang. (d) dan (e) Fiksasi dan regresi Pada perkembangan yang normal, kepribadian akan melewati fase-fase yang sedikit banyak sudah tetap dari lahir sampai mencapai kedewasaan. Akan tetapi tiap langkah baru di dalam perkembangan mengandung atau membawa sejumlah frustasi dan ketakutan; dan apabila hal ini menjadi terlalu besar, maka perkembangan yang normal mungkin terganggu, untuk sementara atau untuk seterusnya. Dengan kata lain, orang mungkin mengalami fiksasi pada suatu fase yang lebih awal, karena menginjak fase berikutnya membawa kecemasan atau ketakutan baginya. Anak yang sangat tergantung kepada orang tua adalah contoh bagaimana fiksasi itu sebagai mekanisme pertahanan bekerja: kerakutan mencegah untuk belajar bagaimana caranya berdiri sendiri.

xvi

Regresi sangat erat hubungannya dengan fiksasi itu. Di sini, orang yang mendapat pengalaman traumatis kembali kepada fase perkembangan yang lebih awal, yaitu fase perkembangan yang telah ditinggalkan atau dilewatinya. Misalnya seorang anak yang ditakutkan oleh hari pertama masuk sekolah mungkin melakukan tingkah laku yang infantil, seperti misalnya menangis, mengisap ibu jari, berpegangan pada guru, bersembunyi di sudut, dan sebagainya. Contoh lain misalnya seorang wanita yang belum lama kawin dan mendapat kesukaran dengan suaminya mungkin mencari keamanan dengan kembali ke rumah orang tuanya yang baginya adalah aman; atau seorang laki-laki yang kehilangan pekerjaannya lalu memuaskan diri dengan "minum". Jalan regresi biasanya ditentukan oleh fiksasi yang telah dialami lebih dahulu: artinya orang cenderung untuk mengalami fiksasi. Apabila seorang anak pernah kurang berani berdiri sendiri, kelak kalau sudah dewasa bila mengalami ketakutan yang tak dapat diatasinya, dia cenderung untuk kembali takut berdiri sendiri. Pada umumnya fiksasi dan regresi adalah keadaan nisbi, artinya seseorang, jarang benar-benar mengalami fiksasi dan regresi. Lebih tepat kalau dikatakan bahwa kepribadian cenderung untuk melingkupi infantilisme. Fiksasi dan regresi inilah yang menyebabkan ketidaksamaan dalam perkembangan kepribadian.

xvii

BAB II ORANG YANG BERFUNGSI SEPENUHNYA A. Pendekatan Rogers terhadap Kepribadian Tidak seperti Allport, yang datanya semata-mata diperoleh dari studi tentang orang-orang dewasa yang matang dan sehat, Rogers bekerja dengan individu-individu yang mencari bantuan untuk rnengubah kepribadian mereka. untuk merawat pasien-pasien ini (dia lebih suka menyebut mereka ―klien-klien‖). Rogers mengembangkan suatu metode terapi yang menempatkan tanggung jawab utama terhadap perubahan kepribadian pada klien, bukan pada ahli terapi (seperti dalam pendekatan Freud). Karena itu disebut ―terapi yang berpusat pada klien‖ (client-centered therapy). Jelas, metode ini menganggap bahwa individu yang terganggu memiliki suatu tingkat kemampuan dan kesadaran tertentu dan mengatakan kepada kita banyak tentang pandangan Rogers mengenai kodrat manusia. Apabila orang-orang bertanggung jawab terhadap kepribadian mereka sendiri dan mampu memperbaikinya, maka mereka harus menjadi makhluk yang sadar dan rasional. Rogers percaya bahwa orang-orang dibimbing oleh persepsi sadar mereka sendiri tentang diri mereka dan dunia sekitar mereka bukan oleh kekuatan-kekuatan tak sadar yang tidak dapat mereka kontrol. Kriterium terakhir seseorang adalah pada pengalaman sadarnya sendiri dan pengalaman itu memberikan kerangka intelektual dan emosional di mana kepribadian terusmenerus bertumbuh. Menurut Rogers, manusia yang rasional dan sadar, tidak dikontrol oleh peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak, seperti pembiasaan akan kebersihan (toilet training), penyapihan yang lebih cepat, atau pengalaman-pengalaman seks sebelum waktunya. Hal-hal ini tidak menghukum atau mengutuk kita untuk hidup dalam konflik dan kecemasan yang tidak dapat kita kontrol. Masa sekarang dan bagaimana kita memandangnya bagi kepribadian yang sehat adalah jauh lebih penting daripada masa lampau. Akan tetapi Rogers mengemukakan bahwa pengalaman-pengalaman masa lampau dapat mempengaruhi cara bagaimana kita memandang masa sekarang yang pada gilirannya mempengaruhi tingkat kesehatan psikologis kita. Jadi, pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak adalah penting, tetapi fokus Rogers tetap pada apa yang terjadi dengan kita sekarang, bukan pada apa yang terjadi waktu itu. Dalam karyanya dengan klien-klien, Rogers mempertahankan bahwa kepribadian harus diperiksa dan dipahami melalui segi pandangan pribadi klien, pengalaman-pengalaman subjektifnya sendiri. Sama seperti dalam kehidupan pribadinya, Rogers percaya akan pengalaman-pengalamannya sendiri, maka demikian juga dalam kehidupan profesionalnya, dia percaya akan pengalaman klien-kliennya. Apa yang nyata bagi setiap klien adalah persepsinya yang unik tentang realitas. Rogers percaya bahwa karena realitas ini tergantung pada pengalamanpengalaman perseptual setiap orang, maka realitas itu akan berbeda untuk setiap orang. Meskipun demikian, dia mengemukakan suatu tenaga pendorong yang umum dan utama: kecenderungan atau usaha untuk aktualisasi.

xviii

B. Motivasi Orang yang Sehat: Aktualisasi Rogers menempatkan suatu dorongan – ―satu kebutuhan fundamental" dalam sistemnya tentang kepribadian: memelihara, mengaktualisasikan, dan meningkatkan semua segi individu. Kecenderungan ini dibawa sejak lahir dan meliputi komponen-komponen pertumbuhan fisiologis dan Psikologis, meskipun selama tahun-tahun awal kehidupan, kecenderungan tersebut lebih terarah kepada segi-segi Fisiologis. Tidak ada segi pertumbuhan dan perkembangan manusia beroperasi secara terlepas dari kecenderungan aktualisasi ini. Pada tingkat-tingkat yang lebih rendah, kecenderungan aktualisasi berkenaan dengan kebutuhan-kebutuhan fisiologis dasar akan makanan, air, dan udara. Karena itu kecenderungan aktualisasi itu memungkinkan organisme hidup terus dengan membantu dan mempertahankan kebutuhan-kebutuhan jasmaniah dasar. Akan tetapi aktualisasi berbuat jauh lebih banyak daripada mempertahankan organisme; aktualisasi juga memudahkan dan meningkatkan pematangan dan pertumbuhan. Jika bayi bertambah besar, organ-organ tubuh dan proses-proses fisiologis menjadi semakin kompleks dan berdiferensiasi karena mereka mulai berfungsi dalam arah-arah yang dituju. Proses pematangan ini mulai dengan perubahan-perubahan dalam ukuran dan bentuk dari bayi yang baru lahir sampai pada perkembangan sifat-sitat jenis kelamin sekunder pada masa remaja. Pematangan yang penuh itu tidak dicapai secara otomatis, meskipun fakta bahwa ―blue-print‖ bagi proses pematangan terkandung dalam struktur genetis individu. Proses itu memerlukan banyak usaha; Rogers membandingkannya dengan perjuangan dan rasa sakit yang terjadi ketika seorang anak belajar berjalan. Anak itu tersandung dan jatuh serta merasa sakit. Akan lebih mudah dan kurang merasa sakit kalau tidak berusaha untuk berdiri dan belajar berjalan. Walaupun demikian anak itu masih terus barusaha dan akhirnya berhasil. Apa sebabnya anak itu pantang mundur? Rogers berpendapat bahwa kecenderungan untuk aktualisasi sebagai suatu tenaga pendorong adalah jauh lebih kuat daripada rasa sakit dan perjuangan serta setiap dorongan yang ikut menghentikan usaha untuk berkermbang. Kecenderungan aktualisasi pada tingkat fisiologis benar-benar tidak dapat dikekang; kecenderungan itu mendorong individu ke depan dari salah satu tingkat pematangan ke tingkat pematangan berikutnya yang memaksanya untuk menyesuaikan diri dan tumbuh. Seperti anda dapat melihat, segi fisiologis dari kecenderungan aktualisasi ini tidak diarahkan kepada reduksi tegangan. Perjuangan serta keuletan yang terlibat dalam aktualisasi membuat kita bertambah dan bukan menjadi kurang tegang. Maka tujuan hidup tidak hanya mempertahankan suatu keseimbangan homeostatis atau suatu tingkat ketenteraman dan kesenangan yang tinggi, tetapi juga pertumbuhan dan peningkatan. Arah kita ialah ke depan, ke arah tujuan yang berfungsi semakin kompleks sehingga kita dapat menjadi semuanya menurut kemampuan kita untuk menjadi. Pada tingkat biologis ini, Rogers tidak membedakan antara manusia yang sehat dan manusia yang tidak sehat. Jelas, dia tidak menemukan perbedaan antara orang yang sehat dan orang yang sakit secara emosional, menurut jumlah atau

xix

perhitungan dari apa yang mungkin disebut aktualisasi biologis. Tetapi apabila kita memikirkan segi-segi Psikologis dari aktualisasi maka jelas ada perhedaan. Ketika seseorang bertambah besar, maka "diri" mulai berkembang. Pada saat itu juga, tekanan dalam aktualisasi beralih dari yang fisiologis kepada yang Psikologis. Tubuh, dan bentuk-bentuk serta fungsi-fungsinya yang khusus telah, mencapai tingkat perkembangan yang dewasa, dan pertumbuhan lalu berpusat pada kepribadian. Rogers tidak menjelaskan kapan perubahan ini terjadi, tetapi seseorang dapat menarik kesimpulan dari tulisan-tulisannya bahwa perubahan ini mulai pada masa kanak-kanak dan selesai pada akhir masa adolesensi. Segera setelah mulai timbul, maka kecenderungan kepada aktualisasi diri kelihatan. Proses yang tetap dan bekesinambungan ini merupakan tujuan yang sangat penting dalam kehidupan seseorang. Aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat serta potensi-potensi psikologisnya yang unik. Rogers percaya bahwa manusia memiliki dorongan yang dibawa sejak lahir untuk menciptakan dan bahwa hasil ciptaan yang sangat penting adalah diri orang sendiri, suatu tujuan yang dicapai jauh lebih sering oleh orang-orang yang sehat daripada oleh orang-orang yang sakit secara Psikologis. Ada suatu perbedaan yang penting antara kecendrungan umum dan kecenderungan khusus kearah aktualisasi-diri. Pematangan dan perkembangan seluruh organisme sama sekali tidak dipengaruhi oleh belajar dan pengalaman. Misalnya, seandainya fungsi hormon/kimiawi adalah tepat, maka seseorang akan mengembangkan sifat-sifat jenis kelamin sekunder; pengalaman sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa terhadap perkembangan semacam ini. Akan tetapi aktualisasi-diri tentu ditentukan oleh kekuatan-kekuatan sosial dan bukan oleh kekuatan-kekuatan biologis. Jadi, aktualisasi-diri akan dibantu atau dihalangi oleh pengalaman dan oleh belajar, khususnya dalam masa kanak-kanak. C. Perkembangan “Diri” Dalam masa kecil, anak mulai membedakan, atau memisahkan salah satu segi pengalamannya dari semua yang lain-lainnya. Segi ini adalah diri dan itu digambarkan dengan bertambahnya penggunaan kata ―aku‖ dan ―kepunyaanku‖. Anak itu mengembangkan kemampuan untuk membedakan antara apa yang menjadi milik atau bagian dari dirinya dan semua benda lain yang dilihat, didengar, diraba, dan diciumnya ketika dia mulai membentuk suatu lukisan dan gambaran tentang siapa dia. Dengan kata lain, anak itu mengembangkan suatu ―pengertian-diri‖ (self-concept). Sebagai bagian dari self concept, anak itu juga menggambarkan dia akan menjadi siapa atau mungkin ingin menjadi siapa. Gambaran-gambaran dibentuk sebagai suatu akibat dari bertambah kompleksnya interaksi-interaksi dengan orang-orang lain. Dengan mengamati reaksi dari orang-orang lain terhadap tingkah lakunya sendiri, anak itu secara ideal mengembangkan suatu pola gambaran-gambaran-diri yang konsisten, suatu keseluruhan yang terintegrasi di mana kemungkinan adanya beberapa ketidakharmonisan antara diri sebagaimana adanya dan diri sebagaimana yang mungkin diinginkannya untuk menjadi diperkecil. Dalam individu yang sehat dan yang mengaktualisasikan-diri muncullah suatu pola yang berkaitan. Situasi itu berbeda untuk seorang individu

xx

yang mendapat gangguan emosional. Cara-cara khusus bagaimana diri itu berkembang dan apakah dia akan menjadi sehat atau tidak tergantung pada cinta yang diterima anak itu dalam masa kecil. Pada waktu diri itu mulai berkembang, anak itu juga belajar membutuhkan cinta. Rogers menyebut kebutuhan ini "penghargaan positif" (positive regard) Positive regard, suatu kebutuhan yang memaksa dan merembes, dimiliki semua manusia; setiap anak terdorong untuk mencari positive regard. Akan tetapi tidak setiap anak akan menemukan kepuasan yang cukup akan kebutuhan ini. Anak puas kalau dia menerima kasih sayang, cinta, dan persetujuan dari orangorang lain, tetapi dia kecewa kalau dia menerima celaan dan kurang mendapat cinta dan kasih sayang. Apakah anak itu kemudian akan tumbuh menjadi suatu kepribadian yang sehat tergantung pada sejauh manakah kebutuhan akan positive regard ini dipuaskan dengan baik. Self-concept yang berkembang dari anak itu sangat dipengaruhi oleh ibu. Bagaimana kalau dia tidak memberikan positive regard kepada anak? Bagaimana kalau dia mencela dan menolak tingkah laku anaknya? Anak itu mengamati suatu celaan (meskipun celaan hanya berfokus pada salah satu segi tingkah laku) sebagai suatu celaan yang luas dan tersebar dalam setiap segi dari adanya. Anak itu menjadi peka terhadap setiap tanda penolakan dan segera mulai merencanakan tingkah lakunya menurut reaksi yang diharapkan akan diberikan. Dalam hal ini, anak mengharapkan bimbingan tingkah lakunya dari orang-orang lain, bukan dari dirinya sendiri. Karena dia telah merasa kecewa, maka kebutuhan akan positive regard yang sekarang bertambah kuat, makin lama makin mengerahkan energi dan pikiran Anak itu harus bekerja keras untuk positive regard dengan mengorbankan aktualisasi-diri: Anak dalam situasi ini mengembangkan apa yang disebut Rogers ―penghargaan positif bersyarat‖ (conditional positive regard). Kasih sayang dan cinta yang diterima anak adalah syarat terhadap tingkah lakunya yang baik. Karena anak mengembangkan conditional positive regard maka dia menginternalisasikan stkap-sikap ibu. Jika itu terjadi, maka sikap ibu diambil alih oleh anak itu dan diterapkan kepada dirinya. Misalnya, apabila itu menyatakan celaan setiap saat karena anak menjatuhkan suatu benda dari tempat tidurnya, maka anak itu akhirnya mencela dirinya sendiri sewaktu-waktu dia bertingkah laku demikian. Standar-standar penilaian dari luar menjadi miliknya sendiri dan anak itu ―menghukum‖ dirinya seperti telah dilakukan oleh ibunya sebelumnya. Anak itu "mencintai" dirinya hanya bila dia bertingkah laku menurut cara-cara yang diketahuinya disetujui ibu. Dengan demikian diri menjadi ―wakil ibu‖. Karena keadaan yang menyedihkan ini di mana anak menerima conditional positive regard, pertama-tama dari ibunya kemudian dari dirinya, syarat-syarat penghargaan berkembang. Ini berarti bahwa anak itu merasa suatu perasaan harga-diri hanya dalam syarat-syarat tertentu. Anak itu harus menghindari tingkah laku atau pikiran dalam cara-cara yang menyebabkan celaan atau penolakan oleh standar-standar yang telah diambil anak itu dari ibu. Melaksanakan tingkah laku-tingkah laku yang dilarang menyebabkan anak itu merasa salah dan tidak berharga, syarat-syarat yang harus dilawan oleh anak itu.

xxi

Dan dengan demikian sikap defensif menjadi bagian dari tingkah laku anak itu. Sikap tersebut digiatkan sewaktu-waktu terjadi kecemasan; yakni, sewaktu-tvaktu anak, dan kelak sebagai orang dewasa tergoda untuk menampilkan tipe tingkah laku yang dilarang. Sebagai akibat dari sikap defensif ini, kebebasan individu terbatas, kodrat atau dirinya yang sejati tidak dapat diungkapkan sepenulanya. Diri tidak dibiarkan untuk beraktualisasi sepenuhnya karena beberapa segi dari diri harus di cek. Syarat-syarat penghargaan berlaku seperti penutup mata kuda, yang memotong suatu bagian dari pengalaman yang ada. Orang-orang dengan syarat-syarat penghargaan harus membatasi tingkah laku mereka dan mengubah kenyataan karena meskipun menyadari tingkah laku dan pikiran yang tidak pantas, namun dapat merasa terancam kalau mereka memamerkannya. Karena individu-individu ini tidak dapat berinteraksi sepenuhnya dan terbuka dengan lingkungan mereka, maka mereka mengembangkan apa yang disebut Rogers "ketidakharmonisan" (incongruence) antara konsep-diri dan kenyataan yang mengitari mereka. Mereka tidak dapat mengaktualisasikan semua segi dari diri. Dengan kata lain, mereka tidak dapat mengembangkan kepribadiankepribadian yang sehat. Kita sudah membicarakan bagaimana orang yang tidak sehat secara psikologis berkembang. Coba kita sekarang mengemukakan kondisi-kondisi sebaliknya dalam masa kanak-kanak yang membantu perkembangan kesehatan psikologis. Syarat utama bagi timbulnya kepribadian sehat adalah penerimaan ―penghargaan positif tanpa syarat‖ (unconditional positive regard) pada masa kecil. Hal ini berkembang apabila ibu memberikan cinta dan kasih sayang tanpa memperhatikan bagaimana anak bertingkah laku. Cinta dan kasih sayang yang diberikan dengan bebas ini, dan sikap yang ditampilkannya bagi anak itu menjadi sekumpulan norma dan standar yang diinternalisasikan, sama seperti halnya sikapsikap ibu yang memperlihatkan conditional positive rregard diinternalisasikan oleh anaknya. unconditional positive regard tidak menghendaki bahwa semua pengekangan terhadap tingkah laku anak tidak ada; tidak berarti bahwa anak diperbolehkan melakukan apa saja yang diinginkannya tanpa dinasihati. Sebab kalau demikian halnya maka ibu tidak boleh melindungi anaknya dari bahayabahaya-misalnya, menarik anak menjauhi sebuah kompor yang panas - karena takut rnembuat positive regard-nya bersyarat. Rogers percaya bahwa ibu dapat mencela tingkah laku-tingkah laku tertentu tanpa pada saat yang sama menciptakan syarat-syarat dalam mana anak akan menerima cinta dan kasih sayang. Hal ini dapat dicapai dalam suatu situasi yang membantu anak menerima beberapa tingkah laku yang tidak dikehendaki tanpa menyebabkannya merasa salah dan tidak berharga setelah melakukan tingkah laku-tingkah laku tersebut. Anak tidak terlalu banyak dinasihati sehingga dapat menetapkan syarat-syarat penghargaan untuk anak karena itulah caranya bagaimana nasihat itu dilaksanakan. Anak-anak yang bertumbuh dengan perasaan unconditional positive regard tidak akan mengembangkan syarat-syarat penghargaan. Mereka merasa diri berharga dalam semua syarat. Dan jika syarat-syarat penghargaan tidak ada

xxii

maka tidak ada kebutuhan untuk bertingkah laku defensif. Tidak akan ada ketidakharmonisan antara diri dan persepsi terhadap kenyataan. Untuk orang yang demikian, tidak ada pengalaman yang mengancam. Dia dapat mengambil bagian dalam kehidupan dengan bebas dan sepenuhnya. Diri adalah dalam dan luas, karena diri itu mengandung semua pikiran dan perasaan yang mampu diungkapkan orang itu. Diri itu juga fleksibel dan terbuka kepada semua pengalaman baru. Tidak ada bagian dari diri dilumpuhkan atau terhambat dalam ungkapannya. Orang ini adalah bebas untuk menjadi orang yang mengaktualisasikan-diri, untuk mengembangkan seluruh potensinya. Dan segera setelah proses aktualisasidiri mulai berlangsung, orang itu dapat maju ketujuan terakhir, yakni menjadi orang yang berfungsi sepenuhnya. D. Orang yang Berfungsi Sepenuhnya Hal yang pertama dikemukakan tentang versi Rogers mengenai kepribadian yang sehat, yakni kepribadian yang sehat itu bukan merupakan suatu keadaan dari ada, melainkan suatu proses, "suatu arah bukan suatu tujuan": aktualisasi berlangsung terus; tidak pernah merupakan suatu kondisi yang selesai atau statis. Tujuan ini. yakni orientasi ke masa depan ini, menarik individu ke depan, yang selanjutnya mendiferensiasikan dan mengembangkan segala segi dari diri. Rogers menyebut salah satu diantara buku-bukunya On Becoming a Person; buku ini merangkum dengan tepat sifat dari proses yang berlangsung terus itu. Hal yang kedua tentang aktualisasi-diri ialah aktualisasi-diri itu merupakan suatu proses yang sukar dan kadang-kadang menyakitkan. Aktuaiisasi-diri merupakan suatu ujian, rentangan, dan pecutan terus-menerus terhadap semua kemampuan seseorang. Rogers menulis, ―aktualisasi-diri merupakan keberanian untuk ada‖. ―Hal ini berarti meluncurkan diri sendiri sepenuhnya ke dalam arus kehidupan‖.'Orang itu terbenam dalam dan terbuka kepada seluruh orang lingkup emosi dan pengalaman manusia dan merasakan hal-hal ini jauh lebih dalam daripada seorang yang kurang sehat. Rogers tidak menggambarkan bahwa orang-orang yang mengaktualisasikan diri itu terus-menerus atau juga hampir setiap saat bahagia atau puas, meskipun mereka benar-benar mengalami perasaan-perasaan ini. Seperti Allport, Rogers juga melihat kebahagiaan sebagai hasil sampingan dari perjuangan aktualisasi-diri; kebahagiaan bukan suatu tujuan dalam dirinya sendiri. Orangorang yang mengaktualisasikan diri menjalani kehidupan yang kaya, menantang, dan berarti, tetapi mereka tidak perlu tertawa terus-menerus. Hal yang ketiga tentang orang-orang yang mengaktualisasikan yakni mereka benar-benar adalah diri mereka sendiri. Mereka tidak bersembunyi di belakang topeng-topeng atau kedok-kedok, yang berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan mereka atau menyembunyikan sebagian diri mereka. Mereka tidak mengikuti petunjuk-petunjuk tingkah laku atau memperlihatkan kepribadiankepribadian yang berbeda untuk situasi-situasi yang berbeda. Mereka bebas dari harapan-harapan dan rintangan-rintangan yang diletakkan oleh masyarakat mereka atau orang tua mereka; mereka telah mengatasi aturan-aturan ini. Rogers tidak percaya bahwa orang-orang yang mengaktualisasikan diri hidup di bawah hukumhukum yang diletakkan orang-orang lain. Arah yang dipilih, tingkah laku yang

xxiii

diperlihatkan semata-mata ditentukan oleh individu-individu mereka sendiri. Diri adalah tuan dari kepribadian dan beroperasi terlepas dari norma-norma yang ditentukan orang-orang lain. Akan tetapi orang-orang yang mengaktualisasikan tidak agresif, memberontak secara terus-terang atau dengan sengaja tidak konvensional dalam mencemoohkan aturan-aturan dari orang tua atau masyarakat. Mereka mengetahui bahwa mereka dapat berfungsi sebagai dalam sanksi-sanksi dan garis-garis pedoman yang jelas dari masyarakat. Di samping ulasan-ulasan yang umum ini, Rogers memberikan lima sifat orang yang berfungsi sepenuhnya. 1. Keterbukaan pada Pengalaman Seseorang yang tidak terhambat oleh syarat-syarat penghargaan, bebas untuk mengalami semua perasaan dan sikap. Tak satu pun yang harus dilawan karena tak satu pun yang mengancam. Jadi, keterbukaan pada pengalaman adalah lawan dari sikap defensif Setiap pendirian dan perasaan yang berasal dari dalam dan dari luar disampaikan kesistem syaraf organisme tanpa distorsi atau rintangan. Orang yang demikian mengetahui segala sesuatu tentang kodratnya; tidak ada segi kepribadian tertutup. ltu berarti bahwa kepribadian adalah fleksibel, tidak hanya mau menerima pengalaman-pengalaman yang diberikan oleh kehidupan, tetapi juga dapat menggunakannya dalam membuka kesempatan-kesempatan persepsi dan ungkapan baru. Sebaliknya, kepribadian orang yang defensif, yang beroperasi menurut syarat-syarat penghargaan adalah statis, bersembunyi di belakang peranan-peranan, tidak dapat menerima atau bahkan mengetahui pengalaman- pengalaman tertentu. Orang yang berfungsi sepenuhnya dapat dikatakan lebih ―emosional‖ dalam pengertian bahwa dia mengalami banyak emosi yang bersifat positif dan negatif (misalnya, baik kegembiraan maupun kesusahan) dan mengalami emosiemosi itu lebih kuat daripada orang yang defensif. 2. Kehidupan Eksistensial Orang yang berfungsi sepenuhnya, hidup sepenuhnya dalam setiap momen kehidupan. Setiap pengalaman dirasa segar dan baru, seperti sebelumnya belum pernah ada dalam cara yang persis sama. Maka dari itu, ada kegembiraan karena setiap pengalaman tersingkap. Karena orang yang sehat terbuka kepada semua pengalaman, maka diri atau kepribadian terus-menerus dipengaruhi atau disegarkan oleh setiap pengalaman. Akan tetapi orang yang defensif harus mengubah suatu pengalaman baru untuk membuatnya harmonis dengan diri; dia memiliki suatu struktur diri yang berprasangka di mana semua pengalaman harus cocok dengannya. Orang yang herfungsi sepenuhnva yang tidak memiliki diri yang berprasangka atau tegar tidak harus mengontrol atau memanipulasi pengalaman-pengalaman, sehingga dengan babas dapat berpartisipasi di dalamnya. Jelas, orang yang berfungsi sepenuhnya dapat menyesuaikan diri karena struktur-diri terus-menerus terbuka kepada pengalaman-pengalaman baru. Kepribadian yang demikian itu tidak kaku atau tidak dapat diramalkan. Orang itu berkata demikian, "Saya akan menjadi apa dalam momen yang berikutnya dan apa yang saya kerjakan, timbul dari momen itu, dan baik saya maupun orang-orang

xxiv

lain tidak dapat meramalkan sebelumnya". Rogers percaya bahwa kualitas dari kehidupan eksistensial ini merupakan segi yang sangat esensial dari kepribadian yang sehat. Kepribadian terbuka kepada segala sesuatu yang terjadi pada momen itu dan dia menemukan dalam setiap pengalaman suatu struktur yang dapat berubah dengan mudah sebagai respons atas pengalaman momen yang berikutnya. 3. Kepercayaan Terhadap Organisme Orang Sendiri Prinsip ini mungkin paling baik dipahami dengan menunjuk kepada pengalaman Rogers sendiri. Dia menulis, "Apabila suatu aktivitas terasa seakanakan berharga atau perlu dilakukan, maka aktivitas itu perlu dilakukan. Dengan kata lain, Saya telah belajar bahwa seluruh perasaan organismik saya terhadap suatu situasi lebih dapat.dipercaya daripada pikiran saya". Dengan kata lain, bertingkah laku menurut apa yang dirasa benar, merupakan pedoman yang sangat dapat diandalkan dalam memutuskan suatu tindakan, lebih dapat diandalkan daripada faktor-faktor rasional atau intelektual. Orang yang berfungsi sepenuhnva dapat bertindak menurut impuls-impuls yang timbul seketika dan intuitif. Dalam tingkah laku yang demikian itu terdapat banyak spontanitas dan kebebasan, tetapi tidak sama dengan bertindak terburuburu atau sama sekali tidak memperhatikan konsekuensi-konsekuensinya. Karena orang yang sehat terbuka sepenuhnya pada pengalaman, maka dia memiliki jalan masuk untuk seluruh informasi yang ada dalam suatu situasi membuat keputusan. Informasi ini berisi kebutuhan-kebutuhan orang itu, tuntutantuntutan sosial yang relevan, ingatan-ingatan terhadap situasi-situasi yang serupa pada masa lampau dan persepsi terhadap situasi sekarang. Karena terbuka kepada semua pengalaman serta menghidupkan pengalaman-pengalaman itu sepenuhnya, maka individu yang sehat dapat membiarkan seluruh organisme mempertimbangkan setiap segi dari suatu situasi. Semua faktor yang relevan diperhitungkan dan dipertimbangkan serta dicapai keputusan yang akan memuaskan semua segi situasi dengan sangat baik. Rogers membandingkan kepribadian yang sehat dengan sebuah komputer elektronik di mana semua data yang relevan telah diprogramkan ke dalamnya. Komputer itu mempertimbangkan semua segi masalah, semua pilihan dan pengaruh-pengaruhnya, dan dengan cepat menentukan tindakan. Seseorang yang beroperasi semata-mata atas dasar rasional atau intelektual sedikit banyak adalah cacat, karena mengabaikan faktor-faktor emosional dalam proses mencapai suatu keputusan. Semua segi organisme - sadar, tak sadar, emosional, dan juga intelektual - harus dianalisis dalam kaitannya dengan masalah yang ada. Karena data yang digunakan untuk mencapai suatu keputusan adalah tepat (tidak diubah) dan karena seluruh kepribadian mengambil bagian dalam proses membuat keputusan, maka orang-orang yang sehat percaya akan keputusan mereka, seperti mereka percaya akan diri mereka sendiri. Sebaliknya orang yang defensif membuat keputusan-keputusan menurut larangan-larangan yang membimbing tingkah lakunya. Misalnya, dia mungkin dibimbing oleh ketakutan terhadap apa yang akan dipikirkan orang-orang lain, terhadap pelanggaran suatu adat sopan santun atau karena kelihatan bodoh.

xxv

Karena orang yang defensif tidak mengalami sepenuhnya, maka ia tidak memiliki data yang lengkap dan tepat tentang semua segi dari suatu situasi. Rogers menyamakan orang ini dengan suatu komputer yang diprogramkan untuk menggunakan hanya suatu bagian dari data yang relevan. 4. Perasaan Bebas Sifat kepribadian yang sehat ini terkandung dalam pembicaraan kita di atas. Rogers percaya bahwa semakin seseorang sehat secara psikologis, semakin juga ia mengalami kebebasan untuk memilih dan bertindak. Orang yang sehat dapat memilih dengan bebas tanpa adanya paksaan-paksaan atau rintanganrintangan antara alternatif pikiran dan tindakan. Tambahan lagi, orang yang berfungsi sepenuhnya memiliki suatu perasaan berkuasa secara pribadi mengenai kehidupan dan percaya bahwa masa depan tergantung pada dirinya, tidak diatur oleh tingkah laku, keadaan, atau peristiwa-peristitwa masa lampau. Karena merasa babas dan berkuasa ini maka orang yang sehat melihat sangat banyak pilihan dalam kehidupan dan merasa mampu melakukan apa saja yang mungkin ingin dilakukannya. Orang yang defensif tidak memiliki perasaan-perasaan bebas serupa itu. Orang ini dapat memutuskan untuk bertingkah laku dengan cara tertentu, namun tidak dapat mewujudkan pilihan bebas itu ke dalam tingkah laku yang aktual. Tingkah laku ditentukan oleh fakor-faktor yang berada di luar kontrol orang itu, termasuk sikap defensifnya sendiri dan ketidakmampuannya untuk mengalami semua data yang diperlukan untuk membuat keputusan. Orang serupa itu tidak akan memiliki perasaan berkuasa atas kehidupan dan tidak memiliki perasaan akan kemungkinan-kemungkinan yang tidak terbatas. Pilihan-pilihan terbatas dan pandangan terhadap masa depan sempit. 5. Kreativitas Semua orang yang berfungsi sepenuhnya sangat kreatif. Mengingat sifatsifat lain yang mereka miliki, sukar untuk melihat bagaimana seandaniya kalau mereka tidak demikian. Orang-orang yang terbuka sepenuhnya kepada semua pengalaman, yang percaya akan organisme mereka sendiri, yang fleksibel dalam keputusan serta tindakan mereka ialah orang-orang - sebagaimana dikemukakan Rogers - yang akan mengungkapkan diri mereka dalam produk-produk yang kreatif dan kehidupan yang kreatif dalam semua bidang kehidupan mereka. Tambahan lagi, mereka bertingkah laku spontan, berubah, bertumbuh, dan berkembang sebagai respons atas stimulus-stimulus kehidupan yang beranekaragam sekitar mereka. Orang-orang yang kreatif dan spontan tidak terkenal karena konformitas atau penyesuaian diri yang pasif terhadap tekanan-tekanan sosial dan kultural. Karena mereka kurang bersikap defensif, maka mereka tidak menghiraukan kemungkinan tingkah laku mereka diterima dengan baik oleh orang-orang lain. Akan tetapi, mereka dapat dan kerap kali benar-benar menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan dari situasi khusus apabila konformitas yang demikian itu akan membantu memuaskan kebutuhan mereka dan rnemungkinkan mereka mengembangkan diri mereka sampai ke tingkat yang paling penuh.

xxvi

Orang yang defensif, yang kurang merasa bebas, yang tertutup terhadap banyak pengalaman, dan yang hidup dalam garis-garis pedoman yang telah dikodratkan adalah tidak kreatif dan tidak spontan. Orang ini lebih cenderung membuat kehidupan menjadi aman dan dapat diramalkan, dan menjaga supaya tegangan-tegangan berada pada suatu taraf yang minimal daripada mencari tantangan-tantangan, dorongan, rangsangan baru. Gaya hidup yang kaku ini tidak memberikan tanah yang subur untuk memelihara kreativitas. Rogers percaya bahwa orang-orang yang berfungsi sepenuhnya lebih mampu menyesuaikan diri dan bertahan terhadap perubahan-perubahan yang drastis dalam kondisi-kondisi lingkungan. Mereka memiliki kreativitas dan spontanitas untuk menanggulangi perubahan-perubahan traumatis sekalipun, seperti dalam pertempuran atau bencana-bencana alamiah. Jadi, Rogers melihat orang-orang yang berfungsi sepenuhnya merupakan ―barisan depan yang layak‖ dalam proses evolusi manusia.

xxvii

BAB III PENDEKATAN ALLPORT TERHADAP KPRIBADIAN Allport lebih optimis tentang kodrat manusia dari pada Freud, dan ia memperlihatkan suatu keharuan yang luar biasa terhadap manusia, sifat tuanya menekankan pentingnya kerja keras dan kesalehan, dan mereka membentuknya dengan suasana aman dan kasih sayang .Semangat perikemanusiaan ditanamkan dalam keluarga mereka dan Allport yang muda itu didorong untuk mencari jawaban-jawaban keagamaan terhadap pertanya-pertanyaan dan masalah-masalah kehidupan. Pengalaman-pengalaman pribadinya ini kelak tercermin dalam pandangan-pandangan teoritisnya tentang kodrat kepribadian. Seperti dikemukakan, pandangan-pandangan pribadi dan professional dari Allport berbeda dengan pandangan-pandangan Freud dan gambaran dan menyanjung-nyanjung. Karena itu salah satu pendekatan yang berguna terhadap pemahaman segi pandangan psikologis Allport adalah mengemukakan tema-tema itu berbeda dari apa yang terdapat pada Freud. Allport tidak percaya bahwa orang-orang yang matang dan sehat dikontrol dan dikuasai oleh kekuatan-kekuatan tak sadar kekuatan-kekuatan yang tidak dapat dilihat dan dipengaruhi .Orang-orang yang sehat tidak didorong oleh konflik-konflik tak sadar dan tingkah laku mereka tidak ditentukan oleh setansetan yang ada jauh dalam mereka.Allport percaya bahwa kekuatan-kekutan tak sadar itu merupakan pengaruh-pengaruh yang penting pada tingkat rasional dan sadar,menyadari sepenuhnya kekuatan-kekuatan yang membimbing mereka dan dapat mengontrol kekuatan-kekuatn itu juga. Kepribadian-kepribadian yang matang tidak dikontrol oleh trauma – trauma dan konflik – konflk masa kanak – kanak. Orang – orang yang neurotis terikat atau terjalin erat pada pengalaman – pengalaman masa kanak – kanak, tetapi orang – orang yang sehat bebas dari paksaan masa lampau. Orang – orang yang sehat di bimmbing dan diarahkan oleh masa sekarang dan oleh instensi – intensi ke arah masa dapan dan antisipasi – antisipasi masa depan. Pandangan orang yang sehat adalah ke depan, kepada peristiwa kontemporer dan peristiwa peristiwa yang akan datang dan tidak mundur kembali kepada peristiwa – peristiwa masa kanak – kanak. Segi pandangan yang sehat ini memberi jauh lebih banyak kebebasan dalam memilih dan bertindak. Freud percaya bahwa perbedaan antara orang yang neurotis dan orang yang sehat terletak dalam tingkat, bukan dalam macamya ; Allport percaya bahwa sama sekali tidak ada kesamaan – kesamaan fungsional antara orang yang neurotis dan orang yang sehat. Karena itu daripada menempatkan suatu rangkaian kesatuan (continuum)antara neurosis dan kesehatan emosional, Allport mengemukakan suatu jurang atau dikotomi di antara keduanya dan salah satu di antara tipe-tipe kepribadian itu tidak memperlihatkan salah satu diantara sifat – sifat dari yang lainnya. Dalam pandangan Allport, orang yang neurotis beroperasi dalam genggaman konflk – konflk dan pengalaman – pengalaman kanak – kanak dan kepribadian yang sehat berfungsi pada suatu taraf yang berbeda dan lebih tinggi. Karena Allport mengetahi perbedaan – perbedaan antara manusia yang neurotis dan manusi yang sehat ini, maka dia lebih suka mempelajari hanya orang

xxviii

– orang dewasa yang matang (berlawanan dengan Freud dan orang – orang lain yang mempelajari hanya orang – orang yang neurotis) dan hanya sedikit saja berbicara mengenai orang – orang yang neurotis. Karena itu kita dapat berkata bahwa system dari Allport hanya berorientasi pada kesehatan. MOTIVASI PADA PRIBADI YANG SEHAT Allport percaya bahwa masalah yang sangat penting bagi ahli - ahli psikologi yang mempelajari kepribadian ialah usaha unruk menerangkan motivasi. Manakah kekuatan – kekuatan yang mendorong dan menarik, atau dengan suatu cara mengatur perbuatan – perbuatan manusia? Allport berpendapat bahwa kepribadian yang sehat tidak dibimbing oleh kekuatan – kekuatan tak sadar atau pengalaman – pengalaman masa kanak – kanak. Menurut Allport, motif - motif orang dewasa bukan perpanjangan atau perluasan motif - motif masa kanak kanak. Motif- motif orang dewasa secara fungsional otonom terhadap masa kanak - kanak yakni motif – motif itu tidak tergantung pada keadaan – keadaan asli, otonom sama seperti pohon ek yang sudah tumbuh dengan sempurna dari bijinya yang pernah memberinya makanan. Kita tidak didorong dari belakang oleh kekuatan - kekuatan pendorong dengan akar - akar pada masa lampau. Malahan kita didorong lebih dahulu oleh rencana - rencana atau intensi – intensi kita untuk masa depan. Segi sentral dari kepribadian kita adalah intensi - intensi kita yang sadar dan sengaja, yakni harapan - harapan, aspirasi - aspirasi, dan impian – impian. Tujuan – tujuan ini mendorong kepribadian yang matang dan memberi petunjuk yang paling baik untuk memahami tingkah laku sekarang . Allport menulis,‖Memiliki tujuan-tujuan jangka panjang yang di lihat sebagai pusat kehidupan peribadi seseorang , membedakan manusia dari binatang , orang dewasa dari anak-anak, dan dalam banyak hal kepribadian yang sehat dari kepribadian yang sakit ‖. ‖Kodrat intensional ‖ (intentional nature) kepribadian sehat - perjuangan kearah masa depan ini- mempersatukan dan mengintegrasikan seluruh kepribadian. Kendati mungkin seseorang ditimpa oleh masalah - masalah dan konflik - konflik ( dan bahkan kepribadian yang sehat tidak sama sekali bebas dari masalah - masalah ) , kepribadiannya dalam arti tertentu dapat manjadi utuh dengan mengintegrasikan semua seginya untuk mencapai tujuan - tujuan dan itensi – itensi. Orang - orang yang neurotis kekurangan maksud - maksud dan tujuan -tujuan jangka panjang dan kepribadian mereka terpotong –-potong menjadi subsistem - subsistem yang tak berhubungan kekurangan suatu focus sentral dan kekuatan pemersatu . Kodrat intensional dari kepribadian melayani maksud lain : ia menambah tingkat tegangan individu . Beberapa teori motivasi ( termaksuk teori Freud ) menegaskan bahwa manusia didorong pertama - tama untuk mereduksikan tegangan – tegangan, menjaga supaya tegangan - tegangan berada pada tingkat yang paling rendah, dan dengan demikian menjaga suatu keadaan keseimbangan homeostatis internal atau ‖ homeostatis ‖ . Dalam pandangan ini , individu individu didorong oleh tegangan yang berlebihan sehingga mereka terus menerus didorong untuk mereduksikannya.

xxix

Allport percaya bahwa model reduksi tegangan ini dalam kepribadian manusia hanya sebagian benar karena tidak menjelaskan sebagian besar dorongan dari orang yang sehat. Organisme manusia perlu mempertahankan suatu tingkat kepuasan tertentu dari dorongan - dorongan biologis terhadap makanan, air, seks, dan tidur ( Tentu kalu kita kekurangan makanan, tegangan yang ada dalam diri kita harus direduksikan. ) Akan tetapi Allport menunjukkan bahwa orang yang sehat ingin lebih banyak daripada reduksi tegangan hidup. Mengutip apa yang dikatakan Allport : Sesudah pulang dari pekerjaan , seseorang lapar dan lelah serta membutuhkan makanan dan istirahat. Tetapi apabila orang itu telah diisi lagi dan dipulihkan , selanjutnya apa lagi ? Apabila orang itu sehat , maka ia membutuhkan aktivitas dan mulai mengerjakan suatu kegemaran, membaca sebuah buku yang membangkitkan semangat, atau pergi keluar pada malam hari . Manusia yang sehat memiliki kebutuhan terus - menerus akan variasi, akan sensasi - sensasi dan tantangan - tantangan baru. Mereka tidak suka akan hal - hal yang rutin dan mereka mancari - cari pengalaman – pengalaman baru, Mereka mengambil risiko, bersepekulasi, dan menyelidiki hal - hal baru. Semua aktivitas ini menghasilkan tegangan. Akan tetapi Allport percaya bahwa melalui pengalaman - pengalaman dan risiko - risiko yang menimbulkan tegangan baru ini, manusia dapat bertumbuh . Sejarah mencatat banyak individu yang tidak puas dengan suatu kehidupan yang rutin yang tidak memberikan variasi dan tegangan yang minimal. Kita semua mengetahui orang - orang yang telah meninggalkan pekerjaan - pekerjaan yang sudah terjamin untuk memulai karier - karier baru, yang telah meninggalkan negeri mereka untuk menyelidiki dan menjajah negeri - negeri yang belum berkembang , Apa sebabnya mereka melakukan hal-hal ini ? Bukan untuk mereduksikan melainkan untuk meningkatkan tegangan - tegangan . Allport menulis tentang Roald Amundsen, penjelajah Kutub yang sejak usia 15 tahun terdorong semata - mata oleh tujuan penjelajahan dia menaikkan tingkat aspirasinya. Sesudah menemukan Kutub Selatan, dia bercita - cita terbang ke Kutub Utara . Visi Amundsenselalu ke masa depan . Dia didorong oleh intensi - intensi dan impian -impian. Reduksi tegangan pasti bukan merupakan tujuannya Allport percaya bahwa dorongan dari semua orang yang sehat adalah sama ( meskipun aspirasi - aspirasi dan intensi - intensi dari sebagian terbesar di antara kita mungkin lebih sederhana daripada Amundsen ) . Orang yang sehat didorong ke depan oleh suatu visi masa depan dan visi itu ( dengan tujuan – tujuannya yang khusus ) mempersatukan kepribadian dan membawa orang itu kepada tingkat – tingkat tegangan yang bertambah . Penting dikemukakan bahwa dalam pembicaraan tentang dorongan dari kepribadian yang sehat. Ini kita sama sekali tidak menemukan kebahagiaan sebagai suatu tujuan. Dalam pandangan Allport, kebahagiaan bukan merupakan suatu tujuan dalam dirinya sendiri . Tetapi kebahagiaan dapat merupakan hasil sampingan dari keberhasilan integrasi kepribadian dalam mengejar aspirasi – aspirasi dan tujuan – tujuan . Kebahagiaan bukan suatu pertimbangan utama bagi orang yang sehat tetapi mungkin berlaku bagi orang yang memiliki aspirasi – aspirasi yang dikejarnya secara aktif . Dengan demikian anda akan bahagia untuk mengetahui, tetapi tidak perlu

xxx

bahagia supaya supaya menjadi seorang yang matang dan sehat . Kepribadian yang sehat tidak perlu menjadi kepribadian yang senang – senang dan bahagia secara jasmani dan rohani . Sesungguhnya, Allport percaya bahwa mungkin kehidupan orang yang sehat suram dan penuh dengan rasa sakit dan sedih . Ada segi lain dari konsepsi Allport tentang kepribadian sehat yang mungkin kelihatannya paradoks: tujuan - tujuan yang dicita - citakan oleh orang yang sehat pada hakikatnya tidak dapat dicapai ! Dia rupanya mengemukakan bahwa meskipun subtujuan – subtujuan yang dekat dapat dicapai, namun tujuan terakhir tidak dapat dicapai . Misalnya, bagimanapun juga berhasilnya penjelajah Amundsen dalam berbagi petualangannya, namun tujuan penjelajahannya tidak pernah dapat dipuaskan sepenuhnya . Sesudah setiap penemuan baru ( pemuasan terhadap suatu subtujuan ) , dia segera mulai merencanakan tujuan yang berikutnya. Kehidupannya diarahkan ( didorong ) oleh seluruh tujuan untuk meneruskan penjelajahan, tetapi tujuan ini tidak pernah dapat dipuaskan sepenuhnya sejauh masih ada beberapa daerah lain yang belum dijelajah . Kita teringat akan pepatah , ‖ Semkin banyak anda mendapat, semakin banyak juga anda inginkan‖. Tujuan terakhir menarik orang dari salah satu subtujuan ke subtujuan yang lain , tetapi tetap selalu dalam masa depan yang tidak dapat dijangkau sampai mati atau sama seperti halangan dari suatu hambatan yang tidak dapat dibatasi . Kita semua telah mendengar orang berkata , ‖ Apabila saya dapat menghasilkan $ 15 , 000 setahun saya akan puas . Saya tidak membutuhkan sesuatu lagi ‖. Kemungkinan besar orang itu akan mengetahui bahwa apa yang bila tujuan tertentu itu dapat tercapai , dia tidak akan puas ; maka suatu tingkat pendapatan lebih tinggi menjadi suatu tujuan baru . Tujuan terakhir yakni suatu pendapatan yang cukup mungkin tidak pernah tercapai dan orang itu didorong selalu ketingkat - tingkat pendapatan yang lebih tinggi . Allport menulis , ‖ Keselamatan hanya berlaku bagi dia yang tidak henti – hentinya menyibukkan diri dalam mengejar tujuan – tujuan yang pada akhirnya tidak tercapai sepenuhnya ‖ . Mungkin beruntung bahwa tujuan - tujuan kita yang terakhir tidak pernah tercapai sepenuhnya , karena apakah yang terjadi kalau tujuan - tujuan yang terakhir itu tercapai sepenuhnya ? Kita tidak akan memiliki lagi suatu kekuatan pendorong untuk mengarahkan kehidupan kita dan mengintegrasikan serta mempersatukan semua segi kepribadian kita . Kita harus mengembangkan suatu motif baru untuk manggantikan motif lama supaya kepribadian tetap sehat . Allport mengakui kebutuhan ini menemukan motif - motif apabila motif motif yang ada ternyata tidak cukup atau tidak cocok lagi, dan dengan demikian dia mengemukakan ‖ prinsip pengatur tingkat energi ‖ ( principle of organizing the energy level ) . Orang yang matang dan sehat terus – menerus membutuhkan motif - motif kekuatan dan daya hidup yang cukup untuk menghabiskan energi – energinya . Misalnya , seorang wanita mungkin memiliki tujuan yang menguras tenaga yakni membesarkan anak - anaknya sesuai dengan kriterianya tentang apa yang disebut baik . Ketika anak - anak itu masih kecil dan bertumbuh menjadi matang , maka tujuan ini cukup menguras energinya . Mungkin dia mencapai subtujuan selama ia membesarkan anak – anaknya itu – seperti membiasakan anak - anak akan kebersihan ( toilet training ) atau melatih penyesuain diri mereka

xxxi

terhadap sekolah - ketika anak - anak mencapai berbagai tingkat perkembangan . Tetapi ada hal lain lagi yang dikerjakan wanita itu , dalam hal ini tujuan sudah tercapai. Dia harus menemukan minat - minat dan impian - impian baru. Energinya harus diarahkan lagi . Allport memakai alasan yang sama untuk masalah kenakalan, kejahatan, dan pemberontakan anak remaja. Dia percaya beberapa anak muda kekurangan tujuan - tujuan yang berarti dan konstruktif untuk menghabiskan energi mereka. Energi harus menemukan jalan keluar dan apabila energi tidak diungkapkan secara konstruktif maka mungkin energi akan dilepaskan secara destruktif . ‖ DIRI ‖ DARI ORANG YANG SEHAT Konsep ‖ diri ‖ ( self ) merupakn suatu bagian yang penting dalam setiap pembicaraan tentang kepribadian yang sehat . Baik kata maupun konsep tersebut tampaknya sederhana sampai kita mulai memeriksa bermacam – macam cara bagaimana ahli – ahli teori kepribadian berusaha menjelaskan sifat dan fungsinya . Bermacam - mcam penjelasan mungkin membingungkan kita tentang apa kiranya arti dari istilah yang sederhana ini . Proprium Allport ingin menghilangkan kontradiksi – kontradiksi dan kekaburan – kekaburan yang terkandung dalam pembicaraan – pembicaraan tentang ‖ diri ‖ dengan membuang kata itu dan menggantikannya dengan suatu kata lain yang akan membedakan konsepnya tentang ‖ diri ‖ dari semua konsep lain . Istilah yang dipilihnya adalah proprium dan dapat didefinisikan dengan memikirkan bentuk sifat ‖ propriate ‖ seperti dalam kata ‖ appropriate ‖ . Proprium menunjuk kepada sesuatu yang dimiliki seseorang atau unik bagi seseorang . Itu berarti bahwa proprium ( atau self ) terdiri dari hal – hal atau proses – proses yang penting yang bersifat pribadi bagi seorang individu , segi segi yang menentukan seseorang sebagai yang unik . Allport menyebutnya ‖ saya sebagaimana dirasakan dan diketahui ‖ . Perkembangan Proprium Proprium itu berkembang dari masa bayi sampai masa adolesensi melalui tujuh tingkat ‖ diri ‖ . Apabila semua segi perkembangan telah muncul sepenuhnya , maka segi – segi tersebut dipersatukan dalam satu konsep Proprium . jadi Proprium adalah susunan dari tujuh tingkat‖ diri ‖ ini . Munculnya Proprium merupakan suatu prasyarat untuk suatu kepribadian yang sehat . ” Diri ” jasmaniah . Kita tidak dilahirkan dengan suatu perasaan tentang diri bukan bagian dari warisan keturunan kita : Bayi tidak dapat membedakan antara diri ( ‖ saya ‖ ) dan dunia sekitarnya . Berangsur – angsur , dengan makin bertambah kompleksnya belajar dan pengalaman – pengalaman perseptual , maka berkembanglah suatu perbedaannya ‖ . Ketika bayi menyentuh , melihat , mendengar dirinya , orang lain ,dan benda – benda , perbedaan itu menjadi lebih jelas . Kira - kira pada usia 15 bulan , maka munculah tingkat pertama perkembangan proprium – diri jasmaniah . Kesadaran akan ‖saya jasmaniah ‖ - misalnya , bayi membedakan antara jari – jarinya dan sebuah benda - benda yang dipegang dalam jari – jarinya merupakan langkah pertama ke arah tercapainya seluruh diri . Allport

xxxii

menyebutnya ‖ jangkar abadi untuk kesadaran diri kita ‖ , meskipun masih jauh dari menjadi seluruh diri orang itu . Identitas – diri . Pada tingkat kedua perkembangan , muncullah perasaan identitas – diri . Anak mulai sadar akan identitasnya yang berlangsung terus sebagai seorang terpisah . Anak mempelajari namanya , menyadari bahwa bayangan dalam cermin hari ini adalah bayangan dari orang yang sama seperti yang dilihatnya kemarin , dan percaya bahwa perasaan tentang ‖ saya ‖ atau ‖ diri ‖ tetap bertahan dalam menghadapi pengalaman – pengalaman yang berubah – ubah . Allport berpendapat bahwa segi yang penting , identitas diri adalah nama orang . Nama itu menjadi lambang dari kehidupan seseorang yang mengenal dirinya dan membedakannya dari semua diri yang lain didunia . Harga diri . Tingkat ketiga dari perkembangan proprium ialah timbulnya harga diri . Hal ini menyangkut perasaan bangga dari anak sebagai suatu hasil dari belajar mengerjakan benda – benda atas usahanya sendiri . Pada tingkat ini , anak ingin membuat benda – benda menyelidiki dan memuaskan perasaan ingin tahunya tentang lingkungan , memanipulasi dan mengubah lingkungan itu . Anak berusia 2 tahun yang bersifat ingin tahu dan agresif dapat menjadi destruktif karena dorongan untuk memanipulasi dan menyelidiki ini berkuasa . Allport percaya bahwa hal ini merupakan suatu tingkat perkembangan yang menentukan ; apabila orang tua menghalangi kebutuhan anak untuk menyelidiki maka perasaan harga diri yang timbul dapat dirusakkan . Akibatnya dapat timbul perasaan dihina dan dimarah . Perluasan diri ( self extension ). Tingkat perkembangan diri berikutnya , perluasan diri , mulai sekitar 4 tahun . Anak sudah mulai menyadari orang – orang lain dan benda – benda dalam lingkungannya dan fakta bahwa beerapa diantaranya adalah milik anak tersebut . Anak berbicara tentang ‖ rumahku ‖ atau ‖ sekolahku ‖ . Anak mempelajari arti dan nilai dari milik seperti terungkap dalam kata yang bagus sekali ‖ kepunyaanku ‖ . Meskipun dalam usia ini , lingkaran benda – benda dan orang – orang seperti terungkap dengan kata ‖ kepunyaanku ‖ terbatas ,namun peruses menyebabkan kesatuan – kesatuan yang lebih luas ( seperti Negara , karier , agama ) menjadi ‖ kepunyaanku ‖ sekarang terbentuk . Ini adalah permulaan dari kemampuan orang untuk memperpanjang dan memperluas dirinya , untuk memasukkan tidak hanya benda – benda tetapi juga abstraksi – abstraksi , nilai – nilai , dan kepercayaan – kepercayaan . Gambaran diri . Gambaran diri berkembang pada tingkat berikutnya . Hal ini menunjukkan bagaimana melihat diri dan pendapatnya tentang dirinya . Gambaran ini ( atau rangkain gambaran – gambaran ) berkembang dari interaksi – interaksi antara orang tua dan anak . Lewat pujian dan hukuman , anak belajar bahwa orangtuanya . mengharapkannya supaya menampilkan tinkah laku – tingkah laku tertentu dan menjauhui tingkah laku – tingkah laku lain . Orangtua dapat menyebut anak itu ‖ baik ‖ sebagai reaksi terhadap beberapa tingkah laku dan ‖ buruk ‖ sebagai reaksi terhadap tingkah laku – tingkah laku lain . Dengan mempelajari harapan – harapan orang tua ini , anak mengembangkan dasar untuk suatu perasaan tanggung jawab maoral serta untuk perumusan tentang tujuan – tujuan dan intensi – intensi .

xxxiii

Diri sebaga Pelaku Rasional . Setelah anak mulai sekolah , diri sebagai pelaku rasional mulai timbul . Aturan – aturan dan harapan – harapan baru dipelajari dari guru – guru dan teman – teman sekolah serta hal yang lebih penting ialah diberikannya aktivitas – aktivitas dan tantangan – tantangan intelektual . Anak belajar bahwa dia dapat memecahkan masalah – masalah dengan menggunakan proses – proses yang logis dan rasional . Perjuangan Proprium ( Pripriate Striving ). Dalam masa adolesensi , Perjuangan Proprium ( Pripriate Striving ) – tingkat terakhir dalam perkembangan diri ( selfhood ) – timbul . Allport percaya bahwa masa adolesensi merupakan suatu masa yang menentukan . Orang sibuk dalam mencari identitas – diri yang baru , sangat berbeda dari identitas – diri pada usia 2 tahun . Pertanyaan ‖ Siapakah saya ‖ adalah sangat penting . Karena didorong dan ditarik dalam arah – arah berbeda oleh orang tua dan kawan – kawan sebaya , anak remaja itu mengadakan percobaan dengan kedok – kedok dan peranan – peranan , menguji gambaran diri , berusaha menemukan kepribadian orang dewasa . Segi yang sangat penting dari pencarian identitas ini adalah definisi suatu tujuan hidup . Pentingnya pencarian ini yakni untuk pertama kalinya orang memperhatikan masa depan , tujuan – tujuan dan impian – impian jangka panjang . Bebarengan dengan ini , ialah perkembangan dari daya dorong ke depan . Intensi – intensi , aspirasi – aspirasi , dan harapan – harapan orang itu mendorong kepribadian yang matang . ‖ Sasaran – sasaran yang menentukan ‖ ini dalam Allport sangat penting untuk kepribadian sehat . Tujuan tingkah diri atau Proprium ini berkembang dari masa bayi sampai masa adolesensi . Suatu kegagalan atau kekecewaan yang hebat pada setiap tingkah melumpuhkan penampilan tingkat – tingkat berikutnya serta menghambat integrasi harmonis dari tingkat – tingkat itu dalam Proprium. Dengan demikian pengalaman – pengalaman masa kanak – kanak sangat penting dalam perkembangan keperibadian yang sehat . PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN YANG SEHAT Allport tidak menggambarkan perkembangan kepribadian menurut tingkat – tingkat yang jelas , seperti halnya perkembangan diri . Kekurangan perhatian terhadap perkembangan kepribadian ini adalah sesuai dengan kepercayaannya bahwa kepribadian dewasa lebih merupakan fungsi dari masa sekarang dan masa yang akan datang seseorang daripada masa lampaunya . Hanya pada orang neurotis terdapat suatu hubungan fungsional yang bersinambung antara anak dan orang dewasa . Meskipun demikian , Allport menerangkan pengalaman – pengalaman masa kanak – kanak tertentu yang berbeda antara orang – orang neurotis dan orang – orang sehat , dan ada gunanya kalau menyelidiki pengalaman – pengalaman itu secara singkat . Allport memperhatikan hubungan antara bayi dan ibunya , khususnya dengan banyaknya keamanan dan kasih sayang yang diberikan ibu terhadap anak . Apabila bayi menerima keamanan dan kasih sayang yang cukup , pertumbuhan psikologis yang positif akan terjadi sepanjang tingkat munculnya diri . Anak akan membentuk suatu identitas dan gambaran – diri , dan diri akan meluas melampaui orang itu . Selama masa adolesensi , perjuangan – perjuangan

xxxiv

Proprium akan terbentuk manjadi frame of reference dan dorongan bagi pertumbuhan yang akan datang . Dengan semua segi dari pada tempatnya , maka hampir pasti akan muncul seorang dewasa yang sehat dan matang . Maka jelaslah , peranan ibu sangat penting . Apa yang terjadi jika dia tidak memberikan keamanan dan kasih sayang yang cukup kepada bayi itu ? Seoarang anak yang dibesarkan dalam kondisi – kondisi ini menjadi tidak aman , agresif , suka menuntut , iri hati ,egosentris , dan pertumbuhan psikologisnya berkurang . Sebagai seorang dewasa , orang itu akn dikontrol oleh dorongan – dorongan masa kanak – kanak dan oleh keinginan – keinginan dan konflik – konflik kanak – kanak dan mungkin mengembangkan suatu bentuk sakit jiwa . Allport tidak memberikan jawaban yang jelas atas pertanyaan yang menentukan apakah seseorang dalam situasi tertentu akan sanggup meniadakan pengalaman awal masa kanak – kanak yang sial itu ? Dapatkah Pengaruhpengaruh dari sikap ibu yang menolak anak diatasi oleh seorang guru yang simpati, perhatian dari sanak saudara yang lebih tua, atau kelak dalam kehidupan oleh cinta seorang partner? Atau apakah orang yang demikian akan ditimpa neurosis? Akan menyenangkan kalau orang percaya bahwa pemuasan kemudian dalam kehidupan terhadap kebutuhan akan rasa aman dan kasih sayang pada masa kanak-kanak yang terhambat akan mengimbangi kemunduran-kemunduran awal, tetapi kemungkinan ini tidak dijelaskan oleh Allport: Dia sedikit saja membicarakan tingkah laku neurotis karena dia sangat tertarik kepada kepribadian yang sehat. KRITERIA PERIBADI YANG MATANG Tujuh kriteria kematangan ini merupakan pandangan-pandangan Allport tentang sifat-sifat khusus dari kepribadian sehat. 1. Perluasan perasaan diri Ketika diri berkembang, maka diri itu meluas menjangkau banyak orang dan benda. Mula-mula diri berpusat hanya pada individu. Kemudian ketika lingkaran pengalaman bertumbuh maka diri bertambah luas meliputi nilainilai dan cita-cita yang abstrak dengan kata lain, ketika orang menjadi matang, dia mengembangkan perhatian-perhatian di luar diri. Akan tetapi, tidak cukup hanya berinteraksi dengan sesuatu atau seseorang di luar diri, seperti pekerjaan. Orang harus menjadi partisipan yang langsung dan penuh. Allport menamakan hal ini ‖partisipan otentik yang dilakukan oleh orang dalam beberapa suasana yang penting dari usaha manusia‖. Orang harus meluaskan diri ke dalam aktivitas. Kita mengetahui bahwa ada kemungkinan mengerjakan sesuatu secara aktif(seperti suatu kursus perguruan tinggi atau suatu pekerjaan) tanpa mersakan suatu keterlibatan pribadi yang otentik atau persaan partisipan. Dalam pandangan Allport, suatu aktivitas harus relevan dan penting bagi diri; harus berarti sesuatu bagi orang lain. Apabila anda mengerjakan suatu pekerjaan karena anda percaya bahawa pekerjaan itu penting, karena pekerjaan itu menantang kemampuan-kemampuan anda, atau karena mengerjakan pekerjaan itu dengan sebai-baiknya membuat anda mersa enak, maka anda merupakan seorang partisipan yang otentik

xxxv

dalam pekerjaan. Aktivitas itu lebih berarti bagi anda daripada pendapapatan yang diperoleh, aktivitas itu memuaskan kebutuhankebutuhan lain juga. Semakin seseorang terlibat sepenuhnya dengan berbagai aktivitas atau orang atau ide, maka semakin juga dia akan sehat secara Psikologi. Perasaan partisipan otentik ini berlaku bagi pekerjaan kita, hubungan dengan keluarga dan teman-teman, kegemaran, dan keanggotaan kita dalam politik dan agama. Diri menjadi tertanam dalam aktivitas-aktivitas yang penuh arti ini dan aktivitas-aktivitas ini menjadi perluasan perasaan diri. 2. Hubungan diri yang hangat dengan orang-orang lain Allport membedakan dua macam kehangatan dalam hubungan dengan orang-orang lain: kapasitas untuk keintiman dan kapasitas untuk perasaan terharu. Orang yang sehat secara psikologis mampu memperlihatkan keintiman (cinta) terhadap orang tua, anak, partner, teman akrab. Apa yang dihasilkan oleh kapasitas untuk keintiman ini adalah suatu perasaan perluasan diri yang berkembang baik. Orang mengungkapkan partisipasi otentik dengan orang yang dicintai dan memperhatikan kesejahteraannya; hal ini sama pentingnya dengan kesejahteraan individu sendiri. Syarat lain bagi kapasitas untuk keintiman ialah suatu perasaan identitas-diri yang berkembang dengan baik. Ada perbedaan antara hubungan cinta dari orang-orang yang neurotis dengan hubungan cinta dari keperibadian- keperibadian yang sehat. Orang-orang yang neurotis harus menerima cinta jauh lebih banyak daripada kemampuan mereka untuk memberinya. Apabila mereka memberi cinta, maka cinta itu diberikan dengan syarat-syarat dan kewajiban-kewajiban yang tidak bersifat timbal balik. Cinta dari orangorang yang sehat adalah tanpa syarat, tidak melumpuhkan atau mengikat. Perasaan terharu, tipe kehangatan yang kedua adalah suatu pemahaman tentang kondisi dasar manusia dan perasaan kekeluargaan dengan semua bangsa. Orang yang sehat memiliki kapasitas untuk memahami kesakitan-kesakitan, penderitaan-penderitaan, ketakutanketakutan, dan kegagalan yang merupakan ciri kehidupan manusia. Empati ini timbul melalui ‖perluasan imajinatif‖ dari perasaan orang sendiri terahadap kemanusiaan pada umumnya. Sebagai hasil dari kapsitas untuk perasaan tertentu, kepribadian yang matang sabar terhadap tingkah laku orang-orang lain dan tidak mengadili atau menghukumnya. Orang yang sehat menerima kelemahankelemahan manusia, dan mengetahui bahwa dia memiliki kelemahankelemhan yang sama. Akan tetapi, orang yang neurotis tidak sabar dan tidak mampu memahami sifat universal dari pengalaman-pengalaman dasar manusia. 3. Keamanan Emosional. Sifat dari kepribadian yang sehat ini meliputi beberapa kualitas;

xxxvi

kualitas utama adalah penerimaan diri. Kepribadian-kepribadian yang sehat mampu menerima semua segi dari ada mereka, termasuk kelemahankelemahan dan kekurangan-kekurangan tanpa menyerah secara pasif pada kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan tersebut. Misalnya, orang-orang yang matang dapat menerima dorongan seks mereka tanpa menjadi telalu sopan atau tertekan seperti yang dapat terjadi dengan orangorang yang neurotis. Orang-orang yang sehat mampu hidup dengan ini dan segi-segi lain dalam kodrat manusia, dengan sedikit konflik dalam diri mereka atau dengan masyarakat. Mereka berusaha bekerja sebaik mungkin dan dalam proses mereka berusaha memperbaiki diri mereka. Kepribadian-kepribadian yang sehat juga mampu menerima emosiemosi manusia; mereka bukan tawanan dari emosi-emosi mereka, dan mereka juga tidak berusaha bersembunyi dari emosi-emosi itu. Kepribadian-kepribadian yang sehat mengontrol emosi-emosi mereka, sehingga emosi-emosi ini tidak mengganggu aktivitas-aktivitas antar pribadi. Control ini bukan merupakan represi tetapi emosi-emosi diarahkan kembali ke dalam saluran-saluran yang lebih konstruktif. Akan tetapi orang-orang yang neurotis menyerah pada emosi apa saja yang dominan pada saat itu. Berkali-kali memperlihatkan kemarahan atau kebencian, betapapun perasaan-perasaan itu mungkin tidak tepat. Kualitas lain dari keamanan emosional ialah yang disebut Allport ―sabar terhadap kekecewaan‖. Hal ini menunjukkan bagaimana seseorang bereaksi terhadap tekanan dan terhadap hambatan dari kemauan-kemauan dan keinginan-keinginan. Orang-orang yang sehat sabar menghadapi kemunduran-kemunduran ini; mereka tidak menyerahkan diri kepada kekecewaan, tetapi mampu memikirkan cara-cara yang berbeda, yang kurang menimbulkan kekecewaan untuk mencapai tujuan-tujuan yang sama atau tujuan-tujuan substitusi. Kekecewaan-kekecewaan tidak melumpuhkan kepribadian-kepribadian yang sehat seperti kerapkali terjadi dengan orang-orangyang neurotis. Orang-orang yang matang tidak dapat begitu sabar terhadap kekecewaan, tidak dapat begitu menerima diri, atau tidak dapat begitu banyak mengontrol emosi mereka, jika mereka tidak merasakan suatu perasaan dasar akan keamanan. Mereka telah belajar menghadapi ketakutan-ketakutan hidup dan ancaman-ancaman terhadap ego dengan perasaan seimbang dan mereka telah mengetahui bahwa tekanan-tekanan itu tidak selalu menimbulkan malapetaka. Orang-orang yang sehat tidak bebas dari perasaan-perasaan tidak aman dan ketakutan-ketakutan, tetapi mereka merasa kurang terancam dan dapat menanggulangi perasaanperasaan tersebut dengan lebih baik daripada orang-orang yang neurotis. 4. Persepsi Realistis Orang-orang yang sehat memandang dunia mereka secara objektif. Sebaliknya, orang-orang yang neurotis kerapkali harus mengubah realitas supaya membuatnya sesuai dengan keinginan-keinginan, kebutuhankebutuhan, dan ketakutan-ketakutan mereka sendiri. Orang-orang yang

xxxvii

sehat tidak perlu percaya bahwa orang-orang lain atau situasi-situasi semuanya jahat atau semuanya baik menurut suatu prasangka pribadi terhadap realitas. Mereka menerima realitas sebagaimana adanya. 5. Keterampilan-keterampilan dan Tugas-tugas. Allport menekankan pentingnya pekerjaan dan perlunya menenggelamkan diri sendiri di dalamnya. Keberhasilan dalam pekerjaan menunjukkan perkembangan keterampilan-keterampilan dan bakat-bakat tertentu – suatu tingkat kemampuan. Tetapi tidaklah cukup hanya memiliki keterampilan-keterampilan yang relevan; kita harus menggunakan keterampilan-keterampilan itu secara ikhlas, antusias, melibatkan dan menempatkan diri sepenuhnya dalam pekerjaan kita. Allport mengemukakan bahwa ada kemungkinan orang-orang yang memiliki keterampilan-keterampilan menjadi neurotis. Akan tetapi tidak mungkin menemukan orang-orang yang sehat dan matang yang tidak mengarahkan keterampilan mereka pada pekerjaan mereka. Komitmen dalam orang-orang yang sehat ini begitu kuat sehingga mereka sanggup menenggelamkan semua pertahanan yang berhubungan dengan ego dan dorongan (seperti kebanggaan) ketika mereka terbenam dalam pekerjaan Mereka. Dedikasi terhadap pekerjaan ini ada hubungannya dengan gagasan tentang tanggung jawab dan dengan kelangsungan hidup yang positif. Allport mengutip apa yang dikatakan oleh Harvey Cushing. Ahli bedah otak yang terkenal, ―satu-satunya cara untuk melangsungkan kehidupan adalah menyelesaikan suatu tugas‖. Pekerjaan dan tanggung jawab memberikan arti dan perasaan kotinuitas untuk hidup. Tidak mungkin mencapai kematangan dan kesehatan psikologis yang positip tanpa melakukan pekerjaan yang penting dan melakukannya dengan dedikasi, komitmen dan keterampilanketerampilan. 6. Pemahaman diri Kriterium ini terkandung dalam petunjuk lama ―Kenalkan dirimu‖ tentu merupakan suatu tugas yang sulit. Usaha untuk mengetahui diri secra objektif mulai pada awal kehidupan dan tidak akan pernah berhenti, tetapi ada kemungkinan mencapai suatu tingkat pemahaman diri (selfobjectification) tertentu yang berguna dalam setiap usia. Kepribadian yang sehat mencapai suatu tingkat pemahaman diri yang lebih tinggi daripada orang-orang yang neurotis Pengenalan diri yang memadai menurut pemhaman tentang hubungan/perbedaan antara gambaran tentang diri yang memiliki sesorang dengan dirinya menurut keadaan yang sesungguhnya. Semakin dekat hubungan lain yang penting adalah hubungan antara apa yang dipkirkan seseorang tentang dirinya dan apa yang dipikirkan orang-orang lain tentang dirinya itu. Orang yang sehat terbuka pada pendapat orang-orang lain dalam merumuskan suatu gambaran diri yang objektif. Orang yang memiliki suatu tingakatan pemahaman diri (self-

xxxviii

objectification) yang tinggi atau wawasan diri tidak mungkin mempronyeksikan kualitas-kualitas pribadinya yang negative kepada orang-orang lain. Orang itu akan menjadi hakim yang saksama terhadap orang-orang lain. Orang itu akan diterima dengan lebih baik oleh orangorang lain. Allport juga mengemukakan bahwa orang yang memiliki wawasan diri yang lebih baik adalah lebih cerdas daripada orang yang memiliki wawasan diri yang kurang. Tambahan pula meskipun anda dapat mentertawakan gagasan itu, namun terdapat suatu kondisi korelasi yang tinggi antara tingakat wawasan diri dan perasan humor, yakni tipe humor yang menyangkut persepsi tentang hal-hal yang aneh dan hal-hal yang mustahil serta kemampuan untuk menertawakan diri- sediri. Allport membedakan humor ini dari humor komik kasar yang menyangkut seks dan agresi). 7. Filsafat Hidup yang Mempersatukan Orang-orang yang sehat melihat kedepan didorong oleh tujuantujuan dan rencana-rencana jangka panjang. Orang-orang ini mempunya sutu perasaan akan tujuan, sutu tugas untuk bekerja samapai selesai sebagai batu sendi kehidupan mereka, dan ini memberi kontinuitas bagi kepribadian mereka. Allport menyebut dorongan yang mempersatukan ini ―arah‖ (direct-ness), dan lebih kelihatan pada kepribadian-kepribadian yang sehat daripada orang-orang yang neurotis. Arah itu membimbing semua segi kehidupan seseorang menuju suatu tujuan (atau rangkaian tujuan) serta memberikan orang itu suatu alasan untuk hidup. Kita membutuhkan tarikan yang tetap dari tujuan-tujuan yang berarti; tanpa-tujuan itu kita mungkin akan mengalami masalah-masalah kepribadian. Jadi, bagi Allport rupanya mustahil memiliki suatu keprbadian yang sehat tanpa aspirasiaspirasi dan arah ke masa depan. Mungkin kerangka untuk tujuan-tujuan khusus itu adalah ide tentang nilai-nilai. Allport menekankan bahwa nilai-nilai (bersama dengan tujuan-tujuan) adalah sangat penting bagi perkembangan suatu filsafat hidup yang mempersatukan. Seorang individu dapat memilih diantara berbagai nilai-nilai dan nilai-nilai itu mungkin berhubungan dengan diri sendiri (seperti kebanggaan atas hasil pekerjaan yang dilakukan individu) atau mungkin nilai-nilai itu luas dan dimiliki oleh banyak orang lain (seperti patriotisme). Memiliki nilai-nilai yang kuat, jelas memisahkan orang yang sehat dari orang neoretis. Orang yang neoretis tidak memiliki nilai nilai atau hanya memiliki nilai-nilai yang tepecah dan bersifat sementara. Nilai-nilai dari orang yang neoritis tidak tetap atau tidak cukup kuat untuk mengikat atau mempersatukan semua segi kehidupan. Suara hati ikut juga berperan dalam suatu filsafat hidup yang mempersatukan. Allport mengemukakan perbedaan antara suara hati yang matang dan suara hati yang tidak matang atau neurotis. Suatu suara hati yang tidak matang sama seperti suara kanak-kanak yang patuh dan

xxxix

membudak, penuh dengan pembatasan-pembatasan dan larangan-larangan yang dibawa dari masa kanak-kanak ke dalam masa dewasa. Suara hati yang tidak matang bercirikan perasaan ―harus‖ dan bukan ―sebaliknya‖ dengan kata lain, orang yang tidak matang berkata, ―saya harus bertingakah laku begini‖. Suara hati yang matang adalah sesuatu perasaan kewajiban dan tanggung jawab kepada diri sendiri dan kepada orang lain. Dan mungkin berakar dalam nilai-nilai agama atau nilai-nilai etis.

xl

BAB IV IDENTITAS DALAM KOMUNIKASI ANTARPRIBADI: WILLIAM C. SCHUTZ 1 Pengantar Sampai sekarang, dalam buku ini identitas manusia dibahas menurut beberapa "instansi" identitas tersebut, menurut masing-masing ahli psikologi ―batin‖ yang ditemukan dalam psikoanalisis Freud, psikologi individual Adler, dan psikologi analitis Jung. Pada umumnya ,manusia dibahas struktur identitasnya sebagai pribadi perseorangan, dan belum banyak dipersoalkan tentang komunikasi antarpersonal. Tentunya ketiga aliran tadi mengandaikan bahwa manusia bukan makhluk yang menyendiri, dan pada umumnya hubungan antarpribadi dipersoalkan, hanya untuk menjelaskan dinamika perkembangan perseorangan. Dalam psikoanalisis Freud misalnya, hubungan anak kecil dengan ibu dan ayah biasanya dipersoalkan hanya untuk menjelaskan tentang lahirnya si "ego" dan si "superego"; sesama manusia masuk dalam psikologi individual Adler untuk menjelaskan unsur persaingan; dan hubungan antara laki-laki dan wanita dijelaskan oleh Jung dengan teorinya tentang "anima" dan "animus". Rupa-rupanya beloh dikatakan bahwa psikologi ketiga tokoh tersebut belum seluruhnya memporsoalkan apa yang kini disebut "Psikologi Sosial". Tentang psikologi sosial ada banyak sekali buku dan karangan; pertanyaan yang relevan di sini ialah: apakah ada psikologi sosial yang khusus menaruh minat pada "instansi-instansi" identitas manusia dalam hubungan antar pribadi? memang ada. Dalam Bab ini akan dijelaskan tentang teori William Schutz, seorang Freudian Amerika. Bab 5 menyajikan uraian tentang bentuk "strukturalistis" aliran Freudian dalam karya ahli Prancis Jacques Lacan. Bab 6 membahas suatu aliran Freudian lagi, psikologi "transaksional" dari ahli psikiatri Kanada-Amerika Eric Bente. William Schutz telah menciptakan suatu teori menyeluruh yang sebagian agak "subjektif‖ (sehingga suatu perbandingan dengan Adler dan Jung menjadi mungkin), akan tetapi dengan latar belakang Psikoanalisis Freud. Schutz melatarbelakangi teorinya dengan penelitian tentang tiga ―kebutuhan" utama antarpersonal yang ada secara psikis pada setiap orang, yang akan dipaparkan di bawah ini. Buku Schutz FIRO. A three-dimensional theory of interpersonal behavior, terbit pada tahun 1958, dan kini paling dikenal dalam edisinya yang baru The interpersonal underworld. 2. Tiga Kebutuhan Antarpribadi Menurut Schutz, setiap orang mengalami tiga kebutuhan antarpribadi: inclusion, control, dan affection, baiklah kita terjemahkan ketiga konsep pokok ini, berturut-turut dengan istilah "ketermasukan", "kekuasaan", dan keefektifan". Kebutuhan ketermasukan menyatakan bahwa setiap orang ingin memiliki hubungan antarpribadi dengan cara yang memuaskan khususnya menyangkut interaksi dan asosiasi dengan pribadi yang lain; kebutuhan kekuasaan menyatakan bahwa setiap orang ingin memiliki hubungan antarpribadi yang memuaskan khususnya menyangkut penguasaan terhadap dan oleh pribadi yang lain; dan kebutuhan keafektipan menyatakan bahwa setiap orang ingin memiliki hubungan antarpribadi yang memuaskan khusus menyangkut cinta dan persahabatan.

xli

Catatlah bahwa kebutuhan ketermasukan dan kebutuhan penguasaan biasanya menyangkut hubungan yang ada dengan (agak) banyak orang lain; sedangkan kebutuhan keafektifan lebih biasa menyangkut hubungan "diadis", artinya hubungan satu orang dengan hanya satu orang yang lain. Perhatikanlah pula bahwa ketiga kebutuhan tersebut adalah kebutuhan yang sering tidak disadari adanya dan pengaruhnya dalam kehidupan psikis pribadi. (Semboyan Schutz: people need people) Jadi, bukan gagasan yang misalnya dapat didiskusikan orang), melainkan kebutuhan betul-betul. Ketiga kebutuhan tadi menyebabkan orang berkelakuan dengan cara tertentu, dan demi mudahnya kita dapat membahas tentang "kelakuan ketermasukan", "kelakuan penguasaan", dan "kelakuan keafektifan". Oleh karera itu kini muncul pertanyaan: apa gerangan ketiga kebutuhan dan kelakuan tersebut? 2.1. Kelakuan Ketermasukan Setiap pribadi membutuhkan apa yang disebut dalam bahasa Inggris. suatu sense of belonging. ia ingin supaya ia ―termasuk‖ dalam golongan tertentu, agar ia dapat merasa dirinya dikenali sebagai orang yang rnempunyai identitasnya. Kelakuan yang pribadi itu meliputi usaha-usaha seperti: mencari prominensi, mencari "gengsi. diterima oleh orang lain, dikenal oleh orang lain; atau juga kebalikan dari kecendrungan ini, seperti pada orang yang saya suka mengndurkan diri. Sebagai contoh: seorang anak kecil yang tidak diberi perhatian yang dirasa mencukupi (maksudnya hanya perhatian saja, belum tentu hal itu mutlak perlu cinta) akan mudah menjadi ribut, rewel. Ia menginginkan perhatian, tak peduli berupa teguran atau hukuman asal mendapat perhatian. 2.2. Kelakuan kekuasaan Setiap orang mencari kedudukan tentu menyangkut hal menguasai orang lain atau dikuasai olehnya. Dengan demikian banyak orang suka bersaing, suka menang, berusaha untuk menjadi pemimpin; kalau tidak berhasil menjadi pemimpin, orang seperti itu akan berusaha untuk mempengaruhi pemimpin, menjadi penasihatnya; atau sebaliknya; banyak orang lebih senang di suruh saja, tidak suka bertanggungjawab, Iebih suka di pimpin daripada memimpin. 2,3 Kelakuan Keafektifan Banyak orung ingin menemukan seseorang yang dapat dicintai, yang dengannya dapat diadakan hubungan akrab; atau sebaliknya: ada orang yang takut pada keakraban dan keintiman, orang yang agak "dingin"dalam sikapnya terhadap pribadi lain, khususnya dalarn hubungan "diadis". 4.3 Tipe-Tipe orang menurut masing-masing kebutuhan/kelakuan itu Seperti sudah tampak dari contoh-contoh tadi, masing-masing kebutuhan dapat terwujud dalam diri masing-masing orang secara secara "plus’’atau secara ’’minus’’misalnya mnyangkut ketermasukan itu,tipe ’’plus’’-nya ingin diperhatikan identitasnya dalam golongan, sedangkan tipe ’’minus’’-nya ingin menyendiri dan mencari keanoniman dan kesempatan untuk mengundurkan diri

xlii

dari golongan yang bersangkutan. Demikian pula menyangkut segi penguasaan, ada orang yang suka menguasai kekuasaan orang lain, ada juga yang lebih berdamai kalau di kuasai saja. Akhirnya, dalam hal keefektifan, ada orang yang membutuhkan keakraban, ada juga yang merasa tidak senang dalam hubungan keakraban. Bagaimanakah dapat kita pahami soal ’’derajat’’itu dengan lebih mendalam? Sebenarnya masing-masing tadi meliputi tidak kurang dari tiga derajat,secara umum:derajat ’’terlalu’’,derajat ’’normal’’atau ’’sedang’’,dan derajat ’’kurang’’ Menyangkut termasukan ada yang ’’hipersosial’’ (yang ’’terlalu’’);yang ’’hipososial’’ (yang ’’kurang’’);dan yang ’’sosial’’ (yang ’’normal’’). Didalam kebutuhan dan kelakuan penguasaan ada yang ’’autokratis’’ (’’terlalu’’);yang ’’abdikratis’’ (’’kurang’’);dan yang ’’demokratis’’ (’’normal’’).Akhirnya, di bidang keefektifan ada yang ’’hipersonal’’ (’’terlalu’’); ada yang ’’hipopersonal’’ (’’kurang’’); dan ada yang ’’personal’’ (’’normal’’)—Apa maksud semua ’’tipe’’ pribadi itu? 3.1 Tipe ’’Ketermasukan’’ Seperti sudah dijelaskan, bagi orang tertentu apa yang paling menonjol dalam keperibadiannya adalah kebutuhan menyangkut ketermasukan itu: 3.1.1 Tipe Hipersosial Orang seperti itu suka banyak bergaul dengan orang lain, sering ingin supaya orang lain menemaninya; ia tipe orang ’’ekstravert’’. Tetapi sukar baginya untuk tinggal sendirian, tidak mudah tahan kalau tak ada orang lain. Secara tak sadar konflik batin baginya ialah: ia tidak ―yakin‖ ia menjadi orang yang pantas diberi perhatian; ia ―merasa‖ tidak mempunyai ―identitas‖-nya yang sejati. Ia mearasa bahwa ia sebenarnya adalah; nobody. Secara sadar ia suka memuji-muji ―sehat‖-nya kebersamaan; itu kompensasinya, rasionalisasinya. 3.1.1 Tipe Hipososial Orang tipe ini tidak suka mencari teman, merasa kurang ―aman‖ kalau bersama dengan orang lain. Ia mudah mengeluh karena yang dibutuhkanya ialah ―privacy‖; bila ada tamu, ia merasa terganggu; bila ada tamu yang tidak di kenal, ia dapat merasa terancam. Secara tak sadar problemnya ialah bahwa ia ―merasa‖ tidak pantas untuk di perhatikan. memang secara sadar ia menyebut-nyebut masalah ―privacy‖; itulah konpensasinya, rasionalisasinya. 3.1.3 Tipe Sosial orang tipe ini merasa aman kalau ada orang lain, merasa aman pula kalau sendirian. Ia menghargai privacy, menghargai pula company. Tipe ini tidak mempunyai problem batin, menyangkut ketermasukan. Perlu dicatat bahwa tipe hipersosial dan tipe hipososial sebenarnya di ganggu oleh konflik batin yang sama: orang tipe ini sebenarnya, dengan tak

xliii

sadar, merasa menjadi nobody. Maka dari itu,tidaklah mengherankan apabila orang yang sama dapat menjadi ―hiper‖ dalam situasi tertentu, menjadi ―hipo‖ dalam situasi tertentu yang lain dan ―normal‖ (―social‖) dalam situasi macam lain lagi. Misalnya, orang dapat menjadi ―hipososial‖dengan orang berkebangsaan lain, ―hipersosial‖ dalam golongan orang terkemuka, dan ―social‖ ditempat pekerjaannya. 3.2 Tipe “kekuasaan‖ Bagi orang tertentu, yang paling penting diantara kebutuhan-kebutuhan psikisnya adalah kebutuhan menyangkut ―penguasaan‖: 3.2.1 Tipe Autokrat Ia ingin berkuasa, berpengaruh, menguasai orang lain dan mengatur hidupnya; ia ingin memimpin, bersaing, menang; dan ia tidak suka dipengaruhi, dikuasai, dipimpin, disaingi. Secara tak sadar ia takut di pengaruhi, ia merasa menjadi orang yang sunguh-sungguh bertanggung jawab; maka dari itu ia ingin ( dengan tak sadar) ‖membuktikan‖ bahwa ia sungguh-sungguh bertanggug jawab bahwa ia dapat mengambil keputusan. Secara sadar ia banyak berbicara tentang perlunya leadership, kepemimpinan, tanggung jawab. Itulah kompensasi dan rasionalisasinya. 3.2.2 Tipe Abdikrat Ia tidak suka memimpin, tanggung jawab sebaliknya dipikul orang lain saja; ia hanya ingin dipimpin. Orang ini hidup menurut ―perinsip‖ : asal bapak senang. Bila ia terpaksa menjadi pemimpin, ia akan mengeluh bahwa bawahannya tidak memperhatikan kepemimpinannya, dan ia akan merasa sulit untuk mengambil keputusan Secara tak sadar ia merasa tidak bertanggungjawab, maka kompensasiny adalah lari dari segala tanggungjawab; rasionalisasinya ialah bahwa ia terlalu ―bodoh‖ untuk memikul tanggung jawab . 3.2.3. Tipe Demokrat Ia merasa aman kalau memimpin, merasa aman juga kalau dipimpin. Ia merasa bertanggung jawab, dan merasa orang lain pun bertanggung jawab. Sebagai bawahan, ia tidak akan segan mengemukakan pendapatnya pada atasan; dan sebagai atasan ia senang memperhgitungkan pendapat-pendapat bawahannya, sejauh mungkin. Pokoknya, dibidang penguasaan ia tidak diganggu oleh problem psikis. Dari 3.2.1. dan 3.2.2. sudah jelas bahwa kedua tipe ini, orang autokratis dan orang abdikratis, diganggu oleh problem psikis ( yang biasaya tak sadar) yang sama. Oleh karena itu masuk akallah apabila pribadi yang sama dapat menjadi autokratis, abdikratis dan demokratis dalam situasi dan lingkungan yang berbedabeda. Misalnya saja, si anu mungkin menjadi orang autokratis didalam keluarganya ( terhdap istri dan anak-anaknya), abdikratis dipabrik atau kantor, dan demokratis dalam asosiasi lain, seperti klubnya.

xliv

3.3. Tipe “Keafektifan“ Bagi orang tipe ini, yang paling menonjol dalam hidup psikisnya ialah bidang keafektifan, diantara kebutuhan-kebutuhannya: 3.3.1. Tipe Hipersonal Ia ingin dekat dengan orang, dan mudah tergoda untuk menguak komunikasi sosial yang biasa menjadi hubungan akrab. Meskipun hubungan akrab itu berlaku hanya antara dua orang antara dua orang sampai taraf yang relatf eksklusif, namun orang tipe ini akan berusaha utuk mengadakan hubungan seperti itu dengan sebanyak mungkin orang. Ia mersa tidak tenang kalau orang lain bertingkah laku agak ―dingin‖ terhdapnya; malah sikap ―netral‖ mudah dialami sebagai ―dingin‖. Ia kan mudah bercerita mudah kepada ( banyak ) orang lain halhal yang cukup pribadi tentang dirinya sendiri, dan mengharapkan sikap semcam orang lain pula. Secara tak sadar ia merasa tidak pantas dicintai , merasa tidak pantas mempunyai teman yang akrab. Kompensasinya ialah sikap yag ―hiper‖ dalam hal keafektivan. Rasionalisasinya ialah bahwa kita semua saling mencintai. 3.3.2. Tipe Hipopersonal Ia bertingkah laku secara agak ―dingin‖ dan ―jauh‖ terhadap orang lain tidak mudah didekati pada taraf efektif. Secara tak sadar ia takut pada perasaan efektif didalam dirinya, dan cendrung untuk lari dari persaan tersebut. Kompensasinya ialah komunikasi dengan orang lain secara ―objektif‖ saja. Rasionalisasinya: tidak baiklah (katanya) kalau ada ―keterlibatan emosional‖ dengan orang lain; banyak orang (katanya) kurang matang, kurang dewasa, dalam hal keafektifan: harus berhati-hati. 3.3.3. Tipe Personal Orang betipe ini merasa aman dalm hubungan akrab, dan ia tahu bahwa hubngan yang efektik tidak dapat diadakan dengan banyak orang oleh karena itu dalam hubungannya yang tidak intim dengan orang lain ia mersa aman pula. Ia tidak menderita problem psikis menyangkut keafektifan. Sudah jelaslah bahwa tipe 3.3.1. dan 3.3.2. menderita problem batin yang sama, sehingga tidaklah mengherankan bila ketiga tipe ini dapt saja terwujud dalam orang yang sama, menurut situasi yang beda-beda, si anu dapat saja berpengalaman dan bertingkah laku secara ―personal‖ dengan wanita, tetapi tidak dengan laki-laki; atau sebaliknya (entah si anu itu laki-laki atau perempuan). Orang yang sama dapat menjadi ―Hipo‖ dalam kantor atau pabrik, dan ―Hiper‖ dalam keluarga. 4. Penjelasan lebih terinci Perlu diuraikan lebih lanjut disini tentang kesembilan tipe orang; yaitu, tentang peristilahan; dan tentang tumpang-tindih ketiga bidang kebutuhan psikis itu dalam diri orang yang sama Tentang peristilahaan, yang akan menguntungkan ialah sikap praktis. Bila yang ―personal‖ dirasa tidak terlalu ―umum‖ atau ―abstrak‖, tentunya istilah lain

xlv

dapat saja dirasa lebih ―tepat‖. Misalnya, istilah ―efektif‖ dapat menggantinya. Dengan demikian kita dapat memakai istilah ―Hiperafektif‖, ―Hipoafektif‖ , dengan istilah ―Afektif‖ untuk yang ― Normal‖. Dibidang ―penguasaan‖, istilah ―abdikratis‖ dicetuskan Schutz atas dasar kata Inggris Abdicate, yang artinya ialah ―Turun takhta‖; jadi seorang ―abdikrat‖ adalah orang yang tidak menyukai kedudukan pemimpin bagi dirinya sendiri. (kebetulan kata Indonesia Abdi dapat membantu kita mengingatnya). Selanjutnya, perlu diingat bahwa kata ―Demokrat‖ tidak dipakai Schutz dalam arti politik; yang dibahas bukan dinamik politik dalam system kenegaraan, melainkan dinamisme psikis. Akan tetapi, istilahnya tentuya tepat: orang yang suka ―Demokrasi‖ politik hanya akan berhasil kalau kepribadiannya, secara psikis, adalah ―normal‖ dibidang ―penguasaan‖. Akhirnya, istilah ―Autoriter‖ sering dipakai dalam arti istilah ―Autokratsi‖. Pokok kedua pasal ini ialah masalah tumpang-tindihnya ketiga bidang tersebut. Dari pembedaan tritaraf masing-masing bidang itu sudah jelas bahwa ketiga tipe itu adalah abstrak: orang yang sama dapat menjadi ―Hiper‖/‖Auto‖ dalam satu situasi, ―Hiper‖/‖Abdi‖ dalam situasi lain, dan ―normal‖ dalam situasi lain lagi.demikian pula ketiga bidang kebutuhan itu dengan mudah tumpangtindih dalam orang yang sama. Hal itu nantinya akan menjadi lebih jelas (dalam pasal 4.5 dibawah).atas dasar struktur kepribadian orang; disini cukuplah beberapa contoh. Contohnya perlu karena adanya ―Penyetereotipan‖ orang, dalam pembicaran ―popular‖ tentang kepribadian orang. Misalnya, orang ―Autokratis‖ sering dibayangkan sebagai orang yang ―Dingin‖ juga; jadi, baik ― autokratis‖ (―terlalu‖) maupun ―Hipopersonal‖ (―Kurang‖), apakah hal seperti itu masuk akal? Memang dapt saja terjadi pada orang tertentu. Tetapi sikap ―dingin‖ tidak mutlak termasuk tipe ―Autokratis‖. Tipe itu dapat saja ―Personal’ dibidang keafektifan; malahan dapat terjadi, misalnya sebagai majikan laki-laki untuk bahawan perempuan, bertingkah laku agak dingin terhadap wanita yang ―Hiperpersonal‖ terhadap dirinya diantara pekerjanya. Akan tetapi, banyak majikan Autoriter adalah orang yang simpatik sikapnya; hanya saja ia akan tetap menjalankan tugasnya seakan-akan bawahannya tidak diberi tanggungjawab sifat khas orang autokratis. 5. Penafsiran teoretis terhadap kesembilan tipe ini Apa relevansi ketiga kebutuhan psikologis itu dalam pokok bahasan kita yaitu identitas manusia? Untuk mengupas hal ini dengan lebih mudah, kita lihat bagan dibawah ini. 5.1 Penafsiran psikoanalitis menurut instansi identitas Uraian diatas mudah ditafsirkan menurut teori Freudian tentang ―instansi identitas‖ manusia, yaitu ego, superego, dan id. Derajat ―terlalu‖ diakibatkan oleh kuatnya naluri-naluri yang wadahnya ialah id. Tentunya bagi Freud kekhususannya id ialah libido, yaitu naluri ―seksual‖ (dalam arti yang komprehensif ―seksual‖ seperti ditafsirkan Freud), dan dengan demikian keafektifan (entah ―seksual‖ menurut penafsiran umum,entah dalam arti libido yang lebih luas). Sebaliknya, derajat ―kurang‖ menyatakan pengendalian terhadap nalurinaluri tadi, diakibatkan oleh superego: ―tradisi‖ nilai-nilai,suatu ―tradisi‖ yang

xlvi

terlalu kuat. Baik yang ―terlalu‖ maupun yang ―kurang‖ menyatakan bahwa ego kurang fungsional, kurang berperan dalam mengendalikan id atau superego. Adapun dalam keadaan ―normal‖, ego kuat dan berperanan secara memadai. Kuatnya ego menyatakan tiadanya konflik batin. 5.2 Penafsiran psikoanalitis menurut tahap-tahap”genetic” Di lain pihak, ada penafsiran Freudian yang lain lagi: bidang kebutuhan ―ketermasukan‖, yang ditandai oleh kuatnya unsure ―oral‖ di dalam keperibadian. Tentunya, libido oral, menurut Freud, memberikan bayi kecil sense of belonging yang dibutuhkannya, sehingga ada pada priode hidup kemudian. Tidak mengherankan bila orang dalam semua kebudayaan suka ―merayakan‖ kebersamaannya, dan ketermasukan semua anggota komunitas, dengan makan dan minum bersama-sama: perayaan ―oral‖. Perkembangan kebutuhan penguasaan secara genetic dihubungkan Freud dengan tahap anal, karena keteraturan dalam hal buang air untuk anak kecil merupakan kesempatan pertama untuk konflik dan untuk menantang atau mempengaruhi orangtuanya. Akhirnya, tahap falis secara ―genetic‖ dihubungkan Freud dengan segala macam keintiman antarpribadi, khususnya secara ―diadis‖ (antara dua orang saja), sehingga khususnya bidang kebutuhan keafektifan berakar, secar genetic, dengan konflik pertama yang dialami anak kecil dengan ayah tentang keintiman dengan ibunya. 5.3 Masalah “projeksi” dalam hal “terlalu” dan “kurang” Pada masing-masing derajat ―terlalu‖ dan ―kurang‖ ada juga projeksi. ―projeksi‖ yang dimaksud dalam psikologi ialah: kecenderungan psikis (yang tak sadar) untuk ―menemukan‖ dalam orang lain apa yang merupakan konflik (yang tak sadar) orang yang memprojeksi itu sendiri. Misalnya, bila saya tidak jujur,tetapi kelemahan tersebut tidak saya akui (bahkan dihadapan diri saya sendiri) dan saya represikan ke dalam yang tak sadar, saya akan dengan mudah sekali mengandaikan bahwa orang lainlah yang tidak jujur. Kita periksa kasus orang yang hipersosial. Konflik batin orangnya ialah: ia merasa tidak mempunyai identitas. Lalu ―dirasakan‖ olehnya bahwa orang lainlah yang tidak memiliki identitas kecuali kalau ditemani; maka ditemaninyalah orang lain itu. Orang hipososial menekankan perlunya ―privacy‖, dan orang lain yang tidak menyegani kebutuhannya akan privacy itu akan dibayangkan sebagai orang yang tidak menghargai privacy sendiri, oleh karena itu merekalah yang dibayangkan kurang identitasnya. Orang autokratis konflik batinnya ialah: ―merasa‖ tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu ia akan membayangkan bahwa orang lainlah yang tidak bertanggung jawab, sehingga mereka perlu dipimpin. Maka dipimpinlah mereka itu. Orang abdikratis menderita konflik batin yang sama, tetapi projeksinya lain: hampir semua orang tidak bertanggung jawab sehingga perlu dipimpin. Akhirnya, orang hiperpersonal menderita konflik batin sedemikian rupa sehingga ―merasa‖ tidak pantas dicintai. Maka ―kemiskinan batin‖ itu diprojeksikan kepada orang lain, dan merekalah yang dikhayalkan sebagai orang yang membutuhkan perhatian efektifnya. Sebaliknya, konflik batin yang sama

xlvii

menyebabkan orang hiperpersonal memprojeksikan kepada orang lain perlunya menghindari ―keterlibatan emosional‖. 5.4 Perbandingan teori Schultz dengan acaran Freud, Adler, Jung Ketiga ahli ―psikologi batin‖ Freud, Adler, dan Jung tampaknya dapat menjelaskan pula pembagian menurut Schultz. Maklum, pembagian orang atas yang ―ekstravert‖ dan ―introvert‖ menurut Psikologi Jung amat sesuai dengan kebutuhan social (atau ketermasukan) dalam teori Schutz: orang ekstravert adalah hiper-; orang introvert adalah hipo-. Menurut Adler, yang paling menentukan dalam hidup psikis manusia adalah kekuasaan terhadap orang lain. Akhirnya, keafektifan menyangkut libido yang menjadi dasar untuk psikoanalisis Freud.

xlviii

BAB V LOGOTERAPI SEBAGAI TEORI KEPRIBADIAN Pada umumnya sebuah teori kepribadian mencakup pokok-pokok bahasan mengenai landasan teoretis dan orientasinya, yaitu apakah pendekatan dengan orientasi masa lalu. teori behavioral yang mementingkan masa kini. atau wawasan eksistensial yang menganggap cita masa depan sangat berperan dalam perkembangan kepribadian. Teori kepribadian membahas pula determinan kepribadian, yaitu bawaan (genetik), kondisi psikis, dan situasi sosial-budaya yang selalu saling berkaitan dan pengaruh-memengaruhi. Dalam hal ini ada teori kepribadian yang merujuk pada satu unsur tunggal yang dominan dan ada yang merujuk pada aneka faktor yang memengaruhi perkembangan kepribadian. Sementara itu, interaksi antara sesama pribadi dan lingkungan sekitarnya yang menandakan proses penyesuaian diri dan perkembangan pribadi juga merupakan bahasan penting. Bahasan penting lain adalah citra kepribadian ideal, yaitu karakteristik manusia yang telah mengembangkan secara optimal berbagai potensi dirinya. Tentu saja dibahas pula hal sebaliknya, yaitu penyimpangan, kendala, dan hendaknya yang menghambat pengembangan dan penyesuaian diri seseorang dalam kehidupan sosial. Hal ini biasanya berkaitan dengan pembahasan, khusus mengenai kondisi patologi kepribadian. Mengamati bahwa logoterapi sejauh ini sudah dikembangkan dalam berbagai kehidupan dan keilmuan, timbul pertanyaan apakah logoterapi juga sudah dikembangkan secara khusus sebagai teori kepribadian? William Sahakian, Seorang pakar ternama psikologi kepribadian, menyatakan bahwa sebenarnya belum ada cari kepribadian yang mantap berlandaskan asasasas logoterapi, tetapi menurutnya logoterapi secara potensial sangat besar kemungkinannya untuk dikembangkan sebagai sebuah teori kepribadian. Selanjutnya Sahakian menyatakan bahwa dalam teori kepribadian ini secara khas faktor hasrat untuk hidup bermakna (the will to meaning) sebagai motivasi utama manusia harus dijadikan Inti dari seluruh wacana teori keperibadian. penulis sangat setuju dengan pendapat Sahakian ini mengingat sejauh ini di lingkungan logoterapi telah dikembangkan secara mantap filsafat mengenai manusia, konsep, dan asas-asas serta teori ilmiah, metode pangembangan pribadi dan teknik-teknik terapi yang semuanya merupakan landasan kuat untuk secara eksplisit mengembangkan sebuah teori kepribadian dengan landasan logoterapi. Berdasarkan kajian mengenai logoterapi penulis akan mengemukakan gambaran umum, prinsip dan struktur serta karakteristik logoterapi sebagai teori kepribadian. Merujuk kepada pokok-pokok bahasan yang biasanya diungkapkan dalam teori-reori kepribadian, Logoterapi sebagai teori kepribadian dapat digambarkan secara singkat dan menyeluruh sebagai berikut. Landasan teori kepribadian logoterapi bercorak eksistensial-humanistik. Artinya logoterapi mengakui manusia sebagai makhluk yang memiliki kebebasan berkehendak, sadar diri, dan mampu menentukan apa yang terbaik bagi dirinya sesuai dengan julukan kehormatan bagi manusia sebagai the self determining

xlix

being. Selain itu manusia memiliki Kualitas-kualitas insani (human qualities), yakni berbagai potensi, kemampuan, bakat, dan sifat yang tidak terdapat pada makhluk-makhluk lain, seperti kesadaran diri, transendensi diri, memahami dan mengembangkan diri, kebebasan kemampuan menilai diri sendiri dan orang lain, spiritualitas dan religiusitas, humor dan tertawa, etika dan rasa estetika, nilai dan makna, dan sebagainya. Semuanya secara potensial terpatri dalam dirinya sejak awal kehidupan sebagai potensi dan kualitas-kualitas yang khas manusia. Logoterapi—sesuai dengan makna logos yang berarti spirituality (kerohanian) dan meaning (makna)—mengakui adanya dimensi kerohanian di samping dimensi ragawi dan kejiwaan serta meyakini bahwa kehendak untuk hidup bermakna (the will to meaning) merupakan motivasi utama setiap manusia. Dalam hal ini makna hidup (the meaning of life) adalah tema Sentral logoterapi dan hidup yang bermakna (the meaningful life) adalah motivasi, tujuan, dan dambaan yang harus diraih oleh setiap orang. Dengan demikian, terdapat satu faktor tunggal sebagai inti seluruh teori kepribadian model Logoterapi, yaitu makna hidup. Dari tema sentral makna hidup ini Struktur teori kepribadian model Logoterapi dibangun. Dengan demikian, teori kepribadian ini bukan berorientasi masa lalu (past oriented) seperti halnya psikodinamik atau kini-dan-di-sini(here and now) seperti pada pandangan behavioral, melainkan berorientasi pada masa mendatang (future oriented) karena makna hidup harus ditemukan dan hidup yang bermakna harus benar-benar secara sadar dan sengaja dijadikan tujuan, diraih, dan diperjuangkan. Di lingkungan Psikologi kon-temporer seakan-akan terdapat kesepakatan bahwa yang menentukan kepribadian dan tingkah laku manusia pada umumnya adalah unsur-unsur ragawi kejiwaan, dan lingkungan sosial-budaya. Di lingkungan Psikiatri Indonesia hal ini dikenal sebagai trideterminan organobiologi. Psiko-edukatif, dan sosial-kultural. Dengan demikian, manusia dapat digambarkan secara ringkas dan komprehensif sebagai unitas dimensi-dimensi bio-psiko-sosiokultural. Bila di perhatikan gambaran tersebut sama sekali tidak memasukkan spiritualitas sebagai determinan kepribadian. Mungkin alasannya spiritualit as secara implisif sudah tercakup dalam dimensi kejiwaaan atau terlalu abstrak dan sulit diukur atau dianggap termasuk bidang teologi dan bukan telaah Psikologi." Logoterapi menggambarkan manusia sebagai kesatuan yang terdiri dari dimensi-dimensi somatis (ragawi). psikis (kejiwaan), dan spiritual (kerohanian): unitas bio-psikospiritual. Hal penting dan orisinal pada logoterapi adalah secara eksplisit memasukkan spiritualitas sebagai salah satu determinan dalam sistem dan struktur kepribadian. Namun, di lain pihak Viktor Frankl tidak secara eksplisit memasukkan unsur sosial-budaya sebagai determinan kepribadian. Di duga unsur ini dianggap secara implisit terangkum dalam dimensi kejiwaan. Mengingat besarnya pengaruh kondisi lingkungan sosial dan nilai-nilai budaya pada perkembangan kepribadian manusia, dalam bahasa ini penulis secara eksplisit menggambarkan manusia sebagai kesatuan utuh dari dimensi-dimensi bio-psikososiokultural spiritual yang telah terpisahkan selama manusia hidup. Struktur teori kepribadian model logoterapi terdiri dari unsur-unsur

l

internal, eksternal, dan transendental yang saling berkaitan dan pengaruhmempengaruhi. Unsur internal adalah seluruh potensi (antara lain bakat dan kemampuan), sarana (raga, jiwa, rohani), dan daya-daya pribadi (antara lain insting, daya pikir, emosi), kualitas-kualitas insani (human qualities), dan kehendak untuk hidup bermakna (the will to meaning) serta kemampuan menentukan apa yang terbaik bagi dirinya (the self determining being) yang ada pada diri manusia. Unsur eksternal yang berpengaruh pada perkembangan kepribadian adalah kondisi lingkungan alam sekitar dan situasi masyarakat serta norma-norma dan nilai-nilal sosial budaya, yang berlaku di tempat seseorang menjalani kehidupan sehari-hari. Unsur transendental adalah kemampuan manusia untuk mengatasi kondisi kehidupan saat ini dan menentukan apa yang diidam-idamkan dengan memanfaatkan daya-daya imajinasi, will power, kemampuan merencanakan, dan menetapkan tujuan, serta mengambil sikap baru atas kondisi (tragis) saat ini. A. Logoterapi sebagai Teori Kepribadian Kerangka pikir teori kepribadian model logoterapi dan dinamika kepribadiannya dapat digambarkan secara ringkas sebagai berikut: Setiap orang selalu mendambakan kebahagiaan dalam hidupnya. Dalam pandangan Logoterapi kebahagiaan itu ternyata tidak terjadi begitu saja, tetapi merupakan akibat sampingan dari keberhasilan seseorang memenuhi keinginannya untuk hidup bermakna (the will to meaning). Mereka yang berhasil memenuhinya akan mengalami hidup yang bermakna (meaningful life), dan ganjaran (reward) dari hidup yang bermakna adalah kebahagian (happiness). Di lain pihak mereka yang tak berhasil memenuhi motivasi ini akan mengalami kekecewaan dan kehampaan hidup serta merasakan hidupnya tidak bermakna (meanningless). Selanjutnya akibat dari penghayatan hidup yang hampa dan tak bermakna yang berlarut-larut tidak teratasi dapat menjelmakan gangguan neurosis (noogenic neurosis), dan mengembangkan karakter-karakter totaliter (totalitarianism), dan konformis (conformism). B. Penghayatan Hidup Tanpa Makna. Dalam kehidupan seseorang mungkin saja hasrat untuk hidup secara bermakna ini tidak terpenuhi, antara lain karena kurang disadari bahwa dalam kehidupan sendiri dan pengalaman masing-masing orang terkandung makna hidup yang potensial yang dapat ditemukan dan dikembangkan. Selain itu mungkin pula pengetahuan mengenai prinsip-prinsip dan teknik-teknik menemukan makna hidup belum dikuasainya. Ketidakberhasilan menemukan dan memenuhi makna hidup biasanya menimbulkan penghayatan hidup tanpa makna (meaningless), hampa, gersang, merasa tak memiliki tujuan hidup, merasa hidupnya tak berarti„ bosan, dan apatis. Kebosanan adalah ketidakmampuan seseorang untuk membangkitkan minat, sedangkan apatis merupakan ketidakmampuan untuk mengambil prakarsa. Penghayatan-penghayatan seperti digambarkan di atas mungkin saja tidak terungkap nyata, tetapi menjelma dalam berbagai upaya kompensasi dan kehendak yang berlebihan untuk:berkuasa (the will to power), bersenang-senang mencari

li

kenikmatan (the will to pleasure) termasuk kenikmatan seksual (the will to sex), bekerja (the will to work), dan mengumpulkan uang (the will to money). Dengan kata lain, dalam perilaku dan kehendak yang berlebihan itu biasanya tersirat penghayatan-penghayatan hidup tanpa makna. Sehubungan dengan penghayatan hidup tanpa makna ini para ahli logoterapi berpandangan bahwa kurang berfungsinya naluri (dan intuisi) serta memudarnya nilai-nilal tradisi (dan agama) pada orang-orang modern merupakan hal-hal yang menyuburkan penghayatan itu, di samping kurang disadarinya bahwa kehidupan itu sendiri secara potensial mengandung dan menawarkan makna kepada mereka. Walaupun penghayatan hidup tanpa makna ini bukan merupakan suatu panyakit, tetapi dalam keadaan intensif dan berlarut-larut tak diatasi dapat menjelmakan neurosis noogenik, karaktar totaliter, dan karakter konformis. Neurosis Noogenik merupakan suatu gangguan perasaan yang cukup menghambat prestasi dan penyesuaian diri seseorang. Gangguan ini biasanva tampil dalam keluhankeluhan serba bosan, hampa dan penuh keputusasaan, kehilangan minat dan inisiatif, serta merasa bahwa hidup ini tidak ada artinva sama sekali. Kehidupan sehari-hari dirasakan sangat rutin, dari itu ke itu saja tanpa adanya perubahan, bahkan tugas sehari-hari pun ditanggapi sebagai hal-hal yang menjemukan dan menyakitkan hati. Kegairahan kerja dan kesediaan untuk bekerja menghilang disertai perasaan seakan-akan dirinya tak pernah mencapai kemajuan apa pun dalam hidup, bahkan prestasi-prestasi yang pernah dicapai dirasakan tak ada harganya sama sekali. Sikap acuh tak acuh berkembang dan rasa tanggung jawab terhadap diri Sendiri dan lingkungannya seakan-akan menghilang. Lingkungan dan keadaan di luar dirinya ditanggapi sebagai hal-hal yang benar-benar membatasi dan serba menentukan dirinya, dan ia tak berdaya menghadapinya. Sama sekali tak disadari bahwa dalam kondisi bagaimanapun seseorang sebenarnya masih dapat menentukan sendiri apa yang paling baik bagi dirinya. Tak jarang kelahiran dan kehadiran di dunia ini pun dipertanyakan. Mengapa aku harus dilahirkan ke dunia ini? Dalam hal ini sering pula kelahirannya sendiri disesalinya. Sehubungan dengan itu sikap terhadap kematian justru ambivalen. di satu pihak merasa takut dan ―tidak siap‖ mati, tetapi di lain pihak sering beranggapan bahwa bunuh diri merupakan jalan terbaik untuk keluar dari kehidupan yang serba hampa. Hidup enggan, mati tak mau. Motto hidupnya: ―Aku salah dan Kamu pun tidak benar. Aku serba salah.‖ Karakter Totaliter adalan gambaran pribadi dengan kecenderungan untuk memaksakan tujuan, kepentingan, dan kehendaknya sendiri dan tidak bersedia menerima masukan dari orang lain. Penolakan pada berbagai masukan orang lain dapat berbentuk penolakan secara langsung atau kelihatannya menampung, tetapi kemudian mengabaikannya. Lebih-lebih bila masukan itu berbeda dengan pandangannya. Namun sebaliknya, bila sesuai dengan kepentingannya, masukan itu diam-diam akan dimanfaatkan dan dinyatakan sebagai pemikiran pribadi. Pribadi totaliter sangat peka kritik dan biasanya akan menunjukkan reaksi menyerang kembali secara keras dan emosional. Ancaman dan pamer kekuasaan merupakan alas dari pribadi totaliter untuk meraih tujuan. Dalam hal ini mungkin saja ia sangat efisien dan efekfif dalam bekerja dan menggerakkan orang-orang lain, tetapi orang-orang sekitarnya secara diam-diam menunjukkan

lii

ketidaksukaan dengan jalan menggunjingkannya atau menjadikannya bahan olok-olok. Kekecewaan dan kehampaan eksistensial yang berawal dari gagalnya menemukan makna hidup dan memenuhi hasrat untuk hidup bermakna menimbulkan parasaan tidak nyaman dan tidak aman serta ketidakpastian yang cukup intensif dan mengancam harga dirinya. la menganggap lingkungan sekitar tidak dapat dijadikan pegangan sebagai sumber rasa aman dirinya. Oleh karena itu, ia mengambil keputusan untuk mengabaikan lingkungan dan berusaha menjadikan dirinya sendiri sebagai satu-satunya andalan. Hal ini dilakukan dengan jalan menetapkan secara eksklusif dan fanatic nilai-nilai tertentu (misalnya ideology, profesionalisme), kegiatan (proyek, sosial). kepentingan (bisnis, karier), dan keinginannya (kaya raya, popularitas) yang ditetapkannya sendiri dan dengan ketat dijaganya dari pengaruh dan kritik dari orang lain. pribadi totaliter ini benar-benar mengidentifikasikan sepenuhnya dan menganggap dirinya identik dengan nilainilai kepentingan, dan keinginan itu. Dapat dimengerti bila pribadi totaliter sangat peka terhadap kritik, karena setiap kritik (sekalipun tertuju pada pekerjaan misalnya) akan ditanggapi sebagai serangan langsung pada dirinya. Motto hidup pribadi totaliter adalah ―Aku benar dan Kamu salah. Semau aku.‖ Karakter komformis adalah gambaran pribadi dengan kecenderungan kuat untuk selalu berusaha mengikuti dan menyesuaikan diri kepada tuntutan lingkungan sekitarnya serta bersedia pula untuk mengabaikan keinginan dan kepentingan dirinya sendiri. Seperti pada fenomena neurosis noogenik dan karakter totaliter, karakter konformis ini berawal dari kekecewaan dan kehampaan hidup sebagai akibat tidak berhasilnya memenuhi motivasi utama, yaitu hasrat untuk hidup bermakna. Kondisi ini jelas menimbulkan penghayatan tidak aman dan tidak nyaman serta ketidakpastian dalam kehidupannya. Dan tentu saja ia berusaha untuk menyeimbangkan kembali dirinya. Bagaimana caranya? Perbebaan dari karakter totaliter yang memutuskan untuk menjadikan dirinya sendiri sebagai sumber rasa aman, karakter konformis menjadikan norma, nilainilai dan tuntunan lingkungan sebagai andalan dan pedoman hidupnya. Tak mengherankan bahwa ia selalu tunduk dan taat pada tuntutan lingkungan dan bersedia untuk mengabaikan kepentingan, kehendak, dan pemikiran sendiri. Pribadi konformis terkesan sebagai pribadi yang mudah sekali terpe ngaruh oleh situasi dan kondisi sosial mulai dari pemikiran, sikap, pendirian, gaya hidup, dan cara penampilan diri. Ia merasa tak nyaman kalau berbeda dengan kebanyakan orang serta sensitif dan cemas terhadap penilaian orang. ―Apa kata orang nanti?‖ seakan-akan menjadi pedoman tingkah lakunya. Motto hidup karakter konformis. ―Aku salah dan kamu benar. Aku ikut kamu saja.‖ Dalam tataran logoterapi, neurosis noogenik, karakter totaliter, dan karakter konformis dianggap sebagai gambaran dan bentuk-bentuk patologi kepribadian. Penghayatan Hidup Bermakna Berlainan dengan penghayatan hidup tak bermakna, mereka yang menghayati hidup bermakna menunjukkan corak kehidupan penuh semangat dan gairah hidup serta jauh dari perasaan hampa dalam menjalani kehidupan seharihari. Tujuan hidup, baik tujuan jangka pendek maupun jangka panjang, jelas bagi

liii

mereka, dengan demikian, kegiatan-kegiatan mereka pun menjadi lebih terarah serta merasakan sendiri kemajuan-kemajuan yang telah mereka capai. Tugas-tugas dan pekerjaan sehari-hari bagi mereka merupakan sumber kepuasan dan kesenangan tersendiri sehingga dalam mengerjakannya pun mereka lakukan dengan bersemangat dan bertanggung jawab. Hari demi hari mereka temukan aneka ragam pengalaman baru dan hal-hal menarik yang semuanya akan menambah kekayaan pengalaman hidup mereka. Mereka mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, dalam arti menyadari pembatasan-pembatasan lingkungan, tetapi dalam ke terbatasan itu mereka tetap dapat menemukan sendiri apa yang paling baik mereka laku-kan serta menyadari pula bahwa makna hidup dapat ditemukan dalam kehidupan itu sendiri, betapapun buruk keadaannya. Kalaupun mereka pada suatu saat berada dalam situasi yang tak menyenangkan atau mereka sendiri mengalami penderitaan, mereka akan menghadapinya dengan sikap tabah serta sadar bahwa senantiasa ada hikmah yang ―tersembunyi‖ di balik penderitaannya itu. Tindak bunuh diri sebagai jalan keluar dari penderitaan berat sekalipun sama sekali tak pernah terlintas dalarn pikiran mereka. Mereka benarbenar manghargai hidup dan kehidupan karena mereka menyadari bahwa hidup dan kehidupan senantiasa menawarkan makna yang harus mereka penuhi. Bagi mereka kemampuan untuk menentukan tujuan-tujuan pribadi dan menemukan makna hidup merupakan hal yang sangat berharga dan tinggi nilainya serta merupakan tantangan untuk memenuhinya secara bertanggung jawab. Mereka mampu untuk mencintai dan menerima cinta kasih orang lain, serta menyadari bahwa cinta kasih merupakan salah satu hal yang menjadikan hidup ini bermakna. Mereka orang-orang yang benar-benar menghayati bahwa hidup dan kehidupan mereka bermakna. Motto hidup mereka ―Raih makna dengan do’a, karya dan cinta.‖ Dari gambaran di bawah nyatalah bahwa penghayatan hidup bermakna merupakan gerbang ke arah kepuasan dan kebahagiaan hidup. Artinva hanya dengan memenuhi makna-makna potensial yang ditawarkan oleh kehidupanlah pengnayatan hidup bermakna tercapai dengan kepuasan dan kebahagiaan sebagai ganjarannya. Meraka yang menghayati hidup bermakna benar-benar tahu untuk apa mereka hidup dan bagaimana mereka menjalani hidup? Dalam tataran logoterapi, pribadi yang hidupnya bermakna (meaningful life) dianggap sebagai gambaran kepribadian ideal.

liv

DAFTAR PUSTAKA Bastaman, H.D. 2007. Logoterapi, Psikologi untuk menemukan makan hidup Dan meraih hidup bermakna. Jakarta: Rajawali pers Duana Schultz, 1993. Psikologi Pertumbuhan, Model-Model Kepribadian yang Sehat. Yogyakarta: Kanisius Suryabrata, S. 2006. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Rajawali Pers Verhaar, John W.M. 1993. Identitas Manusia menurut Psikologi dan Psikiateri Abad Ke -20. Yogyakarta : Kanisius

lv

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->