P. 1
Ragam Tari Tradisional Indonesia

Ragam Tari Tradisional Indonesia

|Views: 38|Likes:
Published by Shodiq Thefajars
http://the-fajars.blogspot.com/
http://www.gate-village.blogspot.com/
http://vilem-21.blogspot.com/
http://puisi-tasawuf.blogspot.com/
http://the-fajars.blogspot.com/
http://www.gate-village.blogspot.com/
http://vilem-21.blogspot.com/
http://puisi-tasawuf.blogspot.com/

More info:

Published by: Shodiq Thefajars on Jul 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/23/2012

pdf

text

original

Ragam Tari Tradisional Indonesia

Indonesia adalah bangsa yang kaya akan budaya, terbukti tari tradisional di setiap daerah di Indinesia. Di antara tari tradisioanal tersebut banyak di antaranya telah go internasional karena seringnya tampil di event-event kesenian internasional, seperti Tari Saman dari Aceh, Tari Kecak dari Bali atau Tari Giring-giring dari Kalimantan. Namun apakah Anda tahu apakah yang dimaksud dengan tari tradisional itu? Tari tradisional adalah gerakan anggota badan yang berirama, biasanya diiringi bunyi-bunyian, dilakukan secara turun temurun sehingga menjadi adat kebiasaan. Dilihat dari maknanya, seni tari tradisional memiliki filosofi yang sangat tinggi, bukan hanya sekadar menggerakkan anggota badan. Sejak zaman dahulu, nenek moyang kita sudah mencontohkan bagaimana menyampaikan pesan atau nasihat tidak sebatas kata-kata, namun bisa juga disampaikan melalui nyanyian maupun tarian. Mempelajari tiap gerakan tari tradisional pun dimaknai sebagai bagian dari penghambaan yang total kepada Sang Maha Kuasa dan pengabdian kepada Tanah Air. Mempelajari tari tradisional seperti menjelajahi waktu di masa lampau. Mencoba menyelami jalan pikiran nenek moyang kita tentang bagaimana mereka memaknai kehidupan. Tari Tradisional Dilihat dari Fungsinya Tari tradisional biasanya memiliki fungsi sebagai berikut. 1. Tari Tradisional dan Fungsinya - Sarana Upacara Ciri-ciri gerakan tari tradisional ini adalah iringan musik dan gerakan tarian dilakukan beruangulang atau monoton. Suasananya dikondisikan magis, religius, dan sakral gerakan tarian mengekspresikan perasaan jiwanya atau imitatif. Tarian dilakukan secara berkelompok dengan pola lantai yang sederhana. Contoh tarian ini adalah: a. Tari Tradisional sebagai Sarana Upacara - Tari Bedhaya Ketawang dari Surakarta Tari tradisional ini amat disakralkan dan hanya digelar sekali dalam setahun. Tarian ini ditujukan untuk penghormatan kepada raja-raja penerus dinasti Mataram. Pencipta tari ini sendiri masih simpang siur. Ada yang menyatakan tarian ini dipersembahkan Kanjeng Ratu Kidul kepada Panembahan Senopati, sehingga gerakan-gerakannya seperti pasangan yang sedang bercumbu rayu. Sumber lain menyebutkan, pencipta tarian ini adalah Sultan Agung, raja terbesar kerajaan Mataram, bersama Kanjeng Ratu Kancanasari. b. Tari Tradisional sebagai Sarana Upacara - Tari Saman dari Aceh Tarian ini berasal dari Suku Gayo, Aceh. Tari Saman dipentaskan ketika ada peristiwa-peristiwa penting dalam adat. Lirik dalam senandung tarian saman adalah syair berbahasa Arab dan Gayo. Selain itu, tari tradisional Saman juga kerap dipentaskan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw. Menurut beberapa sumber, tari tradisional khas Aceh ini diciptakan dan dikembangkan oleh seorang ulama di Gayo, Aceh Tenggara bernama Syekh Saman. Sebagai bangsa Indonesia kita patut berbangga, karena Tari Saman masuk dalam daftar Representatif Budaya Takbenda Buatan Manusia dari UNESCO pada tanggal 24 November 2011 di Bali.

c. Tari Tradisional sebagai Sarana Upacara - Tari Pendet dari Bali Tari tradisional ini diperagakan di pura sebagai bentuk pemujaan pada saat upacara keagamaan. Tarian ini bermakna penyambutan atas turunnya para dewa ke alam dunia. Seiring berjalannya waktu, para seniman mengubah seni Tari Pendet ini sebagai tarian ‘Selamat Datang’. 2. Tari Tradisional sebagai Sarana Hiburan Tari tradisional ini tidak dipertontonkan di muka umum, melainkan untuk kepuasan pribadi sehingga tidak mementingkan keindahan. Pada umumnya tarian dilakukan oleh pasangan lakilaki dan perempuan atau secara berkelompok. Agar gerakan tarinya mudah ditiru maka urutan tarian sering diulang-ulang dan sederhana. Suasaananya dikondisikan gembira ria. Berbeda dengan tarian untuk upacara, tari tradisional untuk hiburan biasanya memakai pola lantai menutup. Contoh beberapa tari hiburan: a. Tari Tradisional sebagai Sarana Hiburan - Tari Serampang Dua Belas Tari tradisional yang berasal dari Kesultanan Serdang ini dimainkan secara berpasangan lakilaki dan perempuan. Tarian ini berkisah tentang percintaan muda-mudi yang direstui oleh orang tua kedua belah pihak dan berakhir dengan pernikahan. Pada awalnya, tari tradisional ini diberi nama Tari Pulau Sari oleh penciptanya yaitu Sauti pada 1940-an. b. Tari Tradisional sebagai Sarana Hiburan - Tari Tayub dari Jawa Tengah Tari tradisional ini diperagakan biasanya pada saat syukuran atau selamatan bagi pejabat pemerintah yang mengemban tugas atau jabatan baru, misalnya acara jumenengan (wisuda) atau keberangkatan panglima ke medan perang. c. Tari Tradisional sebagai Sarana Hiburan - Tari Gandrung dari Banyuwangi Gandrung berarti tergila-gila atau cinta habis-habisan. Dengan iringan musik atau gamelan satu orang penari wanita profesional menari bersama para tamu (terutama pria). Tari tradisional ini sangat terkenal di Banyuwangi. Bahkan di berbagai sudut wilayah Banyuwangi Anda akan menemui patung penari gandrung. Tak salah jika Banyuwangi juga dijuluki sebagai kota Gandrung. d. Tari Tradisional sebagai Sarana Hibura - Tari Kethuk Tilu dari Jawa Barat Istilah kethuk tilu berasal dari suara alat musik pengiring tarian yaitu bonang yang dipukul sebanyak 3 kali (tilu dalam bahasa sunda) sebagai birama untuk alat musik pengiring lainnya. Tari tradisional milik Jawa Barat ini adalah tarian pergaulan dan hiburan. Biasanya dipentaskan pada acara perkawinan atau penutupan saat acara-acara besar yang melibatkan orang banyak. 3. Tari Tradisional sebagai Sarana Pertunjukkan Sifat tari tradisional ini cukup spontanitas dan inspiratif. Biasanya dipertontonkan untuk memeriahkan suatu acara tertentu atau menyambut tamu, gerakan tariannya berupa atraksiatraksi sehingga menarik perhatian penonton. Contoh: a. Tari Tradisional sebagai Sarana Pertunjukkan - Tari Piring dari Sumatera Barat Tari tradisional ini dinamakan Tari Piring atau piriang dalam bahasa Minangkabau karena para penarinya melenggak-lenggok sambil membawa piring di kedua tangannya. Pada awalnya merupakan tarian persembahan untuk para dewa pada saat musim panen. Setelah Islam masuk ke Minangkabau, tarian ini dipentaskan saat acara-acara besar kerajaan.

b. Tari Tradisional sebagai Sarana Pertunjukkan - Tari Golek dari Yogyakarta Penciptaan tari tradisional ini bermula saat Sultan Hamengku Buwana IX menyaksikan seorang dalang mementaskan pertunjukan Wayang Golek Menak. Terkesan dengan pementasan tersebut, Sultan kemudian berinisiatif menampilkan Wayang Golek Menak dalam bentuk tarian. Bersama para pakar tari seperti K.R.T. Purbaningrat, K.R.T. Brongtodiningrat, Pangeran Suryobrongto, Sultan merancang gerakan tarian Golek Menak. Proses pembuatan gerakana tari tradisional ini sendiri membutuhkan waktu yang cukup lama. Penampilan perdana dipentaskan pada tahun 1943 saat memperingati hari ulang tahun sultan. c. Tari Tradisional sebagai Sarana Pertunjukkan - Tari Gambyong dari Surakarta Nama tari tradisional ini diambil dari nama seorang penari taledhek yang terkenal pada zaman Sultan Paku Buwana IV Surakarta. Karena kelihaiannya menari dan menyanyi, Gambyong sangat dipuja terutama olah kaum pria pada zaman itu. Saat ini tari tradisional Gambyong biasanya dipentaskan untuk acara penyambutan tamu atau resepsi pernikahan. Penarinya adalah para gadis yang berparas cantik. Sebagai pagelaran seni tradisional, Tari Gambyong pantas dijadikan obyek wisata seni budaya karena secara keseluruhan gerakannya sangat estetis. d. Tari Tradisional sebagai Sarana Pertunjukkan - Tari Ngremo dari Jawa Timur Pada mulanya tari tradisional ini dipentaskan sebagai pengantar pertunjukkan ludruk dan mengisahkan perjuangan seorang pangeran di medan laga. Akan tetapi dalam perkembangannya, tarian ini dipentaskan secara terpisah serta lebih banyak dimainkan oleh kaum perempuan, sehingga menampilkan banyak gaya tarian baru yaitu Ngremo gaya perempuan/Remo Putri. Tarian ngremo dipertunjukkan pada saat acara resmi kerajaan maupun penyambutan tamu. Untuk saat ini, fungsi tari tradisional ini untuk upacara dan hiburan sudah mengalami perubahan menjadi tari pertunjukkan. Perkembangan Tari Tradisional Saat Ini Seperti halnya perkembangan seni-seni tradisional pada umumnya, seni tari tradisional berusaha untuk tetap eksis dan mengikuti perkembangan zaman sehingga tidak dilupakan oleh bangsanya sendiri. Beberapa tarian terus berkembang dan hingga saat ini tetap menjadi seni pertunjukan, sebut saja Tari Sahyang dan Tari Legong Keraton di Bali. Berikut beberapa hal yang perlu kita cermati bersama agar keberlangsungan tari tradisional tetap bestari:

Mengemas pementasan tari tradisional dengan menarik. Mementaskan seni tari melalui pasar-pasar seni, festival, museum dan yayasan seni. Di negara lain banyak dipentaskan seni tari tradisional untuk kegiatan festival, untuk itu perlu dibentuk lembaga-lembaga khusus yang menangani pagelaran seni tari untuk acaraacara festival. Tersedianya database yang memadai tentang tarian tradisional di seluruh Indonesia. Mengutamakan kebutuhan dan selera masyarakat untuk memasarkan produk seni tari tradisional.

 

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->