54

BAYI BERAT LAHIR RENDAH
NO DOKUMEN
SOP/PEL-MDK/023
NO REVISI
00
HALAMAN
1/4
TANGGAL TERBIT
5 Januari 2010
DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR




dr. E. Trisno Susilo

Pengertian Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir
kurang dari 2500 g (berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang
dalam 1 jam setelah lahir).
Ada 2 macam BBLR
- Bayi kurang bulan (KR); bayi yang dilahirkan dengan
umur kehamilan 37 minggu
- Bayi kecil masa kehamillan (KMK) ; bayi yang dilahirkan
dengan berat badan lahir kurang dari persentil ke-10 kurva
pertumbuhan janin dari battaglia dan lubchenko
- Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR) : Berat Lahir 1500
g
- Bayi berat lahir ekstrim rendah (BBLER) : berat lahir 1000
g
Masalah pada BBLR
a. Belum dapat mempertahankan suhu normal, karena :
- Pusat pengatur suhu badan masih dalam perkembangan
- Cadangan energi sangat kurang (glikogen di jaringan dan
lemak coklat di subkutan sedikit)
- Permukaan tubuh relatif lebih luas, sehingga resiko
kehilangan panas dan air relatif besar)
- Jaringan lemak subkutan lebih tipis, sehingga resiko
kehilangan panas melalui kulit lebih besar)
b. Nutrisi
- Refleksi isap dan menelan belum sempurna
- Pada pemberian minum peroral mudah kembung, otot
dinding perut masih lemah, otot saluran pencernaan masih
lemah
- Malas minum, berat badan tak bertambah untuk waktu
cukup lama
- Pertahanan tubuh lebih rendah sehingga rentan terhadap
infeksi
- Fungsi organ belum baik (terutama umur kehamilan 35
minggu), misalnya sistem pernapasan, saluran cerna, hati,
ginjal, metabolisme dan kekebalan.






55




BAYI BERAT LAHIR RENDAH
NO DOKUMEN
SOP/PEL-MDK/023
NO REVISI
00
HALAMAN
2/4
TANGGAL
TERBIT
5 Januari 2010
DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR




dr. E. Trisno Susilo

Pengertian Masalah klinis yang sering dijumpai
- Masalah pada pernapasan misalnya sindrom distres
respirasi/SDR, pendarahan paru, sindrom aspirasi,
pneumonia, kongenital, pneumotoraks, apneu pada
pernapasan pada bayi baru lahir
- Sepsis neonatorum
- Anemia, perdarahan, anemia, perdarahan dan koagulasi
intravaskular
- Awasi adanya kelainan bawaan
Prosedur Tatalaksana
a. Sebelum lahir
- Mencegah kelahiran kurang bulan dengan mengurangi faktor-
faktor resiko terjadinya BBLR
- Pemberian tokolitik pada persalinan kurang bulan (salbutamol,
terbutalin)
- Pemberian kortikosteroid pada ibu, jika diperkirakan akan terjadi
kelahiran kurang bulan, untuk mempercepat pematangan paru
janin (betametason 12 mg/kg bb dibagi dalam 2 dosis i.m
selama 2-3 hari)
b. Selama persalinan
- Menghindari kemungkinan dampak persalinan kurang bulan,
misal persiapan petugas dan perlengkapan resusitasi di kamar
bersalin ataupun kamar operasi

















56




BAYI BERAT LAHIR RENDAH
NO DOKUMEN
SOP/PEL-MDK/023
NO REVISI
00
HALAMAN
3/4
TANGGAL
TERBIT
5 Januari 2010
DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR




dr. E. Trisno Susilo

Prosedur - Pada keadaan yang sudah diperkirakan akan terjadi persalinan
kurang bulan sebaiknya dikirim ke fasilitas kesahatan yang
mempunyai fasilitas yang lengkap
- Resusitasi dan stabilitas dengan pencernaan yang tepat untuk
menghindari masalah yang sering terjadi
- Oksigen dan sumber panas untuk menjaga suhu tubuh bayi akan
memberi hasil yang baik
c. Setelah lahir
Umum :
- Membersihkan jalan napas
- Mengusahakan napas pertama dan seterusnya
- Perawatan tali pusat dan perawatan mata
Khusus :
- Suhu tubuh dijaga/dipertahankan pada suhu aksila 36,5 C – 37,
5 C ; bayi baru lahir dengan umur kehamilan 35 minggu perlu
perhatian ketat ; bayi dengan berat lahir < 2000 g dimasukan
inkubator atau boxs kaca dengan lampu. Pada BBLR yang
sudah stabil dilakukan perawatan bayi lekat
- Oksigen dengan head box/ nasal/CPAP/ oksigen inkubator
ataupun ventilator disesuaikan dengan masalah pernapasan.
- Pada bayi kecil yang keadaan umumnya tidak baik, sering
diperlukan volume expander dan komponen darah. Awasi
keseimbangan cairan, jaga jangan sampai kurang atau berlebih.
Dopamin 5-8 g/kgbb/menit sering diperlukan untuk
mempertahankan perfusi jaringan eksresi urin dan mencegah
asidosis metabolik.
Pemeriksaan penunjang
- Tes kocok (shake test)
- Darah rutin, glukosa darah, k/p elektrolit, analisis gas darah
- Foto rontgen dada atau babygram diperlukan pada bayi baru
lahir dengan umur kehamilan kurang bulan dimulai pada umur
8 jam atau jika didapat/ diperkirakan akan terjadi SDR
- USG kepala terutama pada bayi dengan umur kehamilan 35
minggu, dimulai pada umur 2 hari dan dilanjutkan sesuai yang
didapat
Pemantauan
- Pernapasan, denyut jantung dan suhu tubuh, perfusi jaringan
dipantau ketat terutama pada bayi dengan berat lahir 2000 g.
- Berat badan tiap hari, panjang badan dan lingkar kepala setiap
minggu

57




BAYI BERAT LAHIR RENDAH
NO DOKUMEN
SOP/PEL-MDK/023
NO REVISI
00
HALAMAN
4/4
TANGGAL TERBIT
5 Januari 2010
DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR




dr. E. Trisno Susilo

Prosedur - Perkembangan, k/p pemeriksaan USG kepala, fisioterapi ;
Pada umur 4 minggu konsultasi ke dokter spesialis mata untuk
kemungkinan adanya retinopathy of prematurit.
Tatalaksana penyulit
Disesuaikan dengan penyulit yang mungkin timbul, yaitu:
- Sindrom distress respirasi/SDR
- Kelainan SSP (perdarahan peri-intraventrikuler, kejang)
- Kejang
- Hiperbilirubinemia
Untuk kemungkinan anemia yang terjadi pada BBLR, setelah hari
ke 14 berikan pulvis :
- Asam folat 2-3 mg/kg bb/hari
- Fe fumarat 5-10 mg/ kg bb/hari
- Vitamin B12 10 mg/ hari diberikan 1 kali sehari, selama 1
bulan k/p konsul mata
Pemantauan jangka panjang (rawat jalan)
- Sesudah pulang hari ke 2, 10, 20, 30 dilanjutkan setiap
bulan
- Hitung umur koreksi
- Pertumbuhan : berat badan, panjang badan, lingkar kepala
- Tes perkembangan, denver development screening test
(DDST)
- Awasi adanya kelainan bawaan
- Mata : cek apakah ada retinopathy of prematurity (ROP)
dimulai pada umur 6 minggu di mulai pada waktu rumah
sakit. Jika hasil abnormal, diteruskan pemeriksaan ulang.
Pemeriksaan ulang pada semua BBLR pada umur 12 dan24
bulan.
Masalah jangka panjang
- Gangguan perkembangan
- Gangguan pertumbuhan
- Retinopati karena prematuritas
- Penyakit paru kronik
- Kenaikan angka kesakitan dan sering masuk rumah sakit
- Kenaikan frekuensi kelainan bawaan
Unit terkait Dokter





58





HIPOTERMIA PADA BAYI BARU LAHIR
NO DOKUMEN
SOP/PEL-MDK/024
NO REVISI
00
HALAMAN
1/1
TANGGAL TERBIT
5 Januari 2010
DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR




dr. E. Trisno Susilo

Pengertian Hipotermia pada bayi baru lahir adalah penurunan suhu tubuh
samapi dibawah 36,5 C (Normal 36,5 – 37,5 C). BBLR ,
terutama prematur mempunyai resiko terjadinya hipotermia karena
jaringan lemak subkutan rendah dan luas permukaan kulitnya
relatif besar dibanding berat bayi lahir cukup (BBLC).
Perpindahan panas dari permukaan tubuhh kelingkungan terjadi
dengan 4 cara yaitu ; radiasi, konduksi, konveksi dan evaporasi.
Pada bayi yang sangat kecil (< 1500 gram), kehilangan panas
melalui evaporasi meningkat pada hari pertama kehidupan, karena
kulit yang sangat tipis dan sangat permeabel terhadap air. Jaringan
subkutan bayi yang sedikit dan besarnya rasio permukaan/ berat
badan dibanding dewasa, serta udara dan dinding ruang bersalin
yang dingin, menyebabkan kehilangan panas melalui radiasi dan
konveksi. Kontak antara kulit bayi dan peralatan disekitarnya yang
dingin menyebabkan kehilangan panas secara konduksi.
Faktor – faktor
- kesalahan perawatan bayi segera setelah lahir
- bayi dipisahkan dengan ibunya setelah lahir
- BBLR dan bayi prematur yang kandungan lemak
subkutannya kurang
- Kondisi ruang bersalin dan lingkungannya
- Umur bayi saat dirujuk
- Prosedur penghatan bayi yang kurang adekuat sebelum dan
selama perjalanan
- Asfiksia, hipoksia atau penyakit lain pada bayi
Gejala
- Kaki teraba dingin
- Refleks menghisap kurang
- Letargis
- Menangis lemah/merintih
- Pernapasan lemah, dangkal, iregular
- Bradikardia
- Hipoglikemia
Efek hipotermia
- Asidosis, hipoglikemia
- Edema, skelerema, perdarahan (terutama perdarahan paru)
- Gangguan fungsi jantung
- Gagal tumbuh
Unit terkait Dokter
59





MASALAH PERNAPASAN
PADA BAYI BARU LAHIR
NO DOKUMEN
SOP/PEL-MDK/025
NO REVISI
00
HALAMAN
1/1
TANGGAL TERBIT
5 Januari 2010
DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR




dr. E. Trisno Susilo

Prosedur Masalah pernapasan pada neonatus merupakan bagian terbesar
dari masalah yang dijumpai di bangsal neonatus, dan masalah ini
merupakan penyebab utama dari lahir. Tanda-tanda :
- Frekuensi napas 60 kali permenit
- Sesak napas
- Retraksi dinding dada
- Sianosis
- Apnea
Penyebab :
Dapat dibedakan menjadi
1. Gangguan plumonal :
a. Sering :
- Sindrom distres respirasi
- Takipnea transien
- Aspirasi mekonium
- Pneumonia
- pneumotoraks
b. Jarang :
- Hipoplasia pulmonal
- Obstruksi saluran napas bagian atas
- Kelainan bentuk dada
- Lesi desak ruang
- Perdarahan paru
2. Gangguan ekstrapulmonal
a. Vaskular
- Sirkulasi fetal peristen
- Penyakit jantung kongenital
- Hipovelmia, anemia
- Polisitemia
b. Metabolik
- Asidosis
- Hipoglikemia
- Hipotermia
c. Neuromuskular
- Edema serebral
- Perdarahan serebral
Unit terkait Dokter

60





SINDROM DISTRES RESPIRASI
NO DOKUMEN
SOP/PEL-MDK/026
NO REVISI
00
HALAMAN
1/1
TANGGAL TERBIT
5 Januari 2010
DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR




dr. E. Trisno Susilo

Pengertian Penyebab pasti sindrom ini belum masih diketahui, tetapi
umumnya diduga karena pematangan paru yang belum
sempurna. Faktor-faktor resikonya adalah
- Bayi kurang bulan (umur kehamilan 35 minggu)
- Ibu dengan gangguan perfusi darah uterus selama kehamilan,
perdarahan, antepartum
- Ibu diabetes
- Faktor genetik (ras kulit putih, riwayat SDR pada persalinan
sebelumnya, laki-laki)
- Asfiksia
- Persalinan seksio sesaria
1. Gejala klinis
- Gangguan pernapasan : grunting pada saat ekspirasi, retraksi
dinding dada, cuping hidung, sianosis, takhipneu atau dispnue,
pada auskultasi suara vesikuler
- Bradikardia, kardiomegali, edema ekstremitas, hipotensi,
hipotermia
2. Tanda labolatorik
Pada pemeriksaan gas darah ditemukan : kadar asam laktat naik;
PaO₂ turun ; PaCO₂ naik ; PH turun dan defisit basa meningkat.
3. Pemeriksaan penunjang
- Tes kocok (tes pematangan paru) negatif
- Pada foto rontgen dada tampak bercak retikulogranular,
gambaran bronkhogram udara dan mediastinum superius
melebar
prosedur Tujuan utama
- Mencegah hipoksia dan asidosis
- Pemberian cairan fdan nutrisi yang tepat (mencegah
hipovolemia dan syok tetapi hindari kelebihan cairan)
- Mencegah edema paru ataupun atelektasitas
- Meminimalkan barotrauma dan hiperoksia
PEMANTAUAN
- Tanda vital terutama pernapasan, denyut jantung, suhu tubuh,
warna kulit, perfusi jaringan, k/p tekanan darah secara ketat
dan terus-menerus.
- Keseimbangan cairan dan elektrolit
- Pemantauan non invasif dengan mengambil sampel darah
arteria atau kapiler (terutama untuk mengetahui pH dan PCO₂
Unit terkait Dokter
61





APNEA PADA NEONATUS
NO DOKUMEN
SOP/PEL-MDK/027
NO REVISI
00
HALAMAN
1/1
TANGGAL TERBIT
5 Januari 2010
DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR




dr. E. Trisno Susilo

Pengertian Apnea berarti berhenti bernapas. Sebagian besar neonatus dalam
hari-hari pertama setelah lahir, terutama bayi kurang bulan,
mengalami episode apnea singkat 10-15 detik tanpa konskuensi
klinik. Faktor – faktor resiko sianosis dan episode apnea
- Hipoksia
- Asedemia
- Anemia
- Refluks gastro esofagus
- Stimulasi dan sekresi laring-faring
- Temperatur yang tidak stabil (khususnya suhu meningkat)
- Pemberian makan secara oral atau nasogastrik (selama atau
segera setelah pemberian makan)
- Penanganan yang eksesif
- Tidak nyaman atau kesakitan
Prosedur 1. Penanganan kemungkinan penyebab yang diindentifikasi
dengan pemeriksaan
- Gambaran darah
- C-reaktif protein
- Kultur darah, urin, tinja, sekret nasofaring, telinga,
tenggorok, umbilikus
- Ph dan PCO₂ kapiler atau arteria
- Saturasi O₂ arteria dan PO₂
- Rontgen dada (untuk sindrom distres respirasi, pneumonia,
fistula, dll)
- Ultrasonografi kepala (perdarahan, dilatasi dan ventrikel)
- Pada kasus tertentu : fungsi lumbal, elektrokardiogram
(EKG), ekokardiogram, EEG
2. Perbaikan faktor lingkungan dan faali
- Posisi bayi: tengkurap, kepala diangkat
- Suhu daerah, suhu netral
- Pipa makan : gunakan oral, bila mungkin dicabut
3. Tindakan memperbaiki ventilasi dan oksigenasi
- Tekanan positif kontinu (CPAP)
- Pemberian oksigen adekuat : dipantau PaO₂
- Rangsang respirasi dengan pemberian obat
- Methylxantin : untuk menaikan respons kemoreseptor,
memperkuat kinerja otot pernapasan dan eksitasi sistem
saraf pusat secara umum
Unit terkait Dokter

62





DEMAM TIFOID
NO DOKUMEN
SOP/PEL-MDK/028
NO REVISI
00
HALAMAN
1/2
TANGGAL
TERBIT
5 Januari 2010
DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR




dr. E. Trisno Susilo

Pengertian Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut ayng biasanya terdapat
pada saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari 1
minggu., gangguan pencernaan gangguan kesadaran. Penyakit ini
disebabkan oleh sallmonella typhi. Kuman masuk lewat mukosa
usu halus, melalui pembuluh limfe masuk ke peredaran darah, ke
organ-organ terutam hati dan limpa, mengadakan replikasi dan
kemudian kembali ke darah dan menyebar ke kelenjar limfoid
ileum (plaques payeri), menimbulkan radang dan membentuk
tukak. Tukak inilah yang mudah berdarah dan tembuh usus pada
stadium rekonvalensen waktu tukak membersih pada proses
penyembuhan.
Diagnosis
Gejala klinis
1. Panas lebih dari 7 hari, biasanya mulai dengan panas yang
makin tinggi sehingga pada minggu kedua panas tinggi
terus-menerus, terutama malam hari. Siang hari panas agak
turun tidak pernah mencapai normal.
2. Gejal gastrointestinal : obstipasi sangat sering muncul,
kadang-kadang diare, mual, muntah dan kembung jarang
3. Gejala saraf sentral : apatis, kesadaran menurun, mengigau,
delirium
4. Hepatomegali ringan
5. Splenomegali
6. Skibala
7. Lidah kotor, tepi hiperemis
Tanda laboratorik
1. Leukopenia, eosinofilia
2. Kultur empedu (+) : darah pada minggu I (pada minggu II
mungkin sudah negatif) tinja minggu II, air kemih minggu
III.
Reaksi widal (+) : titer > 1/160 atau 1 > 200. Biasanya baru positif
pada minggu II. Pada stadium rekonvalensen titer makin tinggi
Prosedur Penderita baru dengan kemungkinan demam tifoid sebaiknya
dirawat inap. Bila orang tua menolak rawat inap, diterangkan cara
merawat di rumah dan kemungkinan timbulnya komplikasi. Rawat
inap perlu bagi penderita dengan komplikasi, bila intake
makanan/cairan kurang, orang tua tidak mampu merawat sendiri di
rumah dan ada gangguan kesadaran.


63




DEMAM TIFOID
NO DOKUMEN
SOP/PEL-MDK/028
NO REVISI
00
HALAMAN
2/2
TANGGAL TERBIT
5 Januari 2010
DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR




dr. E. Trisno Susilo

Prosedur 1. Istirahat (tirah baring), dengan alih baring.
2. Diit BBS TKTP, selama masih panas dengan pengaturan
sebagai berikut :
- 5 hari bebas panas : 2 x BBS, 1 kali BBN, boleh duduk
6 hari bebas panas : 1 x BBS, 2 kali BBN, boleh berdiri
3. Medikamentosa
- Kloramfenikol : 74 mg/kg bb/ hari dibagi 3 a 4 dosis
dengan dosis maksimum 2 g/hari, diberikan sampai 3 hari
bebas panas, minimal diberikan 7 hari.
- Kotrimoksasol : 6 mg trimotoprim, 30 mg sulfat
metoksasol/ kg bb/hari dibagi dalam 2 dosis, diberikan
sampai 3 hari bebas panas, minimal diberikan 7 hari.
4. Penanganan komplikasi tergantung jenisnya
Pemantauan
1. Keadaan umum, tanda utama
2. Intake makanan/ cairan kalau perlu diberi MLP
3. Kemungkinan komplikasi
a. Renjatan : keadaan umum, tanda utama
b. Perforasi dan perdarahan usus : keadaan umum,
pemeriksaan fisik, tinja darah tepi, radiologi.
c. Miokarditis : pemeriksaan fisik EKG
d. Penekanan sumsum tulang karena kloramfenikol :
angka trombosit, jumlah granulosit, retulosit.
4. Pemeriksaan widal dapat diulang seminggu kemudian
kalau hasil pertama negatif




Unit terkait Dokter












64




DIFTERI
NO DOKUMEN
SOP/PEL-MDK/029
NO REVISI
00
HALAMAN
1/2
TANGGAL TERBIT
5 Januari 2010
DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR




dr. E. Trisno Susilo

Pengertian Difteri adalah penyakit infeksi akut, menular terutama menyerang
saluran pernapasan atas, dengan tanda khas terbentuknya
pseudomembran dan eksotoksin yang menimbulkan gejala umum
dan lokal. Penyakit ini disebabkan oleh corynebacterium
diphtreriae. Kuman menginfeksikan mukosa terutama tonsil,
faring, laring, mulut ; meskipun jarang juga vulva, anus, kulit
telinga. Dengan adanya radang terbentuk pseudomembran. Kuman
difteri menghasilkan eksotoksin yang dapat menimbulkan
miokardis, neuritis, nekrosis fokal pada hati dan ginjal.
Diagnosis
Diagnosis didasarkan atas gejala dan tanda sebagai berikut :
Anamnesis
- Panas tidak tinggi
- Nyeri menelan tidak mencolok
- Suara ngorok dan sesak napas mungkin terdapat yaitu bila
laring terkena
- Badan lemah, anoreksia, pusing-pusing
- Rintis dengan discar berdarah pada anak yang belum
vaksinasi DPT harus dicuragai difteri hidung
Tanda fisik
- Anak tampak lesu, lemah, demam biasanya tidak tinggi
- Pada tonsil tampak jaringan nekrotik, abu-abu kotoryang
mudah berdarah (pseudomembran) dikelilingi jaringan
yang merah meradang ; nafas berbau. Pseudomembran
dapat meluas keluar tonsil.
- Bila laring terkena maka muncul suara parau, bentuk
anjing kecil menyalak dan tanda-tanda obstruksi laringeal
berupa sesak napas dan stidor inspiratoir dengan/tanpa
stridor ekspiratoir (pseudocroup), retraksi dinding dada,
pernapasan cuping hidung, sianosis.
Prosedur Penderita baru dengan kemungkinan difteri harus dirawat inap,
kepentingan penderita sendiri maupun untuk mencegah penularan
ke anak disekitarnya.
Tatalaksana penderita rawat inap
Penderita dirawat diruang isolasi dan dilakukan tatalaksana
sebagai berikut :
1. Istirahat dengan aktivitas sesedikit mungkin. Bila ada
miokarditis harus istirahat total


65




DIFTERI
NO DOKUMEN
SOP/PEL-MDK/029
NO REVISI
00
HALAMAN
2/2
TANGGAL TERBIT
5 Januari 2010
DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR




dr. E. Trisno Susilo

Prosedur 2. Jalan nafas dijaga supaya selalu bebas, pada obstruksi
kalau perlu dilakukan trakeostomi
3. Oksigenisasi kalau perlu
4. Diit TKTP, masukan makanan atau cairan adekuat kalau
perlu diberikan MLP
5. Antibiotik :
6. Antitoksin
Hari I : 40.000 unit dalam 200 ml NaCl 0,9%, diberikan
dalam tetesan kira-kira 16 tetes/ menit i.v ; atau i.m
langsung
Hari II : 20.000 unit dalam 200 ml NaCl 0,9 % diberikan
dalam tetesan kira-kira 16 tetes/menit i.v
Untuk mencegah kemungkinan alergi terhadap serum kuda,
pemberian ADS didahului dengan test kulitdan
konjungtiva; kalau positif pemberian ADS dikerjakan
secara besredka.
7. Vitamin B1 : 3x1oo mg sampai 10 hari
8. Penangan komplikasi tergantung jenisnya
Pemantauan
- Keadaan umum dan tanda utama
- Kemungkinan sumbatan jalan nafas, pemeriksaan tonsil
- Masukan makanan atau cairan
Jantung : pemeriksaan auskultasi jantung, EKG dikerjakan
tiap minggu untuk mengetahui kemungkinan timbulnya
miokarditis. Pemeriksaan SGOT, SGPT, LDH, CK dan
CKMB untuk memperkuat diagnosis miokarditis. Kalau perlu
dipasang monitor jantung.
- Pemeriksaan usap tenggorok penderita langsung sampai tiga
hari negatif
- Pemeriksaan usap tenggorok untuk kontak serumah dengan
cara langsung atau biakan, bilamana positif diberikan
eritromisin 50 mg/kg bb/hari.
Tatalaksana penderita rawat jalan
Penderita pulang rawat inap kontrol di poliklinik dan dilakukan
tatalaksana sebagai berikut :
1. dipantau kemungkinan komplikasi, seperti miokarditis dan
kelumpuhan saraf (palatum molle, suara bicara dan lain-
lain).
2. Medikamentosa kalau perlu diteruskan
Unit terkait Dokter
66




MALARIA
NO DOKUMEN
SOP/PEL-MDK/030
NO REVISI
00
HALAMAN
1/1
TANGGAL TERBIT
5 Januari 2010
DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR




dr. E. Trisno Susilo

Diagnosa Tanda utama malaria adalah demam paroksimal dengan
periodisitas 48 jam. Pada awal infeksi sifat periodik mungkin
tidak tampak karena adanya lebih dari satu angkatan parasit
berkembang biak singkron, sehingga panasnya harian (quotidian).
Sering dengan nausea dan vomitus, dapat juga anak terkencing.
Suhu dengan cepat mencapai 40 atau 41 derajat, rasa panas sekali
disertai dengan nyeri kepala yang hebat, mungkin delirium, nyeri
epigastrik.
Tanda labolatorik
- Ditemukannya tanda parasit dalam darah dengan pemeriksaan
prepatrat darah tebal atau tipis. (apus) merupakan diagnosis
pasti
- Selama serangan mungkin leukositosis ; diantara serangan
sering terdapat leukopenia dan trombositopenia
- Perubahan imunologi antara lain IgM meninggi, antibodi mirip
faktor reumatoid.
- ANA antibodi heterofil dan autoantibodi terhadap eritrosit
Prosedur 1. Obat anti malaria
Terapi dengan preparat antimalaria merupakan tindakan
terapeutik terpenting
a. Klorokin difosat : aktif hanya terhadap fase eritrositik. Dosis
total satu seri terapi 20-25 mg basa (3 mg basa = 5 mg garam)/
kg bb/ hari dalam 4 dosis (maksimal 1,5 g basa).
b. Kinine : untuk P. Falfifarum yang resisten terhadap klorokin
dosis 20 mg kinin sulfat/kg bb/hari dalam 3-6 dosis setelah
makan, untuk 10-14 hari (maksimum 650 mg 3 kali sehari; 1
tablet = 333 mg kinin sulfat).
c. Fansidar (kombinasi 500 mg sulfadoxin + 25 mg pirimetamin
per tablet)
2. Dosis
Dewasa : 2 -3 tablet dosis tunggal
Umur 9-14 tahun : 2 tablet
4-8 tahun : 1 tablet
< 4 tahun : ½ tablet
3. Suportif
- Anti piretika, sangat penting waktu serangan
- Cukup kalori, vitamin
- Transfusi PRC bila penderita anemia sedang atau berat
- Hindari dehidrasi terutama pada infeksi P. Falcifarum
Unit terkait Dokter
67





MORBILI
NO DOKUMEN
SOP/PEL-MDK/031
NO REVISI
00
HALAMAN
1/1
TANGGAL TERBIT
5 Januari 2010
DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR




dr. E. Trisno Susilo

Pengertian Morbili adalah penyakit akut pada anak, sangat menular yang
ditandai dengan stadia : stadium kataral, erupsi dan konvalensi.
Penyakit ini disebabkan oleh golongan paramyxovirus.
Anamnesis
1. Anak dengan panas 3-5 hari (biasanya tinggi, mendadak),
batuk, pilek, harus dicurigai.
2. Mata merah, tahi mata, fotofobi, menambah kecurigaan.
3. Dapat disertai diare dan muntah
4. Dapat disertai dengan gejala perdarahan, epistaksis, petekie
dan ekimosis
5. Anak resiko tinggi yaitu bila penderita morbili dan belum
pernah vaksinasi campak.
Pemeriksaan fisik
1. Pada stadium kataral manifestasi yang tampak mungkin
hanya demam dan tanda-tanda nasofaringitis dan
konjungtivis
2. Pada umumnya anak tampak lemah
3. Koplik spot pada hari ke 2-3 panas
4. Pada stadium erupsi timbul ruam yang khas ; ruam
makulopapular munculnya mulai dari belakang telinga,
mengikuti pertumbuhan rambut di dahi dan kemudian di
seluruh tubuh.
Prosedur Tatalaksana
Penderita baru tidak harus rawat inap; indikasi rawat adalah :
- Keadaan umum lemah sekali
- Intake makanan/ cairan kurang atau banyak muntah atau
diare
- Hipertermia/kejang
- Ada komplikasi

Pemantauan
- Keadaan umum, tanda utama (khususnya respirasi)
- Intake makanan/ cairan
- Kemungkinan timbulnya komplikasi : demam tak mau
turun, gangguan respirasi dan gangguan fungsi saraf


Unit terkait Dokter


68





PERTUSIS
NO DOKUMEN
SOP/PEL-MDK/032
NO REVISI
00
HALAMAN
1/1
TANGGAL TERBIT
5 Januari 2010
DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR




dr. E. Trisno Susilo

Pengertian Pertusis merupakan penyakit infeksi akut yang ditandai dengan
batuk ngakil, spasmodik paroksimal,. Penyakit ini disebabkan oleh
bardotella pertusis atau hemofilus pertusis lesi biasanya terdapat
pada bronkus dan bronkiolus, tetapi mungkin juga terdapat pada
perubahan mukosa trakea, laring dan nasofaring. Kuman biasanya
bersarang pada epitel mukosa menimbulkan eksudasi
mukopurulen.
Komplikasi
1. Akibat tekanan batuk : hernia, prolapus anus, muka
sembab/edema, emfisema kutis, pneumotoraks.
2. Hipoksia , sianosis pada otak bisa timbul ensefalopati
3. Epistaksis, perdarahan subkonjungtiva/retina/otak
4. Kurang istirahat karena batuk.
5. Aktivasi TBC
6. Kurang gizi karena muntah sering
Prosedur Tatalaksana
- Masukan makanan/cairan baik, tak terlalu sering muntah
- Tidak hipoksemia/ sianosis waktu serangan batuk
- Tidak ada komplikasi

Pemantauan
- Keadaan umum, tanda utama
- Keseimbangan cairan
- Masukan makanan
- Kemungkinan timbulnya komplikasi









Unit terkait Dokter





69





VARISELA
NO DOKUMEN
SOP/PEL-MDK/033
NO REVISI
00
HALAMAN
1/1
TANGGAL TERBIT
5 Januari 2010
DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR




dr. E. Trisno Susilo

Pengertian Varisela adalah penyakit yang banyak terdapat pada anak terutama
umur 2-10 tahun, meskipun dapat menyerang orang dewasa,
bahkan orang tua. Penyebarannya dalah virus varisela zoster
(VZV), termasuk virus DNA.


Gejala klinis
- Umumnya didahului oleh stadium prodromal ringan 1-2
hari : lesu (malaise), nyeri kepala, demam tidak
menyerupai erupsi, mungkin stadium prodromal tak
tampak sama sekali.
- Erupsi dimulai dengan makula eritematosa, yang dalam
waktu singkat menjadi papula lalu vesikula, dikelilingi
oleh eritem.

Prosedur Tatalaksana
1. Istirahat sampai pada masa kusta
2. Antipiretika bila perlu, parasatamol 10 mg/ kg bb/kali
3. Anti pruritus
4. Antibiotika bila ada tanda-tanda infeksi sekunder bakterial
5. Zoster imunoglobulin (ZIG) dapat melindungi pasien yang
immunocompromized.


Komplikasi
1. Infeksi bakterial sekunder
2. Trombositopenia
3. Pneumonia
4. Purpura fulminans
5. Radang organ-oragn; jantung, hati, ginjal, otot
6. Ensefalitis pasca infeksi






Unit terkait Dokter


70





KELAINAN GIZI
(KEKURANGAN ENERGI DAN PROTEIN)
NO DOKUMEN
SOP/PEL-MDK/034
NO REVISI
00
HALAMAN
1/3
TANGGAL TERBIT
5 Januari 2010
DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR




dr. E. Trisno Susilo

Pengertian Kekurangan energi dan protein (KEP) adalah keadaan patologik
yang disebabkan oleh kekurangan energi atau protein atau sering
disertai kekurangan zat gizi lainnya yang biasanya terjadi dalam
waktu cukup lama.
Etiologi
Etiologi KEP dibedakan menjadi dua yaitu etiologi langsung dan
etiologi tidak langsung.
- Penyebab langsung : intake makanan yang kurang dan
penyakit atau kelainan yang diderita anak, misalnya
infeksi, malabsorpsi dll.
Penyebab tak langsung : faktor ekonomi, faktor fasilitas
perumahan dan sanitasi; faktor pendidikan dan pengetahuan;
faktor fasilitas pelayanan kesehatan; faktor pe
Macam KEP seperti :
- KEP ringan dan sedang merupakan keadaan patologik
akibat kekurangan energi dalam waktu yang cukup lama,
masukan protein dan zat gizi lainnya mungkin cukup.
- Marasmus dimulai dari mengurangnya hingga
menghilangnya lemak subkutan yang berlanjut dengan
menyusutnya jaringan otot serta organ lain, baik morfologi
maupun fungsinya (dikatakan anak marasmik hidup dari
tubuhnya sendiri atau “makan” tubuhnya sendiri )
- Kwashiorkor terjadi akibat tubuh selalu kekurangan
protein dalam diit dan lebih banyak mendapat diit kaya
karbohidrat (energi relatif cukup).

Gejala Klinis Kwashiorkor
- Edema
- Pertumbuhan terlambat
- Perubahan psikomotorik (cengeng, apatis)
- Berkurangnya jaringan lemak subkutan
- Perubahan rambut tipis (tipis, lurus, jarang, mudah dicabut
tanpa rasa sakit, kemerahan karena gangguan
melanogenesis
- Pigmentasi kulit (pellagroid dermatosis)
- Moon face
- Anemia

71





KELAINAN GIZI
(KEKURANGAN ENERGI DAN PROTEIN)
NO DOKUMEN
SOP/PEL-MDK/034
NO REVISI
00
HALAMAN
1/3
TANGGAL TERBIT
5 Januari 2010
DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR




dr. E. Trisno Susilo

Pengertian Gejala Klinis Marasmus
- Pertumbuhan yang sangat terlambat
- Lemak subkutan hampir tidak ada (sel lemak masih ada),
sehingga kulit anak keriput wajah seperti orang tua, perut
tampak buncit.
- Jaringan otot mengecil
- Tidak ada oedema, BB < 60 %
- Perubahan rambut ; kusam, kemerahan, mudah dicabut
- Gejala defisiensi nutrien atau vitamin yang menyertai
- Gejala atau tanda penyakit yang menyertai (diare, penyakit
infeksi akut amupun kronik)
Komplikasi
1. Infeksi : penderita KEP berat mudah mengalami infeksi
karena kekebalan humoral maupun selular menurun. Infeksi
dan KEP membentuk lingkaran setan, saling memberatkan.
2. Diare : penderita kwashiorkor dapat mengalami atrofi
epitel usus, sehingga daya kemampuan pencernaan makanan
munurun.
3. Komplikasi jangka panjang bagi penderita umur < 2 tahun
adalah gangguan pertumbuhan otak disamping itu mielinisasi
yang berlangsung hingga umur kurang lebih 6 tahun juga
terganggu. Karena itu, KEP berat dan lama pada umur muda
menyebabkan hambatan tumbuh kembang yang serius.
4. Hipoglikemia, hipomagnesemia.
Prosedur Indikasi rawat inap dan pokok-pokok tatalaksana antara lain :
1. Terapi dietik dengan kualitas dan kuantitas yang baik
(TKTP=Tinggi kalori dan tinggi protein), sebaiknya diberikan
dalam porsi kecil –kecil tetapi diusahakan habis sesuai
perhitungan.
2. Terapi suportif : perawatan yang teliti dengan dasar kasih
sayang, suhu hangat (hindari kedinginan) dan apetizer bila
perlu.
3. Terapi subtitusi selain protein
4. Membrantas penyakit penyerta atau komplikasi
5. Mencegah komplikasi : isolasi bila perlu
6. Terapi ajuvan


72




KELAINAN GIZI
(KEKURANGAN ENERGI DAN PROTEIN)
NO DOKUMEN
SOP/PEL-MDK/034
NO REVISI
00
HALAMAN
1/3
TANGGAL TERBIT
5 Januari 2010
DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR




dr. E. Trisno Susilo

Prosedur 7. Merujuk latar belakang (penyebab tidak langsung), misalnya
dengan penyuluhan gizi kepada orang tua dan keluarga.
Terapi dietik
Prinsip diet yang diberikan untuk penderita KEP berat :
- TKTP, pasokan vitamin khusunya vitamin A
- Mudah diserap, termasuk menghindari kemungkinan
malabsorpsi
Tidak merangsang
Perhitungan untuk kwashiorkor
- Protein : 2,4 g/kg bb/ hari, kualitas tinggi (protein hewani;
telur, susu dll)
- Enegi : pada penderita kwashiorkor bergantung pada berat
ringannya edema. Jika ada edema, berat badan sekarang
diperkirakan dengan mengurangi 5-25 % dari berat badan
terukur. Mula-mula energi diberikan sebanyak keperluan
anak umur sesuai dengan berat badan setelah dikurangi
edema. Dengan bertambahnya nafsu makan anak dan berat
badan berkat rehabilitasi diit, pasokan energi ditingkatkan.

Perhitungan untuk marasmus
Penderita marasmus prinsip perhitungan sama dengan
kwarshiorkor hanya karena tidak ada edema maka berat badan
terukur sama dengan berat badan sesungguhnya. Bila ada
kekurangan nutrien lain khususnya besi, asam folat, magnesium,
vitamin kompleks. Vitamin A perlu diberikan 200.000 UI sekali
pemberian, peroral.

Pemantauan
- Keberhasilan terapi dietik : pada kwasiorkor bilamana
pengobatan yang diberikan berat badan menurun karena
edema berangsur-angsur akan hilang. Edema anarsarka
akan hilang dalam waktu 1 minggu yangdiikuti kenaikan
berat badan secara berangsur-angsur pula.
- Kemungkinan terjadi komplikasi



Unit terkait Dokter

apneu pada pernapasan pada bayi baru lahir . Trisno Susilo Pengertian Masalah klinis yang sering dijumpai .Anemia.m selama 2-3 hari) b. untuk mempercepat pematangan paru janin (betametason 12 mg/kg bb dibagi dalam 2 dosis i. pneumonia.Mencegah kelahiran kurang bulan dengan mengurangi faktorfaktor resiko terjadinya BBLR .Sepsis neonatorum . sindrom aspirasi. terbutalin) . pendarahan paru. anemia. perdarahan. pneumotoraks. misal persiapan petugas dan perlengkapan resusitasi di kamar bersalin ataupun kamar operasi Prosedur 55 .Menghindari kemungkinan dampak persalinan kurang bulan. jika diperkirakan akan terjadi kelahiran kurang bulan.Pemberian kortikosteroid pada ibu.BAYI BERAT LAHIR RENDAH NO DOKUMEN SOP/PEL-MDK/023 TANGGAL TERBIT 5 Januari 2010 NO REVISI HALAMAN 00 2/4 DITETAPKAN OLEH DIREKTUR dr.Masalah pada pernapasan misalnya sindrom distres respirasi/SDR.Awasi adanya kelainan bawaan Tatalaksana a. perdarahan dan koagulasi intravaskular . kongenital. Sebelum lahir . E. Selama persalinan .Pemberian tokolitik pada persalinan kurang bulan (salbutamol.

dimulai pada umur 2 hari dan dilanjutkan sesuai yang didapat Pemantauan .Berat badan tiap hari.BAYI BERAT LAHIR RENDAH NO DOKUMEN NO REVISI HALAMAN SOP/PEL-MDK/023 00 3/4 TANGGAL DITETAPKAN OLEH TERBIT DIREKTUR 5 Januari 2010 dr. Setelah lahir Umum : .Resusitasi dan stabilitas dengan pencernaan yang tepat untuk menghindari masalah yang sering terjadi . Pada BBLR yang sudah stabil dilakukan perawatan bayi lekat . panjang badan dan lingkar kepala setiap minggu 56 .Oksigen dengan head box/ nasal/CPAP/ oksigen inkubator ataupun ventilator disesuaikan dengan masalah pernapasan.Perawatan tali pusat dan perawatan mata Khusus : – perhatian ketat . sering diperlukan volume expander dan komponen darah. analisis gas darah .Mengusahakan napas pertama dan seterusnya . perfusi jaringan dipantau ketat terutama pada bayi dengan berat lahir 2000 g.Pada keadaan yang sudah diperkirakan akan terjadi persalinan kurang bulan sebaiknya dikirim ke fasilitas kesahatan yang mempunyai fasilitas yang lengkap .USG kepala terutama pada bayi dengan umur kehamilan 35 minggu. . E. jaga jangan sampai kurang atau berlebih. bayi dengan berat lahir < 2000 g dimasukan inkubator atau boxs kaca dengan lampu.Tes kocok (shake test) . .Pernapasan.Pada bayi kecil yang keadaan umumnya tidak baik. k/p elektrolit.Darah rutin.Membersihkan jalan napas . denyut jantung dan suhu tubuh. Trisno Susilo Prosedur .Oksigen dan sumber panas untuk menjaga suhu tubuh bayi akan memberi hasil yang baik c. Awasi keseimbangan cairan. glukosa darah.Foto rontgen dada atau babygram diperlukan pada bayi baru lahir dengan umur kehamilan kurang bulan dimulai pada umur 8 jam atau jika didapat/ diperkirakan akan terjadi SDR . Pemeriksaan penunjang . Dopamin 5-8 g/kgbb/menit sering diperlukan untuk mempertahankan perfusi jaringan eksresi urin dan mencegah asidosis metabolik.

yaitu: .Kenaikan angka kesakitan dan sering masuk rumah sakit .Sesudah pulang hari ke 2. denver development screening test (DDST) .Vitamin B12 10 mg/ hari diberikan 1 kali sehari. diteruskan pemeriksaan ulang.Pertumbuhan : berat badan. Pemeriksaan ulang pada semua BBLR pada umur 12 dan24 bulan. panjang badan.Kenaikan frekuensi kelainan bawaan Dokter Unit terkait 57 .Asam folat 2-3 mg/kg bb/hari . lingkar kepala .Tes perkembangan. Masalah jangka panjang .Gangguan pertumbuhan .Hitung umur koreksi .Perkembangan. Pada umur 4 minggu konsultasi ke dokter spesialis mata untuk kemungkinan adanya retinopathy of prematurit.Hiperbilirubinemia Untuk kemungkinan anemia yang terjadi pada BBLR. selama 1 bulan k/p konsul mata Pemantauan jangka panjang (rawat jalan) .BAYI BERAT LAHIR RENDAH NO DOKUMEN SOP/PEL-MDK/023 TANGGAL TERBIT 5 Januari 2010 NO REVISI HALAMAN 00 4/4 DITETAPKAN OLEH DIREKTUR dr.Awasi adanya kelainan bawaan . 30 dilanjutkan setiap bulan . k/p pemeriksaan USG kepala. fisioterapi . setelah hari ke 14 berikan pulvis : .Retinopati karena prematuritas . E. Trisno Susilo Prosedur .Penyakit paru kronik .Gangguan perkembangan .Mata : cek apakah ada retinopathy of prematurity (ROP) dimulai pada umur 6 minggu di mulai pada waktu rumah sakit.Kelainan SSP (perdarahan peri-intraventrikuler.Fe fumarat 5-10 mg/ kg bb/hari . kejang) .Kejang . Tatalaksana penyulit Disesuaikan dengan penyulit yang mungkin timbul. 20.Sindrom distress respirasi/SDR . Jika hasil abnormal. 10.

karena kulit yang sangat tipis dan sangat permeabel terhadap air.Asfiksia. Trisno Susilo Pengertian – terutama prematur mempunyai resiko terjadinya hipotermia karena jaringan lemak subkutan rendah dan luas permukaan kulitnya relatif besar dibanding berat bayi lahir cukup (BBLC).bayi dipisahkan dengan ibunya setelah lahir . skelerema. Jaringan subkutan bayi yang sedikit dan besarnya rasio permukaan/ berat badan dibanding dewasa.Refleks menghisap kurang .Umur bayi saat dirujuk . hipoksia atau penyakit lain pada bayi Gejala .Edema.Hipoglikemia Efek hipotermia .Menangis lemah/merintih .Gagal tumbuh Dokter 58 Unit terkait . kehilangan panas melalui evaporasi meningkat pada hari pertama kehidupan. dangkal. hipoglikemia . radiasi. serta udara dan dinding ruang bersalin yang dingin.Bradikardia .Asidosis. iregular . Faktor – faktor . menyebabkan kehilangan panas melalui radiasi dan konveksi. Perpindahan panas dari permukaan tubuhh kelingkungan terjadi dengan 4 cara yaitu . Pada bayi yang sangat kecil (< 1500 gram).Kaki teraba dingin .Gangguan fungsi jantung .Letargis . Kontak antara kulit bayi dan peralatan disekitarnya yang dingin menyebabkan kehilangan panas secara konduksi. konduksi.BBLR dan bayi prematur yang kandungan lemak subkutannya kurang .Kondisi ruang bersalin dan lingkungannya . perdarahan (terutama perdarahan paru) .Prosedur penghatan bayi yang kurang adekuat sebelum dan selama perjalanan .Pernapasan lemah.kesalahan perawatan bayi segera setelah lahir .HIPOTERMIA PADA BAYI BARU LAHIR NO DOKUMEN SOP/PEL-MDK/024 TANGGAL TERBIT 5 Januari 2010 NO REVISI HALAMAN 00 1/1 DITETAPKAN OLEH DIREKTUR dr. konveksi dan evaporasi. E.

Hipoglikemia .Hipoplasia pulmonal . Vaskular .Aspirasi mekonium .Obstruksi saluran napas bagian atas . Sering : .Penyakit jantung kongenital . Gangguan ekstrapulmonal a. Gangguan plumonal : a. Neuromuskular .Lesi desak ruang .Takipnea transien .Sesak napas .Frekuensi napas 60 kali permenit .Pneumonia .Kelainan bentuk dada .MASALAH PERNAPASAN PADA BAYI BARU LAHIR NO DOKUMEN SOP/PEL-MDK/025 TANGGAL TERBIT 5 Januari 2010 NO REVISI HALAMAN 00 1/1 DITETAPKAN OLEH DIREKTUR dr. Jarang : .Asidosis .Sianosis . Trisno Susilo Prosedur Masalah pernapasan pada neonatus merupakan bagian terbesar dari masalah yang dijumpai di bangsal neonatus.Hipotermia c.pneumotoraks b. E.Apnea Penyebab : Dapat dibedakan menjadi 1.Polisitemia b.Sindrom distres respirasi .Edema serebral .Perdarahan paru 2.Sirkulasi fetal peristen .Perdarahan serebral Dokter 59 Unit terkait . anemia .Retraksi dinding dada . Tanda-tanda : .Hipovelmia. dan masalah ini merupakan penyebab utama dari lahir. Metabolik .

Mencegah hipoksia dan asidosis . E.Pada foto rontgen dada tampak bercak retikulogranular.Ibu dengan gangguan perfusi darah uterus selama kehamilan.Faktor genetik (ras kulit putih. cuping hidung. retraksi dinding dada. Faktor-faktor resikonya adalah .SINDROM DISTRES RESPIRASI NO DOKUMEN SOP/PEL-MDK/026 TANGGAL TERBIT 5 Januari 2010 NO REVISI HALAMAN 00 1/1 DITETAPKAN OLEH DIREKTUR dr. laki-laki) . warna kulit. denyut jantung. edema ekstremitas. hipotensi.Bradikardia.Pemberian cairan fdan nutrisi yang tepat (mencegah hipovolemia dan syok tetapi hindari kelebihan cairan) . . sianosis. PH turun dan defisit basa meningkat. suhu tubuh.Asfiksia . k/p tekanan darah secara ketat dan terus-menerus.Tes kocok (tes pematangan paru) negatif .Bayi kurang bulan (umur kehamilan 35 minggu) . perfusi jaringan. pada auskultasi suara vesikuler . takhipneu atau dispnue. hipotermia 2. Tanda labolatorik Pada pemeriksaan gas darah ditemukan : kadar asam laktat naik.Persalinan seksio sesaria 1.Mencegah edema paru ataupun atelektasitas .Ibu diabetes . Gejala klinis .Keseimbangan cairan dan elektrolit . 3.Tanda vital terutama pernapasan. tetapi umumnya diduga karena pematangan paru yang belum sempurna.Meminimalkan barotrauma dan hiperoksia PEMANTAUAN .Pemantauan non invasif dengan mengambil sampel darah arteria atau kapiler (terutama untuk mengetahui pH dan PCO₂ Dokter 60 prosedur Unit terkait . Pemeriksaan penunjang . gambaran bronkhogram udara dan mediastinum superius melebar Tujuan utama . PaO₂ turun .Gangguan pernapasan : grunting pada saat ekspirasi. PaCO₂ naik . riwayat SDR pada persalinan sebelumnya. Trisno Susilo Pengertian Penyebab pasti sindrom ini belum masih diketahui. antepartum . perdarahan. kardiomegali.

memperkuat kinerja otot pernapasan dan eksitasi sistem saraf pusat secara umum Dokter 61 . Faktor – faktor resiko sianosis dan episode apnea .Ph dan PCO₂ kapiler atau arteria . umbilikus .Methylxantin : untuk menaikan respons kemoreseptor.Posisi bayi: tengkurap. telinga.C-reaktif protein . pneumonia. terutama bayi kurang bulan.Gambaran darah . tinja. Trisno Susilo Pengertian Prosedur Unit terkait Apnea berarti berhenti bernapas.Suhu daerah.Asedemia . bila mungkin dicabut 3.Tekanan positif kontinu (CPAP) . dilatasi dan ventrikel) . kepala diangkat .Penanganan yang eksesif .Hipoksia . fistula.Rontgen dada (untuk sindrom distres respirasi.APNEA PADA NEONATUS NO DOKUMEN SOP/PEL-MDK/027 TANGGAL TERBIT 5 Januari 2010 NO REVISI HALAMAN 00 1/1 DITETAPKAN OLEH DIREKTUR dr.Temperatur yang tidak stabil (khususnya suhu meningkat) . Sebagian besar neonatus dalam hari-hari pertama setelah lahir.Ultrasonografi kepala (perdarahan.Tidak nyaman atau kesakitan 1. elektrokardiogram (EKG). urin.Pemberian makan secara oral atau nasogastrik (selama atau segera setelah pemberian makan) .Kultur darah.Pemberian oksigen adekuat : dipantau PaO₂ . Tindakan memperbaiki ventilasi dan oksigenasi .Pipa makan : gunakan oral. Perbaikan faktor lingkungan dan faali .Saturasi O₂ arteria dan PO₂ .Rangsang respirasi dengan pemberian obat . Penanganan kemungkinan penyebab yang diindentifikasi dengan pemeriksaan .Refluks gastro esofagus . suhu netral . dll) . EEG 2.Anemia . tenggorok. mengalami episode apnea singkat 10-15 detik tanpa konskuensi klinik. E.Pada kasus tertentu : fungsi lumbal.Stimulasi dan sekresi laring-faring . sekret nasofaring. ekokardiogram.

Kultur empedu (+) : darah pada minggu I (pada minggu II mungkin sudah negatif) tinja minggu II. Gejal gastrointestinal : obstipasi sangat sering muncul. 2. bila intake makanan/cairan kurang. Gejala saraf sentral : apatis. Prosedur 62 . ke organ-organ terutam hati dan limpa. menimbulkan radang dan membentuk tukak. melalui pembuluh limfe masuk ke peredaran darah. Skibala 7. Reaksi widal (+) : titer > 1/160 atau 1 > 200. gangguan pencernaan gangguan kesadaran. Penyakit ini disebabkan oleh sallmonella typhi. Bila orang tua menolak rawat inap. E.DEMAM TIFOID NO DOKUMEN SOP/PEL-MDK/028 TANGGAL TERBIT 5 Januari 2010 NO REVISI HALAMAN 00 1/2 DITETAPKAN OLEH DIREKTUR dr. Pada stadium rekonvalensen titer makin tinggi Penderita baru dengan kemungkinan demam tifoid sebaiknya dirawat inap. Panas lebih dari 7 hari. terutama malam hari. mengigau. Tukak inilah yang mudah berdarah dan tembuh usus pada stadium rekonvalensen waktu tukak membersih pada proses penyembuhan. Rawat inap perlu bagi penderita dengan komplikasi. eosinofilia 2. Biasanya baru positif pada minggu II. mengadakan replikasi dan kemudian kembali ke darah dan menyebar ke kelenjar limfoid ileum (plaques payeri). Diagnosis Gejala klinis 1. Lidah kotor. kesadaran menurun.. biasanya mulai dengan panas yang makin tinggi sehingga pada minggu kedua panas tinggi terus-menerus. Siang hari panas agak turun tidak pernah mencapai normal. Kuman masuk lewat mukosa usu halus. mual. kadang-kadang diare. tepi hiperemis Tanda laboratorik 1. diterangkan cara merawat di rumah dan kemungkinan timbulnya komplikasi. Leukopenia. air kemih minggu III. muntah dan kembung jarang 3. Splenomegali 6. orang tua tidak mampu merawat sendiri di rumah dan ada gangguan kesadaran. delirium 4. Hepatomegali ringan 5. Trisno Susilo Pengertian Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut ayng biasanya terdapat pada saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari 1 minggu.

2 kali BBN. tinja darah tepi. minimal diberikan 7 hari. diberikan sampai 3 hari bebas panas. Intake makanan/ cairan kalau perlu diberi MLP 3. Penanganan komplikasi tergantung jenisnya Pemantauan 1. Medikamentosa . 1 kali BBN. . boleh duduk 6 hari bebas panas : 1 x BBS. Miokarditis : pemeriksaan fisik EKG d. tanda utama b. radiologi. boleh berdiri 3. Pemeriksaan widal dapat diulang seminggu kemudian kalau hasil pertama negatif 1.Kloramfenikol : 74 mg/kg bb/ hari dibagi 3 a 4 dosis dengan dosis maksimum 2 g/hari. selama masih panas dengan pengaturan sebagai berikut : . Unit terkait Dokter 63 .5 hari bebas panas : 2 x BBS. jumlah granulosit. minimal diberikan 7 hari. E. 4. pemeriksaan fisik. 4. Keadaan umum. retulosit. Diit BBS TKTP.DEMAM TIFOID NO DOKUMEN SOP/PEL-MDK/028 TANGGAL TERBIT 5 Januari 2010 NO REVISI HALAMAN 00 2/2 DITETAPKAN OLEH DIREKTUR dr.Kotrimoksasol : 6 mg trimotoprim. Renjatan : keadaan umum. Kemungkinan komplikasi a. tanda utama 2. dengan alih baring. Perforasi dan perdarahan usus : keadaan umum. 2. diberikan sampai 3 hari bebas panas. 30 mg sulfat metoksasol/ kg bb/hari dibagi dalam 2 dosis. c. Penekanan sumsum tulang karena kloramfenikol : angka trombosit. Trisno Susilo Prosedur Istirahat (tirah baring).

retraksi dinding dada. lemah.Suara ngorok dan sesak napas mungkin terdapat yaitu bila laring terkena . .Bila laring terkena maka muncul suara parau. sianosis. neuritis. pernapasan cuping hidung. Trisno Susilo Pengertian Difteri adalah penyakit infeksi akut. anus. anoreksia. meskipun jarang juga vulva. pusing-pusing . Kuman menginfeksikan mukosa terutama tonsil. bentuk anjing kecil menyalak dan tanda-tanda obstruksi laringeal berupa sesak napas dan stidor inspiratoir dengan/tanpa stridor ekspiratoir (pseudocroup).Rintis dengan discar berdarah pada anak yang belum vaksinasi DPT harus dicuragai difteri hidung Tanda fisik . Penderita baru dengan kemungkinan difteri harus dirawat inap.Panas tidak tinggi . laring. mulut . Istirahat dengan aktivitas sesedikit mungkin. Bila ada miokarditis harus istirahat total Prosedur 64 . Dengan adanya radang terbentuk pseudomembran. menular terutama menyerang saluran pernapasan atas.Nyeri menelan tidak mencolok .DIFTERI NO DOKUMEN SOP/PEL-MDK/029 TANGGAL TERBIT 5 Januari 2010 NO REVISI HALAMAN 00 1/2 DITETAPKAN OLEH DIREKTUR dr. Penyakit ini disebabkan oleh corynebacterium diphtreriae.Anak tampak lesu. faring. abu-abu kotoryang mudah berdarah (pseudomembran) dikelilingi jaringan yang merah meradang . E.Pada tonsil tampak jaringan nekrotik. Tatalaksana penderita rawat inap Penderita dirawat diruang isolasi dan dilakukan tatalaksana sebagai berikut : 1. demam biasanya tidak tinggi . nafas berbau. kulit telinga. kepentingan penderita sendiri maupun untuk mencegah penularan ke anak disekitarnya. nekrosis fokal pada hati dan ginjal. Pseudomembran dapat meluas keluar tonsil. Kuman difteri menghasilkan eksotoksin yang dapat menimbulkan miokardis. dengan tanda khas terbentuknya pseudomembran dan eksotoksin yang menimbulkan gejala umum dan lokal.Badan lemah. Diagnosis Diagnosis didasarkan atas gejala dan tanda sebagai berikut : Anamnesis .

LDH. suara bicara dan lainlain). Medikamentosa kalau perlu diteruskan Dokter 65 Unit terkait .000 unit dalam 200 ml NaCl 0.DIFTERI NO DOKUMEN SOP/PEL-MDK/029 TANGGAL TERBIT 5 Januari 2010 NO REVISI HALAMAN 00 2/2 DITETAPKAN OLEH DIREKTUR dr.Keadaan umum dan tanda utama . masukan makanan atau cairan adekuat kalau perlu diberikan MLP 5. Antitoksin Hari I : 40. Penangan komplikasi tergantung jenisnya Pemantauan .9 % diberikan dalam tetesan kira-kira 16 tetes/menit i.000 unit dalam 200 ml NaCl 0.Kemungkinan sumbatan jalan nafas. EKG dikerjakan tiap minggu untuk mengetahui kemungkinan timbulnya miokarditis. kalau positif pemberian ADS dikerjakan secara besredka. seperti miokarditis dan kelumpuhan saraf (palatum molle.v Untuk mencegah kemungkinan alergi terhadap serum kuda. atau i.Pemeriksaan usap tenggorok untuk kontak serumah dengan cara langsung atau biakan. pemberian ADS didahului dengan test kulitdan konjungtiva. Kalau perlu dipasang monitor jantung.Masukan makanan atau cairan Jantung : pemeriksaan auskultasi jantung.v . Tatalaksana penderita rawat jalan Penderita pulang rawat inap kontrol di poliklinik dan dilakukan tatalaksana sebagai berikut : 1. Vitamin B1 : 3x1oo mg sampai 10 hari 8.m langsung Hari II : 20. . pada obstruksi kalau perlu dilakukan trakeostomi 3.Pemeriksaan usap tenggorok penderita langsung sampai tiga hari negatif . Diit TKTP. Oksigenisasi kalau perlu 4. diberikan dalam tetesan kira-kira 16 tetes/ menit i.9%. bilamana positif diberikan eritromisin 50 mg/kg bb/hari. SGPT. CK dan CKMB untuk memperkuat diagnosis miokarditis. Trisno Susilo Prosedur 2. 7. 2. dipantau kemungkinan komplikasi. Jalan nafas dijaga supaya selalu bebas. pemeriksaan tonsil . Antibiotik : 6. E. Pemeriksaan SGOT.

untuk 10-14 hari (maksimum 650 mg 3 kali sehari. diantara serangan sering terdapat leukopenia dan trombositopenia .Anti piretika.ANA antibodi heterofil dan autoantibodi terhadap eritrosit 1. antibodi mirip faktor reumatoid. sangat penting waktu serangan . mungkin delirium. Suhu dengan cepat mencapai 40 atau 41 derajat. nyeri epigastrik. rasa panas sekali disertai dengan nyeri kepala yang hebat. vitamin .Hindari dehidrasi terutama pada infeksi P. Trisno Susilo Diagnosa Tanda utama malaria adalah demam paroksimal dengan periodisitas 48 jam. (apus) merupakan diagnosis pasti .Transfusi PRC bila penderita anemia sedang atau berat . b. dapat juga anak terkencing.MALARIA NO DOKUMEN SOP/PEL-MDK/030 TANGGAL TERBIT 5 Januari 2010 NO REVISI HALAMAN 00 1/1 DITETAPKAN OLEH DIREKTUR dr.5 g basa). .Ditemukannya tanda parasit dalam darah dengan pemeriksaan prepatrat darah tebal atau tipis. Falfifarum yang resisten terhadap klorokin dosis 20 mg kinin sulfat/kg bb/hari dalam 3-6 dosis setelah makan. sehingga panasnya harian (quotidian). Klorokin difosat : aktif hanya terhadap fase eritrositik. Falcifarum Dokter 66 Prosedur Unit terkait . Sering dengan nausea dan vomitus. Kinine : untuk P. Suportif . 1 tablet = 333 mg kinin sulfat). E.Selama serangan mungkin leukositosis . Obat anti malaria Terapi dengan preparat antimalaria merupakan tindakan terapeutik terpenting a. c. Dosis Dewasa : 2 -3 tablet dosis tunggal Umur 9-14 tahun : 2 tablet 4-8 tahun : 1 tablet < 4 tahun : ½ tablet 3. Fansidar (kombinasi 500 mg sulfadoxin + 25 mg pirimetamin per tablet) 2.Cukup kalori. Dosis total satu seri terapi 20-25 mg basa (3 mg basa = 5 mg garam)/ kg bb/ hari dalam 4 dosis (maksimal 1. Pada awal infeksi sifat periodik mungkin tidak tampak karena adanya lebih dari satu angkatan parasit berkembang biak singkron. Tanda labolatorik .Perubahan imunologi antara lain IgM meninggi.

Tatalaksana Penderita baru tidak harus rawat inap. Pada stadium kataral manifestasi yang tampak mungkin hanya demam dan tanda-tanda nasofaringitis dan konjungtivis 2. Pada umumnya anak tampak lemah 3. sangat menular yang ditandai dengan stadia : stadium kataral. ruam makulopapular munculnya mulai dari belakang telinga. E.Keadaan umum lemah sekali . Dapat disertai diare dan muntah 4. menambah kecurigaan.Ada komplikasi Pemantauan . mendadak). gangguan respirasi dan gangguan fungsi saraf Prosedur Unit terkait Dokter 67 . Anak dengan panas 3-5 hari (biasanya tinggi. Koplik spot pada hari ke 2-3 panas 4. Anamnesis 1. mengikuti pertumbuhan rambut di dahi dan kemudian di seluruh tubuh. Mata merah. erupsi dan konvalensi. Trisno Susilo Pengertian Morbili adalah penyakit akut pada anak. Dapat disertai dengan gejala perdarahan.MORBILI NO DOKUMEN SOP/PEL-MDK/031 TANGGAL TERBIT 5 Januari 2010 NO REVISI HALAMAN 00 1/1 DITETAPKAN OLEH DIREKTUR dr. Anak resiko tinggi yaitu bila penderita morbili dan belum pernah vaksinasi campak. pilek. 3.Kemungkinan timbulnya komplikasi : demam tak mau turun. Penyakit ini disebabkan oleh golongan paramyxovirus. harus dicurigai.Hipertermia/kejang . fotofobi. indikasi rawat adalah : . Pemeriksaan fisik 1.Keadaan umum. Pada stadium erupsi timbul ruam yang khas . tanda utama (khususnya respirasi) .Intake makanan/ cairan kurang atau banyak muntah atau diare . epistaksis. petekie dan ekimosis 5. 2. tahi mata. batuk.Intake makanan/ cairan .

Trisno Susilo Pengertian Pertusis merupakan penyakit infeksi akut yang ditandai dengan batuk ngakil. laring dan nasofaring. Akibat tekanan batuk : hernia. tak terlalu sering muntah . 2.Keadaan umum. perdarahan subkonjungtiva/retina/otak 4.Masukan makanan . Kuman biasanya bersarang pada epitel mukosa menimbulkan eksudasi mukopurulen.PERTUSIS NO DOKUMEN SOP/PEL-MDK/032 TANGGAL TERBIT 5 Januari 2010 NO REVISI HALAMAN 00 1/1 DITETAPKAN OLEH DIREKTUR dr. prolapus anus.Tidak ada komplikasi Pemantauan .. tetapi mungkin juga terdapat pada perubahan mukosa trakea. Epistaksis. Penyakit ini disebabkan oleh bardotella pertusis atau hemofilus pertusis lesi biasanya terdapat pada bronkus dan bronkiolus. 5. emfisema kutis. spasmodik paroksimal. Kurang istirahat karena batuk. sianosis pada otak bisa timbul ensefalopati 3. Komplikasi 1. Kurang gizi karena muntah sering Tatalaksana . Hipoksia .Kemungkinan timbulnya komplikasi Prosedur Unit terkait Dokter 68 . pneumotoraks. tanda utama . Aktivasi TBC 6.Masukan makanan/cairan baik.Keseimbangan cairan .Tidak hipoksemia/ sianosis waktu serangan batuk . muka sembab/edema. E.

Purpura fulminans 5.VARISELA NO DOKUMEN SOP/PEL-MDK/033 TANGGAL TERBIT 5 Januari 2010 NO REVISI HALAMAN 00 1/1 DITETAPKAN OLEH DIREKTUR dr. Zoster imunoglobulin (ZIG) dapat melindungi pasien yang immunocompromized.Erupsi dimulai dengan makula eritematosa. Prosedur Tatalaksana 1. Infeksi bakterial sekunder 2. E. meskipun dapat menyerang orang dewasa. ginjal. Komplikasi 1. termasuk virus DNA. Istirahat sampai pada masa kusta 2. Trisno Susilo Pengertian Varisela adalah penyakit yang banyak terdapat pada anak terutama umur 2-10 tahun. Antibiotika bila ada tanda-tanda infeksi sekunder bakterial 5. dikelilingi oleh eritem. Radang organ-oragn. hati. . Penyebarannya dalah virus varisela zoster (VZV). Anti pruritus 4.Umumnya didahului oleh stadium prodromal ringan 1-2 hari : lesu (malaise). nyeri kepala. yang dalam waktu singkat menjadi papula lalu vesikula. parasatamol 10 mg/ kg bb/kali 3. Antipiretika bila perlu. bahkan orang tua. demam tidak menyerupai erupsi. Trombositopenia 3. Pneumonia 4. mungkin stadium prodromal tak tampak sama sekali. Gejala klinis . jantung. otot 6. Ensefalitis pasca infeksi Unit terkait Dokter 69 .

E. .Pigmentasi kulit (pellagroid dermatosis) . faktor fasilitas perumahan dan sanitasi.Berkurangnya jaringan lemak subkutan .KEP ringan dan sedang merupakan keadaan patologik akibat kekurangan energi dalam waktu yang cukup lama.Kwashiorkor terjadi akibat tubuh selalu kekurangan protein dalam diit dan lebih banyak mendapat diit kaya karbohidrat (energi relatif cukup). lurus.Pertumbuhan terlambat . baik morfologi maupun fungsinya (dikatakan anak marasmik hidup dari “ ” sendiri ) . .Moon face . Etiologi Etiologi KEP dibedakan menjadi dua yaitu etiologi langsung dan etiologi tidak langsung.KELAINAN GIZI (KEKURANGAN ENERGI DAN PROTEIN) NO DOKUMEN SOP/PEL-MDK/034 TANGGAL TERBIT 5 Januari 2010 NO REVISI HALAMAN 00 1/3 DITETAPKAN OLEH DIREKTUR dr. mudah dicabut tanpa rasa sakit.Perubahan rambut tipis (tipis. faktor pe Macam KEP seperti : . kemerahan karena gangguan melanogenesis . malabsorpsi dll.Marasmus dimulai dari mengurangnya hingga menghilangnya lemak subkutan yang berlanjut dengan menyusutnya jaringan otot serta organ lain. Gejala Klinis Kwashiorkor . jarang.Anemia 70 . Trisno Susilo Pengertian Kekurangan energi dan protein (KEP) adalah keadaan patologik yang disebabkan oleh kekurangan energi atau protein atau sering disertai kekurangan zat gizi lainnya yang biasanya terjadi dalam waktu cukup lama.Edema . masukan protein dan zat gizi lainnya mungkin cukup. faktor pendidikan dan pengetahuan. faktor fasilitas pelayanan kesehatan.Penyebab langsung : intake makanan yang kurang dan penyakit atau kelainan yang diderita anak.Perubahan psikomotorik (cengeng. Penyebab tak langsung : faktor ekonomi. misalnya infeksi. apatis) .

Gejala defisiensi nutrien atau vitamin yang menyertai . kusam. Hipoglikemia. Diare : penderita kwashiorkor dapat mengalami atrofi epitel usus. 4. Terapi dietik dengan kualitas dan kuantitas yang baik (TKTP=Tinggi kalori dan tinggi protein). perut tampak buncit. sehingga daya kemampuan pencernaan makanan munurun. Infeksi dan KEP membentuk lingkaran setan. kemerahan.Tidak ada oedema. BB < 60 % . 2.Pertumbuhan yang sangat terlambat . Terapi ajuvan Prosedur 71 . 3. Komplikasi jangka panjang bagi penderita umur < 2 tahun adalah gangguan pertumbuhan otak disamping itu mielinisasi yang berlangsung hingga umur kurang lebih 6 tahun juga terganggu. E. hipomagnesemia.Jaringan otot mengecil . Membrantas penyakit penyerta atau komplikasi 5.Lemak subkutan hampir tidak ada (sel lemak masih ada).Gejala atau tanda penyakit yang menyertai (diare. mudah dicabut . . Terapi suportif : perawatan yang teliti dengan dasar kasih sayang. Trisno Susilo Pengertian Gejala Klinis Marasmus . Karena itu. sehingga kulit anak keriput wajah seperti orang tua. 3. KEP berat dan lama pada umur muda menyebabkan hambatan tumbuh kembang yang serius. saling memberatkan. penyakit infeksi akut amupun kronik) Komplikasi 1. Indikasi rawat inap dan pokok-pokok tatalaksana antara lain : 1.KELAINAN GIZI (KEKURANGAN ENERGI DAN PROTEIN) NO DOKUMEN SOP/PEL-MDK/034 TANGGAL TERBIT 5 Januari 2010 NO REVISI HALAMAN 00 1/3 DITETAPKAN OLEH DIREKTUR dr. Infeksi : penderita KEP berat mudah mengalami infeksi karena kekebalan humoral maupun selular menurun. Terapi subtitusi selain protein 4. Mencegah komplikasi : isolasi bila perlu 6.Perubahan rambut . sebaiknya diberikan dalam porsi kecil –kecil tetapi diusahakan habis sesuai perhitungan. 2. suhu hangat (hindari kedinginan) dan apetizer bila perlu.

KELAINAN GIZI (KEKURANGAN ENERGI DAN PROTEIN) NO DOKUMEN SOP/PEL-MDK/034 TANGGAL TERBIT 5 Januari 2010 NO REVISI HALAMAN 00 1/3 DITETAPKAN OLEH DIREKTUR dr. magnesium. pasokan vitamin khusunya vitamin A . Jika ada edema. misalnya dengan penyuluhan gizi kepada orang tua dan keluarga.Kemungkinan terjadi komplikasi Unit terkait Dokter 72 . pasokan energi ditingkatkan. telur. peroral. Trisno Susilo Prosedur 7.Keberhasilan terapi dietik : pada kwasiorkor bilamana pengobatan yang diberikan berat badan menurun karena edema berangsur-angsur akan hilang.TKTP. Terapi dietik Prinsip diet yang diberikan untuk penderita KEP berat : . susu dll) . E. vitamin kompleks. Dengan bertambahnya nafsu makan anak dan berat badan berkat rehabilitasi diit. kualitas tinggi (protein hewani.000 UI sekali pemberian.Protein : 2. termasuk menghindari kemungkinan malabsorpsi Tidak merangsang Perhitungan untuk kwashiorkor . Merujuk latar belakang (penyebab tidak langsung). asam folat.4 g/kg bb/ hari. Bila ada kekurangan nutrien lain khususnya besi.Mudah diserap. Mula-mula energi diberikan sebanyak keperluan anak umur sesuai dengan berat badan setelah dikurangi edema. . berat badan sekarang diperkirakan dengan mengurangi 5-25 % dari berat badan terukur. Pemantauan . Vitamin A perlu diberikan 200. Edema anarsarka akan hilang dalam waktu 1 minggu yangdiikuti kenaikan berat badan secara berangsur-angsur pula. Perhitungan untuk marasmus Penderita marasmus prinsip perhitungan sama dengan kwarshiorkor hanya karena tidak ada edema maka berat badan terukur sama dengan berat badan sesungguhnya.Enegi : pada penderita kwashiorkor bergantung pada berat ringannya edema.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful