Tonsilektomi

Tonsilektomi merupakan prosedur yang paling sering dilakukan dalam sejarah operasi. Kontroversi mengenai tonsilektomi dilaporkan lebih banyak bila dibandingkan dengan prosedur operasi manapun. Konsensus umum yang beredar sekarang menyatakan bahwa tonsilektomi telah dilakukan dalam jumlah yang tidak tepat (seharusnya) pada anak-anak pada tahun-tahun yang lalu. Besarnya jumlah ini karena keyakinan para dokter dan orangtua tentang keuntungan tonsilektomi dan bukan berdasarkan bukti ilmiah atau studi klinis. Pada dekade terakhir, tonsilektomi tidak hanya dilakukan untuk tonsilitis berulang, namun juga untuk berbagai kondisi yang lebih luas termasuk kesulitan makan, kegagalan penambahan berat badan, overbite, tounge thrust, halitosis, mendengkur, gangguan bicara dan enuresis. Saat ini walau jumlah operasi tonsilektomi telah mengalami penurunan bermakna, namun masih menjadi operasi yang paling sering dilakukan. Pengeluaran pelayanan medik untuk prosedur ini diperkirakan adalah setengah triliun dolar pertahun. Pada pertengahan abad yang lalu, mulai terdapat pergeseran dari hampir tidak adanya kriteria yang jelas untuk melakukan tonsilektomi menuju kriteria yang lebih tegas dan jelas. Selama ini telah dikembangkan berbagai studi untuk menyusun indikasi formal yang ternyata menghasilkan perseteruan berbagai pihak terkait. Dalam penyusunannya ditemukan kesulitan untuk memprediksi kemungkinan infeksi di kemudian hari sehingga dianjurkan terapi dilakukan dengan pendekatan personal dan tidak berdasarkan peraturan yang kaku. American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery telah mengeluarkan rekomendasi resmi mengenai tindakan tonsilektomi yang merupakan kesepakatan para ahli. Saat ini, selain hasil analisa klinis, isu di bidang ekonomi mulai muncul dalam pertimbangan pemilihan suatu tindakan, karena mulai munculnya aturan yang ketat dalam pembayaran pelayanan kesehatan oleh pembayar pihak ketiga. Pembayar pihak ketiga mensyaratkan adanya indikasi yang jelas dan terdokumentasi sebelum suatu prosedur dilakukan. Selain itu, beberapa pembayar pihak ketiga juga mensyaratkan adanya second opinion. Walaupun fenomena ini tidak membatalkan operasi yang telah disepakati pasien (orangtua) dan dokter, namun ternyata dapat membantu dalam proses seleksi operasi tonsilektomi sehingga benar-benar dilakukan untuk kandidat yang tepat. Tonsilektomi telah dilakukan oleh dokter THT, dokter bedah umum, dokter umum dan dokter keluarga selama lebih dari 50 tahun terakhir. Namun, dalam 30 tahun terakhir, kebutuhan akan adanya standarisasi teknik operasi menyebabkan pergeseran pola praktek operasi tonsilektomi. Saat ini di Amerika Serikat tonsilektomi secara ekslusif dilakukan oleh dokter THT. Tingkat komplikasi, seperti perdarahan pascaoperasi berkisar antara 0,1-8,1% dari jumlah kasus. Kematian pada operasi sangat jarang. Kematian dapat terjadi akibat komplikasi bedah maupun anestesi. Tantangan terbesar selain operasinya sendiri adalah pengambilan keputusan dan teknik yang dilakukan dalam pelaksanaannya. A. Definisi Tonsilektomi didefinisikan sebagai operasi pengangkatan seluruh tonsil palatina.2,3 Tonsiloadenoidektomi adalah pengangkatan tonsil palatina dan jaringan limfoid di nasofaring yang dikenal sebagai adenoid atau tonsil faringeal.4 B. Epidemiologi
Page | 1

dengan atau tanpa adenoidektomi.4%) menjalani tonsiloadenoidektomi dan 39. Page | 2 . Fenomena ini juga terlihat pada jumlah operasi tonsiloadenoidektomi dengan puncak kenaikan pada tahun kedua (275 kasus) dan terus menurun sampai tahun 2003 (152 kasus). Tren serupa juga ditemukan di Skotlandia. tonsilektomi digolongkan pada operasi mayor. Tonsil berbentuk oval dengan panjang 2-5 cm.5 Di AS karena kekhawatiran komplikasi.7 Di Indonesia. berasal dari epitel permukaan. terjadi invaginasi kantong brakial ke II ke dinding faring akibat pertumbuhan faring ke lateral. daerah yang kosong diatasnya dikenal sebagai fosa supratonsilar. Dari jumlah ini. di bawah mukosa dinding posterior faring dan dekat orifisium tuba eustachius. Bagian terpentingnya adalah tonsil palatina dan tonsil faringeal (adenoid).000 anak (86. dan dibatasi oleh pilar anterior (otot palatoglosus) dan pilar posterior (otot palatofaringeus). a. data nasional mengenai jumlah operasi tonsilektomi atau tonsiloadenoidektomi belum ada. tonsilektomi digolongkan pada operasi sedang karena durasi operasi pendek dan teknik tidak sulit.10 Sedangkan data dari rumah sakit Fatmawati dalam 3 tahun terakhir (2002-2004) menunjukkan kecenderungan kenaikan jumlah operasi tonsilektomi dan penurunan jumlah operasi tonsiloadenoidektomi.000 anak-anak di bawah 15 tahun menjalani tonsilektomi. Tonsil tidak selalu mengisi seluruh fosa tonsilaris.Tonsil Palatina Tonsil palatina adalah suatu massa jaringan limfoid yang terletak di dalam fosa tonsil pada kedua sudut orofaring.000 pada tahun 1990 (2. 2. Unsur yang lain adalah tonsil lingual.6%) menjalani tonsilektomi saja.8 Pada awal tahun 1960 dan 1970-an. Pada bulan ke 3 tumbuh limfosit di dekat epitel tersebut dan terjadi nodul pada bulan ke 6. yang kemudian ditutupi epitel.000 lainnya (13. data yang didapatkan dari RSUPNCM selama 5 tahun terakhir (19992003) menunjukkan kecenderungan penurunan jumlah operasi tonsilektomi.Embriologi Pada permulaan pertumbuhan tonsil. telah dilakukan 1 sampai 2 juta tonsilektomi. 248. Sedangkan pada orang dewasa berusia 16 tahun atau lebih. adenoidektomi atau gabungan keduanya setiap tahunnya di Amerika Serikat.7 Di Indonesia. masing-masing tonsil mempunyai 10-30 kriptus yang meluas ke dalam jaringan tonsil. diperkirakan 287. Bagian yang mengalami invaginasi akan membagi lagi dalam beberapa bagian.11 C.Anatomi Cincin waldeyer merupakan jaringan limfoid yang mengelilingi faring.000 pada tahun 1996 (3. Namun. Selanjutnya terbentuk fosa tonsil pada bagian dorsal kantong tersebut.6. namun hal ini bukan berarti tonsilektomi merupakan operasi minor karena tetap memerlukan keterampilan dan ketelitian yang tinggi dari operator dalam pelaksanaannya. sehingga terjadi kripta. angka tonsilektomi meningkat dari 72 per 100. gugus limfoid lateral faring dan kelenjar-kelenjar limfoid yang tersebar dalam fosa Rosenmuller.200 operasi). Embriologi dan Anatomi Tonsil12 1.9 Angka ini menunjukkan penurunan dari waktu ke waktu dimana pada tahun 1996. Kripta tumbuh pada bulan ke 3 hingga ke 6 kehidupan janin. dengan demikian terbentuklah massa jaringan tonsil. Kapsul dan jaringan ikat lain tumbuh pada bulan ke 5 dan berasal dari mesenkim. yang akhirnya terbentuk jaringan ikat limfoid.919 operasi) menjadi 78 per 100.Tonsilektomi merupakan prosedur operasi yang praktis dan aman.

Tonsil terletak Lateral– m. Serabut ini dapat menjadi penyebab kesukaran saat pengangkatan tonsil dengan jerat. Sternokleidomastoideus. fasialis) dengan cabangnya A. faringeal asenden. lingualis dengan cabangnya A. yaitu batas anterior adalah otot palatoglosus. 3) A. tuba eustachius dan dasar tengkorak dan ke arah bawah meluas hingga dinding lateral esofagus. faring m. lingualis dorsal. Komplikasi yang sering terjadi adalah terdapatnya sisa tonsil atau terpotongnya pangkal lidah. Fosa Tonsil Fosa tonsil atau sinus tonsil dibatasi oleh otot-otot orofaring. karotis eksterna. palatina desenden. Pilar posterior adalah otot vertikal yang ke atas mencapai palatum mole. sehingga pada tonsilektomi harus hati-hati agar pilar posterior tidak terluka. maksilaris interna dengan cabangnya A. palatina desenden. diantara kedua daerah tersebut diperdarahi oleh A. lingualis dorsal dan bagian posterior oleh A. tonsilaris. ke arah bawah terpisah dan masuk ke jaringan di pangkal lidah dan dinding lateral faring. selanjutnya ke Page | 3 . palatum Dibatasi oleh: superior palatoglosus palatofaringeus mole Secara mikroskopik tonsil terdiri atas 3 komponen yaitu jaringan ikat. Kutub bawah tonsil bagian anterior diperdarahi oleh A. mulai dari palatum mole dan berakhir di sisi lateral lidah. faringeal asenden dan A. Kutub atas tonsil diperdarahi oleh A. Anterior Posterior Superior Inferior – tonsil lingual di – – – lateral konstriktor orofaring. yaitu 1) A. m. 4) A. Pendarahan Tonsil mendapat pendarahan dari cabang-cabang A. Walaupun para pakar anatomi menyangkal adanya kapsul ini. Vena-vena dari tonsil membentuk pleksus yang bergabung dengan pleksus dari faring. Aliran getah bening Aliran getah bening dari daerah tonsil akan menuju rangkaian getah bening servikal profunda (deep jugular node) bagian superior di bawah M. Pilar anterior mempunyai bentuk seperti kipas pada rongga mulut. palatina asenden. Pilar anterior dan pilar posterior bersatu di bagian atas pada palatum mole. tonsilaris dan A. batas lateral atau dinding luarnya adalah otot konstriktor faring superior. yang disebut kapsul. maksilaris eksterna (A. palatina asenden. tetapi para klinisi menyatakan bahwa kapsul adalah jaringan ikat putih yang menutupi 4/5 bagian tonsil. Kapsul Tonsil Bagian permukaan lateral tonsil ditutupi oleh suatu membran jaringan ikat. Aliran balik melalui pleksus vena di sekitar kapsul tonsil. Plika Triangularis Diantara pangkal lidah dan bagian anterior kutub bawah tonsil terdapat plika triangularis yang merupakan suatu struktur normal yang telah ada sejak masa embrio. folikel germinativum (merupakan sel limfoid) dan jaringan interfolikel (terdiri dari jaringan linfoid). vena lidah dan pleksus faringeal. 2) A.

Saat ini. walaupun dapat meluas ke fosa Rosenmuller dan orifisium tuba eustachius. Sebuah kepustakaan menyebutkan bahwa usia tidak menentukan boleh tidaknya dilakukan tonsilektomi. limfosit T. Namun. indikasi relatif tonsilektomi pada keadaan non emergency dan perlunya batasan usia pada keadaan ini masih menjadi perdebatan. sel plasma dan sel pembawa IgG. Imunologi Tonsil Tonsil merupakan jaringan limfoid yang mengandung sel limfosit. a. Persarafan Tonsil bagian atas mendapat sensasi dari serabut saraf ke V melalui ganglion sfenopalatina dan bagian bawah dari saraf glosofaringeus. Pada umumnya adenoid akan mencapai ukuran maksimal antara usia 37 tahun kemudian akan mengalami regresi.2% dari keseluruhan limfosit tubuh pada orang dewasa. 2) sebagai organ utama produksi antibodi dan sensitisasi sel limfosit T dengan antigen spesifik. Juga terdapat sel limfosit B. sel dendrit dan APCs (antigen presenting cells) yang berperan dalam proses transportasi antigen ke sel limfosit sehingga terjadi sintesis imunoglobulin spesifik. Adenoid tidak mempunyai kriptus. A. Tonsil mempunyai 2 fungsi utama yaitu 1) menangkap dan mengumpulkan bahan asing dengan efektif. Dulu tonsilektomi diindikasikan untuk terapi tonsilitis kronik dan berulang. indikasi tonsilektomi sudah tidak diperdebatkan lagi (indikasi absolut). makrofag. Adenoid terletak di dinding belakang nasofaring.1-0. namun terdapat perbedaan prioritas relatif dalam menentukan indikasi tonsilektomi pada saat ini. Lobus ini tersusun mengelilingi daerah yang lebih rendah di bagian tengah. Tonsil hanya mempunyai pembuluh getah bening eferan sedangkan pembuluh getah bening aferen tidak ada. Pada tonsil terdapat sistim imun kompleks yang terdiri atas sel M (sel membran).kelenjar toraks dan akhirnya menuju duktus torasikus. Jaringan adenoid di nasofaring terutama ditemukan pada dinding atas dan posterior. Tonsil merupakan organ limfatik sekunder yang diperlukan untuk diferensiasi dan proliferasi limfosit yang sudah disensitisasi.Indikasi Absolutx6 (AAO) Page | 4 .Indikasi Tonsilektomi Indikasi tonsilektomi dulu dan sekarang tidak berbeda. sedangkan di darah 55-75%:15-30%. Ukuran adenoid bervariasi pada masing-masing anak. Proporsi limfosit B dan T pada tonsil adalah 50%:50%.Tonsil Faringeal (Adenoid) Adenoid merupakan masa limfoid yang berlobus dan terdiri dari jaringan limfoid yang sama dengan yang terdapat pada tonsil.13 1. Lobus atau segmen tersebut tersusun teratur seperti suatu segmen terpisah dari sebuah ceruk dengan celah atau kantong diantaranya. 0. dikenal sebagai bursa faringeus.9 Untuk keadaan emergency seperti adanya obstruksi saluran napas. indikasi yang lebih utama adalah obstruksi saluran napas dan hipertrofi tonsil.

Tonsilitis kronik atau berulang pada karier streptokokus yang tidak membaik dengan pemberian antibiotik β-laktamase resisten Pada keadaan tertentu seperti pada abses peritonsilar (Quinsy). debris kriptus dari tonsil (“cryptic tonsillitis”) dan pada keadaan yang lebih berat dapat timbul gejala seperti nyeri telinga dan nyeri atau rasa tidak enak di tenggorok yang menetap. Mengingat tonsilektomi umumnya dilakukan di bawah anestesi umum. gangguan tidur dan komplikasi kardiopulmoner b.Penilaian Praoperasi Keputusan untuk melakukan operasi tonsilektomi pada seorang pasien terletak di tangan dokter ahli di bidang ini.Gangguan perdarahan 2. dokter Page | 5 .Risiko anestesi yang besar atau penyakit berat 3. Karena sebagian besar pasien yang menjalani tonsilektomi adalah anak-anak dan sisanya orang dewasa. diperlukan keterlibatan dan kerjasama dokter umum.Terjadi 3 episode atau lebih infeksi tonsil per tahun dengan terapi antibiotik adekuat b.Abses peritonsil yang tidak membaik dengan pengobatan medis dan drainase c. operasi dapat dilaksanakan dengan tetap memperhitungkan imbang “manfaat dan risiko”.Anemia 4. tonsilektomi dapat dilaksanakan bersamaan dengan insisi abses.8 Saat mempertimbangkan tonsilektomi untuk pasien dewasa harus dibedakan apakah mereka mutlak memerlukan operasi tersebut atau hanya sebagai kandidat. Akan tetapi semua bentuk tonsilitis kronik tidak sama. Dugaan keganasan dan obstruksi saluran nafas merupakan indikasi absolut untuk tonsilektomi. hidung dan tenggorok atau dokter yang bertanggungjawab bila dalam keadaan tertentu tidak ada dokter spesialis THT.Tonsilitis yang menimbulkan kejang demam d.a. disfagia berat. Keadaan tersebut adalah:8 1.Infeksi akut yang berat E.Halitosis akibat tonsilitis kronik yang tidak membaik dengan pemberian terapi medis c. Persiapan Praoperasix8=gabungan 1.Indikasi Relatifx6 (AAO) a. maka kondisi kesehatan pasien terlebih dahulu harus dievaluasi untuk menyatakan kelayakannya menjalani operasi tersebut.Tonsilitis yang membutuhkan biopsi untuk menentukan patologi anatomi 2. Tetapi hanya sedikit tonsilektomi pada dewasa yang dilakukan atas indikasi tersebut. namun bila sebelumnya dapat diatasi.15 Kontraindikasi Terdapat beberapa keadaan yang disebutkan sebagai kontraindikasi.Pembengkakan tonsil yang menyebabkan obstruksi saluran napas. gejala dapat sangat sederhana seperti halitosis. Indikasi tonsilektomi mungkin dapat berdasarkan terdapat dan beratnya satu atau lebih dari gejala tersebut dan pasien seperti ini harus dipertimbangkan sebagai kandidat untuk tonsilektomi karena gejala tersebut dapat mempengaruhi kualitas hidup walaupun tidak mengancam nyawa. yaitu dokter spesialis telinga. kebanyakan karena infeksi kronik.

tanda-tanda gagal jantung kongestif dan penyakit paru obstruktif menahun. maka pemeriksaan penunjang yang direkomendasikan untuk tonsilektomi adalah sebagai berikut: 1)Pemeriksaan darah tepi: Hb. Penyakit kronik terutama paru-paru dan jantung. diabetes melitus. hipertensi. hitung jenis. b. epilepsi. Adanya penyulit seperti asma. epilepsi. a.Pemeriksaan Fisik Keadaan umum Status gizi: malnutrisi Penilaian jantung dan paru: peningkatan tekanan darah. kelainan metabolik atau penyakit tertentu yang dapat meningkatkan mortalitas dan morbiditas selama dan pascaoperasi. PT/APTT a. imunisasi. Pada pasien ini. Sampai saat ini masih terdapat perbedaan baik di kalangan klinisi maupun institusi pelayanan kesehatan dalam memilih pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan secara rutin atau atas indikasi tertentu. Riwayat operasi terdahulu dan riwayat anestesi b. kelainan paru.Pemeriksaan Penunjang17 Berdasarkan hasil kajian HTA Indonesia 2003 tentang persiapan rutin prabedah elektif. trombosit 2)Pemeriksaan hemostasis: BT/CT. kelainan maksilofasial pada anak dan pada orang dewasa asma. Penilaian preoperasi secara umum terdiri dari penilaian klinis yang diperoleh dari anamsesis. berat dan usia kelahiran). Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa konsultasi kepada dokter spesialis anak maupun penyakit dalam hanya dilakukan untuk kondisi tertentu oleh dokter spesialis THT atau anestesi. Hal ini memiliki dampak pada keselamatan pasien selain meningkatnya biaya kesehatan yang harus dikeluarkan pasien. dll. AFP: riwayat kelahiran (trauma lahir. Perlu perhatian khusus terutama bagi dokter spesialis THT untuk pasien dengan penyulit berupa kelainan anatomis. pemerintah atau pihak ketiga. Penilaian laboratoris dan radiologik kadang dibutuhkan.Informed consent8 Informed consent perlu diberikan kepada pasien sehubungan dengan risiko dan komplikasi yang potensial akan dialami pasien.Persiapan praoperasi17 Page | 6 .Anamnesis dan Rekam Medik Riwayat kesehatan. rekam medik dan pemeriksaan fisik. murmur pada jantung. Selain itu penting untuk mendokumentasikan semua temuan pemeriksaan fisik dalam rekam medik. c. obat yang sedang dan pernah digunakan beserta dosisnya. Misalnya anak dengan malnutrisi. leukosit. infeksi terakhir terutama infeksi saluran napas khususnya pneumonia. Konsultasi ini dapat dilakukan baik oleh dokter spesialis THT maupun spesialis anestesi.spesialis anak dan dokter spesialis penyakit dalam untuk memberikan penilaian preoperasi terhadap pasien. Penilaian preoperasi pada pasien rawat jalan dapat mengurangi lama perawatan di rumah sakit dan meminimalkan pembatalan atau penundaan operasi (American Family Physician). alergi. kelainan kongenital di daerah orofaring dan kelainan fungsional. kelainan yang telah ada dapat menyulitkan proses operasi. Ht. kelainan anatomi.

Sehingga dapat dilakukan pelayanan anestesi yang baik dan persiapan untuk mengantisipasi kemungkinan komplikasi yang mungkin akan dihadapi dokter anestesi yang bersangkutan. a. Beberapa studi menyatakan bahwa terdapat kondisi-kondisi tertentu yang didapatkan dengan anamnesis disamping data dari rekam medik. Sampai saat ini teknik tonsilektomi yang optimal dengan morbiditas yang rendah masih menjadi kontroversi. Page | 7 . berdasarkan umur pasien. Penilaian preanestesi ini merupakan tanggung jawab dokter ahli anestesia dan terdiri dari:18 a. Terutama adanya infeksi saluran pernapasan atas yang dapat mengganggu manajemen anestesi. 1. b. perdarahan perioperatif dan pascaoperatif serta durasi operasi. jantung dan catatan mengenai tanda vital pasien. Anamnesis dan Evaluasi rekam medik Mengetahui keadaan kesehatan pasien akan sangat bermanfaat dalam mengetahui riwayat kesehatan dan penyakit yang pernah atau sedang diderita pasien. Teknik Operasi Tonsilektomi Pengangkatan tonsil pertama sebagai tindakan medis telah dilakukan pada abad 1 Masehi oleh Cornelius Celsus di Roma dengan menggunakan jari tangan. Lama puasa dapat dilihat pada tabel 2. F. test Malampatti untuk feasibility intubasi.Puasa harus dilakukan sebelum operasi dilakukan. Tidak seperti kebanyakan operasi dimana luka sembuh per primam. penyembuhan luka pada tonsilektomi terjadi per sekundam. evaluasi paru-paru.19 Selama bertahuntahun.Tes praoperasi Tes yang dilakukan sebelum operasi terdiri dari tes rutin dan tes yang dilakukan atas dasar indikasi tertentu.19 Selain itu juga ditentukan oleh kemampuan dan pengalaman ahli bedah serta ketersediaan teknologi yang mendukung. masing-masing teknik memiliki kelebihan dan kekurangan.20 Beberapa teknik dan peralatan baru ditemukan dan dikembangkan di samping teknik tonsilektomi standar.Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik minimum: evaluasi jalan napas.9. Penilaian praanestesia dilakukan sebelum pelaksanaan operasi.19 Diskusi terkini dalam memilih jenis teknik operasi difokuskan pada morbiditas seperti nyeri.9 Di Indonesia teknik tonsilektomi yang terbanyak digunakan saat ini adalah teknik Guillotine dan diseksi. berbagai teknik dan instrumen untuk tonsilektomi telah dikembangkan.Penilaian Praanestesia Penilaian preanestesia (preanesthesia evaluation) merupakan proses evaluasi/penilaian klinis yang dilakukan sebelum melaksanakan pelayanan anestesi baik untuk prosedur bedah maupun nonbedah.

Tonsilotom modern atau guillotine dan berbagai modifikasinya merupakan pengembangan dari sebuah alat yang dinamakan uvulotome. Hingga dikatakan bahwa teknik Guillotine merupakan teknik tonsilketomi tertua yang masih aman untuk digunakan hingga sekarang.5 Kepustakaan lama menyebutkan beberapa keuntungan teknik ini yaitu cepat. Selanjutnya dilakukan irigasi pada daerah tersebut dengan salin. Mouth gag paling baik ditempatkan dengan cara membuka mulut menggunakan jempol dan 2 jari pertama tangan kiri. Uvulotome merupakan alat yang dirancang untuk memotong uvula yang edematosa atau elongasi. dan dikenal sebagai teknik yang cepat dan praktis untuk mengangkat tonsil. Namun tidak ada literatur yang menyebutkan kapan tepatnya metode ini mulai dikerjakan. terutama sejak para pakar bedah mengenal anestesi umum dengan endotrakeal pada posisi Rose yang mempergunakan alat pembuka mulut Davis. insisi membran mukosa. namun di beberapa rumah sakit masih tetap dikerjakan. Beliau mempopulerkan alat Sluder yang merupakan modifikasi alat Guillotin. Lampu kepala digunakan oleh ahli bedah dan harus diposisikan serta dicek fungsinya sebelum tindakan dimulai. Mouth gag diselipkan dan bilah diposisikan sehingga pipa endotrakeal terfiksasi aman diantara lidah dan bilah. Pasien menjalani anestesi umum (general endotracheal anesthesia).9 Bagian penting selama tindakan adalah memposisikan pasien dengan benar dengan mouth gag pada tempatnya. Greenfield Sluder pada sekitar akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 merupakan seorang ahli yang sangat merekomendasikan teknik Guillotine dalam tonsilektomi. Mouth gag diselipkan dan didorong ke inferior dengan hati-hati agar ujung bilah tidak mengenai palatum superior sampai tonsil karena dapat menyebabkan perdarahan. wire bail untuk gigi atas dikaitkan ke Page | 8 . di UK tonsilektomi cara guillotine masih banyak digunakan.Diseksi Kebanyakan tonsilektomi saat ini dilakukan dengan metode diseksi. Negara-negara maju sudah jarang yang melakukan cara ini. prinsip dasar teknik tonsilektomi tidak berubah. mencari kapsul tonsil. biaya kecil. Hanya sedikit ahli THT yang secara rutin melakukan tonsilektomi dengan teknik Sluder. terutama di daerah masih lazim dilkukan cara ini dibandingkan cara diseksi. mereka lebih banyak mengerjakan tonsilektomi dengan cara diseksi. Saat bilah telah berada diposisinya dan pipa endotrakeal dan lidah di tengah. untuk mempertahankan pipa endotrakeal tetap di garis tengah lidah. Teknik operasi meliputi: memegang tonsil. kemudian Albucassis di Cordova membuat sebuah buku yang mengulas mengenai operasi dan pengobatan secara lengkap dengan teknik tonsilektomi yang menggunakan pisau seperti guillotine.21 2.Guillotine Tonsilektomi cara guillotine dikerjakan secara luas sejak akhir abad ke 19. membawanya ke garis tengah. komplikasi anestesi kecil. Cara ini juga banyak digunakan pada pasien anak. Lalu dilakukan hemostasis dengan elektokauter atau ikatan. mengangkat dasar tonsil dan mengangkatnya dari fossa dengan manipulasi hati-hati.22 Di negara-negara Barat.5 Laporan operasi tonsilektomi pertama dilakukan oleh Celcus pada abad ke-1.1. Di Indonesia.x11 Walaupun telah ada modifikasi teknik dan penemuan peralatan dengan desain yang lebih baik untuk tonsilektomi.5 Hingga kini.

karena mudah memicu terjadinya ledakan. Penggunaan gelombang pada frekuensi ini mencegah terjadinya gangguan konduksi saraf atau jantung. mungkin lebih sedikit jaringan sekitar yang rusak. 2 jarang digunakan kecuali pada anak yang kecil. bipolar dan prosedur dengan bantuan mikroskop. Elmed Surgitron system (bekerja pada frekuensi 3. Pada teknik ini elektroda tidak menjadi panas. Anak dan dewasa (khususnya wanita) menggunakan bilah no.8 MHz). Intubasi nasal trakea lebih tepat dilakukan dan sering digunakan oleh banyak ahli bedah bila tidak dilakukan adenoidektomi. menyatukan atau untuk koagulasi. Bedah listrik merupakan satu-satunya teknik yang dapat melakukan tindakan memotong dan hemostase dalam satu prosedur. daerah jaringan yang rusak mengecil dan total volume jaringan berkurang. fosa tonsilar dan palatum durum dan molle. Namun. panas dalam jaringan terbentuk karena adanya aliran baru yang dibuat dari teknik ini. Frekuensi radio yang digunakan dalam spektrum elektromagnetik berkisar pada 0. bibir tidak terjepit. Pada bedah listrik transfer energi berupa radiasi elektromagnetik (energi radiofrekuensi) untuk menghasilkan efek pada jaringan. monopolar suction. Setelah mouth gag dibuka dilakukan pemeriksaan secara hati-hati untuk mengetahui apakah pipa endotrakeal terlindungi adekuat. Page | 9 .1 Berbagai teknik diseksi baru telah ditemukan dan dikembangkan disamping teknik diseksi standar. the Somnus somnoplasty system (bekerja pada 460 kHz). harus dilakukan inspeksi tonsil. 2. 3 dan laki-laki dewasa memerlukan bilah no. Sebelum memulai operasi. Bilah no. Partikel yang terionisasi pada daerah ini dapat menerima cukup energi untuk memecah ikatan kimia di jaringan. Densitas baru di sekitar ujung elektroda cukup tinggi untuk membuat kerusakan bagian jaringan melalui pembentukan panas. Alat radiofrekuensi yang paling banyak tersedia yaitu alat Bovie. Teknik bedah listrik yang paling paling umum adalah monopolar blade.Radiofrekuensi24 Pada teknik radiofrekuensi. elektroda disisipkan langsung ke jaringan. dengan makin berkembangnya zat anestetik yang nonflammable dan perbaikan peralatan operasi. Teknik ini menggunakan listrik 2 arah (AC) dan pasien termasuk dalam jalur listrik (electrical pathway). Karena proses ini terjadi pada suhu rendah (400C-700C). sebagian besar dasar lidah ditutupi oleh bilah dan kutub superior dan inferior tonsil terlihat. Tindakan ini harus dilakukan dengan visualisasi langsung untuk menghindarkan kerusakan mukosa orofaringeal akibat ujung bilah. Kepala di ekstensikan dan mouth gag dielevasikan. maka penggunaan teknik bedah listrik makin meluas. 4. yaitu: 1. Pengurangan jaringan juga dapat terjadi bila energi radiofrekuensi diberikan pada medium penghantar seperti larutan salin.gigi dan mouth gag dibuka.1 Mouth gag yang dipakai sebaiknya dengan bilah yang mempunyai alur garis tengah untuk tempat pipa endotrakeal (ring blade). Bilah mouth gag tersedia dalam beberapa ukuran.1 hingga 4 MHz.Electrosurgery (Bedah listrik)20 Awalnya. bedah listrik tidak bisa digunakan bersama anestesi umum. Dapat pula digunakan sebagai tambahan pada prosedur operasi lain. Selama periode 4-6 minggu. Tenaga listrik dipasang pada kisaran 10 sampai 40 W untuk memotong.

dan hasil dari pergerakan maju mundur yang cepat dari ujung pemotong saat kontak dengan jaringan yang menyebabkan peningkatan dan penurunan tekanan jaringan internal. perdarahan pasca operasi juga minimal. 3. Dengan elektrokauter atau laser. Penggunaan teknik radiofrekuensi dapat menurunkan morbiditas tonsilektomi. Page | 10 . Teknik ini menggunakan bipolar electrical probe untuk menghasilkan listrik radiofrekuensi (radiofrequency electrical) baru melalui larutan natrium klorida. pemotongan dan koagulasi terjadi bila temperatur sel cukup tinggi untuk tekanan gas dapat memecah sel tersebut (biasanya 1500C-4000C).Skalpel harmonik25 Skalpel harmonik menggunakan teknologi ultrasonik untuk memotong dan mengkoagulasikan jaringan dengan kerusakan jaringan minimal. radiofrequency tonsillar ablation. 4. desiccation (pengeringan) dan asap juga lebih sedikit. handpiece dengan kabel penyambung. teknik ini mengurangi nyeri pascaoperasi. Skalpel harmonik memiliki beberapa keuntungan dibanding teknik bedah lain. Sistim skalpel harmonik terdiri atas generator 110 Volt. Dengan alat ini.5 kHz sejauh lebih dari 80 µm (paling penting). Tidak seperti elektrokauter. ablasi sebagian atau berkurang volumenya. Teknik ini juga menguntungkan bagi pasien terutama yang tidak bisa mentoleransi kehilangan darah seperti pada anak-anak. memecah ikatan hidrogen tersier menjadi protein denaturasi dan melalui pembentukan panas dari friksi jaringan internal akibat vibrasi frekuensi tinggi. cold tonsillar ablation. pisau bedah dan pedal kaki. Alatnya memiliki 2 mekanisme memotong yaitu oleh pisau tajam yang bergetar dengan frekuensi 55. lapangan bedah terlihat jelas karena lebih sedikit perdarahan. Keadaan ini akan menghasilkan aliran ion sodium yang dapat merusak jaringan sekitar. sedangkan dengan skalpel harmonik temperatur disebabkan oleh friksi jauh lebih rendah (biasanya 500C -1000C). yaitu: Dibandingkan dengan elektrokauter atau laser. sehingga tidak ada stray energi (energi yang tersasar) yang dapat menyebabkan shock atau luka bakar. ionised field tonsillar ablation. Teknik ini menggunakan suhu yang lebih rendah dibandingkan elektrokauter dan laser.the ArthroCare coblation system dan Argon plasma coagulators. Coblation probe memanaskan jaringan sekitar lebih rendah dibandingkan probe diatermi standar (suhu 600C (45-850C) dibanding lebih dari 1000C). sehingga menyebabkan fragmentasi berongga dan pemisahan jaringan. jaringan tonsil dapat dibuang seluruhnya. bipolar radiofrequency ablation. kerusakan akibat panas minimal karena proses pemotongan dan koagulasi terjadi pada temperatur lebih rendah dan charring. Dibandingkan teknik skalpel. Namun masih diperlukan studi yang lebih besar dengan desain yang baik untuk mengevaluasi keuntungan dan analisa biaya dari teknik ini. Koagulasi muncul ketika energi mekanik ditransfer kejaringan. pasien dengan anemia atau defisiensi faktor VIII dan pasien yang mendapatkan terapi antikoagulan. skalpel harmonik tidak memiliki energi listrik yang ditransfer ke atau melalui pasien.Coblation26 Teknik coblation juga dikenal dengan nama plasma-mediated tonsillar ablation. Dibandingkan dengan teknik diseksi standar dan elektrokauter.

6.Penyakit jantung kongenital dan didapat (MSI) Page | 11 . asma. Dengan teknik ini nyeri pascaoperasi minimal.Kelainan anatomi: Submucosal cleft palate (jika adenoidektomi dilakukan) Kelainan maksilofasial dan dentofasial 2. Tetapi masih diperlukan studi dengan desain yang baik untuk menilai keuntungan teknik ini. morbiditas menurun dan kebutuhan analgesia pascaoperasi berkurang. G.National Institute for clinical excellence menyatakan bahwa efikasi teknik coblation sama dengan teknik tonsilektomi standar tetapi teknik ini bermakna mengurangi rasa nyeri. LTA dilakukan selama 15-20 menit dan dapat dilakukan di poliklinik dengan anestesi lokal. Pada tonsilektomi intrakapsular.Infeksi saluran nafas atas. sore throat kronik. Teknik ini mengurangi volume tonsil dan menghilangkan „recesses‟ pada tonsil yang meyebabkan infeksi kronik dan rekuren. halitosis berat atau obstruksi jalan nafas yang disebabkan pembesaran tonsil.Kelainan pada komponen darah: Hemoglobin < 10 g/100 dl Hematokrit < 30 g% Kelainan perdarahan dan pembekuan (Hemofilia) 3. Hal ini akan mencegah terjadinya perlukaan jaringan dan mencegah terjadinya peradangan lokal yang menimbulkan nyeri. Penyulit Berikut ini keadaan-keadaan yang memerlukan pertimbangan khusus dalam melakukan tonsilektomi maupun tonsiloadenoidektomi pada anak dan dewasa:4 1. sehingga mengurangi nyeri pasca operasi dan mempercepat waktu pemulihan. penyakit paru lain 4. kapsul tonsil disisakan untuk menghindari terlukanya otototot faring akibat tindakan operasi dan memberikan lapisan “pelindung biologis” bagi otot dari sekret. tetapi komplikasi utama adalah perdarahan. Tonsillar regrowth dan tonsilitis kronis merupakan hal yang perlu mendapat perhatian khusus dalam teknik tonsilektomi intrakapsuler. Meskipun mikrodebrider endoskopi bukan merupakan peralatan ideal untuk tindakan tonsilektomi. Tonsilitis kronis dikontraindikasikan untuk teknik ini. namun tidak ada alat lain yang dapat menyamai ketepatan dan ketelitian alat ini dalam membersihkan jaringan tonsil tanpa melukai kapsulnya. Tekhnik ini direkomendasikan untuk tonsilitis kronik dan rekuren.Intracapsular partial tonsillectomy27 Intracapsular tonsillectomy merupakan tonsilektomi parsial yang dilakukan dengan menggunakan mikrodebrider endoskopi. Keuntungan teknik ini angka kejadian nyeri dan perdarahan pasca operasi lebih rendah dibanding tonsilektomi standar. Jaringan tonsil yang tersisa akan meningkatkan insiden tonsillar regrowth.Laser (CO2-KTP)28 Laser tonsil ablation (LTA) menggunakan CO2 atau KTP (Potassium Titanyl Phospote) untuk menguapkan dan mengangkat jaringan tonsil. 5.

Saat pemberian obat premedikasi dilakukan setelah pasien berada di bawah pengawasan dokter/perawat terlatih.Penyakit Diabetes melitus Hipertensi dan Obesitas.Melakukan induksi dengan lancar dan atraumatik 2. Tujuan tindakan anestesi pada operasi tonsilektomi dan adenoidektomi: 1. tonsilektomi masih dilakukan di bawah anestesi umum. Teknik anestesi yang dianjurkan adalah menggunakan pipa endotrakeal. epilepsi H. Dalam kepustakaan disebutkan bahwa anestesi umum biasanya dilakukan untuk tonsilektomi pada anak-anak dan orang dewasa yang tidak kooperatif dan gelisah. karena dengan ini saturasi oksigen bisa ditingkatkan. Dokter ahli anestesi serta perawat anestesi walaupun berada di luar lapangan operasi namun masih memegang kendali jalan napas. sarana prasarana serta keterampilan dokter bedah. Pasang elektroda dada untuk monitor ECG (bila tidak ada.31 Pasien dibaringkan di atas meja operasi. dosis obat anestesi dapat dikontrol dengan mudah. dapat menggunakan precordial stetoskop). Di Indonesia. jalan napas terjaga bebas. kejang demam. Obat anestesia eter tidak boleh digunakan lagi jika pembedahan menggunakan kauter/diatermi.Menyediakan rapid emergence. Teknik Anestesi29 lain.Menyediakan akses intravena yang digunakan untuk masuknya cairan atau obat-obatan yang dibutuhkan 4.Multiple 6.5.Menciptakan kondisi yang optimal untuk pelaksanaan operasi 3. dokter anestesi dan perawat anestesi. Biasanya ditujukan untuk tonsilektomi pada orang dewasa. dan penyulit penyakit Allergy seperti: metabolik lain kardiovaskular Pemilihan jenis anestesi untuk tonsilektomi ditentukan berdasarkan usia pasien. Anestesi endotrakea30. Dimana sebelumnya pasien telah diseleksi kondisi kesehatannya terlebih dahulu dan mempertimbangkan tingkat keterampilan dokter bedah yang bersangkutan sehingga pasien dinilai dapat mentoleransi teknik anestesi ini dengan baik. Anestesi Umum Ada berbagai teknik anestesi untuk melakukan tonsiloadenoidektomi. Pilihan untuk menggunakan anestesi lokal bisa merupakan keputusan pasien yang tidak menginginkan tonsilektomi konvensional atau dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk menjalani anestesi umum. Premedikasi30 Pemberian premedikasi ditentukan berdasarkan evaluasi preoperasi. kondisi kesehatan dan keadaan umum. Anak-anak dengan riwayat sleep apneu atau obstruksi saluran napas intermitten atau dengan tonsil yang sangat besar harus lebih diperhatikan. teknik anestesi lokal tidak digunakan lagi kecuali di rumah sakit pendidikan dengan tujuan untuk pendidikan.31 1. Manset pengukur tekanan darah Page | 12 .

Kehadiran orangtua di ruang operasi selama induksi inhalasi bisa membantu menenangkan anak yang gelisah. Obstruksi saluran napas postoperasi juga lebih sedikit. Jika sulit mencari akses vena pada anak kecil. perlu diletakkan kasa bedah di daerah supraglotik tepat di atas pita suara dan sekitar endotrakeal tube.5 mg/kg IV bisa mengurangi risiko batuk dan laringospasme pada saat ekstubasi. LMA harus dilepaskan sebelum pasien sadar kembali. Perkembangan baru adalah menggunakan Laryngeal Mask Airway (LMA) sebagai pengganti pipa endotrakeal. dilakukan oksigenasi dan kemudian ekstubasi. Pemberian lidocaine 1-1. Antisialalogue (atropin) dapat diberikan untuk meminimalkan sekresi di lapangan operasi. pernapasan dibantu (assisted) atau dikendalikan (controlled). Pengosongan lambung dengan oro/nasogastric tube diperlukan sebelum anestesi. lambung pasien bisa penuh berisi darah yang tertelan. Tetapi cara ini memerlukan perhatian khusus seperti: 30 Selama anestesi anak harus bernapas spontan. 2. Setelah operasi selesai. Untuk menghindari masuknya darah ke dalam trakea. Manfaat penggunaan LMA pada tonsilektomi harus ditimbang juga dengan risiko yang mungkin terjadi dan pengambilan keputusan harus berdasarkan pertimbangan per individu. jika ETT tidak memiliki cuff. Keuntungan LMA dibanding ETT adalah berkurangnya risiko stridor postoperasi. infus menjadi lebih mudah dipasang setelah anak tidur.dipasang di lengan dan infus dextrose 5% atau larutan Ringer dipasang di tangan. Darah dalam lambung dapat memicu muntah secara spontan maupun pada waktu induksi anestesi untuk re-operasi. induksi menggunakan sungkup dapat dilakukan dengan halotan atau sevoflurane dengan oksigen dan nitrous oxide. Setelah ekstubasi. Selama maintenance. Kejadian mual dan muntah setelah tonsilektomi adalah sebesar 60% sehingga dapat diberikan antiemetik sebagai pencegahan. Pemberian ventilasi tekanan positif akan meningkatkan risiko regurgitasi isi lambung terutama bila tahanan jalan napas besar dan compliance paru rendah. dipasang pharyngeal airway dan oksigenasi dilanjutkan dengan sungkup. Ekstubasi dapat dilakukan bila pasien sudah sadar. Pemasangan LMA akan sulit pada pasien dengan pembesaran tonsil. Modifikasi Crowe-Davis mouth gag31 Keberatan dokter ahli THT tentang penggunaan intubasi endotrakeal adalah karena pipa ETT menyita lapangan operasi. Pada anak.32 Ekstubasi juga dapat dilakukan saat pasien masih dalam anestesi dalam. Perdarahan pascatonsilektomi32 Pada perdarahan pasca tonsilektomi. Sehingga lapang operasi menjadi bebas. Dengan modifikasi Crowe-Davis mouth gag ETT dapat diletakkan pada celah sepanjang permukaan bawah dari bilah lidah. faring dan trakea dibersihkan dengan penghisap (suction). Page | 13 . Karena halotan menyebabkan dilatasi pembuluh darah superfisial. dimana jalan napas sudah terjagabebas (intact protective airway reflexes). induksi anestesi dilakukan dengan halotan. Intubasi endotrakea dilakukan dalam anestesi inhalasi yang dalam atau dibantu dengan pelemas otot nondepolarisasi kerja pendek. Pasien kemudian dibaringkan dengan dengan posisi lateral dengan kepala lebih rendah daripada panggul (tonsil position) sehingga memudahkan sisa-sisa darah mengumpul di sekitar pipi dan mudah dihisap keluar.

namun paling sering dilakukan setiap 15 menit untuk jam pertama dan selanjutnya setiap setengah jam. bedah dan anestesi dengan tujuan dapat memberikan terapi secara cepat sehingga dapat meminimalkan efek komplikasi yang timbul. Belum ada kesepakatan mengenai lama observasi optimum sebelum pasien dipulangkan.30 Evaluasi keadaan/status pasien di unit perawatan pascaanestesi (PACU) memerlukan dokter spesialis anestesi. Begitu juga dengan pasien dengan sindroma Down yang bisa mengalami depresi susunan saraf pusat untuk waktu yang lama setelah anestesi umum selama tonsilektomi berlangsung. observasi dilakukan selama minimal 6 jam untuk mengawasi adanya perdarahan dini. tekanan darah dan suhu. Frekuensi pemeriksaan tergantung kondisi pasien. Untuk menentukan secara objektif kapan pasien bisa dipulangkan. frekuensi denyut dan irama jantung. Sistem yang saat ini digunakan secara luas adalah Skor Aldrete yang dimodifikasi: Kesadaran 2= sadar penuh 1= respons bila nama dipanggil 0= tidak ada respons Aktivitas 2= 1= 0= tidak bergerak atas menggerakkan menggerakkan semua 2 perintah ektrimitas ekstrimitas Page | 14 . perawat dan dokter ahli bedah yang bekerja sebagai sebuah tim. pasien yang menjalani tonsilektomi sudah bisa pulang pada hari yang sama untuk pasien-pasien yang telah diseleksi secara tepat sebelumnya. pasien dibaringkan dalam posisi tonsil. posisi ETT yang baik tidak mengganggu operasi Pernapasan dan gerak dada cukup (kalau ada) Saturasi oksigen di atas 95% Denyut nadi yang teratur Jumlah perdarahan dan jumlah cairan infus yang masuk Alat monitoring tambahan yang dianjurkan: Pulse oxymetri Pada pasien yang menjalani tonsilektomi untuk tatalaksana obstructive sleep apnea. dilakukan observasi adanya masalah terkait medis. Umumnya. Idealnya. Observasi Pasca Operasi di Ruang Pemulihan (PACU-Post anesthesia care unit) Pasca operasi.Pengamatan selama operasi Selama operasi yang harus dipantau: Jalan napas tetap bebas. Saat ini. Yaitu dengan berbaring ke kiri dengan posisi kepala lebih rendah dan mendongak. Bersamasama. penilaian rutin postoperasi meliputi pulse oximetry.33 Pasien diobservasi selama beberapa waktu di ruang pemulihan untuk meminimalkan komplikasi selain untuk memaksimalkan efektivitas biaya dari pelayanan kesehatan. ketersediaan monitoring postoperatif dan pulseoksimetri merupakan keharusan. pola dan frekuensi respirasi. dapat digunakan sistem skoring.

Pemberian obat antinyeri berdasarkan keperluan. pemberian cairan secara rutin saat pasien bangun dan secara bertahap pindah ke makanan lunak merupakan standar di banyak senter. Cairan intravena diteruskan sampai pasien berada dalam keadaan sadar penuh untuk memulai intake oral. Pasien yang menjalani tonsilektomi untuk infeksi akut atau abses peritonsil atau memiliki riwayat faringitis berulang akibat streptokokus harus diterapi dengan antibiotika.Pernapasan 2= bernapas 1= dispneu. skor < atau = 9 membutuhkan PACU Perawatan postoperasix20 udara O2 > oksigen ruangan untuk 92% Dalam hal ini terjadi kontroversi mengenai diet. pasien harus dimotivasi untuk minum secepatnya setelah operasi selesai untuk mengurangi keluhan pembengkakan faring dan pada akhinya rasa nyeri. Antibiotika postoperasi diberikan oleh kebanyakan dokter bedah. Antibiotika yang dipilih haruslah antibiotika yang aktif terhadap flora rongga mulut. biasanya penisilin yang diberikan per oral. analgesia yang berlebihan bisa menyebabkan berkurangnya intake oral karena letargi. Page | 15 . Menyatakan terdapat hubungan antara berkurangnya nyeri dan bau mulut pada pasien yang diberikan antibiotika postoperasi. Bagaimanapun juga. pernapasan 0= Sirkulasi 2= tekanan nilai 1= tekanan 20% 0= tekanan dari nilai preoperasi dalam tanpa hiperventilasi. Belum ada bukti ilmiah yang secara jelas menyatakan bahwa memberikan pasien diet biasa akan menyebabkan perdarahan postoperatif. Penggunaan antibiotika profilaksis perioperatif harus dilakukan secara rutin pada pasien dengan kelainan jantung. Kebanyakan pasien bisa memulai diet cair selama 6 sampai 8 jam setelah operasi dan bisa dipulangkan. Sebelum operasi. hambatan obstruksi apneu darah darah nilai darah dalam dalam 50% kisaran kisaran atau 20% preoperasi 50preoperasi kurang Saturasi 2= SpO2 > 92% pada 1= dibutuhkan tambahan mempertahankan SpO2 0= SpO2 < 92% dengan tambahan O2 Skor total= 10. Selain itu juga bisa menyebabkan bertambahnya pembengkakan di faring. muntah berlebihan atau perdarahan tidak boleh dipulangkan sampai pasien dalam keadaan stabil. Pengambilan keputusan untuk tetap mengobservasi pasien sering hanya berdasarkan pertimbangan perasaan ahli bedah daripada adanya bukti yang jelas dapat menunjang keputusan tersebut. bagaimanapun juga. Untuk pasien yang tidak dapat memenuhi intake oral secara adekuat. Sebuah studi randomized oleh Grandis dkk.

Nyeri Nyeri pascaoperasi muncul karena kerusakan mukosa dan serabut saraf glosofaringeus atau vagal. biasanya 14-21 hari setelah operasi. Nyeri tenggorok muncul pada hampir semua pasien pascatonsilektomi. Perdarahan primer ini sangat berbahaya. hanya sekitar 1%. Penggunaan elektrokauter menimbulkan nyeri lebih berat dibandingkan teknik “cold” diseksi dan teknik jerat.1% dari jumlah kasus).35 1. segera sesudah operasi atau di rumah. Adapun komplikasi yang dapat ditemukan berupa: Laringospasme Gelisah pasca operasi Mual muntah Kematian saat induksi pada pasien dengan hipovolemi32 Induksi intravena dengan pentotal bisa menyebabkan hippotensi dan henti jantung32 Hipersensitif terhadap obat anestesi 2.1-8. Darah dapat menyumbat jalan napas sehingga terjadi asfiksia. sehingga komplikasi yang ditimbulkannya merupakan gabungan komplikasi tindakan bedah dan anestesi. Perdarahan sekunder ini jarang terjadi.000 pasien. perdarahan primer atau “reactionary haemorrage” dengan kemungkinan penyebabnya adalah hemostasis yang tidak adekuat selama operasi. Komplikasi Tonsilektomi merupakan tindakan bedah yang dilakukan dengan anestesi umum maupun lokal. Komplikasi ini terkait dengan keadaan status kesehatan pasien.I.000 pasien yang menjalani tonsilektomi dan adenoidektomi (brookwood ent associates). Umumnya terjadi pada hari ke 5-10 pascabedah. Komplikasi anestesi30 Komplikasi terkait anestesi terjadi pada 1:10. Umumnya terjadi dalam 8 jam pertama.000 pasien yang menjalani tonsilektomi meninggal baik akibat perdarahan maupun komplikasi anestesi dalam 5-7 hari setelah operasi. Perdarahan yang terjadi setelah 24 jam disebut dengan late/delayed bleeding atau perdarahan sekunder. Nyeri pascabedah bisa dikontrol dengan pemberian analgesik. Komplikasi bedahx22 a. Kematian akibat perdarahan terjadi pada 1:35. Jika pasien mengalami Page | 16 . bisa karena infeksi sekunder pada fosa tonsilar yang menyebabkan kerusakan pembuluh darah dan perdarahan dan trauma makanan yang keras. Merupakan komplikasi tersering (0. Perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama dikenal sebagai early bleeding. inflamasi dan spasme otot faringeus yang menyebabkan iskemia dan siklus nyeri berlanjut sampai otot diliputi kembali oleh mukosa. Sebanyak 1 dari 100 pasien kembali karena masalah perdarahan dan dalam jumlah yang sama membutuhkan transfusi darah. Perdarahan. Penyebabnya belum dapat diketahui secara pasti. karena terjadi sewaktu pasien masih dalam pengaruh anestesi dan refleks batuk belum sempurna. Perdarahan dapat menyebabkan keadaan hipovolemik bahkan syok. Sekitar 1:15.37 Perdarahan dapat terjadi selama operasi. b.

Page | 17 . lidah. Komplikasi lain Dehidrasi. pembengkakan uvula. Bila hal ini tidak dapat ditangani di rumah. gangguan terhadap suara (1:10. perawatan di rumah sakit untuk pemberian cairan intravena dibutuhkan. stenosis faring. aspirasi. maka akan terdapat kesulitan dalam asupan oral yang meningkatkan risiko terjadinya dehidrasi. gigi dan pneumonia. otalgia. insufisiensi velopharingeal. lesi di bibir. kesulitan bernapas. demam. 3.nyeri saat menelan.000).