P. 1
BAB I-VI Laporan MPKP Jiwa

BAB I-VI Laporan MPKP Jiwa

2.0

|Views: 1,295|Likes:
Published by Princess Green

More info:

Published by: Princess Green on Jul 24, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/28/2013

pdf

text

original

1

PELAKSANAAN MODEL PRAKTEK KEPERAWATAN PROFESIONAL DI RUANG SHINTA RSJD SURAKARTA

DISUSUN OLEH: LAELATUL AROFAH TIA SULISTIAWATI DWI YULIASTUTI P HERAWATI NUR P ASTRI FEBRIANTI S MAHACAKRI DARA S G1B211003 G1B211011 G1B211012 G1B211016 G1B211024 G1B211026

FAKUTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PROGRAM PROFESI NERS PURWOKERTO 2012 BAB I PENDAHULUAN

2

A. Latar belakang Proses manajemen berlaku untuk semua orang yang mencari cara untuk mempengaruhi perilaku orang lain.Harsey dan Blanchard (1977) menyebutkan 4 fungsi manajerial yaitu perencanaan, pengorganisasian, motivasi, dan pengendalian. Keempat unsur tersebut saling berhubungan dan memerlukan ketrampilan-ketrampilan teknis, hubungan antar manusia, dan konseptual yang mendukung tercapainya suatu tujuan. Rumah sakit merupakan organisasi yang sangat kompleks dan merupakan komponen yang sangat penting dalam upaya peningkatan status kesehatan bagi masyarakat. Salah satu fungsi rumah sakit adalah

menyelenggarakanpelayanan dan asuhan keperawatan yang merupakan bagian dari sistem pelayanan kesehatan dengan tujuan memelihara kesehatan masyarakat seoptimal mungkin. Keperawatan merupakan bagian integral yang tidak bisa dipisahkan dari upaya pelayanan kesehatan secara keseluruhan yang menjadi salah satu faktor penentu baik buruknya mutu dan citra rumah sakit. Oleh karenanya kualitas pelayanan keperawatan perlu dipertahankan dan ditingkatkan seoptimal mungkin. Dalam rangka mencapai visi dan misinya, rumah sakit sangat membutuhkan suatu komponen yang penting dan pelaksanaan manajemen perawatan yang bermutu. Manajemen keperawatan merupakan suatu pelayanan keperawatan profesional dengan pengelolaan sekelompok perawat dalam suatu 1 tempat yang memeberikan asuhan keperawatan dengan menggunakan fungsi menjemen sehingga dapat memberikan asuhan keperawatan secara optimal

3

kepada klien, untuk itu manajemen keperawatan perlu mendapat prioritas utama dalam pengembangan keperawatan di masa depan. Hal ini berkaitan dengan tuntutan profesi dan tututan global bahwa setiap perkembangan dan perubahan memerlukan pengelolaan secara professional dengan

memperhatikan setiap perubahan yang terjadi (Nursalam, 2002). Pelayanan kesehatan pada saat ini telah mengalami perubahan sebagai konsekuensi dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perubahan status sosial ekonomi dan semakin pesatnya kemajuan media informasi. Berkenaan dengan hal tersebut pengetahuan dan kesadaran masyarakat pun sebagai konsumen untuk mendapat pelayanan profesional semakin meningkat, oleh karena itu mereka menuntut adanya peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Berbagai pendekatan sistempun disusun untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan yang aman, efektif dan efisien. Kualitas pelayanan kesehatan baik di Rumah Sakit ataupun Puskesmas dipengaruhi oleh sistem pelayanan atau asuhan keperawatan yang diberikan oleh perawat sebagai komponen terbesar yang memberikan kontribusinya. Pelayanan keperawatan memiliki banyak peran penting dalam pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan dan perubahan kebijakan. Perawat diharapkan dapat menjadi leader didalam timnya untuk merancang ataupun mengelola sistem pelayanan keperawatan yang modern. Permasalahan yang sering muncul di Indonesia dalam hal pengelolaan atau pelayanan keperawatan saat ini adalah belum diterapkannya sistem pengorganisasian asuhan keperawatan secara memadai bahkan di banyak rumah sakit pengorganisasiannya belum dikembangkan secara maksimal

hubungan antar manusia dan konseptual yang mendukung tercapainya asuhan keperawatan yang bermutu. agama. memuaskan bagi pasien dan tenaga keperawatan serta aspek sosial. Dimana dalam manajemen tersebut mencakup kegiatan koordinasi dan supervisi terhadap staf. efisien. Keempat fungsi tersebut saling berhubungan dan memerlukan ketrampilan-ketrampilan teknis. pengorganisasian. Hal tersebut berkaitan dengan tuntutan profesi dan tuntutan global bahwa setiap . sumber daya untuk pelayanan asuhan keperawatan dimanfaatkan secara wajar. dan efektif. etika dan tata nilai masyarakat diperhatikan dan dihormati. aman bagi pasien dan tenaga keperawatan. Hal ini dapat dicapai dengan adanya manajemen yang baik. yaitu perencanaan. sarana dan prasarana dalam mencapai tujuan. Dengan alasan tersebut. Manajemen keperawatan merupakan pelayanan keperawatan profesional dimana tim keperawatan dikelola dengan menjalankan empat fungsi manajemen. Manajemen merupakan suatu pendekatan yang dinamis dan proaktif dalam menjalankan suatu kegiatan di organisasi. berdaya guna dan berhasil guna kepada klien. Ciri – ciri mutu asuhan keperawatan yang baik antara lain: memenuhi standar profesi yang ditetapkan. budaya. ekonomi.4 sehingga asuhan keperawatan profesional belum dapat dicapai sesuai yang diharapkan. manajemen keperawatan perlu mendapat prioritas utama dalam pengembangan keperawatan di masa depan. motivasi dan pengendalian. Sedangkan manajemen keperawatan adalah suatu proses bekerja melalui anggota staf keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan secara profesional.

Salah satu bentuk penataan sistem pemberian pelayanan keperawatan adalah melalui pengembangan model praktek keperawatan yang ilmiah dan biasa disebut Model Praktek Keperawatan Profesional (MPKP). sistem peuigasan. ilmu-ilmu sosial.5 perkembangan dan perubahan memerlukan pengelolaan secara profesional dengan memperhatikan setiap perubahan yang terjadi. Strategi yang dapat di laksanakan oleh mahasiswa Program Profesi Ners FKIK Unsoed yaitu dengan mengaplikasikan secara langsung pengetahuan manajerialnya di Ruang ShintaRSJD Surakarta dengan arahan dari pembimbing lapangan maupun dari pembimbing akademik yang intensif. sistem pengambilan keputusan. Seorang perawat harus mampu merespon positif dan beradaptasi terhadap setiap perubahan ataupun tantangan. Pelaksanaan praktek tersebut memberikan masukan yang positif. pertumbuhan dan perkembangan teknologi dan area lain agar dapat menjalankan berbagai peran yang dimiliki. keterampilan yang berhubungan dengan basic science. oleh karena itu perawat dituntut untuk memiliki penguasaan konsep. . Model ini sangat menekankan pada kualitas kinerja tenaga keperawatan yang berfokus pada profesionalisme keperawatan antara lain melalui penetapan dan fungsi setiap jenjang tenaga keperawatan. sehingga mahasiswa mampu menerapkan ilmu yang didapat dan mengelola ruang perawatan dengan pendekatan proses manajemen. terutama ketika menjadi seorang manajer di lingkup keperawatan Rumah Sakit. dan sistem penghargaan yang memadai.

Mampu melaksanakan dan mengevaluasi pelaksanaan rencana kegiatan yang telah disusun sesuai prioritas di ruang Shinta. . Mampu melakukan analisa tentang gambaran umum ruang Shinta.6 B. c. e. Tujuan Umum Setelah melakukan praktek peminatan keperawatan jiwa selama empat minggu di ruang Shinta RSJD Surakarta diharapkan mahasiswa mampu menerapkan proses MPKP di ruangan. Tujuan 1. Tujuan Khusus Secara khusus tujuan dari praktek peminatan keperawatan jiwa adalah: a. b. Mampu melakukan/ menerapkan model keperawatan MPKP di ruang Shinta. Mampu menyusun rencana kegiatan untuk mengatasi permasalahan yang ada di ruang Shinta. Mampu mengidentifikasi dan menyusun prioritas permasalahan yang ada di ruang Shinta d. 2.

Institusi Pendidikan/Keilmuan a. Instansi Pelayanan/ Rumah Sakit Sebagai informasi bagi pimpinan dan staf dalam pengembangan Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta khususnya dalam pelaksanaan Model Praktik Keperawatan Profesional. Perawat Sebagai masukan bagi perawat dalam meningkatkan pelaksanaan Model Praktik Keperawatan Profesional di Ruangan. . 2. Hasil aplikasi ini merupakan masukan bagi pengembangan ilmu khususnya mengenai pelaksanaan Model Praktik pengetahuan Keperawatan Profesional di ruang rawat inap rumah sakit. Manfaat Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada: 1.7 C. 3. b.Sebagai referensi di perpustakaan yang dapat digunakan oleh peneliti yang mempunyai peminatan di bidang pengelolaan sumber daya manusia yang berkaitan dengan pelaksanaan Model Praktik Keperawatan Profesional di ruang rawat inap rumah sakit.

Pelayanan keperawatan adalah pelayanan yang dilakukan oleh banyak orang sehingga diperlukan penerapan pendekatan manajemen. Pengarahan (directing) 4. efektif. dan rasional untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya. Di ruang MPKP pendekatan manajemen diterapkan dalam bentuk fungsi manajemen yang terdiri dari : 1. 1989).8 BAB II LANDASAN TEORI A. Pengorganisasian (organizing) 3. terapi. Pendekatan manajemen adalah suatu proses kerja sama anggota staf keperawatan untuk memberikan asuhan. Model praktik keperawatan menempatkan pendekatan manajemen sebagai pilar praktik profesional yang pertama. Pengendalian (controling) dan bantuan kepada para . Swanburg (2000) mendefinisikan manajemen sebagai ilmu atau seni tentang bagaimana menggunakan sumber daya secara efisien. Perencanaan (planning) 2. pasien (Gillies. Oleh sebab itu. Tinjaua Teori Manajemen adalah proses dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain (Gillies. 1989). proses manajemen harus dilakukan dengan disiplin demi menjamin pelayanan yang diberikan kepada pasien atau keluarga.

MPKP profesional dibagi menjadi tiga tingkat. b. Dalam MPKP keperawatan jiwa. terdapat empat pilar yaitu Management Approach. dan sudah memiliki tenaga spesialis keperawatan jiwa. dan Patient Care Delivery. MPKP transisi MPKP dasar yang masih memiiki tenaga perawat yang berpendidikan SPK. yaitu: a. c. MPKP I MPKP basic (dasar) dengan tenaga perawat pelaksana minimal D3 keperawatan. Tetapi kepala ruang dan ketua tim berpendidikan minimal S1 keperawatan. MPKP II MPKP intermediate (menengah) dengan tenaga minimal D3 keperawatan dan mayoritas Ners sarjana keperawatan. Beberapa modifikasi yang dilakukan meliputi beberapa jenis MPKP : 1. tetapi kepala ruang dan kepala tim nya minimal dari D3 keperawatan. MPKP pemula MPKP dasar dengan semua tenaganya minimal D3 keperawatan 3. Professional Relationship. Pengkajian variabel MPKP di ruang Shinta dilakukan .9 Di rumah sakit jiwa telah dikembangkan MPKP dengan modifikasi MPKP yang telah dikembangkan di rumah sakit umum. MPKP III MPKP advance (tingkat lanjut) yang semua perawatnya minimal Ners sarjan keperawatan dan sudah mempunyai tenaga spesialis keperawatan jiwa dan doktor keperawatan yang bekerja di area keperawatan jiwa. 2. Compensatory Reward.

struktur organisasi. Formula tersebut juga dapat digunakan untuk menilai dan membandingkan apakah tenaga yang ada saat ini cukup. yang mencakup 1 orang kepala ruang. 1. 2 orang kepala Tim.10 dengan mengelompokkan MPKP dalam 4 pilar yaitu Management Approach. Penetapan jumlah tenaga perawatan adalah proses membuat perencanaan untuk menentukan berapa banyak dan dengan kriteria tenaga yang seperti apa pada suatu ruangan tiap shifnya. Untuk keperluan itu beberapa ahli telah mengembangkan beberapa formula. dengan menggunakan pedoman observasi. Kuesioner diberikan pada 15 perawat di ruang Shinta. dan observasi. dan Patient Care Delivery. tugas. Observasi dilakukan pada aktivitas kegiatan ruangan. budaya kerja dan lingkungannya. Metode pengumpulan data dengan menggunakan wawancara. Man (Ketenagaan) a. guna memvalidasi hasil kuesioner serta memperdalam pengkajian yang telah didapatkan. kurang atau berlebih. dan 12 orang perawat assosiet. teknologi. kuesioner. Professional Relationship. bukti dokumentasi. Oleh karena itu penetapan sumber daya manusia di rumah sakit dalam hal ini tenaga perawat perlu diperhatikan. Compensatory Reward. Kuantitas Keberhasilan sebuah organisasi rumah sakit sangat bergantung pada kemampuan manajemen dalam menyerasikan unsur-unsur karyawan (tenaga perawat) dengan system. Hal ini telah disadari bahwa sumber daya manusia sering kali menjadi penyebab kegagalan suatu organisasi. .

yaitu aktivitas dimana proses belajar tidak diarahkan kepada pekerjaan yang akan _racti 3) Development.11 b. staff Turnover (tingkat penggantian staff) yang tinggi. Secara teori indikator keberhasilan rumah sakit dalam memberikan pelayanan kesehatan salah satunya ditentukan oelh pemberian asuhan keperawatan yang berkualitas. program pelatihan yang buruk. yaitu: 1) Training. program insentif yang buruk. Kualitas Menurut analisa Teng (2002) dalam Soeroso (2003) penyebab kegagalan organisasi dari sisi sumber daya manusia yaitu sikap serta poal piker yang negative. Bagi tenaga professional di rumah sakit. dan rendahnya kemampuan mengembangkan dan memotivasi karyawan. yaitu aktivitas dimana proses belajar tidak diarahkan untuk pekerjaan pegawai yang bersangkutan secara langsung. Djodjodibroto (1997) mengemukakan bahwa pelatihan. Supaya dapat memberikan pelayanan keperawatan yang berkualitas diperlukan sumber daya yang cukup dengan kualitas yang tinggi dan professional sesuai dengan tugas dan fungsinya. Menurut Djodjodibroto (1997) konsep pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) atau Human Resource Development mempunyai tiga program. yaitu aktiivitas dimana proses belajar diarahkan kepada pekerjaan saat ini 2) Education. kursus dan lokakarya yang diperlukan untuk paramedik adalah: 1) Etika komunikasi .

12

2) Komunikasi terapetik dalam perawatan 3) Etika keperawatan 4) Manajemen keperawatan 5) Hospital management training
6) Audit medik

7) Pencegahan penyakit nosokomial 8) Sanitasi rumah sakit Sedangkan untuk tenaga non medis diperlukan etika komunikasi. Disamping itu perlunya direncanakan rotasi dan mutasi SDM untuk menyesuaikan beban dan tuntutan pelayanan dimasa depan. Sehingga penyesuaian keahlian yang dibutuhkan dilakukan melalui pelatihan secara terus menerus dan berkesinambungan. Program pengambangan yang lain menurut Soeroso (2003) meliputi jaminan mutu (quality assurance), manajemen risiko (risk management), praktik berbasis bukti (evidence based atractice), audit klinik (clinical audit) dan audit medic (medical audit).

c. Metode/ standar/ pedoman/ prosedur tetap Standar adalah suatu tingkatan kinerja yang secara umum dikenal sebagai sesuatu yang dapat diterima, adekuat memuaskan dan digunakan sebagai tolak ukur atai titik acuan yang digunakan sebagai pembanding (Marr dan Biebiing, 2001).

13

Berdasarkan

clinical

practice

guidelines

(1990)

standar

merupakan keadaan ideal atau tingkat pencapaian tertinggi dan sempurna yang digunakan sebagai batas penerimaan minimal atau disebut juga sebagai kisaran variasi yang masih dapat diterima. Standar diperlukan untuk member suatu indikasi kualitas yang diinginkan dengan kata lain standar digunakan untuk menilai mutu sesuai dengan yang diharapkan. Suatu ruang perawatan didalam sebuah rumah sakit idealnya mempunyai prosedur tetap (protap) tindakan yang berlaku secara resmi yang dipahami dan diharapkan oleh seluruh staf di ruangan, ruang perawatan mempunyai prosedur tetap semua tindakan perawatan dan SAK (Standar Asuhan Keperawatan) minimal 10 kasus terbanyak. d. Fasilitas 1) Alat dan bahan Jumlah fasilitas dan alat-alat kedokteran maupun keperawatan dapat dipenuhi dengan standar yang telah ditetapkan oelh masing-masing institusi dengan memperhatikan jenis alat, bahan/ warna, ukuran, jenis kegiatan, jumlah yang dibutuhkan serta pertimbangan bahan yang diapakai, disimpan maupun dicuci. 2) Mesin Mesin adalah peralatan yang digerakan oleh mesin maupun elektronik yang digunakan untuk membantu menangani pasien baik secara medis maupun keperawatan. 3) Sumber Dana

14

Secara teori salah satu fungsi rumah sakit memberikan pelayanan kesehatan baik medis maupun non medis. Agar pelayanan rumah sakit dapat berjalan semaksimal mungkin dan dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat, maka rumah sakit perlu mempersiapkan peralatan atau bahan medis dan jasa pemborongan.

B. PROSES 1. Proses asuhan keperawatan Proses asuhan keperawatan adalah metode ilmiah dalam pemberian asuhan keperawatan. Proses asuhan keperawatan juga merupakan proses terapeutik yang melibatkan hubungan kerja sama antara perawat dengan klien, keluarga dan atau masyarakat untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal (Carpenito, 1989 cit Keliat, 1999). The Washington State Board Of Nursing (Swansburg, 1996) menyebutkan definisi legal praktek keperawatan meliputi observasi, pengkajian, diagnosis, asuhan atau konseling, dan penyuluhan kesehatan kepada individu yang sakit, cedera, atau pemeliharaan kesehatan atau pencegahan sakit yang dilaksanakan oleh perawat berlisensi.

Pelaksanaannya di terima dan disepakati oleh profesi keperawatan dan kedokteran. Menurut Swansburg (1996) elemen primer manajemen pelayanan keperawatan adalah adanya sistem untuk mengevaluasi seluruh upaya, termasuk evaluasi proses manajemen, praktek keperawatan, dan seluruh pelayanan keperawatan. Evaluasi memerlukan standar yang dapat

maka bukan hanya profesionalitas . b. Mutu asuhan keperawatan dapat dipertangungjawabkan secara profesional apabila kriteria-kriteria tersebut dapat dipenuhi. SAK terdiri dari 6 standar : a. Atau secara singkat dapat dikatakan standar adalah pedoman kerja agar pekerjaan berhasil dan bermutu. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan dalam penjelasan tentang Pasal 53 ayat 2 mendefinisikan standar profesi sebagai “pedoman yang harus dipergunakan sebagai petunjuk dalam menjalankan profesi secara baik”.15 digunakan sebagai tolok ukur kualitas dan kuantitas pelayanan. Standar Pelaksanaan / Implementasi e. UU RI No. Dengan memahami dan mematuhi kriteria dalam Standar Asuhan Keperawatan. berguna sebagai kriteria untuk mengukur keberhasilan dan mutu asuhan keperawatan. yang selanjutnya diterapkan dalam pemberian asuhan keperawatan. c. Standar juga dapat digunakan sebagai alat bantu menentukan sasaran tiap divisi dalam keperawatan. 1998). Dalam standar-standar dimaksud mencantumkan kriteria-kriteria yang harus dipenuhi dalam pemberian asuhan keperawatan. Standar Pengkajian Keperawatan Standar Diagnosis Keperawatan Standar Perencanaan Keperawatan d. Berdasarkan alasan ini maka kehadiran Standar Asuhan Keperawatan yang identik dengan standar profesi keperawatan. Standar Evaluasi Standar Catatan Asuhan Keperawatan (Depkes RI. f.

tetapi juga meliputi aspek-aspek keamanan dan kenyamanan pasien.16 dijaga dan ditingkatkan. Sistematika penyusunan Standar Asuhan Keperawatan sebagai berikut: a. tentang keadaannya untuk menentukan kebutuhan asuhan keperawatan. serta sistem nilai masyarakat yang berlaku. STANDAR I : Pengkajian Keperawatan Asuhan keperawatan paripurna memerlukan data yang lengkap dan dikumpulkan secara terus menerus. melainkan sewaktu-waktu dapat ditinjau kembali dan disesuaikan dengan perkembangan IPTEK Kesehatan khususnya Keperawatan. Data kesehatan harus bermanfaat bagi semua anggota tim kesehatan. Kriteria : a) Menggunakan format yang ada b) Sistematis c) Diisi sesuai item yang tersedia d) Aktual (baru) e) Absah (valid) 2) Pengelompokkan data : . Komponen pengkajian keperawatan meliputi : 1) Pengumpulan data : Kegiatan pengumpulan data dimulai pada saat pasien masuk dan dilanjutkan secara terus menerus selama proses keperawatan berlangsung. Standar Asuhan Keperawatan tidak harus baku.

penyebab dan gejala/tanda (PES) atau terdiri dari masalah dan penyebab (PE). 3) Komponennya terdiri dari masalah. Diagnosa keperawatan dirumuskan berdasarkan data status kesehatan pasien. . Kriteria : 1) Diagnosa masalah ditunjang oleh data yang telah keperawatan dihubungkan dengan penyebab kesenjangan dan pemenuhan kebutuhan pasien 2) Di buat sesuai dengan wewenang perawat. perawat dapat segera menentukan masalah yang terjadi pada pasien. b) Perumusan dikumpulkan. b. dianalisis dan dibandingkan dengan norma fungsi kehidupan pasien.17 Dengan mengelompokkan data. Kriteria : a) Data Biologis b) Data Psikologis c) Data Sosial d) Data Spiritual 3) Perumusan masalah Kriteria : a) Kesenjangan antara status kesehatan dengan norma dan pola fungsi kehidupan. STANDAR II : Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan menggambarkan masalah pasien yang nyata maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan yang pemecahannya.

5) Bersifat potensial apabila masalah kesehatan pasien kemungkinan besar akan terjadi 6) Dapat ditanggulangi oleh perawat. 2) Tujuan asuhan keperawatan. c) Masalah-masalah yang mempengaruhi perilaku merupakan prioritas ketiga. STANDAR III : Perencanaan Keperawatan Perencanaan Keperawatan disusun berdasarkan diagnosa keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan terpenuhinya kebutuhan klien. Kriteria : a) Masalah-masalah yang mengancam kehidupan merupakan priorias pertama. c. Kriteria : a) Disusun berdasarkan tujuan asuhan keperawatan . Komponen perencanaan keperawatan meliputi : 1) Prioritas masalah. b) Masalah-masalah yang mengancam kesehatan seseorang adalah prioritas kedua. Kriteria : a) Spesifik b) Bisa diukur c) Bisa dicapai d) Realistik e) Ada batas waktu 3) Rencana tindakan.18 4) Bersifat aktual apabila masalah kesehatan pasien sudah nyata terjadi.

privasi dan mengutamakan keselamatan pasien 8) Melaksanakan perbaikan tindakan berdasarkan respons pasien .19 b) Melibatkan pasien/keluarga c) Mempertimbangkan latar belakang budaya pasien/keluarga d) Menentukan alternatif tindakan yang tepat e) Mempertimbangkan kebijaksanaan dan peraturan yang berlaku. pemeliharaan serta pemulihan kesehatan dengan mengikutsertakan pasien dan keluarganya. d. sumber daya dan fasilitas yang ada f) Menjamin rasa aman dan nyaman bagi pasien g) Kalimat perintah ringkas. ekonimis. pencegahan. STANDAR IV : Implementasi Keperawatan Implementasi keperawatan adalah pelaksanaan rencana tindakan yang ditentukan dengan maksud agar kebutuhan pasien terpenuhi secara maksimal yang mencakup aspek peningkatan. tegas dengan bahasanya mudah dimengerti. lingkungan. nyaman. Kriteria : 1) Dilaksanakan sesuai dengan rencana keperawatan 2) Menyangkut keadaan bio-psiko-sosio spiritual pasien 3) Menjelaskan setiap tindakan keperawatan yang akan dilakukan kepada pasien/keluarga 4) Sesuai dengan waktu yang telah ditentukan 5) Menggunakan sumberdaya yang ada 6) Menerapkan prinsip aseptik dan antiseptik 7) Menerapkan prinsip aman.

Implementasi keperawatan berorientasi pada 14 komponen keperawatan dasar yang meliputi : 1) Memenuhi kebutuhan oksigen 2) Memenuhi kebutuhan nutrisi.20 9) Merujuk dengan segera bila ada masalah yang mengancam keselamatan pasien 10) Mencatat semua tindakan yang telah dilaksanakan 11) Merapikan pasien dan alat setiap selesai melakukan tindakan 12) Melaksanakan tindakan keperawatan berpedoman pada prosedur teknis yang telah ditentukan. STANDAR V : Evaluasi Keperawatan . keseimbangan cairan dan elektrolit 3) Memenuhi kebutuhan eliminasi 4) Memenuhi kebutuhan keamanan 5) Memenuhi kebutuhan kebersihan dan kenyamanan fisik 6) Memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur 7) Memenuhi kebutuhan gerak dan kegiatan jasmani 8) Memenuhi kebutuhan spiritual 9) Memenuhi kebutuhan emosional 10) Memenuhi kebutuhan komunikasi 11) Mencegah dan mengatasi reaksi fisiologis 12) Memenuhi kebutuhan pengobatan dam membantu proses penyembuhan 13) Memenuhi kebutuhan penyuluhan 14) Memenuhi kebutuhan rehabilitasi e.

sistematis dan berencana untuk menilai perkembangan pasien. f. Catatan asuhan keperawatan dilakukan secara individual.21 Evaluasi keperawatan dilakukan secara periodik. adanya catatan tentang respon/tanggapan pasien terhadap penyakit disebut dokumentasi asuhan keperawatan. Kriteria : 1) Setiap tindakan keperawatan dilakukan evaluasi 2) Evaluasi hasil menggunakan indikator yang ada pada rumusan tujuan 3) Hasil evaluasi segera dicatat dan dikomunikasikan 4) Evaluasi melibatkan pasien. keluarga dan tim kesehatan 5) Evaluasi dilakukan sesuai dengan standar. STANDAR VI : Catatan Asuhan Keperawatan Catatan keperawatan sebagai bukti dari pelaksanaan asuhan keperawatan. komunikasi dan perawat yang melaksanakan tindakan dan waktunya 7) Menggunakan formulir yang baku . Kriteria : 1) Dilakukan selama pasien dirawat inap dan rawat jalan 2) Dapat digunakan sebagai bahan laporan 3) Dilakukan segera setelah tindakan dilaksanakan 4) Penulisannya harus jelas dan ringkas serta menggunakan istilah yang baku 5) Sesuai dengan pelaksanaan proses keperawatan 6) Setiap pencatatan harus mencantumkan initial/paraf/nama informasi.

1994).22 8) Disimpan sesuai dengan peraturan yang berlaku (Depkes RI. kapan dan dimana akan dilaksanakannya (Marquis. Proses Manajemen Pelayanan Keperawatan Manajemen adalah suatu seni dalam menyelesaikan pekerjaan dengan melalui orang lain (Adikoesoema. Perencanaan dibuat untuk menentukan kebutuhan dalam asuhan keperawatan . 2000). 2. Mekanisme kerja fungsi manajemen menurut Handoko (1995) dapat digambarkan dalam skema : Keinginan kebutuhan Perencanaan Pengorganisasia n Pengarahan Pengkoordinasian Informasi Pengawasan Tujuan Gambar 3. 1998). Proses manajemen pelayanan keperawatan terdiri dari: a. Planning atau Perencanaan Perencanaan adalah sebuah keputusan untuk suatu kemajuan yang berisikan apa yang akan dilakukannya serta bagaimana. Skema mekanisme kerja fungsi-fungsi manajemen Menurut Monica (1998) cit Hersey dan Blancard (1977) menyebutkan bahwa manajemen yang komprehensif yaitu bekerja dengan dan melalui individu dan kelompok untuk mencapai tujuan organisasi.

Model perencanaan meliputi : 1) Reactive planning. Unit perawatan merupakan unit terkecil dalam kegiatan pelayanan rumah sakit. yaitu tak ada perencanaan. kelemahan. berisi langkah-langkah rinci bagaimana mencapai tujuan 5) 6) Prosedur. berisikan tujuan yang ingin dicapai Obyektif. Kerangka perencanaan terdiri dari: 1) Misi. berisi langkah-langkah antisipasi untuk hal-hal yang menyimpang. membuat pola struktur organisasi yang dapat mengoptimalkan efektifitas staff serta menegakkan kebijaksanaan dan prosedur operasional untuk mencapai visi dan misi institusi yang telah ditetapkan. berisi pelaksanaan perencanaan Aturan. berisi tujuan jangka panjang mengenai bagaimana langkah mencapai visi 2) 3) 4) Filosofi. memutuskan ukuran dan tipe tenaga keperawatan yang dibutuhkan. peluang yang nyata dan ancaman eksternal yang harus diantisipasi. sesuatu yang bisa menguatkan motivasi Tujuan. Perubahan yang . Perencanaan yang disusun mengacu kepada kerangka utama rencana strategi rumah sakit dengan mempertimbangkan kekuatan.23 kepada semua pasien. mengalokasikan anggaran belanja. menegakkan tujuan. manajer langsung melakukan tindakan begitu menemukan masalah.

4) Proactive planning. malam) akibat perubahan kondisi bangsal dan permintaan fasilitas yang segera akibat kerusakan yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya b) Jangka menengah (periode dalam satu tahun) . dan masa depan merupakan perencanaan yang disusun berdasarkan evaluasi pelaksanaan perencanaan masa lalu dan sekarang. masa sekarang sebagai pelaksanaan perencanaan. risiko dan ketidakpastian jelas. Masa lalu digunakan sebagai pengalaman untuk menyusun perencanaan sekarang dan masa depan. terdapat indikator pencapaian target. 3) Preactive planning. yaitu penyusunan perencanaan dengan mengetahui rencana ke depan pencapaian target yang sudah pasti (sudah jelas dan tidak berubah). masa sekarang dan masa depan. siang. yaitu pembuatan perencanaan dengan memperhatikan masa lalu. Ciri dari perencanaan ini adalah tujuan yang akan dicapai jelas. Perencanaan meliputi: a) Jangka pendek (target waktu dalam minggu/bulan) Meliputi perubahan jadwal dinas (pagi. yaitu perencanaan sudah dibuat sejalan dengan masalah yang muncul (telah ada bayangan atau perencanaan tetapi dalam pelaksanaannya dilakukan sejalan dengan pekembangan masalah.24 terjadi tidak pasti karena dipengauhi oleh masalah dan kondisi yang ada 2) Inactive planning. tedapat pembatasan waktu peencanaan belangsung.

permintaan perlengkapan rutin/barang habis pakai c) Jangka panjang (untuk tahun mendatang) Meliputi pengembangan SDM baik perawat maupun non perawat. Organizing Di dalam pengorganisasian asuhan keperawatan dikenal beberapa model pemberian asuhan keperawatan. penambahan peralatan.25 Meliputi pengaturan dinas. 3) Mengajukan permintaan peralatan dan obat-obatan sesuai kebutuhan. perbaikan peralatan/service. 1999). Tugas kepala ruang dalam perencanaan meliputi: 1) Membuat jadwal dinas koordinasi dengan perawat primer 2) Membuat usulan pengembangan tenaga. cuti tahunan dan sebagainya Berdasarkan buku pedoman uraian tugas tenaga keperawatan di RS (Depkes RI. Tugas Kepala Ruang dalam perencanaan (P1) meliputi: 1) Menyusun rencana kerja kepala ruang 2) Berperan serta menyusun falsafah dan tujuan pelayanan keperawatan di ruang rawat yang bersangkutan 3) Menyusun rencana kebutuhan tenaga keperawatan dari segi jumlah maupun kualifikasi untuk di ruang rawat. Model Praktek . b. koordinasi dengan kepala perawat instalasi/kepala instalasi. penambahan jumlah tenaga.

tergantung dari tingkat kebutuhan pasien dan model ini membutuhkan koordinasi diantara perawat-perawat yang melakukan asuhan keperawatan. 1996) yaitu : 1) Nilai-nilai profesional 2) Pendekatan manajemen 3) Metode pemberian Askep 4) Hubungan profesional 5) Sistem kompensasi dan penghargaan. Metode ini lebih mudah dikerjakan karena satu orang perawat hanya bertanggung jawab pada satu atau dua orang pasien dan maksimal tiga. perawat mempunyai otonomi dan tanggung jawab terhadap perawatan pasien selama shift kerja (± 8 jam).26 Keperawatan Profesional (MPKP) terdiri dari 5 elemen subsistem (Hoffart and Woods. Kelebihan dari metode kasus ini: a) Sederhana dan langsung b) Garis pertanggung jawaban jelas c) Kebutuhan klien cepat terpenuhi d) Memudahkan perencanaan tugas . Ada beberapa teori mengenai metode asuhan keperawatan care dellivery system antara lain menurut teori Gillies (1989): 1) Metode Kasus (Total Care Method) Disebut juga Total patient care. Pasien menerima asuhan keperawatan yang diberikan secara total dan tidak terfragmentasi atau terpecah-pecah.

yaitu: a) Membutuhkan dana yang cukup tinggi (Costly). karena pada pelaksanaannya memerlukan perawat pelaksana yang mempunyai kemahiran. terutama supervisi dari kepala ruang untuk menghindari kesalahan dalam pemberian asuhan keperawatan . 2) Metode Fungsional (functional nursing) Perawat pelaksana hanya bertugas berdasarkan tugas tertentu (task oriented). keterampilan dan profesionalisme tinggi sehingga reward juga harus tinggi. yaitu: a) Lebih efisien b) Tugas dapat segera diselesaikan c) Sedikit kebingungan karena tugasnya hanya satu d) Kebutuhan akan perawat profesional (register nurse) sedikit sehingga dana yang dibutuhkan juga minimal. Kerugian dari metode ini. yaitu: a) Asuhan keperawatan menjadi terfragmentasi b) Kepuasan kerja rendah c) Tidak ada tantangan dalam melakukan tugas d) Lebih banyak membutuhkan koordinasi. b) Memerlukan supervisi yang adekuat dari kepala ruang (charge nurse) c) Memerlukan kepala ruang (charge nurse) yang mampu memberikan training yang baik kepada perawat pelaksana. Keuntungan dari metode ini.27 Kerugian dari metode ini.

yaitu: a) Saat pelaksanaan rencana keperawatan yang dibuat oleh Ketua Tim. Ketua Tim bertanggung jawab kepada kepala ruang. kemungkin terjadi pelaksanaan yang tidak sesuai standar asuhan keperawatan b) Membutuhkan perencanaan dan komunikasi diantara anggota tim. Pada pelaksanaannya hampir . Keuntungan dari metode ini. 4) Metode Primer (primary nursing) Metode ini merupakan suatu metode penugasan kerja terbaik dalam suatu organisasi atau kelompok kerja dengan semua staf keperawatan yang profesional.28 e) Keseluruhan asuhan keperawatan tidak diperhatikan karena tanggung jawab hanya pada tugas yang dilakukan 3) Metode Tim (team nursing) Metode ini menggunakan prinsip bahwa ada sekelompok perawat pelaksana yang dipimpin oleh ketua tim dalam memberikan asuhan keperawatan kepada sekelompok pasien. sehingga metode ini menjadi tidak efektif karena membutuhkan banyak waktu c) Jalur tanggung jawab menjadi tidak jelas keperawatan terfragmentasi dan dapat terjadi d) Asuhan overlapping/nursing error. yaitu: a) Meningkatkan metode kolaborasi b) Kebingungan akses ke pasien berkurang Kerugian dari metode tim.

29 sama dengan metode case method nursing atau total patient care. AN dan anggota tim kesehatan lain. yaitu: a) Tingkat kepuasan yang tinggi b) Tingkat tanggung jawab dan otomi jelas c) Perawat tertantang dalam menyelesaikan masalah dan diberi penghargaan Kerugian dalam metode ini. dan hal ini Dokter Kepala Ruang Sarana RS menjadi sulit karena kendala ekonomi sehingga RS tidak Perawat Primer Perawat Pelaksana Perawat Pelaksana Perawat Pelaksana . Kebutuhan akan Register Nurse sangat tinggi. Setiap PN merawat 46 pasien dan bertanggung jawab terhadap pasien selama 24 jam dari pasien masuk sampai pasien pulang. Penanggung jawab adalah Perawat Primer (PN). semua PN harus RN. yaitu: a) Costly b) Kesulitan dalam menentukan standar RN. Hal ini disebabkan untuk mencapai standar. pelaksanaan dan evaluasi keperawatan. dokter. PN harus mempunyai kemampuan membina komunikasi antara pasien. Dalam satu tim PN mempunyai beberapa perawat pelaksana (associate nurse/AN) dan bila PN tidak ada. Keuntungan dari metode primer. perawatan dilanjutkan oleh AN. Ada kontinuitas asuhan keperawatan yang bersifat komprehensif dan dapat dipertanggungjawabkan. Pada metode ini setiap perawat primer memberikan tanggung jawab secara menyeluruh terhadap perencanaan.

Bagan Model Keperawatan Primer 5) Metode Manajemen Kasus (nursing case management) Pada metode ini ada seorang perawat yang menjalankan sekumpulan aktivitas. mengerahkan. Gambar 4. memantau dan mengevaluasi semua sumber yang digunakan oleh pasien secara total selama sakit. Empat hal penting dalam manajemen kasus: a) Pencapaian berdasar waktu yang ditentukan tim yang terlibat b) Yang bertindak sebagai case manager adalah orang yang memberi pelayanan langsung c) unit d) Perlu partisipasi aktif pasien dan keluarga untuk menyusun evaluasi pelaksanaan kegiatan Seorang perawat/dokter yang terlibat bisa melampaui .30 mampu memberi reward yang cukup dan terjadi keterbatasan tenaga.

c.31 6) Model keperawatan primer modifikasi didasarkan pada beberapa alasan antara lain : a) Keperawatan primer tidak digunakan secara murni karena sebagai perawat primer harus mempunyai latar belakang pendidikan S1 Keperawatan. c) Melalui kombinasi kedua model tersebut diharapkan komunitas asuhan keperawatan dan akuntabilitas asuhan keperawatan terdapat pada PN. pemantauan dan evaluasi kegiatan guna peningkatan mutu pelayanan keperawatan di ruang rawat g) Mendukung terlaksananya program Patient Safety. meliputi: 1) Tugas Pokok: a) Mengelola kegiatan pelayanan dan asuhan keperawatan pasien di ruang rawat b) Melaksanakan fungsi kolaboratif dengan tim kesehatan lain c) Melaksanakan pendidikan kesehatan bagi pasien dan keluarga d) Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan bimbingan PKK e) Melakukan/membantu pelaksanaan penelitian f) Melakukan pengendalian. b) Keperawatan tim tidak digunakan secara murni karena tanggung jawab pasien terfragmentasi pada berbagai tim. 2) Uraian tugas: . Uraian tugas pokok kepala ruang Tugas kepala ruangan dalam pengorganisasian.

disiplik.32 a) Mensosialisasikan. kebersihan dan keamanan ruangan. usulan perbaikan dan pemeliharaannya e) Menyusun data yang berhubungan dengan pelayanan untuk membuat laporan harian. orientasi dan bimbingan kepada staf baru/mahasiswa praktek di ruangan h) Mengkoordinir pelaksanaan tatatertip. i) Melaksanakan asuhan dengan menggunakan pendekatan proses ilmiah j) Membuat usulan nilai pra DP3 semua tenaga yang menjadi tanggung jawabnya k) Membuat usulan pengembangan tenaga l) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan dalam rangka memperlancar pelaksanaan kegiatan di instalasi . bulanan. triwulan serta tahunan f) Mengadakan rapat secara berkala untuk mengetahui masalah dan mendapatkan cara penyelesaian agar pelaksanaan pelayanan berjalan baik g) Memberikan pengarahan. mengatur dan mengendalikan pelaksanaan kebijakan yang telah ditentukan kepada semua staf b) Mengecek kelengkapan inventaris peralatan dan obat-obatan yang tersedia untuk kelancaran pelayanan c) Mengajukan permintaan peralatan dan obat-obatan sesuai kebutuhan d) Memeriksa keadaan ruangan dan peralatan serta menyusun laporan kerusakan.

dan PJ Berdasarkan struktur organisasi dan uraian jabatan keperawatan adalah sebagai berikut: 1) Tugas Pokok Primery Nurse: . dan tanggung jawab dari PN . Uraian tugas.33 m)Membagi staf keperawatan ke dalam grup MPM sesuai dengan kemampuan dan beban kerja n) Membuat jadwal dinas koordinasi dengan perawat primer (PN) o) Membagi pasien kepada grup MPM sesuai kemampuan dan beban kerja p) Memfasilitasi dan mendukung kelancaran tugas perawat primer dan perawatan asosiet (PN & AN) q) Melakukan supervisi dan memberi motivasi seluruh staf untuk mencapai kinerja yang optimal r) Melakukan upaya peningkatan mutu asuhan dan pelayanan dengan mengevaluasi melalui berbagai metode evaluasi peningkatan mutu s) Berperan sebagai konsultan/pembimbing bagi perawat primer (PN) t) Mendelegasikan tugas pada sore. d. dan hari libur kepada penanggung jawab tugas jaga ruangan u) Membuat laporan pelaksanaan tugas secara berkala/insidentil v) Bertanggung jawab terhadap kelengkapan entry data dalam billing system. wewenang. AN . malam.

g) Melakukan pengkajian. menetapkan masalah/diagnosa dan perencanaan keperawatan kepada semua pasien yang menjadi tanggungjawabnya dan ada bukti direkam keperawatan. e) Melakukan pre conference dengan semua AN yang ada dalam grupnya pada setiap awal dinas pagi f) Membagi tugas / pasien kepada AN sesuai kemampuan dan beban kerja. pemantauan dan evaluasi kegiaatan guna peningkatan mutu pelayanan keperawata di ruang rawat g) Mendukung terlaksananya program Patient Safety 2) Tugas Primary Nurse : a) Bertugas pada pagi hari b) Bersama AN menerima operan tugas jaga dari AN yang tugas jaga malam c) Bersama AN melakukan konfirmasi /Supervisi tentang kondisi pasien segera setelah selesai operan tugas jaga setiap pasien. d) Bersama AN melakukan do’a bersama sebagai awal dan akhir tugas. dilakukan setelah selasai operan tugas jaga malam. . h) Memonitor dan membimbing tugas AN.34 a) Mengelola asuhan keperawatan pasien di ruang rawat b) Melakukan fungsi kolaboratif dengan tim kesehatan lain c) Melaksanakan pendidikan kesehatan bagi pasien dan keluarga d) Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan bimbingan PKK e) Melakukan/membantu pelaksanaan penelitian f) Melakukan pengendalian.

r) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan dalam rangka memperlancar pelaksanaan kegiatan s) Menggantikan tugas PJ ruang pada pagi hari jika PJ tidak ada. malam. o) Menyelenggarakan diskusi kasus/conference dengan dokter/tim kesehtan lain setiap seminggu sekali. k) Melakukan evaluasi hasil kepada setiap pasien sesuai tujuan yang ada dalam perencanaan asuhan keperawatan dan ada bukti dalam rekam keperawatan. merevisi dan melengkapi catatan askep yang dilakukan oleh AN yang ada dibawah tanggung jawabnya. p) Menyelenggarakan diskusi kasus /conference dalam pertemuan rutin keperawatan di ruangan minimal sebulan sekali. t) Mendelegasikan tugas perawat primer pada sore.35 i) Membantu tugas AN untuk kelancaran pelaksanaan asuhan pasien j) Mengoreksi. n) Memperkenalkan AN yang ada dalam satu grup /yang akan merawat selama pasien dirawat kepada pasien baru. m)Mendampingi AN dalam operan tugas jaga kepada AN yang tugas jaga berikutnya. l) Melaksanakan post conference pada setiap akhir dinas dan menerima laporan akhir tugas jaga dari AN untuk persiapan operan tugas jaga berikutnya. hari libur kepada perawat asosiete . q) Menyelenggarakan diskusi kasus/conference sesuai prosedur.

diagnosa dan rencana keperawatan (1) Kebenaran kajian data keperawatan (2) Kebenaran diagnosis (3) Kebenaran rencana keperawatan b) Kebenaran layanan asuhan.36 u) Memberikan bimbingan mahasiswa praktek yang ada dalam groupnya dalam rangka orientasi dan pelaksanaan praktek keperawatan. serta memfasilitasi pelaksanaan konsultasi dengan dokter y) Perawat primer membuat laporan tugas kepada Karu setiap akhir tugas tentang kondisi pasien dan masalah yang ada z) Mengikuti pertemuan ilmiah/rutin yang diselenggaraan RS di lingkungan tugasnya 3) Tanggung Jawab Primary Nurse : a) Kebenaran kajian data. v) Perawat primer menginformasikan peraturan dan tata tertib yang berlaku pada pasien/keluarga. w) Perawat primer melakukan visite/monitoring perkembangan pasien dan memberitahukan serta menyiapkan pasien yang akan pulang x) Perawat primer meneriama konsultasi/keluahan pasien/keluarga dan berupaya mengatasinya. evaluasi dan resume keperawatan (1) Kebenaran dan ketepatan pelaksanaan tindakan keperawatan (2) Kebenaran evaluasi keperawatan .

37 (3) Kebenaran resume keperawatan c) Kebenaran dan ketetapan pendidikan/penyuluhan kesehatan pada pasien d) Pemenuhan kebutuhan kesehatan pasien dengan kolaborasi tim kesehatan lain e) Kelengkapan dan kebenaran informasi kepada pasien tentang dokter dan perawat yang bertanggung jawab. jadwal konsultasi & rencana tindakan yang akan dilakukan & rencana perawatan setelah pasien pulang f) Kelengkapan keperawatan g) Kebenaran bimbingan dan arahan kepada perawat asosiet dan mahasiswa praktek klinik keperawatan h) Kebenaran dan kelengkapan laporan dan dan kebenaran isian dokumen asuhan dokumen asuhan keperawatan 4) Wewenang Primary Nurse : a) Mengatur dan membimbing dan memberikan arahan tugas kepada AN/mahasiswa PKK yang menjadi tanggung jawabnya b) Meminta bahan dan perangkat kerja yang dibutuhkan untuk pelaksanaan asuhan dan pelayanan sesuai dengan kebutuhan pasien c) Melakukan kolaborasi dengan tim kesehatan d) Melakukan konsultasi dan koordinasi tugas dengan penanggung jawab ruang dan PN lain .

kebersihan dan keamanan ruangan c) Melaksanakan asuhan keperawatan dengan menggunakan proses kekperawatan d) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan dalam rangka memperlancar pelaksanaan kegiatan di ruangan . 6) Uraian Tugas Penanggung Jawab Tugas Jaga: a) Memberikan pengarahan. malan. 5) Tugas Pokok Penanggung Jawab Tugas Jaga: a) Mengelola kegiatan pelayanan dan asuhan keperawatan pasien di ruang rawat pada sore. dan hari libur. pemantuan dan evaluasi kegiatan guna peningkatan mutu pelayanan keperawatan di ruang rawat pada sore. g) Mendukung terlaksananya program Patient Safety. disiplin. malam dan hari libur b) Melaksanakan fungsi kolaboratif dengan tim kesehatan lain c) Melaksanakan pendidikan kesehatan bagi pasien dan keluarga d) Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan bimbingan PKK e) Melakukan/membantu pelaksanaan penelitian f) Melakukan pengendalian.38 e) Melakukan asuhan dan pelayanan yang komprehensif dan prima kepada semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya f) Mendelegasikan tugas pada AN bila sedang tidak bertugas. orientasi dan bimbingan kepada mahasiswa praktek di ruangan b) Mengkoordinir pelaksanaan tata tertib.

7) Tanggung Jawab Penanggung Jawab Tugas Jaga: a) Ketepatan koordinasi tugas asuhan dan pelayanan di ruangan b) c) Kebenaran arahan tugas staf dan mahasiswa Kelancaran memfasilitasi kebutuhan yang diperlukan untuk asuhan dan pelayaan d) Kelancaran komprehensif dan prima layanan dan asuhan yang e) Kelancaran pelaksanaan pendelegasian tugas Pj.39 e) Membagi pasien kepada grup MPM sesuai kemampuan dan beban kerja f) Memfasilitasi dan mendukung kelancaran tugas asuhan dan pelayanan g) Melakukan supervisi dan memberi motivasi seluruh staf untuk mencapai kinerja yang optimal h) Melakukan upaya peningatan mutu asuhan dan pelayanan i) Berperan sebagai konsultan dari perawat asosiet (AN) pada saat PN tidak bertugas. 8) Wewenang Penanggung Jawab Tim: . Ruang keperawatan pada sore. malam dan hari libur f) Kebenaran dan ketepatan penggunaan sumber daya yang efisien dan efektif g) Kebenaran laporan pelaksanaan kegiatan asuhan dan pelayanan keperawatan.

Mendelegasikan tugas pada AN bila sedang . pemantauan dan evaluasi kegiatan guna peningkatan mutu pelayanan keperawatan di ruang rawat inap g) Mendukung terlaksananya program Patient Safety. 9) Tugas Pokok Assosiate Nurse ( AN ) : a) Melaksanakan asuhan keperawatan pasien di ruang rawat inap b) Melaksanakan fungsi kolaboratif dengan tim kesehatan lain c) Melaksanakan pendidikan kesehatan bagi pasien dan keluarga d) Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan bimbingan PKK e) Melakukan/membantu pelaksanaan penelitian f) Melakukan pengendalian.40 a) Mengatur dan membimbing dan memberikan arahan anggota tim/mahasiswa PKK yang menjadi tanggung jawabnya b) Meminta bahan dan perangkat kerja yang dibutuhkan untuk pelaksanaan asuhan dan pelayanan sesuai dengan kebutuhan pasien c) d) Melakukan kolaborasi dengan tim kesehatan Melakukan konsultasi dan koordinasi tugas dengan penanggung jawab ruang dan PN lain e) Melakukan asuhan dan pelayanan yang komprehensif dan prima kepada semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya f) tidak bertugas.

j) Mengikuti post konference yang diadakan oleh PN pada setiap akhir tugas dan melaporkan kondisi/perkembangan semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya kepada PN dan ada bukti di rekam keperawatan . f) Membimbing dan melakukan pendidikan kesehatan kepada pasien yang menjadi tanggung jawabnya dan ada bukti direkam keperawatan. h) Melengkapi catatan asuhan keperawatan pada semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya. c) Melakukan asuhan keperawatan kepada pasien yang menjadi tanggung jawab dan ada bukti direkam keperawatan. e) Melakukan konsultasi tentang masalah pasien kepada PN.41 10) Uraian Tugas Assosiate Nurse (AN): a) Melakukan doa bersama setiap awal dan akhir tugas yang dilakukan setelah selesai serah terima operan tugas jaga. b) Mengikuti pre konference yang dilakukan PN setiap awal tugas pagi. g) Menerima keluhan pasien dan keluarga dan berusaha untuk mengatasinya. i) Melakukan evaluasi asuhan keperawatan setiap akhir tugas pada semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya dan ada bukti direkam keperawatan. d) Melakukan monitoring respon pasien dan ada bukti direkam keperawatan.

wajib mengenalkan AN yang ada dalam satu group yang akan memberikan asuhan keperawatan pada jaga berikutnya kepada pasien/keluarga baru.42 k) Bila PN tidak ada. malam. dan hari libur o) Berkoordinasi dengan Pj tugas jaga apabila ada kesulitan tentang pelayanan p) Bertanggung jawab atas kelengkapan entry data dalam Billing System. rencana tindakan keperawatan b) Kebenaran dan ketepatan pelayanan dan asuhan keperawatan yang komprehensif dan prima c) Kelengkapan bahan dan peralatan kesehatan d) Kebenaran isian rekam keperawatan e) Kebenaran infomasi/bimbingan/penyuluhan kesehatan kepada pasien/keluarga f) Ketepatan penggunaan sumber daya secara efisien dan efektif 12) Wewenang Assosiete Nurse (AN) : a) Memeriksa kelengkapan dan alat yang diperlukan b) Meminta bahan dan perangkat kerja sesuai dengan kebutuhan pelaksanaan tugas . 11) Tanggung Jawab Assosiete Nurse (AN ): a) Kebenaran asuhan keperawatan meliputi kajian diagnosis. l) Mengkuti diskusi kasus/conference dalam pertemuan rutin m)Melaksanakan tugas lain sesuai uraian tugas AN n) Melaksanakan tugas PN pada sore.

Teori model motivasi yang perlu diterapkan dalam rangka mencapai sasaran organisasi adalah : a) Model tradisional: menaikkan sistem upah untuk memotivasi para karyawan . Adikoesoema (1994) menjelaskan beberapa cara manajer merangsang bawahannya agar pelaksanaan kegiatan meningkat dalam rangka mencapai tujuan organisasi : 1) Motivasi Motivasi atau memotivasi merupakan proses dengan apa seseorang manajer merangsang bawahannya untuk bekerja dalam rangka mencapai sasaran organosatoris. Actuating Actuating/directing manajer/pimpinan untuk tidak bisa lepas mengarahkan dari kemampuan ataupun stafnya bawahannya untuk menjalankan fungsi masing-masing dengan baik (Adikoesoema. menetapkan diagnosa dan perencanaan keperawatan bagi pasien baru pada saat PN tidak bertugas sore.43 c) Melakukan pengkajian. 1994). dan hari libur d) Melakukan asuhan keperawatan pasien e) Melaporkan asuhan keperawatan pasien ke Pj tugas jaga dan Perawat Primer (PN) e. malam.

b) Menyusun jadual/daftar dinas tenaga keperawatan dan tenaga lain sesuai kebutuhan pelayanan dan peraturan yang berlaku di RS. d) Memberikan orientasi kepada siswa/mahasiswa keperawatan yang menggunakan ruang rawatnya sebagai lahan praktek. e) Memberi orientasi kepada pasien/keluarganya meliputi: penjelasan tentang peraturan RS. mengadakan training.44 b) Model hubungan antar manusia: kontak sosial yang dialami karyawan baik di alam kerja maupun di luar jam kerja juga mempunyai arti penting 2) Kemampuan Individu Untuk memajukan organisasi/perusahaan disamping motivasi juga penting untuk menelaah kemampuan individu. Menurut buku pedoman uraian tugas tenaga keperawatan di Rumah Sakit tugas Kepala ruang sebagai penggerak dan pelaksanaan (P2) terdiri dari : a) Mengatur dan mengkoordinasikan seluruh kegiatan pelayanan di ruang rawat. . tata tertib ruang rawat. Bila sudah menjadi karyawan tentu tugas manajer meng-upgrade. kursus dan sebagainya secara berkelanjutan untuk memajukan pengetahuannya. melalui kerja sama dengan petugas lain yang bertugas diruang rawatnya. c) Melaksanakan orientasi kepada tenaga keperawatan baru/tenaga lain yang akan kerja di ruang rawat.

h) Memberi kesempatan/ijin kepada staf keperawatan untuk mengikuti kegiatan ilmiah/penataran dengan koordinasi kepala instalasi/kepala bidang perawatan. khususnya bila ada perubahan program pengobatan pasien. k) Mendampingi visite dokter dan mencatat instruksi dokter. n) Memberi motivasi kepada petugas dalam memelihara kebersihan lingkungan di ruang rawat. i) Mengupayakan pengadaan peralatan dan obat-obatan sesuai kebutuhan berdasarkan ketentuan/kebijaksanaan RS.45 fasilitas yang ada dan cara penggunaannya serta kegiatan rutin sehari-hari. l) Mengelompokkan pasien dan mengatur penempatannya di ruang rawat menurut tingkat kegawatan. g) Mengadakan pertemuan berkala/sewaktu-waktu dengan staf keperawatan dan petugas lain yang bertugas di ruang rawatnya. infeksi/non infeksi untuk kelancaran pemberian asuhan keperawatan. f) Membimbing tenaga keperawatan untuk melaksanakan pelayanan/asuhan keperawatan sesuai standar. . hal ini penting untuk tindakan keperawatan. j) Mengatur dan mengkoordinasikan pemeliharaan alat agar selalu dalam keadaan siap pakai. m)Mengendalikan kualitas sistem pencatatan dan pelaporan asuhan keperawatan dan kegiatan lain secara tepat dan benar.

f. q) Meneliti/memeriksa ulang pada saat penyajian makanan pasien sesuai dengan program dietnya. p) Meneliti/memeriksa pengisian daftar permintaan makanan pasien berdasarkan macam dan jenis makan pasien. mempunyai kemauan dan dedikasi yang tinggi asal diajak komunikasi yang baik serta imbalan yang baik. Untuk mencapai sasaran tersebut. perlu 3 hal penting: Motivasi. b) Teori Y Teori ini menganggap bahwa rata-rata karyawan senang bekerja asal diberi rangsangan dan dihargai. Teori pengarahan SDDM: a) Teori X Teori ini menganggap karyawan adalah orang yang malas hingga harus diarahkan dengan paksaan bahkan dengan ancaman atau hukuman.46 o) Meneliti pengisian formulir sensus harian pasien di ruang rawat. Controlling . Kemampuan individu dan Sistem manajemen. c) Teori Z Teori ini menyatakan bahwa peran serta semua jajaran karyawan merupakan kunci suksesnya produktivitas dari suatu organisasi.

membaca dan memeriksa rencana keperawatan serta catatan yang dibuat selama dan sesudah proses keperawatan dilaksanakan (didokumentasikan). . 3) Mengevaluasi upaya pelaksanaan dan membandingkan dengan rencana keperawatan yang telah disusun bersama ketua tim 4) Audit keperawatan Menurut buku pedoman uraian tugas tenaga keperawatan di RS bahwa. mengamati sendiri atau melalui laporan langsung secara lisan dan memperbaiki atau mengawasi kelemahan-kelemahan yang ada saat itu juga 2) Pengawasan tidak langsung yaitu mengecek daftar hadir ketua tim. pengawasan melalui komunikasi.47 Nursalam (2002). tugas kepala ruang yaitu sebagai Pengawasan. mendengar laporan ketua tim tentang pelaksanaan tugas. b) Mengawasi dan menilai siswa/mahasiswa keperawatan untuk memperoleh pengalaman belajar sesuai tujuan program bimbingan yang telah ditentukan. mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan ketua tim maupun pelaksana mengenai asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien. Pengendalian dan Penilaian (P3) meliputi : a) Mengendalikan dan menilai pelaksanaan asuhan keperawatan yang telah ditentukan. Kegiatan supervise meliputi: 1) Pengawasan langsung melalui inspeksi.

Pengendalian ini untuk mengontrol terhadap hasil dari pekerjaan yang telah diselesaikan. 2) Concurent control. d) Mengawasi. pengendalian ini berlangsung saat pekerjaan berlangsung guna memastikan sasaran tercapai. SDM. Untuk keperluan mengevaluasi hasil kerja diperlukan terlebih dahulu persiapan: 1) Standard operation procedure. jika ada penyimpangan akan merupakan pelajaran untuk aktifitas yang sama di masa yang akan datang. 3) Indikator penilaian penampilan Fungsi pengawasan dan pengendalian merupakan fungsi terakhir dari proses manajemen. baik sumber daya. . yaitu pengendalian ini dipusatkan pada permasalahan pencegahan timbulnya penyimpangan- penyimpangan dari bawahan terhadap kinerja pemberi pelayanan keperawatan. e) Mengawasi dan menilai mutu asuhan keperawatan sesuai standar yang berlaku secara mandiri atau koordinasi dengan tim pengendalian mutu asuhan keperawatan. Ada 3 macam pengawasan yaitu : 1) Pengendalian pendahuluan. 2) Standar/pedoman diagnosis dan terapi. peralatan dan obat-obatan. mengendalikan dan menilai pendayagunaan tenaga keperawatan. bahan/alat maupun dana. 3) Feedback control.48 c) Melakukan penilaian kinerja tenaga keperawatan yang berada dibawah tanggung jawabnya.

ALOS (Length Of Stay). BTO) a. OUTPUT 1. Efisiensi Ruang Rawat Efisiensi pelayanan meliputi 4 indikator mutu pelayanan kesehatan yang meliputi (BOR. adalah rata-rata lama hari seorang pasien dirawat. Indikator ini selain memberikan gambaran tingkat efisiensi juga dapat memberikan gambaran mutu pelayanan jika diterapkan pada diagnosis tertentu yang masih membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. perawatan x 100% Jumlah Tempat Tidur x hari perawatan b. BOR (Bed Occupancy Rate). Standar internasional yang baik adalah 80-90%. sedangkan BOR = Jumlah hari standar nasional adalah 70-80%. TOI.49 C.hari perawatan Jumlah pasien keluar (hidup+mati) . penghitungan lama tempat tidur tidak terisi. Indikator ini dapat memberikan TOI= jumlah total kapasitas tempat tidur. LOS = Jumlah Lama hari perawatan pasien keluar Jumlah pasien keluar hidup atau mati c. TOI (Turn Over Internal). TOI adalah rata-rata jumlah hari tempat tidur tidak ditempati dari saat diisi hingga saat terisi berikutnya. LOS. merupakan indikator untuk menilai seberapa efektifitas pemakaian tempat tidur yang ada di suatu ruangan atau rumah Sakit dalam jangka waktu tertentu. Secara umum ALOS yang ideal antara 6-9 hari.

nyata.50 gambaran tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur. 2. Dokumentasi keperawatan merupakan sesuatu yang mutlak harus ada untuk perkembangan perawatan. tempat tidur kosong hanya dalam waktu 1-3 minggu. Penerapan SAK (Instrumen A. B. kualitas. Dokumentasi keperawatan adalah sistem pencatatan kegiatan sekaligus pelaporan semua kegiatan asuhan keperawatan sehingga terwujud data yang lengkap. Dalam membuat dokumentasi harus memperhatikan aspek-aspek: 1) Keakuratan data 2) Breavity (ringkas) 3) Legibility (mudah dibaca) Komponen dokumentasi keperawatan: . C) Instrumen A Instrumen A merupakan evaluasi terhadap pendokumentasian asuhan keperawatan yang telah baku. dan kuantitas pelayanan kesehatan dalam memenuhi kebutuhan pasien. Evaluasi dilakukan terhadap dokumentasi asuhan keperawatan pasien yang dirawat minimal 3 hari. a. khususnya proses profesionalisasi keperawatan serta upaya uuntuk membina dan mempertahankan akontabilitas perawat dan keperawatan. dan tercatat dan bukan hanya tingkat kesakitan dari pasien tapi juga jenis. Idealnya.

dianalisa. Prioritas masalah ditentukan . dan dapat ditanggulangi oleh perawat. Komponen pengkajian meliputi pengumpulan data.51 1) Pengkajian Asuhan keperawatan paripurna memerlukan data yang lengkap dan dikumpulkan secara terus-menerus tentang keadaaan pasien untuk menentukan kebutuhan asuhan keperawatan. Data harus bermanfaat bagi semua anggota tim kesehatan. dengan komponen terdiri atas masalah. dan rencana tindakan. Diagnosa dirumuskan berdasarkan data status kesehatan pasien. 3) Rencana keperawatan Perencanaan keperawatan disusun berdasarkan diagnosa keperawatan. dibuat sesuai dengan wewenang perawat. dan perumusan masalah. tujuan. Kriteria diagnosa dihubungkan dengan penyebab kesenjangan dan pemenuhan kebutuhan pasien. dan dibandingkan dengan fungsi normal kehidupan pasien. penyebab dan tanda gejala (PES) atau terdiri dari masalah dan penyebab (PE) yang bersifat aktual apabila masalah kesehatan sudah nyata terjadi dan bersifat potensial apabila masalah kesehatan kemungkinan besar akan terjadi. pengelompokan data. Komponen rencana perawatan meliputi prioritas masalah. 2) Diagnosa keperawatan Diagnosa keperawatan menggambarkan masalah pasien baik aktual maupun potensial berdasarkan hasil pengkajian data.

menjaga privasi.52 dengan memberi prioritas utama masalah yang mengancam kehidupan dan prioritas selanjutnya masalah yang mengancam masalah kesehatan pasien. Semua tindakan yang telah dilaksanakan dicatat pada format asuhan keperawatan yang berlaku. Prioritas ketiga adalah masalah yang mempengaruhi perilaku. serta pemulihan kesehatan dengan mengikutsertakan pasien dan keluarga. menjelaskan setiap tindakan perawatan yang akan dilaksanakan pada klien. dan mengutamakan keselamatan pasien. Tindakan perawatan dilakukan dengan menerapkan prinsip aseptik dan antiseptik. sesuai waktu yang telah ditentukan dengan menggunakan sumber-sumber yang ada. Pelaksanaan tindakan keperawatan harus sesuai dengan rencana yang ada. menyangkut keadaan bio-psiko-sosio-spiritual pasien. pemeliharaan. nyaman. aman. dan merapikan pasien dan alat setiap selesai tindakan. 4) Implementasi Implementasi adalah pelaksanaan rencana tindakan yang ditentukan dengan maksud agar kebutuhan pasien terpenuhi yang mencakup aspek peningkatan. pencegahan. ekonomis. Perbaikan tindakan dilakukan berdasarkan respon pasien dan merujuk dengan segera bila ada masalah yang mengancam keselamatan pasien. 5) Evaluasi .

Evaluasi dilaksanakan dengan memeriksa kembali hasil pengkajian awal dan intervensi awal untuk mengidentifikasi masalah dan rencana perawatan selanjutnya termasuk strategi perawatan yang telah diberikan untuk memecahkan masalah pasien.53 Evaluasi dilaksanakan secara peroidik. dan berencana. serta menggunakan istilah yang baku sesuai dengan pelaksanaan proses perawatan. Penulisan harus jelas dan ringkas. dan menggunakan format yang tersedia serta sesuai dengan peraturan yangn berlaku. untuk menilai perkembangan pasien. b. Instrumen B Salah satu indikator mutu asuhan keperawatan adalah dilihat dari persepsi klien tentang mutu asuhan keperawatan yang diberikan. Pencatatan dilakukan selama pasien dirawat inap maupun rawat jalan. 6) Catatan asuhan keperawatan Pencatatan merupakan data tertulis tentang status kesehatan dan perkembangan pasien selama dalam perawatan. Setiap pencatatan harus mencantumkan paraf dan nama perawat yang melaksanakan tindakan dan waktu pelaksanaan. Dan untuk mengevaluasi hal ini diperlukan suatu instrumen yang baku. sistematis. Pencatatan dapat digunakan sebagai bahan informasi dan komunikasi. Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta menggunakan format standar .

Misi. Instrumen C Dalam melakukan tindakan keperawatan yang baik harus sesuai dan mengacu pada protap-protap atau standar yang telah ditetapkan dengan hasil tindakan mencapai 100%. c. mekanisme kerja (standar-standar) yang diperlakukan di ruang rawat c.54 asuhan keperawatan yang telah ditetapkan oleh rumah sakit untuk mengevaluasi persepsi klien terhadap mutu asuhan keperawatan. . Metode penugasan dan landasan model pendekatan kepada klien yang ditetapkan. dan tujuan rumah sakit yang dijabarkan secara lokal ruang rawat b. Sumber daya manusia keperawatan yang memadai baik kualitas maupun kuantitas. Keberhasilan pelaksanaan kegiatan peningkatan mutu supaya lancar dipengaruhi oleh: a. Struktur organisasi lokal. Mutu Pelayanan Keperawatan Kegiatan menjamin kualitas pelayanan keperawatan merupakan kegiatan menilai. 3. visi. Sebagai dasar penilaian tindakan keperawatan yang mengacu pada instrumen evaluasi penerapan standar asuhan keperawatan di rumah sakit yang telah ditetapkan oleh Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta yang mengacu pada pedoman dari Departemen Kesehatan. d. memantau atau mengatur pelayanan yang berorientasi pada pasien.

b) Standar 2. 2000). Falsafah dan Tujuan Pelayanan keperawatan dikelola dan diorganisasi agar dapat memberikan asuhan keperawatan yang optimal bagi pasien sesuai dengan standar yang ditetapkan. Kesadaran dan motivasi dari seluruh tenaga keperawatan yang ada g. . Nilai untuk standar 1 jika dilaksanakan sesuai kriteria yang ada adalah 4. Pola administrasi dan pengelolaan organisasi yang telah dikelola dan diorganisir dengan baik. Fasilitas dan Perawatan Fasilitas dan peralatan yang memadai untuk mencapai tujuan pelayanan keperawatan.5 c) Standar 3. 1) Pelayanan keperawatan menurut Depkes 1992 meliputi 7 standar yaitu : a) Standar 1. f.8 d) Standar 4. Tersedianya berbagai sumber/fasilitas yang mendukung pencapaian kualitas pelayanan yang diberikan. Staf dan Pimpinan Pelayanan keperawatan dikelola untuk mencapai tujuan pelayanan. nilai rata-rata untuk standar 2 adalah 4. Administrasi dan Pengelolaan Pendekatan sistematik digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan berorientasi pada kebutuhan pasien. Komitmen dari pimpinan rumah sakit (Nurachmah.55 e. Pencapaian nilai rata-rata standar 3 adalah 3.

kredibilitas. Dampak dari tidak terpenuhinya kondisi tersebut. sopan santun. Evaluasi dan Pengendalian Mutu Pelayanan keperawatan menjamin adanya asuhan keperawatan yang bermutu tinggi dengan terus-menerus melibatkan diri dalam program pengendalian mutu rumah sakit. Kebijakan dan Prosedur Adanya kebijakan dan prosedur secara tertulis yang sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan prinsip praktek keperawatan yang konsiten dengan tujuan pelayanan keperawatan. Pelayanan yang diberikan dipengaruhi oleh tersedianya tenaga yang berkualitas maupun sarana yang tersedia guna menunjang proses pelayanan. g) Standar 7.Penampilan pribadi merupakan ceriman sikap keseharian seperti kompetensi. maka pasien merasa tidak diterima. f) Standar 6. Faktor tersebut perlu mendapat dukungan berupa sarana atau fasilitas penunjang seperti . Penilaian Kinerja Pribadi Perawat Rumah sakit adalah bagian integral dari keseluruhan sistem pelayanan kesehatan yang dikembangkan sesuai rencana pembangunan kesehatan. dan komunikatif. dapat diandalkan.56 e) Standar 5. 4. Pengembangan Staf dan Program Pendidikan Program dan pengembangan staf bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme. Pelayanan kesehatan tidak terlepas dari “ Personality performance” atau penampilan pribadi dalam menangani pasien.

1987 dan Nursalam.57 ruang tunggu. b. kepuasan kerja adalah keadaan emosional yang menyenangkan dengan pekerjaannya. pengetahuan dan tanggungjawab menunjang pemberian pelayanan yang prima. c. Integritas dari karyawan termasuk kompetensi. Penilaian kinerja merupakan alat yang paling dapat dipercaya oleh manajer perawat dalam mengontrol sumber daya manusia dan produktifitas (Swansburg. Jenis alat evaluasi pelaksanaan kinerja perawat yang umum digunakan ada 5. Nursalam 2002) Kepuasan Kerja Perawat Pengertian kepuasan kerja menurut Newstrom ”job satisfaction is the favorableness or unfavoraleness with employes view their work” kepuasan kerja berarti perasaan mendukung atau tidak mendukung yang dialami dalam kerja. kebersihan maupun peralatan yang digunakan. d. Berdasarkan teori terdapat beberapa aspek yang dinilai yaitu: pengetahuan. Laporan bebas Pengguruan Cheklist pelaksanaan kerja Penilaian grafik Perbandingan pilihan (Henderson. e. Kinerja perawat yang berkualitas akan menunjang proses pelayanan. Proses penilaian kinerja dapat digunakan secara efektif dalam mengarahkan perilaku pegawai dalam rangka menghasilkan jasa keperawatan dalam kualitas dan volume yang tinggi. sikap. 1984 cit. Menurut Handoko. . kenyamanan. 5. yaitu: a. 2002). keterampilan dan kinerja. penataan ruang.

e. b. Gaji. c. Promosi. penyelia yang baik mau menghargai pekerjaan bawahannya. Kompensasi: sikap pekerja terhadap pembayaran yang diterimanya setelah ia membandingkannya dengan rekan lain baik didalam maupun diluar organisasi tempat ia bekerja. Penyelia (supervisor). merupakan sikap umum yang dimiliki oleh pegawai yang erat hubungannya dengan imbalanimbalan yang mereka yakini akan mereka terima setelah melakukan sebuah pengorbanan. setiap pekerjaan memerlukan ketrampilan tertentu. merupakan faktor pemenuhan kebutuhan hidup pegawai yang bisa dianggap layak atau tidak layak Wesley dan Yukl (1977) mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja dari kondisi sebenarnya adalah : a. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja menurut Schemerhorn ada 5 yaitu: a. berkaitan dengan ada atau tidaknya mendapat kesempatan untuk meningkatkan karir selama bekerja.58 Sedangkan menurut Stephen Robin. kepuasan itu terjadi apabila kebutuhan-kebutuhan individu sudah terpenuhi dan terkait dengan derajat kesukaan dan ketidaksukaan dikaitkan dengan pegawai. Teman sekerja d. Pekerjaan itu sendiri. Pada dasarnya kompensasi dapat . sukar atau tidaknya suatu pekerjaan sera persaan seseorang bahwa keahliannya dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan tersebut akan meningkatkan atau mengurangi kepuasan kerja.

umpan balik dari pekerjaan itu sendiri (informasi langsung dan jelas diperoleh dari pekerja atas efektivitas dan hasil kerjanya). d.59 dikelompokkan ke dalam dua kelompok. Manajemen Approach A. Teori “Hierarki Kebutuhan” dari Abraham Maslow. Tabel 2. b. c. sedangkan kompensasi nonfinancial dapat berupa pekerjaan dan dari lingkungan dimana tempat bekerja. Pengorganisasian PP  . guna memenuhi kebutuhannya. fasilitas kesehatan. Misi  3. Pekerjaan itu sendiri: signifikansi pekerjaan. pinjaman. Keamanan kerja: kepuasan pekerja dalam menduduki pekerjaannya selama ia mau termasuk imbalan gaji. yaitu kompensasi finansial dan kompensasi bukan financial. hari libur. Teori dasarnya adalah bahwa apabila kebutuhan dasar manusia belum terpenuhi. pensiunan di hari depannya. Kompensasi financial ada yang langsung dan ada yang tidak langsung. Filosofi  4.1 Kegiatan MPKP Penanggungjawab No Kegiatan Kabid Karu Katim I. imbalan terutama gaji/upah termasuk dalam “alat” untuk memenuhi kebutuhan dasar ( basic physiological needs ). Perencanaan 1. ia akan mempunyai dorongan untuk berusaha memperoleh/mencari. Kesempatan pengembangan diri: kesempatan untuk maju atau berprestasi dalam jenjang karir. bila menggunakan teorinya. Visi  2. Rencana jangka pendek   B. Kebijakan  5.

Profesional Relationship 1. 3. 4. 2. Konferensikasus 3. Defisit perawatan diri 1.60 Struktur organisasi Jadual dinas Daftar pasien Pengarahan Operan Pre conference Post conference Iklim motivasi Pendelegasian Supervisi Pengendalian Indikator mutu Audit dokumen Survey kepuasan Survey masalah kesehatan keperawatan II. Rekrutmen 2. 1. Gangguan konsep diri: Harga diri rendah 2. D. Rapattimkesehatan 4. 2. Rapatkeperawatan 2. -                                                       - . 1. 5. Seleksi 3. C. Orientasi 5. Risiko bunuh diri 7. Patient Care Delivery 1. Penilaiankinerja 6. Risiko perilaku kekerasan 3. Isolasi social 4. Gangguan proses pikir: Waham 6. 2. 3. Visit dokter IV. Gangguan persepsi sensori: Halusinasi 5. Pengembanganstaf III. Kontrakkerja 4. 6. 4. Compensatory Reward 1. 3.

GAMBARAN UMUM RUMAH SAKIT DAN RUANGAN .61 BAB III HASIL PENGKAJIAN Pengkajian dilakukan selama hari Rabu. 20 Juni 2012 sampai hari Sabtu. A. 23 Juni 2012.

Shinta. Jenis pelayanan kesehatan yang ada di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta terdiri dari pelayanan di dalam rumah sakit dan di luar rumah sakit.145 m2 dengan jumlah bangsal sebanyak 13 bangsal (bangsal VIP. Sena. Ayodya. tentang otonomi daerah. Abimanyu.067 m2. Gambaran Umum Rumah Sakit Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Surakarta beralamat di Jalan Ki Hajar Dewantara No. dan kapasitas tempat tidur mencapai 293 tempat tidur. Kresna. Dewi Kunti. 80 Surakarta. dan Sumbadra). Sebelumnya Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta.62 1. 22 tahun 1999. Adapun jenis pelayanan yang tersedia di rumah sakit tersebut antara lain: a. tepatnya yaitu di Jalan Bayangkara No. Wisanggeni. Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta yang sebelumnya Rumah Sakit Jiwa Pusat Surakarta berubah menjadi Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta sampai saat ini. dan diresmikan penggunaannya pada tanggal 17 Juli 1919 M. Sejak diterapkan UU No. Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta memiliki luas tanah 100. Maespati. Srikandi. Amarta. Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta didirikan pada tahun 1918 M.8 Surakarta (tepat di samping Stadion Sriwedari Surakarta). Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta terletak pada lokasi yang cukup strategis karena masih dalam lingkungan sekitar Karisidenan Surakarta yang mudah dijangkau oleh transportasi umum. Kode pos 57126 Surakarta. PO BOX 187. Pringgondani. dan memiliki luas bangunan 21. Pelayanan yang bersifat spesialistik .

dengan kegiatan: a) Pembinaan pelayanan kesehatan jiwa b) Pelayanan konsultasi ahli kesehatan jiwa c) Pelatihan terhadap tenaga medik dan non medik Puskesmas/ RSU tentang kesehatan jiwa.63 1) Pelayanan pencegahan a) Penyuluhan kesehatan jiwa b) Pelatihan kesehatan jiwa c) Pendidikan kesehatan jiwa d) Penelitian kesehatan jiwa e) Bimbingan bakat. Pelayanan yang dilakukan di luar rumah sakit (ekstra murah). minat. 1) Pelayanan integratif: Pelayanan integratif yang dilakukan meliputi pelayanan kesehatan jiwa yang dilakukan di Puskesmas dan RSU Kabupaten/ Kota. symposium kesehatan jiwa 2) Pelayanan rawat jalan 3) Pelayanan rawat inap 4) Pelayanan gawat darurat 5) Pelayanan penunjang diagnostik 6) Terapi bio-psiko-sosial 7) Pelayanan rehabilitasi b. dan konseling f) Seminar. 2) Kegiatan lintas sektoral: Kegiatan pembinaan dan pelayanan lintas sektoral dalam wadah Badan Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (BPKJM) dilakukan bersama-sama dengan instansi . kepribadian.

64 dan sektor-sektor lain yang berperan dalam pembinaan upaya kesehatan jiwa masyarakat. Hasil pendokumentasian yang didapatkan dari instalasi rekam medik di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta didapatkan hasil bahwa . 3) Pelayanan yang lain: Pelayanan yang lain yang tersedia di Rumah Sakir Jiwa Daerah Surakarta antara lain: a) Surat keputusan sehat jiwa untuk sekolah dan pekerjaan b) Surat keputusan sehat jiwa untuk kepentingan umum (untuk caleg/ kades/ bupati dan lainnya) c) Visum kejiwaan d) Surat keputusan bebas narkotika untuk umum e) Perawatan jenazah f) Ambulance g) Hot line service untuk konsultasi lewat telepon (0271-665581) bagi masyarakat umum c. 2009). Hal ini melengkapi pengembangan program Model Praktek keperawatan Profesional (MPKP) yang telah dikembangkan sebelumnya (Catatan Medik RSJD Surakarta. Peningkatan kinerja dan mutu pelayanan Dalam rangka pengembangan potensi Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta saat ini telah mengembangkan pelayanan unggulan di bidang sub-spesialis psikogeriatri yang didukung dengan tenaga serta sarana dan prasarana yang memadai.

dimana metode TIM ini terdiri dari anggota yang berbeda-beda dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap sekelompok pasien. bulan Maret 85. 15 %. dan bulan April 81. 2. dan bulan April 31 hari. 74%. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Ruang Shinta didapatkan informasi bahwa Ruang Shinta adalah satu-satunya ruang pelayanan keperawatan yang menerapkan metode MPKP dan metode TIM dalam pemberian asuhan keperawatan.65 BOR keseluruhan di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta pada bulan Februari 85. Ruang Shinta merupakan bangsal kelas II dan III yang memberikan pelayanan untuk pasien Jamkesmas. Hasil pendokumentasian yang didapatkan dari instalasi rekam medik di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta didapatkan hasil bahwa ALOS keseluruhan di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta pada bulan Februari 30 hari. 98 %. a. Perawat ruangan dibagi . PKMS. Hasil pendokumentasian yang didapatkan dari instalasi rekam medik di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta didapatkan hasil bahwa TOI keseluruhan di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta pada bulan Februari 5 hari. bulan Maret 6 hari dan bulan April 2 hari. Jamkesda dan umum. Gambaran Umum Ruangan Profil Ruang Shinta Ruang Shinta merupakan salah satu ruang atau bangsal di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta yang digunakan untuk perawatan gangguan jiwa rehabilitasi khusus pasien perempuan dewasa. bulan Maret 30 hari.

Jumlah ketenagaan di Ruang Shinta terdapat 14 orang yang terdiri dari 12 tenaga perawat. akan tetapi berdasarkan perintah dari bidang keperawatan Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta visi. Misi. motto. 1 Kepala Ruang dan 1 administrasi (pelaksana urusan TU). misi. Motto dan Tujuan Ruang Shinta istirahat Dapur Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Ruang didapatkan informasi bahwa ruangan sudah memiliki visi. dan 1 ruang kamar mandi pasien. dan filosofi ruangan secara khusus. 1 ruang dokter. misi. dan filosofi Rumah Sakit. misi. Ruang Shinta memiliki kapasitas tempat tidur sebanyak 30 tempat tidur pasien. Semua pegawai ruang Shinta berjenis kelamin perempuan. dan filosofi yang digunakan adalah visi. motto. WC Tempat 1) Visi.66 menjadi 2 TIM yang terdiri dari Ketua Tim (KaTim) dan Perawat Asosiate (PA) atau perawat pelaksana. 1 ruang kamar mandi perawat sekaligus ruang dapur. 1 ruang perawat sekaligus ruang tindakan medis. motto. 2) Lokasi dan Denah Ruangan Shinta Lokasi dan denah Ruang Shinta dapat dilihat pada gambar dibawah ini: Ruang Dokte r Ruang Perkumpulan Ruang Kelas II WC Ruang Perawat Halaman Belakang Ruang Kelas III WC WC WC WC .

. Kep Yuli Sumarni. Kep PA Fitriani W. Kep. S. AMK Juniarsih S. AMK Sri Mulyani. S. Kep DokterRuangan KepalaRuang Mardini. Ns. AMK PA Venita Antonia. MM 3) Struktur organisasi ruang Shinta KepalaSeksiKeperawatan KepalaInstalasiRawat Inap Warno.67 KepalaBidangKeperawatan H. S. Kep Retno Maruti.. AMK . S. S. AMK Istiani. S. AMK Murpiati. AMK Tutik Sri. AMK Betzaba Dewi. Kep Sulistyowatik.. M. Kep. S. Sukardi. Kep PerawatKontrol TU ruangan Kepala Tim I KepalaTim II Pupus Risnawati.

Pengkajian 82.4% diagnosa keperawatan tidak berdasarkan 2. Perencanaan sudah menggunakan format yang baku dari rumah sakit. Tabel .5% data pengkajian tidak dicatat lengkap.6 masalah yang telah dirumuskan. Tindakan 90 keperawatan. 33.. Struktur organisasi ruang Shinta B. 5.68 Gambar:. INSTRUMEN A Evaluasi ini dilakukan dengan menggunakan format evaluasi dokumentasi asuhan keperawatan. Hasil yang diperoleh dapat dilihat pada tabel dibawah ini..4% rencana tindakan tidak menggambarkan keterlibatan pasien atau keluarga. Evaluasi 75  25% evaluasi tidak mengacu pada tujuan.6 tidak disusun secara prioritas... tindakan keperawatan tidak berkelanjutan antar shift. . tidak dirumuskan diagnosa resiko. masalah tidak dirumuskan berdasarkan 1. Nilai Rata-rata Instrumen A di Ruang Shinta RSDJ Surakarta Aspek yang No Hasil (%) Keterangan dinilai  18. 54. Diagnosa 46.5 kesenjangan antara status kesehatan dengan norma dan fungsi kehidupan. Studi dokumentasi dilakukan pada 10 berkas rekam medis pasien di ruang Shinta. 10% tindakan tidak sesuai dengan rencana 4. perencanaan 3. Perencanaan 66.

100 sudah ditulis secara ringkas. a. 1998) Berdasarkan tabel di atas. Management Approach Perencanaan ..69 6. jelas. Namun. Dari asuhan keperawatan yang dirasa kurang adalah diagnosa keperawatan yang tidak merumuskan diagnosa resiko (46.78 % adalah baik. 1) Visi Ruang Shinta RSJD Surakarta memiliki visi ruangan (100%).6%). Kriteria hasil: 76 – 100% 56 – 75% 40 – 55% <40% : baik : cukup : kurang baik : tidak baik (Arikunto. perawat sudah menuliskan nama.. berdasarkan kebijakan dari RS visi yang digunakan diruangan adalah visi RS. di ruang Shinta Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta. tanggal. Rata-rata 76. Adapun Visi RSJD Surakarta adalah “Menjadi pusat pelayanan kesehatan jiwa pilihan yang profesional berbudaya dan berstandar internasional”. jam dan tanda tangan. perencanaan tidak disusun menurut prioritas (66.78 Sumber : Hasil observasi tanggal . INSTRUMEN B 1. Catatan asuhan keperawatan  Pencatatan ditulis pada format yang baku.6%). C. maka hasil dari Instrumen A tentang dokumentasi keperawatan yaitu 76..

70

2)

Misi Ruang Shinta RSJD Surakarta memiliki misi ruangan (100%). Namun, berdasarkan kebijakan dari RS misi yang digunakan diruangan adalah misi RS. Adapun misi RSJD Surakarta adalah: a) Memberikan pelayanan kesehatan jiwa profesional dan paripurna yang terjangkau masyarakat b) Meningkatkan mutu pelayanan sesuai dengan standar

internasional secara berkelanjutan c) Menerapkan nilai-nilai budaya kerja aparatur dalam memberikan pelayanan kedapa pelanggan d) Meningkatkan peran serta dan kemandirian masyarakat untuk mencapai derajat kesehatan jiwa yang optimal. 3) Filosofi Ruang Shinta RSJD Surakarta tidak memiliki filosofi ruangan, Ruang Shinta menggunakan filosofi Rumah Sakit (100%). 4) Kebijakan RSJD Surakarta menjadikan Ruang Shinta sebagai ruang percontohan pelaksanaan MPKP. Belum adanya SK MPKP untuk setiap ruangan Belum ada kebijakan pelaksanaan MPKP. 5) Rencana harian Belum ada rencana jangka pendek kepala ruang. Belum ada rencana jangka pendek ketua tim. Belum ada rencana jangka pendek perawat pelaksana. 2. Pengorganisasian

71

a.

Struktur organisasi Kelengkapan struktur organisasi di ruangan Shinta 100%. Struktur organisasi di ruang Shinta dapat dilihat pada lampiran (gambar ...)

b.

Jadwal dinas Jadwal dinas di ruang shinta dibuat dalam bentuk lembaran dan dibuat untuk 1 bulan. Jadwal dinas, dapat dilihat pada lampiran (tabel ...)

c.

Daftar pasien Ruang shinta memiliki daftar pasien yang ditulis di white board ruangan. Daftar pasien dapat dilihat pada lampiran (tabel ...).

3. a.

Pengarahan Operan Ruang shinta Surakarta sudah melaksanakan operan, namun tidak sesuai dengan standar MPKP dikarenakan kesibukan perawat saat pergantian shift (40 %).

b.

Pre conference Ruang shinta sudah melakukan kegiatan pre conference namun berhenti karena kurangnya pengakuan dari pihak manajemen (0%).

c.

Post conference Ruang shinta tidak pernah melaksanakan pre conference, dikarenakan kesibukan perawat (0%).

d.

Iklim motivasi

72

Ruang shinta sudah menciptakan iklim motivasi diruangan, salah satunya dengan memberikan motivasi kepada semua stafnya mengembangkan jenjang karir dan kompetensi nya (78,75 %). e. Pendelegasian Ruang Shinta sudah melakukan pendelegasian tugas jika ada salah satu petugas yang tidak bisa bertugas sesuai dengan jadwal dinasnya (83 %). f. Supervisi Di ruang Shinta RSJD Surakarta sudah dilakukan supervisi (70 %). Supervisi dilakukan setiap hari, katim menulis laporan berdasarkan dari supervisi perawat pelaksana. 4. a. Pendelegasian Indikator mutu Ruang Shinta RSJD Surakarta belum memenuhi standar indikator mutu, dibuktikan dengan:
1) BOR 21,37 %

2) ALOS 29,4 3) TOI 5,6 4) Angka lari, angka cedera, angka pengekangan dan angka infeksi nosokomial tidak terkaji.
5) Hasil pengkajian indikator mutu sebesar 71, 4 %.

b.

Audit dokumen Di ruang Shinta sudah dilakukan audit dokumen terutama setelah pasien pulang (100 %).

c.

Survey kepuasan

b. Compensatory Reward Penilaian kinerja: Penilaian kinerja SDM ruangan Shinta dilakuakan 100% dengan supervisi baik langsung ataupun tidak langsung. adanya notulen rapat. Hasil pengkajian 0%. Survey masalah kesehatan Ruang Shinta belum melakukan survey masalah kesehatan.73 Ruang Shinta belum melaksanakan survey kepuasan pasien dan keluarga. a. 6. Pengembangan staf: Upaya dalam rangka peningkatan pendidikan keperawatan berkelanjutan dilakukan 100% oleh kepala ruang. agenda rapat membahas tentang masalah-masalah . Profesional Relationship Rapat keperawatan Ruang Shinta RSJD Surakarta rutin melakukan rapat keperawatan ruangan 1 kali dalam sebulan. Hasil pengkajian : 1) HDR 25 % 2) RPK 30 % 3) ISOS 10 % 4) Halusinasi 60 % 5) Waham 30 % 6) RBD 4 % 7) DPD 10 % 5. Terdapat jadwal rapat keperwatan rutin. d. a.

g. Rapat tim keehatan Hasil dari pengkajian didapatkan kegiatan rapat tim kesehatan di ruang Shinta RSJD Surakarta mencapai 66. Rapat keperawatan ruangan 100% sudah dilakukan di ruang Shinta. ada kesimpulan rapat. d.74 ruangan. hasil pengkajian didapatkan 0%.6%. Visit dokter Visit dokter d ruang Shinta rutin dilakukan dan katim ruangan selalu mendampingi dokter dalam pemeriksaan pasien dan berkolaborasi dengan dokter sesuai dengan standar. Rapat tim kesehatan jarang dilakukan dan tidak ada presentasi permasalahan yang sedang dihadapi ruangan. Resiko perilaku kekerasan Isolasi sosial Gangguan pesepsi sensori: halusinasi Gangguan proses pikir: waham Resiko bunuh diri Defisit perawatan diri. harga diri rendah. f. c. d. a. Konferensi kasus Ruang Shinta RSJD Surakarta tidak pernah melakukan konferensi kasus. e. b. . c. dan ada daftar hadir. 7. Hasil pengkajian: Patient Care Delivery Gangguan konsep diri. Hasil pengkajian didapatkan 100% untuk visit dokter. b.

5. Diagnosa tidak diprioritaskan. Dokumentasi keperawatan . Diagnosa keperawatan Hasil pengkajian diagnosa keperawatan sebesar 46.6 %. 6. Evaluasi Hasil pengkajian evaluasi keperawatan sebesar 70%. Analisa data Data subjektif dan data objektif yang tertulis dalam analisa data tidak ada dalam data pengkajian. 7. Implementasi Hasil pengkajian implementasi keperawatan sebesar 90 %. 4.6 %. Evaluasi sudah sesuai dengan tujuan pada rencana intervensi dan sudah dicatat. Format intervensi keperawaan sudah baku sesuai dengan format yang disusun oleh RSJD Surakarta. 2.75 1. Perumusan diagnosa keperawatan tidak sesuai dengan analisa data.5%) Perawat sudah menuliskan hasil pengkajian pada format. namun tidak semua item pengkajian diisi secara lengkap. Intervensi keperawatan Hasil pengkajian intervensi keperawatan sebesar 66. 3. Pengkajian (82. Beberapa tindakan keperawatan ada yang tidak sesuai dengan rencana intervensi.

sudah di catat dengan jelas dan berkesinambungan pada shif pagi-soremalam. Perawat sudah mencatat asuhan keperawatan pada format yang sudah tersedia.76 Hasil pengkajian dokumentasi keperawatan sebesar 100 %. .

77 8.M.Kes TIM I Pupus Suistyowatik Murpiati Fitriani Sri Mulyani Sulasmi TIM II YS Yenita A Betzaba L Tutik Istiani 1 P P P S M P X P L P S X M 2 P Km L S M P L P L P S P M 3 L Km M S X M P L S P L L X 4 P X M L P M L P S P S P L 5 P S X P P X P P M L M P S 6 P S L P L L P P M P M L S 7 P L S P P P M P X P X M S 8 P L S L S P M P L P P M L 9 P L S M S P X P P P L X M Tanggal 10 11 12 13 14 15 16 17 18 L L P P L L P L P L L M S L L L P S L P M S C X M M P P P L P S X P C P M M P P L P S S L P C S X X P P M P M L S P C S L P P L M P M L S P M S C P L P X L X M S L M L C S P P S P L M L L X M C S S P L L P X M Ks L M C S L P P S P C M 19 P Ks P X L M L P P S S C M 20 21 22 23 24 P P P P L P S L P M M P L S L C P P S L M X X P M L P C X P S P M L L L M P S L L L L P X S S P X P M M X Kp P L L L S L S P M M L 25 26 27 28 29 30 P P P P P P P M P P S L P S P X X M P M P P S S P L P L L M P X M P L M P P S P S X P L M L P M P P L S S P P P X M S X P P M L S P P P L M S P P P M P S P ..Kep. S. Jadwal dinas Nama perawat Mardini.

Kep) No 1. 13.78 9.Kep) No 1. 2. Nama Endang S Eko Riani Ida Sri Lestari Ani Suparni Rubiyanti Pawit Sri Astutik Rusmiati Sri Wahyuni B Sunarni Mujiati Jani No registrasi 038027 046760 046969 001652 008481 009212 035705 023574 047168 047018 034895 046951 047164 Diagnosa Keperawatan HDR RPK Halusinasi Halusinasi RPK Halusinasi DPD RPK RPK Halusinasi Isolasi Sosial Halusinasi Halusinasi Ketua Tim 2 (Yuli Sumarni. Daftar pasien ruang Sintha Ketua Tim 1 (Pupus Risnawati. 7. 10. 6. 11. S. 6. 3. 5. 10. 9. 8. 12. 7. 5. 8. 4. 3. 2. 9. 11. Nama Suparmi Siti Rustini Sri Wahyuni A Sunarti Nur Hayu Tri Nur witanti Maryati Siti Nuryani Kasti Martini Suyatini No registrasi 047006 045967 047042 007151 045938 046069 044939 012822 040301 055812 047024 Diagnosa Keperawatan Halusinasi RPK Halusinasi Halusinasi HDR HDR RPK Halusinasi HDR Waham Isolasi Sosial . S. 4.

2.Belum adanya SK MPKP untuk setiap ruangan . Rencana harian KaRu: .Ruang Shinta RSJD Surakarta tidak memiliki filosofi ruangan.RSJD Surakarta menjadikan Ruang Shinta sebagai ruang percontohan pelaksanaan MPKP . . .Melakukan role model. Kebijakan . Masalah Ruang Shinta tidak memiliki wewenang untuk menerapkan visi yang sudah disusun di ruangan POA Mengusulkan ke RS untuk memberikan wewenang dalam menerapkan visi diruangan Target 79 Pelaksanaan perencanaan 85% Adanya misi ruangan Shinta yang menjelaskan tujuan organisasi dalam mencapai visi yang telah ditetapkan. Namun.Belum ada rencana jangka pendek perawat pelaksana Standar Adanya visi ruangan Shinta yang digunakan sebagai landasan perencanaan organisasi.Belum ada rencana jangka pendek ketua tim . setiap perawat membuat rencana kegiatan harian sesuai dengan perannya untuk setiap shift. berdasarkan kebijakan dari RS misi yang digunakan diruangan adalah visi RS.Mengusulkan kepada setiap perawat untuk membuat rencana harian sesuai dengan jabatannya masingmasing. Namun.No Komponen pengkajian Manajemen Approach A. Adanya filosofi ruangan Shinta yang menjadi rujukan kegiatan organisasi dan arahan seluruh rencana jangka panjang Ruang Shinta tidak memiliki wewenang untuk menerapkan misi yang disusun ruangan Mengusulkan ke RS untuk memberikan wewenang terhadap ruangan untuk menerapkan misi yang sudah di buat oleh ruangan Mengusulkan pembuatan filosofi di ruangan yang mengacu pada filosofi Rumah Sakit Pelaksanaan perencanaan 85% Filosofi yang terdapat dalam ruangan adalah filosofi Rumah Sakit Pelaksanaan perencanaan 85 % Adanya kebijakan dari kepala bidang terhadap ruangan Shinta sebagai acuan dalam pelaksanaan MPKP diruangan. Misi . Filosofi . Visi . praktek dan bimbingan pelaksanaan Pelaksanaan perencanaan 85 % . 4.Ruang Shinta menggunakan filosofi Rumah Sakit (100%). .Asuhan keperawatan. Belum adanya SK pelaksanaan MPKP diruangan Mengusulkan pembuatan SK MPKP Pelaksanaan perencanaan 85 % Sebelum operan . 3. Rencana Jangka Pendek .Supervisi KaTim dan Ruang Shinta RSJD Surakarta belum melaksanakan pembuatan rencana jangka pendek yang sesuai dengan jabatan masing-masing .Ruang Shinta RSJD Surakarta memiliki misi ruangan (100%). Perencanaan 1. 1.Belum ada kebijakan pelaksanaan MPKP 5.Ruang Shinta RSJD Surakarta memiliki visi ruangan (100%). berdasarkan kebijakan dari RS visi yang digunakan diruangan adalah visi RS.Belum ada rencana jangka pendek kepala ruang .

THREATMEN a. Adanya peraturan yang dibuat oleh pihak rumah sakit. motto dan tujuan ruang Shinta. g. c. Sudah adanya sistem pendelegasian di ruang Shinta. d. Belum adanya visi. 3. katim dan perawat pelaksana. perawat sarjana keperawatan ners di ruang Shinta. Ruang Shinta sudah memiliki struktur organisasi yang menunjukkan pembagian tim. c.80 BAB IV ANALISA DATA A. g. Sudah adanya daftar pasien di ruang Shinta. Sarana dan prasarana di Ruang Shinta sudah mencukupi dan memenuhi standar. b. Terdapat .. ANALISA SWOT No 1. j. Tingkat ketergantungan pasien sudah diklasifikasikan sesuai dengan kebutuhan pasien. Belum terdokumentasinya hasil supervisi dari karu ke katim dan dari katim ke perawat pelaksana. misi.. k. b. Adanya program pelatihan khusus dan seminar intern atau ekstern. dan pembagian pasien. h. c. Protap di ruang Shinta yang digunakan dalam penerapan asuhan keperawatan dan tindakan keperawatan bagi pasien. misi. motto dan tujuan bidang keperawatan RSJD Surakarta. Adanya visi. 100 2. Kurangnya keterlibatan perawat pada kegiatan pengembangan SDM. Adanya kegiatan supervisi dari bidang keperawatanke semua bangsal di RSJD Surakarta. SOP. post conference dan operan belum berjalan secara optimal sesuai standar. Adanya tuntutan dari masyarakat yang lebih tinggi dalam profesional keperawatan. OPPORTUNITY a. b. d. Sudah adanya SAK. Proses komunikasi yang baik antar perawat di ruang Shinta. Sudah adanya daftar dinas perawat di ruang Shinta. e. . Ruang Shinta memiliki sarana dan prasarana yang memadai. ANALISA SWOT STRENGTH a. e. d. Kegiatan pre conference. Terdapat 1 orang magister keperawatan di Ruang Shinta. Belum adanya rencana harian karu. f. 4. Kegiatan supervisi dari karu dan katim belum terjadwal. i. Tidak adanya pengakuan MPKP dari bidang keperawatan. WEAKNESS a. f.

Observasi − Berdasarkan hasil observasi di ruang Shinta didapatkan bahwa perawat sudah tidak menjalankan kegiatan pre conference. Perencanaan a. Wawancara Berdasarkan hasil wawancara dengan karu ruang Shinta didapatkan informasi bahwa sudah tersedia buku rencan harian jangka pendek tetapi perawat tidak mengisi buku rencana kegiatan harian (rencana jangka pendek).81 B. perawat tidak pernah terlihat membuat rencana harian jangka pendek c. Wawancara − Berdasarkan hasil wawancara dengan karu ruang Shinta didapatkan informasi bahwa kegiatan pre conference. b. Pengarahan a. perawat hanya mengikuti rutinitas yang sudah tertera di ruangan b. Kuisioner Berdasarkan hasil kuisioner di ruang Shinta didapatkan hasil bahwa perawat tidak memiliki rencana harian jangka pendek 2. post conference dan operan sudah tidak berjalan lagi sesuai MPKP karena kurangnya pengakuan dari pihak manajemen RS − Hasil wawancara dengan karu ruang Shinta untuk kegiatan pendelegasian belum terdokumentasikan dengan baik karena belum adanya format pendelegasian. Observasi Berdasarkan hasil observasi selama pengkajian di ruang Shinta. post conference dan operan. PERUMUSAN MASALAH Fungsi Data Fokus Manajemen MANAGEMENT APPROACH 1. No Masalah Belum adanya kesadaran perawat untuk mengisi buku rencana harian jangka pendek yang sudah tersedia di ruangan − Belum berjalannya kegiatan pre conference. post conference dan operan sesuai dengan MPKP − Belum adanya form dan pendokumentasia an pendelegasian .

b. Pengendalian − Ruang Shinta belum memiliki format pendelegasian. c. Conference (pre dan post conference) 3. Survey kepuasan keluarga. pasien dan perawat 5.82 3. Belum tersedianya form survey kepuasan pasien dan keluarga serta belum berjalannya kegiatan survey kepuasan pasien dan keluarga C. c. Operan 4. SCORING MASALAH No Masalah 1. Kuisioner Berdasarkan hasil kuisioner didapatkan bahwa kegiatan survey kepuasan pasien dan keluarga sebesar 0%. Pendelegasian Keterangan Mg : Sv : Mn : Nc : Af : Mg 5 4 5 5 4 Sv 3 4 5 4 3 Mn 4 5 5 5 5 Nc 4 5 5 4 4 Af 4 4 5 5 5 Skor 960 1600 3125 2000 1200 Prioritas 5 3 1 2 4 kecenderungan besar dan seringnya kejadian masalah besarnya kerugian yang ditimbulkan dilihat dari kemungkinan masalah dapat dipecahkan melibatkan pertimbangan dan perhatian perawat ketersediaan sumber daya . Kuisioner Berdasarkan hasil kuisioner di ruang Shinta diperoleh bahwa kegiatan pre dan post conference serta operan 0%. a. Observasi Berdasarkan hasil observasi di ruang Shinta didapatkan bahwa tidak ditemukan form survey kepuasan pasien dan keluarga. Wawancara Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruang Shinta didapatkan bahwa ruang Shinta belum melaksanakan survey kepuasan pasien dan keluarga serta belum memiliki form survey kepuasan pasien dan keluarga. Rencana harian 2.

83 Skor 5 4 3 2 1 : : : : : sangat penting penting cukup penting kurang penting sangat kurang penting .

operan atau timbang terima keperawatan yang dilaksanakan 2. operan keperawatan 2. menyebutkan perawat post conference tujuan dari pre dan operan dan post keperawatan conference. Ruang Shinta. operan keperawatan 2. timbang terima atau operaran keperawtan sesuai standar. POA PLANNING OF ACTION Ruang Shinta Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta No 1 Masalah Penerapan kegiatan MPKP belum optimal (pre. dapat mencapai optimal (100%) . Membuat jadwal dan melaksanakan bersama-sama pre dan post conference dan operan keperawatan Tujuan Sasaran Tujuan Umum Tujuan Khusus Perawat mampu 1. Ruang Shinta. operan keperawatan Target PJ Pelaksanaan Laelatul dokumentasi dan Tia dan simulasi S. tanggal 26 juni 2012: sosialisasi dan membuat jadawal pre dan post conference. Sosialisasi tentang penerapan pre. dengan optimal. post conference.130 D. tanggal 26 Juni 2012: pelaksanaan pre dan post conference. Perawat dapat mendemonstrasi kan pre dan post conference. Perawat Semua melaksanakan dapat staf mekanisme pre. Tempat dan waktu 1. operan keperawatan) Rencana tindakan 1. post conference.

1. Perawat mampu meningkatkan mutu pelayanan kepada pasien 3.elakukan survey tersebut 2. Tanggal 6 Juli 2012: Pengadaan leaflet dan Pelaksaan Herawati survey dan mutu pelayanan kepada keluarga dapat dilaksanakan secara optimal (100%) . 2. Pembuatan leaflet dan lembar balik 7 diagnosa keperawatan jiwa. pasien dan perawat sendiri. Perawat Semua bisa melakukan staf survey kepada perawat keluarga. Pengadaan format survey kepuasaan keluarga. Ruang Shinta. Perawat dapat melaksanakan dan membiasakan pre dan post conference dan operan secara rutin setiap hari. pasien dan perawat 1. 2. pasien dan perawat serta . Perawat bisa memberikan penyuluhan kesehatan baik kepada keluarga pasien maupun pasien sendiri yang telah disepakati 1. tanggal 26 Juni 2012: pengadaan format survey kepuasaan keluarga.131 2 Survey kepuasaan keluarga. pasien dan perawat.

1. Kepala ruang mampu melakukan pendelegasian secara formal didalam ruangan sesuai standar. Ruang Shinta. 3. Ruang Shinta tanggal 27 Juni 2012: pengadaan surat pendelegasia n tugas. Memotivas i semua staf perawat untuk menbuat rencana Perawat mampu membuat rencana harian di ruangan Shinta setiap hari dan melaksanakannya secara terjadwal 1. Motivasi untuk mempertahanka n system pendelegasian yang sudah sesuai standar. Pembuatan Astri dan rencana harian D. . Mengusulk an adanya rencana harian. Semua staf perawat 1. Perawat mampu membuat rencana harian pasien 2. Membuat format rencana harian. Memperm udah melakukan evaluasi hasil dari pendelegasian. Kegiatan harian pasien menjadi jelas dan susuai jadwal Kepala ruang lembar balik 7 diagnosa keperawatan. 4 Rencana harian 1. Tugas Mahacak pendelegasian ri bisa dilakukan sesuai standar(100%).132 3 Pendelegasian 1. 1. Pendelegas ian di ruangan Shinta menjadi jelas dengan adanya surat resmi pendelegasian 2. dialkukan yuliastuti secara optimal setiap hari (100%). tanggal 26 Juni 2012: memberikan contoh membuat rencana harian. 2. Pengadaan surat pendelegasian 2.

133 harian. .

Pre conference dan Post conference a. sore atau malam sesuai dengan jadwal dinas perawatan pelaksanaan. Definisi Pre dan Post Conference Konferensi merupakan pertemuan tim yang dilakukan setiap hari. KESENJANGAN TEORI 1. dan tambahan rencana dari katim dan PJ tim (Modul MPKP. Waktu : setelah operan Tempat : Meja masing – masing tim Penanggung jawab : Ketua tim atau Pj tim . maka pre conference ditiadakan. Isi pre conference adalah rencana tiap perawat (rencana harian). 2006).132 BAB V PEMBAHASAN A. Konferensi dilakukan sebelum atau setelah melakukan operan dinas. Jika yang dinas pada tim tersebut hanya satu orang. konference sebaiknya dilakukan di tempat tersendiri sehingga dapat mengurangi gangguan dari luar. Konferensi terdiri dari pre conference dan post conference yaitu : 1) Pre Conference Pre conference adalah komunikasi katim dan perawat pelaksana setelah selesai operan untuk rencana kegiatan pada shift tersebut yang dipimpin oleh ketua tim atau penanggung jawab tim.

133

Kegiatan : a) Ketua tim atau Pj tim membuka acara b) Ketua tim atau pj tim menanjakan rencana harian masing – masing perawat pelaksana c) Ketua tim atau Pj tim memberikan masukan dan tindakan lanjut terkait dengan asuhan yang diberikan saat itu. d) Ketua tim atau Pj tim memberikan reinforcement e) Ketua tim atau Pj tim menutup acara 2) Post Conference Post conference adalah komunikasi katim dan perawat pelaksana tentang hasil kegiatan sepanjang shift dan sebelum operan kepada shift berikut. Isi post conference adalah hasil askep tiap perawatan dan hal penting untuk operan (tindak lanjut). Post conference dipimpin oleh katim atau Pj tim (Modul MPKP, 2006). Waktu :Sebelum operan ke dinas berikutnya. Tempat : Meja masing – masing tim. Penanggung jawab : ketua tim atau Pj tim Kegiatan : a) Ketua tim atau Pj tim membuka acara.

b) Ketua tim atau Pj tim menanyakan kendala dalam asuhan yang telah diberikan. c) Ketua tim atau Pj tim yang menanyakan tindakan lanjut asuhan klien yang harus dioperkan kepada perawat shift berikutnya. d) Ketua tim atau Pj menutup acara.

134

b. Tujuan Pre dan Post Conference Secara umum tujuan konferensi adalah untuk menganalisa masalah-masalah secara kritis dan menjabarkan alternatif penyelesaian masalah, mendapatkan gambaran berbagai situasi lapangan yang dapat menjadi masukan untuk menyusun rencana antisipasi sehingga dapat meningkatkan kesiapan diri dalam pemberian asuhan keperawatan dan merupakan cara yang efektif untuk menghasilkan perubahan non kognitif (McKeachie, 1962). Pre dan Post Conference juga membantu koordinasi dalam rencana pemberian asuhan keperawatan sehingga tidak terjadi pengulangan asuhan, kebingungan dan frustasi bagi pemberi asuhan (T.M.Marelli, et.al, 1997). 1) Tujuan pre conference adalah: a) Membantu untuk mengidentifikasi masalah-masalah pasien, merencanakan asuhan dan merencanakan evaluasi hasil b) Mempersiapkan hal-hal yang akan ditemui di lapangan c) Memberikan kesempatan untuk berdiskusi tentang keadaan pasien 2) Tujuan post conference adalah: Untuk memberikan kesempatan mendiskusikan penyelesaian masalah dan membandingkan masalah yang dijumpai.

c. Syarat Pre dan Post Conference

135

1) Pre

conference

dilaksanakan

sebelum

pemberian

asuhan

keperawatan dan post conference dilakukan sesudah pemberian asuhan keperawatan 2) Waktu efektif yang diperlukan 10 atau 15 menit 3) Topik yang dibicarakan harus dibatasi, umumnya tentang keadaan pasien, perencanaan tindakan rencana dan data-data yang perlu ditambahkan 4) Yang terlibat dalam conference adalah kepala ruangan, ketua tim dan anggota tim d. Panduan perawat pelaksanaan dalam melaksanakan konferensi Adapun panduan bagi PP dalam melakukan konferensi adalah sebagai berikut: (Ratna Sitorus, 2006). 1) Konferensi dilakukan setiap hari segera setelah dilakukan pergantian dinas pagi atau sore sesuai dengan jadwal perawatan pelaksana. 2) Konferensi dihadiri oleh perawat pelaksana dan PA dalam timnya masing – masing. 3) Penyampaian perkembangan dan masalah klien berdasarkan hasil evaluasi kemarin dan kondisi klien yang dilaporkan oleh dinas malam. Hal hal yang disampaikan oleh perawat pelaksana meliputi : a) Keadaan klien b) Keluhan klien c) TTV

5) Mengiatkan kembali standar prosedur yang ditetapkan. ketelitian. e) Ketepatan pelaksanaan tindakan lain. Kesenjangan data dengan teori . d) Ketepatan pemberian obat / injeksi.136 d) Hasil pemeriksaan laboraturium atau diagnostic terbaru. Tahap – tahap inilah yang akan dilakukan oleh perawat – perawat ruangan ketika melakukan pre conference e. kebisikan pengunjung lain. 7) Membantu perawatan asosiet menyelesaikan masalah yang tidak dapat diselesaikan. kejujuran dan kemajuan masing–masing perawatan asosiet. kesalahan pemberian makan. 4) Perawat pelaksana mendikusikan dan mengarahkan perawat asosiet tentang masalah yang terkait dengan perawatan klien yang meliputi : a) Klien yang terkait dengan pelayanan seperti : keterlambatan. 6) Mengiatkan kembali tentang kedisiplinan. kehadiran dokter yang dikonsulkan. h) Rencana medis. f) Ketepatan dokumentasi. b) Ketepatan pemberian infuse. g) Perubahan keadaan terapi medis. e) Masalah keperawatan f) Rencana keperawatan hari ini. c) Ketepatan pemantauan asupan dan pengeluaran cairan.

Beberapa hal yang masih memerlukan perbaikan antara lain: 1) 2) conference 3) 4) Memandu pelaksanaan pre conference Mendiskusikan cara dan strategi pelaksanaan asuhan keperawatan pasien/tindakan 5) Memotivasi untuk memberikan tanggapan dan penyelesaian masalah yang sedang didiskusikan 6) Mengklarifikasikan kesiapan PA untuk Menyiapkan tempat untuk pre coference Menjelaskan tujuan dilakukan post melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien yang menjadi tanggung jawabnya. hasil ini menunjukkan bahwa pelaksanaan post-conference masih kurang maksimal. Berdasarkan hasil observasi didapatkan nilai sebesar 0%.137 Berdasarkan hasil observasi didapatkan nilai sebesar 0%. menyimpulkan hasil pre conference. hasil ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pre-conference masih kurang maksimal. 3) Menerima penjelasan Menjelaskan tujuan Menyiapkan tempat dari PA tentang hasil tindakan/hasil asuhan keperawatan yang telah dilakukan . Beberapa hal yang masih memerlukan perbaikan antara lain: 1) untuk post coference 2) dilakukan post conference.

Pendelegasian dilakukan melalui mekanisme pelimpahan tugas dan wewenang. 1) Pendelegasian terencana adalah pendelegasian yang secara otomatis terjadi sebagai konsekuensi sistem penugasan yang diterapkan diruang MPKP. 2. Pendelegasian tugas dilakukan secara berjenjang yang penerapanya dibagi menjadi 2 jenis. Definisi Pendelegasian Pendelegasian adalah melakukan pekerjaan melalui orang lain agar aktifitas organisasi tetap berjalan. Penerapan delegasi di MPKP dalam bentuk pendelegasian tugas oleh kepala ruangan kepada ketua tim dan ketua tim kepada perawat pelaksana.138 4) Mendiskusikan masalah yang telah ditemukan dalam memberikan askep pada pasien dan mencari upaya penyelesaian masalah. mengklarifikasi pasien sebelum melakuakan operan tugas jaga shift berikutnya (melakukan ronde keperawatan). Bentuknya antara lain adalah : a) Pendelegasian tugas kepala ruangan kepada ketua tim untuk menggantikan tugas sementara tugas kepala ruang karena alasan tertentu . 5) Menyimpulkan hasil post conference. yaitu pendelegasian terencana dan pendelegasian insidentil. Pendelegasian a.

b. sehingga pendelegasian tugas harus dilakukan. terinci dan tertulis 4) Pejabat yang mengatur pendelegasian wajib memonitor pelaksanaan tugas dan menjadi rujukan bila ada kesulitan yang dihadapi 5) Setelah selesai pendelegasian dilakukan serah terima tugas yang sudah dilaksanakan dan hasilnya c. Dalam hal ini yang mengatur pendelegasian adalah kepala seksi perawatan. ketua tim atau penanggung jawab shif dan tergantung pada personil yang berhalangan. yang terjadi apabila salah satu personil ruang MPKP berhalangan hadir. Mekanisme Pendelegasian Mekanisme yang dilakukan adalah sebagai berikut: . kepala ruangan. Prinsip Pendelegasian Prinsip pendelegasian tugas di MPKP antara lain adalah : 1) Pendelegasian tugas harus menggunakan format pendelegsaian 2) Personil yang menerima pendelegasian adalah personel yang berkompetemen dan setara dengan kemampuan yang digantikan tugasnya 3) Uraian tugas yang didelegasikan harus dijelaskan secara verbal. 2) Pendelegasian insidentil.139 b) Pendelegasian tugas kepala ruangan kepada penanggung jawab shif c) Pendelegasian ketua tim kepada perawat pelaksana dalam pelaksanaan tindakan keperawatan yang telah direncanakan.

Panduan Pendelegasian Pendelegasian dilaksanakan melalui proses sebagai berikut: 1) Buat rencana tugas yang perlu dituntaskan 2) Identifikasi ketrampilan dan tingkat pendidikan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas 3) Pilih orang yang mampu melaksanakan tugas yang didelegasikan 4) Komunikasikan dengan jelas apa yang akan dikerjakan dan apa tujuaanya 5) Buat batasan waktu dan monitor penyelesaian tugas 6) Jika bawahan tidak mampu melaksanakan tugas karena menghadapi masalah tertentu. 3) Bila ada perawat pelaksana yang berhalangan hadir. d. maka kepala ruangan menunjuk salah satu anggota tim (perawat pelaksana) menjalankan tugas ketua tim. manajer harus bisa menjadi model peran dan menjadi narasumber untuk menyelesaikan masalah yang terjadi 7) Evaluasi kinerja setelah tugas selesai 8) Pendelegasian terdiri dari tugas dan kewenangan . kepala seksi menunjuk salah satu ketua tim untuk menggantikan tugas kepala ruang.140 1) Bila kepala ruangan berhalangan. 2) Bila ketua tim berhalangan hadir. sehingga satu tim kekurangan personil maka kepala ruangan berwenang memindahkan perawat pelaksana dari tim lain masuk tim yang kekurangan personiltersebut atau katim melimpahkan pasien kepada perawat pelaksana yang hadir.

Hasil dari proses evaluasi itu akan menghasilkan perasaan puas atau tidak puas (Sumarwan. pasien atau klien merupakan individu terpenting dirumah sakit sebagai konsumen sekaligus sasaran produk rumah sakit. tidak akan berhenti hanya sampai proses penerimaan pelayanan. 2003). hasil ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pendelegasian di ruang Shinta sudah cukup baik. 2004). Beberapa hal yang masih memerlukan perbaikan antara lain: 1) Pembuatan rencana tugas yang perlu dituntaskan.141 Kesenjangan data dengan teori Berdasarkan hasil observasi didapatkan nilai sebesar 83%. Survey Kepuasan Pasien dan Keluarga Menurut Soejadi (1996). konsumen yaitu pasien. kecepatan pemberian layanan. . 1998 dalam Awinda. Didalam suatu proses keputusan. Kepuasan pasien dapat berhubungan dengan berbagai aspek diantaranya mutu pelayanan yang diberikan. 2003). Pasien akan mengevaluasi pelayanan yang diterimanya tersebut. 2) Adanya evaluasi kinerja setelah tugas selesai 3) Pendelegasian tugas harus menggunakan format pendelegsaian. 3. Kotler (1997) menyatakan bahwa kepuasan adalah tingkat keadaan yang dirasakan seseorang yang merupakan hasil dari membandingkan penampilan atau outcome produk yang dirasakan dalam hubungannya dengan harapan seseorang (Sumarwan. prosedur serta sikap yang diberikan oleh pemberi pelayanan kesehatan itu sendiri (Anwar.

Kesenjangan data dengan teori Berdasarkan hasil observasi tingkat kepuasan keluarga dan pasien didapatkan nilai sebesar 16. Beberapa hal yang masih memerlukan perbaikan antara lain: 1) Pemberian informasi yang jelas kepada keluarga mengenai perkembangan dan kondisi pasien selama di rawat di rumah sakit 2) Pengadaan form survey kepuasan pasien dan keluarga dari pihak Rumah Sakit 3) Pendekatan perawat terhadap pasien dan keluarga pasien 4. Rencana Harian Kepala Ruang. .142 Kepuasan pasien adalah tingkat kepusan dari persepsi pasien dan keluarga terhadap pelayanan kesehatan dan merupakan salah satu indikator kinerja rumah sakit. 2002).52% terhadap perawatan di ruang Shinta.78% dan 21. hasil ini menunjukkan bahwa kepuasan terhadap pelayanan di ruang Shinta sudah cukup baik. Bila pasien menunjukkan hal-hal yang bagus mengenai pelayanan kesehatan terutama pelayanan keperawatan dan pasien mengindikasikan dengan perilaku positifnya. Rencana harian dibuat sebelum operan dilakukan dan dilengkapi pada saat operan dan pre conference. maka dapat kita tarik kesimpulan bahwa pasien memang puas terhadap pelayanan tersebut (Purnomo. perawat primer/ketua tim dan kepala ruangan. Kepala Tim dan Perawat Pelaksana Rencana harian adalah rencana aktifitas pada tiap shift yang dilakukan oleh perawat asosiet/perawat pelaksana.

. Demikian pula dengan asuhan keperawatan. Rencana Harian Ketua Tim Isi rencana harian ketua tim antara lain adalah: 1) penyelenggaraan asuhan keperawatan pada pasien di timnya. Rencana harian kepala ruangan Isi kegiatan harian kepala ruangan meliputi semua kegiatan yang dilakukan oleh seluruh SDM yang ada di ruangan dalam rangka menghasilkan pelayanan asuhan keperawatan yang berkualitas.143 a.Berikut isi rencana harian kepala ruangan meliputi : 1) Asuhan keperawatan 2) Supervisi Katim dan perawat pelaksana 3) Supervisi tenaga selain perawat 4) Kerja sama dengan unit yang terkait b. Kepala ruangan harus mengetahui kebutuhan ruangan dan mempunyai hubungan keluar dengan unit yang terkait untuk memenuhi kebutuhan tersebut. 2) Melakukan supervisi perawat pelaksana untuk menilai kompetensi secara langsung dan tidak langsung. 4) Ketua tim sebaiknya hanya dinas pagi. karena pada pagi hari banyak kegiatan atau tindakan yang dilakukan dan merencanakan kegiatan sore dan malam. kepala ruangan sebagai narasumber utama atau konsultan untuk menjamin terlaksananya asuhan keperawatan pada semua tim di ruangan. 3) Kolaborasi dengan dokter atau tim kesehatan lainnya. serta on the job trainning yang dirancang.

Perawat tersebut akan berperan sebagai ketua tim dan PA/PP. 3) Melakukan kontrol dan monitor terhadap pembuatan rencana harian pada masing-masing individu perawat. Rencana Harian Perawat Pelaksana Isi rencana harian perawat pelaksana adalah tindakan keperawatan untuk sejumlah klien yang dirawat pada shif dinasnya. Beberapa hal yang masih memerlukan perbaikan antara lain: 1) Pembuatan rencana harian yang masih perlu disosialisasikan kepada perawat yang belum memahami cara pembuatannya. 2) Pemberian reward kepada perawat yang sudah konsisten dengan pembuatan rencana harian. Rencana harian perawat pelaksana shif sore dan malam agak berbeda jika hanya satu orang dalam satu tim maka perawat tersebut berperan sebagai ketua tim dan perawat pelaksana sehingga tidak ada kegiatan pre dan post conference. sehingga tidak ada kegiatan pre dan post conference Kesenjangan data dengan teori Berdasarkan hasil observasi didapatkan nilai sebesar 100%. Rencana Catatan harian Perawat Pelaksana/Assosiet (PP/PA) pada shift sore dan malam agak berbeda jika hanya 1 (satu) orang dalam satu tim. hasil ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembuatan rencana harian perawat di ruang Shinta sudah baik.144 c. Perawat pelaksana akan membuat rencana yang ditujukan pada tindakan keperawatan untuk sejumlah pasien yang dirawat pada shift dinasnya. .

Faktor Pendukung dan Kendala pre post conference .145 B. 9. 6.3 Pelaksanaan Post Conference Ruang Shinta RSJD Surakarta OBSERVASI No VARIABEL YANG DINILAI S SR KD TP L 1. Menyiapkan tempat untuk post coference √ 2. 7. 4. ANALISIS a. Menjelaskan tujuan dilakukan post conference √ 4. 10 11 Pre dan Post Conference Tabel 4. Memberi reinforcemen pada PA √ 7. 8. Menyiapkan rekam medik pasien yang menjadi tanggung √ jawab 3. Memberikan reinforcemen positif pada PA √ Menyimpulkan hasil post conference √ JUMLAH 0 3 3 5 Tabel 4. Mengklarifikasi pasien sebelum melakuakan operan tugas √ jaga shift berikutnya (melakukan ronde keperawatan) JUMLAH 0 2 5 1 a. Menyimpulkan hasil post conference √ 8. 3. 5. 2. Menerima penjelasan dari PA tentang hasil tindakan/hasil √ asuhan keperawatan yang telah dilakukan 5. No 1. Mendiskusikan masalah yang telah ditemukan dalam √ memberikan askep pada pasien dan mencari upaya penyelesaian masalah 6.2 Pelaksanaan Pre Conference Ruang Shinta RSJD Surakarta OBSERVASI VARIABEL YANG DINILAI SL SR KD TP Menyiapkan tempat untuk pre coference √ Menyiapkan rekam medik pasien yang menjadi tanggung √ jawab Menjelaskan tujuan dilakukan post conference √ Memandu pelaksanaan pre conference √ Menjelaskan masalah keperawatan pasien dan rencana √ keperawatan yang menjadi tanggung jawabnya Membagi tugas pada PA sesuai kemampuan yang √ dimiliki dengan memperhatikan keseimbangan kerja Mendiskusikan cara dan strategi pelaksanaan asuhan √ keperawatan pasien/tindakan Memotivasi untuk memberikan tanggapan dan √ penyelesaian masalah yang sedang didiskusikan Mengklarifikasikan kesiapan PA untuk melaksanakan √ asuhan keperawatan pada pasien yang menjadi tanggung jawabnya.

Tim dan staf ruangan b) Tingkat pendidikan sebagian besar perawat di Ruang Shinta D III Keperawatan c) Model asuhan keperawatan yang sudah diterapkan menggunakan MPKP model MTM 2) Faktor Kendala a) Antusiasme KaRu.146 1) Faktor Pendukung a) Kerjasama dan dukungan yang baik dari pihak Ka. c) Kurangnya kesadaran dari beberapa perawat tentang pentingnya pre conference dan post conference d) Belum adanya standar operasional pre conference dan post conference yang ditetapkan oleh rumah sakit 3) Kesinambungan a)Perlunya komitmen dan persamaan persepsi dari bidang keperawatan untuk penggunaan standar operasional pre conference dan psot conference yang akan dipakai RSJ Daerah Surakarta b) Perlunya komitmen dan persamaan persepsi seluruh perawat khususnya ruang Shinta tentang pre conference dan post conference c) Perlu peningkatan kesadaran dan kemauan untuk melaksanakan pre conference dan post conference pada tiap shift . KaTim dan Staf dalam pelaksanaan dokumentasi asuhan keperawatan kurang b) Kedisiplinan perawat yang kurang berkaiatan dengan jam datang dan pulang kerja. Ru. Ka.

Ru.2 Pelaksanaan Pendelegasian Ruang Shinta RSJD Surakarta Skor Pernyataan Pendelegasian Karu Katim Pendelegasian dilakukan kepada staf yang memiliki kompetensi yang dibutuhkan dalam menjalankan 4 3 tugas Tugas yang dilimpahkan dijelaskan sebelum 4 4 melakukan pendelegasian Selain pelimpahan tugas. Karu. Ka. sosialisasi dan bimbingan dalam pelaksanaan pre conference dan post conference e)Perlunya monitoring dan evaluasi terhadap pre conference dan post conference secara periodic. Faktor Pendukung dan Kendala Pelaksanaan Pendelegasian 1) Pendukung Faktor a) Kerjasama dan dukungan yang baik dari pihak Ka. Katim memberikan arahan untuk mengatasi 3 3 masalah Ada evaluasi setelah selesai tugas dilaksanakan 2 3 Sub Total 19 20 No 1 2 3 4 5 6 Katim 3 4 4 3 3 3 20 a.Tim dan staf ruangan b) Tingkat pendidikan sebagian besar perawat di Ruang Shinta D III Keperawatan c) Model asuhan keperawatan yang sudah diterapkan menggunakan MPKP model MTM . 2. Pendelegasian Tabel 4. kewenangan juga 3 4 dilimpahkan Waktu pendelegasian tugas ditentukan 3 3 Apabila si pelaksana tugas mengalami kesulitan.147 d)Perlunya panduan.

3.148 2) Faktor Kendala a) Adanya agenda yang tidak terduga b) Kesibukan individu dan ruangan untuk menjalankan rapat evaluasi hasil kegiatan pendelegasian c) Surat pendelegasian biasanya diberikan hanya untuk kegiatan di luar Rumah Sakit saja. dengan menggunakan surat pendelegasian. 3) Kesinambungan a) Perlunya komitmen dan persamaan persepsi dari bidang keperawatan untuk penggunaan surat pendelegasian yang akan dipakai RSJ Daerah Surakarta b) Perlunya komitmen dan persamaan persepsi seluruh perawat khususnya ruang Shinta tentang adanya rapat evaluasi hasil setiap kegiatan yang didelegasikan. 5. Survey Kepuasan Pasien dan Keluarga Penilaian Kepuasan Keluarga RESPONDEN 3 4 5 6 7 4 3 3 3 4 4 3 3 4 4 4 4 4 3 4 3 4 4 3 4 4 3 4 2 2 NO 1. 2. KOMPONEN Perawat bersikap sopan Perawat berpenampilan rapi Perawat menggali informasi dari keluarga Perawat memberikan informasi mengenai masalah yang dihadapi pasien Perawat memberikan informasi mengenai tindakan yang akan dilakukan kepada pasien ( inform consent ) 1 3 3 4 3 3 2 4 4 3 3 3 8 4 3 3 2 3 . c) Perlu peningkatan kesadaran dan kemauan untuk melaksanakan pendelegasian secara resmi. 3. 4.

Keterangan: 4 (sangat setuju). 2. 3. 7. 3 3 4 3 4 4 3 4 3 4 5.25% Penilaian Kepuasan Klien NO 1. 8. 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 2 2 3 3 3 4 4 4 . 1 (sangat tidak setuju) Perhitungan: Total skor x 100% n x item x skore tertinggi = 312 x100% 8 x 12 x 4 = 312 x 100% 384 = 81. 2 (tidak setuju). Perawat menjelaskan perkembangan pasien Perawat melakukan penyuluhan kepada keluarga mengenai cara perawatan yang harus dilakukan keluarga dirumah Perawat menyiapkan keperluan pulang pasien yang meliputi jadwal kegiatan harian dan sisa obat Perawat menjelaskan waktu kontrol Perawat memberikan pesanan pulang yang mudah dimengerti Perawat memberikan penjelaskan rujukan yang bisa digunakan bila ada yang perlu dikonsulkan Perawat membantu keluarga untuk konsul dokter JUMLAH 3 3 3 3 3 3 4 3 8 3 3 4 4 4 4 3 4 1 4 3 4 4 4 4 4 4 7 3 4 4 4 3 3 2 3 9 3 3 3 3 4 3 3 3 9 312 3 3 4 4 3 3 2 4 0 2 3 3 3 3 3 4 3 7 3 2 3 2 2 2 3 31 TOTAL NILAI Sumber : Hasil observasi tanggal 21 juni-03 Juli 2012. 11.149 6. 3 (setuju). 10. KOMPONEN Perawat menyambut dengan ramah ketika Saudara datang Perawat memperkenalkan diri Perawat menjelaskan sarana di ruangan yang dapat dimanfaatkan Perawat menjelaskan aturanaturan yang berlaku selama perawatan Perawat menanyakan masalahmasalah yang saudara alami terkait dengan kondisi kesehatan saudara Perawat menjelaskan masalah 1 3 3 4 2 4 4 3 3 4 4 3 RESPONDEN 4 5 6 7 3 3 3 4 3 4 4 4 4 4 4 3 8 3 4 4 9 4 3 3 10 3 4 4 4. 12. 6. 9.

13. 12. 21. 10. 22. 8. 17. Perawat segera menanggapi keluhan saudara Perawat mendampingi saudara ketika dilakukan pemeriksaan dokter Perawat menjaga privasi saudara saat melakukan tindakan keperawatan Perawat selalu membuat perjanjian dengan saudara Perawat selalu menepati janji yang ditetapkan Perawat bersikap sopan Perawat berpenampilan rapi Perawat menjelaskan kegiatan yang harus saudara lakukan di rumah Perawat menjelaskan obatobatan yang harus diteruskan di rumah Perawat menjelaskan waktu kontrol JUMLAH TOTAL NILAI 3 4 4 4 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 3 4 4 3 4 3 3 3 4 3 3 2 3 3 3 3 4 4 3 4 4 3 4 4 4 3 3 4 3 3 4 3 3 4 3 3 7 5 3 3 7 7 3 2 7 9 3 3 6 6 4 4 8 4 4 4 8 1 747 3 3 6 1 3 3 73 4 3 7 3 4 4 78 Sumber : Hasil observasi tanggal 21 juni-03 Juli 2012. kesehatan yang saudara alami Perawat membicarakan tujuan perawatan yang hendak dicapai Perawat meminta pendapat saudara dalam merancang tindakan yang akan diberikan kepada saudara Perawat menjelaskan kegiatan yang harus dilatih untuk dilakukan secara mandiri Perawat melakukan penyuluhan kesehatan untuk mengatasi masalah saudara Perawat membantu memenuhi kebutuhan dasar saudara (makan. 20. . 19. 14.150 7. 9. 11. mandi) ketika saudara mengalami kesulitan Perawat mau mendengarkan keluhan saudara dengan sabar 3 3 4 3 4 4 2 3 3 3 3 4 4 3 4 3 2 2 3 3 3 4 4 3 4 4 3 2 4 3 3 4 3 3 4 4 2 4 4 3 3 4 3 3 4 4 2 4 4 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 3 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 15 16. 18.

perawat dengan pasien dan keluarga pasien baik b. terutama pasien yang akan pulang. b) Perlu peningkatan kesadaran dan kemauan untuk melaksanakan survey kepuasan pasien dan keluarga setiap ada kunjungan keluarga .151 Keterangan: 4 (sangat setuju).87% Faktor Pendukung dan Kendala Survey Kepuasan Pasien dan Keluarga 1) Faktor Pendukung a. 1 (sangat tidak setuju) Perhitungan: Total skor x 100% n x item x skore tertinggi = 751 x100% 10 x 22 x 4 a. = 747 x 100% 880 = 84. 3 (setuju). Hubungan Model asuhan keperawatan yang sudah diterapkan menggunakan MPKP model MTM 2) Faktor Kendala Belum adanya standar operasional untuk lembar survey kepuasan pasien dan keluarga di ruangan Shinta 3) Kesinambungan a) Perlunya komitmen dan persamaan persepsi seluruh perawat khususnya ruang Shinta tentang survey kepuasan pasien dan keluarga. Tingkat pendidikan sebagian besar perawat di Ruang Shinta D III Keperawatan c. 2 (tidak setuju).

4. c) Perlunya monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan survey kepuasan pasien dan keluarga terutama kepada pasien yang pulang.152 pasien. . Rencana Harian Karu 0 0 0 0 0 0 Katim 0 0 0 0 0 0 0 Katim 0 0 0 0 0 0 Penilaian Rencana Harian No Aspek yang Dinilai 1 Menyusun Rencana Harian setiap kali dinas 2 Mencantumkan tanggal dinas di Rencana Harian 3 Urutan kegiatan disusun secara kronologis 4 Tercantum kegiatan manajerial 5 Tercantum kegiatan asuhan 6 Rencana Harian dikerjakan secara konsisten Total Skor b. 3) Kesinambungan a) Perlunya komitmen dan persamaan persepsi seluruh perawat khususnya ruang Shinta tentang pembuatan rencana harian untuk setiap kali berangkat dinas. b) Perlu peningkatan kesadaran dan kemauan untuk melaksanakan pembuaran rencana harian masing-masing individu. Faktor Pendukung dan Kendala Pembuatan Rencana Harian 1) Faktor Pendukung a) Tingkat pendidikan sebagian besar perawat di Ruang Shinta D III Keperawatan b) Model asuhan keperawatan yang sudah diterapkan menggunakan MPKP model MTM 2) Faktor Kendala Kesibukan masing-masing individu dalam pembuatan rencana harian. kurangnya reward yang diberikan ruangan kepada perawatnya.

PA persepsi antara UNSOED kepala ruang. Persiapan 1.6 Langkah Pelaksanaan Pre Conference dan Post Conference Asuhan Keperawatan Di Ruang Shinta RSJD Surakarta No Kegiatan Pelaksana Sasaran Tujuan Waktu A. Pre dan Post Conference Tabel 4. PN dan PA Profesi ners KaTim. C. Pelaksanaan 1. Pelaksanan pre conference dan Profesi ners KaTim. Mahasiswa KaRu.153 c) Perlunya monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan pembuatan rencana harian masing-masing individu. PA pre conference post conference UNSOED dan post conference C Evaluasi 1. Menyamakan Ka Ru. Mengevaluasi pre Mahasiswa KaRu. Study kepustakaan Mahasiswa Materi Pre Mendapat dan persiapan Profesi ners conference sumber materi tentang pre UNSOED dan post Pustaka yang conference dan post conference mendukung conference penyusunan standar operasional 3. Mengobservasi Mahasiswa KaRu. PENYELESAIAN MASALAH 1. PN dan AN dan post conference Tempat Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta . Koordinasi dengan Mahasiswa KaRu. primer nursing dan perawat asosiet B. Mengevaluasi conference dan post Profesi ners KaTim. PA pelaksanan pre conference bersama UNSOED conference Ka Ru. Menjadi role model. Mengetahui pelaksanaan pre Profesi ners KaTim. PA hasil conference dan post UNSOED Pelaksanaan conference pre conference dan post conference 2.

154 Tabel 4. Menjelaskan tujuan dilakukan post conference √ 4. Menyiapkan tempat untuk post coference √ 2. Menjelaskan tujuan dilakukan pre conference √ 4. Menyiapkan rekam medik pasien yang menjadi √ tanggung jawab 3. Memberi reinforcemen pada PA √ 7.7 Pelaksanaan Post Conference Ruang Shinta RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga Periode Maret 2012 setelah intervensi OBSERVASI No VARIABEL YANG DINILAI SL SR KD TP 1. Menerima penjelasan dari PA tentang hasil √ tindakan/hasil asuhan keperawatan yang telah dilakukan 5. Memotivasi untuk memberikan tanggapan dan √ penyelesaian masalah yang sedang didiskusikan 9.6 Pelaksanaan Pre Conference Ruang Shinta RSJD Surakarta setelah intervensi No OBSERVASI VARIABEL YANG DINILAI SL SR KD TP 1. Menyiapkan rekam medik pasien yang menjadi √ tanggung jawab 3. Mengklarifikasi pasien sebelum melakuakan √ operan tugas jaga shift berikutnya (melakukan ronde keperawatan) JUMLAH 2 6 0 0 . Menjelaskan masalah keperawatan pasien dan √ rencana keperawatan yang menjadi tanggung jawabnya 6. Memandu pelaksanaan pre conference √ 5. Menyiapkan tempat untuk pre coference √ 2. Menyimpulkan hasil post conference √ 8. 10 Memberikan reinforcemen positif pada PA √ 11 Menyimpulkan hasil pre conference √ JUMLAH 8 3 0 0 Tabel 4. Mendiskusikan masalah yang telah ditemukan √ dalam memberikan askep pada pasien dan mencari upaya penyelesaian masalah 6. Mendiskusikan cara dan strategi pelaksanaan √ asuhan keperawatan pasien/tindakan 8. Membagi tugas pada PA sesuai kemampuan yang √ dimiliki dengan memperhatikan keseimbangan kerja 7. Mengklarifikasikan kesiapan PA untuk √ melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien yang menjadi tanggung jawabnya.

7 Perbandingan pre conference dan post conference sebelum dan setelah intervensi Variabel Sebelum Sesudah selisih Pre Conference 0% 100% 100% Post Conference 0% 100% 100% Berdasarkan hasil observasi sebelum dilakukan intervensi pre dan post conference di ruang Shinta didapatkan hasil 0%. setiap hari menjalankan pre dan post conference secara teratur dan berjalan dengan lancar.4 Langkah Pelaksanaan survey kepuasan keluarga dan pasien di Ruang Shinta RSJ Daerah Surakarta Pelaksana Sasaran Tujuan Waktu Tempat Mahasiswa Profesi ners UNSOED Mahasiswa Profesi ners UNSOED KaRu. Melakukan Mahasiswa KaRu Ruang . Perlu adanya motivasi agar pre dan post conference di ruang Shinta bisa kembali berjalan secara rutin. KaTim. 2. namun karena kurangnya reward dari kepala ruang dan kesibukan masing-masing individu akhirnya pre dan post conference sudah tidak di jalankan secara rutin lagi. sebelumnya ruang Shinta rutin menjalankan pre dan post conference.155 Tabel 4. Mengkaji penilaian survey kepuasan keluarga 2. artinya setelah ada intervensi ruang Shinta mengalami peningkatan. Studi literatur mengenai survey kepuasan keluarga dan pasien 3. Persiapan 1. Materi survey kepuasan pelanggan (keluarga dan pasien) Mengetahui hasil survey Mendapat sumber pustaka yang mendukung penyusunan survey kepuasan pasien dan keluarga Tersusunnya Ruang Shinta Ruang Shinta No Kegiatan A. Selisih nilai observasi sebelum dan sesudah intervensi 100%. Survey kepuasan keluarga dan pasien Tabel 4.

22 % 100% 16.Shinta dapat mengetahui panilaian kepuasan pasien dan keluarga. Evaluasi Evaluasi tingkat kepuasan keluarga dan pasien di ruang Shinta. PA Perawat R. selisih sebelum dan sesudah dilakukan intervensi dan pengadaan form survey kepuasan pasien dan keluarga yaitu 16.5 Penilaian tingkat kepuasan keluarga dan pasien terhadap perawatan di ruang Shinta sebelum dan sesudah intervensi Variable Sebelum Sesudah Selisih Kepuasan pasien 83.156 koordinasi tentang pembuatan form survey kepuasan pasien dan keluarga B. Berdasarkan observasi setelah intervensi diharapkan dengan adanya pengadaan form resmi untuk survey kepuasan pasien dan keluarga di ruang Shinta dapat diaplikasikan secara berkelanjutan. Terjadi peningkatan 100% pada masing-masing variabel. . menunjukkan bahwa nilai survey kepuasan pasien dan keluarga sebesar 83.22% dan 78. Aplikasi survey kepuasan pasien dan keluarga saat pasien akan pulang.78% Kepuasan keluarga 78.78% dan 21. Pelaksanaan 1.48 % 100% 21. Shinta Mahasiswa Profesi ners UNSOED Ruang Shinta 2.52%. Mahasiswa Profesi ners UNSOED Mahasiswa Profesi ners UNSOED Keluarga pasien dan pasien. C 1.52% Sumber : Hasil observasi di ruang Shinta RSJD Surakarta Berdasarkan tabel diatas. Mengetahui tingkat kepuasan keluarga dan pasien terhadap perawatan di ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Tabel 4. KaTim.48%. Sosialisasi penggunaan form survey kepuasan Profesi ners UNSOED form survey kepuasan pasien dan keluarga KaRu.

Shinta dapat mengetahui cara pelaksanaan pendelegasian secara formal Tempat Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Mengetahui manfaat surat pendelegasian secara resmi Ruang Shinta KaRu dan KaTim Evaluasi Pendelegasian Hasil observasi sebelum intervensi didapatkan 83% pendelegasian sudah berjalan baik di ruang Shinta. KaTim.4 Langkah Pengadaan Surat Pendelegasian di Ruang Shinta RSJ Daerah Surakarta No Kegiatan Pelaksana Sasaran Tujuan Waktu A. Pengadaan form pendelegasian kemudian di sosialisasikan kepada seluruh perawat. Mengkaji penilaian Mahasiswa KaRu. Persiapan 1. Sosialisasi penggunaan form pendelegasian 2. Melakukan Mahasiswa KaRu Tersusunnya form koordinasi tentang Profesi ners pendelegasian pembuatan form UNSOED pendelegasian B. Rencana Harian . PA KaTim Perawat R. Studi literatur Mahasiswa KaRu Mendapat sumber mengenai Profesi ners dan pustaka yang pendelegasian UNSOED KaTim mendukung penyusunan surat pendelegasian 3. 4. pelaksanaan UNSOED pendelegasian yang sudah berjalan 2. Pendelegasian Tabel 4. Penyelesaian masalah terhadap peningkatan pencapaian pendelegasian secara formal di ruangan Shinta dilakukan dengan pengadaan format/ form pendelegasian. C 1. Pelaksanaan 1.157 3. Pencapaian pengadaan form pendelegasian 100% tercapai. Mengetahui pendelegasian Profesi ners KaTim. Aplikasi pendelegasian Evaluasi Evaluasi pelaksanaan pendelegasian Mahasiswa Profesi ners UNSOED Mahasiswa Profesi ners UNSOED Mahasiswa Profesi ners UNSOED KaRu.

. Pelaksanaan Pembuatan Rencana Harian KaRu. KaTim. Pelaksanaan 1.. Melakukan Mahasiswa KaRu.. Aplikasi pembuatan Mahasiswa KaRu. KaTim Tersusunnya koordinasi tentang Profesi ners dan PP form rencana pembuatan rencana UNSOED harian harian pada KaRu. hasil KaRu. Persiapan 1. Perawat penggunaan form Profesi ners KaTim. Sosialisasi Mahasiswa KaRu. KaTim. KaTim dan PP B. PP R. dan PP No Kegiatan Pelaksana Sasaran Tujuan Waktu A. Mengetahui rencana harian Profesi ners KaTim. KaTim Mengetahui rencana harian Profesi ners dan PP tingkat UNSOED kemampuan dalam pembuatan rencana harian. Mengkaji penilaian Mahasiswa KaRu. KaTim dan UNSOED Survey Perawat Pelaksana rencana harian 2.Shinta dapat rencana harian UNSOED membuat rencana harian secara terjadwal 2. Observasi Pembuatan Rencana Harian KaRu. Tempat Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta No Tabel . KaTim Perawat rencana harian Profesi ners dan PP mampu setiap kali dinas. dan PP Aspek yang Dinilai Karu Katim Katim PP . UNSOED membuat rencana harian C Evaluasi 1. Studi literatur Mahasiswa Materi Mendapat mengenai pedoman Profesi ners tentang sumber rencana harian UNSOED rencana pustaka harian pedoman rencana harian 3.. Evaluasi pembuatan Mahasiswa KaRu.158 Tabel .

Artinya selama dilakukan intervensi semua perawat membuat rencana harian setiap hari. terjadi peningkatan antara sebelum dan sesudah dilakukan intervensi pembuatan rencana harian kepala ruang. . faktor lingkungan. dengan nilai 100%. Evaluasi Pembuatan Rencana Harian di ruang Shinta.159 1 2 3 4 5 6 Menyusun Rencana Harian setiap kali dinas Mencantumkan tanggal dinas di Rencana Harian Urutan kegiatan disusun secara kronologis Tercantum kegiatan manajerial Tercantum kegiatan asuhan Rencana Harian dikerjakan secara konsisten Total Skor 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 24 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Tabel . kepala tim dan perawat pelaksana. karena berkaitan dengan sifat masing-masing individu. dan hasil evaluasi juga menunjukkan bahwa rencana harian perawat dikatakan sudah cukup baik... Perubahan menuju kebiasaan yang baik sangat sulit untuk dilaksanakan. Variable Sebelum Sesudah Rencana Harian KaRu 0% 100% Rencana Harian KaTim 0% 100% Rencana Harian PP 0% 100% Sumber : Hasil observasi di ruang Shinta RSJD Surakarta Selisih 100% 100% 100% Berdasarkan tabel diatas. TEORI BERUBAH Perubahan pelayanan keperawatan mempunyai dua pilihan yang berhubungan dengan perubahan. iklim motivasi dan reward yang akan didapatkan ketika sudah menjalankan kegiatan tersebut. D. mereka melakukan inovasi dan berubah atau mereka yang diubah oleh suatu keadaan atau situasi. Perubahan pelayanan kesehatan/ keperawatan merupakan kesatuan yang menyatu dalam perkembangan dan perubhaan keperawatan di Indonesia.

Lewin (1951) mengungkapkan bahwa perubahan dapat dibedakan menjadi 3 tahapan. Diantara banyak teori perubahan. Lancaster. teori Kurt Lewin paling banyak dianut oleh para inovator dan pemberharu. dan termasuk adanya tujuan yang jelas. 2) moving. Untuk alasan tersebut. Perubahan yang tidak direncanakan adalah perubahan yang terjadi tanpa persiapan. 1982). merasa perlu untuk berubah dan berupaya untuk berubah. W. termasuk perubahan yang direncanakan atau yang tidak direncanakan. dan siap untuk berubah atau melakukan perubahan. J. yang meliputi: 1) unfreezing. memahami masalah yang dihadapi. (Kurt Lewin. kemudian melakukan langkah nyata untuk berubah dalam mencapai tingkat atau tahap baru. Pencairan (unfreezing)–motivasi yang kuat untuk beranjak dari keadaan semula dan berubahnya keseimbangan yang ada. Perubahan tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut: 1. Perubahan terencana lebih mudah dikelola daripada perubahan yang terjadi pada perkembangan manusia. . 2. terjadi dalam waktu yang lama. maka perawat harus dapat mengelola perubahan.. dan 3) refreezing. 1951 dari Lancaster. dan mengetahui langkah–langkah penyelesaian yang harus dilakukan. menyiapkan diri. atau perubahan karena suatu ancaman.160 Perubahan dapat dijabarkan dengan beberapa cara. tanpa persiapan. Sebaliknya perubahan yang direncanakan adalah perubahan yang telah direncanakan dan dipikirkan sebelumnya. Bergerak (moving)–bergerak menuju keadaan yang baru atau tingkat/tahap perkembangan baru karena memiliki cukup informasi serta sikap dan kemam-puan untuk berubah.

Salah satu teori perubahan yang dikenal dengan teori lapangan (field theory) dengan analisis kekuatan medan (force field analysis) dari Kurt Lewin (1951) dalam Ma’rifin. Pembekuan (refreezing). Perubahan terjadi apabila salah satu kekuatan lebih besar dari yang lain. (1997). dan berkelanjutan. motivasi telah mencapai tingkat atau tahap baru. Adanya tuntutan kebutuhan yang semakin meningkat. kritik yang konstruktif dalam upaya pembinaan (reinforcement) yang terus-menerus. ada kekuatan pendorong untuk berubah (driving forces) dan ada kekuatan penghambat terjadinya perubahan (restraining force). Tingkat baru yang telah dicapai harus dijaga agar tidak mengalami kemunduran atau bergerak mundur pada tingkat atau tahap perkembangan semula. 1. . menyebabkan perawat harus berubah secara terencana dan terkendali. Kebutuhan dasar manusia Manusia memiliki kebutuhan dasar yang tersusun berdasarkan hierarki kepentingan. Oleh karena itu. Kebutuhan yang belum terpenuhi akan memotivasi perilaku sebagaimana teori kebutuhan Maslow (1954). Faktor Pendorong Terjadinya Perubahan a.161 3. perlu selalu ada upaya untuk mendapatkan umpan balik. Di dalam keperawatan kebutuhan ini dapat dilihat dari bagaimana keperawatan mempertahankan dirinya sebagai profesi dalam upaya memenuhi kebutuhan masyarakat akan pelayanan/asuhan keperawatan yang profesional. atau mencapai keseimbangan baru.

Faktor Penghambat Menurut New dan Couillard (1981). Alasan Perubahan Lewin juga (1951) mengidentifikasi beberapa hal dan alasan yang harus dilaksanakan oleh seorang manajer dalam merencanakan suatu perubahan. yaitu: a) Perubahan hanya boleh dilaksanakan untuk alasan yang baik. (3) reaksi psikologis. (2) kebutuhan untuk mengendalikan/melakukan kontrol. (2) adanya persepsi yang kurang tepat. 2. dan (4) toleransi untuk berubah rendah. d) Semua individu yang terkena perubahan harus dilibatkan dalam perencanaan perubahan. c) Semua perubahan harus direncanakan dan tidak secara drastis atau mendadak. . Kebutuhan dasar interpersonal Manusia memiliki tiga kebutuhan dasar interpersonal yang melandasi sebagian besar perilaku seseorang: (1) kebutuhan untuk berkumpul bersama-sama. Kebutuhan tersebut di dalam keperawatan diartikan sebagai upaya keperawatan untuk ikut berpartisipasi aktif dalam pembangunan kesehatan dan perkembangan iptek. b) Perubahan harus secara bertahap. dan perasaaan emosional. dan (3) kebutuhan untuk dikasihi. kedekatan. 3.162 b. faktor penghambat (restraining force) terjadinya perubahan yang disebabkan oleh: (1) adanya ancaman terhadap kepentingan pribadi.

c) Perubahan ditujukan untuk mengurangi pekerjaan yang tidak penting . yaitu: a) Perubahan ditujukan untuk menyelesaikan masalah.163 Alasan perubahan Lewin (1951) tersebut diperkuat oleh pendapat Sullivan dan Decker (1988) hanya ada alasan yang dapat diterapkan pada setiap situasi. b) Perubahan ditujukan untuk membuat prosedur kerja lebih efisien.

Perlunya pemberian motivasi untuk semua perawat dalam melaksanakan pre dan post conference di ruangan. 4. 2. saran yang dapat diajukan adalah: 1. 3. Terjadi peningkatan pelaksanaan pre dan post conference sebesar 100% di ruang Shinta. Perlu diadakan reward bagi perawat yang sudah mampu membuatan rencana harian perawat secara konsisten. Pencapaian pengadaan form pendelegasian 100% tercapai. Perlu diadakan sosialisasi lebih lanjut mengenai lembar atau format pendelegasian yang baru.78%) dan kepuasan pasien (21. Saran Berdasarkan pembahasan dan analisis situasi yang telah dilakukan. 2. 3.52%) terhadap perawatan di ruang Shinta sebanyak. . Terjadi peningkatan pembuatan rencana harian jangka pendek setiap perawat sebesar 100% di ruang Shinta.164 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan pembahasan dan hasil analisis data yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa : 1. Terjadi peningkatan penilaian tingkat kepuasan keluarga (16.

Perlu adanya pembuatan format rencana harian perawat (Ka Ru.165 4. 5. Adanya ketegasan dari pihak Bidang Keperawatan dalam penerapan MPKP di ruangan rawat inap RSJD Surakarta. PP) untuk memudahkan perawat dalam menjalankan fungsinya. Ka Tim. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->