1

PELAKSANAAN MODEL PRAKTEK KEPERAWATAN PROFESIONAL DI RUANG SHINTA RSJD SURAKARTA

DISUSUN OLEH: LAELATUL AROFAH TIA SULISTIAWATI DWI YULIASTUTI P HERAWATI NUR P ASTRI FEBRIANTI S MAHACAKRI DARA S G1B211003 G1B211011 G1B211012 G1B211016 G1B211024 G1B211026

FAKUTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PROGRAM PROFESI NERS PURWOKERTO 2012 BAB I PENDAHULUAN

2

A. Latar belakang Proses manajemen berlaku untuk semua orang yang mencari cara untuk mempengaruhi perilaku orang lain.Harsey dan Blanchard (1977) menyebutkan 4 fungsi manajerial yaitu perencanaan, pengorganisasian, motivasi, dan pengendalian. Keempat unsur tersebut saling berhubungan dan memerlukan ketrampilan-ketrampilan teknis, hubungan antar manusia, dan konseptual yang mendukung tercapainya suatu tujuan. Rumah sakit merupakan organisasi yang sangat kompleks dan merupakan komponen yang sangat penting dalam upaya peningkatan status kesehatan bagi masyarakat. Salah satu fungsi rumah sakit adalah

menyelenggarakanpelayanan dan asuhan keperawatan yang merupakan bagian dari sistem pelayanan kesehatan dengan tujuan memelihara kesehatan masyarakat seoptimal mungkin. Keperawatan merupakan bagian integral yang tidak bisa dipisahkan dari upaya pelayanan kesehatan secara keseluruhan yang menjadi salah satu faktor penentu baik buruknya mutu dan citra rumah sakit. Oleh karenanya kualitas pelayanan keperawatan perlu dipertahankan dan ditingkatkan seoptimal mungkin. Dalam rangka mencapai visi dan misinya, rumah sakit sangat membutuhkan suatu komponen yang penting dan pelaksanaan manajemen perawatan yang bermutu. Manajemen keperawatan merupakan suatu pelayanan keperawatan profesional dengan pengelolaan sekelompok perawat dalam suatu 1 tempat yang memeberikan asuhan keperawatan dengan menggunakan fungsi menjemen sehingga dapat memberikan asuhan keperawatan secara optimal

3

kepada klien, untuk itu manajemen keperawatan perlu mendapat prioritas utama dalam pengembangan keperawatan di masa depan. Hal ini berkaitan dengan tuntutan profesi dan tututan global bahwa setiap perkembangan dan perubahan memerlukan pengelolaan secara professional dengan

memperhatikan setiap perubahan yang terjadi (Nursalam, 2002). Pelayanan kesehatan pada saat ini telah mengalami perubahan sebagai konsekuensi dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perubahan status sosial ekonomi dan semakin pesatnya kemajuan media informasi. Berkenaan dengan hal tersebut pengetahuan dan kesadaran masyarakat pun sebagai konsumen untuk mendapat pelayanan profesional semakin meningkat, oleh karena itu mereka menuntut adanya peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Berbagai pendekatan sistempun disusun untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan yang aman, efektif dan efisien. Kualitas pelayanan kesehatan baik di Rumah Sakit ataupun Puskesmas dipengaruhi oleh sistem pelayanan atau asuhan keperawatan yang diberikan oleh perawat sebagai komponen terbesar yang memberikan kontribusinya. Pelayanan keperawatan memiliki banyak peran penting dalam pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan dan perubahan kebijakan. Perawat diharapkan dapat menjadi leader didalam timnya untuk merancang ataupun mengelola sistem pelayanan keperawatan yang modern. Permasalahan yang sering muncul di Indonesia dalam hal pengelolaan atau pelayanan keperawatan saat ini adalah belum diterapkannya sistem pengorganisasian asuhan keperawatan secara memadai bahkan di banyak rumah sakit pengorganisasiannya belum dikembangkan secara maksimal

Manajemen keperawatan merupakan pelayanan keperawatan profesional dimana tim keperawatan dikelola dengan menjalankan empat fungsi manajemen. Sedangkan manajemen keperawatan adalah suatu proses bekerja melalui anggota staf keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan secara profesional. hubungan antar manusia dan konseptual yang mendukung tercapainya asuhan keperawatan yang bermutu. Dimana dalam manajemen tersebut mencakup kegiatan koordinasi dan supervisi terhadap staf. sarana dan prasarana dalam mencapai tujuan. memuaskan bagi pasien dan tenaga keperawatan serta aspek sosial. berdaya guna dan berhasil guna kepada klien. sumber daya untuk pelayanan asuhan keperawatan dimanfaatkan secara wajar. motivasi dan pengendalian. efisien. budaya. dan efektif. Ciri – ciri mutu asuhan keperawatan yang baik antara lain: memenuhi standar profesi yang ditetapkan. Hal tersebut berkaitan dengan tuntutan profesi dan tuntutan global bahwa setiap . aman bagi pasien dan tenaga keperawatan. etika dan tata nilai masyarakat diperhatikan dan dihormati. Dengan alasan tersebut. Hal ini dapat dicapai dengan adanya manajemen yang baik. yaitu perencanaan.4 sehingga asuhan keperawatan profesional belum dapat dicapai sesuai yang diharapkan. pengorganisasian. agama. ekonomi. manajemen keperawatan perlu mendapat prioritas utama dalam pengembangan keperawatan di masa depan. Manajemen merupakan suatu pendekatan yang dinamis dan proaktif dalam menjalankan suatu kegiatan di organisasi. Keempat fungsi tersebut saling berhubungan dan memerlukan ketrampilan-ketrampilan teknis.

sistem pengambilan keputusan. Model ini sangat menekankan pada kualitas kinerja tenaga keperawatan yang berfokus pada profesionalisme keperawatan antara lain melalui penetapan dan fungsi setiap jenjang tenaga keperawatan. Strategi yang dapat di laksanakan oleh mahasiswa Program Profesi Ners FKIK Unsoed yaitu dengan mengaplikasikan secara langsung pengetahuan manajerialnya di Ruang ShintaRSJD Surakarta dengan arahan dari pembimbing lapangan maupun dari pembimbing akademik yang intensif. Salah satu bentuk penataan sistem pemberian pelayanan keperawatan adalah melalui pengembangan model praktek keperawatan yang ilmiah dan biasa disebut Model Praktek Keperawatan Profesional (MPKP). Seorang perawat harus mampu merespon positif dan beradaptasi terhadap setiap perubahan ataupun tantangan. ilmu-ilmu sosial. pertumbuhan dan perkembangan teknologi dan area lain agar dapat menjalankan berbagai peran yang dimiliki. oleh karena itu perawat dituntut untuk memiliki penguasaan konsep. sehingga mahasiswa mampu menerapkan ilmu yang didapat dan mengelola ruang perawatan dengan pendekatan proses manajemen.5 perkembangan dan perubahan memerlukan pengelolaan secara profesional dengan memperhatikan setiap perubahan yang terjadi. terutama ketika menjadi seorang manajer di lingkup keperawatan Rumah Sakit. sistem peuigasan. keterampilan yang berhubungan dengan basic science. Pelaksanaan praktek tersebut memberikan masukan yang positif. . dan sistem penghargaan yang memadai.

Mampu melaksanakan dan mengevaluasi pelaksanaan rencana kegiatan yang telah disusun sesuai prioritas di ruang Shinta. c. b. 2. Mampu melakukan analisa tentang gambaran umum ruang Shinta. Tujuan Khusus Secara khusus tujuan dari praktek peminatan keperawatan jiwa adalah: a. . Tujuan Umum Setelah melakukan praktek peminatan keperawatan jiwa selama empat minggu di ruang Shinta RSJD Surakarta diharapkan mahasiswa mampu menerapkan proses MPKP di ruangan. Tujuan 1.6 B. Mampu melakukan/ menerapkan model keperawatan MPKP di ruang Shinta. Mampu menyusun rencana kegiatan untuk mengatasi permasalahan yang ada di ruang Shinta. e. Mampu mengidentifikasi dan menyusun prioritas permasalahan yang ada di ruang Shinta d.

Perawat Sebagai masukan bagi perawat dalam meningkatkan pelaksanaan Model Praktik Keperawatan Profesional di Ruangan. Manfaat Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada: 1. b. Institusi Pendidikan/Keilmuan a. 2. .7 C. 3. Instansi Pelayanan/ Rumah Sakit Sebagai informasi bagi pimpinan dan staf dalam pengembangan Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta khususnya dalam pelaksanaan Model Praktik Keperawatan Profesional.Sebagai referensi di perpustakaan yang dapat digunakan oleh peneliti yang mempunyai peminatan di bidang pengelolaan sumber daya manusia yang berkaitan dengan pelaksanaan Model Praktik Keperawatan Profesional di ruang rawat inap rumah sakit. Hasil aplikasi ini merupakan masukan bagi pengembangan ilmu khususnya mengenai pelaksanaan Model Praktik pengetahuan Keperawatan Profesional di ruang rawat inap rumah sakit.

Swanburg (2000) mendefinisikan manajemen sebagai ilmu atau seni tentang bagaimana menggunakan sumber daya secara efisien. terapi. Pengendalian (controling) dan bantuan kepada para . Perencanaan (planning) 2. 1989). proses manajemen harus dilakukan dengan disiplin demi menjamin pelayanan yang diberikan kepada pasien atau keluarga. Pengorganisasian (organizing) 3. Oleh sebab itu. Model praktik keperawatan menempatkan pendekatan manajemen sebagai pilar praktik profesional yang pertama.8 BAB II LANDASAN TEORI A. Di ruang MPKP pendekatan manajemen diterapkan dalam bentuk fungsi manajemen yang terdiri dari : 1. Tinjaua Teori Manajemen adalah proses dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain (Gillies. pasien (Gillies. Pengarahan (directing) 4. 1989). Pendekatan manajemen adalah suatu proses kerja sama anggota staf keperawatan untuk memberikan asuhan. Pelayanan keperawatan adalah pelayanan yang dilakukan oleh banyak orang sehingga diperlukan penerapan pendekatan manajemen. dan rasional untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya. efektif.

Compensatory Reward. MPKP I MPKP basic (dasar) dengan tenaga perawat pelaksana minimal D3 keperawatan. MPKP II MPKP intermediate (menengah) dengan tenaga minimal D3 keperawatan dan mayoritas Ners sarjana keperawatan. MPKP transisi MPKP dasar yang masih memiiki tenaga perawat yang berpendidikan SPK. Pengkajian variabel MPKP di ruang Shinta dilakukan . Tetapi kepala ruang dan ketua tim berpendidikan minimal S1 keperawatan. c.9 Di rumah sakit jiwa telah dikembangkan MPKP dengan modifikasi MPKP yang telah dikembangkan di rumah sakit umum. terdapat empat pilar yaitu Management Approach. Dalam MPKP keperawatan jiwa. yaitu: a. dan Patient Care Delivery. MPKP profesional dibagi menjadi tiga tingkat. Professional Relationship. 2. MPKP III MPKP advance (tingkat lanjut) yang semua perawatnya minimal Ners sarjan keperawatan dan sudah mempunyai tenaga spesialis keperawatan jiwa dan doktor keperawatan yang bekerja di area keperawatan jiwa. dan sudah memiliki tenaga spesialis keperawatan jiwa. Beberapa modifikasi yang dilakukan meliputi beberapa jenis MPKP : 1. MPKP pemula MPKP dasar dengan semua tenaganya minimal D3 keperawatan 3. b. tetapi kepala ruang dan kepala tim nya minimal dari D3 keperawatan.

Kuantitas Keberhasilan sebuah organisasi rumah sakit sangat bergantung pada kemampuan manajemen dalam menyerasikan unsur-unsur karyawan (tenaga perawat) dengan system. teknologi.10 dengan mengelompokkan MPKP dalam 4 pilar yaitu Management Approach. Metode pengumpulan data dengan menggunakan wawancara. Professional Relationship. dan observasi. 1. Man (Ketenagaan) a. tugas. Hal ini telah disadari bahwa sumber daya manusia sering kali menjadi penyebab kegagalan suatu organisasi. guna memvalidasi hasil kuesioner serta memperdalam pengkajian yang telah didapatkan. bukti dokumentasi. dan Patient Care Delivery. Kuesioner diberikan pada 15 perawat di ruang Shinta. Untuk keperluan itu beberapa ahli telah mengembangkan beberapa formula. Observasi dilakukan pada aktivitas kegiatan ruangan. dan 12 orang perawat assosiet. Formula tersebut juga dapat digunakan untuk menilai dan membandingkan apakah tenaga yang ada saat ini cukup. kurang atau berlebih. yang mencakup 1 orang kepala ruang. Penetapan jumlah tenaga perawatan adalah proses membuat perencanaan untuk menentukan berapa banyak dan dengan kriteria tenaga yang seperti apa pada suatu ruangan tiap shifnya. struktur organisasi. . kuesioner. Oleh karena itu penetapan sumber daya manusia di rumah sakit dalam hal ini tenaga perawat perlu diperhatikan. budaya kerja dan lingkungannya. 2 orang kepala Tim. Compensatory Reward. dengan menggunakan pedoman observasi.

Djodjodibroto (1997) mengemukakan bahwa pelatihan. program insentif yang buruk. yaitu aktivitas dimana proses belajar tidak diarahkan kepada pekerjaan yang akan _racti 3) Development. Kualitas Menurut analisa Teng (2002) dalam Soeroso (2003) penyebab kegagalan organisasi dari sisi sumber daya manusia yaitu sikap serta poal piker yang negative. yaitu aktivitas dimana proses belajar tidak diarahkan untuk pekerjaan pegawai yang bersangkutan secara langsung. program pelatihan yang buruk. Supaya dapat memberikan pelayanan keperawatan yang berkualitas diperlukan sumber daya yang cukup dengan kualitas yang tinggi dan professional sesuai dengan tugas dan fungsinya. staff Turnover (tingkat penggantian staff) yang tinggi. yaitu aktiivitas dimana proses belajar diarahkan kepada pekerjaan saat ini 2) Education.11 b. Secara teori indikator keberhasilan rumah sakit dalam memberikan pelayanan kesehatan salah satunya ditentukan oelh pemberian asuhan keperawatan yang berkualitas. Bagi tenaga professional di rumah sakit. yaitu: 1) Training. kursus dan lokakarya yang diperlukan untuk paramedik adalah: 1) Etika komunikasi . Menurut Djodjodibroto (1997) konsep pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) atau Human Resource Development mempunyai tiga program. dan rendahnya kemampuan mengembangkan dan memotivasi karyawan.

12

2) Komunikasi terapetik dalam perawatan 3) Etika keperawatan 4) Manajemen keperawatan 5) Hospital management training
6) Audit medik

7) Pencegahan penyakit nosokomial 8) Sanitasi rumah sakit Sedangkan untuk tenaga non medis diperlukan etika komunikasi. Disamping itu perlunya direncanakan rotasi dan mutasi SDM untuk menyesuaikan beban dan tuntutan pelayanan dimasa depan. Sehingga penyesuaian keahlian yang dibutuhkan dilakukan melalui pelatihan secara terus menerus dan berkesinambungan. Program pengambangan yang lain menurut Soeroso (2003) meliputi jaminan mutu (quality assurance), manajemen risiko (risk management), praktik berbasis bukti (evidence based atractice), audit klinik (clinical audit) dan audit medic (medical audit).

c. Metode/ standar/ pedoman/ prosedur tetap Standar adalah suatu tingkatan kinerja yang secara umum dikenal sebagai sesuatu yang dapat diterima, adekuat memuaskan dan digunakan sebagai tolak ukur atai titik acuan yang digunakan sebagai pembanding (Marr dan Biebiing, 2001).

13

Berdasarkan

clinical

practice

guidelines

(1990)

standar

merupakan keadaan ideal atau tingkat pencapaian tertinggi dan sempurna yang digunakan sebagai batas penerimaan minimal atau disebut juga sebagai kisaran variasi yang masih dapat diterima. Standar diperlukan untuk member suatu indikasi kualitas yang diinginkan dengan kata lain standar digunakan untuk menilai mutu sesuai dengan yang diharapkan. Suatu ruang perawatan didalam sebuah rumah sakit idealnya mempunyai prosedur tetap (protap) tindakan yang berlaku secara resmi yang dipahami dan diharapkan oleh seluruh staf di ruangan, ruang perawatan mempunyai prosedur tetap semua tindakan perawatan dan SAK (Standar Asuhan Keperawatan) minimal 10 kasus terbanyak. d. Fasilitas 1) Alat dan bahan Jumlah fasilitas dan alat-alat kedokteran maupun keperawatan dapat dipenuhi dengan standar yang telah ditetapkan oelh masing-masing institusi dengan memperhatikan jenis alat, bahan/ warna, ukuran, jenis kegiatan, jumlah yang dibutuhkan serta pertimbangan bahan yang diapakai, disimpan maupun dicuci. 2) Mesin Mesin adalah peralatan yang digerakan oleh mesin maupun elektronik yang digunakan untuk membantu menangani pasien baik secara medis maupun keperawatan. 3) Sumber Dana

14

Secara teori salah satu fungsi rumah sakit memberikan pelayanan kesehatan baik medis maupun non medis. Agar pelayanan rumah sakit dapat berjalan semaksimal mungkin dan dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat, maka rumah sakit perlu mempersiapkan peralatan atau bahan medis dan jasa pemborongan.

B. PROSES 1. Proses asuhan keperawatan Proses asuhan keperawatan adalah metode ilmiah dalam pemberian asuhan keperawatan. Proses asuhan keperawatan juga merupakan proses terapeutik yang melibatkan hubungan kerja sama antara perawat dengan klien, keluarga dan atau masyarakat untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal (Carpenito, 1989 cit Keliat, 1999). The Washington State Board Of Nursing (Swansburg, 1996) menyebutkan definisi legal praktek keperawatan meliputi observasi, pengkajian, diagnosis, asuhan atau konseling, dan penyuluhan kesehatan kepada individu yang sakit, cedera, atau pemeliharaan kesehatan atau pencegahan sakit yang dilaksanakan oleh perawat berlisensi.

Pelaksanaannya di terima dan disepakati oleh profesi keperawatan dan kedokteran. Menurut Swansburg (1996) elemen primer manajemen pelayanan keperawatan adalah adanya sistem untuk mengevaluasi seluruh upaya, termasuk evaluasi proses manajemen, praktek keperawatan, dan seluruh pelayanan keperawatan. Evaluasi memerlukan standar yang dapat

Standar Pelaksanaan / Implementasi e. Standar juga dapat digunakan sebagai alat bantu menentukan sasaran tiap divisi dalam keperawatan. 1998). f. UU RI No. SAK terdiri dari 6 standar : a. c.15 digunakan sebagai tolok ukur kualitas dan kuantitas pelayanan. berguna sebagai kriteria untuk mengukur keberhasilan dan mutu asuhan keperawatan. Berdasarkan alasan ini maka kehadiran Standar Asuhan Keperawatan yang identik dengan standar profesi keperawatan. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan dalam penjelasan tentang Pasal 53 ayat 2 mendefinisikan standar profesi sebagai “pedoman yang harus dipergunakan sebagai petunjuk dalam menjalankan profesi secara baik”. Dengan memahami dan mematuhi kriteria dalam Standar Asuhan Keperawatan. maka bukan hanya profesionalitas . Standar Evaluasi Standar Catatan Asuhan Keperawatan (Depkes RI. b. Dalam standar-standar dimaksud mencantumkan kriteria-kriteria yang harus dipenuhi dalam pemberian asuhan keperawatan. yang selanjutnya diterapkan dalam pemberian asuhan keperawatan. Mutu asuhan keperawatan dapat dipertangungjawabkan secara profesional apabila kriteria-kriteria tersebut dapat dipenuhi. Atau secara singkat dapat dikatakan standar adalah pedoman kerja agar pekerjaan berhasil dan bermutu. Standar Pengkajian Keperawatan Standar Diagnosis Keperawatan Standar Perencanaan Keperawatan d.

tetapi juga meliputi aspek-aspek keamanan dan kenyamanan pasien. Standar Asuhan Keperawatan tidak harus baku. melainkan sewaktu-waktu dapat ditinjau kembali dan disesuaikan dengan perkembangan IPTEK Kesehatan khususnya Keperawatan. Kriteria : a) Menggunakan format yang ada b) Sistematis c) Diisi sesuai item yang tersedia d) Aktual (baru) e) Absah (valid) 2) Pengelompokkan data : . Komponen pengkajian keperawatan meliputi : 1) Pengumpulan data : Kegiatan pengumpulan data dimulai pada saat pasien masuk dan dilanjutkan secara terus menerus selama proses keperawatan berlangsung. STANDAR I : Pengkajian Keperawatan Asuhan keperawatan paripurna memerlukan data yang lengkap dan dikumpulkan secara terus menerus.16 dijaga dan ditingkatkan. Sistematika penyusunan Standar Asuhan Keperawatan sebagai berikut: a. Data kesehatan harus bermanfaat bagi semua anggota tim kesehatan. serta sistem nilai masyarakat yang berlaku. tentang keadaannya untuk menentukan kebutuhan asuhan keperawatan.

Kriteria : a) Data Biologis b) Data Psikologis c) Data Sosial d) Data Spiritual 3) Perumusan masalah Kriteria : a) Kesenjangan antara status kesehatan dengan norma dan pola fungsi kehidupan. STANDAR II : Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan menggambarkan masalah pasien yang nyata maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan yang pemecahannya. Diagnosa keperawatan dirumuskan berdasarkan data status kesehatan pasien.17 Dengan mengelompokkan data. b) Perumusan dikumpulkan. dianalisis dan dibandingkan dengan norma fungsi kehidupan pasien. 3) Komponennya terdiri dari masalah. penyebab dan gejala/tanda (PES) atau terdiri dari masalah dan penyebab (PE). perawat dapat segera menentukan masalah yang terjadi pada pasien. . b. Kriteria : 1) Diagnosa masalah ditunjang oleh data yang telah keperawatan dihubungkan dengan penyebab kesenjangan dan pemenuhan kebutuhan pasien 2) Di buat sesuai dengan wewenang perawat.

18 4) Bersifat aktual apabila masalah kesehatan pasien sudah nyata terjadi. c) Masalah-masalah yang mempengaruhi perilaku merupakan prioritas ketiga. b) Masalah-masalah yang mengancam kesehatan seseorang adalah prioritas kedua. Kriteria : a) Spesifik b) Bisa diukur c) Bisa dicapai d) Realistik e) Ada batas waktu 3) Rencana tindakan. Komponen perencanaan keperawatan meliputi : 1) Prioritas masalah. 2) Tujuan asuhan keperawatan. STANDAR III : Perencanaan Keperawatan Perencanaan Keperawatan disusun berdasarkan diagnosa keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan terpenuhinya kebutuhan klien. 5) Bersifat potensial apabila masalah kesehatan pasien kemungkinan besar akan terjadi 6) Dapat ditanggulangi oleh perawat. c. Kriteria : a) Disusun berdasarkan tujuan asuhan keperawatan . Kriteria : a) Masalah-masalah yang mengancam kehidupan merupakan priorias pertama.

19 b) Melibatkan pasien/keluarga c) Mempertimbangkan latar belakang budaya pasien/keluarga d) Menentukan alternatif tindakan yang tepat e) Mempertimbangkan kebijaksanaan dan peraturan yang berlaku. ekonimis. pencegahan. d. privasi dan mengutamakan keselamatan pasien 8) Melaksanakan perbaikan tindakan berdasarkan respons pasien . Kriteria : 1) Dilaksanakan sesuai dengan rencana keperawatan 2) Menyangkut keadaan bio-psiko-sosio spiritual pasien 3) Menjelaskan setiap tindakan keperawatan yang akan dilakukan kepada pasien/keluarga 4) Sesuai dengan waktu yang telah ditentukan 5) Menggunakan sumberdaya yang ada 6) Menerapkan prinsip aseptik dan antiseptik 7) Menerapkan prinsip aman. sumber daya dan fasilitas yang ada f) Menjamin rasa aman dan nyaman bagi pasien g) Kalimat perintah ringkas. STANDAR IV : Implementasi Keperawatan Implementasi keperawatan adalah pelaksanaan rencana tindakan yang ditentukan dengan maksud agar kebutuhan pasien terpenuhi secara maksimal yang mencakup aspek peningkatan. pemeliharaan serta pemulihan kesehatan dengan mengikutsertakan pasien dan keluarganya. nyaman. lingkungan. tegas dengan bahasanya mudah dimengerti.

Implementasi keperawatan berorientasi pada 14 komponen keperawatan dasar yang meliputi : 1) Memenuhi kebutuhan oksigen 2) Memenuhi kebutuhan nutrisi. STANDAR V : Evaluasi Keperawatan . keseimbangan cairan dan elektrolit 3) Memenuhi kebutuhan eliminasi 4) Memenuhi kebutuhan keamanan 5) Memenuhi kebutuhan kebersihan dan kenyamanan fisik 6) Memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur 7) Memenuhi kebutuhan gerak dan kegiatan jasmani 8) Memenuhi kebutuhan spiritual 9) Memenuhi kebutuhan emosional 10) Memenuhi kebutuhan komunikasi 11) Mencegah dan mengatasi reaksi fisiologis 12) Memenuhi kebutuhan pengobatan dam membantu proses penyembuhan 13) Memenuhi kebutuhan penyuluhan 14) Memenuhi kebutuhan rehabilitasi e.20 9) Merujuk dengan segera bila ada masalah yang mengancam keselamatan pasien 10) Mencatat semua tindakan yang telah dilaksanakan 11) Merapikan pasien dan alat setiap selesai melakukan tindakan 12) Melaksanakan tindakan keperawatan berpedoman pada prosedur teknis yang telah ditentukan.

adanya catatan tentang respon/tanggapan pasien terhadap penyakit disebut dokumentasi asuhan keperawatan. STANDAR VI : Catatan Asuhan Keperawatan Catatan keperawatan sebagai bukti dari pelaksanaan asuhan keperawatan. sistematis dan berencana untuk menilai perkembangan pasien. komunikasi dan perawat yang melaksanakan tindakan dan waktunya 7) Menggunakan formulir yang baku . Kriteria : 1) Setiap tindakan keperawatan dilakukan evaluasi 2) Evaluasi hasil menggunakan indikator yang ada pada rumusan tujuan 3) Hasil evaluasi segera dicatat dan dikomunikasikan 4) Evaluasi melibatkan pasien. Catatan asuhan keperawatan dilakukan secara individual. Kriteria : 1) Dilakukan selama pasien dirawat inap dan rawat jalan 2) Dapat digunakan sebagai bahan laporan 3) Dilakukan segera setelah tindakan dilaksanakan 4) Penulisannya harus jelas dan ringkas serta menggunakan istilah yang baku 5) Sesuai dengan pelaksanaan proses keperawatan 6) Setiap pencatatan harus mencantumkan initial/paraf/nama informasi. f. keluarga dan tim kesehatan 5) Evaluasi dilakukan sesuai dengan standar.21 Evaluasi keperawatan dilakukan secara periodik.

2000). 1998). Mekanisme kerja fungsi manajemen menurut Handoko (1995) dapat digambarkan dalam skema : Keinginan kebutuhan Perencanaan Pengorganisasia n Pengarahan Pengkoordinasian Informasi Pengawasan Tujuan Gambar 3. 2. Skema mekanisme kerja fungsi-fungsi manajemen Menurut Monica (1998) cit Hersey dan Blancard (1977) menyebutkan bahwa manajemen yang komprehensif yaitu bekerja dengan dan melalui individu dan kelompok untuk mencapai tujuan organisasi. 1994). Proses manajemen pelayanan keperawatan terdiri dari: a. Proses Manajemen Pelayanan Keperawatan Manajemen adalah suatu seni dalam menyelesaikan pekerjaan dengan melalui orang lain (Adikoesoema. Planning atau Perencanaan Perencanaan adalah sebuah keputusan untuk suatu kemajuan yang berisikan apa yang akan dilakukannya serta bagaimana. Perencanaan dibuat untuk menentukan kebutuhan dalam asuhan keperawatan .22 8) Disimpan sesuai dengan peraturan yang berlaku (Depkes RI. kapan dan dimana akan dilaksanakannya (Marquis.

Perubahan yang . manajer langsung melakukan tindakan begitu menemukan masalah. berisi tujuan jangka panjang mengenai bagaimana langkah mencapai visi 2) 3) 4) Filosofi. membuat pola struktur organisasi yang dapat mengoptimalkan efektifitas staff serta menegakkan kebijaksanaan dan prosedur operasional untuk mencapai visi dan misi institusi yang telah ditetapkan. berisikan tujuan yang ingin dicapai Obyektif. Perencanaan yang disusun mengacu kepada kerangka utama rencana strategi rumah sakit dengan mempertimbangkan kekuatan. menegakkan tujuan. Unit perawatan merupakan unit terkecil dalam kegiatan pelayanan rumah sakit. peluang yang nyata dan ancaman eksternal yang harus diantisipasi. berisi langkah-langkah antisipasi untuk hal-hal yang menyimpang. memutuskan ukuran dan tipe tenaga keperawatan yang dibutuhkan. Kerangka perencanaan terdiri dari: 1) Misi. berisi langkah-langkah rinci bagaimana mencapai tujuan 5) 6) Prosedur. kelemahan. Model perencanaan meliputi : 1) Reactive planning. mengalokasikan anggaran belanja. sesuatu yang bisa menguatkan motivasi Tujuan. yaitu tak ada perencanaan.23 kepada semua pasien. berisi pelaksanaan perencanaan Aturan.

masa sekarang dan masa depan.24 terjadi tidak pasti karena dipengauhi oleh masalah dan kondisi yang ada 2) Inactive planning. yaitu perencanaan sudah dibuat sejalan dengan masalah yang muncul (telah ada bayangan atau perencanaan tetapi dalam pelaksanaannya dilakukan sejalan dengan pekembangan masalah. yaitu penyusunan perencanaan dengan mengetahui rencana ke depan pencapaian target yang sudah pasti (sudah jelas dan tidak berubah). risiko dan ketidakpastian jelas. siang. malam) akibat perubahan kondisi bangsal dan permintaan fasilitas yang segera akibat kerusakan yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya b) Jangka menengah (periode dalam satu tahun) . tedapat pembatasan waktu peencanaan belangsung. Perencanaan meliputi: a) Jangka pendek (target waktu dalam minggu/bulan) Meliputi perubahan jadwal dinas (pagi. Masa lalu digunakan sebagai pengalaman untuk menyusun perencanaan sekarang dan masa depan. dan masa depan merupakan perencanaan yang disusun berdasarkan evaluasi pelaksanaan perencanaan masa lalu dan sekarang. yaitu pembuatan perencanaan dengan memperhatikan masa lalu. 4) Proactive planning. terdapat indikator pencapaian target. Ciri dari perencanaan ini adalah tujuan yang akan dicapai jelas. 3) Preactive planning. masa sekarang sebagai pelaksanaan perencanaan.

penambahan jumlah tenaga.25 Meliputi pengaturan dinas. Organizing Di dalam pengorganisasian asuhan keperawatan dikenal beberapa model pemberian asuhan keperawatan. perbaikan peralatan/service. koordinasi dengan kepala perawat instalasi/kepala instalasi. Model Praktek . b. penambahan peralatan. permintaan perlengkapan rutin/barang habis pakai c) Jangka panjang (untuk tahun mendatang) Meliputi pengembangan SDM baik perawat maupun non perawat. 3) Mengajukan permintaan peralatan dan obat-obatan sesuai kebutuhan. cuti tahunan dan sebagainya Berdasarkan buku pedoman uraian tugas tenaga keperawatan di RS (Depkes RI. 1999). Tugas kepala ruang dalam perencanaan meliputi: 1) Membuat jadwal dinas koordinasi dengan perawat primer 2) Membuat usulan pengembangan tenaga. Tugas Kepala Ruang dalam perencanaan (P1) meliputi: 1) Menyusun rencana kerja kepala ruang 2) Berperan serta menyusun falsafah dan tujuan pelayanan keperawatan di ruang rawat yang bersangkutan 3) Menyusun rencana kebutuhan tenaga keperawatan dari segi jumlah maupun kualifikasi untuk di ruang rawat.

26 Keperawatan Profesional (MPKP) terdiri dari 5 elemen subsistem (Hoffart and Woods. Ada beberapa teori mengenai metode asuhan keperawatan care dellivery system antara lain menurut teori Gillies (1989): 1) Metode Kasus (Total Care Method) Disebut juga Total patient care. Metode ini lebih mudah dikerjakan karena satu orang perawat hanya bertanggung jawab pada satu atau dua orang pasien dan maksimal tiga. tergantung dari tingkat kebutuhan pasien dan model ini membutuhkan koordinasi diantara perawat-perawat yang melakukan asuhan keperawatan. 1996) yaitu : 1) Nilai-nilai profesional 2) Pendekatan manajemen 3) Metode pemberian Askep 4) Hubungan profesional 5) Sistem kompensasi dan penghargaan. Pasien menerima asuhan keperawatan yang diberikan secara total dan tidak terfragmentasi atau terpecah-pecah. Kelebihan dari metode kasus ini: a) Sederhana dan langsung b) Garis pertanggung jawaban jelas c) Kebutuhan klien cepat terpenuhi d) Memudahkan perencanaan tugas . perawat mempunyai otonomi dan tanggung jawab terhadap perawatan pasien selama shift kerja (± 8 jam).

Keuntungan dari metode ini. b) Memerlukan supervisi yang adekuat dari kepala ruang (charge nurse) c) Memerlukan kepala ruang (charge nurse) yang mampu memberikan training yang baik kepada perawat pelaksana. karena pada pelaksanaannya memerlukan perawat pelaksana yang mempunyai kemahiran. yaitu: a) Lebih efisien b) Tugas dapat segera diselesaikan c) Sedikit kebingungan karena tugasnya hanya satu d) Kebutuhan akan perawat profesional (register nurse) sedikit sehingga dana yang dibutuhkan juga minimal.27 Kerugian dari metode ini. 2) Metode Fungsional (functional nursing) Perawat pelaksana hanya bertugas berdasarkan tugas tertentu (task oriented). terutama supervisi dari kepala ruang untuk menghindari kesalahan dalam pemberian asuhan keperawatan . yaitu: a) Membutuhkan dana yang cukup tinggi (Costly). keterampilan dan profesionalisme tinggi sehingga reward juga harus tinggi. yaitu: a) Asuhan keperawatan menjadi terfragmentasi b) Kepuasan kerja rendah c) Tidak ada tantangan dalam melakukan tugas d) Lebih banyak membutuhkan koordinasi. Kerugian dari metode ini.

Ketua Tim bertanggung jawab kepada kepala ruang. yaitu: a) Saat pelaksanaan rencana keperawatan yang dibuat oleh Ketua Tim.28 e) Keseluruhan asuhan keperawatan tidak diperhatikan karena tanggung jawab hanya pada tugas yang dilakukan 3) Metode Tim (team nursing) Metode ini menggunakan prinsip bahwa ada sekelompok perawat pelaksana yang dipimpin oleh ketua tim dalam memberikan asuhan keperawatan kepada sekelompok pasien. yaitu: a) Meningkatkan metode kolaborasi b) Kebingungan akses ke pasien berkurang Kerugian dari metode tim. sehingga metode ini menjadi tidak efektif karena membutuhkan banyak waktu c) Jalur tanggung jawab menjadi tidak jelas keperawatan terfragmentasi dan dapat terjadi d) Asuhan overlapping/nursing error. kemungkin terjadi pelaksanaan yang tidak sesuai standar asuhan keperawatan b) Membutuhkan perencanaan dan komunikasi diantara anggota tim. 4) Metode Primer (primary nursing) Metode ini merupakan suatu metode penugasan kerja terbaik dalam suatu organisasi atau kelompok kerja dengan semua staf keperawatan yang profesional. Keuntungan dari metode ini. Pada pelaksanaannya hampir .

Pada metode ini setiap perawat primer memberikan tanggung jawab secara menyeluruh terhadap perencanaan. AN dan anggota tim kesehatan lain. perawatan dilanjutkan oleh AN. Kebutuhan akan Register Nurse sangat tinggi. pelaksanaan dan evaluasi keperawatan. Penanggung jawab adalah Perawat Primer (PN). Ada kontinuitas asuhan keperawatan yang bersifat komprehensif dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam satu tim PN mempunyai beberapa perawat pelaksana (associate nurse/AN) dan bila PN tidak ada. Setiap PN merawat 46 pasien dan bertanggung jawab terhadap pasien selama 24 jam dari pasien masuk sampai pasien pulang. Keuntungan dari metode primer.29 sama dengan metode case method nursing atau total patient care. semua PN harus RN. yaitu: a) Tingkat kepuasan yang tinggi b) Tingkat tanggung jawab dan otomi jelas c) Perawat tertantang dalam menyelesaikan masalah dan diberi penghargaan Kerugian dalam metode ini. PN harus mempunyai kemampuan membina komunikasi antara pasien. Hal ini disebabkan untuk mencapai standar. yaitu: a) Costly b) Kesulitan dalam menentukan standar RN. dokter. dan hal ini Dokter Kepala Ruang Sarana RS menjadi sulit karena kendala ekonomi sehingga RS tidak Perawat Primer Perawat Pelaksana Perawat Pelaksana Perawat Pelaksana .

Bagan Model Keperawatan Primer 5) Metode Manajemen Kasus (nursing case management) Pada metode ini ada seorang perawat yang menjalankan sekumpulan aktivitas. Empat hal penting dalam manajemen kasus: a) Pencapaian berdasar waktu yang ditentukan tim yang terlibat b) Yang bertindak sebagai case manager adalah orang yang memberi pelayanan langsung c) unit d) Perlu partisipasi aktif pasien dan keluarga untuk menyusun evaluasi pelaksanaan kegiatan Seorang perawat/dokter yang terlibat bisa melampaui . Gambar 4.30 mampu memberi reward yang cukup dan terjadi keterbatasan tenaga. memantau dan mengevaluasi semua sumber yang digunakan oleh pasien secara total selama sakit. mengerahkan.

pemantauan dan evaluasi kegiatan guna peningkatan mutu pelayanan keperawatan di ruang rawat g) Mendukung terlaksananya program Patient Safety. b) Keperawatan tim tidak digunakan secara murni karena tanggung jawab pasien terfragmentasi pada berbagai tim. c. c) Melalui kombinasi kedua model tersebut diharapkan komunitas asuhan keperawatan dan akuntabilitas asuhan keperawatan terdapat pada PN. 2) Uraian tugas: . Uraian tugas pokok kepala ruang Tugas kepala ruangan dalam pengorganisasian.31 6) Model keperawatan primer modifikasi didasarkan pada beberapa alasan antara lain : a) Keperawatan primer tidak digunakan secara murni karena sebagai perawat primer harus mempunyai latar belakang pendidikan S1 Keperawatan. meliputi: 1) Tugas Pokok: a) Mengelola kegiatan pelayanan dan asuhan keperawatan pasien di ruang rawat b) Melaksanakan fungsi kolaboratif dengan tim kesehatan lain c) Melaksanakan pendidikan kesehatan bagi pasien dan keluarga d) Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan bimbingan PKK e) Melakukan/membantu pelaksanaan penelitian f) Melakukan pengendalian.

triwulan serta tahunan f) Mengadakan rapat secara berkala untuk mengetahui masalah dan mendapatkan cara penyelesaian agar pelaksanaan pelayanan berjalan baik g) Memberikan pengarahan. bulanan. orientasi dan bimbingan kepada staf baru/mahasiswa praktek di ruangan h) Mengkoordinir pelaksanaan tatatertip.32 a) Mensosialisasikan. disiplik. kebersihan dan keamanan ruangan. usulan perbaikan dan pemeliharaannya e) Menyusun data yang berhubungan dengan pelayanan untuk membuat laporan harian. mengatur dan mengendalikan pelaksanaan kebijakan yang telah ditentukan kepada semua staf b) Mengecek kelengkapan inventaris peralatan dan obat-obatan yang tersedia untuk kelancaran pelayanan c) Mengajukan permintaan peralatan dan obat-obatan sesuai kebutuhan d) Memeriksa keadaan ruangan dan peralatan serta menyusun laporan kerusakan. i) Melaksanakan asuhan dengan menggunakan pendekatan proses ilmiah j) Membuat usulan nilai pra DP3 semua tenaga yang menjadi tanggung jawabnya k) Membuat usulan pengembangan tenaga l) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan dalam rangka memperlancar pelaksanaan kegiatan di instalasi .

wewenang. dan hari libur kepada penanggung jawab tugas jaga ruangan u) Membuat laporan pelaksanaan tugas secara berkala/insidentil v) Bertanggung jawab terhadap kelengkapan entry data dalam billing system.33 m)Membagi staf keperawatan ke dalam grup MPM sesuai dengan kemampuan dan beban kerja n) Membuat jadwal dinas koordinasi dengan perawat primer (PN) o) Membagi pasien kepada grup MPM sesuai kemampuan dan beban kerja p) Memfasilitasi dan mendukung kelancaran tugas perawat primer dan perawatan asosiet (PN & AN) q) Melakukan supervisi dan memberi motivasi seluruh staf untuk mencapai kinerja yang optimal r) Melakukan upaya peningkatan mutu asuhan dan pelayanan dengan mengevaluasi melalui berbagai metode evaluasi peningkatan mutu s) Berperan sebagai konsultan/pembimbing bagi perawat primer (PN) t) Mendelegasikan tugas pada sore. AN . dan PJ Berdasarkan struktur organisasi dan uraian jabatan keperawatan adalah sebagai berikut: 1) Tugas Pokok Primery Nurse: . dan tanggung jawab dari PN . malam. Uraian tugas. d.

. d) Bersama AN melakukan do’a bersama sebagai awal dan akhir tugas. h) Memonitor dan membimbing tugas AN.34 a) Mengelola asuhan keperawatan pasien di ruang rawat b) Melakukan fungsi kolaboratif dengan tim kesehatan lain c) Melaksanakan pendidikan kesehatan bagi pasien dan keluarga d) Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan bimbingan PKK e) Melakukan/membantu pelaksanaan penelitian f) Melakukan pengendalian. dilakukan setelah selasai operan tugas jaga malam. g) Melakukan pengkajian. pemantauan dan evaluasi kegiaatan guna peningkatan mutu pelayanan keperawata di ruang rawat g) Mendukung terlaksananya program Patient Safety 2) Tugas Primary Nurse : a) Bertugas pada pagi hari b) Bersama AN menerima operan tugas jaga dari AN yang tugas jaga malam c) Bersama AN melakukan konfirmasi /Supervisi tentang kondisi pasien segera setelah selesai operan tugas jaga setiap pasien. menetapkan masalah/diagnosa dan perencanaan keperawatan kepada semua pasien yang menjadi tanggungjawabnya dan ada bukti direkam keperawatan. e) Melakukan pre conference dengan semua AN yang ada dalam grupnya pada setiap awal dinas pagi f) Membagi tugas / pasien kepada AN sesuai kemampuan dan beban kerja.

q) Menyelenggarakan diskusi kasus/conference sesuai prosedur. t) Mendelegasikan tugas perawat primer pada sore. n) Memperkenalkan AN yang ada dalam satu grup /yang akan merawat selama pasien dirawat kepada pasien baru. o) Menyelenggarakan diskusi kasus/conference dengan dokter/tim kesehtan lain setiap seminggu sekali. hari libur kepada perawat asosiete . merevisi dan melengkapi catatan askep yang dilakukan oleh AN yang ada dibawah tanggung jawabnya. l) Melaksanakan post conference pada setiap akhir dinas dan menerima laporan akhir tugas jaga dari AN untuk persiapan operan tugas jaga berikutnya. p) Menyelenggarakan diskusi kasus /conference dalam pertemuan rutin keperawatan di ruangan minimal sebulan sekali. r) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan dalam rangka memperlancar pelaksanaan kegiatan s) Menggantikan tugas PJ ruang pada pagi hari jika PJ tidak ada. m)Mendampingi AN dalam operan tugas jaga kepada AN yang tugas jaga berikutnya. k) Melakukan evaluasi hasil kepada setiap pasien sesuai tujuan yang ada dalam perencanaan asuhan keperawatan dan ada bukti dalam rekam keperawatan.35 i) Membantu tugas AN untuk kelancaran pelaksanaan asuhan pasien j) Mengoreksi. malam.

diagnosa dan rencana keperawatan (1) Kebenaran kajian data keperawatan (2) Kebenaran diagnosis (3) Kebenaran rencana keperawatan b) Kebenaran layanan asuhan. evaluasi dan resume keperawatan (1) Kebenaran dan ketepatan pelaksanaan tindakan keperawatan (2) Kebenaran evaluasi keperawatan .36 u) Memberikan bimbingan mahasiswa praktek yang ada dalam groupnya dalam rangka orientasi dan pelaksanaan praktek keperawatan. w) Perawat primer melakukan visite/monitoring perkembangan pasien dan memberitahukan serta menyiapkan pasien yang akan pulang x) Perawat primer meneriama konsultasi/keluahan pasien/keluarga dan berupaya mengatasinya. serta memfasilitasi pelaksanaan konsultasi dengan dokter y) Perawat primer membuat laporan tugas kepada Karu setiap akhir tugas tentang kondisi pasien dan masalah yang ada z) Mengikuti pertemuan ilmiah/rutin yang diselenggaraan RS di lingkungan tugasnya 3) Tanggung Jawab Primary Nurse : a) Kebenaran kajian data. v) Perawat primer menginformasikan peraturan dan tata tertib yang berlaku pada pasien/keluarga.

37 (3) Kebenaran resume keperawatan c) Kebenaran dan ketetapan pendidikan/penyuluhan kesehatan pada pasien d) Pemenuhan kebutuhan kesehatan pasien dengan kolaborasi tim kesehatan lain e) Kelengkapan dan kebenaran informasi kepada pasien tentang dokter dan perawat yang bertanggung jawab. jadwal konsultasi & rencana tindakan yang akan dilakukan & rencana perawatan setelah pasien pulang f) Kelengkapan keperawatan g) Kebenaran bimbingan dan arahan kepada perawat asosiet dan mahasiswa praktek klinik keperawatan h) Kebenaran dan kelengkapan laporan dan dan kebenaran isian dokumen asuhan dokumen asuhan keperawatan 4) Wewenang Primary Nurse : a) Mengatur dan membimbing dan memberikan arahan tugas kepada AN/mahasiswa PKK yang menjadi tanggung jawabnya b) Meminta bahan dan perangkat kerja yang dibutuhkan untuk pelaksanaan asuhan dan pelayanan sesuai dengan kebutuhan pasien c) Melakukan kolaborasi dengan tim kesehatan d) Melakukan konsultasi dan koordinasi tugas dengan penanggung jawab ruang dan PN lain .

disiplin. 6) Uraian Tugas Penanggung Jawab Tugas Jaga: a) Memberikan pengarahan. malan. 5) Tugas Pokok Penanggung Jawab Tugas Jaga: a) Mengelola kegiatan pelayanan dan asuhan keperawatan pasien di ruang rawat pada sore. g) Mendukung terlaksananya program Patient Safety. malam dan hari libur b) Melaksanakan fungsi kolaboratif dengan tim kesehatan lain c) Melaksanakan pendidikan kesehatan bagi pasien dan keluarga d) Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan bimbingan PKK e) Melakukan/membantu pelaksanaan penelitian f) Melakukan pengendalian. dan hari libur.38 e) Melakukan asuhan dan pelayanan yang komprehensif dan prima kepada semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya f) Mendelegasikan tugas pada AN bila sedang tidak bertugas. kebersihan dan keamanan ruangan c) Melaksanakan asuhan keperawatan dengan menggunakan proses kekperawatan d) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan dalam rangka memperlancar pelaksanaan kegiatan di ruangan . orientasi dan bimbingan kepada mahasiswa praktek di ruangan b) Mengkoordinir pelaksanaan tata tertib. pemantuan dan evaluasi kegiatan guna peningkatan mutu pelayanan keperawatan di ruang rawat pada sore.

39 e) Membagi pasien kepada grup MPM sesuai kemampuan dan beban kerja f) Memfasilitasi dan mendukung kelancaran tugas asuhan dan pelayanan g) Melakukan supervisi dan memberi motivasi seluruh staf untuk mencapai kinerja yang optimal h) Melakukan upaya peningatan mutu asuhan dan pelayanan i) Berperan sebagai konsultan dari perawat asosiet (AN) pada saat PN tidak bertugas. malam dan hari libur f) Kebenaran dan ketepatan penggunaan sumber daya yang efisien dan efektif g) Kebenaran laporan pelaksanaan kegiatan asuhan dan pelayanan keperawatan. 7) Tanggung Jawab Penanggung Jawab Tugas Jaga: a) Ketepatan koordinasi tugas asuhan dan pelayanan di ruangan b) c) Kebenaran arahan tugas staf dan mahasiswa Kelancaran memfasilitasi kebutuhan yang diperlukan untuk asuhan dan pelayaan d) Kelancaran komprehensif dan prima layanan dan asuhan yang e) Kelancaran pelaksanaan pendelegasian tugas Pj. 8) Wewenang Penanggung Jawab Tim: . Ruang keperawatan pada sore.

Mendelegasikan tugas pada AN bila sedang . 9) Tugas Pokok Assosiate Nurse ( AN ) : a) Melaksanakan asuhan keperawatan pasien di ruang rawat inap b) Melaksanakan fungsi kolaboratif dengan tim kesehatan lain c) Melaksanakan pendidikan kesehatan bagi pasien dan keluarga d) Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan bimbingan PKK e) Melakukan/membantu pelaksanaan penelitian f) Melakukan pengendalian.40 a) Mengatur dan membimbing dan memberikan arahan anggota tim/mahasiswa PKK yang menjadi tanggung jawabnya b) Meminta bahan dan perangkat kerja yang dibutuhkan untuk pelaksanaan asuhan dan pelayanan sesuai dengan kebutuhan pasien c) d) Melakukan kolaborasi dengan tim kesehatan Melakukan konsultasi dan koordinasi tugas dengan penanggung jawab ruang dan PN lain e) Melakukan asuhan dan pelayanan yang komprehensif dan prima kepada semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya f) tidak bertugas. pemantauan dan evaluasi kegiatan guna peningkatan mutu pelayanan keperawatan di ruang rawat inap g) Mendukung terlaksananya program Patient Safety.

g) Menerima keluhan pasien dan keluarga dan berusaha untuk mengatasinya. e) Melakukan konsultasi tentang masalah pasien kepada PN. b) Mengikuti pre konference yang dilakukan PN setiap awal tugas pagi. c) Melakukan asuhan keperawatan kepada pasien yang menjadi tanggung jawab dan ada bukti direkam keperawatan. f) Membimbing dan melakukan pendidikan kesehatan kepada pasien yang menjadi tanggung jawabnya dan ada bukti direkam keperawatan. h) Melengkapi catatan asuhan keperawatan pada semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya.41 10) Uraian Tugas Assosiate Nurse (AN): a) Melakukan doa bersama setiap awal dan akhir tugas yang dilakukan setelah selesai serah terima operan tugas jaga. d) Melakukan monitoring respon pasien dan ada bukti direkam keperawatan. i) Melakukan evaluasi asuhan keperawatan setiap akhir tugas pada semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya dan ada bukti direkam keperawatan. j) Mengikuti post konference yang diadakan oleh PN pada setiap akhir tugas dan melaporkan kondisi/perkembangan semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya kepada PN dan ada bukti di rekam keperawatan .

11) Tanggung Jawab Assosiete Nurse (AN ): a) Kebenaran asuhan keperawatan meliputi kajian diagnosis. rencana tindakan keperawatan b) Kebenaran dan ketepatan pelayanan dan asuhan keperawatan yang komprehensif dan prima c) Kelengkapan bahan dan peralatan kesehatan d) Kebenaran isian rekam keperawatan e) Kebenaran infomasi/bimbingan/penyuluhan kesehatan kepada pasien/keluarga f) Ketepatan penggunaan sumber daya secara efisien dan efektif 12) Wewenang Assosiete Nurse (AN) : a) Memeriksa kelengkapan dan alat yang diperlukan b) Meminta bahan dan perangkat kerja sesuai dengan kebutuhan pelaksanaan tugas . wajib mengenalkan AN yang ada dalam satu group yang akan memberikan asuhan keperawatan pada jaga berikutnya kepada pasien/keluarga baru. malam. dan hari libur o) Berkoordinasi dengan Pj tugas jaga apabila ada kesulitan tentang pelayanan p) Bertanggung jawab atas kelengkapan entry data dalam Billing System. l) Mengkuti diskusi kasus/conference dalam pertemuan rutin m)Melaksanakan tugas lain sesuai uraian tugas AN n) Melaksanakan tugas PN pada sore.42 k) Bila PN tidak ada.

menetapkan diagnosa dan perencanaan keperawatan bagi pasien baru pada saat PN tidak bertugas sore. dan hari libur d) Melakukan asuhan keperawatan pasien e) Melaporkan asuhan keperawatan pasien ke Pj tugas jaga dan Perawat Primer (PN) e. Adikoesoema (1994) menjelaskan beberapa cara manajer merangsang bawahannya agar pelaksanaan kegiatan meningkat dalam rangka mencapai tujuan organisasi : 1) Motivasi Motivasi atau memotivasi merupakan proses dengan apa seseorang manajer merangsang bawahannya untuk bekerja dalam rangka mencapai sasaran organosatoris. malam.43 c) Melakukan pengkajian. 1994). Actuating Actuating/directing manajer/pimpinan untuk tidak bisa lepas mengarahkan dari kemampuan ataupun stafnya bawahannya untuk menjalankan fungsi masing-masing dengan baik (Adikoesoema. Teori model motivasi yang perlu diterapkan dalam rangka mencapai sasaran organisasi adalah : a) Model tradisional: menaikkan sistem upah untuk memotivasi para karyawan .

c) Melaksanakan orientasi kepada tenaga keperawatan baru/tenaga lain yang akan kerja di ruang rawat. b) Menyusun jadual/daftar dinas tenaga keperawatan dan tenaga lain sesuai kebutuhan pelayanan dan peraturan yang berlaku di RS.44 b) Model hubungan antar manusia: kontak sosial yang dialami karyawan baik di alam kerja maupun di luar jam kerja juga mempunyai arti penting 2) Kemampuan Individu Untuk memajukan organisasi/perusahaan disamping motivasi juga penting untuk menelaah kemampuan individu. tata tertib ruang rawat. e) Memberi orientasi kepada pasien/keluarganya meliputi: penjelasan tentang peraturan RS. mengadakan training. Bila sudah menjadi karyawan tentu tugas manajer meng-upgrade. Menurut buku pedoman uraian tugas tenaga keperawatan di Rumah Sakit tugas Kepala ruang sebagai penggerak dan pelaksanaan (P2) terdiri dari : a) Mengatur dan mengkoordinasikan seluruh kegiatan pelayanan di ruang rawat. kursus dan sebagainya secara berkelanjutan untuk memajukan pengetahuannya. . d) Memberikan orientasi kepada siswa/mahasiswa keperawatan yang menggunakan ruang rawatnya sebagai lahan praktek. melalui kerja sama dengan petugas lain yang bertugas diruang rawatnya.

hal ini penting untuk tindakan keperawatan. k) Mendampingi visite dokter dan mencatat instruksi dokter. h) Memberi kesempatan/ijin kepada staf keperawatan untuk mengikuti kegiatan ilmiah/penataran dengan koordinasi kepala instalasi/kepala bidang perawatan. khususnya bila ada perubahan program pengobatan pasien. j) Mengatur dan mengkoordinasikan pemeliharaan alat agar selalu dalam keadaan siap pakai.45 fasilitas yang ada dan cara penggunaannya serta kegiatan rutin sehari-hari. l) Mengelompokkan pasien dan mengatur penempatannya di ruang rawat menurut tingkat kegawatan. g) Mengadakan pertemuan berkala/sewaktu-waktu dengan staf keperawatan dan petugas lain yang bertugas di ruang rawatnya. n) Memberi motivasi kepada petugas dalam memelihara kebersihan lingkungan di ruang rawat. m)Mengendalikan kualitas sistem pencatatan dan pelaporan asuhan keperawatan dan kegiatan lain secara tepat dan benar. i) Mengupayakan pengadaan peralatan dan obat-obatan sesuai kebutuhan berdasarkan ketentuan/kebijaksanaan RS. . f) Membimbing tenaga keperawatan untuk melaksanakan pelayanan/asuhan keperawatan sesuai standar. infeksi/non infeksi untuk kelancaran pemberian asuhan keperawatan.

Kemampuan individu dan Sistem manajemen. perlu 3 hal penting: Motivasi. b) Teori Y Teori ini menganggap bahwa rata-rata karyawan senang bekerja asal diberi rangsangan dan dihargai. p) Meneliti/memeriksa pengisian daftar permintaan makanan pasien berdasarkan macam dan jenis makan pasien. c) Teori Z Teori ini menyatakan bahwa peran serta semua jajaran karyawan merupakan kunci suksesnya produktivitas dari suatu organisasi. Teori pengarahan SDDM: a) Teori X Teori ini menganggap karyawan adalah orang yang malas hingga harus diarahkan dengan paksaan bahkan dengan ancaman atau hukuman.46 o) Meneliti pengisian formulir sensus harian pasien di ruang rawat. Controlling . f. mempunyai kemauan dan dedikasi yang tinggi asal diajak komunikasi yang baik serta imbalan yang baik. q) Meneliti/memeriksa ulang pada saat penyajian makanan pasien sesuai dengan program dietnya. Untuk mencapai sasaran tersebut.

tugas kepala ruang yaitu sebagai Pengawasan. 3) Mengevaluasi upaya pelaksanaan dan membandingkan dengan rencana keperawatan yang telah disusun bersama ketua tim 4) Audit keperawatan Menurut buku pedoman uraian tugas tenaga keperawatan di RS bahwa. mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan ketua tim maupun pelaksana mengenai asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien. b) Mengawasi dan menilai siswa/mahasiswa keperawatan untuk memperoleh pengalaman belajar sesuai tujuan program bimbingan yang telah ditentukan. mengamati sendiri atau melalui laporan langsung secara lisan dan memperbaiki atau mengawasi kelemahan-kelemahan yang ada saat itu juga 2) Pengawasan tidak langsung yaitu mengecek daftar hadir ketua tim. Pengendalian dan Penilaian (P3) meliputi : a) Mengendalikan dan menilai pelaksanaan asuhan keperawatan yang telah ditentukan. mendengar laporan ketua tim tentang pelaksanaan tugas.47 Nursalam (2002). pengawasan melalui komunikasi. membaca dan memeriksa rencana keperawatan serta catatan yang dibuat selama dan sesudah proses keperawatan dilaksanakan (didokumentasikan). . Kegiatan supervise meliputi: 1) Pengawasan langsung melalui inspeksi.

. peralatan dan obat-obatan. jika ada penyimpangan akan merupakan pelajaran untuk aktifitas yang sama di masa yang akan datang. baik sumber daya. 2) Standar/pedoman diagnosis dan terapi. pengendalian ini berlangsung saat pekerjaan berlangsung guna memastikan sasaran tercapai. 3) Indikator penilaian penampilan Fungsi pengawasan dan pengendalian merupakan fungsi terakhir dari proses manajemen. 2) Concurent control. Untuk keperluan mengevaluasi hasil kerja diperlukan terlebih dahulu persiapan: 1) Standard operation procedure. e) Mengawasi dan menilai mutu asuhan keperawatan sesuai standar yang berlaku secara mandiri atau koordinasi dengan tim pengendalian mutu asuhan keperawatan. Ada 3 macam pengawasan yaitu : 1) Pengendalian pendahuluan. bahan/alat maupun dana. d) Mengawasi. 3) Feedback control. Pengendalian ini untuk mengontrol terhadap hasil dari pekerjaan yang telah diselesaikan. mengendalikan dan menilai pendayagunaan tenaga keperawatan.48 c) Melakukan penilaian kinerja tenaga keperawatan yang berada dibawah tanggung jawabnya. yaitu pengendalian ini dipusatkan pada permasalahan pencegahan timbulnya penyimpangan- penyimpangan dari bawahan terhadap kinerja pemberi pelayanan keperawatan. SDM.

49 C. ALOS (Length Of Stay). BTO) a. Efisiensi Ruang Rawat Efisiensi pelayanan meliputi 4 indikator mutu pelayanan kesehatan yang meliputi (BOR. Secara umum ALOS yang ideal antara 6-9 hari. Indikator ini selain memberikan gambaran tingkat efisiensi juga dapat memberikan gambaran mutu pelayanan jika diterapkan pada diagnosis tertentu yang masih membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.hari perawatan Jumlah pasien keluar (hidup+mati) . perawatan x 100% Jumlah Tempat Tidur x hari perawatan b. LOS = Jumlah Lama hari perawatan pasien keluar Jumlah pasien keluar hidup atau mati c. merupakan indikator untuk menilai seberapa efektifitas pemakaian tempat tidur yang ada di suatu ruangan atau rumah Sakit dalam jangka waktu tertentu. OUTPUT 1. adalah rata-rata lama hari seorang pasien dirawat. TOI. TOI adalah rata-rata jumlah hari tempat tidur tidak ditempati dari saat diisi hingga saat terisi berikutnya. penghitungan lama tempat tidur tidak terisi. LOS. Indikator ini dapat memberikan TOI= jumlah total kapasitas tempat tidur. sedangkan BOR = Jumlah hari standar nasional adalah 70-80%. Standar internasional yang baik adalah 80-90%. TOI (Turn Over Internal). BOR (Bed Occupancy Rate).

Dokumentasi keperawatan adalah sistem pencatatan kegiatan sekaligus pelaporan semua kegiatan asuhan keperawatan sehingga terwujud data yang lengkap. Dokumentasi keperawatan merupakan sesuatu yang mutlak harus ada untuk perkembangan perawatan.50 gambaran tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur. kualitas. nyata. dan tercatat dan bukan hanya tingkat kesakitan dari pasien tapi juga jenis. tempat tidur kosong hanya dalam waktu 1-3 minggu. B. Evaluasi dilakukan terhadap dokumentasi asuhan keperawatan pasien yang dirawat minimal 3 hari. Dalam membuat dokumentasi harus memperhatikan aspek-aspek: 1) Keakuratan data 2) Breavity (ringkas) 3) Legibility (mudah dibaca) Komponen dokumentasi keperawatan: . a. dan kuantitas pelayanan kesehatan dalam memenuhi kebutuhan pasien. khususnya proses profesionalisasi keperawatan serta upaya uuntuk membina dan mempertahankan akontabilitas perawat dan keperawatan. 2. Penerapan SAK (Instrumen A. Idealnya. C) Instrumen A Instrumen A merupakan evaluasi terhadap pendokumentasian asuhan keperawatan yang telah baku.

dianalisa. dibuat sesuai dengan wewenang perawat. Prioritas masalah ditentukan . Diagnosa dirumuskan berdasarkan data status kesehatan pasien. dan dapat ditanggulangi oleh perawat. 2) Diagnosa keperawatan Diagnosa keperawatan menggambarkan masalah pasien baik aktual maupun potensial berdasarkan hasil pengkajian data. tujuan. Data harus bermanfaat bagi semua anggota tim kesehatan. penyebab dan tanda gejala (PES) atau terdiri dari masalah dan penyebab (PE) yang bersifat aktual apabila masalah kesehatan sudah nyata terjadi dan bersifat potensial apabila masalah kesehatan kemungkinan besar akan terjadi. dan perumusan masalah. Komponen pengkajian meliputi pengumpulan data. 3) Rencana keperawatan Perencanaan keperawatan disusun berdasarkan diagnosa keperawatan. dan dibandingkan dengan fungsi normal kehidupan pasien. Kriteria diagnosa dihubungkan dengan penyebab kesenjangan dan pemenuhan kebutuhan pasien. pengelompokan data. Komponen rencana perawatan meliputi prioritas masalah. dan rencana tindakan. dengan komponen terdiri atas masalah.51 1) Pengkajian Asuhan keperawatan paripurna memerlukan data yang lengkap dan dikumpulkan secara terus-menerus tentang keadaaan pasien untuk menentukan kebutuhan asuhan keperawatan.

pencegahan. menjaga privasi. 5) Evaluasi . ekonomis. 4) Implementasi Implementasi adalah pelaksanaan rencana tindakan yang ditentukan dengan maksud agar kebutuhan pasien terpenuhi yang mencakup aspek peningkatan. sesuai waktu yang telah ditentukan dengan menggunakan sumber-sumber yang ada. Tindakan perawatan dilakukan dengan menerapkan prinsip aseptik dan antiseptik. Perbaikan tindakan dilakukan berdasarkan respon pasien dan merujuk dengan segera bila ada masalah yang mengancam keselamatan pasien.52 dengan memberi prioritas utama masalah yang mengancam kehidupan dan prioritas selanjutnya masalah yang mengancam masalah kesehatan pasien. dan mengutamakan keselamatan pasien. menjelaskan setiap tindakan perawatan yang akan dilaksanakan pada klien. nyaman. Pelaksanaan tindakan keperawatan harus sesuai dengan rencana yang ada. pemeliharaan. aman. Prioritas ketiga adalah masalah yang mempengaruhi perilaku. Semua tindakan yang telah dilaksanakan dicatat pada format asuhan keperawatan yang berlaku. dan merapikan pasien dan alat setiap selesai tindakan. serta pemulihan kesehatan dengan mengikutsertakan pasien dan keluarga. menyangkut keadaan bio-psiko-sosio-spiritual pasien.

untuk menilai perkembangan pasien. Penulisan harus jelas dan ringkas. serta menggunakan istilah yang baku sesuai dengan pelaksanaan proses perawatan. Dan untuk mengevaluasi hal ini diperlukan suatu instrumen yang baku. Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta menggunakan format standar . sistematis.53 Evaluasi dilaksanakan secara peroidik. b. Instrumen B Salah satu indikator mutu asuhan keperawatan adalah dilihat dari persepsi klien tentang mutu asuhan keperawatan yang diberikan. dan menggunakan format yang tersedia serta sesuai dengan peraturan yangn berlaku. dan berencana. Evaluasi dilaksanakan dengan memeriksa kembali hasil pengkajian awal dan intervensi awal untuk mengidentifikasi masalah dan rencana perawatan selanjutnya termasuk strategi perawatan yang telah diberikan untuk memecahkan masalah pasien. Setiap pencatatan harus mencantumkan paraf dan nama perawat yang melaksanakan tindakan dan waktu pelaksanaan. Pencatatan dapat digunakan sebagai bahan informasi dan komunikasi. Pencatatan dilakukan selama pasien dirawat inap maupun rawat jalan. 6) Catatan asuhan keperawatan Pencatatan merupakan data tertulis tentang status kesehatan dan perkembangan pasien selama dalam perawatan.

Struktur organisasi lokal. dan tujuan rumah sakit yang dijabarkan secara lokal ruang rawat b. Misi. Sumber daya manusia keperawatan yang memadai baik kualitas maupun kuantitas. Sebagai dasar penilaian tindakan keperawatan yang mengacu pada instrumen evaluasi penerapan standar asuhan keperawatan di rumah sakit yang telah ditetapkan oleh Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta yang mengacu pada pedoman dari Departemen Kesehatan. c. memantau atau mengatur pelayanan yang berorientasi pada pasien. Instrumen C Dalam melakukan tindakan keperawatan yang baik harus sesuai dan mengacu pada protap-protap atau standar yang telah ditetapkan dengan hasil tindakan mencapai 100%.54 asuhan keperawatan yang telah ditetapkan oleh rumah sakit untuk mengevaluasi persepsi klien terhadap mutu asuhan keperawatan. visi. 3. . d. Metode penugasan dan landasan model pendekatan kepada klien yang ditetapkan. Keberhasilan pelaksanaan kegiatan peningkatan mutu supaya lancar dipengaruhi oleh: a. mekanisme kerja (standar-standar) yang diperlakukan di ruang rawat c. Mutu Pelayanan Keperawatan Kegiatan menjamin kualitas pelayanan keperawatan merupakan kegiatan menilai.

Pencapaian nilai rata-rata standar 3 adalah 3. f. Pola administrasi dan pengelolaan organisasi yang telah dikelola dan diorganisir dengan baik. Komitmen dari pimpinan rumah sakit (Nurachmah. Staf dan Pimpinan Pelayanan keperawatan dikelola untuk mencapai tujuan pelayanan. Kesadaran dan motivasi dari seluruh tenaga keperawatan yang ada g. 2000). Falsafah dan Tujuan Pelayanan keperawatan dikelola dan diorganisasi agar dapat memberikan asuhan keperawatan yang optimal bagi pasien sesuai dengan standar yang ditetapkan.55 e. 1) Pelayanan keperawatan menurut Depkes 1992 meliputi 7 standar yaitu : a) Standar 1. nilai rata-rata untuk standar 2 adalah 4. Administrasi dan Pengelolaan Pendekatan sistematik digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan berorientasi pada kebutuhan pasien. Tersedianya berbagai sumber/fasilitas yang mendukung pencapaian kualitas pelayanan yang diberikan. Nilai untuk standar 1 jika dilaksanakan sesuai kriteria yang ada adalah 4.8 d) Standar 4. b) Standar 2. . Fasilitas dan Perawatan Fasilitas dan peralatan yang memadai untuk mencapai tujuan pelayanan keperawatan.5 c) Standar 3.

56 e) Standar 5. f) Standar 6. Pengembangan Staf dan Program Pendidikan Program dan pengembangan staf bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme. g) Standar 7. dan komunikatif. kredibilitas. Evaluasi dan Pengendalian Mutu Pelayanan keperawatan menjamin adanya asuhan keperawatan yang bermutu tinggi dengan terus-menerus melibatkan diri dalam program pengendalian mutu rumah sakit. Penilaian Kinerja Pribadi Perawat Rumah sakit adalah bagian integral dari keseluruhan sistem pelayanan kesehatan yang dikembangkan sesuai rencana pembangunan kesehatan. dapat diandalkan. Kebijakan dan Prosedur Adanya kebijakan dan prosedur secara tertulis yang sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan prinsip praktek keperawatan yang konsiten dengan tujuan pelayanan keperawatan. Dampak dari tidak terpenuhinya kondisi tersebut. maka pasien merasa tidak diterima. Faktor tersebut perlu mendapat dukungan berupa sarana atau fasilitas penunjang seperti . sopan santun.Penampilan pribadi merupakan ceriman sikap keseharian seperti kompetensi. 4. Pelayanan kesehatan tidak terlepas dari “ Personality performance” atau penampilan pribadi dalam menangani pasien. Pelayanan yang diberikan dipengaruhi oleh tersedianya tenaga yang berkualitas maupun sarana yang tersedia guna menunjang proses pelayanan.

kebersihan maupun peralatan yang digunakan. Penilaian kinerja merupakan alat yang paling dapat dipercaya oleh manajer perawat dalam mengontrol sumber daya manusia dan produktifitas (Swansburg. kepuasan kerja adalah keadaan emosional yang menyenangkan dengan pekerjaannya. Kinerja perawat yang berkualitas akan menunjang proses pelayanan. c.1987 dan Nursalam. Menurut Handoko. . keterampilan dan kinerja. e. Jenis alat evaluasi pelaksanaan kinerja perawat yang umum digunakan ada 5. kenyamanan. b. sikap. Integritas dari karyawan termasuk kompetensi. Proses penilaian kinerja dapat digunakan secara efektif dalam mengarahkan perilaku pegawai dalam rangka menghasilkan jasa keperawatan dalam kualitas dan volume yang tinggi.57 ruang tunggu. Nursalam 2002) Kepuasan Kerja Perawat Pengertian kepuasan kerja menurut Newstrom ”job satisfaction is the favorableness or unfavoraleness with employes view their work” kepuasan kerja berarti perasaan mendukung atau tidak mendukung yang dialami dalam kerja. 5. Laporan bebas Pengguruan Cheklist pelaksanaan kerja Penilaian grafik Perbandingan pilihan (Henderson. pengetahuan dan tanggungjawab menunjang pemberian pelayanan yang prima. Berdasarkan teori terdapat beberapa aspek yang dinilai yaitu: pengetahuan. yaitu: a. penataan ruang. 1984 cit. d. 2002).

Gaji. Pada dasarnya kompensasi dapat . merupakan sikap umum yang dimiliki oleh pegawai yang erat hubungannya dengan imbalanimbalan yang mereka yakini akan mereka terima setelah melakukan sebuah pengorbanan. b. sukar atau tidaknya suatu pekerjaan sera persaan seseorang bahwa keahliannya dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan tersebut akan meningkatkan atau mengurangi kepuasan kerja. Penyelia (supervisor). e. Kompensasi: sikap pekerja terhadap pembayaran yang diterimanya setelah ia membandingkannya dengan rekan lain baik didalam maupun diluar organisasi tempat ia bekerja. Teman sekerja d. merupakan faktor pemenuhan kebutuhan hidup pegawai yang bisa dianggap layak atau tidak layak Wesley dan Yukl (1977) mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja dari kondisi sebenarnya adalah : a. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja menurut Schemerhorn ada 5 yaitu: a. setiap pekerjaan memerlukan ketrampilan tertentu. Promosi. Pekerjaan itu sendiri. kepuasan itu terjadi apabila kebutuhan-kebutuhan individu sudah terpenuhi dan terkait dengan derajat kesukaan dan ketidaksukaan dikaitkan dengan pegawai. penyelia yang baik mau menghargai pekerjaan bawahannya. c. berkaitan dengan ada atau tidaknya mendapat kesempatan untuk meningkatkan karir selama bekerja.58 Sedangkan menurut Stephen Robin.

Pekerjaan itu sendiri: signifikansi pekerjaan. pensiunan di hari depannya. Teori “Hierarki Kebutuhan” dari Abraham Maslow. imbalan terutama gaji/upah termasuk dalam “alat” untuk memenuhi kebutuhan dasar ( basic physiological needs ). Teori dasarnya adalah bahwa apabila kebutuhan dasar manusia belum terpenuhi. sedangkan kompensasi nonfinancial dapat berupa pekerjaan dan dari lingkungan dimana tempat bekerja. ia akan mempunyai dorongan untuk berusaha memperoleh/mencari. Kompensasi financial ada yang langsung dan ada yang tidak langsung. fasilitas kesehatan. hari libur. guna memenuhi kebutuhannya. yaitu kompensasi finansial dan kompensasi bukan financial. Tabel 2. bila menggunakan teorinya. umpan balik dari pekerjaan itu sendiri (informasi langsung dan jelas diperoleh dari pekerja atas efektivitas dan hasil kerjanya). Misi  3. Rencana jangka pendek   B.59 dikelompokkan ke dalam dua kelompok.1 Kegiatan MPKP Penanggungjawab No Kegiatan Kabid Karu Katim I. Manajemen Approach A. Pengorganisasian PP  . pinjaman. b. Kesempatan pengembangan diri: kesempatan untuk maju atau berprestasi dalam jenjang karir. Filosofi  4. Keamanan kerja: kepuasan pekerja dalam menduduki pekerjaannya selama ia mau termasuk imbalan gaji. Kebijakan  5. Visi  2. d. Perencanaan 1. c.

Risiko perilaku kekerasan 3. 2. Rapatkeperawatan 2. 6. Isolasi social 4. -                                                       - . Rekrutmen 2. Compensatory Reward 1. Visit dokter IV. Gangguan proses pikir: Waham 6. 3. 3. Seleksi 3. 1. 2. Pengembanganstaf III. D. Rapattimkesehatan 4.60 Struktur organisasi Jadual dinas Daftar pasien Pengarahan Operan Pre conference Post conference Iklim motivasi Pendelegasian Supervisi Pengendalian Indikator mutu Audit dokumen Survey kepuasan Survey masalah kesehatan keperawatan II. Penilaiankinerja 6. Gangguan persepsi sensori: Halusinasi 5. 4. Orientasi 5. 2. Profesional Relationship 1. Konferensikasus 3. Patient Care Delivery 1. 4. 1. Defisit perawatan diri 1. 3. 5. Gangguan konsep diri: Harga diri rendah 2. Kontrakkerja 4. Risiko bunuh diri 7. C.

20 Juni 2012 sampai hari Sabtu. A. GAMBARAN UMUM RUMAH SAKIT DAN RUANGAN . 23 Juni 2012.61 BAB III HASIL PENGKAJIAN Pengkajian dilakukan selama hari Rabu.

067 m2. Sebelumnya Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta. Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta didirikan pada tahun 1918 M. Wisanggeni. Pringgondani. 80 Surakarta. Kode pos 57126 Surakarta.8 Surakarta (tepat di samping Stadion Sriwedari Surakarta). Amarta. Jenis pelayanan kesehatan yang ada di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta terdiri dari pelayanan di dalam rumah sakit dan di luar rumah sakit. Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta memiliki luas tanah 100. Ayodya. dan kapasitas tempat tidur mencapai 293 tempat tidur. Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta yang sebelumnya Rumah Sakit Jiwa Pusat Surakarta berubah menjadi Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta sampai saat ini. Kresna. Sena. 22 tahun 1999. PO BOX 187. Dewi Kunti. Shinta.145 m2 dengan jumlah bangsal sebanyak 13 bangsal (bangsal VIP. tentang otonomi daerah. tepatnya yaitu di Jalan Bayangkara No. Adapun jenis pelayanan yang tersedia di rumah sakit tersebut antara lain: a. dan memiliki luas bangunan 21. dan diresmikan penggunaannya pada tanggal 17 Juli 1919 M. dan Sumbadra). Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta terletak pada lokasi yang cukup strategis karena masih dalam lingkungan sekitar Karisidenan Surakarta yang mudah dijangkau oleh transportasi umum. Sejak diterapkan UU No. Gambaran Umum Rumah Sakit Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Surakarta beralamat di Jalan Ki Hajar Dewantara No.62 1. Srikandi. Maespati. Pelayanan yang bersifat spesialistik . Abimanyu.

kepribadian. 2) Kegiatan lintas sektoral: Kegiatan pembinaan dan pelayanan lintas sektoral dalam wadah Badan Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (BPKJM) dilakukan bersama-sama dengan instansi . 1) Pelayanan integratif: Pelayanan integratif yang dilakukan meliputi pelayanan kesehatan jiwa yang dilakukan di Puskesmas dan RSU Kabupaten/ Kota. dengan kegiatan: a) Pembinaan pelayanan kesehatan jiwa b) Pelayanan konsultasi ahli kesehatan jiwa c) Pelatihan terhadap tenaga medik dan non medik Puskesmas/ RSU tentang kesehatan jiwa. dan konseling f) Seminar. symposium kesehatan jiwa 2) Pelayanan rawat jalan 3) Pelayanan rawat inap 4) Pelayanan gawat darurat 5) Pelayanan penunjang diagnostik 6) Terapi bio-psiko-sosial 7) Pelayanan rehabilitasi b. minat.63 1) Pelayanan pencegahan a) Penyuluhan kesehatan jiwa b) Pelatihan kesehatan jiwa c) Pendidikan kesehatan jiwa d) Penelitian kesehatan jiwa e) Bimbingan bakat. Pelayanan yang dilakukan di luar rumah sakit (ekstra murah).

64 dan sektor-sektor lain yang berperan dalam pembinaan upaya kesehatan jiwa masyarakat. Hasil pendokumentasian yang didapatkan dari instalasi rekam medik di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta didapatkan hasil bahwa . 2009). Peningkatan kinerja dan mutu pelayanan Dalam rangka pengembangan potensi Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta saat ini telah mengembangkan pelayanan unggulan di bidang sub-spesialis psikogeriatri yang didukung dengan tenaga serta sarana dan prasarana yang memadai. 3) Pelayanan yang lain: Pelayanan yang lain yang tersedia di Rumah Sakir Jiwa Daerah Surakarta antara lain: a) Surat keputusan sehat jiwa untuk sekolah dan pekerjaan b) Surat keputusan sehat jiwa untuk kepentingan umum (untuk caleg/ kades/ bupati dan lainnya) c) Visum kejiwaan d) Surat keputusan bebas narkotika untuk umum e) Perawatan jenazah f) Ambulance g) Hot line service untuk konsultasi lewat telepon (0271-665581) bagi masyarakat umum c. Hal ini melengkapi pengembangan program Model Praktek keperawatan Profesional (MPKP) yang telah dikembangkan sebelumnya (Catatan Medik RSJD Surakarta.

74%. Gambaran Umum Ruangan Profil Ruang Shinta Ruang Shinta merupakan salah satu ruang atau bangsal di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta yang digunakan untuk perawatan gangguan jiwa rehabilitasi khusus pasien perempuan dewasa. bulan Maret 6 hari dan bulan April 2 hari. Hasil pendokumentasian yang didapatkan dari instalasi rekam medik di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta didapatkan hasil bahwa ALOS keseluruhan di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta pada bulan Februari 30 hari. 15 %. Hasil pendokumentasian yang didapatkan dari instalasi rekam medik di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta didapatkan hasil bahwa TOI keseluruhan di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta pada bulan Februari 5 hari. Perawat ruangan dibagi . Ruang Shinta merupakan bangsal kelas II dan III yang memberikan pelayanan untuk pasien Jamkesmas. 2. bulan Maret 30 hari. dan bulan April 31 hari. bulan Maret 85. dimana metode TIM ini terdiri dari anggota yang berbeda-beda dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap sekelompok pasien. PKMS. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Ruang Shinta didapatkan informasi bahwa Ruang Shinta adalah satu-satunya ruang pelayanan keperawatan yang menerapkan metode MPKP dan metode TIM dalam pemberian asuhan keperawatan. dan bulan April 81. a. Jamkesda dan umum.65 BOR keseluruhan di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta pada bulan Februari 85. 98 %.

Ruang Shinta memiliki kapasitas tempat tidur sebanyak 30 tempat tidur pasien. dan filosofi ruangan secara khusus. misi.66 menjadi 2 TIM yang terdiri dari Ketua Tim (KaTim) dan Perawat Asosiate (PA) atau perawat pelaksana. Semua pegawai ruang Shinta berjenis kelamin perempuan. motto. dan 1 ruang kamar mandi pasien. Jumlah ketenagaan di Ruang Shinta terdapat 14 orang yang terdiri dari 12 tenaga perawat. 1 Kepala Ruang dan 1 administrasi (pelaksana urusan TU). 1 ruang perawat sekaligus ruang tindakan medis. Motto dan Tujuan Ruang Shinta istirahat Dapur Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Ruang didapatkan informasi bahwa ruangan sudah memiliki visi. dan filosofi yang digunakan adalah visi. motto. misi. WC Tempat 1) Visi. 1 ruang dokter. motto. misi. akan tetapi berdasarkan perintah dari bidang keperawatan Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta visi. dan filosofi Rumah Sakit. 2) Lokasi dan Denah Ruangan Shinta Lokasi dan denah Ruang Shinta dapat dilihat pada gambar dibawah ini: Ruang Dokte r Ruang Perkumpulan Ruang Kelas II WC Ruang Perawat Halaman Belakang Ruang Kelas III WC WC WC WC . Misi. 1 ruang kamar mandi perawat sekaligus ruang dapur.

67 KepalaBidangKeperawatan H. Ns. Kep. MM 3) Struktur organisasi ruang Shinta KepalaSeksiKeperawatan KepalaInstalasiRawat Inap Warno. AMK . AMK Murpiati. S. Kep PA Fitriani W. S. AMK Istiani. S. S. AMK Betzaba Dewi. Kep Yuli Sumarni. Kep Sulistyowatik. AMK Tutik Sri. AMK Sri Mulyani. S.. Sukardi. AMK Juniarsih S. AMK PA Venita Antonia.. M. S. Kep PerawatKontrol TU ruangan Kepala Tim I KepalaTim II Pupus Risnawati. S. Kep. Kep DokterRuangan KepalaRuang Mardini.. Kep Retno Maruti.

Diagnosa 46.. 54. Pengkajian 82. 5.5 kesenjangan antara status kesehatan dengan norma dan fungsi kehidupan. Nilai Rata-rata Instrumen A di Ruang Shinta RSDJ Surakarta Aspek yang No Hasil (%) Keterangan dinilai  18.5% data pengkajian tidak dicatat lengkap. . Hasil yang diperoleh dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Evaluasi 75  25% evaluasi tidak mengacu pada tujuan...4% rencana tindakan tidak menggambarkan keterlibatan pasien atau keluarga. 10% tindakan tidak sesuai dengan rencana 4.68 Gambar:.. Studi dokumentasi dilakukan pada 10 berkas rekam medis pasien di ruang Shinta. 33. Perencanaan sudah menggunakan format yang baku dari rumah sakit.6 masalah yang telah dirumuskan. masalah tidak dirumuskan berdasarkan 1.6 tidak disusun secara prioritas. perencanaan 3. Struktur organisasi ruang Shinta B. tidak dirumuskan diagnosa resiko. Tindakan 90 keperawatan. Tabel .4% diagnosa keperawatan tidak berdasarkan 2. INSTRUMEN A Evaluasi ini dilakukan dengan menggunakan format evaluasi dokumentasi asuhan keperawatan. tindakan keperawatan tidak berkelanjutan antar shift. Perencanaan 66.

1) Visi Ruang Shinta RSJD Surakarta memiliki visi ruangan (100%). INSTRUMEN B 1. C.69 6. maka hasil dari Instrumen A tentang dokumentasi keperawatan yaitu 76. Namun. Rata-rata 76.. tanggal. Adapun Visi RSJD Surakarta adalah “Menjadi pusat pelayanan kesehatan jiwa pilihan yang profesional berbudaya dan berstandar internasional”.6%).78 % adalah baik.78 Sumber : Hasil observasi tanggal . jam dan tanda tangan. 1998) Berdasarkan tabel di atas. 100 sudah ditulis secara ringkas. perawat sudah menuliskan nama. di ruang Shinta Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta... perencanaan tidak disusun menurut prioritas (66. a. berdasarkan kebijakan dari RS visi yang digunakan diruangan adalah visi RS. Dari asuhan keperawatan yang dirasa kurang adalah diagnosa keperawatan yang tidak merumuskan diagnosa resiko (46. Catatan asuhan keperawatan  Pencatatan ditulis pada format yang baku. jelas.6%). Kriteria hasil: 76 – 100% 56 – 75% 40 – 55% <40% : baik : cukup : kurang baik : tidak baik (Arikunto. Management Approach Perencanaan .

70

2)

Misi Ruang Shinta RSJD Surakarta memiliki misi ruangan (100%). Namun, berdasarkan kebijakan dari RS misi yang digunakan diruangan adalah misi RS. Adapun misi RSJD Surakarta adalah: a) Memberikan pelayanan kesehatan jiwa profesional dan paripurna yang terjangkau masyarakat b) Meningkatkan mutu pelayanan sesuai dengan standar

internasional secara berkelanjutan c) Menerapkan nilai-nilai budaya kerja aparatur dalam memberikan pelayanan kedapa pelanggan d) Meningkatkan peran serta dan kemandirian masyarakat untuk mencapai derajat kesehatan jiwa yang optimal. 3) Filosofi Ruang Shinta RSJD Surakarta tidak memiliki filosofi ruangan, Ruang Shinta menggunakan filosofi Rumah Sakit (100%). 4) Kebijakan RSJD Surakarta menjadikan Ruang Shinta sebagai ruang percontohan pelaksanaan MPKP. Belum adanya SK MPKP untuk setiap ruangan Belum ada kebijakan pelaksanaan MPKP. 5) Rencana harian Belum ada rencana jangka pendek kepala ruang. Belum ada rencana jangka pendek ketua tim. Belum ada rencana jangka pendek perawat pelaksana. 2. Pengorganisasian

71

a.

Struktur organisasi Kelengkapan struktur organisasi di ruangan Shinta 100%. Struktur organisasi di ruang Shinta dapat dilihat pada lampiran (gambar ...)

b.

Jadwal dinas Jadwal dinas di ruang shinta dibuat dalam bentuk lembaran dan dibuat untuk 1 bulan. Jadwal dinas, dapat dilihat pada lampiran (tabel ...)

c.

Daftar pasien Ruang shinta memiliki daftar pasien yang ditulis di white board ruangan. Daftar pasien dapat dilihat pada lampiran (tabel ...).

3. a.

Pengarahan Operan Ruang shinta Surakarta sudah melaksanakan operan, namun tidak sesuai dengan standar MPKP dikarenakan kesibukan perawat saat pergantian shift (40 %).

b.

Pre conference Ruang shinta sudah melakukan kegiatan pre conference namun berhenti karena kurangnya pengakuan dari pihak manajemen (0%).

c.

Post conference Ruang shinta tidak pernah melaksanakan pre conference, dikarenakan kesibukan perawat (0%).

d.

Iklim motivasi

72

Ruang shinta sudah menciptakan iklim motivasi diruangan, salah satunya dengan memberikan motivasi kepada semua stafnya mengembangkan jenjang karir dan kompetensi nya (78,75 %). e. Pendelegasian Ruang Shinta sudah melakukan pendelegasian tugas jika ada salah satu petugas yang tidak bisa bertugas sesuai dengan jadwal dinasnya (83 %). f. Supervisi Di ruang Shinta RSJD Surakarta sudah dilakukan supervisi (70 %). Supervisi dilakukan setiap hari, katim menulis laporan berdasarkan dari supervisi perawat pelaksana. 4. a. Pendelegasian Indikator mutu Ruang Shinta RSJD Surakarta belum memenuhi standar indikator mutu, dibuktikan dengan:
1) BOR 21,37 %

2) ALOS 29,4 3) TOI 5,6 4) Angka lari, angka cedera, angka pengekangan dan angka infeksi nosokomial tidak terkaji.
5) Hasil pengkajian indikator mutu sebesar 71, 4 %.

b.

Audit dokumen Di ruang Shinta sudah dilakukan audit dokumen terutama setelah pasien pulang (100 %).

c.

Survey kepuasan

73 Ruang Shinta belum melaksanakan survey kepuasan pasien dan keluarga. a. Hasil pengkajian : 1) HDR 25 % 2) RPK 30 % 3) ISOS 10 % 4) Halusinasi 60 % 5) Waham 30 % 6) RBD 4 % 7) DPD 10 % 5. 6. Compensatory Reward Penilaian kinerja: Penilaian kinerja SDM ruangan Shinta dilakuakan 100% dengan supervisi baik langsung ataupun tidak langsung. b. Profesional Relationship Rapat keperawatan Ruang Shinta RSJD Surakarta rutin melakukan rapat keperawatan ruangan 1 kali dalam sebulan. Terdapat jadwal rapat keperwatan rutin. d. Hasil pengkajian 0%. a. agenda rapat membahas tentang masalah-masalah . Pengembangan staf: Upaya dalam rangka peningkatan pendidikan keperawatan berkelanjutan dilakukan 100% oleh kepala ruang. adanya notulen rapat. Survey masalah kesehatan Ruang Shinta belum melakukan survey masalah kesehatan.

Hasil pengkajian: Patient Care Delivery Gangguan konsep diri. e. b. Rapat keperawatan ruangan 100% sudah dilakukan di ruang Shinta. harga diri rendah. d. g. Konferensi kasus Ruang Shinta RSJD Surakarta tidak pernah melakukan konferensi kasus. a. hasil pengkajian didapatkan 0%. ada kesimpulan rapat. d.6%. c. Rapat tim kesehatan jarang dilakukan dan tidak ada presentasi permasalahan yang sedang dihadapi ruangan.74 ruangan. f. 7. Hasil pengkajian didapatkan 100% untuk visit dokter. . Rapat tim keehatan Hasil dari pengkajian didapatkan kegiatan rapat tim kesehatan di ruang Shinta RSJD Surakarta mencapai 66. b. c. dan ada daftar hadir. Visit dokter Visit dokter d ruang Shinta rutin dilakukan dan katim ruangan selalu mendampingi dokter dalam pemeriksaan pasien dan berkolaborasi dengan dokter sesuai dengan standar. Resiko perilaku kekerasan Isolasi sosial Gangguan pesepsi sensori: halusinasi Gangguan proses pikir: waham Resiko bunuh diri Defisit perawatan diri.

namun tidak semua item pengkajian diisi secara lengkap.6 %. Implementasi Hasil pengkajian implementasi keperawatan sebesar 90 %. 2. Evaluasi Hasil pengkajian evaluasi keperawatan sebesar 70%. Perumusan diagnosa keperawatan tidak sesuai dengan analisa data. Pengkajian (82. 7. Evaluasi sudah sesuai dengan tujuan pada rencana intervensi dan sudah dicatat. Analisa data Data subjektif dan data objektif yang tertulis dalam analisa data tidak ada dalam data pengkajian. 5.75 1. Diagnosa tidak diprioritaskan. 6. Dokumentasi keperawatan . Diagnosa keperawatan Hasil pengkajian diagnosa keperawatan sebesar 46.5%) Perawat sudah menuliskan hasil pengkajian pada format. Intervensi keperawatan Hasil pengkajian intervensi keperawatan sebesar 66. Beberapa tindakan keperawatan ada yang tidak sesuai dengan rencana intervensi.6 %. 4. Format intervensi keperawaan sudah baku sesuai dengan format yang disusun oleh RSJD Surakarta. 3.

sudah di catat dengan jelas dan berkesinambungan pada shif pagi-soremalam. .76 Hasil pengkajian dokumentasi keperawatan sebesar 100 %. Perawat sudah mencatat asuhan keperawatan pada format yang sudah tersedia.

Kep. Jadwal dinas Nama perawat Mardini..77 8.Kes TIM I Pupus Suistyowatik Murpiati Fitriani Sri Mulyani Sulasmi TIM II YS Yenita A Betzaba L Tutik Istiani 1 P P P S M P X P L P S X M 2 P Km L S M P L P L P S P M 3 L Km M S X M P L S P L L X 4 P X M L P M L P S P S P L 5 P S X P P X P P M L M P S 6 P S L P L L P P M P M L S 7 P L S P P P M P X P X M S 8 P L S L S P M P L P P M L 9 P L S M S P X P P P L X M Tanggal 10 11 12 13 14 15 16 17 18 L L P P L L P L P L L M S L L L P S L P M S C X M M P P P L P S X P C P M M P P L P S S L P C S X X P P M P M L S P C S L P P L M P M L S P M S C P L P X L X M S L M L C S P P S P L M L L X M C S S P L L P X M Ks L M C S L P P S P C M 19 P Ks P X L M L P P S S C M 20 21 22 23 24 P P P P L P S L P M M P L S L C P P S L M X X P M L P C X P S P M L L L M P S L L L L P X S S P X P M M X Kp P L L L S L S P M M L 25 26 27 28 29 30 P P P P P P P M P P S L P S P X X M P M P P S S P L P L L M P X M P L M P P S P S X P L M L P M P P L S S P P P X M S X P P M L S P P P L M S P P P M P S P .M. S.

7. 10. 6. 11.78 9. 2. 9. Nama Endang S Eko Riani Ida Sri Lestari Ani Suparni Rubiyanti Pawit Sri Astutik Rusmiati Sri Wahyuni B Sunarni Mujiati Jani No registrasi 038027 046760 046969 001652 008481 009212 035705 023574 047168 047018 034895 046951 047164 Diagnosa Keperawatan HDR RPK Halusinasi Halusinasi RPK Halusinasi DPD RPK RPK Halusinasi Isolasi Sosial Halusinasi Halusinasi Ketua Tim 2 (Yuli Sumarni. 9. 10. 11. 3. 8. 12. 5. 4.Kep) No 1. 13. 5. Nama Suparmi Siti Rustini Sri Wahyuni A Sunarti Nur Hayu Tri Nur witanti Maryati Siti Nuryani Kasti Martini Suyatini No registrasi 047006 045967 047042 007151 045938 046069 044939 012822 040301 055812 047024 Diagnosa Keperawatan Halusinasi RPK Halusinasi Halusinasi HDR HDR RPK Halusinasi HDR Waham Isolasi Sosial . 8. 3. Daftar pasien ruang Sintha Ketua Tim 1 (Pupus Risnawati. 7. 2.Kep) No 1. S. 4. 6. S.

Belum adanya SK MPKP untuk setiap ruangan .Melakukan role model. Filosofi . Belum adanya SK pelaksanaan MPKP diruangan Mengusulkan pembuatan SK MPKP Pelaksanaan perencanaan 85 % Sebelum operan . Adanya filosofi ruangan Shinta yang menjadi rujukan kegiatan organisasi dan arahan seluruh rencana jangka panjang Ruang Shinta tidak memiliki wewenang untuk menerapkan misi yang disusun ruangan Mengusulkan ke RS untuk memberikan wewenang terhadap ruangan untuk menerapkan misi yang sudah di buat oleh ruangan Mengusulkan pembuatan filosofi di ruangan yang mengacu pada filosofi Rumah Sakit Pelaksanaan perencanaan 85% Filosofi yang terdapat dalam ruangan adalah filosofi Rumah Sakit Pelaksanaan perencanaan 85 % Adanya kebijakan dari kepala bidang terhadap ruangan Shinta sebagai acuan dalam pelaksanaan MPKP diruangan.Belum ada rencana jangka pendek ketua tim .Ruang Shinta RSJD Surakarta memiliki misi ruangan (100%). Namun. . Kebijakan . berdasarkan kebijakan dari RS misi yang digunakan diruangan adalah visi RS. Visi . Misi . .Ruang Shinta RSJD Surakarta tidak memiliki filosofi ruangan.Ruang Shinta RSJD Surakarta memiliki visi ruangan (100%).Belum ada kebijakan pelaksanaan MPKP 5. Rencana harian KaRu: .Mengusulkan kepada setiap perawat untuk membuat rencana harian sesuai dengan jabatannya masingmasing. 3. 2. 4. praktek dan bimbingan pelaksanaan Pelaksanaan perencanaan 85 % .RSJD Surakarta menjadikan Ruang Shinta sebagai ruang percontohan pelaksanaan MPKP .Belum ada rencana jangka pendek kepala ruang . Perencanaan 1.No Komponen pengkajian Manajemen Approach A. Masalah Ruang Shinta tidak memiliki wewenang untuk menerapkan visi yang sudah disusun di ruangan POA Mengusulkan ke RS untuk memberikan wewenang dalam menerapkan visi diruangan Target 79 Pelaksanaan perencanaan 85% Adanya misi ruangan Shinta yang menjelaskan tujuan organisasi dalam mencapai visi yang telah ditetapkan. berdasarkan kebijakan dari RS visi yang digunakan diruangan adalah visi RS. 1.Supervisi KaTim dan Ruang Shinta RSJD Surakarta belum melaksanakan pembuatan rencana jangka pendek yang sesuai dengan jabatan masing-masing . setiap perawat membuat rencana kegiatan harian sesuai dengan perannya untuk setiap shift. Namun.Asuhan keperawatan.Ruang Shinta menggunakan filosofi Rumah Sakit (100%). Rencana Jangka Pendek . .Belum ada rencana jangka pendek perawat pelaksana Standar Adanya visi ruangan Shinta yang digunakan sebagai landasan perencanaan organisasi.

Belum adanya rencana harian karu. dan pembagian pasien. Sudah adanya SAK. THREATMEN a. ANALISA SWOT STRENGTH a. Terdapat 1 orang magister keperawatan di Ruang Shinta. e. c. ANALISA SWOT No 1. 100 2. 4. OPPORTUNITY a. Adanya tuntutan dari masyarakat yang lebih tinggi dalam profesional keperawatan. Sudah adanya daftar pasien di ruang Shinta.80 BAB IV ANALISA DATA A. c. . k. SOP. e... Kegiatan supervisi dari karu dan katim belum terjadwal. b. Adanya visi. motto dan tujuan ruang Shinta. Tingkat ketergantungan pasien sudah diklasifikasikan sesuai dengan kebutuhan pasien. b. d. Tidak adanya pengakuan MPKP dari bidang keperawatan. Kurangnya keterlibatan perawat pada kegiatan pengembangan SDM. f. Ruang Shinta memiliki sarana dan prasarana yang memadai. WEAKNESS a. j. Sudah adanya sistem pendelegasian di ruang Shinta. post conference dan operan belum berjalan secara optimal sesuai standar. Proses komunikasi yang baik antar perawat di ruang Shinta. misi. Belum adanya visi. c. perawat sarjana keperawatan ners di ruang Shinta. Terdapat . i. g. Sarana dan prasarana di Ruang Shinta sudah mencukupi dan memenuhi standar. Adanya kegiatan supervisi dari bidang keperawatanke semua bangsal di RSJD Surakarta. katim dan perawat pelaksana. Adanya peraturan yang dibuat oleh pihak rumah sakit. Adanya program pelatihan khusus dan seminar intern atau ekstern. f. d. Belum terdokumentasinya hasil supervisi dari karu ke katim dan dari katim ke perawat pelaksana. Kegiatan pre conference. Sudah adanya daftar dinas perawat di ruang Shinta. Protap di ruang Shinta yang digunakan dalam penerapan asuhan keperawatan dan tindakan keperawatan bagi pasien. 3. h. g. Ruang Shinta sudah memiliki struktur organisasi yang menunjukkan pembagian tim. d. motto dan tujuan bidang keperawatan RSJD Surakarta. misi. b.

81 B. Observasi Berdasarkan hasil observasi selama pengkajian di ruang Shinta. Kuisioner Berdasarkan hasil kuisioner di ruang Shinta didapatkan hasil bahwa perawat tidak memiliki rencana harian jangka pendek 2. PERUMUSAN MASALAH Fungsi Data Fokus Manajemen MANAGEMENT APPROACH 1. No Masalah Belum adanya kesadaran perawat untuk mengisi buku rencana harian jangka pendek yang sudah tersedia di ruangan − Belum berjalannya kegiatan pre conference. post conference dan operan sesuai dengan MPKP − Belum adanya form dan pendokumentasia an pendelegasian . perawat hanya mengikuti rutinitas yang sudah tertera di ruangan b. post conference dan operan sudah tidak berjalan lagi sesuai MPKP karena kurangnya pengakuan dari pihak manajemen RS − Hasil wawancara dengan karu ruang Shinta untuk kegiatan pendelegasian belum terdokumentasikan dengan baik karena belum adanya format pendelegasian. Wawancara − Berdasarkan hasil wawancara dengan karu ruang Shinta didapatkan informasi bahwa kegiatan pre conference. b. Observasi − Berdasarkan hasil observasi di ruang Shinta didapatkan bahwa perawat sudah tidak menjalankan kegiatan pre conference. post conference dan operan. Pengarahan a. perawat tidak pernah terlihat membuat rencana harian jangka pendek c. Perencanaan a. Wawancara Berdasarkan hasil wawancara dengan karu ruang Shinta didapatkan informasi bahwa sudah tersedia buku rencan harian jangka pendek tetapi perawat tidak mengisi buku rencana kegiatan harian (rencana jangka pendek).

Pendelegasian Keterangan Mg : Sv : Mn : Nc : Af : Mg 5 4 5 5 4 Sv 3 4 5 4 3 Mn 4 5 5 5 5 Nc 4 5 5 4 4 Af 4 4 5 5 5 Skor 960 1600 3125 2000 1200 Prioritas 5 3 1 2 4 kecenderungan besar dan seringnya kejadian masalah besarnya kerugian yang ditimbulkan dilihat dari kemungkinan masalah dapat dipecahkan melibatkan pertimbangan dan perhatian perawat ketersediaan sumber daya . pasien dan perawat 5. Survey kepuasan keluarga. a. Pengendalian − Ruang Shinta belum memiliki format pendelegasian. c. Kuisioner Berdasarkan hasil kuisioner didapatkan bahwa kegiatan survey kepuasan pasien dan keluarga sebesar 0%. Kuisioner Berdasarkan hasil kuisioner di ruang Shinta diperoleh bahwa kegiatan pre dan post conference serta operan 0%. b. Conference (pre dan post conference) 3. Wawancara Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruang Shinta didapatkan bahwa ruang Shinta belum melaksanakan survey kepuasan pasien dan keluarga serta belum memiliki form survey kepuasan pasien dan keluarga. Rencana harian 2. c. Observasi Berdasarkan hasil observasi di ruang Shinta didapatkan bahwa tidak ditemukan form survey kepuasan pasien dan keluarga. Operan 4. SCORING MASALAH No Masalah 1.82 3. Belum tersedianya form survey kepuasan pasien dan keluarga serta belum berjalannya kegiatan survey kepuasan pasien dan keluarga C.

83 Skor 5 4 3 2 1 : : : : : sangat penting penting cukup penting kurang penting sangat kurang penting .

Membuat jadwal dan melaksanakan bersama-sama pre dan post conference dan operan keperawatan Tujuan Sasaran Tujuan Umum Tujuan Khusus Perawat mampu 1. POA PLANNING OF ACTION Ruang Shinta Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta No 1 Masalah Penerapan kegiatan MPKP belum optimal (pre. tanggal 26 juni 2012: sosialisasi dan membuat jadawal pre dan post conference. menyebutkan perawat post conference tujuan dari pre dan operan dan post keperawatan conference. timbang terima atau operaran keperawtan sesuai standar. operan keperawatan 2. Sosialisasi tentang penerapan pre. Ruang Shinta. Perawat Semua melaksanakan dapat staf mekanisme pre. dengan optimal. Tempat dan waktu 1. Perawat dapat mendemonstrasi kan pre dan post conference. tanggal 26 Juni 2012: pelaksanaan pre dan post conference.130 D. operan keperawatan) Rencana tindakan 1. operan keperawatan Target PJ Pelaksanaan Laelatul dokumentasi dan Tia dan simulasi S. dapat mencapai optimal (100%) . operan keperawatan 2. post conference. Ruang Shinta. post conference. operan atau timbang terima keperawatan yang dilaksanakan 2.

Perawat mampu meningkatkan mutu pelayanan kepada pasien 3. Pembuatan leaflet dan lembar balik 7 diagnosa keperawatan jiwa. Tanggal 6 Juli 2012: Pengadaan leaflet dan Pelaksaan Herawati survey dan mutu pelayanan kepada keluarga dapat dilaksanakan secara optimal (100%) . Perawat dapat melaksanakan dan membiasakan pre dan post conference dan operan secara rutin setiap hari. pasien dan perawat sendiri. 2. tanggal 26 Juni 2012: pengadaan format survey kepuasaan keluarga. Ruang Shinta. Perawat Semua bisa melakukan staf survey kepada perawat keluarga.131 2 Survey kepuasaan keluarga. pasien dan perawat serta .elakukan survey tersebut 2. 2. pasien dan perawat. 1. Perawat bisa memberikan penyuluhan kesehatan baik kepada keluarga pasien maupun pasien sendiri yang telah disepakati 1. pasien dan perawat 1. Pengadaan format survey kepuasaan keluarga.

Semua staf perawat 1. Memperm udah melakukan evaluasi hasil dari pendelegasian. Ruang Shinta tanggal 27 Juni 2012: pengadaan surat pendelegasia n tugas. Kepala ruang mampu melakukan pendelegasian secara formal didalam ruangan sesuai standar. . Kegiatan harian pasien menjadi jelas dan susuai jadwal Kepala ruang lembar balik 7 diagnosa keperawatan. Pendelegas ian di ruangan Shinta menjadi jelas dengan adanya surat resmi pendelegasian 2. Motivasi untuk mempertahanka n system pendelegasian yang sudah sesuai standar. Pengadaan surat pendelegasian 2. Mengusulk an adanya rencana harian. Pembuatan Astri dan rencana harian D. Membuat format rencana harian. 3. Memotivas i semua staf perawat untuk menbuat rencana Perawat mampu membuat rencana harian di ruangan Shinta setiap hari dan melaksanakannya secara terjadwal 1. 1. Perawat mampu membuat rencana harian pasien 2. dialkukan yuliastuti secara optimal setiap hari (100%).132 3 Pendelegasian 1. Ruang Shinta. tanggal 26 Juni 2012: memberikan contoh membuat rencana harian. 1. 2. 4 Rencana harian 1. Tugas Mahacak pendelegasian ri bisa dilakukan sesuai standar(100%).

.133 harian.

Pre conference dan Post conference a. maka pre conference ditiadakan. Isi pre conference adalah rencana tiap perawat (rencana harian). Konferensi dilakukan sebelum atau setelah melakukan operan dinas. Konferensi terdiri dari pre conference dan post conference yaitu : 1) Pre Conference Pre conference adalah komunikasi katim dan perawat pelaksana setelah selesai operan untuk rencana kegiatan pada shift tersebut yang dipimpin oleh ketua tim atau penanggung jawab tim. sore atau malam sesuai dengan jadwal dinas perawatan pelaksanaan.132 BAB V PEMBAHASAN A. 2006). konference sebaiknya dilakukan di tempat tersendiri sehingga dapat mengurangi gangguan dari luar. Definisi Pre dan Post Conference Konferensi merupakan pertemuan tim yang dilakukan setiap hari. Waktu : setelah operan Tempat : Meja masing – masing tim Penanggung jawab : Ketua tim atau Pj tim . Jika yang dinas pada tim tersebut hanya satu orang. dan tambahan rencana dari katim dan PJ tim (Modul MPKP. KESENJANGAN TEORI 1.

133

Kegiatan : a) Ketua tim atau Pj tim membuka acara b) Ketua tim atau pj tim menanjakan rencana harian masing – masing perawat pelaksana c) Ketua tim atau Pj tim memberikan masukan dan tindakan lanjut terkait dengan asuhan yang diberikan saat itu. d) Ketua tim atau Pj tim memberikan reinforcement e) Ketua tim atau Pj tim menutup acara 2) Post Conference Post conference adalah komunikasi katim dan perawat pelaksana tentang hasil kegiatan sepanjang shift dan sebelum operan kepada shift berikut. Isi post conference adalah hasil askep tiap perawatan dan hal penting untuk operan (tindak lanjut). Post conference dipimpin oleh katim atau Pj tim (Modul MPKP, 2006). Waktu :Sebelum operan ke dinas berikutnya. Tempat : Meja masing – masing tim. Penanggung jawab : ketua tim atau Pj tim Kegiatan : a) Ketua tim atau Pj tim membuka acara.

b) Ketua tim atau Pj tim menanyakan kendala dalam asuhan yang telah diberikan. c) Ketua tim atau Pj tim yang menanyakan tindakan lanjut asuhan klien yang harus dioperkan kepada perawat shift berikutnya. d) Ketua tim atau Pj menutup acara.

134

b. Tujuan Pre dan Post Conference Secara umum tujuan konferensi adalah untuk menganalisa masalah-masalah secara kritis dan menjabarkan alternatif penyelesaian masalah, mendapatkan gambaran berbagai situasi lapangan yang dapat menjadi masukan untuk menyusun rencana antisipasi sehingga dapat meningkatkan kesiapan diri dalam pemberian asuhan keperawatan dan merupakan cara yang efektif untuk menghasilkan perubahan non kognitif (McKeachie, 1962). Pre dan Post Conference juga membantu koordinasi dalam rencana pemberian asuhan keperawatan sehingga tidak terjadi pengulangan asuhan, kebingungan dan frustasi bagi pemberi asuhan (T.M.Marelli, et.al, 1997). 1) Tujuan pre conference adalah: a) Membantu untuk mengidentifikasi masalah-masalah pasien, merencanakan asuhan dan merencanakan evaluasi hasil b) Mempersiapkan hal-hal yang akan ditemui di lapangan c) Memberikan kesempatan untuk berdiskusi tentang keadaan pasien 2) Tujuan post conference adalah: Untuk memberikan kesempatan mendiskusikan penyelesaian masalah dan membandingkan masalah yang dijumpai.

c. Syarat Pre dan Post Conference

135

1) Pre

conference

dilaksanakan

sebelum

pemberian

asuhan

keperawatan dan post conference dilakukan sesudah pemberian asuhan keperawatan 2) Waktu efektif yang diperlukan 10 atau 15 menit 3) Topik yang dibicarakan harus dibatasi, umumnya tentang keadaan pasien, perencanaan tindakan rencana dan data-data yang perlu ditambahkan 4) Yang terlibat dalam conference adalah kepala ruangan, ketua tim dan anggota tim d. Panduan perawat pelaksanaan dalam melaksanakan konferensi Adapun panduan bagi PP dalam melakukan konferensi adalah sebagai berikut: (Ratna Sitorus, 2006). 1) Konferensi dilakukan setiap hari segera setelah dilakukan pergantian dinas pagi atau sore sesuai dengan jadwal perawatan pelaksana. 2) Konferensi dihadiri oleh perawat pelaksana dan PA dalam timnya masing – masing. 3) Penyampaian perkembangan dan masalah klien berdasarkan hasil evaluasi kemarin dan kondisi klien yang dilaporkan oleh dinas malam. Hal hal yang disampaikan oleh perawat pelaksana meliputi : a) Keadaan klien b) Keluhan klien c) TTV

kesalahan pemberian makan. 4) Perawat pelaksana mendikusikan dan mengarahkan perawat asosiet tentang masalah yang terkait dengan perawatan klien yang meliputi : a) Klien yang terkait dengan pelayanan seperti : keterlambatan. d) Ketepatan pemberian obat / injeksi. 6) Mengiatkan kembali tentang kedisiplinan. kehadiran dokter yang dikonsulkan. e) Masalah keperawatan f) Rencana keperawatan hari ini. Kesenjangan data dengan teori . Tahap – tahap inilah yang akan dilakukan oleh perawat – perawat ruangan ketika melakukan pre conference e. e) Ketepatan pelaksanaan tindakan lain. kebisikan pengunjung lain. g) Perubahan keadaan terapi medis. 7) Membantu perawatan asosiet menyelesaikan masalah yang tidak dapat diselesaikan. f) Ketepatan dokumentasi. 5) Mengiatkan kembali standar prosedur yang ditetapkan.136 d) Hasil pemeriksaan laboraturium atau diagnostic terbaru. c) Ketepatan pemantauan asupan dan pengeluaran cairan. kejujuran dan kemajuan masing–masing perawatan asosiet. ketelitian. b) Ketepatan pemberian infuse. h) Rencana medis.

Beberapa hal yang masih memerlukan perbaikan antara lain: 1) untuk post coference 2) dilakukan post conference. Berdasarkan hasil observasi didapatkan nilai sebesar 0%. Beberapa hal yang masih memerlukan perbaikan antara lain: 1) 2) conference 3) 4) Memandu pelaksanaan pre conference Mendiskusikan cara dan strategi pelaksanaan asuhan keperawatan pasien/tindakan 5) Memotivasi untuk memberikan tanggapan dan penyelesaian masalah yang sedang didiskusikan 6) Mengklarifikasikan kesiapan PA untuk Menyiapkan tempat untuk pre coference Menjelaskan tujuan dilakukan post melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien yang menjadi tanggung jawabnya. menyimpulkan hasil pre conference. hasil ini menunjukkan bahwa pelaksanaan post-conference masih kurang maksimal.137 Berdasarkan hasil observasi didapatkan nilai sebesar 0%. hasil ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pre-conference masih kurang maksimal. 3) Menerima penjelasan Menjelaskan tujuan Menyiapkan tempat dari PA tentang hasil tindakan/hasil asuhan keperawatan yang telah dilakukan .

Pendelegasian a. Definisi Pendelegasian Pendelegasian adalah melakukan pekerjaan melalui orang lain agar aktifitas organisasi tetap berjalan. 2. Pendelegasian dilakukan melalui mekanisme pelimpahan tugas dan wewenang.138 4) Mendiskusikan masalah yang telah ditemukan dalam memberikan askep pada pasien dan mencari upaya penyelesaian masalah. Penerapan delegasi di MPKP dalam bentuk pendelegasian tugas oleh kepala ruangan kepada ketua tim dan ketua tim kepada perawat pelaksana. yaitu pendelegasian terencana dan pendelegasian insidentil. mengklarifikasi pasien sebelum melakuakan operan tugas jaga shift berikutnya (melakukan ronde keperawatan). Pendelegasian tugas dilakukan secara berjenjang yang penerapanya dibagi menjadi 2 jenis. Bentuknya antara lain adalah : a) Pendelegasian tugas kepala ruangan kepada ketua tim untuk menggantikan tugas sementara tugas kepala ruang karena alasan tertentu . 5) Menyimpulkan hasil post conference. 1) Pendelegasian terencana adalah pendelegasian yang secara otomatis terjadi sebagai konsekuensi sistem penugasan yang diterapkan diruang MPKP.

Dalam hal ini yang mengatur pendelegasian adalah kepala seksi perawatan. b. ketua tim atau penanggung jawab shif dan tergantung pada personil yang berhalangan. Prinsip Pendelegasian Prinsip pendelegasian tugas di MPKP antara lain adalah : 1) Pendelegasian tugas harus menggunakan format pendelegsaian 2) Personil yang menerima pendelegasian adalah personel yang berkompetemen dan setara dengan kemampuan yang digantikan tugasnya 3) Uraian tugas yang didelegasikan harus dijelaskan secara verbal. yang terjadi apabila salah satu personil ruang MPKP berhalangan hadir.139 b) Pendelegasian tugas kepala ruangan kepada penanggung jawab shif c) Pendelegasian ketua tim kepada perawat pelaksana dalam pelaksanaan tindakan keperawatan yang telah direncanakan. terinci dan tertulis 4) Pejabat yang mengatur pendelegasian wajib memonitor pelaksanaan tugas dan menjadi rujukan bila ada kesulitan yang dihadapi 5) Setelah selesai pendelegasian dilakukan serah terima tugas yang sudah dilaksanakan dan hasilnya c. sehingga pendelegasian tugas harus dilakukan. kepala ruangan. Mekanisme Pendelegasian Mekanisme yang dilakukan adalah sebagai berikut: . 2) Pendelegasian insidentil.

manajer harus bisa menjadi model peran dan menjadi narasumber untuk menyelesaikan masalah yang terjadi 7) Evaluasi kinerja setelah tugas selesai 8) Pendelegasian terdiri dari tugas dan kewenangan . d. sehingga satu tim kekurangan personil maka kepala ruangan berwenang memindahkan perawat pelaksana dari tim lain masuk tim yang kekurangan personiltersebut atau katim melimpahkan pasien kepada perawat pelaksana yang hadir. kepala seksi menunjuk salah satu ketua tim untuk menggantikan tugas kepala ruang.140 1) Bila kepala ruangan berhalangan. 3) Bila ada perawat pelaksana yang berhalangan hadir. maka kepala ruangan menunjuk salah satu anggota tim (perawat pelaksana) menjalankan tugas ketua tim. 2) Bila ketua tim berhalangan hadir. Panduan Pendelegasian Pendelegasian dilaksanakan melalui proses sebagai berikut: 1) Buat rencana tugas yang perlu dituntaskan 2) Identifikasi ketrampilan dan tingkat pendidikan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas 3) Pilih orang yang mampu melaksanakan tugas yang didelegasikan 4) Komunikasikan dengan jelas apa yang akan dikerjakan dan apa tujuaanya 5) Buat batasan waktu dan monitor penyelesaian tugas 6) Jika bawahan tidak mampu melaksanakan tugas karena menghadapi masalah tertentu.

Beberapa hal yang masih memerlukan perbaikan antara lain: 1) Pembuatan rencana tugas yang perlu dituntaskan. 2004). Kotler (1997) menyatakan bahwa kepuasan adalah tingkat keadaan yang dirasakan seseorang yang merupakan hasil dari membandingkan penampilan atau outcome produk yang dirasakan dalam hubungannya dengan harapan seseorang (Sumarwan. 2003). kecepatan pemberian layanan. . tidak akan berhenti hanya sampai proses penerimaan pelayanan. 3. pasien atau klien merupakan individu terpenting dirumah sakit sebagai konsumen sekaligus sasaran produk rumah sakit. 1998 dalam Awinda. hasil ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pendelegasian di ruang Shinta sudah cukup baik.141 Kesenjangan data dengan teori Berdasarkan hasil observasi didapatkan nilai sebesar 83%. konsumen yaitu pasien. Pasien akan mengevaluasi pelayanan yang diterimanya tersebut. Kepuasan pasien dapat berhubungan dengan berbagai aspek diantaranya mutu pelayanan yang diberikan. Hasil dari proses evaluasi itu akan menghasilkan perasaan puas atau tidak puas (Sumarwan. 2) Adanya evaluasi kinerja setelah tugas selesai 3) Pendelegasian tugas harus menggunakan format pendelegsaian. 2003). prosedur serta sikap yang diberikan oleh pemberi pelayanan kesehatan itu sendiri (Anwar. Didalam suatu proses keputusan. Survey Kepuasan Pasien dan Keluarga Menurut Soejadi (1996).

hasil ini menunjukkan bahwa kepuasan terhadap pelayanan di ruang Shinta sudah cukup baik.142 Kepuasan pasien adalah tingkat kepusan dari persepsi pasien dan keluarga terhadap pelayanan kesehatan dan merupakan salah satu indikator kinerja rumah sakit. maka dapat kita tarik kesimpulan bahwa pasien memang puas terhadap pelayanan tersebut (Purnomo. Beberapa hal yang masih memerlukan perbaikan antara lain: 1) Pemberian informasi yang jelas kepada keluarga mengenai perkembangan dan kondisi pasien selama di rawat di rumah sakit 2) Pengadaan form survey kepuasan pasien dan keluarga dari pihak Rumah Sakit 3) Pendekatan perawat terhadap pasien dan keluarga pasien 4.52% terhadap perawatan di ruang Shinta. perawat primer/ketua tim dan kepala ruangan. Kesenjangan data dengan teori Berdasarkan hasil observasi tingkat kepuasan keluarga dan pasien didapatkan nilai sebesar 16. 2002). . Kepala Tim dan Perawat Pelaksana Rencana harian adalah rencana aktifitas pada tiap shift yang dilakukan oleh perawat asosiet/perawat pelaksana. Bila pasien menunjukkan hal-hal yang bagus mengenai pelayanan kesehatan terutama pelayanan keperawatan dan pasien mengindikasikan dengan perilaku positifnya.78% dan 21. Rencana Harian Kepala Ruang. Rencana harian dibuat sebelum operan dilakukan dan dilengkapi pada saat operan dan pre conference.

2) Melakukan supervisi perawat pelaksana untuk menilai kompetensi secara langsung dan tidak langsung. . kepala ruangan sebagai narasumber utama atau konsultan untuk menjamin terlaksananya asuhan keperawatan pada semua tim di ruangan. serta on the job trainning yang dirancang. 3) Kolaborasi dengan dokter atau tim kesehatan lainnya. Rencana Harian Ketua Tim Isi rencana harian ketua tim antara lain adalah: 1) penyelenggaraan asuhan keperawatan pada pasien di timnya. karena pada pagi hari banyak kegiatan atau tindakan yang dilakukan dan merencanakan kegiatan sore dan malam. 4) Ketua tim sebaiknya hanya dinas pagi.Berikut isi rencana harian kepala ruangan meliputi : 1) Asuhan keperawatan 2) Supervisi Katim dan perawat pelaksana 3) Supervisi tenaga selain perawat 4) Kerja sama dengan unit yang terkait b. Demikian pula dengan asuhan keperawatan. Kepala ruangan harus mengetahui kebutuhan ruangan dan mempunyai hubungan keluar dengan unit yang terkait untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Rencana harian kepala ruangan Isi kegiatan harian kepala ruangan meliputi semua kegiatan yang dilakukan oleh seluruh SDM yang ada di ruangan dalam rangka menghasilkan pelayanan asuhan keperawatan yang berkualitas.143 a.

Beberapa hal yang masih memerlukan perbaikan antara lain: 1) Pembuatan rencana harian yang masih perlu disosialisasikan kepada perawat yang belum memahami cara pembuatannya. sehingga tidak ada kegiatan pre dan post conference Kesenjangan data dengan teori Berdasarkan hasil observasi didapatkan nilai sebesar 100%. 2) Pemberian reward kepada perawat yang sudah konsisten dengan pembuatan rencana harian. Perawat pelaksana akan membuat rencana yang ditujukan pada tindakan keperawatan untuk sejumlah pasien yang dirawat pada shift dinasnya. Rencana harian perawat pelaksana shif sore dan malam agak berbeda jika hanya satu orang dalam satu tim maka perawat tersebut berperan sebagai ketua tim dan perawat pelaksana sehingga tidak ada kegiatan pre dan post conference. Perawat tersebut akan berperan sebagai ketua tim dan PA/PP.144 c. 3) Melakukan kontrol dan monitor terhadap pembuatan rencana harian pada masing-masing individu perawat. Rencana Harian Perawat Pelaksana Isi rencana harian perawat pelaksana adalah tindakan keperawatan untuk sejumlah klien yang dirawat pada shif dinasnya. Rencana Catatan harian Perawat Pelaksana/Assosiet (PP/PA) pada shift sore dan malam agak berbeda jika hanya 1 (satu) orang dalam satu tim. . hasil ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembuatan rencana harian perawat di ruang Shinta sudah baik.

2 Pelaksanaan Pre Conference Ruang Shinta RSJD Surakarta OBSERVASI VARIABEL YANG DINILAI SL SR KD TP Menyiapkan tempat untuk pre coference √ Menyiapkan rekam medik pasien yang menjadi tanggung √ jawab Menjelaskan tujuan dilakukan post conference √ Memandu pelaksanaan pre conference √ Menjelaskan masalah keperawatan pasien dan rencana √ keperawatan yang menjadi tanggung jawabnya Membagi tugas pada PA sesuai kemampuan yang √ dimiliki dengan memperhatikan keseimbangan kerja Mendiskusikan cara dan strategi pelaksanaan asuhan √ keperawatan pasien/tindakan Memotivasi untuk memberikan tanggapan dan √ penyelesaian masalah yang sedang didiskusikan Mengklarifikasikan kesiapan PA untuk melaksanakan √ asuhan keperawatan pada pasien yang menjadi tanggung jawabnya. ANALISIS a. Mengklarifikasi pasien sebelum melakuakan operan tugas √ jaga shift berikutnya (melakukan ronde keperawatan) JUMLAH 0 2 5 1 a.3 Pelaksanaan Post Conference Ruang Shinta RSJD Surakarta OBSERVASI No VARIABEL YANG DINILAI S SR KD TP L 1. 4. 5. Memberi reinforcemen pada PA √ 7. Memberikan reinforcemen positif pada PA √ Menyimpulkan hasil post conference √ JUMLAH 0 3 3 5 Tabel 4. Menyiapkan tempat untuk post coference √ 2. 2. 6. Menjelaskan tujuan dilakukan post conference √ 4. Menerima penjelasan dari PA tentang hasil tindakan/hasil √ asuhan keperawatan yang telah dilakukan 5. Mendiskusikan masalah yang telah ditemukan dalam √ memberikan askep pada pasien dan mencari upaya penyelesaian masalah 6. Faktor Pendukung dan Kendala pre post conference . 3. No 1. Menyimpulkan hasil post conference √ 8. 10 11 Pre dan Post Conference Tabel 4. 7.145 B. 9. Menyiapkan rekam medik pasien yang menjadi tanggung √ jawab 3. 8.

146 1) Faktor Pendukung a) Kerjasama dan dukungan yang baik dari pihak Ka. c) Kurangnya kesadaran dari beberapa perawat tentang pentingnya pre conference dan post conference d) Belum adanya standar operasional pre conference dan post conference yang ditetapkan oleh rumah sakit 3) Kesinambungan a)Perlunya komitmen dan persamaan persepsi dari bidang keperawatan untuk penggunaan standar operasional pre conference dan psot conference yang akan dipakai RSJ Daerah Surakarta b) Perlunya komitmen dan persamaan persepsi seluruh perawat khususnya ruang Shinta tentang pre conference dan post conference c) Perlu peningkatan kesadaran dan kemauan untuk melaksanakan pre conference dan post conference pada tiap shift .Tim dan staf ruangan b) Tingkat pendidikan sebagian besar perawat di Ruang Shinta D III Keperawatan c) Model asuhan keperawatan yang sudah diterapkan menggunakan MPKP model MTM 2) Faktor Kendala a) Antusiasme KaRu. KaTim dan Staf dalam pelaksanaan dokumentasi asuhan keperawatan kurang b) Kedisiplinan perawat yang kurang berkaiatan dengan jam datang dan pulang kerja. Ka. Ru.

sosialisasi dan bimbingan dalam pelaksanaan pre conference dan post conference e)Perlunya monitoring dan evaluasi terhadap pre conference dan post conference secara periodic.147 d)Perlunya panduan. kewenangan juga 3 4 dilimpahkan Waktu pendelegasian tugas ditentukan 3 3 Apabila si pelaksana tugas mengalami kesulitan.2 Pelaksanaan Pendelegasian Ruang Shinta RSJD Surakarta Skor Pernyataan Pendelegasian Karu Katim Pendelegasian dilakukan kepada staf yang memiliki kompetensi yang dibutuhkan dalam menjalankan 4 3 tugas Tugas yang dilimpahkan dijelaskan sebelum 4 4 melakukan pendelegasian Selain pelimpahan tugas. Karu.Tim dan staf ruangan b) Tingkat pendidikan sebagian besar perawat di Ruang Shinta D III Keperawatan c) Model asuhan keperawatan yang sudah diterapkan menggunakan MPKP model MTM . 2. Pendelegasian Tabel 4. Faktor Pendukung dan Kendala Pelaksanaan Pendelegasian 1) Pendukung Faktor a) Kerjasama dan dukungan yang baik dari pihak Ka. Ru. Ka. Katim memberikan arahan untuk mengatasi 3 3 masalah Ada evaluasi setelah selesai tugas dilaksanakan 2 3 Sub Total 19 20 No 1 2 3 4 5 6 Katim 3 4 4 3 3 3 20 a.

KOMPONEN Perawat bersikap sopan Perawat berpenampilan rapi Perawat menggali informasi dari keluarga Perawat memberikan informasi mengenai masalah yang dihadapi pasien Perawat memberikan informasi mengenai tindakan yang akan dilakukan kepada pasien ( inform consent ) 1 3 3 4 3 3 2 4 4 3 3 3 8 4 3 3 2 3 . Survey Kepuasan Pasien dan Keluarga Penilaian Kepuasan Keluarga RESPONDEN 3 4 5 6 7 4 3 3 3 4 4 3 3 4 4 4 4 4 3 4 3 4 4 3 4 4 3 4 2 2 NO 1. 5. 4. 3. 2.148 2) Faktor Kendala a) Adanya agenda yang tidak terduga b) Kesibukan individu dan ruangan untuk menjalankan rapat evaluasi hasil kegiatan pendelegasian c) Surat pendelegasian biasanya diberikan hanya untuk kegiatan di luar Rumah Sakit saja. 3) Kesinambungan a) Perlunya komitmen dan persamaan persepsi dari bidang keperawatan untuk penggunaan surat pendelegasian yang akan dipakai RSJ Daerah Surakarta b) Perlunya komitmen dan persamaan persepsi seluruh perawat khususnya ruang Shinta tentang adanya rapat evaluasi hasil setiap kegiatan yang didelegasikan. 3. c) Perlu peningkatan kesadaran dan kemauan untuk melaksanakan pendelegasian secara resmi. dengan menggunakan surat pendelegasian.

25% Penilaian Kepuasan Klien NO 1.149 6. Perawat menjelaskan perkembangan pasien Perawat melakukan penyuluhan kepada keluarga mengenai cara perawatan yang harus dilakukan keluarga dirumah Perawat menyiapkan keperluan pulang pasien yang meliputi jadwal kegiatan harian dan sisa obat Perawat menjelaskan waktu kontrol Perawat memberikan pesanan pulang yang mudah dimengerti Perawat memberikan penjelaskan rujukan yang bisa digunakan bila ada yang perlu dikonsulkan Perawat membantu keluarga untuk konsul dokter JUMLAH 3 3 3 3 3 3 4 3 8 3 3 4 4 4 4 3 4 1 4 3 4 4 4 4 4 4 7 3 4 4 4 3 3 2 3 9 3 3 3 3 4 3 3 3 9 312 3 3 4 4 3 3 2 4 0 2 3 3 3 3 3 4 3 7 3 2 3 2 2 2 3 31 TOTAL NILAI Sumber : Hasil observasi tanggal 21 juni-03 Juli 2012. 1 (sangat tidak setuju) Perhitungan: Total skor x 100% n x item x skore tertinggi = 312 x100% 8 x 12 x 4 = 312 x 100% 384 = 81. 3 (setuju). 3 3 4 3 4 4 3 4 3 4 5. 10. 8. KOMPONEN Perawat menyambut dengan ramah ketika Saudara datang Perawat memperkenalkan diri Perawat menjelaskan sarana di ruangan yang dapat dimanfaatkan Perawat menjelaskan aturanaturan yang berlaku selama perawatan Perawat menanyakan masalahmasalah yang saudara alami terkait dengan kondisi kesehatan saudara Perawat menjelaskan masalah 1 3 3 4 2 4 4 3 3 4 4 3 RESPONDEN 4 5 6 7 3 3 3 4 3 4 4 4 4 4 4 3 8 3 4 4 9 4 3 3 10 3 4 4 4. 7. 12. Keterangan: 4 (sangat setuju). 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 2 2 3 3 3 4 4 4 . 11. 6. 2 (tidak setuju). 2. 3. 9.

150 7. Perawat segera menanggapi keluhan saudara Perawat mendampingi saudara ketika dilakukan pemeriksaan dokter Perawat menjaga privasi saudara saat melakukan tindakan keperawatan Perawat selalu membuat perjanjian dengan saudara Perawat selalu menepati janji yang ditetapkan Perawat bersikap sopan Perawat berpenampilan rapi Perawat menjelaskan kegiatan yang harus saudara lakukan di rumah Perawat menjelaskan obatobatan yang harus diteruskan di rumah Perawat menjelaskan waktu kontrol JUMLAH TOTAL NILAI 3 4 4 4 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 3 4 4 3 4 3 3 3 4 3 3 2 3 3 3 3 4 4 3 4 4 3 4 4 4 3 3 4 3 3 4 3 3 4 3 3 7 5 3 3 7 7 3 2 7 9 3 3 6 6 4 4 8 4 4 4 8 1 747 3 3 6 1 3 3 73 4 3 7 3 4 4 78 Sumber : Hasil observasi tanggal 21 juni-03 Juli 2012. 22. 11. 17. 18. kesehatan yang saudara alami Perawat membicarakan tujuan perawatan yang hendak dicapai Perawat meminta pendapat saudara dalam merancang tindakan yang akan diberikan kepada saudara Perawat menjelaskan kegiatan yang harus dilatih untuk dilakukan secara mandiri Perawat melakukan penyuluhan kesehatan untuk mengatasi masalah saudara Perawat membantu memenuhi kebutuhan dasar saudara (makan. 10. 14. 20. mandi) ketika saudara mengalami kesulitan Perawat mau mendengarkan keluhan saudara dengan sabar 3 3 4 3 4 4 2 3 3 3 3 4 4 3 4 3 2 2 3 3 3 4 4 3 4 4 3 2 4 3 3 4 3 3 4 4 2 4 4 3 3 4 3 3 4 4 2 4 4 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 3 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 15 16. 9. 12. . 8. 19. 13. 21.

Tingkat pendidikan sebagian besar perawat di Ruang Shinta D III Keperawatan c. = 747 x 100% 880 = 84. b) Perlu peningkatan kesadaran dan kemauan untuk melaksanakan survey kepuasan pasien dan keluarga setiap ada kunjungan keluarga .87% Faktor Pendukung dan Kendala Survey Kepuasan Pasien dan Keluarga 1) Faktor Pendukung a. 1 (sangat tidak setuju) Perhitungan: Total skor x 100% n x item x skore tertinggi = 751 x100% 10 x 22 x 4 a. perawat dengan pasien dan keluarga pasien baik b. Hubungan Model asuhan keperawatan yang sudah diterapkan menggunakan MPKP model MTM 2) Faktor Kendala Belum adanya standar operasional untuk lembar survey kepuasan pasien dan keluarga di ruangan Shinta 3) Kesinambungan a) Perlunya komitmen dan persamaan persepsi seluruh perawat khususnya ruang Shinta tentang survey kepuasan pasien dan keluarga.151 Keterangan: 4 (sangat setuju). 2 (tidak setuju). terutama pasien yang akan pulang. 3 (setuju).

b) Perlu peningkatan kesadaran dan kemauan untuk melaksanakan pembuaran rencana harian masing-masing individu.152 pasien. . c) Perlunya monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan survey kepuasan pasien dan keluarga terutama kepada pasien yang pulang. Faktor Pendukung dan Kendala Pembuatan Rencana Harian 1) Faktor Pendukung a) Tingkat pendidikan sebagian besar perawat di Ruang Shinta D III Keperawatan b) Model asuhan keperawatan yang sudah diterapkan menggunakan MPKP model MTM 2) Faktor Kendala Kesibukan masing-masing individu dalam pembuatan rencana harian. 3) Kesinambungan a) Perlunya komitmen dan persamaan persepsi seluruh perawat khususnya ruang Shinta tentang pembuatan rencana harian untuk setiap kali berangkat dinas. kurangnya reward yang diberikan ruangan kepada perawatnya. 4. Rencana Harian Karu 0 0 0 0 0 0 Katim 0 0 0 0 0 0 0 Katim 0 0 0 0 0 0 Penilaian Rencana Harian No Aspek yang Dinilai 1 Menyusun Rencana Harian setiap kali dinas 2 Mencantumkan tanggal dinas di Rencana Harian 3 Urutan kegiatan disusun secara kronologis 4 Tercantum kegiatan manajerial 5 Tercantum kegiatan asuhan 6 Rencana Harian dikerjakan secara konsisten Total Skor b.

Pelaksanan pre conference dan Profesi ners KaTim. PENYELESAIAN MASALAH 1. PA hasil conference dan post UNSOED Pelaksanaan conference pre conference dan post conference 2. Pelaksanaan 1. Mengevaluasi pre Mahasiswa KaRu.6 Langkah Pelaksanaan Pre Conference dan Post Conference Asuhan Keperawatan Di Ruang Shinta RSJD Surakarta No Kegiatan Pelaksana Sasaran Tujuan Waktu A. Mengevaluasi conference dan post Profesi ners KaTim. PA pelaksanan pre conference bersama UNSOED conference Ka Ru. PA persepsi antara UNSOED kepala ruang. Mahasiswa KaRu. Persiapan 1. C. Menyamakan Ka Ru. PN dan AN dan post conference Tempat Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta . primer nursing dan perawat asosiet B. Pre dan Post Conference Tabel 4. Mengobservasi Mahasiswa KaRu. Menjadi role model. Study kepustakaan Mahasiswa Materi Pre Mendapat dan persiapan Profesi ners conference sumber materi tentang pre UNSOED dan post Pustaka yang conference dan post conference mendukung conference penyusunan standar operasional 3.153 c) Perlunya monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan pembuatan rencana harian masing-masing individu. Koordinasi dengan Mahasiswa KaRu. PA pre conference post conference UNSOED dan post conference C Evaluasi 1. Mengetahui pelaksanaan pre Profesi ners KaTim. PN dan PA Profesi ners KaTim.

Memandu pelaksanaan pre conference √ 5. Menjelaskan tujuan dilakukan post conference √ 4. Menyiapkan rekam medik pasien yang menjadi √ tanggung jawab 3. 10 Memberikan reinforcemen positif pada PA √ 11 Menyimpulkan hasil pre conference √ JUMLAH 8 3 0 0 Tabel 4.6 Pelaksanaan Pre Conference Ruang Shinta RSJD Surakarta setelah intervensi No OBSERVASI VARIABEL YANG DINILAI SL SR KD TP 1. Menyimpulkan hasil post conference √ 8. Mendiskusikan cara dan strategi pelaksanaan √ asuhan keperawatan pasien/tindakan 8. Membagi tugas pada PA sesuai kemampuan yang √ dimiliki dengan memperhatikan keseimbangan kerja 7. Mengklarifikasi pasien sebelum melakuakan √ operan tugas jaga shift berikutnya (melakukan ronde keperawatan) JUMLAH 2 6 0 0 . Menerima penjelasan dari PA tentang hasil √ tindakan/hasil asuhan keperawatan yang telah dilakukan 5.7 Pelaksanaan Post Conference Ruang Shinta RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga Periode Maret 2012 setelah intervensi OBSERVASI No VARIABEL YANG DINILAI SL SR KD TP 1.154 Tabel 4. Mendiskusikan masalah yang telah ditemukan √ dalam memberikan askep pada pasien dan mencari upaya penyelesaian masalah 6. Menyiapkan tempat untuk post coference √ 2. Menyiapkan tempat untuk pre coference √ 2. Menyiapkan rekam medik pasien yang menjadi √ tanggung jawab 3. Memberi reinforcemen pada PA √ 7. Menjelaskan masalah keperawatan pasien dan √ rencana keperawatan yang menjadi tanggung jawabnya 6. Menjelaskan tujuan dilakukan pre conference √ 4. Mengklarifikasikan kesiapan PA untuk √ melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien yang menjadi tanggung jawabnya. Memotivasi untuk memberikan tanggapan dan √ penyelesaian masalah yang sedang didiskusikan 9.

Melakukan Mahasiswa KaRu Ruang . artinya setelah ada intervensi ruang Shinta mengalami peningkatan. Materi survey kepuasan pelanggan (keluarga dan pasien) Mengetahui hasil survey Mendapat sumber pustaka yang mendukung penyusunan survey kepuasan pasien dan keluarga Tersusunnya Ruang Shinta Ruang Shinta No Kegiatan A. sebelumnya ruang Shinta rutin menjalankan pre dan post conference. Selisih nilai observasi sebelum dan sesudah intervensi 100%. namun karena kurangnya reward dari kepala ruang dan kesibukan masing-masing individu akhirnya pre dan post conference sudah tidak di jalankan secara rutin lagi.4 Langkah Pelaksanaan survey kepuasan keluarga dan pasien di Ruang Shinta RSJ Daerah Surakarta Pelaksana Sasaran Tujuan Waktu Tempat Mahasiswa Profesi ners UNSOED Mahasiswa Profesi ners UNSOED KaRu. 2. Perlu adanya motivasi agar pre dan post conference di ruang Shinta bisa kembali berjalan secara rutin. Studi literatur mengenai survey kepuasan keluarga dan pasien 3. KaTim. setiap hari menjalankan pre dan post conference secara teratur dan berjalan dengan lancar.155 Tabel 4.7 Perbandingan pre conference dan post conference sebelum dan setelah intervensi Variabel Sebelum Sesudah selisih Pre Conference 0% 100% 100% Post Conference 0% 100% 100% Berdasarkan hasil observasi sebelum dilakukan intervensi pre dan post conference di ruang Shinta didapatkan hasil 0%. Mengkaji penilaian survey kepuasan keluarga 2. Persiapan 1. Survey kepuasan keluarga dan pasien Tabel 4.

48 % 100% 21.Shinta dapat mengetahui panilaian kepuasan pasien dan keluarga. KaTim. Terjadi peningkatan 100% pada masing-masing variabel. C 1.78% dan 21. Berdasarkan observasi setelah intervensi diharapkan dengan adanya pengadaan form resmi untuk survey kepuasan pasien dan keluarga di ruang Shinta dapat diaplikasikan secara berkelanjutan. Evaluasi Evaluasi tingkat kepuasan keluarga dan pasien di ruang Shinta. Mengetahui tingkat kepuasan keluarga dan pasien terhadap perawatan di ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Tabel 4. Mahasiswa Profesi ners UNSOED Mahasiswa Profesi ners UNSOED Keluarga pasien dan pasien. Sosialisasi penggunaan form survey kepuasan Profesi ners UNSOED form survey kepuasan pasien dan keluarga KaRu. menunjukkan bahwa nilai survey kepuasan pasien dan keluarga sebesar 83.22 % 100% 16.78% Kepuasan keluarga 78.22% dan 78.48%.5 Penilaian tingkat kepuasan keluarga dan pasien terhadap perawatan di ruang Shinta sebelum dan sesudah intervensi Variable Sebelum Sesudah Selisih Kepuasan pasien 83.156 koordinasi tentang pembuatan form survey kepuasan pasien dan keluarga B.52%.52% Sumber : Hasil observasi di ruang Shinta RSJD Surakarta Berdasarkan tabel diatas. Shinta Mahasiswa Profesi ners UNSOED Ruang Shinta 2. PA Perawat R. Pelaksanaan 1. . selisih sebelum dan sesudah dilakukan intervensi dan pengadaan form survey kepuasan pasien dan keluarga yaitu 16. Aplikasi survey kepuasan pasien dan keluarga saat pasien akan pulang.

PA KaTim Perawat R. 4. Pengadaan form pendelegasian kemudian di sosialisasikan kepada seluruh perawat. Pencapaian pengadaan form pendelegasian 100% tercapai. Mengetahui pendelegasian Profesi ners KaTim. Persiapan 1. Rencana Harian . Pelaksanaan 1. Studi literatur Mahasiswa KaRu Mendapat sumber mengenai Profesi ners dan pustaka yang pendelegasian UNSOED KaTim mendukung penyusunan surat pendelegasian 3. C 1. pelaksanaan UNSOED pendelegasian yang sudah berjalan 2. Mengkaji penilaian Mahasiswa KaRu. Penyelesaian masalah terhadap peningkatan pencapaian pendelegasian secara formal di ruangan Shinta dilakukan dengan pengadaan format/ form pendelegasian. Melakukan Mahasiswa KaRu Tersusunnya form koordinasi tentang Profesi ners pendelegasian pembuatan form UNSOED pendelegasian B. KaTim.157 3.Shinta dapat mengetahui cara pelaksanaan pendelegasian secara formal Tempat Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Mengetahui manfaat surat pendelegasian secara resmi Ruang Shinta KaRu dan KaTim Evaluasi Pendelegasian Hasil observasi sebelum intervensi didapatkan 83% pendelegasian sudah berjalan baik di ruang Shinta. Sosialisasi penggunaan form pendelegasian 2. Pendelegasian Tabel 4. Aplikasi pendelegasian Evaluasi Evaluasi pelaksanaan pendelegasian Mahasiswa Profesi ners UNSOED Mahasiswa Profesi ners UNSOED Mahasiswa Profesi ners UNSOED KaRu.4 Langkah Pengadaan Surat Pendelegasian di Ruang Shinta RSJ Daerah Surakarta No Kegiatan Pelaksana Sasaran Tujuan Waktu A.

158 Tabel . KaTim. Pelaksanaan 1. hasil KaRu. KaTim dan UNSOED Survey Perawat Pelaksana rencana harian 2. KaTim Perawat rencana harian Profesi ners dan PP mampu setiap kali dinas. Mengkaji penilaian Mahasiswa KaRu. UNSOED membuat rencana harian C Evaluasi 1. KaTim Mengetahui rencana harian Profesi ners dan PP tingkat UNSOED kemampuan dalam pembuatan rencana harian. Evaluasi pembuatan Mahasiswa KaRu. KaTim dan PP B.. Persiapan 1. dan PP No Kegiatan Pelaksana Sasaran Tujuan Waktu A. Melakukan Mahasiswa KaRu. Tempat Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta No Tabel .. KaTim.Shinta dapat rencana harian UNSOED membuat rencana harian secara terjadwal 2. dan PP Aspek yang Dinilai Karu Katim Katim PP . Observasi Pembuatan Rencana Harian KaRu. Perawat penggunaan form Profesi ners KaTim. KaTim Tersusunnya koordinasi tentang Profesi ners dan PP form rencana pembuatan rencana UNSOED harian harian pada KaRu. Sosialisasi Mahasiswa KaRu.. PP R. Mengetahui rencana harian Profesi ners KaTim. Studi literatur Mahasiswa Materi Mendapat mengenai pedoman Profesi ners tentang sumber rencana harian UNSOED rencana pustaka harian pedoman rencana harian 3.. Aplikasi pembuatan Mahasiswa KaRu. Pelaksanaan Pembuatan Rencana Harian KaRu.

Perubahan menuju kebiasaan yang baik sangat sulit untuk dilaksanakan.. mereka melakukan inovasi dan berubah atau mereka yang diubah oleh suatu keadaan atau situasi. Perubahan pelayanan kesehatan/ keperawatan merupakan kesatuan yang menyatu dalam perkembangan dan perubhaan keperawatan di Indonesia. Evaluasi Pembuatan Rencana Harian di ruang Shinta. faktor lingkungan.159 1 2 3 4 5 6 Menyusun Rencana Harian setiap kali dinas Mencantumkan tanggal dinas di Rencana Harian Urutan kegiatan disusun secara kronologis Tercantum kegiatan manajerial Tercantum kegiatan asuhan Rencana Harian dikerjakan secara konsisten Total Skor 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 24 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Tabel . . dan hasil evaluasi juga menunjukkan bahwa rencana harian perawat dikatakan sudah cukup baik. karena berkaitan dengan sifat masing-masing individu. Variable Sebelum Sesudah Rencana Harian KaRu 0% 100% Rencana Harian KaTim 0% 100% Rencana Harian PP 0% 100% Sumber : Hasil observasi di ruang Shinta RSJD Surakarta Selisih 100% 100% 100% Berdasarkan tabel diatas. iklim motivasi dan reward yang akan didapatkan ketika sudah menjalankan kegiatan tersebut. kepala tim dan perawat pelaksana. TEORI BERUBAH Perubahan pelayanan keperawatan mempunyai dua pilihan yang berhubungan dengan perubahan. terjadi peningkatan antara sebelum dan sesudah dilakukan intervensi pembuatan rencana harian kepala ruang. D. Artinya selama dilakukan intervensi semua perawat membuat rencana harian setiap hari. dengan nilai 100%..

yang meliputi: 1) unfreezing. merasa perlu untuk berubah dan berupaya untuk berubah. Perubahan yang tidak direncanakan adalah perubahan yang terjadi tanpa persiapan. terjadi dalam waktu yang lama. Perubahan tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut: 1. W. 2. kemudian melakukan langkah nyata untuk berubah dalam mencapai tingkat atau tahap baru. Pencairan (unfreezing)–motivasi yang kuat untuk beranjak dari keadaan semula dan berubahnya keseimbangan yang ada.160 Perubahan dapat dijabarkan dengan beberapa cara. 1982). Perubahan terencana lebih mudah dikelola daripada perubahan yang terjadi pada perkembangan manusia. J. dan 3) refreezing. teori Kurt Lewin paling banyak dianut oleh para inovator dan pemberharu. memahami masalah yang dihadapi. Sebaliknya perubahan yang direncanakan adalah perubahan yang telah direncanakan dan dipikirkan sebelumnya. termasuk perubahan yang direncanakan atau yang tidak direncanakan. 2) moving. Diantara banyak teori perubahan.. Lewin (1951) mengungkapkan bahwa perubahan dapat dibedakan menjadi 3 tahapan. dan mengetahui langkah–langkah penyelesaian yang harus dilakukan. menyiapkan diri. (Kurt Lewin. dan siap untuk berubah atau melakukan perubahan. dan termasuk adanya tujuan yang jelas. Untuk alasan tersebut. 1951 dari Lancaster. atau perubahan karena suatu ancaman. Lancaster. Bergerak (moving)–bergerak menuju keadaan yang baru atau tingkat/tahap perkembangan baru karena memiliki cukup informasi serta sikap dan kemam-puan untuk berubah. tanpa persiapan. maka perawat harus dapat mengelola perubahan. .

. dan berkelanjutan. motivasi telah mencapai tingkat atau tahap baru. Kebutuhan yang belum terpenuhi akan memotivasi perilaku sebagaimana teori kebutuhan Maslow (1954). ada kekuatan pendorong untuk berubah (driving forces) dan ada kekuatan penghambat terjadinya perubahan (restraining force).161 3. Faktor Pendorong Terjadinya Perubahan a. Tingkat baru yang telah dicapai harus dijaga agar tidak mengalami kemunduran atau bergerak mundur pada tingkat atau tahap perkembangan semula. Di dalam keperawatan kebutuhan ini dapat dilihat dari bagaimana keperawatan mempertahankan dirinya sebagai profesi dalam upaya memenuhi kebutuhan masyarakat akan pelayanan/asuhan keperawatan yang profesional. menyebabkan perawat harus berubah secara terencana dan terkendali. atau mencapai keseimbangan baru. Kebutuhan dasar manusia Manusia memiliki kebutuhan dasar yang tersusun berdasarkan hierarki kepentingan. Salah satu teori perubahan yang dikenal dengan teori lapangan (field theory) dengan analisis kekuatan medan (force field analysis) dari Kurt Lewin (1951) dalam Ma’rifin. kritik yang konstruktif dalam upaya pembinaan (reinforcement) yang terus-menerus. 1. (1997). Perubahan terjadi apabila salah satu kekuatan lebih besar dari yang lain. Oleh karena itu. perlu selalu ada upaya untuk mendapatkan umpan balik. Pembekuan (refreezing). Adanya tuntutan kebutuhan yang semakin meningkat.

Kebutuhan tersebut di dalam keperawatan diartikan sebagai upaya keperawatan untuk ikut berpartisipasi aktif dalam pembangunan kesehatan dan perkembangan iptek. b) Perubahan harus secara bertahap. dan (4) toleransi untuk berubah rendah. Faktor Penghambat Menurut New dan Couillard (1981). (3) reaksi psikologis. . yaitu: a) Perubahan hanya boleh dilaksanakan untuk alasan yang baik. dan perasaaan emosional. (2) kebutuhan untuk mengendalikan/melakukan kontrol. Alasan Perubahan Lewin juga (1951) mengidentifikasi beberapa hal dan alasan yang harus dilaksanakan oleh seorang manajer dalam merencanakan suatu perubahan. kedekatan. 3. faktor penghambat (restraining force) terjadinya perubahan yang disebabkan oleh: (1) adanya ancaman terhadap kepentingan pribadi. 2. (2) adanya persepsi yang kurang tepat.162 b. c) Semua perubahan harus direncanakan dan tidak secara drastis atau mendadak. dan (3) kebutuhan untuk dikasihi. d) Semua individu yang terkena perubahan harus dilibatkan dalam perencanaan perubahan. Kebutuhan dasar interpersonal Manusia memiliki tiga kebutuhan dasar interpersonal yang melandasi sebagian besar perilaku seseorang: (1) kebutuhan untuk berkumpul bersama-sama.

yaitu: a) Perubahan ditujukan untuk menyelesaikan masalah. c) Perubahan ditujukan untuk mengurangi pekerjaan yang tidak penting . b) Perubahan ditujukan untuk membuat prosedur kerja lebih efisien.163 Alasan perubahan Lewin (1951) tersebut diperkuat oleh pendapat Sullivan dan Decker (1988) hanya ada alasan yang dapat diterapkan pada setiap situasi.

Terjadi peningkatan pembuatan rencana harian jangka pendek setiap perawat sebesar 100% di ruang Shinta. 3.164 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan pembahasan dan hasil analisis data yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa : 1. Terjadi peningkatan penilaian tingkat kepuasan keluarga (16. Perlu diadakan sosialisasi lebih lanjut mengenai lembar atau format pendelegasian yang baru. 3. saran yang dapat diajukan adalah: 1. Pencapaian pengadaan form pendelegasian 100% tercapai. Perlunya pemberian motivasi untuk semua perawat dalam melaksanakan pre dan post conference di ruangan. 2. Saran Berdasarkan pembahasan dan analisis situasi yang telah dilakukan. Perlu diadakan reward bagi perawat yang sudah mampu membuatan rencana harian perawat secara konsisten. . 4. Terjadi peningkatan pelaksanaan pre dan post conference sebesar 100% di ruang Shinta.52%) terhadap perawatan di ruang Shinta sebanyak. 2.78%) dan kepuasan pasien (21.

Adanya ketegasan dari pihak Bidang Keperawatan dalam penerapan MPKP di ruangan rawat inap RSJD Surakarta.165 4. Ka Tim. Perlu adanya pembuatan format rencana harian perawat (Ka Ru. PP) untuk memudahkan perawat dalam menjalankan fungsinya. . 5.