1

PELAKSANAAN MODEL PRAKTEK KEPERAWATAN PROFESIONAL DI RUANG SHINTA RSJD SURAKARTA

DISUSUN OLEH: LAELATUL AROFAH TIA SULISTIAWATI DWI YULIASTUTI P HERAWATI NUR P ASTRI FEBRIANTI S MAHACAKRI DARA S G1B211003 G1B211011 G1B211012 G1B211016 G1B211024 G1B211026

FAKUTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PROGRAM PROFESI NERS PURWOKERTO 2012 BAB I PENDAHULUAN

2

A. Latar belakang Proses manajemen berlaku untuk semua orang yang mencari cara untuk mempengaruhi perilaku orang lain.Harsey dan Blanchard (1977) menyebutkan 4 fungsi manajerial yaitu perencanaan, pengorganisasian, motivasi, dan pengendalian. Keempat unsur tersebut saling berhubungan dan memerlukan ketrampilan-ketrampilan teknis, hubungan antar manusia, dan konseptual yang mendukung tercapainya suatu tujuan. Rumah sakit merupakan organisasi yang sangat kompleks dan merupakan komponen yang sangat penting dalam upaya peningkatan status kesehatan bagi masyarakat. Salah satu fungsi rumah sakit adalah

menyelenggarakanpelayanan dan asuhan keperawatan yang merupakan bagian dari sistem pelayanan kesehatan dengan tujuan memelihara kesehatan masyarakat seoptimal mungkin. Keperawatan merupakan bagian integral yang tidak bisa dipisahkan dari upaya pelayanan kesehatan secara keseluruhan yang menjadi salah satu faktor penentu baik buruknya mutu dan citra rumah sakit. Oleh karenanya kualitas pelayanan keperawatan perlu dipertahankan dan ditingkatkan seoptimal mungkin. Dalam rangka mencapai visi dan misinya, rumah sakit sangat membutuhkan suatu komponen yang penting dan pelaksanaan manajemen perawatan yang bermutu. Manajemen keperawatan merupakan suatu pelayanan keperawatan profesional dengan pengelolaan sekelompok perawat dalam suatu 1 tempat yang memeberikan asuhan keperawatan dengan menggunakan fungsi menjemen sehingga dapat memberikan asuhan keperawatan secara optimal

3

kepada klien, untuk itu manajemen keperawatan perlu mendapat prioritas utama dalam pengembangan keperawatan di masa depan. Hal ini berkaitan dengan tuntutan profesi dan tututan global bahwa setiap perkembangan dan perubahan memerlukan pengelolaan secara professional dengan

memperhatikan setiap perubahan yang terjadi (Nursalam, 2002). Pelayanan kesehatan pada saat ini telah mengalami perubahan sebagai konsekuensi dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perubahan status sosial ekonomi dan semakin pesatnya kemajuan media informasi. Berkenaan dengan hal tersebut pengetahuan dan kesadaran masyarakat pun sebagai konsumen untuk mendapat pelayanan profesional semakin meningkat, oleh karena itu mereka menuntut adanya peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Berbagai pendekatan sistempun disusun untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan yang aman, efektif dan efisien. Kualitas pelayanan kesehatan baik di Rumah Sakit ataupun Puskesmas dipengaruhi oleh sistem pelayanan atau asuhan keperawatan yang diberikan oleh perawat sebagai komponen terbesar yang memberikan kontribusinya. Pelayanan keperawatan memiliki banyak peran penting dalam pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan dan perubahan kebijakan. Perawat diharapkan dapat menjadi leader didalam timnya untuk merancang ataupun mengelola sistem pelayanan keperawatan yang modern. Permasalahan yang sering muncul di Indonesia dalam hal pengelolaan atau pelayanan keperawatan saat ini adalah belum diterapkannya sistem pengorganisasian asuhan keperawatan secara memadai bahkan di banyak rumah sakit pengorganisasiannya belum dikembangkan secara maksimal

4 sehingga asuhan keperawatan profesional belum dapat dicapai sesuai yang diharapkan. Sedangkan manajemen keperawatan adalah suatu proses bekerja melalui anggota staf keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan secara profesional. aman bagi pasien dan tenaga keperawatan. Dimana dalam manajemen tersebut mencakup kegiatan koordinasi dan supervisi terhadap staf. Manajemen keperawatan merupakan pelayanan keperawatan profesional dimana tim keperawatan dikelola dengan menjalankan empat fungsi manajemen. sumber daya untuk pelayanan asuhan keperawatan dimanfaatkan secara wajar. hubungan antar manusia dan konseptual yang mendukung tercapainya asuhan keperawatan yang bermutu. budaya. Hal ini dapat dicapai dengan adanya manajemen yang baik. motivasi dan pengendalian. dan efektif. berdaya guna dan berhasil guna kepada klien. efisien. Keempat fungsi tersebut saling berhubungan dan memerlukan ketrampilan-ketrampilan teknis. ekonomi. pengorganisasian. Manajemen merupakan suatu pendekatan yang dinamis dan proaktif dalam menjalankan suatu kegiatan di organisasi. Hal tersebut berkaitan dengan tuntutan profesi dan tuntutan global bahwa setiap . yaitu perencanaan. etika dan tata nilai masyarakat diperhatikan dan dihormati. Ciri – ciri mutu asuhan keperawatan yang baik antara lain: memenuhi standar profesi yang ditetapkan. sarana dan prasarana dalam mencapai tujuan. memuaskan bagi pasien dan tenaga keperawatan serta aspek sosial. manajemen keperawatan perlu mendapat prioritas utama dalam pengembangan keperawatan di masa depan. agama. Dengan alasan tersebut.

5 perkembangan dan perubahan memerlukan pengelolaan secara profesional dengan memperhatikan setiap perubahan yang terjadi. sehingga mahasiswa mampu menerapkan ilmu yang didapat dan mengelola ruang perawatan dengan pendekatan proses manajemen. Seorang perawat harus mampu merespon positif dan beradaptasi terhadap setiap perubahan ataupun tantangan. Strategi yang dapat di laksanakan oleh mahasiswa Program Profesi Ners FKIK Unsoed yaitu dengan mengaplikasikan secara langsung pengetahuan manajerialnya di Ruang ShintaRSJD Surakarta dengan arahan dari pembimbing lapangan maupun dari pembimbing akademik yang intensif. oleh karena itu perawat dituntut untuk memiliki penguasaan konsep. dan sistem penghargaan yang memadai. sistem pengambilan keputusan. ilmu-ilmu sosial. . Salah satu bentuk penataan sistem pemberian pelayanan keperawatan adalah melalui pengembangan model praktek keperawatan yang ilmiah dan biasa disebut Model Praktek Keperawatan Profesional (MPKP). sistem peuigasan. pertumbuhan dan perkembangan teknologi dan area lain agar dapat menjalankan berbagai peran yang dimiliki. Model ini sangat menekankan pada kualitas kinerja tenaga keperawatan yang berfokus pada profesionalisme keperawatan antara lain melalui penetapan dan fungsi setiap jenjang tenaga keperawatan. Pelaksanaan praktek tersebut memberikan masukan yang positif. keterampilan yang berhubungan dengan basic science. terutama ketika menjadi seorang manajer di lingkup keperawatan Rumah Sakit.

Mampu melakukan/ menerapkan model keperawatan MPKP di ruang Shinta. Mampu menyusun rencana kegiatan untuk mengatasi permasalahan yang ada di ruang Shinta. Mampu mengidentifikasi dan menyusun prioritas permasalahan yang ada di ruang Shinta d. 2. . Mampu melaksanakan dan mengevaluasi pelaksanaan rencana kegiatan yang telah disusun sesuai prioritas di ruang Shinta. Mampu melakukan analisa tentang gambaran umum ruang Shinta. b. c. Tujuan 1. Tujuan Umum Setelah melakukan praktek peminatan keperawatan jiwa selama empat minggu di ruang Shinta RSJD Surakarta diharapkan mahasiswa mampu menerapkan proses MPKP di ruangan. Tujuan Khusus Secara khusus tujuan dari praktek peminatan keperawatan jiwa adalah: a.6 B. e.

Hasil aplikasi ini merupakan masukan bagi pengembangan ilmu khususnya mengenai pelaksanaan Model Praktik pengetahuan Keperawatan Profesional di ruang rawat inap rumah sakit. b. Institusi Pendidikan/Keilmuan a. .7 C. 3.Sebagai referensi di perpustakaan yang dapat digunakan oleh peneliti yang mempunyai peminatan di bidang pengelolaan sumber daya manusia yang berkaitan dengan pelaksanaan Model Praktik Keperawatan Profesional di ruang rawat inap rumah sakit. 2. Instansi Pelayanan/ Rumah Sakit Sebagai informasi bagi pimpinan dan staf dalam pengembangan Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta khususnya dalam pelaksanaan Model Praktik Keperawatan Profesional. Manfaat Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada: 1. Perawat Sebagai masukan bagi perawat dalam meningkatkan pelaksanaan Model Praktik Keperawatan Profesional di Ruangan.

Pelayanan keperawatan adalah pelayanan yang dilakukan oleh banyak orang sehingga diperlukan penerapan pendekatan manajemen. Oleh sebab itu. efektif. Di ruang MPKP pendekatan manajemen diterapkan dalam bentuk fungsi manajemen yang terdiri dari : 1. pasien (Gillies. Pendekatan manajemen adalah suatu proses kerja sama anggota staf keperawatan untuk memberikan asuhan. Pengarahan (directing) 4. 1989). Swanburg (2000) mendefinisikan manajemen sebagai ilmu atau seni tentang bagaimana menggunakan sumber daya secara efisien. Pengorganisasian (organizing) 3. Perencanaan (planning) 2. Model praktik keperawatan menempatkan pendekatan manajemen sebagai pilar praktik profesional yang pertama. 1989). terapi. Tinjaua Teori Manajemen adalah proses dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain (Gillies. Pengendalian (controling) dan bantuan kepada para . dan rasional untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya. proses manajemen harus dilakukan dengan disiplin demi menjamin pelayanan yang diberikan kepada pasien atau keluarga.8 BAB II LANDASAN TEORI A.

Professional Relationship. MPKP III MPKP advance (tingkat lanjut) yang semua perawatnya minimal Ners sarjan keperawatan dan sudah mempunyai tenaga spesialis keperawatan jiwa dan doktor keperawatan yang bekerja di area keperawatan jiwa. tetapi kepala ruang dan kepala tim nya minimal dari D3 keperawatan. terdapat empat pilar yaitu Management Approach. dan sudah memiliki tenaga spesialis keperawatan jiwa. Compensatory Reward. MPKP II MPKP intermediate (menengah) dengan tenaga minimal D3 keperawatan dan mayoritas Ners sarjana keperawatan. dan Patient Care Delivery.9 Di rumah sakit jiwa telah dikembangkan MPKP dengan modifikasi MPKP yang telah dikembangkan di rumah sakit umum. Pengkajian variabel MPKP di ruang Shinta dilakukan . Dalam MPKP keperawatan jiwa. MPKP profesional dibagi menjadi tiga tingkat. 2. c. MPKP I MPKP basic (dasar) dengan tenaga perawat pelaksana minimal D3 keperawatan. MPKP pemula MPKP dasar dengan semua tenaganya minimal D3 keperawatan 3. Beberapa modifikasi yang dilakukan meliputi beberapa jenis MPKP : 1. b. Tetapi kepala ruang dan ketua tim berpendidikan minimal S1 keperawatan. yaitu: a. MPKP transisi MPKP dasar yang masih memiiki tenaga perawat yang berpendidikan SPK.

Hal ini telah disadari bahwa sumber daya manusia sering kali menjadi penyebab kegagalan suatu organisasi. bukti dokumentasi. Oleh karena itu penetapan sumber daya manusia di rumah sakit dalam hal ini tenaga perawat perlu diperhatikan. Metode pengumpulan data dengan menggunakan wawancara. Compensatory Reward. 2 orang kepala Tim. budaya kerja dan lingkungannya. Penetapan jumlah tenaga perawatan adalah proses membuat perencanaan untuk menentukan berapa banyak dan dengan kriteria tenaga yang seperti apa pada suatu ruangan tiap shifnya. dan Patient Care Delivery. 1. teknologi. dan observasi. . Untuk keperluan itu beberapa ahli telah mengembangkan beberapa formula.10 dengan mengelompokkan MPKP dalam 4 pilar yaitu Management Approach. struktur organisasi. dengan menggunakan pedoman observasi. Man (Ketenagaan) a. yang mencakup 1 orang kepala ruang. kuesioner. kurang atau berlebih. Kuantitas Keberhasilan sebuah organisasi rumah sakit sangat bergantung pada kemampuan manajemen dalam menyerasikan unsur-unsur karyawan (tenaga perawat) dengan system. Observasi dilakukan pada aktivitas kegiatan ruangan. Professional Relationship. guna memvalidasi hasil kuesioner serta memperdalam pengkajian yang telah didapatkan. dan 12 orang perawat assosiet. tugas. Formula tersebut juga dapat digunakan untuk menilai dan membandingkan apakah tenaga yang ada saat ini cukup. Kuesioner diberikan pada 15 perawat di ruang Shinta.

Secara teori indikator keberhasilan rumah sakit dalam memberikan pelayanan kesehatan salah satunya ditentukan oelh pemberian asuhan keperawatan yang berkualitas. yaitu aktivitas dimana proses belajar tidak diarahkan untuk pekerjaan pegawai yang bersangkutan secara langsung. Supaya dapat memberikan pelayanan keperawatan yang berkualitas diperlukan sumber daya yang cukup dengan kualitas yang tinggi dan professional sesuai dengan tugas dan fungsinya. Menurut Djodjodibroto (1997) konsep pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) atau Human Resource Development mempunyai tiga program. dan rendahnya kemampuan mengembangkan dan memotivasi karyawan. yaitu: 1) Training. Kualitas Menurut analisa Teng (2002) dalam Soeroso (2003) penyebab kegagalan organisasi dari sisi sumber daya manusia yaitu sikap serta poal piker yang negative.11 b. kursus dan lokakarya yang diperlukan untuk paramedik adalah: 1) Etika komunikasi . Djodjodibroto (1997) mengemukakan bahwa pelatihan. program insentif yang buruk. staff Turnover (tingkat penggantian staff) yang tinggi. Bagi tenaga professional di rumah sakit. yaitu aktivitas dimana proses belajar tidak diarahkan kepada pekerjaan yang akan _racti 3) Development. yaitu aktiivitas dimana proses belajar diarahkan kepada pekerjaan saat ini 2) Education. program pelatihan yang buruk.

12

2) Komunikasi terapetik dalam perawatan 3) Etika keperawatan 4) Manajemen keperawatan 5) Hospital management training
6) Audit medik

7) Pencegahan penyakit nosokomial 8) Sanitasi rumah sakit Sedangkan untuk tenaga non medis diperlukan etika komunikasi. Disamping itu perlunya direncanakan rotasi dan mutasi SDM untuk menyesuaikan beban dan tuntutan pelayanan dimasa depan. Sehingga penyesuaian keahlian yang dibutuhkan dilakukan melalui pelatihan secara terus menerus dan berkesinambungan. Program pengambangan yang lain menurut Soeroso (2003) meliputi jaminan mutu (quality assurance), manajemen risiko (risk management), praktik berbasis bukti (evidence based atractice), audit klinik (clinical audit) dan audit medic (medical audit).

c. Metode/ standar/ pedoman/ prosedur tetap Standar adalah suatu tingkatan kinerja yang secara umum dikenal sebagai sesuatu yang dapat diterima, adekuat memuaskan dan digunakan sebagai tolak ukur atai titik acuan yang digunakan sebagai pembanding (Marr dan Biebiing, 2001).

13

Berdasarkan

clinical

practice

guidelines

(1990)

standar

merupakan keadaan ideal atau tingkat pencapaian tertinggi dan sempurna yang digunakan sebagai batas penerimaan minimal atau disebut juga sebagai kisaran variasi yang masih dapat diterima. Standar diperlukan untuk member suatu indikasi kualitas yang diinginkan dengan kata lain standar digunakan untuk menilai mutu sesuai dengan yang diharapkan. Suatu ruang perawatan didalam sebuah rumah sakit idealnya mempunyai prosedur tetap (protap) tindakan yang berlaku secara resmi yang dipahami dan diharapkan oleh seluruh staf di ruangan, ruang perawatan mempunyai prosedur tetap semua tindakan perawatan dan SAK (Standar Asuhan Keperawatan) minimal 10 kasus terbanyak. d. Fasilitas 1) Alat dan bahan Jumlah fasilitas dan alat-alat kedokteran maupun keperawatan dapat dipenuhi dengan standar yang telah ditetapkan oelh masing-masing institusi dengan memperhatikan jenis alat, bahan/ warna, ukuran, jenis kegiatan, jumlah yang dibutuhkan serta pertimbangan bahan yang diapakai, disimpan maupun dicuci. 2) Mesin Mesin adalah peralatan yang digerakan oleh mesin maupun elektronik yang digunakan untuk membantu menangani pasien baik secara medis maupun keperawatan. 3) Sumber Dana

14

Secara teori salah satu fungsi rumah sakit memberikan pelayanan kesehatan baik medis maupun non medis. Agar pelayanan rumah sakit dapat berjalan semaksimal mungkin dan dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat, maka rumah sakit perlu mempersiapkan peralatan atau bahan medis dan jasa pemborongan.

B. PROSES 1. Proses asuhan keperawatan Proses asuhan keperawatan adalah metode ilmiah dalam pemberian asuhan keperawatan. Proses asuhan keperawatan juga merupakan proses terapeutik yang melibatkan hubungan kerja sama antara perawat dengan klien, keluarga dan atau masyarakat untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal (Carpenito, 1989 cit Keliat, 1999). The Washington State Board Of Nursing (Swansburg, 1996) menyebutkan definisi legal praktek keperawatan meliputi observasi, pengkajian, diagnosis, asuhan atau konseling, dan penyuluhan kesehatan kepada individu yang sakit, cedera, atau pemeliharaan kesehatan atau pencegahan sakit yang dilaksanakan oleh perawat berlisensi.

Pelaksanaannya di terima dan disepakati oleh profesi keperawatan dan kedokteran. Menurut Swansburg (1996) elemen primer manajemen pelayanan keperawatan adalah adanya sistem untuk mengevaluasi seluruh upaya, termasuk evaluasi proses manajemen, praktek keperawatan, dan seluruh pelayanan keperawatan. Evaluasi memerlukan standar yang dapat

Standar Pelaksanaan / Implementasi e. Berdasarkan alasan ini maka kehadiran Standar Asuhan Keperawatan yang identik dengan standar profesi keperawatan. Standar juga dapat digunakan sebagai alat bantu menentukan sasaran tiap divisi dalam keperawatan.15 digunakan sebagai tolok ukur kualitas dan kuantitas pelayanan. 1998). b. Atau secara singkat dapat dikatakan standar adalah pedoman kerja agar pekerjaan berhasil dan bermutu. UU RI No. yang selanjutnya diterapkan dalam pemberian asuhan keperawatan. maka bukan hanya profesionalitas . Dalam standar-standar dimaksud mencantumkan kriteria-kriteria yang harus dipenuhi dalam pemberian asuhan keperawatan. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan dalam penjelasan tentang Pasal 53 ayat 2 mendefinisikan standar profesi sebagai “pedoman yang harus dipergunakan sebagai petunjuk dalam menjalankan profesi secara baik”. Standar Pengkajian Keperawatan Standar Diagnosis Keperawatan Standar Perencanaan Keperawatan d. Dengan memahami dan mematuhi kriteria dalam Standar Asuhan Keperawatan. berguna sebagai kriteria untuk mengukur keberhasilan dan mutu asuhan keperawatan. SAK terdiri dari 6 standar : a. Mutu asuhan keperawatan dapat dipertangungjawabkan secara profesional apabila kriteria-kriteria tersebut dapat dipenuhi. f. Standar Evaluasi Standar Catatan Asuhan Keperawatan (Depkes RI. c.

Kriteria : a) Menggunakan format yang ada b) Sistematis c) Diisi sesuai item yang tersedia d) Aktual (baru) e) Absah (valid) 2) Pengelompokkan data : .16 dijaga dan ditingkatkan. tentang keadaannya untuk menentukan kebutuhan asuhan keperawatan. Data kesehatan harus bermanfaat bagi semua anggota tim kesehatan. Sistematika penyusunan Standar Asuhan Keperawatan sebagai berikut: a. serta sistem nilai masyarakat yang berlaku. STANDAR I : Pengkajian Keperawatan Asuhan keperawatan paripurna memerlukan data yang lengkap dan dikumpulkan secara terus menerus. melainkan sewaktu-waktu dapat ditinjau kembali dan disesuaikan dengan perkembangan IPTEK Kesehatan khususnya Keperawatan. tetapi juga meliputi aspek-aspek keamanan dan kenyamanan pasien. Komponen pengkajian keperawatan meliputi : 1) Pengumpulan data : Kegiatan pengumpulan data dimulai pada saat pasien masuk dan dilanjutkan secara terus menerus selama proses keperawatan berlangsung. Standar Asuhan Keperawatan tidak harus baku.

Diagnosa keperawatan dirumuskan berdasarkan data status kesehatan pasien. b. Kriteria : 1) Diagnosa masalah ditunjang oleh data yang telah keperawatan dihubungkan dengan penyebab kesenjangan dan pemenuhan kebutuhan pasien 2) Di buat sesuai dengan wewenang perawat. . penyebab dan gejala/tanda (PES) atau terdiri dari masalah dan penyebab (PE). perawat dapat segera menentukan masalah yang terjadi pada pasien. Kriteria : a) Data Biologis b) Data Psikologis c) Data Sosial d) Data Spiritual 3) Perumusan masalah Kriteria : a) Kesenjangan antara status kesehatan dengan norma dan pola fungsi kehidupan. b) Perumusan dikumpulkan. dianalisis dan dibandingkan dengan norma fungsi kehidupan pasien. 3) Komponennya terdiri dari masalah.17 Dengan mengelompokkan data. STANDAR II : Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan menggambarkan masalah pasien yang nyata maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan yang pemecahannya.

Komponen perencanaan keperawatan meliputi : 1) Prioritas masalah. 2) Tujuan asuhan keperawatan. c. Kriteria : a) Masalah-masalah yang mengancam kehidupan merupakan priorias pertama. b) Masalah-masalah yang mengancam kesehatan seseorang adalah prioritas kedua. c) Masalah-masalah yang mempengaruhi perilaku merupakan prioritas ketiga. 5) Bersifat potensial apabila masalah kesehatan pasien kemungkinan besar akan terjadi 6) Dapat ditanggulangi oleh perawat. Kriteria : a) Disusun berdasarkan tujuan asuhan keperawatan .18 4) Bersifat aktual apabila masalah kesehatan pasien sudah nyata terjadi. STANDAR III : Perencanaan Keperawatan Perencanaan Keperawatan disusun berdasarkan diagnosa keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan terpenuhinya kebutuhan klien. Kriteria : a) Spesifik b) Bisa diukur c) Bisa dicapai d) Realistik e) Ada batas waktu 3) Rencana tindakan.

pencegahan. STANDAR IV : Implementasi Keperawatan Implementasi keperawatan adalah pelaksanaan rencana tindakan yang ditentukan dengan maksud agar kebutuhan pasien terpenuhi secara maksimal yang mencakup aspek peningkatan.19 b) Melibatkan pasien/keluarga c) Mempertimbangkan latar belakang budaya pasien/keluarga d) Menentukan alternatif tindakan yang tepat e) Mempertimbangkan kebijaksanaan dan peraturan yang berlaku. lingkungan. sumber daya dan fasilitas yang ada f) Menjamin rasa aman dan nyaman bagi pasien g) Kalimat perintah ringkas. ekonimis. Kriteria : 1) Dilaksanakan sesuai dengan rencana keperawatan 2) Menyangkut keadaan bio-psiko-sosio spiritual pasien 3) Menjelaskan setiap tindakan keperawatan yang akan dilakukan kepada pasien/keluarga 4) Sesuai dengan waktu yang telah ditentukan 5) Menggunakan sumberdaya yang ada 6) Menerapkan prinsip aseptik dan antiseptik 7) Menerapkan prinsip aman. pemeliharaan serta pemulihan kesehatan dengan mengikutsertakan pasien dan keluarganya. privasi dan mengutamakan keselamatan pasien 8) Melaksanakan perbaikan tindakan berdasarkan respons pasien . nyaman. d. tegas dengan bahasanya mudah dimengerti.

STANDAR V : Evaluasi Keperawatan . Implementasi keperawatan berorientasi pada 14 komponen keperawatan dasar yang meliputi : 1) Memenuhi kebutuhan oksigen 2) Memenuhi kebutuhan nutrisi. keseimbangan cairan dan elektrolit 3) Memenuhi kebutuhan eliminasi 4) Memenuhi kebutuhan keamanan 5) Memenuhi kebutuhan kebersihan dan kenyamanan fisik 6) Memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur 7) Memenuhi kebutuhan gerak dan kegiatan jasmani 8) Memenuhi kebutuhan spiritual 9) Memenuhi kebutuhan emosional 10) Memenuhi kebutuhan komunikasi 11) Mencegah dan mengatasi reaksi fisiologis 12) Memenuhi kebutuhan pengobatan dam membantu proses penyembuhan 13) Memenuhi kebutuhan penyuluhan 14) Memenuhi kebutuhan rehabilitasi e.20 9) Merujuk dengan segera bila ada masalah yang mengancam keselamatan pasien 10) Mencatat semua tindakan yang telah dilaksanakan 11) Merapikan pasien dan alat setiap selesai melakukan tindakan 12) Melaksanakan tindakan keperawatan berpedoman pada prosedur teknis yang telah ditentukan.

adanya catatan tentang respon/tanggapan pasien terhadap penyakit disebut dokumentasi asuhan keperawatan. komunikasi dan perawat yang melaksanakan tindakan dan waktunya 7) Menggunakan formulir yang baku . f. STANDAR VI : Catatan Asuhan Keperawatan Catatan keperawatan sebagai bukti dari pelaksanaan asuhan keperawatan. sistematis dan berencana untuk menilai perkembangan pasien. Kriteria : 1) Dilakukan selama pasien dirawat inap dan rawat jalan 2) Dapat digunakan sebagai bahan laporan 3) Dilakukan segera setelah tindakan dilaksanakan 4) Penulisannya harus jelas dan ringkas serta menggunakan istilah yang baku 5) Sesuai dengan pelaksanaan proses keperawatan 6) Setiap pencatatan harus mencantumkan initial/paraf/nama informasi. Kriteria : 1) Setiap tindakan keperawatan dilakukan evaluasi 2) Evaluasi hasil menggunakan indikator yang ada pada rumusan tujuan 3) Hasil evaluasi segera dicatat dan dikomunikasikan 4) Evaluasi melibatkan pasien.21 Evaluasi keperawatan dilakukan secara periodik. keluarga dan tim kesehatan 5) Evaluasi dilakukan sesuai dengan standar. Catatan asuhan keperawatan dilakukan secara individual.

Skema mekanisme kerja fungsi-fungsi manajemen Menurut Monica (1998) cit Hersey dan Blancard (1977) menyebutkan bahwa manajemen yang komprehensif yaitu bekerja dengan dan melalui individu dan kelompok untuk mencapai tujuan organisasi. 2000). kapan dan dimana akan dilaksanakannya (Marquis. 1998). Planning atau Perencanaan Perencanaan adalah sebuah keputusan untuk suatu kemajuan yang berisikan apa yang akan dilakukannya serta bagaimana. Proses Manajemen Pelayanan Keperawatan Manajemen adalah suatu seni dalam menyelesaikan pekerjaan dengan melalui orang lain (Adikoesoema. Proses manajemen pelayanan keperawatan terdiri dari: a. 1994).22 8) Disimpan sesuai dengan peraturan yang berlaku (Depkes RI. Mekanisme kerja fungsi manajemen menurut Handoko (1995) dapat digambarkan dalam skema : Keinginan kebutuhan Perencanaan Pengorganisasia n Pengarahan Pengkoordinasian Informasi Pengawasan Tujuan Gambar 3. 2. Perencanaan dibuat untuk menentukan kebutuhan dalam asuhan keperawatan .

berisi langkah-langkah rinci bagaimana mencapai tujuan 5) 6) Prosedur. manajer langsung melakukan tindakan begitu menemukan masalah. peluang yang nyata dan ancaman eksternal yang harus diantisipasi. berisi langkah-langkah antisipasi untuk hal-hal yang menyimpang. Model perencanaan meliputi : 1) Reactive planning. berisi pelaksanaan perencanaan Aturan. membuat pola struktur organisasi yang dapat mengoptimalkan efektifitas staff serta menegakkan kebijaksanaan dan prosedur operasional untuk mencapai visi dan misi institusi yang telah ditetapkan. sesuatu yang bisa menguatkan motivasi Tujuan. kelemahan. berisi tujuan jangka panjang mengenai bagaimana langkah mencapai visi 2) 3) 4) Filosofi. Perencanaan yang disusun mengacu kepada kerangka utama rencana strategi rumah sakit dengan mempertimbangkan kekuatan. memutuskan ukuran dan tipe tenaga keperawatan yang dibutuhkan. mengalokasikan anggaran belanja. Unit perawatan merupakan unit terkecil dalam kegiatan pelayanan rumah sakit. Perubahan yang . yaitu tak ada perencanaan. berisikan tujuan yang ingin dicapai Obyektif.23 kepada semua pasien. Kerangka perencanaan terdiri dari: 1) Misi. menegakkan tujuan.

Perencanaan meliputi: a) Jangka pendek (target waktu dalam minggu/bulan) Meliputi perubahan jadwal dinas (pagi. siang. risiko dan ketidakpastian jelas. tedapat pembatasan waktu peencanaan belangsung. malam) akibat perubahan kondisi bangsal dan permintaan fasilitas yang segera akibat kerusakan yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya b) Jangka menengah (periode dalam satu tahun) . 4) Proactive planning. yaitu pembuatan perencanaan dengan memperhatikan masa lalu. yaitu penyusunan perencanaan dengan mengetahui rencana ke depan pencapaian target yang sudah pasti (sudah jelas dan tidak berubah). 3) Preactive planning. masa sekarang sebagai pelaksanaan perencanaan. Ciri dari perencanaan ini adalah tujuan yang akan dicapai jelas. dan masa depan merupakan perencanaan yang disusun berdasarkan evaluasi pelaksanaan perencanaan masa lalu dan sekarang. terdapat indikator pencapaian target.24 terjadi tidak pasti karena dipengauhi oleh masalah dan kondisi yang ada 2) Inactive planning. yaitu perencanaan sudah dibuat sejalan dengan masalah yang muncul (telah ada bayangan atau perencanaan tetapi dalam pelaksanaannya dilakukan sejalan dengan pekembangan masalah. masa sekarang dan masa depan. Masa lalu digunakan sebagai pengalaman untuk menyusun perencanaan sekarang dan masa depan.

penambahan peralatan. penambahan jumlah tenaga.25 Meliputi pengaturan dinas. Organizing Di dalam pengorganisasian asuhan keperawatan dikenal beberapa model pemberian asuhan keperawatan. 1999). cuti tahunan dan sebagainya Berdasarkan buku pedoman uraian tugas tenaga keperawatan di RS (Depkes RI. koordinasi dengan kepala perawat instalasi/kepala instalasi. b. permintaan perlengkapan rutin/barang habis pakai c) Jangka panjang (untuk tahun mendatang) Meliputi pengembangan SDM baik perawat maupun non perawat. 3) Mengajukan permintaan peralatan dan obat-obatan sesuai kebutuhan. perbaikan peralatan/service. Tugas kepala ruang dalam perencanaan meliputi: 1) Membuat jadwal dinas koordinasi dengan perawat primer 2) Membuat usulan pengembangan tenaga. Tugas Kepala Ruang dalam perencanaan (P1) meliputi: 1) Menyusun rencana kerja kepala ruang 2) Berperan serta menyusun falsafah dan tujuan pelayanan keperawatan di ruang rawat yang bersangkutan 3) Menyusun rencana kebutuhan tenaga keperawatan dari segi jumlah maupun kualifikasi untuk di ruang rawat. Model Praktek .

Pasien menerima asuhan keperawatan yang diberikan secara total dan tidak terfragmentasi atau terpecah-pecah. 1996) yaitu : 1) Nilai-nilai profesional 2) Pendekatan manajemen 3) Metode pemberian Askep 4) Hubungan profesional 5) Sistem kompensasi dan penghargaan. Kelebihan dari metode kasus ini: a) Sederhana dan langsung b) Garis pertanggung jawaban jelas c) Kebutuhan klien cepat terpenuhi d) Memudahkan perencanaan tugas . Ada beberapa teori mengenai metode asuhan keperawatan care dellivery system antara lain menurut teori Gillies (1989): 1) Metode Kasus (Total Care Method) Disebut juga Total patient care. Metode ini lebih mudah dikerjakan karena satu orang perawat hanya bertanggung jawab pada satu atau dua orang pasien dan maksimal tiga. tergantung dari tingkat kebutuhan pasien dan model ini membutuhkan koordinasi diantara perawat-perawat yang melakukan asuhan keperawatan. perawat mempunyai otonomi dan tanggung jawab terhadap perawatan pasien selama shift kerja (± 8 jam).26 Keperawatan Profesional (MPKP) terdiri dari 5 elemen subsistem (Hoffart and Woods.

b) Memerlukan supervisi yang adekuat dari kepala ruang (charge nurse) c) Memerlukan kepala ruang (charge nurse) yang mampu memberikan training yang baik kepada perawat pelaksana. keterampilan dan profesionalisme tinggi sehingga reward juga harus tinggi. yaitu: a) Asuhan keperawatan menjadi terfragmentasi b) Kepuasan kerja rendah c) Tidak ada tantangan dalam melakukan tugas d) Lebih banyak membutuhkan koordinasi. yaitu: a) Membutuhkan dana yang cukup tinggi (Costly). 2) Metode Fungsional (functional nursing) Perawat pelaksana hanya bertugas berdasarkan tugas tertentu (task oriented). yaitu: a) Lebih efisien b) Tugas dapat segera diselesaikan c) Sedikit kebingungan karena tugasnya hanya satu d) Kebutuhan akan perawat profesional (register nurse) sedikit sehingga dana yang dibutuhkan juga minimal. karena pada pelaksanaannya memerlukan perawat pelaksana yang mempunyai kemahiran. Keuntungan dari metode ini.27 Kerugian dari metode ini. terutama supervisi dari kepala ruang untuk menghindari kesalahan dalam pemberian asuhan keperawatan . Kerugian dari metode ini.

Keuntungan dari metode ini. kemungkin terjadi pelaksanaan yang tidak sesuai standar asuhan keperawatan b) Membutuhkan perencanaan dan komunikasi diantara anggota tim. yaitu: a) Saat pelaksanaan rencana keperawatan yang dibuat oleh Ketua Tim. 4) Metode Primer (primary nursing) Metode ini merupakan suatu metode penugasan kerja terbaik dalam suatu organisasi atau kelompok kerja dengan semua staf keperawatan yang profesional. Pada pelaksanaannya hampir . sehingga metode ini menjadi tidak efektif karena membutuhkan banyak waktu c) Jalur tanggung jawab menjadi tidak jelas keperawatan terfragmentasi dan dapat terjadi d) Asuhan overlapping/nursing error. yaitu: a) Meningkatkan metode kolaborasi b) Kebingungan akses ke pasien berkurang Kerugian dari metode tim. Ketua Tim bertanggung jawab kepada kepala ruang.28 e) Keseluruhan asuhan keperawatan tidak diperhatikan karena tanggung jawab hanya pada tugas yang dilakukan 3) Metode Tim (team nursing) Metode ini menggunakan prinsip bahwa ada sekelompok perawat pelaksana yang dipimpin oleh ketua tim dalam memberikan asuhan keperawatan kepada sekelompok pasien.

Pada metode ini setiap perawat primer memberikan tanggung jawab secara menyeluruh terhadap perencanaan. Penanggung jawab adalah Perawat Primer (PN). dan hal ini Dokter Kepala Ruang Sarana RS menjadi sulit karena kendala ekonomi sehingga RS tidak Perawat Primer Perawat Pelaksana Perawat Pelaksana Perawat Pelaksana .29 sama dengan metode case method nursing atau total patient care. Kebutuhan akan Register Nurse sangat tinggi. pelaksanaan dan evaluasi keperawatan. yaitu: a) Tingkat kepuasan yang tinggi b) Tingkat tanggung jawab dan otomi jelas c) Perawat tertantang dalam menyelesaikan masalah dan diberi penghargaan Kerugian dalam metode ini. Hal ini disebabkan untuk mencapai standar. semua PN harus RN. Setiap PN merawat 46 pasien dan bertanggung jawab terhadap pasien selama 24 jam dari pasien masuk sampai pasien pulang. AN dan anggota tim kesehatan lain. dokter. Dalam satu tim PN mempunyai beberapa perawat pelaksana (associate nurse/AN) dan bila PN tidak ada. Ada kontinuitas asuhan keperawatan yang bersifat komprehensif dan dapat dipertanggungjawabkan. PN harus mempunyai kemampuan membina komunikasi antara pasien. yaitu: a) Costly b) Kesulitan dalam menentukan standar RN. perawatan dilanjutkan oleh AN. Keuntungan dari metode primer.

Gambar 4. Bagan Model Keperawatan Primer 5) Metode Manajemen Kasus (nursing case management) Pada metode ini ada seorang perawat yang menjalankan sekumpulan aktivitas. Empat hal penting dalam manajemen kasus: a) Pencapaian berdasar waktu yang ditentukan tim yang terlibat b) Yang bertindak sebagai case manager adalah orang yang memberi pelayanan langsung c) unit d) Perlu partisipasi aktif pasien dan keluarga untuk menyusun evaluasi pelaksanaan kegiatan Seorang perawat/dokter yang terlibat bisa melampaui .30 mampu memberi reward yang cukup dan terjadi keterbatasan tenaga. mengerahkan. memantau dan mengevaluasi semua sumber yang digunakan oleh pasien secara total selama sakit.

pemantauan dan evaluasi kegiatan guna peningkatan mutu pelayanan keperawatan di ruang rawat g) Mendukung terlaksananya program Patient Safety. b) Keperawatan tim tidak digunakan secara murni karena tanggung jawab pasien terfragmentasi pada berbagai tim. c. meliputi: 1) Tugas Pokok: a) Mengelola kegiatan pelayanan dan asuhan keperawatan pasien di ruang rawat b) Melaksanakan fungsi kolaboratif dengan tim kesehatan lain c) Melaksanakan pendidikan kesehatan bagi pasien dan keluarga d) Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan bimbingan PKK e) Melakukan/membantu pelaksanaan penelitian f) Melakukan pengendalian. 2) Uraian tugas: .31 6) Model keperawatan primer modifikasi didasarkan pada beberapa alasan antara lain : a) Keperawatan primer tidak digunakan secara murni karena sebagai perawat primer harus mempunyai latar belakang pendidikan S1 Keperawatan. Uraian tugas pokok kepala ruang Tugas kepala ruangan dalam pengorganisasian. c) Melalui kombinasi kedua model tersebut diharapkan komunitas asuhan keperawatan dan akuntabilitas asuhan keperawatan terdapat pada PN.

usulan perbaikan dan pemeliharaannya e) Menyusun data yang berhubungan dengan pelayanan untuk membuat laporan harian. mengatur dan mengendalikan pelaksanaan kebijakan yang telah ditentukan kepada semua staf b) Mengecek kelengkapan inventaris peralatan dan obat-obatan yang tersedia untuk kelancaran pelayanan c) Mengajukan permintaan peralatan dan obat-obatan sesuai kebutuhan d) Memeriksa keadaan ruangan dan peralatan serta menyusun laporan kerusakan. orientasi dan bimbingan kepada staf baru/mahasiswa praktek di ruangan h) Mengkoordinir pelaksanaan tatatertip.32 a) Mensosialisasikan. disiplik. bulanan. i) Melaksanakan asuhan dengan menggunakan pendekatan proses ilmiah j) Membuat usulan nilai pra DP3 semua tenaga yang menjadi tanggung jawabnya k) Membuat usulan pengembangan tenaga l) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan dalam rangka memperlancar pelaksanaan kegiatan di instalasi . triwulan serta tahunan f) Mengadakan rapat secara berkala untuk mengetahui masalah dan mendapatkan cara penyelesaian agar pelaksanaan pelayanan berjalan baik g) Memberikan pengarahan. kebersihan dan keamanan ruangan.

Uraian tugas. dan hari libur kepada penanggung jawab tugas jaga ruangan u) Membuat laporan pelaksanaan tugas secara berkala/insidentil v) Bertanggung jawab terhadap kelengkapan entry data dalam billing system. AN . wewenang. dan tanggung jawab dari PN . d. dan PJ Berdasarkan struktur organisasi dan uraian jabatan keperawatan adalah sebagai berikut: 1) Tugas Pokok Primery Nurse: . malam.33 m)Membagi staf keperawatan ke dalam grup MPM sesuai dengan kemampuan dan beban kerja n) Membuat jadwal dinas koordinasi dengan perawat primer (PN) o) Membagi pasien kepada grup MPM sesuai kemampuan dan beban kerja p) Memfasilitasi dan mendukung kelancaran tugas perawat primer dan perawatan asosiet (PN & AN) q) Melakukan supervisi dan memberi motivasi seluruh staf untuk mencapai kinerja yang optimal r) Melakukan upaya peningkatan mutu asuhan dan pelayanan dengan mengevaluasi melalui berbagai metode evaluasi peningkatan mutu s) Berperan sebagai konsultan/pembimbing bagi perawat primer (PN) t) Mendelegasikan tugas pada sore.

g) Melakukan pengkajian. menetapkan masalah/diagnosa dan perencanaan keperawatan kepada semua pasien yang menjadi tanggungjawabnya dan ada bukti direkam keperawatan. h) Memonitor dan membimbing tugas AN. pemantauan dan evaluasi kegiaatan guna peningkatan mutu pelayanan keperawata di ruang rawat g) Mendukung terlaksananya program Patient Safety 2) Tugas Primary Nurse : a) Bertugas pada pagi hari b) Bersama AN menerima operan tugas jaga dari AN yang tugas jaga malam c) Bersama AN melakukan konfirmasi /Supervisi tentang kondisi pasien segera setelah selesai operan tugas jaga setiap pasien.34 a) Mengelola asuhan keperawatan pasien di ruang rawat b) Melakukan fungsi kolaboratif dengan tim kesehatan lain c) Melaksanakan pendidikan kesehatan bagi pasien dan keluarga d) Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan bimbingan PKK e) Melakukan/membantu pelaksanaan penelitian f) Melakukan pengendalian. e) Melakukan pre conference dengan semua AN yang ada dalam grupnya pada setiap awal dinas pagi f) Membagi tugas / pasien kepada AN sesuai kemampuan dan beban kerja. . dilakukan setelah selasai operan tugas jaga malam. d) Bersama AN melakukan do’a bersama sebagai awal dan akhir tugas.

m)Mendampingi AN dalam operan tugas jaga kepada AN yang tugas jaga berikutnya. o) Menyelenggarakan diskusi kasus/conference dengan dokter/tim kesehtan lain setiap seminggu sekali. merevisi dan melengkapi catatan askep yang dilakukan oleh AN yang ada dibawah tanggung jawabnya. r) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan dalam rangka memperlancar pelaksanaan kegiatan s) Menggantikan tugas PJ ruang pada pagi hari jika PJ tidak ada. k) Melakukan evaluasi hasil kepada setiap pasien sesuai tujuan yang ada dalam perencanaan asuhan keperawatan dan ada bukti dalam rekam keperawatan.35 i) Membantu tugas AN untuk kelancaran pelaksanaan asuhan pasien j) Mengoreksi. t) Mendelegasikan tugas perawat primer pada sore. malam. hari libur kepada perawat asosiete . p) Menyelenggarakan diskusi kasus /conference dalam pertemuan rutin keperawatan di ruangan minimal sebulan sekali. n) Memperkenalkan AN yang ada dalam satu grup /yang akan merawat selama pasien dirawat kepada pasien baru. l) Melaksanakan post conference pada setiap akhir dinas dan menerima laporan akhir tugas jaga dari AN untuk persiapan operan tugas jaga berikutnya. q) Menyelenggarakan diskusi kasus/conference sesuai prosedur.

36 u) Memberikan bimbingan mahasiswa praktek yang ada dalam groupnya dalam rangka orientasi dan pelaksanaan praktek keperawatan. v) Perawat primer menginformasikan peraturan dan tata tertib yang berlaku pada pasien/keluarga. serta memfasilitasi pelaksanaan konsultasi dengan dokter y) Perawat primer membuat laporan tugas kepada Karu setiap akhir tugas tentang kondisi pasien dan masalah yang ada z) Mengikuti pertemuan ilmiah/rutin yang diselenggaraan RS di lingkungan tugasnya 3) Tanggung Jawab Primary Nurse : a) Kebenaran kajian data. w) Perawat primer melakukan visite/monitoring perkembangan pasien dan memberitahukan serta menyiapkan pasien yang akan pulang x) Perawat primer meneriama konsultasi/keluahan pasien/keluarga dan berupaya mengatasinya. evaluasi dan resume keperawatan (1) Kebenaran dan ketepatan pelaksanaan tindakan keperawatan (2) Kebenaran evaluasi keperawatan . diagnosa dan rencana keperawatan (1) Kebenaran kajian data keperawatan (2) Kebenaran diagnosis (3) Kebenaran rencana keperawatan b) Kebenaran layanan asuhan.

37 (3) Kebenaran resume keperawatan c) Kebenaran dan ketetapan pendidikan/penyuluhan kesehatan pada pasien d) Pemenuhan kebutuhan kesehatan pasien dengan kolaborasi tim kesehatan lain e) Kelengkapan dan kebenaran informasi kepada pasien tentang dokter dan perawat yang bertanggung jawab. jadwal konsultasi & rencana tindakan yang akan dilakukan & rencana perawatan setelah pasien pulang f) Kelengkapan keperawatan g) Kebenaran bimbingan dan arahan kepada perawat asosiet dan mahasiswa praktek klinik keperawatan h) Kebenaran dan kelengkapan laporan dan dan kebenaran isian dokumen asuhan dokumen asuhan keperawatan 4) Wewenang Primary Nurse : a) Mengatur dan membimbing dan memberikan arahan tugas kepada AN/mahasiswa PKK yang menjadi tanggung jawabnya b) Meminta bahan dan perangkat kerja yang dibutuhkan untuk pelaksanaan asuhan dan pelayanan sesuai dengan kebutuhan pasien c) Melakukan kolaborasi dengan tim kesehatan d) Melakukan konsultasi dan koordinasi tugas dengan penanggung jawab ruang dan PN lain .

disiplin. g) Mendukung terlaksananya program Patient Safety. 5) Tugas Pokok Penanggung Jawab Tugas Jaga: a) Mengelola kegiatan pelayanan dan asuhan keperawatan pasien di ruang rawat pada sore. kebersihan dan keamanan ruangan c) Melaksanakan asuhan keperawatan dengan menggunakan proses kekperawatan d) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan dalam rangka memperlancar pelaksanaan kegiatan di ruangan . malam dan hari libur b) Melaksanakan fungsi kolaboratif dengan tim kesehatan lain c) Melaksanakan pendidikan kesehatan bagi pasien dan keluarga d) Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan bimbingan PKK e) Melakukan/membantu pelaksanaan penelitian f) Melakukan pengendalian. 6) Uraian Tugas Penanggung Jawab Tugas Jaga: a) Memberikan pengarahan. dan hari libur. orientasi dan bimbingan kepada mahasiswa praktek di ruangan b) Mengkoordinir pelaksanaan tata tertib. malan.38 e) Melakukan asuhan dan pelayanan yang komprehensif dan prima kepada semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya f) Mendelegasikan tugas pada AN bila sedang tidak bertugas. pemantuan dan evaluasi kegiatan guna peningkatan mutu pelayanan keperawatan di ruang rawat pada sore.

39 e) Membagi pasien kepada grup MPM sesuai kemampuan dan beban kerja f) Memfasilitasi dan mendukung kelancaran tugas asuhan dan pelayanan g) Melakukan supervisi dan memberi motivasi seluruh staf untuk mencapai kinerja yang optimal h) Melakukan upaya peningatan mutu asuhan dan pelayanan i) Berperan sebagai konsultan dari perawat asosiet (AN) pada saat PN tidak bertugas. 7) Tanggung Jawab Penanggung Jawab Tugas Jaga: a) Ketepatan koordinasi tugas asuhan dan pelayanan di ruangan b) c) Kebenaran arahan tugas staf dan mahasiswa Kelancaran memfasilitasi kebutuhan yang diperlukan untuk asuhan dan pelayaan d) Kelancaran komprehensif dan prima layanan dan asuhan yang e) Kelancaran pelaksanaan pendelegasian tugas Pj. 8) Wewenang Penanggung Jawab Tim: . Ruang keperawatan pada sore. malam dan hari libur f) Kebenaran dan ketepatan penggunaan sumber daya yang efisien dan efektif g) Kebenaran laporan pelaksanaan kegiatan asuhan dan pelayanan keperawatan.

pemantauan dan evaluasi kegiatan guna peningkatan mutu pelayanan keperawatan di ruang rawat inap g) Mendukung terlaksananya program Patient Safety. Mendelegasikan tugas pada AN bila sedang .40 a) Mengatur dan membimbing dan memberikan arahan anggota tim/mahasiswa PKK yang menjadi tanggung jawabnya b) Meminta bahan dan perangkat kerja yang dibutuhkan untuk pelaksanaan asuhan dan pelayanan sesuai dengan kebutuhan pasien c) d) Melakukan kolaborasi dengan tim kesehatan Melakukan konsultasi dan koordinasi tugas dengan penanggung jawab ruang dan PN lain e) Melakukan asuhan dan pelayanan yang komprehensif dan prima kepada semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya f) tidak bertugas. 9) Tugas Pokok Assosiate Nurse ( AN ) : a) Melaksanakan asuhan keperawatan pasien di ruang rawat inap b) Melaksanakan fungsi kolaboratif dengan tim kesehatan lain c) Melaksanakan pendidikan kesehatan bagi pasien dan keluarga d) Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan bimbingan PKK e) Melakukan/membantu pelaksanaan penelitian f) Melakukan pengendalian.

g) Menerima keluhan pasien dan keluarga dan berusaha untuk mengatasinya.41 10) Uraian Tugas Assosiate Nurse (AN): a) Melakukan doa bersama setiap awal dan akhir tugas yang dilakukan setelah selesai serah terima operan tugas jaga. i) Melakukan evaluasi asuhan keperawatan setiap akhir tugas pada semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya dan ada bukti direkam keperawatan. b) Mengikuti pre konference yang dilakukan PN setiap awal tugas pagi. c) Melakukan asuhan keperawatan kepada pasien yang menjadi tanggung jawab dan ada bukti direkam keperawatan. d) Melakukan monitoring respon pasien dan ada bukti direkam keperawatan. h) Melengkapi catatan asuhan keperawatan pada semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya. j) Mengikuti post konference yang diadakan oleh PN pada setiap akhir tugas dan melaporkan kondisi/perkembangan semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya kepada PN dan ada bukti di rekam keperawatan . e) Melakukan konsultasi tentang masalah pasien kepada PN. f) Membimbing dan melakukan pendidikan kesehatan kepada pasien yang menjadi tanggung jawabnya dan ada bukti direkam keperawatan.

rencana tindakan keperawatan b) Kebenaran dan ketepatan pelayanan dan asuhan keperawatan yang komprehensif dan prima c) Kelengkapan bahan dan peralatan kesehatan d) Kebenaran isian rekam keperawatan e) Kebenaran infomasi/bimbingan/penyuluhan kesehatan kepada pasien/keluarga f) Ketepatan penggunaan sumber daya secara efisien dan efektif 12) Wewenang Assosiete Nurse (AN) : a) Memeriksa kelengkapan dan alat yang diperlukan b) Meminta bahan dan perangkat kerja sesuai dengan kebutuhan pelaksanaan tugas . malam. l) Mengkuti diskusi kasus/conference dalam pertemuan rutin m)Melaksanakan tugas lain sesuai uraian tugas AN n) Melaksanakan tugas PN pada sore. wajib mengenalkan AN yang ada dalam satu group yang akan memberikan asuhan keperawatan pada jaga berikutnya kepada pasien/keluarga baru. dan hari libur o) Berkoordinasi dengan Pj tugas jaga apabila ada kesulitan tentang pelayanan p) Bertanggung jawab atas kelengkapan entry data dalam Billing System. 11) Tanggung Jawab Assosiete Nurse (AN ): a) Kebenaran asuhan keperawatan meliputi kajian diagnosis.42 k) Bila PN tidak ada.

43 c) Melakukan pengkajian. menetapkan diagnosa dan perencanaan keperawatan bagi pasien baru pada saat PN tidak bertugas sore. Teori model motivasi yang perlu diterapkan dalam rangka mencapai sasaran organisasi adalah : a) Model tradisional: menaikkan sistem upah untuk memotivasi para karyawan . Actuating Actuating/directing manajer/pimpinan untuk tidak bisa lepas mengarahkan dari kemampuan ataupun stafnya bawahannya untuk menjalankan fungsi masing-masing dengan baik (Adikoesoema. malam. dan hari libur d) Melakukan asuhan keperawatan pasien e) Melaporkan asuhan keperawatan pasien ke Pj tugas jaga dan Perawat Primer (PN) e. Adikoesoema (1994) menjelaskan beberapa cara manajer merangsang bawahannya agar pelaksanaan kegiatan meningkat dalam rangka mencapai tujuan organisasi : 1) Motivasi Motivasi atau memotivasi merupakan proses dengan apa seseorang manajer merangsang bawahannya untuk bekerja dalam rangka mencapai sasaran organosatoris. 1994).

Bila sudah menjadi karyawan tentu tugas manajer meng-upgrade. e) Memberi orientasi kepada pasien/keluarganya meliputi: penjelasan tentang peraturan RS. melalui kerja sama dengan petugas lain yang bertugas diruang rawatnya. mengadakan training.44 b) Model hubungan antar manusia: kontak sosial yang dialami karyawan baik di alam kerja maupun di luar jam kerja juga mempunyai arti penting 2) Kemampuan Individu Untuk memajukan organisasi/perusahaan disamping motivasi juga penting untuk menelaah kemampuan individu. tata tertib ruang rawat. c) Melaksanakan orientasi kepada tenaga keperawatan baru/tenaga lain yang akan kerja di ruang rawat. Menurut buku pedoman uraian tugas tenaga keperawatan di Rumah Sakit tugas Kepala ruang sebagai penggerak dan pelaksanaan (P2) terdiri dari : a) Mengatur dan mengkoordinasikan seluruh kegiatan pelayanan di ruang rawat. b) Menyusun jadual/daftar dinas tenaga keperawatan dan tenaga lain sesuai kebutuhan pelayanan dan peraturan yang berlaku di RS. kursus dan sebagainya secara berkelanjutan untuk memajukan pengetahuannya. . d) Memberikan orientasi kepada siswa/mahasiswa keperawatan yang menggunakan ruang rawatnya sebagai lahan praktek.

45 fasilitas yang ada dan cara penggunaannya serta kegiatan rutin sehari-hari. infeksi/non infeksi untuk kelancaran pemberian asuhan keperawatan. f) Membimbing tenaga keperawatan untuk melaksanakan pelayanan/asuhan keperawatan sesuai standar. l) Mengelompokkan pasien dan mengatur penempatannya di ruang rawat menurut tingkat kegawatan. j) Mengatur dan mengkoordinasikan pemeliharaan alat agar selalu dalam keadaan siap pakai. m)Mengendalikan kualitas sistem pencatatan dan pelaporan asuhan keperawatan dan kegiatan lain secara tepat dan benar. n) Memberi motivasi kepada petugas dalam memelihara kebersihan lingkungan di ruang rawat. . khususnya bila ada perubahan program pengobatan pasien. k) Mendampingi visite dokter dan mencatat instruksi dokter. g) Mengadakan pertemuan berkala/sewaktu-waktu dengan staf keperawatan dan petugas lain yang bertugas di ruang rawatnya. hal ini penting untuk tindakan keperawatan. i) Mengupayakan pengadaan peralatan dan obat-obatan sesuai kebutuhan berdasarkan ketentuan/kebijaksanaan RS. h) Memberi kesempatan/ijin kepada staf keperawatan untuk mengikuti kegiatan ilmiah/penataran dengan koordinasi kepala instalasi/kepala bidang perawatan.

Kemampuan individu dan Sistem manajemen. Untuk mencapai sasaran tersebut. f.46 o) Meneliti pengisian formulir sensus harian pasien di ruang rawat. p) Meneliti/memeriksa pengisian daftar permintaan makanan pasien berdasarkan macam dan jenis makan pasien. mempunyai kemauan dan dedikasi yang tinggi asal diajak komunikasi yang baik serta imbalan yang baik. b) Teori Y Teori ini menganggap bahwa rata-rata karyawan senang bekerja asal diberi rangsangan dan dihargai. Controlling . c) Teori Z Teori ini menyatakan bahwa peran serta semua jajaran karyawan merupakan kunci suksesnya produktivitas dari suatu organisasi. Teori pengarahan SDDM: a) Teori X Teori ini menganggap karyawan adalah orang yang malas hingga harus diarahkan dengan paksaan bahkan dengan ancaman atau hukuman. q) Meneliti/memeriksa ulang pada saat penyajian makanan pasien sesuai dengan program dietnya. perlu 3 hal penting: Motivasi.

Kegiatan supervise meliputi: 1) Pengawasan langsung melalui inspeksi. Pengendalian dan Penilaian (P3) meliputi : a) Mengendalikan dan menilai pelaksanaan asuhan keperawatan yang telah ditentukan.47 Nursalam (2002). b) Mengawasi dan menilai siswa/mahasiswa keperawatan untuk memperoleh pengalaman belajar sesuai tujuan program bimbingan yang telah ditentukan. pengawasan melalui komunikasi. mengamati sendiri atau melalui laporan langsung secara lisan dan memperbaiki atau mengawasi kelemahan-kelemahan yang ada saat itu juga 2) Pengawasan tidak langsung yaitu mengecek daftar hadir ketua tim. . 3) Mengevaluasi upaya pelaksanaan dan membandingkan dengan rencana keperawatan yang telah disusun bersama ketua tim 4) Audit keperawatan Menurut buku pedoman uraian tugas tenaga keperawatan di RS bahwa. tugas kepala ruang yaitu sebagai Pengawasan. membaca dan memeriksa rencana keperawatan serta catatan yang dibuat selama dan sesudah proses keperawatan dilaksanakan (didokumentasikan). mendengar laporan ketua tim tentang pelaksanaan tugas. mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan ketua tim maupun pelaksana mengenai asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien.

SDM. jika ada penyimpangan akan merupakan pelajaran untuk aktifitas yang sama di masa yang akan datang. pengendalian ini berlangsung saat pekerjaan berlangsung guna memastikan sasaran tercapai. Ada 3 macam pengawasan yaitu : 1) Pengendalian pendahuluan.48 c) Melakukan penilaian kinerja tenaga keperawatan yang berada dibawah tanggung jawabnya. baik sumber daya. . Pengendalian ini untuk mengontrol terhadap hasil dari pekerjaan yang telah diselesaikan. mengendalikan dan menilai pendayagunaan tenaga keperawatan. 2) Standar/pedoman diagnosis dan terapi. 3) Indikator penilaian penampilan Fungsi pengawasan dan pengendalian merupakan fungsi terakhir dari proses manajemen. Untuk keperluan mengevaluasi hasil kerja diperlukan terlebih dahulu persiapan: 1) Standard operation procedure. bahan/alat maupun dana. peralatan dan obat-obatan. 3) Feedback control. yaitu pengendalian ini dipusatkan pada permasalahan pencegahan timbulnya penyimpangan- penyimpangan dari bawahan terhadap kinerja pemberi pelayanan keperawatan. 2) Concurent control. d) Mengawasi. e) Mengawasi dan menilai mutu asuhan keperawatan sesuai standar yang berlaku secara mandiri atau koordinasi dengan tim pengendalian mutu asuhan keperawatan.

penghitungan lama tempat tidur tidak terisi. LOS = Jumlah Lama hari perawatan pasien keluar Jumlah pasien keluar hidup atau mati c. LOS. Efisiensi Ruang Rawat Efisiensi pelayanan meliputi 4 indikator mutu pelayanan kesehatan yang meliputi (BOR. BTO) a. Indikator ini selain memberikan gambaran tingkat efisiensi juga dapat memberikan gambaran mutu pelayanan jika diterapkan pada diagnosis tertentu yang masih membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. adalah rata-rata lama hari seorang pasien dirawat. OUTPUT 1. merupakan indikator untuk menilai seberapa efektifitas pemakaian tempat tidur yang ada di suatu ruangan atau rumah Sakit dalam jangka waktu tertentu.49 C. sedangkan BOR = Jumlah hari standar nasional adalah 70-80%. BOR (Bed Occupancy Rate). TOI. TOI (Turn Over Internal).hari perawatan Jumlah pasien keluar (hidup+mati) . Secara umum ALOS yang ideal antara 6-9 hari. Standar internasional yang baik adalah 80-90%. Indikator ini dapat memberikan TOI= jumlah total kapasitas tempat tidur. ALOS (Length Of Stay). perawatan x 100% Jumlah Tempat Tidur x hari perawatan b. TOI adalah rata-rata jumlah hari tempat tidur tidak ditempati dari saat diisi hingga saat terisi berikutnya.

Dalam membuat dokumentasi harus memperhatikan aspek-aspek: 1) Keakuratan data 2) Breavity (ringkas) 3) Legibility (mudah dibaca) Komponen dokumentasi keperawatan: . B. dan kuantitas pelayanan kesehatan dalam memenuhi kebutuhan pasien. tempat tidur kosong hanya dalam waktu 1-3 minggu. kualitas. nyata. Evaluasi dilakukan terhadap dokumentasi asuhan keperawatan pasien yang dirawat minimal 3 hari. khususnya proses profesionalisasi keperawatan serta upaya uuntuk membina dan mempertahankan akontabilitas perawat dan keperawatan.50 gambaran tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur. Idealnya. Penerapan SAK (Instrumen A. C) Instrumen A Instrumen A merupakan evaluasi terhadap pendokumentasian asuhan keperawatan yang telah baku. 2. a. Dokumentasi keperawatan merupakan sesuatu yang mutlak harus ada untuk perkembangan perawatan. dan tercatat dan bukan hanya tingkat kesakitan dari pasien tapi juga jenis. Dokumentasi keperawatan adalah sistem pencatatan kegiatan sekaligus pelaporan semua kegiatan asuhan keperawatan sehingga terwujud data yang lengkap.

Prioritas masalah ditentukan . tujuan. dengan komponen terdiri atas masalah. dan dibandingkan dengan fungsi normal kehidupan pasien. Diagnosa dirumuskan berdasarkan data status kesehatan pasien.51 1) Pengkajian Asuhan keperawatan paripurna memerlukan data yang lengkap dan dikumpulkan secara terus-menerus tentang keadaaan pasien untuk menentukan kebutuhan asuhan keperawatan. dan rencana tindakan. Kriteria diagnosa dihubungkan dengan penyebab kesenjangan dan pemenuhan kebutuhan pasien. dan dapat ditanggulangi oleh perawat. Komponen pengkajian meliputi pengumpulan data. 3) Rencana keperawatan Perencanaan keperawatan disusun berdasarkan diagnosa keperawatan. Data harus bermanfaat bagi semua anggota tim kesehatan. dianalisa. penyebab dan tanda gejala (PES) atau terdiri dari masalah dan penyebab (PE) yang bersifat aktual apabila masalah kesehatan sudah nyata terjadi dan bersifat potensial apabila masalah kesehatan kemungkinan besar akan terjadi. 2) Diagnosa keperawatan Diagnosa keperawatan menggambarkan masalah pasien baik aktual maupun potensial berdasarkan hasil pengkajian data. Komponen rencana perawatan meliputi prioritas masalah. dan perumusan masalah. pengelompokan data. dibuat sesuai dengan wewenang perawat.

Prioritas ketiga adalah masalah yang mempengaruhi perilaku. Perbaikan tindakan dilakukan berdasarkan respon pasien dan merujuk dengan segera bila ada masalah yang mengancam keselamatan pasien. aman. pencegahan. sesuai waktu yang telah ditentukan dengan menggunakan sumber-sumber yang ada. menjaga privasi. Semua tindakan yang telah dilaksanakan dicatat pada format asuhan keperawatan yang berlaku. pemeliharaan. dan merapikan pasien dan alat setiap selesai tindakan. 4) Implementasi Implementasi adalah pelaksanaan rencana tindakan yang ditentukan dengan maksud agar kebutuhan pasien terpenuhi yang mencakup aspek peningkatan. 5) Evaluasi . serta pemulihan kesehatan dengan mengikutsertakan pasien dan keluarga. menjelaskan setiap tindakan perawatan yang akan dilaksanakan pada klien. nyaman. menyangkut keadaan bio-psiko-sosio-spiritual pasien. ekonomis. Tindakan perawatan dilakukan dengan menerapkan prinsip aseptik dan antiseptik. dan mengutamakan keselamatan pasien. Pelaksanaan tindakan keperawatan harus sesuai dengan rencana yang ada.52 dengan memberi prioritas utama masalah yang mengancam kehidupan dan prioritas selanjutnya masalah yang mengancam masalah kesehatan pasien.

b. sistematis. untuk menilai perkembangan pasien. Pencatatan dilakukan selama pasien dirawat inap maupun rawat jalan. dan berencana. serta menggunakan istilah yang baku sesuai dengan pelaksanaan proses perawatan. Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta menggunakan format standar . Dan untuk mengevaluasi hal ini diperlukan suatu instrumen yang baku. Evaluasi dilaksanakan dengan memeriksa kembali hasil pengkajian awal dan intervensi awal untuk mengidentifikasi masalah dan rencana perawatan selanjutnya termasuk strategi perawatan yang telah diberikan untuk memecahkan masalah pasien. Instrumen B Salah satu indikator mutu asuhan keperawatan adalah dilihat dari persepsi klien tentang mutu asuhan keperawatan yang diberikan.53 Evaluasi dilaksanakan secara peroidik. Penulisan harus jelas dan ringkas. Pencatatan dapat digunakan sebagai bahan informasi dan komunikasi. 6) Catatan asuhan keperawatan Pencatatan merupakan data tertulis tentang status kesehatan dan perkembangan pasien selama dalam perawatan. Setiap pencatatan harus mencantumkan paraf dan nama perawat yang melaksanakan tindakan dan waktu pelaksanaan. dan menggunakan format yang tersedia serta sesuai dengan peraturan yangn berlaku.

mekanisme kerja (standar-standar) yang diperlakukan di ruang rawat c. Sebagai dasar penilaian tindakan keperawatan yang mengacu pada instrumen evaluasi penerapan standar asuhan keperawatan di rumah sakit yang telah ditetapkan oleh Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta yang mengacu pada pedoman dari Departemen Kesehatan. Mutu Pelayanan Keperawatan Kegiatan menjamin kualitas pelayanan keperawatan merupakan kegiatan menilai. Metode penugasan dan landasan model pendekatan kepada klien yang ditetapkan. Instrumen C Dalam melakukan tindakan keperawatan yang baik harus sesuai dan mengacu pada protap-protap atau standar yang telah ditetapkan dengan hasil tindakan mencapai 100%. Keberhasilan pelaksanaan kegiatan peningkatan mutu supaya lancar dipengaruhi oleh: a. . c. Sumber daya manusia keperawatan yang memadai baik kualitas maupun kuantitas. memantau atau mengatur pelayanan yang berorientasi pada pasien. 3. Misi. visi. Struktur organisasi lokal. dan tujuan rumah sakit yang dijabarkan secara lokal ruang rawat b. d.54 asuhan keperawatan yang telah ditetapkan oleh rumah sakit untuk mengevaluasi persepsi klien terhadap mutu asuhan keperawatan.

Kesadaran dan motivasi dari seluruh tenaga keperawatan yang ada g. nilai rata-rata untuk standar 2 adalah 4. 1) Pelayanan keperawatan menurut Depkes 1992 meliputi 7 standar yaitu : a) Standar 1. Falsafah dan Tujuan Pelayanan keperawatan dikelola dan diorganisasi agar dapat memberikan asuhan keperawatan yang optimal bagi pasien sesuai dengan standar yang ditetapkan. Administrasi dan Pengelolaan Pendekatan sistematik digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan berorientasi pada kebutuhan pasien. . Komitmen dari pimpinan rumah sakit (Nurachmah. Fasilitas dan Perawatan Fasilitas dan peralatan yang memadai untuk mencapai tujuan pelayanan keperawatan.55 e. Pola administrasi dan pengelolaan organisasi yang telah dikelola dan diorganisir dengan baik. b) Standar 2. Tersedianya berbagai sumber/fasilitas yang mendukung pencapaian kualitas pelayanan yang diberikan.8 d) Standar 4.5 c) Standar 3. f. Pencapaian nilai rata-rata standar 3 adalah 3. Staf dan Pimpinan Pelayanan keperawatan dikelola untuk mencapai tujuan pelayanan. Nilai untuk standar 1 jika dilaksanakan sesuai kriteria yang ada adalah 4. 2000).

dan komunikatif. Kebijakan dan Prosedur Adanya kebijakan dan prosedur secara tertulis yang sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan prinsip praktek keperawatan yang konsiten dengan tujuan pelayanan keperawatan. Pengembangan Staf dan Program Pendidikan Program dan pengembangan staf bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme. kredibilitas. Evaluasi dan Pengendalian Mutu Pelayanan keperawatan menjamin adanya asuhan keperawatan yang bermutu tinggi dengan terus-menerus melibatkan diri dalam program pengendalian mutu rumah sakit. Penilaian Kinerja Pribadi Perawat Rumah sakit adalah bagian integral dari keseluruhan sistem pelayanan kesehatan yang dikembangkan sesuai rencana pembangunan kesehatan. sopan santun. maka pasien merasa tidak diterima.Penampilan pribadi merupakan ceriman sikap keseharian seperti kompetensi. 4. dapat diandalkan.56 e) Standar 5. f) Standar 6. Faktor tersebut perlu mendapat dukungan berupa sarana atau fasilitas penunjang seperti . Pelayanan yang diberikan dipengaruhi oleh tersedianya tenaga yang berkualitas maupun sarana yang tersedia guna menunjang proses pelayanan. Dampak dari tidak terpenuhinya kondisi tersebut. g) Standar 7. Pelayanan kesehatan tidak terlepas dari “ Personality performance” atau penampilan pribadi dalam menangani pasien.

pengetahuan dan tanggungjawab menunjang pemberian pelayanan yang prima. Proses penilaian kinerja dapat digunakan secara efektif dalam mengarahkan perilaku pegawai dalam rangka menghasilkan jasa keperawatan dalam kualitas dan volume yang tinggi. kenyamanan. penataan ruang. 5. d. Nursalam 2002) Kepuasan Kerja Perawat Pengertian kepuasan kerja menurut Newstrom ”job satisfaction is the favorableness or unfavoraleness with employes view their work” kepuasan kerja berarti perasaan mendukung atau tidak mendukung yang dialami dalam kerja.57 ruang tunggu. b. yaitu: a. 1984 cit.1987 dan Nursalam. 2002). . keterampilan dan kinerja. c. Berdasarkan teori terdapat beberapa aspek yang dinilai yaitu: pengetahuan. Laporan bebas Pengguruan Cheklist pelaksanaan kerja Penilaian grafik Perbandingan pilihan (Henderson. kebersihan maupun peralatan yang digunakan. sikap. Integritas dari karyawan termasuk kompetensi. Kinerja perawat yang berkualitas akan menunjang proses pelayanan. Menurut Handoko. e. Jenis alat evaluasi pelaksanaan kinerja perawat yang umum digunakan ada 5. Penilaian kinerja merupakan alat yang paling dapat dipercaya oleh manajer perawat dalam mengontrol sumber daya manusia dan produktifitas (Swansburg. kepuasan kerja adalah keadaan emosional yang menyenangkan dengan pekerjaannya.

Penyelia (supervisor). merupakan faktor pemenuhan kebutuhan hidup pegawai yang bisa dianggap layak atau tidak layak Wesley dan Yukl (1977) mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja dari kondisi sebenarnya adalah : a.58 Sedangkan menurut Stephen Robin. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja menurut Schemerhorn ada 5 yaitu: a. setiap pekerjaan memerlukan ketrampilan tertentu. berkaitan dengan ada atau tidaknya mendapat kesempatan untuk meningkatkan karir selama bekerja. Gaji. Promosi. merupakan sikap umum yang dimiliki oleh pegawai yang erat hubungannya dengan imbalanimbalan yang mereka yakini akan mereka terima setelah melakukan sebuah pengorbanan. penyelia yang baik mau menghargai pekerjaan bawahannya. e. Teman sekerja d. b. c. Kompensasi: sikap pekerja terhadap pembayaran yang diterimanya setelah ia membandingkannya dengan rekan lain baik didalam maupun diluar organisasi tempat ia bekerja. Pada dasarnya kompensasi dapat . Pekerjaan itu sendiri. sukar atau tidaknya suatu pekerjaan sera persaan seseorang bahwa keahliannya dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan tersebut akan meningkatkan atau mengurangi kepuasan kerja. kepuasan itu terjadi apabila kebutuhan-kebutuhan individu sudah terpenuhi dan terkait dengan derajat kesukaan dan ketidaksukaan dikaitkan dengan pegawai.

fasilitas kesehatan. hari libur. guna memenuhi kebutuhannya. bila menggunakan teorinya. b. pinjaman. Teori dasarnya adalah bahwa apabila kebutuhan dasar manusia belum terpenuhi. Pengorganisasian PP  . Perencanaan 1. Pekerjaan itu sendiri: signifikansi pekerjaan. yaitu kompensasi finansial dan kompensasi bukan financial.59 dikelompokkan ke dalam dua kelompok. Teori “Hierarki Kebutuhan” dari Abraham Maslow. umpan balik dari pekerjaan itu sendiri (informasi langsung dan jelas diperoleh dari pekerja atas efektivitas dan hasil kerjanya). Filosofi  4. imbalan terutama gaji/upah termasuk dalam “alat” untuk memenuhi kebutuhan dasar ( basic physiological needs ). d.1 Kegiatan MPKP Penanggungjawab No Kegiatan Kabid Karu Katim I. Visi  2. Kompensasi financial ada yang langsung dan ada yang tidak langsung. Kebijakan  5. Manajemen Approach A. pensiunan di hari depannya. Keamanan kerja: kepuasan pekerja dalam menduduki pekerjaannya selama ia mau termasuk imbalan gaji. ia akan mempunyai dorongan untuk berusaha memperoleh/mencari. sedangkan kompensasi nonfinancial dapat berupa pekerjaan dan dari lingkungan dimana tempat bekerja. Tabel 2. c. Misi  3. Kesempatan pengembangan diri: kesempatan untuk maju atau berprestasi dalam jenjang karir. Rencana jangka pendek   B.

Orientasi 5. 4. Rekrutmen 2. Profesional Relationship 1. 2. Pengembanganstaf III. 3. 5. 3. Isolasi social 4. Patient Care Delivery 1. 2. 1. -                                                       - . D. Penilaiankinerja 6. Gangguan konsep diri: Harga diri rendah 2. Defisit perawatan diri 1. Gangguan persepsi sensori: Halusinasi 5. Seleksi 3. Risiko bunuh diri 7. Rapatkeperawatan 2. Konferensikasus 3. Gangguan proses pikir: Waham 6.60 Struktur organisasi Jadual dinas Daftar pasien Pengarahan Operan Pre conference Post conference Iklim motivasi Pendelegasian Supervisi Pengendalian Indikator mutu Audit dokumen Survey kepuasan Survey masalah kesehatan keperawatan II. C. Risiko perilaku kekerasan 3. 2. 1. 4. Visit dokter IV. Kontrakkerja 4. Compensatory Reward 1. 6. 3. Rapattimkesehatan 4.

20 Juni 2012 sampai hari Sabtu. GAMBARAN UMUM RUMAH SAKIT DAN RUANGAN .61 BAB III HASIL PENGKAJIAN Pengkajian dilakukan selama hari Rabu. 23 Juni 2012. A.

067 m2. Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta memiliki luas tanah 100. Shinta.145 m2 dengan jumlah bangsal sebanyak 13 bangsal (bangsal VIP. Kode pos 57126 Surakarta. Abimanyu. dan memiliki luas bangunan 21. 80 Surakarta. Sebelumnya Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta. PO BOX 187. 22 tahun 1999. Ayodya. Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta yang sebelumnya Rumah Sakit Jiwa Pusat Surakarta berubah menjadi Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta sampai saat ini. tentang otonomi daerah. Maespati. Jenis pelayanan kesehatan yang ada di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta terdiri dari pelayanan di dalam rumah sakit dan di luar rumah sakit. dan kapasitas tempat tidur mencapai 293 tempat tidur. Pringgondani. Amarta. Gambaran Umum Rumah Sakit Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Surakarta beralamat di Jalan Ki Hajar Dewantara No. Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta didirikan pada tahun 1918 M. Sena. Adapun jenis pelayanan yang tersedia di rumah sakit tersebut antara lain: a. Pelayanan yang bersifat spesialistik . tepatnya yaitu di Jalan Bayangkara No. Kresna.62 1.8 Surakarta (tepat di samping Stadion Sriwedari Surakarta). Srikandi. Dewi Kunti. Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta terletak pada lokasi yang cukup strategis karena masih dalam lingkungan sekitar Karisidenan Surakarta yang mudah dijangkau oleh transportasi umum. Wisanggeni. dan diresmikan penggunaannya pada tanggal 17 Juli 1919 M. dan Sumbadra). Sejak diterapkan UU No.

2) Kegiatan lintas sektoral: Kegiatan pembinaan dan pelayanan lintas sektoral dalam wadah Badan Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (BPKJM) dilakukan bersama-sama dengan instansi . 1) Pelayanan integratif: Pelayanan integratif yang dilakukan meliputi pelayanan kesehatan jiwa yang dilakukan di Puskesmas dan RSU Kabupaten/ Kota. dan konseling f) Seminar.63 1) Pelayanan pencegahan a) Penyuluhan kesehatan jiwa b) Pelatihan kesehatan jiwa c) Pendidikan kesehatan jiwa d) Penelitian kesehatan jiwa e) Bimbingan bakat. symposium kesehatan jiwa 2) Pelayanan rawat jalan 3) Pelayanan rawat inap 4) Pelayanan gawat darurat 5) Pelayanan penunjang diagnostik 6) Terapi bio-psiko-sosial 7) Pelayanan rehabilitasi b. dengan kegiatan: a) Pembinaan pelayanan kesehatan jiwa b) Pelayanan konsultasi ahli kesehatan jiwa c) Pelatihan terhadap tenaga medik dan non medik Puskesmas/ RSU tentang kesehatan jiwa. Pelayanan yang dilakukan di luar rumah sakit (ekstra murah). minat. kepribadian.

64 dan sektor-sektor lain yang berperan dalam pembinaan upaya kesehatan jiwa masyarakat. Hal ini melengkapi pengembangan program Model Praktek keperawatan Profesional (MPKP) yang telah dikembangkan sebelumnya (Catatan Medik RSJD Surakarta. Hasil pendokumentasian yang didapatkan dari instalasi rekam medik di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta didapatkan hasil bahwa . 3) Pelayanan yang lain: Pelayanan yang lain yang tersedia di Rumah Sakir Jiwa Daerah Surakarta antara lain: a) Surat keputusan sehat jiwa untuk sekolah dan pekerjaan b) Surat keputusan sehat jiwa untuk kepentingan umum (untuk caleg/ kades/ bupati dan lainnya) c) Visum kejiwaan d) Surat keputusan bebas narkotika untuk umum e) Perawatan jenazah f) Ambulance g) Hot line service untuk konsultasi lewat telepon (0271-665581) bagi masyarakat umum c. 2009). Peningkatan kinerja dan mutu pelayanan Dalam rangka pengembangan potensi Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta saat ini telah mengembangkan pelayanan unggulan di bidang sub-spesialis psikogeriatri yang didukung dengan tenaga serta sarana dan prasarana yang memadai.

Gambaran Umum Ruangan Profil Ruang Shinta Ruang Shinta merupakan salah satu ruang atau bangsal di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta yang digunakan untuk perawatan gangguan jiwa rehabilitasi khusus pasien perempuan dewasa. a. bulan Maret 6 hari dan bulan April 2 hari. Ruang Shinta merupakan bangsal kelas II dan III yang memberikan pelayanan untuk pasien Jamkesmas. dan bulan April 81. dimana metode TIM ini terdiri dari anggota yang berbeda-beda dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap sekelompok pasien. 2. Jamkesda dan umum.65 BOR keseluruhan di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta pada bulan Februari 85. bulan Maret 85. 74%. 15 %. dan bulan April 31 hari. Hasil pendokumentasian yang didapatkan dari instalasi rekam medik di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta didapatkan hasil bahwa ALOS keseluruhan di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta pada bulan Februari 30 hari. Hasil pendokumentasian yang didapatkan dari instalasi rekam medik di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta didapatkan hasil bahwa TOI keseluruhan di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta pada bulan Februari 5 hari. 98 %. bulan Maret 30 hari. PKMS. Perawat ruangan dibagi . Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Ruang Shinta didapatkan informasi bahwa Ruang Shinta adalah satu-satunya ruang pelayanan keperawatan yang menerapkan metode MPKP dan metode TIM dalam pemberian asuhan keperawatan.

motto. 1 ruang dokter. Jumlah ketenagaan di Ruang Shinta terdapat 14 orang yang terdiri dari 12 tenaga perawat. motto. misi. 2) Lokasi dan Denah Ruangan Shinta Lokasi dan denah Ruang Shinta dapat dilihat pada gambar dibawah ini: Ruang Dokte r Ruang Perkumpulan Ruang Kelas II WC Ruang Perawat Halaman Belakang Ruang Kelas III WC WC WC WC .66 menjadi 2 TIM yang terdiri dari Ketua Tim (KaTim) dan Perawat Asosiate (PA) atau perawat pelaksana. dan filosofi ruangan secara khusus. Semua pegawai ruang Shinta berjenis kelamin perempuan. 1 ruang perawat sekaligus ruang tindakan medis. Motto dan Tujuan Ruang Shinta istirahat Dapur Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Ruang didapatkan informasi bahwa ruangan sudah memiliki visi. dan filosofi yang digunakan adalah visi. 1 Kepala Ruang dan 1 administrasi (pelaksana urusan TU). dan filosofi Rumah Sakit. Misi. 1 ruang kamar mandi perawat sekaligus ruang dapur. misi. motto. dan 1 ruang kamar mandi pasien. misi. akan tetapi berdasarkan perintah dari bidang keperawatan Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta visi. Ruang Shinta memiliki kapasitas tempat tidur sebanyak 30 tempat tidur pasien. WC Tempat 1) Visi.

AMK Juniarsih S.. Kep. Kep Yuli Sumarni. S.67 KepalaBidangKeperawatan H. AMK Betzaba Dewi. MM 3) Struktur organisasi ruang Shinta KepalaSeksiKeperawatan KepalaInstalasiRawat Inap Warno. AMK Tutik Sri. S. Kep PA Fitriani W. S. AMK Istiani. AMK . Kep Sulistyowatik. Ns. Kep PerawatKontrol TU ruangan Kepala Tim I KepalaTim II Pupus Risnawati. AMK PA Venita Antonia. AMK Sri Mulyani. S. Sukardi. M.. Kep. Kep DokterRuangan KepalaRuang Mardini. Kep Retno Maruti.. AMK Murpiati. S. S. S.

.. Perencanaan 66.4% diagnosa keperawatan tidak berdasarkan 2.4% rencana tindakan tidak menggambarkan keterlibatan pasien atau keluarga.. 54. Nilai Rata-rata Instrumen A di Ruang Shinta RSDJ Surakarta Aspek yang No Hasil (%) Keterangan dinilai  18.5 kesenjangan antara status kesehatan dengan norma dan fungsi kehidupan. Tindakan 90 keperawatan.6 tidak disusun secara prioritas.5% data pengkajian tidak dicatat lengkap. Hasil yang diperoleh dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Studi dokumentasi dilakukan pada 10 berkas rekam medis pasien di ruang Shinta. masalah tidak dirumuskan berdasarkan 1. Pengkajian 82. . 5. perencanaan 3.. Tabel . Perencanaan sudah menggunakan format yang baku dari rumah sakit.68 Gambar:.6 masalah yang telah dirumuskan. 10% tindakan tidak sesuai dengan rencana 4. Evaluasi 75  25% evaluasi tidak mengacu pada tujuan. Struktur organisasi ruang Shinta B. tidak dirumuskan diagnosa resiko. 33. tindakan keperawatan tidak berkelanjutan antar shift. Diagnosa 46. INSTRUMEN A Evaluasi ini dilakukan dengan menggunakan format evaluasi dokumentasi asuhan keperawatan.

maka hasil dari Instrumen A tentang dokumentasi keperawatan yaitu 76.78 % adalah baik.6%). 1998) Berdasarkan tabel di atas. berdasarkan kebijakan dari RS visi yang digunakan diruangan adalah visi RS. Dari asuhan keperawatan yang dirasa kurang adalah diagnosa keperawatan yang tidak merumuskan diagnosa resiko (46. a.78 Sumber : Hasil observasi tanggal . INSTRUMEN B 1. Rata-rata 76... di ruang Shinta Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta. Management Approach Perencanaan . jam dan tanda tangan. jelas. tanggal. perawat sudah menuliskan nama. Adapun Visi RSJD Surakarta adalah “Menjadi pusat pelayanan kesehatan jiwa pilihan yang profesional berbudaya dan berstandar internasional”.6%). perencanaan tidak disusun menurut prioritas (66. C. Namun. Catatan asuhan keperawatan  Pencatatan ditulis pada format yang baku. 100 sudah ditulis secara ringkas.69 6. 1) Visi Ruang Shinta RSJD Surakarta memiliki visi ruangan (100%). Kriteria hasil: 76 – 100% 56 – 75% 40 – 55% <40% : baik : cukup : kurang baik : tidak baik (Arikunto..

70

2)

Misi Ruang Shinta RSJD Surakarta memiliki misi ruangan (100%). Namun, berdasarkan kebijakan dari RS misi yang digunakan diruangan adalah misi RS. Adapun misi RSJD Surakarta adalah: a) Memberikan pelayanan kesehatan jiwa profesional dan paripurna yang terjangkau masyarakat b) Meningkatkan mutu pelayanan sesuai dengan standar

internasional secara berkelanjutan c) Menerapkan nilai-nilai budaya kerja aparatur dalam memberikan pelayanan kedapa pelanggan d) Meningkatkan peran serta dan kemandirian masyarakat untuk mencapai derajat kesehatan jiwa yang optimal. 3) Filosofi Ruang Shinta RSJD Surakarta tidak memiliki filosofi ruangan, Ruang Shinta menggunakan filosofi Rumah Sakit (100%). 4) Kebijakan RSJD Surakarta menjadikan Ruang Shinta sebagai ruang percontohan pelaksanaan MPKP. Belum adanya SK MPKP untuk setiap ruangan Belum ada kebijakan pelaksanaan MPKP. 5) Rencana harian Belum ada rencana jangka pendek kepala ruang. Belum ada rencana jangka pendek ketua tim. Belum ada rencana jangka pendek perawat pelaksana. 2. Pengorganisasian

71

a.

Struktur organisasi Kelengkapan struktur organisasi di ruangan Shinta 100%. Struktur organisasi di ruang Shinta dapat dilihat pada lampiran (gambar ...)

b.

Jadwal dinas Jadwal dinas di ruang shinta dibuat dalam bentuk lembaran dan dibuat untuk 1 bulan. Jadwal dinas, dapat dilihat pada lampiran (tabel ...)

c.

Daftar pasien Ruang shinta memiliki daftar pasien yang ditulis di white board ruangan. Daftar pasien dapat dilihat pada lampiran (tabel ...).

3. a.

Pengarahan Operan Ruang shinta Surakarta sudah melaksanakan operan, namun tidak sesuai dengan standar MPKP dikarenakan kesibukan perawat saat pergantian shift (40 %).

b.

Pre conference Ruang shinta sudah melakukan kegiatan pre conference namun berhenti karena kurangnya pengakuan dari pihak manajemen (0%).

c.

Post conference Ruang shinta tidak pernah melaksanakan pre conference, dikarenakan kesibukan perawat (0%).

d.

Iklim motivasi

72

Ruang shinta sudah menciptakan iklim motivasi diruangan, salah satunya dengan memberikan motivasi kepada semua stafnya mengembangkan jenjang karir dan kompetensi nya (78,75 %). e. Pendelegasian Ruang Shinta sudah melakukan pendelegasian tugas jika ada salah satu petugas yang tidak bisa bertugas sesuai dengan jadwal dinasnya (83 %). f. Supervisi Di ruang Shinta RSJD Surakarta sudah dilakukan supervisi (70 %). Supervisi dilakukan setiap hari, katim menulis laporan berdasarkan dari supervisi perawat pelaksana. 4. a. Pendelegasian Indikator mutu Ruang Shinta RSJD Surakarta belum memenuhi standar indikator mutu, dibuktikan dengan:
1) BOR 21,37 %

2) ALOS 29,4 3) TOI 5,6 4) Angka lari, angka cedera, angka pengekangan dan angka infeksi nosokomial tidak terkaji.
5) Hasil pengkajian indikator mutu sebesar 71, 4 %.

b.

Audit dokumen Di ruang Shinta sudah dilakukan audit dokumen terutama setelah pasien pulang (100 %).

c.

Survey kepuasan

Compensatory Reward Penilaian kinerja: Penilaian kinerja SDM ruangan Shinta dilakuakan 100% dengan supervisi baik langsung ataupun tidak langsung. Profesional Relationship Rapat keperawatan Ruang Shinta RSJD Surakarta rutin melakukan rapat keperawatan ruangan 1 kali dalam sebulan. d. Terdapat jadwal rapat keperwatan rutin. Hasil pengkajian : 1) HDR 25 % 2) RPK 30 % 3) ISOS 10 % 4) Halusinasi 60 % 5) Waham 30 % 6) RBD 4 % 7) DPD 10 % 5. Hasil pengkajian 0%. a. agenda rapat membahas tentang masalah-masalah . b. 6. Pengembangan staf: Upaya dalam rangka peningkatan pendidikan keperawatan berkelanjutan dilakukan 100% oleh kepala ruang. adanya notulen rapat. a.73 Ruang Shinta belum melaksanakan survey kepuasan pasien dan keluarga. Survey masalah kesehatan Ruang Shinta belum melakukan survey masalah kesehatan.

Resiko perilaku kekerasan Isolasi sosial Gangguan pesepsi sensori: halusinasi Gangguan proses pikir: waham Resiko bunuh diri Defisit perawatan diri. d. Hasil pengkajian: Patient Care Delivery Gangguan konsep diri. c. Konferensi kasus Ruang Shinta RSJD Surakarta tidak pernah melakukan konferensi kasus.74 ruangan. Rapat keperawatan ruangan 100% sudah dilakukan di ruang Shinta. a. . b. Rapat tim kesehatan jarang dilakukan dan tidak ada presentasi permasalahan yang sedang dihadapi ruangan. g. c. b.6%. Hasil pengkajian didapatkan 100% untuk visit dokter. ada kesimpulan rapat. 7. hasil pengkajian didapatkan 0%. Visit dokter Visit dokter d ruang Shinta rutin dilakukan dan katim ruangan selalu mendampingi dokter dalam pemeriksaan pasien dan berkolaborasi dengan dokter sesuai dengan standar. dan ada daftar hadir. f. d. e. Rapat tim keehatan Hasil dari pengkajian didapatkan kegiatan rapat tim kesehatan di ruang Shinta RSJD Surakarta mencapai 66. harga diri rendah.

5%) Perawat sudah menuliskan hasil pengkajian pada format. 6. Diagnosa keperawatan Hasil pengkajian diagnosa keperawatan sebesar 46.6 %. 5. Evaluasi Hasil pengkajian evaluasi keperawatan sebesar 70%. Intervensi keperawatan Hasil pengkajian intervensi keperawatan sebesar 66. Beberapa tindakan keperawatan ada yang tidak sesuai dengan rencana intervensi. Evaluasi sudah sesuai dengan tujuan pada rencana intervensi dan sudah dicatat. Dokumentasi keperawatan . 3. Pengkajian (82.75 1. namun tidak semua item pengkajian diisi secara lengkap. Perumusan diagnosa keperawatan tidak sesuai dengan analisa data. 2.6 %. 4. Format intervensi keperawaan sudah baku sesuai dengan format yang disusun oleh RSJD Surakarta. 7. Diagnosa tidak diprioritaskan. Analisa data Data subjektif dan data objektif yang tertulis dalam analisa data tidak ada dalam data pengkajian. Implementasi Hasil pengkajian implementasi keperawatan sebesar 90 %.

sudah di catat dengan jelas dan berkesinambungan pada shif pagi-soremalam.76 Hasil pengkajian dokumentasi keperawatan sebesar 100 %. . Perawat sudah mencatat asuhan keperawatan pada format yang sudah tersedia.

S.Kep.M..77 8. Jadwal dinas Nama perawat Mardini.Kes TIM I Pupus Suistyowatik Murpiati Fitriani Sri Mulyani Sulasmi TIM II YS Yenita A Betzaba L Tutik Istiani 1 P P P S M P X P L P S X M 2 P Km L S M P L P L P S P M 3 L Km M S X M P L S P L L X 4 P X M L P M L P S P S P L 5 P S X P P X P P M L M P S 6 P S L P L L P P M P M L S 7 P L S P P P M P X P X M S 8 P L S L S P M P L P P M L 9 P L S M S P X P P P L X M Tanggal 10 11 12 13 14 15 16 17 18 L L P P L L P L P L L M S L L L P S L P M S C X M M P P P L P S X P C P M M P P L P S S L P C S X X P P M P M L S P C S L P P L M P M L S P M S C P L P X L X M S L M L C S P P S P L M L L X M C S S P L L P X M Ks L M C S L P P S P C M 19 P Ks P X L M L P P S S C M 20 21 22 23 24 P P P P L P S L P M M P L S L C P P S L M X X P M L P C X P S P M L L L M P S L L L L P X S S P X P M M X Kp P L L L S L S P M M L 25 26 27 28 29 30 P P P P P P P M P P S L P S P X X M P M P P S S P L P L L M P X M P L M P P S P S X P L M L P M P P L S S P P P X M S X P P M L S P P P L M S P P P M P S P .

6. 5. 11. 2. S. 10. 11. 7. 7. 9. 3. 8. 2. 8. Daftar pasien ruang Sintha Ketua Tim 1 (Pupus Risnawati. 10. 3. 13. S.Kep) No 1. 9. 4. Nama Suparmi Siti Rustini Sri Wahyuni A Sunarti Nur Hayu Tri Nur witanti Maryati Siti Nuryani Kasti Martini Suyatini No registrasi 047006 045967 047042 007151 045938 046069 044939 012822 040301 055812 047024 Diagnosa Keperawatan Halusinasi RPK Halusinasi Halusinasi HDR HDR RPK Halusinasi HDR Waham Isolasi Sosial .Kep) No 1. 5. 6.78 9. Nama Endang S Eko Riani Ida Sri Lestari Ani Suparni Rubiyanti Pawit Sri Astutik Rusmiati Sri Wahyuni B Sunarni Mujiati Jani No registrasi 038027 046760 046969 001652 008481 009212 035705 023574 047168 047018 034895 046951 047164 Diagnosa Keperawatan HDR RPK Halusinasi Halusinasi RPK Halusinasi DPD RPK RPK Halusinasi Isolasi Sosial Halusinasi Halusinasi Ketua Tim 2 (Yuli Sumarni. 4. 12.

Supervisi KaTim dan Ruang Shinta RSJD Surakarta belum melaksanakan pembuatan rencana jangka pendek yang sesuai dengan jabatan masing-masing .Belum ada rencana jangka pendek ketua tim . berdasarkan kebijakan dari RS visi yang digunakan diruangan adalah visi RS. berdasarkan kebijakan dari RS misi yang digunakan diruangan adalah visi RS. Rencana harian KaRu: .Ruang Shinta menggunakan filosofi Rumah Sakit (100%).Belum adanya SK MPKP untuk setiap ruangan .No Komponen pengkajian Manajemen Approach A. Belum adanya SK pelaksanaan MPKP diruangan Mengusulkan pembuatan SK MPKP Pelaksanaan perencanaan 85 % Sebelum operan . . Namun.Belum ada kebijakan pelaksanaan MPKP 5. Perencanaan 1. Adanya filosofi ruangan Shinta yang menjadi rujukan kegiatan organisasi dan arahan seluruh rencana jangka panjang Ruang Shinta tidak memiliki wewenang untuk menerapkan misi yang disusun ruangan Mengusulkan ke RS untuk memberikan wewenang terhadap ruangan untuk menerapkan misi yang sudah di buat oleh ruangan Mengusulkan pembuatan filosofi di ruangan yang mengacu pada filosofi Rumah Sakit Pelaksanaan perencanaan 85% Filosofi yang terdapat dalam ruangan adalah filosofi Rumah Sakit Pelaksanaan perencanaan 85 % Adanya kebijakan dari kepala bidang terhadap ruangan Shinta sebagai acuan dalam pelaksanaan MPKP diruangan.Belum ada rencana jangka pendek perawat pelaksana Standar Adanya visi ruangan Shinta yang digunakan sebagai landasan perencanaan organisasi. Masalah Ruang Shinta tidak memiliki wewenang untuk menerapkan visi yang sudah disusun di ruangan POA Mengusulkan ke RS untuk memberikan wewenang dalam menerapkan visi diruangan Target 79 Pelaksanaan perencanaan 85% Adanya misi ruangan Shinta yang menjelaskan tujuan organisasi dalam mencapai visi yang telah ditetapkan. 2. praktek dan bimbingan pelaksanaan Pelaksanaan perencanaan 85 % .Ruang Shinta RSJD Surakarta tidak memiliki filosofi ruangan. 1.RSJD Surakarta menjadikan Ruang Shinta sebagai ruang percontohan pelaksanaan MPKP . 3. Kebijakan . Misi . Namun.Belum ada rencana jangka pendek kepala ruang . Visi . . setiap perawat membuat rencana kegiatan harian sesuai dengan perannya untuk setiap shift. Filosofi .Ruang Shinta RSJD Surakarta memiliki visi ruangan (100%). Rencana Jangka Pendek . .Ruang Shinta RSJD Surakarta memiliki misi ruangan (100%).Mengusulkan kepada setiap perawat untuk membuat rencana harian sesuai dengan jabatannya masingmasing.Melakukan role model.Asuhan keperawatan. 4.

Tingkat ketergantungan pasien sudah diklasifikasikan sesuai dengan kebutuhan pasien. WEAKNESS a. Proses komunikasi yang baik antar perawat di ruang Shinta. g. b. Terdapat 1 orang magister keperawatan di Ruang Shinta. Adanya peraturan yang dibuat oleh pihak rumah sakit. perawat sarjana keperawatan ners di ruang Shinta. . j. katim dan perawat pelaksana. Kegiatan pre conference. c. 3. 4. motto dan tujuan bidang keperawatan RSJD Surakarta. Adanya kegiatan supervisi dari bidang keperawatanke semua bangsal di RSJD Surakarta. Adanya program pelatihan khusus dan seminar intern atau ekstern. h. motto dan tujuan ruang Shinta. i. Sarana dan prasarana di Ruang Shinta sudah mencukupi dan memenuhi standar. g. d. ANALISA SWOT STRENGTH a. Adanya tuntutan dari masyarakat yang lebih tinggi dalam profesional keperawatan. Kurangnya keterlibatan perawat pada kegiatan pengembangan SDM.. Sudah adanya SAK.. b. Belum adanya visi. Belum adanya rencana harian karu. misi. misi. e. c.80 BAB IV ANALISA DATA A. Sudah adanya daftar dinas perawat di ruang Shinta. Sudah adanya sistem pendelegasian di ruang Shinta. Sudah adanya daftar pasien di ruang Shinta. f. Ruang Shinta memiliki sarana dan prasarana yang memadai. d. dan pembagian pasien. 100 2. d. Kegiatan supervisi dari karu dan katim belum terjadwal. Ruang Shinta sudah memiliki struktur organisasi yang menunjukkan pembagian tim. c. ANALISA SWOT No 1. b. SOP. Protap di ruang Shinta yang digunakan dalam penerapan asuhan keperawatan dan tindakan keperawatan bagi pasien. Adanya visi. f. k. Tidak adanya pengakuan MPKP dari bidang keperawatan. e. Terdapat . Belum terdokumentasinya hasil supervisi dari karu ke katim dan dari katim ke perawat pelaksana. OPPORTUNITY a. post conference dan operan belum berjalan secara optimal sesuai standar. THREATMEN a.

b. No Masalah Belum adanya kesadaran perawat untuk mengisi buku rencana harian jangka pendek yang sudah tersedia di ruangan − Belum berjalannya kegiatan pre conference. Kuisioner Berdasarkan hasil kuisioner di ruang Shinta didapatkan hasil bahwa perawat tidak memiliki rencana harian jangka pendek 2. Observasi − Berdasarkan hasil observasi di ruang Shinta didapatkan bahwa perawat sudah tidak menjalankan kegiatan pre conference. post conference dan operan. perawat hanya mengikuti rutinitas yang sudah tertera di ruangan b. PERUMUSAN MASALAH Fungsi Data Fokus Manajemen MANAGEMENT APPROACH 1. Wawancara Berdasarkan hasil wawancara dengan karu ruang Shinta didapatkan informasi bahwa sudah tersedia buku rencan harian jangka pendek tetapi perawat tidak mengisi buku rencana kegiatan harian (rencana jangka pendek). perawat tidak pernah terlihat membuat rencana harian jangka pendek c. Pengarahan a.81 B. post conference dan operan sesuai dengan MPKP − Belum adanya form dan pendokumentasia an pendelegasian . Wawancara − Berdasarkan hasil wawancara dengan karu ruang Shinta didapatkan informasi bahwa kegiatan pre conference. Observasi Berdasarkan hasil observasi selama pengkajian di ruang Shinta. post conference dan operan sudah tidak berjalan lagi sesuai MPKP karena kurangnya pengakuan dari pihak manajemen RS − Hasil wawancara dengan karu ruang Shinta untuk kegiatan pendelegasian belum terdokumentasikan dengan baik karena belum adanya format pendelegasian. Perencanaan a.

82 3. c. SCORING MASALAH No Masalah 1. Kuisioner Berdasarkan hasil kuisioner didapatkan bahwa kegiatan survey kepuasan pasien dan keluarga sebesar 0%. c. b. Kuisioner Berdasarkan hasil kuisioner di ruang Shinta diperoleh bahwa kegiatan pre dan post conference serta operan 0%. a. pasien dan perawat 5. Rencana harian 2. Pengendalian − Ruang Shinta belum memiliki format pendelegasian. Belum tersedianya form survey kepuasan pasien dan keluarga serta belum berjalannya kegiatan survey kepuasan pasien dan keluarga C. Observasi Berdasarkan hasil observasi di ruang Shinta didapatkan bahwa tidak ditemukan form survey kepuasan pasien dan keluarga. Conference (pre dan post conference) 3. Operan 4. Survey kepuasan keluarga. Wawancara Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruang Shinta didapatkan bahwa ruang Shinta belum melaksanakan survey kepuasan pasien dan keluarga serta belum memiliki form survey kepuasan pasien dan keluarga. Pendelegasian Keterangan Mg : Sv : Mn : Nc : Af : Mg 5 4 5 5 4 Sv 3 4 5 4 3 Mn 4 5 5 5 5 Nc 4 5 5 4 4 Af 4 4 5 5 5 Skor 960 1600 3125 2000 1200 Prioritas 5 3 1 2 4 kecenderungan besar dan seringnya kejadian masalah besarnya kerugian yang ditimbulkan dilihat dari kemungkinan masalah dapat dipecahkan melibatkan pertimbangan dan perhatian perawat ketersediaan sumber daya .

83 Skor 5 4 3 2 1 : : : : : sangat penting penting cukup penting kurang penting sangat kurang penting .

operan keperawatan Target PJ Pelaksanaan Laelatul dokumentasi dan Tia dan simulasi S. Perawat dapat mendemonstrasi kan pre dan post conference. Perawat Semua melaksanakan dapat staf mekanisme pre. dapat mencapai optimal (100%) . dengan optimal. tanggal 26 Juni 2012: pelaksanaan pre dan post conference. operan keperawatan 2. Ruang Shinta.130 D. Ruang Shinta. Sosialisasi tentang penerapan pre. menyebutkan perawat post conference tujuan dari pre dan operan dan post keperawatan conference. timbang terima atau operaran keperawtan sesuai standar. operan atau timbang terima keperawatan yang dilaksanakan 2. operan keperawatan 2. post conference. operan keperawatan) Rencana tindakan 1. POA PLANNING OF ACTION Ruang Shinta Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta No 1 Masalah Penerapan kegiatan MPKP belum optimal (pre. Membuat jadwal dan melaksanakan bersama-sama pre dan post conference dan operan keperawatan Tujuan Sasaran Tujuan Umum Tujuan Khusus Perawat mampu 1. tanggal 26 juni 2012: sosialisasi dan membuat jadawal pre dan post conference. Tempat dan waktu 1. post conference.

Perawat Semua bisa melakukan staf survey kepada perawat keluarga. Perawat dapat melaksanakan dan membiasakan pre dan post conference dan operan secara rutin setiap hari. 2. Ruang Shinta. pasien dan perawat sendiri.elakukan survey tersebut 2. Perawat bisa memberikan penyuluhan kesehatan baik kepada keluarga pasien maupun pasien sendiri yang telah disepakati 1. pasien dan perawat serta . pasien dan perawat 1. 1. Pembuatan leaflet dan lembar balik 7 diagnosa keperawatan jiwa. Perawat mampu meningkatkan mutu pelayanan kepada pasien 3.131 2 Survey kepuasaan keluarga. Tanggal 6 Juli 2012: Pengadaan leaflet dan Pelaksaan Herawati survey dan mutu pelayanan kepada keluarga dapat dilaksanakan secara optimal (100%) . Pengadaan format survey kepuasaan keluarga. pasien dan perawat. 2. tanggal 26 Juni 2012: pengadaan format survey kepuasaan keluarga.

4 Rencana harian 1. Kepala ruang mampu melakukan pendelegasian secara formal didalam ruangan sesuai standar. Kegiatan harian pasien menjadi jelas dan susuai jadwal Kepala ruang lembar balik 7 diagnosa keperawatan. Membuat format rencana harian. 2. Perawat mampu membuat rencana harian pasien 2. Pembuatan Astri dan rencana harian D. Motivasi untuk mempertahanka n system pendelegasian yang sudah sesuai standar. . Ruang Shinta.132 3 Pendelegasian 1. Semua staf perawat 1. tanggal 26 Juni 2012: memberikan contoh membuat rencana harian. Pendelegas ian di ruangan Shinta menjadi jelas dengan adanya surat resmi pendelegasian 2. Memperm udah melakukan evaluasi hasil dari pendelegasian. Pengadaan surat pendelegasian 2. Mengusulk an adanya rencana harian. 3. Ruang Shinta tanggal 27 Juni 2012: pengadaan surat pendelegasia n tugas. dialkukan yuliastuti secara optimal setiap hari (100%). Tugas Mahacak pendelegasian ri bisa dilakukan sesuai standar(100%). 1. 1. Memotivas i semua staf perawat untuk menbuat rencana Perawat mampu membuat rencana harian di ruangan Shinta setiap hari dan melaksanakannya secara terjadwal 1.

.133 harian.

konference sebaiknya dilakukan di tempat tersendiri sehingga dapat mengurangi gangguan dari luar. dan tambahan rencana dari katim dan PJ tim (Modul MPKP. Isi pre conference adalah rencana tiap perawat (rencana harian). sore atau malam sesuai dengan jadwal dinas perawatan pelaksanaan.132 BAB V PEMBAHASAN A. KESENJANGAN TEORI 1. maka pre conference ditiadakan. 2006). Definisi Pre dan Post Conference Konferensi merupakan pertemuan tim yang dilakukan setiap hari. Jika yang dinas pada tim tersebut hanya satu orang. Pre conference dan Post conference a. Waktu : setelah operan Tempat : Meja masing – masing tim Penanggung jawab : Ketua tim atau Pj tim . Konferensi dilakukan sebelum atau setelah melakukan operan dinas. Konferensi terdiri dari pre conference dan post conference yaitu : 1) Pre Conference Pre conference adalah komunikasi katim dan perawat pelaksana setelah selesai operan untuk rencana kegiatan pada shift tersebut yang dipimpin oleh ketua tim atau penanggung jawab tim.

133

Kegiatan : a) Ketua tim atau Pj tim membuka acara b) Ketua tim atau pj tim menanjakan rencana harian masing – masing perawat pelaksana c) Ketua tim atau Pj tim memberikan masukan dan tindakan lanjut terkait dengan asuhan yang diberikan saat itu. d) Ketua tim atau Pj tim memberikan reinforcement e) Ketua tim atau Pj tim menutup acara 2) Post Conference Post conference adalah komunikasi katim dan perawat pelaksana tentang hasil kegiatan sepanjang shift dan sebelum operan kepada shift berikut. Isi post conference adalah hasil askep tiap perawatan dan hal penting untuk operan (tindak lanjut). Post conference dipimpin oleh katim atau Pj tim (Modul MPKP, 2006). Waktu :Sebelum operan ke dinas berikutnya. Tempat : Meja masing – masing tim. Penanggung jawab : ketua tim atau Pj tim Kegiatan : a) Ketua tim atau Pj tim membuka acara.

b) Ketua tim atau Pj tim menanyakan kendala dalam asuhan yang telah diberikan. c) Ketua tim atau Pj tim yang menanyakan tindakan lanjut asuhan klien yang harus dioperkan kepada perawat shift berikutnya. d) Ketua tim atau Pj menutup acara.

134

b. Tujuan Pre dan Post Conference Secara umum tujuan konferensi adalah untuk menganalisa masalah-masalah secara kritis dan menjabarkan alternatif penyelesaian masalah, mendapatkan gambaran berbagai situasi lapangan yang dapat menjadi masukan untuk menyusun rencana antisipasi sehingga dapat meningkatkan kesiapan diri dalam pemberian asuhan keperawatan dan merupakan cara yang efektif untuk menghasilkan perubahan non kognitif (McKeachie, 1962). Pre dan Post Conference juga membantu koordinasi dalam rencana pemberian asuhan keperawatan sehingga tidak terjadi pengulangan asuhan, kebingungan dan frustasi bagi pemberi asuhan (T.M.Marelli, et.al, 1997). 1) Tujuan pre conference adalah: a) Membantu untuk mengidentifikasi masalah-masalah pasien, merencanakan asuhan dan merencanakan evaluasi hasil b) Mempersiapkan hal-hal yang akan ditemui di lapangan c) Memberikan kesempatan untuk berdiskusi tentang keadaan pasien 2) Tujuan post conference adalah: Untuk memberikan kesempatan mendiskusikan penyelesaian masalah dan membandingkan masalah yang dijumpai.

c. Syarat Pre dan Post Conference

135

1) Pre

conference

dilaksanakan

sebelum

pemberian

asuhan

keperawatan dan post conference dilakukan sesudah pemberian asuhan keperawatan 2) Waktu efektif yang diperlukan 10 atau 15 menit 3) Topik yang dibicarakan harus dibatasi, umumnya tentang keadaan pasien, perencanaan tindakan rencana dan data-data yang perlu ditambahkan 4) Yang terlibat dalam conference adalah kepala ruangan, ketua tim dan anggota tim d. Panduan perawat pelaksanaan dalam melaksanakan konferensi Adapun panduan bagi PP dalam melakukan konferensi adalah sebagai berikut: (Ratna Sitorus, 2006). 1) Konferensi dilakukan setiap hari segera setelah dilakukan pergantian dinas pagi atau sore sesuai dengan jadwal perawatan pelaksana. 2) Konferensi dihadiri oleh perawat pelaksana dan PA dalam timnya masing – masing. 3) Penyampaian perkembangan dan masalah klien berdasarkan hasil evaluasi kemarin dan kondisi klien yang dilaporkan oleh dinas malam. Hal hal yang disampaikan oleh perawat pelaksana meliputi : a) Keadaan klien b) Keluhan klien c) TTV

ketelitian. g) Perubahan keadaan terapi medis. 7) Membantu perawatan asosiet menyelesaikan masalah yang tidak dapat diselesaikan. e) Ketepatan pelaksanaan tindakan lain. kejujuran dan kemajuan masing–masing perawatan asosiet. kesalahan pemberian makan. f) Ketepatan dokumentasi. 6) Mengiatkan kembali tentang kedisiplinan. e) Masalah keperawatan f) Rencana keperawatan hari ini. b) Ketepatan pemberian infuse. kebisikan pengunjung lain. d) Ketepatan pemberian obat / injeksi. c) Ketepatan pemantauan asupan dan pengeluaran cairan. 5) Mengiatkan kembali standar prosedur yang ditetapkan.136 d) Hasil pemeriksaan laboraturium atau diagnostic terbaru. 4) Perawat pelaksana mendikusikan dan mengarahkan perawat asosiet tentang masalah yang terkait dengan perawatan klien yang meliputi : a) Klien yang terkait dengan pelayanan seperti : keterlambatan. h) Rencana medis. Tahap – tahap inilah yang akan dilakukan oleh perawat – perawat ruangan ketika melakukan pre conference e. kehadiran dokter yang dikonsulkan. Kesenjangan data dengan teori .

3) Menerima penjelasan Menjelaskan tujuan Menyiapkan tempat dari PA tentang hasil tindakan/hasil asuhan keperawatan yang telah dilakukan . Beberapa hal yang masih memerlukan perbaikan antara lain: 1) untuk post coference 2) dilakukan post conference. Beberapa hal yang masih memerlukan perbaikan antara lain: 1) 2) conference 3) 4) Memandu pelaksanaan pre conference Mendiskusikan cara dan strategi pelaksanaan asuhan keperawatan pasien/tindakan 5) Memotivasi untuk memberikan tanggapan dan penyelesaian masalah yang sedang didiskusikan 6) Mengklarifikasikan kesiapan PA untuk Menyiapkan tempat untuk pre coference Menjelaskan tujuan dilakukan post melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien yang menjadi tanggung jawabnya. hasil ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pre-conference masih kurang maksimal. hasil ini menunjukkan bahwa pelaksanaan post-conference masih kurang maksimal. menyimpulkan hasil pre conference.137 Berdasarkan hasil observasi didapatkan nilai sebesar 0%. Berdasarkan hasil observasi didapatkan nilai sebesar 0%.

Pendelegasian tugas dilakukan secara berjenjang yang penerapanya dibagi menjadi 2 jenis. Bentuknya antara lain adalah : a) Pendelegasian tugas kepala ruangan kepada ketua tim untuk menggantikan tugas sementara tugas kepala ruang karena alasan tertentu . 2. Definisi Pendelegasian Pendelegasian adalah melakukan pekerjaan melalui orang lain agar aktifitas organisasi tetap berjalan. Pendelegasian a. Pendelegasian dilakukan melalui mekanisme pelimpahan tugas dan wewenang. yaitu pendelegasian terencana dan pendelegasian insidentil. 1) Pendelegasian terencana adalah pendelegasian yang secara otomatis terjadi sebagai konsekuensi sistem penugasan yang diterapkan diruang MPKP.138 4) Mendiskusikan masalah yang telah ditemukan dalam memberikan askep pada pasien dan mencari upaya penyelesaian masalah. 5) Menyimpulkan hasil post conference. mengklarifikasi pasien sebelum melakuakan operan tugas jaga shift berikutnya (melakukan ronde keperawatan). Penerapan delegasi di MPKP dalam bentuk pendelegasian tugas oleh kepala ruangan kepada ketua tim dan ketua tim kepada perawat pelaksana.

yang terjadi apabila salah satu personil ruang MPKP berhalangan hadir. b. 2) Pendelegasian insidentil. kepala ruangan. ketua tim atau penanggung jawab shif dan tergantung pada personil yang berhalangan. Mekanisme Pendelegasian Mekanisme yang dilakukan adalah sebagai berikut: . Prinsip Pendelegasian Prinsip pendelegasian tugas di MPKP antara lain adalah : 1) Pendelegasian tugas harus menggunakan format pendelegsaian 2) Personil yang menerima pendelegasian adalah personel yang berkompetemen dan setara dengan kemampuan yang digantikan tugasnya 3) Uraian tugas yang didelegasikan harus dijelaskan secara verbal. terinci dan tertulis 4) Pejabat yang mengatur pendelegasian wajib memonitor pelaksanaan tugas dan menjadi rujukan bila ada kesulitan yang dihadapi 5) Setelah selesai pendelegasian dilakukan serah terima tugas yang sudah dilaksanakan dan hasilnya c. sehingga pendelegasian tugas harus dilakukan. Dalam hal ini yang mengatur pendelegasian adalah kepala seksi perawatan.139 b) Pendelegasian tugas kepala ruangan kepada penanggung jawab shif c) Pendelegasian ketua tim kepada perawat pelaksana dalam pelaksanaan tindakan keperawatan yang telah direncanakan.

Panduan Pendelegasian Pendelegasian dilaksanakan melalui proses sebagai berikut: 1) Buat rencana tugas yang perlu dituntaskan 2) Identifikasi ketrampilan dan tingkat pendidikan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas 3) Pilih orang yang mampu melaksanakan tugas yang didelegasikan 4) Komunikasikan dengan jelas apa yang akan dikerjakan dan apa tujuaanya 5) Buat batasan waktu dan monitor penyelesaian tugas 6) Jika bawahan tidak mampu melaksanakan tugas karena menghadapi masalah tertentu. d. manajer harus bisa menjadi model peran dan menjadi narasumber untuk menyelesaikan masalah yang terjadi 7) Evaluasi kinerja setelah tugas selesai 8) Pendelegasian terdiri dari tugas dan kewenangan . 2) Bila ketua tim berhalangan hadir.140 1) Bila kepala ruangan berhalangan. 3) Bila ada perawat pelaksana yang berhalangan hadir. sehingga satu tim kekurangan personil maka kepala ruangan berwenang memindahkan perawat pelaksana dari tim lain masuk tim yang kekurangan personiltersebut atau katim melimpahkan pasien kepada perawat pelaksana yang hadir. maka kepala ruangan menunjuk salah satu anggota tim (perawat pelaksana) menjalankan tugas ketua tim. kepala seksi menunjuk salah satu ketua tim untuk menggantikan tugas kepala ruang.

tidak akan berhenti hanya sampai proses penerimaan pelayanan. Kepuasan pasien dapat berhubungan dengan berbagai aspek diantaranya mutu pelayanan yang diberikan. prosedur serta sikap yang diberikan oleh pemberi pelayanan kesehatan itu sendiri (Anwar. 3. Didalam suatu proses keputusan. Beberapa hal yang masih memerlukan perbaikan antara lain: 1) Pembuatan rencana tugas yang perlu dituntaskan. Pasien akan mengevaluasi pelayanan yang diterimanya tersebut. konsumen yaitu pasien. 1998 dalam Awinda. . hasil ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pendelegasian di ruang Shinta sudah cukup baik. Hasil dari proses evaluasi itu akan menghasilkan perasaan puas atau tidak puas (Sumarwan. Survey Kepuasan Pasien dan Keluarga Menurut Soejadi (1996). pasien atau klien merupakan individu terpenting dirumah sakit sebagai konsumen sekaligus sasaran produk rumah sakit. 2003).141 Kesenjangan data dengan teori Berdasarkan hasil observasi didapatkan nilai sebesar 83%. Kotler (1997) menyatakan bahwa kepuasan adalah tingkat keadaan yang dirasakan seseorang yang merupakan hasil dari membandingkan penampilan atau outcome produk yang dirasakan dalam hubungannya dengan harapan seseorang (Sumarwan. kecepatan pemberian layanan. 2004). 2003). 2) Adanya evaluasi kinerja setelah tugas selesai 3) Pendelegasian tugas harus menggunakan format pendelegsaian.

78% dan 21. Beberapa hal yang masih memerlukan perbaikan antara lain: 1) Pemberian informasi yang jelas kepada keluarga mengenai perkembangan dan kondisi pasien selama di rawat di rumah sakit 2) Pengadaan form survey kepuasan pasien dan keluarga dari pihak Rumah Sakit 3) Pendekatan perawat terhadap pasien dan keluarga pasien 4. Kepala Tim dan Perawat Pelaksana Rencana harian adalah rencana aktifitas pada tiap shift yang dilakukan oleh perawat asosiet/perawat pelaksana. . Rencana harian dibuat sebelum operan dilakukan dan dilengkapi pada saat operan dan pre conference. Bila pasien menunjukkan hal-hal yang bagus mengenai pelayanan kesehatan terutama pelayanan keperawatan dan pasien mengindikasikan dengan perilaku positifnya. Rencana Harian Kepala Ruang.142 Kepuasan pasien adalah tingkat kepusan dari persepsi pasien dan keluarga terhadap pelayanan kesehatan dan merupakan salah satu indikator kinerja rumah sakit. 2002). hasil ini menunjukkan bahwa kepuasan terhadap pelayanan di ruang Shinta sudah cukup baik. Kesenjangan data dengan teori Berdasarkan hasil observasi tingkat kepuasan keluarga dan pasien didapatkan nilai sebesar 16.52% terhadap perawatan di ruang Shinta. maka dapat kita tarik kesimpulan bahwa pasien memang puas terhadap pelayanan tersebut (Purnomo. perawat primer/ketua tim dan kepala ruangan.

4) Ketua tim sebaiknya hanya dinas pagi. Kepala ruangan harus mengetahui kebutuhan ruangan dan mempunyai hubungan keluar dengan unit yang terkait untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Rencana Harian Ketua Tim Isi rencana harian ketua tim antara lain adalah: 1) penyelenggaraan asuhan keperawatan pada pasien di timnya. 2) Melakukan supervisi perawat pelaksana untuk menilai kompetensi secara langsung dan tidak langsung. Demikian pula dengan asuhan keperawatan.143 a. kepala ruangan sebagai narasumber utama atau konsultan untuk menjamin terlaksananya asuhan keperawatan pada semua tim di ruangan.Berikut isi rencana harian kepala ruangan meliputi : 1) Asuhan keperawatan 2) Supervisi Katim dan perawat pelaksana 3) Supervisi tenaga selain perawat 4) Kerja sama dengan unit yang terkait b. karena pada pagi hari banyak kegiatan atau tindakan yang dilakukan dan merencanakan kegiatan sore dan malam. serta on the job trainning yang dirancang. Rencana harian kepala ruangan Isi kegiatan harian kepala ruangan meliputi semua kegiatan yang dilakukan oleh seluruh SDM yang ada di ruangan dalam rangka menghasilkan pelayanan asuhan keperawatan yang berkualitas. . 3) Kolaborasi dengan dokter atau tim kesehatan lainnya.

Perawat pelaksana akan membuat rencana yang ditujukan pada tindakan keperawatan untuk sejumlah pasien yang dirawat pada shift dinasnya. Rencana Harian Perawat Pelaksana Isi rencana harian perawat pelaksana adalah tindakan keperawatan untuk sejumlah klien yang dirawat pada shif dinasnya. Rencana harian perawat pelaksana shif sore dan malam agak berbeda jika hanya satu orang dalam satu tim maka perawat tersebut berperan sebagai ketua tim dan perawat pelaksana sehingga tidak ada kegiatan pre dan post conference. 2) Pemberian reward kepada perawat yang sudah konsisten dengan pembuatan rencana harian. hasil ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembuatan rencana harian perawat di ruang Shinta sudah baik. Perawat tersebut akan berperan sebagai ketua tim dan PA/PP. Beberapa hal yang masih memerlukan perbaikan antara lain: 1) Pembuatan rencana harian yang masih perlu disosialisasikan kepada perawat yang belum memahami cara pembuatannya.144 c. sehingga tidak ada kegiatan pre dan post conference Kesenjangan data dengan teori Berdasarkan hasil observasi didapatkan nilai sebesar 100%. Rencana Catatan harian Perawat Pelaksana/Assosiet (PP/PA) pada shift sore dan malam agak berbeda jika hanya 1 (satu) orang dalam satu tim. 3) Melakukan kontrol dan monitor terhadap pembuatan rencana harian pada masing-masing individu perawat. .

8. Memberikan reinforcemen positif pada PA √ Menyimpulkan hasil post conference √ JUMLAH 0 3 3 5 Tabel 4.3 Pelaksanaan Post Conference Ruang Shinta RSJD Surakarta OBSERVASI No VARIABEL YANG DINILAI S SR KD TP L 1. 6. Menjelaskan tujuan dilakukan post conference √ 4. Menyiapkan tempat untuk post coference √ 2. 3. Menerima penjelasan dari PA tentang hasil tindakan/hasil √ asuhan keperawatan yang telah dilakukan 5. Mendiskusikan masalah yang telah ditemukan dalam √ memberikan askep pada pasien dan mencari upaya penyelesaian masalah 6. ANALISIS a. 9. Faktor Pendukung dan Kendala pre post conference . 10 11 Pre dan Post Conference Tabel 4. Menyimpulkan hasil post conference √ 8.145 B. Menyiapkan rekam medik pasien yang menjadi tanggung √ jawab 3. 4. 2. 7. Memberi reinforcemen pada PA √ 7. No 1. 5. Mengklarifikasi pasien sebelum melakuakan operan tugas √ jaga shift berikutnya (melakukan ronde keperawatan) JUMLAH 0 2 5 1 a.2 Pelaksanaan Pre Conference Ruang Shinta RSJD Surakarta OBSERVASI VARIABEL YANG DINILAI SL SR KD TP Menyiapkan tempat untuk pre coference √ Menyiapkan rekam medik pasien yang menjadi tanggung √ jawab Menjelaskan tujuan dilakukan post conference √ Memandu pelaksanaan pre conference √ Menjelaskan masalah keperawatan pasien dan rencana √ keperawatan yang menjadi tanggung jawabnya Membagi tugas pada PA sesuai kemampuan yang √ dimiliki dengan memperhatikan keseimbangan kerja Mendiskusikan cara dan strategi pelaksanaan asuhan √ keperawatan pasien/tindakan Memotivasi untuk memberikan tanggapan dan √ penyelesaian masalah yang sedang didiskusikan Mengklarifikasikan kesiapan PA untuk melaksanakan √ asuhan keperawatan pada pasien yang menjadi tanggung jawabnya.

KaTim dan Staf dalam pelaksanaan dokumentasi asuhan keperawatan kurang b) Kedisiplinan perawat yang kurang berkaiatan dengan jam datang dan pulang kerja.Tim dan staf ruangan b) Tingkat pendidikan sebagian besar perawat di Ruang Shinta D III Keperawatan c) Model asuhan keperawatan yang sudah diterapkan menggunakan MPKP model MTM 2) Faktor Kendala a) Antusiasme KaRu.146 1) Faktor Pendukung a) Kerjasama dan dukungan yang baik dari pihak Ka. Ka. Ru. c) Kurangnya kesadaran dari beberapa perawat tentang pentingnya pre conference dan post conference d) Belum adanya standar operasional pre conference dan post conference yang ditetapkan oleh rumah sakit 3) Kesinambungan a)Perlunya komitmen dan persamaan persepsi dari bidang keperawatan untuk penggunaan standar operasional pre conference dan psot conference yang akan dipakai RSJ Daerah Surakarta b) Perlunya komitmen dan persamaan persepsi seluruh perawat khususnya ruang Shinta tentang pre conference dan post conference c) Perlu peningkatan kesadaran dan kemauan untuk melaksanakan pre conference dan post conference pada tiap shift .

Pendelegasian Tabel 4.Tim dan staf ruangan b) Tingkat pendidikan sebagian besar perawat di Ruang Shinta D III Keperawatan c) Model asuhan keperawatan yang sudah diterapkan menggunakan MPKP model MTM .2 Pelaksanaan Pendelegasian Ruang Shinta RSJD Surakarta Skor Pernyataan Pendelegasian Karu Katim Pendelegasian dilakukan kepada staf yang memiliki kompetensi yang dibutuhkan dalam menjalankan 4 3 tugas Tugas yang dilimpahkan dijelaskan sebelum 4 4 melakukan pendelegasian Selain pelimpahan tugas. Ru.147 d)Perlunya panduan. kewenangan juga 3 4 dilimpahkan Waktu pendelegasian tugas ditentukan 3 3 Apabila si pelaksana tugas mengalami kesulitan. Faktor Pendukung dan Kendala Pelaksanaan Pendelegasian 1) Pendukung Faktor a) Kerjasama dan dukungan yang baik dari pihak Ka. Ka. Karu. Katim memberikan arahan untuk mengatasi 3 3 masalah Ada evaluasi setelah selesai tugas dilaksanakan 2 3 Sub Total 19 20 No 1 2 3 4 5 6 Katim 3 4 4 3 3 3 20 a. sosialisasi dan bimbingan dalam pelaksanaan pre conference dan post conference e)Perlunya monitoring dan evaluasi terhadap pre conference dan post conference secara periodic. 2.

2. 3) Kesinambungan a) Perlunya komitmen dan persamaan persepsi dari bidang keperawatan untuk penggunaan surat pendelegasian yang akan dipakai RSJ Daerah Surakarta b) Perlunya komitmen dan persamaan persepsi seluruh perawat khususnya ruang Shinta tentang adanya rapat evaluasi hasil setiap kegiatan yang didelegasikan. 3.148 2) Faktor Kendala a) Adanya agenda yang tidak terduga b) Kesibukan individu dan ruangan untuk menjalankan rapat evaluasi hasil kegiatan pendelegasian c) Surat pendelegasian biasanya diberikan hanya untuk kegiatan di luar Rumah Sakit saja. 4. dengan menggunakan surat pendelegasian. Survey Kepuasan Pasien dan Keluarga Penilaian Kepuasan Keluarga RESPONDEN 3 4 5 6 7 4 3 3 3 4 4 3 3 4 4 4 4 4 3 4 3 4 4 3 4 4 3 4 2 2 NO 1. c) Perlu peningkatan kesadaran dan kemauan untuk melaksanakan pendelegasian secara resmi. 3. 5. KOMPONEN Perawat bersikap sopan Perawat berpenampilan rapi Perawat menggali informasi dari keluarga Perawat memberikan informasi mengenai masalah yang dihadapi pasien Perawat memberikan informasi mengenai tindakan yang akan dilakukan kepada pasien ( inform consent ) 1 3 3 4 3 3 2 4 4 3 3 3 8 4 3 3 2 3 .

Keterangan: 4 (sangat setuju). 11. 3 3 4 3 4 4 3 4 3 4 5. 9. 3. 2. 6. 2 (tidak setuju). 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 2 2 3 3 3 4 4 4 . 12. 3 (setuju). KOMPONEN Perawat menyambut dengan ramah ketika Saudara datang Perawat memperkenalkan diri Perawat menjelaskan sarana di ruangan yang dapat dimanfaatkan Perawat menjelaskan aturanaturan yang berlaku selama perawatan Perawat menanyakan masalahmasalah yang saudara alami terkait dengan kondisi kesehatan saudara Perawat menjelaskan masalah 1 3 3 4 2 4 4 3 3 4 4 3 RESPONDEN 4 5 6 7 3 3 3 4 3 4 4 4 4 4 4 3 8 3 4 4 9 4 3 3 10 3 4 4 4.25% Penilaian Kepuasan Klien NO 1. 1 (sangat tidak setuju) Perhitungan: Total skor x 100% n x item x skore tertinggi = 312 x100% 8 x 12 x 4 = 312 x 100% 384 = 81.149 6. 8. Perawat menjelaskan perkembangan pasien Perawat melakukan penyuluhan kepada keluarga mengenai cara perawatan yang harus dilakukan keluarga dirumah Perawat menyiapkan keperluan pulang pasien yang meliputi jadwal kegiatan harian dan sisa obat Perawat menjelaskan waktu kontrol Perawat memberikan pesanan pulang yang mudah dimengerti Perawat memberikan penjelaskan rujukan yang bisa digunakan bila ada yang perlu dikonsulkan Perawat membantu keluarga untuk konsul dokter JUMLAH 3 3 3 3 3 3 4 3 8 3 3 4 4 4 4 3 4 1 4 3 4 4 4 4 4 4 7 3 4 4 4 3 3 2 3 9 3 3 3 3 4 3 3 3 9 312 3 3 4 4 3 3 2 4 0 2 3 3 3 3 3 4 3 7 3 2 3 2 2 2 3 31 TOTAL NILAI Sumber : Hasil observasi tanggal 21 juni-03 Juli 2012. 7. 10.

9.150 7. 10. 12. 21. 13. Perawat segera menanggapi keluhan saudara Perawat mendampingi saudara ketika dilakukan pemeriksaan dokter Perawat menjaga privasi saudara saat melakukan tindakan keperawatan Perawat selalu membuat perjanjian dengan saudara Perawat selalu menepati janji yang ditetapkan Perawat bersikap sopan Perawat berpenampilan rapi Perawat menjelaskan kegiatan yang harus saudara lakukan di rumah Perawat menjelaskan obatobatan yang harus diteruskan di rumah Perawat menjelaskan waktu kontrol JUMLAH TOTAL NILAI 3 4 4 4 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 3 4 4 3 4 3 3 3 4 3 3 2 3 3 3 3 4 4 3 4 4 3 4 4 4 3 3 4 3 3 4 3 3 4 3 3 7 5 3 3 7 7 3 2 7 9 3 3 6 6 4 4 8 4 4 4 8 1 747 3 3 6 1 3 3 73 4 3 7 3 4 4 78 Sumber : Hasil observasi tanggal 21 juni-03 Juli 2012. 17. . mandi) ketika saudara mengalami kesulitan Perawat mau mendengarkan keluhan saudara dengan sabar 3 3 4 3 4 4 2 3 3 3 3 4 4 3 4 3 2 2 3 3 3 4 4 3 4 4 3 2 4 3 3 4 3 3 4 4 2 4 4 3 3 4 3 3 4 4 2 4 4 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 3 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 15 16. 18. 19. kesehatan yang saudara alami Perawat membicarakan tujuan perawatan yang hendak dicapai Perawat meminta pendapat saudara dalam merancang tindakan yang akan diberikan kepada saudara Perawat menjelaskan kegiatan yang harus dilatih untuk dilakukan secara mandiri Perawat melakukan penyuluhan kesehatan untuk mengatasi masalah saudara Perawat membantu memenuhi kebutuhan dasar saudara (makan. 11. 20. 8. 22. 14.

b) Perlu peningkatan kesadaran dan kemauan untuk melaksanakan survey kepuasan pasien dan keluarga setiap ada kunjungan keluarga . = 747 x 100% 880 = 84. 3 (setuju).151 Keterangan: 4 (sangat setuju). perawat dengan pasien dan keluarga pasien baik b. 2 (tidak setuju). Tingkat pendidikan sebagian besar perawat di Ruang Shinta D III Keperawatan c.87% Faktor Pendukung dan Kendala Survey Kepuasan Pasien dan Keluarga 1) Faktor Pendukung a. Hubungan Model asuhan keperawatan yang sudah diterapkan menggunakan MPKP model MTM 2) Faktor Kendala Belum adanya standar operasional untuk lembar survey kepuasan pasien dan keluarga di ruangan Shinta 3) Kesinambungan a) Perlunya komitmen dan persamaan persepsi seluruh perawat khususnya ruang Shinta tentang survey kepuasan pasien dan keluarga. terutama pasien yang akan pulang. 1 (sangat tidak setuju) Perhitungan: Total skor x 100% n x item x skore tertinggi = 751 x100% 10 x 22 x 4 a.

152 pasien. b) Perlu peningkatan kesadaran dan kemauan untuk melaksanakan pembuaran rencana harian masing-masing individu. 4. . Rencana Harian Karu 0 0 0 0 0 0 Katim 0 0 0 0 0 0 0 Katim 0 0 0 0 0 0 Penilaian Rencana Harian No Aspek yang Dinilai 1 Menyusun Rencana Harian setiap kali dinas 2 Mencantumkan tanggal dinas di Rencana Harian 3 Urutan kegiatan disusun secara kronologis 4 Tercantum kegiatan manajerial 5 Tercantum kegiatan asuhan 6 Rencana Harian dikerjakan secara konsisten Total Skor b. 3) Kesinambungan a) Perlunya komitmen dan persamaan persepsi seluruh perawat khususnya ruang Shinta tentang pembuatan rencana harian untuk setiap kali berangkat dinas. Faktor Pendukung dan Kendala Pembuatan Rencana Harian 1) Faktor Pendukung a) Tingkat pendidikan sebagian besar perawat di Ruang Shinta D III Keperawatan b) Model asuhan keperawatan yang sudah diterapkan menggunakan MPKP model MTM 2) Faktor Kendala Kesibukan masing-masing individu dalam pembuatan rencana harian. c) Perlunya monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan survey kepuasan pasien dan keluarga terutama kepada pasien yang pulang. kurangnya reward yang diberikan ruangan kepada perawatnya.

Koordinasi dengan Mahasiswa KaRu. PN dan PA Profesi ners KaTim. PA persepsi antara UNSOED kepala ruang.6 Langkah Pelaksanaan Pre Conference dan Post Conference Asuhan Keperawatan Di Ruang Shinta RSJD Surakarta No Kegiatan Pelaksana Sasaran Tujuan Waktu A. Study kepustakaan Mahasiswa Materi Pre Mendapat dan persiapan Profesi ners conference sumber materi tentang pre UNSOED dan post Pustaka yang conference dan post conference mendukung conference penyusunan standar operasional 3. Pelaksanaan 1. Persiapan 1. PA pelaksanan pre conference bersama UNSOED conference Ka Ru. primer nursing dan perawat asosiet B. PA pre conference post conference UNSOED dan post conference C Evaluasi 1. Mahasiswa KaRu. Pre dan Post Conference Tabel 4.153 c) Perlunya monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan pembuatan rencana harian masing-masing individu. C. Menjadi role model. PA hasil conference dan post UNSOED Pelaksanaan conference pre conference dan post conference 2. Mengevaluasi conference dan post Profesi ners KaTim. PN dan AN dan post conference Tempat Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta . Menyamakan Ka Ru. PENYELESAIAN MASALAH 1. Mengevaluasi pre Mahasiswa KaRu. Mengobservasi Mahasiswa KaRu. Mengetahui pelaksanaan pre Profesi ners KaTim. Pelaksanan pre conference dan Profesi ners KaTim.

Mengklarifikasi pasien sebelum melakuakan √ operan tugas jaga shift berikutnya (melakukan ronde keperawatan) JUMLAH 2 6 0 0 . Menyiapkan rekam medik pasien yang menjadi √ tanggung jawab 3. Mengklarifikasikan kesiapan PA untuk √ melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien yang menjadi tanggung jawabnya.6 Pelaksanaan Pre Conference Ruang Shinta RSJD Surakarta setelah intervensi No OBSERVASI VARIABEL YANG DINILAI SL SR KD TP 1. Membagi tugas pada PA sesuai kemampuan yang √ dimiliki dengan memperhatikan keseimbangan kerja 7. Menyiapkan tempat untuk post coference √ 2. Menjelaskan masalah keperawatan pasien dan √ rencana keperawatan yang menjadi tanggung jawabnya 6. Mendiskusikan cara dan strategi pelaksanaan √ asuhan keperawatan pasien/tindakan 8. Memotivasi untuk memberikan tanggapan dan √ penyelesaian masalah yang sedang didiskusikan 9. Menyiapkan rekam medik pasien yang menjadi √ tanggung jawab 3. Mendiskusikan masalah yang telah ditemukan √ dalam memberikan askep pada pasien dan mencari upaya penyelesaian masalah 6. Memandu pelaksanaan pre conference √ 5. Menerima penjelasan dari PA tentang hasil √ tindakan/hasil asuhan keperawatan yang telah dilakukan 5. Memberi reinforcemen pada PA √ 7. Menjelaskan tujuan dilakukan pre conference √ 4. Menyimpulkan hasil post conference √ 8. Menjelaskan tujuan dilakukan post conference √ 4.7 Pelaksanaan Post Conference Ruang Shinta RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga Periode Maret 2012 setelah intervensi OBSERVASI No VARIABEL YANG DINILAI SL SR KD TP 1.154 Tabel 4. 10 Memberikan reinforcemen positif pada PA √ 11 Menyimpulkan hasil pre conference √ JUMLAH 8 3 0 0 Tabel 4. Menyiapkan tempat untuk pre coference √ 2.

2.4 Langkah Pelaksanaan survey kepuasan keluarga dan pasien di Ruang Shinta RSJ Daerah Surakarta Pelaksana Sasaran Tujuan Waktu Tempat Mahasiswa Profesi ners UNSOED Mahasiswa Profesi ners UNSOED KaRu. namun karena kurangnya reward dari kepala ruang dan kesibukan masing-masing individu akhirnya pre dan post conference sudah tidak di jalankan secara rutin lagi. Survey kepuasan keluarga dan pasien Tabel 4. Studi literatur mengenai survey kepuasan keluarga dan pasien 3. Materi survey kepuasan pelanggan (keluarga dan pasien) Mengetahui hasil survey Mendapat sumber pustaka yang mendukung penyusunan survey kepuasan pasien dan keluarga Tersusunnya Ruang Shinta Ruang Shinta No Kegiatan A.155 Tabel 4. KaTim. Selisih nilai observasi sebelum dan sesudah intervensi 100%.7 Perbandingan pre conference dan post conference sebelum dan setelah intervensi Variabel Sebelum Sesudah selisih Pre Conference 0% 100% 100% Post Conference 0% 100% 100% Berdasarkan hasil observasi sebelum dilakukan intervensi pre dan post conference di ruang Shinta didapatkan hasil 0%. Perlu adanya motivasi agar pre dan post conference di ruang Shinta bisa kembali berjalan secara rutin. Melakukan Mahasiswa KaRu Ruang . Persiapan 1. setiap hari menjalankan pre dan post conference secara teratur dan berjalan dengan lancar. Mengkaji penilaian survey kepuasan keluarga 2. sebelumnya ruang Shinta rutin menjalankan pre dan post conference. artinya setelah ada intervensi ruang Shinta mengalami peningkatan.

Pelaksanaan 1. Sosialisasi penggunaan form survey kepuasan Profesi ners UNSOED form survey kepuasan pasien dan keluarga KaRu.48%.78% Kepuasan keluarga 78. Aplikasi survey kepuasan pasien dan keluarga saat pasien akan pulang. C 1. PA Perawat R.22% dan 78. Terjadi peningkatan 100% pada masing-masing variabel. Mengetahui tingkat kepuasan keluarga dan pasien terhadap perawatan di ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Tabel 4. menunjukkan bahwa nilai survey kepuasan pasien dan keluarga sebesar 83. Shinta Mahasiswa Profesi ners UNSOED Ruang Shinta 2. Berdasarkan observasi setelah intervensi diharapkan dengan adanya pengadaan form resmi untuk survey kepuasan pasien dan keluarga di ruang Shinta dapat diaplikasikan secara berkelanjutan.22 % 100% 16. KaTim.78% dan 21. Evaluasi Evaluasi tingkat kepuasan keluarga dan pasien di ruang Shinta. selisih sebelum dan sesudah dilakukan intervensi dan pengadaan form survey kepuasan pasien dan keluarga yaitu 16.156 koordinasi tentang pembuatan form survey kepuasan pasien dan keluarga B.5 Penilaian tingkat kepuasan keluarga dan pasien terhadap perawatan di ruang Shinta sebelum dan sesudah intervensi Variable Sebelum Sesudah Selisih Kepuasan pasien 83.52% Sumber : Hasil observasi di ruang Shinta RSJD Surakarta Berdasarkan tabel diatas. Mahasiswa Profesi ners UNSOED Mahasiswa Profesi ners UNSOED Keluarga pasien dan pasien. .48 % 100% 21.52%.Shinta dapat mengetahui panilaian kepuasan pasien dan keluarga.

Pendelegasian Tabel 4. Pelaksanaan 1. Rencana Harian . Pengadaan form pendelegasian kemudian di sosialisasikan kepada seluruh perawat. pelaksanaan UNSOED pendelegasian yang sudah berjalan 2. Penyelesaian masalah terhadap peningkatan pencapaian pendelegasian secara formal di ruangan Shinta dilakukan dengan pengadaan format/ form pendelegasian. Mengkaji penilaian Mahasiswa KaRu. Mengetahui pendelegasian Profesi ners KaTim. Studi literatur Mahasiswa KaRu Mendapat sumber mengenai Profesi ners dan pustaka yang pendelegasian UNSOED KaTim mendukung penyusunan surat pendelegasian 3. PA KaTim Perawat R. C 1.Shinta dapat mengetahui cara pelaksanaan pendelegasian secara formal Tempat Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Mengetahui manfaat surat pendelegasian secara resmi Ruang Shinta KaRu dan KaTim Evaluasi Pendelegasian Hasil observasi sebelum intervensi didapatkan 83% pendelegasian sudah berjalan baik di ruang Shinta.4 Langkah Pengadaan Surat Pendelegasian di Ruang Shinta RSJ Daerah Surakarta No Kegiatan Pelaksana Sasaran Tujuan Waktu A. 4. Aplikasi pendelegasian Evaluasi Evaluasi pelaksanaan pendelegasian Mahasiswa Profesi ners UNSOED Mahasiswa Profesi ners UNSOED Mahasiswa Profesi ners UNSOED KaRu. Sosialisasi penggunaan form pendelegasian 2. KaTim. Persiapan 1.157 3. Melakukan Mahasiswa KaRu Tersusunnya form koordinasi tentang Profesi ners pendelegasian pembuatan form UNSOED pendelegasian B. Pencapaian pengadaan form pendelegasian 100% tercapai.

hasil KaRu. UNSOED membuat rencana harian C Evaluasi 1. Mengetahui rencana harian Profesi ners KaTim. Melakukan Mahasiswa KaRu. Observasi Pembuatan Rencana Harian KaRu. Persiapan 1. dan PP No Kegiatan Pelaksana Sasaran Tujuan Waktu A. Studi literatur Mahasiswa Materi Mendapat mengenai pedoman Profesi ners tentang sumber rencana harian UNSOED rencana pustaka harian pedoman rencana harian 3. Sosialisasi Mahasiswa KaRu. Mengkaji penilaian Mahasiswa KaRu. KaTim dan PP B.Shinta dapat rencana harian UNSOED membuat rencana harian secara terjadwal 2.158 Tabel .. KaTim dan UNSOED Survey Perawat Pelaksana rencana harian 2. KaTim Perawat rencana harian Profesi ners dan PP mampu setiap kali dinas.. dan PP Aspek yang Dinilai Karu Katim Katim PP . Pelaksanaan 1... PP R. KaTim Tersusunnya koordinasi tentang Profesi ners dan PP form rencana pembuatan rencana UNSOED harian harian pada KaRu. Perawat penggunaan form Profesi ners KaTim. Aplikasi pembuatan Mahasiswa KaRu. Tempat Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta No Tabel . KaTim. Pelaksanaan Pembuatan Rencana Harian KaRu. Evaluasi pembuatan Mahasiswa KaRu. KaTim Mengetahui rencana harian Profesi ners dan PP tingkat UNSOED kemampuan dalam pembuatan rencana harian. KaTim.

TEORI BERUBAH Perubahan pelayanan keperawatan mempunyai dua pilihan yang berhubungan dengan perubahan. mereka melakukan inovasi dan berubah atau mereka yang diubah oleh suatu keadaan atau situasi. kepala tim dan perawat pelaksana. Artinya selama dilakukan intervensi semua perawat membuat rencana harian setiap hari. iklim motivasi dan reward yang akan didapatkan ketika sudah menjalankan kegiatan tersebut. Variable Sebelum Sesudah Rencana Harian KaRu 0% 100% Rencana Harian KaTim 0% 100% Rencana Harian PP 0% 100% Sumber : Hasil observasi di ruang Shinta RSJD Surakarta Selisih 100% 100% 100% Berdasarkan tabel diatas. dengan nilai 100%. karena berkaitan dengan sifat masing-masing individu. faktor lingkungan. . Evaluasi Pembuatan Rencana Harian di ruang Shinta. dan hasil evaluasi juga menunjukkan bahwa rencana harian perawat dikatakan sudah cukup baik. Perubahan pelayanan kesehatan/ keperawatan merupakan kesatuan yang menyatu dalam perkembangan dan perubhaan keperawatan di Indonesia..159 1 2 3 4 5 6 Menyusun Rencana Harian setiap kali dinas Mencantumkan tanggal dinas di Rencana Harian Urutan kegiatan disusun secara kronologis Tercantum kegiatan manajerial Tercantum kegiatan asuhan Rencana Harian dikerjakan secara konsisten Total Skor 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 24 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Tabel . D. Perubahan menuju kebiasaan yang baik sangat sulit untuk dilaksanakan.. terjadi peningkatan antara sebelum dan sesudah dilakukan intervensi pembuatan rencana harian kepala ruang.

2. . dan termasuk adanya tujuan yang jelas. Pencairan (unfreezing)–motivasi yang kuat untuk beranjak dari keadaan semula dan berubahnya keseimbangan yang ada. W.160 Perubahan dapat dijabarkan dengan beberapa cara. Perubahan yang tidak direncanakan adalah perubahan yang terjadi tanpa persiapan. maka perawat harus dapat mengelola perubahan. dan siap untuk berubah atau melakukan perubahan. termasuk perubahan yang direncanakan atau yang tidak direncanakan. menyiapkan diri. teori Kurt Lewin paling banyak dianut oleh para inovator dan pemberharu. yang meliputi: 1) unfreezing. J. Lewin (1951) mengungkapkan bahwa perubahan dapat dibedakan menjadi 3 tahapan. (Kurt Lewin.. Bergerak (moving)–bergerak menuju keadaan yang baru atau tingkat/tahap perkembangan baru karena memiliki cukup informasi serta sikap dan kemam-puan untuk berubah. kemudian melakukan langkah nyata untuk berubah dalam mencapai tingkat atau tahap baru. merasa perlu untuk berubah dan berupaya untuk berubah. 1982). 1951 dari Lancaster. Untuk alasan tersebut. atau perubahan karena suatu ancaman. Perubahan terencana lebih mudah dikelola daripada perubahan yang terjadi pada perkembangan manusia. Diantara banyak teori perubahan. Lancaster. memahami masalah yang dihadapi. dan mengetahui langkah–langkah penyelesaian yang harus dilakukan. Perubahan tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut: 1. Sebaliknya perubahan yang direncanakan adalah perubahan yang telah direncanakan dan dipikirkan sebelumnya. dan 3) refreezing. 2) moving. tanpa persiapan. terjadi dalam waktu yang lama.

kritik yang konstruktif dalam upaya pembinaan (reinforcement) yang terus-menerus. motivasi telah mencapai tingkat atau tahap baru. atau mencapai keseimbangan baru. Salah satu teori perubahan yang dikenal dengan teori lapangan (field theory) dengan analisis kekuatan medan (force field analysis) dari Kurt Lewin (1951) dalam Ma’rifin. Faktor Pendorong Terjadinya Perubahan a. dan berkelanjutan. .161 3. Pembekuan (refreezing). Kebutuhan dasar manusia Manusia memiliki kebutuhan dasar yang tersusun berdasarkan hierarki kepentingan. Adanya tuntutan kebutuhan yang semakin meningkat. menyebabkan perawat harus berubah secara terencana dan terkendali. Perubahan terjadi apabila salah satu kekuatan lebih besar dari yang lain. Di dalam keperawatan kebutuhan ini dapat dilihat dari bagaimana keperawatan mempertahankan dirinya sebagai profesi dalam upaya memenuhi kebutuhan masyarakat akan pelayanan/asuhan keperawatan yang profesional. Oleh karena itu. perlu selalu ada upaya untuk mendapatkan umpan balik. Kebutuhan yang belum terpenuhi akan memotivasi perilaku sebagaimana teori kebutuhan Maslow (1954). 1. (1997). ada kekuatan pendorong untuk berubah (driving forces) dan ada kekuatan penghambat terjadinya perubahan (restraining force). Tingkat baru yang telah dicapai harus dijaga agar tidak mengalami kemunduran atau bergerak mundur pada tingkat atau tahap perkembangan semula.

162 b. d) Semua individu yang terkena perubahan harus dilibatkan dalam perencanaan perubahan. dan (3) kebutuhan untuk dikasihi. yaitu: a) Perubahan hanya boleh dilaksanakan untuk alasan yang baik. Kebutuhan dasar interpersonal Manusia memiliki tiga kebutuhan dasar interpersonal yang melandasi sebagian besar perilaku seseorang: (1) kebutuhan untuk berkumpul bersama-sama. . (2) adanya persepsi yang kurang tepat. (3) reaksi psikologis. faktor penghambat (restraining force) terjadinya perubahan yang disebabkan oleh: (1) adanya ancaman terhadap kepentingan pribadi. dan perasaaan emosional. 2. (2) kebutuhan untuk mengendalikan/melakukan kontrol. dan (4) toleransi untuk berubah rendah. 3. Kebutuhan tersebut di dalam keperawatan diartikan sebagai upaya keperawatan untuk ikut berpartisipasi aktif dalam pembangunan kesehatan dan perkembangan iptek. c) Semua perubahan harus direncanakan dan tidak secara drastis atau mendadak. b) Perubahan harus secara bertahap. kedekatan. Faktor Penghambat Menurut New dan Couillard (1981). Alasan Perubahan Lewin juga (1951) mengidentifikasi beberapa hal dan alasan yang harus dilaksanakan oleh seorang manajer dalam merencanakan suatu perubahan.

163 Alasan perubahan Lewin (1951) tersebut diperkuat oleh pendapat Sullivan dan Decker (1988) hanya ada alasan yang dapat diterapkan pada setiap situasi. yaitu: a) Perubahan ditujukan untuk menyelesaikan masalah. b) Perubahan ditujukan untuk membuat prosedur kerja lebih efisien. c) Perubahan ditujukan untuk mengurangi pekerjaan yang tidak penting .

Terjadi peningkatan penilaian tingkat kepuasan keluarga (16. Perlunya pemberian motivasi untuk semua perawat dalam melaksanakan pre dan post conference di ruangan. Perlu diadakan reward bagi perawat yang sudah mampu membuatan rencana harian perawat secara konsisten. Saran Berdasarkan pembahasan dan analisis situasi yang telah dilakukan.164 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan pembahasan dan hasil analisis data yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa : 1. 2. 4. 2. saran yang dapat diajukan adalah: 1. . Pencapaian pengadaan form pendelegasian 100% tercapai. 3.78%) dan kepuasan pasien (21.52%) terhadap perawatan di ruang Shinta sebanyak. 3. Terjadi peningkatan pelaksanaan pre dan post conference sebesar 100% di ruang Shinta. Perlu diadakan sosialisasi lebih lanjut mengenai lembar atau format pendelegasian yang baru. Terjadi peningkatan pembuatan rencana harian jangka pendek setiap perawat sebesar 100% di ruang Shinta.

. 5.165 4. PP) untuk memudahkan perawat dalam menjalankan fungsinya. Adanya ketegasan dari pihak Bidang Keperawatan dalam penerapan MPKP di ruangan rawat inap RSJD Surakarta. Ka Tim. Perlu adanya pembuatan format rencana harian perawat (Ka Ru.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful