1

PELAKSANAAN MODEL PRAKTEK KEPERAWATAN PROFESIONAL DI RUANG SHINTA RSJD SURAKARTA

DISUSUN OLEH: LAELATUL AROFAH TIA SULISTIAWATI DWI YULIASTUTI P HERAWATI NUR P ASTRI FEBRIANTI S MAHACAKRI DARA S G1B211003 G1B211011 G1B211012 G1B211016 G1B211024 G1B211026

FAKUTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PROGRAM PROFESI NERS PURWOKERTO 2012 BAB I PENDAHULUAN

2

A. Latar belakang Proses manajemen berlaku untuk semua orang yang mencari cara untuk mempengaruhi perilaku orang lain.Harsey dan Blanchard (1977) menyebutkan 4 fungsi manajerial yaitu perencanaan, pengorganisasian, motivasi, dan pengendalian. Keempat unsur tersebut saling berhubungan dan memerlukan ketrampilan-ketrampilan teknis, hubungan antar manusia, dan konseptual yang mendukung tercapainya suatu tujuan. Rumah sakit merupakan organisasi yang sangat kompleks dan merupakan komponen yang sangat penting dalam upaya peningkatan status kesehatan bagi masyarakat. Salah satu fungsi rumah sakit adalah

menyelenggarakanpelayanan dan asuhan keperawatan yang merupakan bagian dari sistem pelayanan kesehatan dengan tujuan memelihara kesehatan masyarakat seoptimal mungkin. Keperawatan merupakan bagian integral yang tidak bisa dipisahkan dari upaya pelayanan kesehatan secara keseluruhan yang menjadi salah satu faktor penentu baik buruknya mutu dan citra rumah sakit. Oleh karenanya kualitas pelayanan keperawatan perlu dipertahankan dan ditingkatkan seoptimal mungkin. Dalam rangka mencapai visi dan misinya, rumah sakit sangat membutuhkan suatu komponen yang penting dan pelaksanaan manajemen perawatan yang bermutu. Manajemen keperawatan merupakan suatu pelayanan keperawatan profesional dengan pengelolaan sekelompok perawat dalam suatu 1 tempat yang memeberikan asuhan keperawatan dengan menggunakan fungsi menjemen sehingga dapat memberikan asuhan keperawatan secara optimal

3

kepada klien, untuk itu manajemen keperawatan perlu mendapat prioritas utama dalam pengembangan keperawatan di masa depan. Hal ini berkaitan dengan tuntutan profesi dan tututan global bahwa setiap perkembangan dan perubahan memerlukan pengelolaan secara professional dengan

memperhatikan setiap perubahan yang terjadi (Nursalam, 2002). Pelayanan kesehatan pada saat ini telah mengalami perubahan sebagai konsekuensi dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perubahan status sosial ekonomi dan semakin pesatnya kemajuan media informasi. Berkenaan dengan hal tersebut pengetahuan dan kesadaran masyarakat pun sebagai konsumen untuk mendapat pelayanan profesional semakin meningkat, oleh karena itu mereka menuntut adanya peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Berbagai pendekatan sistempun disusun untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan yang aman, efektif dan efisien. Kualitas pelayanan kesehatan baik di Rumah Sakit ataupun Puskesmas dipengaruhi oleh sistem pelayanan atau asuhan keperawatan yang diberikan oleh perawat sebagai komponen terbesar yang memberikan kontribusinya. Pelayanan keperawatan memiliki banyak peran penting dalam pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan dan perubahan kebijakan. Perawat diharapkan dapat menjadi leader didalam timnya untuk merancang ataupun mengelola sistem pelayanan keperawatan yang modern. Permasalahan yang sering muncul di Indonesia dalam hal pengelolaan atau pelayanan keperawatan saat ini adalah belum diterapkannya sistem pengorganisasian asuhan keperawatan secara memadai bahkan di banyak rumah sakit pengorganisasiannya belum dikembangkan secara maksimal

sarana dan prasarana dalam mencapai tujuan. Hal tersebut berkaitan dengan tuntutan profesi dan tuntutan global bahwa setiap .4 sehingga asuhan keperawatan profesional belum dapat dicapai sesuai yang diharapkan. motivasi dan pengendalian. sumber daya untuk pelayanan asuhan keperawatan dimanfaatkan secara wajar. dan efektif. efisien. yaitu perencanaan. hubungan antar manusia dan konseptual yang mendukung tercapainya asuhan keperawatan yang bermutu. agama. berdaya guna dan berhasil guna kepada klien. Hal ini dapat dicapai dengan adanya manajemen yang baik. Keempat fungsi tersebut saling berhubungan dan memerlukan ketrampilan-ketrampilan teknis. Ciri – ciri mutu asuhan keperawatan yang baik antara lain: memenuhi standar profesi yang ditetapkan. etika dan tata nilai masyarakat diperhatikan dan dihormati. Manajemen keperawatan merupakan pelayanan keperawatan profesional dimana tim keperawatan dikelola dengan menjalankan empat fungsi manajemen. memuaskan bagi pasien dan tenaga keperawatan serta aspek sosial. manajemen keperawatan perlu mendapat prioritas utama dalam pengembangan keperawatan di masa depan. Manajemen merupakan suatu pendekatan yang dinamis dan proaktif dalam menjalankan suatu kegiatan di organisasi. Dimana dalam manajemen tersebut mencakup kegiatan koordinasi dan supervisi terhadap staf. aman bagi pasien dan tenaga keperawatan. budaya. Sedangkan manajemen keperawatan adalah suatu proses bekerja melalui anggota staf keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan secara profesional. pengorganisasian. Dengan alasan tersebut. ekonomi.

Seorang perawat harus mampu merespon positif dan beradaptasi terhadap setiap perubahan ataupun tantangan. terutama ketika menjadi seorang manajer di lingkup keperawatan Rumah Sakit. Salah satu bentuk penataan sistem pemberian pelayanan keperawatan adalah melalui pengembangan model praktek keperawatan yang ilmiah dan biasa disebut Model Praktek Keperawatan Profesional (MPKP).5 perkembangan dan perubahan memerlukan pengelolaan secara profesional dengan memperhatikan setiap perubahan yang terjadi. pertumbuhan dan perkembangan teknologi dan area lain agar dapat menjalankan berbagai peran yang dimiliki. keterampilan yang berhubungan dengan basic science. Model ini sangat menekankan pada kualitas kinerja tenaga keperawatan yang berfokus pada profesionalisme keperawatan antara lain melalui penetapan dan fungsi setiap jenjang tenaga keperawatan. Strategi yang dapat di laksanakan oleh mahasiswa Program Profesi Ners FKIK Unsoed yaitu dengan mengaplikasikan secara langsung pengetahuan manajerialnya di Ruang ShintaRSJD Surakarta dengan arahan dari pembimbing lapangan maupun dari pembimbing akademik yang intensif. ilmu-ilmu sosial. dan sistem penghargaan yang memadai. sehingga mahasiswa mampu menerapkan ilmu yang didapat dan mengelola ruang perawatan dengan pendekatan proses manajemen. sistem peuigasan. oleh karena itu perawat dituntut untuk memiliki penguasaan konsep. Pelaksanaan praktek tersebut memberikan masukan yang positif. sistem pengambilan keputusan. .

b. Tujuan Umum Setelah melakukan praktek peminatan keperawatan jiwa selama empat minggu di ruang Shinta RSJD Surakarta diharapkan mahasiswa mampu menerapkan proses MPKP di ruangan. Mampu mengidentifikasi dan menyusun prioritas permasalahan yang ada di ruang Shinta d. . Mampu melakukan analisa tentang gambaran umum ruang Shinta. Mampu melaksanakan dan mengevaluasi pelaksanaan rencana kegiatan yang telah disusun sesuai prioritas di ruang Shinta. Tujuan Khusus Secara khusus tujuan dari praktek peminatan keperawatan jiwa adalah: a.6 B. e. Mampu menyusun rencana kegiatan untuk mengatasi permasalahan yang ada di ruang Shinta. Tujuan 1. Mampu melakukan/ menerapkan model keperawatan MPKP di ruang Shinta. 2. c.

Sebagai referensi di perpustakaan yang dapat digunakan oleh peneliti yang mempunyai peminatan di bidang pengelolaan sumber daya manusia yang berkaitan dengan pelaksanaan Model Praktik Keperawatan Profesional di ruang rawat inap rumah sakit. . Institusi Pendidikan/Keilmuan a. Perawat Sebagai masukan bagi perawat dalam meningkatkan pelaksanaan Model Praktik Keperawatan Profesional di Ruangan. b. Manfaat Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada: 1.7 C. Hasil aplikasi ini merupakan masukan bagi pengembangan ilmu khususnya mengenai pelaksanaan Model Praktik pengetahuan Keperawatan Profesional di ruang rawat inap rumah sakit. 3. Instansi Pelayanan/ Rumah Sakit Sebagai informasi bagi pimpinan dan staf dalam pengembangan Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta khususnya dalam pelaksanaan Model Praktik Keperawatan Profesional. 2.

Tinjaua Teori Manajemen adalah proses dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain (Gillies. dan rasional untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya. proses manajemen harus dilakukan dengan disiplin demi menjamin pelayanan yang diberikan kepada pasien atau keluarga.8 BAB II LANDASAN TEORI A. 1989). Pengarahan (directing) 4. efektif. Model praktik keperawatan menempatkan pendekatan manajemen sebagai pilar praktik profesional yang pertama. Swanburg (2000) mendefinisikan manajemen sebagai ilmu atau seni tentang bagaimana menggunakan sumber daya secara efisien. terapi. Pendekatan manajemen adalah suatu proses kerja sama anggota staf keperawatan untuk memberikan asuhan. Pengendalian (controling) dan bantuan kepada para . Pengorganisasian (organizing) 3. Perencanaan (planning) 2. 1989). Di ruang MPKP pendekatan manajemen diterapkan dalam bentuk fungsi manajemen yang terdiri dari : 1. Oleh sebab itu. pasien (Gillies. Pelayanan keperawatan adalah pelayanan yang dilakukan oleh banyak orang sehingga diperlukan penerapan pendekatan manajemen.

Pengkajian variabel MPKP di ruang Shinta dilakukan . 2. yaitu: a. Professional Relationship. terdapat empat pilar yaitu Management Approach. MPKP III MPKP advance (tingkat lanjut) yang semua perawatnya minimal Ners sarjan keperawatan dan sudah mempunyai tenaga spesialis keperawatan jiwa dan doktor keperawatan yang bekerja di area keperawatan jiwa. Tetapi kepala ruang dan ketua tim berpendidikan minimal S1 keperawatan. MPKP transisi MPKP dasar yang masih memiiki tenaga perawat yang berpendidikan SPK. b. Beberapa modifikasi yang dilakukan meliputi beberapa jenis MPKP : 1. Compensatory Reward. dan Patient Care Delivery. MPKP I MPKP basic (dasar) dengan tenaga perawat pelaksana minimal D3 keperawatan. dan sudah memiliki tenaga spesialis keperawatan jiwa. c. MPKP pemula MPKP dasar dengan semua tenaganya minimal D3 keperawatan 3. tetapi kepala ruang dan kepala tim nya minimal dari D3 keperawatan.9 Di rumah sakit jiwa telah dikembangkan MPKP dengan modifikasi MPKP yang telah dikembangkan di rumah sakit umum. MPKP profesional dibagi menjadi tiga tingkat. Dalam MPKP keperawatan jiwa. MPKP II MPKP intermediate (menengah) dengan tenaga minimal D3 keperawatan dan mayoritas Ners sarjana keperawatan.

teknologi. Professional Relationship. Kuantitas Keberhasilan sebuah organisasi rumah sakit sangat bergantung pada kemampuan manajemen dalam menyerasikan unsur-unsur karyawan (tenaga perawat) dengan system. Kuesioner diberikan pada 15 perawat di ruang Shinta. Formula tersebut juga dapat digunakan untuk menilai dan membandingkan apakah tenaga yang ada saat ini cukup. Metode pengumpulan data dengan menggunakan wawancara. yang mencakup 1 orang kepala ruang. Hal ini telah disadari bahwa sumber daya manusia sering kali menjadi penyebab kegagalan suatu organisasi. dan observasi.10 dengan mengelompokkan MPKP dalam 4 pilar yaitu Management Approach. Untuk keperluan itu beberapa ahli telah mengembangkan beberapa formula. Penetapan jumlah tenaga perawatan adalah proses membuat perencanaan untuk menentukan berapa banyak dan dengan kriteria tenaga yang seperti apa pada suatu ruangan tiap shifnya. 2 orang kepala Tim. . Compensatory Reward. kurang atau berlebih. budaya kerja dan lingkungannya. dan Patient Care Delivery. guna memvalidasi hasil kuesioner serta memperdalam pengkajian yang telah didapatkan. Oleh karena itu penetapan sumber daya manusia di rumah sakit dalam hal ini tenaga perawat perlu diperhatikan. 1. struktur organisasi. Man (Ketenagaan) a. dan 12 orang perawat assosiet. bukti dokumentasi. Observasi dilakukan pada aktivitas kegiatan ruangan. tugas. dengan menggunakan pedoman observasi. kuesioner.

Kualitas Menurut analisa Teng (2002) dalam Soeroso (2003) penyebab kegagalan organisasi dari sisi sumber daya manusia yaitu sikap serta poal piker yang negative. yaitu aktivitas dimana proses belajar tidak diarahkan untuk pekerjaan pegawai yang bersangkutan secara langsung. dan rendahnya kemampuan mengembangkan dan memotivasi karyawan. program pelatihan yang buruk. Djodjodibroto (1997) mengemukakan bahwa pelatihan. Secara teori indikator keberhasilan rumah sakit dalam memberikan pelayanan kesehatan salah satunya ditentukan oelh pemberian asuhan keperawatan yang berkualitas. Supaya dapat memberikan pelayanan keperawatan yang berkualitas diperlukan sumber daya yang cukup dengan kualitas yang tinggi dan professional sesuai dengan tugas dan fungsinya. Bagi tenaga professional di rumah sakit. program insentif yang buruk.11 b. yaitu: 1) Training. Menurut Djodjodibroto (1997) konsep pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) atau Human Resource Development mempunyai tiga program. yaitu aktiivitas dimana proses belajar diarahkan kepada pekerjaan saat ini 2) Education. kursus dan lokakarya yang diperlukan untuk paramedik adalah: 1) Etika komunikasi . staff Turnover (tingkat penggantian staff) yang tinggi. yaitu aktivitas dimana proses belajar tidak diarahkan kepada pekerjaan yang akan _racti 3) Development.

12

2) Komunikasi terapetik dalam perawatan 3) Etika keperawatan 4) Manajemen keperawatan 5) Hospital management training
6) Audit medik

7) Pencegahan penyakit nosokomial 8) Sanitasi rumah sakit Sedangkan untuk tenaga non medis diperlukan etika komunikasi. Disamping itu perlunya direncanakan rotasi dan mutasi SDM untuk menyesuaikan beban dan tuntutan pelayanan dimasa depan. Sehingga penyesuaian keahlian yang dibutuhkan dilakukan melalui pelatihan secara terus menerus dan berkesinambungan. Program pengambangan yang lain menurut Soeroso (2003) meliputi jaminan mutu (quality assurance), manajemen risiko (risk management), praktik berbasis bukti (evidence based atractice), audit klinik (clinical audit) dan audit medic (medical audit).

c. Metode/ standar/ pedoman/ prosedur tetap Standar adalah suatu tingkatan kinerja yang secara umum dikenal sebagai sesuatu yang dapat diterima, adekuat memuaskan dan digunakan sebagai tolak ukur atai titik acuan yang digunakan sebagai pembanding (Marr dan Biebiing, 2001).

13

Berdasarkan

clinical

practice

guidelines

(1990)

standar

merupakan keadaan ideal atau tingkat pencapaian tertinggi dan sempurna yang digunakan sebagai batas penerimaan minimal atau disebut juga sebagai kisaran variasi yang masih dapat diterima. Standar diperlukan untuk member suatu indikasi kualitas yang diinginkan dengan kata lain standar digunakan untuk menilai mutu sesuai dengan yang diharapkan. Suatu ruang perawatan didalam sebuah rumah sakit idealnya mempunyai prosedur tetap (protap) tindakan yang berlaku secara resmi yang dipahami dan diharapkan oleh seluruh staf di ruangan, ruang perawatan mempunyai prosedur tetap semua tindakan perawatan dan SAK (Standar Asuhan Keperawatan) minimal 10 kasus terbanyak. d. Fasilitas 1) Alat dan bahan Jumlah fasilitas dan alat-alat kedokteran maupun keperawatan dapat dipenuhi dengan standar yang telah ditetapkan oelh masing-masing institusi dengan memperhatikan jenis alat, bahan/ warna, ukuran, jenis kegiatan, jumlah yang dibutuhkan serta pertimbangan bahan yang diapakai, disimpan maupun dicuci. 2) Mesin Mesin adalah peralatan yang digerakan oleh mesin maupun elektronik yang digunakan untuk membantu menangani pasien baik secara medis maupun keperawatan. 3) Sumber Dana

14

Secara teori salah satu fungsi rumah sakit memberikan pelayanan kesehatan baik medis maupun non medis. Agar pelayanan rumah sakit dapat berjalan semaksimal mungkin dan dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat, maka rumah sakit perlu mempersiapkan peralatan atau bahan medis dan jasa pemborongan.

B. PROSES 1. Proses asuhan keperawatan Proses asuhan keperawatan adalah metode ilmiah dalam pemberian asuhan keperawatan. Proses asuhan keperawatan juga merupakan proses terapeutik yang melibatkan hubungan kerja sama antara perawat dengan klien, keluarga dan atau masyarakat untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal (Carpenito, 1989 cit Keliat, 1999). The Washington State Board Of Nursing (Swansburg, 1996) menyebutkan definisi legal praktek keperawatan meliputi observasi, pengkajian, diagnosis, asuhan atau konseling, dan penyuluhan kesehatan kepada individu yang sakit, cedera, atau pemeliharaan kesehatan atau pencegahan sakit yang dilaksanakan oleh perawat berlisensi.

Pelaksanaannya di terima dan disepakati oleh profesi keperawatan dan kedokteran. Menurut Swansburg (1996) elemen primer manajemen pelayanan keperawatan adalah adanya sistem untuk mengevaluasi seluruh upaya, termasuk evaluasi proses manajemen, praktek keperawatan, dan seluruh pelayanan keperawatan. Evaluasi memerlukan standar yang dapat

b. UU RI No. maka bukan hanya profesionalitas . Berdasarkan alasan ini maka kehadiran Standar Asuhan Keperawatan yang identik dengan standar profesi keperawatan. 1998). 23 tahun 1992 tentang Kesehatan dalam penjelasan tentang Pasal 53 ayat 2 mendefinisikan standar profesi sebagai “pedoman yang harus dipergunakan sebagai petunjuk dalam menjalankan profesi secara baik”. f. Standar Pelaksanaan / Implementasi e. Dengan memahami dan mematuhi kriteria dalam Standar Asuhan Keperawatan. Dalam standar-standar dimaksud mencantumkan kriteria-kriteria yang harus dipenuhi dalam pemberian asuhan keperawatan. yang selanjutnya diterapkan dalam pemberian asuhan keperawatan. Standar Evaluasi Standar Catatan Asuhan Keperawatan (Depkes RI. c.15 digunakan sebagai tolok ukur kualitas dan kuantitas pelayanan. berguna sebagai kriteria untuk mengukur keberhasilan dan mutu asuhan keperawatan. SAK terdiri dari 6 standar : a. Mutu asuhan keperawatan dapat dipertangungjawabkan secara profesional apabila kriteria-kriteria tersebut dapat dipenuhi. Atau secara singkat dapat dikatakan standar adalah pedoman kerja agar pekerjaan berhasil dan bermutu. Standar Pengkajian Keperawatan Standar Diagnosis Keperawatan Standar Perencanaan Keperawatan d. Standar juga dapat digunakan sebagai alat bantu menentukan sasaran tiap divisi dalam keperawatan.

tentang keadaannya untuk menentukan kebutuhan asuhan keperawatan. Kriteria : a) Menggunakan format yang ada b) Sistematis c) Diisi sesuai item yang tersedia d) Aktual (baru) e) Absah (valid) 2) Pengelompokkan data : . STANDAR I : Pengkajian Keperawatan Asuhan keperawatan paripurna memerlukan data yang lengkap dan dikumpulkan secara terus menerus. Data kesehatan harus bermanfaat bagi semua anggota tim kesehatan. Komponen pengkajian keperawatan meliputi : 1) Pengumpulan data : Kegiatan pengumpulan data dimulai pada saat pasien masuk dan dilanjutkan secara terus menerus selama proses keperawatan berlangsung.16 dijaga dan ditingkatkan. melainkan sewaktu-waktu dapat ditinjau kembali dan disesuaikan dengan perkembangan IPTEK Kesehatan khususnya Keperawatan. Sistematika penyusunan Standar Asuhan Keperawatan sebagai berikut: a. Standar Asuhan Keperawatan tidak harus baku. tetapi juga meliputi aspek-aspek keamanan dan kenyamanan pasien. serta sistem nilai masyarakat yang berlaku.

Diagnosa keperawatan dirumuskan berdasarkan data status kesehatan pasien. Kriteria : a) Data Biologis b) Data Psikologis c) Data Sosial d) Data Spiritual 3) Perumusan masalah Kriteria : a) Kesenjangan antara status kesehatan dengan norma dan pola fungsi kehidupan. . b. STANDAR II : Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan menggambarkan masalah pasien yang nyata maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan yang pemecahannya.17 Dengan mengelompokkan data. b) Perumusan dikumpulkan. penyebab dan gejala/tanda (PES) atau terdiri dari masalah dan penyebab (PE). dianalisis dan dibandingkan dengan norma fungsi kehidupan pasien. 3) Komponennya terdiri dari masalah. Kriteria : 1) Diagnosa masalah ditunjang oleh data yang telah keperawatan dihubungkan dengan penyebab kesenjangan dan pemenuhan kebutuhan pasien 2) Di buat sesuai dengan wewenang perawat. perawat dapat segera menentukan masalah yang terjadi pada pasien.

2) Tujuan asuhan keperawatan. 5) Bersifat potensial apabila masalah kesehatan pasien kemungkinan besar akan terjadi 6) Dapat ditanggulangi oleh perawat. b) Masalah-masalah yang mengancam kesehatan seseorang adalah prioritas kedua. c. Komponen perencanaan keperawatan meliputi : 1) Prioritas masalah. Kriteria : a) Spesifik b) Bisa diukur c) Bisa dicapai d) Realistik e) Ada batas waktu 3) Rencana tindakan.18 4) Bersifat aktual apabila masalah kesehatan pasien sudah nyata terjadi. STANDAR III : Perencanaan Keperawatan Perencanaan Keperawatan disusun berdasarkan diagnosa keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan terpenuhinya kebutuhan klien. c) Masalah-masalah yang mempengaruhi perilaku merupakan prioritas ketiga. Kriteria : a) Masalah-masalah yang mengancam kehidupan merupakan priorias pertama. Kriteria : a) Disusun berdasarkan tujuan asuhan keperawatan .

ekonimis. nyaman.19 b) Melibatkan pasien/keluarga c) Mempertimbangkan latar belakang budaya pasien/keluarga d) Menentukan alternatif tindakan yang tepat e) Mempertimbangkan kebijaksanaan dan peraturan yang berlaku. privasi dan mengutamakan keselamatan pasien 8) Melaksanakan perbaikan tindakan berdasarkan respons pasien . pencegahan. tegas dengan bahasanya mudah dimengerti. lingkungan. Kriteria : 1) Dilaksanakan sesuai dengan rencana keperawatan 2) Menyangkut keadaan bio-psiko-sosio spiritual pasien 3) Menjelaskan setiap tindakan keperawatan yang akan dilakukan kepada pasien/keluarga 4) Sesuai dengan waktu yang telah ditentukan 5) Menggunakan sumberdaya yang ada 6) Menerapkan prinsip aseptik dan antiseptik 7) Menerapkan prinsip aman. sumber daya dan fasilitas yang ada f) Menjamin rasa aman dan nyaman bagi pasien g) Kalimat perintah ringkas. pemeliharaan serta pemulihan kesehatan dengan mengikutsertakan pasien dan keluarganya. STANDAR IV : Implementasi Keperawatan Implementasi keperawatan adalah pelaksanaan rencana tindakan yang ditentukan dengan maksud agar kebutuhan pasien terpenuhi secara maksimal yang mencakup aspek peningkatan. d.

20 9) Merujuk dengan segera bila ada masalah yang mengancam keselamatan pasien 10) Mencatat semua tindakan yang telah dilaksanakan 11) Merapikan pasien dan alat setiap selesai melakukan tindakan 12) Melaksanakan tindakan keperawatan berpedoman pada prosedur teknis yang telah ditentukan. Implementasi keperawatan berorientasi pada 14 komponen keperawatan dasar yang meliputi : 1) Memenuhi kebutuhan oksigen 2) Memenuhi kebutuhan nutrisi. STANDAR V : Evaluasi Keperawatan . keseimbangan cairan dan elektrolit 3) Memenuhi kebutuhan eliminasi 4) Memenuhi kebutuhan keamanan 5) Memenuhi kebutuhan kebersihan dan kenyamanan fisik 6) Memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur 7) Memenuhi kebutuhan gerak dan kegiatan jasmani 8) Memenuhi kebutuhan spiritual 9) Memenuhi kebutuhan emosional 10) Memenuhi kebutuhan komunikasi 11) Mencegah dan mengatasi reaksi fisiologis 12) Memenuhi kebutuhan pengobatan dam membantu proses penyembuhan 13) Memenuhi kebutuhan penyuluhan 14) Memenuhi kebutuhan rehabilitasi e.

adanya catatan tentang respon/tanggapan pasien terhadap penyakit disebut dokumentasi asuhan keperawatan.21 Evaluasi keperawatan dilakukan secara periodik. f. keluarga dan tim kesehatan 5) Evaluasi dilakukan sesuai dengan standar. Catatan asuhan keperawatan dilakukan secara individual. Kriteria : 1) Dilakukan selama pasien dirawat inap dan rawat jalan 2) Dapat digunakan sebagai bahan laporan 3) Dilakukan segera setelah tindakan dilaksanakan 4) Penulisannya harus jelas dan ringkas serta menggunakan istilah yang baku 5) Sesuai dengan pelaksanaan proses keperawatan 6) Setiap pencatatan harus mencantumkan initial/paraf/nama informasi. STANDAR VI : Catatan Asuhan Keperawatan Catatan keperawatan sebagai bukti dari pelaksanaan asuhan keperawatan. Kriteria : 1) Setiap tindakan keperawatan dilakukan evaluasi 2) Evaluasi hasil menggunakan indikator yang ada pada rumusan tujuan 3) Hasil evaluasi segera dicatat dan dikomunikasikan 4) Evaluasi melibatkan pasien. komunikasi dan perawat yang melaksanakan tindakan dan waktunya 7) Menggunakan formulir yang baku . sistematis dan berencana untuk menilai perkembangan pasien.

Skema mekanisme kerja fungsi-fungsi manajemen Menurut Monica (1998) cit Hersey dan Blancard (1977) menyebutkan bahwa manajemen yang komprehensif yaitu bekerja dengan dan melalui individu dan kelompok untuk mencapai tujuan organisasi. Planning atau Perencanaan Perencanaan adalah sebuah keputusan untuk suatu kemajuan yang berisikan apa yang akan dilakukannya serta bagaimana. 1998). Mekanisme kerja fungsi manajemen menurut Handoko (1995) dapat digambarkan dalam skema : Keinginan kebutuhan Perencanaan Pengorganisasia n Pengarahan Pengkoordinasian Informasi Pengawasan Tujuan Gambar 3. Proses manajemen pelayanan keperawatan terdiri dari: a. 2.22 8) Disimpan sesuai dengan peraturan yang berlaku (Depkes RI. Proses Manajemen Pelayanan Keperawatan Manajemen adalah suatu seni dalam menyelesaikan pekerjaan dengan melalui orang lain (Adikoesoema. 1994). kapan dan dimana akan dilaksanakannya (Marquis. 2000). Perencanaan dibuat untuk menentukan kebutuhan dalam asuhan keperawatan .

berisi langkah-langkah antisipasi untuk hal-hal yang menyimpang. memutuskan ukuran dan tipe tenaga keperawatan yang dibutuhkan. Kerangka perencanaan terdiri dari: 1) Misi. kelemahan. membuat pola struktur organisasi yang dapat mengoptimalkan efektifitas staff serta menegakkan kebijaksanaan dan prosedur operasional untuk mencapai visi dan misi institusi yang telah ditetapkan. berisikan tujuan yang ingin dicapai Obyektif. Model perencanaan meliputi : 1) Reactive planning. Perencanaan yang disusun mengacu kepada kerangka utama rencana strategi rumah sakit dengan mempertimbangkan kekuatan. peluang yang nyata dan ancaman eksternal yang harus diantisipasi. Unit perawatan merupakan unit terkecil dalam kegiatan pelayanan rumah sakit. mengalokasikan anggaran belanja. yaitu tak ada perencanaan. Perubahan yang . berisi tujuan jangka panjang mengenai bagaimana langkah mencapai visi 2) 3) 4) Filosofi. berisi pelaksanaan perencanaan Aturan. menegakkan tujuan. berisi langkah-langkah rinci bagaimana mencapai tujuan 5) 6) Prosedur.23 kepada semua pasien. sesuatu yang bisa menguatkan motivasi Tujuan. manajer langsung melakukan tindakan begitu menemukan masalah.

dan masa depan merupakan perencanaan yang disusun berdasarkan evaluasi pelaksanaan perencanaan masa lalu dan sekarang. 4) Proactive planning. Ciri dari perencanaan ini adalah tujuan yang akan dicapai jelas. malam) akibat perubahan kondisi bangsal dan permintaan fasilitas yang segera akibat kerusakan yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya b) Jangka menengah (periode dalam satu tahun) . risiko dan ketidakpastian jelas. tedapat pembatasan waktu peencanaan belangsung. masa sekarang dan masa depan. yaitu pembuatan perencanaan dengan memperhatikan masa lalu. yaitu perencanaan sudah dibuat sejalan dengan masalah yang muncul (telah ada bayangan atau perencanaan tetapi dalam pelaksanaannya dilakukan sejalan dengan pekembangan masalah. siang.24 terjadi tidak pasti karena dipengauhi oleh masalah dan kondisi yang ada 2) Inactive planning. terdapat indikator pencapaian target. masa sekarang sebagai pelaksanaan perencanaan. 3) Preactive planning. Perencanaan meliputi: a) Jangka pendek (target waktu dalam minggu/bulan) Meliputi perubahan jadwal dinas (pagi. yaitu penyusunan perencanaan dengan mengetahui rencana ke depan pencapaian target yang sudah pasti (sudah jelas dan tidak berubah). Masa lalu digunakan sebagai pengalaman untuk menyusun perencanaan sekarang dan masa depan.

1999). perbaikan peralatan/service. penambahan jumlah tenaga. koordinasi dengan kepala perawat instalasi/kepala instalasi. Model Praktek . Tugas kepala ruang dalam perencanaan meliputi: 1) Membuat jadwal dinas koordinasi dengan perawat primer 2) Membuat usulan pengembangan tenaga. penambahan peralatan. permintaan perlengkapan rutin/barang habis pakai c) Jangka panjang (untuk tahun mendatang) Meliputi pengembangan SDM baik perawat maupun non perawat. Organizing Di dalam pengorganisasian asuhan keperawatan dikenal beberapa model pemberian asuhan keperawatan.25 Meliputi pengaturan dinas. 3) Mengajukan permintaan peralatan dan obat-obatan sesuai kebutuhan. Tugas Kepala Ruang dalam perencanaan (P1) meliputi: 1) Menyusun rencana kerja kepala ruang 2) Berperan serta menyusun falsafah dan tujuan pelayanan keperawatan di ruang rawat yang bersangkutan 3) Menyusun rencana kebutuhan tenaga keperawatan dari segi jumlah maupun kualifikasi untuk di ruang rawat. b. cuti tahunan dan sebagainya Berdasarkan buku pedoman uraian tugas tenaga keperawatan di RS (Depkes RI.

tergantung dari tingkat kebutuhan pasien dan model ini membutuhkan koordinasi diantara perawat-perawat yang melakukan asuhan keperawatan. Pasien menerima asuhan keperawatan yang diberikan secara total dan tidak terfragmentasi atau terpecah-pecah. Ada beberapa teori mengenai metode asuhan keperawatan care dellivery system antara lain menurut teori Gillies (1989): 1) Metode Kasus (Total Care Method) Disebut juga Total patient care. perawat mempunyai otonomi dan tanggung jawab terhadap perawatan pasien selama shift kerja (± 8 jam). 1996) yaitu : 1) Nilai-nilai profesional 2) Pendekatan manajemen 3) Metode pemberian Askep 4) Hubungan profesional 5) Sistem kompensasi dan penghargaan.26 Keperawatan Profesional (MPKP) terdiri dari 5 elemen subsistem (Hoffart and Woods. Metode ini lebih mudah dikerjakan karena satu orang perawat hanya bertanggung jawab pada satu atau dua orang pasien dan maksimal tiga. Kelebihan dari metode kasus ini: a) Sederhana dan langsung b) Garis pertanggung jawaban jelas c) Kebutuhan klien cepat terpenuhi d) Memudahkan perencanaan tugas .

Kerugian dari metode ini. terutama supervisi dari kepala ruang untuk menghindari kesalahan dalam pemberian asuhan keperawatan . 2) Metode Fungsional (functional nursing) Perawat pelaksana hanya bertugas berdasarkan tugas tertentu (task oriented). yaitu: a) Asuhan keperawatan menjadi terfragmentasi b) Kepuasan kerja rendah c) Tidak ada tantangan dalam melakukan tugas d) Lebih banyak membutuhkan koordinasi. karena pada pelaksanaannya memerlukan perawat pelaksana yang mempunyai kemahiran.27 Kerugian dari metode ini. yaitu: a) Membutuhkan dana yang cukup tinggi (Costly). yaitu: a) Lebih efisien b) Tugas dapat segera diselesaikan c) Sedikit kebingungan karena tugasnya hanya satu d) Kebutuhan akan perawat profesional (register nurse) sedikit sehingga dana yang dibutuhkan juga minimal. Keuntungan dari metode ini. keterampilan dan profesionalisme tinggi sehingga reward juga harus tinggi. b) Memerlukan supervisi yang adekuat dari kepala ruang (charge nurse) c) Memerlukan kepala ruang (charge nurse) yang mampu memberikan training yang baik kepada perawat pelaksana.

Keuntungan dari metode ini. 4) Metode Primer (primary nursing) Metode ini merupakan suatu metode penugasan kerja terbaik dalam suatu organisasi atau kelompok kerja dengan semua staf keperawatan yang profesional. yaitu: a) Saat pelaksanaan rencana keperawatan yang dibuat oleh Ketua Tim. sehingga metode ini menjadi tidak efektif karena membutuhkan banyak waktu c) Jalur tanggung jawab menjadi tidak jelas keperawatan terfragmentasi dan dapat terjadi d) Asuhan overlapping/nursing error. Ketua Tim bertanggung jawab kepada kepala ruang. Pada pelaksanaannya hampir . yaitu: a) Meningkatkan metode kolaborasi b) Kebingungan akses ke pasien berkurang Kerugian dari metode tim. kemungkin terjadi pelaksanaan yang tidak sesuai standar asuhan keperawatan b) Membutuhkan perencanaan dan komunikasi diantara anggota tim.28 e) Keseluruhan asuhan keperawatan tidak diperhatikan karena tanggung jawab hanya pada tugas yang dilakukan 3) Metode Tim (team nursing) Metode ini menggunakan prinsip bahwa ada sekelompok perawat pelaksana yang dipimpin oleh ketua tim dalam memberikan asuhan keperawatan kepada sekelompok pasien.

pelaksanaan dan evaluasi keperawatan. Kebutuhan akan Register Nurse sangat tinggi. perawatan dilanjutkan oleh AN. yaitu: a) Tingkat kepuasan yang tinggi b) Tingkat tanggung jawab dan otomi jelas c) Perawat tertantang dalam menyelesaikan masalah dan diberi penghargaan Kerugian dalam metode ini. dan hal ini Dokter Kepala Ruang Sarana RS menjadi sulit karena kendala ekonomi sehingga RS tidak Perawat Primer Perawat Pelaksana Perawat Pelaksana Perawat Pelaksana . PN harus mempunyai kemampuan membina komunikasi antara pasien. dokter. Pada metode ini setiap perawat primer memberikan tanggung jawab secara menyeluruh terhadap perencanaan. yaitu: a) Costly b) Kesulitan dalam menentukan standar RN. Dalam satu tim PN mempunyai beberapa perawat pelaksana (associate nurse/AN) dan bila PN tidak ada. Keuntungan dari metode primer. semua PN harus RN. Setiap PN merawat 46 pasien dan bertanggung jawab terhadap pasien selama 24 jam dari pasien masuk sampai pasien pulang. Penanggung jawab adalah Perawat Primer (PN). Hal ini disebabkan untuk mencapai standar. AN dan anggota tim kesehatan lain. Ada kontinuitas asuhan keperawatan yang bersifat komprehensif dan dapat dipertanggungjawabkan.29 sama dengan metode case method nursing atau total patient care.

30 mampu memberi reward yang cukup dan terjadi keterbatasan tenaga. Gambar 4. memantau dan mengevaluasi semua sumber yang digunakan oleh pasien secara total selama sakit. Bagan Model Keperawatan Primer 5) Metode Manajemen Kasus (nursing case management) Pada metode ini ada seorang perawat yang menjalankan sekumpulan aktivitas. mengerahkan. Empat hal penting dalam manajemen kasus: a) Pencapaian berdasar waktu yang ditentukan tim yang terlibat b) Yang bertindak sebagai case manager adalah orang yang memberi pelayanan langsung c) unit d) Perlu partisipasi aktif pasien dan keluarga untuk menyusun evaluasi pelaksanaan kegiatan Seorang perawat/dokter yang terlibat bisa melampaui .

Uraian tugas pokok kepala ruang Tugas kepala ruangan dalam pengorganisasian. c) Melalui kombinasi kedua model tersebut diharapkan komunitas asuhan keperawatan dan akuntabilitas asuhan keperawatan terdapat pada PN. pemantauan dan evaluasi kegiatan guna peningkatan mutu pelayanan keperawatan di ruang rawat g) Mendukung terlaksananya program Patient Safety. c. meliputi: 1) Tugas Pokok: a) Mengelola kegiatan pelayanan dan asuhan keperawatan pasien di ruang rawat b) Melaksanakan fungsi kolaboratif dengan tim kesehatan lain c) Melaksanakan pendidikan kesehatan bagi pasien dan keluarga d) Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan bimbingan PKK e) Melakukan/membantu pelaksanaan penelitian f) Melakukan pengendalian. 2) Uraian tugas: .31 6) Model keperawatan primer modifikasi didasarkan pada beberapa alasan antara lain : a) Keperawatan primer tidak digunakan secara murni karena sebagai perawat primer harus mempunyai latar belakang pendidikan S1 Keperawatan. b) Keperawatan tim tidak digunakan secara murni karena tanggung jawab pasien terfragmentasi pada berbagai tim.

i) Melaksanakan asuhan dengan menggunakan pendekatan proses ilmiah j) Membuat usulan nilai pra DP3 semua tenaga yang menjadi tanggung jawabnya k) Membuat usulan pengembangan tenaga l) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan dalam rangka memperlancar pelaksanaan kegiatan di instalasi . disiplik. kebersihan dan keamanan ruangan. usulan perbaikan dan pemeliharaannya e) Menyusun data yang berhubungan dengan pelayanan untuk membuat laporan harian. triwulan serta tahunan f) Mengadakan rapat secara berkala untuk mengetahui masalah dan mendapatkan cara penyelesaian agar pelaksanaan pelayanan berjalan baik g) Memberikan pengarahan. bulanan.32 a) Mensosialisasikan. orientasi dan bimbingan kepada staf baru/mahasiswa praktek di ruangan h) Mengkoordinir pelaksanaan tatatertip. mengatur dan mengendalikan pelaksanaan kebijakan yang telah ditentukan kepada semua staf b) Mengecek kelengkapan inventaris peralatan dan obat-obatan yang tersedia untuk kelancaran pelayanan c) Mengajukan permintaan peralatan dan obat-obatan sesuai kebutuhan d) Memeriksa keadaan ruangan dan peralatan serta menyusun laporan kerusakan.

malam. dan PJ Berdasarkan struktur organisasi dan uraian jabatan keperawatan adalah sebagai berikut: 1) Tugas Pokok Primery Nurse: . d.33 m)Membagi staf keperawatan ke dalam grup MPM sesuai dengan kemampuan dan beban kerja n) Membuat jadwal dinas koordinasi dengan perawat primer (PN) o) Membagi pasien kepada grup MPM sesuai kemampuan dan beban kerja p) Memfasilitasi dan mendukung kelancaran tugas perawat primer dan perawatan asosiet (PN & AN) q) Melakukan supervisi dan memberi motivasi seluruh staf untuk mencapai kinerja yang optimal r) Melakukan upaya peningkatan mutu asuhan dan pelayanan dengan mengevaluasi melalui berbagai metode evaluasi peningkatan mutu s) Berperan sebagai konsultan/pembimbing bagi perawat primer (PN) t) Mendelegasikan tugas pada sore. AN . Uraian tugas. wewenang. dan hari libur kepada penanggung jawab tugas jaga ruangan u) Membuat laporan pelaksanaan tugas secara berkala/insidentil v) Bertanggung jawab terhadap kelengkapan entry data dalam billing system. dan tanggung jawab dari PN .

34 a) Mengelola asuhan keperawatan pasien di ruang rawat b) Melakukan fungsi kolaboratif dengan tim kesehatan lain c) Melaksanakan pendidikan kesehatan bagi pasien dan keluarga d) Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan bimbingan PKK e) Melakukan/membantu pelaksanaan penelitian f) Melakukan pengendalian. d) Bersama AN melakukan do’a bersama sebagai awal dan akhir tugas. menetapkan masalah/diagnosa dan perencanaan keperawatan kepada semua pasien yang menjadi tanggungjawabnya dan ada bukti direkam keperawatan. e) Melakukan pre conference dengan semua AN yang ada dalam grupnya pada setiap awal dinas pagi f) Membagi tugas / pasien kepada AN sesuai kemampuan dan beban kerja. . dilakukan setelah selasai operan tugas jaga malam. g) Melakukan pengkajian. h) Memonitor dan membimbing tugas AN. pemantauan dan evaluasi kegiaatan guna peningkatan mutu pelayanan keperawata di ruang rawat g) Mendukung terlaksananya program Patient Safety 2) Tugas Primary Nurse : a) Bertugas pada pagi hari b) Bersama AN menerima operan tugas jaga dari AN yang tugas jaga malam c) Bersama AN melakukan konfirmasi /Supervisi tentang kondisi pasien segera setelah selesai operan tugas jaga setiap pasien.

l) Melaksanakan post conference pada setiap akhir dinas dan menerima laporan akhir tugas jaga dari AN untuk persiapan operan tugas jaga berikutnya. o) Menyelenggarakan diskusi kasus/conference dengan dokter/tim kesehtan lain setiap seminggu sekali.35 i) Membantu tugas AN untuk kelancaran pelaksanaan asuhan pasien j) Mengoreksi. malam. r) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan dalam rangka memperlancar pelaksanaan kegiatan s) Menggantikan tugas PJ ruang pada pagi hari jika PJ tidak ada. q) Menyelenggarakan diskusi kasus/conference sesuai prosedur. m)Mendampingi AN dalam operan tugas jaga kepada AN yang tugas jaga berikutnya. n) Memperkenalkan AN yang ada dalam satu grup /yang akan merawat selama pasien dirawat kepada pasien baru. hari libur kepada perawat asosiete . k) Melakukan evaluasi hasil kepada setiap pasien sesuai tujuan yang ada dalam perencanaan asuhan keperawatan dan ada bukti dalam rekam keperawatan. merevisi dan melengkapi catatan askep yang dilakukan oleh AN yang ada dibawah tanggung jawabnya. p) Menyelenggarakan diskusi kasus /conference dalam pertemuan rutin keperawatan di ruangan minimal sebulan sekali. t) Mendelegasikan tugas perawat primer pada sore.

diagnosa dan rencana keperawatan (1) Kebenaran kajian data keperawatan (2) Kebenaran diagnosis (3) Kebenaran rencana keperawatan b) Kebenaran layanan asuhan. evaluasi dan resume keperawatan (1) Kebenaran dan ketepatan pelaksanaan tindakan keperawatan (2) Kebenaran evaluasi keperawatan . w) Perawat primer melakukan visite/monitoring perkembangan pasien dan memberitahukan serta menyiapkan pasien yang akan pulang x) Perawat primer meneriama konsultasi/keluahan pasien/keluarga dan berupaya mengatasinya.36 u) Memberikan bimbingan mahasiswa praktek yang ada dalam groupnya dalam rangka orientasi dan pelaksanaan praktek keperawatan. v) Perawat primer menginformasikan peraturan dan tata tertib yang berlaku pada pasien/keluarga. serta memfasilitasi pelaksanaan konsultasi dengan dokter y) Perawat primer membuat laporan tugas kepada Karu setiap akhir tugas tentang kondisi pasien dan masalah yang ada z) Mengikuti pertemuan ilmiah/rutin yang diselenggaraan RS di lingkungan tugasnya 3) Tanggung Jawab Primary Nurse : a) Kebenaran kajian data.

jadwal konsultasi & rencana tindakan yang akan dilakukan & rencana perawatan setelah pasien pulang f) Kelengkapan keperawatan g) Kebenaran bimbingan dan arahan kepada perawat asosiet dan mahasiswa praktek klinik keperawatan h) Kebenaran dan kelengkapan laporan dan dan kebenaran isian dokumen asuhan dokumen asuhan keperawatan 4) Wewenang Primary Nurse : a) Mengatur dan membimbing dan memberikan arahan tugas kepada AN/mahasiswa PKK yang menjadi tanggung jawabnya b) Meminta bahan dan perangkat kerja yang dibutuhkan untuk pelaksanaan asuhan dan pelayanan sesuai dengan kebutuhan pasien c) Melakukan kolaborasi dengan tim kesehatan d) Melakukan konsultasi dan koordinasi tugas dengan penanggung jawab ruang dan PN lain .37 (3) Kebenaran resume keperawatan c) Kebenaran dan ketetapan pendidikan/penyuluhan kesehatan pada pasien d) Pemenuhan kebutuhan kesehatan pasien dengan kolaborasi tim kesehatan lain e) Kelengkapan dan kebenaran informasi kepada pasien tentang dokter dan perawat yang bertanggung jawab.

disiplin. 6) Uraian Tugas Penanggung Jawab Tugas Jaga: a) Memberikan pengarahan. dan hari libur.38 e) Melakukan asuhan dan pelayanan yang komprehensif dan prima kepada semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya f) Mendelegasikan tugas pada AN bila sedang tidak bertugas. pemantuan dan evaluasi kegiatan guna peningkatan mutu pelayanan keperawatan di ruang rawat pada sore. malan. malam dan hari libur b) Melaksanakan fungsi kolaboratif dengan tim kesehatan lain c) Melaksanakan pendidikan kesehatan bagi pasien dan keluarga d) Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan bimbingan PKK e) Melakukan/membantu pelaksanaan penelitian f) Melakukan pengendalian. g) Mendukung terlaksananya program Patient Safety. kebersihan dan keamanan ruangan c) Melaksanakan asuhan keperawatan dengan menggunakan proses kekperawatan d) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan dalam rangka memperlancar pelaksanaan kegiatan di ruangan . orientasi dan bimbingan kepada mahasiswa praktek di ruangan b) Mengkoordinir pelaksanaan tata tertib. 5) Tugas Pokok Penanggung Jawab Tugas Jaga: a) Mengelola kegiatan pelayanan dan asuhan keperawatan pasien di ruang rawat pada sore.

malam dan hari libur f) Kebenaran dan ketepatan penggunaan sumber daya yang efisien dan efektif g) Kebenaran laporan pelaksanaan kegiatan asuhan dan pelayanan keperawatan. 7) Tanggung Jawab Penanggung Jawab Tugas Jaga: a) Ketepatan koordinasi tugas asuhan dan pelayanan di ruangan b) c) Kebenaran arahan tugas staf dan mahasiswa Kelancaran memfasilitasi kebutuhan yang diperlukan untuk asuhan dan pelayaan d) Kelancaran komprehensif dan prima layanan dan asuhan yang e) Kelancaran pelaksanaan pendelegasian tugas Pj. Ruang keperawatan pada sore. 8) Wewenang Penanggung Jawab Tim: .39 e) Membagi pasien kepada grup MPM sesuai kemampuan dan beban kerja f) Memfasilitasi dan mendukung kelancaran tugas asuhan dan pelayanan g) Melakukan supervisi dan memberi motivasi seluruh staf untuk mencapai kinerja yang optimal h) Melakukan upaya peningatan mutu asuhan dan pelayanan i) Berperan sebagai konsultan dari perawat asosiet (AN) pada saat PN tidak bertugas.

pemantauan dan evaluasi kegiatan guna peningkatan mutu pelayanan keperawatan di ruang rawat inap g) Mendukung terlaksananya program Patient Safety.40 a) Mengatur dan membimbing dan memberikan arahan anggota tim/mahasiswa PKK yang menjadi tanggung jawabnya b) Meminta bahan dan perangkat kerja yang dibutuhkan untuk pelaksanaan asuhan dan pelayanan sesuai dengan kebutuhan pasien c) d) Melakukan kolaborasi dengan tim kesehatan Melakukan konsultasi dan koordinasi tugas dengan penanggung jawab ruang dan PN lain e) Melakukan asuhan dan pelayanan yang komprehensif dan prima kepada semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya f) tidak bertugas. Mendelegasikan tugas pada AN bila sedang . 9) Tugas Pokok Assosiate Nurse ( AN ) : a) Melaksanakan asuhan keperawatan pasien di ruang rawat inap b) Melaksanakan fungsi kolaboratif dengan tim kesehatan lain c) Melaksanakan pendidikan kesehatan bagi pasien dan keluarga d) Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan bimbingan PKK e) Melakukan/membantu pelaksanaan penelitian f) Melakukan pengendalian.

41 10) Uraian Tugas Assosiate Nurse (AN): a) Melakukan doa bersama setiap awal dan akhir tugas yang dilakukan setelah selesai serah terima operan tugas jaga. f) Membimbing dan melakukan pendidikan kesehatan kepada pasien yang menjadi tanggung jawabnya dan ada bukti direkam keperawatan. c) Melakukan asuhan keperawatan kepada pasien yang menjadi tanggung jawab dan ada bukti direkam keperawatan. h) Melengkapi catatan asuhan keperawatan pada semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya. d) Melakukan monitoring respon pasien dan ada bukti direkam keperawatan. j) Mengikuti post konference yang diadakan oleh PN pada setiap akhir tugas dan melaporkan kondisi/perkembangan semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya kepada PN dan ada bukti di rekam keperawatan . e) Melakukan konsultasi tentang masalah pasien kepada PN. b) Mengikuti pre konference yang dilakukan PN setiap awal tugas pagi. g) Menerima keluhan pasien dan keluarga dan berusaha untuk mengatasinya. i) Melakukan evaluasi asuhan keperawatan setiap akhir tugas pada semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya dan ada bukti direkam keperawatan.

dan hari libur o) Berkoordinasi dengan Pj tugas jaga apabila ada kesulitan tentang pelayanan p) Bertanggung jawab atas kelengkapan entry data dalam Billing System. wajib mengenalkan AN yang ada dalam satu group yang akan memberikan asuhan keperawatan pada jaga berikutnya kepada pasien/keluarga baru. l) Mengkuti diskusi kasus/conference dalam pertemuan rutin m)Melaksanakan tugas lain sesuai uraian tugas AN n) Melaksanakan tugas PN pada sore. malam. 11) Tanggung Jawab Assosiete Nurse (AN ): a) Kebenaran asuhan keperawatan meliputi kajian diagnosis.42 k) Bila PN tidak ada. rencana tindakan keperawatan b) Kebenaran dan ketepatan pelayanan dan asuhan keperawatan yang komprehensif dan prima c) Kelengkapan bahan dan peralatan kesehatan d) Kebenaran isian rekam keperawatan e) Kebenaran infomasi/bimbingan/penyuluhan kesehatan kepada pasien/keluarga f) Ketepatan penggunaan sumber daya secara efisien dan efektif 12) Wewenang Assosiete Nurse (AN) : a) Memeriksa kelengkapan dan alat yang diperlukan b) Meminta bahan dan perangkat kerja sesuai dengan kebutuhan pelaksanaan tugas .

dan hari libur d) Melakukan asuhan keperawatan pasien e) Melaporkan asuhan keperawatan pasien ke Pj tugas jaga dan Perawat Primer (PN) e. Teori model motivasi yang perlu diterapkan dalam rangka mencapai sasaran organisasi adalah : a) Model tradisional: menaikkan sistem upah untuk memotivasi para karyawan . 1994). Actuating Actuating/directing manajer/pimpinan untuk tidak bisa lepas mengarahkan dari kemampuan ataupun stafnya bawahannya untuk menjalankan fungsi masing-masing dengan baik (Adikoesoema.43 c) Melakukan pengkajian. menetapkan diagnosa dan perencanaan keperawatan bagi pasien baru pada saat PN tidak bertugas sore. Adikoesoema (1994) menjelaskan beberapa cara manajer merangsang bawahannya agar pelaksanaan kegiatan meningkat dalam rangka mencapai tujuan organisasi : 1) Motivasi Motivasi atau memotivasi merupakan proses dengan apa seseorang manajer merangsang bawahannya untuk bekerja dalam rangka mencapai sasaran organosatoris. malam.

melalui kerja sama dengan petugas lain yang bertugas diruang rawatnya. . d) Memberikan orientasi kepada siswa/mahasiswa keperawatan yang menggunakan ruang rawatnya sebagai lahan praktek. b) Menyusun jadual/daftar dinas tenaga keperawatan dan tenaga lain sesuai kebutuhan pelayanan dan peraturan yang berlaku di RS. tata tertib ruang rawat. mengadakan training.44 b) Model hubungan antar manusia: kontak sosial yang dialami karyawan baik di alam kerja maupun di luar jam kerja juga mempunyai arti penting 2) Kemampuan Individu Untuk memajukan organisasi/perusahaan disamping motivasi juga penting untuk menelaah kemampuan individu. c) Melaksanakan orientasi kepada tenaga keperawatan baru/tenaga lain yang akan kerja di ruang rawat. Menurut buku pedoman uraian tugas tenaga keperawatan di Rumah Sakit tugas Kepala ruang sebagai penggerak dan pelaksanaan (P2) terdiri dari : a) Mengatur dan mengkoordinasikan seluruh kegiatan pelayanan di ruang rawat. e) Memberi orientasi kepada pasien/keluarganya meliputi: penjelasan tentang peraturan RS. Bila sudah menjadi karyawan tentu tugas manajer meng-upgrade. kursus dan sebagainya secara berkelanjutan untuk memajukan pengetahuannya.

j) Mengatur dan mengkoordinasikan pemeliharaan alat agar selalu dalam keadaan siap pakai. hal ini penting untuk tindakan keperawatan. infeksi/non infeksi untuk kelancaran pemberian asuhan keperawatan. khususnya bila ada perubahan program pengobatan pasien. f) Membimbing tenaga keperawatan untuk melaksanakan pelayanan/asuhan keperawatan sesuai standar.45 fasilitas yang ada dan cara penggunaannya serta kegiatan rutin sehari-hari. . n) Memberi motivasi kepada petugas dalam memelihara kebersihan lingkungan di ruang rawat. m)Mengendalikan kualitas sistem pencatatan dan pelaporan asuhan keperawatan dan kegiatan lain secara tepat dan benar. i) Mengupayakan pengadaan peralatan dan obat-obatan sesuai kebutuhan berdasarkan ketentuan/kebijaksanaan RS. g) Mengadakan pertemuan berkala/sewaktu-waktu dengan staf keperawatan dan petugas lain yang bertugas di ruang rawatnya. k) Mendampingi visite dokter dan mencatat instruksi dokter. l) Mengelompokkan pasien dan mengatur penempatannya di ruang rawat menurut tingkat kegawatan. h) Memberi kesempatan/ijin kepada staf keperawatan untuk mengikuti kegiatan ilmiah/penataran dengan koordinasi kepala instalasi/kepala bidang perawatan.

Teori pengarahan SDDM: a) Teori X Teori ini menganggap karyawan adalah orang yang malas hingga harus diarahkan dengan paksaan bahkan dengan ancaman atau hukuman. q) Meneliti/memeriksa ulang pada saat penyajian makanan pasien sesuai dengan program dietnya. c) Teori Z Teori ini menyatakan bahwa peran serta semua jajaran karyawan merupakan kunci suksesnya produktivitas dari suatu organisasi. Controlling . b) Teori Y Teori ini menganggap bahwa rata-rata karyawan senang bekerja asal diberi rangsangan dan dihargai. perlu 3 hal penting: Motivasi. Kemampuan individu dan Sistem manajemen. mempunyai kemauan dan dedikasi yang tinggi asal diajak komunikasi yang baik serta imbalan yang baik. Untuk mencapai sasaran tersebut. f.46 o) Meneliti pengisian formulir sensus harian pasien di ruang rawat. p) Meneliti/memeriksa pengisian daftar permintaan makanan pasien berdasarkan macam dan jenis makan pasien.

47 Nursalam (2002). mendengar laporan ketua tim tentang pelaksanaan tugas. Kegiatan supervise meliputi: 1) Pengawasan langsung melalui inspeksi. b) Mengawasi dan menilai siswa/mahasiswa keperawatan untuk memperoleh pengalaman belajar sesuai tujuan program bimbingan yang telah ditentukan. 3) Mengevaluasi upaya pelaksanaan dan membandingkan dengan rencana keperawatan yang telah disusun bersama ketua tim 4) Audit keperawatan Menurut buku pedoman uraian tugas tenaga keperawatan di RS bahwa. mengamati sendiri atau melalui laporan langsung secara lisan dan memperbaiki atau mengawasi kelemahan-kelemahan yang ada saat itu juga 2) Pengawasan tidak langsung yaitu mengecek daftar hadir ketua tim. pengawasan melalui komunikasi. membaca dan memeriksa rencana keperawatan serta catatan yang dibuat selama dan sesudah proses keperawatan dilaksanakan (didokumentasikan). mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan ketua tim maupun pelaksana mengenai asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien. . Pengendalian dan Penilaian (P3) meliputi : a) Mengendalikan dan menilai pelaksanaan asuhan keperawatan yang telah ditentukan. tugas kepala ruang yaitu sebagai Pengawasan.

baik sumber daya. Untuk keperluan mengevaluasi hasil kerja diperlukan terlebih dahulu persiapan: 1) Standard operation procedure. d) Mengawasi. 3) Feedback control. Pengendalian ini untuk mengontrol terhadap hasil dari pekerjaan yang telah diselesaikan. jika ada penyimpangan akan merupakan pelajaran untuk aktifitas yang sama di masa yang akan datang. 2) Standar/pedoman diagnosis dan terapi. SDM. peralatan dan obat-obatan. 3) Indikator penilaian penampilan Fungsi pengawasan dan pengendalian merupakan fungsi terakhir dari proses manajemen. . mengendalikan dan menilai pendayagunaan tenaga keperawatan. yaitu pengendalian ini dipusatkan pada permasalahan pencegahan timbulnya penyimpangan- penyimpangan dari bawahan terhadap kinerja pemberi pelayanan keperawatan.48 c) Melakukan penilaian kinerja tenaga keperawatan yang berada dibawah tanggung jawabnya. Ada 3 macam pengawasan yaitu : 1) Pengendalian pendahuluan. bahan/alat maupun dana. 2) Concurent control. pengendalian ini berlangsung saat pekerjaan berlangsung guna memastikan sasaran tercapai. e) Mengawasi dan menilai mutu asuhan keperawatan sesuai standar yang berlaku secara mandiri atau koordinasi dengan tim pengendalian mutu asuhan keperawatan.

TOI adalah rata-rata jumlah hari tempat tidur tidak ditempati dari saat diisi hingga saat terisi berikutnya. Standar internasional yang baik adalah 80-90%. sedangkan BOR = Jumlah hari standar nasional adalah 70-80%. adalah rata-rata lama hari seorang pasien dirawat. Indikator ini selain memberikan gambaran tingkat efisiensi juga dapat memberikan gambaran mutu pelayanan jika diterapkan pada diagnosis tertentu yang masih membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. BTO) a. ALOS (Length Of Stay). LOS. Efisiensi Ruang Rawat Efisiensi pelayanan meliputi 4 indikator mutu pelayanan kesehatan yang meliputi (BOR. OUTPUT 1. TOI. merupakan indikator untuk menilai seberapa efektifitas pemakaian tempat tidur yang ada di suatu ruangan atau rumah Sakit dalam jangka waktu tertentu. TOI (Turn Over Internal).49 C. LOS = Jumlah Lama hari perawatan pasien keluar Jumlah pasien keluar hidup atau mati c. Indikator ini dapat memberikan TOI= jumlah total kapasitas tempat tidur. BOR (Bed Occupancy Rate). perawatan x 100% Jumlah Tempat Tidur x hari perawatan b. penghitungan lama tempat tidur tidak terisi. Secara umum ALOS yang ideal antara 6-9 hari.hari perawatan Jumlah pasien keluar (hidup+mati) .

B. dan kuantitas pelayanan kesehatan dalam memenuhi kebutuhan pasien. dan tercatat dan bukan hanya tingkat kesakitan dari pasien tapi juga jenis. Idealnya. kualitas.50 gambaran tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur. C) Instrumen A Instrumen A merupakan evaluasi terhadap pendokumentasian asuhan keperawatan yang telah baku. Dalam membuat dokumentasi harus memperhatikan aspek-aspek: 1) Keakuratan data 2) Breavity (ringkas) 3) Legibility (mudah dibaca) Komponen dokumentasi keperawatan: . nyata. a. Dokumentasi keperawatan merupakan sesuatu yang mutlak harus ada untuk perkembangan perawatan. Dokumentasi keperawatan adalah sistem pencatatan kegiatan sekaligus pelaporan semua kegiatan asuhan keperawatan sehingga terwujud data yang lengkap. Penerapan SAK (Instrumen A. Evaluasi dilakukan terhadap dokumentasi asuhan keperawatan pasien yang dirawat minimal 3 hari. tempat tidur kosong hanya dalam waktu 1-3 minggu. khususnya proses profesionalisasi keperawatan serta upaya uuntuk membina dan mempertahankan akontabilitas perawat dan keperawatan. 2.

Data harus bermanfaat bagi semua anggota tim kesehatan. tujuan.51 1) Pengkajian Asuhan keperawatan paripurna memerlukan data yang lengkap dan dikumpulkan secara terus-menerus tentang keadaaan pasien untuk menentukan kebutuhan asuhan keperawatan. dengan komponen terdiri atas masalah. dibuat sesuai dengan wewenang perawat. penyebab dan tanda gejala (PES) atau terdiri dari masalah dan penyebab (PE) yang bersifat aktual apabila masalah kesehatan sudah nyata terjadi dan bersifat potensial apabila masalah kesehatan kemungkinan besar akan terjadi. dan dibandingkan dengan fungsi normal kehidupan pasien. Kriteria diagnosa dihubungkan dengan penyebab kesenjangan dan pemenuhan kebutuhan pasien. dianalisa. Komponen rencana perawatan meliputi prioritas masalah. dan perumusan masalah. 3) Rencana keperawatan Perencanaan keperawatan disusun berdasarkan diagnosa keperawatan. dan dapat ditanggulangi oleh perawat. Komponen pengkajian meliputi pengumpulan data. Diagnosa dirumuskan berdasarkan data status kesehatan pasien. 2) Diagnosa keperawatan Diagnosa keperawatan menggambarkan masalah pasien baik aktual maupun potensial berdasarkan hasil pengkajian data. Prioritas masalah ditentukan . dan rencana tindakan. pengelompokan data.

nyaman. Tindakan perawatan dilakukan dengan menerapkan prinsip aseptik dan antiseptik. serta pemulihan kesehatan dengan mengikutsertakan pasien dan keluarga. menjaga privasi. Semua tindakan yang telah dilaksanakan dicatat pada format asuhan keperawatan yang berlaku. dan merapikan pasien dan alat setiap selesai tindakan.52 dengan memberi prioritas utama masalah yang mengancam kehidupan dan prioritas selanjutnya masalah yang mengancam masalah kesehatan pasien. Prioritas ketiga adalah masalah yang mempengaruhi perilaku. aman. Pelaksanaan tindakan keperawatan harus sesuai dengan rencana yang ada. sesuai waktu yang telah ditentukan dengan menggunakan sumber-sumber yang ada. 5) Evaluasi . pencegahan. 4) Implementasi Implementasi adalah pelaksanaan rencana tindakan yang ditentukan dengan maksud agar kebutuhan pasien terpenuhi yang mencakup aspek peningkatan. Perbaikan tindakan dilakukan berdasarkan respon pasien dan merujuk dengan segera bila ada masalah yang mengancam keselamatan pasien. menyangkut keadaan bio-psiko-sosio-spiritual pasien. menjelaskan setiap tindakan perawatan yang akan dilaksanakan pada klien. ekonomis. dan mengutamakan keselamatan pasien. pemeliharaan.

dan berencana. b. sistematis. Setiap pencatatan harus mencantumkan paraf dan nama perawat yang melaksanakan tindakan dan waktu pelaksanaan. dan menggunakan format yang tersedia serta sesuai dengan peraturan yangn berlaku. serta menggunakan istilah yang baku sesuai dengan pelaksanaan proses perawatan.53 Evaluasi dilaksanakan secara peroidik. untuk menilai perkembangan pasien. 6) Catatan asuhan keperawatan Pencatatan merupakan data tertulis tentang status kesehatan dan perkembangan pasien selama dalam perawatan. Pencatatan dilakukan selama pasien dirawat inap maupun rawat jalan. Dan untuk mengevaluasi hal ini diperlukan suatu instrumen yang baku. Pencatatan dapat digunakan sebagai bahan informasi dan komunikasi. Penulisan harus jelas dan ringkas. Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta menggunakan format standar . Evaluasi dilaksanakan dengan memeriksa kembali hasil pengkajian awal dan intervensi awal untuk mengidentifikasi masalah dan rencana perawatan selanjutnya termasuk strategi perawatan yang telah diberikan untuk memecahkan masalah pasien. Instrumen B Salah satu indikator mutu asuhan keperawatan adalah dilihat dari persepsi klien tentang mutu asuhan keperawatan yang diberikan.

c.54 asuhan keperawatan yang telah ditetapkan oleh rumah sakit untuk mengevaluasi persepsi klien terhadap mutu asuhan keperawatan. Instrumen C Dalam melakukan tindakan keperawatan yang baik harus sesuai dan mengacu pada protap-protap atau standar yang telah ditetapkan dengan hasil tindakan mencapai 100%. . Mutu Pelayanan Keperawatan Kegiatan menjamin kualitas pelayanan keperawatan merupakan kegiatan menilai. Misi. Metode penugasan dan landasan model pendekatan kepada klien yang ditetapkan. mekanisme kerja (standar-standar) yang diperlakukan di ruang rawat c. dan tujuan rumah sakit yang dijabarkan secara lokal ruang rawat b. 3. visi. memantau atau mengatur pelayanan yang berorientasi pada pasien. Struktur organisasi lokal. d. Sumber daya manusia keperawatan yang memadai baik kualitas maupun kuantitas. Keberhasilan pelaksanaan kegiatan peningkatan mutu supaya lancar dipengaruhi oleh: a. Sebagai dasar penilaian tindakan keperawatan yang mengacu pada instrumen evaluasi penerapan standar asuhan keperawatan di rumah sakit yang telah ditetapkan oleh Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta yang mengacu pada pedoman dari Departemen Kesehatan.

Administrasi dan Pengelolaan Pendekatan sistematik digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan berorientasi pada kebutuhan pasien.5 c) Standar 3. Nilai untuk standar 1 jika dilaksanakan sesuai kriteria yang ada adalah 4. Pola administrasi dan pengelolaan organisasi yang telah dikelola dan diorganisir dengan baik. b) Standar 2. Komitmen dari pimpinan rumah sakit (Nurachmah. Kesadaran dan motivasi dari seluruh tenaga keperawatan yang ada g. Fasilitas dan Perawatan Fasilitas dan peralatan yang memadai untuk mencapai tujuan pelayanan keperawatan. Staf dan Pimpinan Pelayanan keperawatan dikelola untuk mencapai tujuan pelayanan. f.8 d) Standar 4. . Falsafah dan Tujuan Pelayanan keperawatan dikelola dan diorganisasi agar dapat memberikan asuhan keperawatan yang optimal bagi pasien sesuai dengan standar yang ditetapkan. Pencapaian nilai rata-rata standar 3 adalah 3. nilai rata-rata untuk standar 2 adalah 4.55 e. 2000). Tersedianya berbagai sumber/fasilitas yang mendukung pencapaian kualitas pelayanan yang diberikan. 1) Pelayanan keperawatan menurut Depkes 1992 meliputi 7 standar yaitu : a) Standar 1.

g) Standar 7. 4.56 e) Standar 5. Evaluasi dan Pengendalian Mutu Pelayanan keperawatan menjamin adanya asuhan keperawatan yang bermutu tinggi dengan terus-menerus melibatkan diri dalam program pengendalian mutu rumah sakit. sopan santun. Pelayanan yang diberikan dipengaruhi oleh tersedianya tenaga yang berkualitas maupun sarana yang tersedia guna menunjang proses pelayanan. Kebijakan dan Prosedur Adanya kebijakan dan prosedur secara tertulis yang sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan prinsip praktek keperawatan yang konsiten dengan tujuan pelayanan keperawatan. maka pasien merasa tidak diterima. dan komunikatif. Penilaian Kinerja Pribadi Perawat Rumah sakit adalah bagian integral dari keseluruhan sistem pelayanan kesehatan yang dikembangkan sesuai rencana pembangunan kesehatan. Pelayanan kesehatan tidak terlepas dari “ Personality performance” atau penampilan pribadi dalam menangani pasien. Faktor tersebut perlu mendapat dukungan berupa sarana atau fasilitas penunjang seperti . Dampak dari tidak terpenuhinya kondisi tersebut. f) Standar 6. Pengembangan Staf dan Program Pendidikan Program dan pengembangan staf bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme.Penampilan pribadi merupakan ceriman sikap keseharian seperti kompetensi. kredibilitas. dapat diandalkan.

pengetahuan dan tanggungjawab menunjang pemberian pelayanan yang prima.1987 dan Nursalam. Nursalam 2002) Kepuasan Kerja Perawat Pengertian kepuasan kerja menurut Newstrom ”job satisfaction is the favorableness or unfavoraleness with employes view their work” kepuasan kerja berarti perasaan mendukung atau tidak mendukung yang dialami dalam kerja. Integritas dari karyawan termasuk kompetensi. penataan ruang. kepuasan kerja adalah keadaan emosional yang menyenangkan dengan pekerjaannya. sikap. 2002). Jenis alat evaluasi pelaksanaan kinerja perawat yang umum digunakan ada 5. 1984 cit. 5. Laporan bebas Pengguruan Cheklist pelaksanaan kerja Penilaian grafik Perbandingan pilihan (Henderson. d. Berdasarkan teori terdapat beberapa aspek yang dinilai yaitu: pengetahuan. b. keterampilan dan kinerja. c. Menurut Handoko. Proses penilaian kinerja dapat digunakan secara efektif dalam mengarahkan perilaku pegawai dalam rangka menghasilkan jasa keperawatan dalam kualitas dan volume yang tinggi. Penilaian kinerja merupakan alat yang paling dapat dipercaya oleh manajer perawat dalam mengontrol sumber daya manusia dan produktifitas (Swansburg. . yaitu: a. Kinerja perawat yang berkualitas akan menunjang proses pelayanan.57 ruang tunggu. kebersihan maupun peralatan yang digunakan. e. kenyamanan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja menurut Schemerhorn ada 5 yaitu: a. c.58 Sedangkan menurut Stephen Robin. kepuasan itu terjadi apabila kebutuhan-kebutuhan individu sudah terpenuhi dan terkait dengan derajat kesukaan dan ketidaksukaan dikaitkan dengan pegawai. e. Penyelia (supervisor). merupakan sikap umum yang dimiliki oleh pegawai yang erat hubungannya dengan imbalanimbalan yang mereka yakini akan mereka terima setelah melakukan sebuah pengorbanan. Promosi. Gaji. setiap pekerjaan memerlukan ketrampilan tertentu. Teman sekerja d. merupakan faktor pemenuhan kebutuhan hidup pegawai yang bisa dianggap layak atau tidak layak Wesley dan Yukl (1977) mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja dari kondisi sebenarnya adalah : a. Pekerjaan itu sendiri. Kompensasi: sikap pekerja terhadap pembayaran yang diterimanya setelah ia membandingkannya dengan rekan lain baik didalam maupun diluar organisasi tempat ia bekerja. sukar atau tidaknya suatu pekerjaan sera persaan seseorang bahwa keahliannya dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan tersebut akan meningkatkan atau mengurangi kepuasan kerja. berkaitan dengan ada atau tidaknya mendapat kesempatan untuk meningkatkan karir selama bekerja. penyelia yang baik mau menghargai pekerjaan bawahannya. b. Pada dasarnya kompensasi dapat .

Kebijakan  5. pinjaman. fasilitas kesehatan. hari libur. Teori “Hierarki Kebutuhan” dari Abraham Maslow. Misi  3.59 dikelompokkan ke dalam dua kelompok. Teori dasarnya adalah bahwa apabila kebutuhan dasar manusia belum terpenuhi. c. sedangkan kompensasi nonfinancial dapat berupa pekerjaan dan dari lingkungan dimana tempat bekerja.1 Kegiatan MPKP Penanggungjawab No Kegiatan Kabid Karu Katim I. Perencanaan 1. Pekerjaan itu sendiri: signifikansi pekerjaan. yaitu kompensasi finansial dan kompensasi bukan financial. b. Manajemen Approach A. Pengorganisasian PP  . Rencana jangka pendek   B. Filosofi  4. Tabel 2. pensiunan di hari depannya. guna memenuhi kebutuhannya. d. Kesempatan pengembangan diri: kesempatan untuk maju atau berprestasi dalam jenjang karir. Keamanan kerja: kepuasan pekerja dalam menduduki pekerjaannya selama ia mau termasuk imbalan gaji. ia akan mempunyai dorongan untuk berusaha memperoleh/mencari. umpan balik dari pekerjaan itu sendiri (informasi langsung dan jelas diperoleh dari pekerja atas efektivitas dan hasil kerjanya). Visi  2. imbalan terutama gaji/upah termasuk dalam “alat” untuk memenuhi kebutuhan dasar ( basic physiological needs ). Kompensasi financial ada yang langsung dan ada yang tidak langsung. bila menggunakan teorinya.

Orientasi 5. Profesional Relationship 1. 2. Defisit perawatan diri 1. Konferensikasus 3. Seleksi 3. Gangguan konsep diri: Harga diri rendah 2. 3. 4. Gangguan proses pikir: Waham 6. Penilaiankinerja 6. Rekrutmen 2. Rapatkeperawatan 2. 2. 1. 3. D. 1. Gangguan persepsi sensori: Halusinasi 5. Risiko bunuh diri 7. Compensatory Reward 1. Patient Care Delivery 1. Kontrakkerja 4. 4. C. Rapattimkesehatan 4. -                                                       - . 3. Visit dokter IV. Pengembanganstaf III. Risiko perilaku kekerasan 3. 6.60 Struktur organisasi Jadual dinas Daftar pasien Pengarahan Operan Pre conference Post conference Iklim motivasi Pendelegasian Supervisi Pengendalian Indikator mutu Audit dokumen Survey kepuasan Survey masalah kesehatan keperawatan II. 5. Isolasi social 4. 2.

A. GAMBARAN UMUM RUMAH SAKIT DAN RUANGAN .61 BAB III HASIL PENGKAJIAN Pengkajian dilakukan selama hari Rabu. 23 Juni 2012. 20 Juni 2012 sampai hari Sabtu.

Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta yang sebelumnya Rumah Sakit Jiwa Pusat Surakarta berubah menjadi Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta sampai saat ini. Shinta. Maespati. Ayodya.8 Surakarta (tepat di samping Stadion Sriwedari Surakarta). Gambaran Umum Rumah Sakit Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Surakarta beralamat di Jalan Ki Hajar Dewantara No. tepatnya yaitu di Jalan Bayangkara No. Dewi Kunti. Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta didirikan pada tahun 1918 M. PO BOX 187. Srikandi. dan kapasitas tempat tidur mencapai 293 tempat tidur. Amarta.145 m2 dengan jumlah bangsal sebanyak 13 bangsal (bangsal VIP. Pelayanan yang bersifat spesialistik . Wisanggeni. tentang otonomi daerah. 80 Surakarta. Sena. Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta memiliki luas tanah 100. Kresna. dan diresmikan penggunaannya pada tanggal 17 Juli 1919 M. Abimanyu.62 1. Sebelumnya Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta. dan memiliki luas bangunan 21.067 m2. 22 tahun 1999. Kode pos 57126 Surakarta. Pringgondani. Sejak diterapkan UU No. dan Sumbadra). Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta terletak pada lokasi yang cukup strategis karena masih dalam lingkungan sekitar Karisidenan Surakarta yang mudah dijangkau oleh transportasi umum. Jenis pelayanan kesehatan yang ada di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta terdiri dari pelayanan di dalam rumah sakit dan di luar rumah sakit. Adapun jenis pelayanan yang tersedia di rumah sakit tersebut antara lain: a.

minat. dengan kegiatan: a) Pembinaan pelayanan kesehatan jiwa b) Pelayanan konsultasi ahli kesehatan jiwa c) Pelatihan terhadap tenaga medik dan non medik Puskesmas/ RSU tentang kesehatan jiwa. 2) Kegiatan lintas sektoral: Kegiatan pembinaan dan pelayanan lintas sektoral dalam wadah Badan Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (BPKJM) dilakukan bersama-sama dengan instansi .63 1) Pelayanan pencegahan a) Penyuluhan kesehatan jiwa b) Pelatihan kesehatan jiwa c) Pendidikan kesehatan jiwa d) Penelitian kesehatan jiwa e) Bimbingan bakat. 1) Pelayanan integratif: Pelayanan integratif yang dilakukan meliputi pelayanan kesehatan jiwa yang dilakukan di Puskesmas dan RSU Kabupaten/ Kota. kepribadian. dan konseling f) Seminar. Pelayanan yang dilakukan di luar rumah sakit (ekstra murah). symposium kesehatan jiwa 2) Pelayanan rawat jalan 3) Pelayanan rawat inap 4) Pelayanan gawat darurat 5) Pelayanan penunjang diagnostik 6) Terapi bio-psiko-sosial 7) Pelayanan rehabilitasi b.

2009). 3) Pelayanan yang lain: Pelayanan yang lain yang tersedia di Rumah Sakir Jiwa Daerah Surakarta antara lain: a) Surat keputusan sehat jiwa untuk sekolah dan pekerjaan b) Surat keputusan sehat jiwa untuk kepentingan umum (untuk caleg/ kades/ bupati dan lainnya) c) Visum kejiwaan d) Surat keputusan bebas narkotika untuk umum e) Perawatan jenazah f) Ambulance g) Hot line service untuk konsultasi lewat telepon (0271-665581) bagi masyarakat umum c. Hal ini melengkapi pengembangan program Model Praktek keperawatan Profesional (MPKP) yang telah dikembangkan sebelumnya (Catatan Medik RSJD Surakarta. Peningkatan kinerja dan mutu pelayanan Dalam rangka pengembangan potensi Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta saat ini telah mengembangkan pelayanan unggulan di bidang sub-spesialis psikogeriatri yang didukung dengan tenaga serta sarana dan prasarana yang memadai. Hasil pendokumentasian yang didapatkan dari instalasi rekam medik di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta didapatkan hasil bahwa .64 dan sektor-sektor lain yang berperan dalam pembinaan upaya kesehatan jiwa masyarakat.

Hasil pendokumentasian yang didapatkan dari instalasi rekam medik di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta didapatkan hasil bahwa ALOS keseluruhan di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta pada bulan Februari 30 hari. Jamkesda dan umum. bulan Maret 85. 15 %. dan bulan April 81. dimana metode TIM ini terdiri dari anggota yang berbeda-beda dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap sekelompok pasien. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Ruang Shinta didapatkan informasi bahwa Ruang Shinta adalah satu-satunya ruang pelayanan keperawatan yang menerapkan metode MPKP dan metode TIM dalam pemberian asuhan keperawatan. PKMS. bulan Maret 6 hari dan bulan April 2 hari. 2. bulan Maret 30 hari. a. Hasil pendokumentasian yang didapatkan dari instalasi rekam medik di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta didapatkan hasil bahwa TOI keseluruhan di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta pada bulan Februari 5 hari. dan bulan April 31 hari. Perawat ruangan dibagi . Ruang Shinta merupakan bangsal kelas II dan III yang memberikan pelayanan untuk pasien Jamkesmas. 74%. Gambaran Umum Ruangan Profil Ruang Shinta Ruang Shinta merupakan salah satu ruang atau bangsal di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta yang digunakan untuk perawatan gangguan jiwa rehabilitasi khusus pasien perempuan dewasa. 98 %.65 BOR keseluruhan di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta pada bulan Februari 85.

akan tetapi berdasarkan perintah dari bidang keperawatan Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta visi. misi. misi. dan filosofi yang digunakan adalah visi. Semua pegawai ruang Shinta berjenis kelamin perempuan.66 menjadi 2 TIM yang terdiri dari Ketua Tim (KaTim) dan Perawat Asosiate (PA) atau perawat pelaksana. Jumlah ketenagaan di Ruang Shinta terdapat 14 orang yang terdiri dari 12 tenaga perawat. motto. 2) Lokasi dan Denah Ruangan Shinta Lokasi dan denah Ruang Shinta dapat dilihat pada gambar dibawah ini: Ruang Dokte r Ruang Perkumpulan Ruang Kelas II WC Ruang Perawat Halaman Belakang Ruang Kelas III WC WC WC WC . 1 ruang dokter. motto. 1 Kepala Ruang dan 1 administrasi (pelaksana urusan TU). dan 1 ruang kamar mandi pasien. dan filosofi ruangan secara khusus. Motto dan Tujuan Ruang Shinta istirahat Dapur Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Ruang didapatkan informasi bahwa ruangan sudah memiliki visi. WC Tempat 1) Visi. motto. Ruang Shinta memiliki kapasitas tempat tidur sebanyak 30 tempat tidur pasien. 1 ruang perawat sekaligus ruang tindakan medis. 1 ruang kamar mandi perawat sekaligus ruang dapur. dan filosofi Rumah Sakit. Misi. misi.

Kep Yuli Sumarni. S. AMK Juniarsih S. S. AMK Tutik Sri. Kep PA Fitriani W. Kep... AMK Sri Mulyani. Kep Sulistyowatik. S. Kep PerawatKontrol TU ruangan Kepala Tim I KepalaTim II Pupus Risnawati. Kep Retno Maruti. S. S.. AMK . MM 3) Struktur organisasi ruang Shinta KepalaSeksiKeperawatan KepalaInstalasiRawat Inap Warno. Kep. Kep DokterRuangan KepalaRuang Mardini. S. Sukardi. AMK PA Venita Antonia. Ns. AMK Betzaba Dewi. M. AMK Istiani.67 KepalaBidangKeperawatan H. AMK Murpiati. S.

68 Gambar:. Evaluasi 75  25% evaluasi tidak mengacu pada tujuan. 10% tindakan tidak sesuai dengan rencana 4.6 masalah yang telah dirumuskan. 33.5% data pengkajian tidak dicatat lengkap. tidak dirumuskan diagnosa resiko. Nilai Rata-rata Instrumen A di Ruang Shinta RSDJ Surakarta Aspek yang No Hasil (%) Keterangan dinilai  18. Diagnosa 46. Perencanaan 66.. Studi dokumentasi dilakukan pada 10 berkas rekam medis pasien di ruang Shinta. INSTRUMEN A Evaluasi ini dilakukan dengan menggunakan format evaluasi dokumentasi asuhan keperawatan. perencanaan 3. 5. masalah tidak dirumuskan berdasarkan 1. tindakan keperawatan tidak berkelanjutan antar shift... Tabel .5 kesenjangan antara status kesehatan dengan norma dan fungsi kehidupan. Struktur organisasi ruang Shinta B. Pengkajian 82.4% diagnosa keperawatan tidak berdasarkan 2. .6 tidak disusun secara prioritas. Perencanaan sudah menggunakan format yang baku dari rumah sakit. Hasil yang diperoleh dapat dilihat pada tabel dibawah ini..4% rencana tindakan tidak menggambarkan keterlibatan pasien atau keluarga. Tindakan 90 keperawatan. 54.

di ruang Shinta Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta.69 6. INSTRUMEN B 1. Adapun Visi RSJD Surakarta adalah “Menjadi pusat pelayanan kesehatan jiwa pilihan yang profesional berbudaya dan berstandar internasional”. a. C.6%).6%). jelas. Kriteria hasil: 76 – 100% 56 – 75% 40 – 55% <40% : baik : cukup : kurang baik : tidak baik (Arikunto..78 % adalah baik.78 Sumber : Hasil observasi tanggal .. Namun.. 1998) Berdasarkan tabel di atas. perencanaan tidak disusun menurut prioritas (66. 1) Visi Ruang Shinta RSJD Surakarta memiliki visi ruangan (100%). 100 sudah ditulis secara ringkas. perawat sudah menuliskan nama. berdasarkan kebijakan dari RS visi yang digunakan diruangan adalah visi RS. Rata-rata 76. tanggal. maka hasil dari Instrumen A tentang dokumentasi keperawatan yaitu 76. Management Approach Perencanaan . Dari asuhan keperawatan yang dirasa kurang adalah diagnosa keperawatan yang tidak merumuskan diagnosa resiko (46. Catatan asuhan keperawatan  Pencatatan ditulis pada format yang baku. jam dan tanda tangan.

70

2)

Misi Ruang Shinta RSJD Surakarta memiliki misi ruangan (100%). Namun, berdasarkan kebijakan dari RS misi yang digunakan diruangan adalah misi RS. Adapun misi RSJD Surakarta adalah: a) Memberikan pelayanan kesehatan jiwa profesional dan paripurna yang terjangkau masyarakat b) Meningkatkan mutu pelayanan sesuai dengan standar

internasional secara berkelanjutan c) Menerapkan nilai-nilai budaya kerja aparatur dalam memberikan pelayanan kedapa pelanggan d) Meningkatkan peran serta dan kemandirian masyarakat untuk mencapai derajat kesehatan jiwa yang optimal. 3) Filosofi Ruang Shinta RSJD Surakarta tidak memiliki filosofi ruangan, Ruang Shinta menggunakan filosofi Rumah Sakit (100%). 4) Kebijakan RSJD Surakarta menjadikan Ruang Shinta sebagai ruang percontohan pelaksanaan MPKP. Belum adanya SK MPKP untuk setiap ruangan Belum ada kebijakan pelaksanaan MPKP. 5) Rencana harian Belum ada rencana jangka pendek kepala ruang. Belum ada rencana jangka pendek ketua tim. Belum ada rencana jangka pendek perawat pelaksana. 2. Pengorganisasian

71

a.

Struktur organisasi Kelengkapan struktur organisasi di ruangan Shinta 100%. Struktur organisasi di ruang Shinta dapat dilihat pada lampiran (gambar ...)

b.

Jadwal dinas Jadwal dinas di ruang shinta dibuat dalam bentuk lembaran dan dibuat untuk 1 bulan. Jadwal dinas, dapat dilihat pada lampiran (tabel ...)

c.

Daftar pasien Ruang shinta memiliki daftar pasien yang ditulis di white board ruangan. Daftar pasien dapat dilihat pada lampiran (tabel ...).

3. a.

Pengarahan Operan Ruang shinta Surakarta sudah melaksanakan operan, namun tidak sesuai dengan standar MPKP dikarenakan kesibukan perawat saat pergantian shift (40 %).

b.

Pre conference Ruang shinta sudah melakukan kegiatan pre conference namun berhenti karena kurangnya pengakuan dari pihak manajemen (0%).

c.

Post conference Ruang shinta tidak pernah melaksanakan pre conference, dikarenakan kesibukan perawat (0%).

d.

Iklim motivasi

72

Ruang shinta sudah menciptakan iklim motivasi diruangan, salah satunya dengan memberikan motivasi kepada semua stafnya mengembangkan jenjang karir dan kompetensi nya (78,75 %). e. Pendelegasian Ruang Shinta sudah melakukan pendelegasian tugas jika ada salah satu petugas yang tidak bisa bertugas sesuai dengan jadwal dinasnya (83 %). f. Supervisi Di ruang Shinta RSJD Surakarta sudah dilakukan supervisi (70 %). Supervisi dilakukan setiap hari, katim menulis laporan berdasarkan dari supervisi perawat pelaksana. 4. a. Pendelegasian Indikator mutu Ruang Shinta RSJD Surakarta belum memenuhi standar indikator mutu, dibuktikan dengan:
1) BOR 21,37 %

2) ALOS 29,4 3) TOI 5,6 4) Angka lari, angka cedera, angka pengekangan dan angka infeksi nosokomial tidak terkaji.
5) Hasil pengkajian indikator mutu sebesar 71, 4 %.

b.

Audit dokumen Di ruang Shinta sudah dilakukan audit dokumen terutama setelah pasien pulang (100 %).

c.

Survey kepuasan

d. Hasil pengkajian 0%. b. Profesional Relationship Rapat keperawatan Ruang Shinta RSJD Surakarta rutin melakukan rapat keperawatan ruangan 1 kali dalam sebulan. adanya notulen rapat. a. 6. agenda rapat membahas tentang masalah-masalah . Survey masalah kesehatan Ruang Shinta belum melakukan survey masalah kesehatan.73 Ruang Shinta belum melaksanakan survey kepuasan pasien dan keluarga. Compensatory Reward Penilaian kinerja: Penilaian kinerja SDM ruangan Shinta dilakuakan 100% dengan supervisi baik langsung ataupun tidak langsung. a. Terdapat jadwal rapat keperwatan rutin. Pengembangan staf: Upaya dalam rangka peningkatan pendidikan keperawatan berkelanjutan dilakukan 100% oleh kepala ruang. Hasil pengkajian : 1) HDR 25 % 2) RPK 30 % 3) ISOS 10 % 4) Halusinasi 60 % 5) Waham 30 % 6) RBD 4 % 7) DPD 10 % 5.

Rapat tim keehatan Hasil dari pengkajian didapatkan kegiatan rapat tim kesehatan di ruang Shinta RSJD Surakarta mencapai 66. Rapat keperawatan ruangan 100% sudah dilakukan di ruang Shinta. Hasil pengkajian: Patient Care Delivery Gangguan konsep diri. ada kesimpulan rapat. c. . Rapat tim kesehatan jarang dilakukan dan tidak ada presentasi permasalahan yang sedang dihadapi ruangan. f. harga diri rendah. dan ada daftar hadir. d. 7. Resiko perilaku kekerasan Isolasi sosial Gangguan pesepsi sensori: halusinasi Gangguan proses pikir: waham Resiko bunuh diri Defisit perawatan diri.6%. Visit dokter Visit dokter d ruang Shinta rutin dilakukan dan katim ruangan selalu mendampingi dokter dalam pemeriksaan pasien dan berkolaborasi dengan dokter sesuai dengan standar. g. Hasil pengkajian didapatkan 100% untuk visit dokter. a. c. hasil pengkajian didapatkan 0%. b. Konferensi kasus Ruang Shinta RSJD Surakarta tidak pernah melakukan konferensi kasus.74 ruangan. d. e. b.

Diagnosa keperawatan Hasil pengkajian diagnosa keperawatan sebesar 46. Evaluasi Hasil pengkajian evaluasi keperawatan sebesar 70%. 6. Diagnosa tidak diprioritaskan. 7. Perumusan diagnosa keperawatan tidak sesuai dengan analisa data.6 %.75 1. Implementasi Hasil pengkajian implementasi keperawatan sebesar 90 %. Analisa data Data subjektif dan data objektif yang tertulis dalam analisa data tidak ada dalam data pengkajian. Format intervensi keperawaan sudah baku sesuai dengan format yang disusun oleh RSJD Surakarta. Beberapa tindakan keperawatan ada yang tidak sesuai dengan rencana intervensi. Pengkajian (82. 4. Evaluasi sudah sesuai dengan tujuan pada rencana intervensi dan sudah dicatat. 2.5%) Perawat sudah menuliskan hasil pengkajian pada format. Intervensi keperawatan Hasil pengkajian intervensi keperawatan sebesar 66. namun tidak semua item pengkajian diisi secara lengkap. 5. 3. Dokumentasi keperawatan .6 %.

sudah di catat dengan jelas dan berkesinambungan pada shif pagi-soremalam. Perawat sudah mencatat asuhan keperawatan pada format yang sudah tersedia. .76 Hasil pengkajian dokumentasi keperawatan sebesar 100 %.

Kep..Kes TIM I Pupus Suistyowatik Murpiati Fitriani Sri Mulyani Sulasmi TIM II YS Yenita A Betzaba L Tutik Istiani 1 P P P S M P X P L P S X M 2 P Km L S M P L P L P S P M 3 L Km M S X M P L S P L L X 4 P X M L P M L P S P S P L 5 P S X P P X P P M L M P S 6 P S L P L L P P M P M L S 7 P L S P P P M P X P X M S 8 P L S L S P M P L P P M L 9 P L S M S P X P P P L X M Tanggal 10 11 12 13 14 15 16 17 18 L L P P L L P L P L L M S L L L P S L P M S C X M M P P P L P S X P C P M M P P L P S S L P C S X X P P M P M L S P C S L P P L M P M L S P M S C P L P X L X M S L M L C S P P S P L M L L X M C S S P L L P X M Ks L M C S L P P S P C M 19 P Ks P X L M L P P S S C M 20 21 22 23 24 P P P P L P S L P M M P L S L C P P S L M X X P M L P C X P S P M L L L M P S L L L L P X S S P X P M M X Kp P L L L S L S P M M L 25 26 27 28 29 30 P P P P P P P M P P S L P S P X X M P M P P S S P L P L L M P X M P L M P P S P S X P L M L P M P P L S S P P P X M S X P P M L S P P P L M S P P P M P S P . Jadwal dinas Nama perawat Mardini. S.77 8.M.

10. 2. 10. 5. 4. Nama Endang S Eko Riani Ida Sri Lestari Ani Suparni Rubiyanti Pawit Sri Astutik Rusmiati Sri Wahyuni B Sunarni Mujiati Jani No registrasi 038027 046760 046969 001652 008481 009212 035705 023574 047168 047018 034895 046951 047164 Diagnosa Keperawatan HDR RPK Halusinasi Halusinasi RPK Halusinasi DPD RPK RPK Halusinasi Isolasi Sosial Halusinasi Halusinasi Ketua Tim 2 (Yuli Sumarni. 11. Nama Suparmi Siti Rustini Sri Wahyuni A Sunarti Nur Hayu Tri Nur witanti Maryati Siti Nuryani Kasti Martini Suyatini No registrasi 047006 045967 047042 007151 045938 046069 044939 012822 040301 055812 047024 Diagnosa Keperawatan Halusinasi RPK Halusinasi Halusinasi HDR HDR RPK Halusinasi HDR Waham Isolasi Sosial . S. 8. 4. 3.Kep) No 1.78 9. 7. 9. 6. 6.Kep) No 1. 2. 9. 12. 8. 3. 7. 5. S. 11. Daftar pasien ruang Sintha Ketua Tim 1 (Pupus Risnawati. 13.

4. Namun.Ruang Shinta RSJD Surakarta memiliki visi ruangan (100%).Belum adanya SK MPKP untuk setiap ruangan . Rencana harian KaRu: .Supervisi KaTim dan Ruang Shinta RSJD Surakarta belum melaksanakan pembuatan rencana jangka pendek yang sesuai dengan jabatan masing-masing . berdasarkan kebijakan dari RS visi yang digunakan diruangan adalah visi RS. berdasarkan kebijakan dari RS misi yang digunakan diruangan adalah visi RS.No Komponen pengkajian Manajemen Approach A.Ruang Shinta RSJD Surakarta memiliki misi ruangan (100%). Misi . 2. .Belum ada kebijakan pelaksanaan MPKP 5. Filosofi .Asuhan keperawatan.Belum ada rencana jangka pendek perawat pelaksana Standar Adanya visi ruangan Shinta yang digunakan sebagai landasan perencanaan organisasi. 3. setiap perawat membuat rencana kegiatan harian sesuai dengan perannya untuk setiap shift.Ruang Shinta RSJD Surakarta tidak memiliki filosofi ruangan. Adanya filosofi ruangan Shinta yang menjadi rujukan kegiatan organisasi dan arahan seluruh rencana jangka panjang Ruang Shinta tidak memiliki wewenang untuk menerapkan misi yang disusun ruangan Mengusulkan ke RS untuk memberikan wewenang terhadap ruangan untuk menerapkan misi yang sudah di buat oleh ruangan Mengusulkan pembuatan filosofi di ruangan yang mengacu pada filosofi Rumah Sakit Pelaksanaan perencanaan 85% Filosofi yang terdapat dalam ruangan adalah filosofi Rumah Sakit Pelaksanaan perencanaan 85 % Adanya kebijakan dari kepala bidang terhadap ruangan Shinta sebagai acuan dalam pelaksanaan MPKP diruangan. Perencanaan 1. Belum adanya SK pelaksanaan MPKP diruangan Mengusulkan pembuatan SK MPKP Pelaksanaan perencanaan 85 % Sebelum operan . Masalah Ruang Shinta tidak memiliki wewenang untuk menerapkan visi yang sudah disusun di ruangan POA Mengusulkan ke RS untuk memberikan wewenang dalam menerapkan visi diruangan Target 79 Pelaksanaan perencanaan 85% Adanya misi ruangan Shinta yang menjelaskan tujuan organisasi dalam mencapai visi yang telah ditetapkan.Ruang Shinta menggunakan filosofi Rumah Sakit (100%).Belum ada rencana jangka pendek ketua tim . Visi . Kebijakan . . Rencana Jangka Pendek .RSJD Surakarta menjadikan Ruang Shinta sebagai ruang percontohan pelaksanaan MPKP .Mengusulkan kepada setiap perawat untuk membuat rencana harian sesuai dengan jabatannya masingmasing. Namun. praktek dan bimbingan pelaksanaan Pelaksanaan perencanaan 85 % . 1.Melakukan role model.Belum ada rencana jangka pendek kepala ruang . .

Proses komunikasi yang baik antar perawat di ruang Shinta. f. c. Tingkat ketergantungan pasien sudah diklasifikasikan sesuai dengan kebutuhan pasien. perawat sarjana keperawatan ners di ruang Shinta. katim dan perawat pelaksana. d. 4. Sudah adanya SAK. ANALISA SWOT No 1. Adanya tuntutan dari masyarakat yang lebih tinggi dalam profesional keperawatan. WEAKNESS a. Kegiatan supervisi dari karu dan katim belum terjadwal. Ruang Shinta sudah memiliki struktur organisasi yang menunjukkan pembagian tim. Ruang Shinta memiliki sarana dan prasarana yang memadai. b.80 BAB IV ANALISA DATA A. Adanya peraturan yang dibuat oleh pihak rumah sakit. THREATMEN a. ANALISA SWOT STRENGTH a. 100 2. g. Belum adanya visi. misi. motto dan tujuan ruang Shinta. h. f. d. . motto dan tujuan bidang keperawatan RSJD Surakarta. Sudah adanya daftar pasien di ruang Shinta. e. Sudah adanya sistem pendelegasian di ruang Shinta. c. e. post conference dan operan belum berjalan secara optimal sesuai standar. Adanya visi. Sarana dan prasarana di Ruang Shinta sudah mencukupi dan memenuhi standar. Tidak adanya pengakuan MPKP dari bidang keperawatan. k. Sudah adanya daftar dinas perawat di ruang Shinta. misi. Kegiatan pre conference. Protap di ruang Shinta yang digunakan dalam penerapan asuhan keperawatan dan tindakan keperawatan bagi pasien. Kurangnya keterlibatan perawat pada kegiatan pengembangan SDM. b. Belum adanya rencana harian karu. dan pembagian pasien. i. Terdapat . g. d. c. 3. Terdapat 1 orang magister keperawatan di Ruang Shinta. Adanya program pelatihan khusus dan seminar intern atau ekstern. Belum terdokumentasinya hasil supervisi dari karu ke katim dan dari katim ke perawat pelaksana. b. j. Adanya kegiatan supervisi dari bidang keperawatanke semua bangsal di RSJD Surakarta... OPPORTUNITY a. SOP.

Observasi Berdasarkan hasil observasi selama pengkajian di ruang Shinta. Observasi − Berdasarkan hasil observasi di ruang Shinta didapatkan bahwa perawat sudah tidak menjalankan kegiatan pre conference. perawat hanya mengikuti rutinitas yang sudah tertera di ruangan b. b. post conference dan operan. post conference dan operan sesuai dengan MPKP − Belum adanya form dan pendokumentasia an pendelegasian . perawat tidak pernah terlihat membuat rencana harian jangka pendek c. No Masalah Belum adanya kesadaran perawat untuk mengisi buku rencana harian jangka pendek yang sudah tersedia di ruangan − Belum berjalannya kegiatan pre conference. Pengarahan a. post conference dan operan sudah tidak berjalan lagi sesuai MPKP karena kurangnya pengakuan dari pihak manajemen RS − Hasil wawancara dengan karu ruang Shinta untuk kegiatan pendelegasian belum terdokumentasikan dengan baik karena belum adanya format pendelegasian. Wawancara Berdasarkan hasil wawancara dengan karu ruang Shinta didapatkan informasi bahwa sudah tersedia buku rencan harian jangka pendek tetapi perawat tidak mengisi buku rencana kegiatan harian (rencana jangka pendek). Wawancara − Berdasarkan hasil wawancara dengan karu ruang Shinta didapatkan informasi bahwa kegiatan pre conference. Kuisioner Berdasarkan hasil kuisioner di ruang Shinta didapatkan hasil bahwa perawat tidak memiliki rencana harian jangka pendek 2. PERUMUSAN MASALAH Fungsi Data Fokus Manajemen MANAGEMENT APPROACH 1. Perencanaan a.81 B.

Belum tersedianya form survey kepuasan pasien dan keluarga serta belum berjalannya kegiatan survey kepuasan pasien dan keluarga C. Pendelegasian Keterangan Mg : Sv : Mn : Nc : Af : Mg 5 4 5 5 4 Sv 3 4 5 4 3 Mn 4 5 5 5 5 Nc 4 5 5 4 4 Af 4 4 5 5 5 Skor 960 1600 3125 2000 1200 Prioritas 5 3 1 2 4 kecenderungan besar dan seringnya kejadian masalah besarnya kerugian yang ditimbulkan dilihat dari kemungkinan masalah dapat dipecahkan melibatkan pertimbangan dan perhatian perawat ketersediaan sumber daya . Conference (pre dan post conference) 3. Kuisioner Berdasarkan hasil kuisioner di ruang Shinta diperoleh bahwa kegiatan pre dan post conference serta operan 0%. Survey kepuasan keluarga. Rencana harian 2. Observasi Berdasarkan hasil observasi di ruang Shinta didapatkan bahwa tidak ditemukan form survey kepuasan pasien dan keluarga. a. SCORING MASALAH No Masalah 1. Kuisioner Berdasarkan hasil kuisioner didapatkan bahwa kegiatan survey kepuasan pasien dan keluarga sebesar 0%. Pengendalian − Ruang Shinta belum memiliki format pendelegasian. b. pasien dan perawat 5. c.82 3. Wawancara Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruang Shinta didapatkan bahwa ruang Shinta belum melaksanakan survey kepuasan pasien dan keluarga serta belum memiliki form survey kepuasan pasien dan keluarga. c. Operan 4.

83 Skor 5 4 3 2 1 : : : : : sangat penting penting cukup penting kurang penting sangat kurang penting .

Ruang Shinta. timbang terima atau operaran keperawtan sesuai standar. Tempat dan waktu 1. Perawat Semua melaksanakan dapat staf mekanisme pre. menyebutkan perawat post conference tujuan dari pre dan operan dan post keperawatan conference. operan keperawatan 2. Sosialisasi tentang penerapan pre. POA PLANNING OF ACTION Ruang Shinta Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta No 1 Masalah Penerapan kegiatan MPKP belum optimal (pre. tanggal 26 Juni 2012: pelaksanaan pre dan post conference. Perawat dapat mendemonstrasi kan pre dan post conference.130 D. post conference. operan keperawatan Target PJ Pelaksanaan Laelatul dokumentasi dan Tia dan simulasi S. operan atau timbang terima keperawatan yang dilaksanakan 2. tanggal 26 juni 2012: sosialisasi dan membuat jadawal pre dan post conference. dapat mencapai optimal (100%) . dengan optimal. operan keperawatan) Rencana tindakan 1. operan keperawatan 2. post conference. Ruang Shinta. Membuat jadwal dan melaksanakan bersama-sama pre dan post conference dan operan keperawatan Tujuan Sasaran Tujuan Umum Tujuan Khusus Perawat mampu 1.

Pembuatan leaflet dan lembar balik 7 diagnosa keperawatan jiwa. tanggal 26 Juni 2012: pengadaan format survey kepuasaan keluarga. 2. Perawat mampu meningkatkan mutu pelayanan kepada pasien 3. Perawat Semua bisa melakukan staf survey kepada perawat keluarga. Perawat bisa memberikan penyuluhan kesehatan baik kepada keluarga pasien maupun pasien sendiri yang telah disepakati 1. Ruang Shinta. pasien dan perawat. pasien dan perawat 1. Pengadaan format survey kepuasaan keluarga. pasien dan perawat sendiri.elakukan survey tersebut 2.131 2 Survey kepuasaan keluarga. Tanggal 6 Juli 2012: Pengadaan leaflet dan Pelaksaan Herawati survey dan mutu pelayanan kepada keluarga dapat dilaksanakan secara optimal (100%) . 2. Perawat dapat melaksanakan dan membiasakan pre dan post conference dan operan secara rutin setiap hari. 1. pasien dan perawat serta .

Memperm udah melakukan evaluasi hasil dari pendelegasian. tanggal 26 Juni 2012: memberikan contoh membuat rencana harian. 3. 1. 2. Pendelegas ian di ruangan Shinta menjadi jelas dengan adanya surat resmi pendelegasian 2. Pembuatan Astri dan rencana harian D. Semua staf perawat 1. Ruang Shinta tanggal 27 Juni 2012: pengadaan surat pendelegasia n tugas. dialkukan yuliastuti secara optimal setiap hari (100%). Membuat format rencana harian.132 3 Pendelegasian 1. Kepala ruang mampu melakukan pendelegasian secara formal didalam ruangan sesuai standar. Kegiatan harian pasien menjadi jelas dan susuai jadwal Kepala ruang lembar balik 7 diagnosa keperawatan. 4 Rencana harian 1. Tugas Mahacak pendelegasian ri bisa dilakukan sesuai standar(100%). Pengadaan surat pendelegasian 2. . Memotivas i semua staf perawat untuk menbuat rencana Perawat mampu membuat rencana harian di ruangan Shinta setiap hari dan melaksanakannya secara terjadwal 1. Motivasi untuk mempertahanka n system pendelegasian yang sudah sesuai standar. Perawat mampu membuat rencana harian pasien 2. Mengusulk an adanya rencana harian. 1. Ruang Shinta.

133 harian. .

dan tambahan rencana dari katim dan PJ tim (Modul MPKP.132 BAB V PEMBAHASAN A. sore atau malam sesuai dengan jadwal dinas perawatan pelaksanaan. maka pre conference ditiadakan. 2006). Waktu : setelah operan Tempat : Meja masing – masing tim Penanggung jawab : Ketua tim atau Pj tim . Definisi Pre dan Post Conference Konferensi merupakan pertemuan tim yang dilakukan setiap hari. Jika yang dinas pada tim tersebut hanya satu orang. konference sebaiknya dilakukan di tempat tersendiri sehingga dapat mengurangi gangguan dari luar. KESENJANGAN TEORI 1. Konferensi terdiri dari pre conference dan post conference yaitu : 1) Pre Conference Pre conference adalah komunikasi katim dan perawat pelaksana setelah selesai operan untuk rencana kegiatan pada shift tersebut yang dipimpin oleh ketua tim atau penanggung jawab tim. Pre conference dan Post conference a. Isi pre conference adalah rencana tiap perawat (rencana harian). Konferensi dilakukan sebelum atau setelah melakukan operan dinas.

133

Kegiatan : a) Ketua tim atau Pj tim membuka acara b) Ketua tim atau pj tim menanjakan rencana harian masing – masing perawat pelaksana c) Ketua tim atau Pj tim memberikan masukan dan tindakan lanjut terkait dengan asuhan yang diberikan saat itu. d) Ketua tim atau Pj tim memberikan reinforcement e) Ketua tim atau Pj tim menutup acara 2) Post Conference Post conference adalah komunikasi katim dan perawat pelaksana tentang hasil kegiatan sepanjang shift dan sebelum operan kepada shift berikut. Isi post conference adalah hasil askep tiap perawatan dan hal penting untuk operan (tindak lanjut). Post conference dipimpin oleh katim atau Pj tim (Modul MPKP, 2006). Waktu :Sebelum operan ke dinas berikutnya. Tempat : Meja masing – masing tim. Penanggung jawab : ketua tim atau Pj tim Kegiatan : a) Ketua tim atau Pj tim membuka acara.

b) Ketua tim atau Pj tim menanyakan kendala dalam asuhan yang telah diberikan. c) Ketua tim atau Pj tim yang menanyakan tindakan lanjut asuhan klien yang harus dioperkan kepada perawat shift berikutnya. d) Ketua tim atau Pj menutup acara.

134

b. Tujuan Pre dan Post Conference Secara umum tujuan konferensi adalah untuk menganalisa masalah-masalah secara kritis dan menjabarkan alternatif penyelesaian masalah, mendapatkan gambaran berbagai situasi lapangan yang dapat menjadi masukan untuk menyusun rencana antisipasi sehingga dapat meningkatkan kesiapan diri dalam pemberian asuhan keperawatan dan merupakan cara yang efektif untuk menghasilkan perubahan non kognitif (McKeachie, 1962). Pre dan Post Conference juga membantu koordinasi dalam rencana pemberian asuhan keperawatan sehingga tidak terjadi pengulangan asuhan, kebingungan dan frustasi bagi pemberi asuhan (T.M.Marelli, et.al, 1997). 1) Tujuan pre conference adalah: a) Membantu untuk mengidentifikasi masalah-masalah pasien, merencanakan asuhan dan merencanakan evaluasi hasil b) Mempersiapkan hal-hal yang akan ditemui di lapangan c) Memberikan kesempatan untuk berdiskusi tentang keadaan pasien 2) Tujuan post conference adalah: Untuk memberikan kesempatan mendiskusikan penyelesaian masalah dan membandingkan masalah yang dijumpai.

c. Syarat Pre dan Post Conference

135

1) Pre

conference

dilaksanakan

sebelum

pemberian

asuhan

keperawatan dan post conference dilakukan sesudah pemberian asuhan keperawatan 2) Waktu efektif yang diperlukan 10 atau 15 menit 3) Topik yang dibicarakan harus dibatasi, umumnya tentang keadaan pasien, perencanaan tindakan rencana dan data-data yang perlu ditambahkan 4) Yang terlibat dalam conference adalah kepala ruangan, ketua tim dan anggota tim d. Panduan perawat pelaksanaan dalam melaksanakan konferensi Adapun panduan bagi PP dalam melakukan konferensi adalah sebagai berikut: (Ratna Sitorus, 2006). 1) Konferensi dilakukan setiap hari segera setelah dilakukan pergantian dinas pagi atau sore sesuai dengan jadwal perawatan pelaksana. 2) Konferensi dihadiri oleh perawat pelaksana dan PA dalam timnya masing – masing. 3) Penyampaian perkembangan dan masalah klien berdasarkan hasil evaluasi kemarin dan kondisi klien yang dilaporkan oleh dinas malam. Hal hal yang disampaikan oleh perawat pelaksana meliputi : a) Keadaan klien b) Keluhan klien c) TTV

kejujuran dan kemajuan masing–masing perawatan asosiet. Tahap – tahap inilah yang akan dilakukan oleh perawat – perawat ruangan ketika melakukan pre conference e. c) Ketepatan pemantauan asupan dan pengeluaran cairan. b) Ketepatan pemberian infuse. Kesenjangan data dengan teori . h) Rencana medis. d) Ketepatan pemberian obat / injeksi. g) Perubahan keadaan terapi medis. f) Ketepatan dokumentasi. ketelitian. e) Masalah keperawatan f) Rencana keperawatan hari ini. kebisikan pengunjung lain. e) Ketepatan pelaksanaan tindakan lain. 6) Mengiatkan kembali tentang kedisiplinan. kehadiran dokter yang dikonsulkan.136 d) Hasil pemeriksaan laboraturium atau diagnostic terbaru. 4) Perawat pelaksana mendikusikan dan mengarahkan perawat asosiet tentang masalah yang terkait dengan perawatan klien yang meliputi : a) Klien yang terkait dengan pelayanan seperti : keterlambatan. 5) Mengiatkan kembali standar prosedur yang ditetapkan. kesalahan pemberian makan. 7) Membantu perawatan asosiet menyelesaikan masalah yang tidak dapat diselesaikan.

Beberapa hal yang masih memerlukan perbaikan antara lain: 1) untuk post coference 2) dilakukan post conference. menyimpulkan hasil pre conference. 3) Menerima penjelasan Menjelaskan tujuan Menyiapkan tempat dari PA tentang hasil tindakan/hasil asuhan keperawatan yang telah dilakukan . Beberapa hal yang masih memerlukan perbaikan antara lain: 1) 2) conference 3) 4) Memandu pelaksanaan pre conference Mendiskusikan cara dan strategi pelaksanaan asuhan keperawatan pasien/tindakan 5) Memotivasi untuk memberikan tanggapan dan penyelesaian masalah yang sedang didiskusikan 6) Mengklarifikasikan kesiapan PA untuk Menyiapkan tempat untuk pre coference Menjelaskan tujuan dilakukan post melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien yang menjadi tanggung jawabnya. hasil ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pre-conference masih kurang maksimal.137 Berdasarkan hasil observasi didapatkan nilai sebesar 0%. hasil ini menunjukkan bahwa pelaksanaan post-conference masih kurang maksimal. Berdasarkan hasil observasi didapatkan nilai sebesar 0%.

5) Menyimpulkan hasil post conference. Penerapan delegasi di MPKP dalam bentuk pendelegasian tugas oleh kepala ruangan kepada ketua tim dan ketua tim kepada perawat pelaksana. yaitu pendelegasian terencana dan pendelegasian insidentil. 2. Pendelegasian dilakukan melalui mekanisme pelimpahan tugas dan wewenang. mengklarifikasi pasien sebelum melakuakan operan tugas jaga shift berikutnya (melakukan ronde keperawatan). Pendelegasian tugas dilakukan secara berjenjang yang penerapanya dibagi menjadi 2 jenis.138 4) Mendiskusikan masalah yang telah ditemukan dalam memberikan askep pada pasien dan mencari upaya penyelesaian masalah. Bentuknya antara lain adalah : a) Pendelegasian tugas kepala ruangan kepada ketua tim untuk menggantikan tugas sementara tugas kepala ruang karena alasan tertentu . Pendelegasian a. Definisi Pendelegasian Pendelegasian adalah melakukan pekerjaan melalui orang lain agar aktifitas organisasi tetap berjalan. 1) Pendelegasian terencana adalah pendelegasian yang secara otomatis terjadi sebagai konsekuensi sistem penugasan yang diterapkan diruang MPKP.

kepala ruangan. sehingga pendelegasian tugas harus dilakukan. ketua tim atau penanggung jawab shif dan tergantung pada personil yang berhalangan. 2) Pendelegasian insidentil. Prinsip Pendelegasian Prinsip pendelegasian tugas di MPKP antara lain adalah : 1) Pendelegasian tugas harus menggunakan format pendelegsaian 2) Personil yang menerima pendelegasian adalah personel yang berkompetemen dan setara dengan kemampuan yang digantikan tugasnya 3) Uraian tugas yang didelegasikan harus dijelaskan secara verbal. b. yang terjadi apabila salah satu personil ruang MPKP berhalangan hadir. Mekanisme Pendelegasian Mekanisme yang dilakukan adalah sebagai berikut: . terinci dan tertulis 4) Pejabat yang mengatur pendelegasian wajib memonitor pelaksanaan tugas dan menjadi rujukan bila ada kesulitan yang dihadapi 5) Setelah selesai pendelegasian dilakukan serah terima tugas yang sudah dilaksanakan dan hasilnya c.139 b) Pendelegasian tugas kepala ruangan kepada penanggung jawab shif c) Pendelegasian ketua tim kepada perawat pelaksana dalam pelaksanaan tindakan keperawatan yang telah direncanakan. Dalam hal ini yang mengatur pendelegasian adalah kepala seksi perawatan.

Panduan Pendelegasian Pendelegasian dilaksanakan melalui proses sebagai berikut: 1) Buat rencana tugas yang perlu dituntaskan 2) Identifikasi ketrampilan dan tingkat pendidikan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas 3) Pilih orang yang mampu melaksanakan tugas yang didelegasikan 4) Komunikasikan dengan jelas apa yang akan dikerjakan dan apa tujuaanya 5) Buat batasan waktu dan monitor penyelesaian tugas 6) Jika bawahan tidak mampu melaksanakan tugas karena menghadapi masalah tertentu. manajer harus bisa menjadi model peran dan menjadi narasumber untuk menyelesaikan masalah yang terjadi 7) Evaluasi kinerja setelah tugas selesai 8) Pendelegasian terdiri dari tugas dan kewenangan . maka kepala ruangan menunjuk salah satu anggota tim (perawat pelaksana) menjalankan tugas ketua tim. kepala seksi menunjuk salah satu ketua tim untuk menggantikan tugas kepala ruang. 3) Bila ada perawat pelaksana yang berhalangan hadir. sehingga satu tim kekurangan personil maka kepala ruangan berwenang memindahkan perawat pelaksana dari tim lain masuk tim yang kekurangan personiltersebut atau katim melimpahkan pasien kepada perawat pelaksana yang hadir. 2) Bila ketua tim berhalangan hadir. d.140 1) Bila kepala ruangan berhalangan.

prosedur serta sikap yang diberikan oleh pemberi pelayanan kesehatan itu sendiri (Anwar. 2003). pasien atau klien merupakan individu terpenting dirumah sakit sebagai konsumen sekaligus sasaran produk rumah sakit.141 Kesenjangan data dengan teori Berdasarkan hasil observasi didapatkan nilai sebesar 83%. 2004). tidak akan berhenti hanya sampai proses penerimaan pelayanan. Kepuasan pasien dapat berhubungan dengan berbagai aspek diantaranya mutu pelayanan yang diberikan. konsumen yaitu pasien. Hasil dari proses evaluasi itu akan menghasilkan perasaan puas atau tidak puas (Sumarwan. Kotler (1997) menyatakan bahwa kepuasan adalah tingkat keadaan yang dirasakan seseorang yang merupakan hasil dari membandingkan penampilan atau outcome produk yang dirasakan dalam hubungannya dengan harapan seseorang (Sumarwan. . kecepatan pemberian layanan. 2003). Survey Kepuasan Pasien dan Keluarga Menurut Soejadi (1996). 1998 dalam Awinda. 3. Beberapa hal yang masih memerlukan perbaikan antara lain: 1) Pembuatan rencana tugas yang perlu dituntaskan. hasil ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pendelegasian di ruang Shinta sudah cukup baik. Pasien akan mengevaluasi pelayanan yang diterimanya tersebut. 2) Adanya evaluasi kinerja setelah tugas selesai 3) Pendelegasian tugas harus menggunakan format pendelegsaian. Didalam suatu proses keputusan.

Rencana harian dibuat sebelum operan dilakukan dan dilengkapi pada saat operan dan pre conference. perawat primer/ketua tim dan kepala ruangan.142 Kepuasan pasien adalah tingkat kepusan dari persepsi pasien dan keluarga terhadap pelayanan kesehatan dan merupakan salah satu indikator kinerja rumah sakit. Rencana Harian Kepala Ruang. Bila pasien menunjukkan hal-hal yang bagus mengenai pelayanan kesehatan terutama pelayanan keperawatan dan pasien mengindikasikan dengan perilaku positifnya. maka dapat kita tarik kesimpulan bahwa pasien memang puas terhadap pelayanan tersebut (Purnomo. Kepala Tim dan Perawat Pelaksana Rencana harian adalah rencana aktifitas pada tiap shift yang dilakukan oleh perawat asosiet/perawat pelaksana.52% terhadap perawatan di ruang Shinta. Beberapa hal yang masih memerlukan perbaikan antara lain: 1) Pemberian informasi yang jelas kepada keluarga mengenai perkembangan dan kondisi pasien selama di rawat di rumah sakit 2) Pengadaan form survey kepuasan pasien dan keluarga dari pihak Rumah Sakit 3) Pendekatan perawat terhadap pasien dan keluarga pasien 4. 2002). .78% dan 21. Kesenjangan data dengan teori Berdasarkan hasil observasi tingkat kepuasan keluarga dan pasien didapatkan nilai sebesar 16. hasil ini menunjukkan bahwa kepuasan terhadap pelayanan di ruang Shinta sudah cukup baik.

Rencana harian kepala ruangan Isi kegiatan harian kepala ruangan meliputi semua kegiatan yang dilakukan oleh seluruh SDM yang ada di ruangan dalam rangka menghasilkan pelayanan asuhan keperawatan yang berkualitas. Rencana Harian Ketua Tim Isi rencana harian ketua tim antara lain adalah: 1) penyelenggaraan asuhan keperawatan pada pasien di timnya. 4) Ketua tim sebaiknya hanya dinas pagi. karena pada pagi hari banyak kegiatan atau tindakan yang dilakukan dan merencanakan kegiatan sore dan malam. 2) Melakukan supervisi perawat pelaksana untuk menilai kompetensi secara langsung dan tidak langsung. Kepala ruangan harus mengetahui kebutuhan ruangan dan mempunyai hubungan keluar dengan unit yang terkait untuk memenuhi kebutuhan tersebut.Berikut isi rencana harian kepala ruangan meliputi : 1) Asuhan keperawatan 2) Supervisi Katim dan perawat pelaksana 3) Supervisi tenaga selain perawat 4) Kerja sama dengan unit yang terkait b. 3) Kolaborasi dengan dokter atau tim kesehatan lainnya.143 a. kepala ruangan sebagai narasumber utama atau konsultan untuk menjamin terlaksananya asuhan keperawatan pada semua tim di ruangan. serta on the job trainning yang dirancang. Demikian pula dengan asuhan keperawatan. .

sehingga tidak ada kegiatan pre dan post conference Kesenjangan data dengan teori Berdasarkan hasil observasi didapatkan nilai sebesar 100%. Rencana Catatan harian Perawat Pelaksana/Assosiet (PP/PA) pada shift sore dan malam agak berbeda jika hanya 1 (satu) orang dalam satu tim. Perawat tersebut akan berperan sebagai ketua tim dan PA/PP. Rencana harian perawat pelaksana shif sore dan malam agak berbeda jika hanya satu orang dalam satu tim maka perawat tersebut berperan sebagai ketua tim dan perawat pelaksana sehingga tidak ada kegiatan pre dan post conference. . 3) Melakukan kontrol dan monitor terhadap pembuatan rencana harian pada masing-masing individu perawat. 2) Pemberian reward kepada perawat yang sudah konsisten dengan pembuatan rencana harian. Beberapa hal yang masih memerlukan perbaikan antara lain: 1) Pembuatan rencana harian yang masih perlu disosialisasikan kepada perawat yang belum memahami cara pembuatannya. hasil ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembuatan rencana harian perawat di ruang Shinta sudah baik. Perawat pelaksana akan membuat rencana yang ditujukan pada tindakan keperawatan untuk sejumlah pasien yang dirawat pada shift dinasnya. Rencana Harian Perawat Pelaksana Isi rencana harian perawat pelaksana adalah tindakan keperawatan untuk sejumlah klien yang dirawat pada shif dinasnya.144 c.

ANALISIS a. 3. Mendiskusikan masalah yang telah ditemukan dalam √ memberikan askep pada pasien dan mencari upaya penyelesaian masalah 6. Memberi reinforcemen pada PA √ 7. 2. Faktor Pendukung dan Kendala pre post conference . 5.3 Pelaksanaan Post Conference Ruang Shinta RSJD Surakarta OBSERVASI No VARIABEL YANG DINILAI S SR KD TP L 1. No 1. 4. Menyiapkan rekam medik pasien yang menjadi tanggung √ jawab 3.2 Pelaksanaan Pre Conference Ruang Shinta RSJD Surakarta OBSERVASI VARIABEL YANG DINILAI SL SR KD TP Menyiapkan tempat untuk pre coference √ Menyiapkan rekam medik pasien yang menjadi tanggung √ jawab Menjelaskan tujuan dilakukan post conference √ Memandu pelaksanaan pre conference √ Menjelaskan masalah keperawatan pasien dan rencana √ keperawatan yang menjadi tanggung jawabnya Membagi tugas pada PA sesuai kemampuan yang √ dimiliki dengan memperhatikan keseimbangan kerja Mendiskusikan cara dan strategi pelaksanaan asuhan √ keperawatan pasien/tindakan Memotivasi untuk memberikan tanggapan dan √ penyelesaian masalah yang sedang didiskusikan Mengklarifikasikan kesiapan PA untuk melaksanakan √ asuhan keperawatan pada pasien yang menjadi tanggung jawabnya.145 B. Menyiapkan tempat untuk post coference √ 2. 6. Menerima penjelasan dari PA tentang hasil tindakan/hasil √ asuhan keperawatan yang telah dilakukan 5. 7. Menyimpulkan hasil post conference √ 8. Memberikan reinforcemen positif pada PA √ Menyimpulkan hasil post conference √ JUMLAH 0 3 3 5 Tabel 4. 8. 10 11 Pre dan Post Conference Tabel 4. Mengklarifikasi pasien sebelum melakuakan operan tugas √ jaga shift berikutnya (melakukan ronde keperawatan) JUMLAH 0 2 5 1 a. Menjelaskan tujuan dilakukan post conference √ 4. 9.

Ru.Tim dan staf ruangan b) Tingkat pendidikan sebagian besar perawat di Ruang Shinta D III Keperawatan c) Model asuhan keperawatan yang sudah diterapkan menggunakan MPKP model MTM 2) Faktor Kendala a) Antusiasme KaRu. Ka. KaTim dan Staf dalam pelaksanaan dokumentasi asuhan keperawatan kurang b) Kedisiplinan perawat yang kurang berkaiatan dengan jam datang dan pulang kerja. c) Kurangnya kesadaran dari beberapa perawat tentang pentingnya pre conference dan post conference d) Belum adanya standar operasional pre conference dan post conference yang ditetapkan oleh rumah sakit 3) Kesinambungan a)Perlunya komitmen dan persamaan persepsi dari bidang keperawatan untuk penggunaan standar operasional pre conference dan psot conference yang akan dipakai RSJ Daerah Surakarta b) Perlunya komitmen dan persamaan persepsi seluruh perawat khususnya ruang Shinta tentang pre conference dan post conference c) Perlu peningkatan kesadaran dan kemauan untuk melaksanakan pre conference dan post conference pada tiap shift .146 1) Faktor Pendukung a) Kerjasama dan dukungan yang baik dari pihak Ka.

2 Pelaksanaan Pendelegasian Ruang Shinta RSJD Surakarta Skor Pernyataan Pendelegasian Karu Katim Pendelegasian dilakukan kepada staf yang memiliki kompetensi yang dibutuhkan dalam menjalankan 4 3 tugas Tugas yang dilimpahkan dijelaskan sebelum 4 4 melakukan pendelegasian Selain pelimpahan tugas.147 d)Perlunya panduan. Ka. Ru. Faktor Pendukung dan Kendala Pelaksanaan Pendelegasian 1) Pendukung Faktor a) Kerjasama dan dukungan yang baik dari pihak Ka. 2.Tim dan staf ruangan b) Tingkat pendidikan sebagian besar perawat di Ruang Shinta D III Keperawatan c) Model asuhan keperawatan yang sudah diterapkan menggunakan MPKP model MTM . Katim memberikan arahan untuk mengatasi 3 3 masalah Ada evaluasi setelah selesai tugas dilaksanakan 2 3 Sub Total 19 20 No 1 2 3 4 5 6 Katim 3 4 4 3 3 3 20 a. sosialisasi dan bimbingan dalam pelaksanaan pre conference dan post conference e)Perlunya monitoring dan evaluasi terhadap pre conference dan post conference secara periodic. kewenangan juga 3 4 dilimpahkan Waktu pendelegasian tugas ditentukan 3 3 Apabila si pelaksana tugas mengalami kesulitan. Pendelegasian Tabel 4. Karu.

dengan menggunakan surat pendelegasian. 3. c) Perlu peningkatan kesadaran dan kemauan untuk melaksanakan pendelegasian secara resmi. 3) Kesinambungan a) Perlunya komitmen dan persamaan persepsi dari bidang keperawatan untuk penggunaan surat pendelegasian yang akan dipakai RSJ Daerah Surakarta b) Perlunya komitmen dan persamaan persepsi seluruh perawat khususnya ruang Shinta tentang adanya rapat evaluasi hasil setiap kegiatan yang didelegasikan. 4. Survey Kepuasan Pasien dan Keluarga Penilaian Kepuasan Keluarga RESPONDEN 3 4 5 6 7 4 3 3 3 4 4 3 3 4 4 4 4 4 3 4 3 4 4 3 4 4 3 4 2 2 NO 1. 2. KOMPONEN Perawat bersikap sopan Perawat berpenampilan rapi Perawat menggali informasi dari keluarga Perawat memberikan informasi mengenai masalah yang dihadapi pasien Perawat memberikan informasi mengenai tindakan yang akan dilakukan kepada pasien ( inform consent ) 1 3 3 4 3 3 2 4 4 3 3 3 8 4 3 3 2 3 . 3.148 2) Faktor Kendala a) Adanya agenda yang tidak terduga b) Kesibukan individu dan ruangan untuk menjalankan rapat evaluasi hasil kegiatan pendelegasian c) Surat pendelegasian biasanya diberikan hanya untuk kegiatan di luar Rumah Sakit saja. 5.

2 (tidak setuju). 8. 3. Perawat menjelaskan perkembangan pasien Perawat melakukan penyuluhan kepada keluarga mengenai cara perawatan yang harus dilakukan keluarga dirumah Perawat menyiapkan keperluan pulang pasien yang meliputi jadwal kegiatan harian dan sisa obat Perawat menjelaskan waktu kontrol Perawat memberikan pesanan pulang yang mudah dimengerti Perawat memberikan penjelaskan rujukan yang bisa digunakan bila ada yang perlu dikonsulkan Perawat membantu keluarga untuk konsul dokter JUMLAH 3 3 3 3 3 3 4 3 8 3 3 4 4 4 4 3 4 1 4 3 4 4 4 4 4 4 7 3 4 4 4 3 3 2 3 9 3 3 3 3 4 3 3 3 9 312 3 3 4 4 3 3 2 4 0 2 3 3 3 3 3 4 3 7 3 2 3 2 2 2 3 31 TOTAL NILAI Sumber : Hasil observasi tanggal 21 juni-03 Juli 2012. 6. 1 (sangat tidak setuju) Perhitungan: Total skor x 100% n x item x skore tertinggi = 312 x100% 8 x 12 x 4 = 312 x 100% 384 = 81. KOMPONEN Perawat menyambut dengan ramah ketika Saudara datang Perawat memperkenalkan diri Perawat menjelaskan sarana di ruangan yang dapat dimanfaatkan Perawat menjelaskan aturanaturan yang berlaku selama perawatan Perawat menanyakan masalahmasalah yang saudara alami terkait dengan kondisi kesehatan saudara Perawat menjelaskan masalah 1 3 3 4 2 4 4 3 3 4 4 3 RESPONDEN 4 5 6 7 3 3 3 4 3 4 4 4 4 4 4 3 8 3 4 4 9 4 3 3 10 3 4 4 4.149 6. 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 2 2 3 3 3 4 4 4 . 7.25% Penilaian Kepuasan Klien NO 1. 3 (setuju). 2. 12. Keterangan: 4 (sangat setuju). 11. 3 3 4 3 4 4 3 4 3 4 5. 10. 9.

10. 12. 19. mandi) ketika saudara mengalami kesulitan Perawat mau mendengarkan keluhan saudara dengan sabar 3 3 4 3 4 4 2 3 3 3 3 4 4 3 4 3 2 2 3 3 3 4 4 3 4 4 3 2 4 3 3 4 3 3 4 4 2 4 4 3 3 4 3 3 4 4 2 4 4 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 3 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 15 16. 21. . 11. Perawat segera menanggapi keluhan saudara Perawat mendampingi saudara ketika dilakukan pemeriksaan dokter Perawat menjaga privasi saudara saat melakukan tindakan keperawatan Perawat selalu membuat perjanjian dengan saudara Perawat selalu menepati janji yang ditetapkan Perawat bersikap sopan Perawat berpenampilan rapi Perawat menjelaskan kegiatan yang harus saudara lakukan di rumah Perawat menjelaskan obatobatan yang harus diteruskan di rumah Perawat menjelaskan waktu kontrol JUMLAH TOTAL NILAI 3 4 4 4 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 3 4 4 3 4 3 3 3 4 3 3 2 3 3 3 3 4 4 3 4 4 3 4 4 4 3 3 4 3 3 4 3 3 4 3 3 7 5 3 3 7 7 3 2 7 9 3 3 6 6 4 4 8 4 4 4 8 1 747 3 3 6 1 3 3 73 4 3 7 3 4 4 78 Sumber : Hasil observasi tanggal 21 juni-03 Juli 2012. 8. 20. 17. 13. 18. 22.150 7. kesehatan yang saudara alami Perawat membicarakan tujuan perawatan yang hendak dicapai Perawat meminta pendapat saudara dalam merancang tindakan yang akan diberikan kepada saudara Perawat menjelaskan kegiatan yang harus dilatih untuk dilakukan secara mandiri Perawat melakukan penyuluhan kesehatan untuk mengatasi masalah saudara Perawat membantu memenuhi kebutuhan dasar saudara (makan. 9. 14.

151 Keterangan: 4 (sangat setuju). b) Perlu peningkatan kesadaran dan kemauan untuk melaksanakan survey kepuasan pasien dan keluarga setiap ada kunjungan keluarga . terutama pasien yang akan pulang. = 747 x 100% 880 = 84. 2 (tidak setuju). Tingkat pendidikan sebagian besar perawat di Ruang Shinta D III Keperawatan c.87% Faktor Pendukung dan Kendala Survey Kepuasan Pasien dan Keluarga 1) Faktor Pendukung a. Hubungan Model asuhan keperawatan yang sudah diterapkan menggunakan MPKP model MTM 2) Faktor Kendala Belum adanya standar operasional untuk lembar survey kepuasan pasien dan keluarga di ruangan Shinta 3) Kesinambungan a) Perlunya komitmen dan persamaan persepsi seluruh perawat khususnya ruang Shinta tentang survey kepuasan pasien dan keluarga. perawat dengan pasien dan keluarga pasien baik b. 3 (setuju). 1 (sangat tidak setuju) Perhitungan: Total skor x 100% n x item x skore tertinggi = 751 x100% 10 x 22 x 4 a.

Faktor Pendukung dan Kendala Pembuatan Rencana Harian 1) Faktor Pendukung a) Tingkat pendidikan sebagian besar perawat di Ruang Shinta D III Keperawatan b) Model asuhan keperawatan yang sudah diterapkan menggunakan MPKP model MTM 2) Faktor Kendala Kesibukan masing-masing individu dalam pembuatan rencana harian. c) Perlunya monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan survey kepuasan pasien dan keluarga terutama kepada pasien yang pulang. b) Perlu peningkatan kesadaran dan kemauan untuk melaksanakan pembuaran rencana harian masing-masing individu. 4. .152 pasien. Rencana Harian Karu 0 0 0 0 0 0 Katim 0 0 0 0 0 0 0 Katim 0 0 0 0 0 0 Penilaian Rencana Harian No Aspek yang Dinilai 1 Menyusun Rencana Harian setiap kali dinas 2 Mencantumkan tanggal dinas di Rencana Harian 3 Urutan kegiatan disusun secara kronologis 4 Tercantum kegiatan manajerial 5 Tercantum kegiatan asuhan 6 Rencana Harian dikerjakan secara konsisten Total Skor b. kurangnya reward yang diberikan ruangan kepada perawatnya. 3) Kesinambungan a) Perlunya komitmen dan persamaan persepsi seluruh perawat khususnya ruang Shinta tentang pembuatan rencana harian untuk setiap kali berangkat dinas.

Koordinasi dengan Mahasiswa KaRu. PA pelaksanan pre conference bersama UNSOED conference Ka Ru. primer nursing dan perawat asosiet B.153 c) Perlunya monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan pembuatan rencana harian masing-masing individu. Pre dan Post Conference Tabel 4. Pelaksanaan 1. Pelaksanan pre conference dan Profesi ners KaTim. Mengobservasi Mahasiswa KaRu. Menjadi role model. Mengevaluasi pre Mahasiswa KaRu. Mengetahui pelaksanaan pre Profesi ners KaTim. PN dan AN dan post conference Tempat Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta . Study kepustakaan Mahasiswa Materi Pre Mendapat dan persiapan Profesi ners conference sumber materi tentang pre UNSOED dan post Pustaka yang conference dan post conference mendukung conference penyusunan standar operasional 3. PENYELESAIAN MASALAH 1. Mahasiswa KaRu. C. PA persepsi antara UNSOED kepala ruang.6 Langkah Pelaksanaan Pre Conference dan Post Conference Asuhan Keperawatan Di Ruang Shinta RSJD Surakarta No Kegiatan Pelaksana Sasaran Tujuan Waktu A. PN dan PA Profesi ners KaTim. Mengevaluasi conference dan post Profesi ners KaTim. PA pre conference post conference UNSOED dan post conference C Evaluasi 1. Menyamakan Ka Ru. Persiapan 1. PA hasil conference dan post UNSOED Pelaksanaan conference pre conference dan post conference 2.

Mengklarifikasikan kesiapan PA untuk √ melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien yang menjadi tanggung jawabnya. Memberi reinforcemen pada PA √ 7. Menjelaskan masalah keperawatan pasien dan √ rencana keperawatan yang menjadi tanggung jawabnya 6. Menyimpulkan hasil post conference √ 8. Mendiskusikan cara dan strategi pelaksanaan √ asuhan keperawatan pasien/tindakan 8.154 Tabel 4. Menyiapkan tempat untuk pre coference √ 2. Mengklarifikasi pasien sebelum melakuakan √ operan tugas jaga shift berikutnya (melakukan ronde keperawatan) JUMLAH 2 6 0 0 .6 Pelaksanaan Pre Conference Ruang Shinta RSJD Surakarta setelah intervensi No OBSERVASI VARIABEL YANG DINILAI SL SR KD TP 1. Menjelaskan tujuan dilakukan post conference √ 4. Menyiapkan rekam medik pasien yang menjadi √ tanggung jawab 3. 10 Memberikan reinforcemen positif pada PA √ 11 Menyimpulkan hasil pre conference √ JUMLAH 8 3 0 0 Tabel 4. Menerima penjelasan dari PA tentang hasil √ tindakan/hasil asuhan keperawatan yang telah dilakukan 5. Menyiapkan tempat untuk post coference √ 2.7 Pelaksanaan Post Conference Ruang Shinta RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga Periode Maret 2012 setelah intervensi OBSERVASI No VARIABEL YANG DINILAI SL SR KD TP 1. Membagi tugas pada PA sesuai kemampuan yang √ dimiliki dengan memperhatikan keseimbangan kerja 7. Memotivasi untuk memberikan tanggapan dan √ penyelesaian masalah yang sedang didiskusikan 9. Menyiapkan rekam medik pasien yang menjadi √ tanggung jawab 3. Menjelaskan tujuan dilakukan pre conference √ 4. Memandu pelaksanaan pre conference √ 5. Mendiskusikan masalah yang telah ditemukan √ dalam memberikan askep pada pasien dan mencari upaya penyelesaian masalah 6.

Survey kepuasan keluarga dan pasien Tabel 4. Studi literatur mengenai survey kepuasan keluarga dan pasien 3.7 Perbandingan pre conference dan post conference sebelum dan setelah intervensi Variabel Sebelum Sesudah selisih Pre Conference 0% 100% 100% Post Conference 0% 100% 100% Berdasarkan hasil observasi sebelum dilakukan intervensi pre dan post conference di ruang Shinta didapatkan hasil 0%. Mengkaji penilaian survey kepuasan keluarga 2. setiap hari menjalankan pre dan post conference secara teratur dan berjalan dengan lancar. Melakukan Mahasiswa KaRu Ruang . artinya setelah ada intervensi ruang Shinta mengalami peningkatan.4 Langkah Pelaksanaan survey kepuasan keluarga dan pasien di Ruang Shinta RSJ Daerah Surakarta Pelaksana Sasaran Tujuan Waktu Tempat Mahasiswa Profesi ners UNSOED Mahasiswa Profesi ners UNSOED KaRu. 2.155 Tabel 4. KaTim. namun karena kurangnya reward dari kepala ruang dan kesibukan masing-masing individu akhirnya pre dan post conference sudah tidak di jalankan secara rutin lagi. Persiapan 1. Materi survey kepuasan pelanggan (keluarga dan pasien) Mengetahui hasil survey Mendapat sumber pustaka yang mendukung penyusunan survey kepuasan pasien dan keluarga Tersusunnya Ruang Shinta Ruang Shinta No Kegiatan A. sebelumnya ruang Shinta rutin menjalankan pre dan post conference. Selisih nilai observasi sebelum dan sesudah intervensi 100%. Perlu adanya motivasi agar pre dan post conference di ruang Shinta bisa kembali berjalan secara rutin.

5 Penilaian tingkat kepuasan keluarga dan pasien terhadap perawatan di ruang Shinta sebelum dan sesudah intervensi Variable Sebelum Sesudah Selisih Kepuasan pasien 83.78% dan 21. C 1.22 % 100% 16. selisih sebelum dan sesudah dilakukan intervensi dan pengadaan form survey kepuasan pasien dan keluarga yaitu 16.Shinta dapat mengetahui panilaian kepuasan pasien dan keluarga. Aplikasi survey kepuasan pasien dan keluarga saat pasien akan pulang. KaTim. Evaluasi Evaluasi tingkat kepuasan keluarga dan pasien di ruang Shinta. menunjukkan bahwa nilai survey kepuasan pasien dan keluarga sebesar 83. PA Perawat R.156 koordinasi tentang pembuatan form survey kepuasan pasien dan keluarga B. Sosialisasi penggunaan form survey kepuasan Profesi ners UNSOED form survey kepuasan pasien dan keluarga KaRu. Shinta Mahasiswa Profesi ners UNSOED Ruang Shinta 2.52% Sumber : Hasil observasi di ruang Shinta RSJD Surakarta Berdasarkan tabel diatas.78% Kepuasan keluarga 78.52%.48 % 100% 21. Terjadi peningkatan 100% pada masing-masing variabel. Mengetahui tingkat kepuasan keluarga dan pasien terhadap perawatan di ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Tabel 4. . Mahasiswa Profesi ners UNSOED Mahasiswa Profesi ners UNSOED Keluarga pasien dan pasien.22% dan 78. Pelaksanaan 1.48%. Berdasarkan observasi setelah intervensi diharapkan dengan adanya pengadaan form resmi untuk survey kepuasan pasien dan keluarga di ruang Shinta dapat diaplikasikan secara berkelanjutan.

157 3. Sosialisasi penggunaan form pendelegasian 2. KaTim. Pelaksanaan 1. Studi literatur Mahasiswa KaRu Mendapat sumber mengenai Profesi ners dan pustaka yang pendelegasian UNSOED KaTim mendukung penyusunan surat pendelegasian 3. Pencapaian pengadaan form pendelegasian 100% tercapai.4 Langkah Pengadaan Surat Pendelegasian di Ruang Shinta RSJ Daerah Surakarta No Kegiatan Pelaksana Sasaran Tujuan Waktu A. PA KaTim Perawat R. Aplikasi pendelegasian Evaluasi Evaluasi pelaksanaan pendelegasian Mahasiswa Profesi ners UNSOED Mahasiswa Profesi ners UNSOED Mahasiswa Profesi ners UNSOED KaRu. pelaksanaan UNSOED pendelegasian yang sudah berjalan 2. Pengadaan form pendelegasian kemudian di sosialisasikan kepada seluruh perawat. Melakukan Mahasiswa KaRu Tersusunnya form koordinasi tentang Profesi ners pendelegasian pembuatan form UNSOED pendelegasian B.Shinta dapat mengetahui cara pelaksanaan pendelegasian secara formal Tempat Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Mengetahui manfaat surat pendelegasian secara resmi Ruang Shinta KaRu dan KaTim Evaluasi Pendelegasian Hasil observasi sebelum intervensi didapatkan 83% pendelegasian sudah berjalan baik di ruang Shinta. Pendelegasian Tabel 4. 4. Mengetahui pendelegasian Profesi ners KaTim. C 1. Persiapan 1. Rencana Harian . Penyelesaian masalah terhadap peningkatan pencapaian pendelegasian secara formal di ruangan Shinta dilakukan dengan pengadaan format/ form pendelegasian. Mengkaji penilaian Mahasiswa KaRu.

Perawat penggunaan form Profesi ners KaTim. Studi literatur Mahasiswa Materi Mendapat mengenai pedoman Profesi ners tentang sumber rencana harian UNSOED rencana pustaka harian pedoman rencana harian 3.Shinta dapat rencana harian UNSOED membuat rencana harian secara terjadwal 2. Pelaksanaan Pembuatan Rencana Harian KaRu. Persiapan 1. Evaluasi pembuatan Mahasiswa KaRu. dan PP Aspek yang Dinilai Karu Katim Katim PP . Mengetahui rencana harian Profesi ners KaTim.158 Tabel . KaTim. hasil KaRu. KaTim dan UNSOED Survey Perawat Pelaksana rencana harian 2. Mengkaji penilaian Mahasiswa KaRu. Observasi Pembuatan Rencana Harian KaRu.. KaTim Mengetahui rencana harian Profesi ners dan PP tingkat UNSOED kemampuan dalam pembuatan rencana harian. Sosialisasi Mahasiswa KaRu. KaTim dan PP B.. KaTim. Tempat Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta Ruang Shinta No Tabel . KaTim Tersusunnya koordinasi tentang Profesi ners dan PP form rencana pembuatan rencana UNSOED harian harian pada KaRu. dan PP No Kegiatan Pelaksana Sasaran Tujuan Waktu A. Aplikasi pembuatan Mahasiswa KaRu. Pelaksanaan 1. Melakukan Mahasiswa KaRu. PP R. KaTim Perawat rencana harian Profesi ners dan PP mampu setiap kali dinas. UNSOED membuat rencana harian C Evaluasi 1...

D. Variable Sebelum Sesudah Rencana Harian KaRu 0% 100% Rencana Harian KaTim 0% 100% Rencana Harian PP 0% 100% Sumber : Hasil observasi di ruang Shinta RSJD Surakarta Selisih 100% 100% 100% Berdasarkan tabel diatas.. Evaluasi Pembuatan Rencana Harian di ruang Shinta. kepala tim dan perawat pelaksana. terjadi peningkatan antara sebelum dan sesudah dilakukan intervensi pembuatan rencana harian kepala ruang. Perubahan pelayanan kesehatan/ keperawatan merupakan kesatuan yang menyatu dalam perkembangan dan perubhaan keperawatan di Indonesia. iklim motivasi dan reward yang akan didapatkan ketika sudah menjalankan kegiatan tersebut.. faktor lingkungan. karena berkaitan dengan sifat masing-masing individu.159 1 2 3 4 5 6 Menyusun Rencana Harian setiap kali dinas Mencantumkan tanggal dinas di Rencana Harian Urutan kegiatan disusun secara kronologis Tercantum kegiatan manajerial Tercantum kegiatan asuhan Rencana Harian dikerjakan secara konsisten Total Skor 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 24 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Tabel . . Perubahan menuju kebiasaan yang baik sangat sulit untuk dilaksanakan. Artinya selama dilakukan intervensi semua perawat membuat rencana harian setiap hari. dengan nilai 100%. dan hasil evaluasi juga menunjukkan bahwa rencana harian perawat dikatakan sudah cukup baik. mereka melakukan inovasi dan berubah atau mereka yang diubah oleh suatu keadaan atau situasi. TEORI BERUBAH Perubahan pelayanan keperawatan mempunyai dua pilihan yang berhubungan dengan perubahan.

memahami masalah yang dihadapi. J. Lewin (1951) mengungkapkan bahwa perubahan dapat dibedakan menjadi 3 tahapan.. Lancaster. Sebaliknya perubahan yang direncanakan adalah perubahan yang telah direncanakan dan dipikirkan sebelumnya. 2) moving. terjadi dalam waktu yang lama. menyiapkan diri. (Kurt Lewin.160 Perubahan dapat dijabarkan dengan beberapa cara. Perubahan tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut: 1. Diantara banyak teori perubahan. tanpa persiapan. Untuk alasan tersebut. dan 3) refreezing. maka perawat harus dapat mengelola perubahan. Perubahan yang tidak direncanakan adalah perubahan yang terjadi tanpa persiapan. teori Kurt Lewin paling banyak dianut oleh para inovator dan pemberharu. dan termasuk adanya tujuan yang jelas. 1982). . Bergerak (moving)–bergerak menuju keadaan yang baru atau tingkat/tahap perkembangan baru karena memiliki cukup informasi serta sikap dan kemam-puan untuk berubah. atau perubahan karena suatu ancaman. 1951 dari Lancaster. dan siap untuk berubah atau melakukan perubahan. merasa perlu untuk berubah dan berupaya untuk berubah. dan mengetahui langkah–langkah penyelesaian yang harus dilakukan. termasuk perubahan yang direncanakan atau yang tidak direncanakan. Pencairan (unfreezing)–motivasi yang kuat untuk beranjak dari keadaan semula dan berubahnya keseimbangan yang ada. yang meliputi: 1) unfreezing. kemudian melakukan langkah nyata untuk berubah dalam mencapai tingkat atau tahap baru. 2. W. Perubahan terencana lebih mudah dikelola daripada perubahan yang terjadi pada perkembangan manusia.

161 3. Oleh karena itu. perlu selalu ada upaya untuk mendapatkan umpan balik. Salah satu teori perubahan yang dikenal dengan teori lapangan (field theory) dengan analisis kekuatan medan (force field analysis) dari Kurt Lewin (1951) dalam Ma’rifin. Faktor Pendorong Terjadinya Perubahan a. motivasi telah mencapai tingkat atau tahap baru. Adanya tuntutan kebutuhan yang semakin meningkat. kritik yang konstruktif dalam upaya pembinaan (reinforcement) yang terus-menerus. atau mencapai keseimbangan baru. dan berkelanjutan. Kebutuhan yang belum terpenuhi akan memotivasi perilaku sebagaimana teori kebutuhan Maslow (1954). Perubahan terjadi apabila salah satu kekuatan lebih besar dari yang lain. Tingkat baru yang telah dicapai harus dijaga agar tidak mengalami kemunduran atau bergerak mundur pada tingkat atau tahap perkembangan semula. 1. (1997). Pembekuan (refreezing). ada kekuatan pendorong untuk berubah (driving forces) dan ada kekuatan penghambat terjadinya perubahan (restraining force). Kebutuhan dasar manusia Manusia memiliki kebutuhan dasar yang tersusun berdasarkan hierarki kepentingan. menyebabkan perawat harus berubah secara terencana dan terkendali. . Di dalam keperawatan kebutuhan ini dapat dilihat dari bagaimana keperawatan mempertahankan dirinya sebagai profesi dalam upaya memenuhi kebutuhan masyarakat akan pelayanan/asuhan keperawatan yang profesional.

dan (4) toleransi untuk berubah rendah. kedekatan. (3) reaksi psikologis.162 b. (2) kebutuhan untuk mengendalikan/melakukan kontrol. d) Semua individu yang terkena perubahan harus dilibatkan dalam perencanaan perubahan. (2) adanya persepsi yang kurang tepat. 3. Faktor Penghambat Menurut New dan Couillard (1981). Kebutuhan dasar interpersonal Manusia memiliki tiga kebutuhan dasar interpersonal yang melandasi sebagian besar perilaku seseorang: (1) kebutuhan untuk berkumpul bersama-sama. 2. Alasan Perubahan Lewin juga (1951) mengidentifikasi beberapa hal dan alasan yang harus dilaksanakan oleh seorang manajer dalam merencanakan suatu perubahan. b) Perubahan harus secara bertahap. . c) Semua perubahan harus direncanakan dan tidak secara drastis atau mendadak. dan perasaaan emosional. dan (3) kebutuhan untuk dikasihi. yaitu: a) Perubahan hanya boleh dilaksanakan untuk alasan yang baik. faktor penghambat (restraining force) terjadinya perubahan yang disebabkan oleh: (1) adanya ancaman terhadap kepentingan pribadi. Kebutuhan tersebut di dalam keperawatan diartikan sebagai upaya keperawatan untuk ikut berpartisipasi aktif dalam pembangunan kesehatan dan perkembangan iptek.

b) Perubahan ditujukan untuk membuat prosedur kerja lebih efisien. yaitu: a) Perubahan ditujukan untuk menyelesaikan masalah. c) Perubahan ditujukan untuk mengurangi pekerjaan yang tidak penting .163 Alasan perubahan Lewin (1951) tersebut diperkuat oleh pendapat Sullivan dan Decker (1988) hanya ada alasan yang dapat diterapkan pada setiap situasi.

164 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan pembahasan dan hasil analisis data yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa : 1. Terjadi peningkatan pelaksanaan pre dan post conference sebesar 100% di ruang Shinta. 3.78%) dan kepuasan pasien (21. Terjadi peningkatan pembuatan rencana harian jangka pendek setiap perawat sebesar 100% di ruang Shinta. saran yang dapat diajukan adalah: 1. Terjadi peningkatan penilaian tingkat kepuasan keluarga (16. 4. Perlunya pemberian motivasi untuk semua perawat dalam melaksanakan pre dan post conference di ruangan. . 2. Saran Berdasarkan pembahasan dan analisis situasi yang telah dilakukan. 2.52%) terhadap perawatan di ruang Shinta sebanyak. 3. Perlu diadakan sosialisasi lebih lanjut mengenai lembar atau format pendelegasian yang baru. Perlu diadakan reward bagi perawat yang sudah mampu membuatan rencana harian perawat secara konsisten. Pencapaian pengadaan form pendelegasian 100% tercapai.

Perlu adanya pembuatan format rencana harian perawat (Ka Ru. Ka Tim. 5.165 4. PP) untuk memudahkan perawat dalam menjalankan fungsinya. Adanya ketegasan dari pihak Bidang Keperawatan dalam penerapan MPKP di ruangan rawat inap RSJD Surakarta. .