POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL (PPUK

)

PERKEBUNAN PISANG ABAKA

BANK INDONESIA
Direktorat Kredit, BPR dan UMKM
Telepon : (021) 3818043 Fax: (021) 3518951, Email : tbtlkm@bi.go.id

DAFTAR ISI
1. Pendahuluan................................................................ 2 a. Latar Belakang ...................................................................................................... 2 b. Tujuan ..................................................................................................................... 7 2. Kemitraan Terpadu ........................................................ 9 a. Organisasi .............................................................................................................. 9 b. Pola Kerjasama ................................................................................................... 11 c. Penyiapan Proyek .............................................................................................. 12 d. Mekanisme Proyek ............................................................................................. 13 3. Aspek Pemasaran ......................................................... 16 a. Peluang Pasar ...................................................................................................... 16 b. Analisa Pasar ....................................................................................................... 16 c. Bentuk Pasar........................................................................................................ 16 d. Mekanisme Harga............................................................................................... 17 e. Kesinambungan Pasar ....................................................................................... 18 f. Daerah Pemasaran .............................................................................................. 19 4. Aspek Produksi............................................................ 20 a. Kesesuaian Lahan............................................................................................... 20 b. Pengadaan Bibit .................................................................................................. 21 c. Pembukaan Lahan .............................................................................................. 21 d. Penanaman .......................................................................................................... 22 e. Pemeliharaan ....................................................................................................... 23 f. Hama dan Penyakit ............................................................................................. 25 g. Rencana Produksi ............................................................................................... 27 h. Panen & Pasca Panen ........................................................................................ 27 5. Aspek Keuangan .......................................................... 31 a. Modal Kerja .......................................................................................................... 31 b. Struktur Permodalan ......................................................................................... 32 c. Penjaminan Kredit .............................................................................................. 32 d. Analisa Keuangan ............................................................................................... 33 e. Pendapatan Tambahan ..................................................................................... 34 f. Hasil Analisis Finansial ....................................................................................... 35 6. Aspek Sosial Ekonomi dan Dampak Lingkungan..................... 37 a. Aspek Sosial Ekonomi ....................................................................................... 37 b. Dampak Lingkungan .......................................................................................... 39 7. Kesimpulan ................................................................ 40 LAMPIRAN

.................................................................... 42

Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka

1

1. Pendahuluan
a. Latar Belakang Tanaman abaca (Musa Textilis Nee) termasuk dalam pisang(Musacease) yang dikategorikan sebagai pisang jantan, karena pisang ini, tidak menghasilkan buah. Produksi utama dari budidaya tanaman pisang ini adalah berupa serat (fibre) yang terkenal dalam perdagangan internasional sebagai serat berkualitas tinggi, sebab serat pisang abaca ini tahan terhadap air garam sehingga banyak digunakan sebagai pembungkus kabel bawah laut atau tali temali pada kapal. Namun belakangan ini serat pisang abaca (untuk selanjutnya disebut sebagai serat abaca) juga banyak di gunakan untuk bahan baku pulp kertas bermutu tinggi seperti kertas uang, cek, kertas filter dan kertas pembungkus. Berdasarkan catatan sejarah, pisang abaca telah lama terdapat di Indonesia, antara lain diketahui di pulau Sangir (Sulawesi Utara) yang tumbuh secara liar. Sebagaimana di Filipina (tempat asal pisang abaca), penduduk Sangir memanfaatkan serat abaca (atau kafe, menurut bahasa setempat ) untuk bahan kain tenun tradisional. Penanaman abaca secara komersial dimulai tahun1905, di Jawa dan Sumatera Selatan dengan orientasi ekspor. Sejak itu pisag abaca di Indonesia mulai berkembang luas, mulai dari Sumatera Utara (didaerah Deli dan Bandar Betsy) sampai Lampung, dan di Jawa sendiri. Setelah PD II, perkembangan perkebunan pisang abaca di Indonesia mulai merosot, seiring dengan semakin berkembangnya serat-serat yang berasal dari bahan sintetik. Sementara lahan-lahan perkebunan (khususnya di Sumatera) beralih ke tanaman perkebunan komersial laiinya. Hingga tahun 1982, perkebunan pisang abaca di Indonesia hanya di jumpai di Banyuwangi dengan areal sekitar 600 ha. Namun peluang pengembangan perkebunan pisang abaca pada saat ini semakin terbuka dengan semakin potensialnya pasaran internasional, terutama untuk memenuhi permintaan negara-negara maju seperti Jepang, Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Potensi pasar internasional tercatat sebesar 600.000 ton serat abaca per tahun. Untuk memenuhi potensial demand tersebut, Filipina adalah produsen utama dengan share sebesar 80.000 ton dan diikuti Equador sebesar 10.000 ton . Dengan demikian, permintaan pasar masih belum terpenuhi, sehingga pengembangan pisang abaca di Indonesia masih sangat terbuka, apalagi sumber daya alamnya sangat mendukung. Secara agronomis penanaman pisang abaca di Indonesia sangat sesuai, mengingat tanaman pisang abaca adalah tanaman yang berasal dari daerah tropis. Selain itu pisang ini sudah pernah dikembangkan secara komersial dalam areal yang besar. Sedangkan dukungan ketersediaan lahan sangat memungkinkan untuk di kembangkan misalnya di daerah Kalimantan,

Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka

2

Irian Jaya sebagian Sumatera dan Jawa. dimana Perusahaan Inti berfungsi sebagai penampung hasil produksi petani. dukungan. Demikian pula halnya untuk pengolahan pasca panen. yang telah mengolah pelepah pisang abaca menjadi serat yang diproses secara semi-modern (nilai tambah sebagian terbagi pada pihak plasma). termasuk proyek skala besar. Pengembangan pisang abaca dapat dilakukan dengan dua alternatif. Alternatif Pertama untuk memasuki pasar ekspor dengan kualitas tinggi maka pengembangan perkebunan pisang abaca sangat tepat di kembangkan dengan pola kemitraan. yaitu adanya Perusahaan Inti yang memiliki areal perkebunan pabrik pengolahan sarat abaca dengan tekhnologi tinggi. Dalam pelaksanaan demokrasi ekonomi harus di hindari terjadinya penumpukkan aset dan pemusatan ekonomi pada seorang. koperasi usaha kecil dan menengah sebagai pilar utama ekonomi nasional harus memperoleh kesempatan utama. tentunya untuk lokasi-lokasi yang memiliki agroklimat yang sesuai untuk tanaman ini. maka pada pengembangannya dapat dikembangkan secara semi modern. dan petani sebagai penyuplai bahan baku pelepah pisang abaca yang memiliki areal perkebunan pisang secar modern (seluruh proses produksi ada di perusahaan inti). dengan memanfaatkan skim kredit program atau skim-skim lainnya. Alternatif kedua apabila produk di ekspor dalam bentuk setengah jadi.Sulawesi. maka pengembangan perkebunan pisang abaca sebaiknya di kembangnya dengan teknologi modern. Maluku Utara (terutama Halmahera). Sesuai dengan tuntutan perkembangan orientasi pasar internasional. Dalam ketetapan MPR Nomor XVI Tahun 1988 tentang Politik Ekonomi Dalam Rangka Demokrasi Ekonomi menyatakan bahwa ekonomi nasional di arahkan untuk menciptakan struktur ekonomi nasional dengan mewujudkan pengusaha menengah dan kecil yang kuat (jumlah besar) serta terbentuknya kemitraan yang saling menguntungkan antara pelaku ekonomi dan saling memperkuat untuk mewujudkan ekonomi dan efisiensi nasional yang berdaya saing tinggi. maka secara finansial memerlukan dana yang besar pula. lebih diarahkan pada pengolahan melalui pabrik dengan teknologi modern pula. maka dengan demikian diperlukan partisipasi dari kalangan perbankan. perlindungan dan pengembangan seluas-luasnya sebagai wujud nyata Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 3 . sekelompok orang atau perusahaan yang tidak sesuai dengan prinsip keadilan dan pemerataan. terutama untuk mendukung produksi tanaman pisang abaca yang dikelola oleh para petani. Sehingga kualitas produksi benar-benar bermutu tinggi sehingga mampu bersaing secara ketat di pasar internasional. Berkenaan dengan hal ini. Karena pengembangan perkebunan pisang abaca ini.

keberpihakan kepada usaha ekonomi rakyat tanpa mengabaikan peran usaha besar dan BUMN. Ekonomi rakyat adalah ekonomi partisipatif yang mampu memberikan akses yang fair dan adil bagi seluruh lapisan masyarakat dalam memperoleh input. Oleh karena itu perlu dicari langkah-langkah koreksi dalam menetapkan kebijakan pembangunan devisa yang memungkinkan terwujudnya demokrasi ekonomi dan persaingan sehat. Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 4 . kemandirian dan kemartabatan dengan meletakan suatu dasar ekonomi. dalam pidato 17 Oktober 1998 pada Pencanangan hari Kebangkitan Ekonomi Rakyat. melakukan proses produksi.< Kasus tersebut merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua bahwa dengan pengelolaan ekonomi yang kurang trasparan dan kurang menciptakan tumbuhnya partisipasi rakyat banyak. termasuk aset-aset produktif. Presiden mengemukakan bahwa reformasi menurut koreksi terhadap kebijaksanaan ekonomi lama dengan kebijakan ekonomi baru yang bercorak kerakyatan. yang sekarang pemiliknya terkonsentrasi pada BUMN dan konglomerat. yang telah terbukti sangat rentan terhadap gangguan lingkungan dunia bisnis yang makin terbukti dan liberal. politik. Untuk mewujudkan ekonomi rakyat. Terjadinya krisis ekonomi telah menimbulkan kesadaran baru bahwa pengelolaan ekonomi nasional dengan mengandalkan para konglomerat sebagai engine of growth. ternyata telah membuat rapuh basis dari ekonomi. baik sosial. hanya akan melahirkan ketimpangan-ketimpangan dalam penguasaan aset nasional oleh grup-grup bisnis berskala besar. Ketimpangan struktur penguasaan aset ekonomi produktif akhirnya mengakibatkan terjadinya ketimpangan dalam berbagai aspek kehidupan. budaya. distribusi dan memanfaatkan konsumsi nasional. Bahkan saat ini para konglomerat umumnya sedang terpuruk menghadapi masalah pembayaran hutang luar negeri yang jatuh tempo. disamping adanya hambatan untuk masuk pasar dengan mengorbankan fungsi sumber daya alam sebagai pendukung sistem kehidupan rakyat. distribusi dan konsumsi nasional. Maupun aspek kemasyarakatan lainnya. Relevansi definisi ekonomi rakyat dengan Koperasi dan Pengusaha Kecil adalah bahwa sebagian besar pengusaha Indonesia termasuk dalam kategori mayoritas mereka seharusnya memiliki akses yang fair dan berkeadilan dalam proses produksi. Pemusatan kekuatan ekonomi atau penguasaan aset nasional pada sekelompok anggota masyarakat tertentu dalam berbagai bentuk monopoli dan oligopoli telah menimbulkan ketimpangan dan kesenjangan sosial ekonomi.

sehingga pembangunan nasional tidak lagi bergantung pada kekuatan-kekuatan ekonomi di luar ekonomi rakyat itu sendiri (seperti tertuan dalam Tap MPR XVI / MPR / 1998. menenganh dan koperasi yang merupakan bagian terbesar dalam perekonomian nasional harus di berikan peluang dan peranan yang lebih besar agar menjadi tulang punggung perekonomian nasional. pengelola dan pengguna utama kekayaan dan aset ekonomi nasional (Tap MPR XVI / 1998. dan diarahkan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi serta keanekaragaman hasil pertanian melalui usaha diversifikasi. Dengan kata lain. memperluas kesempatan usaha dan lapangan kerja. Misi kerakyatan. Pengusaha kecil. Dua persyaratan pokok dalam memperjuangkan ekonomi rakyat adalah : (1) tujuannya untuk kemakmuran seluruh rakyat dan (2) adanya keterlibatan/partisipasi rakyat banyak dalam proses produksi (kegiatan ekonomi) dan dalam menikmati hasil-hasilnya. Misi kemartabatan. Sebagian besar masyarakat desa umumnya tidak atau belum memilki prospek pemasaran yang cerah dan hasil yang menguntungkan bagi Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 5 . Sesuai arahan GBHN dan PERTANIAN dalam arti luas perlu teruas di kembangkan agar semakin maju dan efisien. berdasarkan semangat kerakyatan. Pasal 5). Rakyat tidak lagi di jadikan objek belas kasihan. berarti pembangunan ekonomi nasional harus benarbenar mendorong dan sekaligus menampung partisipasi dan untuk kepentingan rakyat banyak. Misi kemandirian.Krisis yang melanda perekonomian telah menyadarkan kita semua berapa pentingnya redefinisi peran ekonomi rakyat. berarit bahwa pembangunan perekonomian bangsa Indonesia harus bertumpu dan di topang oleh kekuatan sumber daya internal yang dikelola dalam satu system ekonomi rakyat. berati kedaulatan ekonomi rakyat harus tetap di hormati dan benar-benar di tempatkan sebagai pelaku dunia usaha yang unggul pada jalur utama seluruh kehidupan ekonomi nasional. kemartabatan dan kemandirian. tetapi harus di berdayakan sebagai pelaku ekonomi yang tangguh. intensifikasi dan rehabilitasi pertanian dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi serta kebutuhan bahan baku industri. Falsafah dalam Ekonomi Rakyat meliputi pengertian bahwa kegiatan ekonomi dilaksanakan dari rakyat oleh rakyat dan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Industri pertanian harus di dorong perkembangannya sehingga mampu memanfaatkan peluang pasar dalam dan luar negeri. rakyat banyak menjadi pemilik. Pasal 4).

PKT Pisang Abaca di harapkan menjadi bahan masukan penting bagi kalangan perbankan dan investor yang telah memiliki rencana pengembangan usaha perkebunan. Kalaupun ada. 1. sehingga mereka selalu menghadapi kesulitan untuk mendapatkan dukungan kredit guna pengembangan usahanya. Permasalahan Sekalipun pisang abaca ini mempunyai prospek permintaan yang baik. biasanya pihak yang dominan menentukan harga adalah para perdagangan atau tengkulak bukan masyarakat desa. Permasalahan/kendala utama yang dapatt menyebabkan bisnis usaha kecil budidaya pisang abaca masih sering menghadapi resiko kegagalan. Dalam model kemitraan ini akan disinggung beberapa aspek. Sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam proses penjualan. Namun acap terjadi hasilnya kurang menguntungkan karena lemahnya posisi masyarakat desa dalam rantai perdagangan. dalam kaitannya dengan pengembangan perkebunan plasma abaca oleh masyarakat. hanya akan bisa terjadi apabila di mulai dengan adanya kepastian mengenai pemasaran hasil kebun abaca petani plasma/usaha kecil kepada mitra Usaha Besar/Perusahaan Inti yang bersangkutan. Perkembangan "perkoperasian" adalah bagian integral dari pembangunan nasional yang mempunyai peranan strategis dalam mengantarkan perekonomian masyarakat Golongan Masyarakat Ekonomi Lemah agar sejajar dengan sektor ekonomi lainnya yang ada di Indonesia. yang meliputi aspek pemasaran. Oleh sebab itu. Kelayakan usaha kecil dalam perkebunan pisang abaca ini.masyarakat desa. adalah sebagai berikut : Ketidak mampuan untuk memenuhi persyaratan teknis bank Faktor lain yang dapat menambah bobot permasalahan yang dihadapi oleh usaha kecil/petani kecil budidaya pisang abaca yaitu bahwa pada umumnya mereka tidak mampu memenuhi persyaratan teknis bank. 2. tetapi sektor budidaya dalam skala usaha kecil masih menghadapi berbagai masalah atau kendala. MK . Koperasi yang sekarang mayoritas masih menghadapi banyak kendala sehingga memerlukan dorongan dari semua pihak agar koperasi lebih maju selangkah dimasa yang akan datang. hanya sebagian desa yang memiliki produk/komoditi tertentu. Upaya Pemacahan Upaya yang ditempuh untuk membantu Usaha Kecil (UK) dalam bidang budidaya pisang abaca agar mampu memanfaatkan peluang dan sekaligus untuk memecahkan masalah yang dihadapi (kelemahan dalam system) Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 6 . aspek sosial dan ekonomi serta pola kemitraan terpadu yang sesuai antara usaha besar (Inti) dan petani plasma. seperti aspek kelayakan usaha. teknis budidaya dan finansial.

akan memiliki lahan atau situasi yang cocok untuk pelaksanaan budidaya pisang abaca. a. maka bisnis usaha kecil budidaya pisang abaca yang dilaksanakan dengan Model ini. Dengan adanya keunggulan-keunggulan seperti diatas. b. Melalui pendekatan kelompok. Kebijakan di sektor pemerintah Kebijakan di sektor pemerintah yang erat kaitannya dengan tujuan untuk mendorong dan mendukung pengembangan usaha kecil budidaya tanaman pisang abaca adalah mengacu kepada sejauh mana Departemen Pertanian khususnya Dinas Perkebunan dapat menciptakan kondisi yang kondusif bagi pengembangan proyek ini. Faktor keunggulan bisnis budidaya tanaman pisang abaca yang dikembangkan dan dilaksanakan oleh para usaha kecil/petani dapat diukur dari produktifitas tenaga kerja dan lahan yang merupakan modal usaha dari para petani kecil. Disamping itu. Dengan demikian skala usaha dan produktivitas pisang abaca dapat ditingkatkan pula. Kebijakan di sektor moneter Kebijakan pemerintah di sektor moneter yang erat kaitannya dengan upayaupaya pengembangan usaha kecil.dilaksanakan melalui pengembangan kebijakan di sektor-sektor pemerintah moneter di sektor riil. Melalui pelaksanaan Pola Kemitraan Terpadu (PKT) kesinambungan pasokan input produksi dan menurunkan tingkat kegagalan panen serta meningkatkan efisiensi pemakaian input. khususnya yang berkaitan dengan pengembangan usaha tanaman pisang abaca adalah kebijakan berkesinambungan perkreditan yang sesuai dan cocok dengan kebutuhan masyarakat usaha kecil. b. Tujuan Tujuan dari penulisan Model Kelayakan Perkebunan Pisang Abaca ini antara lain : Proyek Kemitraan Terpadu Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 7 . Karena bank merasa adanya kepastian terhadap pengembalian kredit dan pembayaran bunganya. beberapa biaya produksi dapat ditanggung secara bersama-sama. model ini juga dapat menjamin ketersediaan dan pengamanan kredit yang disalurkan kepada usaha kecil. Peningkatan skala usaha juga cenderung dapat menekan biaya.

2. cara dan mekanisme untuk mewujudkan Model Kelayakan PKT Budidaya Tanaman Pisang Abaca yang berhasil.1. Disamping itu juga menguraikan faktor-faktor. Tujuan Umum : Memberikan informasi kepada pihak perbankan tentang model Kemitraan Tepadu yang sesuai dan layak di biayai dengan kredit bank. khususnya yang dilaksanakan melalui pembiayaan usaha kecil budidaya tanaman pisang abaca. Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 8 . Koperasi dengan Petani di sub sektor budidaya tanaman pisang abaca. Tujuan Khusus : Membantu meningkatkan kerjasama yang saling menguntungkan antara Usaha Besar.

dimulai dari penyediaan sarana produksi. Tujuan PKT antara lain adalah untuk meningkatkan kelayakan plasma. Kerjasama kemitraan ini kemudian menjadi terpadu dengan keikut sertaan pihak bank yang memberi bantuan pinjaman bagi pembiayaan usaha petani plasma.2. Dalam melakukan kemitraan hubunga kemitraan. Masing-masing pihak memiliki peranan di dalam PKT yang sesuai dengan bidang usahanya. yaitu (1) Petani/Kelompok Tani atau usaha kecil. bimbingan teknis dan pemasaran hasil produksi. Organisasi Proyek Kemitraan Terpadu (PKT) adalah suatu program kemitraan terpadu yang melibatkan usaha besar (inti). meningkatkan keterkaitan dan kerjasama yang saling menguntungkan antara inti dan plasma. (b) Petani /usaha kecil yang telah memiliki usaha tetapi dalam keadaan yang perlu ditingkatkan dalam untuk itu memerlukan bantuan modal. petani yang dapat ikut dalam proyek ini bisa terdiri atas (a) Petani yang akan menggunakan lahan usaha pertaniannya untuk penanaman dan perkebunan atau usaha kecil lain. Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 9 . perusahaan inti (Industri Pengolahan atau Eksportir) dan petani plasma/usaha kecil mempunyai kedudukan hukum yang setara. Proyek Kemitraan Terpadu ini merupakan kerjasama kemitraan dalam bidang usaha melibatkan tiga unsur. dibuat seperti halnya hubungan antara Plasma dengan Inti di dalam Pola Perusahaan Inti Rakyat (PIR). serta membantu bank dalam meningkatkan kredit usaha kecil secara lebih aman dan efisien. dalam batas masih bisa ditingkatkan produktivitasnya dengan perbaikan pada aspek usaha. Hubungan kerjasama antara kelompok petani/usaha kecil dengan Pengusaha Pengolahan atau eksportir dalam PKT. usaha kecil (plasma) dengan melibatkan bank sebagai pemberi kredit dalam suatu ikatan kerja sama yang dituangkan dalam nota kesepakatan. Untuk kelompok (a). Kemitraan dilaksanakan dengan disertai pembinaan oleh perusahaan inti. Petani/usaha kecil merupakan plasma dan Perusahaan Pengelolaan/Eksportir sebagai Inti. kegiatan proyek dimulai dari penyiapan lahan dan penanaman atau penyiapan usaha. 1. Proyek ini kemudian dikenal sebagai PKT yang disiapkan dengan mendasarkan pada adanya saling berkepentingan diantara semua pihak yang bermitra. sedangkan untuk kelompok (b). kegiatan dimulai dari telah adanya kebun atau usaha yang berjalan. (2) Pengusaha Besar atau eksportir. dan (3) Bank pemberi KKPA.Petani Plasma Sesuai keperluan. Kemitraan Terpadu a.

Apabila koperasi menggunakan tenaga Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). didalam mengadakan hubungan dengan pihak Koperasi dan instansi lainnya yang perlu. Jika menggunakan skim Kredit Usaha Kecil (KUK). harus memiliki kemampuan dan fasilitas pengolahan untuk bisa menlakukan ekspor. Tugas Ketua dan Sekretaris Kelompok adalah mengadakan koordinasi untuk pelaksanaan kegiatan yang harus dilakukan oleh para petani anggotanya. ditunjuk seorang Ketua dan Sekretaris merangkap Bendahara. sesuai hasil kesepakatan anggota. Perusahaan Besar dan Pengelola/Eksportir Suatu Perusahaan dan Pengelola/Eksportir yang bersedia menjalin kerjasama sebagai inti dalam Proyek Kemitraan terpadu ini. Ketua kelompok wajib menyelenggarakan pertemuan kelompok secara rutin yang waktunya ditentukan berdasarkan kesepakatan kelompok. Koperasi bisa melakukan kegiatan-kegiatan untuk membantu plasma di dalam pembangunan kebun/usaha sesuai keperluannya. Koperasi yang mengusahakan KKPA harus sudah berbadan hukum dan memiliki kemampuan serta fasilitas yang cukup baik untuk keperluan pengelolaan administrasi pinjaman KKPA para anggotanya. sebaiknya menjadi anggota suata koperasi primer di tempatnya. kehadiran koperasi primer tidak merupakan keharusan 3. perlu mendapatkan persetujuan Dinas Perkebunan setempat dan koperasi memberikan bantuan biaya yang diperlukan. Pada setiap kelompok tani/kelompok usaha. PKT tetap akan bisa dikembangkan dengan sekurang-kurangnya pihak Inti memiliki fasilitas pengolahan untuk diekspor. Fasilitas KKPA hanya bisa diperoleh melalui keanggotaan koperasi. Koperasi Parapetani/usaha kecil plasma sebagai peserta suatu PKT. hal ini penting untuk memastikan adanya pemasaran bagi produksi petani atau plasma. yang kemudian harus dijual kepada Perusahaan Inti.Luas lahan atau skala usaha bisa bervariasi sesuai luasan atau skala yang dimiliki oleh masing-masing petani/usaha kecil. Apabila Perusahaan Mitra tidak memiliki kemampuan cukup untuk mengadakan pembinaan teknis usaha. kegiatan pembibingan harus dapat diadakan oleh Koperasi dengan memanfaatkan bantuan tenaga pihak Dinas Perkebunan atau lainnya yang dikoordinasikan oleh Koperasi. serta bersedia membeli seluruh produksi dari plasma untuk selanjutnya diolah di pabrik dan atau diekspor. Disamping ini. Dalam hal perusahaan inti tidak bisa melakukan pembinaan teknis. perusahaan inti perlu memberikan bimbingan teknis usaha dan membantu dalam pengadaan sarana produksi untuk keperluan petani plasma/usaha kecil. 2. Meskipun demikian petani plasma/usaha kecil dimungkinkan untuk mengolah hasil panennya. Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 10 .

berdasarkan kesepakatan pihak petani/kelompok tani/koperasi. dapat dibuat menurut dua pola yaitu : a. 4. dan bagaimana petani akan membayar angsuran pengembalian pokok pinjaman beserta bunganya. termasuk kelayakan keuangan. b. dapat kemudian melibatkan diri untuk biaya investasi dan modal kerja pembangunan atau perbaikan kebun. bisa dipilih berdasarkan besarnya tingkat bunga yang sesuai dengan bentuk usaha tani ini. Sehingga makin tinggi produksi kebun petani/usaha kecil. bank agar membuat perjanjian kerjasama dengan pihak perusahaan inti. Pihak bank di dalam mengadakan evaluasi. Perusahaan inti akan memotong uang hasil penjualan petani plasma/usaha kecil sejumlah yang disepakati bersama untuk dibayarkan langsung kepada Bank.Koperasi juga bisa memperkerjakan langsung tenaga-tenaga teknis yang memiliki keterampilan dibidang perkebunan/usaha untuk membimbing petani/usaha kecil dengan dibiayai sendiri oleh Koperasi. Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 11 . dari hasil penjualan secara proposional menurut besarnya produksi. juga harus memastikan bagaimana pengelolaan kredit dan persyaratan lainnya yang diperlukan sehingga dapat menunjang keberhasilan proyek. sehingga mengarah pada perolehannya pendapatan bersih petani yang paling besar. Tenaga-tenaga ini bisa diberi honorarium oleh Koperasi yang bisa kemudian dibebankan kepada petani. Disamping mengadakan pengamatan terhadap kelayakan aspek-aspek budidaya/produksi yang diperlukan. Besarnya potongan disesuaikan dengan rencana angsuran yang telah dibuat pada waktu perjanjian kredit dibuat oleh pihak petani/Kelompok tani/koperasi. Besarnya potongan disesuaikan dengan rencana angsuran yang telah dibuat pada waktu perjanjian kredit dibuat oleh pihak petani plasma dengan bank. Pola Kerjasama Kemitraan antara petani/kelompok tani/koperasi dengan perusahaan mitra. Untuk ini. Bank Bank berdasarkan adanya kelayakan usaha dalam kemitraan antara pihak Petani Plasma dengan Perusahaan Perkebunan dan Pengolahan/Eksportir sebagai inti. Dalam pelaksanaanya. Bank harus dapat mengatur cara petani plasma akan mencairkan kredit dan mempergunakannya untuk keperluan operasional lapangan. Perusahaan inti akan memotong uang hasil penjualan petani plasma/usaha kecil sejumlah yang disepakati bersama untuk dibayarkan langsung kepada bank. Skim kredit yang akan digunakan untuk pembiayaan ini. akan semakin besar pula honor yang diterimanya. Petani yang tergabung dalam kelompok-kelompok tani mengadakan perjanjian kerjasama langsung kepada Perusahaan Perkebunan/Pengolahan Eksportir.

Adanya petani/pengusaha kecil yang telah menjadi anggota koperasi dan lahan pemilikannya akan dijadikan kebun/tempat usaha atau lahan kebun/usahanya sudah ada tetapi akan ditingkatkan produktivitasnya. Petani/usaha kecil tersebut harus menghimpun diri dalam kelompok dengan anggota sekitar 25 petani/kelompok usaha. Berdasarkan persetujuan bersama. dari : sebaiknya dan dalam keberhasilan. pemberian kredit yang berupa KKPA kepada petani plasma dilakukan dengan kedudukan Koperasi sebagai Channeling Agent. akan menjadi tanggung jawab koperasi. b. Masalah pembinaan teknis budidaya tanaman/pengelolaan usaha. minimal Kalau PKT ini akan perintisannya dimulai a. melalui koperasinya mengadakan perjanjian yang dibuat antara Koperasi (mewakili anggotanya) dengan perusahaan perkebunan/ pengolahan/eksportir. Penyiapan Proyek Untuk melihat bahwa PKT ini dikembangkan dengan proses kegiatannya nanti memperoleh kelancaran dan dapat dilihat dari bagaimana PKT ini disiapkan. c. mempergunakan KKPA untuk modal usaha plasma. pemberian KKPA kepada petani plasma dilakukan dengan kedudukan koperasi sebagai Executing Agent. Dalam bentuk kerjasama seperti ini.Dengan bentuk kerja sama seperti ini. dan pengelolaannya langsung ditangani oleh Kelompok tani. Petani yang tergabung dalam kelompok-kelompok tani. yang didapatkan melalui Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 12 . Sedangkan masalah pembinaan harus bisa diberikan oleh Perusahaan Mitra. apabila tidak dapat dilaksanakan oleh pihak Perusahaan Mitra.

f.pertemuan anggota kelompok. untuk peningkatannya dapat diharapkan nantinya mendapat pembinaan dari perusahaan mitra. yang bersedia menjadi mitra petani/usaha kecil. Prakarsa bisa dimulai dari salah satu pihak untuk mengadakan pendekatan. Koperasi harus mendapatkan persetujuan dari para anggotanya. Diperoleh dukungan untuk kemitraan yang melibatkan para anggotanya oleh pihak koperasi. Lahan yang akan digunakan untuk perkebunan/usaha dalam PKT ini. Mekanisme Proyek Mekanisme Proyek Kemitraan Terpadu dapat dilihat pada skema berikut ini : Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 13 . Koperasi kemudian mengadakan langkah-langkah yang berkaitan dengan formalitas PKT sesuai fungsinya. atau ada pihak yang akan membantu sebagai mediator. untuk memperoleh kesepakatan di antara keduanya untuk bermitra. Dipertemukannya kelompok tani/usaha kecil dan pengusaha perkebunan/pengolahan dan eksportir tersebut. Dinas Koperasi. Apabila keterampilan koperasi kurang. harus jelas statusnya kepemilikannya bahwa sudah/atau akan bisa diberikan sertifikat dan buka merupakan lahan yang masih belum jelas statusnya yang benar ditanami/tempat usaha. dan Pemda). Untuk itu perlu adanya kejelasan dari pihak Kantor Badan Pertanahan dan pihak Departemen Kehutanan dan Perkebunan. dan dapat membantu memberikan pembinaan teknik budidaya/produksi serta proses pemasarannya. Kantor Badan Pertanahan. peran konsultan bisa dimanfaatkan untuk mengadakan identifikasi dan menghubungkan pihak kelompok tani/usaha kecil yang potensial dengan perusahaan yang dipilih memiliki kemampuan tinggi memberikan fasilitas yang diperlukan oleh pihak petani/usaha kecil. d. mereka bersedia atau berkeinginan untuk bekerja sama dengan perusahaan perkebunan/ pengolahan/eksportir dan bersedia mengajukan permohonan kredit (KKPA) untuk keperluan peningkatan usaha. d. Adanya perusahaan perkebunan/pengolahan dan eksportir. e. c. apakah akan beritndak sebagai badan pelaksana (executing agent) atau badan penyalur (channeling agent). Koperasi harus memiliki kemampuan di dalam mengorganisasikan dan mengelola administrasi yang berkaitan dengan PKT ini. b. Dalam kaitannya dengan penggunaan KKPA. Diperolehnya rekomendasi tentang pengembangan PKT ini oleh pihak instansi pemerintah setempat yang berkaitan (Dinas Perkebunan.

Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 14 . kredit perbankan dapat dialihkan dari rekening koperasi/plasma ke rekening inti untuk selanjutnya disalurkan ke plasma dalam bentuk sarana produksi. Perjanjian Kerjasama Untuk meresmikan kerja sama kemitraan ini. Sesuai dengan nota kesepakatan. dana pekerjaan fisik. tetapi yang diterima adalah sarana produksi pertanian yang penyalurannya dapat melalui inti atau koperasi. Dalam perjanjian kerjasama itu dicantumkan kesepakatan apa yang akan menjadi kewajiban dan hak dari masing-masing pihak yang menjalin kerja sama kemitraan itu. Hasil tanaman plasma dijual ke inti dengan harga yang telah disepakati dalam MoU. perlu dibuat suatu nota kesepakatan (Memorandum of Understanding = MoU) yang mengikat hak dan kewajiban masing-masing pihak yang bermitra (inti. Petani plasma melaksanakan proses produksi. Jika proyek layak untuk dikembangkan. Plasma/Koperasi dan Bank). dan lain-lain. atas kuasa koperasi atau plasma.Bank pelaksana akan menilai kelayakan usaha sesuai dengan prinsip-prinsip bank teknis. perlu dikukuhkan dalam suatu surat perjanjian kerjasama yang dibuat dan ditandatangani oleh pihak-pihak yang bekerjasama berdasarkan kesepakatan mereka. Perusahaan inti akan memotong sebagian hasil penjualan plasma untuk diserahkan kepada bank sebagai angsuran pinjaman dan sisanya dikembalikan ke petani sebagai pendapatan bersih e. Dengan demikian plasma tidak akan menerima uang tunai dari perbankan.

Melakukan pembelian produksi petani plasma. Melakukan pengawasan terhadap cara panen dan pengelolaan pascapanen untuk mencapai mutu hasil yang diharapkan. e. Menghimpun diri secara berkelompok dengan petani tetangganya yang lahan usahanya berdekatan dan sama-sama ditanami. b. c. dan g. serta bertindak sebagai avalis dalam rangka pemberian kredit bank untuk petani plasma. c. b. f. d. Kewajiban Perusahaan Perkebunan/Pengolahan/Eksportir sebagai mitra (inti) a. Menyediakan sarana produksi lainnya. d. Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 15 . sesuai rekomendasi budidaya oleh pihak Dinas Perkebunan/instansi terkait setempat yang tidak termasuk di dalam rencana waktu mengajukan permintaan kredit. Memberikan bantuan pembinaan budidaya/produksi dan penaganan hasil. Menyediakan lahan pemilikannya untuk budidaya. Menggunakan sarana produksi dengan sepenuhnya seperti yang disediakan dalam rencana pada waktu mengajukan permintaan kredit. Membantu petani plasma dan bank di dalam masalah pelunasan kredit bank (KKPA) dan bunganya. Melaksanakan pemungutan hasil (panen) dan mengadakan perawatan sesuai petunjuk Perusahaan Mitra untuk kemudian seluruh hasil panen dijual kepada Perusahaan Mitra .Perjanjian tersebut memuat ketentuan yang menyangkut kewajiban pihak Mitra Perusahaan (Inti) dan petani/usaha kecil (plasma) antara lain sebagai berikut : 1. 2. Pada saat pernjualan hasil petani akan menerima pembayaran harga produk sesuai kesepakatan dalam perjanjian dengan terlebih dahulu dipotong sejumlah kewajiban petani melunasi angsuran kredit bank dan pembayaran bunganya. dan e. pupuk dan obat-obatan). Membantu petani di dalam menyiapkan kebun.. penanaman serta pemeliharaan kebun/usaha. pengadaan sarana produksi (bibit. Melakukan pengawasan terhadap cara panen dan pengelolaan pasca panen untuk mencapai mutu yang tinggi. Kewajiban petani peserta sebagai plasma a.

Dengan demikian posisi UB sebagai pembeli tunggal diharapkan kesinambungan pasar akan selalu terjamin. Potensi pasar internasional tercatat sebesar 600. Dari jumlah tersebut Filipina merupakan produsen utama dengan share sebesar 80. Aspek Pemasaran a.000 ton. Peluang Pasar Peluang pengembangan perkebunan pisang abaca pada saat ini mulai terbuka dengan semakin potensialnya pasaran Internasional. c. Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.000 ton dan Equador sebesar 10.3. b. dimana UB merupakan pembeli tunggal bagi hasil produksi yang dihasilkan oleh para UK.000 ton serat abaca pertahun. maka bentuk pasarnya adalah pasar yang monopoli (Captive Market ). maka UB sebagai inti mempunyai kewajiban mutlak untuk tetap menjadi pembeli tunggal dan berkewajiban menyerap seluruh hasil produksi para UK yang menjadi plasmanya. permintaan potensial market tersebut belum dapat dipenuhi sehingga pengembangan pisang abaca di Indonesia masih sangat terbuka. terutama untuk memnuhi permintaan negara-negara maju seperti Jepang. Captive Market Bentuk pasar bagi model PKT dimana UK ditempatkan di dalam satu kawasan proyek. Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 16 . baik statistik harga. karena baik permintaan pasar luar negeri maupun pasar domestik masih belum jelas. maupun kuantitasnya. karena dengan bergabung dalam kerjasama kelompok perolehan sarana dan prasarana langsung dari Inti dapat lebih efisien dan pada gilirannya anggota koperasi memiliki posisi tawar yang lebih baik. maka langkah yang terbaik adalah melakukan usaha dengan pola kemitraan Inti-Plasma. Kesinambungan Pasar Dalam bentuk pasar seperti tersebut diatas. Bentuk Pasar 1. Analisa Pasar Pasar ekspor dan pasar dalam negeri untuk serat abaca pada saat ini masih perlu dicermati. Dengan demikian. 2. Menghadapi situasi dewasa ini. dan untuk menyisiati agar usaha agrobisnis dapat berkembang. apa lagi sumber daya alamnya sangat mendukung.

Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 17 . Harga Penjualan Harga serat pisang abaca yang dijual UK kepada UB. Penentuan Harga Kesepakatan a.000 per kg (tentalife) 2. b. d.3. 3. Mekanisme prosedur dan tujuan pembentukan harga seperti ini harus benar-benar dapat dipahami oleh para UK. Dengan membandingkan hasil penurunan harga yang berlaku di pasar dengan biaya yang dikeluarkan. Harga kesepakatan tersebut merupakan hasil analisis yang besarnya diturunkan dari rataan harga pasar enceran pada priode tertentu b. Kesinambungan Proyek Bilamana situasi harga pasar enceran ternyata lebih rendah dari pada harga per unit produksi ditingkat petani terjadi secara berkepanjangan. akan merupakan margin keuntungan UB untuk bisa tetap berperan aktif sebagai inti secara kesinambungan. untuk pembayaran angsuran pokok dan bunga kredit membayar pinjaman UK kepada UB (kalau ada) serta pajak. dan adanya tanggung jawab Usaha Besar untuk menangani proyek sampai dengan kondisi yang paling berat sekalipun. dalam rangka pelaksanaan PKT merupakan salah satu produk kesepakatan yang paling penting antara UK dan UB karena harga penjualan di tingkat UK ini yang akan dipergunakan sebagai harga kesepakatan dan untuk sementara sebagai harga acuan adalah 2. Tujuan Kesepakatan Harga. maupun kesinambungan pengamanan proyeknya. maka menjadi kewajiban UB untuk kemudian mengambil alih seluruh proyek yang gagal tersebut (buy back system) Dengan operasi pasar dan posisi UB sebagai pembeli tunggal seperti tersebut diatas. diatas potongan-potongan untuk biaya produksi/operasi berikutnya. dari selisih harga beli UB terhadap produksi yang dihasilkan UK dengan harga jual di pasar eceran setelah dipotong ongkos-ongkos UB. akan merupakan jaminan kesinambungan pasar yang di hasilkan UK. Penetapan harga jual kesepakatan ditingkat UK bertujuan agar dapat menguntungkan : a. Oleh karena itu proses penetapan harga ini juga harus merupakan bagian dari program pelatihan yang dilaksanakan UB pada awal proyek. Mekanisme Harga 1. dan merupakan faktor penyebab kegagalan proyek. akan ditetapkan kesepakatan harga jual pada UK saat itu.500. Karena dari harga UK ini masih mendapat keuntungan yang wajar.

lokasi penyampaian. Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 18 . Dengan menyepakati harga tersebut maka jaminan atas kelancaran penjualan akan dapat dilaksanakan secara berkesinambungan dan sekaligus dapat tetap menjaga keuntungan yang wajar bagi UK dan UB. harga beli ditingkat pasaran enceran. yang pada gilirannya berdampak pula kepada kegagalan dalam mengangsur kredit. Ketidak trasparanan mengenai proses jual beli dan mekanisme pembayaran tersebut di atas memungkinkan terjadi ketidak sinambungan pemasaran. mutu dan harga beli UB kepada para UK yang menjadi plasmanya. Dalam hal ini yang mungkin dapat menyebabkan kepastian harga tersebut tidak berjalan sesuai dengan kesepakatan adalah karena justru UB tidak mampu membayar UK sesuai dengan kesepakatan. UB dan Bank ) dan dituangkan dalam suatu nota kesepakatan. Harga kesepakatan tersebut minimal selama 6 bulan atau setahun. Dengan demikian untuk menghindari masalah-masalah yang mungkin timbul. Kelemahan-kelemahan tersebut antara lain karena UK tidak melaksanakan proses dengan baik. serta ketetapan terhadap jumlah dan waktu pembayaran dan kesinambungan. Oleh karena itu. Atau terjadi manipulasi terhadap jumlah. sehingga total produksi setiap priode dan mutu tidak sesuai dengan kesepakatan. mutu. Sehubungan dengan itu. kesepakatan harga ini perlu di jabarkan lebih rinci ke dalam nota kesepakatan yang memuat kesepakatan terhadap jumlah. atau karena UB kekurangan modal kerja.e. waktu. semua aspek yang berkaitan dengan lalu lintas pembayaran yang menyangkut operasional PKT maupun yang terkait dengan administrasi kredit perlu diatur secara jelas bagi kepentingan semua peserta PKT (UK. 2. Kesinambungan Pasar 1. Titik Kritis Kesinambungan Pasar dan PKT     Sekalipun telah ditetapkan dalam suatu kesepakatan harga yang disesuaikan. Ketidak mampuan UB ini bisa terjadi karena UB menghadapi dilema akibat fluktuasi harga yang menyebabkan UB mengalami kerugian yang berkepanjangan. serta kelancaran pengembalian kredit ke Bank. maka di perlukan transparansi dan pemahaman oleh semua peserta PKT terhadap batasan-batasan yang menyangkut persyaratan jual beli hasil yang dihasilkan UK. Kerancuan pengadministrasi arus pembayaran di tingkat UB dan Bank juga menurunnya kinerja PKT. Penentuan Harga   Untuk menjamin kesenambungan pasar bagi model tersebut diatas/UK dan UB harus menyepakati tentang harga jual. beberapa telah kelemahan mungkin masih dapat terjadi yang mengakibatkan mekanisme kesepakatan tersebut terlanggar.

Indonesia saat ini mengeluarkan devisa sebesar 1.f. Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 19 .000 ton ) dan Equador (10. Dari jumlah kebutuhan tersebut pengadaan terbesar saat ini adalah Filipina (80.000 ton). Daerah Pemasaran Semua hasil produksi petani pisang abaca (anggota Koperasi Primer atau Kelompok Tani) yang telah berupa serat pisang abaca seluruhnya di jual mitra usahanya yaitu Perusahaan Inti. 5 milyard US$ untuk impor kapas sebagai bahan baku tekstil. Amerika dan Eropa dengan potensi pasar total sebesar 600.000 ton per tahun. Disamping peluang pasar internasional serat pisang abaca juga di gunakan sebagai impor bahan baku kapas yang dikonsumsi di tingkat lokal. sehingga merupakan peluang cukup besar bagi Koperasi dan masyarakat tani pemilik lahan tidur untuk berpatisipasi dan proaktif secara langsung dalam pembudidayaan tanaman pisang abaca. Dari gambaran tersebut diatas permintaan dunia masih belum dapat memenuhi secara keseluruhan. dengan standar harga ditentukan sesuai dengan harga pasar international. Sebagai gambaran. Permintaan pasar internasional saat ini adalah Jepang.

Aspek Produksi a.4.000 mm/tahun. Iklim Tanaman pisang abaca dapat hidup di daerah tropis sampai sub tropis.000 mm/tahun tetapi tidak menutup kemungkinan di bawah 2. ketinggian yang dikehendaki 300 m di atas permukaan air laut. Tanah tersebut hendaknya berstruktur longgar (gembur) sehingga mudah menghisap atau melepaskan air. 3. Pengairan di sesuaikan kondisi kelembaban tanah kering/basah. Tanah Walaupun pisang abaca dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah. Curah hujan. Keasaman tanah berkisar antara 4 . Secara lebih spesifik persyaratan tumbuh lainnya adalah sebagai berikut : 1.5 . Suhu yang dikehendaki untuk tumbuh dengan normal antara 17oC 30oC.25%. dan pH tanah yang di kehendaki berkisar 4. tetapi akan lebih baik pertumbuhannya bila di tanam pada struktur tanah yang gembur atau struktur tanah yang remah dan tidak di tanam di tanah yang padas. Ketinggian Umumnya tanaman pisang abaca lebih menyukai dataran rendah yang beriklim lembah.7. Kedalaman tanah (solum) minimal 50 cm. Kesesuaian Lahan Tanaman pisang abaca sangat baik di budidayakan pada tanah-tanah vulkanik atau alluvial dengan tekstur lempung. tanaman pisang abaca memerlukan curah hujan yang normal minimal 2.7. 5. atau lempung liat berdebu. Akan tetapi ia juga mampu hidup sampai ketinggian 1000 m diatar permukaan air laut. namun pada ketinggian tersebut hasil seratnya akan berkurang. Kelerangan Kelerengan yang dikehendaki tanaman pisang abaca berkisar antara 15 . Kelerengan di atas 25% juga dapat dimanfaatkan asalkan di Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 20 . 4. asalkan di adakan pengairan yang teratur karena tanaman pisang abaca membutuhkan air yang cukup. lempung berpasir.6 dan pH optimal adalah 6 . Untuk tumbuh normal.5 2.

Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 21 . Sedangkan pohon yang tinggi (terutama dari famili Leguiminiceae) sebaiknya jangan ditebang sekaligus. Ukuran Batang Warna Varietas Bontolan Pendek . b. manguindanao.buat terasering untuk memudahkan pemeliharaan dan menghindari erosi tanah. sehingga tanaman yang dihasilkan dapat seragam. Pertumbuhan Pengambilan serat Kualitas Serat Cepat Mudah Halus. yaitu dengan teknologi kultur jaringan. 4. dan tangengong. Ciri-ciri Varietas Pisang Abaca Ciri-Ciri/Sifat 1. Pengadaan Bibit Bahan tanaman dapat berupa anakan. bebas dari serangan hama dan penyakit. c. Bibit ini akan diambil dari perusahaan pembibitan di Jawa Timur. maka pekerjaan pertama yang dilakukan adalah membuang semak-semak dan pohon-pohon besar dan kecil. 2.sdg Hitam Manguindanao Besar Ungu-hitam kelam 3. putih Cepat Mudah Putih dan Bermutu tinggi Tangengon Besar Merah TuaUngu kehitaman Sulit - Dalam MK-PKT ini. 5. Sedangkan varietas yang digunakan antara lain varietas bontolanon. pengadaan bibit di lakukan dengan cara modern. sehat. bonggol utuh atau bonggol yang dipotong-potong. dengan ciri-ciri sebagai mana di uraikan dalam Tabel 1 berikut : Tabel 1. Bila calon lahan penanaman berupa hutan. Ketiga varietas ini berasal dari Filipina. sebab pohonpohon ini nantinya dapat berguna sebagai tanaman pelindung pada tahap awal. Pembukaan Lahan Persiapan lahan untuk penanaman pisang abaca tergantung pada vegetasi lahan akan ditanami.atau di tempat lain yang sesuai. tetapi telah masuk dan di budidayakan sejak zaman kolonial.

Jika calon lahan telah lama terbuka, dan vegetasinya padang alang-alang, padang rumput, atau bekas tanaman setahun, maka pekerjaan utama adalah membuang rumput-rumput sampai bersih, dengan cara membajak berulang kali, atau dengan herbisida, sehingga rumput-rumput termasuk ilalang dapat di bersihkan. Sedangkan pengolahan lahan yang perlu di lakukan adalah sebagai berikut : 1. Pembajakan Pembajakan dilakukan dengan alat luku untuk membongkar tanah yang keras dengan kedalaman 35 - 50 cm, dengan tujuan agar perakaran tanaman pisang tumbuh dengan sempurna. 2. Penggaruan (Harrowing) Penggaruan setelah pembajakan adalah untuk menghancurkan bongkahan tanah menjadi lebih kecil, sehingga diperoleh tanah yang remah, dan untuk meratakan permukaan tanah. Pembajakan dan penggaruan di lakukan untuk tanah yang keras. Untuk lahan perkebunan, dengan luas minimal 100 Ha, pengolahan dengan dapat di lakukan dengan dapat dilakukan dengan hand tractor, sedangkan pengelolaan tanah sawah dan perkarangan menggunakan cangkul. 3. Pembuatan Lubang Tanam Sebelum penanaman, dilakukan pembuatan lubang tanam dengan ukuran 30 x 30 x 30 cm (P x L x DLM). Lubang tanam dibiarkan selama 2 -3 minggu, dengan tujuan untuk terjadinya oksidasi terlebih dahulu sehingga tingkat kemasaman tanah berada pada batas yang tidak membahayakan tananam.

d. Penanaman 1. Penentuan Jarak Tanam Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penentuan jarak tanam yakni singkat kesuburan tanah, jenis, atau klon tanaman dan tingkat kemiringan lahan. Pada tanah yang subur, jarak tanam biasanya lebih besar jika di bandingkan pada tanah yang kurang subur. Jenis atau klon tanaman yang berkanopi lebar di tanam dengan jarak yang lebih besar di bandingkan dengan berkanopi kecil. Sedangkan pada tanah dengan topografi berbukit miring, biasanya jarak tanaman lebih besar karena harus mengikuti arah garis kontour. Pada pisang abaca jenis mangundinao kita menggunakan jarak tanam 5 x 5 m ( P x L ) dan

Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka

22

dalam kurun waktu empat bulan setelah tanam akan tumbuh 2 - 3 anakan. 2. Saat dan Waktu Tanam Penentuan waktu tanam berkaitan erat dengan kesediaan air di lokasi yang bersangkutan. Saat waktu tanam pisang abaca yang baik adalah beberapa hari menjelang musim hujan tiba, yaitu pada pagi hari jam 07.00 - 10.30 dan sore hari jam 14.30 - 17.00 3. Sistem Tanam Mengacu pada usaha konservasi lahan terdapat 2 pola tanam yaitu untuk lahan dataran tinggi ditanam dengan pola monokultur, dan untuk dataran rendah dengan pola tumpang sari. a. Penanaman dengan pola monokultur untuk dataran rendah yakni penanaman satu jenis tanaman. Kelemahan monokultur yakni memberi peluang beradanya hama dan penyakit yang tidak pernah putus dan juga terjadinya ledakan hama karena persediaan makan tercukupi. b. Penanaman tumpang sari  Penanaman tanaman pokok (pisang abaca) dan diantara tanaman pokok juga ditanam satu jenis tanaman lain misalnya kedele.  Tanaman sela di tanam saat penanam tanaman pokok.  Umur tanaman sela harus lebih pendek dari tanaman pokok.

e. Pemeliharaan Agar tanaman pisang abaca yang telah di tanam dapat tumbuh baik sehingga produksinya maksimal, maka perlu dipelihara dengan baik. Kegiatan yang perlu di lakukan adalah pemupukan, pengairan dan drainase, penjarahan rumpun, pembubunan, pengendalian gulma/penyiangan juga sanitasi kebun, dengan uraian sebagai berikut : 1. Pemupukan. Pemupukan adalah usaha untuk mengembalikan unsur-unsur tertentu ke dalam tanah yang hilang terbawaoleh tanaman sebagai hasil produksi, demikian diharapkan melalui pemupukan tingkat kesuburan tanah tetap terjaga sehingga tanaman yang tumbuh tetap baik.

Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka

23

Pupuk yang diberikan adalah pupuk organik (pupuk alam)/pupuk anorganik (pupuk buatan). Pupuk organik yang dibelikan berupa pupuk kandang/kompos sebanyak 0,5 Kg/tanaman dan dilakukan pada waktu tanam. a. Pemupukan ada beberapa tahapan : o Tahap I : 1 bulan setelah tanam pupuk yang diberikan 0,25 Kg Urea per tanaman (100 Kg /Ha) o Tahap II : 4 bulan setelah tanam pupuk yang diberikan 0,20 Kg TSP per rumpun ( 80 Kg/Ha) o Tahap III : 8 bulan setelah tanam pupuk yang diberikan Urea 0,50 Kg per rumpun (200 Kg/Ha) o Tahap IV : 12 bulan setelah tanam pupuk yang di berikan 0,75 Kg per rumpun (300 Kg Ha). TSP 0,30 Kg per rumpun (120 Kg/Ha) dan pupuk kandang 4 Kg per rumpun (600 Kg/Ha). b. Pemupukan ada dua cara o Dengan cara dilubang (ditugal) dengan jarak 50 - 60 cm dari tanaman. Jumlah lubang 4 lubang dengan kedalaman 15 cm. Setelah pupuk di masukkan lubang di tutup kembali dengan tanah. o Dengan cara melingkar (ring), dicangkul melingkar dengan kedalaman 15 - 30 cm dengan jarak tanaman antara 60 - 70 cm. Selanjutnya pupuk yang digunakan pupuk anorganik (pupuk buatan). Untuk pupuk organik (pupuk alam) sama dengan cara ring pupuk kandang dicampur dengan tanah, lalu dimasukkan lubang. c. Kunci sukses pemupukan. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu : o Tanah. Kita lihat kondisi tanah dengan cara penelitian di laboratorium untuk mengetahui dosis pempukan menurut jenisnya. o Tanaman. Kita lihat perubahan tanaman dari permukaan tanah hingga ujung layak/tidak diberi pupuk. o Pupuk. Kita lihat kandungan pupuk atau dosis yang diberikan pada tanaman dan cara pemupukan.

2. Pengairan dan Drainase. a. Pengairan. o Pertumbuhan pisang abaca membutuhkan air yang cukup. o Pada kondisi penguapan air yang tinggi dan kemampuan tanah menahan air rendah maka interval pengairan dapat dilakukan 15 hari sekali. Kandungan air pada batang yang akan di panen mencapai 90% b. Air yang diberikan kepada tanaman pisang abaca adalah : o Air sumur bor yang di bersih dan tidak mengandung lumpur serta bibit penyakit. c. Drainase

Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka

24

struktur tanah tetap gembur dan drainase tetap di terpelihara. Pengendalian gulma dilakukan 3 atau 4 kali dalam waktu 1 tahun agar tidak terjadi persaingan penyerapan unsur hara.80 cm (dalam lebar) 3. Penjarangan di lakukan 4 . Hama dan Penyakit Secara umum tanaman pisang abaca relatif tidak pernah terserang hama dan penyaki. sehingga pembersihan pelepah kering dan daun-daun kering harus secara rutin di lakukan untuk menghindari penyebaran areal Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 25 . 5.dengan tujuan : Agar akar tanaman tumbuh dengan sempurna sehingga tidak mudah roboh oleh tiupan angin. Ukuran drainase 30 . karena bisa menghambat pertumbuhan anakan dan pohon induk. Untuk dataran rendah. Pengambilan pelepah yang rusak atau daun-daun kering di pendam di sela-sela tanah yang kosong menjadi kompos.     Penjarangan di lakukan agar populasi tanaman tiap hektarnya tetap konstan sehingga di peroleh produksi yang konstan pula. Bahaya yang paling besar terhadap tanaman ini adalah Rawan kebakaran. tapi tidak boleh tergenang air karena akan merusak akan dan membusuk. Pembumbunan di lakukan bilamana umbi pisang sudah muncul di permukaan tanah. dan ditanam di sela tanaman yang kosong. dan untuk daerah yang rawan banjir drainase di perdalam dan diperbesar dengan ukuran 50 . lalu tanaman akan layu dan akhirnya mati.8 bulan sekali.40 cm (dalam X lebar). air dan unsur-unsur lainnya. walaupun tanaman pisang abaca membutuhkan air. Penjarangan bisa di lakukan dengan pemindahan anakan yang baik. Memperlancar peredaran udara dalam tanah.o o Pembuatan saluran drainase di perlukan untuk menghindari banjir atau tergenangnya air. Pengendalian Gulma/Penyiangan.   Pengendalian gulma dilakukan pada waktu penanaman pisang abaca masih kecil. Pembumbunan   Pembubunan dilakukan untuk merangsang tumbuhnya anakan. f. Penjarangan Rumpun. 4.

pengambilan pelepan yang rusak dan pengambilan daun pisang yang kering. o Misalnya: Pada wakut pemotongon batang. secara teknik merobek daun yang sudah tergulung dan secara kimia dengan semprotan insektisida. ditanam bersama bibit. d. hama dan penyakit yang sering kita jumpai pada jenis pisang yang ada di Indonesia antara lain : 1. Memotong tanaman yang tercemar sampai bongol bawah lalu pohon pisang dicacah dan ditanam di tempat yang jauh dari tanaman pisang. sesuai dosis yang dianjurkan.kebakaran. 2. o Pengendalian : Sebelum bibit di tanam. Kumbang Penggerak Batang (Cosmolitus Sordidus) o Gejala Serangan : Tanaman yang terserang daunnya menjadi mengkerut. terutama pada anakan bibit yang baru di tanam. karena hama ini hidupnya di pohon pisang yang busuk dan tanaman yang tidak terawat. jangan terlalu lama di pohon o Pengendalian : Dengan cara sanitasi kebun. c. direndam terlebih dulu dengan larutan insektisida selama 15 menit atau di beri Furadan 36. Jenis-jenis Hama Pisang a. o Misal : Pada waktu pemotongan batang. o Disebabkan : Kurang perawatan intensif. pengambilan pelepah yang rusak dan pengambilan daun pisang yang kering jangan terlalu lama di pohon. Hama Uret o Gejala Serangan : Menyerang pisang bagian batang sampai ke umbi batang bagian bawah (bonggol) menyebabkan Umbi berlubang. Memotong tanaman yang terserang sampai bonggol bawah lalu pohon pisang dicacah dan dipendam di tempat yang jauh. o Disebabkan : Kurangnya perawatan yang intesif karena hama ini hidupnya dipohon pisang yang busuk dan tanaman yang tidak terawat. Hama Penggulung Daun o Disebabkan : Erionotatrak o Gejala serangan : Menggulung daun dari tepi kearah tengah o Pengendalian dengan cara fisik. teknis dan kimia o Fisik dengan cara pengambilan telur. tumbuhnya mengkerdil. o Pengendalian : Dengan cara sanitasi kebun. Kepik Penggerek Batang (Adiparus Longicollis) o Gejala serangan : Badan batang pisang yang dilubangi dan daunnya jadi layu. Jenis-jenis Penyakit Pisang a. Penyakit Layu Fusarium atau Panama o Gejala serangan : Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 26 . b. Namun demikian.

bibit yang terkontaminasi dan pengairan yang tercemar spora. pada tahun ke-2 dan seterusnya terjadi peningkatan. mensterilkan alat yang akan digunakan.4 m Diameter batang 30 cm Pemanenan menggunakan parang. Produksi mulai pada tahun kedua setelah tanam dengan jumlah batang di tebang sebanyak 2241 dan diperhitungkan naik setiap 2 tahun. Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 27 . o Misal Tanah yang terbawa oleh alat pertanian. agar tidak terjadi akumulasi air hujan yang akan menyebabkan busuk. dimana dengan luasan lahan tersebut jumlah pohon pada tahun pertama adalah sebanyak 660 pohon.8 kg dengan harga jual sekitar Rp. Produksi serat setiap batang 1. Rencana Produksi Dalam MK-PKT ini. pengairana terkontrol o Alat yang akan dipakai harus dibersihkan Saluran drainase harus berfungsi & terkontrol Mencegah serangan vector daundaun yang kering secepatnya ambil Penyakit Bercak Daun Sigatoka o Gejala serangan : Daun ketiga dan kempat dari pucuk terlihat bercak-bercak kuning lalu menjadi coklat o Penyebab : Disebabkan cendawan mycossphaerella musicola o Misal Bibit daun yang terinfeksi o Pengendalian : Menjaga kebun tetap bersih o Pengambilan pelepah pisang yang rusak dan daun-daun yang kering o Penyebab : Kekuranganpenanganan yang intensif didalam teknik budidaya tanaman pisang    g. o Pengendalian Menanam bibit yang sehat. tetapi karena pertumbuhan anakan. tanaman pisang di rancang dalam 1 Ha. untuk memudahkan pemanenan dan mengurangi pengrusakkan terhadap batang di sekitarnya.b.2.500/kg h. Cara memotong pangkal di atas bonggol Pemotongan jangan mendatar. Daunnya mengering Tangkainya terkulai kemudian patah Penyerangan di mulai dari bonggol keatas melalui jaringan pembuluh ke pangkal dan tangkai daun o Penyebab Cendawan Fusarium oxysporum dan disebabkan keteledoran dalam penanganan budidaya. Panen & Pasca Panen Pemanenan pisang abaca secara fisik adalahsebagai berikut :       Panen setelah berumur 12 bulan Tinggi batang 3.5 .

Hijau Putih . Makin ke dalam makin serat tersebut makin halus.20 Masing-masing potongan dibagi 3 tegak untuk mempermudah pengupasan. maka pada setiap rumpun dapat di peroleh sekitar 2 . Setelah di tebang pelepah dilepaskan. 2. tetapi seratnya kuat. Pelepah Bagian Luar Pelepah bagian tengah Pelepah Tengah.3 batang. Kualitas serat pisang abaca ditentukan oleh letak pelepah pada batang semu. Dengan cara ini.Kuning Jml Serat Kekuatan Banyak Sedikit Banyak Kuat Kuat Tdk Kuat - Pelepah bagian dalam 7-8 Putih Tidak Ada Sumber : Hobir dan A. warnanya makin putih tetapi kekuatan makin berkurang. 4. yaitu di lakukan secara manual sehingga dapat dilakukan seleksi pohon yang akan di tebang sehingga akan mengurangi perusakan pohon pisang yang disekitarnya yang belum siap di panen. Kadir Pedoman Bercocok tanam Abaca (Ditjen Perkebunan bekerja sama dengan BALITRO) 1986 2. Penyeratan dilakukan pada saat pelepah pisang dalam keadaan basah agar lebih mudah di serat Lembaran-lembaran pelepah kemudian disisir sampai menjadi serat yang masih basah.Pelaksanaan panen yang baik.ungu Kuning . pelepah yang menyusun batang semu dapat digolongkan dalam 4 macam sebagai berikut : Tabel 2. Berdasarakan mutunya. Pelepah paling luar seratnya kasar. untuk menjaga agar tunggul lekas kering. kemudian serat dicuci sebelum di keringkan (di jemur) Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 28 .Dalam 1-3 1-3 4-5 Warna Hijau . Penyeratan Proses Perkebunan Serat     Pemotongan batang di bagi tiga bagian untuk memudahkan perseratan panjang potongan batang 1. Rincian Mutu Pelepah Rincian Mutu Bagian Tengah Jumlah Helai 1. Teknis penebangan hendaknya dilakukan dengan pisau tajam. 3.

maka semakin bersih serat yang dihasilkan. Untuk pengambilan serat oleh perusahaan inti. Setelah tuxies tertekan kemudian bagian ujungnya di tarik oelh Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 29 . Tuxies di masukkan di bawah pisau penyerat.1. Penyeratan Dengan Alat Klem   Cara lain yang lebih praktis adalah dengan menggunakan alat sederhana yang bekerja seperti alat klem.2. kemudian pisau di tekan dengan memutar skrup diatasnya. Pisau penyerat di buat bergigi kecil tetapi tidak tajam. Penyeratan Dengan Pisau     Prinsip kerja pengambilan serat pisang abaca dengan cara ini adalah menghancurkan daging pelepah yang terbawa pada tuxies Tahap pertama adalah menyayat pelepah-pelepah secara membujur selebar 5 7. Setelah itu pisau penyerat di tekan oleh satu tangan. yaitu secara manual dan menggunakan dekortikator semi otomatis. dimana sisi luar menghadap atas. Sedang pengambilan serat dapat di lakukan oleh petani plasma atau oleh perusahaan inti. Serat siap di pasarkan di bentuk bantalan serat umumnya dengan berat 125 Kg. Adapun alat yang diperlukan adalah Klem yang memiliki pisau bergerigi yang diletakkan di atas meja. Dengan alat ini kemungkinan serat putus sebagaimana terjadi pada alat pisau dapat dperkecil. Adapun perkerjaan pengambilan serat oleh petani plasma di uraikan sebagai berikut : a.5 cm. Pengambilan serat pisang abaca yang dilakukan oleh petani plasma dapat ditempuh dengan dua cara. Sayatan yang mengandung serat ini dinamakan Tuxies. Pengambilan serat secara manual ini hanya memerlukan peralatan yang sederhana seperti pisau penyerat dan meja. Setelah itu lapisan kulit yang mengandung serat di pisahkan dari bagian dalam (yang tidak mengandung serat). Semakin keras penekanan pisau penyerat. dengan ukuran gigi sekitar 15 gigi per cm dan lebar ujung pisau 10 cm. dilakukan secara lebih modern dalam bentuk suatu pabrik. Dengan cara ini setiap orang (petani plasma) akan mampu menghasilkan sebanyak 10 12 kg per hari. sedangkan ujung tuxies di tarik secara konstan. Dengan alat ini tuxies di letakkan di atas meja. Penyeratan dengan tangan a. a. sehingga seratnya terpisah dari daging pelepah.

b. Dollar AS. Pelepah dalam o Pelepah dalam pisang abaca di buat pupuk kompos Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 30 . kain jok o Tali kapal o Pembungkus kabel o Popok bayi o Pembalut wanita o Bahan pembungkus (kantung) tea cup o Disposable napkin(tissue pada toilet) c. dll) o Bahan tekstil o Gordyn. Pasca panen Usaha pemberdayaan terhadap hasil yang akan di konsumsi sesuai dengan kegunaan dan manfaat produksi yang di hasilkan antara lain : a. Daun o o Bahan kertas tissue Daun pisang abaca di buat pupuk kompos. Dengan cara ini.> 3. Batang (pelepah) o Kertas mata uang (misal Yen. Kapasitas penyeratan dari suatu mesin ini adalah sekitar 180 kg serat per jam atau sekitar 6 ton bahan tanaman segar. b. berat tekanan pisau dapat diatur. Drum tersebut berputar dengan menggunakan tenaga dari motor berkekuatan sekitar 100 PK. sehingga rendemen serat dapat di kontrol dan mutu serat dapat lebih seragam. Penyeratan dengan Dekorikator Mesin dikorikator terdiri dari 2 buah drum dengan mata pisau penyerat dari besi tahan karat.tangan sehingga serat terpisah.

000 Rp 4. Aspek Keuangan a.3 Pemeliharaan 3 4 5 Biaya panen Gaji pengelola Administrasi (PBB.000 70.000 250.995.6 terus meningkat. Modal Kerja Sesuai dengan rencana Pengembangan Kebun Plasma.5. Namun secara ringkas pembagian pembiayaan tersebut di uraikan sebagai berikut : Kebutuhan modal kerja untuk kegiatan penanaman pisang abaca per hektar adalah dari tahun ke-1 s/d ke.000 1.400.000 140. dll) JUMLAH Rp Rp Rp Rp Rp Rp 105.000 1. Selanjutnya dengan berbagai asumsi yang meliputi rencana produksi.000 240.1 Penyiapan 2.2 Urea 1. maka di perlukan kerja dan investasi yang berasal dari dana sendiri maupun kredit perbankan. secara keseluruhan dapat dilihat dalam lampiran-lampiran.000 210.000.000 640.000 Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 31 .3 TSP 1.2 Pemupukan 2.000 1. ongkos produksi. dengan gambaran untuk tahun 1 sebagai berikut : 1 Saprodi : Rp Rp Rp Rp 900.4 Insektisida 2 Biaya tenaga kerja : 2.1 Pupuk kandang/kompos 1.

Jaminan tambahan Jaminan tambahan ini diperlukan bank untuk mendapatkan jaminan penuh terhadap keamanan kredit atau dengan kata lain kemampuan PKT mengembalikan kredit dan memenuhi kewajibannya Beberapa kemungkinan yang dapat di tempuh untuk memenuhi aspirasi bank tersebut adalah tanggung renteng kelompok. Dengan cara me-motong hasil keuntungan bersih sebesar 10%.018. yakni proyek pisang abaca yang dibiayai bank. dapat memahami perlunya memanfaatkan penjaminan kredit yang paling potensial dan dapat diterima oleh bank. dimana sebagian dari akumulasi simpananan dapat di sisihkan sebagai tabungan beku mempunyai fungsi ganda yaitu jaminan kelangsungan proses pembayaran pokok dan pembayaran bunga. perlu di usahakan agar baik petani plasma dan UB. Pada tahun kedua petani plasma mulai mendapatkan pendapatan bersih setelah pembayaran bunga. maupun untuk pemupukan modal masing-masing UK.000 (15%) dengan rincian seperti pada Lampiran 3 dan Lampiran 3a. disamping itu bermanfaat juga sebagai pemupukan modal bagi UK atau Plasma. UB Sebagai Avalis Pada UB sebagai ini di tempatkan pula sebagai penjamin kredit (Avalist) yang diterima UK yang menjadi binaannya. mulai dengan kegiatan simpan pinjam. Jaminan (agunan) pokok Dapat berupa beberapa unsur kelayakan PKT yang di biayai kredit. Jumlah kredit bank Rp. Pada saat ini kegiatan kelompok yang pembina annya telah di mulai sejak awal-awal proyek.000 (65%) dan modal sendiri Rp. 2 .10. Struktur Permodalan Di dalam struktur pinjaman di asumsikan memerlukan jangka waktu ratarata 5 tahun dengan tingkat suku bungan 16% sesuai dengan skim KKPA / KPKM. 1.750. c. Mekanismenya adalah dengan Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 32 .b. Penjaminan Kredit Untuk menjamin kesediaan bank dan keamanan kreditnya. Beberapa kemungkinan bentuk penjaminan kredit dan mekanismenya dapat di sajikan sebagai berikut : 1.

menyediakan jaminan korpirasi dari perusahaannya yang bersangkutan (corporate guarantee) Bentuk lain yang dilaksanakan oleh UB sehingga lebih yakin terhadap keamanan kreditnya adalah dalam bentuk kesedian UB untuk melaksanakan proses ambil alih proyek (Buy -back system) bilamana oleh karena sebab UK tidak dapat melanjutkan kegiatannya sehingga cendrung mengakibatkan proyek gagal. 3. Analisa Keuangan Dengan menggunakan metode penilaian yang lazim di pakai dalam menilai suatu proyek. perlu diusahakan agar untuk proyek PKT ini dapat di tunjang pula oleh Lembaga Penjamin Kredit. Fee atau premi asuransi yang harus di bayar oleh UK (debitur) agar dapat menyertakan asuransi kredit guna menjamin kredit yang diterimanya. Kombinasi dengan lembaga penjamin kredit     Format keamanan kredit yang telah ditunjang oleh kedua bentuk penjaminan tambahan seperti diatas. Cara ini dapat dilaksanakan seandainya tidak ada sama sekali kemungkinan kegagalan UK tersebut dapat diganti oleh UK yang lain mungkin memiliki kemampuan lebih besar dan mampu menjadi UK dalam PKT yang sesuai dengan yang diinginkan bank. diperoleh kesimpulan (kriteria kelayakan / Lampiran 7) sebagai berikut : Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 33 . Dalam hal ini yang menjamin berupa hak atas Tanah. d. mungkin dianggap masih belum cukup atau oleh karena beberapa sebab UB hanya bersedia menjamin sebagian dari total jaminan proyek yang dikendaki bank. Sehubungan dengan itu. mengenai prosedur dan mekanisme pertanggung jaminan atas kredit yang diterima para UK dan bank bersangkutan. adalah berkisar 2% per tahun dari total plafond kredit selama kredit Mekanisme penyertaan lembag penjamin tersebut di mulai lebih dahulu dengan tersusun dan realisasi proses kesepahaman ( MOU ) antara Bank dengan lembaga penjamin kredit.

856. Sebagai gambaran tanaman kedele dapat memberikan pendapatan sampingan seperti uraian pada Tabel 5. Parameter Kelayakan Kebun Plasma Abaca URAIAN NPV IRR (%) Pay Back Period (Bulan) BEP Volume (Kg) BEP Harga (Rp/Kg) NILAI 6. Tumpang sari mempunyai beberapa kelebihan antara lain :    Penggunaan lahan lebih efisien Distribusi tenaga kerja lebih merata karena waktu pemeliharaan dan panen tidak bersama Distribusi pendapatan petani lebih berkesinambungan.3.743 11.2. Pada proyek ini tanaman pisang abaca dapat ditumpang sari dengan kedele.603.847 e. serta resiko gagal panen satu jenis komiditas dapat di perkecil.01 31 4. Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 34 . Pendapatan Tambahan Dalam rangka optimalisasi pemanfaatan lahan maka pada tahun pertama semester satu dapat dilakukan penanaman dengan sistem tumpang sari.Tabel 5.493 25.

000.300 Kg 2.00 1.250.00 2.00 120.000.00 1.001. Benih 2.000.00 360.500.00 1.00 1.000.500. Analisis Biaya dan Pendapatan Usaha Tani Pisang Abaca Per Hektar Harga Uraian Volume Satuan Satuan (Rp) A. Dengan Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 35 .000.00 8.00 f.248.000.3. Penyusutan alat 1 Gulung 1.00 300.500.Sarana Produksi a.500.00 7. Obat-obatan e. Perhitungan ini didasarkan pada kelayakan usaha setiap petani yang akan mengembangkan (ekstensifikasi) kebun pisang abaca seluas 1 ha. Peralatan a.000. Biaya 1. Dalam Keluarga b.00 100 125 100 45 90 40 Kg Kg Kg Kg HOK HOK 1.00 7.000.923. Urea b.600.500. Hasil Analisis Finansial Analisis ini diharapkan akan dapat menjawab apakah para petani plasma akan mendapatkan nilaitambah dari proyek dan mampu mengembalikan kredit yang di berikan oleh bank dalam jangka waktu yang benar.00 Jumlah (Rp) Total Biaya B.00 2.00 3.500.500.000.00 675.KCl d.500. Tenaga Kerja a..00 75. SP-36 c.000.Tabel 5.. Rafia b.00 200. Pendapatan Keluarga (C + A 2 a ) 1.200.00 70. Keuntungan (B-A) D. Luar Keluarga 3.000.00 200. Produksi C.

01%. Tabel Perhitungan NPV dan IRR. jauh lebih tinggi dari bunga KKPA sebesar 16%. Tabel Perhitungan NPV dan IRR. Petani dapat mengembalikan bungan pinjaman dalam waktu yang ditentukan. Proyeksi Arus Kas Dengan mengatur seluruh dana pembiayaan dari bank dan adanya grace period selama 1 tahun. Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 36 . Jika pada tahun pertama keuntungan tersebut masih negatif. BEP dan Pay Back period lihat Lampiran 7. Produktivitas lahan di asumsikan mengikuti pola Lampiran 1. Tabel Asumsi. Kriteria Kelayakan Proyek Untuk menilai kelayakan proyek ini digunakan kriteria NPV. Kualitas serat pisang abaca yang dijual petani adalah serat kering dengan kadar air 7 . Dari lampiran tersebut terlihat bahwa IRR proyek adalah sebesar 25. Tabel Proyeksi Rugi Laba). Skim kredit yang digunakan adalah KKPA dengan bunga 16% per tahun dan pembayaran angsuran di lakukan pada waktu tanaman petani sudah menghasilkan. a. proyek ini akan dapat mengerti secara finansial sangat layak untuk dikembangkan. dari mulai kegiatan pembukaan lahan sampai tanaman siap menghasilkan. IRR. Parameter teknis untuk perhitungan ini dapat dilihat pada Lampiran 7. B/C. sejak tanaman mulai menghasilkan. Proyeksi Laba/Rugi Proyeksi laba/rugi memberikan gambaran tentang kegiatan perkebunan pisang abaca rakyat dalam periode yang akan datang.500/Kg. Berdasarkan asumsi tersebut. yaitu selama 5 tahun dan mendapatkan keuntungan yang wajar (Lampiran 6. c. yaitu tahun pertama sampai analisa tahun ke . seiring dengan meningkatnya produktivitas tanaman (Lampiran 5. usaha Asumsi dasar yang digunakan untuk perhitungan laba atau rugi ini adalah menyangkut dualitas serat pisang abaca yang dijual petani. Tabel Proyeksi Arus Kas) . maka masa proyek tidak terjadi defisit. maka pada tahun berikutnya sudah positif. yaitu pada tahun ke 2.2.demikian Inti akan terlibat kegiatan sejak awal.6 pada tahun ke . Dari nilai pay back ratio. b.2. Selama tanaman belum menghasilkan. petani diberikan grace period dan bunga pinjaman adalah 14% per tahun. petani pisang abaca mendapatkan keuntungan yang cukup memadai.8 % dengan harga jual Rp.

alat dan bahan. Sedangkan tenaga kerja khusus atau ahli untuk pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan keahlian. status lokasi. peralatan dan pemasaran hasil produksi dapat berjalan lancar. Sumber Bibit Tanaman Bibit tanaman adalah faktor yang menentukan kelangsungan usaha ini. sesuai dengan rencana induk pembangunan daerah setempat. Status Lokasi dan Perijinan Lokasi yang dipilih untuk penanaman pisang abaca pemilikannya harus jelas sehingga tidak berbenturan dengan kepentingan instansi lain. diperlukan dua bentuk tenaga kerja. Dalam usaha skala besar. tenaga kerja. agar pengadaan bibit tanaman. biasanya semua pekerjaan di kerjakan secara kelompok. atau lembaga lain dikemudian hari. terutama dalam skala usaha yang besar. Peruntukkan lahan yang jelas ini sangat penting untuk menghindari terjadi kerugian yang tidak terduga sewaktu-waktu. Sedangkan untuk usaha skala kecil. seperti survey lokasi.6. sarana transportasi. Aspek Sosial Ekonomi Umum Diantara faktor yang berhubungan dengan aspek sosial ekonomi adalah sumber bahan baku dan suplai bahan baku. pasar dan harga serta dukungan pemerintah. yaitu tenaga kerja untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan biasa yang tidak membutuhkan keahlian. sehingga bibit tanman harus jelas dan suplai untuk kebutuhan berlangsungnya proyek. hal ini penting untuk menekan pengeluaran biaya yang sangat serta waktu pengangkutan bibit tanaman dan hasil produksi (serat pisang) dari dan ke lokasi harus se-efisien mungkin. Tenaga kerja biasa hendaknya direkrut atau didahulukan tenaga kerja lokal selain mereka tidak membutuhkan biaya transportasi menuju Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 37 . Peruntukkan lokasi harus jelas dan pasti. tata cara penanaman dan lain-lain yang menyangkut dalam hal teknik budidaya. Bahkan tenaga kerjalah yang paling menentukan. Tenaga Kerja Tenaga kerja dalam penanaman pisang abaca ini merupakan faktor yang sangat penting sejajar dengan faktor-faktor penting lainnya. Sarana transportasi harus memadai. perijinan. Transportasi Lokasi yang dipilih harus dapat dijangkau. Aspek Sosial Ekonomi dan Dampak Lingkungan a.

Sedangkan tenaga kerja ahli akan disediakan perusahaan inti atau koperasi. Aspek yang Timbul a. sedangkan bila bahan dan alat didatangkan dari tempat lain dengan menggunakan sarana transportasi harus mempertimbangkan tingkat efisiensi dalam transportasi tersebut. kesehatan dan fasilitas infrastruktur lain yang diperlukan masyarakat desa. sekaligus untuk mendukung Program Proyek Padat Karya yang dicanangkan Pemerintah. Usaha di atas akan membantu pemerintah dalam menyediakan lapangan kerja baru bagi pencari kerja yang selama ini belum memperoleh tempat. b. Aspek Sosial Dengan terjadinya kerjasama antara petani pemilik lahan dan Perusahaan inti akan memberikan keuntungan bagi berbagai pihak. Meningkatkan pendapatan bagi para anggota koperasi. termasuk keselamatan dan kesehatan kerja Dukungan Pemerintah Dukungan pemerintah dalam usaha ini sangat di perlukan terutama dalam hal periijinan yang berkaitan dengan usaha penanamana pisang abaca. juga dengan memanfaatkan tenaga kerja lokal.lokasi usaha. Alat dan Bahan Tersedianya alat dan bahan di sekitar lokasi menunjang kelancaran dan usaha menekan biaya. karena adanya lapangan kerja atau tambahan modal kerja bagi mereka dapat meningkatkan produktivitasnya. Dengan direalisasikannya proyek ini diharapkan akan memberikan manfaat sebagai berikut : 1. berarti usaha yang kita lakukan membawa lapangan kerja bagi penduduk di sekitar lokasi usaha. Aspek Pendidikan Adanya budidaya tanaman pisang abaca memberi motivasi masyarakat desa untuk mendorong tumbuhnya suasana yang kondusif dan menyenangkan bagi warga desa dengan cara meningkatkan ketersediaan jasa pelayanan pendidikan. Bagi tenaga kerja biasa yang belum potensial masih dip erlukan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan mereka. Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 38 . Keamanan Usaha Dalam usaha ini harus di perhatikan dari gangguan tangan-tangan jahil (pencuri).

Secara ekologis dampak dari proyek perkebunan ini akan berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem hutan keterkaitan dengan ekosistem atau sub-ekosistem laiinya. Usaha yang dikelola dengan baik oleh kelompok dengan itikad menjunjung kebersamaan dalam meningkatkan usaha anggota koperasi maka program pengentasan kemiskinan akan tercapai. kesehatan. pengangguran.2. kesenjangan dan perbedaan tingkat partisipasi dalam pembangunan antara desa dengan kota. Perubahan ini akan terus berlanjut pada komponen-komponen lingkungan lainnya. hama dan penyakit tanaman. b. seperti perubahan tata guna lahan. identifikasi permasalahan lingkungan. yang dikembangkan dengan pola kemitraan yang peserta plasmanya berasal dari masyarakat setempat. 3.satwa. Peningkatan usaha anggota koperasi jelas akan meningkatkan pula peluang bagi tenaga kerja di wilayah proyek dan sekitarnya Dapat meningkatkan pendapatan asli daerah setempat dengan retribusi/ pajak daerah 4. ekonomi. Pemanfaatan lahan tidur untuk menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat di sekitar proyek guna mensejahterakan. sosial budaya. yaitu telaah "holistik" terhadap seluruh komponen lingkungan yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat pengembangan proyek perkebunan ini. udara transportasi dan akhirnya berdampak pula pada komponen sosial. Dampak Lingkungan Pembukaan kawasan untuk proyek perkebunan dengan luas lahan yang besar. sosial ekonomi. Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 39 . lingkungan dan sebagainya. hama dan penyakit tanaman air. antara lain satwa liar. yang harus di lakukan antara lain. atau transmigran (baik transmigran lokal maupun luar pulau) termasuk pembangunan pabrik perusahaan inti. hayati maupun sosial ekonomi. kemudian mengevaluasi dampak penting yang timbul untukkemudian disusun suatu alternatif tindakan pengelolaannya untuk penanggulangan dampak negatif dan mengoptimalkan dampak positif. budaya serta komponen kesehatan lingkungan. Untuk itu perlu adanya telaan lingkungan yang berguna memberikan informasi lingkungan. tanah. langsung maupun tidak langsung akan menimbulkan dampak positif atau negatif terhadap komponen ekosistem baik fisik. Meningkatkan kegiatan perekonomian di pedesaan ini akan mengurangi tekanan kemiskinan. Telaah Amdal yang berkaitan dengan pembangunan proyek perkebunan ini. mengidentifikasi permasalahan lingkungan. ketinggalan. vegetasi. Perubahan ini akan terus berlanjut pada komponenkomponen lingkungan laiinya. iklim mikro. antara sektor tradisional dan modern. 5. Mengimplementasikan Pola Kemitraan Terpadu (PKT) yang dikoordinir oleh Koperasi Primer dengan perusahaan inti.

belum dapat di ketahui secara rinci. 6. peralatan dan mesin. Secara finansial. 4.dan kredit bank Rp..000. Sedangkan modal kerja yang diperlukan sebesar Rp. 5. yaitu koperasi dan anggotanya (petani plasma) mitra usaha besar dan perbankan.000. pada saat ini budidaya pisang abaca untuk memproduksi serat mempunyai peluang pasar yang masih terbuka.733. Secara teknis budidaya pisang abaca dapat dilaksanakan di berbagai daerah di Indonesia.dan kredit dari bank Rp. 4. Untuk sementara jumlah biaya investasi yang diperlukan sebesar Rp. akan dapat saling menguntungkan antara pihak-pihak yang bermitra. untuk mengimplementasikannya dalam bentuk usaha berskala besar memerlukan kecermatan atas fenomena pasar serat abaca. Untuk mengembangkan perkebunan pisang abaca dengan pola kemitraan di perlukan biaya investasi untuk pengadaan bibit. Disamping itu juga di perlukan modal kerja untuk pengadaan sarana produksi dan pembiayaan dan tenaga kerja.745..995. Selain itu budidaya pisang abaca dapat dan sesuai untuk dilakukan di berbagai daerah Indonesia pada lahan-lahan yang potensial. Walaupun aspek pemasaran pisang abaca secara statistik. Tetapi untuk memperoleh produktivitas yang tinggi.01% jauh lebih besar dari tingkat suku bunga KLBI (KKPA sebesar 16% per tahun) Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 40 .. Untuk menyederhanakan penguasaan dan penggunaan faktor-faktor produksi dalam budidaya dan pemasaran hasil pisang abaca serta menjamin keamanan kredit perbankan.. Namun demikian. namun berdasarkan total permintaan global pasaran dunia tampak bahwa sampai saat ini potensial demand masih belum dapat dipenuhi oleh negara-negara produsen.yang terdiri dari modal sendiri Rp. budidaya pisang abaca layak untuk diusahakan yang ditunjukkan oleh parameter-parameter finansial antara lain : o IRR sebesar 25.273. baik sebagai komoditas ekspor maupun sebagai impor. Pisang abaca merupakan salah satu komoditas yang adaptable untuk diusahakan oleh masyarakat pedesaan/usaha kecil.000. yang dilakukan dengan pola tanam sederhana atau semi modern. 4.500. Kesimpulan 1.6. 250.7. 2. karena dapat memberikan pendapatan dan kesempatan kerja bagi masyarakat.000. diperlukan intensifikasi pemeliharaan dan technological engineering terutama dalam penyediaan bibit berupa tissue culture. karena di dukung oleh sumber daya alam dan iklim yang sesuai dengan tuntutan hidup pisang abaca. 5. dan pengolahan hasil pasca panen.000. Oleh karena itu.yang terdiri dari dana sendiri Rp. 1. 3.. maka pola kemitraan yang dikembangkan dengan mekanisme closed system. baik kualitas maupun kuantitasnya yang diperdagangkan di dalam negeri maupun pasar ekspor.000.

Untuk memberikan tambahan pendapatan bagi petani plasma pisang abaca di sarankan untuk melakukan inter-cropping dengan tanaman palawija misalnya kedele.603.743 kg 7.493 Payback period sebesar 31 bulan BEP volume sebesar 4. terutama pada tahap-tahap awal. Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 41 .o o o NPV sebesar Rp. dimana kanopi tanaman pisang abaca belum menaungi seluruh areal penanaman. 6.

LAMPIRAN Bank Indonesia – Perkebunan Pisang Abaka 42 .

Email : tbtlkm@bi. BPR dan UMKM Telepon : (021) 3818043 Fax: (021) 3518951.id .go.POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL (PPUK) PERKEBUNAN KARET RAKYAT BANK INDONESIA Direktorat Kredit.

... 25 6...................... ..... ............................. ................ 4 a..... 2 a..................................... Tujuan ............ ................................. 11 4...... 27 7............ ...................................... Aspek Keuangan ............. 23 a....... 27 b........... .... Aspek Sosial Ekonomi ........... ........... 14 5... ................................................................... ...................................... .... Dampak Lingkungan ....... ..... .. ................... .............. ... Kelayakan Finansial ........................ Pendahuluan ................... ....... Peluang Pasar ......... .................................. Kebutuhan Biaya Investasi ........ Teknis Budidaya ................................................. Pola Kerjasama..................................... ............................. ... 23 b.............................................. Aspek Produksi ..................................................................................... .... 3 2....... 24 c..................... . 27 a....... Syarat Tumbuh Tanaman Karet .............. 31 Bank Indonesia – Perkebunan Karet Rakyat 1 ............ Mekanisme Proyek .................. Potensi Produksi ........ ..... 2 b. ............................. 13 b........ ................ Penyiapan Proyek ............................................... ..................................................... ............................... ........................................ Latar Belakang ..................................... ..................... ..................DAFTAR ISI 1............... .. Proyeksi Laba Rugi .................. Aspek Pemasaran........... 8 e.............. ........ 29 LAMPIRAN ............................... Organisasi .............. ......... . 6 c.... ..... ................................. 9 3............ .................................................. 11 b............................................................................ Perjanjian Kerjasama ............. .... ........ Kesimpulan .......... ....... .................. ....... 25 d.................... 4 b...... Aspek Sosial Ekonomi dan Dampak Lingkungan . ............................. . Kemitraan Terpadu ............ Proyeksi Arus Kas........................................................... ..... 13 a............ 7 d................................... 11 a.......... .....

perlu diadakan bantuan yang bisa memberikan modal bagi petani untuk membiayai pembangunan kebun karet dan pemeliharaan tanaman secara intensif. petani harus menjadi anggota Koperasi dan didalam melaksanakan usaha perkebunan karet dilakukan bersama-sama akan membangun kebun karet.945. hanya akan bisa berhasil apabila didampingi dengan adanya bantuan bagi petani yang memberikan pembinaan budidaya serta pengelolaan usahanya.324. Luas area perkebunan karet tahun 1995 tercatat mencapai lebih dari 3.771 ton pada tahun 1985 dan menjadi 1. Latar Belakang Karet merupakan komoditas ekspor yang mampu memberikan kontribusi di dalam upaya peningkatan devisa Indonesia. >Dengan memperhatikan masih akan adanya peningkatan permintaan dunia terhadap komoditi karet ini dimasa yang akan datang. Pendapatan devisa dari komoditi ini pada tahun 1995 mencapai US$ 1. Keberhasilan usaha tani perkebunan karet ini hanya bisa dicapai apabila dalam proses produksi dan pengelolaan pasca panen sampai ke pemasaran hasilnya telah mendapatkan kepastian kelancarannya. Bank Indonesia – Perkebunan Karet Rakyat 2 . untuk keperluan meningkatkan pendapatannya.292 ton pada tahun 1975 meningkat menjadi 987. Ekspor Karet Indonesia selama 20 tahun terakhir terus menunjukkan adanya peningkatan dari 788.548. maka upaya untuk meningkatakan pendapatan petani melalui perluasan tanaman karet dan peremajaaan kebun bisa merupakan langkah yang efektif untuk dilaksanakan.901 ha yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Produksi karet secara nasional pada tahun 1977 mencapai angka sekitar 1. Agar petani bisa mendapatkan ini. Jumlah ini terlihat masih akan bisa ditingkatkan lagi dengan memberdayakan lahan-lahan pertanian milik petani yang sesuai untuk perkebunan karet dan belum dimanfaatkan secara intensif. Guna mendukung hal ini. dan hanya 7.1% perkebunan besar negara serta 8. Diantaranya 84.962.6% dari pendapatan devisa non-migas.295 ton pada tahun 1995. dan bantuan terhadap kepastian penanganan pasca panen dan pemasaran karet yang diusahakan oleh petani merupakan kondisi yang diperlukan oleh pihak Bank dalam memberikan KKPA. Sejumlah lokasi di Indonesia memiliki keadaan lahan yang cocok untuk pertanaman karet. Pendahuluan a. Pemberian kredit kepada petani untuk pembangunan kebun karet.8 juta yang merupakan 5. sebagian besar berada di wilayah Sumatera dan Jawa.609 ton.4% perkebunan besar milik swasta. Untuk mencapai kondisi itu.5% merupakan perkebunan karet milik rakyat. Salah satu fasilitas permodalan yang bisa diberikan kepada petani oleh Bank dengan bunga murah adalah KKPA.1. para petani bisa bekerja sama dan menjalin hubungan kemitraan dengan suatu Pengusaha yang memiliki peranan dalam penanganan usaha dan pemasaran cokelat.

Dipergunakan sebagai model bagi para petani yang akan mengembangkan usaha tani perkebunan karet dengan PKT dan menggunakan dana kredit Bank (KKPA) untuk modal usahanya. 3. Memberikan kepada perbankan suatu model mengenai pola pengelolaan usaha kecil perkebunan karet rakyat. 2. diberikan berikut ini untuk usaha perkebunan karet dengan didalamnya menyertakan bahasan yang menyangkut kepastian adanya pembinaan terhadap petani untuk proses produksi dan penanganan pacsca panennya.Apabila kemitraan ini untuk pelaksanaannya melibatkan partisipasi pihak Bank pemberi kredit. jalinan kemitraan ini akan menjadi pola kemitraan terpadu (PKT). Bank Indonesia – Perkebunan Karet Rakyat 3 . b. yang layak dikembangkan dengan menggunakan fasilitas kredit Bank. memperluas lapangan kerja dan pendapatan petani. khususnya KKPA dan selanjutnya untuk dipergunakan sebagai acuan apabila Bank mempertimbangkan permintaan kredit sejenis. Model kelayakan usaha yang memperhatikan kondisi tersebut diatas. Tujuan Penulisan Model Kelayakan Proyek Kemitraan Terpadu Perkebunan Karet Rakyat ini bertujuan untuk : 1. Mendorong pengembangan usaha kecil produksi komoditi ekspor karet dalam rangka meningkatkan pendapatan devisa. serta kepastian pemasarannya.

dimulai dari penyediaan sarana produksi. meningkatkan keterkaitan dan kerjasama yang saling menguntungkan antara inti dan plasma. Kemitraan dilaksanakan dengan disertai pembinaan oleh perusahaan inti. Tujuan PKT antara lain adalah untuk meningkatkan kelayakan plasma. kegiatan dimulai dari telah adanya kebun atau usaha yang berjalan. Petani/usaha kecil merupakan plasma dan Perusahaan Pengelolaan/Eksportir sebagai Inti. dalam batas masih bisa ditingkatkan produktivitasnya dengan perbaikan pada aspek usaha. perusahaan inti (Industri Pengolahan atau Eksportir) dan petani plasma/usaha kecil mempunyai kedudukan hukum yang setara. Petani Plasma Sesuai keperluan. sedangkan untuk kelompok (b). dibuat seperti halnya hubungan antara Plasma dengan Inti di dalam Pola Perusahaan Inti Rakyat (PIR). dan (3) Bank pemberi KKPA. Kerjasama kemitraan ini kemudian menjadi terpadu dengan keikut sertaan pihak bank yang memberi bantuan pinjaman bagi pembiayaan usaha petani plasma. Untuk kelompok (a).2. Proyek Kemitraan Terpadu ini merupakan kerjasama kemitraan dalam bidang usaha melibatkan tiga unsur. Masing-masing pihak memiliki peranan di dalam PKT yang sesuai dengan bidang usahanya. petani yang dapat ikut dalam proyek ini bisa terdiri atas (a) Petani yang akan menggunakan lahan usaha pertaniannya untuk penanaman dan perkebunan atau usaha kecil lain. Proyek ini kemudian dikenal sebagai PKT yang disiapkan dengan mendasarkan pada adanya saling berkepentingan diantara semua pihak yang bermitra. 1. yaitu (1) Petani/Kelompok Tani atau usaha kecil. Organisasi Proyek Kemitraan Terpadu (PKT) adalah suatu program kemitraan terpadu yang melibatkan usaha besar (inti). bimbingan teknis dan pemasaran hasil produksi. (b) Petani /usaha kecil yang telah memiliki usaha tetapi dalam keadaan yang perlu ditingkatkan dalam untuk itu memerlukan bantuan modal. usaha kecil (plasma) dengan melibatkan bank sebagai pemberi kredit dalam suatu ikatan kerja sama yang dituangkan dalam nota kesepakatan. kegiatan proyek dimulai dari penyiapan lahan dan penanaman atau penyiapan usaha. Kemitraan Terpadu a. Hubungan kerjasama antara kelompok petani/usaha kecil dengan Pengusaha Pengolahan atau eksportir dalam PKT. serta membantu bank dalam meningkatkan kredit usaha kecil secara lebih aman dan efisien. (2) Pengusaha Besar atau eksportir. Dalam melakukan kemitraan hubunga kemitraan. Bank Indonesia – Perkebunan Karet Rakyat 4 .

2. Koperasi bisa melakukan kegiatan-kegiatan untuk membantu plasma di dalam pembangunan kebun/usaha sesuai keperluannya. serta bersedia membeli seluruh produksi dari plasma untuk selanjutnya diolah di pabrik dan atau diekspor. Pada setiap kelompok tani/kelompok usaha.Luas lahan atau skala usaha bisa bervariasi sesuai luasan atau skala yang dimiliki oleh masing-masing petani/usaha kecil. Ketua kelompok wajib menyelenggarakan pertemuan kelompok secara rutin yang waktunya ditentukan berdasarkan kesepakatan kelompok. Koperasi juga bisa memperkerjakan langsung tenaga-tenaga teknis yang memiliki keterampilan dibidang perkebunan/usaha untuk membimbing Bank Indonesia – Perkebunan Karet Rakyat 5 . Perusahaan Besar dan Pengelola/Eksportir Suatu Perusahaan dan Pengelola/Eksportir yang bersedia menjalin kerjasama sebagai inti dalam Proyek Kemitraan terpadu ini. PKT tetap akan bisa dikembangkan dengan sekurang-kurangnya pihak Inti memiliki fasilitas pengolahan untuk diekspor. Tugas Ketua dan Sekretaris Kelompok adalah mengadakan koordinasi untuk pelaksanaan kegiatan yang harus dilakukan oleh para petani anggotanya. Jika menggunakan skim Kredit Usaha Kecil (KUK). hal ini penting untuk memastikan adanya pemasaran bagi produksi petani atau plasma. harus memiliki kemampuan dan fasilitas pengolahan untuk bisa menlakukan ekspor. sesuai hasil kesepakatan anggota. Meskipun demikian petani plasma/usaha kecil dimungkinkan untuk mengolah hasil panennya. sebaiknya menjadi anggota suata koperasi primer di tempatnya. Disamping ini. Apabila Perusahaan Mitra tidak memiliki kemampuan cukup untuk mengadakan pembinaan teknis usaha. perusahaan inti perlu memberikan bimbingan teknis usaha dan membantu dalam pengadaan sarana produksi untuk keperluan petani plasma/usaha kecil. didalam mengadakan hubungan dengan pihak Koperasi dan instansi lainnya yang perlu. Koperasi Parapetani/usaha kecil plasma sebagai peserta suatu PKT. perlu mendapatkan persetujuan Dinas Perkebunan setempat dan koperasi memberikan bantuan biaya yang diperlukan. Fasilitas KKPA hanya bisa diperoleh melalui keanggotaan koperasi. kehadiran koperasi primer tidak merupakan keharusan 3. Koperasi yang mengusahakan KKPA harus sudah berbadan hukum dan memiliki kemampuan serta fasilitas yang cukup baik untuk keperluan pengelolaan administrasi pinjaman KKPA para anggotanya. ditunjuk seorang Ketua dan Sekretaris merangkap Bendahara. Dalam hal perusahaan inti tidak bisa melakukan pembinaan teknis. Apabila koperasi menggunakan tenaga Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). yang kemudian harus dijual kepada Perusahaan Inti. kegiatan pembibingan harus dapat diadakan oleh Koperasi dengan memanfaatkan bantuan tenaga pihak Dinas Perkebunan atau lainnya yang dikoordinasikan oleh Koperasi.

Perusahaan inti akan memotong uang hasil penjualan petani plasma/usaha kecil sejumlah yang disepakati bersama untuk dibayarkan langsung kepada bank. Pola Kerjasama Kemitraan antara petani/kelompok tani/koperasi dengan perusahaan mitra. juga harus memastikan bagaimana pengelolaan kredit dan persyaratan lainnya yang diperlukan sehingga dapat menunjang keberhasilan proyek. 4. Perusahaan inti akan memotong uang hasil penjualan petani plasma/usaha kecil sejumlah yang disepakati bersama untuk dibayarkan langsung kepada Bank. dapat kemudian melibatkan diri untuk biaya investasi dan modal kerja pembangunan atau perbaikan kebun. akan semakin besar pula honor yang diterimanya. Bank Indonesia – Perkebunan Karet Rakyat 6 . dari hasil penjualan secara proposional menurut besarnya produksi. berdasarkan kesepakatan pihak petani/kelompok tani/koperasi. Sehingga makin tinggi produksi kebun petani/usaha kecil. b. termasuk kelayakan keuangan. Besarnya potongan disesuaikan dengan rencana angsuran yang telah dibuat pada waktu perjanjian kredit dibuat oleh pihak petani plasma dengan bank. Skim kredit yang akan digunakan untuk pembiayaan ini. Dalam pelaksanaanya. Bank Bank berdasarkan adanya kelayakan usaha dalam kemitraan antara pihak Petani Plasma dengan Perusahaan Perkebunan dan Pengolahan/Eksportir sebagai inti. Tenaga-tenaga ini bisa diberi honorarium oleh Koperasi yang bisa kemudian dibebankan kepada petani. dan bagaimana petani akan membayar angsuran pengembalian pokok pinjaman beserta bunganya. bank agar membuat perjanjian kerjasama dengan pihak perusahaan inti. dapat dibuat menurut dua pola yaitu : a. Pihak bank di dalam mengadakan evaluasi. bisa dipilih berdasarkan besarnya tingkat bunga yang sesuai dengan bentuk usaha tani ini. sehingga mengarah pada perolehannya pendapatan bersih petani yang paling besar. Untuk ini. Disamping mengadakan pengamatan terhadap kelayakan aspek-aspek budidaya/produksi yang diperlukan. Bank harus dapat mengatur cara petani plasma akan mencairkan kredit dan mempergunakannya untuk keperluan operasional lapangan.petani/usaha kecil dengan dibiayai sendiri oleh Koperasi. Petani yang tergabung dalam kelompok-kelompok tani mengadakan perjanjian kerjasama langsung kepada Perusahaan Perkebunan/ Pengolahan Eksportir. Besarnya potongan disesuaikan dengan rencana angsuran yang telah dibuat pada waktu perjanjian kredit dibuat oleh pihak petani/Kelompok tani/koperasi.

pemberian KKPA kepada petani plasma dilakukan dengan kedudukan koperasi sebagai Executing Agent. Bank Indonesia – Perkebunan Karet Rakyat 7 . Petani/usaha kecil tersebut harus menghimpun diri dalam kelompok dengan anggota sekitar 25 petani/kelompok usaha. Penyiapan Proyek Untuk melihat bahwa PKT ini dikembangkan dengan proses kegiatannya nanti memperoleh kelancaran dan dapat dilihat dari bagaimana PKT ini disiapkan. melalui koperasinya mengadakan perjanjian yang dibuat antara Koperasi (mewakili anggotanya) dengan perusahaan perkebunan/ pengolahan/eksportir. Masalah pembinaan teknis budidaya tanaman/pengelolaan usaha. b. minimal Kalau PKT ini akan perintisannya dimulai a. apabila tidak dapat dilaksanakan oleh pihak Perusahaan Mitra. mempergunakan KKPA untuk modal usaha plasma. Sedangkan masalah pembinaan harus bisa diberikan oleh Perusahaan Mitra. dan pengelolaannya langsung ditangani oleh Kelompok tani. Petani yang tergabung dalam kelompok-kelompok tani. c. pemberian kredit yang berupa KKPA kepada petani plasma dilakukan dengan kedudukan Koperasi sebagai Channeling Agent. akan menjadi tanggung jawab koperasi. dari : sebaiknya dan dalam keberhasilan. Adanya petani/pengusaha kecil yang telah menjadi anggota koperasi dan lahan pemilikannya akan dijadikan kebun/tempat usaha atau lahan kebun/usahanya sudah ada tetapi akan ditingkatkan produktivitasnya. Dalam bentuk kerjasama seperti ini.Dengan bentuk kerja sama seperti ini.

untuk peningkatannya dapat diharapkan nantinya mendapat pembinaan dari perusahaan mitra. f. Untuk itu perlu adanya kejelasan dari pihak Kantor Badan Pertanahan dan pihak Departemen Kehutanan dan Perkebunan. Koperasi harus mendapatkan persetujuan dari para anggotanya. b. Apabila keterampilan koperasi kurang. Kantor Badan Pertanahan. Lahan yang akan digunakan untuk perkebunan/usaha dalam PKT ini. d. Prakarsa bisa dimulai dari salah satu pihak untuk mengadakan pendekatan. Koperasi harus memiliki kemampuan di dalam mengorganisasikan dan mengelola administrasi yang berkaitan dengan PKT ini. atau ada pihak yang akan membantu sebagai mediator.Berdasarkan persetujuan bersama. yang bersedia menjadi mitra petani/usaha kecil. Diperolehnya rekomendasi tentang pengembangan PKT ini oleh pihak instansi pemerintah setempat yang berkaitan (Dinas Perkebunan. Diperoleh dukungan untuk kemitraan yang melibatkan para anggotanya oleh pihak koperasi. yang didapatkan melalui pertemuan anggota kelompok. Dipertemukannya kelompok tani/usaha kecil dan pengusaha perkebunan/pengolahan dan eksportir tersebut. Dalam kaitannya dengan penggunaan KKPA. Koperasi kemudian mengadakan langkah-langkah yang berkaitan dengan formalitas PKT sesuai fungsinya. c. e. Mekanisme Proyek Mekanisme Proyek Kemitraan Terpadu dapat dilihat pada skema berikut ini : Bank Indonesia – Perkebunan Karet Rakyat 8 . apakah akan beritndak sebagai badan pelaksana (executing agent) atau badan penyalur (channeling agent). dan Pemda). harus jelas statusnya kepemilikannya bahwa sudah/atau akan bisa diberikan sertifikat dan buka merupakan lahan yang masih belum jelas statusnya yang benar ditanami/tempat usaha. dan dapat membantu memberikan pembinaan teknik budidaya/produksi serta proses pemasarannya. Dinas Koperasi. untuk memperoleh kesepakatan di antara keduanya untuk bermitra. mereka bersedia atau berkeinginan untuk bekerja sama dengan perusahaan perkebunan/ pengolahan/eksportir dan bersedia mengajukan permohonan kredit (KKPA) untuk keperluan peningkatan usaha. Adanya perusahaan perkebunan/pengolahan dan eksportir. peran konsultan bisa dimanfaatkan untuk mengadakan identifikasi dan menghubungkan pihak kelompok tani/usaha kecil yang potensial dengan perusahaan yang dipilih memiliki kemampuan tinggi memberikan fasilitas yang diperlukan oleh pihak petani/usaha kecil. d.

kredit perbankan dapat dialihkan dari rekening koperasi/plasma ke rekening inti untuk selanjutnya disalurkan ke plasma dalam bentuk sarana produksi. tetapi yang diterima adalah sarana produksi pertanian yang penyalurannya dapat melalui inti atau koperasi. Hasil tanaman plasma dijual ke inti dengan harga yang telah disepakati dalam MoU. perlu dikukuhkan dalam suatu surat perjanjian kerjasama yang dibuat dan ditandatangani oleh pihak-pihak yang bekerjasama berdasarkan kesepakatan mereka. Bank Indonesia – Perkebunan Karet Rakyat 9 . Dengan demikian plasma tidak akan menerima uang tunai dari perbankan. Dalam perjanjian kerjasama itu dicantumkan kesepakatan apa yang akan menjadi kewajiban dan hak dari masing-masing pihak yang menjalin kerja sama kemitraan itu. perlu dibuat suatu nota kesepakatan (Memorandum of Understanding = MoU) yang mengikat hak dan kewajiban masing-masing pihak yang bermitra (inti.Bank pelaksana akan menilai kelayakan usaha sesuai dengan prinsip-prinsip bank teknis. dan lain-lain. Petani plasma melaksanakan proses produksi. Perusahaan inti akan memotong sebagian hasil penjualan plasma untuk diserahkan kepada bank sebagai angsuran pinjaman dan sisanya dikembalikan ke petani sebagai pendapatan bersih. dana pekerjaan fisik. Sesuai dengan nota kesepakatan. Jika proyek layak untuk dikembangkan. atas kuasa koperasi atau plasma. e. Perjanjian Kerjasama Untuk meresmikan kerja sama kemitraan ini. Plasma/Koperasi dan Bank).

Menggunakan sarana produksi dengan sepenuhnya seperti yang disediakan dalam rencana pada waktu mengajukan permintaan kredit. dan g. Melakukan pengawasan terhadap cara panen dan pengelolaan pasca panen untuk mencapai mutu yang tinggi. Bank Indonesia – Perkebunan Karet Rakyat 10 . pengadaan sarana produksi (bibit.. Kewajiban Perusahaan Perkebunan/Pengolahan/Eksportir sebagai mitra (inti) a. Menyediakan sarana produksi lainnya. d. 2. Melakukan pembelian produksi petani plasma. b. Melaksanakan pemungutan hasil (panen) dan mengadakan perawatan sesuai petunjuk Perusahaan Mitra untuk kemudian seluruh hasil panen dijual kepada Perusahaan Mitra . c. Kewajiban petani peserta sebagai plasma a. b. Membantu petani di dalam menyiapkan kebun. Memberikan bantuan pembinaan budidaya/produksi dan penaganan hasil. serta bertindak sebagai avalis dalam rangka pemberian kredit bank untuk petani plasma. c. penanaman serta pemeliharaan kebun/usaha. sesuai rekomendasi budidaya oleh pihak Dinas Perkebunan/instansi terkait setempat yang tidak termasuk di dalam rencana waktu mengajukan permintaan kredit. e. f. pupuk dan obat-obatan). Menyediakan lahan pemilikannya untuk budidaya. Pada saat pernjualan hasil petani akan menerima pembayaran harga produk sesuai kesepakatan dalam perjanjian dengan terlebih dahulu dipotong sejumlah kewajiban petani melunasi angsuran kredit bank dan pembayaran bunganya. Melakukan pengawasan terhadap cara panen dan pengelolaan pascapanen untuk mencapai mutu hasil yang diharapkan. Menghimpun diri secara berkelompok dengan petani tetangganya yang lahan usahanya berdekatan dan sama-sama ditanami.Perjanjian tersebut memuat ketentuan yang menyangkut kewajiban pihak Mitra Perusahaan (Inti) dan petani/usaha kecil (plasma) antara lain sebagai berikut : 1. dan e. Membantu petani plasma dan bank di dalam masalah pelunasan kredit bank (KKPA) dan bunganya. d.

Keunggulan Indonesia dalam peningkatan produksi karet untuk masa yang akan datang adalah pada masih tersedianya cukup besar lahan ditropis yang sesuai untuk penanaman karet.978.190.000 ton.3. Sedangkan Malaysia dan Thailand memproduksi masing-masing 1. Bahan baku karet dipergunakan juga bagi berbagai industri di dalam negeri.000 ton pada tahun 1989 menjadi 6. Pada tahun 1996. yang merupakan potensi bagi pemasaran produksi karet. Negara-negara produsen karet lainnya di dunia dan besarnya produksi masing-masing dapat dilihat pada Tabel 1.500 ton dalam kurun waktu yang sama.000 ton pada tahun 1996.082.000 1978 112.543.082.000 ton pada tahun 1996. produksi karet Indonesia mencapati 1.5 132 43 Bank Indonesia – Perkebunan Karet Rakyat 11 . Kalau produksi karet Indonesia terus menunjukkan peningkatan dari 1. guna memenuhi kebutuhan yang akan makin meningkat di masa yang akan datang karena meningkatnya konsumen. Potensi Produksi Indonesia merupakan salah satu negara produsen karet alam terbesar di dunia disamping Malaysia dan Thailand.000 ton pada tahun yang sama. Aspek Pemasaran a.082.543.415.500 1.543. b. Macam industri dan volume konsumsi karet yang bersangkutan pada tahun 1996.256. maka akan meningkat pula kebutuhan karet di Indonesia yang merupakan pasar yang potensial bagi produksi perkebunan karet. Sejalan dengan meningkatnya kegiatan industri yang bersangkutan di Indonesia.000 ton pada tahun 1986 menjadi 1. maka produksi karet Malaysia turun dari 1.>Ini menunjukkan adanya peningkatan permintaan terhadap karet alam.500 ton dan 1.130. Peluang Pasar Konsumen karet dunia meningkat dari 5. Negara dan jumlah produksi karet pada tahun 1996 No Negara 1 2 3 4 5 6 Malaysia Indonesia Thailand Sri Langka Vietnam Kamboja Produksi (ton) 1. Tabel 1.600 ton menjadi 1.

2 20 430.9 Indonesia 1996-1998 (karet). Ditjen Bank Indonesia – Perkebunan Karet Rakyat 12 .7 8 9 10 11 12 Sumber : Statistik Perkebunan India Myanmar China Philipina Nigeria Lain-lainnya Perkebunan 540.9 64 91 302.

tetapi sifat kimianya secara umum kurang baik karena kandungan haranya rendah. Namun demikian. tekstur.4. Hal ini disebabkan perlakuan kimia tanah agar sesuai dengan syarat tumbuh tanaman karet dapat dilaksanakan dengan lebih mudah dibandingkan dengan perbaikan sifat fisiknya. Tinggi tempat Pada dasarnya tanaman karet tumbuh optimal pada dataran rendah dengan ketinggian 200 m dari permukaan laut. Tanah alluvial Bank Indonesia – Perkebunan Karet Rakyat 13 . bahkan pada tanah gambut < 2 m. sulum.000 mm/tahun. Tanah Lahan kering untuk pertumbuhan tanaman karet pada umumnya lebih mempersyaratkan sifat fisik tanah dibandingkan dengan sifat kimianya. Iklim Daerah yang cocok untuk tanaman karet adalah pada zone antara 15oC LS dan 15o LU.500 mm sampai 4. 2). Tanah vulkanis mempunyai sifat fisika yang cukup baik terutama struktur. Curah hujan Tanaman karet memerlukan curah hujan optimal antara 2. Syarat Tumbuh Tanaman Karet Pada dasarnya tanaman karet memerlukan persyaratan terhadap kondisi iklim untuk menunjang pertumbuhan dan keadaan tanah sebagai media tumbuhnya. Berbagai jenis tanah dapat sesuai dengan syarat tumbuh tanaman karet baik tanah vulkanis muda dan tua. Aspek Produksi a. jika sering hujan pada pagi hari. produksi akan berkurang. Diluar itu pertumbuhan tanaman karet agak terhambat sehingga memulai produksinya juga terlambat. Ketinggian > 600 m dari permukaan laut tidak cocok untuk tumbuh tanaman karet. Angin Kecepatan angin yang terlalu kencang pada umumnya kurang baik untuk penanaman karet. kedalaman air tanah. Suhu optimal diperlukan berkisar antara 250C sampai 350C.dengan hari hujan berkisar antara 100 sd. 150 HH/tahun. 1). aerasi dan drainasenya.

biasanya cukup subur. sehingga setiap blok dikuasai oleh 8 KK petani. 1). poreus dan dapat menahan air Struktur terdiri dari 35% liat dan 30% pasir Tanah bergambut tidak lebih dari 20 cm Kandungan hara NPK cukup dan tidak kekurangan unsur hara mikro Reaksi tanah dengan pH 4.pH 8. Teknis Budidaya Dalam pelaksanaan budidaya tanaman karet diperlukan berbagai langkah yang dilakukan secara sistematis mulai dari pembukaan lahan sampai dengan pemanenan.0 tetapi tidak sesuai pada pH.pH 6.5 . tetapi sifat fisikanya terutama drainase dan aerasenya kurang baik.0 dan > pH 8. (d) pendongkelan akar kayu. dan penataan saluran drainase dalam perkebunan. tidak terdapat batu-batuan dan lapisan cadas Aerase dan drainase cukup Tekstur tanah remah. Penataan blok-blok Lahan kebun plasma dipetak-petak menurut satuan terkecil antara lain 2 hektar untuk setiap KK peserta plasma. (b) penebangan pohon. Seiring dengan pembukaan lahan ini dilakukan penataan lahan dalam blokblok. Kegiatan pembukaan lahan ini meliputi : (a) pembabatan semak belukar. 3. b. (e) penumpukan dan pembersihan. Pembukaan lahan (Land Clearing) Lahan tempat tumbuh tanaman karet harus bersih dari sisa-sisa tumbuhan hasil tebas tebang. sehingga jadwal pembukaan lahan harus disesuaikan dengan jadwal penanaman. Reaksi tanah berkisar antara pH 3. penataan jalan-jalan kebun.5 Kemiringan tanah < 16% dan Permukaan air tanah < 100 cm. Sifat-sifat tanah yang cocok untuk tanaman karet pada umumnya antara lain :          Sulum tanah sampai 100 cm.0. 0 . dan kemudian ditata ke dalam blokblok berukuran 400 m x 400 m. Bank Indonesia – Perkebunan Karet Rakyat 14 . (c) perecanaan dan pemangkasan. Setiap 4 blok disatukan menjadi satu kelompok tani sehamparan yang terdiri dari 32 KK petani.

maka pembuatan dan penataan saluran drainase (field drain) dilaksanakan. Beberapa diantara langkah tersebut antara lain : Pemberantasan Alang-alang dan Gulma lainnya Pada lahan yang telah selesai tebas tebang dan lahan lain yang mempunyai vegetasi alang-alang. Pengolahan Tanah Dengan tujuan efisiensi biaya. Lebar jalan disesuaikan dengan jenis/kelas jalan dan alat angkut yang akan digunakan. Seluruh kelebihan air pada field drain dialirkan pada parit-parit penampungan untuk selanjutnya dialirkan ke saluran pembuangan (outlet drain). Bank Indonesia – Perkebunan Karet Rakyat 15 . Namun demikian pengolahan tanah secara mekanis untuk lahan tertentu dapat dipertimbangkan dengan tetap menjaga kelestarian dan kesuburan tanah.Penataan Jalan-jalan Jaringan jalan di dalam kebun plasma harus ditata dan dilaksanakan pada waktu pembangunan tanaman baru (tahun 0) dan dikaitkan dengan penataan lahan ke dalam blok-blok tanaman. Kegiatan ini kemudian diikuti dengan pemberantasan gulma lainnya. Dowpon atau Dalapon. Penataan Saluran Drainase Setelah pemancangan jarak tanam selesai. baik secara kimia (Ally) maupun secara mekanis. sehingga secara keseluruhan merupakan suatu pola jaringan jalan yang efektif. dan mempertimbangkan faktor peresapan dan penguapan. Scoup. 2). pengolahan lahan untuk pertanaman karet dapat dilaksanakan dengan sistem minimum tillage. Sedapatkan mungkin seluruh jaringan ditumpukkan/ disambungkan. Pembangunan jalan di areal datar dan berbukit dengan pedoman dapat menjangkau setiap areal terkecil. dengan jarak pikul maksimal sejauh 200 m. yakni dengan membuat larikan antara barisan satu meter dengan cara mencangkul selebar 20 cm. Luas penampang disesuaikan dengan curah hujan pada satuan waktu tertentu. Persiapan Lahan Penanaman Dalam mempersiapkan lahan pertanaman karet juga diperlukan pelaksanaan berbagai kegiatan yang secara sistematis dapat menjamin kualitas lahan yang sesuai dengan persyaratan. dilakukan pemberantasan alang-alang dengan menggunakan bahan kimia antara lain Round up.

mengurangi pengupan air. yang dicampur ke dalam 5 kg rock Phosphate (RP) sebagai media.30 cm. Pada setiap titik pemancangan ajir tersebut merupakan tempat penggalian lubang untuk tanaman. Pengajiran Pada dasarnya pemancangan air adalah untuk menerai tempat lubang tanaman dengan ketentuan jarak tanaman sebagai berikut : a. Hal ini dimaksudkan untuk menghambat kemungkinan terjadi erosi oleh air hujan. Selain itu juga dianjurkan untuk menyisipkan Colopogonium caerulem yang tahan naungan (shade resistence) ex biji atau ex steck dalam polibag kecil sebanyak 1. serta untuk membatasi pertumbuhan gulma. Komposisi LCC untuk setiap hektar lahan adalah 4 kg. Pada areal lahan bergelombang atau berbukit (kemiringan 8% . Pueraria javanica. Pada areal lahan yang relatif datar / landai (kemiringan antara 00 . Pelubang Ukuran lubang untuk tanaman dibuat 60 cm x 60 cm bagian atas.10 pohon (tergantung derajat kemiringan tanah) dibuat benteng/piket dengan tujuan mencegah erosi pada permukaan petakan.Selatan berjarak 3 m. memperbaiki struktur fisik dan kimia tanah.25 sampai 1. Pada waktu melubang. Bank Indonesia – Perkebunan Karet Rakyat 16 . Penanaman Kacangan Penutup Tanah (Legume cover crops = LCC) Penanaman kacangan penutup tanah ini dilakukan sebelum bibit karet mulai ditanam dengan tujuan untuk menghindari kemungkinan erosi.50 cm. dan 4 kg Centrosema pubescens. 6 kg Colopogonium mucunoides. dan 40 cm x 40 cm bagian dasar dengan kedalaman 60 cm.Pembuatan ters/Petakan dan Benteng/Piket Pada areal lahan yang memiliki kemiringan lebih dari 50 diperlukan pembuatan teras/petakan dengan sistem kontur dan kemiringan ke dalam sekitar 150. 5 m (=500 lubang/ha) pada teras-teras yang diatur bersambung setiap 1. tergantung pada derajat kemiringan lahan.15%) jarak tanam 8 m x 2.25 m (penanaman secara kontur). Bahan ajir dapat menggunakan potongan bambu tipis dengan ukuran 20 cm . b. tanah bagian atas (top soil) diletakkan di sebelah kiri dan tanah bagian bawah (sub soil) diletakkan di sebelah kanan. Lebar teras berkisar antara 1.000 bibit/ha. Untuk setiap 6 . Lubang tanaman dibiarkan selama 1 bulan sebelum bibit karet ditanam.Barat berjarak 7 m dan arah Utara .80) jarak tanam adalah 7 m x 3 m (= 476 lubang/hektar) berbentuk barisan lurus mengikuti arah Timur .

Penanaman Pada umumnya penanaman karet di lapangan dilaksanakan pada musim penghujan yakni antara bulan September sampai Desember dimana curah hujan sudah cukup banyak. dan pemupukan dengan 200 kg RP per hektar.Tanaman kacangan dipelihara dengan melakukan penyiangan. dengan cara menyebar rata di atas tanaman kacangan. 4). responsif terhadap stimulasi hasil. disamping pemupukan dengan urea 50 gram dan SP . diperlukan bibit tanaman karet untuk penanaman sebanyak 476 bibit. terlebih dahulu dilakukan seleksi bibit untuk memperoleh bahan tanam yang memeliki sifat-sifat umum yang baik antara lain : berproduksi tinggi. dan hari hujan telah lebih dari 100 hari. Seleksi dan Penanaman Bibit Seleksi bibit Sebelum bibit ditanam. tanah penutup lubang dipergunakan top soil yang telah dicampur dengan pupuk RP 100 gram per lubang. Mata okulasi benar-benar baik dan telah mulai bertunas Akar tunggang tumbuh baik dan mempunyai akar lateral Bebas dari penyakit jamur akar (wws). resitensi terhadap serangan hama dan penyakit daun dan kulit. Kebutuhan bibit Dengan jarak tanam 7 m x 3 m (untuk tanah landai). serta pemulihan luka kulit yang baik. Pemeliharaan Tanaman Pemeliharaan yang umum dilakukan pada perkebunan tanaman karet meliputi pemberantasan gulma. dan cadangan untuk penyulaman sebanyak 47 (10%) sehingga untuk setiap hektar kebun plasma diperlukan sebanyak 523 batang bibit karet. Bank Indonesia – Perkebunan Karet Rakyat 17 . pemupukan dan pemberantasan hama dan penyakit tanaman. Pada saat penanaman.36 sebesar 100 gram sebagai pupuk dasar. 3). Beberapa syarat yang harus dipenuhi bibit siap tanam adalah antara lain :     >Bibit karet di polybag yang sudah berpayung dua.

yang dapat diberantas dengan menggunakan Chlordane 8 EC atau Basudin 6 0 EC dengan konsentrasi 0. Pemberian SP-36 biasanya dilakukan dua minggu lebih dahulu dari Urea dan KCl. Mikania. gawangan lebih dahulu digaru dan piringan tanaman dibersihkan. Penyakit tanaman karet yang umum ditemukan pada perkebunan antara lain : Bank Indonesia – Perkebunan Karet Rakyat 18 . dll sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik. Kebutuhan Pupuk Tanaman Karet Sementara itu untuk tanaman kacangan penutup tanah. Program pemupukan Selain pupuk dasar yang telah diberikan pada saat penanaman. penyiangan pada tahun pertama dilakukan dengan rotasi 2 x sebulan. Tabel 4. Jadwal pemupukan pada semeseter I yakni pada Januari/Februari dan pada semester II yaitu Juli/Agustus. program pemupukan secara berkelanjutan pada tanaman karet harus dilakukan dengan dosis yang seimbang dua kali pemberian dalam setahun. Eupatorium. rotasi penyiangan dilakukan 1 x sebulan.Penyiangan gulma Areal pertanaman karet. yang pemberiannya dapat dilanjutkan sampai dengan tahun ke-2 (TBM-2) apabila pertumbuhannya kurang baik. Pemberantasan Hama dan Penyakit Pada umumnya hama utama tanaman karet adalah rayap (Coptotermes sp).3%. Program dan dosis pemupukan tanaman karet secara umum dapat dilihat pada Tabel berikut. Untuk mencapai bal tersebut. baik tanaman belum menghasilkan (TBM) maupun tanaman sudah menghasilkan (TM) harus bebas dari gulma seperti alangalang. diberikan pupuk RP sebanyak 200 kg/ha. Sementara itu hama Kuuk (Exopholis hypoleuca) dapat diberantas dengan Basudin 10 G. Seminggu sebelum pemupukan. sedangkan pada tahun ke dua hingga mencapai matang sadap.

Apabila ketiga kriteria tersebut dapat terpenuhi. baik dengan sistem sadapan ke bawah (Down ward tapping system.1% atau Daconil 75 wp dengan konsentrasi 0. dapat diberantas dengan sistem fogging menggunakan Daconil atau fungisida lainnya. Penyakit bidang sadapan kanker garis (Phytophora palmivora) diberantas dengan Difolatan 4 F konsentrasi 2 . Waktu bukaan sadap Waktu bukaan sadap adalah 2 kali setahun yaitu. tetapi harus menunggu waktu tersebut di atas tiba. Kriteria matang sadap antara lain apabila keliling lilit batang pada ketinggian 130 cm dari permukaan tanah telah mencapai minimum 50 cm. Tinggi bukaan sadap Tinggi bukaan sadap.1 sampai 0.2% atau Difolan 4F konsentrasi 1 .6 tahun telah memenuhi kriteria matang sadap. tidak secara otomatis tanaman yang sudah matang sadap lalu langsung disadap. misalnya Cabak dengan konsentrasi 0.2%.4%.1 . Penyakit bidang sadapan Mouldyrot dapat diberantas dengan Benlate konsentrasi 0. Cendawan akar putih (Rigidonporus lignosus). UTS) adalah 130 cm diukur dari permukaan tanah. jika menyerang TM. 5). Oleh karena itu. dapat diberantas penyemprotan larutan KOC. pada (a) permulaan musim hujan (Juni) dan (b) permulaan masa intensifikasi sadapan (bulan Oktober).0. DTS) maupun sistem sadap ke atas (Upward tapping system. juga dipengaruhi oleh teknik dan manajemen penyadapan. Bank Indonesia – Perkebunan Karet Rakyat 19 . Penyadapan Tanaman Karet Produksi lateks dari tanaman karet disamping ditentukan oleh keadaan tanah dan pertumbuhan tanaman. Sementara itu. dapat diberantas dengan Fomac 2 atau Shell Collar Protectant atau Calixin Collar Protectant. Jika 60% dari populasi tanaman telah memenuhi kriteria tersebut.2%. Penyakit jamur upas (Corticum salmonikolor) dapat diberantas dengan Calixin Ready Mix 2%. Penyakit daun Gloesporium pada TBM.      Cendawan akar merah (Ganoderma pseudoferrum) dapat diberantas dengan collar protectant. maka diharapkan tanaman karet pada umur 5 . maka areal pertanaman sudah siap dipanen. klon unggul.

tanaman karet telah memenuhi kriteria matang sadap pada umur 5 . besar sudut irisan akan semakin mengecil hingga 300 bila mendekati "kaki gajah" (pertautan bekas okulasi). permulaan sadapan dimulai dengan sudut kemiringan irisan sadapan sebesar 400 dari garis horizontal.s/2 d/3 67% >a. Pada sistem sadapan ke atas.28 Sistem Sadap a.5 7 Bidang Sadap A A B A' B' + AH A" + BH s/d d/2 100% a/2 d/2 100% s/2 d/3 133% Tua 29 . Pada sistem sadapan bawah.Kemiringan irisan sadap Secara umum. Peralihan tanaman dari TMB ke TM Secara teoritis. Mengingat fasilitas di lingkungan perkebunan plasma masih sangat terbatas. apabila didukung dengan kondisi pertumbuhan yang sehat dan baik.6 tahun. Dengan mengacu pada patokan tersebut. sudut irisan akan semakin membesar. Bagan Penyadapan Tanaman Karet Taraf Tanaman Remaja Teruna Umur 0-5 >6-May 11-Jul Dewasa Setengah tua 16-Dec 17 . berarti mulai pada umur 6 tahun tanaman karet dapat dikatakan telah merupakan tanaman menghasilkan atau TM. maka dianjurkan menggunakan sistem sadap konvensional seperti pada tabel berikut : Tabel 5.31 2 s/2 d/3 133% 4 Tanaman karet diremajakan pada umur 31 tahun Sebagai sistem sadap alternatif juga dapat digunakan sistem berikut : Bank Indonesia – Perkebunan Karet Rakyat 20 .5 5.21 22 . Sistem sadap Dewasa ini sistem sadap telah berkembang dengan mengkombinasikan intensitas sadap rendah disertai stimulasi Ethrel selama siklus penyadap.s/2 100% Jangka Waktu (tahun) 2 d/2 4 5.

600 1.400 5.8 9 4 3.850 7.200 8.5 9 A A B A' B' + AH A" + BH 6).000 1. maka estimasi produksi dapat dilakukan dengan mengacu pada standar produksi yang dikeluarkan oleh Dinas Perkebunan setempat atau Balai Penelitian Perkebunan yang bersangkutan. maka estimasi produksi per hektar per tahun dikonversikan ke dalam satuan getah karet basah seperti pada Tabel berikut : Tabel 7.4 Estimasi Produksi Lateks Estimasi Estimasi produksi Produksi KK Lateks (ton/ha) (Liter/ha) 500 2.750 7.600 6.3 8 3 2.000 1.600 1.28 a.5 5. Estimasi Produksi Produksi lateks per satuan luas dalam kurun waktu tertentu dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain klon karet yang digunakan.400 2. Karena produksi kebun karet dari plasma adalah lateks.s/2 d/3 67% a.0 7 2 2. pemeliharaan tanaman belum menghasilkan.7 12 7 4.Tabel 6.2 10 5 3.150 4.800 Bank Indonesia – Perkebunan Karet Rakyat 21 .5 11 6 3. sistem dan manajemen sadap. dan lainnya. Dengan asumsi bahwa pengelolaan kebun plasma dapat memenuhi seluruh kriteria yang dengan dikemukakan dalam kultur tehnis karet diatas. Proyeksi Produksi Karet Kering dan Tahun Produksi Teoritis Umur KK Sadap (Th) (Kg/pohon)* 6 1 1. Alternatif Bagian Penyadapan Karet Tanaman Karet Jangka Bidang Taraf Tanaman Umur Sistem Sadap Waktu Sadap (tahun) Remaja Teruna Dewasa Setengah tua/ Tua 0-5 6-May 11-Jul 16-Dec 17 .400 1. kesesuaian lahan dan agroklimatologi.s/2 d/2 100% s/d d/2 100% a/2 d/2 100% x 3 bulan di atas 2 x 3 dibawah bulan 1 4 5.21 22 .

400 15 10 4.0 2000 8.900 7.1 1.800 24 19 2.200 * Sumber Balai Penelitian dan Pengembangan Perkebunan (1986) Tahun Bank Indonesia – Perkebunan Karet Rakyat 22 .7 1.200 21 16 3.150 8.6 1.600 17 12 4.200 23 18 2.8 1.550 6.600 28 23 2.350 9.3 1000 4.8 1.650 6.800 27 22 2.600 22 17 3.3 2.100 8.2 2.0 1.Produksi Estimasi Estimasi Teoritis produksi Produksi Umur KK KK Lateks Sadap (Th) (Kg/pohon)* (ton/ha) (Liter/ha) 13 8 4.9 1.6 2.6 800 3.200 14 9 4.400 5.6 2.600 25 20 2.7 850 3.000 19 14 3.200 16 11 4.3 1.800 7.600 20 15 3.150 4.400 18 13 4.450 5.350 5.000 29 24 1.400 30 25 1.300 9.200 4.400 26 21 2.7 2.4 1.300 9.

diantara pohon karet yang masih baru ditanam jagung selama 2 musim tanam pada tahun ke 1. pembukaan lahan. dan pemeliharaan tanaman belum menghasilkan. Studi kelayakan dan sertifikasi lahan 103.388 per hektar.462. Pembukaan lahan dan persiapan prasarana 741. IDC TOTAL INVESTASI TERMASUK IDC 1. 8. penanaman. 5. Oleh karena itu pembangunan perkebunan karet memerlukan karet memerlukan investasi jangka panjang dengan masa tenggang 5 tahun. 4. dan pemeliharaan tanaman menghasilkan dimulai dari tahun 6 dan seterusnya s/d tahun 25 (umur produktif tanaman karet). 7.265 294. Besarnya biaya budidaya jagung untuk pengadaan bibit dan pemeliharaan adalah Bank Indonesia – Perkebunan Karet Rakyat 23 .502 Untuk membantu petani plasma dalam menambah pendapatan selama menunggu karet dapat disadap.469. 3.462. Penanaman karet dan lain-lain aktivitas Pemeliharaan TBM 1 Penanaman cover crops Pemeliharaan TBM -2 s/d TBM 5 TOTAL TANAMAN DAN PRASARANA Management fee.633 273.205 289.514. Bunga selama masa pembangunan (BMP) atau interest during construction (IDC) selama 6 tahun diperhitungkan sebesar Rp. Kebutuhan Biaya Investasi Tanaman karet memerlukan waktu 6 tahun untuk dapat disadap hasilnya. Tabel 8. Ringkasan Biaya Investasi per Hektar Perkebunan Karet Rakyat Pola PIR BIAYA URAIAN (Rp/ha) 1.719.388 9.713.114 termasuk manajemen fee sebesar 5% untuk perusahaan inti dalam mengelola perkebunan plasma. Besarnya biaya investasi per hektar selama 6 tahun adalah Rp. sehingga total biaya investasi per hektar menjadi Rp. 5% dari biaya investasi TOTAL BIAYA INVESTASI MURNI Bunga masa pembangunan. Pemeliharaan tanaman belum menghasilkan dimulai dari tahun 1 s/d tahun 5.713 5. Komponen biaya investasi perkebunan karet seperti tanaman perkebunan lainnya terdiri dari biaya pra-operasi.719. Rincian kebutuhan biaya investasi perkebunan karet per hektar secara ringkas dapat dilihat pada Tabel 8.502.114 3.250 jalan dll 3. 9.5.000 2.200 2.743.482 5.5. 6. Aspek Keuangan a.527.

Asumsi Biaya dan Harga Biaya/Harga (Rp) Upah kerja (Rp/HK) Harga herbisida (Rp/liter) Harga pupuk urea (Rp/kg) Harga pupuk TSP (Rp/kg) Harga pupuk SP-36 (Rp/kg) Harga pupuk KCl (Rp/kg) Harga pupuk RP (Rp/kg) Harga pestisida (Rp/liter) Harga bibit (Rp/batang) karet siap 5 18.5 CM 4. Surplus penghasilan diperoleh pada tahun pertama dari hasil panen jagung dan surplus berikutnya pada tahun ke 7 setelah karet dapat disadap dengan hasil yang meningkat dibandingkan pada tahun ke 6. Proyeksi Laba Rugi Proyeksi laba rugi disusun berdasarkan pada asumsi harga dan biaya tetap selama periode proyek 25 tahun.880 selama 2 musim tanam. Bank Indonesia – Perkebunan Karet Rakyat 24 . Tabel 9.5 Harga bibit jagung (Rp/kg) Harga jual jagung (Rp/kg) Rincian biaya investasi per tahun tanaman belum menghasilkan (TBM) mulai dari tahun 0 sampai dengan tahun 5 dan biaya pemeliharaan tanaman menghasilkan (TM) dapat dilihat pada Tabel Lampiran 1 s/d 10 b.279.Rp. Perhitungan biaya investasi beserta proyeksi arus kas dibuat berdasarkan pada asumsi biaya dan harga jual seperti pada Tabel 9.8 675 19 tanam 2.5 500 800 675 1.5 8 800 Nilai Harga jual karet kering (Rp/kg) Harga bibit (Rp/kg) Harga bibit (Rp/kg) kacangan kacangan jenis jenis Harga bibit kacangan jenis PJ (Rp/kg) 14. Pada tahun berikutnya jagung tidak dapat ditanam lagi karena terdapat tanaman penutup tanah (cover crops) yaitu kacang-kacangan (LCC).5 CP 4.2 3.

884. Untuk variabel harga pupuk. Karena hasil produksi pada tahun pertama menghasilkan adalah rendah. Bila NPV lebih besar dari nol (positif) maka proyek adalah layak. Proyeksi arus kas selengkapnya dapat dilihat pada Tabel Arus Kas (Lampiran 12). Bila IRR lebih besar dari tingkat suku bunga kredit yang diberlakukan untuk proyek yaitu 16% untuk skema KKPA. Proyeksi Arus Kas Seperti pada proyeksi laba rugi. pada discount rate yang ditentukan yaitu sebesar 16%. Kelayakan Finansial Kelayakan finansial proyek diukur dengan tingkat Internal Rate Of Return (IRR) dan Net Present Value (NPV). Nilai IRR proyek dengan tumpang sari jagung adalah sebesar 33. d. maka angsuran pokok belum dapat dibebankan. Angsuran kredit dimulai pada tahun ke 6. Penarikan dan angsuran kredit baik untuk investasi tanaman karet maupun untuk modal kerja penanaman jagung disusun berdasarkan jadwal per triwulan. maka nilai IRR adalah Rp. Arus kas untuk perhitungan IRR dan NPV tercantum pada bagian bawah dari Proyeksi Arus Kas (Tabel Analisa Kelayakan) (Lampiran 12). perubahan dilakukan Bank Indonesia – Perkebunan Karet Rakyat 25 . Biaya ini dibebankan mulai tahun ke 6 setelah tanaman mulai menghasilkan. Sesuai jadwal tersebut. 3. Perubahan salah satu variabel dengan variabel lain tetap. pestisida dan herbisida. cateris paribus.194. proyeksi arus kas juga disusun berdasarkan pada asumsi harga dan biaya tetap. Dengan mengikut sertakan tanaman jagung sebagai tanaman tumpang sari nilai IRR dan NPV lebih tinggi dibandingkan tanpa tanaman jagung. c. Manajemen fee sebesar 5% dibebankan selama masa pembangunan kebun 6 tahun termasuk tahun 0.204. Sedangkan proyek tanpa tumpang sari jagung.Biaya penyusutan adalah biaya investasi termasuk IDC dibagi dengan umur produktif tanaman (25 . kenaikan harga pupuk dan pestisida/herbisida dan penurunan harga jual dilakukan analisa kepekaan. hanya bunga saja. jangka waktu kredit adalah 14 tahun termasuk masa tenggang selama 5 tahun atau 6 tahun termasuk tahun 0. Sesuai dengan kriteria.5 tahun) yaitu 20 tahun.3% dan NPV sebesar Rp.2% dan NPV sebesar Rp. Untuk meneliti kepekaan kelayakan proyek terhadap perubahan beberapa variabel penting seperti kenaikan tingkat upah. Dalam jadwal per triwulan ini juga langsung dihitung besarnya IDC. Proyeksi laba rugi selengkapnya dapat dilihat pada Tabel Analisa Laba-Rugi (Lampiran 11). 20. IRR dan NPV berdasarkan pada arus kas selama 25 tahun dengan asusmsi harga dan biaya tetap. nilai IRR adalah lebih tinggi dari 16% dan NPV adalah positif.477. 9. maka proyek layak secara finansial.

85% 32. Nilai IRR masih di atas 16% walaupun variabel berubah sampai 20%.secara bersama. Bank Indonesia – Perkebunan Karet Rakyat 26 .63% 19.06% 19. Kepekaan ini dapat dilanjutkan lagi sampai IRR mendekati 16% untuk perubahan mendekati 40%.52% 18.68% 17. Tabel 10. pupuk/pest/herb.16% 31.Dibawah ini disajikan hasil analisa kepekaan seperti pada Tabel 10.24% 28.02% 30.95% 19. Dengan demikian kelayakan finansial proyek cukup aman terhadap perubahan variabel penting.46% 16.51% Harga jual karet turun 10% Harga jual karet turun 20% Tabel 10 menunjukkan bahwa proyek tidak peka terhadap perubahan variabel penting sampai tingkat 20% yang merupakan perubahan yang wajar.35% 19. naik naik IRR dengan IRR tanpa Jagung (%) Jagung (%) 32. Hasil Analisa Kepekaan Proyek Variabel Dan Perubahan Upah kerja naik 10% Upah kerja naik 20% Harga 10% Harga 20% pupuk/pest/herb.

Dengan adanya peningkatan pendapatan petani. Karena kelemahan modal.6. Aspek Sosial Ekonomi Pelaksanaan usaha perkebunan karet oleh para petani plasma. penyiapan lahan. Produksi perkebunan karet plasma ini pada akhirnya akan menjadi komoditi ekspor. karet sepatu dan lain-lain. Peningkatan pendapatan petani akan selanjutnya berpengaruh terhadap peningkatan pendidikan dan kesehatan masyarakat. Struktur dan komposisi komunitas tumbuhan akan berubah secara total. kesenjangan sosial yang selama ini terjadi bisa diperkecil. akan membawa dampak terhadap sifat fisik dan kimia. Aspek Sosial Ekonomi dan Dampak Lingkungan a. Tercapainya peningkatan pendapatan petani dari kebun karet plasma. Disamping itu. yang mampu meningkatkan pendapatan devisa Negara. Untuk mengatasi dampak negatif tersebut. isolasi kabel. Terbukanya lahan akan menyebabkan tercucinya hara tanah. akan dapat secara optimal sumber daya lahan petani dimanfaatkan. Dampak Lingkungan Dampak Terhadap Lingkungan Fisik Kimia Pembangunan kebun karet plasma dengan berbagai kegiatan antara lain pembukaan lahan sekunder. dan karenanya akan dapat meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Dari keberhasilan usaha perkebunan karet yang akan dilaksanakan. dan pembangunan infrastruktur. terutama terhadap kesuburan tanah. produksi karet merupakan bahan baku bagi berbagai industri di Indonesia yang menggunakan karet. selanjutnya dapat diharapkan mampu menciptakan kehidupan perekonomian setempat yang makin tinggi. perlakuan terhadap tanah melalui penanaman cover crops dan pemupukan dapat memperpendek dampak tersebut dan berubah menjadi dampak positif. Dengan mengadakan kemitraan secara terpadu dengan Perusahaan Inti dan Bank. petani akan memiliki peluang untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi. b. penurunan pH tanah dan peningkatan terhadap kadar kejenuhan basa (KB). Vegetasi hutan sekunder Bank Indonesia – Perkebunan Karet Rakyat 27 . seperti industri ban. sehingga akhirnya banyak lahan yang tidak termanfaatkan. merupakan upaya dalam rangka memanfaatkan secara optimal sumber daya lahan yang memiliki petani. Dampak Terhadap Lingkungan Biota Pembukaan hutan sekunder dan penyiapan lahan tanam akan memberikan dampak yang nyata terhadap lingkungan biota. petani sering tidak mampu membudidayakan lahan pertanian yang dimilikinya.

Selain itu perlu upaya untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang sehat dan harmonis. biologis. Guna mengelola dampak yang mungkin timbul. Olah karena itu dampak negatif ini penting dan harus diwaspadai serta diantisipasi dengan metoda pengendalian hama terpadu yang tepat. Dampak Terhadap Kesehatan Lingkungan Masyarakat Pada tahap pelaksanaan pembangunan infrastruktur dan kebun plasma dan kebun Inti. Beberapa fasilitas penting antara lain adalah : sarana dan prasarana pengobatan tenaga medis dan para medis. yang pada gilirannya dapat meningkatkan produktivitas kebun dan kesejahteraan masyarakat. Organisme penganggu pada umumnya adalah satwa liar yang suka akan habitat terbuka. Siklus hidup organisme penganggu akan terputus. sehingga dapat mendorong produktivitas kerja. prasarana pendidikan dan tempat ibadah yang memadai. dan kalaupun mampu bertahan hidup. atau bahkan akan menyerang tanaman karet di kebun plasma. Dampak penting lainnya akibat dari pembukaan lahan adalah berubahnya ekosistem tertutup menjadi ekosistem terbuka. pembukaan lahan diperkirakan justru akan meningkatkan baik jenis maupun populasi dari organisame penganggu. maupun kimiawi. akan memakan makanan apa adanya. dalam jangka pendek akan guncang. Dengan demikian. umur dan memiliki struktur dan fungsi sesuai dengan keseimbangan ekosistem hutan. Beberapa hal yang sangat penting diperhatikan dalam proyek kemitraan ini adalah kesediaan dari pihak perkebunan Inti untuk memberikan dan penyediaan fasilitas umum yang memadai.yang sebelumnya terdiri dari berbagai jenis. pasti terjadi dampak terhadap kesehatan lingkungan (sanitasi) maupun kesehatan masyarakat. Bank Indonesia – Perkebunan Karet Rakyat 28 . baik itu secara mekanis. perlu dilakukan penyuluhan bagi generasi muda dan ibu tani khususnya mengenai sanitasi lingkungan dan kesehatan. Dampak negatif ini akan berubah dalam waktu singkat dengan adanya pemeliharaan tanaman karet yang intensif dan memberikan keseimbangan baru bagi ekosistem wilayah.

maka usaha perkebunan ini layak untuk mendapatkan bantuan Bank mengenai permodalannya. dan pemasaran hasilnya. 5. Rekomendasi Pemda setempat dan rekomendasi Kantor Departemen Koperasi dan PPK). SK Pelepasan Kawasan Hutan oleh Menteri Kehutanan dan Perkebunan. Adanya perjanjian kerja sama antara petani/Koperasi sebagai Plasma dengan Perusahaan Perkebunan Karet sebagai inti. Adanya kebenaran status keanggotaan koperasi bagi para petani pesertanya. b. tehnis pembangunan kebun. Fasilitas kredit yang sesuai untuk diberikan kepada petani dalam rangka Proyek Kemitraan Terpadu adalah KKPA. Kesimpulan 1. Mengingat bahwa dengan Pola Kemitraan Terpadu tingkat keberhasilan usaha perkebunan karet oleh petani akan menjadi lebih tinggi. Adanya kelayakan bagi lahan petani yang akan dipergunakan untuk perkebunan karet (rekomendasi Dinas Perkebunan . Bahwa di dalam perjanjian kerjasama tersebut diatur yang menyangkut unsur pembinaan teknis petani. 4. Pengembalian perkebunan karet rakyat pada lahan-lahan yang memiliki kesesuaian agroklimat bagi tanaman karet. Usaha perkebunan karet rakyat yang dilaksanakan pembangunannya dengan menggunakan pola Kemitraan Terpadu.SK Persetujuan Prinsip Usaha Perkebunan oleh Menteri Kehutanan dan Perkebunan persetujuan pihak Badan Pertanahan Nasional. pembinaan Koperasi. 2. Karet merupakan komoditi yang memiliki pasar cukup besar. akan memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi mengingat pelaksanaannya akan mendapat bantuan pembinaan pada aspek produksi. Produksi karet Indonesia banyak ditunjang oleh adanya perkebunan karet rakyat akan memiliki arti yang penting sekali di dalam upaya peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani serta upaya peningkatan devisa serta perekonomian Indonesia pada umumnya. d. pemasaran.7. baik di dalam Negeri maupun Luar Negeri. Bank Indonesia – Perkebunan Karet Rakyat 29 . e. c. masih memiliki potensi yang besar di berbagai wilayah Indonesia mengingat masih banyaknya lahan petani yang tersedia. 3. oleh pihak mitra Perusahaan Perkebunan Karet. Untuk dapat memberikan KKPA bagi petani plasma pihak Bank perlu memastikan hal-hal sebagai berikut : a. dan pengelolaan usaha. Bahwa dalam perjanjian tersebut dimasukkan juga unsur pengelolaan KKPA sehingga tercapai adanya sistem tertutup bagi arus dana KKPA untuk pembangunan kebun dan arus dana pelunasan KKPA dan bunganya dari hasil kebun petani plasma kepada Bank melalui Perusahaan Inti.

Bahwa dalam perjanjian tersebut yang menyangkut penggunaan KKPA pihak. telah dibahas dalam buku ini dan dapat dipergunakan oleh Bank sebagai acuan di dalam mempertimbangan permintaan KKPA untuk petani plasma perkebunan karet.f. mengingat usaha perkebunan karet ini memiliki kriteria sebagai berikut : a. Nilai IRR = 20. 6. Bank Indonesia – Perkebunan Karet Rakyat 30 .2% selama masa pertumbuhan karet (25 tahun) b. Analisis finansial menunjukkan bahwa KKPA layak diberikan kepada petani plasma untuk pembangunan kebun karet. Untuk keperluan analisis finansial dan evaluasi kelayakan usaha berdasarkan masing-masing aspek yang berkaitan. 7. Perusahaan Inti bersedia menjadi avalist sesuai persyaratan yang dimintakan oleh Bank. Pelunasan KKPA akan dicapai pada tahun ke -14 setelah tanam.

LAMPIRAN Bank Indonesia – Perkebunan Karet Rakyat 31 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful