P. 1
KRITIK SASTRA

KRITIK SASTRA

|Views: 116|Likes:

More info:

Published by: Muhammad Firliadi Noor Salim on Jul 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/17/2013

pdf

text

original

HAKEKAT KRITIK SASTRA

• Secara etimologis, kata kritik berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata krinein (menghakimi, membanding, menimbang). Kata krinein menjadi bentuk dasar bagi kata kreterion (dasar, pertimbangan, penghakiman). Orang yang melakukan pertimbangan/penghakiman disebut krites yang berarti hakim. Bentuk krites inilah yang menjadi dasar kata kritik. • Secara harafiah, kritik sastra adalah upaya menentukan nilai hakiki karya sastra dalam bentuk memberi pujian, mengatakan kesalahan, memberi pertimbangan lewat pemahaman dan penafsiran yang sistemik

• Menurut bentuk – Kritik Teoritis – Kritik Terapan • Berdasarkan Pelaksanaan – Kritik Judisial – Kritik Induktif – Kritik Impresionistik • Berdasarkan Orientasi Terhadap Karya Sastra – Mimetic criticism – Pragmatic criticism – Expresive criticism – Objective criticism

2. Jenis Kritik Sastra

Kritik Teoritis
• Kritik sastra yang berusaha (bekerja) atas dasar prinsip-prinsip umum untuk menetapkan seperangkat istilah yang berhubungan, pembedaan-pembedaan, dan kategori-kategori, untuk diterapkan pada pertimbangan-pertimbangan dan interpretasiinterpretasi karya sastra maupun penerapan “kriteria” (standar atau norma) untuk menilai karya sastra dan pengarangnya.

Nugroho Notosusanto. Subagio Sastrowardoyo. diantaranya Mohammad Ali. Misalnya buku “Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei” Jilid II (1962) dikritik sastrawansastrawan dan karyanya. dan lain sebagainya .Kritik Terapan • Merupakan diskusi karya sastra tertentu dan penulis-penulisnya.

teknik. serta gayanya. organisasinya.Kritik Judisial • Adalah kritik sastra yang berusaha menganalisis dan menerangkan efek-efek karya sastra berdasarkan pokoknya. dan mendasarkan pertimbangan-pertimbangan individu kritikus atas dasar standar-standar umum tentang kehebatan dan keluarbiasaan sastra .

Kritik Induktif • Kritik sastra yang menguraikan bagian-bagian karya sastra berdasarkan fenomena-fenomena yang ada secara objektif. tanpa menggunakan standar-standar yang tetap yang berasal dari luar dirinya. . Kritik induktif meneliti karya sastra sebagaimana halnya ahli ilmu alam meneliti gejala-gejala alam secara objektif.

Kritik Impresionistik • Adalah kritik sastra yang berusaha menggambarkan dengan kata-kata. sifat-sifat yang terasa dalam bagian-bagian khusus atau dalam sebuah karya sastra dan menyatakan tanggapan-tanggapan (impresi) kritikus yang ditimbulkan secara langsung oleh karya sastra. .

Kritik Mimetik • Kritik yang bertolak pada pandangan bahwa karya sastra merupakan tiruan atau penggambaran dunia dan kehidupan manusia. Kritik ini cenderung mengukur kemampuan suatu karya sastra dalam menangkap gambaran kehidupan yang dijadikan suatu objek .

Model kritik ini cenderung memberikan penilaian terhadap suatu karya berdasarkan ukuran keberhasilannya dalam mencapai tujuan tersebut. dan sebagainya. seperti efek kesenangan.Kritik Pragmatik • Kritik yang disusun berdasrkan pandangan bahwa sebuah karya sastra disusun untuk mencapai efek-efek tertentu kepada pembaca. pendidikan. estetika. .

.Kritik Ekspresif • Kritik yang menekankan kepada kebolehan pengarang dalam mengekspresikan atau mencurahkan idenya ke dalam wujud sastra. atau visi penyair yang secara sadar atau tidak tercermin pada karya tersebut. Kritik ini cenderung menimbang karya sastra dengan memperlihatkan kemampuan pencurahan. kesejatian.

Kritik ini menekankan pada unsur intrinsik. .Kritik Objektif • Suatu kritik sastra yang menggunakan pendekatan bahwa suatu karya sastra adalah karya yang mandiri.

Fungsi Kritik Sastra • Untuk pembinaan dan pengembangan sastra • Untuk pembinaan kebudayaan dan apresiasi seni • Untuk menunjang ilmu sastra .

sastrawan dapat belajar untuk dapat meningkatkan kecakapannya ataupun mempertimbangkan untuk memperluas daerah garapannya. Dengan begitu. baik corak. kesusastraan akan dapat berkembang. .Pembinaan dan Pengembangan Sastra • Dengan kritikan yang ada. maupun mutunya. gaya.

. para kritikus menunjukkan daerah-daerah gelap yang terdapat dalam suatu karya sastra secara lebih baik dan lebih bermakna.Pembinaan Kebudayaan dan Apresiasi Seni Dalam mengeritik. menerangkan unsur-unsurnya. yang akhirnya dapat meningkatkan kemampuan apresiasi sastra ke tingkat yang lebih tinggi dari sebelumnya. memberi komentar dan interpretasi. Hal ini dimungkinkan karena kritikus menganalisis struktur sastra. serta menunjukkan hal-hal yang tersirat dari semua yang tersurat.

Menunjang Ilmu Sastra .

karena kritikus adalah orang yang terlatih kemampuannya dalam memisahkan hal-hal yang bersifat emosional dengan hal-hal yang rasional. pembinaan akl budi. • Bertindak sebagai pendidik yang berupaya membina dan mengembangkan kejiwaan suatu masyarakat. • Bertindak sebagai hakim yang bijaksana. Berbeda dengan seorang estetikus. dan kehalusan cita rasa.Peran Kritikus Sastra • Menjalankan disiplin pribadinya sebagai jawaban terhadap karya sastra tertentu. . ketajaman pikiran. yang dapat membangkitkan kesadaran serta menghidupkan suara hati nurani.

Klasifikasi Teori Sastra Tanaka Wellek Abrams • mikro • makro • Intrinsik • Ekstrinsik • Objektif • Ekspresif • Mimetik • Pragmatik .

3) Pendekatan mimetik (yang mengutamakan aspek semesta). 2) Pendekatan ekspresif (yang menitikberatkan aspek pengarang atau pencipta karya sastra). dan 4) Pendekatan pragmatik (yakni pendekatan yang mengutamakan aspek pembaca) .Klasifikasi • Abrams Ekspresif WORK KARYA ARTIST PENCIPTA REALITAS UNIVERSE Mimetik Objektif Pragmtik AUDIENCE PEMBACA 1) Pendekatan objektif (yang terutama memperhatikan aspek karya sastra itu sendiri).

Strukturalisme 2.TEORI-TEORI OBJEKTIF 1. New Criticism 3. Deconstruksi dan Post-Strukralisme .

1. wujud) berarti cara pendekatan dalam ilmu dan kritik sastra yang mengesampingkan data biografis. sosiologis dan mengarahkan perhatian pada bentuk karya sastra itu sendiri.1 Struktural Formalis  Istilah Formalisme (dari kata Latin forma yang berarti bentuk. . psikologis. Para Formalis meletakkan perhatiannya pada ciri khas yang membedakan sastra dari ungkapan bahasa lainnya. Istilah Strukturalisme acap kali digunakan pula untuk menyebut model pendekatan ini karena mereka memandang karya sastra sebagai suatu keseluruhan struktur yang utuh dan otonom berdasarkan paradigma struktur kebahasaannya. ideologis.

dan Tynjanov  Rene Wellek dan Roman Jakobson beremigrasi ke Amerika Serikat  Sumbangan penting kaum formalis bagi ilmu sastra adalah secara prinsip mereka mengarahkan perhatian kita kepada unsur-unsur kesastraan dan fungsi puitik. Sampai sekarang masih banyak dipergunakan istilah teori sastra dan analisis sastra yang berasal dari kaum Formalis. Rene Wellek. . Eichenhaum. Sjklovsky.Pelopor Struktural Formalis  Kaum Formalis Rusia tahun 1915-1930 dengan tokoh-tokohnya seperti Roman Jakobson.

Prinsip Dasar Struktural Formalis • Prinsip keseluruhan (wholness) bahwa bagian-bagian atau unsurnya menyesuaikan diri dengan seperangkat kaidah intrinsik yang menentukan baik keseluruhan struktur maupun bagian-bagiannya. struktur itu otonom terhdap rujukan sistem lain . struktur itu menyanggupi prosedur transformasi yang terus menerus memungkinkan pembentukan bahan-bahan baru • Prinsip keteraturan yang mandiri (self regulation) yaitu tidak memerlukan hal-hal di luar dirinya untuk mempertahankan prosedur transformasi. • Prinsip transformasi (transformation).

2.Langkah Kerja 1. Kartu data sebaiknya disusun alpabetis. Struktur yang dibangun harus mampu menggambarkan teori struktur yang handal. Peneliti melakukan pembacaan secara cermat. Setiap unsur dimasukkan ke dalam kartu data. Peneliti perlu memahami lebih jauh hakikat setiap unsur pembangun karya sastra. 3. Unsur tema. karena tema akan selalu terkait langsung secara komprehensif dengan unsur lain. sehingga mudah diikuti oleh peneliti sendiri. mencatat unsur-unsur struktur yang terkandung dalam bacaan itu. . Membangun teori struktur sastra sesuai dengan genre yang diteliti. agar mudah dilacak pada setiap unsur. sehingga memudahkan analisis. sebaiknya dilakukan terlebih dahulu sebelum membahas unsur lain.

. setting. sudut pandang. semua penafsiran unsur-unsur harus dihubungkan dengan unsur lain. Setelah analisis tema.Langkah Kerja 4. 6. akan bias dan menghasilkan makna yang mentah. sehingga mewujudkan kepaduan makna struktur. Analisis yang meninggalkan kepaduan struktur. konflik. Yang harus diingat. Penafsiran harus dilakukan dalam kesadaran penuh akan pentingnya keterkaitan antar unsur. dan sebagainya andaikata berupa prosa. baru analisis alur. gaya. 5.

Kelemahan Strukturalisme Sebagai sebuah model teori kritik. tercerabut dari sejarah. dan terpisah dari aspek kemanusiaan. Ada beberapa kelemahan yang perlu direnungkan bagi pengeritik struktural. yaitu melalui struktural karya sastra seakan-akan diasingkan dari konteks fungsinya sehingga dapat kehilangan relevansi sosial. . strukturalisme bukan tanpa kelemahan.

1. suatu perwujudan pikiran tertentu pada saat karya diciptakan . melainkan juga sebagai cerminan atau rekaman budaya.2 Struktural Genetik • Muncul sebagai wujud ketidakpuasan terhadap teori struktural yang melihat karya sastra sebagai sesuatu yang otonom • Pendirinya adalah Taine dan dikembangkan oleh Lucian Goldman di Paris • Prinsip Dasarnya: Karya sastra tidak sekedar fakta imajinatif dan pribadi.

tanda. Struktural Dinamik menekankan pada struktur.3 Struktural Dinamik • Merupakan jembatan penghubung antara teori struktural formalis dan teori semiotik • Hampir sama dengan struktural genetik (mengaitkan dengan asal-usul teks) tetapi penekanannya berbeda.1. dan realitas • Tokoh-tokohnya : Julia Cristeva dan Roland Bartes (Strukturalisme Prancis) .

Semiotik Sastra • Dari kata semeion = tanda yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda. 1986:131) • Ilmu yang mempelajari berbagai objek. peristiwa. dan proses suatu tanda diartikan (Hartoko. sistem-sistem tanda. atau seluruh kebudayaan sebagai tanda • Tokohnya: Icon – Ferdinand de Saussure (Prancis) – Jurij Lotman (Rusia) – Charles Sanders Pierce (USA) Index Symbol .2.

Robert Penn Warren. P. John Crowe Ransom (USA) The New Criticism. A. Blackmur. T. . namun contoh karya mereka lebih mengarah kepada puisi sehinggga jenis karya sastra yang lainnya merasa diabaikan. S. Eliot.3. • Tokoh lainnya: I. Cleanth Brooks. R. Richard. New Criticism • Muncul tahun 1920-1960. William K. Allen Tate. Wimsatt • Prinsip dasarnya hampir sama dengan Formalis.

Pandangan ini menentang klaim strukturalisme yang menganggap sebuah teks mengandung makna yang sah dalam struktur yang utuh di dalam sistem bahasa tertentu.Deconstruksi dan Post-Strukralisme "Dekonstruksi" adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menyebut cara membaca sebuah teks (sastra maupun filsafat) yang berdasarkan pada pola pandangan filsafat Jacques Derrida. Derrida sendiri dipengaruhi pandanganl fenomenologi (Heidegger) dan skeptisisme (Nietzche). Aliran ini mula-mula dikembangkan di Perancis oleh kelompok penulis Tel Quel dengan tokoh perintis antara lain Jacques Derrida dan Julia Kristeva . Dekonstruksi disebut juga sebagai Poststructuralism (Pascastrukturalisme) karena membangun teorinya atas dasar konsep-konsep strukturalisme-semiotik Ferdinand de Saussure.

Keberatan-keberatan itulah yang kemudian memunculkan aliran Pascastrukturalisme yang menentang setiap bentuk penyisteman yang mengabaikan keragaman kultural dan nilai-nilai kemanusiaan. patut kita catat bahwa banyak teoretisi sastra tidak puas terhadap paradigma bahasa dalam pengkajian sastra. dan filsafat. Usaha untuk memahami dan mengupas karya sastra atas dasar strukturnya memaksa peneliti sastra untuk membebaskan din dari berbagai konsep metode dan teknik yang sebenarnya berada di luar jangkauannya sebagai ahli sastra. strukturalisme juga bersifat anti humanis (Selden. Jameson (1981). sangat mendukung dan memperkaya Teori Sastra Feminisme.) Keberatan lain terhadap strukturalisme adalah sifatnya yang ahistoris. Sekalipun demikian. seperti psikologi.Rangkuman • • Pada umumnya penekanan perhatian teori sastra pada studi teks dapat digolongkan ke dalam konsep strukturalisme. Teoretisi itu antara lain Lefevere (1977). Pendekatan struktural dari segi tertentu membawa hasil yang sangat memuaskan. dan model analisisnya. sejarah. 1991:70-71). kedalaman. sosiologi. Strukturalisme. dll. Foucault. • • • • . Strukturalisme menghapus sejarah manusia karena berambisi membangun universal yang menghapus pandangan individual. Eagleton (1983). Lacan. merupakan bidang teori sastra yang sudah menjadi urutan utama kebudayaan intelektual ilmu sastra. dan para pemikii (pascastrukturalisme Derrida. bagaimanapun. Sekalipun tidak disebutkan di atas. sekalipun konsep ini sangat beragam jangkauan. patut dicatat bahwa konsep-konsep aliran Pascastrukturalisme.

. dan dari abad ke abad sangat memengaruhi teoriteori mengenai seni dan sastra di Eropa (Van Luxemburg. 1986:15).TEORI-TEORI MIMETIK • Pengertian mimesis (Yunani: perwujudan atau peniruan) pertama kali dipergunakan dalam teori-teori tentang seni seperti dikemukakan Plato (428-348) dan Aristoteles (384-322).

Konsep dasar sosiologi sastra sebenarnya sudah dikembangkan oleh Plato dan Aristoteles yang mengajukan istilah 'mimesis'. Dari kesadaran ini muncul pemahaman bahwa sastra memiliki keterkaitan timbal-balik dalam derajat tertentu dengan masyarakatnya.SOSIOLOGI SASTRA • Konsep sosiologi sastra didasarkan pada dalil bahwa karya sastra ditulis oleh seorang pengarang. sastra berada dalam jaringan sistem dan nilai dalam masyarakatnya. dan sosiologi sastra berupaya meneliti pertautan antara sastra dengan kenyataan masyarakat dalam berbagai dimensinya (Soemanto. Dengan demikian. yang menyinggung hubungan antara sastra dan masyarakat sebagai 'cermin'. . makhluk yang mengalami sensasi-sensasi dalam kehidupan empirik masyarakatnya. dan pengarang merupakan a salient being. sastra juga dibentuk oleh masyarakatnya. 1993).

1981:178).Teori Sastra Marxis Teori ini berakar pada doktrin Manifesto Komunis (1848) yang diberikan oleh Karl Marx dan Friedrich Engels. dan dibentuk atau merupakan akibat dari struktur dan perjuangan kelas dalam jamannya (Abrams. dan kebudayaan setiap jaman termasuk seni dan kesusastraan .merupakan 'ideologi-ideologi' dan 'suprastruktur-suprastruktur' yang berkaitan secara dialektikal. yang dalam setiap jaman selalu bersaing demi kedudukan sosial ekonomi dan status politik. . khusunya terhadap pernyataan bahwa perkembangan evolusi historis manusia dan institusi-institusinya ditentukan oleh perubahan mendasar dalam produksi ekonomi. Kehidupan agama. Peruhanan itu mengakibatkan perombakan dalam struktur kelas-kelas ekonomi. intelektual.

Sastra tidak mencerminkan realitas sebagai semacam fotografi. sastra dapat mencerminkan realitas secara jujur dan objektif dan dapat juga mencerminkan kesan realitas subjektif (Selden. dan lebih dinamik" yang mungkin melampaui pemahaman umum. Sebuah karya sastra tidak hanya mencerminkan fenomena idividual secara tertutup melainkan lebih merupakan sebuah 'proses yang hidup'.George Lukacs: Sastra Sebagai Cermin Sebuah novel tidak hanya mencerminkan 'realitas' tetapi lebih dari itu memberikan kepada kita "sebuah refleksi realitas yang lebih besar. Dengan demikian. 1991:27) . lebih hidup. melainkan lebih sebagai suatu bentuk khusus yang mencerminkan realitas. lebih lengkap.

Pemain bukan berfungsi menunjukkan melainkan mengungkapkan secara spontan individualitasnya (Selden. Mereka harus mampu menimbulkan efek alienasi (keterasingan). Para pelaku tidak harus menghilangkan personalitas dirinya untuk mendorong identifikasi penonton atas tokoh-tokoh pahlawannya. Fakta-fakta ketidakadilan dan ketidakwajaran perlu dihadirkan untuk mengejutkan dan mengagetkan penonton.Bertold Brecht: Efek Alienasi Menurut Brecht. Penonton jangan ditidurkan dengan ilusiilusi palsu. dramawan bendaknya menghindari alur yang dihuhungkan secara lancar dengan makna dan nilai-nilai universal yang pasti. 1991:30-32) .

melainkan harus dapat menemukan hubungan orisinal antara Subjek dan Objek sesuai dengan kedudukannya (Culler. 1981:12-13). . Fredric Jameson mengungkapkan bahwa hakikat suatu karya sastra dapat diketahui dari penelitian tentang latar belakang historisnya. Kita tidak hanya sekedar ingin menangkap nilai-nilai yang sempit pada permukaan (seperti dilakukan kaum New Criticism).Teori Neomarxisme • Berdasarkan metode berpikir dialektis tersebut. melainkan juga sejarah model interpretasi dan kebutuhan akan suatu model interpretasi yang khusus. Jadi hasil kritik dialektikal itu bukan hanya sekedar suatu interpretasi sastra.

Teori-teori Marxisme. yang memandang seni (sastra) sebagai 'alat perjuangan politik' terlalu menekankan aspek pragmatis sastra dan dalam banyak hal mengabaikan struktur karya sastra. Penjelasan Taine dengan menggunakan metodemetode ilmu pasti menarik perhatian. Dalam kenyataannya. teori yang sudah dirintis oleh filsafat Plato (Abad 4-3 SM) tentang 'mimesis' itu baru mulai dikembangkan pada abad 17-18 — yakni zaman positivisme ilmiah — oleh Hippolite Taine dan berkembang pesat pada awal abad ke-19 dengan dicanangkannya doktrin Manifesto Komunis oleh Marx dan Engels. Pemikir-pemikir Neomarxis memanfaatkan filsafat dialektika materialisme Marx untuk mendefinisikan aspek ideologi. namun ciri positivistis dalam teorinya menimbulkan permasalahan yang rumit mengenai hakikat karya sastra sebagai 'karya fiksi'. • • . Asumsi epistemologis mereka adalah bahwa sastra menyimpan sejarahnya yang sebenarnya dan menjadi tugas studi sastra untuk mendefinisikannya secara jelas. politik.Rangkuman • Teori-teori sosiologi sastra mempersoalkan kaitan antara karya sastra dan 'kenyataan'. Studi-studi sosiologis terhadap sastra menghasilkan pandangan bahwa karya sastra dalam taraf tertentu merupakan ekspresi masyarakat dan bagian dari suatu masyarakat. Sebenarnya teori sosiologi sastra inilah yang paling tua usianya dalam sejarah kritik sastra. dan hubungan ekonomi suatu masyarakat. Kenyataan inilah yang menarik perhatian para teoretisi sosiologi sastra untuk mencoba menjelaskan pola dan model hubungan resiprokal itu.

TEORI-TEORI EKSPRESIVISME: MUNCULNYA PAHAM INDIVIDUALISME DAN OTONOMI .

TEORI-TEORI EKSPRESIVISME  Teori ekspresif sastra (The expressive theory of literature) adalah sebuah teori yang memandang karya sastra terutama sebagai pernyataan atau ekspresi dunia batin pengarangnya. 1987:20). cita-cita. sastra adalah proses imajinatif yang mengatur dan menyintesiskan imajinasi-imajinasi. Oleh karena itu. angan-angan. Karya sastra dipandang sebagai sarana pengungkap ide. cita rasa. Dalam ungkapan yang lain. teori ini seringkali disebut pendekatan biografi. . dan perasaan-perasaan pengarang (Abrams. pikiran dan pengalaman pengarang. Studi sastra dalam model ini berupaya mengungkapkan latar belakang kepribadian dan kehidupan (biografi) pengarang yang dipandang dapat membantu memberikan penjelasan tentang penciptaan karya sastra. pemikiran-pemikiran.

Unsur terpenting dalam penciptaan seni sastra adalah kreativitas dalam jiwa pengarang. yang unggul) sebagai sumber utama pemikiran dan perasaan pengarang. retorika yang unggul. Longinus. abad 18-19) teori ekspresivisme mendapat perhatian dan berkembang dengan pesat. Sumbersumber keagungan itu mengilhami dan merasuki kata-kata dengan semangat ilahi. yang mulia. pengungkapan (diksi) dan penggubahan yang mulia.Sejarah Pertumbuhan • abad ke-3 M. . yang bersumber dari daya wawasan yang agung. Baru sekitar tahun 1800 (pada jaman Romantik. emosi atau nafsu (passion) yang mulia. dalam bukunya berjudu Peri Hypsous (Yun. = Tentang Keluhuran) mengungkapkan bahwa ciri khas dan ukuran seni sastra adalah keluhuran (yang luhur. • Pandangan ini tidak banyak memengaruhi pertumbuhan teori ekspresionisme.

Ibarat tumbuhnya tanaman yang mengikuti prinsip-prinsip organismenya sendiri secara inheren. yang kemudian diikuti dengan pemikiran dan revisi dalam proses komposisinya.Teori Sastra Romantik Zaman Romantik ditandai dengan semacam "manifesto" (pernyataan) yang revolusioner dari Wordsworth yang menegaskan bahwa karya sastra yang baik adalah peluapan yang spontan dari perasaan-perasaan yang kuat. Unsur utama sastra adalah perasaan-perasaan dan emosi-emosi manusia penyair yang dikumpulkan dalam keheningan refleksi yang mendalam. Sastra bukan lagi dilihat sebagai cermin tindak-tanduk manusia. Akan tetapi sastrawan yang baik. menurut mereka. selalu mendahulukan aspek spontanitasnya. . demikian pula seharusnya konsep setiap karya seni.

atau sebagai hasil imajinasi pengarangnya yang menjabarkan pandangan. baik yang disadarinya maupun yang tidak disadarinya. dan perasaannya. Oleh karena karya sastra dipahami sebagai ekspresi. . dan kememadaiannya (adequacy) dalam mengungkapkan visi dan pemikiran individual si pengarang itu sendiri. kritik ekspresif mendapat perhatian utama. Aspek-aspek itu seringkali dicari di dalam karya sastra sebagai pembuktian akan watak dan pengalaman-pengalaman khusus pengarang. pemikiran. maka tolok ukur penilaian terhadap karya sastra terutama ditujukan kepada: kesungguhan hatinya (sincerity). atau ungkapan perasaan pengarangnya. peluapan. keasliannya (genuineness).Dalam zaman ini. Kritik semacam ini masih diteruskan dalam tradisi-tradisi kritik sastra psikoanalitik dan kritik kesadaran (critics of consciousness) dalam mazhab Jenewa.

Tolok ukur sastra yang baik dalam pendekatan ini adalah: orisinalitas. Datadata biografik dan historis menjadi bahan yang penting dalam studi sastra. seperti seorang ibu yang melahirkan anaknya. objektif-tidaknya suatu penilaian sastra sangat tergantung pada intensi pengarang dalam mewujudkan keorisinalan dan kebaruan penciptaan seninya. Menurut mereka. Pengarang dianggap seorang pencipta yang membayangkan imajinasi kehidupan yang terpilih dan teratur. . jenialitas.Praktek Ekspresivisme Praktik-praktik kritik ekspresif sastra terpusat pada upaya menyelami jiwa pengarang karya sastra tersebut. dan individualitas. Kedudukan pengarang dan karyanya begitu erat. materi dan bahan-bahan penulisan karya sastra tidak terletak di luar diri individu melainkan terkandung dalam diri dan jiwa manusia penciptanya. kreativitas. Benar-tidaknya.

Makna niat merupakan suatu hal yang abstrak. Apabila makna sebuah puisi sangat bersifat pribadi.Kritik Terhadap Teori Ekspresivisme 1. Jika pengarang mampu menuangkan makna niatnya dalam karyanya. Harus dipertanyakan apa yang dicari dalam hal niat pengarang itu. 2. Sekalipun sebuah karya sastra terwujud berkat adanya niat penulisnya namun niat itu tidak dapat dijadikan norma untuk menilai arti sebuah teks. 3. 5. maka justru makna muatan itu sajalah yang seharusnya dinilai tanpa perlu meneliti apakak pengarang memang berniat demikian. yakri datadata yang dapat menjelaskan pemakaian bahasanya. Jika ukuran keberhasilan karya sastra adalah kesejajaranantara makna niatai pengarang dengan makna muatannya maka syarat-syarat subjektivitas pengarang sesungguhnya sudah dilepaskan. . sehingga mencari-cari makni niat pengarang sungguh-sungguh suatu jalan pikiran yang sesat. Akan tetapi jika penggunaan bahasanya sudah cukup jelas tidak perlulah berkonsultasi kepadt pengarangnya. 4. maka kita boleh menggunakan data biografis pengarangnya dengan sangat hati-hati.

dengan memperkenalkan istilah Liminal Author atau Author on the Threshold (Pengarang Ambang) .Teori Baru Tentang Pengarang • Wayne Booth memperkenalkan istilah Implied Author (penulis yang tersirat atau tersembunyi) dalam bukunya The Rhetoric of Fiction (1963) • Umberto Eco (1992).

memunculkan kesadaran baru untuk mendefinisikan kembali kedudukan dan hubungan antara pengarang. dan antara pembaca dan teks terdapat diskrepansi yang tak mungkin seluruhnya dijelaskan karena ada dimensi-dimensi transendental (ghostly) yang terlihat di dalamnya. ternyata bahwa antara pengarang dan teks. dan karyanya. Ada tahap lain. di mana manusia dipandang sebagai 'hamba sahaya' yang tidak pantas meniru-niru karya cipta Tuhannya. • Refleksi-refleksi lebih lanjut menunjukkan bahwa studi sastra anatomik yang teknis-prosedural dengan mengabaikan faktor manusia. di mana orang memandang manusia sebagai ko-kreator 'Sang Pencipta Agung" yang menggemakan keagungan-Nya Sang Pencipta melalui karya seninya sebagai ekspresi pengalaman estetiknya berhadapan dengan alam (ilahi). .Rangkuman • Pandangan-pandangan teoretis mengenai pengarang memiliki kaitan timbal-balik dengan 'semangat jaman' yang berlaku pada suatu kurun waktu tertentu. Ada fase. Dalam penjelasan Eco.

TEORI-TEORI MIMETIK .

dan dari abad ke abad sangat memengaruhi teori-teori mengenai seni dan sastra di Eropa (Van Luxemburg. . 1986:15). tetapi dia berpendapat bahwa mimesis tidak semata-mata menjiplak kenyataan melainkan juga menciptakan sesuatu yang haru karena 'kenyataan' itu tergantung pula pada sikap kreatif orang dalam memandang kenyataan.TEORI-TEORI MIMETIK Sejarah Pertumbuhan • Pengertian mimesis (Yunani: perwujudan atau peniruan) pertama kali dipergunakan dalam teori-teori tentang seni seperti dikemukakan Plato (428-348) dan Aristoteles (384322). • Aristoteles juga mengambil teori mimesis Plato yakni seni menggambarkan kenyataan.

dan lingkungan (milieu) . yakni ras. Humanisme Renaissance sudah berupaya mengbilangkan perdehatan prinsipial antara sastra modern dan sastra kuno dengan menggariskan paham bahwa masing-masing kesusastraan itu merupakan ciptaan unik yang memiliki pembayangan historis dalam jamannya. • Hippolyte Taine (1766-1817) merumuskan sebuah pendekatan sosiologi sastra yang sepenuhnya ilmiah dengan menggunakan metode-metode seperti yang digunakan dalam ilmu alam dan pasti.• Levin (1973:56-60) mengungkapkan bahwa konsep 'mimesis' itu mulai dihidupkan kembali pada zaman humanisme Renaissance dan nasionalisme Romantik. saat (momen). Dalam bukunya History of English Literature (1863) dia menyebutkan bahwa sebuah karya sastra dapat dijelaskan menurut tiga faktor.

intelektual. dan kebudayaan setiap jaman -termasuk seni dan kesusastraan merupakan 'ideologi-ideologi' dan 'suprastruktur-suprastruktur' yang berkaitan secara dialektikal. 1981:178).Teori Sastra Marxis Marxis biasanya mendasarkan teorinya pada doktrin Manifesto Komunis (1848) yang diberikan oleh Karl Marx dan Friedrich Engels. khusunya terhadap pernyataan bahwa perkembangan evolusi historis manusia dan institusi-institusinya ditentukan oleh perubahan mendasar dalam produksi ekonomi. dan dibentuk atau merupakan akibat dari struktur dan perjuangan kelas dalam jamannya (Abrams. yang dalam setiap jaman selalu bersaing demi kedudukan sosial ekonomi dan status politik. . Peruhanan itu mengakibatkan perombakan dalam struktur kelas-kelas ekonomi. Kehidupan agama.

sastra dan semua gejala kebudayaan lainnya mencerminkan pola hubungan ekonomi karena sastra terikat akan kelas-kelas yang ada di dalam masyarakatnya. . Oleh karena itu. Menurut Lenin. seorang tokoh yang dipandang sebagai peletak dasar bagi kritik sastra Marxis.Bagi Marx. sastra (dan seni pada umumnya) merupakan suatu sarana penting dan strategis dalam perjuangan proletariat melawan kapitalisme. 1986:24-25). karya sastra hanya dapat dimengerti jika dikaitkan dengan hubungan-hubungan tersebut (Van Luxemburg.

dan lebih dinamik" yang mungkin melampaui pemahaman umum. berarti menyusun sebuah struktur mental. • Lukacs menegaskan pandangan tentang karya realisme yang sungguhsungguh sebagai karya yang memberikan perasaan artistik yang bersumber dari imajinasi-imajinasi yang diberikannya. Penulis tidak memberikan gambaran dunia abstrak melainkan kekayaan imajinasi dan kompleksitas kehidupan untuk dihayati untuk membentuk sebuah tatanan masyarakat yang ideal. Sebuah novel tidak hanya mencerminkan 'realitas' tetapi lebih dari itu memberikan kepada kita "sebuah refleksi realitas yang lebih besar. 1979:31). . lebih lengkap. Lukacs mempergunakan istilah "cermin" sebagai ciri khas dalam keseluruhan karyanya.George Lukacs: Sastra Sebagai Cermin • George Lukacs adalah seorang kritikus Marxis terkemuka yang berasal dari Hungaria dan menulis dalam bahasa Jerman (Damono. lebih hidup. Imajinasiimajinasi itu memiliki totalitas intensif yang sesuai dengan totalitas ekstensif dunia. Mencerminkan menurut dia.

Bertold Brecht: Efek Alienasi
• Bertold Brecht adalah seorang dramawan Jerman yang terbakar jiwanya ketika membaca buku Marx sekitar tahun 1926. Dramadramanya bersifat radikal, anarkistik, dan anti borjuis. • Menurut Brecht, dramawan bendaknya menghindari alur yang dihuhungkan secara lancar dengan makna dan nilai-nilai universal yang pasti. Fakta-fakta ketidakadilan dan ketidakwajaran perlu dihadirkan untuk mengejutkan dan mengagetkan penonton. Penonton jangan ditidurkan dengan ilusi-ilusi palsu. Para pelaku tidak harus menghilangkan personalitas dirinya untuk mendorong identifikasi penonton atas tokoh-tokoh pahlawannya. Mereka harus mampu menimbulkan efek alienasi (keterasingan). Pemain bukan berfungsi menunjukkan melainkan mengungkapkan secara spontan individualitasnya (Selden, 1991:30-32).

Aliran Frankfurt
Seni dan kesusastraan mendapat perhatian istimewa dalam teori sosiologi Frankfurt, karena inilah satu-satunya wilayah di mana dominasi totaliter dapat ditentang. Adorno mengkritik pandangan Lukacs bahwa sastra berbeda dari pemikiran, tidak mempunyai hubungan yang langsung dengan realitas. Keterpisahan itu, menurut Adorno, justru memberi kekuatan kepada seni untuk mengkritik dan menegasi realitas, seperti yang ditunjukkan oleh seni-seni Avant Garde. Seni-seni populer sudah bersekongkol dengan sistem ekonomi yang membentuknya, sehingga tidak mampu mengambil jarak dengan realitas yang sudah dimanipulasi oleh sistem sosial yang ada. Mereka memandang sistem sosial sebagai sebuah totalitas yang di dalamnya semua aspek mencerminkan esensi yang sama (masyarakat satu dimensi).

Teori-Teori Neomarxisme
Neomarxisme lebih bersifat epistemologis daripada politis. Mereka menganut paham "metode dialektik". •Metode dialektika dapat memberikan suatu pemahaman mengenai totalitas masyarakat'. •Metode dialektik berorientasi pada hubungan antara konkretisasi sejarah umum dan sejarah individual. •Aspek teleologikal itu tergantung kepada perbedaan antara hukum kebenaran yang tampak dan kebenaran esensial. •Perlu diperhatikan perbedaan antara teori dan praktik, antara objek bahasa dan metabahasa, dan antara fakta-fakta hasil observasi dengan nilainilai yang dilekatkan pada fakta itu.

Asumsi epistemologis mereka adalah bahwa sastra menyimpan sejarahnya yang sebenarnya dan menjadi tugas studi sastra untuk mendefinisikannya secara jelas.Rangkuman • Teori-teori sosiologi sastra mempersoalkan kaitan antara karya sastra dan 'kenyataan'. dan hubungan ekonomi suatu masyarakat. Teori inilah yang paling tua usianya dalam sejarah kritik sastra. yang memandang seni (sastra) sebagai 'alat perjuangan politik' terlalu menekankan aspek pragmatis sastra dan dalam banyak hal mengabaikan struktur karya sastra. • Pemikir-pemikir Neomarxis memanfaatkan filsafat dialektika materialisme Marx untuk mendefinisikan aspek ideologi. • Karya sastra dalam taraf tertentu merupakan ekspresi masyarakat dan bagian dari suatu masyarakat. Teori-teori Marxisme. . Teori yang sudah dirintis oleh filsafat Plato (Abad 4-3 SM) tentang 'mimesis' itu baru mulai dikembangkan pada abad 17-18 — yakni zaman positivisme ilmiah — oleh Hippolite Taine dan berkembang pesat pada awal abad ke-19 dengan dicanangkannya doktrin Manifesto Komunis oleh Marx dan Engels. politik.

TEORI-TEORI RESEPSI SASTRA .

Teori ini menggeser fokus penelitian dari struktur teks ke arah penerimaan (Latin: recipere. . menerima) atau penikmatan pembaca.Pengantar Teori Resepsi merupakan salah satu aliran dalam penelitian sastra yang terutama dikembangkan oleh mazhab Konstanz tahun 1960-an di Jerman.

interpretasi. sebagaimana teori tanggapan pembaca lainnya. Hans Robert Jauss: Horison Harapan . Minat utamanya bukan pada tanggapan seorang pembaca tertentu pada suatu waktu tertentu melainkan pada perubahan-perubahan tanggapan.Fokus perhatiannya. dan evaluasi pembaca umum terhadap teks yang sama atau teks-teks yang berbeda dalam kurun waktu berbeda (Abrams. adalah penerimaan sebuah teks. 1981:155).

Secara ringkas ketujuh tesis Jauss diuraikan di bawah ini. 2. Karya sastra ibarat orkestra: selalu memberikan kesempatan kepada pembaca untuk menghadirkan resonansi yang baru yang membebaskan teks itu dari belenggu bahasa. 1. dan dari pemahaman mengenai oposisi antara bahasa puitis dan bahasa seharihari. seperti anggapan tradisional mengenai objektivitas sejarah sebagai deskripsi yang tertutup. dan tema dalam karya yang sudah diakrabi.Dalam buku Toward an Aesthetic of Reception (1982:20-45). Jauss mengungkapkan tujuh tesis pemikiran teoretisnya. yang meliputi suatu prapemahaman mengenai genre. bentuk. dan menciptakan konteks yang dapat diterima pembaca masa kini. . Karya sastra bukanlah monumen yang mengungkap makna yang satu dan sama. Sistem horison harapan pembaca timbul sebagai akibat adanya momen historis karya sastra. ia sesungguhnya tidak baru secara mutlak seolah-olah hadir dari kekosongan. Sekalipun sebuah karya sastra tampak baru sama sekali.

Teori estetika penerimaan tidak hanya sekedar memahami makna dan bentuk karya sastra menurut pemahaman historis. akan menghasilkan berbagai varian resepsi sesuai dengan semangat jaman yang berbeda. Jika ternyata masih ada jarak estetik antara horison harapan dengan wujud sebuah karya sastra yang baru. 4. Rekonstruksi mengenai horison harapan terhadap karya sastra sejak diciptakan dan disambut pada masa lampau hingga masa kini. . 5. maka proses penerimaan dapat mengubah harapan itu baik melalui penyangkalan terhadap pengalaman estetik yang sudah dikenal. atau melalui kesadaran bahwa sudah muncul suatu pengalaman estetik yang baru.3.

maka seseorang dapat menggunakan perspektif sinkronis untuk menggambarkan persamaan. 7. Tugas sejarah sastra tidak menjadi lengkap hanya dengan menghadirkan sistem-sistem karya sastra secara sinkronis dan diakronis. ataupun hubungan antara sistem seni sejaman dengan sistem seni dalam masa lampau. . Apabila pemahaman dan pemaknaan sebuah karya sastra menurut resepsi historis (jadi dengan analisis diakronis) tidak dapat dilakukan karena adanya perubahan sikap estetik. pertentangan.6. melainkan harus juga dikaitkan dengan sejarah umum. perbedaan.

yang memungkinkan kita membaca teks itu dengan cara tertentu.Wolfgang Iser: Pembaca Implisit Iser lebih memfokuskan perhatiannya kepada hubungan individual antara teks dan pembaca (Wirkungs Estetik. Pembaca yang dimaksud oleh Iser bukanlah pembaca konkret individual. 'Pembaca implisit' merupakan suatu instansi di dalam teks yang memungkinkan terjadinya komunikasi antara teks dan pembacanya. Dengan kata lain. melainkan Implied Reader (pembaca implisit). estetika pengolahan). . pembaca yang diciptakan oleh teks-teks itu sendiri.

ego. dan samar. Jadi makna psikoanalisis merupakan sumber bagi makna-makna lain. semua karya sastra mentransformasikan fantasi-fantasi tak sadar (menurut psikoanalisis) kepada maknamakna kesadaran yang dapat ditemukan dalam interpretasi konvensiaonal. . ambigu.Norman Holland & Simon Lesser: Psikoanalisis Menurut mereka. dan id yang perlu direfleksikan oleh pembaca. Setiap karya sastra memiliki efek-efek superego. Keterlibatan pembaca ke dalam komponen-komponen kejiwaan itu hanya dapat terpenuhi bila karya sastra mengandung aspek-aspek yang kontradiktif. tumpang-tindih. Makna psikoloanalisis haras dicari karena tingkatan makna lain hanyalah manifestasi historis atau sosial.

1991:127). Sekalipun penafsiran itu berbeda-beda tetapi mungkin saja mereka mengikuti satu konvensi penafsiran yang sama (Selden. Jonathan Culler: Konvensi pembacaan . Berbagai variasi penafsiran itu harus dapat dijelaskan oleh teori.Keinginan Culler yang utama adalah menggeser fokus perhatian dari teks kepada pembaca. Culler menyatakan bahwa suatu teori pembacaan harus mengungkap norma dan prosedur yang menuntun pembaca kepada suatu penafsiran. Kita semua tahu bahwa setiap pembaca memiliki penafsiran yang berbeda-beda mengenai sebuah teks yang sama.

Melalui ketujuh tesisnya. Pergeseran orientasi kritik sastra. Teks hanya sebuah pralogik dan logika yang sesungguhnya justru ada pada benak pembacanya. Iser mengkhususkan dirinya pada penerimaan dan pencerapan karya sastra oleh pembaca implisit. yakni kemampuan pembaca mewujudkan konvensi-konvensi sastra dalam suatu jenis sastra tertentu. dari pengarang kepada teks. Jauss meletakkan dasar-dasar resepsi sastra dalam kaitannya dengan sejarah estetika penerimaan. Culler beranggapan bahwa pemahaman karya sastra sangat ditentukan oleh kompetensi sastra. Teori resepsi ini pun segera mendapat perhatian berbagai ahli ilmu sastra. dan dari teks kepada pembaca diilhami oleh pandangan bahwa teks-teks sastra merupakan salah satu gejala yang hanya menjadi aktual jika sudah dibaca dan ditanggapi pembacanya. .Rangkuman Tumbuhnya teori-teori resepsi sastra dipacu juga oleh alam pemikiran filsafat (Fenomenologi) yang berkembang pada masa itu.

Struktural karya sastra Perhatian pertama dicurahkan pada dengan linguistik karya sastra. interpretasi diarahkan ke 2. Pendekatan tekstual. 1. yang tentang aspek 2.Teori Objektif • • • • Strukturalisme Estetika 1. yang baik penulis sebagai pribadi maupun wakil beraksi dan berinteraksi dengan struktur-struktur tersebut dan mengubahnya selama terjadinya interaksi masyarakatnya . Subjek tidak lagi dipahami sebagai melakukan psikologis sang penulis ketika sarana struktur supra-individual yang pasif. Struktural Formalis Dimulai dengan analisis sistemikmengkaji sistem 1. Stilistika 2.dalam Genetik objek itu sendiri psikologis tokoh dan dilanjutkan 3. Struktural Dinamik yaituPendekatan reseptif-pragmatik. Psikologi Sastra2. yang mengkaji aspek 3. 1. yang mengkaji interpretasi ciri-ciri sastra. Pendekatan ekspresif. organisasi internal krya sastra yang dikritik Meneliti terminologi pembaca sebagai penikmat makna secara total sebagai “kesadaran sosial” yaitu aspek psikologis perangkat norma-norma khas yang membedakan satu Memelajarisastra yang terbentuk dari pengaruh sebuah karya sejumlah ciri yang terpercaya untuk kolektivitassastra yang dibacanya sistem dengn sistem lain diimplementasikan oleh karya tertentu yang sebuah karya sastra 3. tetapi sebgai suatu kekuatan proses kreatif yang terproyeksi lewat karyanya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->