P. 1
TUGAS KARMIL

TUGAS KARMIL

|Views: 111|Likes:

More info:

Published by: Jhon Hery Rakutta Sitepu on Jul 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/17/2015

pdf

text

original

qwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwerty uiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasd fghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzx cvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmq BRIMOB DAN REFORMASI POLRI wertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyui opasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfg

hjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxc vbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmq wertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyui opasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfg hjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxc vbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmq wertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyui opasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfg hjklzxcvbnmrtyuiopasdfghjklzxcvbn mqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwert yuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopas
JHON HERY RAKUTTA SITEPU NO.MHS. 7304 SINDIKAT B

yang tidak bisa dilakukan oleh anggota Polri biasa. B. telah difokuskan pada kekhususan penegakan hukum gangguan keamanan tingkat tinggi. proses yang dirasakan terlalu lamban. ketika terintegrasi secara formal dalam tubuh Polri. supremasi hukum. sehingga dianggap tidak ikhlas melakukan perubahan. Sehingga ketika „dipaksa‟ menanggalkan berbagai atribut kemiliteran yang telah melekat sejak tahun 1946. Oleh karena itu. pada dasarnya perubahan-perubahan yang dilaksanakan tidak dapat dilaksanakan secara parsial tetapi secara simultan. Transparansi. Beberapa parameter yang menjadi indikator Polisi Sipil. atau dalam bahasa internal Brimob sebagai penyesuaian dengan agenda Polri menambah beban psikologis di tubuh Brimob sendiri. mengapa Brimob masih menjadi kerikil dari sepatu besar Polri. sehingga akan menghasilkan sinergi yang menjadi percepatan dalam mencapai tujuan yaitu terwujudnya Polisi Sipil. Brimob secara kelembagaan memang sudah menyesuaikan diri dengan apa yang menjadi agenda Polri. Bahkan sebagian kecil masyarakat menganggap bahwa Brimob layak untuk dibubarkan. Di sinilah pangkal kunci. menjunjung tinggi HAM. Permasalahan Polisi Sipil selain sebagai paradigma juga merupakan tujuan dari reformasi itu sendiri. karena paramiliter yang melekat di kesatuan tersebut. akuntabilitas. Hanya saja. Proses perubahan. untuk Brimob sendiri. Sehingga. yakni : Profesional dan proposional. pengaplikasi-an warna militeristiknya juga menjadi satu kesadaran tersendiri. karena menyangkut esprit de corps. Setelah kurang lebih sepuluh tahun berpisah dari TNI. demokrasi. PENDAHULUAN A. agar proses transformasi tersebut dapat dijalankan. keberadaan Brimob sejak kali pertama terbentuk. kesatuan elit di Polri tersebut dianggap sebagai batu sandungan bagi proses penataan kelembagaan di Polri. Oleh karenannya perubahan struktural harus diikuti dengan perubahan instrumental dan kultural. Karena sejatinya. . maka ada semangat penolakan yang sistematik.I. dan sikap protagonis. Polri masih menyisakan permasalahan pada permasalahan penataan kelembagaan dan kultur organisasi. Faktor tersebut banyak orang menuding dengan keberadaan Brigade Mobil (Brimob) Polri. Latar Belakang Permasalahan yang mendasar dalam proses transformasi kelembagaan Polri dari polisi dengan karakter militeristik menjadi polisi sipil adalah adanya faktor berpengaruh yang menghambat proses tersebut.

preventif dan represif saja. Brimob menjadi satuan Polri yang terdepan untuk memadamkan berbagai pemberontakan dan gerakan separatisme bersama TNI. Membangun Polisi/Brimob yang Demokratis Dalam era reformasi yang telah dan sedang dilakukan oleh bangsa Indonesia bertujuan untuk dapat mencapai suatu kehidupan berbangsa. disamping peran dan fungsinya dalam penegakan hukum. Brimob tidak berhenti mengabdikan diri pada Ibu Pertiwi. Berbagai pemberontakan dan gerakan separatisme. LANDASAN TEORI A. tetapi salah satu dari ketiganya tidak dapat dikalahkan secara absolut. Masyarakat madani atau masyarakat sipil menurut Gelner (1995) adalah sebuah masyarakat dengan seperangkat pranata-pranata non-pemerintah yang cukup kuat uintuk menjadi penyeimbang dari kekuasasaan negara dan pada saat yang sama. tapi juga pada peran dan fungsi yang berkaitan dengan wilayah politik. Pada masa Orde Lama ini. yang mengancam keamanan dalam negeri (Kamdagri). 14 November 1946 merupakan respon dari Polri untuk bersama-sama dengan elemen bangsa lainnya mempertahankan kemerdekaan dari upaya Belanda dan sekutunya untuk kembali menjajah Indonesia. Hal ini tercermin dari upaya segenap anggota Brimob dan Polri ketika itu untuk mengintegrasikan diri dan bahu membahu dalam mempertahankan kemerdekaan bersama rakyat dan unsur TNI. Setelah kemerdekaan penuh direngkuh oleh rakyat dan bangsa Indonesia. karena ketiga-tiganya harus dalam keadaan seimbang untuk dapat tercapainya kesejahteraan dan kemajuan masyarakatnya. Apalagi secara eksplisit. Menurut Suparlan (1999) dalam tatanan demokrasi ada tiga unsur yang mendasar yang sakral.Brigade Mobil (Brimob) Polri sejak pembentukannya. dan eksistensi republik ini. masyarakat atau komunitas dan negara. mendorong pemerintah menjalankan peranannya sebagai penjaga perdamaian dan penengah diantara . yaitu : individu. bernegara dan masyarakat sipil (civil society) yang demokratis. Polri juga ikut dalam setiap langkah dan kebijakan dari pemerintah yang menyangkut penjagaan pada eksistensi bangsa dan negara dari rongrongan pihak asing dan upaya pemberontakan dengan dalih menganti ideologi dan dasar negara dengan yang lain. serta bersama-sama dengan TNI terlibat dalam operasi penumpasan gerakan pemberontakan. ternyata peran dan fungsi Polri tidak terbatas pada upaya penegakan hukum. II. ketiga-tiganya selalu berada dalam konflik kepentingan atau selalu dalam proses persaingan untuk saling mengalahkan.

Tindak kejahatan atau kerusuhan dapat merusak atau menghancurkan produktifitas dan dapat menghancurkan masyarakat. nilai-nilai toleransi. serta menjadi pedoman bagi tingkah lakunya. Dalam masyarakat modern tugas polisi adalah menjaga agar jalannya produksi yang menyejahterakan masyarakat tersebut jangan sampai terganggu atau hancur karena tindak kejahatan dan kerusuhan tercakup dalam pengertian menjaga jalannya produktivitas dan tujuan utama dalam upaya menjamin keberadaan manusia dan masyarakatnya yang beradab (Suparlan. pembatasan kekuasaan pemerintah. jaminan hak asasi manusia. Dalam masyarakat sipil yang modern. Masyarakat sipil/madani yang modern dibangun berlandaskan demokrasi yang mencakup prinsip. paragmatisme kerja sama dan mufakat (Suparlan. kekuasaan mayoritas. Mereka yang tidak berproduksi dianggap sebagai beban atau benalu masyarakat. 1999). kemajemukan ekonomi. Persaingan harus melalui aturan-aturan main atau hukum yang adil dan beradab yang berada di bawah pengawasan wasit. polisi dapat dilihat perannya atau berperan sebagai wasit yang adil untuk ditaatinya hukum oleh warga masyarakat. B. proses hukum yang wajar. norma-norma yang berisikan larangan-larangan untuk melakukan suatu tindakan dalam menghadapi suatu lingkungan sosial. serta berisi serangkaian konsep-konsep dan modelmodel pengetahuan mengenai berbagai tindakan dan tingkah laku yang seharusnya . politik. kebudayaan terdiri atas serangkaian nilai-nilai. Kehidupan demokrasi pada dasarnya sebuah kebudayaan konflik yaitu menekankan pada perolehan sesuatu dengan melalui persaingan. secara konstitusional. prinsip kedaulatan rakyat. pemerintahan berdasarkan persetujuan yang diperintah. Sebagai satuan ide." "Sebagai pengetahuan. Pendekatan hubungan antar manusia (the human-relations approach) Menurut Suparlan (2000) "Kebudayaan dapat didefinisikan sebagai suatu keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan dan pengalamannya. dalam kehidupan demokrasi. dan alam. hak-hak minoritas. kebudayaan. setiap masyarakat dituntut untuk berproduksi dan berguna atau setidak-tidaknya dapat menghidupi dirinya sendiri serta dapat saling menghidupi satu sama lain dalam kehidupan bermasyarakat. 1994). kebudayaan adalah suatu satuan ide yang ada dalam kepala manusia dan bukan suatu gejala (yang terdiri atas kelakuan dan hasil kelakuan manusia).berbagai kepentingan utama dalam masyarakat serta mempunyai kemampuan untuk menghalangi atau mencegah negara untuk mendominasi dan mengecilkan peran masyarakat.

Namun hal tersebut secara harfiah dipahami sebagai keengganan Brimob untuk melepas atribut dan kultur militeristik yang telanjur melekat. misalnya pada struktur yang masih mengadopsi struktur militer. baru sebatas permukaan dan parsial saja. etika dan moral dan tugasnya adalah untuk menegakan hukum dan keadilan serta kepentingan umum. dan Brimob pada khususnya dalam mengoperasionalkan peran dan fungsinya sebagai alat keamanan negara. Meski demikian upaya terus dilakukan dengan mengganti motto Brimob. Terlepas dari proses reformasi yang tengah berjalan. Kebudayaan Brimob yang demokratis dapat dibangun melalui adanya atauran-aturan atau pedoman yang secara legal dan formal yang dapat dihayati dan dijadikan kerangka acuan bagi setiap anggota Brimob dalam melaksanakan tugasnya. Dalam membangun Kebudayaan Brimob di era reformasi dalam menuju masyarakat demokratis hendaknya berdasarkan pengetahuan tersebut di atas dan dijadikan landasan pada aturan-aturan dan kebijaksanan.diwujudkan oleh pendukungnya dalam menghadapi suatu lingkungan sosial.dan alam. yang selama ini dianggap sangat militeristik. dari ”Sekali Melangkah Pantang Menyerah. Hal ini dapat dilihat. PEMBAHASAN A. warna militeristik makin kental. bahwa Polri merupakan institusi sipil yang harus mencitrakan dirinya sebagai bagian dari sipil dalam operasionalnya. Kondisi Brimob Sekarang Setelah berpisah dengan TNI hal ini jelas mengubah perwajahan Polri dari sipil ke militer. III. kebudayaan. Bahkan hal tersebut makin menguatkan kultur militeristik yang meresap di satuan Brimob. dengan berbagai atribut yang dikenakannya. Permasalahan yang kemudian muncul adalah. Perubahan ini sangat mempengaruhi kinerja Polri. . Tak terkecuali Brimob. tata hukum . Hal lain yang penting adalah pendidikan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman bagi anggota polri masyarakat sipil (civil society) sebagai landasan demokrasi. Brimob Polri secara harfiah belum benar-benar melakukan reformasi internalnya secara menyeluruh. Brimob yang sejak awal memang kesatuan paramiliter yang merupakan kesatuan khusus Polri makin mengentalkan warna militeristiknya ketika Polri disatukan dengan TNI dengan nama ABRI. meski tidak secara penuh. Disamping hal tersebut juga perlunya kesadaran bagi setiap anggota Brimob bahwa dirinya sebagai pelayan keamanan yang dibiayai oleh rakyatnya untuk menjalankan peran danfungsinya dalam masyarakat.

seperti penyelundupan. hal ini dapat dilihat dengan kasat mata. Karena . (g) pengangkutan barang dan penumpang dengan kendaraan dinas. B. aktivitas ekonomi bayangan (Shadow economic). J. (k) bisnis proteksi operasi perusahaan-perusahaan bermodal besar. Brimob Polri yang bertugas di sejumlah daerah konflik seperti Aceh. filosofi dari motto tersebut sebenarnya lebih beradab dan bernuansa sipil. yang mana ditandai dengan keputusan politik memisahkan Polri dari institusi dan garis komando TNI pada 1 April 1999 dengan adanya Inpres No. Ambon. (e) perburuan dan penyelundupan flora dan fauna langka. Brimob Dan Ciri Perpolisian yang Militeristik Perubahan yang signifikan pada posisi dan peran Polri seiring dengan era reformasi. akan tetapi. Aditjondro menyebutkan ada sekitar dua belas jenis keterlibatan oknum-oknum Polri dan Brimob dalam bisnis kelabu ini di wilayah Poso dan sekitarnya yakni (a) pemerasan secara langsung oleh „oknum‟ berbaju seragam. dari mulai pungli di pos perbatasan (check point). dan (l) perdagangan ilegal senjata api dan amunisi. Bahkan dalam berbagai proses selama tahun 1998 hingga tahun 2005. Kasus yang lebih menarik adalah penyimpangan tugas yang dilakukan Brimob Polri di Poso. Namun kenyataannya kultur polisi sipil belum bergeser jauh antara sebelum reformasi Polri dan setelah reformasi Polri. (f) perdagangan hasil hutan. dan Papua menorehkan tinta negatif bagi upaya untuk menata dan mereformasi satuan khusus di lingkungan Polri tersebut. selama kurun waktu 1998 hingga 2005. (h) bisnis pengawalan. Dalam sebuah tulisan “ Keterlibatan Polisi dalam Pemeliharaan Ketidakamanan di Sulawesi Tengah “ G. (i) pungutan di pos-pos penjagaan. (j) proteksi properti milik pengusaha dan eks-pejabat tertentu. dan lain sebagainya.Sekali Tampil Harus Berhasil” menjadi ”Jiwa Ragaku Demi Kemanusiaan”. (d) bisnis satpam. menyebutkan bahwa Brimob tergoda juga akhirnya melakukan berbagai aktivitas menyimpang. (c) sabung ayam. 2 Tahun 1999 . Di Aceh sepanjang kurun waktu tersebut terjadi berbagai pungli dan tindak kekerasan yang dilakukan oleh personil Brimob. Untuk itu perlu dicarikan solusinya tentang bagaimana strategi mengoptimalisasikan peran dan fungsi Brimob dalam kultur polisi sipil dalam memelihara keamanan dalam negeri (Kamdagri) untuk mewujudkan harapan dan kepercayaan masyarakat. hingga pembekingan aktifitas kriminal. di mana Brimob lebih menampakkan kesan militeristiknya dari pada satuan-satuan lainnya. Bahkan di satuan Brimob. Poso. (b) perlindungan bagi prostitusi terselubung. pada pelaksanaannya memang belum dapat diimplementasikan secara maksimal. perubahan tersebut belum nampak terlihat.

Polisi masih dikelompokkan ke dalam militer. 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia dan UU No. berkelanjutan. tanggal 31 Agustus 1998 mengenai Buku Petunjuk Lapangan tentang Peningkatan Pelayanan Polri dalam Era Reformasi. yang berkaitan juga dengan peran dan posisi TNI dalam peran perbantuannya pada Polri.mendapatkan dukungan publik yang luas. peningkatan kualitas kinerja kepolisian mutlak harus dilakukan secara terus menerus. Pol. Dalam persfektif yang lebih umum. Brimob Polri pun meresponnya dengan mengeluarkan Buku Pedoman Pelaksanaan Opersional dan Pembinaan Brimob Polri sebagai tindak lanjut membangun dan mengembangkan satu kultur organisasi yang seirama dengan satuan-satuan lain di lingkungan Polri. yang menjadi titik lemah Polri dalam merajut kultur polisi sipil dan profesional dalam mewujudkan Keamanan Dalam Negeri (Kamdagri). Kondisi ini menjadi catatan penting dalam evaluasi reformasi sektor keamanan. Tindak lanjut dari keluarnya kedua Tap MPR tersebut adalah dikeluarkannya UU No. Oleh sebab itu. Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) sebagai pucuk pimpinan tertinggi organisasi Polri. yang di dalamnya ditegaskan upaya Polri untuk memperbaiki dan mereposisi Brimob . khusus Polri berada langsung di bawah Presiden. khususnya dalam reformasi perwujudan kultur poisi sipil dengan mengeluarkan Surat Keputusan Kapolri No. dalam hal ini Polri.: Kep/20/IX/2005 tertanggal 7 September 2005 tentang Rencana Strategis Kepolisian Negara Republik Indonesia 20052009. dan harus dilaksanakan secara sungguh-sungguh oleh seluruh jajaran anggota Polri. Maka menjadi polisi sipil adalah mendekonstruksi pekerjaan polisi menjadi suatu kekuatan publik yang sejauh mungkin mengambil jarak dari ”suatu force yang berbasis power”. 3 Tahun 2002 Tentang Pertahanan Negara. Langkah tersebut dilakukan dengan menerbitkan Surat Keputusan Kapolri No. sehingga perlu kembali ditegaskan tentang pentingnya mempercepat proses reformasi di internal Brimob. Pol : Skep/1320/VIII/1998. telah melakukan terobosan untuk menjawab tuntutan reformasi. maka keputusan tersebut ditetapkan dalam Tap MPR/VI/2000 tentang pemisahan ABRI (TNI dan Polri) serta Tap MPR/VII/2000 tentang peran kedua lembaga tersebut dengan menempatkan TNI di bawah Departemen Pertahanan. Jadi sesungguhnya sudah sangat jelas bahwa Brimob Polri mencoba mempertegas jati dirinya sebagai bagian integral dari Polri sebagai bagian untuk mendorong terciptanya tata pemerintahan yang baik (good governance). masih memikul citra ”having force and power”. Polisi masih dikategorikan militer karena sama dengan militer. sehingga yang disebut orang sipil adalah mereka yang bukan militer dan juga bukan polisi.

cenderung kesulitan melakukan pengerahan. Kedua. Pol: Skep/94/X/2005 tentang Buku Pedoman Pelaksanaan Penerapan Perpolisian Masyarakat bagi Personil Brimob Polri. Meski kekuatan Brimob Polri tidak terpusat. akan tetapi berbeda fungsi dengan militer. hingga saat ini belum mampu diterapkan oleh Brimob Polri.Polri sebagai satuan khusus polisi profesional dengan daya tangkal tinggi. Kemampuan menetralisir ancaman kekerasan terhadap masyarakat Memantapkan fungsi Brimob Polri dalam melawan insurgensi (separatisme) dengan cara bekerja sama dengan TNI c. Kapolres setempat. Sekedar gambaran. d. serta atributnya tetap digunakan. keluarnya Surat Keputusan Kakorbrimob Polri No. Contoh kasus yang paling mudah ditemukana adalah masih maraknya pendekatan kekerasan yang dilakukan oleh oknum Brimob di lapangan. Ada beberapa penekanan yang menjadi titik krusial dan evaluasi bagi posisi Brimob dalam menopang reformasi Polri. namun dalam melakukan mobilisasi dan pengerahan masih tetap membutuhkan komando dari Mabes Polri. Ketiga. meski berupaya menanggalkan struktur organisasi dan kultur militeristik. Hal tersebut diperlukan bagi terwujudnya: a. namun realitas yang harus di lapangan justru sebaliknya. akan tetapi sepanjang delapan tahun Reformasi Polri bergulir. atau setidaknya Kakorbrimob. b. . Memberikan pengalaman magang dan pelatihan khusus berorientasi sipil yang berbeda sama sekali dengan militer. langkah tersebut tidak sepenuhnya berhasil. yakni: Pertama. Menerapkan proses rekrutmen dan seleksi Brimob yang lebih ketat dibandingkan polisi reguler/tugas umum.selain masalah perwatakan yang berlawanan. juga dikarenakan karakteristik pembentukan Brimob yang disiapkan menjadi personil pemukul. secara kultur Brimob masih enggan menanggalkan baju dan kultur militernya. di mana Brimob yang di-BKO-kan cenderung kurang sensitif dalam pengembangan tali komandonya dibandingkan dengan chain of command yang telah dibangun di masing-masing satuan brimob Polda. Justru hanya penamaannya saja diganti. namun efek positifnya masih belum nampak. atau kesatuannya langsung. Sekedar contoh dalam pengerahan personil BKO Brimob. Terlepas dari berbagai kebijakan yang telah dibuat dan didukung agar Brimob Polri dapat mempertegas posisi Polri sebagai polisi sipil. karena tali komando tidak berada di tangannya sebagai penguasa kesatuan Operasional Dasar (KOD). melainkan pimpinan kompi. upaya agar Brimob terintegral dengan agenda reformasi Mabes Polri terus dilakukan. tapi pola tali komando. Alhasil. Hal ini sebenarnya relatif menyulitkan ketika terjadi di lapangan.

Sebab cepat atau lambat. Sehingga ketika yang muncul adalah semangat paramiliter. rekruitmen personil Brimob Polri masih bersandar pada pola lama. dan kerusuhan massa. sebagai salah satu prasyarat dari polisi sipil. karena terjadi kegamangan di internal Brimob Polri sendiri. Pendekatan kekerasan masih dipraktikkan dalam berbagai permasalahan yang melibatkan Brimob. atau melawan arus dari perubahan tersebut. Ketujuh. bukan semata-mata karena minat.Keempat. maka langkah dan upaya untuk menegaskan proses reformasi Brimob menjadi bagian yang tidak bisa ditunda lagi. Upaya pengembangan keterampilan dan keahlian personil Brimob masih sebatas pada keahlian profesional. hal tersebut merupakan bagian dari pola lama yang termanifes. meski telah didapat dalam keterampilan kepolisian dasar. yakni perekrutan dari jalur Akpol dan SPN. perubahan internal yang dilakukan pengkajian secara terus menerus terhadap sistem dan metode oleh lingkungan Brimob Polri. belum memberikan kontribusi yang efektif. dan kepolisian demokratik. seperti pada bentrok massa dan petugas Polri dan Brimob di unjuk rasa pembebasan lahan untuk pembangunan lapangan terbang di Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. maka sejatinya Brimob tengah menggali kuburan bagi Polri. keterampilan tersebut menyurut. Kedelapan. apakah mengikuti arus perubahan dengan mengarahkan perubahan sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat. maka tidak bisa dipungkiri. Hal ini menunjukkan perekrutan terbatas pada penjaringan yang telah ada. Kelima. Brimob Polri akan mengikuti arus. Hal ini disebabkan karena posisi Brimob Polri yang sangat strategis dalam keluarga besar Polri. Keenam. Hasilnya tidak bisa diukur menjadi suatu penilaian yang bisa dipertanggung jawabkan. ekslusivitas personil Brimob di antara satuan Polri yang lainnya. belum keahlian pada penekanan untuk membangun interpersonal. serta . Selain itu masih ada kebijakan pimpinan Polri berupa memindahkan/memutasi anggota polisi tugas umum yang melakukan pelanggaran ke satuan Brimob. atau tetap bertahan dengan menjaga tradisi yang telah dibangun lebih dari 60 tahun lalu. Dari delapan permasalahan tersebut. namun ketika terintegral dalam kesatuan Brimob. Keahlian ini. Bahkan dalam upaya penegakan hukum di wilayah konflik ataupun ancaman keamanan dengan intensitas tinggi. dan berganti menjadi keterampilan dalam penegakan hukum pendekatan preventif dan represif. Watak militeristik masih nampak dalam proses menjalankan fungsinya. prilaku anggota Brimob di lapangan masih belum mencitrakan polisi sipil yang diharapkan oleh masyarakat. Dengan melawan arus. tapi penunjukkan atasan atau hanya karena surat perintah/sprint. seperti di daerah konflik.

Aspek ini berbeda dengan kedua aspek lain yang hanya terbatas pada perubahan peranti lunak dan peranti keras. Meskipun pelatihan dan pola kerja serta tuntutan tugas mirip dengan militer.Polri sebagai organisasi induk Brimob akan terus mendapatkan kritik dan hujatan dari masyarakat. Yang menyangkut aspek struktural adalah faktor individu atau manusia. yang belum puas dengan performa Polri. bukan pada pribadi atau pimpinan. Dari ketiga aspek tersebut yang akan lebih memperlihatkan adanya perubahan yaitu aspek struktural. Wenas yaitu barang siapa yang tidak mengikuti perubahan maka dia akan tergilas oleh perubahan itu sendiri. Mengutip dari kalimat mantan Kakorbrimob Irjen (purn) S. Untuk itu konsep perpolisian masyarakat dalam rangka reformasi Polri yang sudah digulirkan harus di implementasikan kedalam segenap bagian Korps Brimob Polri. . instrumental dan kultural.Y. itu adalah yang harus dipahami oleh setiap anggota Brimob. Menghindari dan menghilangkan sifat kebanggan korps yang berlebihan dan arogan pada setiap perilaku anggota Brimob Polri dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat maupun saat melaksanakan tugas. Brimob dan Civilian Policing Dalam melakukan reformasi Polri perubahan terutama dibagi dalam tiga aspek yaitu. selepas berpisah dari TNI sebelas tahun lalu. C. Brimob itu adalah polisi dan bagian dari Polri. Yang diharapkan dari perubahan aspek kultural terhadap anggota Brimob antara lain : • • Adanya perubahan yang signifikan dari perilaku anggota Brimob Polri yang militeristik menjadi anggota Brimob Polri yang berstatus sipil. aspek struktural. • Mengimplementasikan penggunaan program yang komprehensif dan tepat dalam rangka memupuk loyalitas setiap personil Brimob Polri kepada misi organisasi.

Pembangunan kultur ini dapat dilakukan dengan melakukan interaksi dengan kesatuan lain di lingkungan Polri. dan kekhasan. . Meski status Brimob sudah langsung di bawah Polri. minat dan bakat. PENUTUP A. yang terintegral dalam berbagai aktivitas Brimob yang harus merujuk kepada nilai-nilai demokrasi. bukan berarti Brimob telah tuntas dalam melaksanakan penataan internal. sebagai polisi sipil yang profesional. baik perundang-undangan maupun Surat Keputusan (SK) agar terjadi transformasi pemahaman di antara personil Brimob Polri. menjunjung tinggi HAM. psikologi sosial. Ketiga. menginternalisasi nilai-nilai democratic policing. Langkah ini sebenarnya yang paling mungkin dilakukan di tengah keterbatasan anggaran Polri. didasari juga karena hasil analisis psikologi. dan lain sebagainya. Akan tetapi kembali ke soal kemauan. membangun kultur polisi sipil. Perbaikan organisasi ini harus juga diupayakan untuk tetap berpatokan pada kepolisian demokratik. melakukan sosialisasi secara efektif berbagai perangkat lunak. Melakukan penataan rekrutmen dan seleksi terhadap calon personil Brimob dengan baik. teknik negoisasi. diharapkan akan terbangun satu paradigma baru tentang kultur polisi sipil. Kelima. yakni: Pertama. Akan lebih baik apabila keputusan untuk diplot ke Brimob Polri. agar terjadi trasnfer pemahaman dan budaya.IV. Dengan pelatihan-pelatihan tersebut. kehumasan. serta kemampuan dasar. Kedua. Berbagai undangundang ataupun peraturan sekelas Surat Keputusanpun jika tingkat sosialisasinya rendah. Melakukan berbagai pelatihan bagi personil Brimob. maka hanya akan memperburuk keadaan. sebagai akibat dari belum banyak berubahnya kultur di Brimob. Hal ini juga diharapkan mampu mencairkan kebuntuan komunikasi antara personil Brimob dengan satuan lain. di luar kemampuan utamanya. Keempat. Justru Brimob menjadi satu bagian yang disorot. perbaikan struktur organisasi Brimob yang tetap bersandar pada profesionalisme. Langkah ini guna mengimbangi kultur militeristik yang telanjur mengakar. yang terkait dengan perpolisian masyarakat. yang semuanya harus terukur. komunikasi sosial. Keenam. Saran Dalam meneruskan semangat reformasi ada beberapa agenda yang harus diperhatikan untuk menuju reformasi Polri mewujudkan Brimob Polri. menegakkan supremasi hukum.

mengembangkan pendekatan pre-emtif dan preventif. yang mengacu kepada pasukan polisi para militer di era Jepang dan Belanda. Hanya saja perlu suatu penekanan bahwa salah satu konsekuensi logis dari pemisahan Polri dari TNI adalah membangun paradigma baru yang sama sekali berbeda dan jauh dari watak dan kultur militeristik di Polri. Karena kita masih ingin melihat dan memiliki satuan khusus di Polri yang dapat menjadi kebanggan masyarakat. Cepat atau lambat Brimob harus mampu mengembangkan suatu paradigma berpikir. dengan tetap berada di koridor civilian policing. butuh suatu proses yang lebih lama untuk dapat menempatkan Brimob dalam lokomotif polisi sipil yang tengah diusung oleh Polri. Hal ini perlu dipertegas karena dalam banyak kasus. . Sebab. Hal ini disadari karena proses terbentuknya Brimob Polri tidak terlepas dari tujuan awalnya. Brimob juga tidak hanya melakukan penegakkan hukum dan represif. dengan membenamkan kaki Polri pada kultur polisi sipil dan civilian policing. B. kondisi ini memang kurang menguntungkan bagi Polri dan Brimob secara organisasi.Ketujuh. maka cepat atau lambat Brimob akan menjadi bagian dari musuh masyarakat. Artinya. serta operasionali di lapangan. apabila Brimob tetap bertahan dengan kultur lama dan enggan melakukan perubahan. tapi juga pencegahan dan rehabilitasi terhadap lokasi atau wilayah pasca konflik. selain pendekatan penegakkan hukum dan reprrsif. Kesimpulan Dari tulisan yang di uraiakan di atas dapat disimpulkan bahwa Reformasi Brimob Polri masih belum mampu menopang lokomotif besar Polri. dan Brimob yang ada di dalamnya benar-benar mencerminkan perwatakan polisi sipil. yakni sebagai pasukan paramiliter di tubuh kepolisian. yang menginginkan agar Polri. di mana kontrol aktif masyarakat dapat dilakukan. yang mencerminkan suatu perwatakan dari polisi sipil. karena proses internalisasi polisi sipil atau civilian policing belum tuntas.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->