BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Sistem Produksi Sistem adalah bagian atau elemen dari organisasi atau intuisi yang saling

berhubungan dan bekerja sama untuk mencapai tujuan. Produksi adalah proses pengolahan mulai dari raw material, work in process sampai finished good product yang mempunyai nilai tambah. Sistem produksi adalah kegiatan mengubah input menjadi output yang memberikan nilai tambah dimana output yang dihasilkan diharapkan bermutu baik, harga murah, jumlah tepat, waktu penyerahan tepat, dan beberapa produk perlu adanya fleksibilitas (kemudian untuk digambarkan dan bisa multi fungsi). Sistem produksi dan merupakan fungsional. sistem Dalam integral sistem yang mempunyai modern

komponen struktural

produksi

terjadi suatu proses transformasi nilai tambah yang mengubah input menjadi output yang dapat dijual dengan harga kompetitif di pasar. Proses transformasi nilai tambah dari input menjadi output dalam sistem produksi modern selalu melibatkan komponen struktural dan fungsional. Sistem produksi memiliki beberapa karakteristik berikut:
1. Mempunyai

komponen-komponen

atau

elemen-elemen

yang

saling

berkaitan satu sama lain dan membentuk satu kesatuan yang utuh. Hal ini berkaitan dengan komponen struktural yang membangun sistem produksi itu.

2. Mempunyai tujuan yang mendasari keberadaannya, yaitu menghasilkan produk (barang atau jasa) berkualitas yang dapat dijual dengan harga kompetitif di pasar. 3. Mempunyai aktivitas berupa proses transformasi nilai tambah input menjadi output secara efektif dan efisien. 4. Mempunyai mekanisme yang mengendalikan pengoperasiannya,

berupa optimalisasi pengalokasian sumber-sumber daya. Sistem produksi memiliki komponen atau elemen struktural dan fungsional yang berperan penting dalam menunjang kontinuitas operasional sistem

produksi itu. Komponen atau elemen struktural yang membentuk sistem produksi terdiri dari: bahan (material), mesin dan peralatan, tenaga kerja, modal, energi, informasi, tanah, dan lain-lain. Sedangkan komponen atau elemen fungsional terdiri dari: supervisi, perencanaan, pengendalian, koordinasi, dan kepemimpinan, yang kesemuanya berkaitan dengan manajemen dan organisasi. Suatu sistem

produksi selalu berada dalam lingkungan, sehingga aspek-aspek lingkungan, seperti perkembangan teknologi, sosial dan ekonomi, serta kebijakan

pemerintah akan sangat mempengaruhi keberadaan sistem produksi itu. Sistem produksi menghasilkan nilai tambah yang maksimal maka faktor – faktor yang terlibat dalam proses produksi harus dikelolah / diatur agar sistem produksi berlangsung secara efektif dan efisien (Teguh Baroto, 2002). Sistem produksi untuk melaksanakan fungsi – fungsi produksi dengan baik, maka diperlukan rangkaian kegiatan yang akan membentuk suatu sistem produksi.

Tenaga Kerja Material Mesin Modal Energy Tanah

PROSES TRANSFORM ASI NILAI TAMBAH

INPUT

PROSES
Umpan balik untuk pengendalian input, proses, dan teknologi

OUTPUT

PRODUK (Barang/ Jasa)

Gambar 2.1 Skema Sistem Produksi

Secara skematis sederhana, sistem produksi dapat digambarkan seperti dalam Gambar 2.1. Dari Gambar 2.1 tampak bahwa elemen-elemen utama dalam sistem produksi adalah input, proses dan output, serta adanya suatu

mekanisme umpan balik untuk pengendalian sistem produksi itu agar mampu meningkatkan perbaikan terus-menerus (continuos improvement). Sistem produksi merupakan kesimpulan dari subsistem – subsistem yang saling berinteraksi dengan tujuan mentransformasi input produksi menjadi output produksi. Input produksi ini dapat berupa bahan baku, mesin, tenaga kerja, modal, dan informasi. Sedangkan output produksi merupakan produk yang dihasilkan. Berikut hasil sampingannya seperti limbah, informasi, dan sebagainya (Arman Hakim Nasution, 1999). Beberapa contoh sistem produksi dapat dilihat dalam Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Contoh Sistem Produksi Jasa dan Manufaktur

Suatu proses dalam sistem produksi dapat didefinisikan sebagai integrasi sekuensial dari tenaga kerja, material, informasi, metode kerja, dan mesin atau peralatan, dalam suatu lingkungan, guna menghasilkan nilai tambah bagi produk, agar dapat dijual dengan harga kompetitif di pasar. Proses itu mengkonversi input terukur ke dalam output terukur melalui sejumlah langkah sekuensial yang terorganisasi.

2.1.1

Konsep Dasar Proses Produksi Proses produksi telah dinyatakan dalam berbagai istilah berbeda.

Perusahaan pada umumnya menamakan departemen yang melaksanakan kegiatan proses produksi ini dengan istilah Departemen Produksi, Departemen Pengawasan Produksi atau Departemen Pencanaan, dan Pengawasan Produksi. Proses adalah

cara, metode maupun teknik untuk menyelenggarakan atau pelaksanaan dari suatu hal tertentu. Sedangkan produksi diartikan sebagai kegiatan yang dapat

menimbulkan tambahan, manfaat, atau penciptaan faedah baru. Faedah atau manfaat ini terdiri dari beberapa macam, misalnya faedah bentuk, faedah waktu, faedah tempat, serta kombinasi dari faedah – faedah tersebut. Apabila terdapat suatu kegiatan yang dapat menimbulkan manfaat baru atau mengadakan penambahan dari manfaat yang sudah ada maka kegiatan tersebut akan disebut sebagai kegiatan produksi. (Assauri,1993). Proses produksi diartikan sebagai cara, metode maupun teknik untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu produk dengan mengoptimalkan sumber daya produksi ( tenaga kerja , mesin , bahan baku , dana ) yang ada. (Assauri,1993). Perusahaan manufaktur (membuat barang) bila dipandang sebagai sistem, merupakan kumpulan subsistem. Sistem perusahaan secara umum terdiri atas subsistem personalia, subsistem manajemen, subsistem akuntansi / keuangan, dan subsistem manufaktur terdiri atas subsistem disain, subsistem jaminan kualitas, subsistem pemasaran, dan subsistem produksi. Sistem / subsistem produksi terdiri atas subsistem proses produksi dan subsistem perencanaan dan pengendalian produksi (PPC). Menurut buku karangan Assauri,1993 . PPC juga disebut proses produksi, maka pengertian proses produksi menjadi dua : 1. Sistem untuk membuat produk (mengolah bahan baku menjadi barang) yang melibatkan fungsi manajemen (yang bersifat abstrak) untuk merencanakan dan mengendalikan proses pembuatan tersebut. 2. Teknik untuk merencanakan dan mengendalikan produksi (bersifat abstrak) dan tidak membahas proses pembuatan produk.

2.1.2. Manajemen Produksi Tujuan dari manajemen produksi yaitu (POAC) Planing, Organizing, Actuating and Controling. Perencanaan sistem produksi bertujuan untuk mendapatkan hasil akhir berupa produk atau jasa yang berkualitas, Perusahaan dapat mengefisiensikan biaya produksi dan mengefektifkan waktu kerja.

2.1.3. Fungsi Produksi dan operasi Manajemen produksi dan operasi harus mampu membina dan

mengendalikan arus masukan (input) dan keluaran (output), serta mengelola penggunaan sumberdaya yang dimiliki agar kegiatan serta fungsi produksi dan operasi dapat lebih efektif. Manajemen harus mampu mengendalikan sumber daya yang sangat terbatas. (Assauri sofyan.1980 :101 manajemen produksi dan operasi). Tiga pengertian penting dalam mendukung pelaksanaan manajemen produksi dan operasi (Assauri sofyan.1980 :102 manajemen produksi dan operasi) yaitu : 1. Fungsi produksi dan operasi sebagai salah satu fungsi organisasi

perusahaan yang merupakan fungsi bisnis. 2. Sistem produksi dan operasi tidak dapat terlepas dari sistem secara

keseluruhan dalam perusahaan , dimana terkait dengan bidang – bidang fungsi lain diluar produksi dan operasi. 3. Unsur penting dalam manajemen produksi dan operasi adalah

pengambilan keputusan maka penekanan utama dalam pembahasan produksi dan operasi adalah suatu proses pengambilan keputusan.

Fungsi produksi dan operasi menurut (Assauri sofyan.1980 : 105 manajemen produksi dan operasi):

1.

Proses pengolahan merupakan metode atau teknik yang digunakan dalam mengolah input.

2.

Jasa – jasa penunjang berupa pengorganisasian untuk penetapan teknik serta proses pengolahan yang dilaksanakan.

3.

Perencanaan merupakan penetapan keterkaitan dan pengorganisasian dari kegiatan produksi dan operasi.

4.

Pengendalian dan pengawasan merupakan fungsi untuk menjamin terlaksananya proses produksi sesuai rencana.

2.1.4. Jenis dan karakteristik sistem manufaktur. 1. Sistem berdasarkan proses: Sistem produksi untuk produk – produk khusus harus fleksibel. Sistem ini harus mampu berproduksi menurut spesifikasi pelanggan atau klien. Sifat permintaan terhadap sistem produksi ini menghasilkan permintaan terputus -putus (intermittetent demand) atas fasilitas sistem dan masing – masing komponen mengalir dari satu proses ke proses berikutnya secara terputus – putus. Process focused system dengan permintaan terputus – putus harus fleksibel sesuai tuntutan produk khusus dan setiap bagian generik dan fasilitasnya digunakan secara terputus – putus sesuai kebutuhan pesanan khusus. 2. Sistem berdasarkan produk :

Permintaan terhadap sistem produksi yang menghasilkan produk standart volume tinggi mengakibatkan penggunaan fasilitas secara kontinue , aliran bahan (material) mungkin kontinue. Sistem kontinue mempunyai fokus produk, permintaan tinggi akan produk standart, proses produksi di inegrasikan dan dimanfaatkan mekanisasi dan otomasi untuk mencapai standarisasi dan biaya rendah.

2.1.6. Jenis – Jenis Proses Produksi Secara umum jenis – jenis produksi diklasifikasikan menjadi 4 jenis, yaitu: 1. Ditinjau dari segi bentuk proses produksi Apabila manajemen perusahaan akan memisahkan jenis proses produksi dari segi bentuk proses maka ini berarti bahwa jenis proses produksi dalam perusahaan yang bersangkutan semata – semata mendasarkan diri pada perbedaan yang pada umumnya akan dikaitkan pada masalah – masalah umum pada bidang produksi masing – masing perusahaan tersebut. Atas dasar bentuk dari proses produksi tersebut dilaksanakan oleh masing – masing perusahaan yang ada maka proses produksi dapat dibagi menjadi beberapa jenis yaitu : a. Proses Produksi Kimiawi

Suatu proses produksi yang menitikberatkan pada proses analisa atau sintesa serta senyawa kimia. Contoh : perusahaan obat – obatan dan minyak wangi. b. Proses Produksi Perubahan Bentuk

Merupakan proses produksi yang dititikberatkan pada perubahan bentuk dari masukan (input) menjadi keluaran (output). Contoh: perusahaan garmen.

c. Suatu proses produksi

Proses Produksi Assembling yang pelaksanaan proses produksinya lebih

mengutamakan proses penggabungan (assembly) dari komponen - komponen produk dalam perusahaan yang bersangkutan. Contoh: perusahaan yang memproduksi peralatan komunikasi. d. Proses Produksi Transportasi elektronik maupun

Salah satu proses produksi dengan jalan menciptakan jasa pemindahan tempat baik barang maupun orang. Contoh : perusahaan transportasi. e. Proses Produksi Penciptaan Jasa Administrasi

Proses produksi yang memberikan jasa administrasi kepada perusahaan atau lembaga lain yang membutuhkan. Contoh: lembaga - lembaga konsultasi manajemen dan akuntansi. 2. Ditinjau dari arus proses produksi Proses produksi dari bahan baku sampai menjadi produk akhir dalam perusahaan yang bersangkutan disebut juga arus proses produksi. Sedangkan urutan pekerjaan yang dilakukan dalam pelaksanaan produksi dalam perusahaan tersebut, yaitu sejak dari bahan baku, barang dalam proses sampai dengan barang jadi disebut aliran proses. Aliran poses ataupun urutan pelaksanaan produksi dalam peusahaan yang bersangkutan ini sangat perlu diadakan pengamatan dan analisa tertentu guna beberapa kebijaksanaan yang diambil dalam perusahaan yang bersangkutan, antara lain adalah untuk penyusunan letak fasilitas produksi dalam perusahaan tersebut.

Didalam penyusunan letak fasilitas produksi dari masing – masing perusahaan tersebut akan selalu berhubungan erat dengan urutan proses dalam perusahaan, oleh karena itu mau tidak mau mesin – mesin yang perlu digunakan untuk pelaksanaan produksi akan diusahakan untuk diletakan dalam jarak yang dekat apabila frekuensi dari hubungan langsung pelaksanaan proses dari mesin tersebut cukup tinggi. Ditinjau dari segi arus proses produksi ini, perusahaan – perusahan pada umumnya akan dapat dipisahkan menjadi 2 bagian, yaitu : a. Proses Produksi Terus – Menerus

Pada proses kontinyu tidak memerlukan waktu set up lama karena proses ini memproduksi terus menerus untuk jenis produksi yang sama. proses produksi kontinyu (continuous process) bisa disebut juga proses produksi terus menerus. Pada proses produksi terus – menerus ini terdapat pula pola atau urutan yang pasti dan tidak berubah – ubah dalam pelaksanaan produksi dari peusahaan yang bersangkutan. Pola atau urutan pelaksanaan produksi dalam perusahaan ini akan selalu sama antara pelaksanaan produksi pada waktu yang lalu, pada saat sekarang, dan pada saat yang akan datang. b. Proses Produksi Terputus – putus

Proses produksi terputus – putus disebut pula proses produksi intermitten (intermittent process). Dalam pelaksanaan produksi dengan mempergunakan proses semacam ini, akan terdapat beberapa jenis pola atau urutan pelaksanaan dalam perusahaan yang bersangkutan. Proses produksi terputus memerlukan total waktu set up yang lebih lama karena proses ini memproduksi berbagai jenis spesifikasi barang sesuai pesanan,

sehingga adanya pergantian jenis barang yang diproduksi akan membutuhkan kegiatan set up yang berbeda. Pola atau urutan pelaksanaan produksi yang dipergunakan hari ini mungkin akan berbeda dengan pola atau urutan pelaksanaan yang dipergunakan bulan lalu. Demikian pula pola atau urutan pelaksanaan produksi yang dipergunakan saat ini barangkali tidak dipergunakan pada pelaksanaan produksi untuk bulan yang akan datang. Sehubungan dengan penggunaan pola atau urutan pelaksanaan produksi yang berbeda ini, maka produk yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut juga akan berbeda. 3. Ditinjau dari keutamaan proses produksi Untuk keperluan pengawasan proses ini, akan dilakukan pemisahan jenis proses produksi dalam perusahaan yang didasarkan pada keutamaan proses dalam perusahaan. Suatu contoh perusahaan sabun mandi dengan perusahaan percetakan. Hal ini akan terlihat perbedaan kedua macam proses produksi bila dilihat dari segi kompleksitasnya. Atas dasar keutamaan proses ini, proses produksi terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu :
a.

Proses Produksi utama

Proses produksi utama dapat dikatakan inti dari kegiatan produkpi didalaperusahaan. Adapun yang termaquk proses produksi utama adalah proses produksi terus – menerus, proses produksi terputus, proses produksi proses, proses produksi proses yang sama, proses produksi proses khusus serta industri berat. b. Proses produksi bukan utama

Proses produksi sehubungan dengan adanya berbagai kepentingan khusus dalam perusahaan yang bersangkutan. Proses produksi bukan utama merupakan kegiatan penunjang. Yang termasuk kegiatan penunjang antara lain penelitian, percobaan, demonstrasi, dll. Proses produksi utama dapat dikatakan inti dari kegiatan produksi di dalam perusahaan, sedangkan proses produksi bukan utama merupakan kegiatan penunjang. Kelompok proses produksi utama adalah proses produksi terus menerus, proses produksi terputus – putus, proses produksi proses, proses produksi yang sama, proses produksi proses khusus serta industri berat. Sedangkan yang termasuk kegiatan penunjang antara lain adalah penelitian, model, prototype, percobaan, demontrasi, dan lain – lain. 4. Ditinjau dari segi penyelesaian proses produksi Tujuan dari pemisahan jenis ini yaitu mengadakan pengendalian kualitas dari proses produksi didalam perusahaan yang bersangkutan. Maka pada umumnya dapat dibagi menjadi12beberapa jenis, yaitu : a. Proses produksi type A

Suatu type dari proses produksi dimana setiap tahap proses produksi yang dilaksanakan dalam perusahaan dapat diperiksa secara mudah.

b.

Proses produksi type B

Dimana dalam penyelesaian proses produksinya dalam perusahaan yang bersangkutan ak!n terdapat beberapa ketergantungan dari masing – masing

tahap proses produksi, pemeriksaan hanya dapat dilaksanakan pada tahap tertentu saja. c. Proses produksi type C

Yang termasuk dalam kategori C yaitu yang melaksanakan proses produksinya dengan jalan penggabungan atau pemasangan ( assembling ). d. Proses produksi type D

Merupakan proses produksi yang dilaksanakan dalam perusahaan dengan mempergunakan mesin dan peralatan produksi otomatis. e. Proses produksi type E

Merupakan proses produksi dari perusahaan – perusahaan dagang dan jasa.

2.1.7 Perancangan Proses Perancangan proses produksi tergantung pada karakteristik produk keluaran yang ingin dibuat dan pola kebutuhan yang harus dipenuhi. Kriteria penting untuk mengklasifikasikan proses produksi adalah tipe aliran unit pabrik yang bergerak dari satu tahap ke tahap berikutnya. Disini dikenal tiga tipe aliran dasar yaitu : 1. Flow Shop 2. Job Shop 3. Proyek

2.2.1. Flow Shop Untuk pembuatan produk yang memiliki rancangan dasar yang cenderung tetap beberapa waktu lama dan dikehendaki memenuhi mangsa pasar yang besar, maka hal tersebut memerlukan pengaturan proses dalam bentuk flow shop yang

normalnya

akan

bekerja

sebanyak-banyaknya

dan

disimpan

sebagai

stock.Sedangkan definisi produksi berdasarkan tipe flow shop adalah suatu pabrik dimana proses konversi dengan input menjadi output akan terjadi dengan menggambarkan langkah-langkah operasi yang lama dengan peralatan khusus dan biasanya berlangsung dalam posisi tetap selama lintasan produksi diselenggarakan. Satu bentuk ekstrim dari tipe ini adalah proses produksi yang mengalir secara kontinu dimana material akan bergerak mengalir dari satu proses ke proses berikutnya secara konstan. Secara umum tipe flow shop dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu : 1. Continous Flow Shop Proses produksi dikerjakan untuk menghasilkan satu jenis produk. 2. Intermittent Flow Shop Proses produksi dapat diinterupsi secara periodik untuk membuat model produk yang memiliki spesifikasi berbeda tetapi tetap memiliki tata urut proses yang sama.

2.2.2. Job Shop Job shop dapat didefinisikan sebagai proses konversi dimana unit-unit produk yang berasal dari order yang berbeda-beda dibuat mengikuti langkahlangkah yang barbeda dan melalui fasilitas-fasilitas produksi yang dikelompokkan sesuai dengan jenis atau fungsi kerjanya.

2.2.3. Proyek

Proyek15adalah suatu proses kerja yang menghasilkal produk yang aeak kompleks sifatnya hanya dibuat satu kali pada saat tertentu. Di sini akan memerlukan sejumlah kegiatan yang menggunakan sumber-sumber terbatas yang harus dikoordinasikan secara15ketat. Umumnya output dari kegiatan proyek tidak akan berulang pada saat dan lokasi yang sama dalam jangka waktu yang relatif singkat.

2.2

Manajemen Quality Control Sebelum sampai pada Manajemen Kualitas (Quality Qontrol), kita harus

mengetahui apa definisi kualitas itu. Menurut beberapa ahli, definisi kualitas adalah: 1. Philip B. Crosby Kualitas adalah kesesuaian terhadap persyaratan (conformance to requirement of spesification), seperti jam yang tahan air atau sepatu yang tahan lama. Pendekatan Crosby adalah proses top-down. 2. W. Edwards Deming Kualitas adalah pemecahan masalah untuk mencapai penyempurnaan terusmenerus. Pendekatan Deming adalah bottom-up.

3.

Joseph M. Juran Kualitas adalah kesesuaian dengan penggunaan (fitness for use), seperti sepatu yang dirancang untuk olahraga. Pendekatan Juran adalah orientasi pada pemenuhan harapan pelanggan.

4.

Westinghouse Kualitas adalah performa kerja yang dapat memenuhi keinginan customer secara cepat dan tepat. Kualitas menurut ISO 9000:2000 adalah derajat atau tingkat karakteristik

yang melekat pada produk yang mencukupi persyaratan atau keinginan. Secara konvensional Kualitas biasanya menggambarkan karakteristik langsung suatu produk, seperti: penampilan, keandalan, kemudahan penggunaan, estetika, dan sebagainya. Definisi strategik menyatakan bahwa kualitas adalah segala sesuatu yang mampu memenuhi keinginan atau kebutuhan pelanggan. (Gasperz, p.4)

2.2.1 Pengertian Sistem Manajemen Kualitas Menurut Gaspersz (2001), Sistem manajemen kualitas (QMS) merupakan sekumpulan prosedur terdokumentasi dan praktek-praktek standar untuk

manajemen sistem yang bertujuan menjamin kesesuaian dari suatu proses dan produk (barang dan atau jasa) terhadap kebutuhan atau persyaratan tertentu. Kebutuhan atau persyaratan itu ditentukan atau dispesifikasikan oleh pelanggan dan organisasi. Sistem manajemen kualitas mendefinisikan bagaimana organisasi

menerapkan praktek-praktek manajemen kualitas secara konsisten untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan pasar. Terdapat beberapa karakteristik umum dari sistem manajemen kualitas, antara lain sebagai berikut (Gaspersz, 2001, pp.10-11):
1. Sistem manajemen kualitas mencakup suatu lingkup yang luas dari aktivitas-

aktivitas dalam organisasi modern. Kualitas dapat didefinisikan melalui lima pendekatan utama, antara lain sebagai berikut: transcendent quality yaitu suatu

kondisi ideal menuju keunggulan; product based quality yaitu suatu atribut produk yang memenuhi kualitas; user based quality yaitu kesesuaian atau ketepatan dalam penggunaan produk; manufacturing based quality yaitu kesesuaian terhadap persyaratan-persyaratan standar; value based quality yaitu derajat keunggulan pada tingkat harga yang kompetitif.
2. Sistem manajemen kualitas berfokus pada konsistensi dari proses kerja. Hal ini

sering mencakup beberapa tingkat dokumentasi terhadap standar-standar kerja.
3. Sistem manajemen kualitas berlandaskan pada pencegahan kesalahan sehingga

bersifat proaktif, bukan pada deteksi kesalahan yang bersifat reaktif. Patut diakui pula bahwa banyak sistem manajemen kualitas tidak akan efektif sepenuhnya pada pencegahan semata, sehingga sistem manajemen kualitas juga harus berlandaskan pada tindakan korektif terhadap masalah-masalah yang ditemukan. Dalam kaitan dengan hal ini, sistem manajemen kualitas merupakan suatu closed loop system yang mencakup deteksi, umpan balik, dan korelasi. Proporsi terbesar harus diarahkan pada pencegahan kesalahan sejak tahap awal.
4. Sistem manajemen kualitas mencakup elemen-elemen: tujuan (objectives),

pelanggan (customer), hasil-hasil (outputs), proses-proses (processes), masukan-masukan (inputs), pemasok (suppliers), dan pengukuran untuk umpan balik dan umpan maju (measurement for feedback and feedforward).

2.2.2 Tahapan Penerapan Sistem manajemen Kualitas Terdapat beberapa tahapan dalam menerapkan suatu sistem manajemen kualitas, antara lain sebagai berikut (Gaspersz, 2001, pp. 11-17):

1.

Memutuskan untuk mengadopsi suatu standar sistem manajemen mutu yang akan diterapkan.

2. 3.

Menetapkan suatu komitmen pada tingkat pemimpin senior dari organisasi Menetapkan suatu kelompok kerja atau komite pengaruh yang terdiri dari manajer-manajer senior.

4. Menugaskan wakil manajemen (management representative).

5. 6. 7.

Menetapkan tujuan-tujuan kualitas dan implementasi sistem Meninjau ulang sistem manajemen kualitas yang sekarang. Mendefinisikan struktur organisasi dan tanggung jawab.

8. menciptakan kesadaran kualitas (quality awareness) pada semua tingkat dalam

organisasi. 9. Mengembangkan peninjauan ulang dari sistem manajemen kualitas dalam manual kualitas (buku panduan). 10. Menyepakati bahwa fungsi-fungsi dan aktivitas dikendalikan oleh prosedurprosedur. 11. Mendokumentasikan aktivitas terperinci dalam prosedur operasional atau prosedur terperinci. 12. Memperkenalkan dokumentasi. 13. Menetapkan partisipasi karyawan dan pelatihan dalam sistem. 14. Meninjau ulang dan melakukan audit sistem manajemen kualitas.

2.2.3 Metode TAPPI TAPPI (Technical Association of The Pulp and Paper Industry) adalah asosiasi teknis terkemuka untuk pulp di seluruh dunia, kertas, kemasan, dan

industri konversi. Metode Uji TAPPI dan Technical Information Papers (TIPS) menyediakan koleksi paling komprehensif informasi teknis yang handal dalam industri pengolahan kertas. Beberapa jenis TAPPI antara lain: 1. TAPPI 0109DIRT-T Size Estimation Chart (Transparency) Dikembangkan dari dan berdasarkan Bagan Perkiraan Dirt TAPPI,

transparansi ini digunakan untuk mengukur ukuran bintik-bintik, cacat, atau inklusi selama lainnya seperti rentang 0,02-5,00 mm2 dalam tekstil atau plastik. Instruksi kertas dan bahan industri

penggunaan transparansi ini dapat digunakan

diuraikan dalamMetode Uji TAPPI T-564. dalam sejumlah besar aplikasi di

Grafik mana ada

kebutuhan untuk langsung ke

memperkirakanukuran (daerah) dengan

cara perbandingan

disk daerah yang dikenal atau persegi panjang. 2. TAPPI 0109DIRT Dirt Estimation Chart Dirt TAPPI diuji pada film CRR. Kartu diproses pada prosesor cepat-

akses menggunakan kimia CUFD. Setiap kartu yang dihasilkan pada kertas foto melalui bingkai menghubungi dengan integrator cahaya Olite yang sumber cahaya Olite dan yang telah

mengontrol eksposur spesifik

ditentukan untuk akurasi dan konsistensi. Untuk memastikan keakuratan bagan, masing-masing

bagian diukur dengan memeriksa titik-titik dengan kaca pembesar х100 yang memiliki reticle (skala) bertambah di 5/10,000mm. Diagram Buram diguna-kan pada Metode Uji TAPPI T213 T437, dan T537.

3. TAPPI T 564 sp-11 Transparent Chart for the Estimation of Defect Size Ada banyak aplikasi ketika menginginkan atau inklusi di kertas untuk mengukur dan bahan industri

ukuran bintik-bintik, cacat

lainnya seperti tekstil atau plastik. Metode tes dikembangkan dari Bagan Perkiraan Dirt TAPPI untuk menyediakan sarana untuk estimasi ukuran. 4. TAPPI T 213 om-10 Dirt in Pulp - Chart Method Metode disesuaikan dengan estimasi numerik dari kotoran dalam pulp daur ulangdan pulp dalam hal area hitam setara. Hasilnya akan berbeda dari

yang diperoleh TAPPI246 Partikel T Asing di Pulp oleh Light Transmitted, dalam hal itu adalah warna kontras benda asing daripada kekaburannya yang mempengaruhi hasilnya. 5. TAPPI T414 om-04 Internal Tearing Resistance of Paper (Elmendorf-Type Method) Metode ini mengukur gaya tegak lurus terhadap bidang kertas yang dibutuhkan untuk merobek beberapa lapisan melalui jarak tertentu setelah tetesan air menggunakan Elmendorf, jenis perobek kertas diteteskan. Hasil ukur dapat digunakan untuk menghitung resistensi robekan dengan perkiraan satu lembar. Hal ini tidak cocok untuk single ply pengujian robekan. Metode terpisah untuk merobek single-ply akan tersedia. Hal ini tidak cocok untuk menentukan resistensi silang arah robeknya kertas sangat terarah. Bahan-bahan ini dilindungi oleh TAPPI T-496 Cross Tearing Directional Internal Kertas Karton. Untuk

resistensi tepi robekan, dapat melihat di TAPPI T-470. Metode ini disebut metode Finch 6. TAPPI T 810 om-11 Bursting Strength of Corrugated and Solid Fiberboard Metode ini menjelaskan prosedur untuk mengukur kekuatan merobek single-ply dan double-ply bergelombang dalam kisaran 690 kPa (100 psi). untuk 4825 kPa (700 psi) menggunakan instrument yang menggunakan disk berbentuk diafragma. Catatan: permukaan single-ply bergelombang terdiri dari 2 permukaan dengan satu media bergalur. Permukaan double-ply karton bergelombang terdiri dari tiga permukaan dengan dua media bergalur. Spesimen karton dijepit antara dua pelat dengan pembukaan melingkar di ujung-ujungnya. Pelat bawah adalah tetap sedangkan pelat atas memiliki kedalaman disesuaikan tetapi tetap statis selama tes. Sebuah diafragma dapat diperluas melalui pelat yang lebih rendah dengan menggunakan tekanan hidrolik sampai semburan specimen, dengan tekanan hidrolik maksimum. Saat pecah specimen, baru dicatat. Untuk kekuatan pecah kertas, dapat melihat TAPPI T-403 (Kekuatan Pecah Kertas) dan untuk melihat linerboard TAPPI T807 (Kekuatan Pecah Linerbooard). Metode ini tidak berlaku untuk kertas dengan 3 lapisan gelombang.
7. TAPPI T 460 om-11

Air Resistance of Paper (Gurley Method) Metode ini digunakan untuk mengukur hambatan uda-

ra sekitar 6,45 cm persegi (persegi inci) melingkar bidang kertasdiferensial teka

nan 1,22 kPa.Kisaran direkomendasikan instrumen kolom cairan adalah dari 5 sampai 1800 detik per 100 mL perpindahan silinder. Untuk kertas

lebih kedap persyaratan waktu menjadi begitu berlebihan sehingga teknik lain yang lebih baik. Metode ini mengukur volume udara yang melewati benda uji, bersama dengankemungkinan kebocoran udara di permukaan, karena itu tidak cocok untuk kertas ataupaperboards yang tidak dapat aman dijepit sehingga untuk menghindari permukaanyang signifikan dan / atau kebocoran tepi . Untuk metode yang sama untuk mengukur hambatan udara yang tes kertas pada tekanan tinggi (sekitar 3 kPa), dan memiliki resolusi yang lebih tinggi dalam mengukur volume udara yang lebih kecil, udara lihat TAPPI Tpada tekanan

536. Untuk metode

pengukuran performance

sampai 9,85 kPa, dengan menggunakan kedua daerah uji yang lebih kecil dan lebih besar, lihat TAPPI T 547.
8. TAPPI T 815

Coefficient of Static Friction (Slide Angle) of Packaging and Packaging Materials (Including Shipping Sack Papers, Corrugated and Solid Fiberboard) (Inclined Plane Method) Metode ini menentukan koefisien gesekan statis bahan kemasan yang paling dengan mengukur sudut di mana satu permukaan tes mulai meluncur terhadap permukaan laincenderung sebagai tanjakan meningkat dengan yang konstan dan ditentukan. Tes gesekan secara metode ini sering disebut laju

sebagai sutang-

dut slide. Koefisien

numerik setara

dengan

en dari sudut itu. Sebuah

untuk menentukan koefisien pada bidang

horizontal untuk papan lam TAPPI T 816

serat bergelombang dan

padat dijelaskan

da-

"Koefisien Gesekan statis Corrugated

Fiberboard and

Solid (Metode Horisontalpesawat)." Kedua metode memberikan hasil yang pada dasarnya setara dengan metode ini. TAPPI T 548 dan T 549 TAPPI menjelaskan metode hampir sama un-tuk menentukan koefisien gesekan statis tetapi dimaksudkan untuk aplikasi

untuk mencetak dan menulis makalah dan prosedur yang agak berbeda.

2.3

Kertas Kertas adalah kemasan yang pertama ditemukan sebelum plastik dan logam.

Saat ini kemasan kertas masih banyak digunakan dan mampu bersaing dengan kemasan lain seperti plastik dan logam karena harganya yang murah, mudah diperoleh dan penggunaannya yang luas. Selain sebagai kemasan, kertas juga berfungsi sebagai media komunikator dan media cetak. Kelemahan kemasan kertas untuk mengemas bahan pangan adalah sifatnya yang sensitif terhadap air dan mudah dipengaruhi oleh kelembaman udara lingkungan. Sifat-sifat kemasan kertas sangat tergantung pada proses pembuatan dan perlakuan tambahan pada proses pembuatannya. Kemasan kertas dapat berupa kemasan fleksibel atau kemasan kaku. Jenis kemasan ketas yang dapat digunakan sebagai kemasan fleksibel adalah kertas kraft dan kertas tahan lemak (grease proof). Glassin dan kertas lilin (waxed paper) atau kertas yang dibuat dari modifikasi kemasan kertas fleklsibel. Kemasan kertas yang kaku terdapat dalam bentuk karton, kotak, drum, cawan - cawan yang tahan air, yang dapat dibuat dari paper board, kertas laminasi, corrugated board dan berbagai jenis board dari kertas khusus. Wadah kertas biasanya dibungkus lagi

dengan bahan - bahan kemasan lain seperti plastik dan foil logam yang lebih bersifat protektif. Karakteristik kertas didasarkan pada berat atau ketebalannya. Berdasarkan berat maka kertas dapat dinyatakan dalam berat (lb)/3000 ft² atau yang disebut dengan rim. Di USA banyaknya rim standar untuk kertas kemasan adalah 500 lembar dengan ukuran 24 x 36 inchi (61 x 91.5 cm). Di Eropa, Jepang dan negara – negara lainnya ukuran yang lebih umum adalah grammage (gr/m²). Gramatur untuk kertas kemasan berkisar antara 30 g /m² - 150 g/m², (18 lb / rim - 90 lb / rim), sedangkan untuk corrugated board berkisar antara 117 gr/m2 - 300 g/m² (72 lb/rim - 85 lb /rim) (Mimi Nurminah, 2002).

2.3.1 Proses Pembuatan Kertas Bahan baku pembuatan kertas adalah selulosa yang diberi perlakuan kimia, dibilas, dipucatkan, dibentuk menjadi lembaran setelah pressing dan dikeringkan. Kayu terdiri dari 50% selulosa, 30% lignin dan bahan bersifat adhesif di lamella tengah, 20% karbohidrat berupa xylan, resin dan tanin. Jenis kayu dan lembaran akhir kertas yang di inginkan sangat menentukan cara pembuatan kertas. Pada pembuatan kertas dengan bahan baku berupa kayu terlebih dahulu dibuat menjadi pulp (Elisa Julianti, 2007)

2.3.1.1 Proses Pembuatan Pulp Pemisahan serat selulosa dari bahan-bahan bukan serat kayu dan bukan kayu dapa dilakukan dengan berbagai proses, yaitu proses mekanik, proses semikimia dan proses kimia.

a.

Proses Mekanik Kayu gelondongan dihancurkan dengan gilingan batu sambil

menyemprotkan air ke permukaan gilingan batu untuk mengeluarkan bahan yang sudah digiling. Metode ini hanya digunakan untuk jenis kayu lunak yaitu jenis kayu yang berasal dari pohon berdaun jarum. Proses mekamik ini tidak ada bagian kayu yang terbuang. b. Proses Kimia Pada metode ini serpihan kayu dimasukkan ke dalam bahan kimia untuk mengeluarkan lignin dan karbohidrat. Ada 3 proses kimia yang digunakan yaitu : 1. Proses Soda Proses soda ditemukan di Inggris tahun 1851 dan merupakan proses kimia yang tertua. Pada proses soda, bahan kimia yang digunakan untuk melarutkan komponen kayu yang tidak diinginkan adalah soda kaustik (sodium hidroksida) dan soda abu (sodium karbonat). Proses soda digunakan untuk pembuatan pulp dari kayu keras yaitu kayu yang berasal dari pohon yang daunnya lebar, mempunyai panjang serat lebih kecil 0,25 cm.

2. Proses Kraft

Proses Kraft atau proses sulfat menggunakan bahan kimia berupa sodium sulfat sebagai pengganti sodium karbonat. Hasil dari proses kraft adalah pulp kraft yang keras tetapi berwarna coklat dan sulit untuk diputihkan, sedangkan pulp soda berwarna lebih putih dan teksturnya halus. 3. Proses sulfit

Proses sulfit dengan menggunakan bahan kimia berupa larutan kalsium atau magnesium bisulfit dan asam sulfit. Metode ini digunakan untuk kayu lunak dan dihasilkan pulp yang berwarna lebih terang., kekuatannya lebih tinggi dari pulp soda api tidak sekuat pulp kraft (Smook, G.A., 1992) c. Proses Semi Kimia Proses ini merupakan kombinasi cara kimia dan alat - alat mekanis dalam pembuatan pulp kayu. Untuk melunakkan lignin dan karbohidrat yang terikat dengan serat, maka kayu direndam dalam soda kaustik atau sodium sulfi netral. Kemudian digiling dalam piringan penghalus. Metode semi kimia digunakan untuk kayu keras, biaya prosesnya rendah dan pulp yang dihasilkan masih mengandung sebagian besar lignin. Pulp semi kimia digunakan untuk kayu keras, biaya prosesnya rendah dan pulp yang dihasilkan masih mengandung sebagian besar lignin. Pulp semi kimia sukar diputihkan, dan jika terkena sinar matahari akan berwarna kuning. Biasanya digunakan untuk bahan yang membutuhkan kekuatan dan kekakuan seperti media kardus. Kayu yang dijadikan pulp dipotong menjadi potongan yang tipis dan kecil yang disebut dengan chips, dimasak beberapa jam dengan menggunakan alat penghancur yang dioperasikan pada suhu 150 oC dengan tekanan 4-5 atm, pencucian, dilakukan pemutihan (bleaching) dengan

menggunakan kalsium hipoklorit, hidrogen peroksida atau kalsium dioksida. Proses pemutihan dapat menurunkan kekuatan pulp, sehingga perlu diperhatikan hubungan antara derajat putih pulp dan kekuatan kertas yang dihasilkan (Elisa Julianti, 2007), (Smook, G.A., 1992)

2.3.1.2 Pembuatan Kertas Pulp yang mengandung air 96% dan bahan padat 4% dimasukkkan ke dalam alat pengaduk, sehingga terjadi pemisahan antara serat dan fibril yang disebut proses fibrilisasi, yaitu proses pecahnya lapisan kambium yang mengelilingi serat karena serat - serat membesar dan fibril membuka. Pengadukan yang sedikit akan menghasilkan kertas dengan daya serap tinggi dan daya robek tinggi, dan jika pengaduan dilanjutkan maka kertas menjadi lebih padat tapi tapi daya robek menurun. Penambahan bahan perekat seperti resin, pati dan tawas ke dalam alat pengaduk bertujuan untuk meningkatkan daya tahan air dan daya ikat tinta dari kertas sehingga kertas dapat dicetak, serta mempengaruhi sifat adhesive yang berperan dalam pembuatan kemasan. Bahan - bahan lain yang ditambahkan dalam pewarna, bahan untuk kecerahan dan kekakuan, seperti titanium dioksida, sodium silikat, tanah diatom, kasein, lilin, dan kapur. Setelah dari pengaduk, maka campuran pulp dan bahan - bahan tambahan tadi dijernihkan pada refiner jordan, kemudian di bawa ke silinder penyadap yang terdiri dari seperangkat pisau – pisau tertutup rapat berputar dengan cepat bersama - sama memecah serat. Campuran ini kemudian dimasukkan ke dalam headbox untuk dimasukkan pada mesin pembuat kertas dan karton (Elisa Julianti, 2007).

2.3.2 Mesin Pembuat Kertas Mesin pembuat kertas dapat berukuran sama panjang dengan gedung bertingkat tinggi yang menghasilkan kertas dengan lebar 9 meter pada kecepatan 915 m/detik atau 1290 km/hari, atau karton dengan lebar 6 m dengan kecepatan 460 m/det. Mesin yang sering digunakan dalam pembuatan kertas adalah mesin

fourdrinier, mesin silinder dan mesin invertform yang merupakan kombinasi dari endless wire dari fourdnier dengan headbox mesin silinder. Mesin fourdnier digunakan untuk menghasilkan kertas tipis, sedang mesin silinder dapat membuat karton dari bahan limbah yang dilapisi bahan yang bermutu baik bagian luarnya (Elisa Julianti, 2007)

2.3.3 Serat Limbah Padat Sludge Industri Pulp Serat limbah padat sludge yang dikeluarkan oleh industri pulp dan kertas jumlahnya relative sedikit dibandingkan limbah cair dan gasnya. Karakteristiknya limbah padat sangat bervariasi tergantung pada bahan baku, sumber dan produk yang dihasilkan. Dengan mengetahui jenis limbah padat dari sumber dan jenis produk yang dihasilkan akan memberikan gambaran tentang karakteristik limbah padat tersebut. Limbah padat industri pulp kertas berasal dari beberapa unit poses yang umumnya merupakan hasil akhir suatu proses, yang sering menimbulkan masalah berasal dari pengolahan air limbah yang berupa lumpur (sludge). Limbah padat industri pulp dan kertas umumnya berasal dari proses penyaringan bubur pulp (reject screen) dan belt press hasil pengolahan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah). Komposisi limbah serat jenis reject screen sebagian besar (80%) terdiri dari serat panjang, serat sedang, dan serat pendek, sisanya berupa kontaminan berupa plastik, logam, lilin dan lain-lain. Sedangkan limbah serat dari belt press sebagian besar 60% terdiri dari serat sedang, dan serat pendek dan sisanya berupa bahan pengisi dan bahan lainnya ( Ligia Santosa, 2002).

Karakteristik serat limbah padat industri pulp dan kertas sangat bervariasitergantung pada bahan baku dan sumber dan produk yang dihasilkan. Pengelompokkan jenis limbah padat dari sumber dan jenis produk yang dihasilkan akan memberikan gambaran umum karakteristik dari limbah padat melalui parameter. Jenis limbah padat, jumlah limbah padat/ton produk, organik total, , kadar air, kadar abu, nilai kalor, kandungan hara, kandungan logam berat.

Tabel 2.2 Komponen Kimia Sludge Industri Pulp dan Kertas

Hilang pijar seperti pada Tabel 2.1 diatas adalah komponen kimia: serat (fiber) Nitrogen, Phospor. Komposisi kimia limbah padat sudge sangat

dipengaruhi oleh komponen kimia yang terkandung dalam air limbahnya, sludge yang dihasilkan dari berbagai produk pulp dan kertas mempunyai kandungan senyawa organik dan anoganik. Komponen utamanya adalah serat selulosa dan abu yang berkisar antara 5 - 60 %. Dalam sludge biologis terkandung pula unsur nitrogen antara 6 - 10 % dan fosfor 2-5 %. Sedangkan kadar abunya relatif rendah (Ligia Santosa, 2002).

Serat limbah padat sludge hasil pengolahan air limbah industri pulp dan kertas jumlahnya cukup besar bervariasi dari 0,1 - 1,5 per ton produk

tergantung pada jenis poduk yang diproduksi, umumnya tersusun dari zat padat berserat, hidrogen, fine non hidros, Kandungan air dari limbah lumpur

dipekatkan dan di keluarkan sampai mencapai kadar padatan kering, sekitar 20 30 % . (Ligia Santosa, 2002).

2.3.4 Jenis-Jenis Kertas Jenis kertas utama yang digunakan, yaitu kertas kasar dan kertas lunak. Kertas yang digunakan sebagai kemasan adalah jenis kertas kasar, sedangkan kertas halus digunakan untuk kertas tulis yaitu untuk buku dan kertas sampul. Kertas kemasan yang paling kuat adalah kertas kraft dengan warna alami, yang dibuat dari kayu lunak dengan proses sulfat. 1. Kertas Glasin dan Kertas Tahan Minyak (Grease Proof) Glasin dan kertas tahan minyak dibuat dengan cara memperpanjang waktu pengadukan pulp sebelum dimasukkan ke mesin pembuat kertas.

Penambahan bahan - bahan lain seperti plastizier bertujuan untuk menambah kelembutan dan kelenturan kertas, sehingga dapat digunakan untuk mengemas bahan - bahan yang lengket. Penambahan memperlambat ketengikan antioksidan bertujuan untuk

dan menghambat pertumbuhan jamur atau

khamir. Kedua jenis kertas ini mempunyai permukaan seperti gelas dan transparan, mempunyai daya tahan yang tinggi terhadap lemak, oli dan minyak, tidak tahan terhadap air walaupun permukaan dilapisi dengan bahan tahan air seperti lak dan lilin.

2. Kertas Perkamen Kertas perkamen digunakan untuk mengemas bahan pangan seperti: mentega, biskuit yang berkadar lemak tinggi, keju, ikan (basah, kering atau

digoreng), daging (segar, kering, diasap atau dimasak). Sifat - sifat kertas perkamen adalah : mempunyai ketahanan lemak yang baik, mempunyai kekuatan basah (wet strength) yang baik walaupun dalam air mendidih, permukaan bebas serat, tidak berbau, tidak terasa dan transparan sehingga sering disebut kertas glasin. 3. Kertas Lilin Kertas lilin adalah kertas yang dilapisi dengan lilin yang bahan dasarnya adalah lilin parafin dengan titik cair 46 - 74 0 C dan dicampur polietilen (titik cair 100 - 124 0 C) atau petrolatum (titik cair 40 - 52 0 C). Kertas ini dapat menghambat air, tahan terhadap minyak/oli dan daya rekat panasnya baik. Kertas lilin digunakan untuk mengemas bahan pangan, sabun, tembakau dan lain lain

4. Daluang (Container Board)

Kertas daluang banyak digunakan dalam pembuatan kartun beralur. Ada dua jenis kertas daluang, yaitu : liner board disebut juga kertas kraft yang berasal dari kayu cemara (kayu lunak), corrugated medium yang berasal dari kayu keras dengan proses sulfat.
5. Chipboard

Chipboard kertas

dibuat dari kertas koran bekas dan sisa - sisa kertas. Jika

ini dijadikan kertas kelas ringan, maka disebut bogus yaitu jenis kertas

yang digunakan sebagai pelindung atau bantalan pada barang pecah belah. Kertas chipboard dapat juga digunakan sebagai pembungkus dengan daya rentang yang rendah. Jika akan dijadikan karton lipat, maka harus diberi bahan bahan tambahan tertentu. 6. Tyvek Kertas tyvek adalah kertas yang terikat dengan HDPE (high density polyethylene). Dibuat pertama kali oleh Du Pont dengan nama dagang Tyvek. Kertas tyvek mempunyai permukaan yang licin dengan derajat keputihan yang baik dan kuat, dan sering digunakan untuk kertas foto. Kertas ini bersifat yaitu tidak menyusut atau mengembang bila terjadi perubahan kelembaban, tahan terhadap kotoran bahan kimia, bebas dari kontaminasi, mempunyai kemampuan untuk menghambat bakteri ke dalam kemasan ( Elisa Julianti, 2007).

2.3.5 Karton (Paperboard) Karton adalah kertas tebal yang disebut sebagai paperboard,

pembuatannya sama dengan pembuatan kertas. Perbedaan kertas dengan karton umumnya pada ketebalan, dimana ketebalan karton 10 kali lebih tebal dari ketebalan kertas dan gramatur karton di International Organisation for atas 224 gr/m 2 menurut

Standardisation

(Robertson, gordon L.,2005).

Karton dapat di bentuk menjadi satu lapis (single wall) atau berlapis (multi-ply). Karton yang dibuat menjadi karton lipat dan kaku disebut dengan boxboard. Karton umumnya dibuat menjadi karton gelombang ( corrugated board ) yang

mudah dipotong, dibentuk, ringan dan kuat yang sering di buat menjadi kemasan ( Patmar supply, 2004 ). Kemasan paperboard dapat dibagi dalam beberapa kelas dan memiliki karakteristik yang berbeda, sesuai dengan berbagai kebutuhan dan persyaratan. 1. Solid Bleached Sulfate (SBS) Solid Bleached Sulfate (SBS) merupakan kelas paperboard mutu tinggi yang dihasilkan dari 80% bleached pulp kayu asli. Umumnya bleached paperboard dilapis tipis dengan kaolin untuk meningkatkan permukaan cetak dan juga dilapisi tipis dengan polietilen (PE) yang berfungsi untuk menambah kekuatan pada keadaan basah yang sering digunakan untuk kemasan makanan.

Segmen pasar utama yang menggunakan Solid Bleached Sulfate (SBS) adalah kemasan medis (medical packaging), kemasan susu dan jus, aceptic, kemasan makanan beku

minuman kotak, kemasan kosmetik dan parfum serta

(frozen food packaging). (About paper packaging, 2008)

2. Coated Unbleached Kraft Paperboard (CUK) Coated unbleached kraft paperboard (CUK) adalah jenis karton kelas unggul yang dihasilkan dari 80% unbleached pulp kayu asli. Paperboard CUK dilapis tipis dengan kaolin yang berfungsi untuk meningkatkan permukaan cetak dan juga dilapisi tipis dengan polietilen (PE) untuk menambah kekuatan dalam keadaan basah yang sering digunakan untuk kemasan makanan. Segmen pasar

utama yang menggunakan paperboard CUK adalah kemasan makanan beku, kemasan karton susu, pharmaceutical packaging.(About paper packaging, 2008).
3. Uncoated Recycled Paperboard

Bahan baku uncoated recycled paperboard adalah bahan kertas bekas, yang daur ulang kertas bekas dan dipublikasi biasanya diberi lapisan tipis kaolin untuk meningkatkan permukaan cetak. Segmen pasar utama yang menggunakan uncoated recyled paperboard adalah shoeboxes, composite cans dan fiber drums. (About paper packaging, 2008). 4. Coated Recycled Paperboard Bahan baku coated recylced paperboard adalah paperboard bekas yang diproduksi kembali dengan mendaur ulang paperboard bekas dan dipublikasi. Biasanya diberi lapisan tipis kaolin untuk meningkatkan peremukaan cetak. Segmen pasar utama yang menggunakan coated recycled paperboard adalah kemasan sabun dan deterjen, kemasan cookie dan creaker, kemasan cake mix, cereal kotak, kemasan makanan kering. (About paper packaging, 2008).

2.3.6 Karton Gelombang (Corrugated Board) Karton gelombang (corrugated board) adalah karton yang dibuat dari satu atau beberapa lapisan kertas medium bergelombang dengan kertas liner

sebagai penyekat dan pelapisnya. Karton bergelombang atau karton beralur terdiri dari dua macam corrugated sheet, yaitu : Kertas kraft ( kraft liner) untuk lapisan luar dan dalam dan Kertas medium untuk bagian tengah yang

bergelombang. Gramatur kertas kraft adalah: 125 gram/m2; 150 gram/m2; 200 gram/m2; 300 gram/m2, dan gramatur kertas medium adalah: 112 gram/m2; 115 gram/m2; 125 gram/m2; 150 gram/m2. Karton gelombang ada beberapa macam, yaitu :

1. Single wall

: satu lapisan dengan ketebalan ± 3mm (B/Flute)

2. Double wall : 2 lapis dengan ketebalan ± 7 mm (CB/Flute) 3. Triple wall

: 3 lapis, dan lain - lain

Di Indonesia jenis yang lazim digunakan adalah single wall dan double wall. Penggunaan corrugated box ditentukan oleh: berat bahan, sifat bahan, menggunakan inner karton atau tidak. Bahan baku untuk pembuatan karton bergelombang adalah kertas kraft, bogus atau karton dari merang (Rina Masriani, 2007). Berdasarkan jumlah muka, karton gelombang dibagi menjadi :
1. Karton gelombang muka tunggal:

terdiri dari 1 kertas liner dan 1 kertas medium bergelombang
2. Karton gelombang muka ganda atau dinding tunggal (single wall):

terdiri dari 2 kertas liner dan 1 kertas medium bergelombang
3. Karton gelombang dinding ganda (double wall) :

terdiri dari 3 kertas liner dan 2 kertas medium bergelombang 4. Karton gelombang dinding triple : terdiri dari 4 kertas liner dan 3 kertas medium bergelombang
5. Duo arch board:

terdiri dari 1 kertas liner dan 2 kertas medium Bergelombang berdasarkan jenis flute, karton gelombang memiliki beberapa jenis, seperti yang ditampilkan pada Tabel 2.2.

Tabel 2.3 Jenis Flute Karton Gelombang

Flute A:Memiliki sifat bantalan yang sangat baik,digunakan utk barang mudah pecah Flute B: Memiliki CMT lebih besar dari flute A, bantalan yang lebih rendah, digunakan untuk produk yang dikemas dalam kaleng. Flute C: Merupakan pendekatan dari sifat - sifat yang dimiliki flute A dan B Flute D: Merupakan pengganti solid fiber board Untuk memperbaiki sifat - sifat karton bergelombang, diperlukan : 1. Ketahanan yang lebih baik terhadap gaya tekan
2. Bending stiffness yang lebih tinggi

3. Kemampuan cetak yang lebih baik 4. Ketahanan air yang lebih tinggi Kualitas karton bergelombang ditentukan oleh
1. Jumlah gramatur liner 2. Ketahanan retak ( bursting strength,BS) 3. Ketahanan tekan tepi (edge crush resistance,ECT)

Spesifikasi karton gelombang dinding tunggal (single wall) menurut SNI 141439-1989, ditampilkan seperti pada Tabel 2.3.

Tabel 2.4 Karton Gelombang Dinding Tunggal (Single Wall)

Ketahanan tekan tepi

(edge crush resistance, ECT) adalah daya tahan

tepi karton gelombang dalam posisi tegak lurus terhadap suatu tekanan dinyatakan dalam kN/m atau kgf/cm. Karton gelombang biasanya dinyatakan dalam

formasi K/M/K atau kraft liner/ medium/kraft liner. Lapisan tengah : medium dengan gramatur 125 g/m2. Ketahanan Retak (bursting strength,BS) berkaitan dengan kemampuan muat kotak karton gelombang (KKG), CMT adalah compression medium test dan ring crush test. Sifat - sifat karton gelombang dipengaruhi oleh sifat - sifat

bahan bakunya yaitu kertas liner dan kertas medium. Sifat bahan dasar pembentuk karton gelombang yang penting adalah 1. Kertas Liner : Gramatur, BS, RCT, Perekat Kertas liner adalah kertas yang digunakan sebagai penyekat dan pelapis pada karton bergelombang. Kertas liner memiliki gramatur: 125; 150; 200

dan 300 gr/m2, biasanya dibuat pada mesin Fourdrinier atau Cylinder craff dengan bahan baku pulp kraft asli, kertas kantong bekas atau kotak karton gelombang bekas (Old Corrugated Carton/OCC). Jika bahan bakunya dari kraft asli disebut kraft liner dan jika dicampur dengan kertas bekas disebut test liner atau board kraft

(BK). BK = board kraft adalah kertas liner dengan kualitas di bawah kraft liner (KL), dibuat berdasarkan permintaan konsumen (Rina Masriani, 2007). 2. Kertas Medium : Gramatur, Tebal, RCT, CMT Kertas medium adalah kertas yang digunakan sebagai lapisan

bergelombang pada karton gelombang. Kertas medium memiliki gramatur: 112; 125; 140; 150 dan 160 g/m2, dibuat dari pada mesin Fourdrinier (single layer) atau twin wire. bahan bakunya adalah kombinasi pulp semi kimia dengan pulp kraft atau kotak karton gelombang bekas (Rina Masriani, 2007).

2.3.7 Karton Lipat ( Folding Board) Karton lipat (folding board) merupakan jenis kertas yang populer karena praktis dan murah. Dalam perdagangan disebut juga chipboard folding carton, dan digunakan untuk mengemas bahan hasil pertanian atau jenis - jenis barang lainnya. Bahan yang banyak digunakan untuk membuat karton lipat adalah cylinder board yang terdiri dari beberapa lapisan, dan bagian tengahnya terbuat dari kertas - kertas daur ulang, sedangkan kedua sisi lainnya berupa kertas koran murni dan bahan murni yang dipucatkan. Untuk memperbaiki sifat - sifat karton lipat, maka dapat dilapisi dengan selulosa asetat dan polivinil klorida (PVC) yang diplastisasi. Kasein yang dicampurkan pada permukaan kertas akan

memberikan permukaan cetak yang lebih halus dan putih. Keuntungan dari karton lipat adalah dapat digunakan untuk transportasi, dan dapat dihias dengan bentuk yang menarik pada transportasi barang - barang mewah. Tetapi kelemahannya adalah kecenderungan untuk sobek di bagian tertentu.Pemilihan jenis atau model karton lipat yang pemilihan jenis atau

model karton lipat yang akan digunakan sebagai pengemas, tergantung pada jenis produk yang akan dikemas dan permintaan pasar. Pengujian mutu kemasan karton lipat dapat berupa uji jatuh bagi wadah yang sudah diisi, pengujian tonjolan, pengujian kekuatan kompresi dan daya kaku dalam hubungan kelembaban udara (Elisa J. dkk, 2007).

2.3.8 Karton Dupleks Karton dupleks merupakan suatu jenis karton yang pembuatannya terdiri dari lembaran yang berlapis-lapis, dapat terdiri dari dua lapis atau lebih. Lapisan atas berwarna putih, disalut atau tidak. Umumnya karon dupleks mempunyai sifat khusus yaitu gramatur dan sifat kekakuan yang tinggi.Salah satu penggunaan jenis karton ini untuk pengemasan suatu produk atau kotak karton lipat. Dalam hal ini diperlukan syarat, kekakuan, densitas, derajat putih dan daya serap air.Sifat kekakuan diperlukan agar kotak karton lipat tidak ambruk pada saat ditumpuk dan tidak gembung karena ada beban isi. Densitas erat hubungannya dengan kekakuan dan ketebalan karton. Derajat putih diperlukan agar penampilan kotak karton lipat secara visual baik. Sedangkan daya serap air diperlukan karena dapat mendukung proses pencetakan dan katak karton lipat lebih tahan terhadap udara lembab ( Yuriyanto dkk, et al., 2001)

2.3.9 Sifat-Sifat Karton Pengetahuan terhadap sifat-sifat karton adalah sangat penting bagi pabrikasi kertas karena produk akhir yang berlainan memerlukan sifat-sifat

karton yang berbeda. Namun secara umum, kebanyakan sifat-sifat kertas adalah bergantung kepada bahan bakunya yaitu serat selulosa, selulosa ini diketahui sebagai sifat fungsi (Casey, 1981). Selulosa menyerap air maka kertas juga menyerap air kecuali dimana sifat-sifat serat

perlakuan khusus diberikan untuk meminimalkan daya serapnya. Selulosa berwana putih maka karton juga bewarna putih, kecuali karton tersebut mengandung

lignin atau diberi warna. Selulosa adalah higroskopik ; sehingga kertas juga higroskopik dengan kadar airnya akan berubah menurut kelembaban relatif sekitar (Cassey, 1981). Serat selulosa mengembang atau menyusut dengan

perubahan kadar air yang dikandungnya karena itu karton juga mengembang dan menyusut dengan perubahan lembaban relatif. Serat selulosa berupaya untuk membentuk ikatan-H; karton pula akan terbentuk dengan adanya ikatan-H antara serat tanpa penambahan aditif. (Cassey, 1981). Serat selulosa

mempunyai kekuatan yang tinggi sehingga karton yang dihasilkan juga kuat. Serat selulosa adalah fleksibel maka karton juga adalah fleksibel. Selulosa

dapat dibakar maka kertas juga dapat dibakar (Cassey, 1981). Proses pabrikasi karton dapat di modifikasi untuk memperoleh sifat yang diinginkan untuk menghasilkan berbagai jenis sifatkarton

berkualitas.Sifat karton dapat dikatagorikan sebagai sifat fisik, kimia, mekanik dan optik, Penentuan sifat-sifat ini dibuat berdasarkan pengujian menurut

standart uji kertas dan karton.

2.3.9.1 Sifat Fisik Karton

Umumnya sifat fisik dan mekanik karton adalah lebih penting dibanding dengan sifat kimianya. Sifat fisik dan mekanik karton antara lain : gramatur, berat, ketebalan, densitas, kadar air, daya serap air, indeks tarik, indeks koyak, indeks retak dan ketahanan tekan lingkar (Cassey, 1981).

2.3.9.2 Gramatur Karton Gramatur dikenal juga sebagai berat karton karena berat lembaran karton dan luas karton lebih penting dibanding dengan volumenya. Gramatur karton didefenisikan sebagai ukuran berat lembaran karton yang luasnya satu meter persegi (Cassey, 1981). Penentuan gramatur karton sangat penting karena karton dijual atau dibeli berdasarkan berat. Semakin ringan berat karton sejenis, semakin murah pula harganya per unit. Berat karton mempengaruhi sifat fisik karton, sifat mekanik karton, sifat kimia karton dan optik karton. Gramatur = berat karton (gr) / luas permukaan karton (m²). (Cassey, 1981).

2.3.9.2 Ketebalan Karton Ketebalan karton di defenisikan sebagai jarak antara dua permukaan yang sejajar yang tegak lembaran lurus setelah dilakukan penekanan. Ketebalan

karton di pengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya jenis serat,

adanya bahan lain selain serat, gramatur, tingkat penekanan dan calendring. Ketebalan sangat penting untuk kertas dan karton terutama bagi kertas atau karton yang di gunakan untuk tujuan mekanik (Cassey, 1981).

2.3.9.3 Densitas Karton Densitas karton ditentukan berdasarkan nilai tebal yang dibagi dengan gramatur. Densitas lembaran karton dapat dipengaruhi oleh jumlah ikatan antara serat, kekasaran dan kelenturan serat serta perlakuan penghalusan stok. Selain itu penambahan bahan-bahan pengisi di dalam karton juga densitas karton komposisi dimana densitas akan bertambah karton dengan akan

mempengaruhi penambahan

pengisi didalam

karton.

Densitas

mempengaruhi sifat fisik, mekanik dan optik lembaran karton.

2.3.9.4 Daya Serap Air Daya serap air adalah jumlah gram air yang diserap oleh satu meter persegi lembaran kertas atau karton dalam waktu 60 detik diukur pada kondisi standar yang dinyatakan dalam gr/m2. Semakin kecil nilai daya serap air, maka semakin tinggi daya tahan lembaran kertas/karton terhadap penetrasi cairan. Menurut Casey (1981) sizer adalah bahan penolong yang ditambahkan sebelum atau sesudah pembentukan lembaran kertas atau karton yang ditujukan terutama untuk terhadap cairan. Berdasarkan

meningkatkan ketahanan kertas atau karton

pemberian sizer dapat dibedakan dua macam, yaitu internal sizer dan surface sizer. Internal sizer merupakan proses untuk memberikan ketahanan penetrasi cairan pada kertas dengan memberikan bahan tambahan internal yang basah. Surface sizer umumnya merupakan penggunaan bahan berselaput tipis seperti tepung, getah dan polimer sintetis. Sifat daya serap air di pengaruhi oleh sizer dan filler. Sizer akan mengubah sifat hidrofilik selulosa menjadi hidrofobik sehinngga kemampuan penyerapan ainya akan berkurang (Casey 1981).

2.3.10 Sifat Mekanik Karton Sifat mekanik lembaran karton terdiri dari ketahanan tarik, ketahanan

retak, ketahanan koyak dan ketahanan tekan lingkar yang dijelaskan seperti berikut ini.

2.3.10.1 Ketahanan Tarik ( Tensile Strength ) Ketahanan tarik kertas atau karton dapat di defenisikan sebagai

kemampuan kertas atau karton untuk mempertahankan keadaanya agar tidak putus bila dikenakan regangan. Ketahanan tarik penting dalam menentukan

kemampuan kertas karton agar dapat berfungsi dengan baik seperti kertas pembungkus, kertas kantong. Ketahanan tarik kertas cetak tergantung pada ketahanan kertas terhadap pemutusan jaringan serat sewaktu proses pencetakan. Ketahanan tarik sangat diperlukan untuk kertas cetakan dimana gaya tarik tinggi dapat ditahan oleh kertas tersebut. Faktor-faktor yang dapat

mempengaruhi ketahanan tarik : 1. Kekuatan serat individu lemah maka kekuatan tarik juga terpengaruh.
2. Panjang serat rata-rataterlalu panjang maka akan menghasilkan pembentukan

kertas yang tidak baik yang dapat menurunkan kekuatan tarik.
3. Kemampuan pengikatan permukaan serat bergantung kepada proses penekanan.

Serat yang tidak dipress akan menghasilkan pengikatan yang lemah.
4. Struktur permukaan kertas ; kekuatan tarik akan terpengaruh apabila struktur

pembentukan kertas tidak baik.

2.3.10.2 Ketahanan Retak (Bursting strength) Ketahanan retak didefenisikan sebagai tindakan elektrostatik dalam secara konstan

kPa yang akan meretakkan kertas apabila tekanan ditambah di berikan

ke diafrakma. Pengujian ketahanan retak dilakukan untuk menentukan

rintangan kertas. Uji retak dilakukan dengan meletakkan sampel diantara clamp annular dimana tekanan dinaikkan bertahap terhadap diafragma oleh tekanan sehingga sampel retak. Faktor-faktor yang

hidrolik pada keadaan tetap mempengaruhi

ketahanan retak adalah panjang serat, dimana semakin pendek

serat maka semakin menurun kekuatan retak dan ikatan antara serat,dimana proses penghalusan akan meningkatkan ikatan antara serat tetapi jika penghalusan

terlalu lama maka akan menghasilkan serat-serat yang lebih pendek akan mempengaruhi kekuatan retak. Selain itu, ketahanan retak juga dipengaruhi oleh proses pembentukan kertas, gramatur serta kelembaban.

2.3.10.3 Ketahanan Koyak (Tearing Resistant) Ketahanan koyak kertas atau karton adalah rintangan suatu kertas atau karton yang mengalami koyakaan. Pengujian ketahanan koyak dilakukan adalah untuk mengukur tenaga yang diperlukan untuk mengoyakkan sehelai kertas atau karton. Ketahanan koyak kertas atau karton sangat penting karena dapat untuk melancarkan kertas di atas mesin-mesin pencetak agar lembaran kertas tidak mudah koyak. Ketahanan koyak kertas atau karton juga sangat penting dalam penggunaan kertas sebagai pembungkus yang mana lembaran kertas mesti kuat untuk menyerap hentakan atau daya luar dan memerlukan

rintangan koyak yang tinggi. Faktor yang mempengaruhi ketahanan koyak adalah jumlah serat yang mengalami rupture kertas, panjang serat dan banyaknya ikatan antara serat. Jumlah serat juga akan mempengauhi densitas, gramatur dan kelenturan kertas. Kertas yang kaku akan memberikan tekanan ke atas serat pada daerah/tempat yang kecil, tetapi kertas yang sifatnya lentur akan menyebarkan tekanan di atas daerah yang lebih luas.

2.3.10.4 Ketahanan Tekan Lingkar (Ring Crush Resistance) Ketahanan tekan lingkar digunakan untuk menentukan ketahanan tekan tepi lingkar kertas dan karton. Ketahanan tekan tepi ( edge crush resistance) adalah daya tahan tepi karton dalam posisi tegak lurus terhadap suatu tekanan , dinyatakan dalam N atau kgf, diukur pada kondisi standar.Pengujian ketahan tepi karton menurut ISO 3.037 atau TAPPI T 811 berfungsi untuk memberikan informasi kekuatan dan kendali mutu karton gelombang pada posisi tegak lurus (Rina Masriani, 2007).

2.3.11 Derajat Putih (Brightness) Sifat optik kertas atau karton yang sangat diperlukan adalah derajat putih atau keputihan. Alat yang di gunakan untuk mengukur derajat putih adalah brightimeter micro S-55. Derajat putih

lembaran kertas atau karton

merupakan pengukuran keputihan kertas dan karton. Derajat putih kertas di tentukan berdasarkan pembalikkan cahaya pada jarak gelombang dalam

spektrum biru dimana panjang gelombang cahayanya adalah 457 nm.

Pengujian derajat putih digunakan untuk menentukan kebersihan pulp yang mana kertas yang cerah adalah bebas dari kekuningan pulp hasil dari kehadiran lignin atau bahan lain. Derajat putih kertas di perlukan dalam produk - produk kertas tulis dan pencetakan. Kegelapan juga di defenisikan sebagai sifat penembusan cahaya terhadap suatu objek. Kertas dikatakan gelap jika penyerapan cahaya sangat tinggi. Kegelapan kertas sangat diperlukan untuk mengelakkan cetakan tembus pandang dari balik kertas.

2.3.12 Serat Daun Nanas Serat daun nanas telah dikenal sebagai bahan tali-temali, tekstil dan kertas di beberapa tempat di dunia (Collins,1960). Pada tahun enam puluhan, petani - petani di Filipina sengaja memelihara tanaman nenas terutama untuk diambil daunnya sebagai bahan baku serat kualitas tinggi. Tetapi penggunaan serat daun nanas akhirnya berkurang, akibat munculnya serat - serat sintetik yang segera menguasai pasar. Tanaman nanas banyak terdapat di Indonesia misalnya di Sumatera Utara (luas panen 6983 Ha), Riau (2449 Ha), Sumatera Selatan (1174 Ha), Kalimantan Barat (1153 Ha), Kalimantan Timur (680 Ha), Jawa Barat (891 Ha), Jawa Tengah (859 Ha), dan Jawa Timur (29762 Ha), dan luas panen total Indonesia 49025 Ha (Data Statistik,1983). Mengingat potensi tanaman nenas di Indonesia cukup banyak, pendayagunaan serat nenas sebagai bahan baku pulp kertas mungkin dapat memberi nilai tambah kepada perkebunan maupun para petani. Tinggi tanaman nanas dapat mencapai 90 - 100 cm atau lebih, daun membentang sepanjang 100 - 150 cm dan kadang - kadang berduri untuk jenis

tertentu. Jumlah daun setiap pohon dewasa dapat mencapai 60 - 80 lembar atau 3 - 5 kg dengan kadar air kira - kira 85%. Pada umumnya limbah tanaman nanas terdiri dari 90 % daun, 9 % tunas batang dan 1 % batang. Daun berbentuk roset dan makin panjang ke arah atas permukaan tanah. Daun yang rimbun ini melekat pada batang yang pendek. Permukaan atas daun nenas halus, sedangkan permukaan bawahnya mempunyai banyak alur sepanjang daun. Daun nanas dapat berwarna hijau tua atau coklat kemerah-merahan dan mengkilap(Collins, 1960) Sebenarnya dalam beberapa hal, sifat serat daun nanas lebih banyak daripada serat kayu. Sel serat daun nanas mempunyai perbandingan panjang terhadap lebar sangat besar, sehingga sifat kertas yang terbentuk juga sangat baik, misalnya : tipis, permukaan halus dan mudah dilipat (Collins, 1960). Bahkan, kertasnya dapat diremas sampai kusut dan kemudian dihaluskan kembali tanpa meningglkan bekas. Pulp daun nanas sesuai untuk dibuat jenis kertas khusus, misalnya : kertas filter, sigaret, tissue, dan lain - lain. Pemasakan daun nanas dapat dilakukan dengan berbagai proses misalnya proses soda bertekanan dan proses sulfit netral dengan 4 - 12% natrium sulfit (FAO, 1983). Ada pula penelitian yang menggunakan proses soda sulfit dengan kondisi 15% natrium sulfit, 2% natrium hidroksida dan suhu pemasakan 120ºC (Kurita, 1980). Sedangkan bibit dari tunas tangkai daun dari mahkota dapat dipanen masing - masing sekitar 18 dan 24 bulan. biasanya tanaman jenis Cayenne dibongkar setelah panen tiga kali, agar produktivitasnya terjaga (Collins, 1960). Morfologi serat nanas jenis cayenne: panjang serat rata 3,40 mm, diameter serat bagian luar 6,99

mikrometer dan tebal dinding 2,33 mikrometer.(Wawan K, 2006).

2.3.13 Serat Pelepah Batang Pisang Pisang mempunyai banyak manfaat dari sudut makanan maupun sudut lain seperti produk pulp dan kertas. Pulp dan kertas dapat dipoduksi dari serat dalam psedostem pokok pisang, yang pada umumnya dianggap sebagai bahan buangan dalam industri pisang. Kertas yang dipoduksi dari serat pisang mempunyai kelebihan yang banyak dibandingkan dengan kertas dari pulp kayu, terutama dalam kekuatannya. Penelitian telah menunjukkan bahwa, kertas pisang adalah 300 kali lebih kuat dibandingkan dengan kertas pulp kayu biasa. Kekuatan ini timbul dari serat pokok pisang yang panjang. Kelebihan lain kertas pisang adalah lebih tahan terhadap basah dan lebih berkualitas dan juga mempunyai ketahanan lebih terhadap api Melihat kertas pisang tidak mudah

terbakar, sehingga baik sekali digunakan sebagai kertas pembungkus produk. Serat pisang diperoleh dari batang palsu (pseduo-stem) pokok pisang merupakan serat yang mempunyai sifat mekanik yang baik. Sifat mekanik serat pisang adalah mempunyai densitas 1,35 gr/cm³, kandungan selulosa diantara 63 – 64 % dan kandungan lignin hanya 5%. Diameter serat pisang adalah 120 ± 5,8 µm. Perbandingan komponen-komponen serat dapat dilihat seperti pada Tabel 2.5.

Tabel 2.5 Perbandingan Komponen - Komponen Serat

2.3.14 Serat Rami Tanaman rami (Boehmeria Nivea) merupakan tanaman tahunan yang mudah tumbuh dan berkembang biak di daerah tropis. Rami merupkan tanaman yang serba guna. Daunnya yang merupakan kompos dan pakan ternak bergizi tinggi, pohonnnya baik untuk bahan bakar, tetapi yang paling bernilai ekonomi tinggi adalah serat dari kulit kayunya. Serat rami ini merupakan bahan yang dapat diolah untuk kain fashion berkualitas tinggi dan bahan pembuatan selulosa berkualitas tinggi (selulosa α). Selulosa α berkualitas tinggi merupakan salah satu unsur pokok pembuatan bahan peledak dan propelan yaitu isian dorong untuk meledakkan peluru. Kayu dan serat rami dapat diolah menjadi pulp berkualitas tinggi sebagai bahan baku pembuatan aneka jenis kertas berharga. Rami mempunyai banyak kegunaan, yaitu sebagai sumber penghasil serat untuk industri tekstil maupun bahan baku pulp kertas. Kandungan selulosa rami relatif tinggi (sekitar 50%), sedangkan kadar ligninnya rendah (sekitar 10%). Ditinjau dari sifat kimia tersebut rami mempunyai prospek yang baik untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pulp kertas maupun pulp larut (dissolving pulp) yang lebih dikenal sebagai pulp rayon (Umar S.Tarmansyah, 2007). Sebagai sumber serat yang panjang, rami sangat potensial

untuk dikembangkan menjadi pulp putih serat panjang yang selama ini masih diimpor. Pulp ini dapat digunakan sebagai substitusi serat panjang untuk membuat kertas tulis, kertas fotokopi, dan lain - lain. Dengan sifat seratnya

yang panjang dan langsing, serat rami juga dapat dikembangkan untuk kertas khusus seperti kertas saring teh celup, kertas dasar stensil, kertas rokok, dan kertas yang memerlukan ketahanan (security papers) daya simpan yang lama seperti kertas uang, kertas surat berharga, kertas dokumen, dan kertas peta. Selain itu serat rami dengan kandungan selulosa yang tinggi dapat digunakan sebagai bahan baku rayon (Umar S.Tarmansyah, 2007) Morfologi serat rami : panjang serat rata-rata 11,23 mm, diameter serat bagian luar 16,46 mikrometer, tebal dinding 8,44 mikrometer.(Yuniarti, P.K, 2006) Perbandingan panjang serat kayu dan tanaman bukan kayu seperti yang ditampilkan pada

Tabel 2.6 Klasifikasi Serat menurut Klemn

2.3.15 Pati Pati (Starch) memiliki sifat yang dapat meningkatkan retensi,

drainase dan meningkatkan kekuatan lembaran kertas. Pati dapat dipergunakan pada proses pembuatan kertas alkali dan kertas asam, dan dapat bekerja pada pH 4-9. Sebelum dipergunakan dalam pembuatan kertas, pati dimasak terlebih dahulu agar terbentuk gelatinasi, gelatinasi menyebabkan kekentalan larutannya berubah, pemasakan pati dianjurkan pada suhu 100ºC selama 20 - 30 menit

(Wawan, K.H,dkk, 2004). Pati merupakan polimer alam yang mudah didapat

dan harganya relatif murah, pati diperoleh dari beberapa jenis tumbuhan, ubi (tapioka), jagung, kentang, dll. Penyusun utama dari pati adalah amilosa dan amilopektin, dan sedikit lemak serta protein, kandungan ini berbeda - beda untuk tiap jenis pati Amilosa mempunyai rantai lurus sedangkan mempunyai rantai bercabang, bentuk rantai ini amilopektin

akan berpengaruh pada

mekanisme pengikatan partikel - partikel fine dan bahan pengisi. Pada proses alkali pati mempunyai fungsi lain yang sangat penting, selain sebagai pretense dan drainase juga berfungsi sebagai pendarih dan penguat kering, pati mempunyai sifat pendispersi yang baik, yang dapat membantu memperbaiki formasi lembaran. Pati kationik dapat mengemulsikan ASA dan dapat menjaga kestabilannya. Pada penggunaan selanjutnya pati dapat ditemukan dalam bentuk modifikasi, yaitu anionik, kationik dan

amphoterik, tetapi pati kationik lebih banyak dipergunakan karena bahan - bahan yang dipergunakan dalam pembuatan kertas seperti serat dan bahan pengisi mempunyai muatan negatif. Pemakaian pati kationik tidak memerlukan penambahan alum, karena sudah memiliki muatan positif, muatan positif pati

kationik berikatan langsung dengan serat, fine dan bahan pengisi yang bermuatan negatif, pati kationik dibuat melalui proses esterifikasi dengan alkyl aminoethly chloride, dapat juga menggunakan tertiary amines atau quartenary amines (Wawan K.H,dkk, 2004).

2.3.16 Kaolin Kaolin merupakan masa batuan yang tersusun dari material lempung dengan kandungan besi yang rendah, pada umumnya berwarna putih atau

agak keputihan. Kaolin mempunyai komposisi alumunium silikat hidrat, Al2O32SiO22H2O serta mempunyai banyak aplikasi di industri

(www.tekmira.esdm.go.id) Kaolin pada industri kertas dipergunakan sebagai filter dalam ‘bulk’ kertas dan untuk melapisi permukaan kertas. Sifat yang dimiliki kaolin yang berwarna putih, memiliki permukaan yang luas dan memiliki abrasivitas yang rendah menjadikannya sebagai bahan baku yang ideal untuk memproduksi kertas. Kaolin berguna dalam mengurangi jumlah pulp kayu yang mahal, meningkatkan sifat optik dari kertas dan memperbaiki sifat cetak kertas. Ketika kaolin digunakan sebagai pelapis permukaan kertas, kaolin meningkatkan kualitas berwarna kertas menjadi lebih putih. Contoh: kertas untuk majalah, brosur, kertas seni, kertas dan karton untuk box (Harjanto, S, 1987).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful