P. 1
Konsep Konsumsi Dan Perilaku Konsumen Dalam Ekonomi Islam

Konsep Konsumsi Dan Perilaku Konsumen Dalam Ekonomi Islam

5.0

|Views: 507|Likes:
Published by Noe Neu
konsep konsumsi dan prilaku manusia menurut pandangan islam
konsep konsumsi dan prilaku manusia menurut pandangan islam

More info:

Published by: Noe Neu on Jul 27, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/29/2014

pdf

text

original

KONSEP KONSUMSI DAN PERILAKU KONSUMEN DALAM EKONOMI ISLAM

Kelompok 3 :
BAGOES DHANARDONO HAYYUMITYA DESMIN NUSKI IBRAHIM TEGUH GUNTUR PRAHARA 107093002779 107093001272 107093002063 107093002661

JURUSAN SISTEM INFORMASI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Manakala 2 . sesuatu yang tampaknya agak sepele tetapi memiliki konsekuensi yang amat besar dalam ilmu ekonomi. Islam selalu mengaitkan kegiatan memenuhi kebutuhan dengan tujuan utama manusia diciptakan. Ilmu ekonomi konvensional tampaknya tidak membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan makanan adalah untuk menolak kelaparan dan melangsungkan kehidupan.2009 BAB I PENDAHULUAN Sebagaimana kita pahami dalam pengertian ilmu ekonomi konvensional. Pada tahapan ini mungkin tidak bisa dibedakan antara keinginan (syahwat) dan kebutuhan (hajat) dan terjadi persamaan umum antara homo economicus dan homo Islamicus. Kelangkaan akan barang dan jasa timbul bila kebutuhan (keinginan) seseorang atau masyarakat ternyata lebih besar daripada tersedianya barang dan jasa tersebut. sehingga fisik manusia tetap sehat dan mampu menjalankan fungsinya secara optimal sebagai hamba Allah yang beribadah kepadaNya. Imam al-Ghazali tampaknya telah membedakan dengan jelas antara keinginan (ragh bah dan syahwat) dan kebutuhan (hajat). Dari pemilahan antara keinginan (wants) dan kebutuhan (needs). akan sangat terlihat betapa bedanya ilmu ekonomi Islam dengan ilmu ekonomi konvensional. Menurut Imam al-Ghazali kebutuhan (hajat) adalah keinginan manusia untuk mendapatkan sesuatu yang diperlukan dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidupnya dan menjalankan fungsinya. yakni kelangkaan. Di sinilah letak perbedaan mendasar antara filosofi yang melandasi teori permintaan Islami dan konvensional. Namun manusia harus mengetahui bahwa tujuan utama diciptakannya nafsu ingin makan adalah untuk menggerakkannya mencari makanan dalam rangka menutup kelaparan. Jadi kelangkaan ini muncul apabila tidak cukup barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan tersebut. Dalam kaitan ini. Kita melihat misalnya dalam hal kebutuhan akan makanan dan pakaian. bahwa ilmu ekonomi pada dasarnya mempelajari upaya manusia baik sebagai individu maupun masyarakat dalam rangka melakukan pilihan penggunaan sumber daya yang terbatas guna memenuhi kebutuhan (yang pada dasarnya tidak terbatas) akan barang dan jasa. Karena keduanya memberikan efek yang sama bila tidak terpenuhi. kebutuhan pakaian untuk menolak panas dan dingin.

yaitu. Karena itu. Islam mensyaratkan setiap makanan yang kita makan hendaknya mempunyai manfaat bagi seluruh unsur tubuh". kebutuhan manusia untuk makan. maka esensinya pada saat itu tidak berbeda dengan binatang ternak yang makan karena lapar saja. Mengapa demikian?. sudah barang tentu motivasi yang mendorong seseorang untuk melakukan aktifitas konsumsi juga harus sesuai dengan prinsip konsumsi itu sendiri.1 a) Kebutuhan (Hajat) "manusia adalah makhluk yang tersusun dari berbagai unsur. ruh. dua unsur ini mempunyai kaitan yang sangat erat (interdependensi) dengan konsumsi itu sendiri.2 Ungkapan di atas hendaknya menjadi perhatian kita. akal dan hati. akal. kebutuhan (hajat) dan kegunaan atau kepuasan (manfaat). seseorang tidak akan pernah mengkonsumsi suatu barang manakala dia tidak membutuhkannya sekaligus mendapatkan manfaat darinya. Maksud hakiki di sini adalah keterkaitan yang positif antara aktifitas konsumsi dengan aktifitas terstruktur dari unsur tubuh itu sendiri. Dalam prespektif ekonomi Islam. bahwa tidak selamanya sesuatu yang kita konsumsi dapat memenuhi kebutuhan hakiki dari seluruh unsur tubuh. namun. pada dasarnya bukanlah kebutuhan perut atau jasmani saja. karakteristik dari kebutuhan dan manfaat secara tegas juga diatur dalam ekonomi Islam. Misalnya. maka.net Prof. Artinya. baik ruh. Unsur-unsur ini mempunyai keterkaitan antar satu dengan yang lain. Apabila konsumsi mengakibatkan terjadinya disfungsi bahkan kerusakan pada 1 Situs resmi ponpes darussalam banyuwangi www.blokagung. KONSEP PENTING DALAM KONSUMSI Pada dasarnya konsumsi dibangun atas dua hal. selain akan memberikan pengaruh terhadap kuatnya jasmani. badan maupun hati. misalnya. makan juga berdampak pada unsur tubuh yang lain.manusia lupa pada tujuan penciptaannya. Syauqi Muhammad Dunya (Guru Besar Jurusan Ekonomi Islam Universitas King Abdul Aziz Jeddah) 2 3 . BAB II PEMBAHASAN A. Dr. Secara rasional. ketika konsumsi dalam Islam diartikan sebagai penggunaan terhadap komoditas yang baik dan jauh dari sesuatu yang diharamkan.

b) Kegunaan atau Kepuasan (manfaat) Sebagaimana kebutuhan di atas. memakan anjing. Ghofir:80 dan al-Mu’minun:21 4 . tentu itu bukanlah kebutuhan hakiki manusia. sebuah aktifitas berkelanjutan dan terus berkembang yang menuntut pengembangan seluruh potensinya disertai keseimbangan penggunaan sumber daya yang ada. Ada dua konsep penting yang perlu digaris bawahi dari pengertian rela di atas. mengingat kemampuan seseorang untuk membeli suatu barang sangat tergantung pada pemasukan yang dimilikinya. Para ekonom menyebutnya sebagai perasaan rela yang diterima oleh konsumen ketika mengkonsumsi suatu barang. manusia juga dibebani kewajiban membangun dan menjaganya. Artinya. Konsumen yang rasional selalu membelanjakan pendapatannya pada berbagai jenis barang dengan tingkat harga tertentu demi mencapai batas kerelaan tertinggi. yaitu pendapatan dan harga. Kedua konsep ini saling mempunyai interdependensi antar satu dengan yang lain. apakah sama dengan terminologi yang dikemukakan oleh para ekonom pada umumnya ataukah berbeda? Beberapa ayat al-Qur’an3 mengisyaratkan bahwa manfaat adalah antonim dari bahaya dan terwujudnya kemaslahatan. Selain itu. konsep manfaat ini juga tercetak bahkan menyatu dalam konsumsi itu sendiri. Islam memandang penting pengembangan potensi manusia selama berada dalam batas penggunaan sumber daya secara wajar. Kesesuaian di antara keduanya akan menciptakan kerelaan dan berpengaruh terhadap penciptaan prilaku konsumsi itu sendiri. Rela yang dimaksud di sini adalah kemampuan seorang konsumen untuk membelanjakan pendapatannya pada berbagai jenis barang dengan tingkat harga yang berbeda.salah satu atau beberapa unsur tubuh. Sekarang bagaimanakah Islam memandang manfaat. Islam secara tegas mengharamkan minum-minuman keras. guna mendorong pengembangan potensinya dengan tujuan membangun dan menjaga bumi dan isinya. kebutuhan dalam prespektif Islam adalah. Sedangkan dalam pengertian ekonominya. Sehingga. Hud:34. keinginan manusia menggunakan sumber daya yang tersedia. yaitu. manfaat adalah nilai guna tertinggi pada sebuah barang 3 al-A’raf:188. dalam kapasitasnya sebagai khalifah di muka bumi. dan sebagainya dan seterusnya. Karena itu.

4 4 As-Syatibi 5 . PERILAKU/ KARAKTERISTIK KONSUMEN DALAM EKONOMI ISLAM Selain berfungsi sebagai penopang kehidupan. (presentase ini adalah terendah di dunia). faidah dan tercegahnya bahaya. barang tersebut mampu memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Sehingga. ternyata salah satu penopangnya adalah tingkat konsumsi masyarakatnya yang sangat tinggi jauh melebihi tabungannya: rata-rata jumlah tabungan mereka hanya 2 persen dari total pendapatan. manfaat merupakan cermin dari terwujudnya kemaslahatan hakiki dan nilai guna maksimal yang tidak berpotensi mendatangkan dampak negatif di kemudian hari. Namun. apakah dengan cara menggenjot pengeluaran saja Islam memaknai konsumsi? " Kemaslahatan hakiki yang tercermin dalam sebuah aktifitas manusia. namun lebih dari itu. konsumsi juga berfungsi sebagai salah satu instrumen untuk mengukur tingkat pertumbuhan ekonomi di sebuah negara. mereka juga lebih sering terburu-buru dalam mewujudkan kemaslahatan dirinya. yang terjadi adalah kemafsadahan pada kemasalahatan semu yang membungkusnya. Karena itu. dan inilah yang dianggap membuat perekonomian Amerika bergairah.yang dikonsumsi oleh seorang konsumen pada suatu waktu. B. apa yang tidak terlihat olehnya jauh lebih banyak dari yang bisa dilihatnya. agar senantiasa kembali kepada kemaslahatan secara sempurna (agama)". Bahkan lebih dari itu. pada dasarnya hanya bisa diketahui oleh Sang Pencipta-Nya saja. Manusia hanya mengetahui sebagian kecil tanpa bisa memaknai keseluruhannya. Amerika yang selama ini dianggap sebagai kiblat perekonomian Negara-negara di dunia. Allah SWT menurunkan para Rasul guna memberikan peringatan kepada seluruh umat manusia. Jelas bahwa manfaat adalah terminologi Islam yang mencakup kemaslahatan. Manfaat bukan sekedar kenikmatan yang hanya bisa dirasakan oleh anggota tubuh semata.

Sebagaimana firman Allah SWT َ ِ َ ْ ُ ْ ّ ِ ُ َ ّ ّ ِ ُ َ ْ َ َ َ ْ ُ َ ّ ّ َ َ َ ِ َ َّ ُ ّ َ ُ َ َُ َ َ ِ ّ َ َّ َ ‫يا أيها الذين آمنوا ل تحرموا طيبات ما أحل ال لكم ول تعتدوا إن ال ل يحب المعتدين‬ َ ُ "Hai orang-orang yang beriman. seseorang akan terjerembab pada kebakhilan. dan janganlah kamu melampaui batas. melainkan juga terbatasi oleh sifat kehalalan dan keharaman yang telah digariskan oleh syara'. Kedua tingkatan ini dilarang di dalam Islam. sebagaimana nash al-Qur'an ‫والذين إذا أنفقوا لم يسرفوا ولم يقتروا وكان بين ذلك قواما‬ ً َ َ َ َِ َ ْ َ َ َ َ ُ ُ ْ َ ْ ََ ُ ِ ْ ُ ْ َ ُ َ ْ َ َ ِ َ ِ ّ َ 5 QS surat al-Maidah:87 6 . Di bawah mustawa kifayah. Sedangkan di atas mustawa al-kifayah seseorang akan terjerumus pada tingkat yang berlebih-lebihan (mustawa israf. rasionalisasi konsumsi tidak cukup dimaknai dengan hukum maupun teori saja. namun juga harus bersandar pada aturan-aturan mendasar yang terdapat dalam ajaran Islam itu sendiri. Di bawah ini adalah beberapa karakteristik konsumsi dalam prespektif ekonomi Islam. terdapat sisi lain di luar sisi ekonomi yang juga butuh untuk berkembang. 3.5 2) Konsumen yang rasional (mustahlik al-aqlani) senantiasa membelanjakan pendapatan pada berbagai jenis barang yang sesuai dengan kebutuhan jasmani maupun ruhaninya. batas maupun ruang gerak yang tersedia bagi konsumen muslim untuk menjalankan aktifitas konsumsi. janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu.Dengan demikian. Mustawa kifayah adalah ukuran. mengingat. kelaparan hingga berujung pada kematian. di antaranya adalah: 1) Konsumsi bukanlah aktifitas tanpa batas. kekikiran. Menjaga keseimbangan konsumsi dengan bergerak antara ambang batas bawah dan ambang batas atas dari ruang gerak konsumsi yang diperbolehkan dalam ekonomi Islam (mustawa alkifayah). tabdzir dan taraf). Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas". Cara seperti ini dapat mengantarkannya pada keseimbangan hidup yang memang menuntut keseimbangan kerja dari seluruh potensi yang ada.

4. Memperhatikan prioritas konsumsi antara dlaruriyat. serta akal pikiran (hifdz al-aql). mereka tidak berlebih-lebihan. Hajiyah dan Tahsiniyah Para pakar maqasid telah memetakan maqasid syariah menjadi beberapa bagian : 1) Kebutuhan Dharuriyat (Primer) 6 QS al-furqan:67 dan al-Isra':29 Dr. seperti luasnya tempat tinggal. menjaga keberlangsungan agama (hifdz ad-din). hajiyat dan takmiliyat. "Dlaruriyat adalah komiditas yang mampu memenuhi kebutuhan paling mendasar konsumen muslim. jiwa (hifdz an-nafs). keturunan (hifdz an-nasl). Sedangkan hajiyat adalah komoditas yang dapat menghilangkan kesulitan dan juga relatif berbeda antar satu orang dengan lainnya.Muhammad Abdul Mun'im Afar 7 7 . hak kepemilikan dan kekayaan (hifdz al-mal). dan tidak kikir. dan hendaklah (cara berbelanja seperti itu) ada di tengah-tengah kalian". Karena itu mengakibatkan kamu tercela dan menyesal". yaitu.6 29:‫)ول تجْعل يدك مغلولة إلى عنقك ول تبسطها كل البسط فتقعد ملوما محسورا )السراء‬ ً ُ ْ َ ً َُ َ ُ ْ َ َ ِ ْ َ ْ ّ ُ َ ْ ُ ْ َ َ َ َ ِ ُ ُ َ ِ ً َ ُ ْ َ َ َ َ ْ َ َ َ َ "Dan jangan kau jadikan tanganmu terbelenggu ke lehermu (kikir) dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (terlalu pemurh)."Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta). Sedangkan takmiliyat adalah komoditi pelengkap yang dalam penggunaannya tidak boleh melebihi dua prioritas konsumsi di atas.7 Penjelasan lain mengenai Dharuriyah. baiknya kendaraan dan sebagainya.

tergolong dharury (prinsip). mewajibkan had zina. Jika ia rusak. jiwa. menghindari setiap perbuatan yang menggakibatkan tidak terpeliharanya salah satu dari kelima hal pokok (maslahat) tersebut. bahkan diwajibkan sepanjang tidak merugikan orang lain.” 9 Secara umum. daging babi dan minum arak.Ialah kemaslahatan yang menjadi dasar tegaknya kehidupan asasi manusia baik yang berkaitan dengan agama maupun dunia. sehingga demi mempertahankan nyawa (kehidupan) dibolehkan makan barang terlarang (haram). keturunan dan harta. Diantara contoh-contoh nya. Ia merupakan tingkatan maslahat yang paling kuat. 8 Zakaria al-Biri Imam al-Ghazali 8 9 . karena dengan demikian dapat memelihara akal yang menjadi sendi taklif. Umumnya ulama ushul fiqh sependapat tentang lima hal tersebut sebagai maslahat yang paling asasi. memasyarakatkan hukuman qishas.. Syariat Islam sangat menekankan pemeliharaan hal tersebut. karena dengan hal itu dapat memelihara nasab (keturunan). akal. mewajibkan hukuman had atas peminum khamar. syara’ menetapkan hukuman mati atas orang kafir yang berbuat menyesatkan orang lain dan menghukum penganut bid’ah yang mengajak orang lain kepada bid’ahnya. diwajibkan memakan bangkai. yaitu hal-hal yang berkaitan dengan pemeliharaan agama. mewajibkan mendera pembongkar kuburan dan pencuri. karena hal demikian mengganggu kehidupan masyarakat dalam mengikuti kebenaran agamanya. Maslahat dharuriyat ini merupakan dasar asasi untuk terjaminnya kelangsungan hidup manusia. Jika dia luput dari kehidupan manusia maka mengakibatkan rusaknya tatanan kehidupan manusia tersebut. ”Memelihara kelima hal tersebut termasuk kedalam tingkatan dharuriyat. karena dengan adanya ancaman hukuman ini dapat terpelihara jiwa manusia. Karena itu bagi orang dalam keadaan darurat yang khawatir akan mati kelaparan. maka akan muncul fitnah dan bencana yang besar. karena dengan demikian dapat memelihara harta yang menjadi sumber kehidupan dimana mereka sangat memerlukannya.8 Yang termasuk dalam lingkup marsalah dharuriyat ini ada lima macam.

sebab manusia membutuhkan kedua kebebasan ini. Islam memperbolehkan tidak berpuasa dalam perjalankan dalam jarak tertentu dengan syarat diganti pada hari lain begitu pula untuk orang yang sedang sakit. ialah diharamkan berpelukan. sebab keduanya dilakukan secara terang-terangan. Perlu ditegaskan bahwa termasuk dalam katagori hajjiyat adalah memelihara kebebasan individu dan kebebasan beragama. Kebolehan meng-qasar shalat adalah juga dalam rangka memenuhi kebutuhan hajiyat ini. salam. Didalam lapangan muamalat. kesempitan dan ihtiyath (berhati-hati) terhadap lima hal pokok tersebut. ialah diperbolehkannya banyak bentuk transaksi yang dibutuhkan manusia. murabahab. Dilapangan ’uqubah (sanksi hukum). Dalam lapangan ibadah Islam. seperti diharamkan ghasab dan merampas. mensyariatkan beberapa hukum rukhshah (keringganan) bilamana kenyataan mendapatkan kesulitan dalam menjalankan perintahperintah taklif. dan mudharabah. Sedang hajjiyat dalam hal harta. Termasuk hajjiyah dalam keturunan. Akan tetapi terkadang manusia menghadapi kesulitan. akan tetapi dimaksudkan untuk menghilangkan kesulitan. islam mensyariatkan hukuman diyat (denda) bagi pembunuhan tidak disengaja. 9 .3) Kebutuhan hajjiyat (Sekunder) Ialah segala sesuatu yang oleh hukum syara’ tidak dimaksudkan untuk memelihara lima hal pokok tadi. Misalnya. kesusahan. 3) Kebutuhan Tahsiniyat (Tersier) atau Kamaliyat (Pelengkap) Ialah tingkat kebutuhan yang apabila tidak terpenuhi tidak mengancam eksistensi salah satu dari kelima pokok diatas serta tidak pula menimbulkan kesulitan. seperti akad muzara’ah. keduanya tidak menyebabkan lenyapnya harta. Sedangkan hajjiyat yang berkaitan dengan akal seperti diharamkannya meminum khamar walau hanya sedikit. karena masih mungkin untuk diambil kembali.

Dalam lapangan muamalat Islam melarang boros. Contoh tahsinat yang berkenaan denagan memelihara keturunan adalah diharamkan seorang wanita keluar rumah dengan menggenakan perhiasan. Dengan kata lain kemaslahatan ini hanya mengacu pada keindahan saja. Dalam lapangan ibadah disyariatkan hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan tahsiniyat seperti islam menganjurkan berhias ketika hendak kemesjid. tetapi menyangkut kesempurnaannya. serta keinginan memperoleh gambaran yang tepat tentang untung rugi. atau putera-putera suami mereka. kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka. dan kemaluannya. monopoli dan lain-lain. Sebab hal ini berlawanan kepentingan dengan keingginan membelanjakan harta secara terang dan jelas. serta melarang melakukan muslah (menyiksa mayit dalam peperangan) Diantara contoh tahsinat yang berkaitan dengan memelihara harta adalah diharamkan menipu atau memalsukan barang. Dalam lapangan ’uqubah islam memgharamkan membunuh anak-anak dan wanita dalam peperangan. atau ayah suami mereka. atau ayah mereka. Sungguhpun demikian kemaslahatan seperti ini dibutuhkan oleh manusia. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya. akan tetapi berbenturan dengan kepentingan orang lain yang membelanjakan hartanya. atau putera-putera mereka.Yang dimaksud dengan maslahat jenis ini ialah sifatnya untuk memelihara kebagusan dan kebaikan budi pekerti serta keindahan saja. dan menganjurkan banyak ibadah sunnah. Dalam firman Allah: Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya. Perbuatan ini tidak menyentuh secara langsung harta itu sendiri (eksistensinya). Jelaslah kiranya hal ini tidak membuat cacat terhadap harta pokok (ashul mal). menaikan harga. atau 10 . kikir. Sekiranya kemaslahatan tidak dapat diwujudkan dalam kehidupan tidaklah menimbulkan kesulitan dan kegoncangan serta rusaknya tatanan kehidupan manusia. dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya.

Selain itu larangan tersebut sebagai wujud dari kehormatan.Saudara-saudara laki-laki mereka. Empat Pedoman Syariah dalam Berkonsumsi 1) azas maslahat dan manfaat membawa maslahat dan manfaat bagi jasmani dan rohani dan sejalan dengan nilai maqasid syariah. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dimana semakin genjarnya gerakan dakwah semacam ini malah menimbulkan keraguan terhadap ajaran islam. Demikian pula larangan mempelajari kitab-kitab yang sumber-sumber ajaran agama lain bagi orang yang tidak mampu melakukan studi perbandingan secara rasional dan mendalam diantara kebenaran-kebenaran agama. atau budak. atau puteraputera saudara perempuan mereka. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah. Tahsinat dalam kaitan dengan memelihara agama diantaranya adalah larangan terhadap dakwah yang menyimpang. Sedangkan tahsinat yang berkaitan dengan memelihara akal.budak yang mereka miliki. atau wanita-wanita islam. contohnya seperti melarang kafir dzimmy meminum dan menjual khamar ditengah masyarakat muslim. atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. kemuliaan. Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. atau putera-putera saudara lelaki mereka. 10 Larangan wanita memakai perhiasan diluar rumah ini termasuk kategori tahsinat. karena memelihara kesempurnaan ashl nasl (pokok keturunan). dan dapat menggangkat harkat wanita yang pada dewasa ini diletakkan pada tempat yang rendah. Termasuk dalam hal ini kaitan konsumsi dengan halaldanthoyyib. walaupun minuman keras tersbut dijual khusus untuk kalangan kafir dzimmi sendiri. yang tidak menyentuh pokok keimanan (ashlul itiqad). 10 QS An-Nur : 31 11 .

“ Hai orang-orang yang beriman. Selain itu. janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang Telah Allah halalkan bagi kamu. ia tidak berpikir pendapatan yang sudah diraihnya itu harus dihabiskan untuk dirinya sendiri.”13 4) azas Sosial : anjuran berinfaq .12 3) azas kesederhanaan : bersifat qanaah. Nabi SAW menyimpan sebagian pangan untuk kebutuhan keluarganya selama setahun. kebodohan dan kebakhilan.R Bukhari–Muslim. beratnya utang.14 C.2) azas kemandirian : ada perencanaan. sebagian pendapatannya dibelanjakan di jalan Allah (fi sabilillah). QS 13 Al-Maidah : 87 12 14 QS Al-Baqarah : 219 . PERBEDAAN PERILAKU KONSUMEN MUSLIM DENGAN PERILAKU KONSUMEN KONVENSIONAL Konsumen Muslim memiliki keunggulan bahwa mereka dalam memenuhi kebutuhannya tidak sekadar memenuhi kebutuhan individual (materi). bulanan. kelemahan dan kemalasan. Katakanlah. baik mingguan. dan janganlah kamu melampaui batas. “ dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan.11 “ Ya Allah jauhkanlah hamba dari kegundahan dan kesedihan. tidak mubazir. ada tabungan. ‘ apa yang lebih dari keperluan (al-afwu). mengutang adalah kehinaan. tetapi juga memenuhi kebutuhan sosial (spiritual). Konsep inilah yang tidak kita dapati dalam ilmu perilaku konsumen konvensional. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Konsumen Muslim ketika mendapatkan penghasilan rutinnya. atau tahunan. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu agar kamu berpikir. perilaku seorang konsumen Muslim harus mencerminkan hubungan dirinya dengan Allah (hablu mina Allah) dan manusia (hablu mina an-nas).R Muslim H. Dalam Islam. yang tidak kita dapati pada kajian perilaku konsumsi dalam perspektif ilmu ekonomi konvensional adalah adanya saluran penyeimbang dari saluran kebutuhan individual yang disebut 11 12 H. tetapi karena kesadarannya bahwa ia hidup untuk mencari ridha Allah. serta tekanan orang lain.

kriteria maslahah telah ditetapkan oleh syariah dan sifatnya mengikat bagi semua individu. Konsep ini sangat berbeda dengan konsep Pareto Optimum. D. yang maknanya lebih luas dari sekadar utility atau kepuasan dalam terminologi ekonomi konvensional.  Maslahah orang per seorang akan konsisten dengan maslahah orang banyak. itulah yang disebut maslahah. maka penilaian individu tersebut menjadi gugur. KONSEP MASLAHAH DALAM PRILAKU KONSUMEN ISLAMI Imam Shatibi menggunakan istilah 'maslahah'. 1992). Hal ini menegaskan bahwa umat Islam merupakan mata rantai yang kokoh yang saling menguatkan bagi umat Islam lainnya15. sedekah. properti atau harta benda (al mal). yakni: kehidupan atau jiwa (al-nafs). bila seseorang mempertimbangkan bunga bank memberi maslahah bagi diri dan usahanya. Namun. dan keluarga atau keturunan (al-nasl). keyakinan (al-din). intelektual (al-aql). Semua barang dan jasa yang mendukung tercapainya dan terpeliharanya kelima elemen tersebut di atas pada setiap individu. maslahah adalah sifat atau kemampuan barang dan jasa yang mendukung elemen-elemen dan tujuan dasar dari kehidupan manusia di muka bumi ini (Khan dan Ghifari. dan infaq. Alquran mengajarkan umat Islam agar menyalurkan sebagian hartanya dalam bentuk zakat. Adapun sifat-sifat maslahah sebagai berikut:  Maslahah bersifat subyektif dalam arti bahwa setiap individu menjadi hakim bagi masing masing dalam menentukan apakah suatu perbuatan merupakan suatu maslahah atau bukan bagi dirinya.M. Ada lima elemen dasar menurut beliau.A 13 . Menurut Imam Shatibi. yaitu keadaan optimal di mana seseorang 15 MuhammadMuflih. namun syariah telah menetapkan keharaman bunga bank. berbeda dengan konsep utility. Maslahah merupakan tujuan hukum syara' yang paling utama.dengan saluran konsumsi sosial. Misalnya.

konsumen Islam.tidak dapat meningkatkan tingkat kepuasan atau kesejahteraannya tanpa menyebabkan penurunan kepuasan atau kesejahteraan orang lain. maupun dalam pertukaran dan distribusi. kita perlu membandingkan tingkatan-tingkatan tujuan hukum syara' yakni antara daruriyyah. 14 . Pada tingkat pendapatan tertentu.  Konsep maslahah mendasari semua aktivitas ekonomi dalam masyarakat. sehingga tidak semua barang/jasa dapat dan layak dikonsumsi oleh umat Islam. Dalam membandingkan konsep 'kepuasan' dengan 'pemenuhan kebutuhan' (yang terkandung di dalamnya maslahah). Hal yang membatasinya adalah konsep maslahah tersebut di atas. karena memiliki alokasi untuk hal-hal yang menyangkut akhirat. akan mengkonsumsi barang lebih sedikit daripada non-muslim. Dengan demikian seorang individu Islam akan memiliki dua jenis pilihan:  Berapa bagian pendapatannya yang akan dialokasikan untuk maslahah jenis pertama dan berapa untuk maslahah jenis kedua. konsumsi.  Bagaimana memilih di dalam maslahah jenis pertama: berapa bagian pendapatannya yang akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan dunia (dalam rangka mencapai 'kepuasan' di akhirat) dan berapa bagian untuk kebutuhan akhirat. baik itu produksi. tahsiniyyah dan hajiyyah. Tidak semua barang/jasa yang memberikan kepuasan/utility mengandung maslahah di dalamnya.

dan bukan dengan jumlah kekayaan yang dimiliki. kebenaran dan ketaqwaan kepada Allah merupakan kunci moralitas Islam. Harta merupakan alat untuk mencapai tujuan hidup.265) 15 . Kedudukan harta merupakan anugrah Allah dan bukan sesuatu yang dengan sendirinya bersifat buruk (sehingga harus dijauhi secara berlebihan). (QS. jika diusahakan dan dimanfaatkan dengan benar. Mengutamakan konsumsi untuk ibadah daripada konsumsi duniawi. Perbedaan ini menyangkut nilai dasar yang menjadi fondasi teori. hingga teknik pilihan dan alokasi anggaran untuk berkonsumsi. Kebajikan dan kebenaran dapat dicapai dengan prilaku yang baik dan bermanfaat bagi kehidupan dan menjauhkan diri dari kejahatan. motif dan tujuan konsumsi. sedangkan konsumsi duniawi adalah present consumption. Ada tiga nilai dasar yang menjadi fondasi bagi perilaku konsumsi masyarakat muslim : 1. Semakin tinggi moralitas semakin tinggi pula kesuksesan yang dicapai. Konsep sukses dalam kehidupan seorang muslim diukur dengan moral agama Islam. memiliki perbedaan yang mendasar dengan teori konvensional. 2.BAB III KESIMPULAN Teori perilaku konsumen yang dibangun berdasarkan syariah Islam.2. Kebajikan. prinsip ini mengarahkan seorang konsumen untuk mengutamakan konsumsi untuk akhirat daripada dunia. Keyakinan akan adanya hari kiamat dan kehidupan akhirat. 3. Konsumsi untuk ibadah merupakan future consumption (karena terdapat balasan surga di akherat).

Abdul Wahab. Zein. 2003 Romli SA. Satria M. Ushul Fiqh. Muqaramah Mazahib fi Ushul. Jakarta: Kencana Khalab. Ensiklopedia Hukum Islam.php?option=com_content&view=article&id=157:workshop&catid=42:fearticles&Itemid=94 Efendi. 2003 16 . Muhammad Abu. Jakarta: Gaya Media Pratama.ac. 1999 Tim Penyusun.DAFTAR PUSTAKA http://fe. Ushul Fiqh. Pustaka Van Hoeve Zahrah. Ushul fiqh.umj. Jakarta: Pustaka Firdaus. Jakarta: pustaka Amani.id/index. Jakarta : PT.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->