P. 1
Jurnal

Jurnal

|Views: 331|Likes:
Published by ela_ns87

More info:

Published by: ela_ns87 on Jul 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/05/2013

pdf

text

original

Sections

ISSN : 1978 - 2896

PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM
VOLUME 6 – SEPTEMBER 2011 Jurnal Pengkajian Koperasi dan UKM adalah wadah informasi hasil penelitian maupun tinjauan hasil penelitian yang berkaitan dengan upaya pengembangan koperasi dan UKM di Indonesia. Terbit pertama kali tahun 2006 dengan frekuensi terbit satu kali setahun Pelindung Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK Penanggung Jawab Ir. Endah Srinarni, MSc Tim Penyunting Drs. Joko Sutrisno, MM Daniel Asnur, S.Kom, MM Drs. Widyono Mitra Bestari Prof. Dr. Suhendar Sulaeman Dr. Eko Agus Nugroho Ir. Lukmanul Hakim Almamalik, MT Tata Usaha Wiworowati, S.Ap Kun Ismandari, S.Pt Eko Sari Budi Rahayu, SE Budi Setiadji, SE Alamat Redaksi/Penerbit: Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK, Jln. M.T. Haryono Kav. 52-53 Jakarta Selatan, Telp. (021) 79182015 Fax. (021) 79182015 atau (021) 7942721 E-mail : publik_perkaderan@yahoo.com, website : http://www.smecda.com. Jurnal Pengkajian Koperasi dan UKM diterbitkan oleh Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK, Kementerian Koperasi dan UKM Jakarta.

JURNAL

JURNAL VOLUME 6 – SEPTEMBER 2011

ISSN : 1978-2896

PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM
VOLUME 6 – SEPTEMBER 2011

JURNAL

DAFTAR ISI
Daftar Isi ............................................................................................... Kata Pengantar ...................................................................................... 1. Uji Keragaman Koperasi Berprestasi Berdasarkan Skala Usaha Tahun 2009 ..................................................................................... Johnny W. Situmorang Kajian Skala Prioritas Program Pemberdayaan Koperasi dan UMKM ........................................................................................... Teuku Syarif Koperasi dan Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia: Tinjauan Probabilitas Tingkat Anggota Koperasi dan Tingkat Kemiskinan Propinsi ........................................................................................... Johnny W. Situmorang dan Saudin Sijabat Studi Kasus Penyertaan Modal Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan ke Koperasi ........................................................................ Achmad H. Gopar Model Peningkatan Peran KUMKM Dalam Pengembangan Komoditas Unggulan di Kawasan Perbatasan ................................ Indra Idris dan Saudin Sijabat i ii 1 - 23

2.

24 - 42

3.

43 - 69

4.

70 - 88

5.

89 - 123 124 - 141 142 - 158

6. ����������� ���������� ���� ������� Collateral Kredit ............... ����������� ���������� ���� ������� Akhmad Junaidi dan Muhammad Joni 7. Analisis Kebutuhan Peralatan di Sentra Gerabah ......................... Riana Panggabean

i

JURNAL VOLUME 6 – SEPTEMBER 2011

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat, petunjuk dan karunia-Nya sehingga Jurnal Pengkajian Koperasi dan UKM volume 6-September 2011 dapat terbit, sesuai dengan yang diharapkan. Jurnal Pengkajian Koperasi dan UKM ini merupakan media ilmiah yang bertujuan untuk menginformasikan hasil-hasil penelitian yang dilaksanakan Deputi Pengkajian Sumberdaya UKMK baik penelitian yang dilaksanakan tim maupun dilaksanakan secara mandiri yang berkaitan dengan pengembangan Koperasi dan UKM. Pada Jurnal edisi ini disajikan tujuh artikel hasil penelitian tentang Koperasi dan UKM yang meliputi, pertama Uji Keragaman Koperasi Berprestasi Berdasarkan Skala Usaha Tahun 2009, kedua Kajian Skala Prioritas Program Pemberdayaan Koperasi dan UMKM, ketiga Koperasi dan Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia: Tinjauan Probabilitas Tingkat Anggota Koperasi dan Kemiskinan Provinsi, keempat Studi Kasus Penyertaan Modal Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan ke Koperasi, kelima Model Peningkatan Peran KUMKM dalam Pengembangan Komoditas U���ul�� d� ��w�s�� �������s��, ������ ����������� ���������� ���� ������� Collateral Kredit, dan ketujuh Analisis Kebutuhan Peralatan di Sentra Gerabah. Dewan redaksi Jurnal Pengkajian dan UKM mengucapkan terima kasih khususnya kepada para penulis yang telah bersedia menyumbangkan hasil penelitiannya berupa artikel untuk dimuat dalam jurnal ini. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada Mitra Bestari, Tim Ahli dan semua pihak yang telah memberikan kontribususinya, sehingga Jurnal ini dapat terbit secara berkala. Akhirnya, semoga artikel yang dimuat dalam Jurnal Pengkajian Koperasi dan UKM ini bermanfaat bagi semua pihak dalam rangka pemberdayaan Koperasi dan UKM. Jakarta, September 2011

DEPUTI BIDANG PENGKAJIAN SUMBERDAYA UKMK Asdep Urusan Pengembangan Perkaderan UKM

Ir. Endah Srinarni, M.Sc. ii

Halaman ini sengaja dikosongkan

UJI KERAGAMAN KOPERASI BERPRESTASI BERDASARKAN SKALA USAHA TAHUN 2009 (Johnny W. Situmorang)

UJI KERAGAMAN KOPERASI BERPRESTASI BERDASARKAN SKALA USAHA TAHUN 2009* Johnny W. Situmorang** Abstrak Berdasarkan konstitusi hukum dan perundang-undangan Indonesia (UUD 1945, UU 25 tahun 1992, UU 34/2002, dan UU 38/2009), perkembangan koperasi di Indonesia menjadi penguasaan penuh pemerintah. Peran pemerintah, terutama Kementerian Koperasi dan UKM, dalam hal pembangunan nasional, adalah untuk memfokuskan dan mempertajam tugas pemerintah. Dalam mempromosikan koperasi, terdapat ratusan ribu koperasi yang beroperasi di bidang usaha. Salah satu usaha pemerintah adalah untuk menghargai kemajuan koperasi. Dalam hal penghargaan, Kementerian Koperasi dan UKM membedakan menjadi lima tipe koperasi, antara lain simpan pinjam, produksi, konsumsi, pemasaran, dan jasa. Pada tahun 2009, pemerintah telah mendapatkan 75 koperasi dengan predikat berprestasi. Masalahnya �d�l�h �p���h p����d��� �op���s� �d�l�h s���������. D����� ���l�s� v�����s�, makalah mengungkapkan bahwa tidak ada bukti perbedaan variansi diantara koperasi berdasarkan bidang usaha. Maka dari itu kebijakan dan perlakuan pemerintah untuk mendukung koperasi seharusnya tidak dibedakan. Kata kunci: peraturan, kebijakan, koperasi, berprestasi, keragaman, uji-F Abstract Based on Indonesia constitution and laws (UUD 1945, UU 25 year 1992, UU 34/2002, and UU 38/2009), cooperative development in Indonesia has been the government’s domain. The role of government, especially the Ministry of Cooperative and SME, in term of national development is to focus and sharpen the government tasks. In promoting cooperative, there are hundred thousands of cooperative which operates in few field of business. One of government effort is to valuation the achievement of cooperative. In term of valuation, the Ministry of CSME distinguishes on five types cooperative, which are saving-borrowing, production, consumption, marketing, and services cooperatives. In year of 2009, the government had got 75 cooperatives with predicate of achievement. The problem
*) Artikel diterima 20 Juli 2011, peer review 25 Juli 2011, review akhir 15 September 2011 **) Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK

1

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 1 - 23

is whether the distinction cooperative is significance. With analysis of variance, this study has revealed that there is no evidence the distinction of variance between cooperative based on business. So, policies and treatments of government to support cooperative could not necessary be different on cooperative. Key words: regulation, policy, cooperative, achievement, diversity, F-test I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan perkoperasian adalah salah satu tugas pemerintah Indonesia berdasarkan pasal 33 UUD 1945. Kemudian, UU Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian lahir sebagai tindaklanjut UUD 1945. Secara tegas tercantum bagaimana pengembangan koperasi Indonesia dan peran pemerintah. Selanjutnya, berdasarkan UU 34 tahun 2002 tentang Pemerintahan Daerah, khususnya otonomi daerah, pembangunan perkoperasian merupakan urusan yang diserahkan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Namun, dalam kerangka pembangunan nasional, pembangunan koperasi juga bagian tugas dari pemerintah pusat yang terlihat dari keberadaan Kementerian Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (KUKM) sejak tahun 1983. Bahkan sebelum era reformasi, kementeriannya adalah Departemen Koperasi dan PPK yang kewenangannya mencakup teknis. Pada era reformasi, berdasarkan UU Nomor 38 Tahun 2009, Kementerian KUKM dibentuk oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), berdasarkan klaster ketiga1, dalam rangka fokus dan penajaman tugas pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu Kedua (KIB-2). Keberadaan koperasi sebenarnya sudah diakui secara internasional. Dari perspektif sejarah, keberadaan koperasi sudah masif dan semakin penting setelah perlawanan kaum buruh atas pemilik modal setelah revolusi hitam di Inggris dan Jerman dengan terbentuknya koperasi konsumsi dan koperasi produsen. Di Indonesia, koperasi sudah menjadi tonggak kehidupan di kalangan petani dan buruh untuk memperjuangkan hak ekonomi. Keberadaan koperasi dianggap sebagai pemberontakan terhadap ketidakadilan ekonomi yang dirasakan oleh sekelompok orang terhadap pemilik sumberdaya atau kapital dan juga wujud atas sistem perekonomian yang mengandalkan kekuatan rakyat (Situmorang, 2000).
1

Terdapat 3 klaster kementerian menurut UU 38 tahun 2009.

2

UJI KERAGAMAN KOPERASI BERPRESTASI BERDASARKAN SKALA USAHA TAHUN 2009 (Johnny W. Situmorang)

Sampai saat ini, secara resmi usia koperasi telah mencapai 63 tahun dengan jumlah entitas koperasi di Indonesia yang sangat banyak, lebih dari 177 ribu unit yang berbentuk koperasi simpan pinjam, koperasi konsumsi, koperasi produksi, koperasi pemasaran, dan koperasi jasa. Sesuai dengan UU 25/1992, koperasi adalah badan usaha sebagaimana badan usaha lainnya, tapi yang membedakannya dengan badan usaha non-koperasi adalah watak sosial koperasi. Sehingga, koperasi diharapkan menjadi format kelembagaan perjuangan anggotanya dan wadah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat atas dasar gotong royong. Mubyarto (1998) menyatakan bahwa ekonomi kerakyatan lebih mampu menghadapi globalisasi karena menjamin ketangguhan dan keandalan ekonomi nasional. Sampai saat ini belum ada koperasi di Indonesia yang termasuk kategori koperasi besar dengan kiprah internasional. Dewasa ini, menurut International Cooperative Alliance (ICA), terdapat sedikitnya 300 koperasi yang berkelas dunia dengan omzet Rp.6.5 – Rp.634 triliun. Tapi tak satupun koperasi Indonesia masuk dalam kelas global itu (Rahardjo, 2010). Sejalan dengan UU 25/1992, dalam kerangka pengembangan dan pengawasan, pemerintah menerapkan kebijakan sistem penilaian kinerja berdasarkan kualitas koperasi. Misalnya, penilaian koperasi terbaik tahun 2002, dan penilaian daerah koperasi tahun 2007, dan penilaian koperasi berprestasi tahun 2007 (Anonim, 2005, 2007a, 2007b). Landasan penilaian koperasi berkualitas adalah Permenneg KUKM 06/Per/M.KUKM/V/2006 tentang Pedoman Penilaian Koperasi Berprestasi/Koperasi Award. Hasil penilaian kualitas menjadi bahan bagi pemerintah untuk semakin memajukan koperasi sebagai sokoguru perekonomian Indonesia. Sejauhmana perbedaan jenis koperasi dalam konteks penilaian kualitas sangat perlu diketahui agar track pengembangan koperasi menjadi tepat. 1.2 Permasalahan Sejak tahun 2002, pemerintah melalui Kementerian KUKM telah menerapkan pola penilaian terhadap koperasi agar kualitas koperasi dapat meningkat. Metode penilaian dilakukan berdasarkan beberapa variabel yang sesuai dengan prinsip perkoperasian, prinsip usaha, dan lingkungan. Setiap tahun, puluhan koperasi dari ratusan ribu d�����u��� �u�l���s�y�. �op���s� y��� d���l�� d��l�s�����s���� ���s empat kelompok, yakni kelompok-kelompok koperasi simpan-pinjam, koperasi produksi, koperasi pemasaran, dan koperasi jasa. Pada tahun 3

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 1 - 23

2009, terdapat 75 koperasi yang dinilai oleh pemerintah sebagai koperasi yang berkualitas dengan klaster-klaster koperasi simpan pinjam (KSP) 15, koperasi konsumen (KK) 30, koperasi produksi (KP) 10, koperasi pemasaran (KM) 10, dan koperasi jasa (KJ) 10. Semua koperasi yang berkualitas itu diharapkan menjadi sokoguru atau pilar perekonomian rakyat. Dari pembedaan jenis koperasi yang dinilai, secara eksplisit terlihat perbedaan antar kelompok koperasi baik ciri, kemampuan, potensi, dan performa output. Pengakuan atas kelompok ini berimplikasi pada perbedaan perlakuan, baik internal mencakup organisasi dan manajemen maupun eksternal yang mencakup pola pembinaan oleh pemerintah. Disamping itu, semua koperasi yang dinilai tersebar di seluruh Indonesia yang semestinya juga menunjukkan perbedaan lingkungan strategisnya baik dari sisi wilayah maupun operasional (bisnis), industrial, dan jauh (remote). Namun, informasi atas perbedaan tersebut belum diketahui oleh pemerintah secara akurat dan tepat. Dengan kata lain, apakah benar terlihat adanya perbedaan kualitas koperasi antar kelompok atau klaster koperasi sebagaimana telah dinyatakan oleh pemerintah. Oleh karena itu, pemerintah belum mengetahui bagaimana mengembangkan sistem pembinaan agar harapan tercapai. 1.3 Tujuan dan Manfaat Secara umum, tulisan ini bertujuan untuk mengetahui keragaan koperasi yang telah dinilai oleh pemerintah sebagai koperasi berkualitas. Secara khusus, analisis keragaman ini bertujuan untuk mengungkapkan �p���h s�c��� s��������� d�p�� d������� �d��y� ��������� �op���s� yang menyandang predikat berkualitas. Dari tujuan tersebut, analisis keragaman ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah untuk mengembangkan pola pembinaan koperasi. Disamping itu, analisis ini menjadi informasi bagi semua pemangku kepentingan dan masukan pengembangan metodologi riset di bidang perkoperasian. II. TINJAUAN TEORITIS UU Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian secara tegas menyatakan bahwa koperasi adalah badan usaha. Perbedaaan dasar antara koperasi dan non-koperasi adalah pada watak sosialnya, yang terlihat dari prinsip dan tujuannya. Tujuan utama koperasi adalah untuk menyejahterakan anggota dan masyarakat, serta mewujudkan tatanan perekonomian nasional 4

UJI KERAGAMAN KOPERASI BERPRESTASI BERDASARKAN SKALA USAHA TAHUN 2009 (Johnny W. Situmorang)

dalam rangka mewujudkan masyarakat maju, adil, dan makmur2. Watak sosial koperasi Indonesia sebenarnya sejalan dengan koperasi di dunia karena prinsip dan tujuan koperasi mengacu pada prinsip koperasi dunia (Anonim, 1984; Watkins, 1986). Meskipun berwatak sosial, koperasi masih relevan dengan perubahan tatanan dunia dan globalisasi (Book, 1994; Baswir, 2010). Dengan inspirasi terbentuknya koperasi dari konsumen dan produsen, Rochdale di Inggris dan Raifaissen di Jerman, pengelompokan koperasi cenderung mengikuti pola tersebut. Majalah INFOKOP nomor 11 tahun 1992 telah memaparkan nilai dan prinsip dasar koperasi yang tidak bertentangan dengan globalisasi3. Lars Marcus (1992), Presiden ICA waktu itu, memaparkan dalam INFOKOP tersebut, nilai dasar koperasi, perumusan nilai dasar pada koperasi konsumen Jepang, dan kecenderungan koperasi secara global. Ukuran output performa koperasi, sebagai lembaga ekonomi rakyat, adalah penjualan atau volume usaha. Itu sebabnya, ICA memaparkan koperasi raksasa dunia dalam realitas global dewasa ini dilihat dari volume usaha. Misalnya, koperasi terbesar dunia adalah koperasi pertanian Zeh Noh di Jepang yang volume usahanya mencapai Rp.634 triliun, koperasi Mondragon di Spanyol pada peringkat 10 yang berbentuk korporasi koperasi yang multinasional. Di Indonesia, Kospin Jasa di Pekalongan dengan volume usaha Rp.1.5 triliun (Rahardjo, 2010), dan Kopdit Sanggau di Kalimantan Barat, dengan volume usaha Rp.687.48 miliar pada tahun 2009. III. METODE 3.1 Ruang Lingkup Analisis ini merupakan suatu bentuk “desk research” dalam lingkup ilmu ekonomi, sosial, dan ilmu-ilmu koperasi. Pendekatan analisis adalah statistika parametrika, khususnya “statistics for decision making”. Sumber data adalah sekunder, yakni koperasi yang telah memperoleh status berkualitas oleh Kementerian KUKM tahun 2009. Data tersebut
UU nomor 25 tahun 1992 bab 1, pasal 1 angka 1 dan bab 2 pasal 3, dan bab 3 pasal 5. Prinsip koperasi Indonesia adalah keanggotaan bersifat sukarela, pengelolaan yang demokratis, pembagian sisa hasil usaha yang adil, balas jasa terbatas atas modal, dan kemandirian 3 INFOKOP nomor 11 tahun IX Mei 1992 dengan topic “Nilai-nilai dan Prinsip-prinsip Dasar Koperasi Menghadapi Tantangan Globalisasi. Media Pengkajian Perkoperasian, Badan Litbangkop & PPK, Departemen Kop&PPK, Jakarta.
2

5

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 1 - 23

dipublikasikan oleh Kementerian KUKM tahun 2010 dimana sebanyak 75 koperasi status berkualitas pada tahun 2009. Variabel respon yang diuji adalah nilai volume usaha masing-masing koperasi berprestasi. Volume usaha menjadi variabel performa output koperasi yang sangat penting karena volume usaha menunjukkan bagaimana transaksi koperasi terjadi terhadap anggota (Lampiran 1). 3.2 Model Analisis Metode analisis untuk mengambil keputusan ini adalah Analysis of Variance (ANOVA). ANOVA adalah suatu uji hipotesis untuk mengetahui apakah ada keragaman antar populasi. Terdapat tiga asumsi yang mendasari model ANOVA. Pertama, untuk setiap populasi, variabel responnya adalah terdistribusi normal. Kedua, keragaman dari variabel ��spo�, d�c���� s������ δ2, �d�l�h s��� u��u� s��u� popul�s�. ������, semua observasi harus independen. Bila rata-rata populasi adalah sama maka rata-rata sampel sangat dekat satu. Bentuk umum dari uji hipotesis keragaman (ANOVA) untuk analisis keragaman dari sebanyak k populasi adalah (Anderson, et al, 2004; Keller, 2005) �o: μ1 = μ2 = μ3 = …….= μ� dimana μ = ����-���� d��� popul�s� �� j Bila sampel acak dengan ukuran nj terpilih dari setiap k populasi atau perlakuan maka data contoh adalah x�j = ��l�� o�s���s� �� u��u� p��l��u�� j �j = ju�l�h o�s��v�s� u��u� p��l��u�� j x-j = ����-���� s��p�l u��u� p��l��u�� j sj2 = ��������� u��u� p��l��u�� j sj = s���d��d d�v��s� s��p�l u��u� p��l��u�� j

Ha: Semua rata-rata adalah tak sama

6

UJI KERAGAMAN KOPERASI BERPRESTASI BERDASARKAN SKALA USAHA TAHUN 2009 (Johnny W. Situmorang)

Rumus untuk rata-rata (xj) dan varian (sj2) sampel untuk perlakuan j adalah (1) (2) R���-���� s�lu�uh s��p�l, x= ���u x^, �d�l�h p��ju�l�h�� s��u� observasi dibagi jumlah total observasi, yaitu (3) d����� �� = �1 + �2 + �3+……..+ �� Untuk mengetahui keragaman antar populasi atau disebut sebagai ratarata kuadrat terkait perlakuan atau the mean square due to treatments (MSTR) adalah dengan rumus (4) �����l��� d��� p��s����� (4) ���u ∑�j(xj – x-)2 �d�l�h ju�l�h �u�d��� terkait pada perlakuan atau sum of squares due to treatments (SSTR). Sedangkan denominator (penyebut), k - 1, adalah derajat bebas terkait pada SSTR. Jika hipotesis nol benar, MSTR merupakan estimasi tak ���s d��� δ2. Untuk mengetahui keragaman dalam perlakuan atau disebut mean square due to error (MSE) adalah dengan rumus (5) �����l��� p�d� p��s����� (5) ���u ∑(�j - 1)sj2 d�s��u� s������ sum squares due to error (SSE) sedangkan penyebutnya (nt – k) adalah derajat bebas terkait pada SSE.

7

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 1 - 23

3.3

Uji Hipotesis Berdasarkan hasil penilaian kualitas 75 koperasi terdapat 5 (lima) klaster (k populasi) atau jenis koperasi, yakni KSP, KK, KP, KM, dan �J. Ol�h ������ ��u uj� ��s����� d��� ����-���� (μ�) � popul�s� �d�l�h:

�o: μ�sp = μ�� = μ�p = μ�� = μ�j

(6)

Ha: Rata-rata semua koperasi adalah tak sama

Uji statistik berdasarkan analysis of variance disebut sebagai uji-F adalah: (7) Aturan penolakan atau penerimaan hipotesis Ho adalah dengan ������d������ F-h��u�� (Fh) d�� F-����l (F�) ���d�s����� α = 5% atau kriteria p-value pada derajat bebas (degree of freedom), k – 1 untuk M�TR d�� �� – � u��u� M�E. N�l�� F� (α=5%, �-1=4, ��-�=70) �d�l�h 2.53. Jika Fh > Ft maka tolak Ho atau terima Ha, dengan kata lain ada bukti keragaman populasi. Sebaliknya, bila Fh < Ft, terima Ho atau tolak Ha, dimana ada bukti nyata bahwa keragaman antar populasi adalah sama. Atau, bila dengan kriteria p-value, tolak Ho jika p-value < α, s���l���y� j��� p-value > α. Model analisis ini sangat sering digunakan oleh kalangan pebisnis dan juga pengambil keputusan. Beberapa kasus yang dapat ditunjukkan adalah mengukur sejauhmana pekerja perusahaan tahu tentang “total quality management”, waktu kerja mesin produksi dari berbagai pabrik, efek diseminasi informasi untuk manajer, dan investigasi persepsi nilai etik korporasi antar spesialis. Juga analisis keragaman atas price earning ratio (PER) dari 1000 perusahaan yang diperingkat (ranking) oleh “the Business Week Global”. Salah satu yang menarik adalah suatu studi yang telah dimuat di Journal of Small Business Management tentang job stress (Anderson et al, 2004). Demikian juga menguji perbedaan penjualan pada pemasaran yang berbeda, menguji apakah perbedaaan gelar pendidikan juga menunjukkan perbedaan gaji, dan menguji perbedaan merek dagang (Keller, 2005)

8

UJI KERAGAMAN KOPERASI BERPRESTASI BERDASARKAN SKALA USAHA TAHUN 2009 (Johnny W. Situmorang)

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Keragaan Umum Koperasi Berkualitas Keragaan umum koperasi yang telah memperoleh predikat berkualitas pada tahun 2009 terlihat pada Lampiran 1. Indikator output performance yang umum mencirikan koperasi adalah jumlah anggota (JA), jumlah tenaga kerja (JTK), modal sendiri (MS), modal luar (ML), volume usaha (VU), dan SHU (sisa hasil usaha). Dengan keragaman antar jenis, volume usaha per anggota adalah tepat ditampilkan untuk melihat p����d��� ��l�������s. ��d� T���l 1 ���l�h�� h�s�l p�os�s s����s���� ���s data Lampiran 1. Dengan jumlah sampel 75 koperasi, secara umum terlihat, nilai rata-rata dari JA adalah 2389 orang, JTK sebanyak 45 orang, MS sebesar Rp.5.22 miliar, ML sebesar Rp.13.47 miliar, VU sebesar Rp.27.51 miliar, dan SHU sebesar Rp.0.69 miliar. Sedangkan rata-rata volume usaha per anggota adalah Rp.0.0254 miliar atau Rp.25.40 juta. Pada Lampiran 2 terlihat, nilai rata-rata volume usaha koperasi berprestasi tahun 2009 adalah Rp.27.51 miliar dimana hanya 15 koperasi berprestasi yang volume usahanya di atas rata-rata, selebihnya �d�l�h d� ��w�h ����-���� (p�d� ������ ���-1 d�� ��-1 ��d�� ���l�h�� karena outlier, volume usahanya sangat besar dibanding yang lain). Secara umum terlihat bahwa keragaman koperasi berkualitas tahun 2009, dimana jumlah anggota antara 67 orang dan 80858 orang, tenagakerja antara 1 orang dan 651 orang, modal sendiri antara Rp.0.07 miliar dan Rp.139.25 miliar, modal luar antara Rp.0.13 miliar dan Rp.470.83 miliar, volume usaha antara Rp.0.16 miliar dan Rp.687.48 miliar, dan SHU antara Rp.0.01 miliar dan Rp.8.24 milar. Sedangkan nilai volume usaha per anggota adalah antara Rp.80.0 juta dan Rp.448.40 juta. Gambaran usaha koperasi berprestasi terlihat pada Lampiran 2-7. Posisi secara keseluruhan terlihat pada Lampiran 2. Sedangkan pada Lampiran 3-7 terlihat perbedaan posisi dalam kelompok koperasi berprestasi. Posisi koperasi berdasarkan usaha di atas rata-rata adalah sebanyak 5 KSP (>Rp.13.8 miliar), 9 KK (>Rp.14.83 miliar), 3 KP (>Rp.28.89 miliar), 3 KM (>Rp.21.0 miliar), dan 4 KJ (Rp.12.40 miliar). Dari uraian ini terlihatlah secara umum keragaman yang sangat tinggi dari koperasi yang memperoleh predikat berprestasi pada tahun 2009.

9

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 1 - 23

Tabel 1. Proses Statistika Performa Output Koperasi Berkualitas, Tahun 2009
Uraian Jumlah Sampel (n) Means (Rataan) Standard of Deviation Nilai Maksimum Nilai Minimum Coefficient of Confidence (CoC) Level of significance (LoS) z-value two-tail Standard of Error Margin of Error (MoE) UCL LCL JA Orang 75 2388,69 9325,97 80858,00 67,00 JTK Orang 75 44,51 95,11 651,00 1,00 MS Rp miliar 75 5,22 16,20 139,25 0,07 ML Rp miliar 75 13,47 54,70 470,83 0,13 VU Rp miliar 75 27,51 80,76 687,48 0,16 SHU Rp miliar 75 0,69 1,28 8,24 0,01 VU/Ang Rp miliar 75 0,0254 0,0552 0,4484 0,0008

0,95 0,05 1,96 1076,87 2110,63 4499,32 278,07

0,95 0,05 1,96 10,98 21,53 66,03 22,98

0,95 0,05 1,96 1,87 3,67 8,88 1,55

0,95 0,05 1,96 6,32 12,38 25,85 1,10

0,95 0,05 1,96 9,32 18,28 45,79 9,24

0,95 0,05 1,96 0,15 0,29 0,98 0,40

0,9500 0,0500 1,96 0,0064 0,0125 0,0379 0,0129

JA = ju�l�h ����o�� M� = �od�l s��d��� VU = volu�� us�h� JT� = ju�l�h ������ ���j� ML = �od�l lu�� ��U = s�s� h�s�l us�h� UCL = upper control limit LCL = lower control limit; Satuan rupiah tak berlaku untuk n, CoC, LoS, z-value

Berdasarkan performa koperasi berkualitas tahun 2009, proses s����s���� l���h l��ju� d�p�� ���u�ju���� ���������s����y�. D����� α s���s�� 5% ���u s�l��� ��p��c�y��� 95% d�� ��l�� Z s���s�� 1.96 (two tail), diketahui margin of error (MoE) dari masing-masing variabel performa output koperasi berprestasi. MoE adalah ukuran sebaran yang dapat memberikan batas atas dan batas bawah yang menunjukkan selang performa dalam kontrol. Dalam terminologi pengawasan, di luar batas atas dan batas bawah dinyatakan sebagai di luar kontrol. MoE menentukan UCL dan LCL variabel performa output koperasi berprestasi. Untuk anggota, UCL-nya adalah 4499 orang dan LCL�y� 278 o����. A����y�, ���� d�p��c�y� 95% ��hw� ����o�� �op���s� berprestasi dengan rata-rata 2389 orang ada di antara 278 orang dan 4499 orang. Demikian juga dengan variabel volume usaha, dimana UCL-nya Rp.45.79 miliar dan LCL-nya Rp.9.24 miliar. Artinya, kita percaya nilai volume usaha koperasi rata-rata Rp.27.51 miliar per koperasi ada di antara nilai Rp.9.24 miliar dan Rp.45.79 miliar. Untuk

10

UJI KERAGAMAN KOPERASI BERPRESTASI BERDASARKAN SKALA USAHA TAHUN 2009 (Johnny W. Situmorang)

variabel performa output lainnya, berlaku hal yang sama. Khusus variabel volume usaha per anggota dengan rata-rata sebesar Rp.25.4 juta, UCL-nya sebesar Rp.37.9 juta dan LCL-nya Rp.12.9 juta. Selang ini menunjukkan peran koperasi dalam menggalang ekonomi anggota ��s�h ���d�h d����� ���� p��c�y� 95% ����s��s� �����d�h Rp.12.9 ju�� atau hanya mencapai Rp.1.08 juta per bulan tiap anggota atau hanya Rp.35.83 ribu per hari setiap anggota. 4.2. Uji Keragaman Dari Lampiran 1 dapat dikelompokkan sampel koperasi berdasarkan jenis (klaster) koperasi berprestasi tahun 2009. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, variabel performa output terpilih adalah volume usaha. Pada Tabel 2 terlihat jumlah sampel terbanyak adalah KK atau koperasi konsumen. Jumlah sampel KSP adalah 15, KK sebanyak 30, KP sebanyak 10, KM sebanyak 10, dan KJ sebanyak 10. Sebagai data sekunder, sebaran ini adalah “given” dalam analisis ini. Alasan mengapa distribusi terjadi seperti tersebut di atas, tidak menjadi obyek pembahasan dalam analisis ini. Nilai rata-rata volume usaha klaster KSP adalah yang tertinggi, yakni Rp.58.71 miliar, lalu berurutan adalah KP sebesar Rp.28.39 miliar, KJ sebesar Rp.24.40 miliar, KM sebesar Rp.21.06 miliar, dan KK sebesar Rp.14.81 miliar. Nilai volume usaha maksimum adalah pada KSP, sebesar Rp.687.78 miliar, disusul oleh KP sebesar Rp.110.3 miliar, KM sebesar Rp.79.37 miliar, KJ sebesar Rp.72.29 miliar, dan KK sebesar Rp.65.14 miliar. Volume usaha terendah adalah pada KSP sebesar Rp.0.16 miliar, lalu KK sebesar Rp.0.77 miliar, KP sebesar Rp.0.88 miliar, KM sebesar Rp.1.25 miliar, dan KJ sebesar Rp.3.34 miliar. Terlihat, volume usaha yang sangat beragam adalah pada KSP, antara Rp.0.16 sampai Rp.687.48 miliar. Hal ini karena ada satu sampel yang menonjol sendiri (outlier), yakni sampel SP-1 dengan volume usaha mencapai Rp.687.48 miliar. Koperasi ini adalah Koperasi Kredit (Kopdit) yang sebelumnya merupakan lembaga keuangan Credit Union (CU) di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Dengan jumlah anggota mencapai 80.858 orang, volume usaha mencapai Rp.3.82 miliar per anggota. Koperasi sampel ini mempunyai asset sebesar Rp.610.08 miliar dimana sebesar 22.83% d��� �ss�� ��u ���su���� d��� �od�l s��d���. ������� l������ keuangan, koperasi sampel ini termasuk berhasil.

11

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 1 - 23

Dengan posisi nilai usaha tertinggi, volume usaha per anggota Kopdit di Sanggau tersebut adalah sebesar Rp.8.50 juta setahun atau Rp.708.53 ribu sebulan setiap anggota atau Rp.23.62 ribu per hari setiap anggota. Volume usaha kedua tertinggi, sebesar Rp.110.3 miliar, adalah pada kelompok KP, yaitu di Pasuruan. Koperasi ini mempunyai anggota sebanyak 4116 orang dan tenaga kerja sebanyak 107 orang, nilai transaksi koperasi dengan anggota adalah Rp.26.8 juta setahun atau Rp.2.23 juta per hari per anggota atau Rp.74.41 ribu per hari setiap anggota. Selanjutnya adalah pada koperasi pemasaran di Mojokerto dengan volume usaha Rp.79.37 miliar dan anggota hanya 177 orang. Nilai ini sama dengan transaksi koperasi dengan setiap anggota sebesar Rp.448.4 juta atau sebesar Rp.37.37 juta per bulan setiap anggota atau Rp.1.25 juta sehari setiap anggota. Volume usaha keempat tertinggi adalah pada koperasi jasa, yakni Rp.72.29 miliar, yakni pada KJ di Surabaya. Dengan anggota sebanyak 449 orang dan tenaga kerja 21 orang, transaksi untuk setiap anggota adalah Rp.161.0 juta atau Rp.13.42 juta per bulan setiap anggota atau Rp.447.23 ribu sehari per anggota. Volume usaha tertinggi kelima adalah pada koperasi konsumen dengan volume usaha sebesar Rp.65.14 miliar, yakni KK di Kutai Timur. Dengan jumlah anggota sebanyak 3.664 orang dan tenaga kerja 651 orang, transaksi dengan setiap anggota setahun adalah Rp.17.8 juta atau sebulan Rp.1.48 juta setiap anggota atau Rp.123.46 ribu sehari setiap anggota. Volume usaha terendah juga terdapat pada populasi KSP, yakni Rp.0.16 miliar. Ini adalah koperasi yang berprestasi berasal dari Banda Aceh, Propinsi NAD. Koperasi ini hanya mempunyai anggota sebanyak 67 orang dengan tenaga kerjanya hanya satu orang. Koperasi ini hanya mampu menghimpun modal sebesar Rp.0.96 miliar. Sehingga transaksi koperasi dengan anggota hanya Rp.2.4 juta per anggota setahun atau hanya sebesar Rp.199.0 ribu per bulan setiap anggota. Dari sisi prinsip koperasi, yakni dari, oleh, dan untuk anggota, berdasarkan transaksi koperasi, performa koperasi berkualitas tersebut kurang baik, kecuali Kopdit di Sanggau. Artinya, nilai transaksi ekonomi koperasi dan anggotanya sangat rendah.

12

UJI KERAGAMAN KOPERASI BERPRESTASI BERDASARKAN SKALA USAHA TAHUN 2009 (Johnny W. Situmorang)

Tabel 2. Output Performa Koperasi Berprestasi Tahun 200 Berdasarkan Jenis Koperasi

VU = volu�� us�h� (Rp ��l���)

13

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 1 - 23

Berdasarkan analisis keragaman pada persamaan (1) – (7) diperoleh beberapa hasil ringkasan ANOVA single factor pada Tabel 3 dan Tabel 4. Pada Tabel 3 terlihat analisis keragaman koperasi berprestasi berdasarkan kelompok KSP, KK, KP, KM, dan KJ. Jumlah total observasi adalah sebanyak 75 dan jumlah kelompok (k) sebanyak 5. Nilai total volume usaha KSP berprestasi adalah Rp.880,68 miliar (tertinggi), disusul oleh KK sebesar Rp.444.42 miliar, KP sebesar Rp.283.87 miliar, KJ sebesar Rp.210.59 miliar, dan terrendah KM sebesar Rp.210,59 miliar. Dengan menggunakan persamaan (1), ditemukan nilai rata-rata masing-masing kelompok sampel, KSP adalah Rp.58.71 miliar, KK sebesar Rp.14.81 miliar dan seterusnya (sama dengan Tabel 2). Dengan menggunakan persamaan (3), nilai rata-rata dari seluruh kelompok adalah Rp.29.47 miliar. Nilai variance diperoleh dari operasi persamaan (2), misalkan untuk KSP adalah ����2 = (687.48-58.71)2 + (43.98-58.71)2 + …………….+ (0.15-58.71)2/(5-1) = (395349 + 217.03 + 182.84+………………..+ 3428.3)/4 = 30445.49 ��l��� Tabel 3. Analysis of Variance Koperasi Berprestasi Single Factor

Dengan cara yang sama, keragaman KK, KP, KM, dan KJ adalah masingmasing Rp.358.79 miliar, Rp.1453,28, Rp.919.32, dan Rp.514.49.

14

UJI KERAGAMAN KOPERASI BERPRESTASI BERDASARKAN SKALA USAHA TAHUN 2009 (Johnny W. Situmorang)

Berdasarkan persamaan (4), dapat diketahui MSTR setelah terlebih dahulu dihitung SSTR, yakni ��TR = 15(58.71-29.47)2 + 30(14.81-29.47)2 + 10(28.39-29.47)2 + 10(21.06-29.47)2 + (24.40-29.47)2 = 12823.26 + 6447.12 + 11.81 + 708.05 + 257.82 = 20248.06 ��l��� = 5062.02 ��l���

M�TR = 20248.06/(5-1)

Berdasarkan persamaan (5), dapat diketahui MSE dengan terlebih dahulu dihitung SSE, yakni ��E M�E = (15-1)30445.49 + (30-1)358.79 + (10-1)1453.28 + (10-1)919.32 + (10-1)514.49 = 4126236.88 + 10405.00 + 13079.55 + 8273.91 + 4630.39 = 462625.73 ��l��� = 462625.73/(75-5) = 6608.94 ��l���

Dengan didapatkannya nilai MSTR dan MSE, ringkasan ANOVA terlihat pada Tabel 4. Sumber variasi adalah variasi antar kelompok atau perlakuan) dan variasi dalam kelompok. Total variasi adalah penjumlahan variasi antar kelompok (SSTR) dan variasi dalam ��lo�po� (��E). D���j�� ����s (d�) ����� ��lo�po� �d�l�h 4 (=5 ��lo�po� �u���� 1) d�� d�l�� ��lo�po� 70 (= 75 o�����s� �u���� 5 kelompok). Dari sini dapatlah dinyatakan bahwa analisis keragaman merupakan proses partitioning jumlah total kuadrat dan derajat bebas atas variasi yang bersumber dari antar kelompok dan dalam kelompok. Kuadrat rata-rata antar kelompok (MSTR) adalah sebesar Rp.5062.02 miliar dan Kuadrat rata-rata dalam kelompok (MSE) adalah sebesar Rp.6608.94 miliar.

15

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 1 - 23

Tabel 4. Analysis of Variance Koperasi Berprestasi Antar dan Dalam Kelompok, Tahun 2009

Dengan angka-angka hasil analisis keragaman pada Tabel 4 maka uji F dapat dilakukan atas keragaman koperasi berprestasi tahun 2009. Nilai F hitung (Fh) adalah: Fh = 5062.02/6608.94 = 0.7659

Nilai Fh sebesar 0.7659 adalah lebih kecil daripada Ft, sebesar 2.53 p�d� α = 5% d�� d���j�� ����s �o�����o� 4 d�� d��o�����o� 704. Dengan menggunakan kriteria p-value, ternyata p-value (0.7659;4;70) �d�l�h s���s�� 0.55 ���u 55% y��� l���h ��s�� d���p�d� α = 5%. Artinya, keputusan adalah terima Ho yang menyatakan nilai rata-rata �d�l�h s���. A��u, p�d� s�l��� ��p��c�y��� 95% ���d�p�� �u��� ��hw� klaster koperasi yang terdiri dari koperasi simpan pinjam, koperasi produksi, koperasi konsumsi, koperasi pemasaran, dan koperasi jasa tidak berbeda satu dengan lainnya. Oleh karena itu, pembinaan dan pengawasan pembangunan koperasi tidak membutuhkan perbedaan perlakuan antar koperasi tersebut. Ini berbeda dengan output performa masing-masing kelompok koperasi berprestasi dimana dari beberapa variabel yang menunjukkan performa koperasi. Sayangnya, studi ini tidak mengungkapkan mengapa hal itu bisa terjadi.

4

Pada tabel F distribution, derajat bebas denominator sebesar 70 tidak tersedia. Oleh karena itu, digunakan df denominator sebesar 60 yang tidak berbeda dengan df sebesar 70.

16

UJI KERAGAMAN KOPERASI BERPRESTASI BERDASARKAN SKALA USAHA TAHUN 2009 (Johnny W. Situmorang)

V.

PENUTUP

Penilaian koperasi berdasarkan prestasi adalah upaya pemerintah untuk mengetahui performa koperasi dan merupakan suatu perangsang kemajuan koperasi Indonesia. Dari hasil analisis keragaman, secara umum terungkap keragaan koperasi berdasarkan volume usaha berbeda antar koperasi simpan pinjam, koperasi produksi, �op���s� �o�su�s�, �op���s� p���s����, d�� �op���s� j�s�. N��u�, s�c��� sp�s����, berdasarkan uji keragaman, terbukti tidak ada perbedaaan antar kelompok koperasi tersebut. Oleh karena itu dapat dinyatakan bahwa perbedaan populasi koperasi tersebut tidak menyebabkan adanya keragaman antar koperasi. Dalam rangka pembinaan dan pengawasan pembangunan koperasi, khususnya untuk koperasi berprestasi, kebijakan dan perlakuan pemerintah bisa saja seragam, meskipun jenis koperasi beragam. Misalnya menyangkut kebijakan pengembangan bisnis, khususnya volu�� us�h�, d�� p�l���h�� ����j���� d�� ��w���us�h���, s���� s��������s� ��s��s dan manajemen koperasi. DAFTAR PUSTAKA Anderson, David R., Dennis J. Sweeney, Thomas A. Williams. 2004. Essentials of Modern Business Statistics With Microsoft® Excel, 2e. Thomson SouthWestern. Anonim. 1984. Memperkokoh Pilar-pilar Kemandirian Koperasi. Ontologi Esei. Badan Penelitian dan Pengembangan, Departemen Koperasi. Jakarta, 12 Juli. _______. 2005. Koperasi Terbaik Seluruh Indonesia. Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, RI, Jakarta. _______. 2007a. Pedoman Penilaian Koperasi Berprestasi Tahun 2007. Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, RI, Jakarta. _______. 2007b. Peraturan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menegah Republik Indonesia Nomor 03/Per/14-KUKM/I/2007. Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, RI, Jakarta. _______. 2009. Profil Koperasi Berprestasi Tahun 2009. Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia, Jakarta Baswir, Revrisond. 2010. Revitalisasi Koperasi Dalam Menghadapi Perdagangan Bebas (ACFTA, ANZFTA). Worksop Nasional dan Ekspose Hasil Pemberdayaan Koperasi dan UMKM “Kelembagaan Koperasi Sehat, Koperasi Kuat, Rakyat Sejahtera”. Dosen FEB UGM dan Anggota Majelis Pakar Dekopin. Jakarta, Juli. 17

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 1 - 23

Book, Sven Ake. 1994. Nilai-Nilai Koperasi Dalam Era Globalisasi. Laporan Kepada Kongres ICA di Tokyo, Oktober 1992. Koperasi Jasa Audit. Penerjemah Djabarudin Djohan. Jakarta, April. Keller, Gerald. Statistics for Management and Economics. Seven Edition. Thomson Brooks/Cole. Marcus, Lars. 1992. Nilai-nilai Dasar dan Kecenderungan Global Kooperatif. Majalah INFOKOP, Media Pengkajian Perkoperasian, nomor 11 tahun IX, Mei. Badan Litbangkop & PPK, Depkop & PPK, Jakarta. Mubyarto. 1998. Ekonomi Rakyat Menghadapi Globalisasi. Dalam bukunya ”Reformasi Sistem Ekonomi. Dari Kapitalisme Menuju Ekonomi Kerakyatan. Penerbit Aditya Media. Rahardjo, Dawam. 2010. Ekonomi Politik Perkoperasian Indonesia. Prosiding seminar “Ekonomi Politik Perkoperasian Indonesia. Ibnu Soedjono Center dan GKBI, Jakarta, 8 & 12 Juli. Situmorang, Johnny W. 2000. Doktrin/Ajaran Koperasi Indonesia. Forum Dialog Nasional “Koperasi Dalam Paradigma Reformasi Menuju Indonesia Baru”. Aliansi Koperasi Indonesia (ALKINDO), Hotel Indonesia. Jakarta, 4 – 5 September 2000.

18

UJI KERAGAMAN KOPERASI BERPRESTASI BERDASARKAN SKALA USAHA TAHUN 2009 (Johnny W. Situmorang)

Lampiran 1. Sampel dan Variabel Performa Koperasi Berprestasi Tahun 2009 No Kode 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 SP-1 SP-2 SP-3 SP-4 SP-5 SP-6 SP-7 SP-8 SP-9 SP-10 SP-11 SP-12 SP-13 SP-14 SP-15 KK-1 KK-2 KK-3 KK-4 KK-5 KK-6 KK-7 KK-8 KK-9 KK-10 KK-11 KK-12 KK-13 KK-14 KK-15 KK-16 KK-17 KK-18 KK-19 KK-20 KK-21 Kab/Kota JAng JTK MS ML Volush SHU Volush/Ang (orang) (0rang) (Rp m) (Rp m) (Rp m) (Rp m) (Rp juta/orang) 139,25 12,43 8,87 2,75 7,76 5,87 5,26 1,31 1,37 3,33 1,31 1,45 0,35 0,49 0,49 13 10,23 7,49 21,88 8,79 9,74 2,49 3,14 0,44 1,42 4,93 0,7 2,32 1,38 2,92 1,63 1,89 4,14 0,58 8,44 1,79 470,83 49,01 43,44 7,25 23,6 4,77 0,9 3,06 3,03 3 2,17 8,65 0,44 1,33 0,47 28,79 43,71 4,9 31,36 28,99 2,53 3,36 20,64 0,57 1,73 1,99 1,3 0,35 2,6 3,28 0,14 0,59 0,69 0,28 6,57 2,01 687,48 43,98 45,19 8,14 18,92 11,27 16,75 5,98 15,39 6,33 5,68 12,48 0,62 2,31 0,16 65,14 57,18 4,53 52,1 62,55 16,02 20,48 27,4 3,96 11,2 6,46 2,07 0,77 5,18 10,23 1,96 2,6 6,17 1,51 11,87 15,92 5,23 3,93 1,42 0,44 0,6 0,89 1,02 0,02 0,09 0,65 0,17 0,29 0,07 0,01 0,1 8,24 3,34 0,16 3,2 1,45 0,98 0,84 0,83 0,13 0,77 0,36 0,04 0,58 0,11 0,06 0,41 0,39 0,21 0,13 0,09 0,36 8.50 5.9 7.9 2.3 6.6 6.5 11.1 6.3 21.4 11.1 27.0 64.0 3.8 18.5 2.4 17.8 14.8 1.4 16.6 37.7 22.3 72.9 17.2 3.6 10.7 6.3 2.1 0.8 6.0 12.6 2.6 3.8 9.7 2.4 19.8 27.0 19

Kab. Sanggau 80858 180 Kab. Ngada 7455 29 Kota Bandar Lampung 5746 19 Kab. Bandung 3520 13 Kodya Jakarta Barat 2881 8 Kab. OKI 1737 32 Kab. Bintan 1512 3 Kota Baru 946 10 Kab. Sidoarjo 720 21 Kab. Pandeglang 569 7 Kab. Lombok Timur 210 18 Kab. Boyolali 195 26 Kota Samarinda 164 5 Kab. Klungkung 125 3 Kota Banda Aceh 67 1 Kab. Kutai Timur 3664 651 Kota Padang 3852 214 Kota Batam 3321 17 Kota Bandar Lampung 3142 19 Kab. Situbondo 1660 34 Bangka Barat 717 13 Kab. Sleman 281 158 Kota Medan 1589 19 Kab. Sleman 1115 77 Kab. Tanjab Barat 1045 16 Kab. Flores 1029 17 Kab. Ende 984 5 Kab. Tangerang 914 3 Kab. Jembrana 861 7 Kodya Jakarta Timur 809 20 Kepahiang 764 11 Kab. Muna 676 2 Kota Bukittinggi 637 8 Kab. Jayapura 618 7 Kab. Simalungun 599 11 Kab. Subang 590 11

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 1 - 23

37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75

KK-22 KK-23 KK-24 KK-25 KK-26 KK-27 KK-28 KK-29 KK-30 KP-1 KP-2 KP-3 KP-4 KP-5 KP-6 KP-7 KP-8 KP-9 KP-10 KM-1 KM-2 KM-3 KM-4 KM-5 KM-6 KM-7 KM-8 KM-9 KM-10 KJ-1 KJ-2 KJ-3 KJ-4 KJ-5 KJ-6 KJ-7 KJ-8 KJ-9 KJ-10

Kab. 50 Koto 551 Kab. Gorontalo 514 Kab. Pekalongan 404 Kota Samarinda 376 Kab. Tasikmalaya 310 Kab. Kubu Raya 203 Kota Sibolga 203 Kab. Kep. Sangihe 161 Kab. Hulu Sungai Selatan 160 Kab. Pasuruan 4116 Kabupaten Indragiri Hulu 585 Kab. Semarang 6287 Kab. Cirebon 2411 Kab. Lamongan 1616 Kab. Musi Banyuasin 1579 Kab. Lombok Timur 330 Kab. Malang 324 Kab. Tanjab Barat 257 Kab. Siak 183 Kodya Jakarta Pusat 251 Kab. Aceh Tengah 6776 Kab. Ogan Komering Ulu 1536 Kab. Merangin 627 Kab. Rohul 549 Kab. Merangin 518 Kab. Malang 324 Kota Baru 242 Kab. Mojokerto 177 Kab. Majalengka 90 Kodya Jakarta Pusat 1331 Kab. Kotawaringin Barat 1424 Kota Balikpapan 973 Kab. Jombang 4306 Kota Malang 1496 Kota Pekalongan 661 Kab. Lombok Timur 494 Kota Surabaya 449 Kota Padang 405 Kota Samarinda 381

4 4,51 4,97 1,09 0,02 14 0,78 2,73 17,08 0,18 4 1,32 1,08 4,7 0,06 2 1,92 0,17 2,17 0,27 26 1,05 2,57 13,14 0,29 171 2,06 0,44 4,71 0,77 12 0,6 0,33 1,32 0,16 12 1,19 1,14 9,65 0,08 2 0,64 1,05 5,26 0,15 107 11,93 22,97 110,26 0,48 14 1,4 1,93 5,37 0,72 26 1,31 2,63 4,98 0,07 10 0,46 2,59 6,34 0,34 21 1,7 12 42,67 0,1 68 7,67 10,22 80,64 0,17 24 0,9 2,7 8,65 0,1 13 1,44 1,07 21,98 0,17 15 0,26 0,42 2,1 0,1 45 0,26 0,24 0,88 0,04 14 1,61 5,77 22,13 0,37 399 0,62 26,06 75,45 0,22 29 1,53 7,21 4,39 0,49 23 1,12 1,71 4,68 0,48 18 1,55 0,91 2,76 0,59 16 0,82 1,61 5,47 0,33 39 1,51 0,28 11,58 0,14 11 0,38 0,13 3,51 0,1 5 0,35 9,77 79,37 0,11 9 0,07 0,27 1,25 0,01 21 5,53 31,9 30,56 0,72 9 4,84 0,59 9,05 1,45 189 6,09 1,01 12,08 2,55 24 13,77 12,61 52,32 0,45 17 2,44 7,48 32,79 0,65 20 0,59 5,05 11,42 0,09 21 0,5 2,22 3,34 0,07 21 2,49 15,4 72,29 0,37 11 1,14 0,71 14,42 0,34 157 1,29 0,34 5,69 0,42

2.0 33.2 11.6 5.8 42.4 23.2 6.5 59.9 32.9 26.8 9.2 0.8 2.6 26.4 51.1 26.2 67.8 8.2 4.8 88.2 11.1 2.9 7.5 5.0 10.6 35.7 14.5 448.4 13.9 23.0 6.4 12.4 12.2 21.9 17.3 6.8 161.0 35.6 14.9

S umber: Kementerian KUKM (2010) 20

UJI KERAGAMAN KOPERASI BERPRESTASI BERDASARKAN SKALA USAHA TAHUN 2009 (Johnny W. Situmorang)

21

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 1 - 23

22

UJI KERAGAMAN KOPERASI BERPRESTASI BERDASARKAN SKALA USAHA TAHUN 2009 (Johnny W. Situmorang)

23

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 24 - 42

KAJIAN SKALA PRIORITAS PROGRAM PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN UMKM* Teuku Syarif** Abstrak Dari hasil penyusunan Daftar Inventarisasi Masalah yang dilakukan oleh Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2009, diketahui bahwa ada 186 masalah koperasi yang harus dicarikan solusinya. Dengan menggunakan Analisis Skala Prioritas berdasarkan pertimbangan tingkatan, dampak, penyebaran, intensitas dan ketersediaan sumberdaya, ke-186 masalah tersebut dapat dikelompokkan menjadi permasalahan pokok sebagai berikut: (1) idiologis normatif koperasi, (2) kebijakan pembangunan ekonomi nasional, (3) kebijakan pemberdayaan koperasi dan UMKM, (4) koordinasi pemberdayaan koperasi dan UMKM, (5) kelembagaan koperasi,(6) usaha koperasi, (7) kondisi/karakter awal UMKM, (8) kondisi usaha UMKM, (9) produksi dan teknologi UMKM, (10) kebijakan otonomi daerah dan (11) program pemberdayaan Koperasi dan UMKM. Permasalahan di atas diduga menjadi penyebabnya rendahnya produktivitas dan daya saing koperasi. Beberapa indikasi menunjukkan bahwa permasalahan tersebut terkait langsung kebijakan dasar pembangunan yang semakin tidak berpihak pada upaya memberdayakan Koperasi dan UMKM. Untuk mengatasi permasalahan ini hasil analisis skala prioritas menyarankan agar dilakukan reorientasi kebijakan dasar pembangunan yang lebih diarahkan lagi pada kebijakan dan programprogram yang menekankan pemberdayaan Koperasi dan UMKM, khusus untuk meningkatkan kondisi internal UMKM dan iklim usaha yang kondusif. Sejalan konsepsi dasar tersebut, faktor yang perlu diperkuat adalah posisi koperasi sebagai lembaga pemberdayaan UMKM. Upaya ini dilakukan melalui peningkatkan intensitas pembinaan koperasi, sosialisasi peran dan kedudukan koperasi dalam pembangunan nasional, serta melaksanakan program sosialisasi tentang kepentingan peran koperasi dalam mendukung pembangunan nasional. Satu hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah pengembangan sistem koordinasi program-program pemberdayaan Koperasi dan UMKM baik antara instansi sektoral, maupun antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Kata kunci: skala prioritas, pemberdayaan koperasi dan UMKM
* Artikel diterima 20 Juli 2011, peer review 25 Juli 2011, review akhir 15 September 2011 ** Peneliti Utama pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKM dan Koperasi Kementerian Koperasi dan UKM

24

KAJIAN SKALA PRIORITAS PROGRAM PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN UMKM (Teuku Syarif)

Abstract From the preparation of the inventory problem conducted by the Ministry of Cooperatives and SME in 2009, it is known that there are 186 cooperative problems that must find a solution. By using the Priority Scale Analysis is based on the consideration, the level of impact, intensity spread, and the availability of resources, to issue-186 can be grouped into the main issues as follows: (1) Cooperative Normative ideological, (2) National Economic Development Policy, Policy (3) Empowerment of Cooperatives and SMEs, (4) Coordination Empowering Cooperatives and SMEs, (5) Institutional Cooperation, (6) Cooperative Enterprises, (7) Condition / initial character of SMEs, (8) SME Business Conditions, (9) Production SMEs and Technology (10) Policy and Regional Autonomy (11) Empowerment Program for Cooperatives and SMEs. The above problems are estimated to be the cause of low productivity and competitiveness of cooperatives. Some indications show that this problem is directly related to the fundamental policies of the increasingly unfavorable to efforts to empower cooperatives and SMEs. To overcome this problem the priority scale analysis performed suggests that a more fundamental policy reorientation is directed more to the policies and programs that emphasize empowerment of Cooperatives and SMEs, especially for SMEs and improve the internal conducive business climate. Throughout the basic conception, the factors that need to be strengthened is position as a cooperative institution empowerment of SMEs. This work is done by increasing the intensity of cooperative development, the role of socialization and the position of cooperatives in national development, and implement outreach programs on the importance of the role of cooperatives in support of national development. One other thing that needs attention is the development program coordinated system of cooperatives and SMEs empowerment among sectoral agencies, and between central and local government Key words: scale of priority, empowerment of cooperative and SMEs I. LATAR BELAKANG Era reformasi yang diharapkan menjadi angin segar untuk memberdayakan Koperasi, Usaha Mikro, Usaha Kecil, dan Usaha Menengah (KUMKM) ternyata tidak membawa perubahan pada usaha tersebut. Lebih dari satu dasawarsa reformasi berjalan, meskipun indikator makro ekonomi dinyatakan semakin membaik, tetapi kondisi Koperasi dan UMKM dapat dikatakan stagnan, bahkan cenderung menurun. Secara nominal, beberapa indikator bisnis seperti kepemilikan asset, omset dan sisa hasil usaha menunjukkan kinerja koperasi dan UMKM terlihat meningkat, tetapi dinilai dari kualitas usahanya, kondisi kelompok ini ternyata semakin terpuruk.

25

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 24 - 42

Keterpurukan koperasi bukan hanya sebatas isu, tetapi banyak hasil-hasil kajian serta data dan informasi dari berbagai pihak yang menunjukkan semakin kecilnya rata-rata skala usaha koperasi dan UMKM serta memburuknya kualitas hidup kelompok pengusaha ini. Rata-rata skala usaha para pengusaha mikro pada harga berlaku memang meningkat dari Rp. 4,79 juta di tahun 2004 menjadi Rp. 5,75 juta di tahun 2008. Tetapi pada harga tetap menurun dari Rp. 4,79 juta menjadi Rp. 4,56 juta. Demikian juga indeks kesejahteraan kalangan ini menurun dari 1,7 pada tahun 1999 menjadi 1,42 di tahun 2008. Sumbangan Koperasi dan UMKM terhadap PDRB juga menurun dari 54,89% pada tahun 1999 menjadi 51,76% di tahun 2008. Sejalan dengan keterpurukan UMKM, kondisi dan eksistensi koperasi dalam perekonomian nasional ternyata lebih buruk lagi. Hal ini diindikasi dari menurunnya peran koperasi di beberapa sektor perekonomian, antara lain disektor tanaman pangan. Pada sektor ini, peran koperasi dalam penyediaan sarana produksi menurun dari 73,94% tahun 1998 menjadi 4,61% tahun 2008. Demikian juga disektor perkebunan, perikanan dan peternakan, peran koperasi dalam penyediaan sarana produksi menurun dari 7,84% menjadi 3,12%. Untuk menyelesaikan berbagai masalah tersebut, pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan dan program-program pemberdayaan Koperasi dan UMKM. Namun kebijakan dan program-program tersebut setelah lebih dari enam puluh tahun belum mampu mengangkat ekstensi dan kesejahteraan koperasi dan UMKM. Bahkan, beberapa waktu belakangan ini kondisi Koperasi dan UMKM semakin terpuruk. Ironisnya, hal ini belum menjadi peringatan dini bagi pengambil kebijakan untuk secepatnya memperbaiki keadaan melalui kebijakan yang lebih efektif. Sebaliknya program-program yang dilaksanakan semakin mengarah pada pencitraan melalui berbagai kegiatan bersifat seremonial. Kondisi nyata di lapangan menunjukkan Koperasi dan UMKM dihadapkan pada berbagai masalah baik yang bersumber dari kondisi internal, maupun dari lingkungannya. Ada indikasi bahwa masalah lingkungan yang dihadapi oleh Koperasi dan UKM sebagian besar berkaitan dengan kebijakan-kebijakan pembangunan. Dalam hal ini beberapa indikasi menunjukkan bahwa Koperasi dan UMKM yang sebagai bagian terbesar dari dunia usaha belum ditempatkan pada posisi yang memungkinkan kelompok ini untuk dapat memanfaatkan sumberdaya pembangunan yang proporsional dan perannya dalam sistem perekonomian nasional. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa orientasi kebijakan dan programprogram yang dilaksanakan belum diarahkan pada permasalahan aktual di lapangan. Keberhasilan dari pelaksanaan program itu sendiri tidak pernah bisa terukur, akibatnya Koperasi dan UMKM masih terus harus berjuang sendiri tanpa mendapat bantuan yang layak dari pemerintah. 26

KAJIAN SKALA PRIORITAS PROGRAM PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN UMKM (Teuku Syarif)

II.

PERUMUSAN MASALAH Sebagai proses pembangunan ekonomi, pemberdayaan Koperasi dan UMKM merupakan kegiatan lintas sektoral yang sebagian dilaksanakan oleh Kementerian Koperasi dan UKM, sedangkan sebagian lainnya dilaksanakan oleh instansi sektoral vertikal atau instansi teknis. Hasil penelitian lapangan yang dilakukan melalui penyusunan Daftar Inventarisasi Masalah menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan program-program pemberdayaan Koperasi dan UMKM efektivitasnya rata-rata relatif rendah. Hal ini diindikasikan dari masih banyak masalah yang dihadapi oleh Koperasi dan UMKM, serta belum terselesaikannya berbagai masalah klasik yang sudah sekian lama menjadi kendala untuk memberdayakan Koperasi dan UMKM. Ketidakefektivan program-program pemberdayaan Koperasi dan UMKM terutama disebabkan oleh ketidaksesuaian antara masalah yang dihadapi dengan program yang dilaksanakan. Sebagian besar program nampaknya dirancang hanya didasarkan pada isyu dan sinyalemen yang berkembang dan/atau gejala yang ditimbulkan, tetapi bukan didasarkan pada pokok permasalahan yang dihadapi. Inkonsistensi program-program pemberdayaan koperasi dan UMKM, dengan permasalahan juga dihadapi d� l�p�����. ����o�s�s���s� ���j�d� ���� p�d� p�o���� ��s��, ��upu� d�l�� p�o����-p�o���� �o� ��s�� s�p���� p��yuluh�� d�� p�l���h��, s�h����� ������� keberhasilan program-program tersebut belum optimal. Mengingat bahwa permasalahan yang dihadapi Koperasi dan UMKM di lapangan, yang dapat diinventarisir dalam DIM sangat banyak (ada 186 masalah), sedangkan sumberdaya yang dimiliki pemerintah terbatas, maka dalam kajian ini digunakan “Analisa Skala Prioritas”. Sejalan dengan itu, permasalahan yang dibahas dalam kajian ini adalah menganalisis Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) Koperasi dan UMKM, yang disusun oleh Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2009. Analisis skala prioritas digunakan berdasarkan pertimbangan bahwa sumberdaya pembangunan yang �����s�d�����y� ��l���� �������s h��us d��u����� d����� ������� d�� ���s���. E������ d�� ���s���s� ��u s��d��� d�����u��� ol�h ������p� ����o�, ������ l���: tujuan pelaksanaan suatu kegiatan, pendekatan serta strategi dan model pelaksanaannya. Dengan perkataan lain, kepentingan analisis skala prioritas adalah untuk mengetahui urgensi masalah, dampak masalah, untuk menyusun prioritas masalah dan penyusunan solusi pemecahannya. Hasil analisis dan solusi pemecahan masalah yang diperoleh akan dijadikan bahan masukan dalam penyusunan kebijakan dan program-program pemberdayaan Koperasi dan UMKM.

27

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 24 - 42

III.

TUJUAN (1) (2) Mengukur tingkatan, penyebaran dan dampak masalah yang dihadapi oleh Koperasi dan UMKM. Menyusun skala prioritas masalah pemberdayaaan Koperasi dan UMKM untuk dipecahkan sesuai dengan kepentingan dan dampak dari pemecahan masalah tersebut untuk mengoptimalkan upaya pemberdayaan Koperasi dan UMKM di lapangan

IV.

MANFAAT Mendapatkan skala prioritas masalah yang harus dipecahkan untuk digunakan sebagai masukan dalam penyusunan program-program pemberdayaan koperasi dan UMKM

V.

METODOLOGI Kajian ini merupakan analisis terhadap masalah koperasi dan UMKM yang berhasil diinventarisir dan telah disusun dalam Daftar Inventarisasi Masalah oleh Kementerian Koperasi dan UMK tahun 2009. Penetapan skala prioritas dilakukan dengan: (1) pengisian daftar pertanyaan terstruktur tentang masalah-masalah yang dihadapi Koperasi dan UMKM, (2) diskusi tentang tingkatan masalah, luas bidang cakupan, dampak, keseringan, dan keterkendalian masalah, dalam Focus Group Discusion dan (3) penarikan kesimpulan prioritas penyelesaian masalah, dilakukan dengan menggunakan model analisis skala prioritas. Penilaian terhadap tingkatan dampak dan keterkendalian masalah dilakukan dengan menggunakan metoda Delphi. Untuk menilai tingkat kepentingan penyelesaian masalah digunakan teknik skoring. Diskusi dilakukan di tingkat pusat dan di daerah. Lokasi kajian adalah Kepulauan Riau, Provinsi Kalimantan Barat dan Provinsi Jawa Barat.

VI.

LANDASAN TEORI Analisis skala prioritas terhadap berbagai masalah yang dihadapi oleh Koperasi dan UMKM pada dasarnya diperlukan untuk menyusun suatu sistem perencanaan yang sistematis dan komprehensif, dengan memperhitungkan semua masalah potensi dan kendala yang dihadapi. Sistem perencanaan tersebut harus didasarkan pada realitas kondisi dan permasalahan yang dihadapi oleh Koperasi dan UMKM di lapangan. Manfaat penggunaan analisis

28

KAJIAN SKALA PRIORITAS PROGRAM PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN UMKM (Teuku Syarif)

skala prioritas dari DIM telah dirasakan oleh banyak pihak, tidak saja oleh kalangan dunia usaha dan pemerintahan, tetapi juga oleh kalangan peneliti dan ilmuwan. Salah satu pakar yang menyarankan penggunaan model analisis ini adalah Vence (1989). Vence lebih lanjut mengatakan bahwa ”penyelesaian masalah yang hanya didasarkan pada gejala yang terlihat, hanya akan berhasil dalam jangka pendek, sedangkan dalam jangka panjang masalah tersebut dapat menyebar lebih luas lagi. Lebih lanjut dikatakan proses pemecahan masalah harus dimulai dengan menguraikan faktor-faktor yang menimbulkan masalah itu sendiri, untuk dirumuskan dan dianalisis dengan menggunakan metoda dan model yang sesuai dalam rangka mendapatkan solusi pemecahannya.” Lebih lanjut dikatakan salah satu model analisis yang dapat digunakan adalah model analisa skala prioritas (Scale of Priority Analisys). Analisis skala prioritas diperlukan karena banyaknya masalah dalam proses pemberdayaan koperasi dan UMKM yang telah dapat diinventarisir, yang jumlah mencapai 186 dan saling terkait. Banyaknya masalah tersebut terindikasi berhubungan langsung dengan konsepsi pemberdayaan Koperasi dan UMKM, yang merupakan suatu proses dinamis, yang melibatkan banyak aspek dan unsur. Pemberdayaan Koperasi dan UMKM juga merupakan suatu proses dalam ruang lingkup lokasi yang sangat luas, seluruh Indonesia. Dalam rangka mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh koperasi dan UMKM agar Koperasi dan UMKM mampu berkembang, Pemerintah telah mengeluarkan berbagai program pemberdayaan Koperasi dan UMKM antara lain yang difasilitasi oleh Kementerian Negara Koperasi dan UMKM sejak tahun 2003, yaitu: 1) Program perbaikan iklim usaha antara lain dilaksanakan dalam bentuk program-program meliputi penyederhanaan perizinan dan pengembangan sistem perizinan satu pintu, serta bagi usaha mikro perizinan cukup dalam bentuk registrasi usaha, serta penataan Peraturan Daerah (Perda) untuk mendukung pemberdayaan KUMKM, dan lainlain. Program peningkatan akses UMKM dan koperasi terhadap sumberdaya potensial. Program ini terdiri dari program peningkatan akses UMKM terhadap pendanaan yang antara lain pogram-program pengembangan berbagai skim perkreditan untuk UMKM seperti program pembiayaan produktif Koperasi dan usaha mikro (P3KUM) dan lain-lain. Program pengembangan jaringan pemasaran UMKM dan Koperasi dilakukan melalui pemberian dukungan sektor perdagangan khusus produk UMKM telah dilaksanakan program-program seperti program 29

2)

3)

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 24 - 42

promosi proyek-proyek pemasaran UMKM serta program modernisasi usaha ritel koperasi seperti Makasar Trade Centre (MTC). 4) Program pemberdayaan sumberdaya UMKM dilakukan melalui pelaksanaan program penumbuhan wirausaha baru melalui berbagai model seperti model pendampingan dan inkubator serta program peningkatan kemampuan teknis dan manajerial Koperasi dan UMKM melalui berbagai bentuk bimbingan penyuluhan dan penataran dan lainlain.

Masalah yang timbul dalam proses itu terlihat sangat banyak, tetapi yang sering terlihat hanyalah gejalanya saja, sedangkan pokok masalah yang s�������y� sul�� �����d��������s�. U��u� p�os�s �d��������s� ��� d�p��lu��� penggunaan metoda dan sistematika yang akurat. Simpson (1988) dan Thaha (1983) berpendapat bahwa salah satu metoda pemecahan yang paling banyak digunakan dalam pemecahan masalah teknik, ekonomi dan sosial adalah penyusunan Daftar Inventarisasi Masalah atau DIM yang dilanjutkan dengan proses analisa masalah dengan menggunakan metoda dan model yang sesuai. Kelebihan dari model DIM yang dilanjutkan dengan model analisis skala prioritas terletak pada sistematika penguraian masalah yang dihadapi, sehingga para perencana/peneliti dapat dengan lebih mudah untuk memilah dan mengelompokkan masalah, untuk mengetahui akar permasalahan dan mendapatkan solusi pemecahannya. Lebih lanjut Stevenson (1993) mengatakan bahwa ”Analisis Skala Prioritas merupakan teknik analisis masalah secara sistematik yang dapat dijadikan alat untuk mendapatkan solusi pemecahan masalah, berdasarkan akar permasalahan yang sebenarnya terjadi di lapangan”. Analisis skala prioritas merupakan langkah awal dari suatu proses pemecahan masalah yang harus dilanjutkan dengan tahapan-tahapan berikutnya a) penyusunan alternatif solusi dan b) penetapan solusi pemecahan masalah. VII. KERANGKA BERPIKIR Untuk dapat mewujudkan kondisi ideal pemberdayaan Koperasi dan UMKM, maka dalam menentukan solusi pemecahan masalah yang dihadapi oleh Koperasi dan UKM, harus dipertimbangkan potensi dan kendala yang ada dari unsur yang terlibat dalam sistem pemberdayaan UMKM dan Koperasi. Demikian juga penyelesaian masalah yang dihadapi oleh Koperasi dan UMKM harus secara proporsional dilakukan atau dikoordinir oleh unsur yang paling berkompeten untuk menyelesaikan masalah tersebut, baik secara sektoral maupun daerah (regional). Sejalan dengan itu, masalah-masalah yang 30

KAJIAN SKALA PRIORITAS PROGRAM PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN UMKM (Teuku Syarif)

dihadapi dalam proses pemberdayaan Koperasi dan UMKM pada prisipnya bersumber dari akar permasalahan yang sering tertutup oleh berbagai gejala yang sering dianggap sebagai masalah. Kesalahan persepsi ini menyebabkan masalah tersebut semakin berkembang dan tertutup karena adanya kebijakan penyelesaian masalah dengan melihat gejala yang ada. Penyelesaian masalah seperti ini cenderung menimbulkan masalah-masalah baru yang saling menutupi, sehingga masalah pokok sebenarnya tidak terlihat. Oleh sebab itu, untuk menggali faktor penyebab dari permasalahan tersebut perlu lebih dulu d�susu� D����� ���v������s�s� M�s�l�h y��� d���u�� d����� �d��������s� d�� �l�s�����s� ��s�l�h u��u� ����h�s�l��� solus� p���c�h�� y��� ��u���. U��u� itu perlu diperhatikan kerangka pikir permasalahan yang menggambarkan proses kejadian masalah, faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya masalah dan pendekatan pemecahan masalah seperti diperlihatkan pada Gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1. Kerangka Dasar Pemecahan Masalah

31

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 24 - 42

Dari gambar 1 terlihat bahwa: 1) Pada prinsipnya kebijakan pemerintah bertujuan untuk membangun kondisi ideal yang sesuai dengan visi Pemerintah dalam pemberdayaan UMKM. Kebijakan Pemerintah dilaksanakan melalui program-program yang bertujuan untuk memperbaiki kondisi UKM dan lingkungannya. Bisa terjadi deviasi dalam pelaksanaan program yang menimbulkan permasalahan karena program-program tidak selalu dirancang berdasarkan permasalahan dasar yang dihadapi Koperasi dan UMKM. Proses inventarisasi bertujuan untuk dapat mengetahui permasalahan yang dihadapi UMKM agar dapat dianalisis guna mendapatkan solusi atas permasalahan yang dihadapi. Solusi pemecahan masalah yang disusun berdasarkan analisis dari DIM akan dapat digunakan untuk menyusun program-program yang lebih berdayaguna dan berhasil guna

2) 3)

4)

5)

Sesuai dengan kerangka pikir di atas, maka ditetapkan 5 (lima) tolok ukur kepentingan penyelesaian suatu masalah sebagai berikut: 1) Masalah Siapa. Sesuai dengan amanat konstitusional (UUD 1945) pemberdayaan Koperasi dan UMKM merupakan tugas dari semua komponen bangsa termasuk pemerintah dan kalangan stakeholder lainnya. Masalah Koperasi dan UMKM tidak melulu merupakan masalah yang harus diselesaikan oleh Koperasi dan UMKM, tetapi bisa merupakan masalah bagi kalangan stakeholdernya, yang dapat dibedakan menjadi: (1) Gerakan Koperasi dan UMKM (a) Koperasi dan UMKM tanpa fasilitas/bantuan dari pemerintah atau pihak lain, (b) Koperasi dan UMKM yang bergerak dan menikmati fasilitas Pemerintah, c) Dekopin. Pemerintah d) Kemenkop dan UKM, e) Departemen teknis/ kementerian terkait, f) Kabinet, g) Pemda Propinsi, dan h) h) Pemda Kabupaten/Kota. Masyarakat luas/Negara (i).

(2)

(3)

32

KAJIAN SKALA PRIORITAS PROGRAM PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN UMKM (Teuku Syarif)

2)

Tingkatan Masalah. Masalah Koperasi dan UMKM memiliki tingkatan sesuai dengan luas dan besarnya dampak yang timbulkan yang dapat dibedakan menjadi: (1) (2) (3) (4) (5) Akar masalah/masalah bawaan yang dirasakan dampaknya (skor 5). Akar masalah yang dampak belum terasa (skor 4). Masalah turunan tapi dampaknya besar (skor 3). Masalah turunan tapi dampaknya tidak besar (skor 2). Masalah sampingan (skor 1).

3)

Nilai Strategis (Peranan) Masalah dan Bagaimana Dampaknya Adalah keseringan suatu masalah timbul di satu lokasi, bersifat endemi yang kemungkinan bersumber dari kondisi lingkungan di daerah tersebut seperti misalnya masalah-masalah yang timbul karena kurangnya sarana dan prasarana usaha yang tersedia di suatu daerah. Berdasarkannya dampaknya ini masalah Koperasi dan UMKM dapat dibedakan menjadi: (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Dampak negatif sangat berbahaya (skor 7). Dampak negatif berbahaya (skor 6). Dampak negatif tidak mengganggu (skor 5). Kalau diatasi akan berdampak positif (skor 4). Dampak positif banyak dan besar (skor 3). Dampak positif tidak banyak tapi besar (skor 2). Dampak positif tidak banyak dan tidak besar (skor 1).

4)

Frekuensi dan Persistensi Masalah. Dari aspek ini masalah koperasi dan UMKM dapat dibedakan menjadi: (1) (2) (3) Sesekali, sementara, sporadis (skor 3). Cukup sering tapi bersifat lokal (skor 2). Sering, laten dan meluas (skor 1).

33

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 24 - 42

5)

Tingkat Keterkendalian Masalah Adalah perkiraan sejauh mana masalah tersebut dapat dikendalikan, dari aspek ini masalah dapat dibedakan menjadi: (1) (2) (3) (4) Non controllable dalam jangka pendek dan menengah dengan dampak negatif tidak dapat dikurangi (skor 4). Controllable dalam jangka pendek dan menengah dengan dampak negatif dapat dikurangi (mitigasi) (skor 3). Controllable dalam jangka pendek dan menengah (skor 2). Controllable dalam jangka panjang (skor 1).

Penilaian dilakukan dengan metoda skoring terhadap keempat aspek di atas. Batasan nilai adalah 0 (nol) sampai dengan 3 (tiga), dengan tingkatan sebagai berikut: a) 2,50 s/d 3,00 Sangat Penting; b) 2,00 s/d 2,49 Penting; c) 1,50 s/d 1,90 Kurang Penting dan d) lebih kecil dari 1,49 Tidak Penting. Penilaian akhir terhadap suatu masalah dilakukan dengan menjumlah nilai yang diperoleh masalah tersebut berdasarkan penilaian dari keempat aspek di atas. Kesimpulan diambil berdasarkan rata-rata nilai yang diperoleh dari suatu masalah yang dinilai. Prioritas tertinggi adalah masalah yang memiliki rata-rata nilai tertinggi. VIII. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN Mengingat keterbatasan sumberdaya maka penetapan daerah contoh �����u����� ������ �c�� ���s���������s� (Stratified Random Sampling). Dengan menggunakan teknik tersebut ditetapkan sampel lokasi kajian adalah Kepulauan Riau, Provinsi Kalimantan Barat dan Propinsi Jawa Barat. Sedangkan waktu penelitian adalah mulai Bulan Februari sampai dengan November 2010. IX. HASIL PENGAMATAN 1). Prioritas Sangat Penting. (1). Idiologis Normatif Koperasi Dari aspek internal koperasi kelompok masalah idiologis normatif koperasi menempati urutan pertama sebagai masalah 34

KAJIAN SKALA PRIORITAS PROGRAM PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN UMKM (Teuku Syarif)

sangat penting yang harus sesegera mungkin diselesaikan. Akar masalah ini menimbulkan dampak luas yang diindikasikan dari banyaknya masalah besar yang ditimbulkan antara lain (1) koperasi tidak mempunyai daya tarik sebagai sarana penghimpun ekonomi karena lebih dipromosikan sebagai lembaga yang ideal tidak mencari keuntungan dan berwatak sosial. (2) (2) rumusan tujuan fungsi dan peran koperasi terlalu ideal tidak sesuai dengan kapasitas sebenarnya. (3) badan usaha koperasi tidak memiliki budaya perusahaan yang kondusif bagi aktualisasi diri di tengah realita perekonomian yang sedang berkembang. (2). Kebijakan Pembangunan Ekonomi Masalah kebijakan pembangunan ekonomi sangat penting untuk segera diselesaikan karena secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi tingkat keberhasilan pemberdayaan koperasi dan UMKM. Beberapa masalah menonjol yang merupakan turunan dari masalah ini adalah: (a) banyak kebijakan yang menyebabkan penguasaan sumberdaya potensial oleh Koperasi dan UMKM sedikit, (b) fenomena dualisme ekonomi yang mengesampingkan peran Koperasi dan kelompok Usaha Mikro dan Kecil, (c) arah kebijakan ekonomi belum mengindikasikan pentingnya peran Koperasi dan UMKM, (d) kebijakan dibidang ekspor, impor dan d�s����us� ������ �������h p�d� �o�opol�, (�) ����j���� ��s��l yang cenderung mengikuti keinginan ekonomi pasar (globalisasi perekonomian) mempersulit porsi Koperasi dan UMKM. (3). Kebijakan Pemberdayaan Koperasi dan UMKM Kelompok masalah ini menempati urutan ke tiga dalam kelompok masalah penting yang perlu diprioritaskan penyelesaiannya. Beberapa masalah yang perlu mendapat perhatian dalam kelompok masalah ini adalah: (a) program-program pemberdayaan Koperasi dan UMKM sering dirancang hanya berdasarkan isyu dan sinyalemen, tetapi bukan didasarkan pada akar masalahnya, (b) sebagian besar program dirancang dalam lingkup makro, tetapi dilaksanakan dalam lingkup lokal, (c) penentuan skala prioritas pelaksanaan program belum didasarkan pada metoda yang valid, (d) desain program belum memberikan gambaran yang jelas apa untuk pertumbuhan atau pemerataan, (e) program pemberdayaan Koperasi dan UMKM belum disesuaikan dengan �o�d�s� ��s�� l����u����, (�) sos��l�s�s� p�o���� ��lu� op����l karena sering lebih banyak dilakukan oleh Pemerintah pusat. 35

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 24 - 42

(4).

Koordinasi Pemberdayaan Koperasidan UMKM Kelompok masalah ini termasuk dalam kelompok sangat penting untuk segera diselesaikan karena berhubungan langsung dengan optimalitas pemanfaatan sumberdaya pembangunan. Adapun masalah-masalah yang termasuk dalam kelompok ini adalah: (a) pola pembangunan sektoral tidak selalu maching dengan kepentingan pemberdayaan Koperasi dan UMKM, (b) pelaksanaan program sektoral diorientasikan pada tujuan pembangunan sektoral dan kurang memperhatikan kepentingan pemberdayaan Koperasi dan UMKM, (c) kebijakan sektoral sangat kentara berorientasi ego sektoral, sehingga tolok ukur keberhasilan tidak sesuai dengan kepentingan Koperasi dan UMKM, (d) koordinasi pemberdayaan KUMKM sulit dibangun, karena hubungan �������s� ����� �o�po��� s�s��� �oo�d���s� ��d�� ���d�����s� dengan baik, (e) rendahnya koordinasi pelaksanaan program antar sektor menyebabkan terjadinya tumpang tindih program, (f) sumber dan mekanisme penyaluran bantuan program sangat beragam, (g) antara stakeholder tidak ada kesamaan persepsi dalam menafsirkan arti dan fungsi koperasi.

2).

Kelompok Prioritas Penting (1). Kelembagaan Koperasi Masalah kelembagaan koperasi termasuk dalam kategori penting untuk segera diselesaikan. Adapun masalah-masalah yang ada dalam kelompok ini adalah: (a) gerakan koperasi di Indonesia sangat terfragmentasi sehingga tidak memiliki sinerji untuk bersaing dalam pasar, (b) koperasi cenderung berperilaku birokratis akibat adanya penugasan untuk melaksanakan program yang diproteksi pemerintah, (c) kualitas sumber daya manusia di lingkungan koperasi baik dari pemahaman perkoperasian maupun bisnis umumnya rendah, dan (d) sistem manajemen operasional usaha masih dijalankan secara manual. (2). Kewirausahaan Dikalangan UMKM Kelompok masalah ini termasuk dalam kategori penting untuk diselesaikan karena secara langsung menentukan kemampuan UMKM dalam berusaha dan mengembangkan usahanya. Adapun masalah-masalah yang ada dalam kelompok ini adalah:

36

KAJIAN SKALA PRIORITAS PROGRAM PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN UMKM (Teuku Syarif)

(a) UMKM tidak siap untuk menanggung resiko kegagalan usaha. sehingga sulit untuk dapat masuk dalam suatu kegiatan usaha yang berpotensi untuk dikembangkan, (b) rasa cepat puas akan apa yang telah diperoleh menyebabkan UMKM jarang berpikir untuk memperluas usahanya. Rendahnya pengetahuan UMKM dibidang produksi menyebabkan produk UMKM sulit untuk berkembang. (3). Usaha Koperasi Masalah usaha koperasi penting untuk diselesaikan karena secara langsung berhubungan dengan kinerja koperasi dalam perekonomian masyarakat yang menjadi peran utama koperasi dan daya tarik koperasi. Kelompok masalah ini terdiri dari: (a) manajemen belum berkembang, menyebabkan koperasi sulit mengoptimalkan pelayanan dan berhubungan dengan pihak lain, (b) koperasi belum dapat melihat peluang usaha potensial yang tersedia dari lingkungannya, (c) pemanfaatan SDM di lingkungan oleh koperasi belum optimal, (d) disorientasi kegiatan usaha dari untuk memenuhi kebutuhan anggota menjadi keperluan pengembangan bisnis, (e) koperasi sulit untuk menjalin kerjasama baik dengan kalangan Usaha Mikro dan kecil maupun usaha besar, (f) jaringan koperasi yang berjalan tersegmentasi belum mencapai skala usaha optimal dan rapuh kelangsungannya, dan (g) lapangan usaha koperasi banyak yang tidak berbasis kepentingan anggota. (4). Kondisi/Karakter UMKM Kelompok masalah ini termasuk dalam kategori penting untuk segera diselesaikan secara langsung menggambarkan potensi, kondisi dan eksistensi UMKM dalam perekonomian. Adapun beberapa masalah yang termasuk dalam kelompok masalah ini dan merupakan masalah pokok yang menyebabkan timbulnya masalah lain adalah: (a) unit-unit usaha baru lebih banyak tumbuh karena desakan kebutuhan lapangan kerja, (b) produk-produk UMKM tidak berdaya saing karena berada pada sektor yang cepat jenuh dan berkualitas rendah, dan (c) nilai tambah dari usaha UMKM rendah karena produknya berupa bahan mentah dan bahan setengah jadi.

37

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 24 - 42

(5)

Kondisi Usaha UMKM Kelompok masalah ini termasuk dalam kategori masalah yang penting untuk segera diselesaikan karena secara langsung akan mempengaruhi eksistensi UMKM dalam perekonomian. Beberapa masalah yang menonjol dari kelompok ini adalah: (a) kondisi usaha UMKM lemah dan jaringan pasar UMKM sangat terbatas dan dikuasai oleh sekelompok pengusaha lain yang membangun kartel, (b) UMKM menghadapi kesulitan dalam mengakses bahan baku, (c) kualitas produk KUMKM relatif rendah karena memakai bahan baku berkualitas rendah dan bahan-bahan berbahaya, (d) pendapatan UMKM relatif rendah karena skala usahanya yang kecil serta pasar bahan baku dan produknya dikuasai pedagang besar, (e) karena pendapatan yang sedikit, maka UMKM khususnya pengusaha mikro termasuk dalam kelompok miskin yang tidak memiliki kelebihan uang untuk ditabung, dan (f) sebagian besar pengusaha mikro merupakan kelompok marginal dengan pola hidup gali lubang tutup lubang (Survival strategic).

3).

Masalah Kurang Penting (1) Produksi dan Teknologi UMKM Kelompok masalah dengan rata-rata nilai skor skala prioritas sebesar 1,86 ini termasuk dalam kategori masalah yang kurang penting tetapi dalam jangka menengah dan jangka panjang perlu diselesaikan. Adapun masalah-masalah yang termasuk dalam kelompok ini adalah: (a) teknologi produksi yang digunakan ol�h UM�M s����� ���d�h s�h����� �u�l���s d�� p�odu�������s UMKM rendah, (b) berbagai sebab mengakibatkan KUMKM sulit untuk melakukan inovasi teknologi, (c) UMKM belum mampu mengaplikasikan berbagai tekonologi tepat guna dari luar negeri, (d) hasil inovasi teknologi dari kalangan UMKM belum mendapat perlindungan, (e) banyak temuan teknologi dan peralatan dari lembaga-lembaga penelitian yang belum dapat d����������� ol�h �op���s� d�� UM�M, d�� (�) s��������s� inovasi teknologi hanya dilakukan terhadap peralatan produksi.

38

KAJIAN SKALA PRIORITAS PROGRAM PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN UMKM (Teuku Syarif)

(2).

Kebijakan Otonomi Daerah Otonomi Daerah masuk dalam kelompok tersendiri karena dari kebijakan ini timbul berbagai masalah tidak saja masalah yang dapat diselesaikan oleh Pemerintah Daerah tetapi juga masalah-masalah yang penyelesaiannya menjadi kewenangan dari Pemerintah Pusat. Kelompok masalah ini cukup penting dan memiliki nilai rata-rata skala prioritas mencapai 1,98 atau hampir termasuk dalam masalah penting yang harus segera diselesaikan. Adapun masalah-masalah yang termasuk dalam kelompok ini adalah: (a) Otonomi Daerah berimplikasipada keragaman bentuk instansi yang membidangi Koperasi dan UMKM, (b) Pemerintah Daerah belum memiliki konsepsi yang jelas tentang arah kebijakan, pendekatan dan pola operasional pemberdayaan Koperasi dan UMKM, (c) sistem organisasi pemerintahan belum memberikan gambaran yang jelas komitmen Pemerintah Daerah untuk mendukung program pemberdayaan Koperasi dan UMKM, (d) keterlibatan Pemerintah Daerah dalam beberapa kegiatan program masih sangat terbatas, (e) program bimbingan dan penyuluhan perkoperasian di daerah belum dapat dilaksanakan dengan baik, (f) untuk memperbesar PDB dan PAD Pemerintah Daerah lebih mengutamakan pengelolaan sumberdaya dilakukan oleh menengah dan usaha besar, dan (g) kurangnya ketersediaan prasarana dan sarana ekonomi menyebabkan Koperasi dan UMKM tidak terdorong untuk mengembangkan usaha atau membuka usaha baru.

(3).

Program Pemberdayaan Koperasi dan UMKM Kelompok masalah ini memiliki rata-rata nilai skala prioritas yang juga cukup tinggi yaitu mencapai 1,89 atau mendekati kriteria masalah penting yang harus sesegera mungkin diselesaikan. Adapun masalah-masalah yang termasuk dalam kelompok ini adalah: (a) sejak era reformasi tidak ada paradigma pemberdayaan KUMKM yang disepakati oleh semua instasi dan kalangan, (b) pemberdayaan Koperasi dan UMKM dipersepsikan tidak kontributif terhadap pencapaian target makro ekonomi, (c) pemberdayaan Koperasi dan UMKM cenderung semakin dijauhkan dari pendekatan ekonomi dan semakin dilekatkan pada pendekatan pengaman sosial, (d) perumusan visi dan sasaran pembangunan sektoral tidak dikaitkan dengan program pemberdayaan Koperasi dan UMKM, 39

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 24 - 42

(e) ada kesan secara sistemik koperasi dikurangi peranannya dalam sistem perekonomian nasional, (f) koperasi tidak lagi dipandang sebagai opsi untuk memenuhi motif ekonomi masyarakat, dan (g) koperasi hanya dijadikan sebagai alat dalam mendukung kegiatan-kegiatan pembangunan sektoral atau peran koperasi hanya sebatas institusi pendukung kegiatan program. X. KESIMPULAN Akar permasalahan yang dihadapi oleh Koperasi dan UMKM bersumber dari kebijakan ekonomi makro yang mensubordinasi kondisi internal Koperasi dan UMKM. Adanya kebijakan perekonomian nasional yang masih belum mampu mensinerjikan keinginan potensi untuk memberdayakan UMKM dan koperasi yang diindikasikan dari masih adanya masalah-masalah: (1) banyak kebijakan yang menyebabkan penguasaan sumberdaya potensial oleh koperasi dan UMKM sedikit, (2) fenomena dualisme ekonomi yang mengesampingkan peran koperasi dan kelompok usaha mikro dan kecil, (3) arah kebijakan ekonomi belum mengindikasikan pentingnya peran Koperasi dan UMKM, (4) kebijakan dibidang ekspor, impor dan distribusi barang mengarah pada �o�opol�, d�� (5) ����j���� ��s��l y��� c��d��u�� ������u�� ��������� ekonomi pasar (globalisasi perekonomian), mempersulit posisi Koperasi dan UMKM. Kondisi internal UMKM yang ditandai oleh rendahnya kualitas sumber daya manusia dan penguasaan sumber daya produktif yang sangat rendah serta kebijakan pemerintah yang belum mendukung upaya pemberdayaan Koperasi dan UMKM. Orientasi pembangunan yang dipengaruhi oleh pemikiranpemikiran neoklasik dan era globalisasi menyebabkan ketidakmampuan penyusunan menyebabkan adanya berbagai kebijakan yang dikeluarkan ekonomi yang secara tidak berpihak pada upaya memberdayakan Koperasi dan UMKM. Iklim usaha yang terbentuk karena orientasi pembangunan yang tidak berpihak kepada Koperasi dan UMKM serta keterbatasan SDM UMKM menyebabkan UMKM sulit mengakses sumber-sumberdaya produktif, teknologi dan pasar. Ada kecenderungan kebijakan dan program-program pemberdayaan yang dilaksanakan oleh Kementerian Koperasi dan UKM selama satu dasawarsa terakhir tidak tepat kegunaannya, tidak tepat sasaran dan bahkan banyak menimbulkan permasalahan baru di lapangan. Hal tersebut dikarenakan

40

KAJIAN SKALA PRIORITAS PROGRAM PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN UMKM (Teuku Syarif)

iklim usaha yang terbentuk dalam sistem ekonomi neoliberal mengharuskan UMKM bersaing dengan kelompok usaha besar yang lebih kuat. Pembinaan UMKM lebih diarahkan pada pengembangan teknologi produksi dalam rangka meningkatkan daya saing dan kurang memperhatikan kepentingan pengembangan institusi. Koperasi sebagai kelembagaan yang diharapkan dapat mendukung proses pemberdayaan UMKM peranannya semakin dikurangi sedangkan disisi yang lain ada skeptisme dari masyarakat terhadap kemampuan koperasi untuk berperan aktif dalam mendukung pembangunan. Otonomi Daerah berimplikasi langsung terhadap kondisi pembinaan koperasi di lapangan yang diindikasikan dari keragaman jenis instansi-instansi yang membidangi Koperasi dan UMKM, eselonering jabatan instansi yang bersangkutan serta kompetensi aparat di lingkungan instansi tersebut. XI. REKOMENDASI Reorientasi pembangunan kebijakan dasar pembangunan yang lebih diarahkan lagi pada kebijakan dan program-program yang berpihak pada upaya memberdayakan Koperasi dan UMKM, khusus untuk memperbaiki atau meningkatkan kondisi internal UMKM dan iklim usaha yang kondusif bagi Koperasi dan UMKM. Evaluasi kebijakan dan program-program pemberdayaan Koperasi dan UMKM untuk mengetahui permasalahan dan kendala yang menghambat keberhasilan program-program tersebut di lapang. Reorientasi kebijakan pembinaan agar ada keseimbangan antara pembinaan pada pengembangan teknologi produksi dalam rangka meningkatkan daya saing dengan tetap memperhatikan kepentingan pengembangan institusi. Memperkuat posisi koperasi sebagai kelembagaan pemberdayaan UMKM dengan meningkatkan intensitas pembinaan koperasi, sosialisasi peran dan kedudukan koperasi dalam pembangunan nasional serta menghilangkan skeptisme dari masyarakat terhadap kemampuan koperasi. Melaksanakan program sosialisasi kepentingan koperasi dalam mendukung pembangunan daerah dan koordinasi program-program pembangunan koperasi dengan Pemerintah Daerah.

41

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 24 - 42

DAFTAR PUSTAKA Anonimous. 1992. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian. Departemen Koperasi, Ditjen Bina Lembaga Koperasi, Jakarta. Anonimous. 2008 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro Usaha Kecil dan Usaha Menengah. Kementerian Negara Koperasi UKM Jakarta. Anonimous. 2009. Daftar Inventarisasi Masalah Koperasi dan UMKM. Kementerian Koperasi dan UKM Jakarta. Just.R.E, Hueth.D.L, and Schmit. A. 1982. Applied Welfare Economics and Public Policy. Prentice-Hall, Inc., USA. Kartasasmita, Ginanjar. 1996. Ekonomi Rakyat untuk Membangun Kesejahteraan yang Berkeadilan. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Jakarta. Koutsoyiannis, A. 1977. Theory of Econometrics: An Introductory Exposition of Econometic Methods. Second Edition. The MacMillan Press Ltd, London. Kuznes. 1982. Applied Welfare Economics and Public Policy. Prentice-Hall, Inc., USA. Lu��� N�su��o�. 1996. Analisis Akar Permasalahan Pembangunan Ekonomi untuk Membangun Kesejahteraan. Manggara Tambunan. 2004. Melangkah Ke Depan Bersama UKM. Makalah pada Debat Ekonomi ESEI 2004, Jakarta Convention Centre 15-16 September 2004. Maulana Ibrahim. 2004. Mendorong Peran UMKM Dalam Perekonomian Indonesia di Masa Depan. Makalah pada Debat Ekonomi ESEI 2004, Jakarta Convention Centre 15-16 September 2004. Syarif Teuku. 2008. Kajian Bargaining UMKM dalam Pasar dan Permasalahan dalam Produksi dan Pemasaran Produk UMKM. Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. Departemen Koperasi dan UKM. Suarja Wayan. 2009. Pedoman Pemahaman Daftar Inventarisasi Masalah Koperasi dan UMKM. Kementerian Koperasi dan UKM Jakarta. Stevenson. 1998. “Building The Policy of ICT Development,“ National Information & Communications Initiative Committee & Science and Technology Advisory Group (STAG), Taiwan, January 2005. Vence.A.F. 1999. Problem Solving Welfare and Ecinomics Growt. Michigan State University Publisher.

42

KOPERASI DAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI INDONESIA: TINJAUAN PROBABILITAS TINGKAT ANGGOTA KOPERASI DAN TINGKAT KEMISKINAN PROPINSI (Johnny W. Situmorang dan Saudin Sijabat)

KOPERASI DAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI INDONESIA: TINJAUAN PROBABILITAS TINGKAT ANGGOTA KOPERASI DAN KEMISKINAN PROVINSI* Johnny W. Situmorang dan Saudin Sijabat** Abstrak Penanggulangan kemiskinan adalah target utama pembangunan ekonomi Indonesia. Hal ini sejalan dengan program global dalam MDGs. Semua badan pemerintah Republik Indonesia akan mengarahkan sumber daya untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia. Pemerintah Indonesia telah menyatakan cerita sukses untuk mengatasi kemiskinan dengan menurunkan jumlah dan tingkat penduduk miskin di Indonesia, meskipun jumlah dan tingkat kemiskinan masih tinggi di Indonesia. Kementerian Koperasi dan UKM sebagai salah satu instansi pemerintah untuk pengentasan kemiskinan dalam responsdvel panjang Cluster-3, mengacu pada Kementerian Koordinator untuk cluster Kesejahteraan Rakyat. Sementara itu, pengembangan koperasi telah menunjukkan hasil dimana jumlah anggota koperasi adalah satu juta orang dan sisi lain jumlah orang miskin masih tinggi. Hal ini menarik untuk mengetahui hubungan antara pembentukan koperasi dan pengurangan kemiskinan. Dengan teori probabilitas dan ruang lingkup provinsi, yang mengungkapkan bahwa hubungan koperasi dan kemiskinan. Kata kunci: tingkat kemiskinan, tingkat anggota koperasi, relasi, probabilitas Abstract Poverty alleviation is a prime target of Indonesia development of economic. It is in line with global program in term of MDGs. All the government bodies of Republic of Indonesia shall direct resource fo r tackling poverty in Indonesia. The government of RoI had declared the successful story for handling poverty with lowering number and rate of people poor in Indonesia, although, number and rate of poverty is still high in Indonesia. The ministry of Cooperative & SME as a one agency of government responsibles for poverty alleviation in term of Cluster-3, refering to Ministry Coordination of People Welfare cluster. Meanwhile, cooperative development had showed outcome where number of cooperative member is a million
* Artikel diterima 20 Juli 2011, peer review 25 Juli 2011, review akhir 15 September 2011. ** Johnny W. Situmorang adalah peneliti pada Kementerian KUKM, Jakarta dan Dosen ABFII Perbanas. HP. 0811163154; jwsringo@yahoo.com; Saudin Sijabat adalah peneliti Kementerian KUKM, Jakarta

43

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 43 - 69

people and the other side the number of people poor is still high. It is interested to know the relationship between establishment cooperative and poverty alleviation. With probability theory and province scope, it’s revealed that the relationship cooperative and poverty alleviation is not so high. Key words: level of poverty, members of the cooperative, relation, probability I. PENDAHULUAN Peningkatan kesejahteraan adalah esensi dari berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang secara jelas tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Tindaklanjutnya adalah bagaimana penanggulangan kemiskinan. Itu sebabnya, pemerintahan Indonesia yang sah menetapkan tingkat kemiskinan menjadi indikator keberhasilan pemerintahan dan pembangunan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menetapkan program pro-wealth sebagai salah satu pilar pemerintahannya dalam masa Kabinet Indonesia Bersatu kedua, tahun 2009-2014 dimana ditargetkan p��u�u��� ������� ����s����� s�c��� s��������� s�l��� p���od� ���s��u�. Semua sumberdaya diarahkan untuk menanggulangi kemiskinan Indonesia. Sampai tahun 2010, pemerintah telah menyatakan adanya penurunan tingkat kemiskinan di Indonesia secara nyata dan menanggap program pemerintahan SBY telah berhasil. Namun, secara kuantitas, jumlah orang miskin di Indonesia masih tinggi, mencapai lebih 30 juta orang (BPS, 2011). Sejalan dengan itu, pembangunan koperasi sebagai salah satu bagian integral dari pembangunan nasional juga diarahkan pada upaya penanggulangan kemiskinan. Secara konstitusi, undang-undang (UU) tentang perkoperasian memuat fungsi koperasi terutama adalah peningkatan kesejahteraan rakyat melalui anggota koperasi. Selama ini, keberadaan koperasi secara faktual telah diakui dan selalu menjadi bahan pidato dan penonjolan pelaksanaan program pemerintahan nasional dan lokal. Bahkan untuk mewujudkan koperasi sebagai pilar perekonomian rakyat dibentuk Dewan Koperasi sebagai perintah UU perkoperasian. Sampai tahun 2009, jumlah koperasi telah mencapai lebih dari 170 ribu unit dengan anggota koperasi lebih dari 29 juta orang. Manakala koperasi dinyatakan sebagai solusi penanggulangan kemiskinan dengan jumlah anggota koperasi yang banyak, sementara jumlah orang miskin Indonesia masih banyak, pertanyaan muncul, sejauhmanakah keberadaan koperasi menanggulangi kemiskinan. Apakah anggota koperasi menjadi bagian dari orang miskin? Atau, apakah anggota koperasi di luar dari orang miskin itu? Pertanyaan tersebut setidaknya menginspirasi keingintahuan bagaimanakah relasi koperasi 44

KOPERASI DAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI INDONESIA: TINJAUAN PROBABILITAS TINGKAT ANGGOTA KOPERASI DAN TINGKAT KEMISKINAN PROPINSI (Johnny W. Situmorang dan Saudin Sijabat)

dengan penanggulangan kemiskinan. Tulisan ini menguraikan relasi tersebut dengan analisis pendekatannya pada probabilitas hubungan tingkat anggota koperasi dan tingkat kemiskinan dalam skala propinsi. II. GAMBARAN PROGRAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN INDONESIA Sesungguhnya, berbagai program penanggulangan kemiskinan di Indonesia telah diluncurkan oleh Pemerintah RI baik semasa Orde Baru maupun Reformasi. Pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan di Indonesia pada pemerintahan Presiden SBY tercantum dalam RPJM 2004-2009 dan 2009-2014 juga sejalan dengan Milennium Development Goals (MDGs) yang telah disepakati secara multilateral. Pada Tabel 1 terlihat berdasarkan UU 25 tahun 2004, RPJM berisi rencana strategis untuk mengurangi tingkat pengangguran dan kemiskinan dengan pencapaian tingkat pengangguran 56% dan tingkat kemiskinan 8-10% pada tahun 2014. MDGs dalam pertemuan puncak PBB mengeluarkan resolusi anti-kemiskinan dan perhatian terhadap perempuan dan anak menghadapi kemiskinan, kelaparan, dan penyakit. Pemberantasan kemiskinan di Indonesia sejalan dengan MDGs adalah penurunan penduduk miskin dan penderita kelaparan sampai 50%. Sementara, keberadaan koperasi berdasarkan UU 25 tahun 1992 berfungsi membangun masyarakat agar mampu meningkatkan kesejahteraan. Artinya, keberadaan koperasi adalah untuk menanggulangi kemiskinan rakyat. Menurut David T. Ellwood1 (2010) bahwa terdapat empat syarat untuk menciptakan lapangan kerja dan menghapus kemiskinan, yakni ekonomi yang kuat, keunggulan komparatif jangka panjang, kelembagaan dan pemerintahan yang kuat, dan program bagi kaum miskin yang dirancang secara seksama. Tabel 1. Visi Penanggulangan Kemiskinan Berdasarkan RPJM, MDGs, dan Perkoperasian

Sumber: Bappenas (2009), Website UN (2011)
1

David T. Ellwood adalah Profesor & Dekan Harvard Kennedy School dalam Presidential Lecture di Istana Negara, Rabu 15 September 2010.

45

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 43 - 69

Program penanggulangan kemiskinan pada era kedua pemerintahan Presiden SBY semakin dipercepat pencapaian targetnya untuk mengurangi jumlah orang miskin. Presiden SBY selalu menekankan pentingnya penanggulangan kemiskinan dalam era 2009-2011. Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) ditetapkan sebagai penanggungjawab pelaksanaan program pemberantasan kemiskinan. Terdapat tiga jalur strategi pembangunan Presiden SBY, yakni pro-growth, pro-job, dan propoor. Strategi ini adalah untuk menurunkan tingkat penduduk di bawa garis kemiskinan, membuka kesempatan kerja, dan berusaha. Berbagai bentuk program yang dilaksanakan disesuaikan dengan klaster. Pada Klaster-1 melibatkan 7 kementerian dan lembaga dengan 8 program. Klaster-2 melibatkan 13 kementerian dan lembaga dengan 17 program. Klaster-3 melibatkan 16 kementerian dan lembaga dengan 25 program (Tabel 2). Pada Tabel 2 terlihat, hampir semua kementerian melaksanakan program pemberantasan kemiskinan. Dalam rangka koordinasi, Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Kemenko Kesra) sebagai koordinator implementasi semua program penanggulangan kemiskinan telah merumuskan rencana strateginya dengan sasaran utama adalah menurunkan jumlah penduduk miskin laki-laki dan perempuan2. Menurut Kemenko Kesra (2008), bahwa koordinasi dan harmonisasi penanggulangan kemiskinan yang melibatkan berbagai lembaga membagi target kebijakan berdasarkan klaster. Klaster-1 merupakan kelompok rumahtangga kategori sangat miskin, miskin, dan hampir miskin yang merupakan kelompok masyarakat termiskin dari yang miskin, tertinggal, dan tidak memiliki modal apapun. Pada tahun 2008, target rumah tangga sasaran (RTS) mencapai 18,5 juta dan pada tahun 2014 tentunya RTS akan berkurang. Mereka termasuk dalam kategori kemiskinan struktural yang terparah yang sangat membutuhkan perlindungan sosial. Klaster-2, kelompok masyarakat miskin yang berpotensi mandiri bila diberikan bantuan. Sedangkan Klaster-3 adalah kelompok masyarakat miskin tapi sudah bisa mandiri dan mengembangkan diri dalam bisnis dan penciptaan lapangan kerja. Jenis bantuan sosial yang ditujukan pada Klaster-1 antara lain adalah jaminan kesehatan dan pemberian beras murah bersubsidi. Bantuan yang diberikan untuk Klaster-2 adalah dalam bentuk pemberdayaan masyarakat yang termasuk dalam skema PNPMM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri) atau Program Mandiri, seperti program pengembangan kecamatan (PPK) dan Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP pada tahun 2007, awal PNPMM. Sampai tahun 2011, berkembang menjadi beberapa program.
2

Kemenko Kesra membentuk Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan

46

KOPERASI DAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI INDONESIA: TINJAUAN PROBABILITAS TINGKAT ANGGOTA KOPERASI DAN TINGKAT KEMISKINAN PROPINSI (Johnny W. Situmorang dan Saudin Sijabat)

Tabel 2 Kementerian/Lembaga dan Program Penanggulangan Kemiskinan Menurut Klaster

47

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 43 - 69

Sumber: Kemenko Kesra, 2008. Program Mandiri memfasilitasi masyarakat agar terdorong bangkit bersama dalam hal merencanakan, melaksanakan hasil perencanaan, dan mengawasi hasil pelaksanaan dari rencana yang telah disusun oleh masyarakat. Proses dalam Program Mandiri merupakan proses pembelajaran masyarakat untuk hidup mandiri dalam hal nilai, kemitraan, demokratisasi, kesetaraan gender, dan ekonomi. Mulai tahun 2009, Program Mandiri mencakup seluruh kecamatan yang mendapatkan Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) untuk orang miskin dan wilayah tertinggal dalam rangka, pertama, pengembangan masyarakat, kedua BLM sebagai stimulan atau pelengkap keswadayaan masyarakat, ketiga adalah peningkatan kapasitas pemerintahan dan pelaku lokal, dan keempat, pengelolaan dan pengembangan program. Salah satu sumber pembiayaan PNPM pada tahun 2011 adalah Asian Development Fund dengan nilai US $50.00 juta untuk proyek infrastruktur perdesaan mencakup 1724,0 desa di propinsi-propinsi Jambi, Lampung, Riau, dan Sumatera Selatan. Pada Klaster-3, target grupnya adalah masyarakat yang termasuk kategori mandiri dan mampu mengembangkan diri sendiri. Kegiatan yang masuk dalam program ini adalah pemberdayaan dan pengembangan usaha. Dalam strata kemisikinan, kelompok miskin ini termasuk kategori miskin pada lapisan atas. Dengan perlakuan sedikit saja kelompok ini sudah mampu masuk kelompok tak miskin. Pada umumnya, kelompok ini mencakup masyarakat yang tergabung dalam koperasi serta usaha skala mikro, kecil, dan menengah, termasuk koperasi (KUMKM). Mengacu pada Klaster-3 ini, sasaran masyarakat miskin kemungkinannya adalah kelompok miskin pada lapisan atas atau di atas garis kemiskinan. Oleh karena itu, manakala Kementerian KUKM meluncurkan program pemberantasan kemiskinan, sasarannya adalah kelompok UMKM, khususnya pengusaha skala mikro yang jumlah entitasnya terbanyak dan lemah dalam segala hal.

48

KOPERASI DAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI INDONESIA: TINJAUAN PROBABILITAS TINGKAT ANGGOTA KOPERASI DAN TINGKAT KEMISKINAN PROPINSI (Johnny W. Situmorang dan Saudin Sijabat)

Tanggungjawab pemerintah dalam penanggulangan kemiskinan ditunjukkan oleh penyediaan anggaran pembangunan. Menurut Kemenko Kesra (2011), nilai alokasi anggaran penanggulangan kemiskinan selalu meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2002, nilai anggaran sebesar Rp.16,5 triliun dengan jumlah orang miskin 38,4 juta orang dan menjadi Rp.94.0 triliun dengan jumlah orang miskin menjadi 31,02 juta pada tahun 2010. Selama tahun 2002 sampai 2010 secara kumulatif, total anggaran penanggulangan kemiskinan telah mencapai Rp.389,70 triliun atau rata-rata Rp.43,30 triliun per tahun. Selama periode tersebut, rasio anggaran penanggulangan kemiskinan dan jumlah orang miskin adalah sebesar Rp.1.21 juta per orang. Bila dibandingkan dengan nilai pendapatan (salary) rata-rata buruh di sektor manufaktur selama 2005-2009, rasio anggaran dan salary tersebut adalah 4.693. Artinya, nilai alokasi tersebut sebesar 4.69 kali salary buruh di sektor manufaktur. Kementerian KUKM termasuk lembaga pemerintah yang cakupan penanggulangan kemiskinan dalam Klaster-3. Posisi KUMKM di Indonesia sangat strategis dari jumlah pelaku dan penyerapan tenaga kerja. Menurut Kementerian KUKM (2010), pada tahun 2009, jumlah koperasi lebih dari 170 ribu unit dengan anggota lebih dari 29 juta orang atau rata-rata 245.12 per koperasi aktif. Penyerapan tenaga kerja koperasi sebesar 325.16 ribu orang atau rata-rata 2.73 orang per koperasi aktif. Sedangkan jumlah UMKM lebih dari 52 juta unit yang sebagian besarnya adalah skala usaha mikro sebanyak 98.9%, usaha kecil 1.01%, dan sisanya usaha skala menengah. Dengan penyerapan tenaga kerja UMKM mencapai 90 juta orang atau rata-rata 1.73 orang per unit usaha, UMKM adalah badan usaha utama pendukung lapangan kerja. Dengan demikian penanggulangan kemiskinan melalui jalur KUMKM sangat strategis. Itu sebabnya, pemerintah memberikan perhatian besar pada pengembangan KUMKM. Pada tahun 2005, Presiden RI telah mencanangkan Tahun Keuangan Mikro dengan meluncurkan program Kredit Usaha Rakyat melalui sektor perbankan. Pada peringatan Hari Koperasi ke-63, 15 Juli 2010 di Surabaya, Presiden SBY telah memerintahkan agar pejabat pemerintah serius mengatasi masalah perkoperasian agar mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat (Sularso, 2010). Awal tahun 2011, dibangkitkan lagi oleh Presiden Gerakan Kewirausahaan Nasional. Bahkan pada setiap hari ulang tahun koperasi, selalu disertai dengan slogan bahwa “koperasi itu solusi penanggulangan kemiskinan”. Fungsi pemerintah dalam pembangunan

3

Menurut BPS, salary riil buruh sektor manufaktur selama 2005-2009 adalah rata-rata sebesar Rp258.03 ribu.

49

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 43 - 69

koperasi semestinya bersama Dewan Koperasi yang terbentuk karena perintah UU tentang perkoperasian4. Tabel 3 Beberapa Program Penanggulangan Kemiskinan Kementerian KUKM pada Klaster-3

Kementerian KUKM sejak tahun 2003 telah mengembangkan program dalam rangka penanggulangan kemiskinan pada Klaster-3 ini. Bentuk kegiatan yang diluncurkan adalah Bantuan Langsung Sosial (BLS) untuk pembiayaan KUKM, Bantuan Pinjaman Dana Bergulir yang dilaksanakan oleh Badan Layanan Umum (BLU) dengan nama Lembaga Pembiayaan Dana Bergulir (LPDB), dan Bantuan Teknis Peningkatan Kapasitas Pengelola KUMKM. Skim BLS sepenuhnya bersumber dari Anggaran Belanja Pemerintah (APB Negara dan Daerah) yang tidak dikembalikan oleh penerima bantuan. Sedangkan pembiayaan melalui LPDB bersumber dari APBN/D dan hasil pengembalian perguliran dana sebelumnya. Sasaran BLS adalah UMKM dan Koperasi yang secara nyata belum mampu berkompetisi, sementara sasaran LPDB adalah UMKM yang tergabung dalam koperasi yang sudah mampu mengembangkan usaha tapi kategori non-bankable. Alokasi anggaran BLS telah mencapai triliunan rupiah sementara dana LPDB mencapai miliaran rupiah meskipun dana pembiayaan yang tersedia mencapai setidaknya satu triliunan rupiah. Secara teknis, pada tahun 2011, akses pembiayaan BLS semakin dipermudah oleh pemerintah dengan alasan bahwa koperasi sasaran adalah koperasi yang sangat membutuhkan dukungan dan perlindungan pemerintah. Demikian juga akses pembiayaan LPDB, namun untuk kasus pinjaman skala besar lebih menuntut administrasi dan jaminan keikutsertaan koperasi yang lebih jelas. Semua bantuan pembiayaan KUMKM disalurkan melalui lembaga koperasi sebagai badan hukum.
4

Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) menurut UU 25/1992 berfungsi sebagai wadah aspirasi gerakan koperasi. Tapi dalam realitanya, Dekopin belum berfungsi sepenuhnya.

50

KOPERASI DAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI INDONESIA: TINJAUAN PROBABILITAS TINGKAT ANGGOTA KOPERASI DAN TINGKAT KEMISKINAN PROPINSI (Johnny W. Situmorang dan Saudin Sijabat)

Nilai realisasi bantuan dana bergulir selama tahun 2000-2007 di Kementerian KUKM mencapai Rp.1.4 miliar mencakup 12.273 koperasi. Khusus dana bergulir Program Agribisnis, nilai alokasi mencapai Rp.321.7 miliar yang melibatkan 448 koperasi. Program ini ingin membangkitkan koperasi sebagai lembaga keuangan mikro untuk pembiayaan UMKM. Salah satu bantuan dana bergulir yang menarik adalah Program Perkassa5 yang diperuntukkan bagi pemberdayaan perempuan melalui koperasi. Nilai alokasi PERKASSA nasional sebesar Rp.24.7 miliar dan Koperasi Wanita (Kopwan) penerima sebanyak 247 unit. Dana bergulir Perkassa telah mampu membiayai sebanyak 6.175 orang anggota Kopwan sebagai pengusaha mikro (Anonim, 2009). Menurut Situmorang (2010a; 2010b), Program Perkassa mampu memberdayakan perempuan ibu rumah tangga sebagai pengusaha mikro. Dengan bantuan dana Rp100 juta per koperasi atau Rp.4.0 juta per anggota �op���s�, ��o���� �����ss� ��l�h ������������ ��������s ��o�o�� ��lu���� yang pada umumnya keluarga miskin di perdesaan dan memosisikan koperasi semakin kuat. Bantuan dana perbankan untuk penguatan usaha adalah melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) sejak tahun 2007. Peluncuran Program KUR oleh Presiden SBY adalah sebagai tindak lanjut dari Tahun Keuangan Mikro. Skema KUR adalah kredit umum perbankan dengan pola penjaminan pemerintah sebesar 70-80% dari nilai pinjaman yang pelaksanaannya oleh PT. Askrindo dan PT. Jamkrindo dengan dukungan Lembaga Penjaminan. Sasaran program ini adalah KUMKM yang layak tapi tidak memiliki kolateral. Bank pelaksana adalah Bank BRI, Bank Mandiri, BNI, Bank BTN, Bukopin, dan Bank Syariah Mandiri. Pada tahun 2008 penyaluran KUR sebesar Rp.6.88 triliun mencakup 672.284 debitur atau rata-rata Rp.10.23 juta per debitur. Pada tahun 2010, bank pelaksana bertambah menjadi 13 dengan ikutnya bank daerah. Nilai penyaluran KUR hanya Rp.17.23 triliun mencakup 1.44 juta debitur atau rata-rata Rp.11.98 juta per debitur dengan non-performance loan 6.2%. Pada tahun 2010, KUR diperluas untuk tenaga kerja Indonesia (TKI) dengan nilai Rp.5-10 juta (Kemenko Ekonomi, 2011). Secara nasional, p�l��s����� �UR ��lu� s��������� �����h�s�l���y� ������ ��l�� ���l�s�s� d� bawah Rp.20 triliun. Dalam praktek, persyaratan administratif, seperti tuntutan atas legalitas usaha dan langkanya surat-surat ijin pengusaha KUMK sering menjadi penghambat akses KUR. Padahal, pada umumnya, skala usaha mikro hampir tidak memiliki legalitas bisnis dan perijinan. Skema BLS, LPDB, dan KUR sesungguhnya adalah untuk menanggulangi kemiskinan melalui pengembangan bisnis KUKM. Ketika
5

Program Perkassa adalah program perempuan dan keluarga sehat dan sejahtera

51

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 43 - 69

koperasi yang memperoleh dana perkuatan modal maka dana tersebut akan disalurkan kepada anggota koperasi. Anggota koperasi pada umumnya adalah kelompok masyarakat yang lemah usahanya dan mungkin tingkat kesejahteraannya rendah. Meskipun tingkat kesejahteraan rakyat tidak semata-mata ditentukan oleh penyaluran dana dan perkembangan usaha rakyat. Tetapi, manakala jumlah KUMKM yang sangat banyak dengan anggota koperasi yang mencapai lebih dari 29 juta orang, pada saat yang sama jumlah orang miskin juga masih sangat banyak, mencapai lebih dari 30 juta orang. Sangat menarik diungkapkan relasi pemberantasan kemiskinan dengan upaya penanggulangan kemiskinan pada Klaster-3. Dengan program penanggulangan kemiskinan oleh Kementerian KUKM, harapannya semua anggota koperasi bukan menjadi bagian dari kemiskinan. III. KOPERASI DAN KEMISKINAN INDONESIA Sebagaimana telah tertuang dalam pengantar dan permasalahan yang muncul dalam tulisan ini, relasi keberadaan koperasi sebagai lembaga yang diakui mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat. Secara agregat, perkembangan keanggotaan koperasi yang disimbolkan JAK (jumlah anggota koperasi) dan jumlah orang miskin (JOM) di Indonesia menarik untuk diungkapkan. Selama tahun 2000-2010, rata-rata per tahun jumlah orang miskin mencapai 36.23 juta orang. Pada periode yang sama, jumlah anggota koperasi mencapai 27.31 juta orang. Tiga pertanyaan mendasar atau hipotesis yang terbangun. Pertama, apakah anggota koperasi merupakan bagian dari orang miskin? Kedua, apakah anggota koperasi adalah miskin dan di luar jumlah orang miskin? Ketiga, apakah anggota koperasi adalah sudah menjadi kelompok bukan orang miskin? Pada Gambar 1 terlihat perkembangan kedua random variable tersebut dimana perkembangan orang miskin Indonesia cenderung turun dari tahun 2000 sampai 2010 sedangkan perkembangan anggota koperasi cenderung naik pada periode yang sama. Perkembangan ini seolah-olah telah menjawab pertanyaan relasi koperasi dengan penanggulangan kemiskinan. Bila itu jawabannya maka pembangunan koperasi telah sukses mengatasi kemiskinan rakyat Indonesia selama ini, sebagai jawaban pertanyaan pertama dan ketiga. Sebaliknya, bila hipotesis kedua diterima, suatu fenomena ironi pembangunan koperasi telah terjadi, bahwa keberadaan koperasi belum sepenuhnya mendukung penanggulangan kemiskinan di Indonesia. Ini berarti jumlah orang miskin sesungguhnya jauh lebih besar dari angka statistik resmi pemerintah. Gambar 1 juga memperlihatkan fenomena unik perkembangan kedua random variable. Selama tahun 2000 – 2002, ketika jumlah anggota koperasi 52

KOPERASI DAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI INDONESIA: TINJAUAN PROBABILITAS TINGKAT ANGGOTA KOPERASI DAN TINGKAT KEMISKINAN PROPINSI (Johnny W. Situmorang dan Saudin Sijabat)

turun pada tahun 2001, jumlah orang miskin turun. Pada tahun 2002, ketika jumlah anggota koperasi naik, jumlah orang miskin juga naik. Selama tahun 2002-2005, ketika anggota koperasi naik dan turun, jumlah orang miskin juga turun, sampai 35.1 juta orang. Pada tahun 2006, ketika anggota koperasi naik sedikit, jumlah orang miskin melonjak, bahkan mencapai puncaknya, sebanyak 39.30 juta orang, selama 2000-2010. Peristiwa yang menandainya adalah krisis ekonomi secara global. Pada waktu itu, daya kompetisi Indonesia berada pada peringkat 50 menurut Global Competitiveness Index. Selama tahun 2006-2010, jumlah orang miskin turun sampai 31.2 juta pada tahun 2010, sementara jumlah anggota koperasi naik sedikit, menjadi 29.12 juta orang pada tahun 2010. Kecenderungan perkembangannya adalah suatu saat perpotongan antara jumlah anggota koperasi dan jumlah orang miskin, artinya jumlah anggota koperasi sama dengan jumlah orang miskin di Indonesia.

IV.

METODE STUDI Relasi keberadaan koperasi dan penanggulangan kemiskinan dapat dianalisis dari berbagai model atau metode. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, relasi dalam hal ini diuraikan dengan metode probilitas berdasarkan tree analysis (analisis pohon). Metode ini sangat baik digunakan untuk menjelaskan relasi manakala cakupannya menilai kaitan situasional antara dua peristiwa secara bertahap yang mungkin mempunyai relasi satu dengan lainnya (Anderson et al, 2004; Keller, 2005). Model analisis dapat dilihat dari diagram The Venn pada Gambar 2 dengan menggunakan the Addition Law. Terlihat, ketika diketahui dua kejadian (events), A (keanggotaan koperasi) dan B (kemiskinan), kombinasi kejadian bisa terjadi, yakni union 53

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 43 - 69

of events (gabungan kejadian) A dan B dan intersection of events (irisan kejadian) antara A dan B.

Dari Gambar 2, sangat baik menjelaskan pengetahuan probabilitas setidaknya satu dari dua kejadian, kejadian A atau B atau keduanya. Penggabungan kejadian, A atau B, dicatat sebagai A U B sedangkan irisan ��j�d���, A d�� B d�c���� s������ A ∩ B. The Addition Law (Rule) dapat menghitung probabilitas kejadian A atau B dengan rumus P(A atau B) = P(A) + P(B) – P(A dan B) (1)

dimana P(A atau B) atau P(A U B) adalah probabilitas kejadian A atau B, atau keduanya. P(A) adalah probabilitas kejadian A dan P(B) adalah probabilitas kejadian B. Bila kejadian A dan B masing-masing terdiri dari tiga kategori, yakni tinggi, sedang, dan rendah, maka berbagai interaksi kejadian mungkin terjadi (Tabel 4). Tabel 4. Beberapa Interaksi Kejadian A dan B dengan Tiga Kategori

Berdasarkan Tabel 4, joint, marginal, dan conditional probabilities dapat diketahui. Joint probability {P(AiBj), yakni probabilitas interseksi antar kejadian, adalah: �(A�Bj) = �(A� ∩ Bj) 54 (2)

KOPERASI DAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI INDONESIA: TINJAUAN PROBABILITAS TINGKAT ANGGOTA KOPERASI DAN TINGKAT KEMISKINAN PROPINSI (Johnny W. Situmorang dan Saudin Sijabat)

Sedangkan marginal probability, yakni probabilitas setiap kategorial kejadian A dan B karena lokasinya di luar tabel. Misalnya, probabilitas kejadian B1 {P(total B1)} dan A1 {P(total A1)} adalah: �(�o��l B1) = ∑A�B1 �(�o��l A1) = ∑A1Bj (3) (4)

Hal itu berlaku juga bagi kategorial A2 dan A3 serta B2 dan B3. Untuk mengetahui conditional probability, yakni probabilitas kejadian A terkait d����� B, ���u �(A│B), d�� ��j�d��� B ������� d����� A, ���u �(B│A). Rumus conditional probability kejadian A terkait B adalah:

(5) Sedangkan rumus conditional probability kejadian B terkait A adalah:

(6) Peubah yang digunakan dalam analisis ini adalah tingkat keanggotaan koperasi dan tingkat kemiskinan setiap propinsi (33 provinsi). Tingkat keanggotaan koperasi provinsi (regional membership cooperative size) merupakan ukuran relatif anggota koperasi provinsi secara nasional atau notasinya adalah Tingkat Anggota Koperasi Provinsi (TAKP). Sedangkan tingkat kemiskinan propinsi (regional poverty rate) adalah ukuran relatif kemiskinan provinsi secara nasional atau dinotasikan sebagai Tingkat Kemiskinan Provinsi (TKP). Asumsi dasarnya adalah adanya hubungan yang nyata antara keanggotaan koperasi dan kemiskinan yang hubungannya negatif. Artinya, masyarakat yang menjadi anggota koperasi adalah dalam rangka meningkatkan kesejahteraannya. Semakin tinggi tingkat keanggotaan koperasi semakin rendah tingkat kemiskinan. Pengkategorian setiap peubah didasarkan pada margin of error dengan selang kepercayaan 95%. Data yang yang digunakan adalah data penampang agregatif pada tahun 2009 pada Lampiran Tabel 1 dan hasil analisis statistikal pada Lampiran Tabel 2. Dengan terlebih dahulu menentukan tingkat anggota koperasi dan tingkat kemiskinan tahun 2009 sebagai tahun analisis dan setiap provinsi sebagai data penampang, kategori tingkat anggota koperasi dan tingkat kemiskinan tiap provinsi dapat 55

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 43 - 69

ditentukan. Selanjutnya, dengan metode perhitungan probabilitas dan analisis pohon, maka probabilitas relasi koperasi dengan penanggulangan kemiskinan dapat terungkap. V. PROBABILITAS KOPERASI DAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN: STUDI KASUS TAHUN 2009 Gambaran tingkat anggota koperasi setiap provinsi (TAKP) dan tingkat kemiskinan provinsi pada tahun 2009 tertera pada Gambar 3. Tingkat anggota koperasi provinsi (TAKP) adalah rasio jumlah anggota koperasi dengan jumlah penduduk. Semakin tinggi TAKP semakin baik, sebaliknya. Semakin rendah TAPK semakin baik, dan sebaliknya. Provinsi yang TAKP-nya tinggi semestinya akan menunjukkan tingkat kemiskinan provinsi yang rendah pula. Sedangkan provinsi yang TAPK-nya rendah akan menghasilkan tingkat kemiskinan yang tinggi. Terlihat pada Gambar 4, TAKP rata-rata Indonesia adalah 0.1145 atau jumlah anggota koperasi adalah 11.45% dari jumlah penduduk provinsi. Provinsi yang performa keanggotaan koperasinya baik, dengan TAKP di atas rata-rata, adalah sebanyak 12 provinsi. Secara berurutan dari tertinggi Kalimantan Timur, Bali, Sulawesi Utara, DI Yogyakarta, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan Sumatera Barat karena TAKP-nya di atas rata-rata nasional, sebesar 0.1145. Selebihnya, propinsi di bawah nilai rata-rata, atau cenderung rendah. Kalau tertinggi adalah Kalimantan Timur dan terrendah adalah Papua. Ternyata juga, beberapa provinsi di P. Jawa kalah posisi dengan provinsi di luar P. Jawa. Padahal aksesibilitas P. Jawa jauh lebih baik daripada luar Jawa. Dari TAPK tersebut, provinsi-provinsi Kalimantan Timur, Bali, Sulawesi Utara, DI Yogyakarta, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan Sumatera Barat adalah daerah yang semestinya tingkat kemiskinannya rendah. Sedangkan propinsi lainnya dengan TAKP yang rendah akan menghasilkan tingkat kemiskinan yang ������. Y��� ������� d��� G����� 2 �d�l�h pos�s� ������p� p�ov��s� d� �ul�u Jawa seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten dimana performa TAKPnya yang rendah. Sementara Jawa Timur, meskipun TAKP-nya tinggi, masih di bawah beberapa provinsi di luar P. Jawa. Propinsi-propinsi tersebut selama ini dinyatakan sebagai propinsi yang termaju koperasinya akibat dukungan infrastruktur dan akses yang jauh lebih baik daripada propinsi di luar P. Jawa. Faktanya, dengan jumlah anggota koperasi yang terbanyak belum sepenuhnya menunjukkan perfoma kependudukannya. Hanya sebagian kecil saja dari jumlah penduduk yang banyak di propinsi tersebut yang menjadi anggota 56

KOPERASI DAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI INDONESIA: TINJAUAN PROBABILITAS TINGKAT ANGGOTA KOPERASI DAN TINGKAT KEMISKINAN PROPINSI (Johnny W. Situmorang dan Saudin Sijabat)

koperasi. Dari sisi pembinaan, pemerintah (daerah) tersebut belum mampu memobilisasi penduduk menjadi anggota koperasi. Mobilisasi penduduk menjadi anggota adalah sangat perlu mengingat status koperasi sebagaimana UU 25/1992 adalah badan usaha yang merupakan kumpulan orang, bukan saham. Ini yang membedakannya dengan badan hukum perseroan terbatas (PT). Artinya, semakin banyak anggota semakin baik performa koperasi.

Tingkat kemiskinan propinsi (TKP), sebagai ukuran kemiskinan daerah, adalah rasio jumlah orang miskin dan jumlah penduduk provinsi. Bagaimanakah dengan tingkat kemiskinan yang terjadi di setiap provinsi? G����� 3 ���u�ju���� ������� ����s����� d� ���p p�ov��s� ���s��u�. R���-���� TKP adalah 0.1419 atau jumlah orang miskin secara nasional adalah 14.19% dari jumlah penduduk pada tahun 2009. Bila TKP di bawah 0.1419 maka performa provinsi tersebut baik. Sebaliknya, bila TKP tinggi maka performa propinsi buruk. Sebagian besar provinsi performanya adalah baik ditinjau 57

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 43 - 69

dari TKP, yakni sebanyak 18 provinsi. Secara berurutan yang terbaik adalah DKI Jakarta, Bali, Kalimantan Selatan, Bangka Belitung, Kalimantan Timur, Banten, Kalimantan Tengah, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Barat, Maluku Utara, Riau, Sulawesi Utara, Kalimantan Barat, Sumatera Utara, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Barat karena di bawah nilai rata-rata TPK sebesar 0.1419. DKI Jakarta misalnya, TKP-nya sebesar 0.0337 atau jumlah orang miskin di DKI Jakarata hanya 3.37% dari jumlah penduduk. Selebihnya, sebanyak 15 provinsi menunjukkan posisi tidak baik. Umumnya, provinsi di Indonesia bagian Timur adalah daerah yang tingkat kemiskinannya sangat tinggi. Misalnya, TKP Papua Barat sebesar 0.3375 atau sebanyak 33.75% penduduk Papua Barat adalah miskin.

58

KOPERASI DAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI INDONESIA: TINJAUAN PROBABILITAS TINGKAT ANGGOTA KOPERASI DAN TINGKAT KEMISKINAN PROPINSI (Johnny W. Situmorang dan Saudin Sijabat)

Beberapa provinsi di P. Jawa juga kalah posisi dengan provinsi luar P. Jawa. Jawa Timur, DI Yogyakarta, dan Jawa Tengah, TKP-nya masingmasing 0.1607, 0.1697, dan 0.1768. Posisi provinsi ini di bawah Sumatera Selatan. Penduduk miskin di daerah tersebut masih sangat banyak. Khusus Jawa Timur, fenomena menarik untuk ditelaah lebih lanjut. Mengapa tingkat kemiskinan masih tinggi? Padahal Jawa Timur selalu dianggap sebagai daerah yang sangat maju dan acuan bagi daerah lainnya. Fakta ini sebenarnya menunjukkan rendahnya kapasitas Jawa Timur dalam pembangunan daerah. Fenomena ini sejalan dengan performa propinsi tersebut dalam hal menarik investasi dimana RIPI (Regional Investment Performance Index) Jawa timur dalam menarik investasi nasional dan asing adalah rendah (Situmorang 2009a dan 2009b). Artinya, ukuran ekonomi Jawa Timur yang besar tidak serta merta memiliki performa baik dalam menanggulangi kemiskinan dan atau menarik investasi di daerah tersebut. Posisi berdasarkan TAKP dan TKP tersebut dan penggunaan metode statistika estimasi interval dengan menggunakan margin of error, pada �o���s��� ��p��c�y��� (coefficient of interval confidence) sebesar 95% y��� ���l�h�� p�d� L��p���� T���l 2, TA�� d�� T�� d�p�� d��l�s�����s���� dalam tiga kategorial, yakni rendah (R) dengan TAKP < 0.11 dan TKP < 0.13, kategori sedang (S) dengan TAKP antara 0.11-0.13 dan TKP 0.13 – 0.17, dan kategori tinggi (T) dengan TAKP>0.13 dan TKP>0.17. Metode p����l�s�����s��� ���s��u� d�p�� d�p�������u��j�w����� s�c��� �l���h d����� ������� ��p��c�y��� 95% ���u ��s�l�h�� s���s�� 5%. ��s�l �l�s�����s� dan distribusi propinsi dapat menunjukkan relasi keanggotaan koperasi dan kemiskinan setiap provinsi, dan selanjutnya menunjukkan keterkaitan antar random variable tersebut (Tabel 5). Tabel 5. Matriks Distribusi Propinsi Berdasarkan TAKP dan TKP

Ket:

Distribusi dengan rata-rata 11.45%, margin of error 13.74%, d�� α = 5% u��u� TAKP dan rata-rata 14.19%, margin of error 17.67%, d�� α = 5% u��u� T��

59

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 43 - 69

Pada Tabel 5 terlihat distribusi provinsi berdasarkan kedua variabel acak tersebut yang tingkat keragamannya tinggi. Sebagian besar provinsi pada tahun 2009 masuk kategori rendah berdasarkan TAKP dan TKP. Beberapa provinsi di P. Jawa masuk dalam kategori rendah, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten dilihat dari TAKP. Beberapa provinsi di P. Jawa, seperti DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Jawa Tengah masuk kategori sedang dan tinggi dalam hal kemiskinan. Masuknya beberapa provinsi di P. Jawa pada kategorial kurang baik menjadi fenomena tersendiri mengingat aksesibilitas P. Jawa jauh lebih baik daripada luar P. Jawa. Jawa Tengah dan NTB masuk dalam kategori yang sama dari sisi kemiskinan, tingkat kemiskinannya tinggi. Posisi yang terbaik dengan TAKP tinggi dan TKP rendah hanya lima provinsi, yakni Sumatera Utara, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Utara. Posisi ini sebenarnya menjadi harapan dengan upaya penanggulangan kemiskinan dengan kehadiran koperasi sebagai lembaga perjuangan rakyat mengatasi kemiskinan. Dari distribusi provinsi berdasarkan kategorial TAKP dan TKP pada Tabel 5, maka distribusi jumlah provinsi dapat ditampilkan pada Tabel 6. Sebanyak 19 provinsi masuk kategori rendah (R) dan hanya sebanyak 9 provinsi masuk kategori tinggi (T) menurut TAKP. Sisanya, sebanyak 5 provinsi masuk dalam kategori sedang (S). Sementara itu, berdasarkan TKP, terdapat sebanyak 16 provinsi masuk kategori rendah (R) tingkat kemiskinannya dan sebanyak 12 provinsi masuk kategori tinggi (T). Sisanya, sebanyak 5 provinsi masuk kategori sedang (S). Distribusi jumlah propinsi dengan TAKP rendah dan TKP rendah adalah yang terbanyak, sebesar 9 provinsi, menyusul TAKP rendah dan TKP tinggi sebanyak 8 provinsi. Sedangkan TAKP tinggi dan TKP rendah hanya sebanyak 5 provinsi. Distribusi ini telah menggambarkan relasi yang kurang sejalan dengan harapan dimana yang semestinya adalah frekuensi terbanyak adalah ketika TAKP tinggi dan TKP rendah. Kemudian dari Tabel 5, dapat dihitung joint probability dan marginal probability antara tingkat anggota koperasi dan tingkat kemiskinan6.

6

Joint probability adalah probabilitas interaksi dua kejadian sedangkan marginal probability adalah total probabilitas satu kejadian atau jumlah joint probabilitas

60

KOPERASI DAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI INDONESIA: TINJAUAN PROBABILITAS TINGKAT ANGGOTA KOPERASI DAN TINGKAT KEMISKINAN PROPINSI (Johnny W. Situmorang dan Saudin Sijabat)

Tabel 6. Matriks Distribusi Jumlah Propinsi Berdasarkan TAKP dan TKP, Tahun 2009

Pada Tabel 7 terlihat joint probability yang merupakan interaksi antar kejadian, ditunjukkan oleh angka pada baris dan kolom sebagai interaksi TAKP dan TKP. Misalnya, angka 0.2727, 0.0606, dan seterusnya sampai angka terakhir yang juga 0.0606 adalah joint probability antara TAKP dan TKP. Angka 0.2727 adalah joint probability antara kategori TAKP rendah dengan kategori TKP rendah, dan seterusnya. Jadi, interaksi TAKP yang rendah dengan TKP yang rendah sebesar 27.27%, TAKP rendah dengan TKP sedang sebesar 6.06%, dan TAKP rendah dengan TKP tinggi sebesar 24.24%. Joint probability tertinggi adalah antara TAKP rendah dan TKP rendah, sebesar 27.27%, dan yang terendah adalah TAKP sedang dan TKP sedang sebesar 3.03%. Sedangkan marginal probability adalah probabilitas sisa yang ditunjukkan oleh baris dan kolom total. Angka pada kolom Total sebesar 0.5758, 0.1515, dan 0.2727 adalah marginal probability yang merupakan probabiltas kejadian di luar interkasi antar kejadian yang tampak dari kategori TAKP yang rendah sebesar 57.58%, sedang sebesar 15.15%, dan tinggi sebesar 27.27%. Sedangkan angka pada baris Total sebesar 0.4848, 0.1515, dan 0.3636 adalah marginal probability dari kategori TKP yang rendah sebesar 48.48%, sedang sebesar 15.15%, dan tinggi sebesar 36.36%. Marginal probability tertinggi adalah pada kejadian TAKP rendah, sebesar 0.5758. Artinya, kemungkinan menemukan propinsi dengan tingkat anggota yang rendah adalah sebesar 57.58%. Marginal probability terendah pada kejadian TAKP adalah pada kategori sedang, sebesar 0.1515. Artinya, kemungkinan ditemukan propinsi yang TAKP-nya sedang adalah sebesar 15.15%. Marginal probability TKP tertinggi adalah pada kategori rendah, yakni 0.4848. Artinya, kemungkinan ditemukan provinsi yang TKP rendah adalah sebesar 48.48%, dan terendah adalah kategori sedang, sebesar 0.1515 dimana kemungkinan ditemukan provinsi dengan kategori tingkat kemiskinan sedang adalah sebesar 15.15%.

61

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 43 - 69

Tabel 7. Joint dan Marginal Probability Tingkat Anggota Koperasi Propinsi dan Tingkat Kemiskinan Propinsi, 2009

Pengoperasian probabilitas untuk mengatahui seberapa jauh peluang koperasi mendukung penanggulangan kemiskinan lebih jelas terlihat dengan metode tree analysis (Analisis Pohon). Gambar 3 menampilkan analisis pohon tersebut dimana dua langkah (step) yang terbangun untuk mengetahui relasi koperasi dan penanggulangan kemiskinan. Step-1 menunjukkan probabilitas kejadian TAKP sebagaimana Tabel 6, yakni kategori rendah 0.5758, sedang 0.1515, dan tinggi 0.2727. Pada step-2, probabilitas kejadian TKP, yakni kategorial rendah, sedang, dan tinggi terkait dengan kategori rendah TAKP (conditional probabaility TKP atas TAKP) adalah masing-masing 0.4737, 0.1053, dan 0.4211. Dengan kata lain, probabilitas kategori rendah, sedang, dan tinggi pada step-2 yang terkait dengan kejadian atau kategori rendah pada step-1 adalah masing-masing sebesar 47.37%, 10.53%, dan 42.11%7. Probabilitas pada step-2 untuk kategori rendah, sedang, dan tinggi yang terkait pada kondisi kategori sedang pada step-1 masing-masing adalah sebesar 0.4000, 0.2000, dan 0.4000. Artinya probabilitas step-2 tersebut masingmasing 40%, 20%, dan 40%. Sedangkan untuk probabilitas rendah, sedang, dan tinggi pada step-2 yang terkait pada kondisi kategori tinggi pada step-1 adalah masing-masing 55.56%, 22.22%, dan 22.22%. Hasil atau outcome dari step-1 dan step-2 terlihat ketika propinsi dengan tingkat anggota koperasi yang tinggi terkait dengan tingkat kemiskinan yang rendah hanya muncul satu hasil yang
7

Probabilitas pada step-2 merupakan conditional probability dimana probabilitas step2 terkait pada kondisi step-1. Contoh, Bila R* adalah kejadian rendah pada step-2 dan R adalah kejadian rendah pada step-1 (R* rendah terkait R rendah) maka rumus conditional probability R* terkait R adalah P(R*/R) = P(R*П R)/P(R). Sementara probabilitas outcome (hasil) merupakan joint probabilitas seperti terdapat pada Tabel 6.

62

KOPERASI DAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI INDONESIA: TINJAUAN PROBABILITAS TINGKAT ANGGOTA KOPERASI DAN TINGKAT KEMISKINAN PROPINSI (Johnny W. Situmorang dan Saudin Sijabat)
Gambar 3. Analisis Pohon Probabilitas Anggota Koperasi dan Kemiskinan Step 1: TAKP Step 2: TKP Hasil Probabilitas

RR
Rendah 0,4737

0,2727

Sedang

0,1053

RS

0,0606

Rendah 0,5758

Tinggi

0,4211

RT SR
Rendah 0,4000

0,2424 0,0606

Sedang 0,1515 Sedang 0,2000

SS

0,0303

Tinggi Tinggi 0,2727

0,4000

ST

0,0606

TR
Rendah 0,5556 Sedang 0,2222

0,1515

TS

0,0606

Tinggi

0,2222

TT

0,0606

disimbolkan dengan TR adalah probabilitas sebesar 0.1515. Artinya, peluang provinsi dengan tingginya anggota koperasi dan juga tingkat kemiskinan rendah hanya sebesar 15.15%. Dari 33 provinsi di Indonesia, maka hanya sebanyak 5 provinsi kemungkinannya pada posisi yang baik dimana koperasi mendukung pengurangan jumlah orang miskin. Bila digabungkan dengan kategori tinggi pada step-1 dan kategori sedang pada step-2 dengan simbol TS maka probabilitasnya menjadi 21.21%. Artinya, dari 33 provinsi yang ada hanya sebanyak 7 provinsi kemungkinannya menunjukkan performa yang baik dalam penanggulangan kemiskinan dengan hadirnya koperasi di provinsi itu. Sisanya, adalah tidak baik. Anehnya, manakala tingkat anggota koperasi rendah dan tingkat kemiskinan rendah dengan simbol RR, probabilitasnya mencapai 27.27%, jauh lebih tinggi dari TR. Ini seolah-olah suatu kondisi paradoksial. 63

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 43 - 69

Berdasarkan relasi probabilitas tersebut, performa pembangunan koperasi terlihat dari 33 provinsi di Indonesia, dengan tingkat anggota koperasi yang rendah mendorong rendahnya kemiskinan adalah sebanyak 9 provinsi. Bila digabungkan dengan kategori rendah TAKP dan rendah pula TKP maka probabilitas mencapai 33.33%. Artinya, kemungkinan provinsi yang rendah tingkat anggota koperasi akan mendukung penanggulangan kemiskinan adalah mencapai 11 provinsi. Dengan mengambil sampel provinsi di P. Jawa dengan enam provinsi, maka kemungkinan relasi koperasi yang mampu mendukung penanggulangan kemiskinan adalah sebanyak satu provinsi. Di Pulau Sumatera, misalnya, kemungkinannya hanya sebanyak dua provinsi dari sepuluh provinsi. Sedangkan di bagian Timur, juga hanya sebanyak dua provinsi dari 12 provinsi. Fakta ini sejalan dengan pendapat beberapa penggiat perkoperasian dalam mengamati perkembangan koperasi di era reformasi. Dalam realitas global, menurut Rahardjo (2010), dari 300 koperasi terbesar di dunia versi ICA8, tidak termasuk koperasi Indonesia. Bahkan, koperasi besar tersebut terdapat di negara-negara kapitalis-liberal yang tidak memiliki UU perkoperasian dan kementerian yang membidangi koperasi. Sementara itu, koperasi jarang bergerak di sektor produksi, pengolahan, pemasaran, dan distribusi (Sularso, 2010). Dari hasil analisis di atas dapat dinyatakan bahwa dukungan koperasi atas penanggulangan kemiskinan masih rendah. Padahal target grup pembangunan KUKM adalah kelompok usaha skala mikro yang dianggap sebagai kelompok usaha yang sangat tertinggal di antara kelompok usaha. Mereka pada umumnya adalah anggota koperasi dimana seluruh upaya pemerintah, khususnya bantuan pembiayaan dilakukan melalui koperasi. Upaya pemerintah yang meluncurkan berbagai program penanggulangan kemiskinan memang perlu tapi tidak cukup menjadikan koperasi sebagai instrumen penanggulangan kemiskinan. Partisipasi lembaga lain, khususnya Dewan Koperasi yang terbentuk berdasarkan amanah UU perkoperasian, sangat dibutuhkan sebagai mitra pemerintah. Selama ini, peran Dewan Koperasi tidak terlalu mendukung keberadaan koperasi karena Dewan Koperasi belum berperan sebagai wadah menampung aspirasi gerakan koperasi. Menurut Situmorang (2009), Dewan Koperasi Indonesia menjadi semacam koperasi juga yang menyelenggarakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) dan usaha sebagaimana layaknya koperasi. Fungsi pengawasan atas implementasi prinsip koperasi yang membedakannya dengan badan usaha lainnya yang mestinya menjadi kewenangan Dewan Koperasi, tidak berjalan dengan baik. Oleh karena itu, Dewan Koperasi harus
8

ICA adalah International Cooperative Alliance yang menjadi rujukan koperasi Indonesia dan Indonesia menjadi anggotanya.

64

KOPERASI DAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI INDONESIA: TINJAUAN PROBABILITAS TINGKAT ANGGOTA KOPERASI DAN TINGKAT KEMISKINAN PROPINSI (Johnny W. Situmorang dan Saudin Sijabat)

mampu melakukan transformasi struktural perkoperasian menuju lembaga yang tangguh. Relasi yang rendah tersebut juga didukung oleh keberadaan koperasi yang ambivalen. Pada satu sisi koperasi dinyatakan sebagai lembaga meningkatkan kesejahteraan rakyat yang semestinya menjadi wilayah pemerintahan. Pada sisi lain koperasi dinyatakan badan usaha yang berwatak sosial. Sebagai badan usaha yang berbadan hukum, koperasi adalah sebagai perusahaan sebagaimana layaknya dunia usaha, seperti perseroan terbatas. Ketika koperasi sebagai lembaga mengatasi kemiskinan maka koperasi selayaknya adalah instrumen pemerintah dalam menjalankan program pembangunan. Keberadaan koperasi merupakan rekayasa pemerintah dengan melibatkan masyarakat miskin, mengingat rakyat miskin sangat tidak mungkin mampu mengorganisasikan diri sendiri dalam organisasi formal. Manakala koperasi sebagai badan hukum maka keberadaaannya murni atas pembentukan anggota yang mempunyai kepentingan yang sama untuk mencapai tujuan bisnis. Koperasi seperti ini lepas dari persoalan kemiskinan karena anggotanya pasti adalah kelompok masyarakat bukan miskin. VI. PENUTUP Sejalan dengan kerangka pembangunan nasional, koperasi diharapkan mampu menjadi instrumen meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kaitan antara jumlah anggota koperasi dengan upaya penanggulangan kemiskinan di Indonesia masih rendah. Dengan kata lain jumlah koperasi dan anggota koperasi yang banyak belum memiliki relasi yang kuat dalam hal penanggulangan kemiskinan. Kualitas anggota dalam kerangka peningkatan kesejahteraan masih belum terungkap secara jelas. Hal itu terlihat, misalnya penyuluhan perkoperasian yang sebenarnya faktor penting menggalang keanggotaan koperasi, tidak berjalan dan tidak ada dalam struktur pemerintahan. Keberadaan Dekopin belum mampu menjadi wadah pembawa aspirasi anggota dan lembaga koperasi. Barangkali, jumlah koperasi dan anggota koperasi yang terus meningkat lebih pada pencatatan dalam rangka memenuhi elemen utama pembentukan koperasi. Oleh karena itu, perlu meninjau kembali apakah keberadaan koperasi dan anggota koperasi benar-benar mencerminkan upaya kerjasama untuk memenuhi kepentingan dan mengatasi masalah bersama dalam bisnis dan ekonomi. Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah pembedaan koperasi yang jelas apakah sebagai instrumen pemerintah dalam rangka penanggulangan kemiskinan atau badan usaha berbadan hukum yang sepadan dengan perseroan terbatas. Disamping itu, tampaknya, keterlibatan semua pemangku kepentingan, khususnya keberadaan Dekopin, perlu ditinjau kembali agar sesuai dengan UU perkoperasian. 65

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 43 - 69

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 1996. Operasionalisasi Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian. Prosiding Lokakarya, TNPP. _______. 2008. Memahami Kebijakan Percepatan Penanggulangan Kemiskinan dan Perluasan Kesempatan Kerja. Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Republik Indonesia. Nopember. _______. 2009. Kajian Dampak Program Perempuan Keluarga Sehat dan Sejahtera (Perkassa). Deputi Bidang Pengkajian Bidang Sumberdaya UMKM, Kementerian KUKM. Jakarta. _______. 2010. Kajian Pajak Terhadap Koperasi. Bahan Pengantar Diskusi, Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UMKM, Kementerian KUKM. Jakarta, 20 September. _______. 2011. Realisasi Penyaluran Kredit Usaha Rakyat 2010. Tinjauan Ekonomi Keuangan, Januari. _______. 2011. Anggaran Penanggulangan Kemiskinan Indonesia, 2002-2010. Website Kemenko Kesra, Maret 2011. Anderson, David R., Dennis J. Sweeney, Thomas A.Williams. 2004. Essentials of Modern Business Statistics with Microsoft Excel. 2 Edition. Thomson. Ellwood, David T, Prof. 2010. 4 Syarat Hapus Kemiskinan. Presidential Lecture. Harian Kompas, 23 September 2010. Keller, Gerald. 2005. Statistics for Management and Economics, 7 Edition. International Student Edition (ISE). Rahardjo, Prof M, Dawam. 2010. Ekonomi Politik Perkoperasian Indonesia. Prosiding Seminar Ekonomi Politik Perkoeprasian Indonesia. Ibnoe Soedjono Center dan GKBI. Jakarta, 8 dan 12 Juli. Retnadi, Djoko. 2008. People Based Small-Business Loan KUR: Prospects And Challenges. Economic Review number 212, June. Situmorang, Johnny W. 2009. Performa Regional Menarik PMDN, Tahun 20062008. Analisis Dengan Metode RIPI. CBES-Communication Paper, Jakarta. __________________. 2009. Performa Regional Menarik PMA, Tahun 2006-2008. Analisis Dengan Metode RIPI. CBES-Communication Paper, Jakarta.

66

KOPERASI DAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI INDONESIA: TINJAUAN PROBABILITAS TINGKAT ANGGOTA KOPERASI DAN TINGKAT KEMISKINAN PROPINSI (Johnny W. Situmorang dan Saudin Sijabat)

__________________. 2009. Tinjauan Kelembagaan Koperasi Dalam Pembangunan Nasional. Makalah untuk Inventarisasi Masalah Tindaklanjut Rencana Strategis Pembangunan Koperasi. Kemenneg KUKM, Jakarta, Mei. __________________. 2010. Analisis Tipologi dan Posisi Koperasi Penerima Program Perkassa. Studi Kasus Koperasi Wanita di Sumatera Selatan. Jurnal Pengkajian KUKM, volume 5. Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UMKM, Kemen KUKM, Jakarta Juli. __________________. 2010. Analisis Tipologi dan Posisi Koperasi Penerima Program Perkassa. Studi Kasus Koperasi Wanita di Jawa Timur. Proceeding PPM The 4th PPM National Conference on Management Research. Sustainable Competitive Advantage in Challenging Market Environment. PPM School of Management, Jakarta, ISSN: 2086-0390. 25 Nopember. Sularso. 2010. Presiden Instruksikan Atasi Masalah Koperasi. Peringatan Hari Koperasi Ke-63 di Surabaya, 15 Juli.

67

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 43 - 69

Lampiran Tabel 1. Anggota Koperasi dan Orang Miskin Indonesia, Tahun 2009

68

KOPERASI DAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI INDONESIA: TINJAUAN PROBABILITAS TINGKAT ANGGOTA KOPERASI DAN TINGKAT KEMISKINAN PROPINSI (Johnny W. Situmorang dan Saudin Sijabat)

Sumber: BPS dan Kemen KUKM, 2011 JAKP = jumlah anggota koperasi propinsi (ribu orang) JOMP = jumlah orang miskin propinsi (ribu orang) JPIP = jumlah penduduk Indonesia propinsi (ribu orang) TAKP = tingkat anggota koperasi propinsi TKP = tingkat kemiskinan propinsi Lampiran Tabel 2. Nilai Proses Statistikal Anggota Koperasi dan Orang Miskin, 2009

69

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 70 - 88

STUDI KASUS PENYERTAAN MODAL PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN KE KOPERASI* Achmad H. Gopar** Abstrak Koperasi sebagai badan usaha adalah sebuah lembaga yang dinamis yang perlu terus dikembangkan lembaganya dan diperbesar usahanya. Untuk memperbesar usahanya tersebut koperasi memerlukan modal, baik yang berasal dari internal koperasi maupun yang berasal dari eksternal koperasi. Ketika modal sendiri tidak mencukupi maka koperasi harus mencari modal dari luar koperasi. Salah satu bentuk modal dari luar tersebut adalah modal penyertaan. Setidaknya ada tiga bentuk kelembagaan sebagai konsekuensi pelaksanaan modal penyertaan, yaitu: modal penyertaan langsung pada kegiatan usaha koperasi, modal penyertaan pada unit usaha otonom koperasi, dan modal penyertaan pada perseroan milik koperasi. Modal penyertaan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dilakukan langsung pada kegiatan usaha koperasi untuk menambah modal kegiatan usaha koperasi. Modal penyertaan pada model ini tidak mempunyai hak suara (nonvoting stock), karena hanya anggota yang mempunyai hak suara. Untuk mengatasi permasalahan tersebut hal yang menjadi sumber wanprestasi dinegosiasikan sejak awal dan dituangkan dalam surat perjanjian modal penyertaan (SPMKOP), dengan tingkat pendapatan tetap berupa prosentase dari keuntungan sebesar 70% untuk koperasi dan 30% untuk Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Ketiga bentuk kelembagaan tersebut akan mengubah sistem operasional dan prosedur yang harus dijalankan oleh koperasi. Perubahan bentuk kelembagaan maupun sistem operasional tersebut pada tingkatan tertentu mungkin tidak bisa lagi hanya diatur dengan aturan internal dan perjanjian, tapi memerlukan pengaturan pemerintah atau perundangan, baik dalam bentuk revisi Peraturan Pemerintah (PP) atau bahkan perubahan Undang Undang. Kata kunci: modal penyertaan, hak suara, hak keuntungan, investasi, saham tanpa hak suara, deviden

* Artikel diterima 20 Juli 2011, peer review 25 Juli 2011, review akhir 15 September 2011 ** Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK

70

STUDI KASUS PENYERTAAN MODAL PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN KE KOPERASI (Achmad H. Gopar)

Abstract Cooperative as a business entity is a dynamic institution which should strengthen its business. In strengthening the business will need capital, capital owned as well as capital borrowed. When capital owned is shortened then cooperative will have to seek capital from outside, one of them is cooperative stock (modal penyertaan). As consequences of the cooperative stock used, there are three institutional formulas; cooperative stock directed to cooperative business, to autonomous business unit of cooperative, and to investor owned firms. South Kalimantan Government has invested its owned capital to cooperatives through the first formula. The investors do not have the right to vote because only the members have it. In order to minimize disputes, the parties have made a written agreement (SPMKOP), which set dividend share of 70% for cooperative and 30% for South Kalimantan Government. The three formulas would change the institutional and the operational system of cooperative. The changes on certain level might need some revision on the regulation. It is recommended to revise the Government Regulation on cooperative stock and the related regulations. Key words: cooperative stock, votting rights, profit rights, investment, non votting stock, devidend I. 1.1. PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Koperasi sebagai badan usaha adalah sebuah lembaga yang dinamis, perlu untuk terus mengembangkan lembaganya dan memperbesar usahanya. Untuk memperbesar usahanya tersebut koperasi memerlukan modal, baik yang berasal dari internal koperasi maupun yang berasal dari eksternal koperasi. Ketika modal sendiri tidak mencukupi, koperasi harus mencari modal dari luar koperasi. Berbagai jenis modal ditawarkan oleh pemodal dari luar koperasi maupun dari lembaga intermediasi keuangan. Salah satu bentuk modal dari luar tersebut adalah modal penyertaan. Modal penyertaan adalah sejumlah uang atau barang modal yang dapat dinilai dengan uang yang ditanamkan oleh pemodal untuk menambah dan memperkuat struktur permodalan koperasi dalam meningkatkan kegiatan usahanya (PP Nomor 33 Tahun 1998). Modal penyertaan pada koperasi merupakan salah satu opsi yang dapat dilakukan oleh koperasi untuk mengatasi permasalahan permodalannya yang terbatas. Untuk mengembangkan usahanya, koperasi seharusnya tidak 71

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 70 - 88

hanya bertumpu pada modal sendiri yang umumnya terbatas. Sebagaimana diketahui, modal sendiri koperasi umumnya hanya berasal dari simpanan anggota dan keuntungan usaha, biasanya sangat terbatas ketika digunakan untuk mengembangkan usaha secara cepat. Kegiatan usaha yang menguntungkan biasanya akan menarik. Namun hal tersebut tidaklah cukup bagi pemodal untuk menanamkan uang dan barang modalnya pada usaha tersebut. Beberapa hal menjadi sangat penting bagi pemodal untuk menjadi bahan pertimbangan sebelum menanamkan modalnya pada suatu usaha koperasi, misalnya kepastian usaha, transparansi pelaporan, pembagian keuntungan, dan sebagainya. Oleh karena itu koperasi harus selalu berinovasi untuk lebih menarik modal luar, terutama modal penyertaan. Inovasi tersebut dilakukan agar usaha koperasi menjadi lebih lebih menarik bagi pemodal dengan tanpa meninggalkan jati diri yang harus selalu dipegang teguh koperasi. Jangan sampai upaya pragmatis menyebabkan koperasi tidak lagi memegang teguh prinsip-prinsip dasar yang menjadi pedoman bagi koperasi dalam melaksanakan kegiatannya. 1.2. Identifikasi Masalah Modal penyertaan dapat berasal dari pemerintah, anggota masyarakat, badan usaha, dan badan-badan lainnya. Pemerintah dapat menjadi pelopor dalam melaksanakan modal penyertaan ini dengan menanamkan modalnya ke dalam kegiatan usaha koperasi. Selain itu pemerintah perlu mendorong dilakukannya berbagai inovasi untuk membuat modal penyertaan menjadi opsi yang lebih menarik lagi bagi pemodal untuk menanamkan modalnya pada koperasi. Dorongan inovasi itu dapat dilakukan melalui penelitian dan pengembangan, kaji tindak suatu inovasi, maupun penanaman modal secara langsung. Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan sejak tahun 2006 telah melaksanakan penyertaan modal kepada koperasi. Walaupun penyertaan modal Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan ini dianggap sukses, namun bukan berarti tidak ada permasalahan dan kendala. Untuk itu harus dilakukan pengkajian sudah sejauh mana modal penyertaan ini telah berkembang dan berperan dalam pengembangan koperasi. 1.3. Pembatasan Masalah Sasaran dari kajian ini mencakup sekelompok koperasi penerima dana modal penyertaan yang telah memanfaatkannya untuk pengembangan usaha koperasi. Mengingat keterbatasan sumberdaya untuk melaksanakan 72

STUDI KASUS PENYERTAAN MODAL PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN KE KOPERASI (Achmad H. Gopar)

pengambilan data, maka kelompok sasaran dibatasi untuk 6 koperasi yang ditentukan secara sengaja (purposive), yaitu koperasi penerima modal penyertaan pertama kali pada tahun 2006. Keluaran dari kajian ini adalah data faktual mengenai pemanfaatan modal penyertaan oleh koperasi responden untuk mengembangkan koperasi. Data tersebut dianalisis sehingga menjadi informasi yang berguna bagi penyusunan kebijakan mengenai modal penyertaan dan referensi bagi koperasi yang akan mereplikasi pemanfaatan modal penyertaan untuk mengembangkan koperasinya. 1.4. Ruang Lingkup Ruang lingkup pada kajian ini dibatasi pada lingkup sebagai berikut: 1. 2. 3. 1.5. Mengkaji kemanfaatan dan keuntungan dari pelaksanaan modal penyertaan. Menghitung pembagian hasil antara koperasi dan investor modal penyertaan. Mengukur dampak pemanfaatan modal penyertaan bagi koperasi.

Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan dilakukannya Kajian Peranan Modal Penyertaan pada Pengembangan Koperasi ini adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. M�l��u��� �d��������s� p����s�l�h�� y��� �d� d�l�� ������ pemanfaatan modal penyertaan oleh koperasi. Melakukan analisis peranan modal penyertaan terhadap pengembangan usaha koperasi. Melakukan analisis terhadap model kelembagaan pada koperasi yang memanfaatkan modal penyertaan tersebut.

Kegiatan ini pada dasarnya dapat memberikan manfaat ganda baik kepada koperasi maupun kepada pemerintah. Manfaat yang dapat diambil oleh koperasi adalah mengetahui lebih jauh lagi mengenai pemanfaatan modal penyertaan untuk mengembangkan usahanya. Bagi pemerintah, hasil analisis ini akan dapat memberikan masukan dalam perbaikan program pengembangan koperasi, khususnya dalam hal pemanfaatan modal penyertaan oleh koperasi, baik secara kelembagaan maupun sistem operasional dan prosedurnya.

73

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 70 - 88

II.

KERANGKA PEMIKIRAN Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 1998 tentang Modal Penyertaan dibuat untuk memacu pemanfaatan modal penyertaan untuk mempercepat pengembangan koperasi. Walaupun sudah satu dasawarsa berlalu, nyatanya penyertaan modal pada koperasi ini belumlah menggembirakan, bahkan dapat dikatakan stagnan, terutama modal penyertaan yang berasal dari anggota masyarakat, badan usaha, dan badan badan lainnya. Pemupukan modal penyertaan dilakukan berdasarkan perjanjian antara koperasi dengan pemodal (pasal 3 dan pasal 4, PP No. 33 Tahun 1998). Pasal 15 PP No. 33 Tahun 1998 tersebut menyatakan koperasi yang menyelenggarakan usaha yang dibiayai modal penyertaan wajib menyampaikan laporan berkala kepada Menteri (dalam hal ini Menteri Koperasi). Dari minimnya pelaporan mengenai penyertaan modal dalam koperasi ke Menteri Koperasi dan UKM sampai saat ini mengindikasikan masih kecilnya peranan modal penyertaan dalam pengembangan koperasi. Rendahnya pemanfaatan modal penyertaan dalam pengembangan koperasi ini diduga karena adanya berbagai permasalahan yang ada di koperasi yang menghambat masuknya modal ke koperasi.Berbagai permasalahan tersebut dapat disebabkan oleh bentuk kelembagaan koperasi, usaha koperasi, manajemen koperasi, sumberdaya koperasi, dan berbagai masalah dan kendala lainnya, terutama yang berkaitan dengan peraturan internal maupun dari eksternal (pemerintah). Permasalahan tersebut tentunya harus diatasi terlebih dahulu agar pihak luar tertarik untuk menanamkan modalnya dalam koperasi. Bagi penanam modal, setelah berbagai permasalahan tersebut dapat dikurangi, tentunya mereka melihat apakah menanamkan modalnya di koperasi akan lebih prospektif dibandingkan jika mereka menanamkan modalnya di badan usaha non koperasi, karena orientasi utama penanam modal adalah keuntungan yang sebesar-besarnya untuk modal yang mereka tanamkan. Modal penyertaan pada koperasi pada kenyataannya hampir mirip jika dibandingkan dengan saham pada Perseroan Terbatas (PT) maupun perusahaan terbuka, namun memiliki keunikan sendiri karena lembaga koperasi memiliki prinsip ”one man one vote”. Jika pada PT dan perusahaan terbuka besarnya suara ditentukan oleh besarnya modal yang disertakan di perusahaan (representasi modal/saham), maka pada koperasi suara merepresentasikan keanggotaan; setiap anggota mempunyai kekuatan suara yang sama, satu suara untuk setiap anggota. Inilah yang menjadi tantangan bagi koperasi untuk menarik modal penyertaan: bagaimana menarik modal penyertaan dari luar koperasi yang tidak merepresentasikan suara (nonvote), padahal modal tersebut menanggung risiko kerugian. Hal tersebut menjadi permasalahan

74

STUDI KASUS PENYERTAAN MODAL PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN KE KOPERASI (Achmad H. Gopar)

mendasar bagi penanam modal untuk menyertakan modalnya dalam koperasi. Bagi penanam modal kendali bagi pemanfaatan modal yang mereka sertakan merupakan hal yang mutlak diperlukan. Oleh karena itu koperasi memerlukan banyak inovasi untuk menawarkan model penyertaan modal yang menarik bagi penanam modal agar menanamkan modalnya ke koperasi. Selain permasalahan internal, koperasi juga mempunyai permasalahan eksternal untuk menarik lebih banyak lagi modal penyertaan. Gerakan koperasi hingga saat ini belum mampu membangun sistem kelembagaan yang terintegrasi secara struktural. Koperasi masih bergerak secara sendirisendiri dalam unit-unit kecil yang umumnya belum mandiri. Kelebihan dan kekurangan di masing-masing unit belum terintermediasikan secara baik. Hal ini menyebabkan banyak sumberdaya di suatu unit yang menjadi mubazir, atau tidak bermanfaat secara maksimal, sedangkan di unit lainnya sebenarnya sumberdaya tersebut sangat dibutuhkan dan dapat dimanfaatkan secara optimal. Peraturan dan pengaturan mengenai penyertaan modal untuk mengembangkan koperasi masih belum memadai. Untuk lebih memacu lagi pemanfaatan modal penyertaan oleh koperasi berbagai pengaturan dan peraturan masih perlu dibuat, dan yang lebih penting lagi bagaimana peraturan tersebut disosialisasikan dan diinternalisasikan agar bisa digunakan oleh gerakan koperasi. Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 1998 tentang Modal Penyertaan Sendiri, walau sudah berusia satu dekade lebih, diduga masih belum tersosialisasikan dengan baik. ��j��� ��� ���co�� �����d��������s���� �������� p����s�l�h�� tersebut, menganalisis dan menemukan kesimpulan yang diperlukan untuk merancang solusi dan saran perbaikan yang diperlukan dalam penyusunan kebijakan lebih lanjut. III. 3.1. METODOLOGI PENELITIAN Metode Penelitian Metodologi kajian yang dilakukan sangatlah erat kaitannya dengan tujuan yang akan dicapai oleh kegiatan ini dan ketersediaan data dan informasi yang didapat serta beberapa pertimbangan lainnya, seperti pemenuhan tujuan penelitian. Untuk mencapai tujuan kegiatan kajian ini dan berdasarkan kerangka acuan kegiatan yang telah ditetapkan, maka pelaksanaannya dilakukan berdasarkan metodologi penelitian studi kasus. 75

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 70 - 88

3.2.

Lokasi Kegiatan dan Waktu Penelitian 3.2.1. Lokasi Kegiatan Lokasi pengambilan data untuk analisis ini tentunya sangat tergantung dengan ketersediaan dana dan sumber daya yang ada serta ketersediaan data di lapangan. Provinsi Kalimantan Selatan dipilih sebagai lokasi penelitian karena pemerintah daerahnya telah melakukan penyertaan modal ke koperasi sejak tahun 2006, sehingga dirasakan sudah cukup waktunya untuk dilakukan analisis terhadap pelaksanaannya. 3.2.2. Waktu Penelitian Kajian dilaksanakan sesuai dengan tahapan penelitian yang biasa digunakan dalam suatu kegiatan penelitian. Tahapan kegiatan tersebut antara lain dimulai dari penyusunan dan pengajuan proposal, penyusunan dan pembahasan kerangka acuan, penyusunan dan pembahasan rancangan kajian, penyusunan dan pembahasan instrumen kajian, pengumpulan data.

3.3.

Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian Pemilihan responden contoh didasarkan kepada berbagai pertimbangan pula. Pada kegiatan kajian ini koperasi contoh ditentukan secara sengaja (purposive) dari sejumlah populasi koperasi yang ada di propinsi terpilih. Hal ��� d�l��u��� d����� p����������� �����pu�� p�l��s�����, ���s���s�; ���� aspek transportasi maupun aspek biaya, serta representasi data yang dapat diambil dan kemungkinan fasilitasi yang tersedia di lapangan. Untuk kajian ini responden contoh adalah enam koperasi penerima modal penyertaan untuk koperasi dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2006.

3.4.

Teknik Analisis Data Analisis yang akan dilakukan sangatlah erat kaitannya dengan tujuan yang akan dicapai oleh kegiatan ini dan ketersedian data dan informasi yang didapat serta beberapa pertimbangan lainnya, seperti pemenuhan tujuan penelitian. Pada kegiatan kajian ini akan digunakan metode analisis statistik deskriptif sederhana sebagaimana yang dikemukakan oleh Welch & Comer (1988).

76

STUDI KASUS PENYERTAAN MODAL PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN KE KOPERASI (Achmad H. Gopar)

Untuk mengkaji perkembangan aspek keuangan dan aspek usaha dari pemanfaatan modal penyertaan oleh koperasi responden, akan dilakukan analisis rasio keuntungan dan biaya (benefit/cost ratio). IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Modal penyertaan dapat berasal dari pemerintah, anggota masyarakat, badan usaha, dan badan badan lainnya. Pemupukan modal penyertaan dilakukan berdasarkan perjanjian antara koperasi dengan pemodal (pasal 3 dan pasal 4, PP No: 33 Tahun 1998). Pasal 15 PP No. 33 Tahun 1998 tersebut menyatakan: ”koperasi yang menyelenggarakan usaha yang dibiayai modal penyertaan wajib menyampaikan laporan berkala kepada Menteri (dalam hal ini Menteri Koperasi)”. Walaupun sudah lebih satu dasawarsa berlalu, nyatanya penyertaan modal pada koperasi ini belumlah menggembirakan, bahkan dapat dikatakan stagnan, terutama modal penyertaan yang berasal dari anggota masyarakat, badan usaha, dan badan badan lainnya. Modal bantuan dari pemerintah pada koperasi, khususnya dari pemerintah daerah, sebenarnya sudah banyak dilaksanakan oleh beberapa p��������h d����h, ���u� ��d�� sp�s���� s������ �od�l p��y������. U��u� itu mungkin layak untuk dikaji apa yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah Provinsi Kalimantan Selatan dengan melaksanakan modal penyertaan kepada koperasi. Pada tahun 2006 pemerintah daerah menyertakan modalnya sebesar Rp. 1 milyar kepada 6 koperasi. Sesuai dengan PP, pelaksanaan modal penyertaan tersebut dilakukan berdasarkan perjanjian, Surat Perjanjian Modal Penyertaan Koperasi (SPMPKOP), yang dilakukan antara pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dan keenam koperasi tersebut. Dalam SPMPKOP disebutkan modal penyertaan harus dikembalikan selama lima tahun dengan satu tahun masa tenggang (grace period), jadi sebesar 25% pertahun dimulai tahun kedua. Keuntungan usaha yang diperoleh, setelah dikurangi biaya yang berkaitan langsung dengan pengelolaan kegiatan usaha yang dibiayai oleh modal penyertaan, dibagi menjadi 30% untuk pemerintah daerah, sedangkan yang 70%nya untuk koperasi. Apabila menderita kerugian, maka kerugian tersebut akan ditanggung bersama secara proporsional antara koperasi dan pemerintah daerah. Proses penyertaan modal dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan kepada koperasi ini dapat diuraikan secara sederhana dengan alur proses sebagai berikut:

77

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 70 - 88

1. 2. 3.

Adanya Program dari Pemerintah Provinsi untuk Modal Penyertaan Kepada Koperasi dan Badan Usaha lainnya untuk Tahun Anggaran. Pembentukan Tim Fasilitasi Penyertaan Modal Pemprov untuk Tahun Anggaran. Sosialisasi Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Kalimantan Selatan ke Dinas yang membidangi urusan Koperasi dan UKM Kabupaten/Kota se Kalimantan Selatan. Penyampaian proposal dari Koperasi ke Dinas masing-masing untuk rekomendasi dan layak untuk diprogramkan ke Pokja Fasilitasi penyertaan Modal Pemprov yang dibentuk oleh Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Kalimantan Selatan tentunya didukung oleh Dana APBD untuk kegiatan tersebut. D�l��u��� v�������s� ol�h T�� �o�j� �� �op���s� ��s���-��s��� Kab/Kota yang mengusulkan untuk mendapatkan program Modal Penyertaan. Dilakukan penilaian sekaligus Scoring oleh tim atas usulan koperasi. Dimaksud untuk diproses lebih lanjut dengan nilai score yang disepakati oleh tim yang tentunya disesuaikan dengan dana yang tersedia oleh Pemerintah Daerah untuk program Tahun Anggaran yang disetujui oleh Dewan (DPRD Prov). Adanya penetapan oleh tim atas koperasi-koperasi yang dicalonkan yang tentunya melalui seleksi tadi yang tentunya layak sesuai kebutuhan dan ketetapan tim. Kemudian proses penetapan melalui Perda atas penyertaan modal Pemprov kepada koperasi yang sudah ditetapkan baik jumlah koperasinya maupun besaran berapa dana yang disertakan kepada masing-masing koperasi yang bersangkutan. Jika Perda sudah ditetapkan, baru tim akan mengusulkan kembali kepada Gubernur Kepala Daerah agar koperasi calon penerima dibuat SK-nya oleh Gubernur. Koperasi calon penerima dipanggil untuk memberitahukan keputusan Gubernur tersebut sekaligus untuk membahas Surat Perjanjian Bersama antara Gubernur dengan Pengurus Koperasi yang bersangkutan, yang didalam memuat sebagaimana perjanjian masing-masing koperasi.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

78

STUDI KASUS PENYERTAAN MODAL PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN KE KOPERASI (Achmad H. Gopar)

11.

Tim fasilitasi melalui Dinas yang membidangi urusan koperasi akan menyiapkan proses pencairan dana kepada rekening Bank masingmasing koperasi melalui Biro Keuangan Setda Provinsi Kalimantan Selatan. Tugas dan kewajiban koperasi penerima modal penyertaan Pemprov tertuang dalam Surat Perjanjian Modal Penyertaan (SPMP) Koperasi. Koperasi berkewajiban menyampaikan Laporan Perkembangan setiap bulan ke Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Kalimantan Selatan dan ditembuskan pula ke Dinas yang membidangi urusan Koperasi Kab/ Kota. Dinas Koperasi merekap laporan dari Koperasi per 3 bulan (triwulan) untuk dievaluasi dan disampaikan ke Gubernur Kalimantan Selatan dan ditembuskan ke DPRD.

12. 13.

14.

Melihat prospek penyertaan modal dari Pemprov Kalsel tersebut cukup berhasil, program tersebut dilanjutkan pada tahun 2008, 2009 dan 2010. Pada tahun 2008 Pememerintah Provinsi Kalimantan Selatan menggelontorkan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sebesar Rp.4,750 milyar dan sebanyak Rp. 10 milyar untuk tahun 2009. Dana tersebut tentunya sudah atas persetujuan DPRD, karena dituangkan melalui Peraturan Daerah. Penyertaan modal Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan ini dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1 Data Penyertaan Modal Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan Kepada Koperasi (30 Juni 2010)

79

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 70 - 88

Untuk keperluan penelitian ini, responden yang ditetapkan adalah koperasi penerima modal penyertaan program Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2006. Ada 6 responden koperasi. Penetapan ini tentunya dengan berbagai pertimbangan sebagaimana telah diulas sebelumnya, juga karena koperasi yang menjadi responden telah menjalani program ini sekitar 3 tahun, sehingga dianggap cukup waktu untuk dievaluasi. Koperasi yang menjadi responden inilah yang didalami permasalahan modal penyertaannya. Laporan keragaan tentang koperasi responden penerima modal penyertaan ini seperti terlihat pada Tabel 2 dan Tabel 3. Pada Tabel 2 dapat dilihat penyebaran dana modal penyertaan dari Pemprov Kalsel untuk ke enam koperasi penerimanya, mulai dari Rp.100 juta hingga Rp. 400 juta. Dari koperasi, dana tersebut diteruskan atau dipinjamkan kembali kepada nasabah yang juga menjadi anggota koperasi. Pemberian pinjaman kepada anggota juga tidak sama besarnya, tentunya berdasarkan kelayakan masing-masing anggota calon penerima pinjaman. Oleh karena besaran pemberian pinjaman kepada anggota bervariasi antar anggota suatu koperasi maupun antar anggota di enam koperasi penerima. Tabel 2 Modal Penyertaan Pemprov Kalsel Kepada Koperasi Tahun 2006

80

STUDI KASUS PENYERTAAN MODAL PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN KE KOPERASI (Achmad H. Gopar)

Evaluasi yang dilakukan terhadap laporan akhir tahun 2008 yang dilakukan oleh Gopar (2009), menunjukkan gambaran yang menggembirakan, sebagaimana dapat dikutip adalah sebagai berikut: 1) Tingkat perputaran dana sebesar 3,34 kali (pemberian pinjaman sebesar Rp. 3.343.574.000,00 atau 334 % dari modal awal sebesar Rp.1.000.000.000,00. penerimaan angsuran pinjaman sebesar Rp.2.490.547.503,00 dengan jasa yang diterima sebesar Rp.514.672.378,00 atau 51,47% dari modal penyertaan awal sebesar Rp.1 milyar. Tingkat pengembalian angsuran pinjaman anggota kepada koperasi cukup lancar, belum terdaftar ada tunggakan. Kewajiban pengembalian pokok pinjaman pada tahun pertama yang telah disetor oleh koperasi ke kas daerah sampai Desember 2008 sebesar Rp.325.002.000,00 sedangkan kewajiban bagi hasil yang disetor sbesar Rp. 130.803.685,00.

2)

3) 4)

Melihat hasil yang menggembirakan tersebut, pemerintah daerah melaksanakan lagi modal penyertaan kepada koperasi pada tahun 2008 dengan menyertakan modal sebesar Rp. 4.750.000.000,- kepada 29 koperasi. Besarnya modal penyertaan untuk setiap koperasi disesuaikan dengan kemampuan koperasi untuk menyerapnya, demikian juga masa pengembaliannya yang bervariasi antara 5 tahun dan 10 tahun dimulai terhitung Januari 2009. Kemudian untuk tahun 2009 Pemprov Kalsel menggelontorkan lagi dana sebesar Rp. 10 milyar sebagai penyertaan modal untuk 49 koperasi, dengan besaran dan masa pengembalian yang bervariasi untuk setiap koperasi. Dari tabel 3 tersebut dapat dievaluasi bahwa telah terjadi peningkatan kinerja program penyertaan modal Pemprov Kalsel pada tahun 2010 ini. Hal tersebut bisa dilihat dari beberapa indikator berikut: 1) Ditinjau dari pemberian pinjaman, tingkat perputaran modalnya telah meningkat, dari 3,34 kali pada tahun 2009 menjadi sebesar 4 kali pada tahun 2010 (pemberian pinjaman sebesar Rp. 4,055 milyar). Jasa yang diterima sebesar Rp. 762,1 juta, atau sebesar 76,21% dari modal penyertaan awal. Dengan masa 3 tahun berarti pendapatan jasa lebih dari 25% pertahun, jauh lebih besar dibandingkan bunga pasar. Angka ini sebenarnya jauh lebih besar jika diperhitungkan bahwa salah satu koperasi, yaitu KPN Guru-Guru, Jalan Kelayan, Banjar Selatan, sudah mengembalikan modal penyertaan yang diterimanya pada tahun pertama. 81

2)

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 70 - 88

3)

Bagi Pemprov Kalsel, modal penyertaan yang telah diberikannya kepada koperasi ternyata dikembalikan lagi dengan lancar. Dapat dilihat pada tabel lebih dari separoh modalnya telah kembali, tersisa hanya Rp. 456 juta, dari Rp. 1 milyar yang dijadikan modal penyertaan. Selain setoran pokok modal penyertaan, Pemprov Kalsel juga menerima bagi hasil dari keuntungan yang diperoleh oleh koperasi, yaitu sebesar 30% dari keuntungan. Pada Juli 2010 setoran bagi hasil yang telah diterima Pemprov Kalsel adalah sebesar Rp. 180,6 juta (sekitar 18%), atau rata rata 6% pertahun.

4)

Mengkaji investasi pemerintah daerah Kalimantan Selatan dalam bentuk modal penyertaan ini kelihatannya memang cukup berhasil. Namun jika melihat jenis koperasi dan bidang usaha yang dibiayai dengan modal penyertaan tersebut, yaitu simpan pinjam, dimana pinjaman kepada anggotanya masih dalam skala mikro, pelaksanaan modal penyertaan ini belumlah menyentuh sektor produktif yang bisa dilakukan oleh koperasi. Padahal sejarah pembangunan koperasi peternakan menunjukkan bahwa Penyertaan Modal Pemerintah (PMP) untuk pembangunan ”cooling unit” pada beberapa koperasi susu menunjukkan keberhasilan yang sangat menggembirakan, karena investasi tersebut membawa dampak kebelakang maupun dampak kedepan yang sangat baik. Tabel 3 Kinerja Penyertaan Modal Pemprov Kalsel Program Tahun 2006 (Juli 2010)

82

STUDI KASUS PENYERTAAN MODAL PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN KE KOPERASI (Achmad H. Gopar)

Tabel 4 Penyetoran Bagi Hasil Oleh Koperasi Ke Pemprov Kalimantan Selatan Atas Penyertaan Modal Tahun 2006 Per 23 Juli 2010

Pada beberapa sektor, terutama pertanian dan perkebunan rakyat, yang sangat tidak diminati pemodal dan kreditor untuk menanamkam modalnya pada koperasi, pemerintah dapat melakukan pemberdayaan dengan melaksanakan modal penyertaan. Misalnya saja untuk pendirian pabrik pengolahan kelapa sawit dan karet alam. Untuk mendirikan pabrik pengolahan kedua komoditi tersebut membutuhkan dana yang sangat besar, yang tidak mungkin hanya berasal dari modal internal koperasi. Oleh karena itu dibutuhkan upaya pemerintah untuk memobilisasikan dana untuk membantu koperasi membangun pabrik pengolahan agar petani yang menjadi anggota koperasi dapat memetik nilai tambah yang dihasilkan dari pabrik pengolahan tersebut. Mobilisasi dana tersebut bisa dari sumber tunggal, misalnya dari modal penyertaan, maupun dengan mengkombinasikannya dengan sumber dana lainnya, seperti kredit, dana bergulir, dan penjualan efek. Pada tahun 2004 pernah dicoba menggunakan dana bergulir kemitraan untuk membangun pabrik pengolahan kelapa sawit mini. Dana bergulir sebesar Rp. 3 milyar tersebut tentu tidak cukup untuk membangun pabrik senilai Rp. 15 milyar. Oleh karena itu dicarikan investor swasta yang mau bermitra dengan koperasi penerima dana bergulir tersebut. Karena kemitraan berdasarkan modal, maka akan dibentuk sebuah perseroan terbatas untuk mengelola pabrik tersebut. Agar koperasi menjadi pemilik dominan (memiliki lebih dari 50% saham) maka modal koperasi ditambah dari sumber perbankan. 83

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 70 - 88

Bagaimana memperoleh dana kredit perbankan? Permohonan kredit diajukan oleh masing-masing anggota dengan agunan kebun sawit mereka. Dana kredit yang diperoleh diinvestasikan ke pabrik sebagai penyertaan modal dari anggota dan dikonversikan sebagai saham milik anggota. Pembayaran kredit yang diperoleh anggota dari perbankan tersebut dilakukan oleh perusahaan pengelola pabrik dengan memotongnya dari marjin harga pembelian tandan buah segar (TBS). Marjin ditentukan berdasarkan selisih harga pembelian TBS oleh pabrik dan harga TBS di pasar umum. Model Kelembagaan Untuk Modal Penyertaan Pada Koperasi Penyertaan modal kepada koperasi memberikan konsekuensi kelembagaan pada koperasi, baik pada bentuk kelembagaannya maupun pada sistem operasional dan prosedurnya. Setidaknya ada tiga bentuk kelembagaan sebagai konsekuensi pelaksanaan modal penyertaan, yaitu: modal penyertaan langsung pada kegiatan usaha koperasi, modal penyertaan pada unit usaha otonom koperasi, dan modal penyertaan pada perseroan milik koperasi. Modal penyertaan langsung pada kegiatan usaha koperasi biasanya dilakukan untuk menambah modal pada satu kegiatan usaha koperasi yang sedang berkembang. Model kelembagaan pada pelaksanaan modal penyertaan seperti ini menimbulkan konsekuensi yang paling kompleks kerena dua hal; hak suara dan hak keuntungan. Modal penyertaan pada model ini tidak mempunyai hak suara (nonvoting stock), karena hanya anggota yang mempunyai hak suara. Oleh karena itu pemodal tidak mempunyai hak untuk pengelolaan dan pengawasan, yang berakibat pada lemahnya akses untuk penentuan hak keuntungan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, hal yang menjadi sumber wanprestasi biasanya dinegosiasikan sejak awal dan dituangkan dalam surat perjanjian modal penyertaan. Mengingat kompleksitasnya biasanya koperasi menawarkan model-modal penyertaan dengan tingkat pendapatan tetap, baik berupa nilai nominal maupun berupa prosentase tertentu dari keuntungan. Mod�l p��y������ p�d� u��� us�h� o�o�o� �op���s� l���h �ud�h d�� fl��s���l lagi. Pada model ini pengelolaan dan administrasi dilakukan sendiri secara otonom oleh unit usaha, sehingga pemodal lebih mudah untuk mengikuti perkembangannya. Namun demikian pemodal tetap tidak bisa ikut dalam pengelolaan dan pengawasan, karena dua kegiatan tersebut dilakukan oleh dan atas nama koperasi. Pemodal dapat mengikuti perkembangannya melalui sistem pelaporan. Oleh karena itu sistem pelaporan operasional menjadi hal penting yang harus masuk dalam perjanjian. Model ketiga, yang seharusnya dapat dieksplorasikan secara maksimal oleh koperasi, adalah modal penyertaan pada badan usaha atau perseroan milik koperasi. Karena modal penyertaan dilaksanakan untuk perseroan, yang berlaku adalah 84

STUDI KASUS PENYERTAAN MODAL PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN KE KOPERASI (Achmad H. Gopar)

peraturan dan undang-undang perseroan terbatas. Pada model ini, kepemilikan, pengelolaan dan pengawasan dilakukan bersama antara koperasi dan pemodal secara proporsional sesuai dengan besarnya modal yang disertakan. Oleh karena itu, agar badan usaha tersebut tetap menjadi milik koperasi, proporsi kepemilikan saham perseroan harus dijaga agar tetap dominan sehingga tetap penjadi pemilik saham pengendali. V. 5.1. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI PENELITIAN Kesimpulan Modal penyertaan pada koperasi merupakan salah satu opsi yang dapat dilakukan oleh koperasi untuk mengatasi permasalahan permodalannya yang terbatas. Untuk mengembangkan usahanya koperasi seharusnya tidak hanya bertumpu pada modal sendiri yang umumnya terbatas. Sebagaimana kita ketahui, modal sendiri koperasi umumnya hanya berasal dari simpanan anggota dan keuntungan usaha, biasanya sangat terbatas untuk digunakan mengembangkan usaha secara cepat. Kegiatan usaha yang menguntungkan biasanya akan menarik, namun hal tersebut tidaklah cukup bagi pemodal untuk menanamkan uangnya dan barang modalnya pada usaha tersebut. Beberapa hal menjadi sangat penting bagi pemodal untuk menjadi bahan pertimbangan sebelum menanamkan modalnya pada suatu usaha koperasi, misalnya kepastian usaha, transparansi pelaporan, pembagian keuntungan, dan lain sebagainya. Oleh karena itu koperasi harus selalu berinovasi untuk lebih menarik modal luar, terutama modal penyertaan. Inovasi tersebut dilakukan agar usaha koperasi menjadi lebih menarik bagi pemodal dengan tanpa meninggalkan jati diri yang harus selalu dipegang teguh koperasi. Jangan sampai upaya pragmatis menyebabkan koperasi tidak lagi memegang teguh prinsip-prinsip dasar yang menjadi pedoman bagi koperasi dalam melaksanakan kegiatannya. Penyertaan modal kepada koperasi memberikan konsekuensi kelembagaan pada koperasi, baik pada bentuk kelembagaannya maupun pada sistem operasional dan prosedurnya. Setidaknya ada tiga bentuk kelembagaan sebagai konsekuensi pelaksanaan modal penyertaan, yaitu: modal penyertaan langsung pada kegiatan usaha koperasi, modal penyertaan pada unit usaha otonom koperasi, dan modal penyertaan pada perseroan milik koperasi. Modal penyertaan langsung pada kegiatan usaha koperasi biasanya dilakukan untuk menambah modal pada satu kegiatan usaha koperasi yang sedang berkembang. Model kelembagaan pada pelaksanaan modal penyertaan 85

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 70 - 88

seperti ini menimbulkan konsekuensi yang paling kompleks kerena dua hal; hak suara dan hak keuntungan. Modal penyertaan pada model ini tidak mempunyai hak suara (nonvoting stock), karena hanya anggota yang mempunyai hak suara. Oleh karena itu pemodal tidak mempunyai hak untuk pengelolaan dan pengawasan, yang berakibat pada lemahnya akses untuk penentuan hak keuntungan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut hal hal yang menjadi sumber wanprestasi biasanya dinegosiasikan sejak awal dan dituangkan dalam surat perjanjian modal penyertaan. Mengingat kompleksitasnya biasanya koperasi menawarkan model modal penyertaan dengan tingkat pendapatan tetap, baik berupa nilai nominal maupun berupa prosentase tertentu dari keuntungan. Modal penyertaan pada unit usaha otonom koperasi lebih mudah dan fl��s���l l���. ��d� �od�l ��� p����lol��� d�� d�� �d����s���s� d�l��u��� sendiri secara otonom oleh unit usaha, sehingga pemodal lebih mudah untuk mengikuti perkembangannya. Namun demikian pemodal tetap tidak bisa ikut dalam pengelolaan dan pengawasan, karena dua kegiatan tersebut dilakukan oleh dan atas nama koperasi. Pemodal dapat mengikuti perkembangannya melalui sistem pelaporan. Oleh karena itu sistem pelaporan operasional menjadi hal penting yang harus masuk dalam perjanjian. Model ketiga, yang seharusnya dapat dieksplorasikan secara maksimal oleh koperasi, adalah modal penyertaan pada badan usaha atau perseroan milik koperasi. Karena modal penyertaan dilaksanakan untuk perseroan, yang berlaku adalah peraturan dan undang undang perseroan terbatas. Pada model ini, kepemilikan, pengelolaan dan pengawasan dilakukan bersama antara koperasi dan pemodal secara proporsional sesuai dengan besarnya modal yang disertakan. Oleh karena itu, agar badan usaha tersebut tetap menjadi milik koperasi, proporsi kepemilikan saham perseroan harus dijaga agar tetap dominan sehingga tetap penjadi pemilik saham pengendali. Ketiga bentuk kelembagaan tersebut akan mengubah sistem operasional dan prosedur yang harus dijalankan oleh koperasi. Perubahan bentuk kelembagaan maupun sistem operasional tersebut pada tingkatan tertentu mungkin tidak bisa lagi hanya diatur dengan aturan internal dan perjanjian, tapi sudah memerlukan pengaturan pemerintah atau perundangan, baik dalam bentuk Peraturan Pemerintah (PP) atau bahkan Undang-Undang. 5.2. Rekomendasi Pemerintah dapat menjadi pelopor dalam melaksanakan modal penyertaan ini dengan menanamkan modalnya kedalam tiga model seperti telah 86

STUDI KASUS PENYERTAAN MODAL PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN KE KOPERASI (Achmad H. Gopar)

dibahas sebelumnya. Selain itu pemerintah perlu mendorong dilakukannya berbagai inovasi untuk membuat modal penyertaan menjadi opsi yang lebih menarik lagi bagi pemodal untuk menanamkan modalnya pada koperasi. Dorongan inovasi itu dapat dilakukan melalui penelitian dan pengembangan, kaji tindak suatu inovasi, maupun penanaman modal secara langsung. Penelitian dan pengembangan mengenai modal penyertaan ini masih sangat sedikit, sehingga belum banyak inovasi yang bisa dieksplorasi maupun dieksploitasi untuk pengembangan permodalan koperasi melalui pemanfaatan modal penyertaan. Perhatian terhadap pengembangan koperasi melalui pemanfaatan modal penyertaan ini selayaknya lebih ditingkatkan lagi, apalagi jika dikaitkan dengan program pemerintah untuk mewujudkan 100 koperasi besar saat ini. Program pembangunan 100 koperasi besar selayaknya akan lebih baik lagi jika melalui pengkajian penerapan inovasi modal penyertaan pada beberapa koperasi. Sudah dimaklumi, secara teori maupun praktek, jika mau membesarkan suatu usaha maka yang diperlukan adalah modal, dan salah satu sumber permodalan murah yang dapat dimanfaatkan koperasi adalah modal penyertaan. Langkah terbaik yang dapat dilakukan pemerintah adalah melakukan penyertaan modal langsung kepada koperasi yang memiliki prospek usaha bagus namun tidak memiliki modal yang cukup. Dengan pendampingan yang cukup, telah terbukti penyertaan modal kepada koperasi dapat membangun koperasi dengan baik, bahkan menjadi koperasi yang besar. Koperasi susu mungkin tidak akan bisa membangun “cooling unit” dan pabrik pengolahan susu jika tidak ada penyertaan modal dari pemerintah. Hal yang mendesak untuk dilakukan oleh pemerintah adalah memperbaharui PP 33 Tahun 1998 yang sudah berumur lebih satu dasawarsa namun masih kurang ditengok. Pembaharuan PP hendaknya agar PP lebih operasional dan lebih berorientasi keluar, artinya penekanan tidak hanya pada hal-hal yang berhubungan dengan penyertaan modal ke koperasi, namun juga pada hal-hal yang menyangkut bagaimana caranya koperasi dapat menyertakan modalnya kepada usaha-usaha yang menguntungkan, terutama yang ada di koperasi lain.

87

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 70 - 88

DAFTAR PUSTAKA Draper, N .R. and H. Smith.1981. Applied Regresion Analysis , New York: John Wiley & Sons. Gilbert, N. and H. Specht. 1977. Planning for Social Welfare; Issues, Model, and Tasks, New Jersey: Pretice-Hall, Inc. Gopar, A.H. 2009. Modal Penyertaan pada Koperasi, paper, Hotel Mirah, Bogor, 28 April 2009. Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 1998 tentang Penyertaan Modal pada Koperasi. Pusat Informasi Perkoperasian. Majalah, Edisi Mei 2008: HTTP://www.majalahpip.com/majalah. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian. 1992. Jakarta: Pemerintah Koperasi. Welch, S. and J. Comer. 1988. Quantitative Methods for Public Administration, Techniques and Applications, Chicago: The Dorsey Press.

88

MODEL PENINGKATAN PERAN KUMKM DALAM PENGEMBANGAN KOMODITAS UNGGULAN DI KAWASAN PERBATASAN (Indra Idris dan Saudin Sijabat)

MODEL PENINGKATAN PERAN KUMKM DALAM PENGEMBANGAN KOMODITAS UNGGULAN DI KAWASAN PERBATASAN* Indra Idris dan Saudin Sijabat** Abstrak Kajian ini bertujuan menganalisis pembangunan ekonomi masyarakat di kawasan perbatasan dan peran KUMKM dalam rangka pengentasan kemiskinan. Penelitian dilakukan di daerah perbatasan Kalimantan Barat dan NTT. Potensi daerah perbatasan yang bisa dikembangkan berdasarkan analisa Location Quotient (LQ), AHP dan hasil FGD di Kupang dan Pontianak disepakati komoditi potensial/unggulan yang perlu dikembangkan dalam peningkatan peran KUMKM di kawasan perbatasan Kabupaten Belu (NTT) adalah: komoditi sapi dan jagung, sedangkan untuk Kabupaten Sanggau (Kalbar) adalah komoditi lada dan kakao. Potensi KUMKM perbatasan Sanggau terhadap Kabupaten Sanggau untuk koperasi memberikan share sebesar 2%, usaha mikro sebesar 5% dan usaha kecil sebesar 2%. Pada kawasan perbatasan Kabupaten Belu dengan Timor Leste potensi koperasi memberikan share sebesar 1,7%, usaha mikro sebesar 3,2%, usaha kecil sebesar 2,3% dan usaha menengah sebesar 3%. Peran KUMKM, terutama Koperasi masih kecil dalam pemberdayaan kawasan perbatasan, dan belum berfungsi dengan baik untuk pemberdayaan masyarakat perbatasan. Untuk peningkatan peran KUMKM telah dirancang, model yang diharapkan dapat meningkatkan share KUMKM kawasan perbatasan dalam jangka waktu 5 tahun kedepan untuk Kabupaten Sanggau dengan Malaysia dari 5% menjadi 15%, sedangkan untuk kawasan perbatasan Kabupaten Belu dengan Timor Timur dari 3% menjadi 10%. Model yang dirancang sesuai dengan skenario kecenderungan masyarakat yang hanya menjual bahan baku tanpa pengolahan dengan menciptakan barang setengah jadi atau produk akhir. Untuk penerapan model ini sebaiknya terlebih dahulu dibuat pilot proyek oleh pihak-pihak terkait. Kata kunci: model KUMKM, potensi daerah tertinggal, dan kawasan perbatasan

* Artikel diterima 20 Juli 2011, peer review 25 Juli 2011, review akhir 15 September 2011 ** Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK

89

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 89 - 123

Abstract This study aims to analyze the economic development of communities in the border region and the role of cooperatives and SMEs in order to alleviate poverty. Research conducted in the west Kalimantan border area and NTT. Potential border areas that can be developed based on analysis of Location Quotient (LQ), AHP and FGD results in Kupang and Pontianak, agreed on a potential commodity to be developed in the role of increases in the border region cooperatives and SMEs Belu (NTT) is cattle and corn, while for Sanggau District (West Kalimantan) is pepper and cocoa. Potential cooperatives and SMEs in Sanggau border area against Sanggau district for cooperatives contribute to 2% shares, micro business contributes to 5% and small business contributes to 2%. In border areas between Belu district and Timor Leste, cooperatives that are potential contributes to1.7% shares, micro business 3.2% shares, small business 2.3% shares, and middle business to 3% shares. The role of cooperatives and SMEs, especially Cooperative in empowering border areas is still small and has not been functioning properly for the empowerment of border communities. To increase the role of KUMKM, a role model has been designed to increase KUMKM shares in border areas within next 5 years for border areas between Sanggau district and Malaysia, from 5% to 15% of shares contribution. Meanwhile shares contribution for border areas between Belu district and Timor Leste increase from 3% to 10%. This model is designed in accordance with the trend scenario for people who only sell raw materials without processing by creating a semi-finished goods or final products. Key words: SMEs model, disadvantage areas and border region

I. 1.1.

PENDAHULUAN Latar Belakang Peningkatan peran Koperasi dan UMKM di daerah tertinggal merupakan bagian dari upaya mendorong partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah, khususnya daerah pedesaan dalam upaya pengentasan kemiskinan. Sungguhpun sebagian besar masyarakat di daerah tertinggal di perbatasan hidup dari sektor pertanian, namun dalam membangun daerah tertinggal bukan semata hanya ditujukan untuk mengembangkan sektor pertanian saja, melainkan mencakup kegiatan sosial ekonomi masyarakat.

90

MODEL PENINGKATAN PERAN KUMKM DALAM PENGEMBANGAN KOMODITAS UNGGULAN DI KAWASAN PERBATASAN (Indra Idris dan Saudin Sijabat)

Pembangunan ekonomi daerah tertinggal mestinya bisa dirajut melalui pendekatan keterpaduan pengembangan dan pertumbuhan antar sektor yang ada. Perlunya penekanan pembangunan daerah tertinggal tidak lain untuk menjaga perimbangan pembangunan dengan daerah lain yang lebih maju dan dinamis. Dewasa ini pengembangan wilayah perbatasan menjadi perhatian pemerintah karena memiliki arti penting dan strategis terkait dengan otonomi daerah, perdagangan bebas, dan bahkan terkait dengan kedaulatan Negara. Kawasan perbatasan di Indonesia masih ditandai dengan kesenjangan pembangunan dengan negara tetangga, kemiskinan yang tinggi, keterisolasian, kualitas sumber daya yang rendah, serta sarana prasarana yang minimum. Wilayah perbatasan umumnya merupakan daerah tertinggal dengan kondisi rawan baik dari aspek ideologi, politik, ekonomi, dan sosial budaya, serta pertahanan dan keamanan. Fenomena yang sangat menonjol adalah maraknya kegiatan illegal logging, illegal trading, arus migrasi ilegal (illegal traficking), serta bergesernya patok-patok pembatas antar negara. Kawasan perbatasan seyogyanya menjadi wilayah terdepan dalam pengembangan ekonomi. Dalam konteks inilah, pembangunan ekonomi lokal dengan peningkatan peran KUMKM dapat menjadi salah satu alternatif penting bagi pengembangan kawasan perbatasan. Pemberdayaan KUMKM di kawasan perbatasan negara semestinya dilaksanakan secara simultan dalam kerangka kerja yang komprehensif dengan berbagai upaya lain seperti pendidikan, pemberdayaan masyarakat, pembangunan sosial, dan penyediaan infrastruktur yang diarahkan untuk mendukung kedaulatan nasional. 1.2. Permasalahan Peran KUMKM dalam mendayagunakan potensi ekonomi daerah tertinggal dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan ekonomi dan pemerataan pembangunan. Hal ini karena KUMKM umumnya terdiri dari petani, pedagang, pengrajin atau bentuk usaha produktif lainnya dapat berpartisipasi dalam pembangunan daerah. Dalam konteks ini, maka permasalahan dalam kajian ini adalah sebagai berikut : 1. 2. Bagaimana mengembangkan potensi daerah melalui peningkatan peran KUMKM di daerah tertinggal di kawasan perbatasan? Rancangan/alternatif model pemberdayaan seperti apa yang dapat dengan cepat mengembangkan KUMKM di perbatasan?

91

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 89 - 123

1.3.

Tujuan dan Manfaat Tujuan kajian adalah : 1. 2. Mengetahui potensi ekonomi daerah tertinggal di kawasan perbatasan yang bisa ditangani KUMKM. Menyusun rancangan model pemberdayaan KUMKM dalam pengembangan sektor ekonomi daerah tertinggal di kawasan perbatasan.

Sedangkan manfaat yang diharapkan adalah sebagai masukan bagi pengembangan kebijakan dalam peningkatan peran KUMKM dalam pembangunan daerah tertinggal di kawasan perbatasan. 1.4. Ruang Lingkup Lingkup kajian terdiri atas analisis perkembangan kondisi makro dan mikro yang ditujukan untuk melihat faktor kelemahan, kekuatan, tantangan, dan peluang KUMKM untuk bisa memanfaatkan potensi ekonomi daerah, sebagai pijakan bagi penyusunan model peningkatan peran KUMKM. Untuk itu, lingkup kajian ini dikelompokkan sebagai berikut: 1. 2. 3. II. 2.1 ��d��������s� d�� ���l�s�s po���s� ��o�o�� d����h, ������ l���: s���o� pertanian, sektor perdagangan, dan lain-lain. ��d��������s� d�� ���l�s�s po���s� �UM�M y��� d�p�� d����������� bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Penyusunan model KUMKM dalam pengembangan ekonomi daerah tertinggal.

KERANGKA PIKIR DAN METODOLOGI Kerangka Pikir Pembangunan daerah tertinggal adalah upaya terencana untuk mengubah suatu daerah yang dihuni oleh komunitas dengan berbagai p����s�l�h�� sos��l ��o�o�� d�� ���������s�� s����� ��s��, ���j�d� d����h yang maju dengan komunitas yang kualitas hidupnya sama atau tidak jauh tertinggal dibandingkan dengan masyarakat Indonesia lainnya (KPDT, 2006). Kesenjangan sosial ekonomi masyarakat daerah tertinggal di perbatasan dengan masyarakat negara tetangga mempengaruhi pola hidup masyarakat setempat dan berdampak negatif bagi pengamanan daerah perbatasan dan

92

MODEL PENINGKATAN PERAN KUMKM DALAM PENGEMBANGAN KOMODITAS UNGGULAN DI KAWASAN PERBATASAN (Indra Idris dan Saudin Sijabat)

nasionalisme. Tidak jarang daerah perbatasan sebagai pintu masuk atau tempat transit pelaku kejahatan dan teroris. Oleh sebab itu, banyak kalangan menginginkan perubahan paradigma pembangunan daerah tertinggal di perbatasan. Dari sisi pemberian anggaran, prioritas perlu dilihat tidak sebagai membangun “halaman belakang negara” tapi membangun “halaman depan negara”. Pembangunan kawasan perbatasan melalui peningkatan peran KUMKM berarti mendorong partisipasi masyarakat di perbatasan dalam pembangunan daerahnya terutama dalam upaya pengentasan kemiskinan. Pemberdayaan KUMKM dalam menangani potensi daerah merupakan suatu alternatif bagi pengembangan daerah tertinggal pada konteks kompleksitas kawasan perbatasan. Pengembangan ekonomi kawasan perbatasan mestinya dilaksanakan secara simultan dalam kerangka kerja yang komprehensif dengan berbagai upaya lain seperti: pendidikan, pemberdayaan masyarakat, pembangunan sosial, penyediaan infrastruktur dan lainnya. Oleh sebab itu, dalam penyusunan model peningkatan peran KUMKM di daerah tertinggal di kawasan perbatasan disusun kerangka pikir sebagai berikut :

Gambar 1. Kerangka Pikir Kajian Penyusunan Model Peningkatan UMKMK di Daerah Tertinggal

93

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 89 - 123

2.2.

Metodologi Metodologi kajian sangatlah erat kaitannya dengan tujuan yang akan dicapai dan ketersediaan data dan informasi yang didapat. Untuk �����d��������s���� �������� p����s�l�h�� y��� �d� s���� �����h�s solusinya. Kajian ini menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD). FGD dilaksanakan bersama pengambilan data primer di lokasi penelitian. 2.2.1. Kerangka Analisis Kajian Langkah awal dari kajian ini dimulai dari menelaah dan menganalisis kembali kebijakan yang terkait dengan peningkatan peran KUMKM secara umum dan kebijakan tentang pengembangan daerah tertinggal. Kemudian mencermati fakta penerapan di lapangan secara situasional berdasarkan dukungan data primer (survey lapangan) dan masukan dari diskusi terbatas (FGD) tahap awal. Langkah kerja dan kerangka analisis sebagai berikut:

Gambar 2. Kerangka Analisis Model Peningkatan Peran KUMKM di Daerah Tertinggal

94

MODEL PENINGKATAN PERAN KUMKM DALAM PENGEMBANGAN KOMODITAS UNGGULAN DI KAWASAN PERBATASAN (Indra Idris dan Saudin Sijabat)

Analisis terhadap kondisi eksisting dilakukan untuk mengetahui potensi ekonomi daerah dan permasalahannya, serta potensi KUMKM yang dapat dikembangkan dan bentuk kelembagaan KUMKM sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Selanjutnya dilakukan analisa deskriptif, AHP dan IQ Share terhadap hasil pengolahan data awal. Hasil analisis dijadikan sebagai penentuan sektor dan produk KUMKM prioritas. Melalui pertimbangan kelayakan potensi dan prospek pengembangannya maka dibawa ke forum FGD untuk dibahas. Hasil pengujian di forum FGD menjadi landasan untuk penyempurnaan rancangan model yang akan dibuat. 2.2.2. Pengumpulan Data dan Informasi Data sekunder dikumpulkan dari studi literatur melalui berbagai sumber dan hasil penelitian sebelumnya, termasuk melalui jaringan internet yang terkait dengan ekonomi pembangunan, pembangunan wilayah, pembangunan pedesaan dan berbagai hasil penelitian dan dari instansi terkait di daerah: (1) Kantor Statistik provinsi dan kabupaten, (2) Kantor Koperasi propinsi dan kabupaten, (3) Instansi terkait di daerah meliputi: Bappeda, Dinas Pertanian, Dinas Perindustrian, Perbankan, BKPM, (4) Gerakan Koperasi. Data primer, diambil langsung dari lapangan baik melalui wawancara maupun melalui daftar pertanyaan (kuesioner); Focus Group Discussion, dengan instansi terkait di daerah, perguruan tinggi, pemerhati pembangunan daerah, LSM, dan KUMKM. 2.2.3. Lokasi Kajian Kajian dilaksanakan di dua provinsi yaitu: Kalimantan Barat dan Nusa Tenggara Timur. Lokasi kajian dipilih daerah tertinggal yang berada di daerah perbatasan pada 2 (dua) lokasi di atas, yaitu Kabupaten Sanggau (Kalbar) dan Kabupaten Belu untuk NTT. Pemilihan lokasi dengan pertimbangan bahwa daerah perbatasan tersebut memerlukan perhatian untuk dikembangkan mengingat keduanya berada di perbatasan antar negara. Pada masing-masing kabupaten diambil satu kecamatan sebagai sampel untuk penelitian. 2.2.4. Sampel Sampel dari penelitian ini adalah stakeholder di Kabupaten Sanggau dan Kabupaten Belu. Penarikan sampel dilakukan secara 95

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 89 - 123

purposive, sedangkan sebagai responden adalah: usaha mikro, usaha kecil, usaha menengah, koperasi, dinas/instansi, dan expert. Penyebaran sampel dan responden dapat dilihat pada Tabel: Tabel 1. Penyebaran Sampel untuk Survei Lapangan dan FGD

2.2.5. Pengolahan dan Analisa Data Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan banyak ditentukan atas dasar pengamatan dari objek yang diteliti. Adapun analisa data yang digunakan dalam kajian ini adalah: 1. Analisis deskriptif untuk memberikan gambaran umum tentang data yang diperoleh. Untuk analisis data primer digunakan metode analisis statistik sederhana sebagaimana yang dikemukakan oleh Welch & Comer (1998). Perlakuan dan pengolahan akan dilakukan terhadap distribusi frekuensi, tendensi pemusatan dan penyebaran (Draper & Smith,1981). Teknik ini digunakan karena sederhana dan dapat menggambarkan kecenderungan yang terdapat pada suatu populasi. Analisis AHP untuk melihat pengembangan potensi KUMKM. Menurut Saaty (1975), AHP merupakan teori pengukuran yang digunakan untuk menemukan skala ratio dari perbandingan pasangan yang diskret maupun kontinue. Pengukurannya bisa secara aktual atau dari suatu skala dasar yang mencerminkan perasaan dan preferensi. Sedangkan prinsip yang digunakan pada AHP adalah: 1) dekomposisi, 2) pendapat yang bersifat komperatif, 3)sentisis terhadap prioritas, dan 4) konsestensi dalam pemikiran Analisis Location Quotient (LQ) untuk mengetahui sejauhmana sektor-sektor di suatu daerah atau sektor-sektor apa saja yang merupakan sektor basis atau leading sector. Hasil dari analisis ini akan memperlihatkan sektor yang berperan secara dominan sebagai sektor basis dan sektor yang tidak berperan secara dominan disebut sebagai sektor non basis. Pengelompokan sektor

2.

3.

96

MODEL PENINGKATAN PERAN KUMKM DALAM PENGEMBANGAN KOMODITAS UNGGULAN DI KAWASAN PERBATASAN (Indra Idris dan Saudin Sijabat)

basis dan non basis berdasarkan besaran LQ yang diperoleh dari hasil analisis adalah sebagai berikut: • • LQ < 1, berarti sektor tersebut memiliki potensi yang kecil untuk menjadi sektor basis wilayah. LQ = 1, berarti sektor tersebut telah mampu memenuhi kebutuhan lokalnya dan dapat berpotensi sebagai kegiatan basis ekonomi wilayah. LQ > 1, berarti sektor tersebut merupakan sektor basis ekonomi wilayah.

III. 3.1.

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN Permasalahan Pengembangan Potensi Ekonomi Daerah Kawasan Perbatasan Masalah perbatasan masih dinilai belum mendapat perhatian yang cukup dari pemerintah, hal ini tercermin dari kebijakan pembangunan yang masih kurang memperhatikan kawasan perbatasan dan lebih mengarah kepada wilayah-wilayah yang padat penduduk, aksesnya mudah, dan potensial, sedangkan kebijakan pembangunan bagi daerah-daerah terpencil, terisolir dan tertinggal seperti kawasan perbatasan masih belum diprioritaskan. Potensi sumber daya alam yang berada di kawasan perbatasan, baik di wilayah darat maupun laut cukup besar, namun sejauh ini upaya pengelolaannya belum dilakukan secara optimal. Potensi sumber daya alam yang memungkinkan dikelola di sepanjang kawasan perbatasan, antara lain sumber daya kehutanan, pertambangan, perkebunan, pariwisata, dan perikanan. Berdasarkan hasil survey yang telah dilakukan pada Kabupaten Belu dan Kabupaten Sanggau terdapat beberapa permasalahan yang dihadapi masyarakat di kawasan perbatasan. Secara umum permasalahan yang dihadapi pada dua kabupaten yang berbatas dengan Negara Timur Leste dan Malaysia masih terkait dengan kemampuan SDM, modal kerja, penguasaan teknologi, sarana produksi dan tingkat pemanfaatan lahan. Sungguhpun demikian intensitas permasalahan yang ditemukan pada kedua daerah perbatasan berbeda. Intensitas masing-masing permasalahan pada ke dua kabupaten perbatasan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

97

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 89 - 123

1)

Permasalahan dalam Pengembangan Potensi Daerah Kabupaten Belu sebagai salah satu kabupaten di provinsi NTT memiliki potensi yang cukup besar, seperti pada sektor pertanian, sektor peternakan, dan sektor lain. Walaupun sektor tersebut berkembang seiring dengan pertumbuhan pembangunan, akan tetapi perkembangannya mengalami berbagai permasalahan y��� cu�up �������. ����l�h ��l��u��� �d��������s�, d����u��� 6 (enam) permasalahan pokok yang dihadapi dalam pengembangan potensi daerah yaitu: kemampuan SDM, modal kerja, penguasaan teknologi, sarana produksi, prasarana dan sarana penunjang dan tingkat pemanfaatan lahan. Berdasarkan hasil depth interview yang dilakukan Tim, akumulasi permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan potensi daerah di Kabupaten Belu dapat digambarkan pada gambar 3.

G����� 3. G����� �����s�l�h�� ������������ �o���s� D����h Kabupaten Belu Permasalahan modal kerja merupakan masalah yang paling krusial menurut persepsi responden (30,47%), kemudian diikuti sarana dan prasarana pendukung (20.67 %), penggunaan benih dan sarana produksi (15,55%), kemampuan SDM (15,46%), penguasaan teknologi (10%) dan tingkat pemanfaatan lahan (8%). Sedangkan di Kabupaten Sanggau (Provinsi Kalimantan Barat) permasalahan yang dihadapi masyarakat dalam pemanfaatan potensi daerah tidak jauh berbeda hanya tingkat kadar permasalahan yang intensitasnya tidak sama sebagaimana terlihat pada Gambar 4 berikut:

98

MODEL PENINGKATAN PERAN KUMKM DALAM PENGEMBANGAN KOMODITAS UNGGULAN DI KAWASAN PERBATASAN (Indra Idris dan Saudin Sijabat)

G����� 4. G����� �����s�l�h�� ������������ �o���s� D����h Kabupaten Sanggau Permasalahan modal kerja di Kabupaten Sanggau masih merupakan masalah yang utama (39%), selanjutnya diikuti penguasaan teknologi (29%), kemampuan SDM (18%), pemanfaatan lahan (7%), prasarana dan sarana pendukung (4%), dan tingkat pemanfaatan lahan (3%). 2) Potensi Ekonomi Daerah Kawasan Perbatasan Potensi ekonomi terkait dengan produk potensial untuk dikembangkan KUMKM dalam suatu kawasan (desa atau kecamatan) dengan memanfaatkan sumber daya alam dan sumber daya manusia setempat, serta mendatangkan pendapatan bagi masyarakat sebagai pelaku usaha dan pemerintah. Produknya memiliki daya saing, berorientasi pasar dan ramah lingkungan, sehingga mempunyai keunggulan kompetitif dan bisa bersaing di pasar global. Komoditi potensial bisa juga disebut dengan produk unggulan kawasan perbatasan yang bisa dikembangkan masyarakat setempat dan mempunyai prospek pasar yang bagus. Upaya pemberdayaan tentunya difokuskan pada pengoptimalan pengusahaan produk terutama yang banyak melibatkan stakeholder masyarakat. Penentuan produk potensial/unggulan dilakukan dengan 4 (empat) langkah, yaitu: 1). berdasarkan persepsi stakeholder; 2). kalkulasi LQ melalui perbandingan PDRB masing-masing kabupaten dengan subsektor dominannya; 3) analisis AHP; dan 4) diuji melalui forum FGD. Langkah awal dilakukan terlebih dahulu pemilihan sejumlah komoditas yang volume/skala produksi aktualnya tertinggi (data 99

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 89 - 123

s��u�d��). T�h�p �����u��y� �����d��������s� p�odu� u���ul�� d����h berdasarkan kontribusinya bagi pendapatan daerah. Alat ukur utama adalah dengan memperhatikan PDRB dan subsektor dominannya. ����l�h ����d��������s� s������ ������� d��� p�odu� po���s��l daerah maka informasi ini didiskusikan dengan stakeholder setempat melalui kegiatan FGD. Persepsi dan preferensi masing-masing. stakeholder juga dapat diminta untuk membandingkan keunggulan masing-masing produk tersebut. Karakteristik khas kawasan pedesaan seperti, keterbatasan infrastruktur, perilaku ekonomi lintas daerah, interaksi sosial lintas daerah, diperkirakan juga akan mempengaruhi pola atau konsep pengembangan produk potensial/unggulan daerah. (1) Potensi Daerah Kabupaten Belu Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa penentuan potensi potensial atau potensi unggulan daerah dilakukan secara metodologi mengikuti 3 (tiga) langkah dan terakhir diuji dan dilengkapi berdasarkan diskusi terbatas pada lokasi kajian. Hasil dari pengujian berdasarkan langkah dimaksud dapat dikemukakan sebagai berikut: (1.1) Penentuan Berdasarkan Persepsi Stakeholder Stakeholder dalam penelitian ini mencakup dinas terkait, pelaku usaha, dan expert. Pemilihan stakeholder ini karena mereka mengetahui tentang kondisi daerah, pelaku usaha yang menggeluti bidang usaha potensial dan expert sebagai pengamat perkembangan ekonomi, pembangunan daerah dan pemuka masyarakat setempat. Pendapat stakeholder tentang potensi daerah Kabupaten Belu dapat dilihat pada gambar 5.

Gambar 5. Potensi Daerah Potensial Kabupaten Belu Berdasarkan Persepsi Stakeholders 100

MODEL PENINGKATAN PERAN KUMKM DALAM PENGEMBANGAN KOMODITAS UNGGULAN DI KAWASAN PERBATASAN (Indra Idris dan Saudin Sijabat)

Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa sektor ekonomi yang dianggap potensial untuk dikembangkan KUMKM berdasarkan persepsi stakeholders adalah peternakan dan pertanian. Hal ini dinyatakan oleh 50% jawaban responden untuk sektor peternakan, 43% untuk sektor pertanian dan 7% untuk sektor perdagangan umum. (1.2) Penentuan Berdasarkan Perhitungan LO Penghitungan LQ dalam analisis ini didasarkan atas data PDRB Kabupaten Belu dan Provinsi NTT tahun 2008 atas dasar harga berlaku tahun 2000. Dari hasil perhitungan, tampak hanya ada tiga sektor kegiatan pembangunan yang memiliki nilai lebih besar dari 1 (satu) yaitu sektor pertanian (1.38), sektor pengangkutan dan komunikasi (1.17), serta sektor keuangan dan perbankan (1.29). Artinya masing-masing sektor tersebut selain mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di Kabupaten Belu juga memiliki peluang untuk memenuhi kebutuhan wilayah lainnya. (1.3) Penentuan Potensi Berdasarkan Analisis AHP Penghitungan potensi unggulan menggunakan analisis AHP didasarkan pada hasil hitungan LQ yang didasarkan pada persepsi stakeholder daerah mulai dari dinas terkait, pelaku usaha, tokoh masyarakat dan expert. Pemilihan alternatif potensi potensial/unggulan daerah dengan menggunakan kriteria bahan baku, pangsa pasar, SDM, pelaku usaha, pelayanan, dan nilai ekonomis. Kriteria tersebut merupakan dasar pertimbangan dalam penentuan alternatif potensi potensial/unggulan daerah yang bisa dikembangkan KUMKM. Penetapan kriteria yang berpengaruh didasarkan atas berbagai studi sebelumnya. Garis-garis yang menghubungkan kotak-kotak antar level merupakan hubungan yang perlu diukur dengan perbandingan berpasangan dengan arah ke level yang lebih tinggi. Adapun penghitungan analisis AHP dengan menggunakan bantuan software expert choice dapat dilihat pada gambar berikut:

101

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 89 - 123

Gambar 6. Penghitungan Potensi Unggulan Expert Choice di Kabupaten Belu

Menggunakan

Pada gambar 6 dapat disimpulkan bahwa potensi peternakan yaitu sapi merupakan potensi yang dianggap prioritas dan unggulan dengan nilai 43.2 %. Sedangkan alternatif kedua yaitu potensi jagung merupakan potensi pertanian yang juga diunggulkan dengan nilai sebesar 30.3%, sementara sisanya adalah angkutan darat dengan bobot nilai 14.4%, jasa perbankan dengan bobot nilai 12%. Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa potensi prioritas atau unggulan untuk dikelola masyarakat atau KUMKM di Kabupaten Belu adalah sapi dan jagung. Kedua komoditi tersebut merupakan potensi potensial yang harus diperhatikan untuk dikembangkan KUMKM. (2) Potensi Daerah Kabupaten Sanggau Sebagaimana pengujian yang dilakukan di Kabupaten Belu, maka untuk melihat potensi potensial di Kabupaten Sanggau dilakukan dengan langkah yang sama, berdasarkan persepsi stakeholder, perhitungan/kalkulasi LQ, analisis AHP dan kemudian diuji dan dilengkapi berdasarkan diskusi terbatas pada lokasi kajian. Hasil dari pengujian yang telah dilakukan dapat dikemukakan sebagai berikut : (2.1) Penentuan Berdasarkan Persepsi Stakeholder Penentuan potensi potensial atau unggulan Kabupaten Sanggau yang dilakukan dengan pendapat stakeholders daerah, dapat dilihat pada gambar 7: 102

MODEL PENINGKATAN PERAN KUMKM DALAM PENGEMBANGAN KOMODITAS UNGGULAN DI KAWASAN PERBATASAN (Indra Idris dan Saudin Sijabat)

Ganbar 7. Penentuan Potensi Unggulan Kabupaten Sanggau Berdasarkan Persepsi Stakeholders Potensi yang dianggap unggulan berdasarkan persepsi stakeholders adalah peternakan dan pertanian, hal ini dinyatakan 46% responden (dinas terkait, pelaku usaha, expert), pada sisi lain 46% responden juga menyatakan bahwa potensi potensial/unggulan di Kabupaten Sanggau adalah perdagangan umum dan hanya 7% responden menyatakan sektor peternakan sebagai sektor potensial/ u���ul��. D��� �l�s�����s� po���s� po���s��l/u���ul�� tersebut dapat dilihat bahwa potensi UMKM pertanian dan UMKM perdagangan di Kabupaten Sanggau dinilai responden berimbang sebagai potensi yang bisa dikembangkan KUMKM. Pada lokasi kawasan perbatasan sudah terbentuk kegiatan usaha disektor tersebut yang mulai berkembang dan selama ini telah digeluti masyarakat setempat. (2.2) Penentuan Potensi Berdasarkan Penghitungan LQ Dalam menentukan potensi potensial/unggulan Kabupaten Sanggau yang dilakukan dengan menggunakan penghitungan LQ. Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan terdapat beberapa sektor kegiatan pembangunan yang perlu mendapat perhatian dan pengembangan yaitu sektor pertanian, pertambangan, sektor keuangan dan perbankan karena memiliki nilai lebih besar dari 1 (satu) yang berarti bahwa masing-masing sektor tersebut selain mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di Kabupaten Sanggau, memiliki peluang untuk memenuhi kebutuhan wilayah lainnya.

103

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 89 - 123

(2.3) Penentuan Potensi Berdasarkan Analisis AHP Penghitungan potensi potensial/unggulan Kabupaten Sanggau dengan menggunakan analisis AHP dengan cara dan persyaratan sebagaimana pada Kabupaten Belu, hasilnya berdasarkan penghitungan analisis AHP dengan menggunakan bantuan software expert choice dapat dilihat pada gambar:

Gambar 8. Penghitungan Potensi Unggulan Kabupaten Sanggau Pada gambar 8 hasil perhitungan menunjukkan potensi potensial/unggulan di Kabupaten Sanggau yang perlu mendapat prioritas untuk ditangani adalah komoditi lada dengan nilai 38.5%, sedangkan alternatif kedua adalah komoditi kakao dengan nilai expert choice sebesar 30.3%, berikutnya pertambangan tanpa migas dengan bobot nilai 12%, sewa bangunan dengan bobot nilai 9.7% dan jasa sosial kemasyarakatan dengan bobot nilai sebesar 9.5 %. Jus������s� ��� ���y��pul��� ��hw� po���s� p��o����s/ unggulan untuk ditangani KUMKM dalam pemberdayaan pembangunan masyarakat kawasan perbatasan Kabupaten Sanggau adalah Lada dan Kakao. Kedua komoditi tersebut merupakan potensi yang harus diperhatikan pemangku kepentingan dan pihak-pihak terkait untuk dikembangkan dalam rangka pemberdayaan masyarakat Kabupaten Sanggau.

104

MODEL PENINGKATAN PERAN KUMKM DALAM PENGEMBANGAN KOMODITAS UNGGULAN DI KAWASAN PERBATASAN (Indra Idris dan Saudin Sijabat)

3)

Hasil FGD di Lokasi Kajian Peserta dipilih dengan selektif terdiri dari unsur: Bappeda, Dinas Instansi Terkait di daerah, Perguruan Tinggi, Perbankan, Tokoh Masyarakat, Pemerhati/Peneliti dan LSM. Diskusi terbatas/FGD telah diselenggarakan pada 2 tempat, yaitu: Kupang (Provinsi Nusa Tenggara Timur) membahas hasil temuan tim untuk lokasi penelitian Kabupaten Belu dan Pontianak (Kalimantan Barat) membahas hasil temuan tim untuk Kabupaten Sanggau. Adapun tanggapan dan masukan dari peserta diskusi terbatas/FGD untuk kedua daerah tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. KUMKM penting dan sangat diperlukan mengambil peran ikut menggerakkan ekonomi masyarakat kawasan perbatasan melalui pendekatan institusi kelembagaan Koperasi sebagai penggerak. Oleh sebab itu, pada kawasan perbatasan perlu dibentuk Koperasi yang ideal yang bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Peningkatan peran KUMKM untuk menangani pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan produk potensial/ungulan kawasan perbatasan Kabupaten Belu yaitu: Sapi dan Jagung, serta kawasan perbatasan Kabupaten Sanggau yaitu: Lada dan Kakao dapat disepakati, walaupun tidak tertutup untuk pengembangan produk atau komoditi lainnya, seperti untuk kawasan Belu: cendana, kemiri, dan asam jawa, serta kawasan Sanggau: buah buahan, jagung, dan kelapa. Pemberdayaan masyarakat kawasan perbatasan melalui peningkatan peran KUMKM memerlukan bantuan pemerintah dan stakeholders lainnya baik daerah maupun pusat terutama dalam permodalan dan pengembangan SDM tanpa ada komitmen ini dipastikan upaya dan langkah yang akan dilaksanakan akan gagal. Rancangan model kemitraan dengan menempatkan posisi sentral koperasi sebagai institusi kelembagaan petani/ peternak yang diusulkan untuk pengembangan potensi potensial/unggulan di masing-masing lokasi sudah sesuai dengan kebutuhan dan bisa diterima forum diskusi. Diusulkan Kementerian Koperasi dan UKM bersama dengan Kementrian Pengembangan Daerah Tertinggal 105

2.

3.

4.

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 89 - 123

untuk membuat pilot proyek sebagai langkah konkret untuk menindaklanjuti rancangan tersebut. 5. Perlu konsensus umum tentang perubahan paradigma koperasi dan pengembangan koperasi perbatasan dalam kontek sebagai pembina kelompok/petani, Quality Control hasil produksi, marketing agent, arranger kemitraan, dan mitra perbankan. Perlu konsensus umum tentang optimalisasi peran Badan Pembangunan Perbatasan sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap SOP Investasi, Lembaga yang Meng Up Date kondisi internal dan eksternal kawasan perbatasan, marketing agent terhadap potensi ekonomi kawasan perbatasan, memberikan masukan kepada pemerintah (Pusat, Provinsi dan Kabupaten) terhadap kemajuan KUMKM di kawasan perbatasan, berkoordinasi dan merangkul pengusaha dan investor untuk memajukan kawasan perbatasan.

6.

3.2.

Kontribusi dan Karateristik KUMKM 1) Kontribusi KUMKM Kontribusi KUMKM di kawasan perbatasan perlu dilihat untuk mengetahui gambaran seberapa besar peran KUMKM dalam pengembangan ekonomi masyarakat. Semakin besar peran KUMKM maka semakin besar pula aktivitas perekonomian masyarakat kawasan perbatasan tumbuh dan berkembang melalui dukungan KUMKM. Indikator yang digunakan untuk mengetahui seberapa besar potensi KUMKM dalam perekonomian masyarakat kawasan perbatasan adalah melalui share KUMKM kecamatan perbatasan terhadap KUMKM kabupaten baik itu di Kabupaten Belu maupun Kabupaten Sanggau. Gambaran tentang hal tersebut dapat dilihat pada gambar 9.

106

MODEL PENINGKATAN PERAN KUMKM DALAM PENGEMBANGAN KOMODITAS UNGGULAN DI KAWASAN PERBATASAN (Indra Idris dan Saudin Sijabat)

Share KUMKM Kecamatan Tasifeto Timur Terhadap Kabupaten Belu

Gambar 9. Share KUMKM Pada Dua Kecamatan Kawasan Perbatasan Berdasarkan gambar 9 diketahui share KUMKM di Kecamatan Tasifeto Timur terhadap Kabupaten Belu masih dibawah 5%, dan Kecamatan Entikong terhadap Kabupaten Sanggau masih berada dibawah 6%. Peran KUMKM di kawasan perbatasan ternyata masih sangat kecil terutama peran koperasi, sedangkan kedua daerah tersebut merupakan pintu lintas batas ke negara tetangga dimana pergerakan barang dan jasa cukup tinggi. Sebenarnya kedua daerah memiliki 107

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 89 - 123

potensi yang baik untuk ditangani KUMKM dan pemberdayaan ��sy������ ��du� ��w�s�� p������s�� ���s��u� cu�up s��������� u��u� dikembangkan melalui peningkatan peran KUMKM. Untuk mengetahui kontribusi KUMKM pada pengembangan potensi ekonomi di lokasi kajian dapat dijelaskan sebagai berikut: (1.1) Ketersediaan Koperasi Pendukung di Kabupaten Belu dan Kabupaten Sanggau Ketersediaan Koperasi pendukung di Kabupaten Belu dan Kabupaten Sanggau merupakan salah satu indikator yang dapat dilihat terkait dengan eksistensi usaha yang akan dikembangkan. Pendapat responden dari dinas terkait, expert dan pelaku usaha dikemukakan pada gambar 10.

Gambar 10. Ketersediaan Koperasi Pendukung di Kabupaten Belu dan Sanggau Pada gambar di atas, 76% responden menyatakan bahwa di Kabupaten Belu terdapat Koperasi pendukung yang mengelola usaha anggota yang bergerak menangani sektor peternakan dan pertanian khususnya untuk peternakan sapi dan tanaman jagung, hanya 24% responden yang menyatakan bahwa koperasi pendukung belum ada untuk kedua komoditi tersebut. Sedangkan di Kabupaten Sanggau 65% responden menyatakan belum terdapat Koperasi pendukung yang menaungi petani dalam budidaya tanaman Lada dan Kakao, sedangkan 35% responden menyatakan sudah ada koperasi yang membantu petani dalam aktivitas pertanian tanaman Lada dan Kakao. Responden yang menyatakan ada mungkin melihat adanya aktivitas kelompok tani yang dibantu oleh Dinas Pertanian setempat dalam bentuk kredit dan PNPM Mandiri dari Dinas Sosial. Dari kondisi di atas, dapat disimpulkan bahwa pada Kabupaten Belu ternyata Koperasi telah berperan dalam mendukung aktivitas perekonomian masyarakat setempat yang didasarkan 108

MODEL PENINGKATAN PERAN KUMKM DALAM PENGEMBANGAN KOMODITAS UNGGULAN DI KAWASAN PERBATASAN (Indra Idris dan Saudin Sijabat)

pada potensi ekonomi daerah, sedangkan di Kabupaten Sanggau keberadaan Koperasi dalam membantu petani belum begitu kelihatan. Koperasi disini lebih cenderung bergerak pada sektor perdagangan dan jasa, hanya terdapat satu Koperasi yang mendukung sektor pertanian dan perkebunan di Kecamatan Entikong yaitu koperasi yang mengumpulkan hasil perkebunan kakao masyarakat. (1.2) Ketersediaan UMKM Pendukung di Kabupaten Belu dan Kabupaten Sanggau Ketersediaan UMKM juga merupakan indikator yang cukup penting untuk mengetahui potensi berkembang tidaknya UMKM dalam menangani produk potensial/unggulan daerah di kawasan perbatasan baik yang sudah berlangsung maupun kepentingan dimasa yang akan datang Adapun ketersediaan UMKM pendukung dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 11. Ketersediaan UMKM Pendukung di Kabupaten Belu dan Kabupaten Sanggau 109

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 89 - 123

Dari data di atas tidak ada barrier to entry pada aktivitas bisnis UKM, baik dari aspek teknologi, investasi, manajemen, dan perlindungan hak intelektual, maka sangat mudah bagi masyarakat untuk masuk ke dalam berbagai industri sebagai UMKM. Untuk usaha mikro lebih dari 50% responden menyatakan kelompok ��� ��������� p������ y��� cu�up s��������� d� ��s���masing Kabupaten baik Belu maupun Sanggau mereka adalah kelompok petani dan peternak. Sayangnya mereka melakukan usaha hanya sebatas untuk kebutuhan hidup tanpa sentuhan teknologi dan pola pertanian dan peternakan yang maju. Untuk kelompok usaha kecil masih sangat terbatas apalagi untuk usaha menengah, walaupun banyak yang ingin masuk sebagai pelaku bisnis UKM dalam sektor dan kegiatan bisnis tertentu, namun kendala permodalan dan pasar sulit untuk mereka atasi, pada satu sisi kebanyakan UKM hanya sebagai produsen yang menghadapi kekuatan monopsonis. (2). Karakteristik Hubungan UMKM Karakteristik hubungan Usaha Mikro Kecil dan Menengah merupakan gambaran mengenai bagaimana UMKM di lokasi kajian memanfaatkan jaringan yang dimiliki. Adanya jaringan hubungan antara pelaku usaha dapat mempermudah penyusunan model pengembangan UMKM di lokasi kajian. Untuk mengetahui gambaran karakteristik hubungan UMKM di lokasi kajian dapat dikemukakan sebagai berikut: (2.1) Karakteristik UMKM di Kabupaten Belu Pada Kabupaten Belu terdapat usaha mikro, kecil dan menengah, sebagai penggerak ekonomi masyarakat, yang memberi kontribusi cu�up s��������� ���� p��d�p���� d����h d�� �������� p������ penting dalam pertumbuhan perekonomian dan penyerapan tenaga kerja. Adapun jenis usaha yang menggerakkan perekonomian Kabupaten Belu dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2. Perusahaan/Usaha dan Tenaga Kerja Menurut Skala Usaha di Kabupaten Belu

Sumber : Sensus Ekonomi 2006, BPS

110

MODEL PENINGKATAN PERAN KUMKM DALAM PENGEMBANGAN KOMODITAS UNGGULAN DI KAWASAN PERBATASAN (Indra Idris dan Saudin Sijabat)

Dari tabel 2 menunjukkan bahwa jumlah usaha mikro dan usaha kecil sangat dominan, disamping usaha menengah dan besar dalam perekonomian Kabupaten Belu. Bagaimana karakteristik hubungan UMKM di Kabupaten Belu akan dilihat dari sisi hubungan usaha mikro dengan UKM dan hubungan UMKM dengan berbagai instansi Pembina. Selain jejaringan dengan pemasok dan konsumen yang telah tercipta, UMKM juga membina jejaring dengan berbagai instansi terkait. Dari observasi yang telah dilakukan, ternyata UMKM sebagian besar pernah memiliki dan membina jejaring dengan Perguruan Tinggi, dan instansi-instansi pemerintah seperti Departemen dan/atau Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi, dan/atau dengan berbagai asosiasi UMKM, dengan perbankan, dan juga pernah berhubungan dengan BUMN seperti: PLN dan Jasa Raharja. Selain itu, UMKM juga mempunyai jejaringan dengan biro perjalanan, hotel, atau restoran yang terkait dengan aktivitas kepariwisataan. Karakteristik hubungan UMKM yang bergerak dalam bidang usaha peternakan sapi dan pertanian jagung dengan instansi terkait di Kabupaten Belu berdasarkan hasil observasi terhadap UMKM dapat dilihat pada gambar 12.

Gambar 12. Karakteristik Hubungan UMKM dengan Instansi Terkait di Kabupaten Belu Memperhatikan gambar 12, dapat diketahui bahwa 45% dari UMKM telah pernah berhubungan dengan instansi pemerintah, 37% dengan asosiasi UMKM, 12% dengan Bank dan 5% dengan BUMN seperti PLN dan Jasa Raharja.

111

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 89 - 123

(2.2) Karakteristik UMKM di Kabupaten Sanggau Sama dengan pembahasan sebelumnya maka karakteristik hubungan UMKM di Kabupaten Sanggau juga akan dilihat dari sudut pandang hubungan usaha mikro dengan UKM dan hubungan UMKM dengan berbagai instansi terkait. Melalui ������ �����u� d�p�� d��d��������s� ��hw� UM�M y��� �������� di sektor pertanian dan perkebunan yaitu lada dan kakao memiliki karakteristik hubungan yang saling mengkait diantara mereka mulai dari tingkat produsen (petani) sampai pada pemasaran hasil pertanian/perkebunan. Adapun bentuk dan karakteristik hubungan antara UMKM tersebut dapat dilihat pada gambar 13.

Grambar 13. Karakteristik UMKM Sektor Pertanian dan Perkebunan di Kabupaten Sanggau Gambar di atas menunjukkan UKM yang bergerak di sektor pertanian dan perkebunan memperoleh pasokan dari petani atau usaha mikro di masing masing lokasi. Masyarakat atau petani merupakan supply hasil pertanian dari perkebunan (kakao dan lada) yang dipasarkan ke Sanggau, Malaysia dan daerah lainnya di Indonesia. Petani dan UKM disini telah memiliki pangsa pasar yang jelas dan dengan dukungan infrastrukturnya, namun dalam kondisi ini yang banyak memperoleh manfaat dari alur distribusi yang telah tercipta adalah UKM karena mereka merupakan pedagang pengumpul, agen dan distributor, sedangkan petani tetap memperoleh nilai tambah yang kecil. 112

MODEL PENINGKATAN PERAN KUMKM DALAM PENGEMBANGAN KOMODITAS UNGGULAN DI KAWASAN PERBATASAN (Indra Idris dan Saudin Sijabat)

Karakteristik hubungan UMKM dengan berbagai Instansi di Kabupaten Sanggau dapat dilihat dari jejaringan yang telah dibina selama ini dengan dinas-dinas terkait yang ada seperti: Kementerian atau Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi, dan/atau dengan berbagai asosiasi UMKM, lembaga perbankan, dan BUMN. Karateristik hubungan UMKM dengan instansi terkait di Kabupaten Sanggau digambarkan pada gambar 14.

Gambar 14. Karakteristik Hubungan UMKM dengan Instansi Terkait di Kabupaten Belu Dari data di atas dapat diketahui bahwa instansi pemerintah (69%) masih merupakan institusi yang paling dominan dalam mendukung perkembangan UMKM di Kabupaten Sanggau. Pembinaan, pelatihan, bantuan perkuatan baik dalam bentuk phisik maupun pendanaan sangat dirasakan UKMK. Berbagai dinas terkait seperti pertanian, peternakan, koperasi dan UKM, perdagangan, perindustrian dan dinas-dinas lainnya setiap tahun mengalokasikan pendanaan dan melakukan pembinaan serta berbagai pelatihan dalam rangka pemberdayaan UKMK. Menurut pendapat UKMK peran lembaga perbankan (16%) sudah mulai menunjukkan keberadaannya yang semakin baik dalam mendukung UKMK, diikuti asosiasi UMKM (12%) dan BUMN (3%). 3.3. Model Peningkatan Peran KUMKM Kawasan Perbatasan Besarnya potensi sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan baik dilihat dari ketersediaan lahan maupun kesiapan masyarakat dalam mengelola 113

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 89 - 123

komoditi tersebut pada lokasi kajian (Kabupaten Belu dan Kabupaten Sanggau) merupakan hal yang perlu mendapat perhatian pemerintah pusat maupun daerah dan pihak-pihat terkait lainnya untuk mendayagunakan potensi yang ada melalui upaya pemberdayaan masyarakat dengan menangani potensi lokal tersebut secara baik dan terencana. Bila hal ini bisa dilakukan setidaknya akan menjadi langkah awal pemberdayaan masyarakat di kawasan perbatasan melalui pendekatan KUMKM yang selama ini tidak banyak didorong. Pembangunan masyarakat kawasan perbatasan seolah-olah terbelenggu dan sulit dilakukan bila infrastruktur tidak terlebih dahulu disiapkan atau dibangun. Melalui pemberdayaan KUMKM ekonomi masyarakat diharapkan bisa berkembang dan maju sehingga timbul efek ganda yang mendorong pemerintah pusat dan provinsi untuk segera membangun infrastruktur pendukung. Penyusunan model harus bersifat dinamis dan melindungi kepentingan petani sebagai produsen atau penghasil komoditi. Untuk itu, kelembagaan petani/peternak/pedagang perlu diperkuat mulai dari pemberdayaan kelompok sampai pada pembentukan kelembagaan Koperasi sebagai wadah atau lembaga bisnis dimana mereka biasa mengelola usaha dengan baik. Oleh sebab itu, model ini dirancang supaya bisa digunakan atau dioperasionalkan di daerah atau tempat lain sejauh persyaratan dasar dan bersifat teknis sesuai dengan temuan lokasi kajian bisa dipenuhi. Adapun hal-hal yang mendasari penyusunan model antara lain : 1. 2. 3. Model merupakan suatu proses yang mesti dilakukan dalam upaya pemberdayaan KUMKM. Model merupakan acuan bagi pihak-pihak terkait dalam pemberdayaan KUMKM. Model dibuat terutama untuk melindungi kepentingan Usaha Mikro dan Kecil (petani, peternak dan pedagang kecil) yang selama ini selalu berada pada pihak yang dirugikan (mendapatkan nilai tabah paling kecil). Model harus memberikan manfaat/keuntungan yang wajar dan terukur bagi KUMKM (objek yang disimulasikan) untuk diperankan dalam pemberdayaan potensi lokal/unggulan lokal. Perancangan dan penerapan model berorientasi pada kepentingan pengguna (User-Centered-Design) dalam hal ini adalah KUMKM.

4.

5.

Memperhatikan hal-hal yang dikemukakan di atas maka disusun rancangan Model Peningkatan Peran KUMKM di Kawasan Perbatasan seperti gambar 15. 114

MODEL PENINGKATAN PERAN KUMKM DALAM PENGEMBANGAN KOMODITAS UNGGULAN DI KAWASAN PERBATASAN (Indra Idris dan Saudin Sijabat)

Gambar 15. Rancangan Model Peningkatan Peran KUMKM di Kawasan Perbatasan Model yang disusun sebagaimana terlihat pada gambar di atas biasa diimplementasikan dalam bentuk pilot proyek yang dikelola secara khusus dalam arti semua stakeholder harus tunduk pada ketentuan dan kesepakatan yang dibuat bersama yang tujuannya adalah untuk pemberdayaan potensi lokal dan pemberantasan kemiskinan, dimana dalam pengelolaan proyek keuntungan financial bukanlah merupakan tujuan utama. Rancangan model pada gambar 15 di atas dapat dijelaskan sebagai berikut: • Model ini ditujukan untuk peningkatan peran KUMKM dalam mengelola komoditi potensial daerah atau komoditi unggulan. Koperasi merupakan wadah kelembagaan yang berperan dalam menjaga keseimbangan dan posisi tawar anggota (petani/peternak/ pedagang) sebagai kelompok usaha mikro dalam berbisnis dengan Usaha Kecil dan Usaha Menengah. Keberadaan koperasi tentunya diharapkan memberikan manfaat atau keuntungan yang optimal kepada anggotanya. Peran pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten diharapkan masih besar karena tanpa dukungan pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten baik dalam kebijakan maupun pendanaan masih sulit untuk mendorong pembangunan kawasan perbatasan termasuk dalam pemberdayaan KUMKM. Pemerintah pusat diharapkan memberikan dukungan pendanaan dalam bentuk modal investasi, infrastruktur dan peningkatan capacity building dan disalurkan atau berkoordinasi dengan Badan Otoritas Pengelola 115

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 89 - 123

Kawasan Perbatasan atau BPP (Badan Pengembangan Perbatasan) yang ada di setiap provinsi. • Pemerintah daerah memberikan dukungan langsung yang bersifat lebih operasional kepada kelembagaan petani/peternak/pedagang yang tergabung dalam wadah koperasi. Badan Pengembangan Perbatasan atau Badan Otorita Kawasan Perbatasan berperan aktif mencari dukungan baik dari pemerintah pusat maupun investor swasta dalam dan luar negeri. BPP bersama pemerintah daerah membuat aturan pelaksanaan proyek yang bisa disepakati semua pihak dan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaannya. Mitra usaha adalah UKM yang melakukan hubungan kemitraan dengan koperasi sebagai lembaga institusi petani untuk melakukan proses produksi, pengolahan hasil produksi, pembangunan pabrik dan pemasaran.

R��c����� �od�l y��� ���s���� u�u� ��s� d��u�� s�c��� l���h sp�s���� untuk Kabupaten Belu dan Kabupaten Sanggau sesuai dengan temuan lapangan terhadap komoditi potensial/unggulan yang akan dikembangkan pada dua daerah kawasan perbatasan tersebut. Model tentu dikembangkan sesuai kelayakan untuk menangani komoditi yang menjadi prioritas dalam pemberdayaan masyarakat. Pengembangan model ditujukan untuk memperoleh mannfaat yang optimal dan saling menguntung bagi KUMKM yang terlibat. 3.3.1. Rancangan Model Pengembangan Komoditi Potensial di Kebupaten Belu Rancangan model pengembangan komoditi potensial/unggulan di Kabupaten Belu dikembangkan untuk peternakan sapi dan komoditi jagung di subsektor perkebunan. Untuk pengembangan komoditi tersebut perlu diatur dan dirancang dengan baik keterlibatan pelaku usaha mulai produksi sampai ke pemasaran, serta dukungan pihak-pihak terkait. Peternak/petani sebagai usaha mikro yang merupakan basis pengembangan komoditi sapi potong dan jagung perlu diorganisir dengan baik agar mereka tidak berada dalam posisi tawar yang lemah. Selain itu, kondisi sosial budaya masyarakat yang telah lama menekuni komoditi peternakan dan pertanian/perkebunan secara turun temurun juga menjadi pertimbangan dalam pengembangan model. Atas dasar tersebut, maka disusun rancangan model peningkatan peran KUMKM dalam pengembangan komoditi jagung di Kabupaten Belu sebagaimana pada gambar 16. 116

MODEL PENINGKATAN PERAN KUMKM DALAM PENGEMBANGAN KOMODITAS UNGGULAN DI KAWASAN PERBATASAN (Indra Idris dan Saudin Sijabat)

Gambar 16. Rancangan Model Peningkatan Peran KUMKM dalam Pengembangan Komoditi Sapi

Gambar 17. Rancangan Model Peningkatan Peran KUMKM dalam Pengembangan Komoditi Jagung Pada prinsipnya kedua rancangan model untuk komoditi sapi maupun jagung tidak jauh berbeda. Perbedaan hanya terjadi dalam penanganan komoditi baik di tingkat produksi, pengolahan hasil, produk turunan dan pemasaran. Dalam mengorganisir peternak/petani, kelompok ternak/tani dan koperasi bisa dikatakan dilakukan dengan cara, langkah dan prinsip yang sama. Keberadaan peternak/petani perlu diayomi agar tidak menjadi kelompok yang dirugikan terutama dalam berhubungan dengan usaha kecil dan menengah. Pengembangan prinsip kemitraan ditujukan agar semua komponen yang terlibat mulai dari tingkat produksi sampai pada pemasaran memperoleh manfaat y��� s�l��� ����u��u����� ���� s�c��� ��o�o�� ��upu� �����s��l. Koperasi bertanggung jawab dalam upaya pemberdayaan petani dan kemitraan dengan UKM. Model ini menempatkan posisi Koperasi

117

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 89 - 123

menjadi organisasi yang memikul tugas dan tanggung jawab besar dalam pengembangan komoditi potensial melalui peningkatan peran KUMKM yang terlibat didalamnya. Untuk melindungi petani dari pedagang perantara atau pengijon maka kebutuhan produksi mulai dari pra produksi, penanaman, pengolahan dan pemasaran hasil harus mampu dikelola Koperasi. Pengembangan teknik budidaya tanaman agar bisa mendapatkan hasil yang sesuai dengan standar produksi per luas lahan menjadi perhatian Koperasi. Untuk itu, Koperasi perlu membuat demplot sebagai tempat bagi peternak/petani dalam belajar mengelola usaha yang ditekuninya. 3.3.2. Rancangan Model Pengembangan Komoditi Potensial di Kebupaten Sanggau Model pengembangan komoditi potensial/unggulan di Kabupaten ������u h��p�� ��d�� ���d�p�� p����d��� y��� s���������. �o�od��� yang akan dikembangkan dalam peningkatan peran KUMKM berdasarkan temuan lapangan kajian ini adalah lada dan kakao. Namun yang penting diperhatikan adalah aspek pendekatan sosial budaya masyarakat setempat yang selama ini telah menggeluti usaha budidaya ke dua komoditi tersebut. Model yang dibuat dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar 18. Rancangan Model Peningkatan Peran KUMKM dalam Pengembangan Komoditi Lada

118

MODEL PENINGKATAN PERAN KUMKM DALAM PENGEMBANGAN KOMODITAS UNGGULAN DI KAWASAN PERBATASAN (Indra Idris dan Saudin Sijabat)

Gambar 19. Rancangan Model Peningkatan Peran KUMKM dalam Pengembangan Komoditi Kakao Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya Koperasi memegang peran sentral dan peran aktif untuk menggerakkan komponen yang terlibat di dalamnya, mulai dari mencari dukungan pemerintah, lembaga perbankan, swasta serta dalam pemberdayaan petani dan menjalin kemitraan dengan UKM. IV. KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil kajian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: 1. Pada daerah kawasan perbatasan di lokasi kajian terdapat potensi potensial/unggulan daerah yang bisa dikembangkan masyarakat, namun selama ini belum ditangani dengan sungguh-sungguh dan optimal. Peran KUMKM dalam menangani potensi potensia/unggulan kawasan perbatasan masih sangat kecil, oleh sebab itu perlu peningkatan dan penataan dimana keterlibatan pemerintah sangat diperlukan. Permasalahan yang dihadapi masyarakat dalam pengembangan potensi unggulan kawasan perbatasan pada kedua lokasi pada dasarnya tidak jauh berbeda yaitu: kemampuan SDM, modal kerja, penguasaan teknologi, penggunaan benih dan sarana produksi, prasarana dan sarana, serta tingkat pemanfaatan lahan. Perbedaan hanya terletak pada bobot prosentasenya saja dimana secara berurutan untuk Kabupaten Belu (15,46%, 30,47%, 10,00%, 15,55%, 20,67%, 8,00%) dan untuk Kabupaten Sanggau (18%, 39%, 29%, 3%, 4%, 7%). 119

2.

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 89 - 123

3.

Modal kerja masih menjadi masalah krusial untuk peningkatan peran KUMKM di kawasan perbatasan, karena akses masyarakat dengan lembaga keuangan baik formal maupun informal masih sangat terbatas. Lembaga keuangan formal seperti perbankan belum banyak yang mau memberikan layanannya, karena menfasilitasi masyarakat perbatasan tentu akan mengeluarkan biaya operasional yang cukup tinggi dan tidak akan memberikan keuntungan. Untuk lembaga non formal seperti para pelepas uang (rentenir) sudah barang tentu sangat merugikan masyarakat karena beban bunga yang dikenakan cukup tinggi. Kemampuan SDM dan penguasaan teknologi masyarakat pada umumnya masih rendah terhadap komoditi yang mereka usahakan. Kondisi kemampuan SDM ini juga terkait dengan kondisi tingkat pendidikan masyarakat petani/peternak rata-rata pada taraf SMP. ��h����� �����pu�� u��u� �����lol� us�h� d����� l���h ���s��� d�� memanfaatkan kemajuan teknologi sangat terbatas. Potensi ekonomi yang dapat dikembangkan dalam peningkatan peran KUMKM berdasarkan kajian ini yang ditentukan melalui proses analisa Location Quotient (LQ), AHP dan kemudian dibahas/disepakati dalam forum FGD maka disepakati komoditi potensial/unggulan di kawasan perbatasan untuk Kabupaten Belu (NTT) adalah: komoditi sapi dan jagung, sedangkan untuk Kabupaten Sanggau (Kalbar) adalah komoditi lada dan kakao. Keterlibatan KUMKM di masing masing lokasi terhadap pengusahaan komoditi di atas terutama Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah masih sangat kecil dan belum optimal karena selama ini kurang difasilitasi sehingga peran masing-masing masih perlu ditingkatkan dan dikembangkan secara simultan. Berdasarkan kondisi dan permasalahan yang dihadapi maka untuk peningkatan peran KUMKM dalam pengembangan komoditi potensial tersebut telah dirancang model kemitraan dengan meletakkan peran sentral Koperasi sebagai institusi kelembagaan petani yang diharapkan dapat bekerjasama dan melakukan kemitraan dengan UKM. Untuk tahap awal, maka penerapan model ini perlu mendapat dukungan pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, dan melibatkan peran akademisi, bisnismen dan pemerintah. Model yang dirancang untuk pengembangan KUMKM di kawasan perbatasan (Kabupaten Belu dan Kabupaten Sanggau) diharapkan dapat meningkatkan peran KUMKM pada kawasan perbatasan dari

4.

5.

6.

7.

8.

120

MODEL PENINGKATAN PERAN KUMKM DALAM PENGEMBANGAN KOMODITAS UNGGULAN DI KAWASAN PERBATASAN (Indra Idris dan Saudin Sijabat)

3% menjadi 10% dalam jangka waktu 5 tahun. Selain itu, masyarakat yang selama ini cenderung menjual bahan baku tanpa pengolahan, dapat ditingkatkan nilai tambahnya dengan menjual barang setengah jadi atau produk akhir. 4.2. Saran 1. Untuk penerapan model yang direkomendasikan perlu dibuat pilot proyek dan demplot untuk masing-masing komoditi, karenanya pihakpihak terkait perlu menindaklanjuti terutama Kementrian Pengembangan Daerah Tertinggal dan Kementerian Koperasi dan UKM. Pilot proyek ini bersifat khusus dengan melibatkan semua instansi yang terkait dengan komoditi potensial/unggulan masing-masing kawasan perbatasan yang ingin dikembangkan. Dinas Koperasi dan UKM masing-masing kabupaten kawasan perbatasan bekerjasama dengan Badan Pembangunan Perbatasan segera mengambil langkah untuk merumuskan action plan dari pilot proyek secara jelas dengan menyebutkan pembagian tugas dan peran masing-masing pemangku kepentingan untuk diusulkan kepada pihakpihak terkait. Badan Pembangunan Perbatasan dan Dinas Koperasi dan UKM masing-masing kabupaten mengkoordinasikan rencana pilot proyek dengan Bappeda/Pemda Tingkat II, Bappeda/Pemda Tingkat I dan memperjuangkan agar pagu anggaran pilot proyek bisa dimasukkan pada APBD Tingkat I dan II, serta APBN sesuai dengan peran dan tugas pemangku kepentingan yang telah dibuat dalam action plan. Pengembangan koperasi di kawasan perbatasan secara ideal disarankan untuk membentuk koperasi baru yang dipersiapkan secara khusus untuk menangani pengembangan komoditi potensial/unggulan dan pemberdayaan masyarakat, namun tidak tertutup kemungkinan mengembangkan koperasi yang telah ada dengan catatan bahwa koperasi tersebut memenuhi kriteria untuk menangani pengembangan komoditi potensial/unggulan kawasan perbatasan sekaligus mampu berperan dalam pemberdayaan masyarakat di kawasan perbatasan. Badan Pembangunan Perbatasan mengkoordinasikan dan mengintegrasikan pihak-pihak yang terlibat dalam visi dan misi yang sama dan memiliki job desk yang jelas untuk mendukung pemberdayaan masyarakat di kawasan perbatasan melalui peningkatan peran

2.

3.

4.

5.

121

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 89 - 123

KUMKM. Kesamaan mindset, fungsi dan peran masing-masing pemangku kepentingan yang terlibat mulai dari petani/peternak sampai ke pemangku kepentingan baik pemerintah maupun swasta perlu disosialisasikan agar dapat dipahami secara baik. 6. Perlu dipertimbangkan aspek keamanan secara cermat dalam p����������� p�lo� p�oy�� ��������� ��s�h s����� ���j�d� �o�fl�� antar masyarakat di kawasan perbatasan.

DAFTAR PUSTAKA Bappenas. 2004. Kawasan Perbatasan: Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Kawasan Perbatasan Antar Negara di Indonesia. Bappenas. Departeman Kimpraswil. 2004. Laporan Akhir Pengembangan Kawasan Pusatpusat Pertumbuhan di Kawasan Pulau Kalimantan. Dirjen Pemetaan Ruang Departemen Kimpraswil. Departemen Dalam Negeri. 2004. Rancangan Peraturan Pemerintah Tentang Penataan Ruang Kawasan Pertahanan. Dirjen Pemerintahan Umum Departemen Dalam Negeri. Departemen Pertahanan. 2004. Rencana Induk Pengembangan Perbatasan NKRI. Dirjen Kebijakan dan Strategi Pertahanan, Departemen Pertahanan. Eriandi, Hasan. 2009. Perdagangan Bebas dengan China Tahun 2010 akan Bangkrutkah Industri Nasional. Kompas 5 Desember 2009. Rustiani, Frida. 1996. Pengembangan Ekonomi Rakyat dalam Era Globalisasi: Peluang dan Strategi Praktis. Aktaga Bandung dan YAPIKA Jakarta. Robert Ho & Pactricis Kontur. 2001. Enterpreunership as A Rural Development Strategy. Defining a Policy Framework for Maine. Maine Rural Depelopment Councol, Maine USA. Sanim, B. 2000. Usaha Kecil, Menengah dan Koperasi dalam Mewujudkan Sistem Ekonomi Kerakyatan Menanggulangi Krisis Nasional. MMA-IPB Bogor. Susila, W dan Munadi Ernawati. 2007. Penggunaan Analytic Hierachy Process Untuk Penyusunan Prioritas Proposal Penelitian. Jurnal Informatika Pertanian Vol 16 No. 2 Departemen Pertanian. Tambunan, T. 2001. Peranan UKM bagi Perekonomian Indonesia dan Prospeknya. Makalah Presentasi pada Seminar Strategi Bisnis dan Peluang Usaha bagi Pengusaha Kecil dan Menengah IFMS dan Lab. Ilmu Administrasi FISIP UI Jakarta. 122

MODEL PENINGKATAN PERAN KUMKM DALAM PENGEMBANGAN KOMODITAS UNGGULAN DI KAWASAN PERBATASAN (Indra Idris dan Saudin Sijabat)

Winata, Atma. 2009. Peran UKM Bagi Perekonomian Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global. Diakses pada tanggal 7 Januari 2010.

123

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 124 - 141

PEMANFAATAN SERTIFIKAT HKI SEBAGAI COLLATERAL KREDIT* Akhmad Junaidi dan Muhammad Joni** Abstrak Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di negara-negara maju telah diperluas pemanfaatannya sebagai collateral untuk mendapatkan kredit atau pembiayaan dari lembaga keuangan. Nilai ekonomi HKI dapat ditentukan dengan menghitung misalnya nilai pasar, biaya pembuatan/reproduksi, biaya penggantian penyusutan, nilai likuidasi, dan nilai asuransi. Permasalahan yang dihadapi di Indonesia adalah belum tersedianya suatu ketentuan tentang penggunaan HKI sebagai collateral dalam sistem penyaluran kredit perbankan. Tujuan memanfaatkan HKI sebagai collateral kredit adalah untuk membantu UMKM dan Koperasi dalam melengkapi persyaratan perkreditan. Meskipun HKI dapat dimanfaatkan sebagai collateral kredit, namun demikian kedudukannya dalam perjanjian penjaminan adalah bersifat perjanjian tambahan melengkapi suatu perjanjian pokok kredit. Kajian ini menggunakan analisis diskriptif dengan melakukan tinjauan studi pustaka difokuskan untuk menggali peran penting, regulasi HKI serta regulasi penjaminan kredit perbankan di Indonesia. HKI memiliki prospek untuk dijadikan collateral kredit, karena HKI memiliki nilai ekonomi yang dapat dihitung berdasarkan harga pasar, dapat dieksekusi, dapat beralih atau dialihkan, baik seluruhnya maupun sebagian karena pewarisan, hibah, wasiat, perjanjian tertulis atau sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan. Selain itu, perjanjian penjaminan kredit, termasuk menggunakan HKI sebagai collateral pada umumnya diikat dengan akta notaris yang bersifat baku dan bersifat eksekutoral. Kata kunci: Hak Kekayaan Intelektual (HKI), collateral Abstract Intellectual Property Rights (IPRs) in developed countries have increased their use as collateral to obtain loans or financing from financial institutions. The economic value of IPR can be determined by calculating the market value for example, the cost of making/reproduction, depreciation replacement cost, liquidation value,
* Artikel diterima 20 Juli 2011, peer review 25 Juli 2011, review akhir 15 September 2011 ** Peneliti Madya Koperasi pada Kementerian Koperasi dan UKM dan Advokat & Konsultan Hukum pada Law Office Joni & Tanamas.

124

PEMANFAATAN SERTIFIKAT HKI SEBAGAI COLLATERAL KREDIT (Akhmad Junaidi & Muhammad Joni)

and value of insurance. The problem faced in Indonesia is the unavailability of the provisions on the use of IPR as collateral in loans, the banking system. The purpose utilizes IPR as collateral loan is to assist SMEs and Cooperatives in completing the credit requirements. Although the IPR can be used as loan collateral, but the position in the underwriting agreement to an additional agreement complements the primary credit agreement. This research uses descriptive analysis to conduct focused literature review to explore an important role, IPR rules and regulations guarantee bank lending in Indonesia. IPR has the prospect to be used as collateral for loans, because the IPR has an economic value can be calculated based on market prices, can be executed, can be transferred either wholly or partly by inheritance, grants, wills, written agreement or other causes that are justified by the law of rules. In addition, the loan guarantee agreement, including the use of IPRs as collateral is generally associated with the raw action and executorial. Key words: Intelectual Property Right (IPR), collateral I. PENDAHULUAN

Hak Kekayaan Intelektual (HKI) adalah padanan kata yang biasa digunakan untuk Intellectual Property Rights (IPR), yakni hak yang timbul dari hasil olah pikir otak yang menghasilkan suatu produk atau proses yang berguna untuk manusia. Pada intinya HKI adalah hak untuk menikmati secara ekonomis hasil dari suatu kreativitas intelektual. Obyek yang diatur dalam HKI adalah karya-karya yang timbul atau lahir karena kemampuan intelektual manusia. Secara garis besar HKI dibagi dalam 2 (dua) bagian besar yaitu : 1. 2. Hak cipta (Copyright); Hak Kekayaan Industrial (industrial property rights), yang mencakup : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Paten (Patent); Desain Industri (Industrial Design); Merek (Trademark); Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu (Lay out Design of Integrated Circuit); Rahasia Dagang (trade secret). Perlindungan Varietas Tanaman (Varieties of Plants Protection).

Jumlah HKI di Indonesia sangat tertinggal jauh dibandingkan dengan negaranegara lain. Sebagai bahan perbandingan, paten internasional tempe yang terdaftar atas nama periset Indonesia hanya tiga, sedangkan yang dimiliki asing sebanyak 15 paten (data tahun 2001). Demikian juga dengan hasil kerajinan rotan, temuan 125

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 124 - 141

tentang rancang bangun rotan di Amerika Serikat jumlah patennya mencapai 193 buah, sedangkan Indonesia hanya 7 paten (Pandy, J, 2010). Rendahnya pemahaman akan pentingnya HKI ini bisa dilihat dari data bahwa hanya 3% kontribusi peneliti Indonesia terhadap jumlah paten yang didaftarkan. Itu lebih rendah bila dibandingkan dengan peneliti Thailand yang menyumbangkan 7% jumlah paten yang didaftarkan di badan peten lokal dan Malaysia yang bahkan lebih dari 10%.1 Pada perkembangan selanjutnya di berbagai negara industri dan bisnis internasional, HKI telah dikembangkan sebagai alat agunan (collateral) diantara benda-benda lainnya yang dapat dijadikan jaminan kredit. Cina telah meluncurkan proyek percontohan nasional untuk memberikan pinjaman kepada perusahaan yang memenuhi syarat untuk menggunakan hak kekayaan intelektual (HKI) seperti paten sebagai jaminan. Pada upacara Jumat peluncuran di Guangzhou, ibukota provinsi Guangdong Selatan, enam lembaga pinjaman Cina, termasuk Industri dan Commercial Bank of China dan China Construction Bank, menandatangani perjanjian HKI senilai 1.308.000.000 yuan ($ 186.860.000) dalam bentuk pinjaman kepada 18 perusahaan. The State Intellectual Property Office (SIPO) memutuskan untuk memulai proyek serupa di kota-kota termasuk Beijing dan Shanghai. Menurut data, bank maupun perusahaan-perusahaan memiliki permintaan yang kuat untuk pinjaman dengan jaminan HKI. Hal ini sangat baik karena tujuan strategi HKI Cina adalah untuk meningkatkan penerapan paten. Padahal sebelumnya, perbankan di Cina menawarkan pinjaman dengan jaminan hipotek terutama pada aset berwujud seperti pabrik dan peralatan. Pola pemberian pinjaman dengan jaminan asset berwujud di atas, menyebabkan perusahaan yang berorientasi pada inovasi teknologi sulit untuk mendapatkan dukungan keuangan dari bank. ��l��� ��� p���������� �u��s� s��������� ��� ���s ����y��� �����l���u�l (����) sebagai agunan pinjaman belum berjalan di Indonesia. Andy N Sommeng, Dirjen Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM, mengemukakan bahwa fungsi-fungsi lain dari sistem HKI di dalam negeri sudah berjalan, misalnya fungsi p��l��du����,”���y� �u��s� s��������� ���� s������ ��u��� ��lu� ���j�l��. ��d�h�l h�l ��� s����� d��u�������� d���������� ���������� ���� ��u ��� ���d� ��������, sehingga bisa dipindah tangankan, dan HKI adalah merupakan “asset tidak nyata (intangible asset)”. D� lu�� ������ ������ ��s� s��������� ����� s������ ��u���. D� luar negeri value dari HKI, misalnya merek terkenal, biasa dinilai.2

1 2

Adiningsih, N. U , 2010 dalam Bunga rampai Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) www.bisnis.com

126

PEMANFAATAN SERTIFIKAT HKI SEBAGAI COLLATERAL KREDIT (Akhmad Junaidi & Muhammad Joni)

II.

PENGATURAN HAK KEBENDAAN DI INDONESIA

Dalam pembicaraan hukum, masalah benda atau kebendaan merupakan tema yang penting bagi perbuatan hukum. Istilah “benda” dalam KUHPerdata diartikan dalam berbagai arti, yang pada umumnya diartikan sebagai semua apa saja yang dapat menjadi sasaran hukum.3 Benda adalah objek hukum, yang oleh Vollmar ditegaskan bahwa benda sebagai objek hukum ialah “bagian dari suatu harta kekayaan”.4 Dengan benda seseorang/badan hukum dapat melakukan hubungan hukum tertentu, misalnya perjanjian jual beli, mengalihkan, menjaminkan, dan perbuatan hukum lainnya.5 Hak kebendaan dirumuskan Sri Soedewi Masjchoen Sofwan (1981) sebagai “hak mutlak atas suatu benda dimana hak itu memberikan kekuasaan langsung atas suatu benda dan dapat dipertahankan terhadap siapapun juga”.6 Hak kebendaan sebagai hak mutlak atau hak absolut, dapat dibedakan dengan hak relatif atau dikenal juga hak perorangan. Hak perorangan hanya dapat dipertahankan terhadap orang tertentu, atau tidak terhadap semua orang seperti hak kebendaan.7 Beberapa ciri pokok yang membedakan hak kebendaan dengan hak relatif atau hak perorangan (Sofwan,1981) adalah: (1) (2) Merupakan hak kebendaan yang mutlak, dapat dipertahankan terhadap siapapun juga. Mempunyai zaakgevolg atau droit de suite (hak yang mengikat). Artinya hak itu terus mengikuti bendanya dimanapun juga (dalam tangan siapapun juga) benda itu berada. Hak itu terus saja mengikuti orang yang mempunyainya. Sistem yang dianut dalam hak kebendaan dimana terhadap yang lebih dahulu terjadi mempunyai kedudukan dan tingkat yang lebih tinggi daripada yang terjadi kemudian. Mempunyai sifat (hak yang didahulukan). Adanya apa yang dinamakan hak gugat kebendaan. Kemungkinan untuk dapat memindahkan hak kebendaan itu dapat secara sepenuhnya dilakukan.8
H.F.A. Vollmar, “Pengantar Studi Hukum Perdata Jilid I”, Rajagrafindo Persada,1996, hal. 187. H.F.A. Vollmar, “Ibid”,. H. Tan Kamelo, “Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan Yang Didambakan”, Alumni, Bandung, 2006, hal. 137. Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, “Hukum Perdata: Hukum Benda”, Liberty, Yogjakarta, 1981, hal. 24. H. OK. Saidin, S.H., M.Hum “Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual (Intellectual Property Rights)”, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004, hal 49 Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, “Op.Cit”., hal 49.

(3)

(4) (5) (6)

3 4 5 6 7 8

127

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 124 - 141

Dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata), membedakan benda dalam beberapa jenis yakni benda bergerak dan tidak bergerak, benda berwujud dan tidak berwujud, benda yang diperdagangkan dan benda yang tidak diperdagangkan, benda yang dapat dibagi dan benda yang tidak dapat dibagi, benda yang sudah ada dan benda yang masih akan ada.9 Menurut pendapat Vollmar, ahli hukum perdata mengatakan bahwa pembedaan benda yang terpenting adalah pembedaan atas benda bergerak dan benda tidak bergerak.10 Pembedaan benda antara benda bergerak dan benda tidak bergerak sesuai sifat alamiah benda11, sehingga hampir seluruh sistem hukum mengenal pembedaan benda bergerak dan benda tidak bergerak.12 Selanjutnya menurut Tan Kamelo13, dalam hal pembedaan benda bergerak dan benda tidak bergerak berguna serta mempunyai akibat hukum terhadap kedudukan berkuasa, penyerahan, kadaluwarsa, pembebanan dan penyitaan. Maksudnya, perbuatan hukum mengenai benda bergerak dalam hal tertentu misalnya penyerahan y��� d�l��u��� s�c��� ��s�� ���u l���su��, ���u� �����d� d����� ���d� ��d�� bergerak yang penyerahannya dilakukan secara juridis. Batasan mengenai benda yang dirujuk dari pasal 499 KUHPerdata yang berbunyi: menurut paham undang-undang yang dimaksud dengan benda ialah tiaptiap barang atau tiap-tiap hak yang dapat dikuasai oleh milik. Kemudian Mahadi mengemukakan bahwa yang dapat menjadi objek hak milik adalah benda dan benda itu sendiri dari barang dan hak.14 III. HKI SEBAGAI HAK KEBENDAAN

Mengutip pendapat Mahadi, perihal barang yang dimaksudkan dalam pasal 49 KUHPerdata adalah benda materil, sedangkan hak adalah benda immaterial. Uraian ini konsisten dengan pembedaan benda berwujud dan benda tidak berwujud yang dikandung dalam pasal 503 KUHPerdata.15 D�l�� �u�l�����s� ��u, ���� ���� termasuk benda immaterial atau benda tidak berwujud.16

9 10 11 12 13 14 15 16

H. Tan Kamelo, “Ibid”, hal. 140. H.F.A. Vollmar, “Hukum Benda”, disadur Chidir Ali, Tarsito, Bandung, 1980, hal. 55 R. Subekti, “Suatu Tinjauan tentang Sistem Hukum Jaminan Nasional”, makalah seminar hukum jaminan tahun 1978, BPHN, Jakarta, Binacipta, 1981, hal. 22. H. Tan Kamelo, “Op.Cit”., hal. 141. H. Tan Kamelo, “Ibid”, hal. 141. H. OK. Saidin, “Op.Cit”., hal. 11-12. Ibid., hal. 12. Ibid., hal. 12

128

PEMANFAATAN SERTIFIKAT HKI SEBAGAI COLLATERAL KREDIT (Akhmad Junaidi & Muhammad Joni)

Dalam ketentuan hukum positif, misalnya Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta yang tidak lain merupakan HKI, secara eksplisit ���d�����s���� d�l�� p�s�l 3 UU ��� C�p�� ��hw� ��� C�p�� d������p s������ benda bergerak. Selanjutnya UU Hak Cipta menegaskan bahwa Hak Cipta dapat beralih dan dialihkan baik seluruhnya maupun sebagian, karena pewarisan hibah, wasiat, perjanjian tertulis. Dalam hal HKI sebagai hak kebendaan, dapat diwujudkan dengan lembaga hukum franchise. Keterkaitan franchise dengan HKI yakni pihak franchisor sebagai pemilik merek dan know how memberikan haknya kepada franchisee untuk melakukan kegiatan bisnis berdasarkan merek know how itu.17 D�l�� ���u�� hu�u� franchise terakumulasi beberapa jenis hak yang kesemuanya berbentuk hak atas kebendaan immaterial atau benda tidak berwujud.18 Dalam perjanjian franchise terdapat rahasia manajemen, rahasia dagang/jasa, rahasia d�l�� p����lol��� p�odu� ������/j�s� d�� l���-l���, s�h����� d�l�� ���u�� hu�u� franchise tidak hanya terdapat hak cipta, paten, merek, disain industri, tetapi juga hak immaterial lainnya seperti hak atas keahlian atau ketrampilan.19 Franchise atau waralaba sebagai suatu sistem bisnis merupakan integrasi keseluruhan pengetahuan, peralatan, prosedur, praktek bisnis tertentu yang tersusun sebagai formula bisnis. Di dalam sistem waralaba ada dua pihak yang terlibat dalam kontrak/perjanjian (waralaba), yaitu pemberi waralaba atau pewaralaba (franchisor) dengan penerima waralaba atau terwaralaba (franschisee). Pewaralaba adalah perusahaan pemilik HKI (merek dagang dan sistem bisnis yang telah teruji – a proven system of business). Keseluruhan hak-hak tersebut merupakan HKI yang dapat saja dimiliki oleh perusahan global, domestik ataupun lokal. Selain itu, pemegang hak-hak dimaksud dapat pula Perseroan Terbatas (PT) yang berskala besar, usaha kecil dan menengah maupun koperasi. Berbagai produk yang melakukan transaksi franchise banyak dikenal konsumen seperti Pizza Hut, Mc. Donald, Kentucky Fried Chicken, atau berbagai produk domestik seperti Indomaret, Alfamaret, Wong Solo, dan lain-lain. Dalam hal pemegang hak franchise lokal Wong Solo misalnya, menawarkan paket Franchise selama 10 tahun (hak waralaba) dengan paket-paket mulai dari Paket A seniai Rp. 1.000.000.000,00 (kapasitas kapasitas 200 seats) sampai dengan yang terkecil Paket E senilai Rp.50.000.000,00 (kaki lima). Sehingga yang ditawarkan bukan saja
17

18 19

Felix O. Soebagjo, “Perlindungan Bisnis Franchise”, Seminar Sehari tentang Peluang Bisnis Waralaba (Franchise) dan Pengembangannya di Indonesia, LPPN-AFI, Jakarta, 1993. H. OK. Saidin,, “Op.Cit”., hal. 516. H. OK. Saidin, “Ibid”.

129

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 124 - 141

produk barang namun juga HKI yang dimilikinya. Dana tersebut termasuk franchise fee 10 tahun, pembangunan rumah makan, pembelian peralatan, preparasi dan pra operasi (tidak termasuk sewa tanah) Rumah makan Wong Solo mengenakan royalti fee sebesar 6% dari penjualan setiap bulan. Secara ekonomis, franchise atau waralaba lokal cukup menggairahkan pasar. Berdasarkan data Asosiasi Franchise Indonesia (AFI), dalam enam bulan pertama tahun ini (hingga Juni 2009), total tercatat 1.010 usaha waralaba, dengan jumlah gerai mencapai 42.900 buah, serta mampu menyerap 819.200 tenaga kerja. Bandingkan dengan data tahun lalu (2008) yang mencatat 855 usaha waralaba, jumlah gerai 31.827 buah, dan menyerap 523.162 tenaga kerja. Artinya, terjadi pertumbuhan bisnis franchise yang luar biasa selama beberapa bulan terakhir. Lebih menggembirakan lagi, perusahaan lokal semakin merajai pasar franchise di Tanah Air. Juga selama enam bulan terakhir, data AFI mengungkap, jumlah waralaba lokal mencapai 750 unit atau naik 20% dibanding tahun lalu yang tercatat sebanyak 600 unit. Adapun pertumbuhan waralaba asing relatif sedikit, yakni dari 255 unit pada 2008 menjadi 260 unit per Juni 200920. Dengan figure dan praktik bisnis franchise tersebut dalam kegiatan bisnis, maka sudah faktual adanya nilai ekonomi dari hak-hak kekayaan intelektual dari para pemegang HKI, sehingga kedudukannya tidak lain adalah harta kekayaan atau asset korporasi, termasuk koperasi maupun usaha kecil dan menengah. D�l�� h�l ������������� s��������� ��� ����y��� �����l���u�l (����) s������ collateral, maka mendudukkan HKI sebagai suatu yang berharga atau bernilai untuk menjadi jaminan utang. HKI mempunyai nilai ekonomi oleh karena HKI merupakan hak kebendaan, hak atas sesuatu benda yang bersumber dari hasil kerja otak, hasil kerja rasio.21 Dengan asumsi sedemikian, maka HKI merupakan hak kebendaan yang dapat dijadikan jaminan utang sebagaimana halnya hak kebendaan pada umumnya. Dengan status HKI sebagai hak k ebendaan yang mempunyai nilai ekonomis, maka keberadaannya dapat dialihkan, diperjualbelikan, disewakan, dan perjanjian lainnya. Oleh karena mempunyai nilai eknomis, maka HKI merupakan harta kekayaan. Dengan dasar itu di Indonesia sebenarnya kua-teoritis HKI dapat dijadikan jaminan utang. Tak hanya itu, sebagaimana halnya industri kreatif lainnya, maka HKI dapat diletakkan sebagai jaminan utang.22
20 21 22

Redaksi Majalah SWA, “Bangkitnya Franchise Lokal”, Thursday, July 16th, 2009 H. OK. Saidin, “Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual (Intellectual Property Rights)”, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004, hal. 9. Redaksi Majalah SWA, “Bangkitnya Franchise Lokal”, Thursday, July 16th, 2009, melaporkan bahwa pihak pemegang hak waralaba Rumah makan Wong Solo mengenakan royalti fee 6% dari penjualan setiap bulan.

130

PEMANFAATAN SERTIFIKAT HKI SEBAGAI COLLATERAL KREDIT (Akhmad Junaidi & Muhammad Joni)

IV.

JAMINAN KREDIT DAN AGUNAN KREDIT

Pemberian kredit bank kepada nasabah debitur dapat berpotensi menjadi kredit macet. Untuk mengantisipasi resiko kredit macet tersebut, pihak bank pada umumnya mengharuskan nasabah debitur untuk memberikan jaminan kredit dan agunan kredit. Selama ini masyarakat awam mempersamakan pengertian “jaminan kredit” dengan “agunan kredit”, padahal pengertian keduanya berbeda. Jaminan kredit adalah jaminan utama yang berwujud tidak nyata, yaitu jaminan yang berupa “keyakinan” bank atas “iktikad baik” nasabah debitur untuk melunasi utangnya sesuai perjanjian, sedangkan agunan kredit adalah jaminan tambahan yang pada u�u��y� ���wujud ��s�� (��s�l�y�: �u��h, ����h, �o��l, su��� ���h����, d�� l���lain) yang dicadangkan untuk pelunasan hutang. Agunan kredit terdiri dari agunan pokok dan agunan tambahan. Pengertian jaminan kredit secara tersirat dan tersurat dijelaskan dalam pasal 8 ayat (1) UU Nomor 8 Tahun 1998 tentang Perbankan yang menyatakan bahwa: “Dalam memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah, Bank Umum wajib mempunyai keyakinan berdasarkan analisis yang mendalam atas iktikad dan kemampuan serta kesanggupan nasabah debitur untuk melunasi utangnya atau mengembalikan pembiayaan dimaksud sesuai dengan yang diperjanjikan”. Adapun pengertian agunan kredit menurut Pasal 1 angka 23 UU Tahun 1998 adalah jaminan tambahan yang diserahkan nasabah debitur kepada bank dalam rangka pemberian fasilitas kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah. Anggunan pokok dapat berupa barang, surat berharga, atau garansi, yang berkaitan langsung dengan objek yang dibiayai dengan kredit yang bersangkutan, seperti barang-barang yang dibeli dengan kredit yang bersangkutan, maupun tagihantagihan debitur kepada pihak lain. Agunan tambahan dapat berupa barang, surat berharga, atau garansi, yang tidak berkaitan langsung objek yang dibiayai dengan kredit yang bersangkutan, yang ditambahkan sebagai agunan. Agunan tambahan tidak bersifat pokok, artinya tanpa agunan itupun bank tetap dapat memberikan kredit kepada nasabah debitur, asalkan syarat jaminan kredit dan agunan pokok telah dipenuhi23. Pengertian jaminan kredit dan agunan kredit sering berubah-ubah. Pengertian jaminan berdasarkan UU Perbankan No 10 Tahun 1998 tidak sama dengan pengertian jaminan berdasarkan UU Perbankan Tahun 1967. Menurut UU Perbankan Tahun 1967, pengertian “jaminan” disamakan dengan “agunan”. Adapun “jaminan” menurut UU Perbankan No 10 Tahun 1998 diartikan “keyakinan atas iktikad dan
23

Penjelasan Pasal 8 UU Perbankan Tahun 1998

131

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 124 - 141

kemampuan nasabah serta kesanggupan nasabah debitur untuk melunasi utangnya atau mengembalikan pembiayaan dimaksud sesuai dengan yang diperjanjikan”. Jaminan kredit yang dimaksud UU Perbankan No 8 Tahun 1998 bukanlah jaminan kredit yang selama ini dikenal dengan sebutan collateral yang merupakan bagian dari Prinsip 5 C. Istilah collateral oleh UU Perbankan No 10 Tahun 1998 diartikan dengan “agunan”24. Prinsip 5 C adalah prinsip/pedoman dasar yang harus dipegang oleh setiap pejabat perkreditan pada saat memberikan kredit kepada nasabah debitur. Prinsip 5 C merupakan bagian tak terpisahkan dari keharusan bank untuk menerapkan prinsipprinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit kepada nasabah debitur. Prinsip 5 C meliputi : a. b. c. d. e. V. character (sifat/kepribadian) capital (permodalan) capacity (kemampuan) collateral (agunan), dan condition of economy (kondisi perekonomian) PENGATURAN HUKUM JAMINAN DAN AGUNAN DI INDONESIA

Pemberian kredit dari bank kepada nasabah debitur, disamping harus didasarkan adanya perjanjian kredit sebagai perjanjian pokok, juga harus diikuti perbuatan perjanjian jaminan sebagai perjanjian accessoir (tambahan). Pemberlakuan perjanjian jaminan mengikuti perjanjian pokok yang mendasarinya. Perjanjian jaminan berkaitan dengan pengikatan jaminan kredit atas agunan kredit yang pada umumnya diikat dengan akta notaris yang bersifat baku dan bersifat eksekutoral. Sifat eksekutoral dari perjanjian jaminan mengandung konsekuensi jika debitur ingkar janji (wanprestasi) maka bank langsung dapat mengajukan permohonan eksekusi agunan via Pengadilan Negeri, tanpa harus melalui proses peradilan biasa. Perjanjian jaminan dibuat pihak bank sebagai salah satu upaya untuk melaksanakan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit sehingga kelak ada jaminan pengembalian kredit secara utuh. Pengertian collateral menurut SK Direksi Bank Indonesia Nomor 23/69/ KEP/DIR tanggal 28 Februari 1991 tentang Jaminan Pemberian Kredit, Pasal 2 ayat (1) adalah “kekayaan bank atas kesanggupan debitur untuk melunasi kredit sesuai dengan yang diperjanjikan”. Sedangkan guna memperoleh keyakinan tersebut maka
24

Rachmadi Usman, 2001, Aspek-Aspek Hukum Perbankan di Indonesia, Cetakan 1, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, hal 282

132

PEMANFAATAN SERTIFIKAT HKI SEBAGAI COLLATERAL KREDIT (Akhmad Junaidi & Muhammad Joni)

bank sebelum memberikan kredit harus melakukan penilaian yang seksama terhadap watak, kemampuan, model, agunan, dan prospek usaha dari debitor.25 Dalam praktek perbankan di Indonesia, pengaturan tentang agunan yang dapat diperhitungkan sebagai pengurang dalam pembentukan PPA telah diatur dalam peraturan Bank Indonesia No 7/2/PBI/2005 tentang Penilaian Aktiva Bank Umum, dimana pada pasal 46 menyebutkan : a. b. c. d. Surat berharga dan saham yang aktif diperdagangkan di bursa efek di Indonesia atau memiliki peringkat investasi dan diikat secara gadai; tanah, rumah tinggal dan gedung yang diikat dengan hak tanggungan; pesawat udara atau kapal laut dengan ukuran di atas 20 (dua puluh) meter kubik yang diikat dengan hipotek; dan atau ���d����� ����o�o� d�� p��s�d���� y��� d����� s�c��� ��dus��.

Perkembangan hukum mengenai agunan ini kemudian berkembang setelah dikeluarkannya Undang-undang No 9 Tahun 2006 tentang Resi Gudang, yang memasukkan Resi Gudang sebagai bagian dari konstruksi hukum agunan di Indonesia. Apabila dilihat dari ketentuan tersebut, sangat jelas bahwa hingga saat ini, s��������� ���� ��lu� ���c���u� s������ s�l�h s��u ����u� ��u��� ���d�� y��� d���u� di Indonesia, walaupun secara eksplisit seluruh HKI yang diatur dalam undangundang memuat syarat yang sangat memungkinkan HKI dapat dijadikan agunan kredit. Oleh karenanya, menjadikan HKI sebagai bagian dari agunan di Indonesia akan sangat mungkin dilakukan, sebagaimana Resi Gundang yang pada akhirnya dapat dijadikan agunan (collateral). VI. NILAI EKONOMI HKI SEBAGAI JAMINAN KREDIT

Dalam kaitan dengan HKI sebagai collateral (jaminan), dalam Hukum Jaminan secara sederhana dapat diartikan sebagai hukum yang mengatur tentang jaminan utang, baik yang berbentuk jaminan kebendaan maupun perorangan Menurut R. Subekti jaminan dapat dibedakan dalam jaminan kebendaan dan jaminan perorangan. Jaminan perorangan adalah suatu perjanjian antara seorang kreditor dengan orang ketiga yang menjamin dipenuhinya kewajiban-kewajiban debitur. Perjanjian jaminan perorangan bahkan dapat diadakan tanpa sepengetahuan debitur tersebut. Jaminan kebendaan dapat diadakan antara kreditor dengan debitur,
25

Muhamad Djumhana, 2000, Hukum Perbnkan di Indonesia, cetak ketiga, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, hal 393-394.

133

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 124 - 141

atau antara kreditor dengan orang ketiga yang menjamin dipenuhinya kewajibankewajiban debitur.26 HKI sebagai jaminan, dalam prosesnya pasti akan dilakukan penilaian (appraisal, valuation). Untuk melakukan hal tersebut, penilaian HKI dapat melakukan komparasi dengan berbagai penilaian dilakukan perbankan diantaranya:27 (a) (b) (c) (d) (e) Nilai pasar (market value). Biaya penggantian baru (reproduction cost). Nilai wajar (depreciated replacement cost). Nilai likuidasi (liquidation value). Nlai asuransi (insurable value/actual cost value).

Oleh karena setiap pembiayaan bisnis membutuhkan instrumen jaminan utang, maka tentu saja hal itu dapat dilakukan untuk bisnis yang berbasis HKI seperti halnya pemegang hak franchise atau waralaba. Bagaimana dengan industri kreatif atau pemegang HKI atau pemegang franchise? Apakah pemegang HKI bisa ��l������� h�s�l ����������s ���u ���� y��� d��u�s���y� d�j�d���� j������ u����? Sekitar 6 tahun yang lalu David Bowie menerbitkan suatu surat hutang yang di jamin dengan lagu-lagu ciptaannya. Bagaimana di Indonesia? Tentu elemen industri kreatif h��us ������� pul� ���do�o�� ���� h�s�l ����������s wujud s������ p�op���� y��� l�y�� diagunkan. Modal dasarnya sudah jelas tertera pada UU Hak Cipta menganggap Hak Cipta sebagai sebagai benda bergerak. Menurut Dedy Kurniadi dalam tulisannya berjudul “2009, Awal Pertumbuhan Industri Kreatif?”, belum ada regulasi yang jelas tentang bagaimana cara menempatkan hak cipta atau HKI lainnya sebagai jaminan hutang.28 Dalam mengintegrasikan HKI sebagai collateral maka perlu membuat regulasi dan kebijakan yang memasukkan HKI dalam menghitung bobot risiko tertentu yang disebut dengan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR)/Risk Weight Asset (RWA).29 Di Indonesia kewenangan mengatur ketentuan ATMR ada pada pihak Bank Indonesia.
26 27 28

29

R. Subekti, 1992, Jaminan-jaminan untuk Pemberian Kridit Menurut Hukum Indonesia, Cetakan 10, Alumni, Bandung, hal 25. H. R. Daeng Naja, “Hukum Kredit dan bank Garansi The Bankers Hand Book”, Citra Aditya bakti, Bandung, 2005, hal. 229-230. http://www.hukumhiburan.com/id/index_sub.php?tab=artikel&judul=2009,%20AWAL %20 PERTUMBUHAN%20INDUSTRI%20KREATIF%20?&tgl=2009-01-08 & headerimage=cap08 Ahza Anwari, “Perkembangan Reglasi Manajemen Resiko”, dalam artikel yang dirilis kedalam http://www.bankirnews.com/index.php?option=com_content&view=article&id =128%3Apart-1-perkembangan-regulasi-manajemen-risiko&catid=69%3Amanajemenrisiko&Itemid=102&utm _source=twitterfeed&utm_medium=twitter&sms_ss=facebook

134

PEMANFAATAN SERTIFIKAT HKI SEBAGAI COLLATERAL KREDIT (Akhmad Junaidi & Muhammad Joni)

Untuk melakukan penilaian terhadap HKI, dapat mempertimbangkan beberapa model penilaian asset yang dikembangkan saat ini. Salah satunya menurut Sveiby, ada tiga jenis asset intangible, yaitu employee competence, internal structure, dan external structure. Yang termasuk dalam jenis internal structure antara lain adalah paten, konsep, model, dan sistem komputer dan sistem administrasi. Dengan demikian, hak cipta dan kekayaan intelektual juga merupakan asset intangible, lebih rinci lagi termasuk internal structure sebuah perusahaan. Model penilaian asset intangible yang biasa dipilih untuk digunakan biasanya bervariasi, tergantung pada tujuan dan penitikberatan penilaian asset tersebut. Beberapa model yang biasa digunakan antara lain: cost-based model, market-based model, income-based model, dan option model. Penjelasan dari masing-masing model dapat dirangkum sebagai berikut: 1. Model Cost-Based Model cost-based pada prinsipnya menghitung nilai asset intangible dan intellectual property berdasarkan seberapa besar biaya yang telah dikeluarkan untuk mengembangkan atau menciptakan asset tersebut. Model ini tidak memperhitungkan nilai yang bisa diperoleh dari asset tersebut di masa mendatang. Jadi, mirip dengan asset tangible lainnya, asset intangible dalam model ini dianggap memiliki nilai awal, misalnya mobil adalah nilai belinya, dan akan memiliki perhitungan nilai di tahun-tahun berikutnya dengan asumsi yang sama dengan asset-asset lainnya, yaitu adanya nilai penyusutan. Biasanya model ini digunakan untuk keperluan perhitungan pajak. Model cost-based belum melibatkan aspek hukum seperti hak cipta dan hak kekayaan intelektual. Meskipun secara nyata telah memperhitungkan aspek biaya dalam penciptaan dan perawatan asset tersebut, yaitu untuk pendaftaran hak cipta dan perlindungan hukumnya, namun belum mencerminkan perhitungan dampak dari aktivitas hukum terhadap nilai asset tersebut di masa mendatang. 2. Model Market-Based Model market-based ini pada dasarnya mencoba menghitung nilai asset intangible berdasarkan nilai pasar yang akan diperoleh dari asset tersebut. Hal ini biasanya dilakukan melalui pembandingan dengan asset intangible lain yang telah ada sebelumnya dan telah diketahui nilai pasarnya. Masalah s��������� d�l�� p�����p�� �od�l ��� �d�l�h p���l�h�� p�����d����� �ss�� y��� d�p�� d����d������ s�c��� ��u���. ������ ��l� sul�� u��u� �����d��������s� asset pembanding yang benar-benar dapat dibandingkan. Model market-based hanya akan bekerja dengan baik apabila ada nilai pasar yang sudah ditetapkan untuk asset pembanding yang setara dengan asset intangible tersebut. Apabila 135

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 124 - 141

tidak ada nilai pasar yang jelas untuk asset pembandingnya, model ini tidak akan efektif digunakan. Model market based ��� ����l u��u� �����d��������s� �sp�� hu�u� d��� penilaian asset intangible secara menyeluruh. Hal ini disebabkan tidak adanya asset pembanding yang dapat digunakan secara akurat oleh perusahaanperusahaan yang memiliki asset tersebut. Sebagai contoh, hak paten yang dimiliki oleh perusahaan besar akan memiliki nilai asset yang lebih besar dibandingkan dengan paten yang sama yang dimiliki oleh perusahaan kecil. Hal ini karena perusahaan besar memiliki sumber daya yang lebih besar untuk dapat mengembangkan dan memaksimalkan hak paten tersebut dibandingkan dengan perusahaan kecil yang memiliki sumber daya yang terbatas. 3. Model Income-Based Penilaian berdasarakan model income-based menggunakan perkiraan penghasilan yang akan diterima di masa yang akan datang untuk memperkirakan nilai dari asset tersebut. Dalam model ini, nilai dari asset intangible ditentukan berdasarkan proyeksi pendapatan royalty yang akan dihasilkan di masa yang akan datang dalam sebuah struktur lisensi. Perusahaan-perusahaan menggunakan perhitungan proyeksi yang berbeda-beda dalam menghitung perkiraan penghasilan yang akan diterima di masa yang akan datang. Hal ini akan membawa konsekuensi terjadinya penilaian yang berbeda-beda antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya. Model income-based akan bekerja dengan efektif jika terdapat informasi yang akurat untuk mendukung penghitungan pendapatan dan arus kas di masa yang akan datang. Informasi pendukung ini biasanya tersedia apabila asset intangible tersebut mempunyai asset pembanding yang sejenis atau asset tersebut memiliki nilai yang jelas dan tetap. Salah satu masalah dalam penerapan model ini adalah penentuan discount rate yang digunakan. Penentuan discount rate harus mempertimbangkan baik time value of money maupun resiko atas perkiraan penghasilan di masa yang akan datang. Model income-based kurang bisa memperhitungkan aspek hukum atas p���l���� �ss�� ��������l�. Mod�l ��� s�c��� ������� d�p�� �����d��������s� biaya-biaya perolehan dan perawatan atas asset intangible tersebut, tetapi tidak d�p�� �����d��������s� ���y�-���y� y��� ��������� d����� p����������� h�� legal atas kepemilikan asset intangible tersebut. 4. Model Option Option adalah sebuah pilihan yang dapat digunakan pada suatu waktu tertentu, akan tetapi seseorang juga dapat memilih untuk tidak menggunakan 136

PEMANFAATAN SERTIFIKAT HKI SEBAGAI COLLATERAL KREDIT (Akhmad Junaidi & Muhammad Joni)

pilihan tersebut. Pemilik dari Hak Kekayaan Intelektual tersebut mempunyai berbagai macam pilihan tentang pengembangan dan komersialisasi atas asset yang dimilikinya. Pilihan-pilihan tersebut antara lain adalah dalam bentuk apa kekayaan intelektual tersebut; apakah akan menggunakan lisensi untuk kekayaan intelektual yang dimiliki; bagaimana cara menilai jumlah kekayaan intelektual tersebut; dan kapan akan mendaftarkan kekayaan intelektual yang dimiliki agar dapat dikembangkan lebih lanjut. Model ini akan efektif untuk digunakan apabila berbagai macam p�l�h�� y��� �d� d�p�� s����� d��d��������s� d�� d�h��u��. Mod�l option ini akan lebih efektif apabila nilai dari pilihan-pilihan yang ada stabil dan apabila pilihan-pilihan tersebut memiliki beberapa kriteria tertentu dan tidak dapat dilaksanakan sebelum waktunya. Sayangnya, dalam kenyataannya hal tersebut sangat sulit untuk direalisasikan. Terdapat beberapa masalah dalam penerapan model option ini. Sebagai contoh, resiko yang berkaitan dengan berbagai macam pilihan atas komersialisasi dari asset intangible tersebut berubah-ubah seiring dengan waktu. Model ini juga sulit untuk melakukan penilaian pilihan-pilihan sedemikian rupa sehingga dapat secara efektif menghitung besarnya arus kas di masa yang akan datang yang berkaitan dengan komersialisai asset intangible secara aktual. Penggunaan model option yang rumit dapat memperhitungkan banyak biaya yang berkaitan dengan aspek hukum dari asset intangible tersebut. Akan tetapi akan sangat sulit untuk mengintegrasikan aspek-aspek hukum tersebut dalam sebuah perhitungan yang kompleks dalam model option. Model ini sudah dikenal sebagai model yang paling rumit dalam sistem penilaian asset.30 VII. PENGEMBANGAN HKI SEBAGAI JAMINAN FIDUSIA ������������ ���� s������ j������ ��dus�� d����j�u d��� �������� �sp�� hu�u� y��� �d� ���pu�y�� ��l�� �o��l�s� y��� s����� s���������. ��l ��� d���������� s���������� d�s��u���� ��hw� ��dus�� �d�l�h p����l�h�� h�� ��p���l���� suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda. J������ ��dus�� �d�l�h h�� j������ ���s ���d� �������� ���� y��� ���wujud maupun yang tidak berwujud dan tidak bergerak dan khususnya bangunan yang tidak dapat dibebankan Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud UU No 4 tahun 1996 ������� ��� T����u���� y��� ����p ����d� d�l�� p���u�s��� p������ ��dus��,
30

Mastsuura, Jeffrey, An Overview of Intellectual Property and Intangible Asset Valuation, Research Management Review, Volume 14, Number 1 Spring 2004

137

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 124 - 141

sebagai agunan bagi pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan yang d�u������� ��p�d� p������� ��dus�� ���h�d�p ���d��o� l����y�, s�su�� p�s�l 1 ����� 1 dan 2 UU No 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia. B��d�s����� d�����s� ���s��u� d� ���s, ���� s�c��� ��o����s ���� d�p�� d�j�d���� s������ o�y�� j������ ��dus�� ������ ���� ����olo�� ���d� �������� y��� ��d�� berwujud nyata (immaterial). Disamping itu, HKI juga dapat beralih atau dialihkan, baik seluruhnya maupun sebagian, karena sebab: (a) (b) (c) (d) (e) pewarisan, hibah, wasiat, perjanjian tertulis, atau sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan.

M��u�u� Mu��� Fu�dy, j������ ��dus�� ������du�� ������p� p���s�p: (�) (b) (c) (d) ��hw� s�c��� ���l, p������� ��dus�� h���y� ����u��s� s������ p������� jaminan saja, bukan sebagai pemilik yang sebenarnya; hak pemegang untuk mengeksekusi barang jaminan baru ada jika ada wanprestasi dari pihak debitur; �p���l� u���� d�lu��s�, ���� o�j�� j������ ��dus�� ��s�� d������l���� ��p�d� p�h�� p������ ��dus��; j��� p��ju�l�� (���s�us�) ������ ��dus�� ��l���h� ju�l�h u�����y�, ���� s�s� h�s�l p��ju�l�� h��us d������l���� ��p�d� p������ ��dus��.31

Sebagaimana dijelaskan dalam UU Hak Cipta dan UU HKI lainnya, bahwa HKI merupakan benda yang tidak berwujud yang didalam ketentuannya dalam dialihkan atau dipindahkan. Menurut Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Fidusia, yang dimaksud dengan j������ ��dus�� �d�l�h h�� j������ ���s ���d� ��������, ���� ���wujud ��upu� tidak berwujud dan benda tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dapat d������� h�� �����u���� y��� ����p ����d� d�l�� p���u�s��� p������ ��dus��, sebagai agunan bagi pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan yang d�u������� ��p�d� p������� ��dus�� ���h�d�p ���d��u� l����y�.

31

Abdul R. Saliman, dkk, 2005, hal 36

138

PEMANFAATAN SERTIFIKAT HKI SEBAGAI COLLATERAL KREDIT (Akhmad Junaidi & Muhammad Joni)

������u�� �������� ���d� y��� d�p�� ���j�d� o�j�� j������ ��dus�� ���d�p�� antara lain dalam pasal 1 ayat (4), Pasal 9, Pasal 10 dan Pasal 20 UU No 42 Tahun 1999 ������� J������ F�dus��. B��d� – ���d� y��� d�p�� ���j�d� j������ ��dus�� adalah sebagai berikut: (a) (b) (c) (d) (e) (f) (g) (h) (i) (j) (�) (l) Benda tersebut dapat dimiliki dan dialihkan secara hukum. Benda berwujud. Benda tidak berwujud, termasuk piutang. Benda bergerak. Benda tidak bergerak yang tidak dapat diikat dengan hak tanggungan. Benda tidak bergerak yang tidak dapat diikat dengan hipotik. Benda yang sudah ada, maupun benda yang akan diperoleh kemudian. Satu satuan benda, atau satu jenis benda. Lebih dari satu satuan benda, atau lebih dari satu jenis benda. ��s�l d��� ���d� y��� ��l�h ���j�d� o�j�� j������ ��dus��. ��s�l �l��� �su���s� d��� ���d� y��� ���j�d� o�j�� j������ ��dus��. Benda persediaan (inventory, stok perdagangan).32

VII. PENUTUP Berdasarkan uraian dan penjelasan dari berbagai aspek hukum baik kebendaan, hu�u� j������, hu�u� p�������� ���d�hulu, d�p�� d�s��pul��� ��hw� ���������� ��� Kekayaan Intelektual (HKI) dapat dikatakan sebagai salah satu pengembangan atau ������ d��� j������ ��dus��, y���u ��dus�� y��� ���y����u� ������ ��d�� ���wujud (immaterial). Model-model untuk menilai ekonomi suatu HKI yang ditawarkan dalam tulisan dapat digunakan sebagai collateral kredit dengan memperhatikan kelebihan dan kekurangan. Terkait pemanfaatan HKI untuk pemanfaatan collateral kredit, maka nilai ekonominya akan ditentukan oleh pengetahuan dan keyakinan pejabat penilai yang diberi tugas bank untuk menaksir atau menilai HKI. Seperti ju�� j������ ��dus��, ���������� ���� ju�� l���h �����d�p����� �sp�� ��p��c�y��� ������ d����u� (p���l�� ����) d�� ���d��o�. ����������� d�s��u���� ��hw� ��dus�� adalah pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda. M�s��pu� s��������� ���� d�p����� ol�h ���d��o� (����), ����p� o�y�� jaminannya (yaitu HKI yang berwujud tidak nyata) tetap berada di tangan debitor
32

Munir Fuady, 2000, Jaminan Fidusia, Cetakan 1 Citra Aditya Bakti, Bandung

139

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 124 - 141

(pemilik HKI), sehingga debitor masih bisa melaksanakan eksklusifnya (misalnya: membuat perjanjian lisensi) asalkan dengan seizin kreditor untuk didaftarkan ke Direktorat Jenderal HKI (DJHKI). Untuk dapat dijadikan suatu jaminan, hal ini berlaku juga pada HKI, karena berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang ada HKI harus dapat dialihkan. Ketentuan tentang “pengalihan hak” ini berlaku secara menyeluruh di semua bidang HKI yaitu hak cipta, merek, paten, desain industri, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu (DTLST), rahasia dagang dan perlindungan varitas tanaman, sebagai berikut: (a) pewarisan, (b) hibah, (c) wasiat, (d) perjanjian tertulis, atau (e) sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan. Ketentuan hukum yang mendukung dan membuka peluang keberlangsungan penjaminan HKI sebenarnya telah ada. Oleh karena itu, diharapkan agar HKI sebagai jaminan kredit dapat diterima luas dan berkontribusi dalam mendukung pertumbuhan UMKM dan Koperasi. Pemanfaatan HKI collateral kredit harus didukung dengan regulasi hukum dengan mengintegrasikan HKI dalam Peraturan Bank Indonesia yang mengatur tentang bobot risiko jaminan suatu kredit dan diperhitungkan dalam penetapan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR). DAFTAR PUSTAKA Adiningsih, N. U. 2010 dalam Bunga rampai Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) www.bisnis.com. Ahza Anwari. Perkembangan Regulasi Manajemen Resiko. dalam artikel yang dirilis kedalam http://www.bankirnews.com. Felix O. Soebagjo. 1993. Perlindungan Bisnis Franchise. Seminar Sehari tentang Peluang Bisnis Waralaba (franchise) dan Pengembangannya di Indonesia. LPPN-AFI. Jakarta. H.F.A. Vollmar. 1980. Hukum Benda. disadur Chidir Ali, Tarsito, Bandung. H.F.A. Vollmar. 1996. Pengantar Studi Hukum Perdata Jilid I. R�j� G�����do Persada. H. OK. Saidin. 2004. Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual (Intellectual Property Rights). R�j� G�����do ���s�d�. J������.

140

PEMANFAATAN SERTIFIKAT HKI SEBAGAI COLLATERAL KREDIT (Akhmad Junaidi & Muhammad Joni)

H. R. Daeng Naja. 2005. Hukum Kredit dan Bank Garansi The Bankers Hand Book. Citra Aditya Bakti. Bandung. H. Tan Kamelo. 2006. Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan Yang Didambakan. Alumni. Bandung. Mastsuura, Jeffrey. 2004. An Overview of Intellectual Property and Intangible Asset Valuation. Research Management Review. Volume 14, Number 1 Spring. Muhamad Djumhana. 2000. Hukum Perbankan di Indonesia. Cetak Ketiga. PT Citra Aditya Bakti. Bandung. Munir Fuady. 2000. Jaminan Fidusia. Cetakan 1 Citra Aditya Bakti. Bandung. Penjelasan Pasal 8 UU Perbankan Tahun 1998 R. Subekti. 1981. Suatu Tinjauan tentang Sistem Hukum Jaminan Nasional. Makalah Seminar Hukum Jaminan Tahun 1978. BPHN. Jakarta. Binacipta. Redaksi Majalah SWA. 2009. Bangkitnya Franchise Lokal. Thursday, July 16th. Rachmadi Usman. 2001. Aspek-Aspek Hukum Perbankan di Indonesia. Cetakan 1. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Sri Soedewi Masjchoen Sofwan. 1981. Hukum Perdata: Hukum Benda. Liberty. Yogjakarta. Subekti. 1992. Jaminan-jaminan untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum Indonesia. Cetakan 10. Alumni. Bandung.

141

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 142 - 158

ANALISIS KEBUTUHAN PERALATAN DI SENTRA GERABAH* Riana Panggabean** Abstrak Tujuan kajian adalah mengetahui kebutuhan peralatan/teknologi untuk UKM di sentra gerabah dan mengetahui optimalisasi peralatan/teknologi gerabah. Manfaat penelitian ini sebagai bahan masukan untuk pengambil kebijakan dalam rangka pengembangan peran UKM di sentra gerabah dan perbaikan kualitas gerabah sesuai dengan permintaan pasar. Kesimpulan dan saran hasil kajian ini adalah UKM dan pengrajin gerabah sebagian besar masih menggunakan teknologi sederhana. Jenis kebutuhan peralatan/ teknologi pengrajin gerabah dapat dikelompokkan pada tiga jenis yaitu teknologi untuk pengolahan bahan baku, pembentukan, pencetakan dan pemasaran. Untuk mengoptimalkan peralatan/teknologi yang diperlukan UKM dan pengrajin adalah pendidikan dan modal. Ada keinginan pengrajin/UKM untuk memiliki peralatan/teknologi modern namun para UKM dan pengrajin belum mampu untuk membeli. Pada umumnya pengrajin tidak memiliki kemampuan modal. Oleh sebab itu diperlukan bantuan modal untuk membeli dan mengoperasionalkan jenis teknologi yang sesuai permintaan. Selain pendidikan mengoperasionalkan peralatan/teknologi diperlukan juga pendidikan bahasa Inggris bagi UKM dan pengrajin agar mampu melayani pembeli dari luar negeri. Kata kunci: Kebutuhan peralatan/teknologi, UKM, pendidikan dan modal Abstract The purpose of this research is to find out the needs assessment of equipment/ technology for SMEs in the center of ceramics and learn optimization of equipment/ technology pottery. The benefits of this research as an input for policy makers in order to develop the role of SMEs in the center of earthenware pottery and quality improvement in accordance with market demand.

* Artikel diterima 20 Juli 2011, peer review 25 Juli 2011, review akhir 15 September 2011 ** Peneliti Utama pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK

142

ANALISIS KEBUTUHAN PERALATAN DI SENTRA GERABAH (Riana Panggabean)

Conclusions and recommendations of this research are SMEs and most of the pottery craftsmen still using simple technology. This type of equipment needs / potter’s technology can be grouped into three types of technology for the processing of raw materials, forming, printing and marketing. To optimize equipment/technology,SMEs and craftsmen/artisans need education and capital. There is a desire that SMEs want to have the modern equipment/ technology but do not have the ability to buy. In general, the craftsmen do not have the capability of capital. It is therefore necessary to have capital to buy and operate this type of technology based on demand. In addition to operationalize equipment/technology, English language education is also needed for SMEs and craftsmen in order to cater buyers from abroad. Key words: need of equipments/technology, SMEs, education and capital I. 1.1 PENDAHULUAN Latar Belakang Sentra industri kerajinan seni gerabah di Desa Banyumulek Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat sudah cukup terkenal di Pulau Lombok dan pulau sekitarnya. Sentra tersebut telah dijadikan desa wisata andalan yang menjadi tujuan wisatawan saat mencari cenderamata yang akan dibawa pulang ke wilayah/negeri asalnya. Kawasan Banyumulek dalam bahasa Sasak berarti air jernih, dikenal sebagai wilayah dengan kualitas tanah lempung nomor satu di Pulau Lombok. Karena itu wajar bahwa pengrajin gerabah banyak muncul di desa ini, dan akhirnya ditetapkan oleh pemerintah daerah setempat sebagai sentra industri gerabah unggulan Nusa Tenggara Barat. Sampai saat ini gerabah sudah menjadi salah satu komoditas barang karya kerajinan di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang telah menjadi komoditas ekspor. Bahan baku tanah berubah menjadi gerabah adalah hasil karya pengrajin di NTB yang didominasi oleh wanita. Kerajinan gerabah telah berkembang menjadi salah satu sumber pendapatan masyarakat. Kegiatan ini merupakan usaha (1) peningkatan pendapatan pengusaha dan pengrajin, (2) peningkatan kemampuan pengusaha/UKM dan pengrajin terutama dalam kaitan pemasaran hasil produksi baik di dalam negeri dan luar negeri, (3) peningkatan perbaikan struktur usaha industri kecil dan kerajinan agar menjadi kuat dan berdaya tumbuh, (4) peningkatan kualitas, desain dan 143

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 142 - 158

d�v��s�����s� p�odu� d��, (5) p���������� ����������� ������ ��dus��� ��c�l dengan industri menengah dan besar terutama industri permesinan. Pengrajin dan UKM diberdayakan melalui pendekatan sentra/klaster dan merupakan salah satu program strategis dalam rangka meningkatkan �����j� us�h�, ���s���s� d�� d�y� s���� U�M. ���d������ s����� ���up���� suatu konsentrasi pemberian dukungan dan fasilitasi kepada KUKM sehingga su����d�y� p������u��� d�p�� d����������� s�c��� ������� d�� ���s���. Menurut Lindrawati (2010) tenaga kerja pada kegiatan gerabah dilakukan secara turun-temurun di Desa Banyumulek. Kaum perempuan di desa ini digambarkan sebagai pembuat gerabah selao atau gentong yang sangat ulung. Sedangkan para lelaki dewasanya kemudian menjajakan gentong tersebut dengan cara memikulnya keliling kampung. Namun, sejak pariwisata Lombok mulai berkembang (1990-an), gambaran tentang Desa Banyumulek pun mulai berubah. Tak ada lagi lelaki yang memikul gerabah keliling kampung karena telah muncul toko seni suvenir lokal (art shops) yang khusus menjual produk-produk kerajinan gerabah mereka. Kerajinan gerabah Banyumulek mulai bervariasi dan tidak hanya membuat kerajinan gentong saja, melainkan juga jenis gerabah lain, seperti anglo, wajan, periuk, kendi, dan masih banyak lainnya. Kedekatan masyarakat Lombok dengan gerabah digambarkan dalam cerita rakyat (legenda) tentang Dewi Anjani. Menurut legenda tersebut, Dewi Anjani mengirimkan seekor burung pembawa pesan (Manuk Bre) untuk menolong sepasang manusia yang kebingungan menanak beras hasil panen pertama mereka. Melalui burung tersebut, Dewi Anjani lalu rnengajari manusia mengolah tanah gunung menjadi periuk. Mungkin, cerita ini sedikit menjelaskan bagaimana masyarakat Lombok dari dulu memang telah dekat dan menggeluti kerajinan gerabah. Gambaran umum keberadaan UKM di NTB adalah sebagai berikut: (1) jumlah UKM di NTB berdasarkan data statistik (BPS: 2006) tercatat 544.607 terdiri dari usaha mikro 478.907, usaha kecil 62.669 dan usaha menengah 2.947 serta usaha besar sebanyak 414 unit, (2) penyebaran tenaga kerja sejumlah 1.018.700 orang, (3) jumlah UKM yang dibina dari tahun 2004 sampai tahun 2008 sejumlah 2.453 unit. Ada beberapa kendala yang perlu diperhatikan dalam peningkatan produksi UKM dan pengrajin, yaitu: (1) Saat ini perkembangan alat peralatan teknologi modern sudah lebih maju sehingga banyak yang berpindah dari alat tradisional ke alat modern, namun alat yang ada tidak dapat dimanfaatkan.

144

ANALISIS KEBUTUHAN PERALATAN DI SENTRA GERABAH (Riana Panggabean)

(2)

Selama ini bahan baku tanah liat dijemur diterik matahari kurang lebih satu minggu di jalan raya, kegiatan ini menggangu lalu lintas, tidak higenis dan porositasnya tinggi/merembes. Kebiasaan para ibu pengrajin dalam membuat gerabah adalah kurangnya kebersihan. Misalnya sambil membuat gerabah, menyusui anaknya dalam tangan penuh tanah. Hal ini erat kaitannya dengan aspek kesehatan reproduksi. Pembakaran gerabah dilakukan jerami kering, daun kelapa kering ataupun kayu bakar. Kegiatan ini sangat mengganggu lingkungan dan berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat karena pencemaran lingkungan. Jumlah produk olahan gerabah di Kecamatan Banyumulek mencapai sekitar 300 jenis. Selain itu, para perajin gerabah Banyumulek juga menciptakan gerabah dengan ciri khas yang tidak terdapat pada produk gerabah lainnya, yaitu bercak kecoklat-coklatan pada permukaannya, yang dihasilkan dari semprotan larutan buah. Untuk membuat gerabah ini diperlukan peralatan/teknologi agar UKM dan Pengrajin mampu memenuhi permintaan pasar

(3)

(4)

(5)

Dalam analisis ini dijelaskan jenis peralatan dan bagaimana mengoptimalkan peralatan agar bermanfaat bagi peningkatan usaha UKM dan Perajin. 1.2 Perumusan Masalah Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa masalah yang akan dianalisis dalam kajian ini adalah: (1) kebutuhan peralatan apa yang diperlukan oleh UKM di sentra gerabah, dan (2) bagaimana mengoptimalkan peralatan agar bermanfaat bagi UKM dan pengrajin. 1.3 Tujuan Kajian dan Manfaat Penelitian Tujuan kajian adalah: (1) mengetahui kebutuhan peralatan untuk UKM di sentra gerabah dan (2) mengetahui optimalisasi peralatan agar bermanfaat bagi pengrajin dan UKM. Manfaat penelitian ini adalah sebagai bahan masukan untuk pengambil kebijakan dalam rangka pengembangan peran UKM di sentra gerabah untuk memperbaiki kualitas gerabah sesuai dengan permintaan pasar.

145

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 142 - 158

II. 2.1.

TINJAUAN KONSEP DAN KERANGKA KAJIAN Tinjauan Konsep Gerabah dan Peralatan Pembuatannya Menurut Tim Peneliti Pusat Pengembangan Industri Budaya (2010), gerabah adalah salah satu jenis keramik menurut tingkat kepadatan tertentu sedangkan keramik meliputi semua benda-benda yang terbuat dari tanah liat/ lempung yang mengalami suatu proses pengerasan dengan pembakaran suhu tinggi. Pengertian keramik yang lebih luas dan umum adalah “Bahan yang dibakar tinggi” termasuk didalamnya semen, gips, metal dan lainnya. Gerabah (Earthenware), dibuat dari semua jenis bahan tanah liat yang plastis dan mudah dibentuk dan dibakar pada suhu maksimum 1000°C. Keramik jenis ini struktur dan teksturnya sangat rapuh, kasar dan masih berpori. Supaya kedap air, gerabah kasar harus dilapisi glasir, semen atau bahan pelapis lainnya. Gerabah termasuk keramik berkualitas rendah apabila dibandingkan dengan keramik batu (stoneware) atau porselin. Bata, genteng, paso, pot, anglo, kendi, gentong dan sebagainya termasuk keramik jenis gerabah. Genteng telah banyak dibuat berglasir dengan warna yang menarik sehingga menambah kekuatannya. Menurut Widarto (2010), Banyumulek semula hanya memproduksi gerabah dengan jenis alat-alat rumah tangga dan dapur. Namun sejak memperoleh pembinaan oleh para pemasok dari Selandia Baru pada tahun 1986, produk gerabah mulai mengalami perubahan dari hanya sekedar membuat alat-alat rumah tangga dan dapur menjadi barang-barang yang mempunyai nilai seni. Pada saat ini motif dan desain gerabah Banyumulek mencapai sekitar 300 jenis. Di samping itu, para perajin gerabah Banyumulek juga menciptakan gerabah dengan ciri khas yang tidak terdapat pada produk gerabah lainnya, yaitu bercak kecoklat-coklatan pada permukaannya, yang dihasilkan dari semprotan larutan buah asam. Selanjutnya, untuk lebih memperkaya motif hiasnya, sebagian dari gerabah yang telah selesai dibakar diberi hiasan tambahan dari bahan-bahan tertentu, antara lain: daun, kulit telur, dan anyaman rotan. Banyaknya jenis gerabah ini tentunya memerlukan peralatan dan teknologi yang dapat membantu pengrajin untuk mengerjakannya. Menurut Pusat Tim Penelitian dan Pengembangan Budaya Kab Lombok Barat (2010), cara pembuatan atau teknik pembuatan keramik: (1) teknik coil (lilit pilin), (2) teknik tatap batu/pijat jari dan (3) teknik slab (lempengan). Cara pembentukan dengan tangan langsung seperti coil, lempengan atau pijat

146

ANALISIS KEBUTUHAN PERALATAN DI SENTRA GERABAH (Riana Panggabean)

jari merupakan teknik pembentukan keramik tradisional yang bebas untuk membuat bentuk-bentuk yang diinginkan. Bentuknya tidak selalu simetris. Teknik ini sering dipakai oleh seniman atau para penggemar keramik. Teknik pembentukan dengan alat putar dapat menghasilkan banyak bentuk yang simetris (bulat, silindris) dan bervariasi. Cara pembentukan dengan teknik putar ini sering dipakai oleh para pengrajin di sentra-sentara keramik. Pengrajin keramik tradisional biasanya menggunakan alat putar tangan (hand wheel) atau alat putar kaki (kick wheel). Para pengrajin bekerja di atas alat putar dan menghasilkan bentuk-bentuk yang sama seperti gentong, guci, dan lain-lain. Menurut kamus teknologi gerabah (2010) teknik pembentukan dengan cetak dapat memproduksi barang dengan jumlah yang banyak dalam waktu relatif singkat dalam bentuk dan ukuran yang sama. Bahan cetakan yang biasa dipakai adalah berupa gips, seperti untuk cetakan berongga, cetakan padat, cetakan jigger maupun cetakan untuk dekorasi tempel. Cara ini digunakan pada pabrik-pabrik keramik dengan produksi massal, seperti alat alat rumah tangga piring, cangkir, mangkok gelas dan lain-lain. Disamping cara-cara pembentukan di atas, para pengrajin gerabah/ keramik tradisonal dapat membentuk keramik dengan teknik cetak pres, seperti yang dilakukan pengrajin genteng, tegel dinding maupun hiasan dinding dengan berbagai motif seperti binatang atau tumbuh-tumbuhan (ibid, 2010). Beberapa teknik dekorasi gerabah/keramik meliputi dekorasi: ukir, toreh, melubangi, stempelan/cap, tempel lukis dan sablon. Dekorasi toreh dilakukan dengan menggunakan benda tajam seperti pisau. Torehan-torehan tersebut membentuk motif-motif sesuai dengan yang diinginkan seperti garis-garis maupun relung-relung. Biasa dijumpai pada pengrajin keramik tradisional di Lombok yang diterapkan pada gentong, kendi dan piring. Dekorasi melubangi dilakukan dengan cara melubangi bagian-bagian yang ingin dihias dengan menggunakan pipa logam yang dipotong miring. Dekorasi semacam ini diterapkan pada barang-barang seperti tempat lilin dan kap lampu. Dekorasi stempelan/cap teknik stempelan/cap dapat diterapkan pada keramik dengan menekankan sebuah stempelan pada permukaan benda keramik. Stempelan bisa dibuat dari kayu, logam, gips, atau menggunakan tanah yang dibakar. Dekorasi tempel dilakukan dengan menempelkan motif-motif tertentu yang dibuat dari cetakan atau dibuat langsung dengan tangan. Dekorasi lukis dekorasi teknik lukis baik lukis on glaze (di atas glasir) maupun under glaze (di bawah glasir) diterapkan pada benda keramik dengan cara melukis di atas benda keramik yang sudah diglasir maupun sebelum diglasir dengan menggunakan pewarna 147

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 142 - 158

khusus keramik, dengan penyelesaian akhir dibakar pada temperatur ±800°C. Teknik dekorasi lukis ini tidak menutup kemungkinan untuk diterapkan pada keramik tradisional. Namun bahan pewarna yang digunakan berbeda dengan keramik halus. Bahan pewarna yang dipakai adalah seperti cat paragon, asturo yang tidak dibakar lagi (ibid, 2010). Dekorasi sablon dan dekorasi stiker khusus teknik sablon dan teknik stiker tidak dapat diterapkan pada keramik tradisional, akan tetapi hanya dapat diterapkan pada keramik halus (stone ware) dan porselin sebab keramik tradisional mempunyai porositas yang tinggi sehingga penyerapan warna tidak bagus. Demikian juga, bahan yang digunakan tidak cocok untuk badan keramik tradisional, seperti pewarna khusus keramik, medium dan lain-lain. Teknik ini dapat dilakukan dengan menyablon langsung di atas benda keramik atau dengan membuat stiker terlebih dahulu kemudian ditempelkan pada permukaan benda keramik. Teknik sablon langsung hanya dapat diterapkan pada benda-benda keramik yang mempunyai permukaan datar seperti pada tegel sebab alat yang digunakan berupa screen segi empat dengan permukaan mendatar dan langsung bersentuhan dengan permukaan benda keramik. Sedangkan teknik stiker dapat diterapkan pada semua jenis permukaan teknik sablon dan stiker sama halnya dengan teknik lukis dengan penyelesaian akhir dibakar pada temperatur ± 800°C (ibid, 2010). Definisi Sentra dan Klaster Menurut Tehnical Asisten Asia Development Bank (2001) sentra adalah bagian dari klaster industri yang terbentuk akibat pengelompokan dan kerjasama horisontal. Sentra merupakan kumpulan dari beberapa produsen produk sejenis yang berada dalam posisi yang sama dalam mata rantai nilai. Sedangkan klaster mencakup juga hubungan/pengelompokan/kerjasama vertikal antara sentra dengan perusahaan lain dalam mata rantai nilai dan ��s���us� l��� d� lu�� ��u y��� �������u p��c�p���� �uju��. D��� d�����s� d� atas konsep sentra dengan klaster belum dapat dibedakan secara tegas dan umumnya bersifat saling menggantikan. Klaster merupakan suatu kumpulan dari berbagai unit usaha yang satu sama lainnya berhubungan secara kemitraan dan fungsional dalam suatu kawasan tertentu dan dalam satu pengelolaan terpadu (Farid Ma’ aruf, 2008).

148

ANALISIS KEBUTUHAN PERALATAN DI SENTRA GERABAH (Riana Panggabean)

Manajemen Teknologi /Peralatan Pengertian manajemen teknologi dalam kajian ini mengatur atau mengelola teknologi agar berdaya guna, berhasil guna, terintegrasi dan terkordinasi agar teknologi yang dibutuhkan mencapai tujuan yang optimal (Hasibuan, 2006). Apa yang diatur adalah semua unsur-unsur manajemen yang terdiri dari men, money, methods, machine market yang ditimbulkan oleh proses teknologi. Yang mengatur adalah pimpinan atau petugas melalui instruksi agar mencapai tujuan yang diinginkan. Cara mengatur, melalui proses dari urutan fungsi-fungsi manajemen input produksi, produksi, pengolahan dan pemasaran. 2.2 Kerangka Kajian

Gambar 1. Analisis Kebutuhan Peralatan Sentra Klaster Gerabah Dari gambar di atas kajian ini mencoba mengamati: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk membuat bahan baku menjadi barang jadi atau barang setengah jadi. Jenis-jenis teknologi yang dimiliki UKM untuk membuat gerabah. Teknologi yang masih dibutuhkan untuk meningkatkan produksi atau mengikuti permintaan pasar. Kemampuan yang diperlukan untuk memanfaatkan teknologi tersebut. Pendidikan yang dibutuhkan untuk memanfaatkan teknologi tersebut. Kebutuhan modal yang dibutuhkan agar teknologi yang diminta bermanfaat seoptimal mungkin. 149

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 142 - 158

III. 3.1.

METODOLOGI PENELITIAN Metode Penelitian Metode penelitian yang dilakukan untuk melaksanakan kajian ini adalah metode survey. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Lombok Barat, Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Waktu penelitian dimulai dari bulan Februari sampai dengan bulan Desember 2010. Data dan informasi yang digunakan dalam kajian ini terdiri dari data sekunder dan data primer. Data sekunder bersumber dari instansi terkait, internet dan makalah, sedangkan data primer bersumber dari UKM responden melalui kuesioner yang disediakan: pengumpulan data primer diperkuat dengan diskusi melalui metode Foccus Group Discussion (FGD). Teknik penarikan lokasi sampel dalam kajian ini dilakukan dengan metode purposive dengan ciri di kabupaten/kota yang bersangkutan terdapat sentra/klaster gerabah yang masih aktif. Jumlah sampel UKM masing-masing satu sentra adalah 10 orang.

3.2.

Teknik Analisis Data Metode analisis yang digunakan dalam kajian ini adalah A dilakukan sebagai berikut: (1) (2) (3) (4) (5) ��d� ��h�p p������ d�l��u��� �d��������s� �������� d�� p���l���� y��� digunakan untuk mengolah bahan baku menjadi barang jadi. ��d� ��h�p ��du� d�l��u��� �d��������s� ���u�uh�� ����olo�� y��� dibutuhkan oleh pasar (dalam negeri maupun luar negeri/eksportir). Pada tahap ketiga ditentukan kebutuhan teknologi yang prioritas sesuai dengan permintaan pasar. ��d� ��h�p ����p�� d�����u��� �d��������s� �������p�l�� �p� y��� dibutuhkan untuk menggunakan teknologi tersebut. ��d� ��h�p ��l��� d��d��������s� ���u�uh�� �od�l y��� d�p��lu��� untuk mengoperasionalkan teknologi tersebut.

150

ANALISIS KEBUTUHAN PERALATAN DI SENTRA GERABAH (Riana Panggabean)

IV.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ��o��l s����� ������h d� ��op��s� NTB, d�p�� d�l�h�� p�d� T���l 1 menunjukkan bahwa sebanyak 13 pengusaha gerabah atau 86,6% telah melakukan ekspor, dua diantaranya melakukan ekspor ke tiga negara, yaitu Norwegia, England dan Belgia, dan sepuluh pengusaha melakukan ekspor ke 12 negara, yaitu Jepang, Jerman, Kanada, Amerika, Prancis, Australia, Belanda, China, Newzeland, Belgia, Inggris dan Rusia. Jumlah tenaga kerja rata-rata per pengusaha sebanyak 27 orang dan besarnya omset rata-rata Rp.71.675.029,00. ��o��l U�M ��� ���up���� �od�l u��u� l���h ������������ p���� U�M sekaligus mendorong kelancaran ekonomi para pengrajin dan masyarakat disekitarnya. Contoh ini memperkuat alasan bahwa UKM perlu menggunakan teknologi agar selalu mampu mengikuti perkembangan pasar. 4.1. Proses Pembuatan Gerabah Seluruh rangkaian kegiatan proses produksi gerabah, pada umumnya dilakukan oleh pengrajin sendiri. Kegiatan produksi dimulai dari pengadaan bahan baku berupa tanah liat dan pasir. Selanjutnya bahan-bahan tersebut dijemur, dihancurkan, diayak, dicampur dan kemudian direndam dan dilumatkan menjadi bahan setengah jadi. Pada tahap berikutnya membentuk, menjemur, membakar dan mensortir sebagai produk siap dipasarkan. Ada beberapa pengrajin yang telah menyempurnakan produknya dengan pewarna, memberi motif dalam gambar, menambah anyaman rotan atau bambu pada produksinya. Namun pada umumnya penyempurnaan produk dilakukan oleh pihak lain dengan cara mengupahkan, dan jarang yang dilakukan oleh perajin sendiri secara skematis proses produksi gerabah dapat dilihat pada gambar 2. Tabel 1. Pro��l ������ G�����h d� ��op��s� NTB

151

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 142 - 158

Sumber: Profil Sentra UKM. Dinas Koperasi dan UKM 2008

Gambar 2. Skema Proses Produksi Gerabah di Banyumulek Sumber: Lindrawati, 2010 4.2. Identifikasi Peralatan UKM yang Sudah Dimiliki Pada Tabel 2 dapat dilihat bahwa peralatan yang telah dimiliki oleh UKM untuk membuat barang jadi gerabah ditempatkan di Pasar Seni Kecamatan Banyumulek. Ada 21 jenis peralatan yang ditempatkan di Pasar Seni Kecamatan Banyumulek. Semua jenis peralatan tersebut merupakan contoh peralatan modern yang diperlukan untuk kegiatan produksi dan pengolahan gerabah. 152

ANALISIS KEBUTUHAN PERALATAN DI SENTRA GERABAH (Riana Panggabean)

Menurut UKM sampai saat kajian ini dilakukan peralatan tersebut belum bisa dimanfaatkan karena UKM belum paham menggunakannya. UKM meminta agar diadakan pelatihan agar semua peralatan tersebut dapat dimanfaatkan. Temuan ini diperkuat oleh hasil survey dan penelitian Pusat Penelitian Peranan Wanita (P3W) UNRAM tentang kehidupan pengrajin gerabah selama ini disimpulkan bahwa (1) diawali dengan temuan masih rendahnya pemahaman tentang hidup bersih dan keluhan adanya gangguan pada organ reproduksi, (2) jumlah alat-alat produksi dan kelengkapan untuk Pasar Seni cukup banyak, kendalanya pengrajin belum bisa mengoperasikan alat tersebut dan membutuhkan daya listrik yang tinggi, (3) di masyarakat alat-alat produksi serba terbatas, (4) pengrajin dan UKM tetapi belum mampu membeli. Untuk memanfaatkan peralatan modern seperti pada Tabel 2 diperlukan (1) pelatihan penggunaan alat-alat produksi yang tersedia di Pasar Seni, (2) penambahan daya listrik, (3) sosialisasi pentingnya kesehatan reproduksi dan memanfaatkan klinik sehat dan (4) tungku botol untuk menghindari polusi waktu pembakaran. Tabel 2. Peralatan yang Dimiliki UKM di Pasar Seni

Sumber : Responden UKM

153

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 142 - 158

Tabel 3 di bawah ini menunjukkan ada 5 jenis peralatan yang digunakan oleh pengrajin dan UKM untuk kegiatan produksi dan pengolahan gerabah selama ini. Alat tersebut meliputi alat putar, tempat pembakaran,alat gerak, alat gosok dan alat bantu. Alat bantu yang digunakan seperti sandal bekas, sikat cuci, kain kelambu, kain lap (kain bekas dan sikat gigi bekas. Kondisi ini memperkuat pernyataan di atas bahwa peralatan yang digunakan masih sangat tradisional. Tabel 3. Peralatan Tradisional yang Dimiliki

Sumber : Responden UKM dan Pengrajin.

4.3

Kebutuhan Peralatan /Teknologi Responden ��s�l �d��������s� ���u�uh�� ����olo�� p�d� T���l 4. ���j�l�s��� ��hw� semua jenis kebutuhan peralatan yang diperlukan adalah jenis peralatan yang digunakan untuk kegiatan produksi/pengolahan mulai dari mesin pengolah tanah, penghancur, mesin press, alat ukur kadar tanah, cetak, grift, cetak karet. Alat komputer dibutuhkan untuk informasi mengenai model dan pemasaran. teknologi tersebut penting untuk membantu proses pembuatan gerabah lebih cepat dan lebih bersih dari sebelumnya. Selain untuk mempercepat produksi dan pengolahan alat itu direncanakan untuk meningkatkan mutu produk. Alat ukir listrik diperlukan untuk menghias gerabah dalam rangka mengikuti model. Selama ini pengrajin baru memiliki peralatan sederhana dan mempunyai kecenderungan penggunaannya kurang bersih. Memiliki teknologi seperti disebut pada Tabel 4 dapat juga merubah perilaku pengrajin dari kebiasaan kurang menjadi lebih bersih dan tidak mengganggu organ reproduksi. Memiliki

154

ANALISIS KEBUTUHAN PERALATAN DI SENTRA GERABAH (Riana Panggabean)

jenis-jenis teknologi ini diperkirakan pengrajin gerabah dapat bersaing dan memenuhi permintaan pasar dalam negeri dan luar negeri. Tabel 4. Kebutuhan Teknologi yang Diperlukan Responden

Sumber : UKM Responden, 2010

4.4.

Optimalisasi Peratan/Teknologi Gerabah Peralatan/teknologi yang dibutuhkan agar bermanfaat bagi UKM dan Pengrajin perlu didukung oleh pendidikan dan modal.

4.5.

Kebutuhan Pendidikan dan Modal Pengalaman pengrajin gerabah di Pasar Seni yang telah mendapatkan bantuan peralatan teknologi dari Dinas Perindustrian menunjukkan bahwa jenis peralatan pada Tabel 2 sampai saat penelitian belum dapat dioperasionalkan karena alat tersebut baru bagi mereka dan belum pernah dioperasionalkan. Oleh

155

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 142 - 158

sebab itu jika peralatan atau teknologi pada Tabel 4 dipenuhi pengadaannya diperlukan pendidikan bagi pengrajin agar teknologi tersebut tidak mubazir. Selain pendidikan teknis peralatan diperlukan pendidikan bahasa Inggris bagi UKM. Bahasa Inggris perlu untuk sarana komunikasi pemasaran bagi tamu dan buyers luar negeri. Pada umumnya pengrajin tidak memiliki kemampuan modal untuk membeli teknologi yang dibutuhkan. Oleh sebab itu diperlukan bantuan modal untuk membeli dan mengoperasionalkan jenis teknologi sesuai permintaan. ��s�l �d��������s� p�d� 16 ��spo�d�� ���j�l�s���, �d� s����y�� 6 reseponden (37,5%) mengajukan modal antara Rp. 3,5 juta sampai Rp. 335 juta seperti terlihat pada Tabel 5. Tabel 5. Kebutuhan Modal dan Pendidikan Responden

156

ANALISIS KEBUTUHAN PERALATAN DI SENTRA GERABAH (Riana Panggabean)

V.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil analisis di atas dapat ditarik kesimpulan dan saran sebagai berikut: UKM dan pengrajin gerabah sebagian besar masih menggunakan teknologi sederhana. Jenis kebutuhan peralatan/teknologi pengrajin gerabah dapat dikelompokkan pada tiga jenis yaitu jenis peralatan/teknologi untuk pengolahan bahan baku, pencetakan, pembentukan dan pemasaran. Untuk mengoptimalkan peralatan/teknologi yang diperlukan UKM dan Pengrajin diperlukan pendidikan dan modal. Ada keinginan pengrajin/UKM untuk memiliki teknologi modern namun para UKM dan pengrajin belum mampu untuk membeli. Karena pada umumnya pengrajin tidak memiliki kemampuan modal. Oleh sebab itu diperlukan bantuan modal untuk membeli dan mengoperasionalkan jenis teknologi sesuai permintaan. Selain pendidikan mengoperasionalkan peralatan/teknologi diperlukan pendidikan bahasa Inggris bagi UKM dan Pengrajin agar mampu melayani pembeli luar negeri. DAFTAR PUSTAKA Anonimus. 2010. Kamus Ilmiah Teknologi Pembuatan Keramik. Kamus Ilmiah. com/ Teknologi. Teknologi Pembuatan Keramik. ................ 1988. Peranan Pembangunan Pertanian dalam Perluasan Kesempatan Kerja dan Meningkatkan Pendapatan Petani. Prosiding Seminar Sehari YPPTI. Bogor, 18 Juni 1988. Binswanger, Hans P, Vernon W, dan Ruttan. 1978. Induced Inovation Technology, Institution and Development. Baltimore, Johns Hopkins University Press. Faisal Kasrino. 1983. Prospek Pembangunan Ekonomi Pedesaan Indonesia. Yayasan Obor Indonesia. Linrawati, 2010. Makalah Pengembangan UKM di Sentra Gerabah Desa Banyumulek. Malayu Nasution. 2006. Manajemen Dasar, Pengertian dan Masalah. Bumi Aksara. M.Echols, John dan Hasan Shadly. 2005. Kamus Inggris Indonesia. PT Gramedia. Jakarta. Mubyarto. 1985. Peluang Kerja dan Berusaha di Pedesaan. BPFE untuk P3PK Yogyakarta.

157

JURNAL VOLUME 6 - SEPTEMBER 2011 : 142 - 158

Nunung Kusnadi, Anna Fariyanti, Dwi Rachmina dan Siti Jahron. 2009. Bunga Rampai Agribisnis Seri Pemasaran. IPB Press. Ridwan. 2007. Skala Pengukuran Variabel-variabel Penelitian. Penerbit Alfabeta Bandung. S Nasution. 1987. Metode Research. Penerbit Jemmars Bandung. Tim Peneliti. 2010. Penelitian dan Pengembangan Strategi Industri Budaya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Industri Budaya. Widarto. 2010. Teknologi Tepat Guna Membuat Gerabah. Penerbit Kanisius.

158

ISSN 1978-2896

INDEKS ISI JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM

Terbit: September 2011

Johnny W. Situmorang (Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK) UJI KERAGAMAN KOPERASI BERPRESTASI BERDASARKAN SKALA USAHA TAHUN 2009 JRL. Sept. 2011 PENGKAJIAN KUKM Vol. 6-Sept 2011 h. 1 - 23

dikelompokkan menjadi permasalahan pokok sebagai berikut: (1) Idiologis Normatif Koperasi, (2) Kebijakan Pembangunan Ekonomi Nasional, (3) Kebijakan Pemberdayaan Koperasi dan UMKM, (4) Koordinasi Pemberdayaan Koperasi dan UMKM, (5) Kelembagaan Koperasi, (6) Usaha Koperasi, (7) Kondisi/karakter awal UMKM, (8) Kondisi Usaha UMKM, (9) Produksi dan Teknologi UMKM, (10) Kebijakan Otonomi Daerah dan (11) Program Pemberdayaan Koperasi dan UMKM. Permasalahan di atas diduga menjadi penyebabnya rendahnya produktivitas dan daya saing koperasi. Beberapa indikasi menunjukkan bahwa permasalahan tersebut terkait langsung kebijakan dasar pembangunan yang semakin tidak berpihak pada upaya memberdayakan Koperasi dan UMKM. Untuk mengatasi permasalahan ini hasil analisis skala prioritas menyarankan agar dilakukan reorientasi kebijakan dasar pembangunan yang lebih diarahkan lagi pada kebijakan dan program-program yang menekankan pemberdayaan Koperasi dan UMKM, khusus untuk meningkatkan kondisi internal UMKM dan iklim usaha yang kondusif. Sejalan konsepsi dasar tersebut, faktor yang perlu diperkuat adalah posisi koperasi sebagai lembaga pemberdayaan UMKM. Upaya ini dilakukan melalui peningkatkan intensitas pembinaan koperasi, sosialisasi peran dan kedudukan koperasi dalam pembangunan nasional, serta melaksanakan program sosialisasi tentang kepentingan peran koperasi dalam mendukung pembangunan nasional. Satu hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah pengembangan sistem koordinasi program-program pemberdayaan koperasi dan UMKM baik antara instansi sektoral, maupun antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Kata kunci: skala prioritas, pemberdayaan koperasi dan UMKM Johnny W. Situmorang dan Saudin Sijabat (Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK) KOPERASI DAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI INDONESIA : TINJAUAN PROBABILITAS TINGKAT ANGGOTA KOPERASI DAN TINGKAT KEMISKINAN PROPINSI JRL. Sept. 2011 PENGKAJIAN KUKM Vol. 6-Sept 2011 h. 43 - 69

Berdasarkan konstitusi hukum dan perundangundangan Indonesia (UUD 1945, UU 25 tahun 1992, UU 34/2002, dan UU 38/2009), perkembangan Koperasi di Indonesia menjadi penguasaan penuh pemerintah. Peran pemerintah, terutama Kementrian Koperasi dna UKM, dalam hal pembangunan nasional, adalah untuk memfokuskan dan mempertajam tugas pemerintah. Dalam mempromosikan Koperasi, terdapat ratusan ribu koperasi yang beroperasi di bidang usaha. Salah satu usaha pemerintah adalah untuk menghargai kemajuan koperasi. Dalam hal penghargaan, Kementrian Koperasi dan UKM membedakan menjadi lima tipe koperasi, antara lain simpan-pinjam, produksi, konsumsi, pemasaran, dan jasa. Pada tahun 2009, pemerintah telah mendapatkan 75 koperasi dengan predikat beprestasi. Masalahnya adalah apakah perbedaan koperasi adalah signifikan. Dengan analisa variansi, makalah mengungkapakan bahwa tidak ada bukti perbedaan variansi diantara koperasi berdasarkan bidang usaha. Maka dari itu kebijakan dan perlakuan pemerintah untuk mendukung koperasi seharusnya tidak dibedakan. Kata kunci : peraturan, kebijakan, koperasi, berprestasi, keragaman, uji-F Teuku Syarif (Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK) KAJIAN SKALA PRIORITAS PROGRAM PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN UMKM JRL. Sept. 2011 PENGKAJIAN KUKM Vol. 6-Sept 2011 h. 24 - 42

Dari hasil penyusunan Daftar Inventarisasi Masalah yang dilakukan oleh Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2009, diketahui bahwa ada 186 masalah Koperasi yang harus dicarikan solusinya. Dengan menggunakan Analisis Skala Prioritas berdasarkan pertimbangan tingkatan, dampak, penyebaran, intensitas dan ketersediaan sumberdaya, ke-186 masalah tersebut dapat

Hal ini sejalan dengan program global dalam MDGs. Semua badan pemerintah Republik Indonesia

ISSN 1978-2896

INDEKS ISI JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM

Terbit: September 2011

akan mengarahkan sumber daya untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia. Pemerintah Indonesia telah menyatakan cerita sukses untuk mengatasi kemiskinan dengan menurunkan jumlah dan tingkat penduduk miskin di Indonesia, meskipun, jumlah dan tingkat kemiskinan masih tinggi di Indonesia. Kementerian Koperasi & UKM sebagai salah satu instansi pemerintah untuk pengentasan kemiskinan dalam responsdvel panjang Cluster-3, mengacu pada Kementerian Koordinator untuk cluster Kesejahteraan Rakyat. Sementara itu, pengembangan koperasi telah menunjukkan hasil dimana jumlah anggota koperasi adalah satu juta orang dan sisi lain jumlah orang miskin masih tinggi. Hal ini tertarik untuk mengetahui hubungan antara pembentukan koperasi dan pengurangan kemiskinan. Dengan teori probabilitas dan ruang lingkup provinsi, yang mengungkapkan bahwa hubungan koperasi dan kemiskinan Kata kunci: tingkat kemiskinan, tingkat anggota koperasi, relasi, probabilitas Achmad H. Gopar Sumberdaya UKMK) (Deputi Bidang Pengkajian

koperasi. Modal penyertaan pada model ini tidak mempunyai hak suara (nonvoting stock), karena hanya anggota yang mempunyai hak suara. Untuk mengatasi permasalahan tersebut hal yang menjadi sumber wanpretasi dinegosiasikan sejak awal dan dituangkan dalam surat perjanjian modal penyertaan (SPMKOP), dengan tingkat pendapatan tetap berupa prosentase dari keuntungan sebesar 70% untuk koperasi dan 30% untuk Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Ketiga bentuk kelembagaan tersebut akan mengubah sistem operasional dan prosedur yang harus dijalankan oleh koperasi. Perubahan bentuk kelembagaan maupun sistem operasional tersebut pada tingkatan tertentu mungkin tidak bisa lagi hanya diatur dengan aturan internal dan perjanjian, tapi memerlukan pengaturan pemerintah atau perundangan, baik dalam bentuk revisi Peraturan Pemerintah (PP) atau bahkan perubahan Undang Undang. Kata kunci : modal penyertaan, hak suara, hak keuntungan, investasi, saham tanpa hak suara, deviden Indra Idris dan Saudin Sijabat MODEL PENINGKATAN PERAN KUMKM DALAM PENGEMBANGAN KOMODITAS UNGGULAN DI KAWASAN PERBATASAN JRL. Sept. 2011 PENGKAJIAN KUKM Vol. 6-Sept 2011 h. 89 - 123

KAJIAN PENYERTAAN MODAL PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN KE KOPERASI JRL. Sept. 2011 PENGKAJIAN KUKM Vol. 6-Sept 2011 h. 70 - 88

Koperasi sebagai badan usaha adalah sebuah lembaga yang dinamis yang perlu terus dikembangkan lembaganya dan diperbesar usahanya. Untuk memperbesar usahanya tersebut koperasi memerlukan modal, baik yang berasal dari internal koperasi maupun yang berasal dari eksternal koperasi. Ketika modal sendiri tidak mencukupi maka koperasi harus mencari modal dari luar koperasi. Salah satu bentuk modal dari luar tersebut adalah modal penyertaan. Setidaknya ada tiga bentuk kelembagaan sebagai konsekuensi pelaksanaan modal penyertaan, yaitu: modal penyertaan langsung pada kegiatan usaha koperasi, modal penyertaan pada unit usaha otonom koperasi, dan modal penyertaan pada perseroan milik koperasi. Modal penyertaan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dilakukan langsung pada kegiatan usaha koperasi untuk menambah modal kegiatan usaha

Kajian ini bertujuan menganalisis pembangunan ekonomi masyarakat di kawasan perbatasan dan peran KUMKM dalam rangka pengentasan kemiskinan. Penelitian dilakukan di daerah perbatasan Kalimantan Barat dan NTT. Potensi daerah perbatasan yang bisa dikembangkan berdasarkan analisa Location Quotient (LQ), AHP dan hasil FGD di Kupang dan Pontianak disepakati komoditi potensial/unggulan yang perlu dikembangkan dalam peningkatan peran KUMKM di kawasan perbatasan Kabupaten Belu (NTT) adalah: komoditi sapi dan jagung, sedangkan untuk Kabupaten Sanggau (Kalbar) adalah komoditi lada dan kakao. Potensi KUMKM perbatasan Sanggau terhadap Kabupaten Sanggau untuk koperasi memberikan share sebesar 2%, usaha mikro sebesar 5% dan usaha kecil sebesar 2%. Pada kawasan perbatasan Kabupaten Belu dengan Timor Leste potensi koperasi memberikan share

ISSN 1978-2896

INDEKS ISI JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM

Terbit: September 2011

sebesar 1,7%, usaha mikro sebesar 3,2%, usaha kecil sebesar 2,3% dan usaha menengah sebesar 3%. Peran KUMKM, terutama Koperasi masih kecil dalam pemberdayaan kawasan perbatasan, dan belum berfungsi dengan baik untuk pemberdayaan masyarakat perbatasan. Untuk peningkatan peran KUMKM telah dirancang model yang diharapkan dapat meningkatkan share KUMKM kawasan perbatasan dalam jangka waktu 5 tahun kedepan untuk Kabupaten Sanggau dengan Malaysia dari 5% menjadi 15%, sedangkan untuk kawasan perbatasan Kabupaten Belu dengan Timor Timur dari 3% menjadi 10%. Model yang dirancang sesuai dengan skenario kecenderungan masyarakat yang hanya menjual bahan baku tanpa pengolahan dengan menciptakan barang setengah jadi atau produk akhir. Untuk penerapan model ini sebaiknya terlebih dahulu dibuat pilot proyek oleh pihak-pihak terkait.

serta regulasi penjaminan kredit perbankan di Indonesia. HKI memiliki prospek untuk dijadikan collateral kredit, karena HKI memiliki nilai ekonomi yang dapat dihitung berdasarkan harga pasar, dapat dieksekusi, dapat beralih atau dialihkan, baik seluruhnya maupun sebagian karena pewarisan, hibah, wasiat, perjanjian tertulis atau sebabsebab lain yang dibenarkan oleh peraturan perundangundangan. Selain itu, perjanjian penjaminan kredit, termasuk menggunakan HKI sebagai collateral pada umumnya diikat dengan akta notaris yang bersifat baku dan bersifat eksekutoral. Kata kunci: Hak Kekayaan Intelektual (HKI), collateral Riana Panggabean Sumberdaya UKMK) (Deputi Bidang Pengkajian

ANALISIS KEBUTUHAN PERALATAN DI SENTRA GERABAH Vol. 6-Sept 2011 h. 142 - 158

Kata kunci: model KUMKM, potensi daerah tertinggal, JRL. Sept. 2011 dan kawasan perbatasan PENGKAJIAN Akhmad Junaidi (Deputi Pengkajian Sumberdaya KUKM

UKMK) dan Muhammad Joni ((Peneliti Madya Koperasi Tujuan kajian adalah mengetahui kebutuhan pada Kementerian Koperasi dan UKM dan Advokat & peralatan/teknologi untuk UKM di sentra gerabah dan Konsultan Hukum pada Law Office Joni & Tanamas) mengetahui optimalisasi peralatan/ teknologi gerabah. Manfaat penelitian ini sebagai bahan masukan untuk PEMANFAATAN SERTIFIKAT HKI SEBAGAI pengambil kebijakan dalam rangka pengembangan peran UKM di sentra gerabah dan perbaikan kualitas gerabah COLLATERAL KREDIT sesuai dengan permintaan pasar. JRL. Sept. 2011 PENGKAJIAN KUKM Kesimpulan dan saran hasil kajian ini adalah UKM dan pengrajin gerabah sebagian besar masih menggunakan teknologi sederhana. Jenis kebutuhan peralatan/teknologi pengrajin gerabah dapat dikelompokHak Kekayaan Intelektual (HKI) di negara-negara kan pada tiga jenis yaitu teknologi untuk pengolahan maju telah diperluas pemanfaatannya sebagai collateral bahan baku, pembentukan, pencetakan dan pemasaran. untuk mendapatkan kredit atau pembiayaan dari lembaga Untuk mengoptimalkan peralatan/teknologi yang keuangan. Nilai ekonomi HKI dapat ditentukan dengan menghitung misalnya nilai pasar, biaya diperlukan UKM dan pengrajin adalah pendidikan dan pembuatan/reproduksi, biaya penggantian penyusutan, modal. Ada keinginan pengrajin/UKM untuk memiliki nilai likuidasi, dan nilai asuransi. Permasalahan yang peralatan/teknologi modern namun para UKM dan dihadapi di Indonesia adalah belum tersedianya suatu pengrajin belum mampu untuk membeli. Pada umumnya ketentuan tentang penggunaan HKI sebagai collateral pengrajin tidak memiliki kemampuan modal. Oleh sebab dalam sistem penyaluran kredit perbankan. Tujuan itu diperlukan bantuan modal untuk membeli dan memanfaatkan HKI sebagai collateral kredit adalah mengoperasionalkan jenis teknologi yang sesuai untuk membantu UMKM dan Koperasi dalam permintaan. melengkapi persyaratan perkreditan. Meskipun HKI dapat dimanfaatkan sebagai collateral kredit, namun demikian kedudukannya dalam perjanjian penjaminan adalah bersifat perjanjian tambahan melengkapi suatu perjanjian pokok kredit. Kajian ini menggunakan analisis diskriptif dengan melakukan tinjauan studi pustaka difokuskan untuk menggali peran penting, regulasi HKI Selain pendidikan mengoperasionalkan peralatan/ teknologi diperlukan juga pendidikan bahasa Inggris bagi UKM dan pengrajin agar mampu melayani pembeli dari luar negeri. Kata kunci: kebutuhan pendidikan dan modal peralatan/teknologi, UKM, Vol. 6-Sept 2011 h. 124 - 141

CURRENT CONTENT JOURNAL COOPERATIVE ASSESSMENT AND SMALL MEDIUM ENTERPRISES ISSN 1978-2896 Issued: September 2011 Johnny W. Situmorang (Deputy Minister For Research & Development of SME & Cooperative Resources) COOPERATIVE DIVERSIVITY ACHIEVEMENT TEST EFFORT JRL. Coop. Assessmt. and SME Sept. 2011 BASED ON THE issues as follows: (1) Cooperative Normative ideological, (2) National Economic Development Policy, Policy (3) Empowerment of Cooperatives and SMEs, (4) Coordination Empowering Cooperatives and SMEs, (5) Institutional Cooperation, (6) Cooperative Enterprises, (7) Condition / initial character of SMEs, (8) SME Business Conditions, (9) Production SMEs and Technology (10) Policy and Regional Autonomy (11) Empowerment Program for Cooperatives and SMEs. The above problems are estimated to be the cause of low productivity and competitiveness of cooperatives. Some indications show that this problem is directly related to the fundamental policies of the increasingly unfavorable to efforts to empower cooperatives and SMEs. To overcome this problem the priority scale analysis performed suggests that a more fundamental policy reorientation is directed more to the policies and programs that emphasize empowerment of Cooperatives and SMEs, especially for SMEs and improve the internal conducive business climate. Throughout the basic conception, the factors that need to be strengthened is position as a cooperative institution empowerment of SMEs. This work is done by increasing the intensity of cooperative development, the role of socialization and the position of cooperatives in national development, and implement outreach programs on the importance of the role of cooperatives in support of national development. One other thing that needs attention is the development program coordinated system of cooperatives and SMEs empowerment among sectoral agencies, and between central and local government Key words: scale of priority, empowerment of cooperative and SMEs Johnny W. Situmorang dan Saudin Sijabat (Deputy Minister For Research & Development of SME & Cooperative Resources) COOPERATIVES AND POVERTY ALLEVIATION IN INDONESIA : REVIEW PROBABILITY LEVEL OF COOPERATIVE MEMBERS AND THE PROVINCIAL POVERTY RATE JRL. Coop. Assessmt. and SME Sept. 2011 Vol. 6-Sept. h. 43 - 69

Vol. 6-Sept.

h. 1 - 23

Based on Indonesia constitution and laws (UUD 1945, UU 25 year 1992, UU 34/2002, and UU 38/2009), cooperative development in Indonesia has been the government’s domain. The role of government, especially the Ministry of Cooperative and SME, in term of national development is to focus and sharpen the government tasks. In promoting cooperative, there are hundred thousands of cooperative which operates in few field of business. One of government effort is to valuation the achievement of cooperative. In term of valuation, the Ministry of CSME distinguishes on five types cooperative, which are saving-borrowing, production, consumption, marketing, and services cooperatives. In year of 2009, the government had got 75 cooperatives with predicate of achievement. The problem is whether the distinction cooperative is significance. With analysis of variance, this study has revealed that there is no evidence the distinction of variance between cooperative based on business. So, policies and treatments of government to support cooperative could not necessary be different on cooperative. Key words: regulation, policy, cooperative, achievement, diversity, F-test Teuku Syarif (Deputy Minister For Research & Development of SME & Cooperative Resources) Scale Studies Of Priority Development Programs and Micro Cooperatives of MSME JRL. Coop. Assessmt. and SME Sept. 2011 Vol. 6-Sept. h. 24 - 42

From the preparation of the inventory problem conducted by the Ministry of Cooperatives and SME in 2009, it is known that there are 186 cooperative problems that must find a solution. By using the Priority Scale Analysis is based on the consideration, the level of impact, intensity spread, and the availability of resources, to issue-186 can be grouped into the main

Poverty alleviation is a prime target of Indonesia development of economic. It is in line with global program in term of MDGs. All the government bodies

CURRENT CONTENT JOURNAL COOPERATIVE ASSESSMENT AND SMALL MEDIUM ENTERPRISES ISSN 1978-2896 Issued: September 2011 of Republic of Indonesia shall direct resource for tackling poverty in Indonesia. The government of RoI had declared the successful story for handling poverty with lowering number and rate of people poor in Indonesia, although, number and rate of poverty is still high in Indonesia. The ministry of Cooperative & SME as a one agency of government responsibles for poverty alleviation in term of Cluster-3, refering to Ministry Coordination of People Welfare cluster. Meanwhile, cooperative development had showed outcome where number of cooperative member is a million people and the other side the number of people poor is still high. It is interested to know the relationship between establishment cooperative and poverty alleviation. With probability theory and province scope, it’s revealed that the relationship cooperative and poverty alleviation is not so high. The three formulas would change the institutional and the operational system of cooperative. The changes on certain level might need some revision on the regulation. It is recommended to revise the Government Regulation on cooperative stock and the related regulations. Keywords : cooperative stock, votting rights, profit rights, investment, non votting stock, devidend Indra Idris & Saudin Sijabat (Deputy Minister For Research & Development of SME & Cooperative Resources) MODEL INCREASING ROLE OF CSME IN THE DEVELOPMENT OF COMMODITIES IN REGGIONS LAGGING

h. 89 - 123 Key words: level of poverty, members of the JRL. Coop. Sept. 2011 Vol. 6-Sept. Assessmt. cooperative, relation, probability and SME Achmad H. Gopar (Deputy Minister For Research & This study aims to analyze the economic Development of SME & Cooperative Resources) development of communities in the border region and REVIEW OF GOVERNMENT PARTICIPATION the role of cooperatives and SMEs in order to alleviate poverty. Research conducted in the west Kalimantan SOUTH BORNEO PRIVINCIAL TO COOPERATIVE border area and NTT. Potential border areas that can JRL. Coop. Sept. 2011 Vol. 6-Sept. h. 70 - 88 be developed based on analysis of Location Quotient (LQ), AHP and FGD results in Kupang and Pontianak, Assessmt. agreed on a potential commodity to be developed in the and SME role of increases in the border region cooperatives and Cooperative as a business entity is a dynamic SMEs Belu (NTT) is cattle and corn, while for Sanggau institution which should strengthen its business. In District (West Kalimantan) is pepper and cocoa. strengthening the business will need capital, capital Potential cooperatives and SMEs in Sanggau border owned as well as capital borrowed. When capital owned area against Sanggau district for cooperatives is shortened then cooperative will have to seek capital contribute to 2% shares, micro business contributes to from outside, one of them is cooperative stock (modal 5% and small business contributes to 2%. In border areas between Belu district and Timor Leste, penyertaan). cooperatives that are potential contributes to1.7% As consequences of the cooperative stock used, there shares, micro business 3.2% shares, small business are three institutional formulas; cooperative stock 2.3% shares, and middle business to 3% shares. The directed to cooperative business, to autonomous role of cooperatives and SMEs, especially Cooperative business unit of cooperative, and to investor owned in empowering border areas is still small and has not firms. South Kalimantan Government has invested its been functioning properly for the empowerment of owned capital to cooperatives through the first formula. border communities. The investors do not have the right to vote because only To increase the role of KUMKM, a role model has the members have it. In order to minimize disputes, the parties have made a written agreement (SPMKOP), been designed to increase KUMKM shares in border which set dividend share of 70% for cooperative and areas within next 5 years for border areas between Sanggau district and Malaysia, from 5% to 15% of 30% for South Kalimantan Government.

CURRENT CONTENT JOURNAL COOPERATIVE ASSESSMENT AND SMALL MEDIUM ENTERPRISES ISSN 1978-2896 Issued: September 2011 shares contribution. Meanwhile shares contribution for border areas between Belu district and Timor Leste increase from 3% to 10%. This model is designed in accordance with the trend scenario for people who only sell raw materials without processing by creating a semi-finished goods or final products. agreement, including the use of IPRs as collateral is generally associated with the raw action and executorial. Key words: Intelectual Property Right (IPR), collateral

Riana Panggabean (Deputy Minister For Research & Key words: SMEs model, disadvantage areas and Development of SME & Cooperative Resources) border region ANALYSIS OF EQUIPMENT NEEDS AT THE CENTER Akhmad Junaidi (Deputy Minister For Research & POTTERY Development of SME & Cooperative Resources) and h. 142 - 158 Muhammad Joni (Deputy Minister of Development and JRL. Coop. Sept. 2011 Vol. 6-Sept. Assessmt. Business Restructuring) and SME UTILIZATION OF INTELECTUAL PROPERTY The purpose of this research is to find out the needs RIGHTS CERTIFICATES AS COLLATERAL LOAN assessment of equipment/technology for SMEs in the center of ceramics and learn optimization of JRL. Coop. Sept. 2011 Vol. 6-Sept. h. 124 - 141 equipment/technology pottery. The benefits of this Assessmt. research as an input for policy makers in order to and SME develop the role of SMEs in the center of earthenware Intellectual Property Rights (IPRs) in developed pottery and quality improvement in accordance with countries have increased their use as collateral to market demand. obtain loans or financing from financial institutions. Conclusions and recommendations of this research The economic value of IPR can be determined by are SMEs and most of the pottery craftsmen still using calculating the market value for example, the cost of simple technology. This type of equipment needs/Potter's making/reproduction, depreciation replacement cost, technology can be grouped into three types of technology liquidation value, and value of insurance. The problem for the processing of raw materials, forming, printing faced in Indonesia is the unavailability of the provisions and marketing. on the use of IPR as collateral in loans, the banking system. The purpose utilizes IPR as collateral loan is to To optimize equipment/technology, SMEs and assist SMEs and Cooperatives in completing the credit craftsmen/artisans need education and capital. There is a requirements. Although the IPR can be used as loan desire that SMEs want to have the modern collateral, but the position in the underwriting equipment/technology but do not have the ability to buy. agreement to an additional agreement complements the In general, the craftsmen do not have the capability of primary credit agreement. This research uses capital. It is therefore necessary to have capital to buy descriptive analysis to conduct focused literature review and operate this type of technology based on demand. to explore an important role, IPR rules and regulations In addition to operationalize equipment/technology, guarantee bank lending in Indonesia. IPR has the English language education is also needed for SMEs and prospect to be used as collateral for loans, because the IPR has an economic value can be calculated based on craftsmen in order to cater buyers from abroad. market prices, can be executed, can be transferred Key words: need of equipments/technology, SMEs, either wholly or partly by inheritance, grants, wills, written agreement or other causes that are justified by education and capital the law of rules. In addition, the loan guarantee

INDEKS PENULIS/AUTHOR INDEX A Achmad H. Gopar, “Kajian Penyertaan Modal Pemerintah Provinsi Kalimatan Selatan ke Koperasi”. Vol.06-Sept 2011 H. 70 - 88 A�h��d Ju���d� d�� Muh����d Jo��, “����������� ���������� ���� ������� Collateral Kredit”. Vol. 6-Sept 2011 H. 124 - 141. I Indra Idris & Saudin Sijabat, ”Model Peningkatan Peran KUMKM dalam Pengembangan Komoditas Unggulan di Kawasan Perbatasan”. Vol. 06-Sept 2011 H. 89 - 123 J Johnny W. Situmorang, “Uji Keragaman Koperasi Berprestasi Berdasarkan Skala Usaha Tahun 2009”. Vol. 06-Sept 2011 H. 1 - 23 Johnny W. Situmorang dan Saudin Sijabat, ”Koperasi dan Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia : Tinjauan Probabilitas Tingkat Anggota Koperasi dan Tingkat Kemiskinan Provinsi.” Vol. 06-Sept 2011 H. 43 - 69 R Riana Panggabean, “Analisis Kebutuhan Peralatan di Sentra Gerabah.” Vol. 06-Sept 2011 H. 142 - 158 T Teuku Syarif, “Kajian Skala Prioritas Program Pemberdayaan Koperasi dan UMKM”. Vol. 06-Sept 2011 H. 24 - 42

INDEKS PENULIS/AUTHOR INDEX Eko Agus Nugroho, Dr. (Ekonomi) • • • Uji Keragaman Koperasi Berprestasi Berdasarkan Skala Usaha Tahun 2009 (Vol. 06-Sept 2011) Kajian Skala Prioritas Program Pemberdayaan Koperasi dan UMKM (Vol. 06Sept 2011) Koperasi dan Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia : Tinjauan Probabilitas Tingkat Anggota Koperasi dan Tingkat Kemiskinan Provinsi (Vol. 06-Sept 2011) Kajian Penyertaan Modal Pemerintah Provinsi Kalimatan Selatan ke Koperasi (Vol. 06-Sept 2011) Model Peningkatan Peran KUMKM dalam Pengembangan Komoditas Unggulan di Kawasan Perbatasan (Vol. 06-Sept 2011) ����������� ���������� ���� ������� Collateral Kredit (Vol. 06-Sept 2011) Analisis Kebutuhan Peralatan di Sentra Gerabah (Vol. 06-Sept 2011)

• • • •

Lukmanul Hakim Almamalik, ST, MM (Ekonomi) • • • Uji Keragaman Koperasi Berprestasi Berdasarkan Skala Usaha Tahun 2009 (Vol. 06-Sept 2011) Kajian Skala Prioritas Program Pemberdayaan Koperasi dan UMKM (Vol. 06Sept 2011) Koperasi dan Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia : Tinjauan Probabilitas Tingkat Anggota Koperasi dan Tingkat Kemiskinan Provinsi (Vol. 06-Sept 2011) Kajian Penyertaan Modal Pemerintah Provinsi Kalimatan Selatan ke Koperasi (Vol. 06-Sept 2011) Model Peningkatan Peran KUMKM dalam Pengembangan Komoditas Unggulan di Kawasan Perbatasan (Vol. 06-Sept 2011) ����������� ���������� ���� ������� Collateral Kredit (Vol. 06-Sept 2011) Analisis Kebutuhan Peralatan di Sentra Gerabah (Vol. 06-Sept 2011)

• • • •

Suhendar Sulaeman, Prof. Dr. (Koperasi dan UMKM) • • • Uji Keragaman Koperasi Berprestasi Berdasarkan Skala Usaha Tahun 2009 (Vol. 06-Sept 2011) Kajian Skala Prioritas Program Pemberdayaan Koperasi dan UMKM (Vol. 06Sept 2011) Koperasi dan Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia : Tinjauan Probabilitas Tingkat Anggota Koperasi dan Tingkat Kemiskinan Provinsi (Vol. 06-Sept 2011) Kajian Penyertaan Modal Pemerintah Provinsi Kalimatan Selatan ke Koperasi (Vol. 06-Sept 2011) Model Peningkatan Peran KUMKM dalam Pengembangan Komoditas Unggulan di Kawasan Perbatasan (Vol. 06-Sept 2011) ����������� ���������� ���� ������� Collateral Kredit (Vol. 06-Sept 2011) Analisis Kebutuhan Peralatan di Sentra Gerabah (Vol. 06-Sept 2011)

• • • •

Pedoman Penulisan Jurnal Pengkajian Koperasi dan UKM Tahun 2011 1. Pengertian Jurnal Jurnal Pengkajian adalah media ilmiah mengenai kajian/tinjauan hasil penelitian yang terkait dengan pengembangan koperasi dan UKM baik berasal dari penelitian lapangan atau dest riset. 2. Ketentuan penulisan a. Artikel terbuka untuk umum. b. Artikel disertai abstrak dan kata kunci. Abstrak ditulis dalam Bahasa Inggris sedangkan kata kunci dalam Bahasa Indonesia. Artikel dengan panjang 12-27 halaman ditulis dalam kertas A4, jarak ketikan 1.0 spasi, jenis huruf Times New Roman (font size 12) dengan garis tepi 3.5 Cm. Naskah diketik dalam MS Word dalam bentuk siap cetak ke printer laser. c. ���y���h�� ������l s����y�� 2 (du�) ������p d����� d�s����� fl�sh d�s� dikirim langsung ke alamat Tata Usaha Infokop dan Jurnal Asdep Urusan Pengembangan Perkaderan UKM, Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK Kementerian Negara Koperasi dan UKM Jl. MT. Haryono Kav. 5253 Jakarta Selatan atau melalui email: publik_perkaderan@yahoo.com. d. Artikel hendaknya disertai dengan biodata lengkap dan foto copy NPWP penulis. Penulis merupakan pakar, peneliti maupun khalayak umum yang kompeten dalam bidang pemberdayaan koperasi dan UKM. e. Sesuai dengan sistematika penulisan dan komponen artikel yang standar. f. Tulisan artikel yang diterima adalah yang sesuai dengan Pedoman Penulisan Infokop Tahun 2010. g. Isi artikel merupakan tanggung jawab penulis yang bersangkutan. 3. Sistematika dan Komponen Artikel a. Sistematika Sistematika artikel yaitu: Judul; Nama Penulis; Abstrak; Kata Kunci; ���d�hulu��; �����h�s�� d�p�� d�l�����p� d����� l���l, ������; ��s��pul�� dan Daftar Pustaka. b. Artikel Isi artikel pada jurnal adalah salah satu karya ilmiah seperti yang disebut pada point 1 diatas

c. Judul artikel. Judul ditulis singkat, jelas, dan informatif, serta mencerminkan inti tulisan maksimun 11 kata. Ditulis dengan huruf kapital tebal (bold) pada halaman pertama. d. Nama penulis. Nama penulis artikel ditulis dibawah judul tanpa gelar, diawali dengan huruf kapital, huruf simetris, dan tidak diawali dengan kata “oleh”, semua nama dicantumkan secara lengkap. Diakhir nama penulis diberi tanda asteriks *) mengenai alamat/asal penulis, yang penjelasannya dicantumkan pada catatan kaki, e. Abstrak. Setiap artikel didahului dengan abstrak. Abstrak menerangkan secara ringkas isi artikel yang menjelaskan semua inti permasalahan, cara pemecahannya, dari hasil yang diperoleh dan memuat tidak lebih dari 100 kata (tidak ��l���h� 3/4% h�l���� �u�u ����o�op), d������ ������ (���l�c) d����� j���� 1 spasi dengan garis tepi 3,5 Cm dan font size 12) maksimal 150 kata. Abstrak ditulis dalam bahasa Inggris. f. Kata kunci. Kata kunci terdiri dari dua hingga lima perkataan, yang diletakan setelah abstrak dengan posisi ditengah (center align). Kata kunci diketik miring (italic) dan font size 12. Kata kunci dibuat dengan tujuan memudahkan pencarian makna artikel. �. T���l, G����� d�� G����� T���l, ������ d�� ������ d����� �o�o� u�u� ����� ���� d�s����� judul d�� sumber data. h. Daftar Pustaka Daftar pustaka yang ditulis penamaannya harus sesuai dengan rujukan penulisan isi artikel. Penulisan daftar pustaka disusun berdasarkan nomor urut pustaka yang dikutip, yaitu: (1). Bila pustaka yang dirujuk terdapat dalam jurnal seperti contoh: Roch���, Nu�ul T�u��q. 2005. R���y�s� �u������ T�h�� ����� u��u� peralatan Pensupply air. Widyariset 8(1): 1-9. (2). Bila pustaka yang dirujuk berupa buku, seperti contoh: Sukmadinata, Syaodih. 2004. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Remaja Rasdakarya, Bandung.

i.

(3). Bila pustaka yang dirujuk berupa bunga rampai, seperti contoh: �����o�, B�sho��. 2005. �ol� �o�u����s� ��p����p���� T�u��� Abdullah. Dalam Muhammad Hisyam dkk. (Ed.). Sejarah dan Dialog Peradaban. LIPI Press, Jakarta.: 191-200. (4). Bila pustaka yang dirujuk terdapat dalam presiding, seperti contoh: Adisoemarto, S. 1989. Merentang gagasan mengenai serangga sebagai pakan walet. Prosiding Seminar Nasional Burung Walet, Semarang, 7 Januari. Assosiasi Penangkar Burung Indonesia.: ...-.... (5). Bila pustaka yang dirujuk berupa media massa, seperti contoh: Fattah, Eep Saifullah. 2004. Pesona Figur Besar. Koran Tempo 26 April: 5. (6). Bila pustaka yang dirujuk berupa website, seperti contoh: Coll���, �. d�� A. �o��fl��. 2002. A�d, �ol�cy ��d G�ow�h �� �os� co�fl�c� Societies, www.worldbank.org., diakses tanggal........ (7). Bila pustaka yang dirujuk berupa lembaga, seperti contoh: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. 2005. Petunjuh Teknis Jabatan Fungsional Peneliti dan Angka Kreditnya. LIPI, Jakarta. (8). Bila pustaka yang dirujuk berupa makalah dalam pertemuan ilmiah, dalam kongres, symposium atau seminar yang belum diterbitkan, seperti contoh: Adisoemarto, S. 1994. Biosafety in Indonesia and its Possible Development: an Extended Thought on Biosafety Measures. ISAAA Asia Biosafety Workshop. Bogor 22 - 24 April. (9). Bila pustaka yang dirujuk berupa skripsi/tesis/disertasi, seperti contoh: Zahroh, Iroh Siti. 2000. Turnover Purnakaryasiswa di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia: Tesis. Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia, Depok. (10). Bila pustaka yang dirujuk berupa dokumen paten, seperti contoh: Sukawati, T.R. 1995. Landasan putar bebas hambatan. Paten Indonesia No. ID/0000114. (11). Bila pustaka yang dirujuk berupa laporan penelitian, seperti contoh: Pandanwangi, A.S. Hadijah dan H. Artuti. 1995. Studi Pengaruh Trichoderma viride Pada Berbagai Limbah Organik untuk Bahan starter dan Kompos Media Persemaian: Laporan penelitian. Fakultas Pertanian, Univ. Tanjungpura, Pontianak. Pengutipan dalam naskah: (1) Dalam naskah diberikan tanda superscript pustaka yang digunakan, contoh:..... 1. Nomor yang ditulis sesuai dengan urutan dalam daftar pustaka,

(2) Bila nama pengarang harus ditulis maka menulisnya sebagai berikut: Menurut Adisoemarto 1 ........ Nomor yang ditulis sesuai dengan urutan dalam daftar pustaka. 4. Kriteria kelayakan artikel. a. Kesesuaian dengan topik. b. Orisinalitas. c. Kedalaman teori. d. Ketajaman analisis. e. Ketepatan metodologi. f. Inovasi. 5. Metode penilaian artikel. a. Blind Reader b. Peer Review Setiap artikel akan ditelaah oleh paling sedikit 2 (dua) orang dari Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK serta oleh 2 (dua) orang penyunting ahli/tamu/ mitra bestari. Artikel yang diterima dapat disunting atau dipersingkat dan penulis akan dihubungi untuk dibuat pembetulannya. Artikel yang tidak memenuhi ketentuan dan tidak dapat diperbaiki oleh redaksi akan dikembalikan kepada penulis.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->