KREDIT PAJAK LUAR NEGERI

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH PERPAJAKAN

DISUSUN OLEH :        (15) (16) (17) (18) (19) Hendra Saepul Bakti (20) (21)

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA
2012

KATA PENGANTAR

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Tangerang Selatan, xxx Januari 2012

Penyusun

DAFTAR ISI .

............ 1 Type chapter title (level 2) ................................................................................................................................ 2 Type chapter title (level 3) .......................................................................................................................................................................... 6 ......... 5 Type chapter title (level 3) .................................... 4 Type chapter title (level 2) .......................................................................................... 3 Type chapter title (level 1) .............................................................................................................DAFTAR ISI Type chapter title (level 1) .........................

BAB I PENDAHULUAN I.I Latar Belakang I.II Tujuan .

penghasilan bentuk usaha tetap adalah Negara tempat bentuk usaha tetap tersebut menjalankan usaha atau melakukan kegiatan.1 UU No. penghasilan berupa sewa sehubungan dengan penggunaan harta tak gerak adalah negara tempat harta tersebut terletak. penghasilan berupa bunga. sumber penghasilan ditentukan sebagai berikut: a. c.1. b.1 Dasar Hukum Dalam pembahasan ini. dan sewa sehubungan dengan penggunaan harta gerak adalah negara tempat pihak yang membayar atau dibebani bunga. (3) Dalam menghitung batas jumlah pajak yang boleh dikreditkan. kami mengacu pada UU No. f.03/2002. e. d. (2) Besarnya kredit pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sebesar pajak penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri tetapi tidak boleh melebihi penghitungan pajak yang terutang berdasarkan Undang‐undang ini. . penghasilan dari saham dan sekuritas lainnya serta keuntungan dari pengalihan saham dan sekuritas lainnya adalah negara tempat badan yang menerbitkan saham atau sekuritas tersebut didirikan atau bertempat kedudukan. 36 Tahun 2008 Pasal 24 dan 164/KMK. pekerjaan. penghasilan dari pengalihan sebagian atau seluruh hak penambangan atau tanda turutserta dalam pembiayaan atau permodalan dalam perusahaan pertambangan adalahnegara tempat lokasi penambangan berada. penghasilan berupa imbalan sehubungan dengan jasa. dan kegiatan adalah Negara tempat pihak yang membayar atau dibebani imbalan tersebut bertempat kedudukan atau berada.BAB II PEMBAHASAN 2. royalti. atau sewa tersebut bertempat kedudukan atau berada. royalti. 2. 36 Tahun 2008 Pasal 24 (1) Pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri atas penghasilan dari luar negeri yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dalam negeri boleh dikreditkan terhadap pajak yang terutang berdasarkan Undangundang ini dalam tahun pajak yang sama.

2. c) untuk penghasilan berupa deviden sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000. b) untuk penghasilan lainnya dilakukan dalam tahun pajak diterimanya penghasilan tersebut.03/2002 KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN TENTANG KREDIT PAJAK LUAR NEGERI. (4) Penentuan sumber penghasilan selain penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) menggunakan prinsip yang sama dengan prinsip yang dimaksud pada ayat tersebut. . (6) Ketentuan mengenai pelaksanaan pengkreditan Pajak atas penghasilan dari luar negeri diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. keuntungan karena pengalihan harta yang menjadi bagian dari suatu bentuk usaha tetap adalah negara tempat bentuk usaha tetap berada. dilakukan dalam tahun pajak pada saat perolehan deviden tersebut ditetapkan sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan.1. Pasal 1 (1) Wajib Pajak dalam negeri terutang pajak atas Penghasilan Kena Pajak yang berasal dari seluruh penghasilan termasuk penghasilan yang diterima atau diperoleh dari luar negeri.g. maka pajak yang terutang menurut Undang‐undang ini harus ditambah dengan jumlah tersebut pada tahun pengurangan atau pengembalian itudilakukan. dan h. (3) Kerugian yang diderita di luar negeri tidak boleh digabungkan dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak. (2) Penggabungan penghasilan yang berasal dari luar negeri dilakukan sebagai berikut : a) untuk penghasilan dari usaha dilakukan dalam tahun pajak diperolehnya penghasilan tersebut.2 KMK 164/KMK. (5) Apabila pajak atas penghasilan dari luar negeri yang dikreditkan ternyata kemudian dikurangkan atau dikembalikan. keuntungan karena pengalihan harta tetap adalah negara tempat harta tetap berada.

(2) Pengkreditan pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dalam tahun pajak digabungkannya penghasilan dari luar negeri tersebut dengan penghasilan di Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (2). . Wajib Pajak wajib menyampaikan permohonan kepada Direktur Jenderal Pajak dengan dilampiri: a) Laporan Keuangan dari penghasilan yang berasal dari luar negeri. (4) Jumlah tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dihitung menurut perbandingan antara penghasilan dari luar negeri terhadap Penghasilan Kena Pajak dikalikan dengan pajak yang terutang atas Penghasilan Kena Pajak. maka kelebihan tersebut tidak dapat diperhitungkan dengan Pajak Penghasilan yang terutang tahun berikutnya. tetapi tidak boleh melebihi jumlah tertentu. Pasal 4 (1) Untuk melaksanakan pengkreditan pajak luar negeri. dan c) Dokumen pembayaran pajak di luar negeri. Pasal 3 Dalam hal jumlah Pajak Penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri melebihi jumlah kredit pajak yang diperkenankan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. tidak boleh dibebankan sebagai biaya atau pengurang penghasilan. maka Pajak Penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri atas penghasilan tersebut dapat dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang terutang di Indonesia. maka penghitungan Kredit pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dilakukan untuk masing-masing negara. (5) Apabila Penghasilan luar negeri berasal dari beberapa negara. (3) Jumlah kredit pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) paling tinggi sama dengan jumlah pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri. paling tinggi sama dengan pajak yang terutang atas Penghasilan Kena Pajak dalam hal Penghasilan Kena Pajak lebih kecil dari penghasilan luar negeri. (6) Penghasilan Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) tidak termasuk Penghasilan yang dikenakan Pajak yang bersifat final sebagaimana dimaksud Pasal 4 ayat (2) dan atau penghasilan yang dikenakan pajak tersendiri sebagaimana dimaksud Pasal 8 ayat (1) dan ayat (4) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000. dan tidak dapat dimintakan restitusi.Pasal 2 (1) Apabila dalam Penghasilan Kena Pajak terdapat penghasilan yang berasal dari luar negeri. b) Foto Kopi Surat Pemberitahuan Pajak yang disampaikan di luar negeri.

Pasal 9 Keputusan Menteri Keuangan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 640/KMK. Pasal 5 Atas permohonan Wajib Pajak. Agar setiap orang mengetahuinya. Pasal 7 Ketentuan yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan Keputusan Menteri Keuangan ini diatur lebih lanjut dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak. maka atas kelebihan tersebut dapat dikembalikan kepada Wajib Pajak setelah diperhitungkan dengan utang pajak lainnya. Pasal 6 (1) Dalam hal terjadi perubahan besarnya penghasilan yang berasal dari luar negeri. Wajib Pajak harus melakukan pembetulan Surat Pemberitahuan Tahunan untuk tahun pajak yang bersangkutan dengan melampirkan dokumen yang berkenaan dengan perubahan tersebut. maka atas kekurangan tersebut tidak dikenakan bunga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaiamana telah diubah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2000. memerintahkan pengumuman Keputusan Menteri Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.04/1994 tentang Kredit Pajak Luar Negeri dinyatakan tidak berlaku. (3) Dalam hal pembetulan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) menyebabkan Pajak Penghasilan lebih dibayar. Direktur Jenderal Pajak dapat memperpanjang jangka waktu penyampaian lampiran-lampiran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 karena alasan-alasan di luar kemampuan Wajib Pajak (force majeur). .(2) Penyampaian permohonan kredit pajak luar negeri sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan bersamaan dengan penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan. (2) Dalam hal pembetulan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) menyebabkan Pajak Penghasilan kurang dibayar. Pasal 8 Pada saat Keputusan Menteri Keuangan ini mulai berlaku.

760. melainkan pajak yang dikenakan atas keuntungan Z Inc.000.00 tidak dapat dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang terutang atas PT A. Pajak Penghasilan yang berlaku di negara X adalah 48% dan Pajak Dividen adalah 38%.00. Cara .000.00.000.000.000. Ayat (2) Untuk memberikan perlakuan pemajakan yang sama antara penghasilan yang diterima atau diperoleh dari luar negeri dan penghasilan yang diterima atau diperoleh di Indonesia.: (48%) US$ 48.000. maka besarnya pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri dapat dikreditkan terhadap pajak yang terutang di Indonesia tetapi tidak boleh melebihi besarnya pajak yang dihitung berdasarkan Undang‐undang ini. dalam contoh di atas yaitu jumlah sebesar US$ 19.00 (‐) Dividen yang dikirim ke Indonesia US$ 32. termasuk penghasilan yang diterima atau diperoleh dari luar negeri. Z Inc. Untuk meringankan beban pajak ganda yang dapat terjadi karena pengenaan pajak atas penghasilan yang diterima atau diperoleh di luar negeri.00 tersebut tidak dikenakan langsung atas penghasilan yang diterima atau diperoleh PT A dari luar negeri.00 Pajak atas dividen (38%) US$ 19. Pajak Penghasilan (Corporate income tax) atas Z Inc. Contoh: PT A di Indonesia merupakan pemegang saham tunggal dari Z Inc. Ayat (1) Pajak atas penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri yang dapat dikreditkan terhadap pajak yang terutang di Indonesia hanyalah pajak yang langsung dikenakan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak.240.00 (‐) US$ 52. karena pajak sebesar US$48. tersebut dalam tahun 1995 memperoleh keuntungan sebesar US$ 100.00 Pajak Penghasilan (Corporate income tax) atas Z Inc.760. sebesar US$ 48.00 Pajak Penghasilan yang dapat dikreditkan terhadap seluruh Pajak Penghasilan yang terutang atas PT A adalah pajak yang langsung dikenakan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh di luar negeri. Penghitungan pajak atas dividen tersebut adalah sebagai berikut: Keuntungan Z Inc US$ 100. di negara X. ketentuan ini mengatur tentang perhitungan besarnya pajak atas penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri yang dapat dikreditkan terhadap Pajak yang terutang atas seluruh penghasilan Wajib Pajak dalam negeri.Penjelasan Pasal 24 Pada dasarnya Wajib Pajak dalam negeri terutang pajak atas seluruh penghasilan. di Negara X.

dalam tahun 1996.2 Ketentuan Pengkreditan Pajak Penghasilan yang Dibayar atau Terutang di Luar negeri (UU Nomor 17 Tahun 2000 Ps 24. maka selisihnya ditambahkan pada Pajak Penghasilan yang terutang menurut Undang‐undang ini. misalnya A sebagai Wajib Pajak dalam negeri memiliki sebuah rumah di Singapura dan dalam tahun 1995 rumah tersebut dijual. Ayat (3) dan (4) Dalam perhitungan kredit pajak atas penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri yang dapat dikreditkan terhadap pajak yang terutang menurut Undang‐Undang ini.00 tersebut ditambahkan pada Pajak Penghasilan yang terutang dalam tahun pajak 1996.04/1994 Jo 164/KMK. maka jumlah sebesar Rp5. Wajib Pajak Dalam Negeri terutang pajak atas penghasilan kena pajak yang berasal dari seluruh penghasilan yang diterima atau diperoleh baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri (World Wide Income). ketentuan ini mengatur tentang penentuan sumber penghasilan untuk memperhitungkan kredit pajak luar negeri tersebut. Wajib Pajak mendapat pengurangan pajak atas penghasilan luar negeri tahun pajak 1995 sebesar Rp5.penghitungan besarnya pajak yang dapat dikreditkan ditetapkan oleh Menteri Keuangan berdasarkan wewenang sebagaimana diatur pada ayat (6). Mengingat Undang‐Undang ini menganut pengertian penghasilan yang luas. Untuk menghindari pengenaan pajak berganda dan memberikan . Ayat (5) Apabila terjadi pengurangan atau pengembalian pajak atas penghasilan yang dibayar di luar negeri. maka sesuai dengan ketentuan pada ayat (4) penentuan sumber dari penghasilan selain yang tersebut pada ayat (3) dipergunakan prinsip yang sama dengan prinsip sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tersebut.000.00 yang semula telah termasuk dalam jumlah pajak yang dikreditkan terhadap Pajak yang terutang untuk tahun pajak 1995. Ayat (6) Cukup jelas.000. Misalnya. Selanjutnya.000. penentuan sumber penghasilan menjadi sangat penting.000.03/2002) Menurut ketentuan perpajakan. Keuntungan yang diperoleh dari penjualan rumah tersebut merupakan penghasilan yang bersumber di Singapura karena rumah tersebut terletak di Singapura. 640/KMK. sehingga besarnya pajak yang dapat dikreditkan di Indonesia menjadi lebih kecil dari besarnya perhitungan semula. 2.

4/1995 Jo SE-35/PJ.perlakuan pemajakan yang sama antara penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak Dalam Negeri dari luar negeri dengan penghasilan yang diterima atau diperoleh dari Indonesia. maka perhitungan PPh pasal 24 dilakukan untuk masing-masing negara. maka atas pajak yang dibayar atau terutang dari penghasilan yang diterima atau diperoleh dari luar negeri dapat dikreditkan dengan pajak yang terutang dalam tahun pajak yang sama. yaitu : negeri dengan jumlah yang dihitung menurut jumlah penghasilan dari luar negeri  jumlah PPh teruta ng total penghasilan Apabila jumlah penghasilan dari luar negeri berasal dari beberapa negara. dilakukan dalam tahun pajak diterimanya penghasilan tersebut Kerugian yang diderita di luar negeri tidak boleh digabungkan dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak di Indonesia Pajak Penghasilan yang dapat dikreditkan terhadap pajak penghasilan yang terutang di Indonesia adalah jumlah yang lebih rendah antara pajak yang dibayar atas penghasilan di luar perbandingan tertentu. .4/1995) Untuk penghasilan lainnya. Penggabungan penghasilan dari luar negeri dilakukan sebagai berikut : Untuk penghasilan dari usaha dilakukan dalam tahun pajak diperolehnya penghasilan Untuk penghasilan berupa dividen. dilakukan dalam tahun pajak pada saat perolehan dividen tersebut (SE-22/PJ.

Penghasilan Kena Pajak (PKP) yang dikenakan PPh Final (Pasal 4 ayat (2) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 ) dan/atau penghasilan yang dikenakan pajak tersendiri (Pasal 8 ayat (1 dan 4) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 ) tidak dapat digabungkan dengan penghasilan lainnya. atau maksimum sebesar PPh yang terutang atas seluruh Penghasilan Kena Pajak dalam hal di dalam negeri mengalami kerugian (Penghasilan dari LN lebih besar dari jumlah Penghasilan Kena Pajak) 4. dilampiri dengan : negeri Laporan Keuangan dari penghasilan yang berasal dari luar Foto Kopi Surat Pemberitahuan Pajak yang disampaikan di luar negeri Dokumen pembayaran PPh di luar negeri .3 Mekanisme Pengkreditan PPh yang Dibayar di Luar Negeri (164/KMK.2. wajib pajak wajib menyampaikan permohonan ke KPP bersamaan dengan penyampaian SPT Tahunan PPh. Jumlah PPh Pasal 24 yang dapat dikreditkan maksimum sebesar jumlah yang lebih rendah di antara PPh yang dibayar atau terutang di Luar negeri dan jumlah yang dihitung menurut perbandingan antara penghasilan dari luar negeri dan seluruh Penghasilan Kena Pajak. Dalam hal jumlah PPh yang dibayar atau terutang di luar negeri melebihi PPh Pasal 24 yang dapat dikreditkan. kelebihan tersebut tidak dapat diperhitungkan di tahun berikutnya.03/2002) 1. 2. Apabila penghasilan dari luar negeri berasal dari beberapa negara. baik yang diperoleh dari Dalam Negeri maupun dari Luar negeri 6. Pajak Penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri dapat dikreditkan dengan Pajak Penghasilan yang terutang di Indonesia. maka penghitungan PPh Pasal 24 dilakukan untuk masing-masing negara 5. Pengkreditan PPh yang dibayar di luar negeri (PPh Pasal 24) dilakukan negeri tersebut dalam tahun pajak digabungkannya penghasilan dari luar dengan penghasilan di Indonesia 3. dan tidak dapat direstitusi Untuk melaksanakan prengkreditan PPh Luar negeri. tidak boleh dibebankan sebagai biaya.

karena alasan-alasan di luar kekuasaan wajib pajak.000. 8. Kepala KPP dapat memperpanjang jangka waktu penyampaian lampiran-lampiran di atas.000. Rp1.000. Apabila karena pembetulan SPT tersebut menyebabkan lebih bayar.000.00 Perhitungan Kredit PPh Luar Negeri-nya adalah sebagai berikut : .7.000.200.000.000. Atas permohonan wajib pajak. Apabila karena pembetulan SPT tersebut menyebabkan PPh kurang dibayar.000.000.00 di mana PPh yang dibayar di Swiss sebesar Rp900. wajib pajak harus melakukan pembetulan SPT Tahunan yang bersangkutan dengan melampirkan dokumen-dokumen yang berkenaan dengan perubahan tersebut 9.000.000.00 Di Jepang memperoleh dimana penghasilan PPh (laba yang neto) dibayar sebesar sebesar Rp5.000.000. Dalam hal terjadi perubahan besarnya penghasilan yang berasal dari luar negeri.00 Di Swiss memperoleh penghasilan (laba neto) Rp3.00 Di New Zealand menderita kerugian (rugi neto) sebesar Rp4.000.000.000. maka atas kekurangan bayar tersebut tidak dikenakan sanksi bunga 10. maka atas kelebihan tersebut dapat dikembalikan kepada wajib pajak setelah diperhitungkan dengan utang pajak lainnya 2.4 Contoh Perhitungan Mekanisme Pengkreditan Contoh 1 : PT Manulife berkedudukan di Jakarta memperoleh penghasilan neto dalam tahun 2011 adalah sebagai berikut : Penghasilan neto dari dalam negeri sebesar Rp7.00.

000.000.494.500.000.482.000.16 6. direstitusi.667.000.00 (sebesar yang nyatanyata dibayar/terutang di Jepang) Contoh 2 : .000.000.50 0.00 Rp 5.Penghasilan neto dalam negeri Penghasilan neto dari Swiss Penghasilan neto dari Jepang Rp 7.200.00 _______________ Rp 4.00 ________________ Rugi neto yang berasal dari New Zealand tidak boleh digabung (tidak diakui) Perhitunga PPh Terutang : 10% x Rp 50.000.00 Batas Maksimum Kredit Pajak Luar Negeri : Swiss  (3 Milyar / 15 Milyar)  Rp4.000. maupun dibebankan sebagai biaya Jepang  (5 Milyar / 15 Milyar)  Rp4.00 Rp 7.482.00 15% x Rp 50.482.000.00 PPh yang dapat dikreditkan hanya Rp896.50 0.500.000.000.000.00  Rp1.00 PPh yang dapat dikreditkan sebesar Rp 1.000.00.900.000.00 Rp 4.00 Rp 5.000.500.00 30% x Rp 14.000.000.000.000.500.000.000.000.00 ________________ Jumlah Penghasilan Neto Rp 15. Sisanya tidak boleh dikompensasi ke tahun berikutnya.000.000.00 meskipun secara nyata membayar PPh di Swiss sebesar Rp 900.000.000.00 Rp 3.000.000.000.000.00  Rp896.000.470.

00 Rp 4.000.350.000.000.500.00 30% x Rp 4.00 PPh Terutang : 10% x Rp 50.000.600.00 ____________ Rp 1.00 PPh yang telah dibayar di Swedia adalah sebesar Rp 3.437.000.000. Perhitungan Kredit pajak Luar negeri (PPh pasal 24) PT Perdana di Semarang memperoleh penghasilan neto dalam tahun 2006 sebagai berikut: .362.000.362.000.000. maka maksimum Kredit Pajak Luar Negeri adalah sama dengan jumlah PPh yang terutang.000.500.000.500. sehingga terdapat sisa sebesar Rp2.00 1.000. maupun diakui sebagai biaya. yaitu Rp1.000.00) 5.00 _______________ Jumlah PPh yang terutang di Swedia sebesar Perhitungan Kredit Pajak Luar Negeri : Jumlah Penghasilan Neto (Penghasilan Kena Pajak) Rp4.000.000.600. 3.000. direstitusi.00.00 Batas Maksimum Kredit Pajak Luar Negeri : Karena jumlah Penghasilan Kena Pajaknya lebih kecil dari pada Penghasilan Neto dari Luar Negeri (di Dalam Negeri mengalami kerugian).800.000.000.500.000.00 7.000.000.000.PT Liong berkedudukan di Makassar memperoleh penghasilan neto dalam tahun 2011 ssebagai berikut : Penghasilan neto (rugi) di dalam negeri Penghasilan neto dari usaha di Swedia Rp Rp (400.00 = Rp = Rp = Rp 5.000.000.00 Rp .000.000.800.00 yang tidak dapat dikompensasi ke tahun berikutnya.500.00 15% x Rp 50.000.

000. Menghitung total PPh terutang 10% x Rp 50.000.166.000.000.00 3.000 Pajak terutang = Rp5.000 30% x Rp500. kemudian dipilih jumlah yang terendah.000. Menghitung PPh maksimum yang dapat dikreditkan jumlah penghasilan dari luar negeri  jumlah PPh teruta ng total penghasilan Rp200.000.00 = Rp7.000 Dari perhitungan tersebut di atas kredit pajak LN yang diperbolehkan adalah sebesar Rp40.000.000.00 = Rp162.000.00 4.00 Rp200.500.00 Rp400.000.000 atau sebesar PPh yang terutang atau dibayar di LN.00 Rp200.00 = Rp150.000. Menghitung total penghasilan kena pajak penghasilan dari dalam negeri penghasilan dari luar negeri Penghasilan neto 2.000. Jumlah ini diperoleh dengan membandingkan penghitungan PPh maksimum yang boleh dikreditkan dengan PPh yang terutang atau dibayar di LN.00  Rp162.000.00 Rp600.Penghasilan Dalam Negeri Penghasilan dari LN (tarif pajak 20%) Rp400.000.000.000.000 = Rp40.00 Penghitungan PPh pasal 24 adalah sebagai berikut: 1.500.000.61 Rp600.000.000. Penghitungan PPh pasal 24 jika terjadi kerugian usaha di dalam negeri .500.000.000.000.000.666.00  Rp54.000. Menghitung PPh yang terutang atau dipotong di LN: 20% x Rp200.000.000.000.000 15% x Rp 50.

000.000.00 = Rp180.000.000.00 30% x Rp300.000.000.750. Menghitung total PPh terutang 10% x Rp50.000.000.00 Rp90.00 Jumlah pajak terutang = = = Rp5.00 Rp600.00) Rp400.000.000.000.000. Menghitung PPh maksimum yang dapat dikreditkan jumlah penghasilan dari luar negeri  jumlah PPh teruta ng total penghasilan Rp600.000.00 15% x Rp50.000.00 4.PT Adinda berkedudukan di Indonesia memperoleh penghasilan neto dalam tahun 2006 sebagai berikut:   Di negara A memperoleh penghasilan berupa laba usaha sebesar Rp600.000.00 (Rp200.000.00 3.000.500.00 Penghitungan PPh pasal 24 adalah sebagai berikut: 1.000.000.000.000.500.000.000.000.00  Rp153.00 Rp102.000.500.000. Menghitung PPh yang dipotong/dibayar di luar negeri 30% x Rp600.000.000.00 (tarif pajak yang berlaku adalah 30%) Di dalam negeri menderita kerugian sebesar Rp200. Menghitung total penghasilan kena pajak Penghasilan kena pajak dari negara A Kerugian usaha dalam negeri Jumlah penghasilan neto 2.00 .000.000.000 Rp400.00  Rp102.000.00 Rp7.

500.000.00 Rp7.000.00 Rp500.000.000.000.00 Penghasilan dari dalam negeri berupa laba usaha Jumlah penghasilan neto 2.500.00 Jumlah total PPh yang terutang = = = Rp5.000.000. Perhitungan PPh pasal 24 jika terjadi kerugian usaha di LN PT Kartika pada tahun 2006 memperoleh penghasilan neto sebagai berikut: Di negara X memperoleh penghasilan berupa laba usaha sebesar Rp300. Menghitung penghasilan total kena pajak Penghasilan dari negara X berupa laba usaha Rp300.00 15% x Rp50.000.00 (tarif pajak yang berlaku 40%) Di negara Y menderita kerugian sebesar Rp500.00.500.000.000.00 Rp800.000.00 .000.000.000. Di dalam negeri memperoleh laba usaha sebesar Rp500.000.00 (tarif pajak yang berlaku) 25%.000.000.00 30% x Rp700. jumlah ini diperoleh dengan membandingkan perhitungan PPh maksimum yang dapat dikreditkan dengan PPh yang sesungguhnya dibayarkan/terutang di LN dan total pajak yang terutang.000. Menghitung total PPh terutang 10% x Rp50.000.000.00 Rp210.000.Kredit pajak yang diperbolehkan (PPh pasal 24) adalah Rp102.000.000.00 Rp222.000.000.00 Perhitungan kredit pajak luar negeri yang diperbolehkan adalah sebagai berikut: 1.

00 Rp800.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.3.000.00  Rp222.437.000.00 .00  Rp83.00 (tarif pajak yang berlaku 30%) di negara C memperoleh penghasilan berupa laba usaha sebesar Rp400.000. Menghitung PPh maksimal yang bisa dikreditkan jumlah penghasilan dari luar negeri  jumlah PPh teruta ng total penghasilan Rp300.000.00 1.00 = Rp120. menghitung total penghasilan kena pajak: Penghasilan dari negara A Penghasilan dari negara B Rp200.00 (tarif pajak yang berlaku 40%) di dalam negeri memperoleh laba usaha sebesar Rp100. Menghitung PPh yang dibayar atau terutang di LN 40% x Rp300.000.500.00 4.5 00.000.000.00 (tarif pajak yang berlaku 25%) di negara B memperoleh penghasilan berupa laba usaha sebesar Rp300.00 Rp300.500.000.00 Perhitungan PPh pasal 24 jika penghasilan LN berasal dari beberapa negara PT Kartika berkedudukan di Jakarta pada tahun pajak 2006 memperoleh penghasilan bersih sebagai berikut: di negara A memperoleh penghasilan berupa laba usaha sebesar Rp200.000.00 Dari perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa PPh pasal 24 yang dapat dikreditkan adalah Rp83.000.437.000.

000 15% x Rp50. Menghitung PPh yang dibayar atau terutang di luar negeri PPh terutang di negara A = 20% x Rp200.000.00 PPh terutang di negara C = 40% x Rp400.000.00 Rp282.000 = Rp56. Menghitung total PPh terutang 10% x Rp50.000.000.000.000) x Rp282.000.000) x Rp282.Penghasilan dari negara C Penghasilan dari dalam negeri Total penghasilan kena pajak 2.000.000.000.000.00 Dari perhitungan di atas kredit pajak luar negeri yang diperbolehkan adalah Dari negara A Rp40.00 Rp1.000.500.000.000.00 = Rp160.00 = Rp5.000 : Rp1.000.500.000.000.000 : Rp1.000.000. Menghitung PPh maksimum yang dapat dikreditkan dari negara A = (Rp200.000.000.000 dari negara B = (Rp300.500.00 = Rp90.00 = Rp270.000.500.000.000.000* dari negara C = (Rp400.00 Rp100.00 3.000* 4.000.000.000.000.000.000.000 = Rp84.000.00 = Rp40.00* PPh terutang di negara B = 30% x Rp300.000.000.000.000 Total pajak terutang Rp400.000.00 .000 = Rp113.000.000) x Rp282.750.00 = Rp7.000.000 : Rp1.500.000 30% x Rp900.000.000.000.000.500.

menyebabkan adanya tambahan penghasilan yang mengakibatkan pajak yang terutang atas penghasilan luar negeri menjadi lebih besar daripada yang dilaporkan dalam SPT tahunan. maka terdapat kemungkinan pajak penghasilan di Indonesia juga kurang bayar. sehingga pajak yang terutang di LN menjadi kurang bayar. 16 tahun 2000 tentang ketentuan Umum dan tatacara perpajakan.Dari negara B Dari negara C Total kredit pajak LN Rp84.00 2.000. Sesuai dengan pasal 8 UU No. apabila WP membetulkan sendiri SPT yang mengakibatkan pajak yang terutang menjadi lebih besar. sehingga besarnya pajak yang dapat dikreditkan di Indonesia menjadi lebih kecil daripada kredit pajak LN semula.6 Perubahan Besarnya Penghasilan Luar Negeri Apabila terjadi perubahan besarnya penghasilan yang berasal dari luar negeri. 2. 2.000. Jika karena perubahan tersebut.750.5 Pengurangan/Pengembalian Pajak Penghasilan Luar Negeri Dalam hal terjadi pengurangan atau pengembalian pajak atas penghasilan yang dibayar di LN. dihitung sejak saat penyampaian SPT terakhir sampai dengan tanggal pembayaran karena pembetulan SPT tersebut.000. maka selisihnya ditambahkan pada pajak penghasilan yang terutang atas seluruh penghasilan Wp dalam negeri pada tahun terjadinya pengurangan atau pengembalian tersebut. Apabila karena pembetulan SPT tersebut.750. wajib pajak harus melakukan pembetulan SPT untuk tahun pajak yang bersangkutan dengan melampirkan dokumen yang berkenaan dengan perubahan tersebut. menyebabkan penghasilan dan pajak atas penghasilan yang terutang di luar negeri menjadi lebih kecil .00 Rp237.000. maka kepadanya dikenakan bunga sebesar 2% sebulan atas jumlah pajak yang kurang dibayar. 1.00 Rp113.

sehingga pajak di luar negeri lebih di bayar.000. PPh sebelum dan sesudah koreksi fiskal di luar negeri adalah sebagai berikut: SPT Penghasilan LN Penghasilan DN PKP 1.000.000.000.000 1.00 40% Rp200.00 Rp800.000.000. PKP PPh terutang: 2.000 800.00 SPT disampaikan pada 30 Maret 2007 dan pembetulan dilakukan pada bulan Mei 2007.000.000. sehingga pajak penghasilan menjadi lebih dibayar.800.daripada yang dilaporkan dalam SPT tahunan.000.000.000 Penghasilan DN 1.000.000. Atas kelebihan bayar pajak tersebut dapat dikembalikan kepada wajib pajak setelah diperhitungkan dengan utang pajak lainnya.000.7 Contoh Perhitungan Perubahan Besarnya Penghasilan Luar Negeri Contoh: Berikut ini data yang berhubungan dengan penghitungan PPh pasal 24 pada tahun 2006:      Penghasilan dari dalam negeri Penghasilan di luar negeri (sesuai SPT) Penghasilan di luar negeri (setelah koreksi di LN) Tarif pajak di luar negeri PPh pasal 25 Rp1.000. 2.000 Penghasilan LN Pembetulan 1.000 .00 Rp1.000.000.000.000. yang akan mengakibatkan pajak penghasilan yang terutang di Indonesia menjadi lebih kecil.000.000.

277.778 .900.250.8M : 1.000.222 1.000.000.500.000 91.500.000.500. 522.000.000= 000 = = 5.000.500.000.000 = 570.bunga 2×2%x972.000 30% x 1.000.000 10% x 50.kekurangan psl 29 972.000 PPh di bayar di Indonesia = 291.000 = = 5.000. Hal ini biasanya terjadi bila dua yurisdiksi perpajakan dari dua negara berbeda mengenakan pajak kepada orang atau badan yang sama .000 232.000 PPh psl 25 PPh psl 29 200.000 582.011.000 30% x 1.000 = 7.222 Masih harus dibayar: .500.000 90.000= 291.222.000 PPh terutang Kredit pajak LN: (0.88 200.000 7.250.8 M) x 522.110.000.000.000 510.250.88 Harus di bayar di Indonesia = PPh Psl 25 PPh Psl 29 290.000 PPh terutang Kredit pajak LN: (1M : 2M) x 582.500.277.700.222 38.000 15% x 50.000 PPh terutang: 10% x 50.000 15% x 50.7 Pajak Beganda Penerapan masing-masing azas pengenaan pajak oleh negara yang berbeda berpotensi menimbulkan pengenaan pajak yang berbeda pada satu subjek pajak tertentu atas penghasilannya.778 2.000.888.

Sebagai contoh. maka Negara X akan mengenakan pajak atas penghasilan tersebut. Jika di Indonesia kena tarif 30% dan di Amerika Serikat kena tarif 40%. Kondisi ini juga akan menghambat aliran modal dan investasi antar negara karena beban pajak yang tinggi. cabang perusahaan Amerika Serikat di Indonesia akan dikenakan PPh di indonesia berdasarkan azas sumber. perbedaan definisi subjek pajak yang berbeda antara dua Negara akan menimbulkan potensi pengenaan pajak berganda oleh dua Negara tersebut. Kejadian ini menimbulkan dua kali pengenaan pajak atas objek dan subjek yang sama. Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B) Contoh di atas menunjukkan adanya potensi pengenaan pajak berganda akibat adanya perbedaan dalam penerapan azas pengenaan pajak dan perbedaan definisi subjek pajak oleh masing-masing Negara. Jadi bisa kita lihat dalam kasus ini tiga Negara akan mengenakan pajak atas penghasilan yang sama dan subjek yang sama. Nah. Sebagai misal. maka total atas penghasilan yang sama dikenakan tarif 70%! Beda Definisi Pengenaan pajak berganda juga bisa disebabkan karena perbedaan definisi dalam masing-masing Undang-undang pajak. di sinilah peran perjanjian . Misalnya. jika Negara Z mengenakan azas sumber. Jika Negara Y mendefinisikan subjek pajak nya adalah orang yang tinggal lebih dari enam bulan dia negaranya. Begitu juga.atas penghasilannya yang disebabkan oleh azas pengenaan pajak yang diterapkannya. seseorang (katakanlah si A) yang berkewarganegaraan Negara X tinggal selama delapan bulan di Negara Y. Apabila Negara X menganut azas kewarganegaraan. Atas penghasilan inipun pihak otoritas akan mengenakan pajak berdasarkan azas kewarganegaraan atau azas domisili. Pada saat yang sama ia menerima penghasilan dari Negara Z. Kasus pengenaan pajak berganda ini tentu saja akan merugikan pelaku bisnis yang bersifat lintas negara. maka Negara Z akan mengenakan pajak atas penghasilan si A yang bersumber dari negaranya. maka Negara Y juga akan mengenakan pajak atas penghasilan si A.

di mana dua negara (bilateral) atau lebih (unilateral) melakukan perjanjian untuk menghindarkan pengenaan pajak berganda (double taxation). Setelah melalui proses perundingan. salah satu negara atau keduaduanya harus bersedia mengurangi haknya dalam pengenaan pajak sehingga beban pajak yang ditanggung oleh si subjek pajak akan berkurang .perpajakan (tax treaty).

II Saran .I Kesimpulan III.BAB III PENUTUP III.

com UNDANG-UNDANG PAJAK PENGHASILAN NOMOR 36 TAHUN 2008 KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 164/KMK.blogspot.org http://tax-center.pajak.03/2002 .DAFTAR PUSTAKA      http://www.ortax.id http://taxlearning.go.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful