P. 1
PROSEDUR PASANG BARU SEBAGAI SALAH SATU PELAYANAN KONSUMEN PADA CV. RANDI JAYA ELEKTRIK MUARA BUNGO

PROSEDUR PASANG BARU SEBAGAI SALAH SATU PELAYANAN KONSUMEN PADA CV. RANDI JAYA ELEKTRIK MUARA BUNGO

|Views: 660|Likes:
Published by Desi Susanti

More info:

Published by: Desi Susanti on Jul 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

12/23/2013

PT. PLN (Persero) Cabang Muara Bungo adalah Badan Usaha Milik

Negara yang bergerak dibidang jasa ketenagalistrikan yang wilayah kerjanya

meliputi Kabupaten Muara Bungo, Tebo, Merangin dan Sarolangun.

Ketenagalistrikan di Indonesia dimulai pada akhir abad ke-19 pada saat

beberapa perusahaan Belanda antara lain : pabrik gula dan pabrik teh mendirikan

pembangkit listrik untuk keperluan sendiri, ketenagalistrikan untuk kemanfaatan

umum mulai ada pada saat perusahaan swasta Belanda yaitu NV. NIGN yang

semula bergerak di bidang gas memperluas usahanya di bidang penyediaan

tenaga listrik. Pada tahun 1927 Pemerintah Belanda membentuk Lands

Waterkracht Bedrijven (LWB) yaitu perusahaan listrik Negara yang mengelola

PLTA Plengan, PLTA Lamajan, PLTA Bengkok Dago, PLTA Ubrug dan Kracak

di Jawa Barat, PLTA Giringan di Madiun, PLTA Tes di Bengkulu, PLTA Tonsea

Lama di Sulawesi Utara dan PLTU di Jakarta, selain itu di beberapa Kotapraja

dibentuk perusahaan-perusahaan listrik Kotapraja.

Dengan menyerahnya Pemerintah Belanda kepada Jepang dalam Perang

Dunia II maka Indonesia dikuasai Jepang, oleh karena itu perusahaan listrik dan

gas yang ada dan semua personil dalam perusahaan listrik tersebut diambil alih

oleh orang-orang Jepang, pada pertengahan Agustus 1945 ditandai dengan 2

13

14

kejadian penting terhadap sejarah bangsa ini dan perusahaan litrik, yaitu pada

tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu dan pada

tanggal 17 Agustus 1945 Bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaanya,

momentum ini dimanfaatkan dengan baik oleh pemuda dan buruh listrik dan gas

untuk mengambil alih perusahaan-perusahaan listrik dan gas yang dikuasai oleh

Jepang.

Setelah berhasil merebut perusahaan listrik dan gas dari tangan

kekuasaan Jepang, kemudian pda Bulan September 1945 suatu delegasi buruh/

pegawai listrik dan gas menghadap Pimpinan KNI Pusat yang pada waktu itu

diketuai oleh Mr. Kasman Singodimedjo untuk melaporkan hasil perjuangan

mereka, selanjutnya delegasi bersama-sama dengan Pimpinan KNI Pusat

menghadap Presiden Soekarno untuk menyerahkan perusahaan-perusahaan listrik

dan gas kepada Pemerintah Republik Indonesia, penyerahan tersebut diterima

oleh Presiden Soekarno dan kemudian dengan penetapan pemerintah No. 1 tahun

1945 tertanggal 27 Oktober 1945 dibentuklah Jawatan Listrik dan Gas dibawah

Departemen Pekerjaan Umum.

Sejarah ketenagalistrikan mengalami pasang surut sejalan dengan

pasang surutnya perjuangan bangsa, tanggal 27 Oktober 1945 kemudian dikenal

sebagai hari listrik dan gas, hari tersebut diperingati untuk pertama kali pada

tanggal 27 Oktober 1946, bertempat di gedung Badan Pekerja Komite Nasional

Indonesia Pusat (BPKNIP) Yogyakarta.

Dengan adanya Agresi Belanda I dan II, sebagian besar perusahaan-

perusahaan listrik dikuasai kembali oleh Pemerintah Belanda atau pemiliknya

15

semula, pegawai-pegawai yang tidak mau bekerjasama kemudian mengungsi dan

menggabungkan diri pada kator-kantor Jawatan Listrik dan Gas di daerah-daerah

Republik Indonesia yang bukan daerah pendudukan Belanda untuk meneruskan

perjuangan. Selanjutnya, dikeluarkan dikeluarkan Keputusan Presiden RI nomor

163 tanggal 03 Oktober 1953 tentang Nasionalisasi Perusahaan Listrik milik

bangsa asing di Indonesia jika waktu konsesinya habis.

Sejalan dengan meningkatnya perjuangan Bangsa Indonesia untuk

membebaskan Irian Barat dari cengkraman penjajah Belanda, maka dikeluarkan

Undang-Undang Nomor 86 Tahun 1958 tertanggal 27 Desember 1958 tentang

nasionalisasi semua perusahaan Belanda dan Peraturan Pemerintah Nomor 18

Tahun 1958 tentang Nasionalisasi seluruh asset-aset peninggalan colonial,

Pengusaha Perusahaan-Perusahaan Listrik dan Gas (P3LG) berubah bentuk

kepemilikannya. Dan berdasarkan undang-undang pemerintah no.19 tahun 1960

serta undang-undang no.67 tahun 1961, P3LG ini berubah menjadi Badan

Pimpinan Umum Perusahaan Listrik Negara (BPU-PLN) yang mengelola semua

perusahaan listrik dan gas. BPU-PLN akhirnya dirubah menjadi Perusahaan

Listrik Negara dan Perusahaan Gas Negara.

Berdasarkan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik

nomor 235/KPTS/1975 tanggal 30 September 1975 Peringatan Hari Listrik dan

Gas digabung dengan Hari Kebaktian Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik yang

jatuh pada tanggal 03 Desember, mengingat pentingnya semangat dan nilai-nilai

hari listrik, maka berdasarkan Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi

16

nomor 1134.K/43.PE/1992 tanggal 31 Agustus 1992 ditetapkanlah tanggal 27

Oktober sebagai Hari Listrik Nasional.

Untuk menghadapi tantangan yang dialami, PLN yang tadinya

berbentuk Perusahaan Umum pada tahun 1994,berdasarkan peraturan pemerintah

no.23 berubah menjadi Perusahaan Perseroan PT.PLN (Persero) dan juga

sebagai PKUK (Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan) dalam menyediakan

listrik bagi kepentingan umum hingga sekarang.

PT.PLN (Persero) Cabang Muara Bungo didirikan pada tahun 2009,

yang merupakan pemisahan 4 unit Ranting dari Cabang Jambi yaitu Ranting

Muara Bungo, Ranting Bangko, Ranting Sarolangun dan Ranting Tebo yang

beralamatkan di Jl.Sultan Thaha Muara Bungo. Pada pertengahan tahun 2009

dibentuk Ranting Rimbo Bujang, sehingga PT. PLN (Persero) Cabang Bungo

memiliki 5 unit Ranting asuhan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->