Laporan Kajian Undang-Undang Pemilu:
Sebuah Rekomendasi Terhadap Revisi UU No. 10/2008 tentang Pemilu Anggota DPR, DPR Provinsi, Kabupaten/Kota dan DPD Penyusun: Hadar Gumay Khoirunnisa Agustyati Nindita Paramastuti Refly Harun © Mei 2011

Mei 2011 Program Kajian dan Publikasi Buku ini didukung oleh IFES dengan pendanaan dari The Australian Agency for International Development (AUSAID) Sanggahan Pandangan yang dimuat dalam publikasi ini tidak secara otomatis mencerminkan pandangan dari The Australian Agency for International Development (AUSAID) atau Pemerintah Australia dan IFES

Daftar Isi i Daftar Isi Daftar Isi _________________________________________________________________ i Daftar Tabel _____________________________________________________________ ii Bab I Evaluasi Sistem Pemilu 2009 __________________________________________ 1 Bab II Sistem Penegakan Hukum Terhadap Pelanggaran Pemilu 2009 ___________ 15 Bab III Permasalahan Parliamentary Threshold & Konsep Penyederhanaan Partai Politik di Indonesia _______________________________________________________ 23 Bab IV Permasalahan Daftar Pemilih Pemilu di Indonesia _____________________ 42 Bab V Penutup ___________________________________________________________ 69 .

Perubahan Pasal Terkait Daftar Pemilih dalam UU No. 3%.Syarat Memperoleh Badan Hukum 26 Table 10 : Syarat Ikut Pemilu 27 Table 11 : Penerapan Electoral Threshold 28 Table 12 : Penerapan Parliamentary Threshold 28 Table 13 : Posisi Fraksi Mengenai Parliamentary Threshold untuk Pemilu 2014 31 Table 14 : Perbandingan Perolehan Kursi Berdasarkan Parliamentary Threshold 2. 5% 33 Table 15 : Ambang Batas di Beberapa Negara Untuk Kursi di Parelemen 36 Table 16 : Usulan Perubahan Parliamentary Threshold 40 Table 17 : KPU Membuat. Memutakhirkan dan Memelihara Data Pemilih 56 Table 18 : Usul Perubahan Pasal Terkait Daftar Pemilih dalam UU 10/2008 59 Table 19 : Usul Perubahan Pasal Terkait DPT dalam UU Nomor 42/2008 66 Table 20 . 10/2008 72 .Syarat Pendirian Parpol 25 Table 9 .5%.ii Daftar Tabel Daftar Tabel Table 1 : Negara-negara yang Menggunakan Mixed-Member Proportional System (MMP) 5 Table 2 : Perempuan Terpilih dengan Suara Terbanyak Dalam Pemilu 2009 11 Table 3 : Pendapat Mengenai Penerapan Sistem MMP 12 Table 4 : Beberapa Rumusan UU Pemilu ke Depan dengan Menggunakan Sistem Proporsional Campuran (MMP) 12 Table 5 : PHPU MK yang Tidak Dapat Diterima Karena Melewati Batas Waktu 3x24 Jam 16 Table 6 : Membentuk Peradilan Khusus Pemilu 19 Table 7 : Beberapa Rumusan UU Pemilu ke Depan Berdasarkan Sistem Penegakan Hukum yang Diusulkan 20 Table 8 . 4%.

.

.

yang untuk konteks pemilihan anggota DPR berjumlah 77 dapil (daerah pemilihan). 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Anggota DPR. yaitu dengan cara membagi akumulasi sisa suara di tingkat provinsi dengan sisa kursi yang ada. Bila masih ada sisa kursi dilakukan penghitungan tahap dua. Dengan catatan. dan DPRD (selanjutnya “UU Pemilu”) mengadopsi sistem proporsional terbuka untuk pemilihan anggota DPR dan DPRD sebagaimana tercantum dalam Pasal 5 ayat (1) yang berbunyi. bila memilih salah satu yaitu parpol atau kandidat saja tetap dianggap sah. 1 Pasal 5 ayat (1) UU No. Parpol yang mendapatkan kursi pada tahap ini tidak lagi memiliki sisa suara. Selanjutnya. Parpol yang mencapai BPP baru berhak memperoleh kursi. . “Pemilu untuk memilih anggota DPR. DPD. Angka BPP didapat dengan cara membagi jumlah suara sah di satu dapil dengan alokasi kursi di dapil tersebut. Penetapan perolehan kursi dilakukan secara bertahap.Bab I Evaluasi Sistem Pemilu 2009 U U Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR. UU Pemilu menentukan bahwa penetapan perolehan kursi dihitung berdasarkan perolehan suara parpol di masingmasing daerah pemilihan. penetapan perolehan kursi. pemilih pada Pemilu 2009 diberikan hak untuk memilih parpol dan kandidat sekaligus. hanya parpol yang mencapai perolehan suara sah minimal 2. dan DPRD kabupaten/kota dilaksanakan dengan sistem proporsional terbuka”. yaitu semua sisa suara parpol dari semua dapil dalam satu provinsi dikumpulkan di tingkat provinsi. Namun. bila di suatu dapil masih ada kursi yang belum terbagi. Dalam hal penetapan perolehan kursi DPR. yaitu kursi diberikan kepada parpol yang memperoleh 50% BPP.5% secara nasional yang akan diikutkan dalam penetapan perolehan kursi.1 Pengejawantahan lebih lanjut dari dipilihnya sistem tersebut tercermin dalam hal pemberian suara. Tahap satu. Dalam hal pemberian suara. dan DPRD. kursi diberikan kepada parpol yang mencapai 100% BPP (bilangan pembagi pemilihan). DPD. DPRD provinsi. Dengan catatan. yang menurut UU Pemilu berkisar antara 3-10 kursi (Pasal 22 ayat [2]). dilakukan penghitungan tahap tiga. kandidat pipilihan haruslah berasal dari parpol yang dipilih. Kemudian ditentukan BPP baru. dan penentuan calon terpilih.

2 ACE Electoral Knowledge Network. Setelah itu barulah ditentukan calon dari dapil tersebut yang memperoleh suara terbanyak. Kebebasan berekspresi partai politik. terdapat 10 kriteria yang diakui secara internasional. UU Pemilu menentukan bahwa parpol dapat mengajukan calon di suatu dapil hingga 120% dari jumlah kursi di dapil tersebut. di atas kertas parpol dapat mengajukan 12 nama di dapil tersebut. . Perlu digarisbawahi bahwa untuk penentuan calon untuk kursi tahap tiga dan tahap empat terlebih dahulu kursi yang telah dibagikan di tingkat provinsi tersebut dikembalikan ke dapil yang masih mempunyai sisa kursi sebelum pembagiannya dinaikan ke tingkat provinsi. Figure 1 PENETAPAN KURSI PARPOL UNTUK DPR TAHAP 1 100% BPP TAHAP 2 50% BPP TAHAP 3 100% BPP BARU TAHAP 4 SISA SUARA TERBANYAK Penentuan calon terpilih dari parpol yang memperoleh kursi di suatu dapil ditentukan berdasarkan perolehan suara terbanyak dari kandidat yang diajukan parpol yang bersangkutan. dilakukan penghitungan tahap empat. yaitu:2 1. Bila di suatu dapil diperebutkan 10 kursi. Inter Parliamentary Union‘s Declaration on Free and Fair Elections. Masalah dalam Penerapan Sistem Pemilu 2009 Untuk penilaian terhadap keberlangsungan sebuah pemilu. yaitu dengan cara membagikan kursi kepada parpol yang memperoleh sisa suara terbanyak satu per satu hingga kursi habis dibagikan.2 Bab 1 Bila masih ada kursi yang belum terbagi setelah diadakan penghitungan tahap tiga. Organization for Security and Cooperation in Europe‘s International Election Observation Standards.

dan dengan dibolehkannya parpol mengajukan hinggal 120% orang calon dari jumlah kursi yang diperebutkan. Lambatnya penghitungan suara terjadi karena sistem yang diterapkan memang rumit. 4. 10. pengumuman hasil pemilu dilakukan hingga tenggat hari terakhir. 6. Surat suara memuat terlalu banyak calon Dengan alokasi kursi 3-10 di setiap dapil. Pemilih yang terdidik. Pemungutan suara dilakukan pada tanggal 9 April 2009 dan pengumuman hasil pemilu dilakukan pada tanggal 9 Mei 2009. 2. Pelaksanaan pemungutan suara dengan damai. Hasil pemilu yang dapat diaudit. Pada Pemilu 2009. Pengumuman yang dilakukan pada tenggat waktu terakhir itu pun menyisakan persoalan karena ada dapil yang belum diketahui hasilnya. KPU yang permanen dengan staf ad hoc yang memiliki kompetensi. Untuk enam kriteria lain dinyatakan tidak terlaksana dan tidak terpenuhi. Proses penghitungan suara yang transparan. Penyelenggara pemilu tidak hanya menghitung perolehan suara parpol. Elections. jumlah parpol yang ikut sebanyak 38 (khusus di Aceh 44 parpol karena ada tambahan 6 parpol lokal). 2010. melainkan juga perolehan masing-masing calon yang diajukan parpol mengingat perolehan suara tersebut akan menentukan siapa calon yang terpilih. surat suara Pemilu 2009 berisi terlalu banyak calon. 9. peliputan media yang berimbang mengenai peserta pemilu. Bila ada 142-532 calon di surat suara bisa dibayangkan betapa 3 Adam Schmidt. Penghitungan suara lambat dan sulit UU Pemilu menentukan bahwa pengumuman hasil pemilu secara nasional yang dilakukan oleh KPU paling lambat dilakukan dalam jangka waktu 30 hari setelah hari pemungutan suara. pelaksanaan pemungutan suara dengan damai. 8. 7. 3. Banyaknya masalah dalam Pemilu 2009 antara lain disebabkan sistem pemilu yang rumit. Indonesia‘s 2009 Election: Performance Challenges and Negative Precedents dalam buku Problems of Democratisation in Indonesia. . Dari 10 kriteria ini. Adam Schmidt3 menilai bahwa hanya empat kriteria yang terpenuhi dalam pemilu 2009. dan proses penyelesaian konflik berjalan dengan baik. masalah-masalah tersebut antara lain sebagai berikut. yakni kebebasan berekspresi partai politik. Berdasarkan evaluasi terhadap pelaksanaan Pemilu 2009. Menurut catatan Cetro. Institutions. Peliputan media yang berimbang mengenai peserta pemilu (partai politik dan calon anggota legislatif). Itu pun yang diumumkan secara langsung oleh KPU hanyalah perolehan suara parpol untuk pemilihan anggota DPR dan perolehan suara calon anggota DPD.Laporan Kajian UU Pemilu 3 2. ISEAS. 1. Jumlah ini sudah tentu membuat kualitas pemilu patut dipertanyakan. 5. Proses penyelesaian konflik berjalan dengan baik. DPT yang akurat. and Society. Masyarakat sipil terlibat dalam semua aspek proses pemilu. jumlah calon tersebut berkisar 152-532 orang. Terlebih dari sisi pengenalan konstituen terhadap calon-calon yang diajukan.

Akhirnya tafsir terakhirlah yang diterima. Permasalahan juga terjadi pada penghitungan kursi tahap tiga dan tahap empat. Tidak bisa dimungkiri banyaknya sengketa karena didorong oleh sistem pemilu yang diterapkan. 4. KPU terbelah dalam menginterpretasikan ketentuan dalam UU Pemilu. Perbedaan satu suara saja bisa menyebabkan seseorang kehilangan kursi. Walaupun dalam kaitan dengan hal ini perlu pula dicatat bahwa ada kecenderungan calon menggunakan segala cara untuk mendapatkan kursi. Berdasarkan angka ini. sistem . calon-calon yang tidak puas dengan metode penghitungan suara KPU. yang tidak lain adalah terjemahan dari UU Pemilu. Banyaknya sengketa hasil pemilu di MK Pada Pemilu 2009 MK menerima hampir 700 kasus yang dibundel dalam 70 berkas perkara. tetapi bertambah buruk karena sengketa justru lebih banyak. mengajukan pengujian peraturan KPU yang mengatur tentang penentuan perolehan kursi tahap dua.4 Bab 1 tidak mudahnya proses penghitungan suara. setelah itu barulah ditentukan siapa calon yang memperoleh suara terbanyak di dapil tersebut. 3. Bisa dikatakan hanya tahap satu yang tidak bermasalah. Penentuan perolehan kursi bermasalah Bertahap-tahapnya penentuan perolehan kursi (hingga empat tahap) telah memunculkan persoalan. Namun. Untuk penghitungan tahap dua. Belum lagi ditemukan kenyataan bahwa banyak terjadi kecurangan. dapat disimpulkan bahwa manajemen pelaksanaan pemilu bukan bertambah baik. terutama terkait dengan pencatatan dan rekapitulasi hasil perolehan suara masing-masing calon.dapil yang masih ada sisa kursinya. yaitu penetapan calon terpilih dari kursi tahap tiga dan tahap empat. 5. Kali ini justru KPU yang menyimpang dari apa yang telah digariskan UU Pemilu. KPU beranggapan bahwa sisa suara yang diangkat ke level provinsi adalah hanya sisa suara dari dapil . yang kemudian memutuskan bahwa sisa suara yang diangkat ke level provinsi adalah sisa suara dari semua dapil di suratu provinsi. sedangkan tiga tahap lainnya harus melalui sengketa di MK dan MA. Permohonan tersebut dikabulkan MA. Keputusan KPU tersebut dipermasalahkan di MK. Jumlah ini meningkat dibandingkan Pemilu 2004 yang ‘hanya‘ 273 kasus. Penetapan calon terpilih bermasalah Rumitnya sistem pemilu yang diterapkan juga berdampak pada penetapan calon terpilih. Ada yang beranggapan bahwa kursi tahap tiga dan tahap empat diberikan kepada calon yang menyumbang sisa suara terbanyak. Untunglah putusan tersebut akhirnya ‗dimentahkan‘ oleh putusan MK yang mengembalikan metode penghitungan kursi tahap dua sebagaimana dirumuskan dalam UU Pemilu. yang bila diterapkan akan memunculkan kekacauan dan ketidakadilan karena mengubah secara signifikan perolehan kursi masing-masing parpol yang telah diumumkan KPU. Ada pula yang beranggapan bahwa kursi diberikan kepada dapil yang menyumbang sisa suara terbanyak.

Negara Kursi Single Member District 1 Bolivia 68 62 3% 130 . kajian ini tidak merekomendasikan pilihan terhadap kedua sistem tersebut. Table 1 : Negara-negara yang Menggunakan Mixed-Member Proportional System (MMP) No. yaitu yang memberi kesempatan kepada pemilih untuk memilih calonnya secara langsung. India.9 daerah pemilihan multimember (kursi dialokasikan berdasarkan populasi) sesuai dengan depertemen negara 2 Jerman 299 299 5% or 3 district seats 598 . seperti yang diterapkan di AS. dan beberapa negara lainnya. Inggris. bahkan dihilangkan. atau yang secara salah kaprah sering disebut dengan sistem distrik. Venezuela dan lain sebagainya. Sistem mayoritarian juga tidak cocok untuk konteks Indonesia yang majemuk. Meksiko. Sistem Proporsional Campuran (Mixed Member Proportional System) Untuk pemilu ke depan kiranya dibutuhkan sistem pemilu yang lebih sederhana agar masalah-masalah yang ditimbulkan sistem proporsional terbuka dapat dikurangi. Sistem proporsional tertutup sudah dianggap ketinggalan zaman (old fashion) karena sejak Pemilu 2004 Indonesia telah bergerak pada sistem yang lebih terbuka. Selandia Baru. Untuk konteks Indonesia.16 daerah pemilihan multimember menyesuaikan dengan Länder (komponen Kursi PR Threshold Jumlah Anggota Daerah Pemilihan . Yang paling mudah dan murah dari semua sistem pemilu yang ada adalah proporsional dengan daftar tertutup (closed list proportional representation system) seperti diterapkan dalam pemilu-pemilu di era Orde Baru dan Pemilu 1999 atau pluralitas/mayoritarian.299 daerah pemilihan .70 daerah pemilihan singlemember .Laporan Kajian UU Pemilu 5 pemilu yang diterapkan telah ikut menyumbang atau memfasilitasi keinginan para calon tersebut. Kajian ini menawarkan sistem campuran (mixed system) dengan varian mixed member proportional (MMP) seperti diterapkan di Jerman. Rekomendasi A. Terlebih jumlah parpol yang ada terlalu banyak sehingga dikhawatirkan suara yang terbuang atau tidak terwakili terlalu banyak.

5 Lesotho 80 40 Tidak ada data tersedia 120 .176 daerah pemilihan singlemember .1 daerah pemilihan untuk luar negeri mewakili 4 kelompok geografis (12 kursi): (a) Eropa (termasuk Federasi Rusia dan Turki). (Daftar) partai politik dalam koalisi: 2% suara sah total (Daftar) partai politik yang tidak berafiliasi dengan koalisi: 4% suara masuk nasional Daftar minoritas bahasa: 20% suara yang masuk di daerah pemilihan mereka Daftar manapun yang mendapatkan jumlah suara tertinggi diantara semua daftar dan memenangkan 2% suara yang masuk juga berhak mendapatkan kursi. (c) Amerika Utara dan Tengah. Asia. dan Antartika.6 Bab 1 No. (b) Amerika Selatan.1 daerah pemilihan singlemember di Valle d'Aosta . . Oceania.80 daerah pemilihan singlemember (first-past-the-post.satu daerah pemilihan nasional untuk 40 kursi (proportional representation.20 daerah pemiihan territorial multi-member (returning 146 Deputies) (64 Deputies lainnya dipilih dari kandidat ―ldaftar nasional) 4 Italia 475 155 Koalisi partai: 10 % suara sah total 630 . FPTP) . Negara Kursi Single Member District Kursi PR Threshold Jumlah Anggota Daerah Pemilihan negara federasi) 3 Hungaria 176 210 5% 386 . (d) Afrika.26 daerah pemilihan multimember untuk 617 kursi .

ipu. Artinya. 6 Mexico 300 200 2% 500 . Untuk konteks Indonesia.cfm. International IDEA: Table of Electoral Systems Worldwide http://www. Di Jerman jumlahnya fifty-fifty. Sama seperti sistem proporsional terbuka.asp. yaitu masing-masing 299 untuk jalur distrik dan jalur daftar.int/esd/world. IPU PARLINE DATABASE on National Parliaments http://www. Perolehan kursi suatu parpol ditentukan oleh suara yang diberikan kepada parpol yang bersangktuan. Jumlah kursi dari jalur distrik dan jalur daftar bervariasi di negaranegara yang menerapkan sistem ini. jumlah distrik atau dapil yang harus dibuat berjumlah 280 (separuh dari jumlah kursi DPR saat ini). Misalnya. Jumlah fifty-fifty bisa pula diterapkan di Indonesia untuk konteks pemilihan anggota DPR yang saat ini berjumlah 560 orang. Parpol A memperoleh 20% suara. dalam MMP pemilih sama-sama diberikan hak untuk memilih calon dan parpol sekaligus. Parpol hanya mengajukan satu calon di setiap dapil. tetapi untuk calon dari Partai B. Di Jerman persentasenya didasarkan pada perolehan suara di tiap-tiap negara bagian (16 negara bagian).50 anggota dipilih dari daftar partai 8 Venezuela 100 65 Tidak ada data tersedia 165 24 daerah pemilihan multimember (2 kursi atau lebih) menyesuaikan States dan Federal District Sumber: ACE COMPARATIVE DATA http://aceproject. calon dinominasikan dalam dua jalur. Electoral System Design: The New International IDEA Handbook (2008).7 daerah pemilihan singlemember Maori .idea.300 derah pemilihan singlemember . di DKI .org/. basis penghitungan proporsionalnya bisa dilakukan untuk tiap-tiap provinsi (33 provinsi). setiap parpol dapat mengajukan minimal sejumlah kursi yang diperebutkan. MMP adalah sistem yang berupaya memadukan kelebihan sistem proporsional (dalam hal derajat keterwakilan) dan sistem mayoritas (dalam hal akuntabilitas wakil rakyat terhadap konstituen). yaitu jalur distrik (seperti sistem mayoritas) dan jalur daftar (seperti sistem proporsional tertutup).63 derah pemilihan singlemember . Namun. Dalam MMP. pilihan terhadap parpol dan calon tidaklah harus paralel.Laporan Kajian UU Pemilu 7 No. Misalnya.org/epic-en/CDTable?question=ES005 .satu derah pemilihan nasional multi-member untuk 200 Deputies 7 New Zealand 65 55 5% or 1 district seat 120 . maka parpol tersebut berhak mendapat 20% kursi. Sementara untuk jalur daftar.electionguide. IFES Election Guide http://www. Pemilih bisa saja memilih Partai A.org/parline-e/parlinesearch. Negara Kursi Single Member District Kursi PR Threshold Jumlah Anggota Daerah Pemilihan PR).

. Sementara calon dari jalur daftar wajib hukumnya. Di sisi lain. hubungan atas wakil rakyat dan konstituen tidak berjalan secara baik. Bila pemilih hanya memilih calon. rangking pertama atau nomor urut 1. Bila ada satu calon Partai A menang di satu dapil. tidak di semua distrik). mungkin hanya terdiri dari 1-2 kabupaten atau bahkan beberapa kecamatan. maka di setiap dapil maksimal hanya akan ada 38 calon saja.4 Kendati demikian. suaranya tidak menjadi milik parpol yang mengajukan calon tersebut. Kelebihan lain yang perlu dicatat adalah tidak akan ada lagi sikut-menyikut atau salib-menyalib antarsesama calon dari satu partai untuk memperebutkan kursi karena parpol hanya dibolehkan mencalonkan satu orang di setiap dapil. Suara yang diberikan kepada calon secara langsung akan menentukan calon terpilih. Proses penghitungan suara dan penetapan perolehan kursi dalam MMP jauh lebih sederhana dibandingkan proporsional terbuka. sistem MMP tidak hanya mengakomodasi sistem proporsionalitas. Kursi yang satu lagi. Kecilnya dapil akan memudahkan anggota DPR yang kelak terpilih untuk memperjuangkan aspirasi konstituen mereka. perolehan suara parpol tidak akan bercampur aduk dengan perolehan suara calon yang banyak terjadi dalam praktek penghitungan suara dalam Pemilu 2009 karena parpol dan calon berada di kolom surat suara yang berbeda. Karena setiap parpol hanya mengajukan satu calon di setiap dapil. Bila Partai A memperoleh 20% suara. Bila tidak ada calon – calon Partai A yang menang di dapil. Secara teoretis.8 Bab 1 diperebutkan 10 kursi DPR.org/aceen/topics/es/esd/esd03/esd03a/esd03a01?toc . Karena Partai A mendapatkan 2 kursi di DKI. Konstituen sering tidak mengenal bahkan tidak tahu wakil rakyat mereka. Dikatakan maksimal karena dalam MMP dimungkinkan sebuah parpol tidak mengajukan calon di jalur distrik (umumnya di distrik-distrik tertentu saja. bila MMP diterapkan dengan formula fiftyfifty. jumlah dapil DPR akan bertambah dari 77 menjadi 280. karena dapil terbilang luas dan terdiri atas banyak kursi. Otomatis area dapil menjadi jauh lebih kecil. maka kursi diberikan kepada yang dicalonkan di jalur daftar. Secara teoretis. konstituen akan memperoleh kejelasan mengenai siapa yang mewakili mereka sehingga dapat dengan mudah menyalurkan aspirasi. perlu juga dicatat beberapa 4―Advantages and Disadvantages of MMP ―dalam http://aceproject. melainkan juga mendorong calon-calon terpilih berdasarkan distriknya masing-masing. akan diisi oleh calon Partai A yang berasal dari daftar calon. partai tersebut berhak atas 2 kursi. Misalkan ada 38 parpol yang berpartisipasi dalam pemilu. Perolehan suara parpol benar-benar didasarkan pada pilihan terhadap parpol tersebut. yang berarti memiliki keterkaitan dengan geografisnya. Selama ini. penghitungan suara masing-masing calon akan jauh lebih mudah. Mereka yang ditempatkan di urutan pertama dan kedua dari daftar calon di Provinsi DKI berhak atas kursi tersebut. maka satu kursi yang dimenangkan okan diisi oleh calon bersangkutan. harus dicari siapa calon dari Partai A yang menang di distrik-distrik di Provinsi DKI. Selain itu.

Apakah daerah.6 Kekhawatiran pada sistem MMP juga disampaikan oleh Yuda Irlang dari GPSP. dan ada kelompok yang berasal dari party list yang tidak memiliki ikatan geografis dengan dapil dan berterima kasih dengan partainya. 7 Yuda Irlang dalam FGD yang diadakan CETRO mengenai Reformasi Lanjutan Pemilu Indonesia. Bisa dikatakan MMP menyempurnakan sistem proporsional terbuka.7 Perubahan dari sistem proporsional terbuka ke MMP sesungguhnya bukanlah perubahan yang radikal.Laporan Kajian UU Pemilu 9 kelemahan MMP. 5―Advantages and Disadvantages of MMP‖ dalam http://aceproject. Hotel Puri Denpasar. Sistem MMP bagi Didik juga juga akan menimbulkan kesulitan dalam hal pembagian dapil dan mencetak surat suara. atau penduduk? Juga.5 Didik Supriyanto juga mencatat berbagai hal yang terkait dengan sistem MMP ini. anggota parlemen akan terbagi ke dalam dua kelompok legislator. untuk mengatasi kelemahan proporsional terbuka dalam Pemilu 2009. Perlu dicatat. masalah persaingan antarcalon dari satu parpol jelas tidak akan teratasi karena masih dimungkinkan untuk mencalonkan lebih dari satu calon di suatu dapil. Untuk konteks Indonesia. 26 Agustus 2010. yaitu memilih parpol dan calon sekaligus. yaitu kelompok yang bertanggung jawab terhadap konstituen dan memiliki ikatan dengan konstituen. misalnya. partai. 6 Didik Supriyanto dalam acara Media Briefing yang diadakan oleh CETRO di Jakarta pada tanggal 25 November 2011. ia mempertanyakan model keterwakilan parlemen Indonesia karena selain DPR ada pula DPD. Perubahan UU Pemilu. Misalnya. sedangakn dalam prorporsional terbuka disatukan. Selain itu. Menurutnya. Ada sementara pihak yang menyarankan.org/aceen/topics/es/esd/esd03/esd03a/esd03a01?toc. tidak banyak perubahan karena cara memilih kurang lebih akan sama. Kemudian. akan ada pemahaman bahwa suara untuk calon yang ditempatkan mewakili dapil tidak terlalu penting dibandingkan dengan perolehan suara partai. Dalam MMP. Kajian ini menilai bahwa cara tersebut tidak menyelesaikan secara tuntas masalah yang ditimbulkan sistem prorporsional terbuka. Dari sisi pemilih. ketika calon sudah terpilih akan muncul pertanyaan siapa yang akan diwakilinya. Penerapan suatu sistem pemilu karenanya sangat tergantung pada kebutuhan tempat di mana sistem itu diterapkan. bahwa dengan sistem ini bisa saja yang masuk ke dalam daftar party list adalah elite-elite partai atau keluarga dari para petinggi partai. Jakarta. kajian ini meyakini bahwa kebutuhan Indonesia ke depan adalah memadukan kelebihan sistem proporsional dan mayoritarian dengan cara yang lebih sederhana dan mudah dilaksanakan. misalnya dari 3-10 kursi menjadi 3-5 kursi. bagaimana mempertanggungjawabkan keterwakilannya. Perbedaan hanya terletak pada desain surat suara. . Misalnya. Misalnya. Setiap sistem pasti ada kelemahannya. Karena mereka baru dapat terpilih bergantung apakah partainya lolos PT atau tidak. tidak ada sistem pemilu di dunia ini yang sama sekali sempurna. Untuk itu MMP layak dipertimbangkan sebagai sistem pemilu ke depan. jumlah kursi di setiap dapil diperkecil saja. kolom parpol dan kolom calon dipisahkan. sistem MMP akan membagi anggota dewan menjadi ―Jawa‖ dan ―non-Jawa‖.

kekhawatiran bahwa calom perempuan susah terpilih dalam sistem MMP dapat ditepis. Berdasarkan hasil Pemilu 2009.68%) perempuan terpilih yang mendapatkan suara terbanyak di dapilnya. MMP dan Keterwakilan Perempuan Sistem MMP juga memiliki kelebihan untuk mengakomodasi berbagai kepentingan kelompok minoritas. terdapat 15 (2. Dengan catatan. Parpol juga harus menyadari bahwa calon yang diletakkan di distrik seharusnya adalah calon yang memang dikenal luas oleh masyarakat dan merupakan vote getter yang baik. Dengan demikian. Sedangkan calon perempuan lain dapat diletakkan dalam party list. bisa saja diterapkan sistem zigzag. Perempuan-perempuan ini adalah contoh vote getter yang berhasil mendapatkan suara terbanyak di dapilnya tersebut yang harus dipertimbangkan oleh parpol untuk diletakkan dalam jalur distrik. yakni penempatan nama calon antara laki-laki dan perempuan saling berselang. Apabila ingin lebih tegas. Apabila ini diterapkan maka sepertiga dari calon terpilih melalui party list bisa dipastikan adalah perempuan. yang berarti setengah dari calon terpilih melalui party list adalah perempuan. Kesempatan perempuan untuk terpilih juga terbuka di jalur distrik. party list dalam MMP digabungkan dengan zipper system. . yakni di antara tiga calon terdapat satu perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan juga dapat bersaing dan mendapatkan suara terbanyak di dapilnya. termasuk di dalamnya kelompok perempuan.10 Bab 1 B.

Peserta FGD terdiri dari pengamat.193 44. Pendapat didapat dari kuesioner yang dibagikan kepada seluruh peserta setelah acara FGD selesai.58% 72.585 242.61% 39.885 142.Laporan Kajian UU Pemilu 11 Table 2 : Perempuan Terpilih dengan Suara Terbanyak Dalam Pemilu 2009 Dapil Jambi DKI 2 Jabar 2 Jabar 7 Jabar 10 Banten 1 Jateng 5 Jateng 6 Jatim 5 Jatim 8 Jatim 9 Kalbar Maluku Malut Papua Barat Total Partai PAN Demokrat Demokrat Golkar PDIP PPP PDIP Demokrat PDIP PDIP PKB PDIP PKB Golkar Golkar No.144 127.231 45. upaya menjelaskan konsep ini terus dilakukan kepada parpol atau fraksifraksi di DPR. dan Makassar.651 63.62% 2.74% 66. termasuk kepada tokoh-tokoh parpol.68% C. anggota legislatif.159 73. 8 FGD diadakan di empat kota. dan lembaga swadaya masyarakat (LSM).61% 76. Pontianak. Konsep tentang MMP telah pula disampaikan CETRO kepada Baleg DPR.452 69. Posibilitas Penerapan MMP Hingga laporan ini dibuat.68% 151.790 % 106. akademisi. Adjeng Ratna Suminar Nurul Arifin Puti Guntur Soekarno Irna Narulita Puan Maharani Angelina Sondakh Sri Rahayu Sadarestuwati Anna Mu'awanah Karolin Margret Natasa Mirati Dewaningsih T. akademisi.607 122. Saat ini. St Nurrokhmah Ahmad Hidayat Irene Manibuy Suara 157. yaitu Jakarta.15% 46.79% 59.504 145.428 222.612 117. dan LSM menunjukkan dukungan yang kuat terhadap penerapan MMP sebagaimana yang tampak dari tabel di bawah ini. Hasil diskusi kelompok terpada (focused group discussion/FGD) di beberapa daerah mengenai revisi UU Pemilu8 yang dihadiri pengamat.092 44.90% 74.83% 31.37% 39.Urut 1 1 1 1 2 1 1 1 2 2 2 3 1 2 2 15 Nama Ratu Munawarah Zulkifli Melani Leimena Suharli R. Badan Legislasi DPR masih menggodok rancangan perubahan UU Nomor 10 Tahun 2008 (UU Pemilu 2008).52% 128. . Banda Aceh.22% 87.50% 56.69% 40.021 90. anggota legilsatif.

bila di DKI diperebutkan 10 kursi DPR. dan DPRD kabupaten/kota dilaksanakan dengan sistem proporsional campuran Ditiadakan. untuk DPRD provinsi. dan letak geografis. DPRD provinsi. Pemberian suara untuk Pemilu anggota DPR. jumlah penduduk. Suara untuk Pemilu anggota DPR. kabupaten/kota. Jumlah kursi didasarkan pada basis proporsional. dan. 22 (2) Penetapan Dapil Daerah pemilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) merupakan lampiran yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. Untuk DPR diusulkan basis proporsionalnya provinsi. dan DPRD kabupaten/kota dilakukan dengan memberikan tanda pada surat suara. DPRD provinsi. Suara untuk Pemilu anggota DPR. Contoh.12 Bab 1 Table 3 : Pendapat Mengenai Penerapan Sistem MMP Pendapat Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Setuju Sangat Setuju Tidak Berpendapat Total Jakarta 2 9 1 1 13 Aceh 1 10 6 17 Pontianak 2 8 4 14 Makassar 8 7 15 Total 5 35 18 1 59 Table 4 : Beberapa Rumusan UU Pemilu ke Depan dengan Menggunakan Sistem Proporsional Campuran (MMP) ISU Sistem Pemilu UU 10/2008 Pemilu untuk memilih anggota DPR. Jumlah Calon Daftar bakal calon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 memuat paling banyak 120% (seratus dua puluh perseratus) dari jumlah kursi pada setiap daerah pemilihan. DPRD provinsi. maka parpol bisa mencalonkan 12 nama. Lebih baik disebutkan prinsip-prinsip pembentukan dapil. 54 Metode Pemberian Suara 153 (1) Suara Sah . DPD. dan DPRD kabupaten/kota dilaksanakan dengan sistem proporsional terbuka PASAL 5 (1) USUL Pemilu untuk memilih anggota DPR. dan DPRD kabupaten/kota dilakukan dengan memberikan tanda satu kali pada surat suara. DPRD provinsi. yaitu memperhatikan wilayah administratif (provinsi. Jumlah 120% bisa dipertahankan untuk masing-masing basis proporsional. untuk DPRD kab/kota. Penetapan daerah pemilihan anggota DPR dan DPRD dilakukan oleh KPU Jumlah Kursi di Dapil Jumlah kursi setiap daerah pemilihan anggota DPR paling sedikit 3 (tiga) kursi dan paling banyak 10 (sepuluh) kursi. Daerah pemilihan anggota DPRD provinsi adalah kabupaten/kota atau gabungan kabupaten/kota 22 (4) Dapil 24 (1) Ditiadakan. kab/kota itu sendiri. DPD. dan kecamatan). Pemberian suara untuk Pemilu anggota DPR. provinsi itu sendiri.

Ambang Batas Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku dalam penentuan perolehan kursi DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota Penetapan Kursi DPR Penentuan perolehan jumlah kursi anggota DPR Partai Politik Peserta Pemilu didasarkan atas hasil penghitungan seluruh suara sah dari setiap Partai Politik Peserta Pemilu yang memenuhi ketentuan Pasal 202 di daerah pemilihan yang bersangkutan Note: Penentuan perolehan kursi hanya berlangsung dua tahap. Ambang Batas Partai Politik Peserta Pemilu harus memenuhi ambang batas perolehan suara sekurangkurangnya 2. dan DPRD kabupaten/kota dinyatakan sah apabila: b.5% (dua koma lima perseratus) dari jumlah suara sah secara nasional atau menang di 10 dapil untuk diikutkan dalam penentuan perolehan kursi DPR. Note: Di Jerman alternatifnya menang di 3 dapil. dan DPRD kabupaten/kota. pemberian tanda pada kolom nama/nomor partai dan/atau kolom nama/nomor calon calon anggota DPR. Penentuan perolehan jumlah kursi anggota DPR Partai Politik Peserta Pemilu didasarkan atas hasil penghitungan seluruh suara sah dari setiap Partai Politik Peserta Pemilu yang memenuhi ketentuan Pasal 202 di provinsi yang bersangkutan . dan DPRD kabupaten/kota. PASAL USUL DPRD provinsi.Laporan Kajian UU Pemilu 13 ISU UU 10/2008 DPRD provinsi. DPRD provinsi.5% (dua koma lima perseratus) dari jumlah suara sah secara nasional untuk diikutkan dalam penentuan perolehan kursi DPR 202 (1) Partai Politik Peserta Pemilu harus memenuhi ambang batas perolehan suara sekurangkurangnya 2. yaitu BPP provinsi (tahap 1) dan sisa suara terbanyak bila masih ada sisa kursi (tahap 2) Penetapan Kursi DPRD Provinsi Perolehan kursi Partai Politik Peserta Pemilu untuk anggota DPRD provinsi ditetapkan dengan cara membagi jumlah perolehan suara sah yang telah ditetapkan oleh KPU provinsi dengan angka BPP DPRD di daerah pemilihan masing-masing Penetapan Kursi DPRD Kab/Kota Perolehan kursi Partai Politik Peserta Pemilu untuk 212 (1) 211 (1) Perolehan kursi Partai Politik Peserta Pemilu untuk anggota DPRD provinsi ditetapkan dengan cara membagi jumlah perolehan suara sah yang telah ditetapkan oleh KPU provinsi dengan angka BPP DPRD di provinsi masing-masing Perolehan kursi Partai Politik Peserta Pemilu untuk 205 (1) 202 (2) Ditiadakan. pemberian tanda satu kali pada kolom nama partai atau kolom nomor calon atau kolom nama calon anggota DPR. DPRD provinsi. dengan alternatif menang di 5 dapil utk DPRD provinsi dan 3 dapil utk DPRD kab/kota. PT juga berlaku utk level provinsi dan kab/kota. dan DPRD kabupaten/kota dinyatakan sah apabila: b.

setelah itu barulah diberikan kepada calon dari jalur daftar (mulai dari nomor urut satu dst). .14 Bab 1 ISU UU 10/2008 anggota DPRD kabupaten/kota ditetapkan dengan cara membagi jumlah perolehan suara sah yang telah ditetapkan oleh KPU kabupaten/kota dengan angka BPP DPRD di daerah pemilihan masing-masing PASAL USUL anggota DPRD kabupaten/kota ditetapkan dengan cara membagi jumlah perolehan suara sah yang telah ditetapkan oleh KPU kabupaten/kota dengan angka BPP DPRD di kab/kota masing-masing Penetapan Calon Terpilih Suara terbanyak berdasarkan putusan MK 214 Kursi diberikan terlebih dahulu kepada calon yang memperoleh suara terbanyak di dapil.

Masalah hukum jenis keempat adalah domain Mahkamah Konstitusi (MK) untuk menyelesaikan berdasarkan mandat konstitusi yang diberikan (Pasal 24C ayat [1]) Perubahan Ketiga UUD 1945). (2) pelanggaran pidana. Masalah hukum jenis ketiga ditangani oleh Bawaslu/panwaslu. atau pengadilan yang menangani masalah ini. Masalah hukum jenis kedua merupakan wilayah ‖criminal justice system‖ untuk menyelesaikannya. Meskipun MK dinilai cukup baik dalam menangani soal perselisihan hasil pemilu. Namun. (4) perselisihan hasil pemilu. bukan berarti tidak ada masalah. yaitu perselisihan tentang penghitungan suara. Masalah hukum jenis pertama ditangani oleh KPU(D). yaitu pelanggaran tentang tata cara atau tahapan pemilu yang diatur dalam peraturan pemilu. Misalnya putusan yang mengabulkan permohonan calon anggota dewan. misalnya dalam hal terjadinya tumpang-tindih jadwal kampanye. Tidak ada data berapa pelanggaran administratif yang diadukan kepada KPU(D) selama pelaksanaan Pemilu 2009 dan Pilpres 2009. dan pengadilan. yaitu sengketa antar peserta pemilu. (3) sengketa pemilu. Hanya selama ini masalah hukum ini terlihat kurang menonjol karena faktanya jarang sekali terjadi sengketa antar perserta pemilu di luar masalah hasil pemilu dan tindak pidana pemilu. namun selama ini terlihat kurang maksimal dijalankan. Berdasarkan hasil evaluasi Pemilu 2009. yang bersangkutan tetap tidak mendapatkan kursi. bila hal tersebut terjadi. Masalah bisa muncul dari pengawas.. UU Pemilu sendiri tidak secara tegas menyebutkan mengenai sengketa pemilu ini sebagaimana UU Pemilu 2003. Sering putusan MK pun dinilai kontroversial dan memunculkan pro-kontra di masyarakat. dan. Lagi-lagi penanganan atas pelanggaran ini sering tidak efektif. secara tradisional. yaitu (1) pelanggaran administratif. yaitu penanganan dimulai oleh Bawaslu/panwaslu. dan berapa yang telah diselesaikan. Bahkan. polisi. .Bab II Sistem Penegakan Hukum Terhadap Pelanggaran Pemilu 2009 S istem penegakan hukum terhadap pelanggaran pemilu di Indonesia melibatkan banyak aktor atau institusi karena masalah-masalah hukum yang timbul juga bermacam-macam. selanjutnya oleh polisi. jaksa. terkadang KPU(D) terlihat tidak merasa wajib menyelesaikan pelanggaran seperti itu. masalah-masalah hukum yang terkait dapat dikategorikan ke dalam empat kategori. jaksa. yaitu pelanggaran yang ada unsur tindak pidana pemilunya. tetapi begitu dilaksanakan oleh KPU. Bawaslu/panwaslu dapat menyelesaikannya.

sengketa atas peraturan ini cukup menonjol dan menyita perhatian publik. Sengketa atas keputusan-keputusan KPU(D) juga cukup marak baik dalam pemilu. tetapi putusan tersebut dimentahkan oleh judicial review terhadap UU Pemilu di MK. dan Mahkamah Agung (MA) untuk tingkat kasasi. Batubara Tidak Dapat Diterima Permohonan kadaluarsa karena pemohon baru mendaftarkan perkara pada 13 Mei 2009 pukul 21. bukan penetapan calon terpilih. sengketa atas peraturan akan ditangani oleh MK (untuk undangundang) dan MA (untuk peraturan KPU[D]). Secara teoretis.A-VII/2009 DPD Prov.id . Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PT TUN) untuk tingkat banding. Table 5 : PHPU MK yang Tidak Dapat Diterima Karena Melewati Batas Waktu 3x24 Jam9 No 1 No Perkara 57/PHPU. yaitu 3 x 24 jam setelah KPU mengumumkan hasil pemilu.25 WIB Batas waktu permohonan 12 Mei 23.go. Pada Pemilu Legislatif 2009. ada juga masalah-masalah hukum yang terkait juga dengan pemilu. Sengketa atas keputusan ini diajukan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) untuk tingkat pertama.Yopie S. Sumatera Utara . Selain itu.50 3 56/PHPU. dalam hal pencoretan calon anggota DPR terpilih. MK sendiri tidak menerima permohonan yang demikian karena perselisihan hasil pemilu dibatasi waktunya. Masalahnya. Saluran hukum yang tersedia bagi pihak yang dicoret adalah menempuh gugatan ke PTUN. pukul 17. Masalah-masalah hukum yang disebutkan di atas tidak jarang membuat pelaksanaan pemilu menjadi penuh persoalan. yaitu (1) sengketa atas peraturan pemilu (baik undangundang maupun keputusan KPU(D). bahkan dapat memunculkan anarkisme di mana-mana ketika masalah tersebut tidak terselesaikan.10 Batas waktu permohonan 12 Mei 9 Data diakses dari website MK www.mahkamahkonstitusi.16 Bab 3 Selain empat masalah hukum tersebut. dan (2) sengketa atas keputusan KPU(D). yaitu ketika judicial review terhadap peraturan KPU dikabulkan MA.C-VII/2009 Partai SIRA Tidak Dapat Diterima Permohonan kadaluarsa karena pemohon baru mendaftarkan perkara pada 14 Mei 2009. Misalnya. PTUN menolak untuk memproses gugatan tersebut karena menganggap soal tersebut merupakan hasil pemilu. yang dipersoalkan adalah perolehan suara parpol.50 WIB 2 87/PHPU. Batas waktu permohonan adalah 12 Mei 2009.C-VII/2009 Pemohon Partai Patriot Putusan Tidak Dapat Diterima Keterangan Permohonan kadaluarsa karena permohonan baru didaftarkan pada 14 Mei 2009. Sengketa atas keputusan yang menonjol dalam Pemilu 2009 antara lain dikabulkannya gugatan tata usaha negara oleh PTUN Jakarta atas sengketa yang diajukan oleh empat partai politik peserta Pemilu 2004 yang tidak lolos verifikasi KPU sehingga peserta Pemilu 2009 bertambah dari 34 menjadi 38 partai di tingkat nasional (di luar enam partai lokal di Aceh). pukul 23.

ia dapat mengajukan kepada pengadilan pemilu.Faizal H. Ada yang beranggapan bahwa Bawaslu/panwaslu ditiadakan saja.A-VII/2009 DPD Prov. Dengan pengadilan khusus pemilu diharapkan masalah-masalah hukum pemilu yang tidak bisa ditangani atau tidak cepat ditangani dengan saluran-saluran yang ada (saluran konvensional) dapat teratasi. Kajian ini berkesimpulan bahwa peran Bawaslu/panwaslu tetap diperlukan. lantas mewacanakan pentingnya pembentukan pengadilan khusus pemilu.Laporan Kajian UU Pemilu 17 No No Perkara Pemohon Putusan Keterangan 23. Sulawesi Tengah . Fungsi pengawasan diserahkan kepada KPU(D). dapat diberikan kewenangan untuk melakukan penyelidikan. yaitu . karena bersifat permanen. Fungsi ini tidak efektif bila tetap ditangani KPU(D) karena institusi tersebut cenderung lebih terfokus pada pelaksanaan pemilu. Moh. bila peserta pemilu tidak puas dengan putusan Bawaslu/panwaslu.Hendy Frankim Tidak Dapat Diterima Permohonan kadaluarsa karena pemohon baru mendaftarkan perkara pada 13 Mei 2009 pukul 13. Saing Tidak Dapat Diterima Permohonan kadaluarsa karena pemohon baru mendaftarkan pada 13 Mei 2009 pukul 17. Pembentukan pengadilan pemilu adalah rekomendasi berikutnya dari kajian ini. Rekomendasi A. dan penuntutan terhadap masalah-masalah pidana pemilu yang berskala nasional.50 Beberapa pihak yang menyaksikan fenomena ini. peserta pemilu. tetapi fungsi atau kewenangannya harus lebih ditingkatkan. penyidikan. Peningkatan Kewenangan Bawaslu/Panwaslu Terjadi pro dan kontra mengenai keberadaaan atau eksistensi Bawaslu/panwaslu saat ini. dan masyarakat. yaitu fenomena tidak efektifnya pengadilan konvensional melindungi hak-hak pencari keadilan. Kepulauan Riau .50 4 46/PHPU. Agar ada pembagian beban tugas.30 Batas waktu permohonan 12 Mei 23. Fungsi yang bisa diberikan kepada Bawaslu/panwaslu adalah memutus pelanggaran administratif yang dilakukan oleh peserta pemilu.50 5 36/PHPU.00 Batas waktu permohonan 12 Mei 23. Pengadilan pemilu memutuskan untuk tingkat pertama dan terakhir terhadap banding yang diajukan tersebut. Dengan catatan.A-VII/2009 DPD Prov. biarlah Bawaslu/panwaslu yang diberikan kewenangan untuk memutus pelanggaran administratif. Pengadilan semacam ini juga untuk menjawab fenomena tidak kompeten dan tidak independennya pengadilan yang ada. Khusus untuk Bawaslu.

11 Syamsudin Haris dalam FGD ―Reformasi Lanjutan Pemilu Indonesia: Perubahan UU Pemilu‖ yang diselenggarakan CETRO di Jakarta.10 Syamsudin Haris. Ketiga. B. Oleh karena itu. penyidikan.18 Bab 3 masalah pidana pemilu yang penanganannya dilakukan langsung oleh Bawaslu. mereka tidak perlu lagi merekrut polisi dan jaksa. Menurutnya. pengawasan pemilu menjadi bagian integral dari KPU. terjadinya kekosongan hukum terhadap masalah hukum pemilu tertentu. Sedangkan untuk pidana pemilu yang berskala lokal. Jeiry Sumampow. atau jaksa bila memang tidak berjalan sebagaimana mestinya karena sebab-sebab tertentu. Hal ini mengingat keberadaan panwaslu bersifat tidak permanen. Didik Supriyanto. 10 . penyelesaian terhadap permasalahan pemilu bisa dilakukan dengan dua cara. peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyatakan bahwa pembentukan peradilan khusus pemilu baik. Karena Bawaslu melakukan penyidikan dan penuntutan. dikembalikan kepada sistem yang ada saja dengan memperkuat kontrol terhadapnya. panwaslu tetap diberikan peran terbatas untuk menerima laporan dan melakukan penyelidikan. misalnya. konsolidasi masalah-masalah hukum pemilu ke dalam satu peradilan. yaitu bagaimana dengan peran Bawaslu. polisi. tetapi bisa memunculkan kritik. lembaga ini harus diberikan kewenangan untuk merekrut atau dibantu tenaga penyidik dan penuntut (polisi dan jaksa). komposisi keanggotaan Bawaslu tidak perlu disebutkan dari polisi atau jaksa sebagaimana Pemilu 2004. Keempat. 26 Agustus 2010. dan penuntutan kasus tindak pidana pemilu yang ditangani panwaslu. kecuali bila ingin menganut ada dua institusi pemilu yang terpisah. berpendapat bahwa jika dibentuk Didik Supriyanto dalam acara Media Briefing yang diselenggarakan CETRO di Jakarta tanggal 25 November 2010. Menurutnya. Undang-undang sebaiknya juga menyebutkan bahwa Bawaslu berwenang mengambil alih penyelidikan. berpendapat tidak perlu peradilan khusus pemilu karena semakin banyak institusi yang dibuat akan semakin rumit dan semakin menghabiskan anggaran. Konsekuensinya. Kedua. dan juga perlu diidentifikasikan sengketa mana saja yang bisa dibawa ke pengadilan pemilu. yaitu bisa dengan membentuk peradilan khusus atau memberkuat peran Bawaslu. terbatasnya waktu dalam menyelesaikan masalah-masalah hukum pemilu. Pertama. Pembentukan Pengadilan Khusus Pemilu Pentingnya pembentukan pengadilan khusus pemilu paling tidak didasarkan pada empat alasan. Kendati perlu dicatat juga mereka yang berkeberatan terhadap adanya peradilan khusus pemilu. Bila suatu saat Bawaslu telah memiliki tenaga sendiri yang mumpuni di bidang penyidikan dan penuntutan. Tahap penyidikan dan penuntutan tetap dilakukan polisi dan jaksa. rendahnya kapasitas pengadilan konvensional terhadap masalah-masalah hukum pemilu. Akan terlalu besar biayanya dan tidak terlalu efektif bila panwaslu di daerah dipermanenkan. Bila pilihannya membentuk peradilan pemilu maka para ahli yang menjadi hakimnya.11 Sementara aktivis dari Komite Pemilih Indonesia (TePI).

Bila dibentuk pula di tingkat kabupaten/kota akan terlalu besar biayanya dan tidak mudah mencari hakim-hakim yang berkualitas. dan pemilukada. dan LSM dalam beberapa diskusi kelompok terpadu FGD yang diadakan CETRO di beberapa daerah sebagaimana tampat dalam tabel di bawah ini. 26 Agustus 2010. maka perlu dipertimbangkan peran dari Bawaslu/panwaslu supaya tidak terjadi overlapping. tingkat banding sebenarnya lebih baik diserahkan kepada MK karena MK telah diberikan kewenangan untuk menangani sengketa hasil pemilu. anggota legilsatif. Namun. Hakim pengadilan khusus pemilu terdiri dari hakim karier dan hakim ad hoc. pilpres.12 Gagasan tentang pembentukan pengadilan khusus pemilu ini didukung oleh pengamat. dan LSM. Hakim-hakim ad hoc dapat direkrut dari perguruan tinggi atau mereka yang pernah menjadi anggota KPU(D) dan Bawaslu/panwaslu. sekaligus memberikan jarak antara pengadilan dan pihak-pihak yang bertarung dalam pemilu.Laporan Kajian UU Pemilu 19 peradilan pemilu dalam cakupan yang luas. Pontianak. kecuali bila terbentuk konvensi ketatanegaraan yang disepakati semua pihak. dan Makassar. termasuk tokohtokoh LSM yang berkecimpung di wilayah pemilu. akademisi. hal ini tentu lebih sulit dilakukan. FGD diadakan di empat kota. Pembentukan di tingkat provinsi pun hanya dengan cara menempel di pengadilan tinggi di masing-masing provinsi. Data didapat dari kuesioner yang dibagikan kepada peserta setelah acara FGD selesai. . Alasan hanya dibentuk di tingkat provinsi adalah untuk menjaga kualitas pengadilan khusus pemilu. anggota legislatif. akademisi. Banda Aceh.13 Table 6 : Membentuk Peradilan Khusus Pemilu Pendapat Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Setuju Sangat Setuju Tidak Berpendapat Total Jakarta 1 8 3 1 13 Aceh 4 13 17 Pontianak 1 7 6 14 Makassar 4 11 15 2 23 33 1 59 Total Pengadilan khusus pemilu sebaiknya dibentuk di tingkat provinsi untuk tingkat pertama dan kamar khusus di MA untuk tingkat banding yang merupakan tingkat terakhir. yaitu di Jakarta. dengan jumlah hakim ad hoc lebih banyak untuk setiap majelis hakim. Peserta FGD terdiri dari pengamat. 12 13 Jeiry Sumampow dalam FGD ―Reformasi Lanjutan Pemilu Indonesia: Perubahan UU Pemilu‖ yang diselenggarakan CETRO di Jakarta. karena mensyarakatkan perubahan konstitusi. Bila memungkinkan.

20

Bab 3

Pengadilan khusus pemilu memiliki yurisdiksi untuk memutus seluruh masalah hukum pemilu, kecuali masalah perselisihan hasil pemilu dan pengujian atas undang-undang yang mengatur tentang pemilu. Kewenangan ini sesuai dengan mandat konstitusi adalah yurisdiksi MK, tidak bisa diutakatik lagi kecuali bila ada perubahan UUD 1945. Hukum acara pengadilan khusus pemilu dibuat tersendiri, terutama terkait penyelesaian masalah hukum yang diajukan. Sebaiknya tidak semua kasus dapat menempuh upaya hukum berjenjang. Untuk banding terhadap pelanggaran administratif yang diputuskan panwaslu, pengadilan tingkat provinsi menjadi tingkat yang pertama dan terakhir. Sementara pelanggaran yang diputuskan Bawaslu sebaiknya langsung diajukan kepada pengadilan tingkat MA. Beberapa kasus juga sebaiknya langsung diajukan ke tingkat MA, misalnya diskualifikasi terhadap calon anggota DPR, pencoretan parpol, dan sebagainya. Dikaitkan dengan perubahan undang-undang yang terkait pemilu ke depan, pembentukan pengadilan pemilu bisa dimasukkan dalam perubahan UU Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilu. Dengan begitu undang-undang tersebut akan menjadi UU tentang Penyelenggara dan Pengadilan Pemilu.

Table 7 : Beberapa Rumusan UU Pemilu ke Depan Berdasarkan Sistem Penegakan Hukum yang Diusulkan
ISU Pelanggaran Administratif UU 10/2008 Pelanggaran administrasi Pemilu diselesaikan oleh KPU, KPU provinsi, dan KPU kabupaten/kota berdasarkan laporan dari Bawaslu, Panwaslu provinsi, dan Panwaslu kabupaten/kota sesuai dengan tingkatannya KPU, KPU provinsi, dan KPU kabupaten/kota memeriksa dan memutus pelanggaran administrasi Pemilu dalam waktu paling lama 7 (tujuh) hari sejak diterimanya laporan dari Bawaslu, Panwaslu provinsi, Panwaslu kabupaten/kota Pelanggaran Pidana Pemilu Pelanggaran pidana Pemilu adalah pelanggaran terhadap ketentuan pidana Pemilu yang diatur dalam Undang-Undang ini yang penyelesaiannya dilaksanakan melalui pengadilan dalam lingkungan peradilan umum Perselisihan Hasil Pemilu Perselisihan hasil Pemilu adalah perselisihan antara KPU dan Peserta Pemilu mengenai 258 (1) 252 Pelanggaran pidana Pemilu adalah pelanggaran terhadap ketentuan pidana Pemilu yang diatur dalam Undang-Undang ini yang penyelesaiannya dilaksanakan melalui pengadilan pemilu dalam lingkungan peradilan umum Perselisihan hasil Pemilu adalah perselisihan antara KPU dan Peserta Pemilu mengenai penetapan perolehan suara hasil PASAL 249 USULAN Pelanggaran administrasi Pemilu diselesaikan oleh Bawaslu, panwaslu provinsi, dan panwaslu kabupaten/kota berdasarkan laporan dari peserta pemilu, pemantau, dan pemilih sesuai dengan tingkatannya Bawaslu, panwaslu provinsi, dan panwaslu kabupaten/kota memeriksa dan memutus pelanggaran administrasi Pemilu dalam waktu paling lama 7 (tujuh) hari sejak diterimanya laporan dari peserta pemilu, pemantau, pemilih

Jangka Waktu Pelanggaran Administratif

250

Laporan Kajian UU Pemilu

21

ISU

UU 10/2008 penetapan perolehan suara hasil Pemilu secara nasional Perselisihan penetapan perolehan suara hasil Pemilu secara nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah perselisihan penetapan perolehan suara yang dapat memengaruhi perolehan kursi Peserta Pemilu.

PASAL

USULAN Pemilu oleh KPU, KPU provinsi, dan KPU kab/kota.

258 (2)

Perselisihan penetapan perolehan suara hasil Pemilu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah perselisihan penetapan perolehan suara yang dapat memengaruhi perolehan kursi Peserta Pemilu dan/atau calon terpilih.

Note: Pemohon adalah parpol bila yang dipersoalkan perolehan kursi, dan calon yang bersangkutan bila yang dipersoalkan adalah penetapan calon terpilih. Tenggat Waktu Pengajuan Hasil Pemilu Peserta Pemilu mengajukan permohonan kepada Mahkamah Konstitusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lama 3 X 24 (tiga kali dua puluh empat) jam sejak diumumkan penetapan perolehan suara hasil Pemilu secara nasional oleh KPU 259 (2) Peserta Pemilu mengajukan permohonan kepada Mahkamah Konstitusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lama 3 X 24 (tiga kali dua puluh empat) jam sejak diumumkan penetapan perolehan suara hasil Pemilu oleh KPU, KPU provinsi, dan KPU kab/kota.

Note: perlu revisi UU 24/2003 tentang MK untuk penyesuaian.

22

Bab 3

Bab III Permasalahan Parliamentary Threshold & Konsep Penyederhanaan Partai Politik di Indonesia

S

ejak Pemilu 2009 Indonesia telah menerapkan ambang batas bagi parpol peserta pemilu untuk dapat mengirimkan wakil ke DPR yang biasa disebut dengan istilah “parliamentary threshold ” (PT). PT yang disepakati untuk Pemilu 2009 adalah sebesar 2,5 persen dari suara sah secara nasional dan khusus berlaku untuk pemilu anggota DPR sebagaimana tercantum dalam Pasal 202 dan 203 UU Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu anggota DPR, DPD, dan DPRD (UU Pemilu 2008). Penerapan PT umumnya dikaitkan dengan upaya untuk melakukan penyederhanaan parpol dan hal tersebut terkait dengan upaya untuk memperkuat atau mengefektifkan sistem pemerintahan presidensial yang telah menjadi pilihan bangsa Indonesia. Sering dikatakan bahwa sistem multipartai yang ada saat ini dengan jumlah partai mencapai puluhan tidak sesuai dengan sistem pemerintahan presidensial. Sebagaimana dikatakan Scott Mainwarning (1993), ―the combination of presidentialism and multipartism makes stable democracy difficult to sustain‖, bahwa kombinasi sistem pemerintahan presidensial membuat kestabilan demokrasi

Pasal 202 (1) Partai Politik Peserta Pemilu harus memenuhi ambang batas perolehan suara sekurang-kurangnya 2,5% (dua koma lima perseratus) dari jumlah suara sah secara nasional untuk diikutkan dalam penentuan perolehan kursi DPR. (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku dalam penentuan perolehan kursi DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota. Pasal 203 (1) Partai Politik Peserta Pemilu yang tidak memenuhi ambang batas perolehan suara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 202 ayat (1), tidak disertakan pada penghitungan perolehan kursi DPR di masing-masing daerah pemilihan.

berargumen bahwa meskipun polarisasi politik di Chile cukup tinggi. kompromi. sistem presidensial dan multipartai dapat berjalan karena keinginan elite politik dan rakyat untuk berkompromi dan keinginan untuk menciptakan institusi demokrasi yang kokoh. dan parlemen memiliki hak untuk mengamandemen legislasi inisiatif presiden dengan perkecualian bujet. Seiring dengan penerapan sistem ini. 14 . Dengan sistem ini. 1977) sebaliknya berargumen bahwa di dalam sebuah masyarakat yang plural dengan perbedaan kultur. Benin berhasil menghadapi tiga tantangan terbesar yang biasa diasosiasikan dengan pelaksanaan sistem presidensial multipartai: (1) risiko instabilitas dan konflik dalam sistem.14 Sani dan Sartori (1983) berargumen bahwa tingkat polarisasi ideologis (partai politik) lebih berpengaruh pada penciptaan demokrasi yang stabil. Working Paper #144 – September 1990. Terdapat 106 partai politik di Benin. Sistem ini dapat berjalan dengan baik di Benin karena sistem didesain untuk menjadi sistem "presidensialisme yang kuat" (strong presidentialism) yang dapat beroperasi pada kondisi politik yang sangat terpecah dengan cara menghindari ketergantungan eksekutif pada stabilitas parlemen. (2) risiko autokrasi. Untuk negara dengan tingkat fragmentasi etnis dan bahasa yang tinggi. Pada periode ini. dimana presiden dapat mengeluarkan peraturan presiden). Multiparty Systems. 15 Ibid. menjamin tidak terjadinya konflik yang berkepanjangan. Valenzuela (1977. Kecenderungan terjadinya autokrasi dalam sistem presidensial dapat dicegah dengan keberadaan mahkamah konstitusi yang Scott Mainwaring. Arend Lijphart (1968. 16 Ibid. Sistem multipartai akan memungkinkan pihak minoritas terwakili secara substantif. dan (3) ketiadaan akuntabilitas. mereka juga memudahkan persyaratan pendirian partai politik dan menerapkan sistem hukum yang kuat. yang dapat berdampak pada berkurangnya keinginan minoritas untuk mengikuti aturan main (sistem demokrasi). pihak-pihak minoritas akan menjadi ―outsider‖ secara permanen. salah satu negara di Afrika yang mengadopsi sistem demokrasi presidensial multipartai. dan 12 di antaranya diwakili di parlemen. di mana mereka dapat berpartisipasi dalam koalisi pemerintahan. Dengan sistem dua partai (two party-system). dibandingkan dengan jumlah partai politik. Komponen moderasi.16 Contoh kasus lainnya terjadi di Benin (1990).15 Contoh kasus di Chile (1930-akhir 1960-an) yang menunjukkan bahwa sistem presidensial. sistem multipartai dapat mempromosikan demokrasi yang stabil (―stable democracy‖). kompromi. dan bahasa yang tajam. tingkat moderasi.24 Bab 3 sulit dipertahankan. adanya pemisahan yang jelas antara eksekutif dan legislatif (Presiden memiliki hak untuk memveto legislasi. ―Presidentialism. 1985) dan Scully (1989). dan konsiliasi juga sama tingginya. dan konsiliasi mendukung eksistensi demokrasi presidensial multipartai. Dalam sistem presidensial multipartai yang diadopsi Benin. serta keberadaan mahkamah konstitusi yang kuat. and Democracy: The Difficulty Equation‖. sistem multipartai. 1978. dan demokrasi yang stabil dapat berjalan beriringan. etnis. sistem ini dianggap cukup berhasil dalam menciptakan demokrasi yang stabil. agama.

lambang. Keanggotaan partai bersifat terbuka untuk seluruh WNI yang telah memiliki hak pilih Didaftarkan ke departemen kehakiman dengan syarat: a.17 Untuk konteks Indonesia. upaya penyederhanaan parpol di Indonesia ditempuh dengan sedikitnya melalui lima jalan. gambar perseorangan dan nama serta lambang partai yang telah ada 17 18 Andrew Ellis. Pasal 2 ayat (2): partai politik sebagaimana dimaksud pada ayat 1. Sepanjang yang dapat dicatat. yaitu (1) memperberat syarat pendirian parpol. dari pemilu ke pemilu di era Reformasi selalu ada upaya untuk menyederhanakan jumlah parpol. Mempunyai kepengurusan sekurang-kurangnya 50% dari jumlah provinsi.Syarat Pendirian Parpol UU PARPOL 1999 Bisa didaftarkan ke departemen kehakiman jika memenuhi syarat: a. KPU yang kuat. Proceedings dari Workshop dengan tema "Making Presidentialism Work: Sharing and Learning from Global Experience". Didirikan sekurangkurangnya 50 orang WNI yang telah berusia 21 tahun UU PARPOL 2002 Partai politik didirikan oleh sekurang-kurangnya 50 orang WNI yang sudah berusia 21 tahun dengan akta notaris UU PARPOL 2008 Partai politik dibentuk dan didirikan oleh sekurangkurang 50 WNI yang telah berusia 21 tahun UU PARPOL 201118 Pasal 2 ayat (1): Didirikan dan dibentuk sekurang-kurangnya 30 orang yang telah berusia 21 tahun atau yang sudah menikah disetiap provinsi. bisa jadi sistem dwipartai tidak cocok. dan sistem pemilu yang mewajibkan adanya dua putaran pemilihan presiden. Itulah sebabnya. tetapi tidak juga untuk sistem multipartai dengan begitu banyak partai seperti halnya Pemilu 1999. bendera kebangsaan negara asing.Laporan Kajian UU Pemilu 25 kuat. Kirsti Samuel. (4) menerapkan ambang batas bagi parpol untuk dapat mengikuti pemilu berikutnya (electoral threshold). Mexico. Memiliki akta notaris pendirian partai politik yang sesuai dengan UUD 1945 dan peraturan perundangundangan lainnya b. didaftarkan oleh paling sedikit 50 orang pendiri yang mewakili pendiri seluruh partai politik dengan akta notaris b. Partai politik tidak boleh menggunakan nama atau lambang yang sama dengan lambang negara asing. Februari 2008 Draft Perubahan UU tentang Parpol 2011 . Table 8 . Mencantumkan Pancasila sebagai dasar negara dari NKRI dalam anggaran dasar partai c. dan Pemilu 2009. Indonesia bisa jadi membutuhkan sistem multipartai yang sederhana. dan (5) menerapkan ambang batas bagi parpol untuk dapat mengirimkan wakilnya di parlemen (parliamentary threshold). (2) memperberat syarat parpol memperoleh badan hukum. Memiliki nama. bendera NKRI. 50% dari jumlah kabupaten/ kota pada setiap provinsi yang bersangkutan. dan 25% dari jumlah kecamatan pada setiap kabupaten/kota yang bersangkutan c. (3) memperberat syarat parpol untuk ikut pemilu. dan tanda gambar yang tidak memiliki persamaan pada pokoknya atau d. Pemilu 2004.

lambang. dan e. lambang.Syarat Memperoleh Badan Hukum UU PARPOL 1999 Tidak dicantumkan dalam UU 2/ 1999 syarat untuk memperoleh badan hukum UU PARPOL 2002 Tidak dicantumkan dalam UU 31/ 2002 syarat untuk memperoleh badan hukum UU PARPOL 2008 Harus memiliki: a. d. 50% dari jumlah kabupaten/ kota pada setiap provinsi yang bersangkutan.26 Bab 3 UU PARPOL 1999 UU PARPOL 2002 keseluruhannya dengan nama. Kepengurusan pada tingkat provinsi paling sedikit 75% dari jumlah kabupaten/kota pada provinsi yang bersangkutan dan paling sedikit 50% dari jumlah kecamatan pada kabupaten/kota yang bersangkutan d. provinsi. atau tanda gambar yang tidak mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan nama. dan tanda gambar partai politik lainnya. Kantor tetap pada tingkat pusat. Kantor tetap d. provinsi. atau tanda gambar partai politik lain degan peraturan perundangan c. kabupaten/kota. dan 25% dari jumlah kecamatan dari kabupaten/ kota yang bersangkutan. lambang. Akta notaris pendirian partai politik b. Nama. lambang. dan . Mempunyai kantor tetap UU PARPOL 2008 UU PARPOL 201118 Didirikan dengan akta notaris Kantor tetap Didirikan dengan akta notaris Kantor tetap pada tingkat pusat. dan tanda gambar partai politik lain sesuai dengan peraturan perundangan c. Kepengurusan paling sedikit 60% dari jumlah provinsi. Akta notaris pendirian partai politik b. dan kecamatan sampai tahapan terakhir pemilihan umum. lambang. dan kecamatan sampai tahapan terakhir pemilihan umum Table 9 . atau tanda gambar yang tidak mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan nama. kabupaten/kota. Nama. Memiliki rekening atas nama partai politik UU PARPOL 2011 Harus memiliki: a.

dan DPRD. pengurus sebagaimana dimaksud dalam huruf b dan huruf c harus mempunyai kantor tetap mengajukan nama dan tanda gambar partai politik kepada KPU f. Diakui keberadaannya sesuia dengan UU No 31 tahun 2002 tentang partai politik UU PEMILU 2008 Dapat mengikuti pemilu dengan syarat: a.000 (seribu) orang atau 1/1. Memiliki kepengurusan lengkap sekurang-kurangnya di 2/3 dari seluruh jumlah provinsi c. Mempunyai kantor tetap untuk jangka waktu 5 (lima) tahun pada kepengurusan sebagaimana pada huruf b dan c g. . memiliki anggota sekurang-kurangnya 1. Memikili kepengurusan 2/3 dari jumlah provinsi c. Berstatus badan hukum sesuia dengan UU partai politik b.000 (seribu) orang atau sekurangkurangnya 1/1000 (seperseribu) dari jumlah penduduk pada setiap kepengurusan partai politik sebagaimana dimaksud dalam huruf c yang dibuktikan dengan kartu tanda anggota partai politik e. keterwakilan perempuan pada kepengurusan partai politik tingkat pusat memiliki anggota sekurang-kurangnya 1.000 (satu perseribu) dari jumlah Penduduk pada setiap kepengurusan partai politik sebagaimana dimaksud pada huruf b dan huruf c yang dibuktikan e. dengan kepemilikan kartu tanda anggota UU PEMILU?19 a. memiliki pengurus di lebih dari ½ (setengah) jumlah propinsi di Indonesia c. dan huruf c. dan g. memiliki pengurus di lebih dari ½ (setengah) jumlah kabupaten kotamadya di propinsi sebagaimana dimaksud pada huruf b b.000 (seribu) orang atau 1/1000 (satu perseribu) dari jumlah Penduduk pada setiap kepengurusan partai politik sebagaimana dimaksud pada huruf b dan huruf c yang dibuktika dengan kepemilikan kartu tanda anggota f. mengajukan nama dan tanda gambar partai politik d. diakui keberadaannya sesuai dengan Undang-undang tentang Partai Politik UU PEMILU 2003 Dapat mengikuti pemilu dengan syarat: a. Rekening atas nama partai politik Table 10 : Syarat Ikut Pemilu UU PEMILU 1999 Dapat mengikuti pemilu dengan syarat: a. DPD. mengajukan nama dan tanda gambar partai politik kepada KPU 19 Draft Perubahan UU 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Anggota DPR. Memiliki kepengurusan di 2/3 (dua pertiga) jumlahkabupaten/ kota diprovinsi yang bersangkutan menyertakan sekurangkurangnya 30% (tiga puluh perseratus) d. Menyertakan sekurangkurangnya 30% (tigapuluh per seratus) keterwakilan perempuan pada kepengurusan partai politk tingkat pusat e. memiliki pengurus lengkap sekurangkurangnya di 2/3 (dua pertiga) dari jumlah kabupaten/kota di provinsi sebagaimana dimaksud dalam huruf b d. Memiliki kepengurusan di 2/3 jumlah kabupaten/ kota di provinsi yang bersangkutan d.Laporan Kajian UU Pemilu 27 UU PARPOL 1999 UU PARPOL 2002 UU PARPOL 2008 UU PARPOL 2011 e. Memiliki kepengurusan di 2/3 jumlah provinsi c. Mengajukan nama dan tanda gambar b. mempunyai kantor tetap untuk kepengurusan sebagaimana pada huruf b f. Berstatus badan hukum sesuai dengan Undangundang tentang Partai Politik b. Memiliki anggota sekurangkuranganya 1.

100. atau c. memperoleh sekurangkurangnya 3% (tiga persen) jumlah kursi DPR b. UU PEMILU 2008 Tidak ada ? UU PEMILU? Table 12 : Penerapan Parliamentary Threshold UU PEMILU 1999 Tidak ada UU PEMILU 2003 Tidak ada UU PEMILU 2008 Ambang batas perolehan suara sekurangkurangnya 2. 50. 500. Rp.5% dari jumlah suara sah secara nasional ? UU PEMILU? .000. memperoleh sekurangkurangnya 4% (empat persen) jumlah kursi DPRD Provinsi yang tersebar sekurangkurangnya di ½ (setengah) jumlah provinsi seluruh Indonesia.000 (lima ratus juta rupiah) untuk tingkat pusat. Menyerahkan nomor rekening atas nama partai politik dengan saldo minimal Rp.000.000 (lima puluh juta rupiah) untuk tingkat kabupaten/ kota Table 11 : Penerapan Electoral Threshold UU PEMILU 1999 2% dari jumlah kursi DPR atau memiliki sekurangkurangnya 3% jumlah kursi DPRD I atau DPRD II yang tersebar sekurangkurangnya di ½ (setengah) jumlah propinsi dan di ½ (setengah) jumlah kabupaten/kotamadya seluruh Indonesia UU PEMILU 2003 a.000 (seratus juta rupiah) untuk tingkat provinsi.28 Bab 3 UU PEMILU 1999 UU PEMILU 2003 UU PEMILU 2008 UU PEMILU?19 partai politik kepada KPU h.000. dan Rp. memperoleh sekurangkurangnya 4% (empat persen) jumlah kursi DPRD Kabupaten/Kota yang tersebar di ½ (setengah) jumlah kabupaten/kota seluruh Indonesia.

Pengurangan ini sangat signifikan dibandingkan dengan Pemilu 1999 (21 parpol) dan Pemilu 2004 (17 parpol). Diletakkan dalam konteks hasil Pemilu 2009. keanggotaan DPR saat ini hanya diisi oleh wakil dari sembilan parpol saja dari 38 parpol yang berpartisipasi dalam pemilu DPR. Pertama. Efektivitas sistem presidensialisme bukan terletak pada jumlah parpol dalam pemilu. 1999-2009 250 237* 200 PARTAI POLITIK 150 148 100 93 99 50 48 50** 21 24 17 57** 44*** 9 0 1999 2004 MENJELANG PEMILU 2009 PARPOL YANG MENDAFTAR KE DEPKUMHAM PARPOL YANG LOLOS SEBAGAI PESERTA PEMILU PARTAI YANG BERBADAN HUKUM DARI DEPKUMHAM PARPOL MASUK PARLEMEN * Partai yang terdaftar dari tahun 1999 s/d Des 2002 ** Sudah termasuk partai yang lolos threshold *** Partai lokal Khusus Provinsi NAD (6 Partai) Pada Pemilu terakhir (2009). penerapan ET dinilai tidak lazim bahkan aneh karena ambang batas ditentukan berdasarkan pencapaian parpol dalam pemilu lima tahun sebelumnya. Boleh saja ada ratusan parpol yang ikut pemilu. jumlah itu akan berkurang secara signifikan di parlemen. melainkan jumlah parpol di parlemen. dari 38 parpol yang bertarung untuk pemilihan anggota DPR. Figure 2 PARTAI POLITIK DI INDONESIA.5 persen suara pemilu DPR tidak boleh mengirimkan wakilnya. hanya sembilan parpol yang terwakili di DPR. Padahal. tetapi dengan mekanisme PT. Setidaknya ada lima alasan mengapa PT harus lebih dikedepankan ketimbang ET.Laporan Kajian UU Pemilu 29 Gambar di bawah ini memperlihatkan pertumbuhan atau pengurangan parpol di Indonesia sejak Pemilu 1999 hingga pemilu terakhir (Pemilu 2009) dengan penerapan lima instrumen penyederhaan parpol tersebut. Parpol-parpol lain yang tidak mencapai perolehan 2. dengan PT 2. yang dapat dikatakan sebagai konsep threshold yang lebih benar ketimbang ET. yang paling penting dari konsep penyederhanaan parpol adalah bukan berapa banyak jumlah parpol dalam pemilu. melainkan jumlah parpol dalam parlemen.5 persen. Kedua. Hal ini tidak terlepas dari penerapan PT sejak Pemilu 2009. bukan tidak mungkin telah terjadi perubahan yang mendasar dalam lima .

Selain itu. parpol yang tidak mencapai persentase tertentu tidak perlu bubar atau menggabungkan diri bila ingin ikut dalam pemilu berikutnya. Dikatakan demikian karena hak untuk mendirikan parpol dan ikut dalam pemilu adalah hak asasi manusia yang dijamin oleh UUD 1945. Konsekuensi dari penerapan ET adalah. Tiga parpol warisan Orde Baru. Sering elite-elite politik mendirikan parpol hanya untuk merebut posisi politik. Diperlukan beberapa kali pemilu bagi parpol baru untuk mengimbangi kemapanan ketiga parpol tersebut. Bukan tidak mungkin suatu saat mereka akan menjadi parpol besar. misalnya menguasai sejumlah kursi di DPR dan DPRD atau mendapatkan kursi kabinet. Keempat. partai tersebut sudah menjadi pengumpul suara terbanyak pada pemilu berikutnya (2009). parpol-parpol baru memiliki hak untuk hidup dan berkembang serta ikut pemilu berkali-kali. Bagi elite parpol yang hanya melihat parpol sebagai jembatan untuk merebut kursi parlemen atau posisi politik di pemerintahan pastilah tidak menyukai penerapan PT. Penerapan ET menyebabkan hak berserikat dan berkumpul tersebut potensial dilanggar. Parpol tersebut hanya terhalang untuk mengirimkan wakil di parlemen –yang mungkin bisa dikompensasi pada pemilu berikutnya—tetapi eksistensi mereka sebagai parpol tetap dapat dipertahankan. PDI(P). terhadap mereka hanyalah bila tidak mampu mencapai persentase tertentu sehingga tidak bisa mengirimkan wakilnya ke parlemen. Dengan penerapan PT. Dalam benak mereka. penerapan ET berpotensi melanggar konstitusi.30 Bab 3 tahun terakhir. Sebagai sebuah parpol mereka tetap dapat melakukan pembenahan dan konsolidasi secara terusmenerus. Public awarness terhadap ketiga parpol tersebut sudah dimulai puluhan tahun lebih dulu ketimbang parpol baru yang tumbuh pada era reformasi. Seharusnya ambang batas tersebut ditentukan oleh hasil pemilu saat itu juga. Baru menjelang pemilu mereka bekerja kembali untuk parpol dengan harapan memperoleh posisi politik lagi. penerapan PT akan merupakan disinsentif bagi petualang-petualang parpol yang berpikiran jangka pendek. Punishment. bagaimana mungkin setelah ‗berdarah-darah‘ dalam prosesi pemilu mereka tidak boleh mengirimkan wakilnya ke parlemen lantaran tidak . hak untuk memilih (right to vote) dan hak untuk dipilih (right to be candidate) adalah hak yang juga dijamin oleh konstitusi (putusan MK dalam pengujian UU Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilu. sudah sangat mapan dan memiliki jaringan parpol hingga ke daerah-daerah. kalau boleh dikatakan demikian. dari perspektif politik penerapan PT bisa dikatakan lebih adil ketimbang ET mengingat parpol yang ada saat ini tidak bertanding dengan garis start yang sama. Kendati baru berpartisipasi dalam Pemilu 2004. Dalam kaitan dengan ini Partai Demokrat bisa dikatakan sebagai pengecualian. Menghalangi sebuah parpol untuk ikut pemilu potensial melanggar hak untuk dipilih. Sebuah parpol yang tidak mencapai persentase tertentu dalam pemilu yang bersangkutan tidak diperbolehkan mengirimkan wakilnya. 24 Februari 2004). Problem konstitusional yang muncul adalah UUD 1945 menentukan bahwa setiap warga negara memiliki kebebasan untuk berserikat dan berkumpul. Ketiga. Caranya adalah dengan menerapkan PT. Kelebihan PT dalam konteks ini adalah. Kelima. dan PPP. Mereka jadi kurang peduli dengan perkembangan parpol yang mereka dirikan setelah mendapatkan posisi politik. dari aspek sosiologis. apabila sebuah parpol tidak mencapai ET maka parpol tersebut harus dibubarkan atau menggabungkan diri apabila ingin ikut pemilu berikutnya. yaitu Golkar.

Dengan jumlah partai yang lebih sederhana akan lebih mudah dalam tecapainya kesepakatan dalam membuat kebijakan dan program pembangunan. Anggota Baleg FPD) Sumber http://www. PKB PT 3% Peningkatan menjadi 3% untuk meminimalisir suara yang terbuang http://www.5% PT di angka 2.php/images/flash/templ ates/index. Ada fraksi yang menginginkan tetap dengan angka 2. PKS PT 5% di tingkat pusat http://mahfudzsiddik. Sekjen Partai Golkar) PDIP PT 5% Sebagai negara kepualauan dan dengan jumlah penduduk yang besar Indonesia tidak memerlukan jumlah partai yang besar.com/read /2010/10/20/339/384442/339/ golkar-tegaskan-sikap-dukungpt-5 Diakses pada 9 Februari 2011. Namun.co m/hg/politik/2010/12/27/brk . PAN PT tetap 2.5% baru sekali diterapkan pada pemilu 2009 sehingga belum perlu untuk dievaluasi.okezone.5 persen. tetapi ada yang menginginkan angka yang lebih besar lagi.tempointeraktif. maka jumlah partai perlu disederhanakan (Sutjipto. Partai Golkar PT 5% Penting untuk penataan sistem politik juga untuk menjadi adanya stabilitas politik dan efektifitas kinerja lembaga-lembaga negara. berapa angka PT yang layak dipertahankan? Dari berita-berita yang dapat diikuti dari media massa dan juga tatap muka langsung dengan para anggota DPR dapat diketahui bahwa telah ada kesepakatan di antara fraksi-fraksi untuk tetap mempertahankan PT. (Bambang Wuryatno. terutama dari fraksi-fraksi besar. Wakil Sekjen DPP PAN) http://english.php?option=com_co ntent&view=article&id=167470: pan-ngotot-pt-25persen&catid=17:nasional&Item id=30 Diakses pada 9 Februari 2011.id.20101227-301757. Namun. Dengan angka PT 2. bagi mereka yang melihat bahwa mempertahankan dan membesarkan eksistensi parpol jauh lebih penting ketimbang sekadar merebut satudua kursi parlemen akan menyambut PT sebagai jembatan untuk menghadirkan parpol besar dan kuat di kemudian hari.co. Pertanyaannya. (Teguh Juwarno. Agar tidak terjadi pemborosan proses politik khusunya di DPR (Idrus Marham.blogspot .Laporan Kajian UU Pemilu 31 mencapai PT.today. Table 13 : Posisi Fraksi Mengenai Parliamentary Threshold untuk Pemilu 2014 Fraksi Partai Demokrat Posisi PT 4% Keterangan/ Argumentasi Untuk memperkuat sistem presidensil.com/2010/06/ppp-danhanura-menolak-usultersebut.detiknews. Diakses pada 9 Februari 2011.html Diakses pada 9 Februari 2011. Penerapan PT 2.co. demi efektifitas pembangunan.5% saja suara yang hilang mencapai 19 juta suara. di antara fraksi tersebut belum sepakat mengenai besarannya.5% sudah cukup menyederhanakan partai yang masuk ke DPR 2009 dari DPR periode sebelumnya. Untuk menyederhanakn jumlah partai http://www.id/i ndex. sebagaimana terlihat dari tabel di bawah ini.html Diakses pada 9 Februari 2011.com/re ad/2011/01/06/143941/154058 1/10/demokrat-yakin-targetpt-4-persen-di-ruu-pemilu-gol. Ketua DPP PDIP) Peningkatan angka PT tidak akan membunuh partai kecil. http://news. menjelang Pemilu 2014 nanti.waspada.id/politi k/index/01022011/8183/PKB_ .

yang akan hilang di DPR hanya Parta Hanura. Dengan adanya PT 2. (Rohmahurmuziy.20100607-253189.5% sudah membuat suara hilang sebanyak 19 juta suara. Bila PT ditingkatkan menjadi 4 persen saja sebagaimana usul Fraksi Demokrat. Diterapkan pada hasil Pemilu 2009. (Abdul Malik Haramain) Sumber Mematok_Parliamentary_Thres hold_3_Persen Diakses pada 9 Februari 2011. Gerindra (4. Sedangkan bila PT ditingkatkan menjadi 3 persen.co m/hg/politik/2010/06/07/brk . Penolakan Gerindra tersebut dapat dipahami karena kenaikan PT hingga 5 persen dapat menghapuskan eksistensi mereka di DPR bila perolehan suara mereka tidak meningkat secara signifikan pada Pemilu 2014. sembilan parpol tersebut tetap bertahan di DPR.95%). Gerindra setuju dengan gagasan penyederhanaan partai namun bukan dengan meningkatkan PT. Wakil Sekjern PPP) http://hileud. dan PKS dan 4 persen yang diusulkan Fraksi Demokrat.id/node/50 2084 Diakses pada 9 Februari 2011. PPP PT tetap 2.04%).co.5% PT 2. Sedangkan fraksi-fraksi menengah dan kecil mengusulkan angka 3 persen.html Diakses pada 9 Februari 2011. PDIP. Peningkatan PT sampai 5% dapat membunuh demokrasi karena sama dengan memperbanyak suara yang hangus/ hilang. 3% diajukan demi berjalannya kompromi dalam pembuatan undang-undang di DPR. akan ada tiga parpol yang hilang di DPR. Hanura PT 3% http://bataviase. Tidak heran bila angka 3 persen dinilai menjadi angka kompromi di antara sembilan fraksi yang ada di DPR saat ini. yaitu Fraksi PAN dan Fraksi PPP. Gerindra Menolak gagasan PT 5%.64%). Penetepan peningkatan angka PT harus dilakukan secara rasional.5% yang digunakan pada pemilu 2009 layak dipertahankan. Dari tabel di atas terlihat bahwa fraksi-fraksi besar umumnya mengusulkan angka PT yang lebih besar.com/hileudnews ?title=PPP+Tolak+Parliamentar y+Threshold+Dinaikkan&id=73 173 Diakses pada 9 Februari 2011. dengan PT 5 persen. Satu fraksi (Fraksi Genrindra) tidak secara jelas menyebut angka pasti. . (Hanura.tempointeraktif.id. tetapi tegas menolak bila PT menjadi 5 persen. dan Hanura (3. Ketua Umum Hanura) http://www. yaitu 5 persen yang diusulkan Fraksi Golkar. Dua fraksi. yaitu Fraksi PKB dan Fraksi Hanura. Peningkatan PT akan mengurangi legitimasi keterwakilan di DPR. melainkan dengan pengetatan syarat partai yang ingin ikut dalam pemilihan umum.32 Bab 3 Fraksi Posisi Keterangan/ Argumentasi percuma. yaitu PKB (4.

64% 10.79% 17.099.5% No Partai Politik Suara %Suara Kursi 1 5 8 9 13 23 24 Partai Hati Nurani Rakyat Gerakan Indonesia Raya Partai Keadilan Sejahtera Partai Amanat Nasional Partai Kebangkitan Bangsa Partai Golongan Karya Partai Persatuan Pembangunan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Partai Demokrat 3.67% 18.67% 18.79% 26.00% 18.90% 22.144.88% 6.64% 10.813. 3%.561 5.07% 8.18% 19.10% 71.664.194 23.33% 81.725 19.79% 16.48% 7.64% 30.785 85. 4%.004.21% 5.05% 4. 5% PT 2.77% 4.530.57% 21.060 81.00% 18.84% 17 26 57 46 28 106 38 94 148 560 Research CETRO Total Suara Suara Terwakili Suara Tidak Terwakili 104.060 81.43% Kursi 17 26 57 46 28 106 38 94 148 560 % 3.940 6.64% 11.44% 5.673.50% 27.531 4.389 3.119 14.Laporan Kajian UU Pemilu 33 Table 14 : Perbandingan Perolehan Kursi Berdasarkan Parliamentary Threshold 2.286.18% 8.223 21.14% % Kursi 65 48 123 41 % 11.21% 5.21% 4.725 19.89% PT 3% PT 4% PT 5% 28 31 110 173 560 .591 77.198.175 68.01% 20.21% 5.46% 6.095.32% 19.52% % 3.213 8.022.289.79% 16.93% 6.086.33% 85.5%.378 5.013.013.43% Kursi 0 26 62 46 29 109 38 98 152 560 4.04% 4.95% 14.086.371 15.610 32.18% 8.572.32% 14.918.96% 7.93% 6.61% 26.48% 31.61% 8.

sistem yang dianggap paling baik dalam hal derajat keterwakilan. Artinya.8% 18.061 2009 (PT 3%) 2009 (PT 4%) 2009 (PT 5%) 169.734 7 8 2009 (PT 7.7% 81. Angka 18.457. Misalnya Burhanuddin Muhtadi dari Lembaga Survei Indonesia (LSI).785 104.173 57. ada 19 juta lebih suara yang tidak terwakili.099. kalau sekarang ada 9 parpol dapat masuk DPR maka sekaligus 9 parpol ini jugalah yang dapat masuk ke seluruh DPRD di Indonesia.851 19.5 persen tetap dipertahankan.004.369 113.785 59.099.5% 2009 (PT 2.845.403.000.061 169.1% 49.414 108.632.099.785 104. PT 5 persen akan menyebabkan terjadinya penyederhanaan parpol dan hanya menyisakan lima parpol di parlemen.5%) 169.612 42.7% 77.099.831.061 169.048.046 3.051.991.099.2% 81.563 104.33 persen tersebut adalah suara terbanyak kedua setelah Partai Demokrat yang memenangkan Pemilu 2009 dengan perolehan 20.9% 68.061 85.937 101. Menurutnya.7% Rekomendasi Kajian ini sendiri menyarankan agar angka 2.Kelima parpol tersebut akan .335.9% 50.5%) 169. Banyaknya suara yang hilang dalam pemilu tentu akan memunculkan pertanyaan tentang derajat keterwakilan (the degree of representativeness).2% SUARA YANG TIDAK TERWAKILI 3.095.778 105.653 19. Jadi tidak seperti yang digagas oleh beberapa Fraksi di DPR menerapkan PT di DPR sebagai dasar atau sekaligus menjadi PT di DPRD.84 persen suara.467.5% 5.1% 31.764. Dengan angka 2.403.158.785 95.403. Namun penerapan PT untuk pemilu anggota DPRD haruslah dipisahkan dari penerapan PT untuk DPR.52 persen.061 104.099.462.132 85.113 51.3% 44.653 23.891 2 3 4 5 6 2004 148.8% 1 1999 118.061 2009 (PT 10%) 169. bila hasil Pemilu 2009 yang menjadi patokan.672 52. Terlebih sistem yang dipakai adalah proportional representation system (PR system).854.132 81.048. atau setara dengan 31.33 persen (lihat tabel).194 71.403.3% 18.34 Bab 3 Figure 3 Suara Yang Terwakili Dalam Pemilu 1999 s/d 2009 NO PEMILU DPT TOTAL SUARA SAH SUARA YANG TERWAKILI 96.3% 22.5 persen saja.268.051.099. suara yang tidak terwakili mencapai lebih dari 32 juta suara dari 104.785 suara sah dalam Pemilu 2009. Perlu dicatat ada pula kalangan di luar parpol besar yang setuju terhadap PT 5 persen. tetapi juga diterapkan untuk pemilihan anggota DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota sehingga penyederhanaan juga terjadi di daerah.403.403.785 104. atau setara dengan 18.785 104. Sedangkan bila PT dinaikkan menjadi 5 persen.051 4.004.591 32.

Selain itu. 20 ”Muhatdi: PT 5 Persen Akan Ubah Peta Politik Pemilu 2014”. namun hal tersebut harus dicapai dengan cara elegan dan bermartabat. PDIP mewakili nasionalis populis. sistem yang diterapkan adalah MMP (mixed member proportional). Banyaknya jumlah parpol seperti yang selama ini terjadi makin menyebabkan sering terjadinya deadlock atas suatu kebijakan pemerintah ketika dibahas di parlemen. Akibatnya. perlu digarisbawahi. . Partai Demokrat yang mewakili golongan nasionalis relijius kanan. di Jerman penentuan lolos tidaknya suatu parpol untuk mendapatkan kursi parlemen tidak semata-mata didasarkan pada perolehan suara sah secara nasional saja. pemilu di Indonesia akan menjadi ajang ―membunuh‖ suarasuara minoritas dari parpol kecil. Penyederhanaan parpol memang penting dan memang kompatibel untuk sistem presidensial. Jerman. Namun. stabilitas politik sulit dicapai. www. mereka yang menang di distrik pemilihan tetap akan memperoleh kursi kendati partai yang bersangkutan tidak lolos PT.Laporan Kajian UU Pemilu 35 merepresentasikan peta politik pada Pemilu 2014. Menurut Burhanuddin Muhtadi. serta tetap dalam koridor demokrasi dan konstitusi. serta partai-partai Islam tradisionalis. 27 Desember 2010. Golkar mewakili nasionalis tengah. melainkan juga kemenangan suatu parpol di distrik pemilihan. prinsip dalam mencari angka PT yang ideal adalah terjadinya proses penyederhanaan sistem kepartaian yang juga diiringi dengan penguatan sistem presidensial.20 Mereka yang mengusung angka PT lebih tinggi umumnya merujuk pengalaman negara lain. Dengan menerapkan begitu saja kenaikan PT menjadi 5 persen tanpa memikirkan jalan keluar lainnya. Suatu parpol dapat memperoleh kursi di DPR bila (1) memperoleh suara sah secara nasional sebesar 5 persen dan (2) memenangkan setidaknya tiga kursi di distrik pemilihan. Di Jerman.tempointeraktif. misalnya.com. menerapkan angka 5 persen untuk pemilu mereka. dan partai-partai Islam modernis yang diwakili PKS atau PAN.

org/parlinee/reports/2045_E.htm 6 Sumber: http://www.htm 12 Sumber: http://www.htm Jumlah Parpol/Koalisi Parpol dalam Parlemen 1 Bulgaria List PR 4% suara nasional 4 Italia List PR 630 10 % suara sah total untuk koalisi 2% suara sah total untuk daftar partai politik dalam sebuah koalisi 4% suara nasional untuk partai politik yang tidak berafiliasi dengan koalisi politik 20% suara di daerah pemilihannya untuk language minority lists.bundeswahlleiter. 5 July 2009 2 Republik Ceko List PR 200 5% suara nasional 10% untuk koalisi 2 partai 15% untuk koalisi 3 partai 20% untuk koalisi 4 partai atau lebih Jerman 3 MMP 598 5% suara nasional atau 3 kursi 29 partai Sumber: http://www.org/parlinee/reports/2083_E.de/en/bundest agswahlen/BTW_BUND_09/presse/41_An erkannte_Parteien.org/parlinee/reports/2177_E.ipu.ipu.org/parlinee/reports/2155_E.html Data tidak tersedia 6 Sumber: http://www.ipu. 9 Sumber: http://www.org/parline- 6 Latvia List PR 100 5% suara nasional 19 partai politik Sumber: http://www.htm 7 Sumber: http://www.ipu.org/parlinee/reports/2121_E.ipu.org/parlinee/reports/2157_E.htm 5 Sumber: http://www.ipu.ipu.htm 5 Israel List PR 120 2% suara sah 34 partai politik Sumber: http://www.org/parlinee/reports/2155_E.ipu.htm 25 partai dan koalisi Sumber: http://www.36 Bab 3 Table 15 : Ambang Batas di Beberapa Negara Untuk Kursi di Parelemen No Negara Sistem Pemilu Jumlah Anggota Parlemen 240 Persentase Threshold Jumlah Parpol/Koalisi Parpol Ikut Pemilu 14 parpol dan 4 koalisi Sumber: OSCE ODHIR election reports Republic of Bulgaria – Parliamentary Elections.org/parlinee/reports/2083_E.htm .ipu.

elections.htm 10 Sumber: http://www.ro/en/section.htm 8 New Zealand MMP 120 5% atau setidaknya memenangkan satu electorate seat 19 partai politik Sumber: http://www.osce.ipu.org/odihrelections/documents.php? id=69 .nz/elections/candi dates-and-parties/party-lists.html 18 partai politik Sumber: http://www.org/parlinee/reports/2231_E.roaep.html 9 Belanda List PR 150 0.ipu.htm 7 Sumber: http://www.htm 7 Liechenstein List PR 25 8% suara nasional 3 partai politik (62 kandidat) Sumber: http://www.org/parlinee/reports/2187_E.ipu.htm 11 Rumania List PR 345 Majority sistem: Kandidat yang mendapatkan lebih dari 50% suara.67% suara nasional 10 Polandia List PR 460 5% suara nasional untuk partai politik 8% suara nasional untuk koalisi Daftar Minoritas Nasional tidak dikenakan threshold Data tidak tersedia 5 Sumber: http://www.Laporan Kajian UU Pemilu 37 No Negara Sistem Pemilu Jumlah Anggota Parlemen Persentase Threshold Jumlah Parpol/Koalisi Parpol Ikut Pemilu Jumlah Parpol/Koalisi Parpol dalam Parlemen e/reports/2177_E. Propotional system: 5% untuk partai politik Parai politik yang tidak memenuhi suara nasional masih bisa mendapatkan Data tidak tersedia 5 Sumber: http://www.html?lsi=true&limit= 10&grp=463 3 Sumber: http://www.org.ipu.kiesraad.org/parlinee/reports/2233_E.org/parlinee/reports/2255_E.nl/nl/English/EnglishNews/English-News-News/English-NewsNews2010/Results_of_the_9_June_2010_House_ of_Representatives_elections.

38 Bab 3 No Negara Sistem Pemilu Jumlah Anggota Parlemen Persentase Threshold kursi di parlemen jika memenangkan pemilihan di 6 daerah pemilihan untuk parlemen atau memenangkan 3 daerah pemilihan untuk senat.org/parlinee/reports/2285_E.ipu.htm 15 Turki List PR 550 10% suara nasional Catatan: Ada waiver untuk threshold bagi kandidat independen.org/parlinee/reports/2323_E.org/parlinee/reports/2303_E.ipu.ipu.htm 3 dan 26 kursi independen Sumber: http://www.ipu.htm .org/parlinee/reports/2323_E.ipu. Setelah terpilih kandidat independen dapat membentuk aliansi dalam parlemen. 14 partai Sumber: http://www. 12 June 2010 OSCE/ODIHR Needs Assessment Mission Report 6 Sumber: http://www.htm 14 Swedia List PR 349 4% suara nasional atau 12% suara di daerah pemilihan Data tidak tersedia 7 Sumber: http://www.htm 13 Slovenia List PR 90 4% Data tidak tersedia 7 Dengan 2 kursi untuk perwakilan etnik minoritas Sumber: http://www. 8% untuk aliansi 2 partai 9% untuk aliansi 3 partai 10% untuk aliansi 4 partai atau lebih Jumlah Parpol/Koalisi Parpol Ikut Pemilu Jumlah Parpol/Koalisi Parpol dalam Parlemen 12 Slovakia List PR 150 5% suara nasional 18 partai politik Sumber: Slovak Republic Parliamentary Elections.org/parlinee/reports/2287_E.

nz *** .org/parline-e/parlinesearch.osce.de/en/.org/odihr-elections/. German Federal Returning Officer http://www.Laporan Kajian UU Pemilu 39 No Negara Sistem Pemilu Jumlah Anggota Parlemen Sumber: Persentase Threshold Jumlah Parpol/Koalisi Parpol Ikut Pemilu Jumlah Parpol/Koalisi Parpol dalam Parlemen http://www.org.htm Sumber: IPU Parline Database http://www.asp.OSCE/ODIHR Election Observation Mission Final Report 5 partai Sumber: http://www.nsd.html 16 Ukraina List PR 450 3% 20 partai politik dan electoral block Sumber: UKRAINE PRE-TERM PARLIAMENTARY ELECTIONS 30 September 2007 . European Election Database http://www. OSCE/ODIHR Election Observation Mission Reports http://www.org. New Zealand Electoral Commission http://www.com/columnis t-225414-do-we-need-an-electionthreshold-in-turkey.org/.bundeswahlleiter.ipu.uib. Election Resources Online http://electionresources.org/parlinee/reports/2331_E.todayszaman. ACE Project http://aceproject.elections.ipu.no/european_election_database/.

tidak disertakan pada penghitungan perolehan kursi DPR di masing-masing daerah pemilihan. kalimat ini tidak diperlukan. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku dalam penentuan perolehan kursi DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota. DPRD provinsi.5% (dua koma lima perseratus) dari jumlah suara sah secara nasional untuk diikutkan dalam penentuan perolehan kursi DPR. sekurang-kurangnya 2. sekurang-kurangnya 2.5% (dua koma lima perseratus) dari jumlah suara sah dalam pemilu anggota DPR untuk diikutkan dalam penentuan perolehan kursi DPR. (2) Pasal 203 Pasal (1) Partai Politik Peserta Pemilu yang tidak memenuhi ambang batas perolehan suara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 202 ayat (1). Partai Politik Peserta Pemilu yang tidak memenuhi ambang batas perolehan suara sebagaimana dimaksud dalam Pasal.21 21 Bila sistem MMP yang diterapkan.. dan DPRD kabupaten/kota di masing-masing daerah pemilihan.. tidak disertakan pada penghitungan perolehan kursi DPR. c. .. Partai Politik Peserta Pemilu harus memenuhi ambang batas perolehan suara: a.5% (dua koma lima perseratus) dari jumlah suara sah dalam pemilu anggota DPRD provinsi untuk diikutkan dalam penentuan perolehan kursi DPR provinsi. sekurang-kurangnya 2. b.5% (dua koma lima perseratus) dari jumlah suara sah dalam pemilu anggota DPRD kabupaten/kota untuk diikutkan dalam penentuan perolehan kursi DPRD kabupaten/kota.40 Bab 3 Table 16 : Usulan Perubahan Parliamentary Threshold UU PEMILU 2009 Pasal 202 Pasal USULAN PERUBAHAN (1) Partai Politik Peserta Pemilu harus memenuhi ambang batas perolehan suara sekurang-kurangnya 2.

Laporan Kajian UU Pemilu 41 .

hasil audit daftar pemilih Pemilu 2009 yang dilakukan oleh Lembaga Penelitian. Padahal. Jakarta. Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) terhadap daftar pemilih sementara (DPS) pada Juli-Agustus 2008 menunjukkan sekitar 20. 22 .22 Sebelumnya. Pelaksanaan pemilu makin lama kian banyak masalah. DPD. Kendati demikian.8% masyarakat belum terdaftar. bila dibandingkan antara satu pemilu ke pemilu lainnya pada era Reformasi. Banyak pemilih yang tercecer pada Pemilu 2009 karena tidak masuk dalam DPT. penghilangan hak memilih warga karena tidak terdaftar dalam DPT adalah suatu hal yang serius. 2009 23 Audit Daftar Pemilih Pemilu 2009. http://www. Komnas HAM. dan DPRD (UU 10/2008) serta UU Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden (UU 42/2008). Artinya.php?option=com_content&task=view&id=189&Itemid=73. Sekadar gambaran. WNI yang telah berusia 17 tahun dan/atau sudah menikah tidak dapat menggunakan hak memilihnya. Laporan Tim Penyelidikan Pemenuhan Hak Sipil dan Politik dalam Pemilu Legislatif 2009.lp3es.Bab IV Permasalahan Daftar Pemilih Pemilu di Indonesia P emilu-pemilu di era Reformasi pada umumnya dipuji sebagai pemilu yang relatif demokratis bila dibandingkan pemilu-pemilu pada era Orde Baru. terdaftar dalam DPT adalah syarat untuk dapat menggunakan hak memilih bagi warga negara Indonesia (WNI) yang telah berusia 17 tahun dan/atau sudah menikah sebagaimana amanat UU Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum DPR.or. Sebagai bagian dari hak asasi manusia. Pemilu terakhir pada era Reformasi (Pemilu 2009) bahkan dinilai paling buruk bila dibandingkan dua pemilu sebelumnya (Pemilu 1999 dan Pemilu 2004). Hal yang paling menyumbang bagi karut-marut Pemilu 2009 adalah masalah daftar pemilih tetap (DPT).id/index. 1 Agustus 2008.23 Kondisi ini justru bertentangan dengan hakikat hak memilih yang dinilai sebagai hak asasi manusia. Diakses pada tanggal 12 Maret 2011. laporan Tim Penyelidikan Pemenuhan Hak Sipil dan Politik dalam Pemilu Legislatif 2009 oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menunjukkan terdapat sekitar 25-40% pemilih kehilangan hak memilih karena tidak masuk daftar pemilih. Tidak ada yang tahu secara persis berapa pemilih yang tidak terdaftar dalam Pemilu 2009. trennya bukan malah membaik. bila tidak tercantum dalam daftar pemilih.

perlindungan.‖   Selain tiga macam dasar hukum lokal tersebut. dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum‖. serta dengan pemungutan suara yang rahasia ataupun menurut cara-cara lain yang juga menjamin kebebasan mengeluarkan suara‖. Beberapa instrumen hukum yang mengatur hak memilih baik secara eksplisit maupun implisit antara lain sebagai berikut:  Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 menyatakan bahwa ―Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. Pada tingkat undang-undang. umum. rahasia. kemauan ini harus dinyatakan dalam pemilihanpemilihan berkala yang jujur dan yang dilakukan menurut hak pilih yang bersifat umum dan berkesamaan. Indonesia juga mengakui dan telah terikat dengan instrumen-instrumen internasional yang mengatur hak memilih. bebas. (3) Kemauan rakyat harus menjadi dasar kekuasaan pemerintah. . ―Setiap warga negara berhak untuk dipilih dan memilih dalam pemilihan umum berdasarkan persamaan hak melalui pemungutan suara yang langsung. ―(3) setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan. UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia mengatur hak memilih dalam Pasal 43 yang menyatakan bahwa. jujur. sebagai bagian dari warga bangsa-bangsa di dunia. maka pembatasan penyimpangan. ―Menimbang. jaminan terhadap hak memilih (the right to vote) tidak hanya berasal dari undang-undang. Beberapa instrumen hukum internasional tersebut antara lain. bahwa hak konstitusional warga negara untuk memilih dan dipilih (right to vote and right to be candidate) adalah hak yang dijamin oleh konstitusi. dan adil sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.‖ Pasal 28D ayat (1) dan ayat (3) Perubahan Kedua UUD 1945 menentukan bahwa: ―(1) Setiap orang berhak atas pengakuan. peniadaan dan penghapusan akan hak dimaksud merupakan pelanggaran terhadap hak asasi dari warga negara.  Pasal 21 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) menyatakan bahwa: ―(1) Setiap orang berhak turut serta dalam pemerintahan negerinya sendiri. jaminan. baik dengan langsung maupun dengan perantaraan wakil-wakil yang dipilih dengan bebas.‖ Mahkamah Konstitusi (MK) dalam putusan Perkara Nomor 011-017/PUUI/2003 tanggal 24 Februari 2004 antara lain menyebutkan. jaminan hak memilih juga terdapat dalam instrumen hukum internasional yang juga berlaku di Indonesia baik karena telah diratifikasi maupun karena instrumen dimaksud merupakan pernyataan yang harus diikuti oleh suatu negara sebagai warga bangsa-bangsa di dunia. Selain itu. (2) Setiap orang berhak atas kesempatan yang sama untuk diangkat dalam jabatan pemerintahan negerinya.Laporan Kajian UU Pemilu 43 Dalam konteks Indonesia.‖ Pertimbangan hukum dari MK menggunakan kedua pasal dalam UUD 1945 sebagai dasar untuk menyatakan bahwa hak untuk memilih dan dipilih adalah hak yang dijamin konstitusi. undang-undang maupun konvensi internasional. melainkan juga konstitusi.

hak-hak sipil dan hak-hak politik adalah sesuatu yang esensial. Oleh sebab itu. dan yang paling khususnya hak atas akses terhadap informasi. diakses pada tanggal 7 April 2011. dan kerahasiaan sehingga semua pemilih dapat memilih wakilnya dengan keadaan bebas. terbuka.org/womenwatch/osagi/wps/publication/Chapter4.26 Daftar pemilih berperan penting dalam melegitimasi proses pemilu karena melalui daftar tersebutlah pemilih dapat mengonfirmasi eligibility mereka. untuk mencegah orang-orang yang tidak punya hak untuk memilih berpartisipasi dalam pemilu. Daftar pemilih bertujuan untuk menjamin bahwa semua warga negara yang sudah memiliki hak memilih dapat berpartisipasi dalam pemilu.44 Bab 4  Hak memilih juga tercantum dalam International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) yang telah diratifikasi Indonesia dengan UU Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional Tentang Hak-Hak Sipil Dan Politik). baik secara langsung maupun melalui wakil-wakil yang dipilih secara bebas.aceproject. Pemilu harus dilaksanakan berdasarkan asas universal. dan untuk mencegah pemberian suara berulang dari orang yang sama. Elemen kunci dalam menjalankan demokrasi adalah menjalankan pemilu yang adil dan bebas dan membuka kesempatan warga negara untuk mengekspresikan keinginannya.. mengorganisasikan partai politik. http://www.htm. tanpa pembedaan apapun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan tanpa pembatasan yang tidak beralasan: a) Ikut dalam pelaksanaan urusan pemerintahan. 26 Ace Project.org/ace-en/topics/vr/vra/vra01. Daftar ini juga digunakan dalam pendidikan pemilih serta dapat digunakan oleh partai politik dan calon peserta pemilu untuk membantu mereka dalam kampanye. ―Setiap warga negara juga harus mempunyai hak dan kebebasan. kesamaan. Akurasi daftar pemilih adalah elemen yang penting untuk menjamin bahwa seluruh konsituen yang eligible dapat mempergunakan hak mereka untuk memilih. 1998.un. serta dilakukan melalui pemungutan suara secara rahasia untuk menjamin kebebasan dalam menyatakan kemauan dari para pemilih.‖ Dalam Universal Declaration on Democracy terdapat prinsip-prinsip demokrasi yang menjunjung hak warga negara untuk berpartisipasi dalam pemilu yang merupakan kunci untuk menjalankan demokrasi. dan menjalankan aktivitas politik. c) Memperoleh akses pada pelayanan umum di negaranya atas dasar persamaan. dan transparan yang dapat mendukung kompetisi politik.25 Sebuah daftar pemilih juga berfungsi sebagai alat kontrol legitimasi atas proses pemungutan suara yang digunakan oleh penyelenggara pemilu. legitimasi proses pemilu sendiri dapat dipertanyakan apabila ada masalah dengan pendaftaran Democracy: Its Principles and Achievement. b) Memilih dan dipilih pada pemilihan umum berkala yang jujur. dan dengan hak pilih yang universal dan sama. Inter-Parliamentary Union. Daftar ini harus dikelola dengan baik untuk menjamin bahwa warga negara yang sudah memenuhi ketentuan untuk memilih telah terdaftar untuk memilih.24  Agar warga negara dapat menggunakan hak demokrasi mereka untuk memilih. http://www. Pasal 25 ICCPR menyatakan bahwa. Sebaliknya. diakses pada tanggal 8 April 2011. diperlukan adanya sistem pendaftaran pemilih yang komprehensif dan inklusif. 24 25 .

(Jakarta: Kemitraan). Sebagian besar daftar penduduk potensial pemilih pemilu (DP4) dari pemerintah daerah kabupaten/kota tidak dapat diandalkan dari segi derajat cakupan. atau lebih sering disebut sebagai pansus hak angket DPT yang disahkan pada tanggal 2 Juni 2009 pada sidang paripurna DPR. . khususnya penetapan penyusunan DPT menjelang pelaksanaan pemilu presiden lebih baik dari pelaksanaan pemilu legislatif sebelumnya dan untuk perbaikan sistem pemilu agar tidak ada lagi keluhan dan pelanggaran HAM terhadap warga negara yang tidak dapat memilih. mengidentifikasi sejumlah masalah. terutama integritas daftar pemilih. KPU tidak memiliki parameter yang terukur dalam menerima atau menolak DP4 dari pemda. KPU tidak mempunyai sikap yang jelas terhadap DP4 dari pemda kabupaten/kota yang mempunyai kualitas yang tidak dapat diandalkan. dan akurasi. karena tidak tersedia informasi yang memadai dan menarik mengenai pemutakhiran daftar pemilih. Tujuan pembentukan hak angket adalah untuk memperbaiki sistem agar masalah penyelenggaraan pemilu. Pada proses pendaftaran pemilih Pemilu 2009 ditemukan berbagai masalah sebagai berikut:28  Sejumlah warga negara yang berhak memilih tidak mempunyai kartu tanda penduduk (KTP) atau nomor induk kependudukan (NIK). sehingga tidak dapat terdaftar dalam daftar pemilih tetap (DPT). persyaratan domisili pemilih yang diterapkan antara de jure dan de facto menimbulkan masalah.      27 28 Ibid. Aceh.27 Kekacauan daftar pemilih pada Pemilu 2009 akhirnya berujung pada pembentukan panitia khusus (pansus) hak angket pelanggaran konstitusional terhadap hak warga negara untuk memilih. kepercayaan pemilih akan runtuh dan hal ini akan sangat berbahaya bagi sistem demokrasi yang bergantung pada partisipasi warga negara. Dengan demikian. Laporan Evaluasi Integritas Proses dan Hasil Pemilu 2009. Apabila ditemukan data pemilih yang tidak akurat dan ilegal.Laporan Kajian UU Pemilu 45 pemilih. kegiatan pendaftaran pemilih adalah satu satu kegiatan penting dalam penyelenggaraan pemilu. atau menganggap hal lain lebih penting daripada mengecek daftar pemilih. Hasil evaluasi terhadap integritas proses dan hasil penyelenggaraan Pemilu 2009 yang dilakukan oleh Partnership for Governance Reform (Kemitraan). tidak hanya karena pemutakhiran data penduduk dilakukan secara pasif melainkan juga karena pemda tidak mengakomodasi DPT pemilu/pemilu kada sebelumnya dalam penyusunan DP4 pemilu berikutnya. kemutakhiran. Pemilih bersikap pasif dalam menanggapi DPS karena merasa sudah tercatat sebagai pemilih karena ikut memberikan suara pada pemilu sebelumnya. yang dilakukan dengan metode focus group discussion (FGD) di tiga daerah (Surabaya. dan Jakarta). Banyaknya warga yang tidak dapat memilih dalam Pemilu 2009 lalu menjadi ironi dari pernyataan bahwa hak memilih adalah hak yang dijamin konstitusi.

Hanya sedikit partai politik yang meminta salinan DPS kepada PPS. Bahkan. masalah daftar pemilih dapat diidentifikasi sebagai berikut: (1) kurang sinkronnya aturan.46 Bab 4  Pembentukan Panitia Pemutakhiran Daftar Pemilih (PPDP) tidak hanya terlambat tetapi juga tidak sesuai dengan maksud dan tujuan pembentukan PPDP. Akar Masalah Daftar Pemilih Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden 2009. dan (4) lemahnya perangkat lembaga pengawas pemilu.31 Menurut KPU. dan PPS hanya akan memberikan salinan DPS kepada partai bila wakil partai mengganti biaya fotokopi. (2) buruknya data awal yang berasal dari data kependudukan yang dihasilkan oleh Departemen Dalam Negeri menjadi akar masalah yang penting dari karut-marutnya daftar pemilih. Jakarta: Formappi. (2) tidak adanya kebijakan khusus sistem penganggaran pemilu.     Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) dalam laporan hasil pemantauan yang dilakukan di lima provinsi (Jawa Timur. Laporan KPU dalam evaluasi pelaksanaan Pemilu 2009 menyebutkan bahwa salah satu masalah dalam Pemilu 2009 yang paling banyak mendapat sorotan adalah mengenai daftar pemilih. (3) data kependudukan dan penyusunan daftar pemilih. Dalam evaluasi Pemilu 2009 yang diadakan oleh KPU terbukti bahwa isu pendaftaran pemilih memuat masalah yang paling banyak dibandingkan isu-isu pemilu lainnya. (Jakarta: Komisi Pemilihan Umum. Laporan Evaluasi Pelaksanaan Pemilu 2009. 2009). daftar pemilih menjadi salah satu isu menonjol yang digunakan untuk mengkritik penyelenggara pemilu. Sulawesi Selatan. dan DKI Jakarta) mengidentifikasi empat masalah utama yang terkait daftar pemilih. selama dan sesudah pemilu berjalan. 11 September 2009. dan kelemahan organisasional eksekusi Pemilu Legislatif 2009. Laporan Tim Penyelidikan Pemenuhan Hak Sipil dan Politik dalam Pemilu Legislatif 2009. (Jakarta: Komnas HAM. Laporan Tim Penyelidikan Pemenuhan Hak Sipil dan Politik dalam Pemilu Legislatif 2009 yang dibentuk Komnas HAM menemukan beberapa penyebab ketidakakuratan daftar pemilih. . KPU beserta seluruh jajarannya di daerah tidak cukup transparan dalam membuka data pemilih kepada publik. dan. dan sistem administrasi kependudukan ternyata juga tidak membantu memperjelas masalah ini. Panitia pemungutan suara (PPS) dan PPDP cenderung bersikap pasif (menunggu di kantor desa/kelurahan) dalam pemutakhiran daftar pemilih. yaitu:30 (1) karut-marutnya sistem administrasi kependudukan Depdagri. Papua. dan (4) pemutakhiran data pemilih dan pemutakhiran daftar pemilih. yaitu:29 (1) masalah penyelenggara pemilu. sehingga tidak ada pengawasan terhadap pelaksanaan tahap pemutakhiran daftar pemilih. dan Saran Perbaikannya: Temuan Dari Lima Provinsi. (2) masalah keterlambatan pembentukan panitia pengawas pemilu (panwaslu). khususnya mengenai pembentukan PPK dan PPS sehingga terlambat dibentuk. (3) terlambatnya petunjuk teknis dalam melakukan pemutakhiran daftar pemilih menyebabkan pelaksana pemilu di daerah 29 30 31 Laporan Hasil Pemantauan Formappi. (3) ketidakmampuan kelembagaan KPU. Panitia pengawas pemilu belum terbentuk ketika KPU melaksanakan program pemutakhiran daftar pemilih. Sumatra Utara. 2010).

32 . formulir pendaftaran terlalu rumit. (4) Dari sisi masyarakat. jumlah PPDP hanya satu orang per desa/kelurahan dan masa kerja singkat (hanya 3 minggu). dan Makassar. pengamat. Peserta di Makassar melihat persoalan DPT muncul dikarenakan adanya ketidaksinkronan antara UU Nomor 23/2006 (Pasal 101) dan UU Nomor 10/2008 (Pasal 33 ayat [2]). Departemen Dalam Negeri (Depdagri) memberikan data penduduk baik penduduk desa maupun kota kepada KPU sebanyak kurang lebih 70. akademisi. Pada April 2008. Hal ini yang menyebabkan banyaknya pemilih yang tidak terdaftar dalam DPT dan banyak juga yang tidak memiliki hak memilih masuk di dalam DPT. 2010. Penyusunan DPT pada Pemilu 2009 tidak seperti cara penyusunan data pemilih pada Pemilu 2004 yang didasarkan pada sistem door-to-door. Tidak Ada Daftar Pemilih Yang Berkelanjutan Kompleksnya masalah data pemilih terjadi karena data yang dibutuhkan oleh KPU tidak cocok dengan sistem manajemen data yang didapat dari Departemen Dalam Negeri (kini Kementerian Dalam Negeri). 33 Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (FORMAPPI).32 Terkait dengan data yang diberikan pemerintah. yang dihadiri legislator. Selain apa yang telah dikemukakan. Peserta FGD Jakarta juga menyoroti bahwa KPU kurang memasukkan data terhadap penyandang cacat sehingga penyandang cacat tidak mendapatkan akses dalam pemilu. Data tersebut kemudian dikembangkan oleh KPU untuk menyusun daftar pemilih sementara (DPS).. 107. DP4 menjadi satu-satunya sumber data. yaitu: A. and Society.000 file data dalam format excel. Institutions. yakni data kependudukan yang dimiliki oleh pemerintah yang kemudian diserahkan kepada KPU untuk dimutakhirkan dan diolah. kajian ini menyoroti beberapa hal yang menyebabkan DPT bermasalah. pengumuman yang terbatas hanya di masjid dan kantor desa. Pontianak. Banda Aceh. Indonesia‘s 2009 Election: Performance Challenges and Negative Precedents dalam buku Problems of Democratisation in Indonesia. Penyebab kekacauan DPT juga mengemuka dalam focused group discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Centre for Electoral Reform (CETRO) di empat daerah. adanya sikap kurang aktif untuk mengecek daftar sementara dan memberikan usulan perbaikan. ―Masalah Data Pemilih dalam Pemilu Nasional Indonesia 2009‖ (Jakarta: September 2009). Data yang telah bermasalah menjadi semakin bermasalah saat KPU tidak mampu mengolah dengan baik DP4 tersebut. Elections. dan aktivis LSM. yaitu Jakarta. Banyak yang menyatakan bahwa sumber permasalahan DPT telah ada sejak dari Daftar Penduduk Potensial Pemilih Pemilu (DP4).Laporan Kajian UU Pemilu 47 kesulitan menjalankan tugas pemutakhiran daftar pemilih. ISEAS. Permasalahan DPT dilihat oleh beberapa peserta FGD di Aceh dan Pontianak terjadi dikarenakan penanggungjawab tidak jelas dan waktu pemutakhiran yang tidak memadai. Penyusunan DPS juga mengalami kendala yang tidak bisa diatasi oleh KPU karena terbatasnya biaya dan waktu penyusunan. hal. Forum Masyarakat Pemantau Parlemen Indonesia (Formappi) mengidentifikasikan hal-hal sebagai berikut:33 Adam Schmidt. Selain itu.

Data kependudukan yang disediakan oleh pemerintah tidak dalam format yang sama (ada yang dalam format pdf. KPU merasa bahwa data yang diberikan dari pemerintah kualitasnya buruk. excel. Hotel Shantika. sedangkan rentang waktu bagi PPDP untuk menyelesaikan tugasnya hanya satu bulan. menurut UU 10/2008. Sulawesi Selatan). .48 Bab 4  Data kependudukan dari pemda pada umumnya tidak akurat (misalnya tidak dicantumkannya nomor induk kependudukan (NIK) dan tidak sesuai dengan data yang ada di lapangan. dalam FGD CETRO: Perubahan UU Pemilu: Reformasi Lanjutan Pemilu Indonesia. hanya tiga bulan. 23 Februari 2011. dan menjadi tanggung jawab pemerintah untuk memperbaikinya. Sebab. Rentang waktu yang disediakan untuk melakukan pemutkahiran data pemilih oleh PPS terlalu singkat. Ketika KPUD meminta NIK dari dinas kependudukan dan catatan sipil di daerah agar dapat dimasukkan ke dalam daftar pemilih.      B. Jakarta. NIK tersebut tidak diberikan karena takut melanggar undang-undang. anggota KPU. proses pemutkahiran data kependudukan menjadi daftar pemilih sudah menjadi tanggung jawab KPU/KPUD. Petugas pendaftaran data pemilih tidak melakukan pendataan dari rumahke rumah dan banyak di antaranya yang tidak melibatkan RT/RW (contoh kasus di Kabupaten Luwu.. dan juga word). Dalam proses pengolahan data ini sering terjadi saling lempar tanggung jawab antara pemerintah dan KPU. pemerintah menjadi sumber data untuk data pemilih. Kemudian data tersebut diolah dan dimutakhirkan oleh KPU untuk menjadi daftar pemilih. pemerintah beranggapan bahwa sudah menjadi tugas KPU untuk memutakhirkan data yang telah mereka berikan. Pembagian Tugas dan Tanggung Jawab Antara Pemerintah dan Penyelenggara Pemilu Tidak Jelas Pada Pemilu 2009.34 Sebaliknya. Sumber daya manusia yang diberi tanggung jawab untuk melaksanakan pemutakhiran data penduduk dan pemilih di daerah-daerah umumnya masih rendah. Kesadaraan warga untuk mengecek dirinya sudah terdaftar dalam daftar pemilih ataukah belum masih rendah. Hal ini diperparah lagi karena data kependudukan yang diperoleh dari pemerintah daerah tidak akurat dan penyampaiannya kepada KPU juga tidak tepat waktu. 34 Endang Sulastri. Akibatnya. ketika dilakukan proses konversi di tingkat PPS dan KPUD kabupaten/kota muncul permasalahan besar karena begitu beragamnya ketidakkompatibelan format data. yang menurut UU Nomor 22/2007 tentang Penyelenggara Pemilu bersifat independen.

ISEAS. tetapi sudah didaftar (WNI di bawah 17 tahun). Hal ini tercantum dalam Pasal 32 ayat (2) UU 10/2008. Ia mengatakan bahwa penurunan jumlah pemilih terjadi karena kesalahan petugas KPU kabupaten/kota dalam memasukkan data.239 orang. atau yang tidak boleh didaftar (anggota TNI/Polri).667 orang.36 Adam Schmidt. yang kemudian dikenal sebagai pemilih ganda. Institutions. Indonesia’s 2009 Election: Performance Challenges and Negative Precedents dalam Buku Problems of Democratisation in Indonsia. namun undang-undang yang mengatur hal tersebut baru diundangkan pada tanggal 28 Maret 2008.35 Sebagai contoh. melainkan juga melemahkan integritas proses penyelenggaraan pemilu secara keseluruhan.022. Hal ini diakui oleh Ketua Kelompok Kerja Pemutakhiran Data Pemilih KPU Sri Nuryanti saat penetapan DPT tanggal 28 November 2008. data kependudukan sudah harus diserahkan kepada KPU pada April 2008. petugas yang tidak memiliki kemampuan dalam melaksanakan tugasnya telah menyebabkan kesalahan rekapitulasi DPT Pemilu Legislatif 2009. Data kependudukan yang menjadi cikalbakal data pemilih seharusnya sudah diserahkan ke KPU satu tahun atau 12 bulan sebelum hari pemungutan suara. D. Permasalahan yang menonjol antara lain WNI yang memiliki hak pilih tidak terdaftar namanya di dalam daftar pemilih. 2010.pemiluindonesia. penyedia data tetaplah dari penyelenggara pemilu. Penetapan DPT pertama kali dilakukan pada tanggal 24 Oktober 2008 dengan jumlah pemilih 170. Artinya.068. Kemampuan Petugas Lapangan Yang Tidak Memadai Petugas yang tidak memiliki keterampilan menjadi salah satu permasalahan dalam Pemilu 2009. Elections. Kurangnya pelatihan kepada staf penyelenggara pemilu tidak hanya membuka kesalahan administratif. Namun. Hal lain yang menonjol adalah pemilih yang terdaftar lebih dari satu kali.com/berita-pemilu/pemilu-2009-jumlah-pemilih-171068667-orang. seharusnya sudah tidak lagi terdaftar (WNI yang telah meninggal dunia). p 115 36 http://www. Sementara ada yang seharusnya belum terdaftar. Hal inilah antara lain yang menyebabkan pengadaan data kependudukan menimbulkan banyak masalah. Penetapan dilakukan kedua kalinya pada tanggal 28 November 2008 dengan jumlah pemilih mengalami peningkatan menjadi sebesar 171. Waktu Yang Terbatas Pemilih memang dianjurkan untuk melakukan pengecekan apakah dirinya sudah masuk ke dalam daftar pemilih atau belum. Tidak seperti pada Pemilu 2004. Pemilu 2009 tidak melaksanakan pelatihan standar kepada staf penyelenggara pemilu. and Society.Laporan Kajian UU Pemilu 49 C.html 35 . Hal ini disebabkan lambatnya pembuatan undang-undang pemilu sehingga tidak ada waktu untuk pembuatan modul pelatihan.

Akhirnya terjadi saling tuding antara pemerintah dan KPU. DP4 sebagai data awal dari pemerintah harus menjadi data yang bersih. Pemutakhiran data daftar pemilih dilakukan berdasarkan DP4. Sebelum membentuk daftar pemilih terdapat beberapa pertanyaan yang harus dijawab terlebih dulu untuk menentukkan sistem apa yang akan dipakai. dan warga masyarakat. Yang dimaksudkan dengan data kependudukan adalah data penduduk dan data penduduk potensial pemilih pemilu (DP4). Daftar pemilih sementara (DPS) diumumkan selama 7 (tujuh) hari oleh PPS untuk mendapatkan masukan dan tanggapan dari masyarakat. seperti apakah daftar harus dibuat yang baru keseluruhan ataukah memperbaiki daftar yang sudah ada.     Kemudian data yang telah bersih tersebut akan menjadi semakin mutakhir dengan pemutakhiran. Idealnya. DP4 yang buruk dan kualitas pemutakhiran yang juga tidak baik menjadikan sistem pendataan daftar pemilih menjadi tidak jelas. DPS hasil perbaikan diumumkan kembali oleh PPS selama 3 (tiga) hari untuk mendapatkan masukan dan tanggapan dari masyarakat dan peserta pemilu. KPU merasa pemutakhiran data tidak maksimal dikarenakan DP4 yang sangat buruk. rukun warga. Tidak Adanya Sistem Pendaftaran Pemilih yang Jelas dan Dapat Diakses Pemilih UU 10/2008 mengindikasikan bahwa data kependudukan yang dimiliki oleh pemerintah merupakan bahan dasar penyusunan daftar pemilih tetap oleh KPU. fakta yang terjadi tidak seperti itu.50 Bab 4 E. Ternyata. PPS wajib memperbaiki daftar pemilih sementara berdasarkan masukan dan tanggapan dari masyarakat dan peserta pemilu. bagaimana cara pendataan. DPS disampaikan PPS ke PPK dan KPU kab/kota menetapkan DPT berdasarkan DPS dari PPS. Daftar pemilih yang baik adalah daftar yang memungkinkan seluruh orang yang memiliki hak untuk memilih ada di dalamnya dan memiliki kesempatan hanya satu kali untuk memilih serta menganut prinsip kesempatan yang sama untuk memilih. apakah menggunakan kartu . rukun tetangga atau sebutan lain. yaitu sesuai dengan kondisi lokal dan masuk akal serta sesuai dengan kondisi keuangan dan administrasinya. Di sisi lain pemerintah merasa bahwa pemutakhiran data yang tidak beres di KPU yang menjadi penyebab buruknya DPT Pemilu 2009.  DP4 diserahkan pemerintah kepada KPU. PPS wajib memperbaiki DPS berdasarkan masukan dan tanggapan dari masyarakat dan peserta pemilu. Sistem yang berjalan seharusnya adalah sebagai berikut. KPU melakukan pemutakhiran data dengan dibantu oleh petugas pemutakhiran data pemilih yang terdiri atas perangkat desa/kelurahan. Sistem yang akan digunakan harus mencerminkan dua hal. Sistem pendataan daftar pemilih yang baik akan menghasilkan sebuah daftar pemilih yang juga baik.

org/ace-en/topics/vr/vr10?toc Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (FORMAPPI). 250.37 Pertanyaan-pertanyaan tersebut ternyata tidak dapat dijawab dengan baik dengan sistem pendaftaran pemilih pada Pemilu 2009. Mereka-mereka yang terpilih umumnya lebih ditentukan karena kedekatan dengan kelompokkelompok baik yang ada di panitia seleksi maupun di DPR. Rekrutmen anggota KPU pada tahun 2007 ditengarai banyak persoalan.Laporan Kajian UU Pemilu 51 identitas? Jika iya. Keterlambatan ini juga berimplikasi pada minimnya waktu penyosialisasian tahap-tahap pemilu dan tata cara memilih kepada masyarakat. Sementara honor untuk para petugas pemutakhiran data pemilih (PPDP) hanya sebesar Rp. panitia pemungutan suara (PPS) di tingkat kelurahan/desa. 37 38 . Anggota tim seleksinya pun ada yang diusulkan oleh presiden atau kepala daerah yang banyak di antaranya memiliki jabatan di partai politik. wewenang. Formappi mengidentifikasikan antara lain hal-hal sebagai berikut: 38  Penyelenggara pemilu pada Pemilu 2009 dianggap bermasalah karena proses rekrutmennya yang juga tidak mendasarkan kepada orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang pemilu. Pembentukan aparat penyelenggara pemilu di tingkat daerah. Kelemahan Penyelenggara Pemilu Tidak bisa dimungkiri bahwa banyaknya permasalah yang terjadi pada Pemilu 2009 sebagian disebabkan karena faktor penyelenggara pemilu di tingkat pusat (KPU).000. Hal ini masih diperparah dengan minimnya dukungan dana (kasus Papua dengan kondisi geografis yang ekstrem hanya diberikan dukungan dana sebesar Rp. antara lain komputer. Sistem meritokrasi sama sekali tidak jalan. panitia pemilih kecamatan (PPK).000 per bulan) serta rendahnya kualitas sarana dan buruknya prasarana. Terkait dengan hal tersebut. 300.aceproject. masyarakat kurang memahami apa dan bagaimana tehap-tahap pemilu berlangsung (termasuk tahaptahap proses pendaftaran dan penyusunan daftar pemilih). Keterlambatan pembentukan aparatur di tingkat bawah ini berimplikasi negatif karena sempitnya waktu yang tersedia untuk menyosialisasikan tugas. dan lain-lain. Masalah Data Pemilih dalam Pemilu Nasional Indonesia 2009. Akibatnya.   http://www. informasi apa saja yang harus terdapat dalam kartu tersebut. apakah proses pendaftaran dilakukan secara sukarela ataukah merupakan kewajiban. Penguasaan terhadap teknologi informasi intuk input data pemilih oleh aparat penyelenggara di PPS juga kurang memadai. F. dan tanggung jawab mereka sebagai penyelenggara pemilu. serta tata cara pemungutan dan penghitungan suara. September 2009. apa saja yang dapat dilakukan oleh teknologi. mulai KPU kab/kota. hingga kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) dinilai terlambat. Mereka yang dinilai lebih berkualitas justru tidak terpilih.

makalah disampaikan dalam ―Seminar Internasional tentang Pendaftaran Pemilih‖. 06 Tahun 2008) tidak ada bagian yang khusus menangani daftar pemilih. perlunya penguatan kelembagaan KPU sebagai penyelenggara pendaftaran pemilih karena selama ini dalam struktur organisasi Sekretariat Jenderal KPU (Peraturan KPU No.52 Bab 4  Keterlambatan serupa juga dialami pada pembentukan panitia pengawas pemilu. Hasyim Asy‘ari dari dari Partnership for Govenance Reform (Kemitraan) merekomendasikan hal-hal sebagai berikut. Dalam rangka memperbaiki daftar pemilih di masa depan. Jakarta.40 Berdasarkan masalah-masalah yang disoroti pada bagian terdahulu. 39 . 40 Selengkapnya lihat Hasyim Asy‘ari.‖39 Satu pandangan yang kuat perlu diperhatikan. panwaslu kab/kota. Dalam banyak kasus. upaya yang dilakukan untuk memperbaiki daftar pemilih sangat terbatas. diselenggarakan oleh E-MDP UNDP. hingga panitia pengawas lapangan (PPL) di tingkat desa/kelurahan. bagaimana membatasi jumlah partai yang berkuasa. Kedua. Hal ini diperburuk lagi karena sering panwas pun sangat sulit untuk mendapatkan data-data pemilih (DPS) dari penyelenggara pemilu. tersedianya sumber data yang memadai. 30 Maret 2011. ‖Diskusi tentang reformasi pemilu tampaknya terpusat pada bagaimana mengutak-atik sistem pemilu untuk dapat membatasi jumlah partai yang memiliki akses untuk membuat legislasi. Kenyataan bahwa tidak ada sebuah negara pun yang dapat melaksanakan pemilu yang berkualitas tanpa memiliki daftar pemilih yang berkualitas. Beberapa Gagasan untuk Penguatan Pendaftaran Pemilih di Indoensia. Pertama. partisipasi pemilih dan peserta pemilu. Rekomendasi Kendati soal daftar pemilih telah sangat mengancam integritas Pemilu 2009. kajian ini menawarkan beberapa alternatif solusi sebagai berikut. Keterlambatan ini berimplikasi negatif pada tidak optimalnya pelaksanaan tugas panwas dalam mengawasi proses pendaftaran dan penyusunan daftar pemilih. Rabu. Kelima. Peter Erben. 30 Maret 2011. hanya mendapatkan perhatian yang sangat terbatas. Jakarta. Pendaftaran Pemilih di Indonesia. perlunya dianut sistem pendaftaran pemilih berkelanjutan (continuous register or list) dalam setiap undang-undang yang mengatur tentang pemilu (pemilu legislatif. maka perhatian terhadap perbaikan daftar pemilih perlu mendapat porsi penekanan yang besar. pilpres dan pilkada). panwaslu kecamatan. Mengutip Peter Erben. dan juga mengenai KPU itu sendiri. mulai dari panwaslu provinsi. makalah pada Seminar Internasional ―Pendaftaran Pemilih di Indonesia‖. Keempat. Ketiga. Dalam upaya terus memperbaiki pemilu di Indonesia dengan berupaya memperbaiki beragam permasalahan yang ada. Hotel Mandarin Oriental. tersedianya anggaran khusus pemilu. panwas baru dapat akses dan meneliti pemilih setelah ditetapkan menjadi DPT.

Syarat untuk memilih: 17 tahun pada tahun pemilu Baik UU 10/2008 maupun UU 42/2008 menyatakan bahwa yang berhak memilih adalah WNI yang telah berusia 17 tahun dan/atau sudah kawin pada saat pemilihan (pemungutan suara). daftar . Namun. atau tidak didaftarkannya para anggota TNI/Polri yang telah pensiun. Siapa saja yang sudah mencapai 17 tahun pada tahun pemilihan berhak untuk memilih. Posisi anggota TNI/Polri sesungguhnya kurang lebih sama dengan pegawai negeri sipil (PNS) yang dilarang berpolitik dengan menjadi anggota parpol.Laporan Kajian UU Pemilu 53 1. tetapi kemudian digeser menjadi tanggal 9 April 2009. Bila usia 17 tahun ditentukan pada saat pemungutan suara. tetapi mereka tetap diberikan hak untuk memilih dalam pemilu karena merupakan hak konstitusional setiap warga negara. Misalnya. Pada tahun 2009. data pun juga harus dimutakhirkan setelah pemilu legislatif. Alangkah baiknya juga bila para anggota TNI/Polri diberikan hak untuk memilih agar tidak ada persoalan lagi dengan didaftarkannya anggota TNI/Polri yang masih aktif. Syarat untuk memilih sebaiknya hanya menggunakan batas usia. melainkan pada tahun pemilu. kajian ini melihat bahwa penentuan berusia 17 tahun dan/atau sudah kawin pada saat pemungutan suara dapat menimbulkan persoalan mengingat dalam satu tahun dilaksanakan lebih dari satu kali pemilu. Padahal. Misalnya pemilu berikutnya dilaksanakan pada tahun 2014 maka siapa saja WNI yang akan mencapai usia 17 tahun pada tahun ini didaftar sebagai pemilih. Hal ini jelas akan mempermudah penyusunan daftar pemilih oleh KPU/KPUD. Dengan penghapusan syarat sudah/pernah ―kawin‖ untuk memilih. sejak jauh-jauh hari sudah dapat dipastikan siapa saja WNI yang akan memilih pada Pemilu 2014 walaupun tanggal pelaksanaan pemilu baik pemilu legislatif maupun pilpres belum ditentukan. tidak peduli apakah yang bersangkutan sudah/pernah kawin atau belum. Sudah tentu mereka yang berusia 17 tahun pada tanggal 6 hingga 9 April harus pula didaftar. penghapusan larangan memilih bagi anggota TNI/Polri. sebelumnya mereka tidak didaftar karena belum berusia 17 tahun. atau bila jadwal pelaksanaan pemilu itu sendiri digeser waktunya. Penghilangan syarat kawin ini juga dapat menimbulkan kesan bahwa undang-undang yang mengatur pemilu tidak pro terhadap perkawinan muda (di bawah umur). daftar pemilih harus selalu dimutakhirkan untuk pemilu lainnya dalam tahun yang sama. pemilu legislatif dilaksanakan pada tanggal 9 April 2009 sementara pilpres pada tanggal 8 Juli 2009. Demikian pula untuk pilpres. Itulah sebabnya. Kajian ini juga merekomendasikan agar frase ―dan/atau sudah kawin‖ dihilangkan. Pemilu 2009 pada awalnya ditetapkan pada tanggal 5 April 2009. dan syarat memilih yang hanya didasarkan pada usia 17 tahun dalam tahun pemilihan. Sudah tentu mereka yang berusia 17 tahun setelah tanggal 9 April hingga 8 Juli 2009 harus didaftarkan sebagai pemilih. Dengan demikian. Aturan ini sudah dipakai di Indonesia dari pemilu ke pemilu. kajian ini menawarkan agar usia 17 tahun tidak dihitung pada saat pemungutan suara.

Dengan demikian. termasuk menyimpan data tersebut untuk digunakan pada pemilu berikutnya. termasuk pada awal tahun pemilu. Dalam hal ini adalah data pemilu Pilpres 2009. Kesalahankesalahan dalam input data pemilih dapat diminimalisasi. Jadi. KPU tidak bergerak dari nol. Undang-undang sebaiknya memberikan penegasan bahwa KPU bertanggung jawab sepenuhnya terhadap tersedianya data pemilih. Untuk itu KPU kabupaten/kota harus membuka akses seluasluasnya bagi masyarakat untuk mendaftarkan diri. yang memang tugas dari pemerintah di mana pun di dunia. agar mendaftarkan diri. Adapun langkah-langkah dalam pembuatan dan pemutakhiran data pemilih oleh KPU adalah sebagai berikut:  KPU menggunakan data pemilih pemilu terakhir sebagai basis data pemilih. Hasil pemutakhiran data pemilih oleh KPU kabupaten/kota sepanjang tahun diserahkan kepada KPU pada akhir tahun. Imbauan juga diberikan kepada partai politik untuk mendorong pemilih yang belum terdaftar. Pendaftaran dapat dilakukan langsung kepada KPU kabupaten/kota setempat. Data pemilih tersebut diberikan kepada KPU kabupaten/kota untuk dimutakhirkan setiap saat. tetapi bukan satu-satunya sumber data. pengumuman DPS dilakukan setiap awal tahun. KPU kabupaten/kota akan mendaftar mereka dalam rangka pemutakhiran data pemilih yang memang diadakan setiap saat.54 Bab 4 pemilih lebih mudah dibuat dan ditentukan sejak jauh-jauh hari. Mereka yang belum tercantum dalam DPS yang diumumkan KPU pada awal tahun dapat mendaftarkan diri kepada KPU kabupaten/kota agar didaftar sebagai pemilih. terutama anggota parpol yang bersangkutan. Data kependudukan dari pemerintah dapat digunakan sebagai bahan untuk memutakhirkan data pemilih. Data-data yang diserahkan KPU kabupaten/kota seluruh Indonesia diteliti kembali oleh KPU dan kemudian diumumkan pada awal tahun berikutnya sebagai data pemilih sementara (DPS). Pemutakhiran harus menjadi kegiatan yang rutin dari KPU kabupaten/kota. Sumber pemutakhiran data pemilih di kabupaten/kota antara lain data pemilih pemilukada terakhir. KPU dan KPU kabupaten/kota harus mendorong pemilih yang belum terdaftar pada pemilu terakhir untuk mendaftarkan diri. KPU-lah yang bertanggung jawab terhadap pembuatan dan pemutakhiran terhadap data pemilih.      . 2. pemutakhiran tidak dilakukan menjelang pemilu saja. KPU Bertanggung Jawab Sepenuhnya Terhadap Tersedianya Data Pemilih Saling lempar tanggung jawab terhadap karut-marut data pemilih pada Pemilu 2009 adalah preseden buruk yang harus segera diakhiri. Sedangkan pemerintah bertanggung jawab atas tersedianya data kependudukan secara umum. Dengan demikian.

dan pemilih yang memilih menggunakan KTP atau paspor menjadi data awal daftar pemilih untuk pemilihan presiden/wakil presiden. KPU kabupaten/kota menyerahkan kembali data pemilih yang telah dimutakhirkan untuk terakhir kali tersebut kepada KPU. terutama surat suara. KPU kabupaten/kota dibekali data dari KPU kabupaten/kota sendiri (yaitu data yang sudah dimutakhirkan setiap saat). pada pemutakhiran akhir. tetap ada pemilih yang belum terdaftar dan ingin memilih. DPT itulah yang digunakan sebagai dasar untuk pengadaan logistik pemilu. data DP4 dari pemerintah. Bila setelah DPT pilpres diumumkan. DPT tambahan. kemudian bila ada yang masih belum terdaftar mereka tetap diberi kesempatan untuk memilih satu jam sebelum pemungutan suara berakhir dengan terlebih dulu mendaftar ke petugas KPPS. KPU/KPUD tetap diberikan tanggung jawab untuk memasukkan pemilih yang belum terdaftar tersebut ke dalam DPT pilpres. DPT. atau mendaftar langsung ke petugas KPPS) tetap diberikan kesempatan untuk mendaftarkan diri.      Gagasan agar KPU bertanggung jawab sepenuhnya terhadap data pemilih. pemerintah menyerahkan data DP4 kepada KPU sebagai bahan pemutakhiran khusus menjelang pemilu. didukung sebagian besar peserta . pemilih yang bersangkutan tetap dapat memilih pada hari pemungutan suara dengan menunjukkan KTP atau paspor dengan terlebih dulu mendaftar pada petugas KPPS. sekaligus memelihara dan memutakhirkannya. Dengan demikian. KPU kemudian meneliti kembali data tersebut dan kemudian mengumumkannya sebagai daftar pemilih tetap (DPT) pada awal tahun pada tahun pemilu yang bersangkutan. Sebaiknya tidak perlu ada ketentuan yang menyebutkan bahwa mereka yang memilih dengan menggunakan KTP harus memilih di wilayah RW di mana KTP dikeluarkan.Laporan Kajian UU Pemilu 55  Satu tahun menjelang pemilu. DPT tambahan. Pertama-tama. Data dari pemerintah tersebut digunakan KPU kabupaten/kota untuk pengecekan terakhir terhadap data pemilih yang telah mereka mutakhirkan setiap saat. Mereka baru dapat memilih satu jam sebelum pemungutan suara berakhir. Kepada masyarakat yang belum terdaftar sebagai pemilih (melalui DPT. mereka diberi kesempatan untuk mendaftar hingga 30 hari menjelang pemilu. dan data lapangan dengan bantuan unit-unit pemerintahan terkecil. Jika setelah 30 hari menjelang pemungutan suara masih ada pemilih yang belum terdaftar. Jika ada pemilih yang belum juga terdaftar setelah DPT diumumkan. Pemutakhiran juga dilakukan secara door-to-door untuk memastikan semua pemilih terdaftar dengan bantuan unit-unit pemerintahan terkecil (RT/RW. Ketentuan ini sama artinya dengan menghilangkan hak memilih warga negara. kepala dusun). ketentuan seperti dalam pemilu legislatif juga berlaku untuk mereka. mereka tetap bisa mendaftar dan dimasukkan ke dalam DPT tambahan hingga 30 hari menjelang pemilu untuk mengantisipasi perlunya tambahan logistik pemilu.

41 Sistem periodic list yaitu sistem pendaftaran pemilih hanya untuk pemilu tertentu saja. yaitu periodic list. KPU pun tidak dibuat sibuk menjelang pemilu karena semua tahapan pemilu menumpuk pada saat yang bersamaan. alamat. 41ACE-Electoral Knowledge Network. dengan kata lain pada sistem ini data kependudukan sebagai dasar daftar pemilih dibutuhkan data-sharing agreements. KPU dapat menjadikan data tersebut sebagai referensi dalam pemutakhiran data pemilih yang mereka telah punyai. kewarganegaraan. ―Overview of Voter Registration‖. Data Pemilih Adalah Data Yang Berkelanjutan Dengan proses pemutakhiran yang dilakukan setiap saat maka data pemilih harus menjadi data yang berkelanjutan. Pontianak. Sistem continuous register or list adalah sistem pendaftaran pemilih untuk pemilu yang berkelanjutan. Table 17 : KPU Membuat. umur dan nomor identitas.56 Bab 4 FGD yang diadakan CETRO di Jakarta. Hanya 12 peserta FGD yang menyatakan tidak setuju dan sangat tidak setuju. data dari pemerintah berupa DP4 hanyalah data pembanding. Berdasarkan skala periode waktu. dan ―Guiding Principles of Voter Registration‖. Dengan demikian. Dengan data pemilih yang berkelanjutan diharapkan tidak ada lagi pemilih yang tidak terdaftar. dan civil registry. sistem pendaftaran pemilih terdiri dari tiga jenis. dan Makassar. Banda Aceh. Dengan data yang berkelanjutan. . Memutakhirkan dan Memelihara Data Pemilih Pendapat Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Setuju Sangat Setuju Blank Total Jakarta 1 2 8 2 13 Aceh 1 2 8 6 17 Pontianak 2 5 7 14 Makassar 2 1 4 8 15 Jakarta 2011 1 6 4 11 Total 4 8 31 27 0 70 3. continuous register or list. Sistem civil registry adalah pendaftaran pemilih berdasarkan pencatatan sipil (penduduk) untuk mendata nama. data pemilih untuk pemilu-pemilu selanjutnya haruslah data yang berkelanjutan dan sistem pendaftarannya adalah continuous register/ list. Data pemilih inilah yang akan digunakan untuk pemilu-pemilu selanjutnya. Dari tabel di bawah dapat terlihat bahwa 31 peserta setuju dan 27 sangat setuju.

54pm. Filipina adalah salah satu negara yang mengubah sistem pendaftaran pemilunya dari sistem periodik menjadi pendaftaran pemilih permanen pada tahun 1996. Dengan menjadikan data pemilih sebagai data yang berkelanjutan dan keharusan membangun suatu sistem pendaftaran pemilih yang dapat diakses oleh pemilih. pemilih juga dapat memverifikasi detail pendaftaran mereka secara online melalui website AEC. 43 http://aceproject. KPU Membangun Data Pemilih Yang Dapat Diakses (Accessible) Setiap Saat Kemajuan dan menyebarnya penggunaan teknologi. Selain itu. pemilih dapat mengecek apakah namanya sudah tercantum atau belum dalam daftar pemilih. Harus dimungkinkan juga pendaftaran dapat dilakukan melalui online. dan menjaga keamanan dan integritas daftar pemilih melalui sistem Roll Management System (RMANS) yang terkomputerisasi. pemilih yang bersangkutan dapat langsung mendaftarkan namanya ke KPU kabupaten/kota setempat. pembuatan data pemilih adalah kegiatan yang terus-menerus. tidak terbatas pada musim pemilu saja. terutama internet. seluruh proses pendaftaran dilakukan di kantor AEC lokal di tiap-tiap daerah pemilihan untuk pemilu federal. Publik juga dapat melihat daftar ini di kantor AEC di setiap daerah pemilihan.pdf/view?searchterm=voter%20registration%20australia. daftar dalam bentuk hard copy tidak tersedia. Untuk memfasilitasi transisi dari periodik ke permanen. Bila namanya belum tercantum. pukul 6. Kondisi ini harus direspons dengan http://aceproject.42 Pemilih di Australia dapat mendaftar untuk memilih kapan saja. Dalam kaitan dengan hal ini penting diselesaikan terlebih dulu proyek pemerintah yang saat ini sedang berjalan untuk pemberian nomor induk kependudukan (NIK) dan pembuatan KTP elektronik.org/ero-en/regions/pacific/AU/australia-voter-registration-casestudy. 42 . Pemilih hendaknya dapat mengecek apakah namanya sudah tercantum dalam daftar pemilih di KPU atau tidak. Dengan mengisi NIK di website data pemilih yang dibangun KPU. diakses pada 14 April 2011. Tanggung jawab untuk mengembangkan.pdf/view?searchterm=voter%20registration%20philippines. selain secara manual. pukul 7. AEC menyediakan kopi daftar pemilih elektronik kepada anggota parlemen nasional dan partai politik yang sudah terdaftar pada tingkat federal secara reguler. Daftar pemilih disimpan hanya dalam format elektronik oleh AEC. harus dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh KPU untuk membangun suatu sistem pendaftaran pemilih yang dapat diakses oleh pemilih setiap saat. berada di bawah unit manajemen pada Divisi Operasi Pemilu di kantor AEC pusat.Laporan Kajian UU Pemilu 57 Negara seperti Australia menggunakan sistem continous register/list yang dikelola oleh AEC (Australian Electoral Commission).43 4. diakses pada tanggal 14 April 2011.org/ero-en/regions/asia/PH/philippines-voter-registration-casestudy. mengelola. karena daftar pemilih dimutakhirkan setiap hari. pada tahun 1997 diselenggarakan pendaftaran pemilih nasional dan perubahan peta pemilih. Namun demikian.19pm.

Daftar pemilih yang ditetapkan pada awal tahun pemilu digunakan untuk kebutuhan logistik pemilu. sementara di KPU kabupaten/kota dibentuk pula bagian yang juga secara khusus menangani daftar pemilih. Data pemilih dibuat dan dipelihara oleh KPU secara berkelanjutan. Pemilih yang belum terdaftar dalam DPT dapat mendaftar dalam DPT tambahan dengan cara mendaftar ke KPU kabupaten/kota hingga 30 hari sebelum hari pemungutan suara. Dalam kaitannya dengan tanggung jawab membuat dan memutkahirkan data pemilih. Pemerintah menyediakan data DP4 yang digunakan sebagai referensi untuk memutakhirkan data pemilih 12 bulan sebelum pemilu dilaksanakan. Pemutakhiran data pemilih menjadi kewajiban KPU kabupaten/kota setiap saat. kajian ini merekomendasikan hal-hal sebagai berikut. KPU kabupaten/kota melaporkan data pemilih ke KPU setiap akhir tahun. Pemilih yang belum terdaftar dalam daftar pemilih dan daftar pemilih tambahan tetap dapat memilih dengan menggunakan KTP atau paspor satu jam sebelum pemungutan suara berakhir dengan terlebih . 2. 13. 10. 4. KPU dan KPU kabupaten/kota melakukan pemutakhiran data pemilih dengan melibatkan unit pemerintahan terkcil (kepala dusun/ RT/ RW). 11. 3. 7. Syarat untuk dapat memilih: berusia 17 tahun pada tahun pemilu. KPU membuka akses seluas-luasnya agar pemilih dapat mengecek apakah sudah tercantum dalam daftar pemilih atau belum. 1. Satu tahun menjelang pemilu. 12. Dibuat biro khusus di KPU untuk menangani data pemilih. kemudian data ini digunakan oleh KPU pusat untuk dipublikasikan kepada pemilih. Berdasarkan uraian-uraian terdahulu. 5. terutama pengadaan surat suara. 8. 6. Data pemilih untuk pemilu berikutnya didapat dari data pemilu terakhir yang dikelola dan dimutakhirkan.58 Bab 4 membentuk biro di KPU yang khusus menangani daftar pemilih. 9. KPU membangun sistem daftar pemilih yang terintegrasi secara online dengan KPU kabupaten/kota.

Laporan Kajian UU Pemilu 59 Table 18 : Usul Perubahan Pasal Terkait Daftar Pemilih dalam UU 10/200844 No 1 Isu Data Kependudukan Bunyi Pasal Pasal 32 ayat (1): Pemerintah dan pemerintah daerah menyiapkan data kependudukan Pasal 32 ayat (2): Data kependudukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus sudah tersedia dan diserahkan kepada KPU paling lambat 12 (dua belas) bulan sebelum hari/tanggal pemungutan suara 2 Daftar Pemilih Pasal 33 ayat (1): KPU kabupaten/kota menggunakan kependudukan sebagai bahan penyusunan daftar pemilih data Usul Perubahan Tetap. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Tetap 44 UU No 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Dewan Perwakilan Rakyat. karena data pemilih sudah tersedia. nama. jenis kelamin. KPU kabupaten/kota dibantu oleh PPS Pasal 33 ayat (4): Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan daftar pemilih diatur dalam peraturan KPU 3 Pemutakhiran data pemilih Pasal 34 ayat (1): KPU kabupaten/kota melakukan pemutakhiran data pemilih berdasarkan data kependudukan dari Pemerintah dan pemerintah daerah Pasal 34 ayat (2): Pemutakhiran data pemilih diselesaikan paling lama 3 (tiga) bulan setelah diterimanya data kependudukan Pasal 34 ayat (3): Dalam pemutakhiran kabupaten/kota dibantu oleh PPS dan PPK data pemilih. Tetap Tetap Pemutakhiran data pemilih diselesaikan paling lama pada akhir tahun. KPU Dihapus. tanggal lahir. dan Dewan Perwakilan Daerah . KPU kabupaten/kota menggunakan data kependudukan sebagai bahan pemutakhiran daftar pemilih Tetap Pasal 33 ayat (2): Daftar pemilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya memuat nomor induk kependudukan. dengan catatan bahwa data kependudukan dimaksud digunakan untuk pemutakhiran data pemilih yang sudah ada di KPU. Tetap. dan alamat Warga Negara Indonesia yang mempunyai hak memilih Pasal 33 ayat (3): Dalam penyusunan daftar pemilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1). tinggal dimutakhirkan.

dan warga masyarakat Pasal 35 ayat (2): Petugas pemutakhiran data pemilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diangkat dan diberhentikan oleh PPS Usul Perubahan Hasil pemutakhiran data pemilih diumumkan sebagai daftar pemilih tetap pada awal tahun pemilu. Dengan data yang bisa diakses. Tetap. Dihapus. parpol dapat mengecek melalui website KPU para pemilih yang belum terdaftar. masyarakat dapat mengecek apakah sudah tercantum dalam daftar pemilih atau tidak. Tetap. Dihapus. Dihapus. rukun tetangga atau sebutan lain. Khusus untuk awal tahun pemilu menjadi DPT. PPS dibantu oleh petugas pemutakhiran data pemilih yang terdiri atas perangkat desa/kelurahan. Dihapus . terutama pemilih yang menjadi anggota partai yang bersangkutan. karena DPS diumumkan setiap awal tahun. rukun warga. 4 Penyusunan daftar pemilih sementara Pasal 36 ayat (1): Daftar pemilih sementara disusun oleh PPS berbasis rukun tetangga atau sebutan lain Pasal 36 ayat (2): Daftar pemilih sementara disusun paling lambat 1 (satu) bulan sejak berakhirnya pemutakhiran data pemilih Pasal 36 ayat (3): Daftar pemilih sementara diumumkan selama 7 (tujuh) hari oleh PPS untuk mendapatkan masukan dan tanggapan dari masyarakat pasal 36 ayat (4): Daftar pemilih sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berupa salinannya harus diberikan oleh PPS kepada yang mewakili Peserta Pemilu di tingkat desa/kelurahan sebagai bahan untuk mendapatkan masukan dan tanggapan Pasal 36 ayat (5): Masukan dan tanggapan dari masyarakat dan Peserta Pemilu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) diterima PPS paling lama 14 (empat belas) hari sejak hari pertama daftar pemilih sementara diumumkan Pasal 36 ayat (6): PPS wajib memperbaiki daftar pemilih sementara berdasarkan masukan dan tanggapan dari masyarakat dan Peserta Pemilu Pasal 37 ayat (1): Daftar pemilih sementara hasil perbaikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (6) diumumkan kembali oleh PPS selama Dihapus.60 Bab 4 No Isu Bunyi Pasal Pasal 34 ayat (4): Hasil pemutakhiran data pemilih digunakan sebagai bahan penyusunan daftar pemilih sementara Pasal 35 ayat (1): Dalam pemutakhiran data pemilih sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (3).

Laporan Kajian UU Pemilu 61 No Isu 3 (tiga) hari untuk Bunyi Pasal Usul Perubahan mendapatkan masukan dan tanggapan dari masyarakat dan Peserta Pemilu Pasal 37 ayat (2): PPS wajib melakukan perbaikan terhadap daftar pemilih sementara hasil perbaikan berdasarkan masukan dan tanggapan dari masyarakat dan Peserta Pemilu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lama 3 (tiga) hari setelah berakhirnya pengumuman. dan PPS Pasal 38 ayat (5): KPU kabupaten/kota harus memberikan salinan daftar pemilih tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Partai Politik Peserta Pemilu di tingkat kabupaten/kota Pasal 39 ayat (1): PPS mengumumkan daftar pemilih tetap sejak diterima dari KPU kabupaten/kota sampai hari/tanggal pemungutan Dihapus Dihapus Tetap Dihapus Tetap Tetap . KPU provinsi. Pasal 37 ayat (3): Daftar pemilih sementara hasil perbaikan akhir sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan oleh PPS kepada KPU kabupaten/kota melalui PPK untuk menyusun daftar pemilih tetap Pasal 37 ayat (4): PPS harus memberikan salinan daftar pemilih sementara hasil perbaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada yang mewakili Peserta Pemilu di tingkat desa/kelurahan 5 Penyusunan daftar pemilih tetap Pasal 38 ayat (1): KPU kabupaten/kota menetapkan daftar pemilih tetap berdasarkan daftar pemilih sementara hasil perbaikan dari PPS Pasal 38 ayat (2): Daftar pemilih tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun dalam besaran satuan TPS Pasal 38 ayat (3): Daftar pemilih tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan paling lama 20 (dua puluh) hari sejak diterimanya daftar pemilih sementara hasil perbaikan dari PPS Pasal 38 ayat (4): Daftar pemilih tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh KPU kabupaten/kota kepada KPU. PPK.

karena DPT dalam kajian ini adalah mereka yang belum terdaftar dalam DPT. Dihapus. PPLN melakukan pemutakhiran data pemilih paling lama pada akhir tahun Tetap . Tetap Dihapus. tetapi karena keadaan tertentu tidak dapat menggunakan haknya untuk memilih di TPS tempat yang bersangkutan terdaftar Pasal 40 ayat (3): Untuk dapat dimasukkan dalam daftar pemilih tambahan. karena data pemilih sudah ada.62 Bab 4 No Isu suara Bunyi Pasal Usul Perubahan Pasal 39 ayat (2): Daftar pemilih tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan KPPS dalam melaksanakan pemungutan suara. seseorang harus menunjukkan bukti identitas diri dan bukti yang bersangkutan telah terdaftar sebagai pemilih dalam daftar pemilih tetap di TPS asal 6 Penyusunan daftar pemilih bagi pemilih luar negeri Pasal 41 ayat (1): Setiap Kepala Perwakilan Republik Indonesia menyediakan data penduduk Warga Negara Indonesia dan data penduduk potensial pemilih Pemilu di negara akreditasinya Pasal 41 ayat (2): PPLN menggunakan data penduduk potensial pemilih Pemilu untuk menyusun daftar pemilih di luar negeri Pasal 42 ayat (1): PPLN melakukan pemutakhiran data pemilih paling lama 3 (tiga) bulan setelah diterimanya data penduduk Warga Negara Indonesia dan data penduduk potensial pemilih Pemilu Pasal 42 ayat (2): Pemutakhiran data pemilih oleh PPLN dibantu petugas pemutakhiran data Pemilih Tetap Daftar pemilih tetap dilengkapi dengan daftar pemilih tambahan paling lambat 30 (tiga puluh) hari sebelum hari/tanggal pemungutan suara Dihapus. yaitu data pemilih pemilu terakhir. Pasal 40 ayat (1): Daftar pemilih tetap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 ayat (2) dapat dilengkapi dengan daftar pemilih tambahan paling lambat 3 (tiga) hari sebelum hari/tanggal pemungutan suara Pasal 40 ayat (2): Daftar pemilih tambahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas data pemilih yang telah terdaftar dalam daftar pemilih tetap di suatu TPS.

Dihapus Pasal 43 ayat (2): Penyusunan daftar pemilih sementara dilaksanakan paling lama 1 (satu) bulan sejak berakhirnya pemutakhiran data pemilih Pasal 43 ayat (3): Daftar pemilih sementara diumumkan selama 7 (tujuh) hari oleh PPLN untuk mendapatkan masukan dan tanggapan dari masyarakat Pasal 43 ayat (4): Masukan dan tanggapan dari masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diterima PPLN paling lama 7 (tujuh) hari sejak diumumkan Pasal 43 ayat (5): PPLN wajib memperbaiki daftar pemilih sementara berdsarkan masukan dan tanggapan dari masyarakat Pasal 43 ayat (6): Daftar pemilih sementara hasil perbaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) digunakan PPLN untuk bahan penyusunan daftar pemilih tetap.Laporan Kajian UU Pemilu 63 No Isu Bunyi Pasal Pasal 42 ayat (3): Petugas pemutakhiran data pemilih sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas pegawai Perwakilan Republik Indonesia dan warga masyarakat Indonesia di negara yang bersangkutan Pasal 42 ayat (4): Petugas pemutakhiran data pemilih diangkat dan diberhentikan oleh PPLN Pasal 43 ayat (1): PPLN menyusun daftar pemilih sementara Tetap Usul Perubahan Tetap Dihapus. Dihapus . Dihapus Dihapus Dihapus. Pasal 44 ayat (2): PPLN mengirim daftar pemilih tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada KPU dengan tembusan kepada Kepala Perwakilan Republik Indonesia. sedangkan PPLN hanya melakukan pemutakhiran data pemilih. Pasal 44 ayat (1): PPLN menetapkan daftar pemilih sementara hasil perbaikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 ayat (6) menjadi daftar pemilih tetap. Dihapus. sebaiknya diatur bahwa PPLN menyerahkan data pemilih kepada KPU Jakarta Pusat. DPT disusun oleh KPU Jakarta Pusat. Dihapus. mereka yang tidak terdaftar tetap dapat mendaftar dalam DPT tambahan.

KPU provinsi. dan rekapitulasi daftar pemilih tetap yang dilaksanakan oleh KPU. PPK dan PPS Disesuaikan dengan kegiatan KPU/KPUD . penetapan dan pengumuman daftar pemilih tetap. Dihapus. perbaikan dan pengumuman daftar pemilih sementara hasil perbaikan.64 Bab 4 No Isu Bunyi Pasal Pasal 45 ayat (1): PPLN menyusun daftar pemilih tetap dengan basis TPSLN berdasarkan daftar pemilih tetap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (1) Pasal 45 ayat (2): Daftar pemilih tetap dengan basis TPSLN digunakan KPPSLN dalam melaksanakan pemungutan suara. Panwaslu provinsi. tetapi karena keadaan tertentu tidak dapat menggunakan haknya untuk memilih di TPSLN tempat yang bersangkutan terdaftar Usul Perubahan KPU Jakarta Pusat yang menyusun DPT berdasarkan data dari PPLN. daftar pemilih tambahan. Pasal 47 ayat (2): KPU provinsi melakukan rekapitulasi daftar pemilih tetap di provinsi. Panwaslu kabupaten/kota. 7 Rekapitulasi daftar pemilih Pasal 47 ayat (1): KPU kabupaten/kota melakukan rekapitulasi daftar pemilih tetap di kabupaten/kota. karena pengertian DPT tambahan adalah mereka yang belum terdaftar dalam DPT. Pasal 46 ayat (1): Daftar pemilih tetap dengan basis TPSLN sebagaimana dimaksud Pasal 45 ayat (2) dapat dilengkapi dengan daftar pemilih tambahan sampai hari/tanggal pemungutan suara Pasal 46 ayat (2): Daftar pemilih tambahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas data pemilih yang telah terdaftar dalam daftar pemilih tetap di suatu TPSLN. penyusunan dan pengumuman daftar pemilih sementara. Panwaslu kecamatan dan Pengawas Pemilu Lapangan melakukan pengawasan atas pelaksanaan pemutakhiran data pemilih. Dihapus. KPU kabupaten/kota. Tetap. Pasal 47 ayat (3): KPU melakukan rekapitulasi daftar pemilih tetap secara nasional Tetap Tetap Tetap 8 Pengawasan dan penyelesaian dalam pemutakhiran data dan penetapan daftar pemilih Pasal 48 ayat (1): Bawaslu.

Pasal-pasal di atas adalah pasal yang mengatur kegiatan penyusunan dan pemutakhiran data pemilih dalam jangka waktu satu tahun menjelang pemungutan suara. dan PPLN wajib menindaklanjuti temuan Bawaslu. selain mengatur tentang kegiatan pemutakhiran data pemilih dalam satu tahun terakhir sebelum pemilu dilaksanakan. perbaikan dan pengumuman daftar pemilih sementara hasil perbaikan. penetapan dan pengumuman daftar pemilih tetap. Panwaslu kecamatan. KPU provinsi. Panwaslu kabupaten/kota. dan rekapitulasi daftar pemilih tetap luar negeri yang dilaksanakan oleh PPLN Pasal 49 ayat (1): Dalam hal pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 menemukan unsur kesengajaan atau kelalaian anggota KPU. penyusunan dan pengumuman daftar pemilih sementara. . dan Panwaslu kabupaten/kota. KPU provinsi. KPU provinsi. PPS. maka Bawaslu. dan PPLN Pasal 49 ayat (2): KPU. Kajian ini merekomendasikan adanya data pemilih berkelanjutan yang didasarkan pada data pemilu terakhir. Panwaslu provinsi. Tetap. dan KPU kabupaten/kota. kecuali pada awal tahun pemilu karena yang diumumkan sudah menjadi daftar pemilih tetap. PPK. PPK. undang-undang pemilu ke depan hendaknya juga memuat ketentuan tentang pemutakhiran data pemilih setiap saat oleh penyelenggara pemilu. dan PPLN yang merugikan Warga Negara Indonesia yang memiliki hak pilih. Panwaslu provinsi. Sehubungan dengan hal tersebut. Usul Perubahan Disesuaikan dengan kegiatan yang dilakukan PPLN Tetap. daftar pemilih tambahan. dengan kewajiban mengumumkannya pada awal tahun sebagai daftar pemilih sementara. PPS. Panwaslu kecamatan.Laporan Kajian UU Pemilu 65 No Isu Bunyi Pasal Pasal 48 ayat (2): Pengawas Pemilu Luar Negeri melakukan pengawasan atas pelaksanaan pemutakhiran data pemilih. KPU kabupaten/kota. Pengawas Pemilu Lapangan dan Pengawas Pemilu Luar Negeri menyampaikan temuan kepada KPU. PPK. Pengawas Pemilu Lapangan dan Pengawas Pemilu Luar Negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan KPU kabupaten/kota. PPS.

dan PPS menggunakan Daftar Pemilih Tetap pemilihan umum anggota DPR. KPU Kabupaten/Kota. DPT Tambahan. KPU provinsi. DPRD Provinsi.66 Bab 4 Table 19 : Usul Perubahan Pasal Terkait DPT dalam UU Nomor 42/200845 No 1 Issue Hak Memilih UU 42/2008 Pasal 27 ayat (1): Warga Negara Indonesia yang pada hari pemungutan suara telah genap berumur 17 (tujuh belas) tahun atau lebih atau sudah/pernah kawin mempunyai hak memilih Pasal 27 ayat (2): Warga Negara Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didaftar oleh penyelenggara Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dalam daftar Pemilih Penyusunan daftar pemilih sementara Pasal 29 ayat (1): KPU. dan DPRD kabupaten/kota sebagai Daftar Pemilih Sementara Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Pasal 29 ayat (2): KPU. KPU provinsi. dan PPS untuk mendapatkan masukan dan tanggapan dari masyarakat selama 7 (tujuh) hari Pasal 29 ayat (4): KPU. DPD. KPU kabupaten/kota. KPU kabupaten/kota. DPRD Kabupaten/ Kota sebagai Daftar Pemilih Tetap Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Dihapus Dihapus Dihapus Tetap 45 UU Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden. KPU provinsi.KPU Peovinsi. dan daftar pemilih yang memilih menggunakan KTP atau paspor pemilihan umum anggota DPR. dan PPS menggunakan Daftar Pemilih Tetap. DPRD Provinsi. dan PPS memperbaiki Daftar Pemilih Sementara berdasarkan masukan dan tanggapan dari masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan selanjutnya menetapkan menjadi Daftar Pemilih Tetap paling lama 7 (tujuh) hari Pasal 29 ayat (5): Daftar Pemilih Tetap Pemilu Presiden dan Wakil Presiden harus sudah ditetapkan 30 (tiga puluh) hari Usul Perubahan Warga Negara Indonesia yang pada tahun pemungutan suara telah genap berumur 17 (tujuh belas) tahun atau lebih mempunyai hak memilih Tetap KPU. KPU kabupaten/kota. dan PPS memutakhirkan Daftar Pemilih Sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lama 30 (tiga puluh) hari Pasal 29 ayat (3): Daftar Pemilih Sementara hasil pemutakhiran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diumumkan oleh KPU. . KPU provinsi. KPU kabupaten/kota.

Daftar Pemilih Tambahan. penyusunan Daftar Pemilih Tetap. Tetap.Laporan Kajian UU Pemilu 67 No Issue UU 42/2008 sebelum pelaksanaan pemungutan suara Pemilu Presiden dan Wakil Presiden. Disesuaikan dengan kegiatan sesuai usulan dalam kajian ini Tetap. pengumuman. pemutakhiran Daftar Pemilih Sementara. Panwaslu kecamatan melakukan pengawasan atas pelaksanaan penyusunan Daftar Pemilih Sementara. Pasal disesuaikan dengan kegiatan yang dilakukan Tetap Pasal 30 ayat (2): KPU provinsi melakukan rekapitulasi Daftar Pemilih Tetap di provinsi Pasal 30 ayat (3): KPU melakukan rekapitulasi Daftar Pemilih Tetap Pemilih luar negeri dan Pemilih secara nasional Pengawasan dan penyelesaian dalam pemutakhiran data dan penetapan daftar pemilih Pasal 31 ayat (1): Bawaslu. tetapi rekapitulasi pemilih luar negeri sebaiknya dilakukan oleh KPU Jakarta Pusat karena suara pemilih luar negeri untuk Jakarta Pusat. KPU provinsi. Panwaslu provinsi. dan rekapitulasi Daftar Pemilih Tetap yang dilaksanakan oleh KPU. Disesuaikan dengan kegiatan sesuai usulan dalam kajian ini Tetap. Daftar Pemilih Tambahan. penyusunan Daftar Pemilih Tetap. ayat (3). Disesuaikan dengan kegiatan sesuai usulan dalam kajian ini . KPU kabupaten/kota Pasal 31 ayat (2): Pengawas Pemilu Luar Negeri melakukan pengawasan atas pelaksanaan penyusunan Daftar Pemilih Sementara. Usul Perubahan Pasal 29 ayat (6): Ketentuan lebih lanjut mengenai pemutakhiran. pemutakhiran Daftar Pemilih Sementara. dan rekapitulasi Daftar Pemilih Tetap luar negeri yang dilaksanakan oleh PPLN Pasal 32 ayat (1): Dalam hal pengawas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 menemukan unsur kesengajaan atau kelalaian Tetap Tetap. perbaikan Daftar Pemilih Sementara dan penetapan Daftar Pemilih Tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Panwaslu kabupaten/kota. dan ayat (4) diatur dalam peraturan KPU Rekapitulasi pemilih daftar Pasal 30 ayat (1): KPU kabupaten/kota melakukan rekapitulasi Daftar Pemilih Tetap di kabupaten/kota Tetap.

Tetap Usul Perubahan . KPU provinsi. Panwaslu provinsi. dan Pengawas Pemilu Luar Negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1). KPU provinsi. dan KPU kabupaten/kota Pasal 32 ayat (2): KPU. PPK. dan PPLN yang merugikan Warga Negara Indonesia yang memiliki hak pilih. Bawaslu. Panwaslu kabupaten/kota. dan Pengawas Pemilu Luar Negeri menyampaikan temuan tersebut kepada KPU.68 Bab 4 No Issue UU 42/2008 anggota KPU. KPU provinsi. dan KPU kabupaten/kota. PPS. dan Panwaslu kabupaten/kota. KPU kabupaten/kota. dan PPLN wajib menindaklanjuti temuan Bawaslu. Panwaslu provinsi.

Sedangkan calon perempuan lain dapat diletakkan dalam party list. Dalam MMP calon dinominasikan dalam dua jalur. yaitu (1) sistim pemilu. kekhawatiran bahwa calom perempuan susah terpilih dalam sistem MMP dapat ditepis. yaitu jalur distrik (seperti sistem mayoritarian) dan jalur daftar (seperti sistem proporsional tertutup). kajian ini menyimpulkan bahwa penerapan sistim mixed member proportional (MMP) yaitu pemilih sama-sama diberikan hak untuk memilih calon dan parpol sekaligus dianggap cocok untuk Indonesia. Dengan catatan. 1. Sistim Pemilu Mengenai sistem pemilu. MMP dan Keterwakilan Perempuan Sistem MMP juga memiliki kelebihan untuk mengakomodasi berbagai kepentingan kelompok minoritas. bisa saja diterapkan sistem zigzag. Kandidat perempuan yang berhasil sebagai vote getter harus dipertimbangkan oleh parpol untuk diletakkan dalam jalur distrik. tetapi untuk calon dari Partai B. dan (5) dana kampanye. yakni penempatan nama calon antara laki-laki dan perempuan saling berselang. party list dalam MMP digabungkan dengan zipper system. (2) sistem penegakan hukum. Pilihan atas MMP adalah ‗jalan tengah‘ untuk memelihara warisan pemilu sebelumnya (pemilih memilih parpol dan calon sekaligus) dan sekaligus menyederhanakan pelaksanaan pemilu karena sistem proporsional dengan daftar terbuka telah menyebabkan pemilu menjadi rumit dan tidak murah. (3) parliamentary threshold dan konsep penyederhanaan parpol di Indonesia. yang berarti setengah dari calon terpilih melalui party list adalah perempuan. Dari semua masalah pemilu yang ada. yakni di antara tiga calon terdapat satu perempuan. Dengan demikian. (4) daftar pemilih. Kesempatan perempuan untuk terpilih juga terbuka di jalur distrik. Pilihan terhadap parpol dan calon tidaklah harus paralel. Pemilih bisa saja memilih Partai A. pemilu-pemilu di era Reformasi masih sarat dengan masalah.Bab V Penutup D ari uraian-uraian terdahulu kajian ini menyimpulkan bahwa meskipun dinilai demokratis. kajian ini mengupas lima hal. . termasuk di dalamnya kelompok perempuan.

akademisi. anggota legislatif. tetapi fungsi atau kewenangannya harus lebih ditingkatkan. Hasil diskusi kelompok terpadu (focused group discussion/FGD) di beberapa daerah mengenai revisi UU Pemilu 46 yang dihadiri pengamat. 4. akademisi. ia dapat mengajukan kepada pengadilan pemilu. Terjadinya kekosongan hukum terhadap masalah hukum pemilu tertentu. dan penuntutan kasus tindak pidana pemilu yang ditangani panwaslu. dan penuntutan terhadap masalah-masalah pidana pemilu yang berskala nasional. Tahap penyidikan dan penuntutan tetap dilakukan polisi dan jaksa. panwaslu tetap diberikan peran terbatas untuk menerima laporan dan melakukan penyelidikan. Sedangkan untuk pidana pemilu yang berskala lokal.70 Bab 5 Posibilitas Penerapan MMP Konsep tentang MMP telah disampaikan CETRO kepada Baleg DPR melalui usulan rancangan perubahan UU Nomor 10 Tahun 2008 yang masih dalam proses penggodokkan. penyidikan. Konsolidasi masalah-masalah hukum pemilu ke dalam satu peradilan. 2. 2. Undang-undang sebaiknya juga menyebutkan bahwa Bawaslu berwenang mengambil alih penyelidikan. Lembaga ini harus juga diberikan kewenangan untuk merekrut atau dibantu tenaga penyidik dan penuntut (polisi dan jaksa). upaya menjelaskan konsep ini terus dilakukan kepada parpol atau fraksi-fraksi di DPR. Gagasan tentang pembentukan pengadilan khusus pemilu ini didukung oleh pengamat. anggota legislatif. 3. Peningkatan Kewenangan Bawaslu/Panwaslu Peran Bawaslu/Panwaslu tetap diperlukan. polisi. termasuk kepada tokoh-tokoh parpol. karena bersifat permanen. Khusus untuk Bawaslu. yaitu memutus pelanggaran administratif yang dilakukan oleh peserta pemilu. dan LSM menunjukkan dukungan yang kuat terhadap penerapan MMP dalam pemilu/pemilukada. penyidikan. atau jaksa bila memang tidak berjalan sebagaimana mestinya karena sebab-sebab tertentu. B. Pengadilan pemilu memutuskan untuk tingkat pertama dan terakhir terhadap banding yang diajukan tersebut. Selain itu. Bila peserta pemilu tidak puas dengan putusan Bawaslu/panwaslu. dapat diberikan kewenangan untuk melakukan penyelidikan. Terbatasnya waktu dalam menyelesaikan masalah-masalah hukum pemilu. Rendahnya kapasitas pengadilan konvensional terhadap masalahmasalah hukum pemilu. Pembentukan Pengadilan Khusus Pemilu Terdapat empat alasan pentingnya pembentukan pengadilan khusus pemilu yaitu: 1. kajian ini merekomendasikan dua hal yaitu: A. dan LSM dalam beberapa diskusi . Sistim Penegakan Hukum Dalam hal penegakan hukum.

Parliamentary Threshold Dalam hal parliamentary threshold dan penyederhanaan parpol di Indonesia. pembentukan pengadilan pemilu bisa dimasukkan dalam perubahan UU Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilu. Daftar Pemilih Dalam hal daftar pemilih.  Keempat.  Kelima. Seharusnya ambang batas tersebut ditentukan oleh hasil pemilu saat itu juga dengan cara menerapkan PT. Berikut adalah rekomendasi yang terkait daftar pemilih. 3. sedangkan pemerintah dapat menjadi pemasok data kependudukan yang akan menjadi referensi bagi KPU dalam memutakhirkan data pemilih. Kewenangan ini sesuai dengan mandat konstitusi adalah yurisdiksi MK. terutama terkait penyelesaian masalah hukum yang diajukan. yaitu  Pertama yang paling penting dari konsep penyederhanaan parpol adalah jumlah parpol di parlemen karena efektivitas sistem presidensialisme bukan terletak pada jumlah parpol dalam pemilu.  Kedua. Hukum acara pengadilan khusus pemilu dibuat tersendiri. dari aspek sosiologis. dari perspektif politik penerapan PT bisa dikatakan lebih adil ketimbang ET mengingat parpol yang ada saat ini tidak bertanding dengan garis start yang sama. Pengadilan khusus pemilu sebaiknya dibentuk di tingkat provinsi untuk tingkat pertama dan kamar khusus di MA untuk tingkat banding yang merupakan tingkat terakhir. penerapan ET berpotensi melanggar konstitusi dan kelebihan PT dalam konteks ini adalah. tidak bisa diutakatik lagi kecuali bila ada perubahan UUD 1945. Parliamentary threshold harus lebih dikedepankan dalam pemilu mendatang dengan 5 alasan. Pengadilan khusus pemilu memiliki yurisdiksi untuk memutus seluruh masalah hukum pemilu. Cetro mengusulkan bahwa pembuatan dan pemutakhiran data pemilih benar-benar menjadi tanggung jawab KPU. parpol yang tidak mencapai persentase tertentu tidak perlu bubar atau menggabungkan diri bila ingin ikut dalam pemilu berikutnya. kajian ini menyimpulkan bahwa kedua hal tersebut berjalan secara relatif baik.kelompok terpadu (focused group discussion/FGD). melainkan jumlah parpol dalam parlemen. penerapan ET dianggap tidak lazim karena ambang batas ditentukan berdasarkan pencapaian parpol dalam pemilu lima tahun sebelumnya. kecuali masalah perselisihan hasil pemilu dan pengujian atas undang-undang yang mengatur tentang pemilu. . 4. Dikaitkan dengan perubahan undang-undang yang terkait pemilu ke depan.  Ketiga. Dengan begitu undang-undang tersebut akan menjadi UU tentang Penyelenggara dan Pengadilan Pemilu. penerapan PT akan merupakan disinsentif bagi petualang-petualang parpol yang berpikiran jangka pendek.

Data pemilih dibuat dan dipelihara oleh KPU secara berkelanjutan. 4. tinggal dimutakhirkan. Syarat untuk dapat memilih: berusia 17 tahun pada tahun pemilu. KPU dan KPU kabupaten/kota melakukan pemutakhiran data pemilih dengan melibatkan unit pemerintahan terkcil (kepala dusun/ RT/ RW). Pemilih yang belum terdaftar dalam DPT dapat mendaftar dalam DPT tambahan dengan cara mendaftar ke KPU kabupaten/kota hingga 30 hari sebelum hari pemungutan suara. KPU membangun sistem daftar pemilih yang terintegrasi secara online dengan KPU kabupaten/kota. 7. 3. Data pemilih untuk pemilu berikutnya didapat dari data pemilu terakhir yang dikelola dan dimutakhirkan. 10/2008 Isu Data kependudukan Pasal Pasal 32 ayat 1 Usulan Tetap. terutama pengadaan surat suara. dengan catatan bahwa data kependudukan dimaksud digunakan untuk pemutakhiran data pemilih yang sudah ada di KPU. Table 20 . 6. Daftar pemilih Pasal 33 ayat 1 KPU kabupaten/kota menggunakan data kependudukan sebagai bahan pemutakhiran daftar pemilih Dihapus. Daftar pemilih yang ditetapkan pada awal tahun pemilu digunakan untuk kebutuhan logistik pemilu. 11. 5. KPU kabupaten/kota melaporkan data pemilih ke KPU setiap akhir tahun. 2.72 Bab 5 1. Dalam kaitannya dengan tanggung jawab membuat dan memutkahirkan data pemilih. Pemilih yang belum terdaftar dalam daftar pemilih dan daftar pemilih tambahan tetap dapat memilih dengan menggunakan KTP atau paspor satu jam sebelum pemungutan suara berakhir dengan terlebih dulu mendaftar ke petugas KPPS. 8. Pemerintah menyediakan data DP4 yang digunakan sebagai referensi atau masukan untuk memutakhirkan data pemilih 12 bulan sebelum pemilu dilaksanakan. Pemutakhiran data pemilih menjadi kewajiban KPU kabupaten/kota setiap saat. Satu tahun menjelang pemilu. 10. Pasal 33 ayat 3 . 12. 9. Dibuat biro khusus di KPU untuk menangani data pemilih. kemudian data ini digunakan oleh KPU pusat untuk dipublikasikan kepada pemilih. karena data pemilih sudah tersedia. 13.Perubahan Pasal Terkait Daftar Pemilih dalam UU No. KPU membuka akses seluas-luasnya agar pemilih dapat mengecek apakah sudah tercantum dalam daftar pemilih atau belum.

pasal 36 ayat 4 Dihapus Dihapus Dihapus Dihapus Pasal 36 ayat 5 Pasal 36 ayat 6 Pasal 37 ayat 1 Pasal 37 ayat 2 Pasal 37 ayat 3 Pasal 37 ayat 4 Dihapus Dihapus Penyusunan daftar pemilih tetap Pasal 38 ayat 1 Pasal 38 ayat 3 Pasal 40 ayat 1 Dihapus Dihapus Daftar pemilih tetap dilengkapi dengan daftar pemilih tambahan paling lambat 30 (tiga puluh) hari sebelum hari/tanggal pemungutan suara Dihapus karena DPT dalam kajian ini adalah mereka yang belum terdaftar dalam DPT. parpol dapat mengecek melalui website KPU para pemilih yang belum terdaftar. Dihapus Pasal 36 ayat 2 Pasal 36 ayat 3 dihapus. PPLN melakukan pemutakhiran data pemilih paling lama pada akhir tahun Dihapus Pasal 42 ayat 1 . Khusus untuk awal tahun pemilu menjadi DPT.Isu Pemuktahiran data pemilih Pasal Pasal 34 ayat 2 Usulan Pemutakhiran data pemilih diselesaikan paling lama pada akhir tahun. Pasal 34 ayat 4 Penyusunan daftar pemilih sementara Pasal 36 ayat 1 Dihapus. Dihapus. karena DPS diumumkan setiap awal tahun. Pasal 40 ayat 2 Dihapus Pasal 40 ayat 3 Penyusunan daftar pemilih bagi pemilih luar negeri Pasal 41 ayat 2 Dihapus. karena data pemilih sudah ada. terutama pemilih yang menjadi anggota partai yang bersangkutan. Dengan data yang bisa diakses. masyarakat dapat mengecek apakah sudah tercantum dalam daftar pemilih atau tidak. yaitu data pemilih pemilu terakhir. Hasil pemutakhiran data pemilih diumumkan sebagai daftar pemilih tetap pada awal tahun pemilu.

74 Bab 5 Isu Pasal Pasal 43 ayat 1 Pasal 43 ayat 2 Pasal 43 ayat 3 Pasal 43 ayat 4 Pasal 43 ayat 5 Dihapus Dihapus Dihapus Usulan Dihapus. Upaya-upaya perbaikan selayaknya dilakukan dengan segera seiring dengan rencana pembentukan/revisi undang-udang yang terkait dengan pemilu yang saat ini dilakukan oleh DPR. Demikian kesimpulan dan rekomendasi yang terkait dengan kajian tentang Pemilu 2009 yang baru saja dijalani. . mereka yang tidak terdaftar tetap dapat mendaftar dalam DPT tambahan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful