P. 1
Bahan2

Bahan2

|Views: 633|Likes:
Published by vre_

More info:

Published by: vre_ on Jul 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/13/2013

pdf

text

original

Indeks-indeks kekeringan diperoleh dari ribuan data curah hujan, salju, aliran sungai dan

indikator sumber lainnya. Dalam pengambilan keputusan, nilai indeks kekeringan berciri

angka tunggal jauh lebih berarti dibandingkan data mentah (Hayes, 2006). Hal ini diperkuat

dengan pernyataan Ogallo dan Gbeckor-kove (1989) dalam Turyanti (1995) bahwa curah

hujan merupakan indeks tunggal yang paling penting dalam menduga kekeringan tetapi jika

kekeringan hanya dilihat dari batasan jumlah curah hujan, batasannya sangat beragam

bergantung kepada waktu dan tempat penelitian.

Menurut Hounam et. al (1975) penentuan tingkat kekeringan bertujuan untuk:

1. mengevaluasi kecenderungan klimatologis menuju keadaan kering/tingkat kekeringan dari

suatu wilayah

2. memperkirakan kebutuhan air irigasi pada suatu luasan tertentu

3. mengevaluasi kekeringan pada suatu tempat secara lokal

4. melaporkan secara berkala perkembangan kekeringan secara regional

Ada beberapa indeks yang diukur dari banyaknya presipitasi pada suatu periode waktu

yang menyimpang dari data historis. Walaupun tidak ada indeks-indeks penting yang menjadi

dominan pada semua kondisi, beberapa indeks lebih baik digabungkan untuk penggunaan

tertentu. Agar dapat dibandingkan indeks yang satu dengan indeks yang lain.

Indeks kekeringan banyak macamnya. Macam-macam indeks tersebut antara lain,

Standardized precipitation index (SPI), Palmer Drought Severity Index(PDSI), Crop Moisture

Index (CMI), Surface Water Supply Index (SWSI), Reclamation Drought Indeks (RDI), dan

masih banyak lagi. Indeks-indeks ini diciptakan tergantung dari gambaran umum yang

melatar belakangi daerah tersebut, pengguna, proses, input dan hasil outputnya atau masing-

masing klasifikasi.

Pemetaan wilayah kekeringan telah dilakukan dengan berbagai metode yang berbeda.

Salah satu diantaranya yang sering digunakan adalah metode Palmer. Seperti yang telah

dilakukan oleh Sudibyakto (1985) di daerah Kedu Selatan, Jawa Tengah, dimana hasil

perhitungan indeks kekeringan didasarkan pada data curah hujan titik menimbulkan indeks

yang terlalu basah (over estimate). Kemudian oleh Historiawati (1987) di daerah Purwodadi

dan Grobogan, Jawa Tengah, serta Turyanti (1995) di daerah Jawa Barat menyatakan bahwa

evaluasi kekeringan menggunakan indeks Palmer menunjukkan tingkat kekeringan di Jawa

Barat sangat bervariasi dengan nilai indeks sekitar -25 hingga 139. Nilai indeks ini sangat

beragam, mulai ekstrim kering hingga ekstrim basah. Daerah Pantai Utara dan Pantai Selatan

pada tahun 1987, 1991, 1994 mengalami kondisi cukup parah dengan nilai indeks kekeringan

di bawah -10. Hasil dari ketiga penelitian tersebut menyatakan bahwa curah hujan dan indeks

kekeringan yang dihasilkan memperlihatkan kecenderungan embutan yang sama.

2.5 Palmer Drought Severity Index (PDSI)

Analisis neraca air untuk meneliti kekeringan salah satunya dikembangkan oleh Palmer.

Palmer menggunakan model dua lapis tanah yaitu lapisan atas dan lapisan bawah.

Evapotranspirasi potensial diduga dari suhu rata-rata dengan metode yang telah

dikembangkan oleh Thornthwaite. Hasil dari metode ini selain nilai index juga koefisien

parameter iklim, yaitu koefisien limpasan (run off), koefisien imbuhan (recharge), koefisien

evapotranspirasi, dan koefisien kehilangan lengas (loss). Dari koefisien tersebut dilakukan

perhitungan curah hujan yang telah terjadi selama bulan tertentu untuk mendukung

evapotranspirasi, limpasan, dan cadangan lengas yang dipertimbangkan sebagai kondisi

normal (Hounam et al., 1975).

Indeks kekeringan Palmer dapat menunjukkan indeks terlalu basah atau terlalu kering

dari keadaan normalnya di suatu daerah (Tabel 1). Metode Indeks kekeringan Palmer

berguna untuk mengevaluasi kekeringan yang telah terjadi terutama di daerah-daerah semiarid

dan yang beriklim sub-humid kering (Guttman et al., dalam Turyati 1995). Available Water

Capacity (AWC) atau kapasitas air tersedia juga diperlukan dalam pengolahan data Palmer

dan koordinat lintang juga diperlukan dalam perhitungan Palmer agar dapat mengetahui

panjang hari didaerah tersebut. Menurut National Drought Mitigation Center, (2006) Palmer

lebih baik digunakan pada area yang luas dan topografi yang seragam.

Palmer Classifications

Indeks Kekeringan Sifat Cuaca

= 4.00 Ekstrim basah

3.00 - 3.99 Sangat basah

2.00 - 2.99 Agak basah

1.00 - 1.99 Sedikit basah

0.50 - 0.99 Awal selang basah

0.49 – (-0.49) Normal

-0.50 – (-0.99) Awal selang kering

-1.00 – (-1.99) Sedikit kering

-2.00 – (-2.99) Agak kering

-3.00 – (-3.99) Sangat kering

= -4.00 Ekstrim kering

Tabel 1. Kelas Indeks kekeringan Palmer dan

Sifat Cuaca (Hounam et al.,1975).

2.6 Analisis Neraca Air dengan Metode Thornthwaite

Sebagaimana dijelaskan oleh Nugroho, 1998 mengenai neraca air dengan metode

Thornthwaite-Mather bahwa air hujan yang di permukaan tanah, sebagian menjadi lengas

tanah (soil moisture), air tanah (groundwater) dan sebagian akan menjadi aliran permukaan

(surface run off). Persentase ketiga komponen tersebut tidak tetap. Tergantung pada faktor-

faktor seperti jenis tanah (khususnya tekstur tanah), tata guna lahan dan kedalaman perakaran.

Kemampuantanah untuk menyimpan air (water holding capacity) dapat diduga tanpa

melakukan pengukuran langsung. Sedangkan lengas tanah ini akan selalu berubah-ubah

tergantung dari evapotranspirasi dan hujan.

Kapasitas air tersedia (available water capacity) merupakan air yang terikat antara

kapasitas lapang dan titik layu tanaman. Air tersedia ini berupa air tersedia untuk tanah

dijumlahkan sampai kedalaman akar dan dinyatakan sebagai air tersedia total. Jumlah air yang

tersedia pada zone perakaran tergantung dari faktor meteorologi yaitu neraca antara curah

hujan dan evapotranspirasi. Selain itu juga dipengaruhi oleh faktor tanah yang menyangkut

hubungan antara kandungan air dalam tanah (perkolasi).

Nilai air tersedia dalam tanah besarnya beragam dari jenis tanah satu ke jenis tanah

lainnya, bahkan banyak faktor yang mempengaruhinya. Lengas tanah merupakan faktor

utama yang ditentukan oleh keadaan lengas sebelumnya.

RINGKASAN

IKA SURYANTI. Analisis Hubungan Antara Sebaran Kekeringan Menggunakan Indeks

Palmer dengan Karakteristik Kekeringan (Studi Kasus: Provinsi Banten). Dibimbing oleh

HENY SUHARSONO dan ARIS PRAMUDIA.

Salah satu kejadian alam yang perlu diwaspadai adalah kondisi dimana tanah tidak

memiliki cadangan air yang cukup yang memungkinkan terjadinya kekeringan. Tingkat/taraf

kekeringan suatu wilayah berbeda satu dengan yang yang lain. Untuk mengetahui seberapa

besar nilai perbedaan kekeringan masing-masing daerah, digunakan salah satu metode yaitu

Indeks Palmer. Usaha yang sangat penting dilakukan untuk mengantisipasi kekeringan adalah

dengan memahami karakteristik iklim wilayah tersebut dengan baik. Dengan hal ini

diharapkan dapat digunakan sebagai referensi kebijaksanaan dalam pengelolaan areal

pertanian, sehingga kondisi iklim ekstrim tidak akan menyebabkan kerugian yang terlalu

besar.

Karakterisasi kekeringan merupakan analisis sifat-sifat hujan yang dapat menggambarkan

kondisi kekeringan secara fisik di lokasi penelitian. Analisis keterkaitan antara karakter

kekeringan dengan indeks kekeringan adalah upaya untuk menterjemahkan nilai-nilai dari

indeks atau derajat kekeringan ke dalam besaran fisik yang menunjukkan sifat-sifat dari

parameter kekeringan yang diolah berdasarkan data curah hujan. Delineasi wilayah rawan

kekeringan adalah tahapan menggambarkan kondisi dan sifat kekeringan di lokasi penelitian

melalui informasi secara spasial dalam bentuk peta-peta.

Penelitian ini bertujuan melakukan karakterisasi kekeringan klimatologis di provinsi

Banten, melakukan analisis indeks kekeringan menggunakan metode Palmer, dan melakukan

analisis hubungan antara indeks kekeringan dengan karakteristik kekeringan.

Rata-rata CH tahunan provinsi Banten 2070,62 mm/tahun, dengan CH berpola monsun.

Dalam menganalisis hubungan antara curah hujan bulanan dengan peluang DHK dapat

didekati dengan persamaan eksponensial terbalik. Dimana semakin tinggi curah hujan maka

semakin kecil peluang terjadinya DHK, begitu pula sebaliknya.

Karakteristik provinsi Banten memiliki sebaran curah hujan yang tidak merata untuk

dibeberapa daerah. Untuk stasiun Bobojong antara hari hujan dan hari kering saling

berkesinambungan, dengan memiliki paling sedikit hari hujan dan memiliki hari kering paling

banyak. Sehingga dapat dikatakan daerah Bobojong dominan kering. Di stasiun Kalimati

memiliki peluang DHK=5, DHK=10, DHK=15 yang paling besar, sehingga dapat

disimpulkan stasiun

Kalimati paling sering terjadi hari kering pada hari yang berturut-turut. Hasil analisis

linear dan kuadratik menunjukkan fluktuasi antara PDSI dengan 8 parameter karakteristik

kekeringan di provinsi Banten, memiliki rata-rata R P 2 yang kecil, sehingga dapat dikatakan

nilai indeks Palmer hanya sedikit berkorelasi terhadap 8 parameter. Hanya hubungan PDSI

dengan CH yang memiliki nilai R P 2 P P yang cukup besar. Stasiun Cikomara indeks

kekeringannya lebih kuat dikorelasi oleh curah hujan. Sedangkan melalui perbandingan antara

nilai R P 2 P linear dan kuadratik hitung dengan nilai RP 2 tabel, pada analisis hubungan

antara PDSI dengan P10 memiliki stasiun terbanyak yang signifikan dibandingkan 7

parameter lainnya. P

Korelasi antara PDSI dengan 8 parameter karakteristik kekeringan pada 4 stasiun terpilih

(Ciboleger, Kosambi Dalam, Sampang peudeuy, dan Bengkok Ciminyak), besar korelasinya

terhadap curah hujan. Pada regresi linear berganda metode stepwise dipilih yang berkorelasi

kuat dan yang tidak berkorelasi dihilangkan oleh metode ini. Di stasiun Ciboleger, PDSI besar

berkorelasi dengan parameter CH dan P00. Stasiun Kosambi Dalam, diwakili parameter CH,

DHK= 15, dan JHK. Stasiun Sampang Peudeuy, diwakili parameter CH, HH, dan DHK=5.

Stasiun Bengkok Ciminyak, diwakili parameter CH, HH dan P10.

Hasil evaluasi kekeringan menggunakan indeks Palmer menunjukkan tingkat kekeringan

di provinsi Banten cukup bervariasi, dengan nilai indeks sekitar -8.14 hingga 13.38. Hal ini

berarti kondisi lengas tanah di provinsi Banten cukup beragam, mulai dari ekstrem kering

hingga ekstrem basah. Sebarannya menunjukkan provinsi Banten pada bulan terbasah dan

terkering masih dianggap normal menurut Palmer, dengan nilai indeks antara -0.21 hingga

1.23. Pada seleksi curah hujan rata-rata terbasah dan terkering tiap stasiun, nilai PDSI

tertinggi ada di stasiun Panancangan.

Hal ini dapat dikatakan bahwa stasiun Panancangan dominan basah. Hasil analisis

menunjukkan bahwa nilai indeks kekeringan Palmer setiap bulan pada seluruh tahun,

menunjukkan sebaran yang hampir merata dengan nilai indeks rata-rata dari 40 stasiun di

provinsi Banten sebesar 0.37 atau dapat dikatakan sifat cuaca di provinsi Banten adalah

normal menurut indeks kekeringan palmer.

Gambar 8 Bagan alir penelitian

Penentuan tujuan & lingkup, tinjauan pustaka
studi

Pengumpulan data
primer
- Lokasi titik-titik
infrastruktur
- Kondisi titik-titik
infrastruktur
- Wawancara

Pengumpulan data
sekunder
- Peta Sungai Kampar
- Karakteristik Sungai
Kampar
- Sedimentasi Sungai
Kampar

Survei awal menentukan lokasi

Analisa Data

Tidak dibutuhkan penanggulangan

Infrastruktur
mengalami
kerusakan

Dibutuhkan
penanggulangan

Analisa
biaya

Kompilasi Data

Keadaan
infrastruktur
Sungai Kampar

mulai

selesai

Ya

Tidak

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->