Tanggung Jawab Hukum perdata.

Ada tiga macam konsep tanggung jawab hukum, masing-masing tanggung jawab hukum (legal liability) atas dasar kesalahan (based on fault liability), tanggung jawab hukum praduga bersalah (presumption of liability) dan tanggung jawab hukum tanpa bersalah (liability without fault) yang sering disebut juga tanggung jawab mutlak (absolute liability atau strict liability), tanggung jawab renteng (vicarious liability), tanggung jawab resiko ( rish liability) 1. Tanggung jawab atas dasar kesalahan (based on fault liability) diatur dalam Pasal 1365 KUH Perdata yang sering disebut tindakan melawan hukum (onrechts matigdaad) yang berlaku secara umum kepada siapa pun. Contoh : Juga termasuk PT. KAI dalam kapasitasnya sebagai penyelenggara angkutan kereta api. Menurut konsep tersebut, setiap perbuatan melawan hukum yang menimbulkan kerugian kepada orang lain, mewajibkan kepada orang yang karena perbuatannya menimbulkan kerugian untuk mengganti kerugian yang telah ditimbulkannya. 2. Prinsip Tanggung Jawab absolute atau strick liability/liability with out fault Prinsip tanggung jawab mutlak (strict liability) sering diidentikkan dengan prinsip tanggung jawab absolut (absolute liability). Kendati demikian ada pula para ahli yang membedakan kedua terminologi di atas. Ada pendapat yang menyatakan, strict liability adalah prinsip tanggung jawab yang menetapkan kesalahan tidak sebagai faktor yang menentukan. Namun ada pengecualian-pengecualian yang memungkinkan untuk dibebaskan dari tanggung jawab, misalnya pada keadaan force majeure. Sebaliknya absolute liability adalah prinsip tanggung jawab tanpa kesalahan dan tidak ada pengecualiannya. Menurut E. Suherman, strict liability disamakan dengan absolute liability, dalam prinsip ini tidak ada kemungkinan untuk membebaskan diri dari tanggung jawab, kecuali apabila kerugian yang timbul karena kesalahan pihak yang dirugikan sendiri. Tanggung jawab adalah mutlak.

Strict Liability Dalam Hukum Lingkungan Tujuan utama pengelolaan lingkungan hidup antara lain adalah terlaksananya pembangunan berwawasan lingkungan dan terkendalinya pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana. setiap kegiatan pembangunan. dan dapat berarti negatif yaitu timbulnya risiko yang merugikan masyarakat. Dampak disini dapat bernilai positif yang berarti memberi manfaat bagi kehidupan manusia. (2) meningkatnya pertumbuhan ekonomi secara bertahap sehinga terjadi perubahan struktur ekonomi yang lebih baik. yang sangat menonjol adalah masalah pencemaran. 1996 : 133). sehat dan seimbang (3) meningkatnya kemampuan dan penguasaan teknologi yang akan menumbuhkembangkan kemampuan dunia usaha nasional. maju. Demikian pula dampak positif pembangunan terjadap lingkungan hidup. di antaranya adalah (1) meningkatnya kemakmuran dan eksejahteraan rakyat secara merata. sedangkan dampak negatif akibat kegiatan pembangunan terhjadap lingkungan. dan (5) menunjang dan memperkuat stabilitas nasional yang sehat dan dinamis dalam rangka memperkokoh ketahanan nasional (Soemartono. terkendalinya banjir. Pengertian pencemaran lingkungan hidup berdasarkan ketentutan pasal 1 ayat 12 Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup ("UUPLH") adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup. tersedianya air bersih. Oleh karena itu perencana kegiatan sejak awal sudah harus memperkirakan perubahan rona lingkungan akibat pembentukan suatu kodisi yang merugikan akibat diselenggarakannya pembangunan. dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai tingkat tertentu yang menyebabkan lingkunga hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya. Dampak positif pembangunan sangatlah banyak. dimana pun dan kapan pun pasti akan menimbulkan dampak. (4) memperluas dan memeratakan kesempatan kerja dan kemampuan berusaha. misalnya terkendalinya hama dan penyakit. zat. dan lain-lain. energi. Tidak dapat dipungkiri. .

pihak ketiga bertanggung jawab membayar ganti rugi. pembangunan bidang lingkungan hidup hanya dapat berhasil apabila pelaksanaan dan penegakan hukum dan peraturan perundangundangan dalam bidang lingkungan hidup. (3) Dalam hal terjadi kerugian yang disebabkan oleh pihak ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c. atau c. atau b. berjalan dan ditegakkan secara efektif dimana salah satu unsur yang sangat penting dalam kaitan ini adalah penerapan Tanggung Jawab Mutlak terhadap pelaku pencemaran lingkungan hidup. bertanggungjawab secara mutlak atas kerugian yang ditimbulkan. Tanggung Jawab Mutlak (Strict Liability) Pengertian "Strict Liability" dinyatakan dalam Black's Law Dictionary Seventh Edition. yang menggunakan bahan bebahaya dan beracun. halaman 926 sebagai berikut : Strict Liability Liability that does not depend on actual negligence or intent to harm. (2) Penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan dapat dibebaskan dari kewajiban membayar ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) jika yang bersangkutan dapat membuktikan bahwa pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup disebabkan oleh salah sat alasan di bawah ini : a. but that is based on the breach of an absolute duty to make something safe.Sehubungan dengan hal tersebut. adanya bencana alam atau peperangan. adanya tindakan pihak ketiga yang menyebabkan terjadinya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. Dalam konteks ini. adanya keadaan terpaksa di luar kemampuan manusia. Penjelasan Pasal 35 ayat (1) UPLH menyatakan sebagai berikut : . Pasal 35 UUPLH menyatakan sebagai berikut : (1) Penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan yang usaha dan kegiatannya menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. perlu dilakukan berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan pencemaran agar pelaksanaan pembangunan dapat mencapai sasaran yang telah digariskan. dan/atau menghasilkan limbah bahan berbahaya dan beacun. dengan kewajiban membayar ganti rugi secara langsung dan seketika pada saa terjadinya pencemaran da/atau perusakan lingkungan hidup.

Asas Tanggung jawab Mutlak tersebut sangat berseberangan dengan ketentuan pasal 1365 KUH Perdata yang menekankan tanggung jawab berdasarkan adanya kesalahan (liability based on fault). Salah satu ciri utama tanggung jawab mutlak adalah tidak adanya persyaratan tentang perlu adanya kesalahan. . yakni unsur kesalahan tidak perlu dibuktikan oleh pihak penggugat sebagai dasar pembayar ganti kerugian. rugi dan bunga karena tak dipenuhinya suatu perikatan. Ketentuan ayat ini merupakan lex specialis dalam gugatan tentang perbuatan melawan hukum pada umumnya. yang sebagian besar adalah berkaitan dengan risiko lingkungan. tetap melalaikannya. Asas Tanggung jawab Mutlak (strict liability) telah diperkenalkan sejak pertengahan abad ke 19 seiring dengan perkembangan industrialisasi sekurangkurangnya untuk beberapa macam kasus. mengganti kerugian tersebut". yang lazim digunakan dalam penyelesaian ganti kerugian adalah ketentuan pasal 1243 KUH Perdata yang berbunyi sebagai berikut : "Penggantian biaya. Lummert (dalam Hardjasoemantri. atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dibuatnya hanya dapat diberikan atau dibuat dalam tenggang waktu yang telah dilampaukannya". mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu. Pasal 1365 KUH Perdata berbunyi sebagai berikut : "Tiap perbuatan melanggar hukum. Selain ketentuan pasal 1365 KUH Perdata. setelah dinyatakan lalai memenuhi perikatannya. barulah mulai diwajibkan. 1999 : 387) mengemukakan bahwa konsep tanggung jawab mutlak diartikan sebagai kewajiban mutlak yang dihubungkan dengan ditimbulkannya kerusakan. Yang dimaksudkan sampai batas tertentu adalah jika menurut penetapan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Besarnya nilai ganti rugi yang dapat dibebankan terhadap pencemar atau perusak lingkungan hidup menurut pasal ini dapat ditetapkan sampai batas tertentu. yang membawa kerugian kepada seorang lain. apabila si berhutang. Hal tersebut dipicu oleh meningkatnya risiko yang ditimbulkan industrialisasi serta semakin rumitnya hubungan sebab akibat.Pengertian bertanggungjawab secara mutlak atau strict liability. ditentukan keharusan asuransi bagi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan atau lebih tersedia dana lingkungan hidup.

Krier (dalam Hardjasoemantri. maka tidak ada kewajiban bagi pelaku untuk memberi ganti kerugian. Hal lain yang terkait erat dengan asas Tanggng jawab Mutlak adalah beban pembuktian (burden of proof). James E. Salah satu kriteria tradisional yang menentukan pembagian beban pembuktian adalah pertimbangan yang menyatakan bahwa beban pembuktian seyogyanya diberikan kepada pihak yang mempunyai kemampuan besar untuk memberikan bukti tentang sesuatu hal. mempunyai kemampuan lebih besar untuk memberikan pembuktian. maka masalah beban pembuktian tidak merupakan masalah atau rintangan bagi penderita atau pencinta lingkungan hidup untuk tampil sebagai penggugat di pengadilan dalam kasus-kasus pencemaran. maka jelas perusak atau pencemar dalam hal ini industri. karena penderita atau korban baru akan memperoleh ganti kerugian jika ia berhasil membuktikan adanya unsur kesalahan pada pihak tergugat. Kesalahan disini merupakan unsur yang menentukan pertanggungjawaban. sehingga apabila unsur kesalahan tidak dapat dibuktikan. karena banyak kegiatankegiatan yang menurut pengalaman menimbulkan kerugian terhadap lingkungan merupakan tindakan-tindakan yang berbahaya. adalah "liability based on fault" dengan beban pembuktian yang memberatkan penderita. Dalam konteks kerusakan atau pencemaran lingkungan oleh industri. dapat dikemukakan bahwa penerapan tanggung jawab mutlak adalah sejalan dengan pergeseran orientasi hukum dan . karena adalah tanggung jawab dari tergugat untuk membuktikan bahwa kegiatan-kegiatannya yang mengandung risiko tidak mempunyai akibat-akibat yang berbahaya atau menimbulkan gangguan (pencemaran atau perusakan). Dengan adanya pembalikan pembuktian tersebut. 1999 : 387) mengemukakan bahwa doktrin tanggung jawab mutlak dapat merupakan bantuan yang sangat besar dalam peradilan mengenai kasus-kasus lingkungan.Sangat jelas bahwa prinsip yang digunakan dalam kedua pasal tersebut di atas. Berdasarkan uraian di atas. untuk mana dapat diberlakukan ketentuan tanggung jawab tanpa kesalahan. Fenomena penekanan pada tanggung jawab mutlak dalam UUPLH setidaknya menggambarkan pula bahwa teori hukum telah meninggalkan konsep "kesalahan" dan berpaling kepada konsep "risiko" dalam bidang lingkungan hidup.

misalnya terkendalinya hama dan penyakit. (4) memperluas dan memeratakan kesempatan kerja dan kemampuan berusaha. sedangkan dampak negatif akibat kegiatan pembangunan terhjadap lingkungan. Tidak dapat dipungkiri. dan lain-lain. Oleh karena itu perencana kegiatan sejak awal sudah harus memperkirakan perubahan rona lingkungan akibat pembentukan suatu kodisi yang merugikan akibat diselenggarakannya pembangunan. tersedianya air bersih. setiap kegiatan pembangunan. Dampak positif pembangunan sangatlah banyak. energi. Dampak disini dapat bernilai positif yang berarti memberi manfaat bagi kehidupan manusia. yang sangat menonjol adalah masalah pencemaran. Demikian pula dampak positif pembangunan terjadap lingkungan hidup. zat. di antaranya adalah (1) meningkatnya kemakmuran dan eksejahteraan rakyat secara merata.pengelolaan lingkungan dari "use oriented" ke arah "environment oriented" serta sejalan pula dengan semangat "precauti Tujuan utama pengelolaan lingkungan hidup antara lain adalah terlaksananya pembangunan berwawasan lingkungan dan terkendalinya pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana. Pengertian pencemaran lingkungan hidup berdasarkan ketentutan pasal 1 ayat 12 Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup ("UUPLH") adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup. dan dapat berarti negatif yaitu timbulnya risiko yang merugikan masyarakat. maju. dan (5) menunjang dan memperkuat stabilitas nasional yang sehat dan dinamis dalam rangka memperkokoh ketahanan nasional (Soemartono. sehat dan seimbang (3) meningkatnya kemampuan dan penguasaan teknologi yang akan menumbuhkembangkan kemampuan dunia usaha nasional. terkendalinya banjir. 1996 : 133). dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai tingkat tertentu yang menyebabkan lingkunga hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya. . dimana pun dan kapan pun pasti akan menimbulkan dampak. (2) meningkatnya pertumbuhan ekonomi secara bertahap sehinga terjadi perubahan struktur ekonomi yang lebih baik.

Sehubungan dengan hal tersebut. halaman 926 sebagai berikut : Strict Liability Liability that does not depend on actual negligence or intent to harm. Ditetapkan sampai batas tertentu Yang dimaksudkan sampai batas tertentu adalah jika menurut penetapan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan/atau menghasilkan limbah bahan berbahaya dan beacun. berjalan dan ditegakkan secara efektif dimana salah satu unsur yang sangat penting dalam kaitan ini adalah penerapan Tanggung Jawab Mutlak terhadap pelaku pencemaran lingkungan hidup. Pasal 35 UUPLH menyatakan sebagai berikut : (1) Penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan yang usaha dan kegiatannya menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. perlu dilakukan berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan pencemaran agar pelaksanaan pembangunan dapat mencapai sasaran yang telah digariskan. Lummert (dalam Hardjasoemantri. bertanggungjawab secara mutlak atas kerugian yang ditimbulkan. Dalam konteks ini. ditentukan keharusan asuransi bagi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan atau lebih tersedia dana lingkungan hidup. dengan kewajiban . but that is based on the breach of an absolute duty to make something safe. yang menggunakan bahan bebahaya dan beracun. yang sebagian besar adalah berkaitan dengan risiko lingkungan. Asas Tanggung jawab Mutlak (strict liability) telah diperkenalkan sejak pertengahan abad ke 19 seiring dengan perkembangan industrialisasi sekurangkurangnya untuk beberapa macam kasus. Hal tersebut dipicu oleh meningkatnya risiko yang ditimbulkan industrialisasi serta semakin rumitnya hubungan sebab akibat. pembangunan bidang lingkungan hidup hanya dapat berhasil apabila pelaksanaan dan penegakan hukum dan peraturan perundangundangan dalam bidang lingkungan hidup. 1999 : 387) mengemukakan bahwa konsep tanggung jawab mutlak diartikan sebagai kewajiban mutlak yang dihubungkan dengan Tanggung Jawab Mutlak (Strict Liability) Pengertian "Strict Liability" dinyatakan dalam Black's Law Dictionary Seventh Edition.

mengganti kerugian tersebut". Selain ketentuan pasal 1365 KUH Perdata. apabila si berhutang. adanya keadaan terpaksa di luar kemampuan manusia. atau c. yang membawa kerugian kepada seorang lain. Besarnya nilai ganti rugi yang dapat dibebankan terhadap pencemar atau perusak lingkungan hidup menurut pasal ini dapaditimbulkannya kerusakan.(2) (3) membayar ganti rugi secara langsung dan seketika pada saa terjadinya pencemaran da/atau perusakan lingkungan hidup. Asas Tanggung jawab Mutlak tersebut sangat berseberangan dengan ketentuan pasal 1365 KUH Perdata yang menekankan tanggung jawab berdasarkan adanya kesalahan (liability based on fault). Salah satu ciri utama tanggung jawab mutlak adalah tidak adanya persyaratan tentang perlu adanya kesalahan. barulah mulai diwajibkan. Ketentuan ayat ini merupakan lex specialis dalam gugatan tentang perbuatan melawan hukum pada umumnya. adanya bencana alam atau peperangan. atau jika sesuatu yang harus . yakni unsur kesalahan tidak perlu dibuktikan oleh pihak penggugat sebagai dasar pembayar ganti kerugian. rugi dan bunga karena tak dipenuhinya suatu perikatan. setelah dinyatakan lalai memenuhi perikatannya. Penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan dapat dibebaskan dari kewajiban membayar ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) jika yang bersangkutan dapat membuktikan bahwa pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup disebabkan oleh salah sat alasan di bawah ini : a. Pasal 1365 KUH Perdata berbunyi sebagai berikut : "Tiap perbuatan melanggar hukum. Dalam hal terjadi kerugian yang disebabkan oleh pihak ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c. pihak ketiga bertanggungjawab membayar ganti rugi. atau b. adanya tindakan pihak ketiga yang menyebabkan terjadinya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu. tetap melalaikannya. yang lazim digunakan dalam penyelesaian ganti kerugian adalah ketentuan pasal 1243 KUH Perdata yang berbunyi sebagai berikut : "Penggantian biaya. Penjelasan Pasal 35 ayat (1) UPLH menyatakan sebagai berikut : Pengertian bertanggungjawab secara mutlak atau strict liability.

1999 : 387) mengemukakan bahwa doktrin tanggung jawab mutlak dapat merupakan bantuan yang sangat besar dalam peradilan mengenai kasus-kasus lingkungan. James E. karena adalah tanggung jawab dari tergugat untuk membuktikan bahwa kegiatan-kegiatannya yang mengandung risiko tidak mempunyai akibat-akibat yang berbahaya atau menimbulkan gangguan (pencemaran atau perusakan) . Hal lain yang terkait erat dengan asas Tanggng jawab Mutlak adalah beban pembuktian (burden of proof). adalah "liability based on fault" dengan beban pembuktian yang memberatkan penderita. Dengan adanya pembalikan pembuktian tersebut. Fenomena penekanan pada tanggung jawab mutlak dalam UUPLH setidaknya menggambarkan pula bahwa teori hukum telah meninggalkan konsep "kesalahan" dan berpaling kepada konsep "risiko" dalam bidang lingkungan hidup. maka jelas perusak atau pencemar dalam hal ini industri. untuk mana dapat diberlakukan ketentuan tanggung jawab tanpa kesalahan. mempunyai kemampuan lebih besar untuk memberikan pembuktian. Salah satu kriteria tradisional yang menentukan pembagian beban pembuktian adalah pertimbangan yang menyatakan bahwa beban pembuktian seyogyanya diberikan kepada pihak yang mempunyai kemampuan besar untuk memberikan bukti tentang sesuatu hal. Krier (dalam Hardjasoemantri. Kesalahan disini merupakan unsur yang menentukan pertanggungjawaban. Sangat jelas bahwa prinsip yang digunakan dalam kedua pasal tersebut di atas. Dalam konteks kerusakan atau pencemaran lingkungan oleh industri. maka masalah beban pembuktian tidak merupakan masalah atau rintangan bagi penderita atau pencinta lingkungan hidup untuk tampil sebagai penggugat di pengadilan dalam kasus-kasus pencemaran. karena banyak kegiatankegiatan yang menurut pengalaman menimbulkan kerugian terhadap lingkungan merupakan tindakan-tindakan yang berbahaya. sehingga apabila unsur kesalahan tidak dapat dibuktikan. maka tidak ada kewajiban bagi pelaku untuk memberi ganti kerugian.diberikan atau dibuatnya hanya dapat diberikan atau dibuat dalam tenggang waktu yang telah dilampaukannya". karena penderita atau korban baru akan memperoleh ganti kerugian jika ia berhasil membuktikan adanya unsur kesalahan pada pihak tergugat.

atau memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan. dapat dikemukakan bahwa penerapan tanggung jawab mutlak adalah sejalan dengan pergeseran orientasi hukum dan pengelolaan lingkungan dari "use oriented" ke arah "environment oriented" serta sejalan pula dengan semangat "precautionary principles". PENGERTIAN ASURANSI Asuransi adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada tindakan. ASURANSI DALAM UU 2 TH 1992 Asuransi dalam Undang-Undang No. kesehatan dan lain sebagainya mendapatkan penggantian dari kejadian-kejadian yang tidak dapat diduga yang dapat terjadi seperti kematian. kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan atau tanggung jawab hukum pihak ke tiga yang mungkin akan diderita tertanggung. Perjanjian antara kedua badan ini disebut kebijakan: ini adalah sebuah kontrak legal yang menjelaskan setiap istilah dan kondisi yang dilindungi.google. dimana melibatkan pembayaran premi secara teratur dalam jangka waktu tertentu sebagai ganti polis yang menjamin perlindungan tersebut. dengan menerima premi asuransi.Berdasarkan uraian di atas. untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian. sumber :http://taqlawyer.com Pengertian Asuransi/rish liability. yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti. properti. Ini biasanya ditentukan oleh “penanggung” untuk dana yang bisa diklaim di masa merujuk pada segala sesuatu yang . dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung. Badan yang menyalurkan risiko disebut “tertanggung”. Istilah “diasuransikan” biasanya mendapatkan perlindungan. dan badan yang menerima risiko disebut “penanggung”.2 Th 1992 tentang usaha perasuransian adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih. atau bisnis dimana perlindungan finansial (atau ganti rugi secara finansial) untuk jiwa. kehilangan. kerusakan atau sakit.com/ orientasilingkungan. sistem. Biaya yang dibayar oleh “tetanggung” kepada “penanggung” untuk risiko yang ditanggung disebut “premi”.multiply.com sites.

untuk memberikan penggantian kepadanya karena suatu kerugian. Contohnya. yang timbul dari suatu hubungan keuangan. * Proximate cause Suatu penyebab aktif. Bab 9.” PRINSIP DASAR ASURANSI Dalam dunia asuransi ada 6 macam prinsip dasar yang harus dipenuhi. * Indemnity Suatu mekanisme dimana penanggung menyediakan kompensasi . Kebijakan tersebut akan membayar penggantian atau perbaikan rumah mereka bila terjadi bencana. biaya administratif. yaitu : * Insurable interest Hak untuk mengasuransikan. Pasal 246 “Asuransi atau Pertanggungan adalah suatu perjanjian dengan mana seorang penanggung mengikatkan diri kepada seorang tertanggung. Perusahaan asuransi mengenai mereka premi sebesar Rp1 juta per tahun. Risiko kehilangan rumah telah disalurkan dari pemilik rumah ke perusahaan asuransi. mereka mengambil perlindungan asuransi dalam bentuk kebijakan kepemilikan rumah.depan. tentang asuransi atau pertanggungan seumurnya. semua fakta yang material (material fact) mengenai sesuatu yang akan diasuransikan baik diminta maupun tidak. Artinya adalah : si penanggung harus dengan jujur menerangkan dengan jelas segala sesuatu tentang luasnya syarat/kondisi dari asuransi dan si tertanggung juga harus memberikan keterangan yang jelas dan benar atas obyek atau kepentingan yang dipertanggungkan. yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang tak tertentu. efisien yang menimbulkan rantaian kejadian yang menimbulkan suatu akibat tanpa adanya intervensi suatu yang mulai dan secara aktif dari sumber yang baru dan independen. Mengetahui bahwa kehilangan rumah mereka akan membawa mereka kepada kehancuran finansial. ASURANSI DALAM KUHD Definisi Asuransi menurut Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD). dengan menerima suatu premi. kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan. dan keuntungan. seorang pasangan membeli rumah seharga Rp. * Utmost good faith Suatu tindakan untuk mengungkapkan secara akurat dan lengkap. antara tertanggung dengan yang diasuransikan dan diakui secara hukum. 100 juta.

Ibu tersebut menolak untuk diberikan suntikan utero tonika. * Subrogation Pengalihan hak tuntut dari tertanggung kepada penanggung setelah klaim dibayar. Mal praktek terjadi karena : Ceroboh Lupa Gagal mengkomunikasikan Bidan sebagai petugas kesehatan sering berhadapan dengan masalah etik yang berhubungan dengan hukum. Tanggung Gugat Dalam Praktek Kebidanan/Civil Liability Tanggung gugat terjadi karena beberapa hal : 1. bila ditinjau dari hak pasien atas keputusan yang menyangkut dirinya maka bidan bisa saja memberikan suntikan jika kemauan pasien tetapi bidan akan berhadapan dengan masalah yang rumit lagi. Sering masalah dapat diselesaikan dengan hukum tetapi belum dapat diselesaikan berdasarkan prinsip-prinsip dan nilai-nilai etik. tetapi tidak harus sama kewajibannya terhadap tertanggung untuk ikut memberikan indemnity. walaupun bidan harus memaksa pasiennya untuk disuntik mungkin itu keputusan yang terbaik untuk dilakukan. * Contribution Hak penanggung untuk mengajak penanggung lainnya yang sama-sama menanggung. Mal episiensi. Vicarious liability/tanggung rentang . 253 dan dipertegas dalam pasal 278).finansial dalam upayanya menempatkan tertanggung dalam posisi keuangan yang ia miliki sesaat sebelum terjadinya kerugian (KUHD pasal 252. Bila terjadi perdarahan hebat dan harus diupayakan pertolongan untuk merujuk pasien dan yang lebih fatal lagi bila pasien akhirnya meninggal akibat perdarahan dalam hal ini bidan dikatakan tidak melaksanakan tugasnya dengan baik. Contoh kasus : Di sebuah desa terpencil seorang ibu mengalami perdarahan post partum telah melahirkan bayinya yang pertama di rumah. Mal praktek/ lalai : Gagal melakukan tugas Tidak melaksanakan tugas sesuai dengan standar Melakukan kegiatan yang mencederai klien Klien cedera karena kegagalan melaksanakan tugas 3. keputusan yang diambil merugikan pasien 2.

.Jika mahasiswa praktik melakukan kesalahan atau kelalaian dalam proses pelayanan medis sehingga merugikan pasien secara material ataupun immaterial maka pasien dapat menggugat RS membayar ganti rugi berdasarkan doktrin tanggung renteng (doctrine of vicarious liability) karena dalam hal ini hubungan hukum yang terjadi adalah antara pasien & RS. Jika kesalahan atau kelalaian mahasiswa praktik sesuai rumusan pidana maka yang harus menerima hukuman adalah mahasiswa yang bersangkutan mengingat dalam hukum pidana tanggungjawab hukumnya bersifat personal & individual. antara RS & fakultas kedokteran yang mengirimkan mahasiswa praktik dapat mengadakan perjanjian tersendiri untuk bersamasama menanggung ganti rugi apabila gugatan pasien diterima oleh pengadilan. Meskipun demikian. sementara kedudukan mahasiswa hanyalah sebagai pihak yang melaksanakan kewajiban RS.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful