P. 1
penelitian ilmiah

penelitian ilmiah

|Views: 215|Likes:
Published by meryllajane

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: meryllajane on Jul 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/04/2015

pdf

text

original

Peningkatan Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Ibu Balita di Kelurahan Kebon Jeruk Terhadap Pencegahan Penyakit Diare Dengan

Metode Focus Group Discussion (FGD) Periode Juni 2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

LATAR BELAKANG

Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang seperti di Indonesia, karena morbiditas dan mortalitas-nya yang masih tinggi.1 Di seluruh dunia lebih dari 1 milyar penduduk mengalami satu atau lebih episode diare akut pertahun. Di USA 100 juta orang mengalami episode diare akut pertahun. Statistik populasi untuk kejadian diare kronis belum pasti, kemungkinan berkaitan dengan variasi definisi dan sistem pelaporan, tetapi frekuensinya juga cukup tinggi. Di USA prevalensinya berkisar antara 2 - 7%. Sedangkan di negara Barat, frekuensinya berkisar antara 4-5%. Pada populasi usia tua, termasuk pasien dengan gangguan motilitas, didapatkan prevalensi yang jauh lebih tinggi yaitu 7 -14%.2 Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2007 prevalensi diare di DKI Jakarta sebesar 8 % di bandingkan dengan prevalensi nasional total keseluruhan propinsi.1 Pola penyebab kematian semua umur, diare merupakan penyebab kematian peringkat ke-13 dengan proporsi 3,5%. Sedangkan berdasarkan penyakit menular, diare merupakan penyebab kematian peringkat ke-3 setelah TB dan Pneumonia.1 Dari hasil SDKI 2007 didapatkan 13,7% balita mengalami diare dalam waktu dua minggu sebelum survei, 3% lebih tinggi dari temuan SDKI 2002-2003 (11 persen). Prevalensi diare tertinggi adalah pada anak umur 12-23 bulan, diikuti umur 6-11 bulan dan umur 23-45 bulan. Dengan demikian seperti yang diprediksi, diare banyak diderita oleh kelompok umur 6-35 bulan karena anak mulai aktif bermain dan berisiko terkena infeksi.1 Survei morbiditas yang dilakukan oleh Subdit Diare, Departemen Kesehatan dari tahun 2000 s/d 2010 terlihat kecenderungan insidens naik. Pada tahun 2000 IR penyakit Diare 301/ 1000 penduduk, tahun 2003 naik menjadi 374 /1000 penduduk, tahun 2006 naik menjadi 423 /1000 penduduk dan tahun 2010 menjadi 411/1000 penduduk. Kejadian Luar Biasa (KLB) diare juga masih sering terjadi, dengan CFR yang masih tinggi. Pada tahun 2008 terjadi KLB di 69

Kecamatan dengan jumlah kasus 8133 orang, kematian 239 orang (CFR 2,94%). Tahun 2009 terjadi KLB di 24 Kecamatan dengan jumlah kasus 5.756 orang, dengan kematian 100 orang (CFR 1,74%), sedangkan tahun 2010 terjadi KLB diare di 33 kecamatan dengan jumlah penderita 4204 dengan kematian 73 orang (CFR 1,74 %.). 1 Sumber dari Subdit Surveilans dan Respon KLB Ditjen PP dan PL dilihat berdasarkan golongan umur, kasus pada KLB diare lebih banyak terjadi pada golongan umur 1-4 tahun kemudian golongan 20-44 tahun. Hal ini merupakan masalah kesehatan yang perlu diperhatikan terutama diare yang umumnya diderita oleh balita dan menjadi penyumbang kematian pada balita. Faktor higiene dan sanitasi lingkungan, kesadaran orang tua balita untuk berperilaku hidup bersih dan sehat serta pemberian ASI menjadi faktor yang penting dalam menurunkan angka kesakitan diare pada balita. Sedangkan bila dilihat dari jenis kelamin, kasus KLB diare pada tahun 2010 tidak berbeda jauh antar laki-laki (51%) dengan perempuan (49%). Hal senada juga terjadi pada tahun 2009, tidak ada perbedaan yang signifikan kasus KLB diare antara perempuan (51%) dengan laki-laki (49%). Hal ini menunjukkan bahwa penyakit diare

merupakan penyakit yang tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin. Berdasarkan data ini seolah mengatakan bahwa kesadaran masyarakat akan pencegahan penyakit diare masih minim. Hal tersebut dapat disebabkan oleh peran tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat terhadap pencegahan diare.1 Cara mengukur tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat terhadap pencegahan diare, kami menggunakan metode focus group discussion . Data hasil dari FGD yang di lakukan oleh Huda M. Haroun di Sudan, provinsi Gezira, terjadi peningkatan pengetahuan, sikap, dan perilaku terhadap ibu yang memiliki balita yang umurnya di bawah 5 tahun terhadap managemen diare di rumah, dari awalnya di dapat 28 %, 13% and 29% meningkat setelah di lakukan intervensi menjadi 94 %, 92% and 93% .2

1.2.

RUMUSAN MASALAH Penyakit diare sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia,

dengan insiden yang cenderung naik dari tahun 2000 sampai 2010. Masalah tersebut dapat dilihat dari tingginya angka kesakitan dan kematian akibat penyakit diare. Pada tahun 2007, diare

merupakan urutan ketiga penyebab kematian pada semua umur akibat penyakit menular.Pada tahun 2007 didapatkan 13,7% balita mengalami diare. Prevalensi diare tertinggi adalah pada anak umur 12-23 bulan, diikuti umur 6-11 bulan dan umur 23-45 bulan. Selain angka kesakitan yang masih tinggi, penyakit diare juga sering menimbulkan KLB (Kejadian Luar Biasa) dengan CFR (Case Fatality Rate) yang masih tinggi. Pada kasus diare usaha pencegahan diare tentunya tergantung pada Pengetahuan, Sikap dan Perilaku masyarakat.1

1.3.

HIPOTESIS       Ho tidak ada perbedaan bermakna antara pengetahuan ibu mengenai pencegahan diare sebelum dan sesudah di lakukan intervensi Focus Group Discussion. Ha ada perbedaan bermakna antara pengetahuan ibu mengenai pencegahan diare sebelum dan sesudah di lakukan intervensi Focus Group Discussion. Ho tidak ada perbedaan bermakna antara sikap ibu mengenai pencegahan diare sebelum dan sesudah di lakukan intervensi Focus Group Discussion. Ha ada perbedaan bermakna antara pengetahuan ibu mengenai pencegahan diare sebelum dan sesudah di lakukan intervensi Focus Group Discussion. Ha tidak ada perbedaan bermakna antara perilaku ibu mengenai pencegahan diare sebelum dan sesudah di lakukan intervensi Focus Group Discussion. Ho tidak ada perbedaan bermakna antara pengetahuan ibu mengenai pencegahan diare sebelum dan sesudah di lakukan intervensi Focus Group Discussion.

1.4.

TUJUAN

1.4.1 Tujuan umum Untuk menilai efektivitas Focus Group Discussion (FGD) dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu yang mempunyai balita terhadap pencegahan diare. 1.4.2 Tujuan khusus

2. sikap dan perilaku tentang pencegahan diare sebelum dan sesudah Focus Group Discussion terhadap ibu yang memiliki balita di kelurahan Kebon Jeruk.1 Manfaat bagi peneliti 1. Diketahuinya tingkat sebaran pengetahuan. . 8. 7. 6. Mengetahui gambaran pengetahuan. 2. Melatih bekerjasama dalam tim. Mendapatkan masukan mengenai tingkat pengetahuan. 2. Mengembangkan daya nalar. Melatih keterampilan cara Focus Group Discussion dimana ini merupakan pengalaman pertama kami melaksanakan penelitian dan sekaligus menggunakan metode eksperimen. 4. Menerapkan dan mengembangkan ilmu yang telah dipelajari pada saat kuliah. 5. sikap dan perilaku ibu yang memiliki balita mengenai pencegahan diare. 3. sikap dan perilaku ibu yang memiliki balita di kelurahan Kebon Jeruk mengenai pencegahan diare sebelum dan sesudah mengikuti Focus Group Discussion. Diketahuinya karakteristik responden menurut umur.5 MANFAAT 1. 1. 1. jumlah anak dan tingkat pendidikan terhadap pencegahan diare di kelurahan Kebon Jeruk. Realisasi Tridarma perguruan tinggi dalam melaksanakan fungsi atau tugas perguruan tinggi sebagai lembaga yang menyelenggarakan pendidikan. sikap dan perilaku ibu yang memiliki balita mengenai pencegahan diare.5.1. Mewujudkan kampus Universitas Kristen Krida Wacana sebagai masyarakat ilmiah dalam peran sertanya di bidang kesehatan. minat dan kemampuan dalam bidang penelitian. Memperoleh pengalaman belajar dan pengetahuan dalam melakukan penelitian. 3.5. penelitian dan pengabdian masyarakat. Diketahuinya hubungan antara tingkat pengetahuan .2Manfaat bagi perguruan tinggi 1. Meningkatkan kemampuan komunikasi dengan masyarakat pada umumnya dan pemuka masyarakat pada khususnya.

3. Sebagai bahan masukan dalam melakukan upaya promotif kesehatan untuk meningkatkan tingkat pengetahuan. Jakarta Barat dalam upaya pencegahan penyakit diare 2.3 Manfaat bagi masyarakat 1.5. . Kecamatan Kebon Jeruk. sikap dan perilaku ibu yang memiliki balita mengenai pencegahan diare. Sebagai masukan berupa hasil penelitian dan saran-saran yang diharapkan dapat menjadi umpan balik positif bagi masyarakat. Kelurahan Kebon Jeruk. 1. Meningkatkan saling pengertian dan kerjasama antar mahasiswa dan staf pengajar.

Clostridium perfringens. bakteri.Ascaris. misal: cacing perut. diare adalah suatu penyakit dengan tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja. Norwalk dan adenovirus. 2. Belantudium coli dan Crypto. b. Salmonela. Sedangkan menurut Depkes RI (2005). Blastsistis huminis. disertai dengan perubahan konsisten tinja(menjadi cair) dengan atau tanpa darah. Apabila diare berlangsung antara satu sampai dua minggu maka dikatakan diare yang berkepanjangan. misal: Shigella.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. 4. tetapi yang sering ditemukan di lapangan adalah diare yang disebabkan infeksi dan keracunan. Coli. Diare akut diberi batasan sebagai meningkatnya kekerapan. bertambah cairan. bacillus cereus. parasit. dan diare persisten. Pengertian Diare Menurut WHO (1999) secara klinis diare didefinisikan sebagai bertambahnya defekasi (buang air besar) lebih dari biasanya/lebih dari tiga kali sehari. keracunan yang dapat disebabkan. alergi 3. malabsorbsi. Secara klinik dibedakan tiga macam sindroma diare yaitu diare cair akut. E. akan tetapi hal itu sangat relative terhadap kebiasaan yang ada pada penderita dan berlangsung tidak lebih dari satu minggu. Staphyiccoccus aureus. keracunan bahan kimiawi . yang melembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi buang air besar biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari.3 Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam golongan enam besar. a. virus misal: Rotavirus. Giardia labila. Penyebab diare secara lengkap adalah sebagai berikut: 1. Strongyloides. disentri. infeksi yang dapat disebabkan: a. c.1. atau bertambah banyaknya tinja yang dikeluarkan. Campylobacter dan aeromonas. Trichiuris. protozoa Entamoeba histolitica.golongan vibrio.

3 Diare mengakibatkan terjadinya: a. kesadaran menurun dan bila tak cepat diobati penderita dapat meninggal. 3. asidosis metabolic dan hipokalemia. Diare persisten. buah-buahan dan sayur-sayuran. Kehilangan air dan elektrolit serta gangguan asam basa yang menyebabkan dehidrasi. gangguan gizi atau penyakit lainnya. mengklasifikasikan jenis diare menjadi empat kelompok yaitu: a. Gangguan gizi yang terjadi akibat keluarnya cairan berlebihan karena diare dan muntah.3 Diare akut dapat mengakibatkan: 1. Gangguan sirkulasi darah dapat berupa renjatan hipovolemik atau prarenjatan sebagai akibat diare dengan atau tanpa disertai dengan muntah. yaitu diare yang berlangsung lebih dari empat belas hari secara terus menerus. sebab-sebab lain. anak yang menderita diare (diare akut dan persisten)mungkin juga disertai penyakit lain seperti demam. 2. ikan. Disentri.4 Departemen Kesehatan RI (2000). Imunodefisiensi 6. perfusi jaringan berkurang sehingga hipoksia dan asidosismetabolik bertambah berat. b. dan asidosis metabolik. Diare dengan masalah lain. keracunan oleh bahan yang dikandung dan diproduksi: jasat renik. kehilangan air dan elektrolit serta gangguan asam basa yang menyebabkan dehidrasi. Diare akut: yaitu diare yang berlangsung kurang dari empat belas hari (umumnya kurang dari tujuh hari). Gangguan sirkulasi darah. b.b. Gangguan gizi yang terjadi akibat keluarnya cairan berlebihan karena diare dan muntah. d. yaitu diare yang disertai darah dalam tinjanya. 5. Kadang-kadang orang tuanya menghentikan . c.dapat berupa renjatan hipovolemik sebagai akibat diare dengan atau tanpa disertai muntah.

Bila penderita benyak kehilangan cairan dan elektrolit. yang kadang disertai: muntah.3 Gejala diare atau mencret adalah tinja yang encer dengan frekuensi empat kali atau lebih dalam sehari. Sebagai akibat hipoglikemia dapat terjadi edema otak yang dapat mengakibatkan kejang dan koma. suhu tubuh meningkat. rasa mual dan muntah-muntah dapat mendahului diare yang disebabkan oleh infeksi virus. selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering. tinja mungkin disertai lendir atau darah. Dehidrasi terjadi akibat kehilangan air dan elektrolit yang melebihi . Kehidupan bayi jarang dapat dipertahankan apabila defisit melampaui 15%.2. turgor berkurang. badan lesu atau lemah.gejala lain seperti flu misalnya agak demam. demam. Hipoglikemia akan lebih sering terjadi pada anak yang sebelumnya telah menderita malnutrisi atau bayi dengan gagal bertambah berat badan. gejala dehidrasi mulai nampak. gejala muntah dapat timbul sebelum dan sesudah diare. dan sakit kepala. gelisah. Gangguan bakteri dan parasit kadang-kadang menyebabkan tinja mengandung darah atau demam tinggi. nafsu makan berkurang. mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung. Dehidrasi dapat diklasifikasikan berdasarkan defisit air dan atau keseimbangan serum elektrolit.pemberian makanan karena takut bertambahnya muntah dan diare pada anak atau bila makanan tetap diberikan dalam bentuk diencerkan. dapat pula mengalami sakit perut dan kejang perut. panas.5 Gejala diare yang sering ditemukan mula-mula pasien cengeng. penurunan nafsu makan atau kelesuan. muntah. terutama natrium dan kalium dan sering disertai dengan asidosis metabolik.2 2. Gejala Diare Diare dapat menyebabkan hilangnya sejumlah besar air dan elektrolit. Setiap kehilangan berat badan yang melampaui 1% dalam sehari merupakan hilangnya air dari tubuh. tidak nafsu makan. darah dan lendir dalam kotoran. nyeri otot atau kejang.6 Dehidrasi merupakan gejala yang segera terjadi akibat pengeluaran cairan tinja yang berulang-ulang. tinja berdarah. yaitu berat badan menurun. Infeksi bisa secara tiba-tiba menyebabkan diare. Selain itu. serta gejala.

Umur ibu sangat berpengaruh pada kejadian diare. d.pemasukannya. Hasil penelitian didapatkan hubungan yang bermakna antara kejadian diare dengan rendahnya penghasilan keluarga.4 .3. Pendidikan Ibu aspek pendidikan ibu dari sebelas penelitian. Sedangkan tiga penelitian lainnya menunjukkan bahwa status ibu bekerja bukan merupakan faktor risiko yang signifikan dalam menyebabkan penyakit diare pada bayi dan balita. b. Kehilangan cairan akibat diare menyebabkan dehidrasi yang dapat bersifat ringan. Faktor – Faktor Yang Berkaitan Dengan Diare Faktor – faktor yang berkaitan dengan diare pada balita baik langsung maupun tidak langsung yaitu : a.7 2. Pekerjaan Ibu Dari penelitian yang menghubungkan aspek status kerja ibu dengan kejadian diare menunjukkan hanya satu penelitian yang menunjukkan hasil yang signifikan dalam menyebabkan penyakit diare pada bayi. lima penelitian menunjukkan hasil yang signifikan sedangkan enam penelitian lainnya menunjukkan hasil yang tidak signifikan. Umur Ibu Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang mendapatkan prioritas program pemberantasan karena tingginya angka kesakitan dan menimbulkan banyak kematian terutama pada bayi dan balita. Aspek status kerja ibu ternyata tidak menunjukkan hasil yang signifikan dalam menyebabkan penyakit diare pada bayi dan balita c. sedang atau berat. Penghasilan Keluarga Penghasilan keluarga yang rendah mempunyai hubungan erat dengan kesehatan masyarakat terutama dengan kejadian diare. Umur ibu yang lebih tua didapat kesimpulan jarang Pada aspek perilaku ibu menunjukkan bahwa perilaku hidup bersih yang dilakukan ibu mempunyai hubungan yang bermakna dalam mencegah terjadinya penyakit diare pada bayi dan balita.

Hal ini dapat mengakibatkan mudahnya terkena diare.4. lingkungan dan faktor pejamu. pada tahun 2003 prevalensi gizi kurang sebanyak 27. perbaikan lingkungan biologis dilakukan untuk memodifikasi lingkungan. Untuk meningkatkan . Pencegahan Penyakit Diare Pada dasarnya ada tiga tingkatan pencegahan penyakit secara umum yakni: pencegahan tingkat pertama (Primary Prevention) yang meliputi promosi kesehatan dan pencegahan khusus.4.1. Peningkatan air bersih dan sanitasi lingkungan.5 persen dan prevalensi gizi buruk sekitar 8. 2. Imunisasi Setiap balita berhak mendapatkan imunisasi dasar secara gratis. Pencegahan Primer Pencegahan primer penyakit diare dapat ditujukan pada faktor penyebab.Selain itu ada system informasi dan Sarana Pelayanan Kesehatan yang ikut berperan : 1.4. Apabilac dari 3 kali penimbangan ditemukan balita dengan BB ( berat badan ) tidak naik atau BGM harus dirujuk ke Puskesmas dan dilakukan pemeriksaan lanjut secara klinis.5 2. dan pencegahan tingkat ketiga (tertiary prevention) yang meliputi pencegahan terhadap cacat dan rehabilitasi. sayur mayur. Pemantauan Gizi Dilakukan dengan cara menimbang balita setiap bulan di posyandu. Untuk faktor penyebab dilakukan berbagai upaya agar mikroorganisme penyebab diare dihilangkan.6 Menurut data tahun 2000 menyebutkan sekitar 3 – 4 juta balita menderita kekurangn gizi. buar – buahan. baik di Posyandu maupun di Puskesmas 3.4. lauk pauk nabati dan lauk pauk hewani. Pola makan seimbang terdiri dari makanan pokok seperti nasi. PMT Penyuluhan / Pola Makan Gizi Seimbang Untuk tumbuh sehat kita membutuhkan gizi seimbang dengan mengkonsumsi aneka ragam bahan makanan.8 2. pencegahan tingkat kedua (Secondary Prevention) yang meliputi diagnosis dini serta pengobatan yang tepat. yaitu sebanyak 1.5 juta diantaranya bergizi buruk. infeksi dan mengalami gangguan pertumbuhan.5 persen. dan garam dan gula diberikan secukupnya.

sarang insekta penyebar penyakit. sumur gali. penampungan air hujan. Air harus ditampung dalam wadah yang bersih dan pengambilan air dalam wadah dengan menggunakan gayung yang bersih.daya tahan tubuh dari pejamu maka dapat dilakukan peningkatan status gizi dan pemberian imunisasi. dan sumur artesis. mandi. Air angkasa yaitu air yang berasal dari atmosfir seperti hujan dan salju. juga dapat berperan besar dalam penularan beberapa penyakit menular termasuk diare. Untuk pemenuhan kebutuhan manusia akan air. a) air angkasa seperti hujan dan air salju. c) air permukaan yang meliputi sungai dan telaga.9 Sumber air yang sering digunakan oleh masyarakat adalah: air permukaan yang merupakan air sungai. air sebagai penyebar mikroba patogen. maka untuk keperluan tersebut WHO menetapkan kebutuhan per orang per hari untuk hidup sehat 60 liter. Masyarakat yang terjangkau oleh .10 Air dapat juga menjadi sumber penularan penyakit. bahkan hampir 70% tubuh manusia mengandung air. maka dari sumber air yang ada dapat dibangun bermacam-macam saran penyediaan air bersih yang dapat berupa perpipaan. Penyediaan air bersih Air adalah salah satu kebutuhan pokok hidup manusia. sehingga orang tidak dapat membersihkan dirinya dengan baik. bila jumlah air bersih tidak mencukupi. dan untuk minum air harus di masak. minum. Selain dari peranan air sebagai kebutuhan pokok manusia. b) air tanah seperti air sumur. Peran air dalam terjadinya penyakit menular dapat berupa. sumur pompa tangan.11 Untuk mencegah terjadinya diare maka air bersih harus diambil dari sumber yang terlindungi atau tidak terkontaminasi. mata air dan artesis. dan danau.10 Dengan memahami daur/siklus air di alam semesta ini. dan air sebagai sarang hospes sementara penyakit. maka sumber air dapat diklasifikasikan menjadi. Sumber air bersih harus jauh dari kandang ternak dan kakus paling sedikit sepuluh meter dari sumber air. Air tanah yang tergantung kedalamannya bisa disebut air tanah dangkal atau air tanah dalam. 1. Air dipakai untuk keperluan makan. dan pemenuhan kebutuhan yang lain. perlindungan mata air.

Metode penilaian tersebut adalah. mudah digunakan dan dipelihara. 28. 2) pemeriksaan laboratorium.14 3. ternyata makin banyak episode diare yang dialami. Penilaian status gizi dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai metode. Metode-metode ini dapat digunakan secara tunggal atau kombinasikan untuk mendapatkan hasil yang lebih efektif. yang tergantung dan tingkat kekurangan gizi. Pada anak dengan malnutrisi.4 permil). maka pembuangan kotoran manusia harus dikelola dengan baik. tidak menimbulkan bau.12 2.penyediaan air bersih mempunyai resiko menderita diare lebih kecil bila dibandingkan dengan masyarakat yang tidak mendapatkan air besih. Tempat pembuangan tinja Pembuangan tinja merupakan bagian yang penting dari kesehatan lingkungan. Jika tak ada jamban. Pembuangan tinja yang tidak tepat dapat berpengaruh langsung terhadap insiden penyakit tertentu yang penularannya melalui tinja antara lain penyakit diare. Suatu jamban memenuhi syarat kesehatan apabila memenuhi syarat kesehatan: tidak mengotori permukaan tanah. 1) konsumsi makanan.10 Makin buruk gizi seseorang anak. Status gizi Status gizi didefinisikan sebagai keadaan kesehatan yang berhubungan dengan penggunaan makanan oleh tubuh14. Mortalitas bayi dinegara yang jarang terdapat malnutrisi protein energi (KEP) umumnya kecil (Canada.13 Keluarga yang tidak memiliki jamban harus membuat dan keluarga harus membuang air besar di jamban. Jamban harus dijaga dengan mencucinya secara teratur.15 . 3) pengukuran antropometri dan 4) pemeriksaan klinis. tidak dapat di jangkau oleh serangga. tidak mengotori air permukaan. maka anggota keluarga harus membuang air besar jauh dari rumah. dan murah.12 Untuk mencegah kontaminasi tinja terhadap lingkungan. kelenjar timusnya akan mengecil dan kekebalan sel-sel menjadi terbatas sekali sehingga kemampuan untuk mengadakan kekebalan nonspesifik terhadap kelompok organisme berkurang. jalan dan daerah anak bermain dan paling kurang sepuluh meter dari sumber air bersih.

anak mempunyai risiko lebih besar terkena diare. Pada penularan seperti ini.17 . Sebahagian besar kuman infeksius penyebab diare ditularkan melalui jalur oral. Tinja anak. sebelum makan atau memberi makan anak dan sebelum menyiapkan makanan. Anak kecil juga merupakan sumber penularan penting diare. terutama yang sedang menderita diare merupakan sumber penularan diare bagi penularan diare bagi orang lain. cara menyimpan makanan serta tempat keluarga membuang tinja anak. tangan memegang peranan penting. anak sehatpun tinjanya juga dapat menjadi carrier asimptomatik yang sering kurang mendapat perhatian. Kebiasaan mencuci tangan diterapkan setelah buang air besar. Kebiasaan mencuci tangan pakai sabun adalah perilaku amat penting bagi upaya mencegah diare. setelah menangani tinja anak. karena lewat tangan yang tidak bersih makanan atau minuman tercemar kuman penyakit masuk ke tubuh manusia. Kejadian diare makanan terutama yang berhubungan langsung dengan makanan anak seperti botol susu. Kuman-kuman tersebut ditularkan dengan perantara air atau bahan yang tercemar tinja yang mengandung mikroorganisme patogen dengan melalui air minum. Kebiasaan mencuci tangan Diare merupakan salah satu penyakit yang penularannya berkaitan dengan penerapan perilaku hidup sehat.15 Pemutusan rantai penularan penyakit seperti ini sangat berhubungan dengan penyediaan fasilitas yang dapat menghalangi pencemaran sumber perantara oleh tinja serta menghalangi masuknya sumber perantara tersebut kedalam tubuh melalui mulut.4. 16 Hubungan kebiasaan mencuci tangan dengan kejadian diare dikemukakan di Turki. Tidak hanya anak yang sakit. orang tua yang tidak mempunyai kebiasaan mencuci tangan sebelum merawat anak.

hidung. Dokter akan menentukan obat yang disesuaikan dengan penyebab diarenya misal bakteri. parasit. bakteri. Prinsip pengobatan diare adalah mencegah dehidrasi dengan pemberian oralit (rehidrasi) dan mengatasi penyebab diare. Pada tingkat ini juga dilakukan usaha rehabilitasi untuk mencegah terjadinya akibat samping dari penyakit diare. Obat diare dibagi menjadi tiga. parasit. psikologis semaksimal mungkin.4. pertama kemoterapeutika yang memberantas penyebab diare seperti bakteri atau parasit. Pencegahan Tertier Pencegahan tingkat ketiga adalah penderita diare jangan sampai mengalami kecatatan dan kematian akibat dehidrasi. Pencegahan Sekunder Pencegahan tingkat kedua ini ditujukan kepada sianak yang telah menderita diare atau yang terancam akan menderita yaitu dengan menentukan diagnosa dini dan pengobatan yang cepat dan tepat.2.4. serta untuk mencegah terjadinya akibat samping dan komplikasi. Pengobatan yang diberikan harus disesuaikan dengan klinis pasien. Dengan sendirinya. obstipansia untuk menghilangkan gejala diare dan spasmolitik yang membantu menghilangkan kejang perut yang tidak menyenangkan.3.5 Pengetahuan Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata. sampai radang. Sebaiknya jangan mengkonsumsi golongan kemoterapeutika tanpa resep dokter.17 2. pada waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas . Pemberian kemoterapeutika memiliki efek samping dan sebaiknya diminum sesuai petunjuk dokter. Anak yang menderita diare selain diperhatikan kebutuhan fisik juga kebutuhan psikologis harus dipenuhi dan kebutuhan sosial dalam berinteraksi atau bermain dalam pergaulan dengan teman sepermainan. telinga dan sebagainya). Usaha yang dapat dilakukan yaitu dengan terus mengkonsumsi makanan bergizi dan menjaga keseimbangan cairan.2. Rehabilitasi juga dilakukan terhadap mental penderita dengan tetap memberikan kesempatan dan ikut memberikan dukungan secara mental kepada anak.17 2. Jadi pada tahap ini penderita diare diusahakan pengembalian fungsi fisik. Diare dapat disebabkan oleh banyak faktor seperti salah makan.

yaitu : 1. 5. Secara garis besarnya dibagi dalam 6 tingkat pengetahuan. kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui. Dengan kata lain. Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas yang berbeda-beda. tidak sekedar dapat menyebutkan. 6. Untuk mengetahui atau mengukur bahwa orang tahu sesuatu dapat menggunakan pertanyaan-pertanyaan. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera pendengaran dan penglihatan. mengelompokkan.18 . Penilaian ini dengan sendirinya didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku di masyarakat. Analisis (analysis) Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan / atau memisahkan. Sintesis (synthesis) Sintesis menunjukkan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau meletakkan dalam satu hubungan yang logis dari komponen-komponen pengetahuan yang dimiliki. tetapi orang tersebut harus dapat menginterpretasikan secara benar tentang objek yang diketahui tersebut 3.perhatian dan persepsi terhadap objek. Indikasi bahwa pengetahuan seseorang itu sudah sampai tingkat analisis adalah apabila orang tersebut telah membedakan atau memisahkan. membuat diagram terhadap pengetahuan atas objek tersebut. sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang telah ada. Memahami (comprehension) Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek tersebut. 2. Tahu (know) Tahu diartikan hanya sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu. Aplikasi (application) Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada situasi yang lain. Evaluasi (evaluation) Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. 4.

baik dalam hal mekanisme terjadinya maupun intensitas dari sikap itu sendiri. ide-ide. Wawancara dilakukan dengan bercakap-cakap secara langsung (berhadapan muka) dengan responden atau tidak berhadapan langsung dengan responden (misalnya melalui telepon). sehingga sikap itu melibatkan pikiran. asumsi-asumsi. Dalam kata lain. konsep atau orang lain. ketakutanketakutan. fungsi sikap belum merupakan tindakan (reaksi terbuka) atau aktivitas. Campbell mendefinisikan sangat sederhana. Aiken menambahkan bahwa sikap adalah predisposisi atau kecenderungan yang dipelajari seseorang individu untuk merespon secara positif atau negatif dengan intensitas yang moderat dan atau memadai terhadap objek. Pembahasan yang berkaitan dengan psikologi sosial hampir selalu menyertakan unsur sikap baik sikap individu maupun sikap kelompok sebagai salah satu pembahasannya. situasi. yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan (senang-tidak senang. perasaan.18 Thurstone & Chave mengemukakan definisi sikap sebagai keseluruhan kecenderungan dan perasaan. setuju-tidak setuju. Jadi jelas dikatakan bahwa sikap itu sindroma atau kumpulan gejala dalam merespon stimulus atau objek. Banyak kajian . curiga atau bias. akan tetapi merupakan predisposisi perilaku atau tindakan (reaksi tertutup). yakni: ”An individual’s attitude is syndrome of response consistency with regard to object”. tantangan-tantangan dan keyakinan-keyakinan manusia mengenai topik tertentu.26 Pendapat ahli yang lainnya menyatakan bahwa sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. dan sebagainya). Predisposisi yang diarahkan terhadap objek diperoleh dari proses belajar.19 2. Definisi yang dikemukakan Aiken ini sudah lebih aktif dan operasional. Angket berupa formulir yang berisi pernyataan dan diajukan secara tertulis pada sekumpulan orang untuk mendapatkan keterangan.6 Sikap Sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu. baik-tidak baik. perhatian dan gejala kejiwaan yang lain.20 Sikap menurut Wismanto adalah suatu konsep paling penting dalam psikologi sosial.Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden.

18 2. Menanggapi (responding) Menanggapi diartikan memberikan jawaban atau tanggapan terhadap pertanyaan atau objek yang dihadapi. sikap juga mempunyai tingkat-tingkat berdasarkan intensitasnya. Seperti halnya pengetahuan. berbicara. menulis. proses terbentuknya sikap maupun proses perubahannya. membahasnya dengan orang lain dan bahkanmengajak atau mempengaruhi atau menganjurkan orang lain dan bahkan mengajak atau mempengaruhi atau menganjurkan orang lain merespon. Menerima (receiving) Menerima diartikan bahwa seseorang atau subjek mau menerima stimulus yang diberikan (objek). dalam arti. dia harus berani mengambil risiko bila ada orang lain yang mencemoohkan atau adanya risiko lain.7.dilakukan untuk merumuskan pengertian sikap. bekerja. 4. 2. sebagai berikut: 1. Seseorang yang telah mengambil sikap tertentu berdasarkan keyakinannya. kuliah. Pertanyaan secara langsung juga dapat dilakukan dengan cara memberikan pendapat dengan menggunakan kata ”setuju” atau ”tidak setuju” terhadap pertanyaan terhadap objek tertentu. Bertanggung jawab (responsible) Sikap yang paling tinggi tingkatannya adalah bertanggung jawab terhadap apa yang telah diyakininya.18 Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung. 3. Pengertian Perilaku Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain : berjalan. menangis. Menghargai (valuing) Menghargai diartikan subjek atau seseorang memberikan nilai positif terhadap objek atau stimulus. Pengukuran sikap secara langsung dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan tentang stimulus atau objek yang bersangkutan. pikiran. tertawa.21 Pengetahuan. keyakinan dan emosi memegang peranan penting dalam pembentukan sikap. .

22 2.1. . Perilaku pencarian atau penggunaan sistem atau fasilitas kesehatan. dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain.7. kesadaran. maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua: 1. yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain. pengetahuan. 2. perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok: 1. Adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit.membaca. sistim pelayanan kesehatan. Dilihat dari bentuk respons terhadap stimulus ini. Perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme. 2. baik yang diamati langsung. persepsi. atas sering disebut perilaku pencairan pengobatan (health seeking behavior). maka teori Skinner ini disebut teori “S-O-R” atau Stimulus – Organisme – Respon. Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian. Perilaku terbuka (overt behavior) Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. dan kemudian organisme tersebut merespons. serta lingkungan. maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar. dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut. dan sebagainya. Dari batasan ini. dan minuman. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek. Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintenance). makanan. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia. Perilaku tertutup (covert behavior) Perilaku tertutup adalah respons seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup (covert). Klasifikasi Perilaku Kesehatan Perilaku kesehatan menurut adalah suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit atau penyakit.

C. Informasi kualitatif yang diharapkan terkumpul melalui FGD berkaitan dengan: A. dan sebagainya22 2. Aspirasi mereka mengenai PSP terhadap pencegahan diare23 Pengelompokan FGD dan pemilihan peserta untuk diikutsertakan dalam kelompok tertentu perlu dipersiapkan secara sangat cermat karena akan menentukan kelancaran proses FGD dan kredibilitas hasilnya secara keseluruhan. B. Apa yang dirasakan oleh kelompok peserta mengenai PSP terhadap pencegahan diare dalam perspektif mereka sendiri. Pemilihan peserta jelas harus mempertimbangkan .24 Dalam FGD peneliti (moderator) hampir selalu dituntut untuk melakukan improvisasi yang sesuai dengan keadaan atau konteks yang dihadapi di lapangan. dsb). indepth interview. Seperti metode kualitatif lainnya (direct observation. dsb) FGD berupaya menjawab jenis-jenis pertanyaan how-and why.8 Metode Foccus Group Discussion (FGD) FGD adalah suatu metode riset yang didefinisikan sebagai suatu proses pengumpulan informasi mengenai suatu permasalahan tertentu yang sangat spesifik melalui diskusi kelompok. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan yang timbul (coping mecbanism). Perilaku kesehatan lingkungan Adalah apabila seseorang merespon lingkungan. Metode FGD termasuk metode kualitatif.23 Dengan perkataan lain FGD merupakan proses pengumpulan informasi bukan melalui wawancara. dalam FGD peneliti hanya bertindak sebagai moderator yang tidak mernihak dan pasif dalam arti tidak terlalu banyak bertanya tetapi lebth banyak mendengarkan. FGD dan metode kualitatif lainnya sebenarnya lebih sesuai dibandingkan metode kuantitatif untuk suatu studi yang bertujuan “to generate theories and explanations”. bukan perorangan. 3. bukan jenis-jenis pertanyaan what-andhow-many yang khas untuk metode kuantitatif (survei. dan bukan diskusi bebas tanpa topik spesifik. Persepsi mereka mengenai peranan PSP terhadap pencegan diare D. Selain itu. Daftar pertanyaan yang lebih rinci dan lebih operasional. baik lingkungan fisik maupun sosial budaya.Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit dan atau kecelakaan.

misalnya sama-sama duduk di lantai dalarn bentuk melingkar. tanpa ada perasaan khawatir. Kualifikasi terakhir ini diperlukan karena kegiatan untuk mempersiapkan penyelenggaraan FGD pada umumnya menyita waktu dan tenaga yang lumayan. Dalam studi ini FGD tidak terlalu bebas dalam arti harus diarahkan untuk memperoleh informasi sesuai dengan studi. B. Ada baiknya terlebih dahulu memilih asisten peneliti secara cermat. Untuk menempatkan diri sebagai moderator yang baik seorang peneliti membutuhkan keterampilan substantif maupun keterampilan proses : A. Keterampilan Proses: Keterampilan yang perlu dikuasai oleh moderator untuk mengatur proses diskusi sehingga tujuan yang ingin dicapai dengan memfokuskan diskusi pada persoalan yang hendak diteliti dapat benar-benar tercapai. suasana diskusi seperti itu hanya mungkin tercipta jika: A. Keterampilan Substantif Keterampilan yang diperlukan moderator dalam memahami permasalahan yang didiskusikan.homogenitas kemampuan peserta.24 Dalam FGD peneliti bertindak sebagai moderator yang tugas utamanya memimpin diskusi sehingga dapat belangsung lancar. Ini perlu untuk mengindari diskusi yang didominasi oleh peserta tertentu. dan energik (masih muda). Selanjutnya peneliti mendiskusikan secara cermat pembentukan kelompok FGD dan mempersiapkan segala sesuatunya berkaitan dengan penyelenggaraan FGD. dapat diterima oleh semua kelompok masyarakat. Format diskusi mencerminkan kesetaraan derajat peserta diskusi. Kecuali diskusi dengan tokoh formal. Asisten peneliti sebaiknya dipilih dari pihak ke 3. Tempat diskusi bagi mereka tidak terlalu formal.23 FGD harus dipersiapkan sedemikian rupa sehingga setiap peserta mengemukakan pendapat secara bebas. Sebagai moderator ia tidak boleh berpihak (bahkan terhadap dirinya) tetapi memperlakukan peserta secara setara (dan peserta harus memperoleh kesan ini). C. terbuka dan dalam suasana santai. Komposisi peserta relatif homogen B. mengetahui pengetahuan luas mengenai masalah yang akan dihadapi. . diskusi dengan kelompok lainnya disarankan untuk dilangsungkan di tempat kediaman salah seorang peserta.

Peneliti dapat menempatkan diri secara tepat bahwa dia berperan sekedar sebagai moderator yang sederhana dan berasal dari kelas sosial yang tidak terlalu berbeda dengan peserta. Pekerjaan-pekerjaan itu harus dilakukan segera tanpa menunggu hari esok karena ada risiko terlupakan. tempat dan waktu atau durasi. Begitu diskusi dengan suatu kelompok FGD selesai maka peneliti (dan asisten jika perlu) harus segera memeriksa kelengkapan cacatan-catatan tambahan (hampir selalu diperlukan untuk menambah penjelasan) dan mengorganisasikannya sedemikian rupa sehingga mempermudah pembuatan laporan awal. Waktu diskusi tidak terlalu lama (1. E.5 – 2. Deskripsi mengenai konteks sosial-geografis dalam suatu studi kualitatif sangat penting karena temuan studi hanya dapat dipahami secara benar jika diletakkan dalam konteksnya yang tepat.0 jam) dan harus dihentikan sebelum peserta merasa jenuh. atau hasil penelitian sebelumnya (jika ada). Sumber lain yang potensial dapat diperoleh dari literatur yang relevan. Suasana batin peserta mendukung. Jumlah peserta tidak terlalu banyak sehingga semua peserta memiliki kesempatan waktu yang cukup untuk mengutarakan pendapat atau perasaan. Jumlah peserta untuk setiap kelompok disarankan tidak lebih dan tujuh orang. Laporan itu sekaligus menggambarkan kinerja peneliti sebingga perlu disiapkan secara cermat.24 Keseluruhan hasil FGD harus dikomunikasikan oleh peneliti kepada pembaca melalui laporan yang credible dari segi isi maupun teknik. G. misalnya. (Idealnya laporan akhir harus dilengkapi transkripsi diskusi). suasana batin peserta.25 Laporan harus mencakup penjelasan mengenai proses FGD dan temuan-temuan keseluruhan studi.D. Diskusi tidak dilakukan ketika sedang ada warga yang kena musibah atau hajatan. Deskripsi mengenai konteks yang meyakinkan sebenarnya hanya dapat diperoleh melalui pengamatan peneliti secara langsung di lapangan. Penampilan dan moderator yang mengesankan eksklusivitas harus dihindari. dan kelancaran diskusi. F. Laporan awal itu pada umumnya harus diedit berulang kali sebelum menjadi laporan akhir. Laporan FGD perlu dilengkapi penjelasan singkat mengenai proses diskusi termasuk proses pembentukan kelompok FGD (dan rasional yang melatarbelakanginya). Penjelasan itu akan membantu pembaca memahami konteks .

tidak hanya berdasarkan FGD tetapi juga berdasarkan pengamatan. Pembahasannya meliputi: a) FGD untuk memicu arti dan baha diare . atau sumber informasi lainnya. (konteks. bagian mana yang trivial.studi secara lebih baik dan bahkan dapat menambah bahan evaluasi mengenai kredibilitas FGD dan validitas temuan-temuannya. 24 Bersama-sama dengan masyarakat melihat kondisi yang ada dan menganalisanya sehingga diharapkan dengan sendirinya masyarakat dapat merumuskan apa yang sebaiknya dilakukan atau tidak dilakukan. (3) bagian laporan mana yang penting. paling tidak. dua informan lainnya. Kombinasi fakta dan opini peneliti c. Informasi mengenai latar belakang atau penjelasan di balik gejala yang tidak diantisipasi itu sangat perlu untuk dilaporkan. Hal penting lainnya mengenai temuan studi adalah kecermatan peneliti dalam melakukan verifikasi mengenai suatu informasi. a.s Bahasa Evaluatif d. Deskriptif v. Verifikasi Informasi. mana yang merupakan opini subyektif peneliti. wawancara informal-spontan. Dalam menyajikan temuan-temuan yang penting adalah peneliti menyajikannya sedemikian rupa sehingga pembaca dapat membedakan: (1) mana yang merupakan fakta. temuan-temuan) b.25 Bagian utama laporan FGD tentunya merupakan temuan-temuan yang diperoleh dari keseluruhan studi. wawancara mendalam. Peneliti tidak boleh begitu saja “mempercayai” informasi yang diperoleh dari seorang informan tanpa melakukan pemeriksaan dengan membandingkannya dengan informasi dari. (2) mana temuan yang meyakinkan atau well-verified dan mana yang merupakan kasus khusus yang tak perlu dibesar-besarkan. proses FGD. Verifikasi seperti itu tetap diperlukan bahkan untuk informasi yang sudah “sesuai” atau sudah make-sense bagi peneliti.25 Termasuk temuan studi yang perlu dilaporkan adalah hal-hal yang tidak diantisipasi yang akan terjadi.

Dengan hasil yang didapat peningkatan dari 29 % menjadi 93% dengan hasil analisis stastistik terjadi peningkatan sangat bermakna. merubah sikap dan perilaku sanitasi dari masyarakat yang masih belum melakukan pencegahan diare. Diberikan pre dan post test setelah perlakuan.2 Faktor – faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan FGD : A. FGD dibagi 24 grup. Pemilihan anggota kelompok Diharapkan pemilihan anggota kelompok yang mempunyai pengalaman yang sesuai dengna topic penelitian. Menurut penelitian yang sudah dilakukan dengan melakukan FGD sebanyak 12 sesi di Sudan. Ketika mencari siapa orang yang tertarik untuk mengikuti diskusi B. Metode yang dilakukan ini bertujuan untuk memicu masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan sikap dan perilaku.b) FGD untuk memicu rasa pentingnya cuci cara tangan yang benar c) FGD untuk memicu hal-hal yang berkaitan dengan cara penyimpanan air bersih d) FGD menyangkut pentingnya jamban yang sehat25 FGD ini berlangsung ketika masyarakat sudah terpicu dan ingin berubah. Besar dari grup Paling baik sebanyak 6 – 12 orang. Tidak terlalu besar karena akan berkurang pratisipasi dari setiap anggota kelompok maupun terlalu kecil karena hasil yang dicapai tidak akan mencakup semua keterangan dibandingkan dengan interview secara individu. kriteria inkulsi semua ibu yang mempunyai minimal 1 anak yang berumur kurang dari 25 tahun dengan teknik sistematic random sampling terpilihlah 118 orang ibu. dengan total populasi 11264 orang. dengan adanya pemicuan ini target utama dapat tercapai yaitu: meningkatkan pengetahuan. Kelompok yang kecil akan mudah untuk dipimpin sedangkan kelompok yang besar akan lebih sulit . maka harus diberikan solusi dengan menimbulkan lagi petingnya pencegahan diare dan bahaya diare. 1 Pengawas mengawasi 3 relawan. yang diawasi oleh pengawas. namun terhambat dengan permasalahan cara melakukannya sulit. data diolah dengan SPSS. Apabila masyarakat mengatakan bahwa membangun cara melakukannya itu sulit. yang tertarik dengan topiknya. di setiap grup disupervisi oleh 1 relawan. Pemilihan sampel dengan metode snowballing yang paling baik. dengan tempat bertemu berpindah – pindah setiap rumah. 1 Sesi setiap minggu selama 3 bulan.

Jalannya Diskusi Diskusi harus berjalan tidak terlalu lama dan tidak terlalu cepat kira 45 – 90 menit. Semakin heterogen akan meningkatatkan kualitas dari diskusi tetapi bila terlalu heterogen juga akan berdampak tidak baik dan menghambat dari diskusi itu sendiri. Di tempat yang tidak ada gangguan dari luar.25 . Yang ideal adalah gabungan dari 2 kelompok extreme di atas E. ice breaker. Tetapi kembali lagi kita memperhitungkan biaya. waktu dan kesediaan dari masing – masing anggota kelompok D. pertama dengan perkenalan. Diusahakan tidak terlalu monoton. Sesi dari FGD Semakin banyak sesi akan semakin baik karena akan semakin banyak informasi yang didapat. Keterampilan moderator dan pencatat Moderator mempunyai peranan yang penting bukan hanya untuk menuntun anggota kelompok diskusi tetapi membuat diskusi menjadi dinamis bagi setiap anggota kelompok. Penyusunan tempat duduk melakukan FGD Harus direncanakan secara hati – hati membuat suasana yang kondusif dan nyaman. Penulis harus dapat menulis semua nama anggota kelompok dan pendapat – pendapatnya secara keseluruhan dan bisa mendapatkan informasi yang tepat dan benar G. Diatur tempat duduknya agar bisa saling mendengar satu dengan yang lainnya F.yang dapay menyebabkan masing – masing anggota kelompok frustasi. Bagaimana pun jumlah anggota kelompok kembali lagi dari objektif tujuan peneletian C. Sedangkan kelompok yang homeogen akan membuat diskusi berjalan secara lebih bebas dalam membagikan pengalaman tetapi kita sulit mengembangkan diskusi lebih kaya karena homogenisitas itu sendiri. Komposisi FGD Tergantung dari tujuan peneletian itu sendiri. tidak ada pendapat yang salah atau benar. Ditempat yang tidak sulit dijangkau oleh anggota diskusi. hanya untuk mendengarkan pendapat.

6 Kerangka Teori Usia ibu Host Tingkat pendidikan Ibu Pekerjaan Ibu Informasi Pengetahuan. dan perilaku terhadap pencegahan diare Agent Sarana Pelayanan Kesehatan Tingkat pendapatan Lingkungan Sarana Air bersih Sarana Jamban 2.7 Kerangka Konsep . sikap.2.

Sikap Pengetahuan Perilaku Pencegahan diare .

Kecamatan Kebon Jeruk. Kecamatan Kebon Jeruk dan hasil penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan pengetahuan. 3. Data sekunder diambil dari data puskesmas Kelurahan Kebon Jeruk dan Duri Kepa.BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3. Kecamatan Kebon Jeruk.191 orang.4 Populasi dan sampel Populasi adalah ibu yang memiliki balita di Kelurahan Kebon Jeruk dan Duri Kepa. b.3 Sumber Data Sumber data terdiri dari : a.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan selama 3 minggu sejak tanggal 11 Juni 2012 sampai tanggal 31 Juni 2012 di Kelurahan Kebon Jeruk. Jakarta Barat. 3. Kecamatan Kebon Jeruk sebanyak 16. Jakarta Barat. Pengambilan sampel dalam penelitian ini .1 Desain Penelitian Desain yang digunakan adalah studi eksperimental quasi. mengenai peningkatan pengetahuan. sikap. Kecamatan Kebon Jeruk. dan perilaku ibu yang memiliki balita terhadap pencegahan diare dengan focus group discussion di Kelurahan Kebon Jeruk. 3. sikap dan perilaku diare. Data primer diambil dari responden dengan kuesioner yang sudah diuji coba terhadap ibu yang memiliki balita di Kelurahan Kebon Jeruk.

Melakukan focus group discussion sesi pertama. namun menolak untuk mejadi sampel penelitian.8 Cara Kerja 1. Variabel tercoba adalah pencegahan diare.adalah menggunakan non-probability sampling dengan teknik accidental sampling. Melakukan pengumpulan data dengan mengunakan instrumen penelitian berupa kuesioner di posyandu RT01/ RW 12 Kelurahan Kebon Jeruk. dan interpretasi data . Melakukan pengolahan.5 Kriteria Inklusi dan Eksklusi a. dibagi 3 kelompok dengan 1 kelompok terdiri dari 10 – 11 orang. Variabel perlakuan berupa peningkatan pengetahuan. sikap. Kriteria Eksklusi adalah ibu yang memenuhi kriteria inklusi. Kriteria Inklusi adalah semua ibu yang memiliki balita yang bertempat tinggal di Kelurahan Kebon Jeruk dan bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian. Melakukan pengumpulan data setelah intervensi dengan menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner Kelurahan Kebon Jeruk. dan variabel luar.7 Identifikasi Variabel Dalam penelitian ini digunakan variabel perlakuan. 3. 3. Menghubungi petugas dan ibu-ibu kader agar membantu kegiatan penelitian 3. 5. 7.6 Sampel Besar Sampel yang digunakan adalah 32 orang ibu yang memiliki balita di Kelurahan Kebon Jeruk. dan perilaku ibu-ibu yang memiliki balita di Kelurahan Kebon Jeruk dan Duri Kepa. Kecamatan Kebon Jeruk. b. Responden adalah 32 orang ibu yang memiliki balita di Kelurahan Duri Kepa. Menghubungi Lurah Kelurahan Kebon Jeruk yang menjadi daerah penelitian untuk melaporkan tujuan diadakannya penelitian di daerah tersebut 2. variabel tercoba. 6. Melakukan focus group discussion sesi kedua 4 hari setelah sesi pertama. 4. Kecamatan Kebon Jeruk. dibagi 3 kelompok dengan 1 kelompok terdiri dari 10 – 11 orang. 3. 3. analisis.

1. Pelaporan Data Data disusun dalam bentuk pelaporan penelitian yang selanjutnya akan dipresentasikan dihadapan staf pengajar Program Pendidikan Ilmu Kesehatan Masyarakat. 3. Analisis Data Terhadap data yang telah diolah akan dilakukan analisis sesuai dengan cara uji statistik menggunakan analisis univariat dengan uji parametrik. dan chart.9. Pelaporan penelitian 3.5.9. verifikasi. Data Umum A.3. Kecamatan Kebon Jeruk yang memiliki balita berusia 0-5 tahun. yaitu program SPSS.8.4. Usia Responden . Interpretasi Data Data diinterpretasi secara deskriptif korelatif antar variabel-variabel yang telah ditentukan.8. Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) pada hari forum pendidikan Ilmu Kesehatan Masyarakat FK UKRIDA. 3. 3.8. Pengolahan Data Terhadap data-data yang telah dikumpulkan dilakukan dikelola dengan proses editing. Penyajian Data Data yang didapat disajikan secara tekstular. Selanjutnya dimasukkan dan diolah dengan menggunakan komputer. B.8. Definisi Operasional 3. dan koding. 3.1. 3. Penulisan laporan penelitian 9.8. tabular. Responden Tiga puluh dua ibu di Kelurahan Kebon Jeruk.2.8. yaitu uji t-test (dependent).

Jika ada kelebihan usia.9.2 Data Khusus . Pendidikan Adalah jenjang pendidikan formal dari suatu institusi tertentu yang mencakup tingkat SD atau sederajat. 3. SMU atau yang sederajat dan akademi/ perguruan tinggi atau yang sederajat.Adalah usia yang diukur dari tanggal lahir pasien yang sesuai dengan yang tercantum dalam KTP atau Kartu Keluarga dikurangi tanggal saat pasien diwawancara. Tingkat Pendidikan Rendah : Buta Huruf Tidak tamat/ tamat SD atau sederajat Tidak tamat/ tamat SMP atau sederajat Tidak tamat SMA atau sederajat Tingkat Pendidikan Sedang Tamat SMA atau sederajat Tidak tamat akademi atau perguruan tinggi atau sederajat Tingkat Pendidikan Tinggi Tamat akademi atau perguruan tinggi atau sederajat Koding : Kode 1 : Tingkat Pendidikan Tinggi Kode 2 : Tingkat Pendidikan Sedang Kode 3 : Tingkat Pendidikan Rendah D. C. Jumlah anak Jumlah anak hidup yang dimiliki oleh responden pada saat penelitian berlangsung. SMP atau sederajat. kurang dari 6 bulan dibulatkan ke bawah. dan bila terdapat kelebihan usia lebih atau sama dengan 6 bulan dibulatkan ke atas.

Sikap Sikap adalah tanggapan atau reaksi responden berdasarkan pendirian. Hal yang ingin diteliti adalah pengetahuan responden mengenai diare. Proses pembelajaran ini dapat dipengaruhi oleh faktor dari dalam seperti motivasi dan faktor dari luar seperti informasi. nilai dan norma kelompok yang bersangkutan serta merupakan konsekuensi yang logis (ideal dan normatif) dari eksistensi pengetahuan budaya atau pola pikir yang dimaksud. Koding : Kode 1 : Sikap baik Kode 2 : Sikap cukup Kode 3 : Sikap kurang C. pendapatan dan keyakinan individu tersebut. Perilaku Perilaku adalah tindakan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang untuk kepentingan atau pemenuhan kebutuhan tertentu berdasarkan pengetahuan. Pengetahuan Pengetahuan adalah segala informasi yang diketahui yang berkaitan dengan proses pembelajaran.A. Hal yang diteliti adalah perilaku responden mengenai diare. Hal yang ingin diteliti adalah bagaimana sikap responden mengenai diare. Koding : Kode 1 : Perilaku baik . kepercayaan. Koding : Kode 1 : Pengetahuan baik Kode 2 : Pengetahuan cukup Kode 3 : Pengetahuan kurang B.

9.Kode 2 : Perilaku cukup Kode 3 : Perilaku kurang 3.2 Etika Penelitian Responden yang diwawancara untuk pengisian kuesioner pada penelitian ini diberikan jaminan kerahasiaan terhadap data-data yang diberikan dan berhak menjadi responden. .

BAB III HASIL PENELITIAN Dari 32 ibu yang mempunyai balita di Kelurahan Kebon Jeruk yang bersedia mengikuti penelitian.656 .. Kemudian mengisi kuesioner prestest setelah mendapatkan intervensi. dan dengan cakupan polulasi yang lebih bervariatif. telah mengisi kuesioner postest yang diberikan sebelum mendapatkan intervensi berupa Focus Group Discussion (FGD) sebaiknya dapat dilakukan secara intensif. sehingga warga dapat memperoleh solusi terhadap masalah kesehatan di lingkungannya. Karakteristik Ibu Menurut Umur Variabel Umur Minimum 19.00 Maximum 45.062 SD 5. dengan frekuensi pertemuan yang lebih sering. Dari data tersebut diperoleh hasil sebagai berikut: Tabel 1. Dapat pula diadakan Focus Group Discussion (FGD) untuk membahas mengenai tema yang berbeda.00 Mean 30.

00 Mean 1.431 . Karakteristik ibu menurut tingkat pendidikan Tabel 2.6% 37.5% 46.3 25.00 Maximum 4.766 39.70639 Grafik 1.889 3.12 1. dan Perilaku Pretest dan Postest Variabel Pengetahuan Pretest Post test Sikap Pretest Post test Perilaku Pretest Post test Mean 24.9% Mean 1.833 26.75 SD 0.762 Tabel 3. Sikap.533 SD 3.9 37.52 3.8 29.641 1.915 3. Perbandingan Rata-Rata Pengetahuan.15. Karakteristik Ibu Menurut Jumlah Anak Variabel Jumlah Anak Minimum 1.7812 SD : 0.

dan Perilaku Sebelum dan Setelah Mendapatkan Intervensi Mean SD 95% Confidence Interval of the Difference Pengetahuan Pretest-Post test Sikap Pretest-Post test Perilaku Pretest-Post test -0.567 -6.027 -1.000 T df Sig (2-tailed) .105 -6.7 1.086 -2.1 4.053 -2. Sikap.313 -0.119 29 0.013 -0.632 -3.043 -5.Tabel 4.643 -1. Analisis Statistik Pengetahuan.805 29 0.533 3.963 -3.333 29 0.

Sig twotailed=0. Secara statistik. diharapkan dengan tingkat pendidikan yang cukup proses FGD dapat berjalan dengan baik. dan jumlah minimum sebanyak 1 orang anak.805 . Seseorang yang telah mempunyai dasar pendidikan yang cukup. Berdasarkan hasil analitik diperoleh rata – rata ibu yang memiliki jumlah anak sebanyak 2 orang.BAB V PEMBAHASAN Berdasarkan data. Dengan metode FGD ini dituntut keatifan dari setiap peserta dalam mengemukakan pendapat dan membahas solusi. Pada usia ini seorang ibu sudah cukup matang untuk dapat mengikuti Focus Group Discussion (FGD) dengan serius dan dapat mengemukakan pendapat dengan baik. Dengan maksimum jumlah anak sebanyak 4 orang.Sig two-tailed=0.043.5% atau sebanyak 20 orang. Hasil data tingkat pendidikan ibu yang ikut serta dalam penelitian ini menunjukkan bahwa ibu yang berpendidikan tinggi dan sedang menempati 62. Sesuai dengan hasil analisis T-test. terdapat perbedaan bermakna antara pengetahuan ibu mengenai pencegahan diare sebelum dilakukan intervensi berupa Focus Group Discussion (FGD) dengan pengetahuan ibu setelah dilakukan intervensi (Confidence Interval = -3. didapatkan Ho ditolak.053. Dengan Ho= tidak ada perbedaan bermakna antara sikap ibu mengenai pencegahan diare sebelum dilakukan intervensi berupa Focus Group Discussion (FGD) dengan sikap ibu setelah dilakukan intervensi. dimana terdapat perbedaan bermakna antara sikap ibu mengenai pencegahan diare sebelum dilakukan intervensi berupa Focus Group Discussion (FGD) dengan sikap ibu setelah dilakukan intervensi. dengan Ho = tidak ada perbedaan bermakna antara pengetahuan ibu mengenai pencegahan diare sebelum dilakukan intervensi berupa Focus Group Discussion (FGD) dengan pengetahuan ibu setelah dilakukan intervensi. . Pada penelitian ini digunakan Significance two-tailed. rata-rata umur ibu adalah 30 tahun.013.000).567. dapat lebih cepat menangkap dan memahami suatu pengetahuan yang baru. Dengan rata – rata jumlah anak sebanyak 2.-6.-0. Semakin banyak jumlah anak maka perhatian ibu terhadap pencegahan diare akan semakin berkurang. Pada hasil statistik sikap ibu terhadap pencegahan diare sebelum dan sesudah dilakukan intervensi didapatkan Confidence Interval = -3. diharapkan perhatian ibu tentang pengetahuan sikap dan perilaku ibu mengenai pencegahan diare setelah diadakan FGD dapat diterapkan pada kehidupan sehari – hari.

dan pencegahan diare. jumlah anak.086. informasi yang tersedia. dan perilaku tersebut. Perilaku ibu terhadap pencegahan diare pada balita antara lain dipengaruhi oleh sikap dan pengetahuan ibu. Berdasarkan hasil analisa T-test data pengetahuan. sehingga hasil yang didapatkan kurang optimal dibandingkan dengan hasil penelitian dilakukan di Sudan dengan menggunakan teknik Focus Group Discussion (FGD) sebanyak 12 kali.313. tetapi terdapat kelemahan sepeti : sulitnya memimpin jalannya Focus Group Discussion (FGD) yang teratur dan dinamis. sosial ekonomi lingkungan.027). Sesi Focus Group Discussion (FGD) pada penelitian ini hanya dilakukan sebanyak 2 kali dikarenakan adanya keterbatasan waktu dan tempat penelitian. Faktor. cara penularan diare.Terdapat perbedaan bermakna pula antara perilaku ibu mengenai pencegahan diare sebelum dilakukan intervensi berupa Focus Group Discussion (FGD) dengan perilaku ibu setelah dilakukan intervensi (Confidence Interval =-1. Seorang ibu yang telah memiliki pengetahuan yang baik mengenai diare. usia ibu. sosial budaya. Penyusunan tempat duduk yang baik dimana peserta dapat mendengar pendapat dari masing – masing peserta dengan jelas tanpa ada gangguan dari luar.-0. Menunjukkan bahwa metode Focus Group Discussion (FGD) dapat digunakan sebagai media diskusi yang baik sehingga setiap peserta dapat memperoleh tambahan pengetahuan dan diharapkan dapat memperbaiki sikap dan perilaku seseorang. Kompisi peserta FGD pada penelitian ini adalah heterogen dengan adanya perbedaan faktor usia dan tingkat pendidikan. dan alat ukur yang tepat untuk meneliti). diharapkan pula dapat menjadi dasar bersikap dan berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki. dana. Namun keterbasan tempat dan situasi (banyaknya anak balita yang dibawa oleh ibu) sehingga Focus Group Discussion (FGD) tidak dapat berjalan dengan optimal. sarana air bersih. tingkat pendapatan keluarga. dengan menolak Ho. sikap. Sig two-tailed=0. Pada penelitian ini.faktor tersebut tidak seluruhnya dibahas pada penelitian ini dikarenakan adanya keterbatasan sumber daya yang ada (waktu. dan sarana jamban yang tersedia. . Hal ini sesuai dengan teori bahwa FGD sebaiknya dilakukan dalam kelompok kecil yang terdiri dari 6 – 12. ketiganya mempunyai hasil perbedaan bermakna sebelum dan sesudah dilakukan intervensi berupa Focus Group Discussion (FGD). tenaga. Focus Group Discussion (FGD) dibagi dalam 3 kelompok yang masing – masing kelompok terdiri dari 10 – 11 orang. hal ini memiliki keuntungan diperolehnya pendapat yang luas dan bervariasi dibandingkan dengan kelompok yang homogen. tingkat pendidikan.

Untuk dapat lebih meningkatkan hasil dari pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD). . dengan frekuensi pertemuan yang lebih sering. Dapat pula diadakan Focus Group Discussion (FGD) untuk membahas mengenai tema yang berbeda. sehingga warga dapat memperoleh solusi terhadap masalah kesehatan di lingkungannya. kami memiliki keterbatasan dengan kurangnya pengalaman moderator dan pencatat dalam memimpin Focus Group Discussion (FGD) karena memimpin Focus Group Discussion (FGD) salah satu dari bagian pembelajaran kami dalam penelitian ini. dan dengan cakupan polulasi yang lebih bervariatif. Dibandingkan dengan hasil penelitian yang terdahulu yang dilakukan di Sudan terjadi peningkatan sangat bermakna mungkin dikarenakan dengan teknik FGD yang dilakukan oleh tenaga professional dari WHO dan dengan intensitas pertemuan sebanyak 12 kali dibandingkan dengan penelitian kami yang hanya 2 kali. Pada penelitian ini.Keterampilan moderator dan pencatat dalam memimpin Focus Group Discussion (FGD) sangat mempengaruhi keberhasilan Focus Group Discussion (FGD). diharapkan Focus Group Discussion (FGD) dapat dilakukan secara intensif. Karena sulitnya mengubah sikap dan perilaku seseorang dalam waktu singkat.

. Ibu dapat lebih mengetahui tentang penyebab terjadinya diare dan berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya diare pada balita sehingga dapat meningkatkan perilaku ibu mengenai pencegahan diare balita. yang dibuktikan dari hasil analisa data eksperimen terhadap 32 ibu yang mempunyai balita di wilayah Kelurahan Kebon Jeruk selama periode Juni 2012.2 Saran Agar teknik Focus Group Discussion lebih dikembangkan lagi dan dipopulerkan dalam proses promosi kesehatan yang baru sebagai suatu metode yang baru sehingga proses promosi lebih menghasilkan peningkatan yang bermakna.. Diharapkan agar hasil penelitian ini digunakan sebagai masukan dan dapat menjadi umpan balik positif bagi ibu yang mempunyai balita Kelurahan Kebon Jeruk dan Puskesmas Kelurahan Kebon Jeruk dalam upaya pencegahan penyakit diare balita. Puskesmas juga dapat bergerak tanggap terhadap masalah diare pada balita yang terjadi di lingkungan kerjanya.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6. 6. Kelurahan Kebon Jeruk dapat pula menggunakan tehnik Focus Group Discussion untuk memmbahas berbagai masalah kesehatan yang terjadi sehingga masyakaratpun dapat lebih memahami dan berperan serta dalam mengatasi masalah kesehatan yang terjadi di lingkungan. dan perilaku seseorang. sikap.1 Kesimpulan Metode Focus Group Discussion (FGD) cukup berhasil dalam meningkatkan pengetahuan. Diharapkan peneletian selanjutnya dapat mengungkapkan lagi seberapa besar efektifitas dan efisiensi dengan metopde Focus Group Discussion dibandingkan dengan metode promosi kesehatan lainnya. Diperlukan adanya peningkatan frekuensi Focus Group Discussion agar dapat memperoleh hasil yang optimal.

1996 11. Jakarta.DAFTAR PUSTAKA 1. Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare. Sumini. Suharyono. Ristanto B. 1983 12. Nasry N. Sanropie D. 2011 2. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. 1986 8. 1996 15. 1986 Universitas Gajah Mada. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. 2005 7. 1983: 1-347 10. Penatalaksanaan dan Pencegahan Diare Akut. Andrianto P. Makassar. Notoatmodjo S. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Balai penerbit Yogyakarta. Penerbit Erlangga. Situasi Diare di Indonesia. J Family Community Med. Kesehatan Lingkungan. Jakarta. 2010. Pusdiklat Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. Penerbit EGC. Widaya W. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Suharyono. Permasalahan dan Kebijakan Pemerintah untuk Penanggulangan Diare. Experimental studies in Sudan. 1995. Purwanto. Perawatan Anak Sakit. Jakarta. 2007 4. Pusat Penelitian Departemen Kesehatan RI. Pedoman Bidang Studi Penyediaan Air Bersih APK-TS. Jakarta. Current Issue Kematian Anak (Penyakit Diare). 17(3): 141–146. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Universitas Hasanuddin. disampaikan dalam Seminar Nasional Diare Perkembangan Terkini dan Permasalahannya. Yogyakarta. 3. Pusdiklat Depkes RI. Kesehatan Lingkungan. Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular. 1983 14. 2004 5. Penerbit EGC. Ngastiyah. Edisi ke-5. Pedoman Bidang Studi Penyediaan Air Bersih. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta. Margono. Jakarta. Diare Akut. Diare Akut. Soemirat J. Jakarta. Haryoto K. 2007 6. 1997 9. . 13. Jakarta. Amiruddin R.

Knodel. Irwanto. Jakarta. Indriani TS. Pusat Kajian Pembangunan Masyarakat.staff. 19. When to Use Focus Group and Why. Bartram J. 2001: 92-3.unika. 2010.Com 18.int/water sanitation_health 17. Artini S. 20. 2005: 50-6. Fahrial SA. Service Level and Health. Penerbit Rineka Cipta. 1993 25. Morgan Successful Focus Groups. Diunduh dari http://www. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Penerbit Renika Cipta. Howard G.ac. Sikap dan beberapa definisi untuk memahaminya. Notoatmodjo S. Notoatmodjo S.ac. Pengaruh sikap terhadap perilaku kajian meta analisis korelasi. Diunduh dari http://www. 1998 24. Jakarta. Wismanto YB. Ramdhani N.id 21.id 22. Diunduh dari http://neila. 2003.who. Diunduh dari http://www. Kruger. 2006. Morgan DL. Herijulianti E. Focus Group Discussion. Pendidikan kesehatan gigi. Penerbit EGC. Morgan Successful Focus Groups. Pengobatan Diare yang Tepat.16. The Design and Analysis of Focus Goup Studies. 1993 .ugm. Domestic Water Quantity. 2003 23. Jakarta. Medicastore. A Practical Approach. Promosi kesehatan teori dan aplikasi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->