P. 1
Kebijakan Ketenagakerjaan Di Indonesia Sebelum Reformasi

Kebijakan Ketenagakerjaan Di Indonesia Sebelum Reformasi

|Views: 427|Likes:
Published by Nadya 'Put'ri Utami

More info:

Published by: Nadya 'Put'ri Utami on Jul 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/14/2014

pdf

text

original

Kebijakan Ketenagakerjaan di Indonesia sebelum Reformasi

Arwin Soelaksono 1106111975 - Choiroel Woestho 1106112132 – Afriyadi 1106111666 Abstrak

Pendahuluan Pembangunan ketenagakerjaan merupakan suatu upaya yang bersifat menyeluruh di semua sektor dan daerah yang ditunjukan dengan adanya perluasan lapangan kerja dan pemerataan kesempatan kerja, peningkatan mutu dan kemampuan, serta memberikan perlindungan terhadap tenaga kerja. Usaha untuk menciptakan kesempatan kerja guna mengurangi pengangguran dan sekaligus menampung pertambahan tenaga kerja merupakan bagian kesatuan dari seluruh kebijakan dan program-program pembangunan ekonomi dan sosial, mempertimbangkan sepenuhnya tujuan-tujuan perluasan kesempatan kerja serta kegiatan usaha yang banyak menyerap tenaga kerja. Pada dasarnya, landasan hukum mengenai ketenagakerjaan dan perburuhan yang utama tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) Pasal 27 ayat (2) yang menyebutkan bahwa hak setiap warga negara Indonesia untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak. Meskipun demikian, kekuasaan politik dan stabilitas ekonomi dapat mempengaruhi kebijakan-kebijakan mengenai ketenagakerjaan di Indonesia, yang

menimbulkan solusi dan persoalan tersendiri dalam dinamika kehidupan tenaga kerja di Indonesia. Pada periode sebelum reformasi, gerakan buruh memiliki andil yang besar dalam pengaturan kebijakan ketenagakerjaan, ditandai dengan banyaknya aksi mogok kerja dan penutupan (lock out) demi menuntut pengupahan yang layak dan kesejahteraan buruh. I. Kebjakan Ketenagakerjaan Pasca Merdeka (Orde Lama) Pada era orde lama, kebijakan ketenagakerjaan orde lama cenderung memberikan jaminan sosial dan perlindungan kepada buruh. Sumbangan gerakan buruh dalam keberhasilan mempertahankan kemerdekaan pada masa revolusi fisik (1945-1949), menempatkan posisi kaum buruh berada posisi yang strategis dalam bentuk campur tangan dalam pembentukan kebijakan dan hukum ketenagakerjaan di Indonesia. Dengan adanya campur tangan kaum buruh dalam pembentukan kebijakan ketenagakerjaan, maka peraturan yang terbentuk cenderung progresif dan melindungi

1

100 Tahun 1951 mengenai pengupahan bagi buruh laki-laki dan wanita yang sama untuk pekerjaan yang sama nilainya. 33 Tahun 1947 UU No. 8 Tahun 1956 tentang Persetujuan Konvensi ILO No. UU No. 23 Tahun 1948 UU No. pembatalan pemutusan hubungan kerja (PHK). Kebijakan Ketenagakerjaan pada masa orde lama No. Adanya kebijakan ketenagakerjaan yang progresif dan mendukung perlindungan kaum buruh ini.hak-hak kaum buruh1. yang masih belum mampu melaksanakan kebijakan pro-buruh yang telah dibuat. UU No. dengan keikutsertaan Indonesia menjadi anggota ILO (International Labor Organization pada tanggal 12 Juli 1950. 49 Tahun 1954 dan UU No. Beberapa kali serikat/perkumpulan buruh yang tergabung dalam SOBSI (Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia) harus mengkoordinir terselenggaranya aksi mogok kerja. serta pelaksanaan perjanjian-perjanjian perburuhan. Pada umumnya tuntutan buruh dalam tahun 1950-an adalah mengenai kenaikan upah dan tujangan-tunjangan. 12 Tahun 1948 tentang Kerja. 80 tahun 1987 tentang Persetujuan Konvensi ILO No. Kebijakan Ketenagakerjaan UU No. 23 1948 Tentang Pengawasan Perburuhan 2 . 12 Tahun 1948 UU No. Selain itu. 33 Thun 1947 tentang Kecelakaan Kerja. 1 2 3 4. 22 Tahun 1957 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial 6. jaminan sosial. seperti yang tercantum dalam UU No. secara otomatis membuat pemerintah harus mengikuti dan meratifikasi beberapa konvensi ILO. pengakuan serikat buruh. perbaikan syarat-syarat kerja. 18 Tahun 1956 tentang Persetujuan Konvensi Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) No 89 1 Diantaranya dengan terbentuknya UU No. pelaksanaan peraturanperaturan pemerintahan yang telah dibuat. Adapun sejumlah kebijakan mengenai ketenagakerjaan yang ditetapkan dalam periode ini terangkum dalam Tabel 1 berikut. Tabel 1. 21 Tahun 1954 Penjelasan tentang Kerja tentang Kecelakaan Kerja tentang Pengawasan Perburuhan tentang Perjanjian Perburuhan antara Serikat Buruh dan Majikan 5 UU No. bukan berarti hubungan buruh dengan perusahaan (majikan) dan pemerintah berjalan harmonis. serta UU No. dan gratifikasi. 89 Tahun 1949 mengenai berlakunya DasarDasar Hak untuk Berorganisasi dan untuk Berunding Bersama. agar tuntutan mereka dipenuhi oleh pemerintah. dan UU No.

Hal ini tercantum dalam Peraturan Kekuasaan Militer Pusat No. dengan dasar pertimbangan untuk mencegah terjadinya pemogokan pekerja yang dinilai dapat menghambat pertumbuhan ekonomi terutama bila terjadi pada perusahaan vital2. Hak Mogok di Indonesia (Jakarta: Program Pasca Sarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Natsir mengambil tindakan represif yaitu dengan cara melarang pemogokan di perusahaan-perusahaan tertentu. arah kebijakan politik di Indonesia berganti seiring dengan dimulainya masa demokrasi terpimpin. ditandai dengan ditetapkannya Undang-Undang Darurat No. tuntutan kaum buruh yang belum terpenuhi. Pada akhir tahun 1950-an. Meskipun demikian. dimana serikat buruh diberikan kesempatan untuk ikut campur dalam penyelesaian kasus perburuhan. 22 Tahun 1957 tentang Penyelesaian Perselisihan Perburuhan. Arah politik nasional saat itu sangat berpengaruh 2 Aloysius Uwiyono. adanya larangan untuk melaksanakan aksi mogok tidak serta merta diikuti dengan pelaksanaanya. 100 mengenai Penghapusan Diskriminasi Upah bagi Buruh Pria dan Wanita Demi mengantisipasi aksi-aksi pemogokan menuntut perbaikan upah. 16 Tahun 1951 tentang Penyelesaian Perselisihan Perburuhan. dimana Pemerintah menentukan bahwa hak mogok dapat dilaksanakan setelah mendapat surat izin dari P4 (Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan). Adanya ketidakjelasan dalam kewenangan P4.1 Tahun 1951 tentang Peraturan Kekuasaan Pertikaian Perburuhan yang ditetapkan pemerintah pada waktu itu. Desakan kaum buruh memaksa pemerintah untuk tidak lagi melarang pemogokan di perusahaan vital. Sejumlah aksi pemogokan tetap dilaksanakan untuk menuntut perbaikan upah buruh dan pencabutan larangan mogok. yang diawali dengan berlakunya Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959. Pemerintah dibawah Perdana Menteri Moch.serta campur tangan Organisasi Perburuhan Indonesia mendesak pemerintah untuk menyusun undang-undang baru. 80 Tahun 1957 tentang Persetujuan Konvensi Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) No. 3 .000 buruh yang melakukan mogok di berbagai daerah di Indonesia.dan larangan mengenai aksi mogok dicabut. puncak aksi mogok terjadi pada tanggal 13 Februari 1951 di mana terdapat sedikitnya 500. diantaranya dengan menghasilkan UU No.mengenai Dasar-Dasar dari Hak untuk Berorganisasi dan Berunding Bersama 7 UU No.

I/D/Peperti/1960 yang memuat daftar 23 perusahaan yang dinyatakan vital sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Penguaa Perang Tertinggi No. Pada masa ini kondisi ketenagakerjaan dapat dikatakan kurang diuntungkan dengan sistem yang ada.pada kegiatan serikat buruh yang lebih bersifat umum. Jawatan-Jawatan dan Badan-Badan Vital   Pembentukan Dewan Perusahaan untuk Mencegah dikuasainya Perusahaan-Perusahaan eks belanda oleh Pekerja Instruksi Deputi Penguasaan Perang Tertinggi No. 7 PRP/1963 tentang Pencegahan Pemogokan dan/atau Penutupan (lock out) di Perusaaan-Perusahaan. seperti:  Larangan mogok kerja yang diatur dalam Peraturan Penguasa Perang Tertinggi No. kondisi politik yang berubah pun membawa perbedaan dalam penanganan ketenagakerjaan. Pada periode ini. II. antara lain dengan dibentuknya Dewan Perusahaan di perusahaan-perusaaan yang diambi alih dari Belanda dalam rangka program nasionalisasi. 4 Tahuan 1960 tentang Pencegahan Pemogokan dan/atau Penutupan (lock out)e di Perusaaan-Perusahaan. 4 Tahun 1960. dan  Undang-Undang No. Di era ini peraturan dibuat untuk membatasi gerak politis dan ekonomis buruh. Pada 1960 pemerintah menganjurkan dibentuknya Organisasi Persatuan Pekerja Indonesia (OPPI) sebagai wadah unuk mempersatukan seluruh serikat pekerja yang ada. untuk mencegahh pengambil-alihan perusahaan Belanda oleh buruh. bukan untuk mengusahakan kepentingan buruh secara spesifik. Usaha jangka pendek ini diantaranya 4 . pemerintahan orde baru pun dimulai. Masa Orde Baru Ditandai dengan perubahan kekuasaan politik pada tahun 1965 dari Presiden Soekarno ke Presiden Soeharto. JawatanJawatan dan Badan-Badan Vital. namun semangat peraturan tenaga kerja mulai berubah. Meski kepemipinan nasional masih di tangan Presiden Soekarno. Pada awal 1960-an. Sebagian besar serikat pekerja menyambut baik dan setuju. pelaksaanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Tahap 1 (Repelita 1) telah dimulai diantaranya dengan melakukan berbagai usaha jangka pendek dalam bidang tenga kerja dan penciptaan kesempatan kerja. Buruh dikendalikan oleh militer. tetapi usaha tu akhirnya ditentang oleh SOBSI (Serikat Organisasi Buruh seluruh Indonesia).

yang ditujukan untuk menciptakan kesempatan kerja. berbagai program pembangunan prasarana seperti jalan-jalan. kebebasan berserikat tidak sepenuhnya dilaksanakan pemerintah pada saat itu. Undang-Undang No. 25 Tahun 1997 tentang Ketenagakarjaan Memasuki masa Pembangunan Lima Tahun II. jalan desa dan saluran tersier. dan peningkatan dan perbaikan hubungan perburuhan serta jaminan sosial. Kebijakan Orde Baru Terkait dengan Penetapan Upah Buruh 5 . pembinaan dan penyediaan tenaga kerja dalam jumlah yang cukup dan keahlian yang diperlukan sesuai dengan perkembangan dalam kegiatan ekonomi dan penyediaan kesempatan kerja. pada periode ini. Undang-Undang No. Undang-Undang No. Beberapa hal yang menonjol diantaranya dalam kebijakan industrialisasi yang dijalankan pemerintah Orde Baru juga mengimbangi kebijakan yang menempatkan stabilitas nasional sebagai tujuan dengan menjalankan industrial peace khususnya sejak awal Pelita III (1979-1983). 1 Tahun 1970 tentang Kecelakaan kerja. Dalam penyelesaian perselisihan perburuhan. penghijauan. secara perlahan mulai terlihat perbedaan cara pemerintah dalam menangani masalah ketenagakerjaan yang berkembang. terutama dengan adanya fusi (penyatuan) gerakan buruh menjadi ke dalam satu wadah SPSI di mana serikat pekerja harus bebas dari pengaruh dan intervensi politik. menggunakan sarana yang diistilahkan dengan HPP (Hubungan Perburuhan Pancasila).tersusun dalam Ketetapan MPRS No. antara lain sebagai berikut: 1. 3. yang membebankan ecara langsung kewajiban-kewajiban untuk usaha pencegahan kecelakaan (keselamataan kerja) pada tempat-tempat kerja maupun para pekerjanya. Undang-Undang No 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek). dll telah meringankan tekanan kesempatan kerja. di mana tenaga penganggur dimanfaatkan dalam usaha peningkatam sarana-sarana ekonomi serperti perbaikan terasering. Prioritas pembangunan dilakukan pada sektor pertanian. Selain itu. 4. Peraturan dan perundangan ketenagakerjaan yang diisusun dan diundangkan sepanjang periode ini. 14 Tahun 1969 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok mengenai Tenaga Kerja 2.28 Tahun 1966. pengairan. diantaranya melalui Proyek Padat Karya. peran militer juga menjadi sangat dominan.

terdapat perbedaan versi/penafsiran mengenai definisi upah buruh. 6 Republik Indonesia. para pengusaha berasumsi 3 4 Carrizossa (1988) Standing Committee on Human Rights in Indonesia. dalam Sulaiman (2008). meskipun komponen upah yang terdiri dari gaji dan tunjangan-tunjangan lainnya. Meskipun dengan upay yang kurang layak. UU Nomor 14 Tahun 1969 tentang Ketentuan Pokok Mengenai Tenaga Kerja Tanggal 19 Nopember 1969. Sementara kenaikan upah menurut versi perusahaan didasarkan pada prestasi kerja. dan hasil produksi. dan pendidikan pekerja sendiri. keterampilan.7 Pemberian upah secara umum juga masih disalahartikan oleh pengusaha.1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing. 6 . sehingga menyebabkan adanya tekanan antara buruh dan pengusaha. Republik Indonesia. diantaranya mengacu pada tingkat Indeks Harga Konsumen (IHK) yang berlaku. Karena tingkat pengangguran yang tinggi pada masa itu sedangkan lapangan kerja yang terbatas. namun kenaikan upah di sini berarti kenaikan gaji secara umum yang disesuaikan dengan perkembangan kebijakan moneter. dengan memberikan upah. Pengembangan Kesempatan Kerja. gerakan buruh pada periode ini tidak banyak melakukan pemogokan terutama akibat ketatnya pengawasan militer3. tertanggal 25 Juli 1969. 58 Tahun 19694. 8 Tahun 1981 tentang Perlindungan Upah6. sehingga kenaikan upah diputuskan oleh pimpinan perusahaan secara subjektif. sehingga belum mempertimbangkan mengenai peningkatan upah buruh. Keputusan Presiden RI Nomor 58 Tahun 1969 Dewan Penelitian Pengupahan Nasional. dan selanjutnya lahir PP No. pemerintah menekankan pentingnya modal asing untuk menyediakan lapangan kerja. Presiden Soeharto mengambil langkah dalam memperbaiki penghasilan Pegawai Negeri dan Buruh diantaranya dengan membentuk Dewan Penelitian Pengupahan Nasional (DPPN) berdasarkan Keppres No. digolongkan ke dalam upah dalam Industri Substitusi Impor. 14 Tahun 19695 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Mengenai Tenaga Kerja. Misalnya dalam kasus tuntutan kenaikan upah oleh kaum buruh. Yogyakarta: BPFE. yang kemudian menghasilkan UU No. kemampuan bargaining power buruh menjadi lebih rendah untuk menuntut kenaikan upah. Pada masa industrialisasi subtitusi impor ini. terutama dengan berlakunya UndangUndang No. Pada tahun 1966-1984. kemampuan perusahaan.Sulaiman (2008) membagi kebijakan mengenai upah pada masa orde baru dalam periode industrialisasi yang berkembang. 7 Bambang Tri Cahyono. tanggal 2 Maret 1981. 5 Republik Indoneia. Sebagai langkah preventif demi terciptanya ketenangan kerja. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1981 tentang Perlindungan Upah.

(1) Kebutuhan fisik minimum. belum termauk pemberian komponen upah secara keseluruhan. dan pertumbuhan industri sebesar 9. pemerintah menetapkan ketentuan upah melalui Peraturan Mennaker No. 1 Tahun 1970 menetapkan waktu kerja 8 jam sehari untuk 5 hari kerja seminggu. pada era industri berorientasi ekspor (1985-1997). dan Perubahan Status atau Pemilikan Perusahaan. pertama ‘secara mikro’. dimana mekanisme penetapan UMR didasarkan pada. Selanjutnya. Pada 1989.1 Tahun 1950 Pasal 10 ayat (1) disebutkan bahwa buruh tidak boleh menjalankan pekerjaan lebih dari 7 jam sehari dan 40 jam seminggu. (3)Perluasan Kesempatan Kerja. sedangkan menurut Instruksi Direktur Pembinaan Norma-Norma Perlindungan Tenaga Kerja. yakni mengenai pemutusan hubungan kerja. Pemogokan. kondisi ekonomi di Indonesia pun sudah mulai stabil. Standarisasi penetapan besaran UMR masih terus disempurnakan dari tahun ke tahun selama pemerintahan orde baru untuk mendapatkan rumusan upah yang setimpal antara buruh dan juga pengusaha. padahal pemerian hanya upah pokok. dan lain-lain8. mengurangi kesenjangan antara upah terendah dan upah tertinggi di perusahaan. PHK. Departemen Tenaga Kerja No. termasuk fasilitas keselamatan dan kesehatan. penetapan upah pesangon (tunjangan/kenaikan upah) dan juga penentuan upah minimum regional9. 7 . Kebijakan mengenai pemutusan hubungan kerja dan penetapan upah pesangon diatur dalam Keputusan Mennaker No 342/Men/1986 tentang Pedoman/Petunjuk Umum Pemerantaraan Perselisihan Hubungan Industrial khususnya dalam menghadapi kasus menenai Upah Lembur. Pemerintah mulai menilik kembali kebijakan-kebijakan ketenagakerjaan yang sebelumnya belum terselesaikan. (4)Upah pada umumnya yang berlaku secara regional. 05/Men/1989 tentang upah minimum regional (UMR). (2) Index Harga Konsumen. Pekerja Kontrak. Tujuan penetapan standar UMR dapat dilihat dari dua aspek. yaitu sebagai jaringan pengaman agar upah tidak merosot. dengan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia saat itu yang mencapai rata-rata 5% setiap tahunnya. jaminan sosial buruh. berdasarkan UU No.5% per tahun. (6)Tingkat perkembangan ekonomi regional dan atau nasional. (5) Kelangsungan dan perkembangan perusahaan.bahwa telah memberikan upah kerja. 04 Tahun 1986 tentant Tata Cara Pemutusan Hubungan Kerja dan Penetapan Uang Pesangon. dan untuk menngkatkan penghasilan kaum buruh pada tingkat paling 8 9 Republik Indonesia . Uang Jasa dan Ganti Kerugian. Misalnya yang terkait dengan penetapan jam kerja yang juga berdampak pada pemberian upah. yang terkait dengan Peraturan Mennaker No. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Selain itu terjadinya disharmoni undang-undang juga membuat penerapan kebijakan ketenagakerjaan menjadi rancu.

Meskipun demikian. (7) daya penawaran kesempatan kerja. perubahan struktur biaya industry secara sektoral. terjadi ketidakstabilan politik yang membuat rendahnya pengawasan dalam pelaksanaan kebijakan progresif yang telah ditetapkan. peningkatan produksi kerja Nasional. serta jaminan sosial tenaga kerja yang kurang kuat. upah yang terlalu rendah. Dirjen Binamas. kesehatan dan keamanan kerja yang buruk.rendah. kedua ‘secara makro’ yaitu pemerataan pendapatan masyarakat kelas pendapatan bawah demi mengentaskan kemiskinan. dimana pada masa awal industrialisasi. kebijakan ketenagakerjaan yang dikeluarkan pada masa orde lama dan orde baru merupakan jawaban atau solusi pemerintah terhadap tuntutantuntutan kaum buruh terhadap permasalahan pengupahan yang meraeka hadapi. (4) produktivitas perusahaan. Direktorat Pengupahan dan Jaminan Sosial Proyek Peningkatan Kesejahteraan Tenaga Kerja Tahun Anggaran 1997/1998 dalam Sulaiman (2008) 11 Departemen Tenaga kerja RI. Kesimpulan Secara umum. semakin kecil upah. peningkatan etos kerja dan disiplin kerja dan untuk memperlancar komunikasi antara buruh dengan pengusaha10. dimana sistem pemerintahan berganti-ganti mulai dari RIS hingga demokrasi terpimpin. Adanya intervensi ILO sebagai organisasi perburuhan dunia juga sangat mempengaruhi dinamika kebijakan ketenagakerjaan di Indonesia. (8) tingkat pendidikan formal dan keterampilan pekerja11. peningkatan daya beli buruh dan perluasan kesempatan kerja. pemerintah 10 Departemen Tenaga Kerja RI. (5) biaya hidup suatu daerah domisili perusahaan dan buruh. kebijakan yang dikeluarkan cenderung berdasarkan pertimbangan kondisi stabilitas ekonomi negara. Tinggi rendahnya tingkat upah yang diberikan pengusaha kepada buruh disebabkan oleh (1) tingkat penawaran dan permintaan buruh. diskriminasi terhadap buruh. kondisi stabilitas ekonomi dan politik negara juga mempengaruhi kebijakan yang diambil oleh pemerintah. tidak adanya kebebasan berserikat. Modul Bahan Penyuluhan UMR. Sementara pada masa orde baru. Permasalahan tersebut antara lain mencakup. lembur paksa. Jakarta 1997/1998 8 . (3) ketergantungan kemampuan pembayaran upah dari perusahaan. (2) Organisasi pekerja yang berfungsi dalam pengawasan mekanisme pembagian upah kerja yang lebih baik. semakin kecil penawaran. (6) Kebijaksanaan pemerintah dalam menuangkan pengaturan perngupahan. Pada masa orde lama. pemutusan hubungan kerja.

Sulaiman. 1986. Bambang. Modul Bahan Penyuluhan UMR. Abdul.cenderung memihak pengusaha dan menangguhkan kebijakan mengenai pengupahan buruh. Dinamika Hukum Ketenagakerjaan Indonesia. Daftar Pustaka BPS. Medan: USU Press. Cahyono. 2010. 2008. 9 . Perbuuruhan dari Masa ke Masa. Agus. Yogyakarta: BPFE UGM. 2011. Sudono. Pengembangan Kesempatan Kerja. Jakarta: Penerbit Universitas Trisakti. Jakarta 1997/1998 Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Jakarta: Pustaka Cidesindo. Perkembangan Ketenagakerjaan di Indonesia. 1997. Upah Buruh di Indonesia. Perkembangan Angkatan Kerja di Indonesia tahun 1980-1990. Departemen Tenaga kerja RI. 1991. Agusmidah.

33 Tahun 1947 tentang Kecelakaan Kerja Mewajibkan perusahaan untuk memberi tunjangan/ganti kerugian kepada buruh yang mendapatkan kecelakaan. dan kewajiban kedua belah pihak untuk menepatinya. Kebijakan Ketenagakerjaan 1 UU No. 12 Tahun 1948 tentang Kerja Mengatur mengenai golongan pekerja sesuai umur dan jenis kelamin. tenggang waktu kerja dan istirahat. Mogok kerja dianggap sebagai bagian dari pelanggaran perjanjian bagi pekerja. Adanya larangan untuk pekerja anak. atas dasar kesepakatan bersama antara buruh (serikat buruh) dan perusahaan. dan bila meninggal. 3 UU No. 10 Penjelasan Keterangan . 23 Tahun 1948 tentang Pengawasan Perburuhan Mewajibkan kepada menteri /badan terkait untuk melakukan pengawasan perburuhan yang ditujukan untuk mengawasi UU dan PP perburuhan yang telah ditetapkan. UU No. serta mengatur prosedur pelaporan pelanggaran UU dan hubungan kerja. 2 UU No. 4. 21 Tahun 1954 tentang Perjanjian Perburuhan antara Serikat Buruh dan Majikan Menekankan bahwa perjanjian perburuhan harus dibuat dengan surat resmi. (termasuk penyakit yang timbul akibat hubungan kerja).Lampiran No. tunjangan diberikan kepada keluarga yang bersangkutan.

1 Tahun 1970 tentang Kecelakaan Pengusaha tidak hanya diwajibkan Kerja untuk membayar tunjangan jika terjadi kecelakaan kerja.5 UU No.pokok Konvensi ILO yang diratifikasi antara lain. melindungi serikat buruh terhadap campur tangan perusahan dalam berorganisasi. 80 Tahun 1957* tentang Persetujuan Adapun pokok – pokok Konvensi Konvensi Organisasi ILO yang diratifikasi antara lain. 6. tetapi didasarkan yang pada penilaian pekerjaan objektif berdasarkan dijalankan pekerjaan tidak yang termasuk Laki-Laki Wanita Pekerjaan Sama Nilainya melanggar asas-asas konvensi. Perburuhan mewajibkan perusahaan unutk Internasional (ILO) menjamin pengupahan yang sama No. Buruh nilai pengupahan yang berlainan dan antara buruh tanpa memandang untuk jenis kelamin. 100 mengenai bagi Pengupahan Sama bagi buruh laki-laki dan yang perempuan yang sama nilainya. 18 Tahun 1956* tentang Persetujuan Konvensi Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) No 89 mengenai Dasar-Dasar dari Hak untuk Berorganisasi dan Berunding Bersama Adapun pokok .14 Tahun 1969 tentang Ketentuan. Pusat. dan Panitia Enquete jika perselisihan belum dapat terselesaikan. tapi juga 11 . dan menjamin penghargaaan hak berorganisasi 7 UU No.Mengatur ketetapan pokok serta Pokok hak dan kewajiban tenaga kerja Tenaga Ketentuan mengenai Kerja 9 UU No. menjamin kebebasan buruh untuk masuk atau tidak masuk serikat buruh. 22 Tahun 1957* tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Membentuk Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan di Daerah. 8 UU No. UU No.

UU ini mengacu pada UUDS 1951. Lembaga Kerja Tripartit (memberikan saran kepada menyusun pemerintah UU dan dalam atau PP dari dan hak ketenagakerjaan. *Berbeda dengan UU sebelumnya yang mengacu pada UUD 1945. pengusaha). terdiri pekerja. 11 UU No. pemerintah.25 Tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan Pembentukan Bipartit Lembaga Kerja antara (Perantara pengusaha dan buruh). 3 Tahun 1992 tentang memberikan pencegahan pembinaan kecelakaan Jaminan Menetapkan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja Sosial Tenaga Kerja dan mengatur mengenai Iuran. Penegasan pekerja untuk melakukan mogok kerja.dalam untuk kerja. Besaran Jaminan. 12 . dan Tata Cara Pembayarannya. 10 UU No.

192 80.472 5.009 1989 41.350 11.404 10.071.850.424.553.600 70.952 7.Lampiran 2 Jumlah Angkatan Kerja 1980-1997 menurut lapangan kerja utama TAHUN 1986 37.649.919 9.125.756 Sumber BPS 13 .228 5.263 11.977 73.856 3.310.452 4.869.717 79.680.795.576 6.499 10.122 1982 31.251 10.127.508.493.580 TAHUN LAPANGAN KERJA PERTANIAN INDUSTRI PERDAGANGAN JASA LAINNYA TAK TERJAWAB JUMLAH 1991 41.221.760 40.314 6.704 10.665 9.109 1995 35.041 4.533 10.295 12.205 8.942 62.784.593.567.848.496 11.644.284.096 5.605.200.070 10.618.641.047 13.791 7.553.631 11.813 1997 35.906.330 5.894 1990 42.214.179 1992 42.125.160 11.195 16.127.402.834.850 8.874 10.682 12.457.372 1993 40.746.195 13.869 8.088 72.890.495 8.341 76.018.693.334.530.153.070.518.210 8.566.929 8.911.902.523 3.049.809 5.110.883.946.557.802.967.973 58.161 82.205.357 9.728.651.542 1994 37.765.039 131.871 312.309 7.345.233.317.269.102.803.051 6.138 1987 1988 38.234 10.840.701.857.801 1985 34.141.744 85.032.813 9.586 87.687.744.182.255.187 LAPANGAN KERJA PERTANIAN INDUSTRI PERDAGANGAN JASA LAINNYA TAK TERJAWAB JUMLAH 1980 28.378.410 7.684 51.508.971 9.797.045.690 10.637.121.184 12.451.280 78.060 1996 37.822 17.755.678.518.020 8.919 7.840.729 8.430.234 11.144.082 5.270 10.067.661.327 75.324 5.220 57.419 4.423.720.205 68.285 4.021.996.338.793 5.042 6.552 11.232 7.

Wilayah 3 Jawa Tengah DI Jogjakarta Jawa Timur Bali NTB NTT Timor Timur 1985 0 850 0 1125 0 0 950 0 0 1986 1400 850 0 1125 0 0 950 0 0 1987 1400 850 1000 1400 0 0 950 0 0 1988 1400 1200 1000 1865 0 0 1100 1100 0 1989 1400 1200 1000 1865 0 0 1100 1100 0 1990 2133 1930 1600 2000 0 2450 1100 1600 0 1991 2133 1930 1600 2000 0 5550 1650 1600 0 1992 2133 2550 1750 2700 0 5500 2100 0 1600 1993 2600 3100 1900 2700 0 5500 2400 0 2300 1994 3150 3750 2500 3100 0 6750 3000 0 3000 1995 3500 4200 3250 4150 0 6750 3350 0 3500 1996 3850 4600 3600 4600 0 7350 3600 0 3850 1997 4267 5033 3967 5050 0 7833 3983 0 4375 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 600 1300 0 675 0 635 450 635 1000 500 1000 0 1000 600 1300 0 675 0 635 450 635 1000 500 0 0 1000 1050 1600 0 750 0 635 700 813 1200 650 1000 0 1000 1300 1050 1600 0 750 780 700 813 1200 650 1000 0 1400 1300 1050 1600 0 750 780 700 813 1200 650 1000 0 1400 1300 1750 2100 0 1200 780 900 1409 1800 1275 1600 0 1400 1300 1750 2500 0 1600 1600 900 1409 1800 1275 1600 0 1800 2000 1750 2500 0 1800 0 1600 1250 2100 2000 1500 1600 2000 2000 2450 3000 0 2200 0 2000 1600 2100 2500 1850 2100 2000 3000 3000 3800 0 3800 0 2700 2200 3000 3300 2350 2500 3000 3000 3500 4600 0 4600 0 3000 2850 3700 3900 2950 2900 3800 3850 3800 5200 0 5200 0 3400 3200 4000 4250 3250 3200 4200 14 4250 4250 5750 0 5121 0 3767 3550 4146 4717 3600 3550 4600 . Batam Jambi Sumatera Selatan a. Kepulauan Babel Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat a.Lampiran 3 Perkembangan UMR 1985-1997 No 1 2 3 4 Daerah DI Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau a. Kepulauan Riau c. Luar Batam b. Wilayah 2 c. Wilayah 1 b. Daratan b.

18 Kalimantan Barat Kalimantan 19 Tengah Kalimantan 20 Selatan 21 Kalimantan Timur 22 Sulawesi Utara 23 Sulawesi Tengah 24 Sulawesi Selatan Sulawesi 25 Tenggara 26 Gorontalo 27 Maluku 28 Maluku Utara 29 Irian Jaya 0 650 0 525 0 900 500 0 0 0 1600 0 850 950 0 525 0 900 750 0 0 0 1600 0 850 950 1000 550 700 900 750 0 0 0 1600 0 1000 950 1000 850 700 1000 750 0 1000 0 1800 1600 1000 1150 1000 850 700 1000 750 0 1000 0 1800 0 1000 1150 1600 850 850 1000 1599 0 1800 0 1800 0 1600 1300 1600 2000 1100 1350 1599 0 1800 0 1800 2000 1800 1600 2275 1600 2000 1100 1750 2125 0 1800 0 2400 2250 2350 2275 2400 2000 1750 1750 2125 0 1800 0 2400 3000 2700 3000 3250 2700 2300 2300 2800 3100 4500 3500 3700 3500 4200 3250 2800 3100 3350 3800 4750 3800 4150 3800 4600 3600 3200 3400 3650 0 4100 0 5150 4217 4600 3750 5100 3933 3550 3750 4033 4533 5667 Sumber: Keputusan Menteri Negara Tenaga Kerja RI 1984-1996 dalam Sulaiman (2008) 15 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->