Kebijakan Ketenagakerjaan Di Indonesia Sebelum Reformasi

Kebijakan Ketenagakerjaan di Indonesia sebelum Reformasi

Arwin Soelaksono 1106111975 - Choiroel Woestho 1106112132 – Afriyadi 1106111666 Abstrak

Pendahuluan Pembangunan ketenagakerjaan merupakan suatu upaya yang bersifat menyeluruh di semua sektor dan daerah yang ditunjukan dengan adanya perluasan lapangan kerja dan pemerataan kesempatan kerja, peningkatan mutu dan kemampuan, serta memberikan perlindungan terhadap tenaga kerja. Usaha untuk menciptakan kesempatan kerja guna mengurangi pengangguran dan sekaligus menampung pertambahan tenaga kerja merupakan bagian kesatuan dari seluruh kebijakan dan program-program pembangunan ekonomi dan sosial, mempertimbangkan sepenuhnya tujuan-tujuan perluasan kesempatan kerja serta kegiatan usaha yang banyak menyerap tenaga kerja. Pada dasarnya, landasan hukum mengenai ketenagakerjaan dan perburuhan yang utama tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) Pasal 27 ayat (2) yang menyebutkan bahwa hak setiap warga negara Indonesia untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak. Meskipun demikian, kekuasaan politik dan stabilitas ekonomi dapat mempengaruhi kebijakan-kebijakan mengenai ketenagakerjaan di Indonesia, yang

menimbulkan solusi dan persoalan tersendiri dalam dinamika kehidupan tenaga kerja di Indonesia. Pada periode sebelum reformasi, gerakan buruh memiliki andil yang besar dalam pengaturan kebijakan ketenagakerjaan, ditandai dengan banyaknya aksi mogok kerja dan penutupan (lock out) demi menuntut pengupahan yang layak dan kesejahteraan buruh. I. Kebjakan Ketenagakerjaan Pasca Merdeka (Orde Lama) Pada era orde lama, kebijakan ketenagakerjaan orde lama cenderung memberikan jaminan sosial dan perlindungan kepada buruh. Sumbangan gerakan buruh dalam keberhasilan mempertahankan kemerdekaan pada masa revolusi fisik (1945-1949), menempatkan posisi kaum buruh berada posisi yang strategis dalam bentuk campur tangan dalam pembentukan kebijakan dan hukum ketenagakerjaan di Indonesia. Dengan adanya campur tangan kaum buruh dalam pembentukan kebijakan ketenagakerjaan, maka peraturan yang terbentuk cenderung progresif dan melindungi

1

8 Tahun 1956 tentang Persetujuan Konvensi ILO No. 80 tahun 1987 tentang Persetujuan Konvensi ILO No. 22 Tahun 1957 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial 6.hak-hak kaum buruh1. dengan keikutsertaan Indonesia menjadi anggota ILO (International Labor Organization pada tanggal 12 Juli 1950. seperti yang tercantum dalam UU No. serta pelaksanaan perjanjian-perjanjian perburuhan. 1 2 3 4. 89 Tahun 1949 mengenai berlakunya DasarDasar Hak untuk Berorganisasi dan untuk Berunding Bersama. 12 Tahun 1948 UU No. 23 1948 Tentang Pengawasan Perburuhan 2 . Tabel 1. serta UU No. 33 Tahun 1947 UU No. Kebijakan Ketenagakerjaan pada masa orde lama No. 49 Tahun 1954 dan UU No. 12 Tahun 1948 tentang Kerja. 100 Tahun 1951 mengenai pengupahan bagi buruh laki-laki dan wanita yang sama untuk pekerjaan yang sama nilainya. perbaikan syarat-syarat kerja. Beberapa kali serikat/perkumpulan buruh yang tergabung dalam SOBSI (Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia) harus mengkoordinir terselenggaranya aksi mogok kerja. Adanya kebijakan ketenagakerjaan yang progresif dan mendukung perlindungan kaum buruh ini. 23 Tahun 1948 UU No. UU No. UU No. 18 Tahun 1956 tentang Persetujuan Konvensi Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) No 89 1 Diantaranya dengan terbentuknya UU No. 21 Tahun 1954 Penjelasan tentang Kerja tentang Kecelakaan Kerja tentang Pengawasan Perburuhan tentang Perjanjian Perburuhan antara Serikat Buruh dan Majikan 5 UU No. dan UU No. Kebijakan Ketenagakerjaan UU No. pembatalan pemutusan hubungan kerja (PHK). secara otomatis membuat pemerintah harus mengikuti dan meratifikasi beberapa konvensi ILO. Adapun sejumlah kebijakan mengenai ketenagakerjaan yang ditetapkan dalam periode ini terangkum dalam Tabel 1 berikut. jaminan sosial. Pada umumnya tuntutan buruh dalam tahun 1950-an adalah mengenai kenaikan upah dan tujangan-tunjangan. agar tuntutan mereka dipenuhi oleh pemerintah. pelaksanaan peraturanperaturan pemerintahan yang telah dibuat. dan gratifikasi. yang masih belum mampu melaksanakan kebijakan pro-buruh yang telah dibuat. bukan berarti hubungan buruh dengan perusahaan (majikan) dan pemerintah berjalan harmonis. 33 Thun 1947 tentang Kecelakaan Kerja. Selain itu. pengakuan serikat buruh.

Hak Mogok di Indonesia (Jakarta: Program Pasca Sarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Arah politik nasional saat itu sangat berpengaruh 2 Aloysius Uwiyono. Meskipun demikian. 80 Tahun 1957 tentang Persetujuan Konvensi Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) No. 16 Tahun 1951 tentang Penyelesaian Perselisihan Perburuhan. arah kebijakan politik di Indonesia berganti seiring dengan dimulainya masa demokrasi terpimpin. dimana serikat buruh diberikan kesempatan untuk ikut campur dalam penyelesaian kasus perburuhan. dengan dasar pertimbangan untuk mencegah terjadinya pemogokan pekerja yang dinilai dapat menghambat pertumbuhan ekonomi terutama bila terjadi pada perusahaan vital2. puncak aksi mogok terjadi pada tanggal 13 Februari 1951 di mana terdapat sedikitnya 500. 100 mengenai Penghapusan Diskriminasi Upah bagi Buruh Pria dan Wanita Demi mengantisipasi aksi-aksi pemogokan menuntut perbaikan upah. Pemerintah dibawah Perdana Menteri Moch.dan larangan mengenai aksi mogok dicabut. Pada akhir tahun 1950-an. Adanya ketidakjelasan dalam kewenangan P4. tuntutan kaum buruh yang belum terpenuhi. ditandai dengan ditetapkannya Undang-Undang Darurat No. diantaranya dengan menghasilkan UU No.serta campur tangan Organisasi Perburuhan Indonesia mendesak pemerintah untuk menyusun undang-undang baru. Sejumlah aksi pemogokan tetap dilaksanakan untuk menuntut perbaikan upah buruh dan pencabutan larangan mogok. 22 Tahun 1957 tentang Penyelesaian Perselisihan Perburuhan. dimana Pemerintah menentukan bahwa hak mogok dapat dilaksanakan setelah mendapat surat izin dari P4 (Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan). yang diawali dengan berlakunya Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959.mengenai Dasar-Dasar dari Hak untuk Berorganisasi dan Berunding Bersama 7 UU No.1 Tahun 1951 tentang Peraturan Kekuasaan Pertikaian Perburuhan yang ditetapkan pemerintah pada waktu itu. Natsir mengambil tindakan represif yaitu dengan cara melarang pemogokan di perusahaan-perusahaan tertentu.000 buruh yang melakukan mogok di berbagai daerah di Indonesia. 3 . Hal ini tercantum dalam Peraturan Kekuasaan Militer Pusat No. Desakan kaum buruh memaksa pemerintah untuk tidak lagi melarang pemogokan di perusahaan vital. adanya larangan untuk melaksanakan aksi mogok tidak serta merta diikuti dengan pelaksanaanya.

Masa Orde Baru Ditandai dengan perubahan kekuasaan politik pada tahun 1965 dari Presiden Soekarno ke Presiden Soeharto. 4 Tahuan 1960 tentang Pencegahan Pemogokan dan/atau Penutupan (lock out)e di Perusaaan-Perusahaan. Pada 1960 pemerintah menganjurkan dibentuknya Organisasi Persatuan Pekerja Indonesia (OPPI) sebagai wadah unuk mempersatukan seluruh serikat pekerja yang ada. Pada masa ini kondisi ketenagakerjaan dapat dikatakan kurang diuntungkan dengan sistem yang ada. Meski kepemipinan nasional masih di tangan Presiden Soekarno. Pada awal 1960-an. dan  Undang-Undang No. 4 Tahun 1960. Usaha jangka pendek ini diantaranya 4 . JawatanJawatan dan Badan-Badan Vital. pelaksaanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Tahap 1 (Repelita 1) telah dimulai diantaranya dengan melakukan berbagai usaha jangka pendek dalam bidang tenga kerja dan penciptaan kesempatan kerja. kondisi politik yang berubah pun membawa perbedaan dalam penanganan ketenagakerjaan. Jawatan-Jawatan dan Badan-Badan Vital   Pembentukan Dewan Perusahaan untuk Mencegah dikuasainya Perusahaan-Perusahaan eks belanda oleh Pekerja Instruksi Deputi Penguasaan Perang Tertinggi No. namun semangat peraturan tenaga kerja mulai berubah. pemerintahan orde baru pun dimulai. seperti:  Larangan mogok kerja yang diatur dalam Peraturan Penguasa Perang Tertinggi No. tetapi usaha tu akhirnya ditentang oleh SOBSI (Serikat Organisasi Buruh seluruh Indonesia). Di era ini peraturan dibuat untuk membatasi gerak politis dan ekonomis buruh. 7 PRP/1963 tentang Pencegahan Pemogokan dan/atau Penutupan (lock out) di Perusaaan-Perusahaan. Sebagian besar serikat pekerja menyambut baik dan setuju. I/D/Peperti/1960 yang memuat daftar 23 perusahaan yang dinyatakan vital sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Penguaa Perang Tertinggi No. untuk mencegahh pengambil-alihan perusahaan Belanda oleh buruh. bukan untuk mengusahakan kepentingan buruh secara spesifik.pada kegiatan serikat buruh yang lebih bersifat umum. antara lain dengan dibentuknya Dewan Perusahaan di perusahaan-perusaaan yang diambi alih dari Belanda dalam rangka program nasionalisasi. Pada periode ini. Buruh dikendalikan oleh militer. II.

Beberapa hal yang menonjol diantaranya dalam kebijakan industrialisasi yang dijalankan pemerintah Orde Baru juga mengimbangi kebijakan yang menempatkan stabilitas nasional sebagai tujuan dengan menjalankan industrial peace khususnya sejak awal Pelita III (1979-1983). yang membebankan ecara langsung kewajiban-kewajiban untuk usaha pencegahan kecelakaan (keselamataan kerja) pada tempat-tempat kerja maupun para pekerjanya. Undang-Undang No. 25 Tahun 1997 tentang Ketenagakarjaan Memasuki masa Pembangunan Lima Tahun II. di mana tenaga penganggur dimanfaatkan dalam usaha peningkatam sarana-sarana ekonomi serperti perbaikan terasering. 3. penghijauan. pembinaan dan penyediaan tenaga kerja dalam jumlah yang cukup dan keahlian yang diperlukan sesuai dengan perkembangan dalam kegiatan ekonomi dan penyediaan kesempatan kerja. Undang-Undang No 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek). Undang-Undang No. peran militer juga menjadi sangat dominan. Prioritas pembangunan dilakukan pada sektor pertanian. dan peningkatan dan perbaikan hubungan perburuhan serta jaminan sosial. yang ditujukan untuk menciptakan kesempatan kerja. 4. antara lain sebagai berikut: 1. Undang-Undang No. Peraturan dan perundangan ketenagakerjaan yang diisusun dan diundangkan sepanjang periode ini. kebebasan berserikat tidak sepenuhnya dilaksanakan pemerintah pada saat itu. 1 Tahun 1970 tentang Kecelakaan kerja. Dalam penyelesaian perselisihan perburuhan.tersusun dalam Ketetapan MPRS No. Kebijakan Orde Baru Terkait dengan Penetapan Upah Buruh 5 .28 Tahun 1966. pengairan. terutama dengan adanya fusi (penyatuan) gerakan buruh menjadi ke dalam satu wadah SPSI di mana serikat pekerja harus bebas dari pengaruh dan intervensi politik. berbagai program pembangunan prasarana seperti jalan-jalan. secara perlahan mulai terlihat perbedaan cara pemerintah dalam menangani masalah ketenagakerjaan yang berkembang. pada periode ini. Selain itu. 14 Tahun 1969 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok mengenai Tenaga Kerja 2. jalan desa dan saluran tersier. menggunakan sarana yang diistilahkan dengan HPP (Hubungan Perburuhan Pancasila). dll telah meringankan tekanan kesempatan kerja. diantaranya melalui Proyek Padat Karya.

Keputusan Presiden RI Nomor 58 Tahun 1969 Dewan Penelitian Pengupahan Nasional. gerakan buruh pada periode ini tidak banyak melakukan pemogokan terutama akibat ketatnya pengawasan militer3. Misalnya dalam kasus tuntutan kenaikan upah oleh kaum buruh. tertanggal 25 Juli 1969. tanggal 2 Maret 1981. dan selanjutnya lahir PP No. dan hasil produksi. pemerintah menekankan pentingnya modal asing untuk menyediakan lapangan kerja. Pada masa industrialisasi subtitusi impor ini. terutama dengan berlakunya UndangUndang No. para pengusaha berasumsi 3 4 Carrizossa (1988) Standing Committee on Human Rights in Indonesia. namun kenaikan upah di sini berarti kenaikan gaji secara umum yang disesuaikan dengan perkembangan kebijakan moneter. 6 .Sulaiman (2008) membagi kebijakan mengenai upah pada masa orde baru dalam periode industrialisasi yang berkembang. 14 Tahun 19695 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Mengenai Tenaga Kerja. Karena tingkat pengangguran yang tinggi pada masa itu sedangkan lapangan kerja yang terbatas. kemampuan bargaining power buruh menjadi lebih rendah untuk menuntut kenaikan upah. sehingga belum mempertimbangkan mengenai peningkatan upah buruh. kemampuan perusahaan. dalam Sulaiman (2008). meskipun komponen upah yang terdiri dari gaji dan tunjangan-tunjangan lainnya. digolongkan ke dalam upah dalam Industri Substitusi Impor. Sebagai langkah preventif demi terciptanya ketenangan kerja. yang kemudian menghasilkan UU No. 7 Bambang Tri Cahyono. Pada tahun 1966-1984. Presiden Soeharto mengambil langkah dalam memperbaiki penghasilan Pegawai Negeri dan Buruh diantaranya dengan membentuk Dewan Penelitian Pengupahan Nasional (DPPN) berdasarkan Keppres No. Sementara kenaikan upah menurut versi perusahaan didasarkan pada prestasi kerja. sehingga kenaikan upah diputuskan oleh pimpinan perusahaan secara subjektif. UU Nomor 14 Tahun 1969 tentang Ketentuan Pokok Mengenai Tenaga Kerja Tanggal 19 Nopember 1969. dan pendidikan pekerja sendiri. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1981 tentang Perlindungan Upah.7 Pemberian upah secara umum juga masih disalahartikan oleh pengusaha. sehingga menyebabkan adanya tekanan antara buruh dan pengusaha. Meskipun dengan upay yang kurang layak. Yogyakarta: BPFE. 6 Republik Indonesia. 5 Republik Indoneia. dengan memberikan upah.1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing. 8 Tahun 1981 tentang Perlindungan Upah6. keterampilan. Pengembangan Kesempatan Kerja. terdapat perbedaan versi/penafsiran mengenai definisi upah buruh. 58 Tahun 19694. diantaranya mengacu pada tingkat Indeks Harga Konsumen (IHK) yang berlaku. Republik Indonesia.

pertama ‘secara mikro’. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja. pada era industri berorientasi ekspor (1985-1997). 04 Tahun 1986 tentant Tata Cara Pemutusan Hubungan Kerja dan Penetapan Uang Pesangon. Standarisasi penetapan besaran UMR masih terus disempurnakan dari tahun ke tahun selama pemerintahan orde baru untuk mendapatkan rumusan upah yang setimpal antara buruh dan juga pengusaha. kondisi ekonomi di Indonesia pun sudah mulai stabil. dan pertumbuhan industri sebesar 9. yaitu sebagai jaringan pengaman agar upah tidak merosot. dan lain-lain8. 1 Tahun 1970 menetapkan waktu kerja 8 jam sehari untuk 5 hari kerja seminggu. Misalnya yang terkait dengan penetapan jam kerja yang juga berdampak pada pemberian upah. Departemen Tenaga Kerja No. (1) Kebutuhan fisik minimum. penetapan upah pesangon (tunjangan/kenaikan upah) dan juga penentuan upah minimum regional9. yakni mengenai pemutusan hubungan kerja. (4)Upah pada umumnya yang berlaku secara regional. 7 . Pemerintah mulai menilik kembali kebijakan-kebijakan ketenagakerjaan yang sebelumnya belum terselesaikan. Pada 1989.bahwa telah memberikan upah kerja. padahal pemerian hanya upah pokok. Selanjutnya. (5) Kelangsungan dan perkembangan perusahaan. dan untuk menngkatkan penghasilan kaum buruh pada tingkat paling 8 9 Republik Indonesia . (3)Perluasan Kesempatan Kerja. Tujuan penetapan standar UMR dapat dilihat dari dua aspek. jaminan sosial buruh. belum termauk pemberian komponen upah secara keseluruhan. yang terkait dengan Peraturan Mennaker No. PHK. Selain itu terjadinya disharmoni undang-undang juga membuat penerapan kebijakan ketenagakerjaan menjadi rancu. dan Perubahan Status atau Pemilikan Perusahaan. (6)Tingkat perkembangan ekonomi regional dan atau nasional. dimana mekanisme penetapan UMR didasarkan pada. 05/Men/1989 tentang upah minimum regional (UMR). dengan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia saat itu yang mencapai rata-rata 5% setiap tahunnya. Uang Jasa dan Ganti Kerugian.1 Tahun 1950 Pasal 10 ayat (1) disebutkan bahwa buruh tidak boleh menjalankan pekerjaan lebih dari 7 jam sehari dan 40 jam seminggu. pemerintah menetapkan ketentuan upah melalui Peraturan Mennaker No. (2) Index Harga Konsumen. sedangkan menurut Instruksi Direktur Pembinaan Norma-Norma Perlindungan Tenaga Kerja.5% per tahun. Kebijakan mengenai pemutusan hubungan kerja dan penetapan upah pesangon diatur dalam Keputusan Mennaker No 342/Men/1986 tentang Pedoman/Petunjuk Umum Pemerantaraan Perselisihan Hubungan Industrial khususnya dalam menghadapi kasus menenai Upah Lembur. termasuk fasilitas keselamatan dan kesehatan. Pemogokan. berdasarkan UU No. mengurangi kesenjangan antara upah terendah dan upah tertinggi di perusahaan. Pekerja Kontrak.

Sementara pada masa orde baru. Adanya intervensi ILO sebagai organisasi perburuhan dunia juga sangat mempengaruhi dinamika kebijakan ketenagakerjaan di Indonesia. kondisi stabilitas ekonomi dan politik negara juga mempengaruhi kebijakan yang diambil oleh pemerintah. (2) Organisasi pekerja yang berfungsi dalam pengawasan mekanisme pembagian upah kerja yang lebih baik. perubahan struktur biaya industry secara sektoral. peningkatan daya beli buruh dan perluasan kesempatan kerja. (8) tingkat pendidikan formal dan keterampilan pekerja11. Pada masa orde lama. (3) ketergantungan kemampuan pembayaran upah dari perusahaan. Tinggi rendahnya tingkat upah yang diberikan pengusaha kepada buruh disebabkan oleh (1) tingkat penawaran dan permintaan buruh. kesehatan dan keamanan kerja yang buruk. peningkatan etos kerja dan disiplin kerja dan untuk memperlancar komunikasi antara buruh dengan pengusaha10. dimana pada masa awal industrialisasi. Modul Bahan Penyuluhan UMR. (7) daya penawaran kesempatan kerja. Direktorat Pengupahan dan Jaminan Sosial Proyek Peningkatan Kesejahteraan Tenaga Kerja Tahun Anggaran 1997/1998 dalam Sulaiman (2008) 11 Departemen Tenaga kerja RI. terjadi ketidakstabilan politik yang membuat rendahnya pengawasan dalam pelaksanaan kebijakan progresif yang telah ditetapkan. pemutusan hubungan kerja. semakin kecil upah. dimana sistem pemerintahan berganti-ganti mulai dari RIS hingga demokrasi terpimpin. Permasalahan tersebut antara lain mencakup. Kesimpulan Secara umum. tidak adanya kebebasan berserikat. Meskipun demikian. serta jaminan sosial tenaga kerja yang kurang kuat. kedua ‘secara makro’ yaitu pemerataan pendapatan masyarakat kelas pendapatan bawah demi mengentaskan kemiskinan. Dirjen Binamas. peningkatan produksi kerja Nasional. (6) Kebijaksanaan pemerintah dalam menuangkan pengaturan perngupahan. (5) biaya hidup suatu daerah domisili perusahaan dan buruh. kebijakan ketenagakerjaan yang dikeluarkan pada masa orde lama dan orde baru merupakan jawaban atau solusi pemerintah terhadap tuntutantuntutan kaum buruh terhadap permasalahan pengupahan yang meraeka hadapi. upah yang terlalu rendah. diskriminasi terhadap buruh. kebijakan yang dikeluarkan cenderung berdasarkan pertimbangan kondisi stabilitas ekonomi negara. (4) produktivitas perusahaan.rendah. Jakarta 1997/1998 8 . pemerintah 10 Departemen Tenaga Kerja RI. semakin kecil penawaran. lembur paksa.

cenderung memihak pengusaha dan menangguhkan kebijakan mengenai pengupahan buruh. Perbuuruhan dari Masa ke Masa. Jakarta: Pustaka Cidesindo. Modul Bahan Penyuluhan UMR. Yogyakarta: BPFE UGM. Agusmidah. Perkembangan Angkatan Kerja di Indonesia tahun 1980-1990. 2010. Jakarta: Penerbit Universitas Trisakti. Sudono. Sulaiman. Bambang. Agus. Perkembangan Ketenagakerjaan di Indonesia. 1997. Jakarta 1997/1998 Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Pengembangan Kesempatan Kerja. Medan: USU Press. 9 . Upah Buruh di Indonesia. 2011. Abdul. 2008. Cahyono. Dinamika Hukum Ketenagakerjaan Indonesia. 1986. Departemen Tenaga kerja RI. 1991. Daftar Pustaka BPS.

12 Tahun 1948 tentang Kerja Mengatur mengenai golongan pekerja sesuai umur dan jenis kelamin. dan kewajiban kedua belah pihak untuk menepatinya. tenggang waktu kerja dan istirahat. 10 Penjelasan Keterangan . 21 Tahun 1954 tentang Perjanjian Perburuhan antara Serikat Buruh dan Majikan Menekankan bahwa perjanjian perburuhan harus dibuat dengan surat resmi. dan bila meninggal.Lampiran No. (termasuk penyakit yang timbul akibat hubungan kerja). 33 Tahun 1947 tentang Kecelakaan Kerja Mewajibkan perusahaan untuk memberi tunjangan/ganti kerugian kepada buruh yang mendapatkan kecelakaan. tunjangan diberikan kepada keluarga yang bersangkutan. Adanya larangan untuk pekerja anak. 3 UU No. UU No. serta mengatur prosedur pelaporan pelanggaran UU dan hubungan kerja. 2 UU No. Kebijakan Ketenagakerjaan 1 UU No. 4. 23 Tahun 1948 tentang Pengawasan Perburuhan Mewajibkan kepada menteri /badan terkait untuk melakukan pengawasan perburuhan yang ditujukan untuk mengawasi UU dan PP perburuhan yang telah ditetapkan. Mogok kerja dianggap sebagai bagian dari pelanggaran perjanjian bagi pekerja. atas dasar kesepakatan bersama antara buruh (serikat buruh) dan perusahaan.

tapi juga 11 . 22 Tahun 1957* tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Membentuk Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan di Daerah. 80 Tahun 1957* tentang Persetujuan Adapun pokok – pokok Konvensi Konvensi Organisasi ILO yang diratifikasi antara lain. Pusat. Perburuhan mewajibkan perusahaan unutk Internasional (ILO) menjamin pengupahan yang sama No. dan menjamin penghargaaan hak berorganisasi 7 UU No. menjamin kebebasan buruh untuk masuk atau tidak masuk serikat buruh. 1 Tahun 1970 tentang Kecelakaan Pengusaha tidak hanya diwajibkan Kerja untuk membayar tunjangan jika terjadi kecelakaan kerja.14 Tahun 1969 tentang Ketentuan. UU No. melindungi serikat buruh terhadap campur tangan perusahan dalam berorganisasi. 8 UU No. Buruh nilai pengupahan yang berlainan dan antara buruh tanpa memandang untuk jenis kelamin. 6.Mengatur ketetapan pokok serta Pokok hak dan kewajiban tenaga kerja Tenaga Ketentuan mengenai Kerja 9 UU No. dan Panitia Enquete jika perselisihan belum dapat terselesaikan.5 UU No. 100 mengenai bagi Pengupahan Sama bagi buruh laki-laki dan yang perempuan yang sama nilainya.pokok Konvensi ILO yang diratifikasi antara lain. 18 Tahun 1956* tentang Persetujuan Konvensi Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) No 89 mengenai Dasar-Dasar dari Hak untuk Berorganisasi dan Berunding Bersama Adapun pokok . tetapi didasarkan yang pada penilaian pekerjaan objektif berdasarkan dijalankan pekerjaan tidak yang termasuk Laki-Laki Wanita Pekerjaan Sama Nilainya melanggar asas-asas konvensi.

dan Tata Cara Pembayarannya. Besaran Jaminan. 3 Tahun 1992 tentang memberikan pencegahan pembinaan kecelakaan Jaminan Menetapkan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja Sosial Tenaga Kerja dan mengatur mengenai Iuran. 10 UU No. 11 UU No.25 Tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan Pembentukan Bipartit Lembaga Kerja antara (Perantara pengusaha dan buruh). Penegasan pekerja untuk melakukan mogok kerja. terdiri pekerja. 12 .dalam untuk kerja. pengusaha). *Berbeda dengan UU sebelumnya yang mengacu pada UUD 1945. Lembaga Kerja Tripartit (memberikan saran kepada menyusun pemerintah UU dan dalam atau PP dari dan hak ketenagakerjaan. pemerintah. UU ini mengacu pada UUDS 1951.

977 73.518.533 10.045.109 1995 35.644.047 13.802.410 7.179 1992 42.372 1993 40.234 10.051 6.082 5.744 85.141.493.088 72.160 11.894 1990 42.430.378.451.071.553.641.127.269.661.280 78.755.791 7.205.102.341 76.310.809 5.067.096 5.746.251 10.919 7.840.153.729 8.125.220 57.122 1982 31.869.631 11.127.973 58.210 8.566.728.906.042 6.848.856 3.542 1994 37.221.996.192 80.744.018.187 LAPANGAN KERJA PERTANIAN INDUSTRI PERDAGANGAN JASA LAINNYA TAK TERJAWAB JUMLAH 1980 28.228 5.637.576 6.424.967.285 4.472 5.717 79.720.334.234 11.144.009 1989 41.567.795.402.890.553.678.822 17.813 1997 35.270 10.205 68.552 11.618.756 Sumber BPS 13 .404 10.518.039 131.902.869 8.495 8.195 13.929 8.651.952 7.110.423.020 8.419 4.682 12.600 70.021.942 62.314 6.801 1985 34.233.883.182.496 11.557.946.850.840.803.317.060 1996 37.687.593.919 9.121.345.452 4.704 10.327 75.499 10.Lampiran 2 Jumlah Angkatan Kerja 1980-1997 menurut lapangan kerja utama TAHUN 1986 37.032.693.580 TAHUN LAPANGAN KERJA PERTANIAN INDUSTRI PERDAGANGAN JASA LAINNYA TAK TERJAWAB JUMLAH 1991 41.049.232 7.850 8.357 9.309 7.350 11.871 312.530.070.911.760 40.508.200.284.338.508.195 16.813 9.138 1987 1988 38.701.684 51.184 12.457.857.263 11.205 8.665 9.295 12.680.125.874 10.330 5.523 3.041 4.255.690 10.324 5.793 5.765.784.214.797.161 82.070 10.834.605.649.586 87.971 9.

Wilayah 1 b. Batam Jambi Sumatera Selatan a.Lampiran 3 Perkembangan UMR 1985-1997 No 1 2 3 4 Daerah DI Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau a. Luar Batam b. Wilayah 3 Jawa Tengah DI Jogjakarta Jawa Timur Bali NTB NTT Timor Timur 1985 0 850 0 1125 0 0 950 0 0 1986 1400 850 0 1125 0 0 950 0 0 1987 1400 850 1000 1400 0 0 950 0 0 1988 1400 1200 1000 1865 0 0 1100 1100 0 1989 1400 1200 1000 1865 0 0 1100 1100 0 1990 2133 1930 1600 2000 0 2450 1100 1600 0 1991 2133 1930 1600 2000 0 5550 1650 1600 0 1992 2133 2550 1750 2700 0 5500 2100 0 1600 1993 2600 3100 1900 2700 0 5500 2400 0 2300 1994 3150 3750 2500 3100 0 6750 3000 0 3000 1995 3500 4200 3250 4150 0 6750 3350 0 3500 1996 3850 4600 3600 4600 0 7350 3600 0 3850 1997 4267 5033 3967 5050 0 7833 3983 0 4375 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 600 1300 0 675 0 635 450 635 1000 500 1000 0 1000 600 1300 0 675 0 635 450 635 1000 500 0 0 1000 1050 1600 0 750 0 635 700 813 1200 650 1000 0 1000 1300 1050 1600 0 750 780 700 813 1200 650 1000 0 1400 1300 1050 1600 0 750 780 700 813 1200 650 1000 0 1400 1300 1750 2100 0 1200 780 900 1409 1800 1275 1600 0 1400 1300 1750 2500 0 1600 1600 900 1409 1800 1275 1600 0 1800 2000 1750 2500 0 1800 0 1600 1250 2100 2000 1500 1600 2000 2000 2450 3000 0 2200 0 2000 1600 2100 2500 1850 2100 2000 3000 3000 3800 0 3800 0 2700 2200 3000 3300 2350 2500 3000 3000 3500 4600 0 4600 0 3000 2850 3700 3900 2950 2900 3800 3850 3800 5200 0 5200 0 3400 3200 4000 4250 3250 3200 4200 14 4250 4250 5750 0 5121 0 3767 3550 4146 4717 3600 3550 4600 . Daratan b. Kepulauan Babel Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat a. Kepulauan Riau c. Wilayah 2 c.

18 Kalimantan Barat Kalimantan 19 Tengah Kalimantan 20 Selatan 21 Kalimantan Timur 22 Sulawesi Utara 23 Sulawesi Tengah 24 Sulawesi Selatan Sulawesi 25 Tenggara 26 Gorontalo 27 Maluku 28 Maluku Utara 29 Irian Jaya 0 650 0 525 0 900 500 0 0 0 1600 0 850 950 0 525 0 900 750 0 0 0 1600 0 850 950 1000 550 700 900 750 0 0 0 1600 0 1000 950 1000 850 700 1000 750 0 1000 0 1800 1600 1000 1150 1000 850 700 1000 750 0 1000 0 1800 0 1000 1150 1600 850 850 1000 1599 0 1800 0 1800 0 1600 1300 1600 2000 1100 1350 1599 0 1800 0 1800 2000 1800 1600 2275 1600 2000 1100 1750 2125 0 1800 0 2400 2250 2350 2275 2400 2000 1750 1750 2125 0 1800 0 2400 3000 2700 3000 3250 2700 2300 2300 2800 3100 4500 3500 3700 3500 4200 3250 2800 3100 3350 3800 4750 3800 4150 3800 4600 3600 3200 3400 3650 0 4100 0 5150 4217 4600 3750 5100 3933 3550 3750 4033 4533 5667 Sumber: Keputusan Menteri Negara Tenaga Kerja RI 1984-1996 dalam Sulaiman (2008) 15 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful